Posted in Romance

With Him: Part 7

WH cover 3

Minyoung Lee Present:

“With Him”

-A Fanfiction

Genre : Humor, Friendship, Romance, Hurt/Comfort

Rating : PG-13

Length : MultiChapter

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Support Cast :

  • Seo Joohyun
  • Kim Ryeowook
  • Son Naeun
  • Lee Gikwang

A/n: Maaf!! Janjiku tak kutepati. Ini udah Mei.. dan aku baru post sekarang. Wi-Fi di rumahku entah kenapa mati dan baru bisa sekarang #suer. Nyeheheh, aku juga mutusin buat post part 8 dulu.. dan ini bukan The END! Masih ada chapter terakhir yang namanya “Endings”. Dan gatau mau ku post kapan.. okeoke, nyerocosnya udahan dulu. Terima kasih sudah mau menunggu, dan Selamat membaca, Knight!

—————————

Lihat part-part sebelumnya di sini : With Him

————————————————–

“Eh? Jadi kau yang mengantarku ke Rumah Sakit, oppa?” suara Naeun terdengar kaget sekaligus lega. Gikwang yang sedang meminum milkshake coklat kesukaannya hanya mengangguk kecil. “Gomawo.” Gikwang mengangkat kepalanya dari milkshake coklatnya menuju Naeun. Tangannya bergerak mengacak rambut Naeun pelan.

“Kau.. kenapa bisa sampai punya Anemia? Makan apa saja kau saat di Jepang?” Naeun tersenyum kikuk. “Yaa, seperti itulah.” Ucapnya santai, setelah itu baik Gikwang maupun Naeun sama-sama bungkam. Naeun sedang memikirkan keputusannya untuk menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, gadis itu menghela napas berat. Gikwang tersenyum lembut, “Ada apa?”

Naeun menggeleng pelan. Tidak, dia masih belum siap mengutarakan perasaannya. Dia masih belum siap jika pada kenyataannya, Gikwang menyukai orang lain. Dia masih belum siap mengalami sakit hati. Biarlah, dia akan memilih terus seperti ini daripada dia malah akan kehilangan Gikwang. Orang yang selama ini sudah bisa membuat jantungnya berdetak lebih keras. Heh, debarannya memang masih sama pada saat di Jepang dulu, Naeun berfikir sambil tersenyum diam-diam.

Gikwang melihat kelakuan Naeun yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Pemuda ini lantas mengangkat sebelah alisnya. Kelakuan gadis dihadapnnya ini memang bisa membuat dirinya tertarik dan merasa penasaran, sama seperti pada saat di Jepang dulu. Gadis ini juga yang selalu menyemangatinya ketika ia sedang merasa down.  Sungguh Gikwang merasa sudah terlalu banyak merepotkan gadis ini, namun apa yang bisa dia lakukan? Dulu ketika ia menolak untuk dibantu, gadis itu malah ngambek dan tak mau berbicara dengannya selama 2 minggu. Hh, benar-benar menyusahkan.

Oppa?” suara Naeun memutus jalan pikiran Gikwang. Sambil tersenyum, Gikwang bergumam kecil untuk menanggapi Naeun. Ia kemudian mengerutkan alisnya bingung, gadis ini terlihat sedikit ragu untuk mengutarakan sesuatu. “Oi. Bicara saja.. aku tak akan marah. Sungguh!” Gikwang berkata sambil memegang dadanya pertanda bahwa ia berjanji. Naeun tertawa kecil, lalu meletakkan jari telunjukknya di bibir. Pipi Gikwang memanas seketika. A-apakah dia meminta untuk?

“Kau ingin kucium?”

Mata Naeun melebar seketika, “Ani! Apa maksud oppa?”

“I-itu.. kau meletakkan.. jari di.. bibir.. mu.” Ucap Gikwang dengan terbata. Naeun awalnya terlihat tak mengerti, namun setelah itu gadis ini malah tertawa keras. Mata semua pengunjung cafè itu mengarah ke arah Gikwang yang menunduk dalam-dalam, dan Naeun yang masih tertawa keras sambil memegangi perutnya yang mulai sakit. Tak lama semua pengunjung itu kembali ke aktifitasnya masing-masing.

Aigoo, aku sedang berfikir, oppa!” Gikwang menelungkupkan wajahnya di meja, tak mampu unutuk menatap Naeun yang masih tertawa histeris ke arahnya. Setelah tawa Naeun mereda, Gikwang menatapnya dengan ganas. “Sudah cukup tertawanya, nona Son?” Naeun mengangguk, senyum lebar masih berada di bibirnya. Dan Gikwang menghela napas panjang, cukup panjang untuk dapat menghilangkan stress ringannya yang diakibatkan oleh sepupu Sooyoung dihadapannya ini. Ah, ngomong-ngomong tentang Sooyoung..

Oi, Son junior,” Naeun memelototi Gikwang begitu ia mendengar panggilan barunya dari pemuda itu. Memilih untuk menghiraukan kelakuan Naeun –lagipula Gikwang tak pernah takut dengan tatapan mengerikan Naeun- Gikwang kembali berceloteh. “Apa yang Sooyoung lakukan disana? Kenapa kau diusir?” Naeun memukul lengan Gikwang sedikit keras, pipinya di gembungkan akibat kesal setengah mati.

“Aku bukan diusir, bodoh! Aku kan sudah pernah bilang, aku hanya disuruh keluar sebentar, karena Eonni sedang ada tamu dan mereka ingin berbicara berempat.” Jelas Naeun, ia kemudian kembali memasukkan sesendok nasi dari sarapannya. Gikwang mengangguk mengerti, “Hm, lumayan banyak juga tamunya. Sampai 3 orang,” mendengar ini Naeun langsung menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya ke hadapan Gikwang yang langsung terlonjak kaget. “Apa?”

“Tamunya hanya 2 orang kok,” jelas Naeun sambil meraih gelas lemon tea dingin yang memang dipesannya. Gikwang menatap Naeun tak mengerti. “Laki-laki dan perempuan.” Lanjut Naeun. Gikwang makin tak mengerti. “Hei, kalau tamunya hanya dua. Berarti pemilik rumahnya ada dua, kau dan Sooyoungie. Dan kau ada disini bersamaku, jadi sisanya hanya 3 orang. Mungkin kau yang salah bicara.” Naeun menepuk dahinya pelan.

“Ah, benar juga. Aku lupa menceritakannya padamu.”

“Menceritakan apa?”

“Selain tinggal bersamaku, Sooyoung Eonni juga tinggal bersama Kyuhyun-ssi.” Gikwang menatap Naeun tak percaya. “Tu-tunggu dulu. Jadi maksudmu kalian tinggal bersama seorang lelaki?” Naeun mengangguk cepat. Urgh, ternyata ini lebih memusingkan daripada memikirkan identitas Naeun, keluh Gikwang dalam hati.

***

-Kyuhyun’s POV-

“Aku ingin membatalkan pertunangan dan pernikahan kita, Oppa.” Mulutku langsung terbuka lebar. Ayolah, ini Seohyun yang kita bicarakan. Orang yang awalanya terus mengejarku dan selalu memintaku untuk menyetujui rencana menggelikan Eomma yang ingin menjodohkanku dengannya. Sekarang dia malah tiba-tiba muncul di rumah Sooyoung, dan ternyata adalah orang yang pernah tinggal bersama Sooyoung. Lalu, apa? Dia ingin membatalkan semuanya? Bukan, ini bukan karena aku tak ingin Seohyun membatalkan pernikahan kami, aku malah sangat mendukungnya. Ya, karena aku akui hatiku sudah diambil oleh seorang Choi Sooyoung. Tapi, ini sangat tiba-tiba. Ya Tuhan, dunia memang benar-benar sempit.

“…Kenapa?” tanyaku pada akhirnya. Seohyun hanya tersenyum dan memandang Ryeowook hyung yang sedang meminum teh. Gadis itu kemudian menghampiri Ryeowook hyung dan duduk di tempatnya semula, pandangannya masih mengarah ke Ryeowook hyung. “Karena.. aku ingin bersama dengannya, Oppa.” Seohyun tersenyum ke arahku sambil menyentuh pundak Ryeowook hyung. Ryeowook hyung nyaris saja menyemburkan teh yang akan dia telan jika dia tidak dapat menguasai kekagetannya.

Oke, apakah ini benar Seo Joohyun yang aku ketahui? Dia bahkan terlihat bangga akan keputusannya tadi. Bukankah kalau dia memang benar menyukaiku, harusnya dia mengatakannya dengan mata berkaca-kaca atau apalah itu. Atau jangan-jangan dia tak menyukaiku lagi?

“Joohyunie?” Suara Ryeowook hyung menyadarkanku dari lamunanku tentang sikap Seohyun yang berubah drastis. Seohyun memperlihatkan senyumannya yang paling cerah. Senyuman ini tak pernah ia tampakkan padaku. Mungkin karena dia tak sungguh-sungguh menyukaiku dan sebenarnya jauh di dalam hatinya, ia sudah memiliki perasaan terhadap Ryeowook hyung. Pria yang lebih tua dariku itu lantas menghela napas panjang dan berat. Kami berempat disini memang memiliki kisah yang berbelit-belit dan cukup menguras tenaga, jadi wajar saja jika ada yang menghela napas seperti itu.

“Jangan memaksakan diri terlihat bahagia seperti itu. Kau tahu sendiri jika aku benci dirimu yang berpura-pura.” Ucapnya kemudian, Seohyun mengerucutkan bibirnya kesal.

Aish, aku benar-benar serius saat ini, oppa! Mungkin.. uh, tidak. Aku memang ingin bersamamu, oppa.” Aku bisa melihat garis merah muda tipis yang menghiasi pipi Seohyun. Tanpa sadar senyuman mulai terbentuk di bibirku. Aku bahagia, sungguh! Aku benar-benar lega. Setidaknya, aku bisa tidak menikahi Seohyun dengan memaksanya untuk membatalkan pernikahan kami yang akan malah membuatnya menangis.

“Ehm..” dehaman yang bisa aku katakan berasal dari Sooyoung terdengar. Memecahkan atmosfir yang entah mengapa malah menjadi canggung. Aku mengangkat alisku sambil menatapnya. Sooyoung mengacuhkanku dan malah tersenyum lembut ke arah Ryewook. “Ne, kita belum berkenalan kan? Aku Sooyoung, Choi Sooyoung.” Ryeowook hyung mengangguk sebentar sebelum balik memperkenalkan dirinya kepada Sooyoung.

Dan untuk beberapa menit kemudian, kami malah berbicara tentang pengalaman dan urusan pekerjaan. Sampai Seohyun memanggilku dengan nada serius yang baru pertama kali ini kudengar dari mulutnya. “Oppa, kita harus menemui Eommonim dan membatalkan hal ini secepatnya.” Kepalanya lalu mengangguk-angguk. Aku hanya mengangkat bahu. “Terserah padamu saja.”

-Kyuhyun’s POV End-

***

Hari ini, Kyuhyun akan menemui ibunya, ibunya yang entah sudah berapa lama dia tak temui. Kyuhyun tidak berbohong saat dirinya mengatakan bahwa ia merindukan ibunya. Sungguh, baru kali ini Kyuhyun merasa sangat-sangat ingin memeluk ibunya, lalu mengatakan betapa rindunya ia. Tapi jika di pikir-pikir lagi, Kyuhyun kan keluar dari rumah juga gara-gara ibunya. Ah, mungkin kasih sayang anak dan ibu memang sangat kuat.

Ne, aku berangkat Sooyoung-ah!” terdengar suara derap kaki yang terburu-buru dari arah dalam rumah. Sooyoung lalu menampakkan dirinya yang masih terbalut apron memasak, dan sutil yang masih berada di tangan kanannya. “Eh? Kau tak ingin sarapan dulu, Kyuhyun-ssi? Aku sudah membuatkan omelet.” Kyuhyun tersenyum kecil. Ia merasa seperti seorang suami yang dibujuk untuk sarapan dulu oleh istrinya. Ia kemudian menggeleng.

“Tidak usah. Sisakan saja omeletnya untukku, oke?” tangannya sudah meraih kunci mobilnya, namun tangan Sooyoung meraih dan menarik lengan Kyuhyun, menyeretnya ke dapur dimana Naeun telah duduk terlebih dahulu di meja makan. Naeun melemparkan sapaan selamat pagi yang langsung dijawab dengan cepat oleh Kyuhyun. Sooyoung kembali memaksa Kyuhyun untuk duduk di salah satu kursi dan memberi pria itu sepiring omelet bagiannya.

“Makan.” Ucap Sooyoung pendek dengan nada yang sedikit-banyak bisa membuat Kyuhyun langsung tunduk dan menurut pada perintah-perintahnya. Sooyoung terus memicingkan matanya ke arah Kyuhyun, namun setelah Kyuhyun mengambil sendoknya Sooyoung langsung menebar senyum manis. Seakan tidak terjadi apa-apa. Kyuhyun menghela nafas dan mulai memakan jatah omeletnya.

Naeun yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan tawa. Makan itu tidak boleh sambil bicara, kan? Dan sepupu galaknya itu pasti akan langsung memarahinya jika tawanya meledak sekarang. Sebagai gantinya Naeun berbisik pelan, “Seperti pasangan suami-istri saja.” Sooyoung yang rupanya mendengar bisikan super-duper pelan Naeun, terlihat akan memakan Naeun bulat-bulat.

“Kau mengatakan sesuatu, nyonya Lee?”

“Eh? Ti-tidak ada apa-ap.. Hei! Yang Eonni maksud nyonya Lee itu siapa?!” Naeun melebarkan matanya. Sooyoung menahan tawa yang sepertinya sudah berada di ujung mulutnya. “Jangan kau kira aku tak tahu pembicaraanmu dengan laki-laki bodoh itu semalam. Kalau tidak salah dia mengajakmu untuk pergi date bersamanya sewaktu-waktu. Kau harusnya lebih mengecilkan volume suaramu dan tidak mengaktifkan speaker handphonemu, Naeun-ah!” ucap Sooyoung sambil berusaha mengunyah makanan yang meski dirinya sedang berbicara tetap ia masukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Shikshin.

Naeun menunduk malu ketika tahu bahwa dirinya tertangkap basah oleh sang sepupu. Kyuhyun berdeham lumayan keras, “Biasakan makan tanpa ada suara, apalagi bicara.” Nasehatnya kemudian. Sooyoung melotot, “Kau pikir yang kau lakukan tadi itu bukan berbicara?” Kyuhyun mengangkat bahunya, tidak peduli dengan tatapan Sooyoung yang seakan bisa membakar hangus dirinya.

Pada akhirnya, sarapan pagi yang biasanya penuh dengan kehikmatan dan ketenangan menjadi penuh dengan sindiran dan ejekan. Benar-benar pagi yang sempurna untuk mereka bertiga, bukan?

***

Baiklah, tekan. TIDAK! Jangan dulu.. Tarik nafas.. Oke, tekan! Tunggu! Argh!

Kyuhyun mengacak rambutnya sebal. Memangnya sesulit apa sih, toh dia hanya perlu menekan bel rumah ini. Rumah ibunya –dan rumahnya. Padahal dulu, saat Kyuhyun masih tinggal disini, dia langsung menerobos masuk tanpa harus memencet bel terlebih dahulu. Tapi, kenapa sekarang terasa berat? Belum lagi tangan dan dahinya yang dibanjiri oleh keringat. Ternyata memencet bel itu tak semudah yang kita bayangkan.

Oppa?! Apa yang kau lakukan?! Cepat pencet belnya!” Seohyun berkata dengan gemas dari arah belakang. Cucuran keringat Kyuhyun makin bertambah. Bagus Seo Joohyun, kau bukannya membantu menenangkan malah bantu membuat Kyuhyun makin gugup. Sangat membantu sekali. Terdengar suara geraman dari Seohyun, disusul dengan suara bel. Kyuhyun menatap bel yang akan ditekannya dengan horor.

“Seo.. Joo.. hyun! Apa yang kau lakukan?!” Kali ini Kyuhyun yang berata dengan gemas, mungkin lebih ke arah yang mengenaskan. Seohyun hanya menanggapinya dengan tatapan dan senyuman innocent. Kyuhyun menepuk dahinya pasrah. Astaga, dia merasa ingin ditelan bumi bulat-bulat saja. Baru saja Kyuhyun akan membuka mulutnya untuk menceramahi Seohyun, suara pintu terbuka disusul dengan suara orang terkejut membuat Kyuhyun mengurungkan niat baik(?)nya.

“Kyuhyunie?” Tuhan, suara tenang itu. Benar-benar membuat hatinya damai. Kyuhyun tak pernah menyangka, hanya dengan mendengar suara ibunya saja bisa memberikan dampak sebesar ini pada dirinya. Punggungnya yang tadi berhadapan dengan wajah ibunya sekarang berganti menjadi wajahnya. Wajahnya masih sama seperti saat Kyuhyun terakhir melihat beliau. Hanya saja, beberapa kerutan terlihat di sana-sini. Padahal Kyuhyun yakin, terakhir kalinya kerutan-kerutan itu masih belum ada.

Ne, Eommonim. Aku pulang.” Tanpa perlu tunggu panjang lagi, ibu Kyuhyun langsung mendekap tubuh anaknya dengan erat. Benar-benar erat. Kyuhyun bisa merasakan bahu ibunya yang bergetar kecil. Senyum kecil merayapi bibirnya, ia lalu balas memeluk ibunya. “Shh, uljimaseyo. Apakah kau berubah jadi cengeng seperti ini setelah aku pergi, Eomma?” niatnya Kyuhyun mengatakan ini dengan nada bercanda. Namun sepertinya ibunya salah tangkap. Beliau malah melancarkan pukulan mautnya yang terkenal seantero keluarga Cho itu ke arah punggung anak bungsunya.

Kyuhyun merintih kecil, namun langsung terganti dengan kekehannya. Ia makin mengeratkan pelukannya pada ibunya. Seohyun yang melihat pemandengan anak dan ibu yang bereuni ria hanya bisa tersenyum hangat. Setidaknya satu masalah selesai, kan?

Beberapa menit kemudian…

“APA?! Kalian mau membatalkan pernikahan kalian?!” pekik ibu Kyuhyun, beliau dengan refleks langsung berdiri. Kyuhyun berusaha untuk kembali mendudukkan ibunya. Terkadang ibunya ini memiliki tenaga yang jauh lebih besar dari seorang atlit seperti Ade Rai(?). Seohyun menunduk dalam-dalam, tak berani menampakkan wajahnya hanya untuk sekedar bertukar tatapan dengan ibu Kyuhyun. Kyuhyun memijat pelipisnya perlahan. Ini akan membutuhkan waktu lebih lama daripada yang aku kira, pikirnya lemas.

Eomma, biarkan kami menjelaskan, eo? Tolong jangan marah dulu. Jika kau terus-terusan marah dan memotong perkataan kami, kapan kami bisa menjelaskan?” ucap Kyuhyun dengan lembut, namun ketegasan masih bisa dirasakan. Menjadi laki-laki satu-satunya di rumah ini setelah ayahnya meninggal dunia memang berdampak besar pada kepribadian Kyuhyun. Meskipun ia anak bungsu, pikirannya jauh-jauh-jauh lebih dewasa dari Cho Ahra –Noona Kyuhyun. Terkadang Kyuhyun sendiri bingung, siapa yang harusnya menjadi kakak dan siapa yang harusnya menjadi adik.

“Ta-tapi.. Kyuhyunie.” Kyuhyun menggeleng dengan tegas. Tatapan matanya lembut, dan ibu Kyuhyun tak bisa berkata apa-apa lagi. “Arraseo, aku akan mendengarkan penjelasan kalian dengan baik.” Ibu Kyuhyun kembali menunjukkan sikap kekanak-kanakannya dengan cara memajukan bibir bagian bawah beliau sedikit. Kyuhyun menggeleng pelan sebelum membiarkan Seohyun menjelaskan semuanya. Lagipula yang mengajak Kyuhyun untuk ke rumah ini lagi kan Seohyun. Kyuhyun hanya setuju-setuju saja, yah mungkin dia akan membantu menjelaskan satu-dua kali.

***

Kanan.. Kiri.. Kanan.. Kiri.. Kanan.. Kiri.. Kanan.. Kiri.. Kana-

Aigoo, Son Naeun. Kau membuatku pusing hanya dengan melihat tingkahmu yang mondar-mandir dari tadi. Apa yang sedang kau pikirkan?” Lee Gikwang memaki pacarnya selembut mungkin. Mata sipitnya sudah cukup lelah memperhatikan sikap Naeun, dan kepalanya yang sedang berdenyut itu tak bisa memperbaiki keadaan sedikitpun. Naeun pada akhirnya duduk di samping Gikwang. Matanya menatap lurus kedepan, dimana dia bisa melihat beberapa anak-anak yang sedang bermain di jungkat-jungkit dan seluncuran taman ini.

Naeun menghela nafas berat, tangannya di katupkan di depan dadanya. Raut mukanya masih saja memperlihatkan kecemasan dan Gikwang mulai terbawa suasana. Entah mengapa, dia ikut merasa cemas dan tak nyaman. “Oppa,” panggil Naeun dengan nada lirihnya. Gikwang menggumam sebagai respon. “Aku menemukan sesuatu yang mencengangkan.” Tutur gadis itu sambil meraih tangan Gikwang untuk di genggamnya.

Alis Gikwang terangkat, “Maksudmu? Apa yang kau temukan?” dada Gikwang sudah bergemuruh ricuh. Hati nuraninya berkata bahwa apa yang akan dikatakan Naeun setelah ini adalah hal buruk. Jarinya ia sematkan di sela-sela jari Naeun, dan Gikwang meremas tangan Naeun perlahan. Setelah beberapa detik berkelut dengan pikiran buruknya, Gikwang menggeleng kecil. Hanya firasat, pikirnya unutk menenangkan diri.

“Aku menemukan sebuah map yang berisi surat pemberitahuan dari Rumah Sakit,” Kata-kata yang keluar dari mulut Naeun makin mengecil dan terasa menyayat hati. Gikwang kembali merasa was-was, rasa tenang yang mati-matian dibangunnya sedari tadi runtuh dengan cepat. Dadanya kembali bergemuruh hebat. Kenapa ada hubungannya dengan Rumah Sakit?

Eonni… dia mengidap..” jantung Gikwang terasa berhenti seketika. Eonni? Sooyoung!? Apa? Apa yang terjadi dengan sahabat baiknya itu? Apa yang dia idap? Dan kenapa dirinya tak pernah tahu?! Pikiran-pikiran negatif terus bermunculan di benak Gikwang. Genggaman tangan Naeun dan Gikwang semakin erat. Seakan saling meyakinkan bahwa mereka disini, di sisi satu sama lain. Apapun yang terjadi pasti akan baik-baik saja.

Benarkah seperti itu?

“…aku tak bisa melanjutkan. Bacalah sendiri.” Ucap Naeun sambil menyerahkan map cokelat yang sudah terlihat lusuh dengan tangan yang bergetar. Gikwang menatap Naeun untuk sedetik sebelum akhirnya menerima map itu dengan hati yang serasa ingin meledak. Tanganya dengan perlahan membukat lilitan tali yang menjaga agar bagian atas map itu terus tertutup. Setelah lilitan itu terbuka semua, Gikwang membuka bagian atas map itu dan menengok isinya.

DEG

Lambang Rumah Sakit terkenal di daerah ini langsung tertangkap indera pengelihatannya. Benar-benar map yang berisi pemberitahuan dari Rumah Sakit. Sooyoung, Rumah Sakit, mengidap sesuatu? Pusing yang tadinya hanya sedikit, bertamabah dua kali lipat akibat semua pertanyaan yang muncul di benaknya. Ditariknya satu-satunya kertas di dalam map itu, dan dibacanya dengan hati-hati. Mata Gikwang melebar dan secara tidak sadar dia menjatuhkan map beserta kertas itu. Naeun sudah mulai terisak sambil membenamkan kepala dan wajahnya ke dada Gikwang yang masih tidak percaya dengan apa yang dia baca.

‘Kanker Otak Stadium 2’

***

Sooyoung kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang sedang didudukinya. Akhir-akhir ini dia sering merasa pusing dan lebih cepat lelah. Tapi, seperti Sooyoung yang biasanya. Saat dirinya ditanyakan oleh Kyuhyun, Naeun atau teman-teman di kantornya dia selalu berkata ‘Aku tak apa. Terima kasih sudah bertanya.’ Saat kepalanya ditengadahkan ke atas, jantungnya serasa ingin copot karena melihat wajah Yoona yang hanya berjarak 5 senti dari wajahnya.

“Astaga Yoong! Kau menakutiku!” serunya dengan tangan yang sudah meremas kemeja kerjanya dengan erat. Rupanya Yoona berbakat juga menjadi tokoh mistis macam Sadako asal Jepang *ditebas. Yoona mengangkat sebelah alisnya dan bibirnya menampilkan sebuah senyuman miring. Wajahnya kembali ia dekatkan ke sahabatnya itu. “Kau kenapa akhir-akhir ini?” tanya Yoona. Senyuman miringnya diganti dengan bibir yang melengkung ke bawah.

Sooyoung menghela nafas yang tanpa sadar ia tahan dari tadi, ia lalu kembali mengerjakan tugasnya di komputer. Yoona meniupkan udara ke arah poninya, Sooyoung memang orang yang kadang bisa membuatmu kesal. Dengan seluruh kekuatannya, Yoona memutar kursi Sooyoung sehingga wanita itu mengahadap ke arahnya. Sooyoung melemparkan tatapan yang biasanya ampuh untuk menakut-nakuti orang lain. Yoona memutar matanya. Oh ayolah, aku tak takut dengan tatapan itu, pikirnya.

Eonni, kau kenapa? Ayolah, kau tahu kau bisa bercerita apapun pada temanmu yang satu ini!” ungkap Yoona sambil mengguncang-guncangkan bahu Sooyoung. Sooyoung langsung menepis tangan Yoona begitu rasa sakit yang begitu besar menerpa kepalanya. Badannya sudah terasa lemas semua, pandangannya buram, dan indera pendengarannya serasa termasuki pasukan lebah–berdengung dengan hebat. Tangannya berusaha untuk mengurangi rasa sakit dengan memukul-mukulkannya ke kepalanya. Kemudian, Sooyoung merasa semuanya gelap.

Panik menyerang Yoona yang melihat kejadian itu. Sahabat kantornya itu ta sadarkan diri setelah hampir 5 menit lamanya memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya. “Eonni!!” Teriakan Yoona mengundang semua orang yang berada di lantai itu menoleh ke arahnya. Tak terkecuali Gikwang yang baru saja datang, begitu ia melihat sahabatnya tak sadarkan diri ia langsung menghampiri Sooyoung dan menggendongnya keluar. Yoona mengikuti dari belakang.

Taksi yang kebetulan lewat saat Gikwang telah sampai di lantai paling bawah langsung diberhentikannya. Yoona masuk ke kursi penumpang dibelakang menjaga Sooyoung yang telah Gikwang masukkan terlebih dahulu. Gikwang lalu duduk di kursi penumpang disamping supir taksi itu. Setelah Gikwang mengatakan tempat yang akan ditujunya, taksi itu melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dengan tangan yang bergetar, Gikwang berusaha untuk menghubungi Naeun dan menyuruhnya datang ke tempat yang sama dengan yang akan ditujunya.

Ppalli, Naeun-ah!” serunya sebelum memutuskan hubungan teleponnya dengan sang kekasih. Gikwang mengatupkan matanya dengan erat, berdoa dengan segenap kekuatan yang dia bisa.

Bertahanlah, Choi Sooyoung!

***

Kyuhyun berlari dengan sekuat tenaga, ia bahkan tak menghirukan paru-parunya yang sudah terasa terbakar. Mereka membutuhkan oksigen dengan segera, namun Kyuhyun terlalu keras kepala untuk berhenti dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sesaat setelah Naeun menelponnya untuk datang ke suatu lokasi dikarenakan Sooyoung tiba-tiba saja tak sadarkan diri, ia langsung ingin melesat dari kantornya. Namun, sekretarisnya mengingatkan Kyuhyun akan pekerjaannya yang mulai menumpuk bagaikan gunung. Kebiasaan buruknya memang begitu, sering menunda pekerjaan. Dengan setengah hati, Kyuhyun berusaha mengerjakan folder yang sudah mulai mendekati deadline-nya. Banyaknya memang tidak seberapa, namun isi dari folder itu lumayan banyak. Beruntung ia bisa menyelesaikan semuanya beberapa jam kemudian.

Ponselnya berdering begitu semua pekerjaannya selesai. Sepupu Sooyoung kembali menelponnya, menanyakan keberadaannya dan menyuruhnya untuk segera menuju tempat itu. Ketika percakapannya dan Naeun selesai ia langsung berlari keluar kantor. Mobil yang seharusnya bisa membantu perjalanan menuju Rumah Sakit itu lebih cepat malah ia tinggalkan karena pikirannya sudah kacau. Nyawa orang yang dia sayangi sekarang sedang terancam. Ia hanya bisa mengambil tindakan yang sedang terlintas di pikirannya. Dan tindakan itu adalah berlari, lagipula lokasi itu tak terlalu jauh dari kantornya. Belum lagi kakinya menapaki lantai Rumah Sakit, sebuah figur wanita ditangkap indera pengelihatannya. Otaknya langsung mengenali figur itu, tampaknya orang itu juga sama terburu-burunya dengan dirinya. Ia lantas menghampiri sosok itu dan menepuk bahunya pelan. Deru napas yang terengah-engah menjawabnya, orang itu terlihat sangat kacau.

“Kyuhyun Oppa.. Eonni.. Eonni..” ucapnya dengan nada getir. Kyuhyun tahu wanita ini sedang menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya mati-matian. Kyuhyun pun juga begitu, kalau boleh ia ingin sekali berteriak dan menangis sepuas-puasnya saat ini, detik ini. Akhirnya.. akhirnya dia bisa menemukan seseorang yang dapat mengisi kekosongan di hatinya. Tapi kenapa dia kembali di beri cobaan? Apakah dia tak berhak bahagia? Jika memang jawabannya iya, kenapa dia diciptakan?

“Aku tahu, Seohyun-ah. Kau tahu dari siapa?” Sebelum Seohyun dapat menjawab pertanyaan Kyuhyun, Ryeowook datang dan langsung merangkul bahu Kyuhyun agar pemuda itu mendekat ke arahnya. Ulah Ryeowook yang tiba-tiba membuat Kyuhyun terhuyung dan hampir jatuh menimpa Ryeowook, beruntung badannya dengan cepat kembali mendapatkan keseimbangannya. Ia melancarkan deathglare ke arah Ryeowook yang hanya tersenyum miring. Dengan satu gerakan, Kyuhyun menepis tangan Ryeowook dari bahunya. Mata Kyuhyun menunutut penjelasan dari pria di hadapannya.

“Dia mengetahuinya dariku, Kyuhyun-ah. Maaf, aku sempat mendengar percakapanmu di telpon sebelum kau pergi kesini.” Ryeowook berkata sambil tersenyum kecil, kegetiran sedikit-banyak bisa dirasakan. Kyuhyun  tersenyum lemah sebelum terpaku sedetik dan kembali berlari ke dalam bangunan Rumah Sakit itu. Ryeowook dan Seohyun yang ditinggalkan hanya ikut berlari menyusul Kyuhyun.

Di dalam, terlihat Kyuhyun sedang berbicara dengan salah satu suster, dia sedang meminta nomer kamar Sooyoung. Setelah itu, kakinya kembali digunakana unutk berlari, Ryeowook dan Seohyun mengikuti dari belakang. “Kenapa kau tiba-tiba lari seperti itu, Kyu?” ucap Ryeowook sesaat setelah dia bisa menyusul Kyuhyun dan menyamakan tempo lari mereka. Kyuhyun diam, tak bergeming. Dia hanya terus berlari dan menatap kedepan.

“Sooyoung.” Gumamnya sebelum berlari lebih kencang dan kembali meniggalkan Ryeowook dan Seohyun yang hanya menatapnya maklum. Ryeowook beralih menatap Seohyun yang juga balas menatapnya, mereka lalu mengangguk dan berlari menyusul Kyuhyun yang mulai tak terlihat lagi punggungnya.

***

-Yoona’s POV-

Ada apa dengan Sooyoung? Kenapa dia sempat memukul-mukul kepalanya sebelum pingsan? Adakah yang salah dengan kepalanya? Atau mungkin dia memiliki.. tidak mungkin! …Kanker?

Aku melirik Gikwang dan seorang wanita di pelukannya yang sedang menangis. Sepertinya wanita itu kekasihnya. Aku menghampiri mereka dan menanyakan beberapa pertanyaan yang baru saja melintas di kepalaku. Awalnya mereka terlihat ragu untuk menjawab, namun karena Gikwang meyakinkan wanita itu, mereka akhirnya membeberkan semua yang mereka tahu tentang Sooyoung. Dia akhir penjelasan, mulutku terbuka dan air mata sudah mulai menggenang di pelupuk mata.

Tidak mungkin. Sooyoung, Choi Sooyoung, sang Shikshin, yang selama ini terlihat tak ada apa-apa, ternyata memiliki kanker yang bersarang di otaknya. Jadi apa gunanya diriku sebagai sahabatnya selama ini? Choi Sooyoung you fool! Umpatku dalam-dalam, berharap dia bisa mendengarnya. Pada akhirnya aku mengeluarkan handphone-ku, memencet tombolnya beberapa kali, dan mendekatkannya ke telinga. Aku sedang butuh seseorang yang dapat menenagkanku. Dan hanya orang itu yang melitas di benakku.

Setelah beberapa nada dering seseorang mengangkatnya dengan nada malas, “Yeoboseyo?”

“Heechul Oppa..” kudengar beberapa barang yang terjatuh sebelum suaranya kembali memasuki telingaku. “Yoong? Ada apa?”

“Jangan banyak bicara dan temui aku di Rumah Sakit XXX sekarang juga! Akan aku jelaskan setibanya kau disini!”

Dia menjawabku dengan cepat, “Arraseo. Tunggu aku, ne?”

-Yoona’s POV End-

Yoona terduduk dengan lemas, air matanya terus mengalir bak sungai. Tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya, ia tak ingin orang lain melihatnya dalam keadaan seperti ini. Yoona pribadi juga bukan orang yang sering menangis seperti sekarang, bahkan ia tak mudah mengeluarkan air mata jika memang tidak diperlukan. Ia benar-benar ingin menjadi orang yang tegar sejak saat itu, dimana dia melihat temannya menangis karena suatu hal. Ia langsung ingin menjadi sosok yang bisa memberi semangat temannya. Sosok yang menjadi sandaran dimana temannya sedang ada masalah. Sosok yang ingin berguna bagi orang lain dimana mereka sedang ditimpa masalah.

Pengecualian untuk Sooyoung yang sudah Yoona kenal jauh sebelum ia inign menjadi seseorang yang tegar. Sooyounglah orang yang menjadi inspirasinya, Yoona ingin menjadi seperti Sooyoung yang terlihat baik-baik saja walaupun ada masalah yang dipikulnya. Ia ingin meniru sikap Sooyoung yang selalu bisa membuat orang kembali ceria, aura wanita itu memang terkesan bijak, hangat dan berwibawa. Meskipun aura itu berbeda 180o dengan kelakuannya. Sooyoung terkenal sebagai orang yang ceroboh, cerewet, ceplas-ceplos, hyper, dan konyol. Tapi Yoona tak akan berbohong jika ia mengatakan Sooyoung memiliki kharisma yang kuat. Sama seperti Choi Minho, sepupunya yang sekarang berada di Sydney, Australia bersama tunangannya, Choi Jinri. Dan jangan lupakan Choi Siwon, kakak Minho yang menetap di New York bersama istrinya Hwa–bukan.. Choi Tiffany, dan anak mereka yang baru berusia 1 ½ tahun. Mereka benar-benar memiliki kharisma yang jauh lebih besar daripada Sooyoung.

Terkadang Yoona berfikir, apakah keluarga Choi memang memiliki kharisma sekuat itu? Oh, tolong jangan ingatkan Yoona pada anak itu, Choi Junhong, sepupu Sooyoung yang satu lagi. Anak itu benar-benar jauh dari kata berkharisma pada saat Yoona terakhir melihatnya. Mungkin sekarang dia bisa lebih menunjukkan kharisma-nya. Mengingat saat-saat dimana dia bercanda dengan Junhong, membuat Yoona sedikit melupakan masalah yang sedang sahabatnya hadapi.

Noona?” Yoona mengadahkan kepalanya, menemukan seorang remaja yang masih memakai seragam sekolahnya. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, rambutnya agak keunguan–atau biru? Wajahnya langsung mengingatkan Yoona pada anak nakal dan hyper yang terakhir ia temui 5 tahun lalu. “Ah, aku benar! Hyung! Yoona Noona ada disini!” ucapnya sambil melambai-lambaikan tanganya pada pemuda di ujung lorong. Orang diujung lorong itu berlari mendekat, dan Yoona langsung tersenyum lembut.

“Yoona-ya, ada apa?” tanyanya setelah menyamakan tingginya dengan Yona yang masih duduk. Yoona kembali terisak, ia kembali mengingat sahabatnya yang masih belum ada kabar. Ruangan UGD dimana Sooyoung berada masih tertutup sejak 30 menit yang lalu. Yoona sontak memeluk orang didepannya. “Oppa, Sooyoung mengidap kanker.. Apa yang harus aku lakukan?!” Yoona berkata dengan nada geram. Ia lantas memeluk pria dihadapannya. Heechul hanya mengehela nafas, ia tahu betapa besar rasa sayang Yoona terhadap sahabatnya yang sering sering dijuluki Shikshin itu.

Setelah berangsur tenang, Yoona menatap wajah remaja yang sekarang duduk di sampingnya. Ia tak bisa melihat dengan jelas wajah remaja ini tadi karena sinar matahari yang menyilaukan matanya. Dan sekarang, betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya dengan jeals wajah remaja itu. “Junhongie?” lirihnya, sang remaja tersenyum lebar sebelum memberi Yoona sebuah pelukan hangat dan erat. Heechul mengelus dadanya berulang-ulang, berusaha mengikis rasa cemburu yang tumbuh. Hei, remaja itu hanyalah Choi Junhong, dan dia sudah mengenal Yoona sejak lama. Hubungan mereka memang akrab bak hubungan adik-kakak, walaupun sebenarnya mereka hanya berteman baik–sangat baik. Junhong yang memang menjadi anak tuggal di keluarganya, merasa senang bisa bertemu dan berkenalan dengan Yoona. Ia merasa memiliki saudara.

“Uwaah, kau sudah besar, ne? Kemana Junhongie-ku yang kecil dulu? Sekarang kau bahkan lebih tinggi dariku,” Ucap Yoona sambil mengelus kepala Junhong. Sedangkan anak itu hanya tersenyum, ia senang bisa kembali melihat Noona-nya. Usapan Yoona di kepala Junhong berhenti saat suatu pertanyaan mengusik pikirannya, “Hei Junhong, katakan, bagaimana kau bisa datang ke sini dengan Heechul Oppa? Dan kenapa kau masih mengenakan seragam sekolahmu, HUH?!” geram Yoona. Junhong hanya menggaruk-geruk agian belakang kepalanya yang tidak gatal.

Ohya, aku lupa memberitahu kalian, Yoona benar-benar menjalankan dengan baik perannya sebagai kakak Junhong. Uuh.. kurasa ia terlalu berlebihan.

***

Kyuhyun membungkukkan badannya ketika mengambil napas selepas berlari tadi. Ruangan nomor 321, dimana Sooyoung di rawat. Awalnya wanita itu harus masuk ruang UGD terlebih dahulu karena diperlukan pemeriksaan yang intensif. Sayang, Kyuhyun tak bisa ikut menunggu Sooyoung keluar dari ruang UGD tadi dikarenakan pekerjaannya yang menumpuk. Ponselnya terus bergetar, ia tahu, pasti sekreterisnya itu yang menelpon. Tapi, kyuhyun tak peduli. Ia akan menemui Sooyoung dan itu keputusan terakhirnya.

Dengan tangan bergetar dan dada bergemuruh, Kyuhyun berusaha membuka pintu ruangan didepannya. Aneh, dirasanya membuka pintu adalah perekerjaan tersulit yang pernah ada. Apa yang ia takutkan? Sooyoung hanya mengidap sakit biasa, mungkin kelelahan. 4-5 hari kemudian wanita itu pasti akan kembali beretengkar kecil dengannya, wanita itu pasti akan kembali memasakkan makanan untukknya dan Naeun, wanita itu pasti akan kembali tersenyum kearahnya, pasti akan kembali memarahinya karena hal yang serius maupun yang sepele. Pasti… iya kan?

Ketika pintu di depannya terbuka, Kyuhyun menengok ke dalam. Hanya untuk menemukan Sooyoung terbaring dengan alat yang membantunya bernafas dan beberapa kabel ditubuh wanita itu. Semua orang didalam ruangan menolehkan kepala mereka ke arah Kyuhyun yang masih terdiam di tempatnya semula. Ia masih belum bisa percaya wanita yang berbaring lemah di kasur itu adalah Choi Sooyoung. Orang yang dia sayangi, orang yang sudah mengisi hatinya. Nenek sihir yang selalu berteriak, dan juga seseorang yang bisa menyusupkan dirinya di hati Kyuhyun. Orang asing teraneh yang pernah Kyuhyun temui, orang yang mau memberi Kyuhyun rumah bahkan ketika mereka pertama bertemu. Orang sudah mau menjadi sandarannya, orang yang sudah mau menjaga rahasianya selama ini. Kyuhyun pernah menangis di hadapannya, dan Sooyoung juga pernah menangis di pundaknya. Wanita itu benar-benar menjadikan Kyuhyun orang yang paling dipercayainya.

“Sooyoung-ah.. bangunlah.” Ucap Kyuhyun lirih, ia berjalan mendekati kasur Sooyoung, lalu menggenggam tangan gadis itu sesaat setelah ia sudah berda di samping kasur Sooyoung. Ryeowook dan Seohyun yang baru masuk ke dalam ruangan langsung bisa merasakan aura negatif yang menyelimuti ruangan ini. Mereka melihat Kyuhyun yang mengelus dan menggenggam tangan Sooyoung dengan penuh kasih sayang. Seohyun mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun dan Sooyoung. Matanya panas dan butiran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bukan, bukan Sooyoung ini yang dia kenal. Sooyoung yang dia kenal itu kuat, ia tak akan terbaring lemah di kasur itu dengan alat bantu pernafasan dan kabel-kabel itu. Dia ingin menangis, Seohyun ingin menangis. Tapi ia tidak bisa. Ia tahu benar Sooyoung tak suka melihat orang yang wanita itu sayangi menangis. Apalagi alasan orang itu menagis karena dirinya sendiri.

Melihat Seohyun yang berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, Ryeowook menarik lembut tangan wanita itu ke arah luar ruangan. Setelah menutup pintu rungan Sooyoung, Ryeowook menyandarkan punggungnya ke dinding dan menatap Seohyun dengan datar. Tak ada yang berbicara, hanya gerakan-gerakan kecil dimana Ryeowook yang tadinya memasukkan tanagnnya ke saku celana berubah menjadi dilipat di depan dadanya, dan Seohyun yang sesekali mengusap-usap ujung hidungnya. Sebenarnya Ryeowook sedang menunggu Seohyun untuk melepaskan tangisan yang sudah wanita itu tahan, namun karena yang ditunggu tak kunjung datang Ryeowook mengernyitkan dahinya.

Seohyun bukan tipe orang yang suka memendam sesuatu yang sedang dia rasakan berlama-lama. Biasanya wanita itu langsung mengekspresikan apa yang dia sedang rasakan. Seperti beberapa saat yang lalu, saat dia baru saja kembali dari rumah ibu Kyuhyun dan meminta bertemu dengannya di salah satu cafè, terlihat jelas bahwa wanita itu sedang senang. Dan saat Ryeowook tanyakan apa yang membuatnya begitu berseri-seri, Seohyun menjawab dengan riang.

‘Ehehe.. ibu Kyuhyun Oppa memperbolehkan kami membatalkan pernikahan itu!’

Bukan hanya nada suaranya yang terdengar beitu senang, tatapan mata dan gestur tubuhnya juga sangat menggambarkan apa yang sedang dia rasakan saat itu. Kakinya digoyang-goyangkan, tangannya menabuh-nabuh kecil meja cafè itu, dan senyum tak kunjung lepas dari wajahnya. Ryeowook yang melihatnya saja sampai dibuat takut karena Seohyun hampir tidak pernah menghilangkan senyumannya seharian penuh. Sebenarnya, keesokan harinya Seohyun berencana untuk kembali tersenyum sepanjang hari seperti kemarin. Namun, ketika dirinya ingin mengembangkan sebuah senyum.. bukan, bukan.. tarikan kecil di ujung bibir, Seohyun merasakan nyeri di bagian ujung bibirnya dan juga pipinya. Jadilah, seharian penuh.. Seohyun berusaha untuk tidak tersenyum apalagi tertawa terbahak-bahak.

Wajah kesakitan Seohyun saat wanita itu kelepasan ingin tersenyum atau tertawa, tidak akan pernah Ryeowook lupakan. That was an epic moment, you know? Dan Ryeowook akan menyimpan kenangan itu di salah satu rak kenangannya degan Seohyun di dalam kepalanya. Gara-gara kembali teringat dengan wajah konyol Seohyun saat itu, Ryeowook tak sengaja mengeluarkan tawa kecil yang langsung ditangkap oleh telinga Seohyun karena anehnya lorong dimana mereka berada terlihat kosong. Dan suasananya hening.. sangat hening, sebelum Ryeowook menghancurkan itu semua dengan tawa kecilnya. Seohyun memandangi pria dihadapnnya dengan pandangan aneh. Hei, Seohyun disini sedang mengaktifkan mode mellow-nya. Dan Seohyun rasa Ryeowook sendiri bisa melihatnya, kenapa pria ini malah tertawa!?

“Maaf.. Maafkan aku Joohyun-ah. Aku hanya.. teringat saat kau tak bisa tersenyum lantaran ujung bibirmu sakit. Astaga, benar-benar hal yang tak bisa dilupakan. Hahaha!” Seohyun hanya memandang Ryeowook dengan raut muka yang menggambarkan bahwa hal-itu-tak-lucu dan berhenti-tertawa-bodoh! Sebelum tawa Ryeowook yang tak disangkanya akan susah di hentikan itu terdengar makin keras, Seohyun buru-buru menendang betis Ryeowook yang masih tertawa. Otomatis, sahabat baik Kyuhyun itu mengeluh kesakitan dan melemparkan sebauh glare. Seohyun berusaha menahan laju tawanya, kurang ajar si Ryeowook itu. Kemana sudah perginya mood jelek Seohyun?

“Lihat. Aku menepati janjiku untuk selalu membuatmu tersenyum ketika kau sedih kan, Joohyun-ah?” Seohyun terlihat tertegun ketika Ryeowook menyebutkan janji yang entah kapan sudah mereka buat. Seohyun mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, membiarkan paru-parunya dimasuki angin segar. Entah mengapa sejak masuk ke kamar Sooyoung, paru-parunya seakan diisi oleh polusi, membuatnya sulit untuk bernafas. Ryeowook kembali memandangi Soehyun yang terliaht jauh lebih tenang sekarang. Posisinya masih sama seperti tadi, pria itu masih menyandarkan tubuhnya pada dinding dan keheningan kembali menyelimuti mereka berdua di lorong sepi itu. Hanya saja, keheningan itu sekarang malah terasa nyaman daripada canggung.

“Aku sudah siap untuk apapun masa depan yang sudah Tuhan takdirkan untuk Sooyoung Eonni. Meskipun itu berarti aku harus kehilangan orang yang kusayangi sekali lagi.” Ucap Seohyun tanpa disangka. Ryeowook mengeluarkan senyum misterius, kau tak dapat menebak apa artinya. Entah itu bangga, senang, sedih, atau kecewa. Seperti namanya, senyum itu sangat misterius. Dan hanya Ryeowook dan Tuhan saja yang tahu artinya. “Baiklah, aku mengerti.” Ryeowook hanya menjawab dengan nada tak tertarik dan malas.

***

Beberapa bulan kemudian…

Sooyoung masih terbaring di Rumah Sakit. Dokter yang menangani wanita itu mengatakan bahwa Sooyoung sedang dalam koma panjang, dan beliau tidak tahu kapan Sooyoung akan bangun. Semua orang pasti sedih ketika berita itu diumumkan sang Dokter 2 bulan lalu. Terlebih lagi Kyuhyun, Naeun dan Seohyun yang merasa sangat kehilangan sosok hangat Sooyoung. Yang mereka bisa lakukan hanyalah berdoa dan menunggu Sooyoung membuka matanya kembali.

Sudah 3 hari ini Kyuhyun memutuskan untuk mengambil cuti dari kantornya. Ia tahu betapa banyaknya pekerjaan yang ia tinggalkan disana. Namun apa boleh buat? Orang yang berarti dunia untuknya itu sedang terbaring di rumah sakit, Kyuhyun ingin saat Sooyoung kembali membuka matanya, orang pertama yang wanita itu lihat adalah dirinya. Hp nya kembali bergetar menandakan ada SMS baru yang kembali masuk. Kyuhyun menghiraukannya, biar saja orang yang mengiriminya SMS itu terus mengirim, nanti juga lelah sendiri. Hpnya kembali bergetar, kali ini lebih lama, pasti telepon. Niat awalanya Kyuhyun ingin sekali mengabaikan Hp sial itu, namun karena getarannya tak kunjung berhenti, pria yang berusia hampir berusia 25 tahun itu dengan malas mengangkatnya.

Yeoboseyo?”

“YA! KEMANA SAJA KAU, HYUNG!? KANTOR INI MEMBUTUHKANMU, BODOH! KAU ITU DIREKTURNYA KAN? JIKA MEMANG IYA, CEPAT BAWA BOKONGMU KESINI! KAU MENDENGARKU, HYUNG?! AWAS SAJA KALAU- HEEII!” Kyuhyun menjauhkan Hp itu dari telinganya. Wow, sejak kapan suara Byun Baekhyun terdengar keras seperti itu? Byun Baekhyun adalah adik kelasnya di kuliah dulu, dan dia sekarang menjadi salah satu bawahannya. Baekhyun anak yang baik, dan dia tak pernah berbicara sekasar itu terhadap Kyuhyun. Mungkin dia hanya kembali kehilangan kesabarannya, dan Kyuhyun tahu ialah penyebabnya. Terdengar suara barang berjatuhan, beberapa teriakan, dan keluh kesakitan. Kyuhyun menghela nafas, ruangan dimana Baekhyun bekerja memang tak pernah tenang. 12 pemuda mapan dan tampan berada di dalamnya, di kantor Kyuhyun mereka terkenal dengan nama EXO, bagian kantor paling berisik, menakutkan, dan aneh. Entah kemana kepala ruangan itu? Kris bodoh.

“Aigoo, anak itu. Maafkan tingkah Baekhyun, Hyung. Dia hanya.. yah, begitulah. Tenang saja, dia sudah ditenangkan oleh Kyungsoo.” Suara tenang Joonmyeon menggantikan suara kasar Baekhyun di telepon. Kyuhyun mengangguk meskipun ia tahu Joonmyeon tak bisa melihatnya. Jika ketua EXO adalah Wu Yifan atau yang lebih dikenal sebagai Kris, maka wakilnya adalah Kim Joonmyeon atau Suho. “Memangnya ada masalah apa, Joonmyeon-ah?” Kyuhyun bertanya, Baekhyun tak akan sampai semarah itu jika memang tak ada apa-apa.

“Aah, hanya masalah kecil, Hyung. Coba saja Yifan ada disini.. Eh, tapi tidak apa-apa, Hyung! Jangan khawatir!” Kyuhyun mengernyitkan dahinya, kemana pula manusia berwajah Angry Bird yang satu itu? Sambil menghela nafas, Kyuhyun membayangkan keadaan ruangan EXO sekarang. Sepertinya benar-benar kacau, EXO tanpa Kris yang mengaturnya bagaikan pesawat tanpa pilotnya. “Kemana ketuamu?” tanya Kyuhyun datar. Awas saja kau Wu Yifan, jika alasanmu tak masuk kantor dan meninggalkan 11 temanmu di ruangan itu sendirian ternyata hanya masalah sepele, kau akan berurusan denganku, pikir Kyuhyun.

“Mm? Ketu-ah.. Yifan? Dia kembali ke China sejak 2 hari yang lalu, katanya keluarganya menelpon. Dilihat dari gelagatnya, aku pikir Yifan sedang ada masalah dengan keluarganya.” Joonmyeon menjelaskan dari seberang sana. Kyuhyun kembali mengangguk-angguk mengerti, keluarga Kris and Kris sendiri memang sering ada masalah. Entah itu hanya masalah sepele, ataupun masalah yang lebih rumit. Sepertinya masalahnya sedang rumit kali ini, ya? Terkadang Kyuhyun merasa iba kepada Kris, ia bahkan pernah melihat pemuda itu berjalan dengan lesu saat menuju ke kantin kantornya. Namun, saat akan masuk ke ruangan EXO, Kris kembali tegap dan memasang wajahnya yang biasa.

“Baiklah.. kau tahu apa artinya ini kan, Kim Joonmyeon? Tanggung jawab ada di tanganmu sekarang, tolong jangan kecewakan aku, EXO, terlebih lagi Kris.” Kyuhyun bahkan bisa membayangkan bagaimana ekspresi Joonmyeon ketika ia memberi pemuda itu tanggung jawab yang memang seharusnya di tanggung oleh wakil jika ketuanya sedang tak ada. Samar-samar Kyuhyun mendengar jawaban Joonmyeon yang nyaris tak ditangkap telinganya. Setelah itu, telepon diputus oleh Joonmyeon. Kyuhyun kembali menatap Sooyoung yang masih menutup matanya, tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang mencengangkan terjadi.

_TuBerCulosis_

A/n: Nyoho! TBC datang menyerang, hihihi! Hayohayo, apaan tuh endingnya? Oya, apa part ini terlalu membosankan? Apakah cerita ini bertambah jelek? Aku juga minta do’a biar cerita ini cepet kelar dan aku bisa bikin cerita baru ^^.

Next: ‘Endings’ -coming soon

————————————–

Bonus: How Heechul Met Junhong.

Seorang remaja laki-laki sedang berjalan santai menyusuri salah satu daerah yang menjual macam-macam jajanan di pinggir jalan. Sekolahnya sudah berakhir sekitar 30 menit yang lalu, tapi seragam sekolahnya masih melekat dibadannya–dia tak mau repot-repot pulang ke rumahnya hanya untuk ganti baju lalu keluar lagi untuk bersantai. Hari ini semua murid di sekolahnya dibiarkan pulang lebih cepat oleh para guru dikarenakan hal yang tidak ia ketahui. Ketika kepalanya ia tengokkan ke belakang, sebuah mobil hitam terlihat sedang mengikutinya.

Pada awalnya, remaja itu memutuskan untuk tidak peduli dan terus melanjutkan penjelajahannya untuk mencari cemilan. Namun semakin lama, remaja itu mulai merasa takut. Ia bisa melihat mobil itu terus mengikutinya. Remaja itu mempercepat langkahnya sambil sesekali menoleh ke belakang untuk melihat apakah mobil itu masih mengikutinya. Mobil itu masih mengikutinya, warna hitam mobil itu malah menambah ketakutan sang remaja. Ketika rasa takutnya sudah mencapai angka maksimal, remaja itu memutuskan untuk berlari, berlari menjauhi si mobil hitam yang seakan mencemoohnya.

“Ah, aku benar. Ini orang yang aku cari, beruntung aku menemukannya di daerah ini. Kupikir anak itu juga harus aku bawa.” Ucap sang pengemudi mobil hitam. Ia lantas sedikit memberikan tekanan pada pedal gas mobilnya, agar bisa menyusul anak remaja yang sudah dia ikuti selama 10 menit yang lalu. Anak remaja itu sempat hilang dari radarnya, tapi terima kasih kepada warna rambut milik anak remaja itu yang terbilang agak mencolok dibanding orang lain, ia bisa kembali menemukan remaja itu.

Ia turun dari mobilnya, dan dengan santai ia mengikuti si anak remaja yang kembali mempercepat langkahnya. Pengemudi mobil hitam itu lalu mengejar dan menepuk bahu anak remaja itu ketika ia bisa menyusulnya. “Ya, Choi Junhong.” Ucap sang pengemudi. Badan anak remaja itu membeku, langkah kakinya berhenti seketika. Dengan gerakan yang hampir menyerupai robot, anak remaja itu–Junhong membalikkan tubuhnya. Bertatap muka langsung dengan sang pengemudi.

“Heechul Hyung?!” serunya kaget. Matanya membulat sempurna. Heechul hanya tertawa lalu menyeringai puas, merasa berhasil karena bisa membuat anak itu ketakutan. “Astaga, aku kira kau adalah penculik! Kau juga kan yang mengemudikan mobil misterius berwarna hitam itu?!” Heechul mengangguk dan tersenyum lebar, bangga karena Junhong benar-benar bisa ia kecoh. Junhong menlipat kedua tangannya di depan dada, merasa marah karena dipermainkan oleh Hyung-nya. “Arraseo, aku minta maaf, Junhong-ah. Hanya saja aku sudah lama tak bertemu denganmu.” Heechul menimta maaf, namun nada jahil dan senang masih bisa dirasakan. Meskipun Junhong tak menyadarinya.

“Aku tahu, Hyung. Tapi apakah kau harus menakut-nakutiku seperti itu di hari pertama kita bertemu lagi setelah–apa–5 tahun lalu?” Junhong mendengus kesal. Heechul kembali tertawa puas.

Ja, untuk permintaan maaf, aku akan membelikanmu es krim nanti. Tapi kau harus ikut denganku ke suatu tempat. Bagaimana?” bujuk Heechul. Junhong terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk dengan antusias. “Tapi kau tidak akan benar-benar menculikku kan, Hyung?” Junhong harus memastikan hal yang satu ini.

“Tergantung.” Jawab Heechul acuh tak acuh, bahunya ia angkat. Mata Junhong melebar, “HYUNG!!”

“Hahahaha! Bodoh, tentu saja tidak. Sudahlah, ayo masuk ke mobilku dan aku akan membawamu ke tempat itu.”

“Baiklah.”

<Bonus End>

Author:

A girl. Music, Singing, Drawing, Writing.

43 thoughts on “With Him: Part 7

  1. kasian soo onnie kyu oppa setia nunggu soo onnie yg koma….suka sama bonus’a hahaha lucu

  2. tbh judul ff ny saya inget n ngerasa prnh bca. tp alurnya saya lupa, crtanya yg mana. diingatkan td ma adegan, kyuhyunnya tinggal bareng ama soo ama naeun. I remember now. It has been very long time. ditunggu klanjutannya

  3. ya! apaan? soo eon gak bleh mati! awas kalo soo eon smpe mati! Overall daebak!! happy ending ya kyuyoungnya…………

  4. next q tunggu….
    ff’a keren…
    ngpost’a jgn lma2 y…
    tkut lupa…
    hehehe…
    mian bru coment;)
    thor fighting

  5. hwayya aku pernah baca part 1nya terus ngga ngikutin lagi, abis updatenya agak lama._.
    nah sekarang aku mulai baca lagi, gapapa kan ya thor aku komennya disini aja?
    Sumpeh pas udah mau bahagia aja kenapa musti sooyoung unnie kena kanker._.
    Ayolaaahhh happy ending nih ):

    1. Uuh.. maaf maaf.. aku sering ngaret..
      Ya.. gpp kok ^^. Ohoho.. aku kan suka yang twist gituh.. nggak ada yang nyangka kan? 😛
      HapEnd gak yaa? Aku ngasih clue lho.. silahkan pikirkan..

  6. Semoga soo eonni cepat sembuh….
    dan bisa bersatu sma kyuppa…
    di tunggu aza next part nya…….

  7. soo koma TToTT pdhl udh seneng2 seo sama kyu gak jd nikah. tp knp jd malah sakit kyk gini, kasian soo menderita mulu X-(
    part lanjutannya jgn lama2 XD

  8. 0mmoo soo eon???
    Plisss bwt soo eon smbuh thor jgn beri ia sakit *ehh ngatur
    next part ny sy berdoa semoga cpt d publish

  9. Soo unnie sakiiit 😦 yah sedih deh.. Yamg kuat yah unnie-ya.. Kyuhyun oppa temenin soo unnie

  10. huaaa kenapa soo jadi pnya penyakit? Hiks, nyesek thor….. Oh ya part 7’a gak ada ya?

  11. Thor ini part 7 apa part 8 ? Kok dari part 6 lompat ke 8 hehe .
    Gikwang sama naeun udah jadian? Hebat cepet amat but chukkae 🙂 tapi udah mau ending justru konflik semakin klimaks soo kenapa harus punya penyakit kanker? Jangan biarkan soo mati jebal 😦

  12. eo? masih bingung saat menceritakan dimana part Yoona bicara tentang keluarga yang bermarga CHOI….
    apa nantinya Soo bsembuh dan Kyu menyatakan keinginannya?
    aigoo, baru tau kantor Kyu ternyata berisi namja namja keceh yang berkarisma^^~

    next be waiting for knowing the ending^^
    FIGHTING~!!

  13. Daebbakkkk chingu!!!!tp aq rada bingun ma cerita part in……soalnya g focus ma castnya……tp te2p dtggu nextnya……

  14. Thor, kok part 8 sih? aku blom liat part 7 nya di wp author.
    ksian kyuppa, bru aja ngrasain kbhagiannya mlah ada msalah bru . Soo eon cpt smbuh dong,ksian kyuppa,Naeun,Yoong dn Seo.

    1. Congrats! Kamu the third reader!

      HapEnd? Emm.. gmn yaa? Ekekek… aku sedikit ngasih clue loh disana. entah kamu nyadar ato nggak. Silahkan ditunggu part terakhir With Him, ‘Endings’… Gomawo!

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s