[Series] Blind Date? Part 3

blind date

 

Title : [part3] BLIND DATE ?

Author Resmi : AliaZalea

Pembaharuan dari : kyuyoung1398

Main Cast : choi sooyoung, cho kyuhyun, choi sulli

Other cast : shim changmin

Length : series

Genre : romance

Dislaimer : ff ini murni dari hasil novel dari kak aliazalea. Aku membuat ff ini dikarenakan betapa romantisnya novel karya kak aleazalea yang pasti cocok kalau diganti cast nya dengan kyuyoung, so kalo ada yang bilang ini plagiat atau apa ini murni dari novel kak aleazalea yang aku tulis ulang dengan cast kyuyoung. Dan mungkin ada beberapa kata kata yang akan aku cut.

Note : bagi yang bingung kenapa ada nama orang luar negeri yang jadi teman kencannya sooyoung, aku gabakal ganti dengan nama korea jadi masih tetap asli seperti novelnya.

Happy reading~

TANGGAL 31 Oktober pun tiba, dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun terakhir ini aku akan menghadiri pesta Halloween yang diadakan kantorku tanpa ditemani Changmin. Aku merasa agak sedikit canggung datang sendiri karena biasanya aku dan Changmin selalu mengenakan kostum yang akan melengkapi satu sama lain. Dua tahun yang lalu kami memakai kostum sebagai Bonnie dan Clyde, pasangan bandit yang terkenal pada era tahun 30-an. Tahun lalu Changmin mengenakan kostum Popeye dan aku sebagai Olive. Tahun ini aku terpaksa mengenakan kostum biarawati. Sejujurnya, kostum ini bukan pilihanku. Aku terpaksa mengambilnya karena pilihan lain yang tersisa adalah menjadi seekor kelinci paskah berwarna pink dengan ukuran bokong yang superbesar atau menjadi putri duyung. Aku langsung menolak kostum putri duyung karena udara sudah terlalu dingin bila harus mengenakan Bra saja. Selain itu, aku tidak berani memamerkan perutku yang agak buncit kepada teman-teman kantor. Mereka bisa langsung pingsan melihatku. Sooyoung Choi, satu-satunya pegawai yang orang Asia dan sangat konservatif, tiba-tiba muncul dengan hanya mengenakan Bra dan selembar kain tipis berwarna hijau yang menutupi pinggul hingga ke mata kaki dengan potongan yang sangat ketat. Inilah konsekuensi yang harus aku terima jika baru pergi ke toko yang menyewakan kostum pada detik-detik terakhir. Mungkin kalau aku tinggal di New York hal ini tidak akan menimbulkan masalah karena di kota-kota besar biasanya terdapat beberapa toko yang menyewakan kostum untuk Halloween. Aku kan tinggal di salah satu kota terkecil di Amerika Serikat, dan di Winston hanya ada dua toko yang menyewakan kostum untuk Halloween. Satu toko dikhususkan untuk anak-anak berumur dua belas tahun ke bawah, sedangkan satu toko lagi untuk remaja dan orang dewasa. Sejujurnya, aku sudah berniat tidak datang ke pesta Halloween tahun ini, tetapi Halloween adalah salah satu liburan yang aku paling sukai. Sejak aku SMA dan pindah ke Amerika, aku tidak pernah melewatkan kesempatan menanggalkan identitasku dan berpura-pura menjadi orang lain, walaupun hanya untuk beberapa jam. Bukannya aku ada masalah dengan ‘’diri’’ ku. Aku sangat menyukai siapa aku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya saja terkadang aku ingin melarikan diri dari segala tekanan yang ada di sekitarku. Sebagai anak paling besar, aku sudah terbiasa mandiri sejak SD. Meskipun aku tahu adikku bisa menjaga dirinya sendiri, aku selalu merasa bertanggung jawab menjaganya. Aku selalu berusaha mendahulukan kepentingannya daripada kepentinganku. Sulli terlahir menjadi seorang pemikir. Oleh sebab itu, aku sangat mendukungnya ketika dia berniat mengambil S3, meskipun itu berarti dia tidak akan memiliki penghasilan sendiri selama lima tahun ke depan. Dengan diterimanya Sulli di Program S3 Psikologi pada salah satu universitas terbaik di Amerika, maka kecil kemungkinan baginya

memiliki waktu untuk mencari suami dan memberikan cucu bagi eomma dan appa-ku. Akhirnya, semua tanggung jawab itu jatuh padaku.

* * *

Sulli dan orangtuaku tentunya tidak pernah memintaku memikul semua tanggung jawab itu, tetapi aku tetap merasa itulah tugas seorang kakak. Sepanjang hidupku, aku sudah menata semua rencana hidupku dengan rapi dan penuh perhitungan. Aku bahkan memiliki rencana cadangan jika rencana utama tidak berjalan sesuai yang kuinginkan. Tentu saja semua rencana itu tidak mempersiapkanku untuk menghadapi perselingkuhan orang yang menjadi pusat semua rencana yang menyangkut masa depanku. Setelah aku pikirkan semuanya kembali, aku tidak tahu mengapa aku bisa bertahan hidup dengan Changmin selama hampir tiga tahun. Changmin bahkan tidak pernah mengutarakan keinginannya menikahiku. Memang kata cinta sering diucapkannya, terutama jika dia sedang memohon kepadaku agar mau melepaskan keperawananku untuknya. Namun demikian, tidak sekali pun dia menyinggung tentang pernikahan. Selama ini aku telah membohongi diriku sendiri dengan mencoba meyakinkan diriku bahwa kata cinta dari Changmin  berarti pernikahan dengannya suatu hari nanti. Aku telah menginvestasikan tiga tahun hidupku bersama Changmin. Kalau saja investasi itu bisa diuangkan, mungkin aku sudah menjadi kaya. Aku mematut diriku sekali lagi di depan cermin panjang di kamarku. Ternyata memang ada untungnya berkostum sebagai biarawati karena bentuk tubuhku betul-betul tidak kelihatan sama sekali. Hal itu berarti aku bisa makan sebanyak-banyaknya tanpa harus khawatir perutku akan bertambah buncit. Sambil tersenyum aku pun mematikan lampu kamar dan beranjak menuju mobil.

* * *

Pesta Halloween tahun ini seperti biasa diadakan di Embassy Suites, sebuah hotel yang cukup jauh dari rumahku. Ketika aku memasuki lobi hotel, aku langsung merasakan beberapa pasang mata menatapku penasaran. Aku melihat Kathy, rekan kerjaku, memakai kostum Wilma Flinstone. Aku melambaikan tangan dengan semangat sambil berjalan ke arahnya. Kulihat Kathy memicingkan matanya, dia terlihat ragu. Kulihat Kathy memicingkan matanya, dia terlihat ragu. Setelah aku hanya tinggal satu meter darinya, Kathy berteriak, “Sooyoung Choi, is that you? Aww… Lorrd, I almost didn’t rrecognize yah!” Dengan logat yang sangat North Carolina, dia memanjangkan pengucapan huruf ‘’r’’dan mengubah ‘’ou’’ menjadi ‘’ah’’. Aku tertawa melihat reaksinya. “Bagaimana penampilanku?” tanyaku. Kathy menatap wajahku yang tanpa makeup, seluruh tubuhku yang dilapisi jubah hitam, dan kakiku yang ditutupi sepatu bot berwarna hitam.

Well, yah definitely look different and i’m suh that people won’t  know it’syah ‘’til you tol ‘’em.” Untungnya Kathy tidak menyinggung soal Changmin. Semua orang di departemenku sudah tahu mengenai berakhirnya hubunganku dengan laki-laki bajingan itu. Mereka sempat terkejut ketika aku memberitahu bahwa aku dan Changmin sudah tidak sama-sama lagi, tetapi aku tidak mengatakan alasannya. Mereka hanya tahu sudah tidak ada kecocokan lagi di antara kami berdua.

“Apakah semua orang sudah sampai?” tanyaku. Tiba-tiba aku mendengar bunyi musik yang cukup keras dari ballroom, yang pintunya terbuka.

Most of them are. There are some that I dont rrrecognize and we’re not s’posed to ask until midnight when the parrrty is over and everyone can take off their masks.” Aku hampir lupa dengan peraturan itu. Tentunya selama ini aku tidak pernah ada masalah mengenali siapa pun juga karena kebanyakan mereka mengenakan kostum tanpa menutupi wajah. Tahun ini tampaknya ada trendkostum baru. Banyak wanita dan laki-laki yang seliweran mengenakan topeng. Beberapa dari mereka mengenakan topeng bulu-bulu yang hanya menutupi bagian kening hingga hidung. Beberapa lainnya mengenakan topeng yang menutupi separo wajah alaPhantom of the Opera. Banyak juga yang menutupi seluruh wajah dengan tiruan topeng Hannibal Lecter. Aku hampir bergidik ketika melihat seseorang melewati kami dengan mengenakan topeng karakter antagonis di film Saw.

“Mengapa sih mereka pakai topeng?” tanyaku pada Kathy, yang menggandengku menuju ballroom.

I ain’t got a clue, honey. Jujur saja, mereka membuatku agak waswas. You better be real careful coz people will act cra-ha-zy if they think that nobody can know who they are when they’re doing it.” Aku mengangguk mendengar nasihatnya. Kathy lalu membuka pintuballroom, dan aku langsung terkesima. Ruangan itu telah disulap menjadi klub malam ala

tahun 70-an. Semuanya terlihat retro abis, mulai dari lampu kristal yang memantulkan cahaya ke lantai dansa di tengah ruangan hingga kursi-kursi yang bertebaran mengelilingi ruangan itu. Satu-satunya yang menandakan kita sedang berada pada abad ke-21 adalah musik yang terlantun dengan keras dari beberapa speaker yang tergantung rendah di langit-langit ballroom.

“Aku mau ambil minum, kau mau?” teriak Kathy, meningkahi suara Justin Timberlake. Aku menggeleng. Kathy lalu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Di bawah lampu yang remang-remang pelan-pelan aku berjalan mengelilingi lantai dansa yang sudah cukup penuh. Ada Hillary Clinton yang sedang berdansa dengan P.Diddy, Shakira dengan Harry Potter, laki-laki ubanan dengan kimono tidur berwarna merah sedang berdansa dengan dua orang wanita yang bergaya seperti Playboy Bunnies. Aku kemudian sadar bahwa laki-laki ubanan yang berdansa dengan mereka adalah Hugh Hefner. Bukan raja majalah khusus untuk laki-laki yang asli tentunya, tapi cukup mirip untuk jadi kembarannya. Kemudian kulihat ada yang mengenakan kostum Batman. Aku harus menahan tawaku ketika sadar bahwa orang itu adalah Linnell, bosku. Kostum yang ketat itu tidak bisa menutupiperutnya yang buncit. Dia kelihatan mengalami masalah untuk bernapas dalam kostum itu. Aku merasa kasihan kepadanya. Kuputuskan menghampirinya, tetapi tiba-tiba ada yang menarik lenganku.

Can I have this dance?” tanya suara itu, yang terdengar berat dan dalam. Ketika aku berpaling, aku berhadapan dengan Zorro. Aku betul-betul sedang tidak mood berdansa. Kuperhatikan sekelilingku, mencoba mencari Kathy yang bisa menyelamatkanku, tetapi aku tidak melihat Wilma Flinstone di mana pun juga. Aku kembali menghadapi Zorro smabil mempertimbangkan pilihanku.

“Hanya satu dance saja kok. Anggap saja sebagai sumbangan, sister?” Sepasang mata cokelat di balik topeng Zorro itu terlihat sedang menari-nari. Dia memanggilku dengan kata “sister”, kata yang digunakan di Amerika untuk para biarawati. Mau tidka mau aku jadi tersenyum. Ada sesuatu yang terlihat familiar pada dirinya, tetapi aku tidak merasa pasti. Aku lalu membiarkan diriku dituntunnya kelantai dansa. Sebuah lagu rap melantun dengan keras. Aku mencoba mengikuti ketukan lagu itu. Aku merasa agak risi dengan kostum panjangku yang tidak memberikanku keleluasaan bergerak. Berbeda denganku, Zorro seakan-akan tidak memiliki masalah sama sekali untuk bergerak mengikuti tempo lagu. Dia bahkan menggunakan pedangnya ketika sedang menari. Beberapa orang yang sedang berdansa di sekeliling kami sampai tersenyum melihat tingkah lakunya. Mula-mula aku masih mengkhawatirkan reputasiku di depan orang-orang kantorku bila nge-dance dengan gaya yang terlalu heboh. Setelah sadar bahwa tidak akan ada yang bisa mengenaliku maka aku mulai menanggalkan “Sooyoung Choi yang penuh dengan rencana masa depan” menjadi “Sooyoung Choi yang tidak peduli apa yang akan terjadi besok”. Kulenggokkan pinggulku dengan lebih percaya diri, kumainkan mataku untuk menggoda Zorro, bahkan membasahi bibirku agak terlihat lebih seksi. Zorro melahap semuanya dengan tatapannya, dan mendekatkan dirinya kepadaku. Setelah beberapa lagu bertempo cepat, musik mulai berganti dengan lagu-lagu bertempo lambat. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdansa dengan Zorro, tetpai tiba-tiba aku merasa haus. Aku lalu memberi isyarat kepada Zorro bahwa aku akan pergi mengambil minum. Seperti yang sudah kusangka, dia mengikutiku ke bar yang terlihat agak sepi. Penerangan di situ bahkan lebih minim dibandingkan di lantai dansa. Aku melirik jam tanganku, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Gila!!! Aku sudah berdansa dengan laki-laki tidak dikenal ini selama satu jam lebih. Aku hanya memesan sebotol corona kepada bartender, dan duduk di salah satu kursi bar yang

tinggi. Zorro kemudian duduk di sebelahku sambil menggenggam botol budweiser. Suara musik di bar ternyata tidak sekeras di lantai dansa. “Kau datang sendiri?” tanya Zorro. Aku memikirkan pertanyaan itu sejenak. Aku tidak mengenal laki-laki ini. Jangan-jangan dia seorang pembunuh berantai. Aku memilih jalan aman, dan menjawab, “tidak, aku datang bersama teman.”

“Pacar?”

Aku menggeleng. “Kau sendiri?” tanyaku.

“Sendiri saja,” jawabnya. Kami lalu terdiam sesaat sambil menikmati minuman masing-masing. “Kostummu seru juga,” ucap Zorro lagi, sambil menunjuk kostumku.

“Kau juga,” balasku, sambil menunjuk pedangnya yang terbuat dari besi.

“Mengapa jadi biarawati?” tanya Zorro, sambil menatapku dalam.

Aku mengangkat bahu. “Hanya ini yang tersisa.” Zorro lalu menghadapku, kemudian mendekatkan kepalanya dan membisikkan sesuatu kepadaku. Otomatis aku pasti mendekatinya. “Untung saja kau sebenarnya buka biarawati , soalnya aku memikirkan hal-hal yang aku ingin lakukan padamu yang tidak seharusnya aku pikirkan,” bisiknya. Ia menarik kepalanya sambil tersenyum. Sekali lagi suara hatiku berkata ada sesuatu yang familiar tentang dirinya, tetapi aku menepiskan kata hatiku itu.

Aku tahu, seharusnya aku berdiri pada saat itu juga dan meninggalkan laki-laki tidak tahu tata krama itu. “Hal-hal seperti apa?” Sebelum aku bisa mengontrol lidahku, kata-kata itu sudah keluar dari mulutku. Setelah beberapa bulan ini dating dengan beberapa laki-laki, aku mulai mendapatkan kembali keahlianku flirting dengan mereka yang sempat hilang. Kulihat mata Zorro melebar di balik topengnya. “Come with me and i’ll show you,” ucapnya, dengan suara serak. Aku memutar kursiku dan menghadapnya sambil tertawa cemas. “i’m not gonna

come with you sampa aku tahu kau siapa,” balasku.

“Oh, kau tahu siapa aku.” Zorro terlihat menikmati permainan ini.

“Oh, ya?” Hal ini menjelaskan mengapa beberapa hal mengenainya sangat familiar bagiku. Kupicingkan mataku curiga. “Look. aku tidak mau play games malam ini. Jadi, bagaimana kalau kamu lepas topengmu supaya aku bisa melihat wajahmu,” ucapku cepat. Bartender yang terlihat sedang mencuci gelas menatapku. Dari matanya dia seperti menanyakan, apakah aku memerlukan pertolongannya. Aku menggeleng sedikit, menandakan aku masih bisa mengatasi keadaan. Bartender itu lalu kembali mencuci gelas-gelas, tetapi dia terlihat mendengarkan percakapanku dengan Zorro lebih seksama.

“Selalu perlu mengontrol semuanya.” Suara Zorro seperti membelai wajahku. Kemudian Zorro turun dari kursinya dan berdiri di hadapanku. Lututku bersentuhan dengan pinggulnya. Tanpa kusangka-sangka kemudian dia menyentuh kedua pahaku. Ia memaksaku membuka kedua kaki, kemudian memposisikan dirinya di antaranya. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Coba kamu ingatingat lagi,” ucapnya, kemudian sebelum aku bisa melakukan apa-apa dia sudah mencium bibirku. Ciuman itu terasa panas dan mendesak hingga aku tidak bisa bernapas. Otakku tidak bisa bekerja, yang bisa kulakukan hanya berpegang erat ke dirinya dan menikmati saat-saat ini. Sudah hampir enam bulan berlalu, dan hal ini membuatku sedikit haus akan sentuhan laki-laki pada bibir, mulut, dan lidahku. Tiba-tiba bibirnya meninggalkan mulutku dan beralih menyusuri dagu hingga telingaku. Aku hanya bisa mendesah dan mengizinkannya melakukan itu.

I like the way you kiss,” bisiknya. Aku hanya bisa menarik napas karena hembusan napasnya tengah menggelitik wajahku. “sepertinya aku satu-satunya lakilaki untukmu,” lanjutnya, dengan bisikan yang semakin menggoda. Samar-samar kudengar suara Mariah Carey menyanyikan lirik lagu “We Belong Together”. Pada saat itu juga aku tersadar oleh bunyi “KLIK” yang sangat keras. Buru-buru kuletakkan kedua telapak tanganku di dadanya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Zorro harus mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangannya dan menabrak meja bar. Tanpa memedulikan bartender yang sedang berjalan ke arahku, aku beranjak turun dari kursi. Kutatap mata Zorro dalam-dalam, kemudian menarik topeng hitam yang menutupi wajahnya dengan tangan kananku. Ketika aku bisa melihat seluruh wajahnya, yang aku bisa lakukan hanya berdiri diam menatap wajah itu. Wajah Changmin  yang sedang menatapku dengan penuh kemenangan. “Hey, babe,” ucapnya, seperti orang tidak bersalah. Aku langsung merasa mual. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung berbalik badan menuju pintu keluar ballroom. Aku bahkan tidak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Changmin mengikutiku atau tidak. Aku mencoba menyeka bibirku dengan tangan. Sebetulnya, aku ingin pergi ke kamar mandi dan mencuci mulutku dengan Listerine sebanyak sepuluh kali, kemudian mnyikat gigiku sepuluh kali juga.Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya? Aku pacaran dengannya selama tiga tahun. Aku seharusnya tahu bentuk wajahnya, badannya, suaranya, dan cara dia menciumku. Intinya, aku seharusnya mengenali dia. Aku bahkan seharusnya mengenali keahliannya menarik perhatian wanita mana pun hanya dengan kedipan matanya. Aku pun pernah jatuh cinta kepadanya karena itu. Bagaimana mungkin aku jatuh pada perangkap yang sama untuk yang kedua kalinya? Ternyata usahaku menghapuskan Changmin dari pikiranku cukup sukses karena aku betul-betul tidak bisa mengenalinya lagi. Kalau saja tadi dia tidak mengatakan kata-kata itu maka mungkin aku tidak akan pernah tahu hingga waktunya membuka topeng sekitar… aku melirik jam… setengah jam lagi. Sialan… sialan… sialan, geramku dalam hati. Aku meninggalkan bunyi musik, yang kini membuatku pusing, di belakangku dan menuju pelataran parkir. Kukeluarkan kunci mobil dari saku kostum biarawatiku. Baru pada saat itu aku mendengar bunyi langkah di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa itu adalah Changmin. Aku tahu cara dia berjalan, yang selalu terkesan seperti sedang berbaris dengan menghantamkan kakinya kuat-kuat pada lantai.

Go away,Changmin!” teriakku, tanpa menoleh dan mempercepat langkahku.

“Hey, tunggu! Aku perlu bicara denganmu.” Kudengar langkah Changmin juga semakin cepat.

Mendengar kata-kata itu aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. “Aku tidak mau bicara denganmu, oke. Aku bahkan tidak mau lihat wajahmu lagi. Bukankah aku sudah jelaskan semua terakhir kali aku bicara denganmu?” Aku mengatakan semua itu sambil bertolak pinggang.

“Kau nggak kelihatan keberatan melihat mukaku ketika kau menciumku beberapa menit yang lalu.”

“Itu karena aku tidak tahu kalau itu kau!” geramku. “Bagaimana kau bisa masuk ke party ini sih? Ini kan private party.”

“Aku hanya bilang ke orang-orang yang menjaga pintu bahwa aku date-mu

malam ini, dan mereka izinkan aku masuk.” Aku menarik napas dalam-dalam. Changmin mungkin seorang buaya darat, tapi dia buaya darat yang cerdas. Dulu aku sangat menghargai betapa pintar dan kreatifnya Changmin, tetapi tidak sekarang.

“Bagaimana kau… Ah, aku tidak peduli.” ucapku, lalu kembali berjalan ke mobil. Aku sebenarnya ingin menanyakan, dari mana dia tahu aku ada di pesta ini? Rasanya aku tahu jawabannya. Perusahaanku selalu menyewa ballroom di hotel ini setiap tahunnya untuk mengadakan pesta Halloween atau pesta apa pun juga. Changmin cukup mengenalku dan tahu aku tidak akan mungkin melewatkan perayaan Halloween.

“Sooyoung, tunggu! Aku betul-betul perlu bicara denganmu!” teriak Changmin.

“Bukannya kau seharusnya ada di Tennessee?” tanyaku, sambil terus berjalan menuju mobil.

“Aku kembali untuk berkunjung,” jawabnya. Kemudian dia melanjutkan,

“Tunggu sebentar… bagaimana kau bisa tahu kalau aku seharsunya ada di Tennessee?” tanyanya, dengan nada sedikit bingung.

“Steve yang memberitahuku” balasku. Di antara beberapa hal lainnya, ucapku dalam hati.

Have you been checking up on me?” Kata-kata itu membuatku sekali lagi berhenti melangkah dan menatapnya.

“Changmin, di planet mana sih kau hidup selama beberapa bulan ini? Mengapa juga aku harus checking up on you?”

“Karena kau masih cinta padaku, tetapi kau tidak mau mengakui,” jawab Changmin, penuh kepastian.Saat itu juga emosiku bergejolak. Kutatap Changmin sedalam-dalamnya, tidak percaya bahwa dia baru saja mengatakan kalimat itu.

“Apakah kau lupa minum obat hari ini?” tanyaku akhirnya.

“Obat? Untuk apa?”

“Untuk gejala delusional-mu.” Changmin mengerutkan dahinya sebelum membalasku, “Aku tidak delusional. Aku tahu kau masih cinta padaku, seperti aku cinta padamu. Jadi, bagaimana kalau kita lupakan saja yang sudah terjadi dan mulai lagi dari awal?”

“Hah… apa kau pikir aku bisa lupa begitu saja setelah melihat kamu ML dengan asistenmu di kantor?”

i’m happy to let you know that she is out of my life. Dia tidak berarti apa-apa untukku, begitu juga yang lainnya. Aku cintanya hanya padamu,” jawab Changmin.

“Itu tidak membuat semuanya baik-baik saja, oke? Aku tidak mau lagi

mendengarkan semua kebohongan yang keluar dari mulut mu. Ever. I’m done with you. Aku lalu berjalan menuju mobil dengan langkah lebih cepat. Kudengar Changmin memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Tiba-tiba kurasakan pergelangan tanganku ditarik dengan kasar dan tubuhku diputar menghadap Changmin.

“Kau bisa tidak stop sebentar dan dengarkan aku?” geramnya, sambil mencengkeram kedua lengan atasku.

“Aku tidak mau stop atau dengarkan atau melakukan apa pun untukmu, Changmin. Sekarang lepaskan!” Kucoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tetapi Changmin tetap tidak melepaskanku.

“Lepaskan… Changmin… lepas… atau sumpah aku akan…”

Hey… let her go.” Tiba-tiba kudengar suara laki-laki berteriak dari belakangku. Terkejut oleh teriakan itu, Changmin melepaskan cengkeraman tangan kirinya, tetapi tangan kanannya masih mencengkeram lenganku. Aku pun menoleh dan langsung mengenali laki-laki berbadan besar yang sedang berjalan ke arahku. Seperti terakhir kali aku melihatnya, dia hanya mengenakan sweater turtleneck di atas celana jeans dan tanpa jaket.

“Kyuhyun!” teriakku. Kyuhyun memicingkan matanya sesaat untuk mengenali wajahku sebelum berkata, “Sooyoung?” dengan nada terkejut. Tatapannya kemudian tertuju pada kostum biarawati yang kukenakan, dan aku bersumpah… aku melihatnya tersenyum.

And i’m Changmin, now run along, pretty boy.” Cara Changmin mengatakan kata “pretty boy” dengan penuh kebencian membuat tubuhku menjadi dingin. Tidak ada laki-laki mana pun di atas usia tiga puluh tahun, yang akan tinggal diam bila dipanggil “pretty boy”. Aku yakin sebentar lagi kepalan tinju akan mulai melayang. Aku akan berada di antara laki-laki yang melayangkan kepalan tinju dengan targetnya. Kualihkan perhatianku dari wajah Changmin ke Kyuhyun dengan perasaan waswas. Akan tetapi, yang kulihat justru membuatku bingung. Bukannya terlihat marah, Kyuhyun justru terlihat terhibur dengan kata-kata Changmin.

Now that’s a thought. I never think of myself as being pretty. Attractive, maybe, but definitely not pretty,” ucap Kyuhyun santai. Meskipun hatiku sedang galau, aku harus mengakui bahwa kata “pretty” sama sekali tidak bisa menggambarkan dirinya. Dia lebih terlihat seperti patung Adonis Yunani. Seksi dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ini bukan urusanmu. Ini antara aku dengan pacarku. Jadi, kalau kau tidak keberatan…”

“Mantan pacar!” teriakku ganas. Mau tidak mau aku harus meluruskan khayalan Changmin, yang seolah-olah mengelabui pikirannya. “Tidak ada apa-apa di antara kita, Changmin, sudah tidak lagi.” Kutarik lenganku dari cengkeram Changmin, dan dia melepaskanku. Kyuhyun terlihat melipat kedua tangannya di depan dadanya yang bidang. “Well, kelihatannya kau yang harus pergi, pretty boy.” Mau tidak mau aku jadi tersenyum mendengar Kyuhyun melempar balik kata-kata Changmin, dan dia terlihat terkejut. Beberapa detik berlalu, dan aku berpikir Changmin melangkah pergi dan meninggalkanku seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu ketika dia berhadapan dengan dua laki-laki yang rela membelaku. Tibatiba, bagaikan seekor banteng yang melihat kain merah, Changmin menyerang Kyuhyun. Gayanya pun sudah seperti banteng, ia sedikit membungkuk untuk menyerang bagian tengah tubuh Kyuhyun. Selanjutnya, mereka bergumul di aspal pelataran parkir. Aku mendengar bunyi kepalan tinju mengenai sesuatu yang keras, yang diikuti dengan teriakan, “Shit, my eye… my eye!” Aku tidak tahu siapa yang berteraik, tetapi melihat posisi Kyuhyun yang berada di atas Changmin, aku menduga yang berteriak Changmin.

Guys… guys… stop it!” teriakku panik. “Bisa tidak kita bicarakan ini semua layaknya orang dewasa?” Mereka seakan-akan tidak mendengarku, bahkan kedua laki-laki itu terus terlibat perkelahian. Andai saja aku punya peluit, yang bisa aku gunakan untuk menarik perhatian mereka? Tampaknya meskipun aku meniup benda itu sampai mukaku biru, mereka tetap tidak akan berhenti berkelahi hingga salah satu dari mereka terkapar dan babak belur. Aku mendengar bunyi cling… cling… cling… yang kemudian aku sadari berasal dari pedang Zorro Changmin. Mau tidak mau aku jadi tersenyum. Seingatku dari semua film Zorro yang pernah aku tonton, aku tidak pernah melihat jagoan berjubah hitam dengan gaya misterius itu berhadapan dengan musuhnya tanpa menggunakan pedangnya.

Let me blacken that other eye for you.” Kudengar Kyuhyun berkata sebelum dia melayangkan kepalan tinjunya ke arah Kyuhyun, diikuti dengan bunyi “crack” yang cukup keras. Kemudian kudengar Changmin berteriak, “Oowww… that hurts you asshole.” Kulihat Kyuhyun menarik tali yang mengikat jubah Zorro Changmin  ke arahnya, dan dia menatap Changmin dengan tajam sebelum menggeram, “Who are you calling

an asshole?

You. You senseless son of a bitch.”

“Apa eommamu tidak pernah mengajarkan agar tidak mengucapkan kata sumpah serapah?” Kudengar suara geraman, tiba-tiba Changmin sudah mendorong tubuh Kyuhyun dan posisi mereka pun berbalik. Kini Changmin berada di atas Kyuhyun.

Get off me you sissy.” Suara Kyuhyun terdengar seperti guntur yang pecah di langit menjelang hujan.

“Jangan pernah menghina eommaku !,” teriak Changmin ganas, sambil menggenggam kepala Kyuhyun di antara kedua telapak tangannya. Aku melihat ke sekelilingku, mencari seseorang yang mungkin bisa membantuku menghentikan perkelahian ini, tetapi aku tidak melihat siapa-siapa. Pelataran parkir itu kosong melompong, tampaknya semua orang masih ada di dalam ballroom dan menikmati pesta Halloween tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di luar. Menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghentikan pergumulan itu sendirian, aku memutuskan mundur beberapa langkah dan menyandarkan bahu pada satu sisi Ford Explorer yang diparkir tidak jauh dari tempat Changmin dan Kyuhyun sedang membuktikan kelaki-lakian mereka, dan menunggu. Aku bukan

orang yang menyenangi kekerasan sehingga aku harus menutup mataku ketika kulihat kepala Kyuhyun bersentuhan dengan aspal dengan bunyi yang cukup keras, tetapi kelihatannya kepala Kyuhyun cukup kuat karena entakan itu tidak memengaruhinya. Kudengar dia berteriak, “Damn… you fight like a girl!

No I don’t!” balas Changmin tersinggung, ia menghantam wajah Kyuhyun dengan kepalan tinjunya, kemudian berusaha berdiri. Aku ragu, tetapi kelihatannya kepalan tinju itu mengenai Kyuhyun tepat di hidungnya. Kudengar Kyuhyun terbatuk-batuk dan mencoba berdiri juga. Melihat darah segar menetes keluar dari hidungnya membuatku panik.

“Kyuhyun, kau berdarah!” teriakku, dan berjalan mendekatinya.

“Jangan dekat-dekat, Sooyoung ! Kami belum selesai.” Seolah-olah tidak mendengarku,Kyuhyun membalas pukulan Changmin sambil mengangkat tangannya untuk mengingatkanku agar tidak mendekat. Dia tidak memandangku ketika melakukannya. Tatapannya tetap kepada Changmin.

Kemudian Changmin berbalik badan dan menatapku. Aku bisa melihat wajahnya lebih parah daripada Kyuhyun. Mata kanannya sudah mulai tertutup karena bengkak. Bibir bawahnya pecah dan darah kering menempel di situ.

“Changmin.” Suaraku terdengar tercekik.

“Aku tidak apa-apa,” geramnya kepadaku. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap Kyuhyun, dan berkata, “Ayo! Pukul aku sekali lagi, dan aku akan membuatmu lebih babak belur!”

“Oke, stop ini semua sekarang! Both of you!” teriakku. “Changmin ! berdiri saja kau sudah tidak bisa, bagaimana kau akan memukul Kyuhyun!?”

Just shut up, woman!” balas Changmin, tanpa menatapku. Aku terdiam sesaat sebelum kata-kata Changmin betul-betul bisa aku cerna. “Apa kau bilang?” Aku masih tidak percaya dengan pendengaranku. Dia baru saja melontarkan kata “shut up” kepadaku.

“Aku bilang diam!” Seperti tidak memahami kesalahannya, Changmin

mengulangi kata-kata itu sambil menatapku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku tiba-tiba jadi kalap dan langsung berjalan bergegas mendekatinya dengan mengepalkan kedua telapak tanganku dan berteriak, “You worthless son of a bitch, how dare you to tell me to shut up!” Aku kemudian melayangkan kepala tinjuku pada wajah Changmin, yang terlihat terkejut dengan reaksiku.

Sooyoung, kau kenapa?” teriaknya, sambil mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku tidak menghiraukannya, dan tetap melayangkan kepalan tinjuku. Setelah beberapa detik dan menyadari kepalan tinjuku tidak bisa melukainya, aku memikirkan cara lain untuk betul-betul menyakiti fisik Changmin. Dengan menggunakan kaki kananku kutendang Changmin di selangkangannya sekuat tenaga. Ujung sepatu botku yang agak runcing tepat mengenai sasaran. Kudengar Changmin berteriak kesakitan, dan dia mundur beberapa langkah sambil membungkuk.

That should teach you not to tell any woman to shut up. Ever!” ancamku, dengan sedikit terengah-engah. Aku merasakan kemarahan yang tadi ada di dalam diriku menghilang perlahan-lahan. Sekarang aku mengerti mengapa laki-laki lebih memilih bertengkar secara fisik daripada verbal karena ternyata cara itu memang lebih efektif untuk melampiaskan kemarahan. Aku baru sadar ternyata Kyuhyun masih ada di sana ketika kudengar suara orang cekikikan. Kualihkan perhatianku pada Kyuhyun, yang sedang membungkukkan tubuhnya. Aku pikir dia sedang kesakitan, tetapi kemudian aku melihat bahunya bergerak naik-turun dengan suara tawa yang tertahan. Kemudian dia meluruskan tubuhnya dan tertawa keras. “Oh, itu tidak ada duanya,” ucap Kyuhyun, di antara tawanya. Aku menunggu beberapa saat sambil mengetukkan kakiku ke aspal. “Senang

bisa menghiburmu,” kataku datar, kemudian berjalan ke arahnya. “kesini aku urus hidungmu.” Seperti baru sadar ada darah yang sedang menetes dari hidungnya dan menodai sweater-nya Kyuhyun berteriak, “Awww… crap!” Mau tidak mau aku tertawa melihatnya. “Aku ada P3K di dalam mobil. Keep your head back, itu akan mencegah darah terus keluar dari hidung,” ucapku, sambil menuntunnya menuju mobilku yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kuminta Kyuhyun duduk di atas kap mesin mobil. Kuberikan selembar tisu kepadanya, yang bisa digunakannya untuk menghentikan darah yang mengalir ke luar. Sementara itu, kulepaskan kostum biarawati dan melemparkannya ke kursi belakang mobil. Bulu roma di punggungku langsung berdiri, bereaksi pada pergantian suhu tubuhku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Kuambil ktoak P3K dan menghampiri Kyuhyun. “Patah tidak?” tanyaku, sambil mengaduk-aduk kotak itu mencari kapas. Dia menekan tulang hidungnya sepelan mungkin. ‘’sepertinya sih tidak.” Suara Kyuhyun terdengar bindeng.

“Oke, lepaskan tanganmu biar aku bisa lihat,” ucapku. Kyuhyun kemudian membiarkanku mengangkat tisu, yang kini berwarna merah karena darah. Darah yang tadi mengalir kini sudah berhenti. Aku menarik napas lega.

“Tahan napasmu!” perintahku, dan segera membersihkan bekas-bekas darah yang masih tersisa di atas bibir dan dagunya dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol. Selama melakukan itu semua aku mencuri-curi mencium aroma Kyuhyun dalam-dalam. Aromanya menghantui pikiranku sehingga membuatku mencarinya di setiap date-ku selama tiga minggu terakhir ini. Ketika aku membersihkan bagian luar bibirnya, aku menyadari bibir itu mungkin adalah bibir terseksi yang aku pernah lihat. Apakah yang Kyuhyun akan lakukan bila tiba-tiba aku menciumnya? pikirku. Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah diriku melakukan tindakan yang ada di pikiranku. Kyuhyun  tidak mengatakan apa-apa selama jari-jariku bersentuhan dengan kulitnya. Dia hanya menatapku dengan mata birunya itu. Kalau saja dia mengetahui fantasiku tentangnya, dia mungkin akan lari pontang-panting sambil berteriak.

She’s crazyyyyyy…!” Sekali lagi kugigit bibir bawahku, tetapi kali ini untuk mencegahku agar tidak tertawa karena imajinasiku. Setelah wajahnya bersih kembali, aku memberikan beberapa lembar tissue padanya untuk digunakan bila ada darah yang keluar lagi. Sambil membereskan kotak P3K, aku mempertimbangkan bagaimana aku harus meminta maaf kepadanya atas kejadian malam ini. Kyuhyun menatapku, bibirnya tertarik lurus seperti sedang berusaha menahan senyum, tetapi tidak berhasil.

“Apakah kau menginap di hotel ini?” Pertanyaan yang bodoh sebetulnya, tetapi setelah selama lima menit aku mencoba mencari topik pembicaraan di dalam kepalaku tanpa membuahkan hasil, aku tidak punya pilihan lain. Kyuhyun menatapku seperti aku makhluk dari planet lain karena mengeluarkan pertanyaan itu, tetapi dia tetap menjawab, “Ya,” ucapnya datar.

“Untuk kerja?” tanyaku lagi.

Social visit. I’m leaving tomorrow morning,” jelas Kyuhyun. Jadi, Kyuhyun memang tidak tinggal di Winston rupanya. Inilah sebabnya aku jarang melihatnya. Di mana kira-kira dia bermukim? pikirku dalam hati. Kami masih terdiam dalam keheningan yang mulai membuagku canggung.

“Kau marah ya ?” tanyanya akhirnya. Aku menatap Kyuhyun bingung. “Mengapa aku harus marah padamu?”

“Karena aku sudah membuat pacarmu babak belur,” jawabnya.

“Dia bukan pacarku.”

“Mengapa kau pikir aku marah padamu?” tanyaku kemudian.

“Karena kau hanya diam saja selama beberapa menit ini.”

Aku terdiam sesaat untuk mencerna kata-katanya. Aku tersenyum atas kesalahpahaman ini. “aku tidak marah kepadamu. Tidak sama sekali. Changmin laki-laki bajingan dan sudah sepantasnya dia babak belur. Sori karena dia sudah menonjok hidungmu.” Kyuhyun mengangkat bahunya, kemudian berkata, “Bukan yang pertama kali, dan mengapa juga kau minta maaf untuk dia?” Wah… aku juga tidak tahu mengapa aku melakukannya. Aduh laki-laki ini membuatku bingung. Terutama karena aku sadar, aku sedang berdiri terimpit di antara kedua pahanya yang terlihat kokoh di balik jeans berwarna gelap.

“Bagaimana bisa sih kau dating dengan laki-laki bajingan seperti dia?” tanya Kyuhyun, mengeluarkanku dari rasa ketidaknyamanan. Aku ada dua jawaban untuk pertanyaan itu. Pertama, ketika aku bertemu dengan Changmin  aku masih muda. Changmin terlihat seperti laki-laki sempurna bagiku pada saat itu. Kedua, aku cinta mati padanya pada pandangan pertama. Aku ini perempuan tolol, yang sudah terlalu percaya dengan segala katakata manis yang keluar dari mulutnya. Aku seharusnya tahu, sebagai seorang pengacara, mengeluarkan kata-kata puitis adalah keahliannya dan sudah menjadi bagian dari dirinya. Bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, aku malahan lebih memilih menutup kotak P3K dan mengembalikannya ke dalam mobil. Melihatku tidak menjawab pertanyaannya, Kyuhyun lalu turun dari atas kap mobilku.

“aku sebaiknya mengecek Changmin” ucapku. Meskipun aku sangat membenci Changmin karena telah membohongiku dan tidak peduli bila dia kehilangan testiclenya karena tendanganku, aku sudah menghabiskan tiga tahun hidupku bersamanya. Aku bahkan sempat merasa bahagia bersamanya. Melihatnya lagi malam ini membuatku teringat, aku dulu pernah mencintainya. Oleh karena itu, aku tidak bisa tidak memedulikannya sama sekali. Kyuhyun mengangguk. “Apakah kau perlu bantuanku?” tanyanya.

Aku menggeleng. “tidak, aku bisa mengatasi dia. Terima kasih sudah menawarkan bantuan.”

Aku baru akan melangkah pergi ketika tatapanku tertuju pada sweater biru tua, yang membungkus tubuhnya dengan sempurna itu. Kini sweater itu telah dinodai oleh empat titik berwarna gelap. Aku lalu mengambil dompetku dari dalam mobil dan mengeluarkan kartu namaku. Di belakang kartu nama itu kutuliskan nomor telepon selularku.

“Sori soal sweatermu. Bisa tolong kirimkan tagihan dry cleaning-nya?”

Kuserahkan kartu namaku kepada Kyuhyun, yang menatap kartu namaku kemudian wajahku. Dia terlihat bingung.

Don’t  worry about it,” ucapnya, sambil menggerakkan tangannya di depan wajahku. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat logosweater itu.

Holy shit!” teriakku. Kyuhyun langsung mundur selangkah karena kaget. “What’s  wrong?” tanyanya khawatir.

Sweater mu Armani!” jawabku masih berteriak.

Yeah, so what?” Kyuhyun masih terlihat bingung. Ia menatap sweater yang dikenakannya, kemudian mengalihkan tatapannya kepadaku.

It’s expensive like hell that’s what!” teriakku putus asa.

“Ini cuma sweater.” Kini Kyuhyun  terdengar tidak peduli sambil menatap sweater yang dikenakannya itu lagi.

Nooo… harganya seperempat gajiku. Sudah begitu, kena darah pula.”

Kyuhyun menatapku, kemudian menoleh ke kiri dan tatapannya terfokus pada sesuatu. Aku menolehkan kepalaku, dan melihat Changmin sedang memperhatikan kami sambil mengerutkan keningnya. Tampaknya dia sudah pulih dari tendanganku.

“Dia lebih memerlukan perhatianmu daripada sweaterku. Kau sebaiknya cek dia, sebelum dia mulai satu lagi sesi adu jotos denganku.” ucap Kyuhyun.

“Tapi…” ucapku ingin protes. Kyuhyun sudah memutar tubuhku dan mendorong aku berjalan menuju Changmin. Kutolehkan kepalaku kepada Kyuhyun, ia melambaikan tangannya dan menunjuk ke arah Chngmin lagi.

Bye,” ucapku pelan, dan berjalan menuju Changmin yang masih mengenakan kostum Zorro.

“Zorro from hell,” gerutuku.

TBC

ditunggu coment-annya buat lanjut ke part 4. makasih🙂

32 thoughts on “[Series] Blind Date? Part 3

  1. elvi says:

    tu changmin gk nyerah jg yah…
    ngejar soo…
    padahal dia kan udah hianati soo..
    tapi untung ada kyuppa yg nolong soo dari changmin..
    walaw berakhir dg adu jotos..
    penasaran..

  2. meetha says:

    haduh itu changmin ga nyerah juga ngejar2 soo
    untunglah kyu datang di saat yang tepat
    ditunggu kelanjutannya😀

  3. Vi says:

    Wow banget ceritanya. Pertemuan kyuyoung selalu kayak kejutan. Sweeter mahal? Kyu tajir dong.
    Next thor😀

  4. brigitta says:

    Ya ampun ternyata zorro itu chang, padahal udh nge byangin klo itu kyu
    Soo hrs.a minta no telp. kyuppa
    Kyuppa cwok bngt.. Belain soo
    Chang apaan sih! Udah putus jga msh ngaku” pcaran.!
    Next.a jgn lama” yaa.. Di tunggu bngtt..

  5. puput says:

    Thor ni ff msh terikat bgt ama karakter titania sm reilley, jd pas aku baca td malah ngerasa baca novel aslinya
    Aku gak ngerasa yg meranin tokoh ni ff sooyoung ama kyuhyun, walaupn name castnya udah diganti tp tetep aja titania sm reilleynya yg nongol dlm bayangan aku
    Trus jg koreanya bener2 ilang dsni
    Mian ya byk komentar hehe
    Keep writing yaa thor

  6. anonymouse says:

    Aku pernah baca ff kyuyoung sama kyk ini ‘-‘ tapi penggunaan kata katanya sih beda dan disana udah tamat ~.~

  7. MissPurpleKim says:

    hahahah akhirnya muncul juga..
    hehehe

    aku ngakak ngebayangin soo make kostum biarawati..
    ko bisa soo ngehnya lama bgt kalo itu changmin dan beruntungnya ada kyu yg muncul tiba2…..
    woooo sukkaaaa bgt pas kyu bilang ‘jangan kesini soo ini blm selesai’

    ada apa sih si changmin dateng lg ke soo…
    soo jnagan percaya changmin lagi jangan jatuh ke lubang yg sama..

    dan gimanan dong itu kyu bakal balik ke korea lagi.. terus soo tetep dsana.. gimana cara mereka ketemu lagiii…

    lanjutannya jangan lama lama yaaa

  8. kaikkamjong says:

    Wahwahwah, gak nyangka yaa di ff ini banyak umpatannya hehehe. Akhirnya, walaupun dalam keadaan yang gak “layak” seenggaknya soo udah ngasih kartu nama plus nomernya dia hahaha. Aduh, changmin sempet2nya hadir lagi di kehidupannya soo. Hayo hayo next ditunggu thor

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s