First Love (Part 5)

Title                       : First Love

Author                  : lidyanatalia

Main Cast            : Cho Kyuhyun (Super Junior), Choi Sooyoung (SNSD), Kim Junmyeon/Suho (EXO), Kim Jongdae/Chen (EXO), Kim So Eun, Wu Yi Fan (EXO)

Support Cast      : Zhang Yixing (EXO), Kim Jongwoon/Yesung (Super Junior), Oh Sehun (EXO), Son Naeun (A pink), Kim Sang Bum, etc

Rated                    : PG-15

Genre                   : Romance, Friendship, Angst, and Psychology

Length                  : Chapter

Disclaimer           : The casts belong to themselves and this story fresh from my mind

Warning               : CONTAINS BOYXBOY, DON’T LIKE DON’T READ

Chapter 5 First Love Is The Best Moment

“Seharusnya Kris sudah sembuh, bukan? Kenapa hal seperti ini muncul lagi?”

Tangannya menutup sebagian wajahnya yang terlihat sangat cemas, badannya mulai bergetar seiring mendengar kabar yang tidak diduga sebelumnya. Zhang Yixing mencoba menarik napasnya perlahan untuk menenangkan dirinya.

“Saya tidak pernah mengatakan bahwa Kris-ssi sudah sembuh, saya memang mengatakan bahwa gangguan ini menghilang ketika itu, tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa Kris-ssi sudah sembuh karena gangguan ini dapat berlangsung hinga bertahun-tahun ataupun beberapa dekade.”

Yixing mencoba untuk mengangkat kepalanya dan memandang sang dokter yang berada di depannya. Lelaki berwajah oriental ini ingin sekali berteriak dan mengatakan bahwa sang dokter berbohong, tapi Yixing melihat keseriusan di balik mata sang dokter.

Suasana ruang tamu menjadi tenang sejenak, tirai jendela yang terkena hembusan angin menjadi musik yang menghiasi. Kedua bola mata Yixing menjelajahi sejenak ruangan yang didominasi warna putih dan hitam, dimana banyak sekali jendela disetiap sisi ruangan. Di balik jendela juga dapat terlihat rimbunya pohon dan tanaman yang menghiasi sekitar rumah.

Sejenak Yixing menutup kedua matanya dan menarik napas dengan kencang, mencoba mengisi otaknya dengan oksigen agar ia menjadi lebih tenang. Selang beberapa detik kemudian kedua telinganya dapat mendengar hentakan sepatu dan juga helaan napas yang cukup berat.

“Apakah Yixing-ssi mengangkat nama Rainie-ssi lagi?”

Yixing sekarang bisa melihat kedua mata sang dokter mulai menyipit dan memandang tajam dirinya. Ya, Yixing tahu artinya ini. “A-Aku memang menyebutkannya, tapi…”

“Sekarang Yixing-ssi pasti tahu apa yang menyebabkan gangguan ini muncul lagi.”

Napas Yixing mulai memburu kembali disaat otaknya mulai menganalisis perkataan sang dokter. Ya, Yixing tahu sekarang apa penyebabnya. “Tapi apakah dengan hanya menyebutkan nama, Kris bisa sampai seperti ini? Bukannya gangguan ini sudah lama tidak muncul?”

Sang dokter menaikan bingkai kacamatanya dan terus memandang Yixing serius. “Tentu saja, orang-orang dengan gangguan stres pascatrauma sangat sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman traumatis yang mereka alami, termasuk nama mereka. Orang-orang dengan gangguan ini selalu mencoba untuk menghindari stimulus yang berhubungan dengan pengalaman traumatis yang mereka alami dan mereka akan cenderung untuk emosional jika ada yang mencoba menceritakannya.”

“Tapi Kris tidak mengakui bahwa dia mengenal Rainie, dia selalu seperti ini dan selalu mengatakan bahwa dia tidak mengetahui siapa itu Rainie.”

“Apakah anda yakin Kris tidak mengetahui tunangannya tersebut, apakah anda yakin bahwa Kris sebenarnya mengingatnya namun tidak ingin mengakuinya karena takut rekaan adegan kecelakaan itu akan kembali bermain di otaknya?”

Perasaan bersalah mulai menghantuinya, jantungnya secara perlahan namun pasti mulai berdetak kencang. Kenapa ia baru menyadarinya, kenapa ia baru mengingat bahwa dokter yang berada dihadapannya ini pernah mengatakan hal yang sama setahun yang lalu?

“Kenapa anda menyebutkan nama Rainie-ssi, bukannya saya sudah pernah mengatakan pada anda untuk tidak pernah mengucapkannya lagi?”

Yixing tahu sang dokter pasti akan menanyakan hal ini. “Maaf ketika itu saya lagi emosional dan saya tidak sengaja menyebutkannya, lagipula…” Yixing menarik napasnya sejenak. “Saya ingin Kris terus mengingat Rainie, aku tidak ingin sosok Rainie menghilang dari Kris.”

Dokter berusia lima puluh tahunan ini mulai mengangukan kepalanya, tanda mengerti maksud dari perkataan klien di hadapannya. “Saya mengerti maksud anda, tapi saya harap anda menjauhkan emosi tersebut dari diri anda jika ingin melihat Kris-ssi sembuh.”

Yixing mulai mengangukan kepalanya, walaupun dengan kepala yang tertunduk. Kedua bola matanya memandang lantai yang beralaskan keramik berwarna putih dan tampak begitu mengkilat. Sekilas terbesit di pikirannya mengenai kejadian setahun lalu yang menjadi awal semuanya ini.

Ruangan serba putih, seorang wanita berwajah pucat yang terbaring dengan berlumuran darah, dan tangisan lirih seorang lelaki yang mencoba meraih sang wanita. Lelaki tersebut terus menangis walaupun sang wanita terus melemparkan senyum yang menghiasi wajah cantiknya, wajah yang tenang untuk seseorang yang hidupnya tinggal hitungan detik.

“Lalu ada yang ingin saya tanyakan,” ucap sang dokter yang langsung membuat kedua bola mata Yixing fokus menatap sang dokter, “apakah Kris-ssi masih sering mengalami mimpi mengenai kejadian tersebut?”

“Soal itu…”

“TIIDDDAAKK!!!”

Dengan segera Yixing dan sang dokter berlari menuju arah suara. Raut kecemasan sama-sama menghiasi  kedua lelaki ini. Keringat mulai mengucur deras di dahi sebagai respon kecemasan yang dirasakan.

Yixing dengan segera membuka pintu kamar dan melihat Kris sudah terduduk di ranjang dengan keringat yang terus mengalir dan kedua bola mata yang membesar. Yixing bahkan bisa mendengar napas Kris yang terus memburu. Kedua kaki Yixing dengan segera berlari menuju Kris dan memegang pundak sang atasan.

“Kris, sadarlah!”

Yixing terus saja berusaha mengoyangkan badan Kris dan tidak mendapat respon apapun.

Tidak lama terdengar suara tamparan dan kedua bola mata Kris yang awalnya membesar mulai kembali normal.

Yixing langsung menatap tajam sang dokter. “Dokter, apa yang kau lakukan!?”

Sang dokter hanya bisa balas menatap Yixing. “Itu adalah cara tercepat untuk menyadarkannya, apakah anda ingin terus melihat Kris-ssi dalam kondisi seperti itu?”

“Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Yixing kembali memandang Kris yang terus saja memandang ke depan. Kedua bola mata itu terlihat redup, tidak ada tanda kehidupan disana. Badannya yang tegap itu berlumuran keringat. Kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat walaupun atasannya itu terus saja berusaha memasang wajah datar khasnya.

“Apakah kau bermimpi buruk? Bagaimana perasaanmu?”

Beberapa detik berlalu dan tidak ada satupun kata yang terucap dari bibir Kris. Sang dokter hanya terus memandang sang klien dan Yixing mulai menghentakan kakinya perlahan, menunggu dengan tidak sabar.

Sang dokter mulai berdehem pelan dan senyum menghiasi wajanya pada saat Kris menatapnya. “Saya tahu anda ingin menceritakan mimpi anda. Ceritakan saja pada kami mengenai mimpi yang anda alami dan kami akan berusaha bersama-sama dengan anda untuk memecahkannya.”

Kris terus saja menatap sang dokter dengan dahi berkerut dan tatapan mata yang terbuka penuh. Kedua tangan yang awalnya terkepal dengan kuat mulai terbuka perlahan. Tubuhnya yang terlihat tegang juga sudah mulai rileks bersamaan dengan hembusan napas yang dikeluarkan.

“Di dalam mimpi tersebut aku…”

Tok…tok…tok…

Semua mata mulai tertuju pada seseorang berpakaian formal di depan pintu dan Yixing sendiri hanya bisa menghela napas kesal dan tidak sadar memandang tajam salah satu ajudan kepercayaan Kris tersebut.

Kris yang mendengar helaan napas sahabatnya itu berusaha tidak mempedulikan dan mulai berjalan secara perlahan menuju pintu. “Berikan laporanmu!”

Sang ajudan menghentakan salah satu kakinya ke lantai dan menegapkan badannya. “Kami sudah menemukan lokasi Kyuhyun-sajangnim.”

Tubuh Yixing mulai menegang setelah mendengar pernyataan tersebut. “B-Bagaimana bisa?”

Dengan perlahan Kris membalikan badannya dan menatap Yixing. “Kau lupa kalau aku mempunyai banyak mata-mata? Dan jangan lupakan persahabatan kita selama lima belas tahun, aku tahu kapan kau mencoba untuk berbohong, Yixing.”

“Kau tahu kan kalau aku hanya tidak ingin…”

“Ya, aku tahu apa maksudmu,” alis berwarna gelap itu terangkat dengan dahi berkerut, “aku sangat tahu, Yixing.”

Yixing mencoba membuka mulutnya dan ingin kembali mengatakan sesuatu. Kris yang melihat dengan cepat memotong dan kembali memandang ajudannya, “Kau tunggu aku di mobil dan kita akan bersama-sama menuju lokasi untuk menjemput Kyuhyun.”

Sang ajudan kembali menghentakan kakinya ke lantai dan meletakan salah satu tangannya di dahi, “Baik, Tuan.”

Langkah kaki mulai terdengar, menandakan sang ajudan telah melaksanakan perintah. “Kalian juga keluarlah dulu, aku ingin berganti pakaian.” Kedua bola mata Kris menatap Yixing dan sang dokter bergantian. “Pak, anda pulanglah terlebih dahulu, saya akan kembali menghubungi anda untuk melanjutkan pembicaraan kita dan Yixing, kau tunggulah di mobil.”

Bahu Yixing maupun sang dokter terlihat menurun setelah mendengar perintah Kris. “Baik,” ucap mereka bersamaan dan mulai meninggalkan ruangan.

####

Angin berhembus pelan menjadi musik yang menenangkan jiwa, ditambah dengan suara gemerisik yang berasal dari daun-daun di pohon semakin menambah ketenangan. Sooyoung menarik napas perlahan, merasakan oksigen masuk secara perlahan ke dalam tubuhnya. Wanita berambut panjang ini terus melakukannya berulang kali.

Di sebelah Sooyoung, Kyuhyun hanya bisa menatap wanita cantik itu, tidak pernah pergi arah pandangannya. Senyum mulai terlukis di bibir Kyuhyun saat ia melihat Sooyoung tersenyum kecil. Kyuhyun menurunkan arah pandangannya dan melihat kedua tangan Sooyoung yang terbuka, seakan ingin merasakan kebebasan.

Kyuhyun ingin sekali menjadi orang yang akan memberikan kebebasan itu. Lelaki berwajah tampan ini sejenak berpikir bagaimana caranya untuk melindungi wanita ini, bagaimana caranya untuk memberikan kebebasan yang diinginkan wanita yang mulai dicintainya itu.

Daun-daun mulai berjatuhan, menghiasi taman dengan daunnya yang mulai berwarna kecokelatan.

Kyuhyun mulai mengulurkan tangannya menuju kepala Sooyoung saat kedua bola matanya melihat ada daun di sana. Jari-jarinya mulai mengambil daun tersebut perlahan dan hal ini membuat Sooyoung membuka kedua matanya dan memandang dirinya.

Kyuhyun menurunkan tangannya dan mulai tersenyum. Sooyoung dapat merasakan wajahnya memanas saat melihat senyum itu, ingin sekali ia menundukan kepalanya, namun seakan terhipnotis, ia tidak bisa menjalankan niatannya itu.

Kedua bola mata mereka saling bertatapan. Tatapan mata Sooyoung yang menegang mulai melembut. Namun sekelabat memori bermain di otaknya dan hal itu membuat badan Sooyoung mulai bergetar hebat dan kedua bola mata itu pergi meninggalkan sosok Kyuhyun.

Senyum Kyuhyun mulai menghilang dan tatapan matanya yang lembut mulai terlihat panik saat melihat Sooyoung mulai menutup mata maupun kedua telinganya. Badannya terus bergetar hebat dan Kyuhyun bisa melihat Sooyoung mengigit bibir berwarna merah itu dengan kuat.

“Sooyoung, ada apa? Katakan sesuatu padaku!”

Kyuhyun memegang kedua bahu Sooyoung dan membalikan badan Sooyoung untuk berhadapan dengannya. Kyuhyun terus berusaha mengoyangkan bahu Sooyoung, mencoba mengembalikan perhatian wanita itu. Kedua bola mata Kyuhyun terbuka lebar pada saat melihat darah mulai mengalir dari bibir Sooyoung.

“Sooyoung, sadarlah!”

Beberapa detik berlalu dan tidak ada tanda-tanda Sooyoung akan menghentikan aksinya. Tidak tahan melihat keadaan Sooyoung lagi, Kyuhyun menampar pipi Sooyoung kuat.

Tamparan itu membuat kedua bola mata Sooyoung terbuka, walaupun kedua tangan itu tetap menutup kedua telinganya. Sooyoung tidak menatap Kyuhyun, namun Kyuhyun tetap berusaha berbicara kepada Sooyoung.

“Sooyoung-ah, aku tahu kita baru saja berteman dan aku tidak berhak mengurusi masalah pribadimu. Tapi aku mohon ceritalah padaku jika itu dapat mengurangi kecemasanmu, aku selalu ada untukmu.”

Kalimat itu sukses membuat Sooyoung menatap kembali kedua bola mata berwarna hitam itu, kedua tangannya itu juga mulai diturunkan dan berdiam di atas kedua kakinya.

“A-aku tidak tahu…”

“Aku tidak memaksamu untuk bercerita sekarang, Sooyoung-ah,” ucap Kyuhyun dengan lembut, “ceritakanlah padaku jika kau siap, jika tidak kau tidak perlu bercerita. Aku akan selalu ada untukmu disaat kau membutuhkannya.

Sooyoung terus menatap kedua bola mata itu, mencoba mencari sesuatu dibalik arti tatapan itu. “Tapi aku tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi, aku sudah tidak sama seperti dulu. Aku bukan lagi seorang Choi Sooyoung yang selalu mencoba untuk ceria, aku sudah kembali menjadi Choi Sooyoung yang dulu, seorang Choi Sooyoung yang menyedihkan.”

Jatuh sudah air mata yang selama ini ia tahan. Air mata itu mulai mengalir dengan deras dari kedua matanya. Dengan suara bergetar Sooyoung mencoba berkata, “Tinggalkan aku, Kyuhyun-ssi. Tidak ada yang bisa kau lakukan untukku. Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku sudah bukan Choi Sooyoung yang dulu.”

Sooyoung mulai berdiri dan bermaksud meninggalkan Kyuhyun, namun dengan cepat tangan Kyuhyun menarik tangan Sooyoung dan membuat Sooyoung kembali terduduk di bangku taman.

Kyuhyun terus menatap Sooyoung walau kedua bola mata yang indah itu tidak balas menatapnya. “Semakin kau tidak menginginkan keberadaanku, aku akan semakin berada di dekatmu, bagaimanapun caranya.”

Kyuhyun terus memegang tangan Sooyoung. “Kau tahu, kau masih sama seperti Choi Sooyoung yang aku kenal pertama kalinya, kalau tidak,” Kyuhyun mulai meletakan tangan Sooyoung di dadanya, “tidak mungkin jantungku akan berdetak secepat ini.”

Setiap detakan jantung Kyuhyun membuat Sooyoung kembali menatap Kyuhyun. Sooyoung sama sekali tidak percaya bahwa keberadaanya membuat jantung Kyuhyun berdetak begitu cepat. Ia sama sekali tidak percaya bahwa Kyuhyun merasakan hal yang sama dengan dirinya.

Kyuhyun mengunakan tangan lainnya untuk mengusap pelan wajah Sooyoung. “Sooyoung-ah, kau tahu ketika pertama kali aku melihatmu kau sudah membuatku seperti ini, membuatku selalu mengingat wajahmu yang begitu cantik ketika tersenyum.”

Sooyoung terus terdiam mendengarkan perkataan Kyuhyun, namun ia tahu bahwa jantungnya semakin berdetak dengan cepat ketika mendengarkan setiap kata itu terucap dari pria yang dicintainya ini.

“Maukah kau tersenyum untukku sekarang? Aku ingin kau tersenyum agar aku tahu bahwa kau baik-baik saja sekarang.”

Perkataan itu sukses membuat kedua bola mata Sooyoung melebar. Ia tidak menyangka bahwa Kyuhyun akan mengatakan hal ini.

Sungguh pria di hadapannya ini adalah pria yang benar-benar ia inginkan untuk menemaninya sepanjang hidup.

Tapi apakah ia sanggup mewujudkannya? Apakah ia bisa menerima Kyuhyun dalam kehidupannya?

Sooyoung tahu dengan sangat bahwa ia memang mencintai Kyuhyun dan ingin menjadikan Kyuhyun miliknya.

Tapi setelah kejadian ini apakah ia akan kembali melanjutkan keinginannya?

Setelah ia bertemu lagi dengan lelaki itu? Tatapan mata yang mengerikan itu?

Tapi bukankah itu urusan nanti? Biarlah masalah itu, hadapi saja apa yang ada sekarang, bukankah begitu? Apakah ia ingin masalah ini menganggu momen yang ada sekarang, disaat ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidupnya?

Kau harus bisa, pikirnya.

Kyuhyun tersenyum dengan lebar saat melihat bibir Sooyoung mulai membentuk senyuman yang membuatnya jatuh cinta pada wanita ini. Kyuhyun dengan segera memeluk Sooyoung. “Terima kasih banyak, Sooyoung-ah. Sekarang aku tahu bahwa aku harus melindungimu dan memberikan yang terbaik untukmu.”

Tanpa Kyuhyun tahu Sooyoung tersenyum semakin lebar dan secara perlahan ia mulai meletakan tangannya di belakang tubuh Kyuhyun, membalas pelukan Kyuhyun dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.

####

Sementara itu di sebuah ruangan serba putih yang berpadu dengan warna emas terdapat dua orang lelaki dan satu orang perempuan yang saling berdiskusi, tampak ekspresi serius di wajah mereka, kedua bola mata yang menatap tajam dan dahi yang terkadang berkerut menghiasi diskusi mereka.

“Apakah kita melewatkan sesuatu? Apakah ada sesuatu yang tidak kita sadari tapi sekarang sedang terjadi?”

Kedua lelaki tersebut hanya bisa saling memandang satu sama lain kemudian menundukan kepala, menatap lantai berwarna putih.

“Junmyeon, katakanlah sesuatu? Apa kau benar-benar tidak tahu sesuatu?”

Salah satu lelaki berkulit putih pucat bernama Junmyeon tersebut mulai mengangkat kepalanya dan memandang wanita cantik di hadapannya. “Aku juga masih bingung, Soeun. Kau tau aku sedang memikirkannya tapi seperti terhalang sebuah tembok pikiranku hanya berlari di sekitar sana.”

Soeun hanya bisa menghela napas, menandakan ia tidak tahu kemana arah masalah ini. Wanita bertubuh mungil ini ingin sekali membantu sahabatnya, ia ingin sekali mengeluarkan sahabatnya itu dari sangkar yang mengurungnya, tapi apa yang bisa ia lakukan.

Ia merasa begitu gagal sebagai seorang sahabat.

Sahabatnya itu seperti mengulurkan tangan padanya untuk meminta tolong, tapi ia tidak bisa menggapainya dan membiarkan sahabatnya tersebut tertarik lebih dalam dan lebih dalam lagi.

“Aku tidak yakin apakah yang akan aku katakan ini benar adanya, tapi aku tidak tahan untuk tidak mengungkapkannya.”

Soeun dan Junmyeon memandang Jongdae yang juga menatap mereka dengan serius, suatu hal yang jarang Jongdae tunjukan.

“Tentu saja kau boleh mengungkapkannya, kami tidak akan membunuhmu jika kau salah, Jongdae-ah.”

Senyum kecil terhias sejenak di wajah Jongdae mendengar perkataan Soeun. “Apakah kalian tidak merasa bahwa Kris-hyung penyebab Sooyoung-noona seperti ini? Tidakah kalian menyadari bahwa Sooyoung-noona menjadi seperti ini semenjak pertemuan kita dengan Kyuhyun-hyung?”

Kedua bola mata Soeun dan Junmyeon melebar mendengar perkataan Jongdae. Jari telunjuk Soeun secara tidak sadar menunjuk-nunjuk Jongdae dan tidak lama ia menepuk pelan dahinya. “Astaga kenapa aku baru menyadari hal ini? Astaga, betapa bodohnya aku!”

Junmyeon yang melihat Soeun juga melakukan hal yang sama. Kenapa mereka baru menyadari hal ini? Yang benar saja, kemana mereka selama ini?

“Tentu saja apa yang kau katakan benar, Jongdae-ah. Selain pertemuan dengan Kris-ssi secara langsung, aku rasa cerita yang Jongwoon-hyung ceritakan juga berkaitan dengan masalah ini.”

Jongdae mengangukan kepalanya mendengar penjelasan Junmyeon, syukurlah keberadaanya bisa membantu mereka dalam memecahkan permasalahan ini, ia tidak ingin hanya menjadi penonton dan tidak melakukan apapun.

Soeun juga mengangukan kepalanya perlahan. “Kita sudah mulai mengetahui kemana arah masalah ini, setelah ini kita harus bertindak, tapi tindakan apa yang harus kita ambil? Tidak mungkin kita menanyakan hal ini pada Sooyoung karena aku takut kita akan kembali membangkitkan kenangannya yang berkaitan dengan Kris-ssi, tapi di satu sisi kita juga tidak mungkin menanyakan hal ini pada Kris-ssi, kau tahu ini sama dengan bunuh diri.”

Suasana hening menyelimuti ketika mereka merasakan bulu halus berdiri perlahan disekujur tubuh.

“Lalu apa yang harus…”

Junmyeon menghentikan perkataanya ketika mendengar suara ketukan pintu utama dan Jongdae sendiri mulai bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

Jongdae bisa melihat dengan jelas sosok Kris dengan ekpresi wajah yang datar dan ditemani oleh seorang lelaki berwajah oriental dan beberapa lelaki berbadan tegap di belakangnya.

“Kris-hyung, apa yang membawamu kesini? Apa kau ingin…”

“Serahkan saja Kyuhyun padaku dan aku akan pergi dengan segera.”

Jongdae sedikit terkejut mendengar perkataan Kris, benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, pikirnya.

“Soal itu…”

“Ada apa Jongdae-ah?”

Soeun dan Junmyeon yang mendatangi pintu depan juga tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut mereka saat melihat sosok Kris.

Melihat tidak adanya respon dari mereka bertiga, Yixing mulai membuka suaranya. “Kami datang dengan baik-baik, jadi tolong serahkan Kyuhyun-ssi dengan baik-baik juga.”

Mendengar perkataan tersebut, Jongdae, Junmyeon, maupun Soeun menghindar dengan perlahan dan dengan situasi ini Yixing dan Kris mulai melangkahkan kaki mereka memasuki rumah.

Disaat yang bersamaan, Kyuhyun dan Sooyoung memasuki ruang tamu. “Ada apa ini Jun…”

Kalimat itu terhenti sehubungan dengan mulut Kyuhyun yang terkatup rapat dan kedua bola mata yang melebar. Disatu sisi Kyuhyun merasakan Sooyoung memegang kuat lengannya dan merasakan getaran hebat mengiringi setiap pegangan tangan yang semakin lama semakin kuat.

Dilain pihak Yixing juga merasakan kedua bola matanya melebar melihat dua sosok di hadapannya. Bukan, Yixing bukan kaget karena melihat Kyuhyun mengandeng seorang wanita, Yixing juga bukan kaget karena takut Kris akan meluapkan emosinya kapan saja.

Tapi Zhang Yixing kaget melihat wanita yang sedang bersembunyi di balik tubuh tegap Kyuhyun.

Ia mengenal wanita itu.

Wanita yang ia pikir tidak akan pernah ditemuinya lagi.

“Xiu Ying.”

####

Halo semuanya, senang bisa bertemu lagi dengan kalian melalui fanfic ini.

Maaf saya sudah lama tidak melanjutkan karena tuntutan tugas kuliah dan karena sekarang lagi libur saya jadi mempunyai waktu lagi😀

Saya tidak bisa janji dapat melanjutkan cerita ini dengan cepat, tapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik. Saya senantiasa memohon dukungan kalian semua, baik doa ataupun komentar-komentar positif yang membangun. Dan mengenai fanfic scandal sedang dalam proses pengerjaan, tapi saya tidak dapat pastikan kapan saya akan mem-post-nya karena otak saya sedang buntu mengenai cerita satu itu, saya mohon maaf atas kesalahan saya ini.

Saya juga meminta maaf jika ada kesalahan atau hal-hal yang masih belum dipahami dalam cerita ini, tentu saja kalian dapat bertanya kepada saya. Sekali lagi terima kasih banyak atas dukungan dan komentarnya selama ini.

See you next time and God bless you😀

Catatan Kaki :

Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic Stress Disorder/PTSD) adalah sebuah gangguan psikologis yang termasuk dalam gangguan kecemasan yang terjadi pada individu sebagai reaksi maladaptif yang berkepanjangan terhadap suatu peristiwa traumatis dimana individu mengalami beberapa pengalaman traumatis seperti menyaksikan kejadian bencana alam, kecelakaan, perang, atau kematian seseorang yang dicintai. Orang-orang yang mengalami gangguan ini akan cenderung menjauhi kejadian yang berhubungan dengan pengalaman traumatis mereka dan dapat terjadi selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan beberapa dekade setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis (Zlotnick dkk., 2001).

Maladaptif termasuk gangguan stres yang paling rendah dimana adanya gangguan penyesuaian individu dalam bentuk emosional yang lebih dari biasanya yang berhubungan dengan pekerjaan, akademis, maupun kehidupan sosial secara menyeluruh.

18 thoughts on “First Love (Part 5)

  1. Rizky NOviri says:

    akhirnya nongol juga..
    awal2 bingung soale agak lupa ama crita sblmna seiring brjlnnya wkt nyambung juga.. haha

    wah kok yi xing kenal soo
    jgn jgn.. saling kenal.. dan soo ama kriss kek agak miripan ya punya gangguan..
    wah wah.. bnyak yg mesti d ungkap nih..
    lanjuuuuuttt…

    bikin penasaran.. xD

  2. ok jd skrg kyu mulai mau mempertahankan soo, tp kata2 lay bikin shock -__-” apa ini mksdnya soo emg kenal bgt sama kris-lay?? xiu ying? itu nama soo dulu ‘-‘)? duh… makin bnyk yg belom keungkap hahah

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s