Posted in Romance

[Series] SPY AND THE TRILOGY #5

SATT

SPY AND THE TRILOGY #5

Super Junior and Girls Generation [Super Generation]

“DETASEMENT AGT”

Author                         : Lousey Han

Tittle                            : Spy and The Trilogy #5

Main Cast                    :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Choi Sooyoung (Girls Generation)

Other Cast                   :

  • Jessica (Girls Generation)
  • Tiffany (Girls Generation)
  • Seohyun (Girls Generation)
  • Yuri                        (Girls Generation)
  • Yoona (Girls Generation)
  • Sunny             (Girls Generation)
  • Taeyeon (Girls Generation)
  • Donghae             (Super Junior)
  • Eunhyuk             (Super Junior)
  • Siwon             (Super Junior)
  • Kibum             (Super Junior)
  • Leeteuk             (Super Junior)
  • Yesung             (Super Junior)
  • Ryeowook             (Super Junior)
  • Heechul             (Super Junior)
  • Sungmin             (Super Junior)
  • Onew (Shinee)
  • Minho (Shinee)
  • Luna ((F)x)
  • Sulli ((F)x)
  • Krystal ((F)x)
  • Luhan (EXO)
  • Tao (EXO)
  • Lay (EXO)
  • Chanyeol (EXO)

Special Appearance     :

  • Jung Sungha as mysterious guitarist (Jung family member)
  • Choi Sena (OC) as Choi Sibling member
  • Choi Hanjun (OC) as Choi Sibling member
  • Choi Minsuk (OC) as Choi Sibling member
  • Choi Soojin (OC) as Choi Sibling member

Disclaimer                   :

This story, plot, and the character is mine, it’s 100% hot from my brain. They all belongs God, their parent, SM Ent, ELF, Sone, and Sonelf.

Mian kalau sebelumnya banyak yang kurang mengerti dengan cerita ini. Mungkin karena saya menulisnya terlalu singkat dan kurang mendetail. Dan selama beberapa bulan ini saya evaluasi semuanya.

Saya sendiri bingung kenapa tulisan saya nggak pernah ada bagus-bagusnya. Jadi kalau masih ada banyak kekurangan, tolong beri saya kritik dan saran.

Terimakasih banyak pada para readers yang sudah  bersedia memberi komentar tentang tulisan saya ini. Saya sempat frustasi gara-gara beberapa ide yang sudah saya tulis hilang entah kemana. Kemungkinan besar terhapus karena saya kurang teliti. T_T Padahal saya berharap itu jadi moment yang berkesan di part ini. Tapi mau bagaimana lagi, otak saya terlanjur buntu untuk menulis ulang. Saya berjanji akan menulis dengan lebih baik lagi untuk kedepannya.

WARNING!!! Don’t be a plagiat! Siders, please go away!! Don’t like? Don’t read it!!! Don’t Bashing!

________________________________________

Tiffany membuka pintu perlahan. Sebelum ia masuk kamar itu, ia sudah mendengar teriakan juga umpatan-umpatan dari Jessica. Sepertinya seseorang telah memancing amarahnya. Benar saja, saat memasuki kamar Jessica ia melihat Nona muda itu tengah memarahi seorang pelayan wanita paruh baya.

“ Kau bukannya baru bekerja di sini sehari dua hari bukan? Kau tahu aku tidak suka melihat pelayan berkeliaran di depan mataku kecuali saat sore hari.”

“ Maaf, Nona. Hari ini saya bertugas membersihkan kamar Nona.”

“ Membersihakan? Kau sebut itu membersihkan? Tapi kau malah merusak. Tidak sadarkah kau akan kesalahanmu itu? Ha?”

“ Saya pikir Nona sedang kuliah. Jadi saya berani masuk ke sini. Jeongmal joseonghamnida, Nona.”

“ Kau pikir dengan minta maaf saja cukup? Apa kau pikir permintaan maafmu itu bisa mengembalikan semuanya?!”

Tiffany memberanikan diri masuk, berusaha menetralkan suasana. Ia melihat pelayan itu sudah pucat wajahnya.

“ Sica ya. Tidak bisakah kau memaafkannya. Kasihan dia,” bujuk Tiffany.

“ Kau membelanya?! Lihat apa yang dia perbuat,” tunjuk Jessica pada pecahan kaca pigura yang berada di meja samping tempat tidurnya.

“ Foto itu..” gumam Tiffany.

“ Ah, biar kubereskan. Ini bukan masalah yang besar. Kau lebih baik pergi sekarang,” kata Tiffany pada pelayan tadi yang dibalas tatapan tajam Jessica.

Pelayan itu keluar tapi tak lantas bisa meredam amarah Jessica begitu saja.

Mereka sedang duduk di sofa yang ada di kamar yang luas itu.

“ Kau marah?”

“ Tidak, kapan aku bisa marah padamu.”

Tiffany memutar matanya, sepertinya Jessica terkena amnesia. Tak seharipun Tiffany tanpa mendengar omelan dari Jessica.

“ Kau masih menyimpan foto ini,” Tiffany meraih foto yang bergeletak diantara pecahan kaca itu.

Jessica diam, dan membuang mukanya ke arah yang berlawanan.

“ Sampai kapan kau akan mendiamkannya?” tanya Tiffany secara halus.

Ia memandang foto yang berisi enam wanita cantik yang menikmati liburan di Phuket. Mereka ‘Genie’, Genie berisi yeoja-yeoja sosialita yang telah bersahabat sedari mereka kecil. Dengan bahagia mereka tersenyum di foto itu. Jessica, Tiffany, Yoona, Seohyun, Sooyoung, dan Yuri. Dulu mereka tak terpisahkan, sampai ulah Jessica yang bisa mengubah segalanya.

Tangan Tiffany tergerak membelai wajah seseorang yang paling tinggi diantara mereka. Terlihat Jessica masih tak bergeming dari keacuhannya.

“ Jika aku jadi Sooyoung, aku yang akan marah.”

Jessica melengos ke arahnya. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Sesuatu yang ingin ia lupakan. Kenangan yang buruk. Lebih baik tidak membahas itu sekarang.

“ Aku akan marah, jika aku tahu kau membohongiku.”

Jessica hendak beranjak dari sana, tapi lengannya ditahan oleh Tiffany.

“ Tapi jika itu demi melindungiku? Itu akan jadi hal yang berbeda.”

Ekspresi Jessica melunak. Ia kembali duduk di sofa. Kali ini dia balas menatap Tiffany. Tiffany benar, selama ini salahnya. Tapi ia terpaksa melakukannya. Ia tak ingin ada yang lebih terluka lagi selain dirinya. Cukup menerima kebencian dari Sooyoung daripada melihat Sooyoung dan Seohyun sama-sama terluka. Bila harus ada yang harus dikorbankan, maka Sooyounglah orangnya karena Sooyoung lebih kuat dan tegar daripada Seohyun, si maknae kelompok ini.

Sampai sore Tiffany senantiasa menemani Jessica. Pemandangan ini tentunya bukan kejadian langka. Dimana ada Jessica disitu pula ada Tiffany. Sama seperti Sooyoung, dimana dirinya berada pasti ada Yuri. Atau, dimana ada Kyuhyun disitu ada Leeteuk.

Mereka bercakap-cakap. Membahas topik lain yang bukan mengenai Genie lagi pastinya. Beberapa pelayan masuk membawakan teh juga juga kue.

“ Tentang Lee Donghae, apa kau tahu siapa dia?” tanya Jessica si nona dingin.

“ Lee Donghae? Sejak kapan kau tertarik padanya?”

“ Bukan seperti itu. Aku hanya..”

“ Lalu?”

“ Aku.. Ehm, lupakan. Apa dia namja yang baik?” tanya Jessica penasaran.

“ Aku tahu,” jawab Tiffany terkikik. “ Dia namja yang baik, pintar, sopan, dan dia masuk ke sana dengan beasiswa.”

“ Beasiswa? Jadi dia..”

“ Jangan menghindarinya hanya karena kau merasa dia tidak sebanding denganmu.”

“ Arraseo.”

“ Dima..”

“ Dia tinggal di rumah sewa yang kecil. Dia berasal dari Mokpo.” Sela Tiffany

“ Fany ah, kau tahu begitu banyak. Jangan-jangan..”

“ Aku tahu karena aku tak sengaja dengar waktu aku mau mengurus administrasi. Apa kau menyukainya?”

“ Anni!” teriak Sica mencapai 4 oktaf.

Tiffany terhenyak dibuatnya, ia tak sengaja menyenggol cangkirnya. Membuat teh itu tumpah ke meja bahkan ke foto yang mereka perdebatkan tadi.

“ Mi..mian. Aduh, bagaimana ini? Fotonya jadi luntur,” kata Tiffany panik.

Jessica ikut panik. Ia berusaha mengipas-ngipaskan tangannya ke foto itu. Dua orang dalam foto itu sudah terhapus wajahnya.

“ Aku jadi khawatir dengan Soo dan Seo,” ucap Tiffany.

oOo

“ Apa itu koleksi baru?”

“ Hu’um, mau lihat yang lain?” yeoja itu berjalan mendahului. “Dan aku persembahkan, surga kecil yang aku ciptakan sendiri,” ucapnya bangga

Setelah melewati pagar kayu yang tinggi, terlihat pemandangan luar biasa. Hamparan bunga-bunga yang indah. Nampak selalu terawat.

“ Wow, cantiknya. Apa itu tulip?” tunjuknya pada bunga yang dekat dari tempat mereka berdiri.

“ Unnie mau? Aku akan potongkan beberapa.”

Sooyoung mengangguk. Gadis di sampingnya memakai pakaian berkebun, dengan topi rami di kepalanya, sepatu boot pink yang cantik, juga sapu tangan karet yang serasi dengan bootnya. Ia merogoh saku dan menemukan gunting.

“ Sampai di rumah jangan lupa untuk menaruhnya di vas. Aku sarankan vas kaca yang bening, itu lebih bagus. Jika tidak, gelas yang tinggi. Oh ya, jangan lupa isilah dengan air setengahnya saja. Jangan biarkan terkena cahaya matahari langsung. Walau.. well, aku tahu Unnie bahkan tak pernah membuka tirai jendela itu. Unnie tidak suka keadaan ruangan yang terang. Unnie sudah mengganti tirai? Tirai di sana pasti sudah sangat berdebu.”

“ Seohyun ah..”

Yeoja yang sibuk memotong tulip itu mengabaikannya. Ia tetap menatap lekat pada bunga-bunga itu. Sooyoung ikut berjongkok di dekatnya. Tangannya meraih tangan Seohyun, membuatnya menoleh. Terlihat jelas sekarang air mata yang menggenangi pelupuk matanya.

“ Arraseo, menangislah.”

Seohyun menyandarkan kepalanya ke bahu Sooyoung. Ia mulai terisak. Butuh lima menit sampai Seohyun benar-benar berhenti menangis.

“ Mianhae, aku jahat padamu,” ucap Soo kemudian.

“ Itu bukan salah Unnie, sebenarnya aku tahu dia telah menolakku. Aku cukup senang bisa bertemu dengannya saat itu. Semoga kalian bahagia.”

Seohyun membenarkan posisi duduknya. Kembali memotong setangkai tulip lagi. Sooyoung diam-diam mengeritkan keningnya. Bicara apa bocah ini, batinnya. Dari awal ia dan Kyuhyun memang tidak ada hubungan apa-apa. Hari itu ia datang pada acara makan malam hanya karena Kyuhyun yang memelas memintanya.

“ Ini kesukaan Unnie bukan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“ Kau salah. Aku tidak pernah suka bunga.”

Seohyun memandang Sooyoung dingin. Seohyun lupa, dia bukan seseorang yang cukup tahu dan mau tahu tentang Sooyoung. Tapi ia juga heran, kenapa Sooyoung menyayanginya seperti adiknya sendiri. Padahal ia sering berlaku acuh, tapi Sooyoung selalu ramah padanya.

“ Ini, simpanlah. Bunga yang cantik untuk yeoja yang cantik,” Seohyun menyodorkan seikat tulip warna merah muda padanya.

“ Aku tidak cantik, tapi aku bersedia menerimanya.”

“ Kau benar-benar Sooyoung Unnie yang kukenal.”

Mereka kemudian tertawa.

“ Sudah lama ya sejak terakhir kali aku berkunjung? Berapa tahun? Aku bahkan sudah lupa. Tapi ingatlah Hyunnie, selamanya aku akan mengganggapmu sebagai dongsaengku sendiri.”

“ Masih bertengkar dengan Unniedeul?” tanya Seohyun hati-hati.

“ Aku tak tahu kabar mereka, aku ingin melupakannya.”

“ Itu sama sekali bukan salahmu, Unnie.”

“ Lalu salah siapa? Kau bahkan di pihak mereka.”

“ Mianhaeyo.”

“ Tidak perlu minta maaf. Justru aku yang harus meminta maaf. Maka dari itu aku akan membuat kencan untukmu dan Kyuhyun. Aku akan membuatnya kembali padamu. Aku janji.”

“ Unnie..”

“ Aku berhutang padamu, Seohyun.” Sooyoung tersenyum. “ Dan.. tanamlah beberapa peony untukku, aku janji akan mengunjungimu lagi.”

oOo

Malam hari Kyuhyun sudah menghabiskan cangkir ke enamnya, ia mendesah pelan lalu pergi ke tempat yang biasa ia tiduri jika sedang di kantor.

Ia menjatuhkan dirinya ke matras yang terlah dilengkapi dengan selimut tebal yang hangat.

“ Aaaaaaggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

“ Aaaaaaa!!”

Matras itu tiba-tiba menjerit juga Kyuhyun ikut menjerit saking terkejutnya.

Selimut itu bergerak-gerak, lalu muncullah kepala Sooyoung dari situ.

“ Kau!!” teriak mereka bersamaan.

Sooyoung merapatkan selimut pada tubuhnya, ia juga menjaga jarak sejauh mungkin dari Kyuhyun yang duduk di bibir matras itu.

“ Kau membuatku takut,” ujar Kyu.

“ Apa yang sedang kau lakukan, Cho?”

“ Kenapa kau tidur di sini?” tanya Kyu.

“ Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kata Sooyoung bersungut-sungut.

“ Ini tempat tidurku.”

“ Aku kira tempat ini memang disediakan bagi yang lembur.”

“ Kau percaya hal itu? Jadi kau benar-benar akan tidur di sini? Kau menginap di sini?”

“ Tak ada pilihan lain. Lagipula aku harus lembur.”

“ Hash.. Ya sudah, pakai saja. Kau boleh tidur di situ sementara waktu.”

“ Arraseo.”

“ Jalja.”

Kyuhyun meninggalkan Sooyoung.

“ Sebentar!”

“ Apa lagi?” tanya Kyuhyun yang sudah sampai ke mulut pintu.

“ Apa kau juga ingin tidur di sini?”

“ Ne?” Kyuhyun terperangah. ‘Apa ini tawaran untuk tidur bersama?’ batinnya.

“ Singkirkan pikiran kotormu itu. Maksudku, apa kau tadinya ingin tidur di sini?” tanya Sooyoung mengoreksi perkataannya setelah melihat ekspresi Kyuhyun yang tiba-tiba berubah. Ini bisa gawat bila Kyuhyun salah menangkap arti perkataannya.

“ Lupakan, aku yang keluar saja.”

Sooyoung berlari mencegat Kyuhyun keluar. Ia menghalangi pintu itu, membuat Kyuhyun mendecak kesal.

“ Wae?” tanya Kyuhyun tanpa minat.

“ Kau harus bicara dengan Seohyun ssi.”

“ Bukan urusanmu, minggir,” Kyuhyun menepis tangan Sooyoung.

“ Aku sudah membuat janji dengannya. Kau harus datang.”

“ Kenapa kau buat janji yang belum tentu bisa kau tepati, dasar,” keluh Kyuhyun.

Terpaksa ia harus menemui Seohyun lagi, padahal dirinya sudah tidak mau berurusan lagi tentang Seohyun ataupun perjodohan ibunya.

“ Kumohon..”

“ Baiklah, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku. Bagaimana?”

“ Melakukan apa?” tanya Sooyoung waspada. Sekarang sepi dan dia satu-satunya anggota SPY yang lembur malam ini.

“ Buatkan aku kopi.”

Rahang Sooyoung nyaris jatuh. ‘Aku pikir apa.’

oOo

Hankyung Hyung non aktif, Zhoumi, aku, kau, Henry, Changmin, Hyoyeon, anggota baru Kim Taeyeon, Amber, Jonghyun, Suho, D.O, dan ditambah staff yang lainnya. Aku rasa tim kita sudah lengkap.”

“ Hyung, mengenai Im Yoona. Aku rasa bukan dia orangnya. Yoona ssi tidak tahu apa-apa soal anak yang dimaksud Perdana Menteri. Apa kita salah orang?”

“ Tidak begitu. Sejauh ini kerja yang bagus Kibumie.”

“ Jadi benar bukan dia?”

“ Mungkin aku salah tadinya, memang bukan dia. Tinggal memastikan 5 yeoja lain dalam Genie.”

“ Hyung, kau gila? Kau pikir aku sanggup? Cukup satu yeoja perengek bagiku. Aku takkan sanggup mengawal yang lain.”

“ Aku takkan mengutusmu kali ini. Biar Suho yang urus.”

“ Ah, baiklah.”

“ Dan apa kau masih di Kyunghee?”

“ Iya, ada apa?”

Cukup awasi putri Tuan Jung juga.”

“ Dia salah satu dari 5 orang itu?”

“ Kau benar.”

Kibum menutup telponnya dan segera bersiap menjemput Yoona di Dankook University, sekolah barunya setelah pindah dari Nowon University. Sebenarnya Sooyoung menyarankan agar Yoona berkuliah di Kyunghee sama sepertinya. Tapi setelah merundingkannya dengan Kibum, Kibum tidak setuju dengan alasan Kibum juga kuliah di sana hingga ia tak ingin pamornya redup karena teman-temannya tahu kalau dia menjadi seorang pengawal. Alibi yang konyol tapi sukses mengecoh Im Yoona.

Mungkin setelah ini Kibum juga akan mengantar Yoona langsung ke Catalyst Star, tempat Yoona sekarang bekerja.

oOo

“ Perkenalkan diri kalian”

“ Annyeonghaseyo, joneun Lay imnida.” “ Annyeonghaseyo, Tao imnida.” “ Luna imnida.”

“ Nah, mereka adalah anggota tambahan kita.”

“ Divisi Additional? Bersama Agent Kwon dan Agent Choi?” tanya Yesung.

“ Bukan, mereka akan ada di detasement baru.”

“ Bukan divisi?”

“ Detasement baru ini bernama detasement AGT.”

“ Eh?”

“ Detasement akan dipimpin langsung oleh Cho Kyuhyun. Aku akan membacakan nama anggotanya. Jadi dengarkan..”

“ Yesung..”

“ Yess..” pekiknya Yesung senang.

“ Lee Donghae.”

“ Kim Ryeowook.”

“ Luhan.”

“ Onew.”

“ Choi Sooyoung.”

“ Ditambah Lay, Tao, dan Luna tadi. Bagaimana? Ada pertanyaan?”

“ Kenapa nama Kwon Yuri tidak ada?” tanya Sooyoung bermaksud protes.

“ Dia ada tugas lain. Ada pertanyaan lain?”

Setiap pasang mata memandang Leeteuk datar.

“ Jika tidak, kita langsung adakan rapat tertutupnya.”

Anggota yang tadi disebutkan langsung masuk ke ruang rapat. Tapi Leeteuk mencegah Ryeowook masuk duluan.

“ Wookie, kau sudah mendapatkan sample yang kuminta?”

“ Sudah Hyung, tapi..” “ ada Police 96 di sana. Mereka sudah melihatku.”

“ Baiklah, akan kuurus soal mereka. Bekerjalah yang baik di detasement ini.”

Di dalam, Luna membagikan folder materi pada masing-masing anggota. Leeteuk masuk dan siap membuka rapat ini.

“ Misi kita mungkin akan sedikit bertentangan dengan Police 96. Tapi tenang saja, mungkin mereka tidak akan banyak menghalangi misi kita.” ‘Semoga,’ tambahnya dalam hati.

“ Cho Kyuhyun, silahkan.”

Leeteuk keluar dari ruang rapat. Rapat langsung dipimpin oleh Kyuhyun.

“ Misinya adalah kasus pembantaian berdarah.”

‘ Astaga, jangan-jangan ini yang dimaksud Siwon Oppa.’

Sooyoung hanya mampu menundukkan wajahnya. Ia berkutat dengan dunianya sendiri. Yang lain masih fokus pada presentasi yang Kyuhyun berikan.

“ Bukankah kasus itu sudah dinyatakan selesai dan ditutup?”

“ Klien akan mengajukan kembali kasus 16 tahun yang lalu itu. Kita yang akan mencarikan buktinya.”

“ Buktinya seperti apa?”

“ Nah, kita yang akan cari tahu.”

“ Memang ada apa tentang kasus ini. Bukankah vonis akhir sudah dijatuhkan? Pelakunya juga sudah mati.”

‘ Chisan Oppa? Mati? Andwe!’

“ Ada yang salah, kemungkinan ada manipulasi politik di sana. Tujuannya sapu bersih untuk menghilangkan bukti kejahatan.”

“ 24 orang tewas tapi hanya ditemukan 23 mayat. Satu-satunya yang mungkin berhasil selamat ada satu yaitu..”

“ …Choi Chisan..” kata Kyuhyun mendesis.

“ Tidak!” teriak Sooyoung yang mulai naik pitam.

Semua mata kini menatapnya. Kenapa dia tiba-tiba berteriak padahal daritadi ia terlihat diam. Tercium sesuatu yang mencurigakan.

“ Tidak begitu, bukan berarti dia pelakunya. Mungkin seseorang telah berbuat yang lebih sadis padanya. Sengaja menghilangkan dia dan menjadikannya kambing hitam. Alasan yang logis untuk politik kotor bukan?” Sooyoung mengungkapkan kegundahannya saat itu juga.

“ Masuk akal juga. Luna ssi, catat kemungkinan itu. Terimakasih atas pendapatnya Agent Choi.”

“ Saksi!” usul Donghae. “ Belum tentu kita mendapatkan bukti. Lebih baik mencari orang yang terkait kasus ini dulu,” jelasnya pada yang lain.

“ Bisa diterima.”

Onew kemudian mengambil kendali rapat. Ia menampilkan beberapa bukti terakhir sebelum ditutupnya kasus itu. Kyuhyun sendiri duduk di kursi kosong sebelah Sooyoung. Sooyoung masih setia menundukkan kepalanya. Mendengarkan penuturan-penuturan fiktif mengenai kasus yang menyangkut kakak kandungnya membuatnya tersiksa.

“ Kau tidak membaca folder materimu.” Kata Kyuhyun pelan.

Sooyoung mendongakkan wajahnya, ia menggeser folder materi di meja itu mendekat kehadapan Kyuhyun.

“ Aku sudah membacanya.”

“ Kau harus mendengarkan, pemalas,” hardik Kyuhyun.

“ Jangan panggil aku dengan kata pemalas. Agent Cho yang menyebalkan.”

Mereka masih saja bisa membuat pertengkaran kecil dalam forum yang serius ini.

“ Bukankah ini illegal?” tanya Tao.

Yang lain hanya berbisik-bisik mendengar penuturan Tao.

“ Tidak. Justru akan illegal jika membiarkan penjahat tidur dengan damai,” sahut Kyuhyun.

Sooyoung menatap terpesona kata-kata Kyuhyun barusan. Sederhana tapi mengena di hatinya.

‘ Benar, itu illegal jika membiarkan penjahat yang melenyapkan kakakku tidur dengan damai.’

Rapat terus dilanjutkan. Sooyoung kemudian sadar seberapa dekat wajahnya dan Kyuhyun sekarang. Dia pun segera mendorong wajah kyuhyun menjauh dengan mendorong jidat berjerawat itu dengan telunjuknya. Bayangkan wajah jijik tapi suka Sooyoung saat itu. Tentunya terlihat sangat lucu.

“ Singkirkan tanganmu dari wajahku,” perintah Kyuhyun.

“ Aigoo, jerawatmu banyak sekali,” Sooyoung terkekeh geli.

“ Setidaknya kulitku lebih bagus darimu. Yeoja kurus mengkhawatirkan.”

“ Apa kau bilang? Kurus mengkhawatirkan?”

“ Lalu kau menyebutnya apa? Cacingan?”

“ Cho, kau benar-benar..”

“ Kurus, cacingan, kepala besar, berkulit gelap, semua itu pas untukmu.”

Perdebatan mereka tertunda sebentar saat Onew mengakhiri penjelasannya. Kembali ke masalah rapat, dirasanya semua sudah jelas. Untuk selanjutnya akan diadakan latihan bersama juga pertemuan rutin.

Semua sudah pergi kecuali dua namja newbie yang mendekati Sooyoung.

“ Noona, boleh aku minta nomormu?” tanya Lay.

“ Mungkin kita bisa berkomunikasi lewat SPY M saja.”

“ Baiklah, username noona apa?”

“ Swim.”

“ Kalau aku ‘Unicorn’ dan Tao ‘Hourglass’.”

“ Baiklah.”

“ Kami pergi dulu, noona cantik. Sampai ketemu lagi.”

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak ia sangka Choi Sooyoung langsung mendapat fanboy di detasement pertamanya.

Sooyoung sedikit merapihkan pakaiannya. Kali ini ia mengenakan skirt hitam selutut, kemeja putih berenda di kerahnya, ia hanya menguraikan rambutnya, juga yang wajib adalah heels. Penampilan yang sempurna.

“ Berdandan seperti apapun kau itu masih terlihat kurus mengkhawatirkan,” komentar Kyuhyun sambil melintasinya begitu saja.

Luna, sebagai satu-satunya yeoja selain Sooyoung di detasement ini, menghampirinya yang sedang bersungut-sungut karena komentar Kyuhyun tadi. Luna bilang kalau Sooyoung terlihat cantik dengan stylenya sekarang. Tanpa apapun Sooyoung tetap terlihat cantik. Tentu saja cantik, bukankah kecantikannya memang alami? Ia tak butuh riasan yang berlebihan untuk menunjukkan sisi cantik dalam dirinya.

“ Kalau begitu nampaknya kau perlu mencobanya,” kata Sooyoung.

“ Aku suka sunbae bergaya seperti itu tapi aku tidak mau. Hehe, itu akan terlihat buruk.”

Kata-kata pegawai baru langsung membuat Sooyoung sweatdrop. ‘Dasar hoobae!’ batinnya.

oOo

“ Yeoboseyo?”

“ Yoona unnie!”

“ Ah, Seohyun-ah? Waeyo?”

“ Bogoshipeosoyo, eoddiseoyo Unnie?”

“ Hm, aku di rumah. Ke sini saja, aku masih di kamar.”

“ Tunggu aku.”

“ Arraseo, pallieyo…”

“ Ne.”

“ Ne, annyeong.”

Lima menit berselang, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Muncullah Seohyun yang berlari menuju rumah itu. Ia membuka pintu depan, langsung ia mengerti kebiasaan Yoona yang sering tidak mengunci pintu rumahnya. Segera ia menuju kamar yeoja itu.

Grrkkkk… ia membuka pintu kamar. Dilihatnya Yoona terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya ke pinggir tempat tidur.

“ Yoona Unnie, gwencanayo? Apa kau sakit?”

“ Aniyo. Aku hanya…” Yoona mulai mengisak, Seohyun memeluknya berusaha menenangkannya.

“ Jangan khawatir ada aku di sini menemanimu, Unnie.”

“ Gomawo, Seohyun ah.”

“ Cheonmaneyo, Yoona Unnie.”

“ Maaf jika aku tidak pernah bisa menjadi Unnie yang baik untukmu. Selama ini aku hanya menyusahkanmu.”

“ Tak apalah, Unnie. O ya, ada yang ingin aku katakan.”

“ Ayo kita ke bar?”

“ Mwo? Apakah tidak salah? Inikan baru jam…” Seohyun melihat wajah berharap Yoona, hatinya luluh. “ Baiklah.”

“ Wae? Jangan bilang kau tidak berani ke bar pagi-pagi begini.”

“ Anniyo..”

“ Kalau begitu aku ganti baju dulu.”

Seohyun keluar dan langsung berpapasan dengan seorang namja. Namja itu pengawal pribadi Yoona. Kibum membungkukkan badannya. Seohyun membalas dengan membungkuk kecil.

“ Kau juga harus menemuinya, Yul,” kata Sooyoung yang sedang duduk di kursi kemudi.

“ Tapi kan kau sudah menemuinya. Itu sama saja.”

“ Kau itu teman macam apa? Dulu kau selalu bersemangat jika itu menyangkut Yoona.”

“ Arra.”

Dengan paksaan Sooyoung akhirnya Yuri bangkit dari kursinya. Mereka sudah ada di depan rumah Yoona. Rencananya Sooyoung mengajak Yuri untuk menjenguk Yoona. Karena yang Sooyoung tahu terakhir kali ia bertemu Yoona keadaannya tak begitu baik.

Saat mereka akan melewati pagar, dua orang yang diikuti pengawal itu keluar dari dalam rumah. Mereka berempat sama terkejutnya sekarang.

“ Kalian.” “ Unnie.” Kata mereka bersamaan.

___

“ Harusnya kau singkirkan saja dia.”

“ Anniyo ahjumma, mungkin itu sudah nasibku.”

“ Kau terlalu baik, Seohyun.”

“ Uhm.. apa Kyuhyun Oppa serius dengan..”

“ Choi Sooyoung? Tentu tidak. Pernah belajar dalam tiga bulan saja di New York Fashion School, pemilik Catalyst Star, dan juga cantik. Itu point bagusnya. Selebihnya tidak.”

“ Ne, itu..”

“ Aku tahu keinginanmu.”

“ Nyonya Cho..”

“ Bisa kuatur, aku hanya ingin kau bersabar Seohyun ah. Kyuhyun sebentar lagi akan membuka matanya. Dia akan lihat seberapa keji perbuatan keluarga Choi itu. Tapi kau harus janji satu hal padaku.” “ Singkirkan Choi Sooyoung dari kehidupan Kyuhyun secara perlahan.”

___

Seohyun tersenyum dingin. Entah kenapa ia justru teringat kata-kata Nyonya Cho saat minum teh bersamanya sore kemarin. Padahal minggu lalu ia juga bertemu Sooyoung. Dan betapa Sooyoung merasa bersalah padanya. Otak Seohyun benar-benar buntu. Ia tak tahu siapa yang harus dianutnya. Nyonya Cho yang bisa mewujudkan keinginannya ataukah Sooyoung yang dengan rendah hati selalu mengalah padanya.

“ Seohyun ah, kau juga di sini? Apa kalian akan keluar?” kata Sooyoung berniat sedikit mencairkan suasana.

“ Aku ingin mengajaknya ke bar,” sahut Yoona.

Aneh, Yoona juga sangat sayang pada Seohyun. Tak sekalipun ia pernah mengajak Seohyun ke bar ataupun mengajari hal-hal yang buruk padanya. Tapi apa yang terjadi?

“ Bolehkah kita masuk dulu?” usul Yuri.

“ Baiklah. Kibum ssi, kau bisa panaskan mobilnya dulu,” perintah Yoona pada Kibum.

“ Algeussimnida Agassi,” pengawal itu membungkuk lalu pergi ke garasi.

Mereka berempat lalu duduk mengelilingi empat sudut meja ruang tamu. Suasana cukup canggung. Yuri dan Seohyun kelihatan lain dari biasanya. Mereka lebih kaku.

“ Yoong, apa kau baik-baik saja sekarang?” tanya Sooyoung.

“ Tidak sekacau dulu, Soo.”

“ Bagaimana Catalyst Star?” tanya Sooyoung lagi.

“ Terlalu bagus untuk kau tinggalkan. Aku suka bekerja di sana.”

“ Maksudku.. kinerjanya.”

“ Tidak seburuk saat kau meninggalkannya. Aku butuh beberapa design untuk musim selanjutnya. Bolehkah aku menggunakan rancanganku sendiri?”

“ Tentu saja, aku percayakan sepenuhnya padamu.”

“ Yuri Eonnie, kau juga kemana saja? Beberapa hari menemaniku di sana kau menghilang begitu saja seperti Sooyoung. Sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Yoona setelah beralih dari topik Catalyst Star. Yuri langsung panik. Yoona tidak boleh tahu yang sebenarnya jika mereka berdua bekerja di SPY.

Seohyun menunjukkan sedikit ketertarikan pada arah pembicaraan ini. Sooyoung menghilang? Bukankah dia menemuinya dua kali dalam seminggu ini. Ia sudah tidak bekerja di Catalyst Star? Lalu apa yang ia lakukan sekarang? Sibuk berkencan dengan Kyuhyun, misalnya?

“ Itu..”

Sooyoung dan Yuri saling bertatapan.

“ Jangan katakan kalau kalian sedang memburu harta karun,” seru Yoona.

Ayolah, Yoona. Tak adakah ide yang lebih kreatif dari kata-kata itu. Tapi Yoona ingat betul kalau dua orang ini suka sekali berpetualang dan berlatih bela diri bersama. Bukan tidak mungkin kalau keduanya sedang berburu harta karun.

“ Bukan seperti itu,” tepis Yuri.

“ Yah, kau tahu kami.. kami..” Sooyoung mencari-cari alasan.

“ Sedang mempersiapkan sesuatu,” sahut Yuri.“ Iya, benar. Kami sedang mempersiapkan sesuatu, haha.” Tawanya garing.

Yuri dan Yoona sama-sama tidak kreatifnya. Mempersiapkan apa, ha?

“ Aneh,” kata Yoona.

“ Tenang saja, Yuri akan tetap membantumu jika dia tidak sibuk,” Sooyoung segera menepis prasangka Yoona, takut Yoona mencium sesuatu yang aneh.

“ Benarkah Yuri Unnie?”

“ Iya, tentu saja.”

“ Unniedeul, bukankan ini pertama kalinya kita berempat berkumpul kembali?” tanya Seohyun.

Mereka semua saling berpandangan. Benar juga kata magnae ini.

“ Kurang dua orang lagi,” ujar Yoona.

“ Apa kabar Tiffany dan Jessica?” tanya Yuri.

“ Aku tidak mendengar banyak tentang mereka. Aku tidak tahu.”

Tokk.. tokk..

“ Maaf mengganggu,  mobilnya sudah siap, Nona,” kata Kibum dari balik pintu ruang tamu. Sepertinya ia juga sudah mendengar banyak percakapan dari yeoja-yeoja ini. Ia tersenyum penuh arti.

oOo

“ Katakan kali ini apa lagi?” tanya Sooyoung kesal.

Ia sedang berdiri sambil berkacak pinggang di depan Siwom yang bahkan masih sempat-sempatnya menikmati Americanonya.

“ Aku rasa kau harus rileks saat ini. Apa SPY begitu membuatmu tertekan?” jawabnya setelah mempersilahkan Sooyoung duduk.

“ Tidak kecuali namja menyebalkan bernama Cho Kyuhyun yang kau bilang tempo hari.”

“ Jadi sekarang kau baru sadar dengan kata-kataku. Lebih baik kau memang menghindari Cho Kyuhyun.”

“ Sebenarnya siapa Cho Kyuhyun itu? Apa misiku ada hubungannya dengan dia?”

“ Aku rasa kau sendiri yang harus mencari tahunya.”

“ Bisakah kau mengatakan yang sebenarnya padaku?  Katakan langsung pada pointnya saja. Kau selalu membuatku menebak-nebak dan itu menjengkelkan.”

“ Mengunjungi teman lama di Gwangju. Itu langkahmu selanjutnya.”

“ Terserah apa katamu Oppa. Tapi bisakah aku harus pergi sekarang?”

“ Sempatkan akhir pekanmu menemui Kim Taeyeon, itu cukup.”

“ Kenapa Taeyeon?”

“ Karena dia anggota Police 96. Kita butuh informasi darinya untuk menemukan anak itu dan kita akan tahu bagaimana cara menemukan kakakmu.”

Akhir pekan, Soo telah mengerjakan semua sisa tugasnya. Kini tinggal ia melaksanakan tugas lain dari Siwon.

Ia datang ke sebuah pangkalan udara di daerah Gwangju persis seperti apa yang Siwon instruksikan.

“ Taeyeon ssi?!” panggil Sooyoung dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya tinggi ke udara.

Sooyoung segera berlari ke arahnya.

“ Ne, annyeonghaseyo,” ucapnya sambil membungkukkan badan.

Tempat ini sepi. Sepertinya tak banyak orang yang berminat belajar terbang saat ini atau tempat ini memang sudah ditutup.

Kim Taeyeon tersenyum kikuk melihat yeoja yang sangat tinggi ini.

“ Ini aku, Choi Sooyoung. Kau tidak ingat?”

“ Soo.. Sooyoung? Sooyoung yang Shikshin itu?” tebak Taeyeon.

“ Ah, kau hanya mengingat bagian itu.”

“ Wah, kau semakin tinggi saja. Aku jadi iri.” Jawabnya lega. Akhirnya ia ingat semuanya.

“ Kau saja yang tidak mau tumbuh tinggi.”

“ Kenapa kau begitu? Aku kan hanya bercanda.” Taeyeon pura-pura bersedih.

“ Masih rajin berlatih?”

Mereka berjalan bersama menuju hangar utama. Hangar, tempat pesawat-pesawat itu di simpan.

“ Tidak juga, hanya saja ada tugas yang berhubungan dengan pesawat.”

“ Kau seorang police 96, bukan?”

“ Bagaimana kau bisa tahu?”

“ Aku membaca koran, kau populer sekarang. Banyak disanjung karena kau juga cantik.”

“ Benarkah? Aku malah tak pernah mendengar yang seperti itu. Ji Eun lebih terkenal dari aku.”

“ Lee Ji Eun itu? Aku tak terlalu menyukainya, ia lebih pantas menjadi penyanyi. Aku adalah fansmu. Lihat saja sampai kau punya fansclub. Aku akan ikut bergabung.”

“ Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa perusahaan fashion yang kau impikan itu terwujud?”

“ Taeyeon ssi? Nampaknya kau ketinggalan berita.”

“ Ne?”

“ Kau tidak tahu Catalyst Star?”

“ Bukankah itu perusahaan fashion terbesar di Korea saat ini? Aku punya beberapa koleksinya.”

“ Kau tahu siapa pemiliknya?” tanya Soo.

“ Molla. Yang kutahu pemiliknya tidak pernah mau berfoto saat ia diwawancarai untuk beberapa artikel di majalah.”

“ Itu aku.”

“ Kau bercanda.” Taeyeon tidak percaya.

“ Serius.”

“ Untuk apa kau tutupi identitasmu? Oh ya, kenapa kau juga tiba-tiba akan berlatih lagi?” Taeyeon semakin curiga dengan kawan lamanya ini.

“ Untuk jaga-jaga. Banyak hal tak terduga akhir-akhir ini.”

“ Kau benar.”

Sooyoung sengaja membuat Taeyeon melupakan pertanyaannya. Tentang identitas, menjadi putri keluarga Choi tak berarti banyak baginya jika dalam hidupnya ia selalu merasa terancam. Cukup pelajaran yang ia dapatkan dari Oppanya. Ia tak ingin mengulang apapun yang telah menimpa  Oppanya.

Taeyeon adalah teman lama Sooyoung saat pertama kali belajar terbang. Sebenarnya ia juga mengajak Yuri tapi Yuri bilang kenapa repot-repot terbang jika ia masih bisa menapakkan kakinya di tanah. Bilang saja Yuri takut ketinggian.

___

“ Mulai sekarang kau tidak usah belajar di sini. Kau harus berhenti!” pelatih memarahi Taeyeon.

“ YA! Sam, kau tidak bisa mengeluarkannya begitu saja. Ini bukan salahnya,” kata Soo membela.

“ Tidak bersalah katamu?”

“ Iya benar. Seseorang menyabotase lintasannya. Aku juga melihat Taeyeon menjalankan semuanya sesuai prosedur.”

“ Tapi tetap saja. Seharusnya dia lebih berhati-hati. Dia mungkin saja bisa menghilangkan nyawanya sendiri bahkan orang lain tadi.”

“ Tap..”

“ Sudahlah Soo, aku tidak apa apa. Samyo benar, seharusnya aku lebih berhati-hati tadi. Aku mungkin juga terlalu pendek untuk belajar mengemudikan pesawat.”

(*Sam / Samyo adalah singkatan dari songsaenim yang merupakan panggilan akrab pada guru)

“ Taeyeon ah, tapi…”

“ Aku tidak apa apa Soo, aku akan keluar.”

“ Aniyo, dia tidak boleh menyeluarkanmu. Jelas-jelas yang bersalah itu adalah murid Hawkins, si Changmin itu. Kau tidak berhak menanggung kesalahan mereka.”

“ Soo..”

“ Kau tidak bisa mengeluarkannya. Jika kau menggeluarkannya, aku juga akan keluar. Dan tempat ini kujamin akan tutup dalam waktu seminggu. Maaf Sam, sepertinya kau tidak memberiku banyak pilihan.”

“ Gadis keras kepala. Hash.. Ya sudah, Nona besar lakukan apa yang kau mau. Rusak saja sekalian semua pesawatku. Lalu jangan lupa membayarnya.”

Sooyoung mengeluarkan dompetnya, dia mengambil beberapa lembar won

“ Ini, kuganti biaya perbaikannya.”

“ Nona…”

“ Itu untuk biaya perbaikan. Dan ini,” Soo mengeluarkan sejumlah uang lagi.

“ Tolong ajari kami tentang mesin pesawat juga agar kami tahu letak kesalahan bila terjadi kerusakan.”

Pelatih itu menyerah. Ia mengamini segala omongan Soo, ia sendiri sebenarnya tak ingin ambil resiko menentang kemauan seorang anak konglomerat.

“ Soo, seharusnya kau tidak usah membelaku”

“ Anniyo, aku harus. Kau memang tidak bersalah. Lain kali kita beri pelajaran Hawkins sialan itu. Bagaimanapun kita dari grup Phoenix harus terbang lebih baik dari mereka.”

“ Tapi Soo.. uangmu bagaimana? Akan ku ganti. Tapi aku meminta waktu untuk menggantinya.”

“ Tenanglah, mulai sekarang kau adalah partner terbangku. Kau bekerjalah yang baik dan lebih berhati-hati lagi, arra?”

“ Ne.”

“Sekarang kita berteman?”

“ Ne.”

——

“ Jika teringat masa lalu, aku jadi ingat Changmin,” kata Taeyeon mengusir keheningan saat angin dingin bertiup diantara mereka.

 “ Changmin?” Sooyoung berusaha memanggil ingatannya. Ia lupa siapa itu Changmin.

“ Itu, murid Hawkins yang sering mencari garagara dengan kita,” jelas Taeyeon.

‘ Oh, pria yang mengejar-ngejarku itu?’ kata Sooyoung dalam hati.

“ Kenapa teringat Changmin? Kau dulu menyukainya?” tanya Sooyoung.

“ Bukan begitu, tapi entah kebetulan atau apa. Aku bertemu dengannya lagi di Police 96.”

“ Police? Dia Police?!”

“ Kau tampak terkejut. Kenapa?” tanya Taeyeon heran.

oOo

Sooyoung meletakkan komputer tablet yang dipegangnya ke dalam tas saat sekumpulan pemuda tampan melangkah masuk ke ruangan yang telah dihuninya sejak kurang lebih setengah jam yang lalu. Sekilas ia melirik jam Rolex klasik yang ada di lengan kirinya. Sudah jam  9 lebih 15 menit, pantas mereka sudah datang.

Sooyoung agak tersenyum pahit mengingat dirinya sengaja datang lebih awal untuk latihan bersama sedangkan para newbie itu terlambat datang 15 menit. Bukan masalah 15 menit, tapi disiplin waktu itulah kode etik yang selalu dipegang teguh oleh seorang Choi Sooyoung.

“ Annyeonghaseyo, Noona,” sapa salah satu diantara mereka.

“ Setidaknya ada seseorang yang masih mengganggapku ada di sini,” batin Sooyoung.

Sooyoung sendiri mulai bangkit dan berjalan mendekat pada kumpulan namja tadi. Ia berdiri persis di sebelah satu-satunya newbie yang menyapanya.

“ Kalian datang lebih awal ya? Kalian hanya terlambat lima belas menit tadi,” bisiknya pada Lay.

Lay mengangguk, “ Hyung, mengajak sarapan di atas dulu. Kami tidak bisa menolak.”

“ Dan dengan santainya kau melupakan jam berapa harusnya kau datang ke sini?”

“ Habis mau bagaimana lagi?” ucap Lay polos.

Sooyoung bersungut saat melihat Lay mengatakannya dengan nada yang tanpa dosa. Tak sampai Sooyoung sempat berkedip. ‘Hyung’ yang dimaksud Lay tadi masuk ke ruangan itu dan langsung menerobos barisan mereka. Ia langsung berdiri di depan bersama Leeteuk. Sooyoung semakin bersungut saat namja itu membuka sesi latihan bersama.

“ Selamat pagi,” sapa Cho Kyuhyun.

Serentak semua membalas sapaannya kecuali Sooyoung. Luna yang ada di samping kirinya mengetahui hal ini dan menghadiahi Sooyoung dengan sodokan kecil. Bukannya sadar, Sooyoung malah melotot tajam pada Luna.

“ Wae?” tanya Sooyoung sedikit menahan suaranya.

“ Fokus.” Kata Luna singkat, padat, dan jelas.

Tanpa Luna beri tahupun Sooyoung sudah tahu. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya terlanjur malas bila berurusan dengan Kyuhyun. Namja menyebalkan itu, Sooyoung merutuki dirinya sendiri karena masuk  detasement ini. Ia tahu dirinya hanya ada di divisi tambahan, yang memang tak sepenting tugas divisi lain. Tapi berada dalam satu detasement dengan Kyuhyun dan tanpa Yuri tentunya membuat dirinya merasa sangat tidak beruntung.

“ Agent Choi, apa kau mau berdiri terus di sana?” tanya Kyuhyun.

Sooyoung dengan bodohnya menatap sekeliling. Barisan itu sudah bubar dari tadi ternyata. Semua sudah pergi ke loker masing-masing untuk berganti seragam latihan mereka. Wajahnya langsung merah menahan malu, salahnya sendiri tidak fokus. Sooyoung berjalan pergi. Kyuhyun mengikutinya dari belakang sambil tersenyum evil.

Setelah bersiap semua anggota berjalan beriringan di maze-maze bawah tanah. Maze-maze inilah yang menghubungankan berbagai basement dari gedung-gedung di atasnya. Inilah istimewanya Metro City. Di sini ada dunia lain di bawah permukaan tanah. Semua anggota sudah hafal betul maze itu akan membawanya kemana. Ada yang langsung menuju taman kota, ada yang ke bawah kantor pemerintah, kantor-kantor publik, ada yang ke rumah sakit, bahkan ke Blue House.

Kini semua berkumpul di basement sebuah perusahaan konveksi, tenang saja ini bukan Catalyst Star. Keluarga Choi sudah merancangnya agar tidak mudah dibobol jaringan bawah tanahnya. Untuk sesi latihan kali ini memang difokuskan pada latihan fisik. Cho Kyuhyun berjalan sambil melipat lengan seragam army-nya. Luna nampak terpesona melihatnya.

“ Hey kau, sudah cukup terpesonanya. Lihat, air liurmu sampai mengotori lantai,” ucap Sooyoung sambil mendorong Luna untuk segera bersiap.

Beberapa namja bersiul melihat Sooyoung bercatwalk melewati mereka.

“ Noona, neomu yeppeo,” teriak salah satunya.

Soo melemparkan satu sarung tangannya pada mereka.

“ Wah, galak sekali,” komentar Tao.

Leeteuk tersenyum tipis mendengarnya. Sekali lagi, ia bukan bagian dari detasement ini. Leeteuk di sini hanya untuk mengawasi.

Memang jika dipikir-pikir ini pemandangan yang cukup asing. Sooyoung menanggalkan kesan classy-nya. Sooyoung biasa mengenakan skirt saat bekerja dan kali ini ia menggunakan seragam army yang cukup membuatnya terlihat sexy. Apalagi ia tidak mengancingkan beberapa kancing atasnya.

“ Tunggu sampai kalian kena lemparan sepatu boot-nya. Sudah sana, kita harus bersiap,” saran Yesung.

Semua siap dengan senjata dan alat pelindung masing-masing. Kali ini mereka menggunakan softgun untuk berlatih. Setelah kelompok dibagi mereka semua berpencar sampai aba-aba dimulainya pertandingan diberikan.

Kyuhyun bersembunyi di kubu selatan yang berseberangan dengan kubu yang dianut Sooyoung. Sooyoung sendiri tersenyum puas dirinya menjadi musuh Kyuhyun.

Sirine berbunyi, tanda permainan ini dimulai.

“ Aku akan menghabisimu Cho Kyuhyun,” kata Sooyoung optimis.

oOo

“ Ini data rahasia yang anda minta Nyonya.”

Kwon Yuri dan Choi Sooyoung. Mereka tumbuh dan dibesarkan bersama. Mereka memiliki cita-cita yang sama untuk menjadi Agent sampai Choi Sooyoung harus bersedia mengelola perusahannya kini. Tercatat bila mereka sempat mendaftar sebagai trainee Police 96 saat berusia muda. Anehnya, mereka ditolak dan mereka terkena daftar blacklist. Ada kemungkinan Tuan Choi lewat jaringannya yang melakukan hal ini. Tapi ada info lain jika diam-diam Sooyoung dan Yuri masih berlatih bersama. Dan akhirnya tahun lalu Kwon Yuri berhasil masuk SPY disusul Sooyoung yang baru bergabung tahun ini.

Sooyoung sebenarnya juga tergabung dalam Choi Sibling. Tapi tak banyak yang tahu tentang Choi Sibling itu. Choi Sibling dikabarkan vakum setelah kehilangan ketuanya yang tak lain adalah kakak sulung dari Sooyoung yang bernama Choi Chisan. Kini Choi Sibling dipimpin oleh Choi Siwon dari Cosmo Grup. Hanya Sooyoung dan Siwon yang masih aktif mengurusi Choi Sibling, Choi Sibling terbentuk dengan tujuan menjaga kekerabatan antar keluarga Choi. Choi Sibling aktif dalam misi kemanusiaan. Tapi setelah ketua mereka menghilang kini mereka mengubah misi utamanya yakni membersihakan nama baik Choi Chisan yang dikambing hitamkan atas peristiwa Teratai Berdarah. Tapi terlebih dulu mereka harus mencari saksi kunci yang hilang, mereka menyebutnya Sakura Putih. Di luar mereka mengelola perusahaan masing-masing sebagai kedok rahasia. Tempat pertemuan rahasia mereka ada di Camaderie, restoran milik Choi Sena. Pengacara Choi Minsuk termasuk dalam anggota juga.

Selain itu, Kwon Yuri dan Choi Sooyoung juga memiliki teman-teman dekat sesama sosialita. Mereka menamakannya Genie. Sayang hubungan mereka merenggang karena kesalah pahaman Sooyoung dan yang lain. Putri Tuan Jung dari sayap kiri juga terlibat. Jadi kemungkinan dialah yang berselisih paham dengan Choi Sooyoung.

“ Apa kau yakin dengan data yang kau berikan ini?”

“ Saya yakin Nyonya, data ini bersumber dari salah satu mata-mata terbaik kami.”

“ Baiklah, Kim Heenim. Kau bisa pergi sekarang.”

‘Heenim’ pun pergi meninggalkan ruangan bergaya romawi yang bernuansa putih itu. Tepat saat dirinya menutup pintu ia tersenyum mencurigakan. Ia langsung membuka jas dan membaliknya membuat jas yang semula hitam itu jadi berwarna biru laut. Tak lupa ia membuka kacamata tanpa lensanya juga mengacak sedikit rambutnya. Sempurna. Menampilannya sudah berubah kali ini. Tinggal pergi dan menyelesaikan urusan yang lain dengan identitas Kim Heechul tentunya.

Nyonya Cho kembali menelisik isi informasi rahasia itu.

“ Pernah ditolak Police 96? Dia masuk SPY? Choi Sibling? Genie? Cih! Mari kita hancurkan Choi Sibling dulu agar dia menderita.”

oOo

Sorak kegembiraan datang dari kubu Sooyoung. Yah, kubu Kyuhyun kalah telak dari Sooyoung. Bagaimana tidak? Karena Sooyoung punya Tao, si sniper sejati. Selain itu juga banyak yang jadi korban keganasan Sooyoung. Kyuhyun salah satunya. Tanpa kenal lelah Sooyoung dari tadi fokus mengintainya. Sampai akhirnya Kyuhyun terkena tiga tembakan beruntun di wajah, dada, dan perutnya.

Leeteuk mengacungkan dua jempolnya untuk Sooyoung. Sooyoung tersenyum tipis. Ia tak mau terlihat terlalu besar kepala sekarang karena keadaan bisa saja berbalik. Apalagi Cho Kyuhyun bisa membalas perbuatannya sewaktu-waktu.

Donghae tertawa meledek, “ kalian harus lihat ekspresi Cho Kyuhyun saat Choi Sooyoung menembaknya. Muka sombongnya sudah runtuh di tangan seorang yeoja.”

“ Dia curang, dari awal hanya aku sasarannya!” seru Kyuhyun.

“ Apa kau tidak lihat dia juga menembak Lay, Luhan, Yesung, dan Luna?”

“ Aish jjinja, Lee Donghae. Jika bukan kau sunbaeku pasti senapan ini akan berakhir di perutmu.”

Donghae mengangkat pundaknya cuek.

“ Aku sudah bilang akan minta traktiran pada kubu yang kalah. Jadi kalian dan kau juga Cho Kyuhyun, siapkan dompet kalian,” ujar Leeteuk disambut senyum cerah setengah dari Detasemen AGT.

“ Hore! Kita minum sepuasnya malam ini,” sorak yang lain.

oOo

Swim               : Test test

Unicorn          : Diterima. Ada apa noona?

Swim               : Bisa ke tempatku sebentar?

Tak lama kemudian, muncul ‘si pria enak dilihat menurut Yuri’, Lay maksudnya.

“ Noona, ada apa?”

“ Aku kesulitan mengidentifikasi barang ini. Apa kau tahu gunanya?”

“ Harusnya kau tanyakan ini pada Ryeowook Hyung.”

“ Eh? Jadi ini bukan senjata?”

“ Bukan, yang kutahu itu memang bukan senjata.”

“ Baiklah, terimakasih kalau begitu. Maaf membuatmu harus ke sini.”

“ Tidak apa, noona santai saja.”

“ Kalau kau bilang begitu bolehkah aku bertanya lagi?”

“ Katakan.”

“ Apa saat kau datang ke sini kau melihat Donghae ssi ada di ruangannya?”

“ Dia ada di sana. Datang saja.”

Sooyoung pun pergi ke ruangan Donghae. Sama seperti lab pribadinya, keadaan di sini tidak lebih baik. Di setiap sisi ruangan ada banyak layar monitor besar, dibawahnya ada juga panel-panel. Sooyoung sudah mengetuk beberapa kali sebelum masuk. Pemandangan pertama yang dilihatnya -yah selain keadaan ruangan ini- adalah sang pemiliknya yang menggunakan kacamata tebal dengan lensa bertumpuk. Sooyoung yakin betul kalau Donghae sedang mengatur perbesaran lebih dari 100 kali seakan ia hendak melihat mikroba yang kecil sekali.

“ Donghae ssi?”

“ Oh,” Donghae mengangkat kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang sedang bicara padanya.

“ Boleh aku minta bantuanmu?”

“ Tentu saja,” Donghae melepas kacamata yang membuatnya tadi hanya bisa melihat gigi putih Sooyoung yang diperbesar saat dia menggunakannya.

“ Bisa kau periksa ini, aku rasa ada yang salah.”

Donghae menerima ponsel itu dari tangan Sooyoung. Ia membuka kunci layar dan terpampanglah foto seorang namja. Ia sedikit terkejut melihat sepertinya Sooyoung sudah memiliki namjachingu mengingat Sooyoung itu memiliki kepribadian yang cukup ajaib. Ah, ia lupa dengan kecantikan yeoja ini. Mana mungkin yeoja secantik Sooyoung belum memiliki namjachingu, bukankah itu aneh. Tapi segera ia menepis pikiran aneh itu.

Donghae langsung membuka aplikasi SPY M yang dulu dibuat seniornya. Tapi seiring berjalanannya waktu dirinyalah yang mengembangkannya. Saat dibuka, program itu tidak langsung merespon. Donghae mencium ketidakberesan di sini.

“ Apa kau menggunakan aplikasi ‘berat’ selain SPY M?”

“ An..anni,” bantah Sooyoung. “ Mungkin yang dimaksud Donghae adalah CS. Mati kau, Choi Sooyoung kalau sampai dia tahu,” batinnya.

“ Sebentar, sepertinya ini mulai bekerja.”

Benar saja, program itu langsung terbuka dan menampilkan database Cho Kyuhyun.

“ Cho Kyuhyun.” Donghae tersenyum menggoda.

“ Aku hanya memeriksa kemarin. Bagaimana pun juga kita satu tim di detasement, aku hanya ingin memastikan kinerja agent yang bergabung,” Sooyoung membuat pembelaan pada dirinya sendiri.

Donghae semakin tertawa mendengar pembelaan Sooyoung.

“ Aku bahkan tidak bertanya kenapa kau melakukannya. Kau ini lucu sekali. Tapi tenang saja, aku tidak akan bilang siapapun. Namjachingumu akan marah melihatmu mengintai namja lain, bukan?”

“ Donghae ssi..”

“ Haha, aku  hanya bercanda. O ya, jika aplikasi ini bermasalah lagi aku akan menginstall ulangnya dengan yang baru.”

Sooyoung mengangguk mengerti.

“ Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Donghae.

“ Anniyo, Donghae ssi.”

“ Itulah kau, jangan panggil aku seperti itu. Kau saja sudah memanggil Leeteuk Hyung dengan Oppa. Kau tinggal panggil nama saja padaku.”

“ Donghae, begitu?” tanya Sooyoung.

“ Lihat, kau itu lucu sekali. Masa yang seperti itu aku harus mengajarimu.”

“ Aku tidak terbiasa, makanya begini. Ah Donghae, berapa lama kau bekerja di sini?”

“ Sejak aku berusia 18 tahun.”

“ Semuda itu?

“ Kau mau teh? Aku punya teh herbal di sini. Sepertinya kita akan memiliki pembicaraan yang panjang.”

Donghae menawarkan Sooyoung untuk duduk di sofa di sisi kanan ruangan yang terlihat tidak terlalu penuh dari lab ini, kemudian ia membawa dua cangkir teh yang baru diisinya air panas dari dispenser.

“ Aku bekerja untuk SPY sejak aku lulus. Tepatnya saat aku keluar dari trainee NIS.”

“ Tapi bagaimana bisa?”

“ Aku mengirim form digital pada mereka dan aku menunjukan apa saja yang bisa aku buat.”

“ Lalu?”

“ Lalu aku direkruit sebagai anggota. Aku sendiri jadi operator dan programmer jarak jauh.”

“ Jarak jauh? Memangnya kau tinggal dimana?”

“ Aku tinggal di Provinsi Jeolla Utara, kota Mokpo.”

“ Kenapa kau pergi ke Seoul?”

“ Asalku memang di Seoul, aku hanya sementara di Mokpo. Lagipula aku memang punya tujuan lain.”

“ Tujuan lain, aneh sekali. Apa kau bosan dan ingin menjadi petugas lapangan di SPY?”

“ Ya Sooyoung ah, bukan seperti itu.”

“ Lalu?”

“ Kau tahu adik perempuan yang bersamaku waktu itu? Aku ingin mengembalikannya.”

“ Mengembalikannya pada siapa? Bukankah itu adikmu?”

“ Dia Kim Yoojung. Benar dia adikku tapi kami tidak benar-benar bersaudara. Aku hanya membesarkannya sedari kecil. Orang tuanya sudah tidak ada.”

“ Donghae, kau mau mengembalikannya pada siapa jika memang orang tuanya sudah tidak ada.”

“ Aku harap seseorang akan menerimanya.”

“ Kau tega sekali pada dia, bagaimanapun dia itu adikmu.”

“ Aku tahu. Begitu juga dia, saatnya dia tahu tentang semuanya.”

“ Baiklah, ini urusan pribadimu.”

“ Kau tidak ingin bercerita apa-apa tentangmu, eoh?”

“ Ini,” Sooyoung mengulurkan sebuah kartu nama. “ Aku rasa itu sudah menjelaskan semuanya.”

Donghae mengernyitkan dahinya bingung. Kartu nama mewah ini berwarna hot pink dengan siluet bunga mawar yang merekah indah. Di sini tertulis CEO Catalyst Star.

“ Kau CEO?”

“ Ne, itu..”

“ Untuk apa kau susah-susah bekerja di sini?”

“ Memang aku tidak punya hak untuk menjalani hidupku. Dari dulu cita-citaku memang menjadi seorang agent.”

“ Tapi di sini kau tidak bekerja seperti dalam film-film 007 yang kau lihat semasa kecilmu itu Choi Sooyoung. Ini kehidupan nyata.”

“ Aku cukup tahu soal menerima kenyataan, Lee Donghae. Aku hanya menjalani takdir yang membawaku.”

“ Lalu apa kau bahagia sekarang?”

Sooyoung menggeleng. “ Belum,” ucapnya.

“ Carilah kebahagiaanmu Sooyoung, pilihlah yang paling benar untukmu dan jangan dirimu menyesalinya,” ucap Donghae diplomatis. Namja ini jika bukan pandai di bidang IT pasti dia akan menjadi diplomat.

Sooyoung meresap kata-kata Donghae barusan. Aneh, ini pertama kalinya ia bicara segamblang ini pada orang yang baru dikenalnya. Biasanya tak semudah itu untuk membicarakan masalah pribadi. Hanya saja, rasanya Sooyoung seperti sudah mengenal Donghae sebelum ini.

“ Kau mematai-matai Cho Kyuhyun?” tanya Donghae.

“ Sudah kubilang tadi, rekan di tim datesement..”

“ Hanya data Cho Kyuhyun yang kau buka, tidak ada riwayat yang lain,” Donghae diam-diam membuka daftar histori dari ponsel Sooyoung.

“ Aku memata-matainya karena Siwon tidak mengatakannya padaku hubungannya dengan hilangnya kakakku,” itu terlalu konyol untuk Sooyoung ucapkan. Ia memilih berpura-pura tidak tahu.

“ Donghae..” rengek Sooyoung.

“ Aku tidak akan bilang siapa-siapa.”

“ Tapi aku tidak..”

“ Tidak menyangkal? Atau tidak menolak? Hahaha.”

“ Kau menyebalkan.”

“ Itu juga sifatnya. Dia memang menyebalkan. Sepertinya kata-kata itu selalu kau ucapkan padanya.”

“ Y-ya!” Wajah Sooyoung memerah.

“ Aku tak sengaja dengar dia mengajakmu untuk menemui ibunya minggu lalu. Bagaimana makan malam kalian?”

“ Demi Luhan di divisi Bait, aku tidak..”

“ Menyangkalnya?”

“ Astaga, Lee Donghae!”

“ Aku bohong jika tidak mendengarnya. Maka dari itu aku katakan padamu.”

“ Hentikan presepsimu itu. Kau salah menarik kesimpulan. Siapa juga yang me..”

“ –nyang-kal-nya?”

“ Sejak kapan dia bekerja di sini? Dia senior atau junior?” tanya Soo sambil membuang jauh-jauh harga dirinya. Sekarang ia hanya ingin tahu dan mungkin Donghae yang bisa menjawab rasa ingin tahunya.

“ Sekitar tiga atau dua tahun yang lalu. Aku sudah tidak ingat. Jujur setelah kembali ke Seoul itu pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.”

“ Tapi kau mengenalnya?”

“ Tidak juga, aku hanya bisa tahu dirinya saat mendapat data baru atau laporan mingguan. Komunikasi juga hanya berasal dari SPY M. Asal kau tahu saja, dia benar-benar menyebalkan walaupun hanya lewat ucapannya.”

“ Aku tahu.”

“ Kau benar-benar tahu? Lihat, yeoja ini memang memperhatikan Cho Kyuhyun.”

Donghae mengejek Sooyoung habis-habisan. Minggu lalu tidak sengaja mendengar percakapan mereka di parkiran. Bukan hal yang salah jika ia tidak sengaja mendengarnya.

“ Jaga adikmu, bagaimanapun dia juga adikmu. Kenalkan aku padanya, mungkin kami bisa berteman.”

“ Terimakasih, sudah mau mendengarku.”

“ Sama-sama, Donghae ya.”

Pintu itu tertutup. Donghae menatap cangkir kosong yang ada di meja.

‘ Benar-benar pembicaraan yang panjang.’

oOo

“ Seohyun ssi?”

“ Ne..”

“ Kau marah soal itu?”

“ Mana mungkin,” tawanya hambar. “ Selamat atas hubunganmu dengan Sooyoung ssi.”

Makan siang yang sempurna, karena direncanakan oleh Choi Sooyoung tentunya. Kyuhyun masih dengan kemeja kerja hijau muda. Seohyun mengenakan dress selutut warna putih dengan sweater peach yang disampirkan di kedua sisi bahunya. Sederhana dan innocent.

“ Apa kau tidak tanya alasannya?” tanya Kyuhyun frontal.

“ Untuk apa? Toh, aku sudah ditolak.”

“ Seohyun ssi?”

“ Katakanlah kalau oppa memang ingin mengatakannya.”

“ Aku menolakmu karena.. aku tahu siapa kau.”

Beribu ton batuan rasanya langsung menimpa Seohyun. Ia segera memperbaiki ekspresinya. Dan tertawa ramah seolah tak tahu apa-apa.

“ Lalu.. siapa aku?”

“ Aku tahu apa yang ibuku inginkan. Dan kumohon kau untuk tidak menjadi batu pijakannya karena aku menjamin apapun padamu. Maaf, sungguh aku tidak bisa.”

Seohyun terluka. Penolakan ini bukan pertama kalinya. Tapi alasan yang Kyuhyun lontarkan sangat frontal padanya. Semua itu benar, tapi bukankah berdiri di belakang Nyonya Cho lebih aman untuk menjinakkan hati Kyuhyun.

“ Aku tahu,” ucap Seohyun santai.

“ Dan..”

“ Maaf Kyuhyun ssi, aku sudah terlanjur terlibat dalam permainan ini. Kau sudah tahu dan kau juga yang harus menanggung konsekuensinya.”

“ Juga jagalah Sooyoung ssi baik-baik.”

oOo

“ Kita berjalan terlalu lama. Kau pasti lelah.”

“ Kita duduk di sana saja Oppa,” tunjuk Sunny pada sebuah bangku taman.

“ Maaf, lain kali aku tidak akan mengajakmu berjalan. Maafkan aku Sunny.”

“ Aku suka. Tidak apa, Oppa. Aku sangat suka.”

Sungmin mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap keringat Sunny.

“ Aku bisa sendiri,” Sunny merebut pelan sapu tangan itu.

Sungmin memandang sekelilingnya. Sejauh ini ia aman. Ia tidak melihat seorangpun yang dikenalnya.

“ Jika mau jalan-jalan mungkin di sekitar rumah sakit lebih baik. Dengan begitu kau tidak terlalu lelah.”

Sunny tersenyum manis. Sungmin berjongkok ke depan kaki Sunny. Dia meluruskan kedua kaki itu. Ia memijat pelan kaki kiri Sunny karena ia tak mungkin memijat kaki kanan palsu milik Sunny. Inilah Sungmin yang selalu mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana juga ini mereka lakukan karena saling menyayangi.

Sunny bersyukur Sungmin tak lantas meninggalkannya setelah kecelakaan itu. Bahkan Sungmin mati-matian bekerja untuk mendapatkan uang perawatan Sunny sampai sekarang ini. Hanya saja misi rahasia yang diemban Sungmin membuat mereka terpisahkan selama beberapa tahun.

Di sisi lain taman, Jessica sedang asyik menikmati sore hari dengan berjalan-jalan bersama anjingnya. Tanpa ia sadari seseorang terus membuntutinya dengan sepeda.

Lelah berjalan, Jessica mengeluarkan piringan mainan yang sengaja ia bawa. Seperti biasa, ia melakukan permainan lempar tangkap dengan anjingnya. Donghae memarkirkan sepedanya tak jauh dari pohon tempatnya mengintai sekarang.

Tak sengaja ia melihat seorang namja berambut blonde sedang bersama yeoja yang sama berambut blondenya. Sekilas nampak seperti orang asing. Tapi mata Donghae tidak bisa tertipu dengan penampilannya yang berbeda. Orang yang dilihatnya tetap sama. Sama ia bencinya dari dulu hingga sekarang.

MUSUH DI DEPAN MATA, ukir Donghae dengan sengaja pada sebuah pohon dengan pisau lipatnya.

“ Cih, Tuan Lee,” cibirnya.

Dendam di masa lalu takkan pernah ia lupakan begitu saja. Karena Lee Sungmin ia jadi harus menanggung semuanya sendiri. Dan saatnya ia membalas. Inilah permainan Donghae. Permainan balas dendam.

Kepergian Sungmin membawa dampak yang besar pada Donghae. Kebohongan Sungmin juga yang membuatnya harus berjuang sendiri untuk segera mengembalikan keadaan. Semua kartu As Sungmin ada padanya. Tinggal menunggu waktu sampai ia akan membongkarnya dengan segera.

Kembali pada Sunny dan Sungmin. Cukup lama mereka bercengkrama di taman sampai Sungmin merasa dirinya diamati. Ia masih belum tahu objek yang mengamatinya tapi untuk berjaga-jaga sebaiknya ia pergi dari sana. Ia pun mengajak Sunny pulang.

“ Aku harus pergi sekarang. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Bagaimana?”

“ Aku bisa kembali ke rumah sakit sendiri. Lagi pula aku masih ingin di sini. Oppa pergi dulu saja.”

“ Baiklah, aku pergi Sunny ah.”

Sungmin buru-buru pergi. Ia berjalan dengan waspada takut seseorang mengikutinya. Tapi ia salah. Tugas Donghae bukanlah mengikutinya, Donghae masih harus mengamati Jessica.

Donghae melihat yeoja yang tadinya bersama Sungmin kini sendirian. Ia bahkan tidak melihat Sungmin pergi. Tak apa, iya yakin Sungmin sekarang tidak berada jauh darinya. Setiap saat mereka bisa saja bertemu secara kebetulan. Ia percaya akan takdir.

Di tengah pelariannya, Sungmin melihat salah satu orang yang dulu sempat dikenalnya. Tanpa pikir panjang ia memasuki café itu dan bergabung bersama orang itu.

“ Buku yang menarik,” ujar Sungmin.

Lawan bicara yang tadinya tak menyadari kedatangannya kini sedikit menurunkan bukunya.

“ Kurasa kerajaan industri memang Inggris.”

“ Aku kurang setuju.”

“ Inggris membangun semua bangunannya, termasuk jembatan London dengan teknologi paling inovatif saat itu.”

“ Jepang kukira.”

“ Aku bilang kerajaan industri bukan negara industri Tuan. Aku belum pernah dengan kekaisaran Jepang punya andil dalam teknologi industri sebelum perang dunia kedua.”

“ Sangat brilliant.”

“ Yes, I am. Itulah materi tesisku.”

“ Aku rasa aku masih harus memberimu selamat atas keberhasilan tesismu. Di Jepang sebelum aku pergi ke Amerika kita pernah bertaruh siapa yang lebih dulu akan menyelesaikannya.”

“ Kau belum juga menyelesaikannya? Jadi aku menang?”

 “ Oh, aku membawa uang kemenangan atas taruhanku padamu. Aku perlu berterima kasih karena kau sudah menang. Jadi, sebagai tanpa terima kasih aku akan memberi anggur putih Perancis tahun 1986.”

“ Sudah kalah masih minta yang aneh-aneh. 1986, tahun yang istimewa.”

“ Yap.”

“ Itu tahun kelahiranmu Tuan?”

“ Kau begitu perhatian sampai kau mengingat tahun kelahiranku.”

“ Kurasa tidak.”

“ Tapi bukankah lebih sopan kau mengajakku makan malam dulu sebelum kau mengirimkan hadiah itu.”

“ Pardon me?”

“ Jadi kau bebas malam ini?”

“ Kurasa begitu, kenapa?”

“ Makan malam?”

“ Bagus.”

“ Buonasera?”

“ Sorry, but please don’t Italian.”

“ Camaderie?”

“ Perfect.”

Percakapan yang singkat mengantarkan kedekatan sunbae-hoobae ini sama seperti dulu saat mereka masih di Jepang. Sungmin membukakan pintu untuk Sooyoung. Saat keluar beberapa orang langsung mengejar Lee Sungmin. Sungmin memutuskan untuk lari tapi tidak sendiri. Digenggamnya lengan kurus Sooyoung. Sungmin menyeret Sooyoung untuk lari bersamanya.

“ Ya! Ada apa dengan kau ini? Apa kau itu penjahat.”

Sungmin tidak menggubris. Saat mereka sudah jauh dan tak lagi diikuti, Sungmin berhenti. Tak terlihat sedikitpun rasa lelah dari wajah awet mudanya.

Sedangkan Sooyoung sudah tersengal-sengal dengan peluh yang membasahi wajahnya.

“ Mian, membawamu dalam urusanku. Oh ya, apa wajahku ini terlihat seperti orang yang tidak baik.”

Sooyoung menggeleng.

“ Terima kasih.”

Sungmin kemudian mencari-cari sapu tangan untuk mengelap keringat Sooyoung.

‘ Sial, pasti tertinggal bersama Sunny.’

“ Mian, sapu tanganku tertinggal di suatu tempat.”

“ Gwencana. Lagi pula aku tidak terlalu butuh,” ucap Sooyoung mengelap keringatnya sendiri dengan lengannya.

Tapi belum sampai lengan itu menyentuh dahi Sooyoung,” chakamman..”

Sungmin mendekatkan wajahnya pada Sooyoung. Menatap sepasang mata bulat itu dalam. Wajah mereka semakin dekat, dekat dan dekat. Sooyoung bahkan bisa merasakan nafas Sungmin yang berembus menabrak pipinya. Sungmin kemudian menatap bibir kemerahan Sooyoung. Sooyoung mengerti kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Sungmin. Jujur Sungmin terkejut karena Sooyoung membalas perlakuannya. Dan..

“ Aku rasa orang-orang bisa salah sangka jika melihat kita.”

Ternyata Sooyoung melewati wajah manis Sungmin dan langsung membisikkan kata-kata itu pada telinga kanan Sungmin.

‘Gadis pintar, dia mempermainkanku,’ ucap Sungmin dalam hati.

“ Ada kotoran di matamu,” bohongnya.

Sooyoung mengucek matanya dengan jarinya.

“ Sudah?” tanyanya.

“ Yang satunya,” kata Sungmin.

‘Senang sekali bisa dikerjai dan mengerjaimu lagi, Senpai,’ batin Sooyoung.

oOo

“ Astaga! Kau lagi?” pekik Sunny sesaat setelah memasuki ruang prakteknya. “ Tak bisakah kau membuat hariku tenang sehari saja. Aku lelah, aku baru saja keluar tadi.”

Sunny membuang wajahnya dari namja ini.

“ Dengan Lee Sungmin?”

“ Darimana kau..”

“ Darimana aku tahu itu tidak penting.”

“ Aku minta bantuanmu, Dokter Sunny.”

“ Lagi?”

Sunny tak punya pilihan lain. Sunny membuka laci meja kerjanya untuk mengeluarkan seragam pasien. Lengkap dengan gelang merah.

“ Ini gelang merahmu, Tuan. Lain kali jangan menakut-nakuti orang lagi.”

“ Maaf, tapi kan aku hanya menakut-nakutimu.”

Sunny masih ingat betul bagaimana ia dibuat pucat berhari-hari karena ulah namja itu. Memangnya apa yang ia inginkan sampai harus pura-pura mati.

“ Apa benar kau bernama Choi Chisan? tanya Sunny.

“ Kau membacanya pada gelang itu rupanya. Itu benar. Tapi kenapa kau menanyakannya?”

“ Anni. Aku hanya penasaran. Lain kali jangan berpura-pura mati. Aku takut kau malah menakuti orang lain.”

oOo

“ Hyung, bantu aku untuk bisa bertahan di SPY. Ibuku terus menyerangku.”

Kyuhyun mengadu pada Heechul. Di sana juga ada Leeteuk yang menjadi perantara diantara mereka. Setelah melewati perjanjian yang alot akhirnya mereka dapat bertemu juga.

“ Kyunnie, kau sudah dewasa.”

“ Kau tahu riwayatku. Dan aku memintamu untuk mempertahankanku. Apa itu salah?”

“ Temukan cara sendiri untuk menghadapi ibumu.”

“ Teukie Hyung, apa kau belum menjelaskan apa tugasnya yang sebenarnya?” tanya Heechul pada Leeteuk.

“ Heechul ah, tidak bisakah kau tidak membicarakan itu sekarang,” jawab Leeteuk.

“ Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti.”

“ Anak kecil tidak boleh tahu,” bentak Heechul.

“ Apa maksudmu? Tadi kau bilang kalau aku sudah dewasa, sekarang kau malah bilang aku anak kecil. Hyung?? Aku mulai frustasi,” Kyuhyun mengeluarkan aegyo yang berkali lipat dari biasanya.

“ Yang terhormat Ketua Detasement AGT, Cho Kyuhyun, bisakah kau bersikap tenang dan hadapi kenyataan.”

“ Kalian membuatku berpikir banyak. Buat apa kalian membuatku menutupi identitas. Biar saja semua tahu, kalau aku pewaris SPY dan ibuku sendiri malah ingin menghancurkan SPY.”

“ Cho Kyuhyunku sayang, kau harus memilih untuk menerima perjodohan ini atau lepas tangan dari SPY? Kau harus memilih, nak. Aku muak mendengar kata-kata ibuku.” Kata Kyuhyun memparodikan wejangan yang sering kali ibunya lontarkan.

“ Kau jangan gegabah jika tidak ingin mengulangi kesalahan yang sudah ada. Apa kau ingin menyesal?” kata Heechul menasehati.

“ Siapa yang sudah membuat kesalahan? Ayahku? Kakekku? Atau siapa? Kenapa aku yang harus menebus kesalahannya?”

Jangan menyesali, itulah kata kunci yang menghubungkan Sooyoung dan Kyuhyun sekarang. Donghae menasehati Sooyoung untuk menghadapi kenyataan. Begitu pula Kyuhyun yang dinasehati dua orang tetua ini.

“ Ini bukan tentang siapa tapi bagaimana, Cho Kyuhyun aku percayakan hidupku mengabdi padamu. Sungguh, kau akan tahu nanti di masa depan. Tapi bisakah kau pegang kata-kataku?” kini Leeteuk yang meyakinkan Kyuhyun.

“ Aku pusing.”

“ Aku hanya memberi saran. Semua keputusan ada di tanganmu,” kata Heechul.

“ Ini sudah jadi tugasmu. Ketua detasement itu tanggung jawab pertamamu. Itu final dari pertemuan kita kali ini.”

“ Hyung?”

“ Aku harus pergi jauh lagi,” kata Heechul.

oOo

“ Kau menunggu seseorang?”

“ Choi Sena, apa kau perlu tahu urusanku?”

“ Sudah bagus aku mau bertanya. Sudah, terserah saja. Nikmati makan malammu kali ini.”

“ Nona Choi, apa parfummu tertumbah begitu banyak untuk sebuah kencan?” sindirnya kemudian.

Sena pergi meninggalkan Sooyoung yang siap reservasi di restorannya kali ini.

“ Itu yeoja yang bersama Tuan Lee tadi siang,” ujar seseorang.

Nampak dua orang yang tak jauh dari meja Soo mengamatinya diam-diam.

“ Dia akan ada di sini sebentar lagi.”

“ Pengkhianat itu. Dia bahkan sudah menerima imbalannya. Kenapa dia tidak menyerahkan anak itu pada ‘bos’.”

“ Lee Sungmin licik, mungkin dari dulu memang anak itu tidak ada padanya.”

“ Dia menipu?”

“ Bisa jadi.”

Sooyoung melirik jam yang tangannya. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk memperbaiki penampilannya. Seseorang baru saja keluar dari lift.

Camaderie II ada di lantai 2 dan lift tadi dari atas. Yang Sooyoung tahu, di atas adalah apartement elite. Dan Camaderie juga termasuk restoran eksklusif untuk bisa berdiri di gedung mahal ini. Sooyoung curiga, untuk apa Kyuhyun ada di sini. Lagipula ini bukan tempat umum yang bisa dimasuki sembarang orang. Kyuhyun mencoba merunduk dan merapatkan topinya. Tapi kali ini Sooyoung bisa mengenalinya. Kyuhyun berjalan menjauh.  Sooyoung diam-diam mengikutinya.

‘ Mana mungkin aku tidak mengenali wajah menyebalkan orang itu. Mungkin aku bisa tahu siapa dia. Kau dalam bahaya besar, Cho Kyuhyun.’

oOo

Keesokannya, Sena baru saja membuka Bakery-nya, sebelumnya ia menemukan surat berdarah etalase. Ia membawa lembaran surat itu masuk sebelum membacanya.

“ Kalian tidak akan pernah menang. Mundur sebelum mati.”

Begitulah kurang lebih isi dari surat itu. Sena hendak meraih ponselnya tapi ia buru dikejutkan dengan ledakan dari arah dapur.

Ia tidak apa-apa tapi suasana di sini jadi berantakan.

Tak.. tak.. tak..

Sena mendengar suara ganjil.

“ Kaca!”

Pyar..

“ Akh!” pekiknya.

Tiba-tiba semua kaca di Cherys Bakery pecah secara bersamaan. Di tengah kekacauan sistem kebakaran menyala. Di atas air turun dari pipa-pipa. Sirine juga berbunyi nyaring. Orang-orang yang melintas panik dan langsung menghubungi pemadam kebakaran, siapa tahu ada korban di dalam.

Belum sempat yang lain mendengar berita penyerangan pada Sena, sekarang giliran Hanjun yang mengalami hal serupa.

“ Kau tahu, sudah tiga tahun sejak tender terakhirmu menang.”

“ O woo woo woo, wait. Pelan-pelan nona, jangan kasar padaku.”

“ Bukankah sudah waktunya dirimu untuk mencari pekerjaan lain? Atau.. dirimu sedang dalam proses menangani proyek tender?”

“ Pikiranmu pasti tertekan bila tidak digunakan untuk mengurusi sesuatu.”

“ Nona Seo?”

“ Champ Corp. perlu pemimpin baru dan kau akan lihat saat hasil rapat dewan selesai.”

“ Dengar, Choi Hanjun ssi. Adikmu sedang dalam masalah. Pastikan adik bungsumu tidak mengalami hal serupa.”

oOo

“ Ada laporan baru. Tuan Menteri Hyun Shiyuk menghilang sejak..”

“ Dia ada di Busan. Bersama pelayan mudanya. Simpanan baru.”

“ Bagaimana anda bisa tahu?”

“ Aku sudah mendengar langsung darinya. Selama dia bukan Menteri dari partai Sayap Kiri, dia aman.”

“ Nyonya Kim Bongshun melaporkan kehilangan kalung berliannya..”

“ Penipuan asuransi.”

“ Seorang foreign meninggal..”

Hyukjae bangun dari keacuhannya.

“ Semalam, dengan dua luka tembakan di kepalanya. Tidak ada barang yang hilang. Tak ada saksi yang melihat pelakunya. Ditemukan di sekitar taman kota yang ramai karena perayaan Chopail. Motifnya belum diketahui.”

“ Periksa sekitar stand para penari semalam. Laporkan padaku jika ada sesuatu yang tidak beres.”

“ Siap, Komandan!”

“ Ada lagi?”

“ Sebuah ledakan bom baru saja terjadi di sebuah Bakery.”

“ Aneh, untuk apa mengebom toko roti? Ah, biarkan polisi lokal di wilayah kerja Seoul Drive yang mengusutnya. Dan.. buatkan janji bertemu dengan perwakilan SPY, kami harus bicara.”

oOo

Hari ini seluruh siswa Param High School sedang mengikuti kerja bakti bulanan. Mereka dibebaskan dari segala bentuk pelajaran dan tugas, tapi mereka harus membersihkan semua sudut sekolah.

Sulli tengah berjalan dengan riangnya menuju ke lokernya untuk berganti pakaian. Pekerjaannya sudah selesai. Rencananya ia akan makan siang di Bakery kakaknya seperti biasa.

Krak..

Sudah biasa kalau loker Sulli berbunyi seperti itu saat dibuka karena sejak dua temannya berkelahi, loker itu jadi korbannya. Loker itu sedikit ringsek dan melesak ke dalam karena terkena tendangan.

Saat ia menata bajunya kembali, ia menemukan sebuah surat. Ia sedikit terkejut saat membaca surat itu.

Di saat yang sama, Krystal, putri kedua keluarga Jung, menangkap ekspresi itu dari wajah Sulli.

“ Jadi dia juga kena?” gumamnya. Ia mengambil langkah mundur dan tidak jadi pergi ke ruang loker.

Di kantin, ia memesan segelas Cola dingin. Tak lama, seseorang menepuk pundaknya. Membuatnya terkejut.

Chanyeol bertanya pada Krystal “ Adikmu bekerja di Camaderie?”

“ Apa yang kau katakan, anak baru?” kata Krystal yang tak mendengar kata-kata Chanyeol tadi.

“ Adikmu yang suka bermain gitar itu..”

“ Jung Sungha? Kenapa?”

“ Hubungan kalian nampaknya tidak baik.”

“ Dia tidak mau bicara pada kami.”

“ Kenapa?”

“ Apa kau mau tahu hal itu juga? Tanya saja pada Sulli, nampaknya kau lebih dekat padanya.”

oOo

Minho dan Minsuk sedang meninjau restorant Camaderie I milik Sena. Mereka takut jika seseorang akan  meledakkan bom di sini. Pelakunya cukup konyol karena meledakkannya di toko roti bukannya di restorant ini. Mungkin karena pelaku cukup tahu kalau biaya renovasi restorant mahal ini lebih banyak dibanding dengan toko roti.

“ Itu pemain baru di sini,” tunjuk Minho pada seseorang yang sedang bermain gitar dengan piawainya di sebuah panggung kecil di tengah restoran ini.

“ Kita harus ke Camaderie II juga.”

“ Baiklah, ayo pergi.”

Choi Min bersaudara pergi dari sana. Bersamaan dengan itu si gitaris mengakhiri permainannya. Ia membungkuk hormat dan menuju ruang staff.

“ Ini bayaranmu hari ini,” kata seorang Manager.

Gitaris mengangguk. Tak lupa ia membungkuk hormat.

“ Hah sayang sekali, dia tidak bisa bicara,” kata Manager itu lagi.

Ia keluar restoran itu dengan menggendong tas gitarnya. Tepat di seberang restoran ia melihat seorang yang memakai kostum Sushi berteriak-teriak menarik pembeli. Ia juga menawarkan selebaran pada orang-orang yang lewat. Jung Sungha sengaja menyeberang dan melintas di depannya agar ia bisa mendengar suara yeoja yang ada di dalam kostum itu.

oOo

Siwon bekerja dengan tenang di Cosmo Group.  Ia sendiri sudah mendengar berita penyerangan pada Sena. Tapi ia belum bisa berbuat banyak sejauh ini. Di sela-sela pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berdering.

‘ Sepupu cantik Soojin’ calling..

“ Yeoboseyo?”

TBC

Note:

___ artinya flashback

Bagaimana ceritanya kali ini? Apakah cukup memuaskan? Hah, lega rasanya part ini selesai juga. Next part mungkin akan dipublish sebentar lagi. Tapi kalau komentnya dikit author nggak janji akan publish tepat waktu *evil smirk

 End CS End PS

Don’t forget to keep RCL~~

Advertisements

28 thoughts on “[Series] SPY AND THE TRILOGY #5

  1. Thor… sumveh daebak banget thor, gue makin penasaran nih thor soalnya dari owe belum punya akun wp owe sudah baca fanfic lau yang ini /?/ part 6-nya mana thor?? By the way, keep writing thor^^

  2. Wahh penasaran nih kira” apa y konflik antara keluarga choi dan eomma kyuhyun
    Jd penasaran nih
    Nextnya cpt ne

  3. Makin rame cast nya..
    Seru lah.. Seo nya udah di belain sica malah jadi khianatin genie malah, terutama syo yg jelas2 care bgt sama dia..
    Kyuyoungnya cuman numpang tembak-tembakan doang? XD
    Di lanjut ya~

  4. Aihhh minta kyuyoung moment thor cz aku gregetan dgn tingkah mrk, itu umma.y kyuhyun oppa mw jahatin syoo eonni aigoo… Next lah

  5. Ihwow, kerennya gk nanggung2.
    Iya nih agak bingung mana yg flashback, eh ternyata keterangannya ada di bawah.
    Lanjutannya jangan lama please ^^

  6. Semoga hubungan soo sama anggota genie lainnya bisa membaik lagi & semoga seo bner2 bisa relain kyuyoubg bersatu dan terpengaruh omongannya nyonya cho. Next lebih bnyk moment kyuyoung dong apalagi klo ditambah skinship nya hhe. Semoga kyuyoung bisa bersatu sampe nikah ne ditunggu part selanjutnya hwaiting!!^^

  7. duuuh ibunya kyuhyun mau ngapain coba ish ngeselin bener itu juga si seohyun Gampang bgt kehasut lagi..
    jadi sebenernya Choi chisan itu masih hidup yah? terus kenapa dia pura2 mati?

  8. haks makin seruu…
    kenapa ibu kyuhyun sgitunya bgt sama syoo sih..
    apakah seo akan berdiri dibelakang ibunya kyu utk mendapatkan kyu?
    penasaran bgt ditunggu next partnya yaaa 🙂

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s