[Series] Monsters HighSchool (Introducing)

Kau pernah mendengar tentang club Basket CSIA? Club itu makin bertumbuh seiring dengan lamanya club itu ada. Club Basket CSIA seolah menguatkan orang-orang di dalamnya. Dan anggota club Basket CSIA menangguhkan club itu sendiri.

Club Basket CSIA katanya menjadi nomor satu sekarang ini. Tapi kita tak tahu bagaimana kebenarannya. Kita lihat saja kebenaran tentang club Basket CSIA.

 

Monsters HighSchool

Introducing

 

Choi Soo Young. Cho Kyu Hyun.

Seo joo Hyun. Lim Yoona. L Kim. Choi Sulli.

Eun Hyuk Lee. Choi Si Won.

Amber Liu. Kim Hyo Yeon. Jia. Jun Ji Hyun.

Seung Ri. Doo Woon. Lee Dong Hae. Kim Seok Jin.

Others.

@atsumori_shira

G

Note:

Sedikit cerita, FF ini terinspirasi dari anime Kuroko no Basuke, saya sarankan kalian nonton animenya (bagus banget) mungkin tehnik dan ada plot yang ngambil dari sana. Tapi lainnya itu hasil pemikiran saya. Maaf jika terdapat kekurangan, jujur aja, aku ngga paham tentang basket dan olah raga lainnya. Tapi karena membayangkan para artis khususon KY yang mainin itu waw bnget gitu. Kekeke. Pemain terus bertambah dengan bertambhnya chapter.

Juga, saya sedikit browsing tentang olah raga yang tercantum.

So, hope you guys having fun with this and appreciate it.

Sankyu ^^

 

Penampilan pagi menuju siang di sebuah tempat luas beralaskan tanah yang membentang dari ujung ke ujungnya. Membagi tempat itu menjadi dua bagian besar yang terhubung namun terpisah. Tentunya yang berbeda adalah kurikulum dan sistimnya.

Tempat yang disebut sebagai tempat menuntut ilmu itu tak pernah absen dari ramai. Selalu saja sekumpulan sampai seonggok tulang mengisi tempat itu. Tak heran, tempat mewah yang selalu menjadi number uno bagi orang-orang yang mengetahuinya, meski kebanyakan orang tak menyadari bakat alami atau bakat asahan dalam diri mereka tidak pada tempat itu.

Dari sepanjang koridor yang terhubung ke koridor lainnya tak pernah sunyi. Seolah memang ditakdirkan hidup meski tempat itu mati seperti pada umumnya, namun yang membuatnya hidup adalah yang mengisi mereka di dalamnya. Sekali lagi ditegaskan. Tempat ini favorit. Dan sangat khusus.

High School and Univercity of Cheong Shim International Academy.

Tempat yang tepat untuk orang-orang LUAR BIASA.

Tidak! Bukan LUAR BIASA seperti kebanyakan sekolah di penjuru dunia.

Ini benar-benar tempat yang diciptakan bagi monster-monster di dunia ini.

Dari ruangan ujung kanan yang merupakan lapangan tenis meja sudah dipenuhi banyak orang. Meski pun itu hanya latihan ringan biasa. Tapi percayalah, bagi mata awam dan haus seperti yang tertera di wajah mereka, itu bukan hanya sekedar latihan biasa. Tentu! Itu bukan latihan ringan biasa dipikiran penggemar Cheong Shim I. A. itu sama halnya dengan tiket jumbo nonton piala dunia. Itu bagi mereka.

Duk! Duk! Duk!

Bola kuning kecil itu terlempar dengan indah menuju tempat kembalinya setelah sebuah tangan melemparnya dengan benda bulat berwarna merah yang menjadi kesayangan tangan itu akhir-akhir ini.

Sebelum teriakan histeris mulut-mulut berbusa itu mereda, teriakan yang lebih menggema dibanding bunyi meletusnya gunung Krakatau di Indonesia kembali terdengar di salah satu ruangan megah milik Cheong Shim I. A.

Lihat saja, kebanyakan para mulut yang gemar bergosip itu sudah meneteskan enzim tanpa mereka sadari. Pantas saja, setelah ditampilkan permianan kecil yang mahal juga disuguhkan menekin yang luar biasa sial sempurna. Double sialnya si bintang utama menyunggingkan senyum sebaris yang dia tak sadari yang menambah efek kebisingan ruangan itu sukses mengalahkan bom Hiroshima.

Dan lawan dari para Hawa hanya bisa melongo dibuatnya. Bertambah lagi kekaguman dan keinginan menyerupai pemilik tubuh yang melebihi pangeran di dunia nyata maupun dunia Fairy sekalipun.

Tentu saja, dia memang LUAR BIASA SEMPURNA dari sekedar LUAR BIASA di dunia ini. Pemilik senyum memikat bagi siapa saja yang melihatnya, baik disengaja maupun tidak.

L.

Pemain tenis meja professional yang menjuari kejuaraan di Belgia seminggu lalu dan akan menjuari lagi di dua pertandingan eksklusif yang menantinya di depan mata. Itu sudah dijamin kemutlakannya. Jika dia adalah pemenangnya.

Hah. Tak disadarinyakah? Sedari tadi dia mengulas senyum khasnya yang membuat teriakan histeris nan frustasi di ruang itu makin membahana.

Sebagai penutup penampilannya hari ini, pria kelahiran bulan Maret itu mengacungkan jempol -yang bisa dikategorikan Maha Karya sungguh indah Tuhan, kepada ratusan pasang mata asing yang memenuhi tempat latihannya.

Oh, L! Oh!

Kau tak menyadarinya, sayang. Teriakan itu berganti menjadi raungan setelah tubuh sempurnamu meninggalkan tempat terpanas abad ini beberapa waktu lalu.

L!

“Ck! Kim. Myung. Soo!” Perempuan itu berdecak dan menekankan setiap huruf dari barisan nama tersebut, sambil berlalu, gadis cantik itu tak pernah lepas dari pita indah yang menjuntai sampai ke lantai, “Sadarkah dia, keberadaanya selalu membuat keributan? Di manapun itu.” Sedikit-sedikit tangan yang memegang pita itu menggerakan benda merah marun tanpa disadarinya, “Aku jadi berpikir untuk tak menyukainya. Ani! Membencinya?” Gadis itu mengedikan bahu lenturnya tak peduli, sesaat ketika tubuhnya sudah berhasil melewati ruangan yang menjadi sumber kebisingan.

“Lim Yoona!”

Gadis yang dipangggil tersebut memalingkan tubuhnya ke arah belakang yang memanggilnya.

Postur tubuh elegan dewi Yunani ada dalam dirinya.

Lim Yoona.

Club Dance merupakan salah satu bagian favorit di Akademi ini, terlihat dari ratusan pasang tangan yang dengan semangat memegang kertas pendaftaran. Yeah! Tahun baru bagi murid yang berhasil lolos di sini. Dan waktunya memilih club yang bersifat wajib di Akademi Cheong Shim.

“Wah…. Ruang latihannya sangat-sangat luas!”

“Aku sungguh tak sabar untuk ikut latihan di sini.”

“Sunbae, tolong terima aku.”

Obrolan kecil dari sepanjang barisan itu terhenti ketika seseorang memasuki ruangan itu pula. Namun, dia beringsut ke sudut lain dari tempat itu. Sedikit bersiap dengan peralatan dan pakaian, juga sepatunya lalu orang itu menekan tombol dari sebuah radio. Musik berirama beat otomatis terdengar di ruangan itu, diikuti dengan liukkan dan gerakan yang menyebabkan berpasang mata melongo dibuatnya.

“That’s nuna! I love her..” Lirih seorang pria tinggi berambut pirang penuh kekaguman, setelah melihat aksi nuna yang baru dilihatnya.

Ucapan pria tinggi itu membuat berpasang mata tadi melirik ke arahnya. Menganalisa sekujur tubuh pria tinggi itu dan semuanya ikut tercengang setelahnya. Lalu berpasang mata baru itu dengan kompak meluruskan pandangannya ke depan dengan tatapan penuh kobaran api semangat ingin masuk club Dance Cheong Shim Akademi.

“O my got! Aku jadi bersemangat!”  Ungkap gadis mungil dalam hati. Lantas dia terenyum mengerikan.

Satu orang dari beberapa, yang sedari  tadi duduk manis di kursi, -menunggu calon peserta club dance yang dipimpinnya, kini orang itu mengangkat tubuhnya menuju objek yang tadi menjadi topik utama dari pandangan kagum adik kelasnya. Setelahnya tiba, dia duduk di kursi hitam lain yang tidak menjadi sandaran kaki sang objek utama.

“Kau tak sadar jika calon adik kelasmu sedari tadi menatap kagum padamu, eoh?” Tanya gadis itu sembari menyenderkan tubuhnya disandaran kursi. Melipat kedua tangannya di dada.

Sementara gadis yang ditanya tak melepaskan fokusnya dari tali sepatu putih yang sedang diikatkannya dengan sepatu nike birunya.

“Mereka harus melewati beberapa tahap lagi untuk menjadi adik kelas tercintaku di club Dance ini, sayangnya.”

Teman si gadis tertawa, “Kau jahat sekali, Hyo. Tak tahukah kau mereka menatapmu penuh harap untuk ikut latihan bersamamu, sepertinya.”

“Mereka hanya belum tahu kemampuanmu, Jia sayang.”

“Baiklah, terserah padamu.” Gadis yang dipanggil Jia itu kemudian berdiri, menepuk pundak sahabatnya, “Cha, Kim Hyo Yeon! Sekarang tugasmu membantuku menyeleksi mereka. Siapa tahu ada gadis cantik yang cocok dimatamu?”

Kim Hyo Yeon tersenyum menanggapi ucapan yang lebih terdengar sindiran baginya yang terlambat datang. Ya, seharusnya dia yang menyeleksi calon adik kelasnya di club Dance, “Arraseo. Kajja!”

“Sekarang tunjukkan kemampuan kalian dihadapan kami.” Suruh seorang teman lainnya dari kedua penari hebat seperti Hyo Yeon dan sang ketua, Jia.

Dan tampilan demi tampilanpun tersajikan di sana. Menunggu giliran bagi penampilan yang spektakuler untuk hadir dan unjuk gigi.

Setelah beberapa jam kemudian, club Dance memiliki tampilan-tampilan spektakuler itu dan siap untuk diboyong di lomba pekan datang.

“Fanny-ya, kau tak melihat Lim Yoona?”

“Ani.”

“Fanny-ya, kau tak tahu di mana Lim Yoona?”

“Aniya.”

“Fanny-ya, kau teman Lim Yoona, bukan?”

Yang dipanggil terus menerus itu memalingkan wajah kesalnya ke arah sang penanya, menunjukkan raut kesal dan tak tahu dari seorang Tifanny, tapi sepertinya tatapan itu tak mempan bagi orang di sampingnya.

”Sayangnya iya. Tapi aku bukan teman fanatik yang selalu tahu di mana pun, kapan pun dan bersama siapa Lim Yoona itu, saem.” Sungutnya dalam satu tarikan napas.

“Aigo, aigo. Apakah kau sedang berlaku tak sopan padaku, huh?” Kini orang yang dipanggi Saem itu yang tak terima.

Tifanny menghela napas kesal, “Bukan begitu, saem. Tapi sungguh! Aku tak tahu di mana dia sekarang. Bukankah sedari tadi aku bersamamu?”

“Barangkali dia menghubungimu.” Ucap saem itu memandang lurus ke depan. Menyilangkan kaki kanan di kaki kirinya dan meletakkan kedua tangannya di dada, “Jangan-jangan kau sekongkol dengannya ya? Supaya dia bisa lolos dari latihan modelnya, begitu?” Raut muka itu menyelidiki wajah Tifanny yang sedari tadi asyik memegang ponsel pinknya.

“Mwoya?” Sungut Tifanny makin kesal, sejurus kemudian dia tersenyum licik lalu kembali fokus dengan ponsel kesayangannya, “Atau saem lebih suka kupanggil ‘bibi’, ya?”

Berhasil!

Saem itu gelagapan dan terlihat makin dongkol dengan orang yang bisa disebut keponakannya. Jarang sekali dia bersikap seperti ini, pikirnya.

“Ya!! Arraseo! Arraseo! Sekarang cepat hubungi dia! Kalau Jun Ji Hyun saem tercantik menunggunya latihan catwalk.” Ujar saem itu sebelum melenggang pergi dari sisi Tifanny.

“Ck. Catwalk saja harus latihan? Aku sudah ahli tanpa latihan. Lim Yoona? Apa-apaan itu. Bahkan dia belajar kepadaku tentang modeling. Dasar ahjuma!” Umpat Tifanny kesal namun tetap melakukan yang dititahkan bibi sekaligus Saemnya di sini, untuk menghubungi sahabatnya.

Dia, Hwang Stephany.

“Mereka belum datang?” Tanya seseorang pada orang yang tengah duduk sambil memainkan Galaxy tabnya.

“Belum.”

“Mereka juga belum datang ya?” Kini sang penanya menurunkan volume nadanya, yang terdengar seperti bisikan namun masih terdengar oleh orang yang masih asyik dengan tabnya.

“Seperti yang kau lihat. Si kulit pucat bahkan belum menampakkan hidungnya sedari pagi.” Jelasnya, namun tak mengalahkan pandangannya dari tab putihnya.

Mendengar itu, membuat si penanya tersenyum, “Pabbo! Tadi pagi kita masih di kelas.” Umpatnya geli.

Yang mendapat umpatan akhirnya mengalihkan perhatian penuhnya dari tab itu. Memandang temannya dan tersenyum kikuk yang membuat si teman makin tersenyum geli, “Aaa.. kau benar.”

“Jangan berani lagi menunjukkan senyuman mematikan itu, arra?”

“Wae? Kau takut jatuh cinta padaku?”

“Mwo? Abnormal! Ah. Mungkin dia menemani sahabatnya latihan.”

“Si kulit pucat? Yah, mungkin. Sahabat yang sayanginya. Tapi, hei! Aku tak terima kau sebut abnormal!”

“Kau memang abnormal!”

“Aniya!”

Sementara terjadi sedikit perselisihan kecil yang tak berguna antara kedua teman itu, seseorang memasuki ruangan yang menjadi perekam perdebatan antara dua orang yang berotak di atas rata-rata. Orang baru itu mendekati dua orang yang masih saling mengejek, meski hanya mereka berdua yang bisa mengerti akar masalahnya yang tak penting itu.

“Chogiyo… benarkah ini ruang  club Sciene?”

Suara barusan yang akhirnya menghentikan dengan paksa perdebatan antara dua teman, kemudian beralih ke sumber suara.

Mereka melihat seorang gadis cantik yang benar-benar cantik di hadapan mereka. Memakai dress putih selutut dengan tas selempang cokelat menyampir di sisi tubuhnya. Pas! Oh! Juga secarik kertas di dekapan gadis cantik ini.

Seseorang dari dua teman itu yang pertama bisa menguasai keadaan lalu berdeham kecil dan beranjak duduk yang kemudian diikuti temannya yang memiliki rambut pendek.

“Oh.. ya, benar. Kau mendaftar?” Tanyanya yang sudah kembali ke keadaan di mana layaknya seorang senior.

Sementara yang satunya lagi masih asyik memandangi wajah rupawan di hadapannya. Dan setelah mendapat sikutan dari sampingnya, barulah dia memasang mimik serius.

“Nde. Sebenarnya dari tadi saya mencari ruangan club Sciene dan baru ketemu sekarang. Maaf jika terlambat, tadi seorang sunbae mengerjai saya.” Jelasnya sopan, penuh kelembutan dalam setiap katanya.

Kedua orang yang dipanggil senior itu tersenyum maklum, namun yang membedakan si rambut pendek lebih tak bisa mengendalikan ketawanya. Dan aksinya kembali berhenti setelah mendapat sikutan kedua dari sampingnya.

“Haha. Maaf. Maaf.” Si rambut pendek itu berdeham lagi sebelum memulai berbicara, “Kau begitu polos ternyata. Kau cantik sih, jadinya kau harus dikerjai. Kekekeke. Ah! Kau tak terlambat sama sekali.”

“Keunde, di sini tidak ada orang lain lagi, sunbae-nim.”

“Itu karena kau terlalu cepat datangnya. Tunggu sebentar lagi, pasti ada teman-temanmu yang mendaftar juga.” Kini teman si rambut pendek yang menjelaskan. Lebih tenang. Persis untuk seorang yang berIQ di atas rata-rata.

“Cha! Karena kau yang mendaftar pertama, kau dinyatakan lolos!” Ucap si rambut pendek enteng. Sangat enteng.

Pernyataanya membuat orang di sampingnya mendelik ke arahnya.

“Kau tak bisa memutuskan secepat itu!” Protesnya.

“Bisa saja. Kau tahu bukan kalau aku ini smart? Aku bisa melihatnya. Jadi kau pass!” Jelas si rambut pendek. Mempersilakan gadis cantik itu untuk mendapat kursi club Sciene.

“Tapi kau harus sesusai format!”

“Sudah kubilang aku bisa melihatnya. Kau meragukannya? Aku buktikan! Hey, sebutkan namamu?”

“Choi Sulli imnida..”

“Tuh kan! Dia bisa lewat. Itu sudah cukup.” Jelas si rambut pendek lagi. Tak masuk akal. Tapi, jangan pernah meragukan isi otaknya. Dia yang menciptakan terobosan baru dalam sistem energi yang sama sekali tak merugikan dan tak habis.

“Kau tak bisa membuatnya pass hanya dengan menanyakan namanya, Amber!” Sungut teman si rambut pendek itu kesal. Dia sudah bersiap dengan kertas yang dilipatnya untuk memukul kepala temannya yang dengan gampannya meloloskan calon peserta club Sciene.

“Aku bisa! Buktinya aku juara umum lomba cerdas cermat se-Asia kemarin lusa!” Amber masih tak mau kalah.

“Ya! Kau tak bisa menghubungkannya dengan kejuaraan, Amber!”

“Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!”

Pertengkaran itu kembali terjadi. Hanya saja belum ada yang menghentikan mereka. Sementara gadis cantik bernama Choi Sulli hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak mau ambil pusing, dia menyimpan kertas pendaftarannya lalu beranjak ke luar.

Choi Sulli. Anak kelas satu yang kemampuan IQnya mampu menyaingi dan mengalahkan rekor paling tinggi se-angkatannya.

Choi Sulli!

Tempat itu berdecit, karena gesekan sepatu dengan lantai licin yang sudah terkena keringat para pemain. Decitan-decitan itu juga terdengar dari sebelahnya. Yang sama sedang dilaksanakan latihan sembari unjuk kemampuan pada orang-orang yang juga menginginkan olah raga ini. Tapi, latihan kali ini harus sedikit terganggu karena seseorang yang terus membuntuti orang yang tengah latihan. Orang itu menghancurkan fokus semua orang yang tengah bermain juga.

“Aigo. Apa maunya? Dia mengganggu kita latihan saja.” Tukas seseorang berseragam biru putih.

“Juga menganggumu tebar pesona.” Sahut seorang lainnya yang menjadi lawan mainnya di ring.

“Diam kau! Sebaiknya kau hampiri dia dan tanyakan apa maunya.” Suruh orang yang lebih pendek itu.

“Itu bukan urusanku, Seung Ri-ssi.” Ungkap pria bernama Doo Woon. Lalu kembali melanjutkan sesi latihannya.

“Mwoya? Siapa dia berani mengacuhkanku? Hah, siapa juga yang menganggu acaraku ini?” Kemudian orang yang dipanggil Seung Ri itu kembali melanjutkan latihannya.

Sementara di lapangan lain, pria itu terus mengikuti dan mengecoh latihan seseorang. Tanpa kenal lelah dia berusaha mengambil perhatian orang itu.

“Chogiyo, sunbae-nim. Kau tahu di mana club Yoyo?”

Tapi belum ada sahutan juga.

“Chogiyo, sunbae-nim, kau mendengarku?” Tanyanya lagi. Dan kali ini berhasil.

Orang itu terlihat menghela napasnya sebelum berbalik melihat hoobaenya, “Mwoya? Kau mengganggku latihanku, anak kecil.” Umpatnya.

“Mianhae, sunbae-nim. Aku bukan anak kecil. Bahkan aku lebih tinggi dari sunbae.” Kalimat terakhirnya dia ucapkan sepelan mungkin. Hanya untuk dirinya sendiri.

Namun salah, pria itu juga bisa mendengarnya, “Apa kau sedang mencoba bilang kalau aku pendek, begitu?” Pria itu sedikit memajukan tubuhnya. Melihat lebih jelas hoobae yang kurang ajar padanya. Dan juga yang mengganggu latihannya.

Hoobae itu menunduk takut, tak berani memandang mata pria di depannya, “Mianhae, sunbae. Aku hanya menanyakan club Yoyo di mana. Itu saja.” Jawabnya sambil memainkan jari-jarinya. Seperti anak kecil.

“Kenapa kau menanyakannya padaku? Kau bisa melihatnya sendiri di mading!” Ucap si pria itu emosi. Hoobae macam apa ini? Jelas-jelas dirinya sedang latihan Badminton bukan Yoyo!

“Geunyang, aku pernah melihat sunbae bermain Yoyo. Jadi kupikir sunbae anggota club Yoyo.” Jawabnya masih menundukkan kepalanya. Kalau bisa, dia ingin menenggelamkan kepalanya ke bumi. Tapi sayangnya tidak bisa.

“Hah! Hanya karena aku bermain Yoyo kau piker aku masuk club Yoyo begitu? Lucu sekali. Aku jadi meragukan kenapa kau bisa masuk akademi ini, bocah!”

“Mianhae, sunbae…”

Sementara itu, orang yang dari tadi hanya menjadi penonton, kini menghampiri dua orang yang menjadi pusat perhatian semua orang di sini.

“Sudahlah, Jin. Kau jangan terlalu keras padanya.” Nasihat pria tampan yang menjadi bintang Badminton selain Jin tentunya.

Jin hanya memutar matanya kesal.

“Kau ada keperluan apa ke sini?” Tanya pria tampan itu. Pembawaannya yang tenang membuat fansnya bertambah banyak tiap menitnya.

“Chan Yeol imnida.” Pria itu membungkuk memperkenalkan diri, “Aku ingin bertanya tempat, sunbae.”

“Ya, Chan Yeol-ssi. Temanku ini bukan anggota club Yoyo. Kami anggota club Badminton, seperti yang kau lihat, kami sedang latihan. Jin hanya bermain Yoyo karena dia bosan dan penasaran. Itu saja. Benar bukan, Jin?” Pria itu menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antar teman dan hoobaenya. Setidaknya itu menurut spekulasi yang ditangkapnya.

“Kau tak sepenuhnya benar, Dong Hae.”

Dong Hae terenyum. Menepuk pundak Jin sebentar lalu beralih memandangi hoobae yang tingginya melebihi dirinya yang tampan itu.

“Lalu, kau mau tahu club Yoyo di mana bukan?” Pria itu bertanya tanpa menunggu jawaban dari hoobae yang menurutnya lucu ini, “Kau hanya perlu masuk ke lantai teratas. Club Yoyo di sekitar ruangan AZ.” Jelas Dong Hae mendetail dan penuh kewibawaan.

Dong Hae masih memasang senyumnya sebelum Chan Yeol kembali berbicara.

“Anu… sebenarnya aku ingin bertanya club Basket itu di mana, sunbae-nim?” Chan Yeol menggaruk tengkuknya sambil nyengir kuda.

Mendengar itu, Jin melotot tak percaya. Apa yang ada dipikrannya?

Sementara Dong Hae menarik ucapan jika hoobae di hadapannya ini lucu. Dia menggantinya bahwa hoobae ini menjengkelkan.

Semua hal yang ada di akademi ini tak pernah tak mendapat perhatian banyak dari murid-muridnya. Meski pun bergabung dengan perguruan tinggi, tapi akademi ini memiliki ruang lingkup yang berbeda antara SMA dan perguruan tinggi. Hanya auditorium besar yang sering menjadi tempat bersama. Seperti halnya SMA, perguruan tinggi Cheong Shim pun sama halnya menjadi favorit. Terkenal di penjuru Korea ini. Semua orang saling berlomba untuk menduduki kursi di sini. Tak ada jalan untuk orang yang beruang tapi tak memiliki otak. Tapi banyak jalan bagi mereka yang berotak tapi kurang dalam ekonomi. Tentunya sudah dijelaskan. Akademi ini menjadi favorit nomor satu. Dan di sini, tak sedikit menampung siswa asing yang otaknya selevel dengan Harvard.

Bagi murid angkatan baru SMA, diwajibkan untuk mengikuti club. Dan semua club di akademi ini sudah menyumbangkan piala dunia ke akademi ini sendiri. Seperti club Catur, club yang baru dibentuk tahun lalu ini sudah berhasil menyumbangkan medali emas dipertandingan Asia-Afrika yang diselenggarakan di Cina, tiga bulan ke lalu. Club Badminton yang dikenderai Jin, Dong Hae, Seung Ri dan Doo Woon kembali menorah rekor dikejuaraan dunia tahun ini di Brasil. Lalu club Musik yang digawangi gadis-gadis menawan yang lembut seperti Lee Sunny juga tak kalah dalam menyumbang piala, bulan kemarin club ini berhasil mengalahkan Julliard di kejuaraan tahunan di Kanada. Club Sciene yang isinya orang-orang berkemampuan akademik luar biasa. Club Catur yang selalu menjadi langganan pemenang dalam tiap perlombaan. Club musik dan vokal yang selalu mengiringi pembicaraan di media social Internasional karena prestasinya. Club tari yang memiliki banyak penggemar. Bahkan club Model, club Menembak dan club Ritmik tak pernah absen dari kejuaraan-kejuaraan Internasional.

Tapi, ada satu club yang selalu membangkitkan selera khalayak umum. Club ini lebih dikenal umum dibanding yang lainnya. Club ini juga yang membuat club lain sedikit berada di belakang.

Semua club memiliki pemain andalannya sendiri. Tapi di club ini tempat berkumpulnya monster-monster dari penjuru akademi ini. Jangan pernah membayangkan masuk di akademi ini tanpa memiliki skill yang di luar logika. Dan club ini, yang selalu menjadi rebutan media sosial tentang perkembangannya. Club ini merupakan wadah bagi mereka yang kekuatan dan otak lebih dari siapa pun.

Club ini yang menjadi muka Cheong Shim I. A.

Club yang dinamai dengan club Basket CSIA.

Kau pernah mendengar tentang club Basket CSIA? Club itu makin bertumbuh seiring dengan lamanya club itu ada. Club Basket CSIA seolah menguatkan orang-orang di dalamnya. Dan anggota club Basket CSIA menangguhkan club itu sendiri.

Club Basket CSIA katanya menjadi nomor satu sekarang ini. Tapi kita tak tahu bagaimana kebenarannya. Kita lihat saja kebenaran tentang club Basket CSIA.

“Kau tak masuk ke club Sciene?” Tanya gadis langsing yang memegang pita marun ditangan kanannya. Dan ponsel ditangan lainnya, kepada gadis lain yang ada di sampingnya. Gadis yang dengan setia mengamati jalannya permainan di depannya.

“Aniyo. Tanpaku juga pasti mereka sudah mendapatkan anak-anak jenius itu.” Jawab gadis itu.

Ada kesamaan dari kedua gadis di ruangan itu. Mereka mengobrol dengan fokus mereka sendiri. Satu dengan ponsel. Satu lagi dengan permainan di depannya.

“Kau sendiri tak mendatangi club Model?” Tanyanya balik.

“Hah. Aku baru saja latihan gerakan baruku.”

“Sepertinya kau lebih menyayangi Ritmik dari pada Model. Saem tak memarahimu? Bukankah minggu depan kalian akan terbang ke Paris?” Tanya gadis itu masih dengan matanya yang mengamati permainan di depannya.”

“Tifanny menanyakan keberadaanku. Sepertinya saem cantik itu kebingungan mencariku. Biar saja. Aku sudah bosan berjalan di lantai Paris itu!!” Keluhnya, mengantongkan ponselnya dan ikut menonton jalannya permainan.

“Seo Hyun-ah, sepertinya kau sangat serius menonton dia bermain.”

Gadis yang ditanya tak memecahkan fokusnya dari objek utamanya, namun otak cerdasnya tetap bisa mendengar dengan jelas pertanyaan temannya. Selain itu, dia juga masih bisa mendengar suara ribut dari ruangan di luar.

“Andaikan aku bisa bermain basket. Aku ingin sekali bermain.” Ungkap gadis itu jujur, dia menatap temannya yang juga tengah memperhatikan permainan di depan sana, “Yoona-ya, maukah kau mengajariku basket?” Pinta gadis yang kerap dipanggil ‘Seororo’ di akademi ini. Kau tahu alasannya bukan?

“Lau berbicara seolah aku bisa bermain saja. Kalau kau ingin diajarakan ritmik, boleh-boleh saja, Seororo. Tapi tidak dengan basket.” Jelas gadis pemenang modeling di Paris lima kali berturut-turut.

“Kau kira aku tak tahu? Aku pernah melihatmu bermain basket dengan baik.” Oh, orang dengan IQ tinggi memang tak pernah menyerah.

Yoona tetap dengan posisinya, “Tidak bisa berarti tidak, Seo. Aku yakin kau mengerti itu.” Yoona mengambil handuk putih di dekatnya dan memberikannya pada Seo Hyun, “Ka. Bawa handuk ini ke depan sana. Sebaiknya kau belajar dari mereka saja. Ah! Bahkan dia sangat bisa mengajarimu sampai kau ahli, Seo-ya.”

Seo Hyun pun beranjak menghampiri mereka. Memberikan  handuk dan air mineral masing-masing. Kemudian duduk di antara mereka.

“Gomawo, Seo-ya.”

“Gomawo, Seororo.”

“Cheonma, oppadeul.”

“Gomawo.”

Kali ini Seo Hyun hanya tersenyum tulus membalasnya.

“Kita sudah memiliki beberapa anak baru. Mereka memiliki kemampuan yang bagus. Dan aku yakin, dengan itu kita bisa menang di kejuaraan Musim Dingin.”

“Juga, kita harus menarik beberapa pemain dari club lain.”

“Apa kau yakin mereka mau?” Tanya pria tertinggi di antara mereka.

“Yah, beberapa harus dengan paksaan.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku? Terserah kalian saja. Aku hanya butuh latihan. Itu sudah cukup.”

“Geure! Kita lakukan rencana kita.”

“Eoh.” Koor yang lainnya.

“Kalian tak melihat Eun Hyuk?”

“Ani! Mungkin dia sibuk dengan perekrutan anak baru. Juga pisang-pisangnya yang ditanam di taman belakang.”

“Aku rasa kau betul, Won-ah!”

“Hyung! Jangan panggil aku seperti itu.”

“Wae? Itu namamu, ‘kan? Juga mendeklamasikan keluargamu. Kekeke.”

“Tapi aku tak suka itu. Itu berlebihan sekali.”

“Ooh, uri Si Won yang rendah hati. Arraseo!”

Mereka berdua terlibat dengan pertengkaran kecil yang didominasi orang tertua.

“Kau baik-baik saja?” Tanya yang tertua.

“Aku hanya berencana memenangkan kejuaraan Musim Dingin ini, hyung. Aku ingin mengalahkan mereka.” Ucapnya penuh tekad.

‘Hyung’ itu kembali serius setelah mendengar keinginan anak buahnya, namun detik berikutnya dia tersenyum penuh keyakinan, “Kau tenang saja, tahun ini kita akan memulai menjadi pemenang abadinya.”

Kali ini Si Won yang bermaksud menggoda hyungnya setelah mendengar hyungnya secara tidak langsung membangkitkan semangat dua kali lipat dalam dirinya.

“Uuu, uri hyung yang tangguh. Kekekeke.”

Mendengar itu, yang dipanggil hyung langsung menghampiri Si Won dan menindih temannya penuh semangat pula. Ritual biasa karena mereka juga masih anak SMA yang haus kemenangan.

Pemuda itu berjalan di sekita distrik Gang Nam, setelah berjalan-jalan, dia berencana pulang dengan jalan kaki. Kebetulan di sekitar sini sering ada pertandingan Street Ball yang disukainya. Dan benar saja. Acaranya sedang berlangsung. Pemuda itu beringsut lebih maju untuk menonton pertandingan favoritnya lebih jelas. Lalu menyamankan dirinya seenak mungkin.

Pertandingan ini sudah memasuki quartal terkahir dengan sisa waktu satu menit lagi. Permainan ini dikuasai tim yang berseragam hitam. Tidak semuanya, ada dua yang berbeda pakaian dari tiga pemain lainnya. Pria itu langsung bisa menebak siapa yang menjadi komando tim dengan seragam hitam ini, dia biasa melihat tim ini bermain di daerah Namsan. Dan pemuda ini mengakui kemampuan bermain tim yang sering dilihatnya bermain di daerah Namsan,

Namun ada yang berbeda. Dia belum pernah melihat pemain yang memakai topi LA biru yang lagi-lagi memasukkan bola dengan mudahnya. Tidak! Permainan Street Ball tidak seperti permainan resmi sekolah-sekolah. Permainan Street Ball lebih sulit dari yang dibayangkan. Selain berkurangnya aturan dari yang asli, permainan Street Ball menekankan kekuatan fisik dan kelenturan, selain tehnik yang bagus tentunya.

Lagi-lagi pemain bertopi itu menutup permainan dengan lompatan di udara dengan pendaratan yang sempurna. Pemuda itu sampai tercengang. Merasa kagum atas keahlian pe,ain bertopi yang baru dilihatnya. Dia mengira jika pemain bertopi ini jika bukan orang luar negeri, dia pindahan dari luar negeri. Dan, pemuda ini bersumpah suatu saat nanti dia harus bermain satu lawan satu dengan pemain bertopi itu.

Tanpa sadar, pria itu tersenyum.

“Ya! Cho Kyu Hyun!”

Sebuah panggilan menyadarkannya, bahkan orang-orang yang tadi berkumpul sudah bubar.

“Kau mengerjaiku? Kenapa kau meninggalkanku? Sudah ku bilang tunggu aku!” Orang ini masih kesal pada pemuda di depannya. Hah, mana rasa senioritasnya?

“Eun Hyuk hyung, kau tahu orang yang memakai topi biru muda itu?” Kyu Hyun menghiraukan racauan Eun Hyuk dan memilih memenuhi rasa penasarannya pada pemain bertopi terbaik yang baru dilihatnya.

Eun Hyuk terkecoh oleh pertanyaan hoobaenya, dia melupakan rasa kesalnya dan melihat ke arah yang ditunjuk Kyu Hyun.

“Yang tingginya sepertiku? Wae? Dia terlihat tidak terlalu istimewa.” Celetuk pemilik gummy smile.

Kyu Hyun tertawa kecil, “Kau tak tahu, hyung. Dia justru pemain hebat yang pernah aku lihat selama hidupku.”

Eun Hyuk mengernyit bingung, dia berencana bertanya lebih pada hoobaenya ini. Tapi sikap kurang ajar Kyu Hyun muncul lagi. Dia bahkan sudah berjalan menjauhinya.

“Ya! Cho Kyu Hyun kurang ajar!”

“Hyung! Kajja! Kau lambat sekali! Kita harus latihan!” Teriak Kyu Hyun dari sebrang jalan.

“Cho Kyu Hyun kurang ajar! Tunggu kau!”

Kemudian,

To be continue

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30 thoughts on “[Series] Monsters HighSchool (Introducing)

  1. Sistasookyu says:

    Syo nya kemana?
    Masih bingung sama jalan ceritanya.. Kurang fokus gegara nggak nemuin nama syo.. lol Kekeke~
    dilanjut aja

  2. gita says:

    Agak bingung nh, kyu mask club apa ya? Soo blum muncul?
    Trus bnyk bngt cast.a slain kyuyoung jdi agk bingung tpi ttp menark kok
    Ditunggu next.a

  3. Naufallia Nurisj Utami says:

    Masih bingung sama jalan ceritanya dan juga nama sooyoung belum kesebut & kyuhyun baru dikit mainnya🙂
    Next ya ..

  4. Bingung ,, soo koq belum disebut ya …. Pasti seru ,,, orangnya banyak amat yaaa …. Gmna kelanjutan nya yaaa …. Penasaran ….. Ahhh … Thor aku tunggu kelanjutan nya ….. Cepat yaaa …. Hhe

  5. Di says:

    Masih bingung deh yang bikin kecewa aku sama sekali nggak ketemu scene sooyoung disini -_- tapi aku tunggu next chapternya ya😉

  6. lilalia says:

    lanjutannya ditunggu thor, kyknya bakalan seru. Pemainnya banyak juga ya.. Moga aku gak bingung,hehe ^^v

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s