[Series] Water Love (Part 5)

WL (2)

Title : Water Love

Chapter : 5th

Author : Joanne K. Cho

Genre : Hurts | Romance | Drama

Rate : PG-14

Cast : Choi Soo Young |  Cho Kyuhyun |

Support Cast : Lee Dong Hae |  Yoo In Joo | Kim Hyo Rin

Warning :  Typo(s)

Disclaimer : No plagiarisme, story belong to me !!

A/N : I hope you’ll enjoy it, reader-deul ^o^)/

***

“D-donghae oppa,” ucap Sooyoung tersenyum senang. Donghae membalas senyum Sooyoung. Kemudian dia menyadari bahwa ada orang lain di ruangan itu. Donghae memandang Kyuhyun dengan tatapan sedikit terkejut. Namun dia menundukkan kepala sedikit sebagai rasa hormat.

Sooyoung yang melihat itu kembali bertanya-tanya.

Siapa Kyuhyun? Kenapa dia sangat dihormati? Kenapa dia menolongku? Kenapa dia tahu nama dan pekerjaanku? Kenapa?

Banyak kata-kata “Kenapa” yang bersarang di kepala Sooyoung. Namun dia lebih baik tidak bertanya sekarang. Mungkin nanti jika dia mempunyai kesempatan yang baik, semua pertanyaan itu harus tuntas. Harus!

***

Rupanya kedatangan Donghae tadi adalah membawa baju ganti untuk Sooyoung. Ya, karena pembully-an di sekolah barunya tadi, seragam yang dikenakan Sooyoung sekarang sedikit basah dan kotor. Sooyoung menerima baju yang diberikan Donghae kemudian memakainya di ruang ganti. Baju yang diberikan Donghae adalah seragam olahraga milik sekolah ini. Sooyoung tahu itu saat dia pertama kali masuk ke sekolah ini ada sekelompok anak yang sedang berolahraga di lapangan dengan mamakai baju ini.

Baju itu terasa sangat pas untuk Sooyoung. Membuat Sooyoung merasa nyaman memakainya. Selama dia mengganti baju, dua orang penjaga berdiri di sepan pintu utama toilet. Siapa lagi kalau bukan Donghae dan namja yang bernama Kyuhyun? Mereka berdua bersikeras akan menjaga Sooyoung. Tak ingin dia diserang lagi. Sooyoung merasa senang karena mereka berdua mengkhawatirkan dirinya. Dia mungkin bisa menerima kasih sayang Donghae karena mereka sudah kenal sejak lama. Namun untuk kasih sayang Kyuhyun dia merasa sedikit risih mengingat mereka berdua baru berjumpa pertama kali—ini yang kedua—dalam keadaan yang cukup menjengkelkan menurut Sooyoung.

Sooyoung keluar dari toilet bernuansa pink itu dengan senyuman.

“Aku sudah selesai,” ucapnya kikuk. Setelah berpesan beberapa hal tentang “Hati-Hati” kepada Sooyoung, Donghae pun pergi untuk masuk ke kelasnya lagi. Tampaknya Sooyoung baru sadar bahwa dirinya sudah pingsan selama dua jam lebih. Mungkin karena memang sangat mengantuk membuat yeoja itu benar-benar tidak sadar.

Sepeninggalan Donghae, mereka berdua sekarang berada di koridor yang sepi. Ya, karena masih dalam waktu belajar-mengajar membuat sekolah ini terlihat sepi dengan hanya beberapa orang yang melintasi koridor. Sooyoung benar-benar tak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang. Kembali ke kelas mungkin bukan pilihan yang buruk. Tapi dirinya merasa tak ingin kembali ke sana. Dia terlalu lelah untuk menerima tatapan hujatan dari penghuni kelasnya.

Tapi apakah baik baik saja membolos di hari pertamanya? Terlebih dengan jalan beasiswa yang membuatnya berfikir dua kali untuk membolos. Sooyoung menatap Kyuhyun yang berjalan pelan di sampingnya ragu-ragu.

“A-aku akan masuk ke kelas,” ucap Sooyoung dengan nada pelan. Kyuhyun melirik Sooyoung dengan ujung matanya sekilas dan mengangguk meng-iyakan. Mereka masih berjalan dalam diam hingga keduanya tiba di depan pintu kelas Sooyoung. Kyuhyun masih berdiri di belakangnya. Tak melakukan apa-apa. Sooyoung mengernyit. Yeoja itu membalikkan badannya menghadap Kyuhyun.

“Kau tak masuk ke kelasmu?” tanya Sooyoung heran. Kyuhyun mengendikkan bahunya kearah pintu kelas. Sooyoung melongo. Artinya… Aku berada di kelas yang sama dengan namja menyebalkan ini? Jongmaaall?

Sooyoung menormalkan mimik wajahnya sebelum membalikkan badannya dan membuka pintu perlahan. Sooyoung menatap guru yang sedang berbicara di depan papan tulis takut. Berharap dirinya tak akan mendapatka hukuman di hari pertamanya.

“Kudengar kau pingsan, Sooyoung-ssi. Benarkah?” tanyanya sambil menatap Sooyoung tajam. Sooyoung mengangguk pelan sambil memperhatikan sekelilingnya yang mengeluarkan aura tidak mengenakkan.

“Kenapa kau tidak cepat kembali setelah sadar?” tanyanya lagi yang membuat nyali Sooyoung semakin ciut. Sooyoung terdiam memikirkan alasan yang cukup masuk akal untuk pertanyaan yang satu ini. Dia tahu kalau jawabannya tak seperti yang diharapkan guru itu, maka untuk kedepannya dia akan dipandang sebelah mata oleh banyak guru di sekolah bergengsi ini. Sooyoung yakin tentang itu.

“A-aku… mengganti—”

“Dia bersamaku, mengganti bajunya.” Suara bass milik Kyuhyun memotong perkataannya. Tampaknya namja itu sedari tadi bersembunyi di balik pintu kelas dan membiarkan Sooyoung berjuang sendirian. Ucapan Kyuhyun membuat guru dan siswa yang berada di dalam kelas ricuh.

“A-ah, Ky-kyuhyun-ssi,” ucap guru wanita paruh baya itu terkejut. Mimik wajahnya yang tadi menakutkan kini tergantikan dengan mimik wajah senang yang terlalu tampak dibuat-buat. Dia tersenyum kepada Kyuhyun yang kini berdiri di depan Sooyoung.

“Si-silahkan masuk, Kyuhyun-ssi,” ucap guru itu tersenyum kecil. Sooyoung melongo. Begitu kuatkah pengaruh Kyuhyun di sekolah ini hingga dia bisa memutarbalikkan fakta hanya dalam waktu singkat? Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan berjalan menuju tampat duduknya. Sooyoung sedikit lega melihat jarak tempat duduknya dengan namja itu yang dihalangi tiga meja di sampingnya.

“Ba-bagaimana denganku, sonsaeng-nim?” tanya Sooyoung ragu-ragu. Guru itu menatapnya tajam.

“Untuk kali ini kau kumaafkan karena ini hari pertamamu. Tapi jangan harap kau akan lolos untuk kedepannya,” ucap guru itu mengendikkan dagunya kearah tempat duduk Sooyoung. Dalam hatinya Sooyoung menghela nafas lega karena keberuntungan Kyuhyun sedikit terimbas untuk dirinya.

Sebelum dia duduk di kursinya untuk menerima pelajaran hari ini, Sooyoung sadar kalau Kyuhyun sedang memperhatikannya.

***

Keesokan harinya.

Sooyoung melangkahkan kakinya menuju kelas. Langkahnya terasa ringan dan dirinya tak bisa berhenti tersenyum. Tak ada raut kurang istirahat di wajahnya. Karena kejadian kemarin, dirinya terpaksa harus meminta izin untuk tidak masuk kerja sementara hingga keadaannya pulih. Alih alih memarahinya, bossnya yang baik hati justru memberikan waktu libur selama dua minggu. Dua minggu? Kenapa terdengar sangat menyenangkan di telinga Sooyoung.

Bukan itu saja. Boss nya juga memberikan tip kecil untuknya karena sudah bekerja dengan baik. Tip itu memang tak banyak karena di berikan oleh pengunjung bar yang datang. Sepertinya Sooyoung bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bersenang-senang. Segala macam bentuk pembayaran sudah dilunaskannya dua hari setelah gajian bulan lalu. Masih banyak uang yang tersisa. Dan sekarang, ditambah dengan uang tip, membuat bibirnya tak bisa melepaskan lengkungan indah itu.

(Note : Tip = uang yang lebih yang diberikan pengunjung atas pelayanannya.)

Hatinya terasa lapang karena mandiri. Tidak bergantung kepada milik orang tua dan bekerja keras untuk diri sendiri. Memang sulit, tapi ketika menerima amplop coklat berisi uang, Sooyoung merasa dunia tersenyum untuknya. Begitu manis. Kesusahan yang dirasakannya selama ini hilang melihat hasil kerja kerasnya.

Sepertinya aku bisa mengunjungi bibi Han hari ini dan makan daging. Ah, lezatnya…

Sooyoung membayangkan daging yang dipanggang dengan minyak zaitun yang gurih sedang melambai-lambai memanggilnya. Dengan sebotol jus orange yang segar, membuat Sooyoung menelan ludahnya susah payah. Bibi Han adalah pemilik toko kecil di dekat apartemennya. Walaupun tokonya sempit dan tidak terlalu mewah, namun makanan yang disajikan disana terjamin kualitas dan rasanya.

Sooyoung juga kenal baik dengan bibi Han. Dia sering berjumpa bibi Han jika sedang berbelanja di pasar dan membatunya membawakan keranjang berisi bahan makanan. Jika Sooyoung memiliki uang lebih, dia akan menyempatkan dirinya menyantap makanan enak buatan bibi Han. Sooyoung selalu menggoda bibi Han dengan mengatakan dirinya seperti koki profesional dan cantik. Membuat bibi Han tertawa dan memberikan dua potong daging di mangkuknya sebagai bonus.

“Jangan melamun. Kau menghalangi jalanku,” sebuah suara membuat Sooyoung terlonjak kebelakang. Dia hampir saja menabrak seseorang jika saja tidak ada yang menegurnya. Sooyoung menatap namja yang hampir ditabraknya, Kyuhyun. Namja itu sedang tersenyum kecil di depannya. Walau hanya sebuah senyuman simpul, tapi kenapa terlihat sangat menawan jika Kyuhyun yang melakukannya?

“Eh? Jongmal? Mi-mianhaeyo,” ucap Sooyoung sedikit menunduk, merasa malu karena dirinya diperhatikan saat sedang melamun. Sooyoung kemudian menggeser tubuhnya kekanan untuk memberikan ruang agar Kyuhyun bisa melewatinya. Namun saat sooyoung akan melangkahkan kakinya, tangan kiri Kyuhyun menahan tangannya. Sooyoung menoleh, menatap Kyuhyun dengan pandangan “Apa yang kau lakukan?”

“Kau akan ke kelas ‘kan?” tanya Kyuhyun menatap manik mata Sooyoung. Sooyoung mengangguk pelan. Jika bukan kelas yang akan ditujunya, jadi apa? Pertanyaan Kyuhyun terdengar cukup aneh bagi Sooyoung.

“Ne, waeyo?” tanya Sooyoung, membalas tatapan tajam milik Kyuhyun. Wajah Kyuhyun terlihat sedikit melongo. Sangat mengemaskan bagi Sooyoung.

“Kelas kita disana,” ucap Kyuhyun mengangkat tangan kanannya yang tidak terpakai, menunjuk arah yang akan dituju Kyuhyun, bukan arah yang akan dituju Sooyoung. Wajah Sooyoung memerah menyadari kebodohannya. Karena sedang melamun membuat dirinya tidak sadar bahwa sudah melewatkan kelasnya dan bahkan menghalangi jalan Kyuhyun.

“Be-benarkah? Oh, ahaha, aku… hanya… toilet, ya, aku mau ke toilet,” ucap Sooyoung terbata-bata dan berlari menghindari Kyuhyun yang mematung.

“Bukankah toilet di sebelah sana?” tunjuk Kyuhyun ke arah kiri, arah berlawanan yang kini sedang dituju Sooyoung.

“Dasar yeoja aneh,” ucap Kyuhyun mengangkat bahunya tak peduli. Tapi dia merasa bahwa yeoja yang dulu pernah ‘dipungutnya’ di halte jalanan sedang terlelap sangat menarik perhatiannya. Pertemuan yang cukup berkesan di hati Kyuhyun mengingat yeoja itu bisa terlelap di halte yang sepi dengan pakaian seadanya—malam itu sangat dingin—tanpa takut diserang oleh orang lain.

***

“Ah, bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku mengatakan toilet? Bukannya toilet disana?” ucap Sooyoung panik saat dia menyadari bahwa toilet yang dimaksudnya tadi berlawanan arah dengan yang ditujunya. Dan Sooyoung yakin bahwa Kyuhyun akan memandangnya sebagai yeoja aneh mulai sekarang.

Ah, aku tidak mau dicap seperti itu olehnya…

Tu-tunggu dulu! Kenapa Sooyoung tidak mau dirinya terlihat jelek di depan Kyuhyun? Apa… apa dia memiliki perasaan khusus untuk Kyuhyun? Dalam waktu sesingkat ini? Di pertemuan ketiga mereka? Yang benar saja!

Memikirkan kemungkinan yang membuat wajahnya memerah, Sooyoung memilih membalikkan badannya dan menuju kelasnya dengan langkah panjang-panjang sambil berharap tidak terlambat karena kekonyolan yang diperbuatnya sendiri.

***

Istirahat tiba. Sooyoung berencana akan mengajak Donghae makan di taman belakang sekolah yang cukup luas. Namun karena terfikirkan olehnya tentang Kyuhyun, maka dia juga akan mengajak Kyuhyun ikut serta sebagai ucapan terimakasih sekaligus ungkapan bersalahnya.

Namun setelah kelas telah sepi, Sooyoung baru menyadari bahwa Kyuhyun tidak ada di tempat duduknya. Dan Sooyoung tidak mau membuat dirinya bersusah payah mencari namja menyebalkan itu. Saat sedang melangkahkan berjalan sendiri di koridor sekolah, dari kejauhan Sooyoung melihat Donghae sedang melambai kearahnya.

“Donghae oppa!” panggil Sooyoung sambil melambaikan tangan kanannya. Dia cepat cepat menghampiri Donghae.

“Wae? Sepertinya kau sangat bersemangat,” ucapnya mengelus puncak kepala Sooyoung lembut.

“Oppa, kau sudah makan?” tanya Sooyoung. Donghae menggeleng.

“Belum. Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu makan di taman,” ucap Sooyoung tersenyum yang dibalas anggukan oleh Donghae.

***

Mereka berdua duduk di salah satu bangku panjang di taman. Duduk disana cukup menyenangkan. Tak sepadat kantin dan dan suasananya yang rindang. Mereka berdua memegang makanan masing-masing. Dan mulai makan. Tak ada yang mereka bicarakan selama makan. Masing-masing mengingat masa-masa sulit yang mereka jalani di panti asuhan.

Bibi Li—pengasuh di panti—sangat menjaga anak-anak yang tinggal disana. Dia sudah seperti seorang ibu. Selalu menasehati mereka semua setelah makan di sebuah meja yang besar. Meja yang walau sudah lama tak Sooyoung lihat, namun dia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Hingga coretan yang dibuatnya dengan garpu saat bosan menunggu makanan yang belum datang.

Salah satu ajaran bibi Li adalah agar tidak berbicara selagi makan. Ajaran yang cukup unik karena bibi Li mengatakan jika makan sambil berbicara, maka iblis akan masuk ke tubuh melalui mulut. Mungkin terdengar menggelikan, namun saat Sooyoung dan Donghae masih anak-anak, mereka dengan polosnya mempercayai semua ucapan bibi Li dan mematuhinya.

“Aah, kenyangnya,” ucap Sooyoung mengelus perutnya sesaat setelah menghabiskan makannya. Donghae yang duduk di sampingnya juga sudah selesai makan.

“Cho Kyuhyun, siapa dia?” tanya Sooyoung to the point. Satu pertanyaan yang sangat mengganggu dirinya. Satu pertanyaan yang sangat ingin didapatkan jawabannya.

“Manusia,” jawab Donghae pendek.

“Dong-ha-e,” ucap Sooyoung menggeram. Donghae terkekeh geli melihat ekspresi Sooyoung yang sangat menggemaskannya.

“Jadi menurutmu dia itu siapa?” bukannya menjawab pertanyaan Sooyoung, Donghae malah balik bertanya. Membuat Sooyoung bingung dan terdiam.

Dia? Bagiku dia hanyalah seorang namja yang cukup tampan dan menyebalkan. Ah, jangan lupakan sifat mesumnya yang seenak jidat menidurkanku di kamarnya.

“Entahlah, aku tak tahu siapa dia. Dia tiba-tiba saja berada di sampingku saat aku terbangun, menolongku di tengah kegelapan malam sendirian, membopongku yang tidak ringan ke rumahnya.” Sooyoung menerawang mengingat kejadian malam itu.

“Aku tak bisa menjelaskan kepadamu siapa Kyuhyun. Kau akan tahu dengan sendirinya, suatu saat nanti. Cepat atau lambat.” Donghae mengatakannya dengan serius. Sooyoung sedikit bergidik.

“Jadi, siapa Kim Hyo Rin itu?” tanya Donghae.

Degh!

Wajah Sooyoung tampak sedikit memucat mendenegar sebuah nama yang sudah lama tak di dengarnya. Sebuah nama yang membuat dirinya merasa sangat bersalah hingga titik puncak di salam dirinya. Sebuah nama yang selama ini selalu menjadi alasan orang lain untuk  membullynya.

“Ke-ke-kenapa kau menanyakan hal itu? Kau tahu Hyo Rin dari siapa?” tanya Sooyoung sedikit tergagap. Donghae menghela nafasnya pelan.

“Aku hanya mendengarnya dari beberapa siswa yang suka bergosip. Mereka menyangkutpautkan namamu dan Hyo Rin. Aku penasaran. Bisakah kau menceritakannya padaku? Karena jika aku mendengarnya dari orang lain, maka cerita itu akan berbeda,” ucap Donghae tersenyum kecil. Sebuah senyuman simpul yang menenangkan Sooyoung. Yeoja itu tahu kalau Donghae memintanya menceritakan itu bukanlah untuk memojokkannya seperti yang selama ini dilakukan orang lain. Sooyoung tahu kalau Donghae pasti akan membantunya mencari jalan keluar, sama seperti yang dilakukannya untuk Sooyoung selama mereka tinggal satu atap di panti.

“Sebenarnya,”

Sooyoung menggantungkan ucapannya. Memikirkan kata kata yang tepat untuk menceritakan kepada Donghae. Tidak, hanya Donghae yang menganggapnya ada selain In Joo, dan Sooyoung tidak akan melepaskan Donghae begitu saja. Tidak akan.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Hari itu, kami berdua akan latihan renang bersama sama di kolam renang sekolah,” sooyoung menghela nafas berat memmulai ceritanya.

“Kami berdua?” ulang Donghae tak mengerti.

“Hm, aku dan Hyo Rin,”

“Kalian berteman?” tanya Donghae tak percaya. Sooyoung mengangguk.

“Ya, begitulah,” ucap Sooyoung dengan nada rendah.

“Saat sedang latihan bersama, tiba-tiba saja kakiku kram, tidak bisa di gerakkan. Aku terkejut dan hampir tenggelam. Tidak ada orang lain saat itu. Hanya kami berdua. Hyo Rin yang berada tak jauh dariku dengan cepat menolongku. Dia membawaku menuju tepian kolam dan berusaha menekan dadaku untuk mengeluarkan air yang masuk. Kemudian Hyo Rin berlari ke arah tepian kolam tempat kami meletakkan tas. Dia mengatakan padaku bahwa dia membawa obat untuk menghilangkan kram disana.” Sooyung menendang-nendang kerikil kecil yang berada di dekat ujung sepatunya. Yeoja itu tersenyum pahit mengingat kenangan buruk yang selalu menghantuinya.

“Kemudian karena setengah berlari, kaki Hyo Rin terpeleset. Tidak hanya itu. Kepalanya terbentur tepi kolam dengan kuat dan tubuhnya jatuh begitu saja ke dalam kolam itu. Tubuhnya terbawa menjauh dari tepian sementara dirinya tak sadarkan diri. Aku takut. Aku tidak bisa menolongnya. Aku bahkan tak bisa menggerakkan kakiku. Saat itu, melihat tubuhnya yang mengapung tak berdaya, dengan kemampuan yang sudah kukerahkan semuanya, aku mulai menggerakkan kakiku menuju tepi kolam dan berusaha menggapai tubuhnya. Namun tubuhnya semakin menjauh. Saat itu aku tidak tahu apa yang kupikirkan tiba-tiba saja saat aku sadar, tubuhku berada di dalam kolam. Tidak bisa kugerakkan sedikitpun. Saat itu dengan pandangan buram karena tertutup air, aku melihat dari tepian kolam ada seorang yang sedang berusaha berenang mendekati kami berdua. Saat itu aku bersyukur ada seseorang yang kebetulan melihat kami. Namun aku tak ingat banyak hal karena setelah itu aku pingsan.”

“Dan disaat aku tersadar, aku berada di salah satu kamar di rumah sakit Seoul. Tubuhku baik baik saja walaupun kepalaku terasa sakit karena terlalu banyak menelan air yang mengandung kaporid. Tapi dokter mengatakan aku akan pulih dalam beberapa hari. Aku senang. Namun semuanya hilang saat aku tahu Hyo Rin terbaring di kasurnya. Tubuhnya pucat dan tak bergerak. Membuat pandanganku menggelap dan berteriak histeris. Namun dokter menenangkanku dan mengatakan bahwa Hyo Rin masih hidup. Aku senang. Aku sangat senang saat mendengar seseorang yang menyelamatkan hidupku selamat.”

“Hyo Rin koma. Dia terkena geger otak yang cukup parah karena benturan dan ditambah lagi dengan banyaknya air yang masuk ke paru parunya. Dokter tak bisa berbuat banyak. Operasi untuk mengeluarkan air di paru parunya berhasil. Namun dia tak kunjung terbangun. Dan sekarang…” Sooyoung menarik nafas panjang. Ini adalah bagian tersulit untuk diceritanya ke orang lain.

“Sekarang?” tanya Donghae penasaran akan lanjutan dari cerita Sooyoung.

“Sekarang dia berada di luar negri untuk pengobatannya. Terakhir yang kudengar dia berada di Amerika dan kondisinya tak kunjung membaik,” ucap Sooyoung mengakhiri kisah panjangnya.

Setelah menceritakan hal yang selama ini ditutupnya rapat-rapat, hatinya terasa hangat. Lega dan menyenangkan bisa berbagi masalah kepada orang terdekat. Sooyoung tak peduli jika Donghae tak percaya atas apa yang baru saja di ceritakannya.

“Sepertinya mereka semua salah paham padamu, Young-ie,” ucap Donghae mengelus puncak kepala Sooyoung lembut. Sooyoung tersenyum. Merasa senang karena Donghae mengerti dirinya.

Mereka tak menyadari, seseorang yang mendengar percakapan mereka di balik pohon tersenyum sinis. Raut wajah marah terpatri dengan jelas di wajahnya. Terkutuklah kau Sooyoung, telah membuat Hyo Rin-ku tertidur. Geram nya di balik pohon. Kemudian seseorang itu melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua sambil mengepalkan tangannya kuat.

***

“Yo… yoboseo?” ucap Sooyoung pelan sambil mendudukkan dirinya di tempat tidurnya. Pagi pagi sekali sudah ada seseorang yang meneleponnya disaat dirinya masih bersenang-senang di alam mimpi. Sooyoung menguap sekali lagi. Belum terdengar suara apapun dari seberang sana, membuat Sooyoung mendengus kesal dan menjauhkan telepon dari telinganya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Bukan sebuah nama yang muncul, namun malah sederet angka yang tak Sooyoung kenali. Saat Sooyoung melihat lebih jelas, dia sangat yakin bahwa kode nomor itu bukan milik negara Korea. Berarti… penggilan internasional.

“Yo-yobeso? Yoboseo?” ulang Sooyoung. Namun masih tidak ada suara di seberang sana, membuat Sooyoung kesal dan ingin segera menutup telepon dengan cepat. Orang gila mana yang mau menghabiskan biaya mahal panggilan internasional jika itu hanya keisengan belaka?

“So-Sooyoung-ah, ini aku…” ucap sebuah suara yang dikenali Sooyoung. Kantuk Sooyoung menghilang seketika mendengar suara tersebut. Suara yang beberapa hari ini tidak di dengarnya.

“IN JOO…?!” Sooyoung ingin memastikan apakah yang meneleponnya saat ini adalah In Joo.

“Ne, aku In Joo. Apa kau masih mengingatku?”

“APA KAU PIKIR AKU NENEK NENEK TUA YANG BISA DENGAN MUDAH MELUPAKAN SESUATU HAH!?” sembur Sooyoung dengan nafas tersengal-sengal.

Dasar In Joo. Bahkan lewat telepon pun dia masih bisa membuatku marah.

“Tenang, tenang. Kenapa kau suka sekali marah huh?”

“Jadi, ada apa meneleponku?” ucap Sooyoung to the point.

“Yak! Kau benar-benar marah? Kau tidak tahu aku merindukanmu?”

“KAU MENGGANGGU TIDURKU BODOH!!” teriak Sooyoung kesal. Suara di seberang sana terkekeh.

“Hahaha, mian Young-ie. Aku lupa kalau aku sekarang sedang berada di Amerika. Dan waktu yang sedang kita jalani berbeda ne? Aah, aku benar benar lupa. Mian mian. Apa disana matahari sudah terbit?” hening untuk beberapa detik.

“MATAHARI?! INI MASIH PUKUL 3 PAGI DAN KAU MENGGANGGU TIDURKU!!—tut!”

Sooyoung dengan cepat memutuskan telepon. Melempar handphone bututnya kesegala arah. Kemudian tanpa memperhatikan handphonenya, dia menarik selimut dan kembali tidur. Tidak ingin tahu apa yang sedang diumpatkan In Joo untuknya. Sekarang yang terpenting untuknya adalah tidur!

***

Tiga jam kemudian Sooyoung barulah benar benar terbangun. Dia turun dari tempat tidurnya dan mencari-cari handphone yang tadi malam dilemparkannya setengah sadar. Saat menemukannya, handphone tersebut dalam keadaan tidak aktif. Sooyoung berusaha mengaktifkannya kembali walau sedikit sulit mengingat handphone yang dipakainya sudah sangat butut.

Ah, gaji bulan depan untuk beli handphone!

Tekad Sooyoung dalam hatinya. Dia memang sudah menunggu lama agar bisa membeli handphone baru. Setidaknya handphone baru yang akan dibelinya nanti haruslah sedikit lebih baik dari pada yang sekarang.

34 panggilan tak terjawab. 52 pesan belum terbaca.

In Joo yang melakukan ini?!!

Namun Sooyoung tak ambil pusing dengan sikap In Joo. Jika yeoja itu benar benar merindukannya, dia pasti akan meneleponnya lagi bukan? Sooyung bergegas memasuki kamar mandi saat melirik jam di atas nakasnya yang sudah menunjukkan pukul 7.30.

***

Sooyoung bergumam pelan membicarakan air hangat yang menyegarkan di kamar mandinya. Saat dia sedang bergumam, handphone bututnya kembali bergetar. Tak perlu melihat untuk tahu siapa penelepon itu. Selain bibi Li dan Donghae, hanya In Joo yang tahu nomor handphonenya. Sudah pasti wanita itu akan gigih menghubunginya.

“Yeoboseyo?” ucap Sooyoung menyapa dengan suara tanpa bersalah. Tidak ada yang menyahut. Hening untuk beberapa saat. Sooyoung melihat angka penelepon yang sama saat pukul tiga pagi. Dan itu adalah In Joo. Kenapa wanota itu tidak mengatakan apapun?

“Ya, In Joo-ya, ada ap—”

“KENAPA KAU MEMATIKAN PONSELMU BODOOOH!!”

“Hah?!” kenapa dia yang marah? Bukankah yang berhak marah disini adalah aku?

“KAUUU….” In Joo menggeram di ujung telepon.

“KAULAH YANG MENGGANGGU TIDURKU, IN JOO!!” teriak Sooyoung tak mau kalah.

“Oh? Benarkah?”

Hening sesaat.

TUT! Sooyoung kembali membanting handphonenya. Kini handphone butut itu benar benar telah mengakhiri hidupnya. Saat terbesit rasa bersalah di hatinya, Sooyoung kembali memungut handphone itu, namun berapa kalipun Sooyoung berusaha menghidupkannya, handphone itu tetap menunjukkan layar hitamnya. Tampaknya kali ini dia harus benar-benar menyimpan uangnya untuk membeli handphone baru.

Lagi pula gaji bulan depan sudah di depan mata. Membeli satu handphone tidak masalah bukan?

***

TBC

***

Hay, knight-deul.

Maaf lamaaa nge-post FF yang satu ini.🙂

Akhirnya, masa lalu Sooyoung terungkap juga ya? Fiuh~~

Siapa Kyuhyun sebenarnya?

Siapa orang yang mendengarkan pembicaraan Sooyoung-Donghae di balik pohon?

Apa hubungannya dengan Hyo Rin dan apa tujuannya?

Apa yang ingin disampaikan In Joo sebenarnya?

Ah, banyak pertanyaan yang belum terjawab T.T

Mungkin di part selanjutnya bakal di buka satu persatu dengan setajam silet(?)

Ah, RCL nya jangan lupa ya, knight-deul🙂

35 thoughts on “[Series] Water Love (Part 5)

  1. Sistasookyu says:

    Nah siapa tuh yg ngumpet di balik pohon? Kyuhyun? In joo?
    Btw, in joo sapa ya?
    Syo kasian bgt di kucilin

  2. mongochi*hae says:

    sangat dtunggu next partny utk mjwb smua hal d.atas..
    aplg siapa kyu & org yg mdgrkn pmbicaraan soo am hae…ap org yg sma yaitu kyu,molla

    klo cma rindu ap sgtuny in joo nelp soo. hn…pokokny next pary dtunggu cpet dh

  3. Youngra park says:

    Ahh ceritax msih tanda tanya spa yg nguping aku berharap bkn kyuhyun msa kyuppa punya niat jahat semuax msih teka teki penasaran next part chigu

  4. Aaahh.. Akhir.A publis jga ni ff.
    Aq pngen ada Pov Kyu & Donghae biar tau sperti apa isi hati mreka. Lbihh tpat.A Kyu ㅋㅋㅋ
    next.A jgn lma y thorrr..

  5. iis mulyati says:

    Waaahh apa jgn2 yg nguping pembicaraan soohae itu kyuppa? Apa sbnrnya kyuppa punya hubungan sama hyorin jd dia mau balas dendam sama soo krna udh buat hyorin koma? Tp kan itu bkn salahnya soo sepenuhnya:( Jebal semoga bkn kyuhyun deh. Next part hrs dikupas tuntas nih chingu haha😄. Ditunggu ne jgn lama2 hwaiting!! ^^9

  6. gita says:

    Si soo pemarah bngt siapa sangka kalu in joo mau kash tau sesuatau yg penting..?
    Kyu kyknya jtuh cinta sms soo dan ngestalk dy yaaa..
    Syapa ya yg lhat perckpn soo dan hae ttng hyo rin??
    Kyu itu bangsawan atau pemilik sekolah itu ya? Dy dihormatin bngt sih?
    Next.a ditunggu yaa jangn lama”

  7. liza says:

    org yg dibalik pohon itu kyuhyun kah? terus apa maksud kyuhyun berbuat baik sma soo? balas dendam kah? terus ntar klo si hyo ri sadar apakah dia bakalan benci ato malah kyk dulu berteman? teru ntar kapan nih si evil bakalan suka sma soo? :’) ayo dong thor lanjutnya jangan lama2 yah… penasaran sih.. dan saran dikit ffnya panjangin lagi kalo bisa hehe:D

    ya udh dri pda byk cincong keep writing yah thor^^ Ajja! Ajja! Ajja!

  8. Rizky NOviri says:

    eish.. kiyu
    cie cie
    hahaha😀

    nah lho.. iya tuh siapa yang dengerin percakapan soo-hae ??

    in joo kenapa tuh??aduduh…
    sooyoung emosian ya ckck..
    kyk emak emak aja..😀

    lanjuuut chingu..
    penasarannn… 😉

    daebakk

  9. risma ayu says:

    Ya ampun kk sampe lupa sma ceritany…akhirny d lnjut jga
    Emang ini cerita msih pnuh dgn pertanyaan..penasaran bgt sma siapa yg nguping pmbicaraany soohae…
    Next!!jgn lama2

  10. meetha says:

    jangan2 yang nguping pembicaraan soo dan donghae itu kyu…
    aish, soo asal nutup telepon in joo aja, siapa tau aja in joo mau ngomongin sesuatu yang penting ke soo

    ditunggu kelanjutannya😀

  11. ria^^ky says:

    akhirnya nih ff ada lanjutannya jg -_-
    seneng banget thor🙂
    next partnya jelasin sapa sebenarnya kyuppa dan sapa yg nguping pembicaraan sooeon dan haeppa,
    hwa…pokoknya banyak pertanyaan yg hrs author jelasin nantinya…
    D tunggu next partnya,jangan lama lg ya^.~

  12. PNA says:

    yes yes next part kasih tau thor siapa sih kyu itu atau kasih tau dehh siapa yg nguping obrolan soohae? kyu atau yg lainn hehe pokoknya kasih tau thor biar paling ga, penasaran sama was2nya agak berkurang

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s