[Series] Stuck In Love -16-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@occy_gg)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knigtdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

Masih pada inget cerita sebelumnya gg? Masih dong ya. Kalau lupa silahkan buka part sebelumnya aja >.< mian

Maaf banget knigts karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

 

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Mana yang akan kau sebut cinta sejati? Dia yang selalu terbiasa menemanimu dan mengisi hari-harimu atau sosok lain yang telah dipilih hati?

Mereka berdua bersahabat sejak kecil, si namja dan si yeoja. Mereka terbiasa menjalani hari-hari bersama sejak masih sekolah, bahkan sampai beranjak dewasa. Si namja adalah sosok dengan kepribadian yang sangat menyenangkan, hangat, ramah dan akan selalu ada jika memang kau membutuhkannya. Sedangkan si yeoja, hanya sosok pendiam dan menyesali banyak hal dalam hidupnya. Lingkungannya, keluarganya, sikap belebihan dari Eomma-nya dan banyak hal lainnya. Namun, kehidupan yeoja itu berubah sejak dia bertemu sosok namja lain. Sosok yang tegas, keras kepala, menyebalkan, tapi disisi lain juga lembut dan penuh perhatian. Sosok namja yang akan melakukan segala sesuatu untuk menjaga apa yang dia miliki. Kepribadian mereka memang sangat berbeda, tapi perbedaan itulah yang menumbuhkan rasa lain yang bukan sekedar kebutuhan akan sahabat.

“Sooyoung-ah?”

Suara panggilan itu membuatku berhenti menulis dan cepat-cepat memasukkan buku catatan kecil yang biasa aku tulisi jika aku tak bisa menceritakan apapun kepada orang lain, terutama Kris.

“Aku di balkon, Changmin-ssi” seruku sambil menengokkan kepala ke dalam rumah. Aku melihat Changmin sedang berjalan menghampiriku dengan dua gelas jus jeruk di tangannya.

“Sedang apa disini?” Changmin duduk di kursi sampingku, lalu menyerahkan satu gelas jus jeruk kepadaku. “Minumlah ini,” katanya.

Gomawoyo, Changmin-ssi,”

“Kenapa kau masih memanggilku seperti itu? Bukankah aku sudah memintamu untuk memanggilku dengan lebih akrab?” protes Changmin dengan cepat. “Aku tahu memang terkesan aneh karena kita terbiasa memanggil dengan cara formal, tapi mulailah memanggilku dengan nyaman. Eo?”

Ne, Changmin-ssOppa,” jawabku cepat-cepat mengganti caraku memanggilnya. “Omong-omong, tidak biasanya kau sudah berada di rumah di jam seperti ini, O-Oppa

“Aku sedang menghindari Abeoji di kantor sebenarnya. Karena itulah aku memilih untuk pulang lebih awal dari jam kantor,” kata Changmin sebelum meminum jus jeruknya dengan ekspresi wajah yang sangat serius. “Ah, tidak apa-apakan jika aku memaksamu untuk mendengarkan keluhanku, Sooyoung-ah?

Aku tersenyum, “Dengan senang hati aku akan mendengarkannya,”

“Aku senang karena pada akhirnya ada seseorang yang mau mendengarkanku. Terkadang Kyuhyun terlihat tidak peduli dengan apa yang aku katakan dan itu-“ Changmin tiba-tiba berhenti berbicara. Spontan alisku terangkat dan menatapnya dengan sedikit bingung. “Mianhae, kau pasti tak mau mendengar apapun tentang Kyuhyun kan?”

Aku diam sesaat. Lalu setelah aku kembali menguasai diriku, aku meminum jus jeruk yang dibawakan Changmin. “Aku justru ingin mendengarnya,” celetukku berbohong.

Changmin memperhatikanku dengan ekspresi aneh. Sebelah alisnya terangkat, “Kau yakin?” tanyanya.

“Hmmm. Lanjutkan saja ceritamu, Changmin-ssiOppa,” kataku kembali membenarkan panggilanku pada Changmin.

Ada sedikit ekspresi ganil yang terbesit di wajah Changmin lalu cepat-cepat dia mengubah ekspresi itu. “Ini tentang proyek JinHan dan Quintrix sebenarnya. Kau pasti masih ingat dengan kerjasama antara JinHan dan Quintrix kan?”

Aku mengangguk pelan sambil mengingat kerjasama yang Changmin sebutkan. Meskipun aku tak begitu hapal dengan isi kerjasama antara kedua perusahaan itu, tapi aku masih ingat kerjasama apa yang mereka lakukan.

Abeoji berusaha untuk merusak kerjasama itu,” suara Changmin mengembalikan pikiranku. “Aku sendiri heran, kenapa Abeoji melakukannya dan atas dasar apa dia melakukan itu? Apakah dia sama sekali tak senang dengan kerjasama itu? Jika memang iya, kenapa dia tak menyatakan ketidaksetujuannya sebelum kerjasama itu dimulai?”

Aku diam tak menjawab.

“Aku tahu. Mungkin dia memang melakukan itu karena dia tidak menyukai Kyuhyun, tapi bukankah ini berlebihan? Kerjasama dengan Quintrix akan membuat JinHan lebih maju, tapi dia justru merusaknya”

“Apa yang Samchon lakukan?” tanyaku ingin tahu.

Abeoji berusaha membujuk Ahn Jae Bum untuk mengganti material baru yang tidak sesuai dengan proposal yang telah disetujui kedua belah pihak. Dan kau tahu, Ahn Jae Bum berhasil dibujuk,” jawab Changmin dengan ekspresi tidak terima.

“Ahn Jae Bum?”

“Insinyur yang ditugaskan untuk mendirikan kawasan pertokoan yang akan menjual produk-produk dari Quintrix” Changmin cepat memberikan respon karena aku memang tak mengenal nama yang tadi dia sebutkan. “Kau tahu bagaimana stress-nya aku dan Kyuhyun karena masalah ini. Apalagi sepertinya Quintrix menolak pergantian itu padahal Ahn Jae Bum sudah dipastikan akan memilih material yang disarankan oleh Abeoji

“Apa material yang disarankan Samchon kualitasnya memang lebih baik daripada yang tertulis di proposal kerjasama itu?” kataku berusaha terus menanggapi karena biar bagaimanapun aku mengerti tentang kerjasama itu dan aku juga mengerti kenapa Shim Samchon melakukan hal itu.

“Jauh lebih baik memang iya. Tapi untuk mendapatkan material itu membutuhkan waktu beberapa hari dan itu berarti jadwal proyek selesai juga akan mundur” kata Changmin terlihat frustasi. “Ah, dapdaphae~“

Quintrix sudah mengetahui tentang pergantian material itu?” tanyaku terus mencari tahu karena mungkin aku bisa membantu Changmin. “Maksudku… apa pergantian material itu sudah dibicarakan terlebih dahulu dengan Quintrix?”

Changmin menggelengkan kepala. “Kyuhyun sedang berusaha untuk membicarakannya dengan Lee Sajangnim, tapi sampai sekarang dia belum memberiku kabar” katanya. “Dia memintaku untuk membuat proposal baru dengan material yang baru itu, tapi aku tak yakin apakah Sajangnim akan menyetujuinya mengingat budget kita untuk proyek ini tidak terlalu besar”

Appa pasti akan setuju,” gumamku tanpa aku sadari.

Ne?”

Ah, aniyo… amugeotdo” kataku cepat-cepat. “Hal terbaik yang memang bisa dilakukan adalah membicarakannya lagi dengan Quintrix. Jika perlu, kenapa tidak mengajak Samchon dan juga Ahn Jae Bum untuk membicarakan pergantian material itu? Mungkin mereka bisa menjelaskan dengan baik kenapa harus ada pergantian material”

Changmin menghela napas singkat, “Abeoji tidak akan mau,” katanya. “Aku mempercayakan semua ini pada Kyuhyun. Dia pun mengambil tanggung jawab untuk proyek ini. Aku hanya berharap dia bisa berdiskusi dengan Quintrix dan mengambil keputusan yang tepat”

Aku diam sesaat. Membayangkan wajah Kyuhyun saat kesal karena perlakuan Shim Samchon kepadanya. Apa dia akan bisa menangani ini dengan baik? Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk membantunya, tapi bagaimana jika Shim Samchon mengambil kesempatan ini untuk menggunakanku dalam pengambil-alihan JinHan dari Appa dan Kyuhyun? Aku tak mau itu terjadi karena selama ini pun aku berusaha untuk menghindari itu.

“Omong-omong, apa kau berencana kembali ke JinHan, Sooyoung-ah?” tanya Changmin yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. “Bibi Young Ah menginginkan kau bekerja di JinHan bukan?” tanyanya lagi.

Eomma memang menginginkan itu, tapi aku tak tahu apa aku akan kembali ke JinHan atau tidak” Aku langsung menjawab. Aku mengubah posisi dudukku agar lebih nyaman, kemudian meneguk jus jerukku sebelum melanjutkan berbicara. “Aku… emm, aku sendiri tak tahu harus bagaimana Oppa. Ada banyak hal yang ingin aku cari tahu terlebih dahulu sebelum benar-benar kembali ke JinHan”

Changmin mengangguk mengerti dalam diam. Untuk beberapa saat tak ada percakapan lagi di antara kami, membuat suasana menjadi sepi. Aku dan Changmin sama-sama menikmati jus jeruk sambil menatap ke arah jalanan di sekitar rumah. Dari kejauhan aku bisa melihat Sungai Han yang mengalir dengan begitu tenangnya juga cahaya lampu-lampu yang terlihat sangat kecil yang mulai dinyalakan.

“Oh, ada Changmin juga disini” Sebuah suara membuatku dan Changmin secara bersamaan menoleh. Aku tak terkejut karena yang datang adalah Eomma, tapi sebaliknya dengan Changmin. Dia terlihat terkejut melihat Eomma sudah berdiri di pintu dan sedang menatap ke arah kami. “Bibi tak melihatmu pulang, Changmin-ah” kata Eomma sambil melangkah menghampiri.

“Mungkin bibi sedang ada di kamar, jadi tak melihatku datang” jawab Changmin sambil beranjak dari kursinya dan memberikannya pada Eomma. “Bagaimana keadaan bibi? Apa luka di tangan dan kaki bibi sudah sembuh?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sudah lebih baik. Ini hanya luka kecil jadi tak perlu dikhawatirkan,”

Eomma memang seharusnya lebih berhati-hati. Seoul itu berbeda dengan Daejeon. Banyak mobil yang melaju kencang disini,” timpalku. “Tanya saja Changmin Oppa, jika memang Eomma tak percaya padaku” Aku menambahkan.

Changmin terlihat bingung untuk beberapa saat, tapi kemudian dia mengangguk perlahan. “Tapi untung saja orang yang menabrak bibi mau bertanggung jawab,” komentarnya.

Eomma hanya memberikan senyum singkatnya pada Changmin, lalu dia menatapku lekat-lekat. Aku tahu Eomma terluka seperti itu karena mengejarku kemarin, tapi aku sama sekali tak memintanya untuk mengejarku. Lagipula kenapa dia tiba-tiba mengajakku untuk menemui Shim Samchon tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Tentu saja aku menolaknya dan memilih kabur. Tapi ternyata Eomma tertabrak seseorang dan mendapatkan luka itu.

“Changmin-ah, apa Abeoji­-mu juga sudah pulang?” tanya Eomma yang memilih untuk tidak membahas tentang lukanya lagi.

Aku sempat terkejut karena dia mengubah topik pembicaraan secepat ini, tapi aku memilih untuk diam saja dan menikmati sisa jus jerukku. Aku sengaja tak menatap baik Eomma maupun Changmin, tapi berusaha untuk terus mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Aku rasa Abeoji masih di JinHan,” jawab Changmin.

Ah, geuriguna,” sahut Eomma sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku mendengar suara kursi bergeser dan melihat Eomma beranjak dari tempat duduknya. “Kalau begitu, bibi ke dalam dulu,” katanya sambil melirik ke arahku.

Ne,”

Eomma melemparkan senyum ramahnya ke arah Changmin sebelum berbalik pergi meninggalkan balkon. Untuk sesaat aku sempat berpikir jika sebenarnya Eomma ingin berbicara denganku, tapi karena ada Changmin yang sedang bersamaku dia memilih untuk mengurungkan niatnya. Aku memang tak tahu apa yang sedang Eomma rencanakan bersama Shim Samchon. Selain karena aku memilih untuk tidak tahu, juga karena aku menghindari mereka berdua. Ah, apa perbuatan Shim Samchon kali ini juga merupakan bagian dari rencananya dan Eomma? Jika memang benar, aku tak akan pernah memaafkan Eomma. Sungguh!

€–

Kyuhyun POV

Aku duduk di atas salah satu kursi diluar sebuah kedai di Hapjeong-dong, Mapo-gu dengan sedikit tidak sabar. Bagaimana tidak? Hari ini aku akan bertemu dengan Eomma! Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Eomma setelah aku tahu dia adalah Eomma-ku. Aku bahkan tak bisa tidur semalam karena memikirkan pertemuan hari ini. Selain itu juga karena aku terus memikirkan nama seseorang. Choi Wooyoung. Sampai sekarang aku sama sekali belum tahu apapun tentang nama itu. Apakah nama itu adalah namaku sebelum Cho Kyuhyun? Appa bahkan mengubah namanya, bagaimana jika dia juga mengubah namaku?

Aku menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan pemandangan di sekitar kedai. Aku sama sekali tak menyangka aku akan menemukan Eomma bahkan sebelum Appa menemukannya. Meskipun aku sedikit menyesal karena pertemuanku dengan Eomma karena sebuah kecelakaan yang aku lakukan, tapi aku bersyukur karena itu. Jika aku tak menabarak Eomma, mungkin aku tak akan bisa menemuinya sampai Appa memberitahuku bukan?

Oh, Eomma datang-“ celetukku saat melihat Eomma berjalan menghampiriku. Aku berdiri dari dudukku untuk menyambut Eomma, “Annyeonghaseyo,” sapaku begitu dia berada di depanku.

Eomma mengangguk, lalu memperlihatkan senyumannya yang hangat seperti biasanya. “Kau sudah lama menunggu, Kyuhyun-ssi?” tanyanya.

Aniyo, saya baru datang beberapa saat yang lalu” jawabku berusaha untuk bersikap seperti biasanya. “Josanghaeyo, Ahjumma karena saya mengubah tempatnya” kataku meminta maaf.

Eomma kembali tersenyum, “Gwenchanayo, Kyuhyun-ssi. Tempat ini jauh lebih baik dari tempat sebelumnya. Ahjumma sempat berpikir, apa yang akan kita lakukan di taman Seoul? Ahjumma dengar kebanyakan yang datang ke sana adalah anak-anak muda yang sedang kasmaran. Jadi, akan sangat aneh jika kita bertemu di sana,” katanya sambil duduk di depan kursiku.

Aku memandangi Eomma dan tersenyum kecil. Aku sama sekali tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku karena bisa mengobrol dengan Eomma seperti ini. Tapi tetap saja aku harus bisa menahan diri karena biar bagaimanapun Eomma masih belum tahu siapa aku sebenarnya. Apa mungkin karena namaku Kyuhyun jadi dia tak mengenaliku? Bagaimana jika saat itu aku menyebutkan nama Choi Wooyoung saat berkenalan dengannya? Aku yakin sekali Eomma pasti akan senang melihatku jika dia tahu aku adalah anaknya.

“Kyuhyun-ssi, waegeuraeyo?” tanya Eomma tiba-tiba.

Aku yang sedang tersenyum cepat-cepat mengubah ekspresi. “Ne? Ah, amugeotdo aniyo” kataku sedikit gugup. “Oh… emm, omong-omong bagaimana kabar Ahjumma? Apa ada sesuatu lain yang Ahjumma rasakan pasca kecelakaan yang saya sebabkan?”

“Tidak, tidak ada sama sekali. Ahjumma bahkan sangat sehat sekarang,” sahut Eomma dengan cepat. “Sebenarnya kau tak perlu mengkhawatirkan Ahjumma lagi, Kyuhyun-ssi. Ahjumma benar-benar akan merepotkanmu jika kau terus seperti ini”

Dahaenginda~ Saya justru senang, Ahjumma” jawabku. “Hmm… jujur saja, Ahjumma seperti Eomma bagi saya, jadi wajar saja jika saya khawatir”

Ahjumma seperti Eomma-mu?” Eomma mengulang perkataanku. “Kenapa bisa begitu? Sangat jarang orang mengatakan hal seperti ini padahal baru saja bertemu dan mengenal satu sama lain seperti ini,” lanjut Eomma sambil menatapku dengan ingin tahu.

Aku diam cukup lama karena tak tahu harus menjawab bagaimana. Tak mungkin juga aku mengaku sekarang jika sebenarnya aku benar-benar anaknya bukan? Tapi aku benar-benar ingin memanggilnya dengan Eomma dan aku juga ingin memeluknya untuk melepaskan seluruh kerinduanku padanya. Lalu apa yang harus aku katakan? Apa aku memilih untuk terus seperti ini terlebih dahulu sampai aku menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Eomma?

Ahjumma, bolehkah saya bertanya sesuatu?”

Eomma yang sedari tadi sedang mengamati pelayan kedai langsung menolehkan kepala ke arahku. “Tanyakan saja Kyuhyun-ssi. Bukankah kau yang meminta bertemu denganku, jadi kenapa kau diam saja?” katanya memancingku untuk lebih banyak bicara padanya.

“Emm… mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi saya… emm, saya ingin mengenal Ahjumma lebih jauh” kataku bingung harus bagaimana memulainya. “Maksud saya… saya ingin tahu Ahjumma karena Ahjumma emm… benar-benar terlihat seperti Eomma-ku,” kataku cepat-cepat begitu melihat ekspresi Eomma.

Eomma mengerutkan keningnya. Dia pasti heran karena tiba-tiba aku mengatakan hal seperti ini padanya. Bukankah baginya aku masih orang asing? Ah! Aku benar-benar bodoh karena tak bisa memulai pembiaraan dengan baik dan menyampaikan apa tujuanku sebenarnya ingin bertemu dengannya. Aku mendesah pelan sambil menyesali apa yang baru saja aku katakan.

Ahjumma tak tahu seberapa miripnya Ahjumma dengan Eomma-mu karena sejak kemarin kau terus mengatakan hal ini,” komentar Ahjumma sambil tersenyum tipis. ”Omong-omong, apa Eomma-mu tak marah jika mendengar kau mengatakan ada seseorang yang baru kau kenal yang mirip dengannya di depannya?” tanya Ahjumma lembut.

“Tidak, dia mungkin tak akan marah”

“Mungkin?”

Aku mengangguk. “Bagaimana mungkin Eomma akan marah jika aku mengatakan seseorang yang benar-benar mirip dengan Eomma-ku adalah Eomma sendiri?” kataku tanpa ragu lagi.

Ne?

Aku menundukkan kepala beberapa saat, lalu menarik napas dalam. Ini saatnya aku mengatakan hal yang sebenarnya bukan? Aku tak bisa menunggunya lagi karena ini adalah kesempatanku untuk bisa mengenal Eomma-ku sendiri. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Eomma setelah ini. Mungkinkah dia akan langsung menarikku ke dalam pelukannya? Sudah lama sekali bukan aku dan Eomma tidak bertemu satu sama lain?

Eomma,” desisku pelan. “Naneun… a-adeul imnida,”

Eomma membelalakkan matanya. Dia terlihat benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja kau katakan. Dia menatapku lama, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak percaya.

“Kyuhyun-ssi, apa kau benar-benar sudah menganggap Ahjumma seperti Eomma-mu sendiri?” tanya Ahjumma mengabaikan apa yang aku katakan. “Ahjumma sangat berterima kasih untuk itu karena kau adalah anak muda yang sopan dan-“

Aniyo. Aku tak hanya menganggap Anda sebagai Eomma-ku, tapi aku benar-benar adalah putramu, Eomma” potongku cepat. “Eomma, lihatlah aku lebih teliti. Aku putramu. Eomma pasti mengenaliku kan?”

Eomma menarik napas panjang, “Kyuhyun-ssi. Putraku sudah meninggal lama sekali,” kata Eomma memberitahu. Ekspresinya terlihat tenang dan diapun masih tersenyum saat berbicara padaku.

“Choi Wooyoung,” sahutku kemudian. Mata Eomma membelalak begitu aku menyebutkan nama itu. “Eomma mengenal nama itu kan?”

B-Bagaimana kau tahu nama itu?”

Aku diam sesaat sambil memejamkan mata. Meskipun aku masih belum yakin, akhirnya aku berkata, “Aku… aku adalah Choi Wooyoung,”

Eomma bereaksi dengan sangat cepat. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menatapku dengan tajam. Aku sama sekali tak melihat wajah ramah seperti beberapa saat yang lalu. Sepertinya dia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar dariku. Lalu tanpa mengatakan apapun padaku, dia langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Mau tak mau aku mengejarnya karena aku sama sekali tak mau kehilangan Eomma lagi.

Eomma, jamkkamanyo” seruku berusaha terus mengejar Eomma bahkan sampai di pinggiran jalan. “Eomma,” kataku setelah berhasil menyusulnya dan berdiri di depannya.

Mianhaeyo, kau mungkin salah orang, Kyuhyun-ssi” kata Eomma sambil berbalik arah.

Aku mengerjap. Terlalu tercengangnya aku melihat sikap Eomma yang seperti ini sampai-sampai tidak sadar jika Eomma semakin jauh dari pandanganku. Aku kembali mengejarnya dan menghentikan langkahnya di dekat sebuah taman yang tidak begitu luas yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain.

Eomma, kenapa Eomma tidak senang melihatku? Aku putramu, tapi kenapa Eomma justru menghindariku?” kataku merajuk. “Aku tahu sudah lama sekali Eomma tak melihatku, tapi aku benar-benar putramu, Eomma. Aku adalah anak Appa, Choi Yoon Jae, Sajangnim JinHan”

Aniya! Kau bukan putraku,” seru Eomma tegas. “Dan berhentilah memanggilku dengan Eomma,” Dia menambahkan.

“Bagaimana aku bisa berhenti memanggil Eomma dengan Eomma? Sudah lama sekali aku tak memanggil itu, Eomma” kataku memohon. “Eomma, dengarkanlah aku sebentar. Aku… aku benar-benar ingin Eomma-“

“Aku bukan Eomma-mu, Kyuhyun-ssi” Kali ini Eomma yang memotong perkataanku. Suaranya terdengar lebih tegas dan juga bergetar. Aku tak tahu itu karena dia marah atau karena dia ingin menangis tapi menahannya. “Tolong jangan mengejarku lagi, dan ini terakhir kalinya kita bertemu” katanya melanjutkan.

Eomma berjalan melewatiku, menyebrang ke sisi lain jalan dan pergi dengan langkah terburu-buru. Dia berjalan sangat cepat sekali dan aku sedikit kesulitan karena mengikutinya dari sisi lain jalan. Sikap Eomma ini benar-benar aneh di mataku. Kenapa dia menganggap putranya sudah meninggal? Jika aku memang bukan putranya, bukan Choi Wooyoung, lalu aku siapa? Semuanya benar-benar membingungkan dan aku harus segera mencari tahu ini. Tapi sekarang yang harus aku lakukan adalah mengejar Eomma dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Eomma, dengarkan aku sebentar saja. Aku mohon,” kataku lagi setelah berhasil menyusul Eomma lagi. “Aku… aku janji tak akan mengejar Eomma lagi setelah Eomma mendengarkanku,”

Eomma diam saja. Dia hanya menatapku sesaat, lalu memilih untuk menatap ke arah yang lain. Aku memegangi tangan Eomma, dengan begitu dia tak akan menghindariku sampai aku selesai berbicara padanya. Aku benar-benar ingin Eomma mendengarkan apa yang ingin aku katakan padanya. Tentang seberapa besar aku sangat merindukannya dan seberapa senang aku bisa bertemu dengannya.

Aku menarik napas panjang sebelum mulai bicara. “Aku tahu, mungkin ini sangat mengejutkan Eomma karena Eomma berpikir bahwa putra Eomma sudah meninggal, jadi Eomma bersikap seperti ini kepadaku. Awalnya aku juga seperti itu,” kataku lebih hati-hati. “Selama ini aku berpikir jika Eomma sudah meninggal, dan AppaAppa juga berpikir hal yang sama denganku. Tapi setelah melihat Eomma, aku tahu jika-“

Ah, itu dia Eomma” Sebuah suara di belakangku menghentikan kata-kataku. Aku langsung terdiam karena aku begitu hapal dengan suara itu. Mataku mengerjap beberapa kali, berusaha mengenyahkan suara itu. Tapi suara itu kembali terdengar, “Eomma berkata padaku untuk menjemput Eomma di Bean Brother? Kenapa Eomma ada disini? Aku benar-benar kebingungan mencari Eomma dan kenapa tak mengangkat teleponku?”

Eomma melepaskan tanganku dan langsung menyusul ke arah suara itu tanpa mempedulikanku lagi. Apa itu suara yeodongsaeng-ku? Tapi kenapa terdengar sangat familiar bagiku? Butuh sepersekian detik bagiku untuk memperoleh kembali kesadaran yang sempat menghilang. Dengan cepat, aku membalikkan badan dan mataku seketika membelalak melihat Sooyoung sedang berbicara pada Eomma dengan ekspresi kesal. Ada Kris juga bersamanya dan aku sedikit tersentak karena dia sedang membalas menatapku.

“Sooyoung-ah,” gumamku pelan.

Sooyoung yang semula sibuk berbicara dengan Eomma tiba-tiba menolehkan kepala ke arahku setelah Kris mengatakan sesuatu padanya. Ekspresinya sama terkejutnya denganku. Dia bahkan hanya berdiri disana dan menatap lurus ke arahku. Ini pertama kalinya aku bertemu lagi dengannya setelah lama sekali aku berusaha untuk menghindarinya.

Tunggu! Kenapa dia memanggil Eomma dengan Eomma juga? Dia tidak mungkin… tidak! Ini pasti salah! Aku~

“Ayo kita pulang,” ajak Eomma pada Sooyoung dan Kris. “Seharusnya Eomma tak datang ke sini, kajjaEomma menarik tangan Sooyoung untuk segera berjalan meninggalkanku, tapi Sooyoung tetap bergeming di tempatnya.

Sooyoung masih memandangiku.

“Sooyoung-ah” Suara Eomma kembali memanggil Sooyoung. “Kajja,”

“Emm… Ahjumma. Mobilku terparkir tepat di Bean Brother, bagaimana jika Ahjumma kembali ke sana terlebih dahulu? Aku dan Sooyoung tadinya ingin mengunjungi seorang teman disini, karena itulah kami sekalian menjemput Ahjumma disini,” kata Kris menimpali.

Geuraeyo?” tanya Eomma pada Sooyoung yang langsung menganggukkan kepala. “Baiklah kalau begitu. Jangan lama-lama, kepala Eomma sangat pusing jadi lebih baik kita segera pulang” katanya lagi sebelum dia melangkah menjauh.

Sepeninggalan Eomma, suasana tiba-tiba berubah menjadi hening dan terasa sangat aneh. Kris memilih menjauh setelah memastikan Eomma tidak terlihat lagi, dan meninggalkanku hanya bersama Sooyoung. Aku sendiri tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang karena semuanya terasa sangat mengejutkan. Meskipun aku sudah melihat dan mendengarnya sendiri, aku masih terus menyangkal apa yang sekarang ada di pikiranku.

“Maldo andwae, maldo andwae”

Kata-kata itulah yang terus aku ucapkan dalam hati.

Entah untuk berapa lama aku berdiri diam seperti ini, begitu pula Sooyoung. Kami hanya saling memandangi satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Sesekali Sooyoung terlihat menundukkan kepalanya, tapi tetap saja tak ada yang berniat untuk membuka percakapan. Aku menghela napas panjang sambil terus menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba datang kepadaku. Mataku terpejam. Kenapa semuanya menjadi seperti ini?

Oppa,”

“Malhaji ma! Amu maldohaji ma!” seruku sambil menaikkan nada suaraku.

Aku kembali membuka mataku dan menatap Sooyoung yang masih menundukkan kepalanya. Entah kenapa aku merasa jika dia sedang menangis sekarang, tapi tak ada yang aku lakukan. Aku hanya diam membisu, tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak mau mendengar apapun dari Sooyoung yang akan memaksaku harus menerima keadaan yang sampai sekarang terus aku tolak. Aku benar-benar tak mau!

Oppa, mianhaeyo~” ucap Sooyoung sangat pelan, lebih terdengar seperti gumaman. “Mianhaeyo, mianhaeyo~” Aku terus mendengar kata-kata itu diucapkan dari bibir Sooyoung.

Aku menelan ludahku dan memilih untuk berbalik meninggalkan Sooyoung. Aku benar-benar tak sanggup harus mendengar apapun yang mungkin akan Sooyoung katakan lagi. Mataku mulai terasa panas karena sedari tadi aku menahan air mataku agar tidak terjatuh. Tanpa mengatakan sesuatu pada Sooyoung, aku melangkah pergi. Mungkin hal terbaik yang bisa aku lakukan sekarang adalah pergi sejauh mungkin. Ya, pergi sejauh mungkin!

€–

Sooyoung POV

Pandanganku mataku mengarah ke jendela kamarku. Tidak biasanya langit kali ini terlihat kelabu. Aku yakin sekali sebentar lagi akan turun hujan. Yah, hujan pertama di awal musim panas. Seharian ini aku memilih untuk mengurung diri di kamar. Setelah bertemu dengan Kyuhyun, pikiranku seakan menjadi kosong dan aku tak ingat bagaimana persisnya aku bisa bertemu dengannya.

Aku menarik napas panjang. Sebaiknya aku tak bertemu dengan Kyuhyun lagi meskipun dia adalah Oppa-ku sendiri. Karena aku tak mau membuatnya bertambah sakit. Sakit? Lalu, apa aku juga merasakan sakit? Aku berusaha sekeras mungkin untuk menahan rasa sakit itu, tapi aku rasa aku tak bisa. Air mataku bahkan keluar dengan sendirinya dan aku sama sekali tak bisa menahannya lagi. Meskipun ada banyak hal yang ingin aku katakan saat itu, tapi tak ada yang mampu aku ucapkan. Apalagi melihat mata Kyuhyun yang merah karena menahan air mata. Kedua tangannya pun terkepal hingga memerah. Aku bisa melihat itu dengan jelas dari tempatku berdiri saat itu.

Ponselku bergetar pelan disebelahku, membuat pikiranku tentang Kyuhyun teralihkan untuk beberapa saat. Tanpa berpikir lebih jauh, aku langsung menjawab ponsel yang sedari tadi membuat suara tidak nyaman di kamarku.

Yeobeoseyo,”

“Sooyoung-ah, gwenchana?” tanya suara di seberang.

Eo, Kris. Gwenchana~” jawabku tanpa melihat tulisan yang tertera di layar karena sudah hapal dengan suara yang satu ini.

“Kau yakin?”

Eo,” sahutku sedikit menahan kesal karena tidak biasanya Kris secerewet ini menanyakan keadaanku.

Kris tidak segera membalas seperti biasanya. Aku bisa mendengar suara napas panjang, seperti mengisyaratkan kelegaan. “Saat kau menjawab teleponku, suaramu terdengar aneh. Karena itu aku menyakinkanmu jika kau memang tidak apa-apa” aku Kris dengan suaranya yang terdengar aneh.

Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan untuk yang satu ini. “Ada perlu apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Kris diam sesaat. Membuatku sedikit bingung. “Apa kau mau pergi bersamaku? Aku rasa kau… emm, butuh hiburan”

“Aku sedang malas pergi kemana-mana hari ini, Kris. Mianhae” jawabku langsung tanpa berpikir terlebih dahulu. “Lagipula aku tidak apa-apa, jangan khawatir”

“Kalau begitu, apa aku boleh ke rumahmu sekarang? Kau mungkin membutuhkan sesuatu dariku atau menceritakan padaku-“

“Tidak,”

“Tidak?”

Eo. Aku tak mau kau datang ke sini dan bertemu dengan Samchon

Kris tidak memberikan respon untuk beberapa saat. Entah kenapa aku yakin sekali dia sedang mencari alasan lain untuk memaksaku keluar dari kamar. Mungkin saja Eomma yang menyuruhnya melakukannya karena aku benar-benar terus berada di dalam kamarku sejak pulang dari Mapo-gu

Ah, Kris, sudah dulu ya,” kataku sebelum Kris berhasil menemukan alasan lain. “Ada sesuatu yang harus aku lakukan,” Aku menambahkan.

Eo. Oh ya! Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu, eo? Jangan menyimpannya sendiri karena kau mempunyai seseorang yang akan selalu mendengarkanmu. Ingat itu, Sooyoung-ah” katanya.

Aku tersenyum, “Aku selalu mengingatnya. Baiklah, sampai nanti~” Aku langsung menutup sambungan telepon dan meletakkan ponselku di atas meja di sebelahku.

Pikiranku kembali pada pertemuanku dengan Kyuhyun. Aku benar-benar tak pernah membayangkan jika aku akan bertemu dengannya secepat itu. Apalagi saat itu ada Eomma, dan sepertinya dia juga baru bertemu Eomma. Ah, apakah dia sudah mengetahui tentang Eomma? Aku rasa iya. Karena jika tidak tak mungkin mereka saling bertemu. Tapi melihat ekspresi Eomma saat itu, aku yakin sekali Kyuhyun telah mengatakan sesuatu pada Eomma. Sebenarnya aku ingin tahu apa yang Kyuhyun katakan, tapi Eomma pasti tak akan menjawabnya.

Aku menghela napas keras lalu bangkit berdiri. Di luar hujan sudah benar-benar turun, tak begitu deras tapi cukup bisa membuat basah siapapun yang ingin menerjangnya. Dulu aku sangat menyukai hujan karena hujan bisa membuatku merasakan dua hal sekaligus. Senang dan kesal. Tapi sekarang, entah kenapa aku tak menyukainya. Aku merasa hujan kali ini begitu sendu, sama seperti apa yang sedang aku rasakan sekarang.

Aku berjalan ke arah pintu dan keluar kamar. Kakiku melangkah ke arah ruang tengah di rumah keluarga Changmin, lalu duduk di atas sofa sambil menyandarkan kepala. Semua orang di rumah ini sedang pergi, aku melihatnya sendiri dari jendela kamarku saat mobil Samchon dan juga mobil Changmin meninggalkan rumah. Mereka terlihat sibuk. Mungkin itu karena masalah kerjasama antara JinHan dan Quintrix yang pernah Changmin ceritakan padaku. Entahlah, aku tak mau ikut campur lebih jauh untuk sekarang ini.

“Oh, Sooyoung Aghassi. Ahjumma pikir Aghassi ikut pergi bersama Nyonya,” celetuk Byun Ahjumma yang sedang bersih-bersih ruangan.

Eomma pergi? Kemana?” Aku balik bertanya.

Ahjumma tidak tahu. Nyonya Choi tidak memberitahu apa-apa, tapi Chul Ho yang mengantarnya pergi belum lama ini” jawab Byun Ahjumma terus melanjutkan kegiatannya.

Eomma-mu pergi mengurus bisnisnya, Sooyoung-ah” sambung seseorang. Byun Ahjumma langsung membungkukkan badan dan meninggalkan ruang tengah. “Sepertinya ada masalah kecil yang tak bisa diselesaikan oleh orang-orangnya, jadi Eomma-mu terpaksa turun tangan,” ucap Shim Samchon sambil duduk di sofa di sebelah kiriku.

“Aku tak pernah tahu Eomma akan turun tangan seperti itu,” kataku berkomentar. “Biasanya dia tak begitu peduli pada sesuatu” Aku melanjutkan dengan nada datar.

“Paman rasa kau tak terlalu banyak tahu tentang Eomma-mu,”

Aku menghembuskan napas berat dan kembali bangkit dari posisiku tanpa memedulikan Samchon lagi. Jika aku tahu, Eomma-lah yang pergi dengan mobil Samchon, aku tak akan keluar dari kamar seperti ini. Lebih baik aku berdiam diri disana tanpa melakukan apa-apa daripada harus bertemu ataupun mengobrol dengan Samchon. Itu tak akan pernah aku lakukan kecuali jika ada keadaan yang memaksaku untuk melakukannya.

“Kapan kau akan setuju untuk kembali bekerja di JinHan, Sooyoung-ah?” tanya Samchon tiba-tiba. “Apa kau sama sekali tak berkeinginan untuk membantu Kyuhyun?” Langkahku yang baru sampai tangga langsung terhenti karena perkataan Samchon yang satu ini.

Aku menolehkan kepala, menatap Shim Samchon yang sedang memperlihatkan segaris senyum padaku. Aku tak tahu apa arti senyuman itu karena bagiku, itu bukanlah senyum ramah ataupun senyum seorang paman pada keponakannya sendiri. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil kali ini. Tapi aku tetap berusaha bersikap tenang dan datar, seperti aku yang biasanya saat berhadapan dengan Shim Samchon.

“Melihat dari ekspresimu ini, sepertinya kau tahu apa yang pamanmu maksud kan?” tanyanya dengan suara berat.

“Aku tidak mengerti maksud paman” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku darinya.

“Hmmm… Benarkah”

“Ya,” tegasku.

Shim Samchon berdehem pelan, lalu dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah rak buku di dekat TV. “Paman rasa sebaiknya kau cepat bergabung dengan JinHan. Ada banyak hal yang perlu kau tahu tentang JinHan dan dengan senang hati paman akan memberitahukannya jika memang kau menginginkan itu” katanya sambil memilih-milih sebuah buku.

“Aku belum berencana untuk kembali bekerja dalam waktu dekat ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan-”

“Oh, kau tidak melakukan apapun selama disini. Paman tahu itu,” sahut Paman dengan cepat sambil berjalan kembali ke tempat duduknya semula. “Paman sengaja membiarkanmu dan berharap kau akan kembali ke JinHan karena keinginanmu sendiri. Tapi melihatmu seperti itu, mau tak mau paman harus memancingmu bukan?”

Aku tidak menjawab. Karena menurutku ini adalah sikap yang paling baik untuk aku ambil saat ini.

“Paman pikir apa yang paman lakukan pada proyek JinHan dan Quintrix itu akan bisa menarik perhatianmu mengingat keterlibatanmu dalam proyek itu meskipun hanya sebentar,” Shim Samchon melanjutkan perkataannya. “Tapi kau sepertinya tidak peduli, atau kau sebenarnya tahu tapi kau berpura-pura untuk tidak peduli?”

Aku mendesah pelan. Percakapan seperti inilah yang paling tidak aku sukai saat bersama Shim Samchon. Entah karena dia menyukainya atau memang dia pintar menyudutkan seseorang, tapi dia selalu berhasil membuatku mulai gelisah tanpa aku mengerti. Aku masih terus diam karena aku tak mau salah berbicara dan semakin disudutkan olehnya.

“Sekarang, mulai berpikirlah untuk kembali bekerja di JinHan. Paman akan mencarikanmu posisi yang bagus disana dan kau akan dengan mudah mengawasi orang-orang yang bekerja untukmu” kata Shim Samchon sambil membuka-buka lembar halaman di buku yang dia ambil. “Kau bebas melakukan apapun di JinHan, tapi kau harus tetap ingat apa tujuanmu disana. Kau masih ingat kan?”

Aku mulai menarik napas. Tentu saja aku masih ingat, tapi aku tak mau melakukan itu. Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus merebut JinHan dari tangan keluargaku sendiri. “Aku akan memikirkannya,” kataku pada akhirnya.

“Bagus,” komentar Shim Samchon. “Eomma-mu pasti akan sangat senang jika kau mau kembali bekerja di JinHan. Ah, tapi dia belum tahu bagaimana hubunganmu sebelumnya dengan Kwajangnim disana bukan?”

“Dia akan tahu. Paman tak perlu khawatir,” sahutku. “Aku berniat memberitahu Eomma apa yang aku inginkan dan dimana aku bekerja sebelumnya selama di Seoul” lanjutku dengan suara penuh keyakinan.

“Kau yakin akan melakukan itu? Eomma-mu pasti akan sangat terkejut jika dia tahu kau sudah pernah bertemu dengan Appa dan Oppa-mu bahkan sebelum dia memberitahumu cerita sebenarnya tentang keluargamu”

Aku tersenyum tipis, tapi berusaha untuk menyembunyikannya dari Samchon. Dia pasti juga akan terkejut jika tahu bahwa aku dan Eomma sama-sama sudah bertemu dengan Appa dan Kyuhyun. Meskipun pertemuan itu singkat dan tidak sengaja, tapi pada akhirnya semua keluargaku tahu siapa anggota keluarga kami sebenarnya. Termasuk Kyuhyun yang pada akhirnya tahu jika aku adalah dongsaeng-nya.

“Kau masih menyembunyikan identitasmu dari Appa dan Oppa-mu bukan?” tanya Shim Samchon lagi yang sepertinya tak kehabisan kata-kata untuk terus memojokkanku. “Paman penasaran melihat ekspresi mereka saat melihatmu mulai bekerja di JinHan dan memperkenalkanmu kepada direksi siapa kau sebenarnya”

“Pasti akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuk JinHan,” gumamku tanpa mengalihkan pandanganku dari Samchon. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Apa paman sudah selesai membicarakan tentang JinHan denganku?” tanyaku berusaha keras untuk tetap bersikap sopan.

“Kenapa? Kau ingin mendengar lebih banyak hal tentang JinHan yang selama ini tidak kau ketahui?”

Aku menggelengkan kepala dengan perlahan, “Tidak. Aku ingin kembali ke kamar karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan,” kataku. “Jika memang tak ada yang ingin paman diskusikan lagi denganku, bolehkah aku kembali ke kamar?”

Shim Samchon menatapku lekat-lekat, seperti sedang mencari sesuatu tapi kemudian seutas senyuman tersungging di wajahnya. “Kembalilah ke kamarmu. Paman berharap kau juga akan memikirkan dengan baik semua yang paman katakan tadi. Arraseo?”

Arraseyo,” jawabku. Lalu aku membungkukkan badan singkat dan bergegas kembali ke kamarku.

Aku membuka pintu kamarku, lalu masuk dan menguncinya kembali. Aku langsung melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur sambil menghela napas panjang. Apa yang sebenarnya ingin Shim Samchon lakukan pada JinHan masih belum aku ketahui. Tapi mendengarnya berbicara seperti tadi, haruskah aku kembali bekerja di JinHan? Akupun sudah bertemu dengan Appa, dan bukankah Kyuhyun juga sudah mengetahui jika aku adalah dongsaeng-nya?

Ah! Benar, Kyuhyun!

Kepalaku mendadak pusing karena memikirkan itu. Mataku terpejam sambil memijit-mijit pelipisku. Pikiranku kembali teringat pada pertemuanku dengan Kyuhyun kemarin. Aku benar-benar tak bisa menghilangkan bagaimana ekspresinya saat itu.

Bagaimana aku akan menjelaskan padanya jika seadainya aku bertemu lagi dengannya? Dia bahkan terlihat tidak percaya saat melihatku bersama Eomma kemarin dan pergi meninggalkanku begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku. Aku hanya bisa berharap dia mau menerimaku sebagai dongsaeng-nya. Seperti yang Changmin katakan, itu akan sulit baginya dan itupun sulit bagiku bahkan sampai sekarang. Tapi mau bagaimana lagi jika memang kenyaatannya begitu?

€–

Normal POV

Kyuhyun masuk ke sebuah bar di kawasan Itaewon dengan langkah tak beraturan. Penampilannya sangat berbeda dengan penampilannya sebelumnya. Kali ini lebih terkesan berantakan. Selama lebih dari tiga hari ini dia memang tak memedulikan penampilannya. Bahkan dia sama sekali belum melihatnya sendiri bagaimana bentuk wajahnya sekarang. Penampilan bukanlah sesuatu yang ada di dalam pikirannya untuk saat ini. Dia bersikap seolah tidak menyadari apa-apa, lalu menggaet sebuah kursi dengan kakinya dan duduk dengan kedua siku naik ke meja bar.

Tanpa pikir panjang, Kyuhyun memesan sesloki wiski dan menenggaknya dengan satu gerak kecil pergelangan tangannya. Matanya mengarah ke setiap sudut bar, lalu kembali menuangkan wiski ke dalam gelasnya yang kosong. Kyuhyun berpikir, apa orang-orang yang datang ke sini sedang memiliki masalah besar sepertinya atau hanya datang untuk sekedar bersenang-senang? Tapi melihat bagaimana mereka tertawa, dia yakin mereka datang hanya untuk bersenang-senang.

“Jadi bisa aku simpulkan-” kata Kyuhyun sambil menumpukkan siku di meja bar. “-kau tak akan menyuguhkan Start The Future disini. Takut pemerintah akan menutup tempat ini?”

“Sebenarnya-“ kata seorang namja yang duduk persis disebelah Kyuhyun, “-kami tak menyuguhkan Start The Future karena bir itu rasanya lebih pahit daripada bir-bir lainnya”

Kyuhyun mengalihkan tatapan matanya pada namja disebelahnya, lalu tersenyum mengejek. Sejujurnya dia sendiri pun tak pernah mencoba meminum bir Start The Future itu dan tak tahu bagaimana rasanya. Tapi baginya semua rasa bir itu sama, pahit dan panas di tenggorokan.

“Dan kau sendiri minum apa?” tanya Kyuhyun sambil mencondongkan badannya begitu dekat dengan namja itu sehingga terkesan seperti ejekkan. “Sedikit minuman untuk menghilangkan sakit kepala karena… yah, single

“Apa maksudmu?”

“Lee Dong Geun” kata seorang yeoja yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. “Hajima,”

Namja bernama Lee Dong Geun mengabaikan yeoja itu, “Ya! Katakan sekali lagi!”

“Bukankah sudah jelas?” Mata Kyuhyun hanya sekilas memandang si yeoja, lalu kembali menatap Lee Dong Geun. “Aku rasa kau tak mau menceritakan apa yang terjadi padamu dan dia dan juga namja disebelahnya lagi. Kau tahu kau ini seorang-“ Kyuhyun memajukan badan dan mengatakan sesuatu kepada Lee Dong Geun dengan sangat pelan sampai tidak terdengar oleh siapapun. Tahu-tahu detik berikutnya Lee Dong Geun melayangkan tinjunya dan mengenai wajah Kyuhyun. Membuatnya terjatuh dari kursinya.

Seorang namja lain dengan pakaian bartender lengkap-nya bergegas keluar dari balik meja bar. Tangannya yang besar langsung mengcengkram kaus Lee Dong Geun, sebelum si yeoja sempat mengedipkan mata. “Geumhae,” kata namja itu. “Dong Geun-ah, bagaimana jika kau ke belakang dan mengambil beberapa persediaan minuman kita di gudang?”

Lee Dong Geun berkelit dalam cengkraman namja itu. “Ke belakang? Apa kau dengar dia-“

“Aku dengar,” kata suara namja bartender itu rendah. “Jangan membuat keributan apapun di bar-ku. Kau bisa membuat pelanggan kita pergi karena ketidaknyamanan ini,”

Lee Dong Geun menyumpah dan melepaskan diri dari sang bartender. Dia berjalan kesal ke arah pintu lain bar dengan bahu kaku karena marah. Pintu itu berdebam terbanting di belakangnya begitu dia menghilang entah kemana.

Kyuhyun tersenyum tipis, lalu menatap si bartender dengan muka sebal. “Seharusnya kau tak perlu ikut campur. Aku bisa menanganinya sendiri”

Bartender itu memandang Kyuhyun, “Sebenarnya aku tak peduli padamu. Bar-ku inilah yang aku khawatirkan,” katanya. “Sebaiknya kau bawa urusanmu ke tempat lain, jika kau tak ingin mendapat masalah”

“Masalah selalu ada disekitarku. Kenapa aku harus pergi jika aku hanya akan mendapatkan masalah yang sama di tempat yang lain?” jawab Kyuhyun sambil duduk kembali di bangkunya. “Lagipula aku belum sempat menghabiskan minumanku,” Dia menambahkan.

“Menurutku sudah,” sahut yeoja yang sedari tadi hanya menatap Kyuhyun dengan ekspresi keheranannya. “Jun Yong Oppa, berikan aku satu gelas lagi”

Namja bernama Jun Young menyondorkan segelas cairan berwarna kekuningan terang ke arah yeoja yang memesannya. “Silahkan,” kata Jun Young. “Kau bisa mencampurnya dengan yang lain jika kau mau, Min Jung-ah

Oppa,Yeoja bernama Min Jung itu memulai, tapi tak bisa menyelesaikannya. Pintu samping bar tiba-tiba terayun membuka dan Lee Dong Geun berdiri disana, di ambang pintu. Sesaat kemudian, Min Jung menyadari bahwa tangan Dong Geun mengeluarkan cairan berwarna merah. Min Jung turun dari bangkunya dan berlari menghampiri Dong Geun, “Dong Geun-ah, apa yang terjadi? Kenapa tanganmu berdarh?” tanyanya dengan nada khawatir.

Dong Geun sempat melirik ke arah Jun Young, lalu Kyuhyun sebelum menjawab. “Hanya meluapkan emosi, tak usah khawatir. Gwenchana~

“Kemarilah, biar aku bersihkan lukamu” Tanpa ragu yeoja bernama Min Jung menarik tangan Dong Geun dan membawanya ke balik meja bar.

Kyuhyun yang melihat itu semua hanya bisa mengeluarkan tawa tertahan. Dia tahu Dong Geun hanya mencari perhatian Min Jung, yeoja yang disukainya. Entah karena Kyuhyun pernah berada di posisi yang sama atau dia mulai bisa membaca tatapan dan ekspresi seseorang. Tapi semuanya terlihat begitu jelas di mata Kyuhyun meskipun dia baru mengenal orang-orang ini.

“Kau sepertinya tak begitu tertarik dengan apa yang dilakukan dua orang itu di balik mejamu, Jun Young-ssi. Tapi… oh~ lihatlah, wajahmu memerah” kata Kyuhyun sebelum meneguk kembali minumannya. “Dia memang pintar mencari perhatian, eh” tambahnya merasa puas berhasil memancing Jun Young.

“Apa masalahmu?”

“Jika aku menjadi kau, Jun Young-ssi. Aku tak akan pernah membiarkan yeoja yang aku sukai dekat-dekat dengan namja yang menyukainya. Perasaan seseorang mudah berubah-ubah, jadi sebaiknya kau-“

Belum selesai Kyuhyun berbicara, tinju Jun Young melayang ke arahnya. Meskipun sebenarnya Kyuhyun mampu menghindarinya, tapi dia memilih untuk tidak bergerak. Bahkan dia terus membiarkan Jun Young memukulinya sampai akhirnya seseorang menjauhkan mereka berdua. Kyuhyun sempat melihat orang itu mendorong Jun Young ke meja bar, mengakibatkan beberapa gelas terjatuh dari meja dan pecah berkeping-keping.

Ya! Ireona~

Kyuhyun menatap orang yang berbicara padanya dengan kesadarannya yang tinggal setengah. Matanya menyipit menatap Changmin yang berusaha menariknya untuk bangun. Meskipun wajahnya berdarah-darah, tetapi Kyuhyun tidak terlihat seperti orang yang perlu diselamatkan. Dia bahkan memamerkan senyum singkatnya sambil menepuk-nepuk dada Changmin yang bidang.

“Apa kau datang ke sini untuk memancing perkelahian, Kyuhyun-ah?” tanya Changmin dengan wajah khawatir tapi juga tegas.

Kyuhyun tersenyum, lalu meregang bibirnya yang sobek sehingga darah menitil menuruni dagunya. “Changmin-ah, bagaimana kau bisa tahu aku disini?”

Changmin hanya menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Jun Young, lalu Dong Geun dan Min Jung. Seketika alisnya terangkat saat matanya menangkap sosok Min Jung. Dia merasa tidak asing dengan yeoja itu, tapi terlalu ragu untuk menyapanya terlebih dahulu. Changmin berusaha mengabaikanya dan kembali mengarahkan perhatian pada Kyuhyun yang terlihat mabuk berat.

“Kau… Shim Changmin kan?” Yeoja itu tiba-tiba bersuara saat Changmin baru akan meletakkan tangan Kyuhyun di bahunya. “Oh, sepertinya aku benar. Kau, Shim Changmin”

Changmin mendudukkan kembali Kyuhyun di kursinya dengan perlahan sebelum menanggapi perkataan Min Jung. “Majayo, naneun Shim Changmin. Kau, Park Min Jung?”

Eo, majayo. Kau masih ingat padaku?”

“Tentu saja, kau selalu membantuku selama aku bersekolah disini. Aku tak akan melupakanmu, Min Jung-ah” sahut Changmin senang karena bisa bertemu kembali dengan teman lamanya. “Omong-omong, kenapa kau berada di tempat seperti ini?”

Min Jung melirik ke arah Jun Young sesaat, lalu kembali menatap Changmin. “Aku bekerja disini. Ah, perkenalkan… ini Lee Dong Geun, dia juga bekerja disini dan itu adalah Kang Jun Young, pemilik bar ini” katanya memperkenalkan dua orang yang sempat memukul Kyuhyun.

Changmin menyambut uluran tangan Jun Young dan Dong Geun. “Maafkan sikap sepupuku ini, Jun Young-ssi, Dong Geun-ssi

Ah, dia sepupumu?” sahut Dong Geun sedikit tidak percaya. “Yah, sebenarnya aku tak suka mengatakan ini, tapi sepupumu itu benar-benar tidak sopan”

“Dia biasanya tak pernah minum sampai semabuk ini, jadi tolong maafkan dia. Aku akan mengganti semua peralatan yang rusak,” kata Changmin cepat-cepat. “Park Min Jung, aku meminta tolong padamu untuk menuliskan semua barang-barang yang rusak. Bisakah kau membantuku?”

Min Jung kembali melirik Jun Young yang menganggukkan kepalanya. Meskipun dia tak begitu menyukai Kyuhyun, tapi Changmin membuatnya bisa bersikap lebih tenang. Tapi mungkin jika Min Jung tidak mengenal Changmin, dia pasti akan membalas perbuatan Changmin karena mendorongnya. Sayangnya, sepertinya Min Jung dan Changmin sudah saling mengenal begitu lama. Jadi dia memilih untuk diam di tempatnya sambil melayani beberapa pelanggan yang merasa tidak terganggu dengan keributan yang sedang terjadi.

“Aku harus membawanya pergi kalau begitu” kata Changmin lagi sambil bersiap untuk menarik Kyuhyun. “Dong Geun-ssi, bolehkah aku meminta tolong padamu juga?”

“Biar aku saja yang melakukannya” sahut Jun Young sebelum Dong Geun sempat menjawab. “Dong Geun-ah, gantikan aku sebentar” katanya bergegas keluar dari meja bar.

Dengan bantuan Jun Young, Changmin pun berhasil membawa Kyuhyun ke dalam mobilnya. Dia sempat kembali ke dalam bar untuk mengambil catatan Min Jung dan kembali menemui Kyuhyun yang terkulai lemas di kursi mobil karena mabuk. Tapi baru saja Changmin menyalakan mesin mobilnya, Kyuhyun bergerak dari posisi duduknya dan menatap Changmin dengan mata setengah tertutup.

“Kau mau membawaku kemana, Changmin-ah?” kata Kyuhyun. “Aku tak ingin pergi kemanapun dan biarkan aku tetap disini”

Ya! Apa kau tak tahu bagaimana kacaunya kau saat ini?” bentak Changmin. “Kau lupa, kau adalah pewaris JinHan Group. Bagaimana jika orang-orang JinHan tahu apa yang kau lakukan?”

Kyuhyun tertawa pelan, “Aku tak peduli,”

“Kyuhyun-ah, aku memang belum tahu kenapa kau tiba-tiba menghilang dan bersikap seperti ini. Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku padamu? Kau, proyek kita, kau ini benar-benar tak-“

“Jika kau mengkhawatirkanku karena proyek itu, berikan saja pada Sooyoung. Aku yakin dia pasti bisa menyelesaikannya” potong Kyuhyun masih setengah terpejam.

“Sooyoung?”

Eo, nae dongsaeng

Changmin menoleh ke arah Kyuhyun dengan cepat dengan mata terbelalak. Bagaimana Kyuhyun pada akhirnya bisa tahu? Apa karena itu dia berubah menjadi kacau seperti ini? Changmin menghela napas panjang, lalu melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Itaewon tanpa banyak bicara lagi. Dia akan membawa Kyuhyun kembali ke rumahnya karena lebih baik sekarang Kyuhyun beristirahat dan memperbaiki penampilannya yang kacau.

“Dia dongsaeng-ku, aigoo~” gumam Kyuhyun tiba-tiba. “Yeoja yang aku cintai adalah dongsaeng-ku sendiri. Oh, aku benar-benar sial… aigoo~”

Changmin kembali menolehkan kepala di sela-sela menyetirnya. Dia menatap Kyuhyun dengan rasa iba, tapi memilih untuk tetap diam. Changmin merasa ada sebuah rahasia besar mengenai keluarga Kyuhyun yang belum diketahui oleh baik Sooyoung maupun Kyuhyun sendiri. Meskipun sedikit demi sedikit rahasia itu akan terbuka pada akhirnya, tetapi yang menjadi masalah sekarang adalah sanggupkah mereka melewati itu semua?

€–

Sooyoung POV

“Apa yang ingin kau tonton hari ini?” tanya Kris sambil duduk disampingku dan memberikan beberapa DVD kepadaku. “Aku rasa masih ada beberapa film romantis yang belum pernah kita tonton. Ini, misalnya. Kita belum pernah menonton ini bukan?”

Sketch?”

Kris menganggukkan kepala. “Kau yang membeli ini. Tapi kita tak pernah menontonnya karena emm… sibuk,”

“Kau yakin ingin menonton film ini?” tanyaku setelah membaca sinopsis film yang Kris berikan padaku. “Film ini bergenre melodrama. Biasanya kau menolak film-film bergenre seperti ini karena takut aku menemukanmu sedang menangis”

Ya! Kapan aku menangis karena sebuah film?” sahut Kris tidak terima. “Kau yang selalu menangis jika ada adegan menangis di setiap film yang kita tonton. Ah, aku ingat. Kau bahkan membuat bajuku basah karena sudah tak ada tisu lagi,”

Aku tertawa kecil, lalu memberikan DVD itu kembali pada Kris sambil mengingat beberapa momen saat aku masih memiliki banyak waktu bersamanya di Daejeon. Aku memperhatikan Kris dan entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedih serta bersalah. Kris adalah satu-satunya orang yang selalu bersamaku dan selalu membantuku setiap kali aku kesulitan. Tapi apa yang aku lakukan untuknya?

“Kris,” Aku memulai.

“Sekarang ini aku mulai menyukai film-film bergenre romantis. Aku pikir itu film-film romantis itu akan membosankan, jadi aku tak terlalu memperhatikannya saat kita menonton bersama,” kata Kris ceria. “Aku tak pernah tahu jika film bergenre romantis itu juga bagus”

Aku tertawa tepat saat ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari atas meja dan menatap nama yang tertera di layar. Ternyata telepon dari Changmin. Tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung menjawab panggilan telepon itu.

Yeobeoseyo, Oppa-“ sapaku.

“Sooyoung-ah, eodiseo?” tanya Changmin dengan suara yang terdengar tergesa-gesa.

Keningku berkerut, lalu melirik Kris yang juga sedang memandangku dengan tatapan tajam. “Di Apartemen, emm… Kris” kataku merendahkan suara. “Waegeuraeyo?”

“Kau sedang tidak sibuk kan disana?” Changmin bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya. “Bisakah aku meminta tolong padamu, Sooyoung-ah?”

“Tentu saja, Oppa. Aku akan senang sekali jika bisa membantumu”

Changmin diam sesaat. Aku mendengarnya menghela napas panjang dan itu membuatku berpikir jika sedang terjadi sesuatu padanya. Apa Shim Samchon membuat masalah lagi dengan proyek yang sedang dikerjakan JinHan dan Quintrix itu? Bukankah terakhir kali Changmin bercerita tentang kekesalannya pada Shim Samchon padaku karena masalah itu?

“Aku rasa sebaiknya kau ke sini saja, Sooyoung-ah. Kau akan tahu sendiri,” kata Changmin pada akhirnya. “Mianhaeyo. Aku benar-benar mengharapkan bantuanmu untuk ini, meskipun aku tahu yah… mungkin kau akan menolaknya”

Oppa eodiseoyo?” tanyaku berusaha untuk tidak mengecewakan Changmin.

“Di rumah Kyuhyun,”

Aku diam tak bergerak di tempatku. Di rumah Kyuhyun? Mataku setengah terpejam membayangkan rumah itu. Kenapa juga Changmin memintaku untuk datang ke sana? Aku bahkan belum bercerita apapun tentang pertemuanku dengan Kyuhyun padanya. Lalu kenapa dia justru memintaku untuk ke rumah Kyuhyun? Apa mungkin Kyuhyun sudah menceritakannya pada Changmin, karena itulah Changmin memintaku untuk datang. Bukankah pertemuanku dengan Kyuhyun terakhir kali itu benar-benar sesuatu yang mengejutkan? Mungkin Changmin ingin membantuku menjelaskannya pada Kyuhyun.

“Sooyoung-ah?” kata Changmin lagi. “Gwenchana jika kau memang tak bisa datang. Arraseo-“

Aku segera memotong perkataan Changmin, “Aniyo, Oppa” kataku. “Aku… aku akan datang ke sana,” Aku melanjutkan dengan suara yang sangat pelan.

“Tidak apa-apa jika kau memang tak menginginkannya. Aku hanya tak tahu pada siapa lagi aku meminta tolong selain padamu, Sooyoung-ah

Aku menarik napas singkat, lalu menjawab. “Gwenchanyo, Oppa. Aku akan selalu membantu Oppa seperti Oppa membantuku selama ini,” kataku berusaha mengabaikan perasaan tidak menyenangkan karena membayangkan pertemuan dengan Kyuhyun.

“Baiklah. Aku akan menunggumu disini, eo?” Changmin berkata lagi, seperti memastikan jika aku benar-benar akan datang.

Eo,”

Gomawo, Choi Sooyoung” kata Changmin sebelum menutup sambungan teleponnya.

Aku menghela napas panjang begitu sambungan telepon terputus, lalu menoleh pada Kris yang sedang menatapku dengan alis terangkat. “Siapa yang telepon?” tanyanya ingin tahu.

“Changmin Oppa,” jawabku singkat.

“Apa yang dia inginkan?” Kris masih tak mau menyerah untuk tahu.

“Dia ingin aku datang menemuinya dan aku harus pergi ke sana” jawabku sambil berdiri dari dudukku dengan sedikit berat. Aku terus membayangkan bagaimana saat aku bertemu dengan Kyuhyun lagi nanti. Apa itu akan sama seperti beberapa hari yang lalu? Atau sedikit berbeda karena ada Changmin yang sepertinya akan membantuku dalam hal ini? Aku tak mau membayangkan itu semua, tapi kenapa aku justru terus memikirkannya?

“… kau ikut?” Suara Kris sayup-sayup kembali terdengar di telingaku. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata dia juga sudah beranjak dari tempatnya. “Menurutmu bagaimana, Sooyoung-ah?”

Aku membuka mulut, lalu cepat-cepat menutupnya kembal. “Hmm…”

Kris menghela napas panjang, “Kau sama sekali tak mendengarkan satu kata pun yang aku katakan selama dua menit terakhir ini, kan?” katanya terdengar pasrah.

Aniyo,” kataku mengaku. “Aku sedang memikirkan Changmin Oppa dan emm… Kyuhyun Oppa. Sepertinya mereka sedang kacau, jadi yah… mianhae

Mata Kris menyipit, “Aku tebak kau akan cepat-cepat pergi untuk membantu mereka bukan?”

“Changmin Oppa memintaku untuk datang,” kataku. “Aku tak bisa menolak permintannya karena dia adalah satu-satunya orang yang aku percaya selama di Seoul, selain kau tentu saja”

“Tapi bagaimana dengan Oppa-mu? Maksudku… apa tidak apa-apa jika kalian bertemu lagi? Bukankah dia pergi begitu saja saat terakhir kali bertemu denganmu? Dan apa yang dia katakan saat itu?” Kris terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu. Tapi sebelum aku bersuara, dia kembali berbicara. “Ah, dia memintamu untuk tidak mengatakan apa-apa kan?”

“Memang,” jawabku sambil menundukkan kepala. “Mungkin Changmin Oppa sudah berbicara pada Kyuhyun Oppa dan dia ingin membantuku dalam hal ini. Entahlah, Kris. Sebenarnya aku tak mau datang, tapi aku benar-benar tak bisa menolak permintaan Changmin Oppa

Kris kembali menghela napas tanpa mengatakan apa-apa.

“Aku harus pergi,” kataku lagi sambil mengambil tas ku yang aku letakkan tak jauh dari sofa. “Mianhae Kris, kita pasti akan menonton film itu lain kali”

Kris menatapku lama, sebelum dia melangkah menghampiriku. “Kau mau aku ikut?”

Aku diam sesaat. Sempat terpikir olehku untuk mengajak Kris, karena bersamanya aku akan memiliki perlindungan jika seandainya Kyuhyun masih bersikap sama seperti beberapa hari yang lalu. Tapi bukankah aku sudah memiliki Changmin? Dia juga pasti akan melindungiku kan? Tidak hanya Kyuhyun, menerimanya sebagai Oppa-ku juga sesuatu yang sulit bagiku dan sampai sekarang pun setengah hatiku masih berharap ini bukanlah kenyatannya.

“Aku akan ikut jika kau menginginkannya,” Suara Kris kembali terdengar. Menyadarkanku dari lamunan singkatku.

“Tidak, Kris. Aku rasa lebih baik kau tidak ikut kali ini,” jawabku pada akhirnya. “Aku… emm, ingin menyelesaikannya ini sendiri”

“Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu?”

“Changmin Oppa pasti akan membantuku. Dia juga sepupu Kyuhyun Oppa dan dia pasti tak mau terjadi sesuatu pada saudaranya kan?” jawabku sambil memakai kembali sweater-ku. “Kau tenang saja, tak akan terjadi sesuatu” Aku menambahkan.

Kris terlihat tidak yakin, tapi kemudian dia menganggukkan kepala. Dia mengantarku keluar dari Apartemen dan bahkan menungguku sampai mendapatkan taksi. Saat aku meninggalkan Kris, aku masih sempat melihat wajah kecewanya di kejauhan. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Berapa banyak lagi aku harus melihat ekspresi seperti itu di wajah Kris? Haruskah aku menerimanya lebih dari seorang sahabat agar aku tak pernah melihat wajah kecewa itu lagi?

**

Saat aku sampai di depan rumah Kyuhyun, entah kenapa jantungku berdegup dengan kencang. Terakhir kali aku datang ke sini adalah karena ketidaksengajaan dan aku bertemu Appa saat itu. Aku tak pernah menyangka aku akan datang lagi ke sini dalam waktu dekat ini. Mataku terpejam sambil berusaha menghilangkan debaran jantungku sebelum akhirnya melangkah masuk melalui pintu gerbang rumah Kyuhyun. Lalu dengan perlahan aku mengetuk pintu depannya dan menunggu seseorang membukakan pintu.

“Oh, Sooyoung aghassi. Silahkan masuk,” kata Ahjumma yang sangat ramah padaku setiap kali aku datang ke rumah ini. “Sudah lama sekali rasanya Ahjumma tak melihatmu, aghassi

Aku tersenyum tipis, “Sekarang Ahjumma melihatku lagi kan?”

Ahjumma mengangguk, lalu dia menutup pintunya dan berjalan mengikuti masuk ke dalam rumah yang sebenarnya sudah aku kenali ini. Tak ada yang berubah dari rumah ini dan masih terkesan sepi seperti biasanya. Meskipun rasa kerinduanku akan rumah ini sedikit terobati begitu aku memasukinya, tapi tetap saja aku tak terlalu senang.

“Sepertinya Kyuhyun masih beristirahat di kamarnya. Ahjumma tak melihatnya keluar kamar lagi sejak tuan muda Changmin mengantarnya pulag semalam” kata Ahjumma lagi. “Apa Aghassi mau Ahjumma membangunkan Kyuhyun?”

Aku menggelengkan kepala dengan cepat, “Aniyo, Ahjumma. Aku… hmm, datang… emm, karena Changmin Oppa yang memintaku datang ke sini” kataku. “Jadi, aku tak mau jika-“

Oh, wasseo Sooyoung-ah” suara Changmin tiba-tiba terdengar dari arah tangga. “Kemarilah, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu”

Aku mengangguk mengerti dan bergegas menghampiri Changmin.

Gomawoyo Ahjumma,” seru Changmin pada Ahjumma yang menatapku dengan bingung. “Aku akan mengambil makanannya setelah aku berbicara pada Sooyoung” katanya lagi.

Changmin langsung menarikku masuk ke dalam kamar Kyuhyun begitu selesai berkata pada Ahjumma. Kamar Kyuhyun pun tak berubah sejak terakhir kali aku masuk ke sini. Semuanya masih tertata dengan sangat rapi. Hanya saja perbedaannya adalah di tempat tidur itu berbaring Kyuhyun yang terlihat sangat tidak berdaya. Mataku membelalak menatap Kyuhyun. Apa sesuatu terjadi padanya?

“Dia belum bangun sejak semalam,” kata Changmin memberitahuku.

“Apa yang terjadi?” kataku sambil menatap wajah Kyuhyun yang penuh dengan luka. “Apa dia berkelahi?”

Changmin mengangguk. “Sepertinya dia yang memancing perkelahian. Dia tak pernah minum sampai mabuk sebelumnya dan itulah yang terjadi,”

Aku tak tahu apa yang aku rasakan sekarang saat melihat Kyuhyun. Terbayang olehku saat Kyuhyun minum sampai mabuk dan memancing perkelahian entah dengan siapa. Melihat wajahnya aku bisa tahu dia tidak hanya dipukuli satu kali, tapi dua kali atau mungkin lebih. Entahlah, aku tak mau memikirkannya karena itu benar-benar membuat perutku mual.

“Sooyoung-ah, maukah kau menjaga Kyuhyun sebentar?” kata Changmin memecah keheningan yang sempat datang beberapa saat. “Aku harus pergi bekerja dan menyelesaikan masalah dengan Quintrix itu karena Kyuhyun meninggalkannya selama beberapa hari”

“A-Aku? Sendirian?”

Changmin mengangguk pelan.

“Tapi Oppa, kau tahu aku dan Kyuhyun Oppa… bagaimana aku harus mengatakan ini padamu?” kataku bingung.

“Aku tahu Kyuhyun sudah mengetahui tentang kau adalah dongsaeng-nya meskipun aku masih belum tahu bagaimana detail-nya. Dia mengatakannya saat mabuk dan itu cukup membuatku terkejut” timpal Changmin. “Apa kau tahu dia menghilang beberapa hari sebelum aku menemukannya sedang mabuk-mabukkan di sebuah bar?”

Aku menggelengkan kepala, lalu menunduk. “Mianhaeyo karena aku belum memberitahumu tentang pertemuanku dengan Kyuhyun Oppa beberapa hari yang lalu,”

“Itu tidak menjadi masalah, Sooyoung-ah. Aku hanya tak pernah menyangka kalian akan bertemu secepat itu dan Kyuhyun menjadi seperti sekarang ini,” kata Changmin sambil menghela napas singkat. “Dia pasti sangat terkejut, dan kau pun juga. Aku bisa membayangkan itu,”

Aku diam saja.

“Sebenarnya aku ingin tetap disini karena aku benar-benar ingin tahu bagaimana Kyuhyun setelah dia bertemu denganmu dan mengetahui bahwa kau adalah dongsaeng-nya. Aku pernah mendengarnya dari sisimu dan aku ingin mendengar dari sisi Kyuhyun-” kata Changmin melanjutkan. “-dengan begitu aku akan bisa memposisikan diriku di antara kalian karena aku benar-benar ingin kalian baik-baik saja. Kalian adalah saudaraku, jadi sudah menjadi keharusan bagiku untuk membantu kalian”

“Aku-“

“Kau hanya perlu tinggal di sini untuk beberapa saat sampai aku menyelesaikan beberapa urusan yang ditinggalkan Kyuhyun. Aku akan segera kembali ke sini dan kau bisa pergi jika kau memang tak mau berlama-lama disini” Changmin memotong perkataanku. “Aku sudah terlalu banyak merepotkan Ahjumma dan dia pun memiliki banyak pekerjaan jadi tak mungkin dia terus mengawasi Kyuhyun”

“Bagaimana dengan Sajangnim? Maksudku A-Appa

Sajangnim masih mengurus pekerjaannya di luar negeri, jadi jangan khawatir dia tak akan di sini selama beberapa hari lagi” jawab Changmin sambil mengambil jaketnya dan memakainya. “Kau hanya perlu disini sebentar saja karena aku tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa selain kau, dongsaeng-nya”

Aku kembali menghela napas, lalu memejamkan mata. “Baiklah, aku akan disini-” kataku. “-sebentar” lanjutku.

Changmin tersenyum, “Jangan khawatir, aku akan segera kembali ke sini. Aku hanya akan memastikan Quintrix sudah mendapatkan proposal baru dari kami dan Abeoji tak ikut campur lagi dalam hal ini”

Aku menganggukkan kepala.

Changmin melangkah mendekatiku dan memegang bahuku sebelum dia pergi. Sekarang, berada dengan Kyuhyun sendirian di kamar membuatku tak bisa menghentikan pikiranku tentang saat-saat dia masih menjadi namjachingu-ku. Mungkin seandainya masa-masa itu masih ada, aku akan dengan senang hati menemainya dan merawatnya bahkan saat dia mendapatkan luka ringan sekalipun. Tapi sekarang, aku hanya bisa diam dan memandanginya sambil menahan diriku untuk tidak menyentuhnya.

Lalu bagaimana jika dia bangun saat aku masih berada disini?

Apa yang harus aku lakukan?

-TBC-

Eotte?

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di ff ini..

kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

gomawo #bow

41 thoughts on “[Series] Stuck In Love -16-

  1. bener bener nyesek pas kyu tau sooyoung itu dongsaeng nya
    pasti sakit banget pas tau orang yang dia cintai itu sodaranya

    tapi apa kyuyoung bakal bersatu?
    semoga mereka bersatu lagi
    ditunggu next part nya ..

  2. Shanty Lee says:

    Benar-benar nguras airmata di part ini, bener” nyesek liat kyu oppa begitu terpukulnya begitu tahu orang yg sangat dia cintai adalah adiknya sendiri … T___T

  3. Knapa Eomma.A Syoo tdk mau mengakui Kyu itu ank.A..??! Kek.A ada sesuatu yg d.smbunyikan dri eomma Syoo..Lgii sbner.A apa seeh motif k.jhatan appa.A changmin..???!!

  4. farida_salma says:

    makin complicated aja hubungan mereka
    daebak

    semoga kyuppa bukan oppa kandungnya soo

    next part ditunggu🙂

  5. met says:

    Uwahhh makin penasaran aj nih sma nextnya >,< pengen tau bgt sbnrnya kyu itu choi woo young ato bkn
    Nextnya cpt ne😀

  6. akhirnya udh saling tau & itu *jder* bikin makin rumit. tinggal ungkapin kebenaran misteri yg ada diantara keluarga besar ini -__-” msh bnyk hal2 yg janggal

  7. February soo says:

    Hueeee kasian kyu :”” akhirnya dia tau kalo soo adiknya. Tp kok bagi aku kyuhyun kurang nunjukin kalo dia bener beber stress ya? Feelnya juga kurang dapet entah kenapa… next part ditunggu secepatnya ne

  8. kenapa eomma soo kaya gitu pas ketemu kyuhyun. kasian kyuhyun nya ga dianggep sama ibunya sendiri. lanjut ya thor. part ini kurang panjang hehe. next part lebih panjang ya

  9. dina says:

    Knp nyonya choi mengakatakan kalau Choi Wooyoung sdh meninggal? Dan knp nyonya choi sperti tidak suka ketika Kyu mengungkap jati dirinya?
    Jika Kyu bukan Choi Wooyoung, lalu Kyu sebnrnya siapa? apakah benar2 anak angkat? atau apa?
    Next part, smoga rahasia besar itu terungkap.
    Semangat!

  10. anthy says:

    Daebak thor… dilanjut lagi yach… penasaran.. apakah sooyoung benar2 dongsaeng kyuppa atow cuma karangan appa mereka yach???

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s