[SERIES] Stuck In Love -18-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@occy_gg)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

Masih pada inget cerita sebelumnya gg? Masih dong ya. Kalau lupa silahkan buka part sebelumnya aja >.< mian

Maaf banget knigts karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

 

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Kyuhyun Oppa, kau tidak marah pada Eomma kan?” tanyaku memastikan setelah aku selesai memberitahunya dan Changmin tentang cerita Eomma beberapa hari yang lalu. “M-Mianhaeyo. Aku tahu-“

“Kau tak perlu meminta maaf padaku,” potong Kyuhyun sebelum aku selesai berbicara. “Aku tahu kenapa Eomma belum mau menerimaku sebagai putranya. Apalagi setelah mendengar ceritamu, aku semakin mengerti. Eomma pasti masih terluka karena sikap Appa dulu,” katanya.

Aku diam saja.

“Tugasku lah agar Eomma mau menerimaku kembali,”

“Aku akan membantumu” kataku menyahut sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat. Sudah lama sekali rasanya aku tak melihat mata itu. Aku tersenyum tipis. Tapi saat menyadari Kris sedang memperhatikanku, cepat-cepat aku memalingkan wajah.

“Sooyoung-ah,” panggilan pelan Changmin mengembalikan perhatianku. “Apa bibi Young Ah mengatakan sesuatu yang lain tentang kecelakaan itu?” tanyanya lambat-lambat.

Aniyo,” jawabku sedikit menyesal. “Eomma tak menceritakan secara detail tentang kecelakaan itu, hanya garis besarnya saja”

Ahjumma pasti memiliki waktu yang sulit jika menceritakannya lebih jauh, Sooyoung-ah. Apalagi saat kecelakaan itu terjadi, yang dia tahu adalah dia kehilangan keluarganya” Kris ikut menyahut.

Aku membenarkan perkataan Kris dengan anggukkan kepala, sementara Kyuhyun dan Changmin hanya saling menatap satu sama lain. Untuk beberapa saat aku merasa bersalah pada Kris karena mengajaknya datang ke sini. Aku tahu hubungannya dengan Kyuhyun dan Changmin tidak begitu baik, tapi aku justru memintanya untuk menemaniku. Tapi bukankah Kris bisa saja menolak ajakanku? Dia pasti melakukan ini untuk melindungiku dan aku benar-benar berterima kasih untuk itu.

“Kyuhyun-ah, gwenchana?” tanya Changmin tiba-tiba. Aku yakin sedang melamun sesaat langsung memusatkan perhatianku pada Kyuhyun yang sedang memegangi kepalanya. “Gwenchana? Neo, weirae?”

Aniya, aniya. Gwenchana

Aku menatap Kyuhyun cemas, “Oppa, gwenchanayo?” tanyaku. “Apa Oppa sedang sakit? Seharusnya Oppa tak usah datang jika memang sedang tidak enak badan” kataku merasa bersalah.

Kyuhyun menatapku, lalu dia tersenyum tipis. “Gwenchana, Sooyoung-ah. Kepalaku mendadak sakit setiap kali memikirkan kecelakaan yang kau sebutkan itu”

Waegeuraeyo?”

“Aneh sekali rasanya. Karena aku juga memimpikan kecelakaan itu beberapa saat sebelum aku datang ke sini,” jawab Kyuhyun sambil memijat-mijat pelipisnya. “Mungkin itulah yang menyebabkan kepalaku sakit seperti ini” katanya lagi.

Keningku berkerut tajam mendengar pengakuan Kyuhyun. Apa itu kebetulan dia memimpikannya dan kemudian aku menceritakannya seperti ini? Tapi dari dulu aku tak pernah percaya dengan apa yang disebut ‘kebetulan’ itu. Lalu apa ada sesuatu yang belum benar-benar aku ketahui?

Emm, oppa. Apakah A-Appa di Seoul?” tanyaku pelan. “Changmin Oppa memberitahuku jika Appa pergi ke luar negeri, lalu apa dia sudah kembali?” Aku menambahkan begitu melihat ekspresi Kyuhyun yang terkejut. Dia pasti bertanya-tanya bukan darimana aku mengetahui kabar itu sedangkan aku sama sekali tak pernah masuk ke JinHan lagi setelah memutuskan untuk keluar dari sana.

“Belum, dia masih belum kembali dari perjalanan bisnisnya. Appa berkata ada masalah yang harus dia selesaikan sebelum kembali ke Seoul,” jawab Kyuhyun dengan wajah gelisah. “Aku tak tahu kenapa akhir-akhir banyak terjadi masalah di JinHan. Ada orang-orang yang sepertinya ingin menjatuhkan JinHan untuk suatu alasan” katanya lagi.

Aku melirik Changmin yang saat itu sedang melamun dan sedikit bernapas lega karena dia tak mendengarkan perkataan Kyuhyun kali ini. Aku tahu Kyuhyun sedang menyinggung Shim Samchon, tapi biar bagaimanapun Changmin adalah anaknya. Kenapa Kyuhyun harus terang-terangan menyebutkan hal seperti itu di depan Changmin? Kyuhyun masih belum berubah tentang satu hal ini, tapi anehnya kenapa aku tersenyum dengan sendirinya?

“Oh, emm… omong-omong, apa kau berencana kembali ke JinHan, Sooyoung-ah? Aku akan senang sekali jika kau-“ Kyuhyun tiba-tiba tak melanjutkan perkataannya. Ekspresinya berubah dari antusias menjadi datar dengan cepat, seakan-akan dia sadar akan sesuatu yang sempat dia lupakan. Dia berdehem pelan, “Appa pasti akan memberikan satu posisi untukmu di JinHan jika kau kembali ke sana” katanya sebagai gantinya.

Aku menundukkan kepala dan menjawab, “Mollaseoyo. Aku tak berminat untuk kembali bekerja di JinHan”

“Lalu dimana kau akan bekerja?”

Aku menggelengkan kepala.

“Apa kau perlu bantuanku untuk mencarikanmu pekerjaan? Setidaknya ada sesuatu yang bisa kau lakukan atau ingin kau lakukan bukan?” Kyuhyun bertanya dengan penuh perhatian. “Aku kenal banyak orang besar disini dan Appa juga pasti akan membantumu. Ah, apa kau mau aku berbicara dengan Appa tentang hal ini?”

Aniyo, gwenchanayo,”

“Kau bisa bekerja bersamaku, Sooyoung-ah” Kris kembali menyambung pembicaraan. Aku menatapnya lekat-lekat, “Jika kau mau, tentu saja” tambahnya.

Kyuhyun mengangkat sepasang alisnya seraya melirik ke arah Kris. Dia menyunggingkan segaris senyum tipis lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku berusaha untuk sebiasa mungkin tidak menunjukkan ekspresi berlebihan, tapi tetap saja beberapa kali aku tak bisa menahan diriku untuk tersenyum saat menatap Kyuhyun. Aigoo, kenapa aku terus-terusan seperti ini pada Oppa-ku sendiri?

“Changmin-ah, kau ingin memesan sesuatu?” tanya Kyuhyun memecah keheningan yang sempat datang untuk beberapa saat. “Aku akan memanggil pelayan jika kau-“

Aniyo, dwaesseo” potong Changmin yang sudah kembali dari lamunannya. “Aku tak bernafsu untuk makan apapun kali ini. Aku… emm…” Dia terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.

Waeyo, Oppa? Apa ada masalah?”

Changmin tersenyum singkat ke arahku, lalu menghela napas panjang sebelum dia berbicara. “Aku hanya memikirkan Eommeoni. Entahlah kenapa tiba-tiba aku memikirkannya sedalam ini,”

Aku menatap Changmin lama, “Mianhaeyo, Oppa” kataku tak tahu harus mengatakan apa di depannya. Ini adalah salahku karena menyebutkan tentang kecelakaan yang dialami bibi Young Ae di depannya.

Gwenchana. Seharusnya aku memang tak terlalu memikirkannya karena kecelakaan itu pun sudah lama sekali terjadi” sahut Changmin sambil memegangi bahuku. “Aku hanya merindukan Eommeoni, itu saja” katanya lagi, kali ini ditambah dengan senyuman di wajahnya.

Aku diam tak menjawab.

Suasana kembali hening di antara kami berempat. Aku menghela napas panjang dan memilih untuk mengalihkan pandanganku ke seluruh kafe. Aku tak tahu kenapa aku memutuskan untuk bertemu dengan Kyuhyun di tempat ini. Hanya saja kafe inilah yang muncul pertama kali di kepalaku saat aku sedang memikirkan sebuah tempat untuk bertemu. Aku berharap Kyuhyun tidak salah paham mengenai lokasi ini karena aku dan dia seharusnya sudah tak memiliki perasaan apapun satu sama lain.

“Kau sudah selesai, Sooyoung-ah?” tanya Kris tiba-tiba. Kepalaku langsung menoleh ke arahnya, lalu menatapnya dengan pandangan tak mengerti. “Ah, aku ingin kau menemaniku pergi ke suatu tempat” katanya lagi.

Eodiseo?”

“Kau akan tahu jika kau ikut, eotte?”

Aku melirik Kyuhyun sesaat, lalu menghela napas panjang untuk ke sekian kalinya. Kenapa dia tak mengatakan apapun kali ini? Padahal aku ingin dia melarangku pergi meskipun itu sebagai Oppa-ku, bukan namjachingu-ku lagi. Tapi sepertinya dia lebih memilih untuk diam karena diapun sama sekali tak menatap ke arahku.

Geurae. Aku akan ikut denganmu” kataku pada akhirnya. “Lagipula aku tak tahu harus melakukan apa hari ini,”

Kris tersenyum lebar, “Joha! Kita pergi sekarang?”

Eh?”

Kris bangkit dari duduknya, “Kajja ga” ajak Kris yang mengabaikan keterkejutanku. “Ah, Kyuhyun-ssi, Changmin-ssi, tidak apa-apa bukan jika aku dan Sooyoung pergi terlebih dahulu?”

“Kau mau-“

Gwenchana, gwenchana. Gokchonghajima” sahut Kyuhyun memotong perkataan Changmin dengan cepat. “Aku juga ada urusan sebentar lagi, jadi kalian pergilah” tambahnya.

Mataku menatap Kyuhyun lekat-lekat, mencoba mencari ekspresi lain dari yang dia tunjukkan kali ini. Tapi kemudian dengan cepat Kyuhyun memalingkan wajahnya, seakan-akan menghindari tatapanku. Apa dia tak sungguh-sungguh mengatakan hal itu? Kenapa sekarang dia sama sekali tak menatapku?

Kajja, Sooyoung-ah” ajak Kris kemudian. Sebelum aku menanggapi apapun, dia sudah menarik tanganku. “Geureom,” Dia menganggukkan kepala ke arah Kyuhyun dan Changmin yang membalasnya dengan anggukkan juga.

Jamkkaman, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun, menahan Kris yang baru akan mengajakku pergi. “Bisakah kita bicara sebentar?”

Kris mempererat genggaman tangannya padaku, lalu dia menggelengkan kepala singkat tanpa mengatakan apa-apa. Aku diam sejenak dan berpikir, tapi kemudian aku melepaskan tanganku dari Kris.

“Sebentar saja,” bisikku padanya. “Kau tunggu saja di mobil, aku akan segera menyusulmu” kataku lagi.

Kris tetap bergeming di tempatnya.

“Kris, dia Oppa-ku. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku” ujarku berusaha meyakinkan Kris. “Tunggu saja di mobil, huh?”

Arraseo-” sahut Kris setelah dia diam cukup lama. “-gidaryeo,” katanya sambil memegang bahuku sebelum pergi meninggalkanku.

Kyuhyun terus menatap Kris sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan. Kemudian aku mendengarnya menarik napas panjang dan berbicara pada Changmin dengan berbisik. Dan seperti Kris, Changmin pun meninggalkan kami tanpa mengatakan apapun padaku. Dia hanya menepuk bahuku sekali, lalu pergi ke sisi lain kafe dan mengobrol dengan seseorang. Membuat keningku berkerut tajam saat melihatnya. Kenapa dia bisa begitu cepat akrab dengan orang asing?

Anjaseo, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun memecahkan perhatianku dari Changmin.

Aku mengangguk, lalu duduk.

Kyuhyun kembali menghela napas, “Mianhae, Sooyoung-ah. Geurigo… gomawo

Mwongayo?”

“Kau tahu, mungkin ini masih sulit untukku untuk menerimamu sebagai dongsaeng-ku tapi aku… aku akan belajar untuk menerimanya. Mianhae, jika kau merasakan kecanggunganku karena ini” kata Kyuhyun menjelaskan. “Mulai sekarang… aku akan benar-benar belajar menganggapmu sebagai dongsaeng, jadi kau… kau tak perlu ragu lagi untuk meminta sesuatu dariku, eo?”

Aku ragu sesaat, tapi kemudian dengan perlahan kembali menganggukkan kepala. Meskipun aku merasakan sakit karena perkataan Kyuhyun itu, tapi apa yang dia katakan memang benar. Aku tak boleh ragu lagi untuk meminta sesuatu darinya karena dia adalah Oppa-ku, keluargaku. Dan Oppa pasti akan selalu ada untuk dongsaeng-nya bukan? Tapi apakah aku benar-benar akan bisa melakukan itu jika jantungku terus berdebar kencang saat melihatnya?

“Apa ada sesuatu yang ingin Oppa katakan?” tanyaku berusaha untuk tetap bersikap biasa di depannya.

Kyuhyun diam untuk beberapa saat. “Tidak. Aku… emm, aku rasa hanya itu yang ingin aku katakan padamu. Hmm… kau pasti ingin cepat pergi bersama Kris bukan? Yah, pergilah”

Oppa tidak marah?” Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku bertanya seperti itu padanya karena Kyuhyun langsung menatapku tajam. “Emm… maksudku, emm… ah eotteoke…

Gayo, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar aneh. “Kris pasti sudah menunggumu di luar,”

E-Eo, g-geureaeyo-“

Aku tersenyum canggung ke arahnya, lalu berbalik pergi meninggalkannya. Kenapa aku begitu bodoh menanyakan hal seperti itu padanya? Dia pasti berpikir bahwa aku belum benar-benar bisa menganggapnya sebagai Oppa­-ku. Meskipun itu benar, seharusnya aku tak menunjukkannya di depannya seperti itu. Aku selalu bisa menahan diriku selama ini, tapi kenapa kali ini aku tak bisa mengendalikannya?

“Choi Sooyoung babo!”

Waegeurae?” tanya Kris yang ternyata sudah berdiri di depanku. “Apa ada sesuatu yang terjadi?”

Aku tersentak kecil, lalu mengerjap-ngerjapkan mataku. “Ani, amugeotdo-“

Jeongmal?” Kris sepertinya tidak mau menyerah. “Kau keluar dari kafe dengan ekspresi seperti orang frustasi. Apa benar tidak ada apa-apa?”

Eo,” sahutku cepat. “Kita pergi sekarang?”

Kris mengangguk pasti.

“Tapi omong-omong, kemana kita akan pergi? Katanya kau akan memberitahuku jika kita sudah di luar kafe. Jadi, sekarang katakan padaku”

“Kita pergi berkencan,” kata Kris singkat.

Mataku membelalak, “Eh?”

Kris melangkah mendahului dan mau tak mau aku mengikutinya. Ada senyuman di wajah Kris tapi dia sama sekali tak mengatakan apapun lagi. Lalu tiba-tiba tangannya terangkat dan merangkulku. Membuatku tersentak kaget dengan apa yang dia lakukan. Meskipun sebenarnya aku ingin melepas tangannya, tapi kali ini aku membiarkannya. Bukankah ini yang harus aku lakukan agar perasaanku pada Kyuhyun cepat memudar? Berusaha mencintai orang lain adalah pilihan yang bisa aku ambil untuk saat ini. Dan mungkin aku akan mencobanya dengan Kris, orang yang selama ini aku tahu memiliki perasaan padaku. Aku hanya berharap aku akan bisa menganggap Kris lebih dari seorang sahabat mulai sekarang.

¯¯

Kyuhyun POV

Aku menjatuhkan tubuhku di atas kursi kerjaku di JinHan. Dengan gerakan cepat aku menyenderkan kepala dan menatap langit-langit ruanganku. Bayangan tentang kecelakaan itu terus berputar di kepalaku dan aku sama sekali tak bisa menghilangkannya. Bahkan meskipun aku berusaha untuk berkonsentrasi pada rapat hari ini, kilasan kecelakaan itu terus mengusik pikiranku. Apa ini karena yang aku mimpikan hampir sama dengan apa yang Sooyoung ceritakan padaku beberapa hari yang lalu?

Tiba-tiba, pintu ruanganku terbuka. Changmin melenggang masuk dengan santai tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu. Itu sudah biasa dia lakukan sejak aku tak memiliki Sekretaris lagi. Tetapi meskipun begitu, aku tetap saja tersentak kaget dengan apa yang dia lakukan.

Aish, jinjja!” dengusku kesal sambil membenarkan posisi dudukku. “Tak bisakah kau mengetuknya terlebih dahulu? Bagaimana jika aku sedang menerima tamu?”

Changmin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapiku. Dia duduk di atas sofa panjang di sudut ruangan, melipat kakinya, lalu menatapku dengan senyum miring sedikit mengejek. “Kau tak pernah menerima tamu lagi di ruanganmu sejak kau memiliki Sekretaris, bahkan sampai sekarang. Kau lebih memilih menemuinya di lobi atau di kafe kantor”

Geurae. Bagaimana jika Busangjangnimani, Sajangnim atau Pengacara Lee sedang berada di ruanganku. Kau pasti-“

“Aku akan tahu jika mereka sedang ada disini. Jangan khawatir” sahutnya dengan santai. “Omong-omong, ada apa denganmu? Kau terlihat tidak fokus saat rapat tadi”

“Apa karena itu kau langsung datang menemuiku setelah rapat?”

Changmin mengangguk.

Gwenchana. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu di luar JinHan. Entah kenapa aku terus memikirkannya meskipun aku sudah berusaha keras untuk tidak memikirkannya” jawabku sambil berdiri dari kursiku dan berjalan memutari meja. Lalu bersandar pada dinding kaca besar yang berada tepat di samping kursiku, menghadap pemandangan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Aku menghembuskan napas panjang. “Sangat aneh karena aku terus memikirkannya seperti ini,” kataku lagi.

“Kau sedang membicarakan tentang Sooyoung?” katanya dengan nada datar. “Ya! Sudah aku katakan, kau harus berhenti memikirkannya. Dia adalah dongsaeng-mu dan kau hanyalah Oppa-nya”

“Aku tidak sedang memikirkan dia-” sahutku tak mau disalahkan begitu saja. “Tidak sepenuhnya tentang Sooyoung,”

Changmin berjalan menghampiriku dengan tangan kanan yang dibenamkan ke dalam saku celana. Dia berhenti persis disampingku sebelum berkata, “Apapun itu, kau tak boleh melalaikan pekerjaanmu sebagai calon Sajangnim di JinHan Group. Apa kau mau mengecewakan Sajangnim, huh?”

Aku menatap Changmin tajam, lalu mendengus kecil. “Aku tak akan mengecewakan Appa. Kenapa kau berlebihan seperti ini, Changmin-ah?”

“Aku hanya mengingatkanmu, sepupuku”

Arraseo, arra

Changmin mencibir, “Kau selalu kehilangan kendali, jadi tugasku-lah untuk mengingatkanmu. Aku benar bukan?”

Ne, Chojangnim” jawabku sambil tertawa kecil. “Lain kali aku akan berkonsentrasi penuh pada pekerjaanku”

Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia menepuk bahuku sekali, lalu melangkah pergi dari ruanganku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Keningku berkerut sambil terus menatap Changmin. Apa dia benar-benar datang ke sini hanya untuk mengatakan hal seperti itu padaku? Aneh karena tidak biasanya dia seperti itu padaku.

Aku menatap sekilas ke luar jendela, ke arah kerumunan kendaraan yang tampak padat di bawah sana. Tak ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku kali ini. Sedikit kecewa, akupun menarik napas sekali lagi sebelum kembali duduk di kursiku. Tapi baru saja aku mengambil kertas-kertas laporan di atas meja untuk memeriksanya, telepon disamping laptopku berbunyi. Dengan cepat aku mengambilnya, lalu mendekatkannya ke telingaku.

“Cho Kyuhyun disini,” kataku sambil tetap memilih-milih laporan yang harus aku periksa terlebih dahulu.

Kwajangnim, ada seseorang yang meminta bertemu dengan Kwajangnim” Suara Victoria, resepsinois JinHan terdengar sangat lembut. Tak salah Changmin begitu menyukainya. “Saya sudah memberitahunya untuk membuat janji terlebih dahulu, tapi beliau berkata itu tidak perlu dan memaksa untuk masuk menemui Anda”

“Siapa dia, Victoria-ssi?”

Aku mendengar percakapan singkat Victoria dengan seseorang. Sempat berharap jika itu Sooyoung, tapi suara yang terdengar adalah suara seorang namja. Aku menahan rasa kecewaku dengan membaca laporan yang ada di tanganku.

“Namanya Kris Wu, Kwajangnim” kata Victoria lagi. “Beliau berkata jika Anda adalah temannya. Aku akan mengantarnya ke ruangan Kwajangnim jika Anda ingin menemuinya. Jika tidak aku akan memberitahunya untuk membuat janji terlebih dahulu,”

Kris? Apa yang dia lakukan disini?

Untuk beberapa detik aku tidak menjawab.

“Cho Kwajangnim?”

Aku menarik napas, “Aku akan turun dan menemuinya. Katakan padanya untuk menunggu di kafe, atau jika perlu kau antarkan dia ke sana. Sebentar lagi aku akan turun”

Ne, algeseumnida

Aku meletakkan kembali telepon di tempatnya begitu memutus sambungannya, lalu merapikan laporan-laporan yang ada di atas mejaku. Setelah semuanya rapi, aku beranjak dari tempatku dan melangkah keluar ruangan. Beberapa orang yang saat itu sedang berada di lorong yang sama denganku langsung menyapaku. Mau tak mau aku membalas sapaan mereka karena aku tak mau lebih kehilangan kepercayaan dari orang-orang JinHan, seperti pesan Appa padaku sebelum dia pergi untuk melakukan perjalanan bisnisnya.

“Oh, Soo Wan-ssi. Apa laporan tentang kenaikan jumlah material untuk proyek baru itu sudah kau selesaikan?” tanyaku saat bertemu dengan salah satu staf-ku di dalam lift. “Jika kau belum selesai, tolong kau berikan sedikit laporan tentang material-material yang kemungkinan besar bisa kita jadikan alternatif. Aku tak mau kejadian seperti proyek sebelumnya terjadi lagi”

Ne, algeseumnida Kwajangnim

“Jika kau kesulitan, mintalah bantuan pada Ji Soo-ssi” kataku sambil menepuk bahu Song Ji Soo yang ada di sebelahku. “Ya! Song Ji Soo, kau mau membantu Kwon Soo Wan kan?”

Song Ji Soo mengerjapkan matanya beberapa kali menatapku lalu berganti kepada Soo Wan yang berdiri tak jauh darinya. “Ah, ne, ne. Aku akan membantunya,” katanya sambil menundukkan kepala.

“Bagus sekali. Asalkan kalian tak mencampur adukkan masalah kencan dengan pekerjaan kalian, laporan itu pasti akan cepat selesai” kataku menyindir sambil tersenyum kecil menatap ke arah Ji Soo dan Soo Wan.

Kwajangnim,” protes Soo Wan malu.

Mereka berdua tak bisa menyembunyikan wajah merahnya di depanku. Aku tertawa, lalu merangkul Ji Soo yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Lalu berbisik padanya, “Aku tak menyangka kau mengajaknya berkencan. Apa yang kau lakukan padanya sampai dia menyerah padamu, huh?”

Kwajangnim, aku ini tampan. Semua yeoja pasti tunduk padaku tanpa aku melakukan apapun”

Aku mendorong Ji Soo pelan, “Aish jeongmal!” kataku. “Soo Wan-ssi, kau harus berhati-hati padanya. Jangan selalu mengatakan ‘ya’ jika dia meminta sesuatu atau kau-“

Pintu lift terbuka sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku melirik ke arah Ji Soo dan Soo Wan sekali lagi, keduanya masih berusaha menyembunyikan rasa malunya. Aku tertawa pelan, lalu melangkah keluar dari lift. Hanya dengan beberapa orang di JinHan saja aku bercanda dengan mereka dan itupun adalah orang-orang yang benar-benar aku percayai serta banyak membantuku selama aku bekerja, seperti Ji Soo dan Soo Wan ini.

Oh, Kwajangnim. Tamu Anda sudah menunggu di kafe,” kata Victoria saat aku menghampiri meja resepsionis untuk memastikan.

Arraseo, gomawoyo

Aku melangkahkan kakiku menuju kafe yang berada di samping gedung. Itu bukanlah kafe besar dan akupun jarang sekali mengunjunginya. Aku lebih suka pergi ke kafe di luar JinHan dan menghabiskan makan siangku disana daripada di kafe kantor. Karena dengan begitu aku akan mendapatkan suasana yang berbeda, yang jauh dari suasana kantor yang terkadang tak mengenakkan.

Begitu sampai di kafe, aku langsung mengedarkan pandanganku mencari sosok Kris. Tak lama, aku melihatnya sedang duduk menghadap ke luar jendela. Tanpa ragu lagi akupun berjalan menghampirinya.

“Ada masalah apa sampai kau menyusahkan diri untuk datang ke sini, Kris?” tanyaku setelah berada tepat di samping Kris. Aku menarik kursi di depannya, lalu duduk disana dengan santai. “Biasanya kau hanya meneleponku jika ingin berbicara denganku,” kataku lagi.

“Sebenarnya itu yang ingin aku lakukan, tapi aku rasa sebaiknya aku langsung mengatakannya padamu seperti ini” sahut Kris. “Lagipula jam kerja ku sudah selesai, jadi sekalian aku datang sini sebelum pulang ke Apartemen” Dia menambahkan sambil mengaduk-aduk cangkir kopinya.

Aku mengangguk-angguk mengerti. “Jadi, ada apa?”

Kris menghentikan gerakan tangannya, lalu dia menatapku cukup lama. Aku bisa melihat dari ekspresinya bahwa apa yang ingin dia katakan padaku adalah sesuatu yang penting. Lalu apakah ini tentang Sooyoung? Apa sesuatu terjadi padanya? Jika memang benar begitu, aku tak mungkin diam saja karena aku… aku adalah… Oppa-nya.

Geurae, tak ada yang perlu aku tutup-tutupi lagi darimu mulai sekarang,” kata Kris memulai. Dia berdehem pelan, lalu mengubah sedikit posisi duduknya. “Aku memutuskan untuk mengajak Sooyoung berkencan,” katanya melanjutkan.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha untuk mencerna kata-kata Kris lebih dalam lagi. “Mworaguyo?”

“Kau tahu yah… Sooyoung. Aku memang pernah mengakui perasaanku di depannya, akupun pernah mengajaknya untuk berkencan. Tapi sayangnya dia menyukai orang lain saat itu” jelas Kris. “Dan aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali memintanya. Aku memberitahumu hal ini karena aku ingin kau membantuku, Kyuhyun-ssi

“Membantumu?”

Kris mengangguk, “Eo, dengan tidak menganggu hubungan kami lagi”

Kedua alisku terangkat, “Apa maksudmu dengan mengganggu hubungan kalian?” tanyaku berusaha bersikap tenang meskipun sebenarnya tidak.

“Aku rasa kau tahu apa maksudku tanpa aku menjelaskannya lebih jauh. Kau Oppa-nya dan dia adalah dongsaeng-mu. Aku hanya ingin kau membiarkannya pergi, itu saja”

“Bagaimana jika aku tak mau melakukannya?”

“Itu berarti kau adalah orang yang egois,” sahut Kris dengan cepat. “Apa kau pikir mudah baginya melupakan semua perasaannya padamu? Satu-satunya cara adalah dengan menemukan perasaan yang lain dan aku bisa membuatnya menemukan perasaan itu lagi”

Ya! Apa kau pikir ini mudah juga bagiku?” dengusku kesal sambil melipat kedua tanganku di depan dada. “Jika membicarakan tentang egois, bukankah saat ini kaulah orang yang egois? Memanfaatkan kesempatan dalam keadaan yang seperti ini, bukankah itu sesuatu yang salah?” kataku melawan. Aku tak tahu kenapa aku bersikap seperti ini lagi, padahal seharusnya aku bisa menahan diriku.

Kris tersenyum tipis, “Lihat! Apa yang kau lakukan saat ini bukanlah sikap seorang Oppa pada dongsaeng-nya”

Aku diam tak menanggapi.

“Aku hanya ingin mengembalikan Sooyoung. Melihatnya terus diam dan banyak melamun benar-benar bukan Sooyoung yang aku kenal selama ini-“ Kris kembali melanjutkan bicaranya. “-dan aku bisa melakukannya asalkan kau tak menganggu”

Aku terus diam karena tiba-tiba aku teringat perkataan Sooyoung saat dia menungguku yang mabuk beberapa hari yang lalu. Mataku terpejam sambil mengingat semua hal yang dia katakan padaku saat itu. Disisi lain, Kris terus berbicara tentang keinginannya untuk membuat Sooyoung kembali. Aku tahu yang Kris maksud dengan ‘kembali’ adalah melihat Sooyoung tertawa dan ceria seperti dulu. Aku juga menginginkannya, hanya saja aku tak tahu bagaimana caranya.

Aku mendesah pelan.

“Selain itu Sooyoung adalah yeoja yang tak bisa menyimpan semua yang dia rasakan sendiri. Tapi melihatnya seperti belakangan ini membuatku benar-benar bisa merasa-“

Geurae,” kataku memotong perkataan Kris. Dia langsung diam dan menatapku dengan tatapan tajam. “Lakukanlah jika memang itu baik. Tapi aku akan mengawasimu”

Kris kembali menatapku lama dan itu benar-benar membuatku sedikit tidak nyaman. Aku cukup terkejut dengan tatapannya ini karena dia tak pernah menatapku dengan cara yang seperti ini sebelumnya. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa dan menahan semua hal yang aku rasakan saat ini. Aku berharap apa yang aku lakukan ini benar dan Sooyoung akan kembali menemukan keceriaannya seperti dulu. Yah, aku berharap begitu.

¯¯

Sooyoung POV

“Kau mau makan apa, Sooyoung-ah?”

Aku yang sedang melamun langsung menolehkan kepala ke arah Kris yang saat ini sedang duduk bersamaku di sebuah restoran tradisional Korea. “Eo? Apa kau mengatakan sesuatu?” tanyaku bingung.

Kris tersenyum tipis, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku bertanya padamu, apa yang ingin kau makan” katanya dengan sabar.

“Oh, emm… apa saja yang kau pesankan untukku pasti aku makan” jawabku tanpa melihat ke arah daftar menu yang Kris berikan padaku. “Lagipula semua makanan di restoran ini juga enak, jadi terserah kau saja”

“Terserah padaku?” Kris mengulang perkataanku.

Aku mengangguk.

Baiklah, kalau begitu aku pesan Soondubu Jiggae, Hoedeopbap” ucap Kris sambil membuka-buka buku menunya. “-Kongnamul, hmmm… apa lagi ya”

Ya! Kenapa kau memesan makanan sebanyak itu?” protesku dengan tatapan tak percaya.

Kris mengangkat kepalanya dan menatapku sambil menyipitkan matanya. “Wae? Aku yakin sekali kau akan sanggup menghabiskan itu semua” katanya menggodaku.

Aish jinjja!” sergahku dengan cepat. Aku melirik ke arah pelayan yang sedang memandangiku dan Kris. Aku melihat ada segaris senyuman di wajahnya. Aku yakin sekali dia pasti sedang menahan tawanya demi menjaga kesopanan pada tamu yang datang. Aku terbatuk kecil, “Hoedeopbab juseyo geurigo bori cha” kataku pada si pelayan.

Ya! Sooyoung-ah! Aku juga ingin makan Soondubu Jiggae dan Kongnamul-nya”

Aku menarik napas panjang, “Pesan saja. Tapi jangan memintaku untuk menghabiskannya karena aku-“

Ponselku berbunyi saat aku belum selesai berbicara. Aku langsung mengambilnya dan menatap nama yang tertera di layar ponsel. Aku melirik Kris sesaat lalu menerima panggilan telepon itu.

Ne, Oppa. Waeguraeyo?”

Neo eodiseo, Sooyoung-ah?”

“Aku sedang makan siang bersama Kris” kataku sebiasa mungkin dengan suara yang terdengar biasa. Aku kembali melirik Kris yang ternyata sedang mengamatiku setelah dia selesai berbicara dengan pelayan. “Ada apa, Oppa?”

Suara di seberang tak langsung menjawab. Ada jeda sesaat sebelum dia kembali bersuara. “Kalau kau sudah selesai, bisakah kau datang ke Gwanghwamun?”

Ne? Gwanghwamun?”

Eo. Datanglah, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu” jawabnya sedikit terbata-bata saat mengatakannya. “Emm… gidaryeo, Sooyoung-ah

E-Eo

Sambungan telepon terputus. Aku menatap piring kosong di depanku untuk beberapa saat sebelum kembali memasukkan ponselku ke dalam tas. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kenapa Kyuhyun harus mengajakku ke tempat seperti itu? Selama ini aku berusaha menghindari untuk datang ke tempat-tempat yang sering aku kunjungi saat masih bersamanya. Tapi kenapa sekarang?

“Setelah makan kau akan pergi kemana, Sooyoung-ah?” tanya Kris sambil menuangkan air putih yang tersedia di atas meja ke dalam gelasnya. Lalu dia meminumnya sedikit, “Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?” tanyanya lagi.

Emm, aku akan pergi ke Gwanghwamun” jawabku tanpa menatap Kris. “Oppa memintaku untuk datang ke sana,”

“Kau mau aku mengantarmu atau menemanimu ke sana?”

Aku menolehkan kepala, lalu tersenyum tipis ke arah Kris. “Ani, aku rasa sebaiknya aku pergi sendiri”

Honjaseo?”

Eo,”

Kedua alis Kris saling bertaut, lalu aku melihatnya menarik napas panjang. Tak ada yang dia katakan padaku karena tepat saat itu pelayan tadi kembali datang sambil membawa makanan pesanan kami. Satu mangkuk besar Soondubu Jiggae serta Hoedeopbab dan sepiring Kongnamul yang masih mengepul. Kris langsung mengambil mangkuk dan sumpitnya, lalu mengambil Soondubu Jiggae-nya dengan sendok kuah yang disediakan.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu berkunjung ke rumah temanku,” kata Kris tanpa melihat padaku. Dia menyendok makanan berkuah itu ke dalam mangkuknya sendiri. “Tapi jika kau sudah ada janji dengan seseorang, terpaksa aku membatalkannya”

“Itu bukan seseorang, tapi Oppa-ku” sahutku sambil melakukan apa yang Kris lakukan pada Hoedeopbab-ku. “Mungkin ada hal penting yang ingin dia katakan padaku, karena itulah dia memintaku untuk datang. Lagipula dia tak bisa datang ke rumah karena Eomma dan Shim Samchon” kataku lagi.

Kris memberikan tatapan singkat padaku sebagai tanggapan dari perkataanku itu. Selama makan kami tidak banyak bicara, lebih tepatnya tidak bicara sama sekali. Dalam waktu singkat, makanan yang kami pesan tinggal sedikit. Aku tak bisa menghabiskan pesananku karena entah kenapa aku tidak berselera makan. Aku mengamati Kris yang sedang merogoh ponsel dari saku celananya. Dia menatap ke layar ponsel itu, lalu kembali memasukkannya ke tempatnya semula.

“Biar aku saja yang membayarnya,” kata Kris sebelum memanggil pelayan yang tadi untuk meminta bill. “Sudah lama aku tak mentraktirmu makan, kan?” ujarnya sambil menunjukkan senyum separuhnya.

“Kau sering mentraktirku, akulah yang jarang melakukannya” sahutku seraya menunggu Kris membayar semua makanan yang kami pesan. “Lain kali biarkan aku yang membayarnya, arraseo?”

Arraseoyo, gongjunim” jawab Kris sambil beranjak dari tempat duduknya.

Aku tertawa singkat, lalu mengikutinya melangkah keluar dari restoran. Sebenarnya hari ini aku berniat untuk menghabiskan waktuku bersama Kris, tapi jika Kyuhyun memintaku untuk datang aku sama sekali tak bisa menolaknya. Mungkin aku masih sedikit egois dalam hal ini, tapi terkadang aku juga masih merindukannya dan ingin bertemu dengannya meskipun itu hanya sebentar.

“Kau yakin tak mau aku antar?” tanya Kris lagi saat kami sudah berada di dekat mobilnya. “Aku akan mengantarmu ke sana kemudian aku akan pergi. Eotte?”

Aku menggelengkan kepala, “Aku akan naik taksi saja,”

“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu sampai mendapatkan taksi. Jika tak ada satupun taksi yang datang, kau pergi bersamaku. Arraseo?”

Eo,”

Kris mengajakku berjalan ke pinggir jalan dan menemaniku menunggu taksi. Kepalaku menoleh ke kanan-kiri, mencari taksi yang belum juga muncul. Aku harus mendapatkan taksi, bagaimanapun caranya. Karena aku tak mau Kris dan Kyuhyun saling bertemu satu sama lain lagi. Meskipun seharusnya aku tak boleh berprasangka buruk terhadap mereka, tapi melihat bagaimana mereka selama ini aku rasa tidak ada salahnya mencegahnya.

Sebuah taksi kuning berhenti di depanku. Aku segera berpamitan pada Kris dan bergegas masuk ke dalam taksi. “Gwanghwamun juseyo,” kataku langsung.

Ne, algeseumnida Aghassi

Taksi pun meluncur di jalanan Seoul yang padat. Aku sempat melirik ke arah luar dimana Kris masih berdiri di tempatnya semula. Dia pasti merasa sangat kecewa padaku hari ini karena seharusnya aku memang pergi bersamanya. Bukankah dia sudah meliburkan dirinya agar bisa menemaniku pergi berjalan-jalan kemanapun aku pergi? Tapi mau bagaimana lagi jika aku ingin bertemu Kyuhyun meskipun dia sekarang adalah Oppa-ku.

Perjalanan ke Gwanghwamun tidak terlalu jauh karena restorannya pun masih berada di distrik yang sama. Setelah membayar taksi, aku langsung mencari-cari sosok Kyuhyun di tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang, baik di Seoul sendiri maupun turis-turis asing. Itu karena di Gwanghwamun sendiri terdapat Istana Gyeongbokgung, istana terbesar dari lima istana yang dibangun pada masa Dinasti Joseon. Meskipun aku sering datang ke sini, tapi tak sekalipun aku pernah masuk ke dalam istananya. Mungkin lain kali aku akan mengunjunginya bersama Kris.

“Sooyoung-ah, yeogi” kata sebuah suara memanggilku.

Aku langsung menolehkan kepala dan melihat Kyuhyun yang sedang berdiri di dekat gerbang utama dari istana Gyeongbokgung. Dia melambaikan tangannya ke arahku, memintaku untuk mendekat ke arahnya. Tanpa ragu, aku langsung melangkah menghampirinya dan menyapanya dengan sedikit canggung.

Oppa sudah lama disini?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Yah, aku sudah berkeliling sebentar sebelum kau datang” jawab Kyuhyun dengan tenang. “Kau datang sendirian? Bukankah tadi kau berkata sedang bersama Kris? Dimana dia?”

“Aku tak mengajaknya,”

Kyuhyun menatapku sesaat, lalu dia memalingkan wajahnya ke istana Gyeongbokgung. Aku mengikuti arah pandangan Kyuhyun dan tersenyum kecil. Pemandangan di Gwanghwamun selalu indah meskipun berada di tengah kota. Aku selalu ingin datang ke tempat ini saat masih bersama Kyuhyun dan aku tak menyangka aku masih bisa melakukannya. Sedikit menyedihkan karena sekarang aku tak bisa bebas melakukan sesuatu seperti dulu.

“Ayo kita berjalan-jalan sambil mencari tempat untuk mengobrol,” ajak Kyuhyun sambil melangkah terlebih dahulu. “Sebenarnya aku sudah menemukan satu tempat, tapi aku rasa orang lain sudah menempatinya sekarang. Kau mau masuk ke dalam Gyeongbokgung atau emm mungkin kita bisa ke Cheonggyecheon”

Ah, emm… aniyo,” jawabku sedikit terkejut. Aku menunduk, menatap kakiku sendiri. “Kita cari tempat lain saja di dekat Gwanghwamun Square atau di sekitar Patung Yi Sun-Shin” kataku berusaha mencari tempat lain.

Geurae, kita ke dekat patung Yi Sun-Shin saja kalau begitu”

Aku mengangguk, lalu mengikutinya melangkah ke arah patung Yi Sun-Shin yang menjulang tinggi. Satu hal yang aku sukai jika datang ke Gwanghwamun adalah air mancur yang mengeliling patung Yi Sun-Shin. Sebenarnya akan lebih bagus jika melihatnya saat malam hari tapi itu tidak masalah karena tujuanku datang ke sini bukan untuk menikmati pemandangan air mancur.

“Oh, itu ada bangku yang kosong. Kajja, Sooyoung-ah” Kyuhyun tiba-tiba menarik lenganku, membuatku kembali terkejut. Dia terus menarik tanganku sampai akhirnya tiba di bangku yang dia maksud. “Untung saja kita menemukannya terlebih dahulu. Tempat ini selalu ramai seperti biasanya,” katanya bergumam.

Aku tak menanggapinya dan memilih untuk menatap air mancur kecil yang menyala, lalu memandang jauh ke arah Patung Raja Sejong di ujung jalan. Aku menarik napas panjang beberapa kali sambil berusaha menenangkan diriku sendiri. Kenapa jantungku masih saja berdebar karena sentuhan Kyuhyun tadi? Aigoo, kapan aku akan bisa menghilangkan perasaan ini?

Aku mendengar Kyuhyun menarik napas panjang, dan itu membuatku menoleh menatapnya. “Sooyoung-ah, kau tahu. Aku tak pernah menghabiskan waktuku lagi di tempat ini seperti yang sering aku lakukan,” katanya tanpa menatapku. “Meskipun terkadang aku berhenti sebentar saat melewatinya, tapi aku tak pernah turun untuk berjalan-jalan atau sekedar untuk mencari udara segar”

“Kenapa? Bukankah ini adalah tempat yang paling kau sukai, Oppa?”

Kyuhyun menyunggingkan segaris senyum tipis, “Apa aku harus menjawab kenapa?” tanyanya sambil membalas tatapanku.

Lagi-lagi aku hanya diam tak menjawab.

“Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi seperti ini, Choi Sooyoung. Aku pikir… aku pikir kau meninggalkanku karena aku… aku adalah namja yang tidak berguna. Namja yang tidak bisa mengertimu dan tidak bisa membuatmu bahagia” Kyuhyun mengabaikan sikap diamku dan melanjutkan bicaranya. “Nan jeongmal babo saram. Aku membencimu tanpa tahu kenapa kau melakukannya,”

M-Mianhaeyo,”

Kyuhyun memiringkan wajahnya, lalu kembali menatapku lekat-lekat.

Mianhaeyo karena aku tak memberitahumu dari awal. Mianhaeyo karena aku harus meninggalkanmu, geurigo mianhaeyo-”

“Karena telah membuatmu merasa bersalah, nan jeogmal mianhae” sambung Kyuhyun pada perkataanku. “Aku tahu seharusnya aku tak melakukan ini, tapi-“

Kyuhyun mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipiku dengan lembut. Mataku terpejam, mencoba untuk lebih merasakannya. Aku benar-benar merindukan usapannya yang lembut ini. Tanpa aku sadari, tanganku meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan erat. Untuk sesaat, kami berpegangan tangan dan saling menatap. Tapi kemudian dengan cepat aku melepaskan tanganku setelah sadar apa yang aku lakukan salah. Sudah seharusnya aku tak membiarkan perasaanku menguasaiku lagi.

Bogoshipda, Choi Sooyoungbisik Kyuhyun. “Nan jeongmal bogoshippeosseo,”

Aku menundukkan kepala, lalu menghela napas singkat sambil berusaha menenangkan diriku sendiri. “Oppa¸geumanhaeyo. Apapun yang akan kau lakukan, itu tak akan bisa mengubah keadaan”

Arra. Aku-“ Kyuhyun berhenti sejenak. Dia memejamkan matanya, menarik napas panjang lalu kembali membuka matanya sebelum melanjutkan bicara. “Aku hanya ingin kau tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu harus bagaimana lagi jika aku merindukanmu padahal kau ada di dekatku, Sooyoung-ah

Oppa, geumanhae. Geumanhaeyo” seruku sedikit menaikkan nada suaraku. Aku mendesah keras, “Berhenti mengatakan sesuatu yang membuatku merasa… membuatku merasa-“

Kyuhyun sama sekali tak mengalihkan pandangannya dariku. Mau tak mau aku menundukkan kepala untuk menghindari tatapannya. ‘Membuatku merasa semakin merindukanmu,’ Aku melanjutkan perkataanku dalam hati.

Kyuhyun diam. Cukup lama dia diam. Sampai aku berpikir jika dia sedang melamun atau sudah selesai menyelesaikan bicaranya. Aku baru akan membuka mulutku, tapi kemudian dia bergerak dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Aku terus mengamatinya sampai akhirnya dia mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang dan memberikannya padaku.

“Itu adalah sebuah bintang dan dia akan selalu menerangimu” kata Kyuhyun. “Hanya karena aku tak bisa bersamamu bukan berarti aku tak peduli padamu. Sampai kapanpun, kau akan selalu menjadi bintangku, Sooyoung-ah

Oppa… aku, aku rasa-“

“Aku tak memaksamu untuk memakainya. Kau cukup menyimpannya saja, itu sudah cukup. Lagipula siapa aku sekarang? Sekarang aku adalah Oppa-mu. Orang lainnya yang seharusnya memberikan kalung atau sejenisnya dan memakainnya padamu” potong Kyuhyun dengan cepat.

Aku menatap kalung yang sekarang ada di tanganku. Warnanya putih, ada permata-permata kecil di setiap sudut bintangnya. Entah kenapa ada perasaan sedih saat aku menerima ini dari Kyuhyun. Aku tak tahu apa aku harus menyimpannya atau mengembalikannya pada Kyuhyun. Bagaimana jika aku perasaanku ini selalu kembali saat aku melihat kalung ini nanti? Apa aku benar-benar akan sanggup menyimpannya?

Untuk beberapa saat, lagi-lagi kami hanya diam. Kyuhyun pun tidak banyak bicara setelah dia memberikan kalung itu padaku. Dia benar-benar diam dan memandang lurus ke arah air mancur serta pada orang yang berlalu-lalang di depan kami. Lalu suara dering telepon berbeda membuat kami berdua secara refleks mengambil ponsel. Aku dan Kyuhyun sempat berpandangan sesaat, kemudian aku mengambil ponselku dan mendekatkannya ke telinga.

“Kau akan pulang jam berapa hari ini, Sooyoung-ah?” suara Eomma langsung terdengar bahkan sebelum aku berbicara terlebih dahulu.

“Oh, emm, sebentar lagi. Waeyo?”

Ani, amugeotdo. Eomma hanya ingin mengobrol denganmu malam ini karena pamanmu sedang pergi dan tak ada yang menemani Eomma di rumah” jawabnya terdengar tidak bersemangat. “Tidak apa-apa jika kau belum mau pulang. Eomma tahu kau pasti ingin menghabiskan malammu bersama Kris bukan?”

Aku tak langsung menjawab.

“Sooyoung-ah?”

Eo. Emm, ne Eomma. Aku disini,“

“Apa kau sedang sibuk? Baiklah kalau begitu, tutup saja teleponnya” sahut Eomma cepat. “Mian, Eomma menganggu kalian. Eomma tutup teleponnya ya?”

Aku belum sempat menyahut, Eomma sudah memutus sambungan teleponnya. Aku menghela napas singkat, lalu kembali memasukkan ponselku ke dalam tas. Aku melirik Kyuhyun yang juga sedang berbicara melalui ponselnya. Ekspresinya sangat serius dan aku melihat beberapa kerutan di dahinya. Aku terus mengamatinya. Kenapa dia terlihat sangat tegang sekarang? Apa ada sesuatu yang terjadi?

Arraseoyo. Aku akan segera mengambil penerbangan pertama hari ini,” ucap Kyuhyun dengan tergesa. Dia langsung menutup teleponnya dan menoleh menatapku. “Mian, Sooyoung-ah. Aku harus pergi. Aku akan menghubungimu lagi nanti” katanya.

Tanpa memandangku dua kali, Kyuhyun bergegas pergi meninggalkanku. Aku tak tahu siapa yang meneleponnya dan aku tak tahu siapa yang baru saja berbicara dengannya. Aku bahkan tak sempat bertanya apapun padanya karena dia langsung pergi begitu saja. Tapi siapapun dan apapun itu, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak begini? Apa sesuatu benar-benar terjadi?

¯¯

Kyuhyun POV

Aku tak tahu bagaimana harus menceritakannya karena ini terjadi sangat cepat. Setibanya di bandara Haneda, aku sudah ditunggu oleh Kim Shin Jae, seseorang yang selalu mengikuti Appa kemanapun Appa pergi selain Pengacara Han. Dia langsung membawaku masuk ke dalam mobil tanpa banyak berbicara dan akupun sama sekali tak berminat untuk berbicara padanya. Sejak Pengacara Han meneleponku kemarin, pikiranku dipenuhi oleh Appa. Aku bahkan tak bisa tidur semalam dan mengabaikan beberapa panggilan telepon dari Changmin pagi ini. Aku memang tak memberitahunya jika aku pergi ke Jepang. Satu-satunya orang yang tahu adalah Pengacara Lee.

“Apakah masih jauh?” tanyaku tidak sabar.

Animida. Sebentar lagi kita sampai, Kwajangnim” jawab Kim Shin Jae masih terus berkonsentrasi pada kemudi mobilnya. “Kita sudah memasuki distrik Minato sekarang,”

Aku mendesah keras, lalu menatap ke luar jendela. Pemandangan kota Tokyo terhampar dengan bangunannya yang tidak terlalu tinggi. Mobil yang dikendarai oleh Kim Shin Jae terus melaju kencang menuju ke rumah sakit Sannō di distrik Minato. Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung berlantai 7. Aku sempat menatap gedung itu sesaat, sebelum akhirnya keluar dari mobil sendiri karena Kim Shin Jae harus mencari tempat parkir terlebih dahulu.

Chotto! Onegai sh’mas” sapaku pada salah seorang perawat yang sedang lewat di depanku.

“Nani o shimashou ka?”

Cho Kwajangnim,” panggil seseorang saat aku baru akan bertanya tentang kamar Appa pada perawat itu. Aku menolehkan kepala dan melihat Pengacara Han sedang berjalan menghampiriku. “Aku sudah menunggumu, Kwajangnim. Silahkan ikut, aku akan menunjukkan dimana Sajangnim berada” katanya setelah berada di depanku.

Aku menganggukkan kepala, “Sumimasen. Dōmo” ucapku pada perawat itu sambil tersenyum.

Iie. Dō itashimash’te

Aku langsung melangkah mengikuti Pengacara Han yang sudah terlebih dahulu berjalan kembali ke arah sebelumnya dia datang. Kami masuk ke dalam lift, lalu keluar di lantai 5. Pengacara Han menyapa seseorang yang tidak aku kenal saat kami berjalan di salah satu lorong rumah sakit. Aku tidak mengenalnya, tapi orang itu juga menyapaku. Mau tak mau aku membalas sapaannya meskipun dengan hanya senyuman singkat.

“Pengacara Han, apa yang terjadi pada Appa?” tanyaku tak bisa menahan kesabaranku untuk tahu lebih tentang keadaan Appa lebih lama. “Appa baik-baik saja kan?”

Pengacara Han berhenti melangkah. Dia menatapku lama, lalu menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaanku.

“Pengacara Han?!” panggilku dengan suara yang lebih keras.

Josanghamnida, Kwajangnim. Aku hanya tahu jika Sajangnim masih tidak sadarkan diri sampai sekarang”

Aku menarik napas panjang, tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari Pengacara Han. Bergegas aku melangkah kembali dan segera masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Pengacara Han, kamar 507. Aku langsung melihat Appa yang berbaring di atas sebuah tempat tidur dengan banyak kabel di tubuhnya. Aku mendekat dengan langkah gontai sambil terus memandanginya dengan tidak percaya. Tanganku menggenggam tangan Appa yang terasa dingin. Beberapa hari aku tak melihatnya karena dia harus mengurus bisnis di Jepang, tapi kenapa sekarang dia menjadi seperti ini?

Appa, eotteoke?” gumamku sendiri. Aku menundukkan kepala sesaat, lalu mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. “Waeguraeyo¸Pengacara Han?”

Mollaseumnida. Aku menemukan Sajangnim sudah tergeletak di ruang kerjanya di Apartemen semalam. Dokter belum bisa melakukan operasi karena menunggu Anda datang,” jawab Pengacara Han dengan nada sedih.

Aku menegakkan badan dan menatap Pengacara Han lekat-lekat, “Operasi?”

Pengacara Han mengangguk, “Ne, hanya itu yang dikatakan dokter”

“Tapi apa yang terjadi sampai harus di operasi?” tanyaku kembali menatap Appa yang terlihat tidur dengan sangat damai. “Appa tak pernah menderita apapun yang mengharuskannya melakukan operasi”

Aku belum mendengar tanggapan dari Pengacara Han, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan seorang dokter beserta susternya masuk ke dalam kamar. Untuk sesaat aku menatap dokter yang terlihat tidak asing itu, tapi kemudian pikiranku kembali terfokus pada Appa. Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mencari tahu siapa dokter itu, tapi mencari tahu apa yang terjadi pada Appa.

“Apa walinya sudah datang?” tanya dokter itu pada Pengacara Han.

Aku sedikit terkejut karena dia bisa berbahasa Korea. Tapi aku mengabaikan keterkejutanku, lalu berdiri dari tempat dudukku untuk menyapa dokter itu. “Aku walinya. Jadi apa yang sebenarnya terjadi, dokter?”

Dokter itu mengerutkan keningnya, seperti sedang mengingat sesuatu. Lalu dia berkata, “Cho Kyuhyun?”

“Anda… mengenalku?”

Ya! Na… Choi Siwon. Kau masih ingat padaku?”

Kedua alisku saling bertaut, “Choi Siwon?” gumamku sambil mengingat-ingat nama itu. “Ah! Siwon! Jal jinaesseo? Sudah lama sekali aku tak melihatmu,”

Siwon mengangguk-anggukkan kepalanya, “Eo, majayo. Aku sekarang bekerja disini”

Ah, karena itulah kau berbicara Korea pada orang Korea?” tanyaku asal bicara. “Itu agar orang Korea yang berobat ke rumah sakit ini mengerti penjelasanmu bukan? Apa kau juga berbicara bahasa lain jika orang asing yang datang?”

Geureomyo,” sahut Siwon dengan cepat. “Ah, Kyuhyun-ah apa kau benar wali dari pasien Cho Hyo Won?”

Eo, wae?”

Siwon menatap suster disebelahnya dan meminta sesuatu darinya. Setelah itu dia kembali menghadapku dan menyerahkan beberapa dokumen. Aku membacanya dengan cepat, lalu memberikannya pada Pengacara Han. Biar bagaimanapun Pengacara Han adalah orang kepercayaan Appa, karena itulah dia juga harus tahu apa yang terjadi pada Appa.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Anenim Infarction pada jantung” jawab Siwon setelah dia selesai memeriksa Appa. “Itu adalah istilah medis dari penyumbatan arteri pada jantung. Kami sudah memberikan CAG untuk memastikan adanya infark anemim. Setelah kami melakukan pemeriksaan menyeluruh, pasien mengalami Myocardial Infarction

Ne?

Myocardial Infarction atau serangan jantung ini terjadi karena adanya penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah koroner. Karena kontraksi jantung sangat lemah, kita harus melakukan operasi secepatnya” jelas Siwon secara rinci. “Kami akan segera mengambil tindakan lanjut, setelah kau menandatangani semua persetujuannya,”

“Oh, geurae. Eodi?”

Siwon memberikan satu dokumen lagi, lalu memintaku untuk menandatanganinya. Tanpa menunggu lebih lama, akupun langsung memberikan tanda tanganku. Suster yang datang bersama Siwon langsung membawa Appa keluar dari kamar dengan bantuan Siwon. Aku dan Pengacara Han mengikuti kemana perawat itu akan membawa Appa. Pengacara Han terus memegangi bahuku, seakan-akan menenangkanku.

Gokchonghamnida, Kwajangnim. Semuanya akan baik-baik saja. Sajangnim selama ini sudah bertahan dengan sangat baik dan aku yakin kali inipun begitu” kata Pengacara Han lembut. “Josanghamnida karena aku tidak memperhatikan Sajangnim dengan baik selama di sini”

Animida, Pengacara Han. Jika tidak ada Pengacara Han disini, aku tak tahu harus pada siapa lagi harus mempercayakan Appa” Aku berusaha untuk tetap tenang. “Aku tahu Appa selalu kelelahan dan terkadang dia lupa meminum obatnya. Tapi kali ini lebih dari yang aku duga. Appa pun tak pernah seperti ini sebelumnya,”

“Itu karena ada banyak hal yang sedang dipikirkan Sajangnim,” sahut Pengacara Han sambil duduk disebelahku. “Yeodongsaeng-mu. Sajangnim selalu memikirkannya akhir-akhir ini,”

W-Waegeuraeyo?”

Pengacara Han menarik napas singkat, “Sajangnim sedang berusaha memasukkan nama Yeodongsaeng-mu agar diakui oleh Dewan Direksi. Mengingat setengah Dewan Direksi lebih mempercayai Shim Busangjangnim sekarang, itu akan sedikit sulit” katanya. “Sajangnim sedikit tertekan karena begitu sulit untuk bertemu dengan putrinya sendiri. Dia hampir tak pernah melihat wajah putrinya selama ini, dan begitu menemukannya pun tetap sulit baginya”

Eomma ttemune?”

Aniyo. Ada hal yang lainnya,”

“Apa itu?”

Josanghamnida. Aku benar-benar tidak bisa memberitahu Kwajangnim karena ini diluar kekuasaanku. Orang yang berhak memberitahu Anda adalah Sajangnim sendiri,” kata Pengacara Han, lagi-lagi menolak untuk bicara. “Seharusnya aku tak berbicara banyak tentang Sajangnim karena Sajangnim melarangku untuk berbicara,”

Aku tersenyum tipis, “Arraseo. Itu memang Appa,”

Aku menyandarkan tubuhku di kursi tunggu, lalu menatap ke arah ruang operasi. Aku memang tak tahu kapan Appa dan Sooyoung pernah bertemu satu sama lain atau kapan Appa mengetahui jika Sooyoung adalah putrinya. Tapi apa hal lain yang membuat Appa sulit menemui Sooyoung? Kenapa dia masih harus menyimpan rahasianya padahal aku sudah tahu hampir seluruhnya? Meskipun aku belum memberitahu Appa dan Pengacara Han tentang ini, tapi seharusnya tak ada yang perlu di rahasiakan lagi dariku bukan? Apa lagi-lagi aku harus mencari tahu sendiri?

¯¯

Sooyoung POV

“Sooyoung-ah, apa kau tahu kemana Kyuhyun pergi?” tanya Changmin yang menghampiriku saat aku sedang duduk di pinggir kolam. Dia langsung duduk disebelahku dan mengikutiku menenggelamkan kakinya ke dalam air. “Sudah tiga hari dia tidak datang ke JinHan dan akupun tak bisa menghubunginya”

Mollaseoyo,” jawabku sambil menengadah ke atas. “Aku berusaha untuk tidak meneleponnya jika tak ada sesuatu yang penting yang harus dilakukan”

Ah, geurae. Mian,” sahut Changmin langsung memberi tanggapan. “Aku pikir kau tahu karena kalian terakhir bertemu sebelum dia tak ada kabar seperti ini. Aku benar bukan?”

Aku langsung menoleh ke arah Changmin, “Darimana kau tahu, Oppa?”

Changmin tersenyum tipis, “Aku selalu bisa membaca apa yang ada dipikiran Kyuhyun. Jadi, kau jangan kaget jika aku tahu meskipun tak ada yang memberitahuku tentang apa yang dia lakukan”

Jinjjayo?”

“Itu karena aku dan Kyuhyun sudah saling mengenal satu sama lain. Seperti kau dan sahabatmu itu, Kris”

Aku mengangguk-angguk mengerti dalam diam karena Changmin memang benar. Jika kau mengenal seseorang sangat lama, kau akan mengerti semua yang dia pikirkan, semua yang dia lakukan meskipun tak ada yang memberitahumu. Aku dan Kris pun begitu meskipun terkadang aku membantahnya saat Kris berusaha membaca pikiran ataupun ekspresiku.

Ahjumma eotte? Apa dia sudah bisa menerima Kyuhyun?” tanya Changmin berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ah, haruskah kita mulai memanggilnya dengan Wooyoung? Itu namanya yang sebenarnya bukan?”

“Pasti akan terdengar canggung jika kita memanggilnya seperti itu,” komentarku spontan.

Changmin hanya tertawa kecil menanggapiku. Dia menarik napas singkat sebelum melanjutkan berbicara, “Kau harus mempertemukan mereka lagi, Sooyoung-ah. Dan aku rasa Kyuhyun tak akan menolak jika datang ke sini,”

“Aku akan memikirkannya,” kataku sambil menghela napas. “Eomma… sepertinya dia akan menolak keras jika aku melakukan ini. Emm… sebenarnya ada yang ingin aku cari tahu sendiri sebelum aku mempertemukan mereka,”

“Tentang kecelakaan itu?”

Aku mengangguk. “Dan juga kenapa Eomma tak mau mengakui jika Kyuhyun Oppa adalah putranya. Bukankah itu aneh jika seorang Eomma tak mau mengakui anaknya sendiri meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu?”

“Yah, aku tak mau berkomentar banyak tentang hal ini” jawab Changmin sambil menggoyang-goyangkan kakinya, menimbulkan gelombang kecil di kolam. “Sampai sekarang akupun tak mengerti kenapa Abeoji memilih untuk tinggal di Korea dan meninggalkan semuanya di Kanada. Bahkan dia sampai menyuruhku untuk bergabung di JinHan”

“Itu karena JinHan juga bagian dari keluarga kalian bukan?” Aku berusaha menerka-nerka. “Harabeoji pasti juga meminta bibi Young Ae untuk menjalankan JinHan seperti yang dia lakukan pada Eomma

“Sebenarnya tidak,” sergah Changmin. “Eommeoni menolaknya, karena itulah dia memilih pergi ke Kanada. Eommeoni tidak terlalu tertarik pada bisnis. Setidaknya itulah yang dikatakan Harabeoji padaku saat dia berkunjung ke Kanada”

“Kau pernah bertemu dengan Harabeoji?” tanyaku sedikit terkejut.

Changmin mengangguk. “Kau pasti pernah juga bukan?”

“Tidak,”

Changmin menaikkan satu alisnya. Ekspresinya sedikit tidak percaya, tapi kemudian dia tersenyum tipis sekali. “Haraeboji orang yang sangat lucu. Dia selalu menceritakan sesuatu padaku. Dia tak bercerita banyak tentang keluargamu, jujur saja”

Kali ini aku memilih untuk diam.

“Selalu tidak menyenangkan jika kita membicarakan keluarga,” kata Changmin lagi karena aku sama sekali tak bersuara. “Bagaimana jika kita membicarakan sesuatu yang lain?”

“Baiklah. Kau ingin berbicara tentang apa, Oppa?” tanyaku ingin tahu.

“Apa saja,”

Aku menghela napas berat, lalu menatap wajah Changmin sekilas. Tapi tetap saja aku tak tahu harus membicarakan apa lagi selain Kyuhyun dan keluarga saat bersama Changmin. Aku tak terlalu banyak membahas tentang Kris, jadi tak seharusnya aku membicarakan tentang namja itu saat bersama Changmin. Lagipula mereka berdua juga tak saling mengenal, hanya pernah bertemu beberapa kali saja dalam suatu kesempatan.

“Oh, emm… aku akan mengambil sesuatu di dapur. Kau mau aku ambilkan apa, Oppa?” tanyaku sambil beranjak dari tempatku. “Kopi? Orange juice? Atau yang lainnya?”

Changmin menyunggingkan senyumnya, “Kopi saja,” katanya.

Arraseoyo, jamkkamanyo

Gomawo, Sooyoung-ah” seru Changmin sebelum aku benar-benar masuk ke dalam dapur. Aku hanya menoleh ke belakang dan mengangguk singkat sebagai jawabannya.

Aku segera membuka lemari es dan mengambil sekaleng kopi untuk Changmin dan susu pisang untukku. Aku manatap kaleng kopi di tanganku sesaat dan entah kenapa pikiranku melayang pada Kyuhyun saat terakhir kali bersamaku. Bukankah dia tergesa-gesa pergi ke suatu tempat setelah seseorang meneleponnya waktu itu? Apa setelah hari itu dia tak ada kabar sampai hari ini seperti yang dikatakan Changmin? Tapi kemana Kyuhyun? Bahkan sampai sekarang dia belum menghubungiku lagi.

“Sooyoung Aghassi. Ada seseorang yang datang dan ingin bertemu dengan Aghassi,” ucap Byun Ahjumma yang tiba-tiba datang menghampiriku ke dapur. “Dia menunggu di teras,” katanya menambahkan.

Nuguseyo, Ahjumma?”

“Itu… namja yang beberapa hari ini sering datang menjemput Aghassi

Ah, Kris! Arraseoyo, aku akan menemuinya” ujarku sambil memasukkan kembali susu pisang ke dalam lemari es. “Ahjumma, bisakah Ahjumma berikan ini pada Changmin Oppa di taman belakang? Lalu katakan padanya jika aku menemui temanku yang datang,”

Byun Ahjumma menganggukkan kepala, lalu dia mengambil kaleng kopi dari tanganku dan bergegas ke taman belakang. Aku memperhatikan Ahjumma sebentar sebelum akhirnya melangkah keluar rumah untuk menemui Kris. Beberapa hari ini dia memang selalu datang ke rumah, padahal aku memintanya untuk tidak datang. Tapi tetap saja Kris mengabaikanku dan bahkan dia akan tetap datang meskipun ada Shim Samchon di rumah.

“Hei,” sapaku langsung duduk di sebelah Changmin. “Kenapa tidak menelepon terlebih dahulu kalau mau datang?”

Kris tersenyum kecil, “Aku ingin memberimu kejutan”

“Kejutan apanya? Aku bahkan tidak terkejut sama-“

“Ini untukmu,” kata Kris tiba-tiba sambil memberikan seikat bunga matahari padaku. “Aku tahu kau menyukai tulip, tapi biarkan kali ini aku memberimu ini”

Aku mengambil bunga itu dengan sedikit bingung, “Ada apa kau memberiku bunga? Apa ada sesuatu yang menyenangkan terjadi?” tanyaku penasaran.

“Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin memberimu sesuatu saja,”

“Tapi kenapa bunga matahari? Kau tahu ini sangat tidak romantis untuk diberikan pada seorang yeoja,” sahutku sambil memutar-mutar seikat bunga matahari itu. “Setidaknya berikan mawar atau baby breath,” kataku lagi.

Kris kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. “Aku memberimu bunga matahari itu karena aku ingin kau tahu bahwa cintaku dan perasaanku akan selalu ada untukmu. Dan aku tak akan pernah melepaskanmu”

Aku sedikit terkejut dengan jawaban Kris ini tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak kembali mengecewakan Kris dan mencoba untuk menerima lebih dari seorang sahabat. Karena hanya Kris satu-satunya namja yang selalu ada disampingku selama ini dan dia begitu mengerti aku. Meskipun Kris belum mengetahui ini, tapi aku akan mencobanya perlahan-lahan. Inilah satu-satunya cara agar aku bisa melupakan perasaanku pada Kyuhyun dan aku harus melakukan itu untuk kebaikan semua orang.

“Kau tak suka?” Kris bertanya karena aku terus memandangi bunga pemberiannya tanpa mengatakan sesuatu. “Gwenchana. Lagipula itu bukan bunga kesukaanmu,”

Aniya, neomu joahaeyo. Gomawo, Kris” sahutku sambil tersenyum lebar. “Aku tak menyangka bunga matahari juga bisa seindah ini jika disusun dengan baik”

Dahaenginda. Aku sempat khawatir kau tak menyukainya karena aku menyusunnya sendiri sebelum datang ke sini” kata Kris memberitahuku. Dia mengusap kepalaku pelan, “Nado gomawo, Sooyoung-ah” lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

Tepat saat itu sebuah mobil berhenti di depan rumah. Itu adalah mobil Shim Samchon. Benar saja, tak lama berselang dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang lebar-lebar. Tapi kemudian dia berhenti melangkah saat melihatku dan Kris di teras. Aku sempat melihat senyumnya yang sangat tidak aku sukai saat berjalan menghampiriku. Begitu berada di hadapanku, senyum yang sebelumnya ada di wajahnya menghilang dan berubah menjadi ekspresi yang terkesan meledekku.

“Sedang ada tamu ternyata,” katanya sambil menoleh ke arah Kris.

Kris langsung membungkukkan badan dan berkata, “Annyeonghaseyo,”

“Kenapa tidak kau ajak masuk, Sooyoung-ah? Bukankah itu tidak sopan membiarkan tamumu tetap berada di luar?” Shim Samchon berkata padaku sambil melirik ke arah bunga matahari yang ada di tanganku. “Apalagi itu adalah tamu istimewa bagimu,”

“Aku tidak mengajaknya masuk karena kami baru akan pergi. Geureom-“ Aku langsung menarik tangan Kris untuk segera pergi dari hadapan Shim Samchon. Tapi sebelum pergi, Kris menyempatkan diri untuk membungkuk ke arahnya dan mengikuti langkahku menjauh dari rumah.

“Choi Sooyoung, jamkkaman” panggil Shim Samchon tiba-tiba. Dia membalikkan badan untuk kembali menghadapku. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya.

Aku melirik ke arah Kris, berharap dia akan membantuku menolak ajakan Shim Samchon ini. Tapi sepertinya Kris tidak mengerti arti pandanganku padanya. Aku menahan kesalku karena sikap Kris, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan. Aku mengikuti Shim Samchon pergi ke samping rumah, dimana hanya ada aku dan dia. Sementara Kris memilih untuk tetap di tempatnya dan menungguku.

Waegeuraeyo? Apa ini tentang JinHan lagi?” tanyaku langsung menerka-nerka sendiri. “Jika iya, aku rasa paman sudah tahu jawabanku dan itu masih tetap tidak” Aku melanjutkan sambil melipat kedua tanganku.

Shim Samchon kembali menunjukkan senyum yang sama, “Kenapa kau selalu berpikir jika paman ingin membicarakan JinHan setiap kali paman mengajakmu berbicara?”

“Karena memang itulah yang terjadi,”

“Tapi kali ini tidak sepenuhnya tentang JinHan” sahut Shim Samchon dengan cepat. “Ini tentang Sajangnim, ahAppa-mu”

Aku menaikkan satu alisku, “Appa?”

“Kau tak tahu bukan jika Sajangnim sedang berusaha memasukkan namamu ke dalam JinHan?”

Ne?”

Shim Samchon menyipitkan matanya menatapku. “Sudah paman duga, kau sama sekali tak tahu. Apa Kyuhyun atau Changmin tidak memberitahumu?” tanyanya seperti sedang memancingku. “Ah, mungkin mereka tak tahu ini karena akhir-akhir ini mereka disibukkan dengan proyek bersama Quintrix itu. Tapi benar, Sajangnim sedang melakukan itu sekarang”

“Kenapa Appa melakukannya?”

“Tidakkah kau tahu jika Appa-mu juga ingin kau bergabung kembali ke JinHan?”

Aku menelan ludahku pahit mendengar perkataan Shim Samchon. Selama ini aku selalu menolak untuk bergabung ke JinHan, tapi jika Appa memang melakukannya aku rasa aku tak memiliki pilihan lain. Tapi kenapa Shim Samchon memberitahuku tentang ini? Apa dia senang karena akhirnya ada sesuatu yang memaksaku untuk kembali ke JinHan?

“Paman yakin kau akan mendapat dukungan yang kuat di JinHan, karena itu-“

“Aku akan menolaknya,” potongku dengan cepat sebelum Shim Samchon selesai berbicara. “Josanghaeyo paman. Aku rasa aku harus pergi karena temanku sedang menungguku”

“Choi Sooyoung, kita belum selesai berbicara”

Aku tersenyum tipis, “Aku rasa sudah, paman. Josanghamnida” kataku. Lalu aku membungkukkan badan dan meninggalkannya untuk kembali menemui Kris. Aku menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri, lalu mengajak Kris untuk melangkah keluar dari rumah. “Ya! Sudah aku katakan beberapa kali untuk tidak datang ke rumah saat sedang libur. Apa kau tak tahu bagaimana pandangan pamanku padaku?” omelku pada Kris sambil terus mengajaknya berjalan.

Mian,”

Neo jinjja baboya!”

“Apa yang pamanmu katakan? Kau kelihatan tidak baik setelah berbicara dengannya”

Aku berhenti melangkah dan menatap Kris lekat-lekat. “Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang kita pergi dari sini karena aku ingin mencari udara segar dan menenangkan pikiranku”

Eodiga?”

“Taman Hangang kecil,”

Kris mengangguk setuju, lalu dia membawaku ke Taman Hangang kecil yang memang dekat dari kawasan rumah Changmin. Sebenarnya itu bukanlah Taman Hangang yang selalu ramai didatangi orang-orang, tapi hanyalah taman kecil yang terletak di tepi sungai Han. Aku juga belum lama mengetahui tentang taman itu, jika bukan karena Kris aku bahkan tak akan pernah tahu ada taman kecil di dekat sini.

“Jadi apa?” tanya Kris begitu kami duduk di rumput dan menghadap ke arah Sungai Han. “Apa yang pamanmu katakan padamu?”

Aku menghela napas panjang sebelum bicara, “Seperti biasanya. Tentang JinHan,”

“Oh, aku pikir sesuatu yang lain” ujar Kris sambil menarik kedua tangannya ke belakang dan menjadikannya tumpuan. “Pamanmu tak pernah menyerah untuk mengajakmu kembali ke JinHan ya?”

Eo, tapi kali ini bukan paman yang memaksaku. Appa-“ kataku singkat.

Kris menegakkan tubuhnya dengan cepat, “Mwo?”

“Shim Samchon memberitahuku jika Appa sedang mengusahakan agar aku bisa kembali ke JinHan dan bekerja disana lagi seperti dulu. Jika Appa memang melakukannya, aku tak memiliki pilihan lain”

“Tapi kau bisa saja menolaknya. Kau tak harus menerima itu jika seandainya Appa-mu memang menginginkanmu kembali bekerja” kata Kris terdengar lebih tegas saat mengatakannya. “Bukankah kau sama sekali tak berminat untuk kembali ke JinHan?”

Aku mengangguk pelan, lalu menundukkan kepala.

Aku sendiri tak tahu apa aku akan bisa menolak permintaan Appa jika benar begitu. Tapi akupun tak mau bekerja di tempat yang sama dengan Kyuhyun, yang mengharuskan kami saling bertemu satu sama lain lebih sering. Jika itu sampai terjadi, apa aku akan bisa benar-benar melupakannya? Disamping itu, rasanya sangat tidak pantas jika aku terus saja menyimpan perasaanku pada Oppa-ku sendiri bukan? Apa yang harus aku lakukan jika apa yang dikatakan Shim Samchon benar?

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

36 thoughts on “[SERIES] Stuck In Love -18-

  1. Kasian kyuyoung.. canggung banget kalo berdua aja.. sebenernya yg tau kebenaran bahwa kyu itu bukan wooyoung siapa? Cuman appa nya aja kah? Kenapa gak buruan dikasi tau..
    Ditunggu next part!~^^

  2. Sistasookyu says:

    Kyuyoungnya miris juga.. Kyu nya belum betul2 inget lagi kalo dia bukan wooyoung
    smoga appanya syo bisa cepet2 bongkar jati diri kyu

  3. Akhir.A d.post jgaaa.. Aq kngen skali ma klanjutan.A ini.
    Knapa Kyu sma Syoo g’coba tes DNA jika mreka msih saja mrasakan sling Cinta dan msih sllu canggung sperti itu.

  4. euhhhh… Kris bikin semuanya makin runyam, bener kata Kyuhyun, dia memanfaatkan kesempatan saat kyuhyun sama sooyoung lagi awkward..
    emmm kak, aku rasa ceritanya terlalu detail, jadinya bertele-tele, takutnya malah nanti pada bosen…
    aku suka kata-katanya😀
    ditunggu part selanjutnya😀 semoga ada pencerahan, hahaha😀

  5. met says:

    Daebak
    Jd appa nya soo gmn nih
    Udh dr chapter lalu aku ngerasa klo kyu itu bkn oppanya soo deh
    G sabar nih nunggu kebenarannya terungkap semua
    Nextnya cpt ne😀

  6. farida_salma says:

    kayaknya kyuppa bukan wooyoung deh
    kayaknya kyuppa itu yang hampir ditabrak appanya soo deh

    next part ditunggu🙂

  7. pna says:

    mudah2an papa cho ga meninggal jadi Shim Samchon ga macem2 ke JinHan, Kyu ataupun Sooyoung huft
    next chapter hhmm asal jangan lama2 ^^

  8. Niihax kyuyoung says:

    ghuuaa..!!😦 inni diyahh..! Ff yg q tunggu2 huhft.. Ke post juggak.? ﹑art 18, syoo.. Jebbal ambil kesimpulan yg melibatakan percintaanmu dn kyuppa.!🙂 baby kyuyoung mesti nyattu donk🙂 sumveh.. Pengennya, inni ada filmnya.! Langsung.. Dry uri kyuyoung yng jd mainnya jugga.?! Heheh.. syp tau bisa Cinlok merekkanyah.? :3

  9. Vi says:

    Akhirnya ada juga ff kyuyoung yg nongol 😞

    Menurut aku alurnya lebih dicepetin lg deh. Terus pendeskripsian kamu tentang latar tempat itu terlalu detil kalo menurut aku. #mian 😃

  10. akhhh malah makin rumit.. skrg ayahnya malah sakit. pengen tiba2 misalnya kyu hrs donor ke ayahnya trus gak cocok & jd ketauan bukan anaknya *pengennya sih gini hahahha*
    mumpung soo msh labil perasaannya & lbh dominasi ke kyu…. semoga lbh terungkap faktanya di part selanjutnya

  11. sooyounggggg210 says:

    Ga tega ngeliat hubungan Kyuhyun & Sooyoung T^T
    Kapan mereka bisa bahagia? T^T
    Ditunggu next chapter nya ya thor!!:)

  12. dina says:

    Aigoo…. gak tega banget ngeliat hubungan Kyuyoung seperti ini. Bener2 canggung dan menyedihkan. Mau bilang cinta, tdk bisa. Seakan2 ada tembok besar yg menghalangi perasaan mereka. Eottokke? Kapan kebenaran akan terungkap? Aku kasian banget sama Kyuyoung.
    Apalagi Kris sdh mulai mendekati Soo. Bagaimana dgn Kyu? itu pasti sangat sulit utknya, begitu pun dgn Soo.
    Next part semangat!
    Jebal, buat Kyuyoung bersatu. Cobaan mereka sdh terlalu berat.

    *Mianhae… kok aku jadi melankonis gini ya? hehe.. jeongmal mianhae.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s