[Series] Stuck In Love -19-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@occy_gg)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

Masih pada inget cerita sebelumnya gg? Masih dong ya. Kalau lupa silahkan buka part sebelumnya aja >.< mian… (tapi ini aku mulai dari part terakhir, semoga kalian inget dikit yah)

Maaf banget knigts karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Shim Samchon memberitahuku jika Appa sedang mengusahakan agar aku bisa kembali ke JinHan dan bekerja disana lagi seperti dulu. Jika Appa memang melakukannya, aku tak memiliki pilihan lain”

“Tapi kau bisa saja menolaknya. Kau tak harus menerima itu jika seandainya Appa-mu memang menginginkanmu kembali bekerja” kata Kris terdengar lebih tegas saat mengatakannya. “Bukankah kau sama sekali tak berminat untuk kembali ke JinHan?”

Aku mengangguk pelan, lalu menundukkan kepala.

Aku sendiri tak tahu apa aku akan bisa menolak permintaan Appa jika benar begitu. Tapi akupun tak mau bekerja di tempat yang sama dengan Kyuhyun, yang mengharuskan kami saling bertemu satu sama lain lebih sering. Jika itu sampai terjadi, apa aku akan bisa benar-benar melupakannya? Disamping itu, rasanya sangat tidak pantas jika aku terus saja menyimpan perasaanku pada Oppa-ku sendiri bukan? Apa yang harus aku lakukan jika apa yang dikatakan Shim Samchon benar?

Ah, Sooyoung-ah” panggil Kris tiba-tiba. Aku yang sedang memikirkan perkataan Shim Samchon langsung menolehkan kepala. “Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat?” tanyanya.

Eodigayo?”

“Ke tempat dimana kau tak memikirkan tentang pamanmu dan segala sesuatu tentangnya. Eotte?” jawab Kris sambil mengedipkan matanya beberapa kali. “Kau akan selalu bersikap diam dan tidak tenang seperti ini jika berhubungan dengan pamanmu atau keluargamu. Jadi mungkin sebaiknya kau menghilangkan semua hal tentang itu sebentar,”

Aku tersenyum kecil. “Memangnya ada tempat yang bisa membuatku untuk tidak memikirkan semua itu?”

Kris diam sesaat dan terlihat sedang memikirkan suatu tempat. Lalu beberapa saat kemudian senyum lebar tersungging di wajahnya. “Kau mau pergi ke Lotte World?”

“Eh?”

“Lotte World. Ayo kita ke sana, eotte?” tanya Kris lagi. Aku belum sempat menjawab apapun, Kris sudah menarik tanganku. “Kau memang harus pergi ke tempat seperti itu karena disanalah kau tak akan memikirkan apapun selain wahana apa yang akan kau naiki selanjutnya” katanya terus membawaku kembali ke rumah Changmin dimana mobilnya terparkir.

Aku sama sekali tak mengatakan apa-apa untuk menanggapi perkataan Kris dan memilih untuk mengikutinya saja. Tak lama, aku sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Kris yang mulai melaju di jalanan padat Seoul. Di sepanjang perjalanan ke Lotte World, seperti yang Kris katakan pun, aku tetap menutup mulutku dan hanya melihat pemandangan dari kaca mobil.

Sebenarnya aku ingin cepat menolak saat Kris mengatakan ingin pergi ke Lotte World bersamaku. Karena aku terakhir kali ke sana bersama Kyuhyun dan aku benar-benar menikmati waktu itu. Tapi kemudian aku ingat jika aku bertekad untuk tidak memikirkan apapun lagi tentang hal itu. Lagipula aku tak mungkin terus menghindari tempat-tempat yang pernah aku kunjungi bersama Kyuhyun hanya karena dia sekarang adalah Oppa-ku, bukan namjachingu-ku lagi. Aku benar-benar harus berhenti memikirkannya lebih dari seorang Oppa.

Mataku melirik ke arah Kris yang sedang berkonsentrasi pada kemudinya. Dia benar. Seharusnya aku memang tak memikirkan apapun lagi karena aku pasti akan lebih banyak diam. Bukankah aku juga berjanji untuk tidak lagi membuatnya kecewa? Aku harus terus mengingat itu agar aku tidak melakukannya lagi. Kris sudah terlalu baik padaku meskipun beberapa kali aku membuatnya kecewa.

“Kris,” panggilku.

Kris menoleh, “Eo. Waegeurae?”

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis, “Apa yang ingin kau naiki pertama setelah kita sampai di Lotte World?” tanyaku mencoba untuk membuat suasana kembali seperti biasanya diantara aku dan Kris.

Emm… aku akan mengikuti apa yang kau mau. Jadi, apa yang ingin kau naiki pertama?” jawab Kris balik bertanya padaku.

“Mengikutiku?”

Kris menganggukkan kepala.

“Aku… sebenarnya aku tak ingin menaiki apapun disana. Aku… bagaimana jika kita hanya jalan-jalan saja?” ujarku berusaha untuk jujur di depan Kris. “Mian, Kris” Aku menambahkan.

Kris kembali menoleh ke arahku, lalu dia menepikan mobilnya sebelum berkata padaku. “Kau hanya ingin jalan-jalan?” tanyanya yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. “Kalau begitu kita tidak usah ke Lotte World. Bagaimana jika kita pergi ke Dosan Park saja?”

Ya! Bukankah itu sama dengan taman-taman yang lainnya? Kita ke Lotte World saja, tapi bagaimana jika kita hanya menghabiskan waktu di dalam ruangan. Ah, bukankah ada ice skating disana?”

Ice skating?” sahut Kris cepat. “Arraseo,” katanya lagi sambil kembali melanjukan mobilnya.

Tak lama kemudian, kami pun sampai di Lotte World. Karena ini adalah sebuah tempat yang cukup terkenal, aku tak pernah berharap jika tempat ini tidak akan banyak orang yang datang. Benar saja, begitu masuk ke dalamnya, aku dan Kris sudah disambut dengan barisan panjang orang-orang yang sedang mengantri untuk menaiki sebuah wahana. Padahal, di Lotte World sendiri terdapat dua bagian, yaitu indoor dan outdoor. Jika di dalam sudah seperti ini ramainya, bagaimana di luar? Aku yakin sekali pasti lebih ramai lagi karena di luar hampir semuanya wahana yang benar-benar menantang adrenalin.

Aigoo, kapan kita akan bisa menaiki salah satu wahana jika antriannya sepanjang itu?” komentar Kris saat kami terus masuk ke dalam Lotte World. “Aku tak yakin kita bisa menaikinya mengingat sudah jam berapa saat ini. Sepertinya kau benar, Sooyoung-ah. Kita jalan-jalan saja disini,” lanjutnya.

“Aku sudah tahu akan seperti ini,” gumamku pelan. Aku menghela napas singkat, “Kalau begitu kita kemana?”

“Ayo kita ke Folk Museum saja,” ajak Kris sambil menunjuk ke arah tulisan besar di ujung jalan. “Disana kita tak perlu antri bukan?”

Kajja,”

Aku menarik tangan Kris ke Folk Museum tanpa banyak bicara padanya. Lotte World Folk Museum merupakan sebuah miniatur dan kehidupan sehari-hari rakyat Korea pada jaman dahulu. Meskipun aku pernah datang ke sini bersama Kyuhyun, tapi aku tak pernah masuk ke dalam Museumnya karena saat itu hari sudah terlanjur malam. Lagipula sepertinya Kyuhyun tak begitu tertarik untuk masuk ke sini dan lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi outdoor.

Selama mengunjungi Folk Museum, aku tak sadar jika tanganku terus menggenggam tangan Kris. Aku baru menyadarinya saat beberapa kali Kris mempererat genggaman tangannya dan dia menatap ke arahku setiap kali melakukannya. Aku juga bisa melihat Kris menyunggingkan senyumnya walaupun dia berusaha untuk menyembunyikannya dariku. Aku merasa lega karena setidaknya aku tidak mengecewakan Kris kali ini dan berhasil membuatnya menikmati waktunya bersamaku, seperti dulu.

“Kris, aku lelah” kataku pelan saat kami selesai menyurusi Folk Museum dan sudah keluar dari sana. “Kita istirahat dulu saja disini,”

Arraseo,” jawab Kris setuju. “Kau duduklah dulu, aku akan membeli sesuatu untukmu. Kau ingin apa? Tteokppoki? Burger? Hot Dog? Pang? Teokkebi? Atau-“

“Aku tak mau kau membelikanku semua itu, Kris” potongku dengan cepat. “Kau tahu, aku tidak terlalu banyak makan sekarang”

Yah, jinjja? Sayang sekali! Padahal aku sangat menyukainya,” sahut Kris. “Saat melihatmu makan dengan lahap dan banyak, aku benar-benar senang. Karena aku pikir aku tak mungkin melakukannya dan cukup melihatmu makan sebanyak itu, sudah membuatku senang”

Mwoya?”

Kris tertawa, lalu dia mendudukkanku di salah satu bangku di dekat Jungle Adventure. Tanpa berkata padaku lagi, dia langsung melangkah pergi ke salah satu kedai makanan yang memang terdapat di seluruh kawasan ini. Dari tempatku duduk, aku masih bisa terus melihat Kris karena kedai yang dia masuki pun tak begitu jauh. Aku melihatnya membeli Tteokppoki dan Teokkebi, lalu dia menunjukkannya padaku. Aku tersenyum sambil mengangguk ke arahnya. Selanjutnya Kris membeli kopi dan langsung kembali ke tempatku berada.

Cappucino,” kata Kris sambil memberikan salah satu gelas kopi padaku. “Dan kau mau Teokkebi?”

“Berikan saja padaku,”

Kris terkekeh. Dia memberikan sebungkus Teokkebi, lalu duduk disebelahku. Dia memandangi gelas kopi di tanganku, tapi tak ada tanda-tanda dia ingin mengatakan sesuatu lagi padaku. Aku mengangkat bahu singkat, lalu meminum cappuccino yang terasa sangat hangat dan menggigit Teokkebi yang Kris berikan padaku. Untuk beberapa saat, tak ada percakapan diantara aku dan Kris karena kami sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku sendiripun tak tahu kenapa seringkali aku kehilangan bahan obrolan saat bersama Kris, padahal dulu hampir tak pernah terjadi sesuatu seperti ini.

Aku teringat bunga matahari yang Kris berikan dan saat ini berada di dalam mobilnya. Kata-kata Kris waktu itu tiba-tiba teringang di telingaku. “Aku memberimu bunga matahari itu karena aku ingin kau tahu bahwa cintaku dan perasaanku akan selalu ada untukmu. Dan aku tak akan pernah melepaskanmu”

Aku menarik napas. Sebesar itukah perasaan Kris padaku? Bahkan dia tak menjauh dariku meskipun aku dengan sangat jelas menolaknya dan selalu ada disampingku sampai sekarang. Aku menarik napas lagi, lalu melirik ke arah Kris yang sedang menatap lurus ke arah depannya. Aku benar-benar tak menyangka ada namja seperti Kris yang bahkan tetap berada di posisinya saat bersamaku dengan perasaannya yang seperti itu.

“Kris,” panggilan pelanku membuat Kris langsung menolehkan kepala. “Kau menikmatinya?” tanyaku tanpa berpikir terlebih dahulu.

“Huh?”

Aku menatap Kris lekat-lekat, lalu kembali menghela napas sebelum berbicara padanya. “Apa kau menikmatinya? Berada di posisimu sekarang,” kataku.

“Sooyoung-ah, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan” sahut Kris dengan ekspresi bingungnya. “Posisi apa yang kau maksud?”

Aku diam tak menjawab dan hanya melemparkan senyum tipis ke arah Kris. Pandanganku beralih sebentar ke sekelilingku, lalu kembali pada Kris. “Geurae, Kris. Ayo kita lakukan,” kataku tanpa ragu lagi.

Eo? Lakukan apa?” tanya Kris semakin terlihat bingung ekspresinya. “Kau ingin menikmati wahana di luar atau kau-“

“Berkencan,” sambarku cepat. “Ayo kita melakukannya, Kris”

Sepasang mata Kris langsung melebar, “Sooyoung-ah

Wae? Shirreo?

Kris diam. Cukup lama, sampai aku berpikir dia sedang melamun. Tapi sebelum aku kembali bicara, dia bersuara. “Neo… jin..jja?”

Aku menganggukkan kepala beberapa kali. Belum sempat aku mengatakan apa-apa pada Kris, dia sudah menarikku ke dalam pelukannya. Untuk sesaat, aku hanya diam tak bergerak di posisiku. Tapi detik berikutnya aku membalas pelukan Kris dan membiarkan perasaanku ini melebur dengannya. Aku berharap apa yang aku lakukan ini bisa cepat mengubahperasaanku pada Kyuhyun yang entah bagaimana sangat sulit untuk dihilangkan. Dan aku juga berharap, aku akan bisa mencintai Kris lebih dari aku mencintai Kyuhyun atau bahkan lebih dari itu. Ya, aku benar-benar berharap seperti itu untuk sekarang.

¯¯

Kyuhyun POV

Aku menatap sedih ke arah Appa yang juga belum sadar setelah operasi yang dia lakukan di Jepang. Dengan bantuan Choi Siwon, dokter yang kebetulan melakukan operasi Appa dan juga temanku, aku diijinkan membawa Appa kembali ke Korea dan melakukan perawatan disana. Aku memang sengaja memindahkan Appa karena jika berada di Korea, itu akan memudahkanku untuk terus menjaganya. Selain itu, aku juga tak mungkin membiarkan Pengacara Han terus menunggui Appa di Jepang.

Kwajangnim, Anda masih disini” kata Pengacara Han yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tempat Appa di rawat di salah satu rumah sakit besar Seoul. “Bukankah seharusnya Anda memimpin rapat direksi hari ini?” tanyanya dengan nada heran.

“Sebentar lagi aku akan ke JinHan. Aku hanya ingin melihat Appa sebelum pergi bekerja,” jawabku sambil menggenggam tangan Appa dengan erat. “Aku benar-benar berharap Appa segera bangun,” gumamku pelan.

Pengacara Han melangkah ke sampingku, lalu memegang bahuku seakan-akan menenangkanku. “Sajangnim pasti akan bangun, kita tunggu saja”

Aku menganggukkan kepala.

“Anda harus pergi. Sajangnim pasti akan kecewa jika Anda datang terlambat saat Anda seharusnya memimpin rapat. Jangan khawatir, aku akan disini”

Josanghaeyo, Pengacara Han. Aku harus meninggalkan Appa padamu lagi,” kataku merasa bersalah.

Pengacara Han tersenyum tipis, “Gwenchanaseumnida. Itu sudah menjadi bagian dari tugasku” ujarnya. “Aku akan segera menghubungi Anda jika Sajangnim menunjukkan perkembangan apapun,” katanya lagi.

Ne. Kamsahamnida,”

Aku membungkukkan badan pada Pengacara Han, lalu melangkah keluar dari kamar Appa. Sebelum benar-benar pergi, sekali lagi aku menatap Appa dan berharap Appa akan cepat bangun, jadi aku tidak khawatir seperti ini. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu aku kembali melangkah dan meninggalkan Appa sendirian bersama Pengacara Han. Belum ada yang tahu jika Appa sedang dirawat di rumah sakit, karena akupun tak berniat untuk memberitahu siapapun. Kecuali mungkin Sooyoung dan Eomma. Tapi aku akan memberitahu mereka nanti, setidaknya menunggu sampai keadaan Appa sedikit lebih baik.

Satu tanganku mengambil ponsel dari saku jasku. Aku menarik napas sekali lagi sebelum memilih nomor dan mendekatkannya ke telinga. Nada sambung mulai terdengar, tapi tak lama kemudian berhenti tepat saat mobilku baru akan meninggalkan halaman rumah sakit.

“Changmin-ah,” kataku tanpa menyapanya terlebih dahulu karena itu sudah menjadi kebiasaanku.

Ya! Cho Kyuhyun! Neo eodiso?!” jawabnya dengan suara keras. “Kau menghilang begitu saja dan tak mengirimkan pesan atau apapun padaku maupun Sooyoung. Kau pikir kau siapa, huh?!”

Ah, mian. Aku… ada urusan penting dan lupa memberitahumu” kataku asal menjawab. “Lupakan tentang itu karena sebentar lagi-“

Mwoya? Lupakan? Kau meninggalkan pekerjaanmu begitu saja dan menyuruhku untuk melupakannya?” sahut Changmin memotong perkataanku. “Posisimu memang diatasku, Kyuhyun-ah. Tapi kau benar-benar harus belajar tanggung jawab karena kau sudah disiapkan Sajangnim untuk JinHan”

Arraseo, mian. Aku tak akan melakukannya lagi,”

Changmin tak segera menanggapiku dan aku mendengarnya menghela napas panjang sebelum dia kembali bersuara. “Kau dimana sekarang?” tanyanya dengan suara yang terdengar lebih biasa.

“Aku sedang dalam perjalanan ke JinHan. Mungkin aku akan sampai sekitar 10 menit lagi,”

“Baiklah, aku akan menunggumu”

Eo,”

Aku menutup sambungan telepon itu, lalu menambah kecepatan mobilku agar cepat sampai di JinHan. Pengacara Han benar, aku tak boleh datang terlambat apalagi hari ini ada rapat direksi dan akulah yang memimpinnya. Aku tak mau Shim Busangjangnim semakin menjatuhkanku karena hal-hal seperti ini. Sudah cukup dia melakukannya padaku selama ini. Aku harus bertanggung jawab pada JinHan. Apalagi melihat keadaan Appa sekarang yang sepertinya tak mungkin lagi mengurusi semua urusan JinHan. Akupun tak mau Appa melakukannya karena seharusnya dari dulu dia memang harus banyak beristirahat.

Benar saja, tak sampai 10 menit mobilku sudah berada di halaman parkir JinHan. Aku bergegas keluar dari mobil sambil membalas sapaan beberapa orang yang juga baru datang. Begitu sampai di lobby, aku melihat Changmin yang sedang mengobrol bersama Victoria. Melihat dari sikap mereka, sepertinya ada sedikit kemajuan dari hubungan mereka. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Oh, Cho Kwajangnim” Aku mendengar suara Victoria saat aku semakin dekat dengan mereka. “Annyeonghaseyo,” sapanya.

Annyeonghaseyo” balasku. Tak lupa aku menyunggingkan senyum ke arah Victoria. “Mian, karena aku mengganggu kalian” kataku berusaha menggoda.

Changmin menatap tajam ke arahku, tapi dia tak mengatakan apa-apa. Membuatku harus menahan tawa di depan mereka berdua.

Animida, Kwajangnim” kata Victoria. “Lagipula ini sudah waktunya untuk bekerja. Shim Chojangnim hanya meminta daftar permintaan yang masuk minggu lalu,”

Ah, geurae? Aku tahu jika-“

Kajja ga,” ajak Changmin tiba-tiba sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku menganggukkan kepala pada Victoria yang membalasnya dengan membungkukkan badan. “Ya! Apa yang sedang kau coba lakukan?” tanya Changmin terus membawaku sampai di depan lift.

Aku terkekeh. “Tidak ada,”

Changmin menggeleng-gelengkan tidak percaya, “Aku tahu kau pasti berusaha untuk menggodaku, bukan?”

“Apa kalian sudah berkencan sekarang?” tanyaku langsung sambil masuk ke dalam lift. “Melihat bagaimana kalian berbicara satu sama lain dan juga bagaimana kalian menatap, sepertinya aku benar”

Ya! Diamlah,” bisik Changmin dengan sedikit penekanan pada suaranya. Dia melirik ke sekelilingnya yang memang ada beberapa orang. “Sebentar lagi rapat dimulai, apakah Anda langsung ke ruang rapat, Kwajangnim?” Changmin berusaha mengalihkan pembicaraan.

Aku kembali terkekeh, lalu menatap jam tanganku. “Sepertinya begitu. Karena aku yang memutuskan untuk melakukan rapat pagi-pagi sekali, aku harus datang lebih awal dari yang lain”

Algeseumnida, Kwajangnim

Beberapa orang keluar dari lift dan hanya meninggalkanku, Changmin serta dua orang lain yang bekerja di lantai yang sama dengan Appa. Aku berusaha untuk mengabaikan mereka dan memikirkan Appa di rumah sakit. Aku melirik Changmin yang sedang berbicara dengan salah satu orang yang berada satu lift dengan kami. Haruskah aku memberitahu Changmin juga? Bagaimana jika dia memberitahu Shim Busangjangnim?

**

Mwo? Dia di rumah sakit?”

Aku mendengar suara keras itu saat sedang melewati salah satu lorong di lantai tiga gedung JinHan. Keningku berkerut tajam, lalu dengan langkah pelan akupun berjalan menuju ke arah suara itu. Aku mengintip dibalik dinding untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan suara keras seperti itu di lorong yang jarang dilewati orang karena memang tak ada apapun disini kecuali ruangan arsip dan ruangan-ruangan kosong yang sudah tidak terpakai lagi. Aku sendiri heran kenapa Appa membiarkan ruangan-ruangan itu kosong padahal bisa digunakan untuk sesuatu yang lain.

“Apa kau yakin? Kau melihatnya sendiri?”

Ne, Busangjangnim. Aku melihatnya sendiri saat aku sedang berada di rumah sakit yang sama untuk memeriksakan kandungan istriku,”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sambil mempertajam pendengaranku. “Busangjangnim?” gumamku pelan sekali.

“Lalu apa kau mencari tahu apa yang terjadi padanya?” tanya sebuah suara yang memang aku kenali sebagai suara Shim Busangjangnim. “Apa yang terjadi pada Choi Yoon Jae?”

Mataku membelalak karena terkejut dengan apa yang dikatakan Busangjangnim. Bagaimana dia tahu? Apa orang disebelahnya yang memberitahunya? Aku menyipitkan mata untuk melihat siapa orang yang sedang bersama Shim Busangjangnim, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas.

“Dia pasti akan melakukannya dengan cepat, aku yakin itu” Suara Busangjangnim kembali terdengar dan membuyarkan pikiranku. “Selama ini aku memilih diam karena aku ingin tahu seberapa lama dia akan mempertahankan anak itu dan seberapa jauh dia akan menggunakannya”

“Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?” sahut namja disebelah Busangjangnim. “Apa Anda tidak akan melakukan apapun lagi dan membiarkannya begitu saja sampai semuanya terbongkar dengan sendirinya?”

“Tidak. Itu akan terlalu lama. Lagipula anak perempuan itu sudah pasti tak akan menerimanya, jadi mau tak mau Yoon Jae memang harus memberikannya pada anak itu” jawab Shim Busangjangnim. “Jadi apa yang akan aku lakukan selanjutnya?”

Kedua alisku saling bertaut sambil terus mendengarkan percakapan diantara Shim Busangjangnim dan namja itu. Apa mereka sedang membicarakan Appa, Sooyoung dan aku? Aku tak mungkin salah mendengar Shim Busangjangnim menyebutkan nama Cho Yoon Jae, jadi memang benar dia sedang membicarakannya bukan? Tapi hal apa yang sedang mereka bicarakan?

“Tuan, apa Anda yakin?” Namja itu terlihat terkejut saat aku kembali memfokuskan pikiranku pada mereka. “Aku… aku tak yakin Anda akan melakukan hal seperti itu, Tuan”

“Kenapa? Kenapa aku tak bisa melakukannya? Anak itu… Anak itu telah mengambil Young Ae dari hidupku dan, dan apa yang dilakukan oleh Yoon Jae? Dia justru membawa anak yang juga telah mengambil nyawa anaknya, lalu menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Apa dia tak tahu apa yang sudah dia lakukan?” jawab Shim Busangjangnim. “Aku tak bisa diam saja kali ini. Membiarkan JinHan jatuh ke tangan orang asing. Itu bukan sesuatu yang diinginkan oleh istriku,”

Aku diam tak bergerak di tempatku dan menatap kosong ke kaca besar di depanku. Aku… bukan anak… kandung… Appa? Aku bersandar pada dinding dan kilasan mimpi tentang kecelakaan itu kembali muncul di kepalaku. Anak itu… Dia adalah aku?

Maldo andwae… maldo andwae,” kataku tetap berada di posisiku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku tidak percaya. “Maldo andwae-“

Aku kembali menoleh ke arah Shim Busangjangnim dan namja itu. Mereka sudah tidak ada disana. Sepertinya mereka pergi menggunakan tangga darurat yang memang terletak persis di samping mereka. Haruskah aku pergi dan mengikuti mereka untuk tahu siapa aku sebenarnya? Tapi sanggupkah aku mendengarnya lebih jauh? Aku menundukkan kepala dan memandangi sepatuku sambil terus mengingat perkataan Shim Busangjangnim. Apa yang dikatakan Shim Busangjangnim itu benar? Atau dia sengaja mengatakannya untuk menjatuhkanku?

Aku menarik napas panjang beberapa kali, sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi dari tempatku. Aku berjalan dengan langkah gontai, sampai-sampai aku mengabaikan beberapa orang yang menyapaku saat aku melewati mereka. Aku hanya terus berjalan sambil memikirkan semua hal yang aku dengar beberapa saat yang lalu.

Kwajangnim,” sapa seseorang di belakangku.

Aku menolehkan kepala, dan Changmin-lah yang sedang berdiri disana. Disampingnya ada Pengacara Lee yang tersenyum dengan sangat sopan padaku. Mereka berdua langsung menghampiriku sebelum aku masuk ke dalam lift, lalu mengajakku untuk berbicara.

Kwajangnim, aku menerima telepon dari Lee Sajangnim, CEO Quintrix. Mereka berkata mereka tidak bisa menerima perubahan material yang kita usulkan karena mereka tahu material yang akhirnya digunakan memang merupakan material yang terbaik” kata Changmin memberitahu. “Bagaimana menurut Anda, Kwajangnim? Apa kita tetap menggunakan material yang kita rencanakan atau sesuai permintaan mereka?”

Aku diam tak menanggapi. Pikiranku masih tetap pada Shim Busangjangnim dan juga namja itu.

Kwajangnim,” panggil Pengacara Lee sambil memegang bahuku.

Aku menatap Changmin, lalu Pengacara Lee secara bergantian. “Terserah kalian saja,” jawabku sebelum melangkah pergi ke dalam lift yang saat itu sedang terbuka.

Kwajangnim,”

“Kyuhyun-ah

Aku mengabaikan panggilan Changmin dan Pengacara Lee dengan menutup pintu lift-nya. Saat ini aku tak mau diganggu dengan masalah apapun karena sepertinya pikiranku pun sedang tertuju pada satu hal. Mataku terpejam dan mengingat semua hal yang terjadi padaku. Mimpi itu, Eomma, sikap Busangjangnim, Sooyoung dan masih banyak lagi. Apa penolakan Eomma dan bagaimana Busangjangnim memperlakukanku sudah menjadi bukti bahwa aku memang sebenarnya bukan anak kandung Appa? Kalau begitu siapa aku sebenarnya? Anak itu? Aku bahkan tak tahu apapun tentang anak itu kecuali saat dia mengalami kecelakaan bersamaan dengan mobil yang berputar itu. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

¯¯

Sooyoung POV

Eomma, Kris akan datang ke rumah” kataku memberitahu Eomma yang sedang duduk-duduk sendirian di ruang keluarga rumah Changmin. “Eomma tak pergi kemana-mana hari ini bukan?” tanyaku sambil duduk disebelahnya.

Eo. Hari ini Eomma akan tinggal di rumah karena orang lain yang akan mengurus pekerjaan Eomma” jawab Eomma tanpa menatapku dan terus saja membaca majalah yang sedang dia baca.

“Pekerjaan?”

Eomma mengangkat wajahnya, lalu menatapku dengan heran. “Pekerjaan Eomma di restoran. Bukankah Eomma sudah memberitahumu?”

Aku mengangkat satu alisku dan mengingat-ingat kapan Eomma memberitahuku tentang restoran yang dia maksud. Aku mengangkat bahuku karena tak bisa mengingatnya. Mungkin Eomma memang mengatakannya padaku tapi aku tak begitu mendengarkannya. Lagipula hubunganku dengan Eomma beberapa hari yang lalu pun sedang tidak bagus, jadi yah… aku memang hanya berpura-pura mendengarkannya.

“Apa kau sudah memilih pekerjaan apa yang ingin kau lakukan, Sooyoung-ah?” tanya Eomma lagi karena aku terus saja diam. “Kau bisa membantu Eomma jika memang tak ada yang kau kerjakan. Atau kau bisa ikut pamanmu dan mulai bertanggung jawab pada apa yang seharusnya menjadi milikmu,”

“Aku tak mau ikut paman. Lagipula sudah ada Kyuhyun Oppa disana, jadi kenapa aku harus pergi?” sahutku cepat.

“Kyuhyun Oppa?” ulang Eomma tidak percaya. “Tidak bisakah kau berhenti memanggilnya dengan Oppa? Dia bahkan bukan-“

“Dia Oppa-ku. Kenapa Eomma tak mau mengakuinya sebagai anak Eomma?” potongku sebelum Eomma menyelesaikan kalimatnya. “Apa karena Eomma terlalu marah pada Appa jadi Eomma tak menganggapnya sebagai anak Eomma?”

“Sooyoung-ah,”

Eomma, jebal jom~”

Eomma menatapku lekat-lekat, lalu aku melihatnya menghela napas. Dia menutup majalahnya dan meletakannya di atas meja sebelum kembali padaku. “Kenapa kau tak percaya apa yang Eomma katakan? Eomma akan selalu tahu, karena Eomma adalah seorang Eomma,”

Aku tersenyum hambar, “Selama ini aku selalu percaya Eomma, tapi apa yang Eomma lakukan terakhir kali? Aku rasa Eomma masih mengingatnya dengan jelas”

“Sooyoung-ah. Eomma tahu kau masih terluka karena itu, tapi Eomma melakukannya untuk melindungimu”

“Aku rasa aku tahu apa artinya ‘melindungi’, tapi yang Eomma lakukan bukanlah ‘melindungi’ seperti yang aku tahu” jawabku terus membantah apa yang Eomma katakan. “Aku sudah lelah jika terus membahas hal ini” Aku menambahkan.

Geurae, Eomma pun sama lelahnya denganmu” kata Eomma. “Lagipula Eomma tak mau berdebat denganmu karena masalah yang sama, dan kita sudah pernah membahasnya”

Aku mengangguk dalam diam. Pandanganku beralih ke arah jam yang tertempel di dinding. Hari ini Changmin dan Appa-nya pergi entah kemana, tapi aku rasa mereka tidak pergi ke tempat yang sama. Karena Changmin pergi lebih awal dan pakaiannya terlihat seperti dia akan pergi berkencan dengan seseorang. Sementara Shim Samchon, hmm… entahlah aku tak terlalu memperhatikan dia dan itupun bukan menjadi urusanku.

“Tidak biasanya Kris datang ke sini. Apa kau yang menyuruhnya datang?” tanya Eomma sambil meminum teh nya. “Biasanya kau yang pergi ke Apartemennya dan menghabiskan waktu disana” katanya melanjutkan.

“Dia datang karena ingin memberi salam pada Eomma,”

Eh? Memberi salam?”

Aku kembali menganggukkan kepala.

“Ada apa sampai dia harus memberi salam pada Eomma? Dia bahkan sering datang ke rumah kita di Daejeon, ah, hampir setiap hari dia datang bukan?”

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Kris akan mengatakannya sendiri pada Eomma jika dia datang,”

“Apa ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dari Eomma?” tanya Eomma dengan wajah penasarannya. “Marhae. Kenapa harus menunggu Kris?”

Aku memalingkan wajahku ke arah pintu, dan tepat saat itu suara bel terdengar. Aku langsung beranjak dari tempatku dan melangkah keluar untuk membukakan pintu gerbang tanpa menunggu Byun Ahjumma yang melakukannya. Ini juga untuk menghindariku untuk menanggapi perkataan Eomma sebelumnya. Karena entah kenapa aku tak bisa mengatakannya sendiri pada Eomma jika aku dan Kris sekarang berkencan.

“Hai,” sapaku pada Kris seraya membukakan pintu gerbangnya. “Kenapa kau terlambat?”

Kris tersenyum, “Wae? Apa kau merindukan namjachingu-mu ini?” sahutnya. “Aku tahu, kau pasti merindukanku” katanya sambil mengusap pelan kepalaku.

Ya! Jangan bersikap berlebihan hanya karena sekarang hubungan kita berbeda. Dan apa itu merindukanmu? Aku bahkan tak tahu arti kata itu,” jawabku melangkah ke arah rumah terlebih dahulu dari Kris. “Ah, kau tak membawa sesuatu untukku?” tanyaku melihat ke arah tangan Kris yang kosong.

“Apa aku harus membawa sesuatu? Bukankah biasanya memang seperti ini?”

Aku menatapnya heran, “Kau benar-benar tidak romantis sama sekali,” kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kris hanya meringis ke arahku, lalu dia merangkulku sampai akhirnya kami tiba di depan pintu. Sebelum masuk dan bertemu Eomma, aku memintanya untuk bersikap biasa terlebih dahulu karena Eomma memang belum tahu apa-apa. Aku sendiri tak tahu bagaimana reaksi Eomma jika aku dan Kris memberitahunya jika sekarang kami berkencan. Apa dia akan terkejut dan menerimanya? Atau dia akan bersikap biasa saja karena selama ini pun aku sudah biasa bersama Kris.

Eomma, Kris datang” kataku memberitahukan kedatangan Kris. Aku mengajak Kris ke arah ruang keluarga untuk menemui Eomma. “Eomma, Kris disini”

Annyeonghaseyo, Ahjummeonim

Eomma berdiri dari tempat duduknya dan menyambut Kris dengan hangat seperti biasa. “Jal jinaesseo, Kris?”

Eo, Ahjumma. Jal jinaesseoyo

Ahjumma senang kau datang, Kris. Karena setidaknya ada yang Sooyoung lakukan saat bersamamu” kata Eomma sambil melirik ke arahku. “Kau tahu bukan? Dia tak melakukan apapun sejak datang ke Seoul selain berkeliaran di rumah,”

Kris tersenyum lebar, “Aku sudah menawarkan beberapa pekerjaan padanya, Ahjummeonim

“Tapi dia menolaknya bukan?”

Aish, Eomma” sergapku dengan cepat. “Aku akan bekerja, jangan khawatir. Memangnya siapa yang tak mau menerima lulusan KAIST ini, huh?”

“Lihat bagaimana percaya dirinya kau mengatakan itu. Jika kau memang lulusan KAIST, bukankah lebih baik kau bekerja di perusahaan keluargamu sendiri? Kau akan memiliki jabatan, lalu apa lagi?” kata Eomma. “Kenapa kau selalu membuat suatu hal menjadi sulit padahal kau bisa mendapatkannya dengan mudah?”

Aku memilih tak menjawab lagi perkataan Eomma karena aku tak mau bertengkar dengannya di depan Kris. Selain itu, suasananya pasti akan berubah menjadi canggung dan menyebalkan. Sangat tidak sesuai dengan suasana saat kau mengenalkan namjachingu-mu pada orangtuanmu sendiri.

“Kris, Ahjumma heran. Kenapa kau bisa bertahan lama berteman dengan Sooyoung?” tanya Eomma mengalihkan pembicaraan pada Kris. “Lihat saja, saat Kris berkencan dengan seorang yeoja, kau pasti akan ditinggalkan Sooyoung-ah” katanya beralih lagi padaku.

Kris terbatuk kecil, lalu dia melirik ke arahku sambil menganggukkan kepalanya. “Ahjummeonim,” panggil Kris pelan. “Sebenarnya aku… aku sudah memiliki seorang yeojachingu

Aigoo… dengar Sooyoung-ah. Kau juga harus mencarinya, seperti Kris. Bukankah ini sudah waktunya kau berkencan dan menikah? Sampai kapan kau akan terus menyendiri?”

“Apa Eomma pikir aku tak pernah berkencan?” sahutku tidak sabar.

Eomma menganggukkan kepala.

“Aku pernah berkencan sebelumnya”

“Dengan siapa?”

Aku kembali mengalihkan pandang, “Itu…”

“Jika kau memang belum pernah berkencan, kenapa kau harus mengatakan sudah melakukannya pada Eomma?” kata Eomma lagi karena aku tak kunjung berbicara. “Eomma tahu kau itu-“

“Sudah aku katakan jika aku pernah berkencan,” sahutku dengan cepat. “Aku hanya tak bisa memberitahu Eomma siapa namja yang berkencan denganku”

Wae? Apa namja itu seorang namja yang buruk? Apa dia seorang gangser atau semacamnya jadi kau tak bisa memberitahu Eomma?”

Aku menghela napas singkat, “Tidak ada yang seperti itu. Aku hanya tak bisa memberitahu Eomma,”

“Aku berkencan dengan Sooyoung, Ahjummeonim” kata Kris tiba-tiba.

Eomma menoleh ke arah Kris dengan cepat, “Mworago?”

“Sooyoung… dia adalah yeoja yang aku kencani” kata Kris dengan kepalanya yang tertunduk. Dia pasti menyembunyikan wajahnya karena malu pada Eomma atau takut melihat ekspresi Eomma. “Josanghaeyo,” gumam Kris pelan.

Eomma mengerjapkan matanya beberapa kali. Ekspresi terkejut jelas terlihat di wajahnya, tapi kemudian dia tersenyum lebar. Dia menatapku, seakan-akan bertanya padaku apakah yang Kris katakan itu benar. Aku menganggukkan kepala tanpa bersuara dan memilih untuk kembali menatap ke jam dinding. Untuk beberapa saat tak ada obrolan sama sekali di ruang keluarga ini dan membuat suasana terasa aneh bagiku.

Eomma tahu ini pasti akan terjadi,” kata Eomma memecah keheningan. “Min Sook pasti akan senang jika mendengar anak kami akhirnya berkencan. Apa kau sudah memberitahu Eomma-mu, Kris?”

“Belum,”

“Kapan kau akan memberitahunya?”

Kris melirikku lagi, “Mungkin saat aku kembali ke Daejeon”

“Kalau begitu, ajaklah Sooyoung. Dia selalu menghabiskan waktu di rumah, jadi akan bagus untuknya menghirup sedikit udara segar,”

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Lebih baik aku diam saja untuk menghindari pertengkaran dengan Eomma. Aku menatap kakiku sendiri dan berusaha untuk tidak mendengarkan apa yang Eomma katakan. Lagipula sepertinya Eomma mengabaikanku karena terus saja berbicara dengan Kris. Apa dia terlalu senang karena aku berkencan dengan Kris?

Lalu tiba-tiba, suara pintu yang terbuka dengan keras terdengar. Aku, Eomma dan Kris secara refleks langsung mengalihkan pandang ke arah ruang depan. Suara-suara orang sedang bercakap-cakap terdengar seraya mendekat. Itu suara Changmin dan Shim Samchon. Tapi apa yang mereka bicarakan dengan nada seperti itu? Apa sesuatu sedang terjadi?

“Tapi kenapa kau tak memberitahuku, Abeoji? Kyuhyun adalah sahabatku, dia juga adalah sepupuku. Seharusnya aku disana dan membantunya,” kata Changmin dengan nada memrotesnya. “Aku tahu Abeoji tak menyukainya, tapi tidakkah itu keterlaluan?”

“Apanya yang keterlaluan? Lagipula sudah ada Pengacara Han yang membantunya menjaga Sajangnim. Lalu kenapa dia masih membutuhkanmu?” Suara Shim Samchon terdengar tak kalah kerasnya dengan Changmin. “Kau hanya harus mengerjakan pekerjaanmu saja, tak perlu mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak kau urusi. Arra?”

Abeoji. Kenapa kau selalu bersikap seperti ini setiap kali berhubungan dengan keluarga Sajangnim? Apa yang membuatmu melakukannya?”

“Kau akan terkejut jika mengetahuinya,”

“Tetap saja. Seharusnya kau memberitahuku jika Sajangnim sedang dirawat di rumah sakit,”

Mataku langsung melebar mendengar perkataan Changmin terakhir. Aku melirik Eomma yang sama terkejutnya denganku. Dia bahkan menjatuhkan majalah yang sedang dia pegang dan hanya menatap kosong ke arah depan. Aku diam di tempatku, tak tahu harus bagaimana. Appa di rumah sakit? Kenapa?

Geumanhae, Changmin-ah. Kau bisa pergi karena sekarang kau sudah tahu. Abeoji tak mau tahu dengan apa yang kau-“ Tiba-tiba saja Shim Samchon menghentikan perkataannya. “Oh, Maebhu-nim, Sooyoung-ah. Kalian disini?” katanya terkejut.

Eomma beranjak dari tempatnya, lalu dia melangkah pergi menuju kamarnya tanpa mengatakan apapun. Mata Shim Samchon tak beralih sedikitpun dari Eomma, bahkan setelah Eomma tak terlihat lagi. Aku mengalihkan pandang ke arah Changmin yang terlihat terkejut. Dia dan Shim Samchon pasti tak menyangka jika aku dan Eomma mendengar apa yang mereka bicarakan sebelumnya.

Oppa, jeongmalyo?” tanyaku pada Changmin sambil menghampirinya. “Apa benar Appa dirawat di rumah sakit sekarang?”

“Sooyoung-ah,”

Oppa jawab saja” sahutku.

Changmin melirik Appa-nya, lalu dia menganggukkan kepala. “Mianhae, aku juga baru mengetahuinya”

Wae… yo?” tanyaku setelah menatap Changmin lekat-lekat untuk memastikan apa yang dia katakan memang benar. “Samchon, apa yang terjadi pada Appa?” Aku beralih bertanya pada Shim Samchon.

“Serangan jantung. Sajangnim mengalaminya saat di Jepang dan baru beberapa hari yang lalu Kyuhyun membawanya kembali ke Korea” jawab Shim Samchon dengan nada tegasnya. “Apa dia sama sekali tak memberitahumu?”

Aku menggelengkan kepala.

“Anak itu benar-benar,” komentar Shim Samchon. “Apa dia berusaha untuk mengambil keuntung-“

Josanghaeyo,” potongku, lalu melangkah pergi keluar rumah.

“Sooyoung-ah,”

Ya, Choi Sooyoung”

Aku mendengar Kris dan Changmin memanggilku bersamaan, tapi aku tak menghiraukan mereka. Aku hanya terus berjalan dan memikirkan Appa sampai akhirnya aku tiba di pinggir jalan besar. Aku baru akan menghentikan taksi saat sebuah mobil yang aku kenali sebagai mobil Kris berhenti di depanku. Benar saja, Kris langsung turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Dia mengajakku masuk ke dalam mobilnya tanpa bicara, dan mau tak mau aku mengikutinya.

“Kau mau pergi kemana?” tanya Kris saat mobilnya mulai melaju di jalanan.

“Ke rumah sakit untuk melihat Appa,” jawabku tanpa melihat ke arahnya.

“Apa kau tahu di rumah sakit mana Appa-mu dirawat?” Kris bertanya lagi dengan nadanya yang sabar.

Aku menoleh ke arah Kris, lalu menggelengkan kepala. Aku baru sadar jika aku tak tahu dimana Appa dirawat. Aish, jinjja?! Kenapa aku tak bertanya pada Changmin sebelum pergi?!

Kris tersenyum ke arahku, “Aku tahu. Changmin-ssi memberitahuku” katanya. “Dia juga sedang dalam perjalanan ke sana,”

Aku mengangguk mengerti.

Gokchonghajima. Appa-mu pasti baik-baik saja. Bukankah ada Kyuhyun-ssi disana?”

“Tetap saja aku khawatir, Kris” sahutku tak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatirku. “Aku tahu Eomma pasti juga khawatir. Kau lihat bagaimana ekspresinya tadi, kan?”

Eo. Ahjumma terlihat sangat terkejut dan khawatir”

“Aku… Aku tak banyak menghabiskan waktu dengan Appa, dan tiba-tiba saja aku mendengar kabar seperti ini. Kau pasti tahu bagaimana perasaanku,”

Arra,” jawab Kris sambil menggenggam tanganku.

Aku menunduk sedih dan kembali memikirkan Appa. Memang benar aku tak banyak menghabiskan waktu dengannya dan mengenalnya lebih jauh karena aku takut bertemu dengannya. Aku hanya berharap Appa akan baik-baik saja. Aku terus berdoa sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit untuk kesehatan Appa. Dan aku berjanji aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku dengannya dan melaksanakan kewajibanku sebagai anaknya. Ya, aku harus melakukan itu.

¯¯

Kyuhyun POV

Aku duduk di koridor rumah sakit yang sepi. Pandangan mataku mengarah pada pintu kamar Appa, sementara pikiranku entah kemana. Ada banyak hal yang tak bisa aku hilangkan dari pikiranku meskipun beberapa kali aku mencoba untuk mengenyahkannya. Terutama apa yang aku dengar dari Shim Busangjangnim tanpa sengaja. Berbagai pertanyaanpun terus bermunculan dan aku tak tahu pada siapa aku bertanya untuk menemukan jawabannya.

Appa?

Eomma?

Pengacara Han?

Atau Shim Busangjangnim sendiri?

Aku mendesah keras, lalu bangkit dari dudukku dan mendekat ke arah pintu. Appa masih disana, tidak sadarkan diri. Sudah tiga hari sejak aku membawanya ke Korea dan dia masih belum menunjukkan perkembangan apapun. Dokter memang berkata itu adalah serangan jantung, tapi tetap saja kondisinya mengkhawatirkan karena ternyata sudah lama Appa sama sekali tidak meminum obatnya.

Oppa,” panggilan pelan itu membuatku langsung menolehkan kepala. Aku tersentak kaget saat melihat Sooyoung sudah berdiri di belakangku. “Akhirnya aku bisa melihatmu,” katanya kembali dengan suaranya yang pelan.

“Sooyoung-ah, kau… darimana kau tahu… dan sejak kapan?”

“Changmin Oppa yang memberitahuku dan aku sudah mengetahuinya sejak dua hari yang lalu. Aku bahkan terus datang ke sini tapi Oppa tak pernah ada. Oppa gwenchanayo?” tanya Sooyoung penuh perhatian. “Apa semuanya terasa berat bagi Oppa?”

Aku tersenyum tipis.

“Maksudku… apa menjaga Appa dan mengurus JinHan, hmm… itu menjadi beban bagi Oppa?” kata Sooyoung lagi.

Aku kembali tersenyum sambil terus menatap Sooyoung. Jika perkataan Shim Busangjangnim itu benar, artinya aku dan Sooyoung bukanlah saudara kan? Tapi cepat-cepat aku mengenyahkan pikiran itu karena aku takut apa yang aku pikiran tidak sesuai dengan kenyataannya. Lagipula belum ada bukti yang menunjukkan jika aku bukan anak kandung Appa dan yang aku tahu semua perkataan Shim Busangjangnim tidak bisa dipercaya. Ya, setidaknya untukku.

Oppa?”

Eo,” sahutku sadar dari lamunan singkatku. “Gwenchana. Gokchonghajima,”

“Kita masuk ke dalam bersama?”

Aku mengangguk, lalu mengikuti Sooyoung berjalan masuk ke dalam kamar Appa. Sooyoung duduk disamping Appa, sementara aku memilih untuk duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Aku mengarahkan pandangan pada Appa dan menatapnya lama sekali. Apa yang akan terjadi jika memang benar aku bukan anak kandungnya? Mungkinkah jika aku bertanya langsung padanya, dia akan menjawabnya dengan jujur? Tapi bisakah aku melakukan itu?

Aku menarik napas panjang, “Aku harus melakukan sesuatu” gumamku sangat pelan agar Sooyoung tak mendengarnya.

Oppa, kau sudah makan?”

Aku kembali tersentak kaget, tapi berusaha untuk bersikap tenang. “Eo?” tanyaku. “Apa kau mengatakan sesuatu, Sooyoung-ah?”

Oppa sudah makan?” Sooyoung mengulang kembali perkataannya. “Wajah Oppa terlihat tidak segar. Apa Oppa tak memiliki waktu istirahat yang cukup?” tanya Sooyoung dengan nada khawatir.

Aku menggeleng pelan, “Ani, aku… emm, hanya saja ada sesuatu yang sedang aku pikirkan sekarang” jawabku tetap bersikap tenang. Aku melirik Sooyoung yang sedang menatap sedih dan khawatir pada Appa. Aku menundukkan kepala sesaat, menarik napas panjang lalu kembali menatap Sooyoung. “Mianhae, Sooyoung-ah. Jeongmal mianhae

Mwongayo?”

“Karena aku tak memberitahumu tentang keadaan Appa sebelumnya. Aku… aku tak mau membuatmu dan juga… E-Eomma khawatir karena aku pikir Appa akan segera bangun setelah operasi,” kataku jujur.

Gwenchanayo. Aku tahu Oppa pasti tidak sengaja untuk tidak memberitahuku tentang ini. Lagipula operasi itu dilakukan di Jepang dan aku sendiri tak yakin apakah Eomma akan mengijinkanku pergi ke sana jika seandainya Oppa memberitahuku saat itu” jawab Sooyoung sambil menggenggam tangan Appa. “Dan Changmin Oppa juga berkata jika Oppa berencana memberitahuku jika keadaan Appa membaik,” Dia melanjutkan.

“Apa kau marah padaku karena tak memberitahumu secara langsung?”

Sooyoung menoleh ke arahku, “Awalnya aku kesal,” katanya datar, lalu senyum tipis tersungging di wajahnya, “Tapi aku mengerti alasan Oppa melakukannya meskipun Oppa tak memberitahuku kenapa,”

“Bagaimana dengan Eomma?” tanyaku ingin tahu. Aku melangkah mendekat ke arah Sooyoung. “Apa Eomma khawatir? Kenapa Eomma tak ikut datang bersamamu?”

Keugo…”

Suara ketukan pintu membuatku dan Sooyoung langsung memfokuskan pandangan ke arah suara. Pengacara Han masuk, disebelahnya ada Changmin dan juga Pengacara Lee. Ketiga orang itu terlihat terkejut melihat Sooyoung, apalagi Pengacara Han dan Pengacara Lee. Tanpa aku duga, mereka sedikit membungkukkan badan pada Sooyoung.

Jal jinaesseoyo, Sooyoung Aghassi? Ah, bolehkah aku memanggil Anda seperti itu?” tanya Pengacara Han ramah.

N-Ne,” jawab Sooyoung tak bisa menyembunyikan kebingungannya. Sepertinya dia belum tahu jika Pengacara Han sudah mengetahui segalanya karena Appa pasti telah memberitahunya. “Jal jinaesseoyo, Pengacara Han. Anda bagaimana?”

Ah, aku benar-benar senang Anda bertanya mengenai keadaanku. Aku baik-baik saja seperti sekarang ini,”

“Dan Pengacara Lee? Eorenmaneyo,”

Pengacara Lee tersenyum lebar ke arah Sooyoung, “Aku baik-baik saja, Sooyoung-nim

Sebelah alisku terangkat mendengar panggilan Pengacara Lee pada Sooyoung. Bukankah itu terdengar sangat aneh karena terasa sangat formal, tapi aku enggan berkomentar karena ini bukanlah waktunya mengomentari hal-hal kecil dan tidak terlalu penting seperti itu. Aku mengalihkan pandangan ke arah Pengacara Han dan tiba-tiba ada keinginan untuk bertanya padanya mengenai identitasku sebenarnya.

“Pengacara Han,” Aku memanggilnya dengan sopan. “Bisakah kita bicara sebentar?”

Ah, ne. Kwajangnim,”

Aku menganggukkan kepala, lalu menepuk punggung Changmin sebelum melangkah keluar dari kamar. Aku langsung mengajak Pengacara Han ke sebuah lorong tak jauh dari kamar Appa. Meskipun aku tak yakin dia akan memberitahuku, tapi aku rasa tak ada salahnya mencoba. Mungkin kali ini dia mau mengatakan sesuatu jika aku bertanya dengan baik.

Geurae,” ucapku memulai pembicaraan. “Pengacara Han, mungkin ini sedikit tidak sopan karena mengajakmu berbicara seperti ini dan menjauh dari yang lain. Tapi aku benar-benar ingin tahu satu hal tanpa didengar oleh orang lain”

Pengacara Han menautkan kedua alisnya, lalu pandangannya beralih pada jendela besar disamping kami. “Apa yang ingin Anda ketahui, Kwajangnim?” tanyanya tanpa menatapku.

“Aku-” sahutku tanpa ragu lagi. “Siapa aku sebenarnya?”

Ne?”

“Pengacara Han, apa aku benar-benar adalah anak dari keluarga Choi? Apa aku benar-benar anak kandung Appa?”

Kwajangnim, kenapa Anda bertanya seperti itu padaku?” tanya Pengacara Han dengan nada terkejut. “Maksudku… kenapa Anda bahkan bertanya hal-hal yang seharusnya tidak Anda tanyakan?”

Wae? Apa itu karena benar aku bukanlah anak kandung Appa? Kalau begitu apa namaku Choi Wooyoung? Tapi kenapa aku sama sekali tak merasa pernah menggunakan nama itu?” Aku langsung menanyakan semua hal yang sebelumnya hanya ada di kepalaku. “Pengacara Han, tolong jujurlah padaku untuk kali ini. Siapa aku sebenarnya?”

Pengacara Han diam. Cukup lama dia diam sampai aku pikir dia mengabaikan pertanyaanku ini seperti yang biasanya dia lakukan. Tapi kemudian dia memiringkan kepalanya. Matanya menyipit, “Apa Shim Busangjangnim yang memberitahu Anda? Atau Anda mendengar hal seperti ini dari orang lain selain dia?”

“Aku rasa itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya aku dan apakah aku benar-benar anak kandung Appaah, ani… Choi Yoon Jae” kataku cepat.

Kwajangnim, josanghamnida. Hal seperti ini bukanlah hak-“

Tto?”

Pengacara Han menganggukkan kepala. “Meskipun Sajangnim memberitahuku segalanya tapi itu hal lancang bagiku untuk memberitahu siapapun, termasuk Anda. Karena orang yang berhak untuk memberitahu Anda adalah Sajangnim sendiri. Josanghamnida

Aku menarik napas panjang. “Arraseo. Aku hanya tak tahu harus bertanya pada siapa lagi jika bukan kepada Anda, Pengacara Han”

Kwajangnim. Aku hanya bisa berkata-“ Pengacara Han berhenti sejenak, lalu dia menatapku lekat-lekat. “-apapun yang Anda yakini benar, ikuti saja itu. Karena hal itulah yang akan menunjukkan kebenarannya”

Keningku berkerut tajam mendengar perkataan Pengacara Han. Tapi sebelum aku bertanya apa maksudnya, dia sudah membungkukkan badan dan melangkah pergi dari hadapanku. Aku melihatnya kembali masuk ke kamar Appa, dan selang beberapa saat Changmin keluar dari sana diikuti Sooyoung. Mereka berdua melihatku, lalu melangkah menghampiriku.

Waegeurae?” tanya Changmin begitu ada di depanku. “Apa ada masalah lagi di JinHan?”

Ani. Aku hanya bertanya sesuatu pada Pengacara Han” jawabku berusaha menghindari tatapan Sooyoung. “Kenapa kalian keluar? Aku baru saja akan menyusul ke sana,”

“Aku datang untuk menjemput Sooyoung dan kemudian mengantarnya kembali ke sini-“

“Aku akan menemani Oppa menjaga Appa disini. Bolehkah?” sambung Sooyoung bahkan sebelum Changmin selesai berbicara. “Aku khawatir pada Oppa jika setiap hari harus menjaga Appa dan juga harus pergi bekerja. Selain itu, rasanya tidak enak jika harus meminta tolong pada Pengacara Han karena… emm, setidaknya Appa masih memiliki aku yang bisa menjaganya setiap saat”

“Apa itu tidak apa-apa?” tanyaku.

Ne?”

Aku melirik Changmin yang memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sepertinya dia berusaha untuk tidak mendengarkan percakapanku dengan Sooyoung meskipun aku yakin dia tetap saja mendengarnya.

Ani… maksudku… apa itu tidak merepotkanmu?” Aku berusaha menjelaskan meskipun aku yakin itu bukanlah penjelasan yang tepat karena ekspresi Sooyoung pun masih terlihat bingung. “Sooyoung-ah, sebenarnya… aku tidak apa-apa. Kau tak perlu khawatir karena aku bisa mengurusnya,”

Oppa, setidaknya biarkan aku menjadi putri Appa. Aku… aku merasa menjadi putri yang buruk jika aku juga tidak merawat dan menjaganya. Eo?”

Aku diam saja.

Oppa,”

Arraseo, kau boleh melakukannya” kataku pada akhirnya.

Sooyoung tersenyum lebar, “Gomawo, Oppa” ujarnya.

Untuk sesaat aku merasa Sooyoung akan memelukku karena dia bergerak dari tempatnya dan sedikit mendekat ke arahku. Tapi dia menahannya dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke lantai. Changmin berdehem pelan, lalu dia menepuk bahuku pelan.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantar Sooyoung kembali ke sini,” kata Changmin padaku. Dia beralih pada Sooyoung, “Kajja, Sooyoung-ah. Katamu kau ingin membeli sesuatu terlebih dahulu”

Eo,”

Sooyoung tersenyum ke arahku, lalu dia pergi bersama Changmin. Aku terus memandangi mereka sampai benar-benar menghilang dari pandanganku. Apa aku akan bisa kembali pada Sooyoung jika seandainya aku bukanlah anak kandung Appa? Jujur saja, perasaanku padanya masih belum berubah meskipun itu tidak mungkin terjadi karena kami satu saudara. Tapi apapun bisa terjadi bukan?

Aish, jinjja! Seharusnya aku tak memikirkan hal seperti ini terlebih dahulu sebelum aku tahu semuanya,” kataku kesal pada diri sendiri. “Untuk sekarang, berhentilah berpikir seperti itu, Cho Kyuhyun! Atau kau akan mendapatkan dirimu kecewa lagi!” kataku lagi sambil melangkah kembali ke kamar Appa.

¯¯

Sooyoung POV

“Kris, mianhae. Hari ini aku tak bisa pergi ke Apartemenmu karena aku harus ke rumah sakit,” kataku dengan menggunakan earphone. Kali ini aku meminjam mobil Changmin dan pergi sendirian ke rumah sakit.

Oh, gwenchana. Bagaimana keadaan Appa-mu?”

Oppa berkata Appa sudah sadar, karena itu aku bergegas ke sana” jawabku sambil membelokkan mobil ke halaman parkir rumah sakit.

Oppa?”

Eo, Kyuhyun Oppa

Kris diam cukup lama. “Apa aku perlu menyusulmu ke rumah sakit, Sooyoung-ah? Aku juga khawatir padamu karena kau harus pergi sendirian. Kenapa kau tak meminta padaku saja untuk mengantarmu ke sana?”

Aku menghela napas panjang, lalu memarkirkan mobil dengan mulus. “Yeah, sebenarnya aku ingin kau mengantarku, tapi kau tahu… aku rasa sebaiknya tidak aku lakukan”

Wae? Apa kau takut aku akan bertengkar dengan Kyuhyun-ssi?”

Untuk beberapa detik aku tidak menjawab.

Arraseo, Sooyoung-ah. Kau melakukan yang terbaik untukku” kata Kris lagi. “Mungkin benar aku akan bertengkar dengan Kyuhyun-ssi jika aku bertemu dengannya karena selama ini, itulah yang terjadi”

“Kau tidak marah padaku karena hal ini kan?”

“Tentu saja tidak”

Aku tersenyum, “Aku akan meneleponmu lagi nanti. Eo?”

“Hmm,”

Aku melepas earphone di telingaku, lalu keluar dari mobil. Kyuhyun memang memberitahuku jika Appa sudah sadar, tapi dia tak bisa langsung datang karena dia harus pergi ke Ilsan untuk memeriksa proyek JinHan yang hampir selesai. Mungkin dia akan datang nanti malam setelah pekerjaannya selesai, karena itulah aku bergegas untuk datang ke rumah sakit meskipun seharusnya hari ini adalah jadwalku berkencan dengan Kris. Untung saja Kris mengerti keadaanku, jadi aku tidak merasa sangat bersalah padanya.

“Sooyoung Aghassi,” ucap Pengacara Han yang saat itu baru saja keluar dari kamar Appa. “Waesseoyo?”

Aku tersenyum ramah, “Bagaimana Appa?”

“Dokter baru saja memeriksa Sajangnim dan keadaannya semakin membaik. Dahaengida~”

“Syukurlah kalau begitu” sahutku merasa lega. “Ah, Pengacara Han… Anda bisa istirahat dan biarkan aku yang menjaga Appa sampai Kyuhyun Oppa datang. Josanghaeyo karena semalam aku harus pulang dan meninggalkan Appa dengan Anda,”

Gwenchanaseumnida. Anda tak perlu merasa tidak enak untuk meminta bantuanku karena itu sudah menjadi tugasku untuk melakukannya,”

“Tidak seperti itu, Pengacara Han” kataku sambil menundukkan kepala. “Aku… ahhmm, Appa sedang apa di dalam?” Aku mengalihkan pembicaraan karena aku tidak yakin untuk mengatakan apa yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Tentang aku sebagai putri Appa.

“Setelah dokter pergi, Sajangnim diharuskan untuk banyak beristirahat karena itu adalah saran dari dokter. Jadi aku rasa sekarang Sajangnim sedang tidur,”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Aku diam sesaat, lalu kembali terlintas di kepalaku untuk bertanya pada Pengacara Han karena Appa pasti memberitahunya banyak hal.

“Pengacara Han, apa Anda tidak keberatan jika kita bicara sebentar sebelum Anda pergi?” tanyaku sedikit ragu. “Tidak apa-apa jika Anda tidak bisa,” cepat-cepat aku menambahkan.

Animida, Aghassi. Tentu saja aku tidak keberatan,” jawab Pengacara Han dengan senyum ramahnya. “Anda boleh bertanya apa saja padaku, dan jika aku tahu jawabannya pasti akan aku jawab”

Ne, kamsahamnida

Aku mengajak Pengacara Han untuk duduk di ruang tunggu yang ada di sekitar lorong tempat kamar Appa. Aku tak mungkin bertanya padanya di dalam kamar karena ada Appa, jadi lebih baik aku tetap berada di luar. Aku menghela napas singkat beberapa kali sambil memikirkan bagaimana memulai pertanyaan pada Pengacara Han.

“Apa yang ingin Anda tanyakan, Aghassi?” Pengacara Han-lah yang pertama kali bersuara karena aku terus saja diam. “Apa Anda bingung untuk bertanya padaku mengenai hal apa karena ada banyak pertanyaan di benak Anda?” tanyanya seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Ah, emm… sejujurnya memang benar begitu,” jawabku sambil memegangi tengkukku. “Ada banyak pertanyaan, jadi aku tak tahu harus bertanya yang mana terlebih dahulu”

“Pelan-pelan saja kalau begitu. Tanyakan hal yang menurut Anda paling ingin Anda ketahui”

Geuraeyo,” sahutku. Aku kembali menghela napas, lalu memutuskan untuk bertanya pada Pengacara Han mengenai apapun yang muncul di otakku pertama kali. “Apa Anda sudah mengetahui siapa aku saat aku masih bekerja di JinHan, Pengacara Han?” tanyaku berhati-hati memilih pertanyaan.

Animida. Sajangnim-lah yang mencurigai Anda terlebih dahulu” jawab Pengacara Han dengan tenang. “Saat Anda pertama kali bertemu dengan Sajangnim, saat itulah Sajangnim merasa ada sesuatu yang berbeda dari Anda. Itu yang dikatakan beliau padaku,”

“Sesuatu yang berbeda? Apa itu?”

Sajangnim berkata jika Anda sangat mirip dengan almarhum istri beliau… sebelum beliau tahu jika ternyata Nyonya masih hidup. Tapi karena beliau hanya tahu jika istri beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini, maka beliau berusaha keras untuk melupakannya” kata Pengacara Han menjelaskan.

Geuraesseo?”

Sajangnim semakin tertarik pada Anda setelah Anda membantu Kwajangnim menyelesaikan masalah resor Hwajang itu karena sebenarnya Sajangnim pun tak menginginkan resor itu dijual. Apa Anda tahu apa arti resor Hwajang itu bagi Sajangnim?” Pengacara Han melanjutkan bicaranya. “Resor itu adalah satu-satunya peninggalan Nyonya, karena itulah beliau selalu menjaga resor itu”

“Kalau begitu, apa sampai saat ini Appa masih mencintai Eomma?”

Pengacara Han tersenyum. “Aku rasa Anda bisa menebaknya sendiri, Aghassi” katanya. “Sajangnim berusaha keras menemukan Anda dan Nyonya saat beliau mendengar kabar jika kalian masih hidup. Meskipun dia tidak yakin pada awalnya, tapi dia tetap mencari kalian”

Aku memilih untuk tidak menanggapi kali ini.

Sajangnim sangat bahagia saat tak sengaja bertemu Anda dan Nyonya, tapi kemudian beliau kecewa saat mengetahui dengan siapa Anda memilih tinggal,”

Kedua alisku saling bertaut, “Shim Samchon?”

Pengacara Han mengangguk. “Anda harus lebih berhati-hati kepada Shim Busangjangnim,”

Arraseoyo,”

Ne?”

Ah, amugeotdo aniyo

Pengacara Han memperhatikanku dengan seksama, seakan-akan kembali sedang membacaku. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah kamar Appa dan memilih untuk terus menatapnya untuk beberapa saat.

Aghassi, apa Anda berencana untuk kembali bekerja di JinHan?” tanya Pengacara Han memecah keheningan.

Aku terpekur mendengar pertanyaan itu. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang. Kenapa pertanyaan seperti ini selalu muncul setiap saat? Apa semua orang menginginkan aku kembali bekerja di JinHan? Apa salahnya jika aku memilih untuk tidak kesana untuk menghindari masalah? Aku kembali menarik napas, sebelum menolehkan kepala ke arah Pengacara Han.

“Aku akan memikirkan itu, Pengacara Han” kataku pada akhirnya.

Pengacara Han tersenyum lagi, lalu dia menganggukkan kepalanya pelan. “Apa ada hal lain yang ingin Anda tanyakan?”

Aku menimbang-nimbang. Apa aku sebaiknya bertanya lagi atau menyudahinya karena aku takut aku mendapatkan jawaban yang tidak sesuai seperti yang aku inginkan? Lagipula melihat dari ekspresi Pengacara Han, sepertinya dia tak akan mengatakan semua hal meskipun aku banyak bertanya padanya.

Aniyo, eobsoyo” kataku.

“Apakah Anda yakin?”

Aku mengangguk.

Josanghaeyo karena aku meminta waktu Anda, Pengacara Han. Anda pasti sudah lelah, tapi aku justru menyita waktu Anda”

Gwenchanasemunida. Aku akan meluangkan banyak waktuku untuk Anda, Aghassi” jawabnya sangat sopan. Dia beranjak dari tempat duduknya, lalu membungkukkan badan ke arahku. “Silahkan telepon jika Anda ingin bertanya lagi padaku,”

Ne,”

Pengacara Han memperlihatkan senyum sekilas sebelum dia membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkanku. Aku terus memperhatikannya dan kembali memutar semua percakapan singkatku dengannya. Sekarang aku tahu jika Appa pun masih mencintai Eomma, dan begitu sebaliknya. Haruskah aku membuat mereka kembali bersama? Aku rasa aku harus menyampaikan ide ini pada Kyuhyun karena dia pasti dengan senang hati akan membantuku. Benar begitu, bukan?

**

Aku menatap Appa yang sedang menikmati makannya dengan pelan. Meskipun beberapa kali aku meminta untuk membantunya, tapi dia menolak. Katanya selama dia bisa melakukannya sendiri, dia tak akan meminta bantuan orang lain. Hal itu sangat sederhana, tapi entah kenapa aku senang mendengarnya. Bukankah itu berarti dia tak bergantung pada orang lain dan sebisa mungkin melakukan sesuatu sendiri karena hasilnya pasti akan lebih memuaskan? Setidaknya itu yang ada di pikiranku setelah mendengar Appa mengatakannya.

“Sampai kapan kau akan terus menatap Appa, Sooyoung-ah?”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, “Aniyo, mianhaeyo Appa. Aku hanya senang melihat Appa sudah sadar,”

“Apa kau sudah makan?”

Eo, sudah. Aku menghabiskan satu set pizza saat Appa tidur. Lihatlah di atas meja itu,” kataku sambil menunjuk ke arah kardus pizza yang sudah kosong. “Itu sudah cukup kenyang karena aku menghabiskannya sendirian”

Appa tertawa pelan, “AigooAppa tak menyangka kau makan sebanyak itu”

Aku tersenyum malu, lalu mengambil piring Appa saat melihat jika dia sudah selesai makan. Tanpa banyak bicara lagi, aku memberikan obat-obat Appa yang terletak di meja disampingnya dan membantunya memakan obatnya. Setelah itu meletakkannya kembali di tempatnya semula.

Appa harus banyak tidur,” kataku lembut. “Dengan begitu badan Appa akan semakin sehat, dan Appa juga perlu berjalan-jalan sesekali. Aku akan menemani Appa,”

“Aku mengerti, putriku” jawab Appa sambil merebahkan badannya. “Kau sangat cerewet, dan Appa juga tidak menyangkanya”

Aku diam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Lalu suara ketukan pintu terdengar dan mau tak mau aku membukanya. Aku diam di posisiku begitu melihat siapa yang datang. Samchon. Dia menatapku dengan terkejut, tapi kemudian mengalihkannya pada Appa yang juga sedang memandanginya. Shim Samchon mengabaikanku dan melangkah menghampiri Appa yang kembali duduk menyandar di ranjangnya.

Hyungnim, bagaimana kabarmu?” kata Shim Samchon dengan suaranya yang kelewat ramah. Aku bahkan sampai mengernyit mendengarnya karena ini pertama kalinya dia berbicara dengan nada seperti itu. “Aku sangat khawatir padamu, Hyungnim” katanya lagi.

“Sudah lebih baik. Jangan khawatir” jawab Appa singkat. “Kenapa kau datang ke sini?”

Aigoo, Hyungnim… Apa salahnya jika aku ingin menjengukmu? Lagipula aku datang ke sini bukan sebagai Busangjangnim JinHan Group, tapi sebagai Dongsaeng-mu”

Ah, geurae?”

Ne. Aku tak menyangka jika putrimu disini juga,” kata Shim Samchon sambil melirik ke arahku. “Kau pasti senang karena dia yang menjagamu kan, Hyungnim?”

Appa diam saja.

Shim Samchon menoleh ke arahku, “Sooyoung-ah, kenapa kau tak memberitahu pamanmu jika kau ada disini?”

“Aku memang sudah disini sedari tadi,” jawabku terus menatap ke arah Shim Samchon. “Changmin Oppa meminjami mobilnya padaku agar aku bisa pergi kesini untuk menemani A-Appa

“Paman tahu kau memang putri yang sangat perhatian,” sergah Shim Samchon. “Kau tahu, Eomma-mu juga-“

“Sedang apa Anda disini, Busangjangnim?” sela Kyuhyun yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. “Apa Anda datang hanya untuk mencari masalah?”

Aigoo, lihatlah anakmu yang satu ini, Hyungnim. Dia baru saja datang tapi tak menyapa pamannya, sangat berbeda dengan putrimu. Aku bahkan tak yakin mereka berasal dari-“

“Ho Min-ah” potong Appa dengan keras yang langsung membuat Shim Samchon menutup mulutnya. Appa menoleh pada Kyuhyun, “Kau seharusnya bersikap sopan pada pamanmu, Kyuhyun-ah” katanya.

Kyuhyun memainkan mulutnya sebagai tanda kesal, tapi kemudian dia membungkukkan badan dan menyapa Shim Samchon dengan sopan. Dia mengalihkan pandangan ke arahku, menatapku untuk beberapa saat. Aku melihatnya menarik napas panjang sebelum berjalan ke sisi ranjang Appa.

Appa sudah makan?” tanya Kyuhyun mengabaikan tatapan Shim Samchon. “Bagaimana dengan obatnya?”

“Jangan khawatir, Appa sudah meminumnya. Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada Sooyoung” jawab Appa sambil menatapku dengan senyumannya.

Kyuhyun menoleh ke arahku dan aku langsung menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.

Aigoo… baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini” komentar Shim Samchon tiba-tiba. “Hyungnim, kau pasti sangat bahagia saat ini karena mereka ada disini bersamamu” katanya lagi.

Kyuhyun menatap tajam ke arah Shim Samchon, kemudian dia melangkah menghampirinya. Aku sempat terkejut dengan tatapan Kyuhyun itu, tapi aku berusaha bersikap biasa. Bukankah selama ini dia memang tidak menyukai Shim Samchon? Tapi kenapa rasanya kali ini berbeda? Apa sesuatu terjadi diantara mereka dan aku tidak mengetahuinya? Apa Changmin lupa memberitahuku? Rasanya tidak mungkin Changmin lupa karena dia pasti menceritakan apapun yang terjadi di JinHan padaku meskipun beberapa kali aku memintanya untuk berhenti melakukannya.

Busangjangnim, bisakah kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,” kata Kyuhyun pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. “Aku ingin mendengarnya langsung dari Anda,” tambahnya.

“Tentu saja,”

Kyuhyun mengangguk, lalu dia membalikkan badan menghadap Appa. “Aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Busangjangnim,

“Apa ada sesuatu yang terjadi di JinHan?” tanya Appa ingin tahu.

“Tidak. Semuanya baik-baik saja” jawab Kyuhyun. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Appa” katanya langsung membungkukkan badan dan pergi begitu saja.

Shim Samchon melakukan hal yang sama seperti Kyuhyun, meninggalkanku hanya berdua bersama Appa. Sepasang alisku saling bertaut melihat sikap Kyuhyun yang terasa aneh. Sesuatu apa yang ingin dia pastikan? Kenapa harus pergi menjauh dariku dan Appa? Aku yakin sekali pasti telah terjadi sesuatu, tapi mereka berdua menyembunyikannya baik dariku maupun Appa. Aku harus mencari tahu itu karena aku tak mau Shim Samchon kembali menyusahkan Kyuhyun.

Appa, jamkammanyo” kataku meminta ijin pada Appa untuk keluar mengikuti Kyuhyun dan Shim Busangjangnim. “Appa istirahat saja, aku akan segera kembali” kataku lagi.

Appa menganggukkan kepala meskipun awalnya dia ragu.

Aku membantu Appa terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh lorong dan melihat Shim Samchon baru saja menghilang di balik dinding. Bergegas aku mengikutinya, lalu bersembunyi setelah memastikan aku bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan dengan jelas tanpa terlihat.

“Baiklah, kenapa harus pergi jauh dari kamar Appa-mu?” suara Shim Samchon-lah yang pertama kali terdengar. “Apa kau takut dia mendengar sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Tidak sebenarnya. Aku hanya ingin mendengarnya darimu terlebih dahulu sebelum aku pergi bertanya padanya” jawab Kyuhyun dengan nada datar. “Aku yakin kau mengetahuinya dengan jelas, jadi aku bertanya padamu”

“Wah… wah… apa itu?”

Kyuhyun diam sesaat. Lalu aku kembali mendengarnya bersuara, “Siapa aku sebenarnya? Apa aku adalah anak kandung Choi Yoon Jae?”

Mataku langsung membelalak mendengar pertanyaan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kyuhyun bertanya seperti itu pada Shim Samchon?

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

47 thoughts on “[Series] Stuck In Love -19-

  1. cho nayoung says:

    Lama gak buka ksi ternyata stuck in love dah update 3 part. Aku cicil bacanya deh.

    Udah aku duga mereka gak sesodara. Kyuyoung kan harus bersatu. Tapi gimana sama kris? Kok sooyoung malah pacaran sama kris sih.

    Read next part.

  2. Lanjutttttt chingu ,,,
    aku penasaran ame jawaban shim samchon ,, apalagi identitas kyu udh mulai terbongkar ,, jwaban shim samchon sangat berpengaruh untuk hubungan kyuyoung … Dan kyu itu siapa ???

  3. Sistasookyu says:

    Nah semoga shim samchon kasih tau identitas kyu ya..
    Sekalian biar clear gitu. Dan kyuyoungnya bisa balikan lagi

  4. met says:

    Daebak
    Wahhh jadi kyu udh mulai tau jati dirinya dan soo dgr percakapan mrka
    Kira” shim busajangnim bakal kasih tau g y?
    Penasaran nih nextnya cpt ne😀

  5. ndah says:

    emmm makin terbuka aj konfliknya…sekarang tinggal tunggu siapa yg salah sebenarnya…tetep semangat ya bwt kmu biar lancar nulis part depannya hwaiting!!!!!

  6. pna says:

    yes yes sedikit lagi kebongkar nihhh uugghhh gemes mending Shim Samchon diminumin ramuan kejujuran deh biar kebongkar semuanya dan ky bersatu hehehe next chingu!

  7. Pho says:

    Wah mulai terbongkar ni rahasia’a. Semoga dg terbongkar’a rahasia itu, kyu n’ soo bisa bersama lg krn kyu bkn saudr kandg sooyoung. Next

  8. liaaaa says:

    Please ingatan kyuhyun balik lagi.. kecelakaan atau gimanapun caranya lah. Udh gregetan sama sikapnya shim busangjangnim ituu.. kasian sooyoung jg hrs jaga jarak sm kyuhyunnya..

  9. syooah says:

    Akh, kenapa pas bgt ngeCUT tbc.nya
    agak bete banyak part kriss dan sooyoung.Kalo ada part mreka gapernah ku baca kkkkk~
    Semoga kyuhyun ga frustasi pas tau dia bukan anak kandung choi, penyebab kecelakaan juga ckckkc
    next chapt jangan lama2 ya chingu ^^ Fighting~

  10. vina febriani says:

    ih tbc gak tepat waktu. kira kira soo sama kyi bakal balikan gak yah kalo mereka udah tau kalau mereka itu bukan saudara.

  11. semoga aja kyuyoung bersatu lagi, tapi kasian juga kris dia cinta banget ya sama sooyoung sampe pengorbanan nya banyak banget
    ya udah lah di tunggu kelanjutan nya aja fighting thor!!!!

  12. hyokwang says:

    ooo… jadi sebebernya kyu itu yg nyebab’in kecelakaan, sedangkan oppa.nya soo itu emang udah meninggal…
    ditunggu lanjutannya, udah penasaran🙂
    semangat😀

  13. siscaayupurwanti says:

    Ternyata eh ternyata kyuhyun bukan oppa kandung soo eon toh syukur dah kan mereka bisa bersatu;)
    thor cpet buat kyuyoung bersatu dong hehehe
    Next partnya ditungggu thor;)

  14. Shanty Lee says:

    Entahlah yang pasti bikin penasaran aja nih sama kelanjutannya …

    Aigoo, apakah akan terungkap rahasia besar ini …

  15. 이태라 says:

    errr tanggung bgt -_-
    udh lumayan lega jg udh tau kyuhyun bukan saudara kandung sm sooyoung
    tinggal sooyoun putus nih sm kris haha

  16. uh kenapa tbc si padahal aku idah penasaran sebenarnya kyuhyun itu kakaknya sooyoung apa bukan
    tapi semoga aja buka ia eonni karena aku pengennya sooyoung sama kyuhyun
    jangan dengan kris
    karena. sookyu itu lebih cocok
    cepat lanjut ia thor aku udah penasaran dengan kyuhyun sebenarnya siapa

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s