[Series] Stuck In Love -20-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@occy_gg)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

HAPPY NEW YEAR!!!!

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

Masih pada inget cerita sebelumnya gg? Masih dong ya. Kalau lupa silahkan buka part sebelumnya aja >.< mian… (tapi ini aku mulai dari part terakhir, semoga kalian inget dikit yah)

Maaf banget knigts karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Aku menatap Shim Busangjangnim lekat-lekat, lalu melangkah menghampirinya. Sepertinya aku memang harus bertanya sendiri padanya karena dari dialah aku mendengar bahwa aku bukanlah anak kandung Appa. Tapi tak mungkin aku bertanya padanya disini karena ada Sooyoung dan juga Appa. Meskipun pada akhirnya aku akan menanyakannya langsung pada Appa, tapi tidak ada salahnya jika aku tahu terlebih dahulu dari Shim Busangjangnim, orang yang membuatku terus memikirkan sesuatu setelah mendengarkannya berbicara.

Busangjangnim, bisakah kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,” kataku pelan, berusaha agar Sooyoung maupun Appa tak mendengarnya. “Aku ingin mendengarnya langsung dari Anda,” Aku menambahkan.

“Tentu saja,”

Aku menganggukkan kepala, lalu berbalik menghadap Appa lagi. “Aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Busangjangnim,

“Apa ada sesuatu yang terjadi di JinHan?” tanya Appa ingin tahu. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajahnya meskipun dia berusaha untuk menyembunyikannya. Tentu saja dia khawatir jika sesuatu berhubungan dengan Shim Busangjangnim, aku tak pernah menyangkal itu.

Aku tersenyum tipis, “Tidak. Semuanya baik-baik saja” jawabku. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Appa” kataku langsung membungkukkan badan dan pergi begitu saja karena takut Appa akan bertanya lagi.

Sebelum benar-benar keluar, aku sempat menoleh ke belakang dan melihat Shim Busangjangnim berpamitan pada Appa dengan anggukan kepalanya. Lalu akupun mengajaknya ke lorong yang sama saat aku berbicara dengan Pengacara Han untuk masalah yang sama. Dalam hatiku, aku berharap Shim Busangjangnim akan menjawab pertanyaanku meskipun mungkin itu akan terasa sangat menyakitkan.

“Baiklah, kenapa harus pergi jauh dari kamar Appa-mu?” tanya Shim Busangjangnim setelah aku berhenti melangkah. “Apa kau takut dia mendengar sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Tidak sebenarnya. Aku hanya ingin mendengarnya darimu terlebih dahulu sebelum aku pergi bertanya padanya” jawabku dengan nada datar. “Aku yakin kau mengetahuinya dengan jelas, jadi aku bertanya padamu”

“Wah… wah… apa itu?”

Aku diam sesaat dan berpikir. Haruskah aku langsung bertanya padanya atau berbasa-basi terlebih dahulu? Ah, tapi itu terlalu lama karena akupun enggan berlama-lama dengan Shim Busangjangnim. Aku kembali menatap tajam padanya, lalu menghela napas berat sebelum berbicara. “Siapa aku sebenarnya? Apa aku adalah anak kandung Choi Yoon Jae?” tanyaku.

Shim Busangjangnim terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Dia bahkan hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Tapi kemudian aku melihatnya menaikkan sudut bibirnya dan tersenyum penuh kemenangan. Ya, senyum itulah yang selalu dia tunjukkan padaku setiap kali dia mendapatkan sesuatu. Aku benar-benar hapal karena aku tak menyukainya. Dan sepertinya kali ini aku melakukan kesalahan karena bertanya langsung padanya.

“Kenapa kau bertanya padaku?” Shim Busangjangnim tak langsung menjawab pertanyaanku dan justru balik bertanya. “Apa kau pikir aku tahu kau adalah anak kandung Choi Yoon Jae atau bukan?”

“Kau tahu. Kau hanya berpura-pura tidak tahu,” sahutku dengan cepat. “Aku benar, bukan?”

“Entahlah-“ kata Shim Busangjangnim sambil mengangkat bahunya. “Sepertinya kau harus bertanya pada dirimu sendiri, apa benar kau anak kandung Yoon Jae atau mungkin kau adalah seorang anak yang dianggap anak kandung olehnya”

“Apa maksudmu?”

“Kau pikirkan baik-baik. Apa sikapku selama ini padamu menunjukkan bahwa kau adalah keponakanku yang aku sayangi? Tidak! Apa kau tidak melihat bagaimana sikapku pada Sooyoung dibandingkan denganmu?!” ucap Shim Busangjangnim tegas. “Yoon Jae mungkin menyembunyikannya dari semua orang, tapi tidak bagiku. Karena aku bukanlah orang yang mudah dimanipulasi dengan sesuatu yang menjijikan seperti itu”

“Shim Busangjangnim!” bentakku.

Shim Busangjangnim menatapku dengan penuh emosi dan aku baru pernah melihatnya seperti ini. Ekspresinya terlihat sedang menahan marah, tapi dia masih berusaha untuk tetap tenang. Untuk sesaat aku sedikit ketakutan melihat bagaimana dia menatapku, tapi aku sudah membulatkan tekad untuk tahu semuanya meskipun itu dari mulut orang yang paling aku benci sekalipun.

“Choi Yoon Jae…” kata Shim Busangjangnim sambil tertawa pahit. “Babocheorom. Dia telah mengambil keputusan yang salah untuk membuat istrinya kembali padanya”

Aku diam saja karena berusaha mencerna perkataan Shim Busangjangnim. Sementara itu, sekelebatan kecelakaan yang pernah aku mimpikan muncul di kepalaku dan aku tak bisa mendengar apa yang dikatakan Shim Busangjangnim selanjutnya karena kecelakaan itu terlihat semakin jelas dimataku. Aku mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan bayangan kejadian itu, tapi justru aku membuatnya jauh lebih jelas lagi.

*Flashback (dalam pikiran Kyuhyun)*

“Kyuhyun-ah, andwae! Andwae! Berikan kembali padaku!” Seorang wanita separuh baya berteriak memanggil namaku. “Berikan kembali! Itu bukan milikmu! Kalung itu bukan milikmu, jadi kembalikan padaku!” katanya lagi masih dengan suara yang sama.

“Shirreo! Liontin ini adalah milik Eomma-ku. Dia meninggalkannya untukku, lalu kenapa ini bukanlah milikku?!” kataku dalam wujud seorang anak kecil. “Imo menginginkannya karena ingin menjualnya bukan? Shirreo!”

“Ya! Kau pikir darimana aku bisa menghidupimu jika aku tak menjual barang-barang Eomma-mu? Dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu! Apa kau pikir aku mau membesarkanmu dengan gratis?!”

“Aish jinjja! Aku bisa hidup sendiri, kenapa Imo harus datang padaku?”

“Geurae. Pergilah kalau begitu! Aku akan merasa senang karena aku tak memiliki beban apapun setelah kau pergi. Pergilah!”

Aku menatap kesal pada seseorang yang aku panggil Imo (Bibi) itu, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi sambil membanting pintu di belakangku. Baru saja aku keluar dari rumah, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Dengan cepat udara pun dipenuhi dengan bau tanah yang terkena air dan suara mobil yang melaju dengan kecepatan sedang hingga penuh. Beberapa orang di kanan-kiri ku berlari, mencoba menghindari hujan meskipun tetap saja sekujur tubuhnya sudah basah. Aku mengabaikan itu semua dan hanya terus berjalan tanpa arah.

“Hei, kau! Kenapa tak berteduh saja bersamaku? Lihat kau basah kuyup,” kata seorang yeoja saat aku melintas di depannya yang sedang berteduh di depan sebuah toko. “Kemarilah. Hujannya sangat lebat, bahkan banyak mobil yang menepi karena jalanannya pun sangat licin”

Aku menatap yeoja itu sekilas, lalu menyunggingkan segaris senyuman ke arahnya. “Kamsahamnida, tapi aku tak ingin berteduh” kataku sambil meneruskan berjalan.

Kepalaku tertunduk, berusaha melawan angin yang bertiup. Aku melihat lampu lalu lintas berwarna merah dan memutuskan untuk menyebrang. Ada beberapa orang yang ikut menyebrang bersamaku, tapi mereka semua berlari karena tak mau semakin basah oleh hujan. Tak berapa lama kemudian suara decit mobil terdengar sangat keras memenuhi jalan. Perhatian semua orang langsung tertuju pada sebuah mobil yang berputar beberapa kali di tengah jalanan yang licin.

“Ya, choding! Pikkyeo!”

Teriakan keras seseorang sempat terdengar olehku, mengalahkan suara hujan dan juga decitan mobil itu. Saat aku mengangkat kepala, mataku langsung membelalak karena tepat saat itu sebuah mobil melaju tak beraturan ke arah dan menabrakku dengan sangat keras. Aku sempat melihat beberapa orang berlari ke arahku sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.

*Flashback end*

Aku terhuyung sedikit ke belakang. Kepalaku tiba-tiba saja terasa sangat sakit setelah kilasan mimpi itu muncul kembali. Aku membuka mataku dan tersentak kaget karena Shim Busangjangnim sedang memperhatikanku dengan ekspresi aneh. Kedua alisnya saling bertaut, tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya. Aku menarik napas panjang beberapa kali sambil mengulang apa yang baru saja muncul di kepalaku.

“Kecelakaan itu…” kataku kemudian. “Apa semuanya berawal dari kecelakaan itu?” tanyaku.

Shim Busangjangnim langsung menolehkan kepala ke arahku dengan cepat. Tapi dia tak mengatakan apa-apa, hanya menatapku sambil menyipitkan matanya.

“Apa kecelakaan mobil itu… melibatkan A-Appa, Choi Wooyoung dan… dan… istrimu?”

“Aku tak menyangka kau sudah banyak mengetahuinya, bahkan tentang Choi Wooyoung” jawab Shim Busangjangnim tak menjawab pertanyaanku lagi. “Dia anak yang pintar dan mengagumkan, sayang sekali hidupnya tidak beruntung”

“Jawab pertanyaanku, Busangjangnim!” bentakku keras karena menahan rasa sakit di kepalaku. “Katakan padaku, apa semuanya berawal dari kecelakaan itu? Kecelakaan yang melibatkan-“

Maja,” potong Shim Busangjangnim sebelum aku selesai berbicara. “Kecelakaan itu adalah awalnya dari semua ini. Kecelakaan itulah yang telah mengambil nyawa istriku, bahkan keponakanku, Choi Wooyoung”

“Lalu aku, siapa?”

“Kau?” tanya Shim Busangjangnim sambil tertawa pahit. “Kau adalah seorang anak yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi”

Mworaguyo?”

Shim Busangjangnim mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan menunjukkan padaku sebuah liontin yang persis sama seperti yang ada di bayanganku. “Seorang anak kecil menjatuhkannya di jalan dan mengakibatkan mobil yang ditumpangi istriku mengalami kecelakaan” katanya sangat dingin.

Aku diam di posisiku.

“Apa kau mengenali liontin ini? Tentu saja kau mengenalinya karena ini adalah liontinmu. Aku bahkan bisa menerkanya dengan melihat wajahmu sekarang, Cho Kyuhyun!” kata Shim Busangjangnim lagi karena aku terus saja diam. “Liontin inilah penyebab mobil Yoon Jae terpeleset, dan dia tak bisa mengendalikannya karena jalanan pun sangat licin”

Aku mengamati liontin itu lagi. Liontin berbentuk hati dengan ukiran nama di tengahnya. Hanya saja aku tak bisa melihat tulisan yang tertera disana karena Shim Busangjangnim langsung menggenggamnya dan menjauhkannya dariku. Dia kembali menatapku tajam, lalu membalikkan badannya memunggungiku. Sementara itu, aku hanya diam dan memikirkan tentang semua yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan mobil dan liotin itu memang membuatnya semakin jelas, tapi tetap saja aku masih belum bisa mengingatnya lebih jauh. Haruskah aku bertanya lagi pada Shim Busangjangnim atau bahkan meminta liontin itu? Tapi terakhir kali dia menatapku, dia terlihat sangat emosi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

¯¯

Sooyoung POV

Aku duduk di atas ranjangku sambil memandang hampa ke luar jendela. Pikiranku tak pernah lepas dari percakapan antara Kyuhyun dan Shim Samchon yang aku dengar kemarin. Kenapa tiba-tiba saja Kyuhyun bertanya seperti itu pada Shim Samchon? Lalu apakah Kyuhyun benar-benar bukan anak kandung Appa seperti yang aku dengar? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali tak bisa berpikir dengan jernih karena terlalu banyak pertanyaan di kepalaku yang bahkan sampai sekarang belum aku temukan jawabannya.

Aku beranjak dari tempatku dan melangkah ke samping jendela sambil memijat-mijat pelipisku. Jika Kyuhyun bukan anak kandung Appa, itu berarti dia bukan Oppa-ku. Lalu siapa dia? Dan kenapa dengan kecelakaan yang disebut-sebut oleh Kyuhyun? Apa itu kecelakaan yang sama yang terjadi pada bibi Young Ae?

Ah, molla, molla!” kataku pada diri sendiri karena kepalaku semakin terasa pusing karena memikirkannya. “Aku yakin sekali pasti telah terjadi sesuatu dan aku tak bisa diam saja seperti ini. Jika Kyuhyun Oppa bukanlah Oppa-ku, aku harus tahu siapa dia sebenarnya. Dan juga alasan kenapa Appa membohongiku serta semua orang,”

Aku menghela napas keras lalu melangkah keluar dari kamar. Mataku langsung mengarah pada pintu kamar Eomma. Haruskah aku bertanya pada Eomma mengenai hal ini? Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat karena tahu Eomma pasti tak akan memberitahuku meskipun aku berusaha keras untuk bertanya padanya. Lagipula aku tak mau berdebat lagi dengannya karena masalah seperti ini.

“Sooyoung-ah,” panggil Changmin yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia tersenyum ke arahku sambil menghampiriku. “Apa kau baru pulang dari rumah sakit?”

Eo,”

“Kalau begitu, apa Kyuhyun disana? Aku sama sekali tak bisa menghubunginya padahal ada sesuatu yang ingin aku konfirmasikan mengenai proyek di Andong. Dia selalu seperti ini jika berurusan dengan pekerjaan” kata Changmin dengan ekspresi kesalnya.

“Kyuhyun Oppa tidak ada di rumah sakit bahkan dari kemarin malam” jawabku sambil mengingat sikap Kyuhyun setelah dia berbicara dengan Shim Samchon. Dia memang kembali masuk ke kamar Appa bersama Shim Samchon, tapi langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan baik padaku maupun Appa. “Apa Oppa sudah datang ke rumahnya? Mungkin saja dia sedang istirahat di rumah karena dia baru saja pulang dari Ilsan dan langsung ke rumah sakit”

Changmin menggelengkan kepalanya. “Dia tak ada di rumah,” katanya. “Sudah aku ingatkan beberapa kali padanya untuk bertanggung jawab pada pekerjaannya, tapi tetap saja dia menghilang tanpa memberi kabar apapun”

Aku diam saja.

Lalu suara ponsel Changmin terdengar. Tanpa menunggu lebih lama, dia pun segera mengangkat panggilan teleponnya. Dia menatapku sesaat, setelah itu baru dia berbicara dengan ponselnya.

“Kau dimana sekarang?” tanya Changmin dengan suaranya yang berbeda. “Apa kau mabuk?”

Kedua alisku saling bertaut mendengarkan. Apa yang menelepon Changmin itu Kyuhyun? Melihat dari cara Changmin berbicara dan beberapa kali dia melirikku, sepertinya memang benar. Orang yang menelepon Changmin pasti adalah Kyuhyun. Tapi apa benar dia mabuk?

“Kyuhyun Oppa?” tanyaku pada Changmin dengan suara yang sangat pelan.

Changmin mengangguk.

“Berikan padaku teleponnya. Biar aku saja yang berbicara dengannya, Oppa

Tanpa diminta dua kali, Changmin langsung memberikan ponselnya padaku. Aku segera mendekatkan ponsel itu ke telingaku dan suara keras pun langsung terdengar di seberang telepon. Aku bahkan sempat menjauhkan ponsel Changmin untuk beberapa saat sebelum kemudian menempelkannya lagi di telinga.

“Datanglah ke sini dan kita bersenang-senang, Changmin-ah” kata Kyuhyun samar karena suaranya teredam musik yang sangat keras. “Aku akan menunggumu disini, eo? Aku akan memberitahumu sebuah rahasia besar jika kau datang dan setelah itu kau boleh membenciku”

Suara ribut-ribut dan beberapa suara lain di seberang benar-benar sangat menganggu. Changmin meminta kembali ponselnya dan mau tak mau aku menyerahkannya padahal aku belum sempat berbicara apapun pada Kyuhyun. Aku memperhatikan Changmin yang dengan cepat mengubah ekspresinya. Aku tak tahu apa yang Kyuhyun katakan karena beberapa kali Changmin mengerutkan keningnya. Tapi kemudian Changmin menutup sambungan teleponnya dan terlihat akan pergi ke suatu tempat.

Oppa, kau mau kemana?” tanyaku ingin tahu.

Changmin berhenti melangkah dan berbalik menghadapku, “Aku akan menjemput Kyuhyun sebelum dia benar-benar mabuk dan hilang kesadaran” katanya. “Dia memberitahuku dimana dia berada sekarang, jadi aku akan ke sana”

“Bolehkah aku ikut? Aku juga mengkhawatirkannya karena sejak kemarin dia tidak terlihat baik-baik saja” ujarku sambil mengingat apa yang terjadi antara Kyuhyun dan Shim Samchon kemarin. “Aku rasa sesuatu telah terjadi padanya,” Aku menambahkan.

Changmin terlihat berpikir untuk sesaat, lalu dia menganggukkan kepalanya pelan. Aku melangkah mengikuti Changmin keluar rumah dan langsung masuk ke mobilnya. Dengan gerakan cepat Changmin pun memutar kemudi mobilnya dan melaju di jalanan Seoul yang padat seperti biasanya. Jalanan di Seoul memang selalu ramai, tak peduli itu siang ataupun malam. Apalagi di pusat kota seperti ini sangat tidak mungkin menemukan jalan yang sepi dari kendaraan yang melintas.

Selama perjalanan aku dan Changmin sama-sama diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku terus memikirkan Kyuhyun, percakapannya dengan Shim Samchon dan juga Appa. Aku melirik Changmin yang sedang berkonsentrasi pada kemudi mobilnya. Jika apa yang Kyuhyun dan Shim Samchon bicarakan itu benar, bagaimana sikap Changmin saat mengetahuinya? Apa dia akan tetap menganggap Kyuhyun sebagai sepupu dan sahabatnya? Lalu aku… apa yang harus aku lakukan?

“Kita sampai,” seru Changmin sambil menghentikan mobilnya di depan sebuah bar bertuliskan ‘Vinga’. “Kau sebaiknya disini saja, Sooyoung-ah. Biar aku saja yang menjemput Kyuhyun di dalam”

“Aku ikut, Oppa” sahutku sambil ikut keluar dari mobil. “Akan lebih mengkhawatirkan jika aku menunggu disini,”

Changmin menganggukkan kepalanya dan dia bahkan menggandeng tanganku saat masuk ke dalam bar. Ini pertama kalinya tanganku berada di genggaman Changmin dan aku tak berusaha menolaknya karena diapun adalah sepupuku sendiri. Aku tahu alasan Changmin melakukannya adalah untuk melindungiku dari namja-namja yang sedang berkumpul disini. Karena bahaya bagi seorang yeoja masuk sendirian ke tempat seperti ini.

Sejujurnya ini juga pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Musik yang keras dan berisik sangat menganggu telingaku. Lampu disko berputar-putar di atas. Bau alkohol, parfum dan asap rokok tercium dimana-mana. Aku rasa sekarang aku tahu kenapa Eomma melarangku pergi ke tempat-tempat seperti ini karena akupun tak betah berlama-lama disini dan ingin segera keluar.

“Kyuhyun Oppa ada dimana kira-kira, Oppa?” tanyaku tepat di telinga Changmin. “Ada banyak sekali orang disini. Kita pasti kesulitan menemukannya,”

“Aku tahu tempat dimana biasanya dia duduk. Kajja,” ajak Changmin sambil menyingkirkan beberapa orang yang sedang menari agar kami bisa lewat. “Lihat itu. Kyuhyun disana,” Changmin berkata lagi dengan tangan menunjuk ke satu arah.

Aku mengikuti arah tangan Changmin dan benar saja, aku melihat Kyuhyun sedang duduk sendirian di meja bar. Changmin bergegas membawaku ke dekat Kyuhyun dan begitu sampai disana, aku hanya bisa diam. Kyuhyun sepertinya sudah mabuk berat sampai-sampai dia sudah tidak bisa lagi mengangkat kepalanya dari atas meja. Lima botol minuman beralkohol bertengger di sekelilingnya dan semuanya sudah tidak berisi. Apa Kyuhyun meminum semua itu sendirian? Aku rasa dia benar-benar sudah gila karena hal itu.

Ya! Cho Kyuhyun! Sudah berapa lama kau disini?” tanya Changmin berusaha untuk membangunkan Kyuhyun. “Ayo kita pergi dari sini. Kau seharusnya tidak pergi minum-minum seperti ini lagi”

Oppa, bangunlah” kataku pelan sambil memegang kepala Kyuhyun dengan lembut. “Bukan seperti ini caranya melupakan masalah, eo?”

Kyuhyun bergerak di posisinya dan dia langsung mengangkat kepalanya. Dengan cepat dia memutar tubuh dan menatapku. Ada ekspresi terkejut di wajahnya, tapi kemudian dia tersenyum sangat tipis.

“Sooyoung-ah, kenapa kau disini?”

“Aku ke sini untuk menjemputmu. Jadi, ayo kita pulang”

“Pulang? Kemana? Aku bahkan tidak punya rumah sekarang”

Ya! Apa maksudmu?” sahut Changmin ikut menyambung. “Kau pasti sudah mabuk berat sekarang. Kajja, aku akan memapahmu” katanya sambil membantu Kyuhyun berdiri.

Aku menarik napas panjang, lalu membantu Changmin memapah Kyuhyun. Susah payah kami bertiga keluar dari bar karena semakin malam justru tempat ini semakin penuh. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana orang-orang menari dan menggoyang-goyangkan badan mereka. Aku benar-benar bernapas lega begitu keluar dari tempat itu. Kepalaku yang berdenyut karena hentakan musik yang keras pun langsung sirna begitu berada di luar.

Ya! Dimana kau memarkirkan mobilmu?” tanya Changmin pada Kyuhyun yang setengah sadar. “Apakah itu ditempat biasanya?”

Kyuhyun menganggukkan kepala dalam diam.

Kajja, Sooyoung-ah

“Dimana?”

“Itu. Tak jauh dari mobilku”

Arraseo,”

Aku dan Changmin terus memapah Kyuhyun sampai akhirnya kami tiba di dekat mobil Kyuhyun. Changmin segera merogoh kunci mobil Kyuhyun disaku jaketnya dan menemukannya. Dengan cepat dia membantu Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya sendiri dan berbalik menghadapku.

“Sooyoung-ah, kau bisa pulang dengan mobilku” kata Changmin sambil memberikan kunci mobilnya padaku. “Bibi Young Ah mungkin akan khawatir padamu jika kau tak ada di rumah di jam seperti ini,”

Aku menggelengkan kepala tanda menolak. “Biar aku saja yang mengantar Kyuhyun Oppa ke rumah. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai dongsaeng-nya”

“Tapi-“

“Jika Oppa khawatir padaku dan Kyuhyun Oppa, bagaimana jika Oppa mengikutiku dari belakang?”

Changmin menatapku lekat-lekat, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri apakah lebih baik aku atau dia yang mengantarnya. Tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya dan memberikan kunci mobil Kyuhyun padaku. Setelah itu diapun bergegas pergi menuju mobilnya yang hanya berjarak lima mobil dari mobil Kyuhyun.

Aku bergegas masuk ke dalam mobil dan mengencangkan sabuk pengamanku. Sebelum aku benar-benar menginjakkan gas mobilnya, aku sempat melirik Kyuhyun yang sedang duduk disampingku sambil memejamkan matanya. Berapa kali dia harus mabuk dan tidak sadarkan diri seperti ini? Aku tahu jika dulu aku pernah melakukan hal yang sama seperti yang Kyuhyun lakukan. Tapi mabuk-mabukan tidaklah menghilangkah masalah, hanya melupakannya untuk sesaat dan kemudian akan teringat lagi.

Oppa, kau harus berhenti melakukan hal-hal seperti ini” kataku sambil menggenggam tangan Kyuhyun. “Aku tahu jika Oppa bukanlah tipe orang yang suka mabuk-mabukkan, jadi saat kau ada masalah cukup ceritakan saja padaku. Aku dongsaeng-mu, karena itu aku pasti akan mendengarkanmu dan membantumu”

Aku menatap Kyuhyun lama, lalu menghela napas singkat. Setelah itu kakipun menginjak pedal gas dan meninggalkan halaman bar itu dengan cepat. Di belakangku, aku melihat mobil Changmin mengikuti. Beberapa kali aku melirik ke arah Kyuhyun yang masih terpejam. Jika dia benar bukan Oppa kandungku, haruskah aku membuka kembali perasaanku padanya? Lalu bagaimana dengan Kris?

Oppa, haruskah aku mencintaimu lagi seperti dulu jika memang kau bukan Oppa kandungku?” kataku berbicara dalam hati.

¯¯

Kyuhyun POV

Sudah tiga hari sejak aku pergi ke bar Vinga dan Sooyoung serta Changmin menemukanku yang sedang mabuk. Selama tiga hari itu, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan semua pekerjaanku pada Pengacara Han dan Pengacara Lee. Kali ini aku memberitahu Changmin kemana saja aku pergi. Dan Sooyoung, aku membiarkannya merawat Appa karena dialah yang berhak melakukannya, bukan aku. Tapi meskipun begitu, Sooyoung tetap memberitahu bagaimana keadaan Appa. Terakhir kali dia menelepon, dia memberitahu padaku jika Appa sudah diijinkan pulang ke rumah.

Josanghaeyo, Anda menunggu lama. Data yang Anda minta itu berada di lemari arsip lama jadi sedikit kesulitan menemukannya. Selain itu karena tahun kejadiannya tak begitu jelas, jadi aku harus mencarinya di seluruh lemari” kata seorang polisi membuyarkan pikiranku. “Silahkan. Anda boleh melihat-lihat” katanya lagi sambil memberikan satu berkas map padaku.

Ne, kamsahamnida

Ya. Disinilah aku berada, di sebuah kantor polisi Seoul. Aku berusaha mencari tahu sendiri tentang kecelakaan yang terjadi yang melibatkanku, Appa, Choi Wooyoung dan juga Lee Young Ae. Sedikit sulit memang karena aku sendiri tak begitu ingat kapan tepatnya kecelakaan itu terjadi. Aku hanya menyebutkan ketiga nama itu saat bertanya pada polisi dan aku hanya harus menunggu selama beberapa hari sampai polisi itu kembali meneleponku.

Setelah membuka-buka hampir setengah map, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Ada sebuah artikel serta beberapa barang bukti yang tertulis disana, termasuk liontin yang pernah Shim Busangjangnim tunjukkan padaku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan kemudian menyipitkan mataku untuk melihat gambar liontin itu dengan lebih jelas. Sekarang aku bisa membaca tulisan yang sebelum tak bisa aku baca karena tak terlihat saat liontin itu ada di tangan Shim Busangjangnim. Saranghaeyo, Cho Kyuhyun

Aku menarik napas panjang, lalu mendongakkan kepala menatap polisi yang menungguku. “Igeo-“ kataku sambil menunjuk arsip yang aku maksud. “-dimana aku menemukan barang-barang yang ada di foto ini?”

“Semua barang-barang itu masih ada di tempat penyimpanan barang bukti, kecuali liontin ini. Seseorang mengambilnya dan mengklaim bahwa liontin itu adalah milik anaknya yang menjadi salah satu korban dari kecelakaan itu” jawab polisi itu memberitahuku. “Ah, tapi aku minta maaf karena ada tak bisa melihat barang-barang itu jika Anda tak memiliki ijin khusus”

“Ijin khusus?”

Ne. Hanya detektif atau keluarga korban saja yang diijinkan”

“Bagaimana jika aku sendiri adalah korbannya?” sahutku dengan cepat.

Polisi itu terlihat terkejut, “Ne?”

Joneun… Cho Kyuhyun. Nama yang tertulis di liontin itu adalah aku dan Anda… Anda sepertinya melakukan kesalahan dengan mengijinkan seseorang mengambil liontin itu karena orang itu bukanlah keluargaku” Aku berusaha menahan emosiku saat mengatakannya.

“Kalau begitu, apa Anda datang untuk meminta kami melakukan penyelidikan ulang atas kecelakaan itu?” tanya polisi yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Aku akan segera meminta detektif untuk melakukannya sebelum kasus ini kadaluarsa,”

Aku menggelengkan kepala, “Tidak. Aku tidak datang untuk meminta penyelidikan ulang. Biarkan saja kadaluarsa karena kecelakaan itu…” Aku terdiam karena tak bisa melanjutkan kata-kataku. Mataku terpejam untuk beberapa saat, lalu aku membukanya lagi, “Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku sebagai gantinya.

Ne, silahkan saja”

“Dengan siapa aku bisa bertanya-tanya mengenai kecelakaan ini? Apa ada seorang detektif yang sebelumnya menyelidikinya?”

Jamkkamanyo,” kata polisi itu padaku. Dia pergi untuk bertanya pada polisi lainnya karena aku melihatnya dari tempatku berdiri. Tak lama kemudian dia kembali menghampiriku, “Detektif Kim Tae Jun. Dia adalah orang yang melakukan penyelidikan” kata polisi itu lagi.

“Dimana aku bisa menemui Detektif Kim Tae Jun?”

“Dia tinggal di Distrik Nowon. Aku akan menuliskan alamatnya padamu, jamsimman” Polisi itu mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah alamat padaku. Setelah itu dia memberikannya padaku dan akupun bergegas pergi dari kantor polisi untuk menemui Detektif Kim Tae Jun ini.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh untuk sampai di distrik Nowon lebih cepat. Tak menunggu lama, akupun menemukan alamat yang polisi itu tuliskan padaku. Dari dalam mobil, aku menatap sebuah rumah sederhana tanpa halaman. Lalu dengan sekali tarikan napas, akupun bergegas keluar dari mobil. Aku menatap rumah itu sekali lagi sebelum akhirnya memencet bel rumahnya. Sambil menunggu seseorang datang untuk membukakan pintu, aku melihat-lihat ke sekeliling rumah.

“Kau mencari siapa, anak muda?” tanya seseorang dari belakangku.

Aku menoleh dan membalikkan badan dengan cepat. Seorang Ahjumma sedang berdiri di belakang dan menatapku dengan penuh ingin tahu. “Apa benar ini rumah Detektif Kim Tae Jun?” tanyaku sopan.

“Benar, ini rumahnya. Tapi kenapa kau mencarinya? Dia bahkan tidak bekerja lagi sebagai detektif dan masih ada orang yang mencari-carinya”

Ne?”

“Kim Tae Jun sedang pergi memancing di sungai itu. Jika kau menyusurinya, kau akan bertemu dengan seorang pria tua memakai kaos cokelat dengan topi lebarnya” kata Ahjumma itu memberitahu sambil menunjuk ke sebuah sungai. “Pergi dan temui dia sebelum dia berpindah lokasi memancing,”

Aku menatap Ahjumma itu sesaat, lalu menganggukkan kepala. “Ne. Kamsahamnida

Meskipun aku sedikit bingung dengan Ahjumma itu, tapi aku memutuskan untuk mengikuti apa perkataannya. Aku menyusuri sungai kecil yang sebelumnya aku lewati dan benar, ada seorang pria yang persis di deskripsikan oleh Ahjumma itu sedang duduk di tepian sungai. Menunggu umpannya dimakan ikan sambil membaca sebuah buku. Aku menghampirinya dengan hati-hati karena siapa tahu dia bukanlah Detektif Kim Tae Jun yang aku maksud.

Silyehamnida,” kataku menyapa. Pria itu langsung menutup bukunya dan menoleh ke arahku. “Apa Anda Detektif Kim Tae Jun?” tanyaku.

“Kau salah,” katanya datar. “Sudah tidak ada lagi Detektif Kim Tae Jun setelah dia memutuskan untuk pensiun. Sekarang hanya ada Kim Tae Jun,”

“Jadi, apa Anda orangnya?”

Detektif Kim Tae Jun menganggukkan kepala tanpa menatapku. “Ada apa kau mencariku? Aku rasa aku tak memiliki hutang apapun untuk dicari-cari oleh orang” katanya sarkatis.

Ah, josanghamnida. Aku belum memperkenalkan diri. Joneun Cho Kyuhyun. Apa Anda merasa pernah mendengar namaku sebelumnya?” tanyaku masih memilih untuk bersikap hati-hati.

“Aku rasa tidak. Lagipula nama itu tidak hanya kau yang memilikinya bukan?” Dia masih bersikap sarkatis padaku dan aku membiarkannya saja. “Katakan padaku ada masalah apa kau mencariku karena aku sedang sibuk memancing ikan untuk makan malamku”

“Kalau begitu aku tidak akan lama,” sahutku memilih duduk di sebuah batu disebelahnya. “Aku akan langsung bertanya pada Anda. Apa Anda masih mengingat kecelakaan mobil yang menimpa keluarga Choi? Sekarang pemilik JinHan Group,”

“Siapa? Choi? JinHan Group?”

Ne. Choi Yoon Jae, Choi Wooyoung dan Lee Young Ae serta Cho Kyuhyun. Itu adalah nama-nama korban kecelakaan mobil itu. Apa Anda mengingatnya?”

“Aku tak begitu yakin, tapi sepertinya aku pernah mendengar nama Lee Young Ae” katanya masih tidak menatapku. “Dulu ada seorang pria yang bertanya juga dan berkata jika dia adalah suami dari Lee Young Ae itu”

Aku mengerutkan keningku. Pria yang dimaksud oleh Detektif ini pastilah Shim Busangjangnim karena dia juga orang yang sama yang telah mengambil liontinku. Jadi, dia memang telah mencari tahu tentang kecelakaan itu sebelumnya seperti yang aku lakukan sekarang.

“Tidak banyak yang aku ingat tentang kecelakaan itu karena korbannya meminta untuk menghentikan penyelidikan” kata Detektif Kim lagi. “Selain itu korban juga mengaku jika itu hanyalah kelalaiannya dan juga akibat jalanan yang licin karena hujan lebat”

“Apa hanya itu?”

Detektif Kim menganggukkan kepala. “Ya, hanya itu. Jika korban sendiri yang meminta untuk penyelidikan dihentikan, maka tak ada yang bisa aku lakukan selain menghentikannya”

Ah, ne… Arraseoyo” kataku sedikit menahan kecewa karena aku bahkan tak menemukan apa-apa. “Kalau begitu apa Anda mencari tahu tentang korban bernama Cho Kyuhyun? Dan juga… liontin ini?” tanyaku sambil menunjukkan gambar liontin yang sebelumnya sempat aku potret di kantor polisi secara diam-diam.

Detektif Kim menoleh ke arahku dan melihat apa yang aku tunjukkan padanya. Keningnya berkerut tajam, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. “Bukankah itu liontin yang aku temukan ada di bawah mobil naas itu?”

Geuraeyo?”

Eo. Aku melakukan penyelidikan di lokasi kejadian beberapa saat setelah kecelakaan itu terjadi dan menemukan liontin itu. Aku mencari tahu pemilik liontinnya dan ternyata itu adalah milik seorang anak yang juga menjadi korban dari kecelakaan itu” jelas Detektif Kim. “Aku hanya berhasil menemukan sedikit informasi tentang anak itu. Namanya Cho Kyuhyun, dia tinggal di Seoul bersama bibinya setelah ditinggalkan oleh orangtuanya. Jamkkaman, apa kau Cho Kyuhyun itu?”

Aku mengangguk dalam diam.

Aigoo… aigoo…” sahut Detektif Kim terkejut. “Kau tumbuh dengan sehat. Orang itu benar-benar merawatmu dengan sangat baik, lihatlah kau sekarang”

Kedua alisku saling bertaut, “Orang itu?”

Eo. Choi Yoon Jae, dia memutuskan untuk mengangkatmu setelah dia kehilangan putranya sendiri dalam kecelakaan itu. Aku ingat sekarang, tapi hanya itu informasi yang aku dapatkan sebelum penyelidikan dihentikan” kata Detektif Kim dengan antusias. “Mianhaeyo, karena aku sudah tua” Dia menambahkan.

Aku kembali mengangguk mengerti dan tersenyum tipis. Pandanganku beralih pada sungai di depanku dan aku menarik napas panjang. Jadi memang benar, aku bukanlah anak kandung Appa. Satu-satunya jalan untuk tahu siapa aku sebenarnya adalah Appa karena dia pasti mengetahuinya, aku yakin itu. Aku hanya perlu bertanya padanya dan memastikan semuanya.

**

“Apa tidak apa-apa jika aku bertanya pada Appa dengan kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya pulih?” tanyaku pada diri sendiri setelah aku memutuskan untuk pulang ke rumah. “Bagaimana aku memulai bertanya padanya?”

Aku menarik napas panjang, lalu meletakkan tanganku di atas lutut dan menyangga daguku sambil memperhatikan ikan-ikan di kolam di halaman belakang rumahku. Mengetahui fakta bahwa aku memang bukan anak kandung Appa benar-benar terasa sangat menyakitkan dan juga melegakan. Aku tak tahu kenapa aku merasakan dua hal itu saat aku mengetahuinya. Sakit karena selama ini aku telah menganggap Appa sebagai Appa-ku sendiri, lalu lega karena ternyata aku bukanlah Oppa kandung Sooyoung.

“Kyuhyun-ah, kenapa kau disini?” Suara Appa terdengar dari belakangku. Aku menolehkan kepala dan melihat Appa sedang mendorong kursi rodanya sendiri menghampiriku. “Sooyoung baru saja pulang dan kau sama sekali tak menemuinya. Apa kalian sedang bertengkar?”

“Tidak. Kami baik-baik saja,” jawabku berusaha bersikap biasa. “Appa, kenapa Appa tak meminta Sooyoung untuk tinggal disini? Dia putri Appa kan?”

Appa tersenyum, “Appa sudah memintanya tapi dia menolak karena Eomma-nya pasti tidak mengijinkannya”

Ah, geuraeyo” kataku sebagai tanggapannya. Aku beranjak dari tempatku, lalu berdiri di belakang Appa. “Appa mau pergi jalan-jalan bersamaku?” tanyaku menawarkan.

“Jalan-jalan? Kemana?”

“Berkeliling kawasan ini. Kita tak pernah melakukannya bukan karena sibuk dengan pekerjaan di JinHan” kataku menjawab. “Kajja. Aku akan mambantu Appa,”

Aku segera mengambil pegangan pada kursi roda Appa dan mendorongnya keluar rumah. Aku sempat berpamitan pada Ahjumma yang saat itu sedang menyiapkan makan malam di dapur. Aku terus mendorong kursi roda Appa tanpa bicara karena memikirkan bagaimana harus bertanya padanya. Bahkan saat aku melewati taman bermain anak-anak, aku tak kunjung berbicara pada Appa.

“Kau mau berjalan-jalan kemana, Kyuhyun-ah? Bukankah ini sudah cukup jauh?” tanya Appa yang pada akhirnya bersuara terlebih dahulu. “Rumah kita bahkan tidak terlihat lagi dari sini,” Dia menambahkan dengan sedikit gurauan.

Appa,” Aku diam sesaat sebelum kembali berbicara. “Apa kau akan menjawab pertanyaanku jika aku bertanya padamu?”

“Tentu saja,”

“Berjanjilah padaku untuk tidak menyembunyikan apapun dariku lagi, Appa” kataku menghentikan laju kursi roda dan berjongkok di depan Appa. “Aku tak akan pernah bisa marah pada Appa atau bahkan memusuhi Appa atau sikap-sikap buruk lainnya karena Appa adalah Appa-ku”

“Apa yang sedang coba kau katakan, Kyuhyun-ah? Appa benar-benar tidak mengerti,”

Aku menarik napas singkat, lalu menatap lurus kedalam bola mata Appa. Mata itu, aku tak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. Sekali lagi aku menarik napas, kemudian berbicara padanya. “Apa aku benar-benar bukan anak kandung Appa?”

Aku terlihat terkejut, dia bahkan hanya memandangiku untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dariku. “Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu? Kau anak Appa, dari dulu sudah seperti itu”

Eo. Tapi aku bukan anak kandung Appa kan? Aku… aku… bukanlah Choi Wooyoung, anak kandung Appa yang sebenarnya,”

“Kau… Darimana kau tahu tentang semua itu?”

“Aku mencari tahu sendiri,”

Appa diam. Cukup lama dia diam. Membuatku sedikit merasa bersalah karena bertanya sesuatu hal yang membuatnya berpikir berat padahal dia masih dalam tahap pemulihan. Tapi aku benar-benar ingin tahu siapa aku sebenarnya karena dengan begitu aku akan tahu identitasku sendiri.

Geurae. Tak ada alasan bagi Appa menyembunyikannya lagi darimu karena kaupun sudah mengetahui hampir semunya,” kata Appa tiba-tiba. “Entah itu karena kau mencari tahu sendiri atau Shim Ho Min yang memberitahumu, tapi memang benar… kau bukan anak kandung Appa, Kyuhyun-ah

Perkataan Appa ini benar-benar membuatku lega, sangat lega. Aku tak tahu kenapa aku merasa seperti itu, seakan-akan beban dan rasa penasaran yang selama ini aku tanggung selama berhari-hari diangkat begitu saja dari pikiranku. Aku menatap Appa yang sedang menundukkan kepalanya, lalu tanganku terangkat dan menggenggam tangan Appa yang terasa dingin. Appa pasti telah memikul beban berat juga karena menyembunyikan semua ini dariku dan orang-orang bukan? Setidaknya dia bisa merasa lega, sama sepertiku.

“Aku juga tahu tentang kecelakaan itu, Appa” kataku kembali bersuara. “Kecelakaan yang merenggut nyawa Choi Wooyoung dan Lee Young Ae. Aku tahu, aku terlibat di dalamnya”

“Benar… kecelakaan itu, 16 tahun yang lalu” kata Appa dengan suaranya yang getir. “Kecelakaan yang telah mengambil nyawa putraku dan juga adik iparku. Kecelakaan itu…”

*Flashback 16 tahun yang lalu*

“Appa, Appa, Appa…” seru Choi Wooyoung sambil menggerak-gerakkan bahu Appa-nya, Choi Yoon Jae, yang sedang menyetir. “Belikan aku mainan yang ada di airport tadi. Bukankah kau berjanji padaku saat menunggu Imo?”

“Wooyoung-ah, Appa akan membelikannya nanti. Sekarang kita antar Imo pulang dulu karena Eomma-mu pasti sedang menunggunya dengan tidak sabar. Setelah itu, Appa akan mengajakmu ke toko mainan. Eotte?” Choi Yoon Jae menanggapi perkataan anaknya tanpa menatapnya sama sekali. “Ah, bagaimana jika kita mengajak Eomma dan Imo sekalian?”

“Geurae, geurae. Imo akan ikut pergi bersamamu, kita akan jalan-jalan bersama Wooyoung-ah”

Choi Wooyoung menganggukkan kepalanya dan dia kembali duduk di kursi belakang. Dia mengambil mainannya dan memilih untuk menyibukkan diri disana. Sementara itu Choi Yoon Jae dan Lee Young Ae sama-sama diam duduk di kursi depan. Lee Young Ae mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tepat saat itu hujan turun dengan lebatnya.

“Hyungbu, bagaimana jika kita berhenti dulu? Hujannya sangat lebat,”

“Gwenchana, aku akan mengurangi kecepatan”

“Tapi-“

Belum selesai Lee Young Ae berbicara, mobil tiba-tiba berputar dengan sangat cepat. Teriakan Choi Wooyoung pun terdengar dari belakang, dan Choi Yoon Jae terus berusaha mengendalikan kemudinya sambil mengurangi kecepatan. Tapi karena jalanan saat itu sedang licin, mobil terus berputar tanpa kendali sampai akhirnya berhenti setelah menabrak tiang listrik.

Choi Yoon Jae yang saat itu masih bisa menjaga kesadarannya bergegas keluar dari dalam mobil. Dia panik dan berusaha untuk mengeluarkan Choi Wooyoung dan Lee Young Ae yang sudah tidak sadarkan diri. Saat dia baru saja melangkah mendekat ke arah mobil, suara ledakan terdengar. Beberapa orang berusaha untuk menahan Choi Yoon Jae untuk tidak mendekat ke arah mobil. Dan kemudian suara ledakan terdengar lagi untuk kedua kalinya.

“Apakah Anda yang bernama Choi Yoon Jae?” salah seorang detektif bernama Kim Tae Jun datang menemui Choi Yoon Jae yang sedang dirawat disalah satu rumah sakit setelah kecelakaan itu terjadi. “Aku Detektif Kim Tae Jun dan saat ini aku sedang menyelidiki kecelakaan mobil yang baru saja menimpa Anda,”

Choi Yoon Jae hanya diam tak menjawab.

“Aku turut berdua cita atas kehilangan anak Anda dan juga adik ipar Anda. Meskipun petugas berhasil mengevakusi korban, tapi nyawa kedua korban tak bisa diselamatkan lagi” kata Detektif Kim lagi menjelaskan pada Choi Yoon Jae yang masih terpukul dengan kejadian yang baru saja menimpanya. “Sementara itu, ada seorang anak lain yang ditemukan tergeletak di dekat mobil Anda dan saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Anak itu tanpa sengaja tertabrak mobil Anda, Choi Yoon Jae-ssi”

“Kau ingat siapa namamu?” tanya Choi Yoon Jae saat menemui anak yang dimaksud oleh Detektif Kim. “Namamu adalah Cho Kyuhyun, dan aku… aku adalah Cho Hyo Won, Appa-mu. Kau ingat sekarang?”

Anak bernama Cho Kyuhyun itu menggelengkan kepalanya.

“Gwenchana, kau akan mengingatnya nanti. Sekarang kau hanya perlu ikut Appa dan kita pulang ke rumah. Arra?”

*Flashback end*

Appa memutuskan untuk membawamu pulang ke rumah dan membesarkanmu setelah itu sampai sekarang,” kata Appa melanjutkan ceritanya. “Namamu memang benar Cho Kyuhyun, Appa-lah yang mengubah nama Appa agar sesuai dengan margamu”

“Lalu siapa orang tuaku sebenarnya?”

“Orang tuamu sudah meninggal. Tapi Appa tahu siapa mereka karena sebelum Appa memutuskan untuk mengangkatmu sebagai anak Appa, terlebih dahulu Appa mencari tahu asal usulmu” kata Appa. Eomma-mu bernama Han Jae Shin, dia adalah pemilik sebuah kedai teh di Jeonju. Sementara Appa-mu yang sebenarnya adalah Cho Kwang Min”

Aku menahan napasku sebentar karena inilah pertama kalinya aku tahu siapa orang tuaku sebenarnya meskipun kata Appa mereka sudah meninggal. “Apa mereka semua tinggal di Jeonju?” tanyaku ingin tahu.

Eo. Setelah kedua orangtuamu meninggal, kau ikut bersama bibimu, Han Jae In, ke Seoul sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi”

Appa tahu dimana aku bisa menemukan bibiku itu?”

Appa menggelengkan kepalanya. “Appa sudah pernah mencarinya, tapi tak ada orang yang mengenalnya. Mungkin saja dia sudah tidak tinggal di Seoul, entahlah Appa tak tahu”

Aku diam. Semua perhatianku tertuju pada nama kedua orangtuaku yang baru kali ini aku dengar. Mataku terpejam, berusaha untuk mengingat kenangan bersama orangtuaku tapi aku tidak bisa. Kenapa aku bisa melupakan mereka dengan mudahnya? Mendadak aku merasa kesal karena tak berhasil mengingat satu pun orangtuaku sendiri. Aku menarik napas panjang untuk kesekian kalinya. “Sekarang aku hanya berharap, aku bisa mengingat mereka meskipun hanya sedikit” kataku dalam hati.

¯¯

Sooyoung POV

Aku menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan pemandangan kota Seoul dari Namsan Tower. Disampingku Kris berdiri dan melakukan hal yang sama denganku. Akulah yang mengajaknya untuk datang ke sini karena pikiranku sedang sangat kacau dalam beberapa hari ini. Aku menghela napas panjang untuk kedua kalinya sebelum menoleh pada Kris.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku

Eo, tanyakan saja. Kau tak perlu meminta ijin padaku jika ingin bertanya sesuatu” katanya.

Aku diam sesaat karena ragu, tapi aku benar-benar ingin tahu jadi aku memutuskan untuk bicara. “Seberapa besar kau mencintaiku, Kris?” tanyaku.

Kris langsung menoleh padaku dan menatapku lekat-lekat. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku?”

“Aku… hanya ingin tahu,”

Kris tersenyum tipis, lalu dia kembali menatap ke arah yang sama. “Haruskah aku memberitahumu seberapa besar aku mencintaimu meskipun itu sudah jelas dimataku karena hanya kaulah yeoja yang ada dihatiku selama ini”

“Apa selama ini kau tak pernah menyukai yeoja lain selain aku?” tanyaku penasaran.

“Tidak,”

Jinjjayo?”

Kris mengangguk. “Tapi kenapa kau tiba-tiba bertanya padaku?”

“Sudah aku katakan jika aku hanya ingin tahu” jawabku sambil menundukkan kepala. Pikiranku langsung tertuju pada Kyuhyun yang sejak beberapa hari kemarin seperti sedang menghindariku. “Aku tak tahu apa yang telah aku lakukan benar atau salah. Terkadang aku merasa jika aku membuat kesalahan dan tak tahu bagaimana harus memperbaikinya”

“Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?” Kris bertanya dengan ekspresi seriusnya. “Jujur saja, aku merasa kau terlihat aneh sejak menjaga Appa-mu di rumah sakit. Selama beberapa hari ini pun aku terus memperhatikanmu dan kau memang berbeda, Sooyoung-ah

Aku diam saja.

“Apa pamanmu berkata sesuatu lagi padamu?”

Aniyo,”

Geuraesseo?”

“Tidak ada apa-apa” jawabku sambil mengarahkan pandangan ke kota Seoul.

Tidak mungkin aku mengatakan pada Kris jika aku sedang memikirkan kemungkinan Kyuhyun bukanlah Oppa kandungku. Apa aku akan terus menyembunyikan ini dari Kris atau haruskah aku memberitahunya? Tapi bagaimana jika dia tahu bahwa sebenarnya aku masih memiliki perasaan pada Kyuhyun meskipun sampai saat ini yang aku tahu dia adalah Oppa-ku.

Berkali-kali aku memang berusaha melupakan perasaan itu, tapi aku selalu tak bisa. Bahkan saat aku sudah berkencan dengan Kris pun, aku masih tetap memikirkan Kyuhyun. Aku benar-benar merasa bersalah pada Kris karena ini, tapi aku tak bisa berbuat apapun. Terkadang aku berpikir jika aku seperti orang bodoh karena terus memiliki perasaan yang seharusnya tidak aku miliki lagi. Dan saat bersama Kris, aku tak bisa memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan pada Kyuhyun. Karena entah bagaimana aku selalu merasa Kris hanyalah sahabatku, tak lebih dari itu.

Aku melirik Kris, lalu menghela napas singkat. “Kris,” panggilku pelan.

Eo,” sahutnya tanpa menoleh padaku.

Aku termenung sesaat, ragu untuk melanjutkan perkataanku pada Kris. Tapi kemudian aku membuka mulutku dan berbicara, “Aku sudah memutuskan sesuatu,”

“Memutuskan sesuatu? Apa itu?”

Aku menatapnya lekat-lekat, “Aku akan kembali ke JinHan dan bekerja disana” kataku. “Mengejutkan memang karena selama ini aku menolak dengan keras tentang itu, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke sana”

“Apa kau yakin kau melakukannya? Maksudku… apa kau melakukannya karena pamanmu yang memintamu?” tanya Kris seakan-akan meyakinkanku.

“Aku melakukannya bukan karena pamanku, tapi karena Appa. Dia memang tidak memintaku secara langsung, tapi sepertinya dia benar-benar ingin aku membantu melindungi JinHan” ucapku sambil mengingat Appa yang masih harus banyak beristirahat setelah dia diijinkan pulang ke rumah oleh dokter. “Lagipula aku tak mau Kyuhyun Oppa berusaha keras sendiri untuk JinHan sementara aku… aku berpura-pura tidak peduli pada perusahaan itu”

“Kau sudah memikirkan ini dengan baik, kan? Termasuk Eomma-mu dan kemungkinan campur tangan pamanmu begitu kau bekerja di JinHan. Apa kau sudah memikirkan itu?” Kris terlihat sangat khawatir saat bertanya padaku. “Sooyoung-ah, aku memang akan selalu mendukungmu, apapun yang akan kau lakukan. Tapi kau harus ingat, jangan pernah membuat dirimu dalam kesulitan”

“Aku sudah memikirkannya dan juga… aku tak mungkin membiarkan Appa kembali bekerja dengan kondisinya sekarang. Selain itu juga aku tak mau pamanku terus membuat masalah pada Kyuhyun Oppa,” sahutku berusaha jujur menyampaikan niatku untuk kembali bekerja di JinHan. “Kau tahu kan, selama ini aku mengetahui semua hal yang terjadi di JinHan meskipun aku tidak bekerja disana. Itu juga secara tidak langsung membuatku bekerja disana” Aku melanjutkan.

Kris mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jika memang kau sudah memikirkannya dengan baik, kau harus melakukannya” katanya. “Lalu apa kau sudah memberitahu Eomma-mu tentang ini?”

“Aku akan memberitahu Eomma secepatnya,” jawabku pelan karena sebenarnya aku belum sempat berpikir akan mengatakannya pada Eomma. Dia memang pasti akan senang, aku tahu itu. Tapi jika dia tahu alasanku bekerja di JinHan karena Appa, aku tak yakin dia akan senang.

“Kapan kau akan mulai bekerja lagi, Sooyoung-ah?” tanya Kris karena aku tak mengatakan apapun lagi. “Aku bisa mengantarmu dan juga menjemputmu jika kau menginginkannya”

Aku tersenyum tipis, “Kau tak perlu melakukan itu karena aku bisa pergi bersama Changmin Oppa dan…” Aku tak meneruskan kalimatku karena tak mau Kris salah paham jika aku menyebutkan nama Kyuhyun. “emm, dan aku akan kembali bekerja setelah aku memastikan sesuatu,” kataku sebagai gantinya.

“Memastikan sesuatu?” tanya Kris sambil menaikkan satu alisnya saat menatapku. “Apa itu?”

“Untuk saat ini aku tak bisa memberitahumu, Kris. Mianhaeyo,” kataku dengan sangat hati-hati. “Aku tahu seharusnya aku tak menyembunyikan apapun darimu, tapi kali ini aku benar-benar ingin memastikannya sendiri sebelum… sebelum aku memberitahumu”

Kris menatapku lama, lalu dia menyunggingkan senyum tipis. “Sooyoung-ah, kau tahu-“ Dia berhenti sejenak untuk menarik napas kemudian melanjutkan bicara. “-selama ini aku selalu ingin menjadi ingin sahabat dan namjachingu­-mu sekaligus. Aku akan bersikap sebagai seorang sahabat jika kau memang membutuhkan seorang sahabat, dan aku akan bersikap sebagai namjachingu jika kita sedang berkencan”

Aku tak tahu harus menanggapinya bagaimana, jadi aku hanya tersenyum.

“Aku tak akan memaksamu untuk memberitahuku apapun. Aku tahu apa yang sedang kau lakukan saja sudah cukup membuatku senang, Sooyoung-ah

Aku diam saja karena aku sedang berpikir tentang bagaimana jika aku memberitahu Kris kemungkinan Kyuhyun bukan Oppa-ku? Apa dia akan tetap senang seperti yang dia katakan? Apa dia akan tetap mau menjadi sahabatku? Apa semuanya akan baik-baik saja diantara aku dan dia?

Ah, semakin larut” celetuk Kris. “Bagaimana jika kita jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang?” katanya menawarkan.

Aku menganggukkan kepala dalam diam.

Kajja,” Kris mengulurkan tangannya kepadaku. Mau tak mau aku menerima uluran tangan itu dan dia langsung menggenggamnya dengan erat. “Kau tahu, aku selalu menikmati menggenggam tanganmu seperti ini” katanya saat kami mulai berjalan meninggalkan lokasi kami sebelumnya.

Waeyo?”

“Tanganmu hangat. Itu yang selalu aku rasakan selama ini,”

Aku tersenyum tipis. tapi tak mengatakan apa-apa untuk menanggapi Kris. Apa yang dia rasakan saat menggenggam tanganku juga selalu aku rasakan setiap kali aku menggenggam tangan Kyuhyun. Bahkan meskipun itu hanya sentuhan kecil, aku masih bisa merasakan getaran yang tiba-tiba muncul di hatiku. Sayangnya sampai sekarang hal itu tak pernah terjadi saat aku bersama Kris. Meskipun aku berusaha keras untuk lebih merasakan apa yang Kris rasakan padaku, tapi tetap saja aku tak bisa.

**

Oh, Sooyoung-ah. Waesseo?” sapa Appa begitu melihatku datang ke rumahnya lagi siang ini. “Appa pikir hari ini kau tak akan datang,” lanjutnya.

Mianhaeyo Appa. Aku harus mencari alasan dulu agar bisa pergi dari rumah paman,” jawabku sambil menghampiri Appa yang masih duduk di kursi rodanya. “Bagaimana keadaan Appa hari ini?”

Appa merasa jauh lebih baik setiap kali kau datang, putriku. Mungkin jika kau tinggal disini bersama Appa, kursi roda ini akan cepat Appa tinggalkan. Dan Appa bisa kembali beraktifitas seperti semula” kata Appa dengan wajah cerahnya.

Aku diam tak menjawab mendengar perkataan Appa ini.

Appa tersenyum padaku, “Kau pasti tak mau tinggal bersama Appa kan?”

Aniyo, bukan seperti itu” jawabku sambil menundukkan kepala. “Sebenarnya akan jauh lebih baik bagiku dan Eomma… jika tinggal disini bersama Appa daripada bersama paman”

Geuraesseo?”

“Aku tak tahu harus mengatakan apa pada Eomma jika sebenarnya aku lebih senang menemani Appa,”

Appa meraih tanganku, lalu membelainya dengan lembut. Tapi tak ada yang dia katakan padaku selain memandangku dengan penuh rasa sayang. Meskipun aku baru saja mengenalnya dan dekat dengannya, tapi aku sudah bisa merasakan kasih sayang itu dari Appa. Itulah kenapa aku benar-benar ingin tinggal bersamanya dan merawatnya seperti layaknya seorang putri yang berbakti pada orang tuanya.

Appa, aku pergi dulu-“ suara Kyuhyun tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Aku dan Appa langsung menolehkan kepala bersamaan ke arah Kyuhyun. “Oh, kau disini” celetuk Kyuhyun yang melihatku.

Eo. Aku baru saja datang”

Kyuhyun melangkah menghampiriku dan mengusap pelan kepalaku. Aku sempat terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi aku memilih diam saja. Ini pertama kalinya dia menyentuhku seperti itu lagi dan aku benar-benar mendapatkan perasaan itu kembali saat dia melakukannya.

“Jaga Appa sebentar. Aku akan segera kembali padamu,” kata Kyuhyun sambil tersenyum ke arahku. “Appa, jangan lupa minum obatnya” katanya lagi sebelum pergi meninggalkanku dan Appa.

Keningku berkerut melihat sikap Kyuhyun hari ini. Ada apa dengannya? Kenapa sepertinya dia terlihat berbeda? Mataku melirik ke arah Appa dan ekspresinya menunjukkan kelegaan yang sepertinya sudah dia tahan selama bertahun-tahun. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.

“Sooyoung-ah, ada yang ingin Appa bicarakan denganmu” ucap Appa saat aku baru saja akan membuka mulut. “Ayo kita ke belakang dan berbicara disana,” katanya lagi.

Aku menganggukkan kepala, lalu mendorong kursi roda Appa.

Ahjumma yang selalu di rumah Appa ini menyapaku dengan ramah saat aku melewatinya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Mau tak mau aku membalas sapaan itu dan terus mendorong kursi roda Appa sampai akhirnya tiba di teras belakang rumah Appa. Aku membantu Appa turun dari kursi rodanya dan mendudukkannya di kursi empuk biasa. Lalu aku duduk di sebelahnya.

“Sooyoung-ah, apa yang ingin Appa bicarakan denganmu ini… Appa harap kau tak akan marah pada Appa setelah Appa memberitahumu. Arraseo?” Appa mulai bicara dengan nada rendah yang lembut. “Karena ini adalah pembicaraan yang serius, Appa juga berharap kau mendengarkannya dengan baik” Dia menambahkan.

Ne, arraseoyo

“Sooyoung-ah, apa kau juga sudah tahu nama Choi Wooyoung?”

Aku mengangguk.

“Apa kau pikir Choi Wooyoung dan Cho Kyuhyun adalah orang yang sama? Seperti Appa yang mengganti nama Appa menjadi Cho Hyo Won”

Eo,”

Mianhae, Sooyoung-ah karena Appa menyembunyikan ini darimu dan juga semua orang. Mianhae karena Appa tak berbicara jujur padamu lebih awal. Mianhae karena Appa membuatmu berada dalam posisi yang menyakitkan. Semua salah Appa,”

Appa… Aku tak mengerti apa yang ingin Appa katakan,”

Appa menghela napas singkat, lalu dia menatapku lekat-lekat. “Sooyoung-ah, Kyuhyun itu… dia… bukan Oppa-mu yang sebenarnya. Dia… dia hanyalah seorang anak laki-laki yang Appa manfaatkan untuk… untuk membuat Eomma-mu kembali pada Appa

Mataku membelalak mendengar apa yang Appa katakan padaku.

Geurae, awalnya Appa melakukannya untuk alasan itu. Tapi Eomma-mu… dia bukanlah seseorang yang mudah Appa taklukkan hanya dengan kebohongan seperti itu. Dan Appa-“

“Apa maksud Appa, Kyuhyun Oppa benar-benar bukan Oppa-ku? Kyuhyun Oppa bukan Wooyoung Oppa, seperti yang Eomma beritahukan padaku?” Aku memotong perkataan Appa karena tak tahan untuk bertanya.

Appa menganggukkan kepala.

Melihat ekspresi Appa, aku hanya bisa terdiam. Pikiranku langsung melayang pada pembicaraan Kyuhyun dan Shim Samchon di rumah sakit. Jadi, apa yang aku dengar memang benar jika Kyuhyun bukanlah Oppa-ku yang sebenarnya. Aku mengingat sikap Eomma pada Kyuhyun selama ini. Eomma memang tak pernah menunjukkan sikap seorang Eomma pada anaknya, bahkan meskipun dia baru saja bertemu kembali setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Sooyoung-ah,”

Appa,” kataku bersamaan dengan Appa yang langsung terdiam. Dia menungguku melanjutkan berbicara. “Dimana Oppa-ku?”

Appa menunduk, “Dia meninggal saat kecelakaan itu terjadi,” katanya tanpa menatapku. “Appa benar-benar menyesal,”

Aku kembali diam. Semua hal yang ada di pikiranku bercampur menjadi satu dan itu benar-benar membuatku pusing. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana atau harus mengatakan apa untuk menanggapi perkataan Appa. Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku benar-benar tak tahu.

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

52 thoughts on “[Series] Stuck In Love -20-

  1. haryanti says:

    haha..
    bener kn kaLo kyuppa itu bukan oppa kandung soo eon..
    meskipun sudah ke tebak ending’a
    tp pasti bakaL makin seru konfLik’a..
    kajja Lanjutkan dong author..
    #fansmu menunggu..

  2. Sistasookyu says:

    Kyu nya kasian bgt ya..
    Kyuyoung benar2 di buat bingung dg situasi skrg ini..
    Well, smoga aja kyuyoung nya cepet dapet kebahagian di part2 selanjutnya

  3. Retno Willis says:

    feel nya kerasa bangett..
    bener” sperti nyata & bner” sulit untuk ditebak apa jlan slanjut’ya..
    ktika pas lgi ngena banget di hati kenapa ada tbc thor.. makin penasaran jdi’ya..
    adakah harapan Soo kembali pada Kyu ?
    “Jaga Appa sebentar. Aku akan segera kembali
    padamu,”-Kyuhyun
    aq fikir kata” Kyu disana ada maksud trtentu deh🙂😀

  4. farida_salma says:

    semoga soo eonn nggak marah sama appanya
    semoga kyuyoung bisa segera balikan😀

    next part ditunggu🙂

  5. kalian (kyuyoung) CLBK aja. ,,, soo biar kris sama aku aja (Hhe) … Kyu semangat ya dapetin soo kembali … And soo tunggu kyu ya … Pesan buat author ” balikin kyuyoung ya ” ,, ksean mereka hrus berpisah … Ini Happy end kan …. Cerita nya rumit . Itu juga kenapa shim samchon nyalahin kyu … Huhhhh
    Happy new year

  6. Vi says:

    Pelik banget yah masalah keluarga mereka. Tapi udh mulai ada titik terang untuk masalahnya. Semoga cepet kelar masalahnya^^ happy ending deh buat uri kyuyoung 😍😍😍😍

  7. met says:

    Daebak
    Jd kyuyoung balikan g nih?
    Dan kyuhyun bnr” penyebab kecelakaan itu kah? Tp dr flashback 16 thn lalu aku g ngambil kesimpulan klo kyu yg nyebabin kecelakaan itu
    Penasaran nih
    Nextnya cpt ne😀

  8. Rizky NOviri says:

    akhirnya rahasia ity terbongkar juga..
    bagaimana nasib kyuyoung selanjutnya….
    penasaran… >_<
    next.. kpn ENDnya?? moga happy ending… amiinn…🙂

  9. hyokwang says:

    kasian banget sama kyu, udah g tau apa2 malah disalahin sama ayahnya changmin….
    semoga kyuyoung bersatu aja…
    ditunggu lanjutannya🙂
    semangat nulisnya😀

  10. 이태라 says:

    kenapa semua perempuan keluarga choi setelah tau fakta kalo kyuhyun bukan anak kandung langsung gitu sih sm appa choi. kan kasian kyuhyun jg dulu ikut korban kecelakaan
    next part update soon chingu, fighting yah

  11. pna says:

    setidaknya rasa penasaran kyu udah terjawab yaa tinggal nyingkirin Shim Busajangnimnya aja sama mempersatukan kyuyoung hahaayyy asekkk

  12. Udah g’ Sabbaaarrrr… pngen Kyu Cpet” kmbali k.Syoo. Tapii Aq tkut jgaaa.. stelah mreka kembali Mreka nda d.restui Eomma Choiii.. >_<

  13. ih author nya kebiasaan nih, saya lagi baca serius juga, malah pake tbc segala dah ah. pokoknya ini bikin penasaran pake banget. pokoknya harus next secepatnya juga ya

  14. “Jaga Appa sebentar. Aku akan segera kembali padamu,” kata Kyuhyun sambil tersenyum ke arahku.

    suka banget sama kata2 diatas :’) aku nanggepnya kyuhyun mau perjuangin soo lagi🙂
    Akhirnya mereka semua tau, dan semoga sooyoung ga marah hehe
    Lanjutttttt seru banget iniiiii^^

  15. liaaaa says:

    Walaupun semuanya udah terungkap tp tetep aja makin rumit. Gmn nanti hubungan kyuyoungkris, kel. Choi, kel. Shim ??
    Ditunggu next chap nya ya author. Semoga makin cepet beres ffnya dn makin semangat buat nulis ff kyuyoung yg lainnya. fighting

  16. sisca says:

    Ini nih klimaks tinggi namanya keren thor makin seru makin keungkap juga semoga kyuyoung bersatu lagi deh kaya dulu O:) next partnya ditunggu banget thor😉

  17. syooah says:

    Huwahh.. akhirnya ketauan juga siapa chokyu yg sbenernya, apa soo bakal berubah kalo tau kyu penyebab kakak.nya meninggal? Ahh… semoga soo engga benci dan jadi menjauh dari kyu.. (nanti ngga ending2 dong??) Ini pasti next chapt the best banget deh satu persatu udah kebongkar tinggal liat reaksi dari mama.nya soo aja sama changmin sendiri.. pengen deh ada moment changmin sm victoria di chapt berikutnya ^^

  18. akhirnya…. akhirnya… dan akhirnya… semua rahasia terbingkar ttg identitas kyu, bener2 jd titik2 terang buat kyuyoung bisa bersatu lg, tinggal gmn caranya jelasin ke kris nya & tinggal mengungkap mksd sebenarnya yg ayahnya changmin mau selama ini sampe selalu bersikap kurang baik ke iparnya sendiri. ditunggu lanjutannya…

  19. Salwa Fitriani says:

    Next thor…. Yeay berarti ada kesempattan Untuk KyuYoung bersatu lagi….. Keren thor…
    Happy New Year Too thor🙂 …
    Gak sabar pngn liat Endingnya… Ditunggu kelanjutannya ya thor…🙂..

  20. gita says:

    Si kyu kyknya udh mulai ngedekitin soo lagi tuh
    Smoga abis ini appa changmin gk bkn ulah lagi deh
    Soo udh balik ke kyu aja, jgn sma kris..
    Ditunggu slanjutnya, jgn lama”

  21. dina says:

    Jebal…. jgn lagi lukai hati kalian brdua Soo eonni, Kyu oppa. Eonni, kembalilah brsama Kyuppa, dialah kebahagiaanmu. Jebal jebal…
    Kris-sshi, jebal jgn halangi hubungan Kyuyoung. Carilah yeoja yg mncintaimu jg. Biarkan Kyuyoung bahagia. jgn jadi org egois…
    Karena selamanya Soo hanya milik Kyu, dan Kyu hanya milik Soo.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s