[Series] Stuck In Love -21-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

 

Maaf banget knights karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Apa yang akan aku lakukan setelah aku mengetahui identitasku yang sebenarnya?

Pertanyaan itu terus-menerus berputar di benakku. Selanjutnya apa? Apa aku akan tetap tinggal bersama orang yang selama ini aku anggap sebagai Appa-ku? Atau aku harus mencari jalanku sendiri? Apa aku harus kembali ke Jeonju, tempat tinggalku dan memulai semuanya dari awal? Tapi jika aku kembali kesana, itu berarti aku harus meninggalkan Sooyoung. Sanggupkah aku melakukan itu?

“Kyuhyun-ah,”

Aku tersadar dari lamunan dan menoleh pada seseorang yang menyadarkanku dari pikiran-pikiran yang sedari tadi memenuhi otakku. Senyumku langsung mengembang melihat Appa yang berada dibelakangku. Meskipun Appa sudah berbohong padaku tentang identitasku, tapi aku tak tahu kenapa aku tak bisa marah padanya. Mungkin karena selama inilah Appa adalah orang yang telah merawatku dan membesarkanku seperti anaknya sendiri meskipun dia tahu aku bukan anaknya.

Appa ingin bicara denganmu. Maukah kau mendengarkannya?” tanya Appa kembali bersuara karena aku diam saja. “Tidak apa-apa jika kau tak mau mendengarnya,”

Aniyo, aku akan mendengarnya Appa” sahutku dengan cepat. “Katakan saja padaku apa yang ingin Appa katakan”

Appa tersenyum tipis, lalu dia memegang bahuku. “Meskipun sekarang kau tahu siapa kau sebenarnya, tapi Appa berharap kau akan tetap menjalankan JinHan dan tinggal bersama Appa sebagai anak Appa

Appa, aku tak mungkin-“

“Kyuhyun-ah, apa kau tahu?” potong Appa sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. “Hubungan orang tua dan anak itu tidak selalu bergantung pada ikatan darah. Karena itu… maukah kau… maukah kau tetap disamping Appa seperti sebelumnya?”

Aku diam tak menjawab.

“Kau mau kan, Kyuhyun-ah?” tanya Appa mengulang.

Aku menghela napas singkat sebelum berbicara, “Bukankah sudah ada Sooyoung? Putri kandung Appa?” tanyaku. “Aku yakin sekali jika Sooyoung akan melakukan pekerjaannya dengan baik di JinHan. Appa sendiri sudah pernah melihatnya,”

“Tetap saja, Kyuhyun-ah. Kau harus terus berada di JinHan. Appa tak mau ada orang yang melakukan sesuatu pada Sooyoung dan mengambil alih JinHan. Meskipun Appa sudah melihat bagaimana Sooyoung bekerja, tapi dengan adanya Shim Ho Min disekitarnya-“ Appa diam sesaat, lalu dia menatapku lekat-lekat. “Appa yakin dia akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan JinHan dan kemudian mengambilnya,”

“Shim Busangjangnim tak akan melakukan itu pada Sooyoung karena Sooyoung adalah keponakannya sendiri. Apalagi Eomah, maksudku… Lee Ahjumma ada disampingnya,” sahutku masih berusaha menolak permintaan Appa dengan halus. “Changmin juga ada disampingnya, jadi Appa tak perlu khawatir” Aku menambahkan.

“Kau belum tahu siapa Ho Min, Kyuhyun-ah. Dia…” Appa tak melanjutkan kata-katanya dan menatap ke kakinya sendiri.

Keningku berkerut tajam melihat sikap Appa sekarang. Lalu aku memiringkan kepala agar bisa melihat Appa lebih jelas, “Apa ada sesuatu yang masih Appa sembunyikan dariku?”

Appa mengangkat wajahnya dengan cepat, dan kembali menatapku lama. “Kau hanya perlu berhati-hati pada Ho Min. Itu saja,” katanya singkat.

Appa…”

“Dia seseorang yang penuh dengan kejutan. Jadi kau tak akan tahu apa yang akan dia lakukan sekarang atau nanti” sambar Appa bahkan sebelum aku mengatakan apa-apa. “Eomma Sooyoung tahu itu, dan dia tetap pergi ke Ho Min. Tapi aku tak bisa menyalahkannya karena biar bagaimanapun Ho Min adalah adik iparnya,”

“Aku benar-benar tak mengerti,”

Gwenchana. Itu hanya masa laluku, jadi kau tak perlu mengerti apa-apa” kata Appa sambil memegang bahuku. “Kau harus berjanji pada Appa untuk melindungi Sooyoung dari Ho Min. Apa kau mengerti?”

“Jika Appa ingin aku melakukannya, setidaknya beritahu ada masalah apa sebenarnya antara Appa dan Shim Busangjangnim? Apa ada sesuatu yang lain diluar kecelakaan itu?” tanyaku ingin tahu lebih jauh lagi.

Appa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Lalu dia mengubah posisinya, membuatku mau tak mau mengikutinya. “Kau harus berjanji terlebih dahulu, kau akan melakukan semua yang Appa minta sebelumnya”

Eo, yaksokeyo

Appa diam sesaat sebelum kembali berbicara. “Appa dan Shim Ho Min… sebenarnya kami sudah saling mengenal lama, jauh lebih lama sebelum aku mengenal Eomma Sooyoung” Dia mulai berbicara. “Tapi sebelum itu, Appa dan Ho Min sudah terlibat dalam sesuatu masalah yang pada umumnya dialami oleh remaja-remaja pada waktu itu,”

“Apa itu?”

“Cinta,” jawab Appa tanpa menatapku. “Saat itu, Appa… dan… hmm, Lee Young Ae… kami saling mencintai satu sama lain,”

Mataku membelalak mendengar perkataan Appa ini. “Apa maksud AppaAppa dan… dan Eomma Changmin…”

Eo. Meskipun begitu, pada akhirnya Appa jatuh ke pelukan kakaknya” kata Appa. “Appa tak tahu kenapa Appa bisa mencintai Lee Young Ah karena sebelumnya pun Appa tak tahu jika dua yeoja itu bersaudara”

“Lalu apa yang terjadi? Bagaimana Appa bertemu dengan Eomma Sooyoung?”

Appa tersenyum kecil, “Ceritanya panjang jika Appa harus memberitahumu secara detail. Singkat cerita, Young Ah-lah yeoja yang selalu menemani Appa dan membantu Appa melakukan segala sesuatu, bukan yeojachingu Appa sendiri. Appa dan Young Ah adalah teman satu kursus, karena itu baik Appa maupun Young Ah sama sekali tak tahu,”

Geuraesseoyo?”

“Ho Min… yang saat itu juga menyukai Young Ae mengetahuinya dan dia memberitahu Young Ae tentang kedekatan Appa dengan Young Ah yang ternyata adalah kakaknya” Appa terus melanjutka ceritanya. “Saat Young Ae meninggalkan Appa dan memilih Ho Min, Appa tahu apa yang seharusnya Appa lakukan”

Aku diam saja dan mendengarkan.

Appa mencintai Young Ah saat itu dan Appa tak mau kehilangannya. Jadi, sebelum Young Ae maupun Ho Min merusak segalanya, Appa memberitahu Young Ah terlebih dahulu. Kau tahu apa reaksi Young Ah saat itu?” kata Appa padaku yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala. “Young Ah merasa sangat menyesal karena telah mengganggu hubunganku dengan Young Ae. Dia menangis dan meminta maaf pada Appa, lalu dia pergi pada Young Ae dan melakukan hal yang sama”

Aku terus diam dan memperhatikan ekspresi Appa saat menceritakan itu semua. Aku tak tahu permasalahan cinta seperti itu akan dialami Appa, padahal dari awal aku pikir Appa adalah seorang namja yang akan mendapatkan yeoja dengan mudah tanpa perlu mengalami masalah-masalah cinta klasik seperti itu.

“Setelah itu, Appa tak pernah melihat kedua yeoja itu lagi. Appa dengar, orangtuanya memutuskan untuk pindah dan Appa benar-benar menyesal karena tak bisa menemukannya” kata Appa lagi. “Kau tahu kan, jodoh seseorang memang sudah ditentukan oleh Tuhan. Entah bagaimana… Appa bisa bertemu lagi dengan Young Ah di sebuah taman tak jauh dari sini. Saat itu Young Ah memakai gaun favorit Appa dan sedang duduk sendirian. Awalnya Appa ragu untuk mendekatinya karena Appa masih sangat terkejut melihatnya lagi setelah 3 tahun tak bertemu dengannya”

“Apa pada akhirnya Appa menemuinya?”

Geureomyo. Jika tidak, aku dan dia tak akan menikah dan memiliki anak”

“Lalu Young Ae Ahjumma?”

Appa tersenyum kecut, “Young Ah memberitahu Appa, jika adiknya itu memutuskan untuk pergi ke Kanada dan menikahi Ho Min disana” katanya. “Mungkin sampai sekarang Ho Min masih berpikir jika aku masih mencintai Young Ae dan karena aku tak bisa mendapatkannya, maka aku melibatkannya dalam sebuah kecelakaan yang pada akhirnya membuatnya pergi untuk selama-lamanya” Appa melanjutkan sambil menundukkan kepalanya.

“Tapi kecelakaan itu… bukan salah Appa. Aku penyebabnya,“

“Tidak. Bukan kau,” tungkas Appa. “Itu sebuah kecelakaan, jadi siapapun akan mengalaminya jika tidak berhati-hati. Kau tak boleh menyebut dirimu seperti itu lagi, arraseo?”

Aku menatap Appa lama, lalu menganggukkan kepala dengan pelan.

“Jadi, apa kau akan tetap berada di JinHan dan melindungi Sooyoung?” tanya Appa memastikannya lagi.

Aku menyunggingkan senyum tipis, “Eo, aku akan melakukannya”

**

“Sooyoung berkata dia akan pergi ke Cheonggyecheon,” kata Changmin sambil menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya. “Kenapa kau harus memintaku untuk bertanya dia berada disana padahal kau bisa melakukannya sendiri?”

“Jika aku bisa melakukannya, aku tak akan meminta bantuanmu. Aku rasa dia seperti sedang menghindariku karena dia sama sekali tak mengangkat teleponku dan selalu datang ke rumahku saat aku tidak ada,” jawabku berkata jujur.

Changmin menatapku sambil menaikkan satu alisnya, “Tapi kenapa dia menghindarimu? Apa kau sedang bertengkar dengannya” tanyanya.

Emm… bukan bertengkar, hanya saja… memang ada sesuatu,”

“Memang ada sesuatu?” ulang Changmin.

Aku mengangguk pelan.

“Benarkah?” kata Changmin sambil membuka daun pintu dan masuk terlebih dahulu ke ruangannya. “Sooyoung tak memberitahuku apapun dan aku pikir dia baik-baik saja denganmu karena hampir setiap hari dia pergi ke rumahmu”

“Tapi aku tak pernah bertemu dengannya setiap kali dia datang ke rumah. Hanya sekali itu,” jawabku sambil mengingat pertemuan terakhirku dengan Sooyoung. “Sayangnya, aku tak banyak mengobrol dengannya karena aku harus pergi ke suatu tempat”

Changmin yang akan duduk langsung mengernyit. Dia menoleh padaku dengan wajah setengah bingung, “Tempat seperti apa yang bahkan bisa mengalihkan perhatianmu dari Sooyoung?” tanyanya seraya duduk di kursinya sendiri. “Ah, maksudku… kau Oppa-nya, jadi-“

“Aku mengerti,” potongku dengan cepat.

“Mengerti apanya?”

“Bukan apa-apa”

Changmin menatapku sekilas, lalu dia mengangkat bahunya sebelum membereskan kertas-kertas yang berserakkan di mejanya. “Omong-omong, Kyuhyun-ah. Aku tak bisa pulang bersamamu hari ini, jadi jika kau ingin memintaku untuk menemanimu menemui Sooyoung, aku rasa aku tak bisa”

Wae?” tanyaku menggoda meskipun aku sendiri tak akan memintanya untuk menemaniku. “Apa kau memiliki urusan yang lebih penting?”

Eo? Eo,” jawab Changmin terlihat gugup. “Aku berjanji pada seseorang untuk pergi dengannya,”

Ah, date?”

Bisa aku rasakan Changmin menarik garis-garis senyum di sudut bibirnya. “Yah, tak bisa dikatakan begitu karena aku… aku bahkan belum memintanya. Tapi aku akan memintanya secepatnya, jadi mungkin ini kesempatanku”

“Victoria Song… Yah, yeoja itu akhirnya berhasil menjatuhkanmu” komentarku singkat. Aku melangkah ke arah pintu, “Arraseo, berkencanlah dengannya. Jangan sia-siakan apa yang sudah ada ditanganmu” kataku sambil melangkah keluar dari ruangan Changmin.

Aku tertawa kecil, lalu pergi ke lift yang saat itu terbuka. Tanpa menunggu lama, akupun sudah berada di lobby JinHan. Aku sempat melemparkan senyum ke arah Victoria yang membalasnya dengan sangat canggung. Sayang sekali dia sedang tidak sendirian, jika saat ini dia sendiri aku pasti akan pergi menggodanya. Tapi lebih baik aku menahannya dulu karena Changmin pun baru akan memintanya menjadi yeojachingu­-nya. Aku pastikan aku menggoda mereka setelah aku tahu mereka meresmikan hubungan mereka nanti.

Kwajangnim, Anda sudah mau pulang?” tanya manajer Seo yang berpapasan denganku saat aku akan keluar gedung.

Ne. Geureom,”

Manajer Seo menganggukkan kepala, lalu dia membungkuk saat aku pergi meninggalkannya. Aku langsung melangkah ke mobilku dan bergegas pergi ke Cheonggyecheon untuk menemui Sooyoung. Aku tak tahu kenapa dia pergi ke sana, tapi yang saat ini aku tahu adalah aku harus memberitahu semuanya padanya dan memintanya kembali menjadi yeojachingu-ku.

Tak lama, mobilku sudah terpakir di kawasan Cheonggyecheon. Aku buru-buru keluar dari mobil dan mencari Sooyoung di tempat biasanya dia berada setiap kali mengunjungi kawasan ini. Benar saja, akupun melihat sosoknya sedang berdiri di tepi pagar sambil memandangi sungai kecil yang dibawahnya terdapat orang-orang yang sedang duduk santai disana. Aku menatap ke sekeliling Sooyoung, memastikan dia datang sendirian karena jika ada seseorang bersamanya itu berarti aku tak bisa memberitahunya jika aku bukanlah Oppa kandungnya.

“Dia tak ada, baiklah” gumamku setelah yakin Sooyoung datang sendirian.

Aku mendekati Sooyoung dengan perlahan sampai akhirnya jarakku sudah sangat dekat dengannya. Pandangannya mengarah lurus ke sungai Cheonggyecheon. Melamun, dan aku rasa dia tak menyadari kehadiranku disini. Aku berdehem pelan, membuat dia tersadar dari lamunannya. Dia menoleh padaku dan ekspresi terkejut jelas terlihat diwajahnya saat melihatku.

“Kenapa kau seterkejut itu melihatku?” tanyaku sambil berdiri persis di sebelah Sooyoung. “Aku rasa baru beberapa hari kau tak melihatku, tapi kau sudah seterkejut ini,” Aku menambahkan.

“Apa yang Oppa lakukan disini?” tanya Sooyoung masih dengan nada terkejutnya.

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis, “Sama seperti yang sedang kau lakukan,”

Ne?”

“Sooyoung-ah, bisakah kita berbicara sebentar?” tanyaku langsung mengutarakan maksud kedatanganku tanpa berbasa-basi lagi. “Beberapa hari ini aku berharap bisa bertemu denganmu dan memberitahumu ini,” lanjutku.

Sooyoung menatapku lekat-lekat, lalu dia menghembuskan napas panjang dan kembali mengarahkan pandangannya ke sungai. “Apa yang ingin Oppa beritahukan padaku?” tanyanya tanpa menatapku.

Aku diam sesaat, tak tahu harus bagaimana mengatakannya di depan Sooyoung. Apa aku harus menceritakan semuanya dari awal? Tentang kecelakaan itu? Tapi itu akan menjadi cerita yang sangat panjang dan aku tak tahu apa Sooyoung akan mendengarkannya. Lalu bagaimana? Apa aku mengatakan intinya saja? Bagaimana jika Sooyoung tidak percaya padaku?

“Kenapa Oppa diam?” tanya Sooyoung memecahkan keheningan diantara kami.

Aku memperhatikan ekspresi Sooyoung lama sebelum memejamkan mataku sebentar sebelum berbicara padanya. “Sooyoung-ah, bagaimana jika… bagaimana jika aku… bukan Oppa-mu?” kataku lambat-lambat.

Sooyoung kembali menolehkan kepala ke arahku, “Bagaimana jika Oppa bukan Oppa-ku? Apa maksudnya itu?”

“Kau tahu… Choi Wooyoung, dan… aku, mungkin saja itu orang yang berbeda bukan? Aku sama sekali tak pernah tahu nama itu atau bahkan merasa pernah memilikinya. Bagaimana jika aku dan… dia, bukanlah orang yang sama?”

“Entahlah, aku tak tahu”

“Kau tak tahu?”

“Aku tak tahu apa yang sedang Oppa coba katakan padaku,” sahut Sooyoung hanya menatapku sekilas saat mengatakannya. “Jika Oppa bukan Oppa-ku, lalu kau siapa?”

Aku diam. Pandanganku beralih ke arah yang sama dengan Sooyoung. Meskipun aku sudah bertekad untuk memberitahu Sooyoung kebenarannya, tapi itu tak semudah yang aku pikirkan. Apalagi yang Sooyoung tahu adalah bahwa aku adalah Oppa-nya, bukan orang lain. Aku melirik ke arah Sooyoung, lalu menarik napas panjang. Bagaimana aku akan memintanya kembali menjadi yeojachingu-ku jika memberitahunya saja sesulit ini?

“Jika tak ada yang ingin Oppa katakan lagi, aku akan pergi” kata Sooyoung tiba-tiba. “Aku sudah lama disini, mungkin seseorang akan mencariku”

Eo? Eodiga?”

Sooyoung tersenyum tipis, “Ke tempat dimana aku bisa menyelesaikan sesuatu yang sudah aku mulai sebelum aku melakukan sesuatu yang lain,” katanya sebelum pergi.

“Sooyoung-ah, jamkkaman” Aku berusaha menahan Sooyoung untuk jangan pergi dulu, tapi dia tetap saja melangkah menjauh dariku. “Aku belum memberitahumu apapun, tapi kau sudah pergi. Kenapa kau menghindariku seperti ini, Sooyoung-ah?” tanyaku pada diriku sendiri sambil terus memandangi punggung Sooyoung yang semakin mengecil.

Aku kembali menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, lalu membalikkan badanku. Pandanganku mengarah pada orang-orang yang sedang menikmati pemandangan disekitar Cheonggyecheon. Kenapa mereka semua terlihat bahagia? Apa aku satu-satunya orang yang datang ke sini dengan keadaan seperti ini?

Ah, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku tak bisa memberitahu Sooyoung padahal jelas-jelas dia ada dihadapanku. Kemana semua kata-kata yang sudah aku siapkan untuk Sooyoung setelah memastikan semuanya? Jika aku tak cepat memberitahunya, Sooyoung akan terus menganggapku sebagai Oppa kandungnya bukan? Itu berarti akan semakin sulit bagiku untuk memintanya kembali padaku. Eotteoke?!

¯¯

Sooyoung POV

Eomma, ije nan eotteokeyo?” tanyaku sambil melamun pada Eomma yang saat ini sedang berada di kamarku. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tak tahu,”

Waegeurae?” tanya Eomma dengan lembut. Dia duduk di tempat tidurku, “Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu beberapa hari ini. Apa ada masalah?”

Aku menunduk. Memperhatikan ponselku yang sedari tadi aku biarkan meskipun beberapa kali ada panggilan telepon yang masuk.

“Sepertinya aku sedang menghadapi masalah besar,” kataku pelan.

“Masalah besar?” sahut Eomma tak terkejut sama sekali. “Kau bahkan tak melakukan apapun, jadi masalah besar apa yang kau maksud?”

Aku diam untuk beberapa saat. Masalah yang sedang aku hadapi, haruskah aku menceritakannya pada Eomma? Bagaimana reaksinya jika dia tahu Kyuhyun bukanlah Oppa-ku? Itu berarti Eomma harus menerima kenyataan bahwa Oppa-ku yang sebenarnya sudah meninggal. Tapi bukankah selama ini Eomma menganggapnya begitu? Dia bahkan tak mau mengakui Kyuhyun sebagai anaknya.

“Apa masalah besar yang sampai membuat putri Eomma seperti ini?” tanya Eomma lagi karena lama tak mengatakan apa-apa.

Aku menimbang-nimbang, apa sebaiknya aku bertanya pada Eomma tanpa memberitahu segala sesuatu padanya? Mungkin lain kali aku akan memberitahunya, tapi bukan sekarang. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya dan saat ini bukanlah waktunya. Ada sesuatu yang harus aku putuskan terlebih dahulu karena aku benar-benar tak mau merasakan perasaan bersalah ini.

“Sooyoung-ah?” panggil Eomma hati-hati.

Eomma, jika Eomma memutuskan untuk melakukan sesuatu padahal hati Eomma sebenarnya tak mau melakukannya, apa yang harus Eomma lakukan?” kataku mulai berbicara. “Apa Eomma harus mengakhirnya atau terus melanjutkannya meskipun Eomma sama sekali tak ingin melakukannya?”

“Itu tergantung dengan apa yang dilakukan. Jika itu sesuatu yang penting untuk hidupmu, maka kau harus terus melakukannya,”

Aku menatap Eomma lekat-lekat, “Eomma, ini tentang… aku dan…” Aku diam sesaat sebelum melanjutkan, “Kris,” kataku.

“Kau dan Kris?”

Aku mengangguk pelan.

Eomma tidak mengerti, Sooyoung-ah

Eomma tak akan marah padaku jika aku mengatakan semua yang aku rasakan kan?” tanyaku memastikan yang langsung dijawab Eomma dengan anggukkan singkat. Aku sempat ragu untuk melanjutkan perkataanku, tapi pada akhirnya aku membuka mulutku lagi. “Aku sama sekali tak mencintai Kris, tapi aku berkencan dengannya. Aku melakukannya karena aku merasa bersalah padanya dan juga karena aku… aku harus menghilangkan perasaanku pada seseorang,”

Mworago? Sooyoung-ah, kau-“

“Aku melakukannya, Eomma” sahutku cepat. Kepalaku tertunduk, “Aku sudah berusaha keras untuk mencintai Kris, tapi aku tak bisa. Apa yang harus aku lakukan Eomma? Karena disisi lain, perasaanku terus melekat pada orang lain”

Eomma diam. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang berpikir keras. Dia pasti tak pernah menyangka jika aku seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi jika aku memang melakukannya? Aku memang berkencan dengan Kris dengan tujuan itu. Tapi setelah aku tahu jika Kyuhyun bukan Oppa kandungku, aku benar-benar menyesal telah mengambil keputusan berkencan dengan Kris. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin memutuskan untuk berpisah dengan Kris dan kembali dengan Kyuhyun begitu saja kan?

“Aku tahu aku memang telah melakukan hal bodoh, dan karena itu mungkin aku akan lebih menyakiti Kris jika dia mengetahuinya. Tapi Eomma, aku benar-benar tak bisa mencintainya. Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyaku setelah diam cukup lama. “Jika aku terus bersamanya padahal aku tak mencintainya, bukankah itu sama saja dengan aku melukainya? Jika aku terus bersamanya, aku tak hanya melukai perasaannya tapi juga perasaanku dan orang itu,”

“Siapa orang itu?”

Aku diam tak menjawab.

Geurae, Eomma tak akan bertanya siapa orang itu padamu karena Eomma yakin kau akan memberitahu Eomma cepat atau lambat. Iya, kan?” tanya Eomma sambil memegang tanganku.

Aku menganggukkan kepala. “Eo, setelah aku menyelesaikan masalah ini… aku akan memberitahu Eomma

Eomma tersenyum tipis. Dia menarik napas singkat sebelum berbicara, “Jika Eomma jadi kau… Eomma akan melakukan apapun yang hati Eomma katakan meskipun pilihannya ada melukai seseorang atau melukai diri sendiri. Karena Eomma yakin apa yang dikatakan hatimu sendiri selalu benar” katanya sambil mengusap-usap tanganku. Hal yang jarang sekali dia lakukan padaku. “Tak peduli siapa orang yang kau cintai dan tidak kau cintai, bukankah lebih baik untuk tidak menyakiti kèduanya?”

Aku kembali diam.

“Kris adalah namja yang baik, Eomma tahu itu. Tapi jika ada orang lain yang lebih kau cintai dari seorang namja seperti Kris, itu berarti dia lebih baik dari Kris bukan?” Eomma masih mencoba untuk membantuku menjelaskan perasaanku. “Kau tahu, segala sesuatu ada pilihan di depannya. Itulah hidup. Tapi jika kau memilih suatu hal yang sesuai dengan hatimu, Eomma yakin kau tak akan pernah menyesalinya. Apa kau mengerti, Sooyoung-ah?”

Eo,” jawabku singkat.

“Kau bukanlah seorang anak kecil lagi, jadi kau pasti tahu pilihan apa yang akan kau ambil. Eomma hanya berharap nantinya kau tak akan menyesali itu” kata Eomma lagi sambil beranjak dari tempatnya. “Eomma harus pergi ke restoran. Jika kau akan pergi, jangan pulang terlambat seperti sebelumnya. Arraseo?”

Aku kembali mengangguk dalam diam.

Eomma melangkah keluar dari kamarku dan menutup kembali pintu kamarku dengan lembut. Meskipun terkadang aku masih berdebat dengannya karena masalah yang sama, tapi Eomma adalah satu-satunya orang yang bisa aku tanyain tentang masalah ini. Karena dia Eomma-ku. Aku menarik napas singkat, lalu bangkit dari posisi dudukku dan berjalan ke arah jendela. Belum lama Eomma pergi, pintuku kamarku kembali terbuka.

“Kris datang, dia menunggumu diluar” kata Eomma yang datang lagi ke kamarku. “Temui dia,” katanya sebelum menghilang kembali.

Aku mematung di posisiku untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dan menemui Kris. Begitu melihatku, Kris langsung tersenyum lebar dan langsung menarikku ke dalam pelukannya. Mau tak mau aku harus menerima pelukan itu, tapi aku langsung menjauhkan tubuhnya setelah aku merasa cukup. Karena aku tak mau membuat diriku semakin merasa bersalah pada Kris, maka aku harus melakukannya.

Mian, aku tak memberitahumu dulu karena datang ke sini” kata Kris begitu aku melepaskan pelukannya. “Kau sedang apa?”

“Sedang mengobrol dengan Eomma, tapi dia pergi ke restoran dan kau datang”

Kris tersenyum, “Aku akan ke Daejeon sebentar untuk melihat keadaan Eomma, jadi aku mampir dan memberitahumu sebelum pergi”

Waegeuraeyo? Apa Ahjummeonim sakit?”

“Tidak parah. Dia bilang hanya sakit kepala, tapi aku ingin memastikannya sendiri karena itu akan membuatku jauh lebih tenang” kata Kris menanggapi perkataanku.

Aku mengangguk mengerti tapi diam untuk beberapa saat karena berpikir tentang apa yang harus aku katakan selanjutnya di depan Kris. Aku menatap Kris sekilas sebelum kembali berbicara padanya, “Ayo kita duduk sebentar. Aku ingin kau tahu sesuatu hal sebelum kau pergi” kataku langaung duduk diundakan batu.

“Apa itu?” tanya Kris sambil mengikutiku duduk.

“Kau ingat? Aku pernah berjanji padamu bahwa aku akan memberitahumu sesuatu yang ingin aku pastikan kebenarannya sebelum memutuskan untuk kembali bekerja di JinHan. Aku akan mengatakannya padamu sekarang,”

Ah, geurae?”

Eo,”

Geurae, marhaebwa. Apa hal yang ingin kau pastikan kebenarannya terlebih dahulu itu?”

Aku menatap lurus ke bola mata Kris, berpikir apa aku harus mengatakannya sekarang atau tidak. Tapi jika aku tak cepat mengatakannya, bukankah aku semakin menyakitinya? Ah, jinjja! Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini?

“Sooyoung-ah,” panggil Kris pelan. “Kenapa diam?”

“Jujur saja, Kris. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya padamu” kataku. “Itu… emm, eotteoke?”

Kris menaikkan satu alisnya, lalu tersenyum tipis. “Katakan saja seperti biasanya,”

Aku menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk berbicara. “Kyuhyun Oppa… dia bukan Oppa kandungku,” kataku hanya menatap Kris sekilas lalu mengalihkannya ke arah lain. “Oppa kandungku… Choi Wooyoung… dia, sebenarnya dia sudah… meninggal”

Tak ada tanggapan dari Kris, tapi aku terlalu takut untuk melihat ekspresinya jadi aku tetap memandang ke arah yang sama.

Appa memberitahuku semuanya. Kyuhyun Oppa adalah seorang anak yang Appa angkat untuk menggantikan Oppa-ku,” Aku melanjutkan berbicara tanpa menatap Kris. “Awalnya aku tidak percaya tapi itu adalah kenyataannya. Aku dan Kyuhyun Oppa… kami tidak sedarah,”

Dari sudut mataku, aku melihat Kris beranjak dari tempatnya. Aku ikut berdiri, tapi tak bisa mengatakan apa-apa lagi saat Kris melangkah menjauh dariku. “Aku pergi dulu. Kita bicarakan lagi ini nanti,” katanya langsung mempercepat langkahnya.

Aku terus menatap Kris sampai dia benar-benar hilang dari pandanganku. Aku menghela napas panjang dan menundukkan kepala. Apa kali ini aku sangat egois? Tapi apa yang bisa aku lakukan lagi? Aku tak bisa terus bersama Kris karena akupun tak bisa mengubah perasaanku padanya. Aku benar-benar menyesal karena memberitahunya tentang ini, tapi cepat atau lambat dia akan tahu juga kan?

**

Aku duduk mematung di atas kursi meja makan sambil memandang hampa ke makanan yang sama sekali belum aku sentuh di depanku. Aku masih terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran di dalam tempurung kepalaku. Entah kenapa aku terus memikirkan Kris dan apa yang telah aku katakan padanya beberapa hari yang lalu. Karena sejak itu dia sama sekali tak meneleponku atau bahkan sekedar mengirimiku pesan. Aku tahu aku telah melukainya dan rasa bersalah ini sama sekali tak bisa hilang sejak hari itu.

Sepasang mataku melirik ponsel yang terletak persis disamping makananku. Apa sebaiknya aku menelepon Kris? Tapi aku ragu. Apa yang akan aku katakan padanya? Aku menghela napas singkat lalu memejamkan mata. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Membuat mataku langsung terbuka. Aku menatap nama yang tertulis di layar sekilas, lalu mengambilnya dengan jantung yang berdebar. Meskipun itu sudah lama sekali, tapi aku selalu seperti ini setiap kali Kyuhyun yang menelepon.

Yeobeoseyo,” kataku berusaha untuk bersikap biasa.

“Sooyoung-ah, kau dimana?”

“Aku? Waegeuraeyo?” Aku balik bertanya pada Kyuhyun sebelum menjawab pertanyaannya.

“Aku ada di depan rumah Changmin sekarang. Apa kau di dalam?” kata Kyuhyun. Aku langsung bergegas pergi ke arah jendela dan melihat ke arah luar. Memang benar ada Kyuhyun sedang berdiri disana dan memandang ke arah kamarku. “Jika kau di dalam, bisakah kau keluar sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,”

Aku kembali menghela napas. Haruskah aku berbohong? Tapi apa dia akan percaya saat aku berkata padanya jika aku tak ada di rumah?

“Sooyoung-ah,?”

Emm… oh, eo” jawabku gugup. “Aku baru akan keluar menemui Kris. Oppa tidak akan lama kan?” Aku terpaksa mengatakan hal ini pada Kyuhyun karena aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi.

Eo. Itu tak lama,”

Arraseo. Jamkkamanyo,”

Aku langsung menutup ponselku dan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu, aku bersiap-siap keluar untuk menemui Kyuhyun lalu pergi entah kemana. Aku akan memikirkannya lagi nanti setelah aku sudah tidak bersama Kyuhyun.

Oppa,” panggilku begitu aku di belakangnya.

Kyuhyun membalikkan badan dan tersenyum saat melihatku. Tanpa aku duga, dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Meskipun aku ingin menolak, tapi aku tak melakukannya. Aku justru membiarkan ini untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia sendiri yang melepas pelukannya itu.

“Kenapa Oppa memelukku?” tanyaku terus berusaha untuk tetap tenang.

Haengbokkaeseo” jawabnya singkat.

Haengbok? Waeyo?”

Kyuhyun meraih tanganku, lalu dia menggenggamnya dengan sangat erat. “Aku tahu kau sudah tahu tentangku. Awalnya aku benar-benar bingung harus bagaimana memberitahumu tentang ini, tapi Appa memberitahuku saat aku bertanya tentangmu” katanya.

Appa memberitahumu?”

Eo,”

Aku diam di tempatku.

“Aku bukan Oppa-mu, Sooyoung-ah. Aku bukan Oppa kandungmu,” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat antusias. “Karena itu… aku tak perlu lagi menyembunyikan perasaanku padamu, kan?”

Aku tak menjawab dan hanya memandanginya lekat-lekat.

“Sooyoung-ah, kau masih mencintaiku kan? Kau… kau… maukah kau… kau kembali padaku seperti dulu?”

“Bagaimana jika aku tak bisa?”

Mwo? Wae?”

Aku menghela napas panjang. “Karena aku masih berkencan dengan seseorang,”

Kyuhyun memasang wajah serius dan menatap lurus ke arahku dengan tajam. Seperti seseorang yang sedang mencari-cari bahwa apa yang aku katakan adalah benar. “Kalau memang begitu, tak ada cara lain selain aku merebutmu darinya kan?” katanya.

Oppa-”

“Karena itu,” Kyuhyun memotong perkataanku. Lalu dengan satu gerakan cepat dia membungkukkan badan dan langsung mencium bibirku.

Tubuhku langsung membeku di tempat saat itu juga. Kesadaraanku seakan hilang dan aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Jantungku semakin berdebar saat Kyuhyun semakin melekatkan bibirnya ke bibirku. Aku tahu aku masih sangat mencintainya dan aku semakin yakin dengan itu karena aku sama sekali tak mau melepaskannya saat ini. Tapi kemudian dengan lembut Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dariku dan dia menatapku lekat-lekat.

“Kau masih mencintaiku,” katanya sambil tersenyum tipis ke arahku. “Aku bisa merasakan itu,”

Aku diam karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan sekarang?

“Meskipun kau berkencan dengan orang lain, tapi perasaanmu tetap melekat padaku. Karena itu, Sooyoung-ah, kembalilah padaku dan kita akan memulai semuanya dari awal,” kata Kyuhyun mengabaikan diamku. “Aku akan menunggumu kembali. Perasaanku ini akan menunggumu,”

Oppa, aku…” Aku diam sesaat karena berpikir apa yang harus aku katakan padanya. “Aku… saranghaeyo,” kataku sangat pelan.

Kyuhyun kembali menyunggingkan segaris senyum, lalu dia melangkah lebih dekat ke arahku. Dia menarikku ke dalam pelukannya lagi dan dengan lembut mengusap kepalaku. Aku membalas pelukannya karena aku benar-benar merindukan perasaan ini dan juga saat-saat seperti ini. Meskipun aku merasa saat ini aku sangat egois, tapi aku sama sekali tak bisa menahannya. Aku sangat mencintainya dan aku sangat ingin mengatakan ini padanya sejak dulu.

Nado saranghaeyo, Sooyoung-ah” bisik Kyuhyun di telingaku.

Aku tak bisa menahan senyumku kali dan juga tanganku yang bergerak untuk memegang pipi Kyuhyun. Apa yang aku lakukan ini membuat Kyuhyun terkejut, tapi dia justru memegang tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Untuk beberapa saat kami tetap seperti itu, sebelum akhirnya aku menurunkan kembali tanganku.

“Apa kau mau kembali padaku lagi?” tanya Kyuhyun setelah aku selesai menyentuhnya. “Kita seperti dulu lagi, Sooyoung-ah

Aku mengangguk pelan, “Eo,”

“Tapi bagaimana? Kau tak mungkin berkencan dengan dua orang bukan?”

Aku diam sesaat karena teringat pada Kris yang sampai saat ini masih menjadi namjachingu-ku. Aku menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, lalu menundukkan kepala menatap kakiku sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar akan menjadi yeoja yang egois dan jahat jika aku memutuskan untuk kembali bersama Kyuhyun dan meninggalkan Kris begitu saja. Tapi aku tak mungkin menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya lagi kali ini. Aku tak bisa menahannya karena Kyuhyun satu-satunya orang yang aku cintai. Lalu Kris? Apa yang harus aku lakukan padanya?

¯¯

Kyuhyun POV

Aku memarkirkan mobilku dengan mulus di depan rumah Changmin, lalu menatap ke arah rumah itu dengan pandangan ingin tahu. Kira-kira apa yang akan Sooyoung lakukan hari ini? Apa dia akan mau menemaniku pergi ke suatu tempat jika aku memintanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sejak aku meninggalkan rumahku pagi-pagi sekali. Karena aku takut Sooyoung akan menolak pergi denganku meskipun dua hari yang lalu dia berkata padaku jika dia masih mencintaiku. Bahkan kami berciuman tepat di tempat aku berada sekarang.

Aku tersenyum kecil saat memikirkan hal itu. Lalu perhatianku teralih pada jam di tanganku yang menunjukkan pukul 6 pagi.

“Apa dia sudah bangun? Bagaimana jika dia masih tidur karena hari ini hari Minggu?” tanyaku pada diri sendiri. “Ah, tapi aku benar-benar ingin mengajaknya pergi hari ini” kataku lagi.

Aku mengambil ponselku dan langsung menekan tombol cepat yang langsung menghubungkan nomor Sooyoung. Aku mendekatkan ponselku ke telinga saat nada sambung mulai terdengar. Tak lama kemudian, suara lembut Sooyoung terdengar.

Yeoboseyo?”

“Sooyoung-ah, aku di depan rumah. Keluarlah”

Sooyoung tidak menjawab. Dia diam, membuatku mengernyitkan dahi.

Oppa, kenapa kau datang pagi-pagi sekali?”

“Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Cepatlah keluar, aku menunggumu” jawabku sambil menutup sambungan teleponnya.

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, lalu memilih keluar dari mobil. Pandanganku mengarah ke jendela kamar Sooyoung dan aku melihat bayangannya yang baru saja menutup tirai jendelanya. Aku tak bisa menahan senyumku melihat itu karena aku yakin sekali tak lama lagi dia pasti akan datang menemuiku.

Oppa,” panggilnya dari arah gerbang rumah Changmin.

Aku kembali tersenyum karena tebakanku benar. “Kau sudah bangun ternyata,” komentarku begitu dia di hadapanku. “Ayo kita pergi sekarang,”

Eodigayo?” tanyanya sambil menoleh ke sekelilingnya. “Aku belum mengatakan apa-apa pada Eomma. Dia pasti akan mencariku jika aku tak ada sepagi ini,”

“Aku akan mengajakmu ke Jeonju. Karena itulah kita-“

Ne? Jeonju?” sahut Sooyoung dengan cepat. “Untuk apa pergi ke sana?”

Aku melirik jam tangan yang melingkari tangan kiriku, “Berkunjung ke makam orang tuaku dan melakukan penghormatan pada mereka”

Sooyoung diam dan hanya memandangiku untuk beberapa saat. Tapi kemudian dia mengangguk pelan sebelum aku mengatakan apa-apa lagi padanya. “Aku akan berbicara pada Eomma sebentar. Oppa tunggu disini saja,”

Aku ikut menganggukkan kepala.

Sooyoung kembali masuk ke dalam rumah dan aku terus memperhatikannya dari kejauhan. Meskipun aku dan dia belum benar-benar kembali seperti dulu, tapi aku merasa sebaliknya. Aku rasa Sooyoung pun sama sepertiku karena jika tidak dia tak akan bersikap seperti ini padaku. Tapi bagaimana dengan Kris? Bukankah mereka masih berkencan sampai sekarang? Apa aku harus diam saja atau haruskah aku berbicara dengan Kris?

Ah, molla! Aku akan memikirkannya nanti,” kataku pada diri sendiri sebelum masuk ke dalam mobil lagi.

Pandanganku menatap lurus ke arah gerbang rumah Changmin. Menunggu Sooyoung datang lagi sambil berharap aku tak melihat siapapun di rumah itu, terutama Shim Busangjangnim. Aku sudah memikirkan banyak hal setelah Appa memberitahuku semuanya termasuk cara agar Sooyoung dan Eomma-nya bisa keluar dari rumah Changmin. Itu akan sedikit sulit, mengingat sikap Eomma Sooyoung padaku tapi aku akan mencobanya pelan-pelan.

Sepuluh menit kemudian, sudut bibirku tersenyum melihat Sooyoung kembali. Dia langsung masuk ke dalam mobilku, tapi ekspresinya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Keningku berkerut tajam dengan perubahan sikap Sooyoung ini, tapi memilih untuk tidak bertanya dan menyalakan mesin mobil. Tanpa banyak bicara mobilpun meninggalkan kawasan rumah Changmin yang masih terlihat sepi di jam seperti ini.

“Jika kau masih mengantuk, tidur saja Sooyoung-ah. Perjalanan masih cukup jauh,” kataku saat mulai memasuki jalan tol yang mengarah ke Jeonju. “Ah, jika dipikir-pikir… ini perjalanan kedua kita ke Jeonju bukan?”

Sooyoung menganggukkan kepala. “Tapi kenapa tidak memakai pesawat saja, Oppa? Itu akan lebih cepat,”

“Jika memakai pesawat, aku tak bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Meskipun jauh tapi aku selalu menikmati perjalanan seperti ini”

“Aku juga,” sahut Sooyoung sangat pelan, bahkan aku nyaris tak mendengarnya. Dia mendesah, tapi tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.

Sebenarnya aku masih ingin mengobrol karena ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan Sooyoung. Tapi aku rasa lebih baik aku diam sekarang karena diapun terlihat sedang tak mau mengobrol. Apa sesuatu terjadi sebelum dia memutuskan untuk pergi denganku ke Jeonju? Apa Eomma-nya tak mengijinkannya pergi atau ada sesuatu yang lain?

Selama sisa perjalanan ke Jeonju, aku dan Sooyoung sama sekali tak berbicara. Sooyoungpun memilih untuk memejamkan matanya selamanya perjalanan dan mau tak mau aku membiarkannya. Aku baru membangunkannya saat kami tiba di sebuah restoran di Jeonju, tak jauh dari tempat yang aku tuju di kota ini.

“Apa sudah sampai?” tanya Sooyoung sambil menguap pelan. “Mianhaeyo, aku tertidur”

Gwenchana. Ayo kita pergi makan dulu” jawabku membantu Sooyoung melepaskan sabuk pengamannya. “Jeonju sangat terkenal dengan Bibimbap-nya bukan? Dulu saat kita ke sini, kita tak mencobanya sama sekali. Jadi, sekarang ayo kita makan Bibimbap

Eo,”

Aku dan Sooyoung masuk ke dalam restoran yang bernuansa sangat tradisional itu. Pelayan yang berdiri di depan pintunya langsung menyambut kami dan mengantarkan kami ke meja yang kosong. Karena tujuan kami memakan Bibimbap, makanya kami langsung memesannya tanpa melihat menu lain yang tersedia di restoran ini. Pelayan itupun bergegas pergi setelah mencatat pesanan kami.

Ah, aku benar-benar tak menyangka kota ini adalah kota kelahiranku. Sayang sekali aku tak bisa mengingatnya sampai sekarang, bahkan wajah orang tuaku sendiri” kataku berusaha memulai pembicaraan diantara aku dan Sooyoung agar suasana tidak menjadi diam.

Oppa benar-benar belum bisa mengingat mereka?”

Eo,” jawabku sedih. “Aku sudah berusaha keras mengingatnya, tapi yang bisa aku ingat hanya kecelakaan itu. Bahkan jika aku tak memimpikannya dan jika Appa tak memberitahuku, aku mungkin sama sekali tak ingat”

Oppa pasti akan mengingatnya, suatu hari nanti. Aku yakin itu,” kata Sooyoung sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja.

Aku menganggukkan kepala mengiyakan. Lalu mengarahkan pandanganku ke arah sebuah gedung tinggi di depan restoran ini. Dari luar aku tahu jika gedung di depanku ini adalah sebuah hotel dan banyak sekali orang yang keluar-masuk ke gedung itu. Aku tersenyum kecil, lalu menatap Sooyoung yang ternyata sedang memandangiku lekat-lekat.

Waeirae?” tanyaku tak mengerti dengan pandangan Sooyoung itu.

Aniyo, amugeotdo

Aku diam sesaat, berniat untuk bertanya tentang sikap Sooyoung yang sedikit berbeda selama perjalanan ke Jeonju ini. Tapi kemudian aku mengurungkannya karena aku ingin dia sendirilah yang memberitahu apa yang terjadi padaku. Dengan begitu aku akan merasa jika aku adalah seseorang yang dia butuhkan untuk berbagi apapun. Untuk sekarang, itulah yang aku inginkan jika seandainya memang aku dan Sooyoung kembali lagi seperti sebelumnya.

Aku kembali memandangi bangunan di depan restoran. Dulu sebelum menjadi hotel, tempat itu adalah kedai teh milik Appa kandungku. Aku mengetahuinya setelah bertanya-tanya tentang keluargaku sebelum aku datang ke sini untuk memastikannya sendiri. Selain itu juga karena bantuan Sungmin yang memang bekerja di Jeonju, aku tahu tempat-tempat yang akan aku tuju. Termasuk dimana tempat dimana kedua orang tuaku dimakamkan. Meskipun aku sendiri yang harus mencarinya karena Sungmin pun sudah banyak membantuku mencari informasi di Jeonju ini.

**

Menjelang siang, aku dan Sooyoung sampai di sebuah pemakaman di Dongsan-dong, distrik Deokjin. Aku langsung mengajak Sooyoung turun dan berjalan menyusuri jalanan yang cukup menanjak. Itu tidak mengherankan karena Jeonju memang memiliki banyak jalan yang menanjak seperti ini di setiap sudut-sudut kota. Beberapa kali aku harus menghentikan langkah karena Sooyoung memilih untuk beristirahat sebentar sekedar untuk menarik napas.

“Apa kau lelah, Sooyoung-ah?” tanyaku yang terpaksa kembali turun beberapa langkah karena Sooyoung kembali berhenti untuk ketiga kalinya.

Eo. Jalannya cukup menanjak dan aku tak tahu akan seperti ini,”

Aku tersenyum tipis sambil mengingat perjalananku ke Jongeup dulu. Sooyoungpun sangat kelelahan saat harus berjalan kaki dengan medan yang seperti ini waktu itu. Aku melangkah lebih dekat ke arah Sooyoung yang sedang menyender pada sebuah pagar besi, lalu melingkarkan sebelah tanganku ke punggungnya dan memegangi bahunya untuk membantunya berdiri.

Kajja. Aku akan memegangimu seperti ini sampai di atas” kataku sambil tersenyum ke arahnya. “Jika kau sama sekali tak bisa berjalan, aku akan menggendongmu” Aku menambahkan.

“Menggendongku? Memangnya Oppa bisa?” Sooyoung meremehkanku saat kami akhirnya mulai melanjutkan perjalanan.

Geureom. Tapi mungkin kita akan lebih banyak beristirahat” jawabku.

Aku terus memegangi Sooyoung sampai akhirnya kami tiba di atas bukit. Meskipun melelahkan, tapi cukup menyenangkan karena aku melakukannya bersama Sooyoung. Pandanganku langsung mengarah ke sekeliling bukit yang terdapat berbagai pusara yang tersebar membentuk sebuah barisan yang rapi.

Oppa, lihat itu” Pandangannya mengarah ke suatu tempat.

Aku mengikuti arah pandangnya. Untuk sesaat aku terkesima dengan apa yang aku lihat. Kota Jeonju dari atas bukit seperti ini benar-benar terlihat sangat indah. Apalagi atap-atap Hanok-nya, serta bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dengan latar belakang pegunungan. Suatu pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya di Seoul atau di kota manapun.

“Sangat indah,” gumam Sooyoung masih terus memandangi ke arah yang sama. “Semua itu bisa kita lihat dalam satu pemandangan. Gunung, kota, rumah tradisional, menara dan sebagainya” kata Sooyoung lagi dengan antusias.

Emm. Tak ada pemandangan seperti ini di Seoul, atau bahkan Daejeon kan?” kataku menanggapi. “Jeonju memang kota yang benar-benar menakjubkan,”

Eo,” jawab Sooyoung singkat.

Aku menatap ke arah kota Jeonju di bawahku sekali lagi, lalu menundukkan kepala. Menyedihkan sekali rasanya karena aku tak ingat semua hal yang aku alami di kota yang indah ini. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa ingat sedikit karena dengan begitu aku akan benar-benar merasa jika aku memang pernah tinggal di kota ini sebelumnya.

Suara keras dering ponsel membuyarkan pikirkanku. Aku menoleh ke arah Sooyoung yang sedang mengambil ponselnya dari dalam tasnya dengan tidak sabaran. Tapi kemudian dia mengernyit saat memandangi layar ponselnya. “Oppa, jamkkamanyo” katanya sebelum berjalan menjauh beberapa langkah dariku.

Aku terus memperhatikan Sooyoung. Mencari tahu siapa yang kira-kira meneleponnya sampai dia harus menjauh dariku. Apakah itu Eomma-nya? Appa? Atau Changmin? Tapi jika itu mereka, seharusnya dia tak perlu menjauh dariku kan? Aku memang tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi melihat dari ekspresi Sooyoung sepertinya dia sedang membicarakan sesuatu yang serius. Bahkan untuk sesaat aku bisa melihat ada kesedihan di wajahnya.

“Siapa yang meneleponnya? Ah, jamkkan… mungkinkah itu Kris? tanyaku berusaha menebak-nebak sendiri. “Atau Busangjangnim? Dia selalu membuat masalah dimana-mana kan?”

Sooyoung kembali lagi padaku. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap ke arahku. “Dimana makam orangtuamu, Oppa?” tanyanya.

Ah, geurae! Kita harus mencarinya dulu” seruku langsung teringat tujuanku sampai datang ke tempat seperti ini meskipun awalnya aku ingin bertanya tentang siapa yang menelepon Sooyoung itu. “Kajja, ada banyak makam disini. Aku berharap kita akan cepat menemukannya, jadi kita bisa cepat kembali ke Seoul”

Sooyoung mengangguk ragu.

“Kau bisa membantuku. Nama Eomma-ku adalah Han Jae Shin”

“Lalu Appa-mu?”

“Cho Kwang Min,”

Arraseoyo

Aku dan Sooyoung berjalan menyusuri pemakaman secara terpisah sambil membaca setiap nama yang tertulis di batu nisannya. Lima belas menit berlalu dan kami masih belum menemukan apa yang kami cari. Sepertinya ini benar-benar akan menjadi pencarian yang panjang karena tempat inipun begitu luas. Aku mulai tak yakin apa aku bisa menemukan makan kedua orang tuaku atau tidak hari ini.

Oppa, disini” Sooyoung dua deret makan dibelakangku, setelah tiga puluh menit berlalu berseru memanggilku.

Aku langsung menoleh ke belakang dan berjalan kembali kepadanya. Jantungku berdetak sangat cepat dalam dadaku, bahkan aku merasa lebih cepat dari langkah kakiku sendiri. Mataku mengarah pada batu nisan yang ditunjuk Sooyoung, lalu membaca nama yang tertulis di atasnya. Untuk sesaat aku diam dan terus menatap nama itu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berat menekan dadaku. Suatu kesedihan yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.

Aku mengalihkan pandang ke arah Sooyoung yang ternyata sedang memperhatikanku. Dia menganggukkan kepalanya, lalu menyentuh bahuku seakan-akan sedang menguatkanku. Setelah melemparkan senyum singkat ke arahnya, aku membungkuk ke arah makam kedua orang tuaku yang memang bersebelahan dan melakukan penghormatan padanya. Aku melakukannya beberapa kali sebelum akhirnya berlutut di depan makam mereka.

EommeoniAbeoji” gumamku pelan. “Mianhaeyo, aku baru datang menemuimu setelah bertahun-tahun. Mianhaeyo, karena aku tak bisa mengingat wajahmu dan semua hal tentangmu. Geurigo mian-“ kata-kataku selanjutnya tertelan oleh air mataku yang mengucur sebelum aku bisa mencegahnya.

Aku menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air mataku dari Sooyoung. Tapi tiba-tiba aku merasakan tangannya menggenggam tanganku erat-erat. Aku tak bisa memandangnya, tapi aku tahu Sooyoung juga sedang belutut disampingku dan akupun membalas genggamannya. Aku menghirup dalam-dalam udara agar masuk ke dalam paru-paruku untuk menenangkanku dan berusaha mengendalikan diri lagi.

Eomma-mu pastilah yeoja yang sangat cantik dan baik sepertimu, Oppa” kata Sooyoung terdengar lembut di telingaku. “Dan Appa-mu, dia pasti namja yang penuh perhatian, persis sepertimu. Jika mereka bisa melihatmu sekarang, mereka pasti akan bangga padamu dan juga bahagia karena kau datang untuk memberi penghormatan seperti ini”

“Bagaimana jika aku tak bisa mengingatnya sampai aku mati nanti?”

Aniyo, Oppa pasti akan mengingatnya. Sebuah kenangan yang ada di dalam hati kita suatu saat pasti akan muncul dengan sendirinya. Aku yakin, kenangan Oppa bersama kedua orangtua Oppa pun akan muncul suatu hari nanti” katanya sambil mengusap pelan makam kedua orangtuaku.

Aku diam tak menanggapi dan kembali menatap ke arah makam kedua orangtuaku. Sooyoung menggenggam tanganku lagi, lalu akupun bangkit berdiri. Setelah aku rasa cukup untuk memberi penghormatan pada mereka, aku mengajak Sooyoung untuk menuruni bukit ini kembali karena awan mendung tiba-tiba muncul. Aku tak mau hanya karena aku ingin berlama-lama di makam kedua orangtuaku akan membuat Sooyoung sakit karena terkena hujan.

¯¯

Sooyoung POV

“Sooyoung-ah, kau mau menginap disini?” tanya Appa saat aku selesai membantu Ahjumma membereskan makan malam.

“Aku ingin, Appa. Tapi sepertinya tidak bisa karena Eomma pasti marah padaku,”

“Tapi Eomma-mu tak pernah marah jika kau datang ke sini?”

Aniyo. Aku tak pernah memberitahunya”

Appa memperlihatkan seulas senyum, “Jadi Eomma-mu tak pernah tahu jika kau sering datang ke sini?”

Aku mengangguk. “Karena itu aku tak bisa menginap meskipun sebenarnya aku ingin” kataku sedih. “Pasti sangat menyenangkan jika bisa tinggal di sini sedikit lebih lama”

Gwenchana. Kau bisa menginap lain kali”

Aku kembali menganggukkan kepala, lalu mengambil tas ku yang aku letakkan kursi tak jauh dari Appa. Setelah itu, aku memberikan Appa pelukan singkat dan berpamitan padanya. Aku memutuskan untuk cepat-cepat pulang karena memang tak ada yang aku lakukan lagi di rumah ini setelah seharian aku menemani Appa. Lagipula Kyuhyun masih belum pulang dari bekerjanya padahal aku juga ingin mengobrol dengannya meskipun hanya sebentar.

Aku berjalan keluar gerbang, dan tersentak kaget saat melihat Kyuhyun sedang berdiri di sebelah mobilnya sambil menatap ke arahku. Dia tersenyum padaku, lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Tanpa diminta dua kali, akupun melangkah masuk ke dalam mobilnya yang kemudian disusul oleh Kyuhyun. Dia langsung mengijak pedal gas nya, dan mobilpun mulai bergerak meninggalkan kawasan rumah Kyuhyun di distrik Dongjak.

“Aku melihatmu keluar dari rumah, jadi aku memutuskan untuk menunggumu di luar karena tak mungkin kau kembali masuk ke dalam rumah setelah berpamitan dengan Appa kan?” kata Kyuhyun memulai pembicaraan.

Aku tertawa kecil, lalu menganggukkan kepala sebagai jawabannya. “Kenapa kau pulang larut, Oppa? Biasanya kau pulang lebih awal dari yang lainnya,”

“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga, jadi mau tak mau aku pulang sedikit terlambat” jawab Kyuhyun. “Wae? Gidarilke?”

Aniyo” seruku.

Kyuhyun tertawa, tapi tak ada lagi yang dia katakan padaku. Aku meliriknya sesaat sebelum mengalihkan pandanganku ke luar jendela mobil sambil memikirkan hal yang sama yang ada di pikiranku sejak aku tahu bahwa Kyuhyun bukanlah Oppa kandungku. Meskipun sekarang hubunganku dengan Kyuhyun terasa seperti dulu lagi, tapi aku merasa jika aku benar-benar tidak bersikap adil pada Kris. Aku rasa aku memang harus berbicara pada Kris dan menyelesaikan ini sebelum semuanya semakin rumit dan sulit untuk diselesaikan.

“Sooyoung-ah, kapan kau akan kembali?” ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Aku yang sedang melamun langsung menoleh dengan cepat, “Ne?”

“Kapan kau akan kembali?”

“Kembali?”

Eo, ke JinHan”

Ah, itu…” sahutku merasa sedikit lega karena dia tak menanyakan hal yang sebelumnya memang sedang aku pikirkan. “Lusa,” kataku dengan yakin.

Jinjja? Kau akan kembali ke JinHan lusa?” ulang Kyuhyun terdengar tidak percaya dengan apa yang aku katakan.

Aku mengangguk, “Eo. Aku sudah membicarakannya dengan Appa, dan Appa memintaku untuk mulai bekerja di JinHan lusa meskipun sebenarnya aku ingin melakukannya di minggu berikutnya”

“Yah, Appa jjang!” seru Kyuhyun sambil membelokkan mobilnya ke Hannam-dong, kawasan rumah Changmin.

Satu alisku terangkat karena bingung dengan tanggapan Kyuhyun itu, “Waeyo?” tanyaku.

Appa memintamu untuk kembali ke JinHan di waktu yang tepat. Aku akan menjelaskan detailnya padamu tapi tidak disini” kata Kyuhyun sebelum menghentikan mobilnya di depan rumah Changmin. “Aku akan menjemputmu besok dan memberitahumu sesuatu yang sedang aku lakukan saat ini,”

Aku mengerutkan kening tak mengerti, tapi kemudian menganggukkan kepala dengan pelan. Setelah memastikan Kyuhyun tak mengatakan sesuatu lagi padaku, aku memutuskan untuk keluar dari mobil.

Gomawoyo, Oppa karena sudah mengantarku” kataku berpamitan pada Kyuhyun sebelum masuk ke dalam rumah. “Oppa sebaiknya langsung pulang dan makan malam di rumah. Masakan Ahjumma malam ini sangat enak, dan Oppa harus mencobanya”

“Masakan Ahjumma memang selalu enak” sahut Kyuhyun sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. “Kau harus lebih sering datang ke rumah dan mencobanya” katanya lagi.

Eo, arraseoyo. Geureom-“

“Sooyoung-ah, jamkkaman” seru Kyuhyun menahanku.

Aku kembali menoleh ke arahnya dan tiba-tiba saja dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku sempat terkejut untuk sesaat tapi membalas memeluknya. Aku tersenyum kecil saat dia mempererat pelukannya karena aku merasa seakan-akan dia tak ingin melepaskannya. Aku membiarkannya sampai akhirnya dia sendiri yang menjauhkan tubuhnya setelah beberapa lama.

Dwaesseoyo?” kataku kembali tersenyum.

Kyuhyun ikut tersenyum, “Eo. Gomawo, Sooyoung-ah

Aku mengangguk, “Pulanglah. Appa mungkin sedang menunggumu karena Oppa belum pulang juga”

Arraseo,” katanya sebelum melangkah kembali ke mobilnya lalu masuk ke sana.

Kyuhyun sempat melambaikan tangannya ke arahku saat mobilnya mulai melaju. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya dan tak bisa menahan diriku untuk tersenyum. Setelah memastikan mobil Kyuhyun tak terlihat lagi, akupun membalikkan badan lalu melangkah masuk ke dalam rumah Changmin dengan perasaan senang yang tak bisa aku jelaskan. Meskipun itu hanya sebuah pelukan, tapi aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda yang aku dapatkan setiap kali dia menyentuhku.

“Sooyoung-ah,”

Seseorang memanggilku dan akupun langsung menoleh ke asal suara itu. Senyumku langsung menghilang saat melihat Kris sedang berdiri tak jauh dari tempatku berada. “Kris!” gumamku.

Kris tersenyum, lalu dia melangkah menghampiriku dan memberikan pelukan singkat padaku. “Aku sudah menunggumu dari tadi,” katanya di telingaku.

Aku menjauhkan tubuhku dengan cepat, lalu menatap Kris dengan bersalah. “Kau sudah menungguku dari tadi?” ulangku.

Eo. Wae?”

A-Aniyo,”

Kris kembali tersenyum tipis, “Mian, karena beberapa hari ini aku tak menghubungimu sama sekali dan membuatmu khawatir”

Aku diam, tak tahu harus menjawab apa dan bersikap bagaimana sekarang. Karena jika memang Kris sudah menungguku sedari tadi, itu berarti dia melihatku sedang berpelukan dengan Kyuhyun kan?

“Kau mau pergi denganku?” tanya Kris tiba-tiba. “Ayo kita duduk-duduk di Pojangmacha (warung tenda) disekitar sungai Han”

Pojangmacha?”

Kris menganggukkan kepala. “Kajja,” ajaknya sambil menarik tanganku sebelum aku sempat mengatakan apa-apa lagi.

Pojangmacha yang dimaksud Kris memang berada di pinggir sungai Han, tapi tidak sebesar Pojangmacha yang terdapat di Insa-dong, Itaewon atau tempat-tempat lainnya yang tersebar di Seoul. Aku memang jarang sekali datang ke Pojangmacha seperti ini karena tak ada yang mengajakku pergi. Selain itu juga karena Eomma tak begitu suka jika makan di Pojangmacha meskipun banyak orang berkata makanan yang dijual di Pojangmacha pun tak kalah enakknya dengan restoran mahal. Tapi tetap saja Eomma lebih memilih membuat makanan sendiri.

“Kris, kenapa kau tiba-tiba ingin mengajakku ke Pojangmacha?” tanyaku penasaran saat kami sudah dekat dengan lokasi yang kami tuju. “A-Aku… Aku bahkan belum banyak berbicara denganmu, tapi kau terus menarik tanganku seperti ini” kataku sambil menunjuk ke arah tangan Kris yang menggenggam tanganku.

Geunyang…” desis Kris pelan. Dia menarik napas singkat sebelum melanjutkan bicara, “Aku tak pernah ke Pojangmacha denganmu, kan?”

Aku mengangguk pelan meskipun aku masih merasakan aneh di jawaban Kris itu. Apa benar hanya karena itu? Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang sedang Kris sembunyikan dariku? Aku yakin sekali dia melihatku dan Kyuhyun jika dia memang lama berdiri disana dan menungguku. Apa sebenarnya dia sedang marah padaku karena melihatku berpelukan dengan Kyuhyun, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa di depanku?

“Kris, ada yang ingin aku katakan padamu” kataku pelan begitu kami menemukan satu tempat duduk kosong di dalam Pojangmacha.

Eo, nado

Aku menatap Kris lekat-lekat, lalu menghela napas panjang sebelum berbicara. “Kalau begitu kau dulu yang bicara,”

Aniya. Kau dulu,”

Aku diam sesaat dan berpikir. Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Kris? Tapi aku benar-benar tak bisa menahannya lebih lama karena itupun akan membuatku semakin melukainya dan bersalah padanya. Kris harus tahu seperti apa perasaanku yang sebenarnya meskipun dengan begitu aku akan bersikap sangat egois padanya.

Aku menghembuskan napas pelan, “Kita akhiri hubungan kita, Kris. Aku tak bisa lagi berkencan denganmu” kataku hanya menatap Kris sekali saat mengatakannya. “Mianhaeyo, karena aku yang memulai untuk berkencan tapi aku juga yang mengakhirinya”

Kris diam tak menjawab dan hanya menatapku.

“Kau boleh marah padaku atau bahkan mengutukku. Kau pun berhak memutuskan hubungan persahabatan kita karena aku telah melukaimu entah untuk yang keberapa. Tapi aku akan menerima semua itu darimu”

Lagi-lagi Kris hanya diam.

“Aku tak akan marah padamu bahkan jika kau mengatakan bahwa aku yeoja yang paling bodoh sedunia atau kata apapun yang bahkan lebih buruk dari itu karena semua itu benar” kataku tak tahu lagi harus mengatakan apa lagi di depan Kris. “Mian, karena aku tak bisa memilki perasaan yang sama denganmu sekeras apapun aku mencobanya” Aku menambahkan.

Kris tersenyum tipis, “Apa kau sudah selesai bicara? Jika sudah sekarang giliranku,”

Aku menatap Kris lekat-lekat, tapi memilih untuk tak membuka mulutku dan hanya menunggu apa yang akan Kris katakan padaku.

“Sooyoung-ah, kau tahu…. dari awal seharusnya aku tak boleh jatuh cinta padamu atau sampai berkencan denganmu. Saat kau pada akhirnya mencintai orang lain tapi bukan aku, saat itu aku tahu bahwa aku akan terluka” kata Kris dengan sikap tenangnya. “Meskipun aku membuat kesepakatan dengan diriku sendiri bahwa aku tak akan lagi mencintaimu, tapi pada kenyataannya aku masih saja mencintaimu”

Aku tetap diam posisiku karena aku yakin Kris belum selesai bicara.

Kris menuang gelasnya dengan soju sebelum kembali berbicara. “Meskipun kau berkata padaku bahwa kau ingin berkencan denganku, tapi aku tahu aku tak akan mendapatkan hatimu sepenuhnya karena dari awal perasaanmu padaku sudah berbeda. Sekeras apapun kau berusaha untuk mengubah perasaaan itu, tetap saja perasaanmu tetap sama karena aku… aku adalah sahabatamu, bukan seorang namja yang perlu mendapatkan cinta darimu”

“Kris, mianhaeyo” ucapku menyesal.

Kris kembali tersenyum, “Karena itulah kita harus putus sekarang kan?”

Aku mengangguk pelan.

“Saat aku tahu Kyuhyun-ssi bukan Oppa-mu, aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan berpisah denganku dan kembali padanya. Karena perasaanmu tetap melekat padanya bagaimanapun keadaan kalian”

“Itu salahku karena aku tak bisa menghilangkan perasaan itu meskipun seandainya dia adalah Oppa-ku”

Aniya. Tak ada orang yang bersalah karena memiliki cinta di hatinya” sahut Kris. “Kau tak perlu menyalahkan diri sendiri karena itu,”

Aku diam tak menanggapi.

“Aku melihatmu berpelukan dengannya dan kau terlihat sangat bahagia, Sooyoung-ah. Sudah lama sekali aku tak melihatmu tersenyum seperti itu” kata Kris lagi sambil meminum sojunya dengan sekali tegukan. “Aku bahkan tak bisa melakukannya,” lanjutnya.

“Kris, aku benar-”

“Sooyoung-ah, aku akan pergi” potong Kris dengan cepat.

Aku menatapnya lekat-lekat, “Kau akan pergi?”

Kris mengangguk, “Ke Kanada. Aku mendapatkan pekerjaan disana dan aku tak bisa menolaknya” jawabnya terdengar sedih.

“Kris, kau tak bersungguh-sungguh kan?”

“Apa kau pernah melihatku bercanda pada sesuatu seperti itu?”

Aku sangat terkejut mendengar jawaban itu darinya. “Wae?”

“Apa maksudmu dengan kenapa? Aku mendapatkan pekerjaan disana dan itu adalah kesempatanku karena mungkin aku tak akan mendapatkannya lagi” jawab Kris tanpa menatap ke arahku tapi ke arah jari-jarinya di atas meja. “Eomma akan ikut bersamaku ke Kanada jadi aku tak akan kembali ke sini”

Jamkkaman. Apa kau pergi karena kau marah padaku? Karena aku menyakitimu dan membuatmu kecewa berulang kali?”

Kris menggeleng. “Kau memang yeoja yang egois, aku akui itu. Tapi aku pergi bukan karena itu. Ada sesuatu yang membuatku berpikir untuk tidak melanjutkan hubunganku denganmu dan menganggapmu sebagai sahabat, seperti dulu”

“Kris, dengarkan aku-“

Ani. Kau yang harus mendengarkanku, Sooyoung-ah” Kris kembali memotong perkataanku. “Kau nyaman bersamaku bukan sebagai yeojachingu­-ku kan? Karena itu lebih baik hubungan kita seperti itu, dan aku akan melupakan perasaanku padamu. Mungkin akan sulit, tapi aku belum pernah benar-benar mencobanya”

Aku ingin mengatakan sesuatu untuk kembali bertanya, tapi aku tidak melakukannya. Aku sudah terlalu sering menyakitinya dan aku takut jika aku berbicara lagi itu akan memperburuk masalah ini. Jadi aku memutuskan untuk menunggu Kris kembali bicara.

“Kita akan tetap bersahabat, dan aku janji aku akan mengirimimu pesan” kata Kris pelan. “Aku berharap kau melupakan perasaanku, dan menganggapnya tak pernah ada. Berpura-puralah kau tak pernah mendengar seorang namja sepertiku mengatakan bahwa aku mencintaimu”

Aku menunduk sedih mendengarnya. Aku benar-benar sudah melakukan kesalahan besar karena telah melukai Kris. Aku merasa aku bukanlah sahabat yang baik bagi Kris. Padahal sebaliknya, dia begitu baik bagiku dan selalu ada untukku disaat aku benar-benar membutuhkan seseorang. Sekarang aku harus menerima jika dia memang harus pergi meninggalkanku.

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

FF ini udah mau selesai, (akhirnya) hihi…

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

48 thoughts on “[Series] Stuck In Love -21-

  1. Niihax_ jivie kyuyoungie says:

    kriiss.? Ke kanada.? Dn tak akan kmbali laggi.? Sedih yah dngarnya.? Aku udh ngerasain hal yg sam sama syoo.! Sama persisi makny aq ngerasa ff nyah 10000000000% lbih dr kata smpurna, alurnya, bahasanya, kat2nya dn aish..! Next.! Gg sabar…. Aq slalu mnanti STUCK IN LOVE.! I love the ways of story.!

  2. Sistasookyu says:

    Akhirnya clear juga masalah kyu tentang latar belakang dirinya.. Dan kyuyoung bisa balikan.. Tinggal masalah pamannya syo aja
    kris nya kasian juga y.. Tapi emang syo nya udah trlanjur cintanya sama kyu.. Kkkk~

  3. farida_salma says:

    sabar y kris, sedih juga kris pergi, tp semoga gak musuhan
    yeeeaay,kyuyoung balikan ya ^^

    semoga ortu soo juga balikan ^^
    next part ditunggu🙂

  4. Ahh, smoga hubungan ma ke depannyngga slalu dpet masalah yg besar. Smoga ibunya Soo eon jg ngerestui… aku agak gemes nih sm bapaknya changmin… trus gmna changmin ntar?

  5. pna says:

    kalo kris udah mau ngertiin perasaannya sooyoung, berarti tinggal selesein si shim busajangnimnya aja. aku udah kesel diubun-ubun ama dia soalnya chingu hahaha

  6. Retno Willis says:

    daebakkk thor.. knapa kisah cinta KyuSooKris sama dngan kisah cinta qu *abaikan
    bner” terasa banget feell nya serasa mereka itu nyata.. good job thor.. ditunggu next part’ya😀

  7. met says:

    Daebak
    Jd sekarang masalah nya tinggal shim ho min sma eomma nya soo dong
    Wahhh
    Penasaran bgt nih
    Nextnya mesti cpt ne😀

  8. Anyyeong kak aku pembaca baru d ff kamu,dari 21 part ff stuck in love aku baru baca part 20 sama 21 ini. Cukup bingung awalny krn belum baca dari awal tp lama2 sdikit paham juga soal siapa kyuhyun d kluarga sooyoung. N seneng kyuyoung bisa pacaran lg walaupun kris harus ngerasain sakit. Sampe d part ini aku ngerasa masih ada teka teki yg blm spnuhny trungkap yaaa *hahahaasalnebakaja* n apapun itu aku tunggu kelanjutanny kak. Fighting kak

  9. Rizky NOviri says:

    meski kyuyoung udah bersatu.. tapi aku masih nggk tenang..😦
    mreka pasti backstreet..😦
    huaaaa…
    next next

  10. Yeeeeeeeee … Kyuyoung jjanggg …
    Kris maaf bukan mksud bahagia diatas penderitaanmu ,, tapi kamu pasti ngertikan,kalau seorang knight pasti bhgia bila biasnya bersatu ,#iya
    Siap” untuk konflik berikutnya …

  11. Liaaa says:

    Udah mulai keliatan endingnya. Dn happy ending. Kris baik bgtt, nyadar diri juga dianya
    Kyuhyun sayangnya kurang romantis ya waktu ngajak sooyong balikan
    Next chapter yaa

  12. Youngra park says:

    Perasaan ku bahagia campur sedih bahagia krn kyuyoung bakalan bersatu kembali sangking senang smpai terharu aku tpi aku sdih jga krn kasian sma kris ooppa tpi mungkih cnta gk hrus memiliki kris oppa n mu dahan hubungan kyuyoung semakin sweet smpai nikah n punya nak next part di tnggu eoni

  13. sisca says:

    Di post juga nih SIL nyaaa loveee banget..
    Akhirnya kyuyoung bersatu juga semoga masalahnya cepet selali deh buat kyuyoung;)
    Next partnya sangat ditunggu thor😉

  14. syooah says:

    Aigoo… Kriss luluh juga ternyata mau ngelepas sooyoung, tapi kasian kris😦
    masalah 1 selesai masalah ke 2 dateng.. bakal seru kayaknya antara kyuhyun vs appa changmin,ini sih penasaran si changmin nanti dukung kyuhyun apa appa.nya ya(?) Kkkkk~
    Next chapt… ngga pernah bosen baca FF ini. Like it

  15. 이태라 says:

    akhirnya mereka balikan lagi, tinggal nyingkirin appa changmin sm bikin eomma sooyoung percaya nih sm appa sooyoung
    next update soon yah hehe

  16. Kasian bgt ya kris disin. Bertepuk sebelah tangan. Pasti sakit banget.😥 Tapi di satu sisi aku seneng akhirnya kyuyoung bersatu.. next nya di tunggi ya thor. Dan jgn lama laka😀

  17. cicamica says:

    akhirnya masalah kris sama soo kelar
    tinggal si bapaknya changmin tuh apa jangan2 ntar changmin ikut2an bapaknya yg pura2 baik?
    omg nextnya ditungguin🙂

  18. finally kyuyoung udh balikan walaupun sedih jg krn kris harus ngerasain sakit hati, tp emg soo gak cinta sama kris. tinggal nyelesain mslh keluarga yg rumit -__-” msh kepo maunya ayahnya changmin tuh apa sampe kayaknya bener2 gak suka sama ayahnya sooyoung trus knp ibunya sooyoung msh gak mau balikan…

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s