[Oneshoot] I Really Love You

I REALLY LOVE YOU

Length : Oneshoot (17.594 words)

Rating : G

Genre : Fantasy, Romance, Life, Drama

Author : Fantasy Purple / fantasypurple.wordpress.com / @putri_exol

Cast : Choi Sooyoung | Cho Kyuhyun | Lee Donghae | Cho Ahra | Jessica Jung | Seo Joo Hyun | Etc.

Disclaimer : Cerita ini murni dari hasil imajinasi saya, mohon maaf jika ada kesamaan alur cerita, dll. Btw, maaf posternya jelek banget, aku gak bakat edit-edit soalnya^^. Oia, aku mau saranin juga backsong yang mesti didengerin sambil baca cerita ini, biar feel’nya lebih kerasa, hehe. Beberapa lagunya yaitu : Cho Kyuhyun – Just Once, Yoo Sung Eun ft. Gilgu Bongu – I Really Love You, Just – I Love You, Howl – Love U, Seo In Guk – No Matter What, TTS – Only U, Super Junior – She’s Gone, dan SNSD – Tears. Happy Reading!🙂

***

“Dua puluh menit lagi.” Sooyoung melirik sekilas ke arah jam dinding.

“Hah… tidak terasa sebentar lagi usiaku akan bertambah.” Ucap Sooyoung lalu menopang dagunya.

“Hmmm… dua puluh enam tahun. Sebentar lagi usiaku adalah dua puluh enam tahun.” Sooyoung mengulum senyumnya.

“Astaga! Aku ingat! Aku ingat!” Pekik Sooyoung sambil memukul keningnya beberapa kali.

“Ayah dan ibu, aku sudah berjanji kepada mereka bahwa aku akan menikah diusiaku yang ke dua puluh enam. Astaga.” Sooyoung menenggelamkan wajahnya pada guling di pangkuannya.

“Ya Tuhan, bagaimana ini. Bahkan sampai sekarang, aku belum menemukan seseorang yang tepat.” Keluh Sooyoung sambil menautkan kesepuluh jarinya.

Aktivitas Sooyoung tiba-tiba terhenti karena ponselnya yang mengeluarkan dering panggilan. Gadis itu pun bergegas mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel miliknya.

“Ayah…”

Sapaan Sooyoung tertahan begitu saja karena sesuatu yang diucapkan oleh Ayahnya di seberang sana.

“Baiklah. Aku kesana sekarang.” Balas Sooyoung.

Sooyoung mengakhiri percakapan dengan Ayahnya. Ponselnya terlepas begitu saja dari genggamannya. Wajahnya terlalu murung untuk diperlihatkan bagi seseorang yang sebentar lagi akan berulang tahun.

“Ssshh. Mengapa selalu dia yang mengacaukan acaraku.” Gumam Sooyoung sambil menutup wajahnya, mencoba menahan air mata yang sudah tampak di sudut kedua matanya.

Sooyoung mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, kemudian meraih ponselnya kembali. Ia menyentuh beberapa kali layar ponselnya, kemudian mendekatkannya ke telinga.

“Sica, semuanya batal. Tidak ada acara apapun malam ini. Maaf.” Ucap Sooyoung kepada Jessica.

Tanpa mendengarkan respon dari Jessica, Sooyoung mengakhiri panggilannya, bahkan mematikan ponselnya juga. Dengan wajah yang semakin murung, Sooyoung mencoba bangkit berdiri dan bergegas bersiap-siap untuk memenuhi panggilannya.

***

Sooyoung mengamati sosok yang sedang terbaring tidak berdaya. Beberapa perlengkapan medis melekat pada tubuh itu, membuat isak tangis terdengar dari wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya. Ayah Sooyoung tampak sedang menenangkan kesedihan istrinya yang sedari tadi menangisi putra mereka.

Beberapa jam yang lalu, Sooyoung mendapat kabar dari ayahnya bahwa Donghae mengalami kecelakaan. Kondisi Donghae yang sedang kelelahan karena aktivitasnya, membuat pria itu menabrak sebuah minibus. Hingga akhirnya, jadilah seperti ini. Saat ini Donghae sedang menjalani masa kritis.

Merasa bosan dengan pemandangan di depannya, Sooyoung memilih untuk keluar dari ruang ICU. Gadis bertubuh tinggi itu melangkahkan kedua kakinya, entah kemana arah tujuannya. Raut murung pada wajah Sooyoung cukup untuk mewakili perasaannya saat ini.

Sooyoung menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan sebuah taman. Walaupun langit masih gelap, taman itu tetap terlihat asri dengan penerangannya. Sooyoung pun berjalan menuju sebuah bangku taman, kemudian duduk disana.

Angin dingin menerpa wajah Sooyoung, yang entah sejak kapan sudah basah karena air mata. Gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas, mengamati pemandangan langit malam yang dihiasi oleh beberapa bintang.

Setelah beberapa saat termenung, Sooyoung meraba-raba sakunya karena menyadari bahwa sebelum datang ke rumah sakit ini, ia sempat membawa sesuatu. Setelah mengeluarkan sebuah lilin dan korek api, Sooyoung beranjak dari tempatnya kemudian berlutut tepat di depan bangku taman. Dinyalakannya lilin itu kemudian diletakkan di atas bangku yang terbuat dari besi. Setelah lilinnya sudah menyala, Sooyoung menautkan kesepuluh jarinya dan memejamkan kedua matanya.

“Selamat ulang tahun, Choi Sooyoung. Semoga panjang umur dan hidupmu selalu diberkati oleh Tuhan. Terima kasih Tuhan, aku masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan sampai saat ini. Dan… aku ingin meminta sesuatu dihari ulang tahunku ini. Aku ingin, agar segera dipertemukan dengan cinta sejatiku, sehingga aku bisa menepati janjiku pada eomma. Amin.” Ujar Sooyoung dalam doanya.

Setelah berdoa, Sooyoung membuka kedua matanya kemudian meniup lilin dihadapannya. Gadis itu tersenyum dengan bahagia, namun dengan air mata yang turut mengiringi senyumannya.

“Ehm.”

Sooyoung mendongakkan kepalanya ketika mendengar seseorang sedang berdeham. Ia menjerit terkejut karena melihat seperti apa sosok yang berada di depannya.

“K-kau…”

“Hei! Kau bisa melihatku?” Tanya sosok itu kepada Sooyoung yang menatapnya heran.

“A.. Emm… A-aku…”

“Ya! Ternyata kau bisa melihatku, nona!” Seru sosok tersebut dengan nada gembira.

“Ah, ap-apa?” Sahut Sooyoung dengan gugup.

“Perkenalkan. Aku Cho Kyuhyun. Aku juga manusia, sama sepertimu. Hanya… saat ini aku sedang menjalani hidupku sebagai roh.” Jelas Kyuhyun kepada Sooyoung yang masih terkejut menatapnya.

“Ja-jadi, kau adalah roh?” Tanya Sooyoung dengan tatapan tak percaya.

Kyuhyun mengangguk pasti sambil tersenyum. “Huh. Syukurlah, akhirnya ada seseorang yang bisa melihatku. Tadinya, kupikir aku akan hidup sendirian.” Ucap Kyuhyun.

Sooyoung menelan liurnya dengan susah payah. Ia benar-benar tidak mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini. Bagaimana bisa, ia bukanlah orang yang memiliki kelebihan untuk bisa melihat makhluk kasat mata. Tetapi saat ini, ia bisa melihat roh dengan mata kepalanya sendiri. Gadis itu sesekali mengusap wajahnya dengan kasar, berharap mungkin saja ia salah lihat.

***

“Jadi, sebelumnya kau tidak bisa melihat hantu?” Tanya roh Kyuhyun yang kini sudah duduk bersama dengan Sooyoung di bangku taman.

Sooyoung mengangguk pelan. “Sama sekali tidak bisa melihat mereka.” Jawab Sooyoung.

“Tapi, mengapa kau bisa melihatku?” Tanya roh Kyuhyun.

“Entahlah. Aku sendiri masih tidak percaya.” Sooyoung mengangkat kedua bahunya.

“Kau sendiri, bagaimana kau bisa menjadi roh yang berkeliaran seperti ini?” Tanya Sooyoung.

“Ah, tapi tunggu. K-kau.. apakah kau roh orang yang sudah mening-gal?” Tambah Sooyoung.

Roh Kyuhyun mengernyitkan keningnya, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku belum meninggal. Hanya saja, saat ini ragaku sedang mengalami masa koma.” Terang roh Kyuhyun.

Sooyoung menghembuskan nafas lega. “Kupikir, kau ini adalah roh orang meninggal. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika aku benar-benar bisa melihat hantu.” Ucap Sooyoung sambil bergidik ngeri.

“Lalu, mengapa kau berkeliaran seperti ini? Seharusnya kan, kau menemani ragamu.” Tanya Sooyoung.

Roh Kyuhyun menengadahkan kepalanya ke atas. “Hanya melihat ragaku terbaring tidak berdaya, itu adalah hal yang paling membosankan. Kondisi ragaku masih terlalu lemah untuk aku rasuki kembali. Jadi, aku memutuskan untuk berkeliaran saja. Tapi, ternyata membosankan juga. Tidak ada yang bisa aku ajak bicara, karena aku ini adalah roh yang tidak akan pernah terlihat oleh manusia.” Jelas roh Kyuhyun dengan raut wajah sedih.

“Emm.. kalau aku boleh tahu, memangnya apa yang menjadi penyebab sampai kau mengalami koma seperti ini?” Tanya Sooyoung dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan roh di sebelahnya.

Roh Kyuhyun tersenyum pahit. “Setelah orang itu datang, aku pasti akan menceritakannya kepadamu. Tunggulah beberapa hari lagi.” Jawab roh Kyuhyun sambil tersenyum melihat Sooyoung.

Sooyoung pun membalas senyuman roh Kyuhyun.

“Oia, selamat ulang tahun.” Ucap roh Kyuhyun sambil tersenyum.

Sooyoung mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Kyuhyun.”

“Apa aku terlihat bodoh, merayakan ulang tahun sendirian di taman rumah sakit?” Tanya Sooyoung, yang mungkin bersifat retorik.

“Kurasa tidak. Merayakan ulang tahun adalah hal yang wajar. Kau telah menunjukkan rasa syukurmu dengan berdoa karena telah diberikan umur yang panjang sampai saat ini.” Jelas roh Kyuhyun.

“Emm.. kau sendiri, bagaimana bisa berada disini?” Tanya roh Kyuhyun.

“Dua puluh menit menuju jam dua belas malam, aku mendapat kabar bahwa kakakku mengalami kecelakaan. Dan semuanya batal begitu saja. Sampai-sampai, jam dua pagi tadi aku baru bisa merayakan ulang tahunku.” Jelas Sooyoung, kemudian memeluk tubuhnya sendiri untuk meredakan dinginnya udara di pagi buta.

“Aku turut prihatin dengan keadaanmu. Tapi kau tidak boleh terlalu sedih. Percayalah bahwa kau akan menjadi semakin kuat ketika masalah demi masalah datang kepadamu. Seperti halnya aku. Sebelumnya, aku berharap bahwa lebih baik aku mati saja daripada menjadi roh yang berkeliaran tidak jelas seperti ini. Aku hampir putus asa karena aku merasa sendirian. Tidak ada yang bisa melihat dan mendengarkanku. Ingin rasanya aku pergi meninggalkan ragaku untuk selamanya. Tapi, dalam sekejap, aku mengubur semua niat burukku itu ketika aku menyadari seberapa banyak air mata yang mengalir dari kedua mata ayah, ibu, dan kakakku. Disaat seseorang menyia-nyiakan cintaku begitu saja, ternyata masih ada mereka yang memberikan cinta yang begitu besar kepadaku. Mereka yang berharap besar, agar aku kembali hidup.”

Roh Kyuhyun menoleh ke samping dan mendapati Sooyoung yang sudah terlelap dalam tidurnya. Roh Kyuhyun tersenyum melihat gadis di sebelahnya yang tampak begitu damai.

“Ternyata, Tuhan mempertemukanku dengan gadis yang manis.” Gumam roh Kyuhyun yang masih memperhatikan Sooyoung.

Perlahan-lahan, roh Kyuhyun mengulurkan tangannya, mencoba untuk menyentuh wajah Sooyoung. Namun, usahanya sia-sia begitu saja. Ia sama sekali tidak bisa menyentuh Sooyoung dan justru rasa sakitlah yang dirasakannya ketika melakukannya.

“Tidurlah dengan nyenyak. Aku akan menemanimu disini.” Ucap Kyuhyun kepada Sooyoung.

Dalam beberapa jam, Sooyoung tertidur di bangku taman. Mungkin manusia normal melihat Sooyoung hanya sendirian. Namun, selama Sooyoung tertidur, disanalah roh Kyuhyun berada. Mengamati gadis yang terlelap penuh dengan kedamaian itu.

***

Sooyoung menggerak-gerakkan kelopak matanya, menyadari ada yang menyelimuti tubuhnya. Perlahan-lahan, ia membuka kedua matanya dan mendapati Jessica sudah duduk disampingnya.

“Selamat ulang tahun. Maafkan aku, aku baru datang sekarang.” Ucap Jessica sambil memeluk tubuh Sooyoung.

Sooyoung menyentuh lengan Jessica. “Sudahlah, tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang kesini.” Ucap Sooyoung.

“Kenapa kau tidur disini, Sooyoungie? Kau pasti kedinginan.” Ucap Jessica tanpa melepas pelukannya.

“Ah, tidak. Aku hanya tidak suka saja dengan bau obat di dalam sana.” Jawab Sooyoung sambil terkekeh pelan.

“Kalau begitu, ayo kita ke dalam. Kau harus mandi agar tubuhmu segar.” Ajak Jessica melepas pelukannya.

“Tidak. Aku tidak mau mandi disini. Tolong antarkan aku ke rumah. Aku ingin mandi di rumah saja.” Tolak Sooyoung.

“Hemm. Baiklah. Ayo.” Jessica menarik tangan Sooyoung hingga gadis itu berdiri.

Saat hendak berjalan, langkah Sooyoung spontan terhenti. Gadis itu melihat ke arah bangku taman yang ditinggalkannya.

‘Kyu.. Kyuhyun…” Gumam Sooyoung dengan suara pelan namun dapat didengar oleh Jessica.

“Apa? Kyuhyun? Siapa Kyuhyun?” Tanya Jessica heran.

Sooyoung terdiam, tidak menjawab pertanyaan Jessica. Gadis itu justru mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, namun ia tidak berhasil menemukan sosok yang dicarinya.

“Dimana dia?” Gumam Sooyoung.

“Sooyoung…?” Panggil Jessica sambil menyentuh tangan Sooyoung.

“Kau mencari siapa?” Tanya Jessica.

“Eh.. ah, tidak. Aku tidak mencari siapa-siapa.” Jawab Sooyoung terlihat salah tingkah.

“Emm, ayo kita pergi.” Ajak Sooyoung sambil menarik tangan Jessica, mencoba mengalihkan tatapan aneh sahabatnya itu.

***

“Ayah, ibu, kalian pulanglah ke rumah. Kalian juga harus istirahat. Lagipula, ada aku dan Jessica. Biar kami yang menjaganya disini.” Ucap Sooyoung kepada kedua orangtuanya.

“Tapi, aku…”

“Ibu. Ibu tidak boleh seperti ini. Kami akan menjaganya untuk ibu. Ibu tidak perlu khawatir. Pulanglah. Kau butuh istirahat.” Ujar Sooyoung sambil mengusap pundak ibunya.

Hati Sooyoung terasa perih melihat kondisi kedua orangtuanya yang tampak kelelahan. Bahkan dalam ruangan yang tidak terlalu terang itu, raut wajah kedua orangtuanya terlihat begitu jelas.

“Ayah, jika sudah sampai di rumah, kalian harus bercermin agar kalian sadar bagaimana wajah lelah itu terlihat. Ayah dan ibu harus pulang, kalian butuh istirahat dan biar kami yang menjaganya. Kembalilah besok lagi. Aku akan bermalam disini.” Terang Sooyoung dengan tatapan memohon.

Merasa tidak sanggup membantah perkataan putrinya, ibu Sooyoung akhirnya mengangguk pelan, menyetujui perintah anak gadisnya.

“Baiklah, kami akan pulang.” Ucap ibu Sooyoung, membuat Sooyoung tersenyum mendengarnya.

“Kalian, tolong jaga dia. Beritahu kami jika terjadi sesuatu dengannya.” Pinta ayah Sooyoung kepada Sooyoung dan Jessica.

“Iya, paman. Kau tidak perlu khawatir. Kami akan menjaganya dengan baik.” Sahut Jessica ditambah dengan anggukan Sooyoung.

“Kalau begitu, kami pulang dulu.” Ucap ayah Sooyoung sambil merangkul pundak istrinya.

“Ah, biar kuantar kalian sampai bawah. Sica, kau tetap disini ya.” Perintah Sooyoung kepada Jessica.

***

Setelah mengantar ayah dan ibunya, Sooyoung memutuskan untuk kembali ke kamar ICU. Namun, entah kenapa ia ingin sekali melangkahkan kakinya ke lorong rumah sakit sebelah kanan. Gadis itu ingin memastikan sesuatu saat ini.

Sesampainya disana, Sooyoung tidak langsung masuk ke area taman, melainkan hanya mengedarkan pandangannya saja. Suasana taman pagi hari itu cukup ramai, karena banyak pasien yang nampaknya ingin sekali menghirup udara bebas. Merasa tidak menemukan sesuatu yang dicarinya, Sooyoung pun memutuskan untuk kembali ke ruang ICU tempat dimana kakak laki-lakinya terbaring.

Ketika Sooyoung membalikkan tubuhnya, ia terkejut mendapati roh Kyuhyun sudah ada di depannya yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Gadis itu mengelus dadanya berulang kali karena kemunculan sosok tersebut yang begitu mendadak.

“Kau ini! Bisa tidak, muncul tanpa mengejutkanku. Jantungku hampir saja copot melihatmu!” Omel Sooyoung dan malah mendapat tawa geli dari roh Kyuhyun.

“Haha. Apa kau sedang mencariku, nona?” Tanya roh Kyuhyun dengan tatapan menggoda.

“T-tidak. Aku hanya ingin tahu, apakah taman ini akan ramai jika dipagi hari.” Sanggah Sooyoung sedikit salah tingkah.

“Oh.” Roh Kyuhyun mengangguk pelan. “Oia, maaf ya, tadi aku meninggalkanmu di taman karena aku harus mengunjungi ruangan dimana ragaku sedang dirawat.” Ucap roh Kyuhyun.

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula, kau tidak harus selalu menemaniku.” Balas Sooyoung.

“Tidak. Aku bersedia untuk selalu menemanimu. Aku ingin selalu berada di dekatmu, karena hanya kau yang bisa melihat dan mendengarkanku.” Sanggah roh Kyuhyun dengan penuh penekanan.

“Tapi…”

“Kumohon, biarkan aku bersamamu. Aku kesepian. Tidak ada yang bisa melihat dan mendengarkan ucapanku seperti dirimu. Jadi, kumohon ijinkan aku untuk selalu berada di dekatmu.” Pinta roh Kyuhyun dengan nada penuh harap.

Sooyoung menghembuskan nafas panjang. “Baiklah. Tapi, dengan satu syarat.”

“Apa?” Tanya roh Kyuhyun.

“Datanglah dengan cara baik-baik. Jangan mengejutkanku seperti semalam dan tadi, atau kau tidak akan aku ijinkan untuk berada di dekatku.” Ancam Sooyoung.

Kyuhyun mengangguk dengan cepat. “Baik-baik!” Ucap roh Kyuhyun dengan penuh semangat.

“Eh, tapi.. apa kau juga akan mengikutiku saat aku berada di rumah maupun sedang pergi ke berbagai tempat?” Tanya Sooyoung.

“Ah, tenang saja. Aku memang akan selalu ikut bersamamu, tetapi hanya saat kau sedang berada di area rumah sakit ini, karna aku tidak bisa terlalu jauh dari ragaku.” Jawab roh Kyuhyun.

“Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu.” Pamit Sooyoung kepada roh Kyuhyun. “Kau mau ikut?” Tanya Sooyoung.

“Tentu saja.” Jawab roh Kyuhyun sambil tersenyum senang.

“Hemm. Dia kan memang akan selalu ikut denganku, jadi untuk apa aku bertanya lagi.” Gumam Sooyoung kemudian mulai berjalan diikuti oleh roh Kyuhyun dari arah belakang.

***

“Dasar pembohong. Selalu mengatakan bahwa dirinya adalah pria paling kuat, tetapi hanya dengan kecelakaan, langsung terbaring seperti ini.” Ucap Sooyoung pada Donghae yang masih terlelap.

“Apa kau yakin, dia akan bertahan?” Tanya Jessica yang ikut duduk berseberangan dengan Sooyoung.

“Bertahan ataupun tidak, keduanya sama-sama tidak penting bagiku.” Jawab Sooyoung, menatap wajah kakaknya dengan kesal.

“Hei, kau tidak boleh berkata seperti itu. Bagaimanapun juga, Donghae adalah kakakmu. Kau harus mendoakannya agar dia lekas sembuh.” Ujar Jessica.

“Entahlah. Aku tidak pernah menyukainya. Dia hanya kakak angkatku, yang mencuri semua perhatian ayah dan ibuku.” Ucap Sooyoung.

“Soo…”

“Mungkin, aku adalah orang pertama di dunia yang mengalami nasib seperti ini. Dimana, kedua orangtuaku lebih menyayangi anak angkatnya daripada anak kandungnya.” Jelas Sooyoung memotong ucapan Jessica.

“Sudahlah Soo… Disaat seperti ini, rasanya tidak pantas untuk membahas hal itu. Lagipula, perhatian yang dia berikan kepadamu, justru melebihi perhatian yang diberikan oleh paman dan bibi.” Balas Jessica.

“Tetap saja. Bagiku, bukan perhatian dari seorang kakak yang penting, tetapi perhatian dari ayah dan ibu.” Sanggah Sooyoung.

Jessica memilih diam, karena ia sangat paham bahwa beradu argumen dengan Sooyoung bukanlah hal yang mudah. Disisi lain, roh Kyuhyun sedari tadi mengamati dan mendengarkan apa yang Sooyoung dan Jessica bicarakan. Sesekali roh Kyuhyun menganggukkan kepalanya seolah-olah memahami apa yang dibicarakan oleh dua orang gadis di depannya, menyangkut pria bernama Donghae yang kini masih tak sadarkan diri.

***

“Untuk apa kau datang kesini?” Tanya Nyonya Cho, ibu Kyuhyun.

“A-aku.. aku ingin melihat..”

“Tidak ada yang perlu kau lihat, dan kau tidak pantas untuk menampakkan dirimu disini.” Potong Nyonya Cho dingin.

“Bibi…”

“Aku minta, agar kau tidak pernah menemui Kyuhyun. Kau hanya memberikan penderitaan saja untuknya.” Ucap Nyonya Cho dengan sinis.

“Iya. Aku mengerti. Tapi tolong, ijinkan aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya.” Pinta Seohyun dengan nada penuh harap.

“Tidak. Pergilah. Tidak perlu ada perpisahan diantara kalian.” Tolak Nyonya Cho.

Seohyun menitikkan air matanya, kemudian perlahan-lahan berlutut di hadapan Nyonya Cho. Bahunya bergetar karena tangisnya yang pecah begitu saja.

“Kumohon, bibi. Aku janji, ini adalah yang terakhir.” Pinta Seohyun dengan lirih.

“Ibu, sebaiknya kita biarkan saja dia bertemu Kyuhyun. Dia sudah berjanji bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya.” Saran Cho Ahra kepada Nyonya Cho.

“Tapi…”

“Ibu…” Potong Cho Ahra, memberikan tatapan memohon kepada Nyonya Cho.

“Baiklah. Tapi hanya sebentar. Setelah itu, pergilah dan jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan kami semua.” Ucap Nyonya Cho dengan tegas.

Seohyun menghembuskan nafas lega, tersenyum dalam tangisnya setelah mendengar ucapan Nyonya Cho.

“Terima kasih, bibi. Aku janji, ini adalah yang terakhir kalinya.” Balas Seohyun sambil tersenyum pahit.

Ditempat lain, dua pasang mata sedang mengamati apa yang terjadi di depan sana. Roh Kyuhyun tampak murung saat melihat kejadian tersebut. Sedangkan Sooyoung, gadis itu bersembunyi dibalik sebuah tembok agar bisa mengintip dan mendengar percakapan tiga orang itu.

“Tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali.” Ucap roh Kyuhyun kemudian pergi meninggalkan Sooyoung.

Sooyoung tidak perlu menanyakan kemana roh Kyuhyun akan pergi, karena sudah terlihat jelas bahwa temannya itu berjalan menuju kamar dimana raganya sedang beristirahat.

***

“Dia datang untuk meminta maaf dan berpamitan.” Ucap roh Kyuhyun. Saat ini roh Kyuhyun dan Sooyoung sedang duduk di taman rumah sakit, tempat dimana kemarin lusa mereka bertemu.

“Dia itu…”

“Seohyun. Mantan kekasihku.” Potong roh Kyuhyun.

“Oh. Jadi dia adalah mantan kekasihmu. Kalau aku boleh tahu, memangnya apa yang terjadi diantara kalian? Kulihat, ibumu sangat membenci Seohyun.” Tanya Sooyoung.

Kyuhyun tertawa pelan. “Oia, aku kan sudah berjanji akan memberitahukannya kepadamu.” Jawab roh Kyuhyun.

Sooyoung hanya mengangguk pelan, memberikan kesempatan kepada roh Kyuhyun untuk menjelaskan.

“Aku dan Seohyun, sudah lima tahun kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Untuk waktu yang cukup lama, kami sudah sangat mengenal satu sama lain. Namun beberapa waktu yang lalu, Seohyun meminta agar aku mengakhiri hubungan ini. Ia mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan seorang pria pilihan kedua orangtuanya. Intinya, Seohyun dijodohkan dengan latar belakang kerjasama perusahaan. Sebentar saja, dia menghancurkan semuanya. Termasuk ibuku, yang sudah sangat menyayangi Seohyun seperti menyayangi putrinya sendiri. Sebulan setelahnya, dia kembali datang menemuiku untuk memberikan sebuah undangan pernikahan, dan aku memutuskan untuk datang. Aku menyadari, bahwa pada saat itu aku adalah orang yang sangat munafik. Aku tersenyum bahagia menyaksikan pemberkatan pernikahannya, namun hanya aku yang bisa merasakan bagaimana rasa sakit dihati ini. Dan mungkin, aku terlalu terbawa perasaan, sampai-sampai aku mengalami kecelakaan sepulang dari acara pernikahan Seohyun. Hingga akhirnya aku mengalami masa koma, dan ibuku terus menyalahkan Seohyun atas kecelakaan yang telah kualami.” Jelas roh Kyuhyun menatap kosong ke arah depan.

“Lalu, tadi dia berpamitan untuk pergi kemana?” Tanya Sooyoung dengan hati-hati.

Kyuhyun menghembuskan nafas dengan panjang. “Dia ingin tinggal dan menetap di Amerika, mengikuti jejak suaminya.” Jawab roh Kyuhyun dengan suara lirih.

“K-kau masih mencintainya?” Tanya Sooyoung dengan gugup, melihat raut wajah roh Kyuhyun yang murung.

Roh Kyuhyun tersenyum. “Jujur, yang ada disini bukan lagi rasa cinta. Sekarang, aku sedang berada dalam tahap melepaskan seseorang yang aku cintai, jadi rasanya lumayan sakit.” Jawab roh Kyuhyun sambil memegang dadanya.

“Aku hanya berusaha untuk menjadi seorang pria yang bertanggungjawab. Selama ini, kami memulai dan menjalaninya dengan bahagia. Maka dari itu, aku juga harus melepaskannya dengan bahagia.” Sambung roh Kyuhyun.

Perkataan roh Kyuhyun rupanya membuat hati Sooyoung cukup tersentuh, sampai-sampai gadis itu tersenyum menatap roh Kyuhyun.

“Cepatlah kembali ke tubuhmu, agar aku tidak seperti orang gila lagi yang berbicara sendiri seperti ini.” Ucap Sooyoung.

Kyuhyun terkekeh pelan. “Entahlah. Rasanya, aku ingin pergi selamanya saja tanpa menjadi roh yang berkeliaran seperti ini. Karena tidak ada bedanya, saat menjadi manusia biasa maupun roh, perasaan yang aku rasakan masih tetap sama.” Balas roh Kyuhyun sambil menatap ke arah langit.

Sooyoung tidak membalas ucapan roh Kyuhyun, melainkan hanya membenarkan dalam hatinya saja. Sesaat gadis itu menoleh ke arah roh Kyuhyun yang masih mengamati langit.

“Secepatnya, kembalilah ke tubuhmu.” Ucap Sooyoung dalam hati.

***

“Dia tampan sekali ya.” Ucap roh Kyuhyun kepada Sooyoung yang sedang mengamati raganya.

“Huh, dasar sombong.” Balas Sooyoung dengan ketus. “Dia itu tidak tampan. Bahkan disaat tertidur pun, wajahnya tampak menyebalkan.” Ledek Sooyoung membuat tawa roh Kyuhyun pecah.

“Tapi kau menatapnya lumayan lama, nona Choi.” Balas roh Kyuhyun sambil menyeringai nakal.

“Hah, terserah kau saja. Kau ini memang sangat keras kepala.” Omel Sooyoung.

Mendengar omelan Sooyoung, roh Kyuhyun justru semakin mengeraskan tawanya. Dan pastinya yang bisa mendengarnya hanya Sooyoung seorang. Sementara roh Kyuhyun sibuk tertawa, diam-diam Sooyoung sedang berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan detak jantungnya yang entah sejak kapan sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Emm… aku pulang ke rumahku dulu. Nanti malam aku akan bermalam disini.” Ucap Sooyoung kepada roh Kyuhyun.

“Hah… syukurlah kalau kau nanti akan menginap. Aku jadi tidak sendirian.” Respon roh Kyuhyun dengan gembira.

Sooyoung mengerutkan bibirnya. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” Pamit Sooyoung sambil berjalan menuju pintu.

“Ya. Hati-hati, nona!” Seru roh Kyuhyun saat Sooyoung hendak menutup pintu dari arah luar.

Tepat setelah Sooyoung menutup pintu, sebuah suara menyapanya, membuat ia sedikit terkejut.

“Maaf, kau siapa?” Tanya Cho Ahra, kakak Kyuhyun.

“Mmmh.. aku.. aku Choi Sooyoung, teman Kyuhyun.” Jawab Sooyoung dengan gugup.

Ahra mengangguk pelan. “Oh. Kau datang untuk menjenguk Kyuhyun?” Tanya Ahra.

“Iya.” Jawab Sooyoung sambil tersenyum ramah. “Kudengar, Kyuhyun mengalami kecelakaan cukup parah. Jadi, aku ingin sekali melihat keadaannya.” Jelas Sooyoung.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguknya. Mohon doa untuk kesembuhannya.” Balas Ahra, memberikan senyum tulus pada Sooyoung.

“Iya, pasti akan kudoakan.” Sahut Sooyoung.

“Ehmm.. kakak, kalau begitu aku pamit pulang dulu.” Ucap Sooyoung dengan sopan.

“Ah, iya. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih.” Balas Ahra sambil tersenyum.

“Sama-sama.” Sooyoung membalas senyuman Ahra, kemudian pergi meninggalkan kamar dimana Kyuhyun dirawat.

***

“Sudah hampir dua minggu aku menginap setiap malam disini. Hei! Apa kau tidak kasihan kepadaku? Setiap malam aku hanya tidur di sofa hanya demi menjagamu.” Omel Sooyoung kepada Donghae yang masih terjaga dalam tidur panjangnya.

“Bukannya aku sudah pernah katakan, bahwa aku sangat benci dengan aroma rumah sakit. Hemm, jangan-jangan kau sengaja melakukan ini. Kau pasti ingin balas dendam, karena selama ini aku tidak pernah bersikap baik padamu.” Ujar Sooyoung, menatap Donghae dengan tatapan sinis.

“Atau, kau ingin menarik simpatiku, agar aku bisa bersikap baik kepadamu. Cih, tidak mempan!” Sooyoung melipat kedua tangannya di depan dada.

Sooyoung mendekatkan bibirnya ke telinga Donghae. “Dengarkan aku, Donghae. Semua caramu ini sia-sia. Jadi, cepatlah bangun. Aku tidak suka bersaing dengan mayat hidup sepertimu.” Bisik Sooyoung.

Setelah berbisik, Sooyoung beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana. Gadis itu sudah membawa peralatan tidurnya, yaitu berupa selimut dan bantal. Saat hendak memejamkan kedua matanya, Sooyoung tersadar akan sesuatu.

“Kemana Kyuhyun? Tumben, biasanya dia selalu datang kesini untuk menemuiku.” Gumam Sooyoung.

“Ah, tapi biarkan saja. Tidak ada dia itu lebih menyenangkan. Aku jadi bisa tidur nyenyak.” Ucap Sooyoung, kemudian mulai memejamkan kedua matanya.

Tanpa sepengetahuan Sooyoung, perlahan-lahan jemari Donghae mulai bergerak-gerak. Beberapa saat kemudian, roh Kyuhyun juga tiba disana dan mendapati Sooyoung yang sudah tertidur lelap. Roh Kyuhyun juga menyaksikan pergerakan yang dilakukan oleh Donghae. Sebenarnya ia ingin sekali membangunkan Sooyoung, namun tampaknya gadis itu sangat membutuhkan istirahat. Roh Kyuhyun pun memutuskan untuk duduk di sebelah Sooyoung, mengamati wajah damai seorang gadis yang sedang terlelap.

“Seandainya aku boleh mengucapkan sebuah permintaan, aku ingin meminta agar lebih dulu dipertemukan denganmu, bukan dengan Seohyun.” Ucap roh Kyuhyun sambil tersenyum menatap Sooyoung.

***

“Soo… apa kau sudah selesai?” Seru Jessica dari luar kamar mandi.

“Iya! Tunggu sebentar!” Jawab Sooyoung.

Hari ini adalah hari Minggu. Sooyoung dan Jessica berencana untuk pergi ke gereja bersama-sama, namun kali ini mereka bersiap-siap di rumah sakit. Dan untuk urusan menjaga Donghae, sudah teratasi dengan kunjungan dua orang sahabat dekat kakaknya itu, yaitu Leeteuk dan Eunhyuk.

“Hah… selesai. Ayo kita pergi!” Ucap Sooyoung begitu keluar dari kamar mandi.

“Eh, tunggu sebentar. Aku ingin buang air kecil. Tunggu aku ya.” Ucap Jessica sambil memberikan tasnya.

“Hei, Choi Sooyoung!” Panggil sebuah suara.

“K-kau.” Ucap Sooyoung kepada roh Kyuhyun yang berada di luar ruang toilet.

“Sekarang kan hari Minggu. Apa kau juga bekerja di hari libur?” Tanya roh Kyuhyun.

“Ck. Kau ini! Hari ini adalah jadwal untuk pergi ke gereja.” Jawab Sooyoung dengan ketus.

“Hehe… Maaf, aku lupa.” Roh Kyuhyun terkekeh pelan.

“Kalau begitu, jangan lupa doakan aku ya, agar aku cepat bersatu dengan ragaku.” Pinta roh Kyuhyun sambil menautkan kesepuluh jarinya di depan dada.

“Iya…” Sahut Sooyoung tak acuh.

“Doakan kakakmu juga, agar dia bisa cepat sembuh.” Tambah roh Kyuhyun.

“Kalau dia sembuh, kau tidak akan menderita lagi karena harus bermalam setiap hari di rumah sakit.” Roh Kyuhyun memotong kesempatan Sooyoung yang hendak protes.

“Kau pasti akan kembali kesini kan, sepulang dari gereja?” Tanya roh Kyuhyun.

“Sudah pasti. Karena aku harus menjaga putra kesayangan ayah dan ibu.” Jawab Sooyoung dengan penuh penekanan.

“Youngie…” Panggil Jessica sambil berjalan keluar toilet.

“Ah, disini kau rupanya. Ayo, kita pergi.” Ajak Jessica, mengambil tas miliknya dari tangan Sooyoung.

“Iya, ayo.” Sahut Sooyoung yang sempat memberikan senyuman selamat tinggal sebelum pergi meninggalkan roh Kyuhyun.

Sepeninggal Sooyoung dan Jessica, roh Kyuhyun mengernyitkan dahinya, seperti lupa akan sesuatu.

“Astaga! Aku lupa memberitahukannya!” Pekik roh Kyuhyun sambil menepuk keningnya.

Roh Kyuhyun sangat menyesali kesalahannya yang telah lupa memberitahukan Sooyoung bahwa semalam, beberapa kali Donghae sempat menggerakkan jari-jarinya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruangan dimana raganya terbaring.

***

“Soo…” Panggil Donghae.

Sooyoung terdiam, hanya menatap Donghae sebagai balasan panggilan kakaknya.

“Apa kau akan bahagia, jika aku pergi?” Tanya Donghae.

“Apa maksudmu?” Tanya Sooyoung.

“Aku akan pergi, jika memang kepergianku akan membuatmu hidupmu bahagia.” Jawab Donghae.

“Cih! Katakan saja bahwa kau tidak sanggup menghadapiku.” Ucap Sooyoung dengan sinis.

“Bukannya aku tidak sanggup. Aku hanya merasa tidak pantas untuk menjadi kakakmu, karena kehadiranku hanya membawa penderitaan untukmu. Jadi, orang yang sangat pantas untuk pergi adalah aku.” Ujar Donghae dengan lirih.

“Mengapa? Mengapa kau baru menyadarinya sekarang? Semenjak ayah dan ibu memperkenalkanmu sebagai anggota keluarga baru, aku sudah memiliki firasat buruk karena kau pasti akan mendapatkan perhatian lebih dari kedua orangtuaku!” Balas Sooyoung dengan penuh emosi.

“Aku membencimu, Donghae. Aku sangat membencimu.” Ucap Sooyoung dengan tangis yang sudah pecah.

“Maafkan aku. Maaf atas kehadiranku di tengah-tengah kalian.” Ucap Donghae yang juga sudah menitikkan air mata.

“Lalu, sekarang apa maumu? Kau ingin mencampakkan semuanya begitu saja, setelah kau berhasil mendapatkan semua perhatian dari ayah dan ibu?! Kau benar-benar brengsek!” Bentak Sooyoung, dengan kedua bahu yang sudah naik turun akibat emosinya.

“Maafkan aku.” Ucap Donghae, kemudian berbalik arah dan berjalan meninggalkan Sooyoung.

“Yak! Donghae! Jangan pergi! Dasar bodoh! Apa kau tidak melihat bagaimana ayah dan ibu sangat mengkhawatirkanmu? Berapa banyak air mata yang sudah mereka keluarkan hanya untuk menangisimu? Donghae! Kau tidak bisa pergi begitu saja, Donghae! Donghae!!!” Jerit Sooyoung yang semakin kencang, menyadari bahwa Donghae berjalan semakin jauh, bahkan sudah tidak terlihat karena tenggelam dalam kegelapan.

“Donghae… kau tidak boleh pergi, Donghae. Donghae!!!” Jerit Sooyoung sekencang-kencangnya.

Beberapa detik kemudian Sooyoung mengerjapkan kedua matanya berulang kali, lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

“Ternyata hanya mimpi.” Gumam Sooyoung dengan nafas yang belum teratur, kemudian menatap tubuhnya yang masih mengenakan seatbelt.

Tak berapa lama, pintu mobil terbuka disusul dengan Jessica yang masuk ke dalam sambil membawa beberapa kantong plastik.

“Hei, Youngie. Kau sudah bangun. Maaf ya meninggalkanmu di mobil. Aku harus membeli beberapa pesanan Leeteuk dan Eunhyuk, jadi aku mampir sebentar ke minimarket.” Jelas Jessica kepada Sooyoung yang masih agak shock.

“Kau tidur nyenyak sekali. Tahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.” Sambung Jessica dan hanya dibalas anggukan oleh Sooyoung.

***

Sooyoung dan Jessica sudah sampai di rumah sakit. Namun, baru saja keluar dari lift, Sooyoung sudah melihat dari jauh dimana ayah, ibu, beserta Leeteuk dan Eunhyuk sedang berada di depan ruangan Donghae. Ia pun setengah berlari menghampiri ayah dan ibunya. Jessica yang berada di belakang Sooyoung pun ikut berlari.

“Ayah, ibu, apa yang terjadi? Mengapa kalian semua ada di luar?” Tanya Sooyoung penuh kecemasan.

“Donghae… dia sudah sadar.” Jawab Tuan Choi ditambah senyuman bahagia dari Nyonya Choi.

Sooyoung bergerak mundur, menjauhkan diri dari kedua orangtuanya. Namun ia justru berdiri tepat di depan pintu kamar rawat Donghae.

“Kau bilang, kau akan pergi. Bahkan tadi kau sudah tidak terlihat lagi. Tapi, sekarang kau datang kembali. Ternyata, kau masih memiliki nyali untuk bersaing denganku.” Ucap Sooyoung dengan suara sangat pelan.

“Kyuhyun, dia sudah sadar. Rupanya, Tuhan mengabulkan doaku sangat cepat.” Gumam Sooyoung yang pada saat itu sudah menangis sambil tersenyum.

***

“Syukurlah, kalau kakakmu sudah siuman.” Ucap roh Kyuhyun yang saat ini sedang duduk di bangku taman bersama Sooyoung.

“Hem. Ayah dan ibu sangat senang mengetahui kabar baik ini.” Balas Sooyoung.

“Kau juga senang kan?” Tanya roh Kyuhyun.

“Ah, a-aku…”

“Sudah pasti kau juga merasa senang. Ayolah Soo, jujur saja. Kau bisa menyembunyikan perasaanmu dari semua orang, kecuali aku.” Potong roh Kyuhyun.

“A-aku tidak merasakan apa-apa. Perasaanku biasa-biasa saja.” Balas Sooyoung dengan nada santai.

Kyuhyun terkekeh pelan. “Baiklah, biar itu menjadi rahasiamu dengan Tuhan saja.” Ucap roh Kyuhyun.

“Oia, apa kau mendoakanku juga? Jika Donghae sadar karena doamu, berarti sebentar lagi giliranku yang akan sadar.” Sambung roh Kyuhyun, menatap Sooyoung dengan tatapan ingin tahu.

Sooyoung menghembuskan nafas panjang. “Ya. Aku juga mendoakanmu.” Ucap Sooyoung.

“Yeah! Semoga saja, doamu untukku juga akan segera dikabulkan! Terima kasih, Sooyoung!” Seru roh Kyuhyun dengan semangat.

“Oia, aku harus pergi dulu. Sepertinya, ayah dan ibu sudah datang. Sampai bertemu lagi!” Pamit roh Kyuhyun yang langsung berlari meninggalkan Sooyoung.

“Yak! Cho Kyuhyun! Mengajakku kesini, tapi seenaknya saja meninggalkanku.” Gerutu Sooyoung.

Merasa kesal karena ditinggal pergi begitu saja oleh roh Kyuhyun, Sooyoung pun memutuskan untuk pergi juga dari taman itu. Tapi, belum sempat ia berdiri, seseorang sudah lebih dulu menyapanya.

“Sooyoung… bisa kau jelaskan apa yang baru saja terjadi?” Pinta Ahra kepada Sooyoung yang sudah berdiri mematung.

***

“Sulit untuk dipercaya.” Ucap Ahra.

Saat ini Ahra sedang duduk di sebuah kafe rumah sakit bersama dengan Sooyoung.

“Ya, begitulah. Aku sendiri, sempat tidak mempercayai bahwa aku bisa melihat roh Kyuhyun. Namun, ketika aku ingin mengabaikannya, Kyuhyun selalu datang kepadaku. Dia meminta, agar aku mengijinkannya untuk selalu berada di dekatku. Itu karena, hanya aku satu-satunya manusia yang bisa melihat dan mendengarkannya.” Jelas Sooyoung.

Kedua mata Ahra mulai berkaca-kaca. “Apa, dia baik-baik saja?” Tanya Ahra menatap Sooyoung dengan tatapan sedih.

Sooyoung tersenyum. “Dia baik-baik saja. Walaupun, sebelumnya dia sempat berpikir ingin meninggalkan kehidupan ini.” Jawab Sooyoung.

“Tapi tenanglah, Kyuhyun sekarang sudah jauh lebih baik. Dia sangat bersemangat, berusaha agar rohnya bisa bersatu dengan raganya.” Tambah Sooyoung dengan penuh keyakinan.

“Lalu, apa dia pernah bercerita tentang Seohyun?” Tanya Ahra dengan hati-hati.

Sooyoung mengangguk pelan. “Dia sudah memaafkan Seohyun. Untuk saat ini, dia sedang berusaha untuk melepaskan Seohyun dengan bahagia.” Jawab Sooyoung, teringat kembali akan perkataan roh Kyuhyun tentang Seohyun.

“Syukurlah. Kupikir, dia akan terus berlarut dalam masalahnya dengan Seohyun.” Ucap Ahra sambil menghembuskan nafas lega.

“Emm, lalu, apa kau juga sakit? Kenapa kau sering berada di rumah sakit ini?” Tanya Ahra.

“Ah, tidak. Bukan aku yang sakit. Hanya saja, kakakku sedang dirawat disini.” Jawab Sooyoung dengan sopan.

“Oh..” Sahut Ahra.

“Sooyoung, aku mohon, tolong jaga Kyuhyun. Tolong temani Kyuhyun, dimanapun dia berada.” Pinta Ahra dengan wajah penuh harap.

“Tenang saja, kakak. Aku akan selalu menemaninya.” Jawab Sooyoung sambil tersenyum.

“Apakah, sekarang dia ada disini?” Tanya Ahra dengan suara agak pelan.

Sooyoung mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari sosok roh Kyuhyun. “Tidak ada.” Jawab Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya.

“Mungkin saja dia masih berada di kamar rawatnya. Dia tadi berpamitan untuk melihat ayah dan ibunya.” Sambung Sooyoung.

“Oh, iya. Aku lupa. Ayah dan ibu saat ini sedang menjenguknya.” Sahut Ahra sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Dan, kalau ada informasi penting tentangnya, tolong beritahu aku ya.” Ucap Ahra sambil memakai tasnya dan beranjak dari duduknya.

“Iya, kakak.” Sahut Sooyoung sambil tersenyum.

“Bye! Sampai bertemu lagi!” Seru Ahra sambil berjalan meninggalkan Sooyoung.

“Hemm. Wajah mereka berdua ternyata sangat mirip.” Gumam Sooyoung kemudian menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit.

***

“Ibu… d-dimana Sooyoung?” Tanya Donghae yang masih sulit untuk berbicara.

“Dia tadi berpamitan untuk makan.” Jawab Nyonya Choi.

Saat ini kondisi Donghae sudah lumayan membaik. Tidak disangka, hari adalah hari keberuntungannya setelah mengalami masa kritis yang cukup panjang. Sebenarnya, sekarang adalah waktu untuk dirinya beristirahat. Namun, Donghae tidak bisa memejamkan kedua matanya, sebelum memastikan keadaan seseorang yang sangat ingin dilihatnya baik-baik saja.

“Tidurlah, nak. Sudah waktunya kau untuk beristirahat.” Perintah Nyonya Choi.

“T-tidak ibu. Aku ingin menunggu Sooyoung. Lagipula, aku belum mengantuk.” Sahut Donghae dengan perlahan-lahan.

“Sudahlah. Sudah lima jam dia pergi, mungkin saja dia sudah pulang ke rumah.” Ucap Nyonya Choi.

“Ingat pesan dokter Shim, kau harus banyak beristirahat agar tubuhmu bisa cepat pulih.” Tambah Nyonya Choi.

Donghae menghembuskan nafas dengan panjang. Pria itu mencoba menuruti perkataan ibunya, namun kedua matanya tetap tidak berhasil terpejam. Saat ini, ia sangat ingin bertemu dengan Sooyoung. Memastikan bahwa adik tersayangnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Ah, ternyata tidak hanya itu. Donghae sangat rindu melihat wajah Sooyoung ketika sedang marah dan melawannya.

Ditempat lain, roh Kyuhyun sedang mengamati gadis di sampingnya yang sedari tadi hanya melamun saja. Beberapa saat yang lalu, setelah roh Kyuhyun melihat kedua orangtuanya, ia pergi menemui Sooyoung. Namun untuk beberapa saat, ia tidak berhasil menemukan gadis itu dimana-mana. Tetapi pada akhirnya, roh Kyuhyun dapat menemukan Sooyoung yang ternyata berada di balkon lantai teratas rumah sakit.

“Sampai kapan kau akan terus bersembunyi disini? Apa kau tidak ingin bertemu kakakmu?” Tanya roh Kyuhyun kepada Sooyoung yang sedang duduk sambil menekuk dan memeluk kedua lututnya.

“Aku tidak bersembunyi. Aku hanya ingin menyendiri.” Jawab Sooyoung tanpa mengalihkan tatapannya.

Roh Kyuhyun ikut duduk di atas lantai balkon bersama dengan Sooyoung.

“Pergilah, temui dia. Dia sangat merindukanmu. Bahkan dia tidak bisa tidur karena belum melihatmu.” Ucap roh Kyuhyun, sukses membuat Sooyoung menoleh ke arahnya.

“Kau tahu darimana, kalau Donghae merindukanku?” Tanya Sooyoung.

“Hei. Kau lupa ya siapa aku.” Jawab roh Kyuhyun, menaikkan sebelah alisnya.

“Tadi aku mencarimu ke kamar rawat Donghae, dan aku mendengarkan sedikit pembicaraan mereka.” Jelas roh Kyuhyun.

“Ayolah, temui dia. Apa kau tega membuat dia tidak tidur hanya demi menunggumu datang?” Roh Kyuhyun bangkit berdiri.

“Walaupun kalian tidak terlahir dari rahim yang sama, kau tidak boleh bersikap seperti itu padanya. Bagaimanapun juga, kalian dibesarkan oleh orangtua yang sama. Jadi, cobalah dengan perlahan-lahan untuk menerimanya dalam kehidupanmu.” Pesan roh Kyuhyun, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sooyoung.

Sepeninggal roh Kyuhyun, Sooyoung menundukkan kepalanya, memeluk kedua lututnya lebih erat lagi. Perlahan-lahan tangis gadis itu pun mulai pecah.

***

Sooyoung menutup pintu dengan gerakan perlahan, berusaha agar sang penghuni kamar tidak terganggu. Beberapa menit yang lalu, ibunya berpesan melalui telepon agar ia segera datang ke kamar untuk menjaga Donghae.

Gadis itu tidak berniat untuk langsung tidur, melainkan mengambil tempat untuk duduk di sebelah ranjang Donghae. Ia mengamati kakaknya yang sedang tertidur nyenyak itu. Seketika hati Sooyoung merasa lega saat melihat wajah damai Donghae. Ia menopang dagunya, tanpa mengalihkan tatapannya dari pria itu. Kemudian, sekelebat beberapa bayangan masa lalu datang menghampirinya.

Tiga belas tahun yang lalu, kedua orangtua Sooyoung tiba-tiba membawa seorang laki-laki yang sudah menginjak usia remaja, kemudian memperkenalkannya sebagai anggota baru di keluarga Choi. Sooyoung yang pada saat itu baru saja pulang dari sekolah, mengabaikan pengumuman dari ayah dan ibunya begitu saja. Hanya beberapa detik saja Sooyoung mau bertatapan dengan Donghae, tanpa mau membalas uluran tangan kakak angkatnya itu.

Semenjak itu, Sooyoung menjadi sosok yang sangat dingin. Apalagi ketika Tuan dan Nyonya Cho memutuskan untuk menetap di Paris untuk keperluan bisnis. Mereka mempercayai Sooyoung kepada Donghae yang ditugaskan untuk menjaga gadis itu. Namun, ternyata tugas dari kedua orangtua angkatnya itu cukup berat. Dimana, seseorang yang dipercayai kepadanya adalah Sooyoung yang tidak pernah menerima kehadirannya.

Setiap hari, perhatian selalu dibalas dengan amarah. Sooyoung tidak pernah suka jika segala urusan hidupnya dicampuri oleh Donghae. Bahkan, gadis itu tidak sudi untuk bersikap baik sedikitpun terhadap Donghae. Seribu macam cara dilakukan Donghae untuk mendekatkan diri dengan adik angkatnya tersebut. Namun, ternyata Sooyoung memiliki lebih dari seribu macam cara untuk menolak Donghae masuk ke dalam kehidupannya.

Awalnya, Sooyoung tidak ingin terlalu membenci Donghae. Namun, kebencian itu terkumpul sedikit demi sedikit ketika Sooyoung menyaksikan sendiri bagaimana cara ayah dan ibunya memberikan perhatian kepada Donghae. Apa yang didapatkan Donghae, berbeda jauh dengan apa yang ia dapatkan. Gadis itu bahkan sampai bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya berstatus sebagai anak kandung di keluarga Choi ini.

Sooyoung menengadahkan kepalanya ke atas, berusaha menahan air matanya yang sudah menggantung di pelupuk kedua matanya. Rasa bersalah tiba-tiba menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam. Walaupun Sooyoung selalu menolak Donghae secara terang-terangan, namun sebenarnya gadis itu menyadari niat baik kakaknya tersebut.

Ia ingat, selama beberapa tahun pulang-pergi sekolah dengan menggunakan bus umum, demi menghindari jasa antar-jemput yang dilakukan oleh Donghae. Tapi kakaknya itu ternyata seseorang yang pantang menyerah. Walaupun dirinya sudah menggunakan bus, Sooyoung tahu kalau setiap hari Donghae selalu mengawasinya, baik melakukannya sendiri maupun menyuruh orang lain.

Sooyoung tersenyum, ia sudah tidak peduli lagi dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Gadis itu tersenyum dalam tangisnya, menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Perlahan-lahan, disentuhnya jemari Donghae kemudian diremasnya dengan lembut.

“Terima kasih, sudah kembali. Aku janji, akan mencobanya, jadi kau tidak perlu pergi meninggalkan kami.” Ucap Sooyoung dengan suara sepelan mungkin.

Perlahan-lahan, Sooyoung merebahkan kepalanya tepat di sebelah lengan Donghae tanpa melepaskan genggamannya pada pria itu. Lambat laun, kedua mata milik gadis itu mulai terpejam, bersiap untuk memasuki alam bawah sadarnya. Beberapa saat setelah Sooyoung tertidur, Donghae justru terbangun dari tidurnya karena merasakan ada yang menggenggam tangannya. Ia tersenyum saat melihat sosok yang sedari tadi dinantinya, kini berada di sampingnya dan menggenggam erat tangannya.

“Syukurlah kau baik-baik saja. Terima kasih, Sooyoung.” Ucap Donghae dengan suara pelan, kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk membelai kepala Sooyoung.

Tanpa disadari keduanya, roh Kyuhyun tersenyum melihat dua orang yang sedang memulai untuk saling menerima satu sama lain. Merasa tidak pantas untuk mengganggu kedekatan mereka berdua, roh Kyuhyun pergi kembali ke kamar rawatnya.

***

Pagi harinya, ketika Sooyoung hendak pergi meninggalkan rumah sakit, roh Kyuhyun sudah berdiri menunggunya di depan kamar rawat Donghae. Sooyoung pun mengikuti langkah roh Kyuhyun  menuju taman rumah sakit.

“Ada apa?” Tanya Sooyoung.

“Aku minta bantuanmu.” Jawab roh Kyuhyun.

“Bantuan apa?” Tanya Sooyoung menatap serius roh Kyuhyun.

“Kudengar dari Ahra, sore ini Seohyun akan pergi ke Amerika.” Ucap roh Kyuhyun.

“Lalu?”

“Tolong hubungi Ahra, lalu minta dia untuk mengambilkan liontin yang ada di dalam laci lemariku. Setelah itu, aku minta tolong, berikan liontin itu kepada Seohyun.” Jelas roh Kyuhyun.

“Aku? Yang memberikan liontin itu kepada Seohyun?” Tanya Sooyoung sambil menunjuk dirinya sendiri.

Kyuhyun mengangguk. “Aku tidak yakin jika Ahra yang akan mengembalikan liontin itu. Ayolah, kumohon.” Pinta roh Kyuhyun.

“Baiklah! Tapi.. apa yang akan aku katakan saat bertemu Seohyun nanti?” Tanya Sooyoung, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

Roh Kyuhyun tersenyum penuh arti saat mendengar Sooyoung yang akhirnya mau membantunya. Ia pun mulai memberitahu apa yang harus gadis itu lakukan.

***

“Jadi, Kyuhyun memintamu untuk mengembalikan kalung milik Seohyun?” Tanya Ahra.

“Iya. Maka dari itu, aku minta tolong kepada kakak agar mengambilkan liontin milik Seohyun. Dia meletakkannya di laci lemarinya.” Terang Sooyoung.

“Oh, iya. Nanti akan aku ambilkan.” Balas Ahra.

“Emm, kalau begitu nanti kita akan bertemu dimana, kakak?” Tanya Sooyoung.

“Bagaimana kalau aku menjemputmu di depan rumah sakit saja? Karena aku tidak tahu dimana rumahmu. Setelah itu, aku juga akan mengantarmu ke Bandara.” Jelas Ahra.

“Oh, baiklah kalau begitu. Sampai bertemu nanti.” Ucap Sooyoung, kemudian memutuskan percakapannya dengan Ahra melalui telepon.

***

Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, namun tidak dapat menemukan Sooyoung. Justru ibunya yang terlihat sedang sibuk merapikan beberapa barang-barang.

“Ibu, dimana Sooyoung?” Tanya Donghae.

“Pagi-pagi sekali dia sudah berpamitan untuk pulang ke rumah.” Jawab Nyonya Choi.

Donghae mengulum senyumnya, menyadari bahwa kejadian semalam saat Sooyoung menemaninya tidur, itu bukan mimpi.

“Kenapa ibu merapikan barang-barang itu?” Tanya Donghae lagi.

“Ah, kau belum tahu rupanya. Hari ini kau sudah bisa pindah ke ruang perawatan biasa, karena kondisimu sudah mulai membaik.” Jawab Nyonya Choi sambil tersenyum.

“Oh…” Sahut Donghae.

***

Sooyoung melangkahkan kedua kakinya dengan malas. Entah kenapa, pagi hari ini tubuhnya terasa tidak enak. Mungkin saja ini efek dari aktivitas yang ia jalani belakangan ini, yaitu bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit. Keadaan rumahnya sangat sepi untuk waktu sepagi ini. Maklum saja, ayahnya dipastikan sudah sibuk di kantor, sedangkan ibunya di rumah sakit menemani Donghae yang hari ini kabarnya akan pindah ruangan.

Setelah melewati ruang tamu yang cukup luas, Sooyoung mulai menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Saat akan menuju kamarnya, kebetulan Sooyoung melewati kamar Donghae yang kebetulan pintunya sedang terbuka. Dengan sedikit ragu-ragu, gadis itu pun masuk ke dalam kamar kakaknya.

“Selamat pagi, nona!” Sapa seorang pelayan wanita yang sedang membereskan kamar Donghae.

“Ya.” Sahut Sooyoung sambil tersenyum.

Sooyoung mengamati tiap sudut kamar yang baru ia ketahui ternyata bernuansa warna hijau, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam lagi. Sooyoung tersenyum pahit menyadari bahwa seumur hidupnya, baru kali ini ia masuk ke dalam kamar milik kakak angkatnya. Sedikit ejekan -adik macam apa aku ini- sempat menohok hatinya sendiri.

Tiba-tiba Sooyoung teringat akan kejadian semasa remajanya, dimana ia menolak mentah-mentah memiliki kamar yang bersebelahan dengan kamar Donghae. Saat itu ia benar-benar emosi karena ayah dan ibunya lebih memilih Sooyoung-lah yang harus pindah kamar daripada Donghae. Seharian penuh Sooyoung memindahkan barang-barangnya ke kamar barunya, yang terletak di sudut lantai dua, dan pastinya jaraknya berjauhan dengan kamar Donghae. Pada saat itu Donghae menawarkan bantuan kepada adik perempuannya itu, namun ditolak mentah-mentah oleh Sooyoung.

Langkah Sooyoung terhenti ketika sampai di depan sebuah rak kaca berukuran cukup besar. Secara langsung Sooyoung dapat melihat bahwa yang tersusun di dalam rak tersebut adalah kado-kado mulai dari ukuran kecil sampai besar. Merasa pernah melihat kado-kado tersebut, Sooyoung pun membuka pintu rak tersebut.

Happy Birthday Choi Sooyoung🙂

God Bless You.

Seketika hati Sooyoung terasa perih saat membaca tulisan pada kado yang berada di urutan pertama. Tulisan tersebut masih sama ketika ia mengambil kado-kado yang lainnya. Sungguh, perasaannya sangat menyesakkan untuk dirasakan. Ia tidak menyangka, Donghae masih menyimpan semua kado yang selalu ditolaknya.

Sooyoung memejamkan kedua matanya, kali ini ia tidak sanggup lagi menahan tangis. Sebuah rasa bersalah pun perlahan menghampiri dirinya. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Donghae selama ini. Mengapa? Mengapa ia tidak bisa menerima kehadiran Donghae lebih awal? Ia terlambat, juga menyesal. Dan yang pasti, Sooyoung sadar bahwa perlakuannya terhadap Donghae mungkin tidak akan termaafkan.

“Tolong pindahkan kado-kado ini ke kamarku.” Perintah Sooyoung kepada pelayan yang masih merapikan kamar Donghae.

“Baik, nona.” Sahut pelayan perempuan itu.

Sooyoung pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia teringat akan permintaan dari roh Kyuhyun yang menyuruhnya untuk menemui Seohyun.

***

Sooyoung berulang kali menatap jam tangannya dengan resah. Hampir satu jam lamanya gadis itu duduk di depan terminal keberangkatan untuk menunggu kedatangan Seohyun. Menurut informasi yang berhasil didapatkan Ahra, Seohyun dan suaminya akan berangkat sore hari ini pukul 17.30, dan Sooyoung sengaja datang lebih awal untuk lebih mempersiapkan dirinya. Sedangkan Ahra memilih untuk menunggu Sooyoung di mobil, gadis itu tidak siap bertemu dengan Seohyun.

Beberapa saat kemudian, samar-samar Sooyoung melihat sosok bertubuh langsing dan cantik tengah berjalan menuju ke arahnya bersama dengan seorang pria. Tatapan Sooyoung mengikuti arah kemana pasangan suami istri tersebut.

Sooyoung bernafas lega. “Huh, syukurlah mereka disana.” Ucap Sooyoung saat melihat Seohyun beserta suaminya duduk pada deretan kursi di seberangnya.

Sesaat Sooyoung menatap liontin yang berada dalam genggamannya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku. Setelah itu, dengan segenap keberaniannya, Sooyoung berjalan menghampiri Seohyun.

“Permisi. Maaf, apa kau ini adalah Seohyun?” Ucap Sooyoung dengan sopan kepada Seohyun.

Seohyun menatap Sooyoung dengan tatapan bingung. “Iya, aku Seohyun. Apa kau mengenalku?” Tanya Seohyun.

“Iya. Bisakah aku mengajakmu berbicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.” Pinta Sooyoung menatap ragu-ragu ke arah suami Seohyun.

Seohyun melirik suaminya. “Ya, aku bisa. Tapi…”

“Pergilah. Aku akan menunggu disini.” Ucap Yonghwa, suami Seohyun sambil tersenyum.

Sooyoung tersenyum. “Terima kasih.” Ucap Sooyoung kepada Yonghwa, lalu memberi isyarat kepada Seohyun agar mengikutinya.

Sooyoung sengaja memilih tempat yang agak jauh sehingga tidak kelihatan dari pandangan Yonghwa. Jadi, agar dia lebih leluasa berbicara dengan wanita di depannya ini.

“Perkenalkan, aku Choi Sooyoung.” Ucap Sooyoung, mengulurkan tangannya.

“Oh, ya. Aku Seohyun. Kau tadi sudah menyebutkan namaku. Apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Seohyun.

“Tidak. Baru kali ini kita bertemu.” Jawab Sooyoung.

“Lalu, hal penting apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?” Tanya Seohyun, menatap Sooyoung dengan bingung.

Sooyoung meraba sakunya, kemudian mengeluarkan liontin yang tadi disimpannya. Liontin tersebut masih digenggam oleh Sooyoung, dan setelah menghembuskan nafas panjang, ia pun membuka kepalan tangannya.

“Ini.” Ucap Sooyoung, menyerahkan liontin tersebut kepada Seohyun.

Seohyun terdiam beberapa saat, menatap liontin di hadapannya dengan tatapan sedih. Perlahan tapi pasti, air mata Seohyun mulai mengalir.

“Maaf, dia tidak bisa langsung mengembalikannya kepadamu. Seperti yang kau ketahui, saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk bertemu denganmu.” Jelas Sooyoung.

Seohyun masih terpaku, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya terasa sakit, menyadari sudah waktunya kalung liontin itu kembali kepadanya.

“Seohyun, ambillah.” Perintah Sooyoung.

Seohyun tersadar dari lamunannya, lalu dengan gerakan cepat mengusap air matanya.” Ah, iya. Terima kasih.” Ucap Seohyun, mengambil liontin miliknya dari tangan Sooyoung.

“Maaf, kalau aku boleh tahu, kau ini siapa? Ah, maksudku, kau memiliki hubungan apa dengan Kyuhyun?” Tanya Seohyun.

Sesaat Sooyoung terdiam sambil menggigit bibirnya. “Emm, aku adalah kekasih Kyuhyun.” Jawab Sooyoung dengan perasaan gugup.

Seketika tubuh Seohyun menegang setelah mendengar jawaban gadis di hadapannya. Sekuat tenaga, ia mencoba menahan air matanya yang ingin mengalir kembali.

Seohyun menghembuskan nafas dengan panjang. “Oh. Bagaimana keadaan Kyuhyun? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Seohyun, berusaha untuk tersenyum.

“Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.” Jawab Sooyoung sambil tersenyum.

“Seohyun, ada hal penting yang ingin aku sampaikan.” Sambung Sooyoung, menatap Seohyun tepat di manik mata.

“Kyuhyun, dia sudah memaafkanmu. Dan sekarang, dia sedang berusaha untuk melepaskanmu dengan bahagia. Jadi, mulai sekarang, kau juga harus melanjutkan hidupmu dengan bahagia.” Ujar Sooyoung.

Seohyun menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Sooyoung yang melihat itu langsung mendekati Seohyun kemudian merangkulnya.

“Aku tahu, ini sangat berat untukmu. Tapi, walau bagaimanapun, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Kyuhyun bisa melakukannya, aku yakin kau juga sanggup.” Ucap Sooyoung sambil mengusap bahu Seohyun.

Seohyun mengangguk, setuju dengan ucapan Sooyoung. “Iya. Aku akan menuruti apa yang dia katakan. Sebenarnya, aku sangat mencintai Kyuhyun. Dia adalah cinta pertamaku. Tetapi, aku akan melanjutkan hidupku dengan bahagia, seperti permintaannya.” Ucap Seohyun sambil sesenggukkan.

Sooyoung tersenyum mendengarnya, ia turut sedih dengan apa yang dialami Seohyun.

“Terima kasih, Sooyoung. Aku cukup lega mendengarnya. Setidaknya, sekarang dia tidak lagi membenciku.” Ucap Seohyun, meraih tangan Sooyoung kemudian menggenggamnya.

Sooyoung mengangguk lalu tersenyum. “Sama-sama.” Balas Sooyoung.

“Maukah kau berjanji untukku?” Pinta Seohyun, menatap Sooyoung dengan tatapan penuh harap.

Sooyoung mengernyitkan dahinya. “Berjanji apa?” Tanya Sooyoung.

“Tolong jaga Kyuhyun. Cintai dia dengan tulus. Kyuhyun adalah pria yang baik.” Jawab Seohyun, tersenyum pahit.

Kedua mata Sooyoung mulai berkaca-kaca. “Ya. Aku akan menjaganya, juga… mencintainya.” Balas Sooyoung dengan perasaan yang sudah berdebar-debar.

“Terima kasih.” Ucap Seohyun, kemudian langsung memeluk tubuh Sooyoung. Sooyoung pun membalas pelukan wanita itu.

“Iya, Seohyun. Aku akan menjaga Kyuhyun, dan mencintainya dengan tulus. Walaupun, dia hanya memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.” Ucap Sooyoung dalam hati, membiarkan air mata turun membasahi wajahnya.

***

Sooyoung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Saat ini gadis itu sudah berada di rumah, tepatnya di dalam kamarnya. Ia tadi sudah menelepon ibunya, meminta maaf karena malam ini tidak bisa menginap di rumah sakit.

Sedari tadi gadis itu menggeser tubuhnya kesana-kesini dengan gelisah. Entah apa yang sedang dicemaskannya. Yang pasti, perkataan Seohyun di Bandara tadi selalu terngiang di kepalanya.

“AAAA! Ada apa denganku!” Pekik Sooyoung sambil mengacak-acak rambutnya.

“Mengapa juga Seohyun harus mengatakannya? Aku kan hanya jadi kekasih bohongan Kyuhyun.” Gumam Sooyoung.

Perlahan-lahan, Sooyoung meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada. Ia bisa merasakan dengan jelas bagaimana detak jantungnya saat ini. Dan baru kali ini, ia memiliki perasaan seperti ini. Tapi… ini salah. Mengapa ia bisa memiliki perasaan ini kepada Kyuhyun? Ah, bukan, tetapi roh Kyuhyun.

“Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta kepada Kyuhyun. Kyaaaaa!!! Ini tidak mungkin!!!” Jerit Sooyoung sambil menendang-nendangkan kedua kakinya dengan kasar.

Dan pada akhirnya, semalaman Sooyoung tidak bisa tidur karena sibuk mengurusi perasaannya.

***

Pagi ini Sooyoung memutuskan untuk tidak pergi ke butik, tempat usaha pribadinya. Ia ingin menggantikan ibunya yang dua hari ini sudah menjaga Donghae, jadi kali ini gilirannya. Sebenarnya Sooyoung masih sangat mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur, namun gadis itu memilih melanjutkan istirahatnya di rumah sakit nanti.

Saat melangkahkan kakinya keluar dari lift, Sooyoung menjerit karena terkejut sudah mendapati sosok yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman sedang menunggunya.

“Kemana saja kau? Kenapa baru datang sekarang?” Tanya roh Kyuhyun, menatap Sooyoung dengan tatapan kesal.

“Yak! Kau ini! Aku sangat terkejut, kau tahu!” Omel Sooyoung.

“Tumben sekali terkejut. Biasanya juga tidak.” Sahut roh Kyuhyun.

“Darimana kau? Semalaman aku menunggumu. Aku kan ingin tahu mengenai pertemuanmu dengan Seohyun.” Sambung roh Kyuhyun.

Sooyoung menghembuskan nafas dengan keras. “Asal kau tahu ya, kemarin aktivitasku cukup banyak, jadi sangat melelahkan sekali. Dan untuk masalah Seohyun, nanti sore saja akan aku ceritakan. Saat ini aku ingin melanjutkan tidurku dulu. Oke?” Jelas Sooyoung kemudian menguap karena mengantuk.

Roh Kyuhyun bertolak pinggang. “Apa? Melanjutkan tidur? Hei, memangnya kau tidak tidur semalam?” Tanya roh Kyuhyun dengan tatapan heran.

“Iya. Semalaman aku tidak bisa tidur. Jadi, sekarang aku ingin membalaskan dendamku untuk kedua mata ini.” Jawab Sooyoung sambil menunjuk kedua matanya.

“Cih, bisa-bisanya kau tidak tidur. Pasti kau sedang bersenang-senang dengan temanmu, tanpa mempedulikan aku yang semalaman menunggu kedatanganmu. Kau ini keterlaluan sekali, nona Choi!” Omel roh Kyuhyun.

“Yak Cho Kyuhyun! Kau ini jangan sembarangan menuduhku, karena kau tidak tahu yang sebenarnya! Aku tidak bisa tidur itu juga karena kau! Semalaman aku memikir… memikirkan…” Omelan Sooyoung terhenti begitu saja, ketika ia menyadari betapa bodohnya hampir membocorkan rahasianya kepada roh Kyuhyun.

“Apa? Karena aku? Memangnya kau memikirkan apa?” Tanya roh Kyuhyun sedikit mendekatkan jaraknya dengan Sooyoung.

Sooyoung mengusap keningnya. “Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sudahlah, tolong beri aku waktu untuk beristirahat dulu. Aku janji, nanti sore aku akan menceritakannya kepadamu.” Sanggah Sooyoung, tidak berani menatap roh Kyuhyun.

“Ck. Baiklah. Istirahatlah sana. Kita bertemu nanti sore di tempat biasa.” Ucap roh Kyuhyun, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Sooyoung.

Sooyoung menggigit bibirnya saat menatap kepergian roh Kyuhyun. “Maaf. Maafkan aku, Cho Kyuhyun. Aku belum siap untuk melanjutkan perasaan ini.” Gumam Sooyoung, menghapus air mata yang sudah mengalir, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat Donghae.

***

Donghae menatap kosong ke arah pintu, saat ini dia tinggal sendiri karena satu jam yang lalu ibunya berpamitan untuk pulang. Pria itu sangat berharap, Sooyoung-lah yang dapat menggantikan posisi ibunya untuk menjaganya saat ini. Namun besar kemungkinan keinginannya tersebut tidak dapat tercapai, mengingat bagaimana sikap Sooyoung terhadapnya. Lagipula, saat ini adik perempuannya itu pasti sedang mengurus butiknya.

Tak lama, pintu terbuka dan Donghae langsung memalingkan wajahnya ke arah sebelah kiri. Sudah pasti yang masuk itu adalah perawat yang membawakan sarapan untuknya, pikir Donghae. Namun, setelah beberapa saat, Donghae tidak mendengarkan suara perawat yang biasanya menyuruh dirinya untuk menghabiskan makanannya. Penasaran, Donghae pun menolehkan kepalanya ke arah sebelah kanan.

“S-sooyoung?” Gumam Donghae, tidak percaya ketika melihat Sooyoung sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa.

“Ya. Ini aku. Bicaranya nanti saja. Aku ingin tidur dulu, semalaman aku tidak bisa tidur.” Ucap Sooyoung dengan mata terpejam dan menggenggam selimut yang dibawanya dari rumah.

Donghae menghembuskan nafasnya dengan lega. Pria itu tersenyum ketika menyadari ternyata Sooyoung yang masuk ke dalam kamar rawatnya. Dan sekarang, adik angkatnya itu tengah tidur di atas sofa.

“Padahal aku ingin membicarakan banyak hal denganmu. Tapi, ya sudahlah, nanti saja.” Ucap Donghae dengan suara pelan saat melihat Sooyoung yang sudah terlelap dalam tidurnya.

Saat akan mengalihkan tatapannya, tiba-tiba Donghae menangkap sesuatu yang tidak asing baginya. Tepat di sebelah Sooyoung, terdapat sebuah tas rajut berwarna kombinasi antara ungu dan kuning. Donghae membeku, ia mengenali tas rajut itu. Masih terbayang dalam benaknya, kenangan tentang tas tersebut. Beberapa tahun yang lalu, pada saat dirinya sedang ada urusan bisnis di Jepang, Donghae membeli sebuah tas rajut sebagai hadiah ulang tahun Sooyoung yang ke-20.

Ketika sudah pulang ke rumah, tepat di hari ulang tahun Sooyoung, Donghae memberikan hadiah tersebut kepada adiknya itu. Namun, saat itu diantara keduanya sedang terjadi perang dingin, sehingga menyebabkan Sooyoung menolak mentah-mentah kado dari kakak angkatnya itu. Bahkan Sooyoung mengembalikannya bukan dengan cara baik-baik, melainkan menendang kado tersebut dari anak tangga paling atas hingga mendarat di lantai satu dengan bungkus yang sudah terkoyak-koyak. Donghae yang melihat kejadian itu hanya bisa pasrah, menatap dengan sedih kadonya yang tampilannya sudah berantakan. Donghae tidak heran lagi melihat reaksi Sooyoung, karena memang itulah yang pantas ia dapatkan jika mencoba-coba untuk bersikap baik terhadap adik angkatnya. Dan setiap kali kado pemberiannya dihancurkan begitu saja oleh Sooyoung, Donghae selalu memungutnya kembali, kemudian memperbaikinya lagi untuk disimpan.

 

Pagi ini, mungkin menjadi waktu yang paling membahagiakan untuk Donghae. Pria itu tak henti-hentinya tersenyum melihat tas rajut itu. Bahkan, saking bahagianya, ingin rasanya ia menangis saat itu juga. Tapi ia tidak ingin merusak kebahagiaannya dengan air mata. Benar-benar tidak disangka, hari ini Sooyoung mengenakan tas rajut pemberiannya yang dulu pernah ditolak oleh gadis yang sedang tertidur itu.

Tanpa terlihat oleh Donghae, sedari tadi ternyata roh Kyuhyun berada di kamar itu, mengamati apa saja yang terjadi diantara kedua manusia itu.

“Aku rasa, Donghae menganggapmu lebih dari seorang adik.” Ucap roh Kyuhyun kepada Sooyoung yang masih tertidur.

“Dan perkiraan seorang Cho Kyuhyun, tidak pernah meleset.” Sambung roh Kyuhyun, menatap Donghae sambil menaikkan sebelah alisnya.

***

“Jadi, dia hanya mengatakan itu saja kepadamu?” Tanya roh Kyuhyun.

“Memangnya kau mau dia mengatakan apa lagi? Ingin bercerai dengan suaminya, lalu menikah denganmu begitu?” Sahut Sooyoung dengan nada emosi.

Roh Kyuhyun sukses terdiam, namun menatap gadis di sampingnya dengan wajah kesal.

“Ah, aku lupa. Dia juga mengatakan…”

“Mengatakan apa?!” Sahut roh Kyuhyun dengan semangat.

“Agar aku, menjagamu dan mencintaimu dengan tulus.” Sambung Sooyoung dengan suara sepelan mungkin.

Roh Kyuhyun terdiam, tidak mengeluarkan respon apapun. Ia bahkan memalingkan wajahnya dari Sooyoung yang saat ini sedang menatapnya. Namun, tak tahan menahan rasa gemuruh di dadanya, Sooyoung pun akhirnya memalingkan wajahnya juga ke arah lain.

“Ah, aku lupa mengucapkannya. Terima kasih ya, sudah menolongku untuk mengembalikan liontin itu.” Ucap roh Kyuhyun, berusaha memecah keheningan diantara mereka.

“Ya. Senang bisa membantumu.” Balas Sooyoung sambil tersenyum.

“Oia, apa kau sudah berbicara dengan Donghae?” Tanya roh Kyuhyun.

Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Belum. Tadi dia masih tidur, jadi aku memutuskan untuk bertemu denganmu dulu.” Jelas Sooyoung.

Roh Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harap, kau dapat berbicara dengannya, sehingga dapat menyelesaikan semuanya tanpa ada lagi permusuhan. Aku yakin, kau sudah cukup dewasa untuk menangani semua ini.” Ujar roh Kyuhyun.

“Satu lagi. Tolong pikirkan, apa saja yang selama ini sudah Donghae lakukan untukmu, demi mendapatkan tempat di hidupmu sebagai seorang kakak. Jika kau mau menyayanginya, aku yakin, Donghae akan merasa bahwa dia adalah orang yang paling beruntung karena memiliki adik perempuan sepertimu.” Tambah roh Kyuhyun.

Roh Kyuhyun bangkit berdiri. “Aku pergi dulu. Sepertinya, ibu dan kakak sudah datang. Sekali lagi, terima kasih.” Ucap roh Kyuhyun kepada Sooyoung.

Setelah dibalas senyuman oleh Sooyoung, roh Kyuhyun pun pergi meninggalkan gadis itu di bangku taman. Sooyoung menatap kepergian roh Kyuhyun dengan sedih.

“Jika aku mau menyayangimu, apa kau juga akan seperti Donghae, merasa menjadi orang yang paling beruntung karena memilikiku?” Gumam Sooyoung dengan suara lirih.

***

“Kemana ya dia?” Tanya Donghae sambil sesekali melirik jam dinding.

“Huh, setiap kali aku ingin berbicara dengannya, dia selalu saja pergi.” Gumam Donghae dengan wajah sedih.

Donghae sempat putus asa karena melihat tas rajut milik Sooyoung sudah tidak ada, dan itu berarti gadis itu tidak akan bermalam di rumah sakit. Namun harapannya tidak pupus begitu saja ketika melihat beberapa perlengkapan Sooyoung yang terletak di kolong meja.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka dan menampakkan Sooyoung yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Tanpa disangka-sangka, gadis itu langsung menghambur ke dalam pelukan Donghae. Pria yang secara tiba-tiba dipeluk itu pun membeku, dengan kedua tangan yang terlalu kaku untuk membalas pelukannya.

“Kau sudah baikan?” Tanya Sooyoung, masih memeluk Donghae.

“Aku merindukanmu, kakak.” Ucap Sooyoung, mengeratkan lagi dekapannya.

Lagi-lagi Donghae hanya bisa terdiam. Pria itu bahkan tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar. Setelah belasan tahun ia berjuang, sekaranglah impiannya dapat terwujud. Sooyoung memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’. Donghae meneteskan air matanya, kemudian tersenyum. Perlahan-lahan, ia mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Sooyoung.

Setelah sudah puas memeluk kakaknya, Sooyoung melepaskan pelukannya. “Hei, kenapa kau menangis?” Tanya Sooyoung, mengusap wajah Donghae yang sudah basah karena air mata.

Donghae tertawa kecil. “Ah, tidak apa-apa. Ini hanya tangisan bahagia.” Jawab Donghae, ikut menghapus air matanya.

“Tangisan bahagia? Kau bahagia, karena apa?” Tanya Sooyoung, menatap Donghae dengan tatapan penuh tanya.

“Bahagia karena kau memanggilku dengan sebutan kakak.” Jawab Donghae sambil membelai kepala Sooyoung dengan lembut.

“Cih, ternyata hanya karena itu.” Balas Sooyoung dengan santai, namun sebenarnya gadis itu sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.

“Mungkin, bagimu ini hanya hal kecil. Tapi, bagiku ini adalah sebuah keajaiban. Aku sudah menunggunya sejak belasan tahun yang lalu, dan tidak disangka Tuhan mengabulkannya saat ini.” Ujar Donghae, menatap Sooyoung tepat di manik mata.

“Dan aku… tidak pernah menyesal karena bersyukur telah memiliki adik sepertimu.” Tambah Donghae bersamaan dengan air matanya yang mengalir kembali.

Sooyoung membiarkan air matanya terjatuh. Gadis itu menatap Donghae dengan tatapan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam.

“Kau ini bicara apa? Kata-katamu membuatku terharu.” Omel Sooyoung sambil sesenggukkan.

“Tolong, jangan membuatku semakin merasa bersalah. Aku cukup tersiksa dengan penyesalan yang aku rasakan.” Pinta Sooyoung dengan lirih, menatap Donghae dengan tatapan penuh harap.

Donghae mengusap wajah Sooyoung yang basah karena air mata. “Tidak. Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Akulah yang bersalah, karena masuk ke dalam kehidupanmu secara tiba-tiba.” Sanggah Donghae.

Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Sudah, cukup. Aku tidak mau dengar lagi. Bisakah kita tidak membahas hal ini lagi? Aku tidak ingin terus hidup dalam kenangan buruk. Aku ingin memperbaiki semuanya.” Ujar Sooyoung sambil mengusap air matanya.

“Apa…”

“Mulai sekarang, kau adalah kakak dari Choi Sooyoung. Aku akan mencoba untuk menerimamu dalam kehidupanku, sebagai kakakku. Jadi, jangan bertanya apa-apa lagi.” Potong Sooyoung.

Donghae mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, jika itu maumu. Terima kasih, Sooyoung.” Ucap Donghae kemudian membawa tubuh Sooyoung ke dalam dekapannya.

Selanjutnya, dikarenakan hubungan kedua kakak beradik itu sudah membaik, mereka pun menghabiskan waktu sampai larut malam untuk berbagi cerita yang telah terlewatkan selama belasan tahun ini.

***

“Hei, nona Choi. Sepertinya hari ini kau terlihat ceria sekali.” Ucap roh Kyuhyun kepada Sooyoung yang raut wajahnya begitu ceria.

Sooyoung menoleh, dimana roh Kyuhyun sudah duduk disebelahnya. “Ah, tidak. Biasa saja.” Sahut Sooyoung.

“Tidak salah lagi. Ini pasti ada kaitannya dengan membaiknya hubunganmu dengan kakakmu itu.” Tebak roh Kyuhyun sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ck! Kau ini, sok tahu sekali.” Balas Sooyoung.

“Hei, nona. Mengapa kau sering sekali melupakan siapa aku saat ini?” Tanya roh Kyuhyun, bersifat retorik.

Sooyoung pun hanya bisa menatap roh Kyuhyun dengan tatapan kesal. Apa yang diucapkan sosok disebelahnya memang benar, apa yang tidak diketahui oleh roh berkeliaran seperti Kyuhyun? Sooyoung menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyumnya. Kalau diingat-ingat, seminggu ini Sooyoung mempercayai bahwa kebahagiaan dalam hidupnya ternyata memang ada. Ia sadar, belasan tahun membuang-buang waktu hanya untuk hidup dengan perasaan benci.

Dalam seminggu ini, Sooyoung benar-benar menjadi seseorang yang sangat sibuk. Padahal, ia sudah memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab butik kepada Sunny, asistennya untuk sementara waktu. Gadis itu hampir menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk berada di rumah sakit. Bahkan Sooyoung merasa, saat ini dirinya seperti sedang mengurusi dua pasien. Yang satu pasien manusia, sedangkan yang satunya pasien roh. Saat Donghae tidak sedang tidur, ia akan menemani kakaknya itu. Sedangkan ketika Donghae sedang beristirahat, gadis itu akan bertemu dengan roh Kyuhyun untuk menemaninya. Seperti itulah kehidupan yang dijalani Sooyoung belakangan ini. Ia bahkan tidak percaya akan semua yang dijalaninya. Namun yang pasti, ia sangat menikmati kehidupannya yang sekarang.

Sooyoung menatap roh Kyuhyun yang sedang tidak melihat ke arahnya, dengan tatapan penuh arti, kemudian mengulum senyumnya. Gadis itu sangat bersyukur, dalam satu waktu, ia dapat merasakan cinta kepada dua pria sekaligus. Kepada Donghae, yang merupakan cinta dari seorang adik kepada kakaknya, lalu kepada Kyuhyun, sebagai cinta pertamanya. Ini memang konyol, namun Sooyoung sadar bahwa ternyata dirinya memiliki perasaan lebih terhadap roh yang selalu menemaninya itu.

***

“Aku ingin keluar.” Ucap Donghae kepada Sooyoung.

“Ck. Tunggulah beberapa hari lagi. Kau masih belum sembuh total.” Tolak Sooyoung sambil menyisir rambutnya di depan cermin. Ia baru saja selesai mandi pagi.

“Kata siapa aku belum sembuh total? Lihatlah, aku sudah bisa menggerak-gerakkan anggota tubuhku dengan baik.” Protes Donghae sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.

Sooyoung meletakkan sisirnya, kemudian menghampiri Donghae sambil melipat tangannya di depan dada.

“Kakak, setelah kau sudah benar-benar sembuh total, aku berjanji akan membawamu ke taman bermain.” Ucap Sooyoung sambil tersenyum.

Donghae mem-pout-kan bibirnya. “Tidak. Aku tidak mau.” Tolak Donghae memalingkan wajahnya.

“Kakak…”

“Ayolah, kumohon. Aku sangat ingin menikmati segarnya udara pagi. Hampir sebulan lamanya aku hanya terkurung di ruangan berbau obat seperti ini. Kau tega sekali melihat kakakmu ini tersiksa.” Ujar Donghae, mencoba membujuk Sooyoung dengan menampakkan wajah belas kasihannya.

Sooyoung terdiam, menatap Donghae dengan tatapan iba. Benar juga yang dikatakan Donghae. Walau bagaimanapun, pria itu pasti sudah merasa sangat bosan karena hampir sebulan hanya berada di dalam kamar.

“Baiklah. Sebentar aku ambilkan kursi roda dulu.” Ucap Sooyoung kemudian pergi meninggalkan Donghae untuk mengambil kursi roda.

Sepeninggal Sooyoung, Donghae tersenyum sangat bahagia karena akhirnya permintaan pria itu dituruti juga oleh adiknya.

***

“Haaaaah… segar sekali udaranya!” Pekik Donghae sambil merenggangkan kedua tangannya.

“Terima kasih ya, sudah bersedia membawaku keluar.” Ucap Donghae dan hanya dibalas senyuman oleh Sooyoung yang duduk di bangku taman.

Tidak mau melewati kesempatan menghirup udara bebas, Donghae pun mulai menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Sooyoung pun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kakaknya yang sudah seperti nara pidana baru keluar dari penjara.

Merasa sudah cukup dengan olahraga kecilnya, Donghae pun menghentikan kegiatannya. Nafasnya sedikit terengah-engah, namun pria itu merasa cukup puas karena akhirnya bisa menghirup udara segar. Kemudian ia menoleh ke arah Sooyoung yang duduk di sebelahnya. Donghae tersenyum saat melihat syal yang melilit di leher adiknya itu. Ia masih ingat, syal yang ada di depan matanya itu adalah hadiah ulang tahun Sooyoung yang ke-18. Beberapa tahun yang lalu, Sooyoung merayakan ulang tahunnya tepat di musim dingin. Jadi, Donghae memberikannya kado berupa syal. Ia tidak peduli lagi bagaimana Sooyoung yang dulu pernah membuang kado tersebut ke atap rumah, sehingga pria itu hampir membahayakan nyawanya sendiri, hanya untuk mengambilnya kembali. Namun yang terpenting, sekarang Donghae bahagia karena Sooyoung telah memakai syal pemberiannya.

“Syal itu sangat cocok untukmu.” Ucap Donghae sambil tersenyum menatap syal yang dipakai Sooyoung.

Sooyoung meraba syalnya, lalu tersenyum gugup. “Ah, iya. Terima kasih ya. Syalnya bagus.” Ucap Sooyoung.

“Sepertinya lemari kadomu sudah kosong ya.” Ucap Donghae.

“Tentu saja. Itu semua adalah kado milikku, jadi aku pindahkan ke kamarku.” Balas Sooyoung.

Donghae terkekeh pelan. “Kenapa tidak sekalian saja kau memindahkan lemarinya ke kamarmu?” Ledek Donghae.

“Yak! Tidak mungkin memajang kado-kado itu lagi, karena harus aku gunakan.” Balas Sooyoung dengan wajah kesal.

“Haha! Kau ini lucu sekali kalau sedang cemberut!” Ledek Donghae sambil mencubit kedua pipi chubby milik Sooyoung.

“KYAAA!!! Sakit, kakak!!!” Jerit Sooyoung yang kesakitan karena pipinya dicubit.

Tidak mau kalah, Sooyoung pun mengambil kesempatan untuk membalas cubitan Donghae. Alhasil, mereka saat ini sama-sama saling mencubit pipi satu sama lain. Setelah merasa puas, Sooyoung dan Donghae justru tertawa ria.

“Yak! Jangan mengacak-acak rambutku! Ketampananku bisa hilang karena ulahmu!” Omel Donghae sambil merapikan rambutnya yang sudah tidak beraturan akibat ulah Sooyoung.

Ditempat lain, rupanya roh Kyuhyun menjadi saksi dari keakraban kakak beradik yang tengah bersenda gurau itu. Roh Kyuhyun tersenyum pahit menyaksikan apa yang dilakukan Donghae dan Sooyoung.

“Soo, mengapa rasanya seperti ini? Aku merasa kurang baik saat melihatmu bersama Donghae.” Gumam roh Kyuhyun, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kakak beradik yang sedang tertawa riang itu.

***

“Kyuhyun…” Panggil Sooyoung kepada sosok yang berada beberapa langkah di depannya.

“Aku… aku mencintaimu, Kyuhyun.” Ucap Sooyoung dengan suara lirih.

“Apa, kau juga mencintaiku?” Tanya Sooyoung.

“Kyuhyun?” Panggil Sooyoung lagi, karena pria di hadapannya tak kunjung membalas ucapannya.

“Kyuhyun, kau dengar aku?” Tanya Sooyoung, masih tidak ada jawaban.

Dari tempatnya, Sooyoung hanya bisa melihat wajah Kyuhyun samar-samar karena ruangan dimana mereka berada saat ini agak gelap.

“Kyuhyun…” Panggil Sooyoung.

Bukannya menjawab panggilan Sooyoung, Kyuhyun justru membalikkan tubuhnya kemudian perlahan tapi pasti mulai melangkahkan kedua kakinya meninggalkan gadis di belakangnya.

“Kyuhyun! Kau mau kemana?!” Teriak Sooyoung, merasa sangat cemas.

“Kyuhyun! Ini aku Sooyoung!”

“Jangan pergi, Kyuhyun! Jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu!” Jerit Sooyoung sambil menangis.

Entah mengapa, Sooyoung itu tidak bisa menggerakkan kedua kakinya untuk mengejar Kyuhyun yang sudah semakin jauh.

“Hiks… Kyuhyun! Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu.” Pinta Sooyoung kemudian tubuhnya begitu saja merosot ke lantai.

“Kumohon jangan pergi, Kyuhyun. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Sooyoung lirih sambil memegangi dadanya yang terasa sesak menyaksikan sosok Kyuhyun yang sudah hilang ditelan kegelapan.

“KYUHYUN!!!”

Sooyoung tiba-tiba terbangun dari tidurnya setelah berteriak menyebut nama Kyuhyun. Gadis itu memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan nafasnya yang kini terengah-engah.

“Ya Tuhan, ternyata ini hanya mimpi.” Gumam Sooyoung sambil menghembuskan nafas lega.

“Sooyoung! Kau tidak apa-apa?” Tanya Donghae yang sedang duduk di atas ranjang dengan panik.

Sooyoung mulai mengatur pernafasannya. “Tidak kak. Aku tidak apa-apa, ini hanya mimpi buruk.” Jawab Sooyoung.

“Oh, syukurlah. Tapi, memangnya kau memimpikan apa?” Tanya Donghae.

“Ah, tidak. Aku tidak ingin mengingatnya.” Jawab Sooyoung, menolak untuk memberitahukan mimpinya.

Donghae mengangguk setuju. “Ya sudah, cepat minum air putih agar perasaanmu lebih tenang.” Perintah Donghae.

Sooyoung mengangguk, kemudian meraih segelas air putih yang berada tidak jauh dari sofa tempat duduknya saat ini. Saat minum, rupanya beberapa orang yang merupakan teman Donghae masuk ke dalam ruangan. Leeteuk, Eunhyuk, dan Heechul datang untuk menjenguk kakaknya itu. Sekilas Sooyoung melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tanpa pamit, Sooyoung pun pergi meninggalkan keempat pria yang sedang asik berbincang itu.

***

“Kyuhyun…” Panggil Sooyoung kepada roh Kyuhyun yang sedang berdiri membelakanginya.

“Kau disini rupanya. Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau berada disini.” Omel Sooyoung kemudian mengambil tempat di samping roh Kyuhyun.

“Betapa bodohnya aku karena baru mengetahui bahwa dari sini aku bisa melihat matahari terbenam.” Ucap roh Kyuhyun.

“Kalau dipikir-pikir, benar juga. Sudah sebulan lebih kau berada disini, tapi baru kali ini kau mengetahui bahwa dari balkon kamarmu akan tampak matahari terbenam.” Sambung Sooyoung.

Roh Kyuhyun tertawa pelan. “Itu karena aku terlalu sering berkeliaran.” Ucap roh Kyuhyun.

“Hmm. Mungkin saja.” Sahut Sooyoung, tersenyum menyaksikan matahari yang perlahan-lahan mulai menenggelamkan dirinya.

“Sooyoung,” Panggil roh Kyuhyun.

“Apakah kau merasa bahagia, bisa berteman denganku?” Tanya roh Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapannya dari sang surya.

Sooyoung tersenyum. “Ya, aku bahagia. Walaupun, awalnya aku sempat tidak percaya bisa berteman dengan roh sepertimu.” Jawab Sooyoung.

“Seandainya, roh-ku ini kembali bersatu dengan tubuhku, apa yang menjadi harapanmu?” Tanya roh Kyuhyun.

Sooyoung terpaku. “Aku… aku berharap… agar pertemanan kita tetap berlanjut.” Jawab Sooyoung, terpaksa berbohong.

“Hanya itu?”

“Iya.” Sahut Sooyoung. “Oia, bagaimana denganmu?” Tanya Sooyoung.

“Bagaimana apa?” Tanya roh Kyuhyun bingung.

“Seandainya kau sudah kembali ke tubuhmu, apa yang kau harapkan?” Tanya Sooyoung menoleh ke arah roh Kyuhyun.

Roh Kyuhyun menoleh sesaat, kemudian memalingkan wajahnya lagi. “Seandainya aku sudah kembali ke tubuhku, aku hanya ingin… ijinku untuk selalu bersamamu diperpanjang.” Jawab roh Kyuhyun sambil tersenyum.

Sooyoung terdiam, tidak memberikan respon apapun. Ucapan roh Kyuhyun barusan cukup menghentak dirinya. Perasaannya benar-benar campur aduk untuk saat ini, antara bahagia, sedih, dan terharu.

“Bagaimana? Apakah kau mau memperpanjang ijinku untuk terus berada di sisimu?” Tanya roh Kyuhyun, menghadapkan tubuhnya ke arah Sooyoung.

Merasa tidak ada lagi pemandangan matahari tenggelam yang harus disaksikan, Sooyoung pun menghadapkan tubuhnya kepada roh Kyuhyun. Gadis itu menatap sosok di hadapannya dengan sambil tersenyum lembut.

“Ya. Aku akan mengijinkanmu untuk terus berada disisiku, kapanpun kau mau.” Jawab Sooyoung, menatap roh Kyuhyun tepat di manik mata.

“Kalau begitu, kau harus banyak berdoa agar aku segera diberi kesembuhan. Apakah kau tahu? Sangat sulit rasanya menahan diriku untuk tidak menyentuhmu. Saat melihatmu menangis maupun tertawa, aku selalu ingin membawamu ke dalam pelukanku. Tapi, itu tidak mungkin dapat aku lakukan.” Ujar roh Kyuhyun, sukses membuat gadis di hadapannya meneteskan air mata.

“Iya, Cho Kyuhyun. Namamu akan selalu kusebut dalam setiap doaku.” Ucap Sooyoung sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hei. Jangan menangis. Aku kan sudah katakan, saat melihatmu menangis, aku selalu ingin memelukmu agar kau berhenti menangis.” Tegur roh Kyuhyun.

Sooyoung tertawa kecil dalam sesenggukkannya, lalu ia segera menghapus air matanya. Roh Kyuhyun sendiri, kembali menghadapkan tubuhnya ke depan dengan kepala yang menghadap langit.

“Tinggalah disini satu jam lagi. Temani aku melihat bintang-bintang itu.” Pinta roh Kyuhyun kepada Sooyoung.

Sooyoung pun menuruti permintaan roh Kyuhyun. Mereka kembali berdiri berdampingan, namun kali ini untuk menyaksikan pemandangan langit yang akan memasuki waktu malam.

“Maafkan aku, karena sudah berbohong. Sebenarnya, yang menjadi harapanku setelah kau kembali ke tubuhmu, itu adalah bisa terus berada disisimu.” Batin Sooyoung.

“Seandainya kau tahu, aku bukan hanya merasa bahagia karena bisa berteman denganmu. Tetapi aku juga merasa sangat bersyukur karena telah dipertemukan denganmu. Walaupun saat ini kau hanya roh, kau berhasil mencuri hatiku, Cho Kyuhyun.” Sooyoung melirik roh Kyuhyun melalui sudut kedua matanya.

“Aku benar-benar mencintaimu. Cepatlah kembali ke tubuhmu, agar aku bisa mengatakannya sambil memelukmu.” Sooyoung menggigit bibirnya, berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah saat itu juga.

***

Donghae melangkahkan kedua kakinya dengan hati-hati sambil menyeret tiang infusnya. Pria itu menempatkan dirinya di depan jendela balkon kamar rawatnya. Menatap hujan hanya dengan duduk di tempat tidur saja rasanya kurang puas. Kalau tidak memikirkan omelan adiknya, mungkin Donghae memilih berada di balkon saja agar dapat merasakan percikan air hujan yang sejuk.

Tersenyum. Hanya hal itu yang dapat dilakukan Donghae saat ini. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan bahagia seperti ini. Teringat akan Sooyoung, pria itu masih tidak percaya bahwa pada akhirnya gadis itu mau menerimanya sebagai kakak. Mengingat bagaimana penolakan dan rasa benci yang ditunjukkan gadis itu secara terang-terangan, membuat Donghae sempat berpikir untuk menyerah dan meninggalkan keluarga Cho. Namun tidak disangka, kecelakaan yang hampir mengancam nyawanya, ternyata membawa keberuntungan tersendiri untuknya.

Choi Sooyoung. Donghae tidak bisa mengingkari perasaannya sendiri ketika mendengarkan maupun memikirkan nama itu. Belasan tahun yang lalu, sepasang suami istri datang ke panti asuhan dimana ia dibesarkan, untuk mengadopsinya sebagai anak. Merasa bahagia karena harapannya untuk hidup dalam sebuah keluarga, Donghae pun menerima ajakan Tuan Choi dan Nyonya Choi dengan senang hati.

Tetapi, ternyata kehidupan dalam keluarga tidak seindah yang Donghae bayangkan. Di hari pertama ia resmi masuk kedalam silsilah keluarga Choi, pria itu sudah memiliki haters yang tak lain adalah adik angkatnya sendiri. Hari demi hari ia jalani dengan penuh rasa sabar, karena Sooyoung bukan pribadi yang mudah untuk didekati baginya. Donghae hanya bisa bersabar, karena ia tahu memang sudah sepantasnya Sooyoung bersikap kepada orang yang tidak diperkenankan untuk masuk dalam kehidupan gadis itu.

Donghae sudah mendapatkannya. Mendapatkan apa yang ia perjuangkan selama ini, yaitu diterima oleh Sooyoung sebagai seorang kakak. Ia memang bahagia, bahkan sangat bahagia. Namun, ternyata ada yang masih mengganjal perasaannya saat ini. Sebuah perasaan yang sebisa mungkin ia pendam selama belasan tahun ini. Donghae sadar, perasaannya ini salah. Namun, sekuat apapun itu, kita tidak dapat mengabaikan rasa cinta, kecuali memendamnya sendiri.

Sooyoung, gadis itu bisa dikatakan sebagai cinta pertamanya. Andai dapat memutar waktu, Donghae ingin menolak adopsi yang dilakukan oleh keluarga Choi, dan memilih untuk menjadi seseorang yang berarti untuk Sooyoung. Namun, semua itu tidak akan pernah terjadi. Tuhan ternyata lebih menghendakinya menjadi kakak dari Sooyoung, dan Donghae tetap mensyukuri itu.

Kembali ke waktu sekarang. Donghae mengulurkan tangan kanannya, mengukir gambar hati pada kaca jendela yang berembun dengan menggunakan jari telunjuknya. Setelah gambar hati sudah terbentuk dengan sempurna, Donghae justru menghapus setengah bagiannya. Alhasil, di hadapannya kini adalah sebuah gambar setengah hati. Hanya Donghae yang tahu apa makna dari gambar itu. Setengah hatinya telah direlakan untuk pergi, dan kini saatnya untuk berusaha agar hatinya menjadi utuh kembali.

Ketika masih tenggelam dalam lamunannya, Donghae merasakan ada sepasang tangan yang sedang memeluknya dari arah belakang. Pria itu menatap jemari yang saling terpaut di perutnya, mencoba menebak-nebak siapa yang tengah memeluknya kini. Namun, ternyata sangat mudah untuk menebaknya, karena ia dapat langsung mengetahui lewat cincin matahari yang tersemat di jari manis itu, yang tak lain adalah kado darinya. Donghae ingat, cincin matahari itu ia berikan dihari ulang tahun Sooyoung yang ke-16. Saat itu, ia bingung harus memberikan hadiah apa untuk adik angkatnya tersebut. Hingga akhirnya, pria itu menyadari sesuatu tentang Sooyoung. Ketika gadis itu tersenyum, wajahnya sangat berseri-seri, seperti halnya matahari yang baru saja terbit. Dan akhirnya, Donghae memberikan adiknya itu sebuah cincin matahari, yang baru saat ini dipakai oleh Sooyoung.

“Kakak… diluar udaranya dingin sekali. Biarkan aku memelukmu sebentar, ya?” Pinta Sooyoung dengan nada manja.

Donghae terkekeh pelan. “Silahkan, adikku.” Sahut Donghae.

“Kau tidak merasa sakit kan?” Tanya Sooyoung.

“Kalau kau tidak memelukku seperti seorang gadis yang sedang mendambakan kekasih, tentu aku tidak akan kesakitan.” Ledek Donghae.

“Yak! Kau ini!” Omel Sooyoung sambil mengguncang tubuh Donghae.

Donghae tertawa pelan. “Lekaslah temukan kekasihmu. Agar kau dapat memeluknya ketika kau sedang kedinginan.” Usul Donghae.

“Kakak tenang saja, karena aku sudah menemukannya. Dan sekarang, tinggal menunggu kenyataan, dia adalah cinta sejatiku atau bukan.” Ujar Sooyoung, bersyukur karena Donghae tidak bisa melihat kedua matanya yang saat ini sudah berkaca-kaca.

***

“Soo, apa kau yakin tidak ingin ikut dengan kami?” Tanya Nyonya Choi, mengajak Sooyoung untuk membawa Donghae menjalani terapi.

“Tidak, ibu. Aku disini saja. Sepertinya aku kurang tidur lagi.” Tolak Sooyoung kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa.

“Aneh sekali. Kau selalu tidur setelah aku juga tidur. Tapi kenapa kau bisa kurang tidur ya?” Tanya Donghae, mengerutkan keningnya.

Sooyoung menguap. “Hah… aku kan menema..ni.. Maksudku, aku kan tidak selalu tidur. Aku juga menemanimu saat kau sedang tidur.” Jawab Sooyoung dengan gugup ketika hampir saja membocorkan rahasianya.

“Sudahlah, cepat pergi sana. Aku ingin tidur.” Sooyoung mengusir ibu dan kakaknya secara halus.

Setelah beberapa saat saling bertatapan, Nyonya Choi dan Donghae pun meninggalkan Sooyoung sendiri di dalam kamar rawat. Rupanya gadis itu benar-benar sedang mengantuk berat, karena hanya dalam beberapa detik, dengkuran halusnya sudah terdengar. Namun, baru saja menikmati saat-saat damainya, Sooyoung diganggu oleh dering ponselnya.

“Astaga! Mengganggu tidurku saja!” Omel Sooyoung sambil meraih ponselnya dengan kasar.

“Yak! Siapa ini?” Tanya Sooyoung dengan nada sedikit kasar.

“Sooyoung, Kyuhyun sudah sadar.”

Klik. Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Entah siapa yang memutuskannya lebih dulu, itu bukanlah hal yang penting. Justru bagi Sooyoung, yang terpenting adalah tiga kata yang terucap dari suara seseorang di ponselnya tadi. Suara Ahra. Ya, itu adalah suara Ahra, dan Sooyoung cukup mengenal baik kakak dari temannya itu. Rasa kantuk yang cukup berat terkalahkan begitu saja oleh berita yang baru saja didengarnya. Bahkan Sooyoung tidak sanggup mengekspresikan apapun saat ini, kecuali diam dan mematung.

“Kyu… Kyuhyun sudah sadar.” Ucap Sooyoung, mengulangi tiga kata yang didengarnya tadi.

Tanpa sadar, beberapa bulir air mata kini mulai menetes membasahi pipinya.

***

Sooyoung mengulurkan tangannya perlahan-lahan, setelah sebelumnya sempat ragu-ragu untuk mendekat ke pintu di hadapannya. Tiga hari setelah Kyuhyun tersadar dari masa komanya, gadis itu tiba-tiba saja menghilang. Entah mengapa, Sooyoung merasa belum siap untuk bertemu dengan Kyuhyun. Bahkan ia sengaja menonaktifkan nomor ponselnya, karena Ahra terus menghubunginya. Namun untuk hari ini, Sooyoung bertekad untuk menemui Kyuhyun. Walau bagaimanapun juga, ia tidak bisa bersembunyi selamanya.

Ketika hendak memutar knop, pintu di depannya sudah lebih dulu terbuka, dan menampakkan Ahra. Sooyoung terkejut melihat kakak perempuan dari Kyuhyun itu sudah berdiri di hadapannya.

“Sooyoung!” Seru Ahra, langsung memeluk Sooyoung.

“Kemana saja kau? Aku hampir menyerah menunggu kedatanganmu.” Ucap Ahra sambil melepaskan pelukannya.

“Ah, maafkan aku, kakak. Akhir-akhir ini, aku cukup sibuk.” Jawab Sooyoung, berbohong.

Ahra mengangguk mengerti. “Oh, begitu. Ya sudah, yang penting sekarang kau sudah datang.” Balas Ahra.

“Oh ya, cepat temui Kyuhyun. Aku ingin ke toilet dulu.” Perintah Ahra, kemudian bergegas meninggalkan Sooyoung yang belum sempat memberikan respon apapun.

Dengan perasaan yang masih gugup, Sooyoung pun melanjutkan langkahnya memasuki kamar rawat tersebut. Sooyoung melangkahkan kedua kakinya dengan sangat perlahan-lahan, seolah-olah tidak ingin suara hentakan kakinya terdengar. Setelah sudah sampai di dekat ranjang Kyuhyun, Sooyoung baru menyadari bahwa pria itu sedang tertidur. Beberapa hari yang lalu, masih banyak alat-alat medis yang menempel di tubuh Kyuhyun, namun saat ini pria itu hanya menggunakan infus saja.

Sesaat, Sooyoung mengedarkan pandangannya ke area kamar, berusaha mencari keberadaan roh Kyuhyun. Ia masih belum percaya kalau Kyuhyun sudah sadar. Namun setelah tidak berhasil menemukan sosok yang dicarinya, Sooyoung pun mulai percaya bahwa Kyuhyun memang sudah sadar dari komanya.

Sooyoung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, mengamati dengan baik-baik wajah damai yang sedang tertidur itu. Perlahan-lahan, gadis itu mengulurkan tangannya kemudian mengusap bahu Kyuhyun dengan lembut. Selama ini, ia tidak pernah berani untuk menyentuh sedikitpun bagian tubuh Kyuhyun, karena takut roh Kyuhyun mengetahui arti dari perhatiannya.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Kyuhyun mengerang pelan dalam tidurnya, membuat Sooyoung sempat bingung, ingin tetap berada disana atau lekas pergi meninggalkan kamar. Namun ternyata akal dan sistem pergerakan tubuhnya sedang tidak sejalan, sehingga membuat Sooyoung tetap berada di samping Kyuhyun. Ia melihat, sedikit demi sedikit Kyuhyun mulai membuka kedua matanya. Pria itu tampang mengerjapkan kedua matanya beberapa kali hingga selanjutnya menolehkan kepalanya ke arah Sooyoung. Setelah beberapa hari tidak berjumpa, akhirnya pada saat ini Sooyoung kembali bertatapan dengan seseorang yang selama ini memiliki hatinya.

Sooyoung tersenyum, berusaha sekuat tenaga agar pertahanannya tidak runtuh saat itu juga. Sedangkan Kyuhyun, pria itu masih terdiam mengamati Sooyoung yang juga menatapnya. Setelah menelan liurnya dengan susah payah, Sooyoung pun memberanikan diri untuk menyapa Kyuhyun.

“H-hai, Kyuhyun.” Sapa Sooyoung sambil mengangkat sebelah tangannya.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Hai.” Sahut Kyuhyun.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” Tanya Sooyoung sedikit kaku.

Kyuhyun mengangguk pelan. “Ya. Aku merasa sudah cukup baikan.” Jawab Kyuhyun.

Sooyoung tertawa pelan. “Hei. Kenapa kita jadi kaku seperti ini? Bukankah kita sudah saling kenal.” Ucap Sooyoung, mencoba memecah kegugupan diantara mereka.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. “A-apa? Kita sudah saling mengenal?” Tanya Kyuhyun dengan raut wajah yang bingung.

“Iya.” Jawab Sooyoung yang mulai merasakan hal yang tidak baik.

Kyuhyun mengusap wajahnya. “Maaf, tapi sepertinya aku belum pernah mengenalmu.” Ucap Kyuhyun sambil mengamati dengan cermat wajah Sooyoung.

“Ck. Sudahlah Kyu, apa kau sedang mengerjaiku sekarang?” Tanya Sooyoung.

“Mengerjaimu? Aku tidak sedang mengerjaimu, dan aku serius. Sama sekali, aku tidak ingat apapun tentangmu.” Jelas Kyuhyun.

Sooyoung memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tetap tenang. “Kyuhyun, ini aku, Sooyoung. Aku adalah temanmu, apa kau tidak ingat itu?” Tanya Sooyoung.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak. Aku tidak ingat apapun. Yang aku ingat hanya bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit ini, hingga menjalani masa koma yang cukup lama.” Jawab Kyuhyun.

Sooyoung sedikit membungkukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Kyuhyun. “Kyuhyun, kau tidak sedang bercanda kan?” Tanya Sooyoung.

Kyuhyun menatap kedua mata Sooyoung, kemudian mengangguk. “Ya. Aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar tidak ingat denganmu.” Jawab Kyuhyun dengan raut wajah serius.

“Tapi, kalau memang kita berteman, kau bisa menceritakannya kepadaku. Mungkin saja, ini efek dari kecelakaan yang aku alami.” Ucap Kyuhyun.

Sooyoung terdiam, tidak tahu ingin berbicara apa. Bahkan, dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menatap wajah Kyuhyun yang kebingungan karena tidak mengenal dirinya. Gadis itu pun kembali menegakkan tubuhnya, sambil berusaha bertahan untuk perasaannya yang sedikit demi sedikit mulai terasa sesak.

“Maaf, aku harus pergi.” Ucap Sooyoung dengan lirih kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.

“Ck. Siapa ya dia? Kenapa aku tidak ingat apapun tentang dia.” Gumam Kyuhyun sambil menatap kepergian Sooyoung.

Sooyoung mendengar ucapan Kyuhyun barusan, dan itu membuat hatinya semakin sakit. Tanpa bisa ditahan lagi, air matanya mengalir dengan bebas, mengiringi langkahnya meninggalkan kamar rawat Kyuhyun. Bahkan, gadis itu mengabaikan panggilan Ahra yang baru saja kembali dari toilet. Sooyoung berlalu begitu saja, tanpa berbalik menanggapi panggilan kakak dari Cho Kyuhyun itu.

“Maafkan aku, Sooyoung. Aku hanya ingin kau mengetahuinya secara langsung.” Gumam Ahra menatap kepergian Sooyoung dengan sedih.

***

“Dasar bodoh! Cho Kyuhyun bodoh!” Umpat Sooyoung yang saat itu sedang duduk di taman rumah sakit.

“Berani-beraninya dia melupakanku. Apa dia tidak ingat, selama sebulan ini terus menempel denganku? Mengganggu jam istirahatku hanya untuk menemaninya?”

“Benar-benar pria bodoh. Kalau tahu akan terjadi hal seperti ini, aku tidak akan pernah mau mengijinkannya untuk terus bersamaku.”

Sooyoung mengumpat-umpat dengan kesal. Setelah meninggalkan kamar rawat Kyuhyun, gadis itu langsung pergi menuju taman rumah sakit. Tadinya, Sooyoung ingin pergi ke kamar rawat Donghae, namun pria itu pasti akan mengeluarkan banyak pertanyaan jika melihat tampilan wajahnya saat ini.

“Hiks. Kupikir, dia sedang bercanda. Tapi, ternyata dia memang benar-benar tidak mengingatku. Aku benci padamu, Kyuhyun.” Omel Sooyoung ditengah-tengah tangisannya yang sudah pecah sejak tadi.

“Kau bilang, setelah kau sudah sadar nanti, kau akan terus berada disisiku. Tapi apa? Kau bahkan tidak ingat denganku sedikitpun.”

“Kau pembohong, Kyuhyun. Kau jahat. Aku benci padamu!”

Sooyoung menangis dan melepaskan amarahnya sepuas mungkin. Gadis itu menutup wajahnya, menangis sejadi-jadinya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang kini menatapnya. Pagi tadi, gadis itu sangat bersemangat untuk bertemu dengan Kyuhyun. Namun tak disangka, beberapa jam kemudian, keceriaannya hilang begitu saja tak tersisa. Perasaannya benar-benar hancur saat ini. Sooyoung tidak menyangka, pria yang sangat ingin ditemuinya hari ini, sudah tidak mengenal dirinya lagi. Tadinya, ia berharap bahwa Kyuhyun sedang bercanda, namun harapan Sooyoung pupus begitu saja ketika melihat raut wajah yang bingung milik pria itu saat menatapnya.

“Kau tidak boleh menyerah begitu saja.”

Sooyoung menghentikan tangisnya, kemudian menoleh ke arah suara yang baru saja didengarnya. Gadis itu mendapati Cho Ahra sudah duduk di sampingnya.

“Kakak…”

“Maafkan aku, Sooyoung. Aku tidak memberitahukanmu dulu tentang masalah ini. Aku hanya ingin, kau mengetahuinya sendiri.” Potong Ahra.

“Tidak apa-apa kakak, kau tidak perlu meminta maaf.” Balas Sooyoung, berusaha tersenyum walaupun wajahnya masih tampak sedih.

Ahra menghembuskan nafas panjang. “Aku sendiri, sempat tak percaya bahwa Kyuhyun sama sekali tidak ingat denganmu. Sudah kujelaskan semua, mengenai masa komanya, dimana dia hidup sebagai roh, dan hanya dapat berkomunikasi denganmu. Tapi, dia tetap tidak ingat juga. Bahkan, dia juga tidak ingat bahwa selama menjalani masa koma, dirinya menjadi roh yang berkeliaran.” Jelas Ahra, sambil mengingat-ingat percakapannya yang kemarin dengan Kyuhyun.

Sooyoung menundukkan kepalanya, sesenggukkannya sesekali masih terdengar. Raut wajahnya yang murung, cukup untuk mengekspresikan dirinya yang saat ini sedang kacau.

“Sooyoung…” Panggil Ahra.

Sooyoung menoleh dengan lemas. “Iya, kakak?” Sahut Sooyoung.

“Kau tidak boleh menyerah. Yakinkan Kyuhyun bahwa sebelumnya, kalian memang sudah saling mengenal satu sama lain.” Ucap Ahra, mengusap bahu Sooyoung dengan pelan.

“Apa yang harus aku lakukan, untuk seseorang yang sama sekali tidak mengingatku?” Tanya Sooyoung, menatap kosong ke arah depan.

“Lakukanlah apa yang mampu kau lakukan. Yang pasti, aku dan ibu akan selalu mendukungmu.” Jawab Ahra sambil tersenyum.

Sooyoung mengernyitkan keningnya. “Ibu?”

“Ya, ibuku. Sekali lagi, aku minta maaf karena memberitahukan hal ini kepada ibuku. Dia sangat senang ketika mengetahui bahwa kau bisa melihat roh Kyuhyun. Bahkan ibu mempercayakan Kyuhyun kepadamu.” Jelas Ahra.

Sooyoung tersenyum, kemudian menatap Ahra dengan penuh harap. “Kakak, apakah kau yakin, Kyuhyun akan kembali ingat denganku?” Tanya Sooyoung.

Ahra mengangguk sambil tersenyum. “Aku yakin, Soo. Suatu saat, dia pasti bisa mengingatmu.” Jawab Ahra.

Setelah mendengar jawaban dari Ahra, Sooyoung pun memeluk kakak Kyuhyun itu. Dalam hatinya, Sooyoung berjanji agar tidak pernah menyerah untuk membuat Kyuhyun ingat padanya. Sooyoung meyakinkan dirinya sendiri, akan melakukan apapun itu untuk tetap menahan cintanya.

“Akan kutahan, meskipun kau sama sekali tidak mengingatku. Akan kutahan, meskipun rasanya sangat sakit. Kau telah memiliki hatiku, Kyuhyun, kau telah membawanya. Dan aku tahu, bahwa hatiku berada dimanapun kau ada saat ini.” Batin Sooyoung.

***

“Kau menemuiku, tepat saat setelah aku meniup lilin ulang tahunku. Aku merayakannya di taman rumah sakit, dan kau datang secara tiba-tiba saat itu. Kau sangat senang, ketika mengetahui bahwa akhirnya ada juga seseorang yang dapat berkomunikasi denganmu. Selanjutnya, kau meminta ijin kepadaku untuk memperbolehkanmu selalu berada didekatku, karena tidak ada yang bisa melihat ataupun mendengarkan ucapanmu, kecuali aku. Singkat cerita, kau juga memberitahukan soal hubunganmu dengan mantan kekasihmu, Seohyun. Kau meminta bantuanku untuk bertemu dengan Seohyun dan mengembalikan liontin miliknya yang ada padamu, karena hari itu juga dia akan pindah ke Amerika bersama dengan suaminya. Selain itu, kau juga cukup membantuku agar aku berbaikan dengan kakak angkatku, dengan memberikan banyak nasehat untukku. Lalu, kau juga… Emm… aku…”

Sooyoung memotong penjelasannya. Ia ingin memberitahukan soal pembicaraannya dengan Kyuhyun pada saat sedang menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Namun entah kenapa, Sooyoung mengurungkan niatnya.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun, menatap Sooyoung yang tiba-tiba terdiam.

Sooyoung tersadar dari lamunannya. “Ah, tidak apa-apa.” Jawab Sooyoung, tersenyum kikuk.

“Lalu, apa lagi? Yang aku lakukan bersamamu ketika aku menjadi roh?” Tanya Kyuhyun.

“Yang pasti, saat aku sedang berada di rumah sakit, kau selalu berada di dekatku. Mengajakku berbicara sepanjang waktu, tanpa mempedulikan tatapan orang banyak yang sudah mungkin sudah mengira bahwa aku ini gila. Kau tidak bisa berada terlalu jauh dari ragamu, hanya sebatas wilayah rumah sakit ini. Maka dari itu, kau tidak pernah melewatkan sedikitpun waktu untuk bersama denganku.” Jelas Sooyoung, kemudian tersenyum pahit.

Sekarang giliran Kyuhyun yang terdiam. Pria itu memejamkan kedua matanya. Keningnya yang berkerut, menandakan pria itu sedang berkonsentrasi penuh dengan pikirannya. Sooyoung tidak tega melihat Kyuhyun yang berusaha untuk mengembalikan ingatannya. Gadis itu merasa dirinya seolah-olah memaksa Kyuhyun untuk mengingat tentangnya.

Sooyoung menyentuh lengan Kyuhyun dengan pelan. “Sudahlah, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingatnya. Kesehatanmu lebih penting daripada ini semua.” Ucap Sooyoung, membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya.

“Baiklah, kurasa cukup sampai disini. Aku masih ada keperluan lain, jadi aku pergi dulu.” Pamit Sooyoung, bangkit berdiri sambil memakai tasnya.

“Ah, tunggu dulu.” Cegah Kyuhyun ketika Sooyoung akan membalikkan tubuhnya.

“Mengenai liontin milik Seohyun, apa kau memang benar-benar sudah mengembalikannya?” Tanya Kyuhyun.

Sooyoung mengangguk. “Iya. Kau bisa cek sendiri, atau menghubungi Seohyun untuk menanyakan liontin itu.” Jawab Sooyoung.

“Oh, ok.” Sahut Kyuhyun.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Ucap Sooyoung sambil membungkukkan tubuhnya kemudian berbalik dan meninggalkan Kyuhyun.

Sepeninggal Sooyoung, Kyuhyun menghembuskan nafasnya dengan kasar. “AAARRKKKH!!! Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun!!!” Pekik Kyuhyun sambil meremas kepalanya.

Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, Sooyoung sebenarnya belum pergi, melainkan saat ini sedang mengintip pria itu dari kaca pintu kamar. Hatinya terasa sakit melihat kondisi Kyuhyun saat itu yang mati-matian berusaha untuk mengingat tentang dirinya.

“Kuharap pada kesempatan terakhir nanti, kau berhasil mengingatku. Jika tidak, aku benar-benar harus melepaskanmu.” Batin Sooyoung, menatap Kyuhyun dengan sedih.

***

“Kuperhatikan, belakangan ini kau terlihat selalu murung. Ada apa denganmu?” Tanya Donghae.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Sooyoung tanpa mengalihkan tatapannya dari mangkuk berisi bubur yang dipegangnya.

“Ck. Siapapun itu yang melihat wajahmu seperti ini, pasti akan memberikan pertanyaan yang sama sepertiku.” Ucap Donghae, kemudian membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Sooyoung.

“Ayolah, ceritakan padaku. Anggap saja ini pertama kalinya kau menceritakan masalahmu, setelah sekian lama kita berada dalam satu keluarga.” Ujar Donghae.

Sooyoung terdiam, gadis itu tampak sedang mempertimbangkan penawaran yang diberikan Donghae. Kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya jika dia menceritakan masalah Kyuhyun kepada kakak laki-lakinya itu. Mungkin, sudah waktunya ia membutuhkan Donghae sebagai teman untuk bertukar pikiran.

“Hemm… baiklah, akan aku ceritakan. Tapi, kau harus menghabiskannya dulu.” Ucap Sooyoung, menunjuk mangkuk yang dipegangnya dengan menggunakan dagunya.

***

“Youngie, kenapa kau tidak makan?” Tanya Jessica, melihat Sooyoung yang hanya mengaduk-aduk makanannya dengan wajah murung.

Sooyoung menggeleng pelan. “Aku malas makan, Sica.” Jawab Sooyoung tanpa mengalihkan tatapannya.

Jessica menghembuskan nafas panjang. “Makanlah. Seharian belum makan apapun, kau pasti sangat lapar.” Perintah Jessica.

“Entahlah. Aku bahkan tidak merasa lapar sama sekali.” Sahut Sooyoung.

“Sssh. Ternyata kau benar-benar mencintainya, ya? Sampai-sampai jiwa rakusmu itu bisa hilang begitu saja hanya karena seorang Cho Kyuhyun.” Ucap Jessica.

Sooyoung mengangguk pelan, tak membantah ucapan Jessica. “Ucapanmu sangat tepat, Sica. Aku benar-benar mencintainya.” Balas Sooyoung dengan wajah sedih.

“Besok, adalah kesempatan terakhirku. Jika dia tidak berhasil mengingatku juga, aku akan mundur. Kupikir, tidak cukup hanya satu pihak yang memiliki sebuah memori.” Ucap Sooyoung, diikuti dengan air mata yang mulai mengalir.

Jessica memeluk tubuh Sooyoung, mencoba memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu. “Semangat, Youngie. Aku yakin, dia pasti dapat mengingatmu.” Ucap Jessica yang juga ikut menangis bersama Sooyoung.

“Semoga saja.” Balas Sooyoung.

***

Sooyoung memejamkan kedua matanya sejenak, melafalkan doa dalam hati, kemudian dengan segenap keberaniannya, gadis itu mengulurkan tangan untuk membuka pintu di depannya. Ketika sudah berada di dalam ruangan, didapatinya Kyuhyun yang sedang duduk di kursi roda sambil menikmati pemandangan melalui jendela. Sooyoung pun berjalan menghampiri Kyuhyun.

“Selamat pagi, Kyuhyun.” Ucap Sooyoung dengan nada sopan, berdiri tepat di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh. “Oh, kau rupanya.” Balas Kyuhyun. “Ada apa? Pagi-pagi sekali sudah datang kesini?” Tanya Kyuhyun.

“Ah, aku… hanya ingin membantumu lagi untuk dapat mengembalikan ingatanmu.” Jawab Sooyoung.

Kyuhyun menghembuskan nafas panjang. “Aku tidak tahu, mengapa sulit sekali untuk mendapatkan kembali ingatanku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengingatnya, namun itu semua sia-sia dan hanya membuat kepalaku hampir pecah.” Ujar Kyuhyun.

Sooyoung menelan salivanya dengan susah. “Jadi, maksudmu?”

“Kau pasti mengerti. Tidak baik memaksakan seseorang untuk mengingat sesuatu yang tidak bisa diingat. Jadi, kuharap, untuk sementara ini kau berhenti dulu memaksaku. Ini benar-benar sulit, kepalaku terasa seperti meledak-ledak jika aku memaksakannya.” Jelas Kyuhyun.

“Kau tidak perlu khawatir, karena aku percaya padamu. Hanya saja, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk aku dapat mengingat semuanya. Belakangan ini, berbagai masalah cukup membuat pikiranku lelah. Jadi, kumohon untuk tidak menambah masalah dalam hidupku.” Sambung Kyuhyun.

Sooyoung terdiam. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, berusaha untuk menahan air matanya yang hendak keluar. Ia tidak menyangka, di kesempatan terakhir ini, Kyuhyun justru memintanya untuk menghentikan semuanya.

“K-kyuhyun… kau…”

“Maafkan aku dan mohon pengertianmu.” Potong Kyuhyun.

Sooyoung memejamkan kedua matanya sambil menghembuskan nafas panjang. “Baiklah. Jika usaha untuk mengingatku hanya akan menambah masalahmu, aku terima. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengingatku. Maafkan aku.” Ucap Sooyoung.

Tanpa berpamitan, Sooyoung berbalik kemudian berjalan meninggalkan kamar Kyuhyun. Air mata tidak tertahankan lagi dan kini mengiringi kepergiannya. Hati gadis itu sudah hancur berkeping-keping. Kesempatan terakhirnya untuk mengembalikan ingatan Kyuhyun sia-sia begitu saja.

Begitu Sooyoung menutup pintu kamar Kyuhyun, ia langsung dihadapkan dengan Cho Ahra. Sooyoung langsung berhambur ke dalam pelukan kakak Cho Kyuhyun itu. Ahra membalas pelukan Sooyoung lalu mengusap punggung gadis itu untuk memberikan ketenangan. Hatinya sangat sedih mendengar isakan tangis Sooyoung.

“Semuanya telah selesai, dan aku tidak berhasil.” Ucap Sooyoung sambil terisak.

“Jangan berkata seperti itu. Kau bisa mencobanya lagi, Soo.” Balas Ahra dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.

Sooyoung menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Tidak, kakak. Dia tidak ingin aku menambah masalahnya. Hiks…”

Ahra diam, tidak tahu harus mengucapkan apa. Ia teringat, semalam Kyuhyun meminta bantuannya untuk mengatakan hal itu kepada Sooyoung. Namun, Ahra menolak. Ia tahu bagaimana kondisi Sooyoung saat ini, dan tidak mau menyakiti perasaan gadis itu. Tetapi, ternyata Kyuhyun yang langsung mengatakannya kepada Sooyoung. Dan saat ini, Ahra hanya bisa menjadikan dirinya sebagai sandaran kesedihan Sooyoung.

***

“Hei… tidak perlu sedih seperti itu. Kau kan bisa mengunjunginya setiap hari.” Ucap Donghae, membantu Sooyoung membereskan perlengkapannya.

“Aku tidak sedih. Lagipula, aku tidak mau lagi bertemu dengan si bodoh itu.” Balas Sooyoung dengan wajah kesal.

Donghae terkekeh pelan. “Kau ini, kenapa menyebut orang yang kau cintai dengan sebutan itu?” Tanya Donghae.

“Cih. Dia itu memang pantas dibilang bodoh. Pria paling bodoh yang pernah aku temui.” Jawab Sooyoung dengan nada sinis.

Donghae tertawa melihat tingkah adiknya. “Iya-iya. Sudahlah jangan seperti itu. Seharusnya kau terlihat bahagia, karena sore ini aku akan kembali ke rumah.” Ucap Donghae.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya, kemudian tersenyum. “Baiklah kakakku yang paling tampan. Selamat, karena sebentar lagi kau akan terbebas dari tempat yang paling membosankan ini.” Ucap Sooyoung kemudian mencubit kedua pipi Donghae dengan gemas.

“Yak! Cubitanmu sakit sekali, Soo!” Omel Donghae sambil mengusap kedua pipinya yang memerah akibat cubitan Sooyoung.

Merasa tidak mau rugi sendiri, Donghae pun membalas Sooyoung dengan mencubit kembali kedua pipi milik gadis itu. Dan ternyata, cubitan Donghae pun tidak kalah keras dengan cubitan yang diberikan Sooyoung.

“Yak! Kakak! Kau bisa membuat pipiku tambah chubby!” Omel Sooyoung, membuat kakak laki-lakinya tertawa dengan puas.

***

Sooyoung menatap sosok yang sedang tidur dengan pulas. Sambil menunggu ayah dan ibunya yang sedang mengurus administrasi Donghae, ia memutuskan untuk menemui Kyuhyun. Sebenarnya, Sooyoung bisa bertemu dengan Kyuhyun pada siang hari saat pria itu sedang tidak tidur. Namun, Sooyoung justru sengaja menemui Kyuhyun disaat jam istirahat pria itu.

“Selamat tinggal.” Ucap Sooyoung dengan suara sangat pelan, tidak mau Kyuhyun terbangun hanya karena mendengar suaranya.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. “Terima kasih, sudah menjadi bagian dari hidupku. Walaupun hanya aku yang memiliki kenangan kita, itu sudah cukup membuatku bahagia.”

Perlahan-lahan, Sooyoung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kyuhyun. Dengan gerakan lembut, gadis itu mendaratkan bibirnya pada bibir Kyuhyun. Kecupan singkat dan dalam, tanda perpisahan yang diberikannya untuk pria itu.

“Aku… aku mencintaimu…” Bisik Sooyoung dengan lirih sebelum menjauhkan wajahnya kembali.

Sooyoung membiarkan air matanya mengalir, sambil menatap pria yang sedang tertidur dengan damai itu. Gadis itu mengamati Kyuhyun dengan cermat, mencoba untuk menyimpan wajah pria itu dalam ingatannya.

“Selamat tinggal, Cho Kyuhyun. Semoga hidupmu selalu bahagia.” Ucap Sooyoung, kemudian berjalan meninggalkan Kyuhyun sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

***

“Kakak, bolehkah aku meminta sesuatu?” Tanya Kyuhyun pada Ahra.

“Tentu saja. Kau mau apa?” Tanya Ahra tanpa mengalihkan tatapannya dari majalah yang berada dipangkuannya.

“Tolong antarkan aku ke taman rumah sakit.” Ucap Kyuhyun.

“Oke. Besok pagi aku akan membawamu ke taman rumah sakit.” Balas Ahra.

“Bukan besok, tapi sekarang.” Sanggah Kyuhyun.

Ahra menoleh ke arah Kyuhyun. “Apa? Sekarang? Tapi ini sudah malam, Kyu.”

“Kakak… kumohon. Aku merasa, ada sesuatu yang harus kupastikan.” Bujuk Kyuhyun dengan wajah penuh harap.

Ahra menghembuskan nafas dengan kasar, sedikit tidak setuju dengan permintaan adiknya. “Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Udara diluar sangat dingin.” Pesan Ahra.

Kyuhyun mengangguk dengan senang. “Tenang saja.” Sahut Kyuhyun.

***

Kyuhyun menghembuskan nafas dengan lega, setelah dengan penuh perjuangan berhasil membujuk Ahra untuk membiarkannya duduk sendiri di taman. Walaupun saat ini tubuhnya harus dilapisi empat buah baju hangat agar tidak kedinginan. Ia ingat, Sooyoung pernah mengatakan bahwa mereka bertemu untuk yang pertama kalinya di taman rumah sakit. Maka dari itu, Kyuhyun memutuskan untuk mengunjungi taman ini. Sesaat, Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke area taman yang cukup besar itu. Ternyata, hanya ia sendiri yang berada di taman pada malam hari ini. Walaupun baru pertama kalinya menginjakkan kaki, Kyuhyun merasa sudah tidak asing lagi berada di taman itu.

Perlahan-lahan, Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku, kemudian menengadahkan kepalanya ke arah langit. Setelah meminta Sooyoung untuk tidak lagi memaksa dirinya, ia tidak pernah berjumpa dengan gadis itu lagi. Ahra mengatakan, bahwa Sooyoung tidak berada di rumah sakit lagi karena kakaknya sudah bisa pulang ke rumah. Ada yang salah, menurut Kyuhyun. Padahal, pria itu bukan bermaksud untuk melarang Sooyoung bertemu dengannya, tetapi sepertinya gadis itu sudah salah paham. Dan entah mengapa, ketika gadis itu tidak pernah lagi menemuinya, Kyuhyun merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Bahkan, pria itu sempat menyesal karena telah mengatakan hal itu kepada Sooyoung.

Kyuhyun mengerang, merasa benci terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak mengingat masa-masa ketika dirinya hidup sebagai roh. Padahal, pria itu bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari kedua mata Sooyoung saat sedang meyakinkan dirinya. Namun tetap saja, tak ada sedikitpun hal yang berhasil diingatnya. Dan setelah dirinya meminta Sooyoung untuk menghentikan semuanya, Kyuhyun justru merasakan hidupnya seolah-olah kosong.

“Tuhan, jika memang aku pernah menjadi bagian dalam semua kenangan yang pernah ia katakan, bantu aku untuk dapat mengingatnya.” Ucap Kyuhyun.

Perlahan tapi pasti, hembusan nafas Kyuhyun mulai teratur. Pria itu tertidur begitu saja ditemani desiran angin malam yang dingin. Dan malam ini, memori itu berhasil didapatkannya kembali, karena Tuhan ternyata langsung mengabulkan doanya.

***

Sebulan kemudian…

Sooyoung menatap jam tangannya, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Itu berarti kurang lebih setengah jam lagi, ia akan segera meninggalkan negaranya dan terbang menuju New York. Saat ini Sooyoung hanya sendirian menunggu waktu keberangkatannya, gadis itu sudah berpamitan dengan Tuan dan Nyonya Cho beserta Donghae di rumah tadi. Ia menolak keluarganya mengantarnya sampai Bandara, karena takut tidak akan sanggup meninggalkan mereka semua. Selain itu, Sooyoung juga sudah berpamitan dengan Jessica beserta teman-temannya yang lain, termasuk Cho Ahra.

Perlahan-lahan, Sooyoung menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, namun bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman pasrah. Ditatapnya tiket pesawat yang berada dalam genggamannya dengan tatapan sedih. Setelah sebulan kemudian, dengan tekad yang sudah bulat, Sooyoung memutuskan untuk meninggalkan semua yang berhubungan dengan Kyuhyun, dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.

Jangan pernah menanyakan, bagaimana perasaan Sooyoung saat ini, karena ia sendiri merasa kesulitan untuk menjawabnya. Begitu banyak kejadian yang sudah berlalu, namun tetap masih meninggalkan beberapa kenangan. Terutama, kenangannya bersama Cho Kyuhyun. Dengan lapang dada Sooyoung menerima kenyataan bahwa Kyuhyun tidak akan pernah mengingat dirinya. Maka dari itu, selama sebulan ini, Sooyoung berusaha mengumpulkan niatnya untuk benar-benar meninggalkan apapun itu yang berhubungan dengan pria yang teramat dicintainya itu.

Sooyoung merogoh kantung sweaternya, kemudian mengeluarkan dua buah benda yang selama beberapa kali sempat ingin dilenyapkannya. Ditatapnya kedua benda itu dengan tatapan sedih.

“Apa aku harus melenyapkan kalian juga?” Ucap Sooyoung dengan suara lirih, menatap lilin dan korek api yang menjadi saksi dari pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun.

Digenggamnya kuat-kuat lilin dan korek api itu, kemudian dipeluknya tepat di depan dada. Bersamaan dengan itu, Sooyoung mulai terisak, tidak lagi mempedulikan keberadaannya saat ini. Pikirnya, tidak ada salahnya melampiaskan semua yang ia rasakan pada hari ini. Toh, ini adalah hari terakhirnya untuk bersedih seperti sekarang ini, karena ia sudah bertekad akan melanjutkan kehidupannya dengan bahagia.

“Selamat tinggal, Cho Kyuhyun. Selamat tinggal. Kuharap, kau selalu bahagia.” Ucap Sooyoung sambil terisak.

Sooyoung memasukkan lilin dan korek api itu ke dalam sebuah kantong kecil yang terbuat dari kain, kemudian menyimpannya dalam tas.

“Kurasa, aku tidak perlu membuang mereka. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan kecil darimu.” Ucap Sooyoung sambil tersenyum pahit.

Beberapa saat kemudian, Sooyoung mendengarkan informasi bahwa penumpang yang akan menuju ke New York agar segera bersiap-siap. Setelah mendengarkan pengumuman tersebut, Sooyoung pun bangkit berdiri, kemudian mulai berjalan sambil menyeret tas kopernya.

Sesaat, Sooyoung menghentikan langkahnya, berharap seseorang datang untuk mencegah kepergiannya. Seseorang yang sampai saat ini belum mengembalikan hatinya. Namun, tiba-tiba Sooyoung tersenyum pahit, menyadari harapannya yang cukup konyol. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya.

“Suatu saat nanti, aku akan mengambil kembali hatiku. Selamat tinggal, Cho Kyuhyun.” Batin Sooyoung.

“Hei! Nona Choi!”

Saat berjalan, samar-samar Sooyoung mendengar ada seseorang yang meneriakkan marganya. Sekilas gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang, namun tidak ada siapapun yang dikenalnya. Sooyoung pun kembali melanjutkan langkahnya.

“Nona Choi! Hei! Tunggu aku!”

Deg! Sooyoung tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tubuhnya seketika terpaku ketika mendengarkan sebuah suara yang sangat dikenalnya. Antara percaya dan tidak percaya, dengan ragu-ragu Sooyoung membalikkan tubuhnya.

“Hosh… hosh… Yak! Nona Choi, kenapa kau berjalan cepat sekali?” Ucap seorang pria yang sudah berada di depannya dengan jarak hanya beberapa langkah.

Sooyoung benar-benar terkejut, sampai-sampai ia lupa menutup mulutnya sendiri. Pemandangan sosok di depannya sukses membuat sekujur tubuhnya seolah-olah membeku. Gadis itu mengepalkan sebelah tangannya dengan sangat kuat, membuat kuku-kuku panjangnya menancap, dan mengakibatkan rasa sakit pada kulitnya. Saat itu juga, Sooyoung percaya bahwa ini semua bukan mimpi. Cho Kyuhyun yang saat ini berdiri di depannya dengan tubuh membungkuk karena kelelahan, ternyata bukan mimpi.

“K-kyuhyun…” Ucap Sooyoung dengan suara pelan, bahkan terdengar seperti bisikan.

Sooyoung diam, bahkan tidak menyadari bahwa pria di depannya sudah memajukan langkahnya. Setelah jarak diantara Kyuhyun dan Sooyoung sudah sangat dekat, mereka saling bertatapan. Kyuhyun menatap Sooyoung yang kedua matanya sudah berkaca-kaca, dengan hembusan nafas yang masih terputus-putus. Sedangkan Sooyoung, gadis itu tidak sanggup berkata apa-apa, terlalu shock untuk mengalami hal seperti ini.

“Hei, kenapa kau diam saja?” Tanya Kyuhyun, dengan beberapa peluh yang mulai bercucuran di keningnya.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangisnya. “Kau… untuk apa kau datang kesini?” Tanya Sooyoung, menatap Kyuhyun dengan sedih.

“Yak! Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau sendiri? Untuk apa kau berada disini?” Kyuhyun bertanya balik, membuat Sooyoung menatapnya dengan kesal.

“A-apa? Aku… aku…”

“Kau benar-benar keterlaluan, nona Choi. Setelah berhasil membuatku ingat akan semua tentang kita, kau berniat untuk meninggalkanku? Apa kau tidak tahu, bagaimana perjuanganku agar aku mendapatkan ingatanku kembali?” Potong Kyuhyun.

“Apa…?” Sooyoung terperangah menatap Kyuhyun.

“Ya. Aku sudah ingat semuanya. Bagaimana pertemuan pertama kita, dan lain-lainnya, aku ingat semua itu.” Jelas Kyuhyun.

Sooyoung terperangah. Ia benar-benar tidak mempercayai semua ini, bagaimana mungkin Kyuhyun sudah mendapatkan ingatannya kembali. Dan saat ini, gadis itu bingung harus menunjukkan rasa senang atau sedih terhadap pria di depannya.

“Yak! Kenapa kau hanya diam saja? Ayo, kita pulang. Lagipula untuk apa kau pergi terlalu jauh? Di New York itu tidak enak, jadi tetaplah disini.” Tegur Kyuhyun.

Tak lama kemudian, Sooyoung mulai tersenyum diikuti air matanya yang mulai bertetesan. Perlahan tapi pasti, gadis itu melangkah maju hingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan Kyuhyun. Dengan gerakan pelan, Sooyoung mengulurkan kedua tangannya dan menyentuh wajah Kyuhyun. Diusapnya dengan lembut wajah pria itu dengan penuh rasa kasih sayang, pria yang berhasil memiliki hatinya.

“Dasar bodoh. Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru mengingatnya sekarang?” Ucap Sooyoung sambil terisak kecil.

Melihat gadis di depannya menangis, Kyuhyun meraih Sooyoung ke dalam pelukannya. Diusapnya pundak Sooyoung dengan lembut, berusaha menenangkan tangisnya yang sudah pecah. Perlahan-lahan, Sooyoung juga melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk Kyuhyun. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun sambil menghirup aroma pria itu dalam-dalam.

“Maafkan aku, sudah membuatmu lama menunggu.” Bisik Kyuhyun.

Sooyoung hanya mengangguk, tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun, karena begitu menikmati dekapan seseorang yang teramat dirindukannya. Dalam pelukannya, Sooyoung tersenyum, bersyukur karena Tuhan akhirnya mengabulkan doa-doanya selama ini.

“Sekarang, ayo kita tinggalkan tempat ini.” Ucap Kyuhyun sambil melepaskan pelukannya dengan gerakan lembut.

“Tapi, aku harus pergi untuk melanjutkan studi…”

“Yak! Kau tidak perlu melanjutkan studimu itu. Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, jadi kau tidak akan punya waktu untuk melanjutkan pendidikan lagi.” Potong Kyuhyun sambil mengusap sisa-sisa air mata pada wajah Sooyoung.

“Kyuhyun, tapi aku…”

“Sudahlah. Ayo kita pergi. Aku sudah tidak kuat lagi.” Ajak Kyuhyun dengan wajah yang sudah mulai pucat pasi.

“Astaga. Apa kau kabur dari rumah sakit?” Tanya Sooyoung dengan tatapan menyelidik.

“Tidak. Aku hanya mempercepat jam pulangku saja, tidak tahan jika harus menunggu sampai sore hari.” Jawab Kyuhyun.

“Yak! Itu sama saja kabur, bodoh! Kau benar-benar nekat, Cho Kyuhyun. Bagaimana jika keluargamu mencari keberadaanmu!” Omel Sooyoung.

“Tenang saja. Mereka tidak akan mencari keberadaanku jika sekarang kita tinggalkan tempat ini.” Ujar Kyuhyun.

“Ck. Baiklah! Ayo kita pergi.” Ucap Sooyoung, mulai melangkahkan kedua kakinya dan menyeret kopernya kembali.

Kyuhyun tersenyum melihat Sooyoung yang menuruti ajakannya. Pria itu pun menyamakan langkahnya dengan Sooyoung. Namun baru beberapa langkah, tubuh Kyuhyun sedikit terhuyung sehingga mengenai Sooyoung yang berjalan di sampingnya.

“Yak! Cho Kyuhyun, kau kenapa?!” Tanya Sooyoung dengan panik sambil menahan tubuh Kyuhyun.

“Tubuhku terasa lemas, sepertinya efek dari lari marathon yang aku lakukan tadi pada saat mengejarmu.” Jawab Kyuhyun dengan suara pelan.

“Aish. Kau ini! Sudah tahu sakit, kenapa mau melakukan hal ini!” Omel Sooyoung, membuat Kyuhyun tersenyum.

“Sini, letakkan tanganmu disini.” Ucap Sooyoung, kemudian meletakkan sebelah lengan Kyuhyun di lehernya.

“Kita jalan pelan-pelan saja.” Perintah Sooyoung dengan sebelah tangannya yang sudah memeluk pinggang Kyuhyun.

***

Kyuhyun menggeliat dalam tidurnya saat sinar matahari pagi menyorot wajahnya melalui kaca jendela. Perlahan-lahan pria itu membuka kedua matanya, kemudian tersenyum ketika mendapati gadisnya masih terjaga. Melihat Sooyoung yang masih tertidur, membuat Kyuhyun tidak tahan untuk mengecup kening indah milik gadis itu.

Tak lama kemudian, Sooyoung pun mulai mengerang pelan dalam tidurnya. Gadis itu pun perlahan-lahan membuka kedua matanya dan langsung mendapati wajah Kyuhyun berada cukup dekat dengan wajahnya. Setelah beberapa detik mengumpulkan kesadarannya, Sooyoung pun langsung terduduk di atas ranjang. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang cukup besar itu.

“Dimana ini?” Tanya Sooyoung tanpa menatap pria yang masih terbaring di sebelahnya.

“Di kamarku. Semalam kau tertidur saat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, jadi aku membawamu kesini.” Jawab Kyuhyun kemudian menguap.

Merasa aman karena masih mengenakan pakaian yang sama, Sooyoung pun menghembuskan nafas dengan lega. Namun, mendadak dirinya teringat sesuatu. Ketika sudah mengetahui dimana letak tas-nya, dengan gerakan cepat Sooyoung meraih ponselnya.

“Ya Tuhan! Mati aku! Mereka pasti mencariku!” Pekik Sooyoung sambil menekan-nekan tombol pada ponselnya.

Sooyoung langsung menempelkan ponselnya pada telinganya, ketika nomor yang dicari sudah berhasil ditemukan. Sedangkan Kyuhyun, pria itu ikut duduk di samping Sooyoung.

“Kakak!” Seru Sooyoung.

“Hei! Kemana saja kau! Kenapa tidak memberi kabar? Kami semua khawatir padamu! Kau baik-baik saja kan?!” Omel Donghae di seberang sana, membuat Sooyoung sedikit menjauhkan ponselnya karena suara kakaknya yang cukup kencang itu.

“Aku baik-baik saja. Kakak, maafkan aku. Aku lupa memberitahu kalian. Sungguh, aku benar-benar lupa. Maafkan aku.” Ucap Sooyoung dengan nada penuh penyesalan.

“Sssh. Baiklah, tapi lain kali jangan diulangi lagi. Kami semua khawatir menunggu kabar darimu. Bagaimana, kau sudah sampai New York kan?” Tanya Donghae.

Sooyoung menghembuskan nafas panjang. “Kakak… sekali lagi maafkan aku. Aku membatalkan keberangkatanku ke New York.” Ucap Sooyoung dengan suara pelan.

“APA?!” Jerit Donghae, bahkan Kyuhyun yang berada di dekat Sooyoung pun dapat mendengarnya dengan jelas.

“Lalu, sekarang kau berada dimana?” Tanya Donghae dengan nada panik.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. “Aku… aku berada di… di…”

“Halo, kakak! Ini aku Kyuhyun. Kau tidak perlu khawatir karena Sooyoung bersamaku.” Kyuhyun memotong percakapan kakak beradik itu dengan merebut ponsel Sooyoung.

“APA?!” Jerit Donghae.

“Yak! Jangan menjerit seperti itu! Telingaku bisa tuli hanya karena mendengar jeritanmu!” Omel Kyuhyun membuat gadis di sampingnya membulatkan kedua matanya.

“Yak! Cho Kyuhyun! Kau ini…”

“Hei, calon kakak ipar, bersikap tenanglah. Tidak perlu marah-marah seperti itu. Kau tenang saja, Cho Kyuhyun akan menjaga Choi Sooyoung dengan baik-baik. Dan aku, akan mengembalikannya nanti malam. Kami akan datang kesana, bersama dengan kedua orangtuaku yang akan melamar Sooyoung. Oke? Mengerti? Baiklah, aku tutup telponnya ya, kami mau sarapan dulu. Have a nice day!” Seru Kyuhyun. Dan tanpa mendengarkan balasan dari Donghae, Kyuhyun langsung mematikan ponsel milik Sooyoung.

“Bagaimana? Selesai kan?” Ucap Kyuhyun sambil menaikkan sebelah alisnya lalu mengembalikan ponsel yang sudah mati itu. Sooyoung pun mengusap keningnya kemudian menghembuskan nafas dengan panjang.

Kyuhyun mengusap kepala Sooyoung dengan lembut. “Kau tidak bisa pergi kemanapun nona Choi, karena hatimu ada padaku. Walaupun kau tetap pergi, aku tidak akan mengembalikan hati ini padamu.” Ucap Kyuhyun.

Sooyoung mencubit pelan lengan Kyuhyun lalu tersenyum. Gadis itu pun kembali memeluk tubuh Kyuhyun, dekapan yang membuat dirinya merasa sangat nyaman.

“Aku sangat mencintaimu, Choi Sooyoung.” Ucap Kyuhyun kemudian mengecup dengan lembut puncak kepala Sooyoung. “Kau juga mencintaiku kan?” Tanya Kyuhyun.

“Too. I really love you, Cho Kyuhyun.” Balas Sooyoung, mengeratkan pelukannya.

Kyuhyun tersenyum bahagia mendengarkan pernyataan dari gadis yang sangat dicintainya itu. Pria itu sangat bersyukur, Tuhan mempertemukannya dengan Sooyoung disaat dirinya mengalami masa-masa yang cukup sulit. Sebagai tanda terima kasihnya, Kyuhyun pun memberikan morning kiss untuk seseorang yang berada dalam dekapannya saat ini.

“Ckckck. Ahra, lihatlah. Mereka berdua bahkan tidak menyadari kita yang sedari tadi berada di pintu ini.” Ucap Nyonya Cho.

Ahra terkekeh pelan. “Iya, ibu. Sepertinya mereka akan sedikit terlambat sarapan pagi ini.” Ucap Ahra.

Nyonya Cho tertawa pelan. “Hmm. Mungkin.” Balas Nyonya Cho.

“Eh, ibu, sepertinya kita harus mempersiapkan acara nanti malam” Ucap Ahra.

“Hemm. Benar juga. Ayo!” Ajak Nyonya Cho, kemudian menutup dengan pelan pintu di depannya.

*** THE END ***

 

Akhirnyaaa… selesai juga cerita yang satu ini. Makasih ya sudah mau baca. Maaf kalau banyak kesalahan penulisan, maklum masih amatir😀 Please, keep Read Comment Like. No copy, no silent reader, no Plagiator. Ditunggu kritik, saran, dan komentar-komentarnya.Thanks!

131 thoughts on “[Oneshoot] I Really Love You

  1. nyonya gaemgyu says:

    Ya Amvuuuuuuuunnn >< gila' ff. ny kerrn bgt chingu, sampe terharu banget + feel.ny ngena,, 😁 jan bosen2 buat ff lgi neee chingu, 😄 ff.ny daebak deh pokok.ny 👍 (mian manggil.ny chingu..abis gak sopan kalo manggil thor.. kek gimanaaa gitu :'v )

  2. Alieyushi says:

    Maaf thor, baru baca nih ff
    suka dengan ceritanya😀
    bagus, minta sequelnya dong thor😀
    terus berkarya ne😀

  3. Ah~ satu kata ini keren!😀 feelnya dapat bgt deh hehe

    Sempat menitikkan air mata nih sedikit #cengeng😀 Konfliknya ngena banget dan penyelesaian good deh hihi

    Nice ff! Keep writing ya~

  4. Rizky NOviri says:

    perasaan udah baca plus comment, tapi dimana ya lupa.. haha..
    comment lg deh ya tkut blm..😀

    ceritanya seru.. keren..
    nyesek juga sih pas kyu lupa.. hueee..
    tp untung hepi ending..😀

    daebak😉
    semangat buat ff yg lainnya ya…😉

  5. 규영 shipper says:

    sumpah keren bangettt
    oneshoot tapi kaya series hahaha panjang banget
    keren pokoknya. sangat memuaskan. konfliknya udah biasa tapi ngefeel bangettt
    awalannya sedih gara” donghae eh pas mau akhiran sedih gara” kyuyoung.
    cinta banget sama donghae deh :* pengin punya kaka kaya donghae, sayang banget sama soo
    harus bikin sequel ata AS nya nih. pasti asik hahaha
    Ditunggu ff yg lain yaaa

  6. fyna says:

    daebbak..
    ceritanya bagus banget..
    gak ketebak ceritanya..
    seru banget..
    semangat terus yh thor..
    fighting..
    .
    o ya..
    annyeong..
    new reader here..
    bangapseumnida..🙂

  7. nadasooyoungstersoneelf says:

    Kereenn banget thor
    aku sampai semepet nangis loh :v #gua_cengeng :v
    kalo bisah kasih sequelnya :V :v

  8. NDR says:

    Ah gila neomu johalah thor. Keren fictnya feelnya dapet. Akhirnya perjuangan soo ngga sia2 mana langsung dilamar gitu huft. Ditunggu fict lainnya thor kkkk

  9. LelaKimKai says:

    daebak daebak daebak^^
    ini ff dapet rekor ff oneshoot terpanjang dehh😀
    ceritanya juga seru abis, bikin nangis+senyum2 gaje^^
    ditunggu ff lainya thor😉

  10. yura says:

    Keren bgt ceritanya sukaaaaa
    Oneshoot terpanjang yg pernah aku baca wkwk
    Bener bener suka sama cerita ini
    Daebak
    Semoga ada cerita sambungan buat oneshoot ini ya hehe 😁

  11. Neomo neomo joahae ,,,,
    Suka bgt jalan ceritanya , konflik nya …
    Hei masalah konflik nya , aku kira kyu ga akan inget ana Soo . Lalu kan itu Soo pergi ke NY , Nahhh saat Soo udah pergi baru dehh Kyu inget . Nunggu beberapa Taun lagi baru ketemu .. Ehhh ternyata , Kyu cepet nyadarnya .. Dan perkiraan aku itu NOL BESAR .. Hhaaaaa
    And look mereka Happy end … Yeeayyyyyyyyy
    Sumpah ceritanya sangat menarik hati ,,#hha
    Tapi agar lebih sangat sangat menarik hati + complete,adain AS/Sequelnya donk thor … Hhe#tuhkan adamaunya …

    • Komentarnya hampir jadi cerpen chingu… hahaha… bercandaaa😀
      Syukurlah cerita gaje ini bisa menarik hatimu -_-
      Yaaaah… ini gak ada sekuel/AS’nya. Mianhae… Jeongmal mianhae…😦
      Aku bikinin ff dengan cerita lain aja yaaa😉
      Makasiiih ya udh mau baca dan atas komentarnyaaa😉😉😉

  12. met says:

    Daebak
    Bnr” daebak hhee
    Aku suka bgt sama ceritanya
    G tau mau ngomong ap lg
    Ditunggu aj ne ff kyuyoung yg lain😀

  13. Asli keren lah;;walau ini semacem long oneshoot, jujur keren;;;
    gak nyangka kyuhyun bakal ngejar sooyoung yaampun;;btw ditunggu fanfict lainnya!

  14. Kyaa!! Keren bgt ffnya demi apapun.
    Sedih pas ckh gakenal csy pengen nangis;'((
    Kirain bakal sadend ternyata happyend hehehe
    Daebak thor, nice ff!;))

  15. rifqoh wafiyyah says:

    panang ceritanya tapi memuaskan seru bangett
    nangis pas donghae sma soo unnie flashback tntng kado..
    sma nngis pas kyuppa gak ingat soo unnie..
    sequel pliss..

    • Hihi… maaf ya kalo kepanjangan. Maklum, efek kebanyakan begadang -_-
      He-em. Kisah Donghae-Sooyoung yang paling bikin aku nangis😥
      Maaf ya chingu, ga bisa buat sekuelnya😥
      Makasiiih atas komentarnya😉

    • Yang tabah chingu… yang penting perjuangan Soo berbuah baik kan🙂
      Ya ampun… msh banyak ff yang jauh lbh baik dari ini kok😀
      Oke-oke chingu… makasih banyak yaaaaa😉

  16. fanight says:

    kerenn banget.. ini panjang banget deh dan jg ngena bget di hati.. fufufu daebal bget thor.. huaaaa kerenn gatau mau ngomen apa.. hrhehe

    • Hwaaa… maaf ya klo kepanjangan. Abisnya tanggung kalo dibagi jadi 2 part. Hehe… syukurlah kalo ngena dihati… kirain biasa2 aja😀
      Makasih yaaaaa :* :*

  17. elissintiyaknight says:

    sumpahh.. keren ff nya.. sedikit masukan ya thor.. abis ini lanjutin aja tapi pas kyuyoung udh nikah trus kasih nc nya.. yayaya jeball

    • Makasih chingu… ff ini masih jauh dr sempurna kok🙂
      Huehehe… pengennya sih dilanjutin, tapi maaf gabisa😦 Soalnya ini Oneshoot. Lagipula aku agak gugup kalo bikin NC Kyuyoung -___-”
      Tengkyu ya udh baca ^^

  18. untung donghae lbh dulu berbesar hati menyadari statusnya skrg tnpa harus soo tau perasaannya. jd terbawa perasaan jg pas kyu gak inget soo, sedih :” tp seneng krn akhirnya kyu bisa inget soo lg. i really love you, kyuyoung :*

  19. Keren nih oneshot .
    Nilai moralnya dapet banget . Amanat.nya juga baik . Semua itu butuh tawakal, kesabaran, perjuangan .
    Pokok.e cocok ceritanya . Excelent

  20. febryza says:

    aaaahhhh bagus moment sooyoung donghae sebagai adek kakaknya dapet huhuhuhu disitu aku nangis loh, terjs sempet udah hopeless kayak soyoung juga soalnya kyuhyu engga inget apa yg dia lakuin sama sooyoung dulu pas jadi roh. kyuhyun yah masa sooyoung mau ngelanjutin studi malah dibawa pulang kerumahnya sampe bikin keluarganya sooyoung khawatir lagi udah gitu pas donghae nelpon malah dijawab gitu hahahaha

    • Tengkyu tengkyu…
      Iya chingu. Lumayan emosi bikinnya, apalagi pas Kyu gak inget Soo. Rasanya mau nampol Kyu #maafsparkyu
      Makasih ya udh mau baca 😊😊😁😁

  21. syonx says:

    kerenn
    gak tau mau ngomong apa lagi pokok nya ini keren banget :’)
    Happy ending Yey akhirnya perjuangan sooyoung tidak sia2
    next ff ditunggu yah^^

    • Syukurlaaah dibilang keren sama chingu, padahal ini ff masih acak-acakan 😁😁
      Yoi… aku kan suka happy ending😀
      Oke chingu… makasih ya udh mau baca 😊😊

  22. Risqi says:

    ceritanya keren!! bikin terharu.. setelah sekian lama.menerima penolakan dr sooyoung akhirnya sooyoung bisa menerima donghae sbg kakaknya. seneng deh kyuhyun akhirnya bisa mengingat sooyoung jd sooyoung nggak perlu pertama ke new york. buat ASnya donk..

    • Hehe… syukurlah kalau sukses bikin kamu terharu ^^
      Untuk sekuel, maaf ya aku ga bisa bikin karna ini Oneshoot. Mungkin, ditunggu ff dengan cerita lainnya aja kali ya…
      Makasih ya udh mau baca dan atas komentarnya
      😊😊😁😁

  23. ayumi says:

    Fyuuuuuh…pnjang nian ff nya.pas aj kalo twoshoot.
    tapi..bruntungnya gk twoshoot,jadi gk klmaan nunggu publishnya.hehe
    bikin yg lbh gregetan y chingu..

    • Hihi… iya chingu, tadinya mau dibikin twoshoot, tapi tanggung. Jadi sekalian aja, jadinya panjang begini dah😀
      Oke2 chingu… makasih udh mau baca ya 😊😊😁😁

    • Sorriiiiii…
      Ini ff oneshot chingu, jadi gak ada sekuelnya. Tunggu cerita lainnya aja ya… haha, pede bgt aku ini😛
      Makasih ya komentarnya 😊😊😁😁

  24. sisca says:

    Daebak aku suka bangettt sama jalan ceritanya thor panjang konfilknya dapet kerennn thor aku suka bangetttt bangetttannnnn hehehehe ditunggu ff lainnya thor😉

  25. Youngra park says:

    Aduhhh krennx smpai gk tw sdh aku mw koment ap krenn bgts pokokx chigu nice ff next ffx di tnggu mungkin bisa AS gtuh

  26. Sistasookyu says:

    Aw cute~

    syo sama donghae udah akur..

    Terus kyu nya juga udah inget sama syo
    then, mereka bakal married.. Complete deh ^^

  27. gita says:

    Manis bnget si kyuppa, untng dy bisa dapetin ingetannya lagi…
    Kirain haeppa bakal ngerebut soo dri sisi kyu, untng enggak ternyata
    Ditunggu ff slanjutnya

  28. fransiscafrtnta24 says:

    ceritanya kereeeeeeeen ><
    bikin nangis juga sih … :')
    akhirny happy end juga ^^ kirain kyu ga bkl inget lgi … xD
    ditunggu ff lainnya, hwaiting !

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s