[Series] Stuck In Love -24-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

 Maaf banget knights karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

 By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Sebuah mimpi yang indah. Aku berharap aku tidak bangun dari mimpi itu karena aku ingin terus bersama kedua orang tuaku dan Kyuhyun. Ini pertama kalinya aku bermimpi bahwa kedua orang tuaku baik-baik saja, seakan-akan mereka tak pernah saling membenci sebelumnya. Aku bahkan mendengar bagaimana kedua orang tuaku memanggil satu sama lain dengan nyaman. Mungkin seperti itulah cara mereka memanggil seperti saat mereka masih bersama. Meskipun bagiku masih terasa canggung, karena akupun baru pernah mendengarnya, tapi aku rasa mereka benar-benar baik-baik saja. Itulah alasan kenapa aku tak mau bangun dari mimpiku ini, karena pada kenyataannya kedua orang tuaku tak akan pernah bisa seperti itu.

Tapi sayangnya aku tak bisa. Aku tak bisa terus bermimpi karena aku harus hidup di dunia nyata. Mataku pun dengan sendirinya terbuka saat sedikit sinar matahari masuk ke kamarku dan menyilaukan mataku. Aku terbangun, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar sedih karena terbangun dari mimpiku. Rasanya mimpi itu benar-benar nyata, bahkan sampai sekarang aku masih bisa merasakan semua hal yang aku rasakan di mimpiku itu.

Mataku mengerjap beberapa kali sambil berusaha menghilangkan ingatan mimpi itu dari pikiranku. Aku sendiri heran kenapa aku bisa memimpikan hal seperti itu? Apa ini karena aku terlalu memikirkan kedua orang tuaku dan apa yang terjadi pada pernikahan mereka? Ah, pasti benar karena itu. Karena pembicaraan mengenai pernikahan dengan Kyuhyun yang membuatku terus memikirkannya beberapa hari yang lalu. Meskipun aku berkata padanya bahwa aku masih menolak pernikahan itu, dan dia pun memintaku untuk melupakannya, tapi tetap saja aku memikirkannya. Aku menarik napas panjang, lalu beranjak dari tempat tidurku dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Aku seharusnya tak memikirkannya lagi,” gumamku pada diri sendiri sebelum menyiram tubuhku dengan air yang terasa dingin di kulitku.

Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi untuk siap bekerja, akupun bergegas keluar dari kamar dan melangkah ke dapur untuk sarapan bersama Appa dan Kyuhyun. Tapi kemudian langkah kakiku berhenti saat aku mendengar suara yang sangat tidak asing di telingaku dari arah dapur. Suara eomma! Aku menghela napas panjang, lalu cepat-cepat mengenyahkan pikiranku yang sepertinya masih terpengaruh dengan mimpiku itu. Aku kembali berjalan sambil terus membuang jauh-jauh mimpiku karena itu tak mungkin terjadi. Bahkan bisa dikatakan tak akan pernah terjadi.

Oh, Sooyoung-ah. Kau sudah bangun?” Suara eomma terdengar, dan kemudian aku melihatnya sedang berdiri di depan kompor sambil mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci. “Cepat duduk, dan bersiap untuk sarapan” kata eomma lagi.

Aku diam membeku di posisiku karena tak percaya dengan apa yang aku lihat oleh mataku sekarang. “E-Eo-Eomma?”

Eomma menolehkan kepala, “Wae? Kenapa kau berdiri saja disitu? Duduklah. Sebentar lagi Appa-mu dan Kyuhyun akan segera turun”

E-Eomma, kenapa… kau disini?”

“Sooyoung-ah, kenapa kau berbicara seperti itu pada Eomma-mu?” sahut Appa dari arah belakangku. Aku menatap Appa yang menyunggingkan segaris senyum tipis pada eomma sebelum dia melangkah ke meja makan dan duduk di salah satu kursinya. “Ayo kita sarapan bersama sekarang,” katanya, baik padaku maupun eomma.

Aku masih diam di tempatku untuk beberapa saat, sampai akhirnya eomma menyentuh lenganku dan mengajakku untuk duduk. Tak lama kemudian, Kyuhyun datang dan diapun ikut duduk di depanku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di rumah ini kali ini, karena aku rasa mimpiku tadi bukanlah sebuah mimpi. Jika memang begitu, apa eomma dan appa sudah benar-benar berbaikkan sekarang? Mereka bahkan saling melempar senyum satu sama lain, meskipun itu dengan sangat canggung.

“Yah, lama sekali aku tak memakan masakan seperti ini lagi” kata appa memecah keheningan di meja makan. “Emm… kalau begitu, ayo makan. Ini pasti sangat enak,”

Aku tak mengatakan apa-apa, dan hanya mengambil sendokku sambil terus memandangi kedua orang tuaku dengan sedikit tidak percaya. Sampai akhirnya mataku menatap Kyuhyun yang ternyata juga sedang menatap ke arahku dengan senyum mengembang di wajahnya. Dia sepertinya ikut senang dengan keakraban kedua orang tuaku. Bahkan dia sama sekali tak menyembunyikan wajah bahagia itu, sama seperti appa yang benar-benar terlihat sangat berbeda hari ini.

“Sooyoung-ah, kau berangkat ke kantor bersama Kyuhyun saja hari ini” Appa berkata setelah beberapa saat. “Tidak apa-apa, kan, Kyuhyun-ah?” tanyanya pada Kyuhyun.

Gwenchanayo, Appa

“Tapi, Appa. Bagaimana jika-“

“Kau tak usah memikirkan apapun lagi. Mungkin sebaiknya kalian memang menunjukkan kedekatan kalian di kantor karena itu akan lebih mudah saat kita mengumumkan rencana pernikahan kalian,”

Aku menghembuskan napas pelan, lalu berdiri dari tempat dudukku. Meskipun sebenarnya aku sedikit enggan meninggalkan meja makan, tapi mau tak mau aku memang harus pergi karena appa masih merencanakan pernikahanku dengan Kyuhyun. Lagipula aku memang belum memberitahu appa jika aku masih tidak setuju dengan pernikahan itu, dan aku sendiripun tak tahu bagaimana akan memberitahunya nanti. Mungkin Kyuhyun akan membantuku saat aku berbicara dengan appa, tapi aku belum memikirkan itu.

“Sooyoung-ah,” panggilan Kyuhyun itu membuatku berhenti melangkah. “Apa kau tak mau pergi ke kantor bersamaku? Kenapa kau pergi begitu saja dari meja makan?”

“Aku bukan tak mau pergi ke kantor bersamamu, Oppa. Tapi kau tahu, aku tak mau membahas masalah pernikahan bahkan saat kita sedang sarapan bersama,” jawabku jujur. “Aku tahu, seharusnya aku tak bersikap seperti itu karena bagaimanapun appa menginginkan yang terbaik untuk kita karena dia tahu bahwa kita saling mencintai. Tapi, aku rasa dia-“

Ah, jadi karena masalah pernikahan kita?” Kyuhyun menyela perkataanku. “Arraseo, kita akan membicarakan itu nanti saja. Lagipula aku tak akan memaksamu untuk menikah denganku dalam waktu dekat ini jika memang kau belum siap untuk menikah,”

Oppa,”

“Aku mencintaimu, dan kau mencintaiku. Itu cukup untuk sekarang ini, kan? Jadi, ayo kita berangkat ke kantor bersama hari ini” kata Kyuhyun sambil menggenggam tanganku dan mengajakku pergi ke arah mobilnya. Dia membantuku membukakan pintu mobil, dan bergegas masuk ke tempatnya. “Menurutmu, apa kita harus menunjukkan kedekatan kita di kantor seperti yang appa katakan tadi?”

“Aku rasa tanpa harus menunjukkan kedekatan kita, semua orang sudah mengetahuinya sekarang” jawabku sambil memasang sabuk pengamanku sendiri. “Mereka tahu dulu kita berkencan, ah, bukan berarti kita tidak berkencan sekarang, dan kitapun tinggal dalam satu atap. Jadi, apa lagi yang perlu kita tunjukkan?”

Kyuhyun tertawa, “Kita bahkan belum benar-benar berkencan lagi setelah hari itu,” katanya. “Kalau begitu, Sooyoung-ah… maukah kau menjadi yeojachingu-ku lagi?”

Aigoo, oppa. Apa kau memintaku menjadi yeojachingu­-mu sekarang? Di dalam mobil seperti ini?”

Eo. Wae?”

“Benar-benar tidak romantis,”

Kyuhyun kembali tertawa, lalu dia menyalakan mesin mobilnya dan langsung menginjak pedal gas. Aku sempat menatap ke arah rumahku dari kaca spion di samping mobil sampai akhirnya rumah itu benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Lalu aku melirik Kyuhyun yang sedang berkonsentrasi pada kemudinya. Aku tersenyum, tapi cepat-cepat memalingkan wajahku saat dia menoleh padaku.

“Kau memandangiku. Wae?” tanyanya kemudian.

“Memangnya aku tak boleh memandangimu?” Aku balik bertanya tanpa menatap ke arahnya. “Tak ada aturan yang melarangku untuk tidak memandangi namja yang aku cintai,” dengusku.

Ah, kau benar. Memang tak ada aturan seperti itu,” komentar Kyuhyun sambil membelokkan mobilnya ke distrik Gangnam. “Appa dan eomma-mu pun tadi saling memandangi satu sama lain beberapa kali. Apa kau melihatnya?”

Aku menolehkan kepala pada akhirnya, lalu mengangguk pada Kyuhyun yang sedang menatapku sekilas. “Oppa, kau tahu, sampai sekarang aku masih berpikir jika aku hanya bermimpi, tapi ternyata eomma benar-benar datang ke rumah appa

“Memangnya kau mimpi seperti apa?”

Eomma datang ke rumah appa, dan mereka terlihat baik-baik saja. Seperti tadi itu,” jawabku langsung. “Itu benar-benar tidak bisa dipercaya, kan? Maksudku… eomma benar-benar datang ke rumah appa, dan bersikap seakan-akan tak pernah terjadi apapun diantara mereka berdua sebelumnya”

Kyuhyun diam sesaat, sampai akhirnya dia menghentikan mobilnya tepat di depan gedung JinHan tapi tak langsung masuk ke halaman parkirnya. “Sooyoung-ah, apa kau benar-benar senang melihat eomma-mu seperti itu?”

Eo. Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanyaku tak mengerti.

“Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi sekarang,”

“Apa kau mencurigai eomma-ku, oppa?”

Kyuhyun hanya menjawabnya dengan mengangkat bahunya. Lalu dia kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman JinHan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Satu alisku terangkat melihat sikap Kyuhyun sekarang, tapi aku tak mau bertanya apapun padanya mengenai eomma-ku. Aku cukup senang karena eomma sudah berubah, dan aku tak mau merusak kesenanganku itu hanya karena kecurigaan Kyuhyun yang tidak beralasan. Aku hanya ingin menikmati waktuku bersama kedua orang tuaku yang baru kali ini bisa aku rasakan. Aku benar-benar akan menjadi putri yang baik dan membanggakan mereka sekarang.

¯¯

Kyuhyun POV

Seminggu ini aku benar-benar melihat ekspresi kebahagiaan di wajah Sooyoung. Mungkin itu karena kedua orang tuanya berkumpul bersama sekarang, dan jujur saja aku juga ikut senang karena itu. Meskipun aku masih merasa ada keanehan dengan perubahan sikap eomma Sooyoung itu, tapi aku tak bisa melakukan apapun untuk membuktikan kecurigaanku. Lagipula apa yang bisa aku lakukan jika dua orang yang paling aku sayangi di dunia ini terlihat sangat senang dengan kehadiran sosok wanita yang benar-benar sudah lama mereka rindukan? Aku tak mau merusak kebahagiaan mereka hanya karena kecurigaanku ini, dan sepertinya aku memang harus membuangnya jauh-jauh dari pikiranku mulai sekarang.

Eomma Sooyoung benar-benar seorang ibu yang baik. Dia selalu menyiapkan makanan meskipun sebenarnya ada ahjumma yang biasanya menyediakannya untuk kami. Tapi eomma Sooyoung justru meminta ahjumma untuk mengerjakan sesuatu yang lain sementara dia memasak. Aku memang tak tahu apa yang terjadi di rumah saat aku dan Sooyoung bekerja, tapi sepertinya itu sesuatu yang baik karena appa sepertinya terlihat semakin dekat dengan mantan istrinya itu. Kesehatan appa pun bahkan semakin membaik sejak kedatangan eomma Sooyoung, dan aku tak tahu jika sekarang dia benar-benar rajin meminum obatnya.

Kwajangnim, apa ada masalah?” suara Pengacara Lee terdengar dan mengalihkan pikiranku dari keadaan di rumah selama seminggu ini. “Anda sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa kita tunda dulu pembicaraan kita ini?”

Aniyo. Kita lanjutkan saja,” sahutku dengan cepat. “Aku ingin tahu bagaimana cara yang bisa kita ambil agar JinHan bisa masuk ke dalam salah satu perusahaan terbaik”

“Baiklah. Mengingat ketertarikan beberapa pemegang saham untuk menanamkan modalnya di JinHan, aku rasa itu bisa kita jadikan batu loncatan untuk menarik lebih banyak investor lagi, Kwajangnim” Pengacara Lee melanjutkan pembicaraan saat aku sedang makan siang bersamanya di sebuah restoran di Apgeujeong-dong. “Choi Sajangnim juga mengingatkan kita untuk tetap mengawasi dengan ketat naik turunnya saham kita juga keuangan intern JinHan karena selama ini kita memang tak terlalu memperhatikan kedua hal itu,”

“Benar, kita hanya terfokus pada proyek-proyek” sambungku. “Tapi apa kebijakan Sajangnim untuk membatasi setiap proyek yang masuk ke JinHan disetujui oleh dewan direksi?”

Pengacara Lee mengangguk, “Meskipun begitu, Shim Busangjangnim dan orang-orangnya menentang kebijakan itu. Tapi kita tahu bahwa mereka tak menunjukkannya langsung di depan Sajangnim

“Aku tahu jika Busangjangnim memang orang yang seperti itu,” kataku sambil meminum kopiku yang mulai dingin. “Shim Chojangnim juga memberitahuku sedikit informasi tentang proyek yang sedang Busangjangnim rencanakan kali ini. Tapi aku tak akan mengambil tindakan apapun sebelum aku benar-benar melihatnya sendiri. Aku hanya akan tetap waspada untuk kali ini,”

Pengacara Lee tak memberikan komentar apapun untuk yang satu ini. “Kwajangnim, apa menurut Anda tidak aneh saat Busangjangnim juga menentang keponakannya sendiri? Maksudku… dia adalah paman Sajangnim, tapi kenapa dia terlihat ingin menjatuhkan Sajangnim?“

Kali ini aku yang tidak berkomentar.

“Choi Sajangnim memang terlihat sangat mirip dengan Komisaris, bahkan dalam hal pekerjaannya. Dia tegas, tapi juga lembut. Ah, Anda pasti benar-benar merasa beruntung menjadi namjachingu-nya”

Aku tersenyum, “Benar, aku memang beruntung”

“Tapi Anda juga orang yang hebat, Kwajangnim. Anda selalu tahu apa yang salah bahkan sebelum ada yang menyadarinya. Jadi, aku rasa Sajangnim juga beruntung karena memiliki Anda” kata Pengacara Lee lagi.

Aigoo, Pengacara Lee. Kenapa Anda tiba-tiba mengubah arah pembicaraan kita?”

Ah, josanghaeyo. Aku hanya tidak tahan untuk tidak berkomentar mengenai betapa cocoknya Anda dengan Sajangnim

Aku kembali tersenyum, “Kita tak harus membahasnya sekarang. Mungkin lain kali kita bisa membahasnya,” kataku. “Ngomong-ngomong, apa ada kabar dari Quintrix? Sepertinya aku tak mendengar apapun lagi sejak Anda memberitahuku waktu itu,”

“Anda tak perlu khawatir mengenai Quintrix karena Lee Sajangnim memutuskan untuk melakukan apa yang ada di proposal kita. Jadi, kita tak perlu mengkhawatirkan apapun sekarang dan hanya menunggu sampai proyek itu selesai,” kata Pengacara Lee memberitahuku.

Aku baru akan mengatakan sesuatu untuk menjawabnya, tapi tiba-tiba seseorang yang aku kenal masuk. Aku memicingkan mata menatap ke arah orang itu, dan cepat-cepat menyembunyikan wajahku saat dia menolehkan kepala. Aku melihat Pengacara Lee juga melakukan hal yang sama, dan aku bersyukur karena itu. Tapi apa yang Shim Busangjangnim lakukan di restoran ini? Bukankah dia sama sekali tak pernah datang ke restoran seperti ini sebelumnya? Dan kecurigaanku langsung terjawab saat aku melihat Shim Busangjangnim melangkah menghampiri seorang yeoja yang ternyata sudah menunggunya.

“Bukankah itu CEO Maehwa Group?” gumam Pengacara Lee yang ternyata juga sedang menatap apa yang aku lihat. “Tapi apa yang dia lakukan dengan Shim Busangjangnim disini?”

“Maehwa Group? Apa itu perusahaan saingan JinHan yang sering dibicarakan akhir-akhir ini?” tanyaku sedikit terkejut.

Majayo. Akhir-akhir ini mereka terus berusaha untuk bersaing dengan JinHan, tapi kita tak pernah menganggapnya serius karena kita tahu bahwa saingan JinHan memang banyak”

“Pengacara Lee, bagaimana jika mendekat ke meja itu?”

Pengacara Lee menganggukkan kepala, dan kami pun bergegas berpindah meja dengan hati-hati agar jangan sampai Pengacara Lee dan CEO Maehwa Group itu melihat kami. Aku cukup beruntung karena sepertinya mereka sama sekali tak menyadari kehadiran kami karena mereka terlalu asyik mengobrol tentang sesuatu. Tapi melihat bagaimana mereka mengobrol, sepertinya mereka memang sudah lama dekat dan entah kenapa aku merasa jika ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan kali ini. Aku cukup mengerti Shim Busangjangnim, karena itulah aku langsung berpikiran seperti itu.

Oppa, kau benar-benar tidak berubah sama sekali” suara Sajangnim Maehwa Group itu langsung terdengar begitu aku dan Pengacara Lee duduk di dekat mereka tanpa mereka ketahui. “Tapi aku senang karena kau tidak berubah. Rasanya seperti kita kembali ke masa-masa kuliah dulu,”

“Jangan begitu, Yeo Jin-ah. Kau berbicara seperti itu seakan-akan kita tak pernah bertemu sebelumnya,” jawab Shim Busangjangnim dengan nada berbeda yang baru kali ini aku dengar. Aku tak pernah tahu jika dia bisa berbicara seperti itu, dan aku benar-benar merasa tidak enak sekarang. “Kim Yeo Jin, aku senang kau membantuku selama ini. Aku sangat berhutang padamu,”

Aigoo, anggap saja aku melakukannya karena dulu Oppa sering membantuku”

Aku menatap Pengacara Lee, dan sepertinya Pengacara Lee mengerti apa maksudku karena dia menganggukkan kepalanya ke arahku.

Gokchongma, setelah aku mendapatkan semuanya… Aku pasti akan membaginya denganmu. Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan karena dia sudah semakin dekat” Suara Shim Busangjangnim kembali terdengar.

“Dia? Apa maksudmu Kakak iparmu itu?”

Eo. Kakak iparku itu sekarang tinggal bersama Choi Yoon Jae, dan sebentar lagi dia akan mempercayakan semuanya padaku. Bahkan putrinya sendiri,”

“Dia pasti benar-benar menyayangi mendiang Young Ae,”

“Tentu saja. Jika tidak, dia tak akan mau melakukannya meskipun itu mengorbankan putrinya sendiri dan juga mantan suaminya” jawab Shim Busangjangnim. “Ah, sangat menyenangkan rasanya melihat Yoon Jae hancur karena dia selalu mendapatkan semuanya dengan mudah sebelumnya. Meskipun sebenarnya aku merasa kasihan pada keponakanku, tapi mau bagaimana lagi jika dia terus bersama Choi Yoon Jae itu?”

“Tapi apa yang akan Oppa lakukan jika kau mendapatkan semuanya?”

“Selain membaginya denganmu, aku akan mengubah nama kepemilikan JinHan. Aku akan tetap menjadikan keponakanku CEO disana, tapi dia hanya akan menjadi bonekaku. Selanjutnya… kau akan lihat nanti,”

Aku tak bisa bereaksi apa-apa setelah mendengar percakapan itu. Rasanya aku ingin langsung menghampiri Shim Busangjangnim dan memberinya pelajaran, tapi aku tahu aku harus menahannya untuk sekarang. Aku harus memberitahu appa dan Sooyoung secepatnya mengenai hal ini. Tapi masalahnya, bagaimana aku harus memberitahu mereka bahwa wanita yang sekarang tinggal bersama mereka sebenarnya adalah bagian dari rencana Shim Busangjangnim?

Kwajangnim, aku rasa sebaiknya kita pergi dari sini” bisik Pengacara Lee membuyarkan lamunanku. “Aku takut jika Busangjangnim menyadari kehadiran kita, dan dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada Anda”

“Aku tak mengkhawatirkan diriku, Pengacara Lee. Aku sedang mengkhawatirkan Sooyoung dan Appa sekarang,”

“Aku tahu, tapi sebaiknya kita pergi dari sini sekarang”

Tanpa menunggu jawabanku, Pengacara Lee langsung menarik tanganku dan mengajakku pergi dari restoran dengan hati-hati. Aku sempat melihat Shim Busangjangnim yang sedang tertawa sebelum benar-benar keluar dari restoran. Aku ingin kembali ke sana dan mendengar semua percakapan mereka, tapi aku rasa Pengacara Lee benar bahwa aku sebaiknya pergi sekarang. Meskipun begitu, sekarang aku tahu bahwa Shim Busangjangnim sedang merencanakan sesuatu yang besar dan itu melibatkan eomma Sooyoung. Aku akan memberitahu Sooyoung semua hal yang aku dengar kali ini.

**

Aigoo, oppa… tidak biasanya kau mengajakku ke tempat seperti ini. Apa ada sesuatu yang penting yang ingin kau katakan padaku?” tanya Sooyoung saat aku mengajaknya ke sebuah restoran di Myeongdong.

Aku sedikit ragu untuk mengatakannya , tapi biar bagaimanapun aku harus memberitahu Sooyoung tentang rencana Shim Busangjangnim melalui eomma-nya. Jika aku membiarkannya, itu berarti aku telah melanggar janjiku pada Appa untuk melindungi Sooyoung dan juga JinHan. Aku menghembuskan napas pelan dan menatap yeoja di depanku lekat-lekat.

“Ada apa, oppa? Kau benar-benar membuatku khawatir karena terus memandangiku seperti itu” Sooyoung bertanya lagi dengan ekspresi heran bercampur khawatir.

“Umm… Sooyoung-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku sekarang mulai ragu untuk mengatakannya.

Geuraeyo. Mwongayo?

“Apa kau benar-benar… emm, senang karena eomma-mu… hmm, sekarang tinggal bersamamu lagi?”

Sooyoung menghela napas singkat. “Oppa, apalagi sekarang? Apa kau masih mencurigai eomma?”

A-Aniya, bukan itu maksudku” sahutku dengan cepat.

Geuraesseoyo?”

Aku menggigit bibir bawahku, “Sooyoung-ah, bagaimana jika… emm… bagaimana jika sesuatu yang tak pernah kau pikirkan terjadi, justru terjadi tepat di depan matamu?”

“Aku tak mengerti apa yang berusaha oppa katakan padaku,” kata Sooyoung sambil mengerutkan keningnya. “Oppa, katakan langsung saja padaku. Kenapa kau tiba-tiba menjadi aneh seperti ini?”

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Apa aku yakin akan mengatakan hal yang sebenarnya yang menjadi tujuan eomma Sooyoung datang ke rumah tanpa menyakiti perasaan Sooyoung? Apa aku benar-benar akan tega merusak kebahagiaan Sooyoung yang selama ini aku tahu sangat merindukan sosok eomma-nya yang seperti itu? Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak tahu apa yang akan aku katakan selanjutnya di depan Sooyoung.

“Sooyoung-ah,”

Eo, oppa. Waeyo?”

Aku kembali menatap Sooyoung lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum ke arahnya. “Aniya, amugeotdo. Aku… umm, senang. Eo… aku benar-benar senang melihatmu terus tersenyum beberapa hari ini”s

Sooyoung membalas senyumku seraya meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat, “Aku senang karena aku bisa berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi, oppa, eomma, appa. Itulah alasanku terus tersenyum, dan bahkan tak ada alasan bagiku untuk menghilangkan senyum itu mulai sekarang”

“Bagus sekali. Dengan begitu aku tak perlu menyusahkan diri melakukan sesuatu untuk membuatmu tersenyum” balasku agar Sooyoung tidak bertanya apapun lagi padaku mengenai alasanku yang sebenarnya mengajaknya ke sini.

Oppa-ya!” seru Sooyoung sambil memukul lenganku. “Neo jinjja!”

Aku tertawa.

Aku benar-benar tidak bisa mengatakan hal itu pada Sooyoung untuk sekarang. Aku tak bisa, karena Sooyoung pasti akan sangat terluka. Sangat… dan aku tak mau menghancurkan kebahagiaan itu. Meskipun semuanya adalah kebohongan dari orang yang sangat dekat dengannya. Aku hanya akan melindunginya dengan caraku karena aku telah berjanji pada Appa dan juga diriku sendiri. Aku tak akan pernah mengingkari janjiku yang satu ini. Tak akan pernah.

¯¯

Sooyoung POV

Minggu yang sangat melelahkan di akhir bulan ini. Aku benar-benar tak percaya jika ternyata menjadi seorang Sajangnim di perusahaan seperti JinHan itu melelahkan. Aku pikir tugas Sajangnim hanyalah duduk di ruangan mereka, memimpin rapat, dan bertanggung jawab pada semua hal yang terjadi di perusahaan. Tapi ternyata aku salah. Karena terkadang akupun harus terlibat langsung dalam sebuah proyek yang masuk untuk memastiikan apa semuanya berjalan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Kelihatannya memang mudah, tapi tidak sama sekali. Selain itu juga masih banyak hal yang ahrus aku pelajari dari appa agar aku bisa memenuhi tugasku dengan baik di JinHan. Meskipun itu harus membuatku pulang lebih larut karena harus mempelajari beberapa dokumen yang appa tinggalkan di ruangan Sajangnim ini. Tapi aku cukup beruntung karena terkadang ada seseorang yang menemaniku, dan bahkan membantuku mempelajarinya.

Mataku langsung menatap Kyuhyun yang sedang duduk di sofa di tengah ruangan sambil membaca sesuatu. Aku mengamatinya sesaat sebelum akhirnya beranjak dari tempatku dan menghampirinya. Kyuhyun menyadari pergerakkanku jadi dia menolehkan kepalanya ke arahku dengan wajah seriusnya yang cepat-cepat berubah begitu mata kami saling bertemu.

Wae? Apa kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun padaku.

Aku tak langsung menjawab sebelum akhirnya duduk di sebelahnya. “Kenapa kau tak pulang terlebih dulu, oppa?” tanyaku. “Sudah dua minggu ini kau sudah menemaniku, bahkan sampai larut malam seperti ini. Kau seharusnya langsung pulang begitu jam kerja selesai da beristirahat di rumah”

Ya! Bagaimana aku bisa istirahat di rumah jika kau masih disini? Kau pikir aku akan bisa beristirahat dengan tenang tanpa mengkhawatirkanmu?”

Oppa,”

Dwaesso. Lagipula aku merasa tak enak di rumah jika kau tak ada”

Aku menautkan kedua alisku, “Waeyo? Uri eomma ttaemune?”

Ah, emm… aniya” sahut Kyuhyun tanpa menatapku.

Aku menghembuskan napas pelan, lalu menolehkan kepala Kyuhyun agar kembali menatapku. “Apa yang membuatmu merasa seperti itu di rumah?” tanyaku ingin tahu.

“Yah, karena aku bukan bagian dari keluargamu… mungkin” Kyuhyun menjawabnya dengan nada ragu.

“Aku rasa bukan itu alasan oppa yang sebenarnya,” kataku sambil mengamati wajah Kyuhyun. “Oppa, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”

Aniya, eobseo. Kenapa kau berpikir seperti itu?” sangkal Kyuhyun dengan cepat.

“Karena oppa tak pernah terlihat segelisah itu saat membicarakan rumah, dan bahkan oppa tak menatapku saat mengatakannya”

Ya! Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu hanya karena aku-“ Kyuhyun tak melanjutkan kata-katanya, dan dia hanya menatapku lekat-lekat. Dia meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat lalu menarik napas pelan. “Aku pasti akan mengatakannya padamu, jadi kau tak perlu khawatir apa aku menyembunyikan sesuatu darimu atau tidak. Meskipun itu sulit, aku pasti akan memberitahumu” katanya kemudian.

Aku diam sesaat sambil berusaha mencerna perkataan Kyuhyun itu sebelum akhirnya aku berkata, “Oppa, kau benar-benar terlihat aneh akhir-akhir ini”

“Aneh? Apanya yang aneh?” tana Kyuhyun heran. “Apa karena aku lebih romantis akhir-akhir ini atau apa karena kau menolak untuk menikah denganku jadi aku berusaha membuatmu mau menikah denganku?”

Mwoya? Apa itu yang sedang kau lakukan?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Aku pasti akan membuatmu untuk berkata ‘iya’, saat aku memintamu untuk menikah denganku nanti”

Heol,” gumamku tidak percaya. Aku melepas tanganku dari genggaman Kyuhyun lalu mengubah posisi dudukku dan memunggunginya. “Kita lihat saja bagaimana caranya oppa melakukannya” kataku sambil tersenyum diam-diam.

Ah, jadi kau menantangku?”

Aku mengangguk.

“Apa kau ingin tahu bagaimana aku akan memulainya?”

Aku kembali menganggukkan kepala. Lalu mendadak, dengan gerakan cepat Kyuhyun membalikkan badanku dan dia langsung mencium bibirku. Untuk sesaat aku terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi kemudian aku membalas ciuman itu sampai akhirnya dia melepaskannya dan menjauhkan bibirnya dari bibirku. Kami saling menatap cukup lama, dan kemudian tangannya meraih pipiku dan mengusapnya dengan lembut. Aku benar-benar terbawa dengan suasana ini bahkan melupakan fakta bahwa kami sedang di kantor saat ini.

“Seperti itulah caraku memulainya agar kau mau menikah denganku, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun setelah beberapa saat tak ada percakapan diantara kami. “Romantis, kan?”

Aku tertawa kecil, “Yah, lebih baik daripada saat kau memintaku untuk kembali menjadi yeojachingu-mu di mobil”

Kyuhyun ikut tertawa bersamaku seraya mengusap kepalaku dengan lembut. “Saranghae, Choi Sooyoung”

Nada sarang-“ Kata-kataku terhenti karena ponselku bordering dengan keras. Aku dan Kyuhyun menoleh bersamaan ke arah meja. “Nado saranghaeyo, Kyuhyun oppa” kataku mengulang kembali perkataanku sebelum beranjak dari tempatku.

Aku langsung mengambil ponselku dan melihat siapa yang menelepon.

“Siapa?” tanya Kyuhyun masih di posisi yang sama.

Appa,” kataku. Setelah menekan tombol jawabnya, akupun mendekatkannya ke telingaku. “Yeoboseyo?” Aku menyapa sambil melihat Kyuhyun yang terus memperhatikanku.

Yeoboseyo, Sooyoung-ah. Jigeum eodiya? Kenapa kau dan Kyuhyun belum pulang juga?”

“Aku masih di kantor, appa. Kyuhyun oppa juga disini. Waegeuraeyo?”

“Sebaiknya kalian cepat pulang. Appa ingin membicarakan tentang rencana pernikahan kalian”

Ne? Ah… ne. Arraseoyo

“Kalau begitu Appa tunggu kalian di rumah,” Appa langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu aku menyahutnya.

Untuk beberapa saat aku diam terpaku di tempatku sambil memikirkan perkataan appa tadi. Apa yang harus aku katakan pada appa mengenai rencana pernikahan itu? Appa pasti sangat mengharapkan aku dan Kyuhyun cepat menikah. Tapi bagaimana jika aku memang benar-benar belum siap untuk melangkah ke jenjang itu? Pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat penting, dan aku mau saat aku menikah nanti itu karena keinginanku sendiri. Karena aku sudah siap dan yakin pada diriku sendiri untuk menikah.

Appa yang telepon? Wae?” tanya Kyuhyun yang ternyata sudah berdiri di dekatku.

Aku menghembuskan napas pelan, “Appa ingin kita cepat pulang karena ingin membahas mengenai rencana pernikahan kita”

Ah, geurae?” sahut Kyuhyun yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. “Apa yang harus kita katakan pada appa nanti?” tanyanya kemudian.

Mollaseoyo,

Kyuhyun menyentuh bahuku dan dia menatapku lekat-lekat. “Kalau begitu kita pulang saja dulu. Biar aku yang akan mengatakannya pada appa nanti. Kau hanya perlu diam, dan menyetujui apa yang aku katakan. Eotte?”

Aku mengangguk.

Kyuhyun mengambil barang-barangnya, lalu dia menungguku di dekat pintu. Mau tak mau akupun membereskan mejaku terlebih dahulu sebelum akhirnya menghampiri Kyuhyun dengan tas di tanganku. Kami berjalan bersama keluar dari gedung JinHan dan menuju ke arah mobil Kyuhyun. Tanpa menunggu apapun lagi, kamipun masuk dan mobil langsung meninggalkan kawasan Cheongdam-dong.

Selama perjalanan aku memilih untuk diam karena memikirkan tentang apa yang akan aku katakan di depan appa. Meskipun beberapa kali aku melihat Kyuhyun terus melirik ke arahku, tapi aku sama sekali tak mengatakan apapun padanya. Aku rasa dia juga mengerti alasanku menjadi diam seperti ini karena apa. Itulah yang membuatnya tidak bersuara sampai akhirnya mobil pun masuk ke garasi rumah dengan mulus.

Oppa,” panggilku sebelum Kyuhyun keluar dari mobil. “Apa yang akan kau katakan pada appa?” tanyaku kemudian.

Kyuhyun diam sesaat, “Aku akan langsung mengatakan pada appa jika kita belum siap menikah,”

“Kau akan mengatakannya begitu saja?”

Eo. Wae?”

Appa mungkin akan marah. Tidak adakah alasan khusus?”

“Tidak ada,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis. “Kajja. Mungkin appa sudah menunggu kita,” ajaknya mendahuluiku keluar dari mobil.

Aku menatap Kyuhyun dengan tidak percaya, lalu mau tak mau mengikutinya. Kami melangkah masuk ke dalam rumah bersama-sama, dan benar saja, appa sudah menunggu kami di ruang keluarga bersama eomma. Meskipun sudah hampir dua minggu eomma tinggal bersama kami, tapi tetap saja aku masih sedikit terkejut saat melihatnya sedang bersama appa seperti ini. Mungkin ini karena memang aku tak pernah melihat mereka terlihat baik-baik saja sebelumnya, jadi aku bersikap seperti itu.

“Kenapa lama sekali?” kata appa sebagai kata sambutannya begitu melihatku dan Kyuhyun datang. “Apa ada banyak pekerjaan di kantor?”

Aniyo. Aku hanya sedang memeriksa beberapa dokumen seperti biasanya saja,” jawabku sambil duduk di sebelah eomma yang menyambutku dengan senyumannya. “Mianhaeyo eomma, appa. Malam ini aku terlambat pulang lagi,”

Gwenchana. Kau pulang terlambat juga karena JinHan, tapi mungkin appa akan marah padamu jika kau terlambat karena berkencan,” kata appa menatap Kyuhyun yang hanya tertawa kecil. “Meskipun appa menginginkan kalian untuk menikah, tapi bukan berarti kau bisa membawa putri appa semaumu. Arraseo?” katanya pada Kyuhyun.

Ne, abeonim

Aku menahan senyumku mendengar Kyuhyun memanggil appa seperti itu karena ini pertama kalinya appa dipanggil seperti itu oleh Kyuhyun. Ah, mungkin jika sebelumnya Kyuhyun belum mengenal appa, dia akan memanggil seperti itu saat aku mengenalkannya pada kedua orang tuaku.

“Berbicara tentang pernikahan. Bagaimana jika pernikahanmu dan Sooyoung kita percepat saja? Appa rasa tak ada alasan untuk menundanya lagi, kan?” Appa langsung memulai pembicaraan meskipun sebelumnya aku berharap dia akan membicarakan sesuatu yang lain terlebih dahulu. “Appa akan mempersiapkan semuanya, dan eomma-mu juga setuju dengan pernikahan ini” katanya meneruskan.

Aku menghela napas singkat, “Appa,” kataku berhenti sesaat untuk kembali menarik napas. “Aku rasa aku-“

“Aku tak bisa menikahi Sooyoung seperti yang appa inginkan,” potong Kyuhyun dengan cepat sebelum aku selesai berbicara. Semua yang ada di ruangan ini terkejut mendengar perkataan Kyuhyun, tapi tak ada yang bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat. “Appa, aku memang ingin menikahi Sooyoung tapi aku rasa aku tak bisa menikahinya secepat ini,”

Wae? Bukankah kau sudah setuju sebelumnya?”

Eo. Tapi itu karena aku belum memikirkannya lebih jauh” jawab Kyuhyun tanpa ragu sedikitpun. “Setelah aku berpikir, aku rasa belum saatnya untuk aku menikah. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan, Appa. Termasuk memajukan JinHan, dan Sooyoung pun sependapat denganku”

Aku diam saja dan terus mengamati ekspresi appa yang sepertinya sangat terkejut dengan apa yang Kyuhyun katakan.

“Aku sudah membicarakan ini dengan Sooyoung sebelumnya, dan kami sepakat untuk tidak menikah terlebih dahulu” Kyuhyun terus berbicara dengan mantap. “Aku tahu appa mungkin kecewa karena ini, tapi kami benar-benar belum bisa melangkah ke jenjang itu untuk saat ini”

“Itu karena aku yang belum siap untuk menikah, appa” sambungku karena tak mau Kyuhyun disalahkan. Aku menatap eomma sekali, lalu kembali pada appa sebelum melanjutkan bicara. “Pernikahan adalah sesuatu yang ingin aku lakukan sekali dalam hidupku, dan aku belum siap untuk itu. Masih banyak hal yang perlu aku lakukan, dan perlu aku pelajari sebelum aku menikah. Itulah alasan kenapa aku belum siap,”

“Sooyoung-ah,”

“Apa kau yakin kau masih belum ingin menikah, Sooyoung-ah” sela eomma sebelum Kyuhyun berbicara lebih jauh. “Kyuhyun-ssi, kau mencintainya kan?”

Aku mengangguk dalam diam.

“Sooyoung-ah, jika kau menikah dengan Kyuhyun maka semuanya akan mudah bagimu. Kau tahu itu, bukan?” Appa berbicara padaku dengan ekspresi tegasnya. “Tidak hanya kau yang akan mudah, tapi juga JinHan, Kyuhyun dan Appa sendiri. Kau juga tahu itu,”

Oppa, jika dia memang belum siap menikah, kita seharusnya tidak memaksanya” sahut eomma sambil memegang lenganku. “Sooyoung benar bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang dilakukan sekali, jadi dia harus melakukannya saat dia benar-benar sudah siap”

“Young Ah-ya, tapi-“

“Bagaimana jika sebuah pertunangan?” potong eomma dengan cepat. Dia menatapku lekat-lekat, “Jika kau belum siap untuk menikah, bagaimana jika bertunangan?”

“Pertunangan?” sahut appa. “Tapi bukankah langsung menikah itu lebih baik daripada harus bertunangan terlebih dahulu,”

Oppa, kau tak bisa memaksakan seseorang untuk menikah. Apalagi Sooyoung adalah putrimu, bukankah kau menginginkan yang terbaik untuknya seperti yang aku inginkan?” Eomma yang menjawab perkataan appa kali ini. “Serahkan saja semuanya pada Sooyoung. Aku yakin dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri,”

Aku menatap eomma cukup lama. Mendengar eomma berbicara seperti itu benar-benar membuatku merasa bahwa dia memang menyayangiku. Meskipun dia memang seperti itu, tapi untuk pertama kalinya aku merasakannya sendiri. Aku menoleh menatap Kyuhyun yang mengangkat bahunya diam-diam. Memang tak pernah terpikirkan olehku dan Kyuhyun mengenai pertunangan, tapi aku rasa untuk sementara itu lebih baik.

“Aku akan melakukannya,” kataku pelan. “Bertunangan dengan Kyuhyun oppa,” tambahku.

“Dan kau, Kyuhyun-ah?” tanya appa pada Kyuhyun. “Apa kau setuju dengan pertunangan ini mengingat sebelumnya kau setuju untuk menikah dengan Sooyoung”

Kyuhyun menatapku untuk beberapa saat, lalu dia berbicara. “Aku akan melakukan apa yang Sooyoung inginkan,”

¯¯

Kyuhyun POV

Aku duduk di salah satu kursi meja tamu di aula sebuah hotel di Myeongdong sambil mengawasi seluruh tamu yang datang. Hari ini adalah pesta pertunanganku dengan Sooyoung diadakan, juga untuk memperkenalkan Sooyoung sebagai CEO baru JinHan. Aku sendiri tak tahu kenapa appa mengadakan pesta ini dua minggu sejak Sooyoung menyetujui pertunangan kami. Aku pikir appa akan melakukannya nanti saat aku dan Sooyoung benar-benar siap untuk mengumumkannya, tapi ternyata appa ingin mempercepatnya.

“Kau pikir semuanya akan baik-baik saja setelah kau bertunangan dengan keponakanku?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dan mengalihkan perhatianku dari tamu-tamu di ruangan ini. Aku menoleh, dan melihat Shim Busangjangnim sedang berdiri di sebelahku dengan segelas anggur di tangannya. “Ini semakin menarik saat aku tahu Yoon Jae pada akhirnya membuat putrinya menikah dengan anaknya sendiri,” ucapnya memberikan penekanan pada kata terakhirnya.

Aku tersenyum tipis, “Josanghaeyo. Aku tak mengerti apa yang Anda coba katakan, Busangjangnim

“Aku tahu kau memang tak pernah mengerti apapun. Jadi jangan memaksakan diri, Cho Kwajangnim

“Aku tak akan memaksakan diri untuk mengerti Anda. Jangan khawatir,” sahutku sambil terus tersenyum. “Silahkan menikmati pestanya” kataku memilih untuk pergi dari tempatku.

Kakiku melangkah ke sisi lain aula, dan melihat sosok Pengacara Lee yang sedang berdiri sendirian sambil menikmati anggur-nya. Aku menatap sekeliling sebelum akhirnya berjalan ke arahnya. Pengacara Lee yang melihatku langsung meletakkan gelas anggur-nya dan dia menganggukkan kepala ke arahku.

“Selamat atas pertunangannya, Kwajangnim” kata Pengacara Lee menyambutku. “Aku senang Anda dan Sajangnim telah meresmikan hubungan kalian. Rumor-rumor di JinHan pasti akan langsung menghilang setelah ini,”

Aigoo, aku bahkan belum bertukar cincin dengan siapapun. Kenapa kau sudah memberi selamat padaku?” kataku bercanda. “Tapi kau benar, Pengacara Lee. Rumor di JinHan akan hilang, dan Sajangnim tak akan terganggu lagi dengan itu”

Pengacara Lee kembali menganggukkan kepala. “Tapi omong-omong, sedari tadi aku tak melihat Sajangnim disini. Hanya Komisaris yang sedang menyapa CEO-CEO luar yang bekerja sama dengan JinHan”

“Mungkin Sajangnim masih mempersiapkan diri. Dia bahkan menolak saat aku menawarkan diri untuk datang bersamanya,”

Ah, benar. Sajangnim pasti ingin terlihat sempurna hari ini. Tapi dimataku, Sajangnim memang sudah sempurna, dan-“

Ya! Apa kau baru saja merayu calon tunanganku?” sahutku dengan cepat.

Aniyo, animida” jawab Pengacara Lee terlihat terkejut. “Aku… aku hanya memujui Sajangnim

Aku tertawa, lalu menepuk pelan bahu Pengacara Lee. “Apa yang kau katakan memang benar. Sooyoung selalu terlihat sempura bahkan saat dia tak merias wajahnya sekalipun”

Pengacara Lee diam tak menyahut, tapi aku melihatnya mengangguk menyetujui perkataanku. Lalu tiba-tiba suasana di dalam ruangan menjadi hening dan semua mata tertuju pada dua orang yang baru saja masuk. Mereka adalah Sooyoung dan eomma-nya. Sooyoung memakain gaun berwarna pink dengan hiasan berwarna emas di bagian atas, membuatnya tampak semakin manis dan berkelas. Sementara eomma-nya memakai gaun sederhana berwarna hitam dengan hiasan putih di bagian bawahnya. Mereka berdua benar-benar terlihat cantik dan mampu mengalihkan perhatian semua orang. Baru kali ini aku melihat betapa miripnya Sooyoung dengan eomma-nya, dan aku baru menyadari hal itu.

“Perhatian semuanya,” suara Pengacara Han terdengar dari atas panggung kecil di tengah ruangan. “Silahkan, Komisaris”

“Terima kasih, Pengacara Han” ucap appa setelah Pengacara Han memberikan mic padanya. “Untuk semua tamuku dan JinHan, terima kasih karena sudah meluangkan waktu kalian untuk datang ke acara ini”

“Sepertinya acaranya akan dimulai,” kataku pada Pengacara Lee.

“Baiklah langsung saja. Seperti yang sudah kalian tahu pesta ini aku adakan untuk memperkenalkan CEO baru JinHan Group… Choi Sooyoung, silahkan kesini” Appa langsung meminta Sooyoung untuk menghampirinya ke tengah aula. Meskipun Sooyoung masih terlihat sedikit canggung, tapi dia menyapa semua orang dengan ramah dan tanpa aku sadari, aku tersenyum saat melihatnya seperti itu. “Aku sebagai CEO JinHan Group sebelumnya telah menyerahkan kewenanganku pada Choi Sooyoung yang juga merupakan putriku satu-satunya untuk menggantikanku menjalankan tugas-tugas di JinHan Group

Suara tepuk tangan terdengar, dan Sooyoung pun membungkukkan badannya.

Ah, benar. Aku tidak akan bicara banyak kali ini, jadi biarkan CEO baru JinHan yang berbicara” kata appa lagi disertai tawa ringan seluruh tamu yang datang. “Silahkan bicara dan perkenalkan dirimu pada semua tamu yang datang” Appa berbicara pada Sooyoung yang menganggukkan kepalanya.

Sooyoung maju satu langkah, lalu matanya menatap ke sekeliling dengan ramah. Senyum lebar tersungging di wajahnya dan sepertinya bukan aku satu-satunya orang yang tercengang dengannya saat ini karena aku melihat beberapa orang tak pernah melepaskan pandangan mereka darinya. Aku tak tahu apa aku harus senang atau kesal karena itu, tapi aku harus bisa menahan diriku sendiri. Lalu tiba-tiba pandangan Sooyoung terarah padaku, dan akupun langsung tersenyum ke arahnya yang membalas tersenyum padaku.

“Terima kasih sebelumnya karena aku diberikan kesempatan untuk berdiri bersama tamu-tamu JinHan yang terhormat,” Sooyoung mulai berbicara. “Annyeonghasimnikka, joneun Choi Sooyoung imnida” katanya sambil membungkukkan badannya untuk sekian kalinya.

Aku mengambil segelas anggur, lalu meminumnya satu teguk sebelum kembali memperhatikan Sooyoung.

“Aku diberi tanggung jawab yang besar oleh seseorang yang sangat aku hormati ini untuk memimpin JinHan. Sebelumnya aku memang sudah pernah bekerja di JinHan dan menjadi sekretaris dari Cho Kwajangnim yang berdiri di sebelah sana,” Sooyoung menunjuk ke arahku dan pandangan semua orang beralih padaku. Mau tak mau aku membungkukkan badan ke arah mereka. “Aku pada awalnya sama sekali tak tahu jika CEO JinHan Group adalah appa-ku sendiri karena itulah aku mendaftar untuk bekerja disana,”

“Dia tak tahu appa-nya sendiri? Bagaimana bisa?”

“Keluarganya pasti bermasalah. Kenapa putrinya sendiri bahkan tak mengenal appa-nya?”

Aku mendengar gumamam seperti itu dari orang-orang yang berada di dekatku, tapi aku memilih untuk tetap diam karena mereka bebas mengeluarkan pendapatnya untuk kali ini. Tapi aku tak akan diam jika mereka tetap berbicara seperti itu saat Sooyoung menjelaskan perkataannya.

Josanghaeyo appa, karena aku tak pernah mengenalmu sebelumnya” suara Sooyoung kembali terdengar, dan sepertinya aku melewatkan perkataan Sooyoung karena terus memperhatikan orang-orang disekitarku. “Meskipun awalnya aku menolak tugas ini karena biar bagaimanapun aku merasa belum begitu siap secara pribadi, tapi kemudian aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus siap karena ini merupakan tugasku sebagai seorang putri dari CEO JinHan Group yang sewaktu-waktu akan melanjutkan tugasnya”

Aku terus mendengarkan Sooyoung dalam diam.

“Untuk sekarang, aku sudah benar-benar siap baik secara fisik maupun mental untuk memimpin JinHan Group dan menjadikan JinHan Group sebagai perusahaan terbaik di Korea. Tapi untuk itu, aku meminta bantuan kalian semua untuk mewujudkannya bersamaku karena tanpa kalian, aku yakin JinHan Group bukanlah apa-apa” kata Sooyoung dengan suaranya yang terdengar cukup tegas. “Mohon kerja samanya dan tolong bimbinglah aku selama aku menjadi CEO JinHan Group” Sooyoung kembali membungkukkan badannya, dan suara tepuk tanganpun terdengar di seluruh aula ini.

Aku ikut bertepuk tangan, dan aku cukup bangga dengan Sooyoung saat ini karena aku tahu bahwa dia benar-benar terlihat tidak siap sebelumnya. Dia bahkan terus meminta pada appa untuk mengundurkan tanggal pesta ini karena dia tak tahu apa yang harus dia katakan di depan banyak orang. Tapi aku rasa dia menemukan caranya sendiri untuk berbicara seperti itu, dan aku senang karena dia bisa mengatasi ketidaksiapannya serta kekhawatirannya itu dengan sangat baik.

“Terima kasih putriku karena sudah berkata jujur pada tamu-tamu kita,” kata appa kembali mengambil alih suasana. “Tapi kau tak perlu meminta maaf padaku karena itu bukanlah kesalahanmu. Itu adalah kesalahanku sebagai orang tua karena tak bisa menemukanmu lebih cepat,”

“Komisaris benar-benar terlihat sangat menyayangi putrinya,” bisik Pengacara Lee di telingaku. “Aku pikir dia orang yang sangat tegas, tapi ada sisi lembut juga di dirinya”

“Aku rasa kau harus tinggal bersamanya untuk tahu bagaimana dia sebenarnya, Pengacara Lee” sahutku menggodanya. “Dia memang orang yang berbeda saat bersama putrinya,” kataku lagi.

“Nah, setelah memperkenalkan putriku sebagai CEO baru JinHan Group, aku juga ingin mengumumkan sesuatu yang mungkin membuat tamu-tamu sekalian terkejut” kata appa mempercair suasana agar sedikit lebih santai. “Cho Kyuhyun, silahkan ke sini”

Aku sedikit tersentak saat namaku di panggil appa, tapi cepat-cepat aku meletakkan gelas anggurku dan melangkah ke tengah aula menghampiri appa dan Sooyoung yang masih disana. Aku melemparkan senyum singkat ke arah Sooyoung, lalu menghadap ke seluruh tamu yang datang. Dari tengah panggung kecil ini aku bisa melihat seluruh orang yang ada disini, termasuk Shim Busangjangnim yang sedang mengobrol dengan eomma Sooyoung secara sembunyi-sembunyi. Aku menghela napas panjang melihat mereka, tapi kemudian mengalihkan perhatianku pada appa lagi.

“Aku dengan senang hati mengumumkan pertunangan putriku dengan Cho Kyuhyun, yang juga adalah Kwajangnim JinHan GroupAppa mulai mengumumkan pada semua orang yang datang. Appa menarik tanganku, lalu dia menarik tangan Sooyoung dan membuat tangan kami berpegangan. “Aku secara resmi mengumumkan bahwa sekarang Cho Kyuhyun adalah tunangan dari Choi Sooyoung”

Tepuk tangan kembali terdengar. Lalu appa mengeluarkan satu kotak kecil dari sakunya dan memberikannya padaku. Aku menerimanya dan langsung membukanya yang isinya adalah dua buah cincin. Aku mengambil salah satu cincin itu, lalu memasukkannya ke jari Sooyoung dengan hati-hati. Sooyoung pun melakukan hal yang sama denganku. Kemudian tepuk tangan kembali terdengar di seluruh ruangan ini. Aku tersenyum ke arah Sooyoung yang langsung membalasnya dengan senyuman lebar.

**

Ya! Apa karena sekarang kau sudah resmi bertunangan jadi kau melupakanku, huh?” seru Changmin saat aku baru saja selesai menyapa CEO Quintrix, Lee Donghae. “Lihat, lihat wajah bahagiamu” katanya menggodaku.

“Ternyata kau disini, Changmin-ah. Aku sudah mencarimu sedari tadi,” Aku mengabaikan godaan Changmin padaku itu. “Jadi kapan kau menyusulnya dengan Victoria?” tanyaku balas menggodanya.

Mwoya?”

Aku tertawa kecil.

“Dimana Sooyoung? Aku belum memberikan selamat padanya,” Changmin tiba-tiba mengubah arah pembicaraan.

“Dia sedang menyapa beberapa kenalan appa, jadi dia sedang berkeliling” jawabku sambil menatap Sooyoung yang sedang bersama appa. Ya! Kenapa kau mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan hubuganmu dengan Victoria?”

Aish jinjja! Aku akan memberitahumu jika memang kami berencana untuk meresmikannya. Aku pastikan kau akan menjadi orang pertama yang tahu,” jawab Changmin dengan cepat. ”Lagipula kami baru saja berkencan, kenapa harus buru-buru bertunangan sepertimu?”

Aigoo, jadi kalian benar-benar berkencan sekarang?”

Majayo. Aku tak pernah tahu jika ternyata Changmin menyukaiku sudah lama,” sambung Victoria yang datang dari arah belakangku sambil membawa minuman yang langsung dia berikan pada Changmin. “Chukkaeyo, Kyuhyun-ssi

Ah, gomawoyo. Chukkae untuk kalian berdua,” balasku ikut senang mendengar mereka benar-benar sudah berkencan sekarang karena aku tahu bagaimana perasaan Changmin pada Victoria sejak lama.

Jagi, aku akan bergabung dengan teman-temanku di sebelah sana” kata Victoria sambil menunjuk ke satu kerumunan orang yang ternyata adalah beberapa pegawai JinHan. “Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu, eo?”

Eo,” jawab Changmin.

Aku tersenyum singkat pada Victoria sebelum dia melangkah pergi dariku dan Changmin. Meskipun mereka sekarang sudah berkencan, tapi masih terasa aneh bagiku karena aku tak pernah mendengar mereka berdua berbicara dengan nyaman seperti itu. Changmin sepertinya benar-benar telah berubah dan berani membuka dirinya di depan Victoria karena sebelumnya dia terlihat sangat malu bahkan hanya saat melihatnya saja.

Oh, Appa? Kenapa dia berjalan seperti itu?” gumam Changmin tiba-tiba, Membuyarkan lamunan singkatku tentangnya. Aku mengikuti arah pandang Changmin, dan melihat Shim Busangjangnim yang berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke suatu tempat. “Kyuhyun-ah, kajja” Changmin langsung menarik lenganku untuk mengikuti appa-nya yang benar-benar terlihat mencurigakan.

Kami berjalan keluar dari aula, dan terus mengikuti Shim Busangjangnim yang kini melangkah ke sebuah lorong hotel. Lalu seseorang datang menghampirinya dan aku tahu dia adalah eomma Sooyoung. Changmin sepertinya juga mengenali eomma Sooyoung melihat dari ekspresinya saat menatapku. Tapi saat dia akan mendekat ke arah Shim Busangjangnim dan eomma Sooyoung, aku menahannya. Aku menggelengkan kepala singkat, lalu mengajak Changmin untuk pergi menjauh dari lorong hotel itu.

Wae? Bukankah itu aneh jika appa diam-diam menemui bibi Young Ah seperti itu?” tanya Changmin saat kami sudah jauh dari lorong itu. “Sudah lama aku curiga appa sedang merencanakan sesuatu karena rencana sebelumnya gagal, dan baru kali ini aku melihatnya secara langsung saat melakukan sesuatu tapi kenapa kau menahanku?”

“Aku hanya ingin tetap berpura-pura untuk tidak tahu apapun,”

“Berpura-pura? Apa yang kau katakan?” tanya Changmin berhenti melangkah. “Apa maksudmu kau tahu apa yang direncanakan appa-ku? Apa kau juga tahu apa yang dia lakukan diam-diam bersama bibi Young Ah?”

Aku menghembuskan napas pelan, “Arra

Mwoya…

“Untuk sementara ini, aku hanya akan berpura-pura tidak tahu apapun, Changmin-ah

Wae?”

“Karena itulah yang seharusnya aku lakukan,”

Changmin memandangiku lekat-lekat, “Kyuhyun-ah, kau tahu bahwa selama ini aku melawan appa-ku karena aku benar-benar tak bisa menerima persaingan tidak sehatnya. Jadi, katakan padaku apa yang sedang appa-ku rencanakan kali ini?”

Aku diam sesaat, ragu untuk memberitahu Changmin karena biar bagaimanapun dia adalah anak Shim Busangjangnim. Meskipun aku tahu dia memang tak pernah setuju dengan apa yang appa-nya lakukan, tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman membicarakannya dengan Changmin. Apalagi untuk kali ini appa-nya benar-benar akan melakukan sesuatu yang bisa dikatakan sangat besar untuk mengambil alih JinHan.

“Katakan saja padaku, dan jika memang appa melakukan sesuatu yang tidak benar lagi aku akan membantumu”

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah menimbang untuk beberapa saat, akupun memutuskan untuk memberitahu Changmin. Aku menceritakan padanya bagaimana dengan secara tidak sengaja aku mendengarkan pembicaraan Shim Busangjangnim bersama CEO Maehwa Group saat aku sedang di restoran. Aku tahu selama ini Changmin memang melawan appa-nya, tapi ekspresinya tetap terkejut dengan apa yang aku katakan padanya. Aku juga memberitahunya bahwa aku mendengarnya bersama Pengacara Lee dan juga tentang kecurigaanku pada eomma Sooyoung yang tiba-tiba datang ke rumah lalu tinggal bersama appa.

“Apa kau yakin dengan semua itu?” tanya Changmin setelah aku selesai memberitahunya. “Maksudku, kecurigaanmu itu… apa kau yakin?”

“Entahlah, aku tak tahu. Tapi semuanya memang sangat aneh dari awal, dan setelah aku mendengar sendiri dari Shim Busangjangnim bahwa eomma Sooyoung terlibat dalam rencananya kali ini… aku yakin,”

“Lalu apa kau sudah memberitahu Sooyoung?”

Aku menggelengkan kepala.

“Kau harus memberitahunya, Kyuhyun-ah. Bagaimana mungkin kau sama sekali belum memberitahu Sooyoung tentang hal ini?” sahut Changmin dengan cepat.

“Aku tak bisa,”

Wae?”

“Dia terlihat sangat bahagia saat eomma-nya datang, dan aku tak mungkin menghancurkan kebahagiaannya itu” jawabku. “Itulah alasan kenapa untuk sementara ini aku memutuskan untuk tidak tahu apapun karena aku tak mau menyembunyikan apapun dari Sooyoung”

“Tapi kau sudah menyembunyikan sesuatu darinya saat kau tahu tapi kau tak mengatakannya,” Changmin tak mau diam begitu saja. “Aku akan menghentikan appa-ku, dan kau harus memberitahu Sooyoung karena hanya dialah yang bisa menghentikan eomma-nya”

Aku diam saja.

Aigoo, oppa. Ternyata kau disini,” Sooyoung tiba-tiba muncul dari dalam aula. “Ah, ada Changmin Oppa juga disini. Annyeonghaseyo, oppa

O-Oh, annyeong Sooyoung-ah” balas Changmin terlihat terkejut dengan kemunculan Sooyoung yang tiba-tiba itu.

Sooyoung mengerutkan keningnya sambil melangkah lebih dekat kea rah kami. “Waeyo? Kenapa kau terlihat aneh seperti itu, Oppa?” tanyanya pada Changmin.

“Aneh? Tidak. Bagiku justru kau yang aneh karena kau tidak terlihat seperti Sooyoung yang aku kenal dengan gaun seperti itu,” Changmin menjawab seraya tertawa ringan.

Oppa bisa saja,” kata Sooyoung. Dia mengalihkan pandangan ke arahku, “Lalu apa yang sedang kalian lakukan disini?”

A-Ah, sedang tidak melakukan apa-apa. Kami hanya mengobrol saja karena di dalam sangat ramai,” jawabku terpaksa berbohong. Aku bergerak sedikit untuk menutupi lorong dimana Shim Busangjangnim dan eomma Sooyoung berada karena aku khawatir Sooyoung akan melihatnya. “Kenapa kau keluar, Sooyoung-ah?”

“Aku mencarimu, dan Victoria-ssi memberitahuku kau sedang bersama Changmin Oppa. Lalu ada seseorang yang melihat kalian keluar dari aula, jadi aku pergi ke sini”

“Kenapa kau mencariku?”

Aigoo, tentu saja untuk berduaan denganmu” sahut Changmin sebelum Sooyoung yang menjawab pertanyaanku. “Baiklah, baiklah. Sepertinya aku harus pergi sekarang dan membiarkan kalian berdua”

Sooyoung tertawa kecil, “Oppa eodigayo?”

“Aku juga ingin berduaan dengan yeojachingu­-ku, jadi aku tak iri pada kalian” jawab Changmin sambil melangkah pergi meninggalkanku hanya dengan Sooyoung saja.

Sooyoung kembali tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku terus memperhatikan Sooyoung yang benar-benar terlihat sangat bahagia sekarang. Sanggupkah aku memberitahunya tentang apa yang baru saja aku katakan pada Changmin? Tapi apa yang Changmin katakan benar bahwa aku sudah menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura tidak tahu apa-apa padahal aku tahu sesuatu. Lalu bagaimana aku memberitahu Sooyoung?

Oppa, apa Changmin Oppa benar-benar memiliki yeojachingu sekarang?” tanya Sooyoung membuyarkan pikiranku. “Aku tak pernah tahu dia memiliki yeojachingu sebelumnya,”

Aku cepat-cepat mengalihkan pikiranku, lalu menatap Sooyoung sambil tersenyum ke arahnya. “Dia memilikinya sekarang,” kataku.

Jinjjayo?”

Eo, jinjja. Kau pasti akan terkejut saat tahu siapa yeojachingu-nya”

“Siapa?”

Aku mendekat pada Sooyoung, lalu berbisik di telinganya. “Victoria, resepsionis JinHan”

Mwo? Jinjjayo?”

Aku mengangguk.

Sooyoung tersenyum senang, kemudian dia mengajakku untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Aku bernapas lega karena dia tak mengarah ke lorong dimana tadi ada eomma-nya dan Shim Busangjangnim karena dia mengambil lorong yang lainnya. Sooyoung terus mengajakku sampai akhirnya kami tiba di sebuah kolam renang yang saat ini sedang sepi. Dia duduk di salah satu bangkunya, dan akupun mengikutinya.

“Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanyaku penasaran.

“Karena disini sepi,”

“Sepi?”

Eo, di dalam sangat ramai dan aku tak punya waktu denganmu karena appa terus mengajakku untuk menyapa teman-temannya” jawab Sooyoung dengan ekspresi kesal yang dia sembunyikan sedari tadi. “Bagaimana mungkin appa membiarkanku jauh dari namja yang baru saja menjadi tunanganku hanya untuk menyapa teman-temannya?”

Aku tertawa, “Apa karena itu kau kabur dari sana?”

Sooyoung menganggukkan kepala. “Aku sudah menyapa mereka semua, jadi sekarang waktunya aku bersamamu kan?”

Aku diam saja.

Oppa, kau tahu aku sangat senang karena sekarang orang-orang sudah mengetahui hubungan kita dan kita tak perlu bersembunyi lagi dari mereka” Sooyoung kembali berbicara karena aku terus diam. “Aku tak tahu bagaimana harus menggambarkan perasaanku kali ini. Rasanya hidupku benar-benar lengkap karena ada kau, appa dan eomma. Aku yakin sekali kita akan terus bersama sebagai keluarga seperti sekarang ini,”

“Sooyoung-ah,” Aku berpikir untuk memberitahu Sooyoung yang sebenarnya. Karena jika aku membiarkannya saja, bukan tidak mungkin Sooyoung akan jauh lebih terluka dan aku tak mau itu terjadi. “Sooyoung-ah, ada yang ingin aku katakan padamu”

Eo, apa itu?”

Aku menghela napas singkat, lalu membulatkan tekadku untuk memberitahu Sooyoung kali ini. “Kau ingat kan, bahwa aku tak akan menyembunyikan apapun darimu” kataku yang langsung di jawab yeoja itu dengan anggukkan kepalanya. “Mian, karena aku sudah menyembuyikan sesuatu darimu”

Mwoya?” sahut Sooyoung terlihat tidak percaya. Dia menatapku lekat-lekat, “Apa yang oppa sembunyikan? Katakan padaku”

Aku menimbang sesaat tentang bagaimana aku harus mengatakannya. Tapi melihat tatapan ingin tahu Sooyoung, mau tak mau membuatku harus cepat memberitahunya. Aku menarik napas sekali lagi, lalu mulai berbicara. “Sooyoung-ah, aku harus memberitahumu bahwa sekarang… bahwa sekarang eomma-mu sedang merencanakan sesuatu dengan pamanmu”

Oppa, apa lagi-“

“Aku tahu kau mungkin tak akan percaya padaku saat aku memberitahumu ini, tapi eomma-mu benar-benar sedang merencanakan sesuatu. Kau tahu bukan jika dari awal aku sedikit merasa aneh saat eomma-mu tinggal bersama kita, dan sekarang aku tahu alasannya dia tinggal untuk apa” potongku karena tak mau Sooyoung kembali menyanggah apa yang aku katakan sebelum aku benar-benar memberitahu seluruhnya. “Kau harus percaya padaku kali ini Sooyoung-ah. Eomma-mu tinggal bersama kita karena dia memiliki alasan, dan pamanmu ada di belakang semua itu”

Sooyoung menghela napas berat. “Oppa, kita baru saja bertunangan lalu kenapa kau tiba-tiba membahas sesuatu seperti ini?”

“Sooyoung-ah,”

“Aku tahu Oppa memang mencurigai eomma-ku, tapi tak bisakah kau menghilangkan kecurigaanmu itu?” Sooyoung mengabaikanku yang akan mengatakan sesuatu padanya. “Aku bahkan tak pernah sekalipun melihat eomma berhubungan dengan pamanku lagi, tapi kenapa kau menghubungkan mereka? Eomma-ku sudah berubah, dan kaupun melihatnya sendiri bagaimana dia selama tinggal bersama kita”

“Tapi dia melakukannya karena-“

“Cukup oppa!” seru Sooyoung dengan keras sambil berdiri dari tempat duduknya. “Aku tak mau merusak suasana hanya karena kecurigaanmu yang tidak beralasan itu,”

“Kecurigaan yang tidak beralasan?” tanyaku ikut berdiri dari dudukku. “Sooyoung-ah, aku tak mungkin mengatakan hal seperti ini jika aku tak mengetahuinya sendiri”

“Tapi kau mengatakannya tanpa bukti apapun. Aku hanya tahu bahwa saat ini kau sedang menuduh eomma-ku melakukan sesuatu yang tidak baik, dan kau juga menunduh pamanku”

“Tidak, aku tak melakukannya. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa-“

“Hentikan oppa. Sudah cukup kita membahas hal ini sekarang,” sela Sooyoung dengan suaranya yang sangat tegas. Dia menatapku dengan tajam, lalu memalingkan wajahnya dengan cepat. “Aku akan kembali ke dalam,”

“Tapi kita belum selesai berbicara,”

“Aku tak mau berbicara padamu jika kau masih mencurigai eomma-ku” sahut Sooyoung cepat. “Mianhaeyo oppa, tapi kau harus mempercayai orang-orang yang sangat berarti bagiku karena sekarang kau adalah tunanganku dan cepat atau lambat kita akan menikah” Sooyoung melangkah pergi meninggalkanku setelah mengatakannya.

Aku hanya bisa memandangi kepergian Sooyoung dari tempatku tanpa ada keinginan untuk mengejarnya. Aku menghela napas panjang, lalu kembali duduk di tempatku semula. Aku tak tahu kenapa aku sama sekali tak ingin mengejarnya kali ini. Apa mungkin ini karena Sooyoung mengatakan padaku bahwa aku telah menuduh eomma-nya? Atau apa karena dia berkata bahwa aku harus mempercayai orang-orang yang berarti baginya meskipun sangat jelas aku tahu jika orang itu sedang melakukan sesuatu di belakang Sooyoung? Apapun itu, aku rasa sudah benar bahwa aku tidak mengejarnya kali ini karena aku merasa apa yang aku lakukan benar meskipun dia tak mempercayaiku. Setidaknya aku sudah memberitahunya dan tak menyembunyikan apapun darinya sekarang.

¯¯

Sooyoung POV

“Sooyoung-ah, dimana Kyuhyun?” tanya appa saat aku datang ke meja makan sendirian. “Kenapa kau tak mengajak Kyuhyun sarapan bersama?”

“Mungkin Kyuhyun oppa masih bersiap-siap,” jawabku langsung duduk di kursi disebelah eomma. Aku tersenyum pada eomma saat dia memberikan segelas orange juice padaku, “Gomawoyo eomma,”

“Kau akan berangkat ke kantor bersama Kyuhyun hari ini?” tanya eomma padaku.

Aniyo. Aku akan berangkat sendiri”

Wae? Kalian seharusnya berangkat bersama bukan?” Appa menyahut disela sarapannya. “Appa tahu selama ini kalian tidak berangkat bersama karena apa, tapi semuanya sudah tahu sekarang dan appa rasa tak akan menjadi masalah jika kalian berangkat ke kantor bersama-sama”

Aku diam saja karena teringat pembicaraanku dengan Kyuhyun saat di pesta pertunangan. Sejak malam itu, aku memang tak banyak mengobrol dengannya apalagi saat di rumah karena sepertinya dia masih mencurigai eomma melihat dari tatapannya saat eomma disekitarku. Aku benar-benar tak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu pada eomma padahal tak ada yang salah mengenai eomma selama ini. Kenapa dia harus mencurigainya saat eomma sedang berusaha untuk berubah? Apa yang salah jika tiba-tiba seseorang berubah karena ingin memperbaiki sesuatu?

Appa, aku berangkat dulu” suara Kyuhyun terdengar tiba-tiba dan sedikit membuatku tersentak kaget. “Eommeonim, aku berangkat dulu” katanya pada eomma.

“Kyuhyun-ah, jamkkamanAppa menahan Kyuhyun yang akan meninggalkan dapur. “Kau berangkatlah bersama Sooyoung hari ini. Kenapa kalian harus berangkat terpisah lagi saat semua orang di JinHan sudah mengetahui pertunangan kalian?”

Aku melihat Kyuhyun melirikku, tapi aku berpura-pura untuk tidak melihatnya. “Arraseoyo. Aku akan menunggunya di mobil kalau begitu,” katanya.

“Kau tidak sarapan terlebih dahulu, Kyuhyun-ah?”

“Tidak, eommeonim. Aku ada rapat di Quintrix pagi ini, jadi aku harus cepat tiba di kantor” jawab Kyuhyun dengan nada sopannya. “Aku akan sarapan nanti setelah rapatku selesai”

“Benarkah? Kalau begitu kau harus cepat berangkat, Sooyoung-ah” desak appa tiba-tiba padaku saat aku baru saja memakan sarapanku. “Semuanya akan menjadi kacau jika Kyuhyun sampai terlambat datang ke rapat bersama Quintrix itu karena perusahaan itu bukanlah perusahaan kecil”

Aigoo, appa. Aku baru saja sarapan dan-“

“Cepatlah berangkat dan sarapan di kantor. Atau kau mungkin bisa ikut Kyuhyun rapat di Quintrix dan sarapan bersamanya setelah selesai,” sela appa sebelum aku selesai berbicara.

Aku menarik napas panjang, lalu beranjak dari kursiku tanpa mengatakan apa-apa baik pada eomma maupun appa. Kyuhyun menunggguku dan dia melangkah bersamaku keluar dari rumah. Tapi tak ada yang dia katakan padaku bahkan saat pada akhirnya kami meninggalkan rumah dan dalam perjalanan menuju JinHan. Aku tak tahu kenapa suasana diantara aku dan Kyuhyun tiba-tiba menjadi seperti ini padahal aku rasa kami hanya berdebat kecil tapi efeknya benar-benar sebesar ini. Akupun terlalu enggan untuk memulai pembicaraan dengannya, dan sepertinya diapun seperti itu.

“Aku akan langsung pergi ke Quintrix, jadi aku akan menurunkanmu di depan JinHan” kata Kyuhyun yang pada akhirnya berbicara setelah hanya diam dari sejak meninggalkan rumah sampai memasuki kawasan Cheongdam-dong.

Eo,”

Mobil Kyuhyun berhenti tepat di depan JinHan, dan akupun memutuskan untuk langsung keluar dari mobilnya. Aku sempat melihatnya menatap ke arahku untuk beberapa saat, tapi kemudian dia kembali menginjak gas mobilnya dan pergi meninggalkanku sendirian. Aku hanya bisa menarik napas panjang sambil terus memandangi mobil hitam itu sampai akhirnya menghilang dari pandanganku. Setelah itu aku memutuskan untuk langsung masuk ke gedung JinHan.

“Selamat pagi, Sajangnim” sapa salah seorang pegawai JinHan yang aku tak tahu namanya saat aku berpapasan dengannya.

Aku tersenyum ramah, “Selamat pagi”

Kakiku terus melangkah dan aku juga terus melemparkan senyum ramah sambil menganggukkan kepala saat beberapa orang menyapaku meskipun terkadang aku membalas sapaan mereka. Meskipun aku merasa suasana di JinHan berbeda dari biasanya, tapi aku berusaha untuk tetap bersikap biasa. Akupun mengabaikan bisikan-bisikan orang dibelakangku saat di dalam lift dan memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselku. Saat lift berhenti di lantai 3, aku bergegas keluar bersama beberapa orang yang memang bekerja di lantai 3.

“Anda datang lebih pagi hari ini, Sajangnim” sapa Kang Min Young yang keluar dari lift bersamaku.

“Benarkah?” tanyaku sambil berjalan bersamanya. Aku tersenyum lagi pada orang yang berjalan melewatiku dan Kang Min Young. “Tapi jika dipikir-pikir aku memang datang lebih pagi hari ini”

Ah, benar aku jadi teringat tentang laporan yang Anda minta, Sajangnim. Haruskah aku mengantarnya pagi ini juga?” tanya Min Young sebelum aku masuk ke ruanganku. “Laporannya sudah selesai aku kerjakan dan aku akan segera mengirimkannya pada Anda jika Anda memintanya,”

“Berikan padaku setelah pertemuanku dengan CEO Maehwa Group,” jawabku sambil mengingat laporan yang dimaksud Min Young. “Gomawoyo, Min Young-ssi karena kau bekerja sesuai dengan yang aku harapkan”

“Tidak perlu berterima kasih padaku, Sajangnim. Itu sudah menjadi bagian dari tugasku disini,”

Aku mengangguk, “Geureom. Aku akan memanggilmu setelah pertemuanku selesai,”

Ne,” ucap Min Young seraya membungkukkan badannya.

Aku masuk ke ruanganku tapi tidak langsung menuju ke kursiku. Untuk beberapa saat aku hanya berdiri diam di depan pintu dan memikirkan sikap Kyuhyun hari ini. Apa dia akan seperti itu selama beberapa hari ke depan? Haruskah aku memulai pembicaraan dengannya? Tapi aku tak mau dia menaruh curiga lagi pada eomma padahal tak ada yang dilakukan eomma seperti yang dia tuduhkan. Appa pun terlihat baik-baik saja dengan eomma, dan bahkan Shim Samchon sama sekali tak mengusikku akhir-akhir ini. Lalu apa yang perlu dicurigai saat semuanya baik-baik saja?

Ah, jinjja! Eotteoke?” gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

Aku melangkah ke arah kursiku dan duduk disana. Jika dipikir-pikir ini pertama kalinya aku bertengkar dengan Kyuhyun hanya karena masalah kecil. Kami memang sering berbeda pendapat pada hal-hal tertentu, tapi biasanya akan kembali baik dengan sendirinya. Kenapa untuk satu hal ini rasanya benar-benar berbeda? Mungkin ini karena aku ingin dia percaya sepenuhnya pada eomma yang sudah berubah sekarang, dan aku tak ingin ada kecurigaan apapun di diri Kyuhyun pada eomma. Biar bagaimanapun eomma-ku akan menjadi eomma-nya juga, dan bagaimana bisa dia menaruh curiga pada eomma-nya sendiri?

Saat aku sedang memikirkan Kyuhyun, ponselku tiba-tiba berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama yang tertera dilayar sambil berharap itu Kyuhyun. Tapi ternyata bukan. Aku bahkan tak tahu nomor siapa yang meneleponku, tapi sepertinya nomor asing. Mau tak mau aku menjawab panggilan itu karena mungkin saja mitra kerja JinHan dari luar negeri yang menelepon.

Hello?” sapaku.

“Sejak kapan kau menyapaku dengan bahasa asing seperti itu?” Suara Kris-lah yang terdengar di seberang telepon.

“Kris! Kau yang menelepon?”

Eo, memangnya siapa lagi yang meneleponmu di jam seperti ini?”

Aku mengerutkan kening, lalu melirik ke arah jam di tanganku. Bukankah ini jam 9 pagi? Memangnya ada yang salah menelepon seseorang pada jam 9 pagi? Ah, tapi kemudian aku ingat jika waktu dimana Kris berada sekarang berbeda dengan Korea. Mungkin saja sekarang disana malam, sementara disini pagi. Yah, semacam itulah karena aku tak begitu tahu dengan perbedaan waktu di belahan dunia lainnya selama aku sendiri tak berada disana.

“Kenapa kau baru meneleponku setelah berbulan-bulan meninggalkanku, huh?” sahutku mengabaikan perbedaan waktu ditempatku dan ditempat Kris. “Apa kau baru mengingatku sekarang?”

Mian, aku benar-benar sibuk disini dan jujur saja aku tak tahu kapan waktu yang tepat untuk meneleponmu”

“Jadi apa sekarang waktu yang tepat?”

“Aku rasa begitu,”

“Apa kau tak tahu aku sedang bekerja sekarang?”

“Wow, kau sudah bekerja? Dimana? Kenapa kau tak memberitahuku?”

Aku menghela napas singkat, “Di JinHan”

“JinHan? Jinjja?”

Aku diam tak menjawab. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi Kris saat mengatakan hal itu di depanku sekarang.

“Apa kau kembali bekerja disana karena eomma-mu yang memintanya? Atau ada alasan lainnya?”

“Alasan lain apa maksudmu?”

Kris diam untuk sesaat, lalu dia menjawab. “Kyuhyun-ssi?”

“Kau salah menebaknya. Tidak dua-duanya karena aku kembali bekerja di JinHan atas keinginanku sendiri dan kebetulan saja appa­ membantuku” kataku. “Kau pasti akan terkejut saat tahu aku bekerja sebagai apa di JinHan sekarang,”

Aku belum mendengar jawaban Kris karena suara ketukan di pintu terdengar. Tak lama kemudian, Pengacara Han masuk sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Dia melihatku sedang menelepon, jadi memilih untuk diam di tempatnya dan menungguku selesai berbicara. Karena tak mau membuatnya menunggu, akupun memutuskan untuk mengakhiri percakapanku dengan Kris.

“Kris, aku harus bekerja sekarang. Aku akan meneleponmu nanti, atau kirim email padaku. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,”

Eo, arraseo. Selamat bekerja kalau begitu,”

Eo, selamat malam” kataku memutus sambungan teleponnya. Aku meletakkan ponselku di atas meja sebelum akhirnya mengalihkan perhatianku pada Pengacara Han. “Ada apa, Pengacara Han? Kertas apa yang kau bawa itu?” tanyaku penasaran.

“Ini catatan tentang Maehwa Group dan juga CEO-nya. Aku rasa Anda harus membacanya terlebih dahulu sebelum pertemuan jam 10 nanti,” kata Pengacara Han memberikan kertas di tangannya padaku. “Aku ingin Anda berhati-hati mengambil keputusan dengan Maehwa Group mengingat perusahaan itu selalu berusaha untuk menjadi saingan JinHan selama ini”

Aku mengangguk mengerti.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan memberitahu Anda jika CEO Maehwa Group sudah datang,”

Ne, kamsahamnida

Aku melihat-lihat catatan yang diberikan Pengacara Han. Isinya mengenai laporan tentang perusahaan Maehwa Group dari awal mereka berdiri sampai sekarang. Ada profil CEO-nya juga yang sekarang bernama Kim Yeo Jin. Melihat dari profilnya CEO Maehwa Group ini berada di kisaran umur yang sama dengan eomma-ku. Aku juga merasa pernah melihat wajahnya tapi mungkin itu hanya perasaanku saja karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan CEO perusahaan ini secara langsung. Aku hanya mendengarnya beberapa kali dari appa dan membaca sedikit laporan mengenai perusahaan itu dari catatan-catatan appa yang selalu aku pelajari.

Ketukan pintu kembali terdengar, dan tanpa menunggu jawabanku pintu sudah terbuka. Shim Samchon-lah yang masuk dengan senyum ramahnya yang aku tahu hanya dibuat-buat saja. Cepat-cepat aku meletakkan kertas yang sebelumnya aku baca dan menyimpannya karena aku tak mau dia tahu tentang apa yang sedang aku baca kali ini. Biar bagaimanapun Shim Samchon-lah yang membuat pertemuanku dengan CEO Maehwa Group ini dan akan aneh kelihatannya jika dia mengetahui bahwa aku sedang mempelajari perusahaan itu sebelum CEO-nya datang.

“Aku datang hanya ingin berterima kasih padamu, Sooyoung-ah” kata Shim Samchon langsung mulai berbicara padaku. “Kau mau menyetujui saranku untuk bertemu dengan CEO Maehwa Group ini,”

“Kenapa berterima kasih padaku pada hal-hal seperti ini?” tanyaku heran. “Bukankah ini bagian dari tugasku menerima siapapun yang berniat baik pada JinHan?”

Eo, kau benar sekali” sahut Shim Samchon. “Karena itulah aku ingin memberikanmu saran, Sooyoung-ah. Saranku ini bukan saran seorang Busangjangnim, tapi seorang paman karena itulah aku datang ke sini tidak memanggilmu sebagai Sajangnim

“Paman tak perlu menyusahkan diri untuk memberiku saran. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan tidak aku lakukan,” kataku menolak saran dari Shim Samchon. “Lagipula aku menerima pertemuan ini bukan karena saran paman, tapi karena aku benar-benar ingin menjalin hubungan baik dengan perusahaan manapun meskipun itu adalah perusahaan saingan JinHan” Aku menambahkan.

Ah, begitu?”

Aku diam saja.

“Untuk yang satu ini, kau memang berbeda dari appa-mu, Sooyoung-ah” komentar Shim Samchon. “Baiklah kalau memang kau tak membutuhkan saranku,” Shim Samchon berniat untuk meninggalkan ruanganku.

Jamkkamanyo, paman” kataku menahannya untuk beberapa saat. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat perkataan Kyuhyun tentang Shim Samchon yang sedang merencanakan sesuatu yang melibatkan eomma, tapi kemudian cepat-cepat aku menghilangkan pikiran itu. “Ah, animida. Aku hanya ingin bertanya apa paman mengenal CEO Maehwa Group ini sampai-sampai paman menyarankan padaku untuk mengadakan pertemuan dengannya?”

Shim Samchon diam sesaat, lalu dia tersenyum simpul. “Aku mengenalnya,”

Ne?”

“Dia teman semasa kuliah paman dulu,” jawab Shim Samchon meneruskan.

Aku sedikit tercengang mendengar jawabannya kali ini karena itu memang benar bahwa aku pernah melihat CEO Maehwa Group ini sebelumnya. Jika dia adalah teman kuliah Shim Samchon, itu berarti dia juga teman kuliah appa bukan? Ah, aku rasa aku melihatnya di sebuah album foto di rumah saat tak sengaja membuka-bukanya di ruang kerja appa. Tunggu, kenapa tiba-tiba aku merasa khawatir seperti ini mengetahui kenyataan bahwa baik appa maupun Shim Samchon mengenal CEO Maehwa Group sebelumnya? Apa keputusanku untuk mengadakan pertemuan ini benar atau aku telah membuat kesalahan?

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

Gomawo #bow

32 thoughts on “[Series] Stuck In Love -24-

  1. Sistasookyu says:

    Syo susah bgt buat percaya sama kyu..
    mungkin karna emang bener ga ada buktinya kali ya..
    smoga aja kyu nya tetep setia ngelindungin syo

  2. Choco says:

    Jujur ya, aku di part ini paling sebel sama sooyoung -_- tau rasa deh sooyoung kalo semua nya terungkap -_- nyesel nyesel deh si soo ~

  3. Soo eonni kenapa kau tidak mendengarkan Kyu dulu dan malah menuduhnya dia hanya memberitahumu ….

    Yang sabar yah oppa, Soo eonni pasti menyadarinya….

  4. 이태라 says:

    kasian sm kyuhyun. sooyoung jd ngga percaya sm kyuhyun. semoga mereka saling percaya deh
    sebel sm shim samchon ih -_- knpa masiiihhh aja sekongkol sm eomma sooyoung

  5. Retno Willis says:

    thorr kerenn..
    tp aq merasa alur’ya lumayan cepat dr sbelum”nya.. jd aq serasa kurang dpt feel.ya.. hihihihi dilanjutt yaa thor.. aqu suka aqu suka🙂

  6. dr part sebelumnya sikap soo lg rada ngeselin hahaha krn nolak lgsg nikah sama kyu dgn alasan yg begitu(?)trus skrg malah gak percaya sama kyu, pdhl katanya gak boleh ada rahasia. tinggal soo harus merasakan menghadapi sainngannya sendiri -__-“

  7. met says:

    Daebak
    Yahh soo kok g percaya sih sma kyu
    Kyu kan udh ad bukti
    Trus ap soo bakal membatalkan pertemuan sma ceo maehwa group?
    Penasran nih
    Nextnya cpt ne😀

  8. masalahnya ga selesai-selesai. shim busajangnim makin menjadi jadi. malah ngebodohin kakak iparnya sendiri. dan ibu sooyoung malah percaya sama shim busajangnim. semoga cepet terungkap semuanya.

  9. jeniver_kyuyoung says:

    ayo dong soo eonni jangan bertengkar lagi… soo nyadar dong kalau paman kamu dan eomma kamu lagi kerja sama apa lagi dengan hadirnya teman ortu soo eonni. dan perusahaan itu direkomendasikan paman kamu… nextnya ditunggu ya…

  10. aduhhhhh ini masalah ada lagi? -_- ada orang baru pulak?
    Kyuhyun yang sabar yaaaa :*bikin penasaran nih rencana bapaknya changmin -_-
    eonni ditunggu part depan, jan lamalama huhuhu😦🙂

  11. Xspace says:

    Astaga sooyoung peka dong please!!
    Kyuhyun-sooyoung jangan diemdieman gitu dong;((
    Next part ditunggu banget loh thor<3

  12. NitaKnight says:

    Udah curiga sebenarnya sama eomma-nya Sooyoung di chap sebelumnya..
    Kyuhyun sama Sooyoung main berantem aja padahal baru tunangan..
    Lanjut chingu~

  13. pna says:

    astagaaaa muncul orang baru lagiiiii….ngapa dah shim busajangnim itu kayaknya ga ada yg bisa berhentiin dia huft

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s