[Series] The Seven Guardians (Part 3)

the seven guardians

The Seven Guardians

Choi Sooyoung | Cho Kyuhyun

Wu Kris | Kang Minhyuk | Jung Soojung | Kim Suho | Jung Eunji

Lee Eunhyuk | Song Victoria | Shim Changmin | Choi Sulli | Hwang Tiffany | Jung Yunho | Kim Taeyeon

Story and Poster by g’s.world

5108 words

Series

PG-15

Fantasy, Sad, School-life, Romance, Friendship

This story pure from my mind. Plagiarism isn’t allowed

Warning for typo(s), bad words, etc

 

Hello ~ J

Apa kabar readers semua? ^^ Author balik lagi bawain kelanjutan ff ini hehe mian kalau athor terlalu lama melanjutkannya u,u karena kesibukan author sendiri akibat banyaknya tugas #curcol author jadi tidak sempat menulis kelanjutan ff ini hehehe author juga berterima kasih atas respon kalian di part 1 dan 2 J Author juga mengharapkan respon yang baik untuk part ini dan mian kalau ceritanya masih kurang jelas ya ._. Yang menjadi guardians disini itu Sooyoung, Kyuhyun, Kris, Eunji, Suho, Krystal, dan Minhyuk dan untuk part ini author masih blm banyak membuat moment KyuYoung karna author ingin berfokus pada pengenalan tokoh dulu jadi di part selanjutnya author akan usahakan untuk membuat moment KyuYoung lebih banyak lagi. So, respon readers untuk kelanjutan cerita sangat author harapkan ^^

HAPPY READING!

***

CKLEK

Eunji membuka pintu besi di hadapannya dengan pelan, gadis dengan rambut coklat sebahu itu pun menekan tombol lampu dan melihat sekeliling yang sepi. Eunji hanya tersenyum tipis dan duduk di lantai untuk melepas sepatu dan kaos kaki yang melekat di kaki mungilnya. “Sendirian lagi, ya?”, gumamnya dan kemudian merasakan getaran ponselnya di dalam tas.

“Yeoboseyo”

“…”

“Ne, eomma. Aku baru saja pulang”

“…”

“Iya. Aku akan makan setelah aku mandi. Eomma jangan lupa makan ya”

“…”

“Ne, saranghae eomma”

KLIK

Panggilan singkat itu diakhiri dengan hembusan nafas kasar oleh Eunji. Selalu dan selalu seperti ini, orang tuanya adalah seorang maniak kerja. Orang tuanya adalah dokter yang cukup terkenal di Seoul, mereka sangat mencintai pekerjaan mereka sehingga menelantarkan anak semata wayang mereka. Eunji terkekeh kecil, menelantarkan ya? Orang tuanya mungkin tidak menelantarkannya terbukti ketika mereka berkumpul, ayah dan ibunya itu selalu mengajaknya berpergian tetapi di tengah perjalanan selalu saja salah satu dari mereka mendapat panggilan tugas.

Eunji memang sudah terbiasa dengan hal itu tetapi akhir – akhir ini dia sering mendengar orang tuanya bertengkar di malam hari entah itu memperdebatkan betapa sibuknya mereka, soal Eunji yang selalu ditinggal karena mereka sibuk, dan lainnya. Pada akhirnya, orang tuanya menjadi lebih sering di luar rumah dan jarang sekali pulang ke rumah. Ibunya tadi berkata jika beliau mendapat tugas ke luar kota dan ayahnya entah kemana. Eunji pun berdiri dan menepuk pelan rok sekolahnya kemudian bergegas membersihkan dirinya, setidaknya itu bisa sedikit menjernihkan pikirannya.

***

Tangan lentik itu dengan lincah menuangkan cairan berwarna merah dari sebuah botol ke dalam gelas kaca di depannya. Entah sudah yang ke berapa kalinya dia meneguk cairan merah itu di sebuah ruangan yang minim cahaya. “Aku pulang”, terdengar sahutan seseorang dan suara pintu yang berderit. Orang yang baru masuk itu mengerutkan keningnya menyadari ruang tamu di rumahnya gelap, dia pun memutuskan menyalakan lampu dan melihat sekeliling. “Ya ampun, eomma! Sudah kukatakan untuk tidak menyentuh minuman terkutuk ini!”, serunya sambil menyambar gelas di genggaman ibunya.

Wanita di akhir 30-an itu menatap tajam putra semata wayangnya yang dia anggap mengganggu kegiatannya saja. “Minhyuk, eomma sudah lama tidak minum. Biarkanlah malam ini aku meminumnya sedikit”, ujar wanita itu sambil mengambil gelas baru lagi. Minhyuk yang melihat itu segera mengambil botol wine yang sisa setengah isinya. “Tidak, sekali aku bilang tidak ya tidak. Aku tidak ingin eomma sakit”, ujar Minhyuk sambil menatap miris keadaan ibunya yang setengah mabuk. Ibu Minhyuk pun meletakkan dengan kasar gelas yang semula di genggamannya ke atas meja dan berjalan dengan sempoyongan masuk ke kamar kecil miliknya.

Minhyuk menghela nafas pelan dan merapikan ruang tamu yang berantakan kemudian beranjak ke dapur untuk mencuci gelas. Minhyuk menatap kucuran air sambil berpikir tentang keadaan ibunya sekarang, dua tahun yang lalu ibunya tidak seperti ini. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang begitu menyayangi keluarga kecilnya, tidak pernah sekalipun ibunya berani menyentuh minum – minuman keras. Tetapi dua tahun yang lalu tepat di hari  kelulusannya, Minhyuk menyaksikan ayah yang selama ini dikaguminya memukul ibunya dengan keras hingga tubuh ringkih ibunya terpental cukup jauh.

Minhyuk yang saat itu tidak tahu apa – apa membantu ibunya berdiri dan mengatai ayahnya adalah orang terjahat di dunia ini. Ayahnya yang selalu dianggapnya pahlawan itu hanya tertawa sinis dan merangkul perempuan yang entah sejak kapan ada di rumahnya. Minhyuk pun mengepalkan tangannya kuat ketika ayahnya dengan seenaknya mencium perempuan itu di depan matanya dan ibunya, setelah itu ayahnya pergi tanpa memperdulikan perasaan istri dan anak semata wayangnya. Dua hari kemudian, ibu Minhyuk memutuskan untuk pindah dari Busan ke Seoul. Minhyuk pun memutuskan untuk mengikuti ibunya kemana pun dia pergi.

Beberapa bulan kemudian ibunya tiba – tiba menghilang dan ternyata berada di sebuah kelab malam dan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di tengah hujan, Minhyuk menggendong ibunya di punggung dan bertekad untuk menjaga ibunya selama yang ia bisa. Entah mengapa rasa sayang pada ayahnya dulu yang begitu besar perlahan pudar menjadi benih kebencian setelah melihat keadaan ibunya. Laki – laki yang berusia 15 tahun kala itu bertekad untuk menjadi laki – laki yang kuat dan tidak akan pernah meninggalkan ibunya.

Mata Minhyuk mengerjap beberapa kali setelah tersadar dari lamunan singkatnya dan kemudian membilas gelas di genggamannya dan menaruhnya di rak piring. Minhyuk pun melepas sarung tangan dan mengelap air mata yang sempat mengalir di pipinya. ‘Bodoh, kenapa kau cengeng sekali Minhyuk?’, batinnya sambil masih mengelap air mata yang entah kenapa tidak mau berhenti dan tanpa dia sadari tak jauh darinya, wanita yang sudah membesarkannya hingga kini menatap dirinya dengan mata berkaca – kaca.

***

Badan tinggi yang dimiliki seorang lelaki tampak sedang bergerak luwes ke sana kemari di sebuah ruangan yang cukup luas. Tangannya dengan lincah mengayunkan pedang tipis di tangan kanannya, setelah cukup lama dia berhenti dengan gerakan split sambil mengacungkan pedangnya ke depan. Dia pun berdiri dan berjalan ke pojok ruangan mengambil botol minumnya dan meneguk air di dalamnya untuk melepas dahaga. Ketukan pintu terdengar dan dia mempersilahkan orang yang mengetuk pintu masuk. “Permisi, tuan muda. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa air hangat untuk mandi telah disiapkan dan satu jam lagi makan malam akan siap”, “Baiklah, Pak Kim. Terima kasih”. Pria paruh baya itu pun membungkukkan badannya sedikit dan beranjak dari ruangan itu. Kris pun menghapus peluh di lehernya dengan handuk kecil kemudian memutuskan untuk segera membersihkan diri.

Laki – laki keturunan China-Kanada itu memakaikan kaos abu – abu ke tubuhnya dan merapikan sedikit rambutnya kemudian keluar kamar menuju ruang makan. Setiap pelayan yang berpapasan dengannya menunduk hormat padanya dan dibalas dengan senyum tipis. Dia memasuki ruangan makan yang besar dimana terdapat meja panjang yang bisa diduduki sepuluh orang lebih. Kris pun duduk di kursi di ujung meja dan beberapa pelayan berlalu lalang menyiapkan makan malam untuk tuan muda mereka. Setelah selesai, pelayan – pelayan itu keluar dari ruangan itu dan membiarkan tuan mudanya menyantap makan malam dengan tenang.

Tenang? Ruangan itu malah terlalu tenang sekarang membuat Kris menyandarkan punggungnya di kursi, dia memang menyukai ketenangan saat makan tetapi bukan suasana seperti ini yang diinginkannya. Sekarang dia malah merasa kesepian dan kehilangan selera makan. Kucing putih miliknya mengelus – eluskan kepalanya di kaki Kris dan sesekali bergelayut manja di kaki laki – laki itu. “Hanya kau saja yang mengerti, Chloe”, ujar Kris sambil tersenyum tipis menatap kucing kesayangannya. Dia pun menyendok lauk di hadapannya dan mulai menyantap santapan yang sudah disiapkan dengan sangat baik oleh koki yang bekerja di rumahnya dengan perlahan. Setelah beberapa suapan, pelayan yang dipanggilnya pak Kim tadi masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu.

“Maafkan saya, tuan muda. Ada telepon untuk anda dari nyonya dan nyonya ingin berbicara dengan tuan muda sekarang”, ujar pak Kim sambil menyerahkan telepon ke arah Kris. Kris pun mengambil telepon itu dan mengucapkan terima kasih pada pak Kim.

“Halo, ibu”

“…”

“Ah, itu tidak apa – apa. Aku baik – baik saja di sini”

“…”

“Ya, ibu. Jaga kesehatan ibu”

TUT.. TUT..

Kris meletakkan telepon itu di meja dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi. Lahir di keluarga bangsawan tidak membuat Kris merasa bahagia, dia hanya merasa menjadi aset berharga yang dimanfaatkan untuk menjaga kekayaan keluarganya. Ayahnya sudah meninggal ketika dia berumur tiga tahun, ibunya yang menggilai harta itu terlihat tidak merasa kehilangan atas kepergian ayahnya. Bertahun – tahun Kris hidup di lingkungan keluarga ayahnya yang merupakan keturunan bangsawan, dilatih dengan keras hingga dua tahun yang lalu terdengar berita tentang penyerangan makhluk aneh di Jepang. Pemerintah China kala itu mencari informasi mengenai hal itu dan kerja sama yang terjalin antara Korea Selatan dan China membuat pemerintah negeri tirai bambu itu tahu mengenai makhluk kegelapan.

Pemerintah Korea Selatan yang ingin mencari anak – anak terpilih pun meminta bantuan dari pemerintah China untuk mencari dan Kris pun terpilih setelah menjalani beberapa tes. Kemudian dia pergi ke Korea Selatan untuk melatih dirinya atas kemauan ibunya, sebenarnya ibunya ingin mempererat kerja sama dengan Korea Selatan dan agar keluarganya dipandang lebih tinggi lagi. Sempat beberapa kali, Kris berusaha kabur karena tidak ingin menjalani semua ini tetapi ibunya datang dan selalu memarahinya bahkan tidak segan – segan melakukan kekerasan jika Kris membantah. Ibunya hanya mementingkan nama keluarga dan harta keluarga yang berlimpah daripada anak semata wayangnya.

Kris pun mengambil serbet di dekatnya dan membersihkan mulutnya kemudian meneguk segelas air putih. Pikirannya kacau kala mengingat semuanya, bahkan tadi ibunya membatalkan kedatangannya ke sini karena ada keluarga kerajaan Inggris yang datang berkunjung ke China. Padahal dia sudah berjanji dengan ibunya akan berjalan – jalan keliling Seoul, apa salahnya menyisihkan waktu sedikit untuk anaknya. Kris merasa kedatangan keluarga kerajaan itu bisa diwakilkan tetapi Kris tahu betul sifat ibunya itu. Laki – laki itu pun menggendong Chloe dan keluar dari ruang makan, dia pun duduk di sofa panjang dan menyalakan televisi besar di hadapannya. Sambil menonton, Kris mengelus pelan bulu – bulu putih halus milik kucing yang ada di pangkuannya.

Saat tengah asyik menonton tiba – tiba mata Kris ditutup seseorang. “Coba tebak aku siapa”, ujar orang itu dengan ceria. Kris hanya tersenyum, “Siapa ya? Aku sepertinya tidak mengenalnya”, gadis itu melepaskan tangannya dan melipatnya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya lucu. Kris menatapnya sambil tersenyum lebar, “Ah, uri Seohee marah? Nanti tambah jelek, lho”, ujar Kris sambil terkekeh. “Yya, oppa. Kau jahat sekali!”, gadis kecil itu memukul pelan lengan Kris yang dibalas tawa renyah Kris. Gadis yang dipanggil Seohee itu memang kesal tetapi dia senang sudah membuat laki – laki di depannya ini tertawa.

Kris pun mengacak pelan rambut halus Seohee, ‘Oh ya, aku lupa ada gadis ini. Aku pasti tidak kesepian selama dia terus di dekatku’, batin Kris sambil tersenyum tulus.

***

Soojung berjalan dengan cepat dan membuka pintu rumahnya dengan kasar hingga mengejutkan laki – laki paruh baya yang sedang berada di dapur. Itu sudah menjadi kebiasaan Soojung jika sudah lelah, gadis itu pun melepas sepatu dan kaos kaki kemudian melemparnya sembarangan toh tidak ada yang memarahinya. Dia pun berjalan ke arah kamarnya kemudian berhenti ketika melewati pintu dapur saat dia mencium bau yang tidak mengenakkan. Dia pun menaruh tasnya di lantai dan masuk ke dapur kemudian membelalakkan matanya melihat keadaan dapur.

Kacau balau. Dua kata itu sukses menggambarkan keadaan dapur rumahnya saat ini, Soojung bisa melihat tepung bertebaran dimana – mana ada pun loyang dan kulit telur yang sudah dipecahkan berserakan di atas meja. “Oh, hai sayang. Apakah kau sudah meletakkan sepatu dan kaos kakimu dengan benar?”, sapa laki – laki paruh baya dengan celemek pink yang dipakainya. Soojung hanya memijat pelipisnya pelan melihat keadaan itu, “Oh my God! What’s going on here? Jangan bilang appa berhenti bekerja lagi”. Ayah Soojung pun tampak berpikir sebentar.

“Tidak, kok. Appa hanya sedang bosan saja bekerja, jadi appa mencoba membuat kue tetapi hasilnya selalu gosong”, ayah Soojung mengatakan itu dengan cengiran lebar dan mengeluarkan loyang berisi kue gosong dari dalam oven. “Bosan? Itu tidak mungkin. Oh ayolah, mana ada orang yang libur di hari kerja seperti ini dan appa tidak mungkin seenaknya tidak bekerja seperti ini”, “Ya, begini appa hanya tidak menyukai pekerjaan appa sekarang jadi ya, appa berhenti”. Ayah Soojung hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mencoba membuat adonan kue yang baru.

“Ah, sudahlah terserah appa saja. Jika appa melakukan hal tidak berguna seperti ini hanya akan menghabiskan uang kita. Lagipula ini resiko appa yang mau berpisah dengan eomma karena merasa tidak pantas. Aku lelah, jangan ganggu aku”, ujar Soojung kesal kemudian mengambil tasnya dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Gadis dengan rambut kuncir kuda itu menghentakkan kakinya kesal karena kelakuan ayahnya. Dia pun mengambil handphone miliknya dan mengetikkan pesan kepada kakaknya.

To : Jess eon~

Eonni, sedang apa? Aku kesal pada appa! Appa dipecat lagi, aku lelah menasihati appa terus -_-

SEND

Dia pun menghempaskan tubuh mungilnya di ranjang menatap langit – langit kamarnya yang dihiasi warna langit dengan ditempeli bintang – bintang kecil yang akan menyala saat gelap. Jika saja ayahnya tidak bercerai dengan ibunya mungkin ayahnya bisa mendapatkan pekerjaan tetap dan terjamin. Ayah dan ibunya menikah karena perjodohan antara dua keluarga, keluarga ayahnya bukanlah dari keluarga berada tetapi kakek dari ayahnya adalah sahabat dekat kakek dari ibunya. Persahabatan ini lah yang melahirkan perjodohan ayah dan ibunya, setelah kakek dari ayahnya meninggal ayah dan ibu Soojung menikah dan hidup dengan tentram dikarunai dua anak perempuan.

Tetapi ayahnya merasa tidak berguna dalam keluarga itu, ibunya menjadi wanita karir karena meneruskan perusahaan keluarga sedangkan ayah yang tidak mempunyai pengalaman banyak akhirnya menetap di rumah dan mengurus Soojung dan kakaknya. Ayahnya diam – diam mencari pekerjaan yang cocok sampai ibu Soojung mengetahui itu dan menawarkan pekerjaan di perusahaannya. Ayah Soojung menolak karena merasa masih sanggup mencari pekerjaan yang lain tetapi karena pendidikan yang tidak cukup dan pengalaman yang minim, menyulitkan laki – laki kepala empat itu mencari pekerjaan. Hubungan ayah dan ibu Soojung mulai renggang dan sering terjadi adu mulut di antara mereka, ayah Soojung yang merasa sangat tidak berguna itu pun memutuskan berpisah dengan istrinya. Kakak dan ibu Soojung tidak mengetahui dengan jelas alasan sang ayah berpisah tetapi Soojung yang memang sangat dekat dengan ayahnya itu mengetahui pasti dan memutuskan mengikuti ayahnya untuk menjaganya.

DRRT… DRRT..

From : Jess eon~

Mianhae, Krystal. Aku sedang sibuk sekarang, bisakah kita berbicara lain kali? Coba saja untuk menasihati appa sekali lagi ^^

Soojung menghembuskan nafas kesal dan melempar handphonenya asal. Setelah membaca pesan balasan kakaknya dia merasa moodnya semakin jelek saja. “Arghh! Aku bisa gila lama – lama!”, pekiknya kesal sambil menggoyangkan badannya membuat tempat tidurnya menimbulkan bunyi gaduh. “Hei, Soojung sayang. Kau tidak apa – apa kan? Keluar lah, appa sudah memasakkan makanan untukmu. Makanlah agar kau tidak sakit”, ayahnya mengetuk pintu kamar pelan takut membuat putri bungsunya itu bertambah kesal. Soojung pun keluar kamar dengan wajah masam dan menuju dapur untuk makan. Ayahnya hanya tersenyum tipis dan memutuskan untuk pergi keluar mencari pekerjaan baru.

“Kalau begitu, appa pergi dulu ya. Appa ingin berjalan – jalan mencari udara segar”, ujar ayahnya sedikit keras agar Soojung mendengarnya. “Ya, semoga berhasil appa”, ujar Soojung sambil tetap menyantap makan malamya. ‘Terima kasih, nak’, batin ayah Soojung kemudian pergi keluar rumah. Soojung pun tersenyum tipis dan berdoa agar ayahnya segera mendapatkan pekerjaan yang terbaik untuknya.

***

Suho membuka pintu mobil yang dinaikinya dan segera berjalan masuk ke dalam rumah besar milik keluarganya. Seorang pelayan menyambutnya dengan menawarkan bantuan untuk membawakan tas sekolah Suho. Dengan sopan, Suho menolak dan memutuskan membawa tas itu sendiri dan laki – laki itu berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

PRANGG

Suara pecahan suatu benda terdengar memenuhi rumah besar itu, tak lama suara laki – laki dan wanita yang seperti sedang berkelahi terdengar. Suho berhenti di anak tangga pertama dan mengepalkan tangannya kuat, “Oh kau pulang? Tidak lihat jam berapa sekarang? Appa tidak pernah mengajarimu melanggar aturan, Suho”, suara tegas seorang laki – laki terdengar setelah dia keluar dari ruangan kerjanya. Suho pun berbalik dan menatap ayahnya, “Tapi appa aku tadi ada pelajaran tamb–“, “Alasan saja! Sudah berapa kali appa bilang untuk tidak pulang saat matahari terbenam, kenapa kau selalu menjadi anak yang membangkang hah?!”.

Tak segan – segan, laki – laki itu menampar wajah anak bungsunya hingga sudut bibir Suho mengeluarkan darah. Suho berpegangan erat pada tiang di dekatnya agar tidak terjatuh. “Astaga, Suho! Kau tidak apa – apa nak?”, wanita paruh baya dengan muka lebam keluar dari ruangan kerja ayah Suho dan merangkul anak bungsunya dengan sayang. “Jinwoo, aku terima saja jika kau memukulku. Tapi jangan pernah kau memukul anakku!”, ibu Suho memekik keras dan menatap tajam suaminya. Ayah Suho hanya mendecih kesal dan pergi dari sana. Ibu Suho pun berbalik dan memegang wajah Suho, “Suho, kamu tidak apa – apa nak? Ayo ikut eomma biar eomma obati lukamu”.

Suho menepis tangan ibunya pelan dan membalikkan badannya kemudian menaiki tangga di depannya. “Tidak perlu, eomma. Aku bisa mengobatinya sendiri”, ujarnya datar dan menaiki satu persatu anak tangga kemudian berjalan ke arah kamarnya. Ibunya hanya menatap getir Suho kemudian beranjak pergi. “Oh, bukankah kau sangat menyayangi ibumu? Perlakuan apa barusan?”, ujar seseorang yang sedang bersandar di tembok ketika Suho lewat. “Itu bukan urusanmu, hyung”, ujar Suho sambil terus berjalan. “Ya, itu memang bukan urusanku. Aku hanya ingin tahu saja dan lagi aku tidak mungkin mengurus urusanmu yang tidak penting itu”.

Kakak laki – laki Suho itu pun masuk kembali ke kamarnya dan Suho hanya menatap kosong ke arah pintu kamar kakaknya. Dia menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya menetes perlahan, dia sudah lelah dengan semua ini. Suho merasa dirinya adalah pembawa sial dalam keluarga yang dulunya bahagia ini. Setelah kelahirannya di dunia ini, kakak laki – lakinya terlihat tidak menyukai kehadirannya yang menyita perhatian kedua orang tuanya. Kemudian beberapa tahun terakhir, ibu dan ayahnya selalu berkelahi dan diakhiri dengan kekerasan oleh ayahnya. Padahal yang dia tahu ayahnya adalah seorang yang lembut dan selalu bisa menjaga emosi.

Suho menutup pintu kamarnya pelan dan menguncinya, beginilah kebiasaannya di rumah. Dia akan mengurung dirinya sendiri di kamar dan hanya keluar ketika jam makan tiba. Dia merasa tidak pantas berada di rumah itu karena kehadirannya seperti merusak kebahagiaan yang tercipta antara ayah, ibu, dan kakaknya. Dia mengepalkan tangannya erat dan terus mengusap air matanya yang keluar. Karena tak kunjung berhenti, akhirnya dia pun membiarkan air mata itu mengalir agar perasaannya bisa lebih tenang.

***

Sebuah motor sport putih melaju kencang membelah kota Seoul, sampai di distrik Gangnam sang pengemudi memelankan laju motornya dan berbelok masuk ke dalam sebuah apartemen mewah. Dia memarkirkan motor sportnya di tempat biasa dan melepas helmnya kemudian membawanya masuk ke dalam gedung apartemen itu. Di jalan menuju kamar apartemennya, dia berpapasan dengan orang – orang yang sudah dikenalnya dengan baik seperti tetangga depannya yang suka menari kemudian ada wanita paruh baya pecinta anjing yang tinggal di lantai 10 tepat dua lantai di bawah kamar apartemennya. Laki – laki itu bersiul dan masuk ke dalam lift menuju lantai 12 dimana kamarnya berada.

Suara dentingan halus berbunyi menandakan dia telah sampai di lantai yang dituju, dia keluar dari lift dan handphonenya bergetar. Dia mengambil handphone di saku celananya dan membaca pesan yang baru saja masuk.

From : Ahra Noona

Pulanglah. Ibu bilang dia merindukanmu.

Dia mematikan handphonenya dan mengetik kata sandi kamar apartemennya, dia memencet saklar dan lampu – lampu pun menerangi kamarnya. Kyuhyun menaruh sepatu dan helmnya di rak dan beranjak ke dapur untuk melepas dahaga sebentar. Ponselnya bergetar untuk kedua kalinya tetapi kali ini bukan sebuah pesan melainkan panggilan telepon. Kyuhyun menatap datar layar handphonenya yang menampilkan nama kakak perempuannya. Setelah panggilan diakhiri, dia memutuskan untuk benar – benar mematikan handphonenya. Dia hanya tidak ingin diganggu saja terutama dia menghindari kontak dengan keluarganya.

Keluarga ya, Kyuhyun pun terkekeh kecil karena menganggap mereka keluarganya. Oh ayolah dia hanya anak angkat, tidak seharusnya dia merasa berarti di keluarga itu. Lantas kenapa kakak angkatnya tadi berkata bahwa ibunya merindukannya? Itu sudah menjadi hal biasa bagi Kyuhyun, jika ibunya merindukannya pasti ibunya ingin dia melakukan sesuatu seperti pergi ke rapat perusahaan dan lainnya. Kenapa harus dia padahal Ahra yang merupakan anak kandung dapat melakukannya. Kyuhyun mengerti jika Ahra tidak bisa meneruskan perusahaan keluarga Cho karena kondisinya yang lemah.

Oleh karena itu, tujuh tahun yang lalu Kyuhyun yang masih tinggal di panti asuhan terpilih dari sekian banyak anak menjadi bagian dari keluarga Cho. Nyonya Cho sudah tidak bisa mengandung lagi karena rahimnya yang sudah diangkat, maka dari itu tuan dan nyonya Cho memutuskan mengadopsi anak laki – laki untuk meneruskan keluarga mereka mengingat kondisi Ahra yang lemah. Kyuhyun kala itu sangat senang karena akhirnya dia memiliki sebuah keluarga, namun lambat laun dia menyadari bahwa dia bukan bagian dari keluarga Cho. Dia tidak pantas menyandang marga Cho di namanya, Kyuhyun merasa dia hanyalah orang luar yang mengganggu kehidupan tentram keluarga Cho. Hubungannya dengan Ahra dulu sangat baik seperti saudara kandung sungguhan, tetapi Kyuhyun mulai berubah menjadi pembangkang sehingga membuat kondisi ayah dan ibunya menurun. Karena itu lah Ahra mulai tidak menyukai Kyuhyun.

Kyuhyun pun memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Cho dan mencari tempat tinggal baru tetapi tuan dan nyonya Cho berhasil menemukannya kembali dan mengajaknya pulang. Kyuhyun menolak secara halus dan akhirnya Kyuhyun diberikan fasilitas hidup di luar sesuai kesepakatan mereka. Kyuhyun menyadari jika orang tua angkatnya sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri tetapi Kyuhyun berusaha menepis itu entah sampai kapan. Sebenarnya sifat Kyuhyun mulai melunak ketika bertemu orang yang sangat berharga dalam hidupnya.

Karena orang itu, Kyuhyun mulai sering pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga dan itu tentu saja membuat keluarga Cho sangat senang tetapi kejadian itu tidak berlangsung lama. Tepat setahun yang lalu, Kyuhyun yang hangat dan baik hati berubah setelah merasakan sebuah pengkhianatan. Es yang semula mencair itu kembali beku dan melingkupi hati Kyuhyun, laki – laki itu berubah menjadi orang yang dingin tak berperasaan. Dia sukses menghancurkan satu kelab malam akibat amukannya yang kala itu dilanda depresi berat, Kyuhyun yang baik berubah menjadi pembuat onar dan selalu berkelahi.

Kondisi tuan dan nyonya Cho semakin menurun menyaksikan kelakuan Kyuhyun sehingga Ahra geram dan bertekad sembuh dari penyakit yang membelenggunya. Dan beginilah keadaan mereka sekarang, Kyuhyun sudah tidak kembali ke rumah keluarga Cho setahun ini, dia melarikan diri dan berbuat apa pun yang dia suka. Ayahnya yang mengidap serangan jantung sudah dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan kemudian ibunya yang selalu khawatir membuat kondisi tubuhnya menurun dan terbaring tak berdaya di kamarnya. Kyuhyun tidak peduli lagi dengan semua itu, setelah orang itu mengkhianatinya dia merasa sudah tidak ada artinya lagi dia berada di dunia ini.

Jika saja dia bisa menghilang dari dunia ini, dia sudah melakukannya dari dulu.

***

Sooyoung menyesap teh hangat di genggamannya sambil menatap bintang – bintang yang bersinar di langit. Rasa dingin yang dihasilkan dari hembusan angin malam cukup menusuk kulit tetapi Sooyoung tetap tak bergeming dari sofa yang ada di balkon kamarnya. Gadis itu masih memikirkan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Untuk kesekian kalinya dia menghembuskan nafas dan mengusap wajahnya, dia khawatir mengenai tanggapan teman – teman satu sekolahnya itu terhadap dirinya. Bodoh, kata itu terus saja ia tujukan pada dirinya yang dia anggap dengan bodohnya melepaskan kekuatannya. Kalau saja dia tidak peduli mungkin mereka tidak akan tahu tetapi bagaimana jika mereka terluka atau bahkan tidak selamat.

Gadis itu menepuk – nepuk pipinya agar tidak terlalu memikirkan hal itu lagi, dia melepaskan headphone yang digunakannya daritadi dan menatap Sulli yang sedang berdiri di sebelahnya. “Eonni, makan malam sudah siap. Turunlah aku, ayah, dan ibu akan menunggumu di ruang makan”, ujar Sulli sambil tersenyum dan tak lama gadis cantik itu keluar dari kamar Sooyoung. Sooyoung pun beranjak dari tempatnya duduk dan menuju ruang makan. Saat memasuki ruang makan, Sulli yang tadinya berbincang dengan ayahnya terdiam dan duduk rapi menghadap meja. Sooyoung menaikkan sebelah alisnya dan duduk sambil menatap tiga orang di ruang makan itu satu persatu. Sooyoung pun mengedikkan bahunya dan mengambil nasi dan lauk untuk dia makan begitu pun Sulli dan orang tuanya.

“Selamat makan”, ucap Sooyoung tenang dan menyantap makanannya dengan lahap. Tuan dan nyonya Choi saling bertatapan dan tak lama tersenyum kemudian menyantap makanannya. Sulli menatap Sooyoung cukup lama dan tersenyum lebar melihat kakak yang disayanginya itu sepertinya baik – baik saja. Sooyoung yang menyadari tatapan Sulli pun menatapnya penasaran, “Ada apa?”, Sulli hanya menggeleng dan menyantap makanannya. Sooyoung pun melanjutkan suapannya dan tersenyum tipis. ‘Mianhae, membuat kalian semua khawatir’, batin gadis itu.

***

Sooyoung mengigit roti tawar yang sudah diolesi selai cokelat di mulutnya kemudian memakai kaus kaki dan sepatunya dengan tergesa – gesa. Gadis itu bangun kesiangan dan Sulli ternyata sudah pergi daritadi karena sudah berjanji dengan kekasihnya untuk berangkat bersama. Jam sekolahnya masuk memang masih 45 menit lagi tetapi yang dikhawatirkannya adalah bus yang membawanya ke sekolah mungkin saja sudah berangkat beberapa menit yang lalu. “Eomma, aku berangkat dulu!”, pekiknya dan dibalas ibunya dengan sahutan yang cukup keras juga. Kaki jenjangnya dengan cepat melangkah menuju halte bus dan dia bisa bernafas cukup lega karena bus yang akan ditumpanginya masih berada di sana. Tak mau berlama – lama dia pun segera masuk ke dalam bus dan berpegangan pada tiang yang ada karena tempat duduk di bus sudah penuh.

‘Yang Sulli katakan benar, bus ini sudah penuh sekali’, batin Sooyoung sambil mengelap peluh akibat dia berlari tadi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, Sooyoung turun di halte tak jauh dari sekolahnya. Gadis itu berjalan dengan tenang hingga ke kelasnya, setelah meletakkan tas sekolahnya tiba – tiba seseorang menarik lengannya dan membawanya menuju kantin. “Yya, apa yang kau lakukan huh? Kenapa kau menarik tanganku seenaknya?”, Sooyoung meronta meminta tangannya dilepaskan. Kyuhyun pun membalikkan badannya sambil tetap menggenggam lengan Sooyoung tetapi tidak seerat tadi. “Aku lapar, temani aku sarapan di kantin”, ujarnya cuek dan kembali berjalan sambil menarik tangan Sooyoung.

Sooyoung tak terima dan tetap meronta untuk dilepaskan tangannya, “Apa maksudmu? Atas dasar apa aku harus menemanimu sarapan?”, pekik Sooyoung tak terima. “Tentu saja kau harus menemaniku. Kau kekasihku sekarang, nona Choi Sooyoung”, ujar Kyuhyun lagi – lagi cuek. Sooyoung pun akhirnya diam dan tidak meronta lagi, gadis itu menatap tangan Kyuhyun yang menggenggam lengannya. ‘Bahkan setelah kejadian kemarin, kau masih mau berkomunikasi denganku?’, Sooyoung merasakan jantungnya berdetak cukup cepat menghantarkan aliran darah ke pipinya yang memanas dan bersemu merah. Kyuhyun pun merasakan jantungnya berdetak tak karuan entah mengapa.

“Kau mau memesan makanan apa? Biar aku pesan”, tanya Kyuhyun ketika mereka sudah mendapatkan tempat duduk. “Ah, tidak usah. Aku tadi sudah sara–”, ucapan Sooyoung berhenti tatkala mendengar suara perutnya yang berbunyi. ‘Sial!’, batinnya kemudian menatap ke arah lain sedangkan Kyuhyun tersenyum menahan tawa, “Baiklah aku akan memesan sarapan juga untukmu”, Kyuhyun pun beranjak menuju tempat penjualan makanan yang cukup ramai dan tak lama dia kembali dengan dua mangkuk bubur yang asapnya masih mengepul dan dua botol air mineral.

Sooyoung menatap ke sekeliling dan melihat dua orang yang tak asing baginya duduk tepat di sebelah kanan mejanya, Victoria dan Changmin. ‘Apakah dia sengaja memilih tempat ini?’, batin Sooyoung sedikit kesal, “Kau sengaja ya memilih tempat ini untuk duduk?”, Kyuhyun hanya menatap Sooyoung bingung sambil sesekali melirik ke sebelah kiri. Sooyoung mengorbit bola matanya dan mengaduk tanpa minat buburnya. “Hei, jika kau terus mengaduknya seperti itu, buburnya akan dingin dan tidak enak lagi”, ujar Kyuhyun sambil terus menyantap bubur miliknya, “Ya ya ya, aku akan makan”, Sooyoung pun menyuapkan bubur itu ke mulutnya.

Setelah beberapa suapan tiba – tiba Kyuhyun tertawa dan Sooyoung hanya menatapnya aneh. “Kau ini seperti anak kecil saja, makan saja masih berantakan”, Kyuhyun mengambil tissue dan membersihkan tepian mulut Sooyoung dimana terdapat bubur yang menempel di sana. Sooyoung sedikit memundurkan tubuhnya karena perlakuan Kyuhyun dan dia bisa mendengar kata – kata Victoria yang menyuruh kekasihnya untuk cepat menyelesaikan sarapannya. Kyuhyun pun memundurkan tubuhnya dan kembali menyantap bubur yang hampir habis, Sooyoung masih terdiam sampai deheman seseorang terdengar di telinganya.

“Ah, pasangan baru ini rupanya sangat mesra ya”, ujar Eunhyuk sambil menopang dagu dengan tangannya, dia menatap Sooyoung dan Kyuhyun sambil senyam senyum tak jelas. “Cie cie cie, kalian berdua mesra sekali”, seru Eunji yang baru datang bersama Suho, Minhyuk, dan Soojung. Sooyoung hanya mengedikkan bahu dan memilih menyelesaikan sarapannya sedangkan Kyuhyun yang sudah selesai membersihkan mulutnya dengan tissue dan meminum sedikit air mineral miliknya lalu dia menatap tajam Eunhyuk yang dianggapnya mengganggu, “Kau ini mengganggu orang yang sedang sarapan saja. Dan tumben sekali kau sudah datang jam segini?”. Eunhyuk yang ditanyai hanya mengerutkan keningnya, “Justru aku lah yang harus menanyakan itu padamu. Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun bisa datang secepat ini dan sarapan di kantin sekolah?”, Kyuhyun hanya mengendikkan bahunya tak peduli.

“Maaf karena mengganggu acara kumpul – kumpul kalian. Tetapi bisakah Cho Kyuhyun, Jung Eunji, Kim Suho, Kang Minhyuk, Jung Soojung dan juga murid pindahan Choi Sooyoung ikut denganku ke kantor sebentar? Oh iya, pangeran Wu Yi Fan bisakah anda mengikutiku juga sebentar?”, seorang wanita kepala tiga berkata dengan tegas sambil menatap enam orang yang disebutkannya tadi dan Kris yang duduk di sebelah kiri tempat duduk Sooyoung dan Kyuhyun. Bisikan – bisikan murid lain yang ada di kantin mulai terdengar mempertanyakan ada apa kepala sekolah memanggil ketujuh orang itu ditambah kepala sekolah sendiri yang langsung memanggil.

Sooyoung pun berdiri dan memutuskan untuk mengikuti wanita yang dikenal sebagai kepala sekolah yang tegas itu tetapi lengannya ditahan Eunji, “Sunbae mau kemana?”, “Tentu saja mengikutinya, bukankah tadi aku dipanggil?”, Tapi.. apakah sunbae tidak takut?”, “Untuk apa aku takut jika aku merasa tidak berbuat salah?”, Sooyoung pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang kepala sekolah. Kris pun berjalan mengikuti kepala sekolah dan akhirnya lima orang yang lain mengikuti juga. Di perjalanan menuju kantor, kepala sekolah membungkukkan badannya sedikit ketika berpapasan dengan seorang laki – laki berjas hitam yang kelihatan baru datang.

“Aku sudah bersama mereka, Yunho-ssi”, kata kepala sekolah sopan kepada laki – laki berjas hitam itu, “Ah kamsahamnida, Taeyeon-ssi. Lama tidak berjumpa, putri Sooyoung”. Laki – laki yang dipanggil Yunho itu pun membungkuk hormat pada Sooyoung yang terdiam di tempat. “Panglima Yunho? Apa yang anda lakukan di sini?”, tanya Sooyoung sambil menatap tajam Yunho sedangkan orang yang ditanya hanya tersenyum misterius, “Kita bisa membicarakan itu di kantor Taeyeon-ssi saja”. Mereka pun berjalan menuju kantor kepala sekolah dan Sooyoung masih menatap tajam dan sedikit tidak suka pada Yunho.

Yunho adalah salah satu penduduk Kerajaan Langit yang diangkat menjadi panglima utama pasukan Kerajaan Langit tetapi banyak rumor buruk tentangnya karena orang tuanya dulu adalah pengikut kegelapan. Sooyoung memikirkan banyak hal terkait kemunculan Yunho di sini, apakah benar rumor di kerajaannya dulu yang mengatakan Yunho hanya berpura – pura saja bekerja untuk Kerajaan Langit? Apakah dia ada hubungannya dengan penyerangan yang dilakukan Soojin? Banyak sekali pertanyaan berputar di kepala Sooyoung.

Mereka semua pun duduk saling berhadapan di sofa yang terdapat di ruangan kepala sekolah. Asisten dari kepala sekolah terlihat membawa nampan berisi air minum ke arah mereka tetapi tiba – tiba pintu ruangan tersebut dibuka dengan kasar dan seorang gadis berlari hampir menabrak si sekretaris. Ya hampir saja terjadi tabrakan jika Sooyoung tidak menjentikkan jarinya untuk menghentikan waktu, orang – orang di sana menyadari jika waktu terhenti dan melihat Sooyoung yang berjalan untuk memegang nampan yang sudah melayang di depan kepala sekolah.

Sooyoung menjentikkan jarinya kembali dan menangkap nampan sehingga minuman – minuman itu tidak tumpah ke arah kepala sekolah. Sekretaris dan gadis yang menabraknya terjatuh dan Sooyoung segera mengulurkan tangannya membantu sekretaris berdiri. “Apakah anda tidak apa – apa? Maafkan aku tidak bisa menolong kalian berdua untuk tidak terjatuh”, ujar Sooyoung dan sekretaris itu pun berterima kasih pada Sooyoung, “Terima kasih dan maafkan saya karena kecerobohan saya minuman itu hampir tumpah”, sekretaris itu membungkukkan badan beberapa kali dan mengambil nampan di tangan Sooyoung. Kepala sekolah pun dengan cepat mengendalikan diri dari keterkejutannya, “Ya terima kasih, Sooyoung-ssi. Jika kau tidak melakukan itu mungkin minuman itu sudah mengotori baju saya”.

Gadis yang tadi menabrak sekretaris pun menggerutu karena sakit dan ketika mendengar nama Sooyoung dengan antusias dia melihat ke sekeliling, “Mom, where’s Sooyoung-ssi? Aku sangat ingin bertemu dengannya”, ujar gadis itu ceria kepada kepala sekolah yang merupakan ibunya. “Dia ada di hadapanmu, Fany-ah”, gadis itu pun menatap Sooyoung begitu pun sebaliknya dan gadis bernama lengkap Hwang Tiffany itu membelakkan matanya. “Jadi kau Sooyoung yang dimaksud? Choi Sooyoung?!”, Yunho yang ada di sana tersenyum tipis.

‘Bukankah dia sangat mirip dengannya, putri Sooyoung?’, batinnya tetapi kemudian dia mengerutkan keningnya ketika Sooyoung menggumamkan nama Tiffany. “Apakah kalian saling mengenal?”, tanya kepala sekolah dan hanya dibalas senyuman miring dari Tiffany. “Ya, kami saling mengenal dengan baik satu sama lain”.

CUT

CUT

CUT

Ceritanya sampai disini dulu ya hehehe kalau penasaran dan ingin dilanjutkan mohon berikan respon di kolom komentar and for the last: ‘Sampai Jumpa Lagi!’ #ngilang#plak

26 thoughts on “[Series] The Seven Guardians (Part 3)

  1. Ohhh ,dipart ini menjelaskan masalah yg dialami 7 guardian yang semuanya pada bermasalah ..
    Aigoooo , uri kyuyoung udah mulai berdebar aja .. Cieeeee acieee cieeee …
    Huhhhh , gk sabar nunggu moment kyuyoungnya …
    Tiffany ,,, siapa dia ??? Kenapa jadi Sok kenal sok dekat githu ama Soo .. Apa ada maksud tertentu …
    Ditunggu kelanjutan nya …
    #janganlamalama

  2. Yuliandini says:

    Para guardians pada punya masalah sama keluarga masing-masing,, Tiffany kenal baik sama Sooyoung??? Jangan-jangan Tiffany itu bibi Miyoung

  3. mongochi*hae says:

    hduch…ceritany mkin mbingungkan krn jlan ceritany sulit dtebak. good job🙂

    dan cerita ttg setiap castny jga mnarik krn rta2 problem ortu yg jd masalah…

    next part dtunggu

  4. fransiscafrtnta24 says:

    mereka d panggil buat apa tuhh ???
    aku kira 7 guardians itu buat jaga sooyoung trnyata bukan malah soo termasuk yaa ??😮
    penasaran selanjutnyaaaa
    ditunggu, author hwaiting !

  5. HLZ says:

    Seven guardians masing2 punya masalah dengan keluarganya. Itu maksud yunho nemuin soo buat apa? Sebenernya Hubungan soo – taeyeon- tiffany gimana, kok sepertinya mereka udah kenal deket.
    Ditunggu kelanjutannya…..

  6. Desta Wulan says:

    seven Guardians semuanya memiliki masalah dengan keluarganya masing masing… Kenal baik sama tiffany ? .
    lanjut dong eon jangan lama lama ya ..

  7. Risqi says:

    sepertinya ketujuh guardians itu punya keluarga yang pada bermasalah.. ciee.. kyuhyun & sooyoung jantung nya semakin berdetak kencang nih tiap bersentuhan. aaa.. pengen cepet ² ada moment kyuyoung nya.
    hahh.. apaan tuh si tiffany ngaku ² kenal baik sama sooyoung? kayak ada maksud tertentu dibalik sikapnya tiffany. ditunggu part selanjutnya..

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s