[Series] Have You Seen – Part 1

Have You Seen

Title                   : Have You Seen?

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : on writing

Genre                : Romance, Fantasy, Horror

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu….

Ah, sebelumnya aku mau kasih tahu buat knightdeul sekalian kalo sebenarnya aku mau post ff ini setelah ff ku yang Stuck In Love selesai. Tapi berhubung kemungkinan besar aku bakal mengurangi buat bikin ff karena kesibukanku di real-life (maklum bukan usia sekolah lagi T.T) jadi mau gg mau aku post ini lebih cepet.

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. FF ini emang ff series tapi aku gg bakal bikin ff ini sepanjang Stuck In Love, dan tentunya akan lebih cepet di post karena 50%-nya udah selesai aku ketik😀

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Annyeonghaseyo!

Joneun Choi Sooyoung imnida. Aku 25 tahun dan baru saja lulus dari sebuah Universitas di Incheon. Tidak ada yang istimewa dariku selain aku bisa melihat hantu. Ya, orang korea biasa menyebutnya dengan gwishin. Kemampuan itu aku dapatkan saat aku berumur 17 tahun, setelah aku terlibat dalam sebuah kecelakaan yang menewaskan semua keluargaku. Dan hantu-hantu merekalah yang pertama kali muncul di hadapanku. Meskipun jujur saja, saat itu aku berpikir mereka adalah manusia sebelum pada akhirnya aku menyadarinya. Karena mereka tak pernah tidur, tak pernah makan, bahkan bisa melakukan sesuatu yang tak bisa aku lakukan.

Setelah itu, hidupku benar-benar kacau. Aku bisa melihat lebih banyak gwishin di semua tempat yang aku kunjungi. Aku bahkan pernah disebut sebagai orang gila karena selalu berteriak setiap kali aku melihat mereka. Tak ada orang yang percaya padaku setiap kali aku melihat mereka. Tak ada orang yang mau mendengarkanku jika aku menyebutkan keberadaan mereka. Karena itulah aku memutuskan untuk selalu berpura-pura tidak melihat apa yang sebenarnya aku lihat dan berpura-pura tidak mendengar apa yang sebenarnya aku dengar, khususnya di tempat-tempat umum.

Aku memiliki seorang sahabat. Dia adalah Kwon Yuri. Aku dan dia mendirikan sebuah toko bunga, ‘Secret Garden’ yang terletak tak jauh dari Apartemenku. Kami berdua sudah lama menjalankan bisnis itu, bahkan selama kami masih kuliah. Meskipun dia sahabatku, tapi dia sama sekali tak mengetahui kemampuanku ini. Aku memang tak memberitahunya karena aku takut dia akan menganggapku sebagai orang gila, sama seperti orang-orang lainnya. Selain itu karena Yuri-lah satu-satunya sahabatku dan orang yang sangat peduli padaku. Dia bahkan rela mengikutiku pindah dari Seoul ke Incheon hanya karena tak mau aku hidup sendiri. Benar-benar sahabat yang setia, bukan?

Kembali ke masalah gwishin. Jujur saja, aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan setelah mendatangiku. Satu hal yang pasti, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bisa mendengar mereka. Yups, mendengar keluh kesah mereka selama mereka hidup bahkan terkadang mereka menceritakan kisah mereka saat mereka menjadi gwishin. Terkadang juga mereka meminta bantuanku, tapi apa yang bisa aku lakukan untuk gwishin-gwishin seperti mereka? Biasanya setelah mereka selesai bercerita padaku, mereka akan pergi begitu saja dan tak pernah kembali padaku. Tak ada yang aku lakukan memang, tapi itu benar-benar membuat duniaku semakin ramai karena kehadiran mereka. Bayangkan saja jika aku harus terjaga semalaman hanya untuk mendengarkan cerita salah satu dari mereka. Apa mereka pikir aku tidak memiliki kehidupanku sendiri?

Ah, omong-omong… Hari ini aku berencana menceritakan kemampuanku pada Yuri. Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari dan sepertinya aku memang harus memberitahunya. Alasannya adalah karena dalam persahabatan tidak ada rahasia apapun. Aku hanya berharap Yuri tidak menganggapku sebagai orang aneh dan semoga dia masih mau menjadi sahabatku setelah ini. Karena aku tak tahu harus bagaimana lagi jika tak ada Yuri disampingku. Mungkin aku akan merasa hidup sebagai gwishin karena jika Yuri menghilang, itu berarti mereka-merekalah sahabatku sekarang.

**

Aku mendesah keras sambil mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja di sebuah kafe dengan tidak sabaran. Aku tahu Yuri memang selalu terlambat, tapi ini benar-benar sudah melewati batasnya. Biasanya dia tak pernah terlambat lebih dari lima belas menit, dan sekarang sudah lewat dari setengah jam dari waktu perjanjian kami. Kemana dia sebenarnya? Aku menatap ponsel di meja dengan ekspresi khawatir. Dia bahkan tak meneleponku sama sekali. Tidak mungkin dia lupa dengan janji ini kan?

Pandanganku beralih dari ponsel ke jalanan beraspal di luar kafe. Langit kelihatan sedang tidak bagus. Sekarang memang sudah memasuki akhir musim panas dan musim gugur sebentar lagi datang. Jadi wajar saja jika matahari jarang menampakkan dirinya karena awan terus menutupinya. Aku menarik napas panjang, lalu kembali mengubah pandanganku. Kali ini menatap seseorang yang sedang duduk sendirian di sudut kafe. Ah, tidak. Dia tidak sendiri. Ada seorang yeoja yang sedang duduk bersamanya. Hanya saja yeoja satunya tak menyadari kehadirannya karena yeoja disebelahnya adalah gwishin.

“Aku benar-benar akan gila,” gumamku pada diri sendiri.

Tepat saat itu gwishin yeoja itu menatapku. Dia menyadari jika aku bisa melihatnya dan kemudian dengan gerakan cepat, dia sudah duduk tepat di depanku. Aku tersentak kaget dan hampir menjatuhkan cangkir kopiku karenanya. Meskipun bertahun-tahun aku sudah melihat mereka, tapi tetap saja aku terkejut dan juga takut karena wujud mereka pun tak selalu sempurna.

“Kau bisa melihatku, kan?” tanya gwishin yeoja itu sambil mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku bisa melihat jelas ada luka di pipi kirinya dan juga sebuah lubang tepat di dahinya. “Ibayeo, Aghassi. Kau juga bisa mendengarkanku bukan?”

Aku menarik napas panjang, lalu menundukkan kepala sebentar sebelum akhirnya memilih untuk kembali menatap ke luar jendela. Satu hal yang aku hindari untuk saat ini adalah berbicara dengan mereka di tempat umum. Aku sudah cukup banyak menerima panggilan ‘orang gila’ karenanya dan aku tak mau lagi mendengar itu. Lagipula selama ini aku selalu bisa melakukannya meskipun pada akhirnya mereka akan terus mengikutiku sampai aku mau mendengar cerita mereka.

“Ya! Kau tak bisa berpura-pura untuk tidak melihatku. Aku tahu kau bisa melihatku karena tadi mata kita saling menatap satu sama lain. Jadi berhentilah berpura-pura, Aghassi”

Aku memasukkan earphone ke dalam telingaku. “Memangnya kenapa jika aku bisa melihatmu,” kataku tanpa menatap ke arah yeoja itu. Aku tersenyum ke sepasang kekasih yang duduk persis di sebelahku. Hanya sepertinya inilah satu-satunya cara aku bisa berbicara dengan mereka di tempat umum, yaitu dengan berpura-pura menelepon. “Pergilah karena aku tak bisa berbicara padamu disini”

Wae?”

“Apa kau pikir aku ini orang bodoh? Ini tempat umum. Tidak ada manusia yang berbicara dengan gwishin sepertimu di tempat umum seperti ini” kataku dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik. “Jadi pergilah sekarang,”

Shirreo! Kau harus mendengarkanku terlebih dahulu karena ini adalah sesuatu yang penting. Kau harus mengatakan pada yeoja itu,” Dia menunjuk ke arah yeoja yang sebelumnya ada disebelahnya. “Apa yang terjadi padaku, katakan semuanya padanya. Ini penting karena hidupnya dalam bahaya

“Kau tahu, aku tak melakukan hal seperti itu karena mereka pasti tidak akan percaya padaku. Jadi, berhentilah memintaku melakukan sesuatu” kataku masih dengan suara pelan yang sama. Sebelah tanganku yang bebas menyanggah dahi menghadap dinding kaca. “Pergilah! Tidak ada gunanya memintaku. Aku memang bisa melihatmu dan mendengarmu tapi bukan berarti aku bisa membantumu”

Aku kembali tersentak kaget karena gwishin itu tiba-tiba saja sudah ada di dinding kaca. Kali ini aku bahkan menjatuhkan ponselku karena sangat terkejut. Saat aku menunduk untuk mengambil ponsel, gwishin itu pun sudah ada di bawah meja. Aku menjerit pelan dan akibatnya kepalaku terantuk meja. Membuat cangkir kopi di atasnya tumpah.

Aigoo, aigoo…” kataku sambil mengembalikan cangkir kopinya di tempatnya semula. Seorang pelayan langsung menghampiriku dan membantu membersikan tumpahan kopi di atas meja. “Josanghaeyo, aku benar-benar orang yang ceroboh” kataku meminta maaf.

Gwenchanayo,”

Aigoo, Choi Sooyoung! Apa lagi yang kau lakukan kali ini?!” kata seorang yeoja berambut cokelat panjang yang tiba-tiba muncul di sampingku. “Apa kau menumpahkan itu semua?”

Aku mengangguk pelan, lalu melirik ke arah gwishin yang tertawa senang sambil kembali ke tempatnya di sebelah yeoja itu. Aku menghela napas kesal dan terus memandangi gwishin itu. Sekarang dia bahkan menjulurkan lidahnya yang panjang kepadaku dan matanya melotot saat melakukannya. Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Ya! Andeureo?!” Suara Yuri kembali terdengar di telingaku disertai tepukan pelannya. Akupun menoleh ke arahnya dengan cepat dan memasang ekspresi bingung. “Dia bertanya padamu, apa kau akan memesan lagi?” tanya Yuri menahan kesalnya.

Ah, ne. Macchiato juseyo,” kataku pada pelayan itu.

Pelayan itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi setelah membersihkan mejaku. Aku kembali duduk di tempatku, sementara Yuri memilih duduk di depanku. Dia menatapku lekat-lekat sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Meskipun hal seperti ini sudah sering terjadi, tapi tetap saja dia bereaksi seperti ini. Sepertinya aku benar-benar harus memberitahunya tentang kemampuanku.

“Jangan melihatku seperti itu,” kataku pada Yuri yang sama sekali tak mengubah cara memandangnya untuk beberapa saat. “Kau membuatku seperti orang yang benar-benar bersalah dengan pandangan seperti itu” Aku melanjutkan.

“Memang benar begitu. Sekarang beritahu aku, kafe mana yang tidak kau tumpahkan kopinya?”

“Tidak ada”

“Lihat. Aku tak akan heran jika kau akan mendapatkan rekor karena ini, Sooyoung-ah. Terakhir kali kau bahkan memecahkan satu set piring karena tanpa sebab kau terkejut. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Itu bukan hanya sekedar ceroboh kan?” Yuri menyipitkan matanya saat bertanya padaku. “Apa kau menderita suatu sindrom setiap kali datang ke kafe atau restoran?” tanyanya lagi.

Aku melirik ke arah gwishin itu lagi dan ternyata dia sedang memandangiku. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah pelayan yang saat itu baru saja keluar dari sebuah ruangan. Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya karena pelayan yang aku lihat pun adalah gwishin. Untungnya, gwishin pelayan itu tidak menyadari jika aku bisa melihatnya karena aku memilih untuk menatap ponselku yang masih tergeletak di atas meja.

Ya, Choi Sooyoung! Kau seperti ini lagi!” protes Yuri dengan keras. “Neo jinjja waeirae?”

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku harus memberitahu Yuri, harus! Sekaranglah saatnya aku melakukannya karena aku tak mau dia selalu salah paham terhadapku. Karena aku tak memiliki sindrom apapun, hanya saja aku bisa melihat gwishin. Itulah masalahnya dan aku tak mudah memberitahunya karena itu.

“Yuri-ah,” panggilku pelan. Aku kembali menarik napas, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu”

Mwoga? Apa kau benar-benar memiliki sindrom kafe?”

Ya! Tidak ada sindrom seperti itu”

“Ada. Kau,”

Aish jinjja!” sahutku kesal. Aku menghindari tatapan gwishin yeoja dan pelayan itu sebisa mungkin karena aku tak mau mereka datang padaku disaat aku sedang memberitahu sahabatku. “Yuri-ah, apa kau… apa kau percaya pada gwishin?”

Kedua alis Yuri saling bertaut, “Gwishin? Kenapa tiba-tiba kau berbicara tentang gwishin?”

“Aku akan memberitahumu, jadi beritahu aku apa kau percaya pada mereka atau tidak. Karena jika kau tidak percaya itu akan semakin sulit” kataku dengan cepat.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” sahut Yuri dengan pandangannya yang serius. “Tapi aku percaya pada mereka karena di dunia ini kita tidak hidup sendirian. Yah, setidaknya itu yang aku tahu dari acara-acara TV yang aku tonton”

“Aku bisa melihat mereka,” sambarku. “Aku bisa melihat gwishin” kataku lagi lebih meyakinkan.

Mwo?”

“Aku bisa melihat gwishin, aku bahkan bisa mendengar mereka dan berbicara dengan mereka” kataku berusaha menjelaskan pada Yuri meskipun itu sangat sulit bagiku. Aku menunjuk ke arah yeoja yang sedang duduk sendirian, “Kau lihat yeoja itu. Disana, persis disebelahnya ada gwishin yeoja dan itu… ada seorang pelayan gwishin juga disini”

Yuri mengerjapkan matanya beberapa kali. Kali ini dia memandangiku dengan sedikit takut, “Apa… apa maksudmu di sebelah yeoja itu ada gwishin yeoja?” tanya Yuri sambil menunjuk ke arah yeoja yang aku maksud dengan gerakan kepalanya.

“Tidak ada maksud apa-apa, tapi memang ada gwishin yeoja yang sedang duduk disebelahnya. Oh, astaga… dia bahkan melambaikan tangannya padaku” kataku saat gwishin yeoja itu melambaikan tangannya dengan sangat antusias. Apa yang dia lakukan itu membuat pelayan gwishin itu sadar jika aku bisa melihatnya, jadi dia mendekat ke arahku. “Ah, mian… aku tak bisa” kataku berbicara pada pelayan gwishin itu setelah dia menyampaikan maksudnya mendatangiku.

Yuri menatapku tanpa berkedip. Dia memperlihatkan wajah takut yang bercampur dengan heran saat menatapku. Apa dia benar-benar percaya padaku? Atau dia akan sama seperti yang lainnya yang menganggapku orang aneh dan gila? Aku menggaruk alisku karena sepertinya aku telah membuat kesalahan telah berusaha jujur pada sahabatku sendiri.

“Sooyoung-ah, apa kau… kau seperti Taeyang?” tanya Yuri tiba-tiba.

Mwo? Taeyang? Taeyang siapa?”

Yuri mengangguk, “Eo, yeoja yang ada di drama Jugun-ui Taeyang (The Sun of My Master)katanya. “Itu yeoja yang bisa melihat dan berbicara dengan gwishin. Apa kau seperti dia?”

Meskipun aku tak mengerti dengan apa yang Yuri katakan tapi aku mengiyakannya dengan anggukan kepalaku.

Heol~ Daebbak!” seru Yuri dengan mata berbinar. “Aku pikir sesuatu seperti itu hanya ada di drama-drama, tapi ternyata seseorang benar-benar bisa melakukannya”

Aku menggaruk-garuk tengkukku yang tidak gatal, benar-benar tidak menyangka dengan reaksi Yuri setelah aku memberitahunya tentang kemampuanku ini. Aku baru akan mengatakan sesuatu padanya lagi, tapi saat itu ada hal yang menarik perhatianku. Seorang namja, baru saja lewat di depanku dari luar jendela. Aku terus memandanginya dan ternyata namja itu masuk ke dalam kafe. Namja itu memilih duduk di kursi yang jauh dari meja pelayan dan aku benar-benar tak bisa mengalihkan perhatianku darinya.

Ya! Apa kau melihat gwishin lain disini?” tanya Yuri yang sepertinya menyadari diamku.

“Aniya”

“Geuraesseo?”

“Yuri-ah, lihatlah namja itu. Namja yang duduk di dekat meja pelayan”

“Apa maksudmu namja yang memakai sweater hitam, berambut sedikit kemerahan itu?”

Aku mengangguk.

“Oh, dia namja yang tampan. Apa kau tertarik padanya, Sooyoung-ah? Aigoo, sepertinya aku baru pernah melihatnya” kata Yuri lagi. “Haruskah kita ke sana dan berkenalan dengannya?”

“Aku rasa aku pernah melihat namja itu di suatu tempat” sahutku mengabaikan perkataan Yuri.

“Mwo?”

Eo. Aku yakin sekali aku pernah melihatnya. Tapi aku tak ingat dimana”

Ya! Apa kau pikir namja akan mudah terpengaruh jika kau mengatakan sesuatu seperti itu di depannya? ’Aku yakin sekali kita pernah bertemu’, ‘Apa kita pernah bertemu sebelumnya?’ Kau tahu, kata-kata seperti itu sudah tidak berlaku lagi, Sooyoung-ah” kata Yuri sambil menyenderkan punggungnya di kursi. “Bukan seperti itu caranya untuk bisa dekat dengan namja yang kau sukai,” Dia menambahkan.

“Bantu aku, jebal” suara gwishin yeoja itu kembali terdengar di telingaku.

“Andwaeyo, kau harus membantuku terlebih dahulu” Kali ini gwishin pelayan yang berbicara. “Ibayeo! Hanya kaulah satu-satunya harapanku, jadi aku mohon tolong aku kali ini”

“Ya! Bukankah aku yang lebih dahulu mendatanginya. Jika kau ingin meminta bantuannya, kau harus mengantri. Atau kau mau-“

“Aish, shikkerowo!” seruku gusar. Aku menatap tajam ke arah dua gwishin yang sekarang benar-benar ada disebelahku. “Aku tak akan membantu kalian berdua, jadi pergilah”

Suara derit kursi Yuri membuatku langsung menoleh ke arahnya. Dia sedang memperhatikanku dengan ekspresi yang sama, takut dan terkejut. Mau tak mau aku tersenyum ke arahnya dan memberitahunya jika apa yang aku katakan ditujukan pada gwishin-gwishin itu dengan tatapanku. Yuri mengangguk mengerti dalam diam, sepertinya dia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar dariku. Aku menarik napas panjang untuk kesekian kalinya dan menatap pelayan yang datang membawakan pesanan kami. Aku melirik Yuri sekali lagi sambil berharap dia tak lagi memandangiku seperti sebelumnya. Lalu pandanganku beralih pada namja itu. Tanpa aku sadari, aku tersenyum lebar. Ya, aku memang pernah melihatnya disuatu tempat.

€€__

Kyuhyun POV

“Detektif Cho, apa kau masih mengikuti target kita?”

Ne. Dia masuk ke dalam kafe dan duduk disana sendirian. Haruskah aku masuk ke sana juga?”

“Tentu saja. Tetap berada di dekatnya dan jangan sampai ketahuan. Lakukan semuanya dengan benar, araseo?”

Algeseumnida,”

Aku langsung memasukkan kembali ponselku ke dalam saku jaket kulitku, lalu menatap ke sebuah kafe di distrik Gyeyang yang terletak di sebelah timur kota Bucheon. Dengan sekali helaan napas, aku melangkah masuk ke dalam kafe dan memilih tempat duduk di dekat meja pelayan agar bisa leluasa mengamati yeoja yang memang sedang menjadi target utamaku, Detektif Cho dari Kepolisan kota Incheon.

Bagaimana aku bisa menjadi seorang Detektif?

Ceritanya panjang, tapi aku akan mempersingkatnya.

Sebelum itu, biarkan aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Cho Kyuhyun, dan aku seorang Detektif yang baru setahun ditugaskan di kota Incheon. Aku adalah seorang Synesthes, yaitu seseorang yang bisa melihat emosi orang lain dengan melihat warna aura mereka. Itu bukan sesuatu yang bisa aku banggakan sebenarnya, karena terkadang aku mengalami kesulitan karena kemampuanku itu sebagai seorang Detektif.

Apa kalian tahu apa itu Synesthesia, sesuatu yang aku miliki sejak aku kecil itu? Synesthesia adalah suatu kondisi di mana persepsi tercampur-campur, angka dan warna, nada dan warna, bahkan emosi dan tekstur benda. Tenang saja Synesthesia bukanlah suatu penyakit, tetapi kondisi otak yang kebetulan dimiliki sebagian kecil manusia di dunia. Salah satunya adalah aku. Eomma-ku juga seorang Synesthes, dan mungkin aku mendapatkan kemampuan itu darinya. Entahlah, aku tak pernah bertanya langsung padanya karena dia lebih dulu pergi dariku dari dunia ini.

Ah, sebenarnya cita-citaku dari dulu bukanlah sebagai Detektif, tapi Psikolog. Aku terpaksa mengikuti ujian masuk sebagai seorang polisi karena Appa-ku yang menginginkannya. Sayang sekali saat aku lolos dan diangkat sebagai polisi, Appa meninggalkanku sendirian hanya bersama seorang dongsaeng. Aku benar-benar merasa bodoh tidak mengikuti keinginanku sendiri karena orang yang menginginkanku untuk menjadi aku yang sekarangpun sudah pergi dari dunia ini.

Dan inilah aku sekarang…

Detektif Cho Kyuhyun.

Kali ini aku diberikan tugas untuk mengawasi seorang yeoja yang baru saja kehilangan suadara kembarnya yang dibunuh beberapa hari yang lalu. Nama yeoja itu adalah Kang Han Gyul, sementara saudara kembarnya yang menjadi korban adalah Kang Hye Gyul. Pelaku pembunuhan itu adalah namjachingu-nya dan aku curiga yeoja yang sedang aku awasi ini terlibat karena warna emosinya hitam. Meskipun warna emosi tu terkadang berubah bergantung pada situasi dan kondisi, tapi warna emosi yeoja ini tetap sama sejak aku melihatnya saat melakukan identifikasi mayat saudaranya itu.

Ah, perlu diketahui bahwa warna emosi itu memiliki arti sendiri, terutama untuk seseorang yang memiliki Synesthesia sepertiku. Seperti misalnya merah untuk menunjukkan kemarahan, orange yang menunjukkan kebahagiaan, biru kehijauan untuk dukacita, dan sebagainya. Sebagai seorang detektif, aku menggunakan kemampuanku ini untuk melakukan penyelidikan disemua kasus-kasus yang aku tangani. Meskipun begitu, aku tak bisa menggunakannya dengan sembarangan karena biar bagaimanapun aku membutuhkan bukti yang cukup untuk menangkap seseorang.

Josanghaeyo, ini pesanan Anda” kata seorang pelayan namja sambil meletakkan secangkir kopi di atas mejaku. “Silahkan menikmati,” katanya sebelum pergi.

Kamsahamnida,”

Aku menatap ke sekeliling kafe dengan cepat, lalu memilih untuk menatap Kang Han Gyul yang duduk membelakangiku. Sejak seminggu yang lalu, yang dia lakukan hanyalah duduk sendirian di kafe atau di tempat-tempat yang ramai. Aku tak tahu apa yang sedang dia pikirkan atau sedang coba dia lakukan. Tidak ada yang aneh selama aku mengikutinya, kecuali fakta bahwa dia tidak menemui siapapun selama seminggu ini. Itu berarti tak ada siapapun yang datang menemuinya atau dia temui, bukankah sangat aneh untuk seseorang yang cukup dikenal di sekolahnya?

“Hai, boleh aku duduk disini?” Dua orang yeoja yang baru aku lihat sebelumnya tiba-tiba datang dan langsung duduk di depan Kang Han Gyul. “Kau Kang Han Gyul bukan?” tanya salah satu yeoja yang diikat rambutnya.

Ne, majayo. Dan kau?”

Ah, naneun Choi Sooyoung dan ini Kwon Yuri” kata yeoja yang sama. “Aku temannya Hye Gyul. Apa kau pernah dengar namaku dari Hye Gyul?”

Kang Han Gyul menggelengkan kepalanya. “Hye Gyul tak banyak bercerita tentang teman-temannya”

“Sudah aku duga,” sahut yeoja bernama Choi Sooyoung itu sambil menatap ke arah kanan Han Gyul meskipun tak ada siapapun di sebelahnya. Lalu tiba-tiba pandangannya beralih padaku dan akupun cepat-cepat memalingkan wajah. “Ah, cham… aku sudah mendengar kabar tentang Hye Gyul dan aku turut berduka cita. Aku benar-benar sedih untuk Hye Gyul. Dia teman yang sangat baik, terutama padaku. Maja Yuri-ah?”

Aku mengamati yeoja bernama Choi Sooyoung itu, lalu beralih pada Kwon Yuri. Mataku menyipit melihat warna emosi mereka. Yeoja bernama Kwon Yuri memiliki warna hijau jeruk, artinya dia sedang khawatir, lalu dengan cepat berubah menjadi jingga. Apa dia sedang tegang sekarang? Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan cepat warna emosi yeoja bernama Kwon Yuri itu. Pandanganku berganti pada yeoja satunya, Choi Sooyoung. Keningku berkerut tajam karena semua warna bercampur menjadi satu. Aku tak pernah melihat warna emosi seperti ini sebelumnya.

“Omong-omong, apa kau tahu dimana Kang Jun sekarang? Ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya tapi aku tak tahu keberadaannya,” Yeoja bernama Choi Sooyoung itu terus saja berbicara. Sementara dia bicara, aku memperhatikan Kang Han Gyul.

Kenapa warnanya berubah menjadi merah?’ tanyaku dalam hati.

Choi Sooyoung kembali menatapku, dan lagi-lagi dengan cepat aku memalingkan wajahku. Aku berpura-pura sibuk dengan ponselku agar tidak terlihat olehnya bahwa aku sedang mengawasi mereka. Tak lama kemudian, aku mendengar suara kursi di dorong dan dua yeoja itu melangkah pergi meninggalkan Kang Han Gyul sendirian. Tanpa aku sadari, aku justru terus memperhatikan kedua yeoja itu bahkan saat mereka sedang membayar di kasir.

Aku tak tahu kenapa Choi Sooyoung itu selalu menengok ke arah kanannya dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang padahal yeoja bernama Kwon Yuri berdiri di sebelah kirinya. Apa dia tak tahu arah atau bagaimana? Rasanya aneh sekali melihatnya seperti itu dan bahkan sampai sekarang pun aku masih tak bisa melihat warna emosinya. Sementara itu sekarang warna emosi Yuri berubah menjadi biru laut yaitu tenang.

Jogiyo,” kataku sebelum mereka berdua meninggalkan kafe. “Bisa kita bicara sebentar?”

Ne?”

Yeoja yang aku tahu bernama Kwon Yuri menyenggol siku Choi Sooyoung, lalu dia tersenyum lebar ke arahku. “Tentu saja bisa. Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?” tanyanya.

Aku membalas senyumannya dan berusaha untuk tidak tertawa melihat bagaimana warna emosinya sekarang. Lalu pandanganku beralih pada Choi Sooyoung yang hanya memandangiku dengan caranya yang aneh. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari yeoja ini karena aku benar-benar kesulitan melihat warna emosinya, sangat berbeda dengan Yuri yang selalu berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya.

Ah, jamkkamanyo” kataku sambil mengambil ponselku yang bergetar dari dalam jaketku. Kedua yeoja itu menganggukkan kepala dan akupun segera mengangkat panggilan telepon itu. “Waegurae, Joohyun-ah? Oppa masih harus bekerja, jadi kenapa kau meneleponku?”

Ani. Aku hanya akan memberitahu Oppa jika mungkin hari ini aku akan terlambat pulang karena ada tugas-tugas kuliah yang harus aku selesaikan di Apartemen Ha Young” jawab Joohyun, yeodongsaeng-ku.

Eo, geurae. Jika terlalu malam, kau menginap saja disana. Oppa akan menjemputmu besok”

Arasseo,”

Aku langsung menutup sambungan telepon dan memasukkannya lagi ke saku jaketku. Perhatianku kembali terfokus pada kedua yeoja yang masih berdiri di depanku. Mau tak mau aku beranjak dari tempat dudukku dan mengajak kedua yeoja itu keluar dari kafe. Aku sempat menatap ke arah Kang Han Gyul lagi, dan warna emosinya kembali berubah menjadi hitam. Setelah keluar dari kafe, akupun segera memberikan kode pada Cha Dong Soo, hobbae-ku di Kepolisian untuk menggantikanku mengawasi Kang Han Gyul.

“Nah, disini saja” kataku sambil menghentikan langkahku. “Pertama, aku akan memperkenalkan diriku. Aku Cho Kyuhyun, Detektif dari Kepolisian Incheon”

Ne? Detektif?” sahut Kwon Yuri terkejut. “Ah, aku Kwon Yuri dan ini… Choi Sooyoung,” katanya mengenalkan dirinya dan Choi Sooyoung padaku.

Sementara itu, lagi-lagi Sooyoung hanya memandangiku dengan caranya yang aneh. Aku mencoba mengabaikan Sooyoung dan kembali berbicara. “Apa aku boleh bertanya sesuatu pada kalian berdua?”

“Apa kau ingin bertanya tentang Kang Han Gyul-ssi, Detektif Cho?” tanya Sooyoung tiba-tiba, membuatku langsung menolehkan kepala dengan cepat. “Josanghaeyo. Kami bukan temannya dan jujur saja, aku bahkan tak mengenalnya” katanya lagi.

Ne?”

“Aku tahu kau adalah detektif yang bertugas melakukan penyelidikan mengenai kasus pembunuhan Kang Hye Gyul. Jadi, aku memberitahumu jika kami tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka berdua. Aku bahkan baru saja mendengar tentang kasus itu” ujar Sooyoung masih dengan tatapannya yang sama. “Jika kau ingin bertanya lebih jauh mengenai keduanya, aku rasa kau menemui orang yang salah” Dia menambahkan sambil melirik Yuri yang terlihat terkejut dengan perkataan Sooyoung ini.

“Darimana kau tahu semua itu?” tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku. “Aku bahkan belum menanyakan apapun padamu”

“Tentu saja dia hanya menebaknya,” sahut Yuri kembali menyenggol siku Sooyoung. “Dia memang selalu seperti ini, jangan khawatir. Kau boleh bertanya apapun pada kami, detektif”

Ya, Yuri-ah! Bukankah sekarang waktunya kita membuka toko? Kita akan kehilangan pelanggan jika tak bergegas” kata Sooyoung seakan-akan mengingatkan Yuri. “Detektif, kau bisa datang ke toko kami jika ingin bertanya mengenao Kang Han Gyul-ssi, meskipun aku sudah memberitahumu jika aku sama sekali tak mengenalnya. Kajja, Yuri-ah” Dia menganggukkan kepalanya padaku, lalu menarik tangan Yuri pergi meninggalkanku.

Jamkkamanyo,” kataku menahan kedua yeoja itu pergi. Aku menatap curiga pada mereka, “Jika kalian tidak mengenal mereka atau salah satu dari mereka, apa kalian mengenal Kang Jun?”

Sooyoung melirik ke suatu arah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya. “Aku juga baru mendengar nama itu,”

“Lalu kenapa kau berbicara dengan Kang Han Gyul seolah-olah kalian memang saling mengenal satu sama lain?”

“Apa kau mengawasi kami, detektif?”

“Sooyoung-ah,”

Aku tersenyum tipis, “Aku tidak mengawasi kalian. Aku hanya sedang melakukan tugasku untuk mengawasi Kang Han Gyul, lalu kalian berdua datang dan berbicara padanya” kataku menjelaskan. “Sudah seminggu ini dia bahkan tidak berbicara pada siapapun dan kalian menemuinya begitu saja,”

Ah, itu karena-“

Aku menunggu Sooyoung melanjutkan perkataannya, jadi aku memilih untuk diam sambil terus mencoba membaca warna emosinya.

Sooyoung melirik ke arah yang sama, “Dia terlihat sendirian dan sangat murung, jadi aku berinisiatif untuk mendekatinya” katanya. “Tak peduli apa yang terjadi padanya, aku hanya ingin mengajaknya mengobrol. Maja, Yuri-ah?”

E-eo,”

“Tapi-“

Josanghaeyo. Kami benar-benar harus pergi karena ini sudah terlambat,” Sooyoung memotong perkataanku. “Emm, senang berbicara denganmu detektif Cho” katanya lagi sambil membungkukkan badan.

Yuri melakukan hal yang sama, “Jika kau ingin datang ke toko kami, datanglah ke distrik Bupyeong No. 65. Kami membuka toko bunga disana, Toko Bunga ‘Secret Garden’,” serunya padaku.

Aku menganggukkan kepala mengerti dan memandangi mereka yang semakin menjauh dari pandanganku. Benar-benar dua yeoja yang aneh. Satunya sangat mudah mengekspresikan sesuatu, sementara yang satunya tak mudah ditebak. Tapi aku sangat penasaran dengan yeoja bernama Sooyoung ini. Bukan hanya karena aku tak bisa melihat warnanya, tapi juga tentang dirinya. Darimana dia tahu semua informasi tentang Kang Han Gyul dan Kang Hye Gyul jika dia tak mengenalnya? Bukankah itu sesuatu yang aneh? Apa aku juga harus menyeledikinya karena hal ini?

€€**

Sooyoung POV

Aku membuka mata karena cahaya matahari menyinari wajahku. Sinarnya terkesan sangat redup karena awan kelabu yang terus memenuhi langit di akhir musim panas ini. Aku bangun dan duduk di atas pasir putih, tak memedulikan hawa dingin di musim gugur yang mulai terasa. Pandanganku lurus ke arah pantai, ombaknya sekarang terkesan lebih besar dari biasanya.

Suasana di pantai saat ini sangat sepi, karena mungkin tak ada satu orangpun yang mau pergi ke sini menjelang musim gugur seperti sekarang, kecuali aku. Sebenarnya akupun enggan pergi ke tempat-tempat seperti ini, tapi disinilah aku bisa menemukan ketenangan. Meskipun tetap saja, ada beberapa gwishin yang aku lihat disini tapi aku mengabaikan mereka. Dan aku selalu menyiapkan earphone, lalu memutar musik keras di telingaku agar aku tak bisa mendengar mereka.

Aish, jinjja! Kau benar-benar mengangguku, Kang Hye Gyul-ssi” kataku kesal karena gangguan yang Hye Gyul lakukan sejak aku datang ke pantai ini. Dia selalu melemparkan pasir dan kerang-kerang kecil ke arahku karena aku terus mengabaikannya. “Tidakkah kau lihat jika aku sedang bersantai dan mencari ketenangan disini,”

“Mencari ketenangan katamu? Apa kau tak lihat mereka? Mereka bahkan terus menungguku pergi darimu agar bisa mendekatimu,” kata Hye Gyul sambil menatap ke tiga gwishin yang memang sedang memandangiku. “Bagaimana bisa kau mencari ketenangan di tempat seperti ini? Apa kau orang bodoh?”

“Berhentilah berbicara padaku seakan-akan kau mengenalku dengan baik. Kau bahkan baru pernah melihatku beberapa hari yang lalu, dan sekarang kau mengikutiku karena kau ingin aku membantumu”

“Aku memang membutuhkan bantuanmu,”

“Dan kau tahu, jawabanku tetap tidak” sahutku tegas. Aku menolehkan kepala ke arah gwishin-gwishin yang dimaksud gwishin yeoja ini, lalu kembali menatap Hye Gyul dengan kesal. “Bukankah sudah ada detektif yang akan membantumu melindungi saudara kembarmu itu?”

“Detektif itu melakukan pekerjaan yang sia-sia. Orang yang seharusnya diselidiki bukanlah Han Gyul, tapi Kang Jun”

Untuk sesaat pikiranku kembali pada namja yang mengaku sebagai detektif bernama Cho Kyuhyun itu. Aku memang semakin yakin jika aku pernah bertemu dengannya setelah mengobrol dengannya, tapi aku belum tahu dimana. Satu hal yang pasti, namja itu bisa membuat jantungku berdetak dengan sangat keras setiap kali dia menatap ke arah mataku. Tidak mungkin jika aku sudah memiliki perasaan padanya kan?

“Ya, neo!”

“Aku punya nama,” sahutku ketus.

“Arraseoyo” jawab Hye Gyul sambil mengerucutkan bibirnya. “Sooyoung-ssi, kau benar-benar harus membantuku. Ne?”

Aku mendengus kesal, lalu bangkit berdiri. Suara deburan ombak terdengar lebih ganas dari sebelumnya. Sepertinya malam ini akan ada badai. Tanpa menoleh pada Kang Hye Gyul, aku melangkah pergi dari pantai. Baru saja aku meninggalkan pantai, sebuah mobil berwarna putih menarik perhatianku. Mobil itu berhenti di halaman parkir yang disediakan di kawasan pantai ini, lalu pemiliknya keluar dari sana.

Dia adalah Cho Kyuhyun. Cepat-cepat aku bersembunyi di belakang pohon di dekat halte bus. Ini benar-benar terlihat sangat bodoh jika dia sampai melihatku disini, karena dia pasti berpikir aku sedang mengikutinya atau semacam itu. Aku membalikkan badan dan memilih jalan lain untuk sampai di Apartemenku. Lebih baik aku segera pergi dari sini sebelum dia melihatku.

“Choi Sooyoung-ssi?” panggil suara di belakangku. “Kenapa kau ada disini?”

Aku menarik napas panjang dan diam di tempatku.

“Itu benar kau bukan, Choi Sooyoung-ssi?”

Geurae, ini aku. Wae?” tanyaku sambil berbalik menghadap Kyuhyun. “Kenapa aku disini itu bukan menjadi urusanmu, detektif”

Kyuhyun tersenyum tipis, “Geuraeyo. Mianhaeyo. Aku hanya terkejut melihatmu disini. Omong-omong apa kau memang sering datang ke sini?”

Eo. Apartemenku tak jauh dari sini, jadi aku selalu menyempatkan diri untuk ke pantai sebelum pulang”

“Bahkan di peralihan musim seperti ini?”

Aku mengangguk.

Ah, cham~ mengenai waktu itu-“

“Aku sudah melupakannya” sahutku dengan cepat. “Aku harus pulang karena sepertinya hujan akan turun. Geureom~

Cho Kyuhyun terlihat terkejut untuk sesaat, tapi kemudian dengan perlahan kepalanya mengangguk. Akupun kembali membalikkan badan dan melangkah pergi dari hadapannya. Entah kenapa aku merasa aneh dengan tatapan mata Cho Kyuhyun setiap kali dia memandangku. Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku jadi dia menatapku seperti itu? Tapi aku rasa itu tidak mungkin.

Aku mendongakkan kepala menatap langit yang semakin mendung. Aku rasa hujan akan segera turun bahkan sebelum aku sampai di apartemen. Aku kembali menarik napas panjang, lalu bergegas melangkah kembali. Dan benar saja, rintik-rintik hujan mulai turun. Jarak antara pantai dengan apartemenku memang hanya lima belas menit, tapi tetap saja aku sedikit terkena hujan. Tapi itu tidak menjadi masalah bagiku karena sedikit terkena hujan tak akan langsung membuatku sakit parah.

Sesampainya di apartemen, aku langsung mengambil handuk yang yang disampirkan di dekat pintu masuk. Jari-jariku meraba-raba dinding mencari sakelar dan begitu lampu menyala, aku berjalan ke dapur mengambil sebuah gelas lalu mengisinya dengan air. Setelah itu, aku melangkah ke ruang tengah yang sempit seraya melemparkan handuk ke atas sampiran handuk di dekat pintu. Sambil duduk di atas sofa kulit hitam besar, aku menyalakan TV. Mataku memandang beberapa lembar kertas yang tergeletak di atas meja di depanku. Aku meletakkan gelasku dan meraih kertas-kertas tersebut.

“Aku tidak membutuhkan barang-barang seperti ini,” kataku setelah membaca brosur yang menawarkan beberapa barang rumah tangga. “Yuri benar-benar harus berhenti mengambil brosur seperti ini,”

Tiba-tiba sesuatu muncul di depanku dan memandangku dengan penuh ingin tahu, “Brosur apa?” tanyanya.

“Kamjjakiya!” seruku sambil menjatuhkan kertas-kertas itu. “Ya, Park Hae In! Sudah aku katakan beberapa kali untuk tidak muncul di hadapanku tiba-tiba seperti itu! Apa kau ingin aku mendapatkan serangan jantung?!” protesku.

Gwishin bernama Park Hae In itu tertawa usil, lalu dia duduk disebelahku. “Eonni-ya. Kenapa kau masih saja terkejut setiap kali melihatku atau teman-temanku? Aku pikir kau sudah terbiasa dengan kami, tapi kau tetap saja terkejut”

Aku diam saja dan hanya memberinya tatapan tajam.

“Mianhaeyo eonni. Jika aku tak boleh muncul tiba-tiba, lalu bagaimana aku akan bisa menampakkan diri di depanmu?”

“Berhentilah mencari alasan. Kau selalu seperti ini” sahutku menahan kesalku karena biar bagaimanapun aku tak bisa marah pada Park Hae In, gwishin yang selalu membantuku mengusir gwishin-gwishin lain yang datang ke apartemenku. Jika bukan karena dia, aku pasti akan selalu mendapatkan kunjungan yang tidak menyenangkan setiap harinya.

Ah, Park Hae In ini adalah seorang yeoja kira-kira berumur 17 tahun. Seperti gwishin-gwishin yang lainnya, awalnya dia datang untuk menceritakan kisahnya padaku. Saat itu aku seumuran dengannya, dan aku pikir dia adalah teman yang menyenangkan. Meskipun sudah lama kami ‘berteman’, tapi sampai sekarang aku tak tahu penyebab kematiannya. Diapun selalu menghilang setiap kali aku bertanya tentang hal itu, sampai akhirnya aku menyerah untuk menanyakannya dan memilih untuk diam saja. Omong-omong, Park Hae In adalah satu-satunya gwishin yang aku biarkan untuk terus berada di sampingku.

“Eonni, aku melihat seseorang datang bersamamu tadi. Apa dia mengikutimu lagi setelah tahu jika kau bisa melihatnya?”

Beberapa kali aku harus menahan senyumku setiap kali Hae In menyebut gwishin sebagai orang. Tapi memang tak ada istilah lain yang lebih mudah dimengerti selain itu, jadi aku memakluminya. Lagipula terkadang akupun menyebut mereka dengan ‘orang’, ‘seseorang’, ‘seorang’, dan sebagainya.

Eo, seperti biasanya Hae In-ah” kataku menanggapi perkataan Hae In. “Untunglah dia tak ikut masuk, karena dia pasti khawatir setelah melihatmu. Aku benar bukan?”

“Geureomyo. Tak ada gwishin yang akan mendekatimu selama aku ada disini”

Aku mengangguk setuju sambil menyandarkan kepala ke sofa. Pandangan mataku mengarah ke langit-langit apartemen yang berwarna biru muda. Pikiranku kembali melayang pada kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu, saat aku melihat Kyuhyun di kafe. Kami bahkan bertemu lagi hari ini, dan selama bersamanya kenapa jantungku terus saja berdebar? Aku masih ragu debaran jantungku ini karena aku memang menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya atau karena aku merasa pernah bertemu dengannya dan memiliki perasaan itu sebelumnya. Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti.

Aku menepuk-nepuk pipiku, “Apa yang sedang kau pikirkan, Choi Sooyoung?!” makiku pada diri sendiri.

Gerakanku langsung terhenti saat aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuhku. Spontan mataku mengarah ke tanganku dan aku langsung terlonjak kaget karena Park Hae In sedang menggenggam tanganku. Dia kembali tertawa setelah melihat ekspresiku.

“Jangan menyentuhku sembarangan!” protesku tidak terima. “Sudah berapa kali aku katakan?”

“Aigoo… eonni banyak melarangku melakukan sesuatu. Memangnya kenapa jika aku ingin menyentuhmu, eonni?”

An-joa! Jadi jangan lakukan lagi” kataku tegas. “Dan jangan menatapku seperti itu. Kau terlihat mengerikan, Hae In-ah”

“Mworaguyo?”

Aku memutar bola mata, “Mengerikan,”

Aku beranjak dari tempatku, lalu pergi ke kamarku sendiri. Sebelum merebahkan badan, aku kembali mengambil earphone dan langsung memasukkannya ke dalam telingaku. Aku bisa merasakan Hae In berada di dalam kamarku, tapi aku mengabaikannya. Aku benar-benar tidak suka jika dia sudah menyentuhku karena rasanya sangat tidak menyenangkan. Ada gwishin disampingku saja sudah tidak menyenangkan karena rasanya sangat dingin, apalagi jika mereka menyentuhku.

**

Aku menata pot-pot bunga yang sudah layak untuk dijual dan baru saja aku bawa dari taman dibelakang toko. Setelah menata sesuai dengan jenisnya, tak lupa aku menyiraminya agar tetap terlihat segar.

Hari ini aku sengaja datang ke toko bunga lebih awal untuk memastikan semua tanaman mendapatkan cahaya matahari. Biasanya Yuri-lah yang melakukannya karena aku baru bisa tidur dengan tenang menjelang pagi. Gwishin-gwishin itu selalu memiliki cara untuk datang padaku, entah itu menganggu waktu tidurku atau bahkan datang ke mimpiku. Karena itulah aku baru bisa datang ke toko bunga saat matahari sudah tinggi. Awalnya Yuri selalu memprotesku karena kebiasaanku bangun siang, tapi aku rasa sekarang dia mengerti.

Omo… omo… lihat siapa yang disini pagi-pagi sekali” Yuri terlihat terkejut saat melihatku sedang memotong daun-daun yang kering. “Apa aku benar-benar melihat Choi Sooyoung disini atau gwishin?”

Aku mendengus kecil, “Kita lihat saja bagaimana ekspresimu saat kau benar-benar melihat mereka. Aku yakin sekali kau tak akan berbicara seperti itu kepadaku”

Aigoo.. aku hanya bercanda. Kenapa kau kesal hanya karena candaan kecilku?”

Mian, suasana hatiku sedang tidak bagus sekarang,” ujarku menyelesaikan pekerjaanku sebelum melangkah menghampiri Yuri. “Ada yang menyebabkan masalah semalam dan juga pagi ini”

“Nugu?”

“Park Hae In,”

“Nugu?”

“Park Hae In. Gwishin yang tinggal bersamaku di apartemen,”

Yuri membelalakkan matanya, “Kau tinggal bersama gwishin?” tanyanya tidak percaya.

Aku mengangguk.

“A-Apa dia juga selalu disana? Maksudku… saat aku menginap di apartemenmu atau datang ke sana, apa dia juga disana?”

Eo. Dia tak pernah pergi dari apartemenku kecuali jika aku memanggilnya atau mungkin ada sesuatu yang dia lakukan” jawabku sambil membereskan barang-barang yang tergeletak di meja.

Gwishin bisa melakukan sesuatu?” Yuri menatapku terkejut. “Apa yang kau maksud dengan melakukan sesuatu?”

Aku mengangkat bahu ringan, lalu melangkah ke taman belakang sambil membawa pot-pot kosong. “Sudah waktunya untuk membuka toko,” kataku pada Yuri yang mengikutiku.

“Ah, maja!”

Aku menahan senyum melihat Yuri yang langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam toko. Aku meletakkan pot-pot kosong di gudang, lalu memilih untuk melihat-lihat bunga apa saja yang mulai mekar. Sebenarnya toko bunga ini tidak terlalu besar, tapi tanaman dan bunga yang kami miliki cukup lengkap. Itu karena selain untuk koleksi, terkadang ada beberapa orang yang memesan bunga tertentu. Karena itulah aku bahkan rela pergi jauh hanya untuk mencari bunga pesanan itu agar tidak mengecewakan orang yang sudah memesannya.

“Oh, bunga Lily­-nya sudah hampir mekar” seruku sambil menyentuh bunga Lily berwarna ungu yang aku dapatkan saat mengunjungi makam orangtuaku di Seoul. “Eomma sangat menyukai bunga Lily ungu seperti ini,”

Aku menyelesaikan tur taman bunga dengan cepat, lalu memutuskan untuk kembali masuk ke dalam toko. Yuri sedang mencatat sesuatu saat aku datang, jadi aku memilih untuk duduk disampingnya tanpa bermaksud untuk menganggunya. Tapi dia sempat menoleh padaku dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Aku mengambil majalah yang ada di atas meja dan membuka-bukanya dengan tidak bersemangat.

“Waegeurae?” tanya Yuri tiba-tiba.

“Mwonga?”

“Apa ada masalah? Kau diam saja sedari tadi”

Aku tidak menjawab.

Menyadari keheninganku, Yuri menghentikan aktivitasnya. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku, “Kau sedang ada masalah?” ulangnya dengan nada sedikit berbeda.

Aku menggeleng cepat.

“Kau harus menemukan ekspresi lain jika akan berbohong di depanku, Sooyoung-ah” katanya defensif. “Ada yang sedang kau pikirkan?”

Aku tak begitu heran dengan sikap Yuri yang cepat berubah seperti ini, karena memang seperti itulah dia. Yuri bukanlah tipe yeoja yang suka menyembunyikan perasaannya. Jika dia menyukai sesuatu atau tidak menyukai sesuatu, dia akan langsung menunjukkannya. Dia bisa mengubah ekspresi dengan cepat atas sesuatu, bahkan terkadang aku masih saja terkejut dengan apa yang dia lakukan.

“Aku sedang memikirkan orang tuaku,” kataku pada akhirnya. “Entahlah aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku merindukan mereka,”

Yuri diam sesaat. Ekspresinya kembali berubah karena aku memang jarang sekali menyebut orang tuaku saat bersama Yuri. Membicarakan mereka hanya akan membuatku merasakan sakit. Ya, sakit. Karena hanya akulah satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu, sementara keluargaku harus pergi meninggalkanku dan membiarkanku hidup sendirian.

“Sooyoung-ah, apa kau… kau… emm, pernah bertemu mereka? Maksudku… ‘mereka’, apa kau pernah melihatnya?” Yuri bertanya sambil menekan kata ‘mereka’ yang aku tahu apa maksudnya. “Aku penasaran, jujur saja. Setelah kau memberitahuku jika kau bisa melihat sesuatu yang tidak bisa aku atau orang lain lihat, aku benar-benar penasaran” katanya lagi sambil menutup catatannya.

Aku memperlihatkan segaris senyum tipis. “Keluargaku-lah gwishin pertama yang aku lihat. Eomma, Appa, dan Soo Wan” kataku memberitahuku. “Mereka terus bersamaku untuk memastikan bahwa aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku bisa menyusul mereka”

“Eotteoke?”

Aku baru akan meneruskan bicara, tapi suara pot terjatuh membuatku dan Yuri terkejut. Aku langsung menoleh dengan cepat ke sumber suara itu, sementara Yuri… dia langsung menutup kepalanya dengan buku catatannya. Aku tertawa kecil melihatnya, tapi kemudian beranjak dari tempatku untuk membersihkan pot itu.

“Apa itu, Sooyoung-ah?” tanya Yuri dengan suaranya yang bergetar.

Amugeotdeo, aniya. Kita hanya kedatangan tamu” jawabku sambil mengambil sisa-sisa pot yang berserakan di lantai.

Yuri langsung menghampiriku, “Tamu? Benarkah?” tanyanya. “Tapi aku tidak melihat siapa-siapa disini selain kau dan aku,”

Aku tersenyum, lalu memberikan sapu pada Yuri. “Bukan tamu yang datang untuk membeli bunga kita. Dia adalah tamuku,” kataku melirik ke arah Kang Hye Gyul yang sedang berdiri tepat disamping Yuri. “Kau, ikut aku!” seruku pada Kang Hye Gyul.

“E-Eodiya?”

“Yuri-ah, bukan kau. Tapi Kang Hye Gyul-ssi

Mwo? Hye Gyul? Apa maksudmu Kang Hye Gyul yang itu?”

Aku mengangguk dan kembali menatap Kang Hye Gyul yang sedang memandangiku dengan matanya yang melotot. Aku menarik napas panjang, lalu memintanya untuk mengikutiku dengan gerakan kepalaku. Mau tak mau aku pergi ke taman belakang, membiarkan Yuri menguasi dirinya sendiri karena apa yang baru saja terjadi. Meskipun dia berkata padaku jika menyukai hal-hal seperti gwishin dan semacamnya, tapi aku tahu dia tetap saja takut.

“Kenapa kau terus datang padaku, Kang Hye Gyul-ssi? Bukankah sudah jelas aku katakan padamu jika aku tak bisa membantumu. Apa kau tidak mengerti juga?” ucapku dengan keras tanpa memedulikan Yuri yang mungkin mendengarnya. “Aku tidak mau melakukan hal-hal bodoh untuk membantumu,”

“Sooyoung-ssi, jebalyo. Setidaknya kau harus mendengarkan ceritaku terlebih dahulu. Setelah itu, aku… aku tak akan memaksamu untuk membantuku lagi. Ne?”

Aku diam untuk beberapa saat, lalu memandangi Kang Hye Gyul lekat-lekat. “Benarkah kau tak akan memaksaku?” tanyaku yang langsung dijawab Hye Gyul dengan anggukkan. “Baiklah jika kau hanya ingin aku mendengarkan ceritamu” kataku pada akhirnya sambil duduk di bangku taman yang memang sengaja di letakkan disini olehku dan Yuri.

€€__

Kyuhyun POV

Sudah lebih dari seminggu sejak aku bertemu dengan yeoja bernama Choi Sooyoung dan Kwon Yuri di kafe saat sedang mengikuti Kang Han Gyul. Aku tak pernah menyangkanya jika kemarin aku bertemu lagi dengan Choi Sooyoung di pantai setelah aku menyelesaikan tugasku di kantor. Sejak aku ditugaskan di Incheon, hampir setiap hari aku memang selalu menyempatkan diri untuk datang ke pantai itu. Aku tak tahu kenapa aku melakukannya, hanya saja ada sesuatu seperti dorongan yang menyuruhku untuk datang kesana saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Meskipun tak ada yang aku lakukan selain memandangi ombaknya dari kejauhan dan menghirup aroma laut, tapi aku benar-benar menemukan ketenangan saat melakukannya.

Sejak bertemu dengan Sooyoung kemarin, aku terus memikirkannya. Bahkan aku tak bisa tidur hanya karena memikirkan perasaan aneh yang selalu aku dapatkan setiap kali melihatnya. Dia tidak hanya seorang yeoja yang tak bisa aku lihat warna emosinya, tapi ada sesuatu yang lain yang membuatku tertarik padanya. Karena itu sekarang aku datang ke toko bunga dimana dia bekerja. Ya, toko bunga yang sempat Kwon Yuri katakan padaku sebelum mereka pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku membuka pintu bercat cokelat dengan tulisan ‘Secret Garden’ di sampingnya, lalu masuk dan menutupnya kembali dengan pelan. Suara riang Yuri langsung terdengar memenuhi rumah kaca itu. Aku tersenyum ke arahnya dengan ramah dan mencari-cari sosok Sooyoung di seluruh tempat ini, tapi dia tak ada dimanapun. Aku mengangkat bahu keras dan berkeliling untuk melihat tanaman apa saja yang dijual di toko ini.

“Apa kau sedang mencari sesuatu, detektif?” tanya Yuri yang melangkah menghampiriku. “Mungkin aku bisa membantumu menemukan sesuatu,” katanya menambahkan.

“Aku… hanya ingin melihat-lihat” jawabku jujur. “Ah, Yuri-ssi… omong-omong dimana Sooyoung-ssi?”

Ne? Sooyoungie?”

Aku mengangguk.

Warna aura Yuri berubah menjadi warna kecewa yaitu biru keunguan, tapi dengan cepat berubah lagi menjadi hijau muda kekuning-kuningan, warna yang menunjukkan antusias. Dia menggaruk-garukkan kepalanya. “Aku rasa dia berada di belakang. Biasanya dia menghabiskan waktu disana, melakukan sesuatu yang bahkan tak bisa aku mengerti”

“Kalau begitu, dimana aku-“

Eoseo eopsiyo” potong Yuri karena pintu toko kembali terbuka. “Aish, jinjja! Ternyata kau!” suaanya terdengar kesal, membuatku menolehkan kepala karena penasaran siapa yang datang dan membuat Yuri berubah seperti itu.

Oh, sedang ada pelanggan ternyata” kata namja itu tersenyum ramah padaku. “Kalau begitu aku akan menunggu di tempat biasa, jagiya~”

Aku menaikkan satu alisku mendengar panggilan terakhir namja itu pada Yuri, lalu tersenyum geli melihat warnanya sekarang. Dia benar-benar yeoja yang unik karena menujukkan emosinya dengan begitu mudah. Tanpa bertanya padanya, aku bahkan bisa membaca semuanya hanya dengan melihat warna auranya.

“Apa dia namjachingu-mu, Yuri-ssi?” tanyaku setelah namja itu menghilang di balik pintu yang lain.

Eo. Dia selalu datang dan mengusikku saat aku bekerja padahal aku sudah memberitahunya untuk tidak melakukannya, tapi dia benar-benar bodoh dan menyebalkan”

“Tapi meskipun begitu kau sangat mencintainya. Aku bisa melihat itu,”

Yuri tersenyum malu, “Mau bagaimana lagi? MinHo satu-satunya namja yang bisa aku andalkan disini, jadi yah… Kau tahu sendiri, Kyuhyun-ssi

Aku mengangguk-angguk dengan gerakan lambat. Mataku langsung mengarah pada pintu yang baru saja digunakan oleh MinHo. Apa pintu itu mengarah ke belakang? Haruskah aku pergi ke sana untuk menemui Choi Sooyoung? Tapi rasanya tidak sopan jika aku masuk ke sana tanpa ijin terlebih dahulu dari pemilik toko.

Ah, Sooyoung ada disana jika kau masih mencarinya, detektif” kata Yuri membuyarkan pikiranku. “Silahkan masuk saja. Itu hanyalah sebuah taman bunga-bunga yang belum layak untuk dijual”

“Bolehkah aku pergi ke sana?” tanyaku sedikit terkejut dengan ijin yang aku dapatkan bahkan tanpa aku memintanya.

“Tentu saja boleh. Beberapa orang bahkan datang untuk melihat tanaman apa saja yang kami punya meskipun itu belum bisa dijual. Ada orang yang memesannya dan meminta kami merawatnya sampai berbunga, dan hal-hal seperti itu” jelas Yuri mengantarku ke dekat pintu itu dan membukakannya untukku. “Silahkan lurus saja dan kau akan menemukan taman disana. Tidak terlalu luas, tapi yah banyak tanaman disana jadi berhati-hatilah dengan tanahnya”

Ne, kamsahamnida

Aku berjalan ke arah bangunan yang terpisah dari bangunan toko. Cahaya matahari lebih banyak di dapatkan di tempat ini dan memang ada lebih banyak tanaman seperti yang dikatakan Kwon Yuri sebelumnya. Aku terus melangkah menyusuri jalan kecil yang sengaja dibuat sampai akhirnya tiba di sebuah tempat yang hanya ada tanah-tanah yang terbungkus dengan plastik putih. Di ujung tempat itu, aku melihat seorang yeoja memakai sweater berwarna gelap sedang duduk sendirian. Aku tersenyum, lalu melangkah menghampirinya.

Jinjja? Namjachingu-mu yang melakukannya? Wae?” seru Sooyoung keras dengan ekspresi terkejutnya. “Ani, bukankah kalian saling mencintai tapi kenapa dia melakukannya padamu?”

Apa aku salah melihat? Aku pikir dia sedang sendirian karena itu aku menghampirinya. Tapi jika memang dia sedang bersama orang lain, sebaiknya aku pergi dan menunggunya selesai saja. Lagipula apa yang ingin aku tanyakan padanya bukanlah sesuatu yang penting, jadi aku bisa bertanya lain kali. Aku membalikkan badan dengan cepat dan baru akan melangkah sebelum aku mendengar suara Choi Sooyoung lagi.

“Kang Han Gyul? Kau yakin?”

Aku kembali membalikkan badan dan menatap Sooyoung dengan terkejut. Kenapa dia menyebut nama Kang Han Gyul jika memang dia tidak mengenalnya seperti yang dia katakan padaku? Apa beberapa hari yang lalu dia berbohong padaku untuk menghindari pertanyaan dariku? Karena aku tak bisa melihat warnanya, mau tak mau aku harus bertanya langsung padanya tentang semua hal yang dia ketahui tentang Kang Han Gyul untuk kepentingan penyelidikanku.

Jogi,” kataku pelan.

Sooyoung langsung menoleh padaku. Dia kelihatannya sempat tercengang sesaat, sampai kemudian dia berkata, “A… Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya.

“Aku sedang melihat-lihat dan tak sengaja mendengar seseorang berbicara mengenai Kang Han Gyul, jadi aku mendekat mengingat dia sedang berada dalam penyelidikanku. Kau tahu itu kan, Sooyoung-ssi?”

Sooyoung melirik ke sebelahku, membuatku melakukan hal yang sama. “Tentu saja aku tahu. Aku yang mengatakannya padamu” katanya tanpa menatapku.

“Omong-omong, kau sedang berbicara dengan siapa, Sooyoung-ssi?” tanyaku penasaran karena aku tak melihat siapapun disini selain dia dan aku.

Ah… emm… aku… telepon. Aku sedang menelepon seseorang,” jawabnya sedikit gugup. “Waeyo?”

“Kalau boleh tahu, siapa? Apa itu Kang Jun?”

Aigoo… aku bahkan tak mengenal siapa Kang Jun ini”

“Lalu darimana kau tahu semua hal tentang Kang Han Gyul jika kau bahkan baru saja mendengar tentang kasus yang menimpanya?” tanyaku curiga. “Apa kau sedang mencoba bermain-main dengan seorang detektif sekarang?”

Heol~”

Sepasang alisku bertaut samar, “Choi Sooyoung-ssi, sepertinya kita harus bicara”

“Ya, memang kita harus bicara. Untuk menghilangkan kesalahpahamanmu padaku, ayo kita bicara” sahut Sooyoung sambil menyipitkan matanya. Dia kembali melirik ke arah yang sama, lalu menghela napas panjang tanpa sebab. “Babocheorom. Dari awal memang seharusnya aku tak ikut campur mengenai masalah seperti ini,” gumamnya.

Ne?”

“A-Aniyo, amugeotdo

Aku mengangkat bahu pelan, lalu duduk disebelah Choi Sooyoung. Sudah beberapa menit kami terus diam tanpa ada yang bicara. Aku meliriknya sesekali. Dia terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan dia terus menerus mendesah dan memalingkan wajahnya ke sisi yang berlawanan denganku. Membuatku semakin merasa aneh pada yeoja yang satu ini.

Saat aku sedang memperhatikannya, tiba-tiba saja Choi Sooyoung menoleh ke arahku. Aku tersentak kecil, bukan karena terkejut dengan tatapannya itu tapi karena jantungku yang berdebar sangat kencang. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini di dekat seorang yeoja. Apalagi dia adalah yeoja yang belum lama ini aku kenal.

“Kenapa kau terus menatapku, detektif? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Sooyoung, membuatku langsung mengalihkan pandangan darinya. “Ah, katanya kau ingin berbicara padaku tapi sedari tadi kau hanya diam. Apa kau lupa apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

A-Aniyo,” sahutku cepat tanpa memandangnya. Aku menarik napas singkat untuk menenangkan diriku sendiri sebelum kembali menatap Sooyoung. “Aku sedang berpikir apa yang seharusnya aku tanyakan padamu, Sooyoung-ssi

“Kalau begitu biarkan aku saja yang memberitahu, dan aku berharap setelah ini kau tak mencurigaiku lagi”

“Aku tak pernah mencurigaimu. Hanya saja pekerjaanku-“

“Mengharuskan kau untuk mencurigai siapapun yang berhubungan dengan targetmu. Arrayo,” sambar Sooyoung sebelum aku selesai berbicara. “Omong-omong, detektif… Apa kau selalu seperti ini pada orang-orang yang berhubungan dengan targetmu? Maksudku… mencurigai mereka,” katanya kemudian.

“Bukan mencurigai sebenarnya. Kami hanya waspada tentang segala sesuatu dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Karena itulah kami akan selalu menyelidiki orang-orang yang ada disekitar target kami,” kataku menjelaskan.

Choi Sooyoung tertawa kecil, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah yang sama dan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kedua alisku saling bertaut melihat pemandangan itu. Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan? Kenapa seolah-olah dia sedang berbicara dengan seseorang padahal hanya ada aku disampingnya?

“Choi Sooyoung-ssi,” panggilku hati-hati. Dia menoleh padaku dengan cepat dan kemudian menatapku lekat-lekat. Jantungku kembali berdebar saat aku membalas tatapan itu, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang. Aku berdehem pelan, “Apa aku boleh tahu… darimana kau dan Kang Hye Gyul saling mengenal satu sama lain?” tanyaku pada akhirnya karena aku tak mungkin terus diam.

Sooyoung memutar bola matanya, “Sudah aku katakan beberapa kali padamu, detektif. Aku sama sekali tak mengenalnya sebelum ini,”

“Sebelum ini?” ulangku tidak mengerti.

Aish, bagaimana aku menjelaskannya” gumam Sooyoung sambil kembali memalingkan wajahnya. “Pada intinya, aku dan Kang Hye Gyul memang tidak saling mengenal tapi karena sesuatu… hmm, dia datang padaku dan… dan aku tahu apa yang terjadi,” katanya tanpa menatapku.

Keningku berkerut, “Sooyoung-ssi, josanghaeyo. Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu”

Choi Sooyoung menatapku cukup lama, lalu dia menghela napas singkat. Sementara itu aku terus berusaha untuk membaca warna emosinya, tapi yang aku lihat masih tetap campuran warna yang sama sekali tak bisa aku jelaskan artinya. Aku mengerutkan kening tajam.

‘Kenapa begitu sulit membaca emosi yeoja ini,’ kataku dalam hati.

“Aku rasa aku tak bisa menjelaskan padamu darimana aku tahu Kang Hye Gyul karena kau mungkin akan menganggapku sebagai orang aneh jika aku mengatakannya,” jelas Sooyoung panjang. “Karena itu, bisakah kau menganggap jika kau tak pernah mendengar atau mengetahui bahwa aku menyebut nama itu sebelumnya?”

Aku tersenyum tipis, lalu menghela napas singkat sebelum bicara. “Menurutku semua orang di dunia itu aneh. Tapi bagaimana kau memandang dan mengakui keanehan itulah yang paling utama”

Choi Sooyoung diam saja.

Arraseoyo. Kau tak perlu menjelaskan padaku bagaimana kau bisa mengenal baik Kang Han Gyul maupun Kang Hye Gyul” Aku menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandanganku darinya. “Bolehkah aku meminta sesuatu darimu, Choi Sooyoung-ssi?”

“Kau meminta sesuatu padaku padahal kita baru saja mengobrol?” sahut Sooyoung sambil menaikkan satu alisnya. “Kau benar-benar aneh,”

Ah, majayo. Tapi aku meminta sesuatu padamu karena itu bagian dari tugasku sebagai seorang detektif. Jadi, maukan kau membantuku?”

“Itu membuatnya terdengar lebih serius,” komentar Sooyoung sarkatis.

Aku tertawa pelan, “Tidak jika kau menganggapnya berbeda”

“Benarkah? Aku tak yakin”

Aku kembali tersenyum, lalu merogoh kantong jaketku dan memberikan kartu nama pada Sooyoung. “Kau bisa menghubungiku jika kau tahu sesuatu tentang Kang Hye Gyul atau Kang Han Gyul atau bahkan keduanya,” kataku sambil beranjak dari tempat dudukku. “Josanghaeyo karena aku harus pergi bertugas. Senang berbicara denganmu, Choi Sooyoung-ssi

Choi Sooyoung tak memberikan tanggapan apapun, jadi aku bergegas membalikkan badan dan melangkah meninggalkannya sendirian. Sebelum benar-benar keluar dari taman itu, aku sempat menoleh ke belakang dan dia sudah tidak berada di tempatnya semula. Tapi aku masih mendengar suaranya yang sedang berbicara dengan seseorang meskipun itu tak jelas di telingaku. Sambil mengangkat bahuku, akupun bergegas keluar dari toko bunga setelah sebelumnya tersenyum ramah pada Kwon Yuri yang sedang melayani seorang pembeli.

“Bagaimana Detektif Cho? Apa kau menemukan informasi yang yang kau cari di toko bunga ini?” tanya salah satu anak buahku yang bernama Jin Woo Hyun begitu aku menemuinya kembali.

“Tidak. Ayo kita terus melakukan penyelidikan,” sahutku sambil terus berjalan. “Apa kau sudah menemukan lokasi dimana kira-kira Kang Jun bersembunyi?”

“Belum. Semuanya masih abstrak, tapi aku yakin kita akan segera menemukannya”

Aku mengangguk, “Terus awasi Kang Han Gyul dan tempat-tempat yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian Kang Jun. Aku akan kembali ke kantor untuk melihat bukti-buktinya lagi,”

Ne. Algeseumnida

Kajja,”

Aku dan Jin Woo Hyun masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kawasan distrik Bupyeong tanpa banyak bicara lagi. Saat melintasi toko bunga ‘Secret Garden’ lagi, aku sempat menatapnya dan melihat Choi Sooyoung keluar dari sana. Tapi cepat-cepat aku mengembalikan pandanganku saat menyadari jika Woo Hyun sedang memperhatikanku. Meskipun itu aneh, tapi aku benar-benar merasa bahwa aku pernah bertemu dan mengenal Sooyoung sebelumnya. Bahkan jantungku selalu berdebar kencang setiap kali mata kami bertemu. Aku tak tahu kenapa bisa seperti itu, tapi Choi Sooyounglah satu-satunya yeoja yang membuatku merasakan hal seperti ini. Ya, hanya dia.

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

65 thoughts on “[Series] Have You Seen – Part 1

  1. lucu ngebayangin syo bisa liat hantu agak aneh emg kalo orang lain ngeliat syo ngomong sendirian.

    aaa kyu nya juga tertarik sama syo kayaknya mereka udh pernah bertemu.

  2. anggi ta says:

    aku sider yang akan mencoba belajar meninggalkan jejak di tiap ff yang aku baca untuk mengapresiasi hasil kerja sang author.. abisan males kalo ninggalin jejak cuma bilang ‘next’ :v

  3. Handy says:

    Weh keren alur ceritanya, jadi ga sabar pengen tau endingnya tapi baru part 1, ini ffnya bagus, tapi knpa ya ftv ga angkat dari ff aja ceitanya lebih bermutu😆

  4. Handy says:

    Wehh seru, penasaran endingnya gmna ya, hehe masih lama ke ending baru part 1😑 ini ff bagus, tapi kenapa ya ftv ga angkat cerita dari ff aja lebih bermutu ceritanya😆

  5. Sistasookyu says:

    Kyuyoung pernah ketemu?
    Dan kyuyoungnya mulai sama2 tertarik nih😀
    Yul antusias bgt sama syo yg bisa liat gwishin. Kekeke

  6. NIHAX JIVIYOUNGKYU says:

    hmh.! Feelnya dappet banget..
    AUTHOR SOOCYOUNG.! I Love all your imagine… Aku suka dngan smua FF yg telah aku baca.. Smuanya bagus2 mulai dr all for you, stuck in LOVE.! Bahkann have you seen ini.. Mski panjang tp tak membosankan.! Ah daebbak.. 1 kata daebbak.. Aku jd ingin lebih dekat dnga author soocyoung..🙂

    Aku bahkan ingin ff2 yg aku suka tak ada kta END.! Heheh😀 krena ingin nyata sprti dlam kisah fanfiction dlam khidupan dua pairing kesukaan q ini.. I LOVE KYUYOUNG COUPLE

  7. Isma KSY says:

    apakah KyuYoung memang saling kenal? mungkinkah Park Hae In ada hubungan dengan KyuYoung.. penuh teka keki..

  8. Ola says:

    Kerennnn… nih inspirasi dri drama” yg keren😀 yh mreka smcam sensory couple. Aku suka bangettttt…. Daebak lah

  9. nadigoo says:

    Daebaaaak!!! Semua bikin penasaran!! Mulai dari cerita han gyul-hye gyul-kang jun, cerita park hae in terus cerita gimana bisa sooyoung sama kyuhyun sama2 berdetak jantungnya waaaaa
    kepoooo

  10. bagusss. tapi lebih penasaran sama cerita dari hantu yang tinggal di apartemen sooyoung sih. aku pikir sooyoung punya cerita dengan kyuhyun juga hantu di apartemennya. sooyoung mungkin juga sempat lupa ingatan jadi melupakan cerita tentang mereka bertiga. mungkin.

  11. farida_salma says:

    emg kyuyoung pernah bertemu ya?
    hmmm, penasaran banget sama kyuyoung ini yang punya kemampuan istimewa

    nice ff
    next part ditunggu🙂

  12. ria^^knight says:

    ada ff yg bagus lg nih :3
    penasaran deh sm hub kyuyoung d masa lalu,
    nggak sabar sm next partx🙂

  13. HLZ says:

    Penasaran apa kyu dan soo pernah ketemu sebelumnya?baca ceritanya merasa seperti gabungan drama master sun krn soo bisa liat hantu dan the girl who sees smells cewek yg bisa ngerasain bau, kalo disini kyu kan bisanya baca warna emosi jadi beda ga sama , dan ff ini bagus kok…
    Ditunggu next partnya…

  14. mongochi*hae says:

    aduh knp soo gk jujur aj dg kyu jd kyu gk nanya yg mcem2..

    next ayo….2 kekuatan bergabung buat selesaikan kasus ini

  15. febryza says:

    seru ceritanyaaa… sooyoungnya bisa liat gwishin tedus kyuhyunnya bisa ngeliat aura gitu kalo digabungin pasti cocok hehehehe
    jadi penasaran sama ceritanya hye gyul kok dia bisa sampe mati terus hubungannya sama kangjun apa? dia yg ngebunuh gitu?
    oiya btw kok sooyoung ngerasa kalo pernah ketemu sama kyuhyun? terus juga tadi pas di scene terakhir part ini kyuhyun juga ngerasa kenal sama sooyoung, emang mereka dulu pernah kenalan? atau memori kehidupan sebelumnya ? eh tapi masa iya ?

  16. Aihhhh Sooyoung kenapa gak jujur ke Kyuhyun kalau dia bisa ngeliat hantu? Makin penasaran kan aku>< part selanjutnya jangan lama-lama ya jebal ㅠㅠ

  17. DeA says:

    Sumpah sebenernya takut bgt baca ff yg bergenre horror gini, dan terpaksa ada bag2 yg aq skip karna takuut..
    tapi ceritanya bagus, dan lumayan buat ngurangin phobia ama yg horror2🙂

  18. WindaSonElf says:

    sepertinya mash pengenalan tokoh ya…

    mm, bgus tp kyaknya alurny agak kecepatan deh

    keep writing thor

  19. udh ff baru lg hahahah. wehh bisa lihat hantu =__= msh agak gmn kalo ada orang yg bisa gitu. msh kepo jg drmn kyuyoung ngerasa kenal trus emg mgkn dr keanehan(?)mereka berdua bisa bikin saling ketergantungan😄

  20. Risqi says:

    kenapa sooyoung nggak jujur ke kyuhyun kalo dia bisa melihat hantu? ciee.. kyuyoung saling berdebar nih tiap bertemu? ditunggu part selanjutnya..

  21. Youngra park says:

    Yaahh sooeni knp gk jujur aj kalau bsa lhat hantu keren ceritax next part di tnggu chigu jng lma2 ne

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s