[Series] Stuck In Love -25-

Stuck In Love 2

Title                   : Stuck In Love

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : Serial/On Writing

Genre                : Romance

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kris Wu

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Lama tak berjumpa.. hihi..

Ketemu lagi sama author soocyoung \^^/

Maaf banget knights karena aku post FF ini lama banget. Banyak hal yang buat aku lama nerusin FF ini -___- Walaupun penginnya cepet selesai dan langsung di post biar kalian gg lama nungguin, tapi apa mau dikata kalau ada aja halangan. Sekali aku maaf karena kekuranganku itu. Aku harap kalian masih mau nungguin FF ini sampai selesai yah… ^^

Ah, satu hal… Aku agak cepetin alurnya kali ini biar gg terlalu panjang yah. Semoga kalian gg bingung -____-

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Aku menarik napas panjang beberapa kali lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah aku membaca beberapa laporan mengenai Maehwa Group yang diberikan Pengacara Han, aku telah membuat keputusan untuk tidak melakukan kerja sama apapun dengan mereka. Meskipun sebenarnya jika kerjasama itu dilakukan justru akan menguntungkan JinHan, tapi aku rasa resiko yang harus diambil juga besar. Lagipula aku tak yakin jika dewan direksi dan para pemegang saham JinHan akan menyetujui kerjasama dengan Maehwa Group.

Sajangnim,” panggilan pelan Pengacara Han membuyarkan pikiranku. Aku mengalihkan perhatianku dengan cepat lalu menatap ke arah Pengacara Han yang masih berdiri di depan pintu ruanganku. “Josanghaeyo, aku masuk ke ruangan Anda tanpa menunggu ijin dari Anda terlebih dahulu”

Gwenchanayo

Pengacara Han melangkah menghampiriku, “Sajangnim, bolehkan aku memberi saran untuk Anda?”

“Saran?” sahutku dengan cepat. “Mengenai apa?”

“Sebentar lagi Anda akan bertemu dengan CEO Maehwa Group. Apa sebaiknya pertemuan itu dilakukan di luar JinHan saja? Mengingat hubungan yang bisa dikatakan tidak baik antara JinHan dan Maehwa, aku takut beberapa karyawan JinHan akan berpikir sesuatu yang tidak kita inginkan” Pengacara Han memberi saran langsung tanpa membahas sesuatu yang lain terlebih dahulu. “Aku rasa ini juga belum terlambat jika Anda ingin mengubah tempat pertemuan”

Aku diam saja karena memikirkan perkataan Pengacara Han itu.

“Aku akan mengaturnya jika Anda setuju, tapi jika Anda ingin pertemuan itu tetap dilakukan disini maka aku akan segera menyiapkan ruangannya”

“Aku rasa Anda benar, Pengacara Han” kataku cepat. “Setelah membaca laporan yang Anda berikan dan mengetahui bahwa ternyata Busangjangnim mengenal secara pribadi dengan CEO Maehwa Group, aku rasa pertemuanku dengannya lebih baik dilakukan diluar JinHan saja”

Pengacara Han menganggukkan kepala. “Aku akan segera mengaturnya kalau begitu, Sajangnim

Ne. Pastikan mereka tidak merasa kecewa karena kita mengubah tempat pertemuannya”

Ne, algeseumnida” jawab Pengacara Han sambil membungkukkan badannya, lalu melangkah pergi dari ruanganku.

Aku kembali menghela napas. Pandangan mataku terarah pada ponselku yang tergeletak di atas meja. Kyuhyun sama sekali tak menghubungiku padahal dia selalu mengirim pesan meskipun sekedar untuk bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan sekarang. Tapi dia tidak melakukannya hari ini, dan itu benar-benar membuatku kecewa. Apa dia akan terus bersikap seperti ini karena dia sampai kecurigaannya pada eomma benar-benar menghilang?

Ketukan pelan di pintu kembali terdengar, dan akupun segera mempersilahkan siapapun itu untuk masuk. Ternyata dia adalah Pengacara Lee, salah satu Pengacara yang dekat Kyuhyun. Dia menyapaku dengan ramah sambil membungkukkan badannya ke arahku sebelum akhirnya menghampiri mejaku. Aku melihatnya membawa beberapa lembar kertas di tangannya, jadi aku rasa ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku.

“Apa ada sesuatu yang harus aku lakukan, Pengacara Lee?” tanyaku setelah Pengacara Lee duduk di kursi di depan mejaku. “Apa kau membutuhkan bantuanku atau bagaimana?”

Animida. Aku datang kesini bukan untuk meminta bantuan Anda, Sajangnim. Aku hanya diminta oleh Cho Kwajangnim untuk memberikan ini pada Anda” kata Pengacara Lee sambil menyerahkan kertas ditangannya padaku.

Kedua alisku saling bertaut, dan mau tak mau aku menerima kertas itu darinya. “Apa ini?” tanyaku ingin tahu.

“Itu laporan hasil kerjasama JinHan dengan Quintrix. Cho Kwajangnim ingin memberi laporan pada Anda, tapi beliau masih rapat dengan CEO Quintrix

Aku diam untuk beberapa saat sambil terus melihat ke arah kertas laporan yang baru saja diberikan Pengacara Lee padaku. Seharusnya Kyuhyun yang menyerahkan ini langsung padaku, kan? Tapi dia memilih untuk meminta Pengacara Lee yang memberikannya padaku dan itu membuat rasa kecewaku bertambah hanya dalam beberapa menit saja.

Sajangnim?” Suara Pengacara Lee membuyarkan lamunan singkatku.

Aku menolehkan kepala ke arah Pengacara Lee, “Waegeuraeyo? Apa kau mengatakan sesuatu?”

Ah, animida. Aku hanya ingin melanjutkan pekerjaanku setelah menyerahkan laporan itu pada Anda”

Ah, geuraeyo? Kalau begitu, kau boleh pergi sekarang” kataku.

Pengacara Lee mengangguk, lalu diapun beranjak dari tempat duduknya. Sebelum dia melangkah keluar dari ruanganku, Pengacara Han masuk dan dia cukup terkejut saat melihat Pengacara Lee yang masih berada di ruanganku. Aku melihat mereka saling menyapa untuk beberapa saat sebelum akhirnya Pengacara Han menghampiriku, sementara Pengacara Lee memilih untuk melangkah pergi dari ruanganku.

“Aku sudah menyiapkan tempat pertemuan Anda dengan CEO Maehwa dan juga sudah memberitahu mereka tentang perpindahan tempat pertemuannya, Sajangnim” kata Pengacara Han melaporkan padaku.

“Apa mereka tidak apa-apa kita mengubah tempatnya?”

“Mereka berkata tidak apa-apa,” jawab Pengacara Han. “Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang dikerjakan, bagaimana jika kita pergi keluar sekarang?”

Aku mengangguk sebelum kemudian berdiri dari dudukku dan mengikuti Pengacara Han keluar dari ruanganku. Kami berjalan bersama keluar JinHan dan masuk ke mobil yang biasa aku gunakan untuk pergi bekerja selama ini jika aku tidak pergi bersama Kyuhyun. Selama perjalanan menuju ke lokasi pertemuanku dengan CEO Maehwa Group itu, aku memilih untuk terus diam karena terus memikirkan sikap Kyuhyun padaku sejak pertengkaranku dengannya di hari pertunanganku itu. Aku hanya tak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu pada eomma, dan kenapa dia juga bersikeras bahwa Shim Samchon sedang merencanakan sesuatu dengan eomma.

Sajangnim, aku baru saja mendapat telepon dari Komisaris” ucap Pengacara Han tiba-tiba. Membuat suasana di dalam mobil yang tadinya hening menjadi sedikit ramai. “Apa Anda tidak memberitahu Komisaris mengenai pertemuan Anda dengan CEO Maehwa Group ini?”

“Tidak, aku tak memberitahu Appa. Waegeuraeyo? Apa Appa juga tidak setuju dengan pertemuan ini?”

“Komisaris tidak mengatakan apa dia setuju atau tidak setuju. Beliau hanya berpesan padaku agar Anda berhati-hati jika berurusan dengan Maehwa Group. Karena beliau mengenal CEO-nya dengan baik, dan Anda diharapkan tidak mengambil keputusan apapun sebelum memikirkannya dengan baik” jawab Pengacara Han langsung.

“Aku tahu itu,” kataku singkat.

“Anda sudah membaca laporan yang aku berikan mengenai Maehwa Group?”

Aku menganggukkan kepala. “Sepertinya mereka benar-benar ingin menyaingi JinHan selama ini melihat dari laporan-laporan itu”

“Anda benar. Tapi selama ini mereka belum berhasil bersaing dengan JinHan, karena itulah mereka berusaha keras untuk terus menempel JinHan”

Kali ini aku tak menanggapinya. Mobil berhenti di sebuah restoran di distrik Jongno, dan akupun bergegas keluar dari mobil mengikuti Pengacara Han yang sepertinya sudah melakukan reservasi di restoran ini. Tanpa banyak bicara, Pengacara Han mempersilahkanku untuk mengikutinya masuk ke restoran. Seorang pelayan langsung menyambut kami begitu kami berada di dalam sebuah restoran yang merupakan restoran tradisional ini. Aku membiarkan Pengacara Han berbicara dengan pelayan itu, lalu kembali mengikutinya menyusuri restoran lebih dalam.

“Silahkan masuk, Sajangnim” kata Pengacara Han sambil membukakan pintu ruangan untukku. “Aku akan menunggu diluar,” katanya lagi.

“Baiklah kalau begitu,”

Aku melangkah masuk ke ruangan yang berukuran sedang itu. Ada sebuah meja di tengah ruangan dengan empat kursi. Di sudut ruangan ada patung tak berbentuk dan terdapat beberapa lukisan khas Korea di seluruh ruangan ini. Aku menarik salah satu kursinya, lalu duduk disana sambil menunggu kedatangan CEO Maehwa Group itu. Aku berharap pertemuan ini akan cepat selesai dan saat aku kembali ke JinHan, Kyuhyun sudah ada disana. Aku rasa aku benar-benar harus berbicara padanya karena aku tak mau kami saling bersikap diam seperti ini. Apalagi aku dan dia baru saja bertunangan.

Mataku melirik ke arah jam di tanganku. Seharusnya CEO Maehwa Group itu sudah datang, tapi sepertinya mereka sedikit terlambat. Mungkin karena kami memutuskan untuk mengubah lokasi pertemuannya, jadi mereka terlambat dari waktu pertemuan yang seharusnya. Tapi saat aku baru saja akan memanggil Pengacara Han, pintu terbuka dan seorang yeoja masuk. Aku terus mengamati yeoja yang sepertinya seumuran dengan eomma. Pakaiannya sangat rapi, dan wajahnya terlihat sangat tegas. Dia tersenyum ke arahku, dan mau tak mau aku membalas tersenyum ke arahnya.

Josanghaeyo, Choi Sajangnim. Aku sedikit terlambat,” katanya sambil melangkah menghampiriku dan dia mengulurkan tangannya ke arahku. “Aku Kim Yeo Jin, CEO Maehwa Group

Ah, annyeonghaseyo. Joneun Choi Sooyoung” jawabku langsung menjabat uluran tangan itu. “Josanghaeyo karena tak mengenali Anda sebelumnya,”

Gwenchanayo,”

Ah, silahkan duduk”

CEO Maehwa itu duduk di kursi di hadapanku. Meskipun aku sedikit canggung, tapi cepat-cepat aku duduk kembali di kursiku. Aku mengamati diam-diam yeoja bernama Kim Yeo Jin ini di depanku dan saat dia menoleh ke arahku, dengan cepat aku menatap ke arah meja. Aku tak tahu bagaimana harus memulai percakapan karena ini juga pertama kalinya aku menemui seseorang atas nama JinHan tanpa ditemani siapapun. Biasanya ada appa disebelahku, tapi kali ini aku sendirian. Pengacara Han pun sepertinya memilih untuk menunggu di luar demi kesopanan karena biar bagaimanapun ini adalah pertemuan antar CEO.

“Ini pertama kalinya kita bertemu, ‘kan, Choi Sajangnim?” Tiba-tiba CEO Maehwa itu berbicara. Aku sedikit bernapas lega karena bukan aku yang memulai pembicaraan. “Tapi Anda benar-benar terlihat mirip dengan ibu Anda,”

Aku terperangah. “Uri Eomma? Jinjjayo? Apa kalau begitu Anda mengenal Eomma-ku?”

“Tentu saja aku mengenalnya, dan aku juga mengenal Komisaris JinHan, Choi Yoon Jae” jawabnya dengan tenang. “Jujur saja, awalnya aku tak percaya jika pemilik JinHan Group adalah Choi Yoon Jae dan Lee Young Ah. Karena dulu kami tak pernah berpikir akan berada di bidang yang sama seperti ini,”

Aku tersenyum kecil, tapi tak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya.

“Bertemu dan berbicara dengan putri Lee Young Ah dan Choi Yoon Jae seperti ini membuatku merasa jika aku sedang berbincang dengan mereka. Jadi rasanya bukan seperti sebuah pertemuan yang resmi,” kata CEO Maehwa lagi mengabaikan diamku. “Apa Anda merasakan hal yang sama denganku, Choi Sajangnim?”

N-Ne,” jawabku ragu. Entah kenapa aku justru merasa dia sedang berpura-pura ramah padaku melihat dari ekspresinya. Tapi lebih baik aku bersikap seperti biasa karena aku tak mau membuat kekacauan disini.

Setengah jam pertama, CEO Maehwa ini terus mengajakku berbicara mengenai masa-masa kuliahnya yang sebenarnya tak begitu aku pedulikan. Aku tahu dia mengenal kedua orang tuaku, juga bibi dan pamanku dari cerita-ceritanya. Bahkan dia berkata bahwa sebenarnya dia ingin menjodohkan putrinya dengan Changmin, tapi ternyata putrinya telah memilih pasangan hidupnya sendiri dan menolak perjodohan itu. Aku cukup senang mendengarnya, karena biar bagaimanapun aku tak setuju dengan perjodohan semacam itu.

“Dari dulu sebenarnya aku sangat menginginkan bisa menjalin kerjasama dengan JinHan, karena kerjasama diantara teman itu akan terasa lebih mudah daripada bekerjasama dengan orang asing” CEO Maehwa itu terus berbicara. “Apalagi jika kita sudah saling mengenal. Semuanya akan terasa mudah karena kita bekerjasama dengan teman kita sendiri. Aku benar, bukan?”

Ne, majayo” jawabku. “Karena bekerjasama dengan teman tak perlu membangun lagi kepercayaan, dan itu sangat berbeda saat kita menjalin kerjasama dengan seseorang yang baru, yang bahkan belum pernah kita kenal sebelumnya”

CEO Maehwa itu tersenyum tipis. “Aku akan dengan senang hati menjalin kerjasama dengan Anda, Choi Sajangnim. Aku yakin JinHan Group dan Maehwa Group bisa bekerjasama dengan baik mengingat kita semua sudah saling mengenal, bahkan secara pribadi”

Ah, emm… ne, geuraeyo

“Banyak orang berpikir bahwa Maehwa Group selama ini berusaha menyaingi JinHan Group, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Anggapan kebanyakan orang benar-benar salah, mengingat bahwa sebenarnya Maehwa Group kami justru menjadikan JinHan Group sebagai panutan dalam usaha pengembangan bisnis kami” kata CEO Maehwa itu. “Karena itulah, Choi Sajangnim, aku benar-benar berharap untuk kedepannya kita bisa bekerja sama dan saling membantu satu sama lain mulai dari sekarang. Dengan begitu, anggapan orang-orang itu akan berubah dan kita bisa menunjukkan bahwa JinHan-Maehwa bisa berkerja sama untuk-“

“Itu bisa kami pikirkan nanti,” Tiba-tiba seseorang masuk, dan ternyata itu Kyuhyun. “Josanghamnida, Choi Sajangnim, Kim Sajangnim” katanya sambil membungkukkan badan.

“Siapa kau?”

Joneun Cho Kyuhyun imnida, Kwajangnim JinHan Group

Kim Sajangnim menolehkan kepala ke arahku, dan aku benar-benar tak tahu bagaimana harus bereaksi sekarang. Dari luar aku juga bisa melihat Pengacara Han yang sepertinya baru saja berusaha keras menghentikan Kyuhyun.

Josanghaeyo, Choi Sajangnim. Apa aku bisa berbicara dengan Anda sebentar?” tanya Kyuhyun padaku sebelum ada yang bersuara. Dia menatap tajam ke arahku, dan aku melihatnya menggerakkan kepalanya seakan-akan memintaku untuk mengikutinya keluar dari ruangan ini. “Ah, emm… ada masalah kecil di salah satu proyek kita, dan aku berharap Anda mau memeriksanya karena ini adalah proyek yang mendesak”

“Masalah?”

Kyuhyun menganggukkan kepala. “Aku rasa Anda harus memeriksanya sendiri untuk kali ini agar tahu mengenai masalah yang terjadi,”

“Kalau begitu tunggu sebentar,” sahutku dengan cepat. Aku berpaling pada Kim Sajangnim yang kali ini berekspresi datar. “Josanghamnida, Kim Sajangnim. Sepertinya ada masalah yang harus aku urus terlebih dahulu. Bagaimana jika kita mengatur pertemuan lagi nanti?”

“Tentu saja. Aku akan dengan senang hati melakukannya, Choi Sajangnim

Aku tersenyum lebar, lalu membungkukkan badan ke arah CEO Maehwa itu. “Senang berbincang dengan Anda. Josanghamnida karena ketidaksopananku meninggalkan Anda seperti ini,”

Gwenchanayo. Tugas seorang Sajangnim-lah untuk memastikan masalah tidak terjadi,”

Geureom,” Aku membungkukkan badan sekali lagi, lalu beranjak dari tempatku dan keluar mendahului Kyuhyun. “Pengacara Han, aku meminta tolong padamu untuk mengatur keadaan disini dan sampaikan maafku pada Kim Sajangnim

Ne, algeseumnida

Aku menunggu Kyuhyun, kemudian berjalan bersamanya keluar dari restoran tradisional ini. Tak ada yang dia katakan bahkan sampai akhirnya kami masuk ke dalam mobil Kyuhyun dan meninggalkan restoran itu. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba Kyuhyun menepikan mobilnya dan dia menghentikannya. Untuk beberapa saat aku tak mengerti kenapa dia tiba-tiba berhenti seperti ini. Aku baru akan bertanya, tapi Kyuhyun mendahuluinya.

“Apa yang kau lakukan bersama Kim Yeo Jin disana?” tanyanya dengan nada datar. “Apa kau tak tahu dia siapa?”

“Bukankah katamu ada masalah yang harus aku perik-“

“Jawab dulu pertanyaanku,” potong Kyuhyun dengan cepat. “Apa yang kau lakukan disana dan apa kau tak tahu dia siapa?” Dia mengulang pertanyaannya.

Aku menghela napas panjang. “Aku tahu dia siapa, dan aku hanya berbincang dengannya”

Neo jinjja! Kenapa kau harus berbincang dengannya?”

“Memangnya kenapa? Apa salahnya jika aku ingin membina hubungan baik dengan perusahaan lain?”

“Tak ada yang baik dari perusahaan itu, dan kau tak perlu membina hubungan baik dengan mereka,”

Oppa, miccheoso?!”

Kyuhyun diam saja.

“Apa kau membawaku keluar dari restoran itu hanya untuk ini?”

“Hanya untuk ini?” sahut Kyuhyun sedikit menaikkan nada bicaranya. “Aku berusaha mencegahmu untuk tidak terlalu lama berbicara dengan CEO Maehwa itu. Apa kau tahu bahwa dia berteman dengan Shim Busangjangnim?”

“Aku tahu,”

“Lalu kenapa kau tetap ingin bertemu dengannya? Dia sedang merencanakan sesuatu dengan Shim Busangjangnim dan Eomma-“

“Oppa!” potongku dengan suara keras.

Kyuhyun diam cukup lama, lalu dia kembali menyalakan mesin mobilnya, “Aku akan mengantarmu kembali ke JinHan,”

“Tidak. Aku akan kembali ke JinHan sendiri,” sahutku sebelum keluar dari mobil Kyuhyun.

Aku pikir Kyuhyun akan ikut keluar dari mobilnya dan memintaku untuk masuk lagi ke dalam mobil tapi diapun tak melakukannya. Mau tak mau aku menghentikan taksi yang melintas dan kembali ke JinHan sendiri.

¯¯

Kyuhyun POV

Oppa, aku rasa sebaiknya kita perlu bicara,” ucap Sooyoung tiba-tiba saat aku sedang duduk sendirian di balkon kamarku.

Aku menarik napas pelan, lalu berdiri dari kursiku dan menghadap Sooyoung. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

Sooyoung tak langsung menjawab. Dia diam untuk beberapa saat, lalu aku melihatnya menghela napas singkat dan diapun mulai bicara. “Aku ingin tahu kenapa kau bersikeras bahwa eomma sedang merencanakan sesuatu dengan Shim Samchon?”

“Kenapa kau ingin tahu? Tidak bisakah kau hanya percaya padaku?” Aku balik bertanya pada Sooyoung dan tetap menjaga nada bicaraku agar tidak ada orang di rumah yang mendengarnya. “Dulu kau selalu percaya padaku bukan? Tapi kenapa untuk kali ini, kau tidak percaya padaku, Sooyoung-ah?”

Sooyoung tak menjawab.

Geurae, kau bertanya padaku kenapa aku bersikeras bahwa eommeoni sedang merencanakan sesuatu dengan Shim Busangjangnim, ‘kan? Aku akan menjawabnya,” kataku pada akhirnya karena tak tahan terus saling bersikap diam dengan Sooyoung selama beberapa hari ini. “Aku mendengar sendiri percakapan antara Shim Busangjangnim dengan CEO Maehwa Group bahwa mereka-“

“Kenapa kau tiba-tiba membawa-bawa CEO Maehwa Group, oppa? Apa karena kau marah padaku karena aku menemuinya sebelumnya, jadi kau membawanya bersama kecurigaanmu itu?”

“Astaga, Sooyoung-ah. Aku sedang berusaha memberitahumu yang sebenarnya,” sahutku dengan cepat. “Kau benar-benar harus mendengarkanku dan mempercayaiku sepenuhnya, baru aku akan memberitahumu apa yang aku dengar dari Shim Busangjangnim sendiri”

Sooyoung kembali diam.

“Kau tak mempercayaiku sepenuhnya, ‘kan?” tanyaku setelah menunggu beberapa saat. Aku menghela napas singkat, “Sooyoung-ah, apa selama ini aku pernah membohongimu? Apa selama ini aku-“

Geumanhaeyo, oppa” Sooyoung tiba-tiba menyela. “Aku tahu oppa memang tak menyukai pamanku, dan aku juga tahu bagaimana hubungan JinHan dengan Maehwa. Tapi jika kau membawa-bawa eomma dalam hal ini, bukankah itu keterlaluan?”

“Keterlaluan katamu?”

Eo, keterlaluan” jawab Sooyoung terlihat tanpa ragu sekalipun. “Seorang anak yang mencurigai eomma-nya tanpa bukti itu benar-benar keterlaluan”

“Apa aku harus menunjukkan buktinya padamu terlebih dahulu agar kau percaya padaku?”

Sooyoung hanya menatapku dengan tajam.

“Sooyoung-ah, apa yang perlu aku buktikan jika semuanya terlihat sangat jelas?” tanyaku. “Shim Busangjangnim jelas-jelas sedang merencanakan sesuatu bersama CEO Maehwa dan eommeoni-“

“Jangan memanggilnya eommeoni jika kau masih mencurigainya, oppa” Sooyoung kembali memotong perkataanku.

Aku menghela napas sekali lagi. “Geurae, apa kau benar-benar percaya bahwa sekarang eomma-mu sudah berubah?”

“Tentu saja aku percaya. Kau bahkan melihatnya sendiri bagaimana dia disini, dan aku tak pernah sekalipun melihat eomma seperti ini sebelumnya bahkan saat aku tinggal bersamanya di Daejeon” jawab Sooyoung tegas. “Oppa mencurigai eomma karena oppa mungkin tak mengetahui perasaan ini. Perasaan bahwa seorang eomma benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik karena oppa tak pernah merasakannya sendiri”

Kali ini aku diam saja mendengarkan perkataan Sooyoung karena aku tak percaya dia mengatakan sesuatu tentang perasaan pada eomma yang memang tak pernah aku rasakan itu.

“Aku ingin benar-benar mempercayai eomma kali ini, dan aku tak mau semuanya kembali hancur karena satu kecurigaan meskipun itu hanya kecurigaan kecil sekalipun,” Sooyoung melanjutkan bicara. “Sudah lama aku sangat mengharapkan apa yang terjadi sekarang terjadi, karena akupun ingin memiliki sebuah keluarga yang lengkap. Jadi, oppa, bisakah kau menghilangkan rasa curigamu pada eomma-ku?”

“Aku tak bisa,”

Waeyo?”

“Karena eom- ani, ahjumma benar-benar terlibat dalam rencana yang sedang dilakukan Shim Busangjangnim dan aku sudah berjanji pada appa jika aku akan melindungi JinHan dan kau dengan seluruh kemampuanku”

“Kau tetap bersikeras meskipun itu adalah pamanku dan eomma-ku sendiri?”

“Tentu saja. Aku akan melawan siapapun yang berusaha menjatuhkan JinHan meskipun itu adalah eomma-mu. Aku akan membuktikan bahwa eomma-mu benar-benar terlibat dalam hal ini, dan kau bahkan aku menyesali bahwa kau sudah mempercayai eomma-mu yang tak-“

Sebuah tamparan keras mengenai wajahku, dan aku benar-benar tak menyangka jika Sooyoung baru saja menamparku. Aku menatap Sooyoung dengan tidak percaya. Untuk beberapa saat kami hanya diam dan saling menatap satu sama lain tanpa ada yang dikatakan. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Biar bagaimanapun aku harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi karena aku tak mau seluruh penghuni rumah ini mendengar pertengkaran kami.

Aku baru akan mengatakan sesuatu pada Sooyoung, tapi yeoja itu sudah membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kamarku. Pada awalnya aku berniat untuk mengejarnya, tapi kemudian aku memutuskan untuk tetap diam di tempatku. Aku memegangi pipiku, dan ini untuk pertama kalinya Sooyoung menamparku seperti ini. Aku mendengus kecil, lalu kembali mengarahkan pandangan jauh dari balkon kamarku sambil memikirkan pertengkaranku dengan Sooyoung kali ini.

“Kyuhyun-ah,” suara seorang yeoja terdengar dari dalam kamarku.

Aku menolehkan kepala dan melihat eomma Sooyoung sedang berdiri di dalam kamarku. Aku menarik napas pelan, lalu melangkah menghampirinya. “Ne, waeyo ahju—ah, eommeoni?”

Appa-mu memanggilmu untuk makan malam bersama. Jadi lebih baik sekarang kau turun karena kami menunggumu,”

Ah, ne. Aku akan turun sebentar lagi,”

Eomma Sooyoung menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arahku sebelum dia melangkah keluar dari kamar. Setelah eomma Sooyoung pergi, aku tetap diam di tempatku untuk beberapa saat. Aku terus memandangi pintu kamarku dan berpikir tentang apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku harus tetap berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan eomma Sooyoung dan appa seperti ini? Untuk sekarang mungkin aku bisa melakukannya, tapi aku tak yakin aku akan bisa menahannya lebih lama karena aku benar-benar tahu apa yang sedang terjadi disini. Haruskah aku memberitahu appa saja?

**

Gerimis kecil hari ini membuat cuaca malam Korea menjadi semakin dingin. Langit terlihat hitam gelap. Tak ada bintang dan tak ada bulan. Mendung. Mobilku terus melaju di jalanan menuju Seoul dengan Changmin disebelahku. Aku dan Changmin sedang dalam perjalanan pulang dari Incheon untuk mengurus beberapa hal. Bukan sebuah hal yang berurusan dengan JinHan sebenarnya, tapi aku lebih baik ikut pergi bersama Changmin daripada harus berdiam di kantor dengan perasaanku yang sedikit kacau ini.

“Bagaimana jika kita makan dulu, Kyuhyun-ah?” tanya Changmin di sela-sela mengemudinya. “Lagipula ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, jadi kita bagaimana?”

“Terserah kau saja,”

Changmin tak memberikan tanggapan lagi, tapi dia menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai ramen di pinggiran Seoul. Dia bergegas keluar dari mobil tanpa mengajakku dulu. Membuatku mau tak mau mengikutinya. Kami memasuki kedai ini bersama, dan dengan cepat menemukan satu meja kosong di pinggir jendela berukuran sedang yang menghadap ke jalan. Seorang pelayan langsung datang menghampiri meja kami untuk menanyakan pesanan kami. Setelah kami memesan, diapun bergegas pergi.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku teringat alasan kami berhenti di kedai ini. “Ah, aku mungkin hanya akan mendengarkanmu saja kali ini karena mood-ku sedang tidak bagus”

“Apa karena itu kau memilih pergi menemaniku?”

“Karena apa?”

Mood-mu yang sedang tidak bagus,” sahut Changmin sambil melipat kedua tangannya di atas meja. “Ya! Bukankah seharusnya kau pergi bersama Sooyoung dan pergi rapat dengannya hari ini?”

Aku diam saja.

“Apa kau sedang bertengkar dengannya atau bagaimana? Tidak biasanya kau memilih untuk pergi bersamaku disaat kau memiliki kesempatan bersama tunanganmu” kata Changmin mengabaikan diamku. “Aku juga melihat kalian tak banyak mengobrol di kantor, tidak seperti biasanya”

Aigoo, apa kau benar-benar mengamati kami setiap hari?”

“Bukan hanya aku, tapi hampir semua orang di JinHan mengamati kalian. Apa kau tak tahu itu?”

Jinjja?” tanyaku pura-pura tak tahu meskipun sebenarnya aku mengetahuinya.

Changmin menarik napas pelan, “Jadi apa yang terjadi dengan kalian?”

“Apa itu yang ingin kau bicarakan denganku?” Aku balik bertanya pada Changmin. “Kau hanya ingin membicarakan hubunganku dengan Sooyoung sampai harus berhenti disini?”

Ya! Neo! Kau pikir aku suka mencampuri hubungan orang lain? Aku hanya kesal melihatmu beberapa hari ini. Kau bersikap seolah-olah tak peduli dengan Sooyoung beberapa hari ini tapi wajahmu dan ekspresimu menunjukkan sebaliknya” jawab Changmin.

“Mau bagaimana lagi. Kami memang sedikit berdebat beberapa hari ini, dan aku tak mungkin menghampirinya begitu saja setelah apa yang terjadi”

“Memangnya apa yang terjadi?”

“Sudah aku katakan, kami sedikit berdebat. Hanya saja kali ini lebih sulit untuk diselesaikan dengan cepat dari biasanya” kataku tanpa menatap ke arah Changmin. “Aku rasa semuanya menjadi semakin rumit sekarang jika aku tak melakukan apa-apa” Aku menambahkan.

Changmin belum sempat menjawab perkataanku karena pelayan yang tadi datang lagi membawakan pesanan kami. Setelah itu, kami langsung menyantap ramen kami sebelum dingin jadi untuk beberapa saat tak ada percakapan lagi diantara kami. Karena aku sedang tak terlalu ingin makan, akupun tak menghabiskan ramenku dan menunggu Changmin menyelesaikan makannya sambil melihat-lihat ke sekeliling kedai ini.

“Changmin-ah, maukah kau membantuku?” tanyaku setelah melihat Changmin selesai dengan mangkuk ramennya.

“Kau tahu, aku akan selalu membantumu jadi kau tak perlu bertanya padaku”

Eo, arra” kataku singkat.

Changmin meneguk minumannya sebelum kembali bicara. “Geuraesso, mwoga?”

Aku tak langsung menjawab. Menunggu beberapa saat sambil menatap Changmin lekat-lekat. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sekali, lalu berkata “Bantu aku mencarikan sebuah apartemen”

Mwo? Apartemen?” Changmin mengulang perkataanku. “Apa kau ingin pergi dari rumah Appa-mu?”

Aku menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

Ya! Wae?” tanya Changmin ingin tahu. “Jangan katakan karena kau berdebat dengan Sooyoung kali ini jadi kau-“

“Bukan karena itu,” sahutku dengan cepat. “Memang benar hubunganku dengan Sooyoung sedang tidak terlalu baik beberapa hari ini tapi ada alasan lain kenapa aku ingin pergi dari rumah appa untuk sekarang ini”

Changmin menghela napas, “Alasan lain apa itu?”

“Changmin-ah, kau tak akan berpikir sesuatu yang buruk tentangku jika aku membicarakannya denganmu ‘kan?” tanyaku memastikan karena aku tak mau hubunganku dengan Changmin kembali retak.

Ah, jadi apa ini ada hubungannya dengan Appa-ku?”

Eo,”

“Kau dan Sooyoung berdebat juga karena ada hubungannya dengan Appa-ku?”

Aku mengangguk.

Geuraesso?”

“Aku sudah memberitahumu apa yang aku curigai selama ini, dan itulah yang aku dan Sooyoung permasalahkan beberapa hari ini. Aku tak akan bisa membuat Sooyoung mempercayaiku jika aku tak menemukan bukti bahwa eomma-nya terlibat dalam rencana Shim Busangjangnim kali ini” kataku berbicara apa adanya dengan Changmin yang ekspresinya langsung berubah menjadi sangat serius. “Aku tak bisa menahan lebih lama jika harus berpura-pura tak terjadi apa-apa di rumah, jadi lebih baik aku pergi dari sana. Dengan begitu aku juga akan lebih nyaman menemukan bukti-buktinya”

Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya dia mengerti bagaimana masalahku sekarang tanpa aku menjelaskannya lebih jauh lagi. Dia bahkan hanya memandangiku untuk beberapa saat, dan kemudian aku melihatnya menarik napas singkat. Aku tahu bahwa itu tidak mudah bagi Changmin jika harus membicarakan Appa-nya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi jika memang itu yang terjadi. Karena itulah aku selalu ragu jika harus membicarakan mengenai Shim Busangjangnim di depan Changmin pada awalnya.

¯¯

Sooyoung POV

Mwo? Kau mau pergi dari rumah ini?” kata Appa dengan nada tidak percaya saat kami berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam karena Kyuhyun ingin membicarakan sesuatu. “Kyuhyun-ah, kenapa kau tiba-tiba ingin pergi dari rumah ini?” tanya Appa lagi.

Aku diam saja, dan memilih untuk tidak menatap ke arah Kyuhyun. Meskipun aku juga terkejut karena keinginan Kyuhyun itu, tapi aku rasa lebih baik aku diam saja untuk kali ini. Lagipula sudah beberapa hari ini aku dan Kyuhyun tidak berbicara lama, jadi jika tiba-tiba aku mengatakan sesuatu itu pasti akan terasa canggung. Mungkin tidak hanya diantara aku dan Kyuhyun, tapi Appa dan Eomma pasti juga akan merasakan kecanggungan itu.

“Kyuhyun-ah,” Suara Appa kembali terdengar dengan keras dan membuatku mengangkat kepala pada akhirnya karena ingin tahu apa yang sedang terjadi. Aku menatap Kyuhyun sesaat yang sedang menundukkan kepalanya, lalu pandanganku beralih pada eomma yang terus mengawasi keadaan. “Katakan pada appa, kenapa kau tiba-tiba ingin pergi dari rumah ini? Apa yang membuatmu bahkan berpikir untuk meninggalkan rumah ini?”

Josanghaeyo, appa. Aku… aku hanya-“ Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya menatapku. Lalu aku melihatnya menarik napas singkat sebelum kembali berbicara. “Aku hanya ingin hidup sendiri, appa

“Hidup sendiri? Apa maksudnya dengan itu?” Appa sepertinya tak mau menyerah begitu saja. “Bukankah kau selama ini sudah tinggal bersama appa, lalu kenapa dengan hidup sendiri?”

Appa, aku tahu selama ini bagaimana orang-orang di lingkungan membicarakan appa sejak mereka tahu bahwa aku bukanlah anak kandung appa. Aku hanya tak mau mendengar itu lagi, dan-“

“Kau memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan hidup sendiri, begitu?” sela appa tegas. “Apa kau pernah melihatku peduli dengan hal-hal seperti itu?”

“Tidak,”

Appa diam saja kali ini dan hanya memandangi Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. Aku tahu appa pasti tak akan setuju jika Kyuhyun pergi dari rumah ini karena biar bagaimanapun dia tinggal bersama Kyuhyun sejak lama dan rasanya pasti aneh jika dia tak melihat Kyuhyun berkeliaran di rumah ini lagi.

“Apa kau benar-benar ingin pergi dari rumah ini, Kyuhyun-ah?” tanya appa setelah dia diam cukup lama. “Kau tak mau lagi tinggal disini bersama appa dan Sooyoung?”

Aniyo, bukan berarti aku tak mau tinggal disini lagi appa. Aku hanya tak mau orang-orang semakin membicarakan hal-hal buruk tentang appa, Sooyoung juga keluarga ini jika aku terus tinggal disini” jawab Kyuhyun kembali melirik ke arahku sesaat. “Aku akan sering datang kesini meskipun aku sudah tak tinggal disini, dan sampai kapanpun appa adalah appa-ku. Meksipun aku tidak tinggal bersama appa lagi, bukan berarti aku tak menganggap appa sebagai appa-ku”

“Jika kau tidak tinggal disini lagi, lalu kau akan tinggal dimana, Kyuhyun-ah?” Kali ini eomma-lah yang bertanya.

Kyuhyun menoleh pada eomma-ku, “Aku akan tinggal di apartemen di Samsung-dong. Changmin yang membantuku mencarikan sebuah apartemen,”

Ah, geurae. Apa kau tidak apa-apa, Sooyoung-ah? Kau dan Kyuhyun tidak akan sering bertemu lagi jika dia pindah ke apartemennya sendiri”

Gwenchanayo, eomma” jawabku sedikit terkejut karena eomma tiba-tiba bertanya padaku. “Aku dan Kyuhyun oppa masih bisa bertemu di kantor. Benar, ‘kan, oppa?”

Eo, majayo” sahut Kyuhyun sambil tersenyum tipis ke arahku. “Lagipula aku akan sering datang kesini, ahj—eommonim. Katakan saja aku hanya tidak tidur disini lagi,”

Appa langsung berdiri dari duduknya. “Kyuhyun-ah, bicara pada appa terlebih dahulu” katanya sebelum beranjak meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke ruang kerjanya.

Aku dan Kyuhyun saling menatap untuk beberapa saat, lalu Kyuhyun pun mengikuti appa. Meskipun aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku mungkin menguping pembicaraan mereka disaat ada eomma disebelahku. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sambil terus memandangi ruang kerja appa yang pintunya baru saja ditutup oleh Kyuhyun.

“Apa kau yakin tidak apa-apa jika Kyuhyun tidak tinggal disini lagi?” tanya eomma lagi memecah keheningan. “Kau sudah terbiasa dengan kehadirannya di rumah ini, ‘kan?”

Aku menoleh pada eomma, lalu menyunggingkan segaris senyum tipis ke arahnya. “Gwenchanayo, eomma. Meskipun aku mungkin akan sedikit kehilangannya di rumah ini, tapi Kyuhyun oppa berkata dia akan sering datang ke sini”

Eomma menganggukkan kepalanya berkali-kali, lalu memegang bahuku dengan lembut seperti sedang menenangkanku. Aku kembali menghela napas panjang sambil terus mengamati ruang kerja appa. Semakin aku diam disini, aku semakin merasa ingin tahu apa yang sedang appa dan Kyuhyun bicarakan. Mungkin sebaiknya aku pergi ke kamar saja daripada harus penasaran seperti ini karena aku tak bisa melakukan apapun sekarang.

Eomma, aku akan ke kamar” kataku sambil beranjak dari tempatku.

Eo,”

Aku memberikan pelukan singkat pada eomma sebelum melangkah ke kamarku. Aku sempat berhenti sesaat di depan ruang kerja appa dan mendengar suara keras appa saat melewati ruang kerjanya. Aku menarik napas untuk sekian kalinya, lalu mulai menaiki tangga menuju kamarku.

Aku langsung merebahkan badanku ke tempat tidurku dan memikirkan semua hal yang terjadi beberapa saat yang lalu, juga apa yang terjadi diantara aku dan Kyuhyun selama ini. Aku tak mengerti kenapa aku dan Kyuhyun sangat sulit berdamai untuk kali ini. Tapi apa jika aku dan Kyuhyun tidak bertengkar seperti ini, dia akan tetap pindah dari rumah ini? Entah kenapa aku yakin salah satu alasannya pindah dari rumah ini adalah karena pertengkaranku dengannya.

“Sooyoung-ah,” suara Kyuhyun terdengar di kamarku. Aku bangun dan menoleh ke arah pintu dan melihat Kyuhyun sedang berdiri disana. “Bisa kita bicara sebentar?” katanya lagi.

Aku mengangguk singkat.

Kyuhyun melangkah masuk ke kamarku, dan dia langsung duduk di sebelahku. “Alamat apartemenku di 631 Samsung-dong, lantai 4. Kau bisa datang kapanpun kau mau kesana,” katanya memulai pembicaraan.

Aku tak langsung menanggapi dan memilih diam untuk beberapa saat. Tapi kemudian akupun berkata, “Apa kau benar-benar akan pindah, Oppa?”

Eo,”

Waeyo?”

Kyuhyun tersenyum kecil, “Aku sudah memberikan alasannya tadi,”

“Hanya itu?”

Eo. Memangnya ada alasan lain apa?”

Aku diam.

“Apa yang kau bicarakan dengan appa? Apa dia mengijinkanmu pindah dari rumah ini?” tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku sendiri.

Appa hanya ingin tahu kenapa aku ingin pindah. Yah meskipun sedikit sulit membujuknya, tapi appa mengijinkanku”

“Kapan kau akan mulai pindah?”

“Secepatnya”

Ah, geurae

Kyuhyun diam. Membuatku menolehkan kepala ke arahnya karena ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Awalnya dia hanya menatap lurus ke depan, tapi kemudian dia juga menoleh ke arahku. Meskipun aku sudah sering melihat wajahnya sedekat ini, tapi untuk sekarang rasanya benar-benar berbeda.

“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” tanya Kyuhyun sambil terus memandangiku lekat-lekat.

“Tidak ada,”

Kyuhyun kembali tersenyum, lalu dia bangkit dari duduknya. “Kalau begitu aku akan ke kamar dulu. Kau sebaiknya istirahat sekarang,” katanya.

Eo,”

Kyuhyun melangkah ke arah pintu, dan mataku tak pernah terlepas darinya sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Aku tahu bahwa seharusnya aku mengatakan banyak hal padanya, tapi entah kenapa aku tak bisa mengatakan lebh banyak hal lagi selain itu. Ada sedikit keinginan untuk melarangnya pindah dari rumah ini, tapi pada akhirnya akupun tak bisa mengatakannya. Aku kembali merebahkan badanku sampai akhirnya aku tertidur.

**

Hari ini rumah benar-benar terasa sangat sepi. Yah, memang sejak Kyuhyun tidak tinggal lagi disini rumah ini sudah sepi, tapi entah kenapa kali ini aku merasa lebih sepi dari biasanya. Mungkin juga karena ini weekend, dan biasanya aku menghabiskannya bersama Kyuhyun meskipun tak ada yang kami lakukan bersama tapi kali ini aku tak melakukan apa-apa. Selain itu juga sudah tiga hari ini appa pergi ke Cina bersama Pengacara Han, jadi hanya aku dan eomma di rumah. Itulah juga yang membuat suasana rumah ini semakin terasa sepi.

Aku mendesah pelan. Lalu akupun melangkah keluar dari kamarku dan pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Saat melewati ruang kerja appa, aku sempat melihat pintunya yang baru saja menutup. Aku mengangkat kedua bahuku dan kembali melanjutkan berjalan ke dapur. Aku mengambil segelas minuman, dan memikirkan Kyuhyun. Aku ingin tahu apa yang sedang dia lakukan di apartemennya karena sejak dia pindah, aku sama sekali belum pernah berkunjung ke apartemennya itu.

“Oh, aghassi. Kamjjakiya” seru ahjumma di rumah appa. Dia memegangi dadanya, lalu meletakkan kain di tangannya ke atas meja dapur. “Apa aghassi ingin makan sesuatu?”

Aniyo, ahjumma” sahutku dengan cepat.

“Jika aghassi ingin makan sesuatu, katakan saja padaku. Ahjumma akan membuatkan sesuatu dengan cepat”

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Ne, ahjumma. Kamsahaeyo

Ahjumma pergi meninggalkan dapur lagi dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara aku memilih pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi atau kegiatan apapun yang bisa aku lakukan hari ini. Tapi baru saja aku duduk di salah satu sofanya, eomma memanggilku dan mau tak mau aku menghampiri eomma yang ternyata sudah berpakaian mau berpergian.

Eomma mau kemana?” tanyaku ingin tahu.

Eomma ingin mengajakmu pergi berbelanja. Apa kau mau?”

“Berbelanja?”

Eomma mengangguk. “Kau terlihat kesepian di rumah, jadi eomma ingin mengajakmu pergi bersama eomma. Lagipula appa-mu juga sedang tak ada, dan eomma pun tak tahu harus melakukan apa di rumah ini sendirian” katanya. “Lebih baik sekarang kau bersiap-siap. Eomma akan menunggumu di luar, eo?”

Meskipun aku masih sedikit tidak percaya eomma mengajakku pergi bersamanya, tapi mau tak mau aku menganggukkan kepala. Begitu eomma pergi dari hadapanku, aku bergegas kembali ke kamar dan berganti pakaian. Tak lama, akupun menyusul eomma yang sudah menungguku di dalam mobil yang biasanya aku pakai untuk pergi ke kantor. Hanya saja, kali ini eomma-lah yang menyetir bukan orang yang selalu mengantarku selama ini.

“Lama sekali bukan kita tidak pergi berbelanja bersama lagi seperti ini?” kata eomma saat mobil sudah melaju di jalanan Seoul dan bergabung dengan kendaraan lainnya. “Apa ada sesuatu yang ingin kau beli, Sooyoung-ah?”

“Tak ada. Apa ada sesuatu yang ingin eomma beli jadi eomma pergi berbelanja?” Aku balik bertanya.

“Sebenarnya eomma ingin membelikanmu sesuatu. Tapi karena eomma tak yakin apa itu akan cocok denganmu, jadi eomma berpikir untuk mengajakmu sekalian”

“Membelikanku sesuatu?”

Eo. Jadi, apa ada sesuatu yang kau beli? Biar eomma yang membelikannya untukmu, Sooyoung-ah

Aku diam saja karena memang tak ada sesuatu yang aku inginkan untuk sekarang kecuali bertemu dengan Kyuhyun. Tapi aku tak mungkin mengatakannya pada eomma jika aku lebih memilih bertemu dengan Kyuhyun daripada harus berbelanja. Aku terus diam sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah toko di kawasan Myeong-dong. Tanpa menunggu lama, eomma langsung mengajakku keluar dari mobil dan berjalan bersamanya menyusuri toko-toko yang ada disekitar kawasan ini.

Eomma mengajakku masuk ke sebuah toko pakaian dan mulai sibuk melihat-lihat beberapa pakaian yang ada disana. Sesekali eomma mendatangiku, seakan-akan sedang mengira-ngira apa pakaian yang dia pilih cocok untukku atau tidak. Meskipun aku ingin menolaknya pada awalnya, tapi aku rasa hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk sekarang ini adalah diam. Aku tak mungkin menghancurkan keinginan eomma untuk membelikanku sesuatu begitu saja karena memang eomma sangat jarang melakukan hal seperti ini untukku.

“Sooyoung-ah,” panggil eomma setelah kami berpisah di salah satu area pakaian di toko yang berbeda dari pertama kami masuk. “Cobalah pakai ini,” katanya sambil memberikan sebuah gaun panjang berwarna putih padaku.

Eomma, gaun ini seperti gaun pernika-“

Eomma tahu. Karena itulah kau coba pakai ini,” sahut eomma dengan cepat. “Lagipula kau tak akan lama lagi menikah dengan Kyuhyun, jadi apa salahnya mencoba beberapa pakaian seperti ini?”

Aku hanya menatap eomma lekat-lekat.

Palli. Cobalah,”

Aku menghela napas singkat, lalu berjalan ke sebuah kamar ganti sambil membawa gaun yang diberikan eomma. Aku melepas pakaianku dan menggantinya dengan gaun putih ini. Gaunnya sangat pas di tubuhku saat aku melihat diriku sendiri di depan sebuah cermin besar. Membuatku membayangkan saat aku memakai gaun seperti ini saat pernikahanku nanti. Ah, pasti sangat bagus jika aku mencoba beberapa pakaian pengantin bersama Kyuhyun.

Eomma, eotteyo?” tanyaku setelah keluar dari kamar ganti. Aku berputar tiga kali, membuat gaun itu sedikit berkibar karenanya. “Terlihat bagus olehku?”

Eomma tersenyum lebar, “Eo. Kau sangat cantik, Sooyoung-ah

“Aku tahu,”

“Cobalah gaun yang lainnya,”

Ne?”

Eomma memberikan gaun lain padaku, dan memintaku untuk menggantinya dengan gaun yang baru dia berikan itu. Aku tersenyum kecil melihat bagaimana eomma terlihat begitu semangat hari ini. Aku kembali ke ruang ganti, dan keluar dari sana memakai gaun baru berwarna biru. Aku melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dan eomma memujiku kembali. Untuk pertama kalinya aku melihat eomma memujiku seperti ini dan aku benar-benar senang karenanya.

“Kau memang terlihat cantik memakai pakaian apapun, Sooyoung-ah” kata eomma saat aku mencoba gaun lain berwarna soft-pink. “Pantas saja Kyuhyun jatuh cinta padamu, dan eomma rasa semua namja juga akan jatuh padamu”

Eomma, jangan memujiku terus. Aku cantik karena eomma juga cantik, dan juga karena appa yang tampan”

Mwoya? Eomma cantik?”

Kepalaku mengangguk. “Banyak orang yang mengatakan aku mirip dengan eomma. Jadi, kalau aku cantik, itu berarti eomma juga cantik bukan?”

“Kau ben-“ Kata-kata eomma selanjutnya terbenam karena suara dering ponselnya. Eomma langsung mengambil ponsel itu dan menatapku untuk sesaat. “Eomma mengangkat teleponnya dulu, Sooyoung-ah

Eo. Aku akan berganti pakaian kalau begitu”

Eomma mengangguk sambil tersenyum tipis ke arahku.

Akupun kembali masuk ke kamar ganti dan melepas gaun terakhir yang aku coba lalu menggantinya dengan pakaianku sebelumnya. Setelah merapikan diri sedikit, aku bergegas kembali menemui eomma. Tapi eomma tak ada di tempatnya semula, jadi aku mencarinya di seluruh toko ini karena mungkin saja dia sedang melihat-lihat pakaian lagi. Saat aku melewati salah satu area gaun malam, langkahku tiba-tiba berhenti. Dari luar jendela, aku melihat eomma sedang berbicara dengan seorang namja. Dengan gerakan cepat, akupun bersembunyi diantara rak-rak gaun sambil mengintip ke arah luar.

“Siapa yang sedang berbi— Shim Samchon?” seruku terkejut saat melihat wajah namja yang sedang berbicara dengan eomma. “Apa yang sedang dia lakukan disini?”

Aku terus memperhatikan eomma dan Shim Samchon yang masih berbicara berdua. Aku melihat eomma memberikan sesuatu pada Shim Samchon. Tingkah laku mereka dari kejauhan seperti ini benar-benar terlihat aneh dimataku, tapi sayangnya aku tak bisa melihatnya lebih dekat lagi karena aku takut salah satu dari mereka akan melihatku. Apa mereka sedang merencanakan sesuatu? Tapi mungkinkah itu? Jika memang benar, itu berarti semua yang dikatakan Kyuhyun itu juga benar. Ah, jinjja eotteoke?!

-TBC-

Eotte?

Part ini memang sengaja aku buat lebih pendek dari biasanya karena kalo aku panjangin, nanti ending-nya yang kurang banyak. Ah, rencanaku part berikutnya adalah part terakhir, dan semoga dua part terakhir ini gg ngecewain kalian yah…

Mian, kalo aku updatenya lama karena ada masalah teknis sama laptop-ku T.T

 

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

36 thoughts on “[Series] Stuck In Love -25-

  1. Sistasookyu says:

    Kayaknya emang lebih bagus kyu beli apartement kayak gitu
    daripada dia ribut mulu sama syo yg ga kunjung percaya2 sama dia
    kyu luar biasa sabar bgt disini..
    Dan tuh akhirnya syo mergokin eommanya juga kan..

  2. kyunie says:

    keren. dan gak kerasa yahh ternyata ini udh 2 part sblm end
    di tunggu endingnya thor. semoga seru dan memuaskan

  3. farida_salma says:

    jangan” yang masuk ruang kerja ayahnya soo itu ibunya soo terus ngambil surat yg dikasih shim samchon itu
    kyu kasihan bgt sih, mau membenarkan tp soo nya nggak percaya

    next part ditunggu🙂

  4. Rosse says:

    it’s been a long time KSI. Salah satu ff favorit sya udh serie 25 aja, untung msh inget crtanya. author soocyoung slalu hdir dg crta2 mnarik, I like all of ur work here. good luck terus

  5. Akhirnya soo liat sendiri eomma dan samchonnya berbicara .. Yaaa walaupun soo liat dalam jrak jauh dan tk menimbulkan kecurigaan ..

    Part ini agak nyesek , krna kyuyoung bertengkar .. Kapan baikannya …
    Ditunggu next part ,,
    Semangat …

  6. met says:

    Daebak
    Aaa akhirnya post jg ff ini
    Jd soo udh liat lgsg kan interaksi antara eomma sma samchonnya meski g terlalu dicurigain
    Nextnya end y
    Cpt ne postnya udh g sabar😀

  7. Mereka belum pernahkan bertengkar sehebat ini, bener bener bikin aky nyesek… T_T

    Akhirnya Soo liat sendiri eommanya bertemu dengan siapa dan terlihat mencurigakan…

  8. 이태라 says:

    kesel bgt sm shim samchon, eomma nya soo juga -_-
    tp akhirnya sooyoung yg liat sendiri klo eommanya masih ketemu sm shim samchon
    happy end dong kyu-young nya hehe

  9. ike primalia says:

    Hah tinggal dua part lgi,b’hrap msih pnjg crta’n
    Tp gpp deh
    Akn sllu q tgu ff mu thor
    Next part y
    Jgn lma2 hehehe……

  10. tuh kan seharus nya soo eonni percaya sama kyuhyun oppa, jadi kasian sama kyuhyun uang berada diposisi serba salah, kyuhyun oppa semangat. ditunggu next partnya thor🙂

  11. pertengkaran kyuyoung bikin shock -__-” soo sampe nampar kyu. dgn pindahnya kyu mgkn emg bisa bikin mengungkap semuanya & semakin mempererat cinta mereka ToT

  12. Youngra park says:

    Aaaaa/teriak/ sumpah sooeoni pabo betul aku kasian sma kyuppa kalau kaya gini sdh di tampar keluar dri rumah lagi dia kepok sooeoni nyesal2 tuh dia aaa next part di tnggu eoni

  13. Kapan yaaa.. penderitaan Kyu brakhir(?)
    Aq pen next capt Syoo mngetahui bhwa eomma.A pura” berubah tpii Kyu.A mmberi pljaran ke Syoo kek pura” mrah & tk pduli sma Syoo… #Smirk

  14. jeniver_kyuyoung says:

    ternyata benerkan kalau eomma soo hanya pura2 berubah,,,, yah so eon tega banget nampar kyu oppa,,, nexnya di tunggu…

  15. dina says:

    Kyu berada diposisi serba salah. Apalagi tdk dipercayai Soo. Keputusan utk keluar dari rumah kayaknya memang tepat utk smentara ini.
    Semoga hubungan Kyuyoung semakin baik dan siapa yg jadi pnjahat akan terungkap.
    semangat!

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s