[Series] Have You Seen -Part 2-

Have You Seen

Title                   : Have You Seen?

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : on writing

Genre                : Romance, Fantasy, Horror

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^

Aku bawa cerita baruuuu….

Ah, sebelumnya aku mau kasih tahu buat knightdeul sekalian kalo sebenarnya aku mau post ff ini setelah ff ku yang Stuck In Love selesai. Tapi berhubung kemungkinan besar aku bakal mengurangi buat bikin ff karena kesibukanku di real-life (maklum bukan usia sekolah lagi T.T) jadi mau gg mau aku post ini lebih cepet.

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. FF ini emang ff series tapi aku gg bakal bikin ff ini sepanjang Stuck In Love, dan tentunya akan lebih cepet di post karena 50%-nya udah selesai aku ketik😀

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Aku duduk di kafe yang sama saat pertama kali aku memberitahu Yuri tentang kemampuanku melihat gwishin. Setelah selesai bekerja di toko bunga, aku memutuskan sebaiknya aku ke sini sebelum pulang ke rumah. Tanganku terus mengaduk-aduk orange juice yang sedari tadi belum aku minum. Sementara mataku terus menatap ke arah gwishin pelayan yang sebelum aku lihat di tempat ini. Meskipun gwishin pelayan itu balik menatap ke arahku dan bahkan tersenyum dengan mengerikan, tapi aku mengabaikannya. Aku hanya terus memandangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dia terjatuh di tangga di kafe ini,” desis sebuah suara disampingku.

Aku langsung menolehkan kepala dan tersentak kaget, “Ah, kamjjakiya!” kataku gusar begitu melihat Kang Hye Gyul yang sudah berada persis di sebelahku. “Apa kau harus selalu mengejutkanku setiap kali kau muncul?” Aku berkata dengan sangat pelan karena tak mau orang lain melihatku sedang berbicara sendiri.

“Ah, mianhaeyo eonni. Aku tak tahu kau akan terkejut seperti itu,” katanya sambil menggaruk tengkuknya. “Aku pikir karena kau sudah pernah melihatku dan orang-orang sepertiku, kau sudah terbiasa dengan kemunculan yang tiba-tiba”

“Kau bahkan bukan orang. Aigoo…” sahutku sambil meminum orange juice ku pada akhirnya. “Kenapa kau masih mengikutiku? Bukankah kau hanya ingin aku mendengar ceritamu?”

Kang Hye Gyul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku melihatmu disini dan karena gwishin pelayan itu akan mendatangimu, makanya aku mendekat ke arahmu eonni”

Aigoo… jangan memanggilku eonni

“Waeyo? Kau kan memang eonni bagiku karena aku masih di tahun ketiga sekolah menengah” sahut Hye Gyul. “Apa salahnya jika aku memanggilmu seperti itu?” katanya lagi.

Aku diam tak menjawab karena perhatianku teralihkan oleh namja yang aku tak tahu sejak kapan dia ada disana. Mataku mengerjap beberapa kali saat Cho Kyuhyun juga melihatku. Dia tersenyum tipis seraya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku. Dari sudut mataku aku melihat Kang Hye Gyul tertawa sebelum dia menghilang entah kemana.

“Kita bertemu lagi, Choi Sooyoung-ssi” kata Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya.

Eo. Rasanya seperti dunia begitu sempit karena dimana-mana aku bertemu denganmu,” sahutku mau tak mau meraih tangan Kyuhyun dan menjabatnya. “Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Jika kau melakukan sebuah kejahatan, mungkin aku akan mengikutimu”

Mwoya?”

“Aku mengikuti Kang Han Gyul-ssi disana… Ah, kemana dia pergi?” Kyuhyun menunjuk ke arah kursi yang sama sekali kosong. “Aish, jinjja! Aku tak boleh kehilangannya. Choi Sooyoung-ssi, geureom-“ katanya lagi. Dia mengangguk ke arahku lalu keluar dari kafa dengan tergesa-gesa.

Aku menghembuskan napas lega karena aku tak perlu berlama-lama dengan namja bernama Cho Kyuhyun itu. Entah kenapa namja itu selalu berhasil membuat jantungku berdebar setiap kali aku melihatnya. Aku tidak benar-benar sudah menyukainya bukan? Tidak mungkin rasanya aku menyukainya seorang namja yang baru aku kenal beberapa hari. Aneh sekali jika aku terus seperti ini saat ada namja itu.

Ponselku berbunyi nyaring saat aku sedang berpikir tentang apa yang aku rasakan. Aku langsung mengambil tas ku dan mengaduk-aduk isinya untuk mencari benda yang yang terus berbunyi itu.

Aish jinjja! Dimana ponselku… ah, ini dia” Aku memperhatikan tulisan yang terus berkelip-kelip di layar ponsel sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. “Waeyo, Kwon Yuri?” tanyaku malas.

“Ada apa dengan suaramu itu?”

“Ada apa? Suaraku memang seperti ini dari dulu, kan?” kataku sambil mengalihkan pandanganku ke sekeliling kafe. “Kau saja yang selalu bertanya hal-hal yang seharusnya tidak kau tanyakan”

Jinjja? Aku rasa aku tidak melakukannya” jawab Yuri terdengar santai. “Ah, Sooyoung-ah! Kau harus pergi ke suatu tempat”

Mwo? Naega wae?

Ya! Aku tak bisa pergi karena aku sedang berkencan dengan Minho,” sahutnya dengan nada bicara yang lebih tinggi dari sebelumnya. “Ada seseorang di distrik Gyeyang yang memesan satu buket bunga di toko kita. Aku sudah menyiapkannya, kau hanya perlu mengantarnya ke sana. Arraseo?”

“Yuri-ah, apa kau tahu aku-“

Molla, molla. Sudah dulu ya… Kau harus mengantarnya secepat yang kau bisa,” potong Yuri yang langsung menutup sambungan teleponnya sebelum aku mengatakan apapun.

Aku menghela napas singkat, lalu menurunkan ponselku dan memasukkannya kembali ke dalam tas. “Dasar keterlaluan. Awas saja jika nanti aku punya namjachingu. Aku akan berkencan setiap hari,” gumamku kesal sambil bangkit dari posisiku dan bergegas pergi.

“Jogiyo, Aghassi. Apa aku boleh-“

“Aku sibuk,” sahutku dengan cepat saat gwishin pelayan itu mendekat ke arahku.

Sebelum gwishin pelayan itu mengejarku, aku cepat-cepat melangkah ke halte bus dan menunggu disana. Aku hanya berharap gwishin pelayan itu tidak mengikutiku karena aku benar-benar tak mau berbicara dengan gwishin di tempat umum seperti ini. Sudah cukup aku berusaha keras untuk tidak berbicara pada Kang Hye Gyul dan mengusirnya pergi dariku. Tak lama menunggu, bus yang akan membawaku ke distrik Bupyeong datang. Akupun langsung naik ke sana bersama orang-orang lainnya yang juga sudah menunggu bus yang sama.

“Eonni,”

Aku menoleh dengan cepat, dan menghela napas kesal karena melihat Kang Hye Gyul yang berdiri disampingku. Aku tak mengerti kenapa dia selalu mengikutiku padahal jelas-jelas aku tak mau membantunya. Jujur saja, sebenarnya aku benar-benar tak mau membantu gwishin karena aku pasti akan mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Aku sering mendapatkannya saat dulu banyak membantu gwishin-gwishin seperti Kang Hye Gyul ini.

“Eonni, seharusnya kau berterima kasih padaku karena akulah pelayan itu tak mengikutimu. Aku melarangnya pergi kepadamu dengan berkata bahwa kau sedang membantuku, jadi dia mengurungkan niatnya untuk menghampirimu kesini”

Aku diam saja.

“Ah, aku lupa kau tak akan berbicara padaku di tempat umum seperti ini. Baiklah, aku akan berbicara padamu lagi nanti”

Setelah mengatakan hal itu, Kang Hye Gyul menghilang dari pandanganku. Aku menarik napas lega karena dia benar-benar pergi tanpa aku harus mengusirnya terlebih dahulu. Bus yang aku naiki pun sudah dekat dengan halte yang berada di dekat toko bunga, jadi aku memutuskan untuk berpindah posisi di dekat pintu keluar. Begitu busnya berhenti, aku bergegas turun dan berjalan ke toko bunga. Aku cepat-cepat masuk ke dalam toko lalu mengambil buket bunga pesanan yang disebutkan Yuri. Setelah itu aku kembali ke melangkah ke halte bus dan menunggu bus yang lain yang akan membawaku ke distrik Gyeyang.

“Choi Sooyoung? Senang sekali aku melihatmu setelah sekian lama,” sapa seseorang yang dulu membuka sebuah toko baju disebelah toko bungaku. “Bagaimana kabarmu? Apa kau masih membuka toko di tempat yang sama?”

Eo, ahjumma. Aku baik-baik saja. Kenapa kau tak mampir ke toko bungaku saat kau mengujungi tempat ini?”

“Aku akan mampir lain kali,” katanya. “Aku datang kesini juga karena ada keperluan, dan karena aku melihat tokomu tutup aku pikir kau sudah tidak membuka toko disana”

Aniyo, Yuri sengaja menutupnya lebih awal karena dia ada urusan. Begitupula aku,” kataku. Aku melihat bus yang aku tunggu datang, “Ah, ahjumma. Bus ku datang,”

Eo, geureom

“Senang sekali aku melihatmu lagi, ahjumma” kataku sebelum naik ke dalam bus.

Ahjumma itu menganggukkan kepala dan melambaikan tangannya padaku. Aku masih ingat bagaimana baiknya dia saat masih membuka toko disebelah toko bungaku. Rasa kehilanganku pada eomma sempat tergantikan karena ahjumma itu, tapi kemudian aku tahu bahwa aku tak mungkin menganggapnya sebagai eomma-ku sendiri. Dia bahkan belum menikah, entah sekarang. Memang sudah lama sekali aku tak mendengar kabar darinya setelah dia memutuskan untuk menutup tokonya.

Aku menghela napas panjang. Pikiranku kini teralih pada Cho Kyuhyun saat busku melewati kafe yang sebelumnya aku datangi. Aku mengingat kejadian beberapa saat yang lalu dimana aku bertemu dengan namja itu. Sepertinya dia masih terus mengikuti Kang Han Gyul meskipun aku tak tahu tujuannya mengikuti yeoja itu untuk apa karena seperti yang Kang Hye Gyul sebutkan padaku, mereka berdua adalah korban bukan pelaku.

Ah, kenapa juga aku harus memikirkannya” gumamku karena aku sama sekali tak menemukan jawaban yang aku cari. “Lebih baik aku bersiap-siap karena tujuanku sudah dekat,”

Bus kembali berhenti di sebuah halte di distrik Gyeyang. Halte bus ini adalah tempat terdekat ke alamat yang sedang aku tuju. Aku menyusuri setiap jalan dari halte bus itu sambil terus melihat nama jalan yang tertera di papannya kemudian mencocokkannya dengan alamat yang terdapat di buket bunga yang ada ditanganku. Selama hampir tiga puluh menit mencari, pada akhirnya aku menemukan nama jalan yang sama persis dengan yang ada di buket bunga.

Aku menarik napas lega, tapi kemudian kelegaanku langsung hilang begitu menatap jalanan kecil yang cukup menanjak di depanku. Aku menggaruk pelipisku yang tidak gatal. Benar-benar tidak bisa dipercaya Yuri memintaku pergi ke tempat seperti ini. Apa dia sengaja melakukannya setelah tahu kemana buket bunga ini harus diantarkan?

Aish, yeoja itu benar-benar” kataku kesal.

Aku berjalan di sepanjang jalanan kecil dan menanjak menuju sebuah rumah yang tertulis di buket bunga dengan tidak bersemangat. Sebelah tanganku memegangi tali dari tas selempang yang aku pakai, sementara tangan yang lainnya memegang bunga. Aku tak begitu memedulikan orang-orang yang berpapasan denganku maupun tempat yang aku lewati. Karena aku tak mau melihat gwishin yang ada di tempat ini. Aku tak pernah menyangkal jika di semua tempat ada gwishin, karena itulah aku memilih untuk mengabaikannya.

Kakiku terus saja melangkah sampai akhirnya aku tiba di sebuah Hanok, rumah tradisional Korea. Dengan hati-hati, aku masuk ke halaman rumah sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling. “Aigoo… Kenapa harus ada sesuatu yang lain yang tinggal disini?” gumamku saat melihat salah satu gwishin yang baru saja menembus dinding rumah.

Aku menarik napas panjang dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak mengarahkan mataku ke arah gwishin yang sekarang sedang berdiri memandangi seekor anjing. Tentu saja anjing itu terus menggonggong tanpa ada yang tahu sebabnya. Aku menghela napas untuk sekian kalinya, lalu mengetuk pelan pintu depan Hanok itu.

“Permisi,” kataku lantang.

“Ah, Halmeoni itu pasti tak mendengarnya lagi” Aku mendengar desis suara dari gwishin yeoja yang sepertinya seumuran denganku itu. “Dari dulu seharusnya dia memasang bel pintu,” katanya lagi.

Aku memejamkan mata sesaat, lalu menoleh ke arah gwishin itu. Tatapanku mengarah padanya tanpa ekspresi. Dalam pikiranku, aku sangat ingin mengabaikannya, tapi ini memang sudah menjadi kebiasaanku untuk berbicara pada mereka meskipun aku sendiri tak ingin melakukannya.

Jogiyo, lalu bagaimana caranya agar aku bisa mengantarkan ini?” tanyaku pada gwishin itu sambil menunjukkan buket bunga di tanganku.

Gwishin itu langsung menoleh ke arahku dan terkejut saat aku sedang memandanginya. “Kau bisa melihatku?” tanyanya tidak percaya.

Eo,”

“Aigoo… senang sekali rasanya ada seseorang yang bisa melihatku dan berbicara padaku seperti ini”

Aku berdecak pelan, “Apa semua gwishin selalu bersikap seperti itu setiap kali aku bisa melihat mereka?” kataku sambil kembali mengetuk pintunya.

Aghassi, kau bisa langsung masuk ke dalam” desis gwishin itu lagi. “Pintunya tidak dikunci sejak cucu Halmeoni itu pergi. Setelah itu maukah kau-“

Gomawoyo,” sergapku langsung membuka pintunya mengikuti kata-kata gwishin itu. Memang benar, pintunya sama sekali tidak terkunci. Akupun masuk setelah sebelumnya memberikan senyum semanis mungkin ke arah gwishin itu sebagai ucapan terima kasih. “Permisi… Hal… Halmeoni?” panggilku pelan.

Tak ada jawaban.

Halmeoni~” Aku memanggil lagi.

Selang beberapa saat, suara langkah kaki terdengar di ruangan sebelah. “Han Gyul-ah, apa itu kau?” suara seorang Halmeoni pun terdengar. “Apa kau sudah pulang, Kang Han Gyul?”

“Kang Han Gyul?” gumamku pada diri sendiri sambil memikirkan nama itu. “Kang Han… astaga!” Aku teringat nama itu dan memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari rumah ini.

Oh, nugusijyo?” Pertanyaan itu menahanku yang baru sampai di depan pintu. “Apa kau Kang Han Gyul?”

Aku menarik napas panjang sesaat sebelum membalikkan badan. “Halmeoni, aku datang untuk mengantarkan bunga ini” kataku sambil memberikan sebuket bunga agrimony, bunga bell dan mawar pink yang ada ditanganku.

“Tapi aku tak memesan bunga appaun. Apa kau yakin bunga ini ditujukan untukku?”

Ne. Alamatnya disini dan… ah, ada suratnya di dalam,” kataku memberikan sebuah surat yang aku temukan terselip diantara bunga.

“Kalau begitu, bisakah kau membacakannya untukku? Tulisan sekecil ini tak bisa aku baca lagi,” kata Halmeoni sambil menyerahkan kembali kertas itu padaku.

Tanpa diminta lagi, aku mengambilnya lalu membacakannya dengan keras. “’Halmeoni, aku mengirimkan ini sebagai ungkapan bahwa aku mencintaimu. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku dan juga adikku. Terima kasih untuk selalu baik padaku. Kang Han Gyul’” kataku.

“Kang Han Gyul?” kata Halmeoni itu.

Aku menganggukkan kepala, lalu menunjukkan nama yang tertulis di surat itu pada Halmeoni. Tanpa aku duga, tiba-tiba saja Halmeoni menangis. Membuatku kebingungan karena tak tahu harus berbuat apa. Aku melangkah mendekat ke arahnya untuk menenangkannya.

Uljimaseyo, Halmeoni” kataku dengan lembut.

“Bagaimana aku tidak menangis jika cucuku sendiri pergi dari rumah? Dia seorang anak yang malang. Apa yang harus aku lakukan untuk menemukannya dan membawanya kembali ke rumah ini?” isak Halmeoni. “Aku hanya punya Han Gyul setelah Hye Gyul tiada,” katanya terus terisak.

Aku diam sesaat sambil memikirkan baik Kang Han Gyul maupun Kang Hye Gyul. Entah kenapa aku yakin kedua yeoja itulah yang dimaksud Halmeoni ini. Meskipun aku tahu cerita mengenai kedua yeoja itu, tapi tak mungkin aku mengatakannya begitu saja di depan Halmeoni. Apalagi jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara dua saudara kembar itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

€€–

Kyuhyun POV

Mendung gelap. Angin dingin yang menggeletik, sangat khas musim gugur.

Aku tahu itu.

Aku merapatkan mantel saat baru saja keluar dari mobilku. Udara dingin musim gugur benar-benar membuat tubuhku menggigil. Sepatu bot hitam yang aku pakai bergerak dengan langkah panjang-panjang. Aku mempercepat jalanku agar cepat sampai di kantor polisi Incheon di distrik Namdong dan bisa menghangatkan diri disana. Wajahku sengaja aku benamkan setengah ke dalam leher mantel dengan tujuan untuk melindungi diri dari suhu yang entah berapa belas derajat sekarang. Selain itu juga untuk sedikit mengaburkanku dari membaca emosi orang-orang disekitarku.

Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat tulisan besar Kantor Kepolisian Incheon di atas gedung. Aku semakin mempercepat langkahku dan buru-buru masuk ke dalam gedungnya begitu sampai. Aku menyapa beberapa temanku yang berada di aula depan sebelum akhirnya masuk ke ruangan dimana aku bekerja. Hanya ada sedikit orang yang berada di kantor karena mereka pun harus melakukan patroli dan berbagai tugas yang lain setiap harinya.

Ah, Detektif Cho… Kau sudah kembali,” kata Jung Jung Yong, salah satu sunbae-ku di tempat ini. “Kau tak mengikuti Kang Han Gyul seharian lagi bukan?”

“Aku meminta Dong Soo untuk mengikutinya karena aku harus pergi ke suatu tempat,” kataku sambil meletakkan beberapa kertas yang aku bawa di dalam mantelku.

“Sejauh mana perkembangan dari kasus itu sekarang?”

“Masih belum ada pekembangan yang signifikan, sunbae. Kang Han Gyul masih berkeliaran tanpa tujuan padahal aku berharap dia akan menemui Kang Jun. Dengan begitu aku bisa menangkap namja itu setelah dia berhasil bersembunyi selama ini,”

“Apa kau yakin yeoja itu tak bekerja sama dengan Kang Jun?” tanya Jung Yong dengan eskpresi penasarannya. “Bukankah penyelidikanmu mengarah pada Kang Jun dan Kang Han Gyul yang melakukan kerja sama untuk membunuh yeoja malang itu. Ngomong-ngomong, siapa korbannya?”

“Kang Hye Gyul,” sahutku tanpa menoleh ke arah Jung Jung Yong. “Awalnya aku memang berpikir seperti itu, tapi ada sesuatu yang membuatku harus melakukan penyelidikan ulang”

“Apa itu?”

“Ada seorang yeoja yang mengubah pikiranku tentang kasus ini. Entah bagaimana yeoja itu mengenal kedua saudara kembar ini padahal dalam penyelidikanku sebelumnya, aku tak menemukan nama yeoja itu berhubungan dengan salah satu dari mereka atau keduanya” kataku menjelaskan. “Karena itulah, sekarang aku ingin pergi ke suatu tempat dan menyelidikannya lagi dari awal untuk memastikan data yang telah ada”

Ah, geurae? Kau benar-benar bekerja sangat keras di setiap kasus yang kau selidiki, Kyuhyun-ah” kata Jung Yong sambil bangkit dari tempat duduknya. “Aku tak pernah melihat ada detektif muda yang bekerja sepertimu” tambahnya.

Jinjjayo? Kalau begitu, apa sunbae juga tidak bekerja sepertiku saat kau masih muda?” tanyaku bercanda.

Ya! Tentu saja tidak. Aku bahkan rela tidak tidur berhari-hari agar kasus yang aku tangani cepat selesai dan bisa menyerahkan semuanya pada pengadilan agar mereka memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita ini” sahut Jung Yong dengan sangat tegas.

Aku tertawa kecil mendengar perkataan sunbae-ku yang satu ini. Lalu kembali melangkah menuju pintu, “Aku pergi dulu, sunbaenim” kataku.

Eo. Titip salamku pada Halmeoni itu,”

Arraseoyo

Aku menutup kembali pintunya dengan pelan dan menyapa beberapa temanku sebentar sebelum benar-benar pergi. Meskipun aku belum lama bekerja disini, tapi orang-orang yang bekerja denganku ini sangat baik dan menyenangkan. Mereka tak segan untuk membantu tanpa diminta sekalipun. Karena itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar menikmati pekerjaanku sebagai detektif selama disini.

Jogiyo Ahjussi. Apa kau tahu disinilah aku yang menjadi korbannya?” suara keras di ujung ruangan mengusik telingaku saat aku baru akan keluar dari gedung. Aku menoleh menatap ke arah dua namja yang sedang duduk di depan meja Shim Im Jong, seorang polisi yang masuk di hari yang sama denganku di kantor ini. “Lihat ini, lemari itu bahkan jatuh ke arahku setelah dia mendorongnya”

Ya! Aku tak mendorongnya” sahut seseorang yang duduk di sebelah suara yang pertama terdengar. “Kau sendiri yang membuatnya jatuh, kenapa menyalahkanku?“

“Bagaimana mungkin aku melakukannya?” sahut namja yang pertama. “Kau melakukannya, tapi tak mau mengakuinya. Itu benar-benar kau, Jae Bum-ah

Aku mendesah pelan, lalu melangkah menghampiri meja Shim Im Jong. Tatapanku tak pernah lepas dari kedua namja yang masih berdebat itu. Warna emosi namja yang pertama adalah kuning tua, itu artinya dia sedang berbohong. Sementara namja yang satunya adalah merah muda.

“Apa kau yakin kau tak melakukannya sendiri?” tanyaku ikut menyambung pembicaraan kedua namja itu. Mataku mengarah lurus pada namja dengan warna emosi kuning tua, lalu kembali berbicara. “Biasanya orang yang sebenarnya bersalah justru sangat bersikeras mengatakan bahwa dia tidak bersalah bahkan sampai membawa-bawa nama orang lain. Aku benar bukan?” kataku lagi tak bisa menyembunyikan senyumku melihat perubahan warna emosi namja itu yang sekarang berwarna merah.

“Detektif Cho, apa maksudmu?”

“Petugas Shim, jika kau perhatian dengan baik-baik maka kau akan bisa melihat siapa yang sedang berbohong di depanmu sekarang”

Ne?”

Aku kembali menatap namja itu, lalu menunduk ke arahnya. “Apa kau tahu seberapa berat hukumannya jika kau mencoba lolos dari hukum dengan membohongi petugas polisi?” bisikku. “Kau bahkan akan menyesalinya,” Aku menambahkan.

“Detektif Cho, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Shim Im Jong membuatku langsung kembali berdiri tegak.

Aniya, amugeotdo aniya” sahutku sambil menepuk bahu namja itu sekali. “Silahkan lanjutkan tugasmu, petugas Shim” kataku sebelum meninggalkan mereka.

Aku sempat tersenyum ke arah kedua namja itu, lalu keluar dari gedung kepolisian Incheon. Aku kembali merapatkan mantelku dan pergi ke arah mobilku sendiri karena biasanya aku menggunakan mobil polisi saat bertugas di jalanan. Tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung menginjak gas mobilnya dan meninggalkan distrik Namdong dengan kecepatan sedang.

Mobilku berhenti sebentar saat melewati toko bunga “Secret Garden”. Aku mengarahkan pandangan ke toko bunga itu dan melihat Sooyoung sedang menyapu lantainya. Tanpa aku sadari, aku tersenyum melihatnya. Ada keinginan untuk turun dan menyapanya tapi kemudian aku mengurungkannya. Lebih baik aku tak mendatanginya kali ini karena aku tak mau dia berpikir jika aku sedang mengikutinya seperti saat kami terakhir bertemu di kafe.

**

Halmeoni masih ingat padaku?” tanyaku setelah aku sampai di rumah Jang Halmeoni di distrik Gyeyang. Jang Bo Ram adalah nama Halmeoni itu, dia adalah halmeoni dari dua saudara kembar Kang. “Aku detektif Cho. Bagaimana kabar halmeoni?” tanyaku tanpa menunggu jawaban dari halmeoni.

“Apa kau datang ke sini lagi untuk menyelidiki cucuku Han Gyul?” Halmeoni itu bertanya sambil menatap tajam ke arahku. “Aku tak akan mengijinkannya jika tujuanmu ke sini memang itu,”

Aniyo, halmeoni. Aku tidak datang untuk melakukan penyelidikan. Aku hanya ingin mengunjungi halmeoni karena emm… saat aku sedang memikirkan halmeoni-ku sendiri, tiba-tiba aku teringat halmeoni” kataku terpaksa berbohong. “Ah, ini halmeoni… aku bawakan sup iga sapi”

Aku menunjukkan bungkusan yang aku beli di restoran dalam perjalanan ke sini, lalu membukanya dengan hati-hati sebelum menyerahkannya pada pada halmeoni. Setelah itu, aku mengarahkan pandangan ke sekeliling rumah yang terlihat sangat sepi. Apa Kang Han Gyul masih belum pulang ke rumahnya sejak hari kematian adiknya?

Halmeoni, aku tak melihat Kang Han Gyul-ssi di rumah. Apa dia sedang pergi sekolah?” tanyaku berusaha menebak sendiri. “Dia di tahun terakhir sekolahnya bukan? Yah, dia benar-benar harus belajar dengan giat dan masuk universitas terbaik”

Jang Halmeoni tidak menjawab dan terus menundukkan kepalanya

Halmeoni, gwenchanaseyo?” tanyaku khawatir.

“Detektif, bisakah aku meminta pertolonganmu? Kau seorang detektif, jadi kau pasti bisa membantu seseorang yang sudah tua sepertiku bukan?” pinta halmeoni tiba-tiba. “Detektif, tolong bawa Kang Han Gyul pulang ke rumah. Aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi untuk mencarinya,”

Ne?”

“Kang Han Gyul… aku tak tahu sampai kapan aku akan hidup karena aku sudah tua-“

Halmeoni, jangan berbicara seperti itu” sahutku dengan cepat. “Kang Han Gyul… emm, dia pasti akan pulang nanti. Aku akan memintanya pulang jika bertemu dengannya”

“Benarkah kau mau melakukannya?”

Aku ragu sesaat karena teringat sikap Kang Han Gyul yang selalu melarikan diri setiap kali melihatku. “Ne. Aku akan melakukannya,”

Jang Halmeoni meraih tanganku dan menepuk-nepuknya dengan perlahan. Mau tak mau aku tersenyum ke arahnya untuk meyakinkannya jika aku akan membawa pulang Kang Han Gyul meskipun aku sendiri tak yakin bisa melakukannya. Aku kembali mengarahkan pandangan ke sekeliling rumah dan tepat saat itu mataku menangkap sebuket bunga yang terpajang di atas lemari kecil di dekat sebuah pintu. Mataku seketika menyipit melihat tulisan yang ada di bungkusan buket bunga itu.

Oh? Itu kan…” kataku sambil menunjuk ke arah buket bunga. “Halmeoni, apa seseorang mengirim bunga itu untukmu?”

Eo. Itu dari cucuku, Han Gyul”

“Han Gyul-ssi mengirimnya? Bolehkah aku melihatnya, halmeoni?”

Halmeoni menganggukkan kepala, dan akupun langsung beranjak dari tempatku untuk melihat buket bunga itu lebih dekat. Aku bisa membaca tulisan toko bunga “Secret Garden” di bungkusannya begitu aku mendekat, dan ada sebuah surat yang terselip di antara bunga. Hati-hati aku mengambil surat itu, lalu membacanya dengan cepat. Memang benar dari Kang Han Gyul dan itu adalah surat ucapan terima kasih, tapi hanya itu. Tak ada apapun lagi.

“Apa Kang Han Gyul sendiri yang membawakannya, halmeoni?” tanyaku sambil membalikkan badan menatap halmeoni.

Aniya, seorang yeoja yang sangat ramah juga cantik yang membawakannya” jawab halmeoni itu. “Pagi ini dia datang dan membawakan beberapa makanan untukku dan juga sebuket bunga anyelir,” katanya lagi.

Halmeoni tahu namanya?”

Jang Halmeoni mengerutkan keningnya seperti sedang mengingat sesuatu. “Kalau tidak salah Choi Soo Yeon? Ah, ani… Choi Soo-“

“Choi Sooyoung?” sahutku menyambung.

Maja, maja. Itu namanya,” kata halmeoni membenarkan. “Aku tak tahu kenapa dia begitu baik padaku padahal dia datang ke sini hanya untuk mengantarkan bunga pada awalnya. Mungkinkah dia salah satu teman dari Han Gyul? Atau mungkin juga teman Hye Gyul. Tak banyak teman mereka yang datang ke sini sebelumnya,”

Aku diam tak menanggapi. Choi Sooyoung datang ke sini? Apa ini suatu kebetulan atau memang dia benar-benar mengenal baik kedua saudara kembar itu? Jika tidak kenapa juga Kang Han Gyul mengirim bunga untuk halmeoni dan membelinya dari toko bunga milik yeoja itu? Ah, jinjja! Apa aku juga harus melakukan penyelidikan pada Choi Sooyoung agar aku bisa cepat menyelesaikan kasus ini? Tapi kenapa setengah hatiku sepertinya enggan melakukannya? Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sekarang?

€€–

 Sooyoung POV

Ya! Choi Sooyoung! Kenapa kau mengajakku pergi ke tempat ini? Aku pikir kau akan mengajakku makan ayam, tapi apa ini… Pasar Sinpo?” suara Yuri dengan keras memenuhi telingaku saat aku baru saja turun dari bus dan melangkah menuju Pasar Sinpo yang pintu masuknya dipagari dengan toko-toko Dakgangjeong (potongan ayam goreng dilapisi dengan saus manis-dan-asam) terbaik di negeri ini.

“Apa kau tak tahu, di tempat inilah kita bisa membeli Dakgangjeong dengan rasa yang paling enak sedunia,” sahutku malas. “Lagipula kita harus datang pagi karena pasti akan ada antrian panjang di setiap tokonya”

Aish, jinjja! Kenapa harus Dakgangjeong? Kita bisa membeli ayam yang lain,”

Aku melirik ke sebelahku, dan Kang Hye Gyul sedang tersenyum ke arahku sambil menunjuk ke sebuah toko Dakgangjeong yang berada di deretan nomor 3. “Itu, kita ke sana” kataku pada Yuri yang berjalan mengikuti dengan enggan. “Katanya Dakgangjeong di toko itulah yang paling enak. Kajja,

“Kata siapa?”

“Kang Hye Gyul-ssi,” jawabku langsung bergegas menuju toko yang ditunjuk oleh Kang Hye Gyul. “Kau yakin ini tempatnya?” tanyaku padanya.

Hye Gyul menganggukkan kepala, “Tentu saja. Kau pikir aku akan lupa dimana rumah namjachingu-ku hanya karena aku sudah tidak hidup lagi?”

Ani, bukan begitu. Tapi-“

Ya, gidaryeo! Choi Sooyoung!” Yuri memotong perkataanku yang belum selesai pada Kang Hye Gyul. “Kau mengajakku tapi kau meninggalkanku, benar-benar tidak bertanggung jawab”

Mian, itu karena Kang Hye Gyul-ssi” kataku sambil menatap Yuri lekat-lekat. “Gwenchana?”

An-gwenchana. Wae?!” protes Yuri melototiku. “Aigoo… sudah ada yang mengantri,” serunya setelah melihat antrian kecil di toko yang kami tuju.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau tunggu disini saja bersama Kang Hye Gyul-ssi, biar aku yang-“

Mwo? Kau… tidak… akan meninggalkanku dengan…” Yuri melirik ke kanan-kirinya, lalu menatapku dengan ekspresi aneh yang bisa aku mengerti.

Aku menarik napas panjang dan melangkah menghampiri Yuri. “Baiklah. Bagaimana jika kau yang pergi mengantri dan aku tetap disini?”

“Aku rasa itu lebih baik,” jawab Yuri langsung melangkah pergi menuju antrian.

Aku tertawa kecil melihat sikap Yuri yang terkadang berpura-pura untuk berani tapi sebenarnya dia ketakutan hanya karena gwishin yang bahkan tidak bisa dia lihat. Tapi jujur saja, aku benar-benar iri pada Yuri dan orang-orang yang hidup “normal” lainnya. Terkadang memang aku tak mau melihat salah satu dari mereka, tapi aku tak bisa melakukannya karena mau tak mau aku memang melihat mereka di depan mataku.

“Aku akan pergi melihat-lihat karena siapa tahu Kang Jun ada di dalam dan bersembunyi disana,” desis Hye Gyul di telingaku. “Tapi ngomong-ngomong, eonni. Kenapa eonni tiba-tiba ingin membantuku?”

“49 hari. Kau harus pergi dengan tenang sebelum 49 harimu habis, dengan begitu tak ada lagi yang mengangguku” jawabku menyembunyikan tujuan membantunya karena Halmeoni yang aku temui beberapa hari yang lalu. “Kira-kira kapan itu 49 harimu?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Emm… sekitar seminggu lagi kalau aku tidak salah” kata Hye Gyul sambil menerawang. “Ah, molla molla. Kalau begitu aku akan pergi ke dalam dan mencari Kang Jun”

“Eo,

“Eonni sebaiknya melakukan sesuatu yang lain jika tak ingin dicurigai sedang mengawasi rumah Kang Jun” kata Hye Gyul lagi. “Ah, gomowoyo karena eonni mau membantuku-” tambahnya sebelum pergi.

Aku diam saja dan melihat Kang Hye Gyul melayang menuju toko yang semakin panjang antriannya. Kepalaku menggeleng melihat bagaimana Kang Hye Gyul menembus orang-orang dengan seenakknya dan mengabaikan reaksi mereka atas apa yang dia lakukan, tak terkecuali Yuri. Aku baru akan pergi menyusul Yuri untuk memberitahunya tentang perbuatan Kang Hye Gyul, tapi tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku meremang karena angin dingin yang membelai kulitku.

Mataku langsung melihat sekeliling dengan wajah tegang. Banyak orang yang berjalan melewatiku sambil membicarakan tentang banyak hal. Keningku berkerut saat berusaha mencari diantara wajah-wajah itu, seseorang atau sesuatu yang membuatku merasakan hal seperti ini. Aku sudah sering merasakannya dan aku tahu kenapa, hanya saja aku tak tahu apa dia berada di dekatku atau hanya mengawasiku dari jauh.

Aish, dimana itu,“ gumamku sambil terus mencari sosok apapun yang bisa dilihat mataku. “Apa ini karena Kang Hye Gyul, jadi aku-“

“Apa Anda mencariku?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Suara berat dengan bahasa korea yang bisa dibilang digunakan oleh orang-orang pada jaman dinasti Joseon. “Aghassi, aku disini jika Anda memang sedang mencariku

Aku memejamkan mataku sesaat, berusaha menghilangkan rasa dingin yang terasa sampai menusuk tulangku. Setelah aku bisa meredakannya meskipun sedikit, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Aku tersentak ke belakang saat melihat siapa yang ada dibelakangku. Seorang namja dengan pakaian tradisional Korea lengkap dengan pedang dan topi kebesarannya sedang menatap ke arahku. Wajahnya tampan, tapi sayang sekali ada sayatan panjang di dadanya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku sambil menggertakkan rahang.

“Penampilanku memang menyeramkan, tapi mau bagaimana lagi karena seperti inilah aku mati,” katanya masih dengan bahasa formal yang sama. “Ini adalah tanggung jawabku untuk membela negara dari Jepang

Aku diam saja dan mendengarkan.

Aku benar-benar terkejut karena saat melihat Anda sedang berbicara dengannya-“ namja itu menunjuk ke arah Kang Hye Gyul pergi. “-karena itulah aku langsung datang menemui Anda seperti ini” desisnya melanjutkan.

Aish, kenapa lama sekali” kataku berusaha mengabaikan namja itu. Penampilannya benar-benar menyeramkan karena di tubuhnya pun ada banyak darah dan baunya juga sangat tidak enak. Mungkin darah itulah penyebabnya, tapi aku benar-benar tak mau berada di dekatnya lama. “Haruskah aku menyusul Yuri saja?” tanyaku pada diri sendiri sambil beranjak dari tempatku.

“Tunggu sebentar, Aghassi. Aku benar-benar merasa terhormat karena Anda bisa melihatku. Namaku adalah Lee Hwang Shin, aku adalah salah satu jenderal Raja Seonjo yang ikut dalam Perang Imjin”

“Aigoo… tahun berapa itu,” Aku berbicara sendiri sambil mengeluarkan ponselku dan melihat Yuri yang mulai mendekati toko. “Nilai sejarahku benar-benar buruk, jadi aku cepat sekali melupakannya” kataku mulai memasukkan earphone ke dalam telingaku seperti biasanya.

Namja itu tersenyum, lalu dia mengubah pegangan pedangnya. Menimbulkan suara kecil yang membuatku terlonjak kaget. “Tahun 1592 bulan keempat” katanya memberitahu.

“Apa yang terjadi padamu, Jenderal? Bolehkah aku memanggilmu begitu?” tanyaku pada akhirnya.

“Tentara Jepang membunuhku setelah mereka berhasil merusak Gunung Munhak dan sampai di kota ini saat aku berusaha melawan mereka bersama anak-anak buahku dan Jenderal Kim Simin

Oh, aku tahu nama itu” seruku saat namja yang bernama Lee Hwang Shin itu menyebut sebuah nama. “Jenderal Kim Simin dan Jenderal Lee Sunsin” Aku menambahkan.

Jenderal Lee Hwang Shin tersenyum mendengar aku menyebut nama kedua orang itu, “Mereka berdua jenderal yang hebat. Aku benar-benar menyesal karena tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik. Raja Seonjo telah melakukan segala upaya untuk menahan tentara Jepang, tapi kami kekurangan pasukan” katanya. “Aku harus kembali ke Hanyang dan melaporkan ini pada Yang Mulia Raja, sayangnya aku tak tahu dimana Hanyang itu berada sekarang”

“Aigoo…” gumamku tidak percaya. Gwishin jenderal ini sudah berada disini beratus-ratus tahun lamanya hanya untuk mencari tahu dimana Hanyang berada. Tapi aku mengerti karena tak ada seorangpun yang bisa melihatnya jadi dia tak tahu harus pergi kemana untuk bertanya. “Hanyang… apa maksudmu Seoul? Ibukota?”

“Ne, ibukota. Hanyang”

Sekarang Seoul, bukan Hanyang. Kau bisa pergi ke arah utara, ah… itu akan sulit jika aku menjelaskannya” Aku bingung sendiri harus bagaimana. “Jamkkamanyo,”

Namja itu menganggukkan kepala.

“Park Hae In… Hae In-ah, Park Hae In jika kau mendengarku datanglah sekarang” kataku memanggil sosok yang langsung muncul di depanku. Dia menatapku dengan tidak percaya, lalu pandangannya beralih pada namja yang bernama Jenderal Lee Hwang Shin. “Park Hae In, bantu dia. Eo?”

“Mwoya? Eonni memanggilku hanya untuk membantu gwishin lain? Apa eonni tahu itu bukan menjadi urusanku karena-“

Ya! Bantu aku sekali ini saja. Kau hanya perlu mengantarnya ke Istana Gyeongbokgung. Setelah itu tinggalkan dia disana, dia pasti tahu apa yang akan dia lakukan. Benar jenderal?”

“Jenderal?” desis Hae In.

Aku mengangguk. “Dia perlu kembali ke ibukota, karena sekarang tak ada lagi Hanyang, tapi Seoul dan aku tak mungkin menjelaskan bagaimana pergi ke Seoul padanya karena dia tak akan mengerti. Jadi Park Hae In, aku meminta bantuanmu untuk mengantar jenderal ini kembali ibukota”

“Apa dia tahu dimana ibukota? Kebanyakan tak ada yang tahu setiap kali aku bertanya tentang Hanyang,”

“Itu karena kau salah bertanya, jenderal. Sudah aku katakan, tak ada lagi Hanyang tapi Seoul. Gwishin-gwishin lain mungkin saja tak tahu Hanyang atau mereka sebenarnya tahu tapi berpura-pura tidak tahu karena itu bukan urusan mereka” kataku menjelaskan sambil melirik Park Hae In yang sepertinya masih tidak setuju dengan permintaan tolongku. “Tapi tenang saja, Park Hae In ini akan mengantarmu ke sana. Benar, Park Hae In?”

“Naega wae?”

Aku menatap Park Hae In dengan galak sambil menunjukkan ekspresi agar dia cepat membawa pergi jenderal yang mengeluarkan bau darah ini. Saat aku baru akan berbicara, aku melihat Yuri berjalan ke arahku sambil melambai-lambaikan tangannya agar aku mendekat ke arahnya.

“Park Hae In, kau benar-benar harus membantuku. Aku akan membelikanmu kopi malam nanti, eotte?”

Americano,”

Aku tersenyum senang, “Arraseo, two shoot

Park Hae In mengangguk, lalu dia berbicara pada Jenderal Lee Hwang Shin itu dan akupun meninggalkan mereka. Saat aku menoleh ke arah mereka lagi, jenderal itu sedang menganggukkan kepala ke arahku, lalu dia menghilang bersama Park Hae In. Meskipun itu aneh, tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan gwishin dari jaman dinasti Joseon. Aku sedikit beruntung karena tak ada sesuatu yang lain yang dia minta selain arah menuju Seoul. Awalnya aku pikir dia akan memintaku untuk mengantarnya, tapi untunglah ada Park Hae In.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Yuri setelah aku berhasil sampai di depannya. “Kau terlihat sedang mengobrol dengan seseorang,”

“Ada seorang jenderal menemuiku,”

Mworago? Jenderal?”

Eo, salah satu Jenderal Raja Seonjo saat Perang Imjin”

Yuri membelalakkan matanya, “Kau sedang tidak berbicara tentang… ah, molla, molla. Aku benar-benar bisa gila setiap kali kau membicarakan tentang mereka,”

Wae?” tanyaku. “Kau dulu sangat bersemangat setiap kali membicarakan seseorang yang bisa melihat gwishin, bahkan kau sangat senang menonton film-film horror”

“Itu berbeda, Sooyoung-ah. Semua yang aku tonton itu hanya buatan. Artinya seseorang membuatnya dan tentang seseorang yang bisa melihat gwishin… Aku tak menyangka sahabatku sendiri juga bisa melakukannya”

“Tapi, Yuri­-ah. Kau tahu, aku-“

“Kang Jun tidak ada di rumahnya. Aku sudah memeriksa kamarnya, dia juga tak ada disana” Kang Hye Gyul tiba-tiba saja muncul di sebelah Yuri dan lagi-lagi aku terkejut karena itu. “Aigoo, mian. Aku membuatmu terkejut lagi, eonni”

Aish jinjja! Tak bisakah kau berhenti memanggilku eonni?”

Ne?” sahut Yuri.

Aigoo, Yuri­-ah. Bukan kau, tapi Kang Hye Gyul-ssi yang sekarang berdiri disebelahmu” kataku memberitahu.

Yuri langsung berpindah tempat dan berdiri disebelahku begitu aku memberitahunya. Aku sedikit menahan tawaku, meskipun Kang Hye Gyul tidak sama sekali. Itu membuat luka diwajahnya semakin jelas dan semakin menakutkan. Mau tak mau aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain agar tidak melihat Kang Hye Gyul lagi.

Eonni, haruskah kita pergi ke sekolahku? Mungkin saja dia di sana atau apa kita perlu pergi ke rumah sahabatnya Kang Jun?”

Aniya,” sergahku dengan cepat. “Kita pulang,”

Eo, kajja kajja. Kita pulang saja, Sooyoung-ah” sahut Yuri sambil memegangi lenganku. “Aku sudah membeli banyak Dakgangjeong, dan ini cukup untuk makan kita berdua”

Aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala dan Yuri pun langsung menarik tanganku meninggalkan Pasar Sinpo.

€€–

Kyuhyun POV

Aku menunggu Choi Sooyoung di depan toko bunga “Secret Garden” miliknya. Entah kenapa hari ini aku ingin mengikutinya meskipun aku tahu seharusnya aku tak melakukan ini. Tapi perasaanku berkata lain, karena itulah pagi-pagi sekali aku sudah memarkirkan mobilku tak jauh dari toko bunga itu dan mengawasinya. Sementara Kang Han Gyul, aku tahu dia tak akan pergi kemanapun selain ke kafe yang sama, lalu ke taman dan kemudian ke pantai. Selama berhari-hari mengikutinya, hanya ketiga tempat itulah yang dikunjungi olehnya. Ditambah sebuah sauna di pusat kota, yaitu tempat dimana dia tidur dan tempat dimana dia berada sekarang sampai kira-kira nanti siang.

Aku menajamkan penglihatanku sambil mengabaikan beberapa orang yang lewat di depanku dan tanpa sengaja aku melihat warna emosi mereka. Ada satu hal yang menarik perhatianku setiap kali aku bisa melihat warna-warna emosi itu, yaitu perubahan warna. Terkadang aku sendiri bertanya-tanya kenapa warna–warna itu bisa berubah meskipun tak ada faktor yang memicunya. Karena biasanya perubahan warna emosi seseorang itu berdasarkan atas apa yang terjadi pada dirinya atau memang ada sesuatu yang membuatnya berubah.

Aigoo, di jam seperti ini sudah ada orang yang berwarna abu-abu seperti itu” komentarku pada dua orang yeoja yang sedang berjalan bersama sambil mengobrol. “Jika memang tidak suka dengan ceritanya, kenapa tak langsung berkata saja daripada harus terpaksa mendengarnya”

Aku mengambil ponselku yang bergetar dan memandang nama yang tertera di layarnya lalu mendekatkan ponselku ke telinga setelah menekan tombol jawabnya. “Eo, Dong Soo. Waeirae?” tanyaku.

Sunbaenim, hari ini aku diminta oleh Kepala Polisi untuk kembali ke kantor jadi aku tak bisa menggantikanmu mengawasi Kang Han Gyul-ssi

Oh, geurae? Arraseo, kembalilah ke kantor. Aku akan mengurus Kang Han Gyul” jawabku seraya kembali menatap ke arah toko bunga. Saat itu aku melihat Choi Sooyoung keluar dari sana dengan terburu-buru. “Dong Soo-ya, aku tutup teleponnya sekarang” kataku langsung menutup ponselku dan bergegas keluar dari mobil untuk mengikuti Choi Sooyoung.

Aku berlari menyeberangi jalan agar bisa lebih dekat mengikuti Choi Sooyoung. Lalu aku melihatnya naik ke atas bus dan mau tak mau aku berlari untuk mengejar bus itu supaya bisa masuk ke dalam. Aku mencari-cari dimana yeoja itu, kemudian melihatnya sedang duduk dengan sedikit gelisah. Dengan perasaan ingin tahu, aku mencoba menebak sendiri kemana sebenarnya yeoja itu akan pergi dengan terburu-buru seperti ini.

Bus berhenti di sebuah halte, dan Choi Sooyoung turun. Aku mengikutinya berjalan ke sebuah gedung kosong yang sepertinya lama tidak terpakai. Aku terus mengawasinya dari kejauhan dan mengikutinya sambil menjaga jarak darinya agar dia tak tahu jika sedari tadi aku mengikutinya. Aku melihatnya masuk ke dalam gedung itu setelah sebelumnya dia terlihat sedang berbicara dengan sesuatu. Aku melayangkan pandangan menyeluruh, lalu ikut masuk ke dalam gedung dengan hati-hati. Kakiku melangkah ke arah tangga dimana Sooyoung baru saja pergi, lalu bersembunyi di balik dinding saat aku melihat Sooyoung juga melakukan hal yang sama denganku. Keningku berkerut tajam melihat Sooyoung yang sepertinya sedang melihat ke suatu arah dengan diam-diam.

‘Sebenarnya apa yang sedang yeoja itu lakukan?’ tanyaku dalam hati.

Mwo? Kau pikir aku akan percaya padamu saat kau memberitahuku jika kau sedang hamil?” Tiba-tiba aku mendengar suara keras seorang namja berbicara dari sisi lain ruangan. “Ya, Kang Han Gyul! Kau tahu, aku tidak bodoh” katanya lagi.

“Kang Han Gyul?” gumamku setelah mendengar nama itu disebut. “Apa yang sedang Kang Han Gyul lakukan disini?” tanyaku sambil berpindah posisi sembunyi untuk memastikan apa benar Kang Han Gyul yang aku tahu yang disebutkan oleh namja itu.

Mataku langsung membelalak begitu melihat dengan jelas siapa dua orang yang sedang berdiri di sebuah ruangan yang sangat kotor itu. Mereka adalah Kang Jun dan Kang Han Gyul. Cepat-cepat aku mengambil senjataku dan bersiap akan bergerak tapi sesuatu yang lain mengalihkan perhatianku. Dia adalah Choi Sooyoung yang bergerak semakin dekat ke arah kedua orang itu. Apa yang sebanrya dia lakukan sekarang? Kenapa dia bisa tahu Kang Han Gyul ada di tempat seperti ini? Apa alasannya pergi dengan tergesa-gesa adalah untuk menemui Kang Han Gyul?

“Kang Han Gyul, kau pikir aku akan tak akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada saudara kembarmu itu?” ancam Kang Jun yang mundur beberapa langkah. Aku melihatnya mengeluarkan pistol dari belakang celananya dan mengarahkannya pada Kang Han Gyul. “Kalian berdua benar-benar membuat hidupku berantakan, karena itulah lebih kau-“

Meomchuda!” teriak Sooyoung tiba-tiba, baik Kang Jun maupun Kang Han Gyul langsung menolehkan kepala ke arah Sooyoung. “Ya, Kang Jun-ssi. Apa kau tak merasa menyesal telah membunuh seseorang dan ingin melakukannya lagi?!” kata Sooyoung dengan tegas.

Aku terus mengawasi dengan gelisah karena tindakan Sooyoung yang menurutku benar-benar gegabah. Aku kembali menyiapkan senjataku, lalu bergerak dengan perlahan mendekati ruangan itu sambil terus mendengarkan percakapan mereka bertiga.

“Siapa kau, noona?” suara Kang Jun kembali terdengar yang sepertinya ditujukan untuk Sooyoung. “Apa kau mengenalnya, Han Gyul-ah?”

“Tidak penting kau tahu siapa aku, Kang Jun-ssi. Satu hal yang pasti, aku tahu kau dan semua yang kau lakukan. Termasuk bagaimana kau membunuh Kang Hye Gyul,”

Mworago?”

“Kau membunuh Kang Hye Gyul karena kau marah padanya bukan?” suara Sooyoung terdengar sangat tegas dan tanpa rasa takut di dalamnya. “Kau marah padanya karena dia mengancam akan melaporkanmu setelah dia melihatmu menusuk temanmu di lapangan sekolah hanya karena hal bodoh yang kalian lakukan bersama,”

Mworaguyo?” sahut Kang Han Gyul terdengar tidak percaya. “Hye Gyul melihatnya melakukan apa?”

“Dia melihatku saat aku sedang berkelahi dengan Jungwoon,” jawab Kang Jun dengan cepat. “Benar, aku memang menusuk Jungwoon tapi itu tidak parah”

“Kang Jun, kau benar-benar keterlaluan!” seru Kang Han Gyul. “Aku tak percaya kau melakukan hal-hal yang sangat berbahaya seperti itu,”

Aku terus bergerak, dan aku benar-benar sudah sangat dekat dengan mereka tapi aku masih memilih untuk tetap bersembunyi. Menunggu saat yang tepat untuk menangkap Kang Jun.

“Sekarang kau sudah tahu, Han Gyul-ah. Aku bukan seseorang yang baik, seperti yang adikmu selalu beritahukan padamu” kata Kang Jun lagi disertai tawa kecilnya.

Sooyoung melangkah ke arah Kang Han Gyul, lalu berdiri di sebelahnya. Dia terlihat menggenggam erat tangan Kang Han Gyul, seakan-akan sedang menguatkannya. Lalu dia kembali menatap Kang Jung dengan tajam, “Kang Jun-ssi, aku tahu kau berencana akan membunuh Hye Gyul malam itu setelah menidurinya, tapi kau membuat kesalahan karena kau justru mengajak Han Gyul dan tidur dengannya,”

“Itu satu kesalahan bodoh yang aku lakukan, dan seharusnya dia beruntung karena aku tak membunuhnya malam itu”

“Kau tak hanya melakukan satu kesalahan bodoh, Kang Jun-ssi. Apa kau pikir membunuh seseorang hanya karena kau marah padanya bukan suatu kesalahan?” gertak Sooyoung. “Tak ada orang yang membunuh orang lain hanya karena masalah kecil yang kau hadapi, kecuali jika orang itu adalah seorang psyco

“Kau benar, aku seorang psyco. Karena itulah sekarang-“ Tiba-tiba saja Kang Jun menodongkan pistolnya ke arah Sooyoung dan Kang Han Gyul. “Sebenarnya hari ini aku berniat untuk mengantarkanmu menemui adikmu, Han Gyul-ah. Tapi noona ini melibatkan dirinya sendiri jadi mau tak mau aku akan mengantarkan kalian berdua ke tempat yang lebih baik”

Aku bergegas keluar dari tempat persembunyianku. “Kang Jun! Turunkan senjatamu!” seruku dengan keras sambil mengarahkan pistolku ke arah Kang Jun.

“Detektif Cho?” Aku mendengar gumamam Sooyoung tapi aku mengabaikannya dan terus berkonsentrasi pada Kang Jun yang belum juga menurunkan senjatanya.

Kang Jun menyunggingkan senyum, “Kang Han Gyul, kau benar-benar penuh dengan kejutan” katanya. “Aku tak tahu kau datang ke sini untuk menemuiku dan membawa mereka”

“Kang Jun-ah, turunkan senjatamu” pinta Kang Han Gyul memelas. “Akhiri saja semuanya,”

Geurae, aku akan mengakhirinya-” Kang Jun kembali tersenyum. “-sekarang,” lanjutnya sambil menarik pelatuk pistolnya.

Aku benar-benar tak menyangka dengan apa yang Kang Jun lakukan. Sebelum aku sempat melakukan apa-apa, aku mendengar suara seseorang merintih. Dengan cepat aku menolehkan kepala dan membelalakkan mata melihat darah yang membanjiri Sooyoung. Sementara itu disebelahnya, Kang Han Gyul terlihat panik sambil menahan tubuh Sooyoung.

“Sooyoung-ssi, gwenchanayo?” tanyaku berjongkok di depannya dan ikut panik.

Gwenchana… yo, gokchong… haji… maseyo” rintih Sooyoung. “Detektif… Cho, kau… harus menangkap Kang… Jun. Ppalli

Eonni…” gumam Kang Han Gyul dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Tapi kau-“

Ppali” seru Sooyoung lagi sambil mendorong lututku agar segera pergi.

“Han Gyul-ssi, cepat telepon 119 dan telepon kantor polisi. Aku akan memastikan Kang Jun tertangkap setelah apa yang dia lakukan kali ini,”

Ne,” jawab Kang Han Gyul yang langsung mengambil ponselnya dan melakukan yang aku minta. Aku mendengarnya menyebutkan tempat ini, jadi aku yakin dia telah menghubungi 119.

“Kang… Jun berlari ke arah… belakang gedung ini. Kau akan bisa… bisa menangkapnya jika… kau cepat mengejarnya,” Sooyoung kembali bersuara sambil menahan rasa sakit di perutnya.

Meskipun aku tak tahu darimana Sooyoung tahu itu, tapi mau tak mau aku mendengarkannya. Aku menatap yeoja itu sekali lagi, lalu bergegas mengejar Kang Jun. Aku berlari ke arah yang Sooyoung sebutkan dan benar saja aku melihat bayangan Kang Jun di ujung jalan. Karena tak mungkin lagi aku mengejarnya, aku memutuskan untuk mengarahkan pistolku ke arah kaki Kang Jun. Detik berikutnya, aku mendengar teriakan Kang Jun dan sepertinya aku berhasil mengenai kakinya. Bergegas aku berlari ke arahnya, lalu menangkapnya yang sama sekali tak bisa bangun lagi karena luka tembakan di pahanya yang aku lepaskan.

“Kau pikir kau bisa lari setelah aku melihatmu, Kang Jun-ssi” kataku sambil memborgol kedua tangan Kang Jun. “Aku tak akan membiarkanmu bebas dengan mudah setelah apa yang kau lakukan”

Kang Jun diam saja.

“Ayo ikut aku,” kataku tegas. “Kau ditangkap karena membunuh Kang Hye Gyul, merencanakan pembunuhan terhadap Kang Han Gyul dan kepemilikan senjata secara ilegal”

Kang Jun berdiri dengan kesulitan, lalu dia melangkah terpincang-pincang bersamaku. Meskipun aku sudah menangkapnya, dia sama sekali tak terlihat menyesal telah melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku rasa namja ini benar-benar seorang psyco, seperti yang Sooyoung katakan sebelumnya. Ah, benar! Sooyoung! Bagaimana dia sekarang? Apa petugas 119 sudah datang dan membawanya ke rumah sakit? Aku sempat merasakan ketakutan yang amat sangat saat melihatnya berdarah seperti itu. Apa dia akan baik-baik saja? Semoga saja tak terjadi sesuatu padanya karena aku benar-benar akan menyesal tak bisa melindunginya meskipun dari awal aku tahu ada bahaya besar di depannya.

Sunbae,” panggil Dong Soo saat aku berhasil membawa Kang Jun kembali ke gedung dengan susah payah. “Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kau bisa menemukan Kang Jun?”

“Ceritanya panjang. Apa kau melihat petugas 119 disini?”

Dong Soo menganggukkan kepala, “Eo. Mereka membawa dua orang yeoja dari dalam gedung. Salah satunya terluka cukup parah di sekitar perut. Apa sesuatu terjadi padanya?”

Aku menyerahkan Kang Jun ke polisi yang ikut bersama Dong Soo, lalu mengawasinya masuk ke dalam mobil tahanan sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. “Kang Jun melukainya,” kataku singkat.

Mworaguyo?”

“Aku akan menceritakan detailnya nanti sekalian aku membuat laporan. Sekarang kita harus pergi ke rumah sakit karena aku sangat khawatir pada yeoja itu. Kajja,” kataku sambil berjalan ke arah mobil Dong Soo. “Kau tahu kemana petugas 119 itu membawa mereka kan?”

Eo,”

“Kalau begitu, ayo kita pergi”

Arraseoyo, sunbaenim

€€–

Sooyoung POV

Aku membuka mataku perlahan, lalu mengerjap-ngerjapkan mata yang masih terasa asing dengan sinar lampu. Setelah terbiasa, aku diam sesaat sambil mengingat apa yang terjadi padaku. Aku ingat saat itu aku sedang di toko bunga, lalu tiba-tiba Kang Hye Gyul muncul dan memberitahuku jika kembarannya sedang dalam bahaya karena menemui Kang Jun. Tanpa berpikir panjang, akupun bergegas ke tempat yang ditunjukkan oleh Kang Hye Gyul dan aku benar-benar bertemu dengan mereka disana, Kang Jun dan Kang Han Gyul.

Awalnya aku berniat untuk tetap diam diposisiku sambil berusaha untuk menghubungi polisi. Tapi kemudian aku melihat Kang Jun menodongkan senjatanya ke arah Kang Han Gyul, dan aku tak tahu kenapa pada akhirnya aku keluar dari persembunyianku. Aku memang tahu semua cerita diantara mereka dari Kang Hye Gyul, tapi aku baru tahu jika ternyata Kang Han Gul sedang mengandung anak Kang Jun.

Saat sedang mengulur waktu Kang Jun, aku cukup terkejut saat tiba-tiba Cho Kyuhyun datang dengan ekspresi marahnya. Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku melompat ke arah Kang Han Gyul bersamaan dengan suara tembakan yang dilepaskan oleh Kang Jun. Aku ingat rasa sakit yang aku rasakan saat sebuah peluru mengenai perutku dan bagaimana aku mencoba untuk terus membuka mata meskipun pada akhirnya aku tak sadarkan diri saat seseorang membawaku pergi dari tempat itu.

Oh, Choi Sooyoung! Kau sudah sadar!” seru Yuri yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dirawat dan langsung bergegas menghampiriku. “Neo jinjja! Apa kau tak tahu seberapa khawatirnya aku?”

Aku hanya menyunggingkan segaris senyum tipis ke arahnya.

Jamkkaman. Aku akan memanggilkan dokter” kata Yuri sambil menekan tombol di dekat tempat tidurku.

“Yuri-ah, sudah berapa hari aku disini?”

“Tiga hari. Gwenchana?” tanyanya saat dia melihatku sedang menahan sakit di perutku yang mulai terasa lagi. “Jahitannya mungkin belum kering. Katakan padaku jika kau merasakan sakit. Arraseo?”

Aku mengangguk, dan tepat saat itu pintu menjeblak terbuka. Seorang dokter dan perawat masuk dengan perlengkapan lengkapnya. Aku memilih untuk diam saat dokter itu mulai memeriksa keadaanku, termasuk jahitan di perutku. Tak lama kemudian, dokter dan perawat itu pergi setelah berbicara dengan Yuri. Melihat dari ekspresi Yuri, aku rasa tidak ada yang serius dari lukaku. Akupun menarik napas singkat lalu memejamkan mata sesaat saat udara dingin mulai terasa disekitarku.

“Eonni, gwenchanayo?” desis suara Kang Han Gyul. Aku memilih untuk tetap menutup mata meskipun aku masih bisa mendengarnya. “Eonni, aku sangat khawatir padamu. Mian, aku tak bisa melakukan apapun untukmu padahal akulah yang memintamu untuk membantuku menghalangi Kang Jun”

Aku tetap diam.

“Eonni, Han Gyul sangat terkejut karena kejadian itu tapi janinnya baik-baik saja. Aku tak tahu jika dia-“

“Sooyoung-ah? Appo?” Kali ini suara Yuri-lah yang terdengar dan menenggelamkan suara Kang Hye Gyul. “Ah, eotteoke? Haruskah aku memanggil dokter lagi?” katanya panik.

Aku membuka mataku dengan perlahan, lalu menoleh ke arah Yuri. “Gwenchana, Yuri-ah. Ini memang masih sakit, tapi aku akan terbiasa nanti” kataku sambil menunjuk ke arah jahitan di perutku. Aku melirik ke sisi lain tempat tidur dimana Kang Hye Gyul masih berdiri disana. “Besok adalah hari ke 49 mu kan? Kau bisa pergi dengan tenang sekarang,” kataku padanya.

“Sooyoung-ah, kau sedang tidak berbicara dengan-“

“Kang Hye Gyul,” sahutku pada perkataan Yuri.

Kang Hye Gyul terlihat terkejut karena aku tahu besok adalah hari ke 49-nya di dunia. Itu berarti dia harus pergi ke dunia dimana dia seharusnya berada. “Bagaimana aku bisa pergi setelah melihatmu terluka saat membantuku dan kakakku, eonni?”

“Itu bukan menjadi urusanmu lagi, kan? Lagipula aku sudah tahu aku akan mendapatkannya atau sesuatu seperti ini, jadi aku sudah terbiasa” kataku. “Semuanya sudah selesai, dan Kang Jun sudah ditangkap. Hal yang perlu kau lakukan adalah pergi ke tempat-tempat yang ingin kau datangi dan kunjungi orang-orang yang ingin kau kunjungi sebelum kau benar-benar pergi ke duniamu. Ah, dan temuilah Halmeoni” Aku memberikan saran pada Kang Han Gyul sambil mengingat wajah Jang Halmeoni yang begitu merindukan cucunya.

“Halmeoni?”

Eo. Kau pasti ingin bertemu dengannya sebelum pergi kan? Selain itu, Kang Han Gyul dan Kang Jun. Temuilah mereka dan habiskan waktumu bersama mereka”

“Kenapa aku harus menemui Kang Jun? Dia adalah orang yang membuatku seperti ini. Dia hampir membunuh kakakku dan juga melukai-“

“Meskipun begitu, dia tetaplah namja yang spesial di hatimu kan?” potongku dengan cepat. “Itu kesempatan terakhir kau bisa melihat wajah mereka, jadi pergilah sebelum waktumu habis dan kau menyesalinya”

“Aku…” Kang Hye Gyul tidak melanjutkan kata-katanya, tapi dia menundukkan kepalanya untuk sesaat. “Arraseoyo, eonni” katanya kemudian lalu menghilang dari pandanganku.

Aku menghela napas panjang saat merasakan angin bertiup pelan disekitarku, lalu berpaling pada Yuri yang sedang memandangiku dengan ekspresi heran bercampur khawatir. Aku tersenyum tipis ke arahnya sebelum kembali memejamkan mata dan berpikir. Apapun yang terjadi padaku beberapa hari yang lalu, aku harus melupakannya. Karena dengan begitu aku akan bisa hidup lebih baik dan mungkin aku akan berpikir lebih jauh lagi tentang semua hal sebelum aku bertindak. Ya, lain kali aku harus memikirkannya dulu karena semua tindakan yang kita lakukan selalu memiliki resiko, termasuk apa yang aku alami ini.

**

“Sooyoung-ah, apa kau sudah memakan makanan dan obatmu?” tanya Yuri yang baru saja datang keesokkan harinya setelah aku memintanya untuk pulang semalam.

Eo. Apa kau tak membuka toko bunganya hari ini?”

Yuri mengangguk, “Rasanya benar-benar sepi karena kau tak ada, selain itu MinHo juga harus pergi ke Seoul jadi dia tak bisa menemaniku di toko”

Ya! Bagaimana jika kita kehilangan pelanggan?” protesku.

Gwenchana, aku akan menemukannya lagi”

Aku mendengus kecil, lalu meletakkan majalah yang sebelumnya sedang aku baca ke atas meja di sampingku. “Kau pikir itu mudah?”

“Tentu saja mudah. Aku Yuri, tak ada yang sulit untuk aku lakukan” jawabnya menyombongkan diri. “Omong-omong, bagaimana keadaanmu?”

“Lebih baik meskipun semalaman aku tak bisa tidur dengan tenang karena… kau tahu, ada banyak sekali gangguan disini” kataku sambil mencoba mengabaikan gwishin anak kecil yang sedang berlarian menembus kamarku. “Aku benar-benar ingin cepat kembali ke apartemen karena disana hanya ada Park Hae In, tidak seperti di rumah sakit ini”

Heol~ pasti sangat menyenangkan karena kau mendapat banyak kunjungan semalam. Apa karena itu kau menyuruhku pulang agar aku tak melihatmu berbicara sendirian?”

Aku hanya mengangkat bahuku sebagai jawabannya.

Oh, Sooyoung-ah. Kapan dokter mengijinkanmu pulang?” tanya Yuri sambil duduk di kursi disamping tempat tidurku. “Lukamu masih belum kering?”

“Aku rasa belum. Entahlah kapan dokter itu akan mengijinkanku pulang mungkin saat jahitannya sedikit memudar atau saat aku sudah tidak merasakan sakit lagi disekitar perutku. Jangan khawatir,” jawabku berusaha untuk membuat Yuri untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Yuri berdiri dari posisinya, lalu dia menjitak kepalaku dengan pelan. “Ya, babo! Tetap saja aku khawatir. Luka di dahimu sebelumnya juga belum benar-benar sembuh dan kau terluka lagi seperti ini” katanya mengingatkan luka yang aku dapatkan sebulan yang lalu karena tertimpa barang saat aku membantu salah satu gwishin yang aku temui di sebuah kafe di dekat apartemen Yuri.

Aish, jinjja! Kenapa kau memukulku jika kau tahu dahiku masih belum benar-benar sembuh?!” protesku sambil mengusap-usap kepalaku hasil jitakan Yuri. “Lagipula itu sudah menjadi resikonya. Aku akan selalu mendapatkan sesuatu seperti ini setiap kali aku membantu mereka”

“Apa maksudmu dengan ‘mendapatkan sesuatu’?” tanya Yuri memberi penekanan khusus pada nada bicaranya.

“Ya ini, terluka seperti ini” Aku menunjuk ke arah beberapa bekas luka yang terlihat samar di beberapa bagian tubuhku. “Aku mendapatkannya setiap kali aku membantu mereka. Itu semacam resiko yang harus aku terima karena menyebrang ke dunia mereka,”

“Astaga! Jadi semua luka-lukamu itu kau dapatkan karena membantu gwishin?”

“Pelankan suaramu,” kataku mengingatkan karena takut ada yang mendengar, entah itu gwishin ataupun manusia yang kebetulan lewat depan kamarku.

Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku dengan tidak percaya. “Kau pasti benar-benar sudah gila, Sooyoung-ah. Aku tak tahu kau sering terluka karena membantu ‘mereka’. Aku pikir kau yeoja yang cerobah dan semacamnya,”

Aku tersenyum tipis, “Terkadang aku ingin mengabaikan mereka jika mereka meminta bantuanku karena aku tak tahu apa yang akan aku dapatkan jika aku membantu mereka”

“Kalau begitu, kau harus berhenti melakukannya jika kau tahu kau akan terluka” nada bicara Yuri terdengar cemas. “Apa kau tak takut sesuatu yang berbahaya mungkin akan menimpamu jika kau melibatkan diri pada urusan-urusan mereka?”

“Itu seperti berdiri diantara hidup dan mati” celetukku mengabaikan kekhawatiran Yuri. Aku melihat ekspresi kebingungan di wajah Yuri dan mau tak mau aku harus menjelaskan apa yang baru saja aku katakan padanya. “Kau tahu, jika aku membantu gwishin… itu berarti aku sedang berdiri di antara gerbang kematian dan gerbang kehidupan. Karena secara tidak langsung aku membukanya sendiri. Kedua gerbang itu akan semakin membuka lebar setiap kali aku bersentuhan dengan dunia mereka. Apa kau mengerti apa yang aku katakan?”

Yuri diam sesaat, lalu dia menggelengkan kepala.

Aku menghela napas singkat sebelum melanjutkan bicara. “Kau tahu kan, aku pernah hampir mati saat kecelakaan yang menimpa keluargaku terjadi?” kataku sambil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu yang menimpa keluargaku dan membuatku harus kehilangan mereka. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul dihatiku setiap aku mengingatnya karena sejak itu aku benar-benar hidup sendirian dan mengalami banyak kejadian karena kemampuanku ini.

“Kau tak harus membicarakannya, Sooyoung-ah” kata Yuri pelan.

Gwenchana,” ujarku berusaha mengabaikan rasa sakitku dan kembali berbicara. “Saat aku koma, seseorang mendatangiku dan memberitahuku apa yang bisa aku lakukan saat aku bangun nanti. Dia memberitahuku semua hal, termasuk apa yang akan terjadi jika aku bersentuhan dengan dunia itu. Bahwa gerbang kematianku akan terbuka sedikit demi sedikit, bergantung pada apa yang aku lakukan selanjutnya”

“Sooyoung-ah, itu terdengar mengerikan”

“Apa kau kira hanya kau yang berpikir seperti itu? Awalnya aku juga ketakutan dan berusaha menolak kemampuanku ini tapi apa yang bisa aku lakukan untuk menolaknya?” kataku. “Aku harus menerima itu dan lama-kelamaan aku berpikir, jika seseorang ditakdirkan untuk mati hari ini maka dia akan mati hari ini juga. Tak ada yang bisa melawan takdir itu,”

Yuri hanya memandangiku tanpa mengatakan apa-apa.

“Karena itulah, Yuri­-ah. Aku mulai mencoba untuk hidup ‘normal’ seperti seakan-akan aku tak melihat apa yang sebenarnya aku lihat. Aku berpura-pura tidak mendengar apa yang sebenarnya aku dengar,” Aku melanjutkan perkataanku dan mengabaikan sikap diam Yuri. “Tapi pada akhirnya aku menyerah dengan kepura-puraanku dan aku membantu mereka jika mereka meminta bantuanku. Lalu aku mulai mendapatkan luka-luka ini saat aku berhasil membantu mereka”

“Apa kau tak bisa menolak permintaan mereka?” tanya Yuri.

“Aku selalu menolaknya. Tapi mereka selalu memiliki cara agar aku terlibat dengan urusan mereka meskipun mereka sendiri tak sadar jika melakukannya. Seperti apa yang Kang Hye Gyul lakukan” kataku memberitahu.

Kedua alis Yuri saling bertaut, “Kang Hye Gyul? Apa yang dia lakukan?”

“Dia tak tahu bahwa dia mengirim Kang Han Gyul, kembarannya, ke toko bunga kita dan membuatku harus bertemu dengan Halmeoni-nya. Saat itu aku tahu, jika aku sudah melibatkan diri pada urusannya dan aku harus menyelesaikan itu karena memang itulah yang harus aku lakukan”

Jamkkan. Halmeoni?”

Eo. Jang Bo Ram di distrik Gyeyang, dia adalah halmeoni dari Kang Hye Gyul”

“Astaga!” celetuk Yuri tidak percaya. “Mianhae, Sooyoung-ah karena aku membuatmu harus pergi ke sana”

Aku kembali tersenyum, “Gwenchana. Akupun tak tahu jika aku akan berhubungan lagi dengan Kang Hye Gyul saat itu karena aku pikir setelah dia menceritakan kisahnya padaku, maka dia akan pergi di hari ke-49 nya”

Ah, benar! Tentang hari ke-49 itu… Apa gwishin-gwishin itu masih ada di dunia ini karena ada ‘urusan’ yang belum selesai sampai hari ke-49-nya? Bagaimana jika 49 hari itu berlalu dan ‘urusan’ mereka belum selesai?”

“Itu berarti mereka akan terus berada disini dan terikat disini, padahal tempat ini bukanlah dunia mereka” jawabku sambil menatap gwishin anak kecil itu lagi yang sekarang sedang bermain-main dengan gagang pintu kamarku. “Coba bayangkan. Kau hidup di dunia yang bukan duniamu dan kau tak tahu kemana harus pergi karena kau terikat pada sesuatu? Bukankah itu sangat tidak menyenangkan?”

Sebelum Yuri menjawab perkataanku, pintu kamarku terbuka dan dua orang yang sudah kami kenal masuk ke dalam. Mereka adalah Cho Kyuhyun dan Kang Han Gyul. Awalnya keduanya menatapku dengan ekspresi khawatir, tapi kemudian aku bisa melihat ada kelegaan di wajah mereka terutama Cho Kyuhyun.

“Senang sekali bisa melihatmu sudah lebih baik, Choi Sooyoung-ssi” ucap Kyuhyun dengan nada bersahabat. Dia berpaling pada Yuri sesaat untuk menyapanya sebelum kembali berbicara padaku. “Aku sangat khawatir melihatmu terluka seperti itu. Untunglah semuanya sepertinya baik-baik saja sekarang”

Aku hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.

“Saat kau tidak sadarkan diri, setiap hari dia menyempatkan diri untuk datang menjengukmu disela-sela tugasnya” bisik Yuri di telingaku.

Aku menoleh ke arah Yuri, lalu memberikan tatapan tidak percaya padanya. Yuri langsung membalas dengan mengangkat bahunya sebelum dia beranjak dari tempatnya dan duduk di sofa kecil di kamarku. Aku menghembuskan napas panjang beberapa kali karena saat itu tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Kenapa selalu seperti ini setiap kali ada Cho Kyuhyun?

Eonni, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Kang Han Gyul tiba-tiba. Membuatku langsung menolehkan kepala ke arahnya.

Ah, geurae geurae. Aku hampir melupakannya,” ujar Kyuhyun seperti teringat sesuatu. “Aku datang ke sini karena Kang Han Gyul-ssi ingin bertemu denganmu, Sooyoung-ssi. Dia berkata jika ada sesuatu yang ingin dia tanyakan padamu jadi aku membawanya ke sini”

“Baiklah kalau begitu. Detektif Cho, bagaimana jika kita pergi membeli secangkir kopi sementara mereka berdua bicara?” celetuk Yuri cukup mengejutkanku.

Ne? Ah, ne

Yuri mengedip ke arahku, “Kami akan segera kembali,” katanya.

Aku mengangguk pelan.

Pandanganku kini beralih pada Kyuhyun yang terlihat sedang memainkan mulutnya sebagai tanda kesal, tapi ekspresi itu berubah dengan cepat saat dia menyadari tatapanku. Bergegas dia mengikuti langkah Yuri keluar dari kamarku dan meninggalkanku hanya berdua dengan Kang Han Gyul. Ah, tidak berdua karena masih ada gwishin anak kecil itu dan juga Kang Hye Gyul yang baru saja muncul tepat disamping kembarannya.

Aigoo… kalian benar-benar terlihat sangat mirip jika seperti ini,” komentarku saat melihat betapa miripnya kedua saudara ini saat berdiri sebelahan. “Aku mungkin tak akan bisa mengenali kalian jika bukan karena-“ Aku tak melanjutkan kata-kataku karena menyadari pandangan Kang Han Gyul.

Aku berdehem pelan, lalu tersenyum ke arah yeoja itu dan mengabaikan Kang Hye Gyul yang terlihat lebih tertarik pada gwishin anak kecil di kamarku. Entah apa yang dilakukan Kang Hye Gyul, tapi setelah dia berbicara padanya gwishin itu menghilang dari kamarku setelah seharian aku melihatnya terus berada bersamaku tanpa tahu bahwa aku bisa melihatnya.

Josanghaeyo,” suara pelan Kang Han Gyul mulai terdengar. Mengalihkan perhatianku kembali padanya. “Aku tak tahu eonni akan terlibat sejauh itu, josanghaeyo” katanya lagi.

Gwenchanayo. Itu sudah menjadi sifatku untuk terlibat”

“Jinjja? Tapi kenapa awalnya eonni menolak permintaan tolongku saat pertama kali kita bertemu?”

Itu suara Kang Hye Gyul yang berbicara. Aku hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan dari pertanyaannya karena tak mungkin aku berbicara padanya disaat ada Kang Han Gyul disini. Jika itu Yuri mungkin aku akan menganggapinya seperti biasanya, tapi kali ini lebih baik aku memilih untuk diam jika Kang Hye Gyul sedang berbicara.

“Ah, majayo. Aku bahkan belum berterima kasih padamu eonni. Neomu neomu gomawoyo Sooyoung eonni karena aku bisa pergi dengan tenang nanti. Aku percaya Han Gyul dan halmeoni akan baik-baik saja sekarang”

“Bagus sekali kalau begitu,”

Ne?”

Ah, aniyo. Amugeotdo aniyo” sahutku dengan cepat karena lagi-lagi aku lupa harus mengabaikan Kang Hye Gyul saat ini. “Apa kau sudah kembali ke rumah dan bertemu dengan halmeoni?”

“Bagaimana eonni tahu jika aku tinggal bersama halmeoni?” Kang Han Gyul balik bertanya padaku. “Jika dipikir-pikir, eonni tahu banyak tentang keluargaku dan juga dongsaeng-ku, Kang Hye Gyul”

“Tidak, tidak banyak” sahutku kemudian. “Aku bahkan tak mengenal kalian sebelumnya, tapi karena suatu hal aku mengenal Kang Hye Gyul”

“Dimana kalian bertemu?”

“Di kafe,” jawabku jujur. “Aku tak sengaja melihatnya, lalu dia menghampiriku, mengikutiku dan pada akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya” Aku melirik ke arah Kang Hye Gyul saat mengatakannya.

“Aku tak mengerti apa maksud eonni” ujar Kang Han Gyul. Membuatku kembali menatapnya. “Apa eonni bertemu dengan Hye Gyul setelah dia… emm… meninggal?” tanyanya pelan-pelan.

Aku menarik napas panjang, lalu mengarahkan pandanganku sesaat pada Kang Hye Gyul yang menganggukkan kepalanya. Apa dia ingin aku mengatakan pada kembarannya jika aku melihatnya sebagai gwishin? Tapi apa Kang Han Gyul akan percaya jika aku memberitahunya yang sebenarnya? Apa dia akan menganggapku orang aneh seperti kebanyakan orang yang terpaksa aku beritahu tentang kemampuanku ini?

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

68 thoughts on “[Series] Have You Seen -Part 2-

  1. debiya mustika says:

    setelah masalah hye gyul selesai kira” kasus apalagi yang nanti sooy hadapi , jadi penasaran

    dan kenalin aku riders baru disini slam kenal

  2. debiya mustika says:

    setelah masalah hye gyul selesai kira” kasus apalagi yang nanti sooy hadapi , jadi penasaran

    dan kenalin aku riders baru disini

  3. anggi ta says:

    menurut aku, baca ff ini seakan-akan berimajinasi sambil belajar (?) bisa tau apa yang belum tau dan bisa memetik pelajaran dan resiko dalam membantu orang :3

  4. sandia says:

    Ya allah soo baik banget sih, tau dia bakal celaka tapi terus bantu gwishin………… Tetep aja dag dig dug ser bacanya apalagi pas si jenderal dateng… Cieee kyu ciee

  5. Sistasookyu says:

    Kasian juga sama syo nya
    dia ikutan kena imbasnya karna bantu gwishin2 itu
    beruntung ada yuri yg selalu care bgt sama syo, dan kebetulan sekarang ada kyu juga ^^

  6. nadasooyoungstersoneelf says:

    ke ke ke keren thor :’v next part ditunggu banget ya :v
    jan lama” BTW banyakin kyuyoung moment nya ya🙂

  7. Naelieyah1225_4li3n pluto_lovers says:

    masih belum nemu kyuyoung moment.. berharap di part berikutnya bakal muncul sweet moment yang bikin knight senyum2 sendiri..

  8. KY moment nya kurang!!😥 …. Kayanya terlalu fokus sama masalah kang han gyul… Need kyuyoung moment…. keren thor!! Next chap ditunggu! Keep Writing! Hwaiting!

  9. FS says:

    ahhh,daebak
    kasus selesai
    mungkinkah yuri mau ngasih tau kemampuan soo?

    next part ditunggu ;D

  10. Haah ,, akhirnya selesai juga ni kasus
    Kasian juga ama soo yg kena tembak , untung nya kyu juga disana dan cepat membantu ..
    Wahhh ,, kyu kayanya udah mulai tertarik neh ama soo …
    Ditunggu next part , tapi jangan lama” yaaaa
    Semangat …

  11. gita says:

    Makin seru aja.. ya ampun soo nekat bngt
    Kyu ciee.. ciee suka nih sma sooeon
    Smoga kyuyoung bisa ttp dkt meskipun maslh hye gul sdh slesai
    Ditunggu bngt next.a, pliss jngn lama”

  12. HLZ says:

    Sooyoung baik banget mau bantuin gwishin . gimana nasib soo selanjutnya kalo terus bantuin gwishin itu apa soo bakal mati ? Ditunggu kelanjutannya…

  13. nadigooo says:

    Yampun sooyoung sering celaka gara2 nolongin hantu2 itu ckck
    kyuyoung momentnya dibanyakin thor hehe

  14. Sayekti says:

    Wah akhirnya kasus Kang hye Ggul selesai. Next , makin keren dan bikin penasaran ama kelanjutan nie ff.

  15. Isma KSY says:

    oh, jadi gitu..
    aduh gak sabar pengen kyuyoungnya cepet sama”.. haha
    ditunggu kelanjutannya thor..

  16. Ola says:

    Daebak…. dan smakin bnyak teka teki tentang diri soo sendri pasti bnyak berkaitan dgn hal” yg berada didekatnya.
    yh mungkin… saran.a hanya jgn lama” post lanjutannya, *hehehe.

  17. Dian says:

    seru bgt,.tp aku penasaran emg dulu kyuyoung saling kenal ya atau mereka pacaran? ah molla, next ditunggu

  18. windasonelf says:

    keren dan ff yg pnjang puas bngt bca ff pnjng kyk gini kkkk~
    Btw, kykny author tau bnyk soal sjarah ya hehe

    next

  19. KNIGHT says:

    sama kaya ff stuck in love..
    lebih fokus ke konflik daripada percintaan :’)
    kyuyoung moment nya dikiiittttt /?

  20. jd serem sama soo.. krn semakin dia bnyk bantu hantu2 itu bikin dia selalu dlm bahaya -__-” walaupun emg niatnya baik. kayaknya bentar lg pasti kyu tau kemampuan soo, krn lumayan lah bisa jd penolong soo(?)hahaha

  21. FF nya keren ih huhuhu ;’) aku gak bisa bayangin kalau jadi Sooyoung pasti menderita banget ya;( part selanjutnya jangan lama” yaw, fighting^^

  22. met says:

    Daebak
    Wahhh kasusnya udh selesai nih
    Kira” kyuyoung ad hub ap y? Sampe mrka berasa prnh ketemu tp ntah dmna
    Penasaran nih
    Nextnya cpt ne😀
    Stuck in love nya jg😀

  23. fransiscafrtnta24 says:

    hebat banget thor •_• ini puanjang sekaliii @_@
    kykny hmm kyuyoung moment ny kurang bnyk ?????
    ditunggu keterlanjutannyaaa
    author hwaiting !😉

  24. ria^^knight says:

    Huh adegan romantis kyuyoung belum ada jg nih😦
    tp cukup senang karna 1 kasus sdh selesai.tp apa maksudnya dengan pintu kematian sooeon mulai terbuka sedikit demi sedikit,apakah sooeon akan mati?Andwee…..semoga itu tdk terjadi.
    Next bakalan d tunggu banget nih :3

  25. Akhirnya kelar juga kasus ini…
    Rada shock dibagian hamil, nah lho, itu g ada dibayangan sayah…
    Kirain Hye Gyul yang pacar Kang Jun, ternyata dari awal emang udah salah…hihi
    nunggu perkembangan hubungan Soo sama Kyu aja sih, bakal seseru apa pas tau kelebihan masing-masing nantinya

  26. Akhirnya kelar juga kasus ini…
    Rada shock dibagian hamil, nah lho, itu g ada dibayangan sayah…
    Kirain Hye Gyul yang pacar Kang Jun, ternyata dari awal emang udah salah…hihi

  27. Annyeong..
    Finally kasusnya selesai juga. Sebenarnya aku nungguin adegan romance KyuYoungnya loh. Tapi ya kalau dilihat-lihat belum tepat aja kali ya kalau romancenya keluar sekarang. Keren sih kasusnya, jadi berasa greget banget di kasus si gwishinnya😀
    Next Part ditunggu ya chingu. Fighting🙂

  28. Aulia Ratna says:

    Sooyoung berkorban bgt demi gwishin:( tapi sumpah keren baru sekali nemu yang begini ffnya/?wkwk

    Lanjut thorr

  29. sisca says:

    Akhirnya si kang jun ditangkap juga tapi dia buat soo eon terluka tuhh hft-,-
    Ditunggu part 3 nya thor😉

  30. Desta Wulan says:

    Satu kasus dah selesai .. Kang Jun akhirnya di tangkap … Lanjut ya eon , ditunggu kasus kasus berikutnya ..

  31. Akhir nya part 2 nya keluar, masalah nya selesai juga.
    tapi gak enak juga soo tiap kalia bantu”mereka” harus ada luka atau musibah yg di dapat.
    Semoga part selanjut nya cepat publis.

  32. Risqi says:

    akhirnya si kangin jun tertangkap juga. sempet khawatir sih pas sooyoung kena tembak. untung kyuhyun juga ukuran membantu jadi kang jun segera ketangkep. selesai juga masalah si kang hye gyul. kyuhyun udah mulai tertarik nih sama sooyoung.. bikin penasaran deh. ditunggu part selanjutnya eonni…

  33. deka_puspa says:

    ffnya kerennn….
    tapi kyuyoung momentnya kurang nihhh
    nanti part selanjutnya di banyakin ya thorr😉

  34. mongochi*hae says:

    legaaaa…akhirny kasus n selesai jga. tp ap soo brniat mberi thu ttg kmampuanny pd org lain slain yuri ?

    hn…gmna n hub kyuyoung kdpanny. cba aj klo kyu thu soo punya kmampuan it pasti dia mw mlindungi soo dr hal2 aneh yg dlihatny. pengen ak sih hhee

    next part dtunggu

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s