[Series] Have You Seen -Part 3-

Have You Seen

Title                   : Have You Seen?

Author               : soocyoung (@helloccy)

Length               : on writing

Genre                : Romance, Fantasy, Horror

Rating                : PG 16

Main cast           :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast          : Find it🙂

From Author       :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu….

Ah, sebelumnya aku mau kasih tahu buat knightdeul sekalian kalo sebenarnya aku mau post ff ini setelah ff ku yang Stuck In Love selesai. Tapi berhubung kemungkinan besar aku bakal mengurangi buat bikin ff karena kesibukanku di real-life (maklum bukan usia sekolah lagi T.T) jadi mau gg mau aku post ini lebih cepet. Dan, mian knightdeul kalo di beberapa part awal ini memang sengaja aku bikin sedikit Kyuyoung moment-nya demi kepentingan cerita.

 

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. FF ini emang ff series tapi aku gg bakal bikin ff ini sepanjang Stuck In Love, dan tentunya akan lebih cepet di post karena 50%-nya udah selesai aku ketik😀

 

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Apa eonni bertemu dengan Hye Gyul setelah dia… emm… meninggal?” tanya Kang Han Gyul saat dia menemuiku di rumah sakit dan meminta berbicara denganku berdua.

Aku menarik napas panjang, lalu mengarahkan pandanganku sesaat pada Kang Hye Gyul yang menganggukkan kepalanya. Apa dia ingin aku mengatakan pada kembarannya jika aku melihatnya sebagai gwishin? Tapi apa Kang Han Gyul akan percaya jika aku memberitahunya yang sebenarnya? Apa dia akan menganggapku orang aneh seperti kebanyakan orang yang terpaksa aku beritahu tentang kemampuanku ini?

“Eonni katakan saja padanya. Aku rasa Han Gyul akan percaya padamu jika kau mengatakan yang sebenarnya. Justru jika kau berbohong, dia akan menganggapmu sebagai orang gila atau mungkin stalker-ku?” kata Kang Hye Gyul pelan. “Lagipula eonni sudah menyelamatkannya, jadi memang mau tak mau dia harus percaya padamu”

Aku menatap Kang Han Gyul yang sepertinya sedang menunggu berbicara. Lalu aku menghela napas sekali lagi sebelum membuka mulutku. “Apa kau akan percaya padaku, Kang Han Gyul?”

Ne?”

“Kau tahu, sangat sulit bagiku untuk mendapatkan kepercayaan semua orang setelah aku mengatakan ini karena kebanyakan dari mereka menganggapku gila. Jadi aku tak memberitahu siapapun kecuali orang-orang terdekatku dan orang yang benar-benar percaya padaku” kataku sebelum berbicara jujur pada Kang Han Gyul.

Kang Han Gyul tersenyum sangat tipis, “Tentu saja aku akan percaya padamu. Eonni adalah orang yang telah menyelamatkanku dan juga… anakku” jawabnya persis seperti yang dikatakan Kang Hye Gyul. “Meskipun itu sesuatu yang mustahil sekalipun, aku akan percaya pada Eonni karena aku benar-benar merasa kau tahu segalanya tentang keluargaku padahal kami tak pernah mengenalmu”

“Apa yang aku katakan. Han Gyul memang selalu seperti itu”

“Baiklah jika memang begitu,” kataku mengabaikan desisan pelan Kang Hye Gyul. “Mungkin ini memang terdengar aneh bagimu, tapi benar… aku mengenal Kang Hye Gyul setelah dia meninggal”

Seperti dugaanku, ekspresi terkejut Kang Han Gyul langsung terlihat. Tapi dia tak mengatakan apa-apa, jadi aku memilih untuk melanjutkan bicaraku setelah sebelumnya aku kembali melirik ke arah Kang Hye Gyul yang terlihat sangat serius memperhatikan kami.

“Aku bisa melihat gwishin,” kataku pada akhirnya. “Aku melihat Kang Hye Gyul di kafe saat dia sedang bersamamu, lalu dia mendatangiku dan meminta bantuanku. Awalnya aku menolaknya tapi kemudian aku bertemu dengan Halmeoni. Kau memesan bunga di toko bunga ‘Secret Garden’ ‘kan, Han Gyul-ssi?”

Eo. Aku memesannya untuk Halmeoni karena aku tak pulang ke rumah selama beberapa hari”

“Karena aku bertemu Halmeoni kalian, aku memutuskan untuk membantu Kang Hye Gyul mencari Kang Jun. Bahkan aku sampai datang ke rumah Kang Jun, benar bukan Hye Gyul-ssi?” tanyaku menatap ke arah Kang Hye Gyul.

“Ne?”

Kang Han Gyul ikut menatap ke arah yang sama denganku, “Apa Hye Gyul ada disini sekarang?”

“Aku akan pergi sebentar lagi karena waktuku sudah habis,”

Aku menghembuskan napas pelan. “Untuk saat ini, dia masih ada disini. Tapi waktunya hampir habis dan dia harus pergi”

“Pergi? Pergi kemana? Tak bisakah dia tetap tinggal?”

“Tidak. Dia tak bisa tetap tinggal disini,” sahutku dengan cepat. “Disini bukanlah tempat seharusnya dia berada. Dia masih disini karena semua Gwishin memiliki 49 harinya masing-masing. Hari ini adalah hari ke 49-nya Kang Hye Gyul, jadi dia memang harus pergi setelah urusannya selesai”

Kang Han Gyul diam saja.

“Mianhaeyo, Han Gyul eonni. Aku harus pergi meninggalkanmu lagi. Kau tahu, aku tak pernah memanggilmu eonni kan? Tapi sekarang aku akan memanggilmu seperti itu” kata Kang Hye Gyul dengan ekspresi wajahnya yang sedih. “Aku berharap kau tak pernah merasa bersalah lagi, eonni. Nan gwenchanayo. Bahkan jika aku harus memberikan seluruh hidupku padamu, aku akan memberikannya karena aku sangat menyayangimu. Sampai kapanpun, aku akan terus menyayangimu

Aku ikut sedih mendengar kata-kata Kang Hye Gyul itu. Membuatku teringat pada yeodongsaeng-ku sendiri yang mungkin sekarang seumuran dengan mereka berdua jika dia masih hidup. Tanpa terasa air mataku menetes dan akupun menghapusnya dengan perlahan sambil memandangi kedua saudara kembar itu yang sama-sama sedang menundukkan kepalanya.

“Hye Gyul-ah, mian” isakkan Han Gyul terdengar. “Kau seharusnya tak pergi seperti ini. Kau seharusnya tetap disampingku dan Halmeoni

Eonni, jagalah Halmeoni dengan baik karena dialah satu-satunya orang yang kau miliki sekarang. Jangan pernah membuatnya menangis setelah berhari-hari aku membuatnya terus mengeluarkan air mata” Kang Hye Gyul tetap berbicara pada kembarannya meskipun dia tahu kembarannya itu tak bisa mendengarkannya. “Kau juga harus membesarkan anak itu. Anggap saja anak itu sebagai ganti dari aku yang pergi meninggalkanmu. Halmeoni pasti akan sangat senang jika kau memberitahunya tentang anak yang ada di kandunganmu. Dan aku, aku akan memberitahu Eomma-Appa bahwa sebentar lagi mereka akan memiliki cucu”

“Hye Gyul-ssi,” panggilku pelan.

“Gomowoyo, Sooyoung eonni karena kau telah mendengarkan ceritaku dan juga karena telah membantuku jadi aku bisa pergi sebelum 49 hariku berakhir. Aku tak akan pernah melupakan kebaikan eonni,” katanya padaku.

Aku mengangguk pelan.

Kang Hye Gyul melayang mendekat ke arahku dan memberikan pelukan singkat padaku. Udara dingin langsung terasa di sekitar tubuhku tapi aku membiarkannya saja. Jika bukan dalam suasana yang seperti ini, mungkin aku akan memarahi Kang Hye Gyul tapi sayangnya aku tak bisa melakukannya. Aku menyunggingkan segaris senyuman saat pada akhirnya dia melepaskanku dari pelukannya yang dingin. Dia melakukan hal yang sama pada Kang Han Gyul yang langsung bergidik dan menatap ke arahku.

Dongsaeng-mu sedang memelukmu. Mungkin dia memutuskan untuk pergi sekarang,” kataku memberitahu.

Kang Han Gyul diam saja. Lalu aku melihatnya memejamkan mata, dan tiba-tiba angin bertiup pelan. Aku sama sekali tak melihat Kang Hye Gyul lagi setelah itu karena sepertinya dia benar-benar sudah pergi. Meskipun aku baru mengenalnya sebentar, tapi aku merasa sedih melihatnya pergi begitu saja. Tapi memang dia tak boleh tinggal disini karena ini bukanlah tempatnya. Ada tempat yang lebih baik yang sudah disiapkan untuknya dan hanya dia yang tahu tempat seperti apa itu.

**

Pandangan mataku mengarah ke jendela rumah sakit. Langit terlihat kelabu, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Hari ini adalah hari terakhirku di rumah sakit. Setidaknya itu yang dokter katakan saat dia memeriksaku terakhir kali. Aku benar-benar senang karena pada akhirnya aku tak akan melihat gwishin-gwishin yang mulai tahu bahwa aku bisa melihat mereka dan mendengar mereka.

Aku menarik napas panjang. Meskipun aku tak ingin berurusan dengan gwishin lagi, tapi aku benar-benar tak bisa melakukannya. Entah kenapa mataku dengan sendirinya melihat ke arah mereka dan telingaku pun seolah-olah ingin mendengar apa yang mereka katakan padaku. Mungkin ini karena kau sudah terbiasa dengan mereka, tapi aku sangat ingin menghentikannya karena aku tak mau mendapatkan luka lain yang sudah sering aku dapatkan setiap bersentuhan dengan mereka.

“Kau mau buah, Sooyoung-ah?” tanya Yuri.

Aniya, gomawo

Yuri menghela napas, “Sebenarnya apa yang terjadi?”

Mwonga?”

“Apa yang Kang Han Gyul-ssi katakan padamu kemarin? Kalian bicara sangat lama dan terlihat sangat serius” kata Yuri. “Detektif Cho bahkan beberapa kali menghela napas panjang saat menunggu kalian selesai berbicara”

Keningku berkerut, “Detektif Cho?”

Yuri mengangguk pelan. “Eo. Aku rasa dia juga ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi sayangnya jam besuk sudah habis” katanya sambil mengambil jeruk di meja samping tempat tidurku dan mengupasnya. “Kau tahu kan, dia bahkan selalu ke sini saat kau tidak sadarkan diri”

Eo. Kau sudah memberitahuku,” sahutku malas. “Ah, itu bagus jika dia tak datang menemuiku lagi”

Wae? Bukankah kau senang melihatnya?”

Ani. Aku hanya merasakan sesuatu yang lain saat aku melihatnya” kataku kembali menatap ke luar jendela. “Entah kenapa aku tak bisa tenang saat dia disekitarku, dan aku tak benar-benar bisa menyembunyikannya dengan baik di depannya. Jadi-“

“Apa kau menyukainya?” potong Yuri tiba-tiba.

Ya! Kenapa aku aku menyukainya?” sahutku dengan cepat sambil menyembunyikan kegugupanku di depannya. “Kau pikir aku akan menyukai nam-namja seperti itu? Aku bahkan sama sekali tak mengenalnya, dan kenapa kau tiba-tiba berkata jika aku menyukainya?”

Yuri tertawa kecil, lalu dia menjitak kepalaku dengan pelan. “Jika kau tak menyukainya, kenapa kau bertingkah aneh seperti itu?”

“Aneh apanya?”

Ah, lagipula tak ada salahnya menyukai namja seperti detektif Cho, dia tampan” katanya mengabaikan protesku.

“Lihat saja jika Minho mendengar kau mengatakan namja lain tampan,”

“Biarkan saja dia mendengarnya,”

“Noona lihat… noona ini selalu mengangguku. Aku ingin dia menjauh dariku tapi kenapa dia selalu datang untuk mengangguku? Aku benar-benar ingin bertemu dengan eomma karena eomma pasti akan memarahinya” suara gwishin anak kecil yang biasa di kamarku terdengar, dan aku melihatnya melayang ke arah Yuri.

“Yuri-ah, minggir sedikit” kataku sambil menarik tangan Yuri tepat saat gwishin anak kecil itu berdiri di tempat Yuri sebelumnya.

Aish, wae? Apa kau kesal padaku karena aku berkata kau menyukai detektif Cho, jadi kau menarikku dengan kasar?”

Aku melirik ke arah anak kecil itu yang sedang mengusap-usap matanya seperti sedang menangis. “Itu karena ada gwishin yang mendekat ke arahmu,” kataku pada Yuri. “Sekarang ada persis disebelahmu”

Mwo? Aigoo…” Yuri bergegas berpindah ke sisi lain tempat tidurku. “Seharusnya kau mengatakannya saat ‘dia’ mendekat, bukan saat dia sudah sangat dekat denganku” protesnya.

Aku mengabaikan Yuri dan terus memandangi gwishin itu. Jika melihatnya sedekat ini, ternyata dia tidak terlalu menyeramkan. Wajahnya memang pucat, rambutnya di potong dengan gaya mangkuk dan matanya pun bulat, tidak seperti wajah kebanyakan orang korea. Tapi tak ada yang menyeramkan darinya jika dibandingkan gwishin-gwishin lainnya yang aku lihat selama ini.

“Kau kenapa?” tanyaku pada gwishin itu pada akhirnya. “Mian, noona tak berbicara padamu beberapa hari ini,”

“Aku sakit, dan meninggal disini. Apa itu jawaban dari pertanyaan noona itu?” Dia balik bertanya padaku yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala. “Dulu aku dirawat di kamar ini karena itulah aku selalu disini karena aku tak tahu dimana rumahku. Tapi noona di kamar sebelah selalu datang mengangguku. Noona pernah melihat noona yang aku maksud kan?

Eo. Aku pernah melihatnya sedang bersamamu” jawabku. “Apa kau benar-benar tak tahu dimana rumahmu?”

“Sooyoung-ah, geumanhae” sahut Yuri dengan cepat. Aku menoleh padanya, dan sedikit terkejut saat dia menatapku dengan tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Bukankah kau sendiri yang berkata jika kau berhubungan dengan ‘mereka’, kau akan mendapatkan luka yang lain lagi? Apa itu belum cukup?”

“Kwon Yuri,”

“Karena itulah, kau harus menghentikannya” kata Yuri tak mau mengalah. “Dengar, kau bahkan baru akan diijinkan pulang dari rumah sakit. Apa kau ingin tinggal di sini lebih lama?”

Aku menarik napas panjang, lalu kembali mengalihkan pandanganku pada gwishin itu. “Ya, choding! Noona minta maaf karena noona ini melarangku berbicara denganmu. Jadi, noona benar-benar tak bisa membantumu”

“Noona, aku hanya ingin kau berbicara pada noona yang selalu mengangguku. Aku tak meminta bantuan noona untuk mencari rumahku karena akupun tak bisa pergi dari sini

“Itu juga tak bisa aku lakukan, mian” jawabku sambil mengingat wajah noona menyeramkan yang dimaksud gwishin ini. “Ah, kau bisa langsung berbicara padanya atau mungkin kau bisa mengganggunya seperti yang dia lakukan padamu. Eotte?”

“Sudah waktunya kau istirahat, Sooyoung-ah” Yuri kembali menyambung. “Kau harus istirahat sebelum dokter datang memeriksamu untuk yang terakhir kalinya. Aku akan terus disini, dan meminta Minho untuk datang menemaniku” katanya sambil mendorongku untuk berbaring.

Aku mendengus kecil, dan mau tak mau aku berbaring karena Yuri meletakkan kembali posisi bantalku. “Kau benar-benar seperti seorang Ahjumma,”

Mwo?”

Ne, ahjumma. Arraseoyo

Yuri menepuk pelan lenganku, tapi dia tetap menyelimutiku. Aku tak bisa menahan senyumku karena perlakukannya ini. Mungkin jika dia disampingku setiap saat, aku tak akan berbicara dengan gwishin lagi meskipun aku masih tetap melihatnya. Tapi tidakkah dia tahu bahwa aku tak selalu mendapatkan luka yang serius jika hanya berbicara dengan salah satu dari mereka?

€€–

Kyuhyun POV

Sudah satu bulan…

Yeoja itu sudah membuatku berubah menjadi seorang penguntit. Ya, apalagi namanya jika penguntit karena hampir setiap pagi sebelum berangkat bekerja aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko bunga ‘Secret Garden’ hanya untuk melihat Choi Sooyoung. Saat aku tak berhasil melihatnya di pagi hari, aku bahkan rela pergi ke pantai yang selalu dia kunjungi setiap sore setelah aku selesai bekerja karena yeoja itu pasti akan disana meskipun udaranya sangat dingin sekalipun.

Tak ada yang aku lakukan memang, selain hanya memperhatikan yeoja itu dari jarak jauh. Aku hanya akan menghentikan mobilku di sebuah halan tak jauh dari posisinya, lalu mengawasinya dari balik kemudi. Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa melakukan ini pada yeoja itu. Tapi satu hal yang pasti, saat aku melihatnya terluka karena melindungi seseorang, saat itu aku benar-benar merasa seakan-akan duniaku akan runtuh. Aku sangat mengkhawatirkannya, dan takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Karena itulah saat dia dirawat di rumah sakit, aku selalu datang berkunjung meskipun aku hanya berdiri di depan kamarnya dan melihatnya dari luar.

Aku juga tak tahu kenapa rasa ingin tahuku pada yeoja bernama Choi Sooyoung ini sangat besar. Jelas-jelas aku tak mengenalnya. Yeoja itu hanyalah seorang yeoja asing yang secara kebetulan terlibat dalam kasus yang sedang aku tangani. Meskipun bisa dikatakan dia tidak terlibat secara langsung, tapi karena dialah aku berhasil menyelesaikan kasus itu.

Sore ini langit tampak mendung, dan Choi Sooyoung baru saja keluar dari toko bunganya. Rambutnya yang sepunggung di gerai bebas. Seperti biasanya, dia pergi ke pantai sebelum benar-benar pulang ke apartemennya yang ternyata tak terlalu jauh dari pantai. Dia selalu berjalan seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang tak bisa aku lihat. Terkadang dia tertawa, melakukan sesuatu yang aneh atau bahkan berteriak entah kepada siapa.

Aku selalu penasaran dengan apa yang dia lakukan. Kenapa dia bertingkah seperti itu? Kenapa aku tak bisa membaca warna emosinya meskipun melihatnya sedang tertawa atau kesal pada sesuatu? Kenapa jantungku terus berdebar setiap kali ada di dekatnya? Kenapa rasanya hatiku tak tenang jika aku tak melihatnya dalam sehari? Kenapa aku merasa jika aku sangat ingin melindunginya? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada di kepalaku sejak aku bertemu yeoja itu.

Aku menghela napas panjang, “Aku benar-benar bisa gila jika seperti ini terus” kataku pada diri sendiri. “Aku harus melakukan sesuatu. Ya! Aku tak bisa terus menjadi penguntitnya seperti ini”

Aku mengarahkan pandangan ke arah pantai, dimana Choi Sooyoung sedang duduk sendirian menatap ke arah laut lepas. Aku kembali menghela napas panjang, lalu memutuskan turun dari mobil dan menghampirinya ke pantai. Aku akan berpura-pura datang untuk menikmati pemandangan pantai sebelum kemudian menyapanya. Karena entah kenapa sejak pertemuan terakhirku dengannya di rumah sakit, keberanianku untuk mendekatinya seakan-akan menghilang. Mungkin ini karena jantungku yang terus berdebar, jadi aku tak bisa melakukannya.

Sayangnya, saat aku sudah berada dekat dengannya, yeoja itu sepertinya tak menyadari kehadiranku. Padahal aku berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Sekali dia menoleh ke sisi kanannya, dia pasti akan melihatku karena saat ini, di pantai ini, hanya ada aku dan dia. Mungkin orang-orang yang melihat kami di pantai saat musim gugur akan menganggap kami gila, tapi aku tak memedulikannya. Choi Sooyoung pun sepertinya mengabaikan perkataan orang-orang tentangnya karena setiap hari dia datang ke pantai ini, tak peduli musim apa saat ini.

Eotteoke?” tanyaku pelan sambil melirik ke arah Sooyoung yang saat ini sedang memejamkan matanya.

Aku berdehem pelan, lalu berencana untuk mulai mendekatinya. Tapi tiba-tiba, saat aku baru akan menyapanya, aku mengurungkan niatku. Yeoja itu sedang berbicara. Suaranya sangat pelan. Karena itu, secara refleks aku menajamkan saraf pendengaranku agar bisa mendengarkannya lebih jelas.

Eomma, Appa, Soowan-ah. Apa kalian mendengarkanku sekarang? Ah, benar, aku tahu kalian selalu mendengarkanku. Eomma, gokchonghajimaseyo. Aku melakukannya dengan baik hari demi hari, karena itu Eomma bisa tenang sekarang. Appa juga. Appa selalu khawatir apa aku akan bisa melakukan sesuatu sendiri. Apa aku tak akan terluka lagi. Tenang saja, Appa, aku sudah mulai terbiasa sekarang. Dan kau, Choi Soowan! Kau lihat, kan? Eonni-mu ini bahkan sudah bisa menghasilkan uang sendiri sekarang. Semua itu karena kau, eonni melakukannya karena itu adalah imipianmu” kata Sooyoung tanpa berhenti.

Dahiku mengernyit tidak mengerti dengan siapa yeoja itu berbicara. Aku menyipitkan mata, untuk melihat dengan lebih teliti karena siapa tahu dia sedang berbciara dengan seseorang di telepon. Tapi aku sama sekali tak melihat ponsel atau earphone-nya menempel di telinganya.

Mian, karena aku selalu membuat kalian khawatir bahkan saat kalian sudah tak bersamaku lagi. Tapi aku akan selalu mengingat pesan kalian untukku. Aku akan selalu mengingatnya. Bahkan saat aku lupa dan kehilangan arah, Park Hae In akan selalu mengingatkankku. Benar, Park Hae In?” kata Sooyoung melanjutkan. Kali ini dia membuka matanya dan menoleh ke sisi kirinya. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika tak ada kau, Park Hae In. Mungkin aku akan selalu membantu mereka yang datang padaku dan sebagai gantinya aku akan mendapatkan bekas luka di tubuhku”

Keningku semakin berkerut tajam.

Ya! Bukankah aku bisa melakukan operasi untuk menghilangkan bekas lukaku? Kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat cerewet? Tutup mulutmu saat aku masih baik, jika tidak maka tak akan ada ramyeon malam ini” seru Sooyoung tiba-tiba, masih menoleh ke sisi kirinya.

Aku mengamati wajah Sooyoung yang sudah kembali menatap ke arah laut di depannya. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa aku hanya melihat warna yang bercampur menjadi satu setiap kali aku berusaha membaca emosinya. Aku benar-benar tak tahu apa warna emonsinya. Merah? Kuning? Hijau? Atau biru? Padahal biasanya aku akan dengan mudah membacanya jika itu orang lain.

Suara dering ponsel tiba-tiba terdengar, dan itu adalah dering ponselku. Cepat-cepat aku mematikannya tanpa melihat siapa yang menelepon. Lalu membalikkan badan memunggungi Sooyoung. Aku khawatir dia akan melihatku disini maka aku bergegas melangkahkan kaki untuk kembali ke mobilku. Tapi saat aku baru berjalan beberapa langkah, aku mendengarnya memanggilku. Aku berusaha mengabaikan panggilan itu dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Tapi kemudian, sepasan kakiku terhenti saat yeoja itu menggapai pergelangan tanganku. “Jogiyo,” katanya.

Aku menghembuskan napas pelan, lalu berbalik. “Eo, waegeuraeyo?” tanyaku berusaha bersikap biasa meskipun sebenarnya jantungku berdebar dengan sangat kencang. Apalagi tangan Choi Sooyoung saat ini terus memegangiku dan sepertinya dia sama sekali tak menyadarinya.

Aish, jinjja! Kau lagi,” dengus Sooyoung kesal begitu melihatku.

Orenmaneyo, Choi Sooyoung-ssi. Jal jinaesseoyo?”

Sooyoung memutar bola matanya, “Apa yang kau lakukan disini, detektif Cho?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. “Aku rasa kasus Kang Han Gyul itu sudah selesai dan kita tak ada hubungannya lagi. Tapi kenapa kau masih berkeliaran di sekitarku?”

Aku tersenyum kecil, “Aku sedang menikmati pemandangan pantai. Apa salahnya? Lagipula pantai ini dibuka untuk umum jadi semua orang bebas untuk datang kesini” jawabku. “Ah, kau mau menikmatinya denganku, kan?”

Mwo? Naega wae?”

Aku menatap ke arah tanganku yang masih dipeganginya. Arah pandangan Choi Sooyoung langsung mengikuti, lalu cepat-cepat dia melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya. Aku rasa dia menggumamkan sesuatu tapi aku tak bisa mendengarnya karena suaranya tenggelam oleh suara deburan ombak.

“A-Apa kau mengikutiku, detektif Cho?” tanya Sooyoung lagi setelah kami berdiri diam cukup lama.

Suaranya terdengar aneh menurutku, tapi aku mengabaikannya. “Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu setiap kali melihatku?”

“Jika tidak, lalu apa?”

“Kau punya kebiasaan bertanya tanpa menjawab pertanyaan seseorang terlebih dahulu, ya?”

Sooyoung diam dan hanya memandangiku sesaat sebelum dia kembali memalingkan wajahnya. Mau tak mau aku tersenyum karena itu, tapi aku terus berusaha untuk tidak bersikap berlebihan di depannya atau bahkan menunjukkan kesenanganku karena bisa berbicara dengannya lagi.

“Bagaimana kabar Kang Han Gyul?” tanya Sooyoung mengalihkan pembicaraan. “Kau pasti sering bertemu dengannya, kan, detektif? Karena dia harus menjalani sidang, dan sebagainya itu”

“Benar. Terakhir aku melihatnya saat dia dipanggil sebagai saksi di persidangan Kang Jun yang ketiga” jawabku. “Dia terlihat baik-baik saja, begitu pula bayi di dalam kandungannya. Aku tak banyak mengobrol dengannya karena dia harus pergi ke ruangan saksi” Aku melanjutkan.

“Apa sidang Kang Jun-ssi belum selesai?”

“Belum. Kau tak diminta menjadi saksi, Choi Sooyoung-ssi?”

Sooyoung diam sesaat., “Tentu saja aku diminta. Mereka bahkan menjadikanku korban karena kejahatan Kang Jung-ssi yang kedua”

Kedua alisku saling bertaut, “Lalu apa kau datang ke persidangan?”

“Aku datang, tapi hanya untuk dimintai keterangan saja” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku melihatnya menarik napas panjang sebelum kembali berbicara, “Aku berharap Kang Jun-ssi mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, tapi disisi lain aku juga berharap dia mendapatkan hukuman yang ringa. Karena biar bagaimanapun anak di perut Kang Han Gyul-“

Kata-kata Choi Sooyoung selanjutnya tenggelam karena tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung menarik tangan yeoja itu dan membawanya ke sebuah gubuk yang biasanya digunakan untuk menjual minuman saat musim panas. Aku melihatnya mengelap air hujan yang menetes dari tubuhnya, lalu dia menggosok-gosokkan telapak tangannya sambil menatap langit di kejauhan dengan pandangan tidak suka.

“Kau kedinginan?” tanyaku.

Aniyo. Aku hanya… kamjjakiya!” pekik Sooyoung tiba-tiba. Aku menoleh ke sekeliling gubuk, tapi tak ada sesuatu yang mengejutkan. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu melangkah mendekat ke arahku beberapa langkah.

Waeyo?”

Sooyoung menggelengkan kepala, “Kyuhyun-ssi, bisakah kita pergi dari sini?”

Jigeumenyo?”

Kepala Sooyoung mengangguk pasti. “Jika kau tak mau pergi, biar aku saja pergi dari sini. Aku mengajakmu pergi karena tak ada orang lain lagi disini, jadi lebih baik kau juga pergi dari sini”

“Tapi ini masih hujan” sambarku dengan cepat.

“Tak apa. Kajja

Jakkamanyo,” sahutku sebelum Sooyoung benar-benar mengajakku pergi dari gubuk ini. Aku melepas jas ku, lalu mengerudungkannya pada Sooyoung. “Kajja,” ajakku langsung mengajaknya belari menyusuri pasir yang basah.

Meskipun kami sedikit kesulitan saat pergi dari pantai, tapi pada akhirnya kami tiba di dekat mobilku terpakir. Aku langsung membukakan pintu mobilku untuk Sooyoung dan meminta masuk. Setelah itu, aku bergegas masuk sendiri lalu segera menyalakan pemanas mobilnya agar lebih hangat.

“Aku akan mengantarmu ke apartemenmu,” kataku sambil menyalakan mesin mobilku. “Sementara itu, hangatkan dirimu di pemanas mobil ini maka kau tak akan kedinginan lagi, Sooyoung-ssi” Aku melanjutkan saat mobil mulai melaju meninggalkan pantai.

“Hentikan mobilnya!” seru Sooyoung tiba-tiba. Membuatku langsung menginjak pedal rem.

Aku menoleh ke arah Sooyoung yang kali ini terlihat ketakutan. Apa sesuatu terjadi? “Sooyoung-ssi, waegeuraeyo?”

Sooyoung semakin terlihat ketakutan dan itu justru membuatku semakin kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Sekarang bahkan dia terlihat menggigil tidak terkendali. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru dari dalam mobilku sambil mencari kemungkinan apa ada sesuatu yang membuatnya ketakutan.

Josanghaeyo, dektektif Cho. Aku rasa aku tak bisa pergi denganmu,” katanya langsung membuka pintu mobil dan keluar.

Cepat-cepat aku keluar dari mobil, “Sooyoung-ssi” panggilku dengan keras.

Sooyoung mengabaikan panggilanku, bahkan dia mempercepat langkahnya dan sepertinya tak memedulikan hujan yang terus turun dengan derasnya. Aku berniat mengejarnya tapi aku mengurungkannya. Aku kembali menatap ke sekelilingku, mencari tahu apa yang membuatnya tiba-tiba berteriak menghentikan mobilku dan terlihat ketakutan. Tapi tak ada siapapun di jalan kecuali aku. Lalu apa kira-kira yang membuatnya seperti itu?

€€–

Sooyoung POV

Mwo? Kau bertemu dengan detektif itu lagi setelah satu bulan tak bertemu?” seru Yuri saat aku memberitahunya tentang apa yang terjadi tiga hari yang lalu melalui sambungan telepon. “Ya! Tapi kenapa kau baru memberitahuku hari ini? Bagaimana kabar detektif itu? Apa dia masih tetap taman?”

Aish, jinjja! Inilah alasan kenapa aku tak langsung memberitahumu, karena kau pasti akan seperti itu” sahutku sambil merapikan daun-daun di beberapa tanaman yang sudah siap untuk dijual. “Lagipula aku tak mau mengganggu acara keluargamu, makanya aku baru menelepon sekarang”

“Tapi tetap saja seharusnya kau memberitahuku saat kau bertemu lagi dengan detektif tampan itu”

“Untuk apa aku harus memberitahumu?”

“Agar aku bisa meledekmu,” sahut Yuri dengan cepat diiringi tawanya yang keras.

Neo! Jinjja! Jugeosipeo?!

Yuri terus tertawa sampai-sampai aku harus melepas satu earphone-ku. Jika dia bukan sahabatku, aku pasti akan langsung menutup telepon ini. Tapi aku memilih diam sambil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan riangan di toko bungan sampai akhirnya aku tak mendengar tawa Yuri lagi. Dari dulu dia memang selalu seperti itu padaku. Tapi jika tak ada dia, aku yakin takkan bisa sepetri sekarang setelah aku kehilangan semua keluargaku.

“Jadi, apa yang kalian lakukan saat bertemu?” tanya Yuri seolah-olah melupakan gurauannya tadi. “Apa kalian mengobrol seperti saat dia datang ke toko bunga?”

Aku mengambil satu pot bunga mawar, lalu meletakkan di tempat lain untuk mendapatkan lebih banyak cahaya sebelum menanggapi perkataan Yuri. “Tak bisa dibilang mengobrol karena hujan turun saat itu”

“Memangnya dimana kalian bertemu?”

“Pantai,”

“Pantai?” Yuri mengulang perkataanku.

Eo. Katanya dia datang untuk menikmati pemandangn, tapi aku tak yakin dia berkata jujur padaku” kataku. “Mana ada orang yang datang ke pantai untuk menikmati pemandangan di musim gugur seperti ini?”

“Tentu saja ada. Kau-“ sahut Yuri dengan cepat setelah aku selesai berbicara. “Kau kan selalu datang ke pantai itu tak peduli musim apa sekarang. Bahkan saat musim dingin pun, kau tetap pergi kesana”

Aku diam saja.

“Kalau begitu, apa yang kalian lakukan saat hujan turun?” tanya Yuri tak mau menyerah untuk ingin tahu mengenai pertemuanku dengan Cho Kyuhyun itu.

“Tentu saja berteduh, apa lagi?” jawabku meskipun aku tak yakin jawaban itu yang Yuri maksud. Aku menghembuskan napas pelan, “Tapi karena ada gwishin yang datang untuk berbicara denganku, aku dan detektif itu memilih pergi. Ah, sebenarnya aku yang mengajaknya pergi”

Geuraesseo?”

“Dia membawaku ke mobilnya dan berteduh disana. Dia bahkan menawarkan untuk mengantarku pulang ke apartemen, tapi-“

Mwo? Kau naik ke mobilnya?” Lagi-lagi Yuri memotong perkataanku yang belum selesai.

Aku diam sesaat, lalu menjawab. “Eo. Tapi aku langsung keluar dari sana” kataku sambil meletakkan gunting dan menggantinya dengan hand-spray.

Yuri tak langsung menjawab, tapi aku mendengar helaan napasnya. “Kau masih takut untuk berada di dalam mobil? Aku pikir aku sudah tidak apa-apa sejak aku melihatmu turun dari bus”

“Bus?” ulangku seraya berpikir. “Ah, itu… emm, karena aku terpaksa dan aku belajar menghilangkan phobia-ku”

“Kenapa kau tak melakukannya lagi dengan mobil?”

Aku menghembuskan napas pelan, “Itu berbeda, Yuri-ah. Saat aku di dalam mobil, entah kenapa rasa takut itu datang dan aku tak bisa mengendalikannya. Aku takut jika aku akan mengalami kecelakaan lagi dan aku… aku akan kehilangan orang yang berada di mobil yang sama denganku. Seperti waktu itu,”

“Aku tahu. Tapi semua phobia itu bisa di atasi jika kau mau melawan rasa takutmu. Aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu, kan?” kata Yuri mengingatkan.

Eo,” jawabku singkat.

Aku mengarahkan pandangan ke luar toko untuk sesaat. Lalu sepasang mataku langsung menangkap seorang yeoja yang seminggu ini berhasil menarik perhatianku, karena ada seorang gwishin yang mengikutinya dengan pandangan sedih. Saat ini yeoja itu sedang duduk di depan sebuah minimarket tanpa melakukan apapun.

“Karena itu Sooyoung­-ah. kau harus mencoba untuk-“

“Kwon Yuri,” Kali ini aku yang memotong perkataannya karena yeoja itu bangkit dari tempat duduknya, seperti akan pergi ke suatu tempat. “Yuri-ah, aku akan meneleponmu lagi nanti. Aku tutup dulu,” kataku langsung melepas kedua earphone-ku dan bergegas keluar dari toko bunga.

Aku mengikuti langkah yeoja itu sambil terus memperhatikan gwishin yeoja yang selalu berada di belakangnya. Yeoja itu berhenti di sebuah halte bus dan duduk di salah satu kursi tunggunya. Untuk sesaat aku ragu untuk mendekatinya, tapi kemudian setelah menarik napas panjang beberapa kali akupun memutuskan untuk menghampirinya. Ini pertama kalinya aku mendekati gwishin seperti ini karena biasanya merekalah yang datang padaku, bukan aku yang datang pada mereka. Tapi entah kenapa aku benar-benar penasaran, baik tentang yeoja ini maupun gwishin-nya.

Jogiyo,” kataku pelan pada yeoja itu. “Bisakah kau bergesar sedikit? Kakiku sakit dan aku perlu duduk sebentar karena bus yang aku tunggu sepertinya masih lama”

Ah, ne” jawab yeoja itu dengan sopan, dan suaranya pun terdengar sangat lembut. Dia menggeser duduknya, lalu mempersilahkanku untuk duduk disebelahnya.

Kamsahamnida,” kataku sambil duduk. Aku melirik ke arah gwishin dibelakang yeoja itu dan berusaha mengabaikan rasa dingin yang aku rasakan saat berada di dekatnya. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” tanyaku pada gwishin itu.

Ne?”

Aku mengalihkan pandangan dengan cepat ke arah yeoja disampingku. “Ah, aniyo. Amugeotdo aniyo” kataku sambil tersenyum canggung ke arahnya. Aku benar-benar lupa kalau saat ini aku sedang berada di tempat umum dan aku tak bisa berbicara dengan sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain dengan seenaknya. “Aigoo, busnya tak datang-datang padahal aku harus cepat pergi ke divisi ilmu kehidupan di Universitas Negeri Incheon sebelum makan siang,” gumamku berusaha menarik perhatian yeoja itu lagi.

“Kau mahasiswa Divisi Ilmu Kehidupan Universitas Negeri Incheon?” tanya yeoja itu tiba-tiba.

Aniyo, tapi aku pernah belajar disana. Waeyo?” Aku balik bertanya.

Ah, geuraeyo? Aku mahasiswa Divisi Studi Konsumen dan Anak Universitas Incheon” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Kalau begitu tujuan kita sama karena divisi ilmu kehidupan dan studi konsumen dan anak berada di kampus yang sama”

Aku mengangguk pelan. “Majayo. Aku juga akan ke divisi studi konsumen dan anak karena temanku memintaku untuk bertemu dengannya saat aku datang ke kampus”

Geuraeyo? Bagus sekali! Kenapa kau tak ikut bersamaku saja kesana?” seru yeoja itu dengan antusias. “Jujur saja, hari ini sebenarnya aku sengaja datang lebih awal ke kampus karena aku bosan di apartemen sendirian. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan karena itu aku hanya berkeliling sebentar sebelum datang ke kampus” katanya memberitahu.

Aku diam saja dan hanya memperhatikan yeoja itu sambil melirik ke arah gwishin yang masih berdiri dibelakangnya. Sayangnya aku tak bisa sering-sering menatap kea rah gwishin itu berada karena aku tak mau orang lain dan juga yeoja ini menganggapku aneh. Meskipun aku sudah terbiasa dengan itu, tapi bukankah lebih baik untuk menghindarinya?

“Kalau tidak keberatan, bagaimana jika aku ikut bersamamu?” Yeoja itu kembali menarik perhatianku dari gwishin dibelakangnya. “Ah, benar! Kita belum berkenalan, kan? Naneun Bae Joohyun, dan kau eonni? Bolehkah aku memanggilmu begitu?”

Aku tersenyum tipis, “Tentu saja boleh. Aku Choi Sooyoung,”

Bangapseumnida, Sooyoung eonni” sahutnya dengan senyum lebarnya. Mungkin jika aku seorang namja, aku benar-benar akan langsung menyukainya pada pandangan pertama dengan senyumannya yang seperti itu.

Saat aku baru akan membalas perkataannya, bus yang kami tunggu datang. Bae Joohyun mengajakku untuk naik bus bersamanya, dan mau tak mau aku mengikutinya setelah terlebih dahulu membiarkan gwishin itu melayang di belakang Joohyun. Aku kembali mengamati gwishin yeoja itu sambil berharap dia menyadari tatapanku, tapi ternyata pandangannya hanya terpusat pada Bae Joohyun. Sepertinya kali ini akulah yang harus berbicara dengan gwishin itu terlebih dahulu.

Bus mulai melaju pelan, dan secara otomatis aku memejamkan mataku. Meskipun aku sudah tak begitu takut menaiki bus dibandingkan mobil, tapi tetap saja aku masih merasa ketakutan saat bus nya pertama kali melaju. Rasanya benar-benar seperti kejadian beberapa tahun yang lalu muncul di depan mataku setiap kali aku berada di atas kendaraan seperti ini.

Eonni, gwenchanayo?” Suara lembut Joohyun tiba-tiba terdengar. Aku merasakan sentuhannya juga di lenganku. “Apa kau merasa tidak enak badan, eonni?” tanyanya khawatir.

Aku langsung membuka mataku dan menatap Bae Joohyun sambil memaksakan senyum ke arahnya. “Aniyo, gwenchanayo

Ah, tak ada tempat duduk yang tersisa. Eotteoke?” Aku mendengar gumaman Joohyun sambil dia menoleh ke kanan dan kirinya mencari tempat duduk. “Eonni, jeongmal gwenchanayo?”

Aku menganggukkan kepala untuk meyakinkan Bae Joohyun. “Gwenchanayo, Joohyun-ssi. Gokchonghajimaseyo,”

Bae Joohyun menatapku ragu, tapi kemudian aku melihatnya menarik napas panjang. Meskipun rasanya aneh bagiku karena ini pertama kalinya aku bertemu dan mengobrol dengannya, tapi sepertinya dia begitu mengkhawatirkanku. Apa dia pernah bertemu denganku sebelumnya? Tapi bukankah dia baru saja tahu namaku?

“Joohyun-ssi, kau ini orang yang mudah akbar dengan orang asing sepertiku, ya?” tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku. “Apa kau tak takut jika mungkin saja aku akan berbuat jahat padamu?”

“Jika eonni akan berbuat jahat padaku, tak mungkin eonni memperkenalkan diri padaku kan?” katanya dengan tenang. “Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa mudah akrab denganmu, eonni. Padahal aku bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain, bahkan bisa dikatakan aku sangat pemalu jika bertemu dengan orang yang tak pernah aku temui sebelumnya”

Ah, geurae?”

Joohyun mengangguk. “Mungkin saja ini karena aku dan eonni kuliah di tempat yang sama, jadi secara tidak langsung aku sudah mengenalmu”

Aku menjawabnya dengan senyuman singkat meskipun aku tak yakin dengan perkataan Bae Joohyun. Mataku kembali melirik ke arah gwishin itu, lalu menghela napas pelan. Sepertinya akan sulit bagiku untuk berbicara dengan gwishin itu karena dia sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari Bae Joohyun. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah terpaksa pergi ke kampus seperti ini hanya untuk mencari tahu dan berbicara dengan gwishin itu.

Eonni, sebentar lagi kita sampai” kata Joohyun lagi sambil menunjuk ke sebuah halte di depan.

Eo, arraseoyo

Bus berhenti, aku dan Bae Joohyun pun turun bersama dengan orang-orang yang juga berhenti di tempat yang sama. Setelah itu, aku berjalan bersama Bae Joohyun untuk sampai di Universitas Incheon. Kami terus berjalan bersama sampai akhirnya aku melihat gerbang besar dengan tulisan Kampus Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa korea di atasnya. Aku tersenyum melihatnya karena memang sudah lama aku tak datang ke sini sejak aku menyelesaikan pendidikanku di kampus ini.

Bae Joohyun mengajakku untuk menyusuri undakan tangga batu sambil menyapa beberap orang yang mengenalnya. Sesekali aku melirik ke arah gwishin yang terus saja mengikutinya dengan pandangan yang sama. Aku bahkan tak memedulikan lengkung indah dari gapura yang dililit tanaman rambat berbunga merah di depanku. Padahal gapura itulah yang menarik perhatianku saat pertama kali aku belajar di tempat ini.

Sesampainya di tangga teratas, para mahasiswa lain sudah banyak berlalu-lalang ke sana kemari. Suasananya benar-benar tak pernah berubah dari dulu. Aku melihat beberapa dari mereka menggunakan ransel besar meskipun kebanyakan dari mereka hanya menggunakan tas kecil yang cukup dimasuki sebuah buku catatan. Aku kembali tersenyum kecil mengingat masa laluku saat seperti mahasiswa-mahasiswa itu. Lalu mataku menangkap sosok gwishin yang baru saja menembus keluar dari dinding tak jauh dariku. Dengan cepat aku memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk melihat-lihat ke arah papan pengumuman karena aku tak mau gwishin itu menangkap pandanganku tadi.

“Kita ke sana saja, eonni” ajak Joohyun menarik lenganku ke arah lorong-lorong terbuka yang mengarah ke sebuah taman.

Meskipun sebenarnya aku tak mau pergi karena gwishin tadi juga melayang ke arah itu, tapi mau tak mau aku mengikuti langkah kaki Bae Joohyun. Kami berjalan ke taman yang banyak dihuni oleh para mahasiswa yang sedang duduk-duduk dan mengobrol. Ada beberapa juga mahasiswa yang tengah membaca buku atau sekedar berbaring di atas rumput dengan buku menutupi wajahnya. Pemandangan yang sangat klasik di sebuah taman kampus. Bae Joohyun mengajakku duduk di salah satu bangku kayu panjang dekat sebuah pohon rindang.

“Taman ini tidak banyak berubah,” komentarku sambil mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru sebelum akhirnya aku kembali menangkap sosok gwishin lain yang sedang melayang menggangu seorang yeoja yang sedang membaca buku. “Bahkan suasananya tetap sama. Aigoo…” Aku berkata lagi sambil terus memperhatikan gwishin pengganggu itu.

Geuraeyo? Apa dulu eonni sering datang ke taman ini?”

“Bisa dibilang iya jika tak ada yang menggangguku,” jawabku langsung memalingkan wajah saat gwishin pengganggu itu menyadari aku tengah memperhatikannya. “Biasanya aku datang kesini untuk melihat-lihat keadaannya terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang menggangguku, maka aku akan mencari tempat lain” kataku sambil beranjak dari tempatku duduk, berniat untuk pergi karena gwishin pengganggu itu sudah berada di sebelahku sekarang.

Waeyo?” tanya Joohyun yang melihatku bangkit dari dudukku.

“Kau bisa melihatku, kan?” desis gwishin pengganggu itu di telingaku. “Eo, majayo majayo? Kau bisa melihat dan mendengarkanku. Aku bersumpah tadi aku melihatmu sedang memperhatikanku”

“Joohyun-ssi, ayo kita pergi dari sini” Aku berusaha mengabaikan gwishin pengganggu itu dan mengajak Joohyun untuk pergi dari taman ini. “Bagaimana jika kita berjalan-jalan berkeliling kampus sambil mencari temanku itu?”

Meskipun awalnya yeoja itu terlihat bingung, tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Diapun mengikuti melangkah meninggalkan taman yang semakin ramai karena segerombolan mahasiswa baru saja datang dan berbicara dengan sangat keras satu sama lain. Sepertinya Bae Joohyun juga sedikit terganggu dengan suara berisik itu, makanya dia mengikuti ajakanku tanpa banyak bertanya.

“Ya! Ya! Kenapa kau mengabaikanku?! Ya!” teriak gwishin pengganggu itu yang sepertinya memutuskan untuk mengikutiku. “Ya! Apa kau mau aku melakukan… oh… josanghaeyo, ahjumma. Ne, ne, aku akan pergi sekarang” Aku sempat mendengar desisan itu sebelum berjalan ke lorong lain.

Aku menarik napas lega karena biar bagaimanapun sepertinya gwishin pengganggu itu tak mengikuti lagi. Meskipun seharusnya merasa berterima kasih, tapi siapapun yang membuat gwishin itu pergi benar-benar membantuku. Ah, tunggu! Apa itu berarti ada orang lain disini yang bisa melihat gwishin sepertiku, lalu mengusir gwishin penggangu itu pergi dariku? Tak mungkin Park Hae In yang melakukannya, kan? Karena aku bahkan tak memintanya untuk datang membantuku, lalu apa itu gwishin lain? Rasanya tak mungkin ada orang lain yang bisa melihat gwishin sepertiku dan secara terang-terangan mengusir gwishin lain untuk tidak mengganggu. Lagipula di dunia ini, ada berapa orang yang benar-benar memiliki kemampuan melihat gwishin dan berbicara padanya?

“Joohyun-ah!” panggilan keras seseorang dari arah kananku membuat pikiranku seketika buyar. Aku dan Bae Joohyun menolehkan kepala secara bersamaan, dan melihat seorang namja setengah berlari menghampiri kami. “Untung saja kau sudah di kampus, Joohyun-ah. Kau tahu, Profesor Kim mendadak memiliki keperluan jadi dia meminta pertukaran jam dengan Profesor Seo. Aku sudah memberitahu yang lain, karena itu ayo kita cepat masuk kelas” katanya terlihat tergesa-gesa.

Mwoya? Kenapa dia mengubahnya tiba-tiba?” komentar Joohyun tidak senang. “Ini sudah ketiga kalinya dia seperti ini,”

Ya! Tak ada waktu lagi untuk berkomentar. Apa kau ingin membuat laporan karena terlambat masuk kelasnya?” desak namja itu dengan tidak sabar.

Bae Joohyun menatapku dengan pandangan menyesal.

“Pergilah ke kelas, Joohyun-ssi. Gwenchanayo,” kataku menjawab tatapan itu. “Aku akan berkeliling dan mencari temanku sendiri saja. Lagipula aku pernah belajar disini, jadi aku masih hapal tempat-tempatnya”

Josanghaeyo, eonni

Aku tersenyum tipis, “Lain kali aku akan datang kesini dan mengobrol denganmu. Ah, atau mungkin kau bisa datang ke toko bungaku di Sipjong-dong, distrik Bupyeong. Aku akan senang sekali jika kau bisa datang kesana, Joohyun-ssi

Ne, eonni. Aku pergi ke kelas dulu kalau begitu” kata Joohyun sebelum mengikuti temannya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana sikap yeoja yang menurutku sangat unik ini. Bagaimana bisa dia memperlakukanku seakan-akan kami sudah berteman lama? Padahal baru saja kami saling mengenal, itupun aku yang sengaja mendekatinya karena penasaran dengan gwishin yang selalu mengikutinya dengan pandangan yang benar-benar menarik perhatianku. Tapi tak ada salahnya jika aku menambah teman baru karena dengan begitu aku akan lebih sering datang berkunjung ke tempat dimana aku pernah belajar dulu.

“Josanghaeyo,” desisan gwishin terdengar lagi ditelingaku, tapi kali ini lebih lembut daripada desisan gwishin pengganggu sebelumnya. “Jadi benar, kau bisa melihatku agasshi? Aku tak percaya, benar-benar tak percaya ada seseorang yang bisa melihat dan mendengarku setelah sekian lama”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil karena sudah biasa dengan reaksi gwishin yang seperti itu. Aku melangkah sambil mengambil earphone, memasangnya di ponsel lalu memasukkannya ke telingaku. Meskipun aku tak melihatnya secara langsung, tapi qwishin itu melayang disampingku. Aku bisa merasakan hawa dingin disekitarku, karena itulah aku tahu gwishin itu sedang mengikutiku.

Ahjumma, bagaimana kau… hmm… kau menjadi gwishin?” tanyaku berusaha untuk bersikap seperti sedang berbicara dengan telepon. “Apa kau sudah lama disini? Bagaimana dengan 49 harimu?”

“Aku sudah lama disini, dan akupun tak bisa pergi kemanapun lagi karena 49 hari ku sudah belalu 23 tahun yang lalu,” jawab gwishin itu.

Aigoo… sudah cukup lama. Jadi aku tak bisa membantumu pergi ke duniamu, kan?” tanyaku memutuskan untuk kembali ke taman yang sebelumnya aku datangi bersama Bae Joohyun. “Tapi, kenapa kau terus mengikuti yeoja itu dan memandanginya dengan cara yang tidak biasa? Apa yeoja itu secara tidak sengaja menjadi penyebabmu meninggal atau-“

“Dia putriku,” sahut gwishin itu memotong perkataanku. “Aku meninggal saat melahirkannya,” Dia berkata dengan tegas.

Omo, josanghaeyo” Aku merasa sangat bersalah karena mengatakan sesuatu hal yang tidak sopan sebelumnya. “Josanghaeyo, ahjumma. Mollaseoyo,”

“Gwenchanayo, aghassi”

“Silahkan panggil aku Sooyoung, Choi Sooyoung. Itu namaku”

“Aku Shin Gayeon”

Aku mengangguk mengerti, “Ahjumma bisa menceritakan padaku apapun yang ingin ahjumma sampaikan atau mengganjal hati ahjumma, karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk ahjumma sekarang” kataku memberitahu. “Mungkin juga ada sesuatu yang ingin ahjumma katakan pada Bae Joohyun-ssi, biar aku yang menyampaikannya padanya”

“Kau mengenal putriku?” tanya gwishin itu.

“Aku baru mengenalnya beberapa saat yang lalu. Putri ahjumma benar-benar sangat ramah pada orang lain, dan dia bisa membuatku nyaman meskipun aku baru saja mengenalnya”

Gwishin itu tersenyum ke arahku, bukan sebuah senyum yang menyeramkan tapi senyuman lembut seorang Eomma. Sebenarnya gwishin inipun tak memiliki wajah yang mengerikan seperti beberapa gwishin yang aku temui. Dia seperti manusia biasa, bersih, tanpa luka apapun diwajahnya. Hanya saja dia sangat pucat dan matanya juga sayu. Mungkin jika aku tak bisa membedakan mana manusia dan mana gwishin, aku sudah berpikir jika ahjumma ini adalah manusia biasa.

“Apa ada yang ingin ahjumma katakan pada putri ahjumma?” tanyaku sekali lagi karena gwishin itu diam cukup lama. “Katakan saja semuanya padaku karena aku adalah pendengar yang sangat baik,” Aku menambahkan.

“Aniyo. Aku tak ingin mengatakan apapun pada putriku untuk sekarang. Aku hanya merasa kasihan padanya karena seumur hidupnya dia tak pernah mengenalku, Eomma-nya” kata gwishin itu sedih. “Aku selalu mengkhawatirkannya. Apalagi saat dia memutuskan untuk hidup jauh dari Appa-nya, aku semakin mengkhawatirkan putriku”

Aku diam saja.

“Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, dan selalu menjaganya selama ini. Dia tak pernah tahu bahwa sebenarnya aku selalu disampingnya. Aku selalu tahu saat dia merindukanku, tapi tak ada yang bisa dia lakukan” Gwishin itu melanjutkan perkataannya. “Joohyun adalah seorang yeoja yang sangat malang. Dia selalu menunjukkan keceriaan di depan semua orang, baik itu di depan oppa-nya, teman-temannya atau siapapun yang mengenalnya. Tapi tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia seperti itu untuk menutupi kesedihannya”

“Joohyun-ssi yeoja yang seperti itu?” tanyaku sambil mengingat pertemuanku dengan Joohyun beberapa saat yang lalu. “Tapi dia benar-benar tidak menunjukkannya, ahjumma. Mungkin aku bahkan tak akan tahu jika aku tak bisa melihat ahjumma dan mendengarnya dari ahjumma sendiri”

“Itu karena dia memang pandai menyembunyikan perasaannya di depan orang lain, Sooyoung-ssi. Saat dia marah, saat dia sedih, saat dia merasa lelah karena sesuatu, dia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri. Aku selalu bersamanya sejak dia lahir, jadi aku tahu semua itu. Aku tahu bagaimana perkembangan putriku sendiri meskipun aku hanya bisa melihatnya”

Aku kembali diam karena tak tahu harus menanggapi bagaimana. Aku sendiripun belum begitu mengenal Bae Joohyun, jadi lebih baik aku memilih untuk diam dan mendengarkan semua cerita gwishin ini. Dia mungkin sudah lama memendam keinginannya untuk bercerita tentang semua hal mengenai putrinya karena memang tak ada yang bisa mendengar atau melihatnya. Tapi dengan adanya aku sekarang, aku rasa dia akan mengungkapkan semua hal yang hanya bisa dia simpan selama ini. Dengan begitu, aku juga akan bisa mengenal Bae Joohyun tanpa aku harus mendekatinya lebih jauh.

“Meskipun dia selalu bisa melakukan segala sesuatunya dengan baik, tapi disini aku tetap saja khawatir. Terkadang aku tahu hal-hal yang tidak dia ketahui, mengenai teman-temannya, namjachingu-nya atau orang-orang disekitarnya. Tapi sayangnya aku tak bisa memberitahunya karena dia tak bisa melihatku ataupun mendengarkanku” kata gwishin itu lagi. “Hal itulah yang membuatku semakin mengkhawatirkannya hari demi hari. Semakin dia tumbuh dewasa, aku semakin khawatir padanya karena itu berarti dunianya semakin luas dan tak ada orang yang bisa melindunginya selain Oppa-nya”

“Joohyun-ssi memiliki seorang Oppa disini?” tanyaku ingin tahu.

Gwishin itu menganggukkan kepalanya. “Oppa-nya seseorang yang sangat sibuk dan tak bisa selalu berada disampingnya. Joohyun pun tahu bagaimana pekerjaan Oppa-nya, jadi dia tak banyak mengganggunya dengan masalah-masalahnya sendiri. Dia benar-benar seorang yeoja yang malang. Uri ttal,”

Aku menarik napas pelan dan menghembuskannya dengan perlahan. Tiba-tiba saja aku teringat Eomma-ku sendiri yang juga berniat untuk tetap disini bersamaku. Tapi aku berhasil membujuknya untuk pergi ke tempat dimana seharusnya dia berada bersama Appa dan juga Soowan. Meskipun itu menyakitkanku karena aku benar-benar tak akan pernah lagi melihatnya, tapi aku harus melakukannya demi kepentingan banyak orang.

Aku diam dan berpikir.

Apa yang akan terjadi jika seandainya Bae Joohyun juga memiliki kemampuan yang sama denganku? Apa dia akan membiarkan Eomma-nya tetap disampingnya seperti ini atau dia akan melakukan hal yang sepertiku? Lalu bagaimana jika aku memberitahunya tentang Eomma-nya yang selama ini selalu disampingnya? Apa dia akan percaya padaku jika aku mengatakannya?

€€–

Kyuhyun POV

Aku kembali masuk ke ruanganku setelah menyelesaikan patroli ke jalanan hari ini. Aku melepas jaketku dan menyampirkannya di kursi sebelum duduk. Pandanganku mengarah pada seluruh isi ruangan yang tidak seramai hari-hari biasanya. Mungkin beberapa dari temanku masih melakukan tugasnya atau ada yang sedang pergi untuk makan siang.

Aku menarik napas panjang, lalu menyenderkan tubuhku ke kursi tanpa lengan di belakang mejaku. Setelah kasus terakhir yang aku tangani, aku memang tak mendapatkan kasus lain, jadi aku sedikit bosan karena tak ada yang aku lakukan selain melakukan patrol di jalanan. Sebenarnya hari ini aku ingin sekali pergi ke toko bunga milik Choi Sooyoung, tapi aku tak bisa pergi kesana begitu saja. Apalagi setelah kejadian terakhir diantara aku dan dia di pantai. Ah, tapi aku benar-benar penasaran kenapa dia terlihat ketakutan saat di dalam mobilku dan langsung pergi tanpa sempat aku mengantarkannya pulang.

“Choi Sooyoung selalu berhasil membuatku semakin penasaran,” gumamku pada diri sendiri.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dua sunbae-ku, Jung Jung Yong dan Kim Myung Soo masuk, melenggang santai ke meja mereka masing-masing. Aku terus memperhatikan mereka sambil mengamati warna emosi keduanya. Meskipun aku sudah bekerja disini selama satu tahun, tapi bukan berarti aku memberitahu kemampuanku membaca warna emosi ini pada semua orang yang bekerja disini.

Jika dipikir-pikir, bahkan tak ada satupun yang mengetahuinya karena akupun malas untuk memberitahu. Alasannya adalah karena aku tak mau dianggap sombong atau hal-hal buruk lainnya. Lagipula bisa membaca warna emosi seseorang bukanlah sesuatu yang perlu dipamerkan pada orang. Hal itu justru akan membuat orang-orang menjauhiku jika mereka tahu aku bisa membaca warna emosi mereka. Aku tak mau itu terjadi, karena itulah aku lebih memilih untuk diam selama ini.

Ya, detektif Cho! Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau tak menyadari telepon dimejamu berdering?” kata Myung Soo sambil menepuk pelan bahuku. Dia memberikan telepon yang memang diletakkan di mejaku, “Lee Hyuk Joo meminta bantuanmu,” katanya memberitahu.

Aku mengambil telepon dari tangan Kim Myung Soo, lalu mendekatkannya ke telinga. “Ne, petugas Lee waeguraeyo?”

“Detektif Cho, bisakah kau pergi bersamaku untuk melakukan penyelidikan di sebuah toko hewan di distrik Jung? Aku membutuhkan bantuan detektif karena ada laporan bahwa hewan-hewan di toko itu mendadak mati tanpa tahu sebabnya,” lapor Lee Hyuk Joo dengan cepat.

“Apa kau sudah berbicara dengan detektif Seo?” tanyaku memastikan terlebih dahulu karena sebenarnya Lee Hyuk Joo termasuk bawahan dari detektif Seo Dong Hwa, salah satu detektif senior disini. “Petugas Lee kau tahu kan, aku tak bisa seenaknya membantu petugas lain yang bukan dari divisiku. Semua orang disini juga mengetahuinya,”

“Aku tahu. Tapi saat ini detektif Seo sedang menangani sebuah kasus dan aku tak bisa meminta bantuannya” jawab Lee Hyuk Joo. “Kau tenang saja, aku sudah meminta ijin pada detektif Seo dan dia menyuruhku untuk meminta bantuan detektif dari divisi manapun karena dia benar-benar tak bisa pergi bersamaku”

Aku menatap Jung Jung Yong dan Kim Myung Soo yang sepertinya penasaran dengan isi percakapanku dengan Lee Hyuk Joo yang memang berada di divisi yang berbeda. Aku melemparkan senyum ke arah mereka saat mereka kompak menganggukkan kepalanya seakan-akan mengerti bahwa aku sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Petugas Lee, kenapa kau tak terlebih dahulu datang ke lokasi kejadian. Aku akan menyusulmu setelah aku menyelesaikan beberapa laporan disini,” kataku sedikit mengulur waktu karena aku perlu untuk berpikir sebentar. “Ah, tolong kau kirimkan alamat toko hewan itu biar aku bisa segera menyusulmu kesana,” Aku melanjutkan.

Ne, gomawoyo detektif Cho. Buthakeyo,”

Ne, arraseoyo

Aku menutup telepon itu dan kembali menyenderkan tubuhku di punggung kursi. Jung Jung Yong bergegas menghampiriku, begitu pula Kim Myung Soo. Mereka sepertinya benar-benar ingin tahu kenapa Lee Hyuk Joo meminta bantuanku, padahal itu bukan urusan mereka. Karena setiap orang disini memiliki tugasnya masing-masing, dan bahkan beberapa kali mereka diminta untuk membantu divisi lain jika memang sedang diperlukan.

“Apa katanya?” tanya Jung Yong ingin tahu.

“Dia meminta bantuanmu untuk kasus apa? Itu pasti sebuah kasus yang rumit jika mereka sampai meminta bantuan dari divisi kita,” komentar Myung Soo.

Aku tertawa kecil melihat warna emosi mereka kali ini, tapi aku menyembunyikannya. “Itu bukan sebuah kasus besar sebenarnya. Ada hewan-hewan yang mati mendadak di sebuah toko hewan,” kataku memberitahu.

Mwo?”

Mwoya? Kenapa mereka bahkan meminta bantuan divisi kita untuk menangani kasus hewan seperti itu?”

Myung Soo menganggukkan kepala menyetujui perkataan Jung Yong. “Itu lebih baik kau menerima tawaran dari detektif Song. Bukankah kasus yang sedang dia tangani juga ada pembunuhannya?”

Ani, itu bukan kasus pembunuhan. Tapi bunuh diri, aku mendengar petugas Jin sedang membicarakannya di lobby. Entahlah aku tak tahu mana yang benar, tapi kasus itu sepertinya lebih menarik daripada kasus ini. Bagaimana detektif Cho?”

Sunbaenim, kalian membicarakan suatu kasus seperti sedang membicarakan gosip tentang idol saja” kataku sambil beranjak dari tempat dudukku. “Aku tak pernah memilih pekerjaan dan hanya akan melakukan pekerjaan yang datang padaku. Jadi apapun kasusnya, aku pasti akan mengambilnya. Tak peduli-“

“Detektif Cho,” seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memotong perkataanku. Detektif Song Jihyun, satu-satunya detektif wanita di kepolisian Incheon langsung menghampiriku. “Oh, untung saja kau belum pergi” katanya.

Waeiraeyo, detektif Song?”

“Detektif Cho, aku sudah mendengar bahwa petugas Lee Hyuk Joo meminta bantuanmu. Detektif Cho, bisakah aku menggantikanmu? Kita bisa bertukar kasus selama belum ada penyeledikan resmi dari pengadilan. Eotte?” desak Song Jihyun sambil mengatur napasnya sendiri. Sepertinya dia setengah berlari untuk sampai ke ruangan ini melihat bagaimana dia sekarang. “Aku akan mengurus semua hal yang berhubungan dengan pengadilan dan kantor jaksa karena pergantian detektif yang melakukan penyelidikan. Kau tenang saja, dan hanya melanjutkan apa yang sudah aku lakukan”

Aku menarik napas panjang, lalu melirik kedua sunbae ku sebelumnya yang masih terlihat terkejut dengan kedatangan Song Jihyun yang tiba-tiba ini. Aku mengamati warna emosi Song Jihyun. Saat ini warna emosinya adalah hijau muda, dan sepertinya aku tahu kenapa dia tiba-tiba semakin mendesakku untuk mengambil alih kasus yang sedang dia tangani dan memilih untuk mengambil kasus yang baru saja ditawarkan padaku.

“Apa kau yakin tak ada motif lain, detektif Song?” tanyaku sedikit menggodanya karena warna emosinya itu. “Kau dan petugas Lee sepertinya cukup dekat, kan?”

“Apa maksudmu cukup dekat, detektif Cho?” sahut Kim Myung Soo ikut berbicara.

“Ya, begitu” kataku singkat.

Aku terus memperhatikan detektif Song yang terlihat malu karena aku tahu apa tujuannya yang sebenarnya. Dia tersenyum ke arahku sesaat, lalu memalingkan wajahnya dan menatap seluruh ruangan ini.

“Baiklah, aku akan mengambil kasusmu detektif Song” kataku pada akhirnya karena tak mau dia semakin lama disini. Kedua sunbae ku ini pasti akan mencari tahu lebih jauh tentang maksud perkataanku itu. “Berikan saja semua data yang kau punya padaku, biar aku yang mempelajarinya sendiri. Sekarang kau bisa pergi ke petugas Lee yang mungkin sudah menunggu disana”

Gomawoyo, detektif Cho. Aku akan menjelaskannya pada petugas Lee jika aku yang akan mengambil kasus ini” katanya terlihat senang. “Dan aku akan meminta Park Minhyuk untuk memberikan data-datanya padamu. Kau sudah tahu mengenai kasus ini sebelumnya, kan?”

Aku menganggukkan kepala, “Aku sudah mendengarnya,”

Song Jihyun juga menganggukkan kepala, lalu dia tersenyum ke arahku dan kedua sunbae­-ku sebelum pergi meninggalkan ruangan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana dia terlihat sangat senang saat pada akhirnya aku mau mengambil kasusnya. Yah, tak ada salahnya sedikit membantu seseorang yang sedang menyukai orang lain kan? Karena mungkin saja akan ada orang yang membantuku saat aku juga sedang menyukai seseorang.

“Aku tahu, kau pasti akan tertarik mengambil kasus Song Jihyun itu. Kau kan penyuka kasus-kasus seperti ini, detektif Cho” Kim Myung Soo masih belum meninggalkan mejaku. “Lihat, bahkan ada banyak sekali cerita Sherlock Holmes di atas mejamu”

“Tapi aku penasaran kenapa Song Jihyun itu bersikeras untuk melimpahkan kasus ini padamu? Dia justru pergi ke petugas Lee untuk menangani kasus yang bisa dibilang ringan itu” Jung Jung Yong tak mau kalah untuk ikut berkomentar. “Bukankah dia akan mendapatkan kredit yang lebih banyak jika berhasil menyelesaikan kasus Nyonya Han itu? Dua kasus dalam satu kejadian, dia pasti akan menjadi detektif yang disegani disini jika berhasil menyelesaikannya”

“Kau benar, petugas Jung. Sepertinya detektif Song tak begitu menginginkan itu atau mungkinkah alasan dia melimpahkan kasus itu karena dia yakin tak bisa menyelesaikannya?”

“Mungkin saja,”

Pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini Park Minhyuk yang masuk sambil membawa beberapa tumpukan kertas ditangannya dan sebuah kotak. Dia menyapa kedua sunbae-ku sebelum menghampiriku untuk menyerahkan semua yang dia bawa. Setelah itu dia langsung pergi karena dia pasti harus menyusul Song Jihyun yang mungkin saja sudah menuju ke toko hewan itu. Ah, dia bahkan tak bertanya padaku alamat toko hewan itu tapi sepertinya dia sudah mengetahuinya dari Lee Hyuk Joo sendiri.

Aku kembali duduk di kursiku setelah Kim Myung Soo beranjak dari sana. Dia dan Jung Jung Yong kembali ke meja mereka sambil terus mengobrol tentang Song Jihyun. Memang benar, semua orang disini pasti akan membicarakan Song Jihyun karena biar bagaimanapun dia adalah satu-satunya yeoja di kantor ini. Jadi wajar saja bagiku jika semua orang membicarakannya. Aku bahkan pernah tertarik pada Song Jihyun karena dia benar-benar seorang yeoja yang cerdas. Tapi ketertarikanku hanyalah sebatas tertarik karena dia seorang detektif yang handal dan melakukan penyelidikan sampai hal-hal yang terkecil sekalipun. Tak lebih dari itu.

Aku langsung memusatkan perhatianku pada kasus yang sebelumnya di tangani oleh Song Jihyun. Tak banyak detektif yang melimpahkan kasus pada detektif lain seperti ini karena dia bisa kehilangan reputasinya. Tapi sepertinya Song Jihyun sama sekali tidak peduli dengan itu. Apalagi kasus yang dia tangani ini memang sebuah kasus besar dan harus dilakukan penyelidikan sedetail mungkin karena pengadilan pun memutuskan untuk melakukan penyelidikannya sendiri.

Sunbae Jung, dimana persisnya alamat Nyonya Han Min Sook ini? Apa kau tahu?” tanyaku setelah membaca sekilas kasus yang ada di depanku. “Atau mungkin sunbae Kim mengetahuinya juga?”

“Di Songdo, kan? Itu dekat dengan taman Songdo, ada sebuah penthouse disana. Nyonya Han tinggal di lantai 55 atau 56, aku tak begitu hapal” jawab Kim Myung Soo. “Kau bisa bertanya disana karena Nyonya Han bukan orang biasa di kawasan itu. Aigoo, bahkan orang kaya seperti dia pun harus meninggal dengan cara yang tidak wajar”

“Benar. Pengadilan memang telah menjadikan anak tirinya sebagai pelakunya karena mereka menemukan beberapa bukti yang menunjukkan itu. Tapi sekarang mereka sedang mencari sebuah kunci yang katanya kunci itu sebagai harta pribadinya yang paling berharga” sambung Jung Jung Yong. “Aku penasaran kunci seperti apa itu,”

“Kunci?” tanyaku tak mengerti. “Kenapa mencari sebuah kunci? Jika memang pelakunya sudah tertangkap itu berarti kasus sudah selesai bukan?”

“Justru kunci itulah yang terpenting, detektif Cho. Anak tiri Nyonya Han itu membunuh Eomma-nya demi sebuah kunci itu. Mungkin saja kunci itu adalah kunci untuk membuka sebuah ruangan rahasia yang berisi harta pribadinya. Karena Nyonya Han tak pernah menyimpan uangnya di bank sejak suaminya menjadi korban penipuan di salah satu bank di Seoul” Kim Myung Soo menjelaskan padaku. “Tak ada yang tahu dimana Nyonya Han menyembunyikan kunci itu, karena itulah detektif Song memutuskan untuk ikut mencarinya disaat pengadilan berhasil menangkap pelakunya”

Geurae, geurae. Putri Nyonya Han juga meminta pada pengadilan dan pihak kepolisian untuk menemukan kunci itu karena dia yakin, eomma-nya meninggalkan kunci itu untuknya” sambung Jung Yong.

Aku diam saja dan berpikir sambil membaca semua data yang ditinggalkan Song Jihyun. Memang benar jika dia sedang mencari sebuah kunci tua dan itu tertulis di catatannya. Song Jihyun bahkan menggambarkan seperti apa kunci itu serta petunjuk-petunjuk kecil yang berhasil dia temukan. Tapi sepertinya aku benar-benar harus pergi sendiri untuk melakukan penyelidikan karena ada sesuatu yang menarik perhatianku saat ini. Ada sebuah kode angka, bunga matahari dan sebuah gambar bendera Korea di salah satu catatan Song Jihyun. Aku harus mencari tahu apa maksud ketiga petunjuk itu dan aku akan langsung ke pergi ke rumah Nyonya Han untuk melihatnya sendiri.

Ya, aku harus melakukannya dan menyelesaikan kasus ini.

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

50 thoughts on “[Series] Have You Seen -Part 3-

  1. sandia says:

    Joohyun yqng dimaksud itu pasti adik kyu kan thor? Tapi kenapa marga mereka beda? Ah sooyoung harusnya ada lebih banyak moment kyuyoung

  2. Sistasookyu says:

    Syo hidupnya kasian bgt
    well, si joohyun adiknya kyu kan?
    Waaa syo bakal lebih sering ketemu kyu nih..

  3. Risqi says:

    makin ribet ya kasus yang harus ditangani kyu? kyuyoung moment nya di part ini nggak begitu banyak, semoga di part selanjutnya lebih banyak lagi. pasti keren ya kalo di real life si kyuhyun jadi detektif? ditunggu part selanjutnya..

  4. Aulia Ratna says:

    Thor kyuyoung moment banyakin dong hehe dikit bgt momentnya😣😣😣 tapi keren thor ga pernah baca ff kaya gini sebelumnya ^^

  5. met says:

    Uahhh daebak
    Itu kasus yang kyu tanganin keren yah kalo mnrt aku sih kuncinya bkn soal harta warisan *slah fokus
    Hhaa itu kyuyoungnya udh saling suka y cieee nextnya cpt ne😀
    Stuck in love jg😀

  6. Ola says:

    Kerennnnn….
    aku suka, klo kasus pembunuhan atau bnuh diri. soo cocok jadi partner Kyu. dy kn bsa liat gwishin *hahaha.

  7. epanda says:

    suka banget sama ceritanya. suka suka suka pokoknya hihihi
    kyuyoung momentnya kuraaaang hihii
    lanjut!!

  8. aku suka banget ceritanya, complicated and super loooong hahaha
    bukan cerita biasa yang klise, aku suka aku suka
    dilajutkan yaaa thor…. muach

  9. Isma KSY says:

    widih.. daebakkk, ini bagus banget klo di jadiin drama.. haha
    cieee, kyu mulai deg deg serrrr.. itu soo eon ketemu ahjumma eommanya joohyun apakah ada kaitannya sama penyidikan yang akan di tangani kyu? ah~kayaknya kgak ada hubunngannya yah.. hehe
    di tunggu sangat kelanjutannya thor.

  10. HLZ says:

    Kyu jd penguntit soo. Tanda tanda mereka udah saling suka nih…. Dan makin banyak kasus bermunculan mudah mudahan bisa bikin soo- kyu makin deket ya…
    Next ya…

  11. windasonelf says:

    kasus lain pun berdatangan kk~ dan ak msih pngen kyuyoung moment lgi..

    next chap pngen bnyak moment kyuyoung ny hehe

  12. mongochi*hae says:

    akhirny kasus n selesai tp dtng lg kasus lain
    nah justru ini n. moment kyuyoungny kurang mnurut ak sdngkan kasusny bnyk…
    jd gk balance ..

    so utk next part ttp dtunggu🙂

  13. Aduhhh… makin seru’!!
    tpii knapaaa.. dg ada.A ksus” baru jdii khwatir intensitas ktemu Kyusoo jdii jarangggg.. but lanjuuuuuutttt..

  14. benih2(?)cinta muncul.. tp msh belom pada sadar. stlh mslh kembar selesai, semoga mereka berdua terlibat lg… buat lbh memastikan perasaan😄

  15. aaaahh aku kira bakal ada kemajuan hubungan Kyuhyun Sooyoung disini, ada sih tapi dikiiiiiiiiiiitt banget😀
    apa sooyoung akan terlibat lagi sama kasus kyuhyun kali ini?
    semoga aja sih, kyuyoung momentnya banyakin, hehehehe😀
    ah iya, stuck in love kapan lanjut kak? asli penasarin banget, aku nunggu banget loh kelanjutan ff itu, abis udah masuk part menegangkan menjelang ending😀
    pokoknya aku tunggu stuck in love😀
    mangatse!

  16. NitaKnight says:

    Maaf chingu bari komen di part ini..
    Ceritanya makin seru tp Kyuyoung momentnya dikit.. :3
    Next..
    Oiya Stuck in Love nya ditunggu..🙂

  17. soocyoung author emang author yg pandai merangkai kata.. Aigo..
    After stuck in love mski msih blum end, d lanjut nih ff…🙂 like all your ff eonnie… D tggu next partnya🙂

  18. panjang nya,,,, dan aku puas chingu,,
    tapii dikit amat moment kyuyoung ya,,,
    next part di tggu dan tlong bnyakkin moment kyuyoung nya ^_^

  19. Youngra park says:

    Kerennn smkin membuat aku pengen bca terus eoni n supaya cpt2 hubungan kyuyoung ad kemajjuan next part di tnggu

  20. Kadang-kadang suka mendadak parno dan merinding disko kalo baca ff ini…hihi
    suasana sama deskripsinya jelas banget sih, jadi langsung bisa ngebayangin, apalagi gwishin-nya, kadang suka serem sendiri
    tapi jadi bikin penasaran terus

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s