[Oneshot] No More B (Before Story)

bsnomoreb

 

(Before Story) No More B

By @atsumori_shira

Cho Kyu Hyun x Choi Soo Young

Seo Joo Hyun. Kim Woo Bin

17.

Ini adalah hari ke empat puluh sejak Kyu Hyun pulang dari Swiss. Dua minggu lalu ia melepas rindu bersama kekasihnya. Dan sejak saat itu dia belum bertemu kembali dengan Seo Hyun. Seo Hyun mengatakan pada Kyu Hyun jika dirinya disibukkan oleh skripsi dan les paino untuk persiapan lomba pekan depan. Dan Kyu Hyun pun dijebak oleh setumpukan kertas agar segera diselesaikan dan menomor sekiankan urusan percintaan pria umur dua puluh delapan itu.

Pria itu hendak mengajak kekasihnya untuk pergi ke candle light dinner malam ini. Oh tidak! Dia sudah mencobanya beberapa kali namun hasilnya tetap nihil. Seo Hyun selalu menolak ajakkan Kyu Hyun dengan alasan sibuk mempersiapkan konser tunggalnya. Dan itu membuat si pria Cho itu meradang tak karuan.

***

“Yeoboseyo? Choi Soo Young imnida…”

“….,”

“Nde? Ah….ne….,”

Wanita itu merutuk sendiri. Dengan memajukan bibirnya lucu, lalu memasukkan Apple beserta keperluan lainnya ke dalam tas Channel yang masih panas, keluaran dua hari lalu-, tentu saja dibelikan oleh sang kekasih tercinta.

“Sekertaris Kim, tolong jaga salonku sebentar, sementara aku harus menemui klienku di luar. Eoh, aku juga membawa oleh-oleh dari Jepang. Tolong bagikan untuk teman-teman lainnya juga, nde?” Setelah mendapat jawaban yang diinginkan, gadis dewasa itu melenggang pergi.

***

“Cho Kyu Hyun-ssi?” Wanita muda itu berdiri di depan tempat duduk yang diduduki oleh seorang pria bersetelan rapi. Di depan pria itu sudah menguap asap-asap yang terkepul dari secangkir kopi keruh beraroma lezat.

“Choi Soo Young-ssi?”

Pemilik nama Soo Young itu langsung duduk di kursi kosong tanpa meminta izin dari pria yang disebutnya sebagai klien.

“Jweisonghamnida, bolehkah aku memesan terlebih dulu? Uh! Seoul sangat panas hari ini. Aku heran mengapa Kyu Hyun-ssi justru memesan hot Cappucino disiang hari.” Soo Young bersungut-sungut sambil merapikan dress bawahnya. Menghiraukan tanggapan dari orang di sebrang sana.

Kyu Hyun sempat mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Wanita cantik di depannya sangatlah terbuka. Yeah.. meskipun pada orang lain yang belum terlalu gadis Choi itu kenal baik. Namun Kyu Hyun justru memamerkan sedikit kagumnya pada sosok yang terlihat ceria itu. Ah….dan berani tentunya. Dia kembali menyeruput kopi keruhnya, bisa dilihat setelahnya isi di cangkir putih itu bergoyang-goyang.

Seorang pramusaji yang beberapa menit sebelumnya menyatat pesanan si pelanggan cantik dan kembali menanyakan apa yang mungkin ingin pelanggan tampannya ajukan,- kembali dengan membawa nampan untuk Choi Soo Young.

Choi Soo Young dengan senang hati menerima, lantas melahap waffle yang tadi dia pesan, “Eum…jeongmal masisseoyo.” Dan saat retinanya menlihat sosok namja di sebrangnya, gadis mapan itu segera ‘membersihkan’ ekspresi lucunya tadi, “Ah, mianhaeyo, Kyu Hyun-ssi.” Wanita itu meletakkan wafflenya dan menyempatkan jus segar di depannya masuk ke dalam tenggorokannya yang mulai kering, “Ehem,, sepertinya kau sudah tahu apa yang ingin kau pinta dariku. Jadi, apa itu?” Soo Young menatap serius ‘klien’ pertama di profesi muliannya.

Perut Kyu Hyun kembali tergelitik melihat tingkah polah gadis itu. Tak disadarinya jika sedari tadi kedua tangannya sudah menjadi sanggahan dagu lancipnya. Ah, terlalu nyaman melihat dan mendengar ocehan gadis yang a-kan  memberinya tiga bantuan.

“Eoh, sepertinya begitu. Dan permintaan pertamaku yaitu…,” Kyu Hyun dengan usil menahan ucapannya. Menikmati  saat Soo Young dengan bibir mengatup rapat dan pandangan mata yang menunggu. Pria itu sudah tak bisa menahan tawannya, sebenarnya. Tapi dia harus menjaga perasaan hawa yang dengan senang hati memberi bantuan padanya, “Ah, mianhaeyo. Sebenarnya seperti ini, Soo Young-ssi, aku memiliki kekasih yang sangat aku cintai dan sesegera mungkin ingin aku nikahi,-”

Pandangan mata Soo Young turun ke bawah, memandang sesuatu di sekitar heel silvernya, “Sebenarnya juga kau tak perlu mengatakan bagian itu. Aku juga bisa membacanya.” Soo Young berusaha bergumam sepelan mungkin. Tapi suaranya tetap mampu menembus pintu zone telinga Kyu Hyun.

Saat itu juga Kyu Hyun tertawa lepas. Aaa… beban yang selama beberapa waktu ini menumbuknya, serasa terlepas sudah. Choi Soo Young memang wanita anggun yang berani.

“Ha ha ha ha…Ah, geure..aku akan melewati bagian yang itu.” Kyu Hyun menghela napas dalam-dalam lalu menatap mantap pada gadis yang memperlihatkan raut kesalnya yang manis, “Selepas pulang dari Swiss satu bulan lebih yang lalu, aku hanya bertemu dengan kekasihku sekali saja. Dan selepas itu untuk melepas rindu dengannya sangat sulit sekali. Dan kau tahu? Aku berencana untuk melamarnya. Tapi dia selalu menolak untuk ke luar bersama dengan alasan debut konser mininya . Hah…. itu membuatku sedikit stress. Jadi, Soo Young-ssi, aku butuh kau mengurangi stressku.”

***

“Sebenarnya, Kyu Hyun-ssi, aku tidak bisa melakukan dua permintaan yang kau ajukan sekaligus. Jika dua permintaan yang Kyu Hyun-ssi inginkan, itu berarti dua dari tugasku selesai. Yah, itu jika aku sudah melakukan apa yang kau pinta. Bagaimana? Kau mengerti?” Soo Young berjalan pelan dengan ice cream vanilla + cokelat memenuhi tangan dan mulutnya. Dengan di sampingnya berdiri tubuh kokoh yang mulai mengendur milik Kyu Hyun, yang juga menenteng satu cup ice cream ditangan yang dilingkari gelang dari sang kekasih.

“Oh, benarkah? Memangnya apa permintaanku itu, Soo Young-ssi?” Kyu Hyun bergaya seperti seorang pemikir, sampai membiarkan pucuk ice cream mencium ujung hidung mancungnya.

Soo Young menghentikan langkahnya kasar. Mengembungkan pipi tembamnya sekali lalu memicing menatap Kyu Hyun gemas.

Sedangkan Kyu Hyun memandang Soo Young dengan alis yang terangkat bebas. Mereka terlibat pada bayangan yang beberapa saat lalu terjadi.

Flashback:

“……… Jadi, Soo Young-ssi, aku butuh kau mengurangi stressku.”

Kyu Hyun langsung menarik tangan Soo Young, membuat wanita muda itu kesusahan karena harus memasukkan kembali beberapa barang yang tadi dia keluarkan yang ternyata tak terpakai dan menyempatkan menghabiskan waffle lezat kesukaannya juga minuman yang dia pesan.

“Kau mau menculikku ke mana, Kyu Hyun-ssi? Kau bahkan tak menyadari jika kau berjalan dengan seorang wanita elegan yang kepayahan karena ulahmu yang tak sabaran itu.” Soo Young terus berusaha menggerutu sepanjang perjalanan mereka. Karena ulah Kyu Hyun tadi, wajah ayunya mendapat kenang-kenangan dari cangkir minuman yang ternyata bekas Kyu Hyun tadi.

“Aku sudah bilang padamu untuk menghilangkan stressku. Bukankah aku memiliki tiga permintaan darimu, Soo Young-ssi?” Lelaki itu terus berjalan dengan kalem dengan terus sedikit menarik tangan Soo Young. Bahkan gadis itu masih terlihat membereskan semua barang bawaannya untuk masuk ke dalam tas.

Tiba-tiba Kyu Hyun berhenti dan itu membuat Soo Young kembali menggerutu oleh orang yang sama untuk ketiga..ah,,, untuk kesekian kalinya. Lihat saja, barang-barang Soo Young yang sedari tadi dia bereskan kembali berserakan di tanah. Ya..ya.. dia mencium punggung keras Kyu Hyun.

Sementara si lelaki pelaku utama justru memandangi etalase yang mempertontonkan hal yang menarik matanya. Bibirnya melengkung dengan indah yang sekilas Soo Young tangkap dan membuat wanita itu sedikit mengerjapkan mata bulat Koreanya.

“Soo Young-ssi? Kau melihat gaun indah di depan itu? Bagaimana menurutmu? Indah, bukan?”

Soo Young melirik sekilas pada benda yang dituju Kyu Hyun. Matanya mengerling bosan. Gaun itu bahkan sudah pernah dilihatnya saat berjalan-jalan di Jepang beberapa hari lalu. Pastilah gaun itu sudah ke luar dari batas limited edition seperti high levelnya.

“Apa kau ingin membeli gaun itu, Kyu Hyun-ssi? Untukmu?” Wanita itu bertanya ketus. Dia menurunkan tubuhnya hendak kembali membereskan barang-barangnya yang Kyu Hyun jatuhkan secara tidak sengaja.

Kyu Hyun serta merta menatap datar pada wanita yang masih berjongkok di bawah, “Ish, bukanlah. Itu untuk kekasih tercintaku. Dan aku bertanya padamu, Soo Young-ssi.” Dalam nadanya terselip kekesalan lelaki itu. Tapi tak berangsur lama. Dia ikut berjongkok membantu Soo Young membereskan barang-barangnya.

“Ini..” Lelaki itu memberikan benda yang seperti kartu ucapan pada Soo Young. Dan wanita itu menerimanya dengan perasaan yang masih kesal.

“Terima Kasih kembali,” Ucap Kyu Hyun menggoda.

“Arayo, terima kasih banyak, Kyu Hyun-ssi.” Soo Young melirik datar pada lelaki itu. Berterima kasih dengan nada penuh tekanan.

Dan Kyu Hyun langsung tertawa. Mengerjai wanita baik hati di sampingnya membuat kebahagiaan tersendiri. Selama ini dia merasa hanyalah kekakuan yang menghiasi umur menuju akhir dua puluhannya. Dan wanita anggun bernama Choi Soo Young, menyuntikkan warna-warna yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, di kehidupan pria itu.

“Jadi, Soo Young-ssi, bagaimana menurutmu? Apakah gaun indah itu cocok untuk kekasihku?” Kyu Hyun menatap Soo Young tulus. Pria itu menanti jawaban Soo Young dengan wajah sedikit antusias. Membuat Soo Young sendiri agak rikuh, mendapat pandangan seperti itu dari pria selain kekasihnya. Lantas dia menatap pada gaun yang dibicarakan Kyu Hyun.

“O-oh… itu bagus. Tapi bagaimana kepribadian kekasihmu itu? Apa dia seorang yang pemberani? Gaun dengan warna itu akan cocok dengannya.” Naluri fashionistanya ke luar sudah. Menimang dan memilih gaun dengan perpaduan warna yang cocok dengan tubuh seseorang.

Kyu Hyun berpikir sejenak lalu menatap wanita di hadapannya dan menggeleng lemah, “Bukan. Kekasihku adalah gadis lembut. Dia seperti melati putih yang terjaga keasriannya. Dia sedikit malu hingga membuatku ingin terus menggodanya. Dan dia sedikit tertutup. Tidak seperti seseorang yang berani.” Kyu Hyun menatap usil Soo Young dengan senyuman menyungging dibibirnya. Sementara dia tak membiarkan Soo Young melihat senyumnya saat gadis itu memalingkan wajah padanya.

Soo Young sendiri merasa janggal dengan kalimat terakhir pria itu. Namun dia tak terlalu tertarik pada hal itu dan lebih suka menyinggung pada penilaiannya terhadap suatu barang yang menurutnya cantik, “Ah, sayang sekali. Gaun yang kau sebut indah di dalam etalase itu tak akan cocok dengan kekasihmu kalau begitu, Kyu Hyun-ssi. Apa kau ingin aku mencarikan warna dan model yang lebih cocok ditubuh pacarmu itu?” Soo Young menunjukkan senyum masternya. Level fashionnya sudah tak bisa dielakkan lagi memang dan hal itu sangat Soo Young bangga-banggakan.

“Geureyo? Baiklah. Kaja!” Kali ini pria bertitle PresDir itu melenggang terlebih dulu dengan sikap bossynya. Membiarkan Soo Young menyusul di belakangnya. Tentu saja dengan sedikit gerutuan.

Memangnya dia asisten pria itu? Setidaknya itu yang Soo Young permasalahkan.

Mereka berdua terlibat dalam hubungan yang lebih menguntungkan sisi si pria. Kyu Hyun sudah mendapatkan semua yang ingin dia beri kepada kekasihnya dan itu semua berkat bantuan dari si fashionista, Choi Soo Young. Selain itu, Soo Young juga membantu memilihkan pakaian yang pas untuk Kyu Hyun kenakan untuk menonton pentas kecil kekasihnya juga untuk lamaran pria itu nanti. Dan yang terpenting, Kyu Hyun sudah mengantongi cincin yang akan ia gunakan untuk momen lamarannya nanti.

Dan setelah merasa semuanya beres. Sampailah mereka di dekat pasar malam di daerah Gangnam. Berhenti untuk mengunjungi kedai ice cream dan stand makanan juga minuman lainnya. Atau untuk membeli oleh-oleh cantik yang menarik perhatian mereka.

Flashback done.

Kyu Hyun seolah membaca semuanya yang sudah ia dan Choi Soo Young lalui setengah hari ini. Dia tersenyum hangat. Meski bibir Soo Young hanya mengeluarkan poin-poin berharga saja, namun dalam otaknya seperti terputar bagian-bagian dari semua hal yang telah mereka lewati.

Benar juga, dia meminta wanita manis itu untuk menghilangkan stressnya saja. Namun pada kenyataannya dia meminta Soo Young untuk menentukan semua persiapan rencana lamarannya juga. Jadi, sudah dua permintaankah yang dia ajukan? Itu berarti, hanya satu permintaan yang tertinggal. Kyu Hyun berpikir, bantuan dari gadis asing ini sangatlah penting. Dan rasanya permintaan terakhirnya haruslah juga untuk keinginan terpentingnya.

Baiklah.. dia akan menggunakan permintaan terakhirnya dengan sebaik-baiknya.

“Kyu Hyun-ssi? Kyu Hyun-ssi?” Soo Young rasanya lelah menggoyang-goyangkan tangan kurusnya di depan wajah Kyu Hyun yang lumayan tampan, menurutnya. Pria ini terus melamun memandanginya. Dia merasa risih dengan tatapan yang disertai senyuman kecil itu.

“Ah, ye?” Pria itu sedikit tergagap dan tersenyum canggung pada wanita yang kembali dibuatnya kesal. Namun Kyu Hyun malah menikmati tiap momen itu. Dan merekamnya dalam ingatan.

“Kau mengerti bukan, Kyu Hyun-ssi? Kau sudah menggunakan dua permintaanmu–,”

“Dan hanya satu permintaan lagi yang tersisa. Arayo, aku mengingatnya, Soo Young-ssi.”

Soo Young mengembungkan pipinya kesal. Pria ini, selain membuatnya sering menggerutu juga berpotensi membuat pipi-pipinya makin tembam.

Kali ini Kyu Hyun tersenyum hangat yang sangat tulus. Dia mengulurkan tangannya pada Soo Young, “Nan arayo, Soo Young-ssi. Dan aku sangat berterima kasih untuk hari ini. Kau sangat membantuku. Terima kasih, Choi Soo Young-ssi. Aku akan menagih satu permintaanku yang tersisa.”

Soo Young pun tersenyum dan menjulurkan tangannya menerima sapaan Kyu Hyun. Rasanya cukup menyenangkan dapat membantu klien perdananya, “Nde. Kau bebas menggunakan permintaan terakhirmu, Kyu Hyun-ssi.”

“Semoga kau menikmati hari-harimu ke depannya. Dan tunggu panggilanku nanti.” Kyu Hyun mengeluarkan tawa renyahnya. Dan membungkuk pada wanita asing yang banyak membantunya hari ini.

“Ye. Aku menunggu panggilanmu, Kyu Hyun-ssi. Selamat tinggal.”

Dan setelah saling tersenyum juga membungkuk untuk perpisahan. Dua sejoli itu berpisah di jalan yang berlawanan. Menanti hari memanggil mereka. Menanti takdir yang berencana mempertemukan mereka.

***

Untuk kesekian kalinya, Soo Young dibuat meradang oleh kekasihnya di bulan ini. Kim Woo Binnya kembali harus meninggalkan Negara Korea ini dan berkutat dengan rentetan berkas-berkas penting di luar sana. Itu membuat Soo Young membenci selingkuhan kekasihnya. Ahh….rasanya menjadi kekasih dari Kim Woo Bin sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Dia harus sering menelan bulat-bulat rasa rindunya untuk lebih lama menikmati waktu bersama sang kekasih hati.

“Arayo, Youngi. Oppa akan membelikan hadiah yang cantik dan cepat pulang. Jadi, berhentilah merajuk seperti itu.”

Soo Young masih mempertahankan sikap acuhnya. Tapi tak lama kemudian dia sudah bergelayut manja di lengan sang kekasih, “Ini pertama kalinya oppa berbicara sepanjang itu sejak kita berpacaran. Belajar dari mana, eoh?”

Kim Woo Bin tersenyum mendengar celotehan pacar uniknya ini lantas mengelus mesra kepala sang kekasih, “Oppa belajar darimu, Youngi. Ja.. bisakah oppa pergi sekarang?”

Ya, saat ini Soo Young tengah mengantar kekasihnya ke luar negeri. Sedari tadi pantatnya berat untuk beranjak dari rumahnya menuju bandara dan beranjak dari ruang tunggu di bandara ini.

“Oppa, bisakah kau tidak pergi saja? Atau aku yang perlu ikut denganmu? Kau tidak tahu jika kekasihmu ini sangat-sangat mudah merindukanmu, eoh?”

Kim Woo Bin kembali tergelak. Kekasihnya ini mudah sekali memberikan kebahagian untuk orang lain. Dia sangat beruntung menjadi kekasih dari seorang Choi Soo Young. Dan makin menyayangi Soo Youngnya.

“Soo Youngi, apa kau mau memiliki pria yang miskin, eoh? Oppa bekerja untuk wanita oppa nantinya. Oppa tak mau kelak wanita dan anak-anak oppa kekurangan materi. Jadi, oppa harus menabung dari sekarang. Jadi, Youngi, izinkan oppa untuk tak menemanimu sebelum nantinya oppa meminangmu. Oppa hanya ingin menikmati waktu oppa bersamamu jika sudah menikah.”

Suara lembut Woo Bin seperti menyihir Soo Young. Perkataan oppanya sangatlah menenangkan hati Soo Young. Wanita muda itu makin mengeratkan pelukannya sebelum melepasnya, “Baiklah. Karena oppa sudah merayuku dan berhasil, aku akan mengizinkanmu untuk kali ini saja. Dan jangan salahkan aku jika aku menghabiskan waktuku saat oppa tak ada dengan pria lain.”

“Silakan jika pria itu memiliki cukup uang untuk menraktirmu, Youngi. Oppa akan tenang. Ha ha ha ha.”

“Ish..oppaaa” Dan lengkingan manja Soo Young harus menjadi tanda dari perpisahan sejoli yang kasmaran itu.

***

“Kyu Hyun-ssi, rasanya aku cemburu pada kekasihmu itu.”

Ya. Kyu Hyun dan Soo Young kembali bertemu dan bekerja sama. Tapi di sini bukan Kyu Hyun yang memanggil Soo Young, melainkan mereka kebetulan bertemu dan berencana melewati waktu bersama.

“Waeyo? Bukankah kau juga memiliki kekasih yang kau bangga-banggakan itu?” Kyu Hyun bertanya sambil memilah satu hadiah yang ingin dia berikan untuk Seo Hyun.

“Iya. Itu memang benar. Tapi kekasihku sedang bertugas di luar negeri. Kau tahu? Tugas ke luar negeri itu seperti musuh untukku. Mereka sengaja datang untuk memisahkan aku dengan Woo Bin oppa. Bahkan saat di Korea saja, Woo Bin oppa sangat sukar untuk ke luar bersama.”

Dan kembali. Telinga Kyu Hyun rasanya tak bosan mendengar ocehan dari Soo Young. Entahlah, dialek atau idiolek apa yang wanita itu gunakan hingga membuat tiap kata yang ke luar dari mulutnya selalu menarik perhatian dan tak membosankan.

“Aaa… itu berarti kekasihmu kurang berusaha mengosongkan waktunya untukmu. Tenang saja, jika kau kesepian dan jika aku memiliki waktu, kau boleh memanggilku.”

“Dan kau akan memiliki tiga permintaan baru nantinya. Begitu? Huh… aku tak ingin terlalu banyak menikung dariWoo Bin oppa dengan berjalan denganmu.”

“Ha ha ha.. sepertinya setelah ini kau akan dimarahi oleh kekasihmu itu, Soo Young-ssi. Jadi nikmati waktu kita berdua saja saat ini.”

“Maaf, Kyu Hyun-ssi. Bahkan aku sudah mengantongi izin dari kekasihku. Aku tak akan terkena kemarahan darinya. Tapi aku tak tahu dengan kekasihmu. Biasanya gadis yang pendiam itu menakutkan di dalamnya.” Dan Soo Young langsung menutup mulut lancangnya sesaat setelah menyadari hal bodoh yang ke luar dengan enaknya dari mulut besarnya.

“Soo Young-ssi, apa baru saja kau membicarakan kekasihku?” Kyu Hyun memicing pada Soo Young. Tubuhnya mendekat pada wanita itu. Terus mendekat sampai membuat Soo Young ketakuan.

“A-aku… a-ku…” Rasanya suara Soo Young tak bisa ke luar juga. Dia bisa mencium dengan kelas parfume pria itu. Dan baunya cocok untuk levelnya, “A-aku… ah, wae?? Bukankah tadi kau juga menghina keprofesionalan kekasihku? Apakah aku tak bisa membalasnya?” Ah, lega rasanya. Suaranya yang tercekat tadi sudah ia keluarkan. Meski sebenarnya agak melesat dari tempatnya.

“Ha ha ha ha..” Lelaki itu tergelak puas. Membuat orang-orang yang ada di counter itu melihat ke arah mereka berdua, “Kena kau, Soo Young-ssi… ha ha ha ha…” Kyu Hyun sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa. Oh! Kembali mengerjai Choi Soo Young membuat hidupnya lebih muda sepuluh tahun.

“Kyu Hyun-ssi, hentikan tawa menjengkelkanmu itu. Kau membuat orang-rang melihat aneh kepada kita. Dan sebelum kita benar-benar diusir, berhentilah tertawa.” Rasa bersalah dan takut Soo Young berubah menjadi kejengkelan. Sebelumnya wanita itu mengira jika hari ini Kyu Hyun tak akan menggodanya, tapi ternyata itu salah.

Kyu Hyun menggenggam tangan Soo Young dan menatap wanita itu intens, “Kau terlalu berani, Soo Young-ssi. Kau bahkan tak berusaha menggunakan konotasi saat menyindirku. Tapi tak apa. Aku tak keberatan.” Lalu melepaskan tangan gadis itu dan kembali memilah lagi.

Wanita muda itu mengerling sebal, “Ish,, kenapa aku menghabiskan waktuku bersamamu, Kyu Hyun-ssi? Padahal masih banyak hal menyenangkan yang tak membuatku kesal.” Soo Young menggerutu sebal. Dan ikut melihat-lihat barang-barang yang mungkin akan menjadi piraannya.

“Mungkin karena kau terpikat padaku. Dan aku selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu.” Dan pria itu sepertinya tak sadar sudah mengeluarkan pernyataan yang membuat wanita cantik di sana termenung. Apakah benar seperti itu?

“A-apa maksudmu? Apa kau sudah menemukan barang itu?” Sebetulnya Soo Young masih berpikir. Apakah dia terlalu jauh menikung dari kekasihnya?

“Soo Young-ssi..”

Soo Young dikagetkan oleh sosok Kyu Hyun yang sudah berdiri di depannya. Kapan pria itu berjalan?

Lelaki itu menyematkan sebuah gelang cantik ditangan kirinya. Memandanginya beberapa saat lalu mengangguk bangga, “Gelang itu memang cocok.”

Soo Young termangu. Gelang itu memang sangat cocok untuknya. Dan dia sangat menyukainya. Tanpa sadar senyuman indah menyungging dibibir Soo Young. Namun hilang kembali saat Kyu Hyun melepaskan gelang itu dari tangannya. Baru saja Soo Young ingin menyetujui perkataan Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum memandang gelang manic hitam itu lalu memasukkannya ke dalam kantong jeansnya dan mengeluarkan gelang lainnya yang berwarna hijau tosca lalu menyampirkannya digelang yang tadi disinggahi gelang hitam, “Dan sepertinya gelang ini lebih indah jika dipakai ditanganmu. Cantik, Soo Young-ssi. Untukmu.”

“Uh?” Soo Young kembali terkaget karena Kyu Hyun menyelipkan gelang itu dengan cepat ditangannya. Dan saat dia mengangkat tangannya, Soo Young tersenyum tulus. Gelang itu sangat cantik dan indah dipakainya, “Gomawo, Kyu Hyun-ssi. Aku menyukainya.”

Kyu Hyun pun tersenyum, “Aaa… sepertinya Cho Kyu Hyun sudah pantas sejajar dengan fashionista macam Choi Soo Young soal selera.”

Dan mereka tertawa lepas bersama untuk pertama kalinya.

“Kyu Hyun-ssi… semoga lamaranmu berjalan lancar.”

“Eum.. semoga kekasihmu lebih memiliki waktu untukmu, Soo Young-ssi.”

“Nde.”

“Nde.”

***

Kyu Hyun tengah mengantar kekasihnya pulang selepas dari konser piano sang kekasih. Dipertunjukan itu, Seo Hyunnya sangat menawan. Apalagi wanita itu memakai gaun sepatu juga perhiasan yang dia berikan. Dan Kyu Hyun sudah membulatkan tekadnya untuk melamar Seo Hyun mala mini pula. Rupanya dia sudah tak sabar.

“Seo Hyun-ah, sayang..”

“Nde, oppa?”

“Ada yang ingin oppa bicarakan.”

“Apa itu, oppa?”

Namun sebelum itu, Kyu Hyun menepikan mobilnya. Menghirup napa beberapa kali. Tangannya bergerak untuk mengambil sesuatu yang berkilau. Dan menahannya di dalam saktu celananya.

“Seo Hyun-ah, aku sudah mencintaimu beberapa tahun ini. Dan oppa merasa sudah nyaman bersamamu. Ku mohon jangan memotong oppa,” Kyu Hyun menyamping, menggapai tangan Seo Hyun yang putih dan menggenggamnya erat. Menyalurkan kegugupan yang tiba-tiba menderanya, “Seo Joo Hyun, maukah kau menikah denganku?”

Hening yang terjadi untuk beberapa saat. Sampai tangis Seo Hyun yang menjadi satu-satunya sumber suara. Seo Hyun terguguk. Dan itu makin membuat Kyu Hyun gugup.

“Oppa… Kyu Hyun oppa…”

Kyu Hyun pun bisa merasakan remasan tangan kekasihnya.

“Seo Hyun-ah…”

“Mianhae. Mianhae, Kyu Hyun oppa.. Mianhae…”

Hati Kyu Hyun mencelos. Apakah ini artinya kekasihnya menolaknya? Mengapa rasanya sakit sekali? Bukankah mereka saling mencintai?

“Seo Hyun-ah..”

“Oppa… Mianhae. Aku… aku ingin fokus pada karir dan pendidikanku.. aku…aku…”

“Wae? Bukankah kau masih bisa berkarir dan meneruskan pendidikanmu setelah kita menikah? Oppa tak akan melarangmu.”

“Oppa! Aku tetap tak bisa. Aku tak bisa. Aku mencintaimu, oppa. Tapi untuk alasan itu, aku masih belum bisa. Ditambah…ditambah keluargaku sudah mendaftarkanku ke luar negeri. Aku ingin mengambil beasiswaku, oppa… mianhae.” Seo Hyun menunduk. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tak ingin kehilangan cintanya. Namun satu sisi dari hatinya seolah menolak keras.

“Seo…. Oppa..”

Kyu Hyun meleleh. Air matanya ke luar sudah. Dia menghindari tatapan Seo Hyun. Sungguh hatinya sakit. Dia ditolak oleh orang yang dicintai dan mencintainya.

“Oppa….”

Hati Seo Hyun sakit mendapat penolakan dari Kyu Hyun. Dia sungguh masih sangat mencintai Kyu Hyun. Namun jiwa muda dan petualangannya menahan dia untuk menerima pinangan pria tampan itu. Dia sungguh tak bisa.

Seo Hyun mengahpus kasar air matanya dan membereskan dirinya sendiri. Lantas menoleh pada kekasihnya, masih bisakah dia memanggil pria itu sebagai kekasihnya? Lalu pergi…

“Oppa.. aku rasa oppa butuh waktu. Begitu pun aku. Aku pergi, oppa.”

Selepas kepergian Seo Hyun, Kyu Hyun mengamuk dalam mobilnya. Dia membanting keras tangannya pada setir yang tak bersalah. Membanting semua barang yang ada di sana sampai membuat kaca mobilnya retak. Dan terus meninju-ninju tangannya sampai berdarah. Namun luka ditangannya tak separah dalam hatinya. Hatinya sungguh sakit. Mengapa Seo Hyun menolaknya? Apa dia terlalu cepat? Apa hubungan lima tahun itu tetap terlalu cepat?

“Arrgghhhh!”

***

Soo Young berlari menyusuri tempat bau dan sesak ini. Dia mencari pria yang dengan seenak hatinya menelpon dan memaksanya ke mari. Matanya menangkap sosok yang terlihat mengamuk di country bar yang terlihat sudah kosong. Pantas saja, ini sudah mulai pagi dan bar pun mulai sepi pengunjung. Dia langsung berlari menuju pria itu berada.

“Kyu Hyun-ssi!”

“Nona, tuan ini sejak tadi pagi sudah banyak minum. Dan akan marah jika tak kami beri lagi.”

“Ah, nde. Jweisonghaeyo.. aku akan membawanya.”

Dengan bantuan pegawai di sana, dia membawa Kyu Hyun ke mobilnya.

“Uh! Andai Woo Bin oppa tahu, pasti kau akan dibunuhnya, Kyu Hyun-ssi. Ada apa denganmu, Kyu Hyun-ssi?” Sepertinya tiap berada di sekitar Kyu Hyun tak pernah membuatnya untuk tak menggerutu.

“Seo Hyun-ah…” Terdengar Kyu Hyun meracau. Menggapai-gapai tubuh Soo Young.

“Kyu Hyun-ssi? Aku Choi Soo Young.”

“Seo Hyun-ah…”

Soo Young terus berusaha menyadarkan Kyu Hyun, meski dirasanya tak akan berhasil. Ada apa dengan pria ini? Mengapa dia sepertinya terus memanggil kekasihnya?

“Seo Hyun-ah….”

Apa jika Soo Young menamparnya, lelaki ini akan sadar? Seperti dalam film-film yang sudah ditontonya? Meskipun konyol, tapi sepertinya Soo Young akan tetap melakukannya.

Dan berhasil. Kyu Hyun sudah berhenti memanggil nama Seo Hyun lagi.

Kyu Hyun menatap Soo Young nanar. Dia memegang pundak wanita itu lalu menariknya untuk dipeluk. Lelaki itu menangis dipelukkan Soo Young. Tangisan pilu yang sampai ke Soo Young.

“Soo Young-ssi, aku sakit hati. Sangat sakit di sini.” Kyu Hyun menuntun tangan Soo Young untuk menyentuh dadanya. Detakannya yang melemah terasa di tangan wanita itu.

“Kyu Hyun-ssi…”

“Aku sangat mencintai gadisku.. aku mencintainya…” Lelaki itu menangis pilu. Mengeratkan pelukkannya pada Soo Young.

Soo Young memilih berdiam diri. Hanya tangannya yang mengelus punggung pria itu sabar. Memberi kehangatan yang dimilikinya yang semoga bisa menghilangkan pedih dihati Kyu Hyun. Dia terus menepuk-nepuk punggung pria itu sampai pagi menjelang. Meski sudah tak sehisteris sebelumnya, Kyu Hyun terlihat lebih tenang. Namun itu tak membuat mereka menutup mata. Membuat lingkaran hitam dimata Kyu Hyun makin menggelap dan mencetak tanda hitam juga untuk mata Soo Young.

 

 

***

Setelah kejadian itu, Kyu Hyun makin dekat dengan Soo Young. Meski Kyu Hyun tak memanggil, tapi Soo Young seolah terhipnotis untuk selalu menjenguk pria itu di apartemennya. Penolakan kekasihnya tempo lalu sangat meninggalkan Kyu Hyun yang mengenaskan. Dan tugas Soo Young untuk membujuk Kyu Hyun hingga membuat pria itu sedikit bergantung padanya.

Tentunya hal itu lama-lama membuat Kim Woo Bin geram. Dia tak senang melihat kekasihnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurui pria lain. Meski dia bukan tipe pria yang selalu siap sedia kapan dan di mana pun kekasihnya inginkan. Namun dia sungguh sangat menyayangi Soo Young dengan sepenuh hati.

Sampai… hal itu membuatnya memutuskan sesuatu yang besar.

Kim Woo Bin akan segera menikahi Choi Soo Young dua pekan lagi. Dua pekan yang Kyu Hyun butuhkan untuk merasakan perasaannya pada gadis bernama Choi Soo Young. Dua minggu yang Kyu Hyun butuhkan bersama Soo Young.

Keputusan Woo Bin membuat Soo Young maupun Kyu Hyun terkejut. Mengapa rasanya pria Kim itu ingin segera membuat Choi Soo Young menjadi miliknya? Bahkan dalam kondisi dirinya yang masih berkutat dengan tumpulan kertas-kertas penting. Melainkan karena kedekatan Kyu Hyun dan Soo Young yang mulai tak wajar. Kyu Hyun bukan hanya memiliki simpanan untuk sekedar membelikan Soo Young hadiah, pria itu pun bisa menghidupi Soo Young juga anak-anak yang terlahir dari rahim gadis Choi itu. Dan alasan terbesar Woo Bin adalah, pria itu menyadari jika Kyu Hyun sangat berpotensi membuat Soo Young nyaman dan betah berada di sisi Kyu Hyun. Sangat menyadari jika Kyu Hyun bisa membuat Soo Youngnya jatuh cinta pada Kyu Hyun.

Woo Bin tak menyukai itu. Dia menyiapkan semua rencana pernikahannya juga perusahaannya secara bersamaan. Mengesampingkan lelah untuk egonya yang tak biasa tak terkontrol. Sekali lagi, Woo Bin sangat menyayangi Soo Young. Sangat ingin membuat gadis itu menjadi miliknya.

Dan bagi Soo Young. Antara Kim Woo Bin dan Cho Kyu Hyun. Adalah dua pria yang penting dan mulai menjadi penting baginya. Kyu Hyun benar, dia seolah terjerat untuk selalu berada di sekitar pria itu. Dan memang benar adanya, jika dia juga tak bisa jauh dari Woo Binnya.

Namun, apa yang terjadi padanya? Mengapa akhir-akhir ini dia selalu ingin bersama Kyu Hyun?

***

“Soo Young-ssi, apa kau akan segera menikah dengan kekasihmu?” Kyu Hyun bertanya retorik. Dia sudah tak bisa menahan rasa penasaran yang membuatnya sesak.

Soo Young tak mampu menjawab. Dia kembali kabur dari penjara Woo Bin. Dia tak bisa menahan diri untuk tak bertemu Kyu Hyun meski kini Woo Bin lebih sering meluangkan waktu sibuk untuk bersamanya. Perasaanya terbagi. Perasaan yang membutuhkan kehadiran dua pria itu dalam hidupnya.

“Soo Young-ssi? Apa kau bersedia menikah dengan Kim Woo Bin-ssi itu?” Kembali Kyu Hyun memastikan. Ada rasa tak rela dan tak sukanya mendengar kabar itu. Kabar yang kemungkinan besar benar adanya.

“Eoh, sepertinya begitu. Lagipula Woo Bin oppa adalah kekasihku. Jadi mungkin kami akan segera menikah.”

Dan kemudian hening. Kyu Hyun dan Soo Young tak berencana mengatakan apapun saat ini. Pikiran mereka penuh oleh hal-hal kemungkinan yang akan terjadi.

“Kalau begitu…jadilah milikku! Dan menikahlah denganku.” Kyu Hyun berujar keras. Dia menatap Soo Young dengan penuh harapan. Menunggu jawaban yang dia inginkan dari wanita itu.

“Kyu Hyun-ssi, apa kau menganggapku sebagai Seo Hyun-ssi? Apa kau menjadikanku pengganti Seo Hyun-ssi?” Soo Young justru memberikan pertanyaan lain untuk Kyu Hyun. Menatap nanar depannya.

“Kau adalah dirimu sendiri. Choi Soo Young bukanlah Seo Joo Hyun. Kalian berbeda, Soo Young-ssi. Dan kau membantuku lepas dari kemelut akhir hubunganku dengan Seo Hyun. Tapi kau memang menjadi penggantinya, Soo Young-ah. Kau mengganti tempat Seo Hyun dan melengkapi dengan Choi Soo Young.”

“Apa kau menjadikanku alat, Kyu Hyun-ssi? Aku akan menikah dengan Woo Bin oppa. Dan apa artinya diriku untukmu, Kyu Hyun-ssi?” Wanita itu terus menatap depannya dan tak memandang Kyu Hyun. Air mata perlahan menetes dalam dirinya.

Kyu Hyun mulai tersulut emosi. Mengapa wanita itu selalu mengucapkan kalimat yang tak ingin didengarnya denga mudah? Cukup satu kali dia merasakan sakit. Dan setelah beberapa saat mendapat perawatan dari Soo Young, wanita itu hendak pergi membawa separuh hatinya? Sungguh tak bertanggung jawab.

Kyu Hyun mencengkram lengan Soo Young, kedua matanya juga mulai berkaca-kaca, dia memaksa Soo Young untuk memandang padanya, “Apa kau akan meninggalkanku setelah kau membuatku nyaman di sisimu? Apa kau orang seperti itu, Soo Young-ah? Apa kau seperti itu??!”

“Cukup!! Bukankah aku hanya alat untukmu, Cho Kyu Hyun??! Aku hanya mesin pemberi tiga permintaan. Dan aku memenuhi itu. Tugasku sebagai alatmu sudah selesai! Kau hanya mencintai Seo Joo Hyunmu itu. Bukan aku! Bukan Choi Soo You!!” Wanita itu pun lepas kendali. Matanya sudah membanjiri wajahnya. Napasnya memburu. Dia memandang Kyu Hyun nyalang, nanar, dan marah sekaligus. Dia merasa tak mengerti. Apa sebenarnya arti dia bagi Cho Kyu Hyun ini?

“Dan masih tersisa satu permintaanku, Soo Young-ah. Dan permintaanku itu adalah menjadikan kau jadi milikku.” Selepas itu, dia mendorong Soo Young ke belakang. Mencium bibir yang baru pertama disentuhnya dengan kasar.

Soo Young meronta keras. Dia ingin melepaskan diri dari Kyu Hyun yang baru ditemuinya sekarang. Dia tak menginginkan Kyu Hyun yang seperti itu. Dia tak menyukai Kyu Hyun yang seperti sekarang.

Hatinya makin sakit. Bibirnya perih dan rasa asin pun terasa.            Kyu Hyun di depannya adalah monster. Dan Soo Young merasa sangat ketakutan sekarang.

Namun berbeda dengan Kyu Hyun. Sejak mendengar kabar menyakitkan itu, dia merasa takut kehilangan Soo Young. Setelah melewati beberapa waktu bersama, dia merasa lebih nyaman bersama Soo Young. Dia rasa mulai membuka hatinya dengan menyukai gadis itu. Dia tak mau kehilangan Seo Hyun lainnya. Dia ingin Soo Young terus bersama di sisinya.

Kyu Hyun terus mencium bibir Soo Young ganas. Tangannya mulai merambah ke mana-mana. Mencengkram payudara kecil Soo Young kuat. Menyalurkan emosinya yang menguar-nguar. Tak cukup di situ, dia membawa tubuh mereka masuk ke dalam ruangan kamarnya. Menutup pintu dengan kaki, sementara semua tangannya tengah bekerja begitu pun dengan bibirnya. Tak membiarkan Soo Young untuk bernapas sebentar saja.

Dan saat mereka berada di ujung kasur, Kyu Hyun menghempaskan tubuh Soo Young dan merangsak naik ke atas tubuh itu. Kembali mencium Soo Young tanpa perasaan sambil tangannya bekerja melepas satu per satu pakaian yang melekat ditubuh Soo Young.

Berhasil. Pakaiannya juga pakaian Soo Young sudah tak dibadan mereka. Bahkan Kyu Hyun sudah memasukkan jari-jarinya ke dalam Soo Young dan bibirnya melahap payudara Soo Young. Kyu Hyun tak menghiraukan jeritan putus asa Soo Young yang meminta untuk berhenti. Wanita itu sama sekali tak menikmatinya. Soo Young membenci Kyu Hyun dan tubuhnya yang kotor.

Kyu Hyun tak berhenti sampai membuat Soo Young ke luar. Lelaki itu hendak memasuki Soo Young saat telinganya mendengar rintihan Soo Young yang menyakitkan.

“Ku mohon berhenti…” Tak ada tenaga dalam ucapan wanita itu. Dia sudah pasrah dan lelah.

Dan saat itu pula Kyu Hyun menghentikan aksinya. Mencabut miliknya yang beberap senti masuk ke dalam Soo Young. Dan membelalakan matanya melihat keadaan gadis yang disukainya tak berdaya karena dirinya sendiri.

“Soo-soo Young-ssi.. mianhae…maaf…aku…”

Kyu Hyun menutupi tubuh Soo Young dengan selimutnya. Dia ingin menenangkan Soo Young namun wanita itu tak mengizinkannya. Dengan gemetar, Soo Young menjauhi Kyu Hyun.

“Soo Young…. Arrrgghh! Apa yang telah aku lakukan? Demi tuhan, Soo Young-ah.. maafkan aku… aku lepas kendali..ku mohon ampuni aku, Soo Young-ah..”

Namun yang didapatkan Kyu Hyun hanya gelengan saja. Wanita itu menangis tersedu. Dan Kyu Hyun tersayat hatinya melihat itu.

“Soo Young-ah….”

“Aku…ingin pulang…”

***

Dua minggu kurang satu hari sudah berlalu. Kejadian lalu membuat trauma sendiri bagi Soo Young, dan itu membuat Woo Bin ekstra hati-hati menjaga calon isterinya dari Cho Kyu Hyun. Beberapa jam lagi adalah hari besar untuknya juga Soo Young. Setelah meditasi, keadaan Soo Young lebih membaik. Dan nyatanya Kim Woo Bin menerima Soo Young apa adanya. Tentunya setelah memberi pelajaran pada Cho Kyu Hyun.

Sebentar lagi…sebentar lagi Soo Young akan menjadi miliknya seutuhnya. Itu sebentar lagi..

Namun perasaan aneh kembali menghantuinya… dia takut Soo Youngnya pergi.

Dan ketakutan Woo Bin sepertinya terjadi. Seorang pria dengan setelan jas rapi menghampirinya. Dengan jantan Kyu Hyun meminta izin padanya untuk berbicara. Sebagai lelaki dewasa, Woo Bin pun berusaha menekan emosinya dan menghilang dari keramaian yang mulai menyeruak di gedung itu.

Dua pria dewasa itu saling berdiri angkuh.

“Kim Woo Bin-ssi, aku Cho Kyu Hyun. Pria yang bertemu Choi Soo Young setengah tahun lalu di Swiss. Pria yang diberi tiga permintaan oleh kekasihmu itu. Aku akan berbicara pada intinya. Woo Bin-ssi, aku rasa aku mencintai Soo Young dan aku ingin memilikinya. Itu adalah permintaan terakhir yang belum Soo Young lakukan.”

Rahang Woo Bin mengeras. Tangannya terkepal, mencoba agartak menonjok sesuatu atau bahkan seseorang.

“Woo Bin-ssi, apa kau mencintai Choi Soo Young? Apa kau melihat wanita itu berubah akhir-akhir ini? Apa kau benar-benar akan menikahinya?”

“Apa maksudmu, Kyu Hyun-ssi. Jelas aku akan menikahinya. Kami saling mencintai. Wajar saja jika kami menikah.”

Kyu Hyun terdiam. Dia mencoba membaca air muka lelaki yang lebih tinggi darinya itu, “Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan? Apa kau mengingkari perubahan Choi Soo Young akhir-akhir ini? Kita sama-sama menyukai gadis yang sama. Dan kita sama-sama mengetahui seperti apa dan pada siapa gadis itu cintai. Aku rasa kita sudah sama-sama mengetahuinya.”

Woo Bin terlihat mengambil napas dalam namun tenang. Air mukanya mulai tenang kembali. Dia tak bisa menampiki keadaan. Dia merasa aneh akhir-akhir ini. Namun Kyu Hyun benar, dia tak mau mengakui kejanggalan itu, “Dia adalah yang terakhir. Aku mencintainya, Kyu Hyun-ssi.”

……..

***

Perasaan Soo Young tak pernah tak karuan seperti ini. Beberapa jam lagi dia akan menjadi isteri dari Kim Woo Bin. Namun perasaanya makin bergemuruh seiring berjalannya waktu. Perasaanya dipenuhi permintaan terakhir Kyu Hyun, namun perbuatan lelaki itu membuatnya membencinya jika mengingatnya. Dua minggu ini dia sudah memutuskan untuk menjadi isteri Kim Woo Bin. Dia ingin menjadi isteri yang baik bagi oppanya. Mereka mengenal untuk waktu yang cukup lama. Dan Woo Bin memanglah pria yang baik. Dia bisa menjaganya juga keluarganya nanti.

Namun, kembali… perasaannya pada Cho Kyu Hyun menjadi penghalang satu-satunya. Soo Young sangat menyadari jika Kyu Hyun belum sepenuhnya melupakan Seo Hyun, namun dia tetap membiarkan Kyu Hyun berada di sisinya sampai lelaki itu terlepas dari penderitaanya dan justru menjadi tergantung padanya. Begitu pun dia…Kyu Hyun sudah mengatakan jika dirinya tertarik pada pria itu. Jika dirinya terikat dengan pria itu. Kyu Hyun berhasil membuat dirinya membagi cinta lebih besar dari cintanya pada Woo Bin.

Namun perbuatan Kyu Hyun yang lalu dan semua ketakutannya membuat dia memutuskan untuk menikah dengan Woo Bin. Wanita itu rasanya sudah memantapkan hatinya yang ragu. Dan seiring waktu yang mendekat ke acara pernikahannya, perasaanya makin bimbang.

Soo Young menekan kuat perasaanya untuk Kyu Hyun. Menganggap pria itu bukanlah pria yang Tuhan tunjuk untuk dirinya. Dan menyambut uluran tangan Woo Bin untuk merajut keluarga bersama-sama. Air mata bahkan tak bisa ia bending saat mulai melangkah menuju altar. Dan Soo Young tak berniat menghapusnya. Biarkan saja Woo Bin oppannya melihat dia menangis. Tapi wanita itu tak sampai berpikir jika Woo Bin akan meninggalkannya. Atau pun jika pengantin lelakinya memiliki tubuh yang berbeda dari Woo Bin.

Yang berdiri di ujung altar itu bukanlah Kim Woo Bin. Dia justru melihat Woo Binya berdiri bersama para tamu di deretan depan. Melihat oppannya tersenyum dengan terpaksa lalu melihat pada lelaki yang menunggunya di sana.

Soo Young mengehentikan langkahnya dan berjalan ke arah Woo Bin berada. Wanita itu berdiri dengan pandangan berkaca-kaca di depan Woo Bin. Meminta penjelasan dari pria yang dihormati dan disayanginya, “Oppa? Woo Bin oppa?” Serta merta Soo Young memeluk Woo Bin. Menangis tersedu di sana. Kini Woo Bin pun tak bisa menutup kesedihannya. Merajuk pada takdir yang tak mendengarkannya. Dia membalas pelukan hangat Soo Young. Memeluk erat tubuh gadis yang beberapa jam lalu menjabat sebagai calon isterinya.

“Soo Youngi, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu. Dan aku menginginkan kau bahagia. Aku tak buta jika kau berubah akhir-akhir ini. Oppa tahu kau terjebak di antara oppa dan Kyu Hyun-ssi. Dan oppa menyadarinya jika Kyu Hyun-ssi akhirnya berhasil membawamu, Youngi.. jadi oppa–,”

“Andwaeyo! Aku ingin menikah dengan oppa! Aku mencintai, oppa!” Soo Young menggeleng dalam pelukkan Woo Bin.

“Lihatlah ke depan, Soo Youngi. Apakah hatimu tetap berkata demikian? Bahkan oppa sudah menyadarinya. Oppa menyadarinya, Youngi, jadi oppa putuskan untuk melepasmu. Karena oppa melihat kau lebih bahagia dan nyaman jika bersama Kyu Hyun-ssi.. berbahagialah, Soo Youngi..oppa ingin kau bahagia.”

“Oppa…” Soo Young tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menggeleng. Rasanya dia tak ingin melepaskan pelukan dari oppanya.

“Soo Young-ah…”

Suara itu.. suara yang dua minggu tak didengarnya. Suara yang dua minggu lalu terdengar menyeramkan baginya. Suaranya yang sangat dirindukannya pada akhirnya. Suara pria yang hanya setengah tahun mampu membuatnya jatuh cinta. Suara dari seorang Cho Kyu Hyun.

“Maukah kau menjadi milikku?” Pertanyaan itu terdengar lagi. Sangat jelas di telinga Soo Young.

Gadis itu mendongak melihat dan mencoba membaca ekspresi Woo Bin. Dia bisa melihat pria itu menutup matanya dan menatapanya hangat. Sambil mengangguk, Woo Bin melepaskan Soo Young.

“Pergilah, Soo Youngi… ikuti nalurimu. Oppa tak akan memaksamu…jika kau memilih Kyu Hyun-ssi datanglah padanya. Dan jika kau memilih oppa,….. peluklah oppa.”

Soo Young menatap Woo Bin dan Kyu Hyun bergantian. Hatinya makin bergemuruh sampai seolah meloncat dari tempatnya. Kepalanya serasa akan pecah namun hatinya meronta untuk memilih. Soo Young kembali melihat dua lelaki yang membuatnya seperti ini.

Dia bukanlah wanita yang mudah mencintai dan dekat pada seseorang. Namun perasaan saat seorang sunbae yang akhirnya menyatakan cinta padanya dengan perasaan lelaki yang apa adanya menyatakan cinta dengan permintaan terakhirnya sangatlah berbeda.

Rasanya Soo Young ingin pergi dari tempat ini, namun kembali hatinya memintanya untuk segera memilih. Dan ke manakah dia akan memilih? Tempat itu haruslah membuatnya nyaman. Tempat yang membuatnya menjadi diri sendiri. Tempat itu adalah dalam pelukkan……..

“……..Ya. Aku bersedia.”

Choi Soo Young dinyatakan resmi menjadi isteri Cho Kyu Hyun satu minggu kemudian…

Dengan pengorbanan yang sedikit memaksa. Pengorbanan yang harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Pengorbanan untuk mendapatkan tempat yang tepat.

“Soo Young-ah, saranghae. Neomu-neomu saranghae.”

“Do…do saranghae. Jeongmal saranghae, Cho Kyu Hyun..”

Kali ini, mereka bersatu karena cinta. Soo Young sangat menikmati waktunya yang dia lewati bersama Kyu Hyun. Hatinya sudah memilih. Dan pilihan itu jatuh pada Cho Kyu Hyun. Sesungguhnya Soo Young juga sangat mencintai Kyu Hyun sejak…..sejak pria itu memperlakukannya seperti pada kekasihnya saat kekasihnya yang sebenarnya tak ada. Dan itu dulu. Kini, ada Kyu Hyun yang akan selalu menemani kapanpun dan di manapun Soo Young butuhkan. Dan Soo Young akan selalu datang untuk permintaan-permintaan yang lain suaminya, Cho Kyu Hyun.

Cinta…mengorbankan sesuatu yang berharga untuk mendapat sesuatu yang lebih berharga.

Dan Cho Kyu Hyun bersama Cho Soo Young sudah membuktikan itu..

Cinta…mengorbankan sesuatu yang berharga untuk mendapat sesuatu yang lebih berharga.

Done.

Oke, maaf kalo akhirnya amburegul kayak gini… pas liat jam ternyata udah mlam.. dan memerlukan waktu yg lumayan agak lama….sekaligus ngga sabar pngen post.,,jd beginilah… kurang sempurna rasanya..

Dan maaf bgi yg nunggu ff-ff lainnya. Diusahakan kalo ada waktu dan mood jg kemampuan yg mumpuni…karena skrang waktunya terbagi buat bljar dan persiapan…

Jga terima kasih untuk para reader yg setia yg mengapresiasi karya-karyaku. Maaf jika akhir2 ini ffku agak merosot kualitasnya meski sbnernya msih jauh dari ff-ff knightdeul yg lain. Skali lg maaf ngga balas komen kalian….

Sankyu and see ya!

Ah! Berhubung bntar lagi puasa, maka ff-ff yg berbau nc akan segera diproteck. Dan aku ngga berencana u/ ngasih pwnya.. jadi maaf… untuk keafdolan puasa bagi yg menjalankan…maaf atas ketidaknyamannya… #bow

Silakan visit wp pribadiku di: https://argandosri.wordpress.com/

19 thoughts on “[Oneshot] No More B (Before Story)

  1. Bella SooyoungsterSparkyu KyuYoung KNIGHT says:

    Wahh…. WooBin Oppa gentle banget yh, walaupun kasihan jga ama nih Oppa…😦 Akhirnya KyuYoung bersatu!!😀 Nah, kalau begini Seo-nya gimana yh kalau tau Kyu udh nikah ama Soo… Sepertinya butuh sequel… Hehehe….😀 Overall, FF-nya keren chingu!!😀 Ditunggu FF KyuYoung yg lainnya… 파이팅 네!!!😉

  2. Kasian Woo Bin nya;( kamu sama aku aja oppa wkwkwk. Ceritanya seru thor. Mungkin aku cuma mau bilang ini aja, ceritanya agak kurang panjang menurut aku sih. Tapi selebihnya oke” aja.

  3. Sayekti says:

    Aku salut sama woon bin oppa. Akhirnya dia melepas soo eon demi kyuppa. Untung kyuppa cepat menyadari bahwa dia suka ama soo eon.

    Ditunggu ff yang lain darimu eonni^^

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s