[Oneshot] Papa Cho

papacho

PAPA CHO

 

Cho Kyu Hyun. Choi Soo Young.

Nyonya Cho. Cho Ah Ra.

NC.

Aku terbangun karena suara bayiku. Sampai beberapa saat berikutnya kembali diam. Akhir-akhir ini Tae Yangku agak rewel. Eomma bilang itu karena dia cemburu pada calon adiknya dan perkataan eomma dibenarkan oleh dokter keluarga Cho. Alasannya dikarenakan usia kelahiran mereka yang hampir dekat. Mengingat calon adiknya Tae Yang, sepertinya dia betah bersama mamanya. Lihat saja, Tae Yang dongsaeng sukses menguras hampir semua perhatian ibunya. Bahkan sampai Tae Yang dikorbankan karena sifat manja isteriku yang lebih-lebih daripada saat mengandung Tae Yangie.

Dia menggeliat di sampingku. Mulai kesusahan untuk menggerakan tubuhnya sendiri. Kini kandungannya memasuki usia bulan ke-7. Tinggal dua bulan lagi, maka Kyu Hyun junior kedua akan lahir ke dunia. Aku tak sabar menantikan itu. Melihat rupa puteraku yang kedua.

Ku elus surainya yang berantakan. Mengelus biji peluh yang menghiasi keningnya. Menyamkankan selimut ditubuh besarnya, menghangati dua mahluk yang berarti dihidupku kini. Ku kecup mata tertutupnya dan mencuri ciuman kilat dari bibir kecilnya. Ah, semakin melihatnya makin membuatku jatuh cinta padanya. Soo Young-ah, kenapa tubuh hamilmu terlihat sangat menggemaskan dimataku?

Aku beranjak menuju box bayiku. Melihatnya terlelap membuat sesuatu dalam perutku menghangat. Lalu sejenak mencuri pandang ke arah isteriku yang juga tengah tertidur, dan itu makin membuatku bahagia.

Mungkin saat Tae Yang masih ada dalam kandungan, aku belum menyayangi puteraku beserta eommanya. Bahkan aku ingin melenyapkan mereka. Tapi saat aku dan putera pertamaku bersentuhan untuk pertama kali, rasanya kehangatan menjalari tubuhku dan aku mulai menyayangi mereka dan tambah mencintai mereka saat Cho Tae Yang terlahir ke dunia.

Dan setelah itu, aku berusaha menembus kesalahan-kesalahanku pada mereka berdua. Dimulai dari mengubur masa laluku. Yeah, memang cinta pertamaku pada gadisku dulu tak bisa tergantikan namun cintaku pada keluarga kecilku mampu membuat hidupku bagai pelangi yang lengkap dan akan makin lengkap setelah adik Tae Yangi yang pertama, kedua, dan seterusnya lahir. Meski mungkin dosaku pada Tae Yang dan eommanya tak pernah bisa terbayar. Setidaknya sekarang, mereka adalah prioritas utamaku.

“Mianhae, sayang. Saranghae.” Ku kecup sayang kening kecil puteraku yang sedikit berkeringat. Menghilangkan jejak keringat itu lali mengusapnya pelan dan kembali mengampiri ibu hamil yang menyita hampir semua perhatian ekstraku.

Choi Soo Young, wanita yang akhirnya menjadi isteriku. Ibu dari Cho Tae Yang dan Tae Yang-Tae Yang yang lainnya. Wanita yang telah ku rusak hidupnya dan ingin ku tinggalkan dia saat tengah mengandung Tae Yang. Dan wanita yang membuatku meninggalkan gadis yang seumur hidup aku kejar. Cho Soo Young, isteriku, cintaku.

Mianhae, Soo Young-ah. Saranghae. Jeongmal saranghae.

Namun sekarang, aku tak bisa sedikit saja menjauh dari tubuh gemuknya.

“Kyu…” Dia menggeliat terganggu. Sudah ku bilang, aku tak bisa berhenti menjauhkan tubuhku dari tubuh gemasnya sekarang. Dan isteriku terusik karena sedari tadi terus ku cium permukaan wajahnya.

“Kau bangun? Mianhae.”

Soo Young menatapku sebentar lantas mengistirahatkan kembali kepalanya di atas bantal, “Kau tidak tidur, Kyu?”

“Oppa..” Aku segera meralat ucapannya. Wanita ini sudah berjanji akan memanggilku dengan oppa atau panggilan sayang lainnya. Pantas saja, kami akan segera memiliki anak kedua, tapi dia belum juga memanggilku dengan panggilan cintanya. Tentu saja itu tidak baik di hadapan anak-anak kami nantinya.

“Arayo, Kyu-Hyun-o-ppa.” Sangat jelas isteriku menekannya. Kembali ku curi ciuman bibirnya, melahapnya sebentar.

“Soo Youngie?” Ku pandangi mata bulat kesukaanku. Tiba-tiba saja bayangan masa lalu kami terputar begitu saja dalam pikiranku. Bayangan saat kami melepas kesucian kami satu sama lain.

Begin:

Aku menunggu kedatangannya. Baru saja aku menelepon dia dan menyuruhnya untuk segera datang menghampiriku. Sial! Aku sungguh tidak kuat lagi menahan ini. Aku membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan semua ini. Dan tepat saat itu, dia mendatangiku dengan sejuta pesona yang dimiliki tubuh sexynya.

Choi Soo Young, ku dapatkan kau!

Tanpa adanya aba-aba, aku langsung menarik tubuhnya untuk duduk dipangkuanku. Kami ada di pojok country bar yang masih ramai. Tidak! Hanya bagian yang ada diriku yang sengaja ku kosongkan. Dan para  pemburu nafsu yang lain memenuhi hot dance floor mereka.

Aku menciumnya. Gadis yang ku temui beberapa bulan lalu. Gadis yang memerlukan bantuan uangku. Gadis yang sepertinya tak memiliki kekurangan. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi milik birahiku. Namun sayang, aku tak bisa mencintainya seperti yang aku lakukan untuk Seulgiku.

“K-kyu…..apa yang kau lakukan?” Tanyanya takut. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dengan tubuhku. Namun meski dalam keadaan mabuk, para pria justru akan mendapat energi yang berlebih saat mereka akan melakukan hubungan di atas ranjang.

“Bercinta dengan tubuhmu..” Serakku. Dia membelalakkan mata cantiknya yang membuatku ingin segera melahapnya. Nappeun Choi Soo Young!

“Kita sudah berbicara sebelumnya, Choi Soo Young. Aku butuh bantuanmu..nghh…” Sial..suara itu ke luar dengan sendirinya saat aku merasakan lembutnya paha Soo Young yang tak tertutup kain super mininya.

“Kyu…ini…” Gadis ini.. lugu namun sexy. Baiklah, aku akan membuatnya liar hanya padaku.

“-pertama kalinya untuk kita. Aku tahu, aku akan berusaha lembut, Soo Young. Kau percaya padaku?” Sungguh. Aku menatapnya dengan nanar. Birahiku sudah memuncak kala melihat payudaranya yang sedikit menyembul. Membuat sesuatu di bawah sana kian membesar.

“Kyu…”

Sial! Aku tak bisa menahannya lagi. Ku cium dia dengan rakus. Menahan wajahnya agar kian mendekat padaku. Kini tubuh belakangku sudah membentur ujung meja ini dan Choi Soo Young tepat di atas perutku. Tak tahan, tanganku mulai meraba punggung mininya, meremas bajunya untuk melampiaskan nafsuku dan lihatla! Gadis ini terlihat sangat kepayahan dipelukkanku.

Aku melepaskan tautan kami. Sial! Sial! Sial! Bibirnya sangat pas dengan bibirku. Andai saja aku bisa membagi ketahanan napasku saat kami berciuman, aku tak akan pernah melepaskan bibir itu.

Soo Young mencengkram dua pundakku. Napasnya tak beraturan. Ku sempatkan menghapus benang saliva kami yang mengotori dagunya dank u jilat itu. Manis. Bau Choi Soo Young.

“Kyu… karena aku Choi Soo Young…” Ku rasakkan remasannya kian mencengkram pundakku. Sakit, namun membuat birahiku kian di ubun-ubun.

“Hmm, Soo Young. Aku akan mengingatmu sebagai Choi Soo Young, kapan dan di mana pun kita bercinta. Kau Choi Soo Young milik Cho Kyu Hyun saat kita bersatu. Saat kita membenturkan tubuh panas kita, Sooh…” Sial! Milikku sudah sangat sesak. Dan itu sangat membuatku menderita.

Ku raih tangan mungilnya dan ku simpan di sana. Matanya membulat merasakan panas dan kerasnya pusakaku dan ku paksa dia untuk memijit benda itu. Dan itu membuatku mabuk kepayang. Aku membenturkan kepalaku ke atas meja. Ini sungguh nikmat. Tangan Choi Soo Young memiliki milikku seutuhnya. Dan saat membayangkan aku memasukinya, puncakku terasa makin mendekat saat itu pula ku lepas tangannya dan kembali menciumi dia.

Meski terlambat, Soo Young mulai membalas semua perlakuanku dibibirnya. Kami saling bergulung, melilit dan mengecap. Efek wine yang masih menghantuiku membantuku untuk ini. Ini adalah pertama kalinya untuk kami dan aku akan segera mendorong Choi Soo Young sepuasnya.

Tanganku mulai meraba paha dan buah dadanya. Sial saja, karena dua benda kenyal itu sangat-sangat pas untuk tanganku yang cukup besar. Choi Soo Young! Tubuhmu…

Dan tangan lainnya bergerak menarik gaunnya ke atas, sedikit memperlihatkan celana dalamnya yang menutupi bagian terindah itu. Ku raba bagian rahasia itu, dan bisa ku rasakan tubuhnya berjengit kaget. Dengan bibirku yang memenuhi bibirnya, tanganku mulai bergerak di sana. Tempat hangatnya yang membuat milikku berhasil ke luar.

“Kyu..h… apakah harus di sini, eohh?” Suaranya…damn sexy sekali!

Ku tatap matanya yang sayu. Bibirnya sudah dua kali lebih besar dan keringat yang menempel di tubuhnya membuat dia seribu kali lebih sexy lagi. Choi Soo Young! Aku ingin segera memakanmu di sini juga!

“Wae? Aku rasa tak apa di sini juga. Kita bebas, Sooh..”

Dia menggeleng. Wajahnya yang nanar itu berhasil membujukku. Dengan cepat, aku membawa tubuhnya memasuki mobilku..

“Apartemenmu. Aku ingin di apartemenmu, Kyu..”

“Baiklah, sayang. Dan jangan salahkan aku jika seminggu ke depan kau tak bisa ke luar dari sana, eoh?”

Sepanjang perjalanan aku tak berhenti untuk mengerjai tubuhnya. Birahiku sudah dibatasnya tapi Choi Soo Young membuatku harus menahannya lebih. Dan saat kami tiba di dalam apartemenku, aku langsung menghajarnya di tempat. Meski belum sampai di kamar, aku ingin segera memasuki lubang hangatnya.

“Kyuh…” Sial! Suara itu lagi! Choi Soo Young sangat ahli memainkan libidoku.

Ku robek gaun beserta dalamannya. Oh god! Seperti inikah tubuh wanita? Akh sial! Adikku sudah tak tahan..

Ku rebahkan tubuhnya dan ku tenggelamkan tangan kiriku di balik ketiaknya. Sementara lidahku mencicipi payudara kananya, tanganku mencubit dan meremas yang lainnya. Dan tanganku yang satu mengelus pusat Soo Young.

Suara indah Soo Young sudah meraung bebas di teras depan apartemenku. Tangannya menjambak rambutku mesra dan membantu tanganku untuk mengurut benda kenyalnya.

“Kyuh.. a-aku! Arhhh…”

Ke luar. Tanganku berhasil memancing cairannya ke luar. Segera saja aku turun ke sana dan langsung menghajar benda itu dengan lidah dan bibirku. Dan Choi Soo Young lebih menjerit dari sebelumnya.

“Ouch! Kyu..!”

Choi Soo Young sudah mendapatkan dua kali klimaknya. Dan saat ini giliranku.

Ku buka dua pahanya dan masuk lebih dalam lagi. Soo Young masih terengah-engah dan ku turunkan pandanganku ke dada lalu miliknya yang memerah licin. Sempat ku remas pelan paha mulus itu sebelum bergerak lebih jauh menuju lubang sempit Choi Soo Young.

“Sayang, aku akan masuk. Ini akan terasa sakit, jadi kau boleh melampiaskannya padaku.”

Ku lihat dia mengangguk lemah dan menengadahkan kepalanya ke atas. Sementara kedua tangannya mencengkram erat lengan-lenganku yang berada di samping perutnya.

Perlahan, ku dorong milikku. Baru satu dorongan saja membuat Soo Young menjerit tertahan. Aku merendahkan tubuhku dan bergerak menciumnya seirama dengan doronganku yang berhasil membuka pintu awal Soo Young. Soo Young kembali menjerit tertahan. Tangannya kini mencakar punggungku. Perih, namun melihatnya meneteskan air mata, sepertinya gadis ini lebih sakit di bawah sana.

“Soo Young, sayang.. seben-tarh lagih..ohh..”

Sial! Pintunya sangat susah dibuka. Bukan hanya Soo Young yang sakit, milikku juga sama sakitnya menembus sepalut terkahir Soo Young. Ku cium kembali bibirnya dan mendorong lebih keras lagi milikku. Dan berhasil! Aku sudah merobek selaput daranya. Aku sudah memerawani Choi Soo Young.

Soo Young menggigit bibirku dan membusungkan dadanya saat kami berhasil bersatu seutuhnya. Air matanya kian menetes. Wanita ini masih membiasakan keberadaanku di dalamnya.

Bisa ku lihat darah segar mengalir kecil membasahi milikku. Ada perasaan bangga dan senang melihatnya karenaku. Meski hubungan ini tak memiliki cinta, tapi Choi Soo Young membuatnya seperti percintaan yang sesungguhnya karena cinta.

Perlahan aku bergerak. Membuat kerutan di dahi indah Soo Young terlihat dan kedua buah dadanya bergerak memanggilku untuk menangkupnya.

“Soo, sayang.. kau..ouch..nikmat dan sempit..”

Urat-urat milikku menjadi tambahan nikmat tersendiri dan otot kewanitaan Soo Young yang masih sangat sempit menelanku bulat-bulat.

Dia bergerak gelisah di bawah sana. Menikmati service andalanku di payudara dan miliknya yang mulai berdenyut.

“Kyuh.. jangan ah! Berbicara seperti it-!”

Ku cium saja bibir bengkak itu. Dan sekarang lengkap sudah semua kenikmatan yang Soo Young rasakan.

Baik diriku dan Soo Young merasakan gejolak itu akan datang, Ku percepat gerakanku di dalamnya, sedangkan Soo Young mencengkram punggung dan menggigit bahu putihku. Kepalanya beberapa kali menengadah tak kuat dan Soo Young lantas ku cium lehernya dan kembali memberikan tandaku seperti yang ada di payudara, perut dan vaginanya.

Soo Young menggerak-gerakkan badannya, sepertinya dia ingin melepaskan tubuhnya dariku. Justru itu makin memperdalam keintiman kami dan aku tak suka jika mengeluarkannya di luar. Aku butuh kehangatan Soo Young. Aku ingin memenuhi rahimnya.

 “Aku ingin di dalam, Sooh. Aku akan mengeluarkannya di dalam.” Kataku serius. Aku sedikit menggeram saat ku paksa kakinya melingkar kencang dipinggulku, membuat gelombang itu makin dekat adanya.

“An-andwae! Aku tidak ma-! Ahhh!” Terlambat. Aku sudah memasuki rahimnya dengan spermaku. Hangat.

Aku ambrukkan tubuhnya di atasnya, membuat milikku makin menusuk rahimnya. Rasanya tak rela membiarkan cairanku ke luar dari rahimnya. Aku ingin Soo Young menelan semua miliku di dalamnya.

“Kyu…kau..”

Dan empat bulan setelah itu, Soo Young mengandung anakku yang berusia tiga bulan.

End.

“Oppa!”

Aku melirik isteriku yang terlihat cemas dengan sedikit kesal. Apa yang baru saja aku bayangkan? Bayangan percintaan kami untuk pertama kalinya. Mungkin memang dari awal tubuhku tahu jika Cho Soo Younglah yang tetap menjadi canduku.

“Sayang, aku menginginkamu..” Ku tenggelamkan kepalaku di payudaranya yang dua kali lebih besar itu. Mengemutnya sebentar sampai puting itu membesar.

“O-oppa….” Protesnya manja.

“Oppa.. pelan..hhh..”

Ku naik turunkan tubuh besarnya perlahan. Ouh! Meski tak secepat saat Soo Young tak berbadan dua, nikmatnya tak pernah berkurang.

“Oppa…Kyu Hyun oppahh..ngghh..” Nyonya Cho menjambak rambutku dan memanjangkan lehernya membuatku bisa leluasa menikmati leher jenjang itu sepuasnya. Tangan isteriku yang lain mencengkram erat pahaku kadang mencoba menghentikan tanganku yang juga bermain bersama juniorku di dalam sana.

“O-ohppah..”

Isteriku… Cho Soo Young..kenapa kau selalu membuatku hilang kendali? Sejak kita hanya sebagai pasangan kelam dulu sampai kau yang akan melahirkan anak keduaku, kau selalu membuatku gila dengan sentuhan dan tubuhmu… dan tiap harinya, kau makin membuatku jatuh ke dalam pelukan cintamu.

“Kyuh…Hyun ah! Ohpphhaah..” Ku lihat isteriku menggigit bibirnya, andaikan kita sedang saling berhadapan, aku akan membawa bibir yang selalu memanggilku masuk ke dalam mulutku, nyonya Cho. Tanganku yang lain terus mengurut payudaranya, kadang bibirku ikut mengulum dan meminum asi puteraku juga.

Soo Young menggeleng frustasi, kadang menundukkan kepalanya atau membuat kepalanya terangkat ke atas saat aku berhasil menyentuh titik ternikmat dari tubuhnya. Dia kembali bersandar padaku dan tangannya terus mencoba menghentikan laju tanganku yang sama cepatnya dengan milikku dilubangnya.

“O-oppah.. henti…hh! Perutku sakit…” Suaranya terdengar tercekat. Tangannya juga kini meremas paha tangan dan rambutku kuat.

Segera saja ku hentikan gerakan kami dan membawa tubuhnya untuk menghadapa padaku tanpa melepaskan tautan kami sebelumnya.

Ku lihat isteriku berkeringat besar. Tangannya meraih sisa bajuku yang tergeletak di atas kepalanya kuat. Oh! Ini seperti saat isteriku akan melahirkan Tae Yang. Tapi.. ini baru bulan ke tujuh. Dan masih jauh waktunya dengan waktu kelahiran anak keduaku.

Ada apa ini? Jangan membuatku terus khawatir, Soo Youngi…

“W-wae? Mana yang sakit? Sayang?” Tanyaku khawatir

“Perut..appohh…” Dia menunjuk perut bawahnya, saat itu pula aku mengelus-elus daerah itu. Berharap agar sakit yang akhir-akhir ini isteriku rasakan hilang.

Eomma Tae Yang ini sudah mulai bernapas teratur. Soo Young melihat dan tersenyum tulus padaku, membawaku untuk mendekapnya dan menyatukan bibir kami. Isteriku menciumku lembut. Kami saling menyesap satu sama lain. Tangan Soo Young pun mulai bergelirya di punggungku. Sepertinya isteriku sudah tak apa-apa. Saat itu pula kembali ku gerakkan tubuh kami dengan lebih cepat dari sebelumnya. Posisi kami yang saling berhadapan dengan bibir yang menyatu membuat tubuhnya cepat lelah. Tentu saja, perut besar Tae Yang eomma yang menghalangi, namun itu tak menjadi masalah untuk kami. Menengok adik Tae Yang di dalam sana, itu yang terpenting.

“Sayang, besok kita titipkan Tae Yangi pada eomma, eoh?” Tanyaku. Aku terus membenturkan perut bawahku pada belahan pahanya. Menengok anak kedua kami lebih dalam lagi.

“Kyuhhh…” Isteriku melihatku dengan tatapan nanar yang berkaca-kaca. Dia menggigit bibirnya. Tangan dan miliknya mencengkram hebat tubuhku. Aku dibuatnya menggeram cukup keras juga.

Pelepasanku akan segera sampai. Aku rebahkan kedua kaki berisi isteriku untuk mengalung di pundakku. Dan ku raih benda kesukaan Tae Yangi untuk masuk ke dalam mulutku. Soo Young makin menjerit kecil dan bergerak-gerak gelisah. Sepertinya isteriku juga akan segera sampai.

Namun saat satu langkah lagi kami klimaks, tangisan Tae Yang menginterupsi jeritan dan geraman kami. Tae Yang makin menangis kencang saat kami sudah ada di ujung untuk saling memenuhi.

“O-oppah.. Tae Yangih oh!” Isteriku rupanya sudah tak tega mendengar tangisan puterka kami. Dia ingin melepaskan koneksi kami yang belum sempat sampai.

“Aniyo, Youngih.. kitah.. ahh!” Aku siap untuk melepaskan milikku saat tangisan Tae Yang yang mungkin mampu membangunkan seluruh komplek perumahan ini.

Astaga. Cho Tae Yang….

Dengan sangat terpaksa, aku membiarkan isteriku pergi meninggalku dan menghampiri putera pertama kami. Tae Yang berhenti menangis saat bibirnya menangkap puting isteriku. Hah.. Cho Tae Yang, belum saatnua untukmu meniru bapakmu ini, nak.

Ku hampiri tiga mahluk Tuhan yang sangat berarti untukku. Aku peluk ibu mereka, dan mencium Tae Yang juga mengelus Kyu Hyun junior ke dua yang masih tertidur. Dan untuk ibu mereka, aku mencuri bibir tebalnya lantas menyingkapkan gaun satin tidurnya dan membenamkan Kyu Hyun junior ke dalam Soo Young.

Ku lihat isteriku terkejut sambil berusaha memegang putera kami kuat-kuat saat aku makin menusuknya keras dan cepat. Ku bantu membawa Tae Yang saat isteriku mulai tak karuan. Dengan perlahan, aku simpan Tae Yang di boxnya dan menggauli eomma mereka. Tanganku tak bisa diam untuk  tak menyentuh perut besar isteriku atau payudara kenyalnya. Kami berhasil menengok putera kedua kami dan menanam benihku di rahim berisi Soo Young.

“Saranghae, Cho Soo Youngh. Saranghae..” Ku kecup punggung polosnya dan menyesap keringat yang menguar di sana lalu menggendong tubuh berpeluh isteriku untuk tidur di ranjang kami.

Pagi ini aku menggantikan isteriku untuk memandikan uri Tae Yangi. Sementara isteriku sendiri sedang ribut di dapurnya. Menyiapkan masakan untuk dua lelaki tampan di dunia ini.

Meski dulu aku pernah memandikan Tae Yang, tetap aku masih takut. Terang saja dulu aku dibantu eomma dan Ah Ra nuna memandikan jagoanku ini. Tapi sekarang, tak ada mereka berdua yang membantuku.

Ah! Baiklah. Saatnya memulai hari dengan bertugas menjadi appa yang memandikan darang dagingnya.

“Ja, jagoan, mari kita mandi.”

Puteraku terlihat sangat girang saat appanya ini memasukkannya ke dalam wadah yang menjadi tempat mandinya. Pantas saja Soo Young selalu bilang jika uri Tae Yangi akan menjadi perenang handal kelak, ternyata puteraku sangat senang bersentuhan dengan air.

“Nah, pertama-tama appa akan membasuh tubuhmu dengan air hangat lalu appa akan menyabunimu, sayang.” Aku mengulang perkataanku dengan gerakan. Tangan mungilnya bergerak-gerak seperti protes saat tanganku menggeletik perut kecilnya ini. Uri Tae Yangi terbahak saat tanganku menggetarkan airnya.

Ah, kenapa rasanya bahagia sekali melihat puteraku tumbuh gemas seperti ini?

“Pa..pa..pa..pa..” Dia berceloteh saat tanganku mulai mengusap rambutnya dan memberikan shampoo yang sudah aku taruh di spons terlebih dulu.

“Eoh? Panggil appa ‘appa’ a-ppa.” Tuntunku. Tangan-tangan mungilnya menuruti gerakanku sebelumnya dan menyipratkan air di wadah sampai membasahi baju depan dan wajahku.

“Aigoo… putera appa ingin jadi perenang, eoh? Baiklah.. nanti kita akan berenang bersama, Tae Yangi. Uh! Saranghae. Kenapa bayi selalu menggemaskan, eoh?” Aku tak tahan untuk tak mengecup pipi-pipinya yang cabi. Isteriku sangat pandai merawat anak kami sejak dalam kandungan sampai sekarang.

“Pa…pa..pa..pa..” Puteraku kembali berceloteh. Kali ini dengan jeritan khasnya dan makin menggerak-gerakan tangan juga tubuhnya, membuat sebagian air di wadah itu ke luar. Ah, bagus Tae Yang-ah.. pekerjaan appamu makin bertambah.

Ku kecup lagi seluruh wajah anakku yang sudah harum ini. Saat ku angkat tubuh gembalnya, dia sedikit protes dan memain-mainkan kedua bibirnya sampai air liurnya membasahi sekitar mulut sampai dagunya.

“Aigoo, uri Tae Yangi masih bermain air, eoh? Tapi tidak.. nanti kau kedinginan, nak. Saatnya kita berpakaian!” Ku bawa anakku ke kamar sambil sesekali mengangkat tubuhnya ke atas, membuat puteraku menggelinjang dalam tawanya. Aigo, Tae Yang-ah, kau sangat menggemaskan. Kenapa appamu ini baru bisa memandikanmu, nak? Selanjutnya appa akan memandikanmu terus.

“Oppa, sudah memandikan Tae Yanginya, heum?” Tanya isteriku yang datang dengan celemek yang memenuhi perut buncitnya. Dia menghampiri kami dan menicum putera kami sayang, tak lupa mencium keningku. Dan ku cium saja kecupan dari bibir merahnya, melumatnya sebentar dan membuat suara saat melepasnya gemas.

“Oppa..” Protesnya manja. Ah, istireku. Saranghae, jeongmal.

“Pa…pa…pa…” Seru anakku keras. Membuat perhatian kami tertuju padanya.

Soo Young terlihat sangat antusias mendengar putera kami berbicara, “Eoh, uri Tae Yangi baru saja mengatakan apa? Papa? Ayo bilang ‘papa’ pa-pa.” Soo Young memangku tubuh telanjang putera kami dan menuntun untuk mengatakan ‘papa’

“Pa..pa..pa..pa” Ulang Tae Yang lucu. Tangan jahilnya memainkan sekitar tempat favoritnya lalu sesaat kemudian dia menangis keras.

“Eoh, Tae Yangi hebat. Sekarang lapar, eoh? Baiklah…waktunya makan.” Istireku mulai memberikan asi pada putera kami. Melihatnya berbadan dua tapi masih memberikan asi pada Tae Yang membuatku sedikit terenyuh. Seharusnya aku bisa menahan emosi birahiku sampai putera pertama kami setidaknya berumur empat tahun. Kasihan istireku. Tapi nyatanya aku tak bisa menahannya. Aku sudah berjanji akan menjadi tangan dan kakinya saat istireku tak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang eomma. Geurigo, saranghae, Cho Soo Young.

“Oppa, kau juga makanlah..aku sudah menyiapkan air dan baju oppa.”

Aku memeluk tubuh ringkihnya. Rasanya tak cukup menciumnya saja. Aku ingin lebih mengekspresikan rasa kasihku pada belahan jiwaku ini.

“Saranghae, Cho Soo Young. Bukankah nanti jadwal kita periksa?” Ku kecup pula cuping hangatnya. Mengelus perutnya yang kian tumbuh.

“Nde. Oppa tak boleh telat pulangnya, eoh? Saranghae..”

Na do jeongmal saranghae, isteriku. Cintaku.

Hari ini kami akan berkencan. Dua jam sebelumnya aku sudah mengantarkan Tae Yang ke rumah eomma. Di usia Sembilan bulan kehamilan, Soo Young sangat manja dan terus meningkat kadar kemanjaannya. Aku sudah mengambil cuti sejak seminggu lalu, saat dokter menyatakan waktu kelahiran anak kedua ku. Dan hari ini, atas permintaannya, kami akan berkencan di sekitar kolam belakang rumah kami. Ya, aku tak bisa membawa istireku ke tempat yang jauh.

“Oppa…”

Isteriku datang dengan gaun cream pemberianku. Sangat pas dengan tubuhnya yang buncit menggemaskan.

“Kau sangat cantik, Soo Youngi..”

Dia merona. Memelukku untuk menyembunyikan rona merahnya.

“Ayo kita berkencan, oppa.”

“Hm..ayo kita berkencan..”

Kami menghabiskan siang ini berdua. Dengan kemanjaannya dan dengan rasa cintaku yang terus membuncah tiap detik berlalu.

Kami berciuman di senja di kolam kami. Ditemani hiasan lilin yang mengitari kolam dan menghiasi tengah kolam ini. Di bawah terang cahaya lampu dengan bintang-bintang yang malu-malu menonton kami, aku sungguh makin mencintai isteriku.

“Sayang, apa sudah terasa sakit?” Tanyaku harap-harap cemas. Dia menggeleng lantas kembali menubrukan bibirnya masuk ke dalam mulutku. Tangannya merangkul punggungku untuk menindih perut buncitnya. Dan mengerahkan tanganku untuk menyentuh payudara kenyalnya. Tentu aku mengabulkan keinginannya. Dan bukan itu saja, aku mulai menurunkan celana dalam kami dan sedikit bermain jari di sana sebelum juniorku memasuki Soo Young.

Soo Young melenguh nikmat. Sementara geramanku terdengar sangat keras. Meski dokter menghimbauku untuk tak menghajarnya, baik aku atau Soo Young tak pernah mengindahkan itu. Bahkan sejak Soo Young hamil Tae Yang.

Kami melakukan beberapa posisi dengan beberapa kali klimaks. Dan saat ini, isteriku tengah kepayahan ditengah posisinya yang mengangkang di depan juniorku yang keras menegang.

“Oppah…ahh..”

Aku memeluk tubuhnya, menekan pelan perutnya yang menjadi penghalang kami. Memijit semua kulit isteriku dan mengemut benda kenyal itu gemas.

“Ahh..”

Kami kembali sampai, namun tak menghentikanku untuk tetap bergerak di dalamnya. Aku kembali menciumnya sayang. Menghisap dan mengulum dengan penuh cinta. Saat aku mulai kembali menekan milikku, Soo Young merintih pelan. Tangannya mencengkram kuat punggung  dan lenganku. Dan saat ku jauhkan tubuh kami, peluh-peluh besar mulai menghiasi kening indahnya. Dan wajahnya mulai terlihat kesakitan.

“Oppah…arrh!”

“Youngi…sayang..”

“Appoh..”

Segera ku lepaskan milikku dan berjongkok di hadapannya.

“Remas tanganku, sayang.. tarik napas dan hembuskan pelan-pelan..” Aku mengulang apa yang dokter suruh saat isteriku mengalami kontraksi. Dan saat itu pula, Soo Young meremas tanganku kencang namun napasnya makin terengah-engah.

“Arggh! Kyuh..” Kepalanya menggeleng-geleng. Wajahnya pun makin memucat. Melihat Soo Young seperti itu membuatku juga merasakan rasa sakitnya.

“Ayo kita ke rumah sakit, sayang.”

Dan saat melihat cairan bening mulai mengalir dari pahanya, itu membuatku khawatir dan sangat takut. Meski seharusnya akulah yang menenangkan Soo Young, namun aku tak bisa tak bergetar cemas juga.

Eomma dan Ah Ra nuna datang setengah jam kemudian. Dan aku masih menunggu di depan ruang bersalin dengan kecemasan yang makin menumbuk otakku.

“Eomma…”Aku pergi memeluknya. Rasanya tak kuat lagi menahan semua kekhawatiranku. Aku membutuhkan eomma untuk menghalau semua pikiran-pikiran dan cemas yang kian menghantuiku.

“Tenanglah, Soo Youngi adalah wanita yang kuat. Eomma yakin menantu eomma juga akan berhasil melahirkan cucu eomma dengan selamat.”

Ah Ra nuna yang juga merasakan khawatir hanya bisa mengepalkan tangannya. Sesekali menggigit tangannya, menghilangkan kecemasan yang melanda kakak kesayanganku itu.

“Tae Yangi?” Tanyaku saat menyadari putera pertamaku tak ikut bersama eomma dan nuna.

“Uri Tae Yangi di rumah, Kyu. Eomma tak bisa membawa cucu eomma ke sini.”

Namun nyatanya aku masih mengkhawatirkan puteraku yang tak bertatap muka denganku beberapa jam ini.

“Dia baik-baik saja, Kyu. Aku merawatnya dengan baik sesuai perintahmu.” Ujar Ah Ra nuna yang mengerti raut kusut adik semata wayangnya ini.

“Tuan Cho, nyonya Cho siap melakukan persalinan. Silakan temani isteri anda di dalam.”

“Pergilah, Kyu. Temani isteri dan anak kalian.”

Dan aku pun menghilang di balik pintu UGD itu bersama dengan dokter tadi.

Rasanya kakiku tak bertulang melihat isteri tercinta yang kepayahan dan menahan kesakitan. Tolong Tuhan, andai sakit itu bisa dipindahkan padaku. Aku tak bisa melihatnya menderita.

“Sayang…” Ku raih tangannya. Berkeringat dan terasa lemah. Sayangku, ku mohon kau harus bertahan.

“Oppa..” Ujarnya lemah. Aku mencium kening dan bibirnya dan kami saling mencengkram erat. Yang bisa aku lakukan saat seperti ini, hanya memberi isteriku kepercayaan, cinta dan semangat.

“Kau pasti bisa, Youngi. Berjuanglah bersamaku, heum? Saranghae.”

Dan saat Soo Young berusaha mengeluarkan anak keduaku, rasanya semua tulangku terlepas sudah, melihat kesusahannya dan perjuangan Soo Young.

Aku hampir menyerah saat melihat isteriku kehabisan napas, dan saat itu hanya air mata dan kata cinta yang bisa aku berikan untuk Soo Young.

Tuhan, aku sangat mencintai isteriku, ku mohon selamatkan isteri dan anakku. Ku mohon, Tuhan. Biar aku membalas semua dosa pada isteri dan anak-anakku seumur hidupku. Aku mohon, Tuhan. Aku mencintai Cho Soo Young dan anak-anakku.

Saat itu pula suara tangis bayi terdengar nyaring di ruangan ini. Soo Young berhasil melahirkan anak kedua kami.

Aku menggenggam erat tangan isteriku ini. Menciuminya sebanyak yang aku bisa. Wanita ini kembali menjadikanku sebagai seorang ayah untuk anak keduaku.

“Selamat tuan Cho, puteri anda terlahir sehat dan cantik.”

“Cho, kau menjadi papa. Dan aku minta padamu untuk tak membuat Kyu Hyun junior ketiga dalam waktu dekat ini. Biarkan keponakan-keponakan lucuku tumbuh sedikit besar. Kasihan Soo Young juga, Cho Kyu Hyun.” Nuna berujar sangat semangat menasihatiku. Saat ini keluarga kami memenuhi kamar Soo Young. Aku tahu, nuna. Tapi nuna tak akan bisa mengerti bagaimana sulitnya menahan diri di samping Soo Young.

“Sudah-sudah.. nanti cucu eomma yang cantik terganggu. Kalian jangan bertengkar di sini.” Ujar eomma penuh haru. Eomma bahkan kembali meneteskan air matanya saat melihat cucunya terlahir ke dunia.

“Heum, gomawo sayang. Saranghae.” Kembali ku kecup kening dan bibir Soo Young lalu mencium kening mungil puteriku ini. Cantik. Seperti ibunya.

“Oppa, uri Tae Yangi?”

Sebelum aku menjawabnya, suara putera pertama kali sudah terdengar dari balik pintu. Dan appa membawa Tae Yang ke sini.

“Aigo, cucu keduaku lahir tapi aku harus menunggunya di rumah. Sungguh tidak adil, benar ‘kan, Tae Yangi? Uh, adik kecilmu sungguh lucu. Lihat itu? Lihat..” Appa berusaha menghentikan tangisan Tae Yang yang sepertinya sudah merindukan eommanya. Aku ambil anakku dan mendekatkannya pada adik manisnya.

“Lihat, Tae Yangi. Adik kecilmu sudah terlahir. Sampaikan salam pada Cho Chun Ji. Annyeong Chun Ji..”

Ya.. Cho Chun Ji, anak kedua dari Cho Kyu Hyun dan Choi Soo Young. Adik dari Cho Tae Yang dan calon kakak dari Cho junior lainnya.

Jika aku disuruh untuk menggambarkan kebahagiaanku, aku rasa itu memerlukan kertas-kertas yang tak terhitung…

Tuhan sungguh baik padaku. Setelah menjadi bad boy untuk Soo Young dan appa yang buruk untuk Tae Yang, Tuhan tetap mengasihiku dengan memberikan kesempatan kedua-Nya untuk bertanggung jawab pada keluarga kecilku.

Yah, karena kesempatan tak akan pernah berhenti menemuimu selama kau benar-benar ingin berubah.

Jadi, izinkan aku untuk menulis kebahagiaanku dibuku kalian lain kali. Karena sekarang, aku ingin menghabiskan waktuku bersama keluarga kecilku. Yang sebentar lagi akan ku ubah menjadi keluarga besar Cho Kyu Hyun bersama Cho Soo Young.

Saranghae, Cho Soo Young.

Saranghae, Cho Tae Yang.

Saranghae, Cho Chun Ji.

Dan saranghae, calon Cho yang lainnya.

“Saranghae, papa Cho. Saranghae, papa Cho.” Ujar isteriku berseru menirukan suara anak kecil mengawali putera dan puteri kami.

 

23 thoughts on “[Oneshot] Papa Cho

  1. rifqoh wafiyyah says:

    kyaaa…!! kyuppa so sweet bangett 😍😍
    perhatiannya itu loh bikin melting…
    daebak…

  2. Sasa says:

    Eonni.. aku baca ini dulu. Ternyata ini sequelnya. Pantesan aku agak bingung gk diceritain knp kyu mesti balas kesalahannya gt. Ternyata sequelnya 😂😂 bagus eonni. Kyu nya disini sifatnya agak beda dr image kyu di ff lainnya hhe

  3. Daebak.. Amazing… Keren
    Entah kosakata apa lagi deh untuk ngungkapin ff ini. Aku suka gaya bahasa nya. kayaknya kalo liat atau gak denger kyu manggil sayang ke soo dengan nada yang halus nan romantis bener2 buat hati lumer.
    Semoga aja sih hubungan mereka yg selama ini masih abu-abu bisa berubah menjadi putih. Seenggak nya banyak moment lah yang ngebuktiin kalo Kyuyoung real.

  4. elis sintiya says:

    aku udh baca ff ini berkali-kali tapi gak pernah bosen aku lupa kematen udh koment atau blm yg pasti ff ini so sweet bgt sumpah.. pengen baca sequel selanjutnya selanjutnya dan selanjutnya.. bikin yg happy family atau mungkin nc yg lebih.. hemm hot mungkin..

  5. yura says:

    Ini lanjutan cerita dari ff cho?? Baru engeh😂
    Keren lah suka sama ceritanya jadi kyuyoung udh punya 2 anak
    Next ff ditunggu

  6. Maapkan aku thor yang udah baca ff kamu yang agak yadong ini😂😂😂 tapi bagus thor ff nya. Kyuhyun disini jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab salut deh👏👏👏 bikin sequel nya lagi aja thor😄😄😄

  7. sweet ^^ sperti’ya butuh sequel thor.. slama ini jarang ada ff yg smpe mnceritakan keluarga kecil.ya smpe anak mreka besar kkk~
    terasa bnget feel.ya next chap yaa thor..🙂

  8. so sweeeett????!! Papa Cho. Memang nyocok mnjadi ayah dr anak yg di kandung Sooyoung🙂 mereka cocok menikah ah ayolah mereka bersatu, Ku mohon tuhan..kabulkan permintaan para Knight Shipper

  9. sie says:

    Annyeong…
    Wow…. Aku suka sequel series ini, tema yg diangkat, alur yg dgunakan, aku suka bgt, tetep berkarya terutama tyg kyuyoung story ya,
    Gomawo

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s