[Series] Have You Seen -Part 9-

Have You Seen

Title               : Have You Seen?

Author            : soocyoung (@helloccy)

Length            : on writing

Genre             : Romance, Fantasy, Horror

Rating            : PG 16

Main cast        :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast      : Find it🙂

From Author   :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu…

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Eonni!”

“Choi Sooyoung-ssi!”

Aku mendengar teriakan itu, dan melihat Cho Kyuhyun berlari ke arahku. Aku benar-benar tak tahu apa terjadi, tapi detik berikutnya gumpalan besar salju terjatuh dari sebuah batang pohon dan langsung mengenai namja itu alih-alih aku maupun Yuri. Aku terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Bahkan aku sampai tak bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat dan hanya memandangi Kyuhyun yang terlihat sedang menahan sakit.

“Gwenchanayo?” tanya Kyuhyun sambil membersihkan salju di tubuhnya. “Sooyoung-ssi, gwenchanayo?” ulangnya.

“E-Eo,”

“Sooyoung-ah, ini tidak bagus untuk tetap disini. Aku rasa lebih baik kita kembali ke apartemenmu,” seru Min Ho yang juga terlihat khawatir. “Disini juga semakin dingin, kurasa kau bisa kedinginan juga lalu Yuri… dia akan semakin parah”

“Majayo eonni,” sambung Park Hae In.

Aku menatap khawatir ke arah Cho Kyuhyun sekali lagi sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Kajja Yuri-ah,” ajakku pada Yuri yang kali ini langsung menurut. “Cho Kyuhyun-ssi, kau ikut juga” kataku pada akhirnya karena tak tahan untuk terus mengabaikannya.

Kami berjalan kembali ke apartemenku ditemani dua gwishin dan udara musim dingin yang berhembus dingin sampai menusuk tulang. Aku terus menggosok-gosokkan lengan Yuri dan mengabaikan rasa dingin yang juga aku rasakan. Disampingku yang lain, Cho Kyuhyun terus melirik ke arahku tapi aku berpura-pura tidak mengetahuinya. Kami terus berjalan dalam diam sampai akhirnya benar-benar tiba di apartemenku lagi.

“Duduklah dulu, Cho Kyuhyun-ssi” kataku mempersilahkan. Aku harus tetap bersikap baik pada tamu yang datang, apalagi dia sudah membantuku tadi. “Kajja, Yuri-ah” Aku menuntun Yuri ke kamar.

“Sooyoung-ah, gwenchana” kata Yuri pelan saat aku melepas mantelku dan menggantinya dengan jaket yang lebih hangat.

Ani, kau kedinginan” sahutku tak memedulikan kata-kata Yuri. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Choi Min Ho yang sedang memperhatikan kami. “Naiklah ke tempat tidur dan istirahat saja. Apa kau ingin sesuatu yang hangat? Aku akan membuatkannya untukmu,”

Ani,” jawab Yuri. “Gomawo, Sooyoung-ahgeurigo mianhae,”

Aku tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan kamar dan membiarkan Yuri beristirahat sambil menghangatkan dirinya. Setelah itu akupun bergegas mengganti pakaianku dengan yang lebih hangat dan baru keluar untuk menemui Cho Kyuhyun. Saat aku datang, namja itu sedang membersihkan sisa-sisa salju ditubuhnya. Aku menghampirinya dengan perlahan, lalu duduk disebelahnya dan diapun menoleh ke arahku saat menyadarinya. Wajahnya tersenyum, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu padanya. Aku membalas tersenyum meskipun hanya senyuman singkat. Tapi kemudian pandanganku tertuju pada rambut Kyuhyun yang masih ada salju diatasnya.

Emm… rambutmu,” kataku pelan. “Masih ada sisa salju dirambutmu”

Ah, jinjja?” sahut Kyuhyun langsung mengacak-acak rambutnya untuk membersihkan salju itu. “Eotteyo? Apa masih ada?”

Aku menghela napas singkat, “Biar aku membantumu,” kataku pada akhirnya.

Cho Kyuhyun menundukkan kepalanya, dan akupun mendekat ke arahnya. Dengan perlahan aku membersihkan rambut Kyuhyun dari salju yang tersisa. Setelah sekian detik, aku menghentikan apa yang aku lakukan karena jantungku berdegup dengan sangat kencang padahal aku hanya menyentuhnya seperti ini. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk menghilangkan degup jantungku yang terasa semakin keras dan juga kegugupanku.

“Apa sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang langsung membuatku tersadar.

“E-Eo,” jawabku cepat-cepat sambil menyapu salju terakhir dari rambut Kyuhyun. “Kkeutnaseo,”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya lagi, “Gomawoyo, Choi Sooyoung-ssi” katanya.

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan anggukan kecil.

“Bagaimana Yuri-ssi?”

“Dia sudah tidur,”

“Apa dia baik-baik saja?”

Aku kembali mengangguk, “Eo”

“Baguslah kalau begitu” kata Kyuhyun sambil menatapku singkat. “Kau bagaimana? Apa kau tak kedinginan setelah berada diluar tanpa pakaian hangat?”

Gwenchana. Aku-” Kata-kataku terhenti karena mataku menangkap luka kecil di kening Kyuhyun. “Jamkkamanyo,” ucapku tanpa menyelesaikan kalimatku sebelumnya. Lalu aku beranjak dari tempat dudukku.

Aku pergi ke dapur dan mencari kotak obat di lemari kecil yang ada disana. Setelah menemukannya aku kembali menemui Kyuhyun. Aku sempat terkejut melihat Park Hae In yang sedang duduk disamping namja itu dan memandanginya dengan sangat dekat. Cepat-cepat aku mendekat, lalu mengusir gwishin itu pergi dengan pandangan mataku. Awalnya dia menolak, tapi aku membelalakkan mataku ke arahnya dan langsung menduduki tempatnya yang langsung membuat gwishin itu menghilang.

“Eonni benar-benar tidak sopan,” dengusnya sebelum lenyap entah kemana.

Aku terkikik.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Aniyo, amugeotdo” jawabku sambil meletakkan kotak obat di atas meja lalu mengambil plester. “Mendekatlah, Cho Kyuhyun-ssi” kataku kemudian.

Namja itu menurut. Dia menggeser tempat duduknya mendekat ke arahku. Akupun langsung menempelkan plester itu ke kening Kyuhyun yang terluka dengan hati-hati. Pandangan mata kami kembali bertemu dan untuk kesekian kalinya aku tak bisa menahan jantungku untuk tidak berdegup kencang. Aku memang selalu seperti ini jika Cho Kyuhyun terlalu dekat denganku. Meskipun aku berusaha menyembunyikannya tapi tetap saja aku gugup di depannya.

Aigoo…” gumamku langsung menyibukkan diri dengan kotak obat setelah selesai. “Kau seharusnya tidak melakukannya, Kyuhyun-ssi. Jadi kau tak perlu terluka seperti itu”

“Ini hanya luka kecil. Aku bahkan tak menyadarinya jika kau tak melakukan ini,” jawab Kyuhyun seraya menunjuk keningnya yang sudah aku beri plester. “Ini lebih baik daripada aku melihatmu yang terluka, Choi Sooyoung-ssi

Aku menoleh padanya dengan cepat, “ Kenapa begitu?”

“Kenapa?” ulang Kyuhyun terlihat terkejut. “Em… Itu karena aku… peduli padamu”

Aku tertegun, lalu mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapinya jadi aku memilih diam.

“Eonni, katakan sesuatu padanya. Kenapa kau hanya diam?” Park Hae In sudah kembali di dekatku. “Bukankah kau juga peduli padanya?”

Aku mengabaikan gwishin yeoja ini dan teringat pada Bae Joohyun. Bagaimana jika dia mendengar namjachingu-nya mengatakan hal seperti ini di depan yeoja lain? Dia pasti akan sangat terluka. Ah, jinjja! Kenapa aku harus terlibat dalam keadaan yang seperti ini? Apalagi aku mengenal kedua orang ini, dan itu membuatku semakin merasa bersalah ada diantara mereka.

“Eonni, dia mengatakan sesuatu padamu” seru Park Hae In sambil menyentuhku. Membuatku sedikit menggigil karenanya.

Aku langsung menatap Cho Kyuhyun dan ternyata namja itu memang sedang menatap ke arahku dengan dengan ekspresi ingin tahu. Cepat-cepat aku memalingkan wajahku, lalu beranjak dari tempat dudukku sambil membawa kotak obat itu lagi. Aku benar-benar tak tahu kenapa aku menjadi seperti ini sekarang. Aku rasa aku memang harus menjauhi namja ini pelan-pelan agar aku tak menyakiti siapapun.

“Choi Sooyoung-ssi,” panggil Kyuhyun yang ternyata mengikutiku. “Bisakah kita bicara sebentar?”

“Tentang apa?”

Emm… Itu,” Kyuhyun terdengar ragu tapi aku sengaja tidak melihat ke arahnya untuk kebaikanku sendiri. “Aniyo. Mungkin lain kali saja,”

Aku mendengus kecil, lalu berbalik menghadapnya. “Lalu kenapa kau datang kesini?” tanyaku ingin tahu. “Kau datang karena ada sesuatu hal, bukan?”

“Memang,”

“Aku datang karena aku ingin bertanya padamu kenapa kau tak membalas pesanku dan juga tak menanggapi teleponku” jawab Kyuhyun. “Kau tahu, kita ini… em… Teman. Lalu kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti itu padaku?”

Aku mengembuskan napas pelan, lalu menjawab. “Karena aku tak mau menyakiti siapapun. Puas?”

“Siapa yang tersakiti?”

“Seseorang… mungkin,”

Kedua alis Kyuhyun saling bertaut, “Choi Sooyoung-ssi, aku benar-benar tak mengerti apa maksudmu”

Dwaesseo. Aku pikir kau datang kesini untuk membicarakan hal yang penting,” Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraannya. “Keadaannya sedang tidak baik sekarang. Yuri tahu siapa yang melakukannya,”

Mworaguyo? Dia tahu? Eotteokeyo?” sahut Kyuhyun yang sepertinya teralihkan dari pembicaraan sebelumnya.

“Yuri mendengarku sedang berbicara dengan Choi Min Ho”

Gwishin-nya?”

Aku mengangguk, “Dia masih disini, terus bersama Yuri selama ini. Tapi 49 harinya akan segera berakhir dan dia harus pergi sebelum itu” kataku memberitahu. “MinHo berkata dia ingin membawa Ahn Ji Won padamu”

“Bagaimana caranya?”

Molla. Sudah aku katakan padanya untuk tidak mengkhawatirkan baik itu Ahn Ji Won maupun Yuri” kataku lagi sambil melirik ke arah kamar dimana Yuri berada. Aku yakin Choi Min Ho juga ada disana sekarang. “Mungkin aku akan berbicara pada mereka berdua dan meminta Yuri untuk menyuruh Min Ho pergi sebelum 49 harinya berakhir”

Cho Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepala mendengarkanku bicara. Jujur saja, aku tak mengerti kenapa namja ini bersikap biasa saja dan tidak terganggu setiap kali aku membicarakan gwishin di depannya. Reaksinya pun berbeda dengan orang lain saat aku memberitahu mereka tentang apa yang bisa aku lihat tapi tak bisa mereka lihat. Terkadang aku justru merasa jika Kyuhyun telah mengetahui kemampuanku bahkan sebelum aku memberitahunya waktu itu. Tapi aku tidak yakin dia tahu dari Yuri ataupun orang lain, lalu darimana?

Selain itu, sampai sekarang aku masih merasa bahwa aku pernah mengenal Cho Kyuhyun sebelumnya di suatu tempat. Aku memang berusaha mengabaikan itu selama ini tapi semakin aku sering bertemu dengannya, aku justru semakin yakin bahwa aku memang pernah mengenalnya. Tapi kapan dan dimana itu yang aku tidak tahu.

“Cho Kyuhyun-ssi,” kataku pelan. Aku menatap namja itu lekat-lekat, “Apa kau dan aku pernah saling mengenal sebelum ini?” tanyaku.

Ne?” sahut Kyuhyun terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu padaku?”

Ani, aku hanya merasa kita memang pernah mengenal sebelumnya” jawabku sambil mengangkat kedua bahuku. “Ah, tapi ini mungkin hanya perasaanku saja. Tolong lupakan itu, Cho Kyuhyun-ssi” kataku cepat-cepat.

Cho Kyuhyun justru menatapku lama, sampai-sampai aku gugup karena dia memandangiku seperti itu. Aku menghela napas panjang sembunyi-sembunyi lalu berpindah posisi. Sepertinya aku membuat kesalahan karena bertanya seperti itu pada Kyuhyun. Sekarang justru aku sendiri yang merasa gugup dan aku tak tahu lagi bagaimana harus bersikap di depannya. Aku hanya berharap dia segera keluar dari apartemenku agar aku berhenti merasakan hal-hal seperti ini.

**

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan dan mengulanginya beberapa kali sambil terus menatap gwishin namja yang bernama Jung Seung Ho. Sejak mendengar sedikit ceritanya, aku memang semakin tertarik dengan gwishin yang sudah lama aku perhatikan ini. Dan kali ini aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya karena tak mungkin aku terus-terusan memperhatikannya. Lagipula tak ada salahnya mendengar cerita gwishin lagi setelah kejadian yang menimpa Yuri beberapa hari yang lalu.

Aku berdehem pelan sambil melambaikan tanganku, berusaha menarik perhatian gwishin itu dari jarakku yang tidak cukup dekat dengannya. Tapi dia sama sekali tak menatap ke arahku meskipun aku sudah berdiri sejajar dengan pandangan matanya. Kepalaku menoleh lalu mengikuti arah pandangan gwishin itu. Seperti yang sudah aku ketahui selama ini, dia sedang memandangi Nam So Hyun, kepala restoran ditempatku bekerja. Aku tahu bahwa mereka berdua memiliki hubungan setelah mendengar cerita dari Jung Seung Min, tapi kurasa aku perlu mengetahuinya lebih jauh dari gwishin Jung Seung Ho.

Aku kembali menghela napas, lalu memutuskan untuk melangkah lebih dekat ke arah gwishin itu. “Jogiyo-”

“Choi Sooyoung-ssi,” panggilan seseorang itu membuatku langsung berhenti berbicara. Aku menolehkan kepala dan Cho Kyuhyun-lah orang yang telah memanggilku. “Aku melihatmu melambaikan tangan beberapa kali. Tapi apa yang sedang kau lakukan, Choi Sooyoung-ssi? Apa ada seseorang yang kau kenal?” tanyanya.

A-Aniyo,” jawabku masih sedikit terkejut dengan kedatangan Cho Kyuhyun ini. “Apa yang kau lakukan disini?” Aku balik bertanya.

“Hanya berjalan-jalan saja. Mungkin ini sudah menjadi kebiasaanku untuk kesini setelah jam kerjaku habis” jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis padaku. “Emm… sebenarnya tadinya aku berniat membeli sesuatu di restoran, tapi kemudian aku melihatmu keluar dan kau berdiri disini sambil melambaikan tangan seperti ini” katanya mempraktekkan apa yang aku lakukan beberapa saat yang lalu.

Ah, itu karena aku sedang berusaha menarik perhatian gwishin

“Apa maksudmu gwishin yang sering kau perhatikan disini?”

Aku mengangguk, “Namanya Jung Seung Ho. Aku rasa aku perlu bicara dengannya kali ini,”

“Aku akan membantumu,” sahut Kyuhyun dengan cepat.

Kedua alisku saling bertaut, “Membantuku? Tapi kau tak bisa melihat apa yang aku lihat, lalu bagaimana kau akan membantuku?”

Kyuhyun tersenyum, “Bukan membantu yang seperti itu sebenarnya,” katanya. “Kau tahu, aku bisa berpura-pura sedang berbicara denganmu saat kau sedang berbicara dengan gwishin itu. Jadi orang tak akan berpikir kau sedang bicara sendiri karena mereka bisa melihatku sebagai lawan bicaramu”

Aku tak langsung memberi tanggapan karena aku benar-benar tak menyangka jika Cho Kyuhyun berpikir seperti ini. Jujur saja, aku bahkan tak pernah berpikir untuk melakukan apa yang namja ini katakan sebelumnya. Itulah kenapa aku terkejut dengan idenya ini.

“Selama ini kau sering membantuku, jadi biarkan aku yang membantumu. Eotteyo?” Kyuhyun kembali bersuara. “Dimana gwishin itu berdiri?” tanyanya tanpa menunggu persetujuanku terlebih dahulu langsung melangkah menjauh dariku.

“Berhenti disana, Cho Kyuhyun-ssi” seruku tepat sebelum Kyuhyun menabrak Jung Seung Ho. Aku benar-benar tak ada pilihan sekarang, “Tetap disana. Kau berdiri tepat di belakangnya sekarang” kataku pada akhirnya.

Arraseoyo. Geureom, aku akan berpura-pura mendengarkanmu,”

Aku terpaksa menganggukkan kepala. Lalu pandanganku beralih kembali pada Jung Seung Ho, dan berbicara padanya dari jarak yang lebih dekat. “Apa aku bisa bicara padamu?” tanyaku padanya hati-hati, tapi dia sama sekali tidak merespon. “Jogiyo, gwishin-ssi… Ah, maksudku Jung Seung Ho-ssi, apa aku-”

Gwishin itu menoleh dengan cepat ke arahku begitu aku memanggil namanya. Dia menatapku dengan pandangan terkejut, seperti gwishin-gwishin lainnya yang tidak percaya bahwa aku bisa melihat dan berbicara pada mereka. Bahkan dia terus menatapku, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali dan menunjuk ke arahku kemudian ke arahnya. Memastikan bahwa aku memang sedang berbicara padanya.

Geuraeyo, aku bisa melihatmu” kataku menjawab tatapan itu. “Jadi, bisakah kita bicara?”

“Apa kau benar-benar bisa berbicara padaku?”

Aku menganggukkan kepala, “Namaku Choi Sooyoung,”

“Aku Jung Seung Ho”

“Arrayo,”

Kedua alis Seung Ho saling bertaut saat dia menatapku, “Darimana kau tahu namaku?” tanyanya ingin tahu. “Kurasa aku tak mengenal siapapun dalam dua tahun terakhir, jadi bagaimana kau tahu namaku?”

Aku menunjuk ke arah restoran, “Aku bekerja disana” kataku memberitahu. Mataku kembali melirik Kyuhyun yang juga memandangi restoran tempatku bekerja. “Kalau kau tidak keberatan, apa kau mau pergi dari sini dan mencari rempat yang… hmm, lebih nyaman untuk berbicara denganku?” tanyaku pada Jung Seung Ho lagi.

“Tapi kenapa aku harus berbicara padamu? Aku tak merasa mengenalmu, dan kaupun tak tahu apapun tentang aku”

Aigoo, arrayo, Seung Ho-ssi. Kau berdiri disini dan terus memandang ke arah restoran, ah… ani, maksudku Nam So Hyun-ssi” kataku tak mau menyerah. “Aku juga tahu apa yang terjadi padamu meskipun itu tidak banyak. Kau tahu, aku bisa membantumu jika memang ada sesuatu yang ingin kau katakan padanya”

“So Hyun?” Seung Ho terlihat sedikit tertarik dengan apa yang aku katakan. “Kau bisa membantuku?”

Aku mengangguk, dan aku juga bisa melihat Cho Kyuhyun yang menganggukkan kepala mengikutiku di belakang Jung Seung Ho. Aku tersenyum kecil ke arah Kyuhyun sebelum kembali pada gwishin itu.

“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padanya?” tanyaku meskipun aku yakin pasti ada. “Aku pasti akan menyampaikan apapun yang kau katakan padanya”

“Aku lebih senang jika bisa mengatakannya langsung padanya, tapi aku tahu itu tak mungkin terjadi lagi” jawab Seung Ho sambil menundukkan kepalanya. “Jujur saja, itu bahkan lebih menyakitkan bagiku daripada saat aku memberitahunya apa yang terjadi padaku dua tahun lalu”

Aku menghela napas singkat tapi tak mengatakan apapun pada gwishin itu yang kembali menatap jauh ke restoran. Pandangannya benar-benar terlihat sangat sedih sekarang dan aku tak tahu harus mengatakan apa lagi di depannya. Aku juga tak mungkin memaksanya untuk bercerita padaku ataupun meminta bantuanku jika memang dia tak mau. Mungkin lebih baik aku membiarkannya mencariku daripada aku yang memaksanya. Lagipula dia sudah mengetahui bahwa aku bisa melihatnya dan bahkan membantunya.

“Seung Ho-ssi, dengar” kataku mulai bicara lagi. “Aku bekerja di restoran yang sama dengan Nam So Hyun-ssi dan Jung Seung Min-ssi jika kau ingin aku membantumu atau kau ingin berbagi cerita denganku”

Gwishin itu diam saja.

Aku melanjutkan, “Aku akan membantumu jika memang aku bisa melakukannya,”

“Kurasa kau tak bisa membantuku, Sooyoung-ssi”

Aku tersenyum tipis, “Terkadang kau perlu mempercayai orang lain sekalipun kau gwishin” kataku. “Geureom-” Aku mengangguk kecil lalu melangkah menghampiri Cho Kyuhyun.

“Apa sudah selesai?” tanya Kyuhyun saat aku sudah dengannya.

“Eo,” jawabku sambil menoleh ke arah Jung Seung Ho. “Mungkin lain kali dia yang akan mendatangiku. Tapi untuk sekarang, kurasa sudah cukup aku berbicara padanya”

Geureom, bagaimana kalau kita makan malam bersama?”

“Ne?”

“Kajja,”

Cho Kyuhyun langsung menarik tanganku dan mengajakku masuk ke sebuah restoran tradisional. Meskipun aku ingin menolaknya, tapi kurasa aku tak bisa menolaknya jika dia menarik tanganku seperti ini. Aku hanya akan berusaha sekeras mungkin agar aku tidak gugup dan jantungku tidak berdegup dengan kencang seperti biasanya. Aku benar-benar harus mengendalikan diriku sendiri kali ini.

__

Kyuhyun POV

“Aku masih tak mengerti, kenapa di tak mau kau membantunya, Choi Sooyoung-ssi?” tanyaku setelah aku dan Sooyoung keluar dari restoran setelah kami makan malam bersama. “Katamu kau menawarkan bantuan padanya, tapi di menolaknya. Bukankah itu tidak biasa? Maksudku, jika aku menjadi gwishin… aku akan langsung menerima bantuan dari satu-satunya orang yang bisa melihat dan berbicara padaku”

“Jujur saja, aku juga tak tahu kenapa. Aku bahkan sempat kehilangan kata-kata di depannya” kata Sooyoung menanggapiku. “Selalu tidak mudah untuk memulai pembicaraan dengan gwishin, karena biasanya mereka yang mendatangiku bukan aku yang datang pada mereka. Kecuali yah… dalam keadaan tertentu”

“Aku tak bisa membayangkan bagaimana gwishin-gwishin itu mendatangimu” sahutku sambil terus melangkah bersama Choi Sooyoung. “Bukankah semua gwishin berpenampilan… hmm, kau tahu… menyeramkan”

Sooyoung tertawa kecil, “Tidak semua sebenarnya. Beberapa memang menyeramkan, tapi beberapa juga tidak”

“Dan mereka selalu tertarik padamu setiap kali tahu kau bisa melihat mereka?”

Choi Sooyoung menganggukkan kepala, “Eo, wae?”

Aniyo, amugeotdo. Itu hanya luar biasa bagiku” jawabku jujur. “Memiliki suatu kemampuan yang tidak biasa dimiliki orang lain itu memang sesuatu yang luar biasa”

“Seperti kemampuanmu melihat warna emosi seseorang” sahut Sooyoung dengan cepat. “Itu juga luar biasa bagiku,”

Aku tersenyum malu.

Kami terus melangkah menyusuri jalanan Chinatown yang tertutup salju. Lalu tiba-tiba angin berhembus kencang dan hampir menerbangkan topi Choi Sooyoung. Untungnya aku berhasil menahannya untuk tetap berada di atas kepala yeoja ini. Tapi apa yang aku lakukan justru membuatnya terkejut dan kami hampir terjatuh jika aku tidak berpegangan pada sebuah tiang lampu sambil memegangi badan Choi Sooyoung. Kami saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik sebelum akhirnya cepat-cepat aku membantunya berdiri dan sedikit menjauh darinya.

Gwenchanayo?” tanyaku berusaha bersikap biasa meskipun jantungku terus berdegup kencang. “Mianhaeyo, aku tak bermaksud-”

Gwenchana,” potong Sooyoung cepat. Dia merapikan kembali topinya, lalu syal-nya dan juga merapatkan mantelnya. “Aku terkejut. Sedikit. Jadi, itu salahku sebenarnya”

“Anginnya kencang. Bagaimana jika kita masuk ke suatu tempat dan menghangatkan diri disana?” Aku mengusulkan saat ide itu terlintas begitu saja di pikiranku. “Kau sedang tidak terburu-buru untuk pulang, ‘kan, Choi Sooyoung-ssi?” tanyaku lagi.

Ani. Tapi tak apa-apa jika kau-” Sooyoung berhenti berbicara tiba-tiba. Membuatku langsung menolehkan kepala ke sekitar karena mungkin saja dia melihat gwishin lainnya. Tapi dia justru memandangiku, dan aku melihatnya menarik napas panjang. “Jika kau terus seperti ini, kau mungkin akan membuat kesalahpahaman, Cho Kyuhyun-ssi” katanya sebagai gantinya.

Kedua alisku saling bertaut mendengar perkataan Sooyoung. “Kesalahpahaman?” tanyaku.

Sooyoung mengangguk.

“Kenapa ada kesalahpahaman?”

Aigoo, apa aku harus memberitahumu secara langsung, Cho Kyuhyun-ssi?” tanya Sooyoung dengan nada yang sedikit berubah dari sebelumnya. “Mungkin aku tak akan bisa menahannya lagi jika seperti ini terus,” gumamnya.

“Choi Sooyoung-ssi, apa yang kau katakan?” Aku bertanya untuk memastikan gumaman yeoja ini tadi. “Apa yang tak bisa ditahan?”

Choi Sooyoung diam saja, dan terus melangkah tanpa menjawab pertanyaanku itu. Meskipun sebenarnya aku ingin kembali bertanya padanya, tapi aku memilih untuk tetap diam. Jujur saja, aku benar-benar tak mengerti dengan perkataannya itu dan kenapa tiba-tiba dia bersikap sedikit datar padaku, seakan-akan dia sedang menghindari sesuatu. Kami terus berjalan sampai keluar dari kawasan Chinatown dan berhenti di sebuah taman kecil yang menghubungkannya dengan kawasan lainnya.

“Kau akan langsung pulang atau bagaimana, Choi Sooyoung-ssi?” tanyaku tak tahan untuk terus diam. “Aku akan menemanimu ke halte bus dan-”

Aniya, aku masih ingin tetap disini” Sooyoung memotong perkataanku. “Siapa tahu Jung Seung Ho akan mendatangiku dan kembali berbicara padaku”

“Katamu Jung Seung Ho nama gwishin itu, ‘kan?”

Sooyoung mengangguk. “Dia menderita Aneurisma, dan meninggal karena itu sekitar dua tahun yang lalu” katanya. “Aku memang tahu alasan kenapa dia berdiri di depan restoran selama ini adalah karena Nam So Hyun-ssi, yang juga kepala restoran tempatku bekerja. Tapi aku masih belum tahu kenapa gwishin itu memilih untuk tetap berdiri disana daripada harus berdiri di dekat Nam So Hyun-ssi

Jamkkamanyo. Katamu nama kepala restorannya adalah Nam So Hyun?” tanyaku seperti tak asing dengan nama itu.

Eo. Wae? Apa kau mengenalnya?” Sooyoung balik bertanya padaku.

“Dia bukan pemusik yang sering pentas di kafe-kafe itu, ‘kan?”

Molla, tapi memang benar dia seorang pemusik. Dulunya,” jawab Sooyoung sambil menatapku lekat-lekat. “Apa kau mengenalnya, Cho Kyuhyun-ssi?”

Aku menganggukkan kepala, “Dia pernah menjadi saksi pengadilan beberapa tahun yang lalu untuk kasus penganiayaan di salah satu kafe dimana dia sedang pentas” jawabku mengingat-ingat pertemuanku dengan yeoja bernama Nam So Hyun itu. “Dari warna emosinya saat itu, aku bisa tahu jika dia orang yang tenang dan sangat mencintai sesuatu yang bahkan setara dengan kehidupannya”

“Apa warna emosinya?”

Emm… dominan hijau dan ada sedikit warna biru serta kuning, aku rasa” kataku. “Aku tak banyak mengobrol dengannya saat itu, tapi yang aku ingat, dia datang bersama dua namja ke pengadilan”

Choi Sooyoung sama sekali tak memberi tanggapan.

Aku melanjutkan, “Aku tak menyangka jika ternyata itu mereka,” kataku. “Tapi darimana kau tahu jika gwishin itu menderita Aneurisma? Apa dia memberitahumu?

Aniyo, hyung-nya yang memberitahuku. Dia bekerja di restoran juga” jawab Sooyoung memberitahuku. “Kurasa aku akan mencari tahu tentang Jung Seung Ho lebih jauh dan kemudian kalau bisa mengenal Nam So Hyun”

“Aku akan membantumu,”

Sooyoung menatapku dengan tajam, “Kau akan membantuku?”

Aku mengangguk.

Ani, tapi bagaimana?”

“Emm,” Aku berpikir sesaat. “Apapun-”

Sooyoung menghela napas panjang, lalu dia memalingkan wajahnya dariku. Aku menatapnya dan berpikir apa dia tak suka jika aku membantunya? Tapi kenapa? Aku bahkan tak masalah jika hanya berdiri diam di depannya seperti tadi yang aku lakukan.

“Cho Kyuhyun-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Sooyoung tiba-tiba.

Aku kembali menganggukkan kepala.

“Kau pernah mengenalku sebelumnya, ‘kan?”

Aku diam.

“Jujur, aku merasa kau pernah mengenalku dan aku pernah memberitahumu sebelumnya” katanya lagi karena aku diam saja. “Reaksimu saat aku memberitahumu mengenai kemampuanku melihat gwishin juga berbeda dari mereka yang aku beritahu. Bahkan Yuri yang sudah lama mengenalku pun terkejut saat aku memberitahunya”

Aku tetap diam untuk kali ini.

“Kau pernah mengenalku, ‘kan, Cho Kyuhyun-ssi?” Sooyoung mengulang kembali pertanyaannya.

Eo, majayo. Aku memang pernah mengenalmu” jawabku pada akhirnya. “Mungkin kau tak mengingatnya tapi kita benar-benar saling mengenal untuk beberapa saat”

“Jeongmalyo? Eonje?”

Aku tersenyum tipis, “Sekitar lima tahun yang lalu di kota ini”

Sooyoung mengerutkan keningnya, “Bagaimana kita bertemu?” tanyanya.

“Kau melihatku sebagai gwishin atau apapun itu karena kau sama sekali tak menyebutku gwishin saat itu” kataku berusaha mengingatkan Sooyoung mengenai pertemuanku dengannya dulu. “Kau mungkin tak ingat, tapi kaulah satu-satunya orang yang membuatku ingin kembali hidup dan menjalankan hidupku seperti semula”

“Kau pernah menjadi semacam gwishin?”

Aku mengangguk.

“Aku kecelakaan di kota ini, dan orang pertama yang aku lihat setelah aku tahu apa yang terjadi padaku adalah kau, Choi Sooyoung-ssi” jelasku. “Aku tak begitu ingat dengan apa yang terjadi saat itu, tapi aku tahu bahwa satu-satunya alasanku untuk kembali juga kau”

Sooyoung terlihat terpana mendengar ceritaku. Dia bahkan hanya terus menatapku dan tak bisa mengatakan apa-apa untuk menanggapiku.

“Terdengar aneh, bukan? Tapi itulah yang terjadi,” kataku lagi. “Aku tahu kemampuanmu tidak dari awal saat pertama kali aku bertemu denganmu lagi setelah aku kembali. Aku baru menyadarinya setelah ada sesuatu hal yang membuatku teringat saat-saat itu”

“Tidak, itu tidak aneh” gumam Sooyoung. Dia kembali menatapku lekat-lekat, bahkan lebih lama dari sebelumnya. “Kurasa aku harus pulang. Sekarang,” katanya tiba-tiba.

Aku diam saja dan hanya menatapnya.

Geureom-” kata Sooyoung lagi lalu bergegas pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Aku benar-benar hanya bisa memandangi Sooyoung sampai dia benar-benar tak terlihat oleh pandanganku. Meskipun aku ingin mengejarnya, tapi entah kenapa aku justru tak bisa melakukan apa-apa. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya. Apa dia mengingatku atau tidak? Aku benar-benar tak tahu.

**

Aku menatap ponsel yang sedari tadi tergeletak di sampingku. Apa aku harus menelepon Choi Sooyoung? Tapi apa yang akan aku katakan padanya? Menyapanya seperti biasa dan menganggap apa yang terjadi tiga hari yang lalu itu tak pernah terjadi? Atau aku meminta maaf padanya? Tapi untuk alasan apa? Ahh… aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan dan sudah tiga hari ini aku terus seperti ini. Gelisah, tapi tak tahu harus bagaimana.

Ahh, sial” umpatku sambil menyenderkan tubuhku ke sandaran kursi yang sedang aku duduki di apartemenku.

Waeyo?” sahut Joohyun yang baru keluar dari dapur dan membawa beberapa piring makanan ditangannya. “Aku terus mendengar oppa mendesah dari dapur. Apa sesuatu terjadi?” tanyanya.

Aku bangkit dari tempatku, lalu menghampiri Bae Joohyun dan membantunya menyiapkan makanan di meja makan. “Aniya, amugeotdo aniya” kataku. “Hari ini kau libur, ‘kan?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Eo,” jawabnya tanpa menatapku. “Tapi aku ingin pergi ke suatu tempat”

“Eodiga?”

“Seoul”

“Seoul?”

“Eo,” Joohyun menjawabnya singkat.

“Kenapa kau ke Seoul?” Aku ingin tahu karena dia sama sekali jarang pergi ke Seoul keculai untuk peringatan kematian eomma. “Apa ada sesuatu yang akan kau lakukan disana?”

Joohyun sama sekali tak menatapku dan dia sibuk dengan makanan-makanan yang ada di atas meja. Dia bahkan menghindari tatapanku saat memberikan semangkuk nasi padaku. Aku memilih untuk menunggunya berbicara daripada harus mengulang pertanyaanku. Akupun ikut mengambil makanan yang sudah siap di meja makan. Untuk beberapa saat suasana di meja makan ini benar-benar terasa hening, hanya suara sendok dan sumpit yang beradu dengan mangkok yang terdengar.

“Aku akan bertemu appa di Seoul,” Joohyun bersuara pada akhirnya yang langsung membuatku secara otomatis menatap ke arahnya sambil memegang sumpitku. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan appa,” katanya lagi.

Ah, geurae? Tentang apa itu?”

“Itu hanya mengenai kuliahku dan juga beberapa hal lain yang memang harus aku bicarakan dengan appa terlebih dahulu sebelum berbicara denganmu, oppa” jawab Joohyun hanya sesekali menatapku. “Aku juga ingin tahu appa masih peduli padaku atau tidak, termasuk kuliahku” Dia menambahkan.

Aku diam sesaat “Kau mau oppa menemanimu ke Seoul?” tanyaku menawarkan diri. “Hari ini oppa libur, dan tak tahu harus melakukan apa” kataku tiba-tiba teringat Choi Sooyoung.

Jinjja? Oppa tak melakukan apa-apa hari ini?”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu oppa bisa beristirahat di apartemen, sementara aku pergi ke Seoul”

“Kau mau oppa menemanimu?” tanyaku menawarkan diri karena aku khawatir bagaimana dia saat bertemu appa nantinya. “Mungkin oppa bisa membantumu berbicara pada appa jika memang kau tak mau bicara dan-”

Aniyo. Aku akan pergi sendiri saja,” sahut Joohyun memotong perkataanku. “Aku tahu cepat atau lambat aku memang harus berbicara pada appa” Dia melanjutkan.

“Kau yakin akan pergi sendiri?” tanyaku memastikan lagi.

Eo,” jawab Joohyun sambil menganggukkan kepalanya. “Gwenchanayo, aku akan mengurusnya sendiri”

Aku menghela napas singkat, “Geurae. Lagipula memang seharusnya kau dan appa saling berbicara agar semuanya semakin terasa baik”

Arrayo,” jawab Joohyun sambil menundukkan kepalanya. “Aku hanya berharap appa tak menyalahkanku lagi dan membuatku seperti menjadi seorang pembunuh”

“Joohyun-ah, jangan mengatakan hal seperti itu lagi” kataku berusaha menghibur dongsaeng-ku satu-satunya ini. “Kau tahu, eomma melakukan hal yang benar dengan menyelamatkanmu. Tak akan ada yang mengatakan kau seorang pembunuh atau apapun itu. Kau adalah seseorang yang sangat berharga, begitupula hidupmu. Arra?”

Joohyun diam sesaat, lalu dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum padaku. “Gomawo, oppa. Karena kau selalu bersamaku dan membuatku merasa menjadi seseorang yang berharga”

Aku balas tersenyum pada Joohyun.

Kami melanjutkan makan, lalu membereskannya setelah selesai sebelum akhirnya Joohyun keluar dari apartemen. Meskipun pada awalnya aku tak sedikit ragu tapi mau tak mau aku harus meyakinkan diriku sendiri jika dongsaeng-ku itu memang bisa melakukannya sendiri. Apalagi dia hanya akan datang menemui appa dan berbicara padanya. Itu akan sedikit sulit bagi Joohyun, tentu saja, tapi aku rasa dia bisa mengatasinya dengan baik. Selama ini dia tak mau bicara dengan appa karena memang dia tak mau, dan dengan kemauannya sekarang, itu akan membuatnya semakin mudah.

Aku berpindah tempat duduk sambil menyalakan TV lalu merebahkan kepala di atas lengan sofa yang empuk. Entah bagaimana tiba-tiba aku kembali memikirkan Choi Sooyoung. Apa dia mengingatku atau tidak setelah aku memberitahunya bahwa memang aku pernah mengenalnya dulu? Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Aku benar-benar ingin tahu, tapi terlalu ragu untuk menelepon yeoja itu. Haruskah aku langsung mendatanginya seperti yang biasanya aku lakukan? Tapi kenapa aku juga sedikit ragu untuk melakukannya sekarang?

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Membuyarkan seluruh lamunanku. Akupun cepat-cepat mengambilnya dan langsung menatap tulisan yang tertera di layar karena aku pikir Choi Sooyoung-lah yang meneleponku. Ternyata bukan. Orang yang meneleponku adalah Park Dong Soo, salah satu anak buahku yang aku tugaskan untuk terus mengawasi perkembangan Ahn Ji Won.

Eo, Dong Soo-ya! Wae?” tanyaku begitu mengangkat panggilan teleponnya. “Apa ada perkembangan?”

Ne, sunbae. Baru-baru ini kami menemukan adanya sinyal ponsel milik Ahn Ji Won di Pohang. Tim kita sedang menuju ke sana, dan akan segera melakukan pencarian untuk menemukan pelaku” kata Dong Soo menjelaskan.

“Pohang?” ulangku. “Apa kau yakin itu sinyal ponsel Ahn Ji Won?”

Ne,”

Arraseo. Aku akan segera menyusul kesana-” sahutku cepat. “Terus awasi sinyal ponsel itu, jangan sampai kau kehilangan jejaknya lagi. Arra?”

Algeseumnida” jawab Dong Soo dengan tegas.

Aku segera memutus sambungan teleponnya dan bergegas pergi ke kamar lalu menyambar jaketku yang tergantung. Aku melangkah dengan terburu berjalan keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobilku. Dengan gerakan kasar, akupun menginjak gas dan memutar kemudi dengan satu gerakan sehingga menimbulkan bunyi decit ban yang bergesekan dengan aspal. Aku harus segera mengkonfirmasi sendiri mengenai Ahn Ji Won atau jika memungkinkan langsung menangkapnya saat dia memang berada disana. Karena dengan begitu, setidaknya aku memiliki alasan lain untuk bisa menemui Choi Sooyoung meskipun menangkap Ahn Ji Won adalah tugas utamaku untuk saat ini.

__

Sooyoung POV

Aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata dengan perlahan, berusaha untuk lebih merasakan suasana pantai yang cukup lama tidak aku kunjungi ini. Aku sama sekali tak memedulikan udara dingin yang berhembus menerpa tubuhku. Tak lama, mataku kembali terbuka. Lalu pandanganku mengarah lurus ke arah pantai yang ombaknya sekarang terkesan lebih kecil dari biasanya.

Suasana di pantai ini memang sangat sepi karena tak mungkin ada orang yang mau pergi ke sini di musim dingin seperti sekarang, kecuali diriku sendiri dan Yuri yang berdiri cukup jauh dariku. Aku memang membiarkannya sendirian bersama Choi Minho kali ini meskipun dia tak bisa berbicara dan bertemu dengan namjachingu-nya itu lagi. Menyedihkan memang melihat sahabatku harus kehilangan seseorang yang bisa dikatakan selalu menjadi tumpuannya sejak tinggal di kota ini. Tapi tak ada yang bisa dilakukan lagi selain harus menerima keadaan sekarang.

Aku menarik napas panjang, dan pikiranku mulai melayang pada kejadian yang menimpa dua orang yang sangat aku kenal itu. Lalu entah bagaimana aku juga teringat pada Cho Kyuhyun yang saat kejadian itu sedang bersamaku. Tapi memikirkan namja itu justru membuatku mau tak mau mengingat pertemuan terakhirku dengannya di kawasan Chinatown. Waktu itu aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana di depannya saat dia memberitahuku bahwa aku benar-benar pernah bertemu dengannya sebagai gwishin. Aku memilih kabur karena aku juga mengingat saat-saat itu.

“Sudah lama tak datang ke pantai ini, ‘kan?” tanya seseorang di belakangku. Aku langsung menoleh cepat saat mendengar suara yang aku kenal itu. Jantungku langsung berdebar kencang seperti biasa saat melihat Cho Kyuhyun yang tersenyum padaku. “Senang melihatmu disini lagi, Choi Sooyoung-ssi” katanya lagi.

Aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa terlebih dahulu kali ini.

Cho Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya. Pandangannya mengarah pada pantai, “Kupikir aku tak bisa bertemu denganmu lagi setelah terakhir kali aku memberitahumu bahwa kau pernah mengenalku sebelumnya” katanya. “Saat aku menjadi gwishin,” Dia menambahkan.

“Wae?”

Kyuhyun menoleh padaku. “Aku khawatir kau marah padaku dan tak mau berteman lagi denganku”

“Karena itu kau sama sekali tak menghubungi seperti yang biasanya kau lakukan?” tanyaku spontan.

“Apa kau menungguku?” Kyuhyun bertanya sambil tersenyum.

Aku sedikit salah tingkah melihat senyum itu. Senyum yang dulu sempat membuatku sebenarnya tertarik padanya meakipun saat itu aki tahu dia bukan orang. Jantungku kembali berdegup kencang dan cepat-cepat aku mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan ekspresiku.

“Apa kau marah padaku, Choi Sooyoung-ssi?”

A-Aniya,” jawabku gugup.

“Lalu apa kau juga mengingatku?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, “Eo. Namja yang selalu menguntitku selama berminggu-minggu” kataku. “Meskipun aku menyuruhmu untuk pergi, tapi kau tetap datang padaku”

Cho Kyuhyun tertawa pelan, dan itu membuatku menoleh padanya. Untuk sesaat aku melupakan rasa gugupku, lalu ikut tertawa bersamanya.

“Gwenchana?” tanyaku setelah beberapa saat.

Ne. Kau yang membuatku bangun. Ingat?”

“Aku tak tahu mengenai hal itu,” sahutku. “Aku hanya ingat bahwa kau berjanji padaku untuk kembali dan menjalani hidupmu dengan baik” Aku melanjutkan.

Kyuhyun tersenyum, “Aku menepati janjiku”

“Arrayo,”

Gomawoyo, Choi Sooyoung-ssi” katanya pelan. “Untuk saat itu dan semua yang kau lakukan padaku”

Aku mengangguk tanpa mengatakan apa-apa padanya. Meskipun ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi aku menahan diri untuk tak tahu lebih banyak. Biar bagaimanapun sekarang dia milik orang lain, dan aku sadar bahwa aku tak mungkin terlalu dekat dengannya seperti saat dia menjadi gwishin untuk beberapa saat.

“Aku membawa kabar yang cukup baik,” kata Kyuhyun tiba-tiba.

“Apa itu?”

“Ini tentang Ahn Ji Won-”

Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Kwon Yuri yang masih bersama namjachingu-nya. “Apa yang terjadi?” tanyaku kemudian.

“Haruskah aku memberitahunya?” Kyuhyun balik bertanya padaku. Saat aku kembali menolehkan kepala ke arahnya, ternyata pandangannya jauh menatap Yuri. “Kurasa sebaiknya Yuri-ssi tahu ini. Karena itu mungkin bisa membuatnya lebih baik lagi” katanya tanpa menatapku.

“Kau benar, Cho Kyuhyun-ssi. Aku juga memikirkan hal yang sama-”

“Bisakah kita bicara, Sooyoung-ssi” desisan suara terdengar dari sisi kananku. Membuatku langsung terdiam dan menoleh ke asal suara itu. “Mianhaeyo, aku tiba-tiba datang padamu seperti ini. Tapi aku sudah mencarimu dan sayangnya aku tak bisa menemuimu saat kau sedang bersama penjagamu,”

“Seung Ho-ssi,” sahutku berusaha menyembunyikan keterkejutanku. Aku melirik Cho Kyuhyun sesaat yang ternyata sedang memperhatikanku. “Ada apa kau mencariku, dan siapa penjaga yang kau maksud?”

“Apa gwishin itu disini?” bisik Kyuhyun di telingaku yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. “Arraseoyo. Aku akan berbicara dengan Yuri-ssi sementara kau berbicara dengannya” katanya lagi.

Aku kembali hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

“-berambut panjang sebahu yang selalu berada disekitarmu” Aku kembali beralih pada Seung Ho yang sepertinya tadi sedang menjawab pertanyaanku. “Benar-benar sulit untuk bisa menemuimu sampai akhirnya aku mengikutimu kesini,”

“Kau mengikutiku?”

Seung Ho mengangguk. “Aku harus memastikan dia tak ada, baru aku bisa menghampirimu” jawabnya. “Katamu kau bisa membantuku, ‘kan?”

Eo. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu jika memang ada yang ingin kau lakukan sebelum kau menjadi seperti sekarang,” kataku. “Bukan berarti aku berjanji untuk menyelesaikan apapun masalahmu, tapi-”

“Aku tahu itu,” potong Seung Ho cepat. Dia menundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya kembali menatapku. “Hanya saja ada sesuatu yang aku ingin dia tahu, dan kurasa aku membutuhkan bantuanmu untuk itu”

Aku mengangguk dan mengamati gwishin yang baru saja aku ajak mengobrol beberapa hari yang lalu. Menatapnya terus seperti ini membuatmu langsung teringat cerita Jung Seung Min tentang sakit yang di derita oleh Seung Ho sampai dia harus kehilangan nyawanya. Meskipun aku tak pernah mengenalnya, entah kenapa aku bisa merasakan apa yang dia alami saat itu.

“Jadi kau ingin aku membantumu bagaimana?” tanyaku setelah diam beberapa saat. “Ini ada hubungannya dengan Nam So Hyun-ssi bukan?” Aku berusaha menebak.

“Eo,”

Aku tersenyum tipis, “Kau tahu, aku pikir kau sama sekali tak membutuhkan bantuanku saat aku pertama kali mendatangimu. Katamu kau tak percaya padaku,”

“Awalnya memang begitu. Bahkan sampai sekarang aku masih sedikit tidak percaya jika ada seseorang yang masih bisa berbicara denganku seperti ini”

Ah, kau tak percaya padaku karena alasan itu?”

Tak ada jawaban dari Jung Seung Ho.

Geurae, dwaesseoyo! Apa yang ingin kau katakan pada Nam So Hyun-ssi? Biar aku yang sampaikan padanya apapun yang kau katakan,” kataku pada akhirnya.

“Aku tak ingin menyampaikannya begitu saja. Sebenarnya aku… Aku ingin menyanyi untuknya,” jawabnya.

Ne?” sahutku tak percaya. “Menyanyi? Kenapa kau ingin menyanyi?”

Seung Ho menundukkan kepala. “Sebelum aku pergi, hal itulah yang paling ingin aku lakukan untuk So Hyun” katanya. “Aku tak pernah bisa bermain musik ataupun bernyanyi pada awalnya. Tapi aku mempelajarinya karena dia ingin seseorang menyanyi untuknya di hari ulang tahunnya”

Aku kembali diam.

“Kau tahu, dulu So Hyun adalah seorang penyanyi. Dia menyanyi di kampus, kafe-kafe, bahkan di Hongdae,” Seung Ho melanjutkan bicaranya. “Musik adalah hidupnya, dan dia sangat mencintai musik. Dia memiliki suara yang bagus dan mimpinya adalah menjadi penyanyi yang dikenal seluruh dunia. Dengan suaranya serta kemampuannya bermain musik, aku bahkan yakin dia akan menjadi seorang penyanyi terkenal suatu saat nanti,”

Aku memilih untuk terus mendengarkan kali ini.

“Tapi sayangnya, semua itu tak pernah terjadi,” kata Seung Ho meneruskan. “Dia berubah, ‘kan?”

“E-eo,”

“Na ttaemune,” gumamnya sangat pelan bahkan nyaris seperti bisikan. Aku menatap Seung Ho lekat-lekat, berusaha mencari tahu apa yang terjadi melalui wajahnya yang pucat. “So Hyun sangat membencinya sekarang. Aku yang membuatnya membenci sesuatu yang paling dia cintai”

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku ingin tahu.

Seung Ho tersenyum kecut “Baginya musik adalah aku, dan aku adalah musiknya. Itu yang dia katakan padaku,”

Aku tertegun mendengar jawaban Jung Seung Ho itu. “Tapi kenapa So Hyun-ssi membenci musik jika dia-”

“Karena aku sakit, dan aku sama sekali tidak memberitahunya dari awal” Seung Ho kembali memotong perkataanku. “Dia marah padaku, dia membenciku bahkan sampai aku harus pergi meninggalkan dunia ini” katanya sambil menundukkan kepalanya lagi.

“Aku ikut menyesal, Seung Ho-ssi

Seung Ho tak langsung menyahut. “Kebencian dan kemarahan So Hyun bisa aku rasakan sampai sekarang, dan itulah yang membuatku tak bisa mendekatinya” katanya. Dia menoleh menatap Yuri dan MinHo dengan Kyuhyun di samping mereka. “Aku ingin bisa seperti gwishin itu yang selalu bisa di samping yeoja yang dia cintai” komentarnya.

Aku mengikuti arah pandang Seung Ho, tapi yang tertangkap olehku justru pandangan mata Cho Kyuhyun yang teruju padaku. Dia melambaikan tangannya padaku, seperti menunjukkan kode apa aku sudah selesai berbicara dengan gwishin ini atau belum. Aku menggerak-gerakkan tanganku untuk memberitahunya bahwa aku belum selesai. Tapi namja itu justru mendekat ke arahku, meninggalkan Yuri dan MinHo sendirian lagi.

“Kau bisa membantuku, ‘kan?” tanya Seung Ho lagi. “Aku hanya ingin menyanyi untuknya, menunjukkan apa yang sudah aku pelajari selama aku masih hidup”

Aku terus diam, dan Cho Kyuhyun semakin mendekat.

Sooyoung-ssi, aku hanya menginginkan kesempatan itu selama ini” Seung Ho kembali berbicara dan mengabaikan diamku. “Meskipun aku tak bisa pergi kemanapun, tapi aku tetap menginginkan kesempatan itu datang padaku”

“Aku tahu,” sahutku. “Semua gwishin menginginkan kesempatan yang tak bisa mereka dapatkan saat masih hidup” Aku melanjutkan.

“Apa kau bisa memberikan kesempatan itu padaku?” tanya Seung Ho sambil menatapku lekat-lekat. “Katamu kau akan membantuku, ‘kan?” Dia mengulang perkataannya.

Majayo, tapi itu tidak mudah” jawabku jujur. “Aku bahkan tak tahu apa kau bisa menyanyi untuknya atau tidak,” Aku melanjutkan sambil menggaruk tengkukku.

Seung Ho masih terus menatapku lekat, dan itu sedikit membuatku ketakutan dengan tatapannya. Tapi kemudian Cho Kyuhyun datang dan menyentuh lenganku, membuatku tersentak kaget dengan sentuhannya itu. Aku menoleh padanya sambil menyembunyikan ekspresi terkejutku darinya dengan tersenyum tipis sesaat kemudian kembali melirik Jung Seung Ho yang ternyata sedang memandangi Kyuhyun dengan tatapan ingin tahunya.

“Sepertinya aku pernah mengenal namjachingu-mu,” desis Seung Ho pelan di telingaku. “Wajahnya terlihat tidak asing bagiku atau mungkin aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat tapi-”

“Dia detektif Cho Kyuhyun” sambungku dengan cepat. Aku kembali menoleh pada Kyuhyun yang sama sekali tidak berkomentar, seakan-akan dia tahu dengan siapa aku sedang berbicara.

“Ah, namjachingu-mu seorang detektif?” tanyanya padaku.

Aku memilih untuk tidak menjawab kali ini karena aku tak mau Cho Kyuhyun mengerti apa yang sedang ditanyakan oleh gwishin ini. Aku menghela napas panjang lalu mengalihkan perhatianku pada laut di depanku. Sekarang aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa untuk Jung Seung Ho, dan akupun tak tahu harus bagaimana dengan Cho Kyuhyun yang memang mengetahui sedikit tentang Seung Ho.

Aku kembali menarik napas, lalu berbicara pada Seung Ho. “Aku akan memikirkan cara agar kau bisa menyanyi di depan So Hyun-ssi

Wajah Seung Ho langsung tersenyum setelah mendengar perkataanku itu. “Jinjjayo? Kau akan membantuku?”

Aku mengangguk, “Tapi bagaimana dia akan mendengar suaramu?” tanyaku berusaha untuk realitis karena memang tidak semua orang memiliki kemampuan sepertiku.

“Aku… Aku pernah meninggalkan CD rekamanku di sebuah studio sebelum aku pergi,” kata Seung Ho menanggapi. “Aku ingin kau memutar CD itu agar So Hyun mendengarku bernyanyi dan itu cukup membuatku senang”

Aku mengangguk mengerti, “Tapi apa itu benar-benar sudah cukup untukmu?”

Seung Ho tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia diam cukup lama sampai aku pikir dia sedang melamun. Tapi kemudian dia bersuara, “Sebenarnya aku ingin bernyanyi langsung di depannya tapi jika dia masih membenciku, aku tak mungkin bisa mendekatinya”

“Jadi kau juga ingin agar So Hyun tidak membencimu lagi?” Aku kembali bertanya karena aku memang tak pernah membantu gwishin dua kali karena aku sendiripun tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelahnya.

“Eo,”

Aku menatap Jung Seung Ho lama, lalu mendengus kecil sambil memalingkan wajahku ke arah lain.

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Kyuhyun tiba-tiba disampingku.

Ah… E-eo, gwenchana” Aku langsung menjawab meskipun aku sendiri tak yakin. “Kau sudah memberitahu Yuri mengenai Ahn Ji Won?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku bahkan tak menghiraukan desisan pelan Jung Seung Ho yang ingin kembali berbicara padaku.

“Aku sudah memberitahunya, dan aku rasa dia mempercayaiku sepenuhnya untuk menangkap Ahn Ji Won”

“Itu bagus,” kataku sambil menatap jauh ke arah Yuri dan Choi MinHo. “Sembilan hari lagi MinHo harus pergi, jika tidak maka dia akan terus terikat disini dan itu akan berbahaya”

“Berbahaya?”

Aku mengangguk pelan. “Gwishin-gwishin yang tetap terikat disini itu selalu berbahaya, Cho Kyuhyun-ssi” kataku tetap tak memedulikan Seung Ho. Aku melirik ke arah jam tanganku, “Aku akan membawa Yuri berjalan-jalan mencari tempat untuk membuka toko bunga baru-”

“Kau dan Yuri-ssi akan membuka toko bunga baru?” tanya Kyuhyun mengulang perkataanku.

Eo. Aku pikir harus ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian Yuri dari namjachingu-nya itu dan dia setuju akan melakukannya”

“Lalu kau?”

“Aku akan bersama Yuri, dan keluar dari restoran” kataku. “Yah, mungkin setelah aku membantu Seung Ho-ssi terlebih dahulu”

Kyuhyun tak menanggapiku lagi. Dia hanya memandangiku lalu aku melihatnya menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap ke arah laut. Aku ingat saat dia masih menjadi gwishin dan pergi bersamaku ke pantai ini. Karena saat itu adalah pertama kalinya aku mengakui perasaanku padanya meskipun aku tak mengatakannya langsung di depannya. Jantungku berdebar-debar saat mengingat masa itu dan terus memandanginya seperti ini. Tapi kemudian cepat-cepat aku memalingkan wajahku agar aku tidak terlalu terbawa suasana. Aku tak mungkin bisa menyukai namja ini lagi, ‘kan? Bagaimana dengan Bae Joohyun jika aku terus menyukai namja ini?

__

Kyuhyun POV

“Kau yakin ini studionya?” tanyaku pada Sooyoung saat kami tiba di depan sebuah gedung yang terkesan tidak terawat ini. “Kurasa gedung ini sudah lama sekali tidak digunakan,” komentarku sebelum melangkah lebih jauh ke dalam gedung.

“Aku yakin Seung Ho-ssi memberikan alamat studio ini, dan aku juga sudah memeriksanya” jawab Sooyoung sambil memandangi gedung di depan kami. Dia menoleh padaku, “Bagaimana jika kita masuk saja ke dalam?”

Geuraeyo,” Aku menanggapi, lalu mengikuti langkah Sooyoung memasuki gedung yang benar-benar jauh dari kesan sebuah studio.

Sepanjang memasuki gedung, Choi Sooyoung terus menerus menoleh ke kanan-kirinya. Beberapa kali aku melihatnya tersentak kaget tapi kemudian dia bersikap seolah-olah tak ada apapun. Aku tahu dia pasti melihat banyak gwishin di tempat seperti ini, hanya saja dia memilih untuk diam dan terus melangkah bersamaku. Setelah beberapa saat berjalan, tiba-tiba Sooyoung berhenti melangkah dan dia bergerak lebih dekat padaku. Bahkan aku sempat merasa tangannya menyentuh lenganku tapi aku berpura-pura tak menyadarinya.

Waeyo?” tanyaku pada akhirnya.

“Ada banyak dari mereka yang benar-benar tak aku sukai disini,” katanya pelan. “Mereka terlihat tidak senang ada seseorang yang masuk ke sini- Aigoo!” serunya tiba-tiba.

Aku tersenyum kecil karena ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang sudah terbiasa melihat gwishin tapi tetap takut saat melihat mereka. “Kau bisa menggenggam tanganku jika mau, Choi Sooyoung-ssi. Mungkin itu bisa mengurangi sedikit ketakutanmu,” kataku sambil mengulurkan tangan pada Sooyoung.

Ne? Ah, a-aniyo. Gwenchana” jawab Sooyoung cepat-cepat menolak tawaranku. “Aku sudah terbiasa melihat mereka seperti ini meskipun- Eomma!” Dia kembali berteriak dan langsung menggenggam tanganku yang masih terulur.

Meskipun aku juga sempat terkejut tapi kemudian aku bisa bersikap biasa saat melihat tangan Sooyoung yang menggenggam tanganku. Jantungku berdegup kencang seperti biasa saat pada akhirnya aku membalas menggenggam dan kembali berjalan ke ruangan yang dituju Sooyoung. Aku bisa merasakan beberapa kali dia mempererat genggaman tangannya dan bahkan dia sempat bersembunyi di belakang punggungku saat pertama kali kami masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya dulu adalah tempat yang cukup bagus.

Gwenchanayo?” tanyaku setelah merasakan cukup lama Sooyoung bersembunyi di belakangku. “Apa ada sesuatu yang menakutimu kali ini?” Aku kembali bertanya tanpa menunggu jawaban Sooyoung.

Eo. Seorang halmeoni berwajah sangat seram langsung muncul di hadapanku begitu kau membuka pintu ruangannya” jawab Sooyoung dengan suara bergetar. “Hal yang paling aku hindari selama ini adalah berada di tempat dimana aku bisa melihat banyak gwishin dalam satu waktu. Apalagi jika wajah mereka– Shirreoyo! Josanghaeyo!” Sooyoung menghentikan perkataannya padaku dan menoleh ke sebelah kanannya sambil berbicara.

“Apa jadinya jika kau bersikeras pergi kesini sendirian, Choi Sooyoung-ssi? Apa kau akan bisa mengatasi mereka di tempat seperti ini?” tanyaku penasaran.

Sooyoung mengangkat kedua bahunya, “Mungkin aku akan menutup mata dan… dan cepat-cepat pergi setelah mendapatkan CD itu,” jawabnya.

“Tapi kenapa gwishin itu memintamu untuk datang ke tempat seperti ini?” Aku terus bertanya karena saat aku bertanya pada Sooyoung di pantai, dia tak menjelaskannya padaku. “Ani… Maksudku, kenapa dia harus menyimpan CD itu di sini dan sampai membuatmu datang kesini? Apa yang dia inginkan sebenarnya?”

“Dia hanya ingin Nam So Hyun-ssi mendengarnya bernyanyi” kata Sooyoung sambil membuka-buka lemari yang berdebu di ruangan ini. “Katanya dia sempat merekam sesuatu sebelum meninggal, jadi aku harus menemukannya”

Aku memilih untuk tidak memberi tanggapan apa-apa untuk ini.

“Aku sudah berjanji pada Seung Ho-ssi untuk mencarinya dan membiarkan So Hyun-ssi mendengarnya. Lalu membantu gwishin itu bernyanyi untuknya,”

“Tapi bagaimana kau akan melakukannya?” Aku kembali bertanya.

“Entahlah. Untuk sekarang aku hanya perlu mencari CD yang dimaksud Seung Ho-ssi dan cepat keluar dari sini” kata Sooyoung terus mencari-cari di lemari. “Annyeonghaseyo. Apa kau tahu dimana biasanya CD-CD di simpan?” Sooyoung bertanya pada tembok di depannya.

Aku memperhatikan yeoja itu, lalu mengikutinya berjalan ke sisi lain ruangan. Mataku memandang berkeliling dan tiba-tiba aku merasa merinding di sekitar tengkukku.

“Ya! Menjauh darinya!” seru Sooyoung tiba-tiba padaku. “Neo nappeun ahjumma!

“Choi Sooyoung-ssi?”

Gwenchana, Cho Kyuhyun-ssi. Tadi ada seorang ahjumma yang mendekatimu. Mungkin karena aku mengabaikannya jadi dia menganggumu” kata Sooyoung menjelaskan. “Aku tak menemukannya disini. Apa mungkin seseorang sudah mengambilnya?”

“Kita bisa mencarinya di ruangan lain atau-”

“Seo Tae Kwang?” sela Sooyoung tiba-tiba. “Dimana aku bisa menemukannya, ahjussi?”

Aku kembali memperhatikan Sooyoung yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang di kursi. Melihatnya berbicara seperti ini memang bukan menjadi hal aneh lagi bagiku karena sekarang aku sudah sering melihatnya begitu. Aku bahkan mulai mengerti saat dia tiba-tiba berbicara sendiri dan apa yang harus aku lakukan setelahnya. Jujur saja, tujuanku untuk menemani Sooyoung kali ini selain memang karena aku ingin terus bersamanya juga karena aku ingin tahu bagaimana dia membantu gwishin yang meminta bantuan padanya.

Kajja, Cho Kyuhyun-ssi” ajak Sooyoung tiba-tiba. “Seo Tae Kwang sudah mengambil semua yang ada disini”

“Siapa Seo Tae Kwang itu?”

“Dari gwishin ahjussi yang berbicara denganku, dia adalah pemilik studio ini sebelumnya”

Ah, geuraeyo? Lalu dimana kita bisa menemukan Seo Tae Kwang ini? Apa ada gwishin yang tahu alamatnya?”

Choi Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Aku akan mencarinya lain kali saja,”

“Aku akan membantumu mencarinya” kataku cepat-cepat. “Kau tahu, aku bisa bertanya pada temanku yang bisa menemukan alamat seseorang dengan cepat”

“Tapi-”

Gwenchanayo. Lagipula aku sudah banyak melibatkan diri dalam hal ini, jadi kupikir aku juga harus menyelesaikannya” potongku sebelum Sooyoung selesai berbicara. “Jadi mulai sekarang kau harus terus melibatkanku, Choi Sooyoung-ssi. Meskipun yang aku lakukan hanyalah menemanimu seperti ini, tapi aku cukup senang melakukannya”

Sooyoung menatapku lama, lalu sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya. Aku ikut tersenyum sebelum pada akhirnya pergi bersamanya meninggalkan gedung ini. Aku kembali mengulurkan tanganku dan dia menyambutnya tanpa banyak berkata-kata. Sepanjang perjalanan keluar dari gedung, Sooyoung bahkan sama sekali tidak bersuara, dan aku berani bertaruh jika dia memejamkan matanya. Membiarkanku yang menuntunnya keluar dari tempat ini.

**

Aku menunggu Choi Sooyoung di depan apartemennya karena hari ini aku sudah berjanji padanya untuk menemaninya pergi menemui Seo Tae Kwang. Temanku memang berhasil menemukan tempat tinggal namja itu dan akupun segera menghubungi Sooyoung untuk memberitahunya. Sayangnya, Sooyoung tak bisa langsung pergi karena pekerjaannya dan beberapa hal mengenai toko bunga baru yang akan kembali dia buka bersama Yuri. Jadi, dia baru bisa pergi denganku setelah tiga hari sejak aku memberitahunya.

Mian, aku membuatmu menunggu lama, Cho Kyuhyun-ssi” kata Sooyoung begitu dia menghampiriku. “Kita pergi sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Geureom-”

Sooyoung tersenyum kecil lalu dia melangkah bersamaku menuju halte yang paling dekat dengan apartemennya. Dia sama sekali tak banyak bicara saat berjalan menuju halte dan bahkan dia sama sekali tak menatap ke arahku. Padahal aku sedang mencari kesempatan untuk memulai pembicaraan dengannya tapi jika dia sama sekali tak memperhatikanku, aku sendiri yang justru kebingungan.

“Apa kau sudah menemukan lokasi yang bagus untuk membuka toko bunga baru kalian?” tanyaku pada akhirnya untuk memulai pembicaraan.

“Masih belum untuk sekarang,” Sooyoung menjawab. “Aku dan Yuri juga berencana membuka kedai kopi kecil, jadi kami sedang mencari bangunan dua lantai” Dia melanjutkan.

Aku mengangguk-angguk mengerti. “Omong-omong, apa Min Ho-ssi mengatakan sesuatu padamu?”

“Tentang apa maksudmu?”

“Saat aku memberitahu Yuri-ssi mengenai Ahn Ji Won di pantai, katamu MinHo-ssi sedang disana juga, ‘kan? Jadi aku ingin tahu bagaimana reaksinya” jawabku menjelaskan.

Ah,” sahut Sooyoung terlihat sedang berpikir, “Dia tak banyak membicarakan mengenai hal itu. Hanya saja dia percaya padamu jika kau akan menangkap Ahn Ji Won dan memastikannya mendapat hukuman yang setimpal” katanya lagi.

Aku tersenyum tapi tak mengatakan apa-apa kemudian.

“Kau tahu, Cho Kyuhyun-ssi, sejak Yuri tahu bahwa namjachingu-nya untuk sekarang ada bersamanya itu justru membuatnya jauh lebih baik” kata Sooyoung tepat saat kami tiba di halte bus. “Awalnya aku khawatir jika itu hanya akan membuat keadaanya semakin parah, tapi justru sebaliknya. Sekarang Yuri bahkan sudah menjadi dirinya yang dulu,”

“Aku bisa melihat dari warna emosinya,” komentarku. “Tapi apa dia tak apa-apa jika Min Ho-ssi pada akhirnya benar-benar akan pergi darinya?” tanyaku.

“Dia tak apa-apa, aku tahu itu” jawab Sooyoung. “Yuri pun tahu jika waktunya bersama MinHo sudah tidak banyak, jadi aku meninggalkan mereka berdua meskipun Yuri tak bisa melihat dan mendengarnya lagi. Tapi katanya itu sudah cukup, bahwa MinHo mendengarnya”

Aku kembali diam saja. Karena jujur, aku tak pernah membayangkan berada di posisi Yuri sekarang. Dulu aku memang pernah menjadi gwishin, tapi aku tak pernah tahu bagaimana perasaan orang-orang seperti Yuri disaat mereka harus kehilangan seseorang yang sudah sangat spesial bagi mereka. Aku teringat dongsaeng-ku, Bae Joohyun, yang sama sekali tak pernah melihat eomma ataupun mengenalnya. Meskipun dia jarang membicarakannya, warna emosi kerinduan selalu jelas terlihat di wajahnya setiap kali ada sesuatu hal yang menyinggung mengenai eomma.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Cho Kyuhyun-ssi?” tanya Sooyoung tiba-tiba. “Apa ada masalah?”

Ah, aniyo. Amugeotdo aniyo” sahutku cepat-cepat. “Aku hanya sedang memikirkan seseorang dan itu membuatku merasa-”

“Itu bus-nya datang!” seru Sooyoung memotong perkataanku.

Tanpa menoleh padaku atau mengatakan sesuatu yang lain padaku, yeoja itu justru langsung masuk ke dalam bus begitu berhenti dan pintunya terbuka. Mau tak mau aku mengikutinya, lalu duduk persis di kursi sebelahnya yang kosong. Setelah beberapa saat, bus pun kembali melaju meninggalkan distrik Jung di belakang.

Sebenarnya aku ingin kembali memulai pembicaraan dengan Choi Sooyoung, tapi lagi-lagi yeoja itu terus melihat ke luar jendela. Dia sama sekali tak berbicara padaku atau bahkan menoleh ke arahku. Meskipun aku mendengarnya berbicara dengan sangat pelan pada sesuatu, tapi aku berpura-pura tidak mendengarnya. Aku terus diam, sampai akhirnya bus tiba di sebuah halte di distrik Nam. Aku dan Choi Sooyoung turun, lalu kami kembali melangkah menyusuri jalanan yang tidak terlalu lebar ini.

“Aku pernah mendapatkan kasus di daerah ini,” kataku sambil terus berjalan. “Daerah ini merupakan salah satu tempat yang memiliki banyak penduduk”

Geurae?”

Aku mengangguk. Tapi baru saja aku akan mengatakan sesuatu yang lain pada Choi Sooyoung, ponselku tiba-tiba berdering. Aku langsung mengambilnya dari dalam saku mantelku dan tanpa melihat siapa yang menelepon, aku cepat-cepat menekan tombol jawabnya lalu medekatkannya ke telingaku.

Oppa, eodiseo?” Kata-kata pertama dari suara yang aku kenal sebagai suara Bae Joohyun. “Aku datang ke Kantor Polisi, tapi kau tak ada. Kata Myung Soo oppa, kau keluar sejam yang lalu”

Oppa? Ya! Myung Soo sunbae itu bukan oppa, tapi ahjussi bagimu” Aku tak langsung menjawab pertanyaan Joohyun. “Kenapa kau datang ke kantor? Aku bisa mendatangimu jika memang ada sesuatu yang penting,”

“Memangnya tak boleh jika sesekali aku datang mengunjungimu, oppa?”

“Bukan begitu, Joohyun-ah. Kau tahu, oppa sibuk dan terkadang oppa harus keluar untuk mengurus sesuatu”

“Kau pasti pergi menemui Sooyoung eonni lagi, ‘kan?”

“Ya! Neo-”

Oppa, bisa-bisa kau dipecat jika terus meninggalkan kantor hanya untuk menemui Sooyoung eonni” potong Joohyun. “Apa kau tak bisa menahan diri sedikit untuk tidak menemuinya saat kau sedang bekerja?”

“Aigoo, aigoo…”

Joohyun tertawa, “Arraseo, arraseo. Itu terserah oppa, tapi jika oppa terluka karena Sooyoung eonni lebih memilih namjachingu-nya itu, oppa jangan datang padaku dan memintaku untuk menghiburmu”

“Tak akan,” jawabku. “Sudah dulu. Jangan terlalu banyak berkeliaran hari ini dan jaga dirimu. Rapatkan mantel dan syalmu saat kau meninggalkan kantor,”

“Arraseoyo,”

Aku menutup sambungan teleponnya lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam saku mantel. Aku tersenyum tipis saat mengingat kembali bagaimana Bae Joohyun menggodaku mengenai Sooyoung sebelum akhirnya aku menyadari pandangan Sooyoung padaku. Cepat-cepat aku bersikap biasa di depannya meskipun jantungku berdegup kencang sekarang.

Mianhaeyo,” kataku. “Dongsaeng-ku yang menelepon. Aku pikir salah satu anak buahku yang mengabarkan perkembangan mengenai Ahn Ji Won”

Dongsaeng? Aku tak pernah tahu kau punya dongsaeng, Cho Kyuhyun-ssi

Jinjja?” tanyaku heran karena jelas-jelas dia mengenal Bae Joohyun.

Sooyoung menganggukkan kepala. “Aku tak pernah tahu,” katanya. “Apa dia tinggal bersamamu disini?”

Eo,” jawabku. “Tapi itu aneh sekali, Choi Sooyoung-ssi karena jelas-jelas kau mengenal dongsaeng-ku”

Aigoo, aku bahkan tak tahu kau memiliki dongsaeng. Lalu bagaimana aku bisa mengenalnya?” sahut Sooyoung dengan cepat. “Bahkan akupun tak tahu jika kau juga mengenal Bae Joohyun waktu itu,” katanya dengan nada yang berbeda.

“Bae Joohyun?” Aku tersenyum tipis, “Majayo, aku bahkan sangat mengenalnya-”

Sooyoung menatapku lekat-lekat tanpa memberikan tanggapan. Tapi entah kenapa aku menangkap sesuatu yang berbeda dari pandangannya kali ini. Melihat dari ekspresinya pun aku juga merasakan jika sebenarnya dia sama sekali tak menyukai pembicaraan ini. Tapi kenapa? Bukankah dia sudah mengenal Bae Joohyun tanpa aku ketahui sebelumnya? Aku rasa tak ada yang salah pembicaraan mengenai Joohyun ini kecuali jika dia memang tak pernah tahu bahwa Bae Joohyun adalah dongsaeng-ku. Lalu siapa menurutnya Bae Joohyun itu? Sepupu? Teman? Yeojachingu?

“Ah!” seruku spontan karena tiba-tiba terlintas begitu saja sikap Sooyoung yang sedikit berbeda sejak dia melihat Joohyun bersamaku. Bukankah dia beberapa kali mengatakan bahwa aku memiliki yeojachingu? Apa maksudnya itu Bae Joohyun?

“Wae?” tanya Sooyoung padaku.

Tanpa aku sadari, aku tersenyum sebelum akhirnya aku membuka mulut. “Choi Sooyoung-ssi, apa kau yakin kau tak pernah tahu dan mengenal dongsaeng-ku?” tanyaku.

“Eo,”

“Tapi bukankah kau mengenal Bae Joohyun?” Aku bertanya lagi sambil menahan diri untuk tidak tersenyum. “Kau mengenalnya, ‘kan?”

Eo, aku mengenalnya”

“Itu berarti kau sudah mengenal dongsaeng-ku, Choi Sooyoung-ssi” sahutku dengam cepat.

Ne?” seru Sooyoung sambil mengerutkan keningnya. “Aku tak mengerti apa-”

“Bae Joohyun. Dia adalah dongsaeng-ku, Choi Sooyoung-ssi” kataku memberitahu.

Mata Sooyoung langsung terbelalak. “D-Dongsaeng?”

Aku mengangguk. “Waeyo? Kenapa kau terlihat terkejut?” tanyaku. “Apa kau benar-benar tak tahu jika Joohyun adalah dongsaeng-ku?”

“Aku tak tahu,” jawab Sooyoung pelan.

“Kau tak berpikir dia temanku, ‘kan? Atau sepupu? Yeojachingu?” tanyaku lagi yang langsung membuat ekspresi yeoja ini berubah. “Kau tak menganggapku nappeun namja, ‘kan?”

Sooyoung kembali membelalakkan matanya, lalu cepat-cepat dia berbalik badan memunggungiku dan sama sekali tak mengatakan apapun setelahnya.

“Jadi kau menganggapku nappeun namja?” sahutku karena tak ada jawaban dari Sooyoung. “Kau benar-benar berpikir Joohyun adalah yeojachingu-ku dan aku seperti pria buruk yang banyak menghabiskan waktuku dengan yeoja lain daripada yeojachingu-ku sendiri?”

Sooyoung terus diam.

Aigoo, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku, Choi Sooyoung-ssi?” Aku kembali bertanya.

Sooyoung lagi-lagi tak menjawab tapi justru dia melangkah terlebih dahulu dan meninggalkanku. Mau tak mau aku mengejarnya sampai aku berhasil menangkap lengannya. Yeoja itu berhenti melangkah tapi tetap tak menengok ke arahku.

“Choi Sooyoung-ssi” panggilku pelan. “Apa kau menyukaiku?”

Sooyoung masih memunggungiku untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia membalikkan badan ke arahku. Dia menatapku cukup lama tapi kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Meskipun aku tak bisa melihat warna emosi yeoja ini tapi entah bagaimana aku tahu apa yang aku tanyakan itu benar bahwa dia menyukaiku. Jika tidak, kenapa sikapnya padaku sedikit berubah sejak dia bertemu Joohyun saat ada sedang bersamaku? Kenapa juga dia berpikir jika Joohyun adalah yeojachingu-ku di tempat pertama, bukan dongsaeng atau teman atau sepupu?

“Choi Sooyoung-ssi, kenapa-”

“Bukankah kita kesini untuk menemui seseorang?” Sooyoung memotong perkataanku dengan cepat. Dia melepas pegangan tanganku di lengannya, “K-Kita harus bergegas menemukan CD milik Seung Ho-ssi dan memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya, C-Cho Kyuhyun-ssi” katanya terdengar gugup.

Aku diam sesaat, lalu mengangguk.

Kajja,” ajaknya tanpa menatap ke arahku.

Choi Sooyoung kembali melangkah mendahuluiku dan aku mengikutinya di belakang. Aku sama sekali tak berencana untuk melangkah sejajar dengannya karena aku ingin memandangi punggungnya. Meskipun beberapa kali Sooyoung terlihat menengok sedikit ke belakang tapi dia sama sekali tak memintaku untuk berjalan bersamanya. Itu tak masalah bagiku. Karena jujur, aku sendiripun belum tentu bisa menghindari kegugupanku di samping Sooyoung setelah apa yang baru saja aku ketahui dari pemikiranku sendiri. Tapi semoga saja apa yang aku pikirkan itu benar jadi aku hanya perlu memikirkan tentang apa yang harus aku lakukan setelah ini.

__

Sooyoung POV

“Kau akan berbicara dengan So Hyun?” Seung Ho bertanya padaku saat aku memberitahunya tentang apa yang akan aku lakukan. “Tapi bagaimana jika dia tak percaya padamu?”

“Aku tak akan mengatakan padanya jika aku bisa melihatmu” kataku sambil mengingat kembali kejadian terakhir saat aku memberitahu orang lain bagaimana kemampuanku. “Kau ingin So Hyun-ssi mendengarkan isi CD ini, ‘kan?”

Jung Seung Ho menganggukkan kepala.

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Apa kau bisa berdiri lebih dekat ke restoran?”

“Aku akan mencobanya,”

“Arraseo. Geureom-”

Aku membalikkan badan lalu masuk ke dalam restoran lagi setelah menggunakaa waktu istirahatku untuk keluar dan berbicara dengan Jung Seung Ho. Tiga hari yang lalu aku memang berhasil menemui orang yang bernama Seo Tae Kwang dengan bantuan Kyuhyun dan mendapatkan CD yang dimaksud oleh gwishin itu. Aku belum sempat mendengarkan isinya tapi aku yakin itu hanya sebuah rekaman lagu.

Jujur saja, sejak aku pergi bersama Kyuhyun, pikiranku tak pernah terlepas darinya. Apalagi saat dia memberitahuku bahwa sebenarnya Bae Joohyun adalah dongsaeng-nya. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh saat itu. Dan pertanyaan terakhir namja itu juga tak bisa aku diamkan begitu saja. Aku bahkan tak bisa tidur dengan nyenyak selama tiga hari ini karena memikirkan hal itu dan aku tak tahu harus bagaimana jika bertemu dengannya lagi karena memang aku sedang menghindarinya untuk sementara.

“Kau darimana eonni?” tanya Nara yang langsung membuat lamunanku buyar.

“Aku ada urusan kecil diluar,” jawabku cepat-cepat. Aku mengerling ke arah Nam So Hyun yang sedang duduk di kursinya. “Jamkkaman-,” kataku pada Nara sebelum melangkah mendekat ke arah So Hyun.

“Eonni!”

“Kepala Nam, josanghaeyo” sapaku tanpa ragu. Yeoja itu mengangkat kepalanya dan menatapku. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?”

“Apa itu sesuatu yang penting?”

Aku menganggukkan kepala.

“Baiklah. Ikut aku,” ucap So Hyun sambil beranjak dari tempatnya dan mengajakku pergi ke atap restoran.

Aku melangkah mengikuti yeoja ini dalam diam. Di pikiranku aku sedang merancang kata-kata yang bagus untuk memberitahukan tujuanku agar dia tidak tersinggung atau bahkan lebih buruk dari itu. Aku hanya berharap aku bisa melakukannya dengan baik dan tidak terlalu banyak bicara mengenai kemampuanku melihat gwishin karena akupun tak yakin jika Nam So Hyun akan memepercayaiku begitu saja.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Sooyoung-ssi?” tanya So Hyun setelah beberapa saat.

Ah, emm… Itu,” kataku sedikit bingung. “Josanghaeyo, kepala Nam. Aku… Aku… Mulai besok aku tak bisa bekerja lagi di restoran ini,”

Ne? Waeyo? Apa kau tak senang bekerja disini?”

Aniyo. Aku senang disini tapi aku berencana membuka toko bunga-ku lagi bersama temanku” jawabku jujur. “Josanghaeyo,”

Nam So Hyun tersenyum tipis padaku, lalu dia menyentuh lenganku sesaat. “Tak perlu meminta maaf. Aku justru senang karena kau membuka toko bungamu lagi, Sooyoung-ssi. Aku tahu sebelumnya kau memiliki toko bunga sendiri”

Aku diam saja.

“Aku sangat suka bunga karena itu dulu seseorang selalu membawakan bunga setiap kali datang menemuiku. Entah itu sebuket bunga atau hanya setangkai bunga,” So Hyun melanjutkan perkataannya sambil tertawa kecil. “Dia tak pernah lupa membawakan bunga untukku”

“Kalau boleh tahu, bunga apa yang kau sukai?”

“Aku suka semua bunga tapi dia selalu membawakan bunga Aster untukku,”

Ah, Aster. Bunga itu adalah simbol cinta,” sahutku kemudian. “Kau pasti sangat spesial untuknya karena dia memberimu bunga Aster” kataku lagi.

Nam So Hyun tersenyum kecil tapi tak mengatakan apapun setelahnya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. “Dia juga pasti orang yang sangat spesial untukmu, ‘kan, kepala Nam?” tanyaku memancing.

So Hyun tak langsung menjawab. Dia diam untuk beberapa saat tapi kemudian dia berbicara, “Dulu, aku mencintainya tapi sekarang-“ Dia tak melanjutkan kata-katanya.

Waeyo?”

Nam So Hyun diam saja dan akupun tak berharap dia akan menjawab pertanyaanku ini. Lagipula ini pertama kalinya aku mengobrol dengannya seperti ini dan aneh rasanya jika tiba-tiba aku membicarakan mengenai Jung Seung Ho yang hanya aku kenal sebentar.

“Aku membenci orang itu,” kata So Hyun tiba-tiba setelah dia diam cukup lama. “Aku membencinya, bahkan saat dia harus pergi meninggalkanku, aku tetap membencinya”

“Kenapa kau membencinya?” Aku kembali bertanya lagi.

Nam So Hyun kembali diam. Aku melihat matanya berkaca-kaca sebelum dia memalingkan wajahnya dariku. Aku juga bisa melihat gerakan tangannya yang seperti sedang mengusap pipinya. Aku menghela napas panjang dan memilih menunggu yeoja ini yang kembali berbicara padaku. Karena rasanya tidak sopan jika aku terus bertanya mengenai Jung Seung Ho seperti ini padanya jadi lebih baik dia dulu yang mulai bicara dan aku hanya akan menanggapinya.

“Dia sudah pergi. Itu alasan aku membencinya,” jawabnya kemudian.

“Pergi? Kemana?”

“Dia meninggalkan dunia ini dan meninggalkan semua yang ada disini,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

Aku kembali menghela napas. “Tapi kau merindukannya, ‘kan?” tanyaku ingin tahu.

Nam So Hyun memandangiku lekat-lekat, lalu dia menjawab sambil memalingkan wajahnya dariku. “Aniyo. Aku tak pernah sekalipun merindukannya”

Aku tersenyum tipis karena Nam So Hyun sama sekali tak menatapku saat mengatakannya. Aku tahu bahwa sebenarnya dia merindukan Jung Seung Ho, tapi dia berusaha untuk mengingkari perasaan itu. Tanpa mengatakan apapun lagi padaku, yeoja ini langsung melangkah pergi meninggalkan atap. Aku tetap diam di tempatku untuk beberapa saat sebelum akhinya ikut turun dari atap dan mengambil CD milik Jung Seung Ho yang sudah aku siapkan sebelumnya.

“Nara-ssi,” panggilku pada Nara yang kebetulan lewat di depanku. Yeoja itu berhenti melangkah dan menghampiriku. “Apa kau tahu dimana tempat aku bisa memutar ini?” tanyaku sambil menunjukkan CD di tanganku.

Nara menatap ke sekeliling restoran yang sedang tidak banyak pengujung, hanya lima orang yang datang sekarang. Lalu dia menunjuk ke arah meja Nam So Hyun, “Disana eonni. Kau bisa memutarnya disana,” katanya. “Tapi kepala Nam pasti tak akan suka jika seseorang menyentuh player-nya atau bahkan memutar sesuatu disini”

Aku tersenyum tipis, “Gwenchana. Aku akan mengurusnya,” jawabku tenang. “Gomawo,” kataku lagi pada Nara.

Kim Nara menganggukkan kepala, lalu dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Aku melangkah mendekat ke arah meja kepala Nam yang memang masih kosong itu. Aku tak tahu yeoja itu pergi kemana setelah berbicara denganku. Mungkin saja dia sedang menenangkan dirinya karena pembahasan kecil mengenai Jung Seung Ho tadi meskipun kami sama sekali tak menyebut namanya.

Aku langsung mengeluarkan CD itu setelah menemukan player yang dimaksud oleh Kim Nara. Setelah memasukkannya, aku bergegas mengambil remote-nya dan melangkah pergi dari meja Nam So Hyun. Sekarang aku hanya tinggal menunggu yeoja itu kembali ke mejanya dan kemudian aku akan memutar apapun isi yang ada di CD itu. Aku juga ingin tahu bagaimana Jung Seung Ho akan bernyanyi karena jujur aku sama sekali tak bisa memikirkan bagaimana gwishin itu akan melakukannya.

Dari arah samping kiriku, aku mendengar langkah kaki dan tak lama kemudian Nam So Hyun muncul bersama dengan Jung Seung Min. Meskipun aku tahu apa yang terjadi diantara mereka, aku ikut sedih untuk Jung Seung Min karena dia terus berada disamping yeoja yang dia cintai padahal yeoja itu tak pernah menganggap lebih perasaannya. Seung Min pasti sangat mencintai Nam So Hyun sampai dia harus rela terus berada di posisinya sekarang.

Aku menghela napas panjang melihat dua orang itu yang sedang mengobrol di dekat pintu yang baru saja mereka masuki. Lalu tanpa ragu, akupun menekan tombol play di remote yang aku pegang ini. Awalnya tak ada suara apapun, tapi kemudian suara kursi berdecit terdengar dan perhatian semua orang langsung tertuju pada asal suara yang baru ini termasuk perhatian Jung Seung Min dan Nam So Hyun.

“Halo, halo… apa ini sudah merekam? Ah, ternyata sudah! Ehm…” suara Seung Ho terdengar, sama seperti suara gwishin yang baru berbicara denganku beberapa saat yang lalu.

Aku menatap ke luar restoran, gwishin itu sudah tidak ada di tempatnya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan pada Nam So Hyun tapi gwishin itu pun tak ada. Aku kembali menghela napas, tapi detik berikutnya aku tersentak kaget karena ternyata Jung Seung Ho ada disampingku dan sedang tersenyum padaku.

Gomawoyo. Kau membuatku bisa masuk ke tempat ini, Choi Sooyoung-ssi” katanya mengabaikan tatapan kesalku karena apa yang dia lakukan. “Kau membuat So Hyun memikirkanku dan merindukanku. Itu kenapa aku bisa masuk ke sini karena entah kenapa dia menghilangkan rasa bencinya padaku”

Aku diam saja.

Hyun-ah, naya… Seung Ho,” suara dari player terdengar lagi, dan aku melihat gwishin Jung Seung Ho melayang pelan ke samping Nam So Hyun yang terlihat terkejut dengan apa yang sedang terjadi. “Apa kau merindukanku? Kau pasti merindukanku, ‘kan? Aku tahu itu, Hyun-ah. Kau selalu merindukanku,”

Ya! Siapa yang memutar player-nya?! Cepat matikan atau-“

“Biarkan saja oppa,”

Aku mendengar dua orang itu berbicara dan melihat Nam So Hyun yang menahan Jung Seung Min untuk tidak mematikan player yang sedang diputar itu. Pandanganku berpaling pada Seung Ho yang memandangi So Hyun dengan kerinduan yang sangat besar. Sekarang aku benar-benar tak tahu apa aku harus senang atau sedih atas apa yang aku lakukan ini karena entah bagaimana semua perasaanku bercampur menjadi satu melihat apa yang terjadi diantara mereka bertiga.

“-tak mau berbicara denganku. Aku juga tahu dan kau pasti marah padaku. Aku tahu itu. Mian, karena aku tak mengatakan apapun padamu bahkan disaat aku harus pergi meninggalkanmu. Mianhanda, Hyun-ah” suara Jung Seung Ho terus terdengar di seluruh restoran ini. “Kau ingat, Hyun-ah. Kau selalu ingin aku menyanyikan sebuah lagu untukmu meskipun kau tahu aku tak pandai bernyanyi. Tapi aku belajar memainkan gitar dan juga bernyanyi untukmu, dan aku menyesal saat aku tak bisa melakukannya di depanmu”

“So Hyun-ah,” Aku mendengar Seung Min memanggil Nam So Hyun tapi yeoja itu mengabaikannya.

Karena itu sekarang, aku ingin bernyanyi untukmu. Lagu ini aku tujukan untukmu, Hyun-ah dan semoga kau akan memaafkanku setelah aku menyanyikannya untukmu. Dengarkan sampai selesai, eo?”

Suara kursi yang di dorong terdengar, dan seluruh perhatianku terus tertuju pada gwishin Jung Seung Ho dan Nam So Hyun. Suara petikan gitar mulai terdengar, dan kemudian suara Seung Ho yang mulai bernyanyi seirama dengan petikan gitarnya. Sementara itu, aku juga mendengar gwishin Seung Ho yang menyanyi persis di depan Nam So Hyun dan itu benar-benar membuatku merindingin mendengar dua suara Seung Ho yang bernyanyi, baik itu di player dan juga dia sendiri yang menyanyi.

“Saranghanda malhago nal badajulttaeen / Deo isang naneun baralge eopdago / Jasin itge malhaenoko / Jarananeun yoksime muanhaejijiman / Tto haru jongil geudaeui saenggage / Nan mam jollyeoyo” (Saat kau memberitahuku bahwa kau mencintaiku dan menerimaku / Aku berkata pada diriku sendiri dengan keyakinan bahwa aku tak memiliki apapun lagi yang aku butuhkan / Meskipun aku merasa malu karena serakah / Aku memikirkanmu sepanjang hari lagi dan merasa tak nyaman)

“Saemi manhaseo (aicheoreom) / Geobi manhaseo (babocheoreom) / Ireoke naui gyeoteseo utneun ge / Mideojijiga anhaseo / Neomu johaseo neomu beokchaseo / Nuneul tteumyeon da sarajilkkabwa / Jam mot deureoyo” (Aku punya banyak rasa iri (seperti seorang anak) / Aku punya banyak ketakutan (seperti orang bodoh) / Aku tak bisa percaya sekarang kau tersenyum didekatku / Aku sangat bahagia bahwa ini luar biasa bagiku / Aku takut saat aku membuka mata segalanya akan menghilang / Jadi aku tak bisa tidur)

Aku tersenyum saat melihat Nam So Hyun tersenyum tipis meskipun ada air mata di pipinya yang mengalir deras mendengar lagu yang terus terdengar dari player yang aku putar.

“Jugo sipeunde (nae modeun geol) / Batgo sipeunde (geudae mameul) / Namdeulcheoreom hal su inneun geon / Da hamkke nanugo sipeunde / Mami geuphaeseo sogi jobaseo / Gwaensiri modu mangchige doelkkabwa / Buranhaehajyo” (Aku ingin memberikanmu (segalanya dariku) / Aku ingin merasakan (hatimu) / Semua hal yang orang lain lakukan, aku ingin berbagi denganmu / Hatiku terlalu terburu-buru dan berpikiran sempit, aku merasa cemas, aku merasa gugup / Bahwa segalanya akan menghilang / Aku khawatir)

Gwishin Jung Seung Ho berusaha menyentuh Nam So Hyun saat dia bernyanyi di depan yeoja itu, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Dia kembali bernyanyi bersamaan dengan suaranya di CD itu.

“Utge haejwoseo (aicheoreom) / Ulge haejwoseo (babocheoreom) / Ireon seollemeul pyeongsaenge / Tto hanbeon neukkil su itge haejwoseo / Mitge haejwoseo himi dwaejwoseo / Nuneul tteumyeon cheoeumeuro haneun mal / Cham gomawoyo” (Karena membuatku tersenyum (seperti seorang anak) / Karena membuatku menangis (seperti orang bodoh) / Karena membuat hatiku berdebar sekali lagi / Karena mengijinkanku untuk mempercayaimu, untuk menjadi kekuatan bagiku / Saat aku membuka mata, kata pertama yang ingin aku katakan padamu adalah / Terima kasih banyak)

Sekarang aku melihat gwishin Seung Ho mengusap air matanya sendiri yang sebenarnya tidak ada lagi itu. Tapi aku bisa merasakan kerinduannya pada Nam So Hyun, dan bagaimana dia sangat mencintai yeoja itu bahkan sampai dia harus pergi seperti itu. Aku juga teringat Yuri dan MinHo yang harus terpisah dan tak bisa bersama lagi. Lalu aku teringat keluargaku, gwishin eomma Bae Joohyun dan gwishin-gwishin lain yang pernah bercerita padaku yang harus meninggalkan orang-orang yang mereka cintai.

“Naege wajwoseo / Kkumkkuge haejwoseo / ‘Uri’raneun seonmureul jun geudae / Na saranghaeyo” (Untuk selalu disisiku, untuk membiarkanku bermimpi / Untuk menjadikanmu yang memberi “Kita” sebagai hadiah / Aku mencintaimu)

Na saranghaeyo,” Gwishin Seung Ho juga menyelesaikan lagunya beberapa detik setelah player itu juga berhenti berputar.

Air mataku mengalir setelah mendengar lagu yang dinyanyikan baik yang terdengar dari CD maupun dari Seung Ho sendiri. Aku mengusap kedua pipiku dan terus memandangi Seung Ho dan So Hyun yang saling berhadapan seraya memandang satu sama lain. Aku tak tahu apa So Hyun benar-benar melihat Seung Ho sekarang, dan paling tidak merasakan kehadirannya atau tidak. Tapi aku tak pernah menyangka jika ada seseorang yang begitu mencintai orang lain seperti Jung Seung Ho dan Nam So Hyun ini. Meskipun sekarang mereka terpisah, tapi aku yakin cinta mereka akan terus ada dan tumbuh di hati mereka masing-masing. Ya, aku yakin itu.

Gomawoyo, Sooyoung-ssi” kata Seung Min tiba-tiba disampingku. Dia menatap remote player di tanganku dan tempat CD yang juga sedang aku pegang. “Aku tahu kau yang melakukannya, dan aku benar-benar berterima kasih padamu karena untuk pertama kalinya aku melihat So Hyun tersenyum seperti itu lagi setelah kematian Seung Ho”

Aku mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Terlalu terkejut karena tiba-tiba namja itu sudah berdiri disampingku seperti ini. Aku mungkin terlalu memperhatikan Jung Seung Ho dan Nam So Hyun, jadi tak sadar jika sebenarnya Seung Min menghampiriku atau bahkan berbicara padaku sebelumnya.

Aigoo, kenapa suasana disini sekarang sangat mengharukan?” komentar Jung Hwan sambil mengusap pipinya juga dengan cepat. “Kurasa aku perlu ke toilet sebentar,” Dia bergegas menghilang di balik pintu.

Aku kembali menatap Seung Ho dan So Hyun, tapi kemudian mataku menangkap sosok Cho Kyuhyun yang sedang berdiri di dekat pintu. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menyipitkan mata dan melihat ke arah yang sebelumnya aku lihat tadi. Memang benar, Cho Kyuhyun sedang berdiri disana, dan terus memandangiku sambil tersenyum ke arahku. Aku membalas tersenyum, lalu melangkah menghampirinya.

“Ikut aku sebentar, Choi Sooyoung-ssi” kata Kyuhyun yang langsung menarik tanganku dan mengajakku keluar dari restoran.

Aku membiarkan Cho Kyuhyun terus membawanku, sampai akhirnya dia berhenti di sebuah taman kecil di kawasan Chinatown ini. Dia menyuruhku duduk di salah satu bangku taman, dan kemudian dia duduk disebelahku.

“Aku tak menyangka kau melakukan sesuatu yang luar biasa hari ini, Choi Sooyoung-ssi” kata Kyuhyun mulai berbicara. “Kau tahu, banyak orang yang tersentuh dengan itu, termasuk aku”

Aku diam saja.

“Aku mendengar semuanya di restoran itu, dan aku benar-benar bisa merasakan perasaan keduanya. Geu norae… entah kenapa aku juga bisa mendengar gwishin itu menyanyikannya langsung untuk yeojachingu-nya” Kyuhyun melanjutkan bicara. “Orang-orang disekitarku juga berkata jika mereka mendengar dua orang namja dengan suara yang sama sedang bernyanyi. Bagaimana itu bisa terjadi?” tanyanya.

Mollayo,” jawabku karena memang aku tak tahu. “Ini juga baru pernah aku lihat sebelumnya, tapi aku juga merasa bahwa So Hyun-ssi bisa melihat dan merasakan keberadaan Seung Ho-ssi. Mungkin ini karena cinta mereka atau yah… sesuatu seperti itu”

Cho Kyuhyun menatapku lekat-lekat, dan itu membuat jantungku berdebar dengan kencang. Aku teringat saat terakhir bersamanya dan bagaimana aku menghindari pertanyaannya saat itu karena jujur aku sama sekali tak tahu harus mengatakan apa saat dia bertanya padaku. Tiga hari tak bertemu dengannya dan hanya memikirkannya saja sudah membuatku berdebar, apalagi jika dia ada di hadapanku sambil menatapku seperti itu. Aku tak tahu apa aku bisa mengatasi kegugupanku kali ini atau bagaimana? Aku benar-benar tak tahu.

“Choi Sooyoung-ssi, kau tahu… Aku memang tak pernah mencintai seseorang seperti Seung Ho-ssi mencintai So Hyun-ssi. Tapi sekarang aku tahu bagaimana untuk mencintai seperti mereka,” kata Kyuhyun tiba-tiba kembali berbicara setelah beberapa saat. Dia terus menatapku lekat, “Choi Sooyoung-ssi, maukah kau berkencan denganku?”

Mataku membelalak, “Ne?”

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

 

Gomawo #bow

68 thoughts on “[Series] Have You Seen -Part 9-

  1. Anggi ta says:

    Itu dia momen yang di tunggu-tunggu :3 :3
    Aku sih nunggu momen kyu ngaku pernah jadi gwishin, tapi ternyata tidak sesuai harapan. Kirain setelah kyu jujur mereka bakal saling pelukan :v tau nya si sooyoung malah kabur.. tapi its ok, justru itu membuktikan pembaca nya baper pas baca :3😀

  2. Sistasookyu says:

    Syo nya baik bgt! Kalo nolong nggak setengah2! Kekeke~

    dan akhirnya clear juga masalah kesalapahaman syo tentang joohyun, adiknya kyu..
    Dan skrg kyu nya nembak syo.. Whoa~

  3. FS says:

    yuhuuuu, ternyata ada 2 kejutan
    yeee akhirnya soo eonn udah gak salah paham sama kyuppa

    next part ditunggu🙂

  4. sookyuchang says:

    aku blm baca part ini thor tp lgsung koment aja dlu ya, bacanya ntrn soalnya paket aku mau hbis tkutnya ntr lupa koment hehe

  5. nadasooyoungstersoneelf says:

    huaaa cerita hantu di part ini nyentuh banget thor :’v :’v
    ayo sooyoung terima ajakan kencan kuyun :’v
    next part jan lama” ya thor :’v

  6. Deg deg kan thour aq bca akhirny,,,
    Trima ya soo,,,
    Mengharukan seung ho n so hyun,,,,
    Yg Semangat ya thour lanjutin ff ny,,,
    Di tungga part selanjutny,,,,🙂

  7. Sooyoung harus terima kyuhyun pokoknya aaaa gregett
    untung soo udh tau kalo bjh itu adiknya kyu bukan pacarnya skrg tinggal nyelesaiin kalo soo gapunya pacar
    terima!terima!terima!*wht
    next thor jgn lama2 yaaaaaaa

  8. terima! terima! *apadah-,-*
    ahhhh aku puas banget sama part ini^^
    semoga kyuhyun atau sooyoung ngga ada yang tarik-ulur lagi, part depan kyuhyun sama sooyoung harus kencan! hahahah😀
    makasih kak ceritanya memuaskan! kkkkkk~
    ditunggu part selanjutnya^^

  9. cicyrsp says:

    wahh kira-kira kyuhyun bakalan di terima gak yaa sama sooyoung makin penasaran, ditunggu nextnya thor😀

  10. Vina Febriani says:

    next part ..
    sedih banget serasa kaya lagi liat drama huhu soo eon pokonya harus nerima kyu

  11. mongochi*hae says:

    lega ……..
    plongggggg ….
    akhirny kasus percintaan rumit atasan soo kelar plus keslah pahaman antara soo dg kyu teratasi. cba aj dr awal ad yg jujur kn gk kya gni ribetny..
    humppt…kyu nembak soo ¿¡!!
    terima terima….

    next part klo bsa sih mnurut ak dbkin full moment kyuyoung. kan kita sdh dsuguhi dg kasus2 soo dg gwishin2 it tiap part. jd gk ad slhny kan utk mbuat khusus part mereka aj…
    utk refresh dr kasus2 berat mereka gtu..
    hheee

    next dtunggu

  12. icha99 says:

    Seruuu tp pengen cepet cepet ahn ji won nya ditangkep trs teka teki nya cepet terungkap.. Cepet jadian ya kyuyoung.. Nice part ^^

  13. herma pristianti says:

    bisa kgk tbc diilangin?padahal lagi seru baca thor😦 hahaha next chapnya ditunggune😀

  14. Makin penasaran ,, sebenarnya apa yg terjd dgn choi bersaudara hingga Soo benci bgt ama Soojin … Dan mereka (Soo+Soojin) punya adek ,, #faktaygmengejutkan …

    Sepertinya Kyu udah mulai tertarik nehh ama Soo ,,
    Ditunggu next chap nya ,,,

    Semangat …

  15. ry-seirin says:

    Sbelumnya minal aidzin walfa idzin ya thor…
    Maaf sblumnya bru bsa comment abis slalu eror pas mau comment!!!
    Aku suka sma ff bwt author, ngrasa dpet feel’nya gto.
    Trus kya ngrsa kya ngliat drama korea aslinya…
    Soo eon smpet slah pham ma Kyupa, tpi akhirnya jdi selesai deh…
    Jdi sneng bgt…
    Lnjut y thor, d tnggu”!!!

  16. NitaKnight says:

    Akhirnya Sooyoung gak salah paham lagi sama Kyuhyun..
    Penasaran sama chapter selanjutnya..
    Next~

  17. husnulk says:

    Ah aku kira syoo eon bakal kenapa2, tapi untunglah…
    Wah syoo eon jadi malu sendiri kan ke kyuppa karena salah paham ttng hubungannya dgn joohyun…
    Terharu bgt liat seung ho nyanyi buat so hyun feelnya dpt bgt…
    Udah syoo eon mau ajalah kencan sama kyuppa😉
    Ditunggu part selanjutnya chingu~. Semangat!!🙂

  18. elis sintiya says:

    akhirnya kesalahfahaman antara sooyoung ke hubungan kyuhyun sama bae joohyun selesai juga.. gak sabar nunggu part berikutnya.. pasti ada moment kyuyoung yg lebih intim lagi.. 😄😄

  19. met says:

    Daebak
    Huahhh mengharukan bgt kisahnya seung ho sma so hyun trus kyu jd terinspirasi gitu dr kisah itu?
    Wahh soo jg udh tau kalau kalo joohyun itu adeknya kyu kan
    Penasaran nih
    Nextnya cpt ne😀

  20. young ah says:

    keren bgt part yang ini
    soo eoni kira2 jawab ap yaaa
    ahhhhhhhh penasaran
    next partnya ditungguuuuuuuuu yaaa
    fighting

  21. Kyaaaaaa>< part ini keren sedih tapi seneng juga/?:'3

    jadian dong pls syo eonni jangan nolak😦 pokonya next part udh hrus jadian/?hehe

    Next thor!^^

  22. Woww…..part ini seru bgt thor
    Suka dgn ceritanya seung so hyun, dpt bgt feelnya
    Semoga ahn ji won cpt ditngkp
    Akhirnya soo eon tau klw bae joohyun bkn yeojachingunya kyuppa
    Dan kyuppa nyatain lgi perasaannya ke soo eon, soo eon terima donk kencan sm kyuppa🙂

    Next partnya dicepetin thor…. Gk sbr nunggunya

  23. Bella SooyoungsterSparkyu KyuYoung KNIGHT says:

    Aigoo.. Aigoo… Itu aja yg nae katakan pas baca nih part…😀 Di part ini, semua tentang Sooyoung Eonni dan Kyuhyun Oppa terluruskan, dan di akhirnya Kyuhyun Oppa ngajak Sooyoung Eonni kencan.. KYAA!!😀
    Nae nangis wktu bagiannya tuh So Hyun dengar rekamannya Seung Ho, menyentuh banget….😥
    Keren banget part yg ini Thor!!😉 Keep writing ne!!😀

  24. Youngra park says:

    Isshh gila part ini keren bgts sdh sangat mengharukan dan sweet skrng ending keterkejutan sma rasa penasaran sooeoni bkalan jawab apa ku harap kyuyoung bsa bersatu mereka berdua sdh saling sma2 suka kan next part di tnggu eoni ku harap postny jng lma penasaran bgts sma kelanjutan ceritanny

  25. bawahnya bikin sedih :” orang2 yg saling mencintai harus terpisah kayak gitu. kasian seungo-sohyun & minho-yuri, semoga kyuyoung bisa bahagia bersama terus. part ini bener2 menyentuh T^T

  26. Sampe nangis ini…
    Mengharukan banget sih mereka itu.
    Dan sekarang tinggal Sooyoung sama Kyuhyun nih,
    eh, Yuri sama Minho juga deh.

  27. uut says:

    Puas bgt krna part ini panjang ^^
    kok cm kencan sih min,knpa gag lgsg pcran aja?tapi gag papa jg klo kncan sih hehe
    Diantara crita gwisin plg ska sm crita seung so hyun,dpet bgt feel nya..sedih lgi
    Part slnjtny jgn lm2 ya thor hehe

  28. Udh jgn bnyak mikir sooyoung, udh deh jwb aja MAU Oppa. Ha ^_^ msih gereget ni ma kyuyoung, next part smga lbih sweet moment nya . . .

  29. ria says:

    terima….terima….terima…..
    Aku harap sooeon bakalan blng iya untk pertanyaan kyuppa :3
    next d tunggu……

  30. Aku suka banget ff ini, karna satu part itu cerita nya panjang jadi readers juga puas dan kalau bagian akhir itu paling bikin gemes thor-,- ayolah Sooyoung mau dong di ajak kencan sama Kyuhyun😂 part selanjutnya jangan lama” pls thor trus lebih panjangin lagi (walaupun setiap part emng udh panjang hehehe) fighting ya thor^^

  31. ciyeeee disini kyu banyaak bnget modus’ya kkk~
    entah perasaan aq aja, aq merasa part ini jauh lebih panjang dr part” sbelum’ya thor, dan feel nya slalu terasa ^^ jadi terbawa suasana..
    ditunggu next chapt.ya thor..

  32. 이태라 says:

    aaaa terima doonnggg sooyoung hehe
    btw alurnya rada dicepetin dong, dan kalo bisa chapternya gausah panjang2 hehe

  33. ike primalia says:

    Kyuhyun dah menyatakan cinta b’kali2,ayo dunk soo eonni terima cnta kyuppa
    Next part thor

  34. kyaaaaaa!!! akhirnyaaaaaaaaa kyu nyatain (lagi) perasaannya.
    jadi gaa sabar pengen tau apa jawaban sooyoung.
    btw, itu yg dinyanyiin lagu apa yaa ??
    oh iya, taqabalallahu minna wa minkum waj’alna minal aidzin wal faidzin untuk semua knight yg merayakan idul fitri ^^

  35. iinAtma says:

    Makin seruuu, bikin terharu kisah cintanya di sinii.. Penasaran sama jawabannya soo eonni, gak sabar nunggu kelanjutannyaa🙂

  36. Syifa Fauziyah says:

    Setiap akhir cerita selalu membuat penasaran dengan kelanjutan cerita ini,asli sumpah ff ini keren di tunggu kelanjutannya yaa thor 😉

  37. Syifa Fauziyah says:

    setiap akhir cerita selalu membuat penasaran,sumpah asli ni ff keren abis di tunggu kelanjutanya yaa thor 😉

  38. jinrap says:

    Wuahhh makin greget part ini haaha ..

    aku berharap pembunuhnya minho cepat ditemukan hoho

    ga sabar nunggu jawaban soo di next partnya… ff ini keren, bikin penasaran truss.. hoho

    Authornim, Hwaitinggg!!!~^O^~

  39. Sooyounggggg210 says:

    Waaaaah !!! Ini seru thorr
    Akhirnya akhirnya kyuhyun menyatakan perasaan nya lagi ke sooyoung
    Semoga di terima
    Kan sooyoung udah tau kyu ga punya yeojachingu
    Ditunggu next nya ya thorr
    Jangan lama2 xD

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s