[Series] Water Love (Part 10)

WL New

 

Title : Water Love

Chapter : 10th

Author : Joanne K. Cho

Genre : Sad | Romance | Drama

Rate : PG-14

Cast : Choi Soo Young |  Cho Kyuhyun |

Support Cast : Lee Dong Hae |  Yoo In Joo | Kim Hyo Rin

Warning :  Typo(s)

Disclaimer : No plagiarisme, story belong to me !!

FF ini sebelumnya pernah di post di Blog http://kyublacky.wordpress.com/

A/N : I hope you’ll enjoy it, reader-deul ^o^)/

***

O-Ow… masalah datang.

Hanya ada satu ranjang di ruangan ini!

***

Kyuhyun yang menyadari kalau Sooyoung belum naik ke tempat tidur membalikkan tubuhnya, menatap Sooyoung dengan alis terangkat sebelah.

“Tunggu apa lagi? Ayo tidur,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bagian ranjang kosong di sebelahnya. Sooyoung menelan ludah dalam-dalam.

“Tapi… aku…”

“Hg?” Kyuhyun  menatap Sooyoung aneh.

“Kita tidak mungkin… tidur seranjang kan,” suara Sooyoung memelan saat dirinya mengucapkan hal itu. Kyuhyun mengerjab. Sekali. Dua kali. Kemudian lelaki itu terbahak.

Sooyoung mendecak kesal. Sudah berapa kali lelaki itu menertawakannya hari ini? Apaa dia tidak pernah puas selalu menertawakan Sooyoung?

“Apa yang kau takutkan? Kita hanya tidur. Ti-dur. Aku disini, dan kau disini,” jelasnya sambil menunjuk tempat tidur bagian dirinya dan bagian Sooyoung.

“Atau kau mengharapakan sesuatu terjadi, Sooyoung-ssi? Tapi aku tidak keberatan. Kita juga sudah menjadi sepasang kekasih,” goda Kyuhyun. Sooyoung menghentakkan kakinya kemudian naik ke tempat tidur—membelakangi Kyuhyun—dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Mengabaikan Kyuhyun yang masih saja menggodanya.

“Hm… tapi seingatku kita sudah pernah tidur bersama, iya kan?” godanya lagi. Sooyoung semakin menguatkan selimutnya. Di balik selimutnya Sooyoung mengutuk Kyuhyun yang telah mengingatkannya bahwa mereka memang pernah tidur bersama  sebelumnya. Dengan artian berbeda tentu saja.

“Soo? Kau sudah tidur?” panggil Kyuhyun. Lelaki itu mengusap kepala Sooyoung yang tertutupi oleh selimut. Kemudian menarik tangannya menjauh.

“Saranghae,” ucapnya pelan.

Sialan! Dia bisa tertidur dengan nyenyak sementara aku disni masih tergiang ucapannya barusan. Erang Sooyoung di balik selimutnya.

“Nado saranghae,” lirih Soooyoung pelan. Sangat pelan nyaris tidak terdengar Kyuhyun.

***

Matahari kian meninggi. Jumlah mobil yang berlalu lalang di jalan terus meningkat. Dan orang yang berada di bandara kian ramai.

Ya, mereka kini berada di bandara. Kyuhyun, Sooyoung dan In Joo. In Joo terlebih dahulu kembali ke negaranya—Amerika—dari pada Sooyoung dan Kyuhyun. Dan oleh karena itu, mereka berdua akan mengantar In Joo hingga gadis itu menghilang di balik pintu penerbangan.

Kyuhyun baru saja pergi ingin membeli minuman. Meninggalkan Sooyoung berdua dengan In Joo.

“Aku akan selalu menghubungimu,” ucap In Joo sambil tersenyum sedih. Berpisah dengan sahabat baik bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi dia harus kembali kesana, ke tempat tinggalnya. Sooyoung mengangguk. “Na do.”

“Kau harus baik-baik dengan Kyuhyun. Kalian baru saja menjalin hubungan kan?” pesan In Joo. Sooyoung kembali mengangguk. Ia memang sudah menceritakan hal itu  kepada In Joo saat mereka bertiga sarapan di restoran hotel tadi. Walau reaksi In Joo tidak terlalu terkejut, namun ia turut senang mendengar kabar itu.

“In Joo-ya…” panggil Sooyoung ragu-ragu.

“Mwo?”

“Apa… apa hubunganmu dengan Kyuhyun? Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja…. aku merasa kalian sudah saling mengenal sebelumnya. Atau… mungkin hanya perasaanku saja ya? Hehe,”

“Hubungan kami? Hm… kami—”

“Maaf lama,” sela Kyuhyun memotong pembicaraan kami berdua. Kyuhyun sialan. Kenapa dia tidak melihat situasinya sebelum menghampiri kami!? Umpat Sooyoung kesal dalam hatinya.

“In Joo-ya, hati-hati saat di Amerika nanti. Jangan lupa menghubungi tunanganmu. Atau dia akan selalu mengganggu milikku,” ucap Kyuhyun. In Joo mengangguk. Sooyoung semakin penasaran dengan hubungan keduanya. Kira-kira seperti  apa ya?

Mereka tidak mungkin mempunyai hubungan lebih dari teman. Selain In Joo sudah mempunyai tunangan, Kyuhyun juga sudah memiliki Sooyoung. Sooyoung memang baru saja mengetahui bahwa In Joo memiliki tunangan. Tapi In Joo berkata, “Ia tidak bisa kubilang sebagai tuanganku juga sih. Kami dijodohkan karena… ya, perusahaan. Tapi tenang saja. Aku tidak seperti di dalam novel roman picisan. Kami saling mencintai satu sama lain,” jelasnya saat sarapan tadi.

Dalam bayangan Sooyoung, tunangan In Joo adalah bule berambut pirang dengan iris mata berwarna biru. Dan juga berkharisma. Ah, enaknya In Joo mempunyai tunangan sempurna yang mencintainya.

Ah, kau tidak boleh berfikir yang tidak-tidak, Sooyoung-ah. Kau sudah memiliki Kyuhyun. Ingat Sooyoung dalam hatinya.

Suara pemanggilan untuk penumpang terdengar. In Joo mengeratkan pegangannya pada tas tangan yang dipakainya. Gadis itu tersenyum kecil. “Waktunya sudah tiba. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Kyuhyun. Selamat tinggal Sooyoung-ah. Aku titip sepupuku yang menyebalkan ini padamu. Kita pasti akan bertemu lagi,” ucapnya dan berjalan ke ruangan tunggu penerbangan. Sooyoung melambaikan tangannya.

Aku titip sepupuku yang menyebalkan ini padamu.

Oh, mereka hanya sepupu.

“EEHH!?” teriak Sooyoung shock.

***

Setelah melakukan perjalanan yang membosankan, akhirnya Sooyoung kembali ke Korea. Ia diberi satu hari tambahan agar bisa mengistirahatkan tubuhnya oleh pihak sekolah. Dan juga ia manfaatkan untuk istirahat dari kerja juga.

Mungkin si bos akan marah karena akhir-akhir ini aku banyak bolos kerja. Ah, tak apalah. Nanti aku akan bekerja lebih keras.

***

Keesokan harinya, saat Sooyoung membuka pintu apartemennnya, dua orang lelaki sudah menunggunya. Mungkin Kyuhyun sudah bisa ia prediksi sebelumnya. Apalagi dengan status mereka yang bukan ‘berteman’ lagi. Namun satu orang lagi yang menunggunya membuat dahi Sooyoung berkerut bingung.

“Donghae-oppa?”

***

Bolos. Sooyoung bolos. Dia tidak salah. Yang salah adalah orang yang membawanya kemari, Donghae. Lelaki itu tiba-tiba saja menariknya paksa dari apartemen. Awalnya Sooyoung berfikir Donghae mengajaknya pergi sekolah bersama. Kalapun ternyata benar, Sooyoung tak masalah. Dia yakin Kyuhyun tidak akan cemburu hanya karena hal itu.

Tapi, mereka berdua bukannya ke sekolah, melainkan—

—ke sebuah rumah mewah yang belum pernah Sooyoung datangi sebelumnya.

***

“Ini rumahmu… ya, oppa?” tanya Sooyoung ragu-ragu. Tentu saja. Siapa yang tidak merasa aneh dibawa oleh laki-laki—walaupun kenalan—ke tempat sunyi—disini cukup sepi—dan hanya berdua? Lagi pula mereka membolos. Apa yang akan dipikirkan orang-orang melihat mereka ya? Begitu pikir Sooyoung.

“Aku berani bertaruh kalau kau sedang memikirkan yang buruk tentangku, Soo-ya,” ucap Donghae membuka pintu rumah itu yang bercatkan putih dengan warna emas di knop pintunya.

Sebenarnya tidak sepi. Tadi Sooyoung melihat ada satpam—mungkin—yang berkeliaran di sekitar rumah ini dan juga dialah yang membuka pintu pagar saat mereka sampai tadi.

Donghae melangkahkan kakinya masuk, diikuti oleh Sooyoung sambil menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan besar itu.

Hebat… baru kali ini Sooyoung masuk ke rumah semewah ini. Sooyoung menggeleng pelan. Ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Tapi… apa maksud Donghae membawanya kemari?

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Donghae,” tegas Sooyoung tanpa embel-embel ‘oppa’, menandakan bahwa dirinya sedang serius. Donghae menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Sooyoung.

“Iya, ini tempat tinggalku, tapi bukan rumahku. Kau mengerti maksudku kan?” jawabnya dengan senyum kecil.

Benar. Sekalipun ini adalah tempat Donghae tinggal beberapa tahun belakang ini, bukan berarti tempat ini adalah rumahnya. Bahkan bisa dikatakan dengan kasar kalau Donghae hanyalah penumpang dengan pangkat yang lebih tinggi—anak angkat.

“Dengar. Aku membawamu kesini untuk memberikanmu kejutan kecil. Bukan seperti apa yang ada di pikiranmu saat ini,”

“E? Haha…” Sooyoung salah tingkah karena tebakan Donghae tidak meleset. Tapi kemudian raut wajahnya tergantikan dengan tanda tanya.

“Kejutan?”

“Tapi aku tidak berulang tahun hari ini,”

“Jadi… kenapa?” desak Sooyoung saat Donghae tak menggubrisnya.

“Karena aku ingin,” jawabnya membuka pintu yang Sooyoung yakini adalah pintu yang mengarah ke taman belakang rumah. Tidak mungkin rumah seluas ini tidak memiliki taman bukan? Bagitulah pikirnya.

Dan ternyata perkiraan Sooyoung tak meleset.

Disana, di tengah-tengah taman yang dikelilingi bunga bermacam-macam, sepasang suami-istri sedang menikmati pagi mereka dengan meja bundar kecil yang dikelilingi oleh 4 kursi yang senada.

Wanita paruh baya yang wajahnya terlihat jelas oleh Sooyoung sedang membaca sebuah buku sambil meminum tehnya dengan cangkir yang indah. Sedangkan pria paruh baya yang duduk di seberangnya, sedang membaca koran. Sooyoung tak bisa melihat wajah lelaki paruh baya itu karena ia duduk membelakangi Sooyoung.

“Donghae? Kenapa kau pulang? Seharusnya kau sekolah kan?”

Wanita paruh baya itu menyadari kehadiaran Donghae dan menghampirinya. Donghae tersenyum. Dan Sooyoung bisa melihat bahwa itu adalah senyuman kebahagiaan. Bahagia karena ia memilki keluarga yang utuh walau mereka tak saling terikat oleh darah.

Ah, bahagianya Donghae memiliki keluarga. Andai aku juga punya…

“Lho, siapa gadis cantik ini? Pacarmu Donghae? Kau tidak selingkuh kan?” wanita paruh baya itu menatap Sooyoung sambil tersenyum senang. Senyum seorang ibu yang menyayangi anaknya. Perasaan Sooyoung menjadi hangat. Ia sangat merindukan hal ini. Merindukan hadir di tengah-tengah sebuah keluarga yang hangat.

“Bukan, dia temanku saat di panti asuhan dulu, ibu,” jawab Donghae salah tingkah.

Wanita yang dipanggil Donghae dengan sebutan ibu itu terkekeh pelan. Ia tetap tersenyum lembut menatap Sooyoung. “Kau pasti menderita juga ya… sama seperti Donghae. Kenapa waktu itu kami tidak melihatmu? Mungkin kami bisa mengangkatmu sebagai anak juga, dengan begitu kami tak memisahkan kalian yang sudah tumbuh bersama,” ujar wanita itu dengan raut lembut.

Perasaan wanita memang saat sensitif. Tanpa dibilang secara lisanpun, ia langsung tahu kalau Donghae sangat menyayangi Sooyoung. Dalam artian lain tentunya.

“I-iya…” jawab Sooyoung pelan. Ia tak tahu harus berkata apa. Lagi pula ini adalah pertama kalinya ia pergi ke rumah teman. Ya, teman. Karena selama ini ia sama sekali tidak punya teman—selain Hyori dan Injoo. Menyedihkan!

Pria paruh baya yang sedari tadi diam melihat korannya dan membalikkan tubuhnya. Sooyoung mengangkat alisnya.

Hei, hei… bukankah itu…

“Nona Choi?” sapanya ramah. Sooyoung tertegun. Lelaki itu… bukannya ia adalah orang yang ada di Tokyo Spirit beberapa hari yang lalu saat Sooyoung mengikuti pertandingan? Kenapa ia bisa ada disini?

Tapi Sooyoung benar-benar merasa pernah melihat pria paruh baya ini di suatu tempat. Wajahnya sangat familiar. Dengan versi yang lebih muda. Dimana…. Sooyoung berusaha memutar ingatannya. Dimana ia pernah melihat pria baruh baya ini.

Ayolah, ingat Choi Sooyoung!

***

Sooyoung menghela nafas untuk yang kesekian kalinya hari ini. Kyuhyun yang duduk di sampingnya menatap Sooyoung heran. Tak biasanya gadis overactive ini murung. Mungkin terjadi sesuatu sela ia bolos bersama Donghae tadi. Tapi Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia memberikan ruang privasi bagi Sooyoung. Ia mau Sooyoung menceritakan keluhannya dengan tangan terbuka, bukan dengan paksaan.

“Untukmu,” Kyuhyun menyodorkan ice cream batangan yang diambilnya dari kulkas. Sooyoung masih dengan wajah murungnya menerima ice cream itu. Kyuhyun mengangkat bahunya. Lelaki itu menghidupkan televisi sekedar untuk mencairkan suasana.

Ya, mereka berdua kini ada di dalam kamar Kyuhyun. Apartemen kecil yang bertetangga dengan Sooyoung. Saat Kyuhyun pulang sekolah tadi Sooyoung sudah berdiri di depan pintu, menunggunya.

“Aku akan pindah,” ujar Sooyoung tiba-tiba. Kyuhyun memalingkan wajahnya dari televisi. Raut wajahnya terlihat seperti tidak mengerti.

“Mwo?”

“Aku bilang, aku akan pindah.”

Sooyoung menghela nafasnya. Kyuhyun menunggu Sooyoung agar menjelaskannya secara perlahan-lahan.

“Aku menemukan keluargaku.” Pandangannya meredup. Sooyoung memeluk kedua kakinya.

“Aku senang. Tentu saja. Tapi, ada perasaan lain yang mengganjal di dadaku,”

“Kau tahu? Kalau aku pindah aku tidak bisa tinggal di sampingmu lagi,”

“Sooyoung-ah. Aku tidak mengerti. Maksudmu, kau akan pindah rumah? Sekolah? Atau piondah ke luar kota?”

“Pindah rumah.”

***

Flash back beberapa jam yang lalu.

“Nona Choi?”

Sooyoung mengerutkan dahinya dan mulai mencari ingatan wajah itu di dalam benaknya. Ah, iya! Pria ini kan—

“P-pa… man?” ucap Sooyoung ragu-ragu. Dia ingat! Lelaki itu ada di dalam foto yang diberikan ibu asuh di panti. Pamannya!

Pria paruh baya itu tersenyum. “Akhirnya kau ingat,”

Mata Sooyoung mengabur karena tertutupi oleh air matanya sendiri. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia lupa wajah pamannya walau hanya dari sebuah foto? Bagaimana bisa ia mengabaikan perasaan aneh saat pertama kali melihat pamannya di Jepang? Bagaimana…

“Ja-jangan menangis, Sooyoung-ah,” ucap Donghae menenangkan Sooyoung dari tangisnya.

“Tapi… aku…”

“Sudahlah. Tenang dulu. Kita akan bicara di dalam. Ayo,” ajak ibu angkat Donghae menghalau Sooyoung masuk ke dalam.

***

“Aku tidak tahu kalau wanita yang dibawa Donghae adalah Sooyoung yang itu. Karena ini adalah pertama kalinya Donghae membawa wanita ke rumah. Selain gadis itu tentunya,” ucap ibu angkat Donghae tersenyum.

Sooyoung membalas senyum. Ia tak menyangka cerita dibalik foto dan masa lalu itu ternyata begitu kejam. Namun sekarang sudah berakhir. Akhirnya ia menemukan keluarganya.

Aku dan ibumu hanyalah dua bersaudara yatim piatu. Kami sama sekali tak mempunyai saudara. Kami pun berusaha hidup dengan harta peninggalan orang tua kami yang meninggal—karena kecelakaan—dengan baik. Lalu saat akhirnya masing-masing kami berkeluarga, ibumu pindah ke kota lain bersama ayahmu. Ia pernah mengunjungiku sekali saat kau berusia 5 bulan, saat foto ‘itu’ dibuat. Aku tidak menyangka bahwa itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bertemu denganmu.

Saat didalam perjalanan pulang kembali kekotanya, mobil yang dikendarai oleh ayahmu oleng dan menabrak pagar pembatas. Ayahmu meninggal di tempat. Sedangkan ibumu masih bisa bergerak dan mengeluarkanmu dari mobil. Dengan usahanya yang luar biasa, ia bisa bertemu dengan seorang pemabuk berat di tengah gelapnya malam itu.

Setelah menyerahkanmu pada lelaki itu, ibumu pun menyusul ayahmu. Pemabuk itupun membawamu bersamanya dengan kesadaran yang sudah hilang. Mungkin ia yang menurunkanmu di depan gerbang panti. Beberapa hari setelah kecelakaan itu diselidiki, pemabuk itu datang dan berkata bahwa ia dititipi anak dari orang yang mengalami kecelakaan itu. Namun karena mabuk yang dialaminya terlalu berat, ia tidak ingat sama sekali tentang diamana ia menurunkanmu. Lagi pula malam itu dia melakukan perjalanan yang sangat jauh hingga sulit diprediksi dimana kau diturunkan.

Saat pihak kepolisian akan menggali informasi dari pria itu, pria itu meninggal kecelakaan saat menuju ke kantor polisi untuk menyampaikan informasi. Dan polisi pun mendapati jalan buntu. Walau sudah dilakukan pencaharian di gereja dan panti yang kemungkinannya lebih besar, kau tetap tak ditemukan. Apalagi foto yang waktu itu hanya ada satu dan menghilang saat kecelakaan itu. Dan juga kebetulan saat itu sangat banyak kasus anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya, membuat pihak polisi kian mengalami kesulitan.

Akhirnya, saat waktu yang diberikan untuk kasus itu hangus, aku pun menyerah dan berencana mengadopsi anak. Dan siapa sangka kalau kau berada di panti yang sama dengan Donghae. Hanya saja kami kurang beruntung dan gagal mendapatkanmu kembali. Barulah saat Donghae menceritakan tentang dirimu, aku menyewa detective dan mencari tahu latar belakangmu. Aku sangat yakin kalau kau adalah Choi Sooyoung yang selama belasan tahun ini kucari karena wajahmu mengingatkanku pada ibumu.

Dan kini, firasatku tidak salah. Kau benar-benar datang kembali, Choi Sooyoung.

***

“Cerita keluargamu sangat rumit,” komentar Kyuhyun saat Sooyoung selesai menceritakannya semuanya. Sooyoung mengangguk. “Ya, sangat rumit hingga aku sendiri sulit mencernanya.”

Tapi Sooyoung merasa lega. Lega karena telah membagi masalahnya pada Kyuhyun yang notabenya adalah—

—kekasihnya.

***

TBC

***

Maaf ya, makin ke sini makin aneh ceritanya (?)

Tapi tinggal satu part lagi kok, cerita ini bakal tamat. Jo harap bisa menyelesaikannya secepat dan sebaik mungkin agar reader-deul tidak bosan menunggu.

Btw, last partnya udah terjadwal publish di wp Jo tanggal 11 juni (kalo ga salah)

Komentarnya ditunggu ya~~

#menghilang

26 thoughts on “[Series] Water Love (Part 10)

  1. Mae says:

    Ffx kren tpi ksian sma soo….truz hae sma soo bklan tnggl srmah dong gmna sma kyu psti cmbru abis dc hehehe dtnggu part slnjtx ya thor…..

  2. Dohhh.. akhir.A bersatu jugaaa..
    tpii Aq msih janggal sma kyu-Injoo yg d.liat dri part sbeloom.A…
    Hwaaa.. g’rela masa’, syoo bkal g’ tinggal dket kyu lgii… Huhuuu..😥

  3. sooyoung sama kyuhyun jadian?? wah chukkae.. terus ayah angkat donghae itu paman nys soo?? dan soo mau pindah rumah.. semoga pindah nya gak jauh2.. next thor.. aku tunggu part selanjutnya.. fighting

  4. met says:

    Daebak
    Wahh berarti di nextnya tinggal nunggu happy ending dong
    Trus jgn” tunangan nya in kok donghae y?
    Penasaran nih
    Nextnya cpt ne😀

  5. elis sintiya says:

    bagus koq thor ceritanya.. ya ampunm sedih bgt ya masa kecilnya soo.. nahh sekarang kan soo udh dewasa waktunya seneng2 ini mahhh.. jgn ada masalah lg kasian soo..

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s