[Series] Have You Seen -part 13-

Have You SeenTitle             : Have You Seen?

Author         : soocyoung (@helloccy)

Length         : on writing (maybe 16)

Genre          : Romance, Fantasy, Horror

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu…

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Aku duduk di kursi ruanganku sambil menatap ke arah tumpukkan dokumen mengenai apapun yang berhubungan dengan kelompok mafia bernama Gu Neukdae Pa (Sembilan Serigala). Komputer di depanku menyala, menampilkan sebuah artikel yang aku temukan saat dengan sengaja mencari kelompok mafia itu. Meskipun artikel-artikel yang aku temukan itu masih belum bisa mengingatkanku mengenai kelompok itu tapi tetap saja aku harus mencarinya. Karena entah kenapa aku yakin antara Ahn Ji Won, Gu Neukdae Pa, dan kasus lima tahun yang lalu itu ada hubungannya.

“Kau masih berusaha melacak dua orang yang kau temui di Ilsan itu?” tanya detektif Jung dengan nada seriusnya. “Apa mereka sama sekali belum menghubungimu?”

Aku menggelengkan kepala tanpa menjawab.

“Katamu mereka anggota Gu Neukdae Pa itu, ‘kan? Dan mereka mengenal Ahn Ji Won, dan mereka juga mengakui bahwa Ahn Ji Won meminta bantuan dari kelompok itu” kata detektif Jung seperti sedang mengingatkanku pada pertemuanku dengan dua orang anggota Gu Neukdae Pa di Ilsan beberapa hari yang lalu. “Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian lima tahun lalu? Kau yakin, Ahn Ji Won juga terlibat disana ‘kan? Aku dengar yeodongsaeng-nya juga menjadi salah satu korban dari kecelakaan itu” tanyanya seperti sedang menginterogasiku.

Majayo, Ahn Yewon. Dia sedang bersamaku saat kecelakaan itu terjadi”

“Mwo?”

“Dia dulunya temannya Joohyun, dan dia hampir selalu ikut denganku saat aku ingin bersenang-senang” kataku tanpa menatap sunbae-ku itu. “Yewon-lah yang mengenalkanku pada Ahn Ji Won tapi hanya perkenalan singkat saja karena namja itu tidak tinggal bersama dongsaeng-nya di Seoul”

Jamkkaman, katamu Ahn… Ye…Won, itu, dia ada bersamamu saat kecelakaan itu terjadi?” Detektif Jung mengulang perkataanku yang langsung aku tanggapi dengan anggukkan kepala. “Apa Ahn Ji Won juga ada disana?”

“Tentu saja dia disana, bersama anggota Gu Neukdae Pa lainnya” sahutku.

“Nah! Mungkin saja Ahn Ji Won tertarik padamu karena kau adalah orang terakhir yang bersama yeodongsaeng-nya sebelum dia tewas”

“Lalu kenapa dengan itu?”

Detektif Jung mendekat ke arahku, “Apa ada sesuatu yang aneh sebelum yeoja itu bersamamu? Maksudku apa kau melihat sesuatu yang terjadi pada yeoja itu atau… hmm, bagaimana mengatakannya, ya?”

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian-kejadian lima tahun lalu. Kepalaku mulai terasa sakit tapi aku terus berusaha untuk mengingatnya. Karena jika aku tidak memaksakan diri untuk ingat tentang kecelakaan itu, aku tak yakin kasus ini akan diselesaikan dan Jaksa Kim mungkin akan benar-benar menjadikanku tersangka. Jaksa Kim juga pasti sudah mengetahui fakta bahwa Ahn Ji Won adalah anggota sebuah kelompok mafia dan sesuatu yang berhubungan dengan mereka biasanya berujung tidak baik.

“Ah!” seruku sambil memegangi kepalaku. Aku terus memaksakan diri, “Seorang namja… Jamkkaman-

“Kyuhyun-ah, jangan memaksakan dirimu” detektif Jung menyahut. “Gwenchana, aku hanya bertanya jika mungkin ada sesuatu yang aneh yang terjadi sebelum kau kecelakaan”

Ani, aku ingat beberapa. Memang benar ada sesuatu yang terjadi sebelum aku ikut balapan” jawabku. “Seorang namja. Yeoja itu… maksudku… Ahn Yewon… dia menemui seorang namja sebelum masuk ke mobilku”

“Namja?”

Aku mengangguk. “Aku tak ingat wajahnya tapi itu namja dengan tato… Ah! Tato yang sama dengan dua namja di Ilsan itu, tato Gu Neukdae Pa!

“Mworago?”

Sunbae! Aku rasa aku tahu sesuatu” sahutku cepat. “Ahn Yewon… Geu yeoja. Dia memiliki hubungan dengan kelompok mafia itu”

“Mwo? Jinjja?” Detektif Jung terlihat tidak percaya dengan yang aku katakan. “Hubungan seperti apa? Kau mengingatnya?”

“Moreugeusseoyo,” jawabku jujur. “Yewon yang mengenalkanku pada Ahn Jiwon, lalu namja itu mengajakku bergabung dengan kelompok mafia itu dan saat aku menolak, Yewon kembali membujukku untuk bergabung”

“Dan kau tetap menolaknya?” tanya Detektif Jung yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. “Apa alasan kau menolaknya saat itu?”

“Aku tak tertarik untuk bergabung”

“Hanya itu?”

Sunbae, meskipun aku sedikit liar saat itu tapi aku tahu mereka kelompok seperti apa. Bagiku tak masalah berteman dengan mereka tapi aku benar-benar tak tertarik untuk menjadi sama dengan mereka” jelasku. “Gu Neukdae Pa itu dikenal memiliki kekuatan yang hampir sama dengan kelompok mafia di Busan jadi sunbae bisa membayangkan sendiri apa yang akan terjadi jika aku bergabung”

“Sunbaenim!” seru Park Dong Soo dari arah pintu. “Igeo! Aku menemukan artikel ini saat tidak sengaja mencari sesuatu tentang yeoja bernama Ahn Yewon”

Aku dan Detektif Jung langsung tertarik pada sesuatu yang dibawa oleh Park Dong Soo. Itu sebuah artikel online. Aku langsung membaca tulisan besar diatasnya lalu membacanya dengan serius.

 

‘Kelompok Mafia GU NEUKDAE PA dan sindikat penyulundupan obat-obatan terlarang dan peredaran uang palsu’

 

Untuk beberapa saat suasana di ruangan ini benar-benar diam karena seluruh perhatian kami tertuju pada artikel yang ditemukan Park Dong Soo. Aku terus membaca sambil berusaha mengingat kejadian lima tahun lalu yang entah kenapa sangat sulit aku kembalikan begitu melupakannya. Sejauh ini aku hanya berhasil mengingat potongan-potongan kecil dari kejadian itu tapi tidak mendetail. Mungkin aku benar-benar membutuhkan sesuatu yang bisa memicu ingatanku mengenai kecelakaan itu dan apa yang terjadi disana.

Heol daebbak!” komentar detektif Jung setelah selesai membaca artikel. “Kelompok ini memang bukan kelompok biasa,”

Aku diam saja.

“Sunbae,” panggil Dong Soo padaku. “Gwenchanayo?

Aku menoleh ke arahnya, lalu menganggukkan kepala. “Seperti kata detektif Jung sunbae, itu memang bukan kelompok mafia biasa” kataku.

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita menangkap mereka semua?”

“Tentu saja,” sahut detektif Jung dengan warna emosi seriusnya. “Terlepas dari fakta bahwa mereka sindikat penyelundup obat-obatan terlarang dan mengedarkan uang palsu, mereka juga telah menyembunyikan buronan kita. Jadi, kita harus menangkapnya”

Park Dong Soo mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Dia menoleh padaku, “Sunbae, aku rasa kau harus mengatakan semua yang kau ingat pada Jaksa Kim sebelum dia mencurgaimu terlibat dalam kasus penyelundupan ini” katanya sambil menunjuk artikel online-nya.

“Dia sudah mencurigaiku dari awal dan aku tak memiliki alasan untuk mengatakan semuanya pada Jaksa Kim” kataku menjawab perkataan Park Dong Soo. “Untuk sekarang aku bahkan tak memedulikan apa yang akan dilakukan Jaksa Kim karena perhatianku pada Ahn Ji Won dan Gu Neukdae Pa itu. Aku tak tahu kenapa dia tertarik padaku setelah tahu bahwa aku membantu detektif Jung menangkapnya. Seakan-akan dia sedang mencoba bermain-main denganku dan membuatku mengingat hal-hal yang aku lupakan”

“Mungkin tujuannya menarikmu karena kau pernah berhubungan dengan dongsaeng-nya yang juga menjadi korban kecelakaan itu. Kau adalah saksi yang-”

Kata-kata detektif Jung terhenti karena suara getaran ponselku di atas meja. Aku menatap dua orang rekanku sesaat sebelum mengambil ponsel, lalu membaca nama yang tertera di layar ponsel. “Ahn Ji Won,” gumamku. Aku mengangkat kepala, “Dia mengirim pesan padaku,”

Detektif Jung langsung mendekat ke arahku, “Cepat buka. Jika dia mengirimimu alamat lagi, aku pastikan kita akan menangkapnya”

Aku mengangguk.

Begitu membuka isi pesan dari Ahn Ji Won, mataku langsung membelalak. Namja itu mengirimkan dua foto yeoja yang paling berarti dalam hidupku, Choi Sooyoung dan Bae Joohyun. Aku terdiam di tempatku melihat dua foto itu. Tak lama kemudian, pesan yang lain datang.

‘Cho Kyuhyun-nim, siapa yang paling kau sayangi diantara dua yeoja itu? Aku akan mendatangi mereka malam ini, jadi siapa yang akan kau selamatkan terlebih dahulu diantara keduanya? Yeodongsaeng-mu atau yeojachingu-mu?’

 

Sunbae,” panggilan Dong Soo mengalihkan perhatianku dari pesan Ahn Ji Won. “Sunbae, kita harus-”

“Aku pergi dulu,” potongku dengan cepat sambil mengambil jaketku dan memakainya. “Aku akan menangkap Ahn Ji Won bagaimanapun caranya sebelum dia melakukan sesuatu”

“Detektif Cho, biar aku ikut bersamamu. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku untuk menangkap Ahn Ji Won”

“Andwaemida, sunbae. Aku rasa ini hanya permainan Ahn Ji Won untuk memancingku jadi biar aku sendiri saja” sahutku dengan cepat. “Aku akan langsung menghubungimu setelah aku mengkonfirmasikan lokasinya” kataku seraya melangkah ke arah pintu dan bergeges keluar dari Kantor Kepolisian Incheon ini.

Aku masuk ke mobilku lalu segera menginjak pedal gas nya. Earphone sudah terpasang di telingaku dan aku sedang berusaha menelepon Choi Sooyoung. Aku menghubunginya terlebih dahulu karena apartemen yeoja itulah yang sebelumnya Ahn Ji Won kirimkan pada detektif Jung, juga karena Kwon Yuri tinggal bersamanya. Aku sedikit memelankan laju mobilku saat melewati toko bunga ‘Six Sense’ tapi tak melihat siapapun disana meskipun tulisan di pintunya menunjukkan bahwa toko itu masih buka. Padahal biasanya aku melihat Sooyoung yang sedang mondar-mandir di dalam toko saat aku melewatinya meskipun itu dari luar jendela.

Sooyoung-ah, eodiseo…” gumamku karena Sooyoung sama sekali tak menjawab ponselnya meskipun aku sudah meneleponnya lebih dari lima kali.

“Nomor yang Anda tuju-”

Aku mendesah panjang sambil melepas earphone dari telingaku. Mobilku terus melaju di jalanan distrik Nam dan akupun mencoba menghubungi dongsaeng-ku, Bae Joohyun. Awalnya dia sama sekali tak menjawab teleponku dan membuatku semakin khawatir. Tapi setelah aku mencobanya lagi, pada deringan kedua yeoja itu baru mengangkatnya.

Yeoboseyo,” sapa Joohyun.

“Ya! Gwenchana? Eodiseo?”

Eo. Wae? Kenapa oppa bertanya seperti itu padaku?” Joohyun balik bertanya.

“Jawab saja kau dimana sekarang!”

Aigoo… Gokchongma, aku sedang dalam perjalanan ke NC Cube Canal Walk” jawab Joohyun dengan nada yang terdengar heran. “Wae? Oppa ingin aku membelikan sesuatu saat pulang nanti?”

“Joohyun-ah, lihat ke sekitarmu. Apa ada orang yang sedang mengikutimu?” Aku kembali bertanya. Mobilku kini mengarah ke distrik Jung, dimana apertemen Sooyoung berada. “Eobseo?” tanyaku lagi karena Joohyun diam saja.

“Eo, eobseo. Wae?”

“Joohyun-ah, pastikan kau terus berada di tempat yang ramai. Arraseo? Oppa akan segera menjemputmu disana setelah memastikan sesuatu, eo?” kataku tanpa menjawab pertanyaan Joohyun terlebih dahulu.

Joohyun kembali diam.

“Ya!”

Aish jinjja! Jika oppa terus menjemputku, kapan aku akan bisa berkencan dan memiliki namjachingu?” jawab Joohyun tidak senang. “Dwaesseo, aku bisa pulang sendiri” katanya lagi.

“Ya! Oppa maldeuro!”

Joohyun tak langsung menjawab, tapi kemudian aku mendengar helaan napasnya dan dia berbicara. “Emm… Arraseo,

“Ingat kata-kata oppa. Tetap di tempat yang ramai dan buka matamu lebar-lebar. Jika ada seseorang yang mencurigakan di sekitarmu, telepon oppa atau Dong Soo oppa atau Jung Yong ahjussi atau Myung Soo oppa juga tak apa. Arra?

“Arra,”

Oppa kkeutnaseo” kataku setelah mendengar jawaban Joohyun dan menutup sambungan teleponnya. Lalu aku menelepon Kwon Yuri karena mungkin saja Sooyoung sedang bersamanya. Untunglah yeoja itu langsung mengangkat teleponnya, “Yeoboseyo” sapaku dulu.

“Ne, yeoboseyo detektif Cho”

“Yuri-ssi, kau dimana sekarang?”

“Di Hagik-dong distrik Nam. Waeyo?

“Apa Sooyoung sedang bersamamu?”

Aniyo. Dia keluar lebih awal ke kafe di dekat toko bunga dan aku langsung memintanya pulang ke apartemen karena aku harus mengantar bunga ke distrik Nam” terang Yuri. “Apa Sooyoung tak bisa dihubungi?” tanyanya kemudian.

“Eo,”

Isanghae… Aku baru saja meneleponnya beberapa saat yang lalu”

Oh? Apa katanya?”

“Dia akan langsung ke apartemen,”

“Ah, arraseoyo. Geureom… gomawoyo Yuri-ssi,”

“Ne”

Cepat-cepat aku menutup teleponnya lalu melepas earphone dari telingaku dan mempercepat laju mobilnya. Meskipun aku sedikit lega karena dongsaeng-ku berhasil aku hubungi tapi perasaanku masih kacau karena aku sama sekali tak tahu tentang keberadaan Choi Sooyoung. Setidaknya jika yeoja itu mengangkat teleponnya, aku tahu bahwa dia baik-baik saja dan aku bisa sedikit bernapas lega sebelum aku memastikannya dengan mataku sendiri. Karena mungkin saja pesan Ahn Ji Won itu hanya untuk membuatku merasa khawatir akan kehilangan seseorang yang aku sayangi dan dia sama sekali tak bertujuan untuk mendatangi, baik Joohyun maupun Sooyoung.

Mobilku berhenti di dekat apartemen Sooyoung. Aku bergegas keluar dari mobil dan setengah berlari menuju apartemennya. Di jalan terakhir tepat sebelum apartemen yang aku tuju, aku melihat empat orang namja disana dan seorang yeoja yang terperangkap diantara mereka. Aku melangkah mendekat dengan hati-hati untuk tahu siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan. Tapi kemudian aku langsung membeku setelah melihat bahwa yeoja itu adalah Sooyoung, sedang dipegangi oleh tiga orang namja sementara namja yang lain menodongkan pisau ke arahnya. Mataku menyipit melihat namja dengan pisau itu.

Tanpa ragu aku berlari ke arah mereka, “Ya! Ahn Ji Won” seruku berteriak marah. “Lepaskan dia!”

Mereka semua menoleh ke arahku, tak terkecuali Sooyoung. Setelah dekat, aku langsung menendang rubuh salah seorang namja yang memegangi yeojachingu-ku. Namja yang membekap mulut Sooyoung melepaskan tangannya lalu menyerbuku, begitu pula namja satunya. Aku mendorong Sooyoung menjauh dan melihatnya bersembunyi di balik tiang listrik. Lalu ketiga namja itu menyerangku kembali dari berbagai arah tapi aku berhasil melawannya meskipun beberapa kali aku harus mundur sekian langkah akibat terkena pukulan mereka.

Saat aku bangun setelah terjatuh karena tendangan salah satu namja yang berotot paling besar, dengan gerakan cepat tiba-tiba Ahn Ji Won berlari dan menusukkan pisau ke arah perutku. Aku terdiam untuk beberapa saat sambil memegangi pisau itu agar tak semakin masuk ke dalam melukaiku. Tapi Ahn Ji Won justru mendorongnya dengan kuat dan akupun terjatuh setelah dia menarik keluar pisaunya. Darah langsung mengalir deras meskipun aku berusaha menutupnya dengan tanganku sendiri.

Oppa!” Sooyoung berteriak sambil berlari ke arahku. “Gwenchanayo?” tanyanya dengan nada khawatirnya.

Aku menahan sakit di perutku di depan Sooyoung karena aku tak mau dia khawatir. “Gwenchana. Masuklah ke apartemen, palli! Aku harus menangkap mereka” kataku seraya memegangi perut, tapi Sooyoung bergeming di tempatnya. Aku kembali berbicara, “Palli! Kunci pintunya dan jangan biarkan siapapun masuk!”

“Tapi oppa-

Palli!” potongku dengan cepat.

Sooyoung sama sekali tak mengikuti perkataanku dan justru tetap diam di tempatnya. Aku bisa melihat ekspresinya yang benar-benar terlihat khawatir meskipun aku sudah memaksakan diri untuk tersenyum dan memberitahunya bahwa aku tidak apa-apa. Tapi sepertinya yeoja ini tak mempercayaiku dan bersikeras agar aku tetap disini bersamanya. Membiarkan Ahn Ji Won dan ketiga temannya melarikan diri lagi.

“Oppa, gwenchana? Eotteoke-”

“Gwenchana,” jawabku memotong perkataan Sooyoung sekali lagi. “Aku benar-benar harus pergi dan menangkap Ahn Ji Won sebelum dia pergi jauh” Aku berusaha berdiri tapi terlalu lemas jadi aku kembali terjatuh.

“Oppa!” seru Sooyoung.

Aku kembali menahan sakit tapi darah semakin mengalir deras di sekitar perutku. Sooyoung bergerak lebih dekat padaku lalu dia memangku tubuhku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku melihatnya mengambil ponsel disakuku dengan sedikit gemetaran dan akupun mendengarnya berbicara sebelum pada akhirnya aku tak sadarkan diri di pangkuan Sooyoung.

__

Sooyoung POV

Eonni!” panggilan itu membuatku langsung menolehkan kepala ke sumber suara, dan melihat Bae Joohyun setengah berlari ke arahku. “Eotteokeyo? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Kyuhyun oppa?” tanyanya langsung dengan ekspresi khawatir yang terlihat jelas di wajah cantiknya. Aku juga melihat gwishin eomma Joohyun yang khawatir mengenai keadaan putranya sebelum dia melangkah masuk menembus dinding tanpa menanyakannya padaku terlebih dahulu.

“Dokter masih melakukan operasi. Semuanya akan baik-baik saja, kita berdoa saja semoga operasinya berjalan dengan lancar” kataku berusaha menenangkan Joohyun dan diriku sendiri.

Joohyun mengangguk, lalu dia menundukkan kepala dan mulai sesenggukkan. Aku mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukanku. Aku bisa merasakan dia menangis di balikku dan aku kembali menenangkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Dia pasti sangat mengkhawatirkan Kyuhyun, sama sepertiku. Aku mengusap sendiri air mataku yang mengalir dengan sendirinya sambil memikirkan namjachingu-ku dan apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu.

“Aku tak tahu harus bagaimana jika tak ada oppa,” kata Joohyun masih memelukku. “Oppaneun… Oppa… Dia sangat berarti bagiku dan aku benar-benar tak bisa hidup jika terjadi sesuatu padanya”

Ani, tak akan terjadi sesuatu apapun pada Kyuhyun Oppa. Gokchongma, Joohyun-ah” kataku berusaha tegar. Aku menarik napas panjang, lalu berbicara pelan. “Mianhae… Na ttaemune-

Joohyun langsung melepas pelukanku, membuatku berhenti berkata-kata. “Jangan berkata seperti itu, eonni. Apa yang terjadi pada Kyuhyun oppa bukan menjadi salah siapapun karena itu adalah bagian dari tugasnya” katanya padaku meskipun air matanya terus mengalir. “Aku… Aku hanya tak bisa membayangkan hidupku tanpa… Kyuhyun oppa,” Dia menambahkan.

“Choi Sooyoung,” panggilan suara Yuri terdengar, membuatku dan Bae Joohyun menolehkan kepala karenanya. Yeoja itu berlari ke arahku, “Gwenchana? Apa kau terluka?” tanyanya juga khawatir.

Aku mengusap pelan pipiku sebelum menjawab, “Gwenchana tapi Kyuhyun oppa-” Aku tak melanjutkan kata-kataku dan menatap ke arah ruang operasi yang lampunya masih menyala.

“Dia akan baik-baik saja,” sambung Yuri sambil merangkul Joohyun yang kembali menundukkan kepalanya. “Geureom, apa Ahn Ji Won benar-benar yang melakukannya?” tanyanya padaku.

“Eo”

Yuri menghela napas singkat, tapi tak mengatakan apa-apa. Dia berbicara pada Joohyun dan aku hanya memperhatikannya untuk beberapa saat. Tapi kemudian perhatianku teralih karena tiba-tiba seorang gwishin muncul dari dalam ruang operasi yang lampunya juga sedang menyala. Aku cukup terkejut saat pandangan mata kami bertemu meskipun cepat-cepat aku memalingkan wajah dan kembali menatap Joohyun yang sedang ditenangkan oleh Yuri.

“Hei! Kau bisa melihatku” desis gwishin sambil melayang mendekat padaku. “Aku bersumpah tadi kau menatapku. Aghassi, majo? Kau bisa melihatku, ‘kan?”

Aku diam saja.

“Aghassi, apa kau sedang berpura-pura tidak melihatku padahal jelas-jelas pandangan kita bertemu” Gwishin itu kembali berbicara, dan bahkan benar-benar berdiri di depanku sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajahku.

Aku mundur beberapa langkah saat dia melakukannya karena aku benar-benar tak mau berhubungan dengan gwishin manapun untuk saat ini, kecuali mungkin eomma Joohyun. Aku memang tahu jika di tempat seperti ini pasti akan banyak melihat gwishin-gwishin yang berkeliaran tapi sekarang bukan saatnya aku mengurus masalah mereka karena namjachingu-ku lebih penting. Dan aku tak akan membiarkan gwishin manapun menguasai tubuhku dengan waspada setiap saat.

“Aghassi, aku tahu kau bisa melihatku dan mendengarku sekarang. Kau tak bisa-”

“Kau bisa melihat kami? Jeongmalseumnikka?”

“Noona bisa melihatku juga?”

“Aghassi, joneun Kang Hae Jin imnida-”

“Joyeo Bang Seung Hee,”

“Noona nae ireumeun Lee Jisung-”

“Ya! Choding! Shikkero!”

Aku menatap satu-satu ke arah gwishin-gwishin yang sekarang memenuhi lorong tempatku menunggu operasi namjachingu-ku. Banyak sekali yang muncul disini, bahkan beberapa sampai bersentuhan dengan baik Yuri maupun Joohyun. Aku melihat mereka berdua berjengit sesekali setiap gwishin menyentuh kulit mereka. Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mataku. Meskipun sebenarnya aku ingin tetap disini dan menunggu operasi Kyuhyun selesai tapi dengan banyaknya gwishin di sekitarku sekarang, aku rasa sebaiknya aku pergi sebentar. Karena aku yakin gwishin-gwishin ini pasti akan langsung mengikutiku.

“Yuri-ah, Joohyun-ah” panggilku setelah memutuskan apa yang harus aku lakukan. “Mianhae, aku ke belakang sebentar… Emmm, membersihkan pakaianku” kataku sambil menunjukkan jaketku yang masih ada bekas darah Kyuhyun.

Eo, Sooyoung-ah” Yuri yang menjawab. “Biar aku yang disini bersama Joohyun dan kau membersihkannya dulu”

Aku menganggukkan kepala, “Saat dokternya keluar, cepatlah hubungi aku– Ah, Kwon Yuri! Aku pinjam ponselmu”

Tanpa banyak bertanya Yuri langsung memberikan ponselnya padaku, dan akupun bergegas pergi dengan berhati-hati agar tidak bersentuhan dengan gwishin meskipun beberapa menghilang sesaat saat aku berjalan melewatinya. Desisan-desisan mereka masih berdengung di telingaku tapi aku mengabaikannya karena masih banyak orang yang berlalu-lalu meskipun hari sudah malam. Bahkan ada dari mereka yang sengaja menghalangi jalanku, membuatku harus berhenti sesaat atau memilih jalan yang lain agar tak bertabrakkan dengan mereka.

“Ya! Apa kau tak tahu bagaimana frustasinya aku karena tak ada yang bisa berbicara denganku ataupun melihatku?! Kenapa kau-”

“Aish, shikkerowoyo” sahutku dengan cepat pada gwishin yang paling dekat denganku. Aku bisa merasakan beberapa gwishin menatapku tapi aku memilih untuk terus melangkah.

“Dia benar-benar bisa mendengar kita,” Aku mendengar gumaman-gumaman itu disekitarku. “Ya! Ya! Ya!” seru mereka padaku.

Aku masih mengabaikannya sampai akhirnya tiba di rooftop rumah sakit. Mataku menatap sekeliling untuk memastikan tak ada siapapun disini tapi ada tiga gwishin yang melayang mendekat ke arahku dan bergabung dengan gwishin-gwishin lain yang bahkan aku tak tahu ada berapa banyak. Karena saat aku melangkah melewati lorong-lorong rumah sakit, aku yakin pasti ada gwishin lain yang mengikuti sampai kesini.

Aku berhenti melangkah lalu berbalik badan. Mataku mengerjap beberapa kali melihat jumlah gwishin yang ada di tempat ini bersamaku. Wajah mereka tidak semuanya menyeramkan, ada beberapa yang hanya terlihat pucat lalu ada yang tidak memiliki lengan dan ada yang menatapku dengan pandangan yang benar-benar tidak aku sukai.

“Aghassi,”

“Noona…”

“Eonni…”

“Ya!”

“Imja…”

Aku menutup mata sesaat lalu menghela napas panjang sebelum berbicara. “Geurae… Maja! Aku memang bisa melihat dan mendengar kalian. Tapi bukan berarti aku bisa membantu kalian semua karena sekarang aku benar-benar tak bisa melakukannya”

Beberapa gwishin berdesis dan bergumam di sekitarku menanggapi apa yang aku katakan. Aku baru akan melanjutkan bicara, tapi mendadak kerumunan gwishin di belakang menghilang lalu terus berlanjut dan mengecil sampai semua gwishin benar-benar tak terlihat lagi olehku. Aku benar-benar tak mengerti kenapa tiba-tiba mereka pergi, seakan-akan ada yang sesuatu mengusirnya. Tapi saat aku menoleh ke sekitar dan mencari tahu apa yang terjadi atau mungkin ada seseorang atau gwishin lain yang melakukannya, aku tak menemukan siapapun. Aku kembali memejamkan mata sesaat lalu membukanya dengan perlahan. Aku sempat terkejut saat melihat seorang namja berdiri di dekat pintu rooftop sebelum dia menghilang dari sana.

Ponsel Yuri bergetar pelan di sakuku, dan akupun langsung mengambilnya. Telepon dari Bae Joohyun. Aku bergegas turun dari rooftop sambil mengangkat panggilan telepon itu karena mungkin saja operasi Kyuhyun sudah selesai. Aku berharap tak ada apapun yang terjadi pada namjachingu-ku dan dia berhasil melewati masa kritisnya karena dengan begitu aku bisa merasa tenang walaupun masih ada rasa khawatir mengingat Ahn Ji Won masih belum bisa ditangkap.

**

Aku melangkah masuk ke kamar rumah sakit dimana Kyuhyun dirawat setelah menjalani operasinya. Disana ada Bae Joohyun, sedang duduk sendirian sambil membaca buku. Aku mendekat ke arahnya lalu duduk disampingnya. Membuat yeoja itu menoleh padaku dan langsung tersenyum. Aku balas tersenyum sebelum mengarahkan pandangan ke Kyuhyun yang disampingnya berdiri gwishin eomma-nya. Gwishin itu sedang memandangi anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.

“Belum ada perkembangan?” tanyaku pada Joohyun sambil mengalihkan perhatian dari ibu dan anaknya itu. “Apa kata dokter tadi?”

“Kata doker seharusnya oppa sudah sadar. Ini sudah lebih dari dua hari dan oppa tetap seperti itu”

“Kita tunggu saja” sahutku seraya memegang tangan Joohyun.

Pintu kamar terbuka dengan perlahan lalu Yuri masuk sambil membawa buah-buahan segar yang langsung dia letakkan di meja. Setelah menyapaku dan Joohyun, dia duduk di kursi yang sama dengan kami. Dia menatapku dan akupun langsung menganggukkan kepala. Aku memang datang kesini bersamanya dari toko bunga setelah menutupnya.

“Joohyun-ah,” panggilku pelan. “Kau pasti lelah menunggui Kyuhyun oppa seharian ini. Mianhae, eonni meninggalkanmu sendirian disini”

Aniyo… Gwenchanayo, eonni” tanggap Joohyun. “Aku tahu eonni harus bekerja dan melakukan banyak hal. Lagipula Kyuhyun oppa adalah oppa-ku jadi sudah menjadi kewajibanku untuk terus bersamanya”

“Tapi tetap saja kau perlu istirahat. Bagaimana kalau kau sakit saat menunggu Kyuhyun oppa?” Pertanyaanku ini berhasil membuat gwishin eomma-nya menolehkan kepala ke arahku dan akupun sempat berkontak mata dengannya. “Joohyun-ah, apa kau sudah makan malam?”

Joohyun diam saja dan memilih untuk memalingkan wajahnya.

Aku menghela napas singkat karena tahu dia pasti melupakan jam makannya.

“Seharian ini dia tak makan apapun, Sooyoung-ssi. Eotteoke? Aku sangat ingin mengurus kedua anakku ini tapi sangat menyedihkan bahwa aku tak bisa melakukannya lagi” desis gwishin eomma Joohyun disampingku.

Aku memberi anggukan singkat pada gwishin itu lalu menatap sahabatku. “Yuri-ah, bagaimana kalau kau mengajak Joohyun makan dan menginap di apartemen sementara aku menunggu Kyuhyun oppa disini?”

“Oh?” celetuk Yuri sedikit terkejut. “Neoneun?

Gwenchana. Aku bisa membeli makanan disini, ‘kan?” sahutku cepat. “Kau tahu aku tak mungkin melewatkan sesuatu yang sangat aku sukai” Aku menambahkan.

Yuri menatapku sambil menyipitkan matanya tapi aku memberinya pandangan meyakinkan dan kemudian aku melihatnya menarik napas panjang.

Geurae, Joohyun-ah. Kau harus makan sesuatu dan tidur di tempat yang nyaman”

Dwaesseoyo eonni. Aku lebih nyaman jika aku bisa bersama Kyuhyun oppa

“Joohyun-ah,”

“Uri ttal, eotteoke-”

Aku kembali menghela napas, “Joohyun-ah, gokchongma. Bukankah eonni sudah memberitahumu bahwa Kyuhyun oppa tidak apa-apa? Dia hanya tidur sebentar, dan eonni yakin sebentar lagi dia akan bangun” kataku.

Eonni, apa kau tahu sebelumnya Kyuhyun oppa juga pernah tertidur lama?”

Aku tak menjawab meskipun aku mengetahuinya.

“Saat itu oppa koma dan kami hampir saja kehilangannya. Aku khawatir oppa akan seperti itu lagi” Joohyun kembali berbicara.

Aniya. Kyuhyun oppa tak akan mengalami kejadian yang sama seperti itu lagi” kataku dengan yakin karena jika Kyuhyun mengalami koma, aku pasti sudah melihat rohnya disekitar sini. “Percaya pada eonni, dia akan segera bangun” Aku menambahkan.

Geurae, Joohyun-ah. Semuanya akan baik-baik saja” Yuri menyambung. “Sekarang yang harus kau lakukan adalah menjaga kesehatanmu sendiri. Kyuhyun-ssi pasti akan sedih jika kau sakit hanya karena menunggunya”

Joohyun diam sambil menundukkan kepalanya.

Aku bergerak lebih dekat ke arah Joohyun lalu memberinya pelukan singkat. “Gwenchanayo ijen,” kataku pelan. “Kau tak perlu merasa khawatir lagi, dan kaupun tak sendirian disini. Eonni akan selalu menjaga Kyuhyun oppa… emm, untukmu”

“Eonni,”

Aku tersenyum tipis, “Ikutlah bersama Yuri ke apartemen eonni jika kau tak mau sendirian. Eonni akan mengabarimu jika ada perkembangan apapun, arraseo?

“Emm… Arraseoyo,” jawab Joohyun dengan suaranya yang pelan. “Gomawoyo eonnideul-”

Aniya, kau tak perlu berterima kasih” kataku seraya melirik gwishin eomma Joohyun yang sedang menatap ke arahku dan Joohyun. “Kau sudah seperti dongsaeng-ku, jadi jangan berterima kasih padaku. Tak ada kata-kata itu diantara eonni dan dongsaeng-nya, ‘kan?”

Joohyun diam sesaat, lalu dia kembali menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kajja,” ajak Yuri setelah beberapa saat.

Joohyun mengangguk dan tanpa membantah lagi, diapun ikut beranjak dari tempatnya dan melangkah menghampiri Kyuhyun. Aku melihatnya memegang tangan Kyuhyun sesaat sebelum pergi ke arah Yuri yang sudah menunggunya di depan pintu. Meskipun tak ada yang yeoja itu katakan pada oppa-nya, tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaannya saat ini melihat dari caranya memandang Kyuhyun dan bagaimana dia enggan pergi meninggalkan Kyuhyun dengan keadaannya yang seperti ini.

Aku mendesah panjang sambil duduk di kursi dekat ranjang Kyuhyun. Lalu mataku menangkap sekilas sebuah sosok yang baru saja menghilang di dekat jendela tapi aku mengabaikannya. Aku mengalihkan pandangan ke arah Kyuhyun dan menggenggam tangannya. Aku hanya terus menatapnya tanpa bisa mengatakan apa-apa karena aku khawatir jika aku akan menangis saat berbicara dengannya dan mengatakan apa yang aku rasakan sekarang melihatnya seperti ini.

Aku kembali mendesah dan lagi-lagi sekilas aku melihat sosok yang muncul di kamar ini tapi kemudian menghilang dengan cepat. Meskipun aku tahu gwishin ini sedang berusaha menarik perhatianku, dan sebenarnya aku sangat ingin terus mengabaikannya tapi apa yang dia lakukan ini benar-benar menggangguku. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar rumah sakit ini sambil menyipitkan mata. Berusaha menemukan sosok yang sedari tadi menggangguku dan aku melihatnya sesaat–hanya dua detik–, kemudian dia kembali menghilang.

Ahjussi, aku tahu kau masih disini sekarang” kataku pada akhirnya. “Meskipun aku sedang tak ingin berurusan dengan gwishin sepertimu tapi aku tahu kaulah orang yang membantuku mengusir gwishin-gwishin lain selama aku disini jadi tak ada yang mendekatiku, ‘kan?”

Tak ada respon.

Ahjussi,” kataku lagi. “Gomawo. Mungkin kau ingin mendengarnya dariku setelah apa yang kau lakukan untukku”

Masih tak ada respon apapun.

Aku menghela napas panjang, lalu kembali berbicara. “Ahjussi, entah kau mau menampakkan diri atau tidak di depanku, tapi aku tahu kau disini. Selain itu juga-”

Kata-kataku selanjutnya terhenti karena aku merasakan tangan Kyuhyun yang bergerak. Seluruh perhatianku langsung tertuju pada namjachingu-ku ini dan aku melupakan apa yang ingin aku katakan pada gwishin ahjussi tadi. Aku terus menatap Kyuhyun yang dengan perlahan membuka matanya

“Oppa,” panggilku.

Kyuhyun menoleh padaku, dan langsung tersenyum ke arahku.

Jamkkamanyo. Aku akan memanggil dokter kesini” kataku sambil beranjak dari kursi dan menekan tombol yang ada di dekat ranjang Kyuhyun. “Gwenchanayo? Apa ada yang sakit lagi?”

Kyuhyun menggelengkan kepala, “G-Gwenchanayo” jawabnya pelan.

Aku menarik napas lega dan kembali duduk sambil menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat. Meskipun dia sempat kehilangan banyak darah tapi kurasa sekarang dia benar baik-baik saja. Aku hanya akan membiarakan dokter merawatnya dan memulihkan kondisinya sebelum bertanya banyak hal mengenai Ahn Ji Won. Dan mungkin juga tentang Ahn Yewon yang sempat memberitahuku bahwa dia mengenal Kyuhyun, bahkan berada bersamanya saat mengalami kecelakaan yang menewaskannya.

__

Kyuhyun POV

Mataku mengerjap beberapa kali sebelum aku benar-benar bisa melihat seluruh ruangan kamar rumah sakit yang aku tempati sejak beberapa hari yang lalu. Aku sudah merasa lebih baik sekarang meskipun rasa sakit di perutku masih terasa. Tapi berkat perawatan dokter dan operasi yang aku jalani, kurasa aku bisa lebih cepat sembuh agar aku bisa mengejar Ahn Ji Won lagi dan menangkapnya. Aku tak mau sampai dia berusaha memanfaatkan Sooyoung maupun Joohyun hanya karena berurusan denganku.

Oh, oppa!” panggil Joohyun saat aku akan bangun dari ranjangku. “Mwohaneungeoya?”

Wae? Oppa hanya ingin duduk” jawabku. “Sooyoungie eodiseo?”

“Sooyoung eonni? Dia pergi sebentar untuk mengantar Yuri eonni ke stasiun. Katanya dia mau ke Seoul selama beberapa hari,”

“Oh?”

Keundae oppa…” Joohyun mendekat ke arahku lalu duduk disamping ranjangku dan menatapku sambil menyipitkan matanya. “Kenapa kau selalu mencari Sooyoung eonni? Bukankah aku sudah cukup?”

“Kenapa kau ingin tahu?” Aku balik bertanya.

“Apa oppa tak percaya padaku atau kalian–”

Ya!” sahutku dengan cepat. “Kenapa oppa tak percaya padamu? Oppa mencarinya karena dia hampir saja terluka,”

Geurae? Bukan karena oppa menyukainya?” goda Joohyun.

Ya! Memangnya kenapa kalau aku menyukainya?”

Joohyun mengangkat kedua bahunya, tanpa memberiku jawabannya. Dia menatapku lama lalu tersenyum tipis, membuatku kebingungan dengan sikapnya. Sejauh ini aku memang belum memberitahunya bahwa Choi Sooyoung adalah yeojachingu-ku. Bukan karena aku tak mau berbicara jujur pada Joohyun tapi karena aku tak mau dia akan semakin menggodaku karenanya. Dia tahu bahwa aku menyukai Sooyoung saja sudah sering menggodaku apalagi jika dia tahu bahwa yeoja itu adalah yeojachingu-ku. Aku akan memberitahunua tapi nanti, mungkin saat ada Sooyoung atau dia sendiri yang memberitahu Joohyun.

Ya! Kau tak pergi kuliah?” tanyaku setelah diam beberapa saat.

“Tak ada kuliah hari ini,” jawabnya jujur, sesuai dengan warna emosinya sekarang. “Itu bagus sebenarnya, karena aku bisa mengawasimu, oppa

“Mengawasiku?”

Eo. Agar oppa tak menggoda Sooyoung eonni, aku harus mengawasimu”

“Mwoya-”

“Itu karena eonni sudah memiliki namjachingu! Jadi oppa tak boleh menggodanya!” sahut Joohyun cepat. “Apa oppa tak memikirkan bagaimana perasaan namjachingu Sooyoung eonni jika eonni terlalu dekat denganmu?”

Aku tak langsung menjawab tapi diam untuk sesaat. Lalu tiba-tiba pintu terbuka, membuatku dan Joohyun menoleh bersamaan ke arah pintu itu. Detektif Jung Jung Yong masuk memakai seragam detektif-nya sambil menatapku dan Joohyun secara bergantian. Joohyun bangkit dari tempatnya lalu membungkukkan badan ke arah detektif Jung yang mengangguk kepadanya.

“Akhirnya aku bisa menemuimu juga, detektif Cho” kata detektif Jung padaku. Dia tersenyum padaku dan aku bisa melihat warna kehijauan di wajahnya. “Itu melegakan melihatmu baik-baik saja setelah apa yang terjadi”

“Tentu saja aku baik-baik saja, sunbae

Aigoo… Bagaimana bisa detektif Cho Kyuhyun yang berhasil menyelesaikan beberapa kasus sulit disamakan dengan masyarakat biasa?” gumamnya tiba-tiba tapi cukup keras di dengar olehku maupun detektif Jung. Dia membalikkan badan memunggungi detektif Jung dan menghadapku, lalu menepuk-nepuk bahuku dengan pelan. “Orang yang sedang sakit seharusnya mendapatkan sesuatu, setidaknya jus jeruk atau buah apapun. Kenapa disini tak ada sama sekali?” katanya pada detektif Jung.

Ya! Kenapa kau-”

Ah, mianhae gongjunim” sahut detektif Jung menghentikan kata-kataku. Dia mengambil dompet di sakunya lalu mengeluarkan beberapa uang dari sana. “Pergilah membeli beberapa buah dan jus jeruk lalu kembali kesini setelah kau mendapatkan semuanya” katanya sambil memberikan uang itu pada Joohyun.

Kamsahamnida, ahjussi. Aku pasti akan membeli semua yang kau katakan,” jawab Joohyun yang mengambil uang itu lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan kamar.

Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dongsaeng-ku itu.

“Saat putriku dewasa, aku ingin dia seperti Joohyun yang bisa mengerti situasi tertentu dan mengungkapkan apa yang tidak atau diinginkannya” komentar detektif Jung setelah Joohyun pergi. “Yah, itu cukup bagus jika dia mengerti saat aku ingin berbicara denganmu berdua tanpa aku memintanya untuk pergi meninggalkan kita”

“Tapi seharusnya sunbae tak perlu melakukannya,” kataku. “Dia hanya bercanda mengatakan hal seperti itu tapi sunbae selalu menganggapnya serius dan memberinya uang untuk membeli sesuatu”

Gwenchana. Dia sudah seperti dongsaeng-ku atau bahkan putriku sendiri”

Kamsahamnida karena sunbae selalu baik pada Joohyun”

Ya! Kenapa berterima kasih untuk itu?”

Aku memilih untuk tidak menjawab.

“Kita lupakan dulu pembicaraan mengenai Joohyun,” ucap detektif Jung kemudian. Dia melangkah lebih dekat ke arahku, dan aku bisa melihat warna emosinya yang lebih serius. “Aku ingin membicarakan mengenai Ahn Ji Won dan Gu Neukdae Pa itu denganmu,”

Aku mengangguk, “Apa sunbae menemukan sesuatu?”

“Eo,”

“Apa itu?”

“Lihat ini” kata detektif Jung sambil menyerahkan lembaran kertas padaku. “Anak buahku berhasil menemukan beberapa hal yang telah dilakukan oleh kelompok mafia itu tanpa pernah ada penyelidikan dari pihak kepolisian manapun”

“Bagaimana mereka melakukannya?” tanyaku sambil membaca laporan yang diberikan detektif Jung yang memang berisi kegiatan-kegiatan Gu Neukdae Pa dan profil beberapa anggotanya.

“Ada kelompok yang lebih kecil yang ternyata bekerja sama dengan pihak-pihak tertentu yang bisa mengendalikan polisi untuk tidak melakukan apapun pada mereka”

“Mwo?”

“Itu berarti kita tak bisa menangkap kelompok itu tanpa ada bukti yang sejelas-jelasnya, dan menemukan bukti itu benar-benar sulit karena mereka sangat profesional”

Aku diam untuk beberapa saat untuk berkonsentrasi pada laporan di tanganku. “Pemerasan, penyelundupan obat-obatan terlarang, kekerasan pada pengguna jalan, pembunuhan… Mwoya? Pembunuhan?”

Detektif Jung menganggukkan kepala. “Lihatlah profil anggotanya dibagian terakhir,”

Aku mengikuti perkataan detektif Jung dan mataku langsung membelalak melihat nama yang tertulis disana. “Kang Joon?” gumamku. “Apa maksudnya Kangjun yang telah membunuh salah satu dari saudara kembar Kang itu?”

Detektif Jung kembali mengangguk. “Kang Joon atau kita kenal sebagai Kangjun adalah anggota dari kelompok termuda Gu Neukdae Pa. Dari kelompok itulah dia memiliki senjata api dengan ukuran kaliber 22mm yang digunakan untuk membunuh Kang Han Gyul tapi mengenai Choi Sooyoung”

Aku mengingat-ingat kejadian yang menimpa Sooyoung dulu dan bagaimana khawatirnya aku padanya. Detektif Jung terus bercerita mengenai keterlibatan Kangjun dalam kelompok mafia Gu Neukdae Pa yang pada intinya berhasil merekrut beberapa siswa sekolah untuk menjual obat-obatan terlarang di kalangan siswa. Tapi dengan tak adanya bukti yang real, aku rasa memang sulit untuk menangkap kelompok itu secara keseluruhan dengan semua kejahatan yang mereka lakukan.

Sunbae, apa ada cara lain untuk menemukan bukti-bukti mengenai keterlibatan Gu Neukdae Pa dalam berbagai kejahatan?” tanyaku memastikan lagi.

“Ada, tapi mungkin kita harus bekerja sama dengan seluruh kantor kepolisian di Korea untuk menangkap sebuah kelompok mafia” jawab detektif Jung. “Kau tahu, kelompok besar seperti mereka sangat sulit untuk dibersihkan, dan akan sulit bagi kita untuk bekerja sama dengan seluruh kantor kepolisian Korea”

Aku menghela napas panjang, “Aku tahu” kataku. Jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang?”

“Menangkap Ahn Ji Won adalah prioritas kita jadi kita memang harus menangkapnya” jawab detektif Jung. “Mengenai Gu Neukdae Pa… Aku rasa kita hanya bisa menangkap orang-orang yang terlibat dalam penyembunyian Ahn Ji Won, selebihnya kita tak bisa melakukan apa-apa”

Aku mengangguk mengerti.

“Choi Sooyoung… Dia yeoja yang selalu bersamamu itu, ‘kan?”

“Eo. Waeyo?”

“Dia yeojachingu-mu, ‘kan? Kau harus berhati-hati karena mungkin dia akan mengincar yeoja itu untuk memancingmu lagi”

Gokchonghajimaseyo, aku tak akan membiarkan yeoja yang aku cintai terluka” kataku tanpa ragu. “Dia boleh saja melukaiku tapi tidak yeoja yang aku cintai, entah itu Choi Sooyoung maupun dongsaeng-ku, Joohyun”

Detektif Jung menatapku lekat-lekat lalu aku melihatnya menarik napas panjang. “Jangan khawatir, aku pastikan untuk menangkap Ahn Ji Won secepatnya sebelum dia melakukan sesuatu yang lainnya”

Aku mengangguk singkat. “Ah, bagaimana dengan dua namja itu? Apa sudah ada kabar dari mereka?”

“Anak buahku sedang dalam perjalanan ke lokasi terakhir mereka terlihat, dan mereka akan langsung membawanya ke Incheon untuk diinterogasi”

“Aku yang akan melakukannya”

“Meskipun itu bukan kewenanganmu untuk melakukannya?” sahut detektif Jung.

Aku tak langsung menjawab tapi akhirnya berkata, “Ya. Aku akan melakukannya”

“Kyuhyun-ah, kau tahu-”

“Aku tak mau mendengar apapun mengenai kewenanganku atau bukan kewenanganku, sunbae” potongku dengan cepat. “Aku hanya akan menangkap Ahn Ji Won sebelum dia melukai orang lagi, terutama orang yang aku sayangi karena akulah yang menjadi targetnya sekarang” Aku menambahkan.

Detektif Jung diam saja, tapi aku melihat warna emosi khawatir di wajahnya sekarang.

“Oppa,” panggil Joohyun setelah pintu rumah sakit terbuka. “Ah, josanghaeyo. Aku pikir-”

Aniya, aniya. Aku baru saja akan pergi” sahut detektif Jung pada Joohyun. Dia menoleh ke arahku, “Geurae detektif Cho. Lakukan apa yang sebaiknya kau lakukan, dan aku akan membantumu seperti kau membantuku”

“Ne, sunbae”

Detektif Jung melangkah mendekat ke arahku, “Geureom-” katanya sambil menepuk pundakku sekali sebelum pergi meninggalkan ruangan.

Aku mengalihkan perhatianku pada Joohyun begitu pintu rumah sakit kembali tertutup setelah detektif Jung melewatinya. “Wae?” tanyaku pada yeodongsaeng-ku itu.

Ani… Ponselmu,” jawab Joohyun sambil menyerahkan ponselku. “Terus berdering tadi” katanya lagi.

Ya! Kenapa kau mengambil ponselku?”

Mian, aku hanya ingin tahu sudah sejauh mana hubungan oppa dan Sooyoung eonni

Mwoya…” sahutku seraya mengambil ponselku dari tangan Joohyun. “Siapa yang menelepon? Apa kau mengangkatnya?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Joohyun menggelengkan kepala, “Molla… Tak ada nama peneleponnya jadi aku tak berani mengangkatnya”

Aku memeriksa daftar panggilan di ponselku, dan memang ada panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenali. Keningku berkerut tajam memikirkan nomor ini karena aku jarang sekali menerima panggilan telepon dari nomor asing seperti ini.

“Wae?”

“Aniya, amugeotdo” jawabku pada Joohyun.

“Oppa,”

“Eo,”

“Ahn Ji Won… Nugu?

Aku mengangkat kepala, lalu melihat warna emosi Joohyun yang berwarna kuning. Aku menarik napas pelan lalu menghembuskannya. Sampai saat ini aku memang belum memberitahu apapun padanya mengenai kasus yang sedang aku tangani ini. Padahal biasanya aku selalu memberitahunya, meminta pendapatnya atau sekedar berbagi dengannya karena memang tak ada rahasia apapun diantara kami berdua. Kecuali masalah mengenai Sooyoung ini. Tapi tentu saja aku akan memberitahunya tentang hubunganku dengan Sooyoung, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

Oppa, apa dia oppa-nya Yewon?” Joohyun bertanya lagi karena aku belum menjawab pertanyaannya yang pertama. “Aniya… Maja?

Aku kembali menghela napas tapi masih belum memberikan tanggapan.

Wae? Kenapa menghela napas? Dia bukan-”

“Benar, dia oppa-nya Yewon” Aku memotong perkataan Joohyun.

Oppa eotteoke? Apa dia melukaimu karena dia marah padamu atas kecelakaan yang melibatkan Yewon?” tanya Joohyun dengan warna emosi yang sama.

“Aniya,”

Joohyun menundukkan kepalanya dan diam mematung di tempatnya untuk beberapa saat. Aku baru akan bangkit dari ranjangku sebelum yeoja itu kembali berbicara. “Oppa mianhae… Na ttaemune-”

“Ya! Mianhae wae?”

“Yewon,” sahut Joohyun. “Dari awal seharusnya aku tak berteman dengannya dan membiarkannya mengenalmu. Jika aku tahu dia akan membuatmu-”

Ya! Apa yang kau pikirkan?” Aku kembali memotong perkataan Joohyun. “Bagi oppa, tak masalah kau berteman dengan siapa dan tak ada salahnya berteman dengan penjahat sekalipun. Hanya saja kita sendiri yang harus berhati-hati agar tidak terlibat atau dilibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung”

“Oppa,”

“Joohyun-ah,” panggilku cepat. Aku benar-benar bangkit dari ranjangku dan melangkah menghampiri Joohyun lalu memegang kedua bahunya. Membuat yeoja itu kembali mengangkat kepalanya dan menatapku. “Jangan berpikir apapun karena tak ada siapapun yang salah. Entah itu oppa-nya Yewon atau bukan, oppa tetap harus menangkapnya dan dia akan berhubungan dengan oppa. Karena diapun telah melakukan kejahatan yang serius”

“Membunuh namjachingu Yuri eonni?”

“Darimana kau tahu?”

“Sooyoung eonni yang memberitahuku,” jawab Joohyun. “Aku mengkhawatirkanmu jadi aku bertanya pada Sooyoung eonni karena mungkin dia tahu mengingat kau sangat dekat dengannya belakangan ini,”

“Oh? E-Eo,”

Oppa,” Ekpresi Joohyun berubah menjadi serius, begitu pula warna emosinya. “Apapun yang sedang kau lakukan, meskipun kau tak memberitahuku sekalipun… Pastikan kau tak terluka karenanya. Aku tak tahu harus bagaimana jika tak ada kau bersamaku, oppa

Emm,” kataku sambil menganggukkan kepala.

“Yaksoke?”

Aku mengangguk sekali lagi, “Yaksok,

**

“Eh? Tinggal bersamamu?”

Aku menganggukkan kepala. “Wae? Shirreo?”

Ani… Bukankah oppa pernah mengajakku sebelumnya, dan aku-”

“Menolaknya,” Aku memotong perkataan Sooyoung dengan cepat. “Arra, Sooyoung-ah. Keundae… saat ini kau harus benar-benar tinggal bersamaku”

“Kenapa begitu?” tanya Sooyoung masih belum menyerah.

Aku menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis sebelum balik bertanya, “Kau masih ingin tahu alasannya?”

“Tentu saja,”

Aigoo, arraseo, arraseo” jawabku. “Pertama, karena aku terluka dan aku membutuhkan seseorang yang mengurusku di apartemen”

“Bukankah ada Joohyun? Dia pasti akan mengurusmu dengan baik,”

“Kedua,” sahutku mengabaikan perkataan Sooyoung. “Aku membutuhkanmu untuk tetap disisiku selama Ahn Ji Won belum berhasil ditangkap”

“Oppa,”

“Ketiga. Aku ingin memastikan tak ada siapapun, entah itu manusia atau gwishin yang akan membuatmu terluka jadi kau harus tinggal bersamaku bagaimanapun alasanmu”

Sooyoung diam saja.

“Keempat. Tak ada alasan lain selain aku mengkhawatirkanmu,” Aku melanjutkan. “Jadi, untuk sementara ini tinggallah bersamaku, Sooyoung-ah. Setidaknya sampai Ahn Ji Won tertangkap,”

“Bagaimana jika aku tak mau?”

“Aku yang akan tinggal bersamamu dan juga Joohyun,” jawabku langsung.

“Mwoya…”

Aku meraih tangan Sooyoung lalu menggenggamnya dengan erat. “Sekarang ini Ahn Ji Won mungkin sedang berusaha menjadikanmu sebagai umpan agar aku datang padanya. Entah itu kau maupun Joohyun, kalian harus tetap berada di dekatku jadi tak ada siapapun yang bisa menyentuh kalian” jelasku. “Aku akan menyiapkan beberapa orang untuk mengawasi toko bunga mu secara diam-diam jadi kau jangan terkejut, dan ada yang akan selalu mengikutimu serta Joohyun mulai sekarang”

“Apa Ahn Ji Won benar-benar seberbahaya itu?” Sooyoung bertanya dengan ekspresi seriusnya.

Aku menggeleng, “Dia tidak berbahaya, tapi orang-orang dibelakangnya itu yang berbahaya”

“Eotteoke?”

“Kau tahu Gu Neukdae Pa? Sebuah kelompok mafia terbesar di kota ini?”

“Molla,”

“Orang-orang itulah yang berada dibelakang Ahn Ji Won, dan juga berada dibelakang Kangjun yang-”

“Kangjun?” sela Sooyoung.

Eo, dia yang melukaimu saat kau membantu Kang Han Gyul dan Kang Hye Gyul dulu”

Heol,” desis Sooyoung. “Oppa, seberapa bahayanya kelompok itu?

“Sangat berbahaya,” jawabku tanpa ragu. “Tak ada yang berhasil menyelidiki kelompok itu dan kejahatan-kejahatannya meskipun sudah ada beberapa buktinya”

Geureom, apa kau berencana menangkap mereka?”

Aniya. Karena, jujur saja… Itu sangat sulit” kataku memberitahu. “Aku hanya akan menangkap Ahn Ji Won dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Lalu kecelakaan itu… Kurasa itu bukan menjadi tanggung jawabku untuk menyelidikinya”

“Kecelakaan lima tahun lalu maksudmu?”

Eo, di Ganghwa-gun. Kecelakaan yang membuatku koma dan bertemu denganmu”

Sooyoung sama sekali tak bereaksi dan hanya menatapku. Aku benar-benar tak tahu kenapa dia memandangiku seperti itu tapi sepertinya dia ingin aku lebih menjelaskannya.

“Ahn Ji Won, dia mengenalku”

“Mwo?”

Aku menghela napas panjang lalu mulai menceritakan pada Sooyoung bagaimana aku mengenal Ahn Ji Won dulu, dan juga dongsaeng-nya yang bernama Ahn Ye Won. Anehnya, saat aku membicarakan Yewon, ekspresi Sooyoung langsung berubah meskipun dengan cepat dia mengubahnya lagi. Seakan-akan dia sudah pernah mengetahui cerita tentangnya sebelumnya dan bagaimana hubunganku dengan yeoja itu.

Ya! Choi Sooyoung,” panggilku setelah selesai menjelaskan pada Sooyoung semua hal yang aku tahu, baik mengenai Ahn Ji Won maupun kelompok mafia itu. “Neo jiltu (cemburu), aniya?” tanyaku menggodanya.

“Mwo? Jiltu?”

Aku mengangguk.

Nuga? Ahn Yewon?” Sooyoung balik bertanya padaku.

“Eo,”

Aniya. Kenapa aku harus cemburu? Yeoja itu yang menggodamu dan saat itu aku juga belum mengenalmu” kata Sooyoung lagi. “Jadi, apa yang harus aku cemburui?”

“Ah, jinjja?”

“Emm. Jinjja,”

Aku tertawa kecil melihat bagaimana Sooyoung sangat bersikeras dengan apa yang dia katakan itu. Untuk beberapa saat kami sama sekali tak saling berbicara. Tapi kemudian Sooyoung beranjak dari tempatnya dan mengambil minuman untukku yang berisi obat di dalamnya.

“Sudah saatnya minum obat, ‘kan?” katanya sambil menyerahkan gelas itu padaku. “Minumlah dulu, setelah itu istirahat”

“Arraseo,”

Sooyoung menungguku menghabiskan obat itu, jadi mau tak mau aku langsung meminumnya dalam sekali tegukkan. Dia kembali mengambil gelas itu dan meletakkannya di tempatnya semula lalu kembali ke arahku. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba dia sempoyongan. Membuatku harus beranjak dari ranjangku dengan cepat untuk menangkapnya agar tidak jatuh.

“Gwenchana?”

Sooyoung tak langsung menjawab, tapi kemudian dia berbicara. “Eo, gwenchana”

“Waegeurae?”

“Tidak ada apa-apa. Gwishin… Kurasa tadi aku baru saja bertabrakkan dengan gwishin atau mungkin dia yang berusaha masuk ke tubuhku”

Mataku mengerjap beberapa kali mendengarkan jawaban Sooyoung dan mengingat penjelasannya beberapa hari yang lalu saat dia menghilang ke Seoul. “Sooyoung-ah, kurasa kau perlu memanggil kembali Park Hae In untuk melindungimu dari gwishin-gwishin itu” kataku berpendapat.

Sooyoung diam saja.

Aku memegang kedua bahunya lalu menatap lurus ke arah matanya sebelum melanjutkan, “Aku tahu kau membencinya karena dia penyebab kecelakaan itu dan kau kehilangan keluargamu tapi kai benar-benar membutuhkannya untuk melindungimu. Katanya dia pelindungmu, ‘kan?”

“Jika oppa menjadi aku, apa yang akan oppa lakukan pada orang seperti Park Hae In?”

Aku berpikir sesaat, “Aku akan memaafkannya” jawabku sambil membenarkan poni rambut Sooyoung. “Sebuah kecelakaan itu tak bisa disalahkan pada seseorang, karena semua orangpun bisa mengalaminya. Aku yakin keluargamu juga tak akan membenci Park Hae In, apalagi selama ini dia telah melindungimu”

Sooyoung menundukkan kepalanya, membuatku mau tak mau menariknya ke dalam pelukanku. Aku tak tahu apa yang aku katakan itu menyakiti perasaannya atau tidak karena aku sedikit menyinggung keluarganya. Aku hanya bisa berharap ada sesuatu atau apapun yang bisa melindungi Sooyoung dari sesuatu yang tak bisa aku lihat. Mungkin jika aku memiliki kemampuan yang sama dengan Sooyoung, aku akan melindunginya dengan seluruh kemampuanku. Sayangnya aku tak bisa, dan itulah yang membuatku menyesal.

__

Sooyoung POV

Apartemen Kyuhyun. Ini pertama kalinya aku datang kesini setelah berkencan dengannya. Bukan berarti aku tak ingin datang kesini sebelumnya tapi karena aku malu dan aku tak memiliki alasan lain untuk datang. Selain itu juga karena Kyuhyun sama sekali belum memberitahu Joohyun jadi aku memang tak ada pilihan untuk datang kesana. Tapi untuk kali ini, aku benar-benar memiliki alasan bukan hanya sekedar datang melainkan tinggal disini untuk beberapa saat. Kyuhyun-lah yang memaksaku meskipun aku berusaha keras menolaknya.

Eonni, masuklah” Joohyun langsung menarik tanganku ke dalam kamarnya. “Ini kamarku, dan kita akan tidur bersama mulai sekarang”

Oh? Eo,” jawabku sambil mengamati seluruh isi kamar Joohyun yang benar-benar terlihat rapi. Ada beberapa foto tergantung di dindingnya dan ada juga yang diletakkan di atas meja. Sementara itu, gwishin eomma-nya sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arahku tanpa berkata apa-apa. “Mianhae, kau jadi harus berbagi kamar denganku”

Aniyo, gwenchanayo eonni. Aku justru sangat senang karena bisa sekamar denganmu. Ah, coba saja Yuri eonni juga disini… Itu pasti akan lebih menyenangkan lagi” jawab Joohyun langsung. “Jujur saja, aku juga khawatir jika eonni tinggal sendirian di apartemen jadi memang lebih baik eonni disini, ‘kan?”

Aku tersenyum tipis lalu mengangguk.

Oh, jamkkaman eonni. Aku akan menyiapkan makanan,” ucap Joohyun tiba-tiba. “Kau disini saja, dan istirahat sampai Kyuhyun oppa datang. Cih, dia itu kenapa meninggalkanmu begitu saja setelah mengantarmu kesini”

“Mungkin ada sesuatu yang penting yang harus dia lakukan”

“Tepat setelah dia keluar dari rumah sakit?”

“Eo,”

Joohyun menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia langsung melangkah keluar dari kamar dan meninggalkanku hanya berdua dengan gwishin eomma-nya. Aku kembali menatap sekeliling kamar, kemudian beranjak untuk melihat salah satu foto yang menarik perhatianku.

“Itu Kyuhyun dan Joohyun saat mereka masih kecil” desis gwishin eomma Joohyun yang tiba-tiba sudah berada di dekatku. “Mereka sudah sangat dekat sejak kecil, dan aku sangat senang melihat bagaimana Kyuhyun menyayangi dongsaeng-nya sampai sekarang”

“Aku bisa merasakannya”

“Dia juga menyayangimu, Sooyoung-ssi. Dia bahkan tak pernah berbuat seperti itu pada eomma-nya sendiri tapi untukmu, dia akan melakukan apapun agar kau tetap aman bersamanya”

Aku diam sesaat. “Ahjumma, apa kau tahu sesuatu tentang kecelakaan Kyuhyun oppa?” tanyaku meskipun aku sangat yakin dia mengatahuinya.

“Selain anakku cukup terluka parah karena kecelakaan itu, aku tak tahu apapun” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Aku tahu anakku sedang berusaha mengingat apa yang terjadi saat dia mengalami kecelakaan meskipun dia sudah melupakannya atau kita bisa mengatakan bahwa dia telah mengunci ingatannya tentang itu”

“Mengunci ingatan?”

Gwishin eomma Joohyun menganggukkan kepala. “Dia tak mau mengingatnya lagi, tapi sekarang dia harus mengingatnya. Itu, ‘kan yang terjadi?” katanya. “Selain itu aku tak tahu apapun, mianhae”

Ani… Bukankah gwishin biasanya tahu-”

“Tidak, Sooyoung-ssi” sahut gwishin itu dengan cepat. “Gwishin tahu karena dia ingin mencari tahu tapi tak semua gwishin ingin tahu hal-hal yang terjadi di dunia ini”

“Termasuk ahjumma?”

Gwishin itu tak memberikan tanggapan tapi justru melayang ke sisi lain kamar Joohyun. Dia berdiri di depan jendela, dan mau tak mau akupun menghampirinya.

“Ahjumma,” panggilku kemudian.

Eomma Joohyun menoleh padaku, tapi dia masih diam.

Ahjumma, kau tahu gwishin yang selalu bersamaku ‘kan?”

“Maksudmu pelindungmu?”

Aku mengangguk.

“Kenapa dengannya?” tanya gwishin itu lagi.

Aku menghela napas singkat sebelum menjawab, “Apa menurut ahjumma aku benar-benar membutuhkannya untuk melindungiku?”

“Menurutmu sendiri bagaimana?” Eomma Joohyun belum menjawabku tapi justru balik bertanya. “Apa kau bisa bertahan tanpa perlindungan pelindungmu dari gwishin-gwishin yang mencoba menguasai tubuhmu?”

“Moreugesseoyo” jawabku.

“Sooyoung-ssi, orang-orang sepertimu memang membutuhkan seorang Suhocheonsa (Malaikat Pelindung) yang akan selalu membantumu menjauhkan gwishin-gwishin yang berniat tidak baik padamu,” kata gwishin eomma Joohyun. “Gwishin… Mereka akan selalu tertarik padamu dan berusaha mendekatimu atau bahkan menguasai tubuhmu. Tapi jika ada gwishin lain atau seorang Suhocheonsa, mereka tak akan pernah berani mendekat”

“Bagaimana jika aku tak memilikinya?”

Gwishin eomma Joohyun mengangkat kedua bahunya. “Mungkin kau harus memiliki pertahanan sendiri tapi itu akan banyak menguras energimu”

“Aigoo,” kataku sambil kembali menghela napas. “Aku bahkan masih banyak tak tahu mengenai gwishin padahal sudah cukup lama aku bisa melihat mereka”

“Apa yang cukup lama bisa melihat mereka?” sahut seseorang dari arah belakangku seraya melingkarkan tangannya di sekitar pinggangku. Aku bisa merasakan hawanya yang hangat karena sejak tadi aku terus bersama gwishin di kamar ini. “Apa kau sedang berbicara dengan gwishin?” tanyanya kemudian.

Aku hanya menolehkan kepala sedikit dan terkejut karena betapa dekatnya wajah kami berdua sekarang. Tapi aku sama sekali tak menjauh dan justru mengusap pelan pipi Kyuhyun. “Kenapa aku tak mendengarmu masuk kesini, oppa?” tanyaku.

“Itu karena kau sedang berbicara dengan gwishin jadi kau tak mendengarku” jawab Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya di pundakku. “Siapa gwishin itu? Apa kamar dihuni juga oleh gwishin?”

Aku diam sesaat dan berpikir. Tak mungkin aku memberitahu Kyuhyun bahwa aku sedang berbicara dengan eomma-nya, ‘kan? Karena mungkin itu akan membuatnya kembali terluka, dan aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Nuga, hmm?” Kyuhyun kembali bertanya sambil mengangkat kepalanya.

“Aniya, amugeotdo”

“Jinjja? Isanghae-”

Ya! Oppa isanghae… Kenapa tiba-tiba seperti ini? Bagaimana kalau Joohyun melihatnya?”

“Biarkan saja. Lagipula dia sedang memasak sesuatu jadi tak mungkin dia masuk kesini jika makanannya belum siap”

“Tapi ini kamarnya” Aku tak mau menyerah begitu saja sambil berusaha melepas tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangku tapi namja ini justru semakin mengencangkannya. “Oppa… Kau tak salah minum obat, ‘kan?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Ya, wae? Apa tak boleh aku seperti ini juga padamu? Himdeuro~” katanya. “Ah, joa! Aku juga suka baumu” katanya lagi.

Aku tersenyum tapi memilih untuk tidak menanggapinya. Aku membiarkan Kyuhyun seperti ini untuk beberapa saat karena mungkin dia memang sedang lelah. Bagaimana tidak? Dia harus langsung bekerja setelah keluar dari rumah sakit, dan meskipun aku yakin dia masih merasakan sakit di sekitar perutnya tapi dia memang harus bekerja agar bisa menangkap buronan, khususnya Ahn Ji Won, orang yang sudah membuatnya terluka seperti ini.

“Oppa,”

“Hmm?”

“Kenapa kau tak bisa mengingat kecelakaan yang menimpamu dulu? Apa kau menguncinya?” tanyaku ingin tahu.

“Mungkin saja begitu, tapi aku memang tak mau mengingatnya karena saat itu aku merasa itu bukan aku” jawab Kyuhyun masih diposisi yang sama. “Aku yang dulu benar-benar tak memedulikan orang lain, bahkan diriku sendiri. Mungkin karena aku harus hidup sendirian jadi aku melakukan hal-hal tidak berguna untuk menarik simpati orang”

“Lalu kenapa kau bisa sangat berubah? Apa kecelakaan itu yang membuatmu berubah?”

Geurissae… Hmm-” Kyuhyun terlihat berpikir sesaat, lalu dia kembali berbicara. “Kecelakaan itu seperti sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan padaku agar memiliki kehidupan yang lebih baik, dan aku juga bertemu denganmu saat itu. Kau mengajariku untuk tetap hidup dengan baik”

“Naega?”

Kyuhyun mengangguk. “Kau tak langsung mengajariku tapi aku melihatmu saat kau membantu gwishin, berbicara dengan mereka, mendengarkan cerita dan penyesalan mereka. Saat itu aku sadar bahwa ada banyak hal yang belum aku lakukan”

Aku mengeratkan pelukkan Kyuhyun lalu mengusap-usap tangannya yang selalu terasa hangat olehku. Sekarang aku bisa merasakan hembusan napasnya di sekitar leherku dan jantungku pun berdebar karenanya.

Eonni, makan- Omo!” seru suara Joohyun terdengar dari arah pintu kamar. Aku dan Kyuhyun cepat-cepat melepaskan diri tapi kemudian Joohyun bergerak dengan cepat menghampiri Kyuhyun. “Oppa, mwohaneungeoya?” tanyanya pelan meskipun samar-samar aku masih bisa mendengarkannya.

“M-Mwogin?”

Joohyun menolehkan kepala ke arahku, lalu kembali pada Kyuhyun. Matanya sekarang menyipit, dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia seperti seseorang yang sedang mencurigai sesuatu tapi kecurigaannya hampir seratus persen benar. Aku bahkan tak berani menatap lama ke arah yeoja ini dan lebih memilih untuk memandang gwishin eomma-nya yang sedang tersenyum ke arahku.

“Sepertinya kalian harus memberitahu putriku sekarang,” desis gwishin itu padaku. “Dia pasti akan sangat senang mendengarnya” Dia menambahkan.

Aku mengangguk singkat.

“-merayu Sooyoung eonni ‘kan? Oppa, bukankah kau sudah tahu jika eonni memiliki namjachingu?”

“Joohyun-ah,”

Eonni, oppa-ku ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia melakukan-”

Baboya! Namjachingu Choi Sooyoung itu aku” sahut Kyuhyun memotong perkataan Joohyun.

“Mwo?”

Kyuhyun menarikku lebih dekat dengannya, lalu dia merangkulku. “Kau terkejut, ‘kan? Kami berkencan sekarang,”

Joohyun langsung membelalakkan matanya. “Heol~ dae-daebbak! Oppa jinjja?” tanyanya.

Kyuhyun menganggukkan kepala, “Jinjja jinjja!”

“Eonni?” Joohyun juga bertanya padaku.

Aku menatap Kyuhyun sesaat lalu menganggukkan kepala dengan perlahan. “Mianhae, Joohyun-ah. Aku tak memberitahumu sebelumnya”

Ani… yah, daebbak! Wanjeon daebbak!” seru Joohyun. “Sudah berapa lama kalian berkencan? Baru saja atau bagaimana?”

Emm… Berapa lama?”

“Katakan saja awal musim dingin,” sambung Kyuhyun dengan cepat.

Aigoo… Dan sekarang musim semi tiba. Itu berarti sudah cukup lama, dan aku sama sekali tak mengetahuinya” kata Joohyun langsung percaya dengan perkataan Oppa-nya. “Aish jinjja! Memalukkan sekali!” serunya kemudian.

“Wae… Waegeurae?” tanyaku.

“Aku… Aku tak tahu eonni berkencan dengan oppa, dan aku banyak mengatakan omong kosong di depan-”

Ah, keugae… Gwenchana, Joohyun-ah” sahutku cepat sambil melangkah mendekat ke arah Joohyun. “Itu salah kami yang tidak memberitahumu, mianhae

Nan gwenchana eonni, jinjja! Hanya saja aku tak percaya oppa-ku…” Joohyun tak melanjutkan kata-katanya.

“Oppa wae?”

Joohyun tersenyum, “Oppa benar-benar beruntung bisa mendapatkan yeoja seperti Sooyoung eonni” katanya menjawab Kyuhyun. “Ah, jinjja! Sekarang setelah aku tahu eonni berkencan dengan oppa-ku, aku justru merasa bersalah padamu, eonni

Wae? Kenapa begitu?”

Oppa-ga… Mari katakan saja tak banyak hal bagus tentangnya yang bisa kau banggakan kecuali dia seorang detektif” jawab Joohyun. Dia melangkah ke arahku, lalu menjauhkanku dari Kyuhyun. “Tapi oppa-ku sangat tampan dan juga sangat perhatian. Kau mungkin tak menemukan namja lain yang seperti oppa-ku ini” bisiknya di telingaku.

Aku tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala.

Mwoya… Apa yang kau katakan pada yeojachingu-ku?”

Ah! Masakanku!” seru Joohyun mengabaikan pertanyaan Kyuhyun itu. “Eonni cepatlah keluar, dan kita makan. Oppa juga,” katanya cepat-cepat pergi dari kamar.

Aish jinjja! Gadis itu benar-benar…” komentar Kyuhyun setelah Joohyun menutup kembali pintu kamarnya. Dia menoleh padaku, “Ya! Apa yang dia katakan padamu?”

Aniya… Amugeotdo aniya” jawabku sambil melangkah keluar dari kamar Joohyun. “Sebaiknya aku membantu Joohyun menyiapkan makanan,”

Ya! Sooyoung-ah! Ya!

Aku mengabaikan panggilan Kyuhyun itu. Sambil tertawa kecil, aku meninggalkannya sendirian di kamar dan bergegas menghampiri Joohyun. Meskipun bukan seperti ini yang aku harapkan saat memberitahu Joohyun tapi sekarang aku merasa lega karena tak perlu menyembunyikan apapun di depan yeoja yang sudah aku anggap seperti dongsaeng-ku ini.

**

Mwo? Berkencan?” sahutku dengan nada tak percaya saat aku bertanya pada Kyuhyun kemana dia membawaku di akhir pekan seperti ini. “Ani… Tapi bukankah oppa harus menyelesaikan kasus-”

“Apa aku tak boleh berkencan disaat ada kasus yang harus aku selesaikan?”

“Aniya geureom,”

Kajja” ajak Kyuhyun sambil melangkah masuk ke sebuah Amusement Park di Pulau Wolmido. “Ah, sudah lama sekali aku tak datang ke tempat seperti ini”

Aku tertawa kecil, “Nado oppa

“Kau juga?”

“Terakhir aku datang ke tempat seperti ini… Hmm itu sebulan sebelum aku dan keluargaku kecelakaan. Kami datang ke Lotte World, lalu menghabiskan waktu disana hampir seharian”

“Itu pasti sangat menyenangkan. Aku bahkan lupa kapan terakhir ke tempat seperti ini”

Kami terus berjalan bersama sambil memandangi beberapa wahana di tempat ini. Udara yang mulai terasa hangat membuat orang-orang banyak yang datang kesini. Apalagi liburan musim dingin masih belum berakhir, jadi banyak keluarga yang datang juga dan berlibur disini. Meskipun ada beberapa yang datang bersama kekasih mereka, sepertiku dan Kyuhyun.

Jujur saja, aku bahkan tak tahu jika Kyuhyun akan mengajakku ke Wolmi Theme Park ini. Aku sama sekali tak pernah berpikir akan datang ke tempat ini, bahkan sejak aku tinggal di Incheon meskipun beberapa kali aku menginjakkan kaki di pulau ini. Karena aku hanya mengunjungi pantainya lalu pergi meninggalkan pulau ini setelah aku puas.

“Kau ingin naik sesuatu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Oh?”

“Ayo kita naik sesuatu, dan menikmati kencan ini” kata Kyuhyun lagi. “Ah, ini… Peganglah” Dia mengulurkan tangannya padaku.

Aku diam mematung di tempatku dan hanya menatap ke arah tangan Kyuhyun.

“Wae? Shirreo?”

Aniya aniya… Joahae” sahutku langsung meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan erat. “Oppa arrayo? Kau selalu membuat jantungku berdebar padahal kau hanya melakukan sesuatu yang kecil seperti ini”

Kyuhyun tersenyum, tapi tak memberi tanggapan meskipun aku menunggunya beberapa saat.

Oppa, sepertinya aku benar-benar menyukaimu sekarang. Aku suka baumu, aku suka caramu memperlakukan dongsaeng-mu… Ah, aku suka semua hal yang ada pada dirimu”

Ya! Apa kau sedang membuat pengakuan sekarang?”

Aku diam saja.

Geurae, geurae. Aku juga suka semua hal yang ada pada dirimu, Sooyoung-ah. Bahkan kemampuanmu melihat gwishin pun, aku menyukainya” katanya melanjutkan. “Apa kau pikir hanya kau saja yang jantungnya berdebar setiap kali kita bersama? Nado… Cheoumbuteo” Kyuhyun menambahkan.

Aku mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengatakan apapun.

Eotte? Kau mau naik apa?” Kyuhyun kembali bertanya. “Apollo Disco?” tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah sebuah wahana yang sangat ramai dikerubungi orang.

Shirreo,” jawabku langsung.

Wae? Itu pasti sangat menyenangkan”

“Bagaimana itu menyenangkan jika ada gwishin yang menari di tengah-tengahnya? Shirreo!” sahutku dengan cepat. Aku menatap salah satu gwishin itu dan diapun menatapku, membuat pandangan mata kami bertemu. “Aish jinjja! Ayo kita pergi dari sini oppa,” kataku kemudian sambil menarik tangan Kyuhyun.

“Wae? Wae? Wae? Gwishin?”

Aku mengangguk.

Isanghae… Biasanya kau tak pernah menghindari gwishin tapi sekarang sepertinya kau tak mau mereka tahu bahwa kau bisa melihat mereka” komentar Kyuhyun.

Aku memilih tak menjawabnya kali ini.

“Kau sungguh tak mau naik sesuatu disini?” tanya Kyuhyun setelah aku tak memberi tanggapan apapun padanya.

“Mianhae, oppa”

Ani… Ani gwenchana. Aku bisa mengerti keadaanmu,” sahut Kyuhyun sambil tersenyum padaku. “Kita bisa jalan-jalan disini dan menikmati kencan dengan cara yang lain. Eotte?

Aku tak langsung menjawab tapi kemudian dengan perlahan menganggukkan kepala. Kami berjalan keluar dari Wolmido Theme Park lalu melangkah menyusuri jalanan di Pulau Wolmido yang sangat ramai dengan orang-orang. Tidak heran, pulau ini memang difungsikan sebagai pulau wisata jadi suasananya memang ramai seperti ini.

“Kita mau kemana oppa?” tanyaku.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan disini selain menikmati pantainya, ‘kan?”

Aku mengangguk ragu. Mataku menatap sekeliling jalanan yang dikenal dengan ‘Culture Street’ oleh pengunjung yang datang. Memang ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan di jalanan ini atau sekedar berjalan-jalan menikmati suasana di pulau ini. Toko-toko dan restoran kecil berjajar di setiap jalanan yang kami susuri dengan dekorasi bangunan yang cukup menarik perhatianku.

Ah, rasanya menyenangkan bisa berjalan-jalan denganmu seperti ini, Choi Sooyoung” kata Kyuhyun membuka pembicaraan lagi setelah beberapa saat. “Apa yang ingin kau lakukan di pulau ini?”

Emm… Moreugesseo. Aku bahkan tak tahu kau akan mengajakku ke pulau ini” jawabku jujur. “Tapi apa benar tidak apa-apa kita pergi sejauh ini disaat ada kasus yang harus segera kau-”

Aish jinjja! Gwenchana gokchongma” Kyuhyun memotong perkataanku dengan cepat. “Detektif Jung sunbae akan mengurusnya karena ini sebenarnya adalah kasusnya. Kebetulan saja aku sedikit terlibat jadi itu terlihat seakan-akan adalah kasusku”

Aku mengangguk-angguk mengerti lalu dengan cepat menoleh ke belakang karena aku merasa ada sesuatu yang mengikutiku. Tapi aku tak melihat apapun disana, dan aku bisa menebak itu adalah gwishin.

Wae? Apa ada gwishin yang kau lihat disini?”

Aniya-” jawabku sambil memegang belakang leherku. Aku kembali menoleh pada Kyuhyun laku tersenyum ke arahnya, “Kajja oppa!” kataku sambil melingkarkan tanganku disekitar lengannya.

Meskipun aku yakin memang ada sesuatu yang sedang mengawasiku tapi aku akan mengabaikannya karena aku bahkan tak bisa melihatnya. Jika dia ingin berbicara denganku, dia bisa menampakkan dirinya di depanku dan mengajakku bicara. Aku yakin siapapun itu–yang mungkin saja gwishin–pasti akan muncul di depanku entah bagaimana caranya. Kita lihat saja, cepat atau lambat dia akan menemuiku.

“Kita duduk disini dulu,” kata Kyuhyun sambil menarikku untuk duduk di sebuah kursi dengan pemandangan pantai di belakangnya. Ada beberapa pasangan juga yang sedang duduk di kursi yang sama lainnya dan mereka terlihat sangat mesra satu sama lain. “Kau ingin kita duduk seperti mereka? Seperti ini?” Kyuhyun kembali berbicara sambil meletakkan tangannya di pundakku.

Aku tertawa kecil, “Joahae oppa-” kataku. “Duduk seperti ini saja tanpa melakukan apapun juga menyenangkan saat bersamamu. Ah, benar! Musim semi sebentar lagi datang!”

Bom (Musim Semi)? Kenapa dengan itu?”

“Geunyang… Bomi joahae”

Ah jinjja? Nado joahae geureom” sahut Kyuhyun sambil meraih tanganku dan mengelusnya. “Apapun yang kau sukai, aku juga menyukainya”

Heol, kenapa begitu?”

Hmm… Karena aku menyukaimu jadi aku juga suka apapun yang kau suka. Sederhana, ‘kan?”

Aku kembali tersenyum tapi memilih tak menjawab apapun.

“Kau mau makan sesuatu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. “Hmm, haruskah kita mencari makanan? Ani, ani… Biar aku saja yang membelinya, dan kau tunggu disini. Gwenchana?

Aku mengangguk, “Eo. Lagipula ada sesuatu yang ingin aku lakukan”

“Itu pasti gwishin, ‘kan?”

Oppa benar-benar sudah mengerti aku dengan sangat baik”

“Tentu saja,” sahut Kyuhyun sambil beranjak dari tempatnya lalu mengacak pelan rambutku. “Aku pergi sebentar, don’t miss me” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

Don’t miss me?” ulangku seraya tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah Kyuhyun.

Aku terus menatap namjachingu-ku sampai dia benar-benar tak terlihat lagi oleh pandanganku. Setelah beberapa saat, aku kembali menatap laut di depanku dan menghela napas panjang. Aku memilih untuk menunggu sampai siapapun yang sedang mengawasiku terlihat lagi tapi tak ada yang terjadi meskipun sudah lama aku menunggu. Aku kembali menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku melakukannya beberapa kali sampai akhirnya aku mengeluarkan earphone-ku dan mulai bersuara.

Ahjussi, aku tahu kau disini. Keluarlah,” kataku setelah memastikan earphone-nya masuk ke kedua telingaku. “Kau ingin berbicara denganku, ‘kan Ahjussi? Aku juga tahu itu, jadi tak perlu bersembunyi dariku lagi, Ahjussi

“Aku bukan Ahjussi” seru sebuah suara tepat disampingku. Membuatku tersentak kaget sampai berdiri dari dudukku. Aku menoleh sekilas ke arahnya dan melihat seorang namja dengan pakaian yang mengesankan dia seorang ‘bad boy’ berwarna hitam sedang duduk disampingku sebelumnya. “Ah, mianhaeyo. Aku tak bermaksud untuk mengagetkanmu tapi karena kau terus memanggilku Ahjussi, jadi-”

Gwenchanayo. Seharusnya aku yang meminta maaf,” potongku dengan cepat sambil kembali duduk. Aku menatap gwishin namja di sebelahku ini lekat-lekat seraya berpikir dimana aku pernah melihatnya sebelumnya. “Jamkkamanyo, gwishin-ssi… Neo hoksi… Kau yang dirumah sakit itu, ‘kan?”

“Neo eotteoke arrayo?”

Geunyang arrayo” Aku langsung menjawab. “Ah, benar! Kau memang bukan ahjussi. Mianhaeyo

“Dwaesseoyo. Bagaimana aku memanggilmu? Aghassi?”

Ne?” sahutku terkejut. “Ah, namaku Choi Sooyoung”

“Choi Sooyoung-ssi? Aku Hwang Min Soo”

Aku mengangguk-angguk mengerti. “Bangapda, Min Soo-ssi

“Apa kau selalu ramah pada gwishin sepertiku selama ini?” tanya gwishin itu.

Aniyo,” jawabku. “Biasanya aku mengusir mereka pergi tapi karena kau membantuku mengusir gwishin-gwishin di rumah sakit itu, kurasa aku perlu berterima kasih padamu”

“Ah, begitu. Apa kau juga akan tetap ramah padaku jika kau tahu alasan aku mengikutimu selama ini?”

Aku hanya mengangkat kedua bahuku tanpa mengatakan sesuatu.

“Itu karena dia,” Gwishin itu kembali berbicara sambil menatap ke arah Kyuhyun pergi. “Cho Kyuhyun” katanya menambahkan.

“Bagaimana kau tahu dia Cho Kyuhyun?”

Gwishin itu tersenyum singkat, “Itu bukan karena aku tahu dia di rumah sakit tempat dia dirawat beberapa hari” katanya seperti sedang membaca pikiranku. “Aku mengenalnya dari lima tahun yang lalu,”

“Li-Lima tahun yang lalu?”

“Dia sedang berusaha mengingat kejadian lima tahun yang lalu, ‘kan? Aku bisa memberitahunya dan membuatnya mengingat kembali apa yang terjadi dulu”

Ne?” sahutku terkejut. “Apa kau… Kau juga terlibat kecelakaan itu, gwishin-ssi?

Gwishin itu kembali tersenyum, “Aku tak hanya terlibat tapi akulah penyebab kecelakaan itu terjadi”

Ne?” seruku terkejut sampai beranjak dari tempatku lagi. “Eo-eotteoke?

“Aku akan memberitahumu, dan juga Cho Kyuhyun. Karena itulah aku mengikutimu sejak aku melihatmu di rumah sakit meskipun sebelumnya aku telah mengikuti Cho Kyuhyun saat dia datang ke Ganghwa-gun” kata Hwang Min Soo tak menjawab pertanyaanku terlebih dahuku. Dia kembali berbicara, “Aku cukup terkejut saat tahu bahwa kau bisa berbicara dengan gwishin macam aku ini, dan itu memberiku kesempatan untuk bisa berbicara dengan Cho Kyuhyun”

Aku diam saja karena aku benar-benar tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika gwishin ini berhubungan dengan kecelakaan yang sedang berusaha diingat Kyuhyun untuk mempermudah menangkap Ahn Ji Won. Fakta bahwa dia adalah penyebab kecelakaan itulah yang paling mengejutkanku. Karena itu berarti dia tahu segalanya tentang kejadian lima tahun yang lalu, ‘kan?

“Beritahu aku, kalau begitu” kataku cepat. “Aku akan memberitahu Kyuhyun oppa semua yang kau katakan padaku”

“Aku akan memberitahunya sendiri”

“Ne? Eotteoke-”

“Pinjamkan tubuhmu, Sooyoung-ssi” potong gwishin itu dengan cepat. “Aku akan memberitahu Cho Kyuhyun dengan meminjam tubuhmu,

Mwoya… Aku tak mau meminjamkan tubuhku seakan-akan itu adalah sebuah benda. Joltae shirreo!

“Kalau begitu biarkan saja tetap seperti ini, dan Ahn Ji Won mungkin bisa melukaimu atau Cho Kyuhyun atau siapapun yang dia inginkan” jawab gwishin itu. “Pinjamkan saja selagi aku memintanya padamu dengan baik, Choi Sooyoung-ssi” kata gwishin itu tersenyum kecil.

Aku menelan ludah pahit mendengarnya. “Eotteoke…” gumamku pelan sambil membayangkan apa yang bisa dilakukan Ahn Ji Won dengan kelompok mafianya itu.

“Sooyoung-ssi?”

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum beraajak dari tempatku. “Ttarawa, kajja, gwishin-ssi

__

Kyuhyun POV

“Joohyun-ah,” panggilku sambil melepas sepatu dan bergegas masuk ke apartemen. “Joohyun-ah, Ya! Bae Joohyun!”

Aish jinjja! Kenapa berteriak memanggilku?” sahut Joohyun seraya menampakkan wajahnya. “Apa oppa tak tahu aku sedang-”

“Apa Sooyoung disini?” Aku memotong dengan cepat perkataan dongsaeng-ku ini. “Dia disini, ‘kan?”

Mwoya… Bukankah eonni pergi bersamamu sejak pagi? Kenapa mencarinya?”

Aish jinjja! Oppa pergi dulu kalau begitu,” kataku bergegas memakai kembali sepatuku dan keluar dari apartemen.

Oppa,” Joohyun memanggilku. “Waegeuraeyo?”

“Ani, amugeotdo aniya. Gokchongma,”

Gojimal. Apa sesuatu terjadi?”

Aku menghela napas panjang sebelum menjawab, “Kita berharap begitu. Oppa hanya tak bisa menemukan Sooyoung saat kami berada di pulau Wolmido”

Joohyun menatapku lekat-lekat, dan aku bisa melihat warna emosi khawatir di wajahnya. “Oppa, ini bukan karena masalah yang sama-”

“Tidak, tidak” Aku kembali memotong perkataan Joohyun. “Gokchongma, oppa akan mencarinya”

“Aku ikut,”

Aniya, dwaesseo. Kau di rumah saja, Joohyun-ah. Biar oppa saja yang mencari Sooyoung,” sahutku cepat. “Telepon oppa jika Sooyoung kembali, arraseo?”

Joohyun tak langsung menjawab, tapi kemudian kepalanya mengangguk perlahan. Aku melangkah mendekat ke arah dongsaeng-ku, lalu mengusap pelan kepalanya. Aku berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Joohyun sendirian. Saat aku masuk ke lift, aku melihat yeoja itu juga masuk kembali ke apartemen. Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil menunggu lift-nya turun.

“Choi Sooyong, eodiseo jigeum” gumamku.

Aku masuk ke dalam mobilku lalu cepat-cepat menyalakannya dan menginjak pedal gasnya. Mobilku pun bergabung dengan mobil-mobil lainnya di jalanan distrik Nam. Sepanjang perjalanan kepalaku treerus menoleh ke kanan-kiriku, mencari sosok Sooyoung karena siapa tahu yeoja itu sedang berkeliaran di jalanan. Aku memang tak tahu kenapa dia tiba-tiba menghilang dan sama sekali tak menghubungiku setelahnya. Aku pikir dia hanya pergi ke toilet karena itu aku menunggunya. Tapi sampai malam menjelang, Sooyoung sama sekali tak terlihat.

Ponselku berbunyi, dan dengan cepat aku mengambilnya dari dalam saku jaketku. Aku sama sekali tak melihat siapa yang menelepon dan langsung mendekatkannya ke telingaku setelah menekan tombol jawabnya.

Yeobeoseyo, Kyuhyun-ah?” Suara yang aku kenali sebagai suara Detektif Jung langsung terdengar. “Eodiseo?

“Aku sedang di jalan. Waeyo sunbae?

“Bisakah kau ke kantor sekarang? Ada sesuatu yang harus kau selidiki sendiri disini, jadi cepatlah datang”

Ani, sunbae. Hari ini aku-”

“Aku berhasil menemukan Park Dong Chul, dan sekarang dia ada di kantor. Katanya dia ingin memberitahumu sesuatu,” potong Detektif Jung sebelum aku selesai bicara. “Tinggalkan dulu apa yang sedang kerjakan, dan bergegaslah kesini. Huh?”

Aku kembali menarik napas, “Emm… Eo, arraseoyo sunbae” jawabku sambil menutup sambungan telepon dan memutar kemudiku menuju Kantor Kepolisian Incheon. Aku kembali mengambil ponselku dan menekan tombol tiga di ponsel. “Eo, Park Dong Soo. Naya!” kataku setelah orang yang telepon mengangkat panggilanku.

“Ne, sunbae. Waeyo?”

“Aku butuh bantuanmu, Dong Soo-ya. Kau bisa mencari Sooyoung untukku?”

“Sooyoung? Choi Sooyoung maksudmu?”

Eo. Aku tak bisa menemukannya dimana-mana jadi kau bantu aku mencarinya. Aku khawatir Ahn Ji Won melakukan sesuatu… Ah, ani… Tak akan terjadi apa-apa. Temukan dia untukku, arraseo?” kataku cepat.

“Algeseumnida sunbae,”

“Hubungi yang lainnya juga, eo? Aku akan segera bergabung setelah menyelesaikan sesuatu di kantor bersama detekif Jung sunbae

“Eo,”

Aku menutup teleponnya dan dengan keras menginjak pedal gas mobil. Tak lama, akupun sampai di depan kantor kepolisian. Aku bergegas keluar dari mobil dan masuk ke ruanganku. Disana sudah ada detektif Jung dan seorang namja yang aku tahu bernama Park Dong Chul. Namja itu langsung berdiri dari kursinya saat melihatku dan aku bisa melihat warna emosi kuning tua di wajahnya.

“Dia orang yang kau cari, ‘kan, Kyuhyun-ah?” tanya detektif Jung sambil berdiri menyandar di mejanya.

Aku mengangguk, “Orenmaneyo, Park Dong Chul-ssi

Ne, detektif. Jal jinaesseoyo?”

“Yah seperti kau lihat, aku baik-baik saja” jawabku tersenyum tipis. “Aku tak akan basa-basi padamu, jadi langsung saja. Dong Chul-ssi, kenapa kau menghilang saat itu dan sulit aku temukan? Apa kau takut setelah tahu bahwa aku terlibat dalam kecelakaan lima tahun yang lalu?”

Park Dong Chul tak menjawab, tapi aku bisa melihat warna emosi hijau jeruk sekarang.

“Katakan padaku, Dong Chul-ssi. Gwenchanayo, aku tak akan menangkapmu jika memang tak ada bukti bahwa kau bersalah. Kau tahu, ‘kan? Hukum hanya menghukum orang yang bersalah,”

Algeisseoyo, detektif. Josanghaeyo karena saat itu aku pergi begitu saja”

Aku kembali mengangguk. “Jadi apa yang ingin kau beritahukan padaku tentang kecelakaan itu atau mungkin Gu Neukdae Pa?

“Aku tak tahu secara mendetail mengenai kecelakaan lima tahun yang lalu, tapi aku tahu satu hal. Orang yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi adalah Hwang Min Soo. Salah satu pemimpin kelompok Gu Neukdae Pa di wilayah Ganghwa-gun

“Hwang… Min… Min Soo?”

Wae? Apa kau mengenalnya?” Detektif Jung menyahut.

Aniyo,” jawabku. “Apa Ahn Ji Won mengenal Hwang Min Soo ini?”

“Kurasa dia mengenalnya, mengingat mereka pernah terlihat sedang terlibat perkelahian” jawab Dong Chul memberitahu. “Byung Hoon hyungnim berkata mereka sebenarnya saling bermusuhan meskipun mereka berada di kelompok yang sama”

Aku mengangguk mengerti. “Apa lagi yang kau tahu? Gwenchana, katakan semua yang kau tahu padaku dan aku tak akan melakukan apapun padamu”

Park Dong Chul menoleh ke arah detektif Jung, dan eskpresinya berubah menjadi ketakutan.

“Detektif itu juga tak akan melakukan apapun padamu,” kataku lagi. “Kami hanya akan menangkap orang-orang bersalah bukan orang yang memberi informasi, arra?”

Arrayo. Aku… Aku hanya takut mereka mengetahuinya dan nasibku akan sama dengan… Byung Hoon hyungnim

“Mwoya… Waeugeuraeyo?”

Hyungnim… Dia… Dia ditangkap oleh kelompok Gu Neukdae Pa di Bupyeong-gu, dan dia-” Kata-kata Dong Chul selanjutnya sama sekali tak terdengar karena dia bicara terlalu pelan.

Aku menghela napas panjang lalu menundukkan kepala. Aku benar-benar tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana jadi aku hanya mendengarkan cerita Park Dong Chul tentang bagaimana dia menjadi bagian kelompok Gu Neukdae Pa, dan bagaimana dia memutuskan untuk keluar. Tak banyak informasi yang aku dapatkan dari namja ini selain fakta bahwa orang yang menjadi penyebab kecelakaan itu adalah Hwang Min Soo, yang ternyata adalah musuh Ahn Ji Won.

**

Aku terus menatap ponselku di atas meja sambil berharap Sooyoung meneleponku. Dia sama sekali tak pulang ke apartemen dan akupun tak bisa menemukannya atau menghubunginya. Meskipun aku masih meminta Park Dong Soo untuk mencari Sooyoung tapi tetap saja aku khawatir karena tak ada kabar darinya. Aku benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa yeoja itu menghilang begitu saja. Tapi aku yakin ini bukanlah perbuatan Ahn Ji Won, karena jika dia yang melakukannya dia pasti sudah menghubungiku dan mengancamku.

Aish jinjja! Geu yeoja eodiseo-” gumamku gelisah. Aku melipat kedua tanganku di depan dada, “Setidaknya hubungi aku agar aku tahu bahwa kau baik-baik saja. Kenapa membuatku khawatir, jinjja!

Ponselku bergetar, dan akupun cepat-cepat mengambilnya sambil berharap Sooyoung yang menelepon. Tapi yang aku dapatkan adalah sebuah pesan yang langsung aku buka tanpa menunggu apapun lagi.

‘San9-3, Chulsan-ri, Yangsa-myeon, Ganghwa-gun’

Aku langsung bangkit dari tempat dudukku setelah membaca isi pesan dan siapa pengirimnya, lalu melangkah keluar kantor. Aku bahkan mengabaikan beberapa sapaan yang datang padaku agar cepat sampai ke mobilku. Tanpa menunggu lama, akupun segera meninggalkan kantor untuk pergi ke alamat yang dikirimkan Sooyoung itu padaku.

Mobilku melaju dengan kecepatan tinggi dan aku sama sekali tak memedulikan apa yang mungkin akan terjadi dengan kecepatan seperti ini. Aku hanya ingin cepat bertemu dengan Sooyoung dan memastikan yeoja itu baik-baik saja, baru aku akan merasa lebih tenang. Meskipun jujur saja, aku cukup terkejut saat dia mengirim pesan padaku dengan alamat itu. Karena alamat itu adalah tempat dimana aku mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu. Lalu darimana Sooyoung mengetahuinya? Apa kebetulan dia mencari tahu sendiri atau bagaimana? Aku benar-benar harus bertanya padanya mengenai hal ini nanti.

Perjalanan ke Ganghwa-gun membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, tapi aku sampai tiga puluh menit lebih awal karena kecepatan menggilaku. Aku bergegas keluar dari mobil dan menuju lokasi yang Sooyoung tunjukkan padaku. Dan benar saja, begitu aku sampai disana, aku langsung melihat yeoja itu sedang berdiri sendirian menyandar di salah satu pembatas jalan. Aku benar-benar tak mengerti kenapa dia berada di tempat ini sendirian, dan saat aku mendekat, kenapa aku bisa melihat warna emosinya dengan mudah?

Ah, tunggu! Aku berhenti melangkah, dan mengamati Choi Sooyoung dari jarak yang tidak terlalu jauh. Apa dia bukan Sooyoung? Apa ada gwishin yang sedang menguasai tubuhnya sekarang? Kenapa sekarang aku sedikit ragu menghampirinya? Tapi bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?

Aku menghela napas panjang, lalu kembali melangkah. “Sooyoung-ah” panggilku keras sambil melambaikan tangan.

Yeoja itu menoleh padaku, tapi tak ada senyuman di wajahnya sama sekali begitu melihatku. Meskipun aku yakin dia bukan Sooyoung, tapi aku akan berpura-pura dan menganggapnya Sooyoung seperti biasanya. Aku langsung memberinya pelukan begitu sudah berada di dekatnya, dan dia membalas pelukanku tapi aku merasakan sesuatu yang dingin saat bersentuhan dengannya. Ini sangat bukan Sooyoung yang sudah aku kenal.

Ya! Kau darimana saja? Apa tak tahu bagaimana aku mengkhawatirkanmu? Dan apa ini? Kenapa kau disini sendirian? Bagaimana jika ada orang yang melukaimu?” tanyaku sambil melepas pelukannya dan mengamatinya dengan seksama karena siapa tahu ada yang salah dari tubuhnya.

“Kau tahu aku bukan yeojachingu-mu, jadi tak perlu berpura-pura di depanku, Cho Kyuhyun” kata Sooyoung sambil tersenyum singkat padaku. “Ini pertama kalinya kita saling berhadapan, bukan?”

Aku menatap wajah Sooyoung lekat-lekat, lalu kembali menghela napas. “Nuguseyo?” tanyaku dengan nada serius.

“Hwang Min Soo,”

“Hwang Min Soo?” Aku mengulang sambil mengingat nama itu.

“Pernah mendengar namaku?”

Aku memilih untuk tidak menjawabnya, dan bertanya sesuatu yang lain padanya. “Kenapa kau masuk ke tubuh Sooyoung? Apa yang kau inginkan?”

Ah, kau sangat mencintai yeoja ini ‘kan? Tentu saja, itu terlihat jelas di wajahmu dan bagaimana caramu menatapku” kata Sooyoung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Jangan khawatir, aku tak akan melakukan sesuatu padanya setelah dia dengan sukarela meminjamkan tubuhnya padaku agar aku bisa berbicara denganmu”

“Apa maksudmu dengan sukarela meminjamkan tubuhnya?” tanyaku yang langsung dijawab oleh Sooyoung dengan mengangkat kedua bahunya. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

Sooyoung beranjak dari tempatnya, dan mau tak mau akupun mengikutinya. “Tak banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, mengingat kita tak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya, bahkan saat aku masih hidup sekalipun” katanya kembali berbicara. “Tapi kau pasti mengenal Ahn Yewon ‘kan?”

“Sooyoung-ah, ani… Hwang Min Soo-ssi, mianhae aku benar-benar tak tahu apa yang-“

Oh, kau tahu apa yang sedang ingin aku bicarakan” potong Sooyoung dengan cepat. “Alasan kenapa aku meminjam tubuh yeoja ini adalah karena aku ingin membicarakan tentang Ahn Yewon dengan namja yang dia cintai”

“Mwo?”

“Cho Kyuhyun-ssi, aku akan memberitahumu kenapa aku melakukannya. Alasan kenapa aku membuat kecelakaan itu adalah karena Ahn Yewon” kata Sooyoung sambil berhenti berjalan. “Aku marah padanya karena dia lebih memilihmu. Aku marah padanya karena dia lebih percaya padamu daripada aku, karena itu-“ Tanpa melanjutkan perkataannya, Sooyoung tiba-tiba saja memukul wajahku.

Aku diam terpaku di tempatku, bukan karena aku tak bisa melawan tapi karena aku tak mau melakukan sesuatu pada tubuh Sooyoung.

Sooyoung tertawa kecil, “Bahkan yeoja itu sama sekali tak peduli pada Ji Won yang jelas-jelas sudah lama bersamanya dan juga mencintainya. Itu karena kau, Cho Kyuhyun!” katanya kembali memukulku.

“Ji Won.. Apa maksudmu Ahn Ji Won?”

Eo, siapa lagi kalau bukan dia?” sahut Sooyoung dengan lantang. “Dia musuhku diluar kelompok, karena kami memperebutkan yeoja yang sama. Tapi kemudian kau datang dan merusak segalanya” Sooyoung menarik kerah bajuku, dan aku benar-benar merasakan kekuatannya yang memang bukan kekuatan yeoja ini sebenarnya.

“Bukankah Yewon adalah dongsaeng-nya? Kenapa dia menyukai dongsaeng-nya sendiri?”

Dongsaeng?” ulang Sooyoung tertawa sinis. “Itu hanyalah alasan Ji Won agar tetap bersama yeoja yang dia sukai. Tak ada yang tahu bahwa mereka bukanlah oppa-dongsaeng yang sebenarnya”

Mwo?”

Sooyoung mendorongku, membuatku terjatuh tapi aku cepat-cepat bangkit berdiri. “Apa yang sebenarnya kau lakukan pada Yewon sampai dia harus mengabaikan orang-orang yang lebih peduli padanya sejak lama?!” katanya memukulku sekali lagi. “Dia bahkan memberikan kertas itu padamu, dan memintamu untuk menyimpannya. Kenapa dia tak memintaku atau Ahn Ji Won tapi kau?” seru Sooyoung keras.

Napasku tersengal setelah Sooyoung memukulku beberapa kali, dan aku bisa merasakan darah mengalir tipis melalui bibirku. Aku mengusapnya dengan perlahan lalu kembali berdiri, mengabaikan sedikit rasa sakit di wajahku karena pukulan Sooyoung yang sebenarnya bukan yeoja itu yang memukul.

“Kertas apa yang kau maksud?” tanyaku berusaha bersikap biasa.

“Kau tak tahu apa pura-pura tidak tahu?” Sooyoung balik bertanya padaku. “Aku melihat Yewon memberikan kertas itu padamu sebelum dia masuk ke mobilmu malam itu, Cho Kyuhyun”

“Aku-“

Aku belum menyelesaikan perkataanku, Sooyoung lagi-lagi memukulku. Dia bahkan tak membiarkanku bicara terlebih dahulu dan terus memukulku. Lalu saat dia akan kembali memukul, tiba-tiba dia menghentikan gerakannya. Sooyoung diam sesaat di tempatnya, lalu matanya mengerjap beberapa kali. Aku mengamati perubahan warna emosinya, dari yang semula berwarna merah sampai aku tak bisa lagi melihat warnanya.

Sooyoung menatapku lekat-lekat, “Oppa,” katanya pelan dengan ekspresi terkejutnya. “O…Oppa… wae-waegeuraeyo?” tanyanya sambil berjalan mundur beberapa langkah.

Gwenchana, gwenchana-“

Oppa, kau berdarah!” seru Sooyoung kembali mendekat menghampiriku dan menyentuh wajahku. “Eotteoke… apa aku yang melakukannya padamu?”

Ani, itu bukan kau. Aku tahu itu,”

Waegeuraeyo?”

Aku menarik napas sesaat sebelum menjawab Sooyoung, “Kenapa kau membiarkan gwishin menguasai tubuhmu, huh? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?” tanyaku sedikit membentak.

Sooyoung diam saja, dan dia terus menatap ke sisi kananku.

Ya!” Aku terbatuk kecil, lalu melanjutkan bicara. “Sebelum aku mendengar penjelasan darimu, ayo kita pergi dari sini terlebih dahulu. Kajja, Sooyoung-ah,” kataku langsung menarik tangannya dan meninggalkan tempat kami semula dan berjalan menuju halte terdekat.

Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, aku sama sekali tak membahas apa yang baru saja terjadi dan sepertinya Sooyoung juga memilih untuk tidak mengatakan apapun lagi. Saat aku meliriknya beberapa kali dari tempat dudukku, aku melihatnya sedang melamun dan matanya pun terlihat sayu.

“Kau lelah?” tanyaku setelah diam cukup lama.

Sooyoung menoleh padaku, “Eo, jogeum-

“Kapan kau bertemu dengan gwishin itu, dan kenapa kau membiarkan dia menguasai tubuhmu?” Aku tak tahan untuk bertanya.

“Aku bertemu dengannya di Wolmido, ah… ani, sebenarnya dia sudah mengikutiku sejak kau di rumah sakit, oppa. Tapi dia baru menampakkan dirinya di depanku saat kita ke Wolmido” jawab Sooyoung lirih. Aku yakin sekali dia pasti kelelahan, entah apa yang sudah dia lakukan. “Katanya dia ingin mengatakan sesuatu padamu, apa itu sudah?”

Oh? Emm,”

“Apa itu?”

Aniya, amugeotdo. Dia hanya memberitahuku bahwa Ahn Yewon bukanlah dongsaeng Ahn Ji Won, dan namja itu menyukainya begitupula Hwang Min Soo. Tapi-“

“Ahn Yewon menyukaimu, majayo?” sambung Sooyoung dengan cepat.

Aku menganggukkan kepala.

“Lalu kenapa aku memukulmu?” Sooyoung bertanya lagi.

Aku tak langsung menjawab sampai akhirnya bus mulai masuk ke distrik lainnya yang paling dekat. “Aku akan mengantarmu ke apartemen terlebih dahulu, dan kau istirahat disana. Aku harus kembali ke kantor” kataku mengalihkan pembicaraan.

Aku bisa merasakan tatapan Sooyoung padaku, tapi aku memilih untuk tetap mengalihkan pandanganku darinya. Bukan karena aku tak mau membahas bagaimana dia memukulku, tapi karena aku ingin memikirkan apa yang dikatakan Hwang Min Soo itu. Kertas apa yang dimaksud olehnya, dan kenapa dia semarah itu padaku hanya karena Ahn Yewon lebih menyukaiku daripada dia? Lalu apa itu juga alasan Ahn Ji Won lebih tertarik padaku daripada detektif yang bertugas menangkapnya? Aku benar-benar harus mencari tahu itu dan menyelesaikan kasus ini dengan cepat.

-TBC-

Eotte? Eotte?

Mian kalo mulai part ini aku sedikit lebih fokus sama kasus-kasus yang geje, tapi aku tetap usahain ada Kyuyoung moment-nya kok^^

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

Aku harap kalian masih mau nungguin part selanjutnya yah ^^

 

Gomawo #bow

47 thoughts on “[Series] Have You Seen -part 13-

  1. Sistasookyu says:

    Kyu nya ketusuk! O.o
    untung aja dia cepet pulih
    ahn ji won mah gt, jahatnya over
    btw, akhirnya juhyun udah tau kLo kyuyoung pcran..
    Makin seru!

  2. Iin says:

    Uoh daebak! Bagus banget ffnya
    Keren asli yang bagian sooyoung dirasuki sama hwang min soo. Feelnya dapet bgt thor
    Wkwk ditunggu next partnya hehe fighting

  3. Ciee ketawan pacaran sama joohyun wkwkwk xD tapi gapapalah jadi ga rahasian lagii haha

    Ehiya part ini penuh teka teki bgt yaa(?) makin penasaran sama ahn jiwon trs sama geng apa tuh namanya lupaa wkwk lanjut ya thorr^^

  4. sandia says:

    Merinding disco dah dig dug serrr……….
    Sebenernya kapan masalah yang ini terpecahkan? Ya ampun hae in juga kapan balikk…..
    Authorrrrrr jangan lama” ya postnya

  5. maaf sebelumnya karena baru bisa comment di part ini
    2hari ini baca ff ini dr awal smpe part 13 ini, jdi sekalian comment di part ini..
    suka banget sama jalan ceritanya yang gak biasa dan konflik yang saling nyambung satu sama lain
    suka sama alurnya yang gak buru-buru tapi gak ngebosenin
    penasaran sama kertas yg dimaksud Min Soo:( next part sangat ditunggu.. hwaiting authornim^^

  6. weeni leon92 says:

    Cerita ny makin seru, hebattt bgttt author ny.
    berasa qt ikut berperan di dalem ny..
    Next part ny dtunggu,,

  7. met says:

    Daebak
    Wahh ternyata yewon itu bkn yeosaeng nya jiwon y? Loh kok gitu jg si hwang min soo Msa gegara yewon suka ama kyu aj ampe digituin
    Trus krts ap yg dmksd?
    Penasaran nih
    Nextnya cpt ne😀

  8. Wow wow ,, ini sungguh daebbakk …
    Ff ini sungguh sungguh daebbakk …
    Aku bingung harus komen apa , tapi aku hanya ingin mengucapkan bahwa FF ini musti kudu cepat** diteruskannya , maksudnya next part cepat** di post hehe …
    Aku sudah tidak tidak sabar pengen baca kelanjutannya ,,

  9. DeA says:

    Huwaa. . Ini ff makin kesini makin keren aja. . Salut buat authornya yg bisa n mau bikin ff ini😉
    park hae in nya panggilin lg d0nk kalo kasus kyuppa dah kelar. .

  10. gila nii maslah makin ribet aja….
    sumpah gereget bnget bnget nii …
    ya walaupun moment kyuyoung nya dikit tpi cukup lah thor,,, simple dan sweett ….
    oke di tgggu ya, next ya jgn lama” thor ..
    krena aku nunggu bnget …^^

  11. herma pristianti says:

    huaahh ahn yewon yg bikin semua masalah ini -_- knp sooyoung nggak cari tau langsung aja ke gwinsinnya langsung huuaahh makin kepo sama ceritanya .bener deh thor aku suka bgt sama jalan ceritanya ff ini beda dari yang lain dan penuh dengan misteri😀

  12. elis sintiya says:

    wahh tambah seru ceritanya sedikit demi sedikit rahasia di antara mereka terungkap… gak sabar nunggu part selanjutnya…

  13. Whooaaaaa KyuYoung moment nya makin banyak😂😂😂 makin seru nih ff nya apalagi kasus yg Ji Won nya itu huh makin seru😂😂 aku nunggu” ff ini lho thor soalnya kangen gitu *lebay* 😒😂 duhhh semangat ya thor buat lanjutannya fighting 🙌💪💪💪💋

  14. Youngra park says:

    Aaargghhh gila keren bgts gue serasa nnton drama action sangking tegangny gue rasanybru bsa bernafas pas ceritany sdh tbc sumpah tegangbts n keren bgts momentny kyuyoung jga keren bgts sumpah aku puas bgts setiap kali selesai bca karya mu eoni dan selalu saja bikin aku pengen bca terus n penasaran tngkat dewa untuk bca part kelanjutanny sumpah eoni jang lma2 postny ya gue sdh bete abisny pengen cpt bca n semangat terus nulisnny

  15. mongochi*hae says:

    whooaaa bnyk bgt dpart n aplg ttg kecelajaan 5th yg lalu.
    hummpptt gk ppa dh lbh bnyk fokus kekasus asal kyuyoung momentny ttp ad

    trnyta gk dunia nyata aj ya, alasan orang brbuat jahat it krn mslh pribadi. dlm dunia ffpun jga hhee

    ok next part dtunggu. smga aj kasus n cpat selesai. shingga kyu gk khawatir lg dg soo

  16. yewon jiwon bukan sodara, hmmm makin teka teki -__- kirain bakalan ngomongin sesuatu yg lain.. ternyata ngasih taunya itu aja? kasian kyu jd dipukulin :” kasian soo jg dimanfaatin gitu. semoga kyu bisa cpt inget spya hidup aman tentram(?)

  17. husnulk says:

    Ah jinjja jadi jiwon dan yewon bukan kakak adik kandung, dan yg disukai jiwon tuh yewon sendirikah?
    Ah buruan kek si jiwon ketangkep biar gada yg terluka gara2 dia ._.
    Ciee kyuyoung moment manis bgt dah, lucu ih liat reaksi joohyun kalo kyuhyun dan sooyoung udah pacaran wkwk😉
    Next part ditunggu >.<

  18. epanda says:

    yaampiuuunn, ceritanya makin tegang, geerr.
    soo harusnya minta bantuan park hae in, buat ngawasin ahn ji won, trus manfaatin di ahn yowon buat ngungkap kasusnya huhuhu
    lanjuuut, jangan lama2 ya hehehe

  19. udah nungguin dari minggu lalu baru nongol, part ini bikin tegang tapi seruuuu kyuyoung momentnya apa lagi ahhh daebak ga ada koreksi soalnya ini udah kereeeeeen beud, cuma kasian juga sama mereka kalau ketegangan ini belum kelar, di tunggu part selanjutnya, semangat ! ^^

  20. ry-seirin says:

    Ah daebakkk…
    Ah skrg jd ngrti knp Ah ji won trus²an neror Kyuppa, kyanya msih gk trima aja gto klo org yg d sukainya lbih milih org lain. Dan jga motif n latar belakang kasus ini dah mulai trungkap aja…
    Klo dah bca ff chingu brasa gk pngen abis aja gto tiap ff makin seru dan enak bwt d baca ngrasa slalu dpt feel kya liat life drama gto.
    Keep writing…
    Hwaiting ya chingu u/ bkin ff yg bermutu kya gini!!!

  21. ria says:

    ya ampun ceritanya makinn negangin bgt >.<
    entah bagaimana sebenarnya kejadian yg menimpa kyuppa 5thn lalu??
    Aq jg suka banget kyuyoung moment d part ini :3 terutama yg back hug😀 kyaa……
    Nextnya d tunggu….

  22. Heol!!~
    Daebak!!!
    Aq suka dg author yg mmfokuskan crita.A ke kasus, karena Aq jga suka hal” yg brhubungan dg detektif.
    Kmuuu.. hebat authornim. Aq brasa nonton drama action romance.., eugh’ deg”n, jengkel, tegang dan trsenyum” sndri dg moment KY.
    Next.A jan lma” thor… Aq nungguin sangat next.A.😉

  23. bener” daebaaakk ff ini😀 susah move on deh klo udh bca ff ini..
    dari alur cerita yg sulit ditebak, sampai penyampaian.ya yg cukup mudah dipahami dngn bahasa yg udah sperti novel.. aq sukaaaa banget ^^

    sebener.ya banyak kasus yg berhubungan dengan kasus sulit ini boleh dibilang kasus kali ini adalah konflik dr cerita ff ini..
    mulai dari kasus yg mempertemukan KyuYoung hingga bbrapa kasus lain yg ternyata sangat bersangkutan…

    ahh pokok.ya daebaak😀

  24. Sooyounggggg210 says:

    Aaah thor aku suka banget sama FF-FF author terutama ini, unik thor jalan ceritanya terus author selalu buat secara mendetail T~T
    Ternyata jiwon sama yewon beneran bukan adek kakak?😮
    Wah wah makin seru nih, ditunggu next chap nya ya thor ~

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s