[Series] Sakurasou no Pet na Kanojo Part 1

sakurao

Sakurasou no Pet na Kanojo
(KyuyOUNG Version)

School life. Teen. Friendship.

Note: Ini adalah paraphrase dari slh satu anime favorit saya alias versi cerita a.k.a versi ff ala Argandosri. Kenapa tiba2 pengen nge-parafrase anime ini? Karena di dalam cerita ini sangat menyentuh. Bagi yg patah semangat. Bagi yang malas. Bagi yang patah hati, aku rasa anime ini cocok jd obatnya. Why? Anime ini mmang ada konten yang agak dewasa. Tapi ngga ada adega kisseu satupun. Hanya kadng2 hal2 yg msih wajar yg jg sring orang Indonesia lakuin. Tp tlong jgan ambil hal negatifnya khususnya ini bulan ramadhan ya.. tlong ambil positifnya dari anime dan cerita acak kadul ini. Aku hnya ingin berbagi pada readerdeul semua, bahwa jgn pernah patah semangat menggapai cita-cita. Pemenang itu wajib merasakan kekalahan sblum masa sukses datang. Kenapa? Alasannya diri kalian sendiri tahu jawabannya. Sbnernya aku ngga tau ini diperboleh atau tdak. Tlong kasih tahu saya klo paraphrase ini tdak diperbolehkan. Tp, ini 1000% hsil dari otak bosok saya. Hanya maaf klo paraphrase saya gagal total. Aku hanya pngen berbagi saja dan…selamat menikmati! #bow

Ah! Aku sarankan dan lbih baik kalian nonton animenya ^_^

Hari-hari yang sama. Sesungguhnya, aku merasa bosan. Aku ingin menyalahkan seseorang karena kebosananku. Tapi….

Meongg..

Suara kucing menginterupsi, dan tiba-tiba kucing yang berkali lipat lebih besar dibanding diriku dan khususnya pantat kucing itu menjadi suguhan bagiku. Ya, pantat kucing yang besar itu tepat mengenai wajahku. Dan…

Meongg…

Aku tersadar….lalu beberapa saat kemudian suara alarm dari ponselku berdering keras.

“Itu jahat..”

Aku memangku kucing putihku yang tadi bertengger dikepalaku, “Bokong kucing di pagi hari? Masa muda, kenapa kau begitu jahat?” Aku menyimpan kucingku di atas kasur. Hmm.. tidur bukan di tempat tidur memang memberikan efek pegal-pegal. Rupanya aku tertidur setelah semalaman bermain game dan membiarkan komputerku menyala tentunya dengan mem-pause game yang kumainkan.

Hah…lebih baik aku tidur lagi dikasurku sebelum berangkat sekolah hari ini. Tapi, saat hendak merangkak menuju kasurku dengan kesadaran yang belum penuh, sesuatu kembali menyapaku. Ya. Sesuatu yang cukup bulat dan kenyal juga putih. Ditutupi kain berbentuk segitiga dengan gambar polkadot putih merah dan kain semacam rok super mini berwarna ungu. Itu…

“Heh? Hyaaaa!!” Dan jedak! Sentuhan keras CPU di pagi hari untuk kepalaku. Aku melonca ke belakang karena terkejut. Appo! Appo! Appo!
Bokong perempuan di pagi hari?! Benar-benar ada yang salah di sini!
Dan…duk! Bagian kepala belakangku juga mendapat sentuhan lumayan keras dari ranjang kecil di atas rak sebelah komputer.

~Tujuan: Ke luar dari Sakurasou!
Tulisan di keras putih yang gagah menempel ditembok kamarku. Setidaknya itu menjadi semangat untuk melakukan kegiatan ditiap pagiku.
Srek! Ku buka gorden di kamarku dan membiarkan cahaya pagi memasuki ruangan yang menjadi privasiku….. mungkin bisa jadi privasi umum juga.

“Sunny sunba-!” Omo! Lagi-lagi aku harus melihat bagian tubuh itu yang kembali tepat menghadap padaku. Oh! Oh! Sangatlah jelas buram-buram yang timbul dipipi putihku ini karena melihatnya, lagi.

“Tolong, jangan tidur di kamarku!” Ku tutup wajahku dengan kedua tangan yang jari tengah dan telunjuknya lumayan renggang. Menutupi tapi masih bisa melihat ‘itu’ lagi.
Dan pemilik bok- tubuh itu akhirnya terbangun juga. Dia merenggangkan tubuh ‘berisi’nya, dengan baju merah muda ketat yang menampilkan tali-tali kecil di sekitar pundaknya. Heol! Selimut biruku dia gunakan untuk menutupi seluruh tubuh tidurnya dengan posisi setengah duduk dan tengkurap. Tapi sepertinya tidak cukup menutupi bagian itu. Ahaha. Ahaha.

“Di masa depan, aku ingin menjadi seorang ibu rumah tangga!” Ujarnya semangat. Mengepalkan kedua tangannya sebagai dukungan dan tatapannya yang meyakinkan yang ditujukan padaku.

Hah… lagi-lagi. Aku melewatinya sambil menggaruk kepalaku, “Tolong tinggalkan igaumanmu saat tidur saja.” Dan mempersiapkan keperluan sekolah hari ini.

“Selamat datang, sayang!” Gadis itu melompat dari kasurku dan sudah berdiri di belakangku.

“Kau cepat pulang!” Aku sangat yakin ekspresi wajahnya bagaimana. Sama antusiasnya seperti seorang isteri sungguhan.

“Jadi ini sudah masa depan?” Tanyaku. Entah pada siapa. Karena aku yakin, dia tidak akan mendengerkan apalagi menjawab.

“Ingin makan malam terlebih dahulu?” Tanyanya tanpa menurunkan antusiasnya yang sangat besar, “Mandi?” Dan kali ini dia sudah menempelkan tangannya manja dipundakku,

“Atau…” Sekarang dia menyentuhkan tubuhnya pada punggungku rapat dan berbisik,

“…Cel-ana da-lam?”
Hah… andai seseorang bisa menggambarkan eskpresiku pagi ini.

“Ini bukan tempat sumo.”

“Si-kat toi-let?” Tanyanya agak keras-lebih ke bersemangat. Lagi.

“Tak bisakah kau berkata ‘aku’ seperti lainnya?!”

“Ayo bermain game dulu!”
Dan dia bukan mendengarkanku tapi pergi ke depan televisi, mencari kaset-kaset game dan mulai memainkankannya setelah menemukan yang pas.

“Itu sama sekali tidak ada hubungannya! Kau tahu kita mulai sekolah hari ini, ‘kan? Kau harus siap-siap!” Protesku yang sudah menenteng blazer.

“Baiklah… bagaimana jika aku melepas pakaianku setiap kau memenangkan ronde, Kuu Hyuni?” Tanyanya. Melihat padaku melalui lubang kaset yang ditempelkan dimata kanannya.
Begitulah…dia tidak pernah mendengarkan racauanku.

“Itu akan mencegah kau untuk bertindak buruk. Bersiap untuk bangun! Ini misteri masa remaja! Aku akan membuatmu menjadi lelaki. Kau tidak bisa kabur dari rantai gairah!” Teriaknya yang sudah tak ku pedulikan. Aku melarikan diri dari kamarku sendiri guna menghindari mahluk satu itu dan lebih baik bersiap untuk bergegas pergi sekolah.

Tapi..
Pintu itu digebrak dan menampilkan satu sosok wanita juga namun terlihat lebih dewasa dibanding penghuni lainnya.

“Hei, Kyu Hyun!”

“Sa-saem?! Kenapa dadamu terlihat?! Hari ini upacara penerimaan kami!”
Sosok ini..memakai baju kerjanya yang berwarna ungu dengan tampilan depannya yang berani. Bahkan belahan dadanya terlihat jelas yang dibungkus semacam kain bermotif singa.
Sosok itu malah memperlihatkan lekukan bagian itunya dengan posisi menunduk seperti itu,

“Kata ‘upacara’ berarti acara pertemuan untuk mencari laki-laki.” Ujarnya mengerlingkan mata padaku.

“Kau akan mengincar anak baru?!” Oh! Yang benar saja?! Sungguh sulit dipercaya!
Sosok itu kembali berdiri dengan pose seperti model, “Jangan bodoh. Di sana akan ada ayah yang duda dikeramaian.”

Haaa??!

“Sudahlah, ini..” Dan sosok ini memberikanku sebuah kotak perkakas berwarna biru toska.

“Hee?”

Tok-tok-tok-tok-tok-tok!
Kepala-kepala kucing yang tinggal di sini seirama dengan bunyi palu yang ku gunakan untuk memaku dan memperbaiki papan tanda Sakurasou. Ke kiri. Ke kanan, bersamaan.

“Kenapa aku harus memperbaiki papan tanda?” Sungutku kesal. Meski tak ada yang mendengarkan kicauanku yang satu itu juga.

“Hei, lihat! Itu Sakurasou!” Seru suara di belakangku.

“Bukankah itu tempat untuk anak-anak yang bermasalah?” Ungkap suara lainnya.
Ya. Itu benar. Ini Sakurasou. Tempat untuk Universitas Suimei pada SMA Negeri gabungan yang bermasalah. Dengan kata lain….
Duk! Duk! Duk! Duk!
Setelah itu bunyi jendela yang dibuka paksa terdengar dan….

“KUU HYUNI! AKU TERLIHAT HEBAT SAAT TELANJANG!!”
Kata-kata itu… kalimat itu… teriakkan itu… seolah mendengung, menggema sampai ke semua isi yang ada di negeri ini. Menembus pesawat yang terbang tinggi. Dan memancar sampai ke luar angkasa.

Dengan kata lain…ini tempat sinting!
Biar ku jelaskan. Mungkin saat ini jika dalam sebuah drama atau film bahkan anime, waktu yang tepat untuk menampilkan semua penghuni dari Sakurasou ini. Dan yang pertama!
Penghuni kamar 201: Lee Sun Kyu atau bisa dipanggil Sunny, kelas tiga Divisi Seni. Dia menulis cerita, menggambar, dan melakukan pemeriksaan oleh dirinya sendiri untuk anime yang berlisensi sampai terkenal. Ukuran: B; 87, W; 56, H; 85. Tipe: Alien.

“Kuu Hyuni! Jangan kabur sebelum kita mulai! Jadilah lelaki! Mari kita terbang bersama ke dunia hasrat !” Teriaknya keras dari lantai dua.

“Dunia hasrat?!” Koor kakek, nenek, ibu, bapak, remaja sampai anak-anak yang jelas mendengar teriakkan maha dahsyat itu, yang mungkin berniat untuk menghabiskan pagi cerah mereka di lingkungan sekitar. Tapi!… Apa yang mereka dapat???
Dan sepertinya ucapan sembrono alien itu membuat spekulasi Sakurasou makin…arrghh! Di mata mereka.

Lalu, sebuah mobil sedan berhenti di depan Sakurasou, dan setelahnya ke luar seseorang yang tampan dengan kacamata menghiasi wajahnya. Membuat pertanyaan baru diwajah orang-orang yang penasaran akan Sakurasou..mungkin..

Orang itu berbalik bak model iklan televisi dengan senyuman yang memikat para perempuan mana saja. Dan! Tanda lipstick dengan gambar bibir sempurna yang berwarna merah tertinggal dikerah baju sekolahnya! Ingat! Di kerah baju sekolahnya!!!

“Yo, Kyu Hyun! Aku pulang..” Salamnya sambil mengibaskan tangan kirinya.
Penghuni kamar 103. Yang menulis naskah untuk anime Sun Kyu sunbae, Nichkhun Horvejkul. kelas tiga di jurusan Divisi Reguler. Height: 180 cm, Weight: 68 kg. Tipe; Pemain master. Akan tetapi…!

“Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Ujarnya pada wanita yang mengantarkannya pulang. Dan berakhir dengan ciuman.
Dia seperti MAHARAJA!!. Keluar setiap malam dan pulang di pagi hari!

“Coba lihat…” Telitinya sambil melihat ponsel, “Aku punya ratu balap, Sun Mi-ssi besok. Nana-ssi di hari sabtu ini setelah dia pulang dari kerja. Dan dia kembali dari bulan madunya minggu depan.” Jelasnya entah pada siapa. Hah, dia cuek sekali. Tanpa peduli dan melihat keadaan di sekelilingnya yang menatapnya takut.

“Wanita yang sudah menikah?!” Koor para penonton lagi. Mereka pasti makin……arrgghh!

“Kau sudah selesai?” Dan sekarang pintu utama Sakurasou terbuka. Kembali menampilkan guru penanggung jawab Sakurasou.
Ha Ji Won, guru seni. Juga guru pengawas untuk Sakurasou. Dia berumur tiga puluh, dan dia mati-matian mencari suami. Tipe: Amazoness. B;*#?,W; !@’+, H; &$.

“Maksudmu 29 tahun dan 15 bulan.” Ralatnya sembari mencubit kedua pipiku.

Haisshh…

Kemudian…
Sebuah pemberitahuan terdengar diponselku. Menampilkan sosok kartun chibi lucu berbaju maid biru dengan apron dan bando putih. Berambut merah sebahu. Dan kabel USB yang menjulur dari belakangnya.

“Subject: Diam
Se Hun-nim telah menerima proyek dari S Inc, untuk menciptakan kompresi audio middleware. Dia sangat sibuk mengerjakan ini. Dan jika kau tetap menganggunya, aku akan mengirim virus atau sesuatu yang lain (lol)!
Salam, maid-chan.”

“Ma-maid chan?!”
Penghuni nomor 102: Oh Se Hun. Murid kelas dua Divisi Biasa. Seorang programmer. Bekerja dengan perusahaan besar. Height; ?, Wight; ?. Tipe: Rahasia.
Penjawab email otomatisnya, yang dia buat sendiri adalah Al yang bernama ‘Maid-chan.’ Ini metodenya untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Aku secara rahasia menghukum segala macam orang kasar (Kyu Hyun-nim) yang bertanya padaku hal seperti ‘Seharusnya setua apa dirimu?’ Aku bukanlah ‘Seharusnya’ (Itu benar!)

“Aku akan mengirimmu virus (lol)!”

“Sepertinya semuanya sibuk.” Ucap Nichkhun sunbae pada wanita yang tadi mengantarkannya. Dia menyimpan tangan kirinya pada bagian atas mobil hitam itu, “Kau siap untuk ronde lain?” Tanyanya yang jelas-jelas pada wanita yang ada di dalam mobil itu.

“Tidak!” Potongku langsung.

Dan kemudian aku!
Cho Kyu Hyun. Kelas dua di Divisi Biasa. Aku terlihat normal. Otakku normal. Dan aku tidak terlalu pintar! Height; 180 cm, Weight; 60 kg. Tipe: Normal.

“Jika sudah selesai, datanglah ke ruang pengajar saat istirahat untuk memberitahuku.” Ujar guru yang senang ‘menindas’ ini, “Oh! Dan jangan terlambat ke sekolah.” Sambungnya dengan wajah yang menyebalkan. Lalu pergi ke tempat kerjanya.

“Kaulah yang membuatku terlambat, saem! Kau!” Protesku, yang hanya dianggap angin lalu oleh bu guru.

“Semoga beruntung mendapatkan suami, Ji Won saem! Kuu Hyuni bilang dia akan menikahimu jika kau tidak menemukan satupun!” Teriak keras Sun Kyu sunbae makin membuat otakku mengepul. Seenaknya saja alien satu ini!

“Aku tidak pernah mengucapkan itu!”
Hah! Dan lihatlah, dua siswi yang sejak tadi menyaksikan opera pagi di Sakurasou menatapku seperti seorang player ulung yang siap menerkam korbannya tak kenal ampun. Saat aku menengok pada mereka, dua gadis itu lari terbirit-birit.
Dan di mana Nichkhun sunbae? Rupanya dia pergi lagi bersamaan dengan Ji Won saem berangkat ke sekolah.

Hah..hatiku….

Dan juga tujuanku adalah kabur dari Sakurasou!

Lalu

Meongg..

“Universitas Suimei pada SMA seni gabungan terbagi menjadi Biasa dan Divisi Seni. Dan di dalam Divisi Seni, terdapat Musik dan Departemen Seni Visual.”
Hah…. pengumuan dihari pertama sekolah lagi sangat membosankan. Dan aku hanya bisa menguap dengan sedikit-sedikit mendengar pidato dari pak Kepala Sekolah. Wajar saja aku kelelahan seperti ini, pagi hari yang seharusnya menjadi awal yang lebih baik, justru menjadi tamparan keras yang masih sangat kurasakan. Hah!
Saat masuk kelas aku langsung menidurkan kepala dimeja, “Aku lelah.” Ujarku pada udara yang mungkin melintas di kelas.

“Kehidupanmu pasti mengerikan.” Salam teman sekelasku yang juga sekelas selama kelas satu. Dia bersidekap sambil menatapku dengan muka santai namun terselip menyebalkannya di sana.

“Hei, Dong Hae-ya..” Sapaku juga. Mengangkat kepalaku disetengah udara untuk melihatnya.

“Orang biasa tidak memiliki mental yang kuat untuk hidup di tempat sinting.” Lanjutnya dengan ekspresi yang terlihat senang. Apakah kau merasa senang di atas penderitaanku, hah?

“Beri tahu aku..” Aku memohon padanya. Lalu ku hempaskan lagi kepalaku di atas meja

“Berapa lama lagi kau akan tinggal di Sakurasou, Kyu Hyun-ah?” Kini suara teman kelas wanitaku yang terdengar. Dia berdiri di samping kiriku sambil berkacak pinggang.

“Sandara?”

“Oh! Jadi kau di kelas kami juga, Dara-ya?” Kini Dong Hae bertanya pada Sandara.

“Jika kau tidak cepat-cepat, kau tidak akan pernah ke luar dari sana.” Ucap Sandara padaku. Mengacuhkan seseorang di sana yang tadi sangat antusias melihat Sandara Park juga berada di kelas kami lagi, “Maksudku kau belum menemukan pemilik Baram, dan juga kau membawa enam lainnya, bukan?”

“Kau punya akhlak baik, membawa gadis-gadis itu ke kamarmu.” Oke, barusan itu Dong Hae. Dan yang dimaksud orang ini adalah kucing-kucing yang aku pungut yang semuanya berjenis kelamin perempuan.

“Itu sama sekali bukan saran! Orang-orang mungkin berpikir aku benar-benar di Sakurasou!” Ujarku bersungut-sungut pada pria di sebelahku ini.

“Ya ampun… Saat itu..” Ujar Sandara. Yang membawaku juga kedua temanku ini ke ingatan masa lalu. Saat pertama menjadi murid di Suimei ini.

Aku sudah memutuskan.

Author PoV

Flashback sijak:
Di pagi hari pertama sekolah dimulai. Dua murid Suimei berdiri di depan sekolah baru mereka. Satu laki-laki yang memangku seekor kucing putih sementara si siswi perempuan dua langkah di sampingnya, memerhatikan temannya yang sedang mengelus sayang kucing putih itu.

“Aku memutuskan, sepertinya aku akan membawanya pulang bersamaku.” Ujar murid laki-laki itu.
Dan langsung mendapat penolakan lembut atau pengingat dari temannya, “Tapi kucing tidak diperbolehkan di asrama.” Kata Sandara yang berusaha menutupi sengatan matahari pagi. Dan suara jangkrik yang masih jelas terdengar.

“Aku akan mencari pemiliknya, secepatnya.” Jawab lelaki yang bernama Cho Kyu Hyun. Tetap mengelus lembut kepala kucing putih itu yang akhirnya dinamai ‘Baram’, “Aku akan membawanya sampai saat itu.” Lanjutnya.
Sandara kembali berusaha mencegah keputusan Kyu Hyun, “Tapi jika seseorang menemukannya…”

“Aku akan bersiap saat itu datang.” Yakin Kyu Hyun tegas. Makin mengeratkan Baram diperutnya.
Dan Sandara hanya bisa menatap heran dicampur prihatin bercampur tidak mengerti pada Kyu Hyun.

“Tapi pada akhirnya…” Ucap Sandara hanya dalam hati.
Mereka berdua akhirnya dihadapkan pada Kepala Sekolah Suimei. Khususnya hanya Kyu Hyun yang diintergasi oleh Kepala Sekolah berkepela botak dengan tubuh gempal. Laki-laki tua itu menyatukan kedua tangannya dan mengepalkannya. Menatap Kyu Hyun tegas. Dan di belakang Kepala Sekolah itu berdiri seorang laki-laki yang bisa dipanggil ‘harabeoji’, melihat dari rambutnya yang sudah beruban dan tubuh agak bongkok yang sudah tak perkasa lagi. Dan tak lupa kacamata khusus juga menghiasi wajah ‘harabeoji’ yang asyik mengorek kupingnya.

“Kau bisa menyingkirkan kucing itu atau pindah ke Sakurasou. Pilihan ada padamu.”

“Apa?! Sakurasou?!” Protes Sandara. Sementara Kyu Hyun masih diam. Hingga akhirnya..

“Baiklah..Aku akan pindah ke Sakurasou.” Ucap Kyu Hyun dengan posisi bersiap di hadapan Kepala Sekolahnya. Saat itu dia sangat yakin mengucapkannya. Tanpa memikirkan hal apa yang akan dia rasakan nantinya.

“Kyu Hyun-ah?!”
Dan yeah.. dia dipindahkan ke Sakurasou. Sebuah rumah yang tak cukup bagus sudah menanti Kyu Hyun untuk diisi. Setelah Kyu Hyun diantar oleh mobil barang milik sekolahnya ke sini, dia menatap dan meneliti tempat yang akan ditinggalinya selama…… selama…. Entahlah.
Tak cukup di situ, dia disambut oleh papan tanda Sakurasou yang minta diperbaiki saat melihatnya.

“Kyu Hyun-ah…” Suara yang hanya terdengar dihati Sandara saat mengikuti temannya itu pindah ke Sakurasou. Bahkan dia mengikuti secara sembunyi-sembunyi. Dan kini dia sembunyi dibalik tiang listrik yang beberapa meter dari Sakurasou.
Flashback kkeut!

“Kau tidak akan pernah kembali ke asrama jika terus mengambil kucing.” Ucap Sandara di masa sekarang. Dia seolah tak pernah lelah untuk mengingatkan temannya ini.

“Tapi sejak aku mengambil Baram, aku terus menemukan kardus yang berisi kucing!! ‘meong, meong’.” Racau Kyu Hyun tak jelas. Dia mengack-acak rambutnya frustasi. Dan menirukan suara kucing dengan nada yang lucu, “Aku tidak bisa meninggalkan mereka seperti itu.” Teriaknya jika mengingat kenapa banyak kucing di Sakurasou.

“Sudah aku bilang itu adalah kutukan.” Bukannya memberi solusi, Dong Hae justru memanas-manasi Kyu Hyun.

“Aku tidak peduli itu berkat atau kutukan! Aku tak bisa membiarkan mereka di luar!”
Dan Sandara hanya bisa tersenyum manis melihat pemandangan di depannya, “Kau hanya terlalu baik.”
Dan saat Kyu Hyun dan Dong Hae menatap siswi itu heran, Sandara menyadari perilaku yang diluar dugaannya. Sesegera mungkin dia merubah ekspresinya saat kedua teman lelakinya itu masih menatapnya yang butuh penjelasan.

“Eh? Lagipula jika kau benar-benar ingin ke luar dari sana, kau harus bertindak!” Ujarnya salah tingkah. Dan hanya bisa menunduk menatap roknya sambil memainkan kedua tangannya di sana, “Ini, untuk kucing-kucingmu.” Rupanya gadis itu mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan bingkisan yang berisi makanan kucing pada Kyu Hyun.

“Oh, kue ikan?”

“Aku bertanya apakah aku bisa mengambil yang terakhir setelah bekerja. Aku tidak terlalu menginginkannya tapi mereka bilang hanya kali ini saja.” Jelas Sandara agar Kyu Hyun tak salah paham lagi.

“Bagaimana kau bisa melakukannya? Berapa banyak pekerjaan yang kau punya?” Tanya Dong Hae lagi.

“Emm..” Dan hanya itu jawaban dari Sandara.
Kyu Hyun menatap benda itu, “Apakah sekolah akting-suara membutuhkan sebanyak itu?”

“Begitulah..” Jawab Sandara riang. Matanya tak terlihat jika gadis itu tersenyum.
Dan Kyu Hyun melihat pada Sandara dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Bel mulai pelajaran pun terdengar di seluruh penjuru sekolah.

“Kau hebat, Sandara. Kau datang sendirian ke mari dari Gwangju. Kau bekerja keras.”

“Karena aku punya kesempatan untuk menggapai mimpiku di sini. Aku bisa sekolah akting-suara dan membantu menjadi pengisi suara anime Sunny sunbae. Kau tidak bisa melakukan ini di tempat lain.” Tutur Sandara penuh semangat dan perasaanya bisa merasakan bersekolah di sini.

Sementara di tempat lain. Selama Sandara menjelaskan minatnya bersekolah di Suimei, seseorang yang juga tengah dibicarakan Sandara tengah menggambar berbagai macam gambar lanjutan di buku sketsanya. Dia sangat gembira selama membuat gambar-gambar itu disaat teman dia yang lain tengah melukis model manusia yang tengah bersimpuh di atas meja di tengah ruangan itu.

Namun setelah puas melihat hasil karyanya hari ini dia tak bisa terlepas dari pukulan kertas dari guru yang sejak tadi mengawasi tingkah nakal Lee Sun Kyu. Hah, mau bagaimana lagi? Sunny terlalu jenius untuk ditendang.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak pindah ke Sakurasou?” Saran Kyu Hyun kepada Sandara.

“I-itu sama sekali berbeda cerita.” Bantah Sandara sedikit gugup, “Tidak seperti Sunny Lee sunbae, aku tidak memiliki keahlian natural. Aku harus berusaha sekeras mungkin.”
Dan pelajaran pertama pun berlangsung.

Jam isirahat sudah tiba. Dan Kyu Hyun pun sudah berdiri di samping ruang guru sekarang. Memenuhi panggilan dari guru tipe amazonessnya.

Di ruang guru itu ada beberapa guru dan juga terlihat beberapa murid yang sepertinya memiliki urursan dengan beberapa guru.

“Oh, Kyu Hyun, kau di sini.” Sapa Ha Ji Won, mengalihkan pandangannya dari buku yang sejak tadi dia tekuni, “Sudah diperbaiki?”

“Ya. Benda itu tidak bergerak sedikitpun.” Jawab Kyu Hyun sopan, “Bagiaman dengan, saem? Dapat hasil yang baik dari upacara penerimaan?” Dan kali ini Kyu Hyun dengan santainya bertanya seperti itu, mengurangi sedikit kesopannannya. Menurutnya tidak apa-apa, sesekali seperti ini pada guru yang tak menghiraukannya itu tak apa-apa.
Ha Ji Won menghela napas lelah dan menyantaikan punggungnya pada kepala kursi, “Hah.. tidak ada ayah duda yang kaya. Meski begitu aku akan kaya, jika menikahi beberapa ayah.” Ujarnya tanpa peduli siapa saja yang mendengar ucapan senonohnya itu.

“Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang guru?!” Bagaimana lagi cara Kyu Hyun memprotes gurunya ini?, “Apa kau tidak memiliki rasa hormat pada pekerjaan mengajar ini?!” Sungut Kyu Hyun berapi-api.

“Rasa hormat?” Dan bagaimana bisa guru itu menjawabnya dengan wajah yang terlalu over santainya, “Aku sudah meninggalkan itu pada biji kemaluan orang yang tua.” Lanjutnya gila.

Dan apa reaksi dari pernyataan sembrono Ha Ji Won setelahnya?
Bahkan seorang guru yang berumur, memuncratkan minumannya kala mendengar hal itu lalu setelah itu terbatuk-batuk. Dan guru lainnya juga murid yang ada di sana ditambah Kyu Hyun kaget luar biasa. Terlebih seorang ibu guru yang bermimik khawatir dan tak enak hati karena murid-muridnya juga mau tak mau mendengarnya.

“Apakah wanita dengan mudah menyebut ‘biji kemaluan’?!” Sungut Kyu Hyun frustasi. Hah, mengacak-acak rambutnya saja rasanya tak cukup untuk melampiaskan stress yang menumpuk.

“Mari kita tinggalkan biji kemaluan itu.” Ajak Ha Ji Won sangat santai, dia mengambil sebuah gambar dan memberikannya pada Kyu Hyun, “Ini. Keponakanku pindah ke Sakurasou, hari ini. Namanya Choi Soo Young, dan dia tinggal di Inggris sebentar.”
Di dalam gambar itu, seorang gadis kecil nan manis tengah duduk cantik. Dengan gaun bermotif bunga berwarna campuran biru tua dan biru muda dan juga topi, penutup kepala yang cantik pas bertengger di kepala kecilnya. Dia melihat ke arah kamera dengan tatapan polos yang dia miliki.

“Tunggu, dia pindah ke Sakurasou? Bukankah ini membahayakan bagi anak kecil-”

“Dia akan ada di depan stasiun pukul enam. Jemput dia sepulang sekolah.” Selain seenaknya pada Kyu Hyun, Ha Ji Won juga gemar memotong ucapan murid sabarnya itu.

“Apa?! Tugas bertele-tele macam apa ini? Apa kau malaikat di sebuat game?!”
Guru itu menepuk kepala Kyu Hyun dua kali, mungkin untuk menenangkan muridnya yang tengah tersulut emosi, “Sudah..sudah..”
Dan Kyu Hyun… seperti kerbau yang diciduk hidungnya.

Sore menjelang. Di sebuah lokasi dekat stasiun kereta api terlihat ramai. Banyak murid sekolahan yang baru ke luar dari sekolah ataupun manusia lainnya dengan kepentingan masing-masing.
Di sana juga terdapat pasar tradisional. Para pedagang di sana sangat ramah pada tiap oang juga pada sesama pedagang lainnya. Tak terkecuali pada Kyu Hyun. Para ahjuma dan ahjussi di sana mengenal baik Cho Kyu Hyun.

“Annyeong..” Salam salah satu ahjuma dengan baju merah.
Kyu Hyun pun ikut tersenyum lalu kembali melihat foto ditangannya.

“Hei! Bukankah itu Kyu Hyuni? Kami punya beberapa ikan yang bagus hari ini!” Ujar paman penjual ikan, ramah. Paman itu menunjukkan ikan dagangannya yang cukup besar pada Kyu Hyun sambil melayani ibu pembeli bersama anak perempuan kecilnya.

“Annyeong haseyo..” Sapa Kyu Hyun tak kalah ramah.

“Kyu Hyuni, kau datang tepat waktu!” Kini seorang ahjuma yang lain yang berseru. Bibi itu melambaikan tangannya pada Kyu Hyun, mengajak pria SMA itu untuk mendekat ke tokonya, “Kami baru saja selesai menggoreng kroket. Ambilah beberapa!” Tawarnya kemudian.

Kyu Hyun menggaruk kepala belakangnya. Tujuan sebenarnya dia datang ke mari bukan untuk berbelanja melainkan menjemput keponakan dari Ha Ji Won, seonsaengnimnya. Tapi lain cerita jika dia diberikan kroket itu secara gratis.

“Ah, jweisonghajiman…terima kasih…”
Bibi itu terlihat menyiapkan sesuatu, “Pasti sulit bagimu. Gangwondo, ne? kau seharusnya pergi dengan keluargamu.”

“Engg..”
Kemudian muncul seorang paman di belakang bibi penjual kroket itu yang juga mengenal baik Kyu Hyun.

“Kau tidak akan mengerti. Seorang lelaki harus melakukan hal yang harus dilakukan! Ambisius!” Tunjuk paman itu ke arah patung yang mungkin menjadi maskot patung seorang ambisius. Patung itu juga tengah menunjuk ke arah depannya, “Benar bukan, Kyu Hyun-ah? Hahahaha. ‘Pemuda yang ambisius!’”

“Itu benar. Kau perlu daging.” Seru isteri dari paman itu.

“Pastikan kau dapat cukup daging!” Tambah paman itu bersemangat.
Kyu Hyun juga menatap patung itu, memikirkan sesuatu yang diucapkan paman dan bibi ini, “Ambisius ya?” Tanyanya pada diri sendiri.

Kyu Hyun PoV

Aku sudah duduk disalah satu tempat air terjun di depan stasiun. Sambil menikmati sebungkus roti isi daging. Menikmati suasana sore yang cukup indah ini.
Ambisius ya?

Aku tidak pernah memikirkan hal itu.
Lalu sepotong bunga sakura jatuh ke atas rotiku, “Mungkin aku harus pergi dengan keluargaku.” Ketika hendak mengambil bunga itu, saat itu pula angin sore berhembus. Kian menerbangkan bunga sakura yang gugur dari tangkainya. Sore hari dengan lembayung yang menguning juga sakura yang bertebrangan, lumayan bagus untuk hiburanku.
Aku berdiri mengikuti bunga sakura tadi yang terbang dan melewati pohon bunga sakura. Saat melihat ke bawahnya, sesuatu yang tak asing sedang duduk di gazebo di bawah pohon. Orang itu menatap padaku dan saat itu pula aku terhenyak. Bagai dalam novel picisan, lalu lalang orang-orang terasa melambat dan aku terhenyak untuk kedua kalinya ketika disadarkan oleh orang yang melewatiku baru saja.

Lalu aku mengambil foto yang tadi disimpan disaku jas dan memutuskan untuk menghabiskan rotiku terlebih dulu. Kemudian berlari ke sana.

Kini aku sudah berdiri di hadapannya. Tak tahu harus berbuat apa setelah ada di depannya. Aku melirik ke kiri – ke kanan, menghilangkan kegugupanku dan juga ku sempatkan untuk menelan habis roti yang masih ada ditenggorokan.

“Hei..” Suaranya lembut dengan intonasi datar, “Kau ingin menjadi warna apa?” Tanyanya, melihatku. Kedua mata bulat coklat itu menatapku polos. Rambut soft peachnya yang mencapai pinggang. Dengan seragam sekolah yang sama denganku.

“Aku?” Tanyaku bingung, “Aku tidak pernah memikirkan itu.”

“Kalau begitu pikirkanlah..” Serunya lagi. Dan nadanya rendah juga datar.
Aku memainkan secuil rambut depanku, hendak menjawab pertanyaannya tadi, “Aku tidak tahu ingin jadi apa kelak… tapi sekarang, mungkin, mata kucing?”
Di atas roknya pula terdapat banyak serpihan bunga sakura, “Mata kucing?” Dia bertanya tapi nada bicaranya tak turun tak naik. Benar-benar datar.

“Bagimana denganmu? Kau ingin menjadi warna apa?” Tanyaku balik.

“Aku tidak pernah memikirkan itu.” Hee? Bukankah itu adalah ucapanku tadi?

“Hei, ayolah…” Rajukku pada orang ini.
Lalu dia mengambil beberapa serpihan sakura di atas pangkuannya dan memandang bunga sakura itu lekat, “Tapi sekarang, mungkin….putih.”
Hah?

“Hah? seperti namamu. {Bahasa Jepang putih = shiro. Juga karakter utama wanita di anime adalah Shiina Mashiro. Sementara bahasa Kore putih = hayan(saek) atau hwein(saek)}” , “Aku Cho Kyu Hyun. Ha Ji Won seonsaengnim memintaku untuk menjemputmu.” Jelasku padanya.

“Benarkah?”
Aku melihat dirinya dalam foto dan dirinya yang ada di depanku.
Apa ini? Seberapa tua foto ini? Setidaknya dia sudah tiga kali lebih tua sekarang.
Tapi… Entah bagaimana, aku tahu itu dia.

“Kyu Hyun…” Katanya yang menyadarkanku dari lamunan yang asyik menggeluti pikiranku.

Dia menyampirkan helaian rambut yang menutupi telinganya di balik kuping kanan. Dia juga menutup matanya saat melakukan itu dan, “Kyu Hyun itu nama yang baik. Itu terdengar indah.” Lalu dia perlahan membuka matanya dan menatapku. Gerakannya tadi sangat lambat, selambat suaranya, “Aku..suka itu.”

Apa??

Terdengar suara kereta api untuk beberapa saat. Lalu hembusan angin yang masih menerbangkan serpihan dari bunga sakura yang berwarna putih juga merah muda.

“Aku suka itu.” Ulangnya.

Author PoV:

Mobil pengantar barang dari SMA Suimei berlalu pergi dari depan Sakurasou. Dan terdengar suara ribut di dalamnya.

“Selamat datang di Sakurasou!” Itu suara menggema Sunny, “Ini waktunya bawang musim semi dan panci tuna panas!” Sunny dengan segala gaya semangatnya membuka makan malam special kali ini, “Siap? Yak!” Dan dia persis menjadi pembawa acara acara promosi atau olahraga.

“Selamat makan!” Koor semua penghuni Sakurasou minus Se Hun yang digantikan boneka beruang besar dikursinya.
Semuanya pun ditambah Soo Young mulai mengambil berbagai makanan yang terhidang di atas meja. Oh! Juga sebuah laptop yang berada di meja untuk bagian Se Hun.

“Makanlah, Young-young. Mengadakan pesta panci panas untuk perayaan adalah tradisi Sakurasou!” Dan itu masih Sunny yang semangatnya tak pernah menurun dalam melakukan segala hal.
Sakurasou. Lebih seperti sebuah rumah dengan dua lantai dan berbahan utama kayu. Adalah tempat bagi siswa-siswi yang ‘dikira’ memiliki masalah sehingga diusir dari asrama utama di perguruan Suimei. Tapi rumah yang agak bobrok itu ramai dengan enam orang ditambah Soo Young dan enam kucing yang menempati. Beberapa kucing juga ikut makan di tempat mereka dan yang lainnya bertengger bebas di mana-mana.
Ditambah juga suara pemberitahuan dari laptop yang ada di atas meja makan itu, “Oh, ini. Tolong siapkan satu mangkuk untuk Se Hun-nim. Tanpa bawang musim semi. Salam, Maid-chan.” Baca Kyu Hyun melihat isi pesan yang tertera dilaptop itu. Pipinya bergerak ke kiri-ke kanan saat pria itu bercerita sembari mulut penuh makanan dan tangan yang betah memegang sumpit juga mangkuk nasi.

“Tanpa bawang musim semi? Apa dia hanya ingin tuna?” Kini giliran ibu guru Ji Won yang bertanya.

“Ini dia, Young-young!” Sunny mendekati Soo Young. Memberikan sumpit yang berisi bawang musim semi masakannya, “Ini tebal dan agak menetas.” Dan jangan lupakan wajahnya yang ekspresif, menggigit bibirnya menunggu bawang itu masuk ke dalam mulut Soo Young, “Ah! Tapi jangan terlalu cepat, ini akan menyemprotkan cairan panas! Crut. Crut.” Dan perlahan-lahan suapannya dimakan Soo Young.

“Hentikan itu!” Potong Kyu Hyun. Berusaha mencegah hal konyol yang kembali akan dilakukan sunbaenya itu.

“Mwoya? Jangan bertindak sok suci.” Ujar Ha Ji Won yang juga tengah menikmati bawang musim seminya.

“Kau diperbolehkan terangsang dari sayuran sampai SMP saja.” Lanjut si alien.
Wajah Kyu Hyun sudah memerah mendengar racauan dua wanita aneh di sini. Sementara tangannya seolah berusaha mencegah Soo Young dari kelakuan di luar nalar sunbaenya itu. Dan Nichkhun? Dia hanya memunggungi kamera.

“Kalian berdua…” Dan si alien itu akhirnya memakan bawang musim semi yang tadi tak sempat dihabiskan Soo Young, karena tatapan Kyu Hyun yang menajam.

“Jadi kau kembali dari Inggris, Youngi-ya? Kau akan masuk ke SMA Sui.’kan?” Nah, itu adalah suara Nichkhun yang masih tak terlihat wajahnya.

“Pindah.” Ulang si objek utama di sana.

“Dia akan di kelas dua Divisi Seni.” Tutur bibi dari murid pindahan itu. Lalu, perlahan-lahan meminum beer kaleng ditangannya.

“Divisi Seni?” Ulang Kyu Hyun lumayan kaget.

“Lihatlah… tingginya sekitar 170 cm, berat sekitar 45 kg, dan mulai dari atas, ukurannya adalah 79, 55 dan 78. Apa kau pikir dia berat? Jangan biarkan angka membodohimu. Dia benar-benar langsing, jadi kau akan melihat dadanya lebih dari yang kau kira dari angka.” Bisik Nichkhun yang sudah berada di samping Kyu Hyun. Pria itu menyelidiki dari atas sampai bawah Soo Young yang masih anteng memakan makanannya. Membuat Kyu Hyun merinding sendiri saat mendengarnya, “Percayalah.” Dan kata terakhir itu dia ucapkan seperti layaknya seorang professional dalam bidangnya.

“Apa-apaan itu?!” Protes Kyu Hyun. Oh, sebagai pria sekaligus orang yang paling waras di tempat itu tetap kaget dan merinding saat mendengar hal-hal seperti itu. Meski dia sudah sering mendengar hal-hal seperti tadi sejak dia masuk ke sini.
Dan sepertinya, kucing pertama Kyu Hyun menatap lekat pada Soo Young. Menatap tak bersahabat pada member baru Sakurasou. Bahkan Baram sepertinya sangat ingin bertengkar dengan Soo Young. Dan Soo Young hanya menatap tak berdosa pada kucing putih itu.

“Hei, Baram!” Secepat mungkin Kyu Hyun menyingkirkan Baram dari kursinya. Sebelum Baram benar-benar mencakar Soo Young, “Maaf, dia biasanya baik pada orang. Ada apa?” Lalu menyimpan Baram di atas boneka pengganti Se Hun.

“Uhaa!” Teriak Sunny yang berdiri dari duduknya. Menatap semua teman-temannya di Sakurasou dengan tatapan bercahaya, “Sekarang! Waktunya memperlihatkan anime yang aku buat untuk menyambut Young-young !” Ujarnya seru sendiri, lalu berlari riang ke depan televisi yang ada di ruangan itu.

“Kapan kau membuatnya?! Tunggu, kau tahu Soo Young akan datang?!” Heran Kyu Hyun. Setahunya Ha Ji Won hanya memberitahunya tadi pagi. Atau mungkin alien dunia itu mendengarnya? Tahu terlebih dahulu? Atau memang anime itu sudah dia buat sebelum Soo Young ke sini? Entahlah… siapa yang tahu isi dari otak seorang alien?

“TV, nyala!”
Layar tipis itu menampilkan countdown dari nomor lima. Hingga akhirnya muncullah sebuah anime dengan penampilan yang penuh warna. Dengan dubbing suara Sunny sendiri secara live.

“Soo Young…young-young…Kami dari Sakurasou telah menantikanmu.. huwaaa…ta-ta-ta-ta.. ku harap kita bisa menjadi teman baiiikkkkk!!! Syuu! Wa—keeeee!! Ba-ba-ba-bamm!”

Anime itu berisi…. Entahlah, mungkin seperti dunia alien tempat Sunny berasal. Terdapat bintang, boneka, garis-garis yang berterbangan lalu membentuk sebuah boneka atau gambar ciptaan Sunny sendiri. Dan berakhir dengan ledakkan berwarna merah muda.

“Senang berkenalan denganmu!” Sunny juga memeluk kucing hitam dengan tangannya yang tak bisa tinggal diam. Lalu di endingnya, dia mengacungkan tangan kanannya semangat.

“Suaranya sama sekali tidak cocok dengan animasinya.” Ujar Ha Ji Won menilai. Menilai anime karya Sunny juga menilai tingkah lamu anak didiknya yang bertipe alien itu.

“Bagaimana itu bisa disebut menyambut Soo Youngi?” Bahkan Nichkhun pun bingung,

“Kau hanya ingin melakukan tes pada animasimu yang terakhir.” Dan setelah itu, Nichkhun benar-benar menilai persembahan Sunny tadi.

“Kau bisa menyebutnya begitu!” Sunny pun menimpali dan berbalik menunjukkan tangan kanannya pada lelaki itu, sebagai perwakilan, “Jadi, menurutmu apa yang harus aku perbaiki?” Dan berakhir meminta tolong.

“Eh? Tidak…eng…” Kyu Hyun menampilkan foker facenya, bingung harus berkata apa pada mahluk alien itu, “Kupikir itu hebat.” Ucapnya tak yakin. Dia sendiri menggaruk kepala belakangnya tak jelas.

“Apa? Itu saja?” Keluh Sunny masih dengan nada yang berbanding terbalik dengan Soo Young.
Satu pria lainnya yang ada di situ beranjak mendekati Sunny, “Menurutku, kau bisa mengembalikan ledakan terakhir sekitar empat frame?.” Ikut bersimpuh di samping gadis SMA itu.

“Ya, aku juga memikirkan itu.” Ujar Sunny menimpali, “Itu terlalu cepat. Mungkin dua frame transisi?” Gadis itu mengambil remot di depannya dan menengok kembali animasinya itu bersama Nichkhun.

“Bagaimana jika memasukkan dua frame putih?” Saran Nichkhun akhirnya.

“Oh, ya. Kalau begitu, haruskah aku membuat efek cahaya ini lebih kuat?”

“Itu terlihat lebih baik di layar.”

“Sial… ku pikir aku tidak memerlukannya..” Dengus santai alien itu pada dirinya sendiri. Kembali menilai animasinya dengan tangan yang mengusap-usap dagunya.

“Aahh…sepertinya mereka tidak kembali. Mereka mulai membicarakan tentang itu.” Ucap ibu guru itu, lalu meneguk beernya lagi, “Mereka selalu main-main, tapi ketika mulai duduk dan memulai sesuatu …” Dan Ha Ji Won tak perlu menuntaskan ucapannya.
Kyu Hyun menatap iri pemandangan itu. Matanya beralih pada Soo Young yang juga ternyata tengah memandang padanya. Membuat semburat merah itu kembali menghiasi pipi-pipi putihnya.

“Hah…sialan… dia pasti berpikir aku bukan siapa-siapa sekarang.” Rutuk Kyu Hyun pada dirinya sendiri yang tengah memeluk guling bersarung putihnya dengan posisi menyamping tentunya ditemani oleh Baram yang tak diam di sekitarnya, “Jika dia berada di Divisi Seni, itu berarti dia memiliki kemampuan yang hebat.” Rupanya pria itu tak henti menilai tentang murid pindahan yang juga tinggal di Sakurasou.

Meongg..
Kyu Hyun pun akhirnya menyadari keberadaan Baram yang tengah merajuk karena tak diperhatikan, “Eh? Ada apa, Barami? Kau benar-benar tidak istirahat hari ini.”

Meong…

Meong…

Pria itu menyimpan tangan kananya sebagai penyangga kepala. Menatap langit-langit dan kembali teringat tentang seperti apa Choi Soo Young kelihatannya, juga kehidupannya yang berlalu penuh kejutan.

“Setiap hari tetaplah sama. Sesungguhnya, aku merasa bosan.” Dia mengelus lembut kucing pertamanya itu, “Tapi saat musim panas, setelah aku mengambil kucing putih dan pindah ke Sakurasou, aku sadar…. Bukanlah hari-hari yang membosankan. Tapi itu karena seperti anak lainnya.” Membayangkan lagi alasan bagaimana dia bisa sampai di sini.

Pagi hari yang baru mendatangi Sakurasou lagi. Dengan pohon Sakura yang menemani di samping Sakurasou itu, pagi baru terasa lebih menyenangkan.

“Yahoo! Nichkhun, tangkap aku!” Tukas Sunny penuh dengan semangat membara. Saking penuhnya, dia terapkan dengan berputar-putar kegirangan di teras Sakurasou.

“Tidak hari ini.” Jawab laki-laki itu santai. Menutup pintu lalu gerbang sederhana yang menghiasi Sakurasou.
Dan mereka pun berangkat sekolah dengan semangat dan semanga extra yang baru.
Dan pagi itu juga adalah pagi yang baru untuk Kyu Hyun. Dia sudah siap dengan seragamnya. Setelah memberi makan kucing-kucingnya, mungkin dia akan lekas berangkat sekolah. Begitu pun dengan ibu guru Ha Ji Won, sudah siap dengan pakaian kerjanya yang dua kali lebih tertutup dibanding kemarin.

“Sepertinya semuanya bangun pagi hari ini.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya.” Balas Ha Ji Won sambil berjalan untuk mengisi cangkirnya lagi.
Kyu Hyun berdiri menghadap saemnya, “Anu… saem.. kenapa Soo Young tidak pindah ke asrama? Melainkan ke Sakurasou..” Tanyanya.
Ha Ji Won meletakkan gelas yang berisi susu di atas nakas dapur, “Karena tempat ini sempurna untuknya.”
Kyu Hyun menyimak itu. Mengerjapkan matanya saat merasa keganjalan dihatinya masih ada.

“Kau bisa mengurus Soo Young, ‘kan?” Tanya ibu guru meyakinkan.

“Ya. Ini hari pertamanya. Aku bisa mengantarnya ke sekol- eh”
Lelaki itu kaget saat gurunya berdiri tepat di hadapannya, dan menunjuk tepat di dadanya. Kyu Hyun yang merasa takut, sedikit mundur ke belakang. Tapi Ha Ji Won justru maju dan sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Dengarkan, kau membawanya ke sekolah.” Perintahnya pada Kyu Hyun. Lalu tatapannya berubah mengancam, “Kau bertanggung jawab atas dirinya dan membawanya ke sekolah.”

“Eh?”

“Tadi itu seram..” Kyu Hyun mulai menaiki tangga. Menuju lantai atas yang hanya berisi kamar-kamar dari penghuni perempuan. Saat dia melihat pengumuman peringatan kalau laki-laki dilarang naik, Kyu Hyun pura-pura tidak melihatnya dan terus naik sambil meminta maaf pada pengumuman itu.

“Aku harus lakukan ini. Dia menyuruhku.” Ujarnya menutupi pandangannya dari pemberitahuan itu.
Dan tibalah dia di depan kamar Soo Young. Di depan kamar kayu itu, terdapat tanda kalau itu adalah kamar Choi Soo Young, yang pasti dibuat oleh Sunny.

“Hei, Soo Young!” Panggilnya keras dari depan pintu yang tertutup itu, “Kau akan terlambat jika tak bersiap sekarang!” Lanjutnya. Tapi tak mendapat balasan.

“Eh?” Akhirnya pria itu mengetuk pintu itu dan kembali memanggil Soo Young dengan lebih lembut, “Hei, ini sudah pagi!” Tapi tetap tak ada tanda-tanda suara dari dalam.

“Dia sama sekali tidak menjawab.” Dan sekarang Kyu Hyun mendekatkan telinganya ke dekat pintu itu, “Hei, aku membuka pintu.” Setelah mengatakan izin, Kyu Hyun benar-benar masuk ke dalam dan…

“Soo Young?”

“Pencuri?! Tidak, Tornado?!”
Kamar itu sangat berantakan. Lebih parah dari kapal pecah. Underware dan underware yang ada di mana-mana. Di laci. Di atas kasur. Di dalam tempat baju kotor. Bahkan menggenangi lantai kamar itu sampai yang terlihat hanya ribuan underware dengan berbagai macam dan warna.

“Soo Young?!” Teriak Kyu Hyun lagi. Dia memeriksa jendela dan tak ada apa-apa di sana,

“Diman-, eh? Manhwa?” Seketika fokus Kyu Hyun tertuju pada bagian manhwa yang sepertinya baru rampung dalam komputer, “He-hebat..” Pujinya. Lalu pria itu terus melihat bagian-bagian gambar lainnya dan terkagum, “Eh? Tapi… mereka bertabrakan saat lari ke sekolah, jatuh cinta. Tunggu! Bagaimana dengan saingan cinta atau semacam cerita? Hah! inikah akhirnya?” Tilainya saat melihat cerita dan manhwa dengan gambar yang sangat bagus itu. Kyu Hyun heran dengan isi ceritanya yang terlalu datar. Dan-
Dan dia terkaget saat sesuatu bergerak dari balik meja computer itu. Lebih tepatnya dari balik tempat untuk pakaian kotor.

“Uwa!”
Lalu seterlah beberapa saat, Kyu Hyun memberanikan memeriksa apa yang ada di dalamnya. Dia menyingkirkan satu kain berbentuk segita dan melotot, “Ini…” Ucapnya tak percaya.
Di dalam sana. Penghuni kamar ini tertidur pulas.

“Anu…Soo Young-ssi? Maukah kau bangun?” Ajak pria itu. Namun tetap tak mendapat jawaban. Dia kemudian mengetuk meja komputer itu, “Hei, ini sudah pagi! Matahari sudah terbit!”
Mata coklat itu terbuka sedikit, “Matahari tidak akan terbit lagi.”

“Tidak, matahari sudah terbit!” Keukeuh Kyu Hyun gemas, “Jangan berpikir negatif.”
Kepala yang menyembul dari situ terlihat menggeleng-geleng kecil. Lalu kemudian menampilkan keseluruhan tubuh dengan….dan ke luar dari sana.
Kyu Hyun yang melihat sejak gerakan awal tubuh itu tanpa melihat ke keseluruhan melainkan hanya wajah saja, belum menyadari bagaimana penampilan Soo Young. Kyu Hyun menatap polos wajah Soo Young. Sampai… matanya yang turun ke bawah dan…
Terbelalak.. mata sipitnya sukses melebar. Dan..

“Arrggghhhhh!!!” Teriakan supernya seolah mampu membuat Sakurasou bergoyang-goyang. Teriakkan yang mengagetkan seorang kakek yang tengah melintas di depan Sakurasou dengan anjingnya. Hingga anjing kakek itu terus berguguk selama jeritan panjang nan keras Kyu Hyun terdengar.

“Telingaku sakit.” Keluh Soo Young. Masih dengan nada datar dan monotonnya.
Kyu Hyun sudah terjatuh dilantai. Dia sangat kaget lantas menunjuk-nunjuk Soo Young gugup. Tak lupa wajahnya sudah memerah paprika dipagi hari ini, “A-a-apa?!”

“Apa?” Ulang Soo Young terlalu santai.
Kyu Hyun membalikkan badannya menghadap tembok. Menutup matanya rapat-rapat dan juga memegang kepalanya frustasi, “Pakai bajumu! Kenapa kau telanjang?! Apa memang kau begiu?!” Sungut Kyu Hyun panjang lebar.

“Kenapa aku telanjang? Aku tidak tahu.” Tanya Soo Young bingung. Rambutnya berantakan, menutupi bagian-bagian terpentingnya.

“Berusahalah untuk mengingatnya!” Teriak Kyu Hyun makin frustasi. Dia sudah seperti orang gila di hari yang masih pagi ini.

“Aku mandi.” Kata Soo Young.

“Kau mandi? Baiklah. Lalu apa?” Dan Kyu Hyun menuntun agar Soo Young berbicara lebih untuk menjelaskan.

“Aku melepas pakaianku.” Lanjut Soo Young.

“Jadi kau selesai mandi, ‘kan? Baiklah, sekarang pakai bajumu.” Titahnya kemudian. Oh, sungguh! Rasanya seluruh wajahnya yang memerah api karena malu dan syok.

“Aku melepas semuanya.” Lanjut Soo Young lagi yang terus memandang punggung Kyu Hyun.

“Baiklah, berhenti!” Kyu Hyun sudah tidak kuat mendengar kelanjutannya lagi! Dia menyetop omongan Soo Young dengan tangan kirinya sementara kepalanya menunduk malu, “Apa karena itu ruangan ini kacau?!”

“Ku pikir ini tidak masalah.” Jawab Soo Young.

“Kenapa kau berpikir begitu?! Kau melepas semuanya, sekarang pakailah!” Pria itu menyerahkan sesuatu yang diambilnya asal. Yang kebetulan sekali itu adalah kemeja sekolah Soo Young.
Gadis itupun mengambil lalu memakainya. Dan Kyu Hyun menunggu itu selesai dengan keringat dingin yang mengucur deras dari wajahnya. Juga badan yang bergetar, tentunya.

“Sudah selesai?”

“Sudah.”

“Dengar, aku yakin ada budaya dari Inggris yang mengejutkan, tapi-oarrggghh!” Kyu Hyun kembali terkejut hebat saat memutuskan untuk berbalik. Dan kemudian pria itu terjatuh.

“Kau masih belum selesai!”
Ya. Soo Young hanya memakainya. Memaikainya seperti menggunakan kemeja sebagai hiasan. Alias tidak mengancingkan satupun dari kancing baju itu. Sehingga hanya menutupi sisi-sisi dari tubuh depan Soo Young. Dan rok ungu yang hanya dipegangnya.

“Kancingkan! Cepat!”

“Celana dalam?” Tany Soo Young lagi.

“Pakai!”

“Yang mana?” Tanyanya lagi.

“Jangan suruh aku memilih!” Teriak Kyu Hyun frustasi. Dia bahkan sudah menggedor-gedor tembok di depannya.

“Kalau begitu aku tidak butuh.” Putus Soo Young sambil berlalu.
Kyu Hyun langsung membalikkan kepalanya dengan mata tertutup sambil mengatakan,

“Kau buuh!”
Akhirnya dia bergerak dari menempel pada tembok, lalu dengan cepat memilah dan memilih benda yang pas dari ratusan yang bertumpuk di sana, “Pakai! Pakailah sekarang! Tolong pakai sekarang!” Dan saat tangannya memilih satu dengan warna hijau muda, matanya tak sinkron dengan hati dan pikirannya yang kalang kabut. Sempat melotot sebentar karena dia sudah menyentuh benda segi tiga itu.

“Eh-eh! Ini! Tangkap!” Lalu dia melempar kain tipi situ tepat mendarat dikepala Soo Young.
Soo Young mengambilnya dan melihat itu, “Celana dalam ini tidak lucu.” Komentarnya datar.

“Itu milikmu!”
Sudah berapa kali dia berteriak frustasi semenjak menginjakkan kakinya di kamar ini. Kemudian melihat jam diponselnya dan makin kalang kabut saat melihat jam yang sudah siang, “Sial! Bisakah kau cepat?”
Soo Young menaikkan celan dalamnya yang sebelumnya memakai terlebih dulu rok yang tadi dipegangnya, “Selesai.”
Kyu Hyun melihat dari bawah ke atas dan…

“Kepalamu! Maksudku rambutmu! Pergi ke kamar mandi dan rapikan! Dan cuci mukamu saat di sana!”
Soo Young sedang mencuci muka dan membasahi rambutnya di dapur. Sementara Kyu Hyun menunggunya dari pintu dapur yang terbuka itu.
Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa berat, “Apa-apaan ini? Anggapanku pada Soo Young mulai hancur…” Ucapnya dalam hati. Mengomentari atas apa yang tadi terjadi dan dialaminya.

“Kyu Hyun..”

“Oh? Kau selesa-,” Pria itu melihat pada Soo Young dan berteriak keras untuk ketiga kalinya melihat apa yang telah diperbuat gadis ini pada kemeja putihnya. Dan berhenti di daerah yang berlekuk.

“Ha?!” Sudah ke berapa kalinya mukanya memerah, “Kau harus memakai sesuatu!” Teraiknya. Lalu dia kembali menutup mata dan memalingkan wajahnya dari pandangan itu, “Sesuatu itu adalah pakaian dalam!”

“Kau tidak mengambilnya untukku.” Bantah Soo Young.
Lelaki itu menatap Soo Young kesal, “Jadi ini salahku?! Bukankah ini aneh?” Bentaknya.
Soo Young hanya memiringkan kepalanya ke kanan, bingung.
Dan akhirnya Kyu Hyun yang juga harus membersihkan sisa tempat mandi ringan Soo Young wastafel dapur. Setelah sebelumnya dia memberikan rompi dan blazer pada Soo Young.

“Lantainya juga basah semua! Kau baru saja mandi pagi di sini atau apa?” Racaunya yang tak pernah mendapat balasan dari si objek utama. Soo Young tak meras bersalah sedikit pun, justru bertingkah polos yang tak tahu apa-apa.

“Guru pemalas itu! Dia membawa semua tanggung jawab ini padaku!” Kesalnya sambil mengepel lantai yang basah itu.

“Mata kucing..” Ujar Soo Young..

“Mwoya?”

“Kau mengatakan itu, Kyu Hyun.” Jawab Soo Young. Gadis itu sudah siap berangkat sekolah, “Apakah itu warna?”

“Mereka bersinar di tiap warna, tapi yang warna aku maksud tidak terlalu jelas.” Meskipun kesal, Kyu Hyun tetap saja membalas pertanyaan Soo Young sambil mengepel lantai. Kemudian pria itu berbalik dan menatap Soo Young, “Kenapa kau menanyakan hal itu sekarang?”

Dan Soo Young menatap lekat pada Kyu Hyun. Tangan kanannya menekuk ke atas, dengan mata bulat polosnya dia berkata, “Kyu Hyun, kau menarik.”

“Ehh?” Lagi-lagi, lagi. Kyu Hyun merasa pipinya itu kembali merona malu. Dan juga syok.
Meong…
Baram mencoba menyentuh cipratan air yang ada di sana, dan mengibaskan kakinya saat terkena air itu lalu menjilati kakinya

“Saat musim semi, aku mengambil kucing putih dan pindah ke Sakurasou. Lalu… saat musim panas…”

“Kyu Hyun…kita akan terlambat ke sekolah.” Tukas Soo Young. Kini Kyu Hyun sedang memakaikan gadis itu sepatunya dan kesal saat mendengar ucapan tak bersalah nona muda ini.

“Kau pikir ini salah siapa?!”
Setelah kembali berteriak frustasi. Kyu Hyun menuntun Soo Young dan berlari menuju sekolah mereka.

“….Aku bertemu gadis putih yang polos.”

“Sorata, kau terlalu cepat.” Ujar gadis itu memrotes.

“Kalau begitu larilah jika kau tidak suka!!” Teriaknya yang menggema sampai ke langit.
Kucing. Putih. Soo Young.

Tebece…
Hai..hai… aku balik dengan paraphrase anime favoritku. Jika readerdeul suka, maka aku bakal nerusin. Tapi kalau ngga suka, sepertinya, apakah hrus disetop?
Aku sangat nyadar penjelasan dan parafrasenya sangat buruk. Jd, silakan yg mau protes atau menghina atau mengejek, dll.

Cast:
Cho Kyu Hyun as Kanda Sorata
Choi Soo Young as Shiina Mashiro
Lee Sun Kyu as Kamiigusa Misaki
Nichkhun Horvejkul as Mitaka Jin
Ha Ji Won as Sengoku Chihiro
Sandara Park as Aoyama Nanami
Lee Dong Hae as Miyahara
Oh Se Hun as Akasaka Ryuunosuke
And so on.

3 thoughts on “[Series] Sakurasou no Pet na Kanojo Part 1

  1. M V G says:

    Sorry kak, baru sempet comment. Walaupun gk begitu suka anime. Tpi, gara” ff ni aku tertarik buat nonton ni anime. Cuma waktu tak pernah mendukung untuk nonton😔.
    Jangan lupa dilanjutin! Penasaran ni!😀.
    Ok, aku tunggu chap selanjutnyaa~..
    Keep writing kak!!😀

  2. kyu choco says:

    aku udh nonton skurasou no pet no kanjo… si sorata sih suka game Dan kasian bgt disuruh jadi baby sister shina… lucu ngebayangin kyu jadi sorata…

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s