[Series] Have You Seen (Kyuhyun Spesial) -part 14-

Have You Seen

Title             : Have You Seen?

Author         : soocyoung (@helloccy)

Length         : 16

Genre          : Romance, Fantasy, Horror

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu…

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Oh ya, part ini aku cuma pake satu POV ya, jadi jangan bingung soalnya ini part spesialnya Kyuhyun, hhehe.

So, happy reading ^^/

Aku terus menatap Sooyoung yang sedang tertidur di ranjang Joohyun, lalu mengusap-usap pelan bahunya. Aku menghela napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya beranjak dari tempatku dan keluar dari kamar. Tepat saat aku akan pergi ke dapur, aku mendengar suara dari arah pintu. Aku menoleh sesaat, dan melihat Bae Joohyun yang baru saja masuk dengan warna emosinya yang tidak biasa. Aku mengangkat bahu singkat lalu melangkah untuk mengambil minuman.

Oh? Oppa? Kau sudah pulang?” seru Joohyun kemudian. “Aigoo, kenapa dengan wajahmu oppa? Apa kau berkelahi dengan seseorang atau bagaimana?”

“Ya! Seorang pria memang harus berkelahi” kataku. “Apa kuliahmu sudah selesai hari?” Aku ganti bertanya pada Joohyun.

“Eo,” jawab Joohyun sambil mengambil air minum yang langsung diteguknya. “Tidak biasanya kau di apartemen di jam seperti ini, oppa” katanya lagi.

Oppa mengantar Sooyoung-”

“Sooyoung eonni sudah kembali?” potong Joohyun dengan cepat.

Aku mengangguk, “Dia sedang istirahat sekarang di kamar” kataku sebelum meneguk satu gelas air putih. “Oppa harus pergi. Kau tolong jaga Sooyoung, eo?

Eodiseo? Aku pikir oppa sudah benar-benar pulang”

“Aku meninggalkan mobilku di Ganghwa-gun, jadi aku harus mengambilnya terlebih dahulu” kataku menjawab sambil melangkah keluar dari dapur. “Telepon oppa jika kau butuh sesuatu,” pesanku sambil mengacak pelan rambut Joohyun.

“Josimhae,”

Aku kembali mengangguk, lalu berjalan keluar dari apartemen. Untuk sekarang aku bisa bernapas lega karena ada seseorang yang menjaga Sooyoung di apartemen jadi aku tak khawatir meninggalkannya. Joohyun pasti tahu apa yang harus dia lakukan karena aku sudah memberitahunya tentang kemungkinan Ahn Ji Won akan menjadikan dirinya atau Sooyoung sebagai umpanku. Itulah kenapa Joohyun langsung pulang begitu kuliahnya selesai padahal biasanya dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya terlebih dahulu sampai larut malam.

Aku menghentikan sebuah taksi yang sedang lewat lalu meminta supir taksinya untuk membawaku ke Ganghwa-gun, ke tempat sebelumnya aku dan Sooyoung berada. Dalam perjalanan aku terus memikirkan semua yang terjadi hari ini, terutama tentang apa yang Hwang Min Soo katakan melalui Sooyoung. Fakta bahwa dua orang namja sebelumnya menyukai Ahn Yewon itu brnar-benar mengejutkanku. Terutama Ahn Ji Won yang selama ini aku tahu adalah oppa-nya tapi ternyata bukan.

Ponselku berbunyi, dan akupun cepat-cepat mengambilnya lalu mendekatkannya ke telinga setelah menekan tombol jawabnya. “Yeobeoseyo, sunbae-” sapaku dengan suara yang aku buat sebiasa mungkin.

“Aku menemukan tempat terakhir dimana Ahn Ji Won berada. Kau dimana sekarang? Haruskah kita pergi bersama?”

Josanghaeyo sunbae. Kurasa aku tak bisa ikut kali ini. Ada sesuatu yang ingin aku selidiki sendiri, dan aku akan memberitahu detailnya nanti padamu” jawabku tanpa ragu. “Aku menemukan sedikit hubungan antara Hwang Min Soo dan Ahn Ji Won. Aku akan memeriksanya lebih jauh dulu,” Aku menambahkan.

Ah, arraseo. Baiklah kalau begitu, aku juga akan menghubungimu jika ada sesuatu yang aku temukan” kata detektif Jung. “Dan, Kyuhyun-ah… Seseorang dari Kejaksaan datang mencarimu tapi aku berkata kau sedang melakukan penyelidikan”

Eo, gomawo sunbae” Aku langsung menutup sambungan teleponnya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam sakuku.

Taksi berhenti di lokasi yang aku tuju. Akupun bergegas keluar dari taksi dan menuju mobilku yang masih terpakir di tempatnya semula. Aku berdiri menyandar ke mobil lalu menatap ke jalanan yang dulu menjadi tempat kejadian kecelakaan lima tahun lalu. Sekelebat bayangan tentang kecelakaan itu tiba-tiba muncul di kepalaku tapi aku tak berhasil melihatnya dengan jelas. Hanya sebuah ingatan kecil tentang mobilku yang tertabrak oleh mobil lain, dan bagaimana aku berusaha untuk tetap mengendalikan kemudiku sebelum akhirnya terbalik.

Sunbae,” panggil seseorang yang aku tahu adalah Park Dong Soo dari suaranya yang berat. “Aku sudah menunggumu disini sejak tadi,” katanya lagi begitu di hadapanku.

“Ada apa, Dong Soo-ya?”

“Aku mendapat laporan dari seseorang yang menemukan sebuah mayat di Ongnyeon-2-(i)-dong

“Apa identitasnya sudah diketahui?”

Ne, sudah” jawab Park Dong Soo sambil mengambil catatan dari sakunya. “Seorang namja, diketahui bernama Park Dong Chul. Ada sebuah tato di tangannya bergambar ‘Neukdae’ dan luka tembakan tepat dijantungnya”

“Park Dong Chul? Jamkkaman, bukankah dia-”

“Nama orang yang baru saja memberimu informasi di kantor” sambung Dong Soo dengan cepat. “Aku tahu. Karena itulah aku langsung melaporkannya padamu, sunbae

Aku menatap Park Dong Soo lekat-lekat, “Ayo kita ke lokasi kejadian” ajakku yang langsung dijawab Dong Soo dengan anggukkan kepalanya.

Mobilku langsung meninggalkan Ganghwa-gun dan melaju menuju Ongnyeon-2-(i)-dong di distrik Yeonsu. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Park Dong Soo langsung menunjukkan lokasi ditemukkannya mayat itu, yaitu di sebuah rumah yang sepertinya tidak dihuni lagi. Ada sebuah garis polisi yang dipasang melintang di depan pintu, dan dua orang polisi berjaga disana. Mereka membungkuk ke arahku saat aku datang, lalu membantuku masuk ke dalam rumah dengan Park Dong Soo di belakangku.

“Ini adalah rumah milik korban,” Dong Soo memberitahu. “Mayatnya ditemukkan di kamar, sebelah sini”

Aku mengikuti Dong Soo memasuki kamar tempat kejadian. Di lantainya masih ada gambar mayat yang terlentang, dengan kaki-tangan terentang di tengah ruangan. Disebelahnya ada senjata api yang uniknya sama dengan senjata api yang digunakan Kangjun dulu. Aku menatap sekeliling kamar, lalu menatap Dong Soo yang sedang memperhatikanku dengan warna emosi khawatir terlihat jelas di wajahnya.

“Kapan itu?” tanyaku mengabaikan warna emosi Dong Soo.

“Jam 18.00. Saksi mengatakan dia mendengar suara tembakkannya. Tidak keras sekali, seperti diredam”

“Apa saksinya masih disini?”

Park Dong Soo mengangguk, lalu dia keluar dari kamar dan kembali lagi bersama seorang namja yang kira-kira berumur hampir 50an.

Annyeonghaseyo. Aku detektif Cho Kyuhyun,” sapaku sambil menunjukkan lencanaku. “Josanghaeyo karena Anda diminta untuk tetap disini selama penyelidikkan. Bisakah Anda menceritakan bagaimana Anda menemukan mayat Tn. Park Dong Chul disini?”

Ne, detektif” jawab namja itu. “Saat itu aku baru saja pulang bekerja dan melewati rumah ini seperti biasanya. Beberapa langkah setelah menjauh dari rumah ini, aku mendengar suara tembakkan jadi aku memutuskan untuk berhenti dan memeriksanya”

Aku diam dan terus mendengarkan, sementara Park Dong Soo mencatatnya di buku kecilnya.

“Aku yakin sekali jika aku mendengarnya dari rumah ini, jadi aku mendatanginya. Aku cukup terkejut saat mengetahui pintunya terkunci, jadi aku mengintip melalui jendela depan dan melihat pintu kamar ini terbuka serta TV-nya yang menyala. Aku mengetuk beberapa kali sebelum akhirnya aku memeriksa sekeliling rumah ini”

Aku mengangguk-angguk mengerti.

Namja itu melanjutkan, ”Lalu aku melihat Dong Chul-ssi tergeletak seperti itu saat aku mengintip ke jendela kamarnya yang terbuka” katanya sambil menunjuk ke arah gambar mayat di tengah kamar. “Aku kembali ke pintu depan, kemudian mendobraknya dan bergegas ke kamar ini. Lampu di sebelah ranjangnya masih menyala, dan aku yang menyalakan lampu kamar ini sebelum menelepon polisi”

“Apa Anda melihat ada orang?”

“Aniyo,”

“Kalau begitu, apa mungkin Tn. Park menembak dirinya sendiri?” tanyaku pada Dong Soo.

“Awalnya kami juga berpikir seperti itu, sunbae. Tapi coba lihat!” Park Dong Soo menyibakkan tirai, dan menunjukkan bahwa jendelanya terbuka lebar. “Dan lihat ini,” Dia menunjuk ke arah kusen kayu jendela yang terdapat bercak darah berbentuk jejak sol sepatu. “Kurasa ada yang berdiri disini sewaktu keluar dari sini,”

“Apa kau memperhatikan ini sebelumnya?” Kali ini aku bertanya pada namja saksi itu.

“Tidak,”

“Jejak ini menujukkan ada orang yang sudah berada di dalam rumah ini, dan kemudian melarikan diri setelah membunuh Tn. Park”

“Tapi, menurutku” sela seseorang dari arah pintu. Kami semua menoleh, dan melihat Penyidik Gong sedang berdiri disana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Boleh saja Anda mengatakan ada orang yang melarikan diri melalui jendela. Tapi, yang ingin aku tanyakan, bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah padahal semua pintu dan jendela di rumah ini diketahui terkunci seluruhnya?”

Ah, itu pertanyaan yang bagus, penyidik Gong”

Penyidik Gong tersenyum kecil, “Senang melihatmu disini, detektif Cho. Sepertinya kau mendengar pembunuhan ini, dan bergegas datang kesini padahal kau sedang melakukan penyelidikan lainnya” katanya. “Apa kau meninggalkan penyelidikanmu begitu saja untuk memeriksa pembunuhan yang terjadi pada orang yang baru saja menemuimu?”

Aku diam di tempatku.

“Jadi, menurut pendapatku” Penyidik Gong mengalihkan pembicaraan dengan cepat. “Kalau benar ada orang yang melarikan diri melalui jendela, mereka pasti bersembunyi di dalam rumah dan menunggu sampai Tn. Park masuk kesini”

“Itu bisa juga,”

“Dan, menurutku lagi, detektif Cho. Anda tidak diijinkan berada disini untuk melakukan penyelidikkan tanpa ada surat resmi” kata Penyidik Gong lagi. “Jadi, silahkan Anda pergi sebelum aku mencurigai Anda mengingat korban baru saja menemui Anda”

Aku menatap tajam Penyidik Gong, “Kajja, Dong Soo-ya” kataku sambil melangkah pergi dari rumah kejadian ini.

“Sunbae-”

“Tidak, Dong Soo-ya. Tidak disini” potongku cepat. “Kita pergi dulu, dan membahasnya lagi nanti”

“Algeseumnida”

Aku bergegas masuk ke dalam mobil, diikuti Park Dong Soo. Lalu tanpa menunggu lama, aku segera meninggalkan lokasi ini. Aku sempat melihat Penyidik Gong sedang menatap ke arah mobilku sebelum akhirnya mobilku berbelok ke jalanan yang lebih besar.

Sunbae… Jadi, pertanyaannya adalah ini bunuh diri atau pembunuhan?” tanya Dong Soo setelah untuk beberapa saat suasana hening di dalam mobil. “Kalau ini bunuh diri, maka kita harus percaya bahwa namja ini setelah dari kantor polisi pulang ke rumahnya, lalu membuat jejak sepatu berlumpur di sudut balik tirai agar terkesan ada orang yang menunggunya, membuka jendela, mengoleskan darah-”

“Kita jelas bisa mengesampingkan kemungkinan itu,” potongku cepat. “Jadi, kau juga melihat ada jejak sepatu di sudut balik tirai?”

Dong Soo menganggukkan kepala.

“Menurutku, kejadian ini bukanlah bunuh diri tapi pembunuhan. Kita bisa menarik kesimpulan itu setelah mempertimbangkan fakta-faktanya” kataku memperlambat laju mobilnya. “Apalagi Dong Chul-ssi baru saja memberiku informasi, dan mengingat apa yang terjadi pada rekannya… Aku cukup yakin mereka-lah yang melakukan pembunuhan ini meskipun kita harus menemukan bukti-buktinya terlebih dahulu”

“Ne,”

“Apa kau kebetulan memeriksa seisi rumahnya?”

Ne, aku melakukannya”

“Apa yang kau temukan?”

“Sebuah sepeda, hanya seratus meter dari pintu depan. Dan, ada jejak sepatu yang sama seperti di jendela di sekitar sepeda itu” jawab Dong Soo. Dia mengambil sesuatu dari sakunya lalu memberikannya padaku. Mau tak mau akupun menghentikan mobilku untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh Dong Soo. “Ada kantong berisi kunci Inggris dan kaleng oli yang tergantung disana, tapi tak ada petunjuk mengenai pemiliknya”

“Itu bisa saja sepeda milik korban atau pelakunya yang sengaja ditinggalkan!” kataku. “Tapi bukankah ini konyol jika pelakunya meninggalkan sepedanya begitu saja? Bahkan detektif yang paling bodoh sekalipun akan mengatakan bahwa jelas itu petunjuk palsu, karena sepeda itu merupakan benda pertama yang diperlukan pelakunya untuk bisa meloloskan diri”

“Aku akui, aku tak bisa berpikir apa-apa, sunbae” komentar Dong Soo. “Ada banyak kemungkinan yang terlintas di kepalaku sekarang, dan fakta bahwa ini pasti berhubungan dengan Ahn Ji Won atau kelompok mafia itu”

“Tepat sekali, Park Dong Soo. Untuk saat ini, kita baru bisa menyimpulkan itu meskipun tanpa bukti yang nyata tapi aku yakin aku bisa menemukan buktinya dan menangkap pelakunya,”

“Bagaimana kau akan melakukannya, sunbae?”

“Dengan bertanya langsung. Masih ada waktu 49 hari untuk bisa bertanya langsung,” jawabku tanpa ragu. “Kita berharap saja, dia belum pergi” kataku lagi disertai kerutan tajam di kening Dong Soo.

Aku kembali menyalakan mesin mobil, dan meninggalkan tempat kami sebelumnya. Meskipun sebenarnya aku tak mau melibatkan Sooyoung, tapi kurasa aku benar-benar membutuhkannya dan kemampuannya untuk membantuku mengetahui siapa yang telah melakukan ini pada pemberi informasiku, Park Dong Chul. Jika itu Ahn Ji Won, aku akan memastikannya mendapat hukuman yang berat, dan jika itu adalah perbuatan kelompok mafia Gu Neukdae Pa, aku akan pastikan menangkap mereka semua atas kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini.

**

Eotte? Apa kau melihat sesuatu?”

Jamkkaman, oppa” kata Sooyoung sambil menyipitkan matanya menatap ke arah rumah dimana mayat Park Dong Chul ditemukan. “Oh… Oh, kurasa aku melihat sesuatu. Jamkkaman, oppa! Tolong beritahu aku bagaimana ciri-ciri orang itu”

Aku mengingat-ingat bagaimana penampilan Park Dong Chul terakhir kali, “Emm… Dia kira-kira setinggi aku, rambutnya berantakan, tubuhnya tegap dan sedikit berotot”

Oh, itu dia” seru Sooyoung sambil menunjuk ke sebuah arah. “Dia ada disana, sedang berdiri menatap rumah itu” katanya menambahkan.

Aku ikut menatap ke arah yang ditunjuk Sooyoung, dan tak melihat siapapun disana. Aku baru akan mengatakan sesuatu pada yeojachingu-ku tapi dia bergerak dengan cepat ke arah rumah itu. Aku berusaha mengejarnya, sayangnya Sooyoung sudah sangat dekat dengan rumah itu dan aku tak bisa melangkah lebih dekat lagi karena tak mau berurusan dengan siapapun dari Kejaksaan yang masih berjaga di rumah itu. Aku hanya bisa mengawasi Sooyoung dari balik pohon sambil bersiap-siap jika sesuatu terjadi, entah itu karena gwishin maupun polisi yang berjaga disana, maka aku akan bergegas membawanya pergi. Tak peduli apapun!

Sooyoung terlihat sedang berbicara dengan salah satu polisi di sekitar rumah itu, lalu detik berikutnya yeoja itu melangkah pergi dan aku sempat melihat sesuatu berwarna putih tergantung di salah satu telinganya. Itu sebuah earphone. Aku benar-benar tak tahu bagaimana Sooyoung melakukannya tapi aku yakin dia berhasil membuat gwishin Park Dong Chul mengetahui bahwa dia bisa melihat gwishin. Bahkan saat dia sudah dekat denganku, aku bisa melihatnya sedang berbicara sendiri, seakan-akan ada seseorang disampingnya yang menjadi lawan bicaranya. Mungkin jika aku tak pernah tahu bahwa Sooyoung memiliki kemampuan itu, aku benar-benar akan berpikir jika dia orang aneh dan semacamnya. Untungnya, aku sudah terbiasa melihatnya seperti itu bahkan sebelum dia menjadi yeojachingu-ku.

Oppa, aku membawanya-” ucap Sooyoung.

“Ne? Nugisijyo?”

Geu saram,” jawab Sooyoung sambil menoleh ke sisi kanannya. “Park Dong Chul-ssi” katanya seraya tersenyum.

Ah, geurae?” sahutku sedikit tidak percaya Sooyoung benar-benar membawa gwishin ke hadapanku sekarang. Aku menatap ke sisi kanan Sooyoung, dan tak tahu harus bersikap bagaimana selain hanya tersenyum. “Eotteoke…” gumamku.

Sooyoung meraih tanganku lalu menggenggamnya. “Biar aku saja,” katanya pelan. Dia kembali menatap ke ruang kosong di kanannya tapi tak mengatakan apa-apa. Aku melihatnya tersenyum ramah ke sesuatu yang lebih rendah darinya sebelum kemudian dia berjongkok. “Gomawo, Jae Minie… Igeo” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Ya! Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku terus menatap tangan Sooyoung yang diatasnya terdapat bungkusan permen. Mataku mengerjap beberapa kali saat melihat permen itu menghilang dari tangan Sooyoung. “Mwoya!” seruku tak bisa menahan keterkejutanku.

Sooyoung bangkit dari posisinya, “Itu Jae Min. Dia yang membantuku memanggil Dong Chul-ssi… Oh, annyeong, Jae Min-ah! Gomawo!” katanya sambil melambaikan tangannya.

Aigoo… Jika aku tak tahu kemampuanmu dari awal, aku pasti sudah ketakutan”

“Apa itu menakutkan?”

Aku menangguk. “Kupikir kau hanya melakukan sesuatu seperti yang biasanya kau lakukan tapi untuk kali ini, seakan-akan aku bisa melihat juga gwishin itu”

“Jinjja?”

Jinjja! Apalagi saat permen itu tiba-tiba menghilang… Aigoo, aku baru pernah melihatnya seumur hidupku,” kataku memberitahu. “Apa gwishin memakan sesuatu seperti itu?”

“Yah, beberapa. Terutama gwishin-gwishin anak kecil macam itu, tapi– Ah, ne… Mianhaeyo Dong Chul-ssi” ucap Sooyoung tiba-tiba, lalu dia menoleh dengan cepat ke arahku. “Oppa, apa yang harus kita lakukan sekarang? Katanya ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, apa itu? Dia juga ingin mengatakan sesuatu padamu… Emm, tentang kematiannya yang tiba-tiba”

Geurae?” sahutku sambil menatap ke sembarang arah, karena aku benar-benar tak tahu dimana tepatnya gwishin itu berdiri. “Pertama, kita menjauh dari sini terlebih dahulu. Setelah itu, ada banyak hal yang ingin aku ketahui mengenai apa yang terjadi padamu, Dong…Dong Chul-ssi

“Dia setuju,” kata Sooyoung. “Katanya dia akan memberitahu semua hal yang dia ketahui tentang Gu Neukdae Pa” Sooyoung berkata lagi tanpa menatapku tapi terus menatap ke udara kosong di sebelahnya.

Aku mengangguk mengerti, lalu dengan gerakan cepat aku menggengam tangan Sooyoung dan mengajaknya pergi. Aku sempat mendengar yeoja ini juga meminta Park Dong Chul untuk mengikuti kami. Setelah beberapa saat berjalan, kami menemukan sebuah Pojangmacha (warung tenda) di pinggir jalan dan memutuskan untuk pergi kesana. Aku memesan Soju dan Sundae. Meskipun rasanya sedikit aneh karena kami memesan tiga porsi tapi orang-orang tak mencurigainya.

Eotteoke-” kataku sambil menuangkan soju ke gelas Sooyoung lalu ke gelas sebelahnya.

Oppa,” panggil Sooyoung kemudian. “Ini pertama kalinya kau minum dengan gwishin, ‘kan?”

“Eo,”

Sooyoung tersenyum tipis, “Kau yang memaksaku untuk melakukan ini, lalu kenapa kau terlihat ragu sekarang?”

“Ini karena aku merasa sesuatu yang aneh sedang terjadi” jawabku. “Aku pasti sudah gila meminta informasi kematian dari gwishin korbannya seperti ini” kataku jujur.

Aku melihat Sooyoung sedang menatap ke arah kirinya, lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum pada akhirnya dia kembali menoleh padaku. “Katanya seseorang melakukannya,”

Mwo?” seruku terkejut. “Apa maksudnya ‘seseorang melakukannya’ itu?”

Sooyoung menatap ke arah yang sama lagi, “Ketua dari kelompoknya mendatanginya setelah dia memberi informasi pada polisi, dan menembaknya karena dianggap sebagai pengkhianat. Hyungnim-nya… Byung… Byung Hoon hyungnim… Dia juga telah dibunuh oleh kelompoknya karena menemui seorang detektif tanpa ijin kelompoknya” katanya seakan-akan sedang memberitahu semua hal yang dikatakan gwishin itu padanya.

Aku terlalu terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar dari Sooyoung mengenai pengakuan gwishin itu. Pembunuhan? Dilakukan oleh salah satu kelompok Gu Neukdae Pa, dan lagi-lagi semuanya dilakukan secara bersih seakan-akan itu tindakan bunuh diri. Meskipun motifnya karena ‘dianggap pengkhianat’ tapi mungkin saja masih ada motif lain dibalik pembunuhan terhadap Park Dong Chul ini.

“Dia meminta maaf padamu, oppa” Sooyoung melanjutkan.

“W-Waeyo?”

Sooyoung menggelengkan kepala, membuatku sedikit kebingungan.

Waegeurae, Sooyoung-ah?” tanyaku ingin tahu.

“Dia tak mengatakan apa-apa” jawab Sooyoung sambil menoleh padaku. “Dong Chul-ssi,Yeoja itu memanggil Park Dong Chul pelan.

Aku terus memperhatikan Sooyoung dan ekspresinya yang cepat berubah. Kurasa dia sedang berusaha kembali berbicara dengan gwishin itu, jadi aku memilih untuk diam selama beberapa saat. Aku kembali menuang soju ke dalam gelasku sambil menunggu. Aku tak tahu apa aku melakukan sesuatu yang benar atau salah dengan menginterogasi gwishin seperti ini. Tapi jika aku tak melakukannya, bagaimana aku bisa mencari tahu apa yang terjadi?

“Dia berada di kelompok XI Seo-gu, dan menentang kelompoknya karena menawarkan diri membantu Ahn Ji Won melakukan pembalasan dendam pada seseorang yang telah membunuh dongsaeng-nya”

Aku menelan ludahku pahit. “Kelompok XI Seo-gu? Jadi orang-orang itu yang menyerangmu dan aku saat itu? Maja?”

Sooyoung mengangguk dengan perlahan.

Gu Neukdae Pa, kelompok XI Seo-gu” ucapku mengulang menyebutkannya. “Jamkkaman!” seruku tiba-tiba.

“Waegeuraeyo, oppa?”

“Aku… Aku sepertinya–sepertinya aku ingat sesuatu” jawabku sambil meletakkan gelas sojuku. “Kelompok XI Seo-gu… Itu…” Pikiranku langsung melayang pada masa laluku yang tiba-tiba muncul begitu saja saat mengingat kelompok itu.

-Flashback-

“Halo!” sapa seorang namja sambil duduk di sebelahku. “Kau tampaknya sudah siap sedia”

Aku tersenyum tipis. “Eo,” kataku. “Ini trek favoritku, jadi aku sudah siap”

“Kau tinggal dimana?”

“Seoul,”

“Jadi sudah sering bermain disini?”

“Eo,”

“Dari kelompok mana?”

Keningku berkerut tajam, tak mengerti apa yang dimaksud oleh namja ini. “Kelompok?” tanyaku.

Namja itu menganggukkan kepala, “Aku anggota Gu Neukdae Pa, kelompok XI Seo-gu. Kau pasti sudah mendengar kelompok itu, ‘kan? Kelompok kami yang paling terkenal dan paling dipercaya oleh Bos besar kami”

“Apa itu sebuah kelompok mafia? Gu Neukdae Pa itu,”

“Orang mengatakannya begitu. Kami sedang melakukan perekrutan diam-diam sekarang, jadi kau dari kelompok mana?”

“Kelompok III Ganghwa-gun,” jawab seseorang dari arah belakangku. Membuatku dan namja ini menolehkan kepala bersamaan. Ahn Yewon sedang berdiri disana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kelompok XI Seo-gu, mau apa kau disini?”

“Ah, jadi kau dari Kelompok III Ganghwa-gun”

“Kau orang baru ‘kan di kelompok itu? Jadi kau tak tahu-”

“Aku memang orang baru disini, tapi aku tak baru dengan orang-orang seperti dirimu dan jenismu!” seru namja itu dengan nadanya yang keras. “Kurasa dimana-mana kelompok kalian sama saja, ikut campur tanpa diminta”

“Mungkin tak lama lagi kita akan lebih sering bertemu” kata Yewon datar, tapi aku bisa melihat warna emosi merah di wajahnya. “Kau benar-benar berani, kalau aku boleh menilai”

“Kau fx%*%&*!”

Aku terkesiap mendengar umpatan kasar yang keluar dari namja itu, tapi Ahn Yewon hanya tertawa kecil. Yeoja itu justru meludah, lalu tanpa mengatakan apapun, dia menarik tanganku dan mengajakku meninggalkan tempat ini. Meskipun aku masih tak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi mau tak mau aku mengikuti Yewon karena diapun sama sekali tak melepaskan tangannya dariku.

“Ya!” kataku pada akhirnya sambil melepas tanganku sendiri. “Neo jinjja! Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Amugeotdo aniyo”

“Apa itu Kelompok IiI Ganghwa-gun dan Kelompok XI Seo-gu? Apa kau jangan-jangan…”

“Bukan apa-apa,” sambung Yewon dengan cepat. “Lupakan saja itu, oppa. Lebih baik kita bersiap balapan dan-”

“Aku tak akan balapan kali ini,” Aku memotong perkataan Yewon. “Kau… Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, ‘kan?”

Ahn Yewon diam saja.

“Ya! Jika kau bukan sahabat Joohyun, mungkin aku tak akan memedulikannya tapi kau… Kau sudah bersahabat dengan dongsaeng-ku sejak kecil jadi aku perlu tahu karena mungkin saja Joohyun-”

“Joohyun tak tahu apapun dan dia juga tidak terlibat” Kali ini giliran Yewon yang memotong perkataanku. “Jika dia tahu, aku yakin sekali dia tak mau berteman denganku lagi”

“Jadi benar ada sesuatu yang kau sembunyikan dari Joohyun?”

Yewon menghela napas sesaat sebelum mengangguk pelan.

“Apa itu ada hubungannya dengan kelompok-kelompok tadi itu?”

Yewon kembali mengangguk. “Aku salah satu anggotanya”

“Mwo? Kau anggotanya? Yang mana?”

“Kelompok III Ganghwa-gun,”

“Ani… Bukankah katanya itu adalah sebuah kelompok mafia? Bagaimana bisa kau-” Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku karena sangat terkejut dengan informasi yang baru aku tahu dari sahabat dongsaeng-ku ini. “Ahn Yewon… Neo… Kau benar-benar diluar yang aku duga! Jinjja!”

“Apa kau kecewa padaku, oppa?” katanya sambil mengalungkan tangannya di lenganku.

“Kecewa apanya!” jawabku cepat-cepat melepaskan tanganku. “Aku hanya terkejut karena kau… Wah… Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa”

Ahn Yewon tersenyum tipis. “Bagaimanapun, mulai sekarang tak akan ada yang mendekatimu dan mencoba merekrutmu karena kau berada di Kelompok III Ganghwa-gun”

“Apa aku gila? Kau pikir aku mau berpura-pura menjadi anggota kelompok itu?”

“Kalau begitu, bergabung saja. Itu akan lebih mudah mengatakannya” sahut Yewon dengan nada santainya, seakan-akan dia sedang membicarakan sesuatu yang biasa. “Boss kelompok III Ganghwa-gun adalah Hwang Min Soo. Dia cukup terkenal di Gu Neukdae Pa dan kelompok-kelompok lainnya. Semua orang mengenalnya, apalagi orang-orang dari kelompok XI Seo-gu”

Aku memilih untuk tidak menanggapinya dan mengalihkan pandangan ke arah namja tadi yang sekarang terlihat sedang mengobrol dengan namja lainnya. Aku melihat namja itu menunjuk ke arahku dan Ahn Yewon tapi aku berpura-pura tidak memperhatikannya. Jujur saja, aku tak pernah sekalipun berhubungan dengan sesuatu seperti kelompok mafia atau sebagainya. Aku hanya suka kebut-kebutan liar, melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan namja pada umumnya di usiaku. Tapi itu jauh dari kesan sebuah kelompok mafia yang terdengar lebih serius lagi.

“Ya! Ada masalah apa sebenarnya di kelompok-kelompok yang kau sebutkan itu. Aku merasa ada sesuatu yang salah-”

“Apa itu artinya kau tertarik untuk bergabung, oppa?” potong Yewon dengan semangat. Dia tersenyum menggodaku, tapi aku cepat-cepat menjauh darinya. “Kau tertarik, ‘kan?”

“Anigotten!” jawabku tegas. “Aneh saja rasanya orang-orang menatapku dan kau hanya karena kau menyebutkan kelompok itu tadi. Aku hanya penasaran apa ada sesuatu yang terjadi diantara kelompok-kelompok itu”

Ahn Yewon mengangguk-anggukkan kepala. “Tentu saja, ada” katanya. Aku melihatnya melirik sekali ke arah beberapa kerumunan namja lalu kembali menatapku. Aku bisa melihat warna keberanian di wajahnya sekarang, benar-benar yeoja yang tak mengenal rasa takut. “Persaingan antar kelompok selalu terjadi di Gu Neukdae Pa. Ah, bukan hanya Gu Neukdae Pa, tapi kelompok-kelompok lainnya pun selalu menjadi yang terbaik di kelompok itu. Karena tandanya, kelompok mereka akan menjadi kelompok yang paling dipercaya untuk melakukan sesuatu yang besar”

Aku diam saja.

Yewon melanjutkan, “Sejauh ini Kelompok III Ganghwa-gun selalu menjadi yang terbaik diantara kelompok Gu Neukdae Pa lainnya. Banyak hal-hal yang berhasil dikerjakan oleh kelompok kami, karena itulah kami menjadi yang teratas”

“Hal-hal seperti apa misalnya?”

“Kau pasti memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan, ‘kan oppa? Yah, tidak selalu sebenarnya” jawab Yewon sambil duduk di atas sebuah pagar. “Akhir-akhir ini kami bahkan tidak terlibat dalam kejahatan apapun, dan hanya menjadi bodyguard orang-orang besar, dan sebagainya itu”

“Bodyguard? Selain itu?”

“Oppa, kau benar-benar berpikir aku akan melakukan suatu kejahatan dengan bergabung dengan kelompok ini ‘kan?” tanya Yewon sambil menyipitkan matanya menatapku.

Aku menghela napas panjang tapi tak mengatakan apa-apa.

“Apapun yang sekarang ada dipikiranmu, aku bergabung… Hmmm, karena aku… Aku ingin menemukan ayah kandungku” ucap Yewon tiba-tiba. “Ini pertama kalinya aku mengatakan alasanku bergabung dengan kelompok ini” katanya menambahkan.

“Ayah kandung?” ulangku.

Yewon mengangguk, “Kudengar ayahku juga menjadi bagian dari kelompok Gu Neukdae Pa tapi aku tak tahu dia di kelompok mana. Kemungkinan besar di Kelompok XI Seo-gu itu”

“Ah,”

“Kelompok XI Seo-gu… Kelompok itu sudah banyak melakukan hal-hal besar, bahkan sampai diluar Incheon. Sayangnya setelah ketuanya berganti, kekuatannya juga melemah dan banyak pekerjaan yang hasilnya tidak memuaskan”

“Apa Gu Neukdae Pa itu hanya terdapat dua kelompok itu?”

“O…. Oppa sepertinya mulai tertarik” sahut Yewon tak menjawab pertanyaanku dulu. Dia tersenyum menggodaku, lalu turun dari pagar sebelum berkata. “Tentu saja tidak. Tapi persaingan paling jelas terlihat adalah dua kelompok itu. Katakan saja Kelompok XI Seo-gu itu adalah kumpulan orang terbuang yang sedang berusaha menaikkan pamor mereka dengan berbagai cara. Bahkan terkadang cara itu merupakan sebuah kejahatan sekalipun”

Aku tak langsung menanggapi. Tapi kemudian aku berkata, “Ya! Kenapa kau terkesan sangat santai saat membicarakan masalah kelompok mafia di depanku? Apa kau tak takut, aku mungkin saja melaporkanmu karena bergabung dengan kelompok semacam itu”

“Aku percaya kau tak akan melakukannya, oppa” jawab Yewon sambil menatapku lekat-lekat. “Karena itulah, aku akan menceritakan apapun yang ingin kau tahu mengenai kelompok kami ini. Siapa tahu, mungkin suatu saat kau akan bergabung setelah mendengar banyak tentang kelompok itu dariku”

“Sudah kukatakan, aku tak tertarik. Tidak masalah bagiku berteman dengan siapapun, bahkan seorang penjahat sekalipun. Selama dia menghormati persahabatannya denganku, maka aku akan menjaga rahasianya” kataku.

“Meskipun temanmu adalah anggota sebuah kelompok mafia?”

“Kelompok mafia atau bukan, bagiku itu bukan sebuah kelompok kejahatan. Yah, memang kata-kata mafia itu terkesan ‘jahat’ bagi sebagaian orang tapi terkadang orang bergabung karena mereka membutuhkan tempat untuk mengekspresikan diri mereka”

“Ya! Ahn Yewon!” panggil salah seorang namja dari sisi kananku. Namja itu menatapku sekali, lalu berpindah pada Yewon. Warna emosi namja itu adalah merang tua terang. “Ya! Aku tahu kau baru saja pindah, jadi aku memberanikan diri untuk menemuimu. Aku cukup terkejut saat mengetahui kau belum juga melapor kepada Min Soo hyungnim. Kenapa kau belum menemuinya?”

“Aku sibuk,”

“Kau benar-benar harus menyediakan waktu untuk menemuinya. Aigoo, gadis ini! Hanya karena kau tahu bagaimana hyungnim padamu, seharusnya kau tak menganggapnya remeh mengenai masalah laporannya. Aku hanya berharap kau tidak bersilang jalan dengannya. Yah, itu jangan sampai terjadi”

Ahn Yewon terlihat sedikit terkejut, begitupula warna emosinya. “Ya, Jong Man-ah! Aku sudah menjadi anggota kelompok selama lebih dari dua tahun, tapi aku tak pernah tahu jika masalah melapor ternyata semendesak itu”

“Mungkin tidak di kelompok lainnya,”

“Sama saja disini”

“Jinjja?”

Yewon lama menatap namja yang dia panggil Jong Man. Ada kesinisan dalam pandangan yeoja itu.

“Bukankah begitu?”

“Katakan sebulan lagi. Kudengar kau bercakap-cakap dengan salah satu anggota Kelompok XI Seo-gu”

“Darimana kau tahu?”

“Oh, beritanya menyebar–baik atau buruk di kelompok ini berita selalu cepat menyebar” jawab Yewon tanpa ekspresi meskipun warna di wajahnya merah keungu-unguan.

“Aigoo, ya. Ada bisnis kecil yang harus aku lakukan dengan kelompok itu”

“Heol~ apa Min Soo oppa tahu?”

“Geureom, aku selalu melapor padanya setiap melakukan sesuatu” jawab namja itu. “Yewon-ah, sebagai temanmu aku menyarankan agar kau bersikap lebih baik pada Min Soo hyungnim. Laporkan setiap kegiatanmu untuk kebaikanmu, arra?”

Ahn Yewon mengangkat bahunya singkat, “Kajja oppa,” ucapnya padaku. “Kita pergi dari sini saja,” Dia menarik tanganku dan langsung mengajakku pergi meninggalkan tempat ini tanpa mengatakan apa-apa lagi.

-Flashback end-

 

Gwenchanayo oppa?” Aku mendengar suara Sooyoung, membuatku tersadar dari lamunanku. “Kau terlihat tidak baik. Apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya lagi sambil memegang tanganku dan meremasnya dengan perlahan.

Emm… Gwenchana, gwenchana” jawabku. “Aku hanya teringat sesuatu dari masa laluku tiba-tiba”

Oh? Jinjja? Apa itu?”

Aku menatap Sooyoung lama, lalu tersenyum tipis. “Nanti, aku akan memberitahumu” kataku seraya mengusap pelan kepalanya dengan tanganku yang bebas.

“Oppa-ya!”

“Wae? Wae?”

Sooyoung menatap ke arah kursi kosong di depanku, lalu dia menarik napas panjang. “Dong Chul-ssi, mianhaeyo. Aniyo, jeongmal mianhaeyo” katanya kemudian. “Ne, aku akan memberitahunya. Ah, jinjja? Mianhaeyo, aku tak bisa membantumu”

Mwoya…” gumamku.

“Jangan sampai lewatkan 49 harimu setelah kau menyelesaikan urusanmu. Ne, ne, aku pastikan akan memberitahu detektif Cho”

Ya!” seruku sambil menyenggol siku Sooyoung. “Dia belum pergi?” tanyaku.

Sooyoung menggeleng, “Katanya dia ingin disini dulu menikmati soju

“Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini” ajakku seraya bangkit dari kursiku. “Aku ingin pergi jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku. Kajja,

Jamkkaman, oppa” sahut Sooyoung dengan cepat. Aku melihatnya terus menatap ke arah yang sama, lalu kepalanya mengangguk beberapa kali. Detik berikutnya dia bangkit dari kursinya dan melambaikan tangan ke kursi kosong itu. “Kajja, oppa” katanya padaku.

Aku mengangguk lalu bersama-sama Sooyoung keluar dari warung tenda dan menyusuri jalanan yang cukup ramai dilewati orang. Untuk beberapa saat, tak ada obrolan apapun diantara kami dan itu membuatku sedikit tidak nyaman. Aku menatap Sooyoung, tapi dia terus saja menatap lurus ke arah jalanan. Seakan-akan ada sesuatu yang menganggu pikirannya sekarang. Aku berdehem pelan lalu meraih tangannya yang bebas dan menggenggamnya dengan erat.

“Sedang memikirkan apa?” tanyaku dengan lembut.

Sooyoung menoleh, “Hmm?

“Kau sedang memikirkan sesuatu, ‘kan?” ulangku. “Apa itu? Katakan padaku jadi kau tak perlu memikirkannya sendiri,”

Ah… Aku hanya sedang memikirkan gwishin itu”

Gwishin? Park Dong Chul-ssi?” sahutku cepat yang langsung dijawab Sooyoung dengan anggukkan kepala. “Wae? Apa ada sesuatu tentang dia yang menganggumu?”

Emm, jogeum” jawab Sooyoung. Dia menghela napas singkat, lalu kembali berbicara. “Aku hanya merasa kasihan padanya setelah mendengar ceritanya. Orang-orang membuangnya, karena itulah dia bergabung dalam sebuah kelompok seperti itu. Dan di kelompoknya pun, dia menjadi seorang buangan sampai dia memilih untuk mengubah pemikirannya dan dihabisi karena itu”

Aku tak langsung menanggapi perkataan Sooyoung, melainkan memikirkannya terlebih dahulu. Ada hal-hal yang belum aku ketahui mengenai gwishin itu. Mungkin gwishin itu bercerita mengenai alasannya bergabung saat aku sedang mengingat masa laluku yang tiba-tiba muncul jadi aku tak mengetahuinya. Sooyoungpun tak mengatakan apapun padaku tapi aku akan menanyakannya nanti.

Oppa, benarkah setiap orang yang bergabung dengan kelompok-kelompok seperti itu adalah orang jahat?” tanya Sooyoung tiba-tiba. “Apa mereka selalu memiliki alasan untuk bergabung dengan kelompok seperti itu?”

Aku teringat Yewon dan alasannya menjadi anggota Gu Neukdae Pa sesaat sebelum menjawab, “Eo, selalu ada alasannya”

Geurae? Ah, jinjja! Aku selalu berpikir begitu” kata Sooyoung tak bisa menyembunyikan ekspresi leganya. “Menurutku, tidak ada orang jahat di dunia ini. Mereka berbuat jahat atau terlibat kejahatan karena ada alasan yang membuat mereka seperti itu tapi pada dasarnya orang terlahir dengan kebaikan di diri mereka”

Aigoo… Kata-katamu bagus sekali, jagiya” kataku sambil mengusap kepala Sooyoung dengan lembut. “Sejak kapan yeojachingu-ku ini pandai berkata-kata?” Aku mencubit pipinya pelan.

Oppaya! Appo!” seru Sooyoung seraya menyingkirkan tanganku. Dia menatapku tajam, lalu berkata. “Kau berhutang sesuatu padaku, Oppa

Satu alisku terangkat, “Mwo?

“Karena aku sudah membantumu, belikan aku Kimchi Galbi Jjim

Kimchi Galbi Jjim? Kau sedang tidak bercanda, ‘kan?”

Wae? Aku ingin memakannya, memangnya kenapa?”

Aku tertawa kecil, “Ani… Lihat jamnya sekarang. Kau yakin akan memakannya di jam seperti ini?”

“Eo,”

“Heol~ jinjja?”

“Jinjja,”

Aku menatap Sooyoung lama dan tidak percaya. Tapi kemudian aku menyerah, “Geurae, kajja. Aku tak mau ada seseorang yang terus merengek padaku meminta Kimchi Galbi Jjim di sepanjang jalan”

Mwoya… Kalau begitu tak usah saja,”

Ani, kajja… Kajja” Aku langsung menarik tangan Sooyoung dan mengajaknya ke sebuah restoran yang menjual Kimchi Galbi Jjim.

**

Aku berjalan mengikuti seorang namja memasuki sebuah bar di pinggiran kota Incheon. Dia mengajakku duduk di salah satu kursi kosong dekat meja bar, lalu berbicara pada pelayan disana.

“Bir saja, malam ini dingin sekali” kata namja itu. “Aku membawa kenalanku kesini, Jo Hwan hyung”

Pelayan itu menoleh ke arahku sesaat lalu kembali pada namja yang berbicara padanya, “Kenalan tidak selalu berarti teman ‘kan, Ji Won-ah?” katanya sambil tersenyum. “Kau, Ahn Ji Won, sudah berapa banyak kenalan yang kau ajak kesini? Apa boss besar tak marah padamu?”

“Tentu saja tidak. Boss selalu senang jika ada orang baru. Itu caranya dia agar kelompok kami bisa menjadi yang terbaik lagi setelah diambil alih kelompok lain”

Aku memilih diam saja dan berpura-pura tidak mendengarkan meskipun aku tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Satu pelayan mendatangiku, dan akupun langsung memesan sebotol bir padanya. Ahn Ji Won, namja yang mengajakku ke tempat ini bangkit dari kursinya. Dia menepuk pelan bahuku sebelum melangkah pergi dan bergabung dengan gerombolan orang yang berkumpul di sekeliling meja panjang. Disampingnya terdapat botol-botol minuman dan gelas.

“Sebentar lagi akan mulai,” kata pelayan sambil membawakan bir ku.

“Apanya?”

“Pertemuan kelompok,” jawab pelayan itu. “Aigoo, kupikir kau juga bagian dari kelompok mengingat beberapa kali aku melihatmu disini”

Aku tersenyum tipis lalu menggeleng, “Tidak. Aku hanya kebetulan mengenal salah satu anggota kelompok itu, dan dia beberapa kali mengajakku kesini”

“Ah, dia pasti ingin menunjukkan cara kerja kelompoknya padamu terlebih dahulu untuk menarik minatmu”

“Yah, mungkin begitu” jawabku. “Gomawoyo, bir nya”

“Ne… Silahkan menikmati” kata pelayan itu berlalu dari hadapanku.

Mataku menatap ke arah meja panjang itu lagi. Orang-orang disana sebagian besar merupakan namja berusia dewasa, tapi yang lainnya terdiri atas namja berusia antara 18 sampai 25 tahun. Diantara namja-namja yang lebih tua, banyak ekspresi wajah dan warna emosi yang memancarkan kebuasaan khas pelanggar hukum. Tapi secara umum sulit untuk percaya bahwa mereka adalah sebuah kelompok namja yang telah mengalami pergesaran moral dan justru merasa bangga akan perbuatannya yang melanggar hukum.

“Kenapa hanya mengawasi? Kau tidak bergabung?” tanya salah seorang namja yang duduk di sebelahku.

“Tidak, aku tak tertarik-”

“Belum,” sahut namja itu. “Kau mungkin akan semakin tertarik jika terus datang ke setiap pertemuan kelompok,”

Aku diam saja.

“Kelompok XI Seo-gu benar-benar paling mentolerir adanya orang asing yang mengawasi pertemuan kelompok mereka. Jika di kelompokku, orang asing dilarang datang” kata namja itu sambil menuang bir nya. “Tapi kelompok ini selalu mengadakan pertemuan di bar-bar umum seperti ini, jadi tidak heran”

“Sungguh?”

Namja itu mengangguk. “Jujur saja, dulu aku adalah anggota kelompok ini tapi boss besar memindahkanku ke kelompok lainnya. Suasananya terasa sangat berbeda jika kau menjadi bagian kelompok lain setelah berada di kelompok ini” katanya. “Anggota kelompok ini, setiap melakukan suatu kejahatan, mula-mula mereka akan merahasiakan perbuatannya. Tapi kemudian cerita mengenai perbuatan mereka tersebar luar, karena kegagalan berulang-ulang hukum untuk membuktikan keterlibatan mereka”

Aku memilih untuk terus mendengarkan seraya mengisi gelas bir ku.

“Di satu sisi karena tak ada yang berani memberikan kesaksian yang menentang mereka, dan di sisi lain karena mereka memiliki sejumlah besar orang yang bersedia memberikan kesaksian yang meringankan mereka” Namja itu melanjutkan. “Ditambah persediaan dana yang besar untuk menyewa pengacara terbaik di seluruh negeri untuk membela mereka. Bayangkan saja, selama sepuluh tahun terakhir, tak ada satupun dari mereka yang dijatuhi hukuman”

“Tak ada?”

“Tak ada,”

“Ya! Oh Man Suk!” Suara panggilan keras itu mengalihkan perhatianku dari namja ini ke gerombolan di depan meja panjang. “Bawa dia kemari” Suara itu kembali terdengar.

“Ne, hyungnim”

Namja yang sepertinya bernama Oh Man Suk keluar dari gerombolan dan menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa namja lainnya yang lengan baju kanannya sudah tergulung. Warna emosi namja yang baru bergabung itu sangat berani, bahkan yang paling berani diantara namja-namja lainnya. Dan itu cukup menarik perhatianku.

“Choi Sang Wook,” kata namja yang badannya paling besar dan berwajah paling ganas. Warna emosinya cukup membuatku tahu bahwa dia orang yang kejam. “Kau sudah menjadi bagian dari kelompok lainnya sebelum datang kesini?”

Namja bernama Choi Sang Wook itu menganggukkan kepala.

“Kau anggota Kelompok V Jung-gu?”

“Ne,”

“Kami tahu, bahwa sebelumnya kau telah mendapatkan tanda. Tapi sekarang kami beritahukan bahwa di kawasan ini dan kelompok ini memiliki ritual tertentu dan tugas-tugas tertentu yang membutuhkan orang-orang yang hebat. Apa kau siap untuk diuji?”

“Siap,”

“Kau yakin?”

“Ne,”

“Majulah selangkah untuk membuktikannya”

Choi Sang Wook itu maju selangkah, dan aku hanya melihat salah satu namja dari gerombolan itu menempelkan sesuatu di lengan kanan Choi Sang Wook yang menggigit bibirnya dan mengepalkan tangan untuk menahan sakitnya. Aku benar-benar tak sanggup lagi melihatnya jadi aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada gelas bir ku yang sekarang kosong.

“Ritual yang sama,” komentar namja di sebelahku. “Pemakaian tato,” Dia menambahkan.

“Apa harus selalu seperti itu?”

Namja itu mengangguk. “Kelompok ini satu-satunya yang memiliki ritual sendiri”

Aku kembali menatap gerombolan itu yang sekarang sedang mendengarkan seseorang yang membaca surat. Aku sempat melihat Ahn Ji Won yang menatapku tapi cepat-cepat dia memalingkan wajahnya. Jujur saja, aku tak tahu alasan dia selalu mengajakku ke tempat perkumpulannya padahal aku sudah dengan jelas mengatakan bahwa aku tidak ingin bergabung. Dia tidak melakukan ini karena Ahn Yewon, ‘kan? Yeoja itu lah yang sangat menginginkan aku bergabung. Apa dia gagal mengajakku lalu dia meminta oppa-nya yang melakukannya?

“Jadi, siapa yang akan mengajukan diri untuk tugas ini?” Suara keras itu terdengar lagi.

Sejumlah namja yang masih muda mengacungkan tangan. Ketua kelompok mereka-namja bersuara keras-memandang mereka sambil tersenyum senang.

“Kau yang berangkat, Ji Won. Kalau kau menanganinya sebaik kau melaksanakan tugas terakhirmu, kau tak akan salah. Dan kau juga, Jung Pil Mo”

“Aku tak punya pistol,” kata Pil Mo yang masih berusia belasan tahun.

“Ini tugas pertamamu, ‘kan? Yah, kau akan terbiasa. Ini baru awal untukmu, dan mengenai pistol… Jangan khawatir, akan disediakan disana untukmu. Ah, mungkin kalau kau melaporkan diri hari Senin, mereka akan langsung memberimu saat itu juga”

“Apa ada hadiahnya?”

“Ya! Jangan pedulikan hadiahnya. Kau melakukannya demi kehormatan” jawab Ahn Ji Won sambil merangkul rekannya.

“Baiklah, urusan tugas sudah selesai. Kita berharap Ahn Ji Won dan Jung Pil Mo bisa menyelesaikannya dengan baik” kata si ketua lagi. “Ada dua atau tiga hal lagi yang ingin aku sampaikan di pertemuan kali ini”

Aku menuang kembali gelasku dengan bir dan berpura-pura tidak mendengarkannya. Namja di sebelahku pun melakukan hal yang sama denganku tapi aku mengabaikannya.

“Pertama-tama, aku meminta bagian keuangan kita melaporkan simpanan kita”

Namja lainnya maju ke depan, lalu mulai melaporkan tugasnya. “Dana pada saat ini bagus. Perusahaan-perusahaan sangat dermawan akhir-akhir ini. Dongkuk Group membayar 500rb won agar tidak diganggu. JS Group mengirimkan 200rb won tapi aku mengembalikannya 100rb won”

Namja disebelahku bangkit, dan melangkah keluar dari bar. Aku mengikutinya, bukan karena aku ingin menahannya tapi karena aku bosan hanya duduk sambil meminum bir seorang diri. Aku ingin mencari udara segar sebentar sambil menghindari pertemuan kelompok mafia itu.

“Cho Kyuhyun!” panggil seseorang saat aku baru saja keluar dari bar.

Aku menoleh, dan melihat Ahn Ji Won melangkah menghampiriku. “Wae?” tanyaku tidak berminat.

“Laporkan semua yang kau dengar pada dongsaeng-ku, eo? Dia pasti ingin tahu mengenai pertemuan malam ini” kata Ji Won sambil menyulut rokoknya. “Pertemuan yang membosankan,” gumamnya kemudian.

“Bukankah kau mendapat tugas?”

“Eo, tugas kecil. Ketua sedang banyak mengambil tugas sekarang untuk mengejar kelompok lainnya. Seperti biasa, persaingan antar kelompok”

“Geurae?” komentarku tidak tertarik. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Aku pergi dulu kalau begitu. Kau lanjutkan saja pertemuannya,”

“Kau tak mau mendengarnya lagi?”

“Itu sudah cukup,” jawabku cepat. Aku menepuk pelan bahunya, “Annyeong-”

Ahn Ji Won tersenyum, lalu aku berbalik. Tapi baru beberapa langkah berjalan, aku mendengar namja itu berseru memanggil namaku lalu akupun terjatuh-

Dan terbangun, tersengal-sengal. Mataku menatap sekeliling. Ini kamarku. Aku bangkit duduk, lalu mengamati sekelilingku sekali lagi untuk memastikan bahwa aku benar-benar ada dikamarku. Baru setelah itu aku bisa bernapas lega. Aku baru saja bermimpi dan mimpi itu terlihat begitu nyata bagiku. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku memimpikan hal itu. Apa mungkin ini karena aku terus memikirkan Kelompok XI Seo-gu itu?

Aku menarik napas panjang sekali lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurku dan masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan badan dan bersiap-siap, aku baru melangkah ke dapur dan mencium bau harum dari sana. Aku melihat Sooyoung sedang menyiapkan sesuatu di meja makan, lalu akupun mendekat. Yeoja itu langsung tersenyum padaku begitu melihatku.

“Dimana Joohyun?” tanyaku sambil membantu Sooyoung menyiapkan piring-piring ke atas meja.

“Pergi ke supermarket sebentar. Telurnya habis,”

Aku mengangguk-angguk mengerti. “Tidurmu nyenyak?”

“Aniyo,”

Wae?” tanyaku sambil duduk di kursi meja makan.

Gwishin datang ke mimpiku,”

“Gwishin? Nuga?”

Sooyoung menghela napas panjang, lalu menjawab. “Hwang Min Soo,”

Mataku membelalak mendengar nama itu disebut lagi.

Oppa, hmm… apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Sooyoung tiba-tiba. “Ini tentang Hwang Min Soo dan kecelakaanmu lima tahun yang lalu,”

“Oh?”

Sooyoung duduk disampingku, “Tak apa-apakah aku menanyakannya padamu, oppa?” tanyanya dengan suara rendah.

Gwenchana,” Aku berusaha menyunggingkan senyum. “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan juga padamu. Tentang Park Dong Chul. Kau tahu sesuatu ‘kan?”

Sooyoung menatap lama, lalu dengan perlahan dia menganggukkan kepala. “Eo, tentang Hwang Min Soo juga” katanya.

“Hwang Min Soo?” ulangku. “Apa yang kau tahu tentangnya?”

Sooyoung mengangkat bahu, “Aku tahu sedikit tentang masa lalunya. Apa dia tak mengatakan apapun padamu pada saat dia meminjam tubuhku?”

“Tidak,” jawabku berbohong.

“Jinjja?”

Emm” kataku tanpa menatap Sooyoung. “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”

Sooyoung kembali menatapku lekat-lekat, lalu dia menghela napas singkat sebelum akhirnya bertanya. “Oppa, apa mungkin kau… Kau terlibat dalam suatu kasus kejahatan lima tahun lalu?”

Mwo?” sahutku terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba…”

Ani… Aku hanya tak mengerti apa hubunganmu dengan kelompok mafia Gu Neukdae Pa, dan… dan kenapa rasanya kelompok mafia itu memegang peranan penting di kasusmu ini”

“Itu karena aku mengenal anggotanya,”

Ah,” komentar Sooyoung seakan-akan mengerti siapa orang yang aku maksud. “Mian, karena aku berpikir kau terlibat kejahatan hanya karena apa yang gwishin itu katakan padaku”

Kedua alisku saling bertaut mendengar perkataan Sooyoung. “Apa yang gwishin itu katakan? Sooyoung-ah, marhaebwa

Oh? Emmm… Itu…” Sooyoung terlihat ragu sesaat, tapi kemudian dia melanjutkan. “Hwang Min Soo-ssi memberitahuku bahwa kau terlibat dalam kesepakatan peredaran uang palsu lima tahun yang lalu. Bukti keterlibatanmu adalah kau memegang kertas yang isinya daftar nama orang yang menerima pendistribusian uang palsu itu”

Mworago? Aku memegang nama-nama orang yang– aigoo jamkkaman!” Aku mengingat-ingat perkataan Hwang Min Soo padaku saat dia berada di tubuh Sooyoung. Apa maksudnya kertas itu adalah daftar nama orang yang mendapat distribusi uang palsu? “Sooyoung-ah, katakan padaku lagi apa yang kau tahu,”

Emmm…” Sooyoung memejamkan matanya, seolah sedang mengingat sesuatu. “Gwishin itu ingin memberitahumu tentang Ahn Yewon, dan peranannya pada proyek peredaran uang palsu itu. Kalau aku tak salah ingat, Hwang Min Soo melihat Ahn Yewon memintamu untuk menyimpan daftar nama itu sebelum kau membalap di Ganghwa-gun

“Apa lagi?”

“Dia berjanji padaku untuk membantuku menangkap Ahn Ji Won setelah aku meminjami tubuhnya. Katanya dia tahu kelemahan Ahn Ji Won, dan kelemahan itulah yang akan membuatnya tak bisa melakukan apa-apa”

Aku diam saja. Memikirkan informasi yang baru aku dapatkan dari Hwang Min Soo melalui Sooyoung. Aku tak pernah menyangka gwishin itu sama sekali tak memberitahuku tentang apa yang Sooyoung katakan. Dia bahkan hanya memberitahuku bahwa Ahn Yewon dan Ahn Ji Won bukanlah oppadongsaeng yang sebenarnya, dan tak memberitahuku sesuatu yang lebih penting dari itu. Gwishin itu pasti telah memberitahu Sooyoung sebelumnya dan merasa yakin bahwa Sooyoung akan memberitahuku. Dan, tujuannya meminjam tubuh Sooyoung adalah agar aku mendapat pukulan dari yeoja yang aku cintai, seperti dirinya? Apa begitu?

Ah, Park Dong Chul-ssi memberitahuku agar kau berhati-hati pada Ahn Ji Won dan kelompok yang menyerangmu waktu itu. Katanya mereka sekarang bukan kelompok biasa di Gu Neukdae Pa,” Sooyoung berkata lagi.

Arra,” jawabku. Aku mendorong kursiku ke belakang, lalu bangkit berdiri. “Aku ke kantor dulu, Sooyoung-ah

“Tapi sarapannya-”

“Tak apa,” potongku dengan cepat. Aku mengusap pelan kepalanya, “Hati-hati. Katakan pada Joohyun untuk berhati-hati juga,”

Sooyoung menatapku lama, lalu mengangguk.

Aku tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dari apartemen. Aku harus cepat-cepat ke kantor dan membahas masalah ini bersama detektif Jung dan Park Dong Soo. Aku yakin mereka pasti akan membantuku menemukan daftar nama penerima uang palsu itu dan pendistribusiannya meskipun itu sudah lima tahun yang lalu. Aku juga harus membuktikan bahwa aku tidak terlibat kejahatan apapun karena aku sama sekali tak mengetahui bahwa kertas yang diberikan Ahn Yewon adalah daftar nama itu.

**

Jam hampir menujukkan pukul enam sore saat aku, detektif Jung, dan Park Dong Soo sampai di rumah Jung Byung Hoon, salah satu anggota Gu Neukdae Pa yang menghilang dan ditemukan tewas beberapa hari kemudian di sebuah rumah di pinggiran Incheon. Aku tak mengerti bagaimana bisa detektif Jung menemukan rumah ini, dan mengetahui tentang kematian Jung Byung Hoon itu. Kurasa dia melakukan penyelidikian sendiri saat aku menolak ajakannya ikut bersamanya saat itu. Tapi aku benar-benar terkesan dengan kesungguhannya kali ini karena biasanya dia selalu menganggap remeh suatu kasus yang masuk.

Setelah berjalan dalam diam dan udara dingin sejauh beberapa kilometer, akhirnya kami tiba di jembatan kayu tinggi yang membawa kami ke jalanan sepi yang disekelilingnya di tumbuhi pohon Azalea. Lalu kami melewati jalanan berkelok di halaman, dan sampai ke sebuah rumah pendek, gelap, dan tak terawat. Di sebelah kiri pintunya ada jendela. Dari arah jendela itu terbesit sinar samar-samar.

“Ada polisi yang masih berjaga. Sepertinya penyelidikannya belum selesai padahal ini sudah dua minggu” kata detektif Jung. “Biar aku saja yang mengetuk jendelanya” Dia melompati rumput lalu mengetuk kaca jendela.

Melalui kaca yang tertutup kabut itu, aku samar-samar melihat seorang namja terbangun dari duduknya di kursi, diikuti jerit melengking dari dalam ruangan. Sejenak kemudian, seorang polisi yang pucat pasi dengan napas tersengal-sengal membukakan pintu. Aku melihat tangannya gemetaran tapi dia berusaha menyembunyikannya.

“Ada apa petugas Choi?” tanya detektif Jung dengan tajam.

Polisi itu mengusap dahinya dengan saputangan dan menghembuskan napas lega. “Aku sangat senang karena Anda datang, detektif Jung. Malam ini waktu terasa sangat lambat, dan rasanya sarafku tak tahan lagi menanggung siksaan ketegangan seperti ini”

“Kenapa memangnya?”

“Disini sunyi senyap, dan aku satu-satunya yang bertugas disini karena detektif Kim harus memberikan laporan. Aku harus menunggunya disini sampai dia datang. Lalu ada suara aneh di dapur, jadi saat Anda mengetuk jendela, aku pikir suara aneh itu datang lagi”

“Suara aneh apa?” tanyaku.

Petugas Choi menoleh ke arahku, dan aku bisa melihat warna kejujuran di wajahnya. “Gwishin, pak, begitulah menurutku. Suara itu memang asalnya dari jendela”

“Apa yang kau lihat di jendela? Dan kapan itu terjadi?” Aku kembali bertanya karena penasaran.

“Kira-kira dua jam yang lalu, saat cuaca mulai gelap. Aku sedang duduk membaca dikursi ini sambil menunggu detektif Kim datang. Secara tak sengaja aku menengok, lalu aku melihat seseorang melongok ke arahku melalui kaca jendela bagian bawah. Astaga… Wajahnya sangat menyeramkan!”

Aigoo… Aigoo… Kenapa polisi berbicara seperti itu? Gwishin itu tak ada,” kata detektif Jung tak percaya.

Aku diam dan memilih untuk tidak komentar kali ini.

“Aku tahu, pak, aku tahu. Tapi aku sangat terguncang, dan aku yakin apa yang aku lihat tadi. Wajahnya tidak hitam, tidak juga putih. Sedikit kecokelatan. Lalu besarnya dua kali ukuran wajah Anda, dan ekspresinya-” Polisi itu bergidik dan tak melanjutkan kata-katanya.

“Jika aku tak mengenalmu, petugas Choi, pasti aku sudah menandai namamu dengan tinta hitam. Bagaimana bisa seorang polisi berbicara hal yang tak masuk akal begitu. Benar bukan, detektif Cho?”

Geurisae. Aku cenderung percaya bahwa gwishin itu ada,” jawabku sambil mengamati perubahan warna emosi polisi di depanku ini. “Ditempat yang sepi seperti ini, pasti sesuatu seperti itu ada. Apalagi sebuah mayat ditemukan di rumah ini. Petugas Choi, aku menyarankan padamu untuk setidaknya membawa satu petugas lagi jika kau sedang berjaga”

“Ini tugas terakhir sebenarnya. Pihak Kejaksaan sudah memeriksa laporan dari detektif Kim dan laporan dari rumah sakit. Tapi detektif Kim ingin memastikannya lagi karena tak mau ada kesalahan mengingat ketatnya regulasi kejaksaan saat ini” kata polisi itu membela diri.

“Yah, kita memang harus teliti” komentar detektif Jung. “Nah, detektif Cho. Aku akan mengantarmu menjelajahi rumah ini”

Aku mengangguk, lalu mengikuti detektif Jung dengan Park Dong Soo di sebelahku. Detektif Jung menunjukkan padaku dimana mayat Jung Byung Hoon ditemukan dan tentang namja tanpa nama yang melaporkannya. Nomor namja itupun tak berhasil dilacak, dan saat aku diberitahu Detektif Jung, aku hampir yakin jika namja itu adalah Ahn Ji Won. Tapi anehnya, kenapa dia harus memberitahu polisi? Apa dia selalu meninggalkan sesuatu setiap kali dia melakukan kejahatan?

“Detektif Cho, lihat ini” kata detektif Jung tiba-tiba. “Aku ingin menunjukkan ini padamu”

Aku mendekat ke arah dinding dimana ada tulisan disana. Aku membaca, “Kelompok XI Seo-gu,”

“Apa kau tahu artinya?”

“Itu salah satu kelompok Gu Neukdae Pa,” jawabku. “Kelompok yang sama yang menyerangku, dan membunuh Park Dong Chul beberapa hari yang lalu”

Oh? Darimana kau tahu, sunbae?” celetuk Dong Soo. “Apa kau menyelidikinya atau bagaimana?”

“Aku menyelidikinya,” jawabku berbohong karena tak mungkin aku memberitahu mereka dari mana aku mendapatkan informasi itu. ”Dan aku juga banyak mengingat masa laluku. Memang kelompok itulah yang banyak melakukan penyimpangan, termasuk membunuh” Aku menambahkan.

“Kau berhutang padaku tentang Kelompok XI Seo-gu itu,”

Ne, sunbae. Aku akan memberitahumu dalam perjalanan kita keluar dari sini,” jawabku segera. “Pada intinya, fokus kita sekarang semakin mengecil. Gu Neukdae Pa Kelompok XI Seo-gu itu adalah target kita sekarang. Aku yakin mereka juga yang telah mengedarkan uang palsu lima tahun yang lalu”

“Kita tak bisa menumpas tuntas sindikat peredaran uang palsu itu jika tak ada bukti siapa saja yang menerima dan mengedarkannya. Satu-satunya bukti adalah kertas yang ada padamu lima tahun yang lalu. Tapi masalahnya, apa kau yakin kau belum membuang kertas itu atau membakarnya?”

“Kertas itu ada padaku tepat sebelum aku kecelakaan, jadi aku yakin tak membuangnya atau membakarnya” kataku. “Seandainya kita menemukannya pun, apa kau yakin kita bisa menangkap mereka yang mengedarkan uang palsu mengingat kejadian itu terjadi lima tahun yang lalu?”

“Kasus ini belum kadaluwarsa, jadi aku yakin kita bisa menangkapnya. Apalagi Jaksa Kim sedang menyelidikinya juga. Sekali kita memberikan kertas itu padanya, semuanya akan diselesaikan olehnya. Dan kau akan mendapat kepercayaan Jaksa Kim karena membantu menyelesaikan kasusnya” Detektif Jung berusaha meyakinkanku. “Tenang saja, sekarang kita hanya perlu fokus pada apa yang sedang kita kerjakan”

Aku mengangguk mengerti.

“Kita kembali ke kasus penemuan mayat di rumah ini,” kata detektif Jung mengalihkan pembicaraan. “Jadi, kau yakin ini sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh anggota Kelompok XI Seo-gu dari Gu Neukdae Pa?”

Aku kembali mengangguk. “Kita hanya perlu mencari buktinya karena mereka selalu bisa menghilangkan bukti dan selalu sulit di tangkap bahkan sejak sepuluh tahun terakhir ini”

Arraseo, kajja-” ajak detektif Jung kembali ke ruang utama rumah ini. “Petugas Choi, apa kau akan ikut bersama kami atau dengan senang hati menunggu detektif Kim datang kesini?”

“Aku ikut Anda, pak” jawab polisi itu cepat.

Aku tertawa kecil melihat warna emosinya sekarang, lalu berdehem pelan. “Biar aku yang menelepon detektif Kim dan memberitahu anak buahnya ikut bersama kita”

“Eo, kajja”

Detektif Jung melangkah pertama keluar dari rumah, lalu diikuti aku, Park Dong Soo dan Petugas Choi. Kami baru berjalan beberapa langkah sebelum kemudian melihat seorang namja di ujung jalan. Aku berhenti melangkah, begitu juga yang lainnya. Mataku menyipit menatap namja itu, lalu seketika membelalak setelah tahu siapa dia. Tanpa pikir panjang, aku berlari mengejar namja itu yang sudah melarikan diri terlebih dahulu. Tiga orang rekanku mengikutiku di belakang karena aku mendengar langkah kaki mereka dan teriakan mereka.

“Berhenti disana! Ahn Ji Won!” seruku tegas sambil menembakkan pistol ke udara. Aku terus berlari mengejar Ahn Ji Won yang semakin menjauh dari kejaranku. “Aish! Sial!” umpatku karena tak bisa lagi mengejarnya.

“Dimana dia?” tanya detektif Jung tersengal-sengal di sebelahku. “Kemana dia pergi?”

“Kita tak bisa mengejarnya, sunbae. Kita kurang cepat,” jawabku yang juga tersengal. “Siapa yang tahu jika kita akan bertemu dengannya di tempat seperti ini?”

Park Dong Soo dan petugas Choi sampai di tempatku. Pistol di tangan mereka siap sedia, begitupula aku dan detektif Jung. Mengingat Ahn Ji Won berada di tempat terpencil dan tersembunyi seperti ini, tidak menutup kemungkinan rekannya juga ada disini.

Sunbae, itu lihat” seru Park Dong Soo tiba-tiba sambil menunjuk ke sebuah kepulan asap di balik pohon-pohon. “Aku rasa ada orang lain juga disini-”

Baru saja Dong Soo selesai berbicara, dua orang namja tiba-tiba berlari menerobos kami. Aku cukup terkejut, tapi bergerak lebih cepat untuk mengejar siapapun mereka. Aku terus belari dan berlari sampai akhirnya namja itu dekat denganku. Tanpa ragu, akupun menembakkan pistolku ke arah kaki namja itu dan tepat mengenainya. Dia langsung jatuh tersungkur, dan berusaha untuk bangkit lagi tapi tak bisa. Cepat-cepat aku menyergapnya lalu memborgolnya dan melihat wajahnya. Dia adalah salah satu rekan Ahn Ji Won yang saat itu berani membungkam mulut Sooyoung dengan tangannya yang kotor.

“Kau pikir kau bisa lolos dariku, huh?” kataku setelah berhasil memborgolnya. “Kau salah bermain-main dengan detektif sepertiku. Bangun!” Aku memaksanya untuk berdiri.

“Sunbae!”

Oh, Dong Soo-ya! Bawa dia,” kataku menyerahkan namja yang sedang meringis kesakitan karena luka tembakkan di kakinya olehku. “Dimana detektif Jung?”

“Mengejar namja satunya,”

Aku mengangguk singkat, “Kajja” kataku membantu Dong Soo menyeret namja yang berhasil aku bekukan itu.

Aku dan Dong Soo kembali ke tempat semula. Tak berselang lama, detektif Jung datang dan di belakangnya ada petugas Choi dengan namja lainnya yang tangannya juga berhasil di borgol. Detektif Jung melihat apa yang berhasil aku tangkap, lalu dia tersenyum padaku.

“Bagus sekali, Kyuhyun-ah” katanya. “Kita mendapat hadiah besar disini padahal tujuan kita lain”

“Hanya ada dua. Harusnya mereka berempat,”

“Dimana rekanmu yang lain?”’

M-Mollaseoyo” jawab namja yang bersama petugas Choi.

“Aku tak tahu apa yang sedang kalian lakukan di tempat seperti ini. Entah itu sedang pesta atau bersembunyi, tapi itu bukan sesuatu yang baik karena kebetulan kami datang kesini” kata detektif Jung tegas, begitupula warna emosinya. “Nasib kalian benar-benar buruk dengan bersembunyi di tempat ini” Dia menambahkan.

Aku mengamati warna emosi kedua namja ini. Namja yang bersama petugas Choi berwarna biru, sementara namja yang kakinya terluka berwarna merah. Dia balik menatapku dengan tajam, lalu aku melihat senyum kecil mengembang di wajahnya. Seketika aku langsung teringat mimpiku, dan seorang namja yang saat itu bertanya tentang pistol di tugas pertamanya di pertemuan itu.

“Jung… Jung… Pil Mo?”

Orenmaneyo… Kyuhyun hyung” katanya padaku.

Semua orang menoleh ke arahku, dan aku bisa melihat ekspresi serta warna emosi terkejut di wajah mereka masing-masing.

Sunbae, kau mengenalnya?” Dong Soo tak bisa menahan diri untuk bertanya.

Aku diam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Aku pernah membantunya lima tahun yang lalu. Saat dia terluka dan menjadi bulan-bulanan kelompok Gu Neukdae Pa lainnya” kataku lancar.

“Aku tak akan melupakan kebaikanmu itu, hyung” kata Pil Mo masih tersenyum.

“Itu masa lalu,” sahut detektif Jung cepat. “Kau pasti tak pernah menyangka jika orang yang membantumu saat itu justru menangkapmu sekarang, ‘kan?”

“Benar. Ji Won hyung memang benar. Kau sudah berubah, hyung. Dulu kau selalu berpura-pura tak mengetahui apapun padahal kau banyak tahu, dan-”

“Bawa mereka! Kajja!” seru detektif Jung memotong perkataan Pil Mo. Dia merangkulku dan mengajak berjalan bersamanya. “Jangan dengarkan apapun sampai kita membawa mereka ke ruang interogasi” katanya padaku.

Aku diam saja.

“Gwenchana?”

Eo,” jawabku langsung. “Aku hanya terkejut bahwa aku mengenalnya,”

“Kau mengenalnya saat kau belum menjadi seorang detektif. Sekarang kau tak mengenalnya lagi, dan bahkan itu bukan masalah serius jika detektif polisi seperti kita mengenal para pelaku kejahatan”

Arra, gokchonghajimaseyo. Aku akan memberitahu segalanya pada Jaksa Kim saat dia memintaku menjadi saksi”

Detektif Jung mengangguk singkat, lalu dia menepuk-nepuk pelan pundakku. Kamipun kembali ke kota Incheon sambil membawa dua buronan yang berhasil kami tangkap karena ketidaksengajaan berada di tempat yang sama dan di waktu yang sama.

**

“Yah, kalian seperti mendapat jackpot saat melakukan penyelidikan sampai ke rumah itu” komentar detektif Kim setelah dia mengetahui apa yang terjadi padaku dan detektif Jung dua hari yang lalu. “Kasus itu mulai ada perkembangan sekarang,” tambahnya.

“Dari dulu sudah ada perkembangan, hanya saja kali ini kita berhasil menangkap dua dari mereka” kata detektif Jung terdengar senang. “Siapa yang tahu kita justru berhasil menangkap mereka saat pergi kesana”

Aku menganggukkan kepala setuju dengan perkataan sunbae-ku itu.

“Sayang sekali target utama kita masih berhasil melarikan diri padahal dia sudah berada di depan mata. Tinggal sedikit lagi, dan… Ah!

“Kalian kehilangannya,” sambung detektif Kim tidak percaya melihat dari warna emosinya. Jika saat itu aku ada disana, aku pasti akan membantumu mengejarnya sampai dia berhasil ditangkap”

Ya! Siapa yang meninggalkan anak buah sendirian di tempat seperti itu, huh?! Kau… Kau seharusnya membawa serta anak buahmu jika memang sudah tak ada yang perlu diselidiki. Kenapa kau meninggalkannya sendirian? Aigoo… Kau ini masih belum berubah juga!” Detektif Jung menasehati detektif Kim yang hanya diam terpaku ditempatnya. “Jika aku dan Kyuhyun tak datang kesana, entah apa yang terjadi pada anak buahmu itu. Dasar ceroboh!”

Aku tertawa kecil melihat ekspresi dan warna emosi yang sama di wajah defektif Kim saat sunbae-nya itu menasehatinya. Dua sunbae-ku ini terkadang bisa terlihat seperti hyung dan namdongsaeng-nya, tapi terkadang juga bisa terlihat seperti teman seumuran. Padahal selisih usia mereka itu sekitar 6 tahun tapi terlihat sama saja jika dari awal tak mengetahui umur mereka masing-masing.

“Detektif Cho,” panggil seseorang yang langsung membuatku menolehkan kepala. Detektif Yoo yang memanggilku, diapun kembali berbicara. “Ada yang mencarimu diluar,”

Ah, ne. Gomawoyo, detektif Yoo” kataku sambil bergegas beranjak dari tempatku dan keluar dari ruangan.

Aku pergi ke lobby, lalu menatap sekeliling. Pandanganku jatuh pada satu-satunya yeoja yang sedang duduk sendirian di kursi tunggu. Dia sedang menatap ke luar melalui pintu kaca jadi aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi aku ragu yeoja itu yang mencariku karena pakaiannya itu terkesan seperti berandalan, dengan celana jeans ketat berwarna hitam senada dengan jaket kulitnya. Kurasa tak mungkin dia yang mencariku tapi tak ada orang lain yang sedang menunggu disini selain dia. Tapi aku merasa tak mengenal yeoja manapun yang berpenampilan seperti itu dalam lima tahun terakhir ini.

“Petugas Yoon,” panggilku seraya mendekati meja panjang yang dibekakangnya duduk empat orang petugas polisi, termasuk petugas yang baru aku panggil. “Katanya ada yang mencariku. Dimana orangnya?” tanyaku memastikan.

Ah,” sahut petugas Yoon mengarahkan pandangan ke sekeliling lobby, lalu dia menunjuk ke arah yeoja itu. “Disana detektif, yeoja yang sedang duduk sendirian itu”

“Dia?”

Petugas Yoon menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arahku. Tapi aku bisa melihat warna emosi keingintahuan di wajahnya sekarang, begitupula dua polisi lainnya. Aku bisa mengerti kenapa mereka ingin tahu tentang yeoja yang menemuiku itu. Bagaimana tidak? Mungkin ini pertama kalinya ada yeoja yang berpakaian berandal seperti itu datang ke kantor polisi dan meminta bertemu dengan salah satu polisi disana. Tentu saja itu membuat semua orang ingin tahu, jadi akupun tak bisa menyalahkan mereka yang ingin tahu.

Geureom, gomawoyo” kataku sambil balas tersenyum pada petugas Yoon lalu melangkah menghampiri yeoja itu. Aku berdehem pelan sebelum berkata, “Annyeonghaseyo. Apa Anda mencariku?”

Yeoja itu tak bereaksi untuk beberapa saat. Lalu dia menolehkan kepala ke arahku dan mataku pun langsung membelalak melihat siapa dia. Aku diam mematung di tempatku sambil terus menatapnya dengan tidak percaya.

Annyeong oppa!” sapanya dengan nada yang dibuat centil. Dia melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum lebar. “Kau terkejut, ‘kan?” tanyanya.

“Sooyoung-ah, neo… waeirae-

Aigoo, aigooo. Bogoshipeosoyo oppa,” Sooyoung menyela perkataanku dan langsung menghambur memelukku. “Bogoshipeoseo” ulangnya.

Ya! Ya! Waeirae?” Aku berusaha melepaskan pelukan Sooyoung karena pasti banyak orang yang melihat tapi yeoja ini justru mempererat pelukannya. “Ya! Choi Sooyoung!” seruku lebih keras.

Ah… Waeyo? Aku hanya ingin memelukmu apa salahnya?” kata Sooyoung dengan nada yang sangat bukan dia. Aku bahkan baru pernah mendengar nada bicaranya yang seperti ini selama aku mengenalnya.

“Apa kau lupa ini di kantor?” tanyaku pelan sambil terus berusaha melepaskan diri dari Sooyoung. “Ya!” seruku lagi yang pada akhirnya berhasil lepas.

Aku menatap sekeliling, dan benar saja orang-orang sedang memperhatikanku dengan ekspresi dan warna emosi yang hampir sama. Ada beberapa yang warna emosinya abu-abu yang langsung membuatku merasa bersalah karena bersikap tidak sopan seperti ini di tempat kerja.

Oppa,”

“Ikut aku. Kajja!” sahutku cepat sambil menarik tangan Sooyoung keluar dari kantor lalu membawanya ke lorong kecil diantara kantor ini dan sebuah toko sepatu. “Ya! Neo!” seruku tegas seraya melepaskan tangan yeoja ini.

Sooyoung menatapku lekat-lekat lalu dia mengedipkan matanya beberapa kali ke arahku.

Aku memejamkan mata sesaat sambil menarik napas panjang. Setelah membuka mataku kembali, pandanganku langsung tertuju pada penampilan Sooyoung yang benar-benar berbeda dari dia yang biasanya. Bahkan sikapnya pun berbeda, seakan-akan aku baru pernah mengenalnya.

Ya! Apa yang salah denganmu?” tanyaku kemudian. Aku menunjuk ke arah Sooyoung, “Ada apa dengan semua penampilan ini?”

“Kenapa dengan penampilanku? Bukankah oppa menyukai penampilanku yang seperti ini?”

“Suka apanya? Kau terlihat aneh dimataku, kau tahu”

“Heol~ jinjja?”

Aku kembali menghela napas tapi tak memberikan jawaban apapun pada Sooyoung. Aku benar-benar tak mengerti kenapa tiba-tiba dia berpenampilan seperti ini. Tak mungkin ada sesuatu yang salah dengannya, ‘kan? Aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa yeoja ini memang Sooyoung bukan orang lain. Tapi ada apa dengannya?

Oppa, apa kau terpesona padaku karena aku terlihat cantik hari ini?” tanya Sooyoung sambil kembali mengedipkan bola matanya beberapa kali. “Aku cantik, ‘kan? Karena itulah kau terus memandangiku seperti ini-” Dia memraktekkan caraku memandangnya tadi.

“Mwoya…”

“Katakan saja aku cantik,” godanya seraya mendekatkan badannya ke arahku. “Aku cantik, ‘kan?”

“Kau aneh,” jawabku jujur. “Neo Sooyoungie maja?”

Sooyoung menyipitkan matanya menatapku, “Oppa benar-benar tidak berubah” katanya. Dia berdiri tegak lagi lalu menjauh beberapa langkah dariku, “Geurae, aku tak banyak mengharapkan sesuatu darimu dari dulu” komentarnya kemudian.

Mworago?” tanyaku meskipun aku dengan jelas mendengarnya.

“Ani, amugeotdo aniyo” jawab Sooyoung dengan ekspresi datar. Lalu dia menarik napas panjang dan tiba-tiba menarik tanganku, “Ikut aku, oppa. Kajja!” serunya dengan penuh semangat.

Ya! Ya! Ya! Eodiseo? Aku harus bekerja dan-”

“Sebentar lagi jam kerjamu berakhir,” sela Sooyoung cepat. “Aku ingin pergi jalan-jalan denganmu” katanya melanjutkan.

“Jalan-jalan?”

Sooyoung mengangguk tanpa bersuara. Dia menarik tanganku ke tempat parkiran, lalu melangkah lurus menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari gedung kantor. “Kajja, oppa” katanya sambil memukul bagian depan mobilku pelan.

Mataku mengerjap beberapa kali sebelum berkata, “Kau yakin ingin pergi jalan-jalan dengan ini?”

Wae? Kalau tak naik mobil, kita mau naik apa? Bus? Korail? Taksi?” sahut Sooyoung masih dengan nada yang aneh. “Shirreoyo~” rajuknya.

Aku benar-benar tak menyangka dengan reaksi Sooyoung ini. Dia tak hanya berbeda dari segi penampilan tapi juga caranya bersikap dan berbicara. Apa ini adalah sisi lain Sooyoung yang baru dia perlihatkan padaku? Tapi kita sudah satu musim berkencan lalu kenapa dia baru menunjukkannya padaku? Apa aku yang tak pernah menyadarinya atau bagaimana?

“Sooyoung-ah, bukankah kau-” Kata-kataku selanjutnya terhenti karena Sooyoung masuk ke dalam mobilku. Dia melambaikan tangannya ke arahku dari dalam mobil, memintaku untuk masuk juga. Aku menghela napas singkat lalu mengikuti permintaannya. “Kau yakin kau tak apa-apa?” tanyaku memastikan sebelum benar-benar menyalakan mesin mobilnya.

“Memangnya kenapa? Kita hanya naik mobil saja ‘kan?”

Jawaban Sooyoung ini membuatku tertegun dan diam untuk beberapa saat. Sikapnya ini menunjukkan bahwa seakan-akan dia sama sekali tak memiliki Amaxophobia phobia. Aku ingat saat pertama kali aku mengajaknya masuk ke dalam mobil dan bagaimana reaksinya saat itu. Tak mungkin phobia-nya menghilang dalam satu malam ‘kan? Karena kemarin aku mengantarnya ke halte bus saat dia akan pergi ke toko bunga, dan saat terakhir kita pergi bersamapun dia selalu menolak menggunakan mobil atau taksi.

Oppa, palli! Nanti mataharinya sudah tenggelam,” seruan Sooyoung ini berhasil membuyarkan pikiranku. “Palli. Apa yang kau tunggu? Nyalakan mobilnya” kata Sooyoung lagi.

Oh? Eo,” kataku cepat-cepat menyalakan mesin mobilnya.

Suasana di dalam mobil sangat hening selama perjalanan. Aku beberapa kali melirik ke arah Sooyoung untuk memastikan apa dia benar-benar tak apa. Tapi sepertinya dia terlihat baik, bahkan cenderung sangat menikmati perjalanan ini. Selang beberapa saat, aku mendengar Sooyoung bernyanyi meskipun pelan lalu tangannya diketuk-ketukkan ke pahanya mengikuti irama lagu yang sedang dia nyanyikan. Aku merasa tidak asing dengan lagu itu, seperti pernah mendengarnya dulu karena itu lagu lama tapi aku memilih untuk tetap diam dan memperhatikan tingkah laku Sooyoung yang sangat bukan dirinya.

Oppa,” panggil Sooyoung setelah dia diam cukup lama. “Apa kau mengenaliku?” tanyanya.

Aku menoleh padanya singkat lalu kembali berkonsentrasi pada kemudiku. “Pertanyaan macam apa itu?” tanyaku balik.

Oppa, apa kau merindukanku?” Sooyoung sama sekali mengabaikan pertanyaanku dan melanjutkan pertanyaannya sendiri. “Na… neomu neomu bogoshipeoseoyo” katanya pelan.

Aku diam saja karena semakin merasa ada sesuatu yang aneh dari Sooyoung sekarang. Saat aku kembali menoleh ke arahnya, tiba-tiba aku bisa melihat warna emosinya. Hijau hutan. Dan aku langsung bisa merasakan bahwa yeoja ini bukan Sooyoung yang aku kenal karena jika itu Sooyoung, aku tak akan pernah bisa melihat warna emosinya dengan mudah. Tapi siapa dia? Melihat dari gayanya, caranya berbicara, sikapnya, dan semua hal yang ada pada dirinya saat ini, Sooyoung yang sekarang benar-benar mengingatkanku pada satu yeoja. Tapi tidak. Tidak mungkin yeoja itu yang sekarang menguasai tubuh Sooyoung.

Mobilku menepi saat kami sudah sampai di tempat tujuan kami, pantai Eurwangni. Dengan penuh semangat dan gayanya yang centil, Sooyoung mengajakku keluar dari mobil. Begitu dia melihat air laut, dia langsung berlari kegirangan. Seakan-akan sudah lama sekali dia tidak datang ke pantai dan menikmati suasana disini. Bahkan dia melompat-lompat seperti anak kecil saat kakinya bersentuhan dengan ombak di tepian pantai.

Oppa, ayo kita bermain air” usul Sooyoung saat dia menghampiriku setelah memuaskan dirinya sendiri dengan pantai. “Pasti akan sangat menyenangkan jika-”

“Aku mau jalan-jalan,” potongku dengan cepat. “Kita biasanya melakukan itu saat datang ke pantai” Aku menambahkan.

Oh? Geurae?” sahut Sooyoung terdengar tidak percaya. “Geureom kajja,” katanya kemudian dengan warna emosi kecewa yang jelas terlihat olehku.

Aku berjalan mendahuluinya. Tak lama, Sooyoung menyusul dan melangkah sejajar denganku. Kami berjalan mendekati tepian pantai, membiarkan air lautnya menyentih kaki kami. Meskipun entah dari mana aku merasa canggung disebelah Sooyoung kali ini, tapi aku menyembunyikannya. Apalagi saat Sooyoung dengan santainya meraih tanganku dan menggandengnya. Hawa dingin langsung bisa aku rasakan di genggaman tangan Sooyoung, padahal biasanya tangan yeoja itu terasa hangat. Aku semakin yakin jika dia memang bukan Sooyoung, hanya tubuhnya saja yang Sooyoung.

“Sooyoung-ah,”

Sooyoung menoleh dan aku hanya mengalihkan pandangan ke arah tanganku yang digandengnya. “Waeyo? Bukankah kau adalah namjachingu-ku? Tak ada salahnya aku menggandengmu seperti ini, ‘kan?”

Aku mengalihkan pandangan menatap bola mata Sooyoung, tapi entah kenapa yang aku lihat bukan dia melainkan Ahn Yewon. Mataku mengerjap, lalu aku memilih memandang lurus ke depanku.

Wae? Merasa aneh denganku?” tanya Sooyoung dengan nada menggoda khas Ahn Yewon. “Kenapa menatapku sepeeti itu lagi?”

Aku berdehem kecil, “Aneh apanya? Aku hanya tidak terbiasa dengan penampilanmu karena kau terlihat seperti orang lain,”

Jinjja? Seperti siapa? Apa dia orang yang kau kenal, oppa?”

Eo,” jawabku tanpa menatapnya.

Geureom, kau lebih suka penampilanku seperti ini atau yang bagaimana?”

Aku tak menyangka dia akan menanyakan hal itu padaku. Aku berpikir sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Aku suka apapun penampilanmu. Jadi jangan bertanya padaku apa aku suka atau tidak”

“O…. Arraseo,” celetuk Sooyoung. “Jujur saja, aku lebih penampilanmu yang sekarang. Rapi dan keren, itu lebih cocok denganmu”

Aku menanggapinya dengan senyuman singkat. Kami kembali berjalan dalam keheningan, dan udara malampun mulai terasa dingin menyentuh kulit. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi di depan Sooyoung karena itulah aku diam. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika Ahn Yewon datang padaku dengan memasuki tubuh Sooyoung seperti ini. Tapi apa tujuannya? Aku yakin dia tak hanya ‘meminjam’ tubuh Sooyoung hanya sekedar untuk berjalan-jalan denganku, ‘kan? Pasti ada alasannya, dan aku harus tahu itu.

**

“Huah! Tempat ini benar-benar keren!” seru Sooyoung sambil melebarkan kedua tangannya dan menghirup udara malam.

Joahae?” tanyaku sambil melirik ke arah Sooyoung.

“Emm, neomu joahaeyo”

Aku membiarkan Sooyoung untuk beberapa saat menikmati udara dan pemandangan jembatan Incheon di sebuah taman tak jauh dari pantai. Dia terlihat sedang menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Seolah-olah itu adalah hal yang tak pernah dia lakukan untuk waktu yang lama. Wajahnya menyunggingkan senyuman setiap kali dia berhasil melakukannya.

“Sooyoung-ah,” panggilku setelah meyakinkan diri untuk berkata jujur. Aku memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi dengan perlahan. “Aku tahu ini kau… Ahn… Yewon” kataku pada akhirnya.

Sooyoung menatapku lekat-lekat, “Oppa…” gumamnya.

“Sejak dalam perjalanan ke pantai, aku tahu itu kau. Tapi aku memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya karena aku yakin kau pasti punya alasan kenapa meminjam tubuh Sooyoung dan menemuiku”

“Bagaimana kau tahu itu aku oppa?”

“Penampilanmu, kebiasaanmu menempel padaku, dan caramu berbicara-” jawabku jujur. “-dan Sooyoung tak pernah sekalipun mau berpergian menggunakan mobil” Aku menambahkan.

Sooyoung menatapku sesaat lalu kepalanya tertunduk. “Mianhaeyo oppa,” katanya. “Aku datang padamu dengan cara seperti ini”

Aku diam tak menanggapi.

“Sooyoung eonni datang menemuiku dan menceritakan kasus yang sedang kau tangani juga masalah yang menghambatmu. Aku… Aku ingin membantumu, oppa” kata Sooyoung melanjutkan bicara karena aku diam. “Tentang kecelakaan lima tahun yang lalu… Kata Sooyoung eonni, kau tak bisa mengingatnya dan katanya kecelakaan itu berhubungan dengan kasus yang sedang kau tangani”

Emm, itu memang berhubungan karena aku harus membersihkan namaku dari kecelakaan itu”

“Aku juga mendengar apa yang terjadi pada Won oppa dari Sooyoung eonni,” katanya kembali menundukkan kepala. “Aku benar-benar menyesal dan tidak percaya Won oppa seperti itu sekarang”

Aku menghela napas panjang sesaat sebelum bicara. “Katamu kau akan membantuku, ‘kan?” tanyaku yang langsung dijawab Sooyoung dengan anggukkan kepala. “Bagaimana kau akan membantuku mengingat apa yang terjadi saat kecelakaan itu?”

“Saat malam kita mengalami kecelakaan, kau dan aku di Ganghwa-gun. Saat itu aku memintamu menjadi namjachingu-ku. Apa kau ingat itu? Saat itu aku–”

Suara Sooyoung mengecil, dan pikiranku seolah-olah melayang dengan sendirinya ke kejadian itu. Aku masih bisa mendengar samar-samar suara Sooyoung dan apa yang ada di kepalaku sesuai dengan apa yang dia katakan. Persis sama.

-Flashback-

“Oppa, jadilah namjachingu-ku. Eung? Aku akan sangat baik padamu, aku tak akan menyusahkanmu dan aku-”

“Shirreo!” seruku dengan cepat memotong perkataan Yewon. “Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku tidak menyukaimu. Kenapa kau terus saja mengikutiku, huh?!”

“Ani… Itu karena-” Yewon tak melanjutkan perkataannya, dan aku melihatnya menatap ke satu arah. Dua orang namja sedang berdiri disana, memperhatikan kami. “Oppa… ayolah. Apa salahnya menjadikanku yeojachingu-mu?” rajuknya mulai lagi.

“Apa salahnya?” ulangku. Aku menghela napas kesal, “Ya! Kau tahu, untuk urusan seperti itu aku-”

“Ahn Yewon!” panggilan seseorang tiba-tiba itu menyela perkataanku.

Aku dan Yewon langsung menoleh, dan seorang namja melangkah mendekati kami. Tubuhnya besar dan berotot. Ada beberapa bekas luka diwajahnya dan tato serigala di lengan kanannya. Dua namja yang tadi memperhatikan pun ikut mendekat dan aku baru tahu salah satunya adalah Ahn Ji Won. Tapi dia bersikap seolah-olah tak mengenalku jadi aku melakukan hal yang sama dengannya.

“Wah… Wah… Bahkan ada Ji Won dan Ketua Kelompok III Ganghwa-gun disini” komentar namja itu. Dia melirikku sesaat sebelum berpaling pada Yewon. “Aku ingin berbicara denganmu, Yewon-ah” katanya kemudian.

“Apa yang kau lakukan disini, Oh Soo Bin?”

“Menyelesaikan urusanku dengan Yewon, tentu saja. Gokchongma, Ahn Ji Won, aku hanya akan menitipkan sesuatu pada dongsaeng-mu ini”

“Sesuatu apa?”

Aku mendekat ke arah Yewon, lalu berbisik padanya. “Aku ke mobil dulu,”

Yewon mengangguk, lalu akupun melangkah pergi meninggalkan empat orang itu dan masuk ke mobilku sendiri. Dari dalam mobil aku melihat apa yang terjadi diantara mereka berempat. Ahn Ji Won dan namja disebelahnya memiliki warna emosi yang sama, yaitu merah. Sementata Yewon berwarna kuning kecokelatan yang menandakan kekhawatiran dan namja yang tadi dipanggil Oh Soo Bin berwarna biru muda. Jujur saja, aku memilih pergi karena aku enggan berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan kelompok-kelompok seperti Gu Neukdae Pa atau sejenisnya. Aku tak mau terlibat karena aku bukan bagian dari kelompok itu.

Sayangnya, aku tak bisa mengalihkan perhatianku dari empat orang itu. Aku terus mengawasinya sampai akhirnya salah satu namja itu pergi dan hanya menyisakan tiga orang yang masih berdiri di tempat yang sama. Aku melihat Yewon memegang sesuatu ditangannya, seperti sebuah kertas. Lalu Ahn Ji Won terlihat seperti meminta kertas itu dari tangan Yewon, begitu pula namja satunya. Tapi sepertinya Yewon menolak mereka semua karena detik berikutnya salah satu namja itu marah sekali, terlihat dari warna emosinya yang semakin merah.

Pandanganku beralih pada Yewon yang sekarang warna emosinya berubah menjadi merah juga. Dia terlihat sedang meneriaki kedua namja itu lalu pergi meninggalkan mereka dan bergabung denganku di mobil. Saat dia sudah berada di dekatku, aku bisa merasakan kemarahannya dan juga melihat warna emosinya yang merah menyala. Untuk beberapa saat, aku memilih diam karena akupun tak tahu harus mengatakan apa dan aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi.

“Oppa” panggil Yewon tiba-tiba dengan suara yang sudah terdengar biasa. Kurasa emosinya sudah reda, jadi aku menoleh ke arahnya dan dia sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Maukah kau menyimpan ini untukku?” tanyanya sambil mengulurkan sebuah kertas padaku dengan warna emosi penuh harapan.

“Apa itu?” tanyaku ingin tahu.

“Bukan apa-apa,”

“Jika bukan apa-apa, kau tak akan memintaku untuk menyimpannya. Kau pasti akan menyimpan sendiri” sahutku tak mau menyerah begitu saja. “Itu dari namja tadi, ‘kan? Apa isinya?”

“Sudah kukatakan bukan-”

“Ya! Kau tahu, ‘kan aku sudah tak mau ikut campur dengan urusan kelompokmu atau kelompok-kelompok lainnya” potongku dengan cepat. “Geurae, kau tak perlu memberitahuku karena akupun tak mau tahu apa isinya” Aku melanjutkan.

“Ini daftar kemana uang-uang palsu itu didistribusikan” kata Yewon tanpa keraguan sedikitpun memberitahukannya padaku.

Mataku mengerjap beberapa kali, “Uang palsu?” ulangku yang langsung dijawab dengan anggukkan oleh Yewon. Aku tertawa hambar, “Ya! Ahn Yewon! Michoseo? Neo jinjja eotteoke-”

“Na aniya,” Kali ini giliran Yewon yang memotong perkataanku. “Ini bukan aku atau kelompokku yang melakukannya, tapi kelompok lain. Masalahnya adalah dalam satu kelompok tak pernah ada yang tahu kemana barang-barang itu didistribusikan untuk menghindari saksi. Jadi mereka selalu meminta anggota kelompok lain untuk menyimpan daftarnya”

“Ya! Tetap saja…” Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi jadi aku hanya menghela napas panjang. “Ini benar-benar masalah yang serius. Uang palsu? Aku pasti sudah gila mendengarkan ini darimu,”

“Lalu aku harus bagaimana? Menolaknya?” sahut Yewon dengan ekspresi dan warna emosi yang serius. “Dia membantuku menemukan identitas ayah kandungku, dan aku tak bisa menolak permintaannya”

Aku kembali menghela napas, “Jadi kau sudah menemukannya?”

Yewon mengangguk, “Dia sudah meninggal… Dibunuh” katanya.

Aku menatapnya lama, lalu mengulurkan tanganku menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkannya.

“Aku ingin keluar dari kelompok tapi aku belum menemukan waktu yang tepat,” Yewon memberitahuku. “Ini… Ini mungkin menjadi tugas terakhirku sebelum aku benar-benar berhenti menjadi bagian dari mereka. Karena itu, oppa-”

“Aku tak bisa,” jawabku langsung kembali memotong perkataan Yewon.

“Oppa,”

“Shirreo!” kataku tegas. “Itu urusanmu dan tugasmu jadi kau sendiri yang harus melakukannya”

“Oppa, jebal… Satu kali ini saja, eung?”

“Tidak,”

“Apa kau tak peduli padaku, oppa?”

Aku tertawa, “Kenapa aku harus peduli padamu?”

Yewon diam dan menatapku lekat-lekat.

Aku kembali berkata, “Geurae, aku akan berpura-pura tak melihat dan mendengar apapun hari ini. Jadi jangan memaksaku lagi, arra?!”

“Oppa, sekali saja”

“Aku kesini untuk balapan, jadi jika kau terus memaksaku lebih baik kau keluar saja. Aku tak mau konsentrasiku terganggu karena rengekkanmu,”

Yewon terus menatapku, lalu aku melihatnya menghela napas panjang. “Geurae arraseo. Aku akan menyimpannya sendiri,” katanya sambil memasukkan kembali kertas itu ke dalam sakunya. “Memang selalu sulit merayumu, oppa”

“Tentu saja,”

“Cih…” sahut Yewon. Dia memakai sabuk pengamannya, “Pastikan kau menang kali ini, oppa. Jika tidak, maka aku benar-benar menyesal sudah menyerah dengan mudah untuk merayumu”

Aku tertawa kecil, lalu mengangguk. “Siap?”

“Siap!”

Aku menginjak pedal gas mobilku keras-keras, lalu mulai bergabung dengan mobil-mobil lainnya yang sudah berbaris rapi. Selang beberapa saat, balapanpun dimulai. Aku langsung menyusup ke barisan depan dan berhasil melewati putaran pertama dengan mulus. Tapi kemudian saat aku baru akan berbelok di belokkan ketiga putaran kedua, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari sisi lain jalan dan langsung menabrakku. Aku berusaha keras mengendalikan kemudiku, sayangnya hal itu justru membuat mobilku menabrak mobil-mobil lainnya. Dan kejadiannya pun sangat cepat, dari mobilku yang berputar-putar, menabrak mobil lainnya sampai akhirnya terguling dan berhenti dengan posisi mobil terbalik.

-Flashback end-

 

“-tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu karena aku-”

“Yewon-ah,” potongku setelah kembali mendengar suara Sooyoung di telingaku. “Aku ingat semuanya,” kataku kemudian.

Hening. Tak ada respon dari Sooyoung.

“Kau… Kau yang menyimpan kertas itu, bukan aku” kataku lagi mengulang lagi kejadian itu dengan cepat. “Aku ingat sekarang”

“Itu bagus. Aku senang mendengarnya, oppa” jawab Sooyoung pelan. “Kau tak terlibat kasus apapun jadi kau tak perlu khawatir akan ada orang yang menjebakmu, termasuk Won oppa

Geurae. Aku yakin Ahn Ji Won pasti akan menggunakan kejadian kecelakaan itu untuk mengurangi hukumannya jika dia tertangkap dan menyertaiku dalam hukumannya itu”

Sooyoung mengangguk.

Oppa, eonni!” panggilan keras itu terdengar dari arah belakangku. Membuatku dan Sooyoung langsung menolehkan kepala. Bae Joohyun disana, setengah berlari menghampiri tempat kami. “Wah jinjja! Tak kusangka bertemu kalian ditempat seperti ini,”

“Apa yang kau lakukan disini?”

Wae? Memangnya aku tak boleh berkencan juga seperti kalian?”

Mwo? Berkencan?”

Joohyun mengangguk, lalu dia menunjuk ke arah namja yang sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman. “Namanya Shin Ji Ho. Aku akan mengenalkannya pada oppa dan Sooyoung eonni nanti”

“Geurae arraseo,”

Geurigo, eonni. Aljanha-” Kata-kata Joohyun terhenti karena tiba-tiba saja Sooyoung jatuh terduduk. Aku dan Joohyun sama-sama terkejut, “Eonni… Waegeuraeyo?”

Aku berjongkok disamping Sooyoung, lalu memegangi tubuhnya. “Gwenchana?” tanyaku khawatir.

Sooyoung menganggukkan kepalanya pelan.

Aku ragu sesaat untuk memegang tangan Sooyoung tapi pada akhirnya aku menggenggamnya juga. Tangannya mulai terasa hangat, hanya saja dia terlihat lemas seperti semua tenaganya habis tak tersisa. Aku menyandarkan Sooyoung ke tubuhku lalu mengamatinya apa dia baik-baik saja atau tidak.

“Sooyoung-ah,

Ah… jumma” ucap Sooyoung lirih. “Gomawo…” katanya sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri.

Oppa, cepat bawa eonni ke rumah sakit. Palli palli!” Joohyun terlihat sama khawatirnya denganku. “Sepertinya Sooyoung eonni sedang sakit. Kenapa kau membawanya keluar malam-malam begini? Palli oppa!”

Aku langsung mengangkat tubuh Sooyoung dan membawanya setengah berlari menuju mobilku. Joohyun kembali menemui namja tadi lalu aku melihatnya berlari ke arahku bersama namja itu. Cepat-cepat aku merebahkan Sooyoung ke mobilku, dibantu Joohyun, dan bergegas meninggalkan taman untuk pergi ke rumah sakit dengan Joohyun dan namja itu mengikuti di belakang mobilku.

**

“Sekali tidak, tetap tidak” kataku tegas saat Sooyoung memberitahuku tentang rencananya untuk membantuku menangkap Ahn Ji Won. “Choi Sooyoung, aku tak mau membahayakan nyawamu dan kau harus mengerti itu”

“Ji Won tak akan melakukan apapun jika tahu aku itu Yewon” kata Sooyoung tak mau menyerah. Dia menoleh ke sisi kirinya, “Maja, Yewon-ssi?”

Aku mengikuti arah pandang Sooyoung lalu memejamkan mata sesaat sambil menghela napas. “Sooyoung-ah,” panggilku yang langsung membuat dia menoleh padaku. “Dengar. Aku senang kau membantuku, Sooyoung-ah. Tapi aku benar-benar tak mau terjadi sesuatu denganmu. Apa kau tak tahu bagaimana khawatirnya aku saat melihatmu tak sadarkan diri saat itu?”

Oppa, itu karena-”

“Kau terlihat sangat lemah saat itu, dan bahkan saat Hwang Min Soo meminjam tubuhmu” potongku mengabaikan pembelaan Sooyoung. “Kau pasti banyak menghabiskan tenagamu karena gwishin meminjam tubuhmu, ‘kan? Aku tak mau melihatmu seperti itu lagi, arra?”

“Ini yang terakhir, oppa. Aku ingin semuanya cepat selesai dan tidak menjadi beban untukmu. Aku akan melakukan segala cara untuk membantumu, bahkan jika itu mengorbankan diriku sendiri”

“Tidak. Tak ada siapapun yang akan mengorbankan diri,” sahutku cepat. “Ini tugasku sebagai seorang detektif polisi, dan aku akan menyelesaikannya meskipun itu membutuhkan waktu yang lama. Kau hanya perlu berhati-hati, tak perlu melakukan sesuatu yang lain yang membahayakan dirimu sendiri”

Sooyoung diam di tempatnya, lalu aku melihat dia menarik napas panjang. Beberapa kali dia menoleh ke sisi kirinya dan menganggukkan kepala setelahnya. Sebenarnya aku ingin tahu apa yang dia dengar dari Ahn Yewon yang aku yakin ada disebelahnya sekarang, tapi aku menahan diriku untuk tidak bertanya. Jujur saja, aku berterima kasih karena Yewon membantuku mengingat kecelakaan itu beberapa hari yang lalu tapi aku benar-benar tidak senang karena harus mengorbankan Sooyoung seperti itu. Dia bahkan harus istirahat total selama dua hari karena kelelahan. Meminjamkan tubuh pada gwishin itu pasti benar-benar banyak menguras energinya, dan aku tidak heran dia kelelahan seperti itu.

Ponselku berdering tiba-tiba, dan akupun mengambilnya dengan cepat. Aku melihat siapa yang menelepon sebelum akhirnya mendekatkan ponselnya ke telingaku. “Ada apa, Dong Soo-ya?”

Sunbae, eodiseoyo? Detektif Jung saat ini sedang mengejar Ahn Ji Won di Gyeyang 1-dong. Dia berhasil menemukan lokasi persembunyian Ahn Ji Won, dan namja itu melarikan diri saat mereka tiba di lokasi”

Aku bangkit dari tempat dudukku, “Geurae arraseo. Datanglah restoran dekat toko bunga ‘Six Sense’, dan kita ikut mengejarnya. Kali ini aku akan memastikan Ahn Ji Won tertangkap,” kataku buru-buru keluar dari restoran dimana aku dan Sooyoung berada. Aku menutup sambungan teleponku lalu menyimpannya kembali di sakuku. “Sooyoung-ah, pulanglah ke apartemen sekarang dan telepon Joohyun untuk berhati-hati juga” kataku sebelum pergi meninggalkan Sooyoung dan berlari ke arah kantor polisi.

Baru beberapa meter aku berlari, sebuah mobil berhenti di depanku. Aku langsung membuka pintunya dan masuk. Tanpa menunggu lama Park Dong Soo segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan bergabung dengan mobil-mobil lainnya di jalanan yang lebih besar. Mataku menatap GPS yang ada di dasbor mobil, dan walkie talkie yang terpasang disana. Suara detektif Jung terdengar, seperti memberi arahan pada anak buahnya untuk terus mengejar buronan mereka.

Aku mengambil walkie talkie itu lalu berbicara. “Sunbae, arahkan buronan ke suatu tempat” kataku. “Kita tak akan bisa menangkapnya jika dia terus di jalanan” Aku menambahkan.

“Apa ini Kyuhyun? Geurae, geurae” jawab detektif Jung. “Saat ini aku sedang mengejarnya di Seonjuji-dong. Kau cegat dia di persimpangan Gyeyang 2-dong, dan buat dia berhenti”

Geurae arraseo,” kataku. “Dong Soo-ya, kita ke persimpangan Gyeyang 2-dong” Aku memberi arahan pada Park Dong Soo.

Anak buahku ini mengikuti perintahku dan segera melaju ke jalur menuju Gyeyang 2-dong. Meskipun lalu lintasnya padat tapi para pengendara mobil bisa bekerja sama dengan baik dan itu membuatku melaju dengan lancar menuju lokasi yang kami tuju. Aku terus mendengarkan perkembangan hasil pengejaran yang ternyata masih sulit untuk dikejar. Tidak mengherankan bagiku mengingat Ahn Ji Won adalah orang yang suka membalap, sama sepertiku lima tahun yang lalu. Dia pasti punya keahlian mengemudi tertentu yang membuat polisi sulit untuk mengejarnya.

Kami tiba di lokasi yang dimaksud detektif Jung, begitu juga beberapa mobil polisi yang sepertinya diperintahkan oleh detektif Jung untung datang kesini. Aku langsung memerintahkan Park Dong Soo dan polisi lainnya untuk mengamankan jalannya, sementara aku bersiap menunggu Ahn Ji Won datang. Mobil sengaja diparkir melintang, menutup laju kendaraan. Sisa polisi yang tidak membantu Dong Soo juga bersiap bersamaku dan semuanya memegang pistol.

Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Suara sirine polisi terdengar di belakangnya. Membuatku yakin jika mobil hitam itu adalah mobil yang dikendarai Ahn Ji Won. Benar saja, saat pengemudi mobil mengetahui bahwa jalan sudah ditutup, diapun langsung menghentikan laju mobilnya. Dua orang keluar dari mobil, salah satunya adalah Ahn Ji Won. Mereka berlari ke arah semak-semak, dan akupun langsung mengejarnya. Aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya kami tiba di sebuah bangunan yang sudah roboh, hanya tersisa puingnya saja.

“Berpencar,” kataku memberi arahan. “Cari diseluruh lokasi ini dan sekitarnya”

Ne, algeseumnida” jawab para polisi itu serempak.

“Park Dong Soo, ikut aku ke belakang”

“Ne, sunbae”

Aku melangkah dengan hati-hati ke bagian belakang bangunan yang roboh itu. Disana ada beberapa tumpukan besi setinggi orang dewasa. Tempat ini seperti sebuah proyek yang tidak selesai dan dilupakan begitu saja. Beberapa bahan bangunanpun ada disekitar kawasan ini termasuk besi-besi yang sudah karat. Aku menyuruh Dong Soo untuk waspada karena aku yakin mereka bersenjata. Benar saja, sebuah tembakan pun terdengar dan Park Dong Soo langsung terjatuh sambil memegangi lengannya.

“Dong Soo-ya!” seruku seraya mendekatinya. Aku menolehkan kepala ke sekeliling, mencari arah suara tembakan itu berasal. “Kajja,” kataku membantu Dong Soo berdiri lalu bersembunyi di balik tumpukan besi.

“Cho Kyuhyun!” Suara itupun terdengar. Aku menjulurkan kepala sedikit, dan melihat Ahn Ji Won berdiri disana. Di belakangnya ada namja lain yang siap dengan senjatanya. “Cho Kyuhyun! Keluarlah, ayo kita bicara” seru Ji Won lagi.

Andwaeyo, sunbae” cegah Dong Soo cepat. “Dia pasti sedang memancingmu sekarang”

Aku diam dan berpikir. Lalu aku mendengar langkah kaki beberapa orang dan melihat detektif Jung bersama anak buahnya mendekat dengan sembunyi-sembunyi. Mereka pasti sudah siap untuk menangkap Ahn Ji Won, dan aku hanya perlu mengulur waktunya agar detektif Jung datang semakin dekat dengannya.

“Sunbae,-”

Gwenchana, Dong Soo-ya. Kita melakukannya atau tidak sama sekali,” kataku sambil menyiapkan pistolku. Aku menepuk pelan bahu Dong Soo yang tidak terluka, “Lakukan sesuatu jika waktunya tepat menurutmu, dan jangan ragu untuk menembak. Aku tahu kau bisa melakukannya,”

Dong Soo menatapku lekat-lekat, lalu dia mengangguk perlahan.

Oppa,” seruan seseorang itu mengurungkan niatku yang baru akan melangkah keluar dari persembunyianku. Aku memicingkan mata menatap siapa yang datang, dan langsung diam terpaku melihat Sooyoung sedang melangkah menghampiri Ahn Ji Won. “Oppa, geumanhae” katanya.

“Choi Sooyoung?” Nada bicara Ji Won terdengar tidak percaya. “Aigoo… Kebetulan sekali kau datang kesini. Apa kau ingin mengorbankan dirimu demi namjachingumu?”

Sooyoung terlihat diam saja, dan akupun bangkit dari tempatku lalu melangkah keluar menemui Ahn Ji Won karena aku tak mau terjadi sesuatu pada Sooyoung.

Oh, dia datang. Lihatlah,” kata Ji Won dengan eskpresi senang begitupula warna emosinya. “Kau sangat tidak beruntung, Choi Sooyoung. Seharusnya kau tak datang kesini dan-”

Geumanhae oppa!” seru Sooyoung berteriak. “Aku benar-benar tak percaya kau akan sejauh ini”

“Sooyoung-ah,”

Ahn Ji Won tertawa, “Oppa?” katanya. Dia menoleh ke belakang, ke arah rekannya lalu menganggukkan kepala. “Aku bukan Oppa-mu dan bukan seseorang yang bisa kau panggil dengan sebutan itu” katanya lagi sambil menyuruh temannya untuk mengacungkan pistol ke arah Sooyoung dengan gerakkan tangannya.

“Ahn Ji Won! Apa yang kau lakukan?” seruku seraya menghampiri Sooyoung dan berdiri di depannya. “Urusanmu denganku, ‘kan? Kau tak akan melibatkan orang lain lagi. Hanya kau dan aku,”

Sooyoung memegang bahuku, lalu dia melangkah ke depan menghadap Ji Won. “Ini aku, oppa. Min Kyung, Jung Min Kyung” kata Sooyoung tanpa mengalihkan pandangan dari Ji Won.

Ya! Darimana kau-”

“Itu namaku yang sebenarnya, dan kau mengetahuinya” potong Sooyoung sebelum Ji Won menyelesaikan kalimatnya. “Kau satu-satunya orang yang mengetahui namaku yang sebenarnya dan memanggilku dengan nama itu, Won oppa

Aku diam di tempatku dan memandangi Sooyoung dari belakang yang terlihat tak memiliki rasa takut sekalipun.

Ji Won mengambil pistol rekannya lalu mengarahkannya pada Sooyoung. “Jangan mencoba membodohiku, Choi Sooyoung. Min Kyung sudah meninggal lima tahun yang lalu, karena namja bodoh di depanmu membawanya masuk ke dalam mobilnya dan mengalami kecelakaan!”

“Aku Min Kyung, oppa. Kau harus percaya padaku dan hentikan semua ini” kata Sooyoung mengabaikan perkataan Ji Won. Dia melangkah mendekati Ji Won, “Percayalah padaku, oppa. Geumanhaera,

“Sooyoung-ah, apa yang akan kau lakukan?” Aku berusaha mencegah Sooyoung tapi yeoja itu juga mengabaikanku. “Ahn Ji Won! Turunkan senjatamu!”

“Kau pikir aku bodoh, huh? Choi Sooyoung, jika kau melangkah lebih dekat lagi aku pastikan kau mati” ancam Ji Won tak mendengarkan perkataanku.

Sooyoung terus melangkah tanpa ada keraguan sedikitpun. “Oppa, kau tahu apa yang paling membuatku menyesal saat aku masih ada di dunia ini? Aku tak bisa mengatakan terima kasih padamu,”

Ji Won sama sekali tak bergerak di tempatnya, dan mendengarkan Sooyoung meskipun pistol masih mengarah ke yeoja itu. Aku diam-diam mengambil pistolku sendiri dan sudah siap jika Ji Won melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Ahn Ji Won! Apa yang kau lakukan?! Jangan dengarkan dia dan lakukan!” kata namja yang bersama Ji Won dengan warna emosi kesalnya.

“Won oppa. Kau banyak membantuku, dan selalu bersamaku sejak aku masih kecil. Kau juga banyak melakukan hal untukku, tak membiarkan aku sendiri dan tak pernah membuatku menangis” Sooyoung melanjutkan bicara. “Kau selalu berkata jika aku sangat jelek saat aku menangis dan aku selalu memukulmu setiap kali kau mengatakan hal seperti itu. Tapi kau tak membalasku atau marah padaku”

Aku memperhatikan Ji Won yang warna emosinya berubah menjadi terkejut. Dia pasti tak menyangka jika Sooyoung mengetahui hal seperti itu, begitu pula aku. Mataku beralih pada Sooyoung yang sekarang memiliki warna emosi lagi. Biru muda. Membuatku yakin bahwa dia saat ini bukanlah Sooyoung, dan mungkin saja Yewon mengingat dia sedang bersama gwishin itu tadi. Itu berarti dia dan Yewon mengikutiku sampai kesini, dan aku tak mengetahuinya.

“Ahn Ji Won!”

“Diam, bodoh!” seru Ji Won pada rekannya. Dia mengarahkan pistol kepadanya, lalu tanpa ragu menembak kaki namja itu yang langsung jatuh terduduk. Setelah itu dia kembali mengarahkannya pada Sooyoung. “Kau tidak mungkin dia. Tidak mungkin karena kau-”

“Aku sudah mati. Itu benar, oppa” Sooyoung menyela. Nadanya terdengar lebih tenang sekarang. “Aku meminjam tubuh eonni ini untuk menghentikanmu, karena itulah aku datang padamu”

“Itu tidak masuk akal,”

“Apa kau perlu bukti bahwa aku Min Kyung?”

Ji Won tak langsung menjawab. Warna emosinya terlihat ragu, tapi kemudian dia mengangguk. “Geurae, buktikan!”

Sooyoung sekarang sudah benar-benar dekat dengan Ahn Ji Won. Dia mengulurkan tangannya, lalu menyusuri wajah Ji Won seperti sedang merabanya. Aku memperhatikan itu dan tak bisa menahan diriku untuk mengkhawatirkan Sooyoung. Ingin sekali rasanya aku berlari kesana dan menarik yeoja itu menjauh dari Ji Won, tapi aku tahu apa yang aku lakukan itu adalah tindakan bodoh. Sooyoung sudah sejauh ini mengorbankan dirinya untuk membantuku dan aku tak mungkin menyia-nyiakannya begitu saja.

“Kau berkata ini harus kita lakukan setiap kali ada keraguan diantara kita. Kau yang mengajariku ini, Won oppa. Saat aku meragukanmu bahwa kau bukanlah oppa-ku,”

“Min… Min Kyung-ah…” kata Ji Won pelan sambil menurunkan pistolnya dan menjatuhkannya. Dia memegangi kedua bahu Sooyoung, lalu menariknya ke dalam pelukannya. “Min Kyung-ah… Min Kyung-ah… Jung Min Kyung!”

Aku maju satu langkah melihat Sooyoung dipeluk seperti itu oleh Ji Won tapi menahan diriku untuk tidak melangkah lebih jauh. Meskipun aku marah karena yeojachingu-ku dipeluk oleh namja lain tapi aku benar-benar harus menahan diri.

Bogoshipeoseo, Kyung-ah! Neomu bogoshipeoseo” kata Ji Won masih memeluk Sooyoung. “Kupikir aku tak mungkin bisa berbicara padamu lagi, kupikir aku benar-benar sudah kehilanganmu”

“Won oppa,” Sooyoung melepas pelukannya perlahan. Dia menggelengkan kepala lalu menyentuh pipi Ji Won. “Hentikan semua ini, oppa. Aku tak mau melihatmu terluka dan melakukan sesuatu yang sangat bukan Won oppa yang aku kenal”

“Aku… Aku telah membunuh seseorang, Kyung-ah

Arra, tapi bukan berarti kau membunuh lagi untuk menutupi rasa bersalahmu. Won oppa yang aku kenal adalah seseorang yang bertanggung jawab atas semua yang dia lakukan. Aku benar, bukan?”

Ji Won menganggukkan kepala, dan aku bisa melihat warna emosi menyesal di wajahnya sekarang.

“Geurigo oppa…” kata Sooyoung lagi. “Mengenai kecelakaan itu-”

“Aku pasti akan melakukan sesuatu pada orang yang membuatmu menjadi seperti ini”

Sooyoung menggeleng, “Jangan. Jangan lakukan apapun. Itu bukan salah siapapun, oppa. Itu adalah takdirku” katanya. “Tapi aku bahagia karena sebelum aku mati, aku tahu siapa diriku, aku tahu ayah kandungku, aku tahu keluargaku yang sebenarnya”

“Kyung-ah,

Haengbokeseoyo, jinjja. Karena itu jangan lakukan apapun, dan cukup serahkan dirimu oppa

“Kyung-ah,” Ji Won meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya dengan erat. Aku meremas tanganku sendiri melihat pemandangan itu tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Jika aku mendekatpun, aku khawatir Ji Won akan melakukan sesuatu yang membahayakan Sooyoung. “Tetaplah seperti ini, Kyung-ah. Tetap seperti ini dan teruslah berbicara padaku. Jigeum cheoreom..

“Itu tidak mungkin, oppa

“Kenapa tidak? Apa kau tak mau hidup bersamaku? Kau tak mencintaiku? Tak pernah?”

Aku melihat Sooyoung menundukkan kepalanya sesaat, lalu dia mengangkatnya lagi. “Aku… Aku mencintaimu. Aku menyadari perasaanku saat kau terluka karena melindungiku. Tapi aku… Aku terlalu ragu untuk mengatakannya padamu karena itu aku terus membuatmu cemburu dengan Kyuhyun oppa

“Min Kyung-ah,” sahut Ji Won langsung menghambur memeluk Sooyoung. Dia bahkan terlihat semakin mempererat pelukannya, seperti tak mau melepaskan Sooyoung. “Nado… Nado saranghaeyo, Jung Min Kyung”

Aku terus mengawasi. Ahn Ji Won melepas pelukannya, lalu dengan gerakan cepat dia merendahkan kepalanya dan mencium Sooyoung. Mataku membelalak melihatnya dan akupun bergerak cepat menghampiri mereka. Tanpa ragu, aku langsung menarik Sooyoung menjauh dari Ahn Ji Won. Tepat saat itu detektif Jung datang dan langsung melumpuhkan namja itu. Aku menatap tajam ke arah Ji Won yang justru terus menatap Sooyoung. Bahkan saat polisi membawanya pergi, dia masih berusaha menatap ke arah Sooyoung. Seakan-akan tak mau menjauh dari Sooyoung.

Setelah Ji Won berhasil dibawa pergi oleh detektif Jung, aku baru mengalihkan perhatianku pada Sooyoung. Aku akan memarahinya karena apa yang baru saja terjadi, entah itu pada Sooyoung sendiri maupun Ahn Yewon. Tapi kemudian Sooyoung terjatuh, dan dia terlihat sangat lemah. Aku memeganginya, menahannya agar tidak jatuh. Dia menatapku dengan sayu lalu menyunggingkan senyum ke arahku. Tanpa menunggu lama, akupun mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi ke lokasi yang lebih aman.

**

Saat aku baru saja merebahkan tubuh ke atas ranjangku, seseorang mengetuk pelan pintu kamarku. Aku bangkit lalu bergegas membukakan pintunya. Tapi aku langsung terdiam melihat Sooyoung berdiri disana, sudah lebih segar dari sebelumnya. Tidur sebentar pasti sudah berhasil mengembalikan tenaganya yang terkuras oleh gwishin Ahn Yewon itu.

“Sedang apa kau disini di jam seperti ini?” tanyaku berusaha bersikap biasa meskipun bayangan tentang apa yang baru saja terjadi terus terlintas di kepalaku.

“Aku ingin melihat keadaanmu,”

“Keadaanku baik-baik saja. Puas?” sahutku tak berusaha menyingkirkan kekesalanku. “Pergilah ke kamar dan istirahat yang banyak. Kau pasti kehilangan banyak tenaga setelah meminjamkan tubuhmu… lagi pada gwishin

“Apa kau marah padaku, oppa?”

Eo, aku marah padamu”

Wae? Apa kau marah padaku karena aku meminjamkan tubuhku lagi pada Ahn Yewon dan menyusulmu?”

Eo, tapi tidak hanya itu. Ada sesuatu hal lain yang membuatku sangat marah padamu selain itu” jawabku. “Apa kau tak tahu atau pura-pura tak tahu?”

Kedua alis Sooyoung saling bertaut, “Aku tak tahu” katanya. “Memangnya apa yang terjadi?”

“Kau tak tahu?” tanyaku tidak percaya. “Selain Ahn Ji Won sudah berhasil ditangkap, kau tak tahu apapun yang sudah terjadi?”

Sooyoung mengangguk.

“Aigoo, jinjja!” dengusku kesal. Aku menatap Sooyoung dengan tajam, “Ya! Neo! Mulai sekarang, jangan pernah sekalipun kau meminjamkan tubuhmu pada gwishin. Joldae andwae!”

“Eo, arraseoyo” jawab Sooyoung sambil menundukkan kepalanya. “Itu yang terakhir, oppa. Aku janji padamu,”

Aku menghela napas panjang, berusaha meredakan kekesalanku tapi entah kenapa aku justru tak bisa menghilangkannya. Setiap kali aku menatap Sooyoung, bayangan ciuman itu terlintas kembali di kepalaku. Aku benar-benar tak menyangka ada namja lain yang mencium seorang yeoja di depan namjachingu-nya sendiri. Meskipun saat itu bukan Sooyoung tapi tubuh itu adalah tubuh Sooyoung, ‘kan? Dan aku tak bisa melepaskan kejadian itu begitu saja dari ingatanku.

Ah jinjja! Aku tak bisa menahan kekesalanku setiap kali memandangmu!” kataku jujur di depan Sooyoung. “Bayangan itu pasti langsung terlintas di kepalaku. Ugh! Ahn Ji Won! Coba saja aku bisa memukulmu saat itu!”

Waeyo oppa? Bayangan apa?”

Aku kembali menghela napas, “Bayangan saat kau dan Ahn Ji Won berciuman” jawabku hampir tanpa suara.

“M-Mwo… Mwo? Mworaguyo?”

“Kau berciuman dengan Ahn Ji Won!” seruku kesal.

Oppa… Aku-”

Arra, arra. Itu bukan kau, arra. Tapi kenapa kau tak memberi perlawanan saat seperti itu harus terjadi? Apa saat tubuhmu ‘dipinjam’, kau sama sekali terlepas dari tubuhmu?!”

Hening. Sepertinya Sooyoung terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui.

“Aku berusaha melupakannya tapi itu justru semakin membuatku memikirkannya. Ugh jinjja! Aku benar-benar ingin memukul namja itu sekarang!” kataku lagi sambil mengepalkan tanganku.

Oppa, mianhae-

Ani. Jangan meminta maaf, jangan merasa bersalah” potongku dengan cepat. “Itu salahku karena tidak cepat menangkapnya, dan kau harus rela meminjamkan tubuhmu pada gwishin. Jika aku lebih cepat, hal seperti itu pasti tak akan terjadi”

Sooyoung kembali menundukkan kepala. Dia bahkan tetap seperti itu untuk waktu yang lama dan aku membiarkannya. Aku sendiri tak tahu apa yang harus lakukan karena aku tak mau semakin tak bisa menahan amarahku meskipun aku tahu itu bukan perbuatan Sooyoung.

Oppa,” ucap Sooyoung tiba-tiba. “Kau pasti sangat marah padaku, ‘kan?”

Aku tidak menjawab.

Sooyoung mengangkat lagi kepalanya dan pandangan mata kami saling bertemu. Aku mengalihkan pandanganku, berusaha untuk tidak menatap Sooyoung. “Oppa, mianhaeyo” kata Sooyoung kembali berbicara karena aku tak mengatakan apa-apa.

Dwaesseo,” kataku pada akhirnya. “Pergilah tidur dan-”

Sooyoung tiba-tiba menarik tanganku dan mencium bibirku. Untuk sesaat aku terdiam di tempatku tapi kemudian aku bisa merasakan beban kedua tangan Sooyoung yang hangat saat dia melingkarkannya ke leherku. Aku merasakan sentuhan bibir Sooyoung, mula-mula ringan, dan bibirku sendiri membuka dibawah tekanan itu. Hampir diluar keinginanku, lenganku merengkuhnya dengan sendirinya. Lalu tanganku menjalin rambutnya, dan ciuman itu tak lagi lembut tapi menggelora, seluruhnya dalam satu detik seperti percik api yang tersulut menjadi kobaran.

Tanganku bergerak dari rambutnya, turun menyusuri punggungnya. Sooyoung terus menciumku, dan akupun membalas ciumannya. Lalu dengan lembut dia melepaskan diri, menurunkan tangannya dari leherku, dan melangkah mundur. Dia menatapku, dan tersenyum. Aku menyambut tatapan itu juga senyumannya. Aku bisa merasakan kekesalanku mereda dengan sendirinya karena ciuman Sooyoung itu. Sekarang aku bahkan tak peduli pada kejadian itu, dan menganggapnya tak pernah ada. Karena aku yakin Sooyoung tak merasakan ciuman itu seperti dia merasakan ciumanku.

-TBC-

 

Eotte? Eotte?

Mian part ini panjang banget yah -____-

tadinya aku mau potong jadi dua bagian, tapi jadi aneh trus tambah panjang FF-nya jadi aku terusin aja deh, jeongmal mianhae knight kalo terlalu panjang. Semoga kalian suka yah^^

Jangan lupa komentarnya knightdeul ^^

Gomawo buat readers yang udah mau baca dan komentar di FF ini..

Kritik-sarannya juga boleh buat next chap-nya..

Aku harap kalian masih mau nungguin part selanjutnya yah ^^

 

Gomawo #bow

47 thoughts on “[Series] Have You Seen (Kyuhyun Spesial) -part 14-

  1. Sistasookyu says:

    Akhirnya ahn ji won ditangkap juga
    syo kenapa ga mau manggil2 park hae in sih.. Kasian hae in nya sama syo nya sendiri karna dikit2 bkal digangguin gwishin
    kyu super care, kece abis!

  2. Isma KSY says:

    Daebakkk….. wow! detail skali. suka skali.. apalagi pas kyuyoung momentnya
    eh.. thor park hae in adain lagi ath.. d tnggu lanjutannya.. jangan lama lama yah.. hhhhh

  3. sari says:

    Omg sooyoung sama kyuhyun oppa kissing O.O, akhirnya selesai juga masalah ahn ji won. Eh iya thor mau nanya apa sooyoung unnie benaran ga mau pke pelindung lgi apa sooyoung unnie ga akan manggil park hae in lgi thor?

  4. weeni leon92 says:

    Rasa kangen nya terbayar dg muncul ny part ini..
    Romantis bgttt akhir nyaaa…
    Next chap dtunggu post cpet ny..
    FIGHTING THORRR… GOOD JOB.

  5. ellalibra says:

    Puas bgt bc ny eon,,, akhirnya ahn ji won ketangkep jg,, trs gmn kabarnya ttg kelompok mafia lain nanti ea,,, cieee kyu cemburu nie ,,, ini keren bgt eon crtny ,,, fighting ne fornext chapt

  6. Daebbakkk , sangat sangat daebbakk … Ya ampun …
    Part ini pasti harus muter otak ,, sungguh keren …
    Apakah masalh ini selesai ,,
    Yewon dan jiwon , ya ampun aku terharu bacanya .. Kenapa kamu gk bilang dari dulu aja yewon kalau kamu suka dg jiwon …
    Dan untuk kyuyoung ya ampun ,, bisa dibayangkan kalau jadi Kyu oppa saat liat soo eon #pacarnya kissing dg namja lain didepan matamu #Kyu itu ya pasti bkin Kyu cemburu … Dan adegan akhir dimana Soo eon sangat sangat berani cium Kyu oppa ..
    Ditunggu kelanjutannya ,,

  7. miaaan baru komen baru selesai baca ..
    ini part paling panjang kah? tapi keren tau kenapa? ini ff pasti bikinnya muter otak banget soalnya dari masalah lain ke yang lain saling berkaitan dan ini daebaaaaak, ga ada kritikan, dan berharap part selanjutnya mungkin terakhir kah? di tunggu ^^.next part mungkin kyuyoung wedding yeay hihi ^^

  8. Fasha Aprilia says:

    Gak kepanjangan kok…keren malah…jadi puas thor…ditunggu next partnya ya thor…yang panjang juga ya next partnya…

  9. Sooyounggggg210 says:

    Ga kepanjangan kok thor, malah bagus cerita nya mendetail jadi jelas hehe waaah kasian kyu ngeliat syo kissing sama namja lain😦 ditunggu next part nya ya thor🙂

  10. yaaa ampun thor, kereeen bangeett. super duper panjaaaang😀
    engga ada hal yg terlewat sdikit pun semua terasa mndekati sempurna..
    aq sukaa bnget sama ff ini ^^

    tp thor jujur aq kangen sama sosok park hae in.. dya bakal balik lagi kah mnjadi malaikat pelindung soo ??
    sukaa banget sama kyu disini.. bner” menghargai seorang wanita ^^ di tunggu next chap.ya ya thor ^^

  11. kyulovesoo says:

    Part ini panjaaaaang bgt..tpi aku suka
    Akhirnya ahn ji won ketangkep juga n masalahnya selesai walaupun ada sesuatu yg bikin kyu kesel n jelouse
    Thor jadiin park hae in pelindung soo lagi dong kasian soo,,tubuhnya dipinjem mulu sama gwishin
    Dan aku paling suka scene terakhirnya thor so sweet bgt kan jarang kyuyoung kiss disini
    Dan aku berharap part selanjutnya bukan part end karna aku gk rela ff ini end
    Ok kemenan aku udah puaanjang bgt
    Semangat ya thor buat part selanjutnya I Can’t Wait
    FIGTHING!!!!!

  12. Kepanjangan? Ga dong thor. .
    sangat puas malah gue bacanya, akhirnya ahn ji won ketangkep jga dan masalah ini selesai ^_^
    cieee kyuyoung sweet dah. . .
    di tggu next nya thor, dan gue hrap part selnjutnya bkan part terakhir. . . Hahaha
    krena gue blum rela ni ff end. .
    semngat thor ^_^

  13. next chap park hae in balik lg ya thooor
    ga tega liat sooyoung gitu terus

    yang bikin aku betah sama ff ini tuh kasus yg beda beda, seru dan menarik
    author kalo bikin novel kayak gini pasti laku
    tp jangan deh, ntar aku ga bisa baca gretongan lagi. hahaha

    AKU HAMPIR SEJAM BACA INI YAAMPUN!!!

  14. deka_puspa says:

    panjang banget ceritanya.yang paling berkesan itu scene yang terakhir itu loh hehe😀,habisnya terus terang aja ff have you seen jarang ada kissingnya nih,akhirnya ada juga haha😀 .semoga aja di part selanjutnya ada lagi adegannya,gak tau kenapa jadi lebih kebayang part kissingnya di ff ini😀
    Next part jangan lama-lama ya thor,greget pengen baca lagi🙂

  15. honestly, sempet bosen karena terlalu panjang tentang kasus gengstr itu.. tapiiiiiii, pas udah mau ybc itu bikin semangat! terutama pas bagian kyuyoung kissing!! nan jeongmal joahae >.<
    okaaayy,, masalah sudah terselesaikan. apakah ini sudah mendekati end? kuharap siih belum karena masih pengen liat moment Kyuyoung nya lagiiii ^^

  16. sandia says:

    Akhirnya ketangkep juga, tapi kyu gak bakal kena kasus kan thor? Terus nanti gwishin prnjaga soo gimana ? Sama soo gak akan terjafi apa” kan? Duh thorrr jangan lama” puvlishnya thorrrrr

  17. mongochi*hae says:

    gk..seneng kok n part panjang. aplg scane trakhirny it ommo…untung aj kyu gk khilaf pdhlkan ad dkamar kyu
    hummptt tp n part mnurut ak lucu krn ak ikutan kaget waktu thu org yg nunggu kyu dlobby it soo. ckckck …keren aj ngebayanginny soo mke bju kya gtu

    ok next part dtunggu bgt. aplg soal kasus n . tp motifny ap hanya krn kematian yewon ?

  18. epanda says:

    haaaaah, akhirnya di lanjut juga hihihi. suka bangeeeet, kasus ji won selesai. masih ada kasus lainkah?? btw yuri belom balik? aaaaaaaak aku tunggu lanjutannya ><

  19. Youngra park says:

    Aaaaa gila puas bgts baca part ini kasusny selesai karna ahn jiwon tertangkap lega bgts tapi kasihan jga sma sooeoni yg di pinjam tubuhny sma gwishin tapi aku suka kyuyoung disini sweet bgts jeongmal kyuppa marah sooeoni di cium orng lain iya lah bibir yeojany di cium orng lain spa yg gk marah aku blang puas bca part ini karna panjang dan berakhir dengan adegan sweet dri kyuyoung neomu johayo next part di tnggu eoni walaupun di part ini cma pikiran kyuppa tapi aku suka aarrgghh sumpah rasa senangny bikin aku mau teriak sma terbang gila senang bgts o’iya kalau bsa next partny jng di post lama2 eoni aku menunggu walaupun sih aku akan selalu menanti kelanjutany dan semangat untuk terus menulisny ya

  20. hyuji says:

    kiss nya errr… balasan balik tuh Kyuhyun hahahha, but, ceritanya keren eoni sumpah, btw kemana Yuri ya .
    ditunggu part terakhirnya na eonni

  21. akhirnya akhirnya…. kyu jd inget & mslh ini selesai.. gregetan jg krn jiwon kabur mulu -__- & sooyoung jd sakit :”
    pas jiwon sama minkyung ketemu & ungkapin perasaannya bikin tersentuh jg krn telat tau saling cintanya :” walaupun geger(?)jg soo dicium hahahaha evil kyu jd nongol kan…
    emg dasar kyu itu agak mesum(?)dicium soo lgsg diem ahhaah
    abis ini lanjut ttg kyuyoungnya!!!

  22. cho asna says:

    Hehee keren thor… akhir ny mulai menemukan titik terang dr inti masalah nya . .
    Di tunggu lhoo next part nya..
    Oke oke…🙂🙂

  23. elis sintiya says:

    part ini gak panjang koq thor malah seru bgt.. akhirnya ahh ji won ketangkep juga.. part 15 nanti bikin kyuyoung hubungannya tambah romantis + intim ya thor..

  24. 이태라 says:

    panjang bangeettt paraahh puas bgt bacanya
    dan akhirnya tau semua masa lalu kyuhyun sm jiwon yewon. and ternyata kyuhyun ga ada sangkut pautnya sm kasus 5 th yg lalu
    and ngakak bgt pas kyuhyun lg cemburu tubuh sooyoung kiss sm jiwon tinggal nunggu moment mereka nikah nih hehe

  25. husnulk says:

    Seriusan makin seru bacanya..
    Untungnya jiwon sudah tertangkap berkat bantuan syoo eon yg meminjamkan tubuhnya ke yewon..
    Kesel bgt si kyuhyun liat sooyoung dicium apa lagi sama target orng yg mau ditangkap, tpi dpt ciuman pengganti tuh dri sooyoung kan ><
    Oiya kan jiwon udh ditangkap brarti sudah mendekati end ya, huaaa ga rela…
    But ttp tunggu buat next partnya ya😉

  26. herma pristianti says:

    huaahh ff ini kayaknya dah lama nggak muncul thor😀 akhirnya muncul juga hehehe…huaahh akhirnya masalah ahn ji won selesai juga sempet deg deg an bacanya sumpah ini ff menegangkan bgt ..next ditunggu thor lanjutannya😀

  27. icha dewi says:

    yeyyy ji won telah di tangkap meskipun harus mengorbankan soo
    hahaha pasti kyu benar2 cemburu tp dia juga senang banget tuh cieee kyu yg di beri ciuman oleh soo
    next

  28. ajeng shiksin says:

    wah panjang ini ceritanya . tp aku suka . apa masalah nya udah selesai . kasian kyuhyun sama sooyoung nya keganggu mulu .. yak ampun akhirnya mereka kiss juga . ia walau si ji won duluan si .. tp ttp romantis kiss nya .
    ditunggu ke lanjutan nya .
    semangat buat ff nya chingu ..

    • Ngomongnya first tp baru bisa komen sekarang-_-)// maafkan thorr ehehehe

      Pengen nangis pas bagian jiwon sama yewon ngobrol berdua ituu:(( jd ternyata dia sukanya sama jiwon bukan kyuhyun? Yah knp dia ga bilang ajaa:”

      Itu endnya soo eonni berani bgt hahaha xD untung ga kepergok sama joohyun kalo kepergok bisa jadi bahan ledekan lg tuhh xD

      Ditunggu next partnya thor^^ :3

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s