[Series] Have You Seen -end-

Have You Seen

Title             : Have You Seen?

Author         : soocyoung (@helloccy)

Length         : 16

Genre          : Romance, Fantasy, Horror

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonghaseyo knightdeul^^

Aku bawa cerita baruuuu…

Kali ini aku bawa ff fantasy dan ada sedikit horror nya. By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Saat aku sedang tertidur, aku mendengar salah satu suara dari alat kedokteran yang terhubung dengan Sooyoung berbunyi. Aku terbangun dengan terkejut, lalu bergegas memeriksa keadaan Sooyoung. Entah itu alat tekanan darah atau pendeteksi detak jantung yang berbunyi, tapi salah satu grafiknya naik. Tak lama, jari-jari Sooyoung pun bergerak, tidak sesekali tapi terus-menerus. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat menekan tombol untuk memanggil dokter sambil terus mengawasi Sooyoung.

Selang beberapa detik, aku melihat mata Sooyoung bergerak lalu mengerjap dengan perlahan. Aku benar-benar senang melihatnya karena pada akhirnya dia bangun. Pintu ruangan terbuka, dokter yang biasanya merawat Sooyoung datang dengan residen dan perawatnya. Mereka langsung menghampiri Sooyoung yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya seakan-akan sedang menguasai keadaannya dan beradaptasi dengan sekitarnya.

“Sooyoung-ah,” panggilku pelan saat pada akhirnya yeoja itu membuka matanya.

Dokter langsung bergerak lebih dekat dengan Sooyoung, “Sooyoung-ssi,” katanya. Membuat Sooyoung menolehkan kepala ke arahnya meskipun dia masih terlihat lemah. “Apa kau bisa mendengarku?”

Sooyoung menganggukkan kepala.

“Kau bisa melihatku dengan baik?” Dokter kembali bertanya yang langsung ditanggapi Sooyoung dengan anggukkan kepalanya lagi. “Bagus, sekarang lihatlah jariku dan ikuti arah kemana aku menggerakkannya”

“N-Ne”

Aku mengamati dokter itu dan Sooyoung secara bergantian. Meskipun aku sudah tidak sabar untuk memeluk Sooyoung tapi aku harus menahannya karena dia harus diperiksa terlebih dahulu. Aku bahkan menahan rasa senangku sekarang sejak Sooyoung bangun padahal aku benar-benar ingin mengekspresikannya. Aku ingin yeojachingu-ku itu tahu bahwa aku sangat-sangat merindukannya. Dan melihatnya bangun dari tidur panjangnya itu, membuatku tak bisa untuk berhenti tersenyum.

“Semua inderanya bagus tapi kami akan melakukan pemeriksaan tingkat lanjut untuk melihat kondisi organ vital Anda, Sooyoung-ssi” Suara dokter itu berbicara kembali terdengar olehku.

“Ne,” jawab Sooyoung dengan suaranya yang pelan dan terdengar lemah.

“Apa kau kesulitan bernapas sekarang?”

“Aniyo,”

Geureom, kami akan melepas alat bantu pernapasannya agar Anda bisa menghirup udara dengan lebih leluasa”

Sooyoung mengangguk.

Perawat dan salah satu residen itu langsung bergerak mengikuti perintah dokter. Mereka melakukannya dengan sangat cepat, membuatku kagum untuk beberapa saat. Lalu si perawat pergi meninggalkan ruangan seraya membawa peralatan yang baru saja dilepas dengan bantuan residen lainnya. Dokter menatapku dengan senyum mengembang di wajahnya. Sepertinya dia tahu bahwa aku benar-benar senang sekarang dengan kesadaran Sooyoung ini, dan itupun terlihat juga dengan warna emosinya.

“Selamat datang kembali, Sooyoung-ssi” kata dokter itu sambil tersenyum ramah.

“Kamsahamnida”

“Sooyoung-ah,” panggilku kemudian.

Sooyoung menoleh ke arahku, lalu menatapku lekat-lekat. Aku baru akan melangkah menghampirinya tapi mengurungkannya karena terkejut bahwa aku bisa melihat warna salmon di wajah Sooyoung sekarang. Aku diam terpaku di tempatku untuk beberapa saat, tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Tidak mungkin ada gwishin yang sedang menguasai tubuhnya, ‘kan? Aku bisa merasakan tatapan itu adalah tatapan Sooyoung saat dia memandangku, tapi kenapa tiba-tiba aku bisa melihat warna emosinya juga?

“Sooyoung-ah,” panggilku sekali lagi meskipun aku tak tahu apa yang akan aku katakan selanjutnya.

“Nugu..seyo?” tanya Sooyoung tertuju padaku.

“Ne-Ne?” sahutku terkejut. Aku mengalihkan pandangan dari Sooyoung ke arah dokter yang sepertinya sama terkejutnya denganku. “Uisa-nim, wae…waegeuraeyo?” tanyaku pada dokter.

Dokter itu kembali mendekati Sooyoung, “Apa kau tak bisa mengenai namja ini, Sooyoung-ssi?” tanyanya sambil menunjuk ke arahku.

Sooyoung kembali mengarahkan pandangannya padaku, lalu dia menatapku lekat sebelum menggeleng. “Mollaseoyo,” katanya.

Aku tertegun mendengar jawaban Sooyoung itu. Bagaimana bisa dia tak mengenalku? Apa dia sedang bermain-main denganku atau bagaimana?

Geureom… Apa kau ingat apa yang terjadi padamu?” Dokter kembali bertanya. “Kejadian sebelum kau dibawa ke sini…ke rumah sakit ini, apa kau mengingatnya?”

Sooyoung terlihat sedang berpikir, lalu dia kembali berbicara. “Aku hanya ingat ada di mobil sedang dalam perjalanan kembali ke rumah bersama keluargaku, dan…dan mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi di sisi lain jalan”

“Hanya itu?”

Sooyoung diam sesaat. Dia baru menjawab dengan anggukkan kepala setelah beberapa saat.

“Cobalah untuk mengingat lagi, Sooyoung-ssi” kata dokter itu memancing. “Ingatlah apa yang terjadi setelah hal terakhir yang kau ingat itu,”

Sooyoung sepertinya mengikuti perkataan dokter itu untuk mengingat kembali sesuatu yang lain selain kecelakaan yang menimpanya. Matanya terpejam sesaat sebelum dia kembali membukanya dan menatapku sambil mengerutkan kening, lalu aku melihatnya menghela napas panjang.

“Aku tak ingat,” katanya masih dengan suaranya yang pelan. “Josanghaeyo” Dia menatapku dengan pandangan bersalah juga warna emosinya.

“Ani… Eotteoke-” gumamku tidak percaya.

Aku kembali mengalihkan pandangan ke arah dokter yang terlihat sedang mengamati Sooyoung. Lalu tiba-tiba dokter itu balas menatapku, dan dengan gerakan kepalanya dia memintaku untuk keluar dari ruangan. Meskipun dengan sedikit enggan, tapi pada akhirnya aku mengikuti dokter itu dan meninggalkan Sooyoung sendirian yang masih terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Apa yang terjadi, dokter?” tanyaku setelah kami berada di luar ruangan.

“Sepertinya pasien mengalami gejala Amnesia Retrograde. Dia tak mengingat apapun kejadian setelah kecelakaan yang menimpanya”

“Mwo?”

“Sepertinya suhu tubuh pasien yang terlalu dingin mengakibatkan kerusakan pada otak. Aku akan melakukan CT Scan untuk memeriksanya lebih jauh”

Aku kembali tertegun, tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika sesuatu seperti ini bisa terjadi. Amnesia? Kenapa Sooyoung di diagnosis menderita Amnesia saat dia baru saja sadarkan diri? Jika dia tidak terkena Amnesia itu, kenapa tak mengenalku? Kenapa dia hanya bisa mengingat tentang kecelakaan yang menimpanya dulu? Lalu kemana ingatan Sooyoung selama tujuh tahun ini?

“Eotteoke-” Aku bergumam lagi.

“Jangan terlalu khawatir. Ini hanyalah diagnosa awal dariku karena pemeriksaan secara menyeluruh baru bisa aku lakukan setelah kondisi pasien benar-benar membaik. Tapi mengingat pasien baru saja bangun dari komanya, mungkin saja itu terjadi akibat efek dari koma yang dia alami” kata dokter itu memberitahuku. “Terkadang amnesia juga dialami oleh orang-orang yang sudah tertidur lama karena kemampuan otak mereka untuk mencerna sesuatu tidak sama seperti halnya manusia aktif”

Aku mengangguk mengerti meskipun rasa khawatir dan terkejutku masih belum hilang.

Dokter itu kembali mengajakku masuk ke ruangan Sooyoung, dan dia langsung berdiri di sebelah tempat tidur yeoja itu. Residen yang sedang melanjutkan memeriksa Sooyoung bergegas menyingkir ke belakang dokter itu. Dia ikut mengamati apa yang akan dilakukan dokter, sama sepertiku.

“Sooyoung-ssi,” kata dokter itu. “Aku akan bertanya padamu dan kau harus menjawab sesuai dengan apa yang kau ingat. Mengerti?”

“Ne,”

“Kau ingat siapa namamu?”

Ne, Choi Sooyoung”

“Asal usulmu? Keluargamu? Apa kau ingat?”

Sooyoung mengangguk.

Aku terus mengawasi sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Sementara si residen, selain mengawasi dia juga mencatat sesuatu di catatannya. Ekspresinya sangat serius, begitupula warna emosinya.

“Beritahukan padaku kalau begitu,” kata dokter itu lagi.

“Ne,” sahut Sooyoung. “Aku dari Seoul, dan tinggal disana bersama kedua orang tuaku dan dongsaeng-ku. Nama ayahku, Choi Ji Hoo. Ibuku, Kim Hye Jung, dan adikku Choi Soo Wan”

“Majayo?” tanya dokter padaku.

Aku mengangguk pelan.

Geureom… Apa kau tahu kau sekarang berada dimana?”

“Salah satu rumah sakit di Namyangju atau mungkin Seoul,” jawab Sooyoung.

“Incheon, Sooyoung-ah” kataku menyahut. “Kau sekarang di Incheon” Aku menambahkan.

Ne? In-Incheon?” Sooyoung terkejut.

Dokter itu mengangguk, “Majayo. Ini Incheon,”

Sooyoung tak memberi respon tapi dia masih terlihat terkejut, sama seperti warna emosinya sekarang.

“Apa kau tak ingat kenapa kau ada di Incheon? Atau bagaimana kau bisa datang ke kota ini? Atau apapun yang berhubungan dengan kota ini, apa kau mengingatnya?”

Sooyoung kembali memejamkan matanya, lalu dia menggeleng.

Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat jawaban Sooyoung itu. Dia bahkan tak ingat kota ini, padahal sudah lima tahun dia tinggal disini. Apa itu berarti dia juga tak ingat apapun yang sudah dia lakukan selama lima tahun ini?

“Baiklah, itu cukup untuk sekarang” kata dokter menyudahi pertanyaannya pada Sooyoung. “Jangan terlalu banyak berpikir terlebih dahulu, dan biarkan tubuhmu tetap hangat untuk memulihkan kondisimu”

“Ne,”

“Geureom-” Dokter itu mengangguk ke arah Sooyoung, lalu padaku sebelum akhirnya dia kembali meninggalkan ruangan bersama residennya.

Untuk sesaat, aku diam di tempatku dan tak tahu harus bagaimana setelah hanya berdua dengan Sooyoung. Suasananya pun terasa sangat canggung, seperti saat aku belum mengenalnya. Bahkan rasanya ini lebih canggung dari saat itu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang karena Sooyoung pun tak ingat padaku. Tapi haruskah aku mencoba bertanya padanya? Siapa tahu dia mungkin akan mengingatku jika aku sedikit mengingatkannya tentang sesuatu yang berhubungan denganku atau hubungan kami.

“Josanghaeyo…” Sooyoung mendahuluiku berbicara. Aku menatapnya dan menunggunya melanjutkan apa yang akan dia katakan padaku. “Apa benar ini di Incheon?” tanyanya kemudian.

“Ne, majayo”

“Kenapa aku dibawa kesini?”

Aku diam kali ini.

Sooyoung terus menatapku, dan aku bisa melihat warna ingin tahu di wajahnya sekarang. “Apa aku mengenalmu? Atau kau yang mengenalku tapi aku tidak?” tanyanya lagi.

Oh? Emm, kita saling mengenal sebenarnya” jawabku berusaha untuk tetap tenang meskipun suaraku terdengar sedikit tercekat. Aku menarik napas singkat, lalu kembali berbicara. “Aku Cho Kyuhyun, detektif dari Kepolisian Incheon”

“Detektif?”

Aku mengangguk pelan.

“Kurasa aku tak memiliki kenalan seorang detektif sebelumnya, apalagi di Incheon” kata Sooyoung jujur, sesuai dengan warna emosinya. “Kau yakin tak salah mengenali orang, ‘kan, detektif?”

“Ya!” sahutku cepat yang langsung membuat Sooyoung terkejut karena nada bicara banmal-ku. “Sooyoung-ah, berhenti bermain-main denganku! Apa kau tak tahu bagaimana khawatirnya aku padamu, huh?!”

Sooyoung mengerjapkan matanya beberapa kali tapi tak ada yang dia katakan padaku. Dia hanya terus memandangku dengan raut muka penuh keterkejutan dan juga kebingungan. Meskipun sebenarnya aku ingin menghambur memeluknya tapi aku menahan diri. Aku yang tadinya ingin mengatakan sesuatu lagi pun pada akhirnya memilih untuk mengurunkannya dan keluar dari ruangan. Aku harus menenangkan diri dulu dengan keadaan Sooyoung ini, karena aku tak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi dari ini. Mungkin saja apa yang dokter katakan benar, bahwa ini hanyalah efek karena komanya dan dia akan mengingat semuanya kembali setelah kondisinya benar-benar baik.

__

Sooyoung POV

“Sooyoung-ah!” seru Yuri saat yeoja itu datang ke ruangan dimana aku dirawat di rumah sakit ini. “Aigoo, aigoo jinjja! Bogoshipeoseo” katanya sambil memelukku.

Nado bogoshipeoseo, Kwon Yuri” jawabku balas memeluk sahabatku ini.

Yuri melepas pelukannya, “Kau baik-baik saja? Apa merasakan sesuatu yang sakit atau bagaimana? Katakan padaku bagaimana perasaanmu sekarang”

“Aigoo, nan gwenchana” sahutku. “Dokter pasti sudah merawat luka-lukaku dengan baik sampai tak ada bekasnya”

“Ah, jinjja?”

Emm. Apa kau melihat satupun luka di tubuhku atau wajahku? Tidak, ‘kan?” kataku kemudian. “Yah, memang ada beberapa bekas luka di tubuhku tapi kurasa itu bukan karena kecelakaan karena tidak terlihat baru”

“Kecelakaan?” sahut Yuri sambil menaikkan satu alisnya.

Wae? Bukankah itu alasan aku disini sekarang?”

“Huh?”

Ya! Kenapa menatapku seperti itu?” protesku karena tatapan tajam Yuri.

“Ani, amugeotdo aniya” Cepat-cepat Yuri menyahut. “Aku hanya terkejut karena aku tak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang kau alami. Tak ada yang memberitahuku jadi-”

“Kau tak tahu?” selaku yang langsung dijawab Yuri dengan anggukkan kepala meskipun dia terlihat terkejut. “Ani…bukankah kau yang membawaku kesini? Atau namja itu?”

Yuri diam saja.

“Aigoo, dapdaphae” gumamku sambil mendesah kecil. “Kurasa bukan kau atau namja itu yang membawaku kesini. Kalau begitu mungkin petugas 119. Tapi kenapa jauh sekali? Di Incheon? Bukankah saat itu aku mengemudi di jalur Seoul-Namyangju yang bahkan tak ada hubungannya dengan Incheon”

“Choi Sooyoung, jam-jamkkaman” Yuri masih terlihat terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan mengenai kecelakaan itu?”

Ah, jadi kau tahu” komentarku. “Ya! Kenapa kau tak memberitahuku saja jika tahu? Kenapa harus sekaget itu saat kau tahu bahwa aku mengalami kecelakaan? Kau ini,”

A-Ani…jamkkaman. Aku benar-benar tidak mengerti sekarang” kata Yuri terlihat frustasi. “Kecelakaan yang kau bicarakan itu–ah, aku tak tahu apa aku harus membicarakan ini denganmu karena kau selalu menolak membicarakannya”

“Oh? Jinjja? Wae?”

Jamkkaman, biarkan aku berpikir dulu” kata Yuri sambil mengangkat tangannya seperti menahanku untuk tidak bicara terlebih dahulu. Dia menoleh ke sekitarnya, lalu menatap pintu sebelun akhirnya kembali menatapku. “Ya! Kyuhyun-ssi eodiseo?” tanyanya kemudian.

“Kyuhyun?” Aku balik bertanya sambil menautkan kedua alisku. “Apa maksudmu namja detektif itu?”

“Heol,” sahut Yuri kembali terlihat tidak percaya. “Kenapa kau memanggil namjachingu-mu seperti itu? Ya, tentu saja dia. Namjachingu-mu, Cho Kyuhyun, siapa lagi?”

“Mwo-mwo? Namjachingu?”

Aigoo…kenapa denganmu? Ada apa dengan ekspresi kaget itu? Dia memang namjachingu-mu, ‘kan? Jadi kenapa sekaget itu?” sahut Yuri masih tidak percaya. “Kau terkejut seperti baru mengetahui bahwa kau dan Kyuhyun-ssi berkencan”

Ani…bagaimana aku bisa berkencan dengannya?” Sekarang ganti aku yang tidak percaya. “Aku bahkan baru pernah melihatnya kemarin,” tambahku.

Ya! Itu sama sekali tidak lucu, kau tahu”

“Aku serius,”

Yuri diam terpaku di tempatnya karena sepertinya dia melihat ekspresi seriusku. Dia menatapku seakan-akan aku sedang bercanda dengannya, dan aku bersalah karena mempermainkannya. Suasanapun hening untuk beberapa saat karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi kemudian suara pintu membuka terdengar, membuatku dan Yuri langsung menolehkan kepala bersamaan ke arah pintu. Namja yang mengaku detektif bernama Cho Kyuhyun itu masuk, diikuti dokter lengkap dengan perawat dan residennya.

“Kyuhyun-ssi,” kata Yuri menyapa namja itu.

Oh, waesseoyo, Yuri-ssi

Aku menatap Yuri, lalu berpindah pada Cho Kyuhyun. Mereka terlihat saling mengenal dan cukup akrab meskipun masih berbicara jondaemal satu sama lainnya. Apa mungkin itu karena katanya namja itu adalah namjachingu-ku? Tapi aku tak memiliki namjachingu satupun bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi.

“Bagaimana perasaanmu, Sooyoung-ssi?” tanya dokter padaku.

“Sudah lebih baik sekarang,” jawabku.

Geureom, apa kau sudah ingat apa yang terjadi sekitar dua minggu yang lalu atau sebelum-sebelumnya?”

“Dua minggu yang lalu? Hmm…” Aku berpikir apa yang aku lakukan dua minggu yang lalu. “Yuri-ah, bukankah dua minggu yang lalu kita berlibur ke Dongyeong?”

Huh? Dongyeong?”

Eo, majayo! Kita ke Dongyeong. Apa kau tak ingat?” sahutku penuh keyakinan. “Keluargaku bahkan menyusul kesana karena Soo Wan merengek untuk ikut pergi bersama kita,”

“Sooyoung-ah, itu sudah lama-”

“Apa kau ingat yang lainnya?” Cho Kyuhyun menyela perkataan Yuri dengan cepat. Aku menatapnya bingung, jadi dia kembali berbicara. “Maksudku…emm, apa saja yang kau lakukan disini…yah sesuatu seperti itu”

Keningku berkerut tajam memikirkan kata-kata namja itu. Apa yang aku lakukan disini? Aku bahkan tak tahu kenapa aku tiba-tiba tersadar di rumah sakit ini, di Incheon. Lalu kenapa dia bertanya seakan-akan aku sudah tinggal lama disini dan telah melakukan banyak hal?

“Mwoya?” gumam Yuri cukup keras. “Kenapa kalian semua terlihat sangat aneh?”

Hening.

“Apa ada yang akan menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi disini?” tanya Yuri lagi karena tak ada yang memberi tanggapan padanya sebelumnya. “Dokter?” Dia meminta penjelasan dokter.

“Itu-”

“Jamkkamanyo, uisa-nim” Cho Kyuhyun kembali memotong pembicaraan. “Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu”

“Memberitahu apa?” tanyaku cepat. “Jamkkaman, kenapa tak ada yang memberitahuku bagaimana keadaan keluargaku?” Aku tiba-tiba teringat apa yang terjadi denganku dan keluargaku. “Dimana mereka? Kenapa aku tak menemukan nama mereka di rumah sakit ini saat bertanya ke administrasi?”

Tak ada yang menjawab.

“Kwon Yuri, kau tahu tentang keluargaku ‘kan?”

“Oh?” sahut Yuri terkejut. “Emm, itu…”

Aku menunggu Yuri mengatakan sesuatu tapi dia justru melirik Cho Kyuhyun yang menggelengkan kepalanya. Seakan-akan memberitahunya untuk tidak mengatakan apapun padaku.

Ya! Marhaebwa, apa terjadi sesuatu pada keluargaku? Aniji? Mereka pasti selamat, sepertiku. Aku bisa merasakannya,” kataku cepat-cepat.

“Sooyoung-ah,

“Wae–wae?” sahutku sambil menoleh ke arah Yuri. “Jadi, bagaimana kabar keluargaku? Mereka di salah satu rumah sakit di Incheon juga atau di Namyangju atau Seoul?”

Yuri menghela napas panjang meskipun raut kebingungan masih terlihat jelas di wajahnya. Pandanganku beralih dari Yuri ke Cho Kyuhyun, lalu ke dokter. Dari ketiganya, Yuri-lah yang paling terlihat tidak tahu apapun meskipun entah kenapa aku yakin dia mengetahui sesuatu yang berhubungan denganku atau keluargaku. Tapu kenapa mereka semua diam saja saat aku menanyakannya? Memang apa salahnya jika aku ingin mengetahui kabar mengenai keluargaku setelah mereka terlibat kecelakaan denganku?

“Dokter, bisakah kita bicara sebentar” ucap Kyuhyun tiba-tiba memecah keheningan.

“Geureomyo,”

Cho Kyuhyun mengangguk, lalu dia melangkah keluar terlebih dahulu sebelum akhirnya dokter itu menyusul. Untuk sesaat aku terus memperhatikan Kyuhyun sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, entah itu dari caranya menatapku, caranya berbicara padaku dan lain sebagainya. Tapi anehnya, aku merasa benar-benar nyaman saat dia ada di dekatku. Padahal aku biasanya selalu berhati-hati pada orang yang belum aku kenal dan sedikit menjaga jarak dari mereka. Apa yang Yuri katakan memang benar bahwa dia adalah namjachingu-ku? Lalu kenapa aku tak ingat apapun tentangnya? Bahkan kapan aku dan dia mulai berkencan pun aku tak ingat.

Bukankah itu aneh?

“Sooyoung-ah, jamkkaman” kata Yuri yang langsung membuyarkan lamunanku. “Aku akan segera kembali,” katanya lagi.

“Eo,”

Yuri bergegas keluar ruangan, meninggalkanku sendirian. Dan saat pintunya terbuka, aku sempat mendengar namaku disebut dengan nada bicara yang terdengar tidak biasa olehku. Aku bangkit dari tempat tidurku dengan perlahan, dan mengabaikan rasa pusing yang menyerangku tiba-tiba saat kakiku menginjak lantainya. Lalu akupun melangkah dengan hati-hati–sambil berpegangan pada sesuatu, mendekat ke arah pintu. Rasanya sangat tidak menyenangkan saat aku tak mengetahui apapun tentang diriku maupun keluargaku. Karena itulah aku harus tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“-dia akan bisa menerimanya. Itu pasti terlalu mengejutkan untuknya, dokter” Suara Cho Kyuhyun-lah yang pertama kali terdengar saat aku membuka sedikit pintunya.

“Itu selalu mengejutkan bagi para penderita Amnesia saat mengetahui fakta bahwa mereka melupakan sebagian besar ingatan mereka”

Aku tertegun di tempatku mendengarnya. Amnesia? Aku? Eotteoke?

“Sooyoung…amnesia?” Yuri yang berbicara.

Tak ada jawaban untuk sesaat sebelum aku kembali mendengar Kyuhyun berbicara. “Eo. Dia tak ingat apapun yang terjadi selama 7 tahun ini,” Nada bicaranya terdengar sedih.

“Itu karena Amnesia Retrograde. Ingatan Sooyoung-ssi hanya sampai saat kejadian kecelakaan yang dia alami”

Aku menganga tapi cepat-cepat menutup mulutku. Untuk beberapa saat tak ada percakapan apapun, dan aku hanya bisa mendengarkan karena tak bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.

“Eotteoke-” Aku kembali mendengar suara Yuri. “Sooyoung bahkan tak ingat bahwa keluarganya sudah meninggal karena kecelakaan 7 tahun yang lalu,”

Seluruh duniaku rasanya jatuh saat telingaku mendengar itu. Keluargaku? Keluargaku sudah meninggal? Itu…itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa aku tak ingat apapun yang terjadi bahkan tentang kematian mereka sekalipun?

Air mataku jatuh begitu saja membasahi pipi. Rasanya energiku lenyap dari tubuhku. Lututku lemas, dan akupun jatuh terduduk di lantai. Sebelah tanganku membekap mulut demi menyembunyikan isak tangis. Tubuhku bergetar. Kepalaku tertunduk. Tanganku yang lain terus menekan dada kuat-kuat. Sesak. Karena aku terus menangis dalam diam.

Lalu tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang kembali dibuka. “Sooyoung-ah!” seruan itu dari Yuri asalnya.

Aku bisa merasakan dia menyentuh bahuku, tapi aku tak bisa mengangkat kepala karena rasanya berat sekali. Setiap kenangan indah yang aku lalui bersama keluargaku terus bermunculan di kepalaku seperti sebuah film yang diputar cepat.

“Sooyoung-ah,

Yuri kembali memanggilku tapi aku mengabaikan panggilannya itu. Tubuhku menggigil, dan tangisku pun pecahnpada akhirnya setelah berusaha untuk menahan isakkannya sedari tadi. Tiba-tiba tubuhku terada hangat. Yuri memelukku. Meskipun dia tak banyak bicara dan tetap diam tapi dia menguatkanku dengan pelukannya. Bukannya lebih tenang, tangisku justru semakin menjadi-jadi. Dan, kurasa Yuri tahu alasannya tanpa aku memberitahunya karena itulah dia semakin mempererat pelukannya padaku.

Aku benar-benar tak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa keluargaku lagi disisiku. Apa yang harus aku lakukan tanpa mereka? Apa aku bisa melakukan banyak hal tanpa mereka? Kemana aku akan pergi saat aku membutuhkan keluargaku, membutuhkan dukungan mereka dan semangat mereka? Bagaimana aku bisa menahan kerinduanku pada mereka jika mereka tak bisa lagi aku temui? Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, dan aku semakin terisak saat memikirkannya.

Himnae, Choi Sooyoung. Aku tahu kau yeoja yang kuat,” kata Yuri lembut.

Aku terus menangis di pelukan Yuri. Meskipun aku ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya mulutku terkunci rapat. Lalu Yuri melepas pelukannya, dan seseorang yang lain ganti memelukku. Pelukannya terasa lebih hangat dari yang aku rasakan sebelumnya. Sebuah pelukan yang anehnya berhasil membuatku lebih tenang. Kepalaku terangkat, dan aku baru menyadari bahwa aku sedang di dalam pelukan Cho Kyuhyun.

“Tidak apa-apa untuk menangis sekarang,” katanya sangat lembut sambil mengusap-usap punggungku untuk membuatku lebih tenang. “Ingatlah bahwa aku selalu ada untukmu, apapun keadaannya. Jadi, menangislah saat kau ingin menangis. Marahlah saat kau ingin marah, dan tertawalah saat kau ingin tertawa”

Aku mendengarkan itu dalam isakkanku.

Cho Kyuhyun terus memelukku sampai aku benar-benar tenang. Setelah itu dia membantuku berdiri, dan tanpa mengatakan apapun padaku dia langsung mengangkat tubuhku lalu membawaku kembali ke tempat tidur. Aku benar-benar hanya diam terpaku dengan apa yanh dilakukan olehnya ini. Semua yang dia lakukan untukku terasa sangat tulus bahkan dari sentuhan kecilnya sekalipun. Dan baru kali ini aku membiarkan namja yang tidak kukenal melakukan hal ini padaku tapi aku benar-benar merasa nyaman dengan semua hal yang ada padanya.

“Istirahat dulu. Mungkin itu akan bisa lebih menenangkanmu,” katanya sambil mengusap lembut pipiku dan menghapus sisa air mataku. “Jangan pikirkan apapun meskipun aku tahu ada banyak hal yang ada di pikiranmu sekarang, dan ada banyak hal yang ingin kau ketahui”

Aku mengangguk pelan dengan sendirinya, tapi tak ada yang bida aku katakan karena lidahku kelu.

Cho Kyuhyun tersenyum, lalu dia mengusap kepalaku. “Apapun yang terjadi, kita tetap sama. Uri duri,” katanya lagi.

Aku menatap namja itu lekat-lekat meskipun sedikit kabur karena mataku yang basah. Sekilas aku melihat seorang perawat datang menghampiri dan meraih tanganku setelah berbicara padaku yang sama sekali tidak aku dengarkan. Aku hanya merasa sesuatu menusuk lenganku dan lama-kelamaan aku merasa sangat lemas. Aku masih bisa merasakan tangan Kyuhyun yang menangkapku agar tidak langsung terjatuh ke tempat tidur sebelum akhirnya mataku pun terpejam.

__

Kyuhyun POV

Aku memperhatikan Sooyoung yang sedang duduk sendirian di sebuah bangku panjang di taman rumah sakit tanpa melakukan apa-apa. Dulu, saat yeoja itu masih ingat dengan dirinya selama tujuh tahun ini, aku yakin sekali aku tak mungkin melihatnya seperti itu karena dia pasti memilih untuk berbicara dengan gwishin atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Tapi sejak dia sadar beberapa hari yang lalu, dan lupa pada dirinya sendiri, aku tak pernah sekalipun mendengarnya menyebut kata gwishin.

Yah, jujur saja. Aku masih sedikit canggung saat berada di dekat Sooyoung karena aku tidak terbiasa melihat warna emosinya sekarang. Diapun sama. Bersikap canggung di depanku karena tak ingat apapun tentangku maupun hubungan kami. Bahkan saat aku memberitahunya, dia terus saja diam dengan warna emosi terkejut. Aku bisa mengerti karena itu tidaklah mudah baginya untuk mengetahui semua hal dengan cepat seperti. Apalagi dia baru saja tenang setelah mengetahui tentang keluarganya dan apa yang dia derita sekarang. Tapi aku cukup bisa bernapas lega karena tak ada sesuatu yang buruk lainnya setelah Sooyoung mengetahui semua itu.

Tentu saja Sooyoung kuat, lebih kuat daripada yang aku pikirkan tentang yeoja sepertinya. Dia pernah melewati masa-masa sulitnya kehilangan keluarga selama tujuh tahun ini, dan itu apa yang akan terjadi padanya sekarang. Dia hanya perlu waktu untuk dia bisa menerima semua hal yang terjadi padanya dan apa yang dia lakukan selama tujuh ini. Dan aku akan selalu membantunya, dan disisinya setiap saat entah itu dia mengingatku ataupun tidak. Bagiku itu bukanlah masalah besar karena aku akan tetap bersamanya, apapun yang terjadi.

“Oppa,” Suara Joohyun menyadarkanku. “Aigoo, kau tak mendengar panggilanku, ‘kan?” tanyanya dengan nada gusar.

Oh? Eo, tentu saja aku dengar” jawabku sambil menyandar pada pilar besar rumah sakit. “Aku hanya sedang memperhatikan sesuatu,”

“Sooyoung eonni,” sahut Joohyun cepat. “Arrayo, oppa” katanya lagi.

“Aneh, ‘kan karena dia orang yang sama tapi berbeda?” kataku tanpa mengalihkan perhatianku dari Sooyoung. “Ini semakin aneh bagiku karena sekarang aku bisa melihat warna emosinya dengan mudah, padahal biasanya aku tak pernah bisa melakukannya”

Huh? Jinjja? Oppa tak bisa sebelumnya?”

Emm. Dia satu-satunya orang yang tak bisa aku lihat warna emosinya,”

Tak ada sahutan dari Joohyun. Membuatku menoleh padanya dan melihatnya juga sedang menatap Sooyoung dengan warna emosi biru yang artinya dia sedang bersedih.

“Aku masih tak percaya ini semua terjadi pada Sooyoung eonni,” kata Joohyun. “Semuanya begitu tiba-tiba. Aku bahkan tak pernah membayangan sesuatu seperti ini terjadi pada orang disekitarku”

Aku memilih untuk diam saja kali ini.

Sejak aku memberitahu Joohyun mengenai keadaan Sooyoung, dia memang sangat terkejut dan bahkan sampai menangis. Dia tidak percaya pada perkataanku sampai dia membuktikannya sendiri kemarin, saat dia mengunjungi Sooyoung, dan kembali menangis di depanku saat bercerita bagaimana Sooyoung sama sekali tak tahu apapun tentangnya padahal dialah orang yang terakhir bersama Sooyoung malam itu.

“Apa yang akan kau lakukan, oppa?” tanya Joohyun tiba-tiba. “Apa yang akan kau lakukan untuk membuat Sooyoung eonni mengingat lagi semua yang terjadi?”

“Tak ada,” jawabku langsung. “Aku tak akan melakukan apapun untuk membuatnya ingat lagi dengan semuanya”

“Geureom?”

“Aku hanya akan selalu disampingnya, seperti tak pernah terjadi apapun padanya. Aku bahkan tak peduli apa dia mengingatku atau tidak asalkan aku terus disisinya”

Oppa, kau pasti sangat mencintai Sooyoung eonni sampai berbicara seperti itu padaku” komentar Joohyun.

Aku tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala. “Tak hanya dia, aku juga mencintai dunianya. Lebih dari siapapun, dia berbeda. Dan dialah alasanku untuk hidup,” kataku sambil menatap Sooyoung.

“Geurae,” sahut Joohyun sambil menarik napas panjang. “Aku akan mendukungmu dan membantumu, oppa

“Emm,” kataku singkat seraya berdiri tegak. “Aku akan menyusul Sooyoung karena mungkin dia membutuhkan sesuatu”

Sesaat aku berpikir Joohyun akan mengikutiku, tapi aku melihatnya meninggalkan tempatnya semula saat aku menolehkan kepala. Aku melanjutkan langkahku sampai akhirnya tiba di dekat Sooyoung yang langsung menyadari kedatanganku. Dia tersenyum tipis, lalu menggeser tempat duduknya. Menyisakan ruang kosong untukku yang langsung aku duduki.

“Apa kau bosan disini?” tanyaku kemudian.

“Eo, jogeumanyo”

“Kalau begitu aku akan bicara pada dokter apa kau bisa rawat jalan atau tidak. Apa itu tak apa?”

“Ne. Kamsahamnida,” Sooyoung menjawab dengan bahasa jondaemal-nya. Aku ingat dia bahkan tak pernah berbicara dengan sopan padaku sejak awal kita bertemu. “Kau sudah banyak membantuku disini, Kyuhyun-ssi. Kamsahamnida

“Oppa,” sahutku yang langsung membuat ekspresi Sooyoung terkejut, sama dengan warna emosinya. “Kau dulu memanggilku seperti itu” Aku melanjutkan bicara.

“Ah, geuraeyo?” sahut yeoja itu masih terkejut.

Aku mengangguk, “Dan kau tak pernah berbicara jondaemal padaku. Selalu banmal sebenarnya”

“Jinjjayo? Ah, mianhaeyo Kyuhyun-ssi”

Ani, tak perlu meminta maaf” sahutku cepat meskipun terkejut dengan reaksi Sooyoung ini. “Itu bukan sesuatu yang perlu untuk meminta maaf. Sejujurnya, aku justru ingin kau seperti itu lagi di depanku”

“Ne?” celetuk Sooyoung. Dia menunduk menatsp kakinya sendiri, “Aku tak tahu apa aku bisa melakukannya atau tidak”

“Karena kau masih merasa belum mengenalku? Maja?” kataku kembali menyahut. Sooyoung pun kembali mengangkat wajahnya dan menatapku lekat-lekat. Aku menyunggingkan segaris senyum tipis, “Gwenchana geureom. Panggillah aku sesukamu, dan tetaplah berbicara jondaemal di depanku jika itu lebih nyaman untukmu”

“N-Ne, josanghaeyo”

Aku kembali tersenyum. Tanganku terangkat sedikit, berniat untuk mengusap kepala Sooyoung tapi kemudian aku mengurungkannya dan menurunkannya lagi. Aku menggenggam tanganku sendiri sebagai gantinya lalu menatap lurus ke depanku. Aku memang berniat untuk melakukannya dengan perlahan, dan tak akan memaksakan Sooyoung untuk mengingat lagi. Selama dia merasa nyaman aku berada di dekatnya, itu sudah cukup bagiku sekarang.

“Kyuhyun-ssi,” panggil Sooyoung pelan yang membuatku langsung menolehkan kepala. Warna emosinya sekarang berubah menjadi ingin tahu, tapi aku berusaha untuk mengabaikan itu. “Bagaimana kau mengenalku dulu, Kyuhyun-ssi?” tanyanya setelah beberapa saat.

Oh? Bagaimana dulu aku mengenalmu?” ulangku sedikit terkejut dengan pertanyaan Sooyoung itu.

Sooyoung mengangguk.

Hmm…bagaimana aku mengenalmu–” Aku berpikir, bukan karena tak tahu harus menjawab apa. Tapi karena aku tak yakin apa aku benar memberitahunya bagaimana saat pertama kali aku bertemu dengannya. “Emm… kurasa itu terjadi saat kau tak sengaja terlibat dalam kasus yang sedang aku tangani” kataku pada akhirnya.

“Jinjjayo? Eotteokeyo?”

Aku memberitahunya mengenai saudara kembar itu tanpa bagian darimana dia mengenal salah satunya sebagai gwishin. Lalu aku juga memberitahunya tentang kasus keluarga Han di Sangdo dan bagaimana dia membantuku menyelesaikan kode yang ditinggalkan untuk keluarganya. Tak lupa aku juga menceritakan semua hal tentang Ahn Ji Won padanya. Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat aku memberitahu tentang Choi Min Ho, namjachingu Yuri yang tewas dibunuh oleh Ahn Ji Won. Saat bercerita itu, aku benar-benar menghindari menyebut kata gwishin di depan Sooyoung karena aku tak tahu apa dia bisa menerimanya atau tidak jika aku memberitahunya tentang kemampuan yang bisa dia lakukan itu.

“Aku sama sekali tak ingat semua itu,” komentar Sooyoung saat aku menyelesaikan ceritaku. Dia kembali menunduk, dan sekilas aku melihat tangannya seperti sedang mengusap pelan pipinya. “Aku tak ingat keluargaku sudah lama pergi meninggalkanku, aku tak ingat apa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku tak ingat orang-orang disekitarku, siapa mereka, apa pekerjaan mereka, bagaimana hubungan mereka denganku, bagaimana aku-”

“Sooyoung-ah” selaku dengan cepat dan refleks langsung meraih tangannya. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku lalu berpindah ke tanganku. Aku cepat-cepat menyingkirkanya, “Mianhae,” kataku.

“Gwenchanayo. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Kyuhyun-ssi” kata Sooyoung dengan nada sedih. “Josanghaeyo karena aku tak ingat apapun tentangmu, dan…dan hubungan kita”

Aku memberanikan diri untuk meraih tangan Sooyoung lagi, dan menggenggamnya. Kali ini Sooyoung membiarkannya dan itu sedikit membuatku bernapas lega. Aku menatap Sooyoung lama, berharap dia bisa membaca ekspresiku bahwa aku tak apa dengan keadaannya yang seperti itu. Bahwa aku cukup bahagia dengan dia membiarkanku tetap disisinya sekalipun dia tak bisa mengingatku untuk sekarang.

“Choi Sooyoung. Mungkin ini aneh bagimu atau mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi maukah kau menjadi yeojachingu-ku… lagi?” kataku tanpa ada keraguan sedikitpun. “Mungkin bagimu aku adalah orang asing tapi aku telah memilihmu dan akan memilihmu, lagi dan lagi dan lagi. Tanpa sela dan tanpa ragu dalam setiap debaran jantungku, aku akan tetap memilihmu. Jadi maukah kau menerima orang asing ini untuk menjadi yeojachingu-mu?”

“Oh… Emm–wae…waeyo?”

Aku tercengang, “Wae?”

Sooyoung tersenyum, “Kenapa kau memintaku menjadi yeojachingu-mu saat aku sudah berada di posisi itu?” tanyanya lebih lanjut. “Geurae, itu memang aneh karena aku tak ingat bahwa aku memiliki namjachingu sepertimu tapi aku akan tetap menerima itu. Bukan karena terpaksa atau tak ada pilihan lagi tapi karena aku sendiri menginginkannya” katanya sambil memegangi dadanya.

Aku diam saja.

“Aku tak tahu bagaimana yeoja sepertiku bisa menjadi yeojachingu-mu, Kyuhyun-ssi. Itu benar-benar jauh dari pikiranku karena aku banyak sekali memiliki kekurangan. Apalagi sekarang, saat semuanya terasa asing bagiku” kata Sooyoung melanjutkan. “Aku justru berterima kasih padamu karena kau tetap disampingku meskipun kau tahu keadaanku, dan mungkin aku membuatmu frustasi karena tak ingat apapun tentangmu”

Aniya, bukan seperti itu” sahutku cepat. “Kau tahu, jujur saat aku pertama kali bertemu denganmu, aku bahkan tak tahu bahwa kau akan menjadi seseorang yang sangat penting bagiku. Aku jatuh cinta pada caramu tertawa, yang sepenuhnya menularkanku. Aku jatuh cinta pada senyumanmu, yang membuatku bahagia tanpa alasan sama sekali. Aku jatuh cinta pada semua hal yang telah kau lakukan, entah itu untukku atau mereka yang telah kau bantu, Sooyoung-ah

“Kyuhyun-ssi,

Aku mengangkat tanganku lalu mengusap lembut pipi Sooyoung. “Nan jigeumen haengbokeseo, neo ttamune”

Sooyoung menatapku lama, sangat lama. Sampai membuat jantung berdebar kencang dibuatnya. Tapi aku senang karena hubunganku dan Sooyoung tetap seperti ini meskipun keadaannya tidak sama. Setidaknya yeoja itu tetap disampingku, dan aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku agar sesuatu seperti itu tak akan terjadi lagi pada Sooyoung. Aku benar-benar akan memberikan segalanya untuk yeoja yang sangat berharga untukku ini, bahkan hidupku sendiri.

__

Sooyoung POV

“Apa aku menganggumu?” tanya Kyuhyun saat aku membukakan pintu apartemenku setelah mendengar suara belnya berbunyi.

Namja itu tersenyum padaku dan akupun membalas senyumannya itu meskipun sedikit canggung. Aku tak tahu kenapa aku merasa canggung dengannya, tapi mungkin ini karena dia adalah namjachingu-ku tapi aku tak ingat itu. Atau mungkin ini juga karena apa yang dia katakan padaku saat di rumah sakit. Entahlah, hanya saja aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana di depannya meskipun aku menerimanya sebagai namjachingu-ku.

Aniyo. Masuklah,” jawabku cepat-cepat karena sadar aku belum menanggapinya.

Gwenchana, tidak usah. Aku kesini untuk mengajakmu jalan-jalan bersamaku, eotte?”

“Oh?” sahutku terkejut karena aku benar-benar tak pernah menyangka Kyuhyun akan mengajakku pergi bersamanya seperti ini. Aku bahkan tak pergi kemanapun setelah keluar dari rumah sakit, dan memilih untuk tetap di apartemen karena aku benar-benar tak mengenali kota ini.

“Kau belum pergi kemanapun setelah keluar dari rumah sakit, ‘kan?” Kyuhyun kembali bertanya seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. “Mianhae aku belum bisa mengajakmu pergi kemana-mana karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan di Kejaksaan”

Aniyo, gwenchanayo. Aku juga tak ingin pergi kemana-mana” kataku jujur. “Jujur saja, aku bahkan tak tahu tempat-tempat yang bagus di kota ini dan bagaimana pergi kesana tanpa tersesat”

Ah, geureom aku akan mengajakmu pergi ke tempat yang biasanya kita kunjungi. Eotte?”

Aku diam sesaat, tapi kemudian menganggukkan kepala pelan. Lalu akupun melangkah mengikuti Kyuhyun keluar dari apartemen yang aku tinggali ini. Sepanjang perjalanan pertama suasana cukup hening dan canggung. Aku juga tak tahu harus mengatakan apa di depan namja ini karena aku tak ingat apa yang biasanya aku bicarakan saat bersamanya. Aku benar-benar tak tahu apapun jadi hanya bisa mendesah pelan beberapa kali.

Waegeurae?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. “Himdeuro?”

“Aniyo, aniyo” sahutku cepat-cepat. “Geunyang…ini pertama kalinya aku berjalan keluar seperti ini di kota yang masih terasa asing bagiku”

“Kau dulu selalu seperti ini,” kata Kyuhyun saat kami sampai di halte bus. “Berpergian menggunakan transportasi umum seperti ini,” Dia menambahkan.

Ah, jinjjayo? Aku seperti itu?”

“Eo. Wae?”

“Aniyo, joahaeyo” sahutku cepat-cepat. “Kita mau kemana?”

“Bupyeong-(3)samdong ke tempat kita pertama kali bertemu” jawab Kyuhyun tanpa ragu. “Kita bertemu di salah satu kafe disana,”

“Saat aku terlibat salah satu kasus yang sedang kau tangani, Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun mengangguk.

Sebuah bus datang, dan Kyuhyun langsung berdiri di tepi jalan dengan aku disebelahnya. Saat busnya berhenti, dia mengajakku naik ke dalam bus sambil menggandeng tanganku. Dia mengajakku duduk bersama di dua kursi kosong yang tersedia. Tangannya tak pernah terlepas dari tanganku, dan itu benar-benar membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Apa aku juga selalu seperti ini saat bersama Kyuhyun? Rasanya aneh karena aku merasa tidak asing dengan semua hal ini.

Kyuhyun mengajakku turun di pemberhentian bus pertama. Langkahnya pasti menuju ke sebuah kafe yang cat-nya dominan putih tulang itu. Tapi dia tidak masuk ke dalamnya, hanya berdiri di luarnya saja sambil memberitahuku apa yang terjadi antara dia dan aku dulu di tempat ini. Dia juga menyebutkan secara lebih rinci kasus yang dia tangani saat itu dan bagaimana pada akhirnya aku terluka karena menyelamatkan seseorang.

Kajja, kita ke tempat selanjutnya” kata Kyuhyun kemudian setelah dia menyelesaikan ceritanya. “Masih di distrik ini tapi berbeda jalan. Ke toko bunga lamamu,”

Ah, aku dengar itu dari Yuri” kataku teringat cerita Yuri semalam. “Dari toko bunga itulah aku dan dia bisa hidup berkecukupan di kota ini. Itu katanya,”

Kyuhyun tersenyum, “Kau dan Yuri-ssi memang yeoja yang luar biasa. Itu selalu tidak mudah hidup di kota sendirian tanpa ada orang lain yang menjadi sandaran kita. Tapi kau dan Yuri-ssi bisa bertahan selama tujuh tahun”

Aku memilih untuk diam saja kali ini karena akupun tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana.

Lagi-lagi kami diam sepanjang perjalanan. Aku terus menatap sekeliling, berusaha untuk mengingat sesuatu karena jika aku dan Yuri membuka toko bunga di sekitar sini berarti aku juga sering melewati jalan ini, ‘kan? Aku mengamati sampai hal terkecil yang ada di setiap sudut yang kami lewati. Mungkin saja dari hal-hal yang kecil itu justru bisa membuatku teringat kembali meskipun sampai sekarang aku belum berhasil mengingat apapun.

“Itu disana,” seru Kyuhyun tiba-tiba sambil menunjuk ke suatu arah. Aku mengikuti arah tangan Kyuhyun menunjuk, lalu melihat sebuah toko pakaian disana. “Dulu bangunan itu toko bungamu dan Yuri, Secret Garden, tapi kau menjualnya karena terjadi insiden disana”

“Insiden?” ulangku.

“Seseorang membuat kekacauan di toko bungamu sampai kau harus menutupnya dan membukanya di tempat yang lain” jawab Kyuhyun sambil terus mengajakku melangkah mendekat ke toko pakaian itu. “Dulu aku juga sering datang kesini sebelum aku pergi bekerja, saat aku sedang patroli dan saat aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai. Aku berdiri disini dan melihatmu di dalam, sedang sibuk dengan berbagai macam bunga yang kalian miliki”

“Ah,” Aku hanya bisa berkomentar seperti itu.

“Kau selalu kesal padaku saat melihatku disekitar sini, Sooyoung-ah, berkata bahwa aku mengikutimu dan aku selalu membantah jika aku sedang bertugas. Padahal memang benar bahwa aku mencuri kesempatan untuk mengikutimu saat aku bertugas” Kyuhyun melanjutkan bicara. “Aneh memang karena saat itu aku selalu ingin melihatmu, dan aku mendapat cukup kesenangan hanya dengan melihatmu”

Aku tertegun mendengarnya. Tak pernah kusangka ada namja yang seperti itu padaku.

“Choi Sooyoung-ssi?” Panggilan itu terdengar dari arah belakang kami. Aku dan Kyuhyun langsung menolehkan kepala, dan seorang yeoja disana sedang menatapku dengan ekspresi ingin tahunya. “Ini benar kau, ‘kan, Sooyoung-ssi?”

Aku melirik Kyuhyun sesaat sebelum mengangguk pada yeoja itu. “N-Ne, majayo” kataku sambil berpikir yeoja ini siapa.

Aigoo… orenmaneyo, Sooyoung-ssi. Jaljinaesseoyo?

Ne, jaljinaesseoyo. Kamsahamnida

Aigoo,” Yeoja itu langsung menghampiriku dan memelukku. Membuatku sedikit terkejut dan ketakutan karena aku merasa tak mengenalnya meskipun sepertinya dia mengenalku. Mataku kembali menatap Kyuhyun yang sepertinya juga tak mengenal yeoja ini. “Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Sooyoung-ssi. Aku bertanya-tanya dimana kau membuka kembali toko bungamu setelah apa yang suamiku lakukan padamu”

Ne? Ah, ne. Josanghamnida” kataku meskipun aku tak mengerti apa yang yeoja ini bicarakan. “Aku tak tahu Anda mencariku,” Aku menambahkan.

Aigoo, aigoo. Tak perlu meminta maaf padaku, justru akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Sooyoung-ssi. Kau membantuku, kau membantu Jimin-ku, dan kau juga membantu suamiku. Aku benar-benar berterima kasih padamu,” kata yeoja itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Meskipun itu berat bagi kami, tapi kau membuat kami lebih damai melepas kepergian Jimin”

“Jimin?”

“Apa kau melihatnya sekarang? Eodiyo?” sahut yeoja itu dengan cepat.

Ne?

“Kau pasti melihatnya, ‘kan? Melihat gwishin-nya. Jadi dimana dia? Apa dia mengatakan sesuatu padaku?” Yeoja itu kembali menyahutku dengan cepat.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, “G-Gwishineunyo?” ulangku terkejut.

Yeoja itu menganggukkan kepala sambil menatapku dengan mata berbinar di wajahnya. Aku benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud olehnya, jadi aku hanya diam seraya menatap Kyuhyun untuk meminta bantuannya.

Ahjumma, josanghaeyo. Saat ini kesehatan Sooyoung sedang tidak terlalu baik, dan jika dia mencoba berbicara dengan gwishin itu akan membuatnya semakin tidak baik. Josanghaeyo, ahjumeonim” kata Kyuhyun memecah keheningan pada akhirnya. “Mungkin lain kali saja saat Sooyoung sudah merasa lebih baik. Tolong dimengerti,” Kyuhyun berbicara lagi sambil membungkukkan badannya sedikit.

Yeoja itu mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun kepadaku, lalu dia menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum canggung ke arahnya sambil menganggukkan kepala dengan sedikit ragu. Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang, jadi aku melangkah mendekat ke arah Kyuhyun dan menyenggol lengannya.

“Ah, geurae ahjumma, josanghaeyo karena kami harus pergi sekarang” kata Kyuhyun cepat-cepat setelah mengetahui isyaratku. “Senang bertemu denganmu,” Kyuhyun kembali membungkukkan badan sebelum dia mengajakku pergi.

Aku ikut membungkuk, “Josanghamnida” kataku sebelum bergegas menyusul Kyuhyun.

Kami terus melangkah menuju halte bus terdekat, dan langsung naik ke dalam bus yang tepat saat itu datang. Selama perjalanan aku terus memikirkan perkataan yeoja tadi. Aku terus bertanya-tanya dalam hal apa aku membantunya? Lalu kenapa dia menyebut gwishin dan aku berbicara dengan sesuatu seperti itu? Aku benar-benar semakin tidak mengerti sekarang.

“Apa kau memikirkan perkataan Ahjumma itu?” tanya Kyuhyun yang langsung membuyarkan pikiranku. “Gwenchana, ahjumma itu tak salah mengenalimu. Kau dulu membantu anaknya yang sudah meninggal”

N-Ne?” sahutku terkejut.

Geurae, kau memang memiliki kemampuan untuk melihat gwishin dan berbicara dengan mereka”

Mwo-Mworaguyo? Naegayo?”

Kyuhyun menganggukkan kepala tanpa ada keraguan sedikitpun. “Sebenarnya saat aku pertama kali bertemu denganmu itu juga saat aku sedang koma dan menjadi gwishin. Kau mengajariku banyak hal saat itu, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar ingin hidup dan menjalani hidupku dengan baik saat itu”

Aku tercengang mengetahui hal ini. Aku bisa melihat gwishin? Bagaimana bisa? Aku bahkan paling takut dengan sesuatu seperti gwishin, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Bagaimana bisa aku bahkan berbicara dengan mereka seolah mereka adalah temanku?

“Apa kau tak melihatnya lagi sekarang?” tanya Kyuhyun lagi, membuyarkan pikiranku untuk kedua kalinya.

Aku menggelengkan kepala.

“Sudah kuduga. Karena biasanya kau selalu membicarakan gwishin denganku padahal kau tahu hanya kaulah satu-satu orang yang bisa melihat mereka”

Eotteoke…

Oh, kita sudah dekat. Kajja, Sooyoung-ah” Kyuhyun langsung menarik tanganku dan berdiri bersamanya di dekat pintu bus. Begitu bus nya berhenti, kamipun melangkah keluar bersama orang-orang lain yang memiliki tujuan yang sama dengan kami. “Chinatown. Kau pernah bekerja di salah satu restoran disini”

Oh, tempat ini bagus” komentarku saat melihat suasana di Chinatown ini dan melupakan kekhawatirkanku sebelumnya pada gwishin. “Dimana restorannya?” tanyaku ingin tahu.

Igeo,” Kyuhyun menunjuk ke sebuah restoran yang ramai dengan orang. “Itu restoran dimana kau bekerja setelah kau menutup toko bungamu tadi. Kau tak lama berkerja disana, tapi cukup memberikan kesan bagi pemiliknya” jelas Kyuhyun.

Aku menatap restoran Cina-Korea itu sambil berusaha mengingat apapun yang berhubungan dengannya. Setelah beberapa saat, akupun kembali menyerah. Aku menghela napas berat karena tak berhasil mengingat apapun meskipun aku berusaha keras untuk mengingatnya sedari tadi. Aku tak tahu kenapa aku bisa mengalami hal seperti ini dan melupakan semua yang terjadi selama tujuh tahun ini.

“Kau mau masuk ke dalam? Kita bisa sekalian makan malam disana sambil-“

“Kita disini saja,” selaku cepat-cepat karena aku tak mau terlihat bodoh lagi di depan orang-orang yang mengenalku sementara aku tak mengenal mereka. “Mianhaeyo, Kyuhyun-ssi. Bukannya aku menolak makan bersamamu, tapi karena aku merasa…aku merasa tak bisa bertemu dengan orang-orang yang mengenalku disana”

Kyuhyun tersenyum tipis, ”Gwenchana. Aku juga tak akan memaksamu,” katanya.

Geureom, apa aku memiliki seseorang yang dekat di restoran itu?” tanyaku sambil terus menatap ke arah restoran tanpa berniat untuk mendatanginya. “Maksudku orang seperti Yuri, atau kau, atau mungkin yeoja yang tadi kita temui di bekas toko bungaku” Aku menambahkan begitu melihat ekspresi bingung Kyuhyun saat aku meliriknya.

“Aku tak tahu apa kau dekat dengan mereka disana, seperti kau dekat dengan Yuri. Tapi kau membantu pemiliknya, ah, aniya, kau membantu gwishin namjachingu pemiliknya”

Gwishin?”

Kyuhyun menganggukkan kepala, “Kau melakukan hal luar biasa saat itu, membuat seluruh restoran terharu”

“Apa yang aku lakukan?”

Kyuhyun menceritakan dengan detail apa yang aku lakukan saat itu sambil berjalan menyusuri jalanan di Chinatown ini. Aku benar-benar tercengang mendengar semua hal yang Kyuhyun beritahukan kepadaku. Aku tak menyangka aku bisa melakukan hal seperti itu untuk gwishin, padahal sebenarnya aku benar-benar menjauhi hal-hal yang berbau mistis seperti itu. Kyuhyun pun memberitahuku saat dia mengakui perasaannya padaku setelah aku membantu gwishin di restoran itu, dan entah kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang mendengarnya.

“Kau tak tahu bagaimana senangnya aku saat kau menerimaku sebagai namjachingu-mu. Saat itu rasanya seperti aku bisa melakukan apapun dan mendapatkan apapun yang aku inginkan” kata Kyuhyun terus memberitahuku. “Itu adalah saat-saat paling membahayakan dalam hidupku sampai saat ini,” Dia menambahkan sambil menatapku dengan hangat.

Ah, na—nado” sahutku cepat-cepat menyembunyikan kegugupanku saat ini. “Aku…aku juga pasti sangat senang saat itu karena namja sepertimu mengakui perasaannya pada yeoja aneh sepertiku”

“Aneh?”

Aku menganggukkan kepala, “Bukankah memiliki kemampuan seperti itu aneh? Sampai sekarang aku bahkan tak percaya jika aku bisa berbicara dengan gwishin. Itu benar-benar jauh diluar dugaanku,”

Kyuhyun kembali tersenyum, “Kita semua orang aneh, jadi tak perlu menganggap dirimu sendiri aneh, Sooyoung-ah. Bagiku kau justru luar biasa, dan itu membuatmu berbeda dengan yeoja lainnya”

“Apa kau tak pernah menganggapku aneh dengan kemampuan itu?”

“Tidak sama sekali. Aku justru kagum padamu,” jawab Kyuhyun tegas. “Kajja, kita langsung ke pantai saja kalau begitu”

“Pantai?” ulangku sedikit terkejut karena aku benar-benar menyukai tempat itu.

Kyuhyun mengangguk, “Kau sangat menyukainya, dan disanalah kita sering menghabiskan waktu bersama.

Majayo. Aku memang suka pantai, dan sering pergi kesana bersama keluargaku” sahutku cepat, dan Kyuhyun terus tersenyum saat aku memberitahunya itu. Membuatku sedikit bertanya-tanya. “Apa aku sudah menceritakan ini padamu dulu?” tanyaku menebak.

Emm, sudah” jawab Kyuhyun. “Kau sudah banyak menceritakan tentang keluargamu padaku, kemana kalian sering pergi, dan sebagainya”

“Ah…geuraeyo?”

“Saat aku belum terlalu mengenalmu, aku juga sering melihatmu dan memperhatikanmu sedang di pantai sendirian. Hampir setiap hari kau datang ke pantai setelah kau menutup toko bungamu itu sebelum kembali ke apartemen,” kata Kyuhyun melanjutkan bicara. “Kau selalu datang tak peduli apa musimnya, sampai aku bertanya-tanya sendiri apa kau tidak kedinginan keluar dan pergi ke pantai saat musim dingin tiba”

“Aku tak tahu bahwa aku sebegitu terobsesinya dengan pantai,” komentarku yang langsung membuat Kyuhyun tertawa.

Kami tiba di sebuah halte bus, dan menunggu beberapa saat disana. Tangan Kyuhyun tak pernah terlepas dariku, membuatku senang dan canggung dalam waktu yang sama. Senang karena ada seorang namja yang benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik, sepertinya. Dan canggung karena jantungku terus saja berdebar sepanjang perjalanan tadi. Meskipun aku masih merasa asing dengannya, tapi dia benar-benar bisa membuat perasaan itu menghilang hanya dengan sentuhannya. Aku pasti yeoja yang benar-benar beruntung dulu karena memiliki Kyuhyun sebagai namjachingu-ku.

“Kita turun disini, kajja” ajak Kyuhyun setelah cukup lama kami di bus. “Josimhae,” katanya sambil memegangiku saat turun dari bus.

Kami kembali melangkah bersama. Kyuhyun terus membimbingku dan memberitahuku hal-hal yang sering aku lakukan. Akupun tak bisa mengalihkan perhatianku dari dia yang terlihat begitu bersemangat memberitahuku segala sesuatu tentang diriku sendiri. Beberapa kali aku juga tertegun karena dia benar-benar mengetahui banyak hal tentangku melebihi diriku sendiri. Dan anehnya, lagi-lagi aku justru merasa senang karena itu.

Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Oh, amugeotdo aniyo” kataku cepat-cepat mengalihkan pandangan dari Kyuhyun. “Apa itu pantainya?” tanyaku berusaha mengganti topik pembicaraan.

“Eo, maja” jawab Kyuhyun. Dia menuntunku sampai akhirnya kami menginjakkan kaki di pasirnya yang halus. “Biasanya aku memperhatikanmu dari jalanan itu dan kau sedang berdiri disini sendirian sambil menatap jauh ke lautnya”

“Aku tak ingat tentang itu,” kataku seraya menundukkan kepala. “Mianhaeyo, Kyuhyun-ssi

Aniya, jangan meminta maaf. Nan gwenchana,” Kyuhyun langsung menyahut. “Aku memberitahumu dan mengajakmu kesini bukan untuk tujuan agar kau mengingatku. Aku bahkan tak masalah apa kau mengingatku atau tidak”

Aku masih menundukkan kepala. Lalu Kyuhyun berhenti melangkah, membuatku ikut berhenti melangkah. Detik berikutnya tangan namja itu memegang kepalaku dan membuatku harus mengangkat kepalaku lagi. Aku sedikit terperanjat saat dia sedang menatapku dengan pandangan yang benar-benar membuatku tak bisa melakukan apa-apa lagi selain hanya membalas tatapan itu. Jantungku semakin berdebar saat Kyuhyun tiba-tiba saja mendekatkan tubuhnya padaku. Dia mengecup keningku dengan lembut, dan secara otomatis mataku terpejam. Aku bisa mendengar debaran jantungku karena apa yang Kyuhyun lakukan itu tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

Gomawo, Choi Sooyoung, karena kau tak meninggalkanku dan kembali padaku” kata Kyuhyun sambil merengkuhku ke dalam pelukannya. “Jeongmal gomawo,” katanya lagi.

“N-Ne,” jawabku meskipun aku tak tahu kenapa dia berbicara padaku seperti itu.

Kyuhyun tesenyum lebar lalu dia mengusap pelan kepalaku. Saat ini aku benar-benar bisa merasakan perasaan yang dia tunjukkan padaku. Aku yakin dulu pasti aku sangat menyukai namja ini karena meskipun aku tak ingat apapun tentangnya tapi perasaanku sepertinya tetap ingat. Jika tidak, kenapa jantungku terus saja berdebar dengan kencang sekarang? Kenapa aku juga merasa gugup di depannya? Kalau itu bukan berarti bahwa aku menyukainya, lalu apa?

Nado gomawoyo, Kyuhyun-ssi

“Oh? Mwoga?”

“Karena kau tetap disisiku meskipun aku tidak sama seperti aku yang dulu kau kenal”

“Kau tetap sama, keadaanlah yang berubah,” sahut Kyuhyun cepat. “Tapi meskipun begitu, bagiku kau tetaplah Choi Sooyoung dan aku Cho Kyuhyun. Apapun keadaannya, kita akan tetap sama, jigeum cheoreom” katanya lagi sambil meraih tanganku dan langsung menggenggamnya dengan erat.

Aku mengangguk mengerti. Dan kamipun kembali melangkah menyusuri pantainya.

**

Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, aku mengamati pantulan diriku di cermin dengan kerut penasaran di keningku. Aku membayangkan apa yang terjadi saat terakhir kali aku pergi bersama Kyuhyun, dan memikirkan semua hal yang namja itu beritahukan padaku. Aku mencoba mengingat semua yang aku lakukan selama tujuh tahun ini untuk sekian kalinya. Tapi kemudian aku menghela napas berat karena lagi-lagi aku gagal. Kepalaku sakit karena aku terus memaksakan diri untuk mengingat, jadi aku menjauh dari cermin dan keluar dari kamar mandi.

Selagi melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, aku mencoba memikirkan apa yang ingin aku lakukan dan tidak ingin aku lakukan. Aku tahu bahwa aku tak bisa mengingat apapun di kota ini, dan semuanya terasa asing bagiku. Akupun sedikit tidak nyaman disini karena setiap aku keluar, orang-orang menyapaku dengan sangat ramah dan berbicara padaku tentang banyak hal tapi aku tak tahu siapa mereka. Itu benar-benar membuatku merasa sangat buruk karena aku berpura-pura mengenal mereka, mengetahui cerita-cerita mereka, dan sebagainya itu. Padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya, dan itu sangat bukan aku sekali.

“Sooyoung-ah,” seru Yuri saat aku baru saja sampai di dapur. “Apa kau sedang sibuk?” tanyanya kemudian.

Oh? Aniya. Wae?”

“Bisakah kau membantuku mengurus ini” Yuri memberikan sebuah catatan padaku. “Itu catatan orang-orang yang memesan bunga pada kita, dan aku tak tahu bagaimana biasanya kau mencatatnya”

“Yuri-ah, aku juga tak tahu—“ kataku. “-tapi aku akan mencobanya,” Aku cepat-cepat menambahkan karena tak mau membuat Yuri kecewa. Biar bagaimanapun, katanya bunga itu adalah milikku dan Yuri jadi tak mungkin aku tak melakukan apapun untuk toko kami itu, ‘kan?

“Aku mandi sebentar,” kata Yuri sambil melangkah ke kamar mandi, meninggalkanku sendirian dengan catatan-catatan yang sama sekali tidak aku mengerti.

Aku membolak-balik catatan yang Yuri tinggalkan beberapa kali. Semua tulisan yang ada di dalamnya memang tulisanku, tapi aku benar-benar tak tahu bagaimana biasanya aku mencatatnya. Haruskah aku mengikuti apa yang sudah tertulis disini atau bagaimana? Aku mengangkat satu tangan ke pelipis dan memijat-mijatnya, berharap aku bisa mengingat sesuatu dengan melakukannya meskipun aku tahu itu tidak mungkin.

Ah, jinjja!” dengusku kesal. “Kenapa aku harus seperti ini?! Benar-benar mengesalkan! Sungguh!”

Aku mendesah panjang, lalu mulai menulis berdasarkan apa yang ada di catatan sebelumnya. Aku tak tahu apa Yuri akan bingung membacanya atau dia akan mengerti jika aku menulisnya seperti ini. Aku hanya ingin membantu Yuri karena itulah pekerjaanku, dan akupun tak bisa meninggalkan perkerjaanku hanya karena ingatanku sedang kacau.

Eotte? Apa kau sudah selesai?” tanya Yuri yang kembali bergabung dan sudah terlihat lebih segar. “Mianhae, seharusnya aku tak memintamu melakukan sesuatu seperti ini dulu saat kondisimu masih belum membaik. Kau bahkan dulu mengerjakan semuanya saat aku sedang kacau dan depresi,”

Gwenchana. Ini memang pekerjaanku, ‘kan?” sahutku sambil tersenyum. Aku menyelesaikan catatan terakhirnya, lalu memberikannya pada Yuri. “Dwaesseo. Semoga kau tak kesulitan membacanya,”

Yuri mengangguk sambil mengambil catatan itu dari tanganku. Dia duduk bersandar di punggung kursi dengan mata terpejam. Berkerja sendirian di toko bunga pasti membuatnya kelelahan, dan aku benar-benar merasa bersalah karena tak membantunya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku khawatir aku justru merepotkannya jika aku ikut berkerja disaat aku tak ingat apapun.

“Kyuhyun-ssi tak mengajakmu pergi lagi hari ini?” tanya Yuri tiba-tiba. “Ini hari liburnya, ‘kan?”

“Molla,” jawabku apa adanya. “Gwenchana. Dia pasti sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya dan aku tak mau menganggunya hanya karena aku ingin dia menemaniku”

Mwoya…apa kau ingat tentang Kyuhyun-ssi?”

Aku menggeleng.

Geureom, kau menerima menjadi namjachingu-mu meskipun kau tak mengingatnya dan dia orang asing bagimu sekarang?”

“Eo,”

Wae? Biasanya kau tak seperti ini pada orang asing bagimu,”

Geurissae…aku hanya senang memikirkannya sebagai namjachingu-ku. Aku terus memikirkannya beberapa hari ini, dan merasa aneh bahwa aku seperti itu pada Kyuhyun-ssi” jawabku jujur. “Rasanya aneh karena aku nyaman bersamanya, dan ingin terus melihatnya. Bahkan hanya mendengar suaranya pun, itu sudah membuatku tenang”

Yuri tersenyum, “Itu berarti kau menyukainya,”

“Secepat itu?”

“Tidak, itu tidak cepat” Yuri langsung memberi tanggapan. “Kau memang sudah menyukainya dari dulu, dan meskipun kau tak ingat padanya tapi perasaanmu masih ingat. Perasaanmu bisa mengenali perasaan orang yang kau sukai, yang juga menyukaimu”

Aku kembali diam karena tak tahu harus berkomentar bagaimana untuk yang satu ini. Suasanapun hening karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku kembali memikirkan Kyuhyun, semua hal yang dia lakukan padaku selama beberapa hari ini dan semua hal yang aku lupakan begitu saja. Aku menghela napas berat, lalu teringat dengan apa yang aku pikirkan dan keinginanku untuk saat ini. Aku harus membicarakannya dengan Yuri karena dialah satu-satunya keluargaku sekarang.

“Yuri-ah,” kataku setelah diam beberapa saat. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,”

Yuri menegakkan tubuhnya, lalu menatapku. “Apa itu?”

Aku ragu untuk mengatakannya tapi ini adalah sesuatu yang benar-benar aku pikirkan selama beberapa hari ini. Aku menarik napas panjang sebelum berbicara, “Aku ingin kembali ke Seoul-”

Huh? Seoul? Apa kau yakin?” seru Yuri terkejut.

Aku mengangguk.

“Sooyoung-ah, wae? Apa kau merasa asing dengan kota ini jadi kau ingin kembali ke Seoul? Itu alasannya?”

Aku diam sesaat, lalu menjawab. “Eo. Aku tak ingat apapun yang ada di kota ini, aku bahkan tak merasa aku sudah pernah tinggal disini sebelumnya, dan kau tahu aku tak suka berada di tempat asing”

Geureom, Kyuhyun-ssi eotteoke?”

“Eotteoke mwo?”

Yuri menghela napas panjang, “Apa kau akan meninggalkannya begitu saja? Apa kau akan meninggalkan semua kenangan di kota ini?”

Aku diam saja.

“Sooyoung-ah, kau harus memikirkan ini terlebih dahulu” kata Yuri lagi karena aku diam saja. “Lagipula kita tak bisa pindah begitu saja ke Seoul, dan meninggalkan semuanya disini”

“Aku sudah memikirkannya, Yuri-ah. Aku sudah berpikir tentang semua hal, dan kenapa aku ingin kembali ke Seoul. Ini bukan masalah aku tak bisa mengingat apapun disini, tapi karena aku ingin memulainya lagi dari awal”

“Memulainya lagi dari awal? Apa maksudmu?”

“Aku ingin menjadi diriku lagi, bukan orang asing yang berpura-pura mengetahui semua hal yang ada disini. Orang itu bukan aku karena aku tak bisa mengingatnya satupun, bahkan hal kecil seperti inipun aku tak ingat” kataku sambil mengambil kembali catatan tadi dan membuka-bukanya. “Aku tak ingat bagaimana membuatnya, orang-orang yang ada disini, dan apa saja yang biasanya aku lakukan. Tidak selamanya juga aku terus di dalam apartemen sementara kau mengurus segala hal”

Arra, tapi kita tak perlu pindah ke Seoul. Kau bisa memulainya lagi dari awal jika memang itu yang kau inginkan, disini, di kota ini”

“Aku ingin ke Seoul karena disanalah seharusnya aku berada. Kota itu rumahku, rumah keluargaku, dan semua kenanganku ada disana”

Hening.

Mianhae, Yuri-ah. Tak apa jika memang kau tak bisa kembali ke Seoul bersamaku, tapi aku benar-benar ingin kembali ke kota itu dan-”

Ya! Choi Sooyoung! Neo jinjja!” seru Yuri tiba-tiba memotong perkataanku. Membuatku sedikit terkejut dengan nada perubahannya itu. “Geurae, mudah saja bagimu meninggalkan semua itu karena kau tak ingat apapun. Tapi aku… aku bahkan tak mau meninggalkan kota ini meskipun ada kenangan buruk sekalipun saat aku disini”

“Yuri-ah,”

“Kau tak ingat bukan bagaimana saat aku harus kehilangan namjachingu-ku? Kau memang membantuku dan dia saat itu, dan akupun sudah belajar untuk melupakan apa yang terjadi. Tapi apa kau tahu, tidak semudah itu aku melupakan seseorang yang sudah melekat padaku selama aku tinggal di kota ini” Yuri kembali berbicara dengan nada yang sama, dan aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca sekarang.

Aku tak mengatakan apa-apa karena teringat apa yang Kyuhyun katakan tentangnya. Bahwa dia kehilangan namjachingu-nya belum lama ini. Aku tak tahu siapa dia tapi aku pernah melihat Yuri sedang memandangi fotonya di salah satu tumpukkan barang-barangnya. Meskipun pada akhirnya aku mencuri lihat foto itu, tapi tetap saja aku tak ingat pernah bertemu dengan namja di foto itu.

“Kau bahkan tak berusaha mengingat Kyuhyun-ssi, semua kenangan kita disini, dan akan melupakannya begitu saja dengan kembali ke Seoul-”

“Aku berusaha, tapi aku memang tak ingat apapun” sahutku dengan cepat. “Apa kau juga tak tahu bagaimana frustasinya aku mencoba untuk mengingat segala sesuatunya? Tapi tetap saja tak ada satu halpun yang aku ingat, lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membuka kepalaku dan membalik otaknya?!” Nada bicaraku tak kalah tingginya dengan Yuri.

Yuri diam. Cukup lama dia diam karena sepertinya dia juga terkejut dengan perubahan nada bicaraku. Tapi kemudian, dia beranjak dari tempatnya dan pergi mengambil tas nya. Aku terus menatapnya ingin tahu apa yang akan dia lakukan sekarang. Karena jika dia ingin kembali berdebat denganku tentang keinginanku ini, aku sudah siap menyiapkan jawabannya.

“Aku tak mau bertengkar denganmu, Sooyoung-ah” katanya. “Aku pergi dulu, dan akan memikirkan keinginanmu itu” Dia melangkah keluar dari apartemen yang baru aku tinggali dua hari ini setelah keluar dari rumah sakit.

Aku diam terpaku di tempatku setelah Yuri pergi. Aku tak tahu apa aku melakukan sesuatu yang benar atau salah mengungkapkan keinginanku itu pada Yuri, karena dia satu-satunya orang yang sudah seperti keluargaku dari dulu. Aku memang ingin kembali ke Seoul, ke rumah orang tuaku dulu dan tinggal disana seperti yang seharusnya aku lakukan. Aku bahkan sempat tak percaya saat Kyuhyun dan Yuri memberitahuku bahwa aku sudah pindah ke kota ini lima tahun yang lalu. Karena benar-benar tak ada ingatan atau kenangan apapun di kepalaku yang berhubungan dengan kota ini.

Aku menghela napas panjang, lalu menatap meja di depanku. Jujur saja, aku juga tak mau bertengkar dengan Yuri seperti ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku bertengkar dengan sahabatku satu-satunya itu. Mungkin itu terjadi saat kami masih sama-sama duduk di bangku SMA, dan selebihnya kurasa tak pernah ada pertengkaran di antara kami berdua. Aku kembali menghela napas sambil berharap Yuri tak akan semarah itu padaku karena aku tak akan tenang jika bertengkar dengan satu-satunya orang yang bisa aku ingat sekarang.

__

Kyuhyun POV

“Wah, daebak! Sudah lama sekali aku ingin datang ke tempat ini,” seru Sooyoung girang seraya menatap ‘Play Hill’, salah satu theme park di Wilmi-do.

“Kita pernah kesini sebelumnya,”

“Ah, jinjjayo?”

Emm, tapi kita hanya berkeliling di pulau ini”

Waeyo? Kenapa kita tak mencoba wahananya?” tanya Sooyoung dengan warna emosi herannya.

“Oh…” Aku sedikit berpikir harus mengatakan apa pada Sooyoung. “Kau menolaknya saat itu,” kataku pada akhirnya.

“Naega? Waeyo?” Sooyoung terlihat tidak percaya. “Aku sangat suka tempat-tempat seperti ini, jadi kenapa aku menolaknya?”

“Karena gwishin,” jawabku jujur.

Oh? Gwishin?” sahut Sooyoung terkejut. “Kenapa rasanya apa yang aku lakukan selalu berhubungan dengan gwishin?”

“Karena itulah dirimu, Sooyoung-ah. Kau selalu tak bisa menjauh dari gwishin meskipun kau beberapa kali berusaha menjauhinya” kataku. “Meskipun kau berkata tak mau berhubungan dengan mereka, tapi pada akhirnya kau tetap berbicara pada mereka. Itu sudah menjadi bagian dari dirimu,”

“Dan sekarang kemampuan itu menghilang, itu berarti aku juga kehilangan sebagian diriku, ‘kan?”

Aku terkejut, “Aniya, bukan seperti itu”

Sooyoung tersenyum, “Ayo kita naik bianglala, Kyuhyun-ssi” ajak Sooyoung tiba-tiba, seakan-akan melupakan pembicaraan kami tentang gwishin itu. “Hal pertama yang harus kita lakukan saat pergi ke tempat seperti ini adalah naik bianglala”

“Maja,” sahutku cepat-cepat. Aku meraih tangan Sooyoung, “Kajja,” ajakku sambil membawanya menuju wahana bianglala itu.

Kami segera bergabung dengan antrian dan menunggu beberapa saat. Setelah pada akhirnya giliran kami datang, Sooyoung sama sekali tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya. Bahkan warna emosinya terus berwarna hijau daun dari saat dia naik ke wahana sampai keluar lagi. Ini pertama kalinya aku melihat Sooyoung segembira itu hanya karena sesuatu yang bisa dikatakan kecil ini. Tapi aku juga senang melihatnya seperti itu. Karena mungkin saja apa yang aku lakukan ini, dengan mengajaknya ke tempat seperti ini, rasa frustasinya karena tak bisa mengingat apapun tentang dirinya bisa sedikit berkurang. Memang benar dia tak pernah mengatakannya secara langsung padaku mengenai rasa fristasinya itu, tapi aku bisa mengetahuinya dari warna emosinya yang merah kekuning-kuningan.

“Joahae?” tanyaku saat kami meninggalkan wahana bianglala itu.

Sooyoung mengangguk, “Neomu joahaeyo, Kyuhyun-ssi

“Nado joahae, neo ttemune” sahutku sambil menyunggingkan segaris senyuman di wajahku. “Beritahu aku jika kau lelah. Kita bisa istirahat sebentar dan melanjutkannya nanti. Arraseo?

“Meskipun ini tidak begitu lama sejak aku keluar dari rumah sakit itu, aku tidak mudah lelah, Kyuhyun-ssi. Aku justru senang-aigoo,” seru Sooyoung saat seorang namja menabraknya karena jalannya yang dipenuhi banyak orang. Tapi dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf.

Ya! Apa kau tak punya mata?!” seruku berteriak pada namja itu. Aku berpaling pada Sooyoung, “Gwenchana?” tanyaku khawatir.

“Gwenchanayo,”

“Ayo kita ambil jalan yang lain saja, disini terlalu ramai” Aku mengusulkan karena tak mau melihat Sooyoung ditabrak lagi oleh orang-orang. “Oh, jamkkaman” kataku sambil mengangkat tanganku dan merangkul Sooyoung agar dia berjalan lebih dekat denganku.

Sooyoung menatap tanganku sesaat yang sekarang berada di sekitar bahunya lalu berpindah menatap mataku. Aku sempat melihat warna kuning kecokelatan tua di wajahnya tapi aku mengabaikan itu. Aku benar-benar tidak terbiasa melihat warna emosi Sooyoung setiap kali aku menatapnya. Kurasa aku akan mengabaikan saja apa yang aku lihat karena dengan begitu aku tak merasa canggung dengannya.

Sooyoung mengajakku menaiki wahana yang lebih menantang disini, dan akupun menurutinya. Kami memutuskan untuk naik Apollo Disco, yang dulu sempat tak mau dinaiki yeoja itu karena ada gwishin yang menari di tengahnya. Tapi sekarang dia benar-benar terlihat sangat senang dan menikmati wahana ini, sama sepertiku. Setelah dari wahana Apollo Disco, kamipun berpindah dari wahana satu ke wahana lainnya. Kami berteriak dan tertawa bersama di setiap wahana yang kami naiki, dan benar-benar melupakan semua hal karena kebersamaan kami ini. Aku bahkan merasa Sooyoung sudah kembali seperti dulu saat beberapa kali, entah itu disengaja atau tidak, dia memanggilku ‘Oppa’. Rasanya benar-benar menyenangkan saat mendengar Sooyoung memanggilku seperti itu.

Jamkkaman, Sooyoung-ah!” Aku menahan langkah Sooyoung saat kami baru keluar dari wahana Hydraulics.

“Waegeuraeyo?” tanya Sooyoung heran.

“Tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali” pesanku lalu pergi meninggalkan Sooyoung sendiri untuk pergi membeli es krim.

“Woah! es krim!” seru Sooyoung saat aku kembali menghampirinya sambil membawa dua buah es krim. Aku langsung memberikannya satu pada Sooyoung, “Gomawoyo, Kyuhyun-ssi” katanya sambil tersenyum padaku.

“Ayo duduk disini dulu,” kataku sambil menunjuk ke arah bangku yang kosong. “Kajja, kajja”

Sooyoung mengangguk lalu mengikutiku duduk di bangku itu. Dia terlihat sangat menikmati es krim yang aku berikan itu, dan akupun tak bisa menyembunyikan senyumku di depannya. Jujur saja, aku sempat tak tahu harus mengajaknya pergi kemana saat dia tiba-tiba mengajakku pergi hari ini. Tapi aku senang karena dia terlihat begitu menikmati tempat ini dan akupun tak melihat warna emosi canggung di wajahnya. Sangat berbeda saat aku pergi bersamanya terakhir kali.

“Kyuhyun-ssi, aku akan kembali ke Seoul” kata Sooyoung tiba-tiba setelah dia diam cukup lama.

Aku menolehkan kepala ke arahnya lalu menatapnya lekat-lekat. Warna emosinya sekarang menunjukkan kesungguhan, jadi dia sedang tidak bercanda denganku saat mengatakannya.

Mianhaeyo aku harus mengatakan hal ini padamu, tapi aku benar-benar tak bisa tinggal di kota yang asing bagiku” kata Sooyoung lagi. “Aku akan kembali ke Seoul dan menjalani hidupku disana sebagai Choi Sooyoung yang baru,”

Aku tak langsung menanggapi tapi diam untuk beberapa saat dan berpikir. Jujur saja, aku tak mau dia pergi jauh dariku meskipun itu hanya di Seoul dan aku bisa datang mengunjunginya kapanpun tapi tetap saja aku ingin berada di tempat yang sama dengannya. Tapi aku juga tak mau egois karena aku tahu itu pasti sangat sulit bagi Sooyoung tinggal di kota disini, dimana banyak orang yang mengenalnya tapi dia tak bisa mengingat mereka. Aku juga selalu melihat warna coral, dan terkadang tangerine setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu saat bertemu seseorang yang mengenalnya.

“Apa kau marah padaku, Kyuhyun-ssi?” Sooyoung bertanya karena aku terus saja diam. “Aku mengerti jika kau marah padaku, mianhaeyo karena aku tak membicarakan ini denganmu terlebih dahulu”

“Apa itu akan membuatmu nyaman? Tinggal di Seoul?” tanyaku balik.

Eo,”

Geureom, kau akan meninggalkan semuanya disini?”

Eo,

“Bagaimana dengan toko bungamu? Yuri-ssi?”

“Kami akan menyerahkannya pada orang lain untuk mengurusnya” jawab Sooyoung.

Ah, jadi kau memang sudah memikirkan semuanya” kataku sedikit terkejut mengetahuinya. “Geureom, aku tak bisa mencegahmu untuk pergi, ‘kan?”

“Kyuhyun-ssi

Gwenchana. Lagipula itu hanya di Seoul, sekitar satu jam dari sini” kataku berusaha terdengar biasa saat mengatakannya. “Kapan rencana kau mulai pindah?”

“Setelah mendapatkan apartemen di Seoul, aku dan Yuri akan langsung pergi dari sini” jawab Sooyoung pelan. “Kyuhyun-ssi, kau benar tak apa aku pergi dari kota ini?”

Aku tersenyum kecil, “Ya! Kau pikir aku akan baik-baik saja? Tentu saja tidak. Jujur saja, aku paling tak suka menjalani hubungan jarak jauh meskipun kita berada di negara yang sama. Aku tak suka menyimpan rasa rindu, khawatir, ingin tahu, dan sebagainya itu”

Geureom-

Geureom mwo? Apa kau akan membatalkan rencanamu saat aku mengatakan seperti itu?”

Sooyoung diam saja. Kepalanya tertunduk lama, dan akupun menarik napas panjang. Aku mendekat ke arahnya lalu mengangkat tanganku untuk merangkulnya. Apa yang aku lakukan ini membuat kepala Sooyoung kembali terangkat. Dia menatapku, dan aku bisa melihat warna rasa bersalah di wajahnya sekarang.

“Sooyoung-ah, aku tak mau menjadi beban untukmu. Aku juga tak ingin memaksakan apa yang aku inginkan padamu. Kau adalah sebuah hadiah untukku, dan itu sudah cukup” kataku berusaha untuk menenangkan Sooyoung melihat dari warna emosinya sekarang. “Kau tahu apa yang selalu membuatku sedih saat bersamamu? Itu saat aku tak bisa melihat senyuman di wajahmu”

“Kyuhyun-ssi,” gumam Sooyoung sambil terus menatapku.

“Aku akan sering datang, tenang saja. Tak ada yang berubah entah kau di Incheon atau Seoul, itu hanya masalah jarak” Aku berkata lagi sambil mengelus rambutnya dengan penuh sayang. “Jika kau mau aku bisa mengantarmu ke Seoul saat kau pindah nanti,”

Aniyo, dwaesseoyo

Wae? Kau tak mau aku mengantarmu?”

Keuge anirayo. Aku hanya tak mau merepotkanmu,”

Ya! Merepotkan apanya?!” sahutku dengan cepat. “Setidaknya manfaatkanlah namjachingu-mu untuk mengantarmu. Itu yang biasanya dilakukan yeoja

Mworaguyo?”

Aku tertawa kecil, “Aish jinjja! Seharusnya aku memelukmu atau menciummu, tapi kita tak bisa melakukannya disini. Terlalu banyak anak kecil,” kataku.

Warna emosi Sooyoung berubah menjadi terkejut saat aku mengatakan hal seperti itu di depannya. Aku kembali tertawa, lalu mencubit pelan pipinya.

Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku berusaha mencairkan suasana dan mengganti topik pembicaraan. “Kau tahu, kau bahkan menciumku dengan sangat bergairah terakhir kali kita melakukannya. Jadi jangan menatapku seakan-akan kita tak pernah berciuman sebelumnya”

Sooyoung langsung memegangi bibirnya, masih dengan ekspresi terkejutnya. “Naegayo?”

Eo. Apa aku perlu menunjukkannya padamu bagaimana kau menciumku saat itu?” Aku kembali bergurau. “Kajja, ikut aku. Aku akan menunjukkan-“

Dwaesseoyo, dwaesseoyo” potong Sooyoung dengan cepat yang warna emosinya berubah menjadi malu. Pipinya juga merona merah dan itu justru membuatku tertawa senang. Jarang sekali aku melihatnya seperti itu karena dulu dia sangat pintar menyembunyikannya dariku. “Ayo kita pergi saja, Kyuhyun-ssi,” katanya cepat-cepat.

Oh, Sooyoung-ah! Lihat itu disana,” seruku sambil menunju ke satu arah. Sooyoung menolehkan kepala, dan akupun segera mendekatkan wajahku padanya.

“Tak ada apapun di-“ Kata-kata Sooyoung terhenti karena wajah kami yang sangat dekat, bahkan bibir kami hampir bersentuhan. Tanpa menunggu lama, akupun langsung mengecup bibirnya. Setelah itu aku cepat-cepat menjauh darinya dan mengalihkan pandangan ke sekelilingku karena khawatir ada orang yang melihat apa yang kami lakukan mengingat ini adalah tempat umum.

Saat aku kembali melirik Sooyoung, dia hanya tertegun, dan membatu di tempatnya. Dia terus seperti itu untuk beberapa saat, bahkan sama sekali tak bergerak. Membuatku sedikit khawatir apa terjadi sesuatu dengannya. Tapi kemudian yeoja itu kembali memegangi bibirnya, dan juga mememalingkan wajahnya dariku. Jadi aku tak bisa melihat wajahnya maupun warna emosinya sekarang.

Mian, aku tak sengaja melakukannya” kataku berusaha membujuk Sooyoung untuk menolehkan kepalanya lagi ke arahku. “Kau marah?”

Sooyoung membalikkan badannya berhadapan denganku, “Tak sengaja apanya, kau pasti sengaja mengerjaiku ‘kan, Kyuhyun-ssi? Apa kau selalu seperti itu padaku?”

Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Eo, kadang-kadang”

Mwoya….”

“Kau juga terkadang mengusiliku, bahkan lebih usil dariku. Itu bukan apa-apa dibandingkan ciumanmu terakhir kali,”

Sooyoung berubah salah tingkah, “Jangan membicarakan tentang ciuman lagi,” protesnya. “Ayo kita pergi dari sini” Dia beranjak dari tempatnya terlebih dahulu dariku.

Aku mengulurkan tangan, berharap Sooyoung mau menggenggam tanganku. Untuk sesaat dia hanya menatapnya tapi kemudian diapun meraih tanganku dan mengajakku kembali melangkah menyusuri setiap sudut pulau ini. Aku benar-benar akan memanfaatkan kesempatan ini untuk selalu dekat dengan Sooyoung dan membuatnya lebih nyaman bersamaku. Bukan untuk tujuan tertentu, tapi karena aku benar-benar ingin dia tahu bahwa bagaimanapun keadaannya aku akan selalu membuatnya nyaman. Entah itu bersamaku, bersama orang-orang disekitarnya, dengan dirinya sendiri, dan masih banyak lagi.

Dan, meskipun pada akhirnya dia akan tinggal jauh dariku, aku berharap perasaanku padanya, dan perasaannya dia padaku tak akan jauh. Itu hanya masalah jarak, dan aku yakin Sooyoung dan aku akan bisa melaluinya dengan baik.

__

1 tahun kemudian…

Sooyoung POV

Kicauan burung-burung diluar menyambut pagi terdengar sangat merdu. Matahari perlahan sudah mulai muncul dari balik pegunungan di sebelah timur dan siap untuk menghangatkan bumi. Embun yang menempel di dedaunan berkilauan terkena sinarnya. Aku membuka jendela kamar apartemenku di Seoul, yang menjadi tempat tinggalku sekarang, lebar-lebar. Hawa sejuk mulai menyelusup memasuki rongga dadaku, dan bau harum bunga-bunga yang bermekaran tercium sampai ke hidungku. Aku menutup mata dan menghirup udara musim semi ini sebanyak-banyaknya. Semilir angin menerpa kulitku dengan lembut. Rasanya begitu hangat.

Sudah satu tahun sejak aku meninggalkan Incheon dan segala hal yang ada disana, dan kembali ke Seoul. Aku tak percaya waktu benar-benar cepat sekali berlalu. Aku memang menjalani hidupku yang baru di Seoul, dengan orang-orang yang baru dan suasana yang baru. Dan, aku sangat menikmati hidupku selama setahun ini. Semuanya terasa begitu menyenangkan, bahkan hubunganku dengan Kyuhyun. Sejak aku pindah ke kota ini, kebersamaan kami memang berkurang tapi itu tidak masalah untuk kami berdua. Seperti katanya, jarak benar-benar bukanlah masalah besar bagi hubungan kami, dan semuanya tetap seperti biasanya.

“Sooyoung-ah!” seruan Yuri terdengar dari arah dapur.

Eo,” sahutku. “Jamkkaman,”

Aku membuka pintu kamarku, lalu berjalan ke arah dapur. Dari sana aku mendengar suara benda-benda yang saling berbenturan. Tanpa ragu, akupun melangkah masuk dan melihat Yuri sedang mengaduk-aduk sesuatu di atas kompor. Dia tersenyum padaku saat melihatku datang lalu mematikan kompornya dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk besar.

“Ayo kita sarapan, Sooyoung-ah” kata Yuri sambil membawa mangkuk itu ke meja makan. “Aku membuat Kongnamul-gukbap hari ini” katanya lagi.

Aku mengikuti Yuri, lalu duduk di kursi depannya. “Aigoo, kenapa kau selalu membuatnya sendiri? Kau seharusnya memberitahuku jika ingin memasak sesuatu jadi kau tak perlu melakukan ini setiap pagi, Yuri-ah” kataku merasa tidak enak pada Yuri yang selalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan aku. “Aku bisa membuatnya sendiri, jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku”

Aniya, aniya. Sudah kukatakan, aku memang sengaja membuatnya sekalian untukmu. Gwenchana, lagipula kita sudah terbiasa seperti ini dari dulu”

Aku diam saja karena memang seperti itulah yang terjadi selama setahun ini, dan delapan tahun lalu meskipun aku masih belum bisa mengingatnya sampai sekarang.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Yuri disela-sela makannya.

Molla. Mungkin aku akan di apartemen saja karena kita tak membuka toko bunga nya hari ini”

Yuri meletakkan sendoknya, lalu dia menatapku. “Kau tak berencana pergi ke Incheon? Kyuhyun-ssi juga saat libur saat weekend seperti ini, ‘kan?”

Aku tersenyum tipis, “Aku ingin, tapi aku tak bisa”

Wae?”

Geunyang—

Aku tak melanjutkan kata-kataku dan memilih untuk melanjutkan makan. Tak ada alasan khusus kenapa aku tak mau pergi ke Incheon sekarang, hanya saja aku benar-benar tak mau menganggu Kyuhyun. Belakangan ini dia sangat sibuk mengurus beberapa kasus disana, dan aku mengetahuinya dari berita-berita yang aku baca. Selain itu juga dari dongsaeng-nya, Bae Joohyun yang selalu memberitahuku tentang apa yang Kyuhyun lakukan.

Ya, Choi Sooyoung! Kurasa kau sebaiknya ke Incheon dan menemui namjachingu-mu itu” Yuri kembali berbicara dengan topik yang sama. “Dia pasti tak bisa datang kesini, ah, benar! Ini sudah hampir dua bulan dia tak datang, ‘kan? Aigoo, apa kau tak ingin bertemu dengannya?”

“Aku memang sudah dua bulan tak bertemu dengannya, tapi kami masih saling komunikasi lewat telepon,”

Geureom, apa katanya?”

“Dia sedang sibuk mengurus kasus sampai ke tempat yang terpencil. Bahkan dia harus pergi ke Jeollanam-do untuk melakukan penyelidikan”

“Jeollanam-do? Aigoo… jadi dia selama ini disana?”

Aku mengangguk.

“Pantas saja,”

“Pantas saja apa?”

Yuri tersenyum usil, “Pantas saja kau terlihat tidak bersemangat belakangan ini”

Mwo?”

Yuri menanggapi perkataanku dengan tertawa ringan. Aku kembali melanjutkan makan dan memilih untuk tidak membicarakan apapun lagi sampai makananku benar-benar habis. Setelah itu aku dan Yuripun membereskannya bersama dan menghabiskan hari libur kami dengan menonton film. Sebenarnya aku lebih suka jalan-jalan daripada harus berdiam diri di apartemen, tapi kurasa Yuri sedang enggan pergi keluar. Jika dia mau, sedari tadi dia sudah mengajakku pergi.

Ah, membosankan sekali. Jinjja!” komentar Yuri saat filmnya berakhir. “Aku tak pernah melihat ada film yang sangat membosankan seperti ini sebelumnya, maja?”

Aku menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

Suara bel pintu terdengar tiba-tiba. Aku baru akan membukanya tapi Yuri mendahuluiku. Dia bergegas melangkah kearah pintu dan tak lama, akupun mendengar suaranya yang sedang berbicara dengan seseorang meskipun aku tak tahu dengan siapa dia berbicara atau apa yang mereka bicarakan.

“Sooyoung-ah, ada yang mencarimu” panggil Yuri kemudian. “Cepatlah kemari,”

Eo,” sahutku sambil beranjak dari tempatku dan melangkah menghampiri Yuri yang sedang berdiri di ambang pintu. “Nuguji?” tanyaku pada Yuri tanpa melihat orang yang ada diluar terlebih dahulu.

“Lihat saja sendiri,”

Aku melangkah lebih dekat ke arah pintu lalu memanjangkan kepala untuk melihat siapa orang yang mencariku. Kedua alisku saling bertaut melihat seorang anak kecil namja berdiri disana sedang tersenyum padaku.

“Choi Sooyoung noona?” tanyanya seperti memastikan.

Eo, maja. Wae?”

Anak kecil itu kembali tersenyum padaku, lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. “Igeoyo. Untuk Choi Sooyoung noona,” katanya sambil memberikan sebuah kotak kecil padaku.

“Apa itu?”

Mollayo,” sahut anak kecil itu. “Orang itu hanya memintaku untuk memberikannya pada Choi Sooyoung noona jadi aku tak tahu apa isinya”

Aku melirik Yuri yang mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya mengambil kotak kecil itu dengan ragu. “Siapa yang memintamu untuk memberikannya padaku?”

“Seorang detektif,”

“Detektif?”

Geureom… Kyuhyunssi?” Yuri ikut menyahut. “Heol, daebak. Kita baru saja membicarakannya tadi”

“Apa dia disini? Eodi?”

Anak kecil itu menggelengkan kepala, “Aniyo. Dia sudah pergi”

Ah,” sahutku sedikit kecewa. “Dia hanya memberikan ini padamu lalu pergi?”

Ne,”

Aku mendesah pelan, lalu tersenyum pada anak kecil itu. “Ireumi mwoayo?

“Shin Jin Yong,”

Geureom gomawoyo, Jin Yong-ah” kataku sambil mengacak pelan rambut anak itu.

Anak itupun mengangguk sebelum dia berpamitan padaku dan Yuri. Aku menatap Yuri sekali lagi sebelum berjalan kembali ke ruang TV bersamanya setelah dia menutup pintunya. Kedua mataku tak pernah terlepas dari kotak yang Kyuhyun berikan sampai akhirnya aku memilih duduk di tempatku semula. Sebelum membukanya aku sempat berpikir kenapa namja itu tak memberikannya langsung padaku tapi justru meminta seseorang untuk melakukannya? Dia pasti memiliki alasan sendiri kenapa caranya seperti ini, ‘kan? Apa dia benar-benar ingin membuatku marah sampai aku harus menemuinya ke Jeollanam-do?

Ya! Kenapa diam saja? Ayo cepat buka!” Suara Yuri dan tepukkan pelannya di bahuku membuayarkan apa yang sedang aku pikirkan. “Aku penasaran apa dia bermaksud memberimu cincin tapi dia terlalu untuk langsung berhadapan denganmu?”

Mwoya,” sahutku sedikit tidak terima dengan perkataan Yuri. “Kurasa Kyuhyun­-ssi bukan orang yang seperti itu jika dia memang ingin memberikan sesuatu”

Geureom, bukalah” Yuri terlihat lebih tidak sabar dariku.

Aku mendengus kecil ke arah Yuri sebelum mengalihkan perhatianku pada kotak itu lagi. Perlahan aku membukanya, dan entah kenapa jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang. Sebuah kertas ada di dalam kotak itu. Aku mengambilnya lalu kembali memeriksanya, tapi tak ada apapun lagi di dalam kotak selain kertas yang sekarang dipegang Yuri. Aku menatap Yuri, dan dia balas menatapku. Kami berdua pasti sama-sama tidak menyangka jika di dalam kotak yang diberikan anak kecil itu hanya berisi sebuah kertas.

Oh, ada pesannya!” seru Yuri setelah dia membuka kertas itu dan melihat isinya. “Ini, bacalah dulu sebelum aku ikut membacanya,” Yuri memberikan kertas itu padaku.

Aku mengambilnya, lalu membaca isinya.

‘Bogoshipeo, maja? Nado bogoshipeo, neomu bogoshipeo, jinjja bogoshipeoseo, Choi Sooyoung!

Datanglah ke Yeouido Gongwon jika kau juga merindukanku. Girdarilke…’

Mataku mengerjap beberapa kali setelah membaca isi kertas itu. Lalu tanpa aku sadari senyumku mengembang saat sekali lagi aku membaca kalimat pertamanya. Bayangan Kyuhyun saat mengatakan hal itu langsung terlintas di kepalaku, dan entah bagaimana akupun bisa mendengar suaranya di telingaku.

“Yuri-ah, aku pergi dulu kalau begitu” kataku cepat-cepat setelah tersadar dari lamunan singkatku itu.

Eo, pergilah” jawab Yuri sambil tersenyum menggodaku.

Aku bergegas melangkah ke kamarku, mengganti bajunya lalu keluar dari apartemen. Taman yang ditunjuk Kyuhyun memang tidak jauh dari apartemenku karena masih berada di distrik yang sama. Tapi kurasa akan lebih cepat jika aku naik taksi daripada berjalan kaki. Lagipula phobia-ku, yang kata Yuri dan Kyuhyun, terhadap mobil itu sudah tidak ada lagi jadi akupun memutuskan untuk menghentikan taksi yang saat itu melewati jalan di depan apartemenku.

“Yeouido Gongwon juseyo,” kataku memberitahukan tujuanku pada supir taksi.

“Ne,

Tak sampai setengah jam, taksi berhenti tepat di depan Taman Yeouido. Setelah membayar ongkosnya aku melangkah dengan cepat memasuki taman. Aku mengarahkan mata ke sekeliling taman mencari sosok Kyuhyun sambil terus berjalan menyusuri jalanan kecil tamannya.

Ah! Benar! Ponsel!” seruku teringat pada ponselku yang langsung aku ambil untuk menelepon Kyuhyun. “Mwoya, kenapa nomornya tidak aktif?” gumamku heran.

Aku terus mencari, dan mencarinya sampai akhirnya aku lelah setelah lebih dari setengah jam berjalan. Sebuah nada pesan tiba-tiba terdengar dari ponselku dan akupun cepat membukanya. Dari Kyuhyun.

‘Kau di taman Yeouido, ‘kan? Aku di sekitar Yunjunro Street. Kemarilah’

“Cih, benar-benar seenaknya sendiri,” dengusku kesal sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam sakuku. “Aku tak akan kesana” kataku lagi meskipun pada akhirnya kakiku tetap melangkah dengan sendirinya ke Yunjunro Street itu.

Aku kembali mengarahkan mataku ke sekeliling Yunjunro Street ini, tapi sama sekali tak melihat Kyuhyun dimanapun. Aku hanya melihat bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan ini, dan itu sangat indah.

Aish, jeongmal! Dia pasti mengerjaiku”

Aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku disana, lalu mengambil ponselku lagi. Aku mencoba menelepon Kyuhyun lagi tapi dia justru mematikan ponselnya. Aku hampir saja membanting ponselku jika saja aku tak berhasil menahan kesalku. Tapi aku sendiri juga heran kenapa aku bisa semarah ini hari ini? Ah, sungguh! Aku pasti benar-benar merindukan namja itu sekarang.

Aku mendesah panjang, berusaha untuk meredakan kesalku. Lalu tiba-tiba seseorang menghampiriku dengan begitu banyak balon berbentuk hati berwarna merah dan putih. Aku sangat terkejut saat orang itu memberikannya begitu saja padaku lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Aku bahkan hanya diam di tempatku dengan tangan penuh dengan balon selama beberapa saat. Mataku mengerjap beberapa kali karena aku benar-benar tak tahu harus bagaimana dan melakukan apa sekarang. Aku pasti terlihat seperti orang bodoh yang memegangi balon dan hanya diam di tempatku selama kurang lebih 10 menit.

Aku bangkit dari tempatku, dan memutuskan untuk mencari orang tadi atau melakukan sesuatu pada balon-balon ini. Tapi baru beberapa langkah, aku berhenti berjalan karena aku melihat Kyuhyun sedang berdiri menyandar di sebuah pohon yang bunganya mekar paling banyak. Pakaiannya sangat santai dan dia memakai topi yang sengaja dipakai terbalik. Tangannya membawa gitar dan dia memainkan sebuah lagu sambil melangkah menghampiriku. (Lagu milik Hyorin Sistar, I Choose To Love You)

Aku kembali tertegun sambil menatap Kyuhyun dan mendengarkannya bernyanyi. Tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipi. Bukan hanya karena lagunya, tapi karena ini pertama kalinya seorang namja menyanyivan sebuah lagu untukku. Lagu yang sangat jelas menggambarkan perasaannya padaku karena aku benar-benar bisa merasakannya secara langsung yang benar-benar membuatku merinding. Sampai akhirnya Kyuhyun menyelesaikan lagunya, aku tak bisa berhenti tersenyum dan air mataku bahkan terus menetes.

Kyuhyun menatapku sesaat, lalu dengan cepat dia memindahkan topi di kepalanya ke kepalaku. “Wae ureo?” tanyanya sambil mengusap pipiku dengan lembut. “Bukankah seharusnya kau senang karena-“

Babo!” potongku dengan cepat. “Neo jinjja Baboya!”

Kyuhyun menatapku lekat-lekat, “Mianhae, jinjja. Aku bukannya sengaja tidak menghubungimu atau tidak menemuimu”

Keuge aniraguyo,” sahutku berusaha keras menahan diriku untuk tidak menangis lagi. “Tta igeoyo, babocheoreom” Aku menunjuk ke balon-balon yang masih aku pegang.

Kyuhyun tersenyum, “Balon-balon itu semua berisi kerinduanku padamu. Aku meniupnya sendiri, 60 balon, 60 hari aku merindukanmu”

Aku diam saja karena jujur aku tak tahu harus berkata apa dengan semua yang dia persiapkan untukku ini.

“Joahae?”

Emm, neomu joahaeyo

“Kau suka balonnya atau lagunya?”

“Aku suka semuanya,” jawabku. “Tapi aku lebih menyukainya karena kau yang melakukan semua ini untukku, Kyuhyun-ssi

Ah, dahaengida” kata Kyuhyun pelan. “Kupikir kau tak akan menyukainya karena itu hanya balon dan sebuah lagu yang baru saja bisa aku mainkan”

Aniyo, joahaeyo. Jinjja joahaeyo,” sahutku cepat-cepat. “Gomawoyo, Kyuhyun-ssi karena-”

Aku belum menyelesaikan kalimatku tapi Kyuhyun sudah mendekat ke arahku dan menunduk untuk menciumku. Untuk sesaat aku terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi kemudian aku balas menciumnya. Awalnya perlahan, lalu panas dan penuh gelora. Aku bisa merasakan tangannya melepas topiku, lalu tangan yang lainnya menekan tengkukku. Dan aku benar-beanr bisa merasakan ciuman ini adalah ciuman yang penuh kerinduan.

Cukup lama kami berciuman dan membiarkan perasaan masing-masing saling menyatu. Kami cukup beruntung karena meskipun kami melakukannya di tempat umum tapi 60 balon di tanganku menutupi kami sepenuhnya. Ini pertama kalinya bagiku berciuman diantara banyak balon sampai aku tak bisa melihat siapapun lagi selain Kyuhyun di depanku, dan rasanya aku benar-benar tak ingin melepasnya karena akupun sangat merindukannya. Tapi aku melepaskan diri dari ciuman itu pada akhirnya dan melangkah mundur sambil tersenyum ke arah namjachingu-ku ini.

“Mau jalan-jalan bersamaku?” tanya Kyuhyun kemudian. Dia mendekatkan diri lagi untuk memakaikan topinya padaku. “Musim semi di Seoul memang yang paling indah,”

Jinjjayo?”

Emm. Mungkin itu karena ada kau,”

Arrayo,” sahutku sambil melingkarkan tanganku pada pergelangan tangan Kyuhyun. Kulitnya terasa hangat di bawah sentuhanku, dan aku sangat menyukainya.

Kyuhyun mengajakku berjalan, dan aku cukup kesulitan karena memegang banyak balon dengan satu tangan sekarang. Tapi kemudian dia mengulurkan tangannya, memintaku untuk memberikan balon itu padanya. Dan akupun memberikannya. Tidak semua, melainkan setengahnya.

Gwenchana, biar aku saja yang membawanya” kata Kyuhyun karena apa yang aku lakukan itu. “Kemarikan balonnya,”

Aniyo gwenchanayo” sahutku. “Lebih baik seperti ini”

Wae?”

Oh? Waeyo?” celetukku terkejut. “Geunyang joahaeyo,”

Geunyang joahaeyo?” Kyuhyun mengulangi perkataanku dengan ekspresi usil di wajahnya.

Aish jinjja!” seruku sambil berhenti melangkah. “Apa kau senang mengerjaiku, Kyuhyun-ssi?”

Emm. Kau terlihat sangat cute dengan ekspresi seperti itu”

Mwoya,”

Kyuhyun tertawa, dan akupun pura-pura kesal padanya. Tapi kemudian Kyuhyun merangkulku, menarikku lebih dekat ke arahnya dengan tangannya yang kosong. Kamipun kembali berjalan menyusuri taman yang sekarang penuh dengan bunga-bunga yang belum lama mekar tapi cukup memberikan pemandangan yang indah untuk dilihat. Cuaca yang tidak terlalu panas pun sangat mendukung untuk lebih menikmati semua pemandangan disini sekalipun ini masih siang hari.

Oppa,” panggilku pelan. Kyuhyun langsung menolehkan kepalanya dengan cepat padaku. “Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?”

Mata Kyuhyun berbinar, lalu dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Tentu saja boleh,”

Aku balas tersenyum, “Geureom… oppa. Kyuhyun oppa. Oppaneun naui oppa,

“Sooyoung-ah,” sahut Kyuhyun terlihat terkejut.

Waeyo?”

Aniya aniya. Geunyang joahae, ni aegyo”

Mworaguyo?”

Kyuhyun tertawa kecil lalu dia mengusap-usap tanganku. “Kau tahu, aku pernah memintamu melakukan aegyo seperti itu. Tapi kau menolaknya, dan marah padaku sebagai gantinya”

Jeongmalyo? Aigoo…”

“Tapi lihatlah sekarang,” kata Kyuhyun melanjutkan. “Kau sepertinya benar-benar nyaman dan menikmatinya”

Aegyoyo?

Kyuhyun mengangguk.

Aing~ museun aegyo. Nan mothae, aljanayo oppa” kataku kembali ber-aegyo di depan Kyuhyun.

Ya! Geumanhae. Apa kau berusaha untuk membuatku lebih jatuh cinta padamu? Huh?” protes Kyuhyun.

Aniyo,” Aku masih melakukan aegyo.

Ya! Geumanhaera. Bagaimana jika namja lain juga jatuh cinta padamu saat kau terus melakukan aegyo seperti itu?”

Aku tertawa, “Oppa shirreoyo?”

Ani, joahae. Tapi kau cukup melakukannya saat hanya bersamaku saja, jangan di tempat umum”

Ah, ne, detektif-nim” sahutku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tanpa sengaja mataku melihat sebuah tempat penyewaan sepeda yang tak jauh dari jalur yang kita lewati. “Oppa, ayo kita naik sepeda dan berkeliling taman ini. Aku lelah jika harus berjalan,

“Sepeda?” tanya Kyuhyun seraya menatap ke arah yang sama denganku. “Shirreo. Aku lebih suka jalan kaki karena bisa selalu dekat denganmu. Lagipula mau kita apakan balonnya jika kita naik sepeda?”

“Tapi aku lelah, oppa

“Aku akan menggendongmu,”

Aku langsung memasang ekspresi kesal, “Jadi oppa tak mau naik sepeda?”

“Tak mau,”

Aku menatap Kyuhyun lekat-lekat, “Oppa…” kataku mulai menggunakan aegyo-u lagi untuk merayu Kyuhyun. “Aing…oppa oppa. Ayolah, oppa…”

“Ya!”

“Oh…Oppa” Aku tak mau menyerah.

Geumanhae,”

Shirreoyo, oppa” sahutku. Aku merajuk, “Oppa, kita naik sepeda, eung?”

Aigoo, arraseo, arraseo” kata Kyuhyun pada akhirnya menyerah dan mengajakku berjalan ke arah tempat penyewaan sepeda itu. “Ah jinjja! Kenapa kau cute sekali saat melakukan aegyo?”

Aku terkekeh.

“Aku tak pernah menyangka yeoja yang dulu sekali sangat kasar bisa melakukan aegyo seperti itu” kata Kyuhyun lagi.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Kamipun sampai di tempat penyewaan seperti itu. Setelah membayar harga sewanya, Kyuhyun langsung mengajakku menaikinya. Dia sengaja menyewa satu sepeda agar aku bisa memboncengnya dan tetap di dekatnya. Meskipun awalnya aku sedikit kesal tapi aku menyerah karena akupun harus memegangi balon yang dia berikan padaku.

Ya! Ya! Sooyoung-ah,” seru Kyuhyun tiba-tiba sambil menghentikan laju sepedanya. Dia menoleh ke belakang, “Balonnya benar-benar menyusahkan,” katanya.

Geuraesseoyo?

“Lepaskan saja,” jawab Kyuhyun cepat.

“Ne? Lepaskan?”

Kyuhyun mengangguk.

Aku menatap balon pemberian Kyuhyun itu sekali lagi. Rasanya sayang kalau balon ini dilepaskan begitu saja. Tapi kemudian mataku menangkap seorang anak kecil yang sedang menunjuk ke arahku lalu memberitahu eomma-nya dengan wajah yang sangat menginginkannya.

“Oppa, jamkkamanyo” kataku sambil turun dari sepeda.

Eodiya?”

Jamkkamanyo,” seruku seraya melangkah ke arah anak kecil itu. “Jogiyo, eonni” panggilku pada eomma anak itu.

Ne?”

Igeoyo,” Aku mengulurkan tanganku yang memegang balon, tapi yeoja itu justru hanya menatapku. Aku tersenyum lebar lalu berjongkok di depan anak itu, “Ireum mwoayo?” tanyaky kemudian.

“Im Joo Won,”

“Im Joo Won, noona akan memberikan semua balon ini padamu. Apa kau mau?” tanyaku sambil mengulurkan balon itu padanya.

Eomma?” Anak itu menoleh pada eomma-nya yang menganggukkan kepala. Dia melangkah lebih dekat padaku lalu mengambil balonnya, “Woah! Kamsahamnida, noona

Aku mengangguk sambil tersenyum. Tanganku pun mengusap pelan kepala anak itu sebelum berdiri kembali. Aku membungkuk ke arah eomma-nya lalu melangkah menghampiri Kyuhyun lagi yang ternyata sedang menatap ke arahku. “Kau memberikan semuanya?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Eo. Gwenchanayo?”

Kyuhyun tersenyum, “Geureom gwenchana,” jawabnya sambil mengacak pelan rambutku. “Kajja,” Dia memintaku untuk kembali naik ke atas sepeda.

Aku menurut dan langsung menaikinya. Kyuhyun pun mulai mengayuh sepedanya lagi setelah memastikan aku berpegangan pada pinggangnya. Kami bersepeda menikmati suasana musim semi di taman ini yang benar-benar terlihat indah. Semua bunganya mekar, seakan-akan sedang berlomba untuk menunjukkan siapa dari mereka yang paling cantik di antara lainnya.

“Kau sangat menyukai Bom (musim semi) ‘kan?”

Eo, sangat menyukainya. Musim semi adalah musim paling indah menurutku. Selain karena pemandangannya yang bagus, juga karena aku bisa menikmatinya bersamamu, oppa. Aku tak tahu bagaimana hidupku jika aku tak pernah bertemu denganmu, entah itu dulu maupun sekarang. Kau adalah hidupku, dan kau adalah duniaku”

“Kau juga hidupku, Choi Sooyoung”

-THE END-

Jangan lupa komentarnya readers..

Sekali lagi terimakasih buat komentar-komentar kalian di FF ini dari awal sampai terakhir ini. Terimakasih juga kritik dan sarannya karena itu membantu aku banget selama nulis FF ini..

 

Pokoknya terimakasih buat semuanya #bow

ps: tungguin After Story-nya yah hihi

 

Don’t forget to leave your comments please ^^

Annyeong..

52 thoughts on “[Series] Have You Seen -end-

  1. jinrap says:

    Yeaayyyyyy… Finally!!!! greget banget sama endingnyaaa dan butuhhh sequell…

    ffnya bagusss, alurnya stabilll hoho aku suka aku sukaaa

    Sequelnya yaaa thor^^ Hwaiting~~~ Author is the Best!!!!:D

  2. Nora says:

    Sooyoung gak inget sama sekali😔 Tapi kyu tetep setia sma syo salut deh👍🏻 nice ff👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻 ditnggu asnyaaa😊

  3. met says:

    Daebak
    Happy ending meski soo lupa semua kenangan mrka 7 thn blkgn
    Trus bakal ad AS nya wihh bakal seru nih
    Ditunggu ne as nya hhee

  4. Sistasookyu says:

    Bakal ada As nya? Syukurlah.. Karna mereka emang harus merid dulu baru bener2 end hwkwk
    well, seneng deh akhirnya syo nggak kaku lagi ke kyu
    mereka jadi lebih natural, meski harus nunggu setahun lbih yaa
    tetep, kyu superb!😀

  5. ry-seirin says:

    Aaaa…daebak aja klo ff bwtan Eonnie!!!
    Maaf y bru comment lgi d part-end ni krna kmrin smpet eror!!!!
    Akhirnya Happy Ending jg Kyuyoungnya.
    D tnggu dech Astornya n klo bsa ff judul bru y thor eee…

  6. sari says:

    Aaaa kyuhyun oppa so sweet, meskipun sooyoung.unnie amnesia tpi kyuhyun oppa selalu di smpinv.sooyoung unnie. Ditunggu ASnya thor

  7. kangjung_ae says:

    Woaaah so sweet kyuppa tp sedikit evil 😄 hihihi…huuft kenapa ga salpe mereka nikah chingu….tp gapapa deh kan ada sequelny kan???????
    Syukur deh soo eon milih hidup lagi…kan biar ga sad ending jadinya… 😆
    Next dtunggu sequelnyaa😄😄😄 semangat yaaaa

  8. Sweettttt bangettt….. walaupun sooyoung hilang ingatan kyuhyun tetep nerima apa adanya. Beneran yah ada aftornya. Okkkk gak sabar nunggu nih.. jangan lama2 fublishnya ya. Buat author semangatttttt….

  9. Ohh ohh ya ampun apa masih ada orang seperti KYU … Sedih senang senyum** ndiri baca ff ini .. sedih karena Soo harus melupakan masa 7 thun nya . Tapi senang karena dia masih menerima Kyu , dan senyum** ndiri karena keromantisan Kyu yg ga ada hbisnya ,, jangan lupakan dg angka 60 , balon 60 ditiup ama Kyu demi Soo karena kerinduannya ama Soo .. OOOO #terhura
    Ahh ,, pengen cepat** baca aftornya .. Sebenarnya agak terkejut karena ada tulisan end diujung judulnya , tapi untungnya masih ada aftornya .. Ooiya aku mau ngucapin author ff kamu sangat sangat keren ,, neomu joahaeyo
    Ditunggu sangat sangat ditunggu aftornya …

  10. Mae says:

    Wow ffx bnar2 daebak, ps bca ne ff smua rsax kmplit dc sdih, snang, ktwa ktwi ky org idot dn moment kyuyoung bnar2 rmntis hehe truz pas ending bkin mwek bngat aplgi wktu soo koma behh bnjir air mata tpi sykur hppy endng hehe slmat ya thor ffx skses abizzz….:D dtnggu asx…mf kmenx dpart trkhir hehe;>

  11. Ahhh daebaaaakkk!!sweet binggowwww..good job thor!! I love the ending😘😘😘 when kyuhyun gave the 60th balloon’s, how sweet they are. Great fanfiction ever😂😂😂, di tunggu karya selanjutnyaa yaa author, love you💜

  12. ya tuhan mereka sweet bnget,,
    ya ampun gue nge fly . . . Haha
    walaupun ldr, tetap sweet. .
    oke ditggu bnget after story ya merka kyuyoung. .
    Smngat thor. . . ^-^

  13. weeni leon92 says:

    huhhhh… sweeeettt bgttt ending nya.
    Salut utk perjuangan Kyu oppa, meskipun dlm keadaan apapun tetep setia mendampingi n menerima Soo eon.
    Rasa ny bahagia bgt, liat pasangan ini tetep saling cinta meskipun dlm kekurangan.
    Ending nya bagguuuuusss bgttt deh thoorrrr.. tetep semangat n sukses utk semua karya mu thor.
    Update after story ny dtunggu cpet..

  14. ahhhh soo beneran hidup lg tp lupa ingatan :” antara sedih sama seneng. krn kasian semua ingatannya jd terlupakan, walaupun tetep sama kyu & jatuh cinta lg. AS lah AS!! ditunggu bgt!!

  15. ellalibra says:

    Kyaaaa ,,,akhirnya happy ending meskipun awalnya kshn sm kyu krn sooyoung amnesia n g inget ma kyu tp dg sabar kyu sll ada disamping sooyoung so sweet kyu,,,bt eon ny fighting ne~ bt ff selanjutnya🙂

  16. sandia says:

    Ya ampun, kyu setia banget sih, manis banget soo suka malu malu gitu jadinya wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk……
    Thor after story dong, bikin soo inget sama kejadian 7 tahun itu thor

  17. Alkhamdulillah…
    Aq kira syoo susah nrima kyu jdii namching.A lgii dan akhir.A slese’, 2 jempol dehhh.. buat author.A, krna Aq suka dg gya tulisan yg beda sma yg laen yaitu panjang tpii tk mmbosankan.
    Smoga AS.A mreka udh married yaaa..😉

  18. Sooyounggggg210 says:

    Ga kerasa udah end aja thor ;(
    Duh ngebayangin soo eon aegyo gimana hihi klepek klepek deh kyuppa nya xD
    Walaupun soo nya lupa sama kyu tapi tetep kyu nya sweet abis thor😦
    Ditunggu ff yang lain nya ya thor
    Aku selalu suka ff author lho😀

  19. waaaahhh selamat! bisa menyelesaikan ffnya dengan sangat baik dan hasilnya kelewat kereeeeen (y) kirain bakal sad ending , dan sangat bersyukur akhirnya happy ending yeay! kyunya romantis banget! bikin melting, padahal dia bersikap romantisnya sama sooyoung, haha baper ~~ ada sequel kah? kayanya bakal lebih sangat romantis kyuhyun kalo udah nikah 😀
    di tunggu karya luar biasa selanjutnya, keep writing ^^ and hwaiting! ~~

  20. awww pengen dong ada di posisi soo.. memiliki namja seperti kyu yg pngertian.. huuwaaa aq suka bngeet sama ff ini thor ^^ akan dengan senang hati author mau bkin after story nya ^^

  21. icha dewi says:

    endingnya mereka sweet banget dan mereka juga tetap bertahan dg hubungan mereka meskipun tidak satu daetah lagi
    awalnya mau protes thor endingnya gtu aja serasa ada yg kurang gtu eh ternyata authornya mau buat after storynya hehe seneng deh jdnya

  22. mongochi*hae says:

    senengny kyuyoung sdh happy end. meski gantungan dg sequelny hhee
    tp dtunggu bgt t

    aaa…kyu mmg daebak dh. meski soo amnesia dia ttp setia. emg dh klo soal perasaan gk bsa dbohongi

    hummppptt smga kdpanny khidupan mereka smua bsa lbh baik. trutama kyuyoung

    next sequel dtunggu bgt

  23. Denakim says:

    annyeong naneun reader baru d sini.
    uwahh daebakk authornim bisa buat part yang panjang bangat.
    jujur saja part” sebelumnya aku belun baca. aku lebih suka baca ending nya dulu truss part awalnya hehe aneh yah.
    aku memang seprti itu.
    suka sama endingnya walaupun syoo nga ngingat kyu tapi mereka selalu bersama.
    aigoo itu benaran kyu yang niup balonnya?
    huwaaa aku selalu berdoa semoga mereka real couple aamiin.
    ada sequel yah kyaaa aku tunggu?
    ah ye izin baca part sebelumnya yah.
    keep fighting

  24. azhar_dhilah says:

    ah… soo eonni beneran amnesia…sedih:, tapi nanti ada after storynya kah?? wah ditunggu banget ya thor… kalo bisa kehidupan mereka pas nikah, dan tiba2 ingatan soo eonni balik lagi.. pasti sweet banget.. #readermaksa tapi apapun yang kau buat pati akan kusuka… ditunggu ASnya ya!!(jangan lama2 ya^^)

  25. Hueeee😥 sedih banget pas pertama kali sooyoung bangun, sampe mau nangis… kasian kyuhyunnya😥
    Aku pikir cuma end disitu aja, 😄 padahal mau minta AS eh udah disuruh nunggu aja😄 pasti ditunggu kok kak😄
    Ahhhh sayang banget udah end😥 *biar ada ASnya juga*
    Ditunggu fanfict lainnya ya kak😀 *ditunggu banget

  26. Youngra park says:

    Pertama2 aku ucapkan selamat ya eoni karna sdh bsa menyelesaikan ff ini dng baik kere bgts ffny aku gk pernah nyesel untuk bca ff eonni n selalu menanti karya2 selanjutny part ini bgus karna berakhir happy ending tapi aku kira endingny kyuyoung bakalan nikah dan part ini bukan part end tapi tenyata ini part ending tapi aku suka karna kyuyoung tetap bersatu entah apapun yg terjadi terhadap mereka mereka tetap bersatu aku ska bgts di tnggu karya eoni selanjutny kalau mungkin ini sih kalau mungkin n eoni bsa ini ff ad asny gtuh pas kyuyoung menikah n punya anak kali hehe tapi ini cuma saran eoni masalah eoni mau terima atw gk sih gpp yg penting aku selalu menunggu ff baru eoni kedepan n semangat terus untuk nulis see you di ff selanjutny ^_^

  27. ajeng shiksin says:

    wah keren ff nya . aku sampe terharu . tp udah ending aja ia . di tunggu after story nya chingu . semangat buat ff nya

  28. aku kaget thor ternyata soo eonni beneran amnesia udah gitu sampe end ga inget inget lagi huhu;; tapi kyu oppa keren bangett disini ga nyangka dia bakal setia sama soo eonni padahal soo eonni ga inget kyu oppa sama sekali, trs kyu oppa romantis bangett semoga di kehidupan rl kyu oppa juga romantis dehh ya sama soo eonni😦

    thorr~ ga nyangka udah end ajaa ga berasa ihh>< sedih bgt pas liat ternyata udah end, berarti kalo ff ini end aku udh ga nunggu ff apa apa lagi nih biasanya aku nungguin bgt ff ini dipost;((

    thor ada sequelnya gaa? ada dong yaaaaaaa ehehehe~ ditunggu bgt thorr
    ohiyaa ditunggu juga ff lainnya ya thorr hehehe
    keep writing thor~!!

    • [ thor aku minta maaf ya kalo selama ini komen aku ngasal/tijel bgt hehe aku suka bingung gitu kalo suruh komentar, aku baca baca ajaa eh pas mau komen udh dehh berantakan bgt komenannya hehe-__-‘ ]

  29. end??benran?yah..sayang bgt
    .tp tak apalah ku tunggu karya lainmu unn..
    ni part bikin gua ingetpart2 sblumnya…jdi kya flashback gitu..berharap da astornya un

  30. yyo says:

    sumpah terharu bngt baca nya .tpi gereget juga sih sooyoungnya gk inget samaskali .
    gk kerasa ff nya udh selesai…
    ditunggu AS nya .
    jgn lama2 yaa

  31. elis sintiya says:

    aigoo sedih bgt pas bayangin ekspresinya kyuhyun pas tau sooyoung hilang ingatan.. tapi langsung seneng karna moment kyuyoung nya sweet bgt.. bener ya thor di bikin after story nya.. soalnya nanggung bgt.. kepengen liat kyuyoung nikah dan kalo perlu AS nya di bikin mereka punya anak atau gak pas sooyoung nya baru hamil atau lagi hamil.. kayaknya eomantis bgt.. ahhh jadi deg-degan kalo ngebayangin kyuyoung nikah dan sooyoung hamil kyuppa pasti seneng bgt.. jadi gak sabar nunggu after story nya..

  32. elis sintiya says:

    aigoo sedih bgt pas bayangin ekspresinya kyuhyun paa tau sooyoung hilang ingatan.. tapi langsung seneng karna moment kyuyoung nya sweet bgt.. bener ya thor di bikin after story nya.. soalnya nanggung bgt.. kepengen liat kyuyoung nikah dan kalo perlu AS nya di bikin mereka punya anak atau gak pas sooyoung nya baru hamil atau lagi hamil.. kayaknya eomantis bgt.. ahhh jadi deg-degan kalo ngebayangin kyuyoung nikah dan sooyoung hamil kyuppa pasti seneng bgt..

  33. husnulk says:

    Aigooo sempet sedih sih waktu sooyoung bnr2 ga inget apapun selama 7 tahun…
    Salut bgt bgt sama kyuhyun, dia ttp menerima dan selalu disisi sooyoung, ughh sweet >.<
    Kasian juga syoo jadi merasa aneh dan bersalah terhadap orng2 yg mengenal dia, tapi syoo ga bisa mengingatnya😦
    Kyuhyun bisa juga yaa bersikap romantis, apalagi niup 60 balon sendirian..
    Seriusan bakalan ada aftornya, ah jinjja ga sabar buat bacanya😉
    Pkoknya ff ini bener2 keren, gtau harus ngomentarin apalagi deh…
    Buat author-nim ditunggu aftor ff ini jga ffmu yg lainnya looh :))

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s