[Sequel] Have You Seen: Return (3/3) part1

Return

Title             : Return

Author         : soocyoung (@helloccy)

Genre          : Romance, Fantasy, Horror

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonghaseyo!

Hayo, siapa yang nungguin part terakhir dari sequel Have You Seen? Hihihi! Knightdeul, ini adalah sequel ketiga atau yang terakhirnya setelah yang dua kemarin cuma pake satu POV. Maaf banget kalo aku sengaja bagi part ini jadi dua bagian karena kalo dijadiin satu jadinya panjang banget -_______-

Mau mengingatkan, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!! ^^

Kyuhyun POV

“Sooyoung-ah, apa kau yakin?” tanyaku sekali lagi setelah aku tiba di Haguicheon, Uiwang. “Kau yakin Seo Hye Jin yang mengatakannya padamu meskipun kau tak melihat sosoknya?”

Oppa, aku memang tak melihat sosoknya tapi aku tahu dialah yang berbicara padaku. Dialah suara yang aku dengar” kata Sooyoung. “Aku cukup bisa merasakan bagaimana persisnya suaranya setelah dia terus mempengaruhiku beberapa hari ini”

Aku menatap Sooyoung lekat-lekat, memastikannya lebih jauh lagi karena aku tak mau membuat kesalahan untuk sesuatu seperti ini. Apalagi aku kembali melibatkan Sooyoung dalam kasus-kasus yang aku tangani, dan itu sangat tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan sebenarnya karena aku khawatir sesuatu akan kembali membahayakan Sooyoung. Tapi kemudian—setelah aku melihat warna emosinya, akupun pada akhirnya menganggukkan kepala.

“Baiklah kalau begitu” kataku sambil menghela napas pelan. “Kau tahu aku sangat percaya padamu, ‘kan? Kau yakin tak akan terjadi sesuatu padamu lagi, ’kan?”

Sooyoung mengangguk dengan warna emosi dan ekspresi seriusnya.

Aku tersenyum tipis, “Aku sudah menghubungi rekanku untuk datang kesini. Kita baru bisa memeriksanya setelah dia tiba,” kataku memberitahu.

“Tidak apa-apakah jika ada orang lain disini? Karena orang yang tahu kemampuanku di kota ini hanya kau dan Yuri, oppa” kata Sooyoung mengungkapkan kekhawatirannya. “Bagaimana jika dia bertanya darimana aku mengetahuinya, oppa? Apa yang harus aku jawab?”

Aku memikirkan perkataan Sooyoung itu. Dia benar. Membiarkan orang lain mengetahui kemampuannya sepertinya membuatnya tidak nyaman. Tidak seperti saat dia di Incheon, dimana dia memberitahu beberapa orang tentang kemampuannya saat dia membantu gwishin yang berhubungan dengan orang itu. Dan sejak kemampuannya kembali, kelihatannya lebih nyaman seperti sekarang ini.

“Kita pergi,” kataku pada akhirnya.

“Ne?”

“Kita pergi untuk memeriksanya terlebih dahulu. Aku yang akan bertanggung jawab untuk menjelaskannya pada orang lain nanti,”

“Oppa,”

Aku meraih tangan Sooyoung, “Gokchongma. Orang-orang akan lebih percaya pada penjelasan seorang detektif daripada masyarakat umum” kataku menenangkannya. “Ayo kita pergi sekarang ,” ajakku kemudian.

Sooyoung mengangguk ragu.

“Wae? Shirreo?” tanyaku karena menangkap keraguan itu, baik dari ekspresinya, bahasa tubuhnya, maupun warna emosinya. “Atau apa kau takut?”

Aniya, aku tidak takut. Hanya saja—Park Hae In!” pekik Sooyoung tiba-tiba.

Oh? Park Hae In?”

Eo. Dia disini sekarang,” kata Sooyoung sambil menatapku sesaat dan kemudian menoleh ke sisi kirinya. “Katanya dia akan melindungiku dari gangguan-gangguan fisik gwishin yang ada disini”

“Kalau begitu, apa itu yang kau khawatirkan sedari tadi?”

“Eo,”

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Teringat dengan apa yang terjadi pada Sooyoung saat dia menerima gangguan fisik dari gwishin. Aku masih ingat bagaimana pucat dan lemahnya dia saat itu, dan kurasa aku tak bisa melihatnya seperti itu lagi untuk kedua kalinya.

“Sooyoung-ah—“

“Gwenchanayo, oppa” kata Sooyoung sebelum aku bahkan mengatakan sesuatu padanya. “Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi sungguh aku tidak apa-apa sekarang. Selain itu, aku juga punya kau dan Park Hae In, jadi tak akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi yang berhubungan dengan gwishin

“Apa kau yakin Park Hae In akan benar-benar melindungimu? Kau bahkan sudah lama tidak menyebut nama itu, lalu kenapa tiba-tiba saja dia disini? Apa kau juga bisa melihatnya sekarang?”

Sooyoung menatapku lekat-lekat, lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya. “Dia berdiri disini, oppa” katanya sambil menunjuk ke sisi kirinya. “Dia sedang menatapmu dengan tidak percaya. Katanya kau terlalu cerewet untuk seorang namja. Ah, mianhaeyo oppa

Mwoya…” komentarku. “Aku tidak cerewet. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Aish jinjja! Seharusnya aku tak melibatkanmu lagi pada hal-hal seperti ini”

“Oppa, shirreoyo?”

“Tentu saja aku tidak suka. Memangnya itu menyenangkan melihatmu begitu pucat dan lemah? Huh?”

“Mianhaeyo,kata Sooyoung sambil menundukkan kepalanya.

“Oh? Mianhae wae?”

“Karena terus membuatmu mengkhawatirkanku dan—“

Ya! Itu bukan sesuatu yang perlu untuk meminta maaf” potongku dengan cepat. “Aku mengkhawatirkanmu karena aku menyayangimu. Aku tak mau melihatmu terluka, entah itu secara fisik maupun batin”

“Arrayo,”

Tanganku berpindah ke bahu Sooyoung, lalu tangan satunya mendongakkan kepalanya kembali dengan lembut. “Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Sooyoung-ah. Jadi beritahu aku jika ada sesuatu yang menganggumu meskipun kau berkata Park Hae In akan melindungimu. Tapi biarkan aku juga melakukan sesuatu untuk melindungimu dengan caraku, arraseo?”

Sooyoung menatapku dalam sebelum akhirnya dia mengangukkan kepala pelan.

“Kita pergi sekarang? Apa Seo Hye Jin memberitahumu lebih detail dimana lokasi tubuhnya berada?” tanyaku mengakhiri percakapan sebelumnya.

Aniyo, dia tidak memberitahuku secara detail. Tapi kurasa aku mendengar sesuatu dari arah sana. Sesuatu seperti rintihan seorang yeoja,” kata Sooyoung sambil menunjuk kearah barat dari lokasi kami berada. “Apa kita harus memeriksanya?”

“Tentu saja. Kajja,” ajakku tanpa ragu.

Aku kembali menurunkan tanganku untuk menggenggam tangan Sooyoung. Lalu kami mulai berjalan bersama menelusuri Haguicheon ini. Sungainya memang tidak sebesar Sungai Han meskipun begitu, kedua sungai ini tetap saling berhubungan. Sementara arus Sungai Han lebih tenang, disini arusnya sedikit lebih lambat, dan saat musim panas terkadang sungainya bahkan surut. Itu bisa dilihat dari tanahnya yang berlumpur yang terekspos dibawah jembatan yang menghubungkan dua wilayah di Uiwang. Ada tumpukkan lumpurnya juga di tikungan arus sungai ini. Sooyoung yang menunjukkan itu padaku saat kami berjalan menyebrangi jembatan kecil itu.

Aigoo, sepertinya tempat ini sudah lama tidak dikunjungi manusia” komentarku. “Pantas saja jika tak ada orang yang berpikir untuk mencarinya sampai kesini. Bahkan jika kau tidak memberitahuku, aku tak berpikir untuk kesini dan melakukan penyelidikan”

“Suasananya juga membuat orang enggan untuk datang, oppa. Kurasa kau juga merasakannya,”

“Apa? Dingin yang menusuk tulang?” Aku bertanya meskipun sudah bisa menebak.

Sooyoung mengangguk, “Eo, juga dingin yang membuat kebas,” tambahnya.

Kami menunduk ke celah diantara pagar jembatan, kemudian menuruni undakan batu yang menempel pada sisi jembatan yang terbuat dari bata. Kolong jembatan yang melengkung menjulang di atas kami, dan bau tajam lumpur langsung tercium tajam. Sooyoung terus menuntunku ke jalanan yang lebih kecil dan berkerikil yang membentang di sepanjang tepi sungai di sisi lainnya, dan melintasinya sedikit. Lampu jalam yang tidak terlalu terang berdiri sejajar seperti pohon mati di tembok rendah yang menghadap sungai. Di belakang kami terdapat rumah-rumah penduduk sekitar tempat ini yang lampu-lampunya menyala.

“Sooyoung-ah,”

“Kita sudah dekat, oppa” sahut Sooyoung mendahuluiku bersuara. “Suaranya terdengar semakin jelas sekarang,”

Aku mengangguk pelan.

Suasana sangat sepi meskipun tak jauh dari sini adalah kawasan perumahan. Dulunya pasti tempat ini pernah ramai tapi entah karena alasan apa, banyak orang yang memilih meninggalkan tempat ini dan tinggal di tempat yang lain. Aku bisa melihat beberapa rumah yang kelihatannya masih bagus tapi tidak ditinggali orang lagi. Ini seperti sebuah tempat yang sudah lama mati, dan aku baru mengetahui ada sesuatu seperti ini di Seoul. Mungkin juga banyak orang yang belum mengetahuinya, sama sepertiku. Tapi jika benar tubuh Seo Hye Jin ada di tempat ini, maka aku yakin tempat ini akan kembali ramai.

Sooyoung menyikutku, menunjuk. Aku mengikuti arah telunjuknya dan mendapati sebuah bangunan yang sepertinya sudah sangat lama tidak digunakan. Bangunannya terlihat seperti sebuah teater, hanya saja kalah besar dibandingkan teater di Jamsil atau teater-teater lainnya di Seoul. Tanpa banyak berkata-kata, Sooyoung mengajakku mendekati bangunan itu.

“Apa ini sebuah teater?” tanyaku pada Sooyoung saat kami sudah sangat dekat.

“Kurasa begitu,” jawab Sooyoung sambil menatap ke dalam bangunan meskipun semuanya kelihatan gelap. “Tapi ini pasti sudah lama sekali tidak digunakan,”

Aku mengangguk, “Sepertinya memang sengaja tidak digunakan lagi setelah pemiliknya membuangnya,” komentarku. “Aku tak pernah tahu ada bangunan seperti ini disini, bahkan kawasan inipun aku tak tahu”

“Orang-orang pasti menangkap ada sesuatu yang tidak nyaman untuk tinggal disini, jadi tak ada yang mau hidup di kawasan ini”

“Kita masuk ke dalam?” tanyaku sambil menatap lurus ke arah bangunan tua itu. “Kurasa ini juga sebuah tempat yang cukup memenuhi syarat untuk menyembunyikan kejahatan besar”

“Kau yakin tidak akan apa-apa ‘kan, Hae In-ah?” kata Sooyoung tiba-tiba. Mengurungkan niatku untuk mengajaknya masuk ke dalam bangunan. Aku mengamatinya dan warna emosi khawatir terlihat di wajahnya sekarang. “Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang berbahaya padaku?”

Aku memilih untuk diam dan mendengarkan Sooyoung sambil terus memperhatikannya.

“Kau benar. Aku tak boleh takut, dan aku tak boleh ragu-ragu” kata Sooyoung lagi seraya mendesah pelan. “Aku tahu apa yang aku lakukan benar dan apapun resikonya, aku akan menanggungnya”

Aku tertegun di tempatku mendengar apa yang Sooyoung katakan itu pada Park Hae In-yang tak bisa aku lihat. Tapi detik selanjutnya, dia melangkah memasuki bangunan itu dengan aku disebelahnya dan tangan kami yang saling bergandengan. Kami melangkah dalam keheningan dan Sooyoung menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seakan-akan genggaman tanganku ini adalah sebuah kekuatan baginya, dan aku senang jika aku bisa memberinya sesuatu seperti itu.

“Sepertinya benar ini dulunya adalah sebuah teater kecil,” Aku kembali berkomentar setelah melihat panggung kecil di tengah ruangannya yang paling besar di bangunan ini. “Ini seperti sebuah teater pribadi, sebenarnya” tambahku.

“Apa pernah mendengar Seo Hye Jin memiliki sebuah teater pribadi sebelumnya?” tanya Sooyoung sambil memperhatikan sekitarnya.

Eo. Tapi tidak banyak disebutkan di artikel-artikel yang aku baca tentangnya, dan aku pikir teater itu berada di pusat kota,” jawabku. “Petugas Lee juga pernah menyebutkan teater pribadi yang dimiliki Seo Hye Jin itu memang tidak pernah digunakan bahkan seperti sengaja ditelantarkan setelah selesai dibangun”

“Dia benar-benar suka membuang uang, kalau begitu” sahut Sooyoung berkomentar sambil melangkah ke arah panggung itu. “Melihat bagaimana dia membuang uang—Oh! Oppa,” pekik Sooyoung tiba-tiba seraya berhenti melangkah.

“Wae? Wae? Wae?”

“Dia disana, Seo Hye Jin” kata Sooyoung sangat pelan, hampir seperti bisikkan.

“Disana? Eodi?” Aku mengarahkan pandangan sekeliling, benar-benar melupakan fakta bahwa aku tak bisa melihatnya. “Oh, aigoo… Apa kau bisa melihatnya?” tanyaku kemudian.

Sooyoung mengangguk dalam diam. Dia terus menatap ke satu arah, ke sebuah dinding kosong yang tertutup tirai yang sudah dimakan ngengat. Dulunya itu pasti tirai yang bagus, dan sekarang terlihat lebih buruk daripada kain rombeng sekalipun. Aku ikut mengamati dinding itu, melihat bagaimana ada sesuatu yang menonjol dari balik tirainya. Setelah aku mengamatinya lagi—dari lubang di tirai, ternyata dinding di balik tirai itu berbeda dari dinding-dinding lainnya.

“Sooyoung-ah, jangan katakan—“

Majayo, dia dibalik tirai itu” potong Sooyoung seperti bisa membaca pikiranku. “Disanalah tubuh Seo Hye Jin disembunyikan. Sebuah tempat yang gelap, sempit, dan dingin” katanya sambil bergidik.

Aku menatap berkeliling sekali lagi lalu melihat ada sebuah linggis yang gagangnya mencuat dan tersembunyi di balik lemari reot. Bergegas aku menutupi tanganku dengan sarung tangan lalu mengambilnya dan kembali menghampiri Sooyoung yang masih berdiri di tempat yang sama. Cepat-cepat aku membuka tirainya yang—sudah kuduga sebelumnya, terdapat dinding lain yang ditempeli berantakan dengan kertas dinding. Aku dan Sooyoung berdiri diam menatap dinding itu untuk beberapa saat.

“Aku akan memeriksanya,” kataku pada akhirnya.

Sooyoung mengangguk, lalu dia mundur sedikit ke belakangku. Akupun mulai melakukan pekerjaanku menelanjangi dinding itu yang penuh dengan kertas dinding yang sudah berusia puluhan tahun ini. Lem-lemnya pun sudah mengering dan berubah menjadi abu-abu dan Sooyoung membantuku melepaskannya. Beberapa bagian dari kertas dindingnya jatuh ke lengan kami seperti lembaran kulit raksasa dan penuh dengan noda bekas lem.

Setelah sepuluh menit bekerja, aku mengangkat senter ponselku untuk memeriksa lebih dekat, menelusuri tangan pada permukaan dinding yang tidak rata. Lalu akupun menggerakkan ponsel pada ketinggian dan sudut berbeda sambil mengamati permainan bayangan pada dinding.

“Ada lubang disini di suatu tempat,” kataku memberitahu Sooyoung. “Lubang besar yang ditutup seseorang dengan sengaja. Lihatlah bagaimana kertas dindingnya berbeda, ‘kan?

Eo. Apa menurutmu kita bisa membongkarnya?”

“Jika ada yang pernah membuatnya, dan menutupnya itu tidak akan sulit untuk membongkarnya” Aku mengangkat linggis yang aku temukan. “Dia bahkan meninggalkan barang bukti berharganya disini” tambahku sambil mengayunkan linggis dan mulai menghancurkan plesternya. Membuat hujan serbuk bertaburan di lantai.

Tiga puluh menit kemudian bagian depan bajuku sudah putih dan ujung sepatuku sudah tertimbun serpihan dinding. Aku berhasil membuat lubang yang cukup besar dan melihat ada papan kayu kasar berwarna gelap di dalamnya, dan dipenuhi paku-paku tua. Tanpa banyak bercakap-cakap dengan Sooyoung, aku langsung merusak salah satu papannya. Tapi tak lama, Sooyoung menepuk lenganku dan membuatku berhenti bekerja untuk beberapa saat.

“Waegeurae?” tanyaku kembali menghancurkan dinding itu lagi.

“Dia datang,” kata Sooyoung.

“Tetap dekat padaku kalau begitu, dan langsung bersembunyi di depanku jika dia semakin dekat padamu” sahutku sambil menancapkan linggis di antara dua papan kayu. “Biarkan Park Hae In mengatasinya sementara kau tetap di dekatku,”

Aku mendorongnya ke samping dengan sekuat tenaga. Membuat kayunya berkeriut dan paku-pakunya bergerak. Hembusan angin dingin menerpaku dan itu sempat membuatku bergidik. Tapi aku berhasil menarik sebilah papan sampai terbuka sedikit. Di baliknya tampak petak kegelapan yang tipis. Akupun menariknya kuat-kuat, mencondongkan tubuh ke belakang dan mengerahkan seluruh tenagaku untuk membukanya.

“Sedikit lagi,” kataku.

“Oppa,”

“Tunggu sedikit lagi, dan—Ah!” Aku mendenguskan napas seiring usaha terakhirku menarik linggis. Membuat suara seperti benda pecah terdengar saat serpihan kayu rontok.

Aku mengungkit linggis untuk terakhir kalinya dan papan kayu pun terlepas. Papan itu retak di bagaian lebarnya, dekat dengan dasar lubang yang aku buat, dan pecahannya mencuat ke luar disertai dua bilah papan lagi yang menempel karena paku dan lembaran kayu penyambung. Detik berikutnya, papan-papan itu semua jatuh ke arah kami bersamaan dan mengungkapkan isi dinding.

Aku terkejut, begitupula Sooyoung. Dia bahkan sampai terlonjak ke belakang begitu melihat apa yang ada di dalam sana.

Seorang yeoja masih memiliki rambut berwarna gelap yang penuh dengan noda jelaga dan debu, tertutup sarang laba-laba jadi mustahil diketahui dari mana rambutnya dimulai dan berakhir. Sisanya yang lain sulit dikenali, seperti sesuatu yang bertulang, gigi-geligi terpampang, kulit yang menyusut, gelap dan berkerut-kerut seperti kayu yang terbakar. Posisi yeoja itu sedang duduk meringkuk—seperti di tempat tidur yang terbuat dari batu bata, dan sisa-sisa pakaiannya masih ada disana meskipun tidak banyak.

__

Sooyoung POV

PEWARIS YM COMPANY DITEMUKAN SETELAH 25 TAHUN!

Keberhasilan Penemuan Jasad Seo Hye Jin oleh Detektif Cho Kyuhyun dan rekan dari Agensi Kepolisian Metropolitan Seoul

 

Salah satu contoh investigasi kasus yang luar biasa dalam beberapa tahun, jasad Seo Hye Jin, yang lenyap seperempat abad yang lalu, ditemukan disebuah banguan bekas teater pribadi miliknya di Uiwang. Orang yang berjasa menemukan jasad pewaris tunggal perusahaan YM Company itu adalah Detektif Cho Kyuhyun dari Agensi Kepolisian Metropoltan Seoul yang memang sedang menyelidiki kasus tersebut bersama rekannya, Petugas Investigasi, Lee Jiyeon.

“Aku sedang menyelusuri Haguicheon dan menemukan sebuah bangunan terlantar disana,” ujar detektif Cho Kyuhyun. “Instingku mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan bangunan itu, begitupula dengan situasi kawasan dimana bangunan itu berada yang terlalu sepi. Jadi aku memeriksanya dan menemukan jasad itu”

Lebih lanjut lagi, tim penyelidik yang dipimpin oleh Petugas Investigasi Lee Jiyeon melakukan teknik-teknik riset canggih untuk memastikan apakah jasad yang ditemukan itu memang benar Seo Hye Jin, pewaris tunggal YM Company; Dia menanggapi, “Ini penemuan yang luar biasa tapi kami tidak akan cepat mengambil keputusan sebelum data lengkapnya terverifikasi”

Kepala Departemen Investigasi, Inspektur Cha Sung Jae, mengaku terkejut dengan penemuan anak buahnya itu. Beliau tidak pernah menyangka jika yeoja yang malang tersebut ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa lagi.

“Ini sudah dua puluh lima tahun, dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Aku secara pribadi turut berduka cita untuk keluarga besar nona Seo Hye Jin”

 

“Artikel yang cukup bagus, ‘kan?” Suara Kyuhyun tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Aku menolehkan kepala dan namja itu tersenyum padaku. “Mianhae, aku sama sekali tak menyebutkan namamu padahal kaulah yang paling berjasa menemukannya” katanya kemudian.

Aku melipat artikel itu lalu meletakkannya di atas meja, “Gwenchanayo. Aku justru berharap namaku tidak tercantum dalam setiap artikel tentang penemuan jasad itu”

Gomawo, Sooyoung-ah karena sudah membantuku dan meringankan pekerjaanku lagi” kata Kyuhyun seraya duduk di depanku.

“Berapa banyak lagi kau akan mengatakan itu padaku, oppa?”

“Ribuan kali jika memungkinkan,” sahut Kyuhyun. “Itu karena aku benar-benar berterima kasih memilikimu disampingku, Sooyoung-ah

Aku tahu pipiku sekarang pasti sudah merah karena perkataan Kyuhyun itu. Tapi dia benar-benar berhasil membuatku malu, bahkan sampai aku tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana.

“Aigoo… wajahmu semerah tomat sekarang, eonni” desis suara yang bisa aku kenali milik Park Hae In. “Kau benar-benar beruntung memiliki namjachingu sepertinya yang bahkan mengetahui kemampuanmu dan berusaha melindungimu”

Aku diam tak menyahut dan hanya memberi tatapan tajam pada Park Hae In. Dialah satu-satunya gwishin yang bisa aku lihat dengan jelas sosoknya setelah aku pulang dari kuil Myoguksa beberapa hari yang lalu. Sementara gwishin-gwishin yang lain tetap samar dan hanya bisa mendengar suaranya saja.

“Sooyoung-ah, apa gwishin itu menemuimu lagi?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Membuatku langsung menoleh dengan cepat ke arahnya. “Apa gwishin Seo Hye Jin itu datang lagi? Kenapa kau menatap ke satu arah seperti itu?” Dia mengulangi perkataannya.

Aniyo, itu bukan Seo Hye Jin tapi Park Hae In” jawabku langsung.

Ah, begitu”

Waeyo?” tanyaku kemudian karena menyadari nada kekecewaan pada respon Kyuhyun itu. “Apa kau berharap gwishin Seo Hye Jin itu muncul sekarang setelah kita menemukan tubuhnya?” Aku berusaha menebak.

“Aniya, bukan begitu”

Aku mendesah kecil, “Oppa, katakan padaku. Kau ingin aku berkomunikasi dengan gwishin itu dan bertanya padanya siapa yang telah melakukan perbuatan kejam seperti itu padanya, ‘kan?”

Kyuhyun menatapku lekat-lekat, lalu diapun menjawab. “Naluri detektif-ku memang menginginkannya tapi sebagai namjachingu-mu, aku justru tak mau kau melakukannya”

Waeyo?”

“Tentu saja karena aku tak mau melibatkanmu lebih jauh lagi. Kau sudah sangat membantuku sejauh ini, dan aku tak mau kau melibatkan diri lagi mulai sekarang” jawab Kyuhyun sambil meraih tanganku. “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membahayakan dirimu lagi, dan aku benar-benar ingin menepatinya”

“Tapi bagaimana jika aku sendiripun ingin mengetahuinya?” sahutku dengan cepat. “Aku ingin sekali bertanya padanya saat dia muncul di depanku karena entah kenapa aku merasa aku harus memberi keadilan padanya”

“Keadilan?” ulang Kyuhyun terlihat bingung. “Keadilan seperti apa?”

Aku menundukkan kepala sesaat, membayangkan bagaimana jasad itu tersimpan di balik dinding selama puluhan tahun lalu mendengarkan sedu-sedan yeoja itu. Meskipun aku berusaha untuk mengabaikannya, tapi tetap saja aku memikirkannya. Aku sendiri tak tahu apa ini karena pengaruh gwishin yeoja itu padaku atau memang karena aku sendiri yang berinsiatif ingin membantunya. Saat aku memberitahu Park Hae In mengenai hal ini, diapun hanya diam dan berkata itu semua adalah keputusanku karena tugasnya adalah hanya melindungiku.

“Waegurae?” Kyuhyun kembali bersuara karena aku hanya diam sedari tadi. “Apa yang sedang kau pikirkan? Hmm?

“Amugeotdo aniyo oppa” jawabku sambil menyingkirkan pikiran-pikiranku mengenai gwishin Seo Hye Jin itu. “Aku hanya sedang memikirkan Seo Hye Jin,”

“Seo Hye Jin?”

Aku mengangguk, “Aku ingin tahu kenapa dia tak pernah muncul lagi di depanku atau memperdengarkan sedu-sedannya seperti biasanya dia lakukan setelah tubuhnya ditemukan”

Oh? Kau ingin dia muncul di depanmu lagi?” tanya Kyuhyun dengan nada heran. “Apa kau tidak khawatir dia akan kembali menguasai emosimu?”

“Kenapa eonni ingin dia kembali?” Park Hae In ikut menyambung.

Aku menghela napas singkat, “Itu karena ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya” kataku menjawab kedua pertanyaan itu.

“Andwae,”

“Majayo, andwaeyo eonni”

Waeyo? Aku hanya ingin tahu,” sahutku dengan cepat. “Apa mungkin dia tak pernah muncul lagi di depanku itu karena ada kau—“ Aku langsung menatap Park Hae In yang balik menatapku dengan terkejut. “—bukankah kau selalu menghalau gwishin-gwishin yang berusaha mendekatiku jadi mungkin saja—“

Naega aniya,” Park Hae In menyela dan menghentikan kata-kataku. “Aku memang menghalau gwishin-gwishin yang berniat buruk padamu tapi tidak bagi mereka yang ingin berbagi kisah denganmu, eonni”

“Mungkin saja apa?” Suara Kyuhyun yang terdengar sekarang.

Aku kembali menghela napas, “Itu bukan Park Hae In rupanya,” kataku memberitahu Kyuhyun. “Kelihatannya gwishin itu menghilang karena kemauannya sendiri”

“Tapi bukankah katamu dia menginginkanmu?” sahut Kyuhyun dengan ekspresi khawatir di wajahnya.

Eo,”

“Kalau begitu dia bisa datang kapan saja, ‘kan?”

“Selama kau tetap tenang dan tidak mengikuti emosimu, aku akan selalu ada disampingmu” sahut Park Hae In ikut menyambung pembicaraan. “Karena dari itulah dia menyerap energimu dan memunculkan sosoknya, dan aku tak memiliki kemampuan apa-apa jika kau dikuasai emosimu” Park Hae In menambahkan.

Aku menundukkan kepala lagi, membayangkan bagaimana emosiku cepat sekali berubah setiap kali gwishin Seo Hye Jin ada disekitarku. Aku bahkan sampai harus salah paham pada sahabatku dan namjachingu-ku sendiri gara-gara gwishin itu. Tapi bukankah sekarang aku sudah tidak apa-apa? Buktinya aku bisa tetap tenang saat di Uiwang, meskipun ada gwishin itu dan bahkan aku bisa mendengar suaranya dengan lebih jelas. Lalu apa yang aku khawatirkan lagi sekarang?

“Hei,” Kyuhyun kembali bersuara. Jari-jarinya dengan cepat berada di bawah daguku, mengangkat kepalaku. “Apa yang terjadi? Sedang memikirkan apa lagi sekarang?” tanyanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

Aku diam saja.

Kyuhyun mendadak bangkit dari tempat duduknya, lalu dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut kedua tangan itu, dan membiarkannya menarikku berdiri. “Ayo kita jalan-jalan saja agar tidak memikirkan tentang Seo Hye Jin lagi. Bagaimana menurutmu?”

“Aku tak yakin apa itu akan berhasil atau tidak,”

“Tentu saja berhasil. Kau ‘kan pergi bersamaku,”

Satu alisku terangkat, “Lalu?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Lalu aku akan membuatmu melupakan semua hal tentang Seo Hye Jin—yah, mungkin untuk sementara ini” katanya. “Kau tahu, wajahmu berubah menjadi sangat serius setiap kali pembicaraan mengenai yeoja itu muncul”

“Jinjjayo?”

“Jinjja,” jawab Kyuhyun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Karena itulah, kita pergi saja sekarang dan menghabiskan waktu berdua seperti yang biasanya kita lakukan”

Geurae geureom”

Kyuhyun tersenyum tipis lalu dia menuntunku keluar dari toko bunga dan mulai melangkah menyusuri jalanan di sekitar kawasan Sinchon ini. Kami melewati deret-deret toko, restoran, kafe, kedai kopi tapi sama sekali tidak berniat untuk memasukinya dan hanya berjalan-jalan saja sambil menikmati suasana pergantian siang menjadi malam. Kyuhyun menggenggam tanganku erat-erat saat kami menyebrangi jalan ke sisi lain Sinchon.

“Sooyoung-ah, apa ada hal yang sangat ingin kau lakukan?” tanya Kyuhyun saat kami melewati taman yang selalu dipenuhi kerumunan karena adanya pertunjukkan-pertunjukkan tertentu setiap harinya. “Lebih tepatnya, apa ada sesuatu hal yang sangat ingin kau lakukan tapi kau belum bisa melakukannya?” Dia berkata lagi.

Emm…” Aku berpikir sesaat, lalu kembali bersuara. “Kurasa tak ada,”

“Tak ada?”

Aku mengangguk.

“Baiklah kalau begitu,” kata Kyuhyun tak berhasil menyembunyikan rasa kecewanya di depanku dan itu membuatku tersenyum. “Oh, kita sudah sampai di toko lagi. Aigoo… kenapa cepat sekali?”

Aku tertawa pelan, lalu melangkah bersama Kyuhyun kembali masuk ke toko bunga yang memang sudah tutup beberapa jam yang lalu. Setelah di dalam toko, Kyuhyun baru melepaskan tanganku. Tapi kemudian dengan gerakan cepat, tiba-tiba saja dia melingkarkan tanganku disekitar lehernya lalu mengangkatku. Mengabaikan keterkejutanku, diapun mendudukkanku di meja kosong yang biasanya berisi bunga-bunga yang akan dijual hari ini.

Setelah itu, Kyuhyun meletakkan kedua tangannya di pinggangku. “Nah,” katanya. “Sekarang kita akan melakukan apa?”

Aku melihat sekelilingku, memastikan tak ada Park Hae In lagi lalu kembali menatap Kyuhyun. “Apa?” godaku.

“Bagaimana kalau berciuman?”

“Itu bukan ide yang bagus mengingat kita berada—“

Kyuhyun sama sekali tak membiarkanku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan karena dia dengan cepat menarikku lebih dekat padanya. Dia menyentuh wajahku dengan lembut, membuat jantungku berdebar kencang karenanya. Lalu sebelum aku bahkan sempat mengedipkan mata, dia sudah menyelipkan satu tangannya ke belakang leherku. Aku bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang menunduk, mendekati tubuhku, dan diapun menciumku.

Aku telah mencium Kyuhyun berkali-kali—ciuman yang halus dan lembut, ciuman yang keras dan penuh gairah, dan ciuman yang seperti berlangsung selama berjam-jam—dan inipun tidak berbeda. Aku meraih tubuhnya untuk menariknya lebih dekat padaku. Posisiku sudah berbaring di atas meja, tapi ciuman kami belum berakhir dan sekarang Kyuhyun berada di atasku, menekan tubuhku ke meja. Aku bisa merasakan gelombang-gelombang panas tubuh bergulung darinya, dan juga setiap bagian dari tubuhnya pada tubuhku sendiri.

Aku tak tahu berapa lama kami berciuman—rasanya seperti berjam-jam atau bermenit-menit, tapi pada akhirnya Kyuhyun menarik diri dariku. Untuk sesaat kami hanya saling pandang sambil tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya dia menyibukkan diri dengan bunga-bunga di dalam toko ini. Aku menatapnya lekat-lekat seraya mengingat ciuman tadi. Bagiku, kurasa itu adalah ciuman terbaik kami selama kami berkencan.

__

Kyuhyun POV

Aku mengamati liontin milik Seo Hye Jin dengan lebih detail lagi. Permukaan emasnya berkilauan terkena cahaya matahari yang datang dari jendela di dekat meja kerjaku. Sekarang aku memang sedang berusaha memecahkan kode yang aku temukan di belakang liontin ini, kode ‘C.B.FM52-4.HJY’ itu. Bentuk liontinnya oval, emas dengan serpihan-serpihan berlian, dan emas merah muda sebagai tatakannya. Aku kembali menatap tulisan rapi dibalik liontinnya, lalu menuliskannya di buku note-ku—beserta gambar liontinnya.

Aku teringat saat aku mendapat teka-teki kode yang hampir mirip seperti ini saat masih bertugas di Incheon. Dulu Sooyoung membantuku memecahkannya, tapi kali ini aku tak ingin melibatkannya lagi. Karena menurutku dia sudah cukup membantu dalam kasus Seo Hye Jin ini. Ditambah lagi, detektif Cha sudah menangkap Lee Jung Woo yang merupakan pelaku utama dalam kasus ini meskipun bukti-bukti yang memberatkannya belum ditemukan. Satu-satunya bukti adalah liontin ini, jadi aku harus memecahkannya agar Lee Jung Woo benar-benar mendapat hukuman atas perbuatannya itu.

“Detektif Cho,” Suara panggilan itu mengalihkan perhatianku dari liontin. Aku mendongakkan kepala, dan melihat petugas Lee Jiyeon sedang berdiri di depan mejaku. Dia menatap liontin di tanganku, “Bisa ikut aku sebentar?” tanyanya kemudian.

Geuraeyo,” sahutku tanpa banyak berpikir. Aku beranjak dari kursiku, lalu mengikuti petugas Lee keluar dari divisi detektif ini sambil membawa liontinnya. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu juga, petugas Lee”

Sudah lebih dari seminggu ini, aku memang jarang bertemu dengan petugas Lee karena dia sibuk memimpin pengidentifikasian mayat yang aku temukan bersama Sooyoung. Baru kemarin petugas Lee mengumumkan bahwa mayat itu benar Seo Hye Jin yang menghilang 25 tahun dan beritanya pun sudah tersebar dimana-mana. Jujur saja, aku cukup terkesan dengan usaha petugas Lee dalam mengidentifikasi mayat itu dalam waktu kurang dari dua minggu. Dan setelah identitas mengenai mayat itu dipublikasikan, dia memang disibukkan dengan beberapa wawancara juga penyelidikan-penyelidikan lainnya yang sedang dia kerjakan.

“Sudah menemui Tuan Seo?” tanya petugas Lee saat kami tiba di aula lantai tujuh dan duduk di salah satu sofa disana. Aula ini biasanya digunakan untuk beristirahat oleh petugas-petugas polisi di lantai ini, dan di setiap lainnya terdapat aula yang sama.

“Belum. Dia pasti sedang disibukkan dengan para wartawan sekarang, bukan?”

“Penemuan yang mengejutkan,” komentar petugas Lee. “Setelah dua puluh lima tahun, itulah yang dia ketahui tentang putrinya. Siapa yang menyangka jika putrinya sudah meninggal dan terkubur di teater yang sudah dia telantarkan? Aku cukup terkejut kau berhasil menemukan tempat itu, detektif Cho”

“Kebetulan saja aku sedang menelusuri tempat itu,” kataku.

“Dengan yeojachingu-mu?” sahut petugas Lee dengan cepat. “Dia yeojachingu-mu, ‘kan? Melihat bagaimana kau sangat melindunginya saat aku sampai di teater tua itu”

Aku mengangguk singkat, “Namanya Choi Sooyoung. Dialah yang memberitahuku dimana tubuh Seo Hye Jin berada”

Mworago? Eottoke—“

“Jangan berpikir yang buruk tentangnya, petugas Lee” kataku cepat-cepat. “Ada sesuatu hal tentang yeojachingu-ku yang tidak bisa aku beritahukan pada orang lain, dan mengenai bagaimana dia mengetahui dimana tubuh Seo Hye Jin berada… emm, bagaimana aku harus mengatakannya ya?”

Gwenchana, ceritakan saja padaku” kata petugas Lee dengan senyum mengembang di wajahnya dan warna emosi kepercayaan yang jelas terlihat olehku. “Tenang saja, aku tidak pernah berpikir buruk tentang yeojachingu-mu karena aku percaya orang yang baik akan selalu bersama orang yang baik juga”

“Begitu?”

“Berbicara tentang yeojachingu-mu… Sebenarnya aku sudah tertarik padanya saat aku melihatmu mengejarnya di kafe waktu itu” Petugas Lee terus membicarakan tentang Sooyoung meskipun sebenarnya aku sangat ingin mengganti topik pembicaraannya. “Ada sesuatu yang istimewa tentang dia. Benar, ‘kan?”

Aku mencelos, “Oh?”

“Yah, beberapa orang memang memiliki sesuatu yang istimewa pada dirinya jadi tidak mengherankan. Kau juga istimewa, detektif Cho. Apa kau tahu itu?”

Naegayo? Bagaimana bisa?”

Petugas Lee tersenyum, “Beberapa tahun aku bekerja sebagai petugas penyelidik ini memberiku pengalaman tentang bahasa tubuh seseorang. Aku mempelajarinya, jadi aku tahu dari bahasa tubuhmu juga yeojachingu-mu” katanya memberitahuku. “Itu sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata karena semuanya memerlukan pemahaman, dan aku juga masih belajar tentang itu”

Aku mengangguk-angguk mengerti.

“Jadi benar bukan? Ada sesuatu yang istimewa dari yeojachingu-mu sampai bahkan dia mengetahui keberadaan tubuh Seo Hye Jin dimana orang-orang tidak mengetahuinya” pancing petugas Lee masih dengan senyum yang sama. Aku langsung menjawabnya dengan anggukan kepala singkat. “Baiklah, aku tak akan bertanya lebih jauh mengenai itu karena kau berkata ada sesuatu hal tentang yeojachingu-mu yang tidak bisa kau beritahukan pada orang lain. Tapi itu cukup menjelaskan kenapa dia ada bersamamu di teater tua itu”

Eo,”

“Dan jangan khawatir. Aku tak akan membicarakan tentang yeojachingu-mu kepada orang lain,” Petugas Lee melanjutkan. “Anggap saja ini adalah rahasia kita berdua”

“Rahasia?” ulangku. “Baiklah kalau begitu,” kataku setelah melihat warna emosinya.

“Sekarang kita kembali ke masalah Seo Hye Jin. Kudengar Inspektur Cha sudah menahan Lee Jung Woo-ssi sesuai dengan perintah Tuan Seo. Tapi apa benar pelakunya adalah dia?” Petugas Lee mengubah topik pembicaraan. “Sayang sekali kita tak bisa mengikuti proses interogasinya karena pihak Kejaksaan yang mengambil alih itu”

Geurissae, sedikit meragukan bukan jika Lee Jung Woo adalah pelaku utama dari kasus ini?” Aku balik bertanya sambil mengingat-ingat warna emosi namja itu saat aku tidak sengaja melihatnya disini sebelum dia dibawa ke Kejaksaan. Warna emosinya lebih dominan biru, dan aku juga bisa melihat warna kejujuran disana meskipun tidak begitu jelas. Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, “Untuk sekarang aku ingin memecahkan kode yang ada di liontin ini terlebih dahulu karena siapa tahu kode ini akan menunjuk pada pelakunya. Yah, bisa juga itu Lee Jung Woo atau orang lain,”

“Kau tahu, detektif Cho. Aku selalu suka cara berpikirmu yang sangat memperhatikan detail. Kau selalu berpikir sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain, dan aku yakin kau akan menjadi seorang detektif yang hebat suatu saat nanti” kata petugas Lee sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. “Kebetulan sekali aku juga membaca beberapa kasus yang kau selesaikan sebelum pindah ke Seoul, dan itu luar biasa melihat detail caramu menyelesaikannya”

“Jangan memujiku seperti itu, petugas Lee” kataku sambil tersenyum tipis. “Banyak orang yang membantuku menyelesaikan kasus-kasus itu, begitupula sekarang. Jadi aku juga banyak berterima kasih pada mereka”

Petugas Lee mengangguk-anggukkan kepalanya, “Boleh aku pinjam liontinnya?”

Geureomyo,” sahutku seraya memberikan liontin itu pada petugas Lee. Meskipun kami tidak mengeluarkan liontinnya dari pembungkus plastik, tapi tetap saja setiap detail liontin ini terlihat jelas termasuk kode yang ada di belakangnya. “Kode itu ada dibaliknya,” Aku memberitahu.

Petugas Lee membalik liontin itu, lalu dia terlihat mengamatinya selama beberapa saat. “C.B.FM52-4.HJY,” katanya membaca kode itu. “Kita tahu dengan jelas bahwa HJ itu adalah Hye Jin, bukan?”

Aku mengangguk, “Hanya sampai itu kita bisa membaca arti dari kode itu”

“C.B.FM52-4. Itu kode yang cukup unik untuk ditulis di sebuah liontin,” komentar petugas Lee. “Haruskah kita meminta bantuan ahli kreptografi untuk memecahkan kode ini?”

“Kurasa kita tidak perlu melakukannya,” sahutku menjawab ide dari petugas Lee itu. “Ini pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang disukai oleh Seo Hye Jin maupun orang yang memberikannya. Biasanya orang selalu menghubungkan sesuatu ‘milik’ mereka untuk hal-hal yang cukup berharga, seperti misalnya tanggal ulang tahun, tanggal pernikahan, dan sebagainya”

“Tanggal ulang tahun?”

“Kode ini tidak menunjukkannya tentu saja, melihat dari angka-angka yang tertulis disana. 5, 2, 4… jika kita mengkonversikan pada suatu tanggal, itu berarti 5 Februari 2004. Kita tahu bahwa pada tahun itu Seo Hye Jin sudah menghilang kira-kira empat belas tahun, jadi menurutku itu bukan menunjukkan suatu tanggal tertentu” Aku mencoba mengemukakan hasil pemikiranku yang pertama mengenai kode yang tertulis pada liontin. “Itu artinya, angka-angka itu menunjukkan sesuatu yang lain. Bisa apa saja yang ada di dunia ini”

“Kalau begitu akan sangat sulit bagi kita untuk mengetahui arti dari kode ini,” gumam petugas Lee. “Ada jutaan penggunaan angka di dunia ini, dan kita tak akan bisa menemukan sesuatu yang berkaitan dengan tiga angka ini—“

“Tidak, jika kita mencoba menebak dari sesuatu yang berhubungan dengan Seo Hye Jin” Aku menyela perkataan petugas Lee. “Sesuatu seperti hobby, apa-apa saja yang dia sukai dan sebagainya”

Hobby Seo Hye Jin?”

Aku mengangguk.

Josanghamnida, sunbaenim” Seseorang menyela pembicaraanku dengan petugas Lee. Seorang petugas polisi dari divisi investagasi, dan dia tersenyum sekilas padaku sebelum mengalihkannya pada petugas Lee. “Inspektur Cha mencari Anda,”

“Naega? Wae?”

“Ini tentang investigasi Anda di Pasar Namdaemun,”

Ah, geurae” sahut petugas Lee sambil berdiri dari duduknya. “Detektif Cho, mianhaeyo. Kurasa kita harus menunda pembicaraan kita ini dulu,” Dia berkata lagi dengan warna emosi menyesalnya.

Gwenchanayo, petugas Lee” kataku sambil tersenyum. Aku melirik jam di tanganku, “Kebetulan juga aku harus melakukan patroli, jadi kita akan melanjutkannya lain kali”

Eo,” jawab petugas Lee. “Geureom… Kajja,” Dia berbicara pada petugas polisi itu lalu mereka pergi bersama meninggalkan aula lantai tujuh ini.

Aku menarik napas panjang sambil mengamati kembali liontin yang petugas Lee tinggalkan di atas meja. Haruskah aku mencoba memecahkan kode ini bersama Sooyoung seperti yang pernah kita lakukan dulu? Tapi rasanya aku sedikit tidak nyaman jika harus melibatkannya lagi dan lagi karena kekhawatiranku padanya. Apa yang harus aku lakukan untuk memecahkan kode di liontin ini? Waktuku juga sudah tidak banyak mengingat tanggal kadaluarsa kasus ini semakin dekat, dan aku tak mungkin menghukum seseorang yang tidak bersalah jika memang dia terbukti tidak bersalah sementara pelaku sebenarnya bebas menjalani hidupnya setelah apa yang dia lakukan.

“Setidaknya aku harus bertemu Sooyoung dulu hari ini,” kataku pada diri sendiri sambil beranjak dari tempatku dan berjalan kembali ke ruanganku untuk menyimpan liontin itu lagi di tempatnya semula.

Dalam hitungan menit, aku sudah berada di mobil dan sedang menuju ke apartemen Sooyoung. Dia memberitahuku bahwa dia menutup tokonya hari ini karena harus mengurus beberapa bibit bunga yang baru saja datang. Jadi ke apartemen Sooyounglah aku pergi, bukan ke toko bunganya seperti yang biasanya aku tuju setiap kali mencuri waktu saat bekerja setiap harinya. Ah, mengenai mencuri waktu itu… biasanya aku melakukannya saat mendekati jam makan siang, dan memanfaatkan jam makan siangku itu untuk menemui Sooyoung jadi aku tidak mengabaikan tugas-tugasku.

Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya aku tiba di apartemen Sooyoung. Aku menyapa seorang laki-laki tua berumur 50 tahunan yang menjaga apartemen ini sebelum berjalan di lobi utamanya yang luas dengan penataan yang rapi dan elegan. Beberapa kali aku datang ke apartemen ini, dia selalu ramah padaku meskipun kami tak pernah mengobrol secara langsung. Tapi aku tahu, dari warna emosinya menunjukkan dia adalah seorang laki-laki tua yang penyendiri dan tidak banyak bicara dan tegas.

Suara dentingan halus lift terdengar diiringi pintunya yang terbuka. Bergegas aku masuk dan menekan angka tiganya. Tak lama, pintu lift-nya kembali terbuka dan akupun langsung berjalan keluar menuju kamar apartemen Sooyoung sambil memberitahu yeoja itu bahwa aku datang. Karena aku tahu password-nya, aku tak perlu memintanya untuk membukakan pintu untukku dan langsung menekan tombol-tombolnya saja sebelum akhirnya masuk ke apartemen yeojachingu-ku ini.

“Oppa,” Sooyoung menyambutku. Dia memakai kaos rumahan dan hotpans, tangannya sedang memegang ice cream. “Kau mau?” katanya menawarkan ice cream-nya padaku.

“Tidak, untukmu saja” jawabku sambil duduk di sofa. “Oh, Yuri eodiseo?”

“Ke rumah orang tuanya,” balas Sooyoung ikut duduk. “Untung saja kau datang, jadi aku ada teman selain Park Hae In”

Aigoo… kau terlihat seperti orang depresi karena hanya ditemani gwishin hari ini” komentarku yang langsung mendapat pukulan pelan di bahuku. Aku mengacak pelan rambut Sooyoung, “Seharusnya kau meneleponku, jadi aku bisa datang lebih awal”

“Bagaimana mungkin aku menganggu pekerjaanmu?”

“Kau selalu menganggu pekerjaanku, jadi apa yang perlu kau khawatirkan?”

“Mwoya…” sahut Sooyoung sambil mengerucutkan bibirnya. Membuatku tertawa kecil karenanya. “Ya! Diamlah, Park Hae In” katanya kemudian.

Aku diam saja.

Oh, oppa..eotteyo? Apa ada perkembangan tentang kasus Seo Hye Jin itu?” tanya Sooyoung dengan warna emosi ingin tahunya. “Mengingat gwishin-nya tidak muncul lagi di depanku jadi aku tak bisa bertanya apapun padanya dan hanya mengetahui perkembangannya darimu serta berita-berita yang ada. Benarkah pelakunya sudah tertangkap?”

“Mereka menangkap Lee Jung Woo,” Aku memberitahu. “Tapi aku tak yakin apa benar dia adalah pelakunya atau bukan”

Waeyo? Apa sudah ada bukti yang menunjukkan dia pelakunya atau bukan pelakunya?”

“Sejauh ini satu-satunya bukti yang kita punya hanyalah liontin, dan jika dalam jangka waktu 3×24 jam tak ada bukti yang menyatakan Lee Jung Woo bersalah maka dia harus dilepaskan” jelasku sambil mendesah pelan. “Aku harus memecahkan kode yang ada di liontin karena siapa tahu itu mengarah pada pelakunya yang sebenarnya”

“Kode? Aku tak pernah tahu ada kode—“

Aku mengeluarkan foto liontin dan kertas tulisanku dari kantong jaketku lalu memberikannya pada Sooyoung. “Kodenya tidak terlihat disini, tapi ada di belakang liontinnya”

“C.B.FM52-4.HJY?” kata Sooyoung membaca tulisanku.

“Aku baru bisa menebak dua huruf, H dan J. Itu mungkin saja berarti Hye Jin karena ada tanda Y (love) persis disampingnya. Selain itu aku masih berusaha menebaknya,”

“Jadi liontin ini diberikan Lee Jung Woo untuk Seo Hye Jin?”

Aku mendesah pelan, “Bisa iya, bisa tidak. Ada banyak kemungkinan disini dan semuanya masih absurd”

Sooyoung terlihat berpikir sambil sesekali melirik jauh ke arah belakangku yang mungkin saja berdiri Park Hae In disana—entahlah aku tak tahu. Lalu dia meletakkan ice cream-nya begitu saja di atas meja dan warna emosinya berubah menjadi sangat serius sekarang. Meskipun aku selalu tak ingin melibatkan Sooyoung, tapi pada akhirnya aku melibatkannya baik secara langsung maupun tidak langsung seperti ini. Rasanya sulit sekali bagiku jika membiarkan Sooyoung tak tahu apapun yang sedang aku pikirkan. Seperti seakan-seakan aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya padahal aku dan dia sama-sama berjanji untuk tidak melakukan hal seperti itu, jadi yah begitu. Aku melibatkannya lagi seperti ini.

__

Sooyoung POV

“Kode yang aneh dan unik ‘kan, Hae In-ah?” kataku saat menunjukkan kode yang ditunjukkan Kyuhyun padaku ke Park Hae In yang kata namjachingu-ku itu ditemukan dibalik liontin milik Seo Hye Jin. “Ini semakin aneh karena ditemukan di aparteman yeoja itu, sementara tubuhnya ada di tempat lain”

Park Hae In diam saja, dan hanya menatap ke arah luar jendela.

Ya! Apa kau tidak mendengarkanku?” seruku melihat tingkahnya itu.

“Aku dengar, hanya saja itu bukan menjadi urusanku untuk tahu”

Kedua alisku saling bertaut, “Bukan menjadi urusanmu?”

“Eo. Aku tidak ikut campur pada sesuatu seperti itu, eonni. Meskipun seandainya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi aku tak bisa memberitahu siapapun termasuk kau” kata Park Hae In dengan tegas. “Ada hal-hal yang perlu dan tidak perlu dicampuri, apalagi yang berhubungan dengan gwishin lain atau cheonsa lainnya”

“Jadi kau sebenarnya tahu?” tanyaku menangkap perkataan Park Hae In tadi. Dia langsung menjawabnya dengan anggukkan kepala, “Tapi kau tak akan memberitahuku bahkan jika aku memohon padamu?”

Hae In mengangguk tanpa ragu.

“Kau benar-benar menyebalkan kalau begitu,” komentarku setelah menerima jawaban Park Hae In itu. “Geurae, semua gwishin itu memang menyebalkan dan selalu seenaknya sendiri” dengusku kesal.

“Eonni,”

Mwo? Kau akan membantah itu?” sahutku tak mengubah nada bicaraku. “Silahkan saja, aku ingin tahu bagaimana gwishin akan membela dirinya sendiri kali ini”

Park Hae In tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia melayang meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa, dan itu cukup membuatku tercengang karena kupikir dia akan berusaha untuk membantahku seperti yang terkadang dia lakukan. Apa itu berarti dia benar-benar tak mau ikut campur mengenai gwishin lain? Tapi dia bisa saja memberitahuku atau setidaknya membantuku sedikit jika memang mengetahui sesuatu. Dia bahkan seperti itu saat aku sedang berusaha memecahkan kode bersama Kyuhyun dulu.

“Aku juga tak akan memberitahumu jika jadi dia,” Desisan suara tiba-tiba saja terdengar entah dari mana. Aku menolehkan kepala, mencari siapapun yang berbicara itu. “Mencampuri urusan yang bukan urusan kita itu selalu berakhir dengan tidak baik, bahkan untuk gwishin sekalipun”

“Nuguji?” seruku waspada karena aku tak melihat apapun.

Hening.

Tapi kemudian suara sedu sedan yang sudah lama sekali tidak aku dengar muncul dan membuatku terperanjat. Jantungku mulai berdebar-debar, dan aku tahu bahwa aku harus menjaga emosiku agar tidak terpengaruh lagi.

“Kau bisa mengenaliku sekarang?” Suara sedu sedan itu kini berganti dengan desisan pelan lagi.

“Seo… Seo Hye Jin-ssi?”

“Majayo, naya” jawabnya. “Mengherankan sekali karena kau bahkan baru bisa mengenaliku lebih lama dibandingkan saat aku memberitahumu dimana tubuhku berada”

Aku menelan ludahku lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemenku untuk mencari sosok Seo Hye Jin yang sedang berbicara padaku. “Neo eodiya?”

“Aigoo banmal…”

“Kau dimana, Seo Hye Jin-ssi?” ulangku lebih sopan.

“Itu lebih baik,” Gwishin itu menjawab. “Oh, aku sangat dekat denganmu sekarang. Bahkan saat aku mengulurkan tanganku, aku akan langsung bisa menyentuhmu”

“Mworaguyo?”

Tanpa ada tanggapan lagi, seketika rasa dingin terasa olehku saat aku merasakan sentuhan di lenganku. Lalu mendadak suasana apartemenku berubah, dan aku hanya bisa melihat pemandangan di depanku sekarang. Tak ada lagi apartemenku, tapi teater milik Seo Hye Jin di Uiwang. Hanya saja tempat ini terlihat lebih bersih dari yang terakhir aku datangi bersama Kyuhyun. Kemudian suara-suara terdengar, awalnya samar tapi lama-kelamaan menjadi jelas. Suara namja dan yeoja yang sedang tertawa, lalu suara teriakan mereka yang saling bersahutan. Aku bisa merasakan kemarahan di sekitarku, dan itu membuatku sadar bahwa seharusnya aku tidak merasakan ini lagi. Seharusnya aku tidak berada di dalam kenangan Seo Hye Jin lagi, dan hal seperti ini pasti terjadi karena sentuhan gwishin itu tadi.

“Shirreoyo!” seruku keras yang langsung mengakibatkan pemandangan itu semua menghilang beserta sensasi-sensasinya. Napasku tersenggal karena aku masih ingat setiap detail apa yang dialami Seo Hye Jin saat pertama kali dia menyentuhku dulu. Ruangan yang gelap, sempit, dingin, sesak, dan—aku benar-benar tak mau merasakannya lagi. “Apa yang kau inginkan, Hye Jin-ssi?” tanyaku setelah berhasil menguasai diriku sendiri.

“Neoya,”

“Apa yang kau inginkan dariku?!”

Suara terkekeh terdengar dan itu langsung membuat bulu kudukku berdiri, “Emosimu—“ katanya kemudian.

Aku mematung ditempatku, tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana.

“Kau pasti bertanya-tanya bukan kenapa aku tertarik padamu dan mempengaruhi emosimu?” kata gwishin itu lagi yang sampai sekarang belum bisa aku lihat sosoknya, dan itu cukup membuatku frustasi sebenarnya. “Oh? Tidak? Kau tidak pernah ingin tahu? Sayang sekali…”

“Seo Hye Jin-ssi,” ucapku berusaha tidak bergetar saat mengatakannya karena menahan emosi dan ketakutanku. “Berhentilah bermain-main denganku, Hye Jin-ssi

“Bermain-main? Begitu?”

Aku mendesah keras, lalu beranjak dari tempatku dan berpindah ke sisi lain ruangan apartemen ini. “Aku tahu kau sedang mempermainkan emosiku sekarang dan asal kau tahu, kali ini aku tak akan mengikuti kemauanmu. Jadi lebih baik katakan padaku kenapa kau menggangguku atau aku bisa meminta Park Hae In untuk mengurusmu—“

Oh, gadis kecil itu tak akan melakukan sesuatu padaku” sahut Seo Hye Jin terdengar meremehkan. “Dia terlalu mengikuti aturan, jadi yah… aku tak perlu mengkhawatirkannya. Kau sebaiknya mencari ancaman lain untukku, eonni”

Aku diam saja.

“Baiklah, baiklah. Tak ada gunanya juga aku memakai cara lamaku untuk mengambil emosimu karena kau telah—“ Gwishin itu tiba-tiba berhenti berbicara.

Satu alisku pun terangkat, “Aku apa?”

“Lupakan saja. Aku tak mau membahas apa yang sudah kau lakukan di kuil itu. Sangat konyol melihat bagaimana kau berusaha menyingkirkan energiku yang melekat pada dirimu” jawab Seo Hye Jin. “Meskipun begitu… aku cukup berterima kasih padamu karena kau telah menemukan tubuhku”

“Kau berterima kasih padaku?”

“Ya! Meskipun aku gwishin, aku masih memiliki sopan santun” sahut Hye Jin dengan nada ramah yang baru kali ini aku dengar.

Aku diam sesaat, “Jadi apa yang terjadi?” tanyaku pada akhirnya.

“Apa yang terjadi? Aku tak mengerti maksudmu, Sooyoung-ssi”

Aku menghela napas singkat karena gwishin ini benar-benar senang mempermainkan emosiku. Tapi aku tetap berusaha untuk tenang di depannya meskipun aku sama sekali tidak melihat sosoknya untuk sekarang.

“Aish jinjja! Menyebalkan sekali kau tidak menatap ke arahku saat kau berbicara padaku,” desis Seo Hye Jin lagi. “Ini tidak bisa dibiarkan. Eonni, pejamkan matamu”

Aku tidak mengikuti perkataan Seo Hye Jin itu dan tetap membuka mata dengan waspada.

“Aigoo… aku tak akan melakukan sesuatu padamu,” Seo Hye Jin seperti sedang membaca pikiranku dengan berkata seperti itu. “Apa kau tak percaya padaku?”

“Tidak. Lebih baik aku tidak melihatmu,” kataku jujur.

“Baiklah, terserah kau saja. Aku hanya ingin membantu dan membuatmu lebih nyaman”

Aku menarik napas dalam-dalam, “Jadi kenapa?” tanyaku mengabaikan perkataan gwishin itu.

“Kau bertanya padaku kenapa aku mempengaruhimu atau kenapa aku bisa menjadi gwishin?”

“Dua-duanya,” jawabku singkat.

“Oh, astaga! Kau membuatku terkesan, eonni. Jinjja—“

“Jangan memanggilku eonni,” sahutku dengan cepat karena merasa risih dengan panggilan itu.

“Wae? Umurmu lebih tua dariku sekarang, jadi aku bisa memanggilmu eonni” kata Seo Hye Jin terdengar terkejut dalam nada bicaranya. “Ah, kau juga bisa memanggilku eonni jika kau mau karena secara harfiah aku jauh lebih tua darimu”

“Eonni?” ulangku sambil tertawa kecil. “Kau lebih pantas dipanggil Ahjumma olehku daripada eonni,” gumamku pelan.

“Ya! Aku mendengar itu!”

Aku berdehem pelan, lalu bersikap biasa lagi. “Apa kau dulu seperti ini?” tanyaku mengubah topik pembicaraan. “Kau suka mempermainkan emosi seseorang, ‘kan?”

Hening kembali.

Aku juga memilih untuk diam dan menunggu sambil berusaha mengosongkan benakku. Mataku terpejam sesaat, lalu aku menajamkan telinga. Setelah beberapa saat, aku kembali membuka mata dan menatap ke arah yang aku duga ada Seo Hye Jin disana. Mataku menyipit saat aku melihat pancaran cahaya tanpa bentuk yang setelah aku pandangi lebih lama mulai terlihat sosok samar di atas sofa—yang sebelumnya aku duduki. Lalu sosok itu mulai terlihat jelas, awalnya bagian tubuh, lalu kaki, tangan dan yang terakhir adalah kepalanya. Dia sedang tersenyum padaku sementara aku terbelalak setelah berhasil melihatnya sekarang.

“Akhirnya, kau bisa melihatku sekarang eonni” kata Seo Hye Jin masih dengan senyum yang sama. “Ini lebih baik,” tambahnya.

Mulutku yang terbuka tak bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Aku ingat sosok samar yang beberapa kali aku lihat saat dia ada di dekatku. Lalu sisa-sisa tubuhnya yang terkubur di balik dinding bata teater tua itu. Aku benar-benar tak bisa memberi komentar apapun melihat sosok di depanku ini.

“Aigoo… jangan menatapku seperti itu,” kata Seo Hye Jin dengan kedua tangannya yang terlipat. “Aku tidak semenyeramkan gwishin ahjussi yang berkeliaran di lorong gedung ini, bukan?”

Aku kembali berdehem pelan, “Sungguh? Begitu?”

“Yah, tentu saja itu berbeda jika kau membayangkanku seperti yang kau lihat di—“ Seo Hye Jin kembali menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba. “Lupakan saja bagaimana keadaanku yang itu. Sangat menyedihkan,” katanya kemudian.

“Kau tahu siapa yang melakukannya?” tanyaku.

“Tidak,”

“Tidak?” ulangku tak percaya. “Bagaimana bisa tidak?”

Gwishin itu bergerak dengan cepat dan sekarang dia sudah melayang berdiri di depanku. Aku berusaha keras untuk tidak terlonjak karena gerakannya yang tiba-tiba itu dengan berpegangan pada benda terdekat yang berhasil aku raih tepat pada waktunya. Sampai sekarang aku masih tidak menyukai tingkah laku gwishin yang satu ini, entah bagaimana sosok gwishin-nya.

“Kenapa kau masih bertanya padaku setelah kau mengetahuinya sendiri?” tanya gwishin itu setelah beberapa saat hanya diam sambil memandangiku dengan tajam. Membuatku semakin tidak nyaman dibuatnya.

“Aku mengetahuinya sendiri? Eotteoke—“

Seo Hye Jin menganggukkan kepalanya. “Aku sudah menujukkannya padamu. Apa kau pernah melihat seseorang disana? Hanya sosok samar namja, bukan?”

Geureom, Lee Jung Woo?” Aku berusaha menebak meskipun ragu.

“Jika kau mengenal Jung Woo dengan sangat baik, kau tak akan pernah berpikir dia orang yang mau melakukan sesuatu seperti itu,” jawab Seo Hye Jin dengan wajahnya yang terlihat murung. “Jung Woo adalah namja yang bahkan untuk menyakiti seekor semut pun dia tidak bisa. Jadi aku yakin bukan dia yang melakukannya. Pasti orang lain,”

“Dan apa kau tahu siapa?” sahutku cepat.

“Apa aku terlihat seperti aku tahu dan bisa mengingat bagaimana aku mati?” Seo Hye Jin sedikit menaikkan nada bicaranya saat menanggapi perkataanku. “Aku bahkan baru bisa keluar dari tempat itu setelah kau menarikku”

Oh? Aku menarikkmu?”

“Energimu yang menarikku,” jawab Seo Hye Jin yang sekarang jauh lebih tenang dari sebelumnya. “Apa kau tak tahu? Energimu itu selalu menarik energi-energi lain yang ada disini, entah itu energi positif maupun negatif”

Aku tak memberi tanggapan apa-apa kali ini.

Seo Hye Jin kembali berbicara, “Aku mengawasimu selama beberapa hari sebelum akhirnya mulai mendekatimu. Aku bukan satu-satunya yang melakukannya jadi jangan menatapku seperti itu. Ada banyak sekali tapi akulah yang paling menarik perhatianmu, ‘kan?”

Meskipun itu benar, tapi aku memilih untuk kembali tidak menanggapi. Itu karena aku benar-benar tak mau mengikuti permainan emosi gwishin ini, dan aku hanya akan memberi tanggapan jika memang itu perlu untuk ditanggapi saja.

“Kupikir kau sangat ketakutan saat pertama kali aku mendatangimu. Karena ini, ‘kan?” Gwishin itu mendadak mengeluarkan rintihan yang diikuti sedu sedan. “Dingin… Aku kedinginan… Aku kedinginan…dan mati!”

“Geumanhaeyo!” seruku dengan cepat karena meskupun aku sudah sering mendengarnya, aku tetap saja merinding dan aku tak mau menunjukkannya di depan gwishin ini. “Aku tahu sekarang. Begitulah caramu agar lebih menarik perhatianku” kataku kemudian.

“Benar, dan salah” jawab Seo Hye Jin. “Benar karena kau benar-benar terganggu oleh apa yang aku lakukan, dan salah karena sebenarnya itu naluriku setelah apa yang terjadi padaku”

“Aku tidak mengerti”

“Saat aku pertama kali keluar dari tempat itu, aku benar-benar merasa kedinginan” Seo Hye Jin mulai menjelaskannya padaku. “Bukan dingin yang sama seperti yang kau rasakan, tentu saja” Dia cepat-cepat menambahkan sebelum aku bertanya lebih jauh.

“Geuraesseo?”

“Perasaan itulah yang aku rasakan. Dingin, sendirian, tak ada orang yang peduli padaku, dan aku mati begitu saja. Yah, begitu” Gwishin itu melanjutkan. “Aku seperti itu sampai akhirnya aku berhasil mendekatimu. Aku mendapatkan energi saat berada di dekatmu, dan perasaan-perasaan itu sedikit demi sedikit menghilang. Tapi aku tahu caraku untuk terus menarik perhatianmu itu harus tetap aku lakukan karena darimulah aku mendapatkan kekuatan”

“Kekuatan dengan menyerap energiku?” tanyaku setelah menyadari apa yang gwishin ini lakukan.

“Semua gwishin seperti itu pada manusia-manusia yang masih hidup. Mereka menyerap emosi dan energi agar tetap bisa memunculkan bentuk. Itulah yang terus aku lakukan padamu sebelum memberitahumu dimana tubuhku berada”

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Setelah itu apa yang akan kau lakukan, Seo Hye Jin-ssi? Maksudku, setelah tubuhmu telah ditemukan, kau sudah menjadi padat sekarang, lalu apa lagi?”

“Geurissae…”

“Apa kau tak menghukum orang yang telah memperlakukanmu secara tidak adil?”

“Tentu saja aku mau. Kau pikir aku hanya diam saja setelah apa yang dia lakukan padaku? Dia sudah membuat hidup berakhir dengan cepat—“

“Kalau begitu cobalah mengingat apa yang terjadi pada hari kau meninggal” selaku memancing gwishin itu.

“Aku tak memiliki energi untuk mengingat kejadian 25 tahun yang lalu”

Aku mendesah pelan, “Lee Jung Woo sudah tertangkap sekarang, dan dia juga akan segera dijatuhi hukuman”

“Mwo? Kenapa kau menangkap Jung Woo?”

Naega anirayo. Appa-mu yang melakukannya,”

Appa?”

Aku mengangguk, “Lee Jung Woo adalah satu-satunya orang yang bersamamu di malam kau menghilang, Hye Jin-ssi

Seo Hye Jin diam saja. Dia terlihat sedang berpikir jadi aku membiarkannya. Aku tahu, mengingat sesuatu itu bukan pekerjaan mudah meskipun kau gwishin. Bahkan ada beberapa gwishin yang tidak bisa mengingat kematiannya karena kejadiannya yang mendadak, dan itu mungkin yang sedang dialami gwishin ini. Apalagi apa yang harus diingat itu sudah terjadi sangat lama dan benar-benar tak memiliki ingatan apapaun tentang itu. Aku pernah mengalaminya sebelum ini, jadi aku tahu bagaimana rasanya.

“Bukan dia,” kata Seo Hye Jin tiba-tiba.

“Ne?”

“Bukan Jung Woo yang melakukannya. Orang lain. Dia… Dia—“

“Apa dia yang memberimu liontin ini?” sahutku memotong perkataannya yang belum selesai sambil menunjukkan foto liontin beserta kode yang ada dibelakangnya. “Bukan Lee Jung Woo yang memberikan ini padamu?” ulangku.

“Bukan dia,” jawab Seo Hye Jin. “Changwoo. Dia yang memberikan liontin itu dan dia adalah namja yang terakhir bersamaku”

Kedua alisku saling bertaut, “Changwoo?”

Sebelum aku mendengar jawaban dari Seo Hye Jin, tiba-tiba suara pintu membuka terdengar. Cepat-cepat aku mengalihkan perhatian, dan melihat Kyuhyun muncul dari arah pintu apartemen.

“Oppa,”

“Bersiaplah,”

“Ne?”

“Kita pergi sekarang,”

Oppa jamkkamanyo” sahutku sambil melirik ke arah Seo Hye Jin yang masih berada di tempatnya. “Aku tahu pelakunya. Aku tahu siapa orang yang melakukan perbuatan keji itu pada Seo Hye Jin,”

“Bukan Lee Jung Woo, aku tahu” jawab Kyuhyun dengan cepat. “Kita harus bergegas. Sebentar lagi konsernya mulai, dan aku tak mau terlambat”

Mataku membelalak, “Konser?”

Kyuhyun menganggukkan kepala, “Kita menikmati konser terlebih dahulu, dan semuanya akan terungkap disana” katanya. “Aku tunggu kau disini, bersiaplah sekarang”

“E—Eo,”

Akupun bergegas masuk ke kamarku meskipun aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

-tbcpart2-

Jangan lupa komentarnya readers.. (dimana aja boleh)

Sekali lagi terimakasih buat komentar-komentar kalian di FF ini dari awal sampai terakhir ini. Terimakasih juga kritik dan sarannya karena itu membantu aku banget selama nulis FF ini..

 

Pokoknya terimakasih buat semuanya #bow

Don’t forget to leave your comments please ^^

Annyeong..

30 thoughts on “[Sequel] Have You Seen: Return (3/3) part1

  1. Sistasookyu says:

    Syo nya jdi bsa ngeliat hantu hye jin
    btw, kyuyoung itu emang paket komplit, saling ngelengkapin
    kerjaan kyu bnyk kebantu sama kmampuan syo
    hidup syo jg lbih manis smnjak ada kyu aiiiih..

  2. behh gila penasarannya tingkat akut(?) walaupun udh ketemu jasadnya, tp pelakunya msh ngawang(?). btw di part ini antara seneng sama adegan kyuyoung ciuman(?)sama sedih dgn penemuan jasad hyejin :” campur aduk

  3. Ternyata seo hye jin itu sebenernya baik hehe. Udh nethink duluan sama dia ahahaha
    Kereeeennn bgt thor ff ini, dam akhirnya kyuhyun bsa mecahin kasusnya. Ditunggu next partnya thor. Udh penasaran bgt hehe

  4. Elis sintiya says:

    ahhh asli ff nya keten bgt berasa kaya ada cuplikan drama korea.. itu si kyuyoung kiss nya lumayan hot.. ff nya keren deg-dega juga pas baca kyuyoung mau bongkar peti mayatnya..

  5. wheeny leon says:

    Bingung mau komen apa. Yang jelas ff ini seruuuuu n bkin penasaran, n bkin ketagihan buat baca n bkin kangen klo update ny gk cpettt …
    TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TOP.. TTTTTTOOOOOPPPPPPPP BGGGGTTTT..
    dtunggu terus imajinasi kreatif ny..🙂

  6. ry-seirin says:

    wow….asli baca part yg ini seru bgt,,,,
    ngrsa kbawa aja ma ceritannya, penasaran, deg”an, ma aga sebel ma Gwishin Seo Hye Jin.
    a….pokonya daebak deh bwt author feelnya bwt bkin konflik n’ kasus” dsini kya yg nyata trjadi aja!!!!

  7. husnulk says:

    Yaampun serius gatau kenapa kalo baca ff ini selalu merasa ada ditengah-tengah uri kyuyoung..
    Kusuka deh cara author-nim bisa menjelaskan dgn rinci setiap kejadian yg ada di fanfic ini, apalagi waktu pembongkaran utk menemukan jasadnya seo hye jin, bener2 ikut merinding plus kasian liat hye jin harus disembunyikan seperti itu😦
    Pkoknya gatau mau komen apalagi selain ff ini keren dan top deh….

  8. Denakim says:

    uwahhh daebakk baru kali ini gua serius baca ff yang genre horror kaya gini.
    tubuh nya sudah d temukan dan gua senang karna gwisin itu ngga berniat jahat,
    gua rasa lucu ama shj dan syoo yang ngobrol nya serius amat ehehe.,
    dan ketawa karna shj mangil syoo eonni ahahah tapi ternyata gwisin itu nyadar juga kalau dia lebih tua.,
    kyuyoung pasangan yang saling melengkapi ,, dan cho kyuhyun kau begitu perhatian,,
    kyaaa cho kyuhyun uda tau siapa pembunuhnya kan.,
    selamat untuk detektif cho kau benar” daebakk syoo juga ,,
    entah kenapa gua suka ama ntu gwisin.,

    terimakasi authornim uda d post part ini.,
    next d tunggu
    and keep fighting

  9. ellalibra says:

    Akhirnya dpost jg q nunggu” eon kpn dpost hehehe ,,,semakin seru bgt ,tp blm jg ditemuin sp pelakunya hmm ,,, q ikut merinding eon pas kl muncul hye jin dg suara sedu sedan nya itu loh iiihh bikin bulu kuduk berdiri hihihi dtunggu next part eon fighting

  10. epanda says:

    aaaaah, akhirnya di post hihi
    yaampun gamau end mau dilanjut terus, suka bgt sama ceritanyaaaaaaaaaaaa!!!!!
    aku lanjut nih part 2 hehehe

  11. wow ini authornya pinter banget, wajar kalau ngepost lama, karena pastinya perlu pemikiran yg benar-benar mateng! kereeen pasti mikir keras ini tentang masalahnya..
    masih Tbc ya ? kirain udah end untung belum ~~ di tunggu part selanjutnya! semangat!

  12. Makin keren thorrr! Btw abis part 2 udh abis ya thor ffnya?huhu sedihh..

    Keren deh, shj udh mau ngomong gt sama syo unnie, ohiya thor btw penasaran bgt sama kodenya ituu~

    Trs changwoo siapa lagi tuhh? Penasaran bgt thor ijin baca next partnya yaa ehehehe

  13. Doohhhh..
    Ntah knapaaa.. Aq g’pngen ff ini cpet abis. Aq pngen.A nnti ada ficlet” dri klnjutan ff ini yg mncritakan g’mna KY, seohyun dan yuri mnikah, gmna khidupan rumah tangga mreka bahkan bgaimna mreka stelah pnya anak. Eummm.. gmesss deh klo byangin. Jujur aja dri part awal smpe skrang Aq mnikmati bnget crita.A.

  14. 규영 SHIPPER says:

    Waahh thank you loh udah ngepost lagi ehehehe.
    Thor, berarti ff nya mau habis ya?😦
    Ada sequel lagi dong. Kyuyoung married kek. Pengin ada AS nyaaa

  15. Youngra park says:

    Gila keren bgts baca ff ini serasa kita di ajak main di dlmny ikut tegang,ikut sedih,ikut senang semuany deh di rasain ku harap cpt terungkap pelakuny

  16. mongochi*hae says:

    akhirny mayatny dtemukan jga..
    tp ak msh penasaraan dg motif pmbunuhanny..

    eya… selingan moment kyuyoung mantabb nh..
    kyu ngeri jga yah. maklum lh cwo normal hheee

    cerita kmu n klo dbkin flim jamin laku..
    coba aj dh

  17. ajeng shiksin says:

    keren banget ff nya. bikin penasaran.. kyuhyun tw dri mana ia. dy nguping apa tw dri penyilidikan nya.. sumpah keren. sayang bersambung. di tunggu kelnjutan nya chingu. .semangat

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s