[Oneshot] Red String

3b587d3bfef656c7828d32e8df5b7bb7-d3gszia-1

 

… kemudian, takdir datang dan mulai mempermainkan mereka kembali.

Dia berteriak, tapi lidahnya kelu,

dia mencoba mengabaikan, tapi matanya berubah sendu,

dia berusaha melupakan, tapi hatinya pilu,

mereka sama-sama menghindar, namun mereka menyadari, masa depan mereka kelabu.


 

For Self-Challenge: prompt no #004 Destiny

 

 

 

RED STRING// Oneshot// T// Hurt/Comfort// Sadako-chan// Cho Kyuhyun dan Choi Sooyoung//

*

butuh keahlian khusus untuk memahami fanfiksi ini ….

*

wajib baca, nggak wajib komentar

*

selamat membaca ….


 

Di dunia ini, apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita raih.

 

Begitupun dengan takdir seseorang, takdirnya memang tidak untuk bersanding denganku, jadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat melihatnya berdiri berdampingan bersama wanita lain di depan altar sana, menggunakan setelan tuxedo berwarna putih selaras dengan gaun istrinya.

 

Dia adalah seseorang yang kuinginkan, namun tidak bisa kudapatkan.

 

Perjalanan kami melewati banyak rintangan, bukan hanya dari keluarganya dan juga keluargaku, tapi juga orang-orang di sekitarku.

Aku bilang, aku mencintainya. Tapi mereka bilang, aku hanya membual karena tidak paham apa arti cinta yang sebenarnya. Aku bilang, dia juga mencintaiku, tapi mereka segera berpaling kemudian bergumam, “dia hanya menginginkan uangmu”.

Aku berteriak keras kemudian menangis. Mereka hanya menatapku sinis kemudian melangkah pergi.

 

Aku melangkah dan mereka selalu berkata, “wanita menyedihkan”.

 

Sempat aku ingin terjun membuang nyawaku secara percuma karena sakit hatiku melihat dia yang sekarang telah menikah dengan wanita lain. Tapi seseorang datang dan memelukku erat sambil berkata, “aku selalu melihatmu”.

 

Dan yang kutahu, dia akan menjadi suamiku di tahun berikutnya.

 

-oOo-

 

 

Tujuh tahun sudah berlalu, secara perlahan, perasaanku yang dulu begitu kuat pada seseorang kini mulai menipis dan mulai memburam. Nama Cho Kyuhyun pun hanya bisa kuingat samar-samar dalam otakku. Tak lagi sejelas tujuh atau belasan tahun silam.

 

Ini semua karena mereka. Anak dan suamiku. Mereka membantuku dan menemaniku setiap detik rasa hausku. Sesakku sudah tidak semenyakitkan dahulu, tidak lagi terasa perih dan menusuk hati, tapi kini menjadi sejuk dan hangat saat dua pasang tangan secara bersamaan merengkuh tubuhku.

 

“Ibu terlihat cantik pagi ini, tapi tidak secantik aku! Benar ‘kan, ayah?” Dia anakku. Gadis manis berperawakan mungil seperti ayahnya. Pria di belakangku mengangguk kemudian berkata, “tentu saja”. Tapi kemudian dia bergumam di perpotongan leherku mengatakan bahwa sebenarnya aku jauh lebih cantik. Aku terkekeh geli kemudian menyikut pinggangnya keras, dia terdengar mengerang sebelum akhirnya dia menarik wajahku dan mencium bibirku lembut, sedikit melumatnya. Aku menatap Yoona–putri kami, dan aku meringis masam melihat kedua mata bulatnya semakin membulat saat melihat kelakuan orangtuanya.

 

“Yoona melihat hal yang belum pantas dia lihat,” gumamku pada pria di belakangku yang masih setia mengistirahatkan kedua tangannya di pinggangku.

 

“Biar saja, biar dia tahu kalau orangtuanya saling mencintai.”

 

Sesaat, aku memang tertegun mendengar jawabannya, namun, kemudian aku tersenyum dan sedikit meremas tangannya yang berada di pinggangku. Benar, aku mencintai pria ini. Pria yang dulu menyelamatkan hidupku dan membimbingku menuju keluarga bahagia yang kuimpi-impikan.

 

“Tapi kenyataannya kau sudah mengotori otak anak kita dengan adegan yang belum boleh dia lihat, jangan salahkan aku kalau nanti dia bertanya yang aneh-aneh.” Aku kembali terkekeh saat dia mengerang enggan mendengar ucapanku.

 

“Tadi kalian melakukan apa, ayah? Ibu? Ayo, beritahu aku!” Nah!

 

Yah, kuakui, keingintahuan anak ini yang begitu besar memang menurun dariku, tapi yang bertanggung jawab pada hal ini tentu saja bukan aku.

 

“Akan ayah jelaskan nanti di perjalanan, kita sudah telat, sayang.” Donghae, priaku. Mengangkat Yoona kedalam gendongannya kemudian mendorong bahuku dengan satu tangannya yang kosong untuk segera bergerak ke mobil.

 

Kami adalah seorang guru, di sekolah yang sama. Sering kali kami mendapat julukan Teacher Couple dari murid-murid maupun rekan-rekan guru kami, kami mengajar anak-anak sekolah dasar, dan ini adalah tahun pertama Yoona kami memulai aktivitas sekolahnya. Dia terlihat ceria, seperti biasanya memang, tapi terlihat berbeda saat ini. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang tidak bisa diam. Dia terus mengoceh dan mengomentari apapun yang dilihatnya dari jendela mobil, aku menengok kearahnya yang duduk di belakang dan menyuruhnya duduk tenang, tapi tidak bisa. Donghae yang mengemudi tertawa keras melihat usahaku yang gagal membuat Yoona tenang. Aku cemberut dan memukul bahunya becanda.

 

Aku memutar kepalaku dan kupandangi langit melalui jendela mobil, langit dengan awan tipis berarak terbawa angin. Dulu, seringkali aku tertidur di padang rumput bersama seseorang, kemudian berkata bahwa aku ingin sekali menjadi awan putih, dia terlihat ringan, bebas, menari di langit dan melayang bersama angin, tak terlihat memiliki beban berat. Namun seringkali juga aku mengeluh, hidupku tak pernah menjadi awan putih, kenyataannya, hidupku sudah terdaftar menjadi seperti awan mendung, di setiap langkahnya menyusuri langit, dia selalu membawa beban berat, yang jika dia tidak sanggup lagi menahan beban itu, dia akan menumpahkannya dan akan menjadi air mata keputusasaan.

Itulah aku, si awan mendung yang bermimpi menjadi awan putih.

 

Lamunanku buyar karena suara teriakan Yoona yang memanggil-manggil ayahnya. Lekas, aku menengok ke arah mereka dan mendapati Donghae tengah terbatuk hebat. Mobil sudah berhenti di pinggir jalan.

Aku mencoba mengusap-usap punggung Donghae sambil menenangkan Yoona yang kini mulai menangis di pangkuanku, dia ketakutan. Aku terbelalak saat melihat tangan Donghae dipenuhi darah, batuknya mengeluarkan darah! Ya Tuhan, apa yang pria ini sembunyikan dariku?

 

“Donghae, kita tukar tempat, kita putar arah dan segera ke rumah sakit!” Aku berkata tegas dan menolak penolakannya untuk tidak perlu ke dokter, aku tahu dia akan menolak, tapi aku keras kepala dan tidak bisa di bantah.

 

Aku menangis, air mataku jatuh begitu saja saat melihat Donghae yang semakin mengerang kesakitan sambil memukul-mukul dadanya, batuknya semakin menjadi, Yoona di pangkuanku tidak berhenti berteriak memanggil ayahnya. Wajah Donghae semakin pucat, dan aku sudah di ambang putus asa, berteriak kenapa rumah sakit begitu lamban kami jangkau.

 

Tuhan, kumohon selamatkan penyelamatku ….

 

.

 

Kata Donghae, dia selalu melihatku. Dan aku baru sadar sekarang, ternyata dia memang seringkali melihatku. Sekolah tempat kami mengajar adalah saksinya. Sekolah inilah yang memberitahuku, betapa tulus perhatian pria itu padaku.

 

Kata Donghae, dia membawaku pindah dari desaku dulu bukan untuk pergi dan belajar melupakan seseorang dari masa laluku, namun untuk pergi dan mencari seseorang itu untukku. Tapi karena aku tahu maksudnya saat itu, aku menyuhnya membawaku kembali dan aku berjanji untuk melupakan dia. Tapi baru kusadari, aku tidak bisa. Dan Donghae tahu itu.

 

Kata Donghae, aku tegar. Bisa bertahan hidup selama hampir delapan tahun bersama pria yang tidak dia cintai. Tapi aku membantah, Donghae hanya tidak tahu, bahwa diam-diam hatiku sudah mulai menerimanya.

 

Kata Donghae, dia beruntung bisa bertemu denganku. Kataku, aku bersyukur di pertemukan dengan penyelamatku. Walaupun dia membantah bahwa dia bukanlah penyelamat.

 

Kataku, aku bahagia hidup bersama keluarga kecilku. Tapi, kata Donghae, aku tidak benar-benar bahagia saat mengetahui penyakitnya dan apa yang terjadi setelahnya. Memang benar, aku tidak bahagia. Tapi, bisa apa aku sekarang? Mencoba membuang nyawaku seperti dahulu? Tidak, Donghae sudah berpesan padaku agar tidak menyia-nyiakan hidupku lagi. Lagipula, aku memiliki tanggung jawab. Yoonaku, Yoona kami. Pada siapa nanti dia menangis jika tak ada ayah maupun ibu di sampingnya?

 

Ku peluk tubuh kurus Yoona yang masih meraung menangis menatap gundukan tanah merah di hadapannya.

 

Donghae sudah berpesan padaku untuk menjaga Yoona untuknya. Dan aku mengangguk sambil menangis menyesal. Dia terlalu baik, dan aku terlalu bodoh di sandingkan dengannya.

 

Dia pergi meninggalkanku bersama hatinya yang membusuk, belum lagi hati itu sering kutorehkan luka yang dalam karena ketololanku yang belum bisa melupakan seseorang.

 

Hari sudah senja, aku dan Yoona sudah terlalu lama disini, menemani Donghae istirahat dengan tenang pada tidur panjangnya. Awan hari ini mendung, awan itu sepertiku, yang sudah siap menumpahkan air mata keputusasaannya.

 

Kali ini, akan kubawa kemana langkah kaki ini? Tuhan, penopang hidupku telah Engkau ambil, kini tinggal aku dan anakku saja disini. Pada siapa lagi kami bisa bersandar?

 

-oOo-

 

 

Hidupku sekarang tidak lagi seperti hidupku saat remaja dulu, tapi hati dan pikiranku memaksaku untuk tetap pada memori masa remajaku. Bersama gadis bernama Choi Sooyoung yang telah kusakiti karena pernikahanku. Aku sempat mencari, tapi dia tertelan bumi. Kupaksa untuk berhenti memikirkan, tapi hatiku tak bisa kubohongi.

 

Kemana lagi akan ku bawa langkah kaki ini? Hidupku kini tidak sama seperti dahulu. Aku di usir karena tuduhan omong kosong mantan istriku. Di usir dari keluargaku maupun desa tempatku menetap. Dan aku memiliki tanggung jawab, –anakku. Dia menolak hidup bersama ibunya, dia bilang, ibunya seperti penjahat, setiap saat menyuruhnya untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan. Dan dia tidak suka itu.

 

Mantan istriku layaknya seorang psikopat. Kubilang begitu karena tingkahnya memang merujuk ke sana. Dia pecandu, aku baru menyadari ini saat dia memaksa anakku menyembunyikan kantong plastik yang kemudian ku ketahui berisi suntikan beserta sebotol cairan. Dia gila, kuharap aku bisa meneriakkan itu di depan wajahnya dulu saat dia berkata dengan lantang bahwa anakku idiot.

 

Saat itu aku begitu putus asa karena perjodohan konyol yang direncanakan oleh orangtuaku yang juga gila uang. Aku tidak bisa membantah saat itu, kemudian pernikahan itu terjadi begitu saja tanpa kuketahui. Dan gadis itu … ada disana saat itu, melihatku dengan mata sembabnya dan mata yang menatapku sarat akan rasa sakit. Aku telah menyakitinya. Kemudian dia berlari meninggalkan gereja saat aku selesai mengucap janji di depan pendeta, sungguh, jika saja aku tidak menatap mata ibuku yang menatapku tajam, aku tidak akan pernah sudi mengucap janji bersama perempuan yang tidak kuinginkan.

 

Aku berlari, mengejer kekasihku. Tapi yang kulihat saat itu, dia menangis dan seorang pemuda merengkuh tubuhnya hangat dari belakang. Aku telah gagal. Gagal dalam mempertahankan cinta yang kujanjikan padanya.

 

Malam itu, setelah pernikahanku dengan perempuan itu selesai, aku kembali seorang diri kerumahku—yang sebenarnya kubuat untuk menjadi rumahku dan Sooyoung kelak jika kami menikah—tapi itu tidak akan terjadi. Aku meninggalkan perempuan yang sudah menjadi istriku itu sendiri, tapi aku yakin, ibuku atau kakakku akan membawanya kerumahku. Aku mabuk dan saat aku meneguk gelasku yang terakhir, aku tersadar, gelasku telah di sabotase. Karena saat aku sadar dari tidurku, wanita yang menjadi istriku itu menyeringai penuh kemenangan.

 

Aku memakinya, meneriakinya jalang dan menyumpahinya. Tapi tak ada gunanya, karena tiga minggu setelahnya dia menunjukkan padaku di depan seluruh keluarga kami tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah, positif. Aku tidak bisa apa-apa lagi.

 

Ketika anakku lahir, awalnya aku tidak menyukainya, aku tidak menginginkannya. Tapi, saat umurnya memasuki tahun kedua, dia jatuh sakit, aku khawatir padanya. Menurut dokter, anakku kurang diberi perhatian, makanan yang dia makan kurang di perhatikan. Dan wanita yang dia panggil ibu tidak pernah menjadi ibu yang baik padanya. Selama ini aku memang jarang memperhatikan anakku, tapi aku selalu menyempatkan diri menengok kamarnya guna memastikan dia sudah terlelap atau belum, dia terjatuh dari tempat tidurnya atau tidak, popoknya perlu diganti atau tidak. Aku selalu melakukannya. Karena kenyataannya, sekalipun aku berkata aku membencinya, sosok anak laki-laki yang begitu mirip denganku itu tidak bisa kuabaikan atensinya.

 

Kemudian kejadian itu terjadi begitu saja, wanita itu marah padaku karena hasil pemeriksaan dari dokter perihal anak kami. Karena demam berkepanjangan yang anakku alami, anakku menjadi tidak bisa bicara, dia bisu.

Saat itu aku tak tahu harus bagaimana, aku ikut terdiam membisu.

 

Keesokan harinya aku melangkah tanpa alas kaki menuju gereja di ujung desa, aku merenung di bawah pohon disana dan melamunkan anakku, juga kelakuan istriku yang semakin berani membawa kekasih-kekasihnya kerumahku. Aku benar-benar ingin lepas darinya, tapi aku tak pernah bisa. Bukan karena aku mulai mencintainya, mana mungkin aku jatuh cinta pada wanita tidak baik seperti dia, tapi karena ibuku akan segera menampilkan drama kematiannya didepanku saat aku mengatakan akan menceraikan wanita itu. Ibuku tak akan segan-segan memotong tangannya jika aku berani mengucapkan kata cerai. Sudah beberapa kali ibuku masuk rumah sakit, penah suatu kali wanita sialan yang menjadi istriku itu menangis di depan ibuku dan mengatakan kalau aku akan menceraikannya, kemudian ibuku mengambil pisau dan mengiris urat nadinya karena marah padaku dan menelan bulat-bulat omong kosong wanita sialan itu.

 

Saat aku masih menerawang pada peristiwa-peristiwa yang tengah kualami belakangan ini, tepukan di pundakku membangunkanku. Kupikir dia seorang pengurus gereja ini, tapi penampilannya seperti seorang biksu dengan kepala tanpa rambut.

 

Pria itu tersenyum kemudian mulai berkata seolah menjawab pertanyaan dalam otakku, “Aku Budha, aku juga salah satu pengurus gereja ini. Sedari tadi aku memperhatikanmu yang sedang asyik melamun. Kau sedang ada masalah?” katanya mengambil duduk di sampingku di bawah pohon.

 

“Ceritakanlah masalahmu padaku.” Kemudian, aku tak tahu apa yang terjadi padaku, aku menceritakan semua masalahku pada pria itu dan air mata tak bisa lagi kutahan. Ada rasa lain yang kurasakan saat itu, aku menjadi lebih ringan dari sebelumnya, mungkin karena aku telah membagi beban dipundakku pada orang lain.

 

Sepulang aku dari gereja, entah wajah apa yang harus kupasang saat keluargaku dan keluarga istriku berkumpul di ruang tamu rumahku. Wanita sialan itu menangis meraung mengatakan aku telah mencelakai anak kami sehingga menyebabkan anak itu menjadi bisu, ayahku dan ayah mertuaku menatapku tajam. Ibuku … kulihat pergelangan tangannya di perban.

 

Kemudian aku tidak tahu kapan ayah mertuaku melangkah menghampiriku yang masih berdiri mematung, kemudian pria paruh baya itu melayangkan tamparan keras di pipiku.

 

.

 

Aku mengatakan pada kedua orang tuaku bahwa aku ingin bercerai dengan wanita itu, awalnya ibuku menentang, namun kemudian ibuku tidak bisa membantah saat wanita yang menjadi istriku itu menyetujui usul perceraian dariku. Dengan berbagai alasan yang semakin membuatku ingin membunuhnya.

 

Sidang perceraian kami telah usai. Hak asuh anak sepenuhnya berada di tanganku. Aku lega. Setidaknya kini aku telah terlepas dari wanita sialan itu. Walaupun aku harus rela diusir oleh ayahku, tak mengapa. Aku bisa menghidupi hidupku dan anakku dengan tabungan yang kumiliki. Yang terpenting sekarang aku sudah lepas dari wanita sialan dengan sejuta ketidak warasannya itu.

 

Karena aku di usir oleh orang tuaku, aku pergi bersama anakku menuju desa di ujung kota Gangnam yang sepi. Rumah yang kubangun dan kutempati saat menikah dulu sudah kujual. Di desa tempatku menetap saat ini, aku dan anakku hidup tenang, aku bekerja di salah satu pabrik makanan di desa ini, gajiku cukup besar, walaupun tidak lebih besar dari gajiku di pekerjaanku sebelumnya, seperempat gajiku selalu kukirim setiap satu bulan sekali untuk mantan istriku. Namun saat bulan keempat aku mengiriminya uang, wanita itu mengatakan tak usah lagi mengiriminya uang karena uang yang kukirimkan tak akan pernah cukup untuk dia hidup. Aku tidak peduli padanya, dan aku menyetujui usulnya.

 

Aku bahagia dengan hidupku saat ini. Benar apa kata orang Budha di gereja ujung desa saat itu. “Masalahmu pasti ada jalan keluarnya. Sekalipun kau harus menanggung penderitaan dulu baru kemudian kau bahagia.”

 

-oOo-

 

 

Sepuluh tahun kemudian ….

 

Malam-malam sepiku selalu kulewati dengan mimpi-mimpiku bersama Donghae. Aku tak bisa melupakannya, bertahun-tahun sudah aku berusaha menjauhkan bayang-bayang Donghae tapi aku tak bisa. Terkadang aku menangis, berteriak karena mimpi-mimpiku seolah nyata, Donghae ada disini bersamaku, dia ada di sampingku, selalu.

 

Anakku akan semakin cemas saat aku mulai menangis di malam-malam sunyi karena mimpi-mimpiku. Dia akan mengetuk pintu kamarku kemudian mencoba menenangkanku dan berakhir dengan kami yang tidur berpelukan bersama air mata di pipi yang semakin banyak berjatuhan.

 

Tiga tahun yang lalu aku dan Yoona pindah kesebuah desa di ujung kota Gangnam. Disana tenang, hijau dan asri. Disana juga, mimpi-mimpiku semakin jarang mengunjungiku. Aku melalukan ini karena sudah terlalu lelah dengan drama kehidupanku, yang selalu berujung pada tangisan pilu tak berujungku.

 

Aku bekerja sebagai pengrajin perca, tak masalah. Profesiku sebagai guru telah kutinggalkan satu tahun setelah kematian suamiku, aku tak sanggup lagi dihantui rasa bersalah saat mencoba mengajar murid-muridku kemudian sosok Donghae selalui menghantuiku. Aku bekerja apapun yang kubisa agar Yoona dapat meneruskan sekolahnya, dia sekolah di satu-satunya sekolah menengah atas di desa ini, sekolah sederhana namun terlihat damai menurutku. Aku menyukai suasana sekolah itu karena terlihat seperti tempatku mengajar dulu ….

 

“Aku sudah terlihat cantik. Terimakasih, bu, aku mencintaimu.” Yoona mencium keningku yang aku yakin sudah tercetak kerutan samar disana, mengingat usiaku yang tak muda lagi.

 

“Ibu juga mencintaimu, Sayang. Hati-hati dijalan!” Aku berteriak pada Yoona dan melambaikan tanganku padanya. Jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan jauh, maka dari itu, aku mencarikannya sepeda, tapi aku tak menemukan toko sepeda disini, namun aku beruntung bertetangga dengan kakek seorang veteran perang dunia bersama sepeda zaman dulunya yang masih terlihat berkilauan. Beliau memberi Yoona sepeda kesayangannya sebagai ucapan selamat datang, beliau juga mewanti-wanti Yoona agar merawat sepeda antik itu untuknya. Aku tahu, kakek Jungnim pasti menyayangi sepedanya, beliau telah lama hidup sendiri dan hanya di temani sepeda kenangannya bersama sang istri. Dan aku sangat berterimakasih pada beliau.

 

Hari ini aku libur bekerja. Tapi aku harus pergi kepasar untuk membeli bahan sebagai menu makan siang. Aku tidak tahu harus memasak apa hari ini, Yoona tidak pernah mengatakan makanan kesukaannya, dia selalu makan apa yang aku masak dan dia tidak pernah mengeluh.

 

Aku sudah selesai mengganti bajuku dan bersiap-siap menuju pasar, tapi sebelum itu, aku melangkah dan mengetuk pintu kakek Jungnim kemudian bertanya beliau ingin apa sebagai menu makan siang nanti? Beliau ingin semangkuk sup tofu, katanya beliau rindu pada makanan itu, sederhana sekali. Dan aku janji akan membutkannya sup tofu terlezat yang pernah beliau makan.

 

 

.

 

“Bagaimana bisa kita memulai kisah ini, Kyuhyun-a?”

 

Pemuda disampingku mengedikkan bahunya acuh, dia melangkah menuju bangku taman sekolah dan duduk disana, menepuk sisi kosong di sebelahnya mengundangku agar duduk bersamanya. Aku menurutinya namun masih dengan pandangan penuh tanya.

 

“Memangnya salah jika kita memulai sebuah kisah?”

 

Aku merenung. Tidak salah. Semua orang berhak memulai kisah mereka, walaupun terkadang hanya satu orang yang memulainya, karena orang yang ingin diundang itu telah memulai kisah lebih dulu dengan orang lain. Kemudian aku menggeleng dan menjawab, “Tidak juga.”

 

“Lalu, kenapa kau masih bertanya? Sudah jelas kita memulai sebuah kisah dengan kalimat “aku mencintaimu” yang keluar dari bibir kita berdua, lalu aku melengkapinya dengan sedikit cumbuan dibibirmu,” ucap pemuda di sampingku lengkap dengan seringainya. Aku mendelik tajam, aku tahu wajahku sudah memerah, karena aku merasakan wajahku memanas.

 

“Aku sudah berjanji, Sooyoung-a, aku sudah berjanji untuk selalu mencintaimu. Walaupun suatu saat nanti ada badai yang menerjang kisah ini. Karena aku yakin, tak ada kisah yang tak di datangi badai. Namun, aku juga tahu, ada takdir yang akan membawa kita pada tujuannya semula. Dan aku selalu berharap. Takdirku adalah kau.”

 

.

 

 

Tapi ternyata kalimat “aku mencintaimu” saja tidak cukup untuk hidup di dunia yang kejam ini. Aku salah mengartikan “cinta” yang kurasakan pada pemuda itu, yang sebenarnya hanyalah cinta monyet masa-masa remajaku. Namun, cinta sialan itu masih membekas hingga saat ini dan membawaku pada takdir benang merah yang tak memiliki ujung.

 

Aku lelah di permainkan takdir sialan ini. Aku lelah.

 

Itu dia. Dia yang wajahnya sudah tidak lagi bisa kuingat, datang kembali di saat yang tidak tepat. Aku sudah melupakannya, tapi kenapa nyeri di ulu hatiku ini masih bisa menyerangku saat menatap mata kelamnya?

 

Aku akan melangkah menjauh seandainya aku bisa menarik diri dari tatapan sendu itu. Hei, seharusnya yang meraung pilu itu aku, ‘kan? Karena kau tinggalkan tanpa kepastian. Tapi kenapa disini seolah kau yang paling tersakiti?

 

Dia melangkah satu langkah, aku mundur secara teratur tiga langkah. Dia kembali terdiam dan tatapannya semakin membuatku ingin menangis melihatnya.

 

Dia bergumam, aku hanya mendengarnya samar-samar. “Sooyoung-a ….”

 

Oh, dia masih menghafal ejaan namaku. Aku memutuskan untuk mengabaikannya, berbalik badan kemudian melangkah menjauhi dia yang berteriak memanggil namaku.

 

“SOOYOUNG! CHOI SOOYOUNG!”

 

Ketahuilah, aku bukan lagi seorang Choi. Ada seseorang yang telah mengubahku dahulu. Sama seperti kau yang telah mengubah seorang wanita menjadi Cho.

 

-oOo-

 

 

Kemudian, aku tidak tahu apa yang terjadi.

Anakku secara teratur membawa temannya kemari, alasannya hanya ingin belajar bersama.

 

Namun, kemudian Yoona menanyakan hal asing padaku, “Ibu, apa ibu bisa bahasa isyarat?” Pagi hari di hari minggu itu dia bertanya bersama semburat merah jambu di pipinya.

Aku memandang aneh dirinya, Yoona terus menanyakanku pertanyaan yang sama, padahal dia sudah tahu jawabannya. Aku tidak bisa.

 

“Ada apa denganmu?” tanyaku padanya, Yoona menundukkan wajahnya yang semakin memerah dan menghindari tatapanku. Baiklah, aku mengerti sekarang.

 

“Kau sedang menyukai seseorang, Nak?”

 

“Ibu!”

 

Aku tersenyum, dia sudah mulai berkenalan dengan perasaan. Kunasehati dia agar tidak terlalu berlebihan dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Dia menjawab mantab kalau itu tidak akan terjadi.

 

Yoona menceritakan tentang seorang pemuda bernama Jongin. Pemuda yang sering ia bawa kerumah dengan alasan belajar bersama. Dia pemuda bisu (sekarang aku tahu kenapa anakku begitu ingin belajar bahasa isyarat), walaupun begitu, dia pemuda pintar mendekati jenius, pemuda itu begitu gila pada sains dan akan lupa waktu saat mengerjakan soal-soal sains. Yoona juga mengatakan padaku bahwa Jongin saat ini sedang sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti olimpiade sains antar negara. Hebat. Selama hidupku, aku bahkan nyaris tidak pernah melihat orang di sekelilingku memiliki kesempatan mengikuti olimpiade, hanya satu orang, dia adalah orang yang kutemui saat berbelanja di pasar saat itu.

 

“… bu! Ibu!” Aku tersentak, mengerjapkan mata beberapa kali dan memandang Yoona yang melihatku dengan wajah cemberut.

 

“Ibu sedang melamunkan sesuatu?” tanya Yoona. Aku menggeleng dan meminta maaf padanya karena tidak mendengarkan ia yang sedang bercerita.

 

“Bu, besok pagi di sekolahku ada festival. Katanya, siswa-siswi boleh mengajak orang tua mereka ke sana. Ibu datang, ya? Ya?” Yoona menatapku dengan tatapan memohonnya, aku mengangguk setelah kupikir-pikir aku tidak pernah bisa menolak permintaannya. Dia bersorak girang dan meloncat-loncat seperti anak kecil. Aku memandang anakku dengan senyuman tipis di bibir.

 

Keesokan harinya, aku dan Yoona berangkat menghadiri sebuah festival di sekolahnya yang tidak kuketahui apa. Aku memakai pakaian sederhana, sebuah dress berwarna hijau muda dibawah lutut, rambutku kubiarkan tergerai. Yoona berangkat dengan seragam musim panasnya, rambut panjangnya ia ikat ponytail, dan menggandeng tanganku semangat saat kami berangkat menuju sekolahnya.

 

Aku benar-benar tidak tahu ini festival apa. Tapi aku cukup menikmatinya, disini banyak sekali stand-stand yang menjual makanan tradisional dari beberapa negara di Asia.

 

Aku mengambil salah satu makanan yang digoreng di salah satu piring. Makanan Jepang dan China aku sudah kenal, tapi untuk makanan ini, baru pertamakali kulihat, sedikit aneh, tapi rasanya enak juga. Kata penjaga standnya, nama makanan ini adalah tempe, yang dibuat dari kacang kedelai, asal makanan ini dari negara bernama Indonesia. Kuakui, bentuk dan rasanya memang sederhana. Tapi, aku ketagihan memakannya.

 

Di sampingku, Yoona berteriak kencang. Aku mendelik padanya yang hanya dibalas cengiran. Dia melambaikan tangan pada seseorang dan menyuruhnya kemari. Aku berbalik, menaruh kembali makanan bernama tempe itu dan menghadap ke arah dimana seseorang yang Yoona panggil tadi.

 

Mata itu membulat. Aku terkejut, memandang pria di depanku dengan tatapanku yang berubah sendu. Kenapa kita harus kembali bertemu?

 

Bibir itu terbuka dan melafalkan namaku. Entah mengapa, darahku berdesir saat mendengarnya, tanpa kusadari, air mata jatuh membasahi pipi.

 

Yoona dan pemuda yang berseragam sama dengannya menatap kami tanya. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku sudah melupakannya, aku sudah melupakan pria ini. Aku sudah—

 

Lalu, kaki ini membawaku berlari. Menjauh dari semua ini.

 

Teriakan itu kembali memanggil namaku. Dengan suara yang berubah pilu.

 

-oOo-

 

 

Tangan itu selalu berusaha menggapai. Menggapai tangan lainnya yang enggan menerimanya.

 

Bibir itu telah melantunkan kata maaf seribu kali. Tapi, beribu-ribu kali wanita itu menjauh dengan air mata di pipi.

 

Beberapa bulan telah terlewati. Anak wanita dan anak pria itu kemudian menyadari, mereka tidak ditakdirkan sebagai kekasih hati. Namun, seharusnya sebagai saudara yang saling memiliki. Mengikat janji, untuk menyatukan orang tua mereka kembali.

 

Satu tahun telah terlewati. Usaha itu, hampir saja tak memiliki arti.

 

Saat itu, sang wanita berlari menghindari, menghindar dari pria yang sebenarnya masih ia cintai. Semua terjadi dalam satu menit yang memiliki arti, pria itu, secepat cahaya menggantikan posisi wanita itu, terhempas bersama darah di sekujur tubuh, terlelap dalam dunia yang tak memiliki ujung. Hingga kini, pria itu terbaring dengan sejuta harapan dan kata maaf dari bibir wanita itu.

 

Begitu lama takdir bermain bersama mereka. Salah satu dari mereka, bahkan nyaris putus asa. Menerka-nerka hal yang tak terduga. Membayangkan ia yang akan kembali menangis di samping tubuh tak bernyawa. Ah, dia bahkan ingin mati saja.

 

Tapi, tangan itu kembali menggapainya. Menuntunnya menuju dunia yang dia inginkan. Melantunkan kata maaf dan menyesal dari lubuh hati terdalam. Mengakui keegoisan, menggantinya dengan kejujuran.

 

Pria itu menjanjikan kebahagiaan, yang terlambat ia berikan. Menjadi keluarga, dalam sebuah rumah sederhana. Bersama dua anak, dan kini akan menjadi tiga. Ah, wanita itu kini menangis bahagia. Bersama keluarga, bersama pria yang selalu dia cintai, bersama-sama, dalam sebuah rumah sederhana.

 

Benang merah yang kusut, kini telah di temukan ujungnya. Membawa dua anak manusia, menuju takdir mereka, yang sebenarnya, memang di takdirkan untuk bersama. [ ]

31 thoughts on “[Oneshot] Red String

  1. Rizky NOviri says:

    itu budha di gereja lg ngapain coba… pastur kmn emang??? :v bikin salpok itu scane yg itu😀
    idup kyuyoung rumit yeh…😀

  2. kangjung_ae says:

    Sumpeeh ni ff rada bingungin sedikit sih tapi pas udah tau konfliknya jadi sedih…tragis banget kisah cinta mereka 😢 endingnya ketemu pas mereka lagi berbenah diri buat nglupain kesedihan 😂 nice ff thor 😄

  3. mongochi*hae says:

    ouhhhh klo memang sdh takdie meski didera masalah kekejam badai atau topan sklipun ttp akn bersatu pd akhirny
    bgtupun dg kyuyoung
    i hope its real

    next ff dtunggu

  4. husnulk says:

    Nice story, meskipun rada lama buat ngertiin ceritanya…
    Baik syoo sama kyuu meskipun ga bersatu dimasa muda tapi kalo memang sudah takdir akan bersama ya pasti akan bersama meskipun harus nunggu lama…
    Salut gilaa ama donghae, kerenlah dia disini rela tersakiti hatinya demi syooo…
    siapa tuh yg jadi istri kyuu, dasar picik, jahat, psikopat kyaknya tuh…
    ah jadi yoona ama jongin memutuskan gajadi sepasang kekasih karna tau orngtua mereka saling mencintai yaa…
    Next karya ff mu yg lain thor😉

  5. febryza says:

    baguuuusss… emang ya kalo red stringnya udah sama2 ngikat walaupun sempet putus dan pindah ikatan tapi bakalan tetep bisa lagi

  6. kyuyoung 4ever says:

    cerita’y bagus ko min ..
    good job..
    walaupun berluku_liku tpi ending’y keren.keren.keren .
    figting ya wat next brkut’y

  7. ini beda2 tipis lah kayaknya sama love rain. cuma bener kan ya kyuyoung akhirnya bersatu? krn sampe baca beberapa kali dibagian akhirnya buat paham(?). kalo bener bersatu, berarti bedanya sama love rain(?)malah ibu bapaknya yg bersatu hahahaha biar gak galau(?)

  8. ry-seirin says:

    jdi mksudya kya Second chance gto kan,,,
    tpi jln cerita bnang merahnya jauh bnget mlah flashbacknya yg banyak bingit.
    well asalkan Happy End Kyuyoungnya gk ppde,,,,but gk ada kyuyoung momentnya jdi krang gereget.

  9. ddwulan says:

    sebenernya agak binggung bacanya tapi seru juga ceritanya, dari depan feelnya dapet.. good job ditunggu yang lainya

  10. Rychell says:

    Agak sedikit weired yaaa wkwkkw
    Tp aku ngertinya sih mereka sama2 udh pny anak dan janda duda gitu trs mereka akhirnya bersatu

  11. ajeng shiksin says:

    aku ngerti maksut nya. awal nya kyuhyun sama sooyoung enggak bersama tp akhir nya bersama . di sini ada POV kyuhyun sama POV sooyoung.. tp yg aku bingung kan di sini yoona suka sama jongin. terus mereka gimana??? pas yg donghae meninggal sempet mewek.
    tp over roll bagus ff nya..
    semangat author..

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s