[Series] We Are On Dating -1-

We Are On Dating

Title             : We Are On Dating

Author         : soocyoung (@helloccy)

Genre          : Romance

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonhaseyo!!

Orenmaneyo, knightdeul!! ^^

Apa kabarnya? Baiklah ya, hhehehe

Rasanya udah lama banget gitu ya aku gg post apa-apa disini. Tapi jangan khawatir, kali ini aku bawa cerita baru. Sebenarnya sih gg baru-baru banget lah ya, cz aku terinspirasi dari FF ku yang sebelum-sebelumnya trus juga dapet inspirasi dari salah satu program reality show aja sih. Jadi jangan terlalu kaget kalo—mungkin ada beberapa hal yang kalian pikir mirip atau gimana gitu ya -___-

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

“Kyuhyun-ah! Daebak! Kau memperoleh All Kill lagi kali ini! Yah, jinjja daebak!” seru Yoo Jaemin, manajer-ku sambil menunjukkan chart musik yang ada di ponselnya padaku. “Yeoksi, Cho Kyuhyun! Aku benar-benar bangga padamu” katanya lagi.

“Aku juga bangga padamu, hyungnim” sambung Han Taesung, asistenku.

Aku hanya memberikan senyuman simpul pada dua orang terdekatku itu sebelum mengalihkan perhatianku pada musik yang sedang aku dengarkan. Aku menatap ponselku lalu tersenyum kecil. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika lagu baruku ini akan disukai oleh banyak orang. Aku senang, tentu saja. Karena aku sudah bekerja keras dalam pembuatan album baruku ini, dan itu semua aku persembahkan untuk para fans-ku yang sudah mencintaiku sampai saat ini.

Ah, benar. Aku akan memperkenalkan diriku dulu.

Namaku Cho Kyuhyun. Aku seorang penyanyi solo yang melakukan debut pada tahun 2013. Karir-ku di dunia hiburan ini bisa dikatakan sangat baik, mengingat ketatnya persaingan di dunia ini. Sebenarnya aku cukup beruntung karena berada di bawah naungan sebuah agensi besar dan bekerja dengan orang-orang hebat yang sangat menunjang karir-ku sebagai seorang penyanyi. Meskipun dari awal aku tidak pernah berpikir untuk menjadi penyanyi, tapi siapa yang menyangka jika aku bertemu dengan salah satu orang dari agensi tempatku bernaung dan kemudian dia memberikan kesempatan itu padaku saat aku sedang bernyanyi di sebuah acara pernikahan temanku. Dan setelah menjalani training selama sekitar 2 tahun, akupun pada akhirnya melakukan debut-ku yang cukup sukses saat itu.

Hyungnim, kau memang jenius dalam membuat lagu. Aku akui itu, dan semua orang juga menyukai lagu-lagumu” Taesung kembali berkomentar setelah suasana hening terasa diantara kami bertiga.

Gomawo, Taesung-ah” Aku menanggapinya singkat.

Van putih yang selalu aku naiki ini terus melaju menuju kawasan Yeouido, Yeongdeungpo-gu. Hari ini adalah ‘comeback stage’ pertamaku di sebuah acara musik yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Aku sangat bersemangat, tentu saja. Apalagi ini sudah cukup lama sejak aku mempromosikan laguku yang terakhir kali. Aku memang disibukkan dengan jadwal tour dan beberapa aktivitas di Jepang. Karena itulah sudah lebih dari satu tahun aku tidak muncul di hadapan publik Korea dengan lagu baru, dan ini adalah kesempatanku.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, mobil akhirnya menghentikan lajunya. Akupun bergegas keluar dari mobil, diikuti oleh manajer dan asistenku yang berjalan di belakangku. Aku sempat melambaikan tangan ke arah para fans-ku yang sudah menunggu di luar gedung sebelum benar-benar memasuki gedungnya. Aku memang selalu berusaha untuk memanjakan dan memuaskan para fans-ku selama ini. Karena memang berkat mereka-lah aku bisa sampai pada saat ini, dan aku sangat menghargai mereka.

Aku terus melangkah sampai akhirnya tiba di ruang tunggu yang sudah disiapkan untukku. Han Taesung segera menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan panggungku, termasuk kostum, make-up, tatanan rambut, dan sebagainya. Dia tidak bekerja sendirian karea ada staf-staf lain yang selalu setia bersamaku kemanapun aku pergi. Mereka sudah seperti keluargaku, sebenarnya. Karena aku bahkan lebih sering bertemu dengan mereka daripada dengan keluarga kandungku sendiri. Jadi hubungan apa yang lebih dekat daripada sebuah keluarga antara aku dengan para staf-ku?

Comeback stage-mu berada di segmen akhir, Kyuhyun-ah” kata manajer Yoo memberitahuku disela-sela make up-ku. “Itu masih cukup lama dan kau bisa menggunakan waktumu untuk mempersiapkan penampilanmu”

“Aku akan berkeliling,” kataku menyahut.

“Butuh bantuan?” Taesung menawarkan diri. “Aku bisa membantumu membawakan CD-CD nya, hyungnim

“Tidak usah. Aku bisa membawanya sendiri” kataku seraya mengambil tumpukkan CD yang berisi album baru-ku yang sudah aku tanda tangani. Aku beranjak dari tempatku, “Aku pergi dulu kalau begitu,” kataku pada Taesung dan Jaemin.

Mereka berdua menjawabnya dengan anggukkan kepala.

Akupun keluar dari ruang tunggu dan mulai membagi-bagikan CD pada para artis yang juga sedang promosi bersamaan denganku—entah itu solois atau group. Aku mendatangi mereka semua sambil sedikit mengobrol untuk lebih mengenal mereka. Setelah semuanya sudah aku bagikan, aku bergegas kembali ke ruang tungguku dan menghampiri Han Taesung yang sedang duduk di sofa sambil memandangi ponselnya. Dia terlihat serius jadi aku mencuri pandang ke layarnya dan perhatianku sepenuhnya teralih pada sosok seorang yeoja yang ada di layar ponsel Taesung.

Sosok itu adalah Choi Sooyoung, seorang artis yang sedang banyak dibicarakan orang karena dramanya yang sangat sukses, baik di Korea maupun di luar Korea. Rating dramanya yang selalu tinggi membuat nama Choi Sooyoung menjadi salah satu artis papan atas yang berhasil bersaing dengan artis-artis lainnya di dunia hiburan ini. Aku dengar banyak produser yang menawarkan drama mereka untuknya tahun ini, tapi dia lebih memilih drama bergenre fantasi-misteri yang sangat sukses merajai rating untuk drama televisi tahun ini.

“Artis Choi Sooyoung yang dikabarkan tengah menjalin hubungan dengan co-star nya, Park Sangwoo, akhirnya memberi tanggapan. Choi Sooyoung yang baru saja menyelesaikan drama ‘Have You Seen’ bersama Park Sangwoo pun disambangi oleh tim Entertaiment Section. Dalam kesempatan itu, Choi Sooyoung mengungkapkan semua hal mengenai rumor—“

“Itu akan luar biasa jika dia mengkonfirmasinya. Bukankah Sangwoo-Sooyoung itu pasangan yang serasi? Meskipun aku penggemarnya Choi Sooyoung, aku akan selalu mendukungnya dengan siapapun yang bisa membuatnya bahagia” komentar Taesung menenggelamkan suara reporter yang ada di video ponselnya.

Aigoo… Kau adalah fans-nya yang sejati, kalau begitu” kataku menimpali. “Yah, pasti akan pihak-pihak yang mendukung jika mereka benar-benar berkencan meskipun akan ada banyak juga yang kecewa”

“Kau termasuk pihak yang kecewa, ‘kan, hyungnim?” sahut Taesung dengan cepat dengan senyum menggodaku di wajahnya. “Bukankah Choi Sooyoung itu adalah tipe yeoja yang kau sukai? Apa kau ingat? Kau bahkan menyebutkannya terang-terangan di sebuah interview majalah dan—“

Ya! Itu sudah lama,” selaku sebelum Taesung menyelesaikan perkataannya. Aku langsung memasang wajah serius dan datar untuk menyembunyikan kebohonganku, “Apa kau pikir tipe yeoja ideal-ku tidak berubah setelah dua tahun? Lagipula aku bertemu banyak orang beberapa tahun ini, jadi yah… kau bisa menebaknya sendiri”

Han Taeseung hanya mengangkat kedua bahunya untuk menanggapiku. Perhatiannya kembali tertuju pada ponselnya, dan akupun diam-diam ikut menontonnya karena aku juga ingin tahu penjelasan Choi Sooyoung mengenai rumor kencannya itu.

“—berteman. Tak ada hubungan spesial diantara aku dan Sangwoo-ssi, karena dia adalah sunbae yang sangat aku hormati” Suara Choi Sooyoung terdengar sedang menjelaskan—meskipun aku tak mendengarnya dari awal. “Karena kami bekerja dalam sebuah drama yang membutuhkan suatu chemistry yang bagus, jadi kami sering berdiskusi baik itu di dalam maupun di luar syuting. Banyak yang harus kami diskusikan termasuk bagaimana harus membangun chemistry untuk menguatkan drama kami, dan sangat sedikit waktu yang bisa kami diskusikan selama syuting berlangsung jadi kami melakukannya di luar syuting bersama beberapa staf, dan rekan artis yang lainnya—“

Assa! Mereka tidak berkencan!” seru Taesung terlihat senang sambil mengepalkan tangannya. “Aku sudah tahu jika Sangwoo-ssi itu bukanlah tipe Choi Sooyoung,”

Aku tersenyum senang tapi menyembunyikannya dari Taesung. “Ya! Bukankah tadi kau berkata kau mendukung mereka?” kataku menggoda. “Lalu apa sekarang? Kau fans yang labil,”

Hyungnim, jika mereka tidak berkencan itu berarti masih ada kesempatan”

“Kesempatan?”

Taesung menganggukkan kepala, “Kesempatan untukku mendekati Choi Sooyoung,”

“Mendekati apanya—“ sahutku sambil beranjak dari tempatku dan memukul pelan kepala Taesung. “Simpan ponselnya sebelum Jaemin hyung melihatmu,” Aku mengingatkan karena manajer-ku yang satu itu paling tidak suka ada yang bermain dengan ponsel saat pekerjaan belum selesai.

Aku kembali duduk di kursi rias, lalu mulai melakukan pemanasan suara sambil memasang earphone-ku. Meskipun aku akan menyanyikan laguku sendiri, melatihnya lagi itu adalah suatu keharusan. Aku tak mau jika ada sesuatu yang salah saat penampilanku nanti karena itu pasti akan mengecewakan orang-orang yang menontonnya. Lagipula aku sudah mempersiapkan ini sejak lama, jadi aku memang harus menampilkan yang terbaik untuk panggung pertamaku ini.

“Cho Kyuhyun-ssi, stand by juseyo” Sebuah suara terdengar dari arah pintu, dan itu suara namja.

“Ne,” sahutku seraya berdiri. “Taesung-ah,” panggilku kemudian.

Ne, hyungnim” Taesung menyahut sambil menghampiriku. Dia memeriksa penampilanku sekali lagi secara lebih detail sebelum akhirnya berkata, “Clear. Kau sudah siap, hyungnim

Aku mengangguk mengerti.

“Fighting!”

“Fighting!” seruku sebelum melangkah keluar dari ruang tunggu dan pergi ke lorong menuju panggung.

Aku menunggu di balik panggung dan menonton sebuah sub-unit group dari salah satu girl group papan atas Korea. Mereka terlihat sangat cantik dengan balutan gaun sepanjang paha berwarna biru muda dan suara mereka benar-benar mempesona semua orang yang ada di studio. Tentu saja begitu. Mereka adalah anggota dari girl group yang namanya sudah tersohor dimana-mana, baik di Korea sendiri maupun di luar Korea. Mereka adalah sunbae-ku, dan aku akui mereka sangat berkualitas tidak hanya dalam segi penampilan tapi juga suara. Dan meskipun mereka sama sekali tidak melakukan gerakan tari seperti group-group lainnya tapi seluruh perhatian benar-benar tertuju pada mereka yang hanya berdiri di tengah panggung.

Saat aku masih dalam masa mengagumi penampilan sub-unit group itu—yang baru saja berakhir, suara penuh semangat MC membuatku sedikit terperanjat. Dia baru saja meneriakkan namaku sebagai tanda bahwa aku harus segera naik ke atas panggung.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan untuk sedikit meredakan kegugupanku. Meskipun aku sudah banyak bernyanyi di atas panggung, tapi first stage selalu memiliki sensasi sendiri. Banyak kekhawatiran yang aku rasakan, seperti misalnya jika penampilanku tidak memuaskan atau aku membuat kesalahan. Itu sedikit membebaniku, tapi setelah aku berhasil menenangkan diriku dan melihat bagaimana fans-fans yang sudah menunggu penampilanku, semua rasa itu menghilang begitu saja.

Saat aku melangkah ke atas panggung, teriakan para fans yang memanggil-manggil namaku langsung terdengar. Aku tak bisa berbuat banyak—untuk menyapa mereka, karena begitu aku sudah siap di posisiku, musik intro piano dari lagu baruku yang bergenre ballad dengan judul ‘Forget Me’ mulai berkumandang. Aku langsung memusatkan perhatian pada headset yang terpasang di telinga agar aku tidak tertinggal atau bernyanyi lebih cepat dari musik yang seharusnya.

“Nareul itgo sarayo (Lupakan aku, dan hiduplah)

Gieok deureun ijjido anhat, deon geot cheoreom (Seperti kenangan kita tak pernah ada)

Niga namgin seulpeume geuriume (Kesedihan dan kerinduan untukmu yang kau tinggalkan)

Tteonayo ijeuryeogo ji-uryeogo najocha beorimyeo (Aku akan melupakanmu, untuk menghapus diriku)

Nareul itgo sarayo (Lupakan aku, dan hiduplah)

Seoroga seororeul saranghan gieogeun ta opseddeonillo haeyo (Ayo berpura-pura kenangan dimana kita saling mencintai tak pernah adaa)

Amugeotdo aningeot cheoreom (Seperti aku bukan apa-apa)

Eonjengan uri, eotteon uyeoniljirado dasi mannajianhireul (Suatu hari, entah melalui kebetulan, ayo jangan pernah bertemu lagi)”

Aku mengusahakan untuk menyatu dengan lagu agar bisa menyampaikan isinya dengan baik. Beberapa kali aku memejamkan mata untuk bisa lebih merasakan musiknya serta liriknya. Aku terus bernyanyi, dan bernyanyi sampai akhirnya aku tiba di bagian akhir lagu dimana aku menutupnya dengan nada tinggi. Aku mengangkat mic dan wajahku agar suaraku dapat mengalir dengan mulus, dan aku berhasil melakukannya.

Musik pun berhenti, lalu suara tepukan tangan penonton terdengar yang menandakan berakhirnya penampilanku. Setelah mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badan, akupun kembali ke belakang panggung untuk membiarkan penyanyi lain yang tampil. Aku memutuskan tidak kembali ke ruang tunggu karena sebentar lagi acara musiknya akan berakhir dan semua artis yang tampil minggu ini harus berada di atas panggung seperti biasanya untuk melakukan penutupan karena tidak adanya rangking chart dalam program musik ini. Meskipun begitu, aku sangat puas dengan penampilan pertamaku dengan lagu baru hari ini dan aku akan menampilan sesuatu yang memuaskan lagi di panggung-panggung berikutnya.

__

Sooyoung POV

Bekerja dan hidup sebagai seorang selebritis itu menyenangkan tapi juga penuh dengan tekanan. Keduanya hampir selalu datang bersama-sama, dan tak ada yang bisa menghindarinya. Itulah yang sedang terjadi pada seorang selebritis bernama Choi Sooyoung, yang notabene adalah aku.

Rumor berkencan yang menerpaku benar-benar membuatku dalam tekanan. Bukan karena rumor itu benar atau bagaimana, tapi karena membiarkannya selama beberapa saat jadi rumor itu semakin berkembang. Sebenarnya saat aku mengetahui tentang rumorku dan Park Sangwoo, aku ingin sekali langsung membantahnya. Tapi agensi memintaku untuk mendiamkannya terlebih dahulu karena mungkin saja rumor itu akan cepat berlalu. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Rumor itu semakin kencang berhembus dan bahkan tersebar beberapa fotoku saat bersama Park Sangwoo yang sebenarnya diambil di lokasi syuting. Padahal ada juga staf-staf lain disana, tapi mereka memotongnya dan membuatnya terlihat seperti hanya aku—berdua, dengan Park Sangwoo.

“Sooyoung-ah,” panggil asistenku—Seo Yeo Jin, sambil menyerahkan satu majalah entertainment saat aku sedang dalam perjalanan kembali ke aparteman begitu menyelesaikan jadwal pemotretan untuk sebuah majalah. “Kau ada di halaman pertama penuh, dan menjadi berita utama” katanya memberitahuku.

“Benarkah?” komentarku.

“Aku sudah membacanya, dan hampir semuanya komentar positif. Meskipun… yah, ada juga beberapa yang menginginkan kau benar-benar berkencan dengan Park Sangwoo”

Aku tersenyum, “Mereka pasti masih merasakan euforia drama, dan masih berharap drama itu belum berakhir” kataku seraya memasang headset di telingaku dan mulai membuka-buka majalah yang diberikan asisten Seo. “Sepertinya aku harus mencari proyek lain untuk segera melepaskan rumor itu, eonni

“Proyek?” ulang asisten Seo. Dia diam sesaat, lalu tiba-tiba berseru. “Ada! Ada proyek yang masuk untukmu tapi masih berada di tangan manajer Bae”

Oh? Jinjjayo? Aku tadi hanya bercanda, eonni

“Tapi benar-benar ada tawaran untukmu,” sahut asisten Seo. “Aku masih belum tahu tawaran seperti apa itu—entah drama atau film. Satu hal yang pasti, aku mendengar manajer Bae sedang membicarakannya dengan Lee Sajangnim dan Produser Shin”

Jamkkamanyo. Apa maksudmu produser Shin Do Kyung?” Aku mencoba menerka-nerka.

Asisten Seo menganggukkan kepala dengan bersemangat.

Oh, aku ingin tahu tawaran apa yang dia berikan padaku kali ini. Kau tahu, eonni, aku selalu menyukai produser Shin” kataku. “Dia sudah seperti Appa-ku di dunia hiburan ini,” Aku menambahkan.

Arra. Jika bukan karena produser Shin, kau tak akan bisa sebesar ini ‘kan?”

“Eo, majayo”

Sebuah lagu berkumandang di telingaku dan langsung mengalihkan perhatianku dari pembicaraan mengenai produser Shin. Alunan pianonya benar-benar membuatku langsung tertarik untuk mendengarkannya, dan kemudian suara lembut seorang namja pun terdengar. Mataku terpejam dengan sendirinya sambil menikmati lagu yang sedang berputar di iphone-ku. Suara namja yang bernyanyi ini berhasil membuatku merasakan kedamaian, dan aku tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Aku kembali membuka mata dan menatap layar iphone untuk membaca nama penyanyinya.

“Cho Kyuhyun?” gumamku.

Oh? Wae?” Asisten Seo menyahut. “Kenapa dengan Cho Kyuhyun?” tanyanya kemudian.

Aniyo, yeogiyo” jawabku seraya menunjukkan apa yang sedang aku dengarkan pada asisten Seo. “Lagu dan suaranya bagus. Apa dia penyanyi baru?” tanyaku ingin tahu.

Molla. Meskipun suara dan lagunya bagus, tetap saja dia bukan penyanyi tipe-ku” jawab asisten Seo yang memang menyukai lagu-lagu dengan beat dan tempo yang cepat, tidak sepertiku yang lebih bisa menikmati lagu-lagu ballad. “Sekarang banyak penyanyi-penyanyi baru yang muncul dan sulit untuk mengikuti perkembangan mereka saat jadwalmu benar-benar membuatku sakit kepala” katanya lagi.

“Mianhaeyo, eonni. Na ttaemune—“

Ya! Kenapa itu karena kau?” potong asisten Seo dengan cepat. “Aku yang memutuskan untuk bekerja dengan Empire Ent. dan ikut denganmu. Lagipula aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal seperti fangirling dan sebagainya itu”

Aku kembali tersenyum, “Tapi menurutku tak ada kata ‘terlalu tua’ untuk menyukai sesuatu, eonni

Asisten Seo diam sesaat, lalu dia menghela napas panjang. “Geurae, maja. Aku masih menyukai Super Junior oppadeul, asal kau tahu saja”

Arra. Aku masih ingat bagaimana gugupnya kau saat Super Junior datang ke acara penghargaan tahun lalu” kataku teringat kejadian setahun yang lalu. “Kau bahkan memintaku untuk terus mengobrol dengan Siwon-ssi agar kau bisa melihatnya dengan dekat”

Ya! Kapan lagi aku bisa melakukannya?”

Aku tertawa, begitu pula Seo Yeo Jin. Umurku dengan asistenku itu memang sama, tapi dia lebih tua dariku beberapa bulan. Meskipun sebenarnya kami berteman—berdasarkan tahun kelahiran, tapi aku lebih nyaman memanggilnya dengan ‘eonni’. Hanya sesekali saja terkadang aku memperlakukan asistenku sebagai seorang teman, dan dia tak pernah mempermasalahkan bagaimana aku memanggilnya atau memperlakukannya. Karena menurutnya, dia bisa menjadi teman bagiku sekaligus eonni, atau bisa juga keduanya. Asalkan aku merasa nyaman dengannya, begitupula sebaliknya. Seperti itulah bagaimana kami bekerja bersama-sama dari awal aku debut sebagai seorang selebritis sampai sekarang ini.

Suara ponsel berdering tiba-tiba terdengar. Itu suara ponsel asisten Seo yang dengan sigap langsung dia jawab panggilan teleponnya. Aku ikut mendengarkan sebentar, tapi kemudian memilih untuk kembali mendengarkan musik sambil membuka-buka majalah yang sempat aku lupakan tadi. Telepon itu dari manajer-ku, yang lebih banyak menangani urusanku melalui agensi. Sementara orang yang terus mengikutiku kemanapun aku pergi adalah Seo Yeo Jin.

‘Menurutku, Sangwoo oppa benar-benar serasi dengan Sooyoung eonni. Lihat saja chemistry mereka saat bersama. Aku yakin mereka pasti akan menjadi pasangan yang banyak membuat pasangan lain iri’

‘Yeoksi… Pasangan ideal! Sayang sekali sudah dikonfirmasi mereka tidak berkencan. Padahal aku sangat berharap mereka juga resmi di dunia nyata’

‘Untuk pertama kalinya aku tidak senang karena rumor kencan selebritis dibantah’

Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala membaca beberapa komentar yang terkesan sangat mendukung hubunganku dengan Park Sangwoo menjadi nyata. Menurut pandanganku mereka masih belum bisa melupakan drama dan peran yang aku mainkan, yang memang di dalam drama itu aku benar-benar dipasangankan dengan Park Sangwoo. Aku tahu drama itu meraih rating tinggi bukan hanya karena jalan ceritanya yang menarik dan selalu membuat penasaran di setiap episodenya, tapi juga karena chemistry diantara aku dan Park Sangwoo.

Aku memilih untuk tidak melanjutkan membaca majalah dan meletakkannya begitu saja di kursi belakang mobil. Perhatianku kembali pada lagu yang sedang aku dengarkan. Tanpa aku sadari tanganku mulai mencari hal-hal apapun yang berhubungan dengan penyanyi bernama Cho Kyuhyun ini. Aku tak tahu kenapa aku begitu penasaran dengan sosoknya yang memiliki suara sebagus itu. Jujur saja, ini pertama kalinya aku tertarik pada seorang penyanyi. Padahal biasanya aku hanya mendengarkan lagu-lagunya saja dan hanya mengetahui siapa penyanyinya tapi tidak sampai yang mencari tahu.

“Soyeon eonni sudah menunggumu di apartemen, Sooyoung-ah” kata asisten Seo memberitahuku tiba-tiba. “Katanya ada yang ingin dia bicarakan denganmu,”

“Apa dia memberitahumu apa itu?”

Ani,

Arraseo,” sahutku mengerti. “Lagipula aku sudah lama juga tidak menyapa Soyeon eonni karena harus terus syuting. Meskipun beberapa kali dia datang berkunjung ke lokasi, tapi aku benar-benar tidak sempat menyapanya”

Gwenchana. Soyeon eonni juga tidak ingin menganggu konsentrasimu, dan diapun datang hanya untuk melihat suasana di lokasi. Itu sudah basa dia lakukan, ‘kan?” kata asisten Seo menanggapi. “Ah… apa mungkin dia ingin membicarakan tentang tawaran itu? Kau tahu, tawaran yang tadi kita bicarakan”

“Ey…seolma”

Mobil mulai memasuki basement sebuah gedung apartemen di kawasan Hannam-dong—di distrik Yongsan, dan kemudian berhenti. Aku segera keluar bersama Shin Yeo Jin lalu melangkah bersamanya ke kamar apartemenku. Aku tinggal sendirian di apartemen ini karena kedua orang tuaku memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka di Ilsan. Sementara itu, Seo Yeo Jin tinggal di gedung apartemen lain di kawasan Bogwang-dong.

Begitu memasuki kamar apartemenku, manajer Bae Soyeon sudah menunggu dan sedang duduk di sofa sambil membaca majalah yang sama dengan yang sebelumnya aku baca. Dia menyadari kedatangan kami, dan langsung melambaikan tangan ke arah kami untuk bergegas menghampirinya. Mau tak mau—tanpa menunggu apapun lagi, akupun melangkah ke arah sofa dan duduk bersebrangan dengan manajer Bae, sementara Seo Yeo Jin duduk persis di sebelahku.

“Bagaimana pemotretannya?” tanya manajer Bae memulai pembicaraan.

“Semuanya berjalan lancar. Tak ada pertanyaan yang menjebak atau pertanyaan-pertanyaan yang sensitif. Aku bisa menangani itu semua dengan baik” jawabku mengatakan yang sebenarnya. “Omong-omong, apa yang ingin kau bicarakan, eonni? Kata Yeo Jin eonni, kau ingin membicarakan sesuatu denganku” kataku langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu karena aku cukup lelah hari ini.

Aigoo… Apa kau sudah tidak sabar menerima tawaran yang datang padaku?” sahut manajer Bae sambil tersenyum tipis. “Jamkkan, apa kau tak mau mengomentari respon masyarakat pada tanggapanmu tentang rumormu dengan Park Sangwoo itu?”

“Tidak. Aku tak ingin mengomentari apapun karena rumor itu sudah selesai sekarang. Benar, ‘kan, eonni?” kataku seraya melirik asisten Seo yang terlihat terkejut aku berbicara padanya. Sebagai hasilnya, dia hanya menganggukkan kepala dengan canggung.

Manajer Bae tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya.

“Jadi, apa itu tawaran drama? Atau yang lainnya?” Aku memecah keheningan diantara kami yang tiba-tiba muncul. “Eonni, apa tak ada tawaran untuk MV penyanyi? Sudah lama aku tidak melakukannya dan aku—“

“Kenapa kau ingin melakukannya?” sela manajer Bae.

Oh? Emm—“ Aku bingung harus menjawab bagaimana karena pikiran itu mendadak muncul di kepalaku. Mungkin ini karena aku masih memikirkan Cho Kyuhyun dan lagunya yang masih terus terdengar di telingaku. “Aniyo, amugeotdo. Jadi apa itu?” tanyaku cepat-cepat.

“Bacalah ini,” kata manajer Bae seraya menyerahkan beberapa lembar kertas padaku. “Itu tawaran yang datang padaku dari produser Shin. Kau tahu aku mempertimbangkan ini karena mengetahui bagaimana peran produser Shin bagimu, dan dia memintanya langsung padaku agar kau mau mempertimbangkan proyeknya”

Aku tak memberi tanggapan apa-apa karena berkonsentrasi pada lembaran kertas yang diberikan oleh manajer Bae meskipun aku mendengarkannya. Kedua alisku saling bertaut membaca lembar demi lembar tentang proyek produser Shin ini. Bukan drama atau film, tapi sebuah program reality show. Aku tak percaya produser Shin beralih pada program seperti ini setelah dia sukses dengan banyak drama. Apa dia ingin mencari tantangan baru atau ingin mencoba sesuatu yang baru?

We Are On Dating?” seruku.

Maja, We Are On Dating, reality show baru dan pertama dari produser Shin” seru manajer Bae penuh semangat.

Eonni, kau ingin aku berpartisipasi dalam sebuah reality show yang seperti ini?” Aku masih tidak percaya manajer Bae memberikan tawaran program semacam ini padaku, yang bahkan tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku menghela napas singkat, “Apa kau sudah kehilangan akal, eonni?”

Wae? Bukankah ini juga baru untukmu? Cobalah sesuatu yang baru,” sahut manajer Bae sangat santai menanggapiku.

“Apa program itu tidak sama dengan program sejenis yang sangat terkenal belakangan ini?” Asisten Seo menimpali yang langsung aku sambung dengan anggukkan kepala. “Kau tahu, semacam pernikahan virtual” tambahnya.

“Kelihatannya saja yang sama, tapi itu berbeda. Kau tak perlu ‘tinggal’ bersama pasanganmu, dan itu hanya 100 hari. Aku tak bisa menjelaskannya lebih detail padamu karena semuanya sudah ada di lembar yang kau baca” kata manajer Bae sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Alasanku memintamu untuk berpartisipasi dengan program ini adalah agar kau terhindar dari rumor berkencan dengan Park Sangwoo atau siapapun yang—“

Eonni, apa dengan mengikuti program seperti ini menjamin aku terhindar dari rumor berkencan?” sahutku memotong perkataan manajer Bae. “Aku bisa mengatasi rumor-rumor itu dan jujur saja, aku sudah mengerti dari dulu bahwa rumor akan selalu ada, entah kapan waktunya. Itu sudah menjadi konsekuensi bagi siapa saja yang bergelut di dunia seperti ini”

Manajer Bae menghela napas panjang, “Kau mungkin benar. Kita lupakan tentang rumor, kalau begitu, karena itu hanyalah alasanku saja. Tapi pikirkanlah tentang produser Shin. Dia bahkan memintamu secara pribadi untuk mengikuti program pertamanya”

Aku diam saja.

“Lagipula itu hanya ‘pura-pura’ berkencan atau anggap saja kau sedang mencari teman baru dan bersenang-senang dengannya jika itu membebanimu” Manajer Bae melanjutkan perkataannya. “Sooyoung-ah, itu hanya 100 hari dan kau tak memiliki jadwal apapun selama 100 hari kedepan karena aku menolak beberapa tawaran yang datang”

“Kenapa kau menolaknya tanpa membicarakan denganku terlebih dahulu, eonni?”

“Sooyoung-ah,”

“Kau perlu refreshing, dan program ini mungkin bisa sedikit mencerahkanmu”

Aku tertawa kecil, “Mencerahkanku?” ulangku. “Eonni, aku bisa liburan kemanapun yang aku inginkan jadi kenapa program—“

“Produser Shin yang memintanya langsung dan secara pribadi padamu,” potong manajer Bae seraya bangkit berdiri. “Pertimbangkan bagaimana peranan produser Shin pada karir-mu, dan pikirkanlah” katanya sebelum melangkah pergi dari ruangan tanpa sempat mendengarkan tanggapanku.

Aku mendengar suara pintu menutup setelah beberapa saat, itu berarti manajer Bae telah pergi meninggalkan apartemenku. Aku menghela napas panjang sambil terus menatap ke nama produser dan program yang ada di lembaran di tanganku. Jujur saja, aku tak pernah berpikir bahwa aku akan mendapatkan tawaran program seperti ini di sepanjang karir-ku. Dan aku mengerti alasan kenapa manajer Bae mempertimbangkan program ini jadi aku juga tak bisa menyalahkannya begitu saja mengingat aku sangat menghormati produser Shin. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Kau akan mengambilnya?” tanya Yeo Jin tiba-tiba. “Geu ‘We Are On Dating,’” katanya sambil membaca tulisan besar yang ada di lembaran yang masih aku pegang.

Molla,”

Wae? Seperti kata Soyeon eonni, anggap saja itu untuk bersenang-senang. Menurutku juga kau memang memerlukan sesuatu yang baru selain hanya berakting di drama atau film”

“Bukan itu masalahnya,”

Geurom wae?” sahut Yeo Jin dengan cepat. Dia menatapku lekat-lekat dan membuatku sedikit tidak nyaman karena dia jarang sekali melakukan hal seperti itu padaku. “Hoksi… Changmin-ssi ttaemune?”

Aku kembali hanya diam.

Ah, maja. Itu pasti karena dia,” kata Yeo Jin lagi. “Aigoo… dia bahkan sudah melupakanmu, lalu kenapa kau tidak bisa melupakannya?”

Ya! Kau berkata seperti itu seakan-akan aku pernah berkencan dengannya atau bagaimana” sahutku. “Hubungan kami tidak pernah sampai sedekat itu—“

“Hampir,”

“Terserah kau sajalah,” kataku datar sambil berdiri dari dudukku dan melempar kertas di tanganku ke atas meja. “Aku lelah, dan kurasa aku butuh tidur sekarang. Tinggallah disini kalau kau masih belum berbaikkan dengan eommeoni. Kau tahu, tidak baik bertengkar lama-lama apalagi dengan orang tua sendiri”

Arra, arraseo

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis pada Seo Yeo Jin sebelum masuk ke kamarku sendiri. Aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Pandangan mataku mengarah ke langit-langit kamarku yang berwarna putih. Pikiranku kembali melayang pada program yang ditawarkan oleh produser Shin itu. Rasanya ingin sekali aku menolaknya karena secara pribadi program seperti itu bukanlah tipe program yang aku sukai. Tapi kemudian aku teringat dengan semua hal yang dilakukan produser Shin sampai membuatku menjadi sebesar ini. Jika bukan karena dia, aku tidak akan menjadi seorang Choi Sooyoung.

Lalu aku teringat pada sosok namja bernama Shim Changmin yang tadi sempat disinggung oleh Seo Yeo Jin. Namja itu bukan namjachingu-ku, tapi sahabatku bahkan sebelum aku terjun ke dunia hiburan seperti ini. Dia sahabatku saat kami masih sama-sama menjadi orang biasa sebelum akhirnya kami—juga, sama-sama menjadi seorang selebriti. Aku memang masih berteman dengannya, tapi hubungan kami tidak seperti dulu. Dan alasan kenapa aku teringat pada sosok itu adalah karena aku masih berharap dia menjadi sahabatku dan berada di sisiku lagi seperti dulu. Selain itu juga karena aku menyukainya, dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku. Tapi tak ada dari kami yang mengungkapkannya terlebih dahulu, entah karena alasan apa—mungkin persahabatan, tapi aku tidak yakin. Selama bertahun-tahun itulah aku terjebak dalam perasaan itu. Sebuah keadaan dimana orang menyebutnya, friend zone.

Aku menghela napas panjang. Kurasa aku benar-benar harus memikirkan ini dengan matang dan mempertimbangkan banyak hal. Meskipun di satu sisi aku ingin menerimanya sebagai ucapan terima kasih ku pada produser Shin—yang bahkan memintanya secara pribadi padaku, tapi disisi lain aku juga ingin menjaga perasaan seseorang, dan itu Shim Changmin. Apa yang akan aku lakukan sekarang, aku tak tahu. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu dan membuat keputusan, entah itu menerima atau menolaknya.

__

Kyuhyun POV

Ige mwoya hyung?” seruku tidak percaya sambil menunjukkan lembaran kertas yang tadi diberikan asisten Han padaku setelah aku selesai latihan vokal.

“Program reality show yang akan kau ikuti. Kau sudah membacanya, ‘kan?” kata manajerku tanpa ekspresi. “Tawaran itu datang padamu dan aku langsung menerima karena menurutku ini bagus untuk membuatmu lebih terkenal” katanya menambahkan.

Aku mendesah panjang, “Tapi kenapa program seperti ini? Aku memang ingin berpartisipasi dalam suatu program tapi bukan program semacam We Are On Dating

Aigoo… sejak kapan kau menjadi pemilih seperti ini?”

Hyung, ini bukan masalah pemilih atau bukan. Aku bahkan tak tahu bagaimana berakting dan—“

“Kau tak perlu berakting karena ini sebuah reality show jadi kau hanya perlu bersikap sewajarnya. Tak ada skenario apapun dari program ini, dan itu akan membuat semua orang tahu bagaimana romantisnya kau dan bagaimana kau memperlakukan seorang yeoja” potong manajer Yoo pada perkataanku. “Dan kata siapa kau tak bisa berakting? Bukankah kau sudah melakukan akting beberapa kali untuk MV-mu?” Dia melanjutkan.

“Tetap saja, hyung

“Semuanya sudah diputuskan, Kyuhyun-ah. Aku sudah mengkonfirmasi pada PD program itu bahwa kau menyetujuinya dan agensi juga sudah memberikan ijin”

“Tanpa membicarakannya denganku terlebih dahulu?”

Ah, mianhae. Bukan berarti aku tak mau membicarakannya denganmu terlebih dahulu, tapi karena aku tahu kau akan terang-terangan menolak tawaran ini,”

“Kalau begitu kenapa kau tetap menerimanya, hyung?”

“Aku ingin kau lebih berkembang, Kyuhyun-ah” jawab manajer Yoo masih belum menyerah berdebat denganku. “Mungkin saja setelah kau mengikuti program ini maka akan ada tawaran drama atau film. Bukankah itu juga akan bagus untuk karir-mu? Pikirkanlah itu,”

Aku diam saja kali ini.

“Kyuhyun-ah, dengar” kata manajer Yoo sambil mendekat ke arahku dan memegangi kedua bahuku. “Aku selalu ingin kau menjadi seorang artis serba bisa, dan aku tahu kau sangat mampu. Kau memiliki semua poin untuk menjadi besar, tidak hanya dalam dunia tarik suara tapi dalam bidang lainnya”

Hyung,”

“Jalani saja program yang aku pilihkan untukmu ini. Aku percaya akan ada sesuatu yang baik yang datang padamu setelah ini” kata manajer Yoo terus meyakinkanku. “Kau bisa mengerti maksudku, ‘kan?”

Aku mengangguk.

Manajer Yoo tersenyum senang sambil menepuk-nepuk bahuku. “Aku bangga padamu, Kyuhyun-ah” katanya kemudian.

Aku kembali diam, dan hanya membalas tersenyum pada manajer-ku itu.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Kim Sajangnim memintaku untuk datang setelah aku berbicara denganmu mengenai program itu,” kata Manajer Yoo yang masih terlihat senang karena aku tak membantah lagi mengenai progam yang baru dia beritahukan padaku itu. “Hubungi aku jika kau sudah selesai latihan. Mengerti?”

Eo, arraseoyo

Manajer Yoo kembali menepuk bahuku sekali sebelum dia melangkah pergi dari ruang latihan-ku. Meninggalkanku sendirian dengan lembaran kertas berisi program We Are On Dating yang sebentar lagi akan aku ikuti—dengan terpaksa. Jujur saja, aku tak pernah menyukai program-program seperti ini. Alasannya adalah karena aku tak bisa berakting meskipun seperti kata manajer-ku itu sudah beberapa kali aku berakting dalam MV-ku. Tapi menurutku itu berbeda, jauh berbeda. Aku bahkan tak yakin akan bisa melakukannya dengan baik atau tidak dalam program We Are On Dating ini.

Ah, jinjja! Kenapa tadi aku tidak bersikeras menolaknya saja?!” dengusku kesal pada diri sendiri. “Apa aku perlu menemui Kim Sajangnim agar dia mau membatalkan partisipasi-ku dalam program We Are On Dating ini?”

“Dia tak akan mau membatalkannya, hyungnim” sahut Taesung sambil masuk ke dalam ruangan dan mengampiriku dengan sebotol minuman dingin di tangannya. “Kim Sajangnim sangat bersemangat saat tahu ada tawaran seperti ini yang datang ke agensi. Dia bahkan yang merekomendasikanmu untuk mengikutinya,”

Sajangnim melakukannya?” sahutku terkejut.

Han Taesung menganggukkan kepala. “Itu semua keputusan Kim Sajangnim, jadi kau tak akan mungkin bisa membantahnya, hyungnim” katanya lagi. “Bahkan awalnya Jaemin hyungnim juga menolak program ini untukmu, tapi sajangnim sudah membuat keputusan”

Aku memukul keningku frustasi lalu menghela napas panjang sambil menundukkan kepala karena tahu tak ada yang bisa aku lakukan untuk tidak menerima program ini jika Kim Sajangnim sendirilah yang sudah membuat keputusannya. Jadi, aku memang tak ada pilihan lain selain mengikuti program konyol itu.

“Jadi, kau akan berpartisipasi dalam We Are On Dating ini, hyungnim?” tanya Taesung setelah suasana hening untuk beberapa saat.

“Apa menurutmu aku berada di posisi untuk menolaknya?” Aku balik bertanya pada Taesung karena situasinya sudah jelas tanpa dia perlu menanyakannya lagi. Aku kembali mendesah, “Mau tak mau aku harus mengikuti program itu, ‘kan?”

Taesung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Lagipula itu hanya 100 hari, hyungnim” katanya.

Geurae, 100 hari” Aku menyahut. “Semuanya akan cepat berlalu dalam 100 hari,”

“Aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik, hyungnim. Ah! Anggap saja pasanganmu nanti itu benar-benar yeojachingumu. Dengan begitu semuanya akan terlihat natural” kata Taesung memberi masukan padaku meskipun aku tidak memintanya.

“Apa kau tahu siapa pasangannya?”

Taesung menaikkan kedua bahunya, “Mollaseoyo. Kurasa hanya pihak program itu saja yang tahu. Berharap saja pasanganmu nanti itu seseorang yang mudah diajak kerja sama atau setidaknya cantik, ramah, menyenangkan, seperti misalnya—Choi Sooyoung!” serunya semangat.

Ya! Kau pikir selebritis sekelas Choi Sooyoung mau berpartisipasi pada program seperti ini? Dia pasti akan langsung menolaknya jika ada tawaran seperti ini” sahutku spontan. “Kau ini jangan terlalu berharap pada sesuatu yang kemungkinan terjadinya itu 1%, atau kau akan kecewa sendiri”

Heol,” komentar Taesung singkat.

Aku menghela napas untuk sekian kalinya sebelum menatap ke arah lembaran—seperti sebuah proposal, yang ada di tanganku. Entah kenapa aku justru memikirkan perkataan Taesung itu karena pasti akan sangat menyenangkan jika pasanganku benar-benar Choi Sooyoung. Tapi kemudian dengan cepat aku menggelengkan kepala dan mengenyahkan semua pikiran-pikiranku tentang Choi Sooyoung. Mungkin sebaiknya aku tidak memikirkan apapun yang pada akhirnya akan membuatku kecewa karena jujur saja, aku tidak menyukai perasaan itu.

“Taesung-ah,” panggilku kemudian. Aku memijit-mijit alisku sebentar lalu melanjutkan bicara, “Coba kau browsing mengenai apapun yang berhubungan dengan program We Are On Dating. Siapa tahu beritanya sudah muncul di Naver, dan juga siapa yang akan berpasangan denganku”

Eo, arraseoyo” jawab Taesung seraya mengambil ponselnya. Diapun mulai sibuk mencari-cari apa yang aku minta, sementara aku memilih untuk menunggunya saja sambil menyalakan musik di ponselku sendiri. “Oh! Hyungnim! Daebak, jinjja daebak!

Wae? Wae?” tanyaku cepat karena penasaran. “Apa kau menemukan siapa yang juga berpartisipasi dalam program We Are On Dating itu?”

Aniyo,”

Ya!

“Itu bisa kita cari tahu nanti, hyungnim. Lihat ini,” Taesung segera menyerahkan ponselnya padaku. “Namamu ada di pencarian pertama Naver,”

Mataku langsung membelalak mengetahui apa yang Taesung katakan benar. Namaku ada di peringkat pertama, tapi untuk alasan apa? Cepat-cepat aku mencari tahu, dan aku semakin terkejut karena ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa aku melakukan plagiatisme untuk lagu baruku, Forget Me. Seketika aku merasa kesal karena jelas-jelas aku membuatnya sendiri tapi aku tak bisa mengeluarkannya begitu saja mengingat ini adalah ruang latihan di agensi. Aku hanya bisa menarik napas panjang—lagi, kemudian menghembuskannya dengan perlahan untuk lebih menenangkan diriku.

“Plagiatisme?” komentar Taesung yang ternyata ikut membaca artikel yang sedang aku buka di ponselnya. “Bagaimana bisa plagiatisme?”

Molla. Ini pasti ulah antis,”

“Kalau begitu biarkan saja hyungnim. Mereka bahkan tak tahu bagaimana kerja kerasmu dalam membuat album ini”

Ya! Jika aku membiarkannya begitu saja, ini akan semakin berkembang. Aku harus menghentikannya” kataku tidak setuju dengan perkataan Taesung. “Jamkkaman, apa Jaemin hyung sudah mengetahui ini?”

Taesung menjawabanya dengan mengangkat kedua bahunya.

Aku mengembalikan ponsel milik asistenku itu lalu mengambil ponselku sendiri dan segera menghubungi manajer-ku. Dalam deringan kelima, Yoo Jaemin baru mengangkat teleponku dan aku hampir saja menyapa dengan nada kesal jika aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Itu karena aku benar-benar tidak menyukai rumor tentang ‘plagiatisme’, dan dari semua rumor aku paling benci dengan rumor itu untuk seorang penyanyi yang benar-benar tidak melakukan plagiatisme.

Yeoboseyo,” Suara di seberang sana menyapaku balik dengan nada tenang yang seperti biasanya.

Hyung, kau sedang sibuk?” tanyaku berusaha berbicara dengan sebiasa mungkin. Taesung mendengarkan percakapanku dan aku membiarkannya saja.

Eo, aku selalu sibuk jadi kenapa kau bertanya?”

Ani—“ sahutku ragu untuk beberapa saat. Aku melirik Taesung yang menunjukkan ponselnya padaku dimana artikel itu bisa langsung aku baca. “Apa kau kebetulan melihat artikel di Naver?” tanyaku pada akhirnya.

Eo, aku melihatnya. Wae?”

“Eotteokkaji, hyung?”

“Gokchongma, aku dan agensi yang akan mengurusnya” jawab manajer Yoo masih berbicara dengan nada yang sama. “Kau tidak melakukan plagiatisme, bukan?” tanyanya tiba-tiba.

“Tentu saja tidak!” sahutku keras.

“Kalau begitu baiklah. Kau tak perlu memikirkan artikel itu lagi karena sekarang yang perlu kau pikirkan adalah program We Are On Dating—“

Tto?

“PD-nya menghubungiku, dan kau beserta pasanganmu akan melakukan syuting lusa. Jadi, bersiaplah”

“Secepat itu, hyung?”

Ya, imma! Bukankah kau sudah melihat kapan episode perdana program itu? Tentu saja ‘secepat itu’” sahut manajer Yoo yang mulai mengubah gaya bicaranya. “Aku akan mengirimkan detail dimana dan bagaimana kau akan bertemu pasanganmu setelah dari agensi. Aku akan langsung ke apartemenmu lagi, dan membicarakan tentang program reality show itu. Arra?

“Emm,”

Joha—“

Hyung, apa kau sudah mengetahui siapa pasanganku nantinya?” Aku mencoba bertanya pada manajer Yoo karena mungkin saja dia sudah mengetahuinya tapi tidak memberitahuku sebelumnya. “Jika kau tahu, maka beritahu aku—“

Molla. Pihak program itu sama sekali tidak memberitahuku,” sela manajer Yoo. “Kkeut. Aku harus pergi menemui Kim Sajangnim dan mengkonfirmasi padanya bahwa kau tidak melakukan apa yang disebutkan di artikel itu”

Eo, arraseoyo” jawabku lalu memutuskan sambungan telepon dan menyimpan kembali ponselku.

Eotteoke, hyungnim?” Taesung langsung bertanya padaku.

“Jaemin hyung dan agensi yang akan mengurusnya,” jawabku memberitahu. “Meskipun begitu, kau harus terus mengawasi rumor itu. Aku akan langsung memberi tanggapan sendiri jika sampai penjelasan agensi tidak membuat reda rumor itu”

Taesung menganggukkan kepala mengerti dalam diam.

Aku bangkit dari tempatku dan berbicara pada asistenku itu. “Aku akan pergi ke ruang musik dan menenangkan diriku disana,” kataku langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa menunggu jawaban darinya.

__

Sooyoung POV

Aku berjalan di sepanjang pesisir pantai hitam Samyang di pulau Jeju. Aku benar-benar tak tahu dengan ide program We Are On Dating ini yang memintaku—dan mungkin pasanganku, untuk datang ke pantai Samyang pukul lima sore. Aku tahu, pantai ini memang menawarkan pemandangan terbenamnya matahari dibandingkan dengan pantai-pantai lain yang lebih menawarkan pemandangan pantainya. Mungkin itu salah satu tujuan kenapa harus pukul lima sore karena pasti aku dan entah siapapun pasanganku nanti akan menikmati pemandangan matahari terbenam.

Dengan kamera yang terus mengikutiku dan sebuah mic mungil yang dijepit di kerah baju, akupun berusaha untuk berjalan santai sambil menikmati segala hal yang ada di pantai yang baru pernah aku kunjungi ini. Saat ke pulau Jeju, biasanya aku pergi pantai Jungmun atau pantai HyeopJae yang memiliki pemandangan yang lebih indah dari pantai Samyang ini. Tapi tak apa, setidaknya aku cukup berterima kasih pada program ini karena pada akhirnya aku menginjakkan kaki di pantai ini meskipun tujuanku ke datang kesini adalah untuk keperluan syuting dengan seorang kameramen yang terus mengikuti di belakangku.

Aku terus melangkah menyusuri bibir pantai, dan tidak membiarkan kakiku basah terlebih dahulu di awal syuting. Karena tidak ada skenario itu berarti aku bebas melakukan apapun, dalam artian aku dibebaskan untuk melakukan apapun yang aku sukai selama proses rekaman. Aku mendapatkan satu poin tujuan dari program ini lagi sebenarnya, dan entah kenapa aku mulai tertarik karenanya. Ini pertama kalinya juga untukku terlibat dalam sebuah proses syuting tanpa adanya script. Meskipun aku sudah terbiasa di depan kamera tapi biasanya selalu ada script jadi aku tahu apa yang harus aku katakan saat melakukan sesuatu.

“Pemandangannya sangat indah,” kataku pada akhirnya mulai bersuara setelah beberapa menit hanya diam dan berjalan di sepanjang pantai. “Ini tempat yang bagus untuk kencan pertama,” Aku terus berbicara sendiri dan tak memedulikan orang-orang yang menatapku. Sepertinya mereka mengenaliku tapi mengetahui bahwa aku sedang syuting sesuatu dari kameramen yang terus mengikutiku.

Tiba-tiba suara ponsel berbunyi terdengar, dan akupun berhenti melangkah untuk memeriksanya. Ponsel ini adalah pemberian dari program We Are On Dating, dan hanya ada dua kontak di dalamnya, yaitu program itu sendiri dan pasanganku—yang sampai sekarang masih tertulis “Spesial Namja’. Setelah aku memeriksanya, ternyata itu adalah sebuah pesan. Aku membukanya dan cukup terkejut begitu melihat nama yang tertulis di layarnya, ‘Spesial Namja’.

‘Eodiseoyo? Gidaryeoyo’

Itulah bunyi pesan yang masuk ke ponsel khusus program ini.

Eotteokkaji?” gumamku panik—aku benar-benar panik sekarang, bukan karena sedang berakting. “Apa yang harus aku balas?” Aku kembali bergumam.

Jariku mulai mengetik di layar ponsel, ‘Aku datang, tunggu saja’. Lalu akupun mengirimnya dan menunggu balasan lagi.

‘Apa kau bisa mengenaliku?’ Pesan itu kembali datang setelah beberapa saat.

Amado’

‘Tunggu aku di tempatmu sekarang. Biar aku saja yang mendatangimu’

Aku berseru spontan, “Dia akan mendatangiku? Eotteoke—

‘Beritahu aku dimana lokasi persismu dan baju warna apa yang kau pakai’ Pesan itu datang lagi sebelum aku bahkan membalas yang sebelumnya.

Aku diam sesaat dan berpikir, lalu mulai mengetik. ‘Aku memakai baju berwarna biru, dan ada di sekitar batu karang di dekat walk-board’

‘Arraseoyo, gidaryeoyo’

Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil menyimpan kembali ponselnya. Aku benar-benar gugup sekarang dan sepertinya kameramen menangkap kegugupanku karena akupun sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikannya. Lagipula aku sudah bertekad untuk mengekspresikan semua perasaanku—jika itu memungkinkan, saat aku memutuskan untuk menerima program ini dengan pertimbangan produser Shin. Jika bukan karena dia, aku akan langsung menolaknya dengan tegas bahkan sebelum manajer Bae sempat membicarakannya dengan terlebih dahulu. Sayangnya program reality show ini berkata lain karena dibelakangnya ada nama Shin Do Kyung, seorang produser yang sangat aku hormati.

Ije nan eotteoke mollaseo,” kataku spontan sambil berjalan mondar-mandir di tempatku. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang tanpa adanya script yang menuntunku. “Haruskah aku duduk? Atau bersembunyi di suatu tempat sambil menunggunya datang?”

Untuk beberapa saat aku masih melakukan hal yang sebelum akhirnya aku berhenti bergerak karena sudah memutuskan sesuatu.

“Aku bersembunyi saja,” kataku terus berbicara sendiri. Aku menoleh ke sekelilingku, mencari tempat persembunyian. “Eodi… eodi… eodi…” gumamku bingung.

Aku berjalan beberapa langkah dari tempatku sebelumnya dan menemukan sebuah batu besar yang cocok untuk bersembunyi. Cepat-cepat aku melangkah ke arah batu itu dan bersembunyi di belakangnya sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Karena ternyata melakukan sesuatu di depan kamera tanpa ada script itu benar-benar menyulitkan. Setidaknya aku harus memikirkan cara untuk tidak terlihat benar-benar kebingungan dan membuatnya terlihat lebih natural.

Tak lama kemudian—benar-benar tidak lama setelah aku sembunyi, seorang namja muncul dengan sebuah gitar di balik punggungnya. Mataku menyipit untuk melihat siapa namja itu tapi tidak jelas karena dia terus memunggungiku.

“Eotteokkaji?” tanyaku ragu pada diri sendiri. “Apa dia orangnya? Bagaimana kalau bukan? Haruskah aku menemuinya dan langsung bertanya padanya?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus aku gumamkan dan aku tahu itu pasti terdengar oleh mic yang ada di kerah bajuku.

Aku kembali menatap namja itu—yang sekarang sedang duduk di atas batu karang. Aku mengamatinya. Namja itu mulai mengambil gitarnya dan kemudian suara petikan gitar pun terdengar bersamaan dengan deburan ombak yang bergulung pelan. Aku mendengarkan dan terus mendengarkan sampai akhirnya aku menyadari lagu apa yang sedang namja itu nyanyikan. Sebuah lagu yang beberapa hari ini berhasil menarik perhatianku. Lagu milik seorang penyanyi bernama Cho Kyuhyun. Dan tanpa aku sadari, kakiku pun melangkah dengan sendirinya menghampiri namja itu. Seakan-akan aku benar-benar terhipnotis olehnya.

Aku mendekati namja itu—yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena terus memainkan gitarnya. Untuk sekian detik aku hanya diam di posisiku dan terus mendengarkan lagu yang baru kali ini aku dengarkan secara langsung. Tapi kemudian aku teringat ini sedang proses syuting, jadi aku berdehem pelan. Membuat nama itu menghentikan nyanyiannya. Dia menoleh padaku, dan seketika matanya melebar melihatku. Sepertinya dia terlalu terkejut sampai dia bahkan langsung berdiri dari posisi duduknya.

“B-Bukankah kau Choi Sooyoung?” tanya namja itu.

Aku mengangguk sambil menyunggingkan segaris senyuman. “Apa kau datang kesini untuk berkencan dengan yeoja spesial-mu?”

Ne?” sahut namja itu masih terlihat terkejut. “Ah! Ne, majayo, majayo. Aku… emm, datang kesini untuk berkencan dengan yeoja spesial-ku. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga datang kesini untuk berkencan dengan namja spesial-ku” jawabku sedikit merasa lega setelah mengetahui bahwa namja ini memang benar pasanganku selama di program We Are On Dating ini.

Yah, meskipun dia tidak setampan namja pemeran utama yang aku temui di lokasi syuting, tapi aku harus mengatakan dia sangat keren. Dia juga terlihat familier olehku, dan satu hal yang paling penting, dia terlihat sesuai dengan yang aku harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan program ini. Setidaknya aku tak perlu menghabiskan seratus hari—yang aku tak tahu akan bagaimana, dengan namja yang tidak aku sukai sejak awal pertemuan.

Belum sempat aku mengobrol lebih banyak dengan namja ini, seorang staf dengan papan nama yang tergantung di lehernya mendekat dan memberitahuku serta namja itu untuk berpindah lokasi. Mau tak mau kamipun menurut dan mulai berjalan bersama-sama mengikuti staf itu.

Sepanjang perjalanan aku terus diam, begitu pula namja yang masih berusaha aku ingat dimana aku pernah melihatnya. Untuk sekejap aku sempat berpikir jika dia adalah Cho Kyuhyun, tapi kemudian aku menampiknya dengan cepat karena sepertinya penyanyi itu bukan tipe artis yang akan bergabung dengan program seperti ini.

“Baiklah, kita ambil take 2 dari sini” kata staf itu tiba-tiba. “Santai saja, dan abaikan kameranya jadi kalian bisa lebih natural. Mengerti?”

Kami berdua kompak menganggukkan kepala, lalu staf itupun pergi meninggalkan kami. Aku melihat tanda siap dari staf yang lain, dan sepertinya Cho Kyuhyun juga melihatnya. Rasanya ini seperti aku sedang syuting sebuah drama, tapi tanpa script dan dialog-dialognya serta adegan-adegannya terserah padaku.

Ah, perkenalkan… namaku Cho Kyuhyun. Aku seorang penyanyi, dan kau baru saja mendengarkan laguku” kata namja itu memperkenalkan dirinya di depanku.

Aku mengerjapkan mata karena terkejut setelah mengetahui siapa namja yang akan menjadi ‘namjachingu-ku’ selama seratus hari ini. “Eotteoke—“ gumamku pelan.

Waeyo?” tanya Kyuhyun kemudian, yang sepertinya dia mendengar gumamanku itu.

Aniyo, amugeotdo” jawabku cepat-cepat. “Aku Choi Sooyoung,” Aku balas memperkenalkan diri.

Arrayo, Sooyoung-ssi

Aku diam saja karena tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana.

Cho Kyuhyun tersenyum padaku, lalu dia mengajakku untuk mulai melangkah menyusuri pantai yang pemandangannya langitnya mulai memerah. Matahari terbenam sebentar lagi datang, dan lagi-lagi ini menjadi pertama kalinya bagiku menikmatinya bersama dengan orang asing yang akan menjadi namjachingu-ku karena sebuah program selama seratus hari ke depan.

“Aku mendengarkan lagumu, Kyuhyun-ssi” kataku memulai pembicaran agar tidak terkesan canggung karena semua yang kami lakukan dan apa yang kami katakan terekam oleh kamera maka aku sedikit berhati-hati. “Lagu-lagumu bagus dan aku sangat menikmatinya,” kataku lagi.

“Kamsahamnida,”

Aku tertawa kecil, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Waeyo?” tanya Kyuhyun yang mendengar tawaku. “Apa ada sesuatu yang salah?” Dia bertanya lagi.

Aniyo. Emm… bagaimana kalau kita berbicara dengan nyaman dan menghilangkan honorifik satu sama lain? Yah, meskipun mungkin itu terlalu cepat tapi kurasa itu akan lebih baik, dan kita juga bisa lebih cepat dekat satu sama lain. Eotteyo?”

Ne. Ah, maksudku… eo” sahut Kyuhyun.

Aku bisa melihat ada kegugupan di wajah Kyuhyun sekarang, dan itu membuatku berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Aku mengulurkan tangan ke depannya, tapi dia hanya mematung sambil memandangi telapak tanganku. Aku kembali tersenyum karena dia sama sekali tidak mengerti apa maksudku. Entah kenapa aku yakin sekali dia tak pernah melakukan hal-hal seperti ini, entah itu dalamm sebuah layar maupun di kehidupan nyata. Aku tak bisa menyalahkannya memang, karena pekerjaan kami yang berbeda, dan jika memang dia belum pernah berkencan sebelumnya, itu juga tidak masalah atau sesuatu yang perlu diejek. Aku sendiri tak pernah berkencan sebelumnya—kecuali berteman sangat dekat dengan Shim Changmin yang bahkan belum pernah melakukan skinship apapun denganku, tapi setidaknya aku pernah melakukan beberapa adegan yang berhubungan dengan ‘kencan’, jadi aku tahu sedikit lebih banyak.

“Bukankah mulai hari ini aku adalah yeojachingu-mu? Kau boleh menggandeng tanganku,” kataku pada akhirnya memberitahu maksudku pada Kyuhyun. “Ah, bolehkah aku memanggimu ‘Oppa’? Tak apa-apa jika kau keberatan,”

Kyuhyun masih diam saja di tempatnya.

Aku menarik napas pelan lalu meraih tangan Kyuhyun dan mendekatkan bibirku ke arah telinga namja itu. “Bekerjasamalah sedikit, Kyuhyun-ssi. Kau tentu juga berharap rating untuk program ini tinggi, ‘kan? Santai saja, dan anggap saja aku benar-benar yeojachingu-mu” bisikku sambil menutup telinga kanan Kyuhyun dengan kedua tanganku agar tidak terdengar oleh mic yang sama-sama terpasang di kerah baju kami.

Cho Kyuhyun mengangguk mengerti dalam diam.

Setelah itu, Kyuhyun langsung meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku cukup terkesan dengannya karena dia terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya setelah aku mengatakan begitu padanya. Meskipun ini baru pertemuan awal aku dengannya, tapi kurasa untuk bisa langsung dekat itu tidak masalah. Lagipula aku yakin pihak dari program ini akan mengedit beberapa hal, dan tidak semua yang kami lakukan hari ini akan langsung ditayangkan mengingat durasinya yang hanya sekitar 30 menit, sementara setengah jam nya lagi adalah talkshow yang akan selalu aku datangi setiap minggunya—bersama Cho Kyuhyun.

“Aku senang sekali, Sooyoung-ssi, karena bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dengan yeoja sepertimu” kata Kyuhyun seraya mengajakku melangkah bersama. “Dari dulu aku ingin melakukannya, tapi menemukan waktu yang tepat itu juga membutuhkan waktu dan aku cukup kesulitan”

Nado. Berjalan-jalan seperti ini dengan orang yang spesial memang terasa sangat berbeda dan aku juga senang bisa melakukannya denganmu” balasku berkata jujur karena aku benar-benar menikmati ini sekarang.

Kyuhyun mengajakku duduk di atas pasir, dan aku menyetujuinya. Kami duduk bersebelahan sambil memandangi matahari yang semakin terbenam di depan kami. Aku melirik Kyuhyun sesaat, lalu tersenyum tipis. Tak pernah terbayangkan sekalipun olehku bahwa aku akan menjadi pasangannya di program ini. Karena baru beberapa hari yang lalu aku tertarik padanya—pada lagu-lagunya dan suaranya, tapi sekarang aku justru langsung bertemu dengannya dan bahkan kami terlibat dalam program yang sama. Bukankah itu kebetulan yang tidak masuk akal?

“Sooyoung-ssi, apa yang paling ingin kau lakukan saat pergi berkencan?” tanya Kyuhyun setelah hanya diam beberapa saat.

“Banyak hal,” jawabku. “Tapi yang paling ingin aku lakukan itu berjalan-jalan di jalanan yang ramai dengan deret-deret toko di sepanjang jalannya. Lalu pergi ke kafe yang nyaman untuk menikmati sesuatu”

“Kalau begitu aku akan mengajakmu,”

Jinjjayo, oppa?

Kyuhyun mengangguk sambil menyunggingkan senyuman, “Kita akan melakukan banyak hal mulai sekarang, dan itu pasti akan benar-benar menyenangkan”

Geurae, arraseoyo” jawabku antusias. “Tapi pertama, aku ingin meminta sesuatu padamu. Bolehkah?”

Emm, tentu saja. Apa itu?”

“Nyanyikan sebuah lagu untukku,” pintaku tanpa ragu karena aku benar-benar ingin mendengarkan suaranya.

“Lagu?”

Aku mengangguk, “Lagu apa saja yang pertama kali kau pikirkan saat melihatku”

Oh… emm… jamkkaman,” kata Kyuhyun seraya mengambil gitarnya lagi. “Dengarkan ini, Sooyoung-ssi

Aku kembali menganggukkan kepala. Lalu suara petikan gitar mulai terdengar, dan aku masih tak tahu lagu apa yang akan Kyuhyun nyanyikan kali ini. Aku tersenyum tipis ke arahnya yang langsung dibalas dengan senyuman juga olehnya. Detik berikutnya, suaranya yang merdu pun terdengar. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa merinding dan aku yakin ini bukan karena angin malam pantai yang terus berhembus tapi mungkin ini karena suara Kyuhyun.

“Meoributeo balkkeutkkaji da sarangseureowo (Kau mengagumkan dari kepala hingga kaki)

Niga naui yeojaraneunge jarangseureowo (Aku sangat bangga memilikimu sebagai gadisku)

Gidarimi jeulgeobgo, ijen gonggimajeo dalkomhae (Menunggu itu menyenangkan sekarang dan bahkan udaranya manis)

Ireohke neoreul saranghae (Jadi aku mencintaimu)

Sesangi himdeureodo neol bomyeon (Saat dunia sulit untuk ditahan, sekali aku melihatmu)

Maeume barami tonghae (Aku bisa merasakan getarannya di hatiku)

Ireon ge saneun geoji ireon ge haengbokiji (Apa ini kehidupan atau kebahagiaan?)

Ijeya neukkige dwaesseo naneun (Apapun itu, aku merasakannya sekarang)

Kyuhyun terus bernyanyi sambil memetik gitarnya dan memandangiku. Itu membuatku gugup sebenarnya, tapi aku berusaha menyembunyikannya mengingat adanya kamera yang sedang mengawasi kami. Tapi mungkin sekarang pipiku merona merah karena lagu yang dinyanyikan Kyuhyun itu.

Onjongil uulhaedo neol bomyeon (Meskipun sepanjang hariku mendung, sekali aku melihatmu)

Meorie haetbichi deureo (Aku bisa merasakan sinar matahari di rambutku)

Ireohke nollaunge sarangiji (Apa ini perasaan cinta yang mengejutkan?)

Gidarin borami isseo (Ini perlu menunggu)

Aku hanya bisa diam terpaku mendengarkan Kyuhyun bernyanyi meskipun aku masih belum tahu lagu siapa yang dia nyanyikan—entah itu lagunya sendiri atau lagu milik penyanyi lain. Apapun itu, aku benar-benar menyukainya dan Kyuhyun terlihat sangat keren saat bernyanyi sambil memetik gitarnya. Setelah ini mungkin aku bisa menjadikan lagu itu menjadi lagu kesukaanku. Dan sekarang aku bahkan tak bisa berhenti tersenyum sambil menggerak-gerakkan badanku mengikuti irama petikan Kyuhyun.

__

Kyuhyun POV

Setelah menikmati pemandangan matahari terbenam, aku dan Sooyoung pergi untuk makan malam di sebuah restoran tak jauh dari pantai Samyang. Selama bersama Choi Sooyoung, aku sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Meskipun begitu aku tetap harus mengendalikan diriku untuk tidak terlalu sering menatap ke arah Sooyoung karena itu pasti akan terlihat sangat aneh di depan kamera. Selain itu juga aku terus berusaha untuk tidak canggung, dan bersikap natural seperti yang Sooyoung katakan padaku. Jujur saja, aku tidak melakukannya karena rating, tapi karena aku tak mau terlihat buruk di depan seorang Choi Sooyoung.

“Tempat ini cukup nyaman,” komentar Sooyoung saat kami sedang menunggu makanan yang kami pesan. Dia mengarahkan pandangan ke sekeliling restoran “Kudengar makanannya juga enak, jadi aku mengajakmu kesini”

“Apa kau pernah kesini sebelumnya?” tanyaku ingin tahu.

Aniyo,” jawab Sooyoung. “Aku dengar dari orang-orang di pantai menyebutkan tempat ini sebelumnya”

Ah, geuriguna

Sooyoung menganggukkan kepalanya sambil membuat ekspresi cute-nya. Aku tak bisa menahan diriku untuk tersenyum saat melihatnya. Ternyata melihat dan bertemu langsung dengannya jauh berbeda daripada hanya melihatnya di layar kaca. Itu karena Sooyoung jauh lebih cantik dalam dunia nyata, dan siapapun pasti akan langsung terpesona pada kharismanya. Tidak heran dia menjadi selebritis yang bisa membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama padanya dan itulah yang terjadi padaku saat aku melihatnya di televisi untuk pertama kalinya.

“Apa kau sering datang ke restoran-restoran seperti ini, Sooyoung-ssi?” tanyaku kembali memulai pembicaraan.

Aniyo,” jawab Sooyoung langsung. “Itulah kenapa aku sangat senang saat bisa mendatangi tempat-tempat seperti ini”

“Kau harus sering datang ke tempat seperti ini, Sooyoung-ssi. Ada banyak tempat yang nyaman dengan makanannya yang enak di sekitar Seoul” kataku memberitahu.

Geuraeyo?”

Aku mengangguk. Lalu makanan pesanan kamipun datang—yang diantar oleh dua orang pelayan. Aku melirik Sooyoung yang matanya langsung berbinar melihat makanan-makanan yang kami pesan. Aku kembali tersenyum karena dia pasti sangat menyukai makanan. Aku tak tahu berapa kali aku tersenyum tanpa aku sadari seperti ini, dan aku sedikit khawatir jika aku terlalu berlebihan di depan kamera.

Oppa, selain bernyanyi… hal apa yang kau sukai?” Sooyoung bertanya setelah kedua pelayan itu pergi. “Pasti ada sesuatu yang lain yang kau sukai, ‘kan?” tanyanya lagi.

Emm… selain bernyanyi?” ulangku sambil berpikir hal-hal apa saja yang aku sukai. “Tidak banyak tapi mungkin… game? Ah, aku juga suka bermain ski dan membuat lagu,”

Majayo. Kau membuat sendiri semua lagu-lagumu” komentar Sooyoung yang cukup membuatku terkejut karena dia mengetahuinya. “Jujur saja, aku menyukai semua lagumu, oppa. Ringan dan membuat sensasi tersendiri saat mendengarkannya,”

Jinjjayo?”

“Emm. Saat mendengarkan lagu-lagumu, entah kenapa aku bisa merasakan sesuatu. Ah… itu sulit untuk dijelaskan, tapi memang benar begitu”

Geureom… lagu apa yang paling kau sukai dari lagu-laguku?”

Sooyoung diam sesaat dan terlihat sedang berpikir, “Aku suka ‘Love Will Find The Way’, ‘Don’t Lose’, dan ‘Beat Me Up’. Tapi ’Forget Me’ adalah lagu yang paling aku sukai,”

Aku kembali terkejut karena Sooyoung mengetahui lagu-laguku dengan baik, bahkan dari album-ku yang pertama sampai yang ketiga ini. Diam-diam aku tersenyum karena tak menyangka seorang Choi Sooyoung cukup memperhatikanku.

Oppa, maukah kau menyanyikan sedikit untukku?” pinta Sooyoung kemudian.

Oh? ‘Forget Me’?” sahutku.

Sooyoung menganggukkan kepala sambil menatapku dengan mata berbinar. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang sekarang karena tatapan matanya itu. Aku menarik napas panjang untuk meredakan debaran jantungku lalu berdehem pelan sebelum akhirnya menyanyikan bagian refrain dari laguku yang berjudul ‘Forget Me’ itu :

“Nareul itgo sarayo

Gieok deureun ijjido anhat, deon geot cheoreom

Niga namgin seulpeume geuriume

Tteonayo ijeuryeogo ji-uryeogo najocha beorimyeo

Nareul itgo sarayo

Seoroga seororeul saranghan gieogeun ta opseddeonillo haeyo

Amugeotdo aningeot cheoreom

Eonjengan uri, eotteon uyeoniljirado dasi mannajianhireul”

Sooyoung langsung bertepuk tangan saat aku selesai bernyanyi, dan itu membuatku tersangjung. Jantungku semakin berdegup kencang tapi aku tahu bahwa aku harus bersikap seperti biasanya meskipun sebenarnya aku sangat gugup sekarang. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini saat bernyanyi—di depan seorang yeoja, dan itu benar-benar membuatku takjub pada diriku sendiri.

Jo—joaseoyo?” tanyaku pada akhirnya kembali berbicara.

Joahaeyo,” Sooyoung menjawabnya sambil menganggukkan kepala. “Rasanya jauh berbeda saat mendengarkan kau langsung menyanyikannya di depanku, oppa” katanya melanjutkan.

Aku tersenyum senang, “Gomawoyo karena kau menyukai lagu-laguku,”

Sooyoung balas tersenyum tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sekarang giliranku yang bertanya, “Apa yang kau sukai selain berakting, Sooyoung-ssi?”

Oh? Na?” celetuk Sooyoung terkejut. “Emm… dulu sekali aku suka hiking. Tapi karena aku sudah jarang melakukannya sekarang aku suka mendengarkan musik atau membaca sesuatu. Pokoknya apa saja yang bisa dilakukan di atas tempat tidur, aku pasti menyukainya”

Aku tertawa kecil mendengar jawaban Sooyoung itu.

Geurigo, oppa. Silahkan panggil aku dengan nyaman,” kata Sooyoung kembali berbicara.

Ah… ne, S-Sooyoung-ah” sahutku sedikit gugup saat memanggilnya begitu karena tidak terbiasa. “Jadi, apa semua itu yang kau lakukan diluar berakting?”

Ne. Tidak selalu sebenarnya, tapi yang paling sering aku lakukan akhir-akhir ini adalah mendengarkan lagu,” jawab Sooyoung. “Aku hampir selalu menyalakan musik saat melakukan sesuatu karena musik selalu bisa membuat perasaanku tenang,”

Geureom, apa kau bisa bernyanyi?”

Aniyo,” Sooyoung segera menjawabnya. “Aku suka mendengarkannya, tapi bukan berarti aku bisa bernyanyi. Keahlianku adalah berakting, oppa

Aku kembali tertawa pelan, “Arraseoyo” kataku. “Lalu, makanan apa yang paling kau sukai, Sooyoung-ah?”

“Makanan?” ulang Sooyoung terlihat terkejut dengan pertanyaan itu. “Kalau makanan, aku suka apapun. Karena itu tak ada makanan kesukaanku. Tapi belakangan ini ada makanan yang pernah aku makan sekali, dan aku ingin memakannya lagi”

“Apa itu?”

Chijeu-buldak (Fire chicken with cheese)

Oh? Itu ‘kan—“

Waeyo?”

Aniyo, kebetulan sekali aku juga ingin makan Chijeu-buldak. Bagaimana kalau kita memakannya bersama nanti, Sooyoung-ah?”

Joayo, oppa” seru Sooyoung sambil tersenyum senang.

Aku ikut tersenyum, dan membayangkan bagaimana perasaan saat aku memakan Chijeu-buldak yang notabene adalah makanan kesukaanku dengan Choi Sooyoung. Aku benar-benar tidak sabar menunggu saat-saat itu dan sekarang aku akan menambahkannya pada daftar apa-aoa saja yang ingin aku lakukan bersama Sooyoung untuk program ini.

Selanjutnya, kami memilih untuk memakan makanan yang sempat kami abaikan. Tidak banyak pembicaraan saat kami menikmati makanan selain mengomentari makanan di depan kami. Aku tak menyangka jika Sooyoung bisa memberi komentar yang sangat detail tentang makanan. Jarang sekali orang yang bisa melakukannya selain mungkin para kritikus makanan dan itu membuatku kembali takjub padanya setelah mengetahui sisi lain dari dirinya.

Syuting pun selesai untuk hari ini. Aku benar-benar merasa lega setelah sedari tadi harus menahan diriku untuk tidak bersikap berlebihan di depan kamera. Aku berniat untuk menghampiri Sooyoung tapi saat aku menatapnya, dia sedang mengobrol dengan seorang yeoja yang sepertinya adalah asistennya. Jadi aku mengurungkan niatku itu dan tepat saat itu manajer-ku datang menghampiriku.

“Kerja bagus, Kyuhyun-ah” komentar manajer Yoo. “Meskipun terkadang kau masih terlihat gugup, tapi kau berhasil mengendalikannya dengan baik pada akhirnya” katanya lagi.

Hyung, itu sangat sulit untuk tidak gugup di depan seorang Choi Sooyoung” jawabku membela diri. “Kau tahu, dia benar-benar mengagumkan dan membuatku terpesona beberapa kali” Aku menambahkan.

Arra. Hampir semua staf juga membicarakannya. Mereka yakin sekali program ini akan memiliki rating yang bagus karena adanya Choi Sooyoung. Jadi kau benar-benar harus bekerja keras agar bisa sepertinya” kata manajer Yoo.

Jamkkamanyo. Apa maksudmu dengan ‘sepertinya’?” tanyaku tidak mengerti.

Manajer Yoo menghela napas panjang, “Maksudku adalah agar banyak orang yang membicarakan kemampuanmu di luar bernyanyi, seperti mereka membicarakan Choi Sooyoung” katanya sambil memegang bahuku dengan sebelah tangannya. “Kau seharusnya berterima kasih pada Choi Sooyoung karena dia memintamu untuk bernyanyi dan menunjukkan kemampuanmu”

Aku diam saja mendengarkan komentar manajer-ku ini. Dia memang terkadang memperlakukanku seperti seorang penyanyi yang baru saja debut dan membutuhkan sesuatu agar orang bisa lebih mengenalku. Cara yang aneh menurutku, tapi aku bisa mengerti alasan dia melakukan hal seperti itu padaku. Tentu saja itu demi karir-ku.

“Kyuhyun-ssiAh, ani… maksudku oppa” panggilan seorang yeoja itu membuyarkan pikiranku. Aku menolehkan kepala dan cukup terkejut mendapati Sooyoung yang sudah berdiri di dekatku. “Ah, bolehkah aku juga memanggilmu ‘oppa’ diluar syuting? Aku khawatir akan memanggilmu dengan cara yang berbeda jika tidak biasa melakukannya”

Oh, geureomyo” sahutku cepat-cepat sambil tersenyum senang karena Choi Sooyoung akan memanggilku ‘oppa’ bahkan diluar syuting.

Bukankah itu mengagumkan saat yeoja ideal-mu memanggilmu seperti itu dan itupun untuk membiasakannya? Sekarang aku benar-benar merasa dekat dengan Sooyoung jika dia memanggilku dengan cara seperti itu.

Gomawoyo untu hari ini, oppa. Kau sudah bekerja keras” Sooyoung kembali berbicara. “Ah, dan aku benar-benar menyukai lagumu itu. Gomawoyo karena sudah menyanyikannya langsung di depanku”

“Itu bukan sesuatu yang perlu untuk berterima kasih”

“Bagaimanapun, terima kasih banyak” kata Sooyoung menyahut dengan cepat. “Aku harus pergi untuk mengejar schedule lainnya. Mianhaeyo karena tidak bisa mengobrol banyak denganmu, oppa

Gwenchanayo. Kita akan sering melakukannya nanti” jawabku.

Sooyoung tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu dia berpamitan padaku dan juga manajer Yoo sebelum menghampiri yeoja yang tadi bersamanya. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Choi Sooyoung sampai dia benar-benar menghilangg. Aku sangat mengagumi sosoknya untuk beberapa saat sampai akhirnya manajer Yoo menepuk pelan bahuku untuk membuatku tersadar.

“Kita juga harus pergi sekarang,” kata manajer Yoo kemudian.

Ne,” jawabku sambil melangkah mengikuti manajer-ku itu untuk berpamitan pada para staf yang telah bekerja keras hari ini.

**

Saat keluar dari mobil van yang biasa aku naiki, aku melihat Choi Sooyoung juga baru keluar dari mobilnya. Dia melihatku dan menganggukkan kepala ke arahku sambil tersenyum dengan ramah. Aku cukup terkejut, tapi membalasnya dengan sedikit canggung. Sayangnya aku tak sempat menyapanya karena dia langsung masuk ke dalam gedung dimana kami harus melakukan syuting bersama untuk program We Are On Dating.

Daebak!” seru Taesung membuat perhatianku teralih dari Sooyoung. “Itu benar-benar Choi Sooyoung!”

Aku hanya memberi senyuman singkat.

Hyungnim, kupikir kau berbohong saat memberitahuku kau berpasangan dengan Choi Sooyoung untuk reality show itu”

Anigotten,” sahutku dengan cepat. “Kajja, Taesung-ah” kataku sambil berjalan mendahului asistenku itu memasuki gedung yang sama dengan Sooyoung.

Aku menyapa beberapa orang yang aku temui di gedung ini sebelum menaiki lift-nya menuju ke ruang make-up. Sekitar satu jam lagi, aku dan Choi Sooyoung akan melakukan talk-show untuk program We Are On Dating. Ini syuting pertama kami di studio setelah sebelumnya kami berada di pulau Jeju selama sehari. Jujur saja, sampai sekarang aku masih belum percaya jika aku akan berpasangan dengan Choi Sooyoung untuk sebuah program seperti ini, dan kurasa aku benar-benar akan menikmatinya sampai seratus hari ke depan.

Setelah selesai make-up, aku bergegas menuju ke studio dimana syuting dilakukan. Tapi salah satu staf-nya memintaku untuk berada di belakang tirai untuk sementara sebelum MC untuk program ini memanggilku. Aku mengangguk mengerti lalu memilik untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh staf sebelum programnya di mulai. Meskipun aku sedikit gugup, tapi aku berusaha keras untuk menyembunyikannya karena menurutku ini bukan lagi saatnya aku merasa gugup.

Annyeonghaseyo,” Suara lembut seseorang terdengar dan itu membuatku langsung menolehkan kepala. Choi Sooyoung disana, sedang menyapa beberapa staf dengan ramah. “Annyeonghaseyo,” sapanya padaku.

Aku bangkit berdiri, lalu balas menyapa. “Annyeonghaseyo,”

Choi Sooyoung kembali menganggukkan kepala ke arahku sebelum dia duduk di kursi sebelahku. “Jal jinaesseoyo?” tanyanya padaku sambil tersenyum.

Untuk sekian kalinya aku terpesona dengan senyuman Choi Sooyoung sampai aku benar-benar tak bisa mengatakan apapun selama beberapa saat. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku belum memberikan jawaban pada Sooyoung jadi akupun berkata, “Ne, jal jinaeesseoyo. Bagaimana denganmu?”

Jal jinaesseoyo” jawab Sooyoung masih dengan nada ramah dan senyumannya yang membuat siapa saja akan terpesona padanya. “Program ini tidak seburuk seperti yang aku pikirkan dari awal. Majayo?”

Aku mengangguk.

“Seperti kata manajer-ku, aku akan menjadikan ini sebagai refreshing dari pekerjaan-pekerjaan lain dengan jadwal yang ketat” Sooyoung kembali berkata.

Oh, manajer-ku juga mengatakan hal yang sama” sahutku teringat dengan perkataan manajer Yoo padaku saat dia menawarkan program ini. “Aku akan menikmatinya, seperti aku menikmati bernyanyi dan tampil di atas panggung”

“Sooyoung­-ssi, Kyuhyun-ssi, stand-by” seru salah seorang staf pada kami berdua. Aku dan Sooyoung sama-sama bangkit dari tempat duduk kami, lalu mengikuti staf tadi. “Kalian akan masuk bersama setelah aku memberikan kode

Aku dan Sooyoung sama-sama menganggukkan kepala.

Tak menunggu lama, staf itu pun memberikan kode pada kami untuk segera masuk ke dalam studio. Aku terperanjat sedikit saat Sooyoung tiba-tiba mengalungkan tangannya diantara lenganku lalu dia mengajakku untuk berjalan bersama memasuki studio. Jantungku kembali berdegup kencang, dan aku tak tahu bagaimana wajahku sekarang. Apa terlihat baik-baik saja atau ekspresi gugupku terlihat jelas di kamera? Ah, bagaimana ini? Bagaimana jika aku tak bisa mengendalikan ekspresiku karena aku benar-benar gugup sekarang?

-TBC-

Eotte?

Mungkin di awal-awal ini belum ada konflik atau apapun yah, hanya sekedar perkenalan aja sih. Di awal-awal chapter aku sengaja mau banyakin kyuyoung moment-nya dulu deh, baru ada konfliknya hehehehe…

So, jangan lupa komentarnya knightdeul (biar semangat lanjutin FF-nya)^^

Gomawo^^

44 thoughts on “[Series] We Are On Dating -1-

  1. Sistasookyu says:

    Kyuyoung on dating!😀
    keren.. Chemistry nya langsung nyatu
    kyu yg spot jantung terus deketan sama syo
    dan syo nya yg mulai menikmati alur cerita! Sweet~

  2. Nine Nur Muharamah (Shin Hyunra) says:

    Uwwaaahh ff nya kerennn!!!
    Aku suka idenya Author.. aku fikir nih ya, ff ini tuh tentang Kyuyoung yang emang bener2 on dating.. eh ternyata We Are on Dating itu variety show gitu… kerreenn.. unpredictable bangett..
    Aku izin baca part 2 nya yaa..
    Semangaatt!!!

  3. febryza says:

    kok mereka lucu sih.. sama-sama saling mengagumi eh gataunya terjebak di realityshow bareng..
    jangan gugup kyuhyun-ah ckckck

  4. mongochi*hae says:

    ouhhh puas bgt, panjanggggg wordny hheee

    hn, cba aj ad real show kaya gini trus kyuyoung pula castny..
    djamin ..rating t acara tinggi hhaaa

    keren ide kamu utk mg.angkat gendre kaya gini. tpi kita tunggu ap sih bdany we are in dating dg acara yg lain
    ao, next part dtunggu bgt

  5. Risqi says:

    kayak wgm ya? tapi ini cuman dating?
    kyuyoung nya so sweet banget.. masih malu ² nih di awal… semoga hubungan mereka semakin dekat. ditunggu part selanjutnya…

  6. Akhirnya ada ff baru lagi yah author-nim.
    Kirain mereka jadi salah satu member grup kayak biasanya, taunya solo dua duanya yah? Hmmm menarik nih kelanjutannya gimana, ditunggu publish kelanjutannya yah ehehe

  7. husnulk says:

    Wah ff baru dari kamu nih..
    Ehem yg saling kagum satu sama lain, seneng liat mereka bisa ketemu dalam satu acara reality show gini…
    Semoga kalo ada konflik jgn yg terlalu berat ya..
    Well nice ff… ditunggu next ya😉

  8. ike primalia says:

    Thor q bner2 ngu ff mu,lma bgt sih.
    Pkok’n q sangat2 suka sma smua ffmu thor.bgus2 n jgn crita’n tu loh thor.pkok’n q bkal ngu smua karya2mu thor

  9. Haii.. author-nim. Aku mau nanya, cara atau rules kirim ff ke blog ini gimana ya caranya. Aku udah cari page nya tapi gak ketemu2. Aku juga udah join untuk jadi author tetap tapi gak pernah di respon. Aku jadi bingung mau kirim ff tapi gak tau caranya, mau jadi author tetap juga gak di respon2.

    Tolong lihat dan balas review ku ya. Mohon bantuannya, author-nim🙂

  10. cicyrsp says:

    wahh seru serius ini ceritanya hehe bikin penasaran, pertamanya aku kira kyuhyun jadi member suju tapi lagi solo padahal engga, tapii daebakk next juseyo

  11. Isma KSY says:

    daebakk, part awal panjang, saya suka.
    konfliknya jangan yang berat yah thor, tapi yang ringan aja.. hehe
    pokoknya di tunggu lanjutannya, jangan lama lama.. hay

  12. Tania says:

    yahooo!!! aku suka ff-nya walaupun masih belum greget ya, alurnya enak dibaca. update-nya jangan lama-lama ya, penasaran baca kelanjutannya, thanks for good story😉

  13. lely says:

    kerennnn daebakkkkk aku paling seneng nih kalo ff yg menggambarkan kehidupan asli mereka di kenyataan sukaa sukaaa kkkk~ semangat terus thor kita tunggu cerita ini sampe end. hihihihi

  14. saputrid12 says:

    part satu panjang juga :v
    wah yg ini aja bnyk kyuyoung moment nya semoga next part lbh bnyk lagi. cha~ semangat lanjutin ff nya thor

  15. sarah luthfi ainina says:

    keren ffnya.. alur ceritanya juga bagus gk ribet.. pokoknya daebak🙂
    next partnya jangan lama” thor.. Fighthing^^

  16. Oaaaaaaaaahhh welcome back kaks ^^ its a bit similarity with Becaus to me its you, tapi bedanya kyu bukan penyanyi disana, penasaran sama konfliknya 😂😂😂
    Dont make us wait too long kaks 😂😂
    Mangatsssssss!!!!! ^^/*

  17. ellalibra says:

    Kereeeeen eon,,, ska pas kyu nyanyian lagu yg diminta sooyoung uwwaaaaa ,,,,, so sweet kekeke~ tp apa konfliknya y penasaran ?? Next part fighting eon

  18. KyuLatte says:

    Uwaa semacam wgm gitu ya?? Itu lagunya diatas sarangseureowonya kim jongkook bukan?? Hehe baguus.. next paaart!!! ><

  19. Ahaaha gak tau thor harus komentar apa. Ini ff nya keren bgt ceritanya. Jd ngebayangin coba kyuhyun sama sooyoung jd pasangan couple di wgm dlm real life ahaha . .
    Ditunggu next part nya thor

  20. elis sintiya says:

    wahh rasa rasanya di kepala itu kaya ada reality show beneran.. pengen deh mereka kaya gini di dunia aslinyaa… di tunggu konflik dan part selanjutnya thor..
    semangat fighting..🙂

  21. Youngra park says:

    Aduhh keren bgts ffny kyuyoung sdh saling suka tuh gk sabar untuk baca part selanjutny eoni next part di tnggu bgt jng lma2 ne di postny

  22. ajeng shiksin says:

    akhir nya ada ff baru yg muncul..
    cerita nya kaya we get merried ia cuman itu enggak sampe nikah kaya nya..
    ka jangan hiatus lagi ia soal nya banyak ff yg belum kelar udah pada hiatus.
    semangat ia ka buat ff nya.

  23. ry-seirin says:

    wah akhirnya author favorite aku comeback lgi, aku kira bkalan hiatus kya yg lain.
    ff ini kya Season 2nya Because to me it’s you dg cerita yg hmpir sma tpi gd format yg bda. n’ jg masukin unsur” reality show yg lgi marak di korea.
    well apapaun itu aku ttep suka aja ff buatanmu, slalu enak n nyman buat di bca n jg gk lebay…
    next chap d tunggu ya!!!

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s