[Series] We Are On Dating -6-

We Are On Dating

Title             : We Are On Dating

Author         : soocyoung (@helloccy)

Genre          : Romance

Rating          : PG 16

Main cast     :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast    : Find it🙂

From Author :

Annyeonhaseyo!!

Orenmaneyo, knightdeul!! ^^

Apa kabarnya? Baiklah ya, hhehehe

Rasanya udah lama banget gitu ya aku gg post apa-apa disini. Tapi jangan khawatir, kali ini aku bawa cerita baru. Sebenarnya sih gg baru-baru banget lah ya, cz aku terinspirasi dari FF ku yang sebelum-sebelumnya trus juga dapet inspirasi dari salah satu program reality show aja sih. Jadi jangan terlalu kaget kalo—mungkin ada beberapa hal yang kalian pikir mirip atau gimana gitu ya -___-

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

*Nb: siapin lagunya Kyuhyun yang Just Once sama One Confession ya, knightdeul^^

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Musim semi telah datang. Beberapa bunga mulai terlihat bermekaran di hampir setiap sudut kota. Udara dinginpun berangsur-angur menghilang, digantikan udara hangat yang mulai membuat siapa saja memilih untuk berlama-lama berada di luar rumah. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang, tidak hanya orang Korea, tapi juga wisatawan dari penjuru dunia.

Matahari telah berjalan ke barat. Semua jadwalku hari inipun telah aku selesaikan. Saat ini aku sedang duduk di Hanyang Daseang, menatap pohon-pohon yang tengah mekar di depanku sambil menunggu Cho Kyuhyun yang masih menyelesaikan jadwalnya menjadi seorang guess di sebuah stasiun radio. Aku mengetahuinya karena aku sedang mendengarkannya, dan seperti biasanya aku selalu terpesona dengan suara namja itu saat sedang bernyanyi. Apalagi lagu yang dia bawakan tadi itu membuatku memikirkan namja yang selama ini telah aku tunggu, Shim Changmin.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, Sooyoung-ah?”

Aku menolehkan kepala dengan cepat, dan terkejut melihat orang yang menyapaku. “Changmin oppa,” kataku kemudian.

Changmin tersenyum lalu dia duduk disebelahku. “Apa kau terkejut?”

Ah—emm, eo

“Jujur saja, aku mengikutimu” kata Changmin memberitahuku dengan jujur. “Aku melihatmu berpisah dengan asistenmu, jadi aku penasaran kau ingin pergi kemana tanpa dia”

Aku memilih untuk diam kali ini.

Changmin mengalihkan pandangannya dariku ke pemandangan di depan kami, “Yah… tempat yang mengagumkan” komentarnya kemudian. “Apa kau sering datang kesini, Sooyoung-ah?”

Em, akhir-akhir ini aku sering datang kesini”

“Kenapa kau tak memberitahuku jika ada tempat seindah ini? Kita bisa pergi bersama ke sini dan menikmati pemandangannya”

“Aku—“ Aku tak melanjutkan perkataanku, dan hanya bisa mendesah panjang.

Mataku menangkap bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Ini kemunculan pertama bintang dan bulan setelah musim dingin berakhir. Saat aku melirik Changmin, namja itu sedang menatap ke arah yang sama denganku dengan wajahnya yang tersenyum cerah. Membuat jantungku berdebar kencang karenanya.

“Sangat menyenangkan bisa melihat bulan dan bintang bersinar di waktu yang bersamaan, bukan?” kata Changmin tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya. “Ada sesuatu yang lain yang bisa dirasakan saat melihat keduanya sekaligus seperti ini”

Majayo. Seperti sebuah keindahan ganda” sahutku.

Changmin tersenyum, lalu diapun menoleh padaku. “Apa kau masih ingat dongeng yang pernah kau ceritakan padaku dulu, Sooyoung-ah?”

“Dongeng?”

Kepala Changmin mengangguk, “Pangeran bintang dan putri bulan” katanya seperti sedang mengingatkanku. “Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ceritanya,”

Ah, jinjjayo?”

Jinjja, jinjja. Kurasa itu bahkan menjadi sebuah cerita yang paling aku ingat dari semua cerita yang sudah aku dengarkan”

“Kenapa bisa begitu?”

Changmin mengangkat kedua bahunya dan tidak mengatakan apapun.

Aku mendesah pelan seraya mengingat-ingat cerita yang disebutkan Changmin itu. Cerita lama yang bahkan sudah aku lupakan tapi berhasil aku ingat kembali. Sebuah cerita tentang persahabatan, cinta dan kebersamaan yang mana ketiganya sedang hadir diantara hubunganku dengan Changmin. Tapi kenapa dia tiba-tiba mengungkit cerita itu?

“Katamu putri bulan dan pangeran bintang pada akhirnya akan selalu menyinari malam bersama-sama, ‘kan?” Changmin kembali bersuara. “Kau benar. Lihat bulan dan bintang disana,” katanya seraya menujuk ke arah langit.

Aku mengikuti arah jari Changmin menunjuk, dan melihat bulan dengan sebuah bintang yang sangat terang yang berada di dekatnya. Senyumku langsung mengembang dengan sendirinya karena teringat ceritaku sendiri.

“Tapi—“ kata Changmin berhenti sejenak untuk mengalihkan perhatianku kembali padanya. Saat aku sudah menatapnya, dia melanjutkan bicara. “Bagaimana jika seandainya ada pangeran bintang lain yang terus mendekati putri bulan agar bisa bersinar bersama-sama di langit malam?”

Kedua alisku saling bertaut, lalu sepasang mataku menangkap sebuah kerlipan bintang yang sinarnya juga seterang bintang yang pertama aku lihat. Kedua bintang itu berada di dekat bulan dengan jarak yang kelihatannya sama. Melihat semua itu membuatku berpikir tentang apa yang sebenarnya sedang ingin Changmin katakan padaku. Sayangnya aku terlalu ragu untuk menanyakannya.

Untuk beberapa saat hanya ada keheningan diantara aku dan Changmin. Aku tak tahu apa yang harus katakan di depannya jadi aku memilih untuk diam dan menunggunya yang memulai kembali pembicaraan. Tapi kelihatannya dia juga akan terus diam, dan itu membuatku sedikit frustasi karena aku ingin terus mengobrol dengannya meskipun disisi lain aku juga bingung harus bagaimana. Aku tak mau suasana kali ini berubah menjadi canggung atau dingin karena sebelumnya tak pernah begitu. Tapi apa yang harus aku lakukan?

“Sooyoung-ah, bagaimana menurutmu?” Changmin kembali bertanya secara mendadak. Membuatku sedikit terkejut karena aku sedang memikirkan hal yang lain sebelumnya. “Menurutmu apa yang akan dilakukan bulan jika ada dua bintang yang ingin menyinari bumi bersama-sama dengannya?”

Oh? Menurutku?” sahutku masih terkejut. “Emm… bisakah mereka bertiga menyinarinya bersama-sama?”

“Begitu?”

Aku mengangguk, tapi ragu. “Kurasa tidak ada salahnya jika mereka bertiga menyinari dunia bersama-sama. Lagipula ada banyak bintang yang melakukannya secara bersamaan, bukan?”

Changmin tersenyum, “Tapi tidak ada yang sedekat kedua bintang itu dengan bulan. Benar, ‘kan?”

E-Eo,”

“Menurutku, bulan harus memilih salah satu dari kedua bintang itu yang akan terus berada disampingnya untuk menemaninya menyinari dunia saat malam. Bisa saja ada banyak bintang di sekitar bulan, tapi tetap hanya ada satu bintang yang berada disisinya”

Aku diam saja dan hanya bisa menatap Changmin yang juga sedang memandangiku.

Suasana kembali hening untuk waktu yang cukup lama. Bagiku rasanya benar-benar aneh sekarang karena aku selalu kehabisan topik saat bersama Changmin setelah aku menyadari perasaanku sendiri padanya. Padahal biasanya aku selalu bercerita apapun padanya dengan mudah dan kami tertawa bersama setelahnya. Saat ini aku benar-benar merindukan momen itu, tak tahu kenapa.

Isanghae… maja?” desis Changmin kemudian. “Biasanya kita selalu memiliki sesuatu yang bisa kita bicarakan dengan bebas, dan tak pernah sekalipun suasana menjadi hening seperti ini”

Aku tersenyum tipis, “Majayo, oppa

Geuraesseo…bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”

Aku mengangguk.

“Bersikaplah biasanya padaku, Sooyoung-ah. Karena aku benar-benar ingin kita seperti dulu lagi. Tidak canggung satu sama lain dan bisa bertemu kapan saja yang kita mau” kata Changmin mengungkapkan apa yang dia inginkan. “Aku tahu kau pasti mengkhawatirkan wartawan, tapi kurasa itu tidak menjadi masalah karena sekarang mereka tahu bahwa kita—em—berteman. Jadi kenapa kau tidak datang padaku saat kau sedang memiliki waktu luang, Sooyoung-ah? Apa kau merasa canggung denganku sekarang?”

“Aku—bukan begitu, oppa” sahutku cepat. “Aku senang jika kita bisa seperti dulu lagi. Aku tidak mengkhawatirkan wartawan, aku hanya tak tahu bagaimana harus menghubungimu atau mengajakmu pergi menemaniku. Karena mungkin saja kau sedang sibuk dan aku menganggumu”

“Sooyoung-ah, kau tak pernah sekalipun mengangguku” kata Changmin langsung menanggapiku. Dia tersenyum, “Jadi, kau akan menghubungiku saat kau membutuhkan seseorang disisiku, ‘kan? Seperti dulu,”

Aku menatap Changmin lekat-lekat, lalu kembali menganggukkan kepala. Detik berikutnya, dengan gerakan cepat tiba-tiba saja Changmin mendekat ke arahku dan menarikku ke dalam pelukannya.

Untuk beberapa detik aku membeku dalam pelukannya. Sampai akhirnya aku mendapatkan kesadaranku kembali, mataku langsung melebar. Jantungku terasa berhenti berdetak karena ini dan aku tidak mengerti kenapa Changmin memelukku seperti ini. Aku hanya diam, membiarkannya terus memelukku. Lalu akupunmendengarnya membisikkan sesuatu padaku, beberapa kata yang langsung menguasai otakku, kata yang selama ini aku tunggu untuk dikatakan namja itu. Rasanya semua yang ada di dalam diriku terhipnotis ke dalam apa yang baru saja Changmin bisikkan. Tapi kemudian dia menjauhkan tubuhnya dariku, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi dia langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi begitu saja meninggalkanku.

‘Aku mencintaimu, meskipun aku tahu jika aku tak bisa memilikimu karena kita adalah sahabat. Tapi aku mencintaimu’

__

Kyuhyun POV

Aku duduk sendirian di studio milik agensiku dengan gitar di tanganku. Hari ini aku berencana untuk menyelesaikan lagu baruku karena Kim Sajangnim sudah memintaku untuk segera merilis lagu baru. Rencananya aku memang akan mengeluarkan repackaged album yang isinya adalah dua buah lagu baru. Satu lagu adalah murni buatanku sendiri, sementara satu lagu lainnya adalah kerjasamaku dengan salah satu produser di agensi. Saat bekerja sama dengan produser Min, akulah yang mendapat bagian untuk menulis liriknya dan aku baru saja menyelesaikannya kemarin. Mengingat deadline-nya yang semakin mendekat, aku harus cepat-cepat menggarap lagu yang menjadi tugasku untuk membuatnya.

Sebenarnya semua nadanya sudah selesai aku buat, hanya tersisa liriknya saja. Tapi entah kenapa pikiranku masih terlalu sibuk dengan kejadian yang aku lihat beberapa hari yang lalu antara Sooyoung dan Changmin di Hanyang Daseang. Saat Sooyoung mengirim pesannya padaku untuk datang ke tempat itu, aku memang pergi kesana. Sayangnya—saat aku tiba disana, Sooyoung sudah bersama namja lain dan dia adalah Shim Changmin.

Aku tetap disana, mendengarkan pembicaraan mereka dan melihat berpelukan. Aku masih ingat bagaimana wajah Sooyoung saat namja yang sudah lama dia sukai itu memeluknya, dan bagaimana dia menangis saat namja itu pergi meninggalkannya begitu saja. Aku sangat ingin menghampirinya saat itu, tapi aku terlalu khawatir dia tak akan menyukai kedatanganku setelah apa yang terjadi padanya. Jadi aku hanya bisa diam di tempatku sambil terus memperhatikannya.

“Gamanhi neoreul barabol ttaemyeon. Su manhatdeon naldeuri saenggangna” Suara seseorang namja membaca tiba-tiba terdengar. Aku menolehkan kepala dan melihat manajer Yoo berdiri di dekatku dengan Taesung bisebelahnya. “Neoyeotdeon achimgwa manheun bamdeul. Ijen seupgwani dwaenna bwa. Muldeureoga neoegero nan. Neoui apeumkkaji da nae geosi dwaenna bwa. Chama haji motaetdeon geu mal
Saranghandan maldo sumgil mankeum saranghae. Maeumkkeot ureodo badajulge
Geu saram ttaemunira haedo”
manajer Yoo melanjutkan membaca lirik yang sedang aku tulis. (Saat aku diam–diam memperhatikanmu. Aku ingat semua hari yang tidak terhitung itu. Siang dan malamku semua tentangmu. Dan sekarang, itu sudah menjadi kebiasaan. Aku semakin terpesona olehmu. Bahkan rasa sakitmu, aku juga merasakannya. Kata–kata yang tidak sanggup aku katakan ’Aku sangat mencintaimu’. Kalimat yang sampai hari ini masih aku sembunyikan)

“Yah, daebak hyungnim” komentar Taesung kemudian. “Aku yakin sekali lagu ini akan berhasil membuat semua orang merasakan apa yang ingin kau ungkapkan”

Aku diam saja.

Manajer Yoo duduk disampingku sambil menepuk pelan bahuku, dan kemudian Taesung ikut duduk disebelahnya. Manajer-ku mengambil kertas yang berisi lirik yang sedang aku tulis dan dia terlihat membacanya lagi. Setelah beberapa saat dia baru menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku mengerti.

“Apa temanya kali ini?” tanya Manajer Yoo masih menatapku dengan cara yang sama.

“Tema?”

Manajer Yoo menganggukkan kepala, “Kau biasanya membuat lagu saat kau sedang merasakan sesuatu atau kau melihat sesuatu, ‘kan? Jadi apa kali ini?”

“Apa ini tentang putus cinta?” Han Taesung ikut menyambung.

“Aku tak tahu apa ini tentang putus cinta atau tidak” jawabku sambil mendesah pelan. “Aku hanya menulis apa yang ingin aku tulis saja, jadi yah—“

“Ini belum selesai, ‘kan?”

Aku mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan manajer Yoo itu. “Aku akan segera menyelesaikannya, hyung

Geurae. Kim Sajangnim selalu menanyaiku setiap kali aku bertemu dengannya tentang lagu barumu itu” kata manajer Yoo memberitahuku. “Bagaimana dengan lagu satunya?”

“Aku sudah menyelesaikannya,” jawabku dengan cepat. “Aku bahkan sudah memberikan title untuk lagu itu, dan PD Min menyetujuinya” Aku melanjutkan.

“Apa judulnya, hyungnim?” Kali ini Taesung yang bertanya.

Just Once,” kataku. Lalu akupun melihat manajer Yoo dan Taesung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau ingin mendengar chorus-nya?” Aku menawarkan pada Taesung.

Ah, apa itu tak apa?” tanya asistenku sambil manajer Yoo yang mengedipkan matanya. “Geurae geureom. Mungkin aku akan menjadi orang pertama yang mendengarkannya, ‘kan?”

Aku tertawa pelan, begitupula manajer Yoo. Lalu akupun bersiap-siap dengan gitarku, dan mulai memetiknya dengan lembut. Lagu Just Once itu sebenarnya bukanlah lagu akustik tapi itu tidak masalah karena ini hanyalah sebuah demo. Mungkin bahkan sebenarnya Taesung dan manajer Yoo pernah mendengar nada lagu ini yang masih ‘kosong’—belum ada liriknya, dan sekarang aku akan menyanyikannya sedikit yang benar-benar sudah menjadi sebuah lagu. Lagipula aku juga ingin mendengar komentar dari dua orang terdekatku ini setelah mendengarkan lagu yang aku buat bersama PD Min ini.

“Saranghaedo doenayo? Hagopeunmal inneunde

(Bisakah aku mencintaimu? Ada hal yang ingin aku katakan)

Naeipsuri mugeowo dan hanbeondo motaetdeon naemaeumi haenunmal

(Tetapi bibirku terasa berat dan hatiku terisi kata-kata yang tak bisa terucapkan)

Meoreojigoisseoyo. Motdahanmarinneunde. Geudaeyo

(Kau semakin menjauh saat masih ada hal yang tak bisa kukatakan, sayangku)

Gaseumero samkin geumare babocheorom

(Seperti orang bodoh, aku menelan kata-kata itu ke dalam hatiku)

Naega apado geudaemaneul ojigwonhaeyo

(Walaupun menyakitkan, aku hanya menginginginkanmu)

Aku terus memetik gitarnya sambil memejamkan mataku. Bayangan Sooyoung dan Changmin kembali memenuhi kepalaku.

“Hanbeonman nal saranghaejwoyo

(Kumohon, sekali saja cintai aku)

Ttakhanbeon michidorok bulleobwado doenayo

(Sekali saja bisakah aku meneriakkan namamu sekuat tenaga)

Naemamhana deohaejuryeo geudaegyeote ireoke gakkai gallaeyo

(Karena hatiku ini, aku ingin lebih dekat denganmu)

Aku menyelesaikan laguku dan kembali membuka mata. Aku cukup terkejut mendapati Yoo Jaemin dan Han Taesung yang sedang menatapku dengan lekat. Membuatku menjadi salah tingkah karena dipandangi seperti itu oleh dua orang. Kedua alisku saling bertaut, lalu akupun meletakkan gitar di sebelahku dan sengaja berlama-lama melakukannya.

Eotteyo, hyung?” tanyaku tanpa menatap ke arah manajer Yoo.

“Itu lagu yang bagus, hyungnim” komentar Taesung yang langsung memberikan tanggapannya meskipun aku tidak bertanya padanya.

Aku kembali menolehkan kepala, dan manajer Yoo masih memandangiku lama. Lalu aku melihatnya mendesah pelan sebelum akhirnya diapun berbicara. “Lagu yang bagus sekaligus menyedihkan,”

“Menyedihkan?” sahut Taesung terdengar heran.

“Aku tak tahu kenapa kau menulis liriknya seperti itu, tapi aku bisa menangkap tema yang kau pilih untuk album repackaged ini” Manajer Yoo mengabaikan Taesung dan berbicara padaku. “Neo… gwenchana?” tanyanya kemudian.

Oh? Jeoyo?” celetukku terkejut.

Manajer Yoo mengangguk ke arahku, tapi dia langsung menoleh pada Taesung. “Ya, Taesung-ah! Bisakah kau membelikanku mocca hangat? Dan ah, Americano untuk Kyuhyun”

“Aku?”

“Kau terserah saja. Aku tak tahu apa yang kau sukai,” sahut Manajer Yoo datar.

Taesung melirik ke arahku, dan akupun menganggukkan kepala seraya memintanya untuk mengikuti perintah manajer Yoo itu. Dia menghela napas singkat, “Geurae, arraseoyo hyungnim” katanya sambil bangkit beranjak dari tempatnya.

Aku tersenyum tipis pada asistenku itu sebelum dia menghilang meninggalkan studio agensi ini. Sekarang hanya ada aku dan manajer Yoo, dan aku tak tahu kenapa tiba-tiba dia meminta Taesung—secara tidak langsung, untuk pergi seperti itu. Tapi mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku secara pribadi, jadi dia terpaksa melakukannya pada Taesung mengingat asistenku itu terkadang untuk sulit mengendalikan mulutnya sendiri.

“Apa sesuatu terjadi?” tanya manajer Yoo memulai pembicaraan.

“Tidak,”

“Jangan menyembunyikan apapun di depanku, Kyuhyun-ah” sahut manajer Yoo dengan nadanya yang terdengar serius. “Aku bisa melihat apa kau sedang memikirkan sesuatu atau tidak, apa kau sedang ada masalah atau tidak. Semua itu terlihat jelas dimataku, kau tahu”

Aku kembali tersenyum, “Aku tak tahu bagaimana kau bisa melihatnya, hyungnim” kataku sambil menyenderkan punggung di dinding kaca. “Banyak hal yang akhir-akhir ini membuatku harus berpikir dan aku juga merasakan sedikit lelah karenanya”

“Akhir-akhir ini kau memang tidak kelihatan seperti biasanya. Kau sedang ada masalah, ‘kan?” tanya manajer Yoo lagi karena mungkin dia merasa aku belum memberikan jawaban yang dia inginkan.

Aku diam saja.

“Aku tahu aku tidak berhak ikut campur dalam urusanmu, tapi orang berkata kalau kita menceritakan masalah kita pada seseorang, beban yang kita pikul akan berkurang. Yah—setidaknya itu jauh lebih baik daripada menelan masalah sendiri tanpa berkata apapun” kata manajer Yoo seperti sedang menasehatiku.

Aku menghela napas panjang, “Sebenarnya itu bukan masalah besar atau bagaimana, hyungnim. Aku hanya, emm—entah kenapa aku merasakan sakit di suatu tempat”

“Hatimu?”

Meskipun aku cukup terkejut karena manajer Yoo menebaknya dengan cepat, tapi kepalaku pun mengangguk pelan.

“Sooyoung-ssi ttaemune?” Manajer Yoo kembali menebak yang langsung membuatku terkejut untuk kedua kalinya. “Ah, jadi benar karena yeoja itu. Kau memang benar-benar sudah menyukainya, ‘kan?”

“Aku bahkan sudah menyukainya dari dulu, hyungnim” sahutku berkata jujur pada akhirnya. “Kesempatan untuk ‘berkencan’ dengannya itu membuatku semakin menyukainya dan sekarang aku merasa ada sesuatu yang tidak lengkap jika aku tidak berbicara dengannya dan bertemu dengannya”

Jamkkaman,” sahut manajer Yoo sedikit menahanku untuk melanjutkan perkataanku. “Memangnya kalian masih sering mengobrol dan bertemu setelah program itu selesai?” tanyanya kemudian sambil menaikkan satu alisnya.

“Masih, hampir setiap hari”

“Apa dia tidak sibuk atau bagaimana?”

Aku mengangkat kedua bahuku karena aku memang tidak tahu, “Mungkin dia memang sibuk tapi dia selalu memiliki waktu untuk mengobrol denganku. Kurasa itu karena dia kesepian”

Kedua alis manajer Yoo kini saling bertaut, “Kesepian?”

Eo, hyungnim. Kau tahu, selebriti-selebriti sepetri Choi Sooyoung itu sangat jarang memiliki waktu luang dan yah—aku hanya ingin menjadi temannya jadi dia tak merasa kesepian lagi” kataku. “Tapi entahlah, karena semakin aku sering bertemu dengannya, dan semakin sering aku mendengarkan ceritanya, aku justru semakin ingin memilikinya dan melindunginya”

Geureom, apa dia mengetahuinya?”

“Tidak,” jawabku langsung. “Dia mungkin tak akan pernah mengetahuinya karena perasaannya hanya tertuju pada satu orang”

Aigoo…” komentar manajer Yoo sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi karena itu kau menuliskan perasaanmu itu pada lagu?”

Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.

Ya! Apa kau tak memiliki keberanian untuk mengaku di depannya?” sahut manajer Yoo dengan ekspresi tegasnya yang khas. “Tidak masalah apa dia akan menerimamu atau tidak asalkan kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya. Jika kau ragu, nyanyikan saja lagu itu untuknya”

“Masalahnya bukan sekedar itu, hyungnim

Geuraesseo?”

“Sooyoung dan namja itu—“ Aku berhenti sesaat untuk menghela napas singkat, lalu akupun melanjutkan bicara. “Sooyoung dan namja itu sebenarnya saling menyukai, hyung. Tapi entah karena alasan apa mereka tidak berkencan”

Aku bisa melihat kerutan di kening manajer Yoo yang semakin dalam. “Fans?” katanya berpendapat. “Satu-satunya alasan orang yang tidak bisa berkencan saat mereka bekerja di bidang ini adalah itu, ‘kan?”

Mollayo, tapi kurasa bukan itu alasannya—“

Hyungnim,” seru Taesung yang tiba-tiba kembali datang sambil membawa sebuah bungkusan plastic di tangannya. Dia melangvah menghampiri kami lalu duduk di tempatnya semula. “Tida ada Americano, jadi aku membawakan mocca” katanya seraya memberikan sebotol mocca masing-masing untukku dan manajer Yoo.

Gomawo, Taesung-ah” kataku setelah menerima minuman itu.

Eo,” sahut Taesung tersenyum lebar. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah manajer Yoo, “Mwoya…” gumam asistenku itu kemudian.

Mwoya… mwo?” tanya manajer Yoo.

“Kalian pasti sedang membicarakan sesuatu sebelum aku datang, ‘kan? Kenapa tidak melanjutkannya saja?” kata Taesung penuh selidik.

Aku tersenyum tipis tapi tidak mengatakan apa-apa, begitu pula manajer Yoo.

Han Taesung mengangkat sebelah alisnya melihat reaksiku dan manajer-ku. “Apa tadi kalian sedang membicarakanku jadi saat aku datang, kalian langsung diam seperti ini? Hyungnim-deul?”

“Membicarakanmu apanya” sahut manajer Yoo seraya beranjak dari tempatnya. “Aku harus menemui PD Min untuk membicarakan lagu baru Kyuhyun” katanya.

Hyungnim” seru Taesung berusaha mencegah manajer Yoo pergi. “Katakan dulu padaku apa yang—“

“Itu bukan tentang kau,” sela manajer-ku sambil menepuk pelan bahu Taesung. “Aku pergi dulu,” katanya mengedipkan mata padaku sebelum pergi.

Aku kembali tersenyum melihat bagaimana cara manajer-ku itu memperlakuvan Taesung. Dia memang seperti itu, tapi bukan berarti dia tidak menyukai Taesung. Akupun tidak mengerti kenapa dia terkadang bersikap sedikit acuh pada asistenku itu. Meskipun begitu, aku juga sangat mengerti bahwa sebenarnya dia sangat menyayangi Taesung seperti dia menyayangiku. Bukankah jika tak ada Taesung, pekerjaannya akan semakin sulit? Setidaknya dia tak perlu pergi kemanapun mengikutiku karena sudah ada Taesung yang melakukannya.

Hyungnim,” seru Taesung beralih padaku.

“Bukan kau, tenang saja” sahutku dengan cepat sebelum Taesung bahkan mengatakan sesuatu lagi. “Jaemin hyungnim sudah mengatakannya padamu, ‘kan?”

Ani… Kalau begitu apa yang kalian bicarakan? Jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh, hyungnim

“Tidak ada,” sahutku mengikuti manajer Yoo. “Ayo kita ke kafe, Taesung-ah” ajakku kemudian seraya bangkit berdiri, lalu melangkah menyebrangi studio.

Hyungnim!”

Aku tertawa, “Kajja, Taesung-ah

__

Sooyoung POV

Aku membalas sapaan setiap orang dengan ramah setelah menyelesaikan syuting CF untuk sebuah produk kosmetik di salah satu studio perusahaan kosmetik itu. Ini memang bukan syuting CF pertamaku dengan kosmetik ini karena sudah lebih dari satu tahun kontrakku berjalan, dan aku baru saja memperpanjang kontrak untuk tiga tahun ke depan. Karena musim semi datang maka pihak dari kosmetik itu memintaku untuk syuting produk baru mereka sebagai penyambutan musim semi itu.

“Sudah selesai?” tanyaku saat pada akhirnya bisa menemui Seo Yeo Jin yang menungguku. “Sudah tak ada jadwal lagi untuk hari ini, ‘kan?” Aku kembali bertanya.

Seo Yeo Jin menganggukkan kepala, “Lebih baik kita langsung pulang saja ke apartemen mengingat kau harus pergi ke Daegu pagi-pagi sekali untuk syuting film”

Geurae,”

Aku melangkah bersama Yeo Jin ke arah mobil van-ku sambil bersedekap karena hembusan angin malam yang menerpa tubuhku. Meskipun udara di musim semi memang jauh lebih hangat, tapi tetap saja terasa dingin saat malam. Apalagi cuaca mala mini tidak sebagus seperti kemarin-kemarin dan bulan bahkan tertutupi samar oleh gumpalan awan gelap. Bintang yang biasanya muncul pun tidak terlihat. Suasana malam yang benar-benar berbeda dari malam-malam sebelumnya, dan sepertinya Seo Yeo Jin juga mengakuinya.

“Cuaca malam ini buruk, dan sepertinya sebentar lagi hujan akan turun” kata Yeo Jin saat kami baru saja masuk ke dalam mobil.

“Di awal musim semi?”

“Kenapa memangnya jika awal musim semi? Lagipula cuaca sekarang memang tidak bisa di prediksi, ‘kan?” sahut Yeo Jin sambil menatapku dengan heran. “Untung saja tidak ada hujan saat musim dingin, jika ada dunia benar-benar sudah rusak” katanya menambahkan.

Tepat setelah Yeo Jin selesai berbicara—dan mobil juga mulai melaju, rintik hujan satu persatu jatuh ke bumi. Tanpa aku minta, Oh Man Sik sudah menyalakan penghangat mobilnya jadi udara di dalam mobilpun jauh terasa hangat sekarang. Selama perjalanan itu aku memilih untuk terus memandangi ke arah luar dari jendela mobil. Pikiranku melayang dengan sendirinya ke pertemuan terakhirku dengan Shim Changmin di Hanyang Daseong beberapa hari yang lalu. Aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba saja aku memikirkan kejadian itu padahal aku sudah berusaha keras untuk melupakannya.

‘Aku mencintaimu, meskipun aku tahu jika aku tak bisa memilikimu karena kita adalah sahabat. Tapi aku mencintaimu’

Kata-kata itupun terus terngiang di telingaku sejak aku mendengarnya dari namja itu. Meskipun sekarang aku benar-benar mengetahui bahwa dia memang mencintaiku, tapi aku bisa menangkap bahwa dia tak bisa bersamaku. Tapi untuk alasan apa? Persahabatan? Bukankah itu terlalu kejam? Memangnya kenapa jika sepasang sahabat saling menyukai dan berkencan? Bukankah pada dasarnya cinta itu adalah persahabatan? Banyak sekali pertanyaan yang juga terus berputar di kepalaku dan pertanyaan-pertanyaan itu selalu sama tanpa pernah bisa aku temukan jawabannya.

Aku mendesah panjang, lalu ponsel di tanganku berbunyi. Aku melirik layar ponsel yang bekelap-kelip dengan jantung berdegup lebih kencang. Hatiku seperti sedang diremas-remas tanpa bisa aku jelaskan bagaimana tepatnya rasanya.

“Kenapa tidak kau angkat?” tanya Yeo Jin pelan.

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis. Dengan ragu aku mengangkat ponsel itu dan mendekatkannya ke telinga. “Yeoboseyo?”

“Sooyoung-ah,” Suara itu langsung membuat hatiku mulai terasa perih. Itu suara Shim Changmin. “Bisakah kau datang menemuiku sekarang?”

Aku diam saja dan tidak menjawab apa-apa.

“Sooyoung-ah? Kau disana?”

Aku memejamkan mata, lalu menjawab. “Eo,”

“Kau bisa menemuiku sekarang, ‘kan?” ulang Changmin.

Eo,” Aku berusaha sekuat tenaga agar suaraku terdengar seperti biasa, baik di depan Changmin maupun Yeo Jin. Karena aku tahu bahwa asistenku itu pasti sedang mengawasiku sekarang.

“Jadwalmu sudah selesai, ‘kan? Atau kau ada kesibukan lainnya?”

Waeyo?”

Changmin diam sesaat, lalu berdehem pelan, “Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu”

Aku melirik Seo Yeo Jin sebelum mengalihkan pandanganku ke luar jendela mobil. Pikiranku kembali melayang ke pertemuanku terakhir kali dengan Changmin, dan apa yang dia katakan padaku. Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, berusaha untuk mengenyahkan pikiran-pikiran itu dari kepalaku dan juga telingaku.

Nado,” kataku pada akhirnya sambil kembali menghela napas. “Ada hal penting yang ingin aku katakan” Cepat-cepat aku menambahkan.

“Kalau begitu bagaimana jika aku menjem—“

“Aku akan menunggumu di Hanyang Daseong, di tempat terakhir itu” Aku langsung menyela perkataan Shim Changmin karena aku tak mau dia menjemputku atau apapun yang dia ingin katakan tadi.

Changmin tak langsung menjawab, tapi aku sempat mendengar desahannya sebelum akhirnya dia berkata, “Baiklah kalau begitu”

Aku langsung memutuskan sambungan teleponnya dan meletakkan ponselku begitu saja di atas kedua pahaku. Pandanganku mulai menerawang. Jujur saja, aku sendiri belum begitu siap untuk bertemu dengan namja itu lagi—syutingku dengannya juga break untuk beberapa saat karena menunggu musim berganti. Itulah kenapa aku sebenarnya enggan menerima telepon darinya pada awalnya. Tapi karena tak ada pilihan lagi, akupun terpaksa mengangkatnya tadi.

“Shim Changmin-ssi?” tanya Yeo Jin yang langsung mengalihkan perhatianku.

Aku mengangguk pelan.

“Apa katanya?”

Aku mendesah panjang tapi tak langsung menjawab pertanyaan Seo Yeo Jin itu, dan justru mengarahkan perhatianku pada Oh Man Sik. “Oppa, antarkan aku ke Hanyang Daseong sekarang”

“Sekarang?”

Eo, sekarang—“

“Sooyoung-ah, kenapa kau pergi kesana?” sahut Yeo Jin ingin tahu.

Aku menoleh padanya, “Menyelesaikan sesuatu yang seharusnya sudah aku selesaikan dari dulu”

Mwo?”

Aku mengabaikan Seo Yeo Jin dengan memilih untuk diam.

Mobil yang membawaku langsung mengarah ke Hanyang Daseong—seperti yang sudah aku beritahukan tepatnya pada Oh Man Sik. Begitu sampai tujuan, asistenku berusaha keras untuk ikut pergi bersamaku dan untungny aku berhasil menahannya untuk tetap tinggal di mobil atau langsung kembali saja ke apartemen. Lalu tanpa menunggu tanggapan dari asistenku itu, akupun langsung keluar dari mobil dan bergegas melangkah menyusuri jalanan kecil menuju tempat yang biasanya aku datangi—bersama Kyuhyun, yang aku yakin sekarang Changmin sedang menungguku disana.

Benar saja.

Saat aku datang, Shim Changmin sudah duduk disana sambil mengarahkan pandangan ke pemandangan malam kota Seoul yang indah. Dia menyadari kedatanganku, dan memintaku untuk duduk disebelahnya—persis seperti malam itu. Mau tak mau aku duduk dan mengarahkan pandanganku tidak ke namja itu tapi ke sembarang arah karena aku benar-benar tak mau menatap matanya.

Waesseo,” kata Changmin pelan.

Aku menolehkan kepala pada akhirnya, lalu langsung berkata. “Apa yang ingin kau bicarakan, oppa?”

Changmin menarik napas panjang sambil memaksakan seulas senyum, “Kenapa kau menghindariku? Bukankah kau sudah sepakat untuk bersikap seperti biasanya padaku?”

Aku diam terpaku di tempatku. Semua percakapan antara aku dan Changmin kembali berputar di kepalaku, bahkan apa-apa saja yang kami lakukan di tempat ini. Rasanya seperti aku sedang melihat diriku sendiri di depanku dengan namja yang sama yang sedang duduk bersamaku. Posisi kami pun sama, hanya saja saat itu aku duduk jauh lebih dekat daripada sekarang.

“Apa kau marah padaku karena apa yang aku katakan padamu?” Changmin kembali bersuara karena diamku. “Itu aku lakukan untuk memperbaiki hubungan kita, Sooyoung-ah, dan aku—“

“Aku mencintaimu, oppa” potongku dengan cepat sebelum Changmin menyelesaikan kalimatnya. Aku melanjutkan, “Dan aku tahu kau juga mencintaiku, tapi kenapa kita tak bisa bersama? Apa hubungan persahabatan itu sudah cukup bagimu?”

Sekarang giliran Changmin yang diam, dan ekspresi terkejut jelas terlihat di wajahnya. Aku tak tahu dia terkejut itu karena dia baru menyadari bahwa aku mencintainya atau karena dia tak pernah menyangka aku akan terang-terangan mengakui perasaanku di depannya seperti ini. Tapi aku benar-benar sudah tidak tahan untuk terus diam dan aku juga saudah tak ingin menunggu apapun lagi.

Oppa, kenapa kau terus membuatku seperti ini? Kenapa kau terus membuatku menunggumu? Apa kau senang melakukannya?”

“Sooyoung-ah, mian—“

Dwaesseoyo,” Aku kembali memotong perkataan Changmin. Aku menarik napas panjang, lalu beranjak dari tempat dudukku. “Aku tak bisa berlama-lama disini”

Jamkkaman, Sooyoung-ah” seru Changmin ikut bangkit berdiri. “Aku masih ingin membicarakan sesuatu denganmu. Aku ingin menyelesaikan segalanya denganmu”

“Apa lagi yang harus diselesaikan? Bagiku semuanya sudah selesai, oppa

“Tetap saja,”

Aku tak memedulikan itu, dan berniat untuk pergi dari tempat ini sesegera mungkin. Tapi saat aku baru akan melangkah, Changmin menahan lenganku yang langsung membuat langkahku terhenti. Aku berusaha melepaskan tangan namja itu dariku, tapi dia justru semakin mempereat pegangannya pada lenganku. Seakan-akan dia tak mau aku pergi darinya—yah sesuatu seperti itu. Tapi aku benar-benar tak bisa berlama-lama dengannya karena semakin lama aku berada di dekatnya, itu justru akan semakin membuat hatiku sakit memikirkan bagaimana hubunganku dengannya.

“Shim Changmin-ssi, sepertinya dia tak ingin bicara denganmu” kata Kyuhyun yang kini tiba-tiba muncul di hadapanku. Membuatku dan Changmin benar-benar terkejut dengan kedatangannya ini. “Jadi sebaiknya kau jangan menganggunya lagi” suaranya terkesan dingin—sangat berbeda dari dia yang biasanya.

Aku diam di tempatku, masih terkejut dengan suasana yang mendadak berubah ini. Aku benar-benar tak tahu kenapa Kyuhyun ada disini dan apa yang sedang dia lakukan disini. Semuanya terlalu mendadak dan mengejutkan.

Changmin mengalihkan perhatiannya dariku ke Kyuhyun. “Apa urusanmu?” tanyanya tajam.

“Tentu saja ada urusannya denganku!” tegas Kyuhyun sambil menatap tajam ke arah Changmin.

Aku tak tahu kenapa nada bicara Cho Kyuhyun seperti dipenuhi dengan emosi kali ini, dan pandangannya itupun sangat berbeda. Seakan-akan aku baru pernah melihat namja ini dan sebelumnya aku tak pernah mengenalnya. Apa ini adalah sisi lain dari Kyuhyun?

Pikkyeo” desis Changmin.

Kyuhyun tetap bergeming dari tempatnya. “Kenapa aku harus minggir? Bukankah kau yang seharusnya minggir?”

Rahang Changmin mengeras dan ekspresinya terlihat dingin. “Dan apa urusannya ini denganmu, Kyuhyun-ssi?”

“Begitu?” ucap Kyuhyun sambil meraih tanganku yang bebas. “Ini akan menjadi urusanku sekarang,” katanya langsung menarikku agar berdiri di sampingnya dan melepaskanku dari Changmin.

Ya! Mwohaneungeoya?!”

Mwo?”

Ya! Apa yang sedang kau coba—“

Geumanhaeyo!” seruku berusaha melerai Kyuhyun dan Changmin. Aku menatap kedua namja di depanku secara bergantian, lalu melepas tangan Kyuhyun dariku. “Aku tak mau ada keributan apapun disini,” kataku tegas dan langsung melangkah pergi meninggalkan kedua namja ini tanpa mengatakan apapun lagi.

__

Kyuhyun POV

“Meskipun Kaisar gagal untuk menikahi Kaguya tapi kecantikan Kaguya tidak dapat hilang dari piiran sang Kaisar. Diapun sering menulis surat untuk Kaguya dan sesekali mendapatkan balasannya dari Kaguya” kataku melanjutkan ceritaku tentang gunung Fuji pada Sooyoung yang kali ini memilih datang ke studio musik yang biasanya aku gunakan selain studio di agensi.

Sebenarnya aku cukup terkejut saat dia datang karena aku pikir dia ingin meminta penjelasanku kenapa aku berada di Hanyang Daseong malam itu, tapi ternyata dia sama sekali tidak membahasnya. Aku bahkan tak tahu kenapa tiba-tiba dia mengajakku bertemu di studio ini padahal biasanya dia memilih Hanyang Daseong itu. Apa mungkin karena tempat itu memberikan ingatan buruk pada Sooyoung jadi dia tidak datang kesana lagi setiap kali ingin menenangkan dirinya?

Aku menatap Sooyoung, yang ternyata sedang menungguku melanjutkan cerita. Jadi, akupun kembali bersuara. “Tahun demi tahun pun berlalu, dan musim semi tiba. Tapi saat musim semi itu Kaguya selalu menangis sambil melihat bulan sendirian”

“Menangis?”

Aku menganggukkan kepala. “Harabeoji dan halmeoni menjadi khawatir dengan kebiasaan baru yang dilakukan Kaguya itu”

“Tapi kenapa Kaguya menangis?” tanya Sooyoung ingin tahu.

“Kau akan mendapatkan jawabannya setelah aku melanjutkan ceritaku, Sooyoung-ah” jawabku sambil menyunggingkan segaris senyuman. “Pada malam kelima belas bulan Agustus, bulan saat itu akan menjadi bulat sempurna. Hari itu di pagi hari Kaguya menangis terus-menerus. Sampai akhirnya Kaguya berkata jujur pada harabeoji dan halmeoni bahwa dia adalah seorang Putri Bulan”

Sooyoung terlihat terkejut, “Putri Bulan?”

Em. Wae?”

Aniyo, amugeotdo” kata Sooyoung. Kepalanya menunduk tiba-tiba, “Aku hanya teringat sebuah cerita tentang Putri Bulan” Dia mengatakannya dengan sangat pelan meskipun aku masih mendengarnya.

Ah, jinjja? Kau akan menceritakannya padaku lain kali, ‘kan?” kataku antusias.

Sooyoung sama sekali tidak memberi tanggapan untuk yang satu ini.

“Aku lanjutkan?” tanyaku mengabaikan sikap diam yeoja itu. Untungnya kali ini dia menanggapinya dengan anggukan kepala, jadi akupun kembali berbicara. “Kaguya memberitahu harabeoji dan halmeoni bahwa dia adalah Putri Bulan, dan malam itu pengawalnya akan datang menjemputnya kembali ke bulan. Tapi karena tak mau kehilangan Kaguya begitu saja, harabeoji dan halmeoni pun menghubungi Kaisar untuk meminta bantuan”

Sooyoung terus diam di posisi yang sama.

Aku melanjutkan, “Mendengar berita itu, Kaisar pun tidak tinggal diam dan mengerahkan 2000 pasukan untuk menjaga rumah Kaguya. Singkatnya, saat malam tiba… seluruh penjaga sudah siap menghadang dan melindungi Kaguya agar tak kembali ke bulan. Kaguya pun dikurung di kamar bersama halmeoni, sementara Kaisar dan harabeoji berada di depan pintu. Benar saja, saat bulan menjadi bulat sempurna, tiba-tiba muncul awan bercahaya yang ternyata adalah pengawal Kaguya dari bulan”

Lagi-lagi tak ada tanggapan, membuatku bertanya-tanya apa Sooyoung mendengarkanku atau tidak.

“Sooyoung-ah, apa kau masih—“

Em. Teruskan saja”

Aku mendesah pelan, “Geurae, arraseo” kataku. “Jadi, 2000 pengawal yang dikerahkan Kaisar itu tidak berkutik melawan para pengawal dari bulan itu dan kehilangan kesadaran dengan kekuatan pengawal putri Kaguya. Dengan mudah mereka mendatangi tempat dimana Kaguya berada bersama halmeoni. Mereka semua tak sadarkan diri kecuali Kaguya sendiri dan para pengawalnya”

Halmeoni?”

Halmeoni juga dibuat tidak sadarkan diri,”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Karena ingin berpamitan pada halmeoni, Kaguya meminta pada pengawalnya untuk mengembalikan kesadaran mereka berdua—halmeoni dan harabeoji. Setelah sadar, Kaguya langsung mengucapkan terima kasihnya atas segala kebaikan yang dia terima. Dan sebelum pergi, Kaguya meminta harabeoji untuk memberikan sebuah surat dan obat ajaib untuk Kaisar yang diletakkan harabeoji di kantung pakaian Kaisar. Saat pada akhirnya Kaguya harus kembali ke bulan, ingatan harabeoji dan halmeoni itupun dihapus oleh pengawal putri Kaguya”

“Apa yang terjadi pada Kaisar?” tanya Sooyoung. “Bukankah saat putri Kaguya pergi, dia masih tidak sadarkan diri?”

Majayo. Hanya Kaisar yang ingat akan putri Kaguya karena menerima surat yang diberikan putri Kaguya. Kaisar pun terus-menerus bersedih, dan obat ajaib pemberian putri Kaguya pun tidak diminumnya”

“Obat ajaib seperti apa, oppa?”

“Obat ajaib yang membuat hidup seseorang menjadi abadi dan tidak akan bisa mati”

Ah,” sahut Sooyoung kembali menundukkan kepalanya. “Apa Kaisar meminumnya?”

Aku menggelengkan kepala. “Karena putri Kaguya tak ada, Kaisar berpikir bahwa obat itu tidaklah berguna lagi. Maka, Kaisar pun memanggil pengawal dan memerintahkannya untuk membakar obat tersebut di puncak gunung yang paling tinggi di Jepang. Gunung itu tak lain dan tak bukan adalah Gunung Fuji. Itulah alasan kenapa Gunung Fuji selalu terlihat cantik dan indah”

Sooyoung tersenyum singkat, tapi tak ada yang dia katakan. Padahal aku sudah berharap dia memberikan tanggapan apapun pada cerita ini, tapi dia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Sesekali aku melihatnya melirik ponsel yang sedang dia pegang, lalu menghela napas panjang.

“Ada yang sedang kau pikirkan?” tanyaku mencari tahu meskipun aku sendiri sudah mengetahui jawabannya.

“Tidak,”

“Sooyoung-ah, apa kau tak percaya padaku sampai kau perlu menyembunyikannya dariku?”

Sooyoung menoleh padaku, terlihat terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan. “Kenapa oppa berkata seperti itu?”

“Karena jika kau percaya padaku dan menganggapku sebagai—teman, kau pasti akan berbagi denganku. Itu, ‘kan gunanya aku disini? Disampingmu?”

Arrayo, mianhaeyo” kata Sooyoung pelan. “Aku hanya—tak tahu kenapa aku terus menerus memikirkannya”

“Tentang apa? Changmin-ssi?”

Em. Aku—aku tak bisa mengenyahkan apa yang dia katakan padaku dan aku merasa aku benar-benar melakukan sesuatu yang tidak berguna selama ini”

“Seperti apa misalnya?” tanyaku terus berpura-pura tak mengetahui apapun yang terjadi diantara Sooyoung dan Changmin.

Sooyoung tidak langsung menjawab pertanyaanku, tapi dia justru bertanya sesuatu yang lain padaku. “Kenapa saat itu kau ada di Hanyang Daseong, oppa?”

Oh? Saat aku melihatmu bersama Changmin-ssi maksudnya?”

Sooyoung mengangguk sebagai jawabannya.

“Aku—“ Aku berhenti sesaat untuk berpikir jawaban apa yang paling meyakinkan yang bisa aku berikan pada Sooyoung mengenai alasan kenapa aku ada di tempat itu saat itu. “Aku—aku hanya kebetulan sedang disana untuk—emm, menikmati musim semi dan tak sengaja melihatmu disana. Saat aku melihatmu, kau terlihat sedang mengalami kesulitan jadi aku datang menghampirimu”

“Begitu?”

Eo, begitu” jawabku langsung. “Ah, aku lupa memberitahumu sesuatu, Sooyoung-ah” kataku cepat-cepat, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

“Apa?”

“Kau tahu, sebentar lagi lagu baruku akan keluar. Mungkin malam ini,”

Jinjjayo?”

“Apa kau mau mendengarkannya sebelum itu dirilis?” Aku menawarkannya terlebih dahulu pada Sooyoung karena siapa tahu dia tak mau mendengarkannya. “Ada dua lagu yang akan aku rilis, jadi yah—aku ingin meminta pendapatmu juga”

“Tentu saja aku mau, oppa” sahut Sooyoung dengan cepat. “Aku ingin tahu bagaimana lagu-lagu barumu, mengingat aku sangat menyukai lagumu yang sebelumnya”

Aku tersenyum tipis, “Jamkkaman—“ kataku.

Lalu aku bergegas beranjak dari tempatku dan pergi untuk mengambil earphone di sisi lain ruangan. Aku langsung kembali ke tempatku semula setelah menemukan earphone yang tidak terpakai. Setelah memasangnya di ponselku, aku memberikan satu earphone-nya pada Sooyoung sementara satunya aku pasang di telingaku sendiri. Begitu Sooyoung juga sudah memasangnya, akupun segera memutar lagu baruku yang berjudul Just Once—yang sebenarnya aku tujukan untuk yeoja disebelahku ini.

Sebenarnya tujuanku memperdengarkan ini pada Sooyoung bukan hanya untuk meminta pendapatnya, tapi aku juga ingin melihat reaksinya. Aku ingin tahu apa dia menyadarinya atau tidak tentang lagu ini, atau apa dia bisa merasakan apa yang aku rasakan padanya. Aku hanya ingin tahu.

Suaraku mulai terdengar memenuhi telinga, tapi aku benar-benar tidak mendengarkan lagunya karena perhatianku sepenuhnya tertuju pada Sooyoung. Bagaimana yeoja itu terlihat menikmati melodinya dan bagaimana dia memejamkan mata begitu aku mulai menyanyikan liriknya. Bahkan saat lagu mulai berganti menjadi lagu keduaku di album yang sama—yang berjudul One Confession, Sooyoung masih memejamkan matanya. Di tengah-tengah lagu kedua yang aku perdengarkan pada Sooyoung itu, tiba-tiba saja dia menundukkan kepala. Dan aku melihatnya sedang mengusap pipinya, membuatku langsung menghentikan lagu yang masih mengalun meskipun belum sampai akhir.

Waegeurae?” tanyaku seraya memegang bahu Sooyoung. “Wae ureo?”

Sooyoung tidak menjawab, tapi dia justru semakin terisak. Membuatku kebingungan mengenai apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan tangisannya. Karena jujur, melihat yeoja yang aku cintai ini menangis di depanku itu benar-benar membuatku seakan-akan bisa merasakan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

“Sooyoung-ah, gwenchana?” Aku kembali bertanya karena aku khawatir.

A-An—gwenchana, oppa

Napasku tercekat mendapatkan jawaban seperti itu dari Sooyoung.

“Aku—aku… hatiku—“ Dia memegangi dadanya dengan posisi masih menundukkan kepala. “Kurasa aku tak bisa menahannya lagi. Ini benar-benar terasa—sakit”

Gwenchana. Ceritakan semua padaku, jadi kau tak perlu merasakannya sendirian. Kau tahu, aku akan selalu ada disampingmu” kataku terus berusaha menenangkan Sooyoung meskipun aku sendiri harus menyiapkan diri untuk mendengar apapun yang tidak aku sukai dan membuat hatiku sakit juga. Tapi jika itu bisa sedikit meringankan Sooyoung, maka aku lebih memilih untuk merasakan sakit itu.

Sooyoung tak langsung memberikan tanggapan, tapi dia kembali mengusap kedua pipinya. Sementara itu aku hanya bisa diam sambil menunggunya mengatakan sesuatu padaku karena akupun tak mau mendesaknya jika memang dia memilih untuk menyimpan apa yang dia rasakan untuk dirinya sendiri. Itu pilihannya, dan aku tak akan pernah memaksakannya.

“Apa kau—“

“Aku mencintaimu, meskipun aku tahu jika aku tak bisa memilikimu karena kita adalah sahabat. Tapi aku mencintaimu” Sooyoung menyela perkataanku yang bahkan belum aku selesaikan.

Mataku membelalak mendengar apa yang Sooyoung katakan itu. Seketika jantungku berdegup dengan kencang, dan aku bisa merasakan sesuatu mengalir deras melalui pembuluh darahku.

“Itu yang Changmin oppa katakan padaku, oppa” kata Sooyoung lagi dengan suaranya yang bergetar. “Apa kau tahu apa yang aku rasakan saat dia mengatakannya di depanku?”

Aku diam saja.

“Aku bahagia, tapi disaat bersamaan hatiku sakit” Sooyoung mengabaikan diamku dan melanjutkan apa yang ingin dia katakan yang sepertinya sudah dia simpan selama ini. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi, tapi hatiku benar-benar terasa sakit. Sangat menyakitkan sampai kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Semua harapanku, keinginanku, masa-masa penantianku—rasanya seperti mereka tak akan pernah aku dapatkan bahkan untuk sekejap”

“Sooyoung-ah

“Aku sangat mencintainya, oppa. Teramat sangat mencintainya,” kata Sooyoung tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara. “Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Selama ini aku sudah terbiasa dengannya, aku sudah terbiasa merasakan perasaan itu untuknya, dan aku sudah terbiasa dengan kehadirannya yang bisa membuatku bahagia. Tapi bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan?”

Aku ingin mengatakan sesuatu sebenarnya, tapi aku tidak melakukannya. Lagi-lagi aku hanya bisa diam karena akupun merasakan sakit yang sama saat Sooyoung menceritakan semua perasaannya pada namja lain. Aku melihatnya kembali mengusap air matanya, dan kemudian dia mendesah panjang. Sementara aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan segala sesuatu yang aku rasakan di depan Sooyoung. Tanganku tanpa sengaja menekan ponselku yang langsung membuat lagu yang sebelumnya berhenti kembali terdengar lagi.

“Apa kau membutuhkan bahuku sekarang?” tanyaku pada akhirnya. “Aku akan memberikannya padamu, kapanpun dan dimanapun” Aku menambahkan.

Sooyoung mengangkat kepalanya. Dia menatapku lekat-lekat, seperti sedang mencari sesuatu di mataku. Aku menyunggingkan segaris senyum tipis lalu meraih kepala yeoja itu dan menyandarkannya di bahuku. Tak ada penolakan ataupun protes darinya, bahkan saat aku membelai rambutnya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku melakukan ini pada Sooyoung, dan meskipun aku senang karena pada akhirnya aku benar-benar dekat dengannya tapi tetap saja aku merasakan sesuatu yang menusuk hatiku—seperti duri.

Mataku terpejam sambil berusaha menghilangkan semua rasa sakit yang aku rasakan. Bukan hanya rasa sakit karena mendengar pengakuan Sooyoung, tapi juga rasa sakit karena melihat dia merasakan sakit. Dengan semua perasaan Sooyoung pada namja lain itu, apa aku akan benar-benar bisa memilikinya? Bagaimana aku akan mengubah perasaan Sooyoung itu jika dia terlihat begitu mencintai namja itu?

__

Sooyoung POV

Hari ini aku harus melakukan syuting dengan Shim Changmin, dan meskipun aku sedang ada sedikit masalah pribadi dengannya aku tetap harus bersikap profesional. Sebisa mungkin aku terus menghindarinya—entah itu mengobrol ataupun menatap ke arahnya, karena aku tak mau sampai ada orang yang mengetahui bagaimana hubunganku dengan Changmin sekarang yang sedikit merenggang. Sebenarnya jika saat itu Cho Kyuhyun tidak datang, kurasa suasana diantara aku dan Changmin tak akan menjadi setegang ini. Tapi aku sendiripun tak mengerti kenapa dua namja itu saling bersitegang saat di Hanyang Daseong saat itu.

“Sooyoung-ssi, kita mulai lagi dari scene 5” Sutradara Lee memberikan komando agar semua staf, termasuk aku dan Shim Changmin mulai bersiap-siap untuk kembali syuting.

Aku mengangguk mengerti dan melangkah ke posisiku semula—sebelum di cut, diikuti Changmin beberapa saat kemudian.

Sutradara Lee memperhatikan sekelilingnya, dan setelah mendapatkan kode dari staf-staf nya diapun berseru, “Action!

Aku berusaha memusatkan diri sebagai Lee Ah Ran—peran yeoja yang aku mainkan, dan menatap Changmin—yang memerankan Kang Min Woo, di depanku. Kami berdiri berdampingan di pinggir pagar di taman di bawah Banpo Brigde. Karena dalam scene kami harus menciptakan suasana yang cukup tegang, jadi untuk beberapa saat kami hanya diam sambil menatap lurus ke arah sungai di depan kami. Lalu—di dalam scene, akan datang dua orang yang merupakan teman lama kami yang datang untuk menyapa kami.

“Min Woo-ya! Ah Ran-ah!” seruan keras seorang namja itu membuatku dan Changmin menolehkan kepala. “Ya! Sudah lama sekali!” serunya lagi seraya memeluk kami dengan singkat.

Jal jinaesseo?” tanya Nam Jihyun—seorang artis yang memerankan Shin Hyuna, padaku.

Em,” jawabku singkat.

“Yah, sudah berapa lama ini? Aku benar-benar tak percaya kita bisa bertemu seperti ini lagi setelah beberapa tahun berpisah, terutama kau Min Woo-ya!” Kali ini yang berbicara adalah Kwon Geun Tae—yang berperan sebagai Nam Jaewon.

Geurae, ini memang sudah lama” kata Changmin melirik ke arahku. “Siapa yang menyangka jika kita bisa bertemu lagi dengan Ah Ran seperti ini. Benar, ‘kan?”

Maja, maja. Ah Ran itu menghilang tiba-tiba, dan tak pernah memberikan kabar pada kita” komentar Jihyun sambil menyentuh bahuku. “Kau kemana saja selama ini, huh?”

“Aku—keliling dunia” jawabku.

“Omong-omong, dimana kau menemukannya?”

“Jepang,”

Mwo?”

Oh?”

Sebelum aku memberikan komentar apa-apa, ponselku berbunyi. Akupun langsung mengambilnya dari dalam tasku. “Yeoboseyo?”

“Apa benar ini dengan Lee Ah Ran-ssi?” tanya suara di seberang.

Ne, majayo

“Kami dari rumah sakit Seoul”

Aku langsung berakting terkejut, tapi menyembunyikannya di depan teman-teman yang lainnya dengan tersenyum pada mereka seperti terlihat tidak terjadi apa-apa. Lalu akupun melangkah menjauh ke tempat yang lebih sepi, dan mengabaikan wajah heran dan bingung yang terlukis di wajah mereka. Meskipun ini pertama kalinya aku bekerja sama dengan Kwon Geun Tae dan Nam Jihyun, tapi mereka berakting dengan cukup bagus. Begitupula artis-artis pendukung lainnya, seperti Jung Yumi yang berperan sebagai eomma-ku, dan sebagainya.

“Apa hasilnya sudah keluar?” tanyaku melanjutkan berakting karena Sutradara Lee sama sekali tak menghentikan proses syutingnya. “Mwo? Besok?” sahutku begitu mendapatkan jawaban—yang sebenarnya hanyalah aktingku karena yang meneleponku adalah Seo Yeo Jin yang berpura-pura menjadi seorang perawat dari rumah sakit.

“Ya”

“Apa aku tak bisa mengetahui hasilnya sekarang?”

“Maaf, nona, dokter hanya memintaku untuk memberitahu Anda bahwa Anda agar ke rumah sakit besok untuk membicarakan hasilnya”

“Oh, geurae” kataku. “Arraseoyo, kamsahamnida

Aku menekan tombol close pada ponsel sambil menyenderkan tubuhku ke dinding. Aku menarik napas panjang sambil memejamkan mata, dan akupun mulai berakting menangis. Itu bukan sesuatu yang mudah karena aku sudah beberapa kali harus berakting seperti ini. Jadi, tanpa menunggu lamapun air mataku sudah keluar dengan sendirinya. Tapi aku kembali menarik napas panjang lalu menghapus air mataku yang mengalir di pipi. Saat aku menolehkan kepala untuk menatap teman-temanku, aku tersentak kaget karena Changmin sudah berdiri tepat disampingku.

“Min Woo-ya… k-kenapa kau disini?” tanyaku dengan nada terkejut.

Changmin berdiri di hadapanku dan memperhatikanku tanpa menjawab pertanyaanku itu.

Ya!”

Gwenchana?”

Eo, wae?” Aku terus berakting. “Kurasa kau yang tidak baik-baik saja, ‘kan?” tanyaku sambil berjalan melewatinya. Tapi kemudian, langkahku terhenti. Changmin memegang pergelangan tanganku.

Neo… an-gwenchana, majo?”

“Lepas,” gumamku.

Changmin masih bergeming, tapi tangannya masih memegang erat pergelangan tanganku.

“Lepaskan aku, Min Woo-ya” ulangku sedikit keras;

Changmin terus berakting diam, dan tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya. Meskipun sebenarnya aku sedikit merasa tidak nyaman dengan adegan ini—karena membuatku teringat dengan kejadian di Hanyang Daseong, tapi aku harus berakting untuk tetap diam di pelukannya. Air mataku harus keluar lagi, dan akupun harus menangis di dalam pelukan Changmin.

“Oke!” seruan Sutradara Lee itu mengakhiri aktingku dan Changmin. “Perfect!” Dia kembali berseru.

Aku cepat-cepat menjauhkan diri dari Shim Changmin, dan hanya memberikan senyuman singkat ke arahnya sebelum menghampiri asistenku yang sudah siap dengan air minum untukku di tangannya. Seperti biasanya, yeoja itu memberiku kedua jempolnya setiap kali aku menyelesaikan scene dengan baik. Meskipun itu hanya hal kecil yang dia lakukan tapi itu cukup membuatku senang.

Scene terakhir untuk syuting hari ini yang kau selesaikan dengan sempurna” komentar Yeo Jin sambil memberikan minuman padaku. “Jika aku tak tahu itu semua hanyalah akting, kurasa aku juga bisa menangis” komentarnya.

“Itu berarti akting menangisku jauh lebih baik sekarang, ‘kan?”

“Tentu saja,” sahut Nam Jihyun dari arah belakangku. “Kau memang luar biasa, Sooyoung-ssi

Aku membalikkan badan, lalu tersenyum. “Kamsahamnida, sunbaenim

Nam Jihyun menganggukkan kepala sambil membalas senyumku, “Sampai ketemu di syuting berikutnya”

Ne,”

“Dia juga artis yang hebat” bisik Yeo Jin padaku. “Sutradara Lee dan PD Jung benar-benar tidak main-main untuk menggarap film ini”

Aku hanya memberikan senyum singkat untuk Seo Yeo Jin kali ini. Lalu akupun melangkah menghampiri Sutradara Lee untuk mencari tahu apa ada sesuatu yang kurang dariku atau bagaimana. Tapi untungnya, dia tak mengatakan apa-apa padaku selain hanya kata-kata penyemangat seperti biasanya. Setelah berbicara dengan Sutradara Lee, mataku menangkap sosok Changmin yang sepertinya ingin sekali menemuiku ataupun berbicara padaku karena dia beberapa kali memberiku kode dengan bahasa tubuhnya. Aku memilih untuk tetap di posisiku, dan saat namja itu melangkah ke arahku, aku langsung mengajak Seo Yeo Jin untuk pergi. Lagipula syuting sudah selesai, dan akupun tak mau menemui Changmin setelah syuting berakhir. Tidak, disaat keadaanku dan dia menjadi seperti ini sekarang.

Suara dering ponsel terdengar, dan aku tahu itu adalah dering dari ponselku. Tanpa aku memintanya pada Seo Yeo Jin—yang memang memegang tas dan barang-barangku, dia langsung memberikannya padaku. Aku memeriksa layar ponselnya terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan yang masuk ini. Tapi saat nama Shim Changmin yang tertera di layar, aku mengurungkan niatku untuk menjawab panggilan teleponnya. Karena aku benar-benar tak tahu harus membicarakan apa atau bersikap bagaimana di depan namja itu sekarang.

“Changmin-ssi?” seru Yeo Jin yang ternyata menatap ke arah layar ponselku.

Aku mengangguk pelan.

“Angkat saja. Mungkin ada yang ingin dia bicarakan denganmu mengenai syuting selanjutnya” kata Yeo Jin dengan santai. “Lagipula kita masih di lokasi syuting, dan ada aku disini. Dia pasti tak akan membicarakan sesuatu di luar pekerjaan kalian”

Aku menghela napas panjang sebelum menekan tombol jawabnya—pada akhirnya. Untuk sesaat tak ada suara apapun yang terdengar, kecuali suara-suara di belakang—yang sepertinya dia masih berada di lokasi. Aku sengaja memilih untuk diam, dan menunggunya berbicara terlebih dahulu karena aku memang tak mau memulai sesuatu terlebih dahulu. Sementara itu, Yeo Jin terus mengajakku berjalan ke arah mobil dan melangkah semakin jaub dari lokasi syuting.

“Sooyoung-ah,” ucap Changmin pada akhirnya setelah beberapa saat diam. “Neo eodiya?”

“Kenapa kau ingin tahu?” tanyaku langsung.

Aku mendengar helaan napas namja itu sebelum dia kembali berbicara. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,”

“Apa lagi sekarang?”

“Sooyoung-ah, aku tahu kau pasti marah padaku karena apa yang aku katakan saat—“

Tanpa menunggu Changmin menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menutup sambungan teleponnya. Aku mendesah panjang dan memilih untuk diam sepanjang sisa perjalanan ke mobil. Disebelahku, Seo Yeo Jin juga diam meskipun aku tahu sebenarnya ada yang ingin dia katakan padaku. Bahkan saat kami sudah berada di dalam mobilpun, suasana diam masih menemaniku—juga Yeo Jin. Aku kembali menghela napas panjang, lalu mengirim pesan pada Cho Kyuhyun untuk bertanya padanya apa yang sedang dia lakukan.

Eonni, tak apa-apakah jika aku pergi ke suatu tempat terlebih dahulu?” tanyaku begitu mendapat balasan dari Kyuhyun.

“Eodi?”

“Studio Star di distrik Mapo”

Satu alis Yeo Jin terangkat, “Studio Star? Untuk apa kau pergi kesana?” tanyanya.

“Menemui seseorang,” jawabku meskipun tak memberitahu siapa orang yang ingin aku temui. “Sudah tak ada jadwal lagi untukku, ‘kan?”

Seo Yeo Jin mengangguk. “Oppa, ke studio Star di distrik Mapo”

“Eo,”

Aku terus memperhatikan Yeo Jin yang terus tersenyum ke arahku. Membuatku bertanya-tanya apa sebenarnya dia sudah mengetahui siapa orang yang ingin aku temui ini melihat dari sikapnya yang sedikit aneh padaku. Tapi jujur saja, aku sendiri tak tahu kenapa orang pertama yang terpikirkan olehku adalah Cho Kyuhyun. Apa mungkin itu karena setiap kali aku bercerita padanya tentang apa yang aku rasakan, aku selalu merasa tenang dan nyaman?

Aku terus diam di sepanjang perjalanan dan hanya memandang ke luar jendela. Itu aku lakukan karena aku tak mau membahas apapun dengan Seo Yeo Jin, entah itu yang berkaitan dengan pekerjaanku, jadwal-jadwalku maupun diluar itu. Aku hanya sedang enggan membicarakan apapun saat pikiranku sedang kacau. Rasanya seperti semua itu hanya akan menambah rumit semua yang sedang aku pikirkan dan aku rasakan. Yah, memang benar. Sejak kejadianku dengan Changmin di Hanyang Daseong itu, aku memang lebih banyak diam dan tenggelem dengan pikiran-pikiranku sendiri. Seo Yeo Jin memang bertanya tentang perubahan sikapku ini, dan aku memberitahunya—meskipun tidak secara detail. Satu-satunya orang yang mengetahui masalahku, apa yang aku pikirkan, dan apa yang aku rasakan adalah Cho Kyuhyun. Mungkin itu juga alasan kenapa aku lebih nyaman bercerita padanya daripada Yeo Jin yang terkadang ikut campur.

“Kau mau aku tunggu atau bagaimana?” tanya Seo Yeo Jin saat mobil mulai menepi di depan studio Star.

Aniyo, tak usah. Aku akan pulang naik taksi saja, eonni

“Jinjja?”

“Hm,” sahutku cepat. “Lagipula aku tak tahu apa aku akan lama atau tidak disini, jadi sebaiknya kau dan Man Sik oppa langsung pulang saja”

Seo Yeo Jin kembali tersenyum yang menggodaku. “Baiklah kalau begitu,” katanya sambil membukakan pintu mobil untukku dan keluar mendahuluiku. “Kau memang selalu tak mau aku temani saat menemui seseorang,” ucapnya pelan meskipun aku masih mendengarnya dengan jelas.

Aku berpura-pura tidak mendengarnya dan melangkah keluar dari mobil. Mataku menatap studio Star yang sekarang menjadi tempat yang aku datangi saat aku akan bertemu dengan Kyuhyun—yang sebelumnya di Hanyang Daseong. Jujur saja, aku tak pernah menyangka akan menjadikan tempat ini sebagai tempat pertemuanku dengan Kyuhyun agar tidak tertangkap kamera bahwa kami masih saling berhubungan bahkan setelah program We Are On Dating itu sudah lama kami tinggalkan.

“Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu,” kata Yeo Jin sebelum dia masuk kembali ke dalam mobil. “Aku juga akan menjemputmu jika kau ingin di jemput—emm, tapi kurasa kau tak menginginkannya”

Aku hanya memberikan senyum singkatku pada Yeo Jin. Tak lama, mobil mulai melaju meninggalkanku sendirian. Aku terus menatap ke arah mobil itu pergi sampai benar-benar menghilang dari pandanganku. Setelah itu, aku memutar badan dan berencana masuk ke studio tapi seseorang menghentikanku dengan menghalangi langkahku. Aku tahu orang itu adalah Shim Changmin meskipun dia memakai sebuah topi untuk menyamarkannya.

“Sampai kapan kau akan menghindariku?” tanyanya.

Aku diam saja.

“Sooyoung-ah!” seru Changmin sambil melepas topinya. “Kenapa kau terus menghindariku?!” ulangnya.

“Aku tidak menghindarimu,” jawabku ketus. “Pergilah, oppa. Ada urusan yang harus aku selesaikan disini” kataku melangkah melewatinya begitu saja.

Mianhae,” kata Changmin menghentikan langkahku.

Aku mengabaikan itu dan kembali melangkah.

Saranghae,”

Lagi-lagi aku berhenti melangkah, dan kali ini aku benar-benar diam mematung di tempatku. Detik berikutnya—dengan gerakan yang cepat, tiba-tiba saja Changmin menarik tanganku, membalikkan badanku dan menurunkan kepalanya untuk menciumku. Aku sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi dan berusaha melepaskan diri dari Changmin. Tapi namja itu justru semakin menekanku dan mengunci gerakanku jadi aku tak bisa meronta lagi. Aku diam di tempatku—meskipun aku sama sekali tak membalas ciuman itu, tapi kemudian aku merasa seseorang menarikku menjauh dari Changmin.

Aku kembali terkejut, karena semua itu benar-benar sangat cepat. Sekarang aku bahkan sudah berdiri di belakang seorang namja dengan tanganku yang berada di genggamannya. Aku tak tahu siapa dia—karena memakai jumper dengan tudung, tapi ekspresi Changmin benar-benar terlihat marah. Lalu saat namja itu menolehkan kepalanya sedikit ke arahku, aku tahu bahwa dia adalah—

“Kyuhyun oppa

-TBC-

Terima kasih untuk komentarnya di FF ini^^

(meskipun FF nya kurang memuaskan) Tapi aku benar-benar berterima kasih sama yang udah baca (baik yang komentar maupun gg komentar)

Gomawo^^

Jangan lupa komentarnya knightdeul (biar semangat lanjutin FF-nya)^^

Gomawo^^

 

26 thoughts on “[Series] We Are On Dating -6-

  1. Isma KSY says:

    ihhhhhh…. greget aku, lama sekali rasanya buat kyuyoung bersatu. sebelllll.. hu.u. #baper
    hah. tapi ttp keren

  2. husnulk says:

    Kesel liat syoo yg diam gitu aja dicium sama changmin…
    Syukur ada kyu yg dtng biar kesel juga tuh si changmin..
    Ayoooo kyuuu coba dong bilang sama syoo kalo kamu ada perasaan ke syoo, supaya syoo ga terus2 berharap ke changmin muluu…
    Ga relaaa kalo changmin sampe cari kesempatan lagi sama syoo
    Next part ditunggu🙂

  3. cicyrsp says:

    ualllaa ada kisseu sooyoung changmin huhu gak rela😥 aduh perasaan kyuhyun pasti hancur lebur hahaha kasian si evil, dan sooyoung gak peka”😥 uhh keren thor dapet feel apalagi sambil dengerin lagunya tapi kurang panjang menurut aku hehe. Next juseyo !!

  4. Annyeong, q readers baru sudah sekian lama jd siders skrg udah bisa comment
    Menurut q, ff ini keren bgt.. moment kyuyoung dibanyakin thor😀soo eon berpalinglah ke kyuppa, kasian kyuppa sakit hati mulu dengerin curhatan soo eon
    thor, ff ini nanti endingnya dibikin happy ending ya?

  5. Aduhhhhh ,,, lemas bacanyaa
    Kenapa Soo masih belum peka dg perasaan Kyu sehhh ,, huhhhh
    Kisseunya kenapa hrus dg changmin dulu ,,, kenapa tdk dg Kyu … Sebel banget ama Soo ..
    Ditunggu kelanjutannya ,, moga next part Kyuyoung moment … Dan tak bikin sebel ama Soo …
    Fighting authornim

  6. Aigoo… kenapa soo nggak peka2 juga sih sm perasaan x kyu, malah curhat tentang changmin ke kyu. Sakittt … next part x di tunggu. Klo bisa banyakin kyuyoung x yahhh. Okeee semangattt buat author nulis x.

  7. Berasa baca ff chansoo thor,bukan kyuyoung :’
    Kalo si soo nya tetep mikirin changmin terus,kapan hubungan kyuyoung bisa ada kemajuan. Apalagi chansoo saling suka
    Entahlah,si soo ga peka banget. Kesian si kyu nya,cuman jadi friendzone

  8. ellalibra says:

    Kyuhyun menghayati bgt patah ht dy….. Lagu barunya sedih sma ,,,,,,knp soo msh aja ska sm changmin sih …… Fighting eon neeext part

  9. sebel sama changsoo boleh kali ya? huhu 😣 dan di part ini feelnya kyuhyun berasa banget, jd ngerasain juga emosinya sedihnya sakit hatinya juga ikut ngerasa, ga muluk-muluk semangat untuk melanjutkan part selanjutnya, dan tetep semangat !

  10. yaaa ampuunn ini ff sukses banget bikin aq baper disetiap part.ya… apalagi di part ini.. aq bner” dibut flashback T_T

    ditunggu part slanjut.ya ^^

  11. baru baca ff ini… jd kebut baca dr part 1-6 & komen di part ini aja😄 hahahha

    kyu mulai menunjukkan taringnya(?)walaupun emg nyakitin buat skrg ini diposisi kyu :” dibilang salah soo jg gak sepenuhnya salah dia krn membuat kyu melayang(?)dgn kedekatan mereka tp msh sering cerita ttg changmin krn msh labil perasaannya. gak kuat sih kalo jd kyu :”

  12. hanarthelf407 says:

    Kyu dateng pas moment nya ga tepat sih. Kasian Kyu sakit hati terus.
    Dan Soo juga sih ngapain cerita² ttg Changmin mulu ke Kyu. Ga peka banget deh Soo.
    Next! Keep writing!

  13. Sistasookyu says:

    Ya ampuuun gregetan bgt sama syo!
    Dia tuh ga peka bgt sama perasaan kyu!
    Malah dia curhat tentang changmin ke kyu.. -__-
    dan bnyak skali skinship syo yg selalu di pergokin kyu.. Duuh.. mending kyu nya jaga jarak dulu lah ke syo.. Mau tau bakal kek gmna tuh reaksi syo kalo ga ada kyu

  14. lii ulli says:

    ya kasihan lihat kyu sakit hati. bisakah buat semuanya lebih cpet buat soo tahu perasaan kyu dan alasan changmin kenapa tk bisa menjadikan soo kekasihnya. nextnya ditunggu

  15. Nine Nur Muharamah (Shin Hyunra) says:

    T.T T.T T.T T.T
    Chapter ini feelnya berasa bangettt!!! Aaaaaaaaaa itu apa-apaan si Changmin udah nyium Sooyoung???!!! Arrgghhh keseel akuuuuu!!!

    Kenapa Kyuhyun disini menderita banget?? Apalagi bagian dia nyanyi Just Once yaampun… Argh aku kesel ama Changmin! Kesel sama Sooyoung! Kenapa disini Sooyoung seolah-olah jadi antagonis buat Kyuhyun ?? Terlepas dari Kyuhyun yang udah cinta sama dia…
    Aku benciii.. bener-bener benci..
    Yaa! Shim Changmin! Enyah kau!!
    Kesel-lah aku ama Changmin..

    Kyuhyun.. astaga oppa..
    Ga kebayang gimana perasaan Kyuhyun yang ngeliat dengan matanya sendiri kalo orang yg dicintai ciuman sama saingannya dan parahnya mereka berdua juga saling mencintai——- aku betee .. huh kesian Kyuhyun oppaT.T

    Author aku tunggu next partnya secepatnya yaaa.. KEEP SPIRIT AUTHOR!!!^^

  16. younger says:

    ashhg si soo tetep seh masing ga peka sama perasaan si kyu nyebelin banget di sini soonya masih tetep suka ma changmin ..kpn penderitaanya si kyu beres dan akirnya bisa sama si sooyoung akkh nyebelin and soo nya juga mau aja di kiss ma changmin

  17. kyuniest says:

    huwe changmin lu knpa nyosor soo…pa kurang puas lu nyosor gua tiap malam….. 😂
    sebel ma soo knpa ga peka2

  18. Youngra park says:

    Ahh adujhh gue sedih bgts rasany hiks hiks hiks jdi kyuppa sooeoni jga msa gk peka sih aku benci sma changmin kalau boleh jujur aku gk suka sma part ini eoni moment kyuyoung dikit dan moment2nya slalu bikin kyuppa skit hati tapi aku tetap menanti part selanjutnya

  19. ry-seirin says:

    d part ni konflik cinta segitiga kayanya dah keliatan. Kyanya nysek bngt kaliya Kyuppa ngrasaain 2 persaan sakit sekaligus d hatinya.
    Sooeon blm sdar dgn prsaan Kyuppa ke dia, walau dah d ksih kode gto…
    jujur aja part ini aku lebih puas dbnding kmrin. Cos, kmrin bnyk bgt mment ChangSoo ktimbang Kyuyoungnya.
    smngat ya thor buat lnjutin ffnya….

  20. kangjung_ae says:

    Aaaaaarght sumpah kesel banget kenapa changmin nglakuin ituuu, untung kyuppa langsung narik soo eon……dan aku juga kesel sama soo eon, kesel sama perasaannya yg udah lengket sama changmin 😂😡
    Sedih banget sih kyuyoung momentnya…..dari awal pas tau backsound nya lagu ballad udah tau pasti sad ceritany…ternyata bener kasian banget nasib kyuppa …
    Chinguuu ff kamu sukses banget bikin aku baper kesel sedih terharu 😄😄😅😂 kapan niii penderitaan kyuyoung berakhir…takut banget sad ending 😂 jeball happy end juseyoo….
    Fighting chinguuuuuuu~

  21. ajeng shiksin says:

    lama lama kesel sama sooyoung kenapa enggak peka sama perasaan nya kyuhyun. trus kenapa juga si masih suka sama changmin.. kenapa harus kiss sama changmin duluan si. kenapa enggak sama kyuhyun.. aaaaaaaaaaaa agak enggak rela..
    ditunggu kelanjutan nya chingu..

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s