[Oneshot] Vermilion Paper

Vermilion Paper

Vermilion Paper – Oneshot

By : Joanne Kaniezax

Cho Kyuhyun | Choi Soo Young | Kim Hana

Awas typo. Story belong to me!

©2016

Author Note : Oneshot ini banyak flashback nya. Jadi~ pandai-pandailah membedakannya oke?

“Walau ingatan itu kebohongan, tapi perasaanku tak pernah palsu.”

“Uhhk…”

Wanita itu berusaha menarik nafas panjang saat oksigen menipis di sekitarannya. Tatapan sendu ia arahkan pada lelaki yang sedang menduduki perutnya. Lelaki yang menatapnya penuh kebencian membiarkan kesepuluh jemarinya yang melingkar di leher wanita itu, memberikan tekanan kuat dan menyumbat pernafasan sang wanita.

Sudut mata wanita yang diduduki mengeluarkan liquid bening. Bukan. Ia bukan menangis karena sakitnya tak bisa mengirup udara, tapi menangis karena kesalahannya sendiri. Kesalahan yang membuat lelaki yang sedang mencekiknya berbuat seperti ini.

Semua ini kesalahannya.

“K-kyu… Hyun…” dengan suara ringkih dan serak, wanita itu bersuara lirih.

Namun lelaki yang dipanggil Kyuhyun itu tatapannya sedingin es, menghujam langsung kedalam hatinya yang mencelos panas. Tak ada lagi kehangatan disana. Tak ada lagi tatapan sayang. Tak ada lagi tatapan cinta. Semua palsu. Semua kebohongan belaka.

Jari kokoh nan kuat itu masih saja melingkar di lehernya, yang membuat wajahnya kian membiru. Wanita itu tidak berusaha mencakar, atau menendang untuk melepaskan diri. Karena ia tahu ini semua salahnya.

Yang bisa ia lakukan hanya menyentuh punggung tangan lelaki itu dan menatapnya pesakitan. Guratan kesedihan jelas terukir disana.

Satu tetes liquid bening berasal dari mata indah wanita itu lolos menitik di keramik putih tak bersalah. Menjadi saksi bahwa sang wanita menahan pedih perasaannya.

“Aku akan membunuhmu,” desis Kyuhyun.

Suaranya terdengar pelan dan tenang. Menohok hati sang wanita kasar hingga ke dasar yang paling rapuh.

*

*

*

“Dimana ini?”

Gadis itu berujar pelan sambil berusaha mendudukkan dirinya di atas ranjang yang bernuansa putih. Ah, rumah sakit, pikirnya beberapa detik kemudian. Mengelilingi ruangan itu dengan pandangannya, gadis itu tak menemukan seorang pun disana.

Lama gadis itu terdiam, mencerna kembali ingatannya, tapi ia tak menemukan apapun. Ingatannya hanya sebatas bayangan kabut putih, seolah semuanya habis terhapus, kosong.

Perlahan gadis itu menolehkan kepalanya saat mendengar pintu berderit. Seorang lelaki tampan dengan aura mencekam memasuki ruangan sempit itu. Merasa terintimidasi, gadis itu sontak memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menyentuh headboard ranjang. Kedua kakinya ia tarik, dan kedua tangannya saling membelit di atas lutut. Sorot ketakutan jelas ia pancarkan dari matanya.

“S-siapa kau?” cicitnya.

Lelaki dengan tatapan tajam itu mengangkat satu alisnya. Kemudian terkekeh sinis.

“Kau tidak ingat siapa aku?”

Suaranya dalam, tenang, dan ada belati tajam tersimpan disana. Seolah menunggu saat yang tepat untuk bisa menembus jantungnya, dan mewarnai merah dengan darahnya.

Gadis itu semakin memundurkan tubuhnya walau lelaki itu bahkan tidak selangkah pun mendekatinya. Ia hanya berdiri dengan radius satu meter dari ranjang. Berdiam disana. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti hingga menarik diri. Tapi gadis itu merasakan ancaman yang sangat kuat dibalik punggung lelaki itu.

Perlahan, ingat bahwa ia belum menjawab pertanyaannya, gadis itu menggeleng. Sedetik kemudian lelaki itulah yang mendengus sinis.

“Jangan bilang kau juga siapa kau, dan apa yang telah kau lakukan sebelumnya,” desisnya mengepalkan tangan. Lagi-lagi ancaman itu. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia ketakutan luar biasa yang ia tidak tahu apa sebabnya. Ujung jari kakinya gemetar dan terasa dingin. Aura kuat yang memancar tajam.

“A-aku benar-benar tidak tahu apapun,” ucapnya dengan suara bergetar.

Raut kebingungan sejenak terlukis disana. Menimbang-nimbang pernyataan gadis itu yang tidak bisa ia percayai. Tapi melihat ekspresi di wajah gadis itu, ia tahu itu bukan kebohongan.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya, meninggalkan gadis itu dengan ingatan kabut di ranjangnya, dengan sejuta pertanyaan, dengan sejuta kebingungan.

*

*

*

“Namamu Choi Soo Young.”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Menatap lelaki yang kemarin berada di kamar inapnya.

“Soo Young,” gumamnya dan tersenyum lebar.

“Soo Young.”

Ulangnya lagi.

Kemudian, ia menatap lelaki itu penuh tanda tanya. Sadar diperhatikan, lelaki itu menoleh. Tahu apa maksud dari tatapan Soo Young, ia berujar, “Aku Kyuhyun.”

“Kyu… Hyun?” gumamnya dengan alis berkerut.

“Kyuhyun,” ulangnya lagi. Kemudian ekspresi bingung itu tergantikan dengan senyum secerah matahari.

*

*

*

“Ayo, sini makan.”

Soo Young dengan langkah ragu-ragu mendekati Kyuhyun. Jelas sekali ingatannya hari itu lelaki di depannya ini memancarkan aura kebencian yang sangat dalam untuknya. Sangat jelas hingga ia tanpa sadar menjauhkan dirinya.

Tapi Kyuhyun, lelaki itu sekarang sehangat mentari. Sangat berbeda. Sangat terang dan memukau. Seolah yang kemarin dilihat di rumah sakit hanya hidup dalam imajinasinya saja. Seolah yang dilihatnya kemarin hanya ilusi belaka.

“Buka mulutmu,” perintahnya sambil mengangkat sesendok bubur hangat dengan asap tipis mengepul di udara. Menuruti perintahnya, Soo Young membuka mulutnya, menerima suapan bubur itu.

Suap-menyuap itu berlangsung hingga satu mangkuk bubur hangat itu habis. Kyuhyun menyodorkan segelas air yang langsung diterima Soo Young. Gadis itu menenggaknya hingga habis tak tersisa dan memandangi Kyuhyun.

“Apa? Ada apa menatapku seperti itu?” tanyanya sambil melepas gulungan tangan kemejanya—ia melakukannya sebelum menyuapi Soo Young.

Soo Young menggeleng perlahan, dengan senyum tipis dan tatapan murni.

“Aku hanya berusaha mengingat, siapa aku, siapa kau, apa yang aku lakukan, dan apa hubungan… kita.”

Gadis itu menjauhkan dirinya dan menghampiri jendela besar dengan tirai hijau gelap. Jendela itu luar biasa besarnya, memenuhi sisi dinding tanpa sisa, memperlihatkan pemandangan indah dibaliknya. Pemandangan yang sejauh apapun mata menangkup, hanya ada ratusan pepohonan lebat yang terlihat.

“Dan apa yang aku lakukan disini.”

Kyuhyun terkekeh pelan. Ia bangkit dari ranjang dan mendekati Soo Young, berdiri di sampingnya. Matanya mengikuti arah mata Soo Young, memandang keluar yang memperlihatkan warna hijau menyejukkan mata.

“Kau tidak suka berada disini?”

Soo Young menggeleng.

“Tidak. Hanya saja… aku merasa asing disini.”

Gadis itu menyentuh kaca yang terasa dingin di telapak tangannya. Kemudian menempelkan telapak tangannya dipipi, merasakan sengatan sejuk yang tipis.

Kyuhyun menghela nafas. Ia mengangkat sebelah tangannya mengelus puncak kepala Soo Young. Sentuhannya terasa ringan. Seringan bulu.

“Istirahatlah. Kau harus memulihkan ingatanmu.”

Soo Young mengangguk dan memiringkan tubuhnya, menatap langsung kedalam mata onyx sedalam samudra itu, sejuta makna.

“Baiklah. Selamat tidur, Kyuhyun-ah,” bisiknya sambil mengulum senyum.

*

*

*

Soo Young dengan nafas yang semakin menipis, menatap Kyuhyun memohon. Sesakit apapun paru-parunya yang membutuhkan oksigen, lebih sakit lagi ditatap Kyuhyun dengan mata dingin seperti itu.

“K-kyu… Hyun…”

Suaranya tertelan di tenggorokan, tapi sampai di gendang telinga Kyuhyun. Walau gadis yang berada di bawah tekanannya ini terlihat menyedihkan, tapi ia mengunci hatinya rapat-rapat. Mensugestikan diri sendiri bahwa gadis itu hanya berpura-pura kesakitan.

Berpura-pura untuk tidak mengingat dosanya!

*

*

*

Soo Young menghampiri Kyuhyun yang sedang menikmati tehnya. Di tangan gadis itu ada sebuah novel tebal dengan cover gelap. Dengan mata berbinar-binar, gadis itu berujar, “Lihat Kyu, lihat. Novel ini bagus sekali. Kisahnya terlihat sangat nyata. Tokoh utama lelakinya sangat sempurna. Dan… mirip denganmu.”

Soo Young tersipu malu mengucapkan itu. Ia mengangkat novel itu menutupi sebagian wajahnya, hanya matanya yang tersisa menatap Kyuhyun dengan mata berbinar-binar.

Kyuhyun meletakkan cangkir tehnya dan melirik novel yang dipegang Soo Young. Sedetik kemudian raut wajahnya mengeras. Tatapannya sangat tajam.

“Dan penulisnya… ah, namanya Kim Hana. Nama yang sangat indah.”

Soo Young tidak sadar kalau Kyuhyun tidak suka dengan ocehan gadis itu.

Brak!

Soo Young tersentak. Spontan ia mundur satu langkah saat Kyuhyun memukul meja dengan keras. Ditatapnya lelaki itu dengan pandangan bingung. Tak mengerti maksud perbuatan Kyuhyun.

“Dimana… dimana kau dapatkan buku itu?” desisnya tajam.

“D-di atas meja kerjamu,” jawab gadis itu memelankan suaranya. Lagi. lelaki di depannya ini lagi-lagi berubah. Sekarang, tatapannya tajam. Rahangnya mengeras. Dan ada aura kebencian yang pekat menguar dari balik tubuhnya. Membuat Soo Young ketakutan. Sama seperti lelaki yang ditemui di rumah sakit hari itu.

Kyuhyun… bagaikan koin. Mempunyai dua sisi yang berlawanan. Satu waktu ia sangat hangat, sehangat sinar mentari pagi. Tapi di satu waktu, lelaki itu terlihat menyeramkan. Memandang dengan sorot kebencian padanya.

Mereka berbeda, tapi sama.

Terkadang Soo Young bertanya dalam hatinya, manakah Kyuhyun yang asli? Apakah ia mempunyai dua jiwa di dalam satu tubuh? Atau itu semua hanya ilusinya semata?

“Kenapa kau masuk ke ruang kerjaku?”

Suaranya masih tenang, pelan, tapi sangat mencekam. Soo Young memeluk buku itu di depan dadanya. Jantungnya berdetak keras. Ketakutan.

“A-aku hanya…”

“KUTANYA KENAPA KAU MASUK KE RUANG KERJAKU!?”

Kyuhyun berteriak dan berdiri tiba-tiba, hingga kursi rotan tempatnya bersantai terhempas kebelakang.

“A-aku… M-maaf.”

Soo Young tidak menyangka bahwa Kyuhyun akan semarah itu kalau ia memasuki ruangannya. Ia tidak tahu apa sebabnya. Tapi lelaki itu, sejak pertama kali membawanya ke vila di tengah hutan ini, sudah memperingatinya agar jangan masuk ke ruang kerjanya.

Soo Young yang dilarang merasa penasaran. Dan berusaha mengintip apa yang sebenarnya yang Kyuhyun usaha sembunyikan. Di balik pintu, mata gadis itu membelalak. Ruangan itu bukan hanya ruagan kerja biasa. Tapi dikelilingi dengan rak buku super besar. Tergiur oleh aroma kertas buku, gadis itu melangkah kedalam, mengabaikan peringatan Kyuhyun sebelumnya.

Berkeliling memandangi deretan buku, Soo Young merasa tertarik untuk menghabiskan waktunya disana. Ia masih belum mendapatkan ingatannya, tapi entah kenapa ia sangat familiar dengan perasaan menyukai buku. Apa ia memang penikmat buku sebelumnya?

Namun saat sedang mengelilingi rak super besar itu, langkah Soo Young terhenti tepat di depan meja kerja Kyuhyun yang berada tepat di tengah ruangan. Di atas meja itu hanya sebuah laptop hitam dalam keadaan terbuka, secangkir kopi hitam dengan ampas yang sudah mengering, dan sebuah novel dengan cover hitam yang menarik perhatian.

Tanpa sadar ia membuka buku itu, menelusuri kalimat per kalimat hingga tanpa sadar ia mendudukkan tubuhnya di kursi itu dan hanyut dalam cerita yang dibawakan oleh penulis bernama Kim Hana.

“BUKANKAH SUDAH KUBILANG JANGAN MASUK KE SANA?!”

Kyuhyun menggeram. Satu tangannya terangkat memijit pelan pelipisnya. Kentara sekali ia berusaha menahan amarahnya yang sedang bergejolak hebat.

“Masuk,” ucapnya dengan penuh tekanan.

Serta merta—takut diteriaki lagi—Soo Young membalikkan tubuhnya dan berlari masuk ke kamarnya. Mengunci pintu dan bersandar di baliknya. Jantungnya masih berdebar keras. Dan ia baru ingat masih membawa novel itu bersamanya.

Diangkatnya novel tebal itu dan dipandanginya. Ada rasa yang tak asing saat membaca novel ini. Perasaan yang tak bisa dijelaskannya.

Dan sikap Kyuhyun tadi… ia sama sekali tidak ada petunjuk kenapa lelaki itu terlihat sangat murka. Apa novel ini sangat berharga? Apakah harganya mahal? Tapi novel itu terlihat seperti novel pada umumnya. Tidak ada yang istimewa terlihat disana, selain kisah yang tertulis didalamnya.

Lantas, apa yang membuat lelaki itu marah?

*

*

*

Keesokan harinya, Soo Young memberanikan dirinya menemui Kyuhyun. bagaimanapun itu salahnya yang tanpa izin memasuki ruangan orang lain. Terlebih setelah diberikan peringatan sebelumnya. Ia sudah mengintip sebentar ruangan kerja Kyuhyun—kemungkinan ia disana—tapi Kyuhyun tidak ada. Ia menyusuri ruang tengah, kamar lelaki itu, dapur, bahkan halaman belakang, tapi Kyuhyun tak ada di manapun.

Saat hendak kembali ke kamarnya, Soo Young berpas-pasan dengan Tuan Jung, kepala pelayan Vila ini.

“Tuan Jung, apakah Kyuhyun… sedang pergi?” tanyanya.

Tuan Jung tersenyum tipis. Umurnya sekitar 60-an, tampak berwibawa dan dia sangat dipercaya oleh Kyuhyun.

“Tuan Muda sedang bertemu dengan kliennya untuk membahas bisnis.”

Soo Young mengangguk pelan. “Kapan dia pulang?”

Tuan Jung melirik jam tangannya.

“Mungkin sebentar lagi.”

“Ah, baiklah. Terima kasih.”

Saat Soo Young kembali ke kamarnya dan memandangi novel bercover hitam yang terasa tidak asing itu, telinganya menangkap suara deru mesin yang dikenalnya. Suara deru mesin mobil porsche milik Kyuhyun!

Gadis itu cepat-cepat keluar kamar, menuruni tangga, dan secepat kilat tiba di depan pintu. Begitu tangannya hendak menyentuh knop pintu, pintu itu terlebih dahulu terbuka dari luar. Sedetik kemudian wajah Kyuhyun terlihat, ada guratan terkejut disana, mendapati Soo Young tepat di balik pintu.

“Ah, kau mau keluar?” kalimat pertama yang keluar dari bibir lelaki itu adalah pertanyaan. Gelap di matanya yang tadi pagi Soo Young lihat sudah menghilang. Sekarang di depannya adalah Kyuhyun yang hangat.

“Keluar? Memangnya aku bisa kemana di tengah hutan seperti ini?” ujar Soo Young melempar senyum. Tak ada gunanya mengungkit kembali kejadian tadi pagi. Lagi pula itu akan mempengaruhi mood Kyuhyun yang terasa baik saat ini.

Ia sendiri tidak tahu kenapa Kyuhyun ‘mengurung’nya di villa di tengah hutan ini. Satu waktu pernah ia mencoba bertanya dan Kyuhyun menjawab, “Kau perlu lingkungan yang sehat untuk bisa mengembalikan ingatanmu.”

Perkataan Kyuhyun waktu itu memang memuaskan rasa penasaranya. Tapi semakin lama ia tinggal di sini dan tidak kunjung pulih ingatannya, Soo Young kembali bertanya-tanya. Walau ia hanya menyimpan pertanyaan itu di sudut hati.

Kyuhyun melangkah ke dalam dan menutup pintu di belakangnya dengan sebelah tangan. Sedang tangan yang lain terangkat melepas dasi yang terasa mengikat kuat lehernya hingga terasa sesak. Saat sedang melonggarkan dasinya, tak sengaja mata Kyuhyun melirik novel yang dibawa Soo Young.

Sadar kalau Kyuhyun sedang menatap novel itu, Soo Young cepat-cepat membuka mulutnya hendak menjelaskan.

“A-ah, aku mau minta maaf dan mengembalikan buku ini.”

Soo Young menyodorkan buku itu di depan dada Kyuhyun. Lelaki itu menerimanya tanpa berkata apapun.

“Kyuhyun, maafkan aku yang tidak sopan memasuki ruang kerjamu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku minta maaf.”

Soo Young tersenyum lembut. Sangat lembut hingga tanpa sadat sudut hati Kyuhyun berdenyut sakit. Tidak. Ia tidak boleh tenggelam dalam senyuman gadis itu.

Ingat, Soo Young yang sekarang adalah penjahat yang melupakan dosanya!

*

*

*

“Kau tidak tahu, betapa muaknya aku bersikap tak tahu apa-apa. Seolah kau adalah gadis suci yang tak tahu apapun,” desis Kyuhyun menatap Soo Young yang masih berusaha menarik nafas untuk memperpanjang hidupnya, walau Kyuhyun menghalanginya.

Soo Young menutup matanya perlahan. Menyembunyikan bota mata indahnya disana. Bola mata yang hampir saja membuat Kyuhyun benar-benar jatuh ke dalam perangkap paling menjijikkan ; cinta.

Beberapa detik kemudian gadis itu kembali membuka matanya, menatap sendu ke arah Kyuhyun, sejuta kesedihan tergurat disana.

“Bunuh… aku. Aku… bersalah. Aku tidak keberatan mati… ditanganmu,” ucapnya tersengal-sengal—kesusahan karena kekurangan pasokan oksigen. Kelopak mata Soo Young mengerjab perlahan, dan setetes air mata mengalir perlahan.

Berucap seperti itu, Soo Young malah membuat Kyuhyun kebingungan. Cekikannya di leher gadis itu sesaat mengendur, memberikan kesempatan untuk Soo Young menghirup udara sebanyak-banyaknya, namun ia masih belum melepaskan cengkraman tangannya.

“Kau… sudah ingat?”

Soo Young mengangguk pelan, sangat pelan nyaris tak terlihat. Benaknya otomatis mengulang kembali ingatan beberapa hari yang lalu, saat ia tidak sengaja melihat lagi novel bercover hitam itu. Waktu itu ia mencari Kyuhyun dan melihat lelaki itu terlelap dengan posisi melipat tangannya di atas meja dan menyenderkan kepalanya disana, di ruang kerja.

Soo Young yang awalnya hanya berniat untuk melihat Kyuhyun, membalikkan kembali tubuhnya saat menyadari bahwa novel bercover hitam itu masih berada di atas meja Kyuhyun dalam keadaan terbuka. Yang menarik perhatian Soo Young adalah di halaman buku yang terbuka itu, terdapat selembar foto berpotongan kecil.

Soo Young yakin saat ia menghabiskan buku itu hanya dalam beberapa jam, tidak ada lembaran foto itu disana. Penasaran, Soo Young pun mengmbil potongan foto itu.

Disana  terpotret wajah yang tidak dikenalnya, tapi terasa sangat familiar di kepalanya. Sekali lagi ia menatap wanita cantik yang tersenyum di dalam foto itu, berusaha mengingat dengan keras siapa wanita di dalam foto itu.

Sekelabat bayangan lewat di kepalanya. Terulang bagai film yang diputar dengan cepat. Cepat, cepat, dan cepat. Hingga Soo Young akhirnya sadar kalau potongan ingatan itu adalah miliknya yang selama ini menghilang.

“Dosaku… adalah telah membunuh Kim Hana.”

Kyuhyun tertegun. Otomatis menarik tangannya dari leher gadis itu. Serta merta gadis itu terbatuk-batuk kuat. Dilehernya, ada bekas dari tekanan tangan Kyuhyun. Namun lelaki itu tak beranjak dari perut Soo Young. Bergeming disana.

“Kapan kau ingat?”

Soo Young memejamkan matanya sambil mengulas senyum tipis.

“Beberapa hari yang lalu.”

Nafas gadis itu sudah mulai normal. Paru-parunya kembali bebas, tak terkekang oleh keinginan membunuh yang kuat. Tapi tetap saja dadanya terasa sangat sakit.

“Semuanya?”

Seakan tidak percaya, Kyuhyun kembali bertanya, yang dijawab anggukan lemah oleh Soo Young.

“Tentang aku membunuh Hana, kekasihmu. Tentang kau yang sudah lama ingin balas dendam padaku. Tentang kecelakaan saat kau sengaja menabrakku dengan mobilmu. Alasan kau mengurungku jauh di tengah hutan agar aku tidak bertemu dengan orang yang mengenaliku. Aku ingat semuanya.”

Kyuhyun menatapnya tak percaya. Saat gadis itu hendak mendudukkan tubuhnya, otomatis Kyuhyun berdiri, menatapnya dari atas. Soo Young menyentuh lehernya yang terasa pedih. Senyum tipis terlukis di sudut bibirnya.

“Kau tahu? Buku itu milikku. Kisah yang tertulis disana milikku. Hana mencurinya. Aku gelap mata dan tanpa sadar mencekiknya. Seperti yang barusan kau lakukan padaku.”

Kyuhyun terkejut. Tentu saja. Ia tidak tahu kenyataan itu, kenyataan yang hanya Hana dan Soo Young yang tahu.

“Apa kau bilang?”

Gadis itu masih terduduk dilantai yang dingin, mendongak menatap Kyuhyun yang berdiri di depannya.

“Naskah itu milikku. Hana yang mencurinya. Kau pasti tidak percaya ‘kan?”

Soo Young tertawa sumbang mengingat saat ia mencekik Hana hingga tewas.

“Awalnya kufikir itu hanya kebetulan belaka. Lagi pula kami membangun karir menulis bersama-sama. Saat mengikuti sebuah kompetisi, kami berdua ikut serta. Tapi naskah yang lolos hanyalah milik Hana. Sedang naskahku bahkan tidak sampai ke tangan panitia. Kupikir itu hanya kebetulan dan ketidakberuntunganku. Aku ikut mengucapkan selama kepada Hana.”

Soo Young menerawang. “Naskah miliknya sudah siap dijadikan novel. Aku penasaran dan meminta Hana memperlihatkan naskahnya. Tapi ia menolaknya mentah-mentah. Bahkan ia mulai menghindariku. Lagi-lagi kupikir itu hanya kebetulan.”

Gadis itu menarik nafas panjang. “Lalu suatu hari novel bercover hitam itu beredar dan menjadi best seller dimana-mana. Aku turut senang dan membeli salah satunya. Dan saaat aku mulai membaca bahkan sejak di kalimat pertama, aku tahu, naskah itu milikku! Hana mencurinya dariku!”

Tatapan Soo Young menajam seiring kalimat meluncur dari bibirnya.

“Lalu saat aku bertemu dengannya dan menanyakan hal itu, kau tahu apa yang dikatakannya?” Soo Young menatap Kyuhyun dengan mata yang mulai berair, menahan perasaan sakitnya seorang diri.

“Kau hanya gadis sampah yang tidak bisa menulis! Tapi dengan namaku, tulisan sampah milikmu pun bisa terkenal. Seharusnya kau berterima kasih padaku. Ah, aku juga berterima kasih  padamu. Berkat naskahmu itu, aku menjadi terkenal dan menghasilkan banyak uang. Bahkan seorang pria tampan dan kaya mengejarku mati-matian.” Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya, dengan mata merendahkan.

“Dan kau tahu siapa pria yang kugaet itu?”

“Dia adalah Kyuhyun, lelaki yang kau cintai diam-diam selama sepuluh tahun terakhir ini.” Dan tawa sinis yang terasa menusuk hati terdengar berulang-ulang di benak Soo Young.

“Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menghampiriku dan menyatakan cinta. Awalnya ingin kutolak. Tapi melihat kekayaan yang ada di punggungnya, kupikir tidak buruk menjadi kekasihnya.”

Tanpa sadar, saat Hana membalikkan tubuhnya setelah mendengus sinis, Soo Young mengangkat kedua tangannya yang mendapat kekuatan entah dari mana. Kemudian, dengan teriakan frustasi Soo Young menerjang Hana, membenturkan kepala gadis itu ke dinding dan mencekiknya hingga tewas.

“Dia berkata seperti itu!” suara Soo Young meninggi mengingat kembali kejadian hari itu.

“Dia merendahkanku, dia menghinaku. Dan dia merebut semua yang seharusnya kumiliki!” nafas Soo Young memburu, amarah yang selama ini terpendam di dalam hati telah sepenuhnya bangkit. Membuat sekujur tubuhnya sakit menahan amarah terlalu lama.

“Kau bilang… naskah itu milikmu?”

“Tentu saja!”

Kyuhyun memundurkan tubuhnya hingga bersandar di dinding, menatap Soo Young tak percaya. Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya mengusap pelipis—kebiasaannya saat kebingungan. Pernyataan yang keluar dari mulut Soo Young amat sangat mengejutkannya. Bagaimana bisa ini terjadi?

“Bohong! Hana bilang novel itu adalah miliknya! Kisahnya yang ia tuang dalam bentuk tulisan!”

“Aku tidak berbohong saat mengatakan naskah itu milikku! Semua kisah yang ada di dalamnya adalah kisahku! Akulah Heroine dalam novel itu. Dan kau! Kau adalah Hero yang kutulis dengan sepenuh hati! Aku tidak berbohong! Semua itu kisah nyataku!” teriak Soo Young frustasi.

[Heroine : peran utama wanita. Hero : peran utama laki-laki]

“Jadi… gadis pengirim kertas vermilion itu… kau?” Suaranya kian mengecil, memaparkan bahwa ia sungguh terkejut.

*

*

*

Hari itu Kyuhyun sedang mencari sebuah buku manajemen yang diperlukannya. Matanya mengelilingi rak-rak besar dan buku itu tak jua ditemukannya. Lelah, lelaki itu berjalan memasuki rak khusus novel. Sebenarnya ia sangat menyukai novel. Bisa dibilang kutu buku yang rela menghabiskan waktunya hanya untuk memelototi lembaran-lembaran buku.

Tapi itu dulu, saat ia masih SMA. Sebagian besar waktu luangnya di sekolah ia habiskan di perpustakaan. Duduk berdiam diri dengan buku yang menumpuk di sekelilingnya. Waktu terasa terhenti jika ia sudah memegang buku. Apapun yang ada di sekelilingnya hanya terasa samar-samar.

Kyuhyun selalu duduk di pojok ruangan, di dekat jendela besar dengan tirai putih. Sangat jarang ada yang duduk disitu dan Kyuhyun memanfaatkannya untuk menghindari keramaian. Dan yang uniknya, setiap kali ia hendak duduk disana sudah ada secarik kertas merah terang dengan sederet kalimat.

Selamat siang. Ah, di rak sebelah kananmu, di deretan paling atas sudah kusimpan sebuah buku terbaru dari perpustakaan. Semoga kau suka^^

~Hujan~

Kyuhyun tersenyum kecil dan memasukkan secarik kertas itu kedalam sakunya. Selalu ia simpan kalimat-kalimat renyah yang ditulis disana. Sangat menghiburnya. Dan benar, sebuah novel edisi terbaru dari J.K Rowling tersimpan rapi di deretan paling atas. Padahal itu limited edition, tapi gadis itu menyimpannya.

Kyuhyun tak pernah tahu siapa gadis itu. Surat pertama yang diterimanya berbunyi seperti ini; “Hai, aku hujan. Seorang gadis yang menyukai hujan.” Karena itulah ia tahu yang mengiriminya surat kecil itu seorang gadis.

*

*

*

Kyuhyun tersenyum kecil mengingat masa lalunya. Kalau dipikir-pikir, dia dulu sangat culun. Bukan dalam penampilan. Tapi sifat dan kesukaannya. Hanya seputar sekolah dan buku. Bergaulpun tidak. Karena ia sangat sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Anti sosial. Sepertinya itu sebutan yang cocok untuk Kyuhyun.

Perlahan ia menyusuri rak-rak yang dipenuhi novel. Tangannya tergelitik untuk membawa pulang semua sampel novel yang ada disana. Bukan uang, tapi waktulah yang tidak dimilikinya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah novel yang posisinya sejajar dengan matanya. Novel itu terlihat sangat kontras dengan novel lainnya. Kenapa? Karena disaat novel lain memiliki cover berwarna-warni—untuk menarik perhatian—novel yang satu ini hanya hitamlah yang menjadi latarnya. Dengan judul bertinta emas serta nama penulis di bagian bawah, tentu saja novel ini terlihat sangat menonjol di antara lainnya.

“Vermilion Paper.”

Begitulah yang tertulis disana, judulnya.

Penasaran, Kyuhyun mengambil novel tersebut dan tanpa pikir panjang ia membawanya ke kasir, melupakan tujuan utama ia masuk kesana.

*

*

*

Sesampainya di apartemen super mewah miliknya, Kyuhyun langsung melepas jas, melempar dasi asal-asalan, meraih novel yang dibawanya pulang, dan menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di beranda.

Entah kenapa novel bercover hitam itu menarik minatnya. Susuatu yang aneh membuatnya membeli novel tersebut tanpa pikir panjang. Lembar pertama ia baca. Lama kelamaan ia larut dalam cerita yang dituturkan Kim Hana, sang penulis.

Namun di lembar ke sepuluh, Kyuhyun mengernyitkan dahinya. Cerita yang disuguhkan terasa tidak asing. Bukan, bukan dalam artian ia pernah membaca di novel lain. Tapi rasanya… ia pernah mengalami hal ini sendiri. Persis seperti yang tertulis di dalam novel tersebut.

Entah daya tarik apa yang dimiliki novel tersebut, yang jelas Kyuhyun merasa semangatnya dipicut untuk menghabiskan novel itu secepatnya. Dua jam ia berkutat disana tanpa sekalipun memindahkan pandangannya. Matanya seolah dipaku sedemikian rupa hingga terhipnotis untuk tidak melepaskannya.

Barulah saat ia menutup novel bercover hitam itu, ia yakin akan satu hal; yang tertulis di novel tersebut sebagian besar tertulis tentang dirinya.

Tentang ia yang menyukai buku. Tentang ia yang menghabiskan waktunya di perpustakaan. Mungkin di dunia ini bukan Kyuhyun satu-satunya yang mengalami seperti itu. Tapi yang membuatnya seratus persen yakin adalah bahwa Hero di dalam novel “Vermilion Paper” sering dikirimi surat kecil dengan kertas berwarna Vermilion—merah terang—saat menghabiskan waktunya di perpustakaan. Bukan hanya itu yang membuat Kyuhyun yakin. Semua kalimat yang ada di dalam novel itu persis sama seperti yang didapatkannya 8 tahun yang lalu, saat umurnya masih 17 tahun.

Kebetulan yang sangat detail seperti itu adalah mustahil!

Dengan perasaan membuncah, Kyuhyun bangkit dan mencari informasi terkait penulisnya. Ia yakin. Ia sangat yakin bahwa penulis bernama Kim Hana ini pasti sang gadis hujan. Gadis yang selalu menemaninya dengan celotehan riang di atas kertas Vermilion.

Bagaimanapun caranya, ia harus menemui Kim Hana!

*

*

*

Hai, apa kau selalu duduk disini sendirian? ~Hujan~

*

Kau tidak punya teman? ~Hujan~

*

Apa kau selalu berkencan dengan buku? ~Hujan~

*

Hei, ada buku baru di rak kedelapan, tepat di kananmu! ~Hujan~

*

Apa kau suka aroma tanah yang menguar setelah hujan? Aku suka ~Hujan~.

*

Ah, maafkan aku yang tidak pernah menyapamu secara langsung. ~Hujan~

*

Hey, hari ini hujan, hari favoriteku. Udara terasa dingin ya? ~Hujan~

*

Tadi kulihat kau bersin beberapa kali dan menggosok hidungmu. Kupikir kau pasti demam karena hujan kemarin. Ini aku berikan obat. ~Hujan~

*

Kemarin kau tidak datang. Apa sakitmu sangat parah? ~Hujan~

*

Peringatan : Membuka jendela lebar-lebar saat hujan bisa membuatmu demam. ~Hujan~

*

Hey, apa kau tahu apa itu bahagia? Itu adalah perasaan senang yang membuncah di hati walau hanya karena alasan sederhana. ~Hujan~

*

*

*

“Kim Hana-ssi?”

Yang dipanggil menoleh. Tatapan matanya terlihat bingung. Jelas sekali. Orang yang tak di kenal memanggil? Apa dia seorang pembacanya?

“Ya?”

“Benarkah kau penulis novel “Vermilion Paper?” tanya Kyuhyun sopan. Gadis itu mengangguk.

Ternyata benar. Hanya seorang pembaca.

“Ah, aku… sudah membaca bukumu. Sangat menarik. Dan… yah, bolehkah aku mengajakmu makan malam besok? Ada banyak hal yang ingin kubicarakan.”

Kyuhyun memicingkan mata saat gadis mengangguk ringan. Apa gadis itu tidak ingat kalau mereka pernah berteman? Bukan dalam artian yang sebenarnya, tapi kenpa gadis itu terlihat biasa saja? Tidak terkejut sama sekali. Apa ia sudah tidak ingat rupa Kyuhyun? Ah, benar. Mereka sudah tak ‘bertemu’ selama 8 tahun.

Mungkin saja ia hanya lupa.

Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Dari kenalan menjadi teman, semakin dekat hingga mereka memutuskan untuk bertunangan. Walau Kyuhyun menyukai Hana, sudut hatinya masih terasa gamang. Entah kenapa, ia merasa gadis itu bukan gadis dengan “Vermilion Paper” yang pernah dikenalnya.

Berbeda, dan sangat terasa berbeda. Namun kenyataan bahwa naskah itu miliknya, perlahan membuat perasaan gamang itu tertutupi.

*

*

*

“Bagaimana mungkin ini terjadi…”

Kyuhyun menggeleng tak percaya. Benaknya berusaha mencerna semua ingatan, dan ia menyadari satu hal; Hujan dalam bahasa Korea adalah Bi. Soo Young. Kenapa ia sangat telat menyadarinya?

“Kenapa berhenti?”

Kyuhyun melirik Soo Young saat gadis itu bertanya.

“Kenapa kau berhenti mencekikku? Bukankah itu yang kau inginkan?” tanya Soo Young yang masih terduduk di lantai.

“Aku…” tatapan yang Kyuhyun lemparkan, Soo Young tak mengerti apa artinya.

“Aah, aku tahu. Apa karena di depanmu adalah gadis hujan yang asli? Dan kau merasa bersalah?”

Kyuhyun tersudut dengan pernyataan Soo Young barusan. Benar. Yang dikatakan gadis itu semuanya benar. Perasaannya berhadapan dengan ‘gadis hujan’ yang asli menjadi kacau. Tak hanya pikirannya, hati pun begitu.

Perasaan rindu yang sangat dalam tiba-tiba berkobar bagai api di dadanya. Dan perasaan bersalah luar biasa juga ikut hadir yang menutupi si ‘rindu’. Apa yang harus Kyuhyun lakukan? Memenangkan perasaan ‘rindu’ atau ‘rasa bersalah’? Ia bimbang.

“Tapi…”

Kyuhyun masih hendak menyanggah, seolah menolak untuk menerima semua twist yang selama ini tersimpan. Suratan takdir seperti ini… kenapa bisa ada?

“Setelah dengan kuat mencekikku, bukankah lebih baik untuk menuntaskannya hingga akhir?”

Soo Young menyusupkan tangannya di balik saku. Menyentuh benda yang selalu dibawanya sejak ingatannya kembali. Sebilah pisau kecil yang sangat mudah diselipkan. Soo Young menarik pisau itu perlahan. Sisinya terlihat berkilat tertimpa sinar matahari yang menyusup malu-malu lewat ventilasi jendela. Di satu sisi, kilatan itu terlihat menawan. Warnanya putih jernih. Tapi di satu sisi, kilatan itu adalah simbol dari ancaman.

Kyuhyun mengawasi Soo Young saat gadis itu mengeluarkan pisau kecil dari balik punggungnya. Tadi saat Kyuhyun menyekiknya, gadis itu sama sekali tidak melawan, walau sebenarnya ia bisa saja mencakar wajah Kyuhyun—tapi itu tidak dilakukannya.

Lantas, apa arti dari mengeluarkan pisau itu? Untuk menusukkannya tepat di jantung Kyuhyun? Entahlah. Mata lelaki itu mengawasi tangan Soo Young yang mengangkat pisau itu ke arahnya.

Kyuhyun yakin, dengan tubuh selemah itu—dan ia baru saja diambang kematian—kalau Soo Young tiba-tiba menerjangnya, ia pasti menang dari gadis itu. Kyuhyun pun yakin Soo Young tahu bahwa ia tidak akan bisa menang. Lantas, apa yang akan dilakukan seorang gadis lemah yang saja lepas dari ambang kematian atas pisau itu?

“Terimalah pisau ini,” gadis itu berujar parau. Tangannya yang mengangkat pisau itupun terlihat lemah, tak bertenaga. Mengerutkan dahi, Kyuhyun masih berdiam di tempatnya berdiri.

“Terimalah. Aku tidak berniat menusukkannya di jantungmu.” Soo Young membalikkan arah pisau yang tadi menunjuk lantang ke arah Kyuhyun, kini mengarah kepadanya. Dan ia sengaja melakukan itu. Agar Kyuhyun bisa memegang pangkal kayu yang berukir indah.

Setelah menimbang beberapa saat, Kyuhyun akhirnya menyerah mencurigai gadis itu dan melangkah mendekatinya. Kyuhyun membungkukkan tubuhnya, menerima pisau yang kini ia pegang pegangannya. Pisau itu terlihat sangat bersih. Kyuhyun yakin pisau itu belum pernah digunakan sekalipun.

Namun saat Kyuhyun hendak menarik pisau itu menjauh dari Soo Young—ingat, gadis itu memberikannya— gadis itu malah menarik pergelangan tangan Kyuhyun kuat.

Kyuhyun tersentak. Ia membeku beberapa saat sebelum kemudian menyadari ada tetesan darah yang terpental di lantai. Kontras sekali dengan keramik berwarna putih. Kyuhyun memutar otaknya. Tapi ia tidak merasakan sakit dimanapun.

Perlahan pandangannya turun ke dada Soo Young. Disana, di gaun yang gadis itu pakai, tepat di jantungnya, rembesan darah segar terlihat semakin membesar. Pemandangan yang membuat Kyuhyun membeku adalah tangannya yang memegang pisau yang menusuk jantung gadis itu. Tidak. Ia tidak pernah berbuat demikian.

Benaknya otomatis mengulang kembali kejadian beberapa detik yang lalu. Dan kemudian saat menyadarinya, mata Kyuhyun membelalak.

Soo Young-lah yang menarik pergelangan tangan Kyuhyun hingga pisau itu menusuk jantungnya. Gadis itu sengaja!

Pandangan Kyuhyun naik hingga berserobok dengan mata Soo Young. Saat itulah Kyuhyun melihat dengan jelas guratan kesakitan terlukis disana. Matanya memerah, berair menahan pedih. Nafasnya terdengar memburu. Tapi sebuah senyuman yang sangat tulus dilukisnya penuh sayang.

“Walau ingatan itu kebohongan, tapi perasaanku tak pernah palsu, Kyu.”

Gadis itu masih menggenggam pergelangan tangan Kyuhyun, dan pisau itu masih menancap di jantungnya. Tangan ringkih itu bergetar.

“A-aku… selalu… mencintaimu, Kyuhyun. Dulu, sekarang, dan selamanya.” Kalimat itu diucapkan dengan susah payah. Dengan liquid bening yang menggenang di pelupuk mata, untuk terakhir kalinya gadis itu menatapnya penuh cinta—ditambah dengan senyuman perpisahan.

Kemudian, tubuh yang sudah bertahan beberapa detik sejak jantungnya ditembus besi itu, roboh. Jatuh ke lantai dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan yang dikasihinya.

“Yeo… Bi…”

Kyuhyun, lelaki itu dengan tangan yang luar biasa terasa dingin dan gemetar, melepaskan genggamannya pada pangkal pisau. Perlahan, emosi rindu yang kuat dan pekat mengambang di permukaan. Baru dikeluarkannya setelah yang dirindu sudah membeku.

“Y-Soo Young…” Kyuhyun mengguncangkan tubuh gadis itu dengan tangan yang berlumuran darah. Darah dari Soo Young yang tanpa sadar, selama ingatan palsu itu berjalan, sudah dicintainya begitu besar. Sangat besar hingga ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Awalnya hanya sebutir salju. Tapi salju yang berguling itu semakin membesar, dan akhirnya sampai pada tahap dimana sangat sulit untuk dikendalikan. Seperti itulah perasaannya yang terkubur di dasar.

“B-bangun…”

Pandangan Kyuhyun buram tertutupi genangan air mata yang entah sejak kapan keluar pelahan, mencerminkan perasaannya sekarang. Perasaan takut kehilangan tumbuh begitu besar. Sangat besar, hingga Kyuhyun frustrasi saat Soo Young tak kunjung membuka matanya.

“KUBILANG BANGUN! BUKA MATAMU! BERTERIAKLAH PADAKU! RUTUK AKU! PUKUL AKU! JANGAN DIAM SAJA! BANGUN!”

Lama Kyuhyun mengguncangkan bahu Soo Young agar gadis itu terbangun, tubuh itu perlahan terasa dingin dibawah telapak tangannya. Dingin. Dingin. Dan dingin.

Gadis itu benar-benar pergi.

Untuk selamanya.

*

*

*

Bi dari “Soo Young” artinya adalah hujan.

Hujan yang disukai gadis itu.

Hujan yang juga kini mengiring kepergiannya masuk ke dalam tanah dan akan membusuk disana sendirian.

Langit seolah ikut bersedih, mengguyur tanah dengan serbuan tetesan indahnya. Menemani Kyuhyun yang tak jua beranjak dari tanah yang baru saja ditutup kembali. Seluruh perasaannya seolah tertanam di dalam sana. Dan ia tidak bisa bergerak sedikitpun.

Air matanya tak lagi mengalir. Tapi matanya yang cekung dan pandangan matanya yang sayu, cukup menjelaskan bahwa lelaki itu sudah terlalu lelah untuk menangis.

Karena itu, Hujan, menggantikannya menangis.

Menangisi gadis hujan-nya.

*

*

*

Kyuhyun memasuki kamar itu. Menjelajahi semuanya dengan matanya. Berharap ada gadis riang yang menoleh dari jendela besar yang memenuhi dinding menoleh dan memanggil namanya. berharap gadis itu  masih ada disini.

Kaki jenjang lelaki itu melangkah mendekati ranjang. Dengan gerakan pelan, ia merebahkan tubuhnya disana. Memiringkan kepalanya, berusaha menghirup aroma yang tertinggal dari gadis itu.

Saat ia kembali mengingat gadis itu, satu air bening lolos keluar dari matanya, meluncur perlahan dari mata, melewati pipinya dan berakhir terserap di bantal yang gadis itu  gunakan.

Sudah tak ada lagi artinya menangis. Beribu tetesan yang keluarpun, tak akan bisa memanggil kembali tubuh yang sudah berdiam di bawah tanah. Kini, yang tersisa hanya kenangannya. Senyumannya, dan perasaannya.

“Kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa aku—”

—mencintaimu.

*

*

[[…T H E   E N D…]]

*

*

 

 

Hai~

Kalo ada kesalahan nama Soo Young, mian, itu typo ya😀

Jejak kalian berharga oke?

:’)

61 thoughts on “[Oneshot] Vermilion Paper

  1. falah irtikharah says:

    Smpao kluar air mata baca fanfiction ini😥
    Daebak ff nya . Belum ada alur sperti ini .

  2. Layli Elfnya SUJU says:

    Amazing p0l ff.nya😥 langsung bikin mewek T.T
    Nie ff yg paling bagus yg pernah aku baca 3 th. ini

  3. safitri agustina says:

    Bagus (y) aku nangis baca ff ini😥
    itu mah nama nya bukan temen, temen tuh menjaga bukan nya menjatuhkan
    keren lah ff nya (y) (y) (y)

  4. dania says:

    Aaaaaaa ga pernah diragukan deh ff yg dibuat sama author satu ini. Kereeeennn. Ditunggu banget karya karyanyaaaaa ❤

  5. Sumpah keren. . .
    tpi aku berharap akhir yg happy but it’s oke . . .^_^
    smga thor buat sequel yg mengisahkan sooyoung nya ber rengkanasi gtu. Hehe

  6. ria says:

    ffnya bagus dan keren, meskipun sedih karna nih ff sadending T.T
    huaa kenapa.mesti ada yg mati sih 😢
    pokoknya authornim tanggung jawab bikinin ff lg yg happyend*maksa😀 *

  7. Widyasarhy says:

    Sangat menyedihkan n tragis,soo kasihan s’x sdh d’tikung sm sahabat sendiri,d’benci sm org yg d’cintai pula,sumpah bikin nyesek,tp rada ngg suka sm akhirnya knp soo hrs ngebunuh d’rinya sendiri n tdk memberi kyuhyun kesempatan u/ memperbaiki k’xannya n membuat kyu jg merana dlm penyesalan karna mengabaikan serta menyiksa cintanya benar2 d’sayangkan. Tp sumpah ff nya sgt bgs meski rada2 flashback tp good job!;)

  8. Kinnaird says:

    sempat salah kira kirain hana itu ibunya kyuhyun ternyata malah pacarnya, at all bagus ceritanya, berkesinambungan antara hana, sooyoung & kyuhyun ..

  9. Sempat salah mengira kalau Kim Hana itu ibunya Kyuhyun. Ternyata pacarnya.

    Kebohongan Hana, ingatan Sooyoung, cinta Kyuhyun. Semuanya saling menyatu hingga membentuk takdir lain.

    Pengen sequel. tapi gak bisa. Pemain yang bertahan tinggal Kyuhyun sih😥

    Oh iya, FF ini aku baca bertepatan hujan turun. Hihi~ rasanya senang banget.

  10. eunsuuun says:

    Daebak ffnya. Jjang! Sampe mewek loh hahahaha.
    Demi menyenangkan hati yang -sedikit- ga puas karena sad ending, aku berharap ff yang di atas cuma mimpi kyuhyun, bangun2 kyunya nyari soo, terus soonya kabur, terus soonya ninggalin surat, menceritakan yang sebenarnya kaya di mimpi, terus kyu nyari soo, terus kyu jadi detektif, ngecek ke sekolahannya dulu bener ga ada yang namanya soo, terus dicari dicari dan dapatlah soo eonni tapi ceritanya lagi move on dari kyu, aaaaaah banyak konflik yang terancang di kepala aku hahahaha, dan barulah happy ending wkwkwkwkwkwwkwk

  11. Mnysal itu emng dtg blkngn, dan klu org yg brharga itu dh g ad lgi baru mrsa khlgn,,, hari2 yg kmu lwtkn hrus.y bhgia tp kmu abaikan sblm.y kini yg trsisa hnya knangan yg g mngkn bsa trulang

  12. Akhir” ini gue jarang baca ff sad ending 😂. Sekali baca ff sad ending Tunggg taraaa tunggg taraaa tunggg nyesek mak :”

    Keren thor bahasanya suka gue 😙.sukses terus ya thor berkarya ^^

  13. mongochi*hae says:

    ommo knp sad end gini. meski sesuai aj sih utk balasan ats sikap kyu trhadap soo..
    tp ttp aj baperny…bkin ak..mewek..

    next ff dtunggu

  14. hyuji says:

    ff ini memang yng terbaik dari yang lain, walaupun aku berhsarap happy ending KyuYoung tapi ini udah cukup kok

  15. akhir yang tragis, semuanya gara-gara hana yg ngerebut semuanya dari soo,
    si kyu akhirnya nyesel kan, selama ini dia benci sama gadis yg sebenarnya dia cintai,
    nice ff, ngaduk2 perasaan pas bacanya

  16. icha dewi says:

    ada kalanya aku suka yg sad ending tp tdk dengan yg perselingkuhan paling benci
    ya ampun ceritanya buat sakit tenggorokan nahan tangis oke aip uda sukses banget ceritanya buat mood sedih TT

  17. DeA says:

    Rada bingung pas d awall.. tpi akhirnya paham banget… nyesek yah ending nyaaa… mita sequel dong ♡_♡

  18. Isma KSY says:

    serius soonya meninggal? oh my! aku kgak terima! mengapa? why? wae? mengapa soonya hrus sampai meninggal? kirain mau ada harapan, tapi ternyata. kalo gini ceritanya mah, mending si kyunya juga ikut mati. supaya impasss semuanya meninggal. haha
    yahhh.. padahal udah berharap pengen squel, tapi berhubung di ceritanya soo udah meninggal dan udah di kubur lagi. udah dah kelar.
    daebak! pokoe daebakk! ditunggu cerita lainnya.
    untuk kim hana = (-_-)
    untuk sooyoung choi =😥 syedihhh
    untuk kyuhyun cho = yang sabar mas, penyesalan emang slalu belakangan. tapi tenang jangan sedih, soo eoni pergi, aku masih disini bangg.. #apaansih.. kebanyakan ngomong (-_-“)

  19. febryza says:

    baguuuussss.. walaupun akhirnya tragis tapi overall jalan ceritanya bagus kok. aku baru mau nanya itu kok ada typo di nama sooyoung? apa itu nama tokoh awal sebelum akhirnya diganti sooyoung? tapi gapapa kok ceritanya bagus jadi ga terlalu ngaruh

  20. Putri Knight says:

    sedih jadi sooyoung😦 kyu tega amat siih yaallah –”
    sooyoung lagi knp sampe narik tangan kyu buat nusuk dia coba, dan knp sooyoung ngga bertahan😦
    i need sequel thor, buat reinkarnasi ajaa. biar happy ending. plis lah iniii🙂

  21. jeniver_kyuyoung says:

    entahlah aku mau koment apa, bingung soalnya ff ini keren banget dan feelnya dapet banget… buat authornya aku beri 4 jempol sama jempol kaki hehehe… ditunggu ff kyuyoung yg lainnya…

  22. cicyrsp says:

    tisu-tisu need tisu uhh sedih njirrr nangis endingnya, keren thor ide ceritanya seru tapi kenapa haru sad ending uhh next project please jangan sad ending #ngarepberat hahaha😀

  23. Afliana Valencia says:

    awalnya aku sdikit bingung dgn alurnya tp akhirnya ngerti juga.. kata2 didalamnya menyentuh bgt..

  24. smgurlx says:

    kenapa sedih banget sih?:( ga nyangka banget kalo soo sengaja narik tangannya kyu:((
    baru mau minta sequel minta soo nya dihidupin(?) eh tautaunya meninggal T.T
    aku bingung mau ngomong apa, bahasanya bagus banget sumpah, ga ngebingungin;”””
    sering2 update ya, ku menunggumu xD

  25. Nine Nur Muharamah (Shin Hyunra) says:

    Aku .. gatau harus komen apa, aku mau minta sequel, tapi ga mungkin karena Sooyoung sendiri udah meninggal..

    Fanfic ini feelnya dapet banget, aku suka penataan bahasanya, Author juga kaya perbendaharaan katanya, kerenlah pokoknya!!!

    Cuma satu yang aku sesalin, kenapa harus sad ending kaya gini Author??T.T
    Awal baca, aku sedikit benci Kyuhyun yang tega-teganya nyekik Sooyoung, dan benci itu bertambah pas aku makin ngerti rahasia antara Sooyoung ama Hanna.. haaahh rasanya pengen banget ff ini di-rewrite supaya happy ending, meskipun aku sedikit seneng sih Kyuhyun menyesal diakhir..
    Tapi .. kalo difikir-fikir, kita bisa ambil banyak hikmah dari ff ini, gimana sebuah kesalahpahaman membawa kita pd malapetaka, gimana musuh dalam selimut itu bener-bener ada.. fanfic mu kompliitttt abiiss!!! Daebak!!!
    Ditunggu ya Fanfic Kyuyoung lainnya, Keep writing and keep Spiritt!!!^^

  26. dhewynha says:

    sedihh bgttt 😩😭😭😭mbayanginnya gak kuat hati min… awalnya ku kira bukan balas dendam ,ku kira krn perjodohan kyu nya gak terima … ditunggu ff selanjutnya

  27. udh feeling pasti ada kesalah pahaman dan pasti soo berniat spya kyu nusuk dia. tp gak kepikiran kalo beneran meninggal T^T kirain gak jd nusuk atau msh selamat. miris cinta mereka gak bisa bersatu ToT

  28. kangjung_ae says:

    Sediiihhh 😢 tragis, pas di akhir rada bingung 😂 tapi intinya soo eon udah jadi secret admire dari jaman kyuyoung SHS,….

  29. Sad ending😥
    Kasian banget soo dia punya cinta yang tulus banget sama kyu sampai dia buat novel tapi malahada yang curang,bukan ngerebut novel sooyoung aja malah ngerebut kyu dari sooyoung

  30. Sisca says:

    Aaaa kenapa sad ending kenapa kyuyoung ngga bersatu:(
    Suka sama jalan ceritanyaa ditunggu ff kyuyoung lainya^^

  31. mnd says:

    cast asli namanya Yeo Bi yhaa thor? Sooyoung kan artinya berenang, but ini sediihhh cyiinn*ketularan Hyo* wkwk mau minta squel juga bingung mau kaya apa squelnya, klo yang satu udh gak ada. reinkarnasi? makin panjang nanti wkwk so, fighting thor! ditunggu ff kyuyoung lainnya (note: jan sad end, huhu)

  32. Youngra park says:

    Omg sedihh bgts kyuyoung knp hubungannya setragis dan serumit ini aduhh mau mnta squel jga gk mungkin masa sooeoniny hdup kembali knp jfa sooeoni hrus mati kyuppa jga sih gk bsa menyadari padahal hatinya sdh menunjukanny ke sooeoni

  33. Kesalahpahaman yang berujung kematian~~
    Kenapa harus sad ending thor,kenapa si soo gamau ngedengerin kyuhyun setelah dia tau yang sebenernya

  34. dekyusoo says:

    ff kyuyoung yang paling beda dibandingkan ff kyuyoung lainnya, tapi kenapa harus sad ending..
    hana …. kamu kenapa jahat banget sama sahabat kamu, gara2 kamu kyu jadi salah paham dan salah orang….
    huaaaaaaa… tisu, aku butuh tisu, kasian soo, kyu juga kasian…
    sering-sering ya bikin ff kaya gini, tapi kalo bisa jangan sad ending oke..
    ditunggu ff kyuyoung lainnya ..

  35. ajeng shiksin says:

    aku butuh tisu… 😭 yak ampun nyentuh banget. hampir nangis ql enggak inget di tempat kerja pasti udah mewek.. author sering sering bikin yg kaya gini ia. nyentuh banget cerita nya bikin baper.. sangat buat ff yg lain. makin gemes sama kyuyoung.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s