[Series] Once Again, Love -1-

Once Again, Lovee

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   : 10

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

Pertama aku mau minta maaf dulu karena aku gg bisa lanjutin ff-ku yang sebelumnya We Are On Dating karena ada masalah (file-nya kehapus) hiks T__T Padahal aku pengin banget selesaiin tapi feeling-nya udah hilang buat nulis ulang -___-

Jadi aku pilih buat cerita baru aja, dan jadilah ff ini^^ Seperti yang sudah-sudah sebelumnya, ff ini gg jauh dari romantis tapi ada sedikit fantasinya—atau mungkin banyak, hehe! Tapi semoga bisa menghibur kalian semua yah^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

 

Hyosung POV

Dari semua banyak garis hidup manusia yang Kau gambar, kenapa harus garis hidupku yang Kau buat berliku? Kenapa tak Kau biarkan saja garis hidupku lurus, seperti manusia-manusia yang lain? Kenapa?

Aku tengah berada di persimpangan, tak tahu harus melangkah kemana. Karena bagiku tidak adil jika aku pergi begitu saja meninggalkan dunia ini, tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal atau bahkan mengatakan ‘aku menyayangimu’ pada orang yang paling aku sayangi. Aku tak tahu kenapa hidupku berakhir begitu cepat, sementara orang-orang lainnya bisa menikmati hidup mereka sampai mereka bahkan ingin meninggalkan dunia karena banyak hal. Tapi kenapa Kau mengambilku? Ini benar-benar tidak adil bagiku.

“Apa yang adil dan tidak adil menurutmu, Jeon Hyosung­-ssi?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar di telingaku. Aku menolehkan kepala, dan mendapati seorang yeoja dengan gaun putih dan rambut panjangnya yang tergerai sedang berdiri di sampingku. Dia tersenyum padaku, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa hidupmu tidak adil?” tanyanya lagi.

Nugu—seyo?”

Yeoja itu masih tersenyum, “Kau tak perlu mengetahui siapa namaku” katanya. “Tapi aku datang kesini untuk menjemputmu,”

Aku terdiam di tempatku sambil terus mengamati yeoja itu. Tanpa berpikir panjang dan bertanya untuk kedua kalinya, aku tahu bahwa dia adalah seorang malaikat yang datang untuk membawaku meninggalkan dunia ini. Tidak salah lagi.

“Waktumu tidak banyak, Jeon Hyosung-ssi” kata yeoja itu lagi mengabaikan diamku. “Aku khawatir itu tidak akan baik untukmu” Dia melanjutkan.

Aku tersenyum tipis, “Jadi… Aku benar-benar mati?”

Tak ada tanggapan dari yeoja itu.

“Menyedihkan sekali” kataku kembali berbicara. “Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang aku sayangi”

“Kau tak bisa menyesali apapun yang sudah terjadi, Jeon Hyosung-ssi

Arrayo,” sahutku dengan cepat. “Aku hanya merasa kasihan pada orang-orang yang aku tinggalkan. Apa mereka akan baik-baik saja?”

“Meskipun seseorang pergi meninggalkan dunia, kehidupan di dunia tetaplah berjalan. Kau harus mengerti itu,”

Aku kembali tersenyum, “Geurae. Memang seperti itulah kehidupan. Seseorang datang dan pergi, begitulah kehidupan ini berjalan”

Geureom—“

“Tak bisakah kau memberiku kesempatan?”

Ne?”

“Aku—Aku ingin melihat orang-orang disekitarku sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan mereka,” kataku berusaha sekuat tenaga untuk terus tersenyum. “Andwaejyeo?”

Yeoja itu menatapku dengan lekat. Lalu diapun melangkah mendekat ke arahku, dan mengulurkan tangannya padaku. Awalnya aku hanya bisa memandangi tangan itu karena aku benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi saat aku memegang tangan itu. Apa dia akan membawaku pergi? Apa aku benar-benar tak akan pernah melihat orang-orang yang aku sayangi setelah aku memegang tangan itu? Tapi yeoja itu terus mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum, seperti memintaku untuk meraih tangan itu apapun yang terjadi.

Aku menelan ludahku dan dengan perlahan mengangkat satu tanganku untuk meraih tangan yeoja itu. Mataku terpejam dan aku merasa sesuatu menarikku tapi aku terlalu ragu untuk melihat apa yang terjadi. Jadi aku hanya membiarkannya dan berusaha untuk merelakan semua hal yang aku tinggalkan. Karena memang seperti inilah garis hidupku, seorang yeoja bernama Jeon Hyosung yang meninggal di usia 27 tahun tanpa tahu penyebab dia meninggal.

“Buka matamu, Jeon Hyosung-ssi” Suara yeoja itu kembali terdengar olehku.

Akupun mengikuti apa yang dia katakan dan membuka mataku. Awalnya aku tak melihat apapun, hanya cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Aku bahkan sampai menyipitkan mataku karena cahaya itu benar-benar menususk mata. Tapi kemudian—setelah beberapa saat, semuanya menjadi jelas, bahkan sangat jelas. Aku berada di kamarku, tempat terakhir yang aku ingat sebelum aku sampai ke kondisi seperti ini.

Aku mengarahkan pandangan ke sekelilingku. Tak ada yang berubah bahkan setelah aku pergi. Semuanya terlihat sama, baik itu letak barang-barangnya atau bahkan buku-buku yang berserakan di atas meja. Aku ingat, aku sempat membaca sebuah buku sebelum memutuskan untuk tidur karena sakit kepala. Saat melihat disekitarku, mataku menangkap sebuah foto yang terpajang yang ada di atas meja. Aku mengamatinya, lalu tersenyum.

Babo, aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu” kataku sambil terus menatap foto satu orang disana. “Sebagai ganti selamat tinggal, aku justru berkata bahwa aku membencimu. Aku benar-benar bodoh,”

Aku berusaha mengambil foto itu, tapi tak bisa karena aku hanya menembusnya. Aku mengamati tanganku, dan mendesah panjang. Lalu akupun kembali memalingkan kepala, berusaha berbicara pada yeoja yang tadi membawaku ke tempat ini. Tapi tak ada siapapun, hanya ada aku seorang di kamarku ini. Sekali lagi aku mengarahkan pandanganku ke seluruh sudut kamar, tetap saja aku tak melihat ada yeoja itu atau bahkan merasakan kehadirannya.

Meskipun aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Aku melangkah begitu saja menembus pintunya, tapi sekarang aku justru tidak berada di salah satu lorong rumahku. Aku berada di tempat lain yang terasa tidak asing bagiku. Aku memandang ke kanan-kiriku, berusaha mengenali tempat ini. Kakiku melangkah, dan terus melangkah sampai akhirnya datang pada kesimpulan bahwa ini adalah sebuah rumah sakit setelah melihat beberapa orang yang berjalan dengan tergesa-gesa begitu aku keluar dari lorong yang sebelumnya.

Wae… yeogi issseo?” gumamku bingung. Tapi kemudian aku diam terpaku di tempatku saat melihat seseorang. “Agi,” gumamku lagi.

“Apa pasien sudah berada di ruang operasi?”

Ne, semuanya sudah siap”

“Kalau begitu, ayo. Aku khawatir pasien tidak akan bisa selamat jika kita tidak bergegas”

Cho Kyuhyun, namja itu hanya menembus melewatiku begitu saja saat dia berjalan ke arahku. Aku terjatuh duduk dan menoleh menatap Kyuhyun yang menghilang masuk ke dalam sebuah ruangan. Meskipun aku sudah tak bisa merasakan apapun karena aku sudah tak ada, tapi kenapa rasanya aku ingin menangis? Aku tak tahu apa air mataku akan tetap keluar jika aku membiarkannya begitu saja.

“Kau tak akan mendapatkan apapun jika hanya duduk, Jeon Hyosung-ssi” Suara yeoja itu lagi. Aku bisa merasakan tangannya yang menyentuh bahuku. “Aku membawamu kesini bukan untuk tujuan itu,” katanya memberitahuku.

Geureom, untuk apa?”

Yeoja itu membantuku berdiri, dan dia terus menatap ke arah ruangan yang sebelumnya dimasuki Kyuhyun. Aku tak mengerti dengan maksud dari pandangannya itu, meskipun aku sendiri mengikuti arah pandangnya. Tak ada yang kami lakukan untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya pintu ruangan itu kembali terbuka, dan Kyuhyun keluar dari sana sambil menghela napas panjang. Aku menoleh ke arah yeoja itu sekali lagi, tapi dia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum padaku. Lalu diapun mengajakku untuk mengikuti Kyuhyun yang berjalan ke lorong lainnya.

“Dokter, bagaimana? Apa operasinya berjalan lancar?” tanya seorang yeoja berambut panjang cokelat. “Tidak terjadi apa-apa padanya, ‘kan?”

Gokchonghajimaseyo, operasinya berhasil” jawab Kyuhyun dengan tenang. “Meskipun untuk saat ini pasien belum sadar, tapi tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya” katanya lagi.

Aku tersenyum mengetahui bahwa Kyuhyun berhasil menyelamatkan seseorang kali ini. Meskipun dia hampir selalu berhasil saat mengoperasi seseorang, tapi aku selalu senang setiap kali mendengarnya saat dia bercerita padaku. Dia memang tidak menunjukkan bagaimana bangganya saat dia  berhasil menyelamatkan hidup seseorang, tapi aku bisa tahu dari ekspresinya. Aku juga tahu saat dia bersedih karena pernah suatu kali dia kehilangan pasien yang dia operasi.

Jalhaesseo, uri agi” kataku meskipun aku tahu dia tak akan pernah mendengarku lagi. Aku tetap berbicara, “Kau tahu, aku selalu bangga padamu”

Geureom—“

Kamsahamnida, dokter”

Kyuhyun menganggukkan kepala, dan melangkah pergi. Yeoja itu kembali mengajakku mengikuti Kyuhyun yang berjalan menuju rooftop rumah sakit ini. Aku terus mengikutinya sampai dia berhenti di pinggir dinding, dan berdiri di belakangnya. Mataku tak pernah terlepas darinya karena aku tahu tak ada yang bisa aku lakukan untuknya saat ini.

“Hyosung-ah,” Suara pelan Kyuhyun terdengar, dan itu cukup membuatku terkejut. “Mianhae,” katanya sambil menundukkan kepalanya.

Oppa,”

Aku baru akan melangkah mendekat, tapi yeoja itu tiba-tiba menahan tanganku. Dia menggelengkan kepalanya dan mengajakku untuk pergi meninggalkan Kyuhyun. Yeoja itu membawaku ke sebuah ruangan kamar dimana seorang yeoja sedang berbaring di tempat tidur yang ada di tengah ruangan dengan berbagai alat kedokteran yang menempel di tubuhnya. Aku menatap yeoja yang sedang berbaring itu, lalu beralih pada yeoja disebelahku.

“49 hari,” kata yeoja itu padaku. “Waktumu hanya 49 hari, Jeon Hyosung-ssi

“Aku tak mengerti apa yang kau maksud, cheonsa aghassi

Yeoja itu tersenyum, “Aku memberimu waktu 49 hari agar kau bisa bisa menghilangkan perasaan tidak adilmu pada garis hidupmu, dan agar kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang kau sayangi di dunia ini”

Aku tertegun di tempatku mendengarkannya.

“Tapi—“ Yeoja itu kembali berbicara. “Kau tak boleh memberitahukan identitasmu atau hidup sebagai seorang Jeon Hyosung”

Geuraesseoyo?”

Yeoja itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah yeoja yang sedang berbaring. “Kau akan hidup sebagai Choi Sooyoung selama 49 hari,” katanya.

Aku kembali hanya bisa diam di tempatku. “Lalu setelah 49 hari, apa aku akan pergi?”

Yeoja itu menganggukkan kepalanya.

“Apa gunanya itu? Aku akan tetap pergi pada akhirnya. Semuanya tetap tidak adil bagiku—“

Geureom, apa kau ingin menukar tempatmu dengannya?” tanya yeoja itu sambil memalingkan wajahnya dariku ke arah yeoja bernama Choi Sooyoung itu. “Kau hidup, dan dia akan menggantikan posisimu. Apa itu akan membuatmu memahami apa arti kata adil dan tidak adil itu?”

Ani—bukan begitu maksudku,”

“Aku akan membuatmu hidup kembali, tapi kau tak akan ingat siapa dirimu atau orang-orang disekitarmu. Apa itu cukup adil untukmu?”

Aku diam saja.

“Kita memang diharapkan untuk memilih, bahkan setelah kita tidak hidup lagi. Karena itu, aku memberimu pilihan, Jeon Hyosung-ssi” kata yeoja itu. “Pilihan pertama, kau akan ikut bersamaku dan melewatkan masa 49 harimu. Pilihan kedua, kau melewatkan masa 49 harimu dan hidup sebagai Choi Sooyoung. Atau pilihan ketiga, kau hidup sebagai Jeon Hyosung tapi kau tak ingat kehidupanmu sendiri”

Aku terus diam.

“Mana yang akan kau pilih?”

Aku mendesah panjang, tak pernah menduga akan dihadapkan pada pilihan seperti ini bahkan setelah aku meninggalkan dunia. “Apa semua orang sepertiku—ani, maksudku… orang-orang yang sudah pergi. Kau memberikan kesempatan seperti ini juga?”

Yeoja itu menatap bola mataku dengan lekat, lalu dia berbicara. “Tidak. Hanya untuk orang-orang yang selalu merasa bahwa hidupnya tidak adil, orang-orang yang selalu mengutuk, orang-orang yang selalu dipenuhi rasa iri, kecewa, dan ketidakbahagiaan”

“Aku bukan orang yang seperti itu,”

“Kau salah satunya”

“Aku—“ Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memejam mata sesaat, berusaha mengatasi semua perasaan yang entah bagaimana bisa aku rasakan lagi seperti aku masih hidup. “Geureom—apa yang akan terjadi dengannya?” tanyaku pada akhirnya.

“Choi Sooyoung?”

Aku mengangguk.

“Dia hanya akan seperti itu, tertidur selama 49 hari”

Ne?” sahutku terkejut. “Apa maksudmu tertidur—“

“Itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui, Jeon Hyosung-ssi” sahut yeoja itu dengan cepat. Dia kembali memperlihatkan senyumnya padaku, “Jadi kau akan mengambil pilihan yang mana?”

“Apa yang akan terjadi jika aku memberitahukan identitasku? Bahwa aku sebenarnya adalah Jeon Hyosung dan bukan Choi Sooyoung?”

“Aku yakin kau tak ingin mengalaminya, Jeon Hyosung-ssi” jawab yeoja itu. “Jadi, kau akan memilih yang mana?” Dia kembali bertanya.

Aku mendesah pelan, dan menatap yeoja yang berbaring itu. Meskipun aku tak tahu kenapa yeoja disebelahku memberikan pilihan yang aneh padaku dengan memasuki tubuh yeoja lain, tapi sepertinya tak ada salahnya jika aku hidup sebagai dia ‘kan? Lagipula aku masih merasa bahwa belum saatnya aku pergi, dan masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Meskipun itu hanya 49 hari, setidaknya aku masih bisa bersama orang-orang yang aku sayangi dan mengatakan pada mereka bahwa aku benar-benar menyayangi mereka.

“Dua,” kataku pada akhirnya. “Aku memilih pilihan kedua,”

“Baiklah, sudah diputuskan” sahut yeoja itu padaku. “Geureom, pejamkan matamu, Jeon Hyosung-ssi

N-Ne?”

“Pejamkan matamu,”

Aku mengangguk mengerti lalu mulai memejamkan mata. Pada awalnya aku merasakan suasana yang tiba-tiba menjadi dingin, dan kemudian menghangat. Bayangan semua orang yang aku kenal, keluargaku, teman-temanku, Cho Kyuhyun dan lainnya terlintas di kepalaku. Lalu akupun membuka mata. Mula-mula perlahan, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata sebelum akhirnya benar-benar melihat.

“Selamat datang kembali, Choi Sooyoung”

__

Sooyoung POV

“Choi Sooyoung! Akhirnya!” seru seorang yeoja yang sama sekali tidak aku kenali. “Jamkkaman, aku akan memanggil dokter”

Aku menatap seluruh ruangan dengan mata menyipit, lalu merasakan kehadiran seseorang disampingku. Seorang yeoja lainnya, rambutnya hitam sebahu dan sedikit ikal. Dia sedang menatapku dengan ekspresi khawatir dan lega. Saat pandangan mata kami bertemu, dia tersenyum padaku.

“Aku khawatir sekali padamu, Sooyoung-ah” katanya tertuju padaku. “Kupikir kau—kau… mianhae,”

Aku mengerjapkan mataku, “Nugu—?”

Yeoja itu menatapku dengan tidak percaya, tapi tak ada yang dia katakan.

“Dimana ini?” tanyaku mengabaikan diamnya yeoja itu.

“Sooyoung-ah, neo jinjja gieokana?”

Awalnya aku hanya menatap yeoja itu, lalu menganggukkan kepala. Aku benar-benar tak ingat apa-apa, dan memutuskan untuk memejamkan mata sambil mengingat sesuatu. Pada awalnya tak ada apapun yang aku ingat, selain hanya beberapa bayangan samar dan suara-suara sumbang. Tapi kemudian, gambaran-gambaran itu semakin jelas di kepalaku.

“Hyosung-ah!”

“Jeon Hyosung!”

“Saranghae, uri agi”

“Pilihan pertama, kau akan ikut bersamaku dan melewatkan masa 49 harimu. Pilihan kedua, kau melewatkan masa 49 harimu dan hidup sebagai Choi Sooyoung. Atau pilihan ketiga, kau hidup sebagai Jeon Hyosung tapi kau tak ingat kehidupanmu sendiri”

“Jadi, kau akan memilih yang mana?”

“Dua,” kataku pada akhirnya. “Aku memilih pilihan kedua,”

Ya! Sooyoung-ah, gwenchana?” Suara yeoja itu kembali terdengar. Membuatku langsung membuka mataku kembali dan melihat ekspresinya yang khawatir. “Kau benar-benar tak ingat apapun?”

Aku ingat, tapi aku menggelengkan kepala.

“Sooyoung-ah,”

Ya! Waegeurae?” sahut suara yeoja lainnya. “Kenapa kau menatap Sooyoung seperti itu, Yoona-ya?”

Yeoja yang bernama Yoona melangkah menghampiri yeoja yang baru datang itu dan mengatakan sesuatu padanya yang tak bisa aku dengar. Tapi detik berikutnya, ekspresi terkejut dan khawatir jelas terlihat di wajah yeoja itu. Lalu keduanya melangkah menghampiriku.

“Kau tak ingat?” tanya yeoja yang belum aku ketahui namanya itu. Aku langsung menjawabnya dengan anggukkan kepala. “Benar-benar tak ingat?”

Jamkkaman, kau ingat siapa namamu?”

“Hyo—Choi Sooyoung?” sahutku hampir saja menyebutkan namaku yang sebenarnya.

Yoona menganggukkan kepala, “Geureom—na?

Aku menggeleng.

“Kau juga tak ingat siapa aku?” sahut yeoja satunya.

Aku mengangguk singkat, dan harus terus bersikap seperti ini agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Sooyoung-ah, mianhae. Na ttaemune—“

Ya! Sudah kukatakan itu bukan salahmu, Yoona-yasahut yeoja yang lainnya menyela perkataan Yoona. “Kecelakaan itu bukan salah siapa-siapa. Itu hanya kecelakaan, siapa saja bisa mengalaminya. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu seperti itu”

“Kecelakaan?” tanyaku.

Yoona dan yeoja disebelahnya saling menatap satu sama lain, lalu salah satunya menundukkan kepala.

“Itu mungkin karena trauma di kepalanya,”

Itu suara Kyuhyun, dan dengan cepat aku menolehkan kepala ke arahnya. Benar saja, Kyuhyun sedang berdiri di ambang pintu dengan pakaian putihnya.

Ne? Trauma di kepalanya?” sahut Yoona.

Kyuhyun mengangguk, “Benturan di kepalanya menyebabkan adanya gumpalan darah yang membengkak di kepalanya. Meskipun kami berhasil mengangkatnya, tapi sepertinya untuk beberapa hari pasien akan mengalami sedikit kesulitan untuk mengingat-ingat sesuatu”

Aku mengalihkan pandanganku dari Kyuhyun ke dua orang yeoja yang masih belum aku ketahui hubungannya denganku—ani, maksudnya Choi Sooyoung ini. Kedua yeoja itu terlihat tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku meskipun mereka tak mengatakan apapun. Lalu Kyuhyun melangkah mendekat, membuat perhatianku kembali teralih padanya. Aku tersenyum ke arahnya, sangat bahagia karena aku bisa melihat wajahnya lagi seperti ini. Aku bahkan hanya terus memandangi Kyuhyun saat dia memeriksaku. Jantungku berdebar saat Kyuhyun begitu dekat denganku, tapi aku harus menahan diriku untuk tetap bersikap biasa. Meskipun sebenarnya aku sangat ingin memeluknya, memeluk namjachingu-ku seperti yang biasanya aku lakukan jika dia mendekatkan tubuhnya padaku.

“Sepertinya tidak ada yang salah,” kata Kyuhyun sambil menegakkan kembali tubuhnya. “Tapi akan lebih baik jika kau melakukan pemeriksaan keseluruhan, Sooyoung-ssi. Aku akan menjadwalkannya untukmu,”

N-Ne,”

“Untuk saat ini, yang terbaik adalah kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu”

Aku mengangguk.

Geureom—“

Ja—Jamkkamanyo,” seruku dengan cepat yang langsung membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia menatapku dengan pandangan bingung, begitupula dua yeoja yang sedari tadi di ruangan ini. “Ah, aniyo, aniyo. G-Gwenchanyo,” ucapku cepat-cepat sebelum menimbulkan kecurigaan.

Kyuhyun tersenyum padaku, lalu menganggukkan kepalanya sebelum pergi meninggalkan ruangan. Aku terus menatapnya sampai pintu ruangan benar-benar menutup kembali. Jujur saja, ada banyak sekali hal yang ingin aku katakan di depan Kyuhyun tapi entah kenapa rasanya seperti lidahku kelu dan aku tak bisa mengatakan apapun.

Eotteoke ijen?” tanya yeoja selain Yoona itu. “Dia bahkan tak ingat nama kita, Yoona-ya

Gwenchana, gwenchana. Bukankah dokter berkata itu hanya beberapa hari? Dia pasti akan mengingat kita lagi, jangan khawatir”

“Tetap saja,”

“Ini salahku,”

Ya! Sudah kukatakan untuk tidak menyalahkan dirimu—“

Josanghaeyo,” Aku menyela pembicaraan mereka. Membuat keduanya menatap ke arahku bersamaan. “Yoona-ssi?”

Oh? Kau—kau ingat padaku?”

Aku menggelengkan kepala, tapi melanjutkan bicara. “Katamu, namaku Choi Sooyoung ‘kan?”

Eo, wae?”

Neoneun?”

“Yoona, Im Yoona” jawab Yoona dengan pelan. “Dan ini, Kwon Yuri. Kami berdua adalah sahabatmu, dan kita tinggal bersama selama ini”

Ah, geuriguna” kataku sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Geureom—“

Ya! Choi Sooyoung! Apa itu lucu?!” potong Yuri dengan cepat. “Kau sedang mempermainkan kami, ‘kan? Kau senang melihat kami kebingungan dan khawatir padamu, ‘kan?”

“Yuri-ah” desis Yoona pelan.

Yuri menatapku, dan aku bisa melihat ada air mata disana. Lalu tiba-tiba yeoja itu membalikkan badan dan melangkah pergi dari ruangan. Awalnya Yoona hanya diam di tempatnya tapi pada akhirnya diapun menyusul Yuri, meninggalkanku sendirian di ruangan ini. Aku mendesah panjang melihat kepergian dua yeoja itu, yang ternyata adalah sahabat dari Choi Sooyoung ini. Meskipun seharusnya aku tak seperti ini, tapi entah kenapa aku merasa bersalah pada mereka. Tapi apa mereka akan mengerti keadaanku yang sebenarnya jika aku memberitahu mereka?

Aku kembali mendesah. Lalu dengan segenap kekuatan yang kumiliki, aku mencoba untuk  beranjak dari tempat tidur. Selang infus dan jarum-jarum kecil berbalut plester tampak menghiasi lengan kananku. Ada sebuah cermin di seberang tempat tidurku, tepatnya di sebelah kanan jadi aku melangkah ke arahnya. Rasa sakit di kepalaku datang menyerang, tapi aku mengabaikan itu semua. Karena aku benar-benar ingin melihat bagaimana penampilanku sekarang.

Aku tak begitu terkejut saat melihat pantulan di cermin itu. Wajah yang terlihat disana memang bukan aku, melainkan orang lain. Aku benar-benar menjadi seorang Choi Sooyoung seperti yang dikatakan yeoja berpakaian putih itu. Aku mengamati wajahku, memegangi pipiku dan melihat tanganku. Ini benar-benar bukan mimpi, karena aku sendiripun merasakan sentuhan tanganku ini.

Dae—Daebak” kataku. “Aku—aku benar-benar kembali hidup,”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Aku cukup terkejut dengan suara yang terdengar itu, dan melihat Yoona di pantulan cermin. Lalu akupun berbalik dan kembali ke tempat tidurku tanpa mengatakan apa-apa pada Yoona.

“Apa kau khawatir ada luka di wajahmu?” tanya Yoona lagi saat dia membantuku kembali berbaring. “Jangan khawatir, tidak ada luka di wajahmu tapi—“

“Di kepalaku,” sambungku. “Mianhaeyo, karena aku tak mengingatmu, Yoona-ssi dan juga Yuri-ssi

“Jangan memanggil kami seperti itu karena hanya akan membuatnya semakin terasa asing,” kata Yoona sambil tersenyum ke arahku. “Aku akan membantumu mengingat-ingat, dan Yuri juga. Jadi kau juga tak perlu khawatir,”

Aku mengangguk pelan, “Gomawoyo—ani, maksudku—gomawo

“Istirahatlah. Dokter berkata agar kau banyak istirahat dulu, ‘kan?”

Em,” jawabku. “Yuri eodiseo?”

“Dia sedang menenangkan diri. Dia akan baik-baik saja dan kembali kesini,” jawab Yoona sangat perhatian padaku. “Kau tahu, dia memang terkadang terlalu berlebihan, jadi yah—dia akan baik pada akhirnya”

Aku tersenyum tipis, dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

Mataku terpejam, tapi aku tidak tidur. Kepalaku merunut setiap peristiwa yang terjadi sebelum aku masuk ke tubuh ini. Aku meninggal dua hari yang lalu, tapi sekarang aku kembali hidup sebagai orang lain. Dan aku tidak diijinkan untuk memberitahukan identitasku pada siapapun, bahkan keluargaku sendiri. Aku juga tak mungkin mengatakan pada Yoona dan Yuri bahwa aku bukanlah Choi Sooyoung, sahabat mereka. Melainkan Jeon Hyosung yang hanya meminjam tubuh sahabat mereka selama 49 hari. Karena jika aku memberitahu siapa diriku yang sebenarnya pun, tak akan ada orang yang mempercayainya. Mereka hanya melihat tubuh Choi Sooyoung, bukan Jeon Hyosung.

__

Kyuhyun POV

“Agi-ya, jebal jom! Matikan lagunya,”

“Hyosung-ah, dari siapa bunga ini?”

“Rekan kerja baruku di kantor, romantis bukan?”

“Namja?”

“Andwae, oppa? Apa salah bunga ini?”

“Agi-ya, neo waeirae?”

“Geurae, arraseo. Aku memang bukan namja yang romantis”

“Aku membencimu!”

Aku mendesah keras, mengingat-ingat pertengkaran terakhirku dengan Hyosung—yeojachinguku, sebelum dia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku memejamkan mata sambil menyandarkan punggungku di kursi. Aku memutar kepala, mencoba mengingat wajah yeoja itu yang sudah berkencan dengan lebih dari 2 tahun ini. Aku tak pernah tahu jika pertengkaran itu akan menjadi pertemuan dan percakapan terakhirku dengannya. Sekarang, aku sudah tak bisa melihat kedua matanya yang terbuka lebar setiap kali dia melihatku dan senyumannya yang terakhir itu.

Aigoo, sampai kapan kau akan terus seperti ini?” suara Donghae—salah satu temanku di rumah sakit ini, terdengar di ruanganku. Lalu sosoknya duduk di kursi di depan mejaku. “Ini sudah tiga hari sejak dia pergi. Kau masih belum melupakannya?”

Aku diam saja.

Ani, bukan maksudku memintamu untuk melupakannya atau bagaimana. Tapi bukankah kau harus tetap melanjutkan hidup?”

Shikkero. Apa kau tak tahu aku sedang istirahat?” sahutku kembali menutup mataku. “Aku baru saja menyelesaikan operasi, dan aku lelah sekali”

“Operasi?”

Hepatectomy (pengangkatan hati)”

“Kyuhyun-ah, neo jinjja gwenchana?” tanya Donghae yang langsung membuatku membuka mataku kembali dan melihat ekspresi seriusnya. “Tidak ada yang salah denganmu, ‘kan?”

Aku menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri. “Wae? Bukankah katamu aku harus tetap melanjutkan hidup? Itu juga pekerjaanku untuk mengoperasi, jadi apa salahnya?”

Ani—tapi kau—“

Dwaesseo, aku sedang ingin sendiri” sahutku dengan cepat sambil melangkah ke arah pintu. “Jangan ikuti aku,”

Aku melangkahkan kaki menuju rooftop rumah sakit Yangji ini, dan pergi ke sudut yang menjadi tempat favoritku dan Hyosung saat dia datang mengunjungiku di rumah sakit ini. Tapi kemudian langkahku berhenti karena seorang yeoja sedang berdiri disana, menatap lurus ke arah gedung-gedung bertingkat di sekitar rumah sakit. Aku mengamati yeoja itu, yang sepertinya adalah seorang pasien di rumah sakit ini melihat dari pakaiannya. Tapi caranya berdiri, dan caranya menatap sambil menikmati suasana yang ada disini benar-benar tidak asing.

Jogi—“ Aku memberanikan diri untuk bertanya, dan yeoja itu langsung menolehkan kepala ke arahku. Ekspresinya terkejut, tapi kemudian dia tersenyum. “Oh? Choi Sooyoung-ssi?”

Opp—ani, emm—uisa-nim, annyeonghaseyo” sapa Sooyoung padaku sambil membungkukkan badannya sedikit. “Apa—Apa yang sedang kau lakukan disini, dokter?” tanyanya kemudian.

“Mencari udara segar. Kau sendiri?”

Ah? Aku?” sahut Sooyoung terlihat terkejut, tapi sebuah senyuman masih mengembang di wajahnya. Dia bahkan terus menatapku, seperti cara Hyosung menatapku. Membuat jantungku berdebar sebentar tanpa aku mengerti alasannya. “Menenangkan diri. Aku selalu menyukai tempat-tempat yang seperti ini. Anginnya, pemandangannya, dan suasananya benar-benar bisa membuatku tenang” kata Sooyoung lagi.

Aku cukup terkejut dengan jawabannya itu. Tapi memilih untuk diam saja dan tak memberi tanggapan apapun. Ini pasti karena aku merindukan Hyosung dan masih berharap dia tidak pergi meninggalkanku. Sayangnya, meskipun aku berharap seperti itu, dia tak akan pernah datang lagi ke kehidupanku. Kurasa aku benar-benar harus melupakan yeoja itu mulai sekarang. Tidak, tidak benar-benar melupakannya melainkan hanya menguburnya di dalam hatiku. Karena sekarang dia hanyalah seseorang yang menjadi bagian hidupku meskipun sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya.

G-Gwenchanaseyo?” tanya Sooyoung yang langsung membuyarkan pikiranku.

Oh? Eo, gwenchanayo” jawabku cepat-cepat. “Eotteyo? Apa kau merasa lebih baik sekarang? Atau ada sesuatu yang kau rasakan?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Sooyoung tersenyum singkat, lalu dia menundukkan kepalanya. “Meskipun sedikit aneh, tapi aku baik-baik saja sekarang. Dan juga, aku senang karena bisa melihat orang yang ingin sekali aku lihat”

“Itu pasti sangat membuatmu bahagia? Geujyeo?”

Ne, majayo” jawab Sooyoung sambil menatapku lekat.

Jantungku kembali berdebar tanpa alasan, dan aku tak tahu kenapa aku terus menatap mata itu. Seakan-akan ada sesuatu yang menarikku untuk terus menatapnya, tapi aku tahu apa yang aku lakukan ini tidak benar. Jadi cepat-cepat aku memalingkan wajahku dan menatap ke arah lain. Meskipun aku berusaha keras untuk meredakan debaran jantungku, tapi kurasa aku tak bisa karena rasanya justru semakin berdebar dengan kencang.

Oppa, ah—maksudku, dokter” Sooyoung kembali berbicara, sedikit memecahkan keheningan diantara kami berdua. “Bolehkah aku bertanya padamu?”

“Apa itu?”

Sooyoung terlihat sedang menggigit bibir bawahnya seperti seseorang yang sedang kebingungan. Tapi aku memilih untuk terus diam dan menunggunya berbicara. Sayangnya, dia hanya terus diam sampai aku berpikir jika dia melupakan apa yang ingin dia tanyakan padaku. Itu tidak masalah, mengingat kinerja otaknya masih terbatas karena kecelakaan yang baru dia alami beberapa hari yang lalu. Tapi jujur saja, aku cukup terkejut dia bangun lebih cepat dari perkiraanku sebagai dokter yang bertanggung jawab padanya.

“Dokter, maukah kau berteman denganku?” Sooyoung pada akhirnya berbicara setelah dia cukup lama diam.

Aku masih diam di tempatku mendengar Sooyoung mengatakan sesuatu hal yang diluar perkiraanku.

“Ini mungkin terlihat aneh atau bahkan tidak sopan, tapi aku benar-benar ingin berteman denganmu karena kau—“ Sooyoung diam sesaat dan terlihat ragu untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Aku melihatnya menghela napas singkat sebelum dia kembali berbicara. “Karena kau dokterku, dan mungkin kita—kita akan sering bertemu sampai aku benar-benar sembuh. Benar, bukan?”

Ah, geuraeyo?” kataku tak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Sooyoung menganggukkan kepalanya.

Aku memperhatikan wajah Sooyoung yang terus seperti cara Hyosung menatapku dulu. Tapi cepat-cepat aku menggelengkan kepala dan memaksa diriku untuk tidak mengingat-ingat kembali yeoja itu karena hanya akan membuatku sedih. Aku menghela napas panjang, berusaha menghilangkan bayangan Hyosung dari pikiranku.

Waeyo? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Sooyoung.

Ah,” sahutku dengan cepat. “Aniyo, amugeotdo. Geunyang—

Sooyoung tersenyum padaku, lalu dia memalingkan wajahnya menatap ke seluruh kota Seoul dari rooftop ini. Untuk beberapa saat aku terus memandangi Sooyoung, memperhatikannya, dan mencari alasan kenapa jantungku berdebar kencang serta aku merasa dekat dengannya. Aku yakin ini bukan hanya kebetulan karena akupun bukan tipe orang yang mudah untuk menyukai orang lain. Ah, apa ini berarti aku mulai menyukai Choi Sooyoung?

Ah, ini benar-benar tempat favoritku” seru Sooyoung tiba-tiba sambil meregangkan kedua tangannya. Matanya terpejam dan aku melihatnya menarik napas panjang lagi beberapa kali. “Rasanya menyenangkan sekali bisa merasakan seperti ini lagi” katanya.

Aku diam saja.

“Musim semi datang, dan itu adalah musim favoritku juga. Lihat, dari sini semuanya akan terlihat indah saat daun-daun mulai tumbuh, dan bunga-bunga bermekaran di seluruh tempat” Sooyoung terus berbicara, kali ini sudah membuka kembali matanya tapi tanpa memandangku. Detik berikutnya, dia menoleh padaku dan berbicara lagi. “Aku terlalu banyak bicara, geujyeo?”

Meskipun aku masih merasa sedikit bingung dengan sikap yeoja disampingku ini, tapi entah kenapa aku menjadi merasa terhibur. Aku tersenyum tipis mendengarnya. Jantungku sudah tidak berdegup kencang lagi, tapi aku masih merasa ada sesuatu yang menarik dari yeoja ini.

“Aku—aku juga menyukai musim semi,” kataku pelan. “Aku bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk menikmati pemandangannya bersama seseorang yang—“ Aku langsung berhenti berbicara dan menghela napas panjang.

Sooyoung menatapku dengan lekat, membuatku semakin gugup. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan ekspresiku.

“Dia pasti orang yang sangat spesial, ‘kan?” tanya Sooyoung, memecah keheningan.

Aku kembali menoleh ke arah Sooyoung, lalu tersenyum. “Tak hanya spesial, tapi sangat spesial” jawabku. “Tapi sekarang aku hanya bisa menyimpannya dalam hatiku”

W-Waeyo?”

Aku tersenyum getir.

“Apa dia meninggalkanmu?”

Aku mendesah panjang, berusaha untuk tidak kembali memunculkan bayangan Hyosung. Tapi bagaimana aku bisa dengan mudah menceritakan sesuatu pada seseorang yang bahkan baru aku kenal? Ini benar-benar tidak biasa.

“Hmm?” pancing Sooyoung.

“Yah… begitu,” jawabku. Kurasa aku tak harus memberitahu Sooyoung tentang apa yang terjadi pada Hyosung. Karena itupun tidak akan ada gunanya, dan aku tak mau dia menganggapku sebagai namja yang bagaimana pada akhirnya.

Sooyoung terlihat sangat tenang, bahkan dia tersenyum tipis meskipun dengan cepat dia menutupinya dengan ekspresi yang tidak bisa aku mengerti. Tapi dia tak mengatakan sepatah katapun. Membuatku kembali diam dan berusaha mengendalikan diri lagi.

“Dokter, kira-kira kapan aku boleh pulang?” tanya Sooyoung mengalihkan pembicaraan.

“Kami akan melihat kondisimu secara menyeluruh sekali lagi. Setelah itu, aku akan memastikan kau akan bisa tidur di kamarmu sendiri dengan nyaman”

“Kuharap itu secepatnya. Karena ada banyak hal yang ingin aku lakukan dalam waktu dekat ini,” ucapnya sambil tersenyum.

Geuraeyo, kau akan bisa melakukan banyak hal lagi” jawabku. “Tapi kau juga harus tetap menjaga kondisimu”

“Ne, uisa-nim” sahut Sooyoung sambil memberiku hormat dan tersenyum lebar padaku.

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang terlihat kekanakan. Tapi itu justru membuatku semakin nyaman berada disampingnya. Kurasa hari ini aku benar-benar aneh, dengan semua perasaan yang aku rasakan bersama yeoja ini. Terkadang, rasanya seperti Hyosung-lah yang sedang berada disampingku meskipun aku tahu itu tidak mungkin lagi.

__

Sooyoung POV

Pagi ini, suasana apartemen dimana aku, Im Yoona, dan Kwon Yuri diliputi oleh suasana yang sangat kaku. Jujur saja, sebagai diriku yang sebenarnya—Jeon Hyosung, ini pertama kalinya aku sarapan dengan orang lain. Sebelumnya, saat di rumah aku selalu makan sendirian karena aku memang tinggal sendiri, kecuali mungkin beberapa asisten rumah tangga yang membantuku mengurus rumah peninggalkan Appa-ku.

“Apa kau akan pergi ke restoran hari ini, Sooyoung-ah?” tanya Yuri disela-sela sarapan kami. “Mungkin kau akan mengingat sesuatu disana,”

“Restoran?”

Yuri mengangguk, serta Yoona. “Restoran kita,”

Aku menautkan kedua alisku karena tak mengerti apapun tentang restoran itu, tapi mungkin itu restoran yang dimiliki oleh aku—Sooyoung, dan kedua teman-temannya ini. Karena aku tak tahu harus memberi jawaban apa, aku memilih untuk diam saja dan meneruskan menikmati makananku. Kedua yeoja disampingku ini terus bercerita dan aku hanya bisa menyimak. Terkadang aku menanggapi mereka meskipun hanya dengan senyuman atau anggukan kepala saja. Aku masih merasa aneh dengan situasiku saat ini, bukan hanya karena aku berada di tubuh Choi Sooyoung ini tapi juga keadaan di sekelilingku yang berubah menjadi sedikit lebih ramai.

Tapi haruskah aku senang? Bukankah ini yang dari dulu aku inginkan saat masih menjadi Jeon Hyosung? Mengingat aku selalu sendirian selama ini, kecuali saat bersama dengan Kyuhyun yang benar-benar membuat hidupku lebih berwarna.

Aku punya kakak, tentu saja. Seorang eonni, tapi dia berbeda ibu denganku dan tidak tinggal denganku. Namanya Jeon Hyomin, dan aku ingat aku bertemu dengannya sebelum aku— Aku tak bisa ingat apa yang sebenarnya terjadi saat itu meskipun aku sudah berusaha keras untuk mengingatnya saat pertama kali aku masuk ke tubuh Sooyoung ini.

“Kau mau lagi?” tanya Yoona tiba-tiba sambil menawarkan beberapa makanan padaku. “Hari ini aku memasak cukup banyak, kau tahu”

Eh? Ah, aniyo. Gomawoyo, aku sudah kenyang”

Aish jinjja!” seru Yuri sambil meletakkan sumpitnya, lalu menatapku dengan lekat. “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak berbicara jondaemal? Neo waeirae? Apa kau benar-benar tak ingat kami?”

“Yuri-ah, dwaesseo. Masalahnya jangan diperpanjang, kita sudah pernah membahasnya”

Aku menundukkan kepalaku, “Mian. Aku—aku akan berusaha keras untuk mengingat kalian” kataku dengan pelan karena aku tak akan benar-benar melakukan itu. Aku mendesah kecil, lalu bangkit dari tempat dudukku.

Eodiya?” tanya Yuri.

“Aku ingin sendiri dulu,” jawabku langsung beranjak pergi meninggalkan ruang makan dan pergi ke kamarku sendiri.

Sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kamar, aku sempat mendengar suara Yoona yang sedang berbicara dengan Yuri. Aku mengabaikan itu dan bergegas masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya. Bukan karena aku tak ingin mereka berdua datang untuk menghiburku atau bagaimana, tapi aku benar-benar ingin sendiri dan memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan tubuh ini untuk 42 hari ke depan. Tak mungkin aku hanya akan terus menjalani hidupku sebagai seorang Choi Sooyoung, ‘kan? Bukankah tujuanku untuk kembali bukan untuk itu? Cheonsa aghassi itu pasti ingin aku menemukan keadilan, seperti yang selama ini aku keluhkan di hidupku.

Aish, jinjja! Aku harus tahu apa yang saat itu aku lakukan dengan Hyomin eonni, dan apa yang dia bicarakan denganku saat itu” kataku pada diri sendiri. “Setelah itu, aku harus melakukan sesuatu dengan Kyuhyun oppa dan memperbaiki segalanya dengannya. Aku tak mau dia berpikir jika aku membencinya karena itu adalah hal terakhir yang aku katakan padanya,”

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Membuyarkan seluruh lamunanku tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku meraih ponselku, dan melihat nama yang tertulis di layarnya. Mataku membelalak karena nama Jeon Jae Hoon ada disana. Kedua alisku saling bertaut, berpikir kenapa aku mengenal Jeon Jae Hoon? Apa ada hubungan tertentu diantara aku—Choi Sooyoung, dan Jeon Jae Hoon? Pasti ada, karena setahuku namja itu tidak dekat yeoja manapun selain aku—Hyosung, sepupunya dan juga Jeon Hyomin.

Yeoboseyo?” sapaku begitu mengangkat teleponnya.

Yeoboseyo, Sooyoung-ah!” kata suara di seberang, yang memang benar suara Jeon Jae Hoon. “Jal jinaesseo? Aku dengar kau kecelakaan, apa semuanya baik-baik saja?”

Ah, emm. Gwenchana—yo,”

Aigoo, waeirae? Kenapa nada bicaramu berubah?”

Oh?”

Aku mendengar Jae Hoon tertawa, “Ya, ayo kita bertemu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sebagai permintaan maafku karena tak mengunjungimu di rumah sakit”

Aniyo, dwaesseoyo” sahutku cepat-cepat karena aku sama sekali tak ingin bertemu dengan namja itu sekarang. Bagaimana jika dia tahu aku bukanlah Choi Sooyoung yang sebenarnya? “Aku—kurasa aku harus pergi ke restoran. Yoona dan Yuri mengajakku kesana, jadi—“

“Kita bertemu disana saja kalau begitu,” sela Jae Hoon dengan cepat. Membuatku tak bisa berkata apa-apa karena dia terdengar sangat ingin bertemu denganku. “Kau ingin aku membawakan apa? Cappucino?”

Oh—emm, eo” jawabku pada akhirnya karena aku tak tahu harus memberi jawaban apa lagi. Bukankah itu aneh jika aku terus menolaknya? Lagipula aku tak memiliki alasan lagi yang bisa membuat dia mengurungkan niatku untuk menemuinya. “Aku—aku siap-siap dulu, kalau begitu”

Eo. Sampai jumpa nanti,”

Aku langsung menutup sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari kamar. Aku kembali ke ruang makan, tapi hanya ada Yoona disana sedang menghabiskan sisa makanan yang terhidang di meja. Dia tersenyum padaku saat melihatku datang, dan menawariku beberapa makanan lagi yang langsung aku tolak. Aku duduk di kursi yang sebelumnya aku duduki dan mencari tahu keberadaan Yuri di apartemen ini. Mengingat tidak banyak ruangan yang terpisah dengan semacam pintu, jadi semuanya bisa dilihat dari satu ruangan saja. Kecuali kamar masing-masing dan juga kamar mandi.

“Yuri eodiseo?” tanyaku pada akhirnya.

“Dia pergi ke restoran lebih awal. Mengurus banyak hal disana, seperti yang biasanya dia lakukan. Karena sekarang chef-nya belum bisa melakukan pekerjaannya, jadi dia yang akan mengurusnya” jawab Yoona setelah menelan makanannya.

“Chef?”

Yoona menganggukkan kepala, “Neoya” katanya, yang cukup membuatku terkejut. “Aku dan Yuri memutuskan untuk tidak melibatkanmu di dapur restoran terlebih dahulu untuk beberapa hari ini, setidaknya sampai ingatanmu kembali”

Ah, geurae” ujarku bernapas lega karena aku tak perlu memasak mengingat aku tak bisa melakukannya. “Yoona-ya, kau kenal Jeon Jae Hoon?”

“Jae Hoon oppa? Wae?” Yoona balik bertanya padaku dengan ekspresi biasa. Dia tidak terlihat terkejut aku bertanya tentang Jeon Jae Hoon, jadi mungkin memang ada hubungan tertentu antara aku dan namja itu.

“Kau mau menjelaskannya padaku, ‘kan?” tanyaku setelah memikirkan banyak hal kemungkinan tentang aku dan Jae Hoon. “Maksudku—bagaimana hubunganku dengannya sebelumnya, dan emm—bagaimana aku memanggilnya?”

“Aku tak tahu bagaimana persisnya hubunganmu dengan Jae Hoon oppa, tapi kau pernah berkata bahwa dia adalah sunbae-mu,” Yoona memberitahu. “Kau biasanya memanggilnya oppa, sunbae atau bahkan hanya namanya saja”

“Jae Hoon-ie?”

Yoona kembali menganggukkan kepalanya.

Aku ikut mengangguk-anggukkan kepala karena mengerti harus bersikap bagaimana di depan Jae Hoon. Itu tidak jauh berbeda dari caraku memperlakukannya, tapi sepertinya aku harus sedikit mengendalikan diriku untuk tidak berlebihan agar namja itu tidak curiga atau bagaimana. Jujur saja, aku sedikit khawatir jika ada yang mencurigaiku adalah Jeon Hyosung, seperti saat aku berbicara dengan Kyuhyun di rooftop rumah sakit seminggu yang lalu. Meskipun begitu, aku cukup senang bisa mengobrol lagi dengannya di tempat favorit kami berdua di rumah sakit itu.

“Dia merindukanku,” gumamku sambil tersenyum saat mengingat bagaimana waktuku bersama Kyuhyun saat itu. “Babocheoreom,”

Nuga?” celetuk Yoona. “Jae Hoon oppa?” tanyanya kemudian.

Oh? Aniyo, bukan siapa-siapa” jawabku cepat-cepat.

Ya! Tak perlu menyembunyikan apapun dariku. Aku dan Yuri sudah mengetahui bagaimana dekatnya kau dan Jae Hoon oppa” kata Yoona sambil tersenyum menggodaku. “Jamkkaman, apa kau dan Jae Hoon oppa sudah berkencan sekarang?”

Mwo?” sahutku terkejut. “Aku dan Jae Hoon oppa?”

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat. Dia kelihatannya sangat senang, tapi aku memilih untuk bersikap datar. Jika memang aku dan Jae Hoon berkencan, apa yang harus aku lakukan? Rasanya pasti aneh jika melakukan banyak hal dengan sepupuku sendiri, ‘kan? Aish, jinjja! Eotteoke?

“Ayo kita pergi,” ajak Yoona tiba-tiba. “Kau harus melihat restoran kita seperti apa, dan cobalah mengingat sesuatu disana”

E-Em,”

Aku ikut bangkit dari kursi mengikuti Yoona, dan melangkah bersamanya keluar dari apartemen. Tidak banyak yang kami bicarakan karena aku terlalu sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri. Yoona pun sepertinya tak tahu harus memulai pembicaraan denganku bagaimana, jadi dia juga terus diam sepanjang perjalanan. Kami terus berjalan bersama, melewati jalanan-jalanan kecil ke arah Sinchon. Yoona memberitahuku—pada akhirnya, jika restoran kami berada di kawasan Sinchon dan restoran itu adalah hasil kerja keras kami bertiga selama ini. Yuri dan aku adalah chef di restoran, sementara Yoona mengurus hal-hal lainnya. Ada beberapa pegawai disana—Yoona menyebutkan nama-namanya padaku meskipun aku tak ingat setelah beberapa saat.

“Beruntung sekali, kita menemukan lokasi yang bagus di Sinchon. Tapi sebenarnya itu juga karena bantuan Jae Hoon oppa. Itu yang kau katakan pada kami,” kata Yoona terus melangkah bersamaku menunju sebuah bangunan—yang sepertinya adalah restoran kami, dengan gaya campuran tradisional-modern yang cukup menarik perhatian. “Restoran kita semi, jadi ada makanan tradisional dan modern. Yuri biasanya membuat makanan-makanan tradisionalnya, sementara kau lebih condong ke modern”

Ah, geurae? Eotteoke? Aku tak bisa—“

Gwenchana,” sahut Yoona dengan cepat, seakan mengerti apa yang ingin aku katakan. “Mungkin untuk beberapa hari kita akan membatasi pesanan untuk makanan modern, sampai kau benar-benar pulih. Itu tak apa bagimu?”

Gwenchanji geureom,” Aku menyahutinya dengan cepat pula. Dalam hati aku bersyukur karena itu.

Aku dan Yoona masuk ke dalam restoran, yang ternyata sedang dibersihkan. Beberapa orang menyapaku dengan ramah dan bertanya mengenai keadaanku. Karena aku tak tahu siapa mereka, aku hanya memberikan jawaban seadanya atau bahkan hanya tersenyum. Aku melihat Yuri sedang di dapur, dan Yoona pun langsung menyusulnya kesana. Sementara aku, memilih untuk tetap di tempatku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi restoran.

“Tidak buruk,” komentarku.

Restoran ini memiliki dua lantai, tapi di bagian atas hanya terpakai setengahnya saja. Dekorasi-dekorasinya cukup berkesan, dan ada beberapa tulisan-tulisan yang sengaja di tempelkan di dinding oleh setiap pengunjung yang datang kesini. Aku tertarik dengan tulisan-tulisan itu, jadi aku mengamatinya dan terkejut—setelah beberapa saat, melihat namaku dan Kyuhyun tertulis di salah satu kertas yang tertempel di dinding. Aku mendekat, dan membaca tulisan yang ada di sana.

“Meskipun sesuatu yang mendadak, tapi aku sangat menikmatinya. Uri agi, kau benar-benar pintar memilih tempat. Gomawo hadiahnya – Hyosung Namjachingu-e Kyuhyun”

Aku tersenyum sambil memegangi kertas itu. Baru kusadari saat-saat bersama Kyuhyun adalah saat-saat yang paling membahagiakan untukku. Aku tak pernah ingat datang ke restoran ini, tapi aku berusaha untuk mengingat apa yang kami lakukan disini selain makan bersama, tentu saja. Tanpa terasa air mataku mengalir membasahi pipi saat mengingat semua itu, dan menyalahkan diri sendiri karena aku harus pergi secepat itu meninggalkan semuanya.

“Apa ada sesuatu yang menarik disana?” Sebuah suara terdengar dan mengejutkanku. Cepat-cepat aku menghapus air mataku sebelum membalikkan badan. Jeon Jae Hoon disana, dengan gaya rambut yang berbeda dari yang terakhir aku ingat. Dia sedang tersenyum padaku. “Mwoya… kenapa dengan reaksi ini? Bukankah kau seharusnya memelukku?” katanya seraya meregangkan kedua tangannya.

Oh?”

Palli,”

Meskipun ragu, aku menurut. Biar bagaimanapun, dia melihatku bukan sebagai Jeon Hyosung, jadi itu akan aneh jika aku tak mengikuti apa yang dia katakan. Mungkin saja ini yang selalu aku lakukan saat bertemu dengan Jae Hoon, aku tak tahu. Namja itu mempererat pelukannya padaku sebelum akhirnya dia melepaskannya. Dia memegangi kedua bahuku, lalu menatapku lekat-lekat. Aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang, tapi rasanya benar-benar aneh bersikap seperti ini padanya.

“Kurasa tak ada yang luka yang serius, majyeo?” kata Jae Hoon setelah beberapa saat. “Semuanya terlihat sama dan—“

“Dia amnesia,” sahut Yuri yang datang mendekat bersama Yoona. “Semuanya baik-baik saja diluar, tapi tidak di dalam otaknya. Oppa, kau seharusnya membantunya mengingat-ingat”

Mwo? Amnesia?” seru Jae Hoon terkejut. Dia menatapku sekali lagi, lalu kembali berpaling pada Yuri. “Tapi dia ingat padaku. Benar, ‘kan, uri Jindallae?”

Jindallae? (Jindalle-bunga Azalea)

Jae Hoon mengangguk-anggukkan kepala, tapi dia menatapku dengan lekat. “Mwoya… sepertinya benar kau menderita amnesia. Kau bahkan tak ingat dengan panggilan sayangku itu padamu,”

Dahiku mengernyit melihat perbedaan sikap Jeon Jae Hoon ini. Dia benar-benar tidak seperti Jae Hoon yang aku kenal selama ini. Saat di rumahku, dia selalu bersikap formal dan terkadang menyebalkan. Tapi lihat sekarang. Semuanya jauh berbeda, dan itu cukup membuatku terkejut.

Kajja,” ajak Jae Hoon tiba-tiba sambil menarik tanganku. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu padamu agar kau ingat semuanya. Maja, Yuri-ah? Yoona-ya?”

Yuri dan Yoona menganggukkan kepalanya juga. Lalu tanpa menunggu persetujuanku, Jae Hoon langsung menarik tanganku keluar dari restoran.

__

Kyuhyun POV

Aku menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan pemandangan bunga cherry blossom yang sedang bermekaran di Songpa Naru Park di Jamsil dari atas jembatan. Taman ini adalah salah satu taman favoritku untuk menikmati cherry blossom saat musim semi dibandingkan tempat-tempat lainnya. Mungkin itu karena di tempat inilah aku pertama kalinya bertemu dengan Hyosung, jadi aku selalu menyukainya. Ada terlalu banyak kenangan di tempat ini bersama yeoja itu, begitu pula saat di rooftop rumah sakit.

Aku kembali menghela napas, lalu memejamkan mata saat semilir angin menerpa tubuhku. Ingatan tentang Hyosung tiba-tiba muncul di kepalaku, ingatan tentang bagaimana aku mengecewakannya di hari ulang tahunnya di awal musim semi.

Bagaimana tidak? Aku justru melakukan sebuah operasi saat seharusnya aku menghabiskan hari cuti-ku bersama yeojachingu-ku. Padahal sehari sebelumnya, aku sudah merencanakan semuanya dan aku sudah sangat yakin jika Hyosung pasti akan menyukai apa yang telah aku siapkan. Sayangnya, aku mengecewakannya dan dia marah padaku meskipun beberapa kali aku sudah meminta maaf padanya. Aku benar-benar ingat bagaimana marahnya Hyosung padaku saat ulang tahunnya itu.

Hembusan angin kembali terasa, dan akupun membuka mataku lagi. Aku sedikit tersentak saat menolehkan kepala dan melihat Choi Sooyoung sedang berdiri tepat disampingku. Jantungku kembali berdebar kencang, tapi entah kenapa hatiku terasa sakit. Aku benar-benar tak tahu perasaan macam apa yang aku rasakan setiap kali aku melihat Choi Sooyoung.

“Apa aku membuatmu terkejut?” tanya Sooyoung sambil tersenyum padaku.

Aniyo,” jawabku berusaha bersikap biasa. “Apa—Apa yang sedang kau lakukan disini, Sooyoung-ssi?”

“Apa lagi? Tentu saja menikmati cherry blossom” sahut Sooyoung kembali tersenyum, tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya. “Aku tidak sengaja melihatmu, jadi aku menghampirimu” katanya tanpa menatapku.

Ah, geurae?”

Sooyoung menoleh padaku, “Kau sering datang ke tempat ini, ‘kan?”

Oh? Darimana kau—“

“Aku menebaknya,” Sooyoung langsung menyela perkataanku. “Aku senang, kau masih sering datang kesini” gumamnya pelan meskipun aku masih bisa mendengarnya.

Aku diam saja.

“Apa kau kesini juga untuk melihat cherry blossom, dokter?” tanya Sooyoung tiba-tiba, memecah keheningan.

Eo, juga untuk menenangkan diri”

“Menenangkan diri? Apa kau sedang ada masalah?”

Aniyo,” sahutku dengan cepat. “Geunyang—aku suka seperti ini. Menenangkan diri maksudku,”

Sooyoung kembali tersenyum, lalu dia menebarkan pandangannya ke seluruh taman. Seakan sedang menikmati sesuatu yang tidak bisa aku mengerti. Matanya terpejam, jadi aku bisa memperhatikannya tanpa khawatir dia akan memergokiku. Tapi kemudia dia menoleh padaku, jadi cepat-cepat aku mengalihka pandanganku menatap ke arah danau. Aku berusaha keras mengabaikan debaran jantungku dan tidak menunjukkan kegugupanku. Ini sudah kesekian kalinya aku merasakan seperti ini saat yeoja ini menatapku.

“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan?” ajak Sooyoung padaku, yang membuat kedua alisku saling bertaut. Yeoja itu kemudian melanjutkan karena sepertinya dia menyadari ekspresiku. “Ah, itu karena akan terasa aneh jika aku hanya menikmatinya sendirian. Itu lebih menyenangkan jika ada teman yang menemani. Benar, ‘kan?”

E-Eo,”

Sooyoung memiringkan kepalanya, “Geureom,” katanya mengajakku pergi meninggalkan jembatan.

Aku menatap yeoja itu tidak percaya sebelum pada akhirnya memilih untuk mengikutinya. Meskipun dimataku dia terlihat semakin mirip dengan Hyosung, tapi aku terus mengingatkan diriku bahwa dia adalah yeoja lain, dan Hyosung sudah pergi. Aku terus mengulang-ulang kata itu di kepalaku agar aku bisa lebih mengendalikan diriku sendiri saat bersama dengan Sooyoung. Bukan karena apa-apa, tapi aku khawatir jika aku akan menganggap Sooyoung adalah Hyosung hanya karena aku terus merasa mereka memiliki kemiripan tertentu.

Selama beberapa saat berjalan, tak ada obrolan apapun diantara kami. Hanya saling berjalan bersisian tanpa ada percakapan sama sekali itu benar-benar terasa canggung. Haruskah aku memulai dulu percakapannya? Tapi apa yang harus aku katakan? Jujur saja, ini pertama kalinya aku berjalan dengan seorang yeoja selain Hyosung. Aku memang jarang pergi keluar jika bukan karena Hyosung, mengingat pekerjaanku yang mengharuskanku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Untungnya—selama aku berkencan dengan Hyosung, dia selalu bisa mengerti keadaanku meskipun beberapa kalipun dia marah padaku karena aku tak bisa meninggalkan rumah sakit.

Oh, bagaimana kalau duduk disana?” Sooyoung menunjuk ke sebuah tempat di pinggir danau dengan nuansa pohon cherryblossom. “Tidak apa-apa bukan kalau duduk? Em, aku sedikit lelah”

“Tentu saja,” jawabku sambil mengikuti Sooyoung duduk di atas rumput di pinggir danau. “Gwenchanayo?”

Sooyoung menganggukkan kepala. “Aku sudah tidak merasakan sakit apapun, kecuali mungkin harus mengingat-ingat sesuatu” katanya. “Itu—emm, sedikit sulit, jujur saja dengan kondisiku yang sekarang”

Gokchongmaseyo, ingatanmu pasti kembali. Kau hanya perlu berusaha sedikit lebih keras” kataku berusaha menghibur Sooyoung. “Ingatan—itu sesuatu yang rumit, tapi sangat berharga. Aku berharap kau segera menemukan kembali ingatanmu, Sooyoung-ssi

Tak ada tanggapan dari Sooyoung, jadi aku meliriknya yang ternyata sedang memandang lurus danau. Dia memang tersenyum tapi entah kenapa aku juga melihat ada sedikit ekspresi sedih yang dia tunjukan padaku. Apa kata-kataku menyinggung perasaannya atau bagaimana? Lagi-lagi semua perhatianku teralih pada yeoja ini, dan aku tak tahu kenapa aku terus membiarkan diriku melakukannya. Seakan-akan semua yang ada di diriku begitu saja melakukan sesuatu yang tidak aku kehendaki. Benar-benar sesuatu yang aneh.

Angin musim semi yang terasa hangat berhembus pelan, menerbangkan beberapa bunga dari pohon di belakang kami. Beberapa mahkota jatuh ke rambut Sooyoung, dan yeoja itu tidak menyadari. Seperti yang tak pernah aku duga sebelumnya, tanganku—dengan sendirinya, terangkat dan membersihkannya dari rambut Sooyoung. Apa yang aku lakukan ini tentu membuat dia terkejut dan menoleh padaku. Untuk beberapa saat kami hanya saling berpandangan, lalu entah darimana asalnya aku melihat sosok Hyosung di mata Sooyoung begitu saja.

Aku cukup terkejut dengan apa yang aku lihat, dan mengerjapkan mataku beberapa kali. Bayangan Hyosung sudah tidak ada lagi di mata Sooyoung, membuatku mengerti bahwa lagi-lagi aku mencari sosoknya di yeoja ini. Tapi kemudian seseorang menabrak Sooyoung dan secara refleks aku menangkapnya. Posisiku dan Sooyoung saat ini benar-benar tidak menguntungkan meskipun dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya.

Ah, mianhaeyo—“ kataku cepat-cepat sambil berusaha untuk meredakan debaran jantungku mengingat bagaimana dekatnya wajahku dengannya tadi.

Josanghaeyo, josanghaeyo

Aku mendongakkan kepala, dan melihat seorang namja yang sepertinya menabrak Sooyoung. Bergegas aku bangkit berdiri untuk memarahinya karena tak memakai matanya saat sedang jogging. Tapi kemudian Sooyoung ikut berdiri dan menahanku dengan tangannya. Membuatku mengurungkan niatku dan membiarkan namja itu pergi begitu saja setelah memastikan dia meminta maaf lagi pada Sooyoung karena apa yang dia lakukan.

Aku menoleh pada Sooyoung, “Gwenchanayo?” tanyaku.

Em, dia tidak sengaja”

Ani, bagaimana bisa dia tidak melihat kita disini? Lagipula trek untuk jogging sudah disediakan, kenapa bisa dia keluar dari jalur?” sahutku dengan cepat. “Seharusnya kau membiarkanku memberinya pelajaran,” Aku menambahkan.

Sooyoung justru menanggapi perkataanku dengan senyuman. Membuat kedua alisku saling bertaut melihatnya. Aku tidak mengerti, bukankah dia seharusnya juga marah karena seseorang menabraknya seperti itu? Kenapa dia justru tersenyum sekarang?

Waeyo? Apa ada sesuatu yang salah?” tanyaku tak tahan untuk tidak bertanya.

Geunyang—“ Sooyoung terus tersenyum tapi sambil memalingkan wajahnya kembali dariku. “Gomawoyo, karena aku merasakannya lagi” gumamnya.

Ekspresi bingung langsung memenuhi wajahku, “Oh? Lagi?”

Sooyoung menahan senyum. “Aniyo, amugeotdo. Kita berjalan lagi? Eotteyo?” katanya mengalihkan pembicaraan. “Omong-omong, apa kau sedang libur hari ini, dokter?”

Eo, aku mengambil waktu libur sehari. Mungkin seharusnya aku lebih sering keluar seperti ini jadi bisa sedikit menyegarkan pikiran” jawabku mulai melangkah kembali bersama Sooyoung. “Oh, bagaimana kalau kau menemaniku saat aku sedang libur? Kau tahu, aku tak banyak memiliki teman di luar rumah sakit, jadi yah—itupun jika kau mau. Tidak masalah bagiku jika kau tak bisa,” kataku, yang kemudian membuatku heran sendiri karena berani mengajak yeoja yang baru aku kenal—yang juga pasienku, seperti itu.

Joahaeyo,” sahut Sooyoung tanpa ragu. “Geureom—“ Dia tiba-tiba berhenti melangkah dan mengulurkan tangannya di depanku.

Aku menatap tangan itu dengan bingung, tapi kemudian meraih tangan itu tanpa mengerti apa maksudnya. Tangannya terasa hangat, dan ada sensasi tertentu saat aku memegangnya. Rasanya seperti aku tak mau melepaskan tangan ini sebisa mungkin.

Chingu,” celetuk Sooyoung kemudian.

Aku tersadar dari lamunan singkatku, lalu tersenyum pada Sooyoung. “Eo, chingu

-TBC-

Eotte?

Mungkin di awal-awal ini belum ada konflik atau apapun yah, hanya sekedar perkenalan aja sih. Tapi apa kalian udah bisa menebak jalan ceritanya? Hehe!

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

28 thoughts on “[Series] Once Again, Love -1-

  1. kyura says:

    Once again, love… cerita’y bagus sihh thor, tpi aq baca’y agak gimanaaa gitu, krna sooyoung disini itu bukan sooyong yg asli gitu. Jdi crta’y it ‘ini mnurut aq yaa thor’ agak bukan kyuyoung gtu..
    Tpi bgus kok crta’y..

  2. Sparkyoung says:

    Entah kenapa mirip dengan jalan cerita Please come back mister, tapi klo di dramaa please come back mister, rain oppa yang balik buat istrinya hehe
    Sebenernya plot+idenya bagus tapi serasa baca ff hyokyu bknnya kyuyoung xD
    Tapi gwanchana … Keep writing thorr

  3. kangjung_ae says:

    49 hari??? Jadi inget drakor 49 days, mungkin beda alur cerita, hanya kejadian si hyosung aja kali ya yang mirip

  4. mongohi*hae says:

    berasa kmbali keera 49 days hhe
    tp ak yakin n pasti beda alyr beserta isiny, yaksoke ???

    hn…ap mgkin ingatan serta keadilan yg diinginkan oleh hyo akn terlaksana meski dia kmbli hidup walau mggunakan tubuh sooyoung ?
    dan ak takutny ntar kyu mmandang soo sbg hyo..
    andwae !!
    next part dtunggu ya

    btw, sayang bgt ya cerita yg trdahulu khpus. pdhl ceritany sdh mdkati konfliks klimax..

  5. FS says:

    Kalo 49 harinya habis, trus gimana kabar soo eonn yg gak kenal kyuppa
    Apa mungkin kayak di drakor 49 days, tp kan posisi soo eonn disini koma pas dirasukin

    Next part ditunggu ☺

  6. whoaaaa kereenn udah paling daebak lah author yg satu ini kalo ceritanya gwisin gitu hihi, yang jelas cukup lah untuk pengganti we are on dating walaupun berharap WAOD bisa lanjut ^^ semangat!

  7. lia says:

    Ceritanya memang enak untuk dibaca tapi menurut aku ini bukan kyuyoung dalam artian sooyoung hidup tapi hanya nama dan tubunya saja jiwanya hyosung jadi agak mengganjal gitu thor. karena bukan jiwa yang di dalam tubuh sooyoung itu bukan jiwa sooyoung yang sesungguhnya.

    tapi ini bagus, aku suka jalan ceritanya bahasanya juga baku. alurnya pass

  8. Sebenernya bagus thor. Cuman agak ngerasa gimana gitu. Walopum tubuhnya sooyoung, tpi kan yg didalem si hyosung. Ini berasa bukan kyuyoung tpi hyokyu :’

  9. herma pristianti says:

    aku suka thor walau berasa Hyoku couple sih tp gpp tetep kece. tp aku berharap entar soo nya juga bangun sebelum 49 hari trs jadi 1 tubuh ada 2 ruh gitu kayak film 49 days jd nggak menutup kemungkinan pas hyo pergi kyu msh tetep cinta sama soo jd istilahnya dilema gitu antara dia mulai mencintai soo dengan sikap soo yang asli atau hanya menganggap soo itu hyo waktu pinjem raga soo #mbuletbgtdah … Ok ditunggu aja thor kelanjutannya karena author salah satu author favoriteku di kyuyoung shipper indo ini jadi aku sangat exited bgt😀 sempet gegana lho thor gegara we are on dating nggak dilanjut tp its okelah aku memahami posisi author kok😀 FIGHTING thor!!

  10. Kereenn.. hyosung cuma mnjem tbuh sooyoung mnarik tpi disini critanya ke hyosung sma kyuhyun ya ka pngen cpt2 wktu 49 hrinya berlalu jfinya bnyk kyuyoung nya😀😄 ditunggu pokoknya..
    fighthing ya kak.. 💪💪

  11. keren thor ffnya.. penasaran sama kelanjutannya.. tapi kalo hyosung di tubuh sooyoung cuma 49h nanti pas hyosung pergi kyuhyun gimana??apakah kyuhyun bakal suka sama hyosung yang ada di tubuh sooyoung atau suka karna diri sooyoung sendiri??
    next’a jangan lama² ya thor🙂

  12. Mlai ngerti mirip 49days, tapi gimana lw pacar nx kyu pergi pa soo bakal jd org yg gak tw apa2 ttg sktr nx??? Kurang dpt feel nx coz yg sm kyu bkn soo, next!!! Mga ja kyuyoung lebih terasa nanti.

  13. smgurlx says:

    ih keren aku suka, dibikin penasaran terus ya:(
    btw aku cinta(?) banget karna ceritanya panjang, jadi puas gitu deeeyy huehe
    jangan lama lama ya updatenya, ku menunggu ceritamu;”

    oiya, aku sedi nih were on datingnya ga dilanjutin:(( tapi its okay laa, karna udah ada penggantinya kkk

  14. Kayak drakor 49 day. Tapi kayaknya diakhirnya YC kyu oppa bakal hilang deh, gk sabar nunggu kyuyoung memoment.
    Next part ditunggu

  15. Widyasarhy says:

    Ff nya menarik n bikin penasaran…tp rada2 mirip dg drakor 49 hari tp hanya beberapa adegan krn cwk nya(kyu) di sini bnr2 menyukai cewek nya(hyosun) next part nya jgn kelemaan chingu.

  16. ellalibra says:

    Terinspirasi dr 49 days dramkor y eon seru” ,,, msh samar” y knp soo bs kecelakaan ,knp hyosung mati gt aja keluarga ny kmn eon? Fighting”

  17. ajeng shiksin says:

    Penasaran banget. Nanti si kyuhyun akhir nya gimana ia? Dy suka nya sama sooyoung apa sama pacar nya yg pertama.. ditunggu kelanjutan nya

  18. Elis sintiya says:

    ini ceritanya sedikit kaya 49 days.. trus apa yang terjadi sama hyosung dan kakak tirinya sebelum dia kecelakaan.. aku juga penasaran kenapa sooyoung bisa kecelakaan.. trus hubungan Sooyojng sama jae joon oppa itu apa?? teman dekat atau sudah jadi pacar saat sebelum dia kecelakaan…

    dibayakin kyuyoung momentnya ya thor… semangat

  19. ry-seirin says:

    Klo liat dr temanya jdi keingetan bbrpa Drakor kya 49 days ma Big gto, tpi psti bda kn chingu.
    Dsini Sooyoung jd org lain jd blm dpet fellnya apalgi prsaan Kyu msih kuat bgt bwt Hyosung. Tpi mngkin itu yg nti bkin konfliknya seru, asal endingnya Kyuyoung sih oke² aja.
    Chingu aku kra bnran Hiatus krna dah lma² nggu WAOD gj d post jga. Aku brhrap sih tu ff lnjut couse lgi seru2nya jdi greget pngen tau bkal gmn ntarnya.
    Well to trserah kmu denk!!!
    D tunggu aja next partnya!!!

  20. Saranghae KyuYoung says:

    Mian, kurang dapet feel akunya😭
    Krna kyu cintanya sama hyo, bukan soo.
    Kyu masih terngiang” akan hyo, jdi gmna klw 49days nya berakhir? Kan situasi soo gk tau apa”.
    Dengan kata lain, kyu itu suka soo krna sifat hyo yg di dlm tubuh soo. Jdi gmna klw hyo udh prgi dan sifat soo kmbli menjadi Choi Sooyoung asli? Akankah kyu jg suka atau tetap mencintai hyosung?

  21. fransiscafrtnta24 says:

    konsep 49 days yg berbeda ~(‘.’~)
    yg ak pnsran bgt tuh, ntar stlh masa 49 hri hbs soo ga kenal kyu dong ?! kyaa trs hub mereka gmn dong😮
    penasaran selanjutnya, ditunggu
    author hwaiting!

  22. Kesan awal dri ff ini menarik. Smoga slanjut.A ttap mnarik dan bhkan lbih mnarik.
    Satu pintaku.. Aq pngen eding.A kek Have You Seen, krna jjur.A Aq msih mrasa kurang puas dg ending tuh ff kek gda greget serta bkin bungah.

  23. Youngra Park says:

    Kalau boleh jujur eoni aku sedih bgts karna we’re on dating gk di lanjutin lagi karna aku menunggu bgts ff itu aku aja smpai bca part sebelumny berulang2 smbil nunggu part selanjutnya tapi dpt kbr kalau ff itu gk lanjut lagi rasa sedih bgts aku sih masih berharap eoni dpt wahyu supaya bsa dpt feel lagi trus ngelanjutin ff ini soalny part sebelumnya keren sdh konflikny semoga aja terwujud dan untuk ff baru ini rasany aku takut dan mengganjal saat bacanya takut karna apa? Takut kalau masa 49 hariny abis trus hubungan kyuyoung pasti jdi aneh krn sooeoni gk kenal sma kyuppa n gk tau ap yg di laluny slama 49 hari dan untuk mengganjal karna terasa baca ff bukan ff kyuyoung karna cerita yg di jelaskan cinta antara kyuppa dgn ruh hyo bkn dgn sooyoung asli sma aja kaya baca ff yg pemeran kyuhyun dgn cewek lain dan sumpah kalau boleh jujur aku gk dpt feelny krn aku selalu gk dpt feelny kalau ff ini bkn cerita tentang cinta antara kyuyoung walaupun tuh moment sweet bgt psti gk dpt feelny krn setiap lhat sooyoung kyuppa ingatny hyosu jdi dengan kata lain yg di cintai kyuppa ya tetap hyosu bkn sooyoung dan akan jdi aneh kalau ujung2ny sooyoung bgun trus kyuppa yg sdh jatuh cnta di anggap orng asing pasti cerita kaya mulai dri awal karna kisah cinta kyuyoung yg asli akan di mulai dri stuh ini pendapat ku aja eoni aku gk bilang ff eoni jelek ff eoni tetap bgus aku selalu suka ff karya eoni sblumny dan aku selalu nunggu n baca ff eoni cuma kesan pertama yg aku dpt bca ff ini diawal adlah aku gk dpt feelny kyuyoung tapi hyokyu karna kalau dri drama 49days hangkang tetap cinta jihyun walaupun yg di lhat n ketemu sma dia tiap hari adlh yi kyung tapi aku tetap menunggu part selanjutny spa tau part selanjutny aku bsa dpt feel kyuyoung karna aku tau biki ff itu gk gampang jadi tetap semangat eoni mudah2an di part selajutny aku dpt feelny ya dan mian jga mungkin aku sok tau ini sih pendapat aku aj maaf jga kalau koment panjang eoni tapi tetap smangat di tnggu part selanjutny ingat ff mu bkn gk bgus atau jelek ff mu tetap keren dan bgus ko cuma ini part awal ff ini aku blum dpt feelny

  24. Dekyusoo says:

    yang didalem diri sooyoung bukan di kan..
    berarti, selama 49 hari nanti kyu emang deket sama soo,tapi itu bakn dia kan?
    ditunggu ya next nya ..

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s