[Series] Once Again, Love -2-

Once Again, Lovee

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   : 10

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

Pertama aku mau minta maaf dulu karena aku gg bisa lanjutin ff-ku yang sebelumnya We Are On Dating karena ada masalah (file-nya kehapus) hiks T__T Padahal aku pengin banget selesaiin tapi feeling-nya udah hilang buat nulis ulang -___-

Jadi aku pilih buat cerita baru aja, dan jadilah ff ini^^ Seperti yang sudah-sudah sebelumnya, ff ini gg jauh dari romantis tapi ada sedikit fantasinya—atau mungkin banyak, hehe! Tapi semoga bisa menghibur kalian semua yah^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

 Sooyoung POV

Aku duduk di salah satu kursi restoran sambil memandang ke luar jendela. Pikiranku kembali melayang saat dimana aku menghabiskan waktu hampir seharian bersama Kyuhyun di taman Songpa Naru. Rasanya seperti aku mengulang kembali saat aku berkencan dengannya dulu di tempat yang sama. Meskipun tidak banyak yang kami lakukan kemarin—sangat berbeda dengan dulu, mengingat Kyuhyun melihatku sebagai CHoi Sooyoung, tapi tetap saja aku merasa sangat bahagia. Pilihanku untuk kembali—meskipun hanya untuk 49 hari, sepertinya tidak salah. Dan aku akan memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya dengan sisa waktu yang aku miliki.

Setidaknya sekarang aku dan Kyuhyun berteman, dan dengan jelas dia memintaku untuk menemaninya saat dia sedang mengambil waktu liburnya. Aku tahu bahwa Kyuhyun bukanlah tipe orang yang dengan mudah mengajak orang asing untuk pergi dengannya. Apa mungkin itu karena dia bisa merasakan kehadiranku—Hyosung, di tubuhku yang sekarang ini? Atau itu karena Kyuhyun memutuskan untuk berubah dan melepaskanku? Lagipula aku sudah tak mungkin lagi berada disisinya, ‘kan? Ah, sungguh! Coba saja jika aku kembali ke tubuhku yang sebenarnya. Aku pasti tak akan memiliki keraguan seperti ini tentang namja itu.

“Sooyoung-ah!” Panggilan Yuri itu langsung membuyarkan pikiranku. Aku menoleh dengan cepat, dan dia sedang melambaikan tangannya padaku. “Kemarilah, ppalli” serunya kemudian.

Aku beranjak dari tempatku dan menghampiri Yuri yang ternyata sedang menonton sebuah acara televisi bersama Yoona. Aku duduk di sebelah Yoona, dan menolak tawarannya memakan tteokpokki.

Ya! Bukankah itu dokter Cho Kyuhyun dari rumah sakit Yangji?” celetuk Yuri sambil menunjuk ke arah TV. “Majyeo, Sooyoung-ah? Dokter Cho yang itu, ‘kan?” tanyanya padaku.

Aku menolehkan kepala ke arah TV, dan cukup terkejut melihat apa yang sedang di tayangkan disana. Sebuah berita, yang menyebutkan tentang kematian seorang penerus Daehan Group yang mendadak. Mataku terus menatap ke layar televisi meskipun rasanya aku ingin menangis. Adanya berita itu benar-benar membuatku tertohok karena aku benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sangat menyedihkan memang, bahwa aku harus meninggalkan semua itu dengan mudahnya.

Aigoo… jadi dia yeojachingu-nya. Ah, aku merasa kasihan pada Dokter Cho. Sungguh,” komentar Yuri sambil mencomot tteokpokki-nya. “Mereka bahkan berencana untuk menikah, tapi apa yang terjadi sekarang? Ya! Yoona-ya, tapi bukankah dokter itu terlihat baik-baik saja? Benar, ‘kan? Dia bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja ditinggalkan”

Ani… aniya,” sahut Yoona cepat. “Aku sempat melihat wajahnya yang seperti sedang bersedih setelah keluar dari ruang operasi Sooyoung”

Geureom, dia sebenarnya sedih tapi dia menyembunyikannya karena ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Begitu maksudmu?”

Eo. Mungkin sesuatu seperti itu,” jawab Yoona. “Bagaimana menurutmu, Sooyoung-ah?”

Aku diam saja dan memilih untuk tidak memberikan tanggapan apapun karena aku tak bisa.

Geureom, kenapa berita tentang kematian—emm, Jeon Hyosung itu kembali di tayangan di televisi?” tanya Yuri mengabaikan sikap diamku. “Apa dia meninggal karena seseorang membunuhnya atau bagaimana? Kau tahu, orang-orang chaebol seperti itu selalu memiliki banyak musuh, ‘kan?”

Aku masih diam, berusaha mengalihkan perhatianku dari semua itu dan memilih untuk pergi saja. Tapi saat aku baru akan beranjak, suara pembaca berita lagi-lagi membuatku terkejut. Kali ini isinya bukan lagi tentang kematianku ataupun tentang Kyuhyun. Melainkan tentang Jeon Hyomin—kakak tiriku, yang akan segera ditunjuk sebagai Presiden dari Daehan Group, menggantikanku. Aku berusaha keras untuk tidak menunjukkan ekspresi apapun melihat gambar yeoja itu muncul di televisi meskipun sebenarnya aku sangat kesal dan hanya bisa mengepalkan tanganku menahan kekesalanku.

Ya! Waeirae, neoya?” tanya Yuri padaku sambil menyentuh bahuku.

Aku tersentak kaget, lalu dengan cepat menjauhkan tangan Yuri dari bahuku. Tanpa mengatakan apapun, aku bergegas meninggalkan ruangan itu dan keluar dari restoran. Mengabaikan panggilan dari Yuri maupun Yoona yang terdengar khawatir.

“Dasar bodoh!” gumamku kesal saat terus berjalan tanpa arah menyusuri jalanan Sinchon. Sepanjang jalan aku terus mengumpat dan memaki diriku sendiri. “Aku benar-benar bodoh! Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Jelas-jelas dia mengincar posisi itu, dan dengan mudahnya aku memberikannya padanya!” Makiku dengan suara keras.

Aku menarik napas panjang, tidak memedulikan beberapa orang yang menoleh padaku atas kekonyolan yang sudah aku perbuat. Aku terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingku. Saking kesalnya—dan tak peduli sekitar, aku bahkan hampir tertabrak sepeda motor yang sedang melintas jika seseorang tidak menarikku ke tepi jalan. Saat aku menoleh pada orang itu untuk berterima kasih padanya, mataku membelalak karena dia adalah Jeon Jae Hoon.

“Apa kau berusaha untuk membunuh dirimu atau bagaimana?” seru Jae Hoon dengan nada tingginya. “Kau pasti senang membuatku khawatir, ‘kan?”

Aku diam saja.

Ya! Neo jinjja! Waeirae?” Jae Hoon masih berbicara dengan nada yang sama di depanku. “Aku bahkan mengikutimu dan terus memanggil namamu, tapi kau terus saja berjalan seperti seseorang yang kerasukan hantu”

Mian,”

Mian?”

Wae? Mwo?” sahutku tak bisa lagi menahan kesalku. “Aku sedang tidak dalam mood yang bagus. Jadi sebaiknya kau menjauh dariku,”

Bukannya mengikuti perkataanku, Jae Hoon justru menjitak kepalaku sambil tertawa. Aku menahan sakit di kepalaku bekas pukulannya itu karena dia pasti akan semakin tertawa jika aku memprotes.

Aigoo, sejak kapan aku akan mengikuti perkataanmu, huh?” kata Jae Hoon sambil mendekatiku dan berdiri di sampingku. Lalu tiba-tiba dia merangkulku, “Kau bahkan selalu datang padaku saat kau sedang dalam mood yang buruk” katanya lagi.

Oppa!”

Jae Hoon tersenyum, lalu dia mengacak pelan rambutku. “Aku tahu apa yang bisa membuat mood-mu kembali. Kajja,”

Gigi-gigiku saling bergemeletuk karena menahan kesal, tidak hanya karena berita tadi tapi juga karena Jae Hoon yang benar-benar seenaknya sendiri. Jika aku adalah aku yang sebenarnya, namja seperti ini sudah aku tending jauh-jauh dari hidupku. Sayangnya aku tak bisa, dan sebagai gantinya aku hanya bisa menahan kesalku sendiri.

“Kau tahu apa hal yang tepat untuk dilakukan saat mood-mu sedang tidak bagus?” tanya Jae Hoon sambil terus mendorongku untuk ikut pergi bersamanya. “Makan es krim. Aku dengar es krim bisa menghilangkan rasa marah kita. Eotte?” katanya lagi tanpa menungguku menjawabnya.

“Begitu?” sahutku singkat.

“Tentu saja. Percaya padaku,”

Jae Hoon mengajakku ke sebuah kafe di salah satu sudut kawasan Sinchon. Lagi-lagi—tanpa persetujuanku terlebih dahulu, dia langsung membawaku masuk ke dalam kafe itu dan duduk di salah satu kursinya. Dia langsung memesan dua porsi es krim yang dengan cepat datang ke meja kami. Es krim itu terlihat sangat lezat, tapi aku belum menyentuhnya sama sekali. Sangat berbeda dengan Jae Hoon yang terlihat sangat menikmati es krim itu dan terus menyantapnya dengan lahap.

Aku mendesah pelan dan mulai menyendok es krim itu. Perlahan aku mulai menikmatinya, dan entah kenapa hatiku terasa lebih nyaman. Seakan rasa kesalku tadi telah menghilang tanpa bekas.

Eotte? Massiseo, geuji?” tanya Jae Hoon sambil menatapku dengan senyumannya.

“Lumayan,” jawabku sambil melahap es krim.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Jauh lebih baik”

Jae Hoon tersenyum mendengarnya. Dia melirikku yang sedang melahap sesendok besar penuh es krim.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku kemudian.

Marhae, uri Jindallae”

Sesaat aku ragu untuk mengatakannya, tapi pada akhirnya akupun membuka mulut. “Kau jangan salah sangka dulu. Aku hanya bertanya karena kau tahu, aku—aku tak ingat”

Sepasang alis Jae Hoon saling bertaut, tapi tak ada yang dia katakan.

Aku melanjutkan bicara. “Bagaimana hubungan kita sebenarnya?”

Jae Hoon memiringkan kepalanya dan memperhatikanku. Wajahnya tanpa ekspresi. Membuatku tak bisa memahami apa yang sedang dia pikirkan. Ekspresinya kali ini sulit untuk aku mengerti. Dia bahkan terus memperhatikanku sampai aku merasa tidak nyaman. Lalu diapun mengalihkan perhatiannya ke arah es krim di depannya.

“Menurutmu sendiri bagaimana?” Jae Hoon balas bertanya padaku. “Aku sudah jelas menunjukkan padamu bahwa aku menyukaimu. Bahkan dari awal kau tahu itu,”

“Aku—“ Aku diam sesaat karena terkejut. Lalu kembali berbicara, “Aku tahu?”

Jae Hoon mengangguk. “Kurasa tidak hanya kau yang tahu. Kedua sahabatmu juga tahu bahwa aku menyukaimu”

Aku cukup terkejut mendengarnya sampai aku bahkan tav bisa mengatakan apa-apa.

Jae Hoon terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengambil ponsel silvernya dengan tidak sabaran, tapi kemudian mengernyit saat memandangi layar ponselnya. Aku memperhatikan sekilas ekspresi Jae Hoon itu, lalu berpura-pura sibuk melahap es krim ku sendiri.

Eo, noona. Waeyo?” suara Jae Hoon terdengar.

Satu alisku terangkat sambil menatap namja itu diam-diam. Otakku berputar karena Jeon Jae Hoon tak memiliki seorang noona, hanya namdongsaeng yang sekarang sedang belajar di luar negeri. Lalu siapa orang yang meneleponnya ini dan dipanggil noona olehnya? Apa mungkin itu Hyomin? Kakak tiriku—Jeon Hyosung?

Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi kedengarannya itu sesuatu yang serius. Setelah beberapa saat, Jae Hoon bahkan beranjak dari tempatnya dan pergi ke tempat yang lebih tenang. Mataku terus mengikutinya, dan dengan cepat berpaling saat dia terlihat akan menoleh ke arahku. Aku kembali menatapnya setelah memastikan dia tak memandang ke arahku. Ekspresinya terlihat serius—seperti Jae Hoon yang selama ini aku kenal. Tangannya sesekali mengetuk-ngetukkan meja di dekatnya, dan diapun terus menganggukkan kepala sambil menggerakkan mulutnya.

“Itu pasti dari Hyomin eonni. Aku yakin sekali,” gumamku pada diri sendiri setelah melihat ekspresi terakhir Jae Hoon. “Lihat saja, aku akan segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi”

Jae Hoon kembali lagi padaku. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Noona-ku menelepon,” katanya tanpa diminta. “Kau tahu, sepupuku yang sudah seperti noona-ku sendiri. Dia baru saja kehilangan dongsaeng-nya, jadi aku harus terus menghiburnya”

Ah, emm—“ Aku tak tahu harus memberikan tanggapan bagaimana kali ini. “Aku… aku turut berduka cita,”

Jae Hoon tersenyum, lalu dia kembali melahap es krimnya yang setengah mencair. “Kau mengenalnya. Namanya Jeon Hyosung”

Oh? Aku?”

Jae Hoon mengangguk. “Aku pernah mengenalkan kalian berdua, dan almarhumah Hyosung juga pernah datang ke restoranmu bersama namjachingu-nya. Kau bahkan menceritakan semua itu padaku”

Ah, jinjja? Aku—aku tak ingat,” sahutku berpura-pura tak tahu. Aku berdehem kecil, lalu kembali berbicara. “Katamu dia sudah meninggal, Jeon Hyosung-ssi itu. Kalau boleh tahu, apa penyebabnya?”

“Otopsi dokter dan laporan polisi menyebutkan bahwa dia meninggal karena keracunan,” jawab Jae Hoon dengan ekspresi yang terlihat datar. “Tapi tak ada bukti yang menunjukkan seseorang melakukannya, jadi polisi memutuskan untuk menganggapnya sebagai bunuh diri”

Mwo? Bunuh diri?” seruku dengan keras sampai membuat beberapa orang di dekat kami menoleh.

Jae Hoon mengangkat kedua bahunya. “Dia pasti tertekan, jadi dia meracuni dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Dia mengambil semua tanggung jawab perusahaan dan tidak membaginya pada keluarganya sendiri”

Aku tertawa hambar tapi menyamarkannya dengan helaan napas panjang. Membicarakan diri sendiri seperti ini benar-benar sesuatu yang luar biasa. Apalagi saat melakukannya dengan seseorang yang mengaku sebagai keluarga. Suatu keadaan yang tak mungkin aku alami jika aku adalah diriku sendiri.

“Kau sudah selesai?”

Aku sempat tak memberikan tanggapan karena tenggelam dengan pikiran-pikiranku sendiri. Kemudian saat aku tersadar, akupun langsung mengangguk dengan cepat.

Geureom, kajja. Yuri dan Yoona pasti mengkhawatirkanmu” kata Jae Hoon mendahuluiku beranjak dari meja kami.

Aku menghembuskan napas berat sesaat sebelum mengikuti apa yang Jae Hoon lakukan. Kami berjalan bersama menuju kasir. Sementara dia membatar, aku mengedarkan pandangan berkeliling memperhatikan setiap sudut kafe yang baru pernah aku masuki ini. Jujur saja, aku memang jarang pergi ke tempat-tempat seperti ini. Tapi entah dengan Choi Sooyoung. Melihat dimana dia tinggal dan letak restorannya, kurasa yeoja ini bahkan sering menghabiskan waktunya di luar seperti ini. Sesuatu hal yang sangat ingin aku lakukan.

Bunyi lonceng kecil terdengar lembut di telinga saat pintu kafe terbuka. Aku menoleh—hanya ingin tahu siapa yang datang, dan pergi ke restoran ini. Tapi kemudian, aku berdiri mematung melihat Cho Kyuhyun sedang berdiri di ambang pintu—menunggu seseorang yang kemudian aku ketahui adalah Lee Donghae, menghampirinya.

“Sooyoung-ah, kajja” ajak Jae Hoon. Lalu sesaat kemudian dia mengernyitkan alis melihat ekspresiku yang membeku seperti ini. Diapun menoleh pada seseorang yang ada di hadapanku. “Oh, Kyuhyun-ssi. Kau disini?” sapa Jae Hoon akrab.

Eo,” jawab Kyuhyun. Pandangan matanya mengarah padaku dan seketika aku bisa melihat ekspresi seperti cemburu terlihat di wajahnya. “Kau—emm, sudah selesai?”

Jae Hoon mengangguk.

“A—Annyeonghaseyo, uisa-nim” sapaku pada akhirnya demi menghilangkan kecanggungan. “Geureom—“ Aku menganggukkan kepala ke arah Kyuhyun dan Donghae, lalu mengajak Jae Hoon pergi meninggalkan kafe.

Aku terus melangkah dan tak berani menoleh ke arah kafe lagi. Langkahku lebar-lebar sampai beberapa kali Jae Hoon harus mengejarku untuk bisa menyamai langkahku. Aku benar-benar tak pernah menyangka akan bertemu dengan Kyuhyun di tempat seperti itu. Benar-benar mengejutkan bahwa dia pergi ke tempat yang tidak aku ketahui sebelumnya.

Ya! Jamkkaman,” seru Jae Hoon berhasil menahan tanganku dan membuatku berhenti melangkah. “Neo jinjja waeirae? Kenapa kau terlihat seperti sedang melarikan diri?”

“Melarikan diri?”

Eo. Saat melihat Cho Kyuhyun-ssi, kau—“

“Dia dokterku,” potongku dengan cepat karena tak mau Jae Hoon mencurigaiku. “Aku masih melakukan beberapa perawatan dengannya, dan dia—dia pasti akan memarahiku karena tak menjaga kesehatanku dengan makan es krim”

Mwo? Memangnya ada larangan untukmu makan es krim?”

“Tidak. Tapi seharusnya aku tidak memakannya,” sahutku. Aku melepaskan tangan Jae Hoon dari tanganku. “Kajja,”

Eo,”

__

Kyuhyun POV

Aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Dengan gerakan cepat aku menyenderkan kepala dan menatap atap-atap ruanganku di rumah sakit. Aku memijit-mijit pelipisku sambil mengingat pertemuanku dengan Sooyoung dan Jeon Jae Hoon. Aku tahu seharusnya aku bersikap biasa saja, tapi entah kenapa aku justru merasa kesal melihat mereka berdua. Aku yakin itu bukan hanya perasaan kesal karena Jeon Jae Hoon menghabiskan waktu dengan yeoja lain sementara dia baru kehilangan salah satu anggota keluarganya. Lagipula apa salahnya dengan itu? Diapun berhak untuk pergi dengan siapapun.

Lalu, apa aku cemburu?

Ponselku bergetar pelan. Aku memperhatikan tulisan yang terpampang di layar ponselku, dan melihat nama Lee Donghae disana. Dengan enggan aku mengangkatnya.

Waegeurae?”

Aigoo, kenapa ketus sekali? Apa aku membuatmu kesal atau bagaimana?” ucap Donghae terdengar marah, tapi aku tahu dia hanya berpura-pura. “Ya! Eodiya jigeum? Kau langsung menghilang begitu kembali ke rumah sakit”

“Di ruanganku,” jawabku singkat. “Aku sibuk, jadi ada apa?”

Donghae tidak menjawab pertanyaanku, sebagai gantinya pintu ruanganku terbuka dan dia masuk sambil tersenyum. Aku menghela napas panjang melihatnya, lalu menutup sambungan teleponnya. Aku langsung berpura-pura menata beberapa lembar kertas di atas mejaku yang berantakan dan mencoba mengabaikan Donghae yang sedang melihat-lihat rak bukuku. Dia memang selalu seperti itu—berkeliaran dimana saja dan mengangguku, jika sedang tidak melakukan tugasnya memeriksa pasien-pasien.

“Kyuhyun-ah,” panggil Donghae setelah beberapa saat. Dia melangkah ke arah mejaku dan duduk di kursi di hadapanku. “Kau tahu namja yang tadi bertemu dengan kita di kafe?”

Aku mencelos dan menatap Donghae sekilas, lalu kembali menundukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.

Ya! Bukankah dia Jeon Jae Hoon? Sepupunya Hyosung-ssi—“ Donghae langsung menghentikan kata-katanya saat aku kembali mendongakkan kepala dan menatapnya. “Ah, mian—aku tak bermaksud untuk—“

Gwenchana,” sahutku dengan cepat. “Dia memang sepupunya” Aku menambahkan.

Geureom—apa yeoja yang bersamanya itu yeojachingu-nya? Dia pasienmu ‘kan?” Donghae terus bertanya tapi aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan.

“Kau sudah selesai?” tanyaku sambil beranjak dari kursiku. “Aku ada urusan,” kataku kemudian.

Eodiga?”

“Aku harus memeriksa pasien,”

Ah, pergilah kalau begitu”

Aku mendesah panjang, lalu melangkah keluar dari ruanganku dan meninggalkan Donghae disana. Beberapa perawat yang berpapasan denganku menyapaku dengan anggukkan kepala yang langsung aku balas dengan anggukkan kepala juga. Aku terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit dan pergi ke bagian perawatan pasien kanker.

Annyeonghaseyo,” sapaku pada pasien yang ada disana. Nama yang tertulis di ranjangnya adalah Kim Hee Sun. “Bagaimana keadaanmu, Hee Sun-ssi?”

“Aku merasa jauh lebih baik, kamsahaeyo uisa-nim

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, termasuk memeriksa infuse, bekas jahitan dan beberapa hal lainnya, aku keluar dari kamar Kim Hee Sun. Lalu aku ke kamar lainnya dan melakukan hal yang sama saat melakukan putaranku memeriksa pasien yang harus selalu aku lakukan setiap harinya. Jujur, aku senang saat melakukan hal seperti ini, bertemu dengan orang-orang yang terlihat semakin sehat setelah aku melihat mereka kesakitan karena sesuatu di dalam tubuh mereka. Pekerjaan ini benar-benar bisa membangkitkan kebahagiaan dan aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya saat pasien-pasien berterima kasih padaku sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

Setelah selesai melakukan putaranku, aku segera mengisi laporan di meja perawat dan melangkah pergi begitu menyelesaikannya. Ponselku kembali bergetar di sakuku. Aku mengambilnya, memeriksa siapa yang menelepon dan memasukkannya kembali ke dalam saku begitu melihat nama Donghae lagi dilayarnya. Kakiku terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit lainnya, lalu keluar menuju taman. Kepalaku tertunduk memandangi jalanan dengan otak yang terus dipenuhi berbagai pemikiran aneh tentang Choi Sooyoung dan perasaanku padanya.

Tapi kemudian langkahku langsung terhenti saat melihat adanya sepasang kaki yang berdiri memblokir jalanku. Aku mendongakkan kepala dan tersentak kecil melihat Choi Sooyoung-lah yang berdiri di sana. Dia menatapku dengan lekat, lalu tersenyum padaku. Meskipun begitu aku merasa ada sesuatu yang aneh dari ekspresinya, seperti seseorang yang telah melakukan kesalahan dan ingin meminta maaf. Tapi kenapa dia harus begitu? Lagipula tak ada kesalahpahaman apapun diantara kami, dan pertemuan di kafe tadi pun bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan meskipun aku sendiri merasa kesal karenanya.

Annyeonghaseyo,” sapaku berusaha bersikap biasa di depan Sooyoung.

Sooyoung masih tersenyum padaku, “Annyeonghaseyo, uisa-nim” Dia balas menyapa. “Apa kau sedang sibuk? Jika tidak, maukah kau berbicara denganku?”

Oh?” sahutku terkejut. “Ah, geureomyo—“

Geureom—“

Sooyoung berbalik dan melangkah terlebih dahulu dariku. Masih sedikit bingung, mau tak mau aku mengikutinya. Dia berjalan menuju taman, dan duduk di salah satu bangkunya. Tanpa diminta yeoja itu, akupun ikut duduk sambil berusaha meredakan debaran jantungku yang kembali datang setiap kali dia berada di dekatku. Sepertinya aku benar-benar harus segera mencari tahu kenapa aku selalu seperti ini. Karena jika tidak, maka aku akan terus memikirkan tentangnya tanpa tahu kenapa dan apa yang akan aku lakukan saat dia datang menemuiku seperti ini untuk selanjutnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Sooyoung-ssi?” tanyaku memulai pembicaraan terlebih dahulu karena jika terus diam, suasana akan terasa sangat canggung. “Apa kau merasakan sakit di suatu tempat?” Aku menebak-nebak sendiri.

Aniyo, aku sudah baik-baik saja sekarang” jawab Sooyoung tanpa menatapku. Pandangannya lurus ke depan, ke orang-orang yang berlalu-lalang di depan kami. “Aku—Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Ini tentang Jeon Hyosung-ssi

Aku cukup terkejut Sooyoung menyebut nama Hyosung, karena seingatku mereka tidak saling mengenal. Lalu, apa ini ada hubungannya dengan Jeon Jae Hoon mengingat—sepertinya, dia dekat dengan namja itu dan namja itu adalah sepupu Hyosung. Aku masih tetap mengendalikan diri untuk tidak bersikap berlebihan meskipun saat mendengar nama Hyosung disebut, hatiku merasa sedih. Bagaimana tidak? Aku masih merindukannya meskipun ini sudah lebih dari satu minggu sejak kematian Hyosung.

Aku berdehem pelan, “Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyaku memilih untuk tidak menatap Sooyoung kali ini.

Sooyoung tak langsung memberiku jawaban, tapi aku sempat mendengar helaan napasnya. Membuatku menoleh ke arahnya dan kepalanya juga sedang tertunduk. Dia terlihat sedih dan sempat terpikir olehku untuk meraih tangannya untuk menenangkannya tapi aku mengurungkannya. Bagaimana jika dia justru salahpaham padaku? Lagipula sepertinya dia dan Jeon Jae Hoon sangat dekat. Bahkan menurutku mereka seperti sepasang kekasih.

Mianhaeyo, aku sebelumnya tak memberitahumu” kata Sooyoung pada akhirnya mengeluarkan suaranya. “Aku—Aku baru mengingat tentang Hyosung-ssi” katanya lagi.

Kedua alisku saling bertaut, lalu Sooyoung mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikannya padaku. Sebuah kertas dengan tulisanku di dalamnya. Aku membaca tulisan disana, dan menatap Sooyoung dengan sedikit bingung.

“Itu ada di restoranku,” Sooyoung menjelaskannya. “Aku membacanya untuk membantuku mengingat, dan menemukan itu”

Ah,” komentarku sambil berusaha mengingat-ingat. “Geuraesseoyo?”

Sooyoung kembali terlihat ragu, tapi kemudian dia membuka mulut. “Apa kau—kebetulan mengetahui penyebab… kematiannya?”

Aku benar-benar tak menyangka Sooyoung akan menanyakan hal seperti itu padaku, jadi tak langsung memberinya jawaban meskipun sebenarnya aku mengetahuinya.

Ah, jangan salah berpikir. Aku—aku baru tahu Hyosung-ssi meninggal belum lama ini dari Jae Hoon oppa dan berita di televisi mengatakan bahwa kau—kau adalah namjachingu-nya, jadi—“

“Dia keracunan,” jawabku memotong perkataan Sooyoung yang belum selesai. “Ada sekitar 100mg conium di tubuhnya yang menjadi penyebab kematiannya,” Aku meneruskan. Ini pertama kalinya aku membicarakan tentang penyebab kematian Hyosung setelah kematiannya.

Ne? Conium?”

“Itu sebuah tanaman berbunga yang biasanya ditemukan di Eropa dan Afrika. Mengkonsumsi racun itu bisa mengakibatkan kelumpuhan. Pikiranmu mungkin terjaga, tapi tubuhmu tidak merespon dan pada akhirnya sistem pernapasan dimatikan” Aku menjelaskan tentang bagaimana racun itu bekerja di depan Sooyoung. “Aku tak tahu bagaimana conium itu masuk ke tubuhnya tapi mungkin ada seseorang yang sengaja memasukkannya ke dalam makanannya”

Sooyoung tak merespon, tapi ekspresinya jelas terkejut. Dia bahkan hanya diam sambil terus menatap lurus ke depan, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Lalu ekspresinya kembali berubah bersamaan dengan helaan napasnya yang pelan. Entah kenapa aku juga bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku hanya bisa mengerutkan kening melihat semua itu tanpa mengerti apapun yang sebenarnya sedang terjadi.

Gwenchanayo?” tanyaku pada akhirnya.

Oh?” celetuk Sooyoung terkejut. “Eo, gwenchanayo” jawabnya cepat-cepat.

Kerutan di keningku semakin dalam. “Tapi kupikir kau tidak baik-baik saja” kataku jujur. “Apa ada sesuatu yang menganggumu, Sooyoung-ssi?”

Sooyoung menatapku dengan lekat, tapi tak ada yang dia katakan. Membuatku semakin tak bisa mengerti yeoja ini. Aku berdehem pelan, lalu mengalihkan pandanganku darinya. Karena jika terlalu lama aku menatapnya maka jantungku akan semakin berdebar kencang.

“Jujur saja, aku tak ingat Hyosung-ie mengenalmu, Sooyoung-ssi” kataku memulai lagi obrolan dintara kami. “Dia tidak memiliki banyak teman dan jarang keluar menghabiskan waktunya seperti orang-orang lainnya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya”

Arrayo

Aku memiringkan kepala, “Kau tahu?”

Sooyoung tersenyum, “Siapa yang tak tahu jika yeoja seperti Hyosung-ssi itu pasti memiliki banyak pekerjaan? Dia memiliki tanggung jawab yang besar untuk perusahaannya sampai tak memiliki banyak waktu untuk menikmati hidupnya”

Aku tercengang dengan ucapan Sooyoung itu. Bagaimana dia mengerti keadaan Hyosung dengan sangat baik?

Sooyoung kembali berbicara. “Dia selalu ingin pergi, menikmati hidupnya seperti orang lain, berkencan seperti pasangan pada umumnya, melakukan segala hal—“ Dia berhenti sesaat untuk menghela napas. “Sayangnya dia tak bisa melakukan semua itu,” lanjutnya.

Aku masih diam.

“Seperti yeoja yang menyedihkan,” gumam Sooyoung yang terdengar olehku.

Aku menghembuskan napas panjang, lalu memandangi Sooyoung dengan lama. Seperti yang sudah aku sadari sebelumnya, jantungku pun langsung berdebar dengan kencang. Aku mengabaikannya dan terus menatap Sooyoung untuk memastikan apa aku benar-benar sudah tertarik padanya meskipun hanya beberapa kali kami bertemu dan mengobrol seperti ini.

“Omong-omong, sudah berapa lama kau mengenal Hyosung?” tanyaku mengalihkan sedikit dari pembicaraan kami sebelumnya.

“Cukup lama, tapi kami tidak dekat”

Ah, geuriguna—“ sahutku meskipun menurutku jawaban itu sedikit tidak masuk akal.

Untuk beberapa saat suasana di antara kami hening. Aku tak tahu harus memulai obrolan seperti apa lagi karena jujur saja, aku masih merasa ada sesuatu yang aneh dari yeoja ini. Semakin aku memperhatikannya, dia memang semakin terlihat seperti Hyosung. Meskipun aku tahu—dan menyadarinya, bahwa itu hanyalah alam bawah sadarku yang sedang memikirkannya. Tapi terkadang aku berharap dia memang Hyosung, atau setidaknya dia tak jauh berbeda dari Hyosung karena aku benar-benar merindukannya sekarang.

Aku kembali berdehem, lalu berbicara. “Jeon Jae Hoon… apa dia namjachingu-mu?” tanyaku ingin tahu.

Aniyo,” sahut Sooyoung cepat sambil menoleh ke arahku. “Yah, kami memang dekat tapi dia bukan namjachingu-ku. Tidak, tidak” katanya seraya menggerak-gerakkan tangannya.

Aku tertawa kecil, “Waeyo? Kalian terlihat cocok bersama” kataku tak berniat mengatakan hal seperti itu pada awalnya, dan aku sekarang khawatir dengan tanggapan Sooyoung. Tapi aku melanjutkan, “Dia namja yang cukup baik pada Hyosung serta kakak perempuannya”

Sooyoung mendengus kecil, tapi tak ada yang dia katakan.

“Aku memang tak terlalu dekat mengenalnya, tapi kelihatannya begitu. Jujur saja, aku tak banyak mengenal keluarga mereka. Geunyang—jokkeumman

Waeyo?”

Geurissae… mungkin karena Hyosung tak pernah sekalipun membicarakan keluarganya di depanku. Meskipun aku ingin bertanya, tapi aku khawatir itu justru akan melukai perasaannya” jawabku jujur sambil menggerak-gerakkan kakiku. “Keluarganya termasuk golongan chaebol, dan dia kehilangan orang tuanya di usia awal 20-an. Dia tinggal sendirian, belajar mengurus perusahaan yang ditinggalkan Appa-nya sambil menyelesaikan kuliahnya. Meskipun dia memiliki seorang eonni, tapi hubungan mereka tidak dekat. Hanya itu yang aku tahu tentangnya,”

Sooyoung kembali memandangiku dengan lekat. Ada rasa bersalah yang bisa aku tangkap dari pandangannya itu, tapi aku memilih untuk mengabaikannya. Sesuatu menyuruhku untuk tidak melakukan hal itu. Lalu akupun mengalihkan pandang ke arah bangunan rumah sakit untuk menghindari tatapan matanya. Bukan karena apa-apa, tapi lebih karena aku juga merasa bersalah padanya dengan menceritakan tentang Hyosung meskipun secara tidak langsung dia yang bertanya padaku. Tapi bukankah seharusnya aku tidak terlalu banyak bicara mengenai yeoja lain?

Aku berjengit saat Sooyoung tiba-tiba bergerak sampai membuatku kembali menoleh ke arahnya. Dia melangkah ke sisi lain taman dan berdiri di pinggir pagar kayu di pinggir danau buatan kecil. Tanpa berniat mengikutinya, aku hanya duduk dan memandanginya dari belakang. Senyumku mengembang dengan sendirinya mengamati yeoja itu, yang membuatku semakin yakin bahwa aku memang sudah tertarik padanya—dari awal.

__

Hyosung POV

Pagi ini, aku bangun dengan perasaan yang sangat ringan. Rasanya seperti tak ada beban atau pikiran apapun yang selama beberapa ini terus ada di kepalaku. Awalnya aku tak tahu apa yang terjadi tapi begitu melihat sosok yang berbaring di tempat tidur, aku mengerti alasannya.

Daebak” seruku sambil menatap tubuh Sooyoung dan tubuhku sendiri. “Bagaimana aku bisa keluar?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku melangkah mendekat ke arah Sooyoung, berusaha memegangnya. Tapi tanganku menembus tubuhnya begitu saja. Aku cukup terkejut dengan apa yang sedang terjadi dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sekalipun aku mencoba dan terus mencoba untuk masuk kembali ke tubuhnya, aku terus gagal. Sampai akhirnya dia membuka matanya dengan tiba-tiba, membuatku tersentak kaget. Aku mengerjapkan mata sambil terus mengamatinya yang terlihat kebingungan.

Ah, appo—“ seru Sooyoung sambil memegangi kepalanya saat dia beranjak dari tempat tidurnya. “Oh? Ini kamarku, ‘kan?” Sooyoung kembali berseru.

Sooyoung berjalan ke arah pintu dengan sedikit sempoyongan—membuatku merasa bersalah padanya, lalu dia keluar dari kamar. Aku mengikutinya dari belakang karena sampai sekarang aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Sesekali dia berhenti, memegangi kepalanya sambil memejamkan mata. Dia seperti tak bisa menahan rasa sakit itu dan terlihat akan jatuh, tapi dengan cepat dia bersandar pada sesuatu yang ada di dekatnya. Aku cukup merasa lega karena dia tidak apa-apa, setidaknya itu membuat rasa bersalahku tidak semakin dalam.

Eotteokkaji?” gumamku khawatir. “Geu cheonsa aghassi eodiseo?” Kepalaku menoleh ke samping kanan-kiri, berharap melihat sosok yeoja berpakaian putih yang saat itu menemuiku. Sayangnya tak ada siapapun disini, kecuali Yuri yang baru saja keluar dari kamarnya.

Oh, Sooyoung-ah!” seru Yuri bergegas menghampiri sahabatnya itu. “Waegeurae? Appaseo?” tanyanya yang juga khawatir.

Sooyoung tak menjawab dengan kata-kata, tapi hanya dengan anggukkan pelan. Lalu Yuri pun membantunya ke arah sofa dan duduk disana bersamanya.

Gwenchana?” tanya Yuri lagi dengan ekspresi khawatir yang sangat jelas terlihat. “Obatmu, kau sudah memakannya?”

“Obat?”

Aku mencelos, lalu berkata. “Apa aku keluar karena aku tak minum obat?”

“Bukankah ada obat yang harus kau minum begitu kau bangun tidur? Kau belum memakannya?”

Mwonde?” Yoona ikut bergabung. “Kenapa pagi-pagi begini meributkan obat?” tanyanya sambil menguap lebar.

Ya! Cepat ambilkan obatnya Sooyoung,” sahut Yuri sambil memegangi bahu Sooyoung yang masih terlihat sedang menahan sakit. “Aku tak tahu obat yang mana, jadi lebih baik bawa semuanya kesini”

E-Eo,”

Aku menggigit bibirku, lalu mendekat ke arah Sooyoung. “Gwenchanji, geuji?” tanyaku meskipun aku tahu aku tak akan mendapatkan jawaban apapun. “Mianhaeseo, ini karena aku meminjam tubuhmu. Cheonsa aghassi itu berkata aku akan meminjam tubuhmu selama 49 hari, tapi sekarang aku justru keluar seperti ini”

Igeo,” Yoona kembali datang membawa obat-obat Sooyoung yang selama ini aku minum. Meskipun aku tak membutuhkannya, tapi aku tetap mengomsumsinya untuk kesehatan Sooyoung. “Obat yang mana?” tanya Yoona, baik pada Yuri maupun Sooyoung.

“Itu, yang kecil berwarna biru muda” kataku seraya menunjuk ke arah obat yang terletak di paling kanan. “Sehari satu kali,”

Molla,”jawab Yuri sambil sesekali melirik ke arah Sooyoung. “Haruskah aku menelepon dokter Cho dan bertanya padanya?”

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya, “Palli, palli

Yuri bangkit dari tempat duduknya, digantikan Yoona yang sekarang duduk disamping Sooyoung. Sementara itu, Sooyoung terlihat semakin pucat dan dia terus memejamkan matanya. Kerutan di keningnya terlihat sangat jelas, seakan-akan dia sedang memaksa otaknya untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sambil menunggu Yuri kembali, aku bergerak dengan tidak sabar di belakang kursi Sooyoung.

Geurae, haruskah aku mencoba masuk ke tubuhnya lagi?” seruku seraya menghentikan langkahku. “Tidak akan tahu jika belum mencobanya, ‘kan?”

Aku menatap lekat punggung Sooyoung, ragu untuk melakukan apa yang terlintas di kepalaku. Aku menelan ludah, lalu menghembuskan napas panjang—yang sama sekali tak bisa aku rasakan lagi, dan melangkah dengan perlahan mendekati Sooyoung. Mataku terpejam saat tubuhku semakin dekat dengannya, tapi yang terjadi tetap sama. Aku sama sekali tak bisa memasuki tubuhnya. Aku mendengus kesal sambil memutar otakku memikirkan cara untuk kembali masuk ke tubuh itu dan melanjutkan apa yang ingin aku lakukan dengan sisa waktuku.

“Dokter Cho akan kesini,” kata Yuri memberitahu Yoona saat dia kembali bergabung. “Sebaiknya kita membawa Sooyoung ke kamarnya dan membaringkannya disana. Dia terlihat tidak baik-baik saja,”

“Sooyoung-ah, deureoyo?” Yoona berusaha berbicara pada Sooyoung, tapi dia sama sekali menanggapi. “Gwenchana? Apa kepalamu sakit?”

Eo,”

“Ayo ke kamarmu, dan berbaring disana” celetuk Yuri yang beringsut mendekati Sooyoung. Yuri mengangguk pada Yoona, dan mereka berdua membantu Sooyoung berdiri. “Josim, josim” kata Yuri lagi.

Aish, eotteoke?” dengusku bingung. “Itu pasti sakit sekali sampai dia tak bisa mengatakan apa-apa. Mianhaeyo, Sooyoung-ssi” kataku seraya berjalan di belakang mereka bertiga.

Aku terus mengawasi Sooyoung yang sekarang sdang berbaring kembali di tempat tidurnya dengan bantuan kedua sahabatnya. Ini pertama kalinya bagiku mengkhawatirkan orang lain selain Kyuhyun. Rasanya seperti aku ingin melakukan sesuatu tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Bagaimana jika terjadi pada Sooyoung? Apa itu berarti aku akan langsung pergi dan meninggalkan segalanya? Aku bahkan baru saja memulainya, kenapa justru seperti ini?

“Kau tunggu disini, Yuri-ah. Aku akan membuat sesuatu,” kata Yoona setelah beberapa saat hanya diam memandangi Sooyoung. Setelah menerima jawaban dari Yuri—berupa anggukkan kepala, yeoja itu langsung bergegas keluar dari kamar Sooyoung.

Eotteoke?” gumam Yuri terdengar khawatir. “Kau terlihat baik-baik saja beberapa hari ini, wae kapjakki?

Sooyoung merintih, dan itu membuatku semakin gelisah. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha merasakan apa yang sedang dia rasakan kali ini. Entah kenapa aku yakin itu bukan hanya sekedar sakit kepala. Tapia pa? Kenapa tak ada siapapun yang memberitahuku tentang apa yang terjadi dan apa yang harus aku lakukan?

Aish jinjja! Waktuku tidak banyak, tapi sekarang aku justru kebingungan seperti ini” gerutuku. “Haruskah aku pergi saja dan mengurus segalanya? Tapi bagaimana dengan Sooyoung-ssi? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”

Aku berjalan mondar-mandir di kamar Sooyoung, gelisah karena keadaan yeoja itu terlihat semakin buruk. Meskipun begitu, aku beberapa kali tetap mencoba untuk masuk ke tubuhnya karena mungkin saja itu akan bisa menghilangkan rasa sakitnya—jika aku ke dalam tubuhnya. Tapi usahaku masih belum berhasil, dan aku tak akan menyerah untuk mencobanya karena aku semakin khawatir padanya yang selama beberapa hari ini sudah meminjamkan tubuhnya padaku.

“Dokter datang,” ucap Yoona saat pintu kamar Sooyoung terbuka. Dia masuk dengan Kyuhyun di belakangnya. “Silahkan, dokter” katanya pada Kyuhyun.

Ne,”

Agi,” gumamku melihat Kyuhyun berada di hadapanku sekarang. “Agi-ya, bogoshipeoseo” Aku melangkah mendekat ke arah Kyuhyun tapi dia hanya menembusku begitu saja.

Aku menunduk sedih, dan membalikkan badan untuk melihat namjachingu-ku melakukan pekerjaannya. Aku berpindah, mencari tempat yang lebih leluasa untuk bisa memandangi wajahnya. Biar bagaimanapun, Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang peduli padaku setelah aku ditinggalkan sendirian dengan perasaannya yang tulus padaku. Dia mencintaiku bukan hanya karena aku memiliki uang, tapi karena dia memang memiliki perasaan itu di dalam hatinya untukku. Aku bisa merasakannya mengingat aku selalu diperlakukan dingin dan penuh dengan kepura-puraan oleh orang-orang di sekitarku. Jadi saat mengenal Kyuhyun dan berkencan dengannya, aku bisa merasakan perasaannya yang hangat, bahkan itu masih bisa aku rasakan saat aku menjadi orang lain.

Tapi kemudian keningku berkerut tajam mendapati ekspresi yang tidak biasa di wajah Kyuhyun. Dia terlihat panik dan khawatir—yang tentu saja sangat bukan dia, karena dia hampir selalu tenang saat sedang memeriksa pasien. Lalu apa arti dari tatapan mata itu? Aku yakin sekali itu bukan sekedar tatapan dokter pada pasiennya, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu.

“Apa kau menyukainya, Agi-ya?” tanyaku. “Apa kau sudah melupakanku sekarang?”

“Sooyoung-ssi baik-baik saja,” ucap Kyuhyun memberitahu Yuri dan Yoona yang sedari tadi ikut mengamati. “Tidak ada yang salah dengannya, jadi tak perlu khawatir”

Aninde. Kelihatannya dia sangat kesakitan, dokter. Di sekitar kepalanya,”

“Itu karena otaknya mulai mengumpulkan informasi-informasi yang sebelumnya dia lupakan. Dia hanya membutuhkan waktu, jadi itu wajar saja jika dia merasakan sakit di sekitar kepalanya”

Geuraesseoyo?”

“Cukup pastikan saja dia tetap berbaring dan meminum obatnya,” kata Kyuhyun lagi. “Itu akan sulit baginya untuk bangun karena otaknya akan terus memaksa untuk berpikir, jadi yang terbaik adalah membiarkannya tetap di tempat tidur”

Ah, begitu. Arraseoyo, uisa-nim

Kyuhyun menganggukkan kepala singkat, lalu dia bangkit berdiri. Sesaat, dia mengedarkan pandang ke sekeliling kamar Sooyoung dan aku sempat melihat sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Tak lama, dia pun berpamitan karena pekerjaannya sudah selesai. Sekali lagi dia meminta kedua sahabat Sooyoung untuk mengawasi yeoja itu, dan langsung meneleponnya jika terjadi sesuatu. Meskipun aku merasa sedikit lega karena Sooyoung akan baik-baik saja—seperti yang Kyuhyun katakan, tapi disisi lain aku merasa gugur. Aku tak tahu kenapa tepatnya, tapi kurasa karena ini pertama kalinya aku melihat Kyuhyun seperti itu pada yeoja lain selain aku.

Oppa, ayo pergi bersama” seruku saat Yoona membukakan pintu apartemen untuk Kyuhyun.

Cepat-cepat aku mengikuti Kyuhyun dan melangkah bersamanya keluar dari apartemen Sooyoung. Sepanjang jalan, aku terus memandanginya dan tersenyum melihat wajahnya yang begitu serius memikirkan sesuatu. Lalu tiba-tiba dia berhenti melangkah dan menahan tubuhnya dengan tangan ke sebuah tiang listrik di dekatnya. Sementara tangan satunya memegang dada, dan dia menghela napas berkali-kali sambil memejamkan matanya.

Oppa, gwenchanayo?” tanyaku dengan ekspresi heran bercampur khawatir mengamati Kyuhyun. “Apa kau sakit? Eodi, eodi—

Dahaengida,” Kyuhyun menyela perkataanku dan membuatku langsung terdiam. “Aku sempat khawatir jika aku akan kehilangan lagi, tapi semuanya baik-baik saja. Dia baik-baik saja,”

Aku diam terpaku di tempatku mendengar apa yang Kyuhyun katakan. Aku dengan sangat jelas mendengar dia mengkhawatirkan Sooyoung, dan itu benar-benar membuatku seperti seseorang yang benar-benar sudah tidak diakui lagi keberadaannya di dunia ini. Aku mendesah pelan tanpa tahu harus mengatakan apa karena meskipun aku mengatakan sesuatu—memarahinya atau bahkan mengutuknya, dia tak akan pernah mendengarnya.

“Hyosung-ah, eotteokaji? Gwenchanji?” ucap Kyuhyun tiba-tiba sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah langit. Aku terus diam memperhatikannya, “Aku tahu kau akan mengatakan bahwa aku melakukannya dengan baik, dan aku sudah bekerja keras. Tapi itu tidak apa-apa jika aku sedikit meletakkan perasanku?”

Oppa, kau menyukainya? Majyeo?”

“Aku tak tahu apa yang terjadi padaku sampai aku harus mengatakan seperti ini. Mungkinkah karena aku menyukainya? Tapi Hyosung-ah—“ Kyuhyun menghela napas singkat sebelum kembali berbicara. “Apa kau akan marah padaku jika aku seperti ini? 49 hari-mu bahkan belum terlewat, tapi aku justru menyukai orang lain”

Oppa,”

Kyuhyun mendesah panjang, lalu dia menarik napas dalam-dalam. Dia menolehkan kepala ke arah gedung apartemen Sooyoung dan menatapnya dengan cukup lama. Aku terus memperhatikannya sambil menahan semua perasaan yang sekarang muncul. Aku kesal—tentu saja, tapi aku bahwa aku tak bisa melakukan apapun untuk mengungkapkan kekesalanku. Biar bagaimanapun, hidup itu adalah cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan bukan? Aku memejamkan mata, dan tanpa terasa air mataku mengalir membasahi pipiku.

__

Kyuhyun POV

Aku mendesah keras sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas meja dalam sebuah kafe dengan tidak sabaran. Aku menunggu Lee Donghae, karena kami berjanji untuk bertemu setelah melakukan kegiatan rutin di rumah sakit. Tapi sudah sepuluh menit lewat dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Sebelah tanganku yang bebas menyanggah dagu menghadap dinding kaca.

Aku mulai memikirkan banyak hal, apa saja. Lalu tiba-tiba sepasang mataku menangkap sosok yang baru saja aku pikirkan, Choi Sooyoung. Dia sedang berjalan bersama Yoona, melewati kafe dimana aku berada. Dia bahkan melangkah tepat disamping kaca-ku, tapi dia sama sekali tak melihatku. Mataku mengerjap beberapa kali, berusaha untuk memastikan apa yang aku lihat itu memang Sooyoung. Setelah yakin, bergegas aku bangkit dari kursiku dan keluar kafe.

Ya! Eodiya?” tanya Donghae yang baru saja masuk ke dalam kafe dan berpapasan denganku.

“Aku ada urusan,” jawabku. “Kau makan siang sendiri dulu. Mian,” Cepat-cepat aku keluar dari kafe dan mengabaikan panggilan Donghae.

Aku mengedarkan pandangan berkeliling, mencari Sooyoung. Aku yakin sekali dia belum jauh jadi aku berusaha menemukannya sambil melangkah menyusuri jalanan Sinchon ini. Di menit-menit awal, aku belum juga melihat sosoknya ataupun Yoona. Tapi kemudian, saat aku berbelok ke sisi lain jalan, aku melihatnya. Dia sedang mengobrol dengan penjual buah bersama Yoona disebelahnya.

Senyumku mengembang melihat bagaimana Sooyoung terlihat sangat akrab dengan penjual buah itu. Tak lama, Yoona pergi meninggalkan Sooyoung—setelah terlihat berbicara dengannya terlebih dahulu, seakan-akan ada sesuatu yang harus dia lakukan karena ekspresinya tadi terlihat gelisah. Begitu Yoona pergi, aku berniat untuk menghampiri Sooyoung dan menyapanya. Tapi kemudian, aku ragu. Apa yang akan aku katakan padanya nanti? Pada akhirnya—setelah mempertimbangkannya, akupun memutuskan untuk mendekatinya.

Annyeonghaseyo, eoseo osipseoyo” sapa penjual buah itu padaku saat menyadari kedatanganku. “Apa kau mencari sesuatu? Kebetulan sekali buah-buah kami baru saja datang, dan mereka sangat segar”

Aku tersenyum lebar, “Aku mencari buah persik”

Sooyoung menoleh padaku saat aku menyebutkan nama buah itu, tapi kemudian dia memalingkan wajahnya lagi. Aku cukup terkejut mendapati sikapnya yang jauh berbeda dari dia beberapa hari yang lalu. Dia bahkan terlihat seperti tidak mengenaliku. Membuatku mengerutkankan kening sambil mencuri pandang ke arahnya.

Aku tersenyum tipis menerima sikap Sooyoung itu, lalu kembali beralih pada penjual buah. “Tolong berikan aku beberapa buah persik yang segar,” kataku kemudian.

Ne,”

Penjual buah itupun masuk ke dalam tokonya, meninggalkanku hanya bersama dengan Sooyoung. Aku kembali mencuri pandang ke arahnya sebelum mendekatinya dengan perlahan. Sesekali aku berpura-pura tertarik ada buah-buah yang ada di depanku, dengan mencium baunya atau hanya sekedar memegangnya. Sebenarnya, apa yang aku lakukan ini adalah untuk menarik perhatian Sooyoung tapi sepertinya dia sama sekali tidak menyadarinya. Apa dia sedang bermain sulit denganku atau bagaimana?

Ahjussi, eolmanayo?” seru Sooyoung tiba-tiba. Dia melirikku sesaat—yang sudah berdiri sangat dekat dengannya, tapi tetap saja tak ada yang dia katakan padaku. “Ahjussi,”

Eo, jamkkaman—“ Penjual buah itu menyahut sambil menghampiri Sooyoung. “Semuanya menjadi 21000 won,”

Geuraeyo,”

“Kau tak menunggu temanmu dulu?” tanya penjual itu seraya menerima uang dari Sooyoung. “Tunggulah di dalam sampai dia datang,” tambahnya.

Aniyo, dwaesseoyo” jawab Sooyoung menolak dengan halus tawaran itu. Dia mengambil bungkusan buahnya, “Geureom—“ katanya berpamitan.

Penjual itu menganggukkan kepala sambil melambaikan tangannya. Begitu Sooyoung pergi, pandanganku tak pernah lepas darinya. Sikapnya kali ini benar-benar terasa aneh, dan dia sepertinya memang tdiak mengenaliku. Padahal aku masih dengan jelas bagaimana dia memintaku untuk menjadi temannya, tapi lihatlah sikapnya sekarang. Bukankah itu aneh?

“Apa kau tertarik padanya?” Pertanyaan penjual buah itu langsung membuyarkan lamunanku.

Cepat-cepat aku menoleh ke arahnya, “Ne?”

Dia tersenyum, “Tentu saja. Dia yeoja yang cantik dan sangat ramah” komentarnya. “Tidak heran jika ada namja yang mengejar-ngejarnya”

Aku diam saja sambil menggaruk bagian belakang kepalaku meskipun tidak gatal. Jujur saja, aku tak tahu harus mengatakan apa di depan orang ini. Tapi apa benar-benar kelihatan jika aku memang tertarik pada Sooyoung?

“Restorannya ada di dekat sini jika kau ingin menemuinya,” Penjual itu kembali berbicara. “Tidak jauh. Kau cukup berjalan ke arah dia pergi, lalu berbelok ke kiri saat ada persimpangan. Restorannya tepat di ujung jalan”

Ah, ne” sahutku cukup terkejut diberitahu seperti itu. “Gomawoyo, ahjussi” Aku menambahkan.

Aku membayar buah persiknya, lalu bergegas pergi mengikuti arah kemana Sooyoung tadi melangkah. Dalam perjalanan aku berusaha mengingat kembali percakapanku dengan Sooyoung sebelumnya. Kurasa dia memang pernah memberitahuku jika dia memiliki restoran yang bahkan pernah aku datangi. Tapi aku sama sekali tak berpikir jika dia sendirilah yang memiliki restoran itu karena kupikir dia hanya bekerja di restoran milik orang lain.

Kakiku terus melangkah mengikuti instruksi penjual buah itu. Aku berbelok ke kiri saat menemukan persimpangan jalan, dan terus menyusuri deret-deret bangunan yang ada di sekitarku. Ada perasaan yang muncul saat aku berjalan seperti ini di tempat ini, seakan-akan aku sedang melakukannya lagi bersama Hyosung. Aku memang hampir selalu ingat tempat-tempat dimana biasanya aku pergi dengannya dulu, mengingat sangat jarangnya kami pergi keluar untuk berkencan karena kesibukan kami masing-masing.

Di ujung jalan, aku menemukan sebuah bangunan semi modern berlatar belakang merah tua. Papan depannya menyebutkan nama restorannya, Café Evangelized, yang ditulis dengan warna emas. Ada sepenggal kata-kata di papannya dan aku tersenyum saat membacanya.

Orang yang mencintai makan selalu adalah orang yang terbaik – Julia Child

“Kurasa aku memang pernah datang kesini sebelumnya,” gumamku sebelum membuka pintunya.

Begitu masuk, seseorang menyambutku dan mengantarku ke meja kosong di tengah ruangan. Aku langsung duduk, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mataku berhasil menangkap sesuatu yang menarik perhatianku, yaitu kertas-kertas yang dipajang di salah satu dinding restoran. Entah bagaimana aku berhasil menemukan kertas yang pernah aku tulis, dan Sooyoung tunjukkan padaku itu. Aku tersenyum tanpa berniat untuk mendekat ke arah dinding itu meskipun sekedar untuk membacanya kembali.

Uisa-nim?” seru seseorang, membuatku langsung menolehkan kepala dan melihat Yuri yang menyapa. “Oh, annyeonghaseyo—“

Aku kembali tersenyum, “Annyeonghaseyo, Yuri-ssi

“Aku benar-benar terkejut kau datang kesini. Apa kau ingin menemui Sooyoung atau—“

“Aku datang untuk makan siang,” sambungku dengan cepat tanpa menunggu Yuri menyelesaikan kalimatnya. “Kebetulan sekali aku sedang berada di sekitar sini, dan aku ingat Sooyoung-ssi pernah memberitahuku tentang restoran ini jadi yah—“

Arraseyo,” sahut Yuri. “Geureom, jamkkamanyo. Aku akan menyiapkan makanan yang—Oh! Sooyoung-ah!” celetuk Yuri tiba-tiba sambil melambaikan tangannya saat Sooyoung muncul dari ruangan yang berbeda.

Wae? Aku sedang membereskan beberapa hal di dalam,” kata Sooyoung meskipun dia tetap menghampiri Yuri. Lalu diapun menatapku, “Oh! Kau—kau orang yang tadi, ‘kan?” serunya kemudian.

Aku tersenyum lagi sambil menganggukkan kepala, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Apa kau mengikutiku sampai kesini?” tanya Sooyoung penuh degan nada kecurigaan.

Mwoya… kau tak mengenalnya atau berpura-pura tidak mengenalnya?”

Mwo?”

Yuri menghela napas panjang, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala. “Kurasa memang ada sesuatu yang aneh dengan kepalamu” komentarnya. “Dia dokter Cho Kyuhyun! Doktermu!” katanya memberitahu Sooyoung.

Sooyoung menatapku dengan lekat, ekspresinya antara yakin dan tidak yakin.

Ne, majayo. Aku dokter yang melakukan perawatan denganmu, Sooyoung-ssi” kataku ikut membenarkan perkataan Yuri setelah melihat ekspresi Sooyoung itu. “Aku juga dokter yang melakukan operasi padamu, dan kau masih menjalani beberapa perawatan ringan pasca kecelakaan denganku” Aku menambahkan.

Masih tak ada tanggapan dari Sooyoung, tapi dia tetap menatapku dengan cara yang sama.

Mwoya igeo? Apa kau tak mengenali doktermu sendiri sekarang?” celetuk Yuri tidak percaya. “Ah, josanghaeyo uisa-nim. Sepertinya aku harus pergi, ada pelanggan yang datang”

Oh? Emm,”

Ya! Kau temani dokter Cho dulu, dan jangan berpura-pura jika kau tak mengenalnya. Arraseo?” Yuri berbisik pada Sooyoung. Meskipun aku mendengarnya, tapi aku berpura-pura tidak mendengarnya dengan membaca daftar menu yang ada di atas meja. “Silahkan pilih apa yang ingin kau makan, dokter. Geureom—“

Aku mengangguk singkat pada Yuri dan membiarkan dia pergi meninggalkan mejaku hanya bersama dengan Sooyoung yang terlihat canggung. Sangat berbeda dengan dia beberapa hari yang lalu. Aku berdehem pelan, berusaha menghilangkan rasa gugupku yang tiba-tiba muncul. Setelah berhasil mengendalikan diri, aku berniat untuk membuka percakapan terlebih dahulu tapi kemudian mengurungkannya karena sepertinya Sooyoung akan berbicara padaku.

Sooyoung mengamatiku lama, lalu—benar saja, diapun membuka mulutnya. “Apa benar kau dokterku? Kenapa saat di toko buah itu kau sama sekali tak menyapaku atau memberitahuku?” tanyanya sambil duduk di kursi di hadapanku.

“Kau terlihat tidak mengenaliku, bagaimana bisa aku menyapamu?” sahutku dengan ramah. “Menurutmu apa yang kau pikirkan jika keadaannya seperti itu?”

“Mungkin aku akan menganggapmu orang gila,”

Aku tertawa pelan, “Geurae?”

Sooyoung mengangguk singkat, “Josanghaeyo karena aku tak mengenalimu, dokter” katanya. “Akhir-akhir aku sedikit kesulitan mengingat sesuatu, jadi yah—aku benar-benar minta maaf”

Gwenchanayo, itu karena masih ada trauma di kepalamu” kataku menenangkan Sooyoung. “Itu hal umum yang dialami oleh orang-orang yang mengalami luka di kepala, dan terkadang memang membuat penderitanya kebingungan dengan kejadian-kejadian yang dia alami sekarang ataupun masa lalu”

Ne. Aku bahkan tak ingat apapun setelah kecelakaan itu,” ujar Sooyoung sambil menatapku sekilas sebelum dia menundukkan kepala. “Aku tak ingat kapan aku keluar dari rumah sakit dan apa saja yang sudah aku lakukan. Jujur saja, itu membuatku frustasi karena seberapa keras aku mengingatnya, aku tak ingat apapun”

Aku terdiam di tempatku mendengarkan perkataan Sooyoung. Kedua alisku saling bertaut karena berpikir. Bukankah apa yang dia katakan terdengar aneh? Menurut diagnosa-ku, dia hanya mengalami amnesia retrograde tapi kelihatannya dia juga menunjukkan gejala-gejala amnesia anterograde. Apa dia sebenarnya mengalami dua jenis amnesia itu secara bersamaan?

Uisa-nim,” panggilan lembut Sooyoung itu langsung membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya dengan sedikit terkejut meskipun menyembunyikannya dengan baik. “Ini mungkin terlihat aneh, tapi aku benar-benar ingin melakukannya” katanya melanjutkan.

“Melakukan apa?”

Tanpa menjawab terlebih dahulu, Sooyoung mengulurkan tangannya ke hadapanku. Mataku mengerjap, tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan yeoja ini.

W-Waeyo?” tanyaku bingung.

“Aku merasa tak pernah mengenalmu, tapi kau adalah dokterku. Bukankah itu akan terlihat aneh jika pasien dan dokternya sama sekali tak mengenal nama masing-masing,” kata Sooyoung menjelaskan. “Mungkin aku pernah berkenalan denganmu, entah bagaimana. Tapi aku tak ingat apapun, jadi lebih baik jika kita memulainya lagi dari awal ‘kan?”

“Dari awal?”

Sooyoung mengangguk, “Berkenalan denganku” katanya sambil menggerakkan tangannya yang terulur, seakan-akan memintaku untuk menjabatnya.

Aku menatap Sooyoung lama, lalu berpaling ke arah tangannya yang masih terulur. Meskipun aku tak mengerti apa yang sedang dia lakukan tapi pada akhirnya akupun mengangkat tanganku dan meraih tangannya. Sooyoung tersenyum senang begitu tangan kami saling menjabat sebelum tiba-tiba dia terlonjak dari kursinya. Jika tangan kami tidak saling berpegangan seperti ini, aku yakin sekali dia pasti terjatuh dan mungkin saja kepalanya kembali terbentur entah oleh kursi atau lantai.

Aku cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, dan semakin terkejut saat melihat Sooyoung justru terdiam sambil memejamkan matanya. Mataku mengamatinya, sedikit khawatir karena mungkin terjadi sesuatu padanya yang mendadak seperti ini. Sambil terus menggenggam tangan Sooyoung, akupun beranjak dari tempatku untuk berdiri di sebelahnya.

“Sooyoung-ssi, gwenchanayo?” tanyaku dengan nada khawatir bercampur bingung. “Sooyoung-ssi,” panggilku dengan pelan.

Untuk beberapa saat, Sooyoung sama sekali tak memberikan tanggapan. Sampai aku berniat untuk memanggil Yuri dan kemudian menelepon 119 untuk membantuku membawanya ke rumah sakit. Tapi sebelum aku melakukannya, mata yeoja ini membuka dengan perlahan. Dia mengerjap beberapa kali dan menatapku dengan lekat.

Gwenchanayo?” tanyaku lagi.

Sooyoung menatap tangan kami terlebih dahulu, lalu dia kembali beralih padaku. “Em, gwenchana opp—ani, maksudku… Kyuhyun-ssi,” katanya kemudian sambil melirik tangannya lagi.

Ah, josanghaeyo” Cepat-cepat aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku membalikkan badan sebentar untuk menyembunyikan kegugupanku, dan hal bodoh yang telah aku lakukan karena terlalu lama menggenggam tangannya itu. Lalu akupun kembali ke kursiku dan duduk disana. “Jinjja gwenchanayo? Apa kau perlu ke rumah sakit?” Aku memastikan sekali lagi.

Aniyo, dwaesseo. Nan jinjja gwenchanayo, jeongmalyo” jawab Sooyoung tanpa menatapku. Dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling lalu menghirup napas dalam-dalam, seakan-akan merasa lega setelah melakukan sesuatu. Tapi kemudian dia menyadari bahwa aku terus mengamatinya, jadi dia kembali berbicara. “Ah, josanghaeyo. Emm—kurasa aku—aku ingat beberapa hal,”

“Tentang apa?”

“Setelah aku keluar dari rumah sakit, dan segalanya itu” jawab Sooyoung sambil mengusap tengkuk-nya. “Tadi aku berkata jika aku tidak ingat, tapi sekarang aku ingat”

Kedua alisku kembali saling bertaut, tak mengerti dengan maksud perkataannya itu.

“Kau pasti bingung, ‘kan?” ucap Sooyoung sambil tertawa kecil. “Geureom, dwaesseoyo. Tak perlu kita bicarakan lagi saja,”

N-Ne,”

“Apa kau belum memesan sesuatu?”

Ajikdo,”

Sooyoung mendesah panjang, lalu dia mendorong kursinya dan bangkit berdiri. “Bagaimana bisa tak ada orang yang melayanimu?” celetuknya sambil menatap tajam ke seluruh restoran. “Geureom jamkkamanyo, Kyuhyun-ssi” Dia menambahkan.

N-Ne

Sooyoung bergegas pergi dari hadapanku dan melangkah ke ruangan yang sepertinya dapur karena beberapa orang dengan pakaian pelayan keluar-masuk dari sana. Aku diam di tempatku sambil memandanginya yang terlihat sangat aneh. Baru saja dia seperti seseorang yang asing denganku, tapi menit berikutnya dia sepenuhnya berbeda. Karena sekarang dia seperti yeoja yang aku kenal, yeoja yang berhasil membuat jantungku berdebar kencang dan membuatku terus memikirkannya.

Lalu apa artinya itu? Tidak mungkin Sooyoung memiliki sesuatu seperti kepribadian ganda, ‘kan? Sepertinya aku benar-benar harus mencari tahu lebih detail mengenai apapun tentang yeoja ini. Ya, sepertinya itu hal terbaik yang perlu aku lakukan dalam waktu dekat ini!

__

Sooyoung POV

Aku menyusuri pinggiran jalan raya beraspal menuju ke kantor Agensi Kepolisian Seoul di Jongno-gu. Hari ini aku berencana untuk mencari apapun yang berhubungan dengan kematianku—Jeon Hyosung, setelah aku berhasil masuk ke dalam tubuh ini lagi.

Jujur saja, aku cukup terkejut saat kemarin tiba-tiba aku seperti terdorong begitu saja masuk ke tubuh ini. Aku tak tahu apa sebenarnya terjadi, tapi saat itu aku sedang berada di restoran dan tahu jika Kyuhyun memasukinya. Aku bahkan terus bersama dia saat dia di restoran sambil mengingat beberapa kenanganku saat bersama namja itu saat aku masih hidup. Lalu saat dia berpegangan tangan dengan Sooyoung, aku masuk begitu saja. Karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi—dan khawatir Kyuhyun mencurigaiku, aku terpaksa pergi meninggalkan namja itu dan tidak kembali padanya bahkan sampai dia memutuskan untuk meninggalkan restoran.

Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku sampai di depan gedung Agensi Kepolisian Seoul ini. Aku menatap gedung itu lama karena entah bagaimana muncul rasa ragu untuk memasukinya. Bukan karena aku takut atau bagaimana, tapi lebih karena aku khawatir mengetahui tentang kematianku sendiri. Saat aku mendengar Kyuhyun membicarakan tentang kematianku beberapa hari yang lalu pun, aku harus berusaha keras mengendalikan diriku untuk tidak menunjukkan sikap apapun.

Aku mendesah panjang, lalu berbicara pada diri sendiri. “Kajja, Choi Sooyoung! Ini demi Hyosung, kau harus mengetahuinya”

Aku kembali melangkahkan kaki, dan mendorong pintu masuknya. Mengabaikan jantungku yang berdegup kencang, aku terus melangkah sampai akhirnya tiba di bagian criminal. Mataku mengarah ke seluruh ruangan, mencari seorang petugas yang kelihatannya tidak terlalu sibuk. Saat menemukannya—seorang namja, akupun bergegas menghampirinya.

Annyeonghaseyo,” sapaku pada petugas polisi itu.

Dia mendongakkan kepala, “Ne? Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya padaku.

Jo—emm, aku datang kesini untuk mencari informasi” jawabku ragu. “Apa mungkin kau—emm, kau bisa memberitahuku?”

Kedua alis petugas polisi itu saling bertaut saat menatapku. Dia sepertinya mencurigaiku atau sesuatu semacam itu karena untuk beberapa saat dia hanya diam tanpa mengatakan apapun padaku. Lalu dia menoleh ke sekelilingnya, seperti mencari sesuatu tapi kemudian kembali padaku.

“Informasi seperti apa?” tanyanya pada akhirnya.

Ah, apa kau kebetulan mengetahui siapa detektif yang bertugas melakukan penyelidikan tentang—“ Aku mendesah pelan untuk sesaat, lalu melanjutkan. “—tentang kematian Jeon—Hyosung, CEO Daehan Group

“Jeon Hyosung?”

Aku menganggukkan kepala.

Jamkkamanyo—“ kata petugas polisi itu padaku, lalu dia menoleh ke sebelahnya. “Sunbae, apa kau tahu siapa yang melakukan penyelidikan tentang kematian CEO Daehan Group?

“Daehan Group?” Polisi di sebelahnya menyahut. “Daehan Group… Daehan GroupAh! Bukankah Na Young yang melakukan penyelidikannya?”

“Na Young-ie?”

Petugas polisi satunya menganggukkan kepala. “Kurasa dia keluar untuk—“

“Han Sunbae, aku mencarimu” seru seseorang yang terdengar, baik olehku maupun kedua polisi di depanku ini. Kami bertiga pun menolehkan kepala, dan melihat dua orang polisi lainnya—yang satu namja, sementara polisi yang baru saja datang adalah seorang yeoja. “Ini tentang kasus perampokkan di Geumcheon. Kami menemukan kasus yang sama terjadi di Hyewa, dan pelakunya adalah orang yang sama juga”

“Tuliskan itu di laporan, dan jangan lupa untuk menginformasikannya pada Ketua Tim”

Ne, arraseoyo

“Detektif Han, kemarilah sebentar” seru polisi yang duduk persis di depanku.

Detektif yeoja itu mendekat, dengan ekspresi bingungnya. Dia menatapku sekilas, lalu beralih pada polisi yang memanggilnya.

Waeyo sunbaenim?”

Ya! Kau ‘kan yang menyelidiki kasus tentang CEO Daehan Group?”

Ne, majayo. Waeyo?”

Polisi itu beralih padaku, “Aghassi, ini detektif yang kau cari” katanya. “Kau bisa bertanya padanya,”

Ah, n-ne

Detektif Han kembali menatapku, lalu dengan gerakan kepalanya dia mengajakku untuk mengikutinya. Akupun berpamitan pada dua orang polisi yang membantuku itu dan mengikuti langkah kakinya. Dia mengajakku ke sebuah lorong. Tempat ini cukup jauh dari keramaian karena hanya ada beberapa orang yang melintas. Lorong sempit ini mengarah langsung ke sebuah taman kecil yang sepertinya hanya berfungsi sebagai hiasan saja. Karena hanya ada beberapa tanaman gantung dan beberapa deret tanaman hias di rak-rak serta di lantainya.

Detektif itu berdiri di hadapanku, membelakangi taman itu. “Geuraeyo,” ucapnya memulai pembicaraan. “Tapi sebelumnya, aku ingin mengetahui dulu kenapa kau mencari informasi tentang kasus Daehan Group itu? Dan ada hubungan apa antara dirimu dengan Daehan Group?”

Aku tak menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan seperti itu, jadi akupun memikirkan alasan yang masuk akal. Karena insting seorang detektif pasti kuat, jadi aku tak boleh sembarangan mengatakan sesuatu.

Hmm?” pancing Detektif Han lagi.

Ah, aku—aku tak memiliki hubungan apapun dengan Daehan Group” jawabanku itu langsung membuat Detektif itu mengerutkan keningnya. Tapi aku melanjutkan, “Aku Choi Sooyoung, dan aku hanya memiliki hubungan dengan CEO-nya, Jeon Hyosung”

“Jeon Hyosung-ssi?”

Aku mengangguk, “Dia temanku. Teman dekatku, dan aku—aku baru mendapat kabar jika dia meninggal beberapa hari yang lalu,” kataku beralasan. “Aku dengar dia melakukan bunuh diri, tapi aku ragu dia melakukannya. Karena setahuku dia tak memiliki satu alasanpun untuk bunuh diri,”

Detektif Han melirikku sesaat, lalu dia menghela napas panjang. “Aku tak pernah menulis laporan apapun tentang dia melakukan bunuh diri,”

Ne?”

“Dia keracunan, dan NFS (National Forensic Servis) sudah mengkonfirmasinya bahwa ada 100mg conium di tubuhnya,” kata Detektif Han. “Itu sesuatu yang mustahil jika seseorang sengaja memakan sesuatu yang mengandung 100mg conium untuk bunuh diri, jadi aku menduga bahwa itu bukanlah perbuatan bunuh diri”

Geuraesseoyo?”

“Saat aku akan mengajukan penyelidikan tambahan, Kepala Departemen menghentikanku. Dia berkata jika kasusnya sudah selesai, dan itu adalah tindakan bunuh diri”

Mataku mengerjap beberapa kali, terkejut mendengar apa yang dikatakan Detektif Han. Aku mencoba menguasai diriku, dan sebisa mungkin aku menekan rasa marah yang terus-menerus menguasaiku. Bagaimana bisa polisi melakukan sesuatu hal seperti itu secara tiba-tiba? Aku yakin sekali ada sesuatu yang terjadi mengenai kasusku itu, tapi bagaimana aku bertanya lebih jauh tanpa dicurigai?

Josanghaeyo, aku tidak bisa melakukan banyak untuk kasus itu karena Kepala Departemen dan Kepala Polisi ikut turun tangan jadi aku hanya melakukan apa yang diperintahkan” Detektif Han kembali berbicara dan memecahkan keheningan.

Aku diam sesaat, memikirkan hal-hal apa yang ingin aku tanyakan lagi. “Laporan,” kataku pada akhirnya. “Apa laporannya juga mengatakan itu adalah kasus bunuh diri?”

Ne,” Detektif Han menjawab. “Tapi lagi-lagi aku menemukan sesuatu yang aneh,”

“Tentang apa?”

“Di laporan itu, tertulis 120mg conium bukan 100mg”

Mworauguyo?” Aku kembali terkejut.

“Aku secara jelas mengatakan bahwa ada 100mg conium dan bahkan menyerahkan laporan dari NFS. Beberapa hari setelahnya, aku mendapatkan laporan itu kembali. Isinya menyebutkan bahwa kasus CEO Daehan Group telah ditutup sebagai kasus bunuh diri, dan saat aku membaca laporannya itu tertulis penyebab kematiannya adalah 120mg conium

Seperti ada hantaman kuat yang menerjangku mendengar penjelasan dari detektif Han itu. Aku menunduk memandangi lantai marmer kelabu gelap yang mengkilap, tak menyangka mereka bahkan memalsukan laporannya. Ini benar-benar keterlaluan, memperlakukanku seperti itu. Aku bahkan sampai tak bisa berpikiran jernih untuk lebih banyak bertanya lagi, jadi akupun memutuskan untuk berpamitan dengan detektif Han setelah sebelumnya berterima kasih padanya. Tapi sebelum aku benar-benar pergi, dia memintaku untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang apa yang kami bicarakan ini karena secara diam-diam, diapun sedang melakukan penyelidikan sendiri. Meskipun aku masih terguncang dengan apa yang baru aku dengar, tapi aku tak lupa mengucapkan terima kasih karena masih ada seseorang yang menganggap kasusku itu adalah kasus yang aneh. Biar bagaimanapun aku tetap membutuhkan seseorang seperti detektif Han, yang bisa membantuku menyelesaikan kasus ini, ‘kan?

Aku menarik napas dalam. “Bodoh,” gumamku pada diri sendiri sambil terus melangkah menyusuri jalanan yang sama. “Aku tidak benar-benar hidup sebagai orang baik, tapi aku juga tak memiliki hidup yang buruk sampai ada orang yang melakukan hal seperti ini padaku”

Aku mendesah keras, lalu menghapus air mataku yang mengalir begitu saja ke pipiku sambil terus berjalan tanpa tahu arah. Sesaat, langkahku berhenti mengingat tentang semua hal yang sudah aku lakukan saat aku masih hidup sebagai Jeon Hyosung. Selama ini aku memang terkesan tidak peduli dengan orang lain, karena kebanyakan dari mereka mendekatiku karena aku memiliki uang yang banyak. Ibu kandungku meninggal sejak aku lahir dan Appa-ku—sebelum dia meninggal, juga terlalu sibuk dengan perusaahaan dan tak pernah memiliki waktu bersamaku meskipun sebentar saja. Bukankah selama ini hidupku menyedihkan? Tapi kenapa masih ada orang yang sampai hati melakukan hal seperti itu padaku?

Aku melanjutkan langkah menyusuri Sajik-ro yang juga sama padatnya meskipun tidak sepadat Myeongdong, Shincon maupun Hongdae. Berbagai deret toko berjejer di pinggiran jalur pejalan kaki, tak lupa juga kafe-kafe yang berwarna mencolok untuk menarik perhatian orang-orang yang berlalu jalan. Setelah berjalan cukup jauh, tepat saat aku mengedarkan pandanganku, aku melihatnya.

Jeon Hyomin.

Aku tak menyangka jika aku akan bertemu dengannya seperti ini. Dia melangkah menuju sebuah gedung, dan aku terus memandanginya. Dia kakakku, tapi dia benar-benar jauh berbeda denganku. Tapi apa yang dia lakukan di tempat ini? Haruskah aku mengikutinya dan mencari tahu? Aku yakin sekali apa yang terjadi padaku itu ada hubungannya dengan dia. Ya, sepertinya aku memang harus mengikutinya.

-TBC-

Eotte?

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

24 thoughts on “[Series] Once Again, Love -2-

  1. Widyasarhy says:

    Ap spp n kakak tiri Hyosun ad sangkut pautnya dg kematian Hyosun?
    Tp,knp hyosun hrs meninggal scpt it?
    N ap hyosun bs menyatu dg tubuh soo jk bersentuhan dg kyu?

  2. FS says:

    jadi kemungkinan hyosung dibunuh ya
    Heuuu kasihan kyuyoung
    Kyu suka soo sekaligus hyosung
    Soo kebingungan gara2 beberapa hari berlalu tanpa dia sadari

    Next part ditunggu

  3. ellalibra says:

    Kyny hyomin ada hbngan nya sm ksus ini tp gmn dy bs knl sm polisi itu y neeeeeeext figjting eon🙂

  4. jujur kesel pas hyosung masuk lagi ke tubuh sooyoung, lebih seneng dia jd gwishin aja terus sooyoung bisa liat atau apa lah, dr pada masuk ke tubuh sooyoung, huhu tapi seru menguras emosi, dan juga kasian sama kyuyoung ~ semangat authornim ..

  5. disitu Kyu bilang emg tertarik sama Soo dr awal maksudnya awal pertemuannya sama Soo pas Hyosung masuk ke tubuh Soo itu?
    kalo gtu Kyu sukanya sama Soo yg didalemnya ada Hyosung:(
    tapi suka ceritanya, next part ditunggu^^

  6. Kayaknya kyuhyun tetep sukanya sama hyosung ya, karna dia ngerasa nyaman pas hyosung ada didalem tubuh soo. Kalo kaya gitu terus gimana ntar kalo hyosung udah pergi, soo ga bakal inget apa apa tentang kyu?

  7. yanti says:

    Duhh makin seru aja ceritanya.
    Sooyoung udh bisa balik ketubuhnya .. Aku berharapnya sih hyoseung keluar dri tubuh sooyoung . Trus cuma sooyoung yg bisa ngeliat hyoseung. Trus hyoseung minta bantuan sooyoung buat nyelidikin kasusnya dia .
    Jdi sooyoung ngejalanin hidup pake tubuh dia sendiri .

    Dari cerita ini kayaknya sooyoung ama kyuhyun ga bisa sentuhan dehh .
    Aduhh makin penasarann
    Next yaa

  8. Elis sintiya says:

    kasusnya hampir terungkap.. dan Kyuhyun oppa itu sebenernya suka sama soo atau sesuatu yg ada di dalam tubuhnya soo sihh??? membingungkan… semangat ya thor buat part selanjutnya..

  9. summerain says:

    Daebakk! Suka banget sama ceritanyaa dan ceritanya cukup panjang jadi lebih nikmati alurnya. Semoga kyuyoung makin banyak partnyaa yaa hehe Well, keep writing thor! Gak sabar nunggu part selanjutnya🙂

  10. herma pristianti says:

    kasihan sooyoung kayak orang ling lung … misterius ceritanya.aku suka genre genre yang misterius berasa jadi detective soalnya menebak nebak kejadian apa selanjutnya hehehe…next chapt ditunggu thor.

  11. lii ulli says:

    aku suka alutnya.. tapi aku tk suka dgn POV nya karna sooyoung disini partnya sedikit dn lebih dominan hyosung ya meskipun emg dia inti ceritanya. entah punya pikuran kalo kyuhyun tk akn pernah menyukai sooyoung nantinya. huh ini kyak nggk cerita kyuyoung tapi aku suka bagaimana dong … pokoknya next chapt ditunggu semangat..

  12. syiyoung says:

    syukaa di part dua inii feelnya dapet.. soo juga sdh bisa kembali ke tubuh aslinya.. pengennya sih kyu juga tetap ngerasa srekkk ke soo yg sutuhnya asli daripada yg dirasuki haha

    semoga tubuh soo tdk terlalu lama di pinjam deh.. biar ceritanya fokus ke kyuyoung ajah.. apalagi dengan perasaan yg masih labil eh haha

    trus masalah hyeseung juga gk trlalu lm berlarut2 soalnya kasihan soo eon.. kadang2 lupa kadang2 ingat

    buat authornya terima kasih ngeupdatenya cepet.. senangnyooo haha

    next part 3 nya ditunggu

  13. Ehhh kiraiin aku waktu hyosung pnjam tbuh sooyoung dipercepeat gak tau nya dia masuk lagii pdhal dah seneng bngt tpi its okay msalah nya jga bulum kelar jdi criw dlu smoga aja ntar kya gtu trus sooyoung nya mncul
    Ditunggu bngt nextnya ka

  14. kyunies says:

    suka…..
    duh gua kasian ma soo tubuhnya lemes msti
    pa kematian hyosung ntu da hubunganya ma hyomin ya???

  15. Youngra park says:

    Pertama aku senang krn di update cpt eoni trus sooeoni sdh kembali ke tubuhnya sedihny karna bernar yg ku blang sooeoni tdk mengenali kyuppa trus kyuppa jga merasa asing dengan sooeoni yg asli pdahal aku sdh dpt feelny saat kyuyoung yg asli bersama dan senang jga karna kyuppa tetap gugup saat dkat dengan sooeoni yg asli berati dia gk sepenuhny tertarik sma sooeoni krn mntan yeojachiguny bru dia jga merasa takut kehilangan saat sooeoni kenapa2 pokokny part 2ny lebih dpt feelny ku harap next partny moment kyuyoung yg asli lebih bnyk aku suka

  16. ry-seirin says:

    Wah Kyu dah mulai suka to tpi m sp? Ma Sooyoung prbdi or Sooyoung yg d anggap mrip Hyeosung.
    Msih sprti biasa penuh misteri,,,,
    Msih ada typo² d bbrpa bgian tpi msih bsa d pahami katanya chingu.
    D tunggu next partnya.

  17. Makin coumplicated ya crita.A yg pling d.harapkan seeh kyu ttep ngrasa cinta ama syoo wlopun dia jdi dri.A sndri bkan hyoseung.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s