[Series] Once Again, Love -5-

Once Again, Lovee

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   : 10

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

Pertama aku mau minta maaf dulu karena aku gg bisa lanjutin ff-ku yang sebelumnya We Are On Dating karena ada masalah (file-nya kehapus) hiks T__T Padahal aku pengin banget selesaiin tapi feeling-nya udah hilang buat nulis ulang -___-

Jadi aku pilih buat cerita baru aja, dan jadilah ff ini^^ Seperti yang sudah-sudah sebelumnya, ff ini gg jauh dari romantis tapi ada sedikit fantasinya—atau mungkin banyak, hehe! Tapi semoga bisa menghibur kalian semua yah^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

 Kyuhyun POV

Aku duduk di salah satu bangku taman Namsan dengan Sooyoung di sebelahku. Untuk waktu yang cukup lama, kami hanya duduk tanpa ada sedikit obrolan. Yah, sejak aku mengungkapkan padanya bahwa aku menyukainya, suasana diantara kami memang berubah menjadi sedikit canggung. Itu salahku, karena aku dengan mudah mengatakan hal-hal seperti itu di depannya padahal tujuan kami bertemu hari ini adalah untuk membahas sesuatu yang lain. Dia juga pasti terkejut karena mendapatkan pernyataan seperti itu dari seseorang yang baru dia kenal selama beberapa hari. Tapi apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Bahwa aku sudah merasa sangat dekat dengannya meskipun kami baru kenal. Karena alasan itulah yang membuatku berani mengatakan padanya apa yang aku rasakan.

Oppa,” celetuk Sooyoung tiba-tiba—pada akhirnya. Aku menoleh padanya dan menatapnya dengan lekat. “Ani—aku hanya merasa sedikit canggung sekarang,” katanya kemudian.

Nado,” sahutku jujur. “Aku membuat kita menjadi canggung, ‘kan?”

Sooyoung tersenyum tipis, “Aniyo,” katanya. “Itu karena aku—“ kata-katanya terhenti dengan tiba-tiba.

Aku memiringkan kepala, “Apa?”

Aniyo, amugeotdo” kata Sooyoung cepat-cepat. “Em—apa kita akan duduk disini saja atau kau ingin berjalan-jalan?” Dia mengubah topik pembicaraan.

“Ayo kita jalan-jalan,” sahutku seraya bangkit berdiri yang langsung diikuti Sooyoung. “Aku harus kembali ke rumah sakit sebelum pukul 7, jadi sisa waktu ini harus kita manfaatkan dengan baik” kataku sambil mulai melangkah dengan Sooyoung di sebelahku.

Taman Namsan di musim semi sama indahnya dengan taman-taman lainnya. Pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan menampilkan warna khas cherry blossom yang indah dengan rumput-rumput hijau di hampir seluruh taman. Sebenarnya hari ini adalah hari yang indah untuk berjalan-jalan romantis menyusuri taman-taman dan menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai masing-masing. Sayangnya, itu tidak terjadi padaku untuk hari ini. Meskipun sekarang aku sedang bersama Sooyoung yang notebene adalah yeoja yang aku sukai, tapi aku tidak bisa melakukan banyak hal dengannya karena dia masih belum menjadi yeojachingu-ku—kecuali mungkin hanya duduk bersama atau jalan-jalan seperti ini. Tapi kurasa itu sudah cukup untukku mengingat hal seperti ini merupakan salah satu hal yang ingin aku lakukan dengan seseorang yang spesial, dan kali ini aku melakukannya bersama Sooyoung.

“Apa kau menikmatinya?” tanya Sooyoung tiba-tiba setelah kami berjalan cukup jauh dari tempat semula.

Oh?”

“Berjalan-jalan seperti ini. Bukankah kau ingin melakukannya?” Sooyoung berbicara lagi, lebih menjelaskan. “Sekarang kau melakukannya, jadi aku bertanya apa kau menikmatinya, oppa” katanya seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk singkat. “Aku menikmatinya” kataku menyahut. “Rasanya menyenangkan sekali karena aku bisa melakukan salah satu hal yang ingin aku lakukan”

Geurae? Nado,” sahut Sooyoung tanpa menatapku.

Kedua alisku saling bertaut mendengar perkataannya, tapi aku memilih untuk tidak menanggapinya.

Oppa, kau mau naik ke Seoul Tower?” seru Sooyoung sambil menunjuk ke arah sebuah tangga yang memang akan membawa kami menuju ke Namsan Cable Car. “Dari atas sana pasti pemandangannya indah, ‘kan?”

Em. Kau mau?”

Sooyoung menganggukkan kepala.

Geureom, kajja” ajakku sambil berjalan dengan penuh semangat di depan Sooyoung. Sebenarnya tanpa menaiki tangga pun, ada jalan lain untuk menuju Namsan Cable Car, yaitu sebuah elevator miring. Hanya saja untuk sampai ke sana kami harus berputar lagi dan itu akan memakan waktu yang cukup lama karena aku memang harus kembali ke rumah sakit.

Oppa,” seru Sooyoung setelah beberapa saat.

Aku menolehkan kepala dan cukup terkejut karena Sooyoung tertinggal dariku beberapa anak tangga. “Waeyo? Himdeuro?” tanyaku saat melihatnya menghela napas beberapa kali.

Ah… aniyo, gwenchanayo. Kau tunggu saja aku di atas, oppa”  kata Sooyoung sambil tersenyum ke arahku. “Nan jinjja gwenchanayo,” Dia menambahkan.

Aku menautkan kedua alis, lalu menyunggingkan segaris senyum tipis dan turun kembali ke tempat Sooyoung. Tanpa ragu akupun melingkarkan sebelah tanganku di punggungnya dan memegangi bahunya untuk membantunya berdiri dengan stabil. Sooyoung menatapku dengan lekat atas apa yang aku lakukan, tapi aku mengabaikan pandangannya itu.

“Aku tak mau duluan,” kataku memberitahu Sooyoung, lalu akupun menggandeng tangannya. “Kajja,” ajakku seraya mengajaknya untuk berjalan bersamaku.

Beberapa kali aku menyadari pandangan mata Sooyoung yang mengarah pada tangan kami yang saling berpegangan. Meskipun begitu, aku tak melepaskannya dan bahkan menggenggamnya dengan lebih erat. Aku tak tahu kenapa genggaman tangan Sooyoung ini terasa hangat dan aku seperti sudah terbiasa menggenggamnya. Semua perasaan itu—jantung yang berdebar kencang, rasa gugup, hangat dan sebagainya, kembali bisa aku rasakan, dan aku sangat menikmatinya. Aku bahkan berharap perjalanan sampai ke Namsan Cable Car masih jauh agar aku bisa mengenggam tangan Sooyoung lebih lama.

Jamkkamanyo—“ kataku sambil melepas tangan Sooyoung—dengan terpaksa, karena aku harus membeli tiket terlebih dahulu. “Tunggu disini sebentar,” kataku memberitahu Sooyoung sambil menunjuk ke arah tempat penjualan tiket.

Aku bergegas membeli dua buah tiket, untukku dan Sooyoung. Setelah mendapatkannya, aku kembali menghampiri Sooyoung yang sedang berdiri di samping pagar sambil menatap lurus ke pemandangan di bawah kami. Langkahku terhenti karena entah bagaimana aku melihat Hyosung sedang berdiri di tempat dimana Sooyoung berdiri. Dia juga sedang membelakangiku, sama seperti Sooyoung. Aku membeku sesaat di tempatku, terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha memastikan apa yang aku lihat. Tapi saat dia menolehkan kepala, wajah Sooyoung-lah yang muncul dan meskipun jantungku sempat berdebar kencang, aku merasa lega karena mungkin itu hanyalah halusinasiku saja.

Oppa, gwenchanayo?” tanya Sooyoung yang sudah berada di hadapanku.

Aku kembali mengerjap, lalu cepat-cepat berbicara. “Eo, gwenchanayo

Sooyoung menatapku lekat, “Sudah dapat tiketnya?”

Aku mengangguk sambil menunjukkan dua buah tiket di tanganku. Sooyoung tersenyum singkat, lalu dia melangkah kembali ke arah pinggir pagar. Aku memperhatikan yeoja itu sesaat sebelum pada akhirnya menghampirinya. Jantungku masih berdebar karena apa yang aku lihat tadi tapi aku berusaha keras untuk menghilangkannya. Itu pasti rasa bersalahku pada Hyosung yang memunculkannya dalam pandanganku karena aku menyukai yeoja lain. Haruskah aku berbicara padanya dan meminta ijin darinya agar aku tak lagi merasa bersalah?

Oh, cable car-nya datang” Seruan Sooyoung itu membuatku tersadar dari lamunan. Aku menolehkan kepala dan melihat sebuah cable car yang mendekat ke arah kami. “Oppa, kajja” ajak Sooyoung kemudian.

E-Eo,” sahutku seraya mengikuti langkah kaki Sooyoung.

Kami masuk ke dalam cable car begitu pintunya terbuka bersama orang-orang lainnya yang sudah menunggu. Karena cukup ramai, aku memilih untuk mengajak Sooyoung ke sudut cable car dan melindunginya dari orang-orang yang saling berdesakkan. Jarak tubuhku dan Sooyoung sangat dekat, dan aku khawatir dia bisa mendengar suara degup jantungku yang kencang. Aku berusaha untuk tidak terlalu sering menatap mata Sooyoung dan memilih untuk melihat pemandangan Seoul dari dalam cable car.

Setelah beberapa saat, akhirnya kami tiba di halaman Seoul Tower dan keluar bersama orang-orang lainnya. Aku mengajak Sooyoung ke tempat yang tidak terlalu banyak orang dan memilih untuk tidak kembali menaiki tangganya yang mengarah langsung ke Seoul Tower. Karena pemandangan disinipun cukup indah dengan beberaa tempat untuk menanam bunga, gembok cinta, observatory dan lainnya. Sebenarnya aku tak masalah jika harus melewati tangga untuk kedua kalinya, tapi aku khawatir Sooyoung akan kelelahan. Jujur, tempat ini saja sudah cukup bagiku dan aku juga sangat menikmatinya sejauh ini.

“Yah—yeoksi, tempat seperti ini memang paling cocok untuk orang-orang seperti mereka” komentar Sooyoung pada beberapa pasangan kekasih yang kami lewati. “Sepertinya hanya kita yang datang kesini tidak untuk tujuan seperti mereka. Benar ‘kan, oppa?”

Aku tersenyum singkat, “Geureom, bagaimana kalau kita menjadi seperti mereka untuk satu jam?”

Oh?”

“Kau bisa mengalungkan tanganmu di lenganku, atau aku merangkulmu seperti mereka” kataku sambil menunjuk ke dua pasangan kekasih yang sedang berjalan berpapasan dengan kami. “Ah, kita juga bisa berbagi minuman seperti mereka” Kali ini aku menunjuk ke pasangan yang sedang duduk di salah satu bangku taman yang sedang menikmati minuman.

Sooyoung menatap sekelilingnya sebelum dia memberiku tanggapan. “Apa kau benar-benar ingin melakukannya?”

Ani, tapi bukankah katamu—“

Ireohke?” sela Sooyoung yang tiba-tiba mengalungkan tangannya di lenganku. Tubuh kami saling menempel dan itu cukup membuatku sedikit tersentak kaget. “Dwaesseo?”

E-Eo,” jawabku menyembunyikan kegugupanku.

Senyum Sooyoung mengembang kepadaku sebelum dia memalingkan wajahnya ke sekelilingnya. Pandangan mataku terus menatap ke arah Sooyoung sampai dia kembali menolehkan kepalanya. Kami berhenti melangkah, dan aku tak berusaha mengalihkan pandanganku darinya, dan itu membuatku dan Sooyoung saling menatap satu sama lain. Ini adalah pertama kalinya aku melihat wajah Sooyoung dengan jarak sedekat ini, dan tanganku bergerak dengan sendirinya untuk memegang pipinya lalu mengusapnya dengan lembut. Aku tahu bahwa sekarang aku benar-benar menyukainya dan itu bukanlah suatu keputusan yang salah jika aku mengungkapkan perasaanku padanya lebih awal. Sekarang aku hanya berharap jika dia juga memiliki perasaan yang sama denganku meskipun sepertinya aku harus menunggu dia menjawabnya.

__

Sooyoung POV

“Yoona-ya, jika kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku sambil melamun.

Yoona yang semula akan memakan tteokpokki di hadapannya langsung mencuatkan sebelah alis. Dia menoleh padaku, “Apa maksudmu?” Dia kembali melanjutkan kegiatan makannya sebelum akhirnya berbicara lagi. “Kau bahkan belum menceritakan apapun padaku, jadi kenapa kau bertanya?”

Aku menunduk, menatap tteokpokki yang sama sekali belum aku sentuh di depanku.

Ya!”

“Kurasa aku harus cepat membuat keputusan,”  kataku pelan.

Yoona memakan tteokpokki-nya dengan sangat bersemangat. “Memangnya keputusan seperti apa?”

Geunyang—“

Yoona meletakkan kembali sumpitnya karena tanggapanku yang bahkan tidak menjawab pertanyaannya. “Kau sebenarnya berencana untuk menceritakan apa yang terjadi padamu atau kau hanya sekedar ingin aku menemanimu menikmati tteokpokki di pinggiran Sungai Han?”

Aku tersenyum singkat tanpa menoleh. Pandanganku lurus mengarah pada sungai Han dengan pemandangan bunga cherry blossom di sepanjang tepiannya. Sebenarnya aku ingin menceritakan pada Yoona semua hal yang terjadi padaku, termasuk aku bukanlah Choi Sooyoung—sahabatnya. Tapi bukankah cheonsa yeoja itu melarangku untuk memberitahukan identitasku yang sebenarnya? Lalu bagaimana aku akan memberitahu Yoona tentang apa yang sedang aku pikirkan?

“Sooyoung-ah, neo jinjja!” dengus Yoona menahan kesal.

Geurae, arraseo” sahutku pada akhirnya. Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum berbicara. “Kau tahu bukan bahwa aku dan—dan Jae Hoon oppa… yah katakan saja kita dekat”

Kedua alis Yoona saling bertaut, “Katakan saja? Ya! Kalian memang dekat,”

Aku menoleh ke arah Yoona dan menatapnya dengan lekat. Tak tahu harus berekspresi bagaimana dan memberi tanggapan apa karena aku benar-benar tak merasa dekat dengan namja itu, kecuali mungkin Sooyoung sendiri.

Wae? Kenapa dengan Jae Hoon oppa?” tanya Yoona mengabaikan sikap diamku dan juga pandanganku. “Ya! Neo Hoksi… apa kau memutuskan untuk berkencan dengannya?”

Mwoya… aku bahkan belum mengatakan apapun tapi kau sudah mengambil kesimpulan seperti itu,” kataku menanggapi. “Aniya, aku tidak berkencan dengannya”

Geuraesseo?”

Aku menimbang-nimbang. Apa aku sebaiknya mengatakan hal ini pada Yoona?

“Sooyoung-ah?” panggil Yoona lebih berhati-hati.

“Aku—“ Aku diam sesaat, masih ragu apa aku benar-benar harus mengatakannya atau tidak. Tapi kemudian akupun menghela napas singkat dan kembali berbicara. “—kurasa aku menyukai seseorang, tapi bukan Jeon Jae Hoon. Dia—namja itu—“

“Cho Kyuhyun-ssi?”

Oh?” celetukku terkejut. “Eo-eotteoke arraseo?”

Ya! Kau pikir aku dan Yuri tak tahu apapun?” sahut Yoona dengan cepat. “Kami tahu kau sering bertemu dengan dokter Cho. Tidak hanya untuk melakukan perawatan atau terapi, tapi lebih dari itu. Kau bahkan beberapa kali menghabiskan waktu dengannya”

Aku terpekur dengan perkataan Yoona itu. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika kedua sahabatku akan memperhatikanku seperti itu.

Geuraesseo… kau menyukainya, ‘kan?” Yoona kembali berbicara. “Sudah berapa lama?” tanyanya lagi.

Geurissae—“ sahutku menghindari pandangan mata Yoona. Aku memilih untuk menatap ke arah tteokpokki di tanganku. “Namja itu juga menyukaiku dan dia—“

Nuga? Cho Kyuhyun-ssi?”

Aku diam sesaat, lalu mengangguk pelan.

Heol~daebak. Apa sekarang kalian berkencan?” tanya Yoona terkejut. Dia bahkan melupakan tteokpokki-nya, dan menatapku dengan lekat meskipun aku terus memilih untuk menghindarinya. “Kalian berkencan?” ulang Yoona.

Ani, ajik—“

Ajik?” celetuk Yoona terkejut. “Geureom, kau berencana untuk berkencan dengannya dan melupakan Jae Hoon oppa?”

Aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa kali ini. Bukan karena aku tak mau menjawab, tapi karena aku tak tahu harus mengatakan apa. Jika ada orang yang bertanya seperti itu padaku—jujur saja, aku sangat ingin menjawab bahwa aku ingin berkencan dengan Cho Kyuhyun. Tapi aku tak mungkin mengatakannya dengan mudah mengingat aku bukanlah Choi Sooyoung yang sebenarnya. Aku juga khawatir jika aku membuat keputusan tanpa memikirkannya lebih jauh, itu akan berdampak pada Choi Sooyoung sendiri.

Ya! Jae Hoon oppa eotteoke?” Yoona masih terus bertanya padaku. “Dia selama ini sudah sangat baik padamu, dan dia juga jelas menyukaimu dari awal. Apa kau akan membuangnya begitu saja?”

“Aku tidak membuangnya atau bagaimana,” sahutku meskipun aku cukup terkejut dengan pilihan kata Yoona itu. “Memangnya aku pernah mengatakan bahwa aku menyukai Jae Hoon oppa?”

Ani—tapi—“

“Kenapa kau tak menyukaiku?” sambung sebuah suara dari arah belakang yang cukup membuatku dan Yoona terkejut. Kami menolehkan kepala dan melihat Jeon Jae Hoon sedang berdiri di belakang kami dengan ekspresi tidak percaya. Pandangan matanya mengarah lurus ke arahku, dan aku benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana. “Kenapa kau tak menyukaiku, Sooyoung-ah?” Jae Hoon kembali bertanya.

Aku diam saja dan memilih untuk mengalihkan pandanganku dari Jae Hoon. Aku tak pernah menyangka dia akan datang kesini dan mendengar pembicaraanku dengan Yoona. Tapia pa dia mendengarnya dari awal atau hanya saat aku mengatakan bahwa aku tidak menyukainya?

“Sooyoung-ah,” suara Je Hoon memanggil dan aku mendapat sentuhan di siku dari Yoona. Membuatku mau tak mau kembali menolehkan kepala ke arah namja itu. “Ayo kita bicara. Gwenchanayo, Yoona-ya?” kata Jae Hoon lagi.

Ne, gwenchanayo, oppa” jawab Yoona sambil tersenyum pada Jae Hoon sebelum dia menoleh padaku. “Ya! Pergilah dan jelaskan padanya apa yang sedang terjadi padamu. Selesaikan semuanya sebelum itu semakin jauh” bisiknya padaku.

Aku mendesah pelan, lalu bangkit dari tempat dudukku. “Geuraeyo,” kataku pada Jae Hoon. “Jamkkaman—“ Aku berpamitan pada Yoona sebelum mengikuti Jeon Jae Hoon melangkah pergi ke sisi lain taman.

Namja itu mengajakku duduk di rumput di pinggiran sungai Han, tapi tak ada yang dia katakan untuk beberapa saat. Akupun memilih diam karena—jujur saja, aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa di depannya. Lagipula dia yang ingin berbicara padaku, jadi sebaiknya aku menunggunya yang memulai pembicaraan. Bukankah lebih baik untuk tetap diam saat ini?

“Sooyoung-ah,” Pada akhirnya Jae Hoon berbicara, dan itu cukup membuatku lega karena aku tidak lagi merasa canggung harus duduk seperti ini tanpa ada obrolan apapun. “Apa—apa yang kau katakan itu benar?”

Aku mendesah pelan, seakan-akan mengetahui itulah hal yang akan Jae Hoon katakan sekali dia membuka mulutnya. “Aniya,” kataku.

Jae Hoon menatapku lekat, “Aniya? Jadi, kau menyukaiku?”

Eo,” kataku datar. “Tapi kurasa bukan suka seperti bagaimana kau menyukaiku” Aku menambahkan dengan terpaksa demi hubungan baik Sooyoung dengan Jae Hoon.

Kedua alis Jae Hoon saling bertaut, “Aku tidak mengerti—“

“Kau mengerti. Kau hanya berpura-pura tidak mengerti. Majayo?” selaku dengan cepat karena aku tak mau jika aku sampai salah berbicara. “Jujur saja, aku tak bisa mengatakan banyak padamu untuk sekarang”

Wae?”

Geunyang—“ Aku diam sesaat untuk berpikir harus mengatakan apa lagi.

“Itu bukan karena namja lain, ‘kan?”

Namja lain?”

Jae Hoon mengangguk, dan aku memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apapun untuk bisa mengendalikan situasi. Aku menatap Jae Hoon yang ternyata membalas memandangiku, tapi kemudian dengan cepat aku memalingkan wjah darinya. Aku benar-benar tak mau terlalu lama memandangi namja ini dan bahkan sebisa mungkin aku menghindari mata hitamnya. Bukan karena aku khawatir jika aku akan menyukainya atau bagaimana, tapi lebih karena aku tak mau memunculkan perasaan tidak sukaku padanya saat aku meminjam tubuh Sooyoung ini. Biar bagaimanapun aku harus selalu menghindarkan Sooyoung dari masalah yang mungkin bisa mengacaukan hidupnya karena aku tidak berhati-hati.

“Apa kau sedang ada masalah?” tanya Jae Hoo tib-tiba setelah kami diam selama beberapa saat, dan aku sama sekali tak menjawab menanggapi perkataannya sebelumnya. “Marhaebwa, aku akan membantumu”

Aniya, gwenchana” jawabku berusaha menujukkan ekspresi sebiasa mungkin. “Geunyang—ada banyak hal yang sedang aku pikirkan”

“Apa itu? Bolehkah aku mengetahuinya?”

Aku diam, dan tidak menjawab.

“Choi Sooyoung, neo jinjja—“ Jae Hoon menatapku dengan lekat, lalu dia menghela napas panjang dan tak mengatakan apa-apa lagi.

Aku cukup terkejut mendapati tatapan Jae Hoon yang mengarah padaku itu. Untuk sesaat aku bahkan berpikir bahwa dia seperti bukan Jeon Jae Hoon  yang selama ini aku kenal. Tapi dengan cepat aku menyadari jika Jae Hoon yang ini adalah namja yang berbeda saat dia bersama dengan yeoja yang dia sukai. Jadi akupun tetap bisa mengendalikan diriku dan melihatnya sebagai sepupuku yang mungkin saja terlibat dalam penyebab kematianku. Bukankah aku masih harus mencari tahu banyak hal tentang kematianku? Aku benar-benar tak boleh melupakan hal itu meskipun masalah perasaanku dengan Cho Kyuhyun terus melekat di dalam pikiranku.

__

Kyuhyun POV

Aku menatap ponsel yang tergeletak di atas meja sambil menghela napas panjang. Ini sudah lebih dari tiga hari setelah aku mengakui perasaanku pada Sooyoung—dan ‘berkencan’ dengannya di Taman Namsan, tapi kami tak pernah bertemu satu sama lain lagi. Aku tak tahu alasan kenapa kami tidak saling bertemu lagi, tapi aku yakin itu bukan karena Sooyoung menghindariku. Dia bahkan belum mengatakan apapun padaku tentang perasaannya, itu berarti ada kemungkinan jika aku akan bertemu dengannya lagi—yang sayangnya aku tak tahu entah kapan itu.

“Apa aku harus meneleponnyadan mengajaknya bertemu sekarang?” tanyaku pada diri sendiri sambil terus memandangi ponselku. “Ah, sial!” dengusku kesal sambil melonggarkan ikatan dasiku.

Aku menyambar ponsel dan langsung mencari nama Sooyoung lalu menekannya. Nada hubung mulai terdengar, dan jantungku pun mulai berdebar kencang. Ini memang bukan pertama kalinya aku meneleponnya tapi entah kenapa aku selalu merasa gugup setiap kali harus berbicara dengannya. Selama ini aku selalu berhasil mengendalikan diriku di depan Sooyoung meskipun aku tak tahu apa yeoja itu bisa melihat kegugupanku atau tidak.

Yeoboseyo?” sahutku secara refleks setelah Sooyoung mengangkat ponselnya.

Ne, yeoboseyo” balas Sooyoung.

Aku tersenyum sesaat begitu mendengar suaranya lagi, tapi kemudian aku cepat-cepat menyahut. “Jal jinaesseoyo?” tanyaku.

Eo, jal jinaesseoyo” kata Sooyoung. “Ada apa?” tanyanya kemudian.

Oh?”

“Ada apa kau meneleponku, oppa?” Sooyoung mengulang pertanyaannya lebih jelas. “Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?

Ah, emm—eo. Apa kau ada waktu?”

Butuh beberapa detik sebelum Sooyoung menjawab “Ya” dengan suara yang sangat pelan.

Setelah berjanji dengan Sooyoung, akupun menutup sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari ruanganku. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit, aku menyempatkan diri untuk menulis laporan di meja administrasi dan menyapa beberapa orang disana. Karena akupun tak mungkin pergi begitu saja tanpa memberitahu seseorang, khususnya perawat yang sedang berjaga. Jadi saat ada orang yang mencariku dan bertanya pada bagian informasi, perawat yang disana akan bisa menjawabnya.

“Dokter Cho, kau harus membawakan kami Macchiato saat kau kembali” seru Kim Hana, salah satu perawat yang selalu menggodaku. Dia lebih tua dariku sekitar 2 tahun, dan perawat yang paling suka bercanda saat waktunya tidak serius. Meskipun begitu, dia juga perawat yang sangat bertanggung jawab dalam tugas-tugasnya. “Kau bahkan belum membelikan kami apapun, ‘kan? Setelah kau pulang dari training-mu itu, maksudku”

Aku tertawa pelan, “Ne, arraseoyo, noonim” jawabku sambil melambaikan tangan ke arahnya dan melangkah pergi meninggalkan meja administrasi.

Aku membalas setiap sapaan yang datang padaku dengan senyuman ramah sebelum masuk ke dalam lift. Begitu pintu lift-nya kembali membuka di lobby, kakiku pun melangkah menyebranginya sampai akhirnya tiba di tempat dimana mobilku terparkir. Tanpa menunggu apapun lagi, aku bergegas menaikinya dan melajukannya di jalanan Seoul. Selama perjalanan, aku terus memikirkan Sooyoung seperti yang selalu aku lakukan beberapa hari ini. Sikap anehnya itu memang belum aku ketahui penyebabnya sampai saat ini, tapi—mengabaikan hal itu, kurasa Sooyoung satu-satunya yeoja yang berhasil membuatku tertarik padanya dalam waktu yang sangat singkat. Saat aku bersama Hyosung, kurasa aku tidak secepat itu menyukainya meskipun caraku berkenalan dengannya sama dengan cara Sooyoung berkenalan denganku. Yah, benar… Hyosung dulu juga adalah pasienku, sama seperti Sooyoung.

Tak sampai satu jam, aku sampai di Cheonggyecheon—tempat dimana aku dan Sooyoung berjanji untuk bertemu. Jujur saja, aku cukup terkejut saat dia menyebutkan tempat itu saat aku mengajaknya bertemu. Karena kupikir dia hanya akan memintaku datang ke restoran atau ke suatu tempat di kawasan Sinchon. Tapi ternyata aku salah karena dia justru memilih Cheongghyecheon sebagai tempat kami bertemu. Meskipun itu membuatku berpikir bahwa dia ingin menikmati beberapa waktu denganku mengingat tempat itu adalah tempat yang biasanya dimanfaatkan suatu pasangan untuk berkencan dan menghabiskan waktu bersama.

“Kyuhyun oppa” panggilan itu langsung membuatku menolehkan kepala begitu aku keluar dari mobil, dan melihat Sooyoung sedang berdiri di samping pagar batu Gwangtonggyo—jembatan terbesar di atas Cheonggyecheon, sambil melambaikan tangan ke arahku.

Aku tersenyum, lalu bergegas menghampirinya. “Apa kau sudah lama menunggu?” tanyaku begitu sampai disamping Sooyoung.

“Sekitar 10 menit,” jawab Sooyoung langsung. “Tempat ini lebih dekat dari restoran daripada rumah sakit, ‘kan?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan. “Aku senang bertemu denganmu lagi, jujur saja” kataku berbicara apa adanya. “Aku khawatir kau menghindariku karena apa yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu”

“Kenapa aku menghindarimu?”

Kedua bahuku terangkat, “Mungkin kau tidak suka atau tidak nyaman dengan sikapku atau bagaimana”

Sooyoung tersenyum tipis lalu dia memalingkan kepala menatap sungai Cheonggye di bawah kami. “Tidak, aku tak mungkin begitu” katanya tanpa menatapku. “Geunyang—ada banyak hal yang aku lakukan dan memikirkan banyak hal juga”

“Memikirkan banyak hal?” ulangku. “Seperti apa misalnya?”

“Mengamati beberapa orang dan hal-hal lainnya,” jawab Sooyoung masih belum menatap ke arahku. Tapi kemudian dia menoleh dengan senyuman mengembang di wajahnya. “Kau tahu, itu untuk membantuku mengingat hal-hal kecil karena ingatanku belum sepenuhnya kembali”

Ah,” sahutku berkomentar. “Geureom, apa kau membutuhkan bantuanku?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Itu hanya hal-hal kecil yang biasa aku temukan di sekitarku, dan aku juga sedang mempelajari informasi-informasi kecil itu jadi aku bisa melakukannya sendiri” katanya hanya menatapku sesaat sebelum dia mengalihkan pandangan ke arah lain.

Aku mendesah pelan, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa sebagai tanggapan dari perkataannya. Meskipun ada banyak hal yang ingin aku katakan tapi sepertinya lebih baik aku sedikit menahan diri. Bagaimana jika aku terlalu memaksakan diri itu justru akan membuat Sooyoung menjadi tidak nyaman denganku? Tentu saja aku harus menghindari hal itu karena aku bahkan tak tahu harus bagaimana jika Sooyoung benar-benar menghindariku.

“Kau mau jalan-jalan ke bawah, oppa?” tanya Sooyoung padaku dengan tiba-tiba.

Tanpa banyak berpikir akupun menganggukkan kepala.

Kami menuruni tangga dan berjalan beriringan menyusuri Cheonggyecheon. Beberapa kali aku melirik Sooyoung, dan melihat yeoja itu hanya terus menatap lurus ke arah depannya. Kedua alisku saling bertaut melihatnya, tapi aku tetap memilih untuk diam meskipun aku yakin pasti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Haruskah aku bertanya atau menunggunya berbicara padaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Sooyoung-ah,” panggilku pada akhirnya.

Sooyoung memiringkan kepalanya dan memasang tatapan penasaran padaku. “Waeyo?”

Ani… kau kelihatan sedang memikirkan sesuatu, dan aku tak tahu apa aku berhak bertanya atau tidak padamu” kataku jujur pada akhirnya.

Sooyoung tersenyum, “Kenapa begitu?”

“Yah—karena aku doktermu dan hubungan kita belum dari itu, jadi—“

“Bukankah kita juga teman?” sela Sooyoung dengan cepat. “Kau bukan hanya sekedar dokterku, oppa. Jujur saja, aku juga menyukaimu”

Ne?”

Geurae, aku memang menyukaimu tapi aku tidak dalam kondisi untuk berkencan sekarang. Itulah yang sedang aku pikirkan,” kata Sooyoung yang cukup membuatku terkejut. “Aku berpikir bagaimana untuk mengatakannya padamu, jadi yah—“

Ani, jamkkaman. Kau—kau menyukaiku?” Aku memotong perkataannya.

Sooyoung mengangguk.

“Tapi kau tidak bisa berkencan denganku? Itu maksudmu?” Aku melanjutkan bertanya sambil mencerna kata-kata yang baru saja Sooyoung katakan. “W-Waeyo?”

Geunyang—“ Sooyoung berhenti sesaat dan terlihat sedang berpikir. Tapi beberapa detik kemudian, dia kembali membuka mulut. “Aku harus menyelesaikan sesuatu sebelum aku memutuskan untuk berkencan. Lagipula Hyosung-ssi…”

“Hyosung-ie?” celetukku.

Sooyoung berhenti melangkah, lalu dia menoleh ke arahku. “Aku tak tahu orang akan menyebutmu apa jika kau berkencan dengan yeoja lain bahkan sebelum 49 hari sejak kepergian yeojachingu-mu”

Aku terdiam mematung di tempatku mendengar apa yang Sooyoung katakan itu. Kata-kata itu seperti sebuah pedang yang menusuk tubuhku, bahkan sampai membuatku tak tahu harus mengatakan apa. Jujur saja, akupun tak tahu kenapa aku bisa semudah itu menyukai Sooyoung dan mengatakan perasaanku itu padanya. Padahal disisi lain, aku—terkadang masih merindukan Hyosung. Tidak mungkin apa yang aku rasakan pada Sooyoung itu karena aku merindukan sosok Hyosung, ‘kan? Karena banyak sekali kemiripan diantara dua yeoja itu yang bahkan tidak bisa aku ketahui alasannya.

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum kembali melangkah bersama Sooyoung. Kami berdua sama-sama diam selama melangkah menyusuri Cheonggyecheon yang ramai dengan pasangan-pasangan serta wisatawan-wisatawan asing.

Oppa, gwenchanayo?” celetuk Sooyoung tiba-tiba, membuatku sedikit tersentak kaget karena aku sedang memperhatikannya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan sambil mendengarkan apa yang dikatakan olehnya. “Mianhaeyo, karena aku belum bisa menerimamu untuk sekarang” katanya lagi.

Aku menolehkan kepala lalu tersenyum, “Gwenchanayo” kataku. “Kau belum bisa menerimaku sekarang bukan berarti kau tak bisa menerimaku nantinya, ‘kan?”

Ne?”

Aku tersenyum tipis, “Aku senang mendengar bahwa kau juga menyukaiku” kataku melanjutkan. “Mengetahui kau tidak bisa menerimaku sekarang, bagiku itu justru terdengar seperti kau sedang memberiku kesempatan untuk untuk lebih menunjukkan perasaanku padamu”

Sooyoung tidak bereaksi. Dia hanya memandangiku dengan lekat, membuat jantungku berdebar-debar karenanya.

Geureom… kita bisa tetap seperti ini, ‘kan?” tanyaku mengabaikan sikap diam Sooyoung. “Meskipun kau tak bisa menerimaku sekarang, tapi kau tak akan menghindariku ‘kan?”

Sooyoung mengangguk dengan senyum tersungging di wajahnya.

Lalu saat kami baru sampai di Historic laundry site—dan belum memasuki kawasannya, Sooyoung tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku ikut berhenti dan dengan bingung menatap Sooyoung yang sedang memandang jauh ke suatu arah. Meskipun aku tak mengerti apa yang sedang dia lihat, tapi akupun mengikuti arah pandangannya. Sambil memicingkan mata, aku melihat Jeon Hyomin sedang berbincang dengan seorang namja muda berpakaian semi formal dengan setelan jas hitamnya. Mereka menunjuk-nunjuk ke sesuatu yang sedang di pegang Hyomin dan berdiskusi dengan sangat serius.

Nuguji?” gumaman Sooyoung itu terdengar olehku, dan aku melihatnya menautkan kedua alis. “Aku tak pernah melihat namja itu sebelumnya,” Dia kembali bergumam.

“Apa menurutmu Hyomin-ssi terlihat mencurigakan, Sooyoung-ah?” kataku yang berhasil mengalihkan perhatian Sooyoung dari Hyomin dan namja itu. “Mengenai kematian Hyosung-ie maksudku” Aku menambahkan setelah melihat ekspresi bingung di wajah Sooyoung.

Geurissae—“ jawab Sooyoung tidak yakin. “Aku tidak bisa mencurigai siapapun, ‘kan? Kurasa itu bukan tugasku juga, jadi—“ Sooyoung kembali menatap ke arah Hyomin lagi, dan aku tahu bahwa sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan yeoja itu disana.

“Kau ingin kesana dan mencari tahu?” celetukku kemudian.

Ne?”

Tanpa menunggu persetujuan Sooyoung, aku langsung menarik tangannya dan mendekat ke arah Hyomin dan namja itu yang masih berbincang. Mereka ada di atas jembatan yang merupakan jembatan masuk ke Cheonggyecheon. Dengan hati-hati, akupun mengajak Sooyoung untuk berdiri di dekat kedua orang itu dengan posisi memunggungi mereka dan kami berpura-pura seperi pasangan-pasangan lainnya yang sedang menikmati waktu di atas jembatan ini. Aku yakin sekali tidak akan ada orang yang mencurigai apa yang sedang kami lakukan mengingat ada banyak pasangan juga yang berdiri disini sambil menatap ke arah sungai di bawah. Yah, aku harap begitu.

__

Sooyoung POV

“Jadi, kau sudah pergi kesana dan tak menemukan siapapun?” Suara Hyomin langsung terdengar olehku saat Kyuhyun mengajakku mendekat ke arahnya yang sedang berbicara dengan seorang namja asing. “Bagaimana dengan keluarga lainnya?”

“Aku juga tidak menemukan siapapun yang merupakan keluarganya,”

Kedua alisku saling bertaut mendengar percakapan dua orang itu. Satu hal yang pasti, Hyomin sedang mencari sesuatu atau mungkin seseorang tapi apa itu ada hubungannya dengan kematianku?

“Teruslah mencari, dan pastikan kau langsung menghubungiku jika kau menemukan sesuatu. Arraseo?”

Ne, algeseumnida

Geuraesseo, bagaimana dengan pencarian di tempat lainnya?” Hyomin kembali bertanya. “Kau menunjukkan foto ini bukan saat kau mencarinya?” Dia menunjukkan lagi selembar kertas yang tidak bisa aku lihat ke depan namja itu.

“Apa hanya itu satu-satunya foto yang Anda punya?” tanya namja itu.

Hyomin mengangguk, “Ini foto yang tersisa, jadi pastikan kau menyimpannya dengan baik dan kau juga harus menemukannya” katanya. “Aku tak akan bisa melakukan apapun selama aku belum bisa menemukan orang itu. Arraseo?!”

Ne,”

Mwoya… apa dia sedang mencari seseorang?” gumam Kyuhyun padaku. Posisi kami masih sama, memunggungi Hyomin dan menghadap ke arah sungai Cheonggye. “Itu sudah pasti dia sedang mencari seseorang, ‘kan?”

Aku hanya memberikan anggukkan singkat karena perhatianku kembali sepenuhnya pada Hyomin yang terus berbicara pada namja itu. Dari apa yang aku dengar, dia memang sedang mencari seseorang yang sepertinya tidak tinggal di Seoul. Dia terlihat ingin sekali menemukan orang itu karena sebelum menemukannya, dia tak bisa melakukan apapun. Tapi apa maksudnya dia tak bisa melakukan apapun? Kurasa memang ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi disini, dan bukankah saat itu Jeon Jae Hoon juga mengatakan bahwa dia sedang membantu Hyomin melakukan sesuatu? Apa maksudnya ini?

“Pergilah, dan berikan aku kabar secepatnya. Aku tak mau terlalu lama menunggu,” kata Hyomin lagi sambil menyuruh namja di depannya untuk pergi. “Aku akan mengirimkan uangnya ke rekeningmu, jadi usahakan kau harus bekerja dengan efisien”

Algeseumnida” jawab namja itu dengan senyum lebarnya. “Geureom,” katanya sambil membungkukkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Hyomin.

Begitu namja itu pergi, Hyomin tidak langsung pergi. Tapi dia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya dan menatap ke arah sungai Cheonggye. Membuatku dan Kyuhyun harus pintar-pintar bersembunyi agar dia tak melihatnya. Mungkin jika saat itu Jae Hoon belum mengenalkanku pada Hyomin, aku tak akan perlu bersembunyi seperti ini. Tapi dia sudah mengenalku, dan dia juga mengenal Kyuhyun. Bukankah itu akan menimbulkan tanda tanya besar jika dia melihatku sedang bersama Kyuhyun disini?

“Hyosung-ah,” desah Hyomin—dan aku bersumpah aku bisa mendengarnya dengan jelas memanggil namaku itu.

Aku dan Kyuhyun saling menatap, dan kurasa Kyuhyun juga mendengar apa yang aku dengar. Detik berikutnya, Hyomin melangkah pergi meninggalkan jembatan. Aku sempat melihat ekspresi sedihnya yang tidak biasa di wajahnya, membuat keningku kembali berkerut. Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa dia memanggil namaku dengan cara seperti itu. Bahkan ekspresi itu, aku baru pernah melihatnya seumur hidupku.

Isanghae, majjyeo?” celetuk Kyuhyun setelah memastikan Hyomin tidak terlihat lagi. “Meskipun aku tak begitu mengenal Hyomin-ssi, tapi menurut cerita Hyosung, kakaknya itu membencinya. Tapi kenapa ekspresinya seperti itu saat memanggil nama Hyosung?”

Aku diam saja.

“Apa kita harus memberitahu detektif Han jika ada sesuatu yang mencurigakan tentang Hyomin-ssi?” Kyuhyun melanjutkan bicara dan bertanya padaku.

Ani, dwaesseoyo” jawabku masih menatap ke arah yang sama dengan kepergian Hyomin. “Detektif Han pasti sudah melakukan pekerjaannya dengan benar, dan sesuai dengan apa yang dia yakini”

Geureom—“

“Bolehkah aku pergi dulu?” selaku dengan cepat bahkan sebelum Kyuhyun mengatakan apapun. “Aku—ada sesuatu yang harus aku lakukan di restoran, dan aku me—melupakannya,”

Oh? Geurae?”

Aku menganggukkan kepala, “Aku akan meneleponmu nanti setelah pekerjaanku selesai. Yaksokeyo, oppa

E-Eo,” sahut Kyuhyun terdengar terkejut. “Geureom, apa kau mau aku mengantarmu?”

Ani, gwenchanayo. Restorannya dekat dari sini, aku bisa naik bus” sahutku sambil tersenyum ke arah Kyuhyun. “Ah, jangan berpikir aku menghindarimu karena aku tak akan pernah melakukannya. Dan tetap teleponlah aku jika kau ingin aku menemanimu pergi ke tempat-tempat yang kau inginkan. Geureom—“ Aku menganggukkan kepala singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun sendirian.

Aku sempat menolehkan kepala ke arah namja itu sebelum benar-benar menghilang di jalanan di belakang toko roti. Meskipun sebenarnya aku tak mau meninggalkan Kyuhyun begitu saja, tapi aku harus melakukannya. Karena aku tak akan mungkin bisa melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan jika ada namja itu di sekitarku. Lagipula aku juga tak mau melibatkannya karena ini adalah masalahku, dan seharusnya aku juga tak melibatkan Sooyoung. Tapi mau bagaimana lagi?

**

 Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke restoran lebih awal bahkan sebelum jam restoran tutup. Semua pikiranku sedang teralih pada Hyomin—yang dua hari lalu tidak sengaja aku dengar percakapannya, dan aku tidak bisa menyingkirkan pikiran-pikiran itu dari kepalaku. Bahkan saat aku dalam perjalanan menuju apartemen pun—menggunakan taksi, aku masih terus memikirkan perkataan Hyosung dan melihat bagaimana ekspresi serius yeoja itu saat meminta seseorang untuk mencari sesuatu serta bagaimana dia memanggil namaku dengan ekspresi seperti itu. Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihatnya begitu meskipun aku tidak—sangat, dekat dengannya.

“Jika dia sedang mencari sesuatu maka aku harus mengetahuinya,” gumamku pada diri sendiri sambil menatap ke luar kaca jendela taksi.

Tak lama, taksi pun berhenti tepat di depan gedung apartemen ku. Setelah membayarkan sejumlah uang sesuai dengan argo-nya, aku cepat-cepat keluar dan masuk ke dalam gedung. Aku hanya menyapa sekedarnya saja pada seorang namja paruh baya yang bertugas menjaga apartemen sebelum akhirnya masuk ke dalam lift. Lantai kamar apartemen-ku berada di lantai 4, dan orang-orang yang masuk bersamaku di lift juga semuanya pergi ke lantai 4.

“Sooyoung-ssi, jal jinaesseoyo?” tanya seseorang yang berdiri tepat di sebelahku. “Sudah lama sekali rasanya aku tak melihatmu,”

Ah, ne. Jal jinaesseoyo, ahjumma” Aku menjawab meskipun aku tak tahu nama ahjumma ini dan bagaimana dia mengenalku, tapi mungkin itu karena kami tinggal di lantai yang sama. “Aku sangat sibuk di restoran jadi—yah, mungkin Anda jarang melihatku” kataku kembali berbicara.

“Kudengar kau mengalami kecelakaan, Sooyoung-ssi” sahut Ahjumma satunya yang kelihatan lebih muda dari Ahjumma yang pertama. “Mianhae, aku dan suamiku pergi ke rumah orang tua kami, jadi tak sempat menjengukmu”

Gwenchanayo, ahjumma” kataku sambil tersenyum lebar. “Itu bukan kecelakaan besar, dan aku juga tidak terluka parah” kataku berbohong.

Geurae?”

Aku mengangguk dan terus tersenyum untuk menutupi kecanggunganku. Begitu pintu lift kembali membuka—di lantai 4, cepat-cepat aku berpamitan pada dua ahjumma itu dan melangkah keluar terlebih dari mereka. Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa jika terlalu lama di dalam lift karena aku sama sekali tak tahu siapa mereka. Aku bahkan tak tahu di kamar nomor berapa mereka tingga, jadi bukankah lebih baik jika aku bergegas pergi dari sana untuk menghindari sesuatu hal yang tidak aku ingingkan?

Begitu di dalam apartemen, aku langsung masuk ke dalam kamar, mengeluarkan foto-foto dan artikel yang sudah aku kumpulkan lalu mengaturnya di atas meja. Aku menarik napas dalam-dalam sambil mengamati semua foto orang-orang yang kemungkinan terlibat dalam kematianku. Aku membuat garis baru yang menghubungkan antara Jeon Hyomin dan Jeon Jae Hoon dengan seseorang yang aku beri tanda tanya besar. Entah bagaimana aku yakin jika mereka berdua sedang mencari orang ini, dan merahasiakannya dari siapapun. Masalahnya sekarang adalah siapa orang yang mereka cari? Dan apa dia juga berhubungan dengan kematianku?

Aku menghela napas panjang, lalu memijat-mijat pelipisku sambil terus mengingat beberapa hal yang dikatakan Hyomin maupun Jae Hoon.

“Ada sesuatu yang terjadi disini, dan aku tidak mengetahuinya” kataku pada diri sendiri. “Entah itu berhubungan dengan apa yang terjadi padaku atau tidak, dua orang itu memang perlu aku selidiki lebih jauh. Tapi bagaimana?”

Ponselku kembali bergetar pelan, dan mau tak mau aku mengambillnya untuk melihat siapa yang menelepon. Keningku berkerut begitu melihat nama Jeon Jae Hoon tertera di layar ponselnya. Aku menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau mengabaikannya karena jujur saja, aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa di depan namja ini untuk sekarang. Tapi kemudian—setelah aku melihat foto Jae Hoon di atas meja, aku ingat bahwa aku sedang menyelidikinya sekarang. Tanpa berpikir dua kali, akupun memutuskan untuk menerima panggilan itu.

Ne, yeoboseyo?” sapaku pada akhirnya.

Eodiseo jigeum?”

Aku mendesah panjang karena sudah mengetahui hal apa yang pasti ditanyakan Jae Hoon padaku saat dia meneleponku. “Apartemen,” jawabku singkat.

“Apartemen?”

Eo,”

“Pantas saja. Aku tak melihatmu di restoran, dan Yuri berkata kau pergi keluar—“

“Aku di apartemen sekarang,” selaku dengan cepat, mengulang perkataanku sebelumnya.

Geurae, geureom. Tunggu aku disana,” kata Jae Hoon sambil menutup sambungan teleponnya begitu saja.

Aku kembali menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku menerima perlakuan Jae Hoon ini. Meskipun beberapa hari yang lalu kami memiliki pembicaraan yang serius, tapi sepertinya dengan cepat dilupakan oleh namja itu. Buktinya, seharis setelah percakapanku dengannya itu, dia langsung mengajakku bertemu dan bahkan sedikit menganggu pekerjaanku di restoran. Sikapnya itu menujukkan seakan-akan kami tidak pernah melakukan pembicaraan apapun di pinggiran Sungai Han, dan aku juga tak mempermasalahkan itu karena dengan begitu aku akan bisa lebih menyelidiki Jae Hoon setelah beberapa kali aku sempat ragu untuk melakukannya.

Karena Jae Hoon akan datang, aku kembali membereskan semua hal yang ada di mejaku dan menyimpannya lagi. Setelah semuanya selesai, aku keluar kamar lalu melangkah ke ruang tengah—dimana biasanya aku dan Yoona serta Yuri berkumpul. Aku duduk di atas sofa sambil menyalakan televisi. Sayangnya tidak ada acara yang menarik untuk aku tonton, meskipun aku tetap membiarkannya menyala. Aku terus mendesah pelan, lalu menyandarkan tubuhku di punggung sofa. Suara-suara kecil televisi—yang sama sekali tidak aku tonton, tidak mengangguku yang mulai melamun.

Waktuku di dunia ini tersisa 29 hari lagi, dan aku masih belum menemukan petunjuk apa-apa mengenai penyebab kematianku. Meskipun begitu, satu hal yang pasti yang terjadi adalah seseorang atau sekelompok orang sengaja membunuhku untuk kepentingan tertentu. Lalu laporan kepolisian yang berbeda dengan NFS, yang berarti ada seseorang yang memalsukan laporan itu. Mengetahui beberapa hal itu memang sudah cukup membuatku menarik kesimpulan bahwa seseorang yang penting terlibat dalam hal ini. Tingkah laku Jeon Hyomin dan Jeon Jae Hoon memang sedikit mencurigakan, tapi belum ada petunjuk apapun yang menyebutkan bahwa mereka bekerja sama untuk membunuhku. Meskipun begitu, aku akan tetap menyelidiki mereka karena aku penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan.

Lamunanku buyar saat suara bel pintu terdengar. Aku bangkit dari atas sofa dan berjalan kea rah pintu dengan sedikit malas. Lalu aku membuka pintunya dengan ekspresi datar yang dib alas dengan sebuah senyuman lebar Jeon Jae Hoon.

“Tada—“ seru Jae Hoon sambil menunjukkan sebuah bungkusan padaku. “Dakgangjeong (ayam goring krispi), dan aku juga membeli cola” lanjutnya.

Aku mengangkat sebelah alis, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa dipersilahkan olehku, Jae Hoon langsung masuk ke dalam apartemen. Seakan-akan dia memang sudah sering melakukannya. Meskipun sebenarnya aku paling tidak suka dengan sikap seseorang yang tidak sopan seperti ini, tapi aku memilih untuk diam karena mungkin saja Sooyoung selalu seperti ini pada Jae Hoon.

“Aku tahu kau belum makan apapun sejak pagi, Yoona yang memberitahuku. Jadi aku membawakan Dakgangjeong kesukaanmu ini” Jae Hoon kembali berbicara setelah dia duduk di sofa yang sebelumnya aku duduki. “Kau tahu, antriannya sangat panjang di toko ini. Beruntung sekali aku sudah memesannya terlebih dahulu,”

“Aku lebih suka Yangnyeom-tongdak,” gumamku sambil menatap ke arah Dakgangjeong yang terhidang di depanku.

Mwo? Yangnyeom-tongdak?” celetuk Jae Hoon yang sepertinya mendengar gumamanku. Dia tertawa kecil, “Ya! Sejak kapan kau menyukai Yangnyeom-tongdak? Bukankah kau selalu berkata Dakgangjeong jauh lebih enak dari chicken manapun?”

Oh?” sahutku terkejut. “Geurae?”

“Tentu saja,” jawab Jae Hoon. Dia mengambil satu paha ayam dan memberikannya padaku. “Cobalah. Kau pasti menyukainya,” katanya kemudian.

Karena tidak ada pilihan, akupun menggigit satu bagian kecil dari ayam di tanganku. Jae Hoon terus menatapku, seakan-akan dia sedang menunggu komentarku.

Eotte?”

Massiseo,” jawabku—dengan terpaksa, tersenyum.

“Aku benar, ‘kan?” seru Jae Hoon terlihat senang. “Ah! Gelasnya! Jamkkaman,” Dia cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke arah dapur.

Aku terus menatap ke arah Jae Hoon pergi, dan berpikir jika namja itu pasti sudah sering menghabiskan waktu di apartemen ini. Bagaimana tidak? Sikapnya itu menunjukkan seakan-akan dia adalah pemilik apartemen ini dan aku adalah tamunya. Apa tidak pernah ada orang yang memprotes sikap tidak sopannya itu?

Aku mendesah keras, lalu mengalihkan pandanganku dari Jae Hoon ke arah lain. Tapi kemudian mataku menangkap selembar foto yang terjatuh di lantai. Keningku berkerut tajam karena seingatku, aku tak pernah meninggalkan foto apapun di luar kamar. Jadi itu tak mungkin foto milikku. Lalu apa itu milik Yoona atau Yuri?

Setelah meletakkan ayam di tempatnya lagi, aku mengambil foto itu. Kedua alisku saling bertaut melihat foto seorang anak kecil yeoja di foto itu. Dia berambut panjang sebahu, mata yang tidak terlalu sipit, dan sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Siapapun gadis kecil itu, dia terlihat sangat cantik di usianya yang kelihatannya sekitar enam atau tujuh tahun.

“Nah, ini gelasnya” Jae Hoon kembali datang sambil membawa dua gelas kosong yang langsung diberikan padaku. “Oh! Apa itu?” serunya kemudian seraya menunjuk ke arah foto di tanganku.

“Foto. Aku menemukannya terjatuh disini,” jawabku menunjukkan foto itu pada Jae Hoon. “Mungkin milik Yoona atau Yuri yang—“

“Itu milikku,” sela Jae Hoon pada perkataanku.

Mwo? Milikmu?”

Jae Hoon menganggukkan kepala sebelum dia kembali duduk di tempatnya semula. “Aku sedang membantu Hyomin noona menemukan anak itu,” katanya memberitahuku tanpa diminta.

Aku kembali menautkan kedua alisku mendengar apa yang Jae Hoon katakan. Jeon Hyomin sedang mencari seorang anak kecil? Untuk apa? Tidak mungkin itu anaknya yang tersembunyi, ‘kan? Karena dia bahkan belum menikah.

“Kenapa Hyomin-ssi mencari anak ini?” tanyaku pada akhirnya karena aku benar-benar tak bisa menebak alasan dia yang sebenarnya. “Apa dia putrinya?” Aku kembali bertanya.

Jae Hoon tertawa, “Hyomin noona bahkan belum menikah, bagaimana dia bisa memiliki seorang putri?”

Geuraesseo?”

“Dia seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Sangat lama,” jawab Jae Hoon sambil mengambil foto itu dari tanganku. “Ini fotonya saat masih kecil, dan tentu saja sekarang dia sudah dewasa”

Aku diam saja, memikirkan perkataan Jae Hoon itu. Jadi anak kecil itulah yang sedang dicari Hyomin, dan sekarang anak itu sudah dewasa. Sayangnya aku tak tahu lebih detail dari itu karena Jae Hoon memasukkan kembali foto itu ke dalam sakunya dan dia terlihat sudah mengakhiri pembicaraan tentang anak di foto itu. Mau tak mau aku harus menyimpan rasa penarasanku sendiri karena akupun tak mungkin kembali membuka pembicaraan tentang hal yang sama, khususnya tentang anak itu.

__

Kyuhyun POV

Oppa, kau mau mengajakku kemana?” tanya Sooyoung saat aku menjemputnya di restoran, dan kami sedang dalam perjalanan.

“Membeli sesuatu untuk kedua orang tuaku,” jawabku di sela-sela mengemudi. “Kau tahu, namja itu selalu tidak pintar memilih sesuatu seperti hadiah jadi aku mengajakmu,”

Ne? Orang tua?” celetuk Sooyoung terdengar terkejut.

Aku menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arahnya.

“Tapi bukankah hari orang tua masih lama?” gumam Sooyoung yang membuatku tersenyum tipis mendengarnya.

“Bukan karena hari orang tua,” sahutku kemudian. Aku menoleh, “Hari ini ulang tahun pernikahan orang tuaku, dan aku ingin membelikan sesuatu untuk mereka”

Ah, geurae?”

Aku kembali hanya mengangguk sebagai jawabannya.

Selama sisa perjalanan, aku dan Sooyoung sama-sama diam. Bukan karena tak ada obrolan atau bagaimana, tapi Sooyoung terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia bahkan terus menatap ke arah ponselnya, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu. Ekspresinya sangat serius, jadi aku memutuskan untuk tidak menganggunya dengan mengajaknya mengobrol. Mungkin memang ada sesuatu yang sedang dia pikirkan, dan akupun tidak ingin—meskipun penasaran, untuk mencari tahunya karena semua orang berhak memiliki rahasia sendiri-sendiri. Tidak hanya Sooyoung, tapi aku juga.

Setelah sekitar 45 menit perjalanan dari restoran Sooyoung, mobilku menepi di salah satu department store di Seocho-gu. Aku langsung mengajak Sooyoung keluar dari mobil dan melangkah bersamanya memasuki department store itu. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong departemen store yang dipenuhi oleh deretan toko, baik itu toko pakaian, perhiasan, aksesoris, sepatu, dan lain sebagainya. Sesekali aku melirik Sooyoung yang terus mengedarkan pandangan ke seluruh sudut toko. Lalu dia berhenti—untuk beberapa saat, di depan sebuah toko sepatu dan kembali melangkah dalam waktu tidak lebih dari satu menit.

“Aku masih benar-benar tak tahu kenapa kau mengajakku, tapi kau ingin membelikan apa untuk orang tuamu?” tanya Sooyoung sambil terus melangkah.

Aku mengangkat kedua bahuku, “Mollayo. Apa menurutmu?”

Oh? Emm—“ Sooyoung terlihat terkejut tapi keningnya berkerut seperti sedang berpikir. “Jujur saja, aku tak pernah memberikan hadiah pada orang tuaku karena—“ Dia tiba-tiba berhenti berbicara dan menghela napas panjang.

“Karena apa?”

Aniyo, amugeotdo” sahut Sooyoung tanpa menatapku. “Meskipun begitu, kurasa akan sulit jika hanya memberikan satu hadiah untuk mereka. Bagaimana jika sesuatu untuk eommeoni-mu dan abeoji-mu?”

“Maksudmu satu untuk eomma, dan satu untuk appa?”

Sooyoung mengangguk singkat. “Bukankah itu lebih mudah?”

Eo,” sahutku menyetujui perkataan Sooyoung. “Geureom, bagaimana kalau itu?” Aku menunjuk ke sebuah toko perhiasan tak jauh dari kami.

“Untuk eommeoni?”

Aku menjawabnya dengan anggukkan kepala dan langsung mengajak Sooyoung memasuki tokonya. Suasana toko perhiasaan ini tidak terlalu ramai, bahkan terkesan sepi. Tapi harus aku akui kalau barang-barang—perhiasan, yang ada dijual disini sangat mengesankan. Aku mendekati etalase kalung yang ada di ujung ruangan bersama Sooyoung disampingku. Lalu seorang yeoja datang mendekat, pakaiannya sangat formal dan dia tersenyum pada kami dengan sangat ramah.

“Apa Anda ingin mencari sesuatu untuk istri Anda, Tuan?” tanya yeoja itu sambil menatap Sooyoung—masih tersenyum. “Kalung-kalung disini adalah model baru, dan terbatas”

Aku berdehem pelan, “Anida. Bukan untuk istri,” kataku melirik Sooyoung yang memilih untuk mengedarkan pandangan ke arah lain. Aku harus membuang jauh-jauh pikiran bahwa sikap Sooyoung kali ini sedikit berbeda dari biasanya karena dia terlihat lebih kalem. “Emm—untuk ibuku, sebenarnya” Aku menambahkan.

Ah, geuriguna” celetuk yeoja itu. “Geureom, bagaimana jika yang ini?” Dia mengambil salah satu kalung dan menunjukkannya padaku.

“Sooyoung-ah, eotteyo?” Aku langsung bertanya pada Sooyoung agar dia mengalihkan perhatiannya padaku lagi. “Apa kalung ini bagus menurutmu?”

Sooyoung mengamati kalung yang ditunjukkan yeoja itu, lalu diapun berbicara. “Bagus, tapi kurasa modelnya terlalu berlebihan untuk seorang eommeoni

Aku menganggukkan kepala mengerti dan meminta yeoja itu untuk menunjukkan sesuatu yang lain padaku.

Setelah hampir 20 menit berada di toko perhiasan dan membeli salah satu kalungnya, aku dan Sooyoung pergi ke toko dasi. Aku cukup kesulitan memilih hadiah untuk appa-ku, tapi Sooyoung memberiku ide tentang dasi dan sepatu. Karena aku tak bisa memikirkan sesuatu yang lain, jadi aku mengikuti saran Sooyoung itu dan membeli salah satu dasi yang Sooyoung pilihkan—hitam dengan sedikit warna emas sebagai coraknya. Kami langsung pergi ke toko sepatu—yang berada persis di seberangnya, setelah memastikan dasi itu di bungkus dengan rapi oleh pelayan tokonya.

“Duduklah disana dulu,” kataku pada Sooyoung saat kami sudah berada di dalam toko sepatu sekitar 30 menit. “Aku akan membayar sepatunya,”

Sooyoung mengangguk ragu, “Eo

Aku tersenyum ke arahnya lalu bergegas pergi ke kasir untuk membayar sepatu pilihanku dan Sooyoung. Sebelum menghilang di balik salah satu rak sepatu, aku sempat melihat Sooyoung yang pergi ke arah kursi yang disediakan di toko ini dan duduk disana. Aku kembali tersenyum melihatnya sebelum benar-benar menghilang ke sisi lain toko. Tapi kemudian, mataku menangkap sebuah sepatu—wedges, yang sangat bagus. Warnanya peach, dan ada tali-tali disana yang membuatnya lebih bergaya. Entah kenapa aku berpikir jika Sooyoung pasti akan terlihat sangat cantik saat memakainya. Jadi—tanpa berpikir dua kali, aku mengambil sepatu itu dan kembali melangkah menghampiri Sooyoung.

Saat aku tiba di dekat Sooyoung, dia sedang memandang ke arah lain dan sama sekali tidak menyadari kedatanganku. Senyumku mengembang. Lalu tanpa ragu, akupun melangkah ke arahnya, berjongkok di sampingnya, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu yang ada di tanganku. Yeoja itu tersentak kaget saat aku melakukannya, dan saat aku mendongakkan kepala, dia sedang menatapku dengan pandangan bingung bercampur terkejut.

Oppa, apa yang kau lakukan?” tanyanya kemudian.

“Diam saja,” kataku terus memakaikan sepatu itu di kaki Sooyoung. “Aku benar, ‘kan? Sepatu ini sangat cantik dipakai olehmu,” seruku setelah sepatu itu terpasang di kaki Sooyoung.

“Kyuhyun-ssi—“

Yeoppeuda, majjyeo?” tanyaku seraya tersenyum lebar. Aku memakaikan sebelah kakinya dengan pasangan sepatu itu, lalu bangkit berdiri. “Pakailah. Itu terlihat sangat bagus di kakimu” kataku sambil melangkah pergi meninggalkan Sooyoung dengan sepatu miliknya di tanganku.

Oppa, jamkkaman—

Aku mengabaikan panggilan itu dan cepat-cepat berjalan ke arah kasir. Setelah membayar semua sepatunya—termasuk milik Sooyoung dan appa, aku keluar dari toko. Sooyoung berjalan di belakangku, masih terus memprotes agar aku mengembalikan sepatunya yang ada di salah satu kantong belanjaan di tanganku. Aku memilih untuk tidak mendengarkan Sooyoung dan—sambil tersenyum, terus berjalan keluar dari departement store sampai akhirnya meninggalkan kawasan perbelanjaan itu.

**

Aku melangkah masuk ke halaman rumah orang tuaku di distrik Nowon dengan Sooyoung disampingku. Setelah membeli beberapa hadiah, aku memang langsung mengajak yeoja itu untuk menemui kedua orang tuaku. Bukan untuk tujuan apa-apa, tapi memang aku ingin mengajaknya. Lagipula tidak ada salahnya mengajak seorang teman ke rumah orang tua sendiri bukan? Jujur saja, aku juga mengundang Lee Donghae, tapi namja itu mendadak ada operasi jadi dia tak bisa datang.

Mataku melirik ke arah Sooyoung yang sedang mengedarkan pandangan berkeliling ke halaman rumah ini. Lalu mataku beralih pada sepatu di kakinya, dan senyumku langsung mengembang melihatnya begitu nyaman dengan sepatu itu—dia sudah tidak memprotesnya lagi. Aku benar-benar dia senang karena pada akhirnya dia mau menerima sepatu yang aku berikan itu meskipun awalnya dia terus memprotesnya.

Emm, oppa. Omong-omong, apa kau sudah lama tidak pulang ke rumah orang tuamu?” tanya Sooyoung tiba-tiba yang cukup membuatku tersentak kaget.

Eo,

“Sudah berapa lama?”

Oh? Sudah berapa lama?” ulangku sambil berpikir. “Hmm—mungkin sekitar 1 tahun yang lalu, atau kurang dari itu” jawabku seraya mengusap-usap daguku.

Sooyoung menatapku dengan tidak percaya, “1 tahun?”

Aku mengangguk, “Kau tahu sendirilah, bagaimana sibuknya aku di rumah sakit. Aku bahkan jarang pulang ke apartemenku sendiri, jadi yah—begitu”

Sooyoung sama sekali tak memberikan tanggapan.

“Apa kau juga?”

“Apanya?”

“Sudah lama tidak pulang ke rumah orang tuamu,”

Sooyoung tersenyum. Bukan senyuman ramah, tapi senyuman—seperti sesuatu yang dingin. “Bisa dikatakan begitu,” katanya pelan.

Waeyo? Apa kau juga sibuk?”

Emm—geunyang—“ Sooyoung terlihat berpikir untuk sesaat, seperti seseorang yang sedang memilih kata-kata apa yang terbaik untuk dikatakan. “Aku tidak ingat,” katanya kemudian.

Aku belum sempat memberikan tanggapan karena kami sudah tiba di depan pintu. Akupun segera menekan beberapa tombol password-nya sebelum akhirnya mengajak Sooyoung masuk. Suasana di rumah benar-benar tidak berubah sejak terakhir aku datang. Sepi, seperti tidak ada orang yang tinggal di rumah ini. Mungkin itu karena hanya kedua orang tuaku yang tinggal di rumah ini setelah aku memutuskan untuk membeli apartemen sendiri 3 tahun yang lalu.

“Apa orang tuamu tidak ada di rumah?” Sooyoung bertanya setelah dia merasakan keheningan di rumah ini. “Kelihatannya sepi” katanya menambahkan.

Aniya, mereka di rumah” sahutku dengan cepat. “Memang seperti inilah suasana di sini,”

Ah,”

Waeyo?”

Geunyang—“ Sooyoung diam sesaat untuk berpikir sebelum akhirnya dia kembali berbicara. “Suasana di rumahku juga seperti ini. Sepi seperti tidak ada penghuninya,”

“Bukankah ada Yoona-ssi dan Yuri-ssi?”

Sooyoung tersenyum, tapi aku tak bisa mengartikan senyum itu. Dia bahkan tak mengatakan apa-apa setelahnya dan mengalihkan pandangan ke setiap sudut rumah dengan ekspresi senang. Ini memang pertama kalinya aku mengajak seorang yeoja ke rumah orang tuaku—bahkan aku belum pernah mengajak Hyosung sebelumnya. Tapi bukankah ekspresi Sooyoung itu sedikit aneh? Dia terlihat semakin benar-benar berbeda sekarang, seperti aku baru pernah mengenalnya. Yah—sesuatu seperti itu.

Oh, adeul-ah!” seruan khas eomma-ku terdengar dari ruang sebelah. Aku dan Sooyoung menolehkan kepala, dan eomma-ku sedang berdiri di ambang pintunya sambil tersenyum ke arahku. “Waesseo, adeul-ah!” katanya sambil menghampiriku dan langsung memelukku.

Jal jinaesseoyo, eomma?” tanyaku begitu melepas pelukan eomma-ku.

Jal jinaesseo, geureom” sahut eomma dengan cepat. “Sudah berapa lama ini sejak kau pulang ke rumah?”

Ah, mianhae. Aku sangat sibuk jadi—“ Aku melirik Sooyoung yang terlihat sedikit canggung. Cepat-cepat aku mengganti topik pembicaraan, “Eomma! Aku membawa seseorang,” seruku kemudian.

Eomma mengalihkan perhatiannya dariku pada Sooyoung, lalu dia tersenyum. “Yeojachingu-mu?”

Aniyo, eommeonim. Aku—“

“Pasien,” sambungku dengan cepat pada perkataan Sooyoung. “Dia pasienku, dan aku—emm, dia sedang menjalani perawatan denganku dan aku mengajaknya karena Donghae tidak bisa datang, jadi—“

Geurae,” sela eomma dengan cepat tapi sebuah senyuman penuh arti tersungging di wajahnya. “Dia yeoja yang dulu kau ceritakan pada eomma, ‘kan?”

Kedua alisku saling bertaut karena tidak mengerti maksud eomma.

Aigoo… geu yeoja. Siapa namanya—hmm, Hyosung! Maja, kalau tidak salah Jeon Hyosung!” kata eomma terlihat senang karena berhasil mengingat sesuatu. “Majjyeo, Jeon Hyosung-ssi?”

Aku benar-benar tak menyangka eomma akan menyebut nama Hyosung. Jujur saja, aku memang tidak pernah mengajak Hyosung untuk menemui kedua orang tuaku sebelumnya. Bukan karena aku tak mau—atau Hyosung menolaknya, tapi lebih karena kami sama-sama sibuk. Bahkan untuk pergi berdua ke suatu tempat saja jarang kami lakukan, apalagi harus mengenalkannya pada kedua orang tuaku? Tapi memang aku beberapa kali menceritakan tentang Hyosung pada kedua orang tuaku meskipun mereka tak pernah saling bertemu sebelumnya.

Aniyo, eommeoni. Nan Jeon Hyosung aniyo,” kata Sooyoung memecahkan keheningan diantara kami bertiga. Aku sempat melihatnya menarik napas pelan sebelum dia berbicara, “Jeoneun Ch—Choi Sooyoung imnida

Oh, aniya?” seru eomma dengan ekspresi bersalahnya. “Geureom, mianhae—“

Eomma,” Cepat-cepat aku menarik tangan eomma dan mengajaknya ke ruangan lain, meninggalkan Sooyoung sendirian disana. “Eomma, aigoo—“ ucapku frustasi.

Ya! Dia bukan Jeon Hyosung yang kau sering kau ceritakan itu?”

“Bukan,” sahutku dengan cepat. “Apa eomma tak pernah melihat berita selama ini?”

“Berita? Kenapa dengan berita?”

Aku mendesah panjang, lalu terpaksa memberitahu eomma. “Dia—Hyosung-ie. Dia—dia sudah tidak bersamaku lagi?”

Heojyeo?”

Kepalaku menggeleng, “Dia meninggal” jawabku seraya menunduk.

Mwo?” seru eomma dengan keras. “Eotteoke?”

Eomma pasti sudah pernah menonton berita tentang kematian CEO Daehan Group. Dia adalah Hyosung-ku,”

Oh?” celetuk eomma terkejut. “Jadi dia—dia—“

Aku kembali mendesah sebelum mengangguk pelan. “Mianhae karena aku tak pernah mengenalkannya pada eomma dan appa,”

Ani, dwaesseo” kata eomma sambil meraih tanganku. “Neo gwenchanji?”

Aku tak langsung menjawab karena aku tak tahu harus mengatakan bagaimana di depan eomma. Sebelumnya aku memang tak pernah menceritakan secara detail tentang Hyosung pada kedua orang tuaku karena aku pikir akan lebih baik jika mereka mengetahuinya sendiri dari Hyosung saat aku mengajaknya menemui mereka suatu saat nanti. Tapi semuanya tidak akan terjadi, karena Hyosung sudah pergi terlebih dahulu meninggalkanku dan dunia ini.

“Kyuhyun-ah,” suara lembut eomma kembali terdengar. Tangannya kini memegangi bahuku, “Apa itu sulit?”

Eo, jokkeum” jawabku pada akhirnya. “Pada awalnya itu memang sulit karena aku sangat mencintainya, dan sampai sekarang pun aku masih merindukannya. Tapi aku tak mungkin terus bersedih karena kehilangan dia, ‘kan?”

Eomma menganggukkan kepala, “Geurae. Eomma yakin, almarhum Hyosung juga sangat mencintaimu dan merindukanmu” katanya. “Eomma benar-benar tak menyangka jika yeoja itu adalah Hyosung yang sering kau ceritakan. Dia pasti sangat kesepian,”

Aku memilih untuk tidak menanggapinya untuk kali ini. Tapi kemudian eomma memberiku pelukan singkatnya dan aku benar-benar merasa sedikit terhibur karena harus mengingat Hyosung beberapa saat tadi. Apalagi aku belum sempat mengenalkannya pada orang tuaku, itu membuatku semakin merasa bersalah padanya. Ditambah lagi jangka waktu berkencan kami yang tidak singkat, bukankah itu keterluan jika aku sama sekali belum mengenalkannya pada orang tuaku padahal kami sudah berkencan sleama 2 tahun?

“Ayo kita keluar sekarang,” kata eomma setelah dia melepaskan pelukannya yang menenangkan padaku. “Yeoja itu pasti sedang menunggu,”

Aku memberi jawaban dengan hanya anggukkan kepala, lalu mengikuti langkah eomma kembali ke ruangan dimana Sooyoung berada. Aku cukup terkejut mendapati yeoja itu sedang mengobrol dengan appa-ku, dan mereka sedang tertawa bersama. Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat Sooyoung tertawa seperti itu dan aku benar-benar terpesona sampai aku bahkan hanya berdiri mematung di tempatku selama beberapa saat. Bukan hanya karena senyumannya yang cantik, tapi juga karena dia sangat mirip dengan seseorang.

-TBC-

Eotte?

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

20 thoughts on “[Series] Once Again, Love -5-

  1. yah gk kyuyoung aslinya😦 tapi gk papa deh tetep bagus kok thor🙂 oh iya thor masalah kematian hyosung dicepetin dong biar tubuh soo gk dirasuki sama hyosung lagi terus kyuyoung aslinya jadi makin banyak momentnya

  2. FS says:

    lumayan seneng karena yang dibawa ke rumah ortu nya kyu tubuh soo walaupun jiwanya hyosung

    Next part ditunggu

  3. Authornim sebelumnya aku minta maaf .. aku baca dri part 1 – 4 dan tk meninggalkan comment dan malah aku komen di part 5 … aku sangat minta maaf … karena awalnya aku belum tertarik untuk membaca ini … tapi sekarang aku sangat tertarikk untuk membacanya sampai aku terus membacanya … bukannya aku siders .. tapi sungguh aku minta maaf karena meninggalkan komen di part 5 ….

    Sekarang apa aku boleh komen .. hhe
    Dari part 1 – 5 momen Kyu ama Soo yg asli dikit yaaa … banyak momen Kyu dg hyusongnya … aku harap next part banyakin momen kyuyoung yg asli yaa … entah kenapa aku gk terllu suka moment kyuyoung yg sooyoungnya dirasuki roh hyusong nya … tapi jika ini jlan cerita sehh yhh gppa … semoga next part nya dicepetin 29 hrinya biar hyusong pergi dr tubuh Soo dan masalahnya udah clear … penasaran juga sehh kenapa yg dirasuki oleh hyusong itu sooyoung … apa ada hubungannya … next part ditunggu yaaa ….
    Sekali lagii mohon dimaafkan ya authornim .

  4. syiyoung says:

    gk ada kyuyoungnya.. okee tetap bersabar menunggu masalah hyosung selesai, tinggal 29 hari lagi (masih lama) huu
    malah kyu udah ngelakuin kemauannya lg tp soo palsu, maunya sih pas sm soo yg asli haha

    next partnya ditunggu.. berharap banget kali nextnya moment kyuyoungnya ada.. supaya feelnya gk drop

    tetap semangat lanjutinnya

  5. ada beberapa bagian yg dijelasin kalo Kyu ngerasa Soo lebih kalem dan kayak orang yang benar2 baru, aku kira Soo udah balik ke dirinya sendiri. eh pas akhir2 si Kyu bilang ketawanya mirip seseorang jadi ragu wkwk
    next part ditunggu ^^

  6. ry-seirin says:

    Klo plot ceritanya ngmbil dr 49 days, ada kemungkinan yg d cari Hyomin ma Jae Hoon to kakak Hyeosung yg bisa aja to Sooyoung krna klo d drama itu cmn pnya ikatan darah jd bsa di masukin raganya.
    Ya Kpn Moment real Kyuyoungnya abisnya mang susah bwt bngun feelnya walau tu interaksi Kyuyoung tpi ttep aja yg dj dlmnya Hyeosung gto mngkin klo to drama gk masalah krna terlalu fokus sma yg main.
    Well ttep d tunggu next partnya chingu.
    Keep writing aja walau bnyak yg gk comment mngkin krna ikutan puasa jarinya.

  7. ellalibra says:

    Woowww woow … G nyangka secepat itu kyu nyatain cnt sm soo eon … Sp y ank kecil yg dicari hyomin ?? Q penasaran jg apa itu soo ?? Hehe .. Kepo q jdny eon🙂 .. Tp kyny skrg kyuhyun ska sm soo krn dy mirip hyosung mnrt q eon sp tau stlh hyosung pergi stlh 49 hari nanti rasa yg dmiliki kyu g spt itu kn bs aja …. Neeeeeeeext fighting🙂

  8. Elis sintiya says:

    berasa kaya lgi nonton drama korea.. kayaknya perasaan kyuhyun masih dilema.. tapi aku penasaran bgt siapa yang di sukain sama kyu.. sooyoungkah atau hyosung. di tunggu bgt part selanjutnya..

  9. lii ulli says:

    jujur aku terlalu kecewa dgn cerita ini😥 . ya meskipun dari awal aku tahu inti cerita dan ide cerita ini seperti apa. tapi part ini bnar” tak ada momen kyuyoung aku pun baca hanya sekilas berharap ada moment kyuyoung. meski itu raga sooyoung pun di bayanginnya ya tetep hyosung jadi sulit. sekedar saran cobalah buat masalah hyosung dipercepat takutnya dari awal part sampai part end sooyoung muncul itu bisa dihitung.mungkin juga pemikiran author beda dgn readers tapi ya gimana ini berasa ff kyusung bkn kyuyoung. ah maap ya aku terlalu banyak kritik karna aku gemes sama authornya.. meskipun aku nunggu ff ini sih. ya aku akan jadi pengomentar ttp kamu di ff ini jadi buat masalah cpet selesai ya fighting semangatttt🙂😀

  10. Mungkinkah yg d.cari hyomin itu syoo.. klo iya hub dg kluarga hyomin/hyosung apa?
    Aq suka part ini krna panjang but I was comfert…

  11. ica says:

    Ini ff aku tunggu banget updatenya dan akhirnya update juga next partnya hehehe
    Kamu itu salah satu author yang aku suka di kyuyoung page ini soalnya cerita yang kamu nulis bagus bahasanya juga dan tempat2 yang kamu pakai itu real jadi makin seneng baca ff nya ^^
    Untuk part ini suka aja sih walaupun banyak yang protes gak ada moment kyuyoung dan minta dicepetin alurnya tapi aku gak kecewa kok, toh disini emang hyosung dulu diceritain karena inti ff ini untuk mengetahui kematiannya ntar baru deh ada kyuyoung momentnya
    Keep writing ^^ aku selalu nunggu tiap part, semoga part selanjutnya makin makin seru lagi hehehe maap kepanjangan. Saranghae ♥

  12. Saranghae KyuYoung says:

    Bisa bikin alurnya lbh cepat thor?😂
    Kyknya kelamaan bgt, bosan KyuSung mulu, gua asalkan baca langsung skip😂
    Pokoknya moment KyuYoung jgn pas ending aja yaa😂 sedih bgt, masa dari part awal sampe akhir moment KyuYoungnya cuma dikit/yg diakhir. Itu mah bukan ff KyuYoung lagi😂

    Tpi aku salut sih, ceritanya bgs👍

  13. Megumi says:

    Jujur, kecewa banget baca part ini. Maaf, bukannya menghardik karya authornya ato gimana, cuma bener2 kecewaa banget, gak ada moment kyuyoungnya sama sekali padahal awalnya excited baca dan jadinya gini. Aku bener2 cuma baca sekilas aja dan gak terlalu mendalami percakapannya satu sama lain.
    Kuharap kedepannya ada moment kyuyoung nya yah🙂. Keep writing thor

  14. mian.. sebenarnya baca part ini rada kesel juga soalnya KyuYoung momenya ngga ad, and aku nungguin banget waktu Hyosung keluar dri tubuh Soooyung,
    aku rada ragu kapan Hyosung keluarnya, kaynya saat kyuhyun masangin sepatunya deh soalnya dia tiba2 manggil kyuhyun “Kyuhyun-Ssi”, tapi karna mungkin kyuhyun juga bersentuhan dengannya saat itu juga jadi dia masuk lagi… ya kira2 itu pemikiranku
    but its okay, aku bakal tetap setia nungguin part selanjutnya ..hwaiting eonni

  15. Kyuppa suka sama soo eonnie krna mirip sama hyosung ato gimana ? Gk sabar pengen cepet2 misterinya terungkap & hyosung bisa pergi dari tubuh soo eonnie, trus KYUYOUNG MOMENT deh yg muncul.
    Next part ditunggu

  16. dhewynha says:

    Keren thor ff nya dibuat film bagus tuu… kyu dah ngerasa tu ama si soo.. next thor ditunggu yaa, jangan lama lama

  17. ajeng shiksin says:

    Aku penasaran siapa yg di ajak kerumah kyuhyun . trus kapan kyuyoung momend nya .. Aku nunggu nih ..

  18. kyu choco says:

    kyu sibuk bgt sampe ngga sempet plng ke rmh… hyo sung kasian blm sempet di kenalin ke orng tua kyu… itu yg dicari hyo min siapa? apa hyosung? jadi hyosung yg meninggal bkn hyosung pewaris? eh mulai ngaco mikirnya… di tunggu nextnya…

  19. Youngra park says:

    Ahh bete sumpah aku nungguin bgts part ini tapi sooeoniny gk ad muncul mana kyuhyun sma hyungsu sdh smpai ke rumah orng tuany kyuhyun pasti nnti jdiny aneh bgts saat sooeoni asliny aduhh sumpahh bete bete kalau boleh jujur aku kecewa sma part ini ini terasa bukan kaya ffkyuyoung tapi ffkyuhyongsu aku sdh menunggu bgts kelanjutanya ini eoni tapi knp kyuyoungny gk ad next part ku harap kyuyoung bnyk aku jdi benci sendiri rasany sma hyongsu cpt2 deh dia pergi di tubuhny sooeoni

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s