[Series] Once Again, Love -8-

Once Again, Love

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   :

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

FF ini sudah mau berakhir… Aku tahu banyak yang kecewa dengan FF ini mengingat minim-nya Kyuyoung moment di part-part awal… Mianhaeyo T___T

Tapi aku berharap di part-part akhir ini, kalian lebih suka ya.. karena akupun harus menulis ulang story-nya biar kyuyoung moment-nya lebih banyak

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Ya! Choi Sooyoung! Jika memang kau benar-benar bisa melihatku dan mendengarku, kenapa kau sama sekali tak menanggapiku”

Aku mendesah pelan, dan terus mengabaikan gwishin Hyosung yang terus mengikutiku bahkan saat aku sudah berada di dalam apartemen. Sepanjang perjalanan dari Gangneung ke Seoul bersama Kyuhyun, aku memilih untuk tetap diam meskipun beberapa kali gwishin ini terus mengajakku berbicara. Beberapa kali dia bahkan berusaha untuk berbicara dengan Kyuhyun yang sama sekali tidak menanggapinya—tentu saja. Ini benar-benar di luar dugaanku karena Hyosung—ani, maksudku gwishin-nya benar-benar ada di hadapanku sekarang.

“Ya!” Hyosung tiba-tiba berdiri di depanku dan menatapku dengan tatapan tajam. “Bicaralah denganku,”

Aku balas menatap Hyosung, tapi kemudian mengalihkannya ke arah lain dengan cepat. Sebisa mungkin aku tak akan menanggapinya karena aku khawatir jika aku benar-benar sudah gila sekarang. Sepertinya aku harus menemui dokter Shin Dahye lagi untuk menenangkan diriku karena mungkin saja ini hanya halusinasiku atau sesuatu seperti itu. Bagaimana mungkin ada gwishin di dunia ini?

Aku memutar tubuhku dan mengambil arah lain untuk menunju kamarku. Masih tetap mengabaikan Hyosung.

“Ya! Apa kau akan tetap mengabaikanku jika aku memberitahumu bahwa aku meminjam tubuhmu selama ini?”

Aku menghentikan langkahku, lalu kembali membalikkan badanku menghadap Hyosung yang menyeringai. “Kau meminjam tubuhku?”

“Kau mau berbicara padaku sekarang?”

“Katakan padaku bagaimana kau bisa meminjam tubuhku,”

“Aku tak mau memberitahumu disini. Kau tahu, Yoona dan Yuri terkadang masuk begitu saja dan—“

“Kalau begitu, ayo ke kamarku” Aku langsung menyela perkataannya, dan melangkah menuju kamarku.

Tanpa aku menolehkan kepala, aku tahu bahwa Hyosung mengikutiku. Jujur saja, aku berusaha menghindari menatap kakinya meskipun aku ingin tahu apa dia melangkah atau melayang mengingat dia adalah gwishin. Bukankah gwishin-gwishin di drama televisi dan film selalu seperti itu?

Begitu di dalam kamar, aku memilih duduk di ranjangku sementara Hyosung tetap berdiri di dekat jendela kamarku. Untuk beberapa saat aku mengamati gwishin yeoja ini. Dia benar-benar terlihat sama dengan foto yang aku miliki dan bayanganku tentangnya. Dia memang lebih pendek dariku, tapi tatapannya terlihat sangat hangat—seperti seseorang yang sudah lama mengenalku atau sebaliknya. Yah, benar, ini memang pertama kalinya aku melihatnya langsung tapi aku juga merasa seakan-akan aku sudah lama mengenalnya.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” celetuk Hyosung pada akhirnya. “Ini pertama kalinya kau melihat gwishin¸dan aku tahu itu. Tapi ini juga pertama kalinya aku berbicara denganmu karena selama ini aku—“

“Meminjam tubuhku?” sahutku memotong perkataannya.

Hyosung menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana kau bisa meminjam tubuhku?”

“Molla. Aku tak pernah bermaksud meminjam tubuhmu atau bagaimana tapi mereka menyuruhku untuk masuk ke tubuhmu” jawab Hyosung menghindari tatapanku. Lalu dia mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamarku. “Aku tak ada pilihan lain, jadi yah—“

“Apa ada yang mengetahuinya?” tanyaku kemudian.

Hyosung menatapku sesaat, tapi kemudian kembali menatap langit-langit. “Tentu saja tidak. Aku dilarang memberitahkan identitasku yang sebenarnya pada siapapun” katanya.

Kedua alisku saling bertaut, “Dilarang memberitahukan identitasmu?”

Hyosung mengangguk, “Tapi kau mengetahuinya, dan kau bahkan bisa melihatku serta berbicara padaku. Ah, jinjja! Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini”

“Aku tak mengerti apa yang sedang kau katakan, Hyosung-ssi” kataku jujur.

“Kau tidak mengerti, dan aku tidak akan menjelaskan padamu bagaimana detailnya” kata Hyosung pada akhirnya menatapku lagi. “Pada intinya, aku mati begitu saja dan seorang cheonsa yeoja memberitahuku jika aku ingin mengetahui kebenaran tentang diriku, dan bagaimana aku—aku mati, maka aku harus masuk ke tubuhmu dan menjadi dirimu”

“Aku—“ Aku tak melanjutkan kata-kataku karena aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku berdehem pelan, lalu kembali berbicara. “Tapi kenapa harus aku? Aku benar-benar tidak mengerti. Ada jutaan orang di dunia ini yang bisa kau masuki, tapi kenapa aku?”

“Sama tidak mengertinya dengan aku,” sahut Hyosung sambil mengusap-usap dagunya. “Tapi aku yakin semuanya berhubungan, termasuk kau dan aku serta kematianku”

“Hyosung-ssi,”

Hyosung menoleh ke arahku, lalu diapun tersenyum tipis. “Panggillah aku dengan nyaman. Kau bisa memanggilku eonni jika kau mau, atau cukup namaku saja” katanya. “Aku tahu, umur kita hanya selesai beberapa bulan. Tapi tetap saja, aku lebih tua darimu melihat dari tahun kelahiran kita, jadi panggillah aku eonni”

Aku diam saja.

“Jujur saja, itu tidak mudah meminjam tubuhmu sementara aku harus mengetahui apa yang terjadi padaku sebelum 49 hariku berakhir” kata Hyosung mengabaikan sikap diamku. “Aku terpaksa harus berpura-pura menderita amnesia dan bersikap seakan-akan aku tak tahu apa-apa”

Aku masih tetap diam. Karena aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana tubuhku dipinjam yeoja ini dan melakukan banyak hal. Meskipun begitu, sekarang aku tahu alasan kenapa aku tak ingat sudah melakukan ini-itu karena Hyosung-lah yang melakukannya sebagai aku.

“Kau tahu, biasanya aku tidak suka melakukan hal-hal seperti itu. Tapi aku melakukannya, dan semuanya cukup berjalan lancar meskipun aku cukup kesulitan pada awalnya”

Aku mendengus kecil, tapi masih tak tahu harus mengatakan apa. Semuanya tidak masuk akal bagiku meskipun itu benar-benar terjadi padaku.

“Baru-baru ini aku mengetahui bahwa seseorang membunuhku” celetuk Hyosung tiba-tiba dengan suaranya yang terdengar sedih. Dia bahkan menundukkan kepalanya cukup lama, membuat rasa iba dalam diriku muncul. Tapi aku tahu bahwa tak ada yang bisa aku lakukan pada gwishin selain hanya mendengar ceritanya. “Itu sangat menyedihkan saat mengetahuinya, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah saat mengetahui bahwa orang yang melakukannya adalah ibu tiriku sendiri” Dia tiba-tiba melanjutkan bicaranya.

Mataku membelalak, “Ibu tiri?” seruku dengan keras. Aku melupakan sikap diamku yang sedari tadi aku lakukan. “E—eotteokeyo?

“Choi Sooyoung! Mwohae?” Seruan Yuri dari luar kamarku terdengar. “Apa kau sedang mengobrol dengan Yoona di dalam?”

Aniya,” sahutku cepat-cepat. “Aku sedang menelepon teman,”

Ah, geurae? Kupikir Yoona sedang bersamamu,” Yuri menyahut, lalu aku mendengar pintu kamarnya yang persis di sebalah kamarku menutup.

Perhatianku kembali teralih pada Hyosung yang terlihat sedang menerawang. Aku diam di tempatku sambil terus memperhatikan yeoja di sebelahku ini. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya jika aku bisa mengbrol dengan—gwishin-nya, Hyosung, seorang yeoja yang beberapa hari ini membuatku cukup penasaran. Meskipun ada rasa takut dan khawatir, apalagi setelah mengetahui bahwa selama ini dia meminjam tubuhku, tapi aku bisa mengendalikan diriku dengan baik sejauh ini. Diapun tidak terlihat seperti gwishin-gwishin menyeramkan seperti yang ada di televisi. Membuatku bisa sedikit lebih cepat untuk menerima kemunculannya di depanku.

“Hyosung-ssi, ani—maksudku eonni” celetukku setelah beberapa saat. Diapun seperti tersadar dari lamunannya dan kemudian menatapku. “Aku—aku, hmm, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Apa itu?”

“Apa kau kebetulan—apa kau juga yang membuat Kyuhyun oppa dekat denganku?” tanyaku pada akhirnya karena aku benar-benar penasaran. “Aku—aku tak tahu apa yang—“

“Tentu saja, itu aku” sahut Hyosung dengan cepat. “Jika bukan karena aku, kau bahkan tak mungkin bisa dekat dengannya dan berciuman dengannya. Kyuhyun oppa bukan tipe orang yang mudah tertarik pada seseorang, kau tahu”

Ah, geuriguna—

“Wae? Shirreo?”

“Aniyo, bukan seperti itu” jawabku langsung. “Itu—itu cukup menjawab pertanyaan kenapa aku bisa dekat dengannya dengan mudah,”

Geurae?” celetuk Hyosung tersenyum tipis. “Ah! Aku benar-benar iri padamu karena bisa berada di dekatnya. Jinjja!”

Ne?”

“Kyuhyun oppa adalah orang pertama yang begitu dekat denganku, dan aku sangat percaya padanya. Sangat menyedihkan karena aku tak bisa lagi dekat dengannya, itulah kenapa aku iri padamu” katanya menjelaskan. Lalu dia menatapku dengan lekat. “Ya! Apa kau tahu bagaimana kesalnya aku saat melihatmu berciuman dengan Kyuhyun oppa?”

“Itu—itu, mianhaeyo” kataku dengan cepat.

“Untuk apa meminta maaf?” celetuk Hyosung tidak percaya, lalu dia menatapku dengan lekat. “Jika aku tidak menyukai Kyuhyun oppa dekat denganmu, aku tak akan membiarkanmu berada di dekatnya dari awal”

Aku diam saja.

“Sudah aku katakan padamu, ‘kan? Sepertinya takdir kita memang bersentuhan. Tapi untuk alasan apa, aku tidak tahu” kata Hyosung lagi, mengabaikan sikap diamku. “Ah, dan mengenai kematianku… Sungguh, sebenarnya aku tak mau mengingat ini, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan. Serahkan saja semuanya pada detektif Han”

Geuraesseoyo?”

“Geuraesseo… aku akan senang jika kau membiarkanku meminjam tubuhmu sampai 49 hariku berakhir, dan itu sekitar 21 hari lagi. Tapi jika kau tak mau, maka terpaksa aku akan memaksamu untuk membantuku”

“Membantumu?”

Hyosung mengangguk. “Sekarang ada hal yang menurutku jauh lebih penting daripada kematianku sendiri karena sudah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi dengan itu” katanya terdengar serius. “Tapi satu hal ini, aku yakin ini adalah sesuatu yang penting yang harus aku ketahui sebelum aku benar-benar pergi”

Keningku berkerut sambil menatap Hyosung lekat-lekat. “Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Aku harus menemukan anak itu,”

Ah, anak itu” sahutku teringat anak yang dikatakan Jae Hoon dan Hyomin saat itu. “Anak itu siapa sebenarnya?”

Hyosung mengendikkan bahunya, “Molla. Tapi dia berhubungan dengan Daehan Group, dan Jae Hoon berkata anak itu adalah pewaris Daehan Group yang sebenarnya bukan aku”

Aku teringat Daesung Ahjussi, tapi aku tak ingin membicarakannya di depan Hyosung. Sesuatu melarangku untuk membahasnya sekarang. Bagaimana jika itu akan membuat Hyosung semakin bersedih?

“Mungkin itu juga alasan kenapa ibu tiriku membunuhku karena dia bisa saja sudah mengetahui identitas anak itu” Hyosung kembali berbicara dan mengabaikan sikap diamku. “Tapi sejauh ini, aku tak tahu apapun”

Geureom, apa kau ingin aku mendekati ibu tirimu, eonni?”

Hyosung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau tak tahu banyak tentangnya, jadi sebaiknya tidak usah” katanya. “Aku bahkan tidak berencana untuk menemuinya sekalipun kau setuju untuk meminjamkan tubuhmu padaku”

Ah, aku—“

“Aku tahu. Kau tak akan mengijinkannya” sahut Hyosung lagi, memotong perkataanku. “Siapa orang di dunia ini yang merelakan tubuhnya di masuki roh lain dengan suka rela? Kau pasti benar-benar gila jika melakukannya”

Mianhaeyo,” kataku merasa bersalah. “Aku hanya tak tahu apa aku masih harus melakukannya saat aku sudah mengetahuinya semuanya”

“Geurae, gwenchana. Aku bahkan sama sepertimu jika aku berada dalam posisimu” kata Hyosung meskipun aku bisa melihat ekspresi kecewa di wajahnya. “Aku juga tak akan membiarkan siapapun untuk melakukannya”

“Berapa hari tersisa dari 49 harimu?” tanyaku ingin tahu.

“Ini sudah keempat atau kelima kalinya aku keluar dari tubuhmu, jadi itu tinggal 21 hari” jawab Hyosung setelah mengingat-ingat sesuatu. “Kau tahu, saat aku memasuki tubuhmu… setiap 7 hari sekali aku akan keluar dengan sendirinya dari tubuhmu”

“Kenapa begitu?”

Hyosung kembali mengangkat kedua bahunya. “Cheonsa aghassi itu hanya berkata kau akan menemukan tubuhmu dengan sendirinya setiap 7 hari. Tapi Sooyoung-ah,” Dia menatapku lekat-lekat lalu melanjutkan bicara. “Aku penasaran, apa yang kau lakukan saat aku meminjam tubuhmu?”

Aku cukup terkejut mendapat pertanyaan itu. “Na?”

Hyosung mengangguk.

Geurissae,” kataku yang memang tidak tahu. “Aku hanya merasa seperti berada di sebuah tempat yang sangat aku inginkan. Itu saja,”

“Tempat seperti apa?”

Aku tersenyum tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Dan kau tak melakukan apapun?”

Eo, tidak”

“Lalu bagaimana kau kembali ke tubuhmu setiap 7 hari sekali? Apa kau juga tak mengetahuinya?”  tanya Hyosung lagi.

Aku berpikir, mengingat-ingat sesuatu yang bisa aku ingat. “Itu seperti ada sesuatu yang menarikku begitu saja, dan saat aku membuka mata… Aku sudah berada di tempat yang kebanyakan tidak aku ketahui, kecuali mungkin di apartemenku”

Ah, geurae?” celetuk Hyosung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Geurae, itu memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semua yang terjadi diantara kita memang sangat aneh, ‘kan?”

Aku menjawabnya dengan anggukkan pelan dan senyum sekilas.

“Takdir memang sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami, geujjyo?” ucap Hyosung padaku. Lalu dia merebahkan badan di tempat tidurku. “Aku hanya berharap bisa menemukan anak itu dan mengetahui siapa dia sebelum waktuku benar-benar berakhir” katanya kemudian.

Aku terus menatap Hyosung yang sekarang terlihat sedang kembali menerawang. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamarku, dan aku bisa melihat ada kerutan di sekitar keningnya. Membuatku berpikir bahwa dia pasti sedang memikirkan sesuatu sekarang. Waktunya sudah tidak banyak dan sepertinya dia sangat ingin mengetahui anak itu yang entah siapa karena aku sendiripun tidak mengetahuinya. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuknya? Biar bagaimanapun dia sudah membantuku dekat dengan seorang namja yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang.

Aku mendesah panjang. “Eonni. Aku akan membantumu” kataku tanpa banyak berpikir lagi.

“Oh? Membantuku?”

“Aku juga akan mengijinkanmu untuk—untuk memakai tubuhku,” Aku menambahkan dengan pelan, lalu menundukkan kepala.

Hyosung tak langsung menanggapiku, tapi entah bagaimana aku tahu bahwa dia sedang memandangiku dengan lekat. “Kau sebenarnya tidak mau melakukannya, ‘kan?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mendongakkan kepala, dan menatap bola mata Hyosung. Aku menghela napas pelan sebelum berkata, “E—eo. Aku tak yakin apa aku—aku bisa melakukannya. Meminjamkan tubuhku padamu,”

Dwaesseoyo, geureom” sahut Hyosung dengan cepat. “Kau tak perlu—“

Aniyo, aku akan mengijinkanmu” Aku menyela perkataannya. “Lagipula tujuh hari sekali aku akan tetap kembali ke tubuhku, ‘kan?”

Hyosung menganggukkan kepalanya singkat, tapi pandangannya masih menatap lekat padaku. “Aku tahu kau masih belum benar-benar yakin melakukannya. Kalau begitu begini saja,”

Aku mengamati Hyosung dan mendengarkan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Aku akan meminjam tubuhmu saat aku menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kematianku dan anak itu,” kata Hyosung mengemukakan idenya. “Aku tak akan menganggu hubunganmu dengan Kyuhyun oppa karena itu—itu bukan menjadi urusanku lagi” suaranya menjadi sangat pelan saat mengatakan ini.

Aku diam saja.

“Cheonsa yeoja itu pernah memberitahuku bahwa saat aku berada di dalam tubuhmu, kau bisa mengeluarkanku jika kau menginginkannya. Itu yang terjadi beberapa hari ini, jadi kau bisa mengeluarkanku jika kau mau dan tak perlu menunggu sampai 7 hari dimana aku akan keluar dengan sendirinya dari tubuhmu” Hyosung terus berbicara.

“Apa kita benar-benar bisa melakukannya?” tanyaku.

Geureomyo,” Hyosung langsung memberiku jawaban. “Eotteyo? Itu tidak terlalu buruk, ‘kan?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala meskipun ada sedikit bagian dari diriku yang tidak menyetujuinya. Tapi sebuah dorongan yang besar untuk membantunya benar-benar menguasaiku dan aku tak tahu kenapa. Mungkin ini karena dia adalah putri Jeon Daesung, jadi aku ingin membantunya. Paling tidak aku melakukan sesuatu untuknya, ‘kan? Karena dengan begitu aku bisa merasa lebih tenang saat mengingat apa-apa saja yang telah dilakukan Jeon Daesung padaku. Setidaknya aku bisa membantu putrinya meskipun sekarang dia adalah gwishin.

Saat aku memandangi Hyosung, sebuah senyum mengembang di wajahna dan tiba-tiba saja dia menghambur memelukku. Aku cukup terkejut karena bisa merasakan tubuhnya yang dingin—aku pikir dia akan menembusku atau bagaimana, yang bahkan sampai membuatku menggigil. Tapi sepertinya dia menghiraukan itu dan bahkan semakin erat memelukku. Aku juga bisa mendengar terima kasihnya berkali-kali di telingaku.

Eonni, dwaesseoyo” kataku pada akhirnya.

Hyosung melepas pelukanku, lalu dia menatapku dengan ekspresi cerah. “Gomawoyo, Choi Sooyoung!” serunya kemudian.

__

Kyuhyun POV

“EDH (Epidural Hematoma)” kata Jung Jae Hyun, salah satu dokter yang membantu dalam operasi kali ini. Dia adalah asistenku.

Aku mengangguk. “Berikan CT Scan-nya” kataku meminta.

Dokter yang lainnya langsung memberikan hasil CT Scan-nya padaku dan aku mengamatinya dengan seksama. Sementara aku memeriksa CT Scan itu, beberapa dokter—sekitar 6 orang, menyiapkan segala keperluan operasi kali ini. Termasuk melakukan tindakan-tindakan awal sebelum operasi dilakukan. Aku menunggu beberapa saat, lalu meletakkan hasil CT Scan itu ditempat yang bisa dengan mudah aku lihat saat aku sedang mengoperasi.

“Semuanya siap?” tanyaku pada anggota tim operasi hari ini. Semuanya mengangguk, lalu akupun kembali berbicara. “Kalau begitu aku akan langsung memulainya”

Ne,”

Tanpa menunggu lama, aku segera melakukan operasi di kepala korban kecelakaan ini. Semua dokter bekerja sangat cepat, mulai dari mengiris lapis demi lapis kulit kepala sedalam 5cm, lalu memasang alat-alat lainnya untuk memudahkanku memasuki bagian dalam kepalanya. Semua itu membutuhkan waktu beberapa menit sampai aku bisa mengelupas secara hati-hati dengan rasparatorium—di kulit kepala, pada daerah yang akan di burrhole dan gergaji. Sebelum melakukan burrhole, aku sempat memastikan lagi gambar CT Scan yang menunjukkan lokasi hematoma-nya. Aku benar-benar melakukannya dengan hati-hati meskipun beberapa kali aku sudah melakukan operasi seperti ini.

Spoeling,” kataku meminta seseorang memberikanku alat itu. “Suctioning,” Aku menyuruh Jung Jae Hyun.

Aku segera mengevaskuasi hematoma dan menghentikan pendarahannya dengan alat lainnya—diatermi. Setelah pendarahan berhenti dan memastikan semuanya baik-baik saja, dengan cepat aku mengembalikan tulang-tulang di kepala pasien dan membiarkan dokter lainnya yang menjahit.

Sugohasseoyo” kataku pada seluruh dokter yang melakukan operasi bersamaku kali ini.

Aku melangkah keluar dari ruang operasi yang langsung disambut oleh keluarga pasien. Seperti biasanya, aku menjelaskan tentang keadaan pasien dan memberitahu mereka bahwa operasi pengangkatan hematoma-nya berhasil dilakukan. Aku menerima ucapan terima kasih dari keluarga pasien dan bisa melihat senyum bahagia dia wajah mereka. Aku ikut tersenyum senang melihatnya.

Oppa,” Seruan seorang yeoja yang sudah sangat aku hapal membuatku langsung menolehkan kepala.

Aku menyunggingkan segaris senyuman melihat Sooyoung yang melangkah menghampiriku. Cepat-cepat aku berpamitan pada keluarga pasien yang baru aku operasi dan menunggu Sooyoung sampai dia di hadapanku.

Sugohasseoyo, oppa” kata yeoja itu kemudian. “Oneuldo,” tambahnya dengan senyuman lebar sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke arahku.

Aku tediam di tempatku untuk beberapa saat karena Hyosung biasanya melakukan hal seperti itu setiap kali aku menyelesaikan operasi dengan sukses. Tapi dengan cepat aku tersadar dari lamunanku dan menatap Sooyoung yang masih tersenyum ke arahku.

Aku balas tersenyum, “Wae yeogi isseo?” tanyaku.

Ah, geunyang—“ Sooyoung terlihat bingung harus mengatakan apa. “Aku ingin bertemu denganmu” lanjutnya kemudian.

Aku terdiam sejenak dan memperhatikan wajah Sooyoung dengan seksama. “Bogshipeoyo?” pancingku.

Ne?” celetuknya terkejut. Dia menatap ke sebelah kanannya sesaat, lalu berdesis pelan. “E-eo, kurasa begitu”

Nado,” sahutku jujur karena inilah pertemuanku dengannya setelah terakhir kami pergi ke Gangneun tiga hari yang lalu. “Apa kau menungguku?”

Sooyoung terperangah bingung, “Menunggu?”

Aku mengangguk. “Menunggu teleponku atau menungguku datang menemuimu. Yah—sesuatu seperti itu” kataku sambil mengendikkan bahu.

Ah,” celetuk Sooyoung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Geureom, apa kau punya waktu hari ini oppa?” Dia tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“Hari ini?”

Eo, hari ini”

Aku diam dan berpikir sambil mengingat-ingat tugasku yang lainnya selain tugas harianku. “Kurasa tidak ada yang harus aku kerjakan lagi. Waeyo?”

Wajah Sooyoung tersenyum senang, tapi dia terus melirik ke arah yang sama dan aku memperhatikan. Seaan-akan ada seseorang di sebelah kanannya dan dia terlihat sedikit berhati-hati saat mengatakan sesuatu padaku. Tapi kemudian dia mengeluarkan dua buah tiket dari dalam sakunya dan menunjukkannya padaku. Kedua alisku saling bertaut menatap tiket di tangan Sooyoung itu dan aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Dia ingin mengajakku menonton atau bagaimana?

“Tiket untuk apa itu?”

“Nanta Show,” celetuk Sooyoung yang kembali membuatku langsung terdiam. “Aku sudah lama sangat ingin menontonnya, tapi tak pernah ada waktu” Dia melanjutkan bicara.

Aku menatap Sooyoung, tapi pikiranku melayang ke sesuatu yang lain. Nanta Show. Itu adalah salah satu pertunjukan yang sangat aku dan Hyosung ingin menontonnya bersama. Beberapa kali kami hampir pergi, tapi beberapa kali juga kami membatalkannya karena aku mendapat panggilan dari rumah sakit. Aku benar-benar menyesal sekarang karena tak pernah berusaha mengajaknya lagi. Hyosung sangat ingin menonton Nanta Show dan JUMP mengingat dia menyukai hal-hal seperti pertunjukan musikal atau semacamnya itu.

Waeyo? Kenapa menatapku seperti itu?” celetuk Sooyoung yang langsung membuatku sadar dari lamunan singkatku. “Apa ada sesuatu yang salah dari penampilanku? Atau ada—“

Ani, amugeotdo aniya” sahutku dengan cepat menyela perkataan Sooyoung. Aku menatap tiket di tangannya sekilas sebelum beralih menatapnya. “Jadi kau ingin mengajakku menonton Nanta Show?”

Sooyoung mengangguk dengan semangat. “Ini sebagai permintaan maafku karena aku merusak waktu liburmu kemarin”

Ah, itu—kau tidak merusaknya” sahutku dengan cepat. “Aku justru senang karena bisa menghabiskan waktuku di apartemen. Kau tahu, itu sangat jarang aku lakukan”

Sooyoung diam saja, tapi aku bisa melihat rasa bersalah di matanya.

Aku tersenyum, lalu meraih tangan yeoja ini. “Nan jinjja gwenchana, Sooyoung-ah” kataku berusaha menghilangkan perasaan bersalah itu dari matanya. “Geureom, haruskah kita pergi sekarang?” kataku sambil melangkah keluar dari lorong bersamanya.

Ya!” seruan khas Donghae terdengar. Membuatku dan Sooyoung langsung berhenti melangkah dan menolehkan kepala ke arahnya. “Kau darimana saja? Aku mencarimu setelah operasi”

“Aku berbicara dengan keluarga pasiennya. Wae?” Aku balik bertanya.

Donghae menatap Sooyoung, lalu dia beralih padaku. Mau tak mau akupun memperkenalkan mereka berdua yang tentu saja langsung membuat Donghae membelalakkan matanya. Maklum saja, selama ini dia memang sering mendengarku membicarakan tentang Sooyoung, dan pada akhirnya dia bertemu dengan Sooyoung seperti ini pasti membuatnya terkejut. Aku yakin sekali dia sudah menyiapkan kata-kata untuk menggodaku, jadi dengan cepat aku mengajaknya menjauh dari Sooyoung agar dia tidak membuatku malu.

Ya! Apa dia Choi Sooyoung yang sering aku dengar darimu?” seru Donghae sambil mencuri pandang ke arah yeoja itu beberapa kali. “Oww… yeppeune” komentarnya meskipun aku belum memberinya tanggapan.

“Aku harus pergi dengannya hari ini,” kataku memberi tahu Donghae.

Mwo?” sahut namja di depanku ini. “Ya! Bukankah kau berjanji untuk membantuku presentasi?”

Aku memejamkan mata karena teringat dengan janjiku itu pada Donghae. Akupun mendesah panjang, lalu berbicara. “Mianhae. Kurasa aku tak bisa menepati janjiku yang satu ini, Donghae-ya

Aigoo… yeoja benar-benar bisa mengacaukan segalanya”

Jinjja mianhae

Dwaesseo,” seru Donghae. “Pergilah dan nikmati waktumu yang sangat langka ini. Aku tahu kau memang membutuhkan yeoja seperti itu untuk mengembalikan kesenanganmu”

Mwoya—“ komentarku tidak percaya dengan kata-katanya. Aku kembali menghela napas, “Aku akan segera kembali”

Ne, ne” kata Donghae sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Usahakan Yoon sunbae tidak mengetahui kau absen dalam konferensi hari ini. Tenang saja, aku tak akan memberitahunya”

Geurae? Bagiku itu tidak masalah jika dia tahu” jawabku tenang. “Dokter juga memiliki kehidupan pribadi, ‘kan?”

Ah, jinjja! Aku suka kata-katamu ini”

Aku tertawa kecil, lalu menepuk bahu Donghae sebelum kembali menghampiri Sooyoung. Tanpa banyak bicara, aku langsung mengajaknya ke ruanganku dan memintanya untuk menunggu beberapa saat sementara aku mengganti jas-ku terlebih dahulu. Setelah berganti pakaian, aku kembali mengajaknya berjalan bersamaku keluar dari rumah sakit.

Saat melangkah keluar itu, aku melihat beberapa orang—khususnya perawat, yang menatap ke arahku dengan pandangan ingin tahu. Bagaimana tidak? Biasanya yeoja yang keluar bersamaku seperti ini adalah Jeon Hyosung, tapi sekarang adalah Choi Sooyoung. Apalagi—mungkin, beberapa perawat mengetahui bahwa Sooyoung sebelumnya adalah pasien-ku, dan melihatnya berjalan bersamaku seperti ini tentu saja bukanlah pemandangan yang biasa.

“Apa ini hanya perasaanku saja atau orang-orang memang sedang menatap ke arahku sekarang?” tanya Sooyoung sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. “Oppa, kau yakin tak ada yang salah dari penampilanku ‘kan?”

Aku tersenyum, “Itu karena kau terlihat sangat cantik hari ini, jadi mereka memandangimu”

Mwoya…” sahut Sooyoung. “Aku bertanya sungguh-sungguh padamu, oppa

“Aku juga bersungguh-sungguh” jawabku mengabaikan pandangan orang-orang. “Kau cantik, dan ini pertama kalinya mereka melihatku keluar bersama seorang yeoja kecuali—“

“Hyosung eonni” sambung Sooyoung kemudian.

Eonni?” celetukku terkejut karena sebelumnya dia tak pernah memanggil Hyosung seperti itu.

Ah, mianhaeyo” katanya sambil menatap ke arah lainnya—lagi.

Waeyo?” tanyaku ingin tahu.

Sooyoung kembali menoleh padaku. “Ah, aniyo. Amugeotdo

Jinjja amugeotdo?”

Em,” jawab Sooyoung sambil menganggukkan kepala.

Kami keluar dari rumah sakit dan aku cukup terkejut saat Sooyoung mengajakku ke halaman parkir di sisi barat gedung. Dia menunjuk ke sebuah mobil putih, lalu melangkah ke arahnya tanpa mengatakan apapun padaku.

“Kau membeli mobil?” tanyaku terkejut.

Aniyo. Aku hanya meminjamnya dari—emm, seseorang,” Sooyoung menjawab sambil memberika kuncinya padaku. Lalu diapun masuk ke dalamnya sebelum aku sempat mengatakan apa-apa lagi.

Aku tercengang untuk beberapa saat karena aku seperti mengenali mobil Audi putih ini. Aku tahu bahwa ada banyak jenis mobil seperti ini, tapi perasaan tidak asing dengan mobil yang satu ini benar-benar terasa olehku. Apalagi saat aku berada di dalamnya dan mulai menjalankannya. Rasanya seperti aku pernah mengemudikannya sebelumnya dengan Hyosung berada disampingku. Tapi saat aku menolehkan kepala, Sooyoung-lah yang duduk di kursi sebelahku dan sedang memandang ke luar kaca mobil.

Aku mendesah pelan, berusaha menghilangkan perasan apapun yang muncul berkaitan dengan mobil ini dan Hyosung. Tapi karena itu selama perjalanan aku dan Sooyoung sama sekali tidak mengobrol. Bahkan sampai akhirnya mobil Audi putih ini berhenti di Myeongdong Nanta Theater, tempat idmana Nanta Show biasanya di pertunjukkan.

“Kita sampai,” celetuk Sooyoung sambil mengarahkan pandangan ke gedung di depan kami. “Ini sudah lama, ‘kan? Sejak kau datang kesini”

Kedua alisku saling bertaut mendengarkan perkataan Sooyoung yang sepertinya tidak ditujukan padaku. “Yah, sudah lama aku tidak datang ke gedung ini” kataku berusaha mengalihkan perhatian Sooyoung dan mencairkan suasana yang terkesan sedikit aneh.

Arrayo,”

Arra?

Sooyoung menoleh ke arahku dengan cepat. “Oh? Em,” ujarnya. “Ayo kita keluar, oppa” ajaknya sambil keluar dari mobil terlebih dahulu.

Aku menyusulnya, dan berjalan memasuki gedung bersama-sama. Ada banyak orang yang datang ke tempat ini, baik itu wisatawan lokal maupun asing. Nanta Show memang cukup terkenal, jadi makslum saja jika banyak orang yang datang untuk menontonnya. Untungnya, aku dan Sooyoung dengan cepat menemukan kursi kami—ketiga dari depan, dan tanpa banyak menunggu kami bergegas mendudukinya.

Selang beberapa saat, pertunjukkan pun dimulai. Ada lima orang koki di atas panggung yang mulai sibuk menyiapkan peralatan dan bahan yang digunakan untuk memasak. Ah, Nanta Show ini adalah sebuah drama musikal dengan mengambil setting di dapur dan menggunakan peralatan memasak sebagai alat musiknya. Tidak banyak percakapan atau dialog selama pertunjukkan selain aksi teatrikal dan musikal yang dinamis serta harmonis. Tapi justru itulah yang membuat siapapun yang menontonnya bukan hanya terkesima menyaksikan keterampilan para koki ini melainkan juga ikut bergoyang—sesekali, di tempat duduk.

Daebak,” seru Sooyoung mengomentari koki-koki yang sedang menebas irisan kol, wortel dan bawang bombay yang melayang kemana-mana. “Wanjeon daebak!” Dia kembali berseru sambil menepuk-nepukkan tangannya karena kagum.

Aku ikut bertepuk tangan, juga orang-orang lainnya di dalam Myeongdong Nanta Theater ini. Apalagi saat aroma masakan yang sedang ditumis mulai memenuhi ruangan pertunjukkan, dan kobaran api dari wajannya menghadirkan suasana yang nyata dari kesibukan dapur. Harmonisasi gerak tari dan musik yang ditimbulkan dari alat-alat dapur yang sederhana sangat ritmis dan kompak. Benar-benar sebuah pertunjukkan yang luar biasa.

Sooyoung terlihat sangat menikmati pertunjukkan kali ini, dan itu terlihat jelas di wajahnya. Mungkin Hyosung juga menunjukkan ekspresi yang sama jika dia sedang menontonnya saat ini. Aku bahkan terus tersenyum melihat ekspresi kagum Sooyoung selama pertunjukkan ini berlangsung. Apalagi saat dia diminta untuk naik ke panggung dan diikutkan dalam atraksi-atraksi mereka.

Nanta Show ini berlangsung selama dua jam, dan pertunjukkan ditutup dengan penampilan memukau permainan perkusi dari ember-ember besar dan gentong air. Aku benar-benar berterima kasih pada Sooyoung karena akhirnya aku bisa menonton pertunjukkan ini meskipun bukan bersama dengan seorang yeoja yang sebenarnya lebih sangat ingin menontonnya daripada aku. Tapi itu tidak apa-apa karena paling tidak aku bisa menceritakannya pada Hyosung mengenai Nanta Show ini saat aku mengunjunginya lagi nanti. Aku berharap dengan ceritaku itu, dia bisa membayangkannya sendiri di tempatnya berada sekarang dan dia akan memaafkanku karena tidak pernah mengajaknya untuk menontonnya secara langsung.

__

Hyosung POV

Hari ini Sooyoung mengijinkanku memasuki tubuhnya. Sampai saat ini sebenarnya aku tak bisa percaya bahwa dia bisa melihatku dan berbicara denganku. Sekarang rasanya semuanya terlihat lebih mudah bagiku karena aku tak perlu banyak berpura-pura lagi di depan orang-orang yang mengenal Sooyoung. Meskipun aku tak bisa menggunakan tubuhnya semauku atau selama yang biasanya aku lakukan, tapi setidaknya aku tidak merasa bersalah lagi dan akupun masih bisa memasuki tubuhnya dengan ijinnya.

“Sooyoung-ah, kau datang lebih awal” kata Yoona saat melihatku keluar dari ruang loker. “Kupikir kau akan datang sedikit lebih siang, setelah kita membuka restorannya”

“Aku bosan di apartemen,” jawabku singkat, lalu melanjutkan langkahku dan memutuskan untuk melakukan sesuatu.

 Aku membersihkan meja, lalu menata kursi-kursi di restoran agar terlihat rapi sebelum restoran benar-benar dibuka hari ini. Karena aku masih belum diijinkan memasuki dapur—dan aku tetap berterima kasih karena itu, jadi inilah pekerjaan yang harus aku lakukan di restoran. Kemudian setelah semuanya beres, aku kembali berjalan ke meja lainnya untuk melakukan hal yang sama. Tapi tak lama, seorang namja menghampiriku dan aku memilih untuk mengabaikannya dengan terus mengerjakan tugas-tugas.

“Kau beberapa hari kemarin pergi kemana?” tanya namja itu, Jeon Jae Hoon. “Aku bahkan tak bisa menghubungimu sama sekali” Dia melanjutkan.

Ah, jinjja! Kenapa saat aku memasuki tubuhnya justru namja ini yang datang?” gumamku tidak percaya.

“Choi Sooyoung!”

“Aku ada urusan penting” jawabku tanpa menatap ke arah lawan bicaraku.

“Sepenting apa sampai kau mengabaikanku selama beberapa hari?”

“Kau tak perlu tahu,” Aku berusaha menjaga suaraku untuk tetap biasa. Meskipun pada akhirnya akupun menolehkan kepala ke arah Jae Hoon dan berbicara padanya. “Kenapa kau selalu ingin tahu apa yang sedang aku lakukan, oppa?” tanyaku menambahkan kata ‘oppa’ agar tetap terdengar sopan.

Jae Hoon menatapku dengan lekat, lalu dia menghela napas berat. “Apa kau Choi Sooyoung yang aku kenal selama ini?”

Aku terdiam membeku di tempatku mendengar perkataan Jae Hoon itu. Apa sikapku sekarang ini terlihat sangat jelas jika aku bukanlah Choi Sooyoung yang dia kenal? Ah, jinjja! Aku benar-benar tak bisa terus bersikap baik di depan Jeon Jae Hoon ini meskipun kecurigaanku bahwa dia terlibat dalam kematianku salah. Tapi tetap saja, aku tak menyukainya tak peduli dia memang benar sepupuku atau bukan—seperti yang pernah dia katakan sebelumnya.

Wae? Kenapa diam?” celetuk Jae Hoon memecahkan keheningan diantara kami. “Kau berubah sebanyak ini sejak mengenal namja itu, ‘kan? Aku benar-benar tidak menyangka”

Namja? Nugu?

“Cho Kyuhyun,”

Aku berdehem pelan mendengar nama Kyuhyun disebut juga pada akhirnya oleh Jae Hoon. “Apa kau sangat mengenalku sampai kau bahkan mengatakan hal seperti itu padaku?”

Ya! Sudah 7 tahun kita saling mengenal,” sahut Jae Hoon sambil terus menatapku. “Tentu saja aku sangat mengenalmu. Sikapmu belakangan ini bahkan tidak seperti Sooyoung yang aku kenal”

Aku cukup terkejut mengetahui fakta berapa lama Jae Hoon mengenal Sooyoung.  Tujuh tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Tapi sudah selama itu, dan dia tetap bertahan disamping Sooyoung. Haruskah aku memujinya atau mengasihaninya? Tapi mau bagaimana lagi? Sooyoung sendiripun sepertinya tidak memiliki perasaan apapun padanya, dan aku bisa merasakannya.

Neo… hoksi—“ Jae Hoon kembali berbicara, mengabaikanku yang tidak menanggapinya. Dia menatapku dengan mata menyipit, membuatku sedikit khawatir jika sekarang dia memang benar-benar menyadari bahwa aku bukanlah Choi Sooyoung yang sebenarnya. “—apa kau berkencan dengan Cho Kyuhyun sekarang?” Jae Hoon melanjutkan.

Aku tersenyum tipis, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa karena Sooyoung memang belum berkencan dengan Kyuhyun—tapi aku tahu mereka akan berkencan cepat atau lambat, dan aku tak mau memberitahukannya pada Jae Hoon.

Aniji?” celetuk Jae Hoon mendesakku untuk menjawab. “Kau tidak memutuskan untuk berkencan dengannya, ‘kan?”

“Sudah kukatakan itu bukan—“ Kata-kataku terhenti karena Jae Hoon tiba-tiba meraih tanganku dan menarikku keluar dari restoran. “Oppa, mwohaneungeoya?” protesku.

Tanpa menjawab pertanyaanku dan mengabaikan protesku, Jae Hoon langsung mengajakku masuk ke dalam mobilnya. Dia bahkan segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan kawasan Sinchon ini. Meskipun dia tak mengatakan apapun padaku, tapi aku tahu bahwa dia sedang marah. Karena itulah aku memilih untuk diam di tempatku dan membiarkannya mengebut di sepanjang jalan raya yang cukup ramai. Aku tidak mau membuka mulut hanya untuk urusan seperti ini, apalagi ini juga bukanlah urusanku meskipun aku secara tidak langsung terlibat di dalamnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku bahkan tak bisa mengatakan padanya jika sebenarnya aku ingin dia menjauh dariku karena mungkin saja Sooyoung tidak menginginkan itu. Bukankah sudah tujuh tahun mereka saling mengenal?

“Apa kau beberapa hari ini terus bersamanya?” Nada suara Jae Hoon yang menajam sangat terdengar jelas dari setiap kata-katanya.

“Kyuhyun oppa maksudmu?” tanyaku pura-pura polos.

Jae Hoon semakin menambahkan kecepatan mobilnya, membuatku mengangkat sebelas alis.

Eo, aku memang pergi dengannya” jawabku tanpa berbasa-basi untuk yang kedua kalinya. Aku juga tak mau terjadi kecelakaan hanya kaena kemarahan namja ini. Mungkin aku tidak akan apa-apa, tapi bagaimana dengan Sooyoung? Aku berdehem pelan, lalu kembali berbicara. “Bukankah sudah aku katakan jika aku memiliki urusan yang penting?”

“Urusan seperti apa?” Jae Hoon masih belum menyerah untuk mencari tahu.

Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Tentang Hyosung-ssi” kataku pada akhirnya karena akupun ingin tahu bagaimana reaksinya jika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya padaku.

Jae Hoon membanting kemudi mobilnya ke pinggiran jalan, lalu menghentikannya dengan keras. Membuatku sempat bertanya-tanya apa dia benar-benar memiliki lisensi yang sah? Saat aku menatapnya, kedua tangannya masih memegang kemudi, tapi ekspresinya sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dia menoleh padaku sambil menghela napas panjang.

“Hyosung-ie?” kata Jae Hoon kemudian.

Aku mengangguk pelan.

“Urusan apa yang berhubungan dengan Hyosung?” Jae Hoon kembali mengajukan pertanyaan.

Aku diam sesaat, karena teringat detektif Han yang melarangku untuk memberitahu siapapun. Aku tak mungkin menyalahgunakan kepercayaannya itu padaku ‘kan? Lagipula dia sudah bekerja keras membantuku untuk mengungkapkan apa yang terjadi padaku. Ah, sayang sekali! Padahal aku benar-benar ingin melihat bagaimana reaksi Jae Hoon jika dia tahu bahwa Kim Jung Ah-lah yang membunuhku, dan kematianku bukanlah suatu tindakan bunuh diri.

“Apa?” desak Jae Hoon yang lama-lama membuatku jengah.

“Aku tak mau membicarakan masalah orang lain dengan orang lain sepertimu, oppa” jawabku tak menjawab pertanyaan Jae Hoon itu. “Jika kau memang sangat ingin tahu, lebih baik kau bertanya langsung pada Kyuhyun oppa atau meminta ijinnya agar aku bisa memberitahumu”

Jae Hoon mendengus kecil, “Meminta ijinnya?” katanya.

Aku memilih untuk tidak memberi reaksi apapun kali ini.

Untuk beberapa saat kami berdua sama-sama diam tanpa ada yang bicara. Aku juga bisa merasakan jika suasana saat ini menjadi tidak enak. Tapi kemudian, Jae Hoon kembali menghidupkan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan tempat kami sebelumnya. Aku benar-benar tak tahu kemana sebenarnya dia ingin mengajakku pergi. Tapi aku sempat melihat papan penunjuk jalan yang menyebutkan kata Ansan, dan kesanalah mobil Jae Hoon ini melaju.

Aku berusaha menerka-nerka tujuan Jae Hoon, tapi satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah halmeoni Sooyoung. Diam-diam aku mencuri pandang ke arah Jae Hoon yang sedang berkonsentrasi pada kemudi mobilnya. Aku berpikir, apa dia akan mengajakku menemui halmeoni Sooyoung sekarang? Tapi untuk alasan apa? Aku benar-benar tak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Jae Hoon ini meskipun pada akhirnya aku memilih untuk tetap diam.

Setelah lebih dari lima belas menit memasuki kota Ansan, mobil Jae Hoon berhenti di sebuah pemakaman yang terletak di bukti di belakang gereja. Mataku mengejejap beberapa kali karena aku sama sekali tidak menyangka jika dia akan mengajakku ke tempat seperti ini. Tapi dia tetap tidak mengatakan apaun padaku dan hanya menggerakkan sedikit kepalanya saat dia memintaku untuk keluar dari mobil. Mau tak mau aku mengikuti perkataannya, lalu melangkah di belakangnya memasuki area pemakaman. Ada perasaan tidak nyaman setiap kali menginjakkan kaki di tempat seperti ini, apalagi setelah melihat makamku—Hyosung, sendiri di Gwangju.

Langkahku pelan mengikuti kemanapun Jae Hoon berjalan. Mataku terus memperhatikannya yang sedang mencari-cari nama yang tertera pada deretan batu nisan yang berjejer rapi di pemakaman yang ternyata merupakan bagian dari gereja di depannya. Di baris ke sembilan akhirnya dia menghentikan langkahnya dan berdiri cukup lama menatap batu nisan berwarna putih. Karena penasaran, akupun melangkah lebih dekat ke batu nisan itu dan membaca ukiran nama di atasnya, Choi Jin Mo. Kedua alisku saling bertaut membaca nama yang sangat asing bagiku.

Ahjussi,” Suara Jae Hoon terdengar, membuat perhatianku teralih padanya. “Mianhaeyo, aku terlambat datang. Tapi aku membawa putrimu kesini, seperti janjiku”

Aku mencelos mendengarkan perkataan Jae Hoon itu. Lalu pandanganku beralih pada batu nisan lagi dan membaca ukiran namanya sekali lagi. Dengan cepat aku menyadari bahwa ini adalah makam orang tua Sooyoung, dalam hal ini adalah appa-nya. Ah, jinjja! Apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Aku benar-benar minta maaf, ahjussi” kata Jae Hoon lagi.

Aku berdehem pelan, “A—Appa,” kataku meskipun aku sendiri tak yakin apa seperti itu cara Sooyoung memanggilnya. Aku menarik napas panjang secara diam-diam, lalu kembali berbicara. “Orenmaneyo, appa

“Aku akan meninggalkanmu disini dan menunggu di gereja” Jae Hon berbisik padaku. “Nikmatilah waktumu bersama appa-mu karena kau sudah sangat lama tidak mengunjunginya” lanjutnya sebelum pergi meninggalkanku.

Aku menatap kepergian Jae Hoon sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Setelah memastikan tidak ada siapapun di tempat ini selain aku, perhatianku baru beralih ke arah makam appa Sooyoung ini. Aku menatap sedih ke arahnya meskipun aku sama sekali tak pernah mengenalnya. Biar bagaimanapun aku juga memiliki seorang appa yang sudah pergi meninggalkanku terlebih dahulu, jadi kurasa aku bisa mengerti perasaan Sooyoung jika saat ini dia sedang berada di tubuhnya sendiri.

Aku menarik napas panjang sesaat sebelum meraba pelan ukiran nama di batu nisan itu. Tidak ada yang aku katakan karena aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa. Tapi berada di tempat ini sendirian sambil memegang batu nisan membuatku seperti terbawa suasana pada makamku sendiri di Gwangju yang baru aku kunjungi beberapa hari yang lalu. Tanpa terasa air mataku menetes meskipun dengan cepat aku menghapusnya.

Ah, aku benar-benar bisa menangis jika terlalu lama berada di tempat seperti ini” kataku pada diri sendiri. “Ini tidak bisa. Aku harus pergi dari sini,”

Aku mengedarkan pandang ke sekitarku, lalu melangkah ke arah yang sama dengan Jae Hon sebelumnya. Aku mengikuti jalan bebatuan yang membawaku ke pintu samping gereja. Awalnya aku sempat ragu untuk memasukinya, tapi suara denting piano dari dalam gereja membuatku langsung melangkahkan kaki melewati pintunya. Mataku menangkap sosok seorang remaja yang sedang memainkan piano denga begitu indahnya, dan aku benar-benar menikmati setiap dentingannya. Tapi kemudian, di sudut ruangan aku melihat Jae Hoon yang sedang duduk di salah satu bangku kayu di dekat mimbar. Pandangannya lurus menatap anak itu dan kelihatannya dia juga sama menikmatinya sepertiku.

Diam-diam aku mendekat, lalu duduk di sampingnya. “Apa dia selalu bermain sebagus itu?” tanyaku yang berhasil mengalihkan perhatian Jae Hoon dari anak itu.

Eo. Ji Ho memang sangat jenius dalam piano bahkan untuk anak seusianya”

“Ji Ho?”

“Orang tuanya dulu tetanggamu, tapi dia kehilangan mereka saat berumur 10 tahun” kata Jae Hoon memberitahuku. Sepertinya dia mengira Sooyoung masih menderita amenesia yang sebenarnya aku buat-buat sendiri. “Sejak itulah dia tinggal di gereja ini” tambahnya singkat.

Aku mengangguk-angguk mengerti dalam diam.

“Apa kau sudah berbicara cukup banyak dengan appa-mu? Ini sudah tiga tahun sejak terakhir kau mengunjunginya” Jae Hoon terus berbicara, mengalihkan pembicaraan dari Ji Ho.

Aku membeku di tempatku. Tiga tahun? Apa yang Sooyoung lakukan sampai dia tidak mengunjungi makam appa­-nya selama itu? Dia pasti sudah benar-benar gila melakukan semua itu.

“Apa kau sama sekali tidak merindukannya?” tanya Jae Hoon karena aku terus diam.

“T-Tentu saja, aku merindukannya” jawabku mau tak mau.

Geureom, kenapa kau hanya sebentar disana?”

Ah, aku—“ Sekeras mungkin aku memaksa otakku untuk memikirkan jawaban yang paling masuk akal dari keadaanku yang sebenarnya. Aku mendesah pelan sebelum melanjutkan bicara. “Kau tahu, tidak banyak yang sudah aku ingat. Jadi, yah—aku tak tahu apa yang harus aku katakan di depan appa

Geurae? Sayang sekali,” celetuk Jae Hoon sambil mengalihkan pandangannya lagi ke arah Ji Ho. “Appa-mu pasti berharap kau akan bercerita banyak setelah tiga tahun”

“Aku tahu. Karena itulah aku meminta maaf padanya” kataku seraya menundukkan kepala. Suara permainan piano Ji Ho terus terdengar memenuhi gereja ini. “Geundae oppa, kenapa tiba-tiba kau mengajakku kesini?”

Pertanyaanku ini langsung membuat Jae Hoon menoleh padaku dan dia menatapku dengan lekat. “Karena appa-mu datang ke mimpiku dan berkata bahwa dia merindukanmu” katanya kemudian.

Aku cukup terkejut mendengar jawaban itu, dan aku benar-benar tak tahu harus memberikan tanggapan bagaimana. Jadi, aku hanya diam dan memilih untuk mengalihkan pandanganku ke arah lain selain Jae Hoon.

Namja itu melanjutkan, “Aku terus menghubungimu tapi kau tak bisa dihubungi. Aku terpaksa mengajakmu kesini dengan cara seperti itu karena sekalipun aku memberitahumu, kau pasti akan menolak untuk datang kesini”

Kedua alisku saling bertaut, tapi aku masih diam.

“Hubunganmu dengan kedua orang tuamu memang tidak terlalu baik. Apalagi dengan eomma-mu” kata Jae Hoon seperti bisa membaca pikiranku yang tidak mengerti. “Eomma-mu sekarang berada di luar negeri, bersama keluarga barunya jika kau bertanya”

Ah,”

Keheningan menghampiri kami untuk beberapa saat. Menyisakan suara lembut permainan piano Ji Ho yang sudah berganti lagunya yang ketiga sejak aku masuk ke dalam gereja ini.

“Aneh sekali rasanya aku memberitahukan tentang orang tuamu padahal kau sendiri tak pernah membicarakan mereka selama aku mengenalmu” Jae Hoon akhirnya memecah keheningan. “Jika aku tidak cukup mengenalmu, mungkin aku akan berpikir bahwa mereka bukanlah orang tua kandungmu”

“Begitu?”

“Yah, terlepas dari itu semua… aku tahu bahwa appa-mu sangat menyayangimu. Begitupula sebaliknya. Meskipun aku tak pernah mendengarmu mengatakan sesuatu seperti ‘saranghaeyo’, ‘bogoshipeoseo’ pada orang tuamu sendiri”

Aku benar-benar tak tahu harus mengeluarkan ekspresi bagaimana karena aku cukup terkejut dengan hal-hal yang baru aku ketahui mengenai keluarga Sooyoung ini. Meskipun aku juga tidak terlalu dekat dengan appa-ku sendiri karena dia sibuk, tapi setidaknya kami sering bertemu dan mengobrol. Sedangkan Sooyoung? Aku bahkan ragu dia sering melakukannya dengan keluarganya sendiri.

“Sooyoung-ah” panggil Jae Hoon dan itu langsung membuyarkan lamunanku. Dia mendesah pelan sebelum akhirnya berbicara. “Kau tahu ‘kan bahwa aku mencintaimu dan menunggumu selama ini?”

Aku mengangguk pelan meskipun ragu.

“Kau memang tak pernah menunjukkan secara langsung bagaimana perasaanmu padaku, karena itulah aku berusaha untuk memahaminya sendiri selama ini” Nada bicara Jae Hoon terdengar lebih serius sekarang. “Memang benar bahwa aku tak suka saat kau dekat dengan namja lain karena aku khawatir kau akan berpaling dariku, siapapun namja itu”

Oppa, apa yang sedang kau coba katakan?”

Jae Hoon menatapku lama, dan entah bagaimana aku bisa melihat di matanya bagaimana dia sangat mencintai yeoja ini. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena sebenarnya Jae Hoon pun tidak seburuk itu jika saja aku bsia lebih mengenalnya seperti dia mengenal Sooyoung. Tapi kemudian, rasa bersalahku berganti cepat dengan keterkejutan. Karena Jae Hoon mendekatkan wajahnya ke arahku, dan dengan penuh kelembutan dia menciumku. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi sampai aku hanya diam membeku di tempatku selama beberapa saat. Sampai akhirnya aku kembali sadar, dan dengan cepat mengakhiri ciumannya itu lalu menjauhkan tubuhku dari Jae Hoon.

Mataku menatap namja di sebelahku ini dengan tidak percaya. Karena meskipun aku berada di tubuh Sooyoung, aku tetaplah Hyosung. Dan aku baru saja berciuman dengan sepupuku sendiri. Aku pasti benar-benar sudah gila sekarang.

“Sooyoung-ah, mianhae. Seharusnya aku—“

Tanpa menunggu Jae Hoon menyelesaikan perkataannya, cepat-cepat aku beranjak dari tempatku dan berjalan keluar dari gereja.

__

Kyuhyun POV

“Sooyoung-ah, kenapa kita berbelanja sebanyak ini?” tanyaku sambil membawa satu kardus besar penuh barang yang kami beli di mal beberapa saat yang lalu. Sementara Sooyoung membawa satu kantong plastik yang isinya jauh lebih sedikit dari isi satu kardusku.

Sooyoung tertawa kecil, “Nanti kau akan tahu sendiri, oppa” jawabnya dengan senyuman tersungging di wajahnya.

Dua hari ini aku memang tidak bertemu dengannya, dan aku bertanya-tanya apa dia memang sibuk atau bagaimana karena akupun tak bisa menghubunginya. Meskipun begitu, aku tahu bahwa dia baru saja pergi bersama Jeon Jae Hoon entah kemana—Yuri yang memberitahuku. Sayangnya, aku terlalu ragu untuk bertanya langsung padanya kemana dia pergi bersama Jae Hoon kemarin dan mungkin aku tak akan bertanya sampai dia memberitahukannya sendiri padaku

Kami terus melangkah menyusuri jalan setapak sempit dengan pembatas selokan di sisi-sisi pinggirannya. Beberapa kali Sooyoung memperingatkanku untuk berhati-hati saat berjalan jika aku tidak mau terjembab ke dalam selokan yang kotor. Itu pasti akan sangat memalukan jika sampai terjadi.

Aku tak tahu kemana Sooyoung akan membawaku. Perjalanan ke tempat ini memakan waktu satu jam lebih. Aku sama sekali tak mengenali daerah ini. Aku hanya tahu bahwa ini daerah perkampungan, dengan jajaran rumah berdempet-dempat, dan tali jemuran yang terpasang sembarangan. Hampir semua rumah memiliki cat-cat yang sudah luruh dan terkelupas di sepanjangan perjalanan keluar dari mobilku. Jalananya hanya bebatuan kerikil yang tidak rata dan jika tidak berhati-hati, siapa saja yang melewatinya bisa tersandung dan jatuh.

Hampir lima belas menit aku dan Sooyoung berjalan, dan yeoja itu sekarang melangkah di depanku tanpa menunjukkan tanda akan berhenti. Tapi aku baru akan bertanya padanya saat pada tikungan di depan kami, Sooyoung tiba-tiba berhenti melangkah. Membuatku hampir saja menabraknya jika aku tidak berhati-hati.

Eonni!

Noona!

Aku mengernyit mendengar teriakan keras yang memekakkan telingaku. Aku berusaha memanjangkan leher, mengintip dari belakang punggung Sooyoung. Ada lima anak perempuan dan empat anak laki-laki terlihat berdiri dengan wajah berbinar menatap Sooyoung. Pakaian mereka kelihatan lusuh, dan wajah-wajah mereka terpulas debu yang membuat kulit mereka terlihat tidak terawat. Rambut-rambut mereka pun seperti tidak pernah disisir, tapi wajah-wajah polos itu sangat memukauku sampai aku bahkan tak bisa mengatakan apa-apa selain hanya memandangi mereka satu per satu.

Noona, apa dia namjachingu-mu?”

Waaa… oppa kau sangat tampan,”

Oppa, ireumi mwayo?”

Hyung, apa hyung bisa bermain gitar?”

“Sooyoung eonni pintar sekali bermain gitar,”

“Tapi dia tidak bisa bernyanyi,” sambung anak lainnya dengan cepat.

Ya! Dok Jin, Hyun Woo. Geumanhae,” sahut Sooyoung sambil menatap tajam ke arah anak-anak itu yang justru tertawa senang. Lalu pandangannya beralih padaku, “Oppa, jangan dengarkan mereka”

Geurae?” sahutku sambil tersenyum tipis, lalu berjongkok di depan salah seorang anak perempuan yang berpotongan pendek dengan poni depan yang berantakan dan mata sipit serta pipinya yang tembam. Tanganku terulur menepuk-nepuk pipi tembam gadis kecil ini. “Ireumi mwoya?”

“Yoon Seung Hee,” jawab gadis kecil itu polos.

Tiba-tiba Sooyoung berseru, “Nah, siapa yang mau makan? Eonni membawa banyak makanan! Ayo kita ke base camp,”

Lalu, anak-anak kecil itu kembali berteriak mengerubungi kami tapi dengan cepat Sooyoung meminta mereka untuk pergi ke tempat yang dia sebut base camp. Aku mengikuti langkah Sooyoung menyusuri jalanan yang lebih kecil lagi ke sebuah rumah kosong tak jauh dari tikungan tadi.

Base camp?” ulangku pada Sooyoung.

“Itu sebuah tempat yang aku jadikan tempat tinggal untuk mereka,” Sooyoung menjelaskan. “Ada banyak anak di tempat ini yang kehilangan tempat tinggal dan orang tua mereka, tapi mereka tak mau pergi ke panti asuhan”

“Kenapa bisa begitu?”

“Mereka tak mau meninggalkan tempat ini untuk pergi ke panti asuhan,” jawab Sooyoung sambil melangkah masuk ke dalam rumah itu. “Mereka tidak mau dipaksa, jadi yah—aku menemukan tempat ini dan membelinya,”

“Kau membelinya?”

Sooyoung mengangguk sambil tersenyum ke arahku. “Setidaknya mereka memiliki tempat yang layak untuk tidur, ‘kan?” katanya sebelum bergabung dengan anak-anak kecil itu yang sekarang mengerubunginya.

Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana bereaksi mengetahui hal ini. Apalagi setelah makan bersama-sama dan bermain dengan mereka, aku menjadi tahu sisi kehidupan lain seorang Choi Sooyoung. Ada banyak sekali hal yang menarik tentang yeoja ini terlepas dari kemiripannya dengan Hyosung, dan itu membuatku semakin kagum padanya. Senyuman Sooyoung dan tawanya bersama anak-anak kecil disini benar-benar sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan entah kenapa aku ikut merasa senang. Apalagi saat kami memainkan sebuah permainan dimana mata Sooyoung ditutup dengan sebuah kain dan diharuskan menemukan siapapun diantara kami untuk menggantikannya. Aku sangat menikmati hari ini, dan kurasa aku tak akan melupakannya di sepanjang hidupku.

Sekarang, kami semua sedang duduk di bawah pohon cherry blossom yang bunga-bunganya mekar tidak sempurna tapi tetap saja indah. Bunga-bunganya yang berwarna merah mudah terlihat sangat cantik saat dihempas angin dan bergoyang-goyang karenanya. Pohon itu menjadi seperti payung yang menaungi kami di tempat ini dari matahari yang memancarkan sinarnya dengan gagah sore ini.

Noona, ayo mainkan sebuah lagu!” seru In Hoo, anak laki-laki yang berambut keriting.

Lalu seorang anak lainnya memberikan sebuah gitar ada Sooyoung yang terlihat tidak percaya dengan permintaan anak-anak ini. Aku tersenyum kecil melihat bagaimana canggungnya Sooyoung dengan gitar di tangannya sekarang. Meskipun mungkin apa yang di katakan anak-anak ini benar bahwa Sooyoung bisa memainkan gitar, tapi aku sedikit tidak percaya melihatnya. Jika dia memang bisa bermain gitar, bukankah seharusnya wajahnya tidak ragu sedikitpun?

Noona sudah lama tidak memainkannya dan noona tidak bisa bernyanyi. Kau tahu itu, In Hoo-ya!” kata Sooyoung berusaha menolak memainkan gitar itu. “Pasti akan memalukan jika noona salah memainkannya,”

Gwenchanayo. Kami selalu bisa menikmati permainan gitarmu, noona. Majjyeo?” sahut In Hoo sambil menatap teman-temannya yang mengangguk setuju. “Tidak usah bernyanyi kalau begitu, cukup mainkan saja”

Majayo, eonni. Kami sudah lama tidak mendengarkannya”

Ah, keuge—“

“Mainkan saja, Sooyoung-ah” sahutku dengan cepat karena tidak sabar ingin melihat bagaimana Sooyoung bermain gitar. Bukankah sangat jarang seorang yeoja bisa memainkan gitar? Itu pasti sangat luar biasa jika melihat dan mendengarnya langsung. “Emm—bagaimana kalau aku yang bernyanyi sementara kau memainkan gitarnya?”

Woah, oppa kau bisa bernyanyi?” tanya seorang anak perempuan berambut panjang sebahu. Namanya Kim Hana, dan dialah yang paling besar kedua setelah Choi In Hoo.

“Yah, jokkeum” jawabku sambil menggaruk tengkukku. “Tidak sebagus penyanyi-penyanyi terkenal yang ada di televisi tapi oppa bisa bernyanyi”

“Kalau begitu, noona ayo mainkan lagu dan hyung yang bernyanyi”

“Jin Mo-ya!”

Waeyo? Shirreo?” sahutku menatap Sooyoung dengan pandangan menggodanya. “Apa kau ingin bernyanyi sendiri untuk memenuhi keinginan anak-anak ini?”

“Bukan begitu oppa,” Sooyoung masih bersikeras. “Aku—ah, jinjja! Sudah lama sekali aku tidak memainkannya,”

Gwenchana. Mainkan saja lagu yang kau bisa,” kataku memberi saran. “Bagaimana kalau lagu When I Fall” Aku mencoba memberikan saran.

When I Fall?

Aku menganggukkan kepala. “Itu lagu milik After School,” kataku memberitahu.

Ah, itu sedikit—“ Sooyoung tidak melanjutkan kata-katanya, tapi dia langsung memetik senar gitarnya dengan perlahan.

Suara petikan gitar Sooyoung benar-benar terlihat lembut yang seketika membuat angin berhembus sejuk entah bagaimana. Tiba-tiba jantungku berdebar-debar saat dia menatapku dengan sebuah senyuman tersungging di wajahnya, dan kemudian mengangguk padaku. Seakan-akan memintaku untuk mulai bernyanyi. Meskipun aku tak percaya jika dia mengetahui lagu ini, tapi aku menyanyikannya dan cukup bersyukur dia menurunkan kunci nadanya jadi aku tidak kesulitan saat mencapai nada-nada tertentu di lagu ini.

Amu maldo pillyo eobtjyo naui nun sogen (Tak perlu berkata-kata)

Gadeukhajyo geudael hyanghan geu seolleimi (Jauh di dalam mataku itu jelas dan penuh)

Boinayo nae nun sogui geu soksagimi (Bahwa perasaanku tertuju padamu)

Sumgyeowatdeon maeum jullae. (Maukah kau memberiku hatimu, yang secara berbisik bersembunyi?)

Nae son jabajullae nan neoreul nochi anheullae (Pegang tanganku, aku tak akan pernah melepaskanmu)

Gidarilgeyo ojik geudae hanaman (Aku akan menunggumu, dan hanya dirimu)

When I fall cheotnune banhaebeorin geol (Saat aku jatuh, itu adalah cinta pada pandangan pertama)

Cuz when I fall sarange ppajyeobeorin geol (Karena saat aku jatuh, aku sudah jatuh cinta)

Sigani meomchun geot gata on sesangi nae geot gata (Rasanya seperti waktu berhenti, seperti aku berada di atas dunia)

I’m fallen in love with you

Nareul boneun geu misoe nan kkumeul kkwoyo (Di senyumanmu, aku bermimpi, aku tak ingin bangun dari kebahagiaan manis ini)

Dalkomhame haengbokhaeseo kkaego sipjin anha (Aku bahagia, jadi aku tak ingin bangun)

Neukkinayo dugeundugeun tteollineun nae mameul badajwo (Bisakah kau merasakannya? Tolong terima hatiku)

I wanna call you my boo my boo

Geudae mameul jullae nan hangsang ganjikhallaeyo (Bisahkah kau memberiku hatimu?)

Gidarilgeyo ojik geudae hanaman (Aku akan selalu menjaganya, aku akan menunggumu dan hanya dirimu)

Sooyoung menghentikan permainan gitarnya dan menatapku lekat-lekat. Meskipun aku mengerti alasannya, tapi aku mengabaikan itu dan meneruskan laguku tanpa petikan gitarnya lagi.

When I fall neoege banhaebeorin geol

Cuz when I fall sarange ppajyeobeorin geol

Geudae naege ol geot gata simjangi teojil geot gata

I’m fallen in love with you

Eoduwotdeon nae mame bichi doeeojun geudae (Dalam hatiku yang gelap, kau menjadi cahayaku)

Chagawotdeon nae mameul ttatteutage hae (Hatiku yang pernah dingin sekali, kau hangatkan)

On sesangeul hayake deopeobeorineun nae sarangeul badajwoyo (Terima cintaku yang terlapisi dunia berwarna putih)

Saranghae geudael yeongwonhi na yaksokhalgeyo (Aku mencintaimu, aku akan berjanji padamu)

Dareun sarameun andwae dareun sarameun sirheo (Bahwa siapapun tak akan melakukannya, tidak seperti orang lain)

When I fall cheotnune banhaebeorin geol

Cuz when I fall sarange ppajyeobeorin geol

Sigani meomchun geot gata on sesangi nae geot gata

I’m fallen in love with you

Aku mengakhiri laguku, dan suara tepukan dari anak-anak kecil ini langsung terdengar memenuhi telingaku. Aku tersenyum lebar, lalu mengedipkan sebelah mataku pada Sooyoung yang terdiam di tempatnya. Meskipun dia hanya diam, tapi aku sempat melihat sebuah senyuman tipis merekah di bibirnya, dan aku tahu bahwa dia menyukai apa yang aku nyanyikan itu.

__

Sooyoung POV

“Jinjja? Kyuhyun oppa melakukannya?” seru Hyosung saat aku menceritakan padanya apa yang terjadi diantara aku dan Kyuhyun kemarin. “Dia bernyanyi?”

Aku hanya memberikan anggukkan singkat karena aku tak mungkin mengatakan sesuatu di tengah-tengah keramaian restoran.

“Eotte? Apa suaranya bagus?”

“Lumayan,” kataku pelan sambil mengamati suasana restoran kali ini. “Jangan mengajakku berbicara disini, eonni

Ah, maja. Arraseo,”

Aku menatap Hyosung sekilas lalu menyapukan pemandangan ke sekeliling restoran. Aku benar-benar tak menyangka jika restoran akan ramai seperti ini. Mungkin karena Seoul sedang diguyur hujan lebat sejak beberapa jam yang lalu, jadi banyak orang yang memilih untuk berteduh sekaligus makan siang. Tapi hari ini benar-benar diluar dugaan, mengingat tadi pagi cuaca begitu hangat dan cerah tapi ternyata hujan turun menjelang siang.

Sambil mengawasi para pengunjung, aku mengamati dengan seksama sekitarku. Sebuah lagu ballad yang tengah diputar terdengar ke seluruh penjuru restoran melalui pengeras suara, berkolaborasi dengan suara dentingan piring-piring, sendok dan garpu serta suara tawa dan obrolan pengunjung. Aroma masakan dari arah dapur benar-benar tercium, bahkan dari tempatku berdiri. Membuatku ingat pada Nanta Show yang sempat aku tonton bersama Kyuhyun. Aku benar-benar masih ingat semua hal di pertunjukkan itu juga apa yang terjadi diantara aku dan dia kemarin.

Aku mengalihkan pandangan ke dua buah jendela kaca besar yang mengapit pintu masuk di sisi sebelah kiri ruangan. Mataku menatap keluar, mengamati kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya dan orang-orang yang berjalan di trotoar dengan menggunakan jas hujan atau payung warna-warni di jalanan Sinchon ini. Lalu aku menangkap sosok seorang yeoja yang terlihat tidak asing yang sedang berusaha untuk menyeberangi jalan. Mataku menyipit sambil terus memperhatikan yeoja itu.

Saat kendaraan sudah mulai sepi, yeoja itu mulai menyeberang jalan dengan setengah berlari dan berjalan menuju ke restoran ini. Aku membelalakkan mata saat dia berdiri mematung di depan pintu masuk restoran karena dia adalah Jeon Hyomin. Pandangan matanya menatap lurus ke arah papan nama restoran kami tanpa berkedip sebelum akhirnya dia mendorong pintunya, membuat lonceng di atas pintu masuknya bergemerincing. Diapun masuk ke dalam restoran dan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan lalu menghentikan pandangannya saat matanya bertatapan dengan mataku.

“Jeon Hyomin,” seru Hyosung yang ternyata sedang menatap ke arah yang sama denganku. “Apa yang dia lakukan disini?”

Aku juga mengenali yeoja itu, dan berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau mencurigakan lainnya. Lalu akupun tersenyum ramah saat Hyomin melangkah menghampiriku dengan senyuman lebarnya.

A—Annyeonghaseyo,” sapaku.

Annyeonghaseyo, Sooyoung-ssi” kata Hyomin masih tersenyum ramah. Aku melirik Hyosung yang menunjukkan ekspresi jijik melihat kakak tirinya ini berada di depannya. “Apa masih ada meja yang kosong?” tanyanya padaku.

Geureomnyo,” sahutku dengan cepat, dan mengabaikan sikap Hyosung.

“Ya! Jangan berikan dia kursi” celetuk Hyosung seraya menatap kakak tirinya dengan tajam.

Hyomin tersenyum senang dan dia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh restoran.

Aku menghela napas pelan dengan diam-diam, lalu mencari seseorang yang bisa menggantikanku di meja kasir. Tak lama, aku melihat Kim Eun Bi yang baru saja keluar dari dapur dan dengan cepat aku melambaikan tangan ke arahnya agar dia mendekat ke arahku.

“Eun Bi-ssi, tolong gantikan aku disini” kataku setelah yeoja itu berada di dekatku.

Ne,”

Ya! Apa yang kau lakukan, Sooyoung-ah?”

Aku terus mengabaikan Hyosung dan bergegas keluar dari meja kasir. Lalu akupun memandu Jeon Hyomin ke sisi lain restoran dimana masih ada meja yang tersisa disana. Aku tak tahu kenapa aku harus melakukan ini, tapi biar bagaimanapun dia tetap pelangganku, ‘kan? Terlepas dia memiliki masalah dengan Hyosung atau tidak. Lagipula dia juga sama seperti Hyosung, yaitu putri Jeon Daesung. Karena itulah aku tetap memberikan daftar menu makanan, mencatatnya dan terus bersikap ramah di depan yeoja ini karena memang seperti itulah seharusnya.

“Duduklah disini bersamaku, Sooyoung-ssi” seru Hyomin saat aku akan melangkah pergi untuk memberikan makanan pesanan ke dapur. “Aku ingin mengobrol denganmu” Dia menambahkan.

Ne?” sahutku terkejut.

Hajima,”

“Anjaseyo,”

Ah,” kataku sedikit gugup. Aku melirik Hyosung yang terus melarangku melakukannya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya ke arahku. “Jamkkamanyo, aku akan memberikan ini dulu dan kembali kesini” kataku pada akhirnya.

Jeon Hyomin menganggukkan kepalanya.

Cepat-cepat aku melangkah pergi dari meja Hyomin itu, dan menuju dapur dimana ada Yuri disana. Aku langsung memberikan menu pesanan Jeon Hyomin itu dan tak tahu apa aku harus kembali kesana atau tidak. Jujur saja, aku masih terkejut dengan kedatangannya ke restoran ini dan sekarang dia bahkan memintaku untuk duduk bersamanya. Ditambah Hyosung yang terus melarangku untuk tidak kembali kesana. Tapi kenapa dia tiba-tiba datang kesini? Hyosung berkata jika Hyomin bukanlah tipe orang yang pergi ke suatu tempat tanpa tujuan tertentu, jadi aku yakin pasti ada sesuatu yang ingin dia lakukan.

Ya! Geu yeoja nuguya?” tanya Yoona yang tiba-tiba bergabung ke dapur. “Aku baru pernah melihatnya, tapi sepertinya dia mengenalmu. Apa kau juga mengenalnya?” Dia bertanya padaku.

Aku diam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Dia—Dia sepupunya Jae Hoon oppa” kataku tak memberitahukan identitasnya yang sebenarnya. Tapi bukankah itu juga benar?

“Sepupunya Jae Hoon oppa?” seru Yuri menyahut. “CEO Daehan Group?”

Ya! Pelankan suaramu!” sahutku cepat. “Ah, jinjja! Aku harus pergi menemuinya”

Yoona dan Yuri menganggukkan kepalanya bersamaan, lalu akupun pergi meninggalkan dapur dan kembali menemui Jeon Hyomin. Dia tersenyum lebar saat melihatku datang dan menunjuk ke kursi di depannya, seakan-akan memintaku untuk mendudukinya. Mau tak mau aku mengikuti permintaannya dan duduk di kursi itu, kembali mengabaikan sikap defensif Hyosung. Selama beberapa saat aku diam, menunggu Hyomin yang mulai berbicara terlebih dahulu padaku karena jujur saja aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana di depan yeoja ini.

Orenmaneyo, geujjyo?” Hyomin pada akhirnya memecahkan keheningan diantara kami berdua. “Jal jinaesseoyo?”

Ne, jal jinaesseoyo” jawabku meskipun ragu. “Oh… apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?”

Aniyo, bukan sesuatu yang penting” kata Hyomin masih dengan senyum yang ramah. “Geunyang—aku ingin mengobrol denganmu”

Aku melirik Hyosung sesaat, lalu berpaling pada Hyomin. “Mengobrol denganku?”

Hyomin mengangguk.

Aku melihat Hyosung menggaruk bagian belakang kepalanya seakan-akan tak mengerti dengan sikap Hyomin yang satu ini. Meskipun begitu Hyosung telah membisikkan padaku bahwa Hyomin sangat tidak terlihat seperti Hyomin yang dia kenal sekarang. Membuatnya merasa gelisah dan juga penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.

“Sooyoung-ssi,” Hyomin kembali berbicara. “Kalau boleh aku tahu, apa kau orang Seoul?”

Keningku berkerut, tapi aku masih diam.

Ah, aku hanya merasa kau sepertinya bukan orang Seoul sebelumnya. Jadi, mungkin saja kau pernah tinggal di kota lain atau—“

“Ansan,” celetukku menyela perkataan Hyomin itu. “Aku pernah tinggal di Ansan sebelumnya”

Ah, geurae?”

Oh Yeo Jin—salah satu pelayan restoranku ini datang membawakan pesanan Hyomin, jadi untuk beberapa saat suasana diantara kami menjadi hening. Aku memilih membantu Yeo Jin untuk menyembunyikan kecanggunganku sekarang. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku mengobrol dengan Hyomin tanpa ditemani siapapun kecuali gwishin adik tirinya yang terus menerus melontarkan komentar tidak menyenangkan tentang kakaknya sendiri.

“Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Jae Hoon?” Hyomin sepertinya juga merasakan kecanggungan diantara kami, jadi dia kembali bertanya. “Apa kalian berkencan?”

Aniyo, aniyo. Kami tidak berkencan,” jawabku dengan cepat. “Emm—aku dan Jae Hoon oppa memang dekat, tapi kami tidak berkencan” Aku melanjutkan.

Hyomin mengangguk-anggukkan kepala. “Aku berharap aku juga bisa dekat denganmu, Sooyoung-ssi” katanya kemudian yang membuatku cukup terkejut mendengarnya. “Apa kau mau berteman denganku?”

Micheoseo?” celetuk Hyosung berkomentar pada Hyomin.

Ne?” celetukku spontan. “Ah, ne—geureomnyo” Cepat-cepat aku menambahkan meskipun aku sendiri menyesalinya setelahnya.

“Ya! Choi Sooyoung, kenapa kau—“ Hyosung tidak melanjutkan perkataannya dan hanya menatapku dengan tajam.

Hyomin tersenyum padaku, dan mau tak mau balas tersenyum ke arahnya. Dia sama sekali tak menyentuh makanan di depannya, tapi justru menatapku dengan lekat. Membuatku merasa semakin gugup meskipun aku harus terus menyembunyikannya dengan baik. Ditambah lagi dengan sikap Hyosung dan desisan-desisannya yang benar-benar mengangguku. Membuatku berpikir bagaimana sebenarnya hubungan kedua orang ini sebelumnya?

Ah, na jigeum gaya dwaeyo” seru Hyomin tiba-tiba sambil menatap ke arah jam tangannya. Lalu dia mendorong kursinya dan berdiri, “Josanghaeyo, kita tak bisa mengobrol banyak untuk hari ini” katanya padaku.

Aku ikut berdiri, “Gwenchanayo

“Pergi saja,” Hyosung ikut menyambung. “-dan jangan kembali kesini”

“Tapi aku bersungguh-sungguh mengatakannya, Sooyoung-ssi. Aku benar-benar ingin bisa dekat denganmu” Hyomin terus berbicara. “Aku akan datang lagi lain kali kalau begitu”

Ne, juseyo

Ah, makanlah apa yang sudah aku pesan” katanya sebelum dia melangkah pergi. “Sebenarnya, aku memesankannya untukmu jadi selamat menikmati makananmu” Dia menepuk belan bahuku sebelum benar-benar pergi meninggalkan meja ini.

Untuk beberapa saat aku hanya diam membeku di tempatku meskipun mataku terus menatap ke arah Hyomin. Aku sempat melihatnya sedang membayar di kasir dan dia bahkan kembali menoleh padaku dengan senyuman di wajahnya, lalu mendorong pintu restorannya. Aku mengerjap dan menggelengkan kepala, berusaha untuk tidak memikirkan apa yang sebenarnya sedang Hyomin lakukan ini.

“Dia benar-benar terlihat aneh, ‘kan?” celetuk Hyosung kemudian. “Aku bahkan tak pernah tahu jika dia bisa seramah itu dengan seseorang. Sepertinya aku harus mencari tahu alasan Hyomin melakukan semua ini”

“Dia kakakmu, kenapa kau sangat mencurigainya?”

“Kau tak tahu bagaimana dia. Tapi bukankah kau tahu bahwa ibunya –lah yang telah—“

Arraseoyo, mianhaeyo” sahutku dengan cepat menyela perkataan Hyosung. “Jangan banyak mengajakku bicara saat ada banyak orang, eonni. Aku tidak mau dianggap orang gila karena tak tahan untuk tidak menanggapimu,”

Hyosung tertawa kecil, “Geurae. Aku sebenarnya senang jika ada orang yang menganggapmu gila atau bagaimana” komentarnya sambil melangkah pergi meninggalkanku sendirian.

__

Kyuhyun POV

Aku duduk termenung di rooftop rumah sakit sambil terus menatap ke gedung-gedung yang menjulang tinggi jauh di depanku. Entah kenapa, setelah beberapa hari tidak melakukannya—lagi-lagi, aku memikirkan Sooyoung dan Hyosung serta kemiripan mereka yang semakin membuatku merasa aneh. Meskipun aku sudah berusaha keras untuk tidak melakukannya, tapi aku tahu bahwa jauh di dalam hatiku aku masih melakukannya. Karena rasanya benar-benar aneh jika aku tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku, seolah-olah ada sesuatu yang menggantung dan aku sangat ingin mencari tahu jawabannya.

Dari awal aku memang sudah merasa bahwa kedua yeoja itu—entah bagaimana, memiliki suatu kemiripan yang menjadikan alasanku tertarik pada Sooyoung. Tapi aku terus menekankan pada diriku bahwa mereka adalah dua yeoja yang berbeda. Terkadang aku berhasil melakukannya meskipun kemudian perasaan itu kembali muncul. Ditambah lagi beberapa kali aku benar-benar melihat Hyosung saat aku sedang bersama Sooyoung, dan itu cukup menjelaskan kenapa aku gelisah meski aku terus menyembunyikan perasaan itu.

Jujur saja, aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi karena mereka seperti dua orang tapi berada di tubuh yang sama. Cara Sooyoung berbicara, sikapnya, caranya tertawa, kebiasaannya dan kesukaannya benar-benar seperti Hyosung. Seringkali aku bahkan memperhatikan hal-hal kecil yang Sooyoung lakukan, seperti misalnya menggigiti ibu jarinya saat dia sedang tenggelam dalam pikirannya atau menggigit bibir bawahnya saat dia sedang gelisah. Itu sama persis dengan apa yang Hyosung lakukan, bahkan dari ekspresinya, caranya duduk, dan menatap ke satu arah.

Aku mendesah panjang, lalu memejamkan mata. Aku membiarkan mataku tertutup untuk beberapa saat dan merasakan semilir angin sore yang menerpa tubuhku. Beberapa hari yang lalu aku memang selalu mengabaikan fakta bahwa Sooyoung ini mirip dengan Hyosung. Tapi saat aku pergi dengannya untuk menonton Nanta Show inilah, aku benar-benar tak bisa menghilangkan perasaan aneh yang terus muncul pada diriku—meskipun dia cukup membuatku terkesan dengan permainan gitarnya yang tidak bisa Hyosung lakukan. Tapi saat di pertunjukkan itu, mulai dari saat Sooyoung datang ke rumah sakit dan menyemangatiku setelah aku melakukan operasi. Lalu mobil Audi putih itu dan saat kami menonton pertunjukkan. Ada hal-hal tertentu yang membuatku gelisah meskipun aku berusaha untuk terus mengendalikan diriku.

“Duduk sendirian disini seperti ini membuatmu terlihat seperti seseorang yang sedang depresi. Apa kau tahu itu?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Tanpa aku menoleh, aku tahu bahwa itu adalah suara Donghae. Benar saja, tak lama kemudian diapun duduk disampingku. “Waegeurae? Apa kau sedang ada masalah?” tanyanya kemudian.

Aku menghela napas singkat sebelum menjawab. “Aku tak tahu apa ini merupakan masalah atau bukan”

Aigoo… kau justru membuatnya terdengar seperti itu adalah masalah yang sulit”

Aku memilih untuk tidak menanggapi guruan Donghae yang satu itu.

“Jadi, apa berita itu benar?” tanya Donghae mengabaikan diamku. “Bahwa kau dan Choi Sooyoung-ssi berkencan. Itu yang dikatakan para perawat di departemen kita”

Aku sempat ragu untuk memberitahu Donghae bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Sooyoung. Tapi kemudian, akupun membuka mulut. “Geurissae… aku tak tahu apa hubunganku dengannya bisa dikatakan berkencan atau tidak”

“Kenapa bisa begitu?”

Aku mengendikan bahu, “Kami sangat dekat untuk bisa dikatakan teman, tapi dia belum memberitahuku bagaimana perasaannya yang sebenarnya meskipun aku sudah lebih dahulu melakukannya”

“Apa maksudnya ‘kau sudah lebih dulu melakukannya’?” tanya Donghae dengan satu alisnya yang terangkat.

“Aku sudah menyatakan perasaanku padanya dan—“

Mwo? Secepat itu?” Donghae menyelaku. “Yah, aku tak tahu jika kau benar-benar segila ini”

Geurae, aku memang sudah gila sekarang” sahutku sambil memalingkan wajahku dari Donghae. “Aku cukup gila sampai terus menyamakannya dengan Hyosung meskipun aku sudah menekankan pada diriku untuk tidak melakukannya”

“Hyosung?” celetuk Donghae kemudian. “Kurasa tidak ada yang sama antara dia dengan Hyosung. Jadi, apa maksudmu?”

Aku kembali menghela napas, “Bukankah sudah pernah aku katakan sebelumnya?”

“Tentang apa?”

“Bahwa ada dua yeoja yang kelihatannya sama padahal mereka berbeda” jawabku menahan ketidaksabaranku menghadapi Donghae yang terkadang memang menyebalkan. “Apa yang aku katakan itu, mengenai dua yeoja itu adalah Sooyoung dan Hyosung”

Jamkkaman, biarkan aku berpikir terlebih dahulu” seru Donghae dengan cepat. Akupun menoleh ke arahnya dan melihat keningnya yang berkerut tajam, seperti seseorang yang sedang berpikir keras. “Aku memang ingat kau pernah mengatakan hal seperti itu, tapi aku sama sekali tak berpikir jika apa yang kau katakan itu memang benar terjadi”

Isanghae, geujjyo?”

“Jika dipikir-pikir, itu memang aneh” sahut Donghae sambil menggosok-gosokkan dagunya. “Apalagi mereka sama sekali tidak ada hubungan, seperti misalnya ikatan darah atau bahkan karena donor tertentu” lanjutnya.

Aku diam saja dan mendengarkan.

“Tapi apa kau yakin mereka semirip itu?” tanya Donghae tiba-tiba.

Eo,”

“Bahkan sampai hal-hal sekecilnya sekalipun?”

Aku mengangguk.

“Dan kau menyukainya karena kemiripannya itu?”

Aku diam saja karena aku sama sekali tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Tapi apa yang Donghae katakan itu benar-benar membuatku semakin memikirkan Sooyoung dan Hyosung. Apa benar aku menyukai yeoja itu bukan karena dia mirip dengan Hyosung? Ah, kenapa sekarang aku justru meragukan perasaanku sendiri pada Sooyoung?

Ya! Jika yeoja itu terlihat sangat mirip dengan Hyosung-ie seperti yang kau katakan, dan kemudian kau jatuh cinta padanya—“ Donghae berhenti sesaat untuk mendesah panjang. Lalu diapun kembali berbicara, “—bukankah itu karena kau sebenarnya menyukai Hyosung bukan yeoja itu?”

Mataku mengerjap mendengarkan perkataan Donghae yang satu ini. Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa.

“Apa kau pernah memikirkan ini sebelumnya?” tanya Donghae lagi meskipun sedari tadi aku terus diam.

Aniya,”

Aku dan Donghae sama-sama diam karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Pikiranku melayang pada saat-saat aku bersama Sooyoung, berusaha mengartikan sendiri semua hal yang terjadi diantara aku dan dia, termasuk perasaan-perasaan yang aku rasakan. Aku memijat pelipisku sambil terus memikirkan yeoja itu. Bagaimana jika aku menyukainya karena dia terlihat sama dengan Hyosung? Apa itu masih disebut cinta?

“Kyuhyun-ah, tiba-tiba ini terlintas di kepalaku” seru Donghae setelah dia diam cukup lama. “Hmm—Hyosung-ie… hoksi… geuga-eobsneun yeodongsaeng geureohji?”

Aniya, eobseo” jawabku dengan cepat. “Dia hanya memiliki seorang eonni, dan tidak ada saudara lainnya” Aku menambahkan.

Ah, geurae?” sahut Donghae sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Yah—kupikir dia sebenarnya memiliki dongsaeng atau semacamnya, tapi tak ada yang mengetahuinya”

“Kupikir kau terlalu banyak menonton drama, Donghae-ya” Aku menyahut dengan cepat. “Ya! Kau benar-benar perlu berhenti menonton drama-drama seperti itu. Yeoja cheoreom

Donghae tersenyum. “Justru kau yang seharusnya mulai mengikuti drama. Jadi, kau bisa lebih mendramatisir sesuatu dengan baik”

Ya! Apa gunanya mendramatisir sesuatu?”

“Kau benar-benar tidak menyenangkan jika berurusan dengan hal-hal seperti ini,”

Aku mendengus kecil tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

Lalu getaran keras dari saku Donghae terdengar dan membuatnya terlonjak kaget. Aku harus menahan tawaku melihatnya terkejut seperti itu dengan menatap ke arah lain. Aku benar-benar tak tahu apa yang sedang ada di pikiranku sekarang karena semuanya terasa membingungkan dan aku juga tak bisa mengartikan perasaanku sendiri untuk saat ini.

“Kyuhyun-ah, aku harus pergi” seru Donghae tiba-tiba sambil berdiri dari tempat duduknya. “Jika kau masih kebingungan apa kau benar-benar menyukai Sooyoung-ssi karena dia memang Sooyoung-ssi, kau bisa bertanya padaku”

Aku kembali mendengus kecil, “Bertanya padamu?”

“Jika dia memang mirip dengan Hyosung, maka akupun mengenalnya secara tidak langsung ‘kan?” sahut Donghae. “Ah, apapun itu. Pastikan kau tidak sendirian seperti orang yang—“

Donghae mendadak menghentikan kata-katanya. Saat aku menoleh ke arahnya, ternyata dia sedang menatap ke satu arah. Mau tak mau akupun mengikuti arah pandangannya dan aku cukup terkejut melihat Choi Sooyoung sedang berdiri di belakangku. Aku tak tahu sejak kapan dia berdiri disana, tapi sepertinya dia mendengar banyak pembicaraanku dengan Donghae. Karena detik berikutnya, dia membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa mengatakan apapun padaku.

Untuk sesaat ada dorongan dalam diriku untuk mengejar Sooyoung, tapi kemudian aku mengurungkannya. Bukan karena aku tak mau, tapi karena aku membiarkan diriku untuk lebih mencari tahu bagaimana sebenarnya perasaanku padanya. Karena sekarang—entah bagaimana, aku sedikit ragu bahwa aku benar-benar mencintainya karena dia adalah Choi Sooyoung, bukan karena dia seperti Jeon Hyosung. Seperti apa yang Donghae katakan padaku.

__

Hyosung POV

“Sooyoung-ah!” seruku memanggil Sooyoung yang terus melangkah dengan cepat keluar dari rumah sakit.

Aku tahu Sooyoung mendengar panggilanku, tapi dia terus mengabaikanku. Beberapa kali aku berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi di rooftop, tapi dia juga mengacuhkanku. Meskipun begitu aku sama sekali tak menyerah, dan mempercepat langkahku sendiri lalu berhenti di depan yeoja itu. Aku berharap dia akan menghentikan langkahnya tapi bukannya berhenti, dia justru menembusku begitu saja. Aku menatap tidak percaya pada Sooyoung sebelum akhirnya bergegas menyusulnya lagi.

“Sooyoung-ah, kau seharusnya mendengarkanku terlebih dahulu” kataku terus mengejar Sooyoung.

“Apa yang bisa kau jelaskan padaku?” kata Sooyoung dengan nada tingginya, dan itu cukup membuat orang-orang disekitarnya menoleh menatapnya. Tapi sepertinya dia tidak memedulikan itu semua karena dia kembali berbicara padaku. “Dia tetap mencintaimu, bukan aku. Kau pikir aku bodoh, huh?”

“Tetap saja, kau harus—“

“Kau tak perlu menjelaskan apapun padaku karena semua itu sudah jelas” Sooyoung menyela perkataanku.

“Ani, aku perlu memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi“

Sooyoung tiba-tiba berhenti melangkah, dan dia menatapku dengan tajam. “Ttarahajima!” serunya dengan tegas.

Belum sempat aku mengataka apapun lagi, Sooyoung sudah kembali berjalan dan dia langsung menghentikan taksi yang sedang melintas. Dia bergegas memasukinya dan sama sekali tidak menatapku saat taksi mulai melaju meninggalkan rumah sakit Yangji. Aku benar-benar tak bisa melakukan apapun kali ini selain hanya membiarkan dia pergi. Mataku terus menatap taksi yang membawanya entah kemana karena aku yakin dia pasti tidak akan kembali ke apartemen atau bahkan datang ke restoran. Tidak dengan kedaannya yang sekarang.

Aku mendesah panjang meskipun tak ada udara yang keluar sana, lalu menundukkan kepala. Aku benar-benar tak menyangka jika kedatanganku dan Sooyoung ke rumah sakit untuk menemui Kyuhyun justru berakhir seperti ini. Siapa yang tahu jika namja itu sedang membicarakanku dan Sooyoung dengan temannya, Lee Donghae? Tentu saja aku mengenal Donghae dengan berbagai celotehannya, tapi sayangnya Sooyoung tidak. Mungkin dia menganggap serius beberapa perkataan Donghae itu, dan terprovokasi olehnya sampai dia bersikap seperti itu.

Ah! Jinjja!” umpatku kesal. “Seharusnya aku tak memberitahunya jika Kyuhyun oppa sedang berada di rooftop”

Aku kembali mendesah, lalu mengarahkan pandanganku ke rumah sakit Yangji di belakangku. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas melangkahkan kakiku ke sana untuk mencari tahu apa yang sekarang sedang Kyuhyun lakukan. Tapi baru beberapa langkah aku memasuki halamannya, mataku menangkap sosok Jeon Hyomin yang sedang berjalan menunju mobilnya. Tangannya membawa sebuah amplop besar berwarna putih dan ekspresinya terlihat terkejut tapi juga senang. Karena penasaran akhirnya aku memilih untuk menghampiri Hyomin dan melupakan sejenak masalah Kyuhyun serta Sooyoung itu. Karena aku akan mengurusnya nanti setelah aku mencari tahu apa yang sedang Hyomin lakukan disini.

“Kita menemukannya sekarang,” kata Hyomin pada namja yang sudah menunggunya di samping mobil yang langsung membukakan pintu mobilnya untuknya. “Sugohasseo” katanya sambil menepuk pelan bahu namja itu sebelum masuk ke dalam mobil.

Bergegas aku ikut masuk dan duduk di sebelah Hyomin yang saat ini sedang tersenyum senang sambil terus memegangi amplop itu dengan erat, seperti sebuah harta yang berharga. Apa dia masih belum tahu bahwa ibunya telah membunuhku sampai dia harus tersenyum seperti itu? Aku yakin senyuman itu juga akan hilang saat ibunya benar-benar ditangkap, dan itu tinggal menunggu waktu saja sampai aku mendengar beritanya ada dimana-mana.

Pandangan mataku beralih dari ekspresi Hyomin ke amplop di tangannya. Kedua alisku saling bertaut, berusaha untuk menebak apa isinya dan menghubungkannya dengan apa yang tadi dia katakan pada namja yang sekarang duduk di kursi depan.

Seolma—“ Aku mengalihkan pandanganku dari amplop ke arah Hyomin lagi. “Kau menemukan anak itu?” seruku kemudian.

Ahjussi, ini benar-benar luar biasa. Akhirnya aku menemukannya,” Hyomin berbicara pada ahjussi supir dan tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan di wajahnya. “Setelah sekian lama… uri Hyosung-ie, aku menemukannya” katanya lagi.

Chukkahaeyo, isanim

“Heol, kurasa memang benar. Anak itu benar-benar sudah ditemukan” kataku cukup terkejut bahwa tebakanku benar. “Geundae nuguji?” tanyaku sambil melipat kedua tanganku di depan dada.

“Apa kita langsung pergi mendatanginya, isanim?” tanya ahjussi supir seraya melirik Hyomin dari kaca spion di depannya. “Anda pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, ‘kan?”

Geurae, aku memang sudah tidak sabar” jawab Hyomin. “Tapi kurasa aku bisa menahannya untuk sementara”

Waeyo?” Kali ini namja itu yang berbicara, yang sayangnya tidak aku ketahui namanya meskipun aku pernah melihatnya di restoran dulu.

Hyomin tersenyum, “Aku hanya ingin menyiapkan sesuatu terlebih dahulu untuknya sebelum aku benar-benar memberitahunya”

“Yah, dongsaeng Anda benar-benar beruntung memiliki kakak seperti Anda, isanim” komentar ahjussi supir. “Sudah sangat lama Anda kehilangannya, tapi Anda masih tetap mencarinya seperti ini, dan bahkan Anda menyiapkan sesuatu untuknya”

Aku tertawa getir mendengarnya, tapi tak mengatakan apa-apa.

“Tentu saja, ahjussi. Biar bagaimanapun dia adalah dongsaeng-ku meskipun kami lahir dari ibu yang berbeda. Uri Hyosung-ie

Ahjussi supir itu tersenyum—sepertinya dia orang yang ramah melihat dari caranya menyunggingkan senyuman di wajahnya. Berbeda dengan namja disebelahnya yang terlihat lebih tegas. Aku bahkan sama sekali tak melihat senyum di wajahnya sedari tadi, meskipun beberapa kali aku melihatnya mencuri pandang ke arah Hyomin dan amplop itu.

Geureom… apa Anda juga berencana mengumumkannya di depan direksi?” tanya namja itu dengan wajahnya yang sangat serius.

“Tentu saja,” jawab Hyomin tanpa ragu. “Aku akan mengumumkannya, tapi aku juga harus memastikan dongsaeng-ku bisa menerima fakta ini terlebih dahulu” katanya lagi.

“Lalu bagaimana dengan Hyosung-ssi?” celetuk supir ahjussi ikut menyambung. “Ah, maksudku dongsaeng Anda yang sudah meninggal. Almarhum Hyosung-ssi” Cepat-cepat dia menjelaskan maksud perkatannya.

Aku mencelos karena namaku disebut. “Memangnya kenapa dengan aku? Lagipula aku sudah tidak ada lagi di kehidupan kalian—”

“Kenapa dengannya?”

“Jika Anda mengumumkan bahwa dongsaeng Anda bukanlah Hyosung-ssi yang itu, maka dia akan kehilangan—“

“Dia tetap dongsaeng-ku bagaimanapun juga” sahut Hyomin yang cukup membuatku terkejut. “Meskipun dia sama sekali tidak ada hubungan darah denganku, tapi dia sudah menjadi dongsaeng-ku selama ini dan aku tak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku sedikit menyayanginya”

Mwo?” celetukku kembali terkejut mengetahui semua ini.

“Sudah lama aku mengetahui bahwa Hyosung bukanlah Hyosung dongsaeng-ku, tapi dia melakukan perannya dengan sangat baik menggantikan Hyosung yang sebenarnya meskipun dia sendiri tak mengetahuinya, bahkan sampai dia harus pergi seperti itu” Hyomin melanjutkan perkataannya yang didengarkan olehku, ahjussi supir dan namja disebelahnya. “Sebenarnya aku merasa kasihan dan menyesal untuknya. Aku bahkan berencana memberitahunya tentang semua ini, dan berusaha memperbaiki hubunganku dengannya setelahnya. Tapi siapa yang menyangka jika dia pergi secepat itu”

Aku menundukkan kepala mendengar perkataan Hyomin yang terdengar tidak dibuat-buat itu. Aku sama sekali tak menyangka jika dia sebenarnya cukup peduli padaku—meskipun sedikit, tapi itu benar-benar sangat berarti karena aku dan dia memang bisa dikatakan sangat asing selama ini.

“Hyosung… Dia tidak seburuk itu sebenarnya,” Suara Hyomin kembali terdengar olehku. “Hanya karena aku tak peduli padanya dan tidak banyak bicara dengannya, bukan berarti aku tidak menyayanginya ‘kan, ahjussi?”

Majayo,”

“Apa kau akan tetap mengatakan hal seperti itu jika aku masih hidup?” komentarku kemudian. “Aku bahkan benar-benar bukan putri appa, yah dunia ini memang kejam”

“Terlepas dari kepergian Hyosung, aku sangat lega karena pada akhirnya bisa menemukan kembali dongsaeng-ku” kata Hyomin masih terus berbicara. “Dia pasti sudah kesepian selama ini. Membayangkan bagaimana dia harus hidup dengan orang yang bukan keluarganya benar-benar membuatku merasa bersalah karena tidak mencarinya lebih cepat”

“Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada dongsaeng Anda, isanim? Sampai dia hilang selama itu” tanya namja yang masih tidak mengubah ekspresinya.

Hyomin menghela napas singkat sebelum berbicara. “Dia hilang saat kami sedang berlibur bersama di Wolmi-do. Itu salahku karena meninggalkannya sendirian saat itu”

Geureom, kenapa selama ini Hyosung aghassi tidak pernah mencari Anda atau keluarganya?”

Hyomin mengangkat kedua bahunya dan aku kembali melihatnya menghela napas. “Itu yang harus aku tanyakan juga padanya nanti” katanya menjawab.

Heol—wanjeon daebak” komentarku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku mendengar semua ini. “Aku dibunuh dan menjadi seperti ini, dan sekarang aku bukanlah putri appa. Ini benar-benar luar biasa” kataku yang berusaha menjaga suaraku untuk tidak bergetar saat mengatakannya.

Aku mengerjapkan mata, dan setetes air mata langsung jatuh ke pipiku. Cepat-cepat aku mengusapnya selain karena aku terkejut aku masih bisa mengeluarkan air mata, juga karena aku tak mau menangis sekarang. Lagipula apa yang harus aku tangisi? Statusku yang bukanlah putri appa dan pewaris Daehan Group? Semua itu bahkan tidak akan dibawa saat mati. Tapi kenapa rasanya aku tetap ingin menangis?

Gerakan tangan Hyomin membuka amplop putih itu mengalihkan perhatianku. Aku kembali mengusap kedua pipiku dan mengawasi apa yang dilakukan yeoja ini. Amplop itu terbuka, dan isinya sebuah kertas—semacam laporan. Aku ikut membacanya saat Hyomin menatap kertas itu. Sebenarnya dari awal aku sudah menduga jika isinya adalah hasil laporan sesuatu, dan memang benar itu adalah hasil sebuah tes DNA. Mataku mengerjap beberapa kali saat melihat semua hal yang ada di kertas itu menyatakan sesuatu dengan tulisan berwarna hijau. Lalu pandanganku beralih pada bagias atas kertas yang biasanya menunjukkan nama siapa yang telah melakukan tes DNA ini. Detik berikutnya, mataku langsung membelalak karena nama Choi Sooyoung-lah yang tertulis disana.

“Sooyoung-ie?” gumamku terkejut.

Aku menatap kertas itu lagi untuk memastikan kembali. Memang benar nama Choi Sooyoung tertulis disana—ada nama appa-nya juga Choi Jin Mo, lalu ada nama appa-ku—Jeon Daesung, dan juga Jeon Hyomin. Aku terdiam di tempatku untuk beberapa saat karena terkejut. Aku benar-benar tak menyangka jika ternyata anak itu, pewaris Daehan Group itu, putri appa yang sebenarnya itu adalah Choi Sooyoung.

“Sooyoung-ssi. Kita akan segera bertemu lagi” Aku bisa mendengar Hyomin bergumam di sebelahku. “Aku benar-benar tidak sabar memberitahumu bahwa kau adalah dongsaeng-ku”

Maldo andwae—“

-TBC-

Eotte?

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

23 thoughts on “[Series] Once Again, Love -8-

  1. gak tau kenapa di part ini aku ampe nangis.. Mngkin ksihan ama hyosung.. Well pngorbanan jaehoon itulohhh, ya tuhan kasih yang kayak gitu satu buat aku dong

  2. Wowwww daebbak … wanjeon daebbak …. Sooyoung dongsaeng nya jeon Hyomin .. dan nama sebenarnya jeon Hyosung … wawwww bagaimana bisa ….
    Terlepas dari itu .. Kyu oppa sebenarnya mencintai siapa Sooyoung atau Hyosung … ditunggu kelanjutannnya … sekarang KSI sepiii ……

  3. Soo pasti sedih banget abis denger pembicaraannya Kyu sama Donghae
    Kyu bakal ngelakuin apa??
    berarti Jae Hoon sepupunya Soo dong..
    next part ditunggu^^

  4. Heol…daebbak, majayon hahaha haha dugaan ku benar. Anak itu pasti sooyoung ahhkkk akhirnya ketahuan juga siapa dia sebenarnya. Tapi, aku juga kasihan dengan Sooyoung, ini mah gara2 Kyuhyun gaje, Sooyoung2 ajha dong masa Hyosung masih diinget2, BT banget. Semoga kyuhyun sadar yg dia cintai sebenarnya adalah sooyoung dan mereka bahagia.

    Eonni please jngan lama2 , apload nya nde, jebbalyo

  5. summerain says:

    Sebenernya udh tau sih si sooyoung bakal ada hubungan sm daehan group, tapi It’s okaay ceritanya tetep seru koks.
    Keep writing thor, semoga menemukan ilham cerita yg gak mudah ditebak🙂

  6. Fakta yg mengejutkan, tapi bagaimana hubungan kyuyoung stelah soo eonnie mendengar percakapan kyuhae. Semoga aja hubungan mereka baik2 saja. Next partnya jangan lama dong thor.

    NEXT PART DITUNGGU

  7. younger says:

    ehmmmm jadi si soo tuh anak yang di cari….. kasian si kyu masih labil sama perasaannya karna dia takut masih kebayang hyosung…

  8. daebak thor.. makin lama makin jelas aja jawaban dari teka-teki yg selama ini bersarang dikepalaku.. ternyata dugaanku bener kl soo tu ada hubungannya sama pewaris daehan grup.. ah lega juga akhirnya semuanya terjawab
    next’a jgn lama² ya thor🙂

  9. ry-seirin says:

    Smpet kecewa pas tau Kyuhyun to msih rgu prsaan sbnrnya sma Sooyoung yg trnyata msih trbayang Hyosung.
    Jd slma ni Jeon Daesung sbnrnya ngsih restoran to bwt anaknya, cmn buat ngjaga prsaan Hyosung trus dia mrhasiakanya.
    Pnsaaran nich ma lanjutannya…
    D tunggu bgt next partnya.

  10. kyuniest says:

    sesuai prediksi sooyoung ntu anak yg di cari
    wah kyuhyun ternyata masih bingung ttg prasaanya jdi kasian sooyoung

  11. Ooo.. jdii memang seharus.A Syoo sma kyu jka dia tdk hilang?
    Tpii jjur Aq jga mrasa kecewa dan sedih dg perbincangan Kyuhae d.rooftop.
    Sbner.A Aq udah mnduga klo syoo sma hyosung hub.A tntu dg Daehan group alias anak asli.. serta lega jga krna syoo bsa komunikasi dg hyosung langsung.
    PUAS pake BANGET ff.A panjang.

  12. Megumi says:

    Daebak ama fakta yg ada. Tapi meskipun udah ketebak sebelumnya kalo pasti sooyoung ada hubungannya dgn daehan group tetep aja seru. Ntah gimana reaksi Sooyoung nanti. Dan sekarang bener-bener kesal sm Kyuhyun yg nyamain hyosung ama Sooyoung T.T

    Next chapter semoga lebih cepet ya thor🙂 Keep writing

  13. ellalibra says:

    Y ampun tragis bgt jdny y … Kshn sm hyosung smp dy meninggal msh byk urusan yg lom tau .. Kira” knp soo smp lupa y… Apa krn dy amnesia pas kcl … Apa soo bs nerima kenyataan kl dy anak dr pemilik daesung grup neeeeeeext fighting🙂

  14. Youngra park says:

    Senang karna akhirny di post jga trus semua tahasia terungkap kalau dia adeny jeon hyomi ug sebenarny bener bener daebak gk sbar pengen tau reaksi sooeoni trus penasaran jga hubungan kyuyoung àkan kya apa knp jga kyupaa harus bimbang gtuh gk bsa nentuin dia sukany sma spa next part di tnggu eoni aku harap bsa cpt di post karna aku sdh sangat penasaran semangat eoni buat nulisnu

  15. Bakaln gimana soo tau kalau dia yang sebenernya hyosung yang asli
    Binggung sama kyuyoung nya
    Kayaknya appanya hyosung udah tau kalau soo itu anak kandungnya makanya dia baik banget sama soo
    Nextpart semangat thor🙂
    Jangan lama2 ya thor

  16. Ya ampun ceritanya kayak 49 days ya
    TerNyata hyomim baik banget ya kirain dia dibalik kematian hyosung karena harta
    Bingung kyuyoung bakalan gimana selanjutnya
    Kira2 soo bakaln terima nggak ya sama kenyataannya kalau dia ternyata hyosung yabg asli

  17. Saranghae KyuYoung says:

    Terungkap sdh semuanya, sdh kuduga bahwa Sooyoung itu anak yg dicari” selama ini😏
    Kyuhyun mulai labil sodara”😤 pengen gampar Kyuhyun rasanya. Udah mending Sooyoung sama JaeHoon aja, dia lebih tulus mencintai Sooyoung dan pengorbanan dia gk bisa dianggap remeh.
    Gua rela kok ending nya gk KY😋 krna liat sisi seorang JaeHoon lbh bnyk perjuangannya, sdgkan yg didatangin appa Sooyoung aja JaeHoon😆
    Dahh, Kyuhyun gk ush disebut” lagi, males gua liatnya😏 cem eeq

    Next partnya jgn lama” yaa thor😉 fighting💪

  18. Elis sintiya says:

    ternyata hyomin itu baik ya.. dan terkejut bgt pas tau sooyoung adiknya kandungnya hyomin… ahj itu cho kyuhyun sama choi sooyoung gimana nasibnya?! baru deket ehh udh renggang lagi.. di tunggu bgt kelanjutannya…

  19. veves says:

    Akhirnya ff seru ini muncul lagi , tiap hari bolak balik KSI buat liat update nih ff , semangat thor makin seru aja nih ceritanya

  20. ajeng shiksin says:

    Benerkan ql choi sooyoung anak itu.. yak ampun penasaran sama kelanjutan nya. Sama perasaan kyuhyun trus perasaan sooyoung.. sma nasip si arwa nya.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s