[Series] Once Again, Love -9-

Once Again, Love

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   : 10

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

FF ini sudah mau berakhir… Aku tahu banyak yang kecewa dengan FF ini mengingat minim-nya Kyuyoung moment di part-part awal… Mianhaeyo T___T

Tapi aku berharap di part-part akhir ini, kalian lebih suka ya.. karena akupun harus menulis ulang story-nya biar kyuyoung moment-nya lebih banyak

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Hyosung POV

Aku mencoba untuk terus menguasai diriku. Sebisa mungkin aku menekan rasa ragu yang terus menerus menarikku untuk mundur. Tapi aku tidak punya pilihan sekarang. Aku sudah berada di dalam rumahku, rumah yang selama 27 tahun ini sudah aku tinggali. Ah, bukan 27 karena aku mulai menempatinya saat aku berusia 20 tahun. Appa memang mengirimku ke luar negeri sejak aku kecil, dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku disana daripada di Korea. Dulu mungkin aku tak tahu kenapa appa menjauhkanku darinya, tapi sepertinya aku mulai mengerti sekarang.

Aku bukan putrinya, tentu saja dia mengirimku jauh agar orang-orang tidak mencurigai bahwa putrinya yang sebenarnya menghilang. Tidak akan ada yang tahu saat aku kembali menjadi seorang yeoja dewasa dan mulai mempelajari bisnis, ‘kan? Itu adalah sebuah rencana yang sempurna dari appa tapi juga sangat menyakitkan bagiku setelah mengetahuinya. Jujur saja, aku sendiripun tak ingat banyak tentang masa kecilku. Kecuali saat ada seorang namja paruh baya datang padaku dan mengaku bahwa dia adalah appa-ku yang kemudian membawaku ke rumah ini.

“Hyosung, Jeon Hyosung. Itu namamu, arraji?”

Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku. Aku yang tak tahu apa-apa hanya bisa menganggukkan kepala saat itu, dan memulai hidupku sebagai seorang Jeon Hyosung di rumah ini.

“Apa kau menyesal sekarang?” Tiba-tiba suara seorang yeoja terdengar, dan aku tidak terkejut saat mendapat cheonsa aghassi itu yang berbicara padaku dari ujung ruangan. Dia melangkah mendekat padaku dengan gerakannya yang sangat cepat, “Bahwa kau sebenarnya bukanlah bagian dari keluarga ini”

Aku mendengus kecil, “Menyesal?” gumamku. “Apa aku masih bisa merasakan itu sekarang? Apa aku masih pantas mendapatkannya?”

“Tentu saja,” jawab cheonsa yeoja itu dengan senyum ramah mengembang di wajahnya. “Aku bahkan menyesal, karena harus memberitahumu semua ini dengan cara yang seperti ini” katanya lagi.

Aku tersenyum tipis, “Ini tidak lebih baik jika aku mengetahuinya saat aku masih bernapas dan memiliki kehidupan. Aku pasti akan sangat hancur saat itu,” kataku berusaha tetap bersikap biasa. “Apa ini juga alasan kenapa kau menyuruhku untuk memasuki tubuh Sooyoung, bukan orang lain?”

Cheonsa yeoja itu mengangguk. “Ada ikatan diantara kalian yang seharusnya dibuka, dan kau sudah mengetahui ikatan apa itu”

“Kurasa akan lebih menyenangkan jika aku mengenal Sooyoung jauh lebih cepat” kataku berkomentar. “Dia bukan seorang yeoja yang sulit, jadi pasti akan cocok berteman denganku. Kau tahu sendiri, ‘kan? Aku tak punya teman,”

Geurae, arrayo

“Tapi setidaknya aku pernah merasakan punya teman,” sahutku dengan cepat. “Yoona dan Yuri, juga Sooyoung”

“Itu menyenangkan, bukan?” celetuk cheonsa yeoja itu padaku. “Memiliki seseorang yang bisa berbagi denganmu, entah itu kesedihan ataupun kebahagiaan”

“Aku membaginya dengan Kyuhyun oppa sebelumnya” Aku kembali menyahut, lalu menarik napas pelan—tanpa udara yang keluar. “Tapi itu membuatnya tidak menjadi dirinya sendiri” kataku kemudian.

Cheonsa yeoja ini tidak memberikan tanggapan apapun.

“Apa aku benar-benar semenyedihkan ini?” tanyaku tidak pada siapapun. “Aku pergi dengan cara seperti itu, aku bukanlah bagian dari keluarga yang sudah aku anggap keluargaku dan sekarang—aku sedang menunggu sampai aku benar-benar pergi”

“Itu memang menyedihkan, dan aku tak akan menutupinya. Tapi itulah garis hidupmu, Hyosung-ssi” kata cheonsa yeoja dengan ekspresi tenangnya. “Semua orang memiliki garis hidup yang benar-benar tak bisa mereka pahami, tapi mereka tetap menerimanya”

“Kau pikir aku tak bisa menerima garis hidupku, ‘kan?” sahutku menjawab pandangan cheonsa yeoja ini dengan tajam. “Aku bahkan bisa menerima bagaimana seseorang membunuhku, kenapa aku tak bisa menerima bahwa aku bukanlah anak dari keluarga Jeon ini?”

“Tidak, aku tahu bahwa kau bisa menerimanya” katanya menanggapi. “Tidak mudah, tapi kau akan tetap menerimanya” Dia menambahkan.

Aku diam sesaat, berusaha untuk menghilangkan semua perasaan yang tiba-tiba muncul di benakku. “Geureom, nae bumonim… Eodiseoyo?” tanyaku pada akhirnya.

“Kedua orang tuamu meninggal tepat saat Jeon Daesung-ssi membawamu ke rumah ini”

“Apa yang terjadi?”

“Seseorang membunuh mereka,”

Mataku membelalak menatap cheonsa yeoja di depanku ini. “Dibunuh?”

“Kau selamat dari rencana pembunuhan itu, dan jika bukan karena Jeon Daesung-ssi tidak menyelamatkanmu maka kau tidak akan bertahan sampai sejauh ini”

Appa menyelamatkanku?”

“Aku tidak diijinkan memberitahumu, tapi hanya itulah yang bisa aku katakan padamu” kata cheonsa yeoja itu dengan pandangan menyesalnya. “Kau akan mengetahuinya saat kau berada di tempatmu yang seharusnya”

Geureom, siapa aku?” sahutku mengabaikan perkataan cheonsa yeoja ini. “Ani… maksudku—jika aku bukan putri dari keluarga Jeon, geureom—aku… siapa namaku yang sebenarnya?”

Cheonsa di depanku menatapku dengan lekat untuk beberapa saat, lalu diapun berbicara. “Kim Ah Reum”

“Kim Ah Reum,” gumamku sambil menunduk, memandangi lantai di rumahku yang berwarna krem ini. “Nama yang cantik,” kataku kemudian.

Saat aku kembali mengangkat kepala, cheonsa yeoja itu sudah tidak terlihat lagi. Aku tidak mencarinya tapi lebih memilih untuk menatapi foto-foto yang ada di ruangan paling depan di rumahku ini. Ada foto besar harabeoji dan appa yang tertempel di dinding, lalu beberapa foto keluarga kecil di meja setinggi pinggangku di bawahnya. Aku melangkahkan kaki mendekat dan memandang foto-foto itu dengan perasaan yang bercampur menjadi satu. Aku berusaha keras untuk tidak mengingat semua hal sudah aku lakukan di rumah ini dan terbawa suasananya, tapi tetap saja aku bisa merasakan air mataku yang menetes dengan perlahan ke pipiku.

“Tidak, siapkan kamar yang lainnya” Seruan Hyomin tiba-tiba terdengar dari ruangan lainnya. “Biarkan kamar itu menjadi kamar Hyosung. Aku tak mau dia menempati kamar orang lain. Apa kalian mengerti?”

Aku mendengus kecil, lalu memilih untuk melangkah ke kamarku di lantai atas rumah ini. Pintu kamar itu terbuka, jadi aku tak perlu menembus dindingnnya untuk bisa memasukinya. Aku tidak terlalu terkejut karena pemandangan di kamarku masih tetap sama seperti yang aku ingat terakhir kali. Semua barang-barangnya terletak persis di tempat mereka masing-masing, bahkan tumpukan lembaran perusahaan yang ada di atas meja riasku. Aku yakin tidak akan ada orang yang mau memasukinya, kecuali mereka yang secara rutin membersihkannya.

Aku menarik napas dalam-dalam—yang aku tahu hanya usaha sia-sia saja, lalu berjalan ke arah tempat tidur dan duduk disana. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan terlentang, membiarkan semua kerinduanku pada kamarku ini memenuhi tubuhku. Meskipun aku seharusnya tidak berpikir seperti ini, tapi aku benar-benar berterima kasih pada Hyomin karena membiarkan kamar ini tetap menjadi kamarku.

“Hyosung-ah” Seseorang memanggilku, tapi kurasa aku salah mendengar. Lalu suara pintu menutup terdengar dan langsung membuatku bangkit duduk. Mataku menatap Hyomin yang sedang berdiri di depan fotoku di atas meja. “Aku akan tetap membiarkan kamar ini menjadi kamarmu, jangan khawatir” katanya kemudian.

“Haruskah aku berterima kasih untuk itu?” tanyaku tanpa mengharapkan jawaban.

“Dengar, aku ingin memberitahumu sesuatu”

“Aku sudah mengetahuinya—“

“Kau tetap dongsaeng-ku, apapun yang terjadi” Kata-kata Hyomin itu langsung membuatku terdiam. “Aku—aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya padamu, tapi—hmm, gomawo. Karena keberadaan dirimu membuat keluarga ini baik-baik saja”

Mwoya igeo,” komentarku tidak percaya saat sebutir air mata kembali jatuh ke pipiku. “Kenapa mataku mudah sekali mengeluarkan air mata sekarang, aigoo” kataku pada diriku sendiri.

“Terlepas dari fakta bahwa kau adalah orang lain yang menjadi keluargaku, tapi aku menyayangimu meskipun aku tak pernah menunjukkannya padamu” Hyomin terus berbicara pada fotoku—seperti orang gila, tapi aku tetap mendengarkan. “Apa yang aku lakukan, semua sikapku padamu selama ini—“ Dia berhenti sesaat untuk menghela napas panjang. Lalu diapun kembali berbicara, “—itu karena aku benar-benar tak tahu bagaimana harus menghadapimu setelah aku tahu bahwa kau—kau bukan Hyosung yang sebenarnya,”

“Apa kau sudah mengetahuinya sejak lama?”

“Hyosung-ah, mianhae

Aku terdiam di tempatku. Ini pertama kalinya aku mendengar Hyomin meminta maaf padaku karena dari dulu, dia lebih memilih untuk pergi setiap kali melakukan kesalahan padaku. Tapi sekarang? Dia justru mengatakannya dengan mudah, dan bahkan aku sempat melihat gerakan tangannya yang sedang mengusap pipinya. Membuatku bangkit dari tempatku duduk dan langsung mendekatinya untuk melihat apa dia benar-benar menangis atau tidak.

E—Eonni,” Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku, bahkan aku sendiripun terkejut. Tapi aku mengabaikan itu dan mengangkat tanganku untuk menyentuh bahunya.

Hyomin bereaksi karena sentuhanku. Meskipun dia menoleh ke arahku, tapi aku tahu bahwa dia tak bisa melihatku. Tangannya memegang bahunya sendiri, menembus tanganku. Untuk beberapa saat, dia hanya menatap ke arahku, ke udara kosong tanpa melakukan apapun. Lalu pandangannya beralih pada fotoku di depannya dan aku bisa melihat senyum tipis mengembang di wajahnya. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya sekarang, tapi detik berikutnya dia mengeluarkan setangkai bunga Iris—yang sudah dipotong pendek di bagian tangkainya, lalu meletakkannya di depan fotoku.

Gomawo,” kataku pelan sambil terus menatap bunga Iris itu. “Hyomin eonni,” Aku menambahkan.

__

Kyuhyun POV

“Jadi, sudah tiga hari kau tidak bertemu dengannya?” celetuk Donghae saat aku memberitahunya bahwa aku sudah tidak menemui Sooyoung sejak yeoja itu datang ke rumah sakit Yangjin ini dan kemudian pergi begitu saja. “Kau sudah gila,” katanya menambahkan.

“Mau bagaimana lagi?” sahutku sambil merebahkan tubuh di atas rumput hijau di Seokchon Lake Park. Mataku menatap ke arah bunga cherry blossom di atasku, “Aku tak tahu harus mengatakan apa di depannya, jadi aku memilih untuk menghindar”

Ya! Setidaknya kau harus menjelaskan padanya” Donghae berbicara dengan nadanya yang terdengar tegas. “Kau tahu bukan jika yeoja itu adalah makhluk verbal. Kau harus selalu mengatakan sesuatu pada mereka untuk membuat mengerti. Kau tak bisa membiarkan mereka mengerti sendiri,”

Aku memiringkan kepalaku ke arah Donghae, lalu menatapnya lekat. “Aku tahu kau memang paling ahli dalam urusan seperti ini” komentarku kemudian. “Tapi kenapa kau bahkan belum juga mengajak Bae Joohyun berkencan? Kau sudah lama menyukainya, ‘kan?”

“Itu—yah, ada banyak yang harus aku lakukan terlebih dahulu sebelum mengajaknya berkencan” jawab Donghae terlihat gugup. “Kau tahu, aku harus lebih tinggi darinya. Apa kata orang jika seorang residen sepertiku mengencani ahli forensik seperti Bae Joohyun?”

Aku tertawa kecil, “Kau harus banyak belajar kalau begitu,”

“Bukankah ada dirimu?”

Ah, geurae? Memangnya apa yang bisa aku lakukan untukmu?” sahutku menggoda.  “Apa aku harus sering melibatkanmu dalam operasi atau semacamnya?”

Eo, dan kau harus selalu membantuku saat aku melakukan presentasi” jawab Donghae sebelum dia menghela napas singkat. “Yoon sunbae benar-benar membuatku frustasi dengan komentar pedasnya setiap kali kami presentasi”

Aku kembali tertawa, lalu menepuk pelan lengannya. “Dia memang selalu seperti itu, jangan khawatir”

Ah, akan sangat menyenangkan jika aku cepat lulus dari residen-ku” seru Donghae sambil ikut merebahkan tubuhnya disampingku. “Setidaknya aku bisa melakukan banyak hal setelah itu” lanjutnya.

Aku memilih untuk tidak menanggapinya kali ini, dan kembali menatap ke arah bunga cherry blossom diatasku. Meskipun bunga-bunga itu masih mekar, tapi tidak seindah saat awal-awal musim semi. Pemandangannya masih tetap bagus—tentu saja, dan masih banyak orang yang datang untuk menikmatinya. Seperti aku dan Donghae hari ini yang memilih untuk mengambil libur untuk sehari dan akan menggantinya di hari yang lain. Hal-hal seperti itu sudah biasa dilakukan di rumah sakit kami, asalkan masih ada dokter yang mau bertukar hari maka semuanya akan baik-baik saja. Kecuali mungkin jika ada panggilan operasi, yang tentu saja tak akan mungkin bisa digantikan oleh siapapun. Saat panggilan seperti itu datang, mau tak mau aku harus tetap kembali ke rumah sakit tak peduli aku sedang berada dimana atau sedang melakukan apa.

Ah, joata!” seru Donghae tiba-tiba, memecahkan keheningan diantara kami. “Sangat jarang sekali kita bisa pergi seperti ini, menikmati udara luar seperti ini tanpa memikirkan pasien dan darah dan—“

“Kau masih harus tetap memikirkannya,” Aku menyela dengan cepat. “Hanya karena kita sedang menikmati hari libur seperti ini, bukan berarti kita melupakan pasien di rumah sakit, baboya” lanjutku.

Aigoo, itu hanya ungkapan! Ungkapan!” protes Donghae sambil mendecakkan lidah. “Ya! Bagaimana kalau kita pergi minum setelah ini? Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?”

Geurae?” sahutku sedikit enggan, tapi aku tahu Donghae akan tetap menarikku ke Pojangmacha (warung tenda) terdekat yang bisa kami temukan.

Aku mendesah panjang, lalu memejamkan mata untuk lebih bisa menenangkan diriku yang sebenarnya terus memikirkan dua yeoja itu. Choi Sooyoung dan Jeon Hyosung. Tujuanku datang ke Seokcheon Lake Park ini tentu saja untuk alasan itu, karena aku tak mungkin berada di rumah sakit dengan pikiran seperti ini dan Donghae yang memaksaku pergi ke tempat-tempat seperti ini cukup membantuku juga meskipun terkadang dia juga menganggu. Aku tahu alasan Donghae mengikutiku kesini adalah karena dia tak mau melihatku menderita semacam depresi sendirian—itu yang dia katakan padaku, tapi jujur saja, akupun mengerti kenapa Donghae ingin pergi kesini. Yah, dia juga tidak berbeda denganku mengenai urusan yeoja meskipun dia jarang membicarakannya denganku.

Untuk beberapa saat, aku dan Donghae sama-sama diam. Membuat suasana disekitar kami menjadi hening dan damai. Udaranya pun sangat sejuk di siang hari seperti ini. Tapi kemudian akupun membuka mata karena cahaya matahari menyinari wajahku meskipun sinarnya terkesan redup karena awan kelabu yang terus memenuhi langit. Tidak ada tanda-tanda akan turun jadi aku tetap bergeming di tempatku di Seokcheon Lake Park ini. Aku bangun, lalu duduk sambil menekuk lutut. Donghae masih berbaring di tempatnya sambil memejamkan mata.

“Apa dia tertidur?” gumamku pelan seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Tentu saja, suasananya memang sangat mendukung” Aku kembali bergumam.

Aku mengalihkan pandangan dari Donghae dan mengarahkannya lurus ke danau serta pohon-pohon cherry blossom lainnya yang ada diseberang danau. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Tanganku merogoh saku jas-ku, mengambil sebuah foto dari sana dan memandanginya dengan lama. Ini adalah fotoku dan Hyosung yang kami ambil setahun lalu saat merayakan ulang tahunnya. Aku mengelus foto Hyosung yang memasang wajah masam di foto dengan banyak krim kue di wajahnya. Aku ingat bagaimana dia awalnya menolak untuk diambil foto saat itu meskipun pada akhirnya dia menyerah padaku.

Senyumku mengembang mengingat kenangan itu.

“Apa kau merindukanku seperti aku merindukanmu, agi-ya?” tanyaku pada foto Hyosung, mengabaikan Donghae yang mungkin saja mendengarnya. “Na… neomu bogoshipeo

Aku kembali mengusap foto Hyosung, dan merasakan angin yang berhembus pelan ke menerpaku. Seakan-akan membawakan jawaban dari yeoja itu untukku. Mataku terpejam, berusaha untuk lebih merasakan angin di sekitarku yang entah bagaimana terasa hangat. Aku tak tahu apa hanya aku yang merasakan ini atau Donghae juga bisa ikut merasakannya. Aku benar-benar menyukai suasana seperti ini. Mengingatkanku pada Hyosung yang selalu membawakan kehangatan tersendiri untukku dengan caranya.

Ahjussi,” Tiba-tiba suara anak kecil terdengar oleh telingaku. Membuatku kembali membuka mata meskipun aku ragu panggilan itu ditunjukkan padaku. Tapi keraguanku langsung terjawab begitu aku mendapati seorang anak perempuan kira-kira berumur sekitar 7 atau 8 tahun sedang menatapku dengan lekat. “Ahjussi, igeoyo” katanya kemudian sambil memberiku setangkai bunga.

“Apa ini?” tanyaku seraya menerima bunga itu.

“Iris,”

Kedua alisku saling bertaut, dan aku tak bisa mengatakan apa-apa selain hanya menatap anak itu dengan pandangan bingung.

“Itu untukmu, ahjussi” katanya seperti menyadari kebingunganku.

Ah, gomawo kkomaya” ujarku mau tak mau. “Emm—tapi kenapa kau memberikannya padaku?” Aku bertanya karena aku benar-benar tak mengerti.

“Kau menyukainya ‘kan, ahjussi?” Anak itu balik bertanya padaku. Tapi sebelum aku memberikan tanggapan, dia kembali berbicara. “Saat kau merindukan sesuatu, maka carilah bunga Iris”

Aku semakin bingung, dan tak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar perkataan anak itu. Kemunculannya saja masih cukup mengejutkannya, ditambah lagi dengan bunga Iris ini dan apa yang dia katakan. Diam-diam aku mencubit keras bagian tubuhku yang terjangkau oleh tanganku yang bebas, dan aku tahu ini bukanlah mimpi karena aku merasakan sakitnya. Bunga Iris di tanganku ini pun terasa sangat lembut dan hangat, persis dengan udara hangat yang sempat aku rasakan tadi. Tapi apa itu mungkin?

Untuk beberapa saat aku hanya diam, merenungkan semua ini. Saat aku akan berbicara pada anak itu lagi, dia sudah membalikkan badannya dan bersiap untuk meninggalkanku.

Ya! Kkomaya!” seruku menahan anak itu. “Ahjussi benar-benar tak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang kau lakukan,”

“Aku hanya perantara, ahjussi. Aku hanya sedang memberitahumu untuk mengingat Iris” katanya tanpa menoleh padaku. “Semua hal tentang Iris, ceritanya, kenangannya dan maknanya” Dia meneruskan.

“Cerita?”

“Ikuti kata hatimu, dan berusahalah untuk lebih mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan” Anak itu mengabaikanku. “Itulah Iris,” katanya sebelum dia melangkah pergi meninggalkanku yang masih kebingungan.

Aku kembali diam mematung di tempatku. Pandanganku beralih dari anak itu—yang sekarang sudah berjalan cukup jauh, ke bunga Iris di tanganku. Kata-kata anak itu kembali bergema di telingaku, bahkan terus berulang-ulang. Lalu—entah bagaimana, aku teringat Hyosung dan cerita tentang bunga Iris yang pernah dia katakan padaku saat aku bertanya padanya alasan dia menyukai bunga ini.

“Anak itu mengagumi Iris lebih dari bunga manapun, dan itu menjadi sesuatu yang paling penting untuknya. Iris itu seperti simbol dan contoh, dan segala sesuatu yang layak untuk direnungkan dan segala sesuatu yang ajaib”

Mataku terpejam mengingat semua itu, dan suara Hyosung kembali terdengar.

“Setiap fenomena di bumi adalah simbolik, oppa, dan setiap simbol merupakan gerbang terbuka dimana jiwa jika sudah siap bisa masuk ke bagian dalam dunia. Dimana kau dan aku, siang dan malam, bulan dan bintang, semuanya adalah satu. Setiap orang bertemu pintu terbuka dimana-mana dalam perjalanan kehidupan, dan itu terjadi pada semua orang pada waktu yang sama atau lain dalam sebuah bentuk simbolis berupa semangat dari hidup”

“Iris ini… Aku ingin kau selalu mengingatnya, oppa. Selalu. Karena Iris adalah sebuah tanda dan pengingat saat kau kehilangan dan melupakan sesuatu yang penting dalam jiwamu yang harus kau bangunkan lagi sebelum kau bisa menemukan kebahagiaanmu dan mencapai takdirmu”

“Ingatlah Iris dan Anselm,” (The Fairy Tales of Hermaan Hesse: “Iris”)

Aku mendesah panjang, “Iris” bisikku dengan pelan.

“Ini… Ambillah bungaku, Iris, dan jangan lupakan aku. Carilah aku, carilah untuk Iris maka kau akan datang padaku”

Aku membuka mataku dengan perlahan, dan samar aku melihat bayangan seorang yeoja sedang berdiri di depanku. Bayangan itu seperti— “Hyosung-ah,” Aku tak melihat siapapun di depanku setelah itu.

Gerakan cepat dan tiba-tiba Donghae mengaihkan perhatianku. Namja itu menatap ke sekelilingnya dan terlihat bingung untuk beberapa saat. Tapi kemudian dia menatapku dan ke bunga Iris di tanganku. Aku berusaha keras untuk bersikap biasa meskipun aku baru saja melihat Hyosung—jika aku memang tidak sedang membayangkannya.

“Apa itu yang kau pegang?” tanya Donghae membuyarkan lamunan singkatku.

Aku berdehem pelan, “Iris” jawabku berusaha terdengar sebaisa mungkin dalam suaraku.

“Iris?” Donghae mengulang perkataanku. “Darimana kau mendapatkannya? Bukankah disini hanya ada cherry blossom?” Dia kembali bertanya sambil bangkit berdiri dari tempatnya.

“Seorang anak memberikannya padaku”

Nuga?”

“Anselm,”

Oh?” celetuk Donghae kemudian seraya membersihkan sisa rumput di bajunya. “Hanguk saram aniya?

Aku mengendikan bahu, “Aku hanya memanggilnya seperti itu karena aku tak tahu namanya. Dia hanya seperti Iris dan Anselm”

Ya! Apa kau minum tanpa membangunkanku?” seru Donghae sambil menatapku dengan lekat. Dia mengedus kecil, “Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau katakan. Iris dan Anselm? Apa itu dongeng? Rasanya aku baru pernah mendengarnya,”

Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya sambil menatap Donghae, tapi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa padanya.

Ya! Aku sempat mendengarmu menyebut nama Hyosung,” Donghae tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan intonasi nadanya terdengar lebih serius. “Kau sedang memikirkannya lagi?”

Aku sempat membeku mendengar apa yag Donghae katakan. Tidak mungkin aku memberitahunya bahwa aku sempat melihat Hyosung atau bayangannya atau apapun itu, ‘kan? Aku menghela napas singkat sebelum berbicara, “Eo, dan bunga Iris ini”

“Bunga Iris?” Donghae membeo seraya menatap Iris di tanganku. Ekspresinya kelihatan bingung sekaligus tidak percaya. “Apa ada hubungannya antara bunga Iris dan Hyosung?”

“Ada, tapi kau tak perlu tahu”

“Begitu?” celetuk Donghae kemudian. “Geu Iris… Itu Hyosung-ie, ‘kan?”

Mwo?”

“Aku tidak bodoh, kau tahu. Dan aku juga tidak benar-benar tidur” kata Donghae memberitahu. “Yah, katakan saja aku mendengar sebagian kecil apa yang kau katakan. Jadi ceritakan padaku tentang Iris itu,”

Aku mendesah panjang untuk kesekian kalinya. Karena tak ada pilihan lain, akupun memberitahu Donghae bahwa bunga Iris adalah bunga kesukaan Hyosung. Lalu tentang kisah yang yeoja itu ceritakan, tentang Iris dan Anselm. Aku tidak menceritakan keseluruhan ceritanya karena itu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, jadi aku hanya memberitahukan intinya saja. Lagipula aku tak terlalu ingat detail-nya karena aku memang bukanlah seseorang yang menyukai dongeng meskipun dongeng terkadang cukup menarik untuk diikuti ceritanya.

Ya! Bukankah Iris dan Anselm itu hampir seperti kau dan Hyosung?” komentar Donghae saat aku sudah pada tahap akhir cerita. Kami sekarang sudah keluar dari Seokchon Lake Park dan sedang melangkah ke mobil Donghae yang terpakir di halaman yang sudah disediakan di tempat ini. “Anselm tidak bisa bersama Iris-nya, tapi dia menemukan Iris-nya yang lain. Bukankah begitu?”

Aku diam saja, dan hanya terus melangkah.

Donghae melanjutkan, “Anselm bisa mengingat dan menemukan sesuatu saat dia mendapatkan kembali Iris-nya dan kebahagiaan pun datang padanya setelah itu. Yah, memang benar… Iris adalah pengingat kita untuk meraih kebahagiaan kita sendiri, dan sesuatu yang perlu direnungkan”

“Luar biasa, bukan?” sahutku kemudian. “Bahwa hal-hal kecil seperti ini justru mengandung sesuatu yang besar” Aku menambahkan.

Yoksi… Hyosung-ie. Dia memang selalu menyukai sesuatu yang berarti besar” Donghae berkomentar, dan kamipun sampai di halaman parkir mobil. “Dia memang yeoja yang luar biasa, Kyuhyun-ah. Tapi kau juga tetap harus mengingat Iris yang lain untuk menemukan kebahagiaanmu sendiri, seperti Anselm itu”

Aku tersenyum tipis, “Geurae? Aku akan menemukannya” kataku sebelum masuk ke dalam mobil Donghae.

__

Sooyoung POV

Aku duduk di sebuah bangku kayu panjang di belakang restoran. Tanganku memegang Cappuccino hangat yang baru dibelikan Yoona saat dia sedang pergi untuk mengambil beberapa bahan makanan dari pemasok kami. Aku menyeruput Cappuccino itu sambil mengarahkan pandangan ke arah pelanggan-pelanggan restoran yang sedang menikmati makan siang mereka. Lalu pikiranku kembali melayang pada Kyuhyun dan apa yang aku dengar di rumah sakit Yangjin itu. Aku tak menyangka jika saat itu dia sedang membicarakanku dengan Hyosung bersama temannya yang juga dokter. Meskipun aku tak mendengar pembicaraan mereka dari awal, tapi aku tahu bahwa namja itu terlihat ragu dengan perasaannya padaku. Hyosung memang memberitahuku semuanya, termasuk apa-apa saja yang aku dan Kyuhyun lakukan. Tapi bukankah saat itu Hyosung-lah yang berada dalam tubuhku? Apa itu berarti Kyuhyun sebenarnya tidak menyukaiku melainkan Hyosung?

Ah, aku benar-benar bodoh karena tak memikirkan ini dari awal. Tentu saja Kyuhyun mudah dekat denganku dan tertarik padaku karena di dalam tubuhku sebenarnya adalah Hyosung. Bukankah mereka sebelumnya pasangan kekasih? Kyuhyun pasti masih memiliki perasaan pada Hyosung, karena itulah kami mudah dekat. Lalu kenapa dadaku terasa sangat sakit memikirkan mereka berdua? Aku tahu bahwa aku menyukai Kyuhyun entah bagaimana dan seharusnya aku tav perlu merasa cemburu pada Hyosung karena yeoja itu bahkan sudah tidak menjadi bagian dari dunia ini lagi. Tapi itu benar-benar tidak adil bagi Kyuhyun karena dia tak tahu bahwa sebenarnya dia menyukai yeoja yang sama, dan itupun sama tidak adilnya untukku karena aku bukan benar-benar yeoja yang Kyuhyun sukai. Lalu apa yang aku harus aku lakukan? Karena aku tak mungkin memberitahu Kyuhyun tentang apa yang terjadi pada diriku yang sebenarnya. Dia pasti akan menganggapku gila atau bahkan membenciku karena membawa-bawa Hyosung.

Pintu restoran terbuka, dan Yoona masuk. Dia melihatku yang sedang duduk sendirian lalu melangkah menghampiriku. “Aku pikir kau sedang pergi keluar” katanya seraya duduk di sebelahku. Tangannya juga memegang Cappuccino yang sama denganku. “Ternyata kau disini,” katanya lagi.

“Aku tidak ingin pergi kemana-mana hari ini”

“Aneh sekali,” sahut Yuri yang tiba-tiba datang dan ikut bergabung denganku dan Yoona. “Biasanya kau pergi keluar, dan baru kembali saat malam. Tapi beberapa hari ini aku tak melihatmu keluar sama sekali”

“Dokter Cho juga tidak kesini,” Yoona menyambung kemudian. “Ah, bahkan Jae Hoon oppa tidak kelihatan beberapa hari ini”

Ya! Kau tidak mencampakkan mereka berdua, ‘kan?” celetuk Yuri dengan ekspresi tidak percayanya. “Atau mungkin kau sedang ada masalah dengan keduanya?”

Aniya, keugo aniya” jawabku sedikit enggan. “Geunyang—aku ingin sedirian dulu untuk kali ini”

Hening. Tidak ada tanggapan dari Yoona maupun Yuri, tapi aku tahu bahwa sebenarnya mereka ingin bertanya lebih banyak padaku. Hanya saja mereka lebih memilih untuk menahannya entah untuk alasan apa.

Aku mendesah pelan, “Akhir-akhir ini ada banyak hal yang aku pikirkan jadi aku membutuhvan waktu sendiri untuk menenangkan diri” kataku berharap menjawab kebingungan kedua temanku ini meskipun mereka tidak bertanya.

“Apa itu tentang—“ Yoona diam sesaat dan melirik ke arah Yuri yang mengangguk pelan. Lalu diapun melanjutkan, “Hyosung-ssi?”

Aku tercengang, tapi cepat-cepat mengubah sikapku. Mataku bergantian menatap Yoona dan Yuri, lalu berbicara. “Darimana kalian—“

Oh, kami tidak bodoh” Yuri menyela sambil menggerak-gerakkan tangannya. “Hyosung-ssi, geurigo geu ahjussi. Kami tahu semuanya,”

Oh?”

“Hyosung-ssi… Dia itu putrinya ahjussi itu, ‘kan? Ahjussi yang dulu sering datang ke apartemen. Yoona-ya, siapa nama ahjussi itu?”

“Daesung ahjussi,” sahut Yoona. “Maja, Sooyoung-ah?”

Aku benar-benar tidak percaya jika dua orang temanku ini mengetahui tentang semua itu. Memang benar bahwa Daesung ahjussi dulu sering datang ke apartemen, tapi bukankah saat itu aku bahkan tak tahu namanya? Lalu darimana Yoona dan Yuri mengetahui namanya? Karena aku tak pernah memberitahu mereka sebelumnya, bahkan tentang Hyosung sekalipun. Tapi mungkin saja mereka mengetahuinya dari berita-berita di televisi. Bukankah beberapa hari yang lalu pemberitaan tentang Hyosung dan Daesung Group selalu muncul di televisi?

“Melihat dari reaksimu, sepertinya kita benar, Yoona-ya” suara Yuri langsung membuyarkan lamunanku. “Tidak salah lagi, yeoja itu memang Jeon Hyosung. Dia yang ada di televisi waktu itu, ‘kan?”

Aku diam saja, menunggu apa yang akan Yoona atau Yuri katakan selanjutnya.

Ah, saat aku melihat fotonya di kamarku itu… Aku sempat berpikir dimana aku pernah melihatnya. Jadi aku memberitahu Yuri dan menunjukkan foto itu padanya sebelum mengembalikannya lagi ke kamarmu” Yoona mulai menjelaskan meskipun aku tidak memintanya. “Kami yakin pernah melihatnya di suatu tempat tapi tidak ingat dimana. Maja, Yuri-ah?”

Eo, majo” sahut Yuri kemudian. “Tapi kemudian kami tidak sengaja menemukan fotonya di salah satu majalah saat kami sedang menunggu antrian di bank. Ada foto ahjussi itu juga disana, menyebutkan hubungan mereka. Kami benar-benar terkejut mengetahui bahwa ahjussi itu adalah keluarga chaebol

“Apa kau sudah mengetahui itu semua sebelumnya?” Yoona yang bertanya padaku. “Bahwa ahjussi itu pemilik Daehan Group dan keluarga chaebol” tambahnya.

“Aku tahu,”

“Karena itu kau menyimpan foto Hyosung-ssi?”

Kedua alisku saling bertaut, “Apa maksudmu?”

“Yah, karena siapa tahu kau berencana untuk membalas kebaikan ahjussi itu padamu atau bagaimana. Kami tak tahu karena kau bahkan tak pernah memberitahu kami, kecuali memang kami mencari tahu sendiri” kata Yuri sarkatis. “Ada banyak hal yang ingin kami tahu, tapi kau selalu menolak membicarakannya dan kami tak mungkin memaksamu untuk memberitahu kami”

Aku mendesah panjang dan merasa bersalah pada kedua temanku ini. Biar bagaimanapun mereka selalu membantuku selama ini, dan tak pernah menyulitkanku tapi aku bahkan menyembunyikan sesuatu di depan mereka. Haruskah aku memberitahu tentang apa yang telah Daesung ahjussi lakukan padaku? Karena aku tak mungkin memberitahu tentang Hyosung dan bagaimana yeoja ini menggunakan tubuhku untuk mencari tahu penyebab kematiannya.

“Daesung ahjussi dan Hyosung-ssi,” kataku mulai berbicara setelah diam cukup lama. “Awalnya aku benar-benar tak tahu bahwa mereka adalah keluarga. Aku bahkan baru mengetahui nama ahjussi itu setelah—setelah dia menghilang,”

Geuraesseo?”

“Aku tak mengetahui banyak tentang Daesung ahjussi bahkan setelah aku dekat dengannya. Meskipun begitu, sepertinya dia sangat mengenalku dan mengetahui banyak hal tentangku” Aku melanjutkan sambil mengingat-ingat wajah ahjussi itu. “Pertemuanku dengannya itu adalah sebuah ketidaksengajaan, dan entah bagaimana dia menjadi sangat baik padaku. Dia bahkan melakukan banyak hal, dan memberikan banyak hal padaku meskipun aku adalah orang asing untuknya”

Yuri dan Yoona sama sekali tidak memberikan tanggapan, tapi mereka mendengarkanku.

“Rasanya memang aneh mendapatkan perlakuan baik seperti itu dari orang asing, tapi entah bagaimana aku menikmatinya. Bukan berarti aku selalu mengharapkannya memberiku sesuatu, tapi perasaan saat dia tersenyum padaku begitu aku menerima pemberiannya itu justru lebih berarti bagiku” kataku jujur, dan ini pertama kalinya aku membicarakan tentang Daesung ahjussi dengan orang lain karena aku memang selalu menyimpannya sendiri. “Aku yang memilih untuk tidak tinggal bersama kedua orang tuaku merasa seperti mendapatkan orang tua baru dengan semua perlakuan baik Daesung ahjussi. Aku bahkan sempat berpikir bahwa dia pasti tidak memiliki seorang putri atau merindukan putrinya, jadi dia bersikap baik padaku”

“Dan kemudian kau mengetahui tentang Hyosung-ssi?”

Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Yoona itu. “Aku sama sekali tak tahu jika Daesung ahjussi memiliki seorang putri, dan sama tidak tahunya jika ternyata Jae Hoon oppa adalah keponakannya”

Mwo? Jae Hoon oppa?”

Appa-nya Jae Hoon oppa adalah adik dari Daesung ahjussi” jawabku. “Dia memang tak pernah memberitahu atau bahkan menunjukkan padaku bahwa sebenarnya dia berhubungan dengan Daesung ahjussi. Ah, dia juga tak tahu jika aku mengenal Daesung ahjussi, jadi yah—“

Daebak,” celetuk Yuri menyela perkataanku yang sempat terhenti karena aku tak tahu harus bagaimana melanjutkannya. “Pantas saja Jae Hoon oppa memiliki gaya yang tidak biasa. Tapi bukankah dia keterlaluan menyembunyikan semua itu darimu? Kau bahkan sudah mengenalnya lebih dari lima tahun”

Aku tersenyum tipis, “Dia tidak menyembunyikannya dariku” kataku. “Dia bahkan sempat memberitahuku, tapi aku tak mempedulikannya dan diapun tak pernah menunjukkannya padaku maupun orang lain”

Geureom, bagaimana dengan Hyosung-ssi?” tanya Yoona yang sepertinya lebih tertarik pada Hyosung daripada Jae Hoon. “Bukankah dia adalah tunangannya dokter Cho? Tapi kau sekarang dekat dengan dokter itu. Apa kau bisa menjelaskan ini pada kami?”

Ah, itu sedikit rumit untuk mengatakannya” kataku sambil berpikir bagaimana harus memberitahu mengenai Hyosung di depan kedua temanku ini. “Pada intinya aku mengenal Hyosung-ssi karena ketidaksengajaan, dan ternyata dia berhubungan dengan Kyuhyun oppa, Jae Hoon oppa dan Daesung ahjussi” Itu adalah alasan terbaik yang bisa aku temukan.

“Ketidaksengajaan?”

“Katakan saja aku pernah datang ke restoran ini, dan kau mengenalku saat itu” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, dan Hyosung muncul di depanku begitu saja.

Aku berdehem pelan, “Hyosung-ssi juga pernah datang kesini. Apa kalian tak tahu?” kataku pada akhirnya mengikuti saran yeoja itu. “Aku sempat mengobrol dengannya, dan—yah begitu”

Ah, geuriguna

“Tapi bukankah itu aneh karena kau dan Kyuhyun-ssi terlihat sangat dekat hanya beberapa hari setelah Hyosung-ssi, kau tahu… meninggal karena bunuh diri“ kata Yuri sambil mengusap-usap dagunya. “Aku tahu, mungkin saja kau dekat dengannya karena kau sering bertemu untuk sesi terapi amnesia-mu dan itu wajar saja menurutku”

Aku melirik Hyosung yang masih berdiri di tempatnya, dan mendengarkan pembicaraanku ini dengan kedua temanku. “Aku—“

Pintu kembali terbuka, dan salah satu pelayan restoran bernama Kim Yeon Ha berdiri di ambang pintunya. “Eonni, ada yang mencarimu” katanya kemudian sambil mengarahkan pandangannya ke arahku.

Oh? Geurae?” sahutku seraya bangkit berdiri, dan aku berterima kasih karena aku tak perlu menjelaskan lebih detail mengenai bagaimana aku mengenal Hyosung dan dekat dengan Kyuhyun. “Aku pergi dulu,” kataku pada Yoona dan Yuri sebelum melangkah keluar dari belakang restoran ini menuju bangunan utamanya.

Yeon Ha langsung menujuk ke arah seorang yeoja yang sedang duduk menghadap ke luar dari jendela kaca besar restoran, lalu diapun melangkah pergi untuk melayani pelanggan lainnya. Awalnya aku ragu untuk mendekati yeoja itu karena aku tak tahu siapa dia dan kenapa dia mencariku. Tapi kemudian, saat dia sedikit menolehkan kepala keraguanku pun sirna. Dia adalah Jeon Hyomin, dan aku tak tahu kenapa senyumku mengembang begitu melihatnya. Bukankah ini pertama kalinya aku bertemu dengannya sebagai diriku sendiri? Mengingat sebelumnya, Hyosung-lah yang selalu bertemu dengannya meskipun dia juga menceritakan padaku tentang semua itu. Tapi kenapa rasanya aku begitu senang melihatnya? Seperti aku memang sangat ingin bertemu dengannya atau sesuatu seperti itu.

Aku melangkahkan kaki mendekat ke arah Jeon Hyomin, “Annyeonghaseyo” sapaku kemudian sambil tersenyum ke arahnya.

Hyomin menoleh ke arahku dan sebuah senyuman pun tersungging di wajahnya. Dia bahkan langsung mendorong kursinya untuk bangkit berdiri dan memelukku kemudian. Membuatku cukup terkejut karena mendapat pelukannya seperti ini, tapi aku berusaha keras untuk bersikap biasa. Mungkin saja dia memang selalu seperti ini saat bertemu denganku sebelumnya? Jadi jika aku mengubah sikapku dengan tiba-tiba, dia pasti akan mencurigaiku. Ah, terkadang memang tidak menyenangkan karena aku harus bersikap seperti Hyosung yang dulu pernah memasuki tubuhku meskipun aku yakin Hyosung pun melakukan hal yang sama. Jika tidak begitu maka kedua temanku sudah dari dulu mencurigai perubahan sikapku, bukan?

Pelukan Hyomin ini terasa hangat, dan itu cukup mengejutkanku. Aku tak pernah merasakan pelukan sehangat ini saat bersama seorang yeoja, tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara Hyomin memelukku. Seperti seseorang yang sudah sangat lama terpisah lalu kembali dipertemukan. Yah, sesuatu seperti itu. Meskipun begitu, aku memilih untuk diam dan membiarkannya saja karena mungkin dia sedang merindukan seseorang atau bagaimana. Tapi kemudian—dari sudut mataku, aku melihat Hyosung yang sedang berdiri sambil memperhatikanku dan Hyomin dengan ekspresi yang tidak bisa aku artikan.

Jaljaseo?” tanya Hyomin setelah dia melepas pelukannya.

N-Ne,”

Jinjja? Kau tidak terlihat baik,” sahut Hyomin kemudian. Dia mengamatiku, memandangiku dengan lekat seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu. “Kau benar-benar baik-baik saja? Atau ada sesuatu yang menganggumu? Katakan saja padaku,”

Ah, aniyo. Amugeotdo, aniyo. Geunyang—“ Aku diam sesaat untuk menarik napas singkat, lalu melanjutkan bicara. “-cheoumieoyo

Cheoumeuro?” Hyomin menyahut dan aku bisa melihat perubahan ekspresinya dari yang tadinya khawatir menjadi bingung. “Waeyo? Marhaebwayo

Oh—emm, geunyang—“ Mataku kembali melirik Hyosung yang entah kenapa terlihat sangat aneh hari ini. Bukankah biasanya dia selalu mencampuri pembicaraan orang lain? Tapi kenapa kali ini dia lebih diam? Apa sesuatu terjadi padanya? Tapi kemudian aku mengabaikan yeoja itu dan mendesah pelan sebelum mengalihkan pandanganku pada Hyomin yang ternyata sedang menatapku dengan lekat. Aku terkejut dan cepat-cepat berkata, “Ah, emm—ini pertama kalinya seorang yeoja memelukku seperti caramu memelukku, Hyomin-ssi. Tapi pelukanmu terasa hangat dan menenangkan,”

Eonni. Panggillah aku seperti itu,” sahut Hyomin sambil memberiku senyuman lebarnya. “Aku akan senang jika kau memanggilku eonni

Ah,” celetukku tidak yakin. “E—Eonni?”

Hyomin mengangguk. “Maukah kau memanggilku seperti itu?”

Geurissae,” sahutku sambil mengusap pelipisku. “Apa tidak apa-apa jika aku melakukannya?” tanyaku karena biar bagaimanapun aku baru mengenalnya secara langsung seperti ini.

Geureomnyo,” Hyomin langsung menanggapiku. “Bukankah aku sudah memberitahumu jika aku ingin mengenalmu lebih dekat? Lagipula kita memang seharusnya saling mengenal lebih jauh, Sooyoung-ah

Ah, begitu” gumamku pelan. Aku merasa canggung dan sebisa mungkin tidak menunjukkannya di depan Hyomin. “Geureom… aku akan memanggilmu ‘eonni’ mulai sekarang” kataku pada akhirnya.

Hyomin kembali tersenyum, dan entah kenapa aku juga melihat matanya yang berkaca-kaca, seperti seseorang yang ingin menangis karena bahagia. Aku benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana sekarang karena akupun baru pernah merasakan hal seperti ini. Aku bahkan ragu apa yang aku rasakan di depan Hyomin ini adalah karena pengaruh Hyosung yang sempat meminjam tubuhku mengingat mereka saudara. Tapi kenapa aku merasa cukup dekat dengan Hyomin sampai bahkan aku tak ragu untuk memanggilnya eonni?

“Ah, siapa yang menyangka jika pemandangan ini cukup mengharukan” komentar Hyosung yang sekarang berdiri tepat diantara aku dan Hyomin. “Aku tak pernah menyangka jika takdir mempermainkan kita seperti ini,”

Aku diam saja meskipun sebenarnya aku sangat ingin menanggapinya.

“Kau pasti merasakan sesuatu ‘kan, Sooyoung-ah?” Hyosung bertanya padaku yang tentu saja tidak aku jawab. Aku hanya memberinya tatapan tajam karena sebenarnya akupun tidak mau berbicara padanya setelah kejadian di rumah sakit itu.

“Apa kau mau mengobrol denganku, Sooyoung-ah?” Kali ini suara Hyomin yang terdengar—dan melihat dari ekspresinya, sepertinya dia sudah mengatakan beberapa hal padaku. Tapi aku tidak mendengarkannya karena aku terus memperhatikan Hyosung. “Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang Hyosung dan Daehan Group

Ne? Hyosung-ssi?” sahutku dengan cepat, lalu melirik ke arah Hyosung yang justru tersenyum penuh arti ke arahku. Aku berdehem pelan, “Kenapa kau ingin tahu pendapatku tentang—tentang Hyosung-ssi dan juga Daehan Group?” tanyaku kemudian.

Hyomin terlihat ragu untuk beberapa saat karena aku melihatnya menarik napas dengan pelan beberapa kali. Tapi kemudian, diapun membuka mulut dan berbicara padaku. “Karena Hyosung itu—“ Kata-katanya terhenti karena suara keras televisi tiba-tiba terdengar.

Perhatianku dan juga Hyomin serta Hyosung langsung teralih pada televisi itu. Mataku langsung membelalak melihat berita yang sedang ditayangkan di televisi sambil mendengarkan yeoja pembawa berita yang membacakan isi beritanya.

“Polisi sudah memastikan bahwa kematian mantan CEO Daehan Group, Nn. Jeon Hyosung, bukanlah sebuah tindakan bunuh diri seperti yang telah dinyatakan sebelumnya. Ditemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa kematian Nn. Jeon dikarenakan seseorang telah meracuni yeoja berusia 27 tahun itu”

Eonni,” gumamku sambil melirik ke arah Hyosung yang terlihat sangat terkejut dengan berita itu.

“Penyelidikan ulang mengenai kasus ini telah dilakukan oleh polisi, dan menurut informasi polisi sudah mengantongi nama pelaku yang telah menghilangkan nyawa CEO muda ini”

“Maldo andwae” Kali ini Hyomin yang bergumam, dan diapun terlihat sama terkejutnya dengan Hyosung. “Bagaimana bisa ada seseorang yang meracuninya?”

Aku berniat untuk mengatakan sesuatu pada Hyomin, tapi kemudian melihat Hyosung menggelengkan kepala ke arahku. Tanpa mengatakan apapun padaku, dia memintaku untuk tidak mengatakan apapun meskipun sebenarnya aku mengetahui tentang apa yang menimpa Hyosung itu. Aku bisa mengerti kenapa dia melarangku untuk memberitahu Hyomin karena biar bagaimanapun pelakunya adalah ibunya—dan ibu tiri Hyosung. Yah, aku memang tahu bahwa dua yeoja ini bukanlah saudara kandung karena ibu mereka yang berbeda. Tapi bukankah itu menyakitkan saat mengetahui bahwa pelaku yang melakukannya pada adiknya adalah ibunya sendiri? Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana saat Hyomin mengetahui itu semua pada akhirnya? Apa dia akan baik-baik saja? Ah, kenapa aku justru mencemaskan Hyomin sekarang?

__

Kyuhyun POV

Hari ini aku datang ke restoran Sooyoung. Sudah hampir seminggu aku tak bertemu dengannya dan entah kenapa aku merindukannya. Ada saat-saat dimana aku ingin sekali menemuinya selama seminggu ini, tapi kemudian aku menahan diriku untuk tidak pergi. Itu bukan pekerjaan yang mudah karena aku terpaksa harus melakukan banyak pekerjaan di rumah sakit untuk menyibukkan diri. Aku bahkan merelakan diri untuk membantu Donghae yang tentu saja membuat namja itu senang.

Aku tahu apa yang aku lakukan itu justru membuatku semakin merindukan Sooyoung dan ingin bertemu dengannya. Tapi mau bagaimana jika masih ada sedikit keraguan dalam diriku tentang perasaanku padanya, dan aku membutuhkan waktu untuk bisa mengerti perasaanku dan apa ang sebenarnya aku inginkan. Itu seperti aku sedang menguji diriku sendiri, dan menyadari bahwa aku merindukannya kurasa aku memang menyimpan perasaan padanya entah karena dia mirip dengan Hyosung atau tidak. Aku merindukannya, dan itu cukup membuatku sadar bahwa sebenarnya aku menyukainya.

“Oh! Kyuhyun-ssi!” seru Yuri saat dia baru saja keluar dari dapur dan melewati mejaku. Dia tersenyum, “Orenmaneyo,” katanya kemudian.

Ne, orenmaneyo” jawabku sambil balas tersenyum. “Jaljaseoyo?”

Geureomyo,”

Dahaengieoyo” sahutku seraya melirik ke arah dapur, dan ke segala penjuru restoran yang mungkin menunjukkan keberadaan Sooyoung. Tapi kemudian aku menyadari bahwa Yuri sedang menatapku, jadi cepat-cepat aku mengalihkan perhatianku padanya dan berbicara. “Rasanya seperti sudah cukup lama aku tidak datang kesini padahal itu baru sekitar satu minggu, ‘kan?”

Geraeyo,” celetuk Yuri langsung memberiku tanggapan. “Emm—apa kau mencari Sooyoung-ie?” tanyanya seperti bisa membaca pikiranku atau itu mungkin sangat terlihat dari sikapku.

Oh?” sahutku terkejut. “Emm—eo. Apa dia ada?”

“Dia sedang pergi, entah kemana” jawab Yuri seraya duduk di depanku. “Boleh kita bicara, Kyuhyun-ssi?”

Meskipun aku tak tahu apa yang ingin Yuri bicarakan denganku karena aku memang tak pernah berurusan dengannya, tapi kepalaku mengangguk.

Geurae, aku langsung saja kalau begitu” kata yeoja di depanku ini sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Ini tentang Sooyoung, dan karena aku tak bisa bertanya padanya jadi yah—“

“Tentang Sooyoung?”

Yuri mengangguk. “Kau tahu, dia sedikit aneh seminggu ini. Aku memang tak tahu apa yang terjadi, dan hanya bisa menebaknya” katanya. “Mungkin itu berhubungan denganmu atau Jae Hoon oppa, atau yang lainnya. Tapi dia tak mau membicarakannya meskipun aku dan Yoona terus bertanya padanya”

Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan Yuri itu, bukan karena aku terkejut tapi karena aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Mungkin aku tahu jawabannya tapi aku tak mungkin memberitahunya bahwa itu karena keraguanku pada Sooyoung. Apalagi jika aku menyamakan yeoja itu dengan Hyosung di depan Yuri. Apa yang akan Yuri katakan sebagai hasilnya?

“Kyuhyun-ssi, kau menyukai Sooyoung-ie ‘kan?” tanya Yuri tiba-tiba. Membuat pikiranku langsung buyar dan aku menatapnya dengan lekat karena terkejut. “Kau menyukai Choi Sooyoung, ‘kan?” Yuri mengulang perkataannya.

Mataku mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, “Kurasa begitu. Wae—waeyo?”

Dahaenginda geureom” sahut Yuri sambil mengganti posisi duduknya. Sekarang dia menyandarkan tubuhnya di punggung kursi dengan tangan terlipat di depan dadanya. “Kurasa Sooyoung juga menyukaimu. Ah, dia memang dekat dengan Jae Hoon oppa, tapi aku tahu jika dia tak pernah memiliki perasaan pada namja itu. Karena baginya, Jae Hoon oppa itu seperti oppa-nya

Ah, begitu” gumamku berusaha keras untuk tidak tersenyum mendengarnya.

“Aku benar-benar berharap kau menyukai Sooyoung dengan tulus, Kyuhyun-ssi. Bukan karena kau baru kehilangan dan membutuhkan seseorang yang menggantikannya” kata Yuri yang kembali membuatku terpekur mendengarnya. “Aku tahu bahwa kau baru saja kehilangan tunanganmu, Jeon Hyosung-ssi. Aku juga tahu jika Sooyoung mengetahui hubunganmu dengan Hyosung-ssi sebelumnya”

Aku diam saja kali ini.

Ah, tapi itu benar-benar mengejutkan karena semuanya berhubungan” ujar Yuri yang membuat kedua alisku saling bertaut karena tidak mengerti apa maksud dari perkataannya. “Kau tahu, aku sangat terkejut karena sebenarnya Sooyoung—“

“Yuri-ah!” Sebuah suara menghentikan kalimat Yuri.

Secara bersamaan aku dan Yuri menoleh. Aku tidak terkejut Sooyoung yang memanggil, dan senyumku pun langsung mengembang melihat kedatangannya. Sayangnya, yeoja itu sama sekali tidak menghiraukanku dan hanya memanggil Yuri dengan lambaian tangannya untuk mendekat ke arahnya. Yuri menoleh ke arahku dan mau tak mau akupun menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda bahwa dia bisa pergi meninggalkanku.

Josanghaeyo, Kyuhyun-ssi” kata Yuri sambil mendorong kursinya dan berdiri.

Gwenchanayo,”

Yuri meninggalkan mejaku dengan ekspresi bersalah. Dia bahkan sempat menolehkan kepala ke arahku saat sudah berada di hadapan Sooyoung.

Mataku terus memperhatikan mereka yang terlihat sedang membicarakan sesuatu, lalu Yoona pun datang bergabung sambil membawa beberapa sayuran di tangannya. Melihat dari bahasa tubuh mereka, sepertinya apa yang mereka bicarakan itu berhubungan dengan urusan restoran meskipun beberapa kali aku menyadari bahwa Sooyoung mencuri pandang ke arahku. Aku menunggu selama beberapa saat sambil mengaduk-aduk minuman yang aku pesan. Lalu tepat ketika Sooyoung melangkah pergi meninggalkan dua temannya itu, akupun bangkit berdiri setelah melihat isyarat Yuri untuk pergi mengejar Sooyoung.

“Sooyoung-ah!” panggilku saat sudah keluar dari restoran dan melihat yeoja itu yang belum terlalu jauh dari tempatku. Sooyoung sempat menoleh, tapi setelah tahu bahwa aku yang memanggilnya diapun kembali melanjutkan langkahnya. “Sooyoung-ah, jamkkaman” seruku kemudian sambil bergegas mengejarnya.

Aku berhasil mengejar Sooyoung di sebuah lorong diantara toko sepatu dan sebuah coffee shop yang berjarak 100 meter dari restoran Evangelized itu. Tanganku memegangi lengannya, tapi dia sama sekali tidak berbalik menghadapku. Dan aku tahu bahwa aku harus berbicara padanya, menjelaskan padanya serta memperbaiki hubunganku dengannya.

Waeyo? Kenapa kau seakan menghindariku?” tanyaku kemudian. “Apa kau marah padaku karena apa yang aku katakan di rooftop atau kau marah padaku karena aku tak menghubungimu beberapa hari ini?”

Sooyoung diam.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. “Sooyoung-ah, apa yang—“

“Kau tahu—“ Sooyoung mulai bicara, dan akupun langsung menghentikan apa yang ingin aku katakan padanya. “Aku justru senang kau menjauhiku seperti itu,” lanjutnya dengan suara yang terdengar pelan dan dingin.

“A—Apa maksudmu?”

Sooyoung tertawa pelan, lalu dia membalikkan badannya ke arahku dan melepas tanganku dari lengannya. “Itu lebih baik jika kau tak menemuiku lagi, Kyuhyun-ssi

Wae—waeyo?” tanyaku terkejut karena Sooyoung pun memanggilku dengan cara yang berbeda sekarang. “Kenapa kau tak mau aku menemuimu lagi?”

“Aku tahu mengenai Hyosung-ssi, dan kau pun tahu bahwa aku mengetahuinya. Dia yeoja yang seharusnya menjadi istrimu, dan memiliki kemiripan denganku. Begitu ‘kan yang kau pikirkan?” Nada bicara Sooyoung masih sama, dan dia bahkan hanya sesekali saja menatapku. “Perasaanmu itu… Aku tahu bahwa kau memilikinya karena aku mirip dengan Hyosung-ssi atau apapun yang berhubungan dengannya. Karena saat bersamaku, kau seperti melihat Hyosung-ssi kembali hidup”

Kali ini aku hanya bisa diam.

“Kau melihatku sebagai Jeon Hyosung. Kau mencintaiku sebagai Jeon Hyosung, bukan sebagai Choi Sooyoung” kata Sooyoung melanjutkan. Dia menatap tajam ke sisi kananku cukup lama, lalu menoleh ke arahku. “Itulah kenapa aku berharap kau tak menemuiku lagi karena kau hanya membuatku merasakan sakit,”

Aku ingin membantah semua perkataan Sooyoung itu, tapi aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya agar dia tidak semakin berpikiran seperti itu padaku. Memang benar bahwa dia memiliki banyak kemiripan dengan Hyosung yang tak bisa aku jelaskan, tapi tetap saja aku merasa bahagia bersamanya. Akupun mau berusaha lebih dekat dengannya karena aku hanya mengikuti keinginan hatiku yang baru aku sadari beberapa hari ini setelah sempat ada keraguan.

“Satu hal lagi yang harus kau tahu, Kyuhyun-ssi” Sooyoung kembali berbicara, membuyarkan semua pikiranku tentangnya. Lagi-lagi dia menatap ke sisi kananku, lalu membuka mulutnya. “Aku tak mau memiliki perasaan cemburu pada orang yang sudah mati,” Dia pun langsung membalikkan badannya lagi dan melangkah pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun lagi.

Aku membeku di tempatku mendengar perkataan Sooyoung yang terakhir itu, dan hanya bisa menatap punggung Sooyoung yang bergerak menjauh dari jarak pandangku. Aku tahu bahwa seharusnya aku kembali mengejarnya, tapi entah kenapa aku seperti tidak bisa menggerakkan kakiku. Meskipun begitu, dadaku terasa sakit saat sosok itu hilang tak terlihat oleh mataku. Aku menundukkan kepala, menatap sepatuku sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.

Naneun jigeum mueoseulhaeya?” gumamku pada diri sendiri. “Haruskah aku kehilangan Iris yang lain? Seperti ini”

Aku menarik panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, dan melakukannya beberapa kali sampai aku benar-benar merasa tenang. Tanpa berpikir lama, aku pun bergegas melangkahkan kaki mengikuti arah Sooyoung sambil berharap aku bisa menemukannya dan memberitahunya bagaimana perasaanku yang sebenarnya padanya.

__

Sooyoung POV

“Ya! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada Kyuhyun oppa?” Suara desisan Hyosung terus terdengar di telingaku sejak aku pergi meninggalkan restoran dan Kyuhyun disana. “Apa kau tak tahu, dia ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau seharusnya mendengarkannya berbicara terlebih dahulu”

Aku berusaha untuk terus mengabaikan Hyosung, dan melangkah ke arah halte bus yang paling dekat. Jujur saja, aku sendiripun tak tahu kenapa aku bisa mengatakan hal-hal seperti itu meskipun apa yang aku katakan itu benar. Aku memang tak mau memiliki perasaan cemburu pada Hyosung, dan aku juga tak mau Kyuhyun mau bersamaku hanya karena aku mirip seperti tunangannya yang sudah meninggal ini. Karena rasanya benar-benar tidak menyenangkan, apalagi saat Hyosung masih disekitarku dan terus berusaha untuk berbicara padaku yang memang aku abaikan sejak dari rumah sakit itu.

“Ya! Aku tahu kau sedang mengabaikanku, tapi bukankah itu keterlaluan?” Hyosung tiba-tiba berdiri di depanku dan membuatku berhenti melangkah. Dia menatapku dengan lekat, “Jika bukan karena kau adalah—“ Dia menghentikan kata-katanya.

Mwo?” sahutku dengan cepat sambil membalas tatapannya. “Aku sedang tidak mood berurusan denganmu” kataku seraya mengganti arah langkahku dan melanjutkan berjalan.

Aku tahu Hyosung masih mengikutiku, tapi tak ada lagi yang dia katakan padaku. Dia bahkan ikut masuk ke dalam bus dan terus memandangiku, membuatku merasa sedikit terganggu karenanya. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan selain berpura-pura tidak memperhatikannya dan menatap ke luar dari kaca bus. Aku tak tahu kemana aku akan pergi karena aku hanya ingin menjauh dari restoran dan Kyuhyun. Setelah sekitar 30 menit berada di dalam bus, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke jembatan Banpo sekedar untuk menikmati pemandangan malam disana.

“Oh, aku suka tempat ini” celetuk Hyosung saat aku berhenti di tepi jembatan Banpo. “Apa kau sering datang kesini jika kau ingin pergi tanpa tujuan? Seperti hari ini?” tanyanya padaku sambil berdiri menyandarkan tubuh pada pembatas beton jembatan.

Aku hanya memberikan dengusan kecil sebagai tanggapan dari pertanyaan Hyosung itu, lalu memilih untuk menatap air mancur yang mengalir dari pipa penyemprot di sepanjang tepi jembatan. Menatap orang-orang yang terlihat ramai di Taman Hangang di bawah jembatan ini.

“Kau tahu, apa yang paling ingin aku lakukan sekarang?” Suara Hyosung kembali terdengar setelah dia diam untuk beberapa saat. “Yah, karena ibu tiriku mungkin sebentar lagi akan tertangkap… sekarang aku mengkhawatirkan Hyomin eonni,”

Aku sedikit menolehkan kepala saat Hyosung menyebutkan nama Hyomin, dan aku tak tahu kenapa aku seperti itu. Rasanya seperti aku juga mengkhawatirkannya tapi aku tak bisa menemuinya begitu saja mengingat dia pasti sibuk dengan segala macam pekerjaannya dan berita-berita tentang adiknya yang kembali ramai di televisi serta berbagai media. Ingin sekali rasanya aku mendatangi perusahaan dimana Hyomin bekerja, sekedar untuk melihat keadaannya. Aku bahkan hampir meminta nomor ponsel yeoja itu ke Jae Hoon, tapi mengurungkannya karena aku tak tahu kenapa tiba-tiba Jae Hoon menghilang.

“Kau mengkhawatirkannya juga, ‘kan?” Hyosung bertanya padaku. “Bagaimana jika Hyomin eonni mengetahui bahwa orang yang melakukannya padaku adalah—“

“Aku yakin dia akan baik-baik saja,” kataku menyela kalimat Hyosung. Aku melupakan fakta bahwa aku sedang mengabaikannya karena aku benar-benar ingin membicarakan tentang Hyomin. Bukankah saat itu dia datang ke restoranku dan ingin membicarakan sesuatu denganku? Hyosung pasti tahu apa yang ingin dia bicarakan, dan aku benar-benar bodoh karena baru menyadarinya sekarang. “Itu memang menyakitkan, dan dia pasti terluka. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja,” Aku melanjutkan perkataanku.

Hyosung tersenyum tipis, “Kau mengatakannya seperti kau sudah sangat mengenalnya”

Aku diam saja kali ini.

Hyosung menghela napasnya perlahan, dan aku harus menahan diriku untuk tidak bereaksi apapun melihatnya. Tapi pandangan matanya mengarah lurus ke lampu-lampu pipa penyemprot air mancur di sepanjang jembatan Banpo ini, yang membiaskan cahaya berwarna merah muda, ungu dan kuning. Lampu-lampu itu memang selalu terlihat mengagumkan saat malam hari seperti ini.

“Sooyoung-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Hyosung tiba-tiba. Membuatku menatapnya dengan lekat, dan menunggunya melanjutkan apa yang ingin dia katakan padaku. “Itu tentang keluargamu,”

Kedua alisku saling bertaut, “Keluargaku?” tanyaku yang benar-benar sudah melupakan kekesalanku pada Hyosung. “Kenapa dengan keluargaku?” Aku bertanya lagi.

“Geunyang—kau tak pernah sekalipun menyinggung tentang mereka. Jadi aku—aku penasaran,” kata Hyosung terlihat ragu. “Kau tahu, Jae Hoon-ssi pernah mengajakku mengunjungi makam appa-mu dan disana dia—hmm, dia—yah, katakan saja dia menyatakan perasaannya padamu dan—“

Mwo? Jae Hoon oppa melakukannya?”

“Eo. Dia mengatakan bahwa dia mencintaimu—“

“Bukan itu,” sahutku dengan cepat karena bukan itu maksud dari pertanyaanku. Tapi sepertinya Hyosung tidak mengerti, jadi aku menambahkan. “Maksudku—Jae Hoon mengajakmu kesana? Ani, maksudnya… aku,”

Hyosung menganggukkan kepalanya pelan.

“Apa dia mengatakan sesuatu?”

“Beberapa hal tentang orang tuamu,” jawab Hyosung yang memilih untuk tidak menatapku. “Tapi sepertinya dia tidak tahu banyak tentang keluargamu meskipun kau sudah mengenalnya cukup lama,”

Aku diam untuk beberapa saat dan mempertimbangkan untuk mengatakan ini atau tidak pada Hyosung. Tapi setelah aku memikirkannya, akupun memutuskan untuk berbicara. Lagipula Hyosung pun tak akan memberitahu orang lain karena tak akan ada yang bisa mendengarnya selain aku. Jadi kurasa itu tidak masalah jika dia menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sedikit rahasia tentang keluargaku.

“Mereka bukan orang tua kandungku,” kataku mulai memberitahu Hyosung, dan aku tidak menyangka jika dia sama sekali tidak terlihat terkejut. Tapi aku tetap melanjutkan perkataanku, “Aku mengetahuinya saat aku berumur sepuluh tahun. Aku tak sengaja mendengar pertengkaran kedua orang tuaku, dan eomma—dia mengatakan bahwa appa seharusnya tidak membawaku pulang tapi memasukkanku ke panti asuhan”

Hyosung tidak memberikan komentar apa-apa, tapi dia mendengarkanku.

“Aku mencari tahu sendiri setelah itu, dan bertanya pada tetangga-tetangga di sekitar rumahku tapi tak ada yang tahu” Aku terus berbicara. “Sampai pada akhirnya, halmeoni memberitahuku. Saat itu aku di tingkat akhir sekolah, dan appa sedang berjuang melawan sakitnya di rumah sakit”

“Sakit?”

Hepatocirrhosis (penyakit lever)” Aku memberitahu.

Ah,” celetuk Hyosung kemudian. “Dia pasti terlalu banyak mengkonsumsi alkhol”

Aku memilih untuk tidak menanggapi itu dan melanjutkan apa yang ingin aku katakan. “Halmeoni memberitahuku bahwa appa menemukanku di pinggir jalan. Katanya seseorang menabrakku dan meninggalkanku begitu saja. Appa-lah saksinya saat itu. Tapi alih-alih membiarkanku di rumah sakit sendirian, dia justru membawaku ke rumahnya dan memanggilku Sooyoung. Choi Sooyoung,”

Hyosung mendengarkan, dan tak langsung memberiku tanggapan. Tapi kemudian diapun berbicara, “Apa kau sudah mencari orang tua kandung selama ini?”

“Tentu saja,” sahutku dengan cepat. “Alasan kenapa aku pergi ke Seoul setelah aku menyelesaikan sekolahku adalah untuk mencari orang tuaku. Aku tak tahu kenapa aku sangat yakin jika mereka tinggal di Seoul, bukan kota lain. Ada perasaan aneh saat aku datang ke kota ini, suasananya seperti tidak asing bagiku jadi aku tinggal disini sejak saat itu”

“Dan orang tuamu?”

“Aku lama tidak mengunjungi mereka, dan hanya datang saat aku mendengar kabar tentang kepergian appa” kataku jujur. “Bukankah aku putri yang tidak tahu caranya berterima kasih? Tapi aku benar-benar menyesal datang ke rumah saat itu,”

Wae?”

Eomma,” kataku sambil menghela napas panjang. “Dia mengusirku di depan banyak orang, dan berkata bahwa aku bukan putrinya jadi aku tak perlu datang”

Aigoo,” Hyosung bereaksi. “Eomma-mu seperti itu?”

Aku mengangguk singkat, “Tentu saja. Karena dia bukan eomma-ku” kataku. “Jadi aku memutuskan untuk tidak akan pernah datang lagi ke rumah itu, kecuali saat halmeoni memintaku untuk datang”

“Dan kau menyembunyikan semua itu dari orang lain?”

Eo,” jawabku apa adanya.

Hening untuk beberapa saat. Tapi aku tahu jika Hyosung ingin mengatakan sesuatu lagi padaku. Aku melihatnya membuka mulut meskipun dengan cepat dia menutupnya lagi. Aku kehabisan kata-kata, dan kurasa cukup sampai disana aku menceritakan tentang keluargaku yang bahkan baru kali ini aku menceritakannya di depan orang lain.

“Aku cukup kesulitan selama di Seoul, kau tahu” kataku memecahkan keheningan. “Jika Daesung ahjussi tidak banyak membantuku, mungkin aku tidak akan menjadi seperti aku yang sekarang ini”

“Daesung ahjussi?”

Appa-mu,” sahutku dengan cepat. “Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi aku benar-benar berterima kasih pada appa-mu, eonni. Dia orang yang sangat baik dan memperlakukanku seperti putrinya sendiri”

“Bagaimana jika memang benar begitu?”

Oh? Apa maksudmu?”

Hyosung tak langsung menyahut, tapi dia memandangiku lekat-lekat. Setelah itu diapun mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu berbicara. “Geunyang—“

Aku menatap Hyosung sekilas, sempat ragu apa aku harus bertanya atau tidak. Tapi aku benar-benar ingin mengetahuinya. Itu berhubungan dengan kematiannya sebenarnya, dan aku terlalu khawatir jika dia tidak suka membicarakannya atau bagaimana. Setelah mempertimbangkannya dan menarik napas panjang, akupun memutuskan untuk bertanya.

Eonni,” panggilku pelan—masih ragu. Tapi Hyosung menoleh padaku, dan mau tak mau akupun melanjutkan bicara. “Apa kau kebetulan—emm, ingat sebelum kau—kau menjadi seperti ini?”

Hyosung terlihat sedang berpikir, tapi kemudian dia memberiku tanggapan. “Jujur saja, sejauh ini aku tak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi padaku saat itu. Bahkan dari awal aku menjadi seperti ini” katanya, tapi dia sama sekali tidak menatap ke arahku melainkan menatap lurus ke arah sungai Han di bawah kami. “Memang ada beberapa hal yang aku ingat setelah detektif Han memberitahuku, tapi itu tidak detail”

“Seperti apa misalnya?”

“Hari itu, saat hari dimana aku mati” Hyosung melanjutkan perkataannya. “Aku ingat bahwa aku memang bertemu dengan ibu tiriku setelah dia memintaku untuk pulang ke rumah lebih awal dari biasanya

Waeyo?”

Hyosung mengendikkan bahunya, “Aku tidak ingat bagaimana persisnya pembicaraanku dengannya saat itu tapi satu hal yang pasti adalah dia meminta bagian saham Daehan Group padaku yang langsung aku tolak dengan banyak pertimbangan” katanya sesekali melirik ke arahku.

“Kenapa kau menolaknya? Bukankah dia berhak atas beberapa saham—“

“Kau tidak akan berbicara seperti itu jika kau mengenal ibu tiriku,” Hyosung menyela perkataanku. “Bahkan aku tak pernah melihat Hyomin eonni menghabiskan waktu bersama dengan eomma-nya. Aku yakin permintaan itu juga untuk dirinya sendiri, dan aku tak mungkin memberikannya untuk keuntungan pribadi”

Aku diam saja.

Jika kau jadi aku, memangnya kau akan memberikan begitu saja saham perusahaan untuk orang lain meskipun dia keluargamu?”

Aku tak langsung menjawab karena—jujur, aku tak pernah berurusan dengan saham apapun jadi aku tak tahu harus berkata apa. Meskipun begitu, aku tetap menggelengkan kepala lalu berbicara, “Bukankah keputusan untuk memberikan saham atau mempertahankan saham tetap menjadi keputusan bersama dewan direksi? Itu yang aku tahu,”

Hyosung mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapiku. Lalu dia melanjutkan, “Kim Jung Ah marah besar padaku saat itu. Mengumpatku dengan berbagai kata-kata kasar yang aku abaikan. Aku memilih untuk masuk ke kamar untuk menghindarinya karena aku benar-benar sedang tidak mau menanggapi semua hal yang dia katakan”

Geuraesseo?”

“Oh, dia terus mengeluh dan mengomel di rumah. Aku mendengarnya dari dalam kamarku” kata Hyosung. “Aku keluar dari kamar untuk makan malam dan beruntung bahwa dia sudah tidak ada di rumah. Siapa yang tahu bahwa makanan yang aku makan malam itu membawaku sampai ke keadaanku yang seperti ini

Aku kembali diam.

Hyosung tersenyum tipis, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke sungai Han. “Aku memakan makanan yang dibuatkan oleh ibu tiriku. Dari awal tidak ada yang memberitahuku siapa yang membuat makanan itu, dan aku terlalu sibuk untuk bertanya pada orang-orang di rumahku. Lalu—yah, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku,

“Apa kau menyesal?”

“Menyesal?”

Aku mengangguk.

“Aku tidak tahu apa aku harus menyesal atau tidak,”

“Kenapa begitu?”

Hyosung sama sekali tidak memberi tanggapan kali ini, hanya menatapku sekilas lalu memalingkan wajahnya. “Lihat, sepertinya hari sudah sangat malam. Teman-temanmu mungkin akan khawatir padamu, Sooyoung-ah” Dia tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

Aku diam untuk beberapa saat, berusaha mengerti kenapa Hyosung memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan tentang kematiannya. Akupun tak akan memaksanya untuk bercerita karena itu mungkin terlalu menyakitkan untuknya mengingat tentang kematiannya sendiri. Bagaimana tidak? Apa yang terjadi padanya itu benar-benar sesuatu yang mengerikan, apalagi pelakunya adalah keluarganya sendiri. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi Hyosung saat ini.

Aku memilih untuk mengeluarkan ponselku dan menatap jam-nya. Memang benar bahwa hari sudah sangat malam, restoran pasti juga sudah tutup. Kurasa aku tak perlu kembali ke sana dan langsung pulang ke apartemen saja dari sini. Setelah menghela napas sekali, akupun memutuskan untuk membalikkan badan dan meninggalkan tempat ini. Tapi kemudian sesuatu menahanku. Tiga orang namja, dengan tubuh besar mereka dan beberapa luka di wajah sudah menunggu di belakangku. Mataku mengerjap saat tiga namja ini mengarahkan pandangannya tepat ke arahku.

Nuguya?!” seru Hyosung yang langsung berdiri diantara aku dan tiga orang namja itu. Tapi aku tahu usahanya itu sia-sia, karena mereka dengan mudah menembusnya. “Sooyoung-ah! Lari!” Hyosung berteriak padaku.

Tanpa menunggu apapun lagi, aku bergegas memutar badanku dan berlari ke sembarang arah. Ketiga namja itu mengejarku. Saat ini yang ada di pikiranku adalah berlari secepat mungkin atau bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari mereka. Sayangnya tidak ada tempat yang bagus untuk dijadikan tempat persembunyian. Aku bahkan salah mengambil jalan karena jalan yang aku ambil adalah jalan buntu dan sudah terlalu terlambat bagiku untuk berbalik karena mereka sudah berhasil mengejarku dan menyudutkanku.

“Kau Choi Sooyoung?” Namja yang memiliki tato naga di tangannya mendesis sambil melangkah mendekat ke arahku.

Aku mundur beberapa langkah, “Eo. Apa yang kau cari?” tantangku, berusaha menyembunyikan ketakutanku sendiri. Mataku menatap tajam ketiga namja di depanku ini, berusaha memberikan kesan mengintimidasi.

Lalu tiba-tiba, sebuah benda berkilauan terlihat. Pisau. Jari-jariku mengepal, napasku terputus-putus. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tak bisa berlari kemanapun lagi karena ketiga namja ini menghalangi semua sudutku untuk lari. Aku terus bergerak mundur saat namja yang membawa pisau itu bergerak mendekatiku, dan melihat Hyosung yang berusaha memukuli mereka dan mendorong mereka menjauh dariku tetapi gagal karena tangannya terus menembus tubuh besar mereka.

Apa aku akan mati ? Apa aku akan mati dengan cara yang seperti ini? Mungkin aku memang pernah menghampiri kematian, dua kali—saat kecelaakaan yang lalu, dan saat aku masih kecil, tapi kenapa rasanya aku takut sekali sekarang? Aku memejamkan mata saat namja bertato naga itu mengangkat tangan dan mengarahkan pisau itu padaku.

Aku akan mati, tidak apa-apa. Kematian itu tenang, dan aku akan tenang setelah ini. Aku tidak akan lagi takut pada apapun kaena semua yang hidup pasti akan mati. Hanya caranya saja yang berbeda-beda. Tidak apa-apa, Choi Sooyoung! Kau harus menerimanya, siap atau tidak.

-TBC-

Eotte?

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Tunggu last part-nya yah^^

Gomawo^^

32 thoughts on “[Series] Once Again, Love -9-

  1. Elis sintiya says:

    ternyata hyomin orang yang baik… itu yang mau jahatin soo siapa?? ahh penasaran bgt kira2 soo terluka gak ya??? next part di tunggu bgt..

  2. Uh uh uh … rencana pembunuhan lagi … ini pasti Kim Jung Ah … haduhhh nenek lampir ini jahat bget apa apa bunuh apa apa bunuh … gk nyesel bunuh hyosung mau bunuh Sooyoung ..
    Nanti apa Kyu yg bakal nyelamatin Soo .. atau Jaehoon … aduhhh siapapun tolong Soo ….. lontong lontonggggg

  3. summerain says:

    Waaa di bikin penasaran akhirnya, nda sabar baca lanjutannya :’)
    Kyuhyun gak garcep sih, kebanyakan pake logika haha.
    Next part semoga gak ngecewain, semangaat thor :))

  4. Duuhhh… Penasaran part selanjutnya bakal gimana? Soo mati apa gmna ntr buat penasaran… Trus ending cerita kyuyoung nya gmna yah?

  5. younger says:

    di part ini ga ada kyuyoung moment nya… malahan lagi kangen itu akirnya si soo hemana siapa yang mau nhebunuh soo

  6. tania says:

    kirain bakalan habis di disini, karena udh mulai kebuka kartu kartu misterinya, ternyata masih ada ya. jangan lama lama update ya, penasaran nunggunya

  7. syiyoung says:

    whatt tbc duhhh
    kyu harus tegas nih menentukkan pilihan, biar feelnya lebih kuat..
    somga soo bsa selamat dan semua bisa lurus di part 10..

    cayooooothorrr

    ditunggu part 10nya.. klo bsa cepetw yah hehe

  8. Youngra park says:

    Aduhh otokhae aku takut sooeoni knp2 kyuppa jga knp gk bsa tegas sma perasaany sih aduhh next part di tnggu eoni ku harap bisa cpt di post nya

  9. FS says:

    hyosung baik banget
    Siapa yang ngirim 3 penjahat itu?
    Kesel banget sama kyuppa 😤
    Kenapa gak segers nyusul soo eonn

    Next part ditunggu

  10. Hyuji says:

    gimana Sooyoung nya dong, dia abkal selamat kan?? atau kyuhyun yang akan menjadi penolongnya huuuu siapa sih preman@ itu? apa dia suruhan seseorang gitu

  11. kyu choco says:

    aku kira hyosing bakal cerita ke sooyoung kalo dia itu adiknya hyomin… apa namti kyu bakal jadi penyelamat untuk sooyoung… kyu vepet” deh menentukan pilihan…

  12. ry-seirin says:

    Bru dgr ada cerita tntang Irus & Anhelm to mmang ada d dongengvor keprluan cerita aja???
    Oh sikap dgin Hyomin k Hyosung to krna dia dah tau cerita sbnrnya tntang Hyosung!!!
    Msih greget ni ma cerita Kyuyoung, kpn moment Romanticnya???
    Sbelumnya krna msih suasana Idul Fitri aku mngcapin Mohon maaf lahir n batin u/ smua umat Muslim d dunia.

  13. Megumi says:

    Aaaaa. Pasti itu suruhan Kim sung Ah aka hyomin eomma. Kesel banget ama nenek lampir itu. Kasian juga ama hyomin yg tau kalo ibunya sejahat itu. Aku juga kesel ama Kyuhyun yg emang perasaan gak bisa dipaksaa apalagi pacarnya baru meninggal. Dan aku seneng ama fakta jaehoon itu sepupunya Sooyoung jd cintanya gak seharusnya. Dan yg paling bikin penasaran adalah gimana reaksi Sooyoung kalo tau dia pewaris Daehan Group, gimana jg ama reaksi Yuri ama yoona hehehe

    Semangat ya thor, part 10 (yg kayaknya bakalan end) nya cepet2 dipost ya, penasarannya udah ke ubun-ubun cyiin🙂

  14. kayaknya seru klo Kyu yg nanganin Soo lagi karena ketusuk, trus Kyu nyesel gitu😄
    tapi siapa yg tau hehe
    itu Hyomin blm kasih tau klo Soo adiknya ya?
    next part ditunggu

  15. Ayolah Syoo.. dngerin dlu pnjelasan kyu.. biar jelas dan knapa kmu g’percaya sma shbat sndri dg tdk cerita kluargamu serta smua ttg drimu kan jdi.A berat sndri.. klo Aq jdi shbat kmu psti udh kcewa sma kmu, kmu mlah crita.A sma hyosung. Filingku mngatakan 3 org jhat itu sruhan ibu.A hyomin.. smoga kyu yg dlm mengejar syoo cpet dtang serta nolongin syo.
    Next.A d.tuuungguuuu…

  16. ellalibra says:

    Udh mau ending yeah….. Q ska crt iris dan anhelm itu eon keren bgt😀 .. Mulai terbuka kebenaran ny nih kshn ama hyosung nasibnya miris bgt ;-( apa org yg mau ngebunuh soo suruhan ibunya hyomin lg??? Neeeeeeext fighting eon🙂

  17. ajeng shiksin says:

    Apa ada pahlawan kyuhyun yg nolongin .. Apa sooyoung harus kerumah sakit karna ditusuk ??? Si kyuhyun labil banget .. Sebener nya dy sayang enggak si sama sooyoung ?? Gimana ql sooyoung tw ql dy anak orang kaya ??

  18. Aduh bagaimana nih nasib sooyoung eonnie ? Kyu oppa please slmatin soo eonnie, pasti ibunya hyomin yg ngerencanain ini.

    NEXT PART DITUNGGU

  19. Kirain hyosung bakalan ceritain siapa soo
    Ternyata soo tau kalau dia bukan anak kandung orang tuanya cepet2 dah hyomin kasi tau soo kalau dia adiknya
    Kyuyoung moment dikit banget thor banyakin dong
    Next part jangan lama2 ya thor soalnya karena author jadi agak rame ksi sekarang udah sepi banget😦

  20. ye_eunchoi says:

    Sebelumya aku mau ngucapin terikasih banget buat author-nim karena tetap mau update.
    Semakin kesini ceritanya semakin seru mulai keungkap satu persatu kebenarannya,jae hyun oppanya dimunculin lagi dong biar si kyu cepat sadar sama perasaannya yang sebenarnya,next capt last part ya?ditunggu next captnya

  21. ye_eunchoi says:

    Sebelumnya aku mau berterimakasih buat author-nim yang udah mau tetap update.
    Cerita makin seru makin kesini semakin kebuka semuanya,munculin jae hyun lagi dong biar kyuhyun sadar sama perasaannya yang sebenarnya,next capt. Last ya

  22. Kyclovesyc says:

    Oh my god makin keren ceritanya tapi moment kyuyoungnya sangat sedikit but tetep keren ko 😉

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s