[SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 4)

the girl who make me crazy

Title                       : [SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 4)

Author                  : Chuyleez

Main Cast            : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Shim Changmin

Genre                   : Romance, Humor, Thriller.

Rating                   : 15

Annyeong…. Author comeback, bawa kelanjutan FF yang gaje ini.

Keseluruhan dari cerita ini murni dari imajinasi author. Jika ada kesamaan cerita, mungkin ada kesamaan fikiran. Untuk mengontak author bisa melalui facebook Andria Sulis atau Line ID : Chuyleez. Happy Reading All ^^

“Kau tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menghampirimu. 
Apa kau akan mati dalam keadaan sakit, kecelakaan atau 
seseorang yang bernafsu menghabisi nyawamu.”

****

“Kenapa? Kenapa dia bisa ada disini?” Sooyoung tampak panik melihat Changmin yang tiba – tiba muncul di hadapannya.

“Sooyoung, ayo kita pulang…. Kau tahu ibumu sangat mencemaskanmu.” Changmin hendak menarik tangan Sooyoung namun Sooyoung mengibaskannya.

“Maaf. Aku tidak mengenalmu.”

Mwo? Yang benar saja…. Kamu dan aku itu….”

“Tapi aku tidak ingat!” Bentak Sooyoung dengan nada tinggi.

Changmin tampak sedikit terkejut. “Apa kau menderita…. Amnesia?”

“Maaf, dia memang tidak ingat masa lalunya. Apa kau ini mengenalnya di masa lalu?” tanya Kyuhyun.

“Ya, aku dan dia ini…” Baru saja Changmin ingin menjelaskannya, Sooyoung kembali memotong ucapannya.

“Aku tidak mau ingat!”

“Young…” Kyuhyun membeku ketika melihat tangan Sooyoung memeluk lengannya erat.

Changmin tampak tertawa kecil. “Haha! Lelucon apa – apaan ini. Kau hilang ingatan? Dan kalian…. Menikah?”

Kyuhyun dan Sooyoung hanya terdiam. Pandangan Changmin terpusat pada cincin kecil yang melingkar di jari manis keduanya.

“Ha! Jadi kalian benar – benar menikah? Sulit dipercaya! Sooyoung, jika ayahmu tahu ini…. Dia pasti akan menentangnya habis – habisan.”

“Aku tidak peduli dengan bagaimana diriku di masa lalu.” Balas Sooyoung dingin.

Changmin tampak kehabisian kata. Berulang kali dia hanya terdengar mendesah pelan sembari menghembuskan nafas kasar.

“Jika itu maumu, aku tidak akan memberitahu keberadaanmu pada kedua orang tuamu. Tapi, karena aku sudah menemukanmu, biarkan aku menjengukmu disini sekali – sekali.”

Sooyoung hanya terdiam.

“Baiklah aku pergi. Semoga kalian…. Bahagia.”

Changmin beranjak meninggalkan Sooyoung dan Kyuhyun yang masih memandangnya dalam diam.

“Tadinya aku hanya ingin menyelidiki Kyuhyun, tapi aku tak menyangka aku menemukan sesuatu yang lebih menarik dari itu.”

Kyuhyun menoleh sejenak pada Sooyoung yang masih memeluk lengannya.

“Apa kau benar – benar tidak mau bertemu keluarga aslimu?” tanya Kyuhyun.

Sooyoung tampak menggeleng.

“Keluargamu pasti benar – benar cemas.”

“Aku tidak peduli.”

“Youngie….”

“Aku tidak mau membahasnya! Mungkin Pria itu…. Dia hanya menggertak saja. Aku tidak mengenalnya.”

Kyuhyun tampak mengerutkan kening. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari Sooyoung. Gelagat mencurigakan ketika dia selalu memotong ucapan Changmin tadi.

“Baiklah, jika itu maumu. Sebaiknya kita kembali mengangkut barangnya.”

Sooyoung mengangguk patuh. Dia melepaskan pelukannya pada lengan suaminya, kemudian mengekor pada suaminya untuk membantunya mengangkut barang.

****

Tok… Tok… Tok…

“Ibu, ini aku.” Ujar seorang pemuda yang baru saja mengetuk pintu kamar seorang wanita paruh baya.

“Masuklah, Siwon. Kamarnya tidak ku kunci.”

Cklek!

Siwon membuka pintu kamar ibunya sembari membawakan nampan berisi makanan dan segelas air.

“Kau belum makan sejak pagi. Apa perlu ku suapi?”

“Aku tidak lapar.”

“Biar aku menyuapimu yah.”

Wanita itu tidak menolak. Dia bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang. Satu suap nasi masuk ke dalam mulutnya.

“Bagaimana? Apa kurang garam? Aku memasak sendiri khusus untuk ibu.”

“Lidahku terasa mati. Jadi aku tidak bisa merasakan apapun.”

“Kalau kau sudah sembuh, kau harus mencicipi masakanku.”

“Youngie… Apa dia sudah makan?”

“Ibu, Sooyoung itu gadis yang kuat. Dia pasti baik – baik saja.” Siwon kembali menyuapi ibunya dengan sesendok nasi. “Kau ingat dulu Sooyoung dan Changmin pernah hilang satu minggu di hutan ketika mereka berusia 10 tahun. Tapi mereka bisa ditemukan dan dalam keadaan sehat. Mereka bercerita bahwa mereka memasak daun – daunan untuk mengisi perut mereka. Kupikir itu akan sama seperti 10 tahun lalu.”

“Tapi sekarang Sooyoung sendirian.”

“Jika kau terus memikirkan hal – hal yang berat seperti ini, kesehatanmu tidak akan kunjung pulih. Biar aku yang mengurus semuanya. Ibu percaya padaku kan?”

Wanita itu tampak mengangguk. “Aku bersyukur kau kembali demi mencari adikmu. Ku kira kau sudah tidak mempedulikannya.”

“Tentu saja aku memikirkannya. Aku hanya punya satu adik di dunia ini.”

Senyuman tipis terukir di bibir wanita berwajah pucat itu. “Cepat suapi aku lagi.”

“Baiklah.” Siwon dengan tekun menyuapi ibunya sesuap demi sesuap, sama seperti dulu ketika beliau menyuapinya makan saat dirinya masih kecil.

****

Jam dinding telah menunjukkan pukul 05.30 sore, toko milik keluarga Cho sudah tutup. Usai bekerja, Kyuhyun hendak menuju kamarnya untuk mengambil handuk dan mandi. Namun baru saja hendak menaiki anak tangga, Sooyoung menahannya dan menyuruhnya diam di tempat.

“Kenapa?”

“Sudah tunggu saja.”

“Kau menyembunyikan sesuatu di kamar yah?”

“Aku tidak menyembunyikan apapun. Sudah tunggu saja disana. Kalau sudah kusuruh, kau langsung naik ke kamar.”

“Pasti ada apa – apanya ini.”

“Tidak ada lima menit.”

“Eum, baiklah.”

Kyuhyun mengetuk – ketukan jemarinya pada pegangan anak tangga sembari menghitung waktu.

“Kau sudah boleh naik ke kamar.” Terdengar teriakan Sooyoung dari atas.

Kyuhyun bergegas mengikuti permintaan istrinya.

“Kau ini, apa yang sebenarnya kau la…” belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, Sooyoung sudah menyodorkan handuk yang telah terlipat rapi.

“Ini handuk mandimu, aku telah menyiapkannya.”

Kyuhyun tampak tertawa kecil. “Menyiapkannya bagaimana? Handuk ini sudah kupakai tadi pagi, kau hanya melipatnya kembali dan memberikannya padaku.”

Sooyoung tampak tersenyum malu. “Tapi aku melipatnya khusus untukmu. Ah, apa perlu aku menyiapkan air hangat untuk mandi?”

“Ada apa denganmu hari ini? Jarang sekali kau berbuat baik padaku.”

“Ucapanmu jahat sekali. Aku kan hanya ingin melayani suamiku dengan sebaik – baiknya.”

“Eum…. Seperti itu…. Baiklah aku hargai penawaranmu, tapi aku ingin mandi dengan air dingin hari ini.”

“Eunggg…. Baiklah.”Jawab Sooyoung sedikit kecewa.

Kyuhyun melangkahkan satu langkah kakinya, dia mengusap kepala Sooyoung dengan lembut.

“Terima kasih yah.”

Sooyoung merasa kedua pipinya memanas dan merona merah. Entah mengapa hanya dengan sentuhan lembut yang terasa singkat, mampu membuat jantungnya berdetak kencang.

***

“Kalau kau mau tidur, tidur saja dulu. Aku mau main game dulu.” Pesan Kyuhyun usai makan malam pada Sooyoung.

“Aku ikut!”

“Kau pasti mengantuk. Aku main game sampai malam lho!”

“Aku mau melihatmu main game.”

“Baiklah, kalau mulai mengantuk langsung naik ke kamar yah. Aku tidak mau menggendongmu. Badanmu berat… Apalagi aku harus mengangkatmu ke lantai dua.”

“Iya… Iya aku tahu itu. Kau ini memang pemalas!”

Kyuhyun mulai menghidupkan playstation dan layar televisi.

“Ini game kesukaanku. Daripada hanya menonton, kenapa tidak ikut main?” Ujar Kyuhyun sembari memberikan sebuah stick playstation pada Sooyoung. “Ini tombol arah. Ini untuk mengganti jenis senjata. Ini untuk menembak. Ini untuk memunculkan perisai, kalau dapat pelindung.” Jelas Kyuhyun sembari menunjuk berbagai macam jenis tombol pada stick playstation.

Sooyoung tampak mengangguk mengerti, entah memang dia benar – benar mengerti atau hanya malu dikira bodoh jika tidak mengerti dalam satu kali penjelasan.

“Ayo cepat siap – siap. Pilih karakter terlebih dahulu.”

Kyuhyun memilih karakter favoritenya. Seorang pria tampan yang kekar dan berkaos putih. Sooyoung ikut memilih karakter untuknya. Dia memilih karakter seorang pria kekar dengan tubuh yang lebih besar dari karakter milik Kyuhyun.

“Wah, kau yakin bisa berlari dengan memilih karakter seperti itu?”

“Memangnya kenapa? Ada pengaruhnya?”

“Tidak sih. Biasanya kalau perempuan memilih karakter yang perempuan juga.”

“Aku kan perempuan yang tidak biasa.” Jawab Sooyoung acuh.

“Ayo kita mulai. Siapa yang lebih dulu menghabisi lawannya dia yang jadi pemenang.”

“Oke.”

Keduanya mulai bertanding. Baru saja mulai, Kyuhyun sudah melancarkan serangan beruntun pada Sooyoung. Sooyoung tampak kewalahan menghadapi serangan dari Kyuhyun. Tubuh karakter miliknya mulai berdarah – darah. Sooyoung melemahkan serangannya dan lebih memilih berlari menghindar.

“Hey, ayo serang aku. Jangan hanya berlari… Ini bukan film india.”

Sooyoung tak mendengarkan Kyuhyun. Dia hanya berlari menghindari serangan dari karakter Kyuhyun. Sooyoung tampak sesekali menahan nafas. Entah mengapa hal ini membuatnya takut. Suara tembakan yang dilancarkan Kyuhyun terus menggema di telinganya. Semakin membuatnya gemetar, lemas dan takut jika tertangkap.

Karakter Sooyoung tak bisa menghindari Kyuhyun lagi ketika terjebak di salah satu lorong buntu. Karakter Kyuhyun terus menyerangnya dengan tembakan beruntun hingga membuat tubuh karakter Sooyoung terkena banyak luka tembakan. Darahnya terciprat kemanapun layaknya film horror. Hingga akhirnya karakter milik Sooyoung mati dengan darah segar mengalir dari tubuhnya. Aliran darah segar yang mengingatkannya pada kematian pamannya di depan kedua matanya sendiri.

“Ayo main lagi. Kau ini harusnya jangan hanya berlari menghindar, tapi juga harus menyerang. Lihat pelurumu masih banyak tapi kau sudah mati konyol seperti itu.”

Sooyoung hanya terdiam dan tampak menunduk. Raut wajahnya tampak suram.

“Youngie?”

“Aku tidak mengerti.”

“Kenapa?”

“Kenapa hal menakutkan seperti kematian ini dijadikan sebuah permainan?”

“Apa yang menakutkan, ini seru!”

“Suara tembakan yang seakan tak berhenti melancarkan peluru panas, suara teriakan kesakitan, luka tembakan di seluruh tubuh, cipratan darah dimana –mana.”

“Hey, ini kan hanya game! Mengapa kau menganggapnya serius?” Kyuhyun menepuk bahu Sooyoung dan tertawa keras.

“Saat ini kau masih bisa tertawa. Tapi kau tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menghampirimu. Apa kau akan mati dalam keadaan sakit, kecelakaan atau seseorang yang bernafsu menghabisi nyawamu.”

“Youngie…. Kau kenapa? Apa kau sakit?” Kyuhyun menyentuh dahi Sooyoung hingga membuat Sooyoung mendongak menghadapnya. Kedua mata Sooyoung tampak sayu, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.

“Aku lelah. Aku tidur dulu.” Sooyoung mengalihkan pembicaraan dan memilih untuk kembali ke kamarnya.

Kyuhyun tampak kebingungan. Dia merasakan ada yang aneh dari Sooyoung. Kyuhyun memandangi tangannya yang semula menyentuh dahi Sooyoung. Tampak sedikit basah oleh keringat dingin yang menempel di dahi gadis itu.

“Dia…. Kenapa?”

Di dalam kamar, Sooyoung terus berusaha untuk memejamkan matanya. Namun entah mengapa untuk menutup kedua kelopak matanya dia tampak sangat takut. Suara angin yang memasuki jendela yang belum tertutup rapat membuatnya paranoid jika seseorang tiba – tiba datang dari sana dan membunuhnya saat itu juga.

Sooyoung menempelkan punggungnya pada tembok dengan sebuah bantal berada di pelukanya. Dipaksakannya kedua matanya untuk terpejam.

“Cepat kembali, aku terlalu takut sendirian.” Ujar Sooyoung lirih sembari meraba sisi ranjang yang kosong.

***

Tok… Tok… Tok…

“Ibu….” Siwon mengetuk pintu kamar ibunya dengan perlahan sembari memanggil namanya

Tidak ada jawaban. Siwon memilih untuk membuka pintu kamar ibuhnya yang tidak terkunci.

“Ibu, apa makanannya sudah…..” Ucapan Siwon terhenti ketika dia melihat makanan ibunya sama sekali belum tersentuh di atas nakas. “Ibu, kenapa makanannya tidak di makan?”

Siwon mendekati ibunya, karena sejak dia memasuki ruangan ini, ibunya tampak tidak bergerak sedikitpun.

“Ibu….” Siwon terkejut ketika mendapati ibunya tak sadarkan diri. “Ibu! Bangunlah!” Siwon mengguncangkan tubuh ibunya namun wanita paruh baya itu hanya terdiam. “Apa ada orang di luar?”

“Iya, Tuan?” seorang pelayan yang mendengar teriakan Siwon langsung bergegas menemuinya.

“Tolong telepon Dokter Jo sekarang juga! Ibu pingsan!”

“Ba…. Baik, Tuan.” Pelayan itu bergegas mengambil gagang telepon dan menghubungi Dokter pribadi keluarga Choi, Dokter Jo.

Tak menunggu waktu lama Dokter Jo tiba di rumah besar keluarga Choi. Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu langsung memeriksa keadaan Nyonya Choi.

“Tubuhnya sangat lemas. Dia juga dehidrasi, untuk saat ini aku akan memberikan infus untuknya. Sepertinya dia terlalu banyak pikiran hingga tubuhnya tidak kuat lagi menanggungnya. Ditambah lagi nafsu makannya menurun. Aku lebih menyarankan dia untuk segera di rawat di rumah sakitku.”

“Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk ibu.” Pinta Siwon.

“Sekitar satu jam kita berikan infus, setelah itu baru kita bawa ke rumah sakit.”

“Baik, Dokter.”

Siwon tampak pasrah. Dia mempercayakan semua yang dilakukan oleh Dokter Jo, Dokter yang bertahun – tahun menjadi dokter pribadi keluarga Choi.

“Dimana ayah disaat seperti ini?” batin Siwon kesal.

***

Untuk pertama kalinya ketika jam dinding masih menunjukkan pukul 11 malam, Kyuhyun sudah menyelesaikan permainan gamenya dan memilih untuk ke kamarnya. Dia tampak mengendap – endap memasuki kamarnya. Dikuncinya jendela kamar yang masih belum tertutup rapat.

Kyuhyun memandangi Sooyoung yang tertidur dengan memeluk bantal miliknya.

“Ya ampun. Ranjangnya kan sempit, jika kau tidur dengan memeluk bantal begitu, akan makan banyak tempat. Lagipula, ini kan bantalku!”

Kyuhyun menarik bantalnya yang berada dalam pelukan Sooyoung. Dia meletakkan bantal di posisi seharusnya dan mulai membaringkan tubuhnya. Ketika kedua matanya hendak terpejam, Kyuhyun merasakan deru nafas memburu dari Sooyoung yang berbaring di sampingnya.

“Youngie…” Kyuhyun hendak menyentuh bahunya, namun terhenti ketika melihat raut wajah Sooyoung tampak ketakutan. “Perasaan tadi dia tidak seperti ini sebelum aku ambil bantalnya. Apa karena aku ambil bantalnya? Tapi aku juga tidak bisa tidur jika tidak ada bantal. Bagaimana kalau lengan? Kau bisa memeluk lenganku.” Kyuhyun memberikan lengannya untuk dipeluk Sooyoung, namun Sooyoung justru memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat. Tubuhnya tampak gemetar takut.

“Takut…. Takut…” Bibir Sooyoung bergumam lirih sembari memeluk suaminya.

Kyuhyun tampak membeku sejenak. Kemudian perlahan memiringkan tubuhnya dan meraih tubuh Sooyoung dalam pelukannya.

“Kau takut yah…. Aku tidak tahu kau begitu takut memainkan game itu. Maafkan aku.” Bisik Kyuhyun sembari menepuk – nepuk punggung Sooyoung berharap gadis itu bisa sedikit tenang.

Sooyoung terlihat sedikit lebih tenang. Berada dalam pelukan Kyuhyun membuatnya merasa terlindungi. Sooyoung tampak membuka kedua matanya dan memeluk Kyuhyun lebih erat lagi. Sooyoung kembali teringat pada bayangan mimpinya beberapa saat yang lalu.

Dalam mimpinya, Sooyoung tengah berlari melarikan diri dari seseorang berpakaian serba hitam yang tengah menodongkan pistol ke arahnya. Dia membuka ruangan demi ruangan untuk bisa melarikan diri dari pria hitam yang tidak tampak jelas wajahnya.

Ketika membuka sebuah pintu, Sooyoung terkejut ketika mendapati ibu dan ayahnya sudah terkapar di lantai bersimbah darah dengan luka tembakan di kaki dan di jantung. Sooyoung merasa tubuhnya melemah hingga membuatnya nafasnya terasa sesak.

BRAK!

Pria hitam itu membuka pintu kasar dan menodongkan pistol ke arahnya. Sooyoung berusaha melarikan diri.

DORR! DORR!!

Berulang kali pria itu melancarkan peluru panasnya, hingga melukai lengan dan paha kiri Sooyoung. Dengan terpincang Sooyoung masih terus berlari menyelamatkan dirinya. Meskipun harus menahan sakit ketika peluru itu bersarang pada tubuhnya.

Ketika kembali membuka suatu ruangan, Sooyoung kembali dikejutkan oleh ibu mertuanya dan adik iparnya, Kyuri yang juga menjadi korban. Darah keduanya membanjiri lantai hingga keramik putih itu seakan berubah warna menjadi merah darah. Sooyoung rasanya ingin menjerit. Kakinya seakan tidak mampu lagi untuk berlari, namun pria hitam itu seakan tidak pernah kehabisan peluru.

“Sooyoung, cepatlah….”

Seolah ada secercah harapan, Sooyoung tersenyum ketika melihat pemuda berpakaian putih yang mengulurkan tangan untuknya. Dia adalah suaminya, Kyuhyun. Sooyoung mempercepat langkahnya dan berusaha meraih uluran tangan suaminya. Namun….

DORR!!

Belum sempat Sooyoung menyentuh tangan Kyuhyun, sebuah noda merah muncul di pakaian putih yang dikenakan Kyuhyun. Noda merah di bagian dada kanan Kyuhyun yang semakin lama semakin membesar. Kyuhyun tampak tersenyum pahit sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke lantai.

“AARRRGGGHHH!!” Sooyoung menjerit keras.

“Sekarang, kau tidak bisa melarikan diri lagi.” Pria hitam itu mulai bersuara. Suara yang terdengar tampak tersamarkan hingga Sooyoung tidak bisa mengenali suara itu. Pria hitam itu masih dengan menodongkan pistolnya terus mendekati Sooyoung.

Sooyoung tampak hanya menunduk lemas di depan jasad suaminya.

“Sekarang kau…. Tidak punya alasan lagi untuk hidup.”

Pistol itu kini sudah berada tepat di belakang kepalanya. Dalam satu tarikan pelatuk bisa membuat nyawanya melayang seketika. Sooyoung tahu itu.

“Selamat ti….” Ucapan pria hitam itu terputus ketika Sooyoung tiba – tiba berbalik dan menusukkan sebuah pisau tepat pada jantungnya. Pistol di tangannya terlepas seketika. “Sooyoung…. K…. Kau…..” Tubuh Pria itu langsung ambruk ke lantai dengan pisau masih menancap di jantung.

Sooyoung memandanginya penuh kebencian. Entah sejak kapan pisau lipat itu berada di tangannya.

“Aku tidak ingin membunuh… Tapi karena kau, aku memiliki alasan untuk membunuh!” ujar Sooyoung bengis.

Sooyoung menggelengkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya rapat. Dia tidak ingin lagi mengingat mimpi buruknya. Mimpi buruk ketika dia mengotori tangannya sendiri dengan darah. Sooyoung mendongakkan kepalanya dan mendapati Kyuhyun sudah memejamkan matanya. Nafas pemuda itu yang terasa sangat dekat dengannya.

“Kumohon…. Tetaplah hidup.”

***

Di sebuah lorong rumah sakit, seorang pemuda dengan kemeja coklat yang masih melekat di tubuhnya sejak semalam, tengah mengangkat teleponnya dengan raut wajah kesal.

“Ayah dimana?” tanyanya dingin.

“Aku berada di Tokyo sekarang. Maaf semalam aku tidak mengangkat teleponmu, aku sedang menemui klien penting.” Ujar pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya.

“Apa? Berada di Tokyo? Dan kau tidak bilang apapun padaku?”

“Ini semua mendadak, Siwon!”

“Kau tahu, ibu sekarang berada di rumah sakit. Kondisinya sangat lemah. Kau harus segera pulang sekarang!”

“Mwo? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Kata Dokter Jo dia jauh lebih baik dibandingkan semalam. Tapi dia masih belum sadar. Cepatlah kembali ke Seoul. Apa yang kau lakukan terlalu lama disana?”

“Maaf, aku belum bisa pulang sekarang. Klien-ku mengajakku melihat kinerja proyek kerja sama yang sudah berjalan 6 bulan ini.”

“Ayah, kau benar – benar belum berubah. Kau masih lebih mementingkan pekerjaanmu daripada keluargamu sendiri.”

“Siwon, bukankah ini saatnya kau harus bersikap menjadi anak yang baik? Kau yang selama ini tidak pernah mempedulikan keluargamu dan memilih untuk tinggal di luar negeri, sekarang adalah saatnya kau merawat ibumu yang sedang sakit.”

“Mwo? Kenapa kau mengungkit – ungkit masalah itu? Aku tinggal di luar negeri juga karena tuntuntan pekerjaanku!”

“Aku malas berdebat denganmu. Aku tutup teleponnya yah… Jaga Ibu baik – baik…”

Titt…

Panggilan terputus. Siwon memandangi ponselnya dengan tatapan kesal. Yah, sebenarnya bukan pertama kalinya mereka bertengkar, tapi tetap saja berdebat dengan ayahnya selalu membuat hatinya dongkol setengah mati.

Ponsel milik Siwon kembali berdering. Siwon berusaha meredakan emosinya sebelum mengangkat ponselnya.

“Yeoboseo?” Siwon tampak terdiam mendengarkan orang yang meneleponnya berbicara. “…. Baiklah, kabari aku jika ada perkembangan selanjutnya.” Ujar Siwon sebelum mengakhiri panggilannya.

Siwon tampak menghela nafas. Dia mengacak rambutnya kasar, dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu. Semua yang terjadi membuatnya sakit kepala. Ayahnya yang seolah tak mempedulikan keluarganya dan lebih mementingkan pekerjaannya, dan Sooyoung yang seakan pintar bersembunyi hingga detektif yang di sewa Siwon belum berhasil menemukannya.

Siwon mendongak ketika pipi kanannya terasa dingin. Dia mendapati Changmin tengah menempelkan satu kaleng cola dingin ke pipinya.

“Minumlah, Hyung.”

“Changmin, kau datang.”

“Aku dengar Bibi sakit. Jadi aku ingin menjenguknya.”

“Kau datang sendiri?”

“Tidak. Aku datang dengan ibuku. Dia sedang ke toilet.”

Siwon tampak mengangguk mengerti.

“Bagaimana keadaan bibi?”

“Sudah jauh lebih baik dari semalam. Tapi dia masih belum sadar.”

“Beliau pasti merasa tertekan. Lalu, bagaimana dengan pencarian Sooyoung? Apa sudah ada kabar terbaru?”

Siwon tampak menggeleng. “Changmin, kau seperti tidak tahu dia saja. Sooyoung itu kalau bersembunyi seperti kelinci yang bersembunyi dalam jerami. Pintar menyamar, namun ketika ditemukan nanti dia seakan sudah siap melarikan diri dan bersembunyi lagi. Belum ada tanda – tanda keberadaannya.”

Changmin hanya terdiam. Dia yang tahu keberadaan Sooyoung, namun dia seakan enggan memberitahukannya pada siapapun. Changmin tampak membuang nafas kasar. “Kau benar, dia memang seperti kelinci.”

“Siwon~ah….”

Siwon dan Changmin menoleh, tampak seorang wanita yang seusia dengan Nyonya Choi tengah berlari tergopoh – gopoh mendekati keduanya.

“Maaf aku baru datang, aku baru mendengar kabarnya tadi pagi.”

“Tidak apa – apa, Bibi. Kau mau melihatnya?”

“Tentu saja.”

Siwon mengajak Changmin dan ibunya untuk menjenguk Nyonya Choi. Ibu Changmin tampak sangat mencemaskan kakak iparnya itu.

“Kau seharusnya lebih banyak bercerita padaku. Jangan memendam semuanya sendirian.” Nasihat Ibu Changmin.

Siwon dan Changmin hanya terdiam. Nyonya Choi, seakan masih enggan untuk membuka matanya. Nampaknya, kehidupan dalam mimpinya seolah lebih indah dibandingkan kehidupannya di dunia nyata.

***

Sama seperti biasanya, sejak pagi hingga sore hari Sooyoung akan membantu keluarga Kyuhyun bekerja di minimarket. Kyuhyun memperhatikan Sooyoung yang tampak sudah kembali seperti semula, tidak muram seperti semalam.

“Kau benar – benar sudah sembuh?” Tanya Kyuhyun sembari menyentuh dahinya.

“Sembuh? Memangnya aku sakit apa?”

“Semalam kau bertingkah aneh. Aku kira kau sakit.”

“Aku… Baik – baik saja.” jawab Sooyoung diakhiri dengan tawa kecil yang sedikit dipaksakan.

“Maaf yah. Aku tidak tahu kau tidak menyukai game itu.”

“Tidak apa – apa.”

“Nanti malam ayo kita pergi ke suatu tempat.”

“Kemana?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Kau mengajakku kencan yah?”

“Yah, seperti itulah.”

“Baiklah, biar sesekali kau kencan dengan wanita asli. Setiap malam kau kencan dengan game menakutkanmu itu.”

“Eh, jadi kau cemburu dengan game yah?”

“Aku tidak bilang aku cemburu.”

“Jangan bohong. Wajahmu memerah.” Goda Kyuhyun.

“Ah ini karena…. Panas!”

“Panas?” Kyuhyun langsung mendongakkan kepalanya ke langit yang tampak sedikit mendung. “Langitnya mendung, tidak ada matahari sejak pagi. Lalu darimana datangnya panas?”

“I…. Itu….” Sooyoung memutar bola matanya mencari alasan, tanpa dia sadari wajahnya tampak semakin memerah malu.

Kyuhyun menyentuh kepala Sooyoung dan tersenyum lembut. “Kau cemburu juga tidak apa – apa.” Ujar Kyuhyun sembari mengacak rambut Sooyoung.

“Sudah kubilang aku tidak cemburu!” Sooyoung masih berkilah.

“Yah, masih berusaha mengelak.”

“Aku tidak mengelak!”

Kyuhyun dan Sooyoung masih saja berdebat. Kyuhyun yang terus menggoda Sooyoung dan Sooyoung yang masih terus mencari alasan untuk menutupi rasa malunya.

“Mereka berdua kelihatannya semakin dekat. Kyuhyun, mulai berubah semenjak menikah.” Komentar Nyonya Cho.

Kyuri memandangi sejenak keduanya, sebelum akhirnya kembali melakukan kegiatannya membersihkan rak. Tak mengomentari apapun, meskipun dia sendiri menyadari ada yang berubah dari perasaannya. Perasaan kehilangan seorang kakak yang selama ini selalu berada di sisinya.

***

“Jangan lupa bawa payung. Sejak pagi sampai sore mendung, tapi hujan tidak kunjung turun.” Pesan Nyonya Cho sebelum Kyuhyun dan Sooyoung pergi kencan.

“Ya.”

“Bawa kunci cadangan, supaya kalian bisa lebih bebas kencan.”

“Tenang saja, kami tidak akan pulang sampai larut.”

“Sudah bawa saja.”

Kyuhyun hanya menurut ketika ibunya memaksanya untuk membawa cadangan kunci rumah.

“Ibu terlalu berlebihan. Kami tidak akan pergi jauh.”

“Mau membantahku?”

“Kalau kau tidak mau bawa, biar aku yang bawa.” Tawar Sooyoung.

“Tidak perlu!” Kyuhyun langsung meletakkan kunci rumah itu didalam sakunya. “Aku pergi.”

“Eum. Hati – hati di jalan.”

Di sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Sooyoung beberapa kali berlari – lari kecil untuk menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Kyuhyun.

“Sebenarnya, kau mau membawaku kemana?”

“Kau akan tahu nanti. Tempatnya dekat dengan rumah.”

Sooyoung hanya menurut sembari masih terus berlari – lari kecil. Sesekali dia melirik pada kedua tangan Kyuhyun yang tampak bebas dan melenggang dengan natural ketika berjalan. Ingin rasanya menggapai tangan bebas itu, namun dia terlalu malu untuk melakukannya.

“Nah, kita sudah sampai!”

“Eh? Game Center?”

“Ayo masuk.”

Sooyoung tampak canggung. Dia mengikuti Kyuhyun dan selalu berada di belakang pemuda itu.

“Hey, Kyuhyun! Sudah lama kau tidak kesini.” Sapa penjaga counter game center.

“Iya. Kali ini aku mau main game lain. Bosan di rumah.”

“Kudengar kau sudah menikah. Kenapa tidak mengundangku hah?”

“Acaranya hanya dihadiri keluarga.”

“Ah, jangan – jangan kau menghamili anak orang yah?”

“Jangan asal bicara!” Kyuhyun tampak kesal.

“Eh, jangan – jangan gadis di belakangmu itu istrimu yah?”

“Eum, dia istriku. Namanya Youngie.”

“Youngie? Bagaimana menulis huruf kanji-nya?”

“Mungkin…. Young Gi.” Jelas Sooyoung.

“Ah, ya mungkin begitu.”

“Masih banyak bilik yang kosong. Kau pilih saja. Tapi jangan berbuat mesum disini yah.”

“Fikiranmu selalu kotor!”

“Resiko penjaga counter game center.”

Kyuhyun melenggang pergi mencari bilik tempatnya akan bermain.

“Disini banyak game yang bisa kau pilih sesukamu.”

“Eh aku? Bukannya kau yang ingin main?”

Kyuhyun menggeleng. “Disini aku hanya menemanimu.”

“Ta… Tapi aku…”

“Kau mau main apa?” Kyuhyun membuka sebuah situs game online favoritenya. “Game Offline-nya juga ada, tapi tidak begitu seru.”

“Kalau ini saja bagaimana?” tunjuk Sooyoung pada salah satu game balapan motor.

“Ah, Moto GP?”

Sooyoung hanya mengangguk. Kyuhyun mengotak – atik komputernya sampai permainan dalam komputer siap dimulai.

“Tombol panah untuk menggerakkan, dan tombol spasi untuk menambah kecepatan.”

Sooyoung lagi – lagi hanya mengangguk.

“Cepat, sudah mau mulai.”

Sooyoung mengikuti apapun yang dikatakan Kyuhyun. Di awal untuk track lurus dia tampak begitu mahir, namun pada saat jalan berkelok – kelok dia mulai sedikit kewalahan. Kyuhyun tampak gemas, namun dia menahan diri dan memandangi Sooyoung bermain.

“Ayo terus fokus. Kau berada di posisi belakang.”

“Aku tidak tahu harus bagaimana?!”

“Sini biar aku bantu.” Dengan mahir Kyuhyun memainkan game moto gp menggantikan Sooyoung. Meskipun tidak dapat membantu banyak, di lap terakhir dia berhasil meraih peringkat ketiga. “Kalau aku yang main pasti bisa dapat peringkat satu.”

“Kalau begitu kenapa kau suruh aku yang main?” Sooyoung tampak kesal.

“Aku kan disini hanya menemanimu.”

“Iya, tapi kau selalu terlihat tidak sabar ketika melihat aku main.”

“Itu karena kau sangat payah main game.”

“Iya, aku memang payah! Aku tidak mau bermain lagi!” Sooyoung tampak merajuk.

“Ya sudah kalau begitu lihat aku main saja.”

Seperti orang yang sudah hafal semua game yang ada di komputer, Kyuhyun bisa memilih game manapun yang dia mau. Jari jemarinya pun tampaknya sudah sangat hafal dengan berbagai macam tuts pada papan keyboard, dan pandangan mata yang selalu terfokus pada layar komputer.

Melihat Kyuhyun bermain yang seakan tengah dalam dunianya sendiri, semakin lama membuat Sooyoung bosan. Sooyoung memilih untuk pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun.

“Beli minuman. Aku haus.”

“Eum. Baiklah.” Kyuhyun kembali fokus pada game-nya. Sedangkan Sooyoung entah mengapa dia merasa kesal dengan ketidakpedulian Kyuhyun.

“Dia memang seperti itu, jika sudah berada di depan komputer meskipun ada bom waktu yang siap meledak, sepertinya dia akan lebih menyelesaikan permainannya dulu daripada melarikan diri.” Ujar si penjaga counter.

“Rasanya aku benar – benar ingin membawa bom waktu itu di atas kepalanya saat ini juga!”

Penjaga counter itu hanya tertawa mendengar ucapan Sooyoung.

Sooyoung memasukkan beberapa koin pada mesin penjual minuman yang terletak di depan game center. Namun sepertinya mesinnya tidak bekerja. Sudah berulang kali Sooyoung menekan tombol, minuman yang dia beli tidak juga keluar.

“Aisshh… Jangan membuatku tambah kesal!” Sooyoung geram hingga akhirnya menendang mesin minuman itu.

BRAKK!

Tak lama terdengar bunyi dari dalam mesin, satu buah minuman kaleng meluncur ke tempat pengambilan minuman.

“Akhirnya…” Sooyoung memperhatikan beberapa bagian mesin minuman yang sedikit penyok. Sepertinya bukan hanya dirinya yang menendang keras mesin minuman itu.

Satu kaleng minuman ringan yang dia teguk sedikit bisa mengubah suasana hatinya yang sedang kesal.

“Dasar maniak game! Dia bilang mengajakku kencan. Tapi apa yang dia lakukan, huh?!”

Sooyoung meneguk kembali minumannya. Hingga perhatiannya tertuju pada mesin boneka yang ada di depan sebuah minimarket. Sepasang kekasih tampak sedang memainkan permainan mengambil boneka dalam mesin. Namun sepertinya berulang kali mereka gagal hingga akhirnya memilih pergi.

Entah apa yang mendorongnya, Sooyoung tertarik untuk memainkan permainan itu.

“Sepertinya butuh koin khusus yang dijual di minimarket. Harga satu koin 1000 won.” Sooyoung merogoh sakunya dan mendapati selembar uang lima ribu won dan selembar uang sepuluh ribu won disana. “Bisa lima belas kali main!”

Tak menunggu waktu lama, sebagai bahan percobaan, sudah ada lima buah koin di tangan Sooyoung. Sepertinya nasibnya sedang mujur, baru satu kali bermain Sooyoung bisa mendapatkan sebuah boneka lucu dari dalam mesin. Tidak puas hanya dengan satu kali bermain, Sooyoung terus mencoba permainan mengambil boneka itu berkali – kali.

Kyuhyun yang awalnya tampak asyik bermain, mulai mengendorkan permainannya ketika mengetahui Sooyoung belum juga kembali. Kyuhyun langsung mendekati si penjaga counter yang tengah membaca koran sembari membayar tarif bermain.

“Baru satu jam bermain.” Komentar si penjaga counter ketika menerima uang dari Kyuhyun.

“Youngie belum juga kembali. Aku ingin mencarinya.”

“Sepertinya dia marah padamu.”

“Ah, dia itu benar – benar.”

Baru saja keluar dari game center, Kyuhyun langsung mengedarkan pandangannya mencari Sooyoung.

“Dia beli minuman kemana sih? Jangan – jangan dia pulang ke rumah dan meninggalkanku sendirian. Awas saja dia!”

Kyuhyun terus mengedarkan pandangannya hingga menemukan siluet tubuh perempuan tinggi yang tengah duduk di depan mini market sembari menyusun boneka – boneka yang ada di hadapannya.

“Youngie?”

Kyuhyun langsung bergegas menuju minimarket, dan mendapati Sooyoung bersama dengan boneka – boneka miliknya.

“Apa kau disini mau jualan boneka, huh?”

Sooyoung mendongak dengan bibir mengerucut. “Sudah selesai mainnya?”

“Itu karena kau tidak juga kembali.”

“Harusnya kau tidak perlu mempedulikan aku. Main saja sampai puas.”

“Tidak bisa begitu.”

Sooyoung kembali bermain – main dengan boneka – bonekanya.

“Kau dapat boneka – boneka ini darima….” Ucapan Kyuhyun terhenti ketika melihat boneka serupa yang dimiliki Sooyoung berada di dalam mesin boneka. “Jangan – jangan mesinnya rusak yah? Kau menjebol kunci mesinnya yah?”

“Jangan asal bicara! Aku bisa mendapatkan ini semua.”

“Satu… Dua…. Tiga….” Kyuhyun menghitung satu persatu boneka yang dimiliki Sooyoung. “Empat belas boneka? Kau ini berapa kali main??”

“Lima belas kali. Aku hanya bawa uang lima belas ribu won. Itu juga aku gagal satu kali.”

Kyuhyun menggeleng tak percaya. “Kau benar – benar hebat. Sepertinya kau ahli memainkan permainan yang seperti ini.”

Sooyoung tersenyum manis sembari memandangi bonekanya. “Eummm, sepertinya kau benar!”

“Apa kau ingin membawa semua boneka ini ke rumah?”

“Memangnya kenapa?”

“Sedikit merepotkan.”

Sooyoung menimang – nimang perkataan Kyuhyun. Dia tampak sedikit tidak rela melepaskan boneka – boneka yang sudah dia dapatkan.

“Lain kali kau pasti bisa mendapatkannya lagi.” Nasihat Kyuhyun lagi.

Sooyoung akhirnya mengangguk. Dia pasrah ketika ketiga belas boneka – bonekanya dibagikan pada anak – anak kecil yang lewat di sepanjang jalan. Hanya menyisakan satu buah boneka berbentuk wortel dalam pelukannya.

“Boleh aku bawa satu yah.” Rengek Sooyoung.

“Iya.”

Sooyoung tertawa riang sembari memeluk hangat bonekanya.

“Ayo kita pergi.”

“Kemana?”

“Sebuah tempat. Kali ini kau pasti menyukainya.”

“Kau ini memang misterius.”

“Kalau dikasih tahu sekarang tidak akan menjadi kejutan.”

“Ya sudah, Ayo!”

***

Rasa kantuk yang menyerang memaksa Siwon untuk tertidur dalam posisi duduk sembari terus menjaga ibunya yang sedang sakit. Sesekali terbangun untuk mengecek kondisi ibunya. Dia bahkan seakan tidak memikirkan dirinya sendiri.

Siwon langsung melebarkan matanya ketika mendengar pergerakan dari ibunya yang tengah terbaring di atas ranjang. Tubuh wanita itu tampak mengejang. Siwon berubah panik. Dia langsung menekan tombol darurat di sisi ranjang ibunya untuk memanggil perawat dan dokter.

“Ibu! Ibu!” Berulang kali dia memanggil nama ibunya. Wanita itu tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.

Tak menunggu lama beberapa perawat dan seorang dokter jaga langsung memeriksa kondisi Nyonya Choi. Siwon diseret keluar agar tidak mengganggu pemeriksaan.

“Pasang tabung oksigen sekarang. Denyut jantungnya melemah.” Dokter langsung memasang beberapa alat medis untuk menopang hidup Nyonya Choi.

Di luar kamar rawat, Siwon beberapa kali mencoba menghubungi ayahnya yang masih berada di Tokyo.

“Ayah…. Kumohon angkat teleponnya…”

Beberapa kali menghubungi hingga membuat Siwon gemas dengan ponselnya sendiri.

“Yeoboseo?”

“Ayah, bisakah kau pulang sekarang? Ibu sedang kritis!”

“Sekarang aku juga sudah tiba di Bandara Haneda. Penerbanganku pukul 10 malam.”

“Syukurlah, ayah bisa pulang.”

“Ini karena kau terus menyuruhku pulang. Aku sampai harus membatalkan pertemuan dengan satu klienku.”

“Ini semua demi ibu.”

“Iya aku tahu.”

Siwon tampak menghela nafas menghadapi ayahnya yang sangat keras kepala. Sambungan telepon terputus. Siwon menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Menangkupkan kedua tangannya sembari menunduk pasrah.

***

Sekitar lima belas menit Kyuhyun dan Siwon menaiki bus umum, kini kedua telah tiba di sebuah tempat yang ramai pengunjung. Hingga Sooyoung tidak bisa mengenali tempat itu karena terlalu ramai.

“Aku baru ingat kalau ada festival di daerah ini.”

“Festival?”

“Pembukaan game zone terbaru di sini. Sangat ramai karena promosi diskonnya bisa mencapai 50%.”

Kyuhyun mendekati sebuah counter di pintu masuk. Sudah banyak orang yang mengantri untuk membeli koin permainan game.

“Ini seperti….”

Game ambil boneka yang kau mainkan tadi juga ada disini.”

“Eh? Benarkah!” Sooyoung berubah semangat.

“Tidak hanya itu. Banyak juga permainan lain disini.”

“Ayo cepat! Cepat beli koinnya!” Sooyoung kini sudah seperti anak kecil yang merengek ingin cepat bermain.

“Sabar yah. Kau tunggu saja di dalam.” Ujar Kyuhyun sembari menepuk – nepuk kepala Sooyoung.

Sooyoung mengangguk cepat.

10 menit kemudian….

“Ayo kita main!” Ajak Kyuhyun.

“YO!”

Area festival cukup padat pengunjung. Hingga Sooyoung dan Kyuhyun harus berdesak – desakan untuk masuk ke area. Bahkan keduanya nyaris berpisah karena dorong – dorongan dengan pengunjung lain.

“K… Kyu! Kyu!” Berulang kali Sooyoung memanggil Kyuhyun, namun sepertinya pemuda itu tidak mendengarnya.

Sooyoung mendesak tubuhnya untuk mendekati Kyuhyun, setidaknya tangannya bisa meraih pakaian yang Kyuhyun kenakan.

“Akh!” Sooyoung nyaris terjatuh ketika pengunjung yang berada di belakangnya saling dorong.

HAP!

Berkat dorong – dorongan itu Sooyoung berhasil meraih kemeja kotak – kotak yang dikenakan Kyuhyun. Sooyoung tersenyum dan memegang erat kemeja itu. Namun sesuatu tak terduga terjadi. Tangan kanan Kyuhyun terulur ke belakang meraih tangan Sooyoung yang memegang erat kemejanya.

“Nanti kemejaku kusut. Jangan sampai ketinggalan lagi yah.” Ujar Kyuhyun sembari menggenggam erat tangan Sooyoung.

Sooyoung tersenyum dan ikut menggenggam erat tangan Kyuhyun agar tidak lagi terlepas.

Keduanya terlihat sangat menikmati permainan. Dalam permainan game zone, Sooyoung justru terlihat lebih ahli dari Kyuhyun. Berulang kali dia mendapatkan nilai sempurna setiap permainannya hingga mendapat banyak kartu yang bisa ditukarkan dengan hadiah.

“Aku tidak terlalu berminat dengan permainan seperti ini.”

“Tidak berminat atau memang tidak bisa?” Goda Sooyoung.

“Aku tidak begitu menyukainya karena melelahkan.”

“Banyak alasan! Baru bilang begitu setelah kalah berulang kali dariku.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Yah, dia memang selalu kalah dari Sooyoung. Tapi terlalu malu mengakuinya.

Genggaman tangan itu tidak pernah terlepas bahkan ketika mereka sedang bermain bersama. Seakan terlalu takut untuk terpisahkan lagi. Canda tawa yang selalu terukir di bibir keduanya. Menunjukkan perhatian satu sama lainnya, membuat siapapun iri ketika melihat keduanya.

“Kira – kira dapat apa yah?” tanya Sooyoung ketika berhasil mengumpulkan banyak kartu untuk ditukar dengan hadiah.

Kyuhyun dan Sooyoung mengumpulkan kartu yang mereka dapat dan menukarkannya di tempat penukaran hadiah.

“2548 kartu. Kalian bisa membawa boneka besar ini.”

“Boneka lagi?” Kyuhyun tampak kecewa.

“Yeayy! Bonekanya besar.” Sooyoung justru tampak senang menerima boneka monyet berukuran hampir sebesar tubuhnya.

“Kenapa harus boneka monyet? Apa tidak ada boneka lain?”

“Maaf boneka yang lainnya untuk hadiah dengan jumlah kartu lebih banyak lagi.”

“Sudahlah tidak apa – apa. Bonekanya juga lucu!”

Kyuhyun menyerah. Rasa kecewanya terhapus ketika melihat senyum Sooyoung dengan boneka baru miliknya. Setelah puas bermain, keduanya memutuskan untuk pulang.

“Kenapa tadi kau tidak mengizinkan aku main permainan ambil boneka?”

“Kalau aku mengizinkanmu main, nanti boneka disana habis kita bawa pulang semua.”

“Kan tidak apa – apa. Koleksi bonekaku jadi banyak.”

“Kau ini benar – benar menyukai boneka yah?”

“Tidak tahu. Hanya akhir – akhir ini saja suka boneka.”

“Sepertinya kamarku makin lama makin penuh.”

“Apa Kyuri tidak suka boneka?”

“Dia lebih suka buku daripada boneka.”

“Dia itu terlalu kutu buku.”

“Itu karena Kyuri pintar.”

“Ah, bisakah kau pegang boneka monyetnya? Tali sepatuku lepas.”

“Eum.”

Ketika Sooyoung hendak memperbaiki tali sepatunya, dia baru menyadari bahwa tangannya dan tangan Kyuhyun masih saling berkaitan.

“Eh, maaf. Kita kan sudah di bus.”

“Aku juga baru sadar.

Kyuhyun dan Sooyoung saling melepaskan genggaman tangannya. Sooyoung langsung memperbaiki tali sepatunya. Entah mengapa suasana berubah canggung.

Mereka bergegas turun setibanya di halte terdekat rumah mereka.

“Aku tidak menyangka sudah pukul 12 malam. Aku kira baru sebentar bermain.”

“Kalau kau mau lain kali kita kesana lagi.”

“Kalau kesana lagi, aku ingin mendapatkan boneka panda yang besar itu.”

“Kalau kau mau dapat boneka panda yang besar, kita harus datang lebih awal. Biar bisa main lebih lama.”

“Tidak masalah.”

Sooyoung tampak menguap dan mengucek – kucek matanya. “Hari ini benar – benar melelahkan.”

“Sini biar aku bawa boneka monyetnya.” Tawar Kyuhyun.

“Terima kasih.”

Kyuhyun menggendong boneka monyet milik Sooyoung di punggungnya. Sooyoung langsung tertawa terbahak – bahak.

“Hahaha….. Mirip. Kau mirip sekali dengan boneka monyetnya. Seperti ayah dan anak.”

“Kalau begitu kamu ibu monyetnya.”

“Eh, kenapa aku?”

“Karena kita sudah menikah.”

“Aisshh……”

Tes! Tes!

Tanpa terasa tetesan hujan mulai turun. Keduanya langsung berlari mencari tempat untuk berteduh.

“Payung! Mana payung yang diberikan ibu tadi?” tanya Sooyoung.

Kyuhyun terdiam sejenak. Tak lama kemudian dia berteriak, “Ya ampun! Payungnya tertinggal di game center!”

“Kau ini bagaimana? Terus bagaimana kita pulang? Hujannya semakin deras.”

“Bagaimana yah? Tidak mungkin menelepon ibu atau Kyuri. Mereka pasti sudah tidur. Mau kembali ke game center, sekarang pasti sudah tutup.”

“Lalu kita harus bagaimana? Aku mengantuk!”

“Aku juga mengantuk! Ya sudah tidur saja disini. Ini ada boneka monyet besar bisa untuk bantal. Aku akan berjaga, kalau hujan sudah reda aku akan membangunkanmu.”

“Apa tidak apa – apa aku tidur?”

“Iya tidak apa – apa. Ini salahku karena meninggalkan payungnya di game center.”

“Ya sudah aku tidur yah.”

“Eum.”

Sooyoung memeluk boneka monyet besarnya. Dan mulai memejamkan mata. Dalam waktu beberapa menit, dia mulai terlelap dalam mimpinya. Sedangkan Kyuhyun, seperti janjinya dia tetap terjaga sampai hujan reda.

Kyuhyun memeluk tubuhnya ketika dia angin dingin menerpa.

“Enaknya bisa punya sesuatu yang bisa dipeluk saat cuaca dingin seperti ini.” Celoteh Kyuhyun ketika melihat Sooyoung tidur terlelap dengan boneka monyet dalam pelukannya.

Kyuhyun diam – diam mengambil boneka wortel yang berada di sela – sela tubuh Sooyoung dan boneka monyet besarnya.

“Setidaknya bisa lebih hangat, meskipun kecil.” Kyuhyun memeluk boneka wortelnya.

Sooyoung tanpa sadar kehilangan keseimbangan hingga oleng ke arah Kyuhyun, Kyuhyun langsung menangkapnya.

“Kapan hujan akan reda? Aku ingin tidur juga!” keluh Kyuhyun.

Kyuhyun memposisikan Sooyoung untuk berbaring di atas pangkuannya. Sedangkan dirinya sendiri bersandar pada sandaran kursi dan mencoba untuk tertidur.

Hampir 1 jam hujan turun, belum ada tanda – tanda akan berhenti. Sooyoung tiba – tiba terbangun dan sedikit terkejut mendapati dirinya berbaring di atas pangkuan Kyuhyun. Kyuhyun sendiri tampaknya sudah terlelap meskipun posisi tidurnya sangat tidak nyaman.

Sooyoung mengibas – kibaskan tetesan air yang menempel pada rambut Kyuhyun sekaligus memperbaiki tatanan rambut pemuda itu yang sedikit berantakan. Namun tiba – tiba Kyuhyun terbangun dan menahan tangannya. Keduanya membeku dan saling berpandangan.

Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, jarak diantara keduanya semakin lama semakin menipis. Suara nafas yang memburu bisa terdengar dengan jelas. Naluri seakan meminta keduanya untuk memejamkan mata, hingga akhirnya bibir manis keduanya saling berpagutan mesra di tengah derasnya hujan.

***

Tuan Choi tiba di rumah sakit dengan pakaian yang sedikit basah akibat terkena tetesan air hujan. Namun setibanya di kamar rawat istrinya, dia sedikit terkejut mendapati Siwon dengan raut wajah yang muram. Pemuda itu hanya memandangnya sesaat sebelum akhirnya kembali menunduk.

“Siwon, bagaimana keadaan ibumu?”

Siwon hanya terdiam dengan tatapan datarnya. Tuan Choi memilih untuk memasuki ruang rawat dan mendapati tubuh istrinya sudah tertutupi kain putih rumah sakit.

“Tidak…. Ini tidak mungkin kan?” Tuan Choi membuka penutup kain putih itu dan mendapati wajah pucat istrinya yang tampak damai. “Yeobo~ah… Yeobo aku pulang.”

Namun tak akan pernah ada jawaban dari istrinya. Suara indah itu tidak akan pernah dia dengar lagi. Tuan Choi menangis.

“Aku sudah memintamu untuk cepat pulang. Tapi kau selalu mengabaikan ucapanku. Apa kau kira aku sedang bercanda saat itu? Ibu…. Diakhir hayatnya, suami tercintanya tidak ada disampingnya.”

“Maaf… Maafkan aku…”

“Percuma. Ibu tidak akan bangun ketika kau menangis dan menyesal minta maaf.”

Tuan Choi tampak menyesal. Dia menangis keras di hadapan jasad kaku istrinya. Ditengah hujan deras yang masih terus mengguyur Kota Seoul yang sunyi.

***

Keesokan harinya….

Di rumah duka keluarga Choi tampak ramai dengan pelayat yang berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir pada Nyonya Choi yang dikenal baik hati. Tampak Siwon yang selalu duduk di dekat peti mati ibunya, menyalami satu persatu pelayat yang datang. Sedangkan Tuan Choi, memilih untuk bersama rekan – rekan kerjanya yang sedikit menghiburnya.

“Aku tidak menyangka ibumu akan pergi secepat ini.” Ujar Ma Ri, ibu Changmin, pada Siwon yang berusaha tampak tegar.

“Setidaknya, ibuku terhindar dari karmanya.”

Bibi Ma Ri terdiam. Dia tahu apa maksud perkataan Siwon mengenai terhindar dari karma.

“Jangan pernah menghubung – hubungkan hal ini dengan sesuatu yang tidak jelas seperti karma. Karma seperti itu tidak ada. Suamiku dibunuh, itu karena suatu kebetulan.”

“Kebetulan yang selalu menghantui keluarga kita. Aku selalu takut, jika tanganku nantinya akan menyakiti keluargaku sendiri.”

“Siwon! Jangan memikirkan hal yang tidak – tidak.”

Siwon memilih diam setelah Bibi Ma Ri sedikit membentaknya.

“Hyung, aku turut berduka cita atas meninggalnya Bibi So Hee.” Ujar Changmin yang baru saja tiba di rumah duka.

“Eum. Terima kasih.”

Changmin menepuk bahu kakak sepupunya, sebelum akhirnya ikut berbaur dengan para pelayat lain yang berdatangan. Changmin sering kali terlihat melamun, entah mengapa fikirannya seakan tercampur aduk. Beberapa menit berdiam diri, Changmin memilih untuk meninggalkan rumah duka dengan mobil sedan berwarna coklat miliknya.

Di minimarket milik keluarga Cho, Kyuhyun dan Sooyoung saling bahu membahu mengangkuti barang – barang yang baru tiba dari pemasok. Keduanya tampak semakin dekat satu sama lain, terlebih setelah kejadian semalam dimana perasaan keduanya semakin tampak jelas. Bahwa sebuah perasaan cinta mulai singgah dalam hati keduanya. Bahkan walau hanya bertemu pandang selama beberapa detik, bisa membuat jantung berdetak diatas normal.

“Bergandengan tangan dengan erat, berpelukan bahkan berciuman…. Entah mengapa semuanya terasa lebih indah ketika melakukannya dengan seseorang yang sudah menjadi milik kita (menikah). Setidaknya ketika perasaan itu semakin jelas terlihat, bukan lagi sebuah permainan cinta belaka (berpacaran).”

Kyuhyun membantu Sooyoung membawa sebuah kotak yang tampak sedikit berat. Namun tanpa disadari orang, hanya keduanya yang tahu, telapak tangan keduanya saling terhubung di bawah kotak. Keduanya berpandangan dengan penuh cinta. Romansa pengantin baru semakin terasa.

“Ah, mereka mengingatkan aku saat pertama kali menikah dulu.” Celoteh Nyonya Cho yang di dengar supir pengantar barang.

“Nyonya… Aku jadi ingin cepat – cepat menikah. Padahal Kyuhyun itu lebih muda dariku, kenapa dia menemukan jodohnya lebih cepat.”

“Makanya cepat cari calon istri!” nasihat Nyonya Cho.

“Aku juga sedang mencari. Tapi belum ada yang mau.”

“Mungkin doa yang kau sampaikan pada Tuhan kurang banyak.”

“Yah, mungkin.”

Sebuah mobil sedan berwarna coklat berhenti di depan minimarket milik keluarga Cho. Seorang pemuda tinggi yang mengenakan jas berwarna hitam muncul dari dalam mobil dengan gagahnya. Dengan tatapan sayu, pemuda itu melangkah mendekati Sooyoung.

Sooyoung dan Kyuhyun menghentikan kegiatannya ketika menyadari kedatangan pemuda itu.

“Untuk apa Changmin Oppa kesini lagi?” batin Sooyoung.

“Sooyoung….” Changmin membuka suaranya. Entah mengapa suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Sooyoung yang biasanya acuh, kini memilih untuk memperhatikan ucapannya. Sepertinya ada sesuatu penting yang hendak disampaikan.

TO BE CONTINUED….

Part 4 selesai. Masih bingung dengan ceritanya? Sama author juga masih bingung bagaimana endingnya -_- #BiarkanMengalir. Jangan lupa tinggalkan jejak yah…. Gamsahamnida ^^

21 thoughts on “[SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 4)

  1. apriliarist says:

    Mereka berciuman dibawah rintik hujan. Waaahhhh so sweet nyaaaaaaa:*
    Changmin mau ngabarin kabar duka ya ke soo soalnya tatapannya serius banget..

  2. Sykok Kyu says:

    Bahagia itu sederhana,baca ff sebagus ini jadi pengen cepet cepet punya suami wkwk,ceritanya kaya asli deh. THE FF WHO MAKE ME CRAZY😘😘😘

  3. Ola says:

    seru bgt… dan kyuyoung lucu bgt sih
    unyu” gmna gitu… hahahaha
    gmna yah pas soo tau ibunya mninggal.
    pas soo balik lg. gmna dgn kyu😥
    ditunggu klanjutannya eon. lanjut yah
    harus lanjut. maaf juga baru komen di part ini

  4. Masih banyak misterinya thor..

    Walopun moment kyuyoung nya ga sweet banget. Tapi aku kok suka ya. Greget liat mereka berdua, malu malu gimana gitu dah wkwk

    Itu si changmin mau ngasih tau soo kalo ibunya meninggal? Ga sabar pengen liat reaksi soo. Penasaran juga kebohongan soo bakl kebongkar ga gara gara ini

  5. Dian says:

    Uuu ternyata mereka gampang jatuh cinta nya, Kyuhyun nya so sweet bgt iihhh. Jadi inget di acara Happy Camp yg Kyuhyun nya bilang dia suka ngusap2 kepala pacarnya sampe dipraktekin gitu sama org, gue ngebayanginnya jd meleleh.

  6. Elis sintiya says:

    so sweet bgt sumpahh.. mereka berdua bikin iri… biarkan ff ini mengalir seperti air thor… aku suka bgt sama ff ini asli… rasanya kaya liat drama korea

  7. ry-seirin says:

    Ya ni mkin gk ngrti alur ceritanya mu kmn, mngkin gra² s Karma yg gk jlas to (lebay…).
    Tpi gk pplah asal Kyuyoung momentnya banyak.
    Chingu boleh mnta Pw part-endnya ff Goong ma Cupid Couple gk???
    Klo boleh kirim k e-mail aku ya : sry.joule@gmail.com
    Maksih sblumnya.
    Minal Aidzin walfa idzin.

  8. smgurlxa says:

    akhirnya muncul juga ff ini:(
    kyaaa kerenn, aku suka kyuyoung momentnyaa;-;
    penasaran apa yg mau dilakukan sama changmin…..
    ditunggu next chapternya yaa, jangan lama lama plis:((

  9. Megumi says:

    Kayaknya ini bakal panjang ya ceritanya. Keren sih ceritanya, tp aku sempet lupa karena agak lama baru dipost hehehe

  10. Gimana ya reaksi soo eonnie ktika tau eommanya meninggal, gk kbayang deh sdihnya.
    Changmin perannya jdi sepupu soo eonnie bukan org ke 3, tpi changmin perannya jahat gk ya ?

    NEXT PART DITUNGGU

  11. Youngra park says:

    Kasihany sooeoni klau dia tau ibuny sdh meninggal tapi senang krn kyuyoung smkin sweet nest pat di tnggu eoni ku harap di post jgn lma ne

  12. Akankah Syoo kembali kerumah krna ibu.A mninggal?
    Aq harap Kyuyoung makin kuat cintanya dan makin romantis serta “bisa mnrima stu sma lain” hahahaaa

  13. dekyusoo says:

    aihhh.. kasian eomma choi..
    itu pasti changmin mau ngasih tau ya..
    cieeee… cieee.. ciieee… yang abis kencan, trs ciuman pas ujan.. cieee.. cieee..
    yang makin romantis, yang makin deket, yang makin Cinta.. ciee cieee..
    ditungg ya next nya..

  14. Yeay kyuyoung udah deket
    Kasihan eonmanya soo
    Pasti changmin mau beritahu tentang kematian eommanya soo
    Takut hubungan kyuyoung nggak diterima sama keluarga soo
    Next part jangan la2 ya thor

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s