[Series] Once Again, Love -end-

Once Again, Love

Title                      : Once Again, Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Fantasy, Romance

Length                   : 10

Main Cast              :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Jeon Hyosung

Other cast              :

  • Im Yoona
  • Jeon Hyomin
  • Jeon Jae Hoon
  • Kwon Yuri
  • Lee Donghae

From Author          :

Annyeonghaseyo!

Hai… Bogoshipeoseoyo knightdeul!

Part terakhir!! Aku tahu banyak yang kecewa dengan FF ini mengingat minim-nya Kyuyoung moment di part-part awal… Mianhaeyo T___T

Tapi aku berharap di part-part akhir ini, kalian lebih suka ya.. karena akupun harus menulis ulang story-nya biar kyuyoung moment-nya lebih banyak

 Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Langkah kakiku yang akan meninggalkan jembatan Banpo terhenti karena sesuatu menahanku. Tiga orang namja, dengan tubuh besar mereka dan beberapa luka di wajah sudah menunggu di belakangku. Mataku mengerjap saat tiga namja ini mengarahkan pandangannya tepat ke arahku.

Nuguya?!” seru Hyosung yang langsung berdiri diantara aku dan tiga orang namja itu. Tapi aku tahu usahanya itu sia-sia, karena mereka dengan mudah menembusnya. “Sooyoung-ah! Lari!” Hyosung berteriak padaku.

Tanpa menunggu apapun lagi, aku bergegas memutar badanku dan berlari ke sembarang arah. Ketiga namja itu mengejarku. Saat ini yang ada di pikiranku adalah berlari secepat mungkin atau bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari mereka. Sayangnya tidak ada tempat yang bagus untuk dijadikan tempat persembunyian. Aku bahkan salah mengambil jalan karena jalan yang aku ambil adalah jalan buntu dan sudah terlalu terlambat bagiku untuk berbalik karena mereka sudah berhasil mengejarku dan menyudutkanku.

“Kau Choi Sooyoung?” Namja yang memiliki tato naga di tangannya mendesis sambil melangkah mendekat ke arahku.

Aku mundur beberapa langkah, “Eo. Apa yang kau cari?” tantangku, berusaha menyembunyikan ketakutanku sendiri. Mataku menatap tajam ketiga namja di depanku ini, berusaha memberikan kesan mengintimidasi.

Lalu tiba-tiba, sebuah benda berkilauan terlihat. Pisau. Jari-jariku mengepal, napasku terputus-putus. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tak bisa berlari kemanapun lagi karena ketiga namja ini menghalangi semua sudutku untuk lari. Aku terus bergerak mundur saat namja yang membawa pisau itu bergerak mendekatiku, dan melihat Hyosung yang berusaha memukuli mereka dan mendorong mereka menjauh dariku tetapi gagal karena tangannya terus menembus tubuh besar mereka.

Apa aku akan mati ? Apa aku akan mati dengan cara yang seperti ini? Mungkin aku memang pernah menghampiri kematian, dua kali—saat kecelaakaan yang lalu, dan saat aku masih kecil, tapi kenapa rasanya aku takut sekali sekarang? Aku memejamkan mata saat namja bertato naga itu mengangkat tangan dan mengarahkan pisau itu padaku.

Tapi tiba-tiba sesuatu menjatuhkan pisau itu, aku bisa mendengar dua benda jatuh di dekatku. Lalu akupun merasakan tubuhku ditarik oleh sebuah tangan besar yang terasa familier untukku, dan kemudian mendorongku sedikit menjauh dari tempatku semula. Meskipun takut, aku tetap membuka mata dan melihat Kyuhyun sedang berdiri di depanku, melindungiku dari ketiga namja itu.

Gwenchana?” tanya Kyuhyun padaku yang hanya menolehkan kepalanya sedikit.

E-Eo, gwenchanayo

“Pergilah, dan biarkan aku yang mengurus ini” kata Kyuhyun seraya menatap ke arah tiga namja yang masih berdiri dengan santainya, seakan-akan kedatangan Kyuhyun ini bukanlah masalah besar.

Oppa, andwae!” seruan Hyosung terdengar olehku. “Kau bahkan tak tahu caranya berkelahi. Andwae, oppa! Jolttae andwae!”

Aku mengerjapkan mata, lalu menyentuh bahu Kyuhyun. Membuat namja itu kembali menoleh padaku. “Oppa, sebaiknya kita lari saja. Aku—aku takut”

“Mereka akan tetap mengejar kita sekalipun kita lari” sahut Kyuhyun cepat. “Kau pergi saja, dan telepon polisi sementara aku menahan mereka disini”

Andwae!

Oy! Sudah selesai berdiskusi?” seru namja bertato naga itu. “Apa kau namjachingu-nya atau kau hanya orang yang kebetulan lewat dan ingin menjadi pahlawan?”

“Aku namjachingu-nya, saekki-ya!” jawab Kyuhyun sambil mengepalkan tinjunya, sementara aku hanya bisa tertegun mendengar perkataan Kyuhyun itu. “Aku tak akan membiarkan kalian menyentuh, bahkan rambutnya sekalipun”

Ketiga namja itu tertawa, lalu salah satunya melangkah maju dan dengan sekali gerakan memukul perut Kyuhyun. Membuatnya langsung jatuh tersungkur meskipun dia bergegas bangun dan berdiri. Mereka kembali tertawa dan kemudian secara bersama-sama menyerbu Kyuhyun dan menyerangnya dari berbagai arah. Awalnya dia berusaha untuk melawan, tapi kekuatannya benar-benar tidak sebanding dengan jumlah orang yang sedang mengeroyoknya. Hasilnya, diapun terjatuh lagi dan tubuhnya menjadi bulan-bulanan mereka.

Oppa!” seruan Hyosung kembali terdengar. “Andwae. Andwae, oppa!” Hyosung terus berusaha mendorong tiga namja itu dan melakukan berbagai cara untuk berhenti memukul, menendang dan menginjak Kyuhyun. Tapi usahanya sia-sia.

Aku memejamkan mata saat salah satu dari namja itu sepertinya menendang Kyuhyun dengan keras. “Ya! Hentikan!” pekikku dengan spontan.

Tubuhku sendiri sudah gemetar hebat, dan aku tak tahu kekuatan apa yang membuatku berani menatap ketiga namja itu. Satu hal yang ada dipikiranku sekarang adalah bagaimana agar perhatian mereka teralih padaku dan berhenti memukuli serta menendangi Kyuhyun yang sudah terkapar. Sepertinya usahaku berhasil, karena sekarang mereka mengalihkan perhatian padaku dan melupakan Kyuhyun. Aku bisa melihat Hyosung yang menghampiri Kyuhyun dan berusaha membangunkannya.

“Apa—apa yang kalian inginkan?” tanyaku berusaha untuk terdengar tegas sangat mengatakannya.

“Tentu saja kau,”

“Aku—aku, apa yang kalian—“

“Sooyoung-ah!” Seruan dari sudut jalan terdengar, dan tak lama kemudian sosok Jae Hoon muncul. “Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa? Dimana Kyuhyun-ssi?” tanyanya padaku, lalu diapun menatap Kyuhyun yang terkapar di tanah.

Oppa,” gumamku berusaha untuk tidak bergetar dalam nada suaraku.

Gokchongma, nan yeogi isseo” kata Jae Hoon padaku. Lalu perhatiannnya teralih pada ketiga namja itu yang terlihat terkejut dengan kedatangannya. “Apa seperti itu cara kalian mengalahkan seseorang? Menyerang bersama-sama seperti sekelompok pecundang?”

Neo nuguya?”

Jae Hoon melirik ke arahku, lalu dia menatap Kyuhyun sebelum menjawab pertanyaan namja yang bartato naga itu. “Oppa-nya. Wae? Terkejut?”

Namja itu mendengus kecil, “Oppa? Kau yakin?”

Jae Hoon sama sekali tidak memberikan tanggapan kali ini.

“Jadi, kau pikir kau bisa mengalahkan kami?” Kali ini namja yang berkumis tipis yang berbicara. “Mungkin kau akan berakhir sama dengan namjachingu-nya”

“Kita lihat saja,” sahut Jae Hoon sambil mengepalkan tangannya dan memasang posisi siap berkelahi. Dia memintaku untuk menjauh, lalu mulai bergerak melawan satu per satu ketiga namja itu.

Aku diam membeku di tempatku melihat perkelahian itu, dan aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Ada keinginan untuk melarikan diri tapi aku tak mungkin meninggalkan Kyuhyun dan Jae Hoon sendirian. Bagaimana jika mereka terluka? Apa aku akan sanggup menanggung beban itu? Terutama Kyuhyun yang sekarang terkapar ditanah. Perhatianku pun teralih pada Kyuhyun, dan Hyosung yang masih berusaha untuk membangunkannya. Cepat-cepat aku berlari menghampiri namja itu yang tubuhnya sudah kotor dan berantakan. Keadaannya sangat parah dengan wajahnya yang lebam kemerahan, darah mengalir dari kedua bibirnya yang pecah, dahinya robek dan beberapa lecet kecil menghiasi kedua tangannya.

Oppa, eotteoke…” desis Hyosung yang tangannya terus menembus tubuh Kyuhyun saat dia berusaha untuk menyentuhnya. “Oppa—“

Oppa, bangunlah” kataku pada akhirnya sambil menggoyangkan wajah Kyuhyun yang masih terpejam. “Oppa, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan jika kau—“ Kata-kataku selanjutnya terhenti karena tiba-tiba seseorang menarik rambutku dengan kasar dari belakang.

“Sooyoung-ah!” seru Hyosung kemudian.

Aku menjerit keras, dan kepalaku terdongak paksa ke atas karena cengkraman di rambutku yang kuat. Seseorang berlengan besar menarikku berdiri, lalu mendorongku maju. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, mencegah mulutku untuk tidak merintih kesakitan akibat rambut kepalaku yang terasa seperti dicabut secara paksa. Kulit kepalaku terasa seperti terbakar, tapi aku enggan berteriak untuk kedua kalnya karena itu pasti hanya akan membuat tiga namja jahat ini tertawa bahagia.

“Kau tak mau aku melukai wajah cantiknya, ‘kan?” Suara namja bertato itu terdengar. Dia menggerakkan telunjuknya di atas pipiku dengan penuh penekanan. Meninggalkan rasa perih yang membuat kulit wajahku seperti di sayat-sayat. “Bagaimana jika aku melakukan sesuatu pada wajahnya?”

“Jangan sentuh dia!” desis Jae Hoon yang membuat mataku terpejam seketika. Aku tak mau melihat bagaimana parahnya luka-luka Jae Hoon yang mungkin saja sama dengan Kyuhyun. “Lepaskan dia!”

“Aku tahu kau bukan oppa-nya, tapi kenapa kau sangat melindunginya? Dia bahkan yeojachingu orang lain,”

“Dan kenapa kau peduli? Lepaskan dia,”

“Melepaskannya? Tentu saja tidak,” sahut namja yang berkumis. “Ini adalah pekerjaan kami, untuk menyingkirkan nyamuk-nyamuk penggangu macam dia. Apa kau tahu harganya sangat mahal? Tapi kami akan mendapatkan lebih banyak lagi dari Daehan Group setelah kami berhasil menyingkirkannya”

Aku membeku di tempatku. “Daehan Group?” gumamku sangat pelan.

“Daehan Group? Apa maksudnya?” Jae Hoon bertanya karena dia pasti sama tidak mengertinya denganku.

“Itu bisnis kami, anak muda. Kau tak perlu tahu,” jawab namja lainnya.

“Kami tidak akan mendapatkan apa-apa jika tidak segera menyingkirkanmu. Apa kau tahu itu?” Kali ini namja yang memegangiku yang berbicara padaku. “Apa ada yang ingin kau katakan? Kenapa kau diam saja?” tanyanya kemudian.

Lalu cengkraman di kepalaku kembali ditarik kasar ke belakang. Membuat ikatan rambutku terlepas dan rambutku pun berantakan. Dadaku bergerak naik turun dengan napas yang memburu kacau. Aku benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah malam ini. Aku ingin beteriak melepaskan rasa perih di kulit kepalaku yang semakin menyiksa. Aku ingin menangis, tapi aku tak boleh menangis dan menunjukkan bahwa aku seorang yeoja yang lemah.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Jae Hoon yang kembali bergerak dan melayangkan tinju ke rahang namja yang terdekat dengannya. Namja itu pun terkapar, tapi Jae Hoon tidak berhenti begitu saja. Dia terus memukuli namja itu dengan membabi buta, begitu pula namja lainnya. Sampai akhirnya dia berhasil mengalahkan dua namja yang sekarang sudah jatuh terkapar dan menyisakan satu yang masih menahanku. Aku merasa lega, tapi kelegaanku itu tidak berlangsung lama tepat saat aku merasakan sesuatu yang dingin menempel di kulit leherku. Sesuatu yang tajam dan tipis.

“Sooyoung-ah!”

Andwae!”

Aku mendengar teriakan Jae Hoon dan Hyosung sambil menahan napas. Aku tidak berani bergerak, dan aku tidak berani memikirkan apapun. Aku memejamkan mata saat merasakan perih di leherku, saat pisau itu berhasil menembus kulitku yang basah karena keringat. Aku bahkan merasakan sesuatu yang lengket, seperti darah. Aku berusaha mengatur napasku, dan mengabaikan semua perasaan yang sedang aku rasakan saat ini. Kepalaku mendadak pusing, dan aku tahu aku tak akan bisa bertahan lama. Tapi kemudian—entah bagaimana, seseorang melayangkan tendangan pada namja yang memegangiku dan akupun terbebas.

“Cepat bawa Sooyoung pergi dari sini, Kyuhyun-ssi” Aku sempat mendengar seruan itu sebelum tanganku ditarik oleh seseorang.

Oppa,” kataku saat melihat Kyuhyun yang melakukannya.

Kajja,”

“Tapi Jae Hoon oppa—“

“Dia akan mengurusnya,” Kyuhyun langsung mengajakku pergi dengan sisa tenanganya. Mau tak mau akupun mengikutinya dan meninggalkan Jae Hoon yang sekarang sedang melawan namja bertato naga itu.

Kyuhyun terus membawaku menjauh dari tempat itu, dan entah bagaimana dengan cepat dia menemukan taksi. Dia hanya menyebutkan alamat tujuan kami, lalu menyandarkan tubuh di kursi taksi. Keadaannya benar-benar parah sekarang dan aku sangat mengkhawatirkannya meskipun aku sendiripun mungkin sama parahnya dengannya, melihat supir taksi yang terus menatap kami dari kaca spionnya. Untungnya, dia tidak bertanya padaku ataupun Kyuhyun selama perjalanan dan mengantarkan kami ke tujuan dengan aman, yaitu apartemen Kyuhyun.

Kyuhyun menggiringku masuk ke apartemennya, lalu mendudukkanku di sofa. Dia sama sekali tidak bicara padaku dan aku bisa mengerti karena mungkin saja dia sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya. Akupun masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, jadi aku memilih untuk diam. Banyak pertanyaan yang sekarang ada di kepalaku dan aku tak tahu bagaimana menemukan jawabannya. Siapa tiga namja itu? Kenapa mereka ingin menyingkirkanku? Apa hubungannya dengan Daehan Group? Kenapa Kyuhyun dan Jae Hoon ada disana? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar di kepalaku sedari tadi.

Setelah beberapa saat meninggalkanku sendirian, Kyuhyun kembali datang sambil membawa kotak obat dan mangkuk berisikan air hangat serta handuk kecil. Tanpa banyak bicara, dia menggerakkan kepalaku, lalu menyapukan handuk hangat di sekitar leherku. Aku harus menahan diriku untuk tidak merintih saat dia melakukannya karena rasanya sangat perih. Aku hanya berharap luka itu tidak dalam karena aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kyuhyun merawat luka di leherku dengan sangat telaten padahal dia sendiripun terluka parah. Tapi sepertinya dia mengabaikan itu semua dan terus mengurusku sampai akhirnya dia menempelkan plester di leherku dengan perlahan.

Dwaetta,” kata Kyuhyun kemudian sambil tersenyum menatapku dengan wajahnya yang lebam.

Saat dia akan beranjak pergi, akupun dengan cepat menahannya. “Kau juga terluka, oppa” kataku yang langsung bangkit dari dudukku dan memintanya untuk duduk di tempatku semula. Aku mengambil handuk yang lain, lalu memasukkannya ke air hangat dan mulai membersihkan luka-luka di wajah Kyuhyun. “Aku tak tahu kenapa kau tiba-tiba muncul disana. Apa kau mengikutiku atau bagaimana?”

“Aku mengikutimu,”

Aku mendesah pelan, “Seharusnya kau tidak melakukan apapun dan berlari saja,”

“Melihatmu seperti itu tanpa melakukan apapun?”

“Kau bahkan tak tahu caranya berkelahi,” kataku mengingat apa yang Hyosung katakan. “Apa kau pikir kau bisa mengalahkan mereka?”

“Tidak tentu saja. Aku tak pernah berpikir seperti itu,” sahut Kyuhyun dengan cepat. Dia merintih pelan, membuatku menyapukan handuknya sedikit lebih lembut. Lalu dia kembali berbicara, “Tapi setidaknya aku melakukan sesuatu untukmu meskipun pada akhirnya aku menjadi seperti ini”

Waeyo?” tanyaku sambil menghentikan kegiatanku untuk beberapa saat. “Kenapa kau melakukannya dan membuat dirimu seperti ini?”

“Tentu saja karena aku mencintaimu,” Kyuhyun langsung menjawab. “Tidak ada orang yang akan membiarkan orang yang dicintainya terluka, Sooyoung-ah

Aku diam saja kali ini, terlalu terkejut dengan jawaban yang aku terima dari Kyuhyun.

“Sooyoung-ah, dengar” kata Kyuhyun sambil menatapku dengan lekat. “Aku tahu kau marah padaku, dan kau sudah mengatakan semua yang ingin kau katakan padaku. Tapi kau harus tahu, Sooyoung-ah, bahwa aku mencintaimu. Bukan karena kau mirip seperti Hyosung atau alasan lainnya, tapi karena dirimu. Aku mencintaimu karena kau adalah Choi Sooyoung”

Aku tak tahu harus menunjukkan reaksi bagaimana sekarang. Kepalaku terasa berat dan kerongkonganku tercekat. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Kyuhyun tapi mulutku seperti direkatkan dengan lem super kuat.

Mianhae, karena aku sempat meragukan perasaanku sendiri padamu” kata Kyuhyun kembali berbicara. Lalu diapun meraih tanganku yang bebas, dan menggenggamnya dengan erat. “Tapi mulai sekarang aku tak akan pernah melepaskan tangan ini. Sooyoung-ah, kau mau menjadi yeojachingu-ku ‘kan?”

Aku menatap lekat bola mata Kyuhyun, dan aku benar-benar tak tahu apa yang membuat tubuhku terdorong maju dan tanganku bergerak memeluknya begitu saja. Air mataku pun mengalir deras.

“A—apa kau—kau menerimaku?” Kyuhyun bertanya dengan suara tercekat.

Aku menganggukkan kepala di antara isakanku, dan saat itu jugalah Kyuhyun mempererat pelukanku ini.

__

Kyuhyun POV

“Ada apa dengan wajahmu? Apa kau baru saja berkelahi?” tanya Donghae saat aku menyelesaikan putaranku hari ini memeriksa para pasien. Aku mengabaikannya dan terus melangkah, tapi dengan cepat dia menahan lenganku. “Ya! Kau berkelahi dengan siapa? Apa karena yeoja?”

Eo. Tapi bukan memperebutkannya” jawabku pada akhinya. “Ini untuk menyelamatkannya” Aku menambahkan.

Mwo? Memangnya kau superhero?”

Aku mendengus kecil, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku menanggapi Donghae. Tanpa mengatakan apa-apa padanya, akupun melanjutkan melangkah ke meja administrasi. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, para perawat yang ada disana langsung menatapku dengan lekat. Seakan-akan aku adalah orang mati yang tiba-tiba hidup kembali. Yah, sesuatu sepertilah pandangan mereka padaku sekarang. Tapi aku justru menyunggingkan segaris senyuman ke arah mereka, mengabaikan rasa perih yang langsung menyerangku begitu bibirku tertarik.

Omo, omo, omo gwenchanayo, dokter Cho?” tanya kepala perawat di departemen ini, Jung Min Rin. “Apa kau baru saja mengalami musibah atau bagaimana?”

“Yah, begitulah” jawabku sambil memeriksa laporan harianku dan menandatangani beberapa dokumennya. “Apa kelihatan sangat parah?”

Eo,”

Aku tersenyum tipis, “Pantas saja mereka menatapku seperti itu” kataku acuh tak acuh. “Kurasa aku perlu menambahkan lebih banyak salep ‘kan?”

“Apa kau kesulitan mengolesinya? Aku bisa membantumu, dokter Cho” tanya Jung Min Rin menawarkan diri. “Kau ’kan sudah seperti dongsaeng-ku, jadi jangan ragu jika kau ingin meminta bantuanku”

Geurae?” sahutku menutup laporanku sendiri lalu memberikannya pada Jung Min Rin. “Aku khawatir itu akan menganggumu, jadi yah—“

“Biar aku saja yang melakukannya,” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat aku kenali. Kepalaku menoleh dengan cepat dan melihat Sooyoung yang melangkah menghampiriku. “Makan siang,” katanya seraya menunjukkan sebuah bungkusan plastik besar padaku.

Aku tercengang dan mematung di tempatku melihat Sooyoung yang memberikan bungkusan plastik besar itu pada Jung Min Rin, dan memintanya untuk membaginya ke seluruh perawat di departemen ini—yang kebetulan sedang ada di ruangan ini. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Sooyoung lakukan sampai aku hanya bisa diam menyaksikan kepala perawat itu dengan senang hati membagi-bagikan kotak makanan pada semua perawat dan residen disini. Mereka juga kelihatan sama senangnya karena itu berarti mereka tak perlu merepotkan diri untuk mencari makan siang diluar atau bahkan menyantap menu yang hampir selalu sama di kafe rumah sakit.

“Dan ini untukmu, oppa” kata Sooyoung sambil menunjukkan sekotak makanan tepat di depan mataku. “Aku membuatnya di restoran dan langsung datang kesini. Ah, anggap saja ini adalah special delivery

Special delivery?” sahutku mengulang perkataan Sooyoung. Aku tertawa pelan saat dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat menggemaskan. Membuatku tak tahan untuk mengacak pelan rambutnya yang diikat ke belakang. “Geurae. Kalau begitu kita juga bisa menganggapnya sebagai pengumuman di depan rekan-rekanku bahwa sekarang kita berkencan”

Geurae?”

Aku mengangguk singkat, lalu menarik tangan Sooyoung untuk menjauh dari ruang administrasi. “Ayo kita ke rooftop” ajakku kemudian.

Sooyoung mengiyakan ajakanku, lalu kamipun melangkah bersama menuju rooftop. Aku sempat melihat Donghae yang juga melihatku, tapi dia hanya mengacungkan dua ibu jarinya ke arahku sambil mengedipkan mata. Meskipun aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku tersenyum dibuatnya dan ternyata itu justru menarik perhatian Sooyoung.

Waeyo? Kenapa tersenyum seperti itu?” tanyanya kemudian.

Ah, itu karena Donghae” jawabku jujur. “Kau tahu, namja yang saat itu bersamaku di rooftop

Sooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya dalam diam. Kamipun melangkah ke bangku kayu yang tersedia disana dan mendudukinya. Saat aku menoleh untuk menatap Sooyoung, aku sempat melihat luka di lehernya karena sayatan pisau itu. Lalu bayangan kejadian malam itu pun kembali terulang di kepalaku. Sampai saat ini aku benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi pada Sooyoung jika saat itu aku tidak mengikutinya. Aku memang sengaja menelepon Jae Hoon dan memberitahunya jika Sooyoung sedang dalam bahaya karena aku menyadari bahwa aku bukanlah namja yang tangguh saat berkelahi, dan Jae Hoon salah satu namja yang aku tahu bisa berkelahi. Karena aku pernah melihatnya sekali saat aku pertama kali mengenal Hyosung.

“Sooyoung-ah, bagaimana keadaan Jae Hoon-ssi?” tanyaku karena teringat dengan namja itu, yang secara tidak langsung juga telah menyelamatkanku. “Kau sudah bertemu dengannya, ‘kan? Apa dia terluka parah?”

“Tidak separah dirimu, oppa” Sooyoung langsung menjawab. “Wajahnya lebam, dan ada beberapa luka di tubuhnya. Tapi dia baik-baik saja,”

“Baguslah kalau begitu” sahutku tak bisa tidak merasa lega. “Dia datang tepat pada waktunya,”

“Apa kau yang menghubunginya?”

Aku mengangguk singkat. “Dia satu-satunya orang yang terlintas di kepalaku saat aku melihat tiga namja itu mendekatimu di jembatan Banpo dengan cara yang mencurigakan”

Sooyoung tidak memberiku reaksi maupun tanggapan apa-apa. Dia hanya diam dan memandangiku lekat-lekat, seperti tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Tapi kemudian aku melihatnya menghela napas panjang dan aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuh pipinya. Sooyoung tersentak kaget, lalu tangannya memegang tanganku yang ada di pipinya.

Waeyo? Apa ada yang sedang kau pikirkan?” tanyaku ingin tahu.

Sooyoung kembali menghela napas, lalu diapun menjawab. “Eo. Ada banyak hal yang sedang aku pikirkan sejak hari itu”

“Apa?”

“Kata-kata namja itu yang paling mengangguku sebenarnya, juga reaksi Hyomin eonni saat dia datang ke restoran pagi harinya dan melihat lukaku” jawab Sooyoung yang memilih untuk tidak menatapku saat mengatakannya. “Tidak salah lagi jika itu memang berhubungan dengan Daehan Group, tapi apa hubungannya denganku? Hyosu—eonni juga tidak mengatakan apapun padaku saat aku bertanya padanya”

Belum sempat aku menanggapi perkataan Sooyoung itu, ponselku terasa bergetar di sakuku. Cepat-cepat aku mengambilnya dan melihat nama detektif Han tertera di layarnya. Aku menatap Sooyoung sekali sebelum menjawab telepon dari detektif itu. Aku mendengarkan semua yang dia katakan dan berusaha untuk tidak terkejut. Setelah itu sambungan telepon pun terputus, dan aku bergegas beranjak dari tempatku sambil merain tangan Sooyoung.

Nuguji?” tanya Sooyoung ingin tahu. “Eodiga?” Dia kembali bertanya saat kami mulai menuruni tangga dari rooftop.

“Detektif Han memintaku untuk datang ke kantor polisi, dan dia juga sudah meneleponmu tapi kau tak menjawabnya”

Ah, aku meninggalkan ponselku di restoran” jawab Sooyoung merasa bersalah. “Tapi kenapa tiba-tiba detektif Han meminta kita untuk datang?”

“Katanya dia akan memberitahukannya setelah kita sampai di kantor polisi” jawabku yang langsung mengajak Sooyoung menuju halaman parkir mobilku melalui jalan lain. Karena aku tak mau ada orang yang menghambat kami, khususnya orang-orang di departemenku.

Tanpa banyak bicara, aku dan Sooyoung bergegas masuk ke dalam mobil. Akupun langsung menghidpukan mesinnya dan melajukannya menuju kantor polisi pusat Seoul. Perjalanan untuk sampai disana membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari rumah sakit Yangji. Tapi selama perjalanan itu, aku dan Sooyoung sama-sama diam karena kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Banyak kemungkinan di kepalaku kenapa detektif Han tiba-tiba menelepon dan memintaku untuk datang ke kantor polisi bersama Sooyoung. Pertama, itu mungkin berhubungan dengan kasus Hyosung. Atau kedua, itu bisa saja karena kejadian yang menimpa kami malam itu. Bisa saja itu salah satu satunya atau mungkin keduanya ‘kan?

“Cho Kyuhyun-ssi,” panggilan detektif Han itu terdengar begitu aku memasuki kantor polisi. Sangat terlihat jika dia memang sedang menungguku sedari tadi. “Ikut aku,” katanya baik padaku maupun Sooyoung.

Detektif Han membawa kami ke sebuah ruangan dimana ada ruangan lain disana yang dibatasi dengan kaca besar. Di dalam ruangan itu ada seorang namja bertato naga yang aku kenali saat malam itu, dan sepertinya Sooyoung pun begitu karena aku melihat ekspresi terkejutnya. Dia bahkan langsung memegangi lehernya yang terluka sambil menatap namja itu dengan tajam. Aku tahu, Sooyoung pasti sedang mengingat kejadian malam itu karena dia hampir saja terbunuh akibat namja itu.

“Aku ingin mengkonfirmasi apa benar namja itu adalah namja yang menyerang kalian, khususnya Sooyoung-ssi?” tanya detektif Han menatapku dan Sooyoung secara bergantian.

Ne, majayo

Majayo

Geureom… Sooyoung-ssi” Detektif Han beralih pada Sooyoung. “Bisakah kau ikut aku sebentar? Aku ingin mengetahui beberapa hal darimu mengingat saat itu kau adalah korban yang ada disana,”

Sooyoung menatapku sesaat, lalu dia menganggukkan kepala ke arah detektif Han. Diapun mengikuti detektif itu meninggalkan ruangan ini, sementara aku memilih untuk menunggu di tempat lainnya. Aku melangkah ke salah satu lorong di gedung kantor polisi ini dan duduk di bangku panjang yang disediakan disana. Dari tempatku berada, aku bisa melihat Sooyoung yang sedang duduk di depan detektif Han yang terus memberikan pertanyaan padanya. Meskipun aku tak tahu bagaimana detektif Han bisa menangkap namja itu dengan cepat—hanya dua hari sejak kejadian malam itu, tapi aku benar-benar mengapresiasinya.

“Aku seharusnya tahu dia adalah mata-mata. Jong Min memang sangat aneh saat aku membawa hasil DNA itu. Dia kabur, dan aku tak tahu kemana dia pergi” Suara keras seorang yeoja terdengar menggema di lorong yang sepi ini. Membuatku menolehkan kepala dan mengamati ujung lorong lainnya. Tak lama kemudian—disana, muncullah Jeon Hyomin dan Jeon Jae Hoon yang terlihat khawatir dan frustasi. “Seharusnya aku sudah memastikan ini terlebih dahulu, jadi kita—“ Kata-kata Hyomin itu terhenti saat dia melihatku.

Cepat-cepat aku bangkit berdiri, “Annyeonghaseyo” sapaku canggung.

Hyomin hanya membalas sapaanku dengan anggukkan kepalanya saja—sangat khas dia. Tapi kemudian pandangannya beralih pada Sooyoung dan entah bagaimana, aku bisa melihat Hyomin menghela napas panjang. Dia menatap Sooyoung dengan cukup lama, dan ekspresinya sama sekali tak bisa aku artikan untuk saat ini. Seperti khawatir, merasa bersalah, senang? Atau bahkan campuran ketiganya. Jujur saja, aku memang jarang bertemu secara langsung dengan Hyomin mengingat bagaimana hubungannya dengan Hyosung sebelumnya. Tapi melihatnya secara dekat seperti ini membuatku berpikir jika dia sama sekali tidak mirip dengan Hyosung. Justru sebaliknya, kenapa menurutku dia justru terlihat mirip dengan Sooyoung? Ah, mungkin mataku yang salah atau mungkin juga karena aku sedang memikirkan yeojachingu-ku, jadi aku berpikir seperti itu.

“Kau datang bersamanya?” tanya Hyomin tiba-tiba padaku. “Choi Sooyoung, maksudku”

N-Ne,” jawabku berusaha untuk bersikap biasa. “Detektif Han meminta kesaksiannya atau sesuatu seperti itu”

Hyomin mengusap-usap pelipisnya, tapi tak ada yang dia katakan setelah itu. Mataku menatap Jae Hoon yang terus memandangi Sooyoung dengan cara yang aneh. Sooyoung benar, wajah namja itu memang lebam tapi tidak separah lebam di wajahku. Meskipun begitu, aku sempat melihat dahinya yang tertempel plester dan bekas sobekan di bibir kirinya.

Oh, eonni!” seru Sooyoung kemudian begitu dia keluar dari ruangan. “Kau disini?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Sooyoung itu, Hyomin justru langsung menghambur memeluknya. Sooyoung terlihat terkejut tapi dia membiarkan saja Hyomin memeluknya seperti itu, dan bahkan dia membalas pelukan itu dengan senyum mengembang di wajahnya. Aku mengamati pemandangan itu dengan heran, lalu melihat ekspresi Jae Hoon yang benar-benar terkesan sangat aneh sekarang. Kenapa dia tidak terlihat senang melihat Sooyoung? Tidak seperti dia yang biasanya setiap kali bertemu dengan yeoja ini. Apa mungkin itu karena dia sudah mengetahui bahwa aku dan Sooyoung berkencan? Tapi bukankah itu terlalu cepat?

“Sooyoung-ah, mianhae” ucap Hyomin setelah dia melepas pelukannya. “Nan jinjja mianhae. Kau harus melewati semua ini,”

Waeyo, eonni?” Sooyoung bertanya, dan sesekali dia menatap Jae Hoon yang memilih untuk menundukkan kepala.

“Seharusnya ini tak pernah terjadi, baik padamu ataupun pada Hyosung”

Kedua alisku saling bertaut mendengar nama Hyosung disebut oleh Hyomin. Apa itu artinya dia sudah mengetahui bahwa Hyosung sebenarnya dibunuh oleh ibunya? Tapi aku memilih untuk tidak bertanya dan melangkah menghampiri Jae Hoon karena dia lebih membuatku penasaran untuk saat ini.

Waegeurae?” tanyaku pada Jae Hoon.

Jae Hoon yang menyadari kedatanganku langsung mengangkat kepala. Dia menatapku sesaat, lalu beralih pada Sooyoung dan Hyomin yang semakin terlihat akrab di mataku. Lalu diapun mengajakku untuk menjauh dari mereka—tidak benar-benar jauh dan menatapku dengan sangat serius.

“Pelakunya sudah diketahui” kata Jae Hoon memberitahuku.

Oh? Pelaku?”

Em. Pelaku yang—yang melakukannya pada Hyosung juga menyerang Sooyoung” Jae Hoon berbicara dengan pelan—hampir berbisik, sampai aku harus menajamkan telingaku untuk bisa lebih mendengarnya. “Keduanya adalah orang yang sama,” tambahnya.

Aku mengerjapkan mata, lalu secara spontan menatap ke arah Hyomin yang terlihat sangat bersalah saat berbicara dengan Sooyoung. Tapi aku juga bisa melihat dia seperti sedang menahan marahnya, hanya saja dia menutupinya dengan sangat baik. Jika itu pelaku yang sama itu berarti pelakunya adalah Kim Jung Ah, tapi apa hubungannya dengan Sooyoung? Mereka bahkan tidak saling mengenal, lalu kenapa dia menyerang Sooyoung seperti itu?

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui mengenai Sooyoung,” Jae Hoon kembali berbicara. “Dia sebenarnya adalah—“ Kata-kata namja itu selanjutnya terhenti, dan pandangannya menatap ke arah Hyomin yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Lalu tanpa mengatakan apapun padaku, dia pun menghampiri yeoja itu dan mengikutinya meninggalkan kantor polisi.

Oppa, kajja” seru Sooyoung tiba-tiba, membuatku sedikit tersentak. “Hyomin eonni ingin berbicara denganku, dan dia juga ingin kau ada disana”

Jigeum?”

Sooyoung mengangguk.

Awalnya aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Hyomin ingin bicara dengan Sooyoung dan melibatkanku. Tapi mau tak mau akupun melangkahkan kaki mengikuti yeojachingu-ku, lalu mengikuti mobil Hyomin yang membawa kami ke sebuah restoran di Jongno-gu. Seperti sudah mengetahui bahwa Hyomin akan datang, pelayan restoran yang berdiri di depan pintu langsung memandu kami ke sebuah ruangan tertutup di restoran ini dan meninggalkan kami disana tanpa ada siapapun kecuali kami berempat.

“Seharusnya ruangan ini dihias saat aku datang kesini, tapi situasi dan kondisinya sangat tidak memungkinkan sekarang” Hyomin membuka pembicaraan. Dia duduk disebelah Jae Hoon, sementara aku dan Sooyoung duduk di hadapan mereka. “Mianhae karena aku tak menyiapkan apapun untukmu,” Dia berbicara sambil menatap Sooyoung.

Ne?” celetuk Sooyoung terkejut. “Ah, emm—gwenchanayo. Ini sudah lebih dari cukup,” katanya kemudian.

Aku memilih untuk diam di tempatku sambil mengamati Hyomin dan Jae Hoon yang semakin terlihat aneh di mataku. Entah kenapa aku merasa sesuatu yang ingin dibicarakan Hyomin ini bukan hanya mengenai kejadian yang menimpa Sooyoung, atau bahkan sesuatu yang berhubungan dengan Hyosung—menginga aku juga disini. Tapi apa yang mungkin Hyomin bicarakan dengan Sooyoung sampai membuat Jae Hoon terlihat sangat gelisah? Dia bahkan tak pernah menatap Sooyoung dengan lama, dan hanya terus menundukkan kepala. Pandanganku teralih pada Hyomin, dan dia terlihat akan membuka mulutnya untuk kembali berbicara.

“Sooyoung-ah, tinggallah bersamaku mulai sekarang” kata Hyomin, yang tidak hanya membuat Soyoung terkejut tapi juga aku.

Ne?”

Uri eomma… aku benar-benar tak percaya dialah yang melakukan semua ini dan aku tahu dia sedang dalam pencarian polisi untuk saat ini bersama seseorang yang dulu aku percaya,” Hyomin mengabaikan keterkejutan Sooyoung. Lalu dia menatapku sekilas dan kembali pada Sooyoung. “Aku ingin kau tinggal bersamaku sampai ibuku tertangkap, Sooyoung-ah

“K—Kenapa aku—aku harus tinggal bersamamu, eonni?”

Hyomin tak langsung menjawab, tapi aku sempat melihatnya menarik napas panjang. Setelah beberapa saat, diapun memberi tanggapan. “Karena memang seperti itulah seharusnya dari dulu”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, eonni

“Hyosung,” sahut Hyomin yang langsung membuatku mencelos, tapi aku terus diam dan mendengarkan. “Hyosung yang kita kenal selama ini—“ Dia kembali melirik ke arahku, lalu kepalanya tertunduk. “—dia bukanlah dongsaeng-ku yang sebenarnya”

Mworaguyo?”

Ne?”

Aku dan Sooyoung menyahut secara bersamaan, dan kamipun saling memandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya Sooyoung mengalihkan pandangannya ke kursi kosong diantara dia dan Hyomin. Untuk beberapa saat dia hanya terus menatap ke arah itu, sementara aku memilih untuk menatap Hyomin dan Jae Hoon secara bergantian. Karena aku ingin memastikan apa yang dikatakan Hyomin itu bukanlah omong kosong belaka atau sekedar gurauan untuk mencairkan suasana yang sedang sedikit kacau ini.

Lalu Hyomin kembali berbicara, dan diapun menceritakan bagaimana dia kehliangan dongsaeng-nya saat itu. Aku cukup terkejut mengetahui bahwa Hyosung adalah seorang anak yang Jeon Daesung angkat setelah mereka kehilangan dongsaeng Hyomin itu. Selama ini aku memang mengetahui bahwa Hyosung lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri daripada di Korea, tapi aku tak tahu alasan sebenarnya adalah untuk menghilangkan kecurigaan bahwa sebenarnya Hyosung bukanlah putri kedua Daehan Group yang sebenarnya. Tapi jika bukan Hyosung, lalu siapa?

Dongsaeng-ku yang sebenarnya adalah kau, Sooyoung-ah” Pertanyaanku langsung terjawab oleh Hyomin yang telah menyelesaikan ceritanya. Dia mengeluarkan selembar kertas yang bisa langsung aku ketahui bahwa itu adalah hasil tes DNA. “Jeon Hyosung, putri kedua Daehan Group itu sebenarnya adalah dirimu, Choi Sooyoung”

Maldo andwae,” gumamku tidak percaya.

Mataku beralih dari Hyomin pada Sooyoung yang matanya terlihat mulai berkaca-kaca, dan tak lama kemudian air matanya pun mengalir membasahi pipinya. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi mendengar apa yang dikatakan Hyomin ini pasti sangat mengejutkannya. Sama terkejutnya denganku yang benar-benar tak menyangka jika Sooyoung ternyata adalah dongsaeng-nya Hyomin. Tapi itu menjelaskan segalanya kenapa Kim Jung Ah dan ketiga namja itu menyerang Sooyoung jika dia memang berhubungan dengan Daehan Group. Bukankah salah satu namja itu juga mengatakan dia harus menyingkirkan Sooyoung untuk mendapatkan hadiah yang besar? Apa itu maksudnya karena Sooyoung sebenarnya adalah pewaris Daehan Group?

“Aku minta maaf karena baru menemukanmu setelah sekian lama,” Suara Hyomin membuyarkan pikiranku sendiri. Perhatianku pun teralih kembali padanya dan mendengarkan apa yang dia katakan selanjutnya. “Sooyoung-ah… ani—maksudku, Hyosung-ah! Maukah kau memaafkan eonni-mu ini?”

Sooyoung tidak bereaksi tapi aku bisa melihat tangannya yang bergetar di bawah meja. Secara refleks akupun meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan erat untuk bisa lebih menenangkannya. Meskipun aku sangat ingin mengatakan sesuatu, tapi aku menahannya karena aku tidak berada dalam posisi untuk ikut campur dalam urusan ini walapun secara tidak langsung aku terlibat. Pikiranku melayang pada Hyosung, dan aku membayangkan bagaimana bagaimana jika dia mengetahui semua ini? Apa dia akan menerima keadaan yang sebenarnya? Bukankah itu berarti selama ini dia hidup sebagai orang lain?

“Sooyoung-ah,” panggil Hyomin pelan. “Waeyo? Apa kau marah padaku karena aku tak menemukanmu lebih cepat?”

Aniyo, keugo aniraguyo” sahut Sooyoung kemudian. “Aku—geunyang—ini terlalu mengejutkan untuk aku terima sekarang. Aku—kurasa aku sebaiknya pergi,” katanya langsung mendorong kursinya dan melangkah pergi meninggalkan kami bertiga.

Baik Hyomin ataupun Jae Hoon tidak ada yang mengejarnya, jadi akupun bergegas menyusul Sooyoung. Aku berhasil mengejarnya saat dia baru saja keluar dari restoran. Dia sedang berdiri mematung di tempatnya sambil menundukkan kepala. Aku bisa melihat kedua bahunya naik turun, seperti seseorang yang sedang menangis. Perlahan akupun melangkahkan kaki mendekatinya, lalu menyentuh bahunya. Sooyoung menolehkan kepala ke arahku dan diapun langsung membalikkan tubuhnya untuk memelukku dengan erat.

Aku membiarkan Sooyoung menangis di pelukanku dan hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggungnya. Aku hanya berharap dia akan cepat menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya adalah bagian dari keluarga Daehan Group, dan bahkan mewarisi sebuah perusahaan besar. Meskipun itu mengejutkan dan menyakitkan, tapi biar bagaimapun dia tetap harus menerimanya ‘kan? Tapi untuk saat ini, aku akan memastikan diriku aka nada dan terus bersama Sooyoung karena dia pasti membutuhkan seseorang untuk menjadi tempatnya bersandar. Sebagai namjachingu-nya, aku harus melakukan itu karena aku sendiripun tak mau melihat air mata Sooyoung dan aku akan melakukan segala cara untuk membuatnya tersenyum lagi.

__

Sooyoung POV

“Jadi… itu semua benar?” sahutku setelah mendengar cerita yang sama seperti yang Hyomin katakan padaku dari Hyosung. “Aku—aku adalah—“

“Putri kedua Daehan Group. Itu benar,” sahut Hyosung dengan cepat. “Kau sudah mendengar sendiri detail ceritanya dariku dan Hyomin eonni, dan itu bahkan sama dengan ceritamu saat kau masih kecil. Lalu kenapa kau masih meragukannya?”

“Aku tidak meragukannya. Aku—aku bahkan mengingat beberapa, tapi—“ Aku berhenti sesaat lalu menatap Hyosung dengan lekat. “Bagaimana denganmu, eonni?”

“Aku?” celetuk Hyosung terlihat terkejut. Lalu diapun menyenderkan tubuhnya pada dinding restoran karena kami sekarang memang sedang berada di belakang restoran, tempat yang aku datangi setiap kali aku ingin berbicara dengan Hyosung tanpa diketahui kedua temanku saat di restoran. “Yah, mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak menjadi bagian dari dunia ini, dan sebentar lagi akupun benar-benar akan pergi. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku,”

“Tetap saja, Jeon Hyosung… Itu namamu selama ini dan aku—aku tak mungkin memakai nama itu meskipun nama itu adalah namaku saat aku masih kecil”

“Kau bisa tetap memakai nama Choi Sooyoung dan memberitahu Hyomin eonni,” Hyosung kembali menyahut perkataanku dengan cepat. “Apa kau tahu, aku juga punya nama selain nama Hyosung yang diberikan appa saat itu”

Aku diam saja dan menatap Hyosung dengan lekat.

“Kim Ah Reum,” celetuk yeoja itu kemudian. “Itu nama asliku”

“Kim Ah Reum?” sahutku. “Itu nama yang cantik,”

Hyosung tersenyum, lalu diapun berpindah posisi. Kali ini dia duduk di sebelahku dan pandangannya menatap lurus ke depan. “Aku tak tahu banyak seperti apa aku sebagai Kim Ah Reum. Nama itupun terdengar asing bagiku, tapi setidaknya aku tahu siapa namaku ‘kan? Itu tidak terlalu buruk”

“Bagaimana dengan keluargamu?”

Molla,” jawab Hyosung sambil mengendikan bahu, dan entah kenapa aku tak yakin dia benar-benar tidak tahu tentang keluarganya. “Seseorang memberitahuku jika mereka sudah meninggal. Aku tidak ingat, dan tidak ada ingatan sedikitpun tentang mereka di kepalaku”

Eonni—“

“Jangan merasa kasihan padaku, Sooyoung-ah” sela Hyosung seraya menolehkan kepalanya ke arahku. “Sungguh, aku bukan seseorang yang pantas menerima itu. Sebenarnya aku justru berterima kasih dan bersyukur karena appa—dia membawaku ke rumah itu dan aku hidup sebagai dirimu”

“Kau tidak menyesal?” tanyaku hati-hati karena aku khawatir itu akan menyinggung perasaannya.

“Satu-satunya hal yang aku sesali adalah aku tidak mengenalmu sedikit lebih awal, dan juga Hyomin eonni—“ Dia kembali menghentikan kata-katanya dan pandangannya pun menerawang. Aku memilih untuk menunggunya melanjutkan bicara, “—dia sebenarnya menyayangiku dan aku tak pernah mengetahuinya. Dia—dia hanya tak tahu bagaimana harus bersikap di depanku setelah dia mengetahui bahwa aku bukan dongsaeng-nya”

Aku kembali diam.

Suasana diantara aku dan Hyosung mendadak hening. Tidak ada lagi pembicaraan selama beberapa saat. Pikiran tentang Hyomin dan Daehan Group kembali masuk ke kepalaku dalam keheningan itu. Mataku terpejam, membayangkan masa kecilku yang entah bagaimana sedikit bisa aku ingat walaupun tidak jelas. Aku tahu dan aku mengerti bahwa apa yang dikatakan Hyomin tentang aku adalah dongsaeng-nya itu benar, dan aku tak meragukan itu. Karena aku memang memiliki semacam perasaan aneh yang benar-benar tidak bisa aku jelaskan saat bertemu dengan Hyomin untuk pertama kalinya. Bahkan saat aku mengenal Daesung ahjussi—ah, maksudku—appa. Bukankah semua pertanyaanku tentang kenapa dia sangat baik padaku sudah terjawab sekarang? Dia pasti melakukannya karena dia merasa atau bahkan mungkin tahu bahwa aku adalah putrinya.

Tanpa terasa air mataku menetes saat memikirkan appa—Daesung ahjussi. Aku hanya mengenalnya sebentar, dan itupun sebagai orang lain. Aku bahkan tak melakukan apapun untuk appa, tapi dia sudah pergi meninggalkanku. Seandainya saja aku mengetahui ini semua lebih cepat, aku rasa semuanya pasti akan berbeda. Dan Hyosung—dia mungkin tidak akan berada dalam keadaannya yang seperti ini sekarang. Tapi takdir benar-benar berjalan dengan unik, dan tidak ada yang pernah menyangkanya.

Aku mendesah panjang dan mengalihkan perhatianku pada Hyosung yang sedang memainkan kakinya. Meskipun dia berkata dia tidak apa-apa, dan memintaku untuk tidak mengasihanina tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya. Aku bahkan tak tahu apa yang akan aku lakukan jika aku berada dalam posisinya. Menurutku, takdirlah yang memainkannya dengan sangat kejam seperti ini. Bagaimana tidak? Di sepanjang hidupnya dia tak pernah mengenal orang tuanya dan hidup sebagai orang lain. Dia bahkan dibunuh, dan baru mengetahui bahwa dia bukan anak dari keluarga yang selama ini dia pikir adalah keluarganya setelah dia berada di dunia yang berbeda. Mengetahui nama aslinya itu sama sekali tidak membantu karena biar bagaimanapun orang akan tetap mengingatnya sebagai Jeon Hyosung, bukan Kim Ah Reum dan sampai kapanpun aku tak akan memakai nama itu.

Eonni,” kataku setelah diam cukup lama. Hyosung langsung menolehkan kepalanya ke arahku, dan akupun melanjutkan bicara. “Katamu kau akan segera pergi, ‘kan?”

Eo,

Aku diam sesaat, berpikir apa aku seharusnya mengatakan ini atau tidak. Tapi ini benar-benar terlintas di kepalaku begitu saja dan entah kenapa akupun ingin melakukannya untuk Hyosung.

Wae? Kau senang karena tak akan berbicara dengan gwishin lagi? Hyosung berbicara lagi karena aku terus diam.

Aku tersenyum tipis, “Aniyo. Ini memang pertama kalinya aku berbicara dengan gwishin, dan bahkan memanggilnya eonni“ kataku. “Aku justru berharap kau tetap disini, tapi aku tahu itu tidak mungkin” lanjutku.

Geuraesseo?

Geuraesseo… eonni—” Aku langsung menyambung. Mataku lekat menatap Hyosung karena aku ingin tahu bahwa aku benar-benar serius mengatakan ini. “Pakailah tubuhku sampai sisa waktumu berakhir, eonni. Nan jeongmal gwenchanayo

Mwo?

“Mungkin ada banyak hal yang masih ingin kau lakukan, karena itu aku—aku meminjamkan tubuhku lagi padamu, eonni. Aku ingin kau melakukan hal-hal yang ingin kau lakukan” kataku mengungkapkan apa yang ingin aku lakukan. “Mungkin saja kau juga ingin mengucapkan selamat tinggal atau bagaimana karena kau—kau tak sempat melakukannya karena kepergianmu yang mendadak”

Hyosung diam saja, tapi dia menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat diapun kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arahku. Aniya. Aku tidak perlu melakukannya lagi sekarang katanya.

W—Waeyo?”

Geunyang—aku ingin menunggu saja sampai waktuku di dunia ini benar-benar berakhir. Itu sudah cukup bagiku untuk meminjam tubuhmu karena akupun sudah tidak perlu melakukan apapun lagi

“Kau tak ingin mengatakan apapun pada Kyuhyun oppa? Atau Hyomin eonni?”

Hyosung tak langsung menjawab, tapi aku melihatnya seperti menghela napas panjang karena kedua bahunya naik turun. Lalu diapun berkata, “Tidak. Lagipula aku tak bisa memberitahu mereka jika aku meminjam tubuhmu, jadi apa yang bisa aku katakan?

“Bagaimana dengan Kyuhyun oppa?” tanyaku ingin tahu.

Kenapa dengannya? sahut Hyosung dengan ekspresi yang terkesan santai. Dia namjachingu-mu sekarang, dan aku senang karena dia memilikimu, Sooyoung-ah. Aku tak mau membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri

“Tetap saja—”

Dia akan baik-baik saja, aku tahu itu Hyosung dengan cepat menyela perkataanku. Ada kau disisinya sekarang, dan aku tak akan khawatir karena kau juga sangat mencintainya

Kali ini aku yang memilih untuk tidak memberi tanggapan karena aku bingung harus mengatakan apa.

Hyosung melanjutkan, Jujur saja, aku sendiri heran kenapa aku tak pernah sekalipun cemburu melihatmu bersama Kyuhyun oppa. Aku justru merasa senang melihat kalian berdua katanya dengan pandangan menerawang. Tapi, Sooyoung-ah. Apa kau sudah bertemu Jae Hoon-ssi? tanyanya tiba-tiba.

“Jae Hoon oppa?”

Hyosung mengangguk, Dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa kau sebenarnya adalah sepupunya. Aigoo… Dia sangat mencintaimu, tapi siapa yang menyangka jika yeoja yang dia sukai justru sepupunya sendiri?

Aku menundukkan kepala, mengingat semua hal yang telah Jae Hoon lakukan untukku selama ini. Semua perasaan Jae Hoon padaku itu, aku memang mengatahuinya. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya. Mungkin itu karena aku sudah terbiasa dengannya dan segala hal yang dilakukan untukku selama beberapa tahun ini,jadi aku hanya menganggapnya sebagai oppa-ku. Aku tahu bahwa aku salah karena tak pernah mengatakan bagaimana perasaanku padanya, tapi aku benar-benar ingin dia terus disisiku sebagai seorang oppa. Karena aku khawatir jika dia meninggalkanku saat aku mengatakan apa yang aku rasakan padanya itulah yang membuatku bersikap egois padanya.

Aku mendesah pelan, “Kurasa aku harus meminta maaf padanya, ‘kan?” kataku setelah diam cukup lama.

Oh? Meminta maaf?

“Untuk semua yang terjadi diantara aku dan dia,” jawabku langsung. “Aku—tidak banyak yang aku lakukan untuknya selama ini dan aku hanya terus bergantung padanya dan menyakitinya”

Dia mencintaimu, jadi kau tak perlu merasa seperti itu untuknya sahut Hyosung tanpa menatap ke arahku. Dia memang terluka dan tak pernah menyangka jika kau adalah sepupunya sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Dia pun tak mungkin lagi mencintaimu setelah dia mengetahui kebenarannya

Aku kembali diam.

Menurutku yang terbaik untuk kau lakukan sekarang pada Jae Hoon-ssi adalah dengan membiarkannya sendiri untuk beberapa saat. Biarkan saja dia sampai dia bisa menerima kenyataan” kata Hyosung meneruskan perkataannya. Dia pasti akan datang padamu lagi atau kau bisa menemuinya setelah keadaannya lebih tenang Dia menambahkan.

Aku mendengarkan semua yang Hyosung katakan itu, lalu tersenyum tipis. “Senang sekali rasanya,” kataku. “Ada seseorang yang memberitahuku untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu seperti ini benar-benar menyenangkan”

Karena kau selalu membuat keputusan sendiri selama ini, kan?

Eo,” jawabku sambil menganggukkan kepala.

Kau tidak sendirian lagi sekarang, Hyosung tersenyum saat mengatakannya padaku. Kau punya eonni yang menyayangimu, namjachingu yang mencintaimu, dan dua sahabat yang akan selalu mendukungmu

“Dan aku punya kau yang memberiku itu semua untukku,” sambungku dengan cepat yang langsung membuat Hyosung tercengang. “Geundae eonni… Apa hal yang paling ingin kau lakukan saat kau berkencan dengan Kyuhyun oppa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Oh? Berkencan dengan Kyuhyun oppa? Hyosung mengulang perkataanku yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. Lalu diapun terlihat sedang memikirkan sesuatu dan berkata, Camping. Kurasa itulah yang sangat ingin aku lakukan saat aku berkencan dengan Kyuhyun oppa. Tapi kau tahu sendiri, kami tak pernah memiliki waktu untuk itu

Ah, camping?” gumamku sambil diam-diam mengambil ponselku dan menulis pesan disana. “Kenapa camping, eonni?” Aku berusaha untuk terus mengalihkan perhatian Hyosung.

Emm—geunyang… Rasanya pasti menyenangkan jika bisa menikmati pemandangan gunung yang penuh dengan bunga-bunga saat musim semi seperti ini. Menghirup udara segarnya dan menikmati suasana disana bersama seseorang yang spesial itu pasti juga terasa spesialjawab Hyosung sambil menyunggingkan segaris senyuman. Lalu dia mendesah pelan, Sayangnya aku tak pernah merasakan itu, kan? Karena aku pergi secepat ini Kepalanya tertunduk saat mengatakannya.

Aku menghela napas pelan mendengarkan perkataan Hyosung itu. Lalu tiba-tiba kembali terlintas di kepalaku untuk melakukan apa yang sebelumnya aku pikirkan. Tanpa pikir panjang, akupun meraih tangannya. Membuat yeoja itu langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejutnya.

Sooyoungah, mwohaneungeoya?” tanya Hyosung. Lalu matanya membelalak, seperti tahu apa yang ingin aku lakukan. Andwae! Kau tak perlu—

Belum sempat Hyosung menyelesaikan kalimatanya, aku cepat-cepat mendorong tubuhku dan menabrakkannya pada Hyosung. Aku tahu bahwa aku tak akan menembusnya tapi aku juga tak akan bertabrakkan dengannya. Aku hanya perlu memejamkan mata dan mengosongkan pikiranku agar Hyosung benar-benar bisa masuk ke dalam tubuhku. Itu tidak sulit karena akupun sudah beberapa kali melakukannya entah disengaja atau tidak disengaja. Lagipula tidak ada cara lain agar dia mau memasuki tubuhku lagi selain ini dan sudah terlalu terlambat bagiku untuk mundur sekarang.

__

Hyosung POV

Sungguh! Aku benar-benar tidak percaya apa yang sudah Sooyoung lakukan padaku. Bagaimana bisa dia memaksaku masuk ke tubuhnya saat ini? Lihat, sekarang aku bahkan sedang berada di dalam mobil Kyuhyun dan kami sedang dalam perjalanan menuju 300 Samga-ri, Punggi-up, Yeongju-si—itulah yang tertera di GPS, tapi pada intinya kami pergi ke Seobaeksan National Park untuk camping. Aku tak tahu kapan dan bagaimana Sooyoung mengajak Kyuhyun, tapi sepertinya itu terjadi tepat sebelum dia mendorong tubuhnya padaku. Mungkin dia diam-diam mengirim pesan pada Kyuhyun dan meminta untuk pergi camping denganku karena tiga hari setelah itu, Kyuhyun menjemputku lengkap dengan perlengkapan camping-nya.

“Apa kau lelah?” tanya Kyuhyun yang langsung membuyarkan pikiranku. “Perjalanannya memang lama, mianhae

Aniya, gwenchanayo” sahutku langsung. “Aku justru senang karena bisa bersamamu cukup lama seperti ini”

“Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin berkemah, Sooyoung-ah? Apa kau ingin menenangkan dirimu atau bagaimana setelah apa yang terjadi?”

Geunyang—” Aku diam sesaat dan berpikir. “Aku ingin menikmati waktuku bersamamu, agi-ya. Sebelum aku benar-benar pergi” kataku dengan sangat pelan dan aku tahu Kyuhyun tidak mendengarnya.

“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Kyuhyun kemudian.

Aniya, amugeotdo” jawabku dengan cepat. “Aku sudah sangat ingin melakukan ini, jadi aku sangat bersemangat”

Geurae?” celetuk Kyuhyun sambil membelokkan mobilnya ke arah lokasi parkir yang disediakan di dekat Samga-ri ini. Lalu mobilnya pun berhenti dengan mulus, dan dia kembali berkata padaku. “Tapi kita harus berjalan untuk sampai ke lokasinya. Apa itu tidak apa-apa?”

Geureomyo,” sahutku sambil melepas sabuk pengamanku dan keluar dari mobil Kyuhyun.

Akupun langsung membantu Kyuhyun mengeluarkan beberapa perlengkapan kemah. Kami tidak perlu membawa tenda karena memang sudah disediakan tenda di lokasinya, dan hanya perlu membayar uang sewanya. Lalu setelah itu, kamipun mulai menyusuri bebatuan dan beberapa anak tangga dan kembali bebatuan lagi. Meskipun cukup melelahkan, tapi itu benar-benar sebanding dengan pemandangan di sepanjang perjalanannya karena bunga-bunga Azalea bermekaran sangat indah disini. Beberapa kali aku meminta Kyuhyun untuk berhenti berjalan untuk menikmati pemandangan ini dan juga untuk menghela napas.

“Sebentar lagi kita sampai,” kata Kyuhyun saat untuk ketiga kalinya aku memintanya berhenti. “Tenang saja, kita tak akan naik sampai ke puncaknya. Cukup di Samga-ri saja,”

Aku mengangguk singkat.

Kajja. Aku akan membantumu,” Kyuhyun langsung meraih tanganku dan menuntunku kembali menyusuri jalanan bebatuan ini untuk benar-benar sampai di lokasi perkemahannya.

Kyuhyun benar, lokasinya memang tidak jauh lagi dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dari tempat terakhir kami berhenti. Sementara aku beristirahat untuk melemaskan kakiku, namja itu pergi untuk menyewa tenda. Beberapa kali aku menghela napas panjang dan mengatur napasku sendiri. Yah, meskipun aku gwishin tapi tetap saja ini melelahkan untukku. Apalagi—sepertinya Sooyoung bukanlah tipe orang yang suka berolahraga jadi rasanya aku cepat lelah padahal hanya berjalan beberapa menit saja untuk sampai di tempat ini.

“Minumlah ini,” Tiba-tiba sebotol minuman segar tersodor di depanku, dan ternyata itu adalah Kyuhyun. Aku mengambilnya, lalu namja inipun duduk di sebelahku. “Mereka sedang menyiapkan tendanya. Disana” katanya sambil menunjuk ke satu arah.

Aku memicingkan mata menatap arah yang ditunjuk Kyuhyun dan melihat dua orang namja yang sedang berkutat memasang tendanya. Lalu pandanganku pun beralih pada Kyuhyun yang sedang memandangiku dengan tersenyum. Satu alisku terangkat, tapi dia justru semakin menyunggingkan senyumnya.

Waeyo?” tanyaku pada akhirnya.

Amugeotdo aniya. Kau hanya terlihat menggemaskan saat sedang kelelahan seperti ini” jawab Kyuhyun sambil mengacak pelan rambutku. “Bisa saja kita berkemah di Nangji, tapi kau berkata jika kau ingin pergi ke gunung dan menikmati suasana disini”

“Lalu dari sekian banyak gunung, kenapa Seobaeksan?”

Ah, itu—“ Kyuhyun terlihat ragu untuk mengatakannya. Tapi pada akhirnya dia tetap berbicara. “Kau tidak akan marah ‘kan jika aku memberitahumu?”

Oh? Tentang apa?” tanyaku penasaran.

Kyuhyun menarik napas singkat, “Itu karena Hyosung” katanya tanpa menatap ke arahku. “Aku sedang berusaha membuatmu kesal atau cemburu atau perasaan lainnya. Tapi jujur, saat kau memberitahuku bahwa kau ingin berkemah di gunung, aku teringat Hyosung”

Aku diam saja.

“Aku teringat apa yang dia katakan lebih tepatnya” Kyuhyun kembali berbicara, terlihat jelas dia sedang membuatku untuk tidak salah paham padanya. “Dia berkata jika Seobaeksan memiliki pemandanga yang berbeda dari gunung-gunung lainnya, dan entah kenapa aku ingin mengajakmu kesini”

Aku tersenyum, “Gwenchanayo” kataku berusaha bersikap sebiasa mungkin. “Aku memang ingin pergi kesini dan kau memilih tempat yang tepat, oppa

“Kau tidak marah padaku, Sooyoung-ah?”

“Tidak. Kenapa aku harus marah?”

“Yah—karena aku membawa-bawa nama Hyosung mungkin” jawab Kyuhyun sambil mengendikan bahu.

“Apa kau masih memikirkannya?”

Eo. Ani—maksudku—“ Kyuhyun telrihat terkejut dengan perkataannya sendiri dan bahkan langsung menghentikan kata-katanya, lalu diapun menatapku dengan lekat. “Aku memikirkannya, tapi lebih ke arah yang lain. Aku tahu seharusnya aku tak seperti ini lagi, hanya saja mengetahui bahwa dia sebenarnya bukanlah bagian dari keluarga Daehan Group membuatku sedikit gelisah”

Aku mencelos, tak menyangka jika pembicaraan tiba-tiba mengarah kesana.

“Selama ini dia hidup sebagai orang lain dan harus pergi dengan cara yang seperti itu. Bukanvah itu tidak adil untuknya?” Kyuhyun melanjutkan perkataannya. “Aku tak tahu apa aku masih berhak marah atau tidak pada situasi yang dia alami. Karena saat aku memikirkannya, aku merasa bersalah padamu. Dan saat aku tidak memikirkannya, aku merasa aku bukanlah seseorang yang baik untuknya selama ini”

Aku mendesah pelan, tak tahu harus berkata apa di depan Kyuhyun ini. Ingin rasanya aku memberitahukan segalanya padanya, tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa melakukannya.

“Kau tahu, ‘kan? Namanya yang sebenarnya bukan Jeon Hyosung, dan dia tak pernah mengetahui itu” kata Kyuhyun lagi sambil mengalihkan pandangannya dariku.

“Kim Ah Reum,” ucapku dengan spontan. Membuat Kyuhyun kembali menoleh ke arahku. “Itu namanya yang sebenarnya,”

“Darimana kau—“

Ah, itu—Hyomin eonni yang memberitahuku” jawabku cepat-cepat meskipun aku juga tidak yakin apa Hyomin benar-benar mengetahuinya atau tidak.

“Kim Ah Reum?” Kyuhyun mengulang menyebut namaku. Lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya, “Nama yang cantik” gumamnya yang masih bisa aku dengar.

Aku ikut tersenyum, tapi berpura-pura tidak mendengarnya dan diapun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Untuk beberapa saat kami sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku benar-benar tak tahu apa yang sekarang ada di dalam pikiran Kyuhyun, tapi senyuman terus terukir di wajahnya dan aku juga tak tahu apa aku harus senang dengan itu atau tidak. Bukankah aku sedang meminjam tubuh Sooyoung sekarang?

Geuraesseo, Sooyoung-ah” ucap Kyuhyun kembali memecah keheningan. “Apa kau sudah memutuskannya?”

Keningku berkerut, “Memutuskan apa?”

“Apa kau akan tinggal bersama Hyomin di rumah itu dan menggantikan Hyosung di Daehan Group?”

Aku mengerjapkan mata karena aku benar-benar tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Sooyoung pun tak pernah memberitahuku mengenai hal ini meskipun aku tahu cepat atau lambat dia harus membuat keputusan.

“Apa keputusanmu?” tanya Kyuhyun karena aku terus diam.

Geurissae,” sahutku tidak yakin keputusan apa yang akan Sooyoung ambil. Karena akupun tak mungkin sembarangan bicara, apalagi untuk sesuatu yang seperti ini. “Untuk saat ini, aku masih memikirkannya” kataku menambahkan.

“Apapun keputusanmu itu, aku pasti akan mendukungmu, Sooyoung-ah” Kyuhyun menyahut. “Cukup lakukan saja sesuatu apa yang kau inginkan, dan jangan memaksakan dirimu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai”

Arraseo,”

Kyuhyun kembali tersenyum dan mengacak pelan rambutku lagi. Lalu diapun menunjuk ke arah tenda kami yang ternyata sudah berdiri. Tanpa banyak bicara, diapun langsung mengajakku pergi kesana. Aku menurut, dan sambil menggenggam tangannya, aku melangkah ke arah tenda kami yang menampilkan pemandangan yang sangat indah sebagai latar belakangnya. Aku masih tak percaya jika aku pada akhirnya bisa sampai ke tempat ini dan melihat pemandangan yang indah seperti ini bersama Kyuhyun yang sekarang sedang memelukku dari belakang. Aku benar-benar berterima kasih pada Sooyoung karena telah mengijinkanku merasakan ini dengan meminjam tubuhnya. Meskipun di mata Kyuhyun aku tetaplah Sooyoung, itu sudah cukup untukku.

**

“Apa kau sudah memutuskan untuk tinggal bersamaku, Sooyoung-ah?” tanya Hyomin saat dia datang ke restoran.

Ajikdo,” jawabku sambil menundukkan kepala.

Gwenchana. Aku tak akan memaksamu atau memintamu untuk membuat keputusan dengan cepat” kata Hyomin sambil tersenyum ke arahku. “Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu karena eomma—yah, sampai saat ini aku tak tahu dia berada dimana”

Aku memilih untuk tidak berkomentar kali ini.

“Aku hanya sudah tidak sabar untuk mengumumkan bahwa kau adalah dongsaeng-ku, dan memintamu untuk segera dilibatkan dalam urusan perusahaan” kata Hyomin sambil mengaduk-aduk orange juice di depannya. “Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa melakukannya secepat itu. Karena besok adalah 49 hari sejak kepergian Hyosung, dan aku harus mengirimnya pergi. Biar bagaimanapun aku tetaplah kakaknya, dan satu-satunya keluarganya”

Aku mengangguk singkat dan berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata di depan Hyomin.

“Menurutmu, apa Hyosung masih menganggapku sebagai keluarganya jika dia mengetahui semua ini?” tanya Hyomin meminta pendapatku. “Kau tahu, hubunganku dengannya tidak terlalu baik meskipun juga tidak terlalu buruk. Kami hanya jarang mengobrol, dan akupun tidak tahu banyav tentangnya. Tapi apa dia akan tetap menganggapku sebagai kakaknya setelah semua yang aku lakukan? Juga setelah eomma-ku—“

“Tentu saja,” sahutku tanpa menunggu Hyomin menyelesaikan kalimatnya. “Hyosung-ssi pasti akan tetap menganggapmu sebagai keluarganya dan juga kakaknya”

Geurae? Aku harap begitu,” ujar Hyomin terlihat sedih. “Aku hanya menyesal karena tidak mengenalnya lebih jauh padahal dia sudah mengambil peran besar dan juga tanggung jawab yang besar meskipun dia tak tahu apa-apa”

Aku benar-benar lebih banyak diam kali ini karena aku tak tahu bagamana harus mengomentari diriku sendiri tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Aku juga harus tetap menjaga cara bicaraku dan apa yang aku katakan agar tidak menyulitkan Sooyoung nantinya.

Eonni,” panggilku kemudian karena entah bagaimana terlintas di kepalaku untuk melakukan sesuatu dengan Hyomin. “Apa kau sibuk hari ini?” tanyaku.

Wae? Kappjaki—“

Aku tersenyum, “Eonni. Ayo kita pergi ke Everland” seruku antusias.

Everland?”

Eo,” jawabku sambil menganggukkan kepala. “Aku—aku ingin memiliki kenangan yang indah saat bersamamu. Jadi, ayo kita bersenang-senang disana dan melupakan semua hal”

Hyomin sama sekali tidak bereaksi atau memberi tanggapan apapun. Tapi dia terus menatapku dengan lekat dan ekspresinya pun terlihat tidak percaya. Menurutnya pasti aneh ‘kan karena aku tiba-tiba mengajaknya pergi ke Everland? Aku juga merasa aneh karena terlintas pikiran itu di kepalaku, tapi aku benar-benar ingin memiliki sesuatu yang indah yang bisa aku ingat bersama Hyomin. Setidaknya satu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan semuanya.

Eotte? Shirreo?” tanyaku lagi karena cukup lama Hyomin diam.

“Aku tidak yakin, tapi baiklah” jawab Hyomin.

Senyumku langsung tersungging, lalu akupun berdiri dari tempat dudukku. “Haruskah kita pergi sekarang?”

Oh? Sekarang?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil melangkah mendekati Hyomin lalu mengalungkan lenganku diantara lengannya. Aku memaksanya untuk berjalan bersamaku keluar restoran dan melangkah ke arah mobilnya yang terpakir di depan restoran. Supir ahjussi yang sama langsung membungkukkan badan ke arahku dan Hyomin begitu dia melihat kami datang.

Annyeonghaseyo, ahjussi” sapaku ramah pada supir ahjussi itu. “Kamsahamnida,” kataku sebelum masuk ke dalam mobil.

“Dia memang seperti itu,” komentar Hyomin yang bisa aku dengar dari dalam mobil. Aku tersenyum tapi dengan cepat menyembunyikannya saat Hyomin masuk dan duduk disebelahku. “Kita pergi ke Everland, ahjussi

Ne? Everland?”

Eo, dongsaeng-ku ini berkata dia ingin menaiki bianglala disana” jawab Hyomin disertai tawa pelannya. “Lihatlah, wajahnya sangat bersemangat bukan, ahjussi?”

Aku melihat supir ahjussi ini menatapku dari kaca spion dan mau tak mau akupun tersenyum lebar. Ahjussi itu balas tersenyum ke arahku sebelum kembali terfokus pada kemudi mobilnya yang mulai melaju meninggalkan kawasan Sinchon. Pandangan mataku mangarah pada Hyomin yang sedang berkutat dengan ponselnya dan aku sempat melihatnya sedang mengirim pesan pada seseorang dengan menyebut kata ‘Everland’ di pesannya. Tanpa bertanya aku tahu jika pesan itu ditujukan untuk Sekretaris Lee, karena seperti itulah ekspresiku saat memberitahu sekretaris itu kemana aku akan pergi agar dia bisa dengan mudah menghubungiku atau mencariku jika sesuatu terjadi di perusahaan.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun-ssi?” tanya Hyomin tiba-tiba setelah dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Kurasa kalian sudah berkencan sekarang. Aku benar, ‘kan?”

Eo, majayo

Aigoo… ini suatu kebetulan atau bagaimana?” komentar Hyomin kemudian. “Dari sekian banyak namja, kau berakhir dengan Kyuhyun-ssi?”

“Memangnya kenapa, eonni?”

“Aku tak membencinya, jadi jangan menatapku seperti itu” sahut Hyomin dengan cepat, membuatku langsung mengubah ekspresiku menjadi lebih santaik Aku benar-benar masih harus mengendalikannya sekalipun aku mulai terbiasa dengan tubuh Sooyoung ini. “Kyuhyun-ssi, dia namja yang baik. Aku tahu itu, dan aku bisa melihatnya dari caranya memperlakukan Hyosung. Tapi apa itu tidak apa-apa untukmu dan juga dia?”

“Tentang apa?”

“Yah—tentang semua yang terjadi” jawab Hyomin sambil mengendikan bahu. “Kau tahu apa maksudku tanpa aku menjelaskannya padamu, ‘kan?”

Aku mengangguk.

Geuraesseo?”

Emm—itu sulit pada awalnya,” kataku menjawab. “Tapi kami akan baik-baik saja setelah kami terbiasa”

“Aku harap begitu,” komentar Hyomin. “Astaga, aku bahkan sempat berpikir kau dan Jae Hoo-ie berkencan sebelumnya”

“Dia benar-benar menyukaiku, ‘kan?” tanyaku yang langsung dijawab anggukkann kepala oleh Hyomin. “Dimana dia sekarang, eonni? Aku sama sekali tak bisa menghubunginya”

Hyomin menghela napas panjang sebelum menjawab. “Berlibur, sendirian. Katanya dia ingin menenangkan diri. Tentu saja, itu pasti menyakitkan untuknya”

Aku kembali tidak memberi tanggapan.

Lalu mobilpun mulai berjalan melambat dan akhirnya berhenti di pintu gerbang Everland. Tanpa menunggu apapun lagi aku mengajak Hyomin sambil mengalungkan lenganku memasuki taman bermain terbesar di Korea ini. Aku langsung menyeret Hyomin ke sebuah kawasan bernama Global Fair yang terletak di dekat pintu masuk. Mataku mengerjap beberapa kali saat menyusuri jalan-jalannya dan memandang replica bangunan-bangunan dan kastil yang berasal dari berbagai negara. Lokasinya sangat menarik karena dihiasi oleh bangunan-bangunan indah dengan aneka bentuk dan gaya arsitektur serta hiasan warna-warni khas negeri dongeng.

Oh, eonni! Ayo kita berfoto disana,” seruku sambil menunjuk ke sebuah taman bunga indah bergaya ‘french gardens’ yang dihiasi dengan bunga indah warna-warni. “Yeogi, yeogi” seruku lagi sambil mengeluarkan ponselku sendiri dan mulai melakukan banyak gaya bersama Hyomin.

Kajja, kita pergi ke tempat lainnya” ajak Hyomin setelah kami cukup puas berada di kawasan Global Fair ini.

Banyak hal yang benar-benar kami lakukan di Everland ini dan aku sangat senang karena bisa sedekat ini dengan Jeon Hyomin, yeoja yang selama ini telah menjadi eonni-ku. Bahkan dia sangat antusias saat mengajakku menaiki beberapa wahana di beberapa kawasan di Everland ini, seperti di American Adventure, European Adventure dan Magic Land. Mungkin ini pertama kalinya aku bisa sedekat ini dengan Hyomin dan juga pertama kalinya aku tertawa lepas bersamanya. Aku benar-benar tak akan melupakan ini karena ini akan menjadi perpisahan yang indah bagiku.

__

-Satu bulan kemudian-

Sooyoung POV

Rumah mewah bercat krem itu terlihat tenang. Tidak ada aktivitas apapun di halamannya yang luas, kecuali dua orang namja yang tengah berdiri di depan sebuah pintu yang sepertinya adalah pintu utama rumah ini. Aku menyapu pandangan rumah bertingkat dua ini sekilas sebelum menekan tombol di dinding samping pagar. Tak lama kemudian, gerbangnya terbuka dan akupun melangkah masuk sambil menyeret koperku. Aku sengaja memperlambat langkah kakiku, menikmati setiap detail rumah yang akan menjadi tempat tinggalku sekarang. Ya, benar. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah ini dan menerima kenyataan bahwa aku adalah putri kedua dari Daehan Group.

Setelah puas memandangi bagian depan rumah, mataku pun berputar dan beralih pada halaman taman depan yang terletak sedikit menyamping di ujung barat. Aku mengerutkan dahi. Ada sosok seorang namja yang begitu familier sedang duduk di ayunan rotan. Aku menajamkan penglihatan, dan tersenyum tipis saat namja itu menolehkan kepalanya ke arahku, seperti sadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Tanpa ragu, akupun berjalan mendekati namja itu dan segera memasang ekspresi datar agar dia tahu bahwa aku marah padanya karena pergi berlibur dan sama sekali tidak menghubungiku.

Jaljaseo?” Namja itu, Jeon Jae Hoon, langsung bertanya padaku begitu aku sudah berada di hadapannya.

Geureomnyo,”

Dahaenginda” sahut Jae Hoon. “Kenapa tidak menelepon? Aku bisa menjemputmu,”

Satu alisku terangkat sambil menatap Jae Hoon dengan tatapan datar. “Bukankah kau yang seharusnya meneleponku, Jae Hoon-ssi?”

Jae Hoon mengerjapkan mata, lalu diapun tersenyum. “Ah, kau sedang marah padaku. Majayo, Sooyoung-ssi?”

“Tentu saja! Memangnya siapa yang tidak akan marah jika seseorang pergi begitu saja untuk berlibur sendirian. Satu bulan, dan tidak menelepon sama sekali” sahutku dengan nada tajam.

Geureom, apa kau berharap aku meneleponmu atau bagaimana?”

Aku diam saja. Lalu tanpa mengatakan apa-apa padanya, akupun membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkannya.

“Aku senang melihatmu lagi, uri Jindallae” seru Jae Hoon menghentikan langkahku. Tapi aku tetap berdiri diam memunggunginya. “Selamat datang di rumah ini, sepupuku yang cantik” Dia kembali berbicara.

Aku mendengus kecil, dan tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum. Lalu aku melanjutkan langkahku, memasuki rumah yang terasa asing tapi juga familier. Dua namja yang berjaga di depan pintu tidak lupa membungkukkan badan ke arahku saat aku mendekat. Seakan-akan mereka memang sudah diberitahu bahwa aku akan datang. Kemudian salah satu dari namja itu membukakan pintu utamanya untukku, dan aku cukup terkejut mendapati selusin orang sudah berdiri berjajar di dekat pintu.

“Selamat datang, Huijangnim” sapa mereka kompak sambil membungkukkan badan.

Meskipun aku bingung dan masih terkejut, tapi aku tersenyum lebar. “Kamsahamnida” ucapku membalas.

Seorang yeoja separuh baya melangkah maju ke arahku, dan diapun membungkuk padaku sebelum berbicara. “Sajangnim sudah menunggu Anda. Mari ikut saya,”

Ah, ne” sahutku. Lalu akupun melangkah mengikuti yeoja itu untuk lebih masuk ke dalam rumah.

Sepanjang perjalanan itu, mataku terus terarah pada seluruh isi rumah yang benar-benar membuatku takjub. Semua yang ada disini terlihat sangat mewah, termasuk pilihan warna cat-nya. Saat sampai di sebuah ruangan besar dan terkesan nyaman, mataku langsung menangkap sebuah foto besar yang terpajang di dindingnya. Foto Appa. Aku tersenyum lebar dan memandangi foto itu cukup lama. Tapi kemudian mataku menangkap foto-foto lainnya yang berada di bawah foto besar appa, di sebuah rak kecil setinggi pinggangku. Ada foto Hyosung disana, sedang tersenyum lebar dengan atribut wisuda dan memegang sebuket bunga. Aku melangkah mendekat lalu mengusap foto itu, teringat Hyosung yang menghilang dalam sebuah cahaya menyilaukan sebulan yang lalu.

“Kau harus mengikuti apa yang paling kau inginkan dalam hidupmu, Sooyoung-ah. Karena itu adalah cara terbaik untuk membuatmu bahagia dan mencapai takdirmu. Aku ingin kau juga bahagia bersama orang-orang yang kau cintai”

Aku mengenang kembali kata-kata Hyosung sebelum dia benar-benar menghilang. Dia memang pergi dengan senyuman lebar diwajahnya, persis seperti yang ada di foto ini. Meskipun begitu, aku tak akan pernah melupakannya dan semua hal yang telah dia lakukan untukku.

“Kim Ah Reum eonni,” gumamku. “Hyosung eonni, bogoshipda” kataku sambil mengusap air mataku yang menetes membasahi pipi.

“Sebentar lagi fotomu juga akan terpajang disana, Sooyoung-ah” Sebuah suara terdengar di belakangku. Aku mengusap sekali lagi pipiku, lalu membalikkan badan. Hyomin disana, dan diapun melangkah mendekat ke arahku. “Selamat datang, uri dongsaeng” katanya sambil memelukku dengan erat.

“Kau menyambutku dengan berlebihan, eonni” kataku setelah melepas pelukan Hyomin. “Aku benar-benar terkejut saat mereka manyambutku seperti itu”

Wae? Itu memang pekeraan mereka, ‘kan?”

“Tetap saja. Seharusnya tidak perlu,” sahutku dengan cepat di ruangan ini. Dia mendudukkanku disana, lalu dia duduk disampingku. Seorang yeoja langsung datang membawakan dua cangkir kopi yang terlihat hangat. Hyomin mengambilnya dan memberikannya padaku. “Gomawoyo

“Aku senang karena kau memutuskan untuk tinggal di rumah ini,” kata Hyomin sebelum dia menyerput kopinya sendiri. “Aku berharap kau akan betah disini. Karena ini adalah rumahmu, peninggalan appa untukmu”

“Untukku?”

Eo. Sebelumnya nama Hyosung-lah yang tertulis, tapi itu tetap ditujukan untukmu” jawab Hyomin. “Aku sudah menggantinya dengan namamu karena kau menolak menggunakan nama Hyosung”

Aku tersenyum tipis, “Aku lebih menyukai namaku yang sekarang” jawabku berbohong karena bukan itulah alasanku yang sebenarnya. “Tapi mungkin aku bisa mengganti nama depanku”

“Jeon Sooyoung?”

“Terdengar aneh, ‘kan?”

Hyomin mengangguk, lalu diapun tertawa. “Aku tak terlalu mempermasalahkannya. Asalkan itu membuatmu nyaman maka aku akan memanggilmu dengan cara yang seperti itu”

“Aku mengerti” sahutku.

Geureom, apa kau mau melihat kamarmu atau bagaimana?”

Aku diam dan berpikir, lalu menggelengkan kepala. “Aku akan langsung merebahkan diriku di kasur jika melihat tempat tidurnya” kataku bercanda yang langsung membuat Hyomin tertawa. “Aku ingin disini dulu, mengobrol denganmu, eonni

Geurae? Arraseo,” ujar Hyomin seraya tersenyum tipis. “Ah, baru-baru ini aku mengunjungi eomma di penjara. Dia memintaku untuk meminta maaf padamu”

E—Eomma?” sahutku canggung.

“Kau tak perlu memanggilnya eomma jika kau merasa canggung” Hyomin berkata dan sepertinya bisa menangkap kecanggunganku. “Dia ingin bertemu denganmu, tapi aku menolaknya karena kau pasti tak akan mau bertemu dengannya”

Aniyo,” Aku menyahut dengan cepat. “Aku—aku akan menemuinya nanti” lanjutku yakin tidak yakin.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Sooyoung-ah. Apa yang dilakukan eomma itu memang tidak bisa dimaafkan, dan dia bahkan melakukan sesuatu yang buruk pada Hyosung. Aku tak tahu apa aku—“

“Hyosung eonni memaafkannya,” selaku sebelum Hyomin selesai berbicara. Dia menatapku dengan lekat, dan aku tahu bahwa aku sudah membuat kesalahan dengan kelepasan berbicara. Maka cepat-cepat aku berkata, “Dia—dia datang ke mimpiku. Memintaku untuk memanggilnya eonni dan—dan dia mengatakannya padaku”

“Mengatakan apa?”

Aku memutar otak, mengingat beberapa percakapanku dengan Hyosung. “Katanya dia menyayangimu, dan dia tak pernah menyesal hidup sebagai seorang Jeon Hyosung. Dia memaafkan eomma

“Gadis bodoh,” gumam Hyomin yang masih bisa aku dengar. Lalu pandangannya beralih pada foto Hyosung yang tadi aku lihat. “Kau bahkan tidak pernah datang padaku selama ini” katanya lagi.

Aku diam saja, berpura-pura tidak mendengarkan apa yang Hyomin katakan. Pikiranku kembali melayang pada Hyosung dan 49 hari yang dia lakukan sebelum dia benar-benar pergi. Apa yang avan terjadi jika dia tidak memanfaatkan waktu 49 harinya? Apa aku akan bersama Kyuhyun sekarang dan menemukan keluargaku secepat ini? Apa aku akan bisa merasakan semua ini jika dia tidak datang padaku dan ‘meminjam’ tubuhku? Aku mendesah panjang dan memilih untuk menatap sepatuku sendiri. Tidak banyak yang aku lakukan untuk Hyosung dan itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan untukku. Aku bahkan tidak mengucapkan banyak terima kasih padanya, dan sekarang dia benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Mwoya… Kenapa hening sekali disini?” suara Jae Hoon terdengar menggema saat dia memasuki ruangan dimana aku dan Hyomin berada. “Kupikir kalian akan—yah, katakan saja ramai, saat bertemu. Tapi ternyata aku salah”

“Jae Hoon-ah, kau ini benar-benar”

Waeyo? Memang seperti itu seharusnya, noonim” sahut Jae Hoon. “Kau tahu, Sooyoung-ie, tidak biasanya dia tenang seperti ini. Kau akan tahu sendiri bagaimana ramainya dia nanti”

Aku mendengus kecil mendengarkan perkataan Jae Hoon, tapi memilih untuk diam saja.

Ah, seseorang mencarimu dan menunggumu di taman Iris”

“Taman Iris?”

“Itu di samping belakang rumah ini. Hyosung yang membuatnya dan menamainya” jawab Hyomin memberitahuku.

Aku mengangguk mengerti, lalu beralih pada Jae Hoon. “Nuguji?”

Jae Hoon mengangkat kedua bahunya, lalu dia melangkah pergi meninggalkan ruangan ini tanpa mengatakan apa-apa padaku.

“Sebaiknya kau temui saja dia,” kata Hyomin dengan senyumannya yang penuh arti. “Nikmati waktumu, dan mintalah seseorang untuk membantumu jika kau membutuhkan sesuatu. Arraji?” katanya sebelum ikut pergi menyusul Jae Hoon.

Aku terdiam di tempatku selama beberapa saat, memikirkan siapa kira-kira orang yang menungguku di taman Iris. Apa itu Kyuhyun? Tapi rasanya tidak mungkin karena dia memberitahuku bahwa dia harus memiliki jadwal operasi dan juga ada konferensi setelahnya. Lalu siapa? Tidak mungkin juga itu Yoona ataupun Yuri, karena mereka bahkan belum pernah datang ke rumah ini jadi bagaimana mereka bisa mengetahui taman Iris?

Nuguji?” tanyaku pada diri sendiri sambil melangkahkan kaki menuju taman yang dimaksud oleh Hyomin.

Setelah melewati beberapa ruangan besar lainnya, pada akhirnya aku keluar dari bangunan rumah. Aku mengarahkan pandangan ke sekelilingku, lalu melihat sebuah taman yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna biru. Kakiku melangkah dengan sendirinya menuju ke taman itu meskipun aku tak yakin apa benar itu adalah taman Iris atau bukan. Tapi begitu sampai disana, aku langsung mengerjapkan mataku beberapa kali. Takjub dengan keindahan taman yang hanya bersisi satu jenis bunga. Ada petak-petak kecil di taman ini yang masing-masing petaknya ditumbuhi bunga biru yang sama. Penataannya sangat sederhana tapi benar-benar bisa membuat decak kagum saat berada di tengah taman ini. Aku rasa ini bahkan pertama kalinya aku melihat taman terindah ini dalah suatu bangunan rumah.

Aku menyapukan pandangan ke arah taman sekali lagi, dan tidak melihat siapapun disini selain diriku sendiri. Kedua alisku saling bertaut. Bukankah Jae Hoon berkata ada seseorang yang sedang menungguku di taman Iris? Tapi kenapa tidak ada siapapun? Apa ini bukan taman Iris yang dimaksud? Rasanya aku tak melihat ada lagi taman yang ditumbuhi bunga-bunga sejenis seperti ini. Meskipun aku tak begitu mengerti dengan jenis-jenis bunga—selain Azalea dan cherryblossom, tapi entah bagaimana aku yakin ini adalah bunga Iris. Lalu dimana orang itu?

Ah, aku benar-benar tak memikirkannya” gumamku kemudian. “Mungkin Jae Hoon oppa sedang mengerjaiku” kataku menarik kesimpulan.

Lalu akupun memutuskan untuk membalikkan badan dan tersentak kaget karena seseorang sudah berdiri di depanku. Satu hal yang membuatku lebih terkejut lagi adalah tiba-tiba dia langsung menundukkan kepalanya dan mencium bibirku.

Aku diam membeku di tempatku selama beberapa detik sebelum akhirnya berhasil mengembalikan kesadaranku. Dengan cepat aku menjauhkan tubuhku dan menatap tidak percaya pada seorang namja yang sedang tersenyum lebar ke arahku, Cho Kyuhyun. Dia sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah mengejutkanku dan menciumku. Bahkan telah membuat jantungku berdebar-debar karena keduanya. Seakan bisa mengerti apa yang sedang dipikiranku, Kyuhyun melangkah kakinya mendekat ke arahku sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam sesuatu—seperti benda kecil berbentuk lingkaran, yang segera aku ketahui apa itu.

“Ini pasti akan sangat indah jika terpasang di jarimu, ‘kan?” ujar Kyuhyun seraya menarik tanganku dan langsung memakaikan sebuah cincin di jari manis kiriku. “Ah, ternyata aku benar. Ini memang benar-benar cantik” serunya setelah dia selesai.

Beberapa saat aku hanya dapat terdiam dalam berbagai perasaan. Aku benar-benar tidak menyangka jika Kyuhyun berada disini sekarang dan bahkan memberiku sebuah cincin dengan ukiran yang sangat indah.

“Kelihatannya kau sangat terkejut,” kata Kyuhyun setelah melihatku hanya terdiam. “Mianhae, aku tidak memberitahumu jika konferensi-nya dibatalkan”

“Kau langsung ke sini setelah jadwal operasi-mu?”

Kyuhyun mengangguk, “Aku tidak sempat menyiapkan sesuatu yang romantis atau bagaimana pun kau menyebutnya. Dan aku juga bukan seorang namja yang romantis—“

Ani, ini sudah sangat romantis menurutku” sahutku memotong perkataan Kyuhyun. “Kau tidak perlu melakukan sesuatu hanya untuk menunjukkan perasaanmu padaku, oppa. Cukup seperti ini saja sudah berhasil membuatku terkesan”

Kyuhyun tersenyum, lalu tangannya meraih tanganku yang satunya dan menggenggamnya dengan erat. Aku selalu menikmati sentuhan Kyuhyun ini karena perasaan hangat yang mengalir memenuhi seluruh hatiku setelahnya. Apalagi saat dia mengangkat tanganku pelan, lalu mengecupnya dengan lembut. Aku benar-benar tak tahu apa aku akan sanggung menahan debaran jantungku sendiri yang semakin cepat ini.

Lama kami hanya saling menatap dalam keheningan.

Seakan sedang menimbang-nimbang sesuatu, akhirnya Kyuhyun berkata. “Bisakah aku meminta sesuatu darimu, Sooyoung-ah?”

Aku mengerjapkan mata mendengar perkataan Kyuhyun tapi kemudian menganggukkan kepala.

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi aku benar-benar yakin pada diriku dan pada hatiku. Aku—aku ingin menjadikanmu seseorang yang akan selalu menemani hari-hariku, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun sambil menatap lekat kedua mataku. “Memenuhi apa yang paling diinginkan hati kita adalah cara terbaik untuk meraih kebahagiaan, ‘kan? Aku ingin kau selalu bersamaku di sepanjang hidupku, seperti Iris yang selalu menemani Anselm di sepanjang hidupnya”

Aku bisa merasakan tenggorokanku tercekat oleh banyak rasa yang tidak mungkin bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Kyuhyun benar bahwa ini memang terlalu cepat. Tapi bagaimana jika akupun sudah yakin dengan perasaanku sendiri? Sama sepertinya, aku juga ingin meraih kebahagiaanku sendiri dengan memenuhi apa yang paling diinginkan oleh hatiku, dan itu bersama Kyuhyun.

Em, aku mau… oppa” kataku setelah diam cukup lama. “Aku akan menemanimu di sepanjang hidupmu”

“Sooyoung-ah,” desah Kyuhyun seraya meraihku ke dalam pelukan eratnya. “Gomawoyo… saranghaeyo” bisiknya lembut di telingaku.

Nado saranghaeyo, Kyuhyun oppa

 

Keep love in your heart. A life without love it’s like a sunless garden when the flowers are dead. – Oscar Wilde –

-END-

Jangan lupa komentarnya readers..

Sekali lagi terimakasih buat komentar-komentar kalian di FF ini dari awal sampai terakhir ini. Terimakasih juga kritik dan sarannya karena itu membantu aku banget selama nulis FF ini..

 

Pokoknya terimakasih buat semuanya #bow

Don’t forget to leave your comments please ^^

Annyeong..

23 thoughts on “[Series] Once Again, Love -end-

  1. Akhrnya ni ff slsai jga..
    snang ny kyuyoung brsatu
    happy ending…
    bleh kli thor d bkinin AS ny
    ni ff ckup mnguras emosi dan bkin otak mikir keras
    Daebak thor d tnggu krya slnjutny

  2. Yeeee happy ending…

    Aku jadi terharu di akhir kisah ini
    thor tanggung jawab tisu udah abis dua pak nich kkk

    Berharap ada sequelnya hehe

    #banyak maunya..

  3. Sequel sequel sequel /bawa banner wkwk
    Kyuhyun sweet banget ya ampun, duh thor melting liat sikap kyu ke soo..
    Harus ada sequel thor atau epilog, masih pengen liat moment mereka

  4. ellalibra says:

    Kyaaaaaaa bnr” bikin terharu jdny sedih jg kl inget hyosung eon… Kshn sm jae hoon y🙂 … Tp yg penting akhirnya happy ending yeeeeeeeeeeyyyyyy😀 dtunggu new ff eon fighting ^_^

  5. Youngra park says:

    Yeeaa akhirny happy ending aku suka tapi awalny sih berharap lebih misalny smpai kyuyoung punya anak bru end gtuh tapi gpp sih yg penting kyuyoung brsatu tpi kalau ad asny jga gpp eoni next project atau ff baruny di tnggu

  6. Hyuji says:

    terharu dengan ceritanya …tapi aku sangat senang karna akhirnya Happy ending. good job for author. ending juga cukup kok thor menurutku dan sangat romantis gillaaaaa. aku juga pengen dikehidupan nyata digituin, maksudnya scene ngelamarna aja. fiuuuh akhirnya end juga ya . tapi squelnya dong thor ok ok ya ya ya ya. pengen liat KyuYoung pas nikahnya, kalo bisa sampai punya anak heheh. anyyeong eonni
    i like your fanfict

  7. Megumi says:

    Gak kerasa juga ending, ffnya keren dan tiap partnya panjang, salut sama authornya. Di akhir ff ini aku nggak tau mau bilang apaan. Semoga author balik lagi dengan cerita2 yg lebih keren. Aku bener2 suka sama semua FF mu🙂

  8. youngra park says:

    Yahh knp harus coba smpai hubungan kyuyoung aj soal kan part2 awalny yg pusat bahasny hyosung dan kasusny skrng pengennybkehidupan kyuyoung bisa jdi smpai punya anak aduhh tapi aku senang semua berakhir bahagia next ff di tnggu eoni

  9. aaaah senangnya Happy Ending..
    suka banget sama ff ini, dan gak kecewa juga sama endingnya.. makasih buat auhor yg udh bikin cerita yg menarik kayak gini..
    next ff ditunggu^^

  10. Akhirnya happy ending. Aku pikir kyuppa akan melamar soo eonnie, hehehe. O ya tntang kputusan soo eonnie yg mengambil alih perusahan belum terjawab.

    Ditunggu ff yg lain

  11. ajeng shiksin says:

    Enggak berasa udah ending aja . untung heppy ending . ff ini bagus nunggu nya juga enggak lama . enggak PHP kaya ff yg lain . seneng akhir nya sooyoung nikah sama kyuhyun .. Disini kyuhyun karakter nya lebih tenang . enggak kaya yg lain . trus mereka enggak kaya tom and jerry . heheheheh ditunggu ff yg lain nya autor . semangat buat ff nya

  12. Nggak nyangka bakalan end Kurain masih panjang
    Sequelnya dong thor soalnya kyuyoung momentnya dikit banget lebih ke penjelasan tentang siapa sooyoung
    Eommanya hyomin terobsesi banget sama harta sampai mau buat soo bernasib sama kayak hyosung
    Jae hoon kasian karena yang dicintainya selama ini ternyata sepupunya
    Buat sequelnya ya thor,sequelnya banyakin kyuyoung momentnya thor
    Makasih buat athor yang udah buat ff nya cepet dipublish nggak nunggu lama2 amat dan tentu cerita yang keren dan bagus ini
    Ditunggu karya author yang lain🙂

  13. jinrap says:

    Wuahhh akhirnya ffnya selesaiii.. sebenernya agak sedih sih karena moment kyuyoungnya sedikit sekali, tp gpp deh hehe… Ffnya kerennnn, merasa sedih jg untuk hyosung karena dia meninggal sebelum mengetahui kebenarannya… Semangat authornim!!! tetap menghasilkan karya2 yg terbaik di masa mendatang😁

  14. ry-seirin says:

    Gk krsa dah part-end lgi,,,,
    Sjujurnya mmang ff yg ni bda dri ff author yg sblumny. Dsni lbih fokus k prjlnan 49 harinya Hyosung n Kyuyoung jd plngkapnya gto. Tpi krna d kemas dg baik jd ttep nyaman n enak aja buat d baca n malah pnsaran buat next partnya.
    Aku hrap sich ada next project ff author yg lain stelah ni, aplgi klo “We are on Dating” bsa d lnjutin gto ktna ngrsa gantung aja. Cos, author slahsatu author favorite aku yg msih aktif.
    Keep writing ya thor.
    Kyuyoung jjang.

  15. kyu choco says:

    wah udh end… seneng kyu sama soo bahagia… bener tebakan aku kyu kadi pahlawan buat soo… walau jae hoon yg ngalahin musuhnya… makanya kyu abis nikah belajar bela diri… biar ngga bonyok parah… wkwkwk… udh mulai stres… suka sama endingnya… hyosung pergi dengan tenang dan damai… ngga tau lagi mau komem apa… di tunggu next ffnya… semangat

  16. YEAH HAPPY ENDING! thank you authornim, ff nya bener bener membawa emosional banget! Selalu kebayang kyuhyun nya sendiri kalo di adegan adegan romantis, apalagi pas ending ini!! Ditunggu after storynya, jjang!

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s