What Make A Love -3-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Lima belas menit sebelum KTX tujuan stasiun Gwangju berangkat, aku dan Sooyoung sudah berada di gerbong dan di tempat duduk yang kami pesan sesuai tiket. Aku memperhatikan Sooyoung yang duduk disampingku, tapi yeoja itu justru sibuk memperhatikan beberapa orang yang berlalu-lalang di lorong gerbong, menyimpan tas mereka di tempat yang sudah disediakan, dan saling mengobrol. Matanya terus melirik kesana kemari dari kursinya.

“Aku tak menyangka jika KTX akan sepenuh ini hari ini,” celetuk Sooyoung tibat-tiba.

“Mungkin karena weekend?” Aku menimpali.

Sooyoung menatapku sekilas dan mengangguk setuju. Dia kini mulai sibuk dengan ponselnya—aku memperhatikan. Untuk beberapa saat, aku juga memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselku karena siapa tahu ada sesuatu yang penting disana. Meskipun aku meninggalkan perusahaan untuk dua hari karena perjalanan ini dan sudah mempercayakannya pada Sekretaris Kim untuk mengurus hal-hal, tapi tetap saja aku tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Bukan berarti aku tidak mempercayai Sekretaris Kim, hanya saja itu sudah menjadi bagian dari tugasku tak peduli aku datang ke kantor atau tidak. Appa selalu mengajariku untuk bisa memanfaatkan waktu, begitu pula harabeoji.

Oppa, salah satu temanku sudah menyiapkan mobil disana. Katanya kita langsung datang saja ke tempatnya, persis di sebelah stasiun” kata Sooyoung memecah keheningan.

“Temanmu?” Aku mencelos sambil menatap Sooyoung.

Eo. Teman SMP,”

Ah,” sahutku. “Kau masih berhubungan dengan teman-teman SMP-mu? Itu sudah lama sekali, ‘kan?”

Sooyoung tersenyum tipis dan aku melihatnya memasukkan ponsel ke tas tangannya. “Aku selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan teman-teman lamaku karena mungkin saja kita membutuhkannya bantuan mereka. Lagipula aku juga sudah beberapa kali ke Gwangju, dan dialah yang selalu menemaniku saat aku datang ke kota itu”

“Kalau boleh tahu, siapa nama temanmu ini?”

“Oh Ji Won,”

Keningku berkerut tajam mendengar nama namja yang disebut Sooyoung. Tapi kemudian, yeoja itu justru tersenyum. Seakan-akan dia menyadari keterkejutan ini.

“Dia sudah menikah, dan punya seorang putri berusia 6 tahun. Jadi, jangan khawatir” Sooyoung memberitahuku tanpa diminta.

Aku menelan ludah, lalu berdehem pelan. “Memangnya apa yang aku khawatirkan?”

Sooyoung mengendikan bahu, tapi aku sempat melihat sebuah senyuman masih tersungging di wajahnya. Lalu diapun memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. KTX sudah mulai berjalan sekarang, menampilkan beberapa pemandangan cepat di luar jendelanya. Meskipun ini hanya perjalanan untuk peringatan kematian appa Sooyoung—yang merupakan ayah mertuaku, tapi aku benar-benar akan menikmati ini. Perjalanan ini memang perjalanan keduaku dengan istriku, tapi kali ini suasananya berbeda karena sama sekali tidak ada sesuatu yang berbau pekerjaan dan aku berharap Sooyoung juga bisa menikmati ini seperti saat dia menikamti perjalanan ke Jeju seminggu yang lalu.

Ah, sejauh ini hubunganku dan Sooyoung bisa dikatakan lebih baik. Aku tak tahu kenapa, tapi yeoja itu sepertinya berusaha keras untuk melakukan banyak hal untukku. Jujur, aku terkejut dengan beberapa perubahannya tapi aku juga senang karena itu. Meskipun aku tahu bahwa dia menikah denganku bukan karena mencintaiku, tapi setidaknya dia berusaha untuk menjadi seorang istri. Meskipun aku juga harus mengendalikan diriku untuk tidak bertanya padanya tentang sesuatu yang lebih intim mengenai hubungan suami-istri, tapi itu tidak masalah bagiku. Aku bisa menunggu sampai dia benar-benar siap dan mencintaiku sebagai suaminya.

“Sooyoung-ah,” panggilku pelan.

Em. Waeyo?” Sooyoung menoleh.

Aku terdiam sejenak. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu saja. Apa itu?”

Aku menatap wajah Sooyoung cukup lama. Mempertimbangkan apa sebaiknya aku bertanya lebih jauh kenapa appa-nya tidak di makamkan di Seoul melainkan di kota sejauh Gwangju. Atau bertanya mengenai masa lalunya yang sampai saat ini tidak dia ceritakan padaku lebih detail. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tidak melakukannya karena mungkin suasana diantara kami akan menjadi tidak menyenangkan jika aku membahas sesuatu yang sensitif.

Mwohaeyo, oppa?” tanya Sooyoung lagi karena aku diam terlalu lama.

Ah, aniya. Amugeotdo, aniya” kataku menjawab. “Aku akan bertanya saat kita sudah sampai di Gwangju saja,”

“Kenapa harus menunggu saat kita sampai di Gwangju? Tanyakan saja sekarang, oppa” desak Sooyoung.

Aku kembali diam untuk beberapa saat, lalu terpikir olehku sesuatu yang lain. Aku berdehem pelan dan berbicara. “Kita akan tinggal di hotel atau bagaimana saat di Gwangju?”

Ah, benar! Aku benar-benar lupa memberitahumu,” sahut Sooyoung dengan cepat. Aku memang tak mengurus perjalanan ke Gwangju ini karena semuanya aku serahkan pada istriku ini, jadi wajar saja jika aku tak tahu. “Kita akan tinggal di rumah eomma. Aku sudah diberitahu jika rumah itu tidak disewakan lagi karena penyewanya baru saja pindah bulan lalu,”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

Untuk beberapa saat, kami terdiam dan menikmati perjalanan di KTX ini. Meskipun aku sudah menawarkan berpergian dengan menggunakan pesawat sebelumnya, tapi Sooyoung menolak. Dia berkata bahwa dia sudah terbiasa pergi ke Gwangju dengan KTX, dan itu akan terasa berbeda jika menggunakan cara yang lain. Menurutku, itu alasan yang aneh tapi tetap saja aku menerimanya. Lagipula aku jarang berpergian menggunakan KTX, dan duduk seperti ini bersama Sooyoung benar-benar membuatku senang untuk beberapa alasan.

“Kau mengantuk?” tanyaku saat melihat Sooyoung mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Perjalanan masih cukup lama.

Telapak tangan Sooyoung menutup mulutnya yang menguap lebar. “Jokkeum,

“Tidurlah disini,” Aku menepuk bahuku, dan melihat ekspresi terkejut Sooyoung. “Anggap saja bantal atau bagaimana. Kau tidak bisa tidur dengan menyandarkan kepalamu di jendela” tambahku dengan cepat.

Awalnya Sooyoung terlihat ragu, tapi pada akhirnya dia menurut. Dia meletakkan tas tangannya disampingnya lalu mulai menyandarkan kepala di bahuku. Karena khawatir itu akan terlihat canggung, akupun memberanikan diri untuk melingkarkan tanganku memeluk bahu istriku ini. Jantungku mulai berdebar kencang saat aku melakukannya, dan akupun bisa merasakan tubuh Sooyoung yang menegang. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak menjauhkanku, tapi justru dia menggeliat dan semakin membuatku harus mempererat pelukannya ini.

Tak lama kemudian, Sooyoung sudah tertidur pulas. Aku tersenyum melihat wajah polosnya saat tidur. Suasana di KTX ini sangat tenang dan sepi meskipun ada banyak orang disini. Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa mencium lembut kening Sooyoung dalam keheningan.

**

Aku terus melangkahkan kakiku mengikuti Sooyoung menyusuri deretan batu nisan yang berjejer rapi di sebuah pemakaman di distrik Gwangsan. Tanganku membawa beberapa peralatan upacara dan makanan persembahan—buah apel, kesemek, pir, beberapa kue kecil dan sebotol anggur jenis tertentu yang hanya di ketahui Sooyoung. Sooyoung menghentikan langkahnya begitu sampai di sebuah makam bertuliskan ‘Choi Tae Ho’ di batu nisannya yang bertuliskan hanja. Untuk beberapa saat dia hanya diam memandangi makam itu sampai akhirnya aku bergegas menghampirinya.

“Sudah sangat lama,” kata Sooyoung begitu aku mendekat. “Uri appa—“ Dia menghentikan kata-katanya lalu menundukkan kepala.

Bergegas, akupun mengangkat tanganku dan mengusap-usap punggung Sooyoung untuk membuatnya lebih tegar. Lalu—setelah memastikan istriku sudah tenang, aku segera menyiapkan barang-barang yang kami bawa dan mulai melakukan penghormatan. Meskipun aku sama sekali tidak mengenal abeonim-ku ini, tapi aku percaya dia adalah seseorang yang baik. Mengingat dia juga berteman baik dengan appa-ku sebelumnya.

Jal jinaesseo, appa?” Suara Sooyoung terdengar setelah kami selesai melakukan penghormatan. “Mianhae, aku tidak datang bersama eomma

Aku memilih untuk diam saja dan mendengarkan.

Sooyoung melanjutkan, “Meskipun begitu, aku datang bersama seseorang” katanya melirik ke arahku. “Dia suamiku, Cho Kyuhyun”

Aku membeku di tempatku untuk beberapa saat karena tak tahu harus berbuat apa. Tapi kemudian, akupun membungkukkan badan dan memperkenalkan diriku. “Annyeonghaseyo, aboenim. Jo—joneun Cho Kyuhyun. Aku—aku suami putri abeonim, dan aku berjanji akan membahagiakan putri abeonim” kataku berusaha untuk tidak canggung.

Sooyoung kembali melirikku, dan aku bisa melihat senyuman merekah di wajahnya. Aku tak tahu kenapa aku ikut tersenyum untuk sesuatu seperti ini tapi kemudian aku memilih untuk pergi meninggalkan Sooyoung sendirian bersama appa-nya. Karena mungkin saja dia ingin memiliki waktu sendirian atau bagaimana, jadi lebih baik aku tidak mengganggunya.

Aku tidak pergi jauh dari Sooyoung, hanya beberapa meter darinya dan menikmati pemandangan di sekitar pemakaman ini. Latar belakang tempat ini cukup bagus dengan pemandangan pegunungan dan dataran tinggi khas Gwangju. Aku bahkan bisa melihat beberapa tempat yang menarik dari tempat ini. Mungkin setelah ini selesai, aku akan mengajak Sooyoung berkeliling sekedar untuk mencari udara segar.

Oppa,” panggilan Sooyoung terdengar setelah beberapa saat. Aku menolehkan kepala dan melihatnya sudah berdiri di belakangku. “Aku pikir kau pergi kemana,” katanya.

“Kau sudah selesai?” tanyaku.

Sooyoung mengangguk. “Tidak banyak yang aku katakan pada appa, selain memberitahunya kenapa eomma tidak bisa ikut datang lagi kali ini” katanya sambil berdiri di sebelahku dan duduk di atas rumput. Pandangannya menatap lurus ke arah pemandangan yang aku lihat sebelumnya. “Aku mulai kehabisan alasan untuk memberitahu appa tentang penolakan eomma untuk datang kesini,”

Aku ikut duduk disamping Sooyoung, “Kenapa eommeoni menolak untuk datang dan melakukan penghormatan sendiri?”

“Karena eomma terlalu mencintai appa,” Sooyoung menjawab. “Gwangju—kota ini adalah kota dimana mereka saling bertemu, jatuh cinta dan pada akhirnya menikah. Alasan kenapa appa dimakamkan di kota ini adalah karena dia sangat menyukai Gwangju yang penuh dengan kenangan indah saat bersama eomma

Aku diam saja.

“Meskipun begitu, kota ini juga kota yang penuh kenangan buruk” Sooyoung berkata lagi. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Tidak hanya bagiku, tapi juga eomma

Wae—

Uri appa meninggal di kota ini,” jawab Sooyoung menyela perkataanku. “Meskipun aku tak pernah mengatakannya, tapi aku tahu alasan sebenarnya kenapa eomma tak pernah mau mengadakan upacara peringatan kematian appa bersamaku”

“Apa dia ingin sendirian saat mengenang abeonim?”

Sooyoung menggelengkan kepala. “Eomma tahu bahwa aku paling tidak suka melihatnya menangis. Itulah kenapa kami selalu terpisah saat melakukan penghormatan untuk appa,”

“Kenapa begitu?” tanyaku ingin tahu karena baru kali ini aku mendengarnya dari Sooyoung. “Kenapa kau tidak suka melihat eommeoni menangis?”

Sooyoung mendesah pelan sebelum dia menjawab, “Karena saat eomma menangis, aku selalu menjadi seorang putri yang tidak berguna baginya”

“Sooyoung-ah

“Memang benar aku tidak berguna, oppa” sahut Sooyoung dengan cepat. “Aku tak pernah melakukan sesuatu yang membuat eomma senang, kecuali saat aku menikah denganmu”

Oh?” celetukku terkejut.

“Saat aku menerima pernikahan kita, itulah saat pertama kalinya aku benar-benar berguna menjadi putri eomma” kata Sooyoung dengan suaranya yang bergetar. “Aku—aku merasa aku—“

Dwaesseo,” selaku memotong perkataannya karena aku tak ingin melihat Sooyoung menangis juga di depanku sekarang. “Kita hentikan pembicaraan ini saja. Apa kau pikir aku juga senang melihatmu menangis? Aku bisa mengerti perasaanmu karena itu juga aku rasakan saat aku melihatmu menangis”

Sooyoung diam saja, dan menatapku dengan lekat. Dia kembali memalingkan wajahnya dariku untuk sesaat sebelum akhirnya bangkit berdiri, dan mengajakku pergi dengan gerakan kepalanya. Mau tak mau akupun mengikutinya, dan kami berjalan bersama-sama menyusuri jalan yang sama seperti saat kami masuk beberapa saat yang lalu.

“Aku tidak banyak tahu tentang abeonim, tapi aku senang kau memberitahuku sedikit tentangnya” kataku seraya terus berjalan mengikuti istriku. “Aku ingin kau berbagi apapun denganku, Sooyoung-ah dan jangan menyimpannya sendiri jika kau merasakan sakit di suatu tempat. Arraseo?”

Sooyoung berhenti melangkah dengan tiba-tiba, lalu dia menoleh menatapku dengan lekat. Dia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Jantungku berdegup kencang saat aku balas menatap mata Sooyoung. Ada perasaan halus yang berdesir di hatiku dan untuk kesekian kalinya aku terpesona pada istriku ini.

Tapi kemudian Sooyoung mengalihkan pandangannya dan diapun kembali melangkah tanpa mengatakan apa-apa lagi-lagi.  Aku mterus engikuti langkahnya dalam diam sampai akhirnya kami benar-benar keluar dari area pemakaman. Saat aku mengarahkan pandangan berkeliling, saat itu juga aku membeku di tempatku. Mataku tanpa sengaja menangkap sebuah sosok yang sangat aku kenali, dan diapun sedang menatapku. Langkahku langsung terhenti seketika, dan aku terus menatap sosok itu sambil mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyakinkan apa yang aku lihat itu benar-benar nyata atau tidak.

Aku berdiri mematung di tempatku. Memperhatikan sosok itu yang datang menghampiriku. Pandanganku menerawang. Pikiranku melayang pada masa-masa saat aku masih kuliah—sekitar 6 tahun yang lalu. Tak pernah terbayangkan olehku akan kembali melihat sosok yang telah memenuhi hatiku selama enam tahun itu sebelum dia menghancurkanku.

“Cho Kyuhyun? Majayo?”

Aku tersadar dari lamunan dan menoleh menatap yeoja yang sekarang berdiri tepat di depanku. Wajahnya tidak banyak berubah sejauh yang aku ingat, begitu pula penampilannya. Secara keseluruhan dia tetap terlihat sama, setidaknya di mataku.

Jeo gieokaseyo?” tanyanya dengan senyumnya yang lebar. “Na… Lee Eui Jin. Kau ingat?”

Aku masih diam tak menjawab.

Heol… apa kau benar-benar sudah melupakanku, Cho Kyuhyun?” dengusnya. “Jamkkaman¸aku tak salah orang, ‘kan? Kau… Cho Kyuhyun, namja yang selalu menyombongkan diri di depan teman-temannya tentang kepandaiannya berbisnis itu, ‘kan?”

Oppa,” Kali ini bisikkan Sooyoung yang terdengar, dan itu membuatku benar-benar sadar dari lamunanku.

Aku menoleh ke arah Sooyoung sesaat, lalu kembali menatap Eui Jin. “N-Ne… ani, maksudku… eo, maja. Aku Cho Kyuhyun yang itu,” kataku sedikit kaku dan gugup karena pertemuan ini tak pernah aku bayangkan terjadi sebelumnya.

Yeoksi! Aku memang tak pernah salah mengenalimu,” seru Lee Eui Jin sambil tertawa kecil. “ Jal jinaesseo, geu dongan?”

Jal jinaesseo. Neoneun?

Nado,” jawab Eui Jin sesekali melirik Sooyoung yang berdiri acuh tak acuh di sebelahku. Yeoja itu kembali mengalihkan perhatiannya padaku, “Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kebetulan ada keluargamu yang dimakamankan disini?”

Oh?” celetukku terkejut karena tak mungkin Eui Jin akan bertanya seperti itu padaku. “Eo. Abeonim,” jawabku kemudian.

Abeonim? Aigoo… aku turut berduka cita, Kyuhyun-ah

Gomawo, Eui Jin-ah. Tapi itu—emm, ayah mertuaku” kataku pelan.

Ekspresi wajah Eui Jin jelas terlihat terkejut. Dia bahkan kembali menatap Sooyoung yang masih begitu acuh. Padahal aku berharap dia sedikit menunjukkan ketertarikan pada yeoja yang sedang berbicara padaku, siapapun itu. Karena dengan begitu menandakan bahwa sebagai istri, dia peduli padaku.

Emm—Eui Jin-ah, kenalkan ini istriku, Choi Sooyoung” Kata-kataku itu berhasil membuat perhatian Sooyoung beralih padaku dan Eui Jin.
Geurigo Sooyoung-ah, kenalkan ini adalah… teman lamaku, Lee Eui Jin”

“Teman lama?” celetuk Sooyoung.

Ne, aku teman lamanya. Bangapseumnida, Sooyoung-ssi” ujar Eui Jin mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Sooyoung. “Kalian terlihat serasi” komentarnya meskipun aku justru menangkap sebersit nada cemburu dalam cara bicaranya.

Hening.

Aku dan Sooyoung hanya saling menatap, tanpa memberi jawaban apapun pada Eui Jin.

“Kalian saling mencintai, ‘kan?”

Ne?”

Oh?”

Eui Jin tersenyum singkat, “Anida, dwaesseoyo” katanya kemudian. Dia menatap jam yang melingkar di tangan kanannya, “Jeo jigeum gaya dwaeyo,”

Geurae?” sahutku.

“Omong-omong… nomor ponselmu masih sama, ‘kan?” tanya Eui Jin padaku yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. “Kalau begitu, aku akan meneleponmu nanti. Kebetulan sekarang aku membuka kantor di Seoul, jadi kapan-kapan kita mengobrol lagi. Eotte?”

Aku melirik Sooyoung sesaat, berharap yeoja itu melarangku atau bagaimana. Tapi ternyata dia terlalu sibuk mengarahkan pandangan ke sekeliling pemakaman, seperti sedang mencari sesuatu.

“Kyuhyun-ah?”

Eo. Geurae, geurae” jawabku cepat-cepat.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu,” katanya seraya menepuk pelan bahuku. “Annyeong,” Dia melambaikan tangannya padaku.

Aku balas melambai, dan terus menatap kepergian yeoja itu sampai dia menghilang dari pandanganku. Ada perasaan aneh saat aku kembali bertemu dengannya. Perasaan seperti sesuatu telah dibangkitkan kembali di dalam diriku setelah lama mati.

Aku mendesah panjang, berusaha melenyapkan perasaan itu karena aku teringat pada Sooyoung. Tapi apa dia sama sekali tidak merasakan cemburu padaku? Apa mungkin itu karena dia tak tahu bagaimana hubunganku sebelumnya dengan Lee Eui Jin jadi istriku itu tak cemburu? Mungkin dia akan merasakan cemburu saat dia mengetahuinya. Tapi apa aku benar-benar harus memberitahu Sooyoung tentang Lee Eui Jin hanya untuk melihat apa dia cemburu atau tidak?

__

Sooyoung POV

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha memasukkan udara segar Gwangju ke paru-paruku sebanyak mungkin. Pandanganku mengarah ke sekeliling Pungam Reservoir, yaitu sebuah taman dengan danau yang cukup luas di Woldeukeopseo-ro, distrik Seo.

Pemandangan di tempat ini sangat indah, dengan air danaunya yang jernih. Jujur saja, aku selalu merasa tenang saat berada di tempat terbuka dengan danau ataupun sungai yang bisa aku pandangi sepuas mungkin. Saat di Seoul, taman-taman di sepanjang Sungai Han adalah tempat favorit yang aku kunjungi. Aku hampir selalu datang kesana setiap kali aku ingin menenangkan diri. Tapi itu sebelum aku menikah. Setelah menikah, aku memang belun pernah sekalipun pergi ke taman seperti yang biasanya aku lakukan. Satu-satunya tempat yang sering aku kunjungi sekarang adalah restoran Taeyeon.

“Kau sepertinya sangat menikmati ini,”  kata Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku lagi karena sebelumnya dia pergi untuk membeli minuman. “Tempat-tempat seperti ini selalu menjadi tempat yang pasti kau kunjungi. Aku benar, ‘kan?”

Aku mengangguk singkat, “Ada semacam ketenangan saat aku memandangi sungai atau danau yang juga tenang, dan ada kepuasan saat aku menatap jauh ke taman-taman bunganya”

Kyuhyun tersenyum sambil merangkulkan sebelah tangannya ke bahuku, dan kurasa aku mulai terbiasa dengan itu setelah beberapa kali membiarkannya. “Itulah kenapa aku juga menyukai tempat-tempat seperti ini. Bukan hanya karena pemandangannya yang indah atau suasananya yang tenang, tapi juga ada kau yang terlihat sangat menikmatinya”

Aku tak tahu bagaimana harus menanggapinya kali ini.

“Kau tahu, aku—” Kata-kataku terhenti karena setelah aku menolehkan kepala, aku baru sadar bagaimana dekatnya aku dengan Kyuhyun sekarang. Tapi aku benar-benar tidak merasa canggung atau bagaimana, justru aku mulai merasakan rasa nyaman yang tumbuh untuk bisa dekat lebih intens.

Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Menyadarkanku dari lamunan singkatku. “Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan tentangku?”

Aniyo,” sahutku dengan cepat. “Geunyang—“

Kyuhyun menatapku lekat-lekat, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu diapun melepaskan tangannya dariku dan mengarahkan pandangannya ke arah danau. Untuk beberapa saat, suasana diantara kami berdua menjadi hening. Meskipun begitu, aku masih melihat dengan jelas di wajah suamiku bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Apapun itu, sepertinya benar-benar mengganggunya. Tapi aku terlalu ragu untuk bertanya jadi aku memilih untuk diam saja. Bukankah setiap orang berhak memiliki suatu pikiran di kepalanya untuk dirinya sendiri?

“Aku ingin memberitahumu sesuatu, Sooyoung-ah” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Tapi dia tetap menatap ke arah yang sama, lalu melanjutkan berbicara. “Ini tentang yeoja yang bertemu dengan kita di pemakaman kemarin”

Satu alisku terangkat, dan akupun mengingat yeoja cantik dengan rambut panjangnya yang diikat rapi di belakang kepala. Lee Eui Jin. Meskipun Kyuhyun berkata jika yeoja itu adalah teman lamanya, tapi aku bisa menangkap ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya aku bukanlah tipe yeoja pencemburu ataupun egois yang akan langsung menginterogasi dengan sikap protes jika namjachingu-ku menyebut nama yeoja lain di depanku. Itulah kenapa aku bersikap santai dan biasa saat Kyuhyun mengenalkan temannya itu padaku.

Kyuhyun tidak berbohong—tentu saja, saat dia memberitahuku tentang Lee Eui Jin bahwa dia adalah temannya. Aku bisa melihat itu dari matanya, begitu pula yeoja itu. Hanya saja perasaanku mengatakan jika yeoja itu buvan sekedar teman lama, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu sebelumnya. Dan aku tak tahu kenapa muncul sedikit rasa tidak suka dalam diriku jika terus mengingat yeoja itu, apalagi saat dia menatapku.

“Lee Eui Jin,” suara Kyuhyun kembali terdengar, membuyarkan pikiranku. Dia menghela napas singkat sebelum berkata, “Dia cinta pertamaku”

Cheoum sarang?” celetukku berusaha untuk tidak memperjelas keterkejutanku.

Kyuhyun mengangguk. “Aku dan Eui Jin dulu kuliah di tempat yang sama, tapi dia mengambil hukum sedangkan aku bisnis” katanya memberitahu. “Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya, dan sebelumnya juga kami dekat”

“Kau berkencan dengannya?”

Aniya, tidak pernah”

Waeyo?” sahutku dengan cepat.

Senyum Kyuhyun mengembang tipis di wajahnya. “Aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakan perasaanku padanya” katanya sambil menundukkan kepala. “Bagaimanapun, dia sudah menikah sekarang dan ini pertama kalinya aku melihatnya lagi setelah enam tahun”

Ah,”

Hanya itu yang bisa aku keluarkan sebagai tanggapan setelah mendengar cerita Kyuhyun mengenai Lee Eui Jin.

Kyuhyun tiba-tiba menatapku, membuatku sedikit canggung karena tatapan lekatnya itu. “Mianhae. Aku baru memberitahumu tentang ini. Padahal kau langsung memberitahuku tentang masa lalumu,”

Aku tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lainnya. “Siapa yang menyangka jika kita sama-sama memiliki masa lalu tentang cinta yang tidak menyenangkan sebelum menikah,” kataku. “Aku yakin semua orang juga memilikinya, jadi tak perlu meminta maaf, oppa” Aku menambahkan seraya menoleh ke arah Kyuhyun lagi.

Kyuhyun balas tersenyum. Tangannya kembali meraih tanganku dan kemudian dia menggenggamnya dengan erat. Untuk beberapa saat, kami sama-sama kembali diam. Entah kenapa aku memikirkan Kang Dongwoon, dan bagaimana depresinya aku saat dia tak pernah muncul lagi di depanku setelah mengajakku menikah dengannya. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum melirik Kyuhyun. Tanpa bertanya padanya, aku tahu bahwa dia juga sedang memikirkan sesuatu. Mungkin saja tentang masa lalunya dan Lee Eui Jin. Aku mengerti setiap kali masa lalu kita disinggung oleh sesuatu maka secara otomatis otak kita akan memutar masa lalu kita. Karena itulah yang seringkali terjadi padaku.

“Haruskah kita pergi?” tanya Kyuhyun pada akhirnya karena sepertinya dia tak mau terus berlarut-larut dalam masa lalunya. “Bukankah katamu kau ingin mengunjungi Damyang Bamboo Forest?”

E—eo,”

Waeyo?”

Aniyo, amugeotdo” sahutku cepat-cepat. “Gayo?”

Kyuhyun mengangguk. “Kajja,” katanya sambil menuntunku meninggalkan tempat ini.

Perjalanan menuju Damyang-gun dari kota Gwangju membutuhkan waktu sekitar satu jam. Selama perjalanan, Kyuhyun terus memintaku untuk tidur tapi aku menolaknya. Itu karena aku selalu ingin menikmati pemandangan Gwangju yang lebih hijau dibandingkan Seoul. Selain itu juga karena aku ingin sedikit mengingat tentang perjalanan terakhirku di kota ini bersama Kang Dongwoon. Berada di sini lagi terasa seperti aku baru melakukannya kemarin. Padahal itu sudah cukup lama, tapi kenangannya terlihat sangat jelas di kepalaku.

Setibanya di Damyang Bamboo Forest, Kyuhyun langsung mengajakku berjalan mengelilingi hutan yang hanya di tumbui oleh pohon bambu saja. Bambu-bambu yang umbuh subur di taman ini mempunyai bentuk yang sangat lurus. Ruas-ruasnya nyaris tak membuat pohon bambu ini bengkok sedikitpun, dan itu adalah keistimewaannya. Ditambah lagi—sesekali, angin berhembus pelan, dan menggerakkan pohon-pohon bambu ini. Suara yang dihasilkan dari gesekan daun dan pohon itu cukup membuat siapapun yang datang ke tempat ini enggan meninggalkannya sebelum benar-benar puas menikmatinya.

“Wah, ini sangat menenangkan” komentar Kyuhyun setelah kami berjalan sekitar sepuluh menit dari pintu masuk dan berhenti di air terjun buatan yang indah. “Kau tidak lelah, ‘kan? Karena sepertinya kita harus melewati jalanan yang menanjak dan menurun”

Aku menggeleng. Kyuhyun pasti teringat dengan perjalanan kami ke Jeju saat itu.

Eotte? Kita melanjutkan menyusurinya atau kau ingin disini terlebih dahulu?”

Kajja, oppa” kataku sambil mengajak suamiku ini kembali melangkah. “Ada desa bambu yang sudah menunggu untuk kita kunjungi”

Kyuhyun tersenyum. “Sepertinya benar. Kau memang pernah datang kesini sebelumnya,”

Aku mencelos. “Eh? Emmeo, maja. Aku memang pernah kesini sebelumnya”

“Dengan temanmu?”

Aniyo, Kang Dongwoon”

Tidak ada tanggapan dari Kyuhyun, tapi aku bisa merasakan tatapannya yang mengarah padaku. Selama sisa perjalanan menuju Jukhyang Culture Village Pavillion, kami sama-sama diam. Hanya suara-suara bambu yang bergesekkan dengan dengan angin dan celoteh orang-orang yang berpasapan dengan kami yang menemani sisa perjalanan kami ini. Jujur saja, itu benar-benar terasa canggung karena kami melangkah bersama dan bersebelahan, tapi tidak ada obrolan sedikitpun diantara kami. Bahkan sampai pada akhirnya kami tiba di jembatan kayu yang membelah kolam penuh ikan koi di desa ini, kami tetap saling diam.

Hwanaseoyo?” tanyaku memberanikan diri.

Oh?” celetuk Kyuhyun terdengar terkejut. “Aniya. Kenapa aku harus marah?”

Aku diam sesaat, tak tahu apa yang harus aku lakukan atau katakan lagi. “Mianhae,” kata itulah yang terucap untuk pertama kalinya. “Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah atau bagaimana”

“Aku tidak marah,” Kyuhyun mempertegas perkataannya. “Yah, meskipun aku sedikit kesal karena kau terus mengingat namja itu tapi aku tahu kau tidak sengaja untuk terus mengingat-ingatnya”

Aku terdiam karena perkataan Kyuhyun itu.

Dwaesseo. Masa lalu adalah bagian dari hidup kita,” kata Kyuhyun lagi sambil memegangi kedua bahuku. “Aku tidak akan pernah memintamu untuk melupakan masa lalumu karena terkadang itu berguna untuk kita. Bukankah kita menjalani hidup dengan belajar dari masa lalu?”

Aku hanya bisa memberikan anggukkan kepala untuk menanggapinya.

Kyuhyun tersenyum padaku, “Ayo kita selesaikan perjalanan ini dan kembali ke Seoul”

Eo,”

__

Kyuhyun POV

Aku duduk di kursi belakang meja kerjaku di rumah sambil memandang hampa ke luar jendela. Di depanku sudah tersedia secangkir kopi yang baru aku habiskan setengahnya. Tak jauh darinya terdapat bertumpuk-tumpuk laporan perusahaan dan berlembar-lembar pekerjaan yang sengaja aku bawa pulang. Tapi semua itu aku abaikan karena pikiranku masih sibuk memikirkan tentang yeoja yang bertemu denganku di Gwangju beberapa hari yang lalu, Lee Eui Jin.

Aku mendesah panjang sambil menyandarkan tubuhku di kursi. Bayangan masa laluku dengan yeoja itu kembali muncul di kepalaku. Bagaimana dulu aku memendam perasaanku padanya yang tak pernah aku ungkapkan, dan bagaimana dia menghilang begitu saja dari kehidupanku. Satu hal yang membuatku benar-benar hancur saat itu adalah saat aku mengetahui alasan kenapa yeoja itu menghilang, yaitu untuk menikah dengan namja lain yang telah ditentukan oleh kedua orang tuanya. Sampai saat ini—jika aku mengingatnya, aku bahkan masih merasakan bagaimana sakitnya itu meskipun tidak sebesar dulu.

Suara ketukan di pintu terdengar dan langsung membuyarkan pikiranku. Selang beberapa detik, pintu ruang kerjaku terbuka dan Sooyoung-lah yang berdiri disana. Aku menatapnya dengan pandangan ingin tahu karena dia tak biasanya datang menemuiku saat aku sedang berada di ruang kerja.

“Temanmu datang, oppa” kata Sooyoung memberitahuku.

Nuga?”

“Kibum-ssi, dan istrinya”

Geurae?” sahutku sambil beranjak dari tempatku dan menghampiri Sooyoung. “Ayo kita temui mereka”

Sooyoung mengangguk pelan. Lalu diapun melangkah mengikutiku.

Kami berjalan bersama ke ruang tamu, dan dua orang sudah ada disana—sedang duduk sambil mengobrol. Tapi saat aku dan Sooyoung mendekat, Kim Kibum langsung beranjak berdiri untuk memelukku. Aku membalas pelukan itu dengan singkat lalu menyapa Ahn So Mi dengan menjabat tangannya.

Orenmaneyo, So Mi-ssi” kataku.

Ne, orenmaneyo

“Bagaimana keadaan eommeoni?” tanyaku berbasa-basi. “Kudengar eommeoni bisa mulai perawatan di Korea”

Majayo. Itu melegakan sekali karena kami tak perlu ke luar negeri lagi”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengerti. “Silahkan duduk,” kataku seraya melangkah ke sofa lalu mendudukinya. Sooyoung ikut duduk, disebelahku. “Kalian sudah berkenalan?” tanyaku baik pada Sooyoung maupun Kibum dan Ahn So Mi.

“Sudah, jangan khawatir” Kibum yang menjawab. “Majayo, Sooyoung-ssi?” katanya lagi sambil menoleh ke arah Sooyoung.

Ne, majayo

Aku tersenyum, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Kyuhyun-ssi, mianhaeyo karena aku tak bisa datang ke pernikahan kalian. Aku benar-benar menyesal,” kata So Mi memasang ekspresi sedih.

Aniya, aniya. Gwenchanayo, So Mi-ss” sahutku dengan cepat. Aku melirik Sooyoung sesaat, yeoja itu terlihat tidak terlalu nyaman tapi dengan cepat aku kembali mengalihkan perhatianku ke Ahn So Mi. “Sejujurnya aku sudah cukup senang kau mau mendoakan kami, dan itu benar-benar sudah cukup”

Aigoo… kau seperti tak tahu bagaimana istriku ini, Kyuhyun-ah. Dia memang begitu meskipun aku sudah beberapa kali memberitahunya jika kau tak apa-apa” sambung Kibum sambil merangkul istrinya. “Dan aku benar, ‘kan, yeobo?” katanya pada istrinya itu.

Aku tersenyum melihat bagaimana kedekatan Kibum dengan istrinya. Mereka memang selalu seperti itu sejak masih berpacaran, dan itu sama sekali tidak berubah bahkan setelah mereka menikah.

Ya! Bukankah katanya ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?” Kibum mengalihkan perhatianku padaku. “Katakan padaku, apa itu?”

Aku tak langsung menjawab, tapi memilih untuk menatap jam yang berdiri di sudut ruangan. Setelah itu aku baru berbicara, “Bagaimana kalau kalian makan malam sekalian disini?”

“Makan malam?” celetuk Ahn So Mi.

Aku mengangguk, “Bagaimana menurutmu, yeobo?” tanyaku pada Sooyoung.

“Tentu saja,” sahut Sooyoung sambil menyunggingkan segaris senyuman.

“Nah… eotte?” Aku mengalihkan perhatian pada Kibum dan istrinya. “Ayolah, sudah lama bukan kita tidak makan malam bersama?”

Kibum dan So Mi saling menatap satu sama lain, lalu aku melihat So Mi memberikan anggukkan kepalanya pada Kibum.

“Baiklah kalau begitu,” kata Kibum kemudian. “Sudah lama juga aku tak makan malam bersamamu”

Aku tersenyum, “Bagaimana kalau kita makan malam di taman?” ujarku mengungkapkan ideku yang muncul tiba-tiba. “Kau tahu, kita bisa memanggang sesuatu atau yah—cukup makan malam saja seperti biasanya”

Geurae?”

“Aku akan meminta Park Ahjumma untuk menyiapkan makan malamnya” celetuk Sooyoung seraya bangkit berdiri. “Jamkkamanyo,

Aku mengangguk singkat dan membiarkan istriku itu pergi. Tanpa aku sadari, mataku terus menatap ke arah Sooyoung sampai yeoja itu benar-benar menghilang dari pandanganku. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku saat istriku itu melintas di depanku atau dia pergi saat sedang bersamaku. Rasanya seperti mataku dengan sendirinya langsung mengarah padanya, dan aku tak tahu kenapa itu bisa terjadi padaku.

“Istrimu sangat cantik, Kyuhyun-ssi” kata Ahn So Mi membuat perhatianku teralih. “Kau dan dia terlihat sangat cocok,” katanya lagi.

Aku melirik Kibum yang terkekeh tanpa suara sebelum menanggapi perkataan istrinya. “Begitu? Apa kami benar-benar terlihat cocok?”

Ahn So Mi mengangguk, lalu dia menoleh pada suaminya. “Aku benar, ‘kan, yeobo?”

Em. Memang sangat cocok” jawab Kibum masih menunjukkan senyum menggodaku. “Kyuhyun terlihat sangat mencintai istrinya, seperti aku mencintaimu, yeobo

Aku hanya tertawa kecil mendengar temanku ini merayu istrinya.

Tak lama, Sooyoung kembali datang dan dia duduk di tempatnya semula. Untuk beberapa saat suasana berubah hening, bukan karena kedatangan Sooyoung tapi karena aku tak tahu harus membicarakan apa atau membahas topik tertentu, begitupula Kibum maupun istrinya.

Emm… eotte? Sudah berbicara pada Park Ahjumma?” tanyaku pada akhirnya karena tak mau suasana semakin hening. “Dia tak masalah menyiapkan makam malam di taman?”

Sooyoung mengangguk, “Katanya semuanya sudah diatur”

“Bagus sekali kalau begitu,” seruku senang. Aku menoleh pada Kibum, “Ayo ikut aku sebentar”

Eodi?”

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu, ‘kan?”

Ah,” celetuk Kibum sambil mengangguk pelan ke arahku. “Geureom—jamkkaman, yeobo

Aku bangkit berdiri, dan Kibum langsung mengikuti. Aku mengajaknya ke ruang kerjaku, dan kamipun langsung duduk di sofa kecil yang ada di sudut ruangan. Untuk sesaat, aku membiarkan Kibum memperhatikan seluruh isi ruangan yang kebanyakan adalah koleksi-koleksi bukuku dari jaman aku masih bersekolah. Sementara untuk arsip-arsip perusahaan dan hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan lainnya ada di ruang kerja lain di kamarku. Aku memang sengaja memisahkannya karena akupun tak suka mencampur adukkan kepentingan pribadiku dengan kepentingan perusahaan.

“Lee Eui Jin kembali,” kataku pada akhirnya setelah kami diam. “Aku bertemu dengannya saat di Gwangju beberapa hari yang lalu”

“Lee Eui Jin?” ulang Kibum terkejut.

Aku mengangguk, “Yeoja yang itu. Yeoja yang—“

“Kau cintai tapi meninggalkanmu untuk menikah dengan namja lain sebelum kau mengungkapkan perasaanmu itu padanya” Kibum menyelaku dengan cepat. “Arra,” katanya menambahkan.

Aku menghela napas panjang tapi tak mengatakan apa-apa. Pikiranku mengingat saat pertemuanku dengan Lee Eui Jin di Gwangju itu, dan bagaimana sikap Sooyoung yang terkesan tidak peduli.

“Bagaimana dia sekarang?” tanya Kibum memecah keheningan yang sempat hadir kembali.

“Dia masih tetap sama,” jawabku. “Yeppeo, easy-going, ramah, cerewet dan yah—kurasa tak ada yang berbeda dari dia yang dulu”

Neo eotte?

Na?”

Kibum mengangguk sambil menatapku dengan lekat. Aku tahu dia pasti sedang memancingku sekarang, tapi akupun merasa tak ada gunanya berbohong di depannya karena dia mengetahui semua hal tentangku. Sama seperti aku mengetahui semua hal tentangnya.

“Aku tak tahu,” jawabku pelan tanpa menatap Kibum. “Ada sesuatu yang seperti dibangkitkan kembali saat melihatnya”

“Apa kau masih mencintainya?” tanya Kibum langsung pada sasaran.

Aku diam saja.

“Kyuhyun-ah,”

Aku menghela napas panjang, lalu mengubah posisi dudukku. Mataku masih belum mengarah pada Kibum. “Menurutmu bagaimana?” tanyaku balik sambil menoleh menatapnya.

Mwoya… kenapa kau justru bertanya padaku tentang perasaanmu?” sahut Kibum dengan ekspresi herannya.

“Karena aku sendiripun tak tahu” jawabku dengan cepat. “Aku sudah mengatakannya padamu” Aku menambahkan.

“Apa kau berhubungan lagi dengannya? Ini sudah lebih dari seminggu setelah kau bertemu dengannya, ‘kan?”

Aku mengangguk, “Dia akan membuka kantornya di Seoul”

Oh?”

“Kau tahu, dia adalah seorang pengacara. Setelah beberapa tahun bekerja di Gwangju, dia memutuskan untuk kembali ke Seoul”

Satu alis Kibum terangkat, “Itu bukan karena kau, ‘kan?”

“Kenapa itu karena aku?” sahutku tegas. “Kami tidak mengobrol banyak selain hanya saling bertukar kabar”

“Kalau begitu, apa kau sudah bertemu dengannya lagi?”

Kepalaku menggeleng.

“Bagaimana dengan Sooyoung-ssi? Apa kau sudah menceritakan tentang Eui Jin padanya?” tanya Kibum terlihat semakin ingin tahu.

“Aku memberitahunya,” kataku. Tapi dia bahkan terlihat tidak peduli mengenai Eui Jin,” lanjutku.

“Bagaimana bisa—“

Kata-kata Kibum selanjutnya terpotong karena sebuah ketukan yang terdengar dari arah pintu. Aku mempersilahkan orang yang mengetuk itu masuk, dan seorang yeoja yang merupakan salah satu pelayan di bawah arahan Park Ahjumma sedang berdiri di ambang pintu. Dia memberitahuku bahwa makan malam sudah siap, dan Sooyoung memintaku untuk segera menyusulnya bersama Kibum. Setelah berterima kasih pada yeoja itu, akupun langsung mengajak Kibum untuk keluar ke taman dan menunda pembicaraan kami terlebih dahulu.

Ya! Jangan bertingkah aneh di depan istriku” kataku memperingatkan Kibum untuk bersikap biasa. “Dia tak tahu jika kau sebenarnya tahu bagaimana hubungan pernikahan kami”

Geurae, arraseo” sahut Kibum dengan singkat.

Kami sampai di pintu yang akan membawa kami keluar menuju taman yang ada di samping rumahku. Ada tiga taman di rumah ini, yaitu taman depan, taman samping—yang letaknya di sebelah barat rumah, dan taman belakang—taman yang sebelumnya dibersihkan oleh Park Ahjumma dan yang lainnya atas permintaan Sooyoung. Taman samping inilah yang biasanya aku gunakan untuk makan malam di luar rumah saat ada tamu yang datang. Karena itulah, taman inipun diatur sedemikian rupa untuk kepentingan itu.

Tidak banyak tanaman atau bunga di taman samping ini, kecuali beberapa pohon bonsai—yang memberikan kesan simple, dan beberapa bunga lili putih serta bunga anemone biru yang cukup memberikan warna di taman ini. Di tengah-tengahnya ada meja panjang dengan enam kursi yang saling berhadapan. Sooyoung dan So Mi sudah duduk di salah satu kursi itu. Di hadapan mereka sudah terhidang berbagai macam makanan yang kelihatan hangat dan enak.

Aku memilih duduk di sebelah Sooyoung, sementara Kibum duduk di sebelah istrinya. Sooyoung sempat menyunggingkan senyum ke arahku, dan itu cukup membuat jantungku berdebar kencang—seperti biasanya.

“Sooyoung-ssi,” panggil Kibum. Membuatku langsung menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan tajam padanya. Tapi namja itu hanya tersenyum penuh arti padaku sebelum dia kembali memusatkan perhatian pada Sooyoung lagi. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu saja, Kibum-ssi

Kibum melirikku sesaat sebelum dia berbicara lagi. “Kalau boleh tahu, kau dulu pernah bersekolah dimana?”

“Oh? Sekolah?” celetuk Sooyoung. “Apa maksudmu kuliah atau bagaimana?”

Eo, majayo. Kuliah”

Sooyoung tersenyum, “Kau pasti ingin tahu apa aku lulusan Chung Ang atau bukan. Iya, ‘kan? Karena suamiku ini dulu bersekolah disana”

Aku cukup terkejut Sooyoung mengetahui latar belakang sekolahku dulu karena aku memang tak pernah memberitahunya. Apa dia mencari tahu atau membacanya di suatu tempat?

“Oh, darimana kau tahu Kyuhyun adalah lulusan Chung Ang?” tanya Kibum sepert bisa membaca pikiranku.

Geunyang… arra” jawab Sooyoung. “Ah, emm—aku lulusan Sogang”

Jinjjayo?” celetuk So Mi. “Aku dulu juga di Sogang”

Geurae? Aku mengambil komunikasi. Bagaimana denganmu, So Mi-ssi?”

“Aku mengambil bisnis, seperti suamiku ini” jawab So Mi sambil menunjuk Kibum. “Hanya saja dia di Chung Ang bersama Kyuhyun-ssi. Mereka sudah berteman lama,”

Arrayo,” kata Sooyoung sambil tersenyum tipis.

Park Ahjumma datang, dan membantu menghidangkan makanan untuk kami berempat. Pertama dia menuangkan anggur, lalu menyiapkan beberapa makanan pembuka.

“Apa kau tahu, Sooyoung-ssi, dulu saat masih kuliah—“ Kibum diam sesaat untuk meminum anggurnya. “—dulu Kyuhyun itu sangat populer. Bukan hanya karena dia akan mewarisi GeumHo Group tentu saja, tapi juga karena dia sangat pintar”

Ya!” seruku.

Kibum mengabaikanku dan melanjutkan bicara. “Kurasa tak ada mahasiswa bisnis yang tidak mengenal Kyuhyun saat itu. Maja, Kyuhyun-ah?”

“Bahkan beberapa temanku di Sogang mengenalnya” sambung So Mi. “Yah—mungkin jika Kibum oppa tidak memintaku untuk menjadi yeojachingu-nya saat itu, aku bisa saja menyukai Kyuhyun-ssi

Mwoya—

Yeobo jinjja?”

So Mi menganggukkan kepala tanpa ragu, dan Kibum pun langsung membuat wajah datar yang bahkan baru pernah aku lihat sebelumnya. Sepasang suami istri ini kemudian saling berdebat—entah memperdebatkan apa, karena perhatianku sekarang teralihkan pada Sooyoung yang tertawa pelan. Sesuatu kembali berdesir di hatiku, dan saat dia menoleh ke arahku cepat-cepat aku memalingkan wajah. Aku berpura-pura sedang menatap jauh ke arah taman disisi lain.

“Omong-omong, apa kalian sudah merencanakannya?” tanya So Mi yang sudah menghentikan perdebatannya dengan suaminya.

“Merencanakan apa?” tanyaku mengembalikan perhatianku.

“Bayi,”

Aku dan Sooyoung saling menatap satu sama lain. Tak pernah menyangka jika kami akan mendapat pertanyaan seperti ini. Jujur saja, ini memang bukan pertama kalinya aku mendengarnya tapi memiliki bayi adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku untuk saat ini meskipun aku sebenarnya juga menginginkannya. Lagipula aku dan Sooyoung tak pernah membicarakan mengenai topik ini, bahkan sejak kami menikah. Karena sampai saat inipun kami masih tidur di tempat yang terpisah, jadi bagaimana mungkin pembahasan mengenai bayi disinggung dalam penikahan kami?

Yeobo, kenapa kau bertanya seperti itu? Aigoo…” celetuk Kibum yang sepertinya menyadari keadaanku. “Itu sesuatu yang menjadi urusan mereka, dan kenapa kau—“

Wae? Itu bukan pertanyaan yang vulgar atau bagaimana ‘kan?” sahut So Mi tak mau kalah. “Aku hanya ingin tahu karena mungkin saja Sooyoung-ssi ingin menjalani programnya bersamaku. Kau tahu yeobo, itu sangat tidak menyenangkan jika harus berkonsultasi sendirian”

Aku diam saja, begitu pula Sooyoung. Meskipun begitu aku masih bisa melihat Sooyoung yang beberapa kali mendesah pelan. Sepertinya pertanyaan So Mi ini membuatnya tidak nyaman atau bagaimana. Karena dia sama sekali tidak menatapku dan hanya terus menikmati makanannya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku menghela napas, lalu mulai berpikir. Apa seharusnya aku mulai membicarakan hal ini dengan Sooyoung? Bukan membicarakan masalah memiliki bayi atau bagaimana, tapi lebih untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini lagi jika dia memang belum siap. Tapi maukah Sooyoung membicarakannya?

__

Sooyoung POV

Aku melangkah masuk ke sebuah aula hotel dengan Kyuhyun di sebelahku. Malam ini, salah satu temanku mengadakan pesta dan aku diundang. Karena ada semacam ketentuan untuk datang ke pesta itu berpasangan, mau tak mau aku harus mengajak Kyuhyun mengingat sebagian besar temanku mengetahui bahwa aku sudah menikah. Meskipun pada awalnya aku berniat untuk tidak datang tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk datang karena aku sedang sedikit bosan di rumah. Bagaimana tidak? Pembicaraan mengenai bayi dengan dua teman Kyuhyun itu terus mengusikku, bahkan berlanjut sampai beberapa hari dan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.

“Sooyoung-ah!” panggilan suara Taeyeon itu terdengar, tak lama setelah aku masuk ke dalam aula. “Ya! Kupikir kau tak akan datang,” katanya kemudian setelah berada di hadapanku.

“Tentu saja aku akan datang,” jawabku langsung. “Omong-omong, kau datang dengan siapa?”

Taeyeon menunjuk ke sebuah arah, dan pandanganku pun mengikuti arah telunjuknya itu. Ada seorang namja berpakaian rapi dengan rambut cepaknya sedang mengobrol dengan beberapa orang. Melihat dari penampilannya, aku sama sekali tak pernah mengenalnya. Mungkin ini bahkan pertama kalinya aku melihatnya.

“Siapa dia?” tanyaku penasaran karena selama ini Taeyeon selalu menyembunyikan hubungannya dengan seorang namja meskipun aku adalah teman dekatnya.

“Shin Hyun Woo” bisik Taeyeon padaku. “Kami baru saja berkencan setelah lama saling mengenal”

Jinjja?”

Taeyeon menganggukkan kepala, lalu diapun mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun. “Senang bertemu denganmu lagi, Kyuhyun-ssi” katanya sambil tersenyum ramah, dan aku tahu itu adalah usahanya agar aku tak banyak bertanya tentang namjachingu-nya itu.

“Senang bertemu denganmu juga, Taeyeon-ssi” jawab Kyuhyun yang terlihat sedikit canggung tapi sekeras mungkin dia tidak menunjukkannya. “Bagaimana bisnismu?” tanyanya.

“Yah, aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya. Tapi karena kau juga pebisnis, pasti kau tahu sendiri jika bisnis itu, apapun jenisnya, pasti ada saat-saat dimana akan datang banyak orang, dan terkadang bahkan tak ada yang datang sama sekali”

Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku juga memiliki sebuah restoran, Taeyeon-ssi. Jadi aku mengerti dengan baik” katanya. Lalu dia menoleh padaku, “Yeobo, mungkin kau seharusnya belajar dari Taeyeon-ssi tentang bagaimana mengelola restoran”

Geurae? Arraseo,” jawabku.

Emm—bagaimana kalau kita bergabung dengan yang lainnya?” ajak Taeyeon kemudian. “Beberapa orang sudah menunggu kalian disana,” Dia kembali menunjuk ke satu arah dan aku melihat sekerumunan orang disana.

Kajja,” sahutku kemudian. “Kajja, oppa. Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku yang mungkin tak bisa datang saat pernikahan kita”

Kyuhyun hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala saja.

Akupun mengikuti langkah Taeyeon, sementara Kyuhyun disebelahku. Meskipun awalnya aku ragu untuk menggandeng lengan Kyuhyun, tapi mau tak mau aku melakukannya. Karena aku sedikit khawatir teman-temanku akan melihat bagaimana canggung dan anehnya hubunganku ini dengan Kyuhyun sebenarnya walaupun kami jauh lebih baik sekarang.

Yedeura!” seru Taeyeon saat kami sudah dekat dengan segerombolan yeoja dengan pasangannya masing-masing. Mereka kira-kira enam orang, dan keenam-nya beserta pasangannya langsung menolehkan kepala ke arah kami.

“Choi Sooyoung!” Seorang yeoja—namanya Im Yoona, datang menghampiriku dan langsung memelukku. “Sudah lama sekali tak melihatmu” katanya sambil melepas pelukannya.

Jal jinaesseo, Yoona-ya?”

Geureomyo,” sahut Yoona sangat antusias. Karena memang seperti itulah kepribadiannya. “Oh, ini suamimu?” tanyanya sambil mengarahkan pandangannya pada Kyuhyun disebelahku.

Eo. Kenalkan ini—“

“Choi Sooyoung!”

“Sooyoung-ah!”

Ya!”

Suara-suara itu memotong perkataanku karena teman-temanku yang lainnya ikut bergabung. Mereka adalah Kim Hyoyeon, Seo Juhyun, Tiffany Hwang—yang mengadakan pesta, Kwon Yuri, dan Sunny Lee. Mereka semuanya bersama Taeyeon dulu dekat denganku, tapi tidak ada yang sedekat Taeyeon karena terkadang akupun lebih sering pergi dengan Taeyeon daripada yang lainnya. Mungkin itu juga karena kami kuliah di jurusan yang berbeda, sementara aku dan Taeyeon mengambil jurusan yang sama. Tapi meskipun begitu, kami berdelapan tetap dekat dan saling mendukung sama lain jika terjadi sesuatu diantara kami, entah itu sesuatu yang membahagiakan ataupun menyedihkan.

Jal jinaesseo?” tanya Yuri setelah dia memberikan pelukan singkatnya padaku.

Jal jinaesseo. Kalian bagaimana?”

“Kami semua baik,” Hyoyeon yang menjawab. “Tapi pasti lebih baik kau daripada kami ‘kan, Sooyoung-ah?” katanya sambil melirik Kyuhyun.

Aku tertawa pelan, lalu lebih mendekatkan tubuhku ke arah Kyuhyun sekedar untuk meyakinkan teman-temanku bahwa aku sudah baik-baik saja dan melupakan Kang Dongwoon. Biar bagaimanapun mereka mengetahui mengenai hubunganku dengan namja itu dulu, dan bagaimana dia meninggalkanku setelahnya. Tapi melakukan ini mengharuskanku mengabaikan tatapan Taeyeon dan senyuman menggodanya padaku.

Yedeura, kenalkan ini suamiku. Namanya Cho Kyuhyun” kataku mengenalkan Kyuhyun pada teman-temanku, meskipun beberapa mungkin sudah mengetahuinya saat datang ke pesta pernikahanku waktu itu.

Oh… Ny. Cho,” celetuk Sunny yang dilanjutkan dengan tawanya. “Annyeonghaseyo, Sunny Lee” katanya kemudian sambil mengenalkan dirinya sendiri pada Kyuhyun.

Lalu semua temanku pun menjabat tangan Kyuhyun satu per satu dan mengenalkan diri beserta namjachingu mereka masing-masing. Ada beberapa namja yang aku kenal, seperti Lee Donghae, Park Jaebum, dan Oh Seunghwan. Sementara yang lainnya baru kali ini aku mengenalnya.

“Senang sekali rasanya kita bisa berkumpul seperti ini lagi” kata Yuri setelah acara perkenalan selesai dilakukan. “Tapi seperti yang kita duga sebelumnya, Sooyounglah orang yang akan pertama menikah diantara kita. Majayo?”

Maja, maja

Aku tersenyum tipis, dan menyadari bahwa Kyuhyun sedang mengamatiku dengan senyuman di wajahnya. Cepat-cepat aku menoleh ke arahnya untuk memastikan itu, tapi sebagai gantinya itu justru membuatku malu karena senyuman Kyuhyun itu terasa benar-benar berbeda.

Ya! Tapi bukankah waktu itu kita menebak Sooyoung-ie akan menikah dengan Kang Dongwoon?“ seru Seo Juhyun tiba-tiba. “Melihat bagaimana mereka dekat, kita sudah sangat yakin mereka akan menikah ‘kan? Tapi siapa yang menyangka jika dia pada akhirnya menikahi namja lain,” komentarnya lagi.

Aku terdiam membeku di tempatku. Dari ketujuh temanku ini, Seo Juhyun-lah yang sepertinya tidak tahu bagaimana hubunganku dengan Kang Dongwoon yang sebenarnya. Mengingat dia langsung pergi ke China untuk bekerja, dan tak ada yang memberitahunya mengenai kabarku dengan Dongwoon. Aku melirik Taeyeon yang memasang wajah datar, lalu menoleh dengan takut-takut ke arah Kyuhyun. Rahang suamiku itu mengeras meskipun dia tersenyum ke arah teman-temanku.

“Fany-ah!” seruan Taeyeon itu memecah keheningan. “Emm—omong-omong kapan kau akan segera menyusul Sooyoung? Apa rencanamu tahun ini atau bagaimana?”

“Yah, semoga saja tahun ini” sahut Tiffany yang sepertinya menyadari jika Taeyeon hanya sedang mengalihkan pembicaraan. Tapi dia tidak berkomentar apa-apa dan melanjutkan perkataannya. “You guys know that my fiancée is so busy, dan kami masih belum memutuskan tentang pernikahan”

“Kita akan segera mengurusnya, jagiya” sahut namjachingu Tiffany yang bernama Mark—seorang namja keturunan Korea-Amerika, sama seperti Tiffany.

“Asalkan kalian tidak lupa mengundang kami saja,” celetuk Hyoyeon sambil menggelayut pada namjachingu-nya sendiri. “Itu bisa menjadi refrensi pernikanku nantinya” Dia menambahkan.

Semua orang tertawa, begitupula aku. Hyoyeon memang selalu seperti itu, membuat tertawa orang-orang di sekitarnya entah dari sikapnya ataupun gaya bicaranya. Dia sudah seperti mood-maker dalam grup kami saat kami sedang berkumpul seperti ini. Terkadang aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini—berkumpul bersama teman-temanku, menertawakan apapun atau hanya sekedar berjalan-jalan. Tapi aku tahu, semua itu tak bisa kami lakukan dengan mudah disaat kami sudah memiliki tanggung jawab masing-masing seperti pekerjaan dan hal-hal lainnya. Jadi, saat seperti inilah yang ditunggu dan aku tak akan menyia-nyiakannya.

Oh, wait a minute” seru Tiffany tiba-tiba. “Temanku datang. Jamkkamanyo,” katanya seraya melangkah pergi dari kerumunan kami.

“Tempat mana yang kalian pilih untuk honeymoon?” Yuri yang bertanya setelah Tiffany pergi. “Namiseom? Jejudo? Atau luar negeri?”

“Jejudo,”

“Jejudo,”

Aku dan Kyuhyun menjawabnya bersamaan, dan itu langsung membuat senyuman mengembang di wajah teman-temanku. Taeyeon bahkan sampai menyenggol lenganku karena itu padahal aku tak tahu apa yang membuat mereka seperti itu.

“Apa itu menyenangkan?” tanya Hyoyeon masih diselingi tawanya.

Ya! Kenapa kau bertanya seperti itu pada pasangan yang sedang honeymoon?” seru Sunny, tapi diapun tertawa. “Itu pasti menyenangkan. Bahkan untuk pasangan yang belum menikah sekalipun itu—“

Ya! Ya! Ya!” Taeyeon menyahut dan menghentikan apapun yang ingin Sunny katakan.

Ladies and gentleman,” suara Tiffany kembali terdengar. “Kenalkan ini temanku. Dia datang dari Gwangju dan kebetulan sekali dia—“

“Lee Eui Jin,” gumaman Kyuhyun itu terdengar olehku.

Aku langsung menolehkan kepala—dan aku tak tahu kenapa itu terjadi, dan melihat seorang yeoja yang sebelumnya pernah aku lihat di Gwangju saat peringatan kematian appa. Lee Eui Jin—cinta pertama suamiku, sekarang dia berdiri di hadapanku dan tersenyum ramah pada semua orang di kelompok ini.

“—Eui Jin,Yeoja itu sedang memperkenalkan diri pada masing-masing orang. “Oh! Kau kan—“ Pandangannya mengarah padaku, kemudian Kyuhyun yang diam mematung di sebelahku.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Tiffany yang menyadari situasi diantara kami. Dia memang yeoja yang paling peka, dan aku akui itu dari dulu.

Eo,”

“Dia teman suamiku, Fany-ya” jawabku, berusaha bersikap biasa dan sama sekali tak menyinggung bahwa sebenarnya Eui Jin juga adalah cinta pertama Kyuhyun. “Senang bertemu denganmu lagi, Eui Jin-ssi” kataku kemudian.

Ne, senang bertemu denganmu juga, Sooyoung-ssi” balas Lee Eui Jin dengan ramah. Aku melihatnya menatap Kyuhyun sesaat sebelum bicara, “Aku tak tahu ternyata kau juga temannya Tiffany” katanya padaku.

Aku tertawa kecil, “Aku juga begitu”

Eui Jin kembali menatap Kyuhyun. “Emm—“ Dia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. “Kyuhyun-ah, bisa kita bicara sebentar?” tanyanya kemudian.

Semua orang menatap Eui Jin, lalu Kyuhyun dan terakhir padaku. Jujur saja, aku benar-benar tak suka situasi yang seperti ini dan aku tahu aku harus melakukan sesuatu agar tidak terlihat bahwa sebenarnya aku tak mempermasalahkan dengan siapa Kyuhyun akan bicara meskipun ada sedikit rasa kesal yang aku rasakan saat ini. Aku mendesah pelan, tapi menyembunyikannya dari siapapun kecuali mungkin Taeyeon yang berdiri dekat denganku.

“Sooyoung-ssi, tidak apa-apa jika aku meminjam suamimu sebentar saja?” Eui Jin meminta ijin padaku tiba-tiba.

Ya! Kenapa meminta ijin segala?” sahut Kyuhyun pelan meskipun aku masih bisa mendengarnya entah yang lainnya. “Yeobo, jamkkaman. Itu hanya sebentar,”

Aku tersenyum ke arah Kyuhyun, lalu berbicara pada Eui Jin. “Tentu saja. Kebetulan sekali aku—dan Taeyeon, emm—dia mengajakku berkeliling, jadi yah—oppa, pastikan saja kau tidak banyak minum”

Oh? E-Eo” Kyuhyun terlihat terkkejut. “Geurae. Aku akan menemuimu nanti, yeobo

Aku mengangguk singkat dan membiarkan Kyuhyun pergi bersama Lee Eui Jin. Lalu untuk menghindari pertanyaan dari teman-temanku—yang aku yakin pasti ada banyak, aku memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka bersama Taeyeon dengan alasan ingin mengambil minuman. Dan meskipun mereka terlihat curiga jika aku hanya beralasan, tapi aku cepat-cepat pergi sebelum ada yang menahanku untuk tetap disana.

“Apa dia teman lama yang kau ceritakan itu, Sooyoung-ah?” tanya Taeyeon setelah kami berhasil menjauh dari teman-teman kami yang lainnya. “Lee Eui Jin?” Dia bertanya lagi.

Eo, dia” jawabku singkat.

“Dan dia adalah cinta pertama Kyuhyun-ssi?”

Aku mengangguk sambil berusaha untuk tidak terlalu sering menatap ke arah Kyuhun dan Eui Jin.

Ya! Lihat itu,” seru Taeyeon tiba-tiba. Membuatku langsung menoleh ke arah yang sedang dia pandang. “Bukankah mereka terlihat sangat dekat?”

Aku terus menatap Kyuhyun dan Eui Jin yang terlihat saling mengobrol seru dan duduk saling berdekatan. Rasa tidak sukaku pada yeoja itu semakin meningkat seakan-akan ada sesuatu yang memancing perasaan itu muncul di dalam diriku. Itu bukan hanya karena mereka terlihat dekat, tapi juga karena cara mereka duduk. Aku bahkan jarang duduk sedekat itu dengan suamiku sendiri, dan melihat dia duduk sedekat itu dengan yeoja lain benar-benar membuatku tidak menyukainya.

Jiltu aniya?

Aku mendengus kecil, “Jiltu?”

Taeyeon mengangguk tanpa ragu, “Meskipun kau tidak mencintainya, tapi kau merasa tidak senang melihat suamimu sedekat itu dengan yeoja lainnya, ‘kan?”

Aku diam saja.

Ya! Kurasa kau memang harus melakukannya,” celetuk Taeyeon kemudian.

“Melakukan apa?”

Taeyeon mendekat ke arahku, lalu berbicara pelan. “Hubungan suami istri”

Ya! Bukankah sudah kukatakan aku belum—“

“Apa kau sama sekali tidak khawatir jika suamimu akan mencari yeoja lain karena istrinya sendiri tak pernah memberikan apa yang dia inginkan?” sahut Taeyeon dengan cepat. “Itu adalah kewajibanmu sebagai seorang istri. Apa kau tahu itu?”

“Aku tahu, tapi—“ Aku tak melanjutkan kata-kataku karena aku teringat dengan perkataan eomma-ku, Ahn So Mi dan beberapa orang lainnya tentang memiliki seorang anak dan tugas istri mengenai hal itu. Aku menghela napas panjang, lalu menatap Kyuhyun yang masih mengobrol dengan Eui Jin. “Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku melakukannya, Taeyeon-ah?”

-TBC-

Eotte?

Semoga suka ya^^

Oh ya! Mungkin aku lebih lama update FF ini daripada FF sebelumnya, jadi mohon ditunggu yah^^

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

39 thoughts on “What Make A Love -3-

  1. Ciee… Syoongi udah mulai cemburuu..
    Lanjutin ya chinguu, aku suka sama ide cerita nya. Alur nya pas banget. Tapi aku kurang suka sama Lee eui jin itu tuhh

  2. NayaLee says:

    ehemmm, ad yg cmbru tuh kyakny. Emng y ssuatu itu trasa brhrga klau udh khilangan, nah Soo bru nyadar tuh saat tkut Kyu drebut sma Eui Jin. next dtunggu. Fighting!!!!!

  3. ice gang says:

    Apa bakal dibuat complicated banget thor? Jangan dong kasian itu…soo eon udh mulai suka buat mereka ga canggung lagi..tapi greget sih liat soo eon mulai suka tapi ga sadar..lanjut thor

  4. Ester says:

    Mwo!!!lee eun jin kembali aduh jangan sempeq deh kyu tergoda mau kembali ke eun jin…
    Next unni ditunggu lanjutan nya..

  5. Org ketiga muncul ni, akhirnya sooyoung cemburu jg..smga aja sooyoung cpt” sadar klo dia jg suka sm kyu gemes sm soo suka mikirin mantam muluu.
    Next part jgn lama” ya thorr wkww

  6. ry-seirin says:

    Ciee…😊😊😊
    To mulai ada rsa cemburu liat Kyu ma first Lovenya.
    Wah Eun ji tmennya Fanny???
    Bisa gwt darurat ma hubungan Kyuyoung!!
    D tunggu next partnya.

  7. Ry seirin says:

    Wah dah ada tanda² jelous to mah, biar cuek gto pnas jg liat cuami cma cwek lain plgi ma Masa lalu hadeuhhh….
    Brat bgt to mah. 😊😊😊
    Ciee mnta sran Taeyeon buat mulai bgtoan emanknya tau kan blm married gto.
    Next part bkln gmn???
    D tunngu lnjutannya

  8. Dian says:

    Eiyy ciye ciye Sooyoung nya cemburu kayaknya next part mereka bakal ngelakuin deh wkwk. Ayo Sooyoung bener kata Taeyeon, daripada Kyuhyun ninggalin lo kayak Kang Dongwoon hayoo

  9. Plis thor buruan bikin hubungan mereka makin baik. Jangan kaya gini terus. Beneran takut kalo kyuhyun goyah.
    Si soo nya juga terlalu anu banget dah. Kali ini bener bener ga suka sama sikapnya soo yg terlalu mikirin masa lalunya. Kalo kaya gitu terus kapan bisa bahagianya

  10. mongochi*hae says:

    akhirny..
    part yg dtunggu post jga…

    isshhh knp jga si wanita masa lalu kyu dtng dsaat hub kyuyoung blom mdkti kata whoa…
    ayooo soo cari cara supaya kyu gk brpaling kewanita lain…

    next part dtunggu

  11. Megumi says:

    Makanya Soo peka dong, tunjukin rasa sukamu sm suamimu. Kyu juga jgn jelalatan. Berharap mereka lebih terbuka Dan lebih dekat satu sama main ☺

  12. Sie says:

    Annyeong…
    Greget aku..! 😡 Eui jin pakek pengen temu ma Kyuppa, tapi ada bagusnya jg ya, Soo jadi tumbuh rasa cemburu..😆kekk…kekk…
    Ditunggu bgt kelanjutannya, gomawo

  13. Sisca says:

    Soo eon udh ada rasa gelisah noh serrruuuuuuu banget ditunggu part selanjutnya ya thor jgn lama lama di postnya^^

  14. Hasnahayatunnisa says:

    Waahh🙂 sooyoung uda mulai suka kan yaa, cuma dia belom sadar ja sama perasaannya🙂 mudah2an eu jin itu jafi pengganggu deh, biar sooyoung eonni semakin ngerasa cemburu. Kekekeke ~~~~
    Semangat thor🙂🙂

  15. Laras says:

    Ye… keren eon jadi nggak sabar nunggu kelanjutannya ya eon…
    Bener-bener suka dan penasaran sama ff mu ini eon…
    Semangat eon..

  16. Youngra park says:

    Aduhh rasany sepajang Baca gue gk bca nafas n gue sesak bgt baik sesak krn sedih senang mau pun gemes lhat kyuyoung aduhh mereka sdhbsling cemburu tapi kpan sling jujurny blom lagi ad cinta prtama kyuppa yg bikin emosi gue knp tuh org hrus hdir sooeoni sharusny jgn ksih kesempatan kyuppa brfua aj ma dia gue takut rasany kyuppa bakal muncul lagi haduhh jebal aniya andeww gue msih blom puas bcanya eoni next part di tnggu bgts aku slalu ngecek nih wp buat mastiin eoni sdh update atau blom pokokny next part di tnggu bgts pngen cpt tau sikap sooeoni akan kya mana ku harap sih akan diamin kyuppa biar kyuppa tau kalau sooeoni cemburu n gk suka lhat kyuppa dkat lgi ma tuh cewe next part pali2

  17. Wahhh… s.author pinter bnget tarik ulur hubungan kyuyoung dan para pembaca… serta ntah mungkin smpai crita.A mw kelar bru mreka sling brhubungan intim untk mmbuat mreka lengket, Kan bkin Aq gerah Heughhh!!

  18. ellalibra says:

    Makin gregetan sm sikapnya soo sm kyu yf cuek gt….. G nyangka trnyata soo bs g ska jg kl ada cwe dkt” kyu ..brarti udh mulaai ada kmajuan y hehe … G sabar bt mrk lpa sm org yg mrk ska dlu bt g ada rasa gt eon fighting neeeeeeext🙂

  19. Elis sintiya says:

    part kali ini seru bgt.. itu si Lee eui jin gak bakal ganggu hubungan Kyuyoung kan?? kuharap tidak.. ditunggu bgt thor bagian mereka melakukan hubungan suami istri.. pokoknya aku nunggu bagian nc atau bagian mereka sudah melakukan hubungan suami istri… semangat thor

  20. ajeng shiksin says:

    Sooyoung cemburu.. apa jangan jangan dy udah suka sama kyuhyun ??? Trus apa kyuhyun mau balik lagi sama Cinta pertama nya??? Gimana sma percintaan kyuyoung . Penasaran banget. Jangan lama lama part selanjutnya ia chingu..

  21. lely says:

    Kerennn daebakk kyak orang gila bacanya soo eon cemburu lucu amat wkwkwk next part ditunggu sooeon jatuh cinta sama kyu oppa ya thor hehehe /keinginan readers/ semangat terus nulisnya thor~ \^^/

  22. Wahhh soo cemburu kahh???? Taeyeon emng sllu jd pakar nx rumah tangga soo dg kyu,,,, ayo tae ajarkan soo supaya bisa mencintai kyu…… next

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s