What Make A Love -4-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Memiliki seorang anak dan tugas seorang istri melayani suaminya. Dua hal itulah yang selalu aku hindari sampai saat ini bahkan setelah lebih dari sebulan aku menikah dengan Cho Kyuhyun. Jujur saja, untuk dua hal itu aku benar-benar tak tahu harus bagaimana dan apa aku memang belum siap atau bagaimana. Ada banyak hal yang aku pikirkan, hanya saja aku tak tahu apa-apa saja yang aku pikirkan itu. Aku hanya merasa belum siap dan belum saatnya aku melakukannya dengan suamiku. Tapi perkataan Taeyeon benar-benar membuatku sedikit berubah pikiran dan entah kenapa aku mulai mempertimbangkannya. Apalagi setelah melihat bagaimana suamiku mengobrol dengan sangat dekat dengan cinta pertamanya di pesta yang diadakan salah satu temanku ini.

“Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku melakukannya, Taeyeon-ah?” tanyaku setelah memikirkannya lagi.

Taeyeon menoleh ke arahku dan kemudian menatapku lekat-lekat. Tapi belum sempat aku mendapatkan jawaban darinya, sebuah pengumuman tiba-tiba terdengar. Suara seorang yeoja yang mengumumkan tentang akan diadakannya kompetisi dance perpasangan. Sorakan dan tepuk tangan orang-orang yang datang ke pesta ini langsung terdengar. Yeoja itu kembali mengumumkan bahwa semua orang yang datang kesini diharuskan mengikuti kompetisi ini, dan akan ada semacam kualifikasi di masing-masing rondenya. Aku dan saling Taeyeon saling menatap satu sama lain. Tanpa kami saling mengungkapkan apa yang kami pikirkan, kami tahu ide seperti ini pasti berasal dari Tiffany yang seperti tidak pernah kehabisan ide untuk memeriahkan sebuah acara.

Ya! Eotteokkaji?” tanyaku sedikit gelisah tentang kompetisi dance ini. “Bisakah aku tidak ikut?”

Wae? Ini hanya sebuah kompetisi yang—“

“Kau tahu aku dan Kyuhyun oppa tak pernah sedekat itu. Bagaimana kami bisa menari bersama? Itu pasti akan terlihat canggung,” Aku menyela perkataan Taeyeon.

“Bukankah katamu hubungan kalian sudah semakin baik?” tanya Taeyeon dengan cepat. “Kurasa kau tak akan canggung jika hubungan kalian memang semakin baik, jadi apa salahnya mengikuti kompetisi ini?”

“Bukan begitu. Masalahnya adalah aku dan Kyuhyun oppa—“

Let it flow saja, Sooyoung-ah” Kali ini Taeyeon yang menyela perkataanku. Dia tersenyum ke arahku, lalu berbicara. “Anggap saja ini sebuah cara agar kau bisa lebih dekat dengan suamimu, dan meyakinkan dirimu untuk melakukannya”

Mwo?!”

“Sooyoung-ah,” Sebuah panggilan tiba-tiba terdengar, dan membuatku langsung menolehkan kepala. Kyuhyun disana sedang menatapku dengan lekat dan ekspresinya terlihat bingung serta terkejut dengan adanya kompetisi ini. “Apa kita akan ikut?” tanyanya kemudian.

Oh?” celetukku terkejut.

“Tentu saja kalian harus ikut,” seru Taeyeon sangat antusias. “Oh! Aku harus mencari Hyun Woo oppa. Sampai jumpa nanti,” katanya bergegas pergi meninggalkanku hanya dengan Kyuhyun.

Aku dan Kyuhyun saling menatap satu sama lain. Kami benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang. Disisi lain, mataku menangkap sosok Lee Eui Jin yang terus berdiri mematung di belakang Kyuhyun sambil terus menatapnya. Rasa tidak suka itu kembali muncul, tapi aku berusaha untuk tetap bersikap biasa. Lalu suara yeoja itu kembali terdengar, memberitahukan semua pasangan untuk bersiap-siap di tempatnya. Dan beberapa orang lainnya datang untuk membagikan semacam kertas selebar koran yang akan kami gunakan untu alas menari. Aku dan Kyuhyun kembali bertatapan sebelum akhirnya kami mengambil posisi karena pasangan yang lain pun melakukan hal yang sama.

“Kita hanya menari saja, ‘kan?” tanyaku padaku Kyuhyun yang terlihat cukup tegang. “Ah, jinjja! Aku benar-benar akan protes pada Tiffany karena tak memberitahukan hal ini padaku terlebih dahulu” gumamku kesal.

 “Jangan khawatir. Ini hanya untuk bersenang-senang saja,” kata Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya ke arahku. “Aku memang tidak pandai menari, tapi kita akan melakukannya”

Eo,” sahutku seraya meraih tangan Kyuhyun yang terulur dan menggenggamnya. “Lagipula semua orang melakukannya, jadi kita ikuti saja” Aku berkata lagi setelah melihat teman-temanku juga sudah mengambil posisi dengan pasangannya masing-masing.

Musik mulai terdengar, dan para pasangan pun mulai menari. Begitupula aku dan Kyuhyun. Kami terus menari, dan menari. Awalnya kami tidak begitu dekat, tapi saat kertas koran itu mulai digulung menjadi bagian yang lebih kecil. Mau tak mau kamipun semakin dekat—sama seperti pasangan lainnya, bahkan jarak tubuh kami hanya sekitar 5 cm, dan ini adalah yang pertama kalinya kami sedekat ini. Aku benar-benar merasa gugup, dan sepertinya Kyuhyun pun sama karena itu sangat terlihat jelas di wajahnya.

Jujur saja, jantungku berdegup kencang saat aku berada sangat dekat dengan Kyuhyun. Dan aku tak tahu kenapa bisa seperti itu karena sebelumnya pun aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini saat bersama suamiku. Mata kami saling bertatapan, dan itu justru membuatku semakin berdebar-debar sampai akhirnya aku hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Untungnya Kyuhyun dengan sigap memegangku dan menghindariku dan insiden yang pasti akan membuatku malu.

Gwenchana?” tanya Kyuhyun degan raut wajah khawatirnya. “Apa kau lelah?”

Gwenchana, oppa” jawabku sambil mengalihkan pandanganku dari Kyuhyun. “Gomawo karena sudah memegangiku,”

Kyuhyun tersenyum tipis, dan kamipun melanjutkan menari dengan kertas koran yang dilipat menjadi sangat kecil. Hanya satu orang yang bisa berdiri diatasnya, membuatku dan Kyuhyun sempat kebingungan untuk beberapa saat. Tapi kemudian—tanpa mengatakan apa-apa padaku, dia langsung mengangkat tubuhku tepat saat musik kembali mengalun. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi tapi aku memilih untuk diam saja berada di atas gendongan Kyuhyun.

Setelah beberapa saat, musikpun berhenti dan kompetisi menari juga selesai. Aku juga tak tahu apa yang menjadi kriteria dalam kompetisi ini karena setelah selesai menari dengan Kyuhyun, aku memilih untuk keluar aku ruangan pesta. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku ingin meradakan kegugupanku terlebih dahulu. Sungguh, ini pertama kalinya aku merasa gugup di depan Cho Kyuhyun.

Ya! Eodiya?” seru Taeyeon saat aku melewatkannya yang sedang berdiri di dekat pintu keluar.

“Mencari udara segar,” Aku menjawab singkat, lalu bergegas keluar.

Suasana di luar memang jauh lebih tenang daripada di aula. Tapi jantungku masih terus berdebar dengan kencang. Bahkan saat aku memegangi dadaku, aku merasakannya dengan jelas. Aku benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi padaku, dan kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini. Sementara aku tahu pasti bahwa aku sama sekali tidak mencintainya namja itu. Bukankah ini aneh? Sebelumnya aku tak pernah segugup ini, tapi kenapa sekarang aku justru merasa gugup.

“Sooyoung-ah” Panggilan dari Kyuhyun tiba-tiba terdengar. Aku menolehkan, dan melihat namja itu sedang melangkah ke arahku. “Aku mencarimu di dalam. Tapi Taeyeon-ssi memberitahuku bahwa kau pergi keluar”

Aku diam saja.

Gwenchana? Apa terjadi sesuatu?”

Aniya,” jawabku cepat-cepat. “Amugeotdo, aniyo” Aku menambahkan.

Jinjja?” Kyuhyun terlihat tidak percaya. “Kelihatannya kau tidak baik-baik saja. Apa kau sakit?”

Aku menggelengkan kepala. “Gwenchana, oppa” kataku menenangkan Kyuhyun. “Aku—aku keluar untuk mencari udara segar. Jadi yah—aku benar-benar tidak apa-apa”

Kyuhyun menatapku lekat-lekat, seperti sedang mencari sesuatu di wajahku. Tapi kemudian aku melihatnya menghela napas panjang, dan diapun menyunggingkan segaris senyuman ke arahku.

Wae? Apa ada yang aneh?” tanyaku ingin tahu.

Aniya, aniya. Geunyang—” Kyuhyun menghentikan perkataannya. Dia kembali tersenyum, “Bagaimana kalau kita masuk lagi?” ajaknya.

Aku mengangguk pelan.

Kyuhyun mengulurkan tangannya ke arahku, seperti memintaku untuk menggandeng tangannya. Awalnya aku ragu untuk mengangkat tanganku meraihnya, meskipun pada akhirnya aku meraih uluran tangan itu. Kyuhyun langsung menggenggamnya dengan erat, dan kemudian diapun mengajakku melangkah masuk kembali ke dalam aula. Aku mengerti dia pasti melakukan ini untuk menghindari kecurigaan teman-temanku tentang bagaimana hubungan pernikahan kami yang sebenarnya. Karena itulah aku mengikuti permintaannya itu. Tapi saat kami baru tiba di depan pintu, mataku menangkap sosok namja sedang berdiri mematung di samping tiang pintu. Meskipun wajahnya tidak jelas, tapi rasanya aku mengenali siluetnya—entah bagaimana.

Wae? Apa ada sesuatu yang kau lihat?” tanya Kyuhyun tiba-tiba, membuatku tersentak kaget karena sadar bahwa aku sedang bersamanya saat ini.

Cepat-cepat aku menyahut, “Aniya, aniya—bukan siapa-siapa” kataku sedikit canggung.

Geureom, kajja” ajak Kyuhyun lagi.

Aku mengangguk, dan suamiku pun kembali menarikku ke dalam aula. Dia mengajakku bergabung dengan Taeyeon yang sedang mengobrol dengan Yoona. Mereka berdua tersenyum lebar begitu melihat kami, tapi aku memilih untuk memberikan tanggapan apa-apa. Pikiranku kembali pada namja yang tadi aku lihat itu. Aku merasa ini bukan pertama kalinya aku melihatnya, tapi dimana dan siapa dia aku benar-benar tak tahu.

Jinjja! Ini pertama kalinya aku menari seperti itu” seruan Yoona terdengar, membuat lamunanku buyar. “Tiffany benar-benar luar biasa dengan ide ini. Maja?” katanya melanjutkan.

“Itulah kenapa dia menyuruh kita untuk datang berpasangan. Karena dia memang telah menyiapkan semua ini” sambung Taeyeon. Dia melirik ke arahku, lalu kembali berbicara. “Yah, setidaknya kita bisa lebih dekat dengan pasangan kita sendiri, ‘kan?”

Aku menatap Taeyeon dengan cepat, tapi tetap memilih untuk tidak memberikan komentar apa-apa. Aku sedang tidak dalam mood untuk membalas perkataannya itu, jadi lebih baik aku diam saja. Aku hanya mendesah panjang, lalu mengalihkan pandanganku ke arah Kyuhyun yang ternyata sedang memandangiku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca. Wajahnya terlihat khawatir tapi juga penasaran, tapi dia sama sekali tidak mengatakan apapun padaku dan hanya terus memandangiku lekat-lekat.

Aku berdehem pelan sebelum berbicara. “Waeyo?”

Kyuhyun mengerjapkan matanya, “Oh? Emm—” Dia terlihat bingung harus mengatakan apa. “Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya pada akhirnya.

Aku mengangguk meskipun aku tidak mengerti kenapa dia bertanya seperti itu padaku.

“Apa kau mau aku ambilkan sesuatu?” Kyuhyun menawarkan dirinya. “Cocktail? Wiski? Beer? Atau yang lainnya?”

Dwaesseoyo, oppa

Kyuhyun menghela napas panjang, lalu dia melangkah mendekat padaku. “Bukankah kau sudah sepakat untuk membiarkanku menunjukkan kepedulianku padamu, Sooyoung-ah?” bisiknya di telingaku. “Jadi, kau mau apa?” Dia kembali bertanya.

Aku tidak langsung menjawab, tapi justru memandangi suamiku ini lekat-lekat. Setelah beberapa saat, aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku teringat dengan kesepakatan itu, dan aku tahu bahwa aku memang harus mengikuti apa yang sudah aku sepakati dengannya. Bukan untuk apa-apa, tapi lebih untuk pertanda bahwa aku menghormatinya sebagai suamiku.

Geureom… Cocktail” kataku pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum, “Jamssiman—” katanya sebelum melangkah pergi untuk mengambil cocktail yang aku inginkan itu.

Pandangan mataku terus mengarah ke Kyuhyun, dan aku tak tahu kenapa aku seperti itu. Rasanya seperti mataku bergerak dengan sendirinya mengikuti kemanapun Kyuhyun pergi, dan jantungku pun masih berdebar saat mengingat apa yang tadi aku lakukan bersamanya. Aku kembali mendesah panjang, lalu memilih untuk mengalihkan pandanganku ke arah lain. Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan ini? Kenapa aku mulai merasa berbeda saat Kyuhyun berada di dekatku? Lalu bagaimana dengan perasaanku pada Dongwoon? Apa aku benar-benar sudah melupakannya saat ini?

__

Kyuhyun POV

Kertas-kertas itu berserakan di atas meja kerjaku. Tumpukan map dengan berbagai laporan menumpuk, dan laptop di tengah meja aku biarkan menyala tanpa tersentuh. Aku benar-benar mengabaikan pekerjaan di kantor hari ini karena otakku tidak bisa diajak berkompromi untuk berkutat dengan berbagai macam laporan yang sudah berjajar di meja kerjaku  sejak tadi pagi. Aku tak tahu kenapa aku terus memikirkan Sooyoung sepanjang hari ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang dia sedang dia pikirkan tapi aku tak bisa bertanya padanya begitu saja. Itu bukan tentang masa lalunya lagi, ‘kan?

Aku mendengus kecil, lalu menyederkan badan ke punggung kursi.

Pikiranku kembali melayang saat aku datang ke pesta bersama Sooyoung karena undangan salah satu temannya yang bernama Tiffany. Aku benar-benar tak menyangka jika aku bisa sedekat itu dengan Sooyoung saat diharuskan menari dengannya. Yah—meskipun itu terasa sedikit canggung tapi aku bisa mengendalikan diriku untuk bersikap sewajarnya di depan Sooyoung karena jantungku pun berdebar kencang sepanjang aku menari dengannya. Tanpa sadar senyumku mengembang membayangkan bagaimana ekspresi istriku itu saat aku terpaksa menggendongnya karena itu satu-satunya cara agar kami bisa terus menari bersama.

Tapi kemudian wajah Lee Eui Jin muncul di kepalaku. Meskipun itu sebuah ketidaksengajaan, tapi tetap saja itu mengejutkan bisa bertemu dengannya lagi setelah pertemuan terakhir kami di Gwangju. Ada sedikit perasaan senang saat melihatnya malam itu, apalagi dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun selutut berwarna hitam. Tidak banyak yang berubah darinya—aku tahu itu, kecuali fakta bahwa dia adalah seorang pengacara sekarang.

Sebuah ketukan pelan membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat aku mengubah posisi dudukku dan mempersilahkan siapapun yang mengetuk untuk masuk. Itu adalah Sekretaris Kim yang membawakanku laporan lainnya. Tanpa banyak bertanya laporan apa yang dia bawa, aku memintanya untuk menumpuknya di atas laporan-laporan lainnya tanpa berminat untuk memeriksanya hari ini. Karena aku benar-benar sedang tidak dalam mood untuk membaca laporan apapun yang akan membuatku sakit kepala. Aku tahu bahwa itu adalah tanggung jawabku tapi bukankah aku bisa memeriksanya nanti? Aku bahkan bisa membawanya ke rumah jika itu memungkinkan jadi bukan masalah besar jika aku tidak memeriksanya sekarang.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Sajangnim?” tanya Sekretaris Kim yang sepertinya bisa membaca raut wajahku. “Anda kelihatannya sedang memikirkan sesuatu yang berat” katanya menambahkan.

“Tidak, bukan apa-apa” jawabku langsung. “Aku hanya sedang tidak berminat untuk melihat-lihat laporan hari ini”

Geureom… Apa Anda ingin aku menyingkirkannya dari meja Anda atau—”

“Biarkan saja disini,” sahutku dengan cepat. Mataku menatap jam yang melingkar di tangan kiriku. “Mungkin aku akan memeriksanya nanti setelah meeting dan makan siang” kataku sambil beranjak dari kursiku.

“Baiklah kalau begitu,” kata Sekretaris Kim mengikuti langkahku keluar dari ruanganku.

Aku berjalan bersama Sekretaris Kim menyusuri lorong di lantai dua belas gedung ini, lalu masuk ke dalam lift tanpa banyak berbicara. Aku bahkan mengabaikan beberapa sapaan orang-orang yang berpapasan denganku dan hanya membalas seadanya saja. Orang-orang mungkin menganggapku berbeda hari ini, tapi aku benar-benar tidak peduli dengan semua itu. Karena perhatianku sedang teralih pada dua yeoja yang entah bagaimana terus berada di pikiranku tanpa bisa aku hilangkan dari kepalaku.

Sajangnim,” panggil Sekretaris Kim setelah cukup lama aku diam.

Aku menolehkan kepala dan cukup terkejut karena sekretarisku ini sedang menahan pintu lift yang terbuka. Tanpa banyak bicara, akupun bergegas keluar dari lift dan melangkah keluar dari gedung. Mobil yang biasa aku naiki sudah menunggu tepat di depan pintunya, jadi aku langsung masuk ke dalamnya yang langsung diikuti oleh Sekretaris Kim. Dalam hitungan detik mobil sudah melaju meninggalkan gedung Asuransi Geum Ho dan bergabung dengan puluhan kendaraan lainnya.

Meeting-nya akan dimulai tepat pukul 11, Sajangnim” kata Sekretaris Kim memberitahuku. “50% pemegang saham dari anak cabang Geum Ho akan menghadiri meeting itu dan akan ada pemaparan tentang proyek yang akan dikembangkan Namjoo Company untuk enam bulan kedepan”

Aku mengangguk mengerti.

Mobil terus melaju menuju Jongno-gu, dimana anak cabang Geum Ho Group yaitu Namjoo Company berada. Sebenarnya aku tak perlu menghadiri meeting disana, tapi karena aku perlu melakukan kunjungan ke beberapa anak cabang jadi aku memutuskan untuk menghadirinya. Lagipula apa salahnya jika harus datang meeting? Kurasa itu lebih baik daripada harus melamun di ruanganku tanpa melakukan apapun karena setidaknya ada sesuatu yang akan mengalihkan pikiranku dari dua yeoja itu. Aku hanya berharap aku benar-benar bisa fokus nantinya.

Satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Seo Ahjussi ini berhenti di halaman parkir sebuah gedung bertingkat sepuluh itu. Tanpa menunggu apapun, Sekretaris Kim memanduku memasuki gedungnya dan kami langsung menuju ruang meeting karena acara itu sudah berjalan kira-kira lima menit yang lalu. Begitu tiba disana, dua orang yeoja menyambutku sambil membungkukkan badan ke arahku sebelum membukakan pintu ruang meeting-nya. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa aku akan mengikuti meeting ini karena beberapa orang terlihat terkejut saat aku memasuki ruangannya.

Oh, selamat datang, Cho Sajangnim!” seru seorang namja yang langsung berdiri dan melangkah menghampiriku lalu menyapaku dengan formal. Dia adalah CEO Namjoo Company, Kim Tae Hyun. “Aku senang Anda bergabung dalam meeting kami ini, Sajangnim. Ini benar-benar suatu kehormatan bagi Namjoo Company,”

“Jangan seperti itu, Daepyonim. Biar bagaimanapun Namjoo Company juga keluarga Geum Ho Group, jadi sudah seharusnya aku datang”

Kim Tae Hyun tersenyum lebar, lalu diapun mempersilahkanku untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku melangkah ke kursi itu dan mendudukinya sebelum kemudian mengarahkan pandanganku ke seluruh ruangan. Tidak banyak wajah yang aku kenali di ruangan ini kecuali seorang yeoja yang duduk di meja paling ujung dan sedang memandangiku lekat-lekat. Mataku membelalak, Lee Eui Jin disana. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan apa yang aku lihat, dan memang benar yeoja itulah yang duduk di kursi itu. Tidak salah lagi.

Aku mendesah pelan secara diam-diam sambil berusaha mendengarkan seorang yeoja yang mulai menjabarkan tentang proyek Namjoo Company di depan semua orang yang ada di ruangan ini. Tapi pikiranku tetap saja tidak terfokus pada meeting kali ini dan sepertinya usahaku sia-sia. Aku sama sekali tak menyangka jika Lee Eui Jin akan duduk di ruangan ini bersamaku dan beberapa kali mencuri pandang ke arahku jika ada kesempatan. Seharusnya aku memang mengabaikannya tapi aku tak tahu kenapa aku juga terus-menerus menatap ke arahnya. Seakan-akan ada sesuatu yang membuatku secara otomatis menatap ke arah yeoja itu.

Rapat diadakan selama tiga puluh menit—Sekretaris Kim yang memberitahuku sebelumnya, tapi aku merasa jam seolah mengalami perlambatan, seperti sedang menguji kesabaranku. Aku memang tidak banyak mengambil peran dalam meeting ini selain hanya mendengarkan atau sesekali mengangguk dan menggeleng saat ada yang meminta suaraku. Lagipula kedatanganku ke meeting ini adalah bukan untuk mencampuri urusan perusahaan ini karena aku hanya akan mengawasinya saja, dan mereka pun akan tetap memberikan laporannya padaku nantinya. Tapi dengan datang seperti ini setidaknya memberiku gambaran apa yang akan dilakukan perusahaan ini dalam jangka pendeknya, dan itu cukup membuatku terkesan.

“Cho Sajangnim,” suara yang sangat familiar terdengar olehku begitu aku keluar dari ruang meeting tiga puluh menit kemudian.

Sebenarnya tanpa aku menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggil, aku sudah mengetahuinya. Tapi tetap saja aku membalikkan badan dan tersenyum pada Lee Eui Jin yang sedang melangkah menghampiriku. Aku cukup terkejut karena dia tidak mengatakan apapun padaku setelahnya dan hanya memberiku sebuah kertas kecil yang di selipkan di tanganku saat dia berjalan melewatiku. Lalu diapun pergi begitu saja, mengikuti seorang namja separuh baya dan kemudian berbicara dengannya.

“Apa kita langsung kembali ke perusahaan, Sajangnim?” tanya Sekretaris Kim yang menghampiriku kemudian.

Ani, jamkkaman” sahutku dengan cepat. Aku membuka kertas yang diberikan Lee Eui Jin itu dengan kedua alis saling bertaut. Isinya adalah sebuah ajakan untuk bertemu sambil makan siang. Tapi haruskah aku memenuhi ajakannya ini?

Oh, apa itu, Sajangnim?”

“Ajakan makan siang bersama,” jawabku memilih untuk tidak menyembunyikan apapun pada Sekretaris Kim yang memang sudah seperti keluargaku sendiri. “Kau tahu yeoja yang tadi memanggilku ‘kan, Kim Kyongri? Dia teman kuliahku dulu, dan aku ini ketiga kalinya kami bertemu” kataku sambil berjalan meninggalkan ruang meeting bersama sekretarisku ini.

“Ketiga kalinya?” tanya Sekretaris Kim terlihat tidak mengerti.

Aku mengangguk singkat, “Aku bertemu dengannya di pemakaman Abeonim, lalu di pesta temannya Sooyoung dan ini yang ketiga kalinya” kataku. “Tapi kami memang belum mengobrol banyak saat itu, jadi apa aku harus menemuinya kali ini?”

“Jika dia teman Anda, tidak salahnya untuk menemuinya, Sajangnim” sahut Sekretaris Kim mengungkapkan pendapatnya. “Lagipula itu juga hanya sekedar makan siang” tambahnya.

Geurae?” celetukku seraya memikirkan perkataan sekretarisku ini. Aku mendesah pelan, lalu melanjutkan bicara. “Kalau begitu, katakan pada Seo Ahjussi untuk mengantarku ke Myeong-dong dan kau, Kim Kyongri, pergilah makan dengan Seo Ahjussi

Ne?

“Mungkin ada sesuatu yang ingin kau atau Seo Ahjussi makan” kataku sambil mengendikan bahu. “Selama ini ahjussi selalu mengikuti apa yang aku makan, jadi kali ini makanlah sesuatu yang ahjussi inginkan”

Ahjussi?

Aku tertawa pelan. “Wae? Aku ingin memanggilmu seperti itu sejak dulu, tapi kau selalu melarangku” kataku. “Ahjussi, gomawo” godaku kemudian saat Sekretaris Kim membukakan pintu mobilnya untukku.

Sekretaris Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapiku. Lalu diapun masuk ke dalam mobil dan berbicara pada Seo Ahjussi untuk mengantarku ke tempat yang diinginkan Lee Eui Jin itu. Aku sempat berpikir untuk memberitahu Sooyoung tentang pertemuanku ini dengan Eui Jin, tapi kemudian aku mengurungkannya. Aku sendiri tak tahu kenapa aku memutuskan untuk tidak memberitahu Sooyoung kali ini. Karena aku khawatir jika dia akan salahpaham denganku atau bagaimana meskipun aku juga tidak terlalu yakin dengan itu.

Tidak sampai satu jam, mobil berhenti di depan sebuah restoran tradisional di Myeong-dong. Setelah memberitahu Sekretaris Kim untuk menjemputku satu jam kemudian, akupun bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran itu. Seorang pelayan yeoja berpakaian hanbok datang menyambutku, dan akupun memberitahu bahwa aku datang untuk menemui seseorang bernama Lee Eui Jin. Lalu dengan senyuman ramahnya, yeoja itupun mengantarku ke sebuah tempat yang sepertinya memang sudah di pesan oleh Lee Eui Jin terlebih dahulu.

“Ini tempatnya,” kata yeoja itu padaku.

Ne, kamsahamnida” sahutku balas tersenyum.

Yeoja itu membungkukkan badan ke arahku sebelum dia pergi meninggalkanku di lorong restoran yang sangat tradisional ini. Aku sempat mengamati sekitarku terlebih dahulu sambil menenangkan diriku karena aku tak tahu kenapa aku merasa sedikit gugup sekarang. Padahal aku hanya akan menemui teman lamaku. Apa mungkin itu karena dia pernah menjadi yeoja yang aku cintai jadi aku seperti ini? Lagipula perasaanku padanya memang belum selesai karena dia menghilang begitu saja dari kehidupanku. Sebenarnya selama ini juga bisa dikatakan bahwa aku sudah menunggunya sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan Sooyoung dan melupakan tentang yeoja itu. Tapi siapa yang menyangka jika setelah aku menikah ternyata dia muncul lagi di hadapanku?

Aku menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Lalu setelah lebih tenang, akupun menggeser pintu ruangannya dan masuk ke dalam. Lee Eui Jin sudah disana, sedang duduk sambil menikmati teh. Tapi saat melihatku masuk, senyum di wajahnya langsung mengembang cerah. Membuat kegugupanku kembali datang meskipun aku berusaha keras untuk tidak menunjukkannya. Tanpa banyak bicara, aku langsung duduk di depan Eui Jin dan menatapnya sekilas karena aku tak mau dia mengetahui bahwa aku cukup  gugup saat ini.

“Aku pikir kau tak akan datang, Kyuhyun-ah” kata Eui Jin langsung memulai percakapan. “Aku sempat khawatir tadi,”

Aku tersenyum tipis, “Tentu saja aku datang” jawabku. “Lagipula ini hanya sekedar makan siang,”

“Begitu?” sahut Eui Jin dengan cepat. “Apa kau tidak merindukanku? Tidak banyak yang kita bicarakan saat pertemuan kita sebelumnya, ‘kan?”

Aku memilih untuk tidak langsung menjawabnya dan memikirkan sesuatu yang lain. “Bagaimana kau bisa ikut rapat Namjoo Company?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Oh, aku bekerja sebagai salah satu pengacaranya” Eui Jin menjawab. “Aku harus mengambil beberapa pekerjaan, dan Kim Daepyonim menawariku. Jadi yah—”

Aku mengangguk-angguk mengerti. Lalu dua orang yeoja datang membawakan satu set makanan tradisional lengkap yang langsung ditata dengan sangat rapi di atas meja. Makanannya tidak jauh berbeda dari restoran milikku, hanya saja cara penyajiannya terkesan lebih sederhana. Tapi aku tak lupa mengucapkan terima kasih pada dua yeoja itu saat mereka selesai dengan pekerjaan mereka.

“Aku sebenarnya ingin datang ke restoranmu, tapi kau pasti tak akan makan apapun disana” Eui Jin kembali membuka percakapan yang sempat terhenti. “Dan kau tak akan membiarkanku untuk membayar apapun yang aku makan, seperti dulu”

Ah… Kau masih mengingatnya?”

“Tentu saja,” sahut Eui Jin. “Aku tak bisa melupakan semua hal yang kita lakukan meskipun aku—kau tahu,”

Aku mengangguk singkat. “Aku tahu,” ujarku menyambung. “Bagaimana kabar suamimu?” tanyaku kemudian.

Ehm, baik” jawab Eui Jin terdengar tidak yakin. Dia bahkan sama sekali tak menatap ke arahku saat mengatakannya.

Keningku berkerut. Untuk beberapa saat suasana hening hadir diantara kami berdua. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan, tapi aku menahannya karena tak ingin Eui Jin menganggapku terlalu ingin mengetahui bagaimana keadaan rumah tangganya. Saat bertemu dengannya dua kali itu, Eui Jin memang tak pernah menyinggung tentang rumah tangganya, dan akupun masih sadar bahwa statusku sekarang adalah menjadi suami Sooyoung. Sementara Eui Jin hanya hidup pada masa laluku.

“Untuk sementara, aku tidak bersamanya, Kyuhyun-ah” ujar Eui Jin tiba-tiba meskipun aku sudah tidak ingin membahasnya lagi.

Alisku terangkat heran, dan aku melihat senyum terpaksa tersungging di bibir Eui Jin. “Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

Eui Jin menghela napas pelan, sangat terlihat jika dia sedang berusaha tersenyum. Pandangannya menatap lekat ke arahku. “Aku benar-benar minta maaf karena menghilang begitu saja saat itu” Dia mulai menjelaskan. “Saat itu aku benar-benar tak bisa menolak keputusan keluargaku untuk pindah ke Hongkong, dan—dan aku menikah disana”

Aku mengangguk-anggukkan kepala berusaha untuk memahami. Sejak tahun terakhir kuliah, Lee Eui Jin memang menghilang dan sama sekali tak memberiku kabar sampai akhirnya aku mendengar bahwa dia sudah menikah dari salah satu teman dekatnya. Meskipun aku sangat terluka saat itu, tapi Eui Jin masih tetap tidak bisa dihubungi dan teman-temannya yang mengetahui tentang kabar pernikahannya itu seolah-olah kompak untuk tidak mau memberitahukan dimana keberadaannya.

“Jadi, sekarang kau tidak tinggal dengan suamimu?” tanyaku kemudian.

“Dia tetap di Hongkong, sementara aku mendapatkan tawaran untuk menempati posisi kosong di perusahaannya di Gwangju” jelas Eui Jin terdengar santai. “Aku membuka kantor pengacara sendiri disana setelahnya, jadi aku menetap di Gwangju setelah itu”

“Dan kau memutuskan untuk tinggal di Korea sementara suamimu tetap di Hongkong?”

Eui Jin menganggukkan kepala tapi ekspresinya datar. “Kehidupanku tidak seperti apa yang kau bayangkan, Kyuhyun-ah” katanya sambil menuangkan teko teh ke dalam cangkirnya sendiri. “—dan kehidupan memang benar-benar sulit untuk dimengerti” Dia menambahkan.

Aku memilih untuk diam saja kali ini. Meskipun terlihat samar, tapi aku mulai merasakan ada yang salah dengan kehidupan Eui Jin. Apa ada alasan dia kembali?

__

Sooyoung POV

“Taeyeon-ah, kau serius dengan rencana ini?” tanyaku sambil memutar-mutar tubuhku di depan cermin. Sebelah tanganku memegang ponsel dan tangan yang lainnya menarik-narik lingerie merah marun yang aku kenakan.

“Percaya saja padaku,” Suara Taeyeon di ponsel terdengar sangat bersemangat kali ini.

Aku menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. “Kenapa kau begitu yakin? Memangnya kau pernah melakukannya?”

Aigoo,” sahut Taeyeon dengan cepat. “Sudah berapa kali kita menonton film yadong? Memangnya kau tidak belajar sama sekali saat menontonnya?” Kali ini suaranya terdengar frustasi.

Aku gelisah. “Belajar memang iya. Hanya saja aku tak menyangka jika aku juga menjadi pemerannya. Lalu aku harus bagaimana? Memberinya lirikan menggoda?” tanyaku teringat beberapa hal yang dilakukan di film-film yang aku tonton bersama Taeyeon beberapa hari ini.

Aku bisa mendengar tawa Taeyeon yang berderai. “Kyuhyun-ssi pasti akan mengajarimu,” katanya setelah beberapa saat. “Dia namja, jadi dia tahu apa yang akan dia lakukan”

“Tapi aku benar-benar gugup,”

“Tenang saja. Dia suamimu, dan ini harus dilakukan dalam suatu hubungan pernikahan”

“Kau yakin dia akan tergoda jika aku berpenampilan seperti ini?”

“Tentu saja,” jawab Taeyeon dengan mantap.

Aku kembali mendesah panjang, lalu mengakhiri teleponku dengan Taeyeon. Aku kembali mengamati penampilanku di cermin, tak percaya jika aku benar-benar akan melakukan hal segila ini. Jujur saja, aku tak pernah berpikir akan bertindak seperti ini jika bukan karena Taeyeon terus-menerus mengingatkanku tentang tugas-tugasku sebagai seorang istri.

“Aku benar-benar akan gila,” gumamku seraya mengambil mantel panjangku lalu memakainya sebelum keluar dari kamarku sendiri dan pergi ke kamar Kyuhyun.

Setengah jam lagi biasanya suamiku itu sudah sampai di rumah, dan dia sama sekali tak memberitahuku jika dia akan pulang terlambat jadi itu berarti dia akan pulang tepat waktu. Begitu sampai di kamar Kyuhyun, aku kembali melepaskan mantelku dan duduk di tempat tidurnya. Mataku beberapa kali menatap ke arah jam di meja kecil disamping tempat tidur dan jantungku berdegup kencang seiring dengan detikan jam-nya.

Masih dengan perasaan gelisah, aku memutuskan untuk naik ke tempat tidur Kyuhyun. Siapa yang menyangka jika aku pernah tertidur di tempat ini sekali? Beberapa hari yang lalu, aku sempat berpikir untuk tidur di kamar yang sama dengan suamiku sebelum aku melakukan hal ini. Tapi Taeyeon berkata jika itu terlalu lama, dan dia juga tak yakin apa aku benar-benar akan melakukannya pada akhirnya atau tidak. Katanya tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika aku terus menunda-nunda tugasku yang satu ini.

“Sooyoung-ie eodiseo?” Suara Kyuhyun terdengar dari luar kamar, dan aku bisa merasakan debaran jantungku yang semakin cepat dengan tiba-tiba.

Aku menahan napas, berusaha menenangkan kegugupanku tapi tidak berhasil. Tak lama kemudian suara pintu kamar terbuka terdengar, dan aku melihat sosok Kyuhyun yang berdiri di dekat pintu sedang melepas jas-nya sebelum akhirnya menyalakan lampu. Tepat saat lampu menyala, aku bisa melihatnya terkejut saat mengetahui bahwa aku sudah duduk di tempat tidurnya. Dengan jarak kurang dari tiga meter, Kyuhyun terus menatapku dengan lekat. Wajahnya jelas terlihat terkejut, apalagi saat dia memandangiku dari ujung kaki sampai rambutku.

Bagaimana tidak? Penampilanku kali ini benar-benar diluar kebiasaanku—bahkan bisa dikatakan ini pertama kalinya. Aku membiarkan rambut panjangku tergerai, dan aku memakai make-up meskipun tipis. Pakaianku-lah yang paling membuat Kyuhyun terkejut, tapi entah bagaimana aku sempat melihat senyum mengembang di wajah lelahnya. Apa menurutnya penampilanku kali ini aneh atau bagaimana? Kenapa dia hanya diam disana dan tidak tergoda? Seharusnya dia mendekat ke arahku, ‘kan? Karena itulah yang terjadi di film-film yang aku tonton bersama Taeyeon sekedar untuk mengetahui bagaimana aku harus melakukannya.

Waesseo,” kataku sambil tersenyum gugup. Pandangan mataku berpindah-pindah dari Kyuhyun, menunduk, lalu menatap Kyuhyun lagi. “Kau pulang lebih cepat hari ini,”

E-eo, g—geurae, begitu”

Aku diam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

Satu menit berlalu dalam diam. Aku masih duduk menahan gugup di tempat tidur, sementara Kyuhyun masih mematung di depan pintu. Aku tidak tahu apa dia terus menatapku atau tidak sama sekali, karena gelap jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Aku berpikir keras untuk mencairkan suasana. “Apa kau mau mandi dulu? Aku akan siapkan baju—“

Dwaesseo,” potong Kyuhyun dengan cepat.

Kami kembali terdiam. Sesekali pandangan mata kami saling bertemu, dan aku juga bisa melihatnya yang canggung—sama sepertiku.

“Kau serius, Sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun pelan yang akhirnya membuka suara. Dia masih belum beranjak dari tempatnya, dan itu justru membuatku terlihat seperti orang bodoh karena sepertinya apa yang aku lakukan ini sia-sia.

Aku menunduk tidak menjawab.

“Kau serius? Kau sudah siap?” tuntut Kyuhyun. “Kau tidak melakukan ini karena perkataan Ahn So Mi ataupun tuntutan dari orang tua kita, ‘kan?”

Aku bisa merasakan pipiku yang merona merah. “Mollayo. Aku benar-benar gugup,”

“Sooyoung-ah, lihat aku” kata Kyuhyun kemudian. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Kyuhyun dengan salah tingkah. Dari jarak antara tempat tidur dan pintu, suamiku itu menatap mataku dalam-dalam. “Kau serius mau melakukannya malam ini?” selidiknya.

Membutuhkan waktu beberapa detik bagiku sampai akhirnya aku memutuskan untuk balik bertanya. “Kau sama sekali tak tergoda olehku, oppa?”

“Jangan bodoh, Sooyoung-ah. Kau istriku, dan itu bohong jika aku tidak tergoda denganmu sejak kita menikah” jawaban Kyuhyun ini cukup membuatku terkejut, tapi aku memilih untuk diam saja. “Aku tahu kau sudah sangat berusaha selama pernikahan ini, dan berusaha untuk menjadi istri yang terbaik bagiku. Meskipun pernikahan kita tidak berdasarkan pada sesuatu yang disebut cinta, tapi aku benar-benar menghargai usahamu, Sooyoung-ah

Aku masih diam saja.

“Aku juga mengerti bagaimana kau sering ditekan oleh eommeonim untuk belajar lebih membahagiakan aku di—hmm, ranjang, dan ocehan teman-temanmu. Sampai mungkin kau merasa bersalah dan tertekan karena telah mengabaikan aku untuk hal yang satu ini. Aku benar-benar mengerti,”

Mataku mulai berkaca-kaca, terharu karena ternyata Kyuhyun bisa memahami perasaanku meskipun aku tak pernah mengatakannya.

Setelah beberapa saat, pada akhirnya Kyuhyun melangkah mendekat ke arahku. Dia berjalan perlahan, lalu berlutut di hadapanku dan meraih tanganku. Dia menatapku lekat-lekat, dan pandangan mata kami bertemu. Aku benar-benar bisa melihat ada sesuatu di bola mata Kyuhyun sekarang, dan entah kenapa jantungku kembali berdegup kencang karenanya.

“Aku tahu kau sudah berusaha,” kata Kyuhyun pelan sambil membelai punggung tanganku dengan lembut. “Dan, untuk hal yang satu ini, aku ingin kau melakukannya tanpa terpaksa” lanjutnya tulus.

Setetes air mata jatuh di pipiku, dan aku bisa merasakan tangan Kyuhyun yang bebas mengusapnya dengan lembut. “Gomawoyo, oppa

Kyuhyun tersenyum ke arahku. Lalu diapun memegang bahuku lembut, dan mencium keningku dengan penuh perasaan. Setelah itu, dia bangkit berdiri untuk menyelimuti tubuhku masih dengan senyum yang sama.

Oppa, apa kau benar-benar tidak tergoda padaku?” tanyaku lagi memastikan apa aku berhasil menggodanya atau tidak.

“Siapa yang tidak tergoda dengan yeoja cantik sepertimu?” sahut Kyuhyun yang membuat pipiku terasa panas. “Aku tak pernah menyangka jika kau memiliki tubuh yang cantik juga. Aku menyukainya,”

Aku tersenyum tipis. “Bagaimana jika mulai sekarang kita tidur di kamar yang sama?” kataku mengungkapkan pemikiranku beberapa hari yang lalu. “Dan tidak di tempat yang terpisah, tapi di ranjang yang sama”

Jinjja?”

Aku mengangguk. “Kurasa kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu,” kataku memberitahu. “Itu berhasil untukku, dari awal aku memutuskan untuk menikah denganmu”

“Apa kau ingin lebih terbiasa dulu dengan aku yang tidur disebelahmu?”

E—eo,” jawabku sambil menelan ludah. Aku menepis semua pikiranku tentang masa laluku yang entah bagaimana kembali datang. “Cinta itu karena kebiasaan. Itu menurutku,”

Geurae,” kata Kyuhyun kembali tersenyum.

**

“Apa maksudmu dengan tidak melakukannya? Apa dia tidak tergoda padamu atau bagaimana?” seru Taeyeon saat aku mengunjungi apartemennya setelah memeriksa restoran Kyuhyun. Aku baru saja selesai menceritakan padanya tentang apa yang terjadi malam itu mengingat aku baru bisa menemuinya karena dia harus kembali ke rumah orang tuanya di Jeollanam-do. Aku tak mungkin membicarakan mengenai ini di telepon, ‘kan?

“Dia tergoda, tapi memilih untuk tidak melakukannya” jawabku sambil mengaduk-aduk orange juice-ku. “Dia tidak mau melakukannya hanya karena aku terpaksa melakukannya”

“Itu berarti selama ini dia menyadari bahwa sebenarnya kau gelisah mengenai itu?”

“Yah, bisa dikatakan begitu” sahutku.

“Lalu, bagaimana sekarang?”

Aku mengendikan bahu. “Setelah kejadian itu, aku memang mulai mendiskusikan banyak hal dengannya. Kami juga sudah tidur bersama di ranjang yang sama”

Oh? Jinjja?

Aku mengangguk. “Aku sedang berusaha menumbuhkan perasaanku untuknya, dan meskipun itu sulit aku tetap harus mencobanya” kataku yang teringat dengan debaran jantungku saat aku begitu dekat dengan Kyuhyun di pesta Tiffany beberapa hari yang lalu. “Itu mulai terasa, tapi aku tidak yakin apa itu karena aku mulai menyukainya atau tidak”

Kedua alis Taeyeon saling bertaut. “Kenapa begitu?”

Molla. Aku benar-benar tak tahu apa aku harus terus melakukan hal ini atau membiarkannya mengalir begitu saja,”

Tak ada tanggapan dari Taeyeon untuk beberapa saat. Tapi aku tahu bahwa dia juga sedang berpikir—yang seharusnya tidak dia lakukan mengingat ini adalah masalah pernikahanku. Jujur saja, aku harus berusaha keras membuang ingatanku tentang Kang Dongwoon setiap kali aku berusaha untuk mendekatkan diriku pada suamiku. Karena sebagian hatiku masih enggan melakukannya, jadi aku merasa sedikit kesulitan. Aku memang tak memberitahu Taeyeon mengenai hal ini karena dia pasti akan memarahiku begitu tahu aku masih membawa-bawa Dongwoon padahal aku sudah menikah sekarang.

Ya! Mau mencoba sesuatu yang lain?” celetuk Taeyeon tiba-tiba.

Shirreo,” sahutku dengan cepat.

“Kau ini,” dengus Taeyeon kesal. “Aku bahkan belum memberitahumu apapun tapi kau sudah menolaknya”

Aku tertawa pelan, “Itu karena ide-idemu selalu membuatku gelisah”

“Tapi itu berhasil, ‘kan?” Taeyeon langsung menyahut. “Setidaknya ada babak baru dalam pernikahanmu sejak kejadian lingerine itu”

“Kau pikir pernikahanku ini semacam permainan?”

“Bukan begitu—”

“Apapun itu, aku tak mau mengikuti saranmu yang aneh-aneh itu” Aku menyela perkataan Taeyeon yang belum selesai. “Apa kau tak tahu bagaimana malunya aku berpenampilan seperti itu di depan suamiku sendiri? Itu sama sekali tidak sama seperti di film-film,”

Taeyeon tertawa, yang membuatku langsung menjitak kepalanya.

“Bagaimanapun, gomawo, Taeyeon-ah” kataku tak lupa berterima kasih karena selama ini Taeyeon selalu ada untukku dan membantuku menyelesaikan masalahku.

Taeyeon mengangguk. “Kau juga akan membantuku jika pada akhirnya aku menikah. Arraseo?”

“Tentu saja!”

__

Kyuhyun POV

Pagi yang cukup dingin—tidak seperti biasanya. Meskipun begitu, aku dan Sooyoung masih bisa menikmati pagi dengan olahraga santai di salah satu taman yang letaknya tidak jauh dari kawasan rumah kami. Sooyoung memilih untuk menaiki sepeda, sementara aku jogging di sampingnya. Kami sempat berkeliling menikmati suasana pagi di taman ini sambil sesekali mengobrol tentang apapun.

Yah, sejak kejadian lingerine itu, hubunganku dengan Sooyoung memang berubah ke arah yang lebih baik. Aku tak tahu kenapa bisa begitu, tapi aku benar-benar bisa merasakan jika istriku ini jauh lebih terbuka padaku sekarang. Ditambah lagi dengan perubahan tempat tidur kami yang meski masih terasa canggung saat pertama kali berbagi tempat tidur yang sama, tapi kami mulai terbiasa setelah beberapa hari. Ini benar-benar suatu kemajuan yang pesat yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, dan aku benar-benar bahagia sekarang.

“Ini, minumlah” kataku seraya memberikan sekaleng minuman dingin pada Sooyoung saat kami beristirahat.

Gomawo, oppa” kata Sooyoung begitu menerima minuman itu dariku. “Phigonhaeyo (aku sangat lelah)

Arra,”

 “Aku tidak pernah bersepeda sejauh ini, jadi ini cukup melelahkan” katanya berkomentar.

Aku tertawa kecil, “Kalau begitu kita harus lebih sering berolahraga pagi agar kau tidak mudah lelah”

Andwae. Shirreo,”

Wae?”

“Aku tidak mau memiliki tubuh yang kekar seperti atlet jika terlalu sering berolahraga,”

Aku kembali tertawa, lalu mengacak-acak rambut Sooyoung yang basah karena keringat. “Kau memang paling pintar beralasan,” kataku.

“Tapi itu benar,” dengus Sooyoung kemudian.

“Kalau tubuhmu kekar seperti atlet, memangnya kenapa?” sahutku. “Aku masih tetap tergoda jika kau memakai lingerine sekali lagi,”

Oppa!” protes Sooyoung yang wajahnya langsung memerah karena aku menggodanya.

Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa melihat bagaimana reaksi Sooyoung. Meskipun itu hanya sedikit, sepertinya aku sudah bisa melihat bagaimana sosok istriku yang sebenarnya—sesuai dengan apa yang dikatakan Taeyeon dulu. Yah, setidaknya aku mulai sering melihat wajah Sooyoung yang merona merah sekarang.

“Bagaimana restorannya? Semuanya baik-baik saja, ‘kan?” tanyaku mengganti topik pembicaraan meskipun sebenarnya aku masih ingin menggoda istriku ini.

“Tidak ada masalah. Aku hanya perlu berbicara dengan supervisor-nya dan mencari tahu apa kita masih membutuhkan beberapa orang baru atau tidak untuk mengurus dapur”

“Kim Joon Ki-ssi akan senang berbicara padamu,”

Jinjja? Wae?

“Dia sudah lama menginginkan seseorang yang bisa membantunya mengawasi restoran. Jadi—yah, dia sangat antusias saat aku memberitahunya bahwa kau akan mengambil alih restoran,”

“Dia tidak khawatir jika aku mungkin akan mengacaukan restoran?” tanya Sooyoung dengan pandangan menerawang.

Aku menggeleng. “Dia percaya padamu,”

“Kenapa dia percaya padaku padahal aku belum melakukan apapun untuk restoran?”

Geurissae,” sahutku seraya mengusap-usap alisku. “Mungkin aku akan bicara padanya lagi nanti”

Dwaesseoyo, oppa” celetuk Sooyoung kemudian. “Kurasa aku tak perlu tahu hal-hal seperti itu” lanjutnya sambil membuka kaleng minumannya lalu meneguknya.

Tatapan mataku terpaku pada gerakan Sooyoung minum. Memperhatikan segala gerakan Sooyoung yang aku tak seharusnya aku lakukan.

“Bagaimana pekerjaan di kantor, oppa?” tanya Sooyoung tiba-tiba, membuat lamunanku langsung buyar. “Katamu perusahaan sedang berusaha untuk menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan di Daejeon, ‘kan?”

Eo. Mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan pergi ke Daejeon untuk melakukan pembicaraan dengan perusahaan itu”

Sooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi tidak ada yang dia katakan lagi padaku.

“Sudah selesai istirahatnya? Ayo kita pulang,” kataku seraya beranjak dari tempatku dan Sooyoung beristirahat. “Aku akan menaiki sepedanya dan kau ganti yang berlari”

Mwo?”

Aku tertawa singkat sambil meraih sepeda, lalu meminta Sooyoung untuk mendekat dengan gerakan kepalaku. “Aku hanya bercanda. Naiklah,” kataku kemudian sambil menepu-nepuk besi sepeda yang melintang diantara aku dan kemudi sepeda.

Yeogi?” celetuk Sooyoung heran.

Eo, yeogi

Ani. Tapi—“

“Tunggu apa lagi? Ayo,” selalu tanpa menunggu Sooyoung selesai berbicara. “Aku bisa mengayuhnya sampai rumah. Jangan khawatir”

Oppa, bagaimana bisa aku duduk disini?” Sooyoung masih memrotes. “Orang-orang juga akan melihatnya,” tambahnya.

“Kalau begitu, kau berlari saja sampai rumah dan aku akan naik sepeda”

Oppa!”

Aku menatap Sooyoung dengan lekat, lalu mulai menaiki sepedanya. “Jika kau tak mau naik sekarang, aku benar-benar akan meninggalkanmu dan—“

A—araseo,” potong Sooyoung dengan cepat sambil melangkah mendekat ke arahku dan duduk di toptube sepeda. “Kajja ga,” katanya tanpa menoleh ke arahku.

Aku tersenyum tipis karena berhasil melaksanakan ideku yang muncul begitu saja ini. “Kajja!” seruku sebelum mulai menjalankan sepedanya.

Sooyoung benar, selama perjalanan banyak orang yang memandangi kami bahkan terang-terangan menunjuk ke arah kami. Tapi aku mengabaikannya dan berusaha untuk menikmati perjalanan ini sampai ke rumah. Sooyoung terus diam, dan aku tahu alasannya. Tapi itu justru membuat senyumku kembali mengembang sambil berharap dia juga menikmati ini seperti aku.

Setelah tiga puluh menit menaiki sepeda, kami sampai kembali di rumah. Sooyoung turun dari sepeda dan aku bisa melihat wajahnya yang memerah karea sinar matahari yang menyorotinya. Meskipun begitu, aku yakin warna merah itu bukan hanya karena matahari melainkan karena apa yang baru saja kami lakukan ini. Aku bahkan berani bertaruh bahwa wajahnya sudah memerah sejak kami meninggalkan taman. Karena ituah dia memilih diam dan terus menundukvan kepalanya sepanjang perjalanan.

“Wajahmu merah. Apa kau malu?” tanyaku berpura-pura polos.

Sooyoung cepat-cepat memegangi pipinya. “A—aniyo. Ini karena mataharinya,”

Ah, geureoguna” sahutku berusaha keras untuk tidak tersenyum. “Ayo kita masuk ke dalam,”

E—eo,”

Kami melangkah bersama tanpa melanjutkan percakapan kami. Tapi kemudian—saat kami baru akan melewati gerbang, sesosok yeoja berjalan dengan anggun menghampiri kami. Yeoja dengan postur tubuh semampai, berkulit putih susu dan bersih, serta berwajah tirus yang cantik meskipun hanya memakai make-up yang tipis. Dia mengenakan blus berwarna abu-abu terang dan celana panjang hitam. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, membuatnya semakin menunjung penampilannya. Aku mengurungkan niatku untuk masuk dan tertegun dengan yeoja yang sangat aku kenali ini.

Annyeong, Kyuhyun-ah, Sooyoung-ssi” sapa Lee Eui Jin—yeoja itu, sambil tersenyum ramah ke arahku dan Sooyoung.

Annyeonghaseyo, Eui Jin-ssi” Sooyoung balas menyapa, tak kalah ramahnya.

Eui Jin mengangguk singkat ke arah Sooyoung, lalu dia berpaling padaku. “Kalian baru saja berolahraga bersama?”

Majayo. Karena hari ini libur, dan tidak ada yang dikerjakan saja jadi kami berolahraga” Sooyoung yang menjawab. “Bagaimana kalau kita masuk? Oppa, sebaiknya kau mandi dulu, biar aku yang menemani Eui Jin-ssi sementara kau mandi”

Geurae?” celetukku pada akhirnya. “Baiklah, kalau begitu” Aku berusaha keras untuk tidak terlihat kaku di depan dua yeoja ini.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk membersihkan badan. Kedatangan Lee Eui Jin ke rumah benar-benar diluar dugaan. Bagaimana dia bisa mengetahui alamat rumahku? Apa dia mencari tahunya dengan bertanya pada orang-orang di kantornya atau bagaimana?

Terlepas dari itu semua, yang lebih tidak terduga lagi adalah ekspresi dan sikap Sooyoung. Bukankah seharusnya dia tidak suka melihat Eui Jin datang sepagi ini—entah untuk urusan apa, dan menahanku untuk tetap bersamanya? Tapi kenapa istriku ini justru menyuruhku untuk mandi, seakan-akan dia mengijinkanku untuk menemui Lee Eui Jin.

Setelah lima belas menit membersihkan badan dan mengganti pakaian, aku melangkah ke ruang tamu dimana Sooyoung sedang mengobrol dengan Lee Eui Jin. Percakapan mereka terhenti saat aku datang, dan Sooyoung pun bergegas meninggalkanku hanya berdua bersama Lee Eui Jin. Jujur saja, aku lebih merasa nyaman jika Sooyoung tetap disini. Karena dia akan mengingatkanku bahwa aku telah menjadi seorang suami. Tapi dia pergi terlalu cepat, bahkan aku tak bisa menahannya atau memanggilnya kembali.

“Istrimu luar biasa menyenangkan,” kata Lee Eui Jin memulai pembicaraan. Dia mengambil cangkir teh-nya, lalu meneguknya sekali. “Aku tak menyangka kalian hanya saling mengenal selama tiga bulan dan kemudian menikah”

“Aku juga tidak menyangkanya” sahutku mulai bisa menebak apa yang dibicarakan antara Eui Jin dan Sooyoung sebelumnya. “Kurasa kami tak perlu saling mengenal lama untuk bisa menikah”

Yah, kau sedang menyindirku sekarang?”

“Tentu saja tidak” sahutku dengan cepat. “Kau tahu, terkadang suatu hubungan terjadi pada sesuatu yang singkat dan—“

“Apa kau mencintainya?” Eui Jin menyela perkataanku.

Satu alisku terangkat karena aku merasa ini bukan pertama kalinya dia menanyakan pertanyaan itu padaku.

“Kyuhyun-ah, apa kau mencintainya?” tanya Eui Jin mengulang.

Pandanganku menatap Eui Jin di depanku. Aku beanr-benar tak mengerti kenapa dia bertanya seperti itu lagi. “Eui Jin-ah, apa yang sedang kau coba cari tahu dariku?”

Eui Jin mengendikan bahu. “Aku hanya ingin tahu dan mendengar jawabanmu langsung,”

Aku memilih untuk diam kali ini.

“Baiklah, kau mungkin tidak akan menjawab itu. Kalau begitu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Eui Jin lagi mengabaikan sikap diamku.

“Apa itu?”

“Kau—apa kau masih mencintaiku?”

Aku menatap Eui Jin lama, dan hembusan angin masa lalu yang tidak pernah aku duga tiba-tiba bisa aku rasakan. Aku tahu bahwa sosok Lee Eui Jin masih memberikan efek yang kuat bagiku. Tapi kemudian, aku teringat Sooyoung dan status pernikahanku dengan yeoja itu. Meskipun pernikahan kami tidak diawali dengan rasa saling mencintai, tapi aku benar-benar tidak pernah menyesal menikah dengannya. Yeoja itu selalu menjadi sosok yang menyenangkan, pendengar yang baik, dan aku merasa nyaman bersamanya. Meski terkadang aku terganggu dengan masa lalunya yang sepertinya masih begitu lekat di pikirannya, secara umum aku menikmati keberadaan Sooyoung disampingku.

Bukankah cinta bisa diusahakan?

Aku memang terus mengingat kata-kata sahabatku—Kim Kibum, itu. Dia benar, dan akupun menyetujuinya. Sejauh ini aku berusaha keras untuk menjadi suami yang baik untuk Sooyoung dan aku mendapatkan respon yang baik darinya. Akupun tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku selalu terpesona dengan sosok Sooyoung dan debaran jantungku mengkonfirmasi keterpesonaanku itu. Tapi, jika ada yang bertanya, cintakah aku pada Sooyoung? Mungkin sebelum Lee Eui Jin datang, aku akan dengan cepat bisa menjawabnya. Tapi dengan kemunculan yeoja itu sekarang, jujur dalam hati, aku benar-benar tak tahu. Disisi lain, aku juga menyadari bahwa aku tidak bisa menyalahkan Sooyoung yang belum mencintaiku sampai sekarang.

__

Sooyoung POV

Aku tidak tidur, dan hanya berpura-pura tidur. Seluruh indraku terjaga dan peka. Termasuk hatiku. Ada degup khawatir yang membuatku tidak nyaman sejak kehadiran Lee Eui Jin tadi pagi. Suamiku memang jauh lebih pendiam sejak itu meskipun di hadapanku dia tetap bersikap biasa. Tapi aku mengerti bahwa dia pasti sedang ingin mengingat masa lalunya—seperti yang biasanya aku lakukan. Meskipun begitu, kenapa aku merasa gelisah sekarang?

“Apa kau masih mencintaiku?”

“Aku tak tahu,”

“Apa kau senang melihatku lagi?”

“Eo, aku senang. Tentu saja,”

Aku mengingat-ingat beberapa percakapan Kyuhyun dan Eui Jin yang sempat aku dengar sebelum aku benar-benar menghilang ke kamarku. Yeoja itu—entah kenapa, aku semakin tidak menyukainya. Aku memang sempat mengobrol sebentar dengannya, dan dari obrolan singkat itu aku bisa tahu bahwa sebenarnya dia masih menyukai suamiku. Seharusnya aku memang tidak merasakan apapun saat menyadarinya, tapi justru sebaliknya. Karena aku bisa merasakan darahku seolah membeku, dan tiba-tiba saja aku dikuasai emosi yang tidak bisa aku tunjukkan saat itu.

Aku mendesah pelan dan sangat hati-hati. Masih berpura-pura tidur, aku membalik tubuhku, berharap bisa mengintip aktivitas Kyuhyun. Tapi suamiku itu hanya duduk terdiam dan melamun. Membuatku berpikir apa sebenarnya dia masih mencintai Lee Eui Jin? Karena sepertinya kedatangan yeoja itu memberikan efek khusus pada Kyuhyun sekarang. Untuk kali pertama dalam pernikahanku, aku benar-benar merasa hatiku sepi.

“Sooyoung-ah, apa kau sudah tidur?” Suara Kyuhyun tiba-tiba terdengar.

Aku diam sesaat, lalu pura-pura menggeliat. “Waeyo?” kataku sambil menguap pelan—dan itu juga hanya pura-pura.

Aniya, dwaesseo” kata Kyuhyun menjawab. “Tidurlah lagi. Mian, aku menggangumu”

Aku memilih untuk tidak menjawab dan kembali membalikkan badan memunggungi Kyuhyun. Aku memang tidak bisa tidur, tapi aku juga tidak bisa terjaga. Aku tak tahu kenapa hari ini terasa segala sesuatunya terjadi tanpa di duga. Aku masih gelisah dan khawatir. Apa Kyuhyun juga merasakan hal seperti ini saat dia tahu bahwa aku sedang memikirkan Kang Dongwoon? Mungkin tidak, karena aku tahu bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku.

**

Aku duduk di restoran Taeyeon sambil mendesah keras berkali-kali dan mengetuk-ngetukkan jari di atas meja dengan tidak sabaran. Pikiranku terus melayang pada kedatangan Lee Eui Jin ke rumah beberapa hari yang lalu. Yah, benar. Sejak yeoja itu datang ke rumah, suasana diantara aku dan Kyuhyun memang sedikit berubah—seperti saat kami pertama kali menikah dulu. Aku benar-benar tidak menyangka jika Lee Eui Jin membawa efek yang sebesar itu pada hubungan kami yang sudah jauh lebih baik sekarang.

Waeirae? Kau seperti seseorang yang baru saja kehilangan semangat hidup” seru Taeyeon yang tiba-tiba datang sambil menarik kursi di hadapanku dan mendudukinya. “Apa kau sedang bertengkar dengan suamimu?”

“Tidak,”

“Lalu?”

“Lee Eui Jin,” sahutku sambil mengaduk-aduk gelas Cappuccino-ku. “Dia datang ke rumah dan membuatku gelisah”

“Apa yang dia lakukan?”

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum menjawab. “Dia bertanya pada Kyuhyun oppa, apa suamiku itu masih mencintainya”

Mwo? Apa dia sudah gila?”

Kedua bahuku terangkat, tapi aku tak mengatakan apa-apa dan memilih untuk meneguk minumanku.

“Bukankah katamu dia sudah bersuami?”

“Memang,” jawabku singkat.

“Dia pasti benar-benar sudah gila,” komentar Taeyeon kemudian. “Lalu, bagaimana reaksi Kyuhyun-ssi?”

“Kyuhyun oppa tidak tahu, tapi dia senang karena cinta pertamanya itu kembali datang”

Yah, jinjja! Ini benar-benar masalah yang besar,” kata Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Museun marieyo?

Yeoja seperti Lee Eui Jin itu selalu ada dalam suatu hubungan, ‘kan?”

Aku mendengus kecil, teringat dengan beberapa masa laluku tentang namjachingu-namjachingu-ku selain Kang Dongwoon. “Meskipun begitu, aku tetap percaya pada Kyuhyun oppa” kataku berkomentar.

“Kepercayaan dalam rumah tangga itu tidak bisa dianggap mudah, Sooyoung-ah. Itu kata eomma-ku,” Taeyeon berpesan. “Bagaimanapun, kau seharusnya tidak seluruhnya percaya pada suamimu dan kau juga harus segera melakukan tugasmu itu sebagai seorang istri”

Tto?”

Ya! Jujeohaji malgo haseyo

Aku diam saja dan memilih untuk tidak menanggapi perkataan Taeyeon. Bagaimana bisa dia menyuruhku untuk tidak ragu dan melakukannya saja? Semuanya tidak semudah itu. Lagipula Kyuhyun juga masih bersedia menungguku untuk benar-benar siap melakukannya. Jika tidak, dia pasti sudah melakukannya saat kami tidur bersama tapi tetap saja dia tak pernah sekalipun menyentuhku.

“Apa satu-satunya cara hanya itu?” Aku sekedar bertanya.

Amado,”

Aku memutar bola mata mendengar jawaban Taeyeon yang tidak meyakinkan itu. Tapi sebelum percakapan kami berlanjut, Kyuhyun—yang memang sedang aku tunggu disini, datang sambil membawa sesuatu yang langsung diberikannya pada Taeyeon. Tanpa bertanya apa itu, aku sudah mengetahui bahwa itu adalah kue melihat dari kardusnya dan juga baunya yang khas.

Gomawoyo, Kyuhyun-ssi” seru Taeyeon senang. “Kau benar-benar tahu apa yang aku sukai, tapi pasti itu dari Sooyoung ‘kan?”

Majayo,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum lebar. “Aku khawatir jika tidak sesuai seleramu, jadi lebih baik aku bertanya pada istriku ini apa yang kau sukai”

Yah, jinjja! Neoneun uni joeun saramiya (Yah, sungguh! Kau orang yang beruntung)” komentarku sambil menggeleng-gelengkan kepala ke arah Taeyeon. Lalu akupun berpaling pada Kyuhyun, “Oppa, seharusnya kau tak perlu membawakan apapun untuknya. Lihat saja, dia bahkan bisa membuatnya sendiri”

Kyuhyun masih tersenyum, “Tetap saja. Bukankah aku harus tetap memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasihku karena menjagamu disini?”

“Memangnya aku apa?”

“Anak anjing?”

Taeyeon tertawa mendengar jawaban Kyuhyun itu, dan aku hanya bisa memberikannya tatapan tajam. Anak anjing itu tidak buruk. Bukankah mereka sangat lucu? Aku bahkan sangat ingin memeliharanya dari dulu.

Oh! Ayo kita pergi sekarang, Sooyoung-ah” seru Kyuhyun tiba-tiba. “Aku khawatir kita akan terlambat,”

Geurae?” sahutku seraya bangkit berdiri. “Aku pergi dulu, Taeyeon-ah

Em,”

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arah Taeyeon sebelum mengikuti langkah kaki Kyuhyun keluar dari restoran sahabatku ini. Hari ini, suamiku berencana untuk mengajakku menemui beberapa teman lamanya yang sangat jarang dia temui. Katanya mereka semacam teman dari suatu komunitas para pebisnis, dan kebanyakan dari mereka memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun. Meskipun aku tak menyangka jika akan diajak pergi, tapi aku tak ada pilihan selain mengiyakan ajakan Kyuhyun itu. Lagipula aku membutuhkan sesuatu yang mungkin bisa mengembalikan hubunganku dengan Kyuhyun seperti beberapa hari yang lalu, dan mungkin ini salah satu caranya.

“Hanya ada empat orang yang datang,” Kyuhyun memberitahu. “Mereka adalah Kang Eun Woo—CEO Artemis cabang Korea, Nam Yeo Jin—pemilik saham terbesar SS Entertainment, Shim Changmin—pewaris Hyungsup Group, dan Sam Kim—pewaris Goryeo Company

“Mereka sepertinya orang-orang yang hebat,”

Kyuhyun mengangguk, “Keempatnya merupakan pebisnis termuda yang sukses. Apalagi Sam Kim,”

“Sam Kim?”

“Namanya yang sebenarnya adalah Kim Seung Hyun. Tapi dia lebih menyukai nama Amerikanya, mengingat sudah lama dia tinggal disana” jelas Kyuhyun. “Sudah lama sekali aku tidak berhubungan dengannya, dan aku senang dia mau datang ke acara kecil ini”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengerti dalam diam.

Tak lama setelah percakapan kami selesai, mobil Kyuhyun yang dikemudikan Seo Ahjussi—seperti biasanya, mulai menepi di sebuah restoran mewah di Jamsil. Kyuhyun langsung mengajakku masuk ke dalamnya dan—setelah berbicara pada salah satu pelayannya, kami mengikuti langkah pelayan itu menuju salah satu ruangan restoran. Di dalam ruangan itu sudah hadir enam orang, yang sepertinya adalah teman-teman Kyuhyun tadi beserta keluarga mereka. Jujur aku tak menyangka jika mereka sudah memiliki keluarga, dan mengerti kenapa Kyuhyun mengajakku untuk pergi bersamanya.

“Oh, jadi ini istrimu, Kyuhyun-ah” celetuk salah seorang yeoja yang duduk paling dekat denganku. “Senang bertemu denganmu. Aku Nam Yeo Jin, dan ini suamiku Lee Yong Hwa”

Bangawoyo” kataku membalas sapaan Nam Yeo Jin dengan ramah.

“Aku tak tahu kalian akan datang secepat ini,” seru Kyuhyun mengakhiri perkenalanku dengan salah satu temannya. “Nah, yeobo. Ini teman-temanku yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Kau sudah berkenalan dengan Yeo Jin, lalu itu—di kursi paling ujung, adalah Shim Changmin dan istrinya Jang Hye Joo-ssi. Lalu disebelahnya adalah istri dari Kang Eun Woo, Go Kyung Hee-ssi

Ne, annyeonghaseyo

Sayangnya, kami tidak belum sempat mengobrol banyak karena beberapa pelayan datang untuk membawakan makanan yang sepertinya sudah dipesan. Bekerja mengurus restoran Kyuhyun benar-benar cukup menguntungkanku karena aku tak perlu terkejut dan kesulitan jika makanan-makanan semacam yang ada di restoran itu dihidangkan di hadapanku. Jujur saja, sekalipun keluargaku juga chaebol tapi kami sangat jarang memakan makanan seperti ini karena eomma lebih suka membuat masakan rumahan daripada harus membeli di restoran. Meskipun begitu, sesekali aku mencobanya bersama teman-temanku dulu meski tidak semewah ini.

“Jadi, bagaimana? Apa sudah merencanakan untuk membangun sebuah keluarga kecil?” tanya Shim Changmin disela-sela makan malam kami.

Aku mendengus kecil—sembunyi-sembunyi. Tak menyangka jika pertanyaan seperti ini bahkan kembali muncul saat kami pergi menemui orang lain dan bertemu orang baru.

“Tentu saja sudah,” celetuk Kyuhyun yang cukup membuatku terkejut, tapi aku memilih untuk diam saja. “Mungkin dua anak itu sudah cukup untuk sebuah keluarga, ‘kan? Seperti kau, Yeo Jin-ah

“Menurutku itu tidak cukup,” sahut Eun Woo yang penampilannya paling berantakan dari seluruh namja yang ada disini karena rambutnya. Meskipun begitu dia cukup menarik dengan gaya santainya, dan itu juga terlihat dari istrinya yang duduk tepat di sebelahnya. “Aku dan istriku bahkan berencana untuk menambah setidaknya dua anak lagi dalam rumah tangga kita,”

“Kau akan memiliki lima kalau begitu?”

“Benar, ramai bukan?”

Aku tertawa kecil dan bisa merasakan tatapan Kyuhyun padaku. Aku menoleh ke arahnya, lalu tersenyum tipis. Tanpa mengatakan apapun sepertinya aku bisa mengerti apa yang ada di pikiran Kyuhyun, begitu sebaliknya. Apa ini efek karena kami tinggal bersama jadi saling bisa mengerti satu sama lain bahkan saat mulut kami sama-sama terkunci?

Hello, guys!” sapa seseorang seiring dengan pintu ruangan yang menggeser terbuka.

“Sam!”

Hey, dude!”

Seorang namja dengan rambut pirang-nya melangkah masuk. Beberapa orang—termasuk Kyuhyun, bangkit berdiri dan langsung memeluk namja yang baru datang itu. Mereka terlihat sangat dekat meskipun kata Kyuhyun, mereka jarang sekali bertemu. Tapi aku masih bisa melihat kedekatan itu, bahkan pada satu-satunya yeoja di kelompok pebisnis ini, yaitu Nam Yeo Jin.

“Cho Kyuhyun! Pengantin baru,” seru Sam Kim saat akhirnya menyapa Kyuhyun. “Congratulation, dude. I’m happy for you!” katanya sambil tersenyum.

Yeah, thanks

Mianhaeyo, aku tak bisa datang ke pernikahanmu. Nan jinjja bappayo,” kata Sam Kim dengan bahasa Korea-nya yang terdengar aneh. Menandakan dia memang sudah lama tidak tinggal di negara ini lagi.

Gwenchana, aku bisa mengerti”

Are you happy now, Cho Kyuhyun? Mana istrimu? Aku harus berkenalan secara langsung,” seru Sam Kim dengan semangat.

Kyuhyun menoleh ke arahku, memintaku untuk berdiri dengan gerakan kepalanya dan akupun menurut. “This ini my wife” katanya memperkenalkan.

Aku tersenyum ramah dan meraih tangan Sam Kim yang sudah terulur di depanku.

Oh my God! Pantas saja kau benar-benar tergila-gila padanya. Jadi ini yang namanya Lee Eui Jin?” serunya takjub. “Dia tipe idealmu,” katanya sambil tertawa.

Aku terdiam membeku di tempatku, dan entah kenapa aku bisa merasakan suasana yang berubah menjadi kaku—menyisakan tawa Sam Kim yang masih berderai. Satu kalimat terakhir namja itu benar-benar seperti detik terakhir dari bom waktu. Teman-teman Kyuhyun lainnya seketika terdiam dan memilih untuk melanjutkan menikmati makanan mereka. Sementara aku hanya bisa diam sambil memberikan senyum terpaksa mendengar nama yeoja lain yang disebutkan oleh salah satu teman Kyuhyun ini. Lee Eui Jin. Kenapa harus dia?

__

Kyuhyun POV

Aku cukup terkejut saat Sooyoung menutup pintu kamar kami dengan kasar. Menimbulkan suara keras yang mungkin terdengar sampai seantero rumah. Jantungku bahkan terasa meloncat karena terkejut. Aku tahu dia marah padaku karena apa yang terjadi saat bertemu dengan teman-temanku, khususnya Sam Kim. Tapi aku benar-benar tak menyangka jika Sooyoung akan bersikap seperti sekarang ini, yang bahkan baru pernah aku ketahui sejak pertama kali kami menikah.

“Kau masih marah padaku?” tanyaku pada akhirnya. “Bukankah aku sudah berkali-kali minta maaf padamu?” Aku juga menahan kesalku sendiri karena selama perjalanan pulang tadi, Sooyoung bungkam seribu bahasa.

Tanpa memberiku tanggapan terlebih dahulu, Sooyoung melempar tas tangannya ke tempat tidur. “Kata siapa aku marah? Aku hanya lelah,” balasnya datar.

Aku mendengus kecil mendengar jawaban istriku itu. Sebenarnya aku tahu bahwa ini pasti akan menjadi sebuah pertengkaran diantara kami. Memang—aku akui, itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar jika mengembalikan sosok-sosok di masa lalu di tengah kondisi rumah tangga kami yang belum sempura. Meskipun selama ini aku tahu bahwa Sooyoung pun masih memikirkan Kang Dongwoon—namja di masa lalunya, tapi dia tak pernah sekalipun menyinggungnya dengan terang-terangan.

Ah, mungkin pernah sekali saat di pesta salah satu temannya. Tapi tak ada pembahasan lebih jauh tentang namja itu, sementara tadi Sam Kim terus saja membicarakan sosok Lee Eui Jin. Ditambah lagi dengan sosok Lee Eui Jin yang memang muncul kembali di hadapanku, sementara Kang Dongwoon tidak. Aku bisa mengerti kenapa Sooyoung jauh lebih marah padaku saat masa laluku diungkit seperti tadi.

“Aku mau tidur saja. Phigeonhae,” kata Sooyoung masih dengan nada datarnya.

“Begitu? Hanya lelah?” sahutku menahan Sooyoung yang akan naik ke tempat tidur. “Kau pikir aku tak tahu bagaimana sikapmu ini?”

Sooyoung mengurungkan niatnya, lalu menoleh padaku. Untuk beberapa saat dia hanya menatapku dengan sinis sebelum akhirnya dia mendekatiku. “Geurae, kita selesaikan ini” katanya.

Aku diam saja.

Sooyoung melipat kedua tangannya di depan dada, masih memandangiku dengan cara yang sama. “Aku heran—“ katanya berhenti sesaat untuk menghela napas singkat. Lalu dia melanjutkan, “—baru kali ini aku bertemu seseorang yang tidak tahu nama istri temannya sendiri” desisnya tajam.

“Bukankah aku sudah menjelaskannya berkali-kali?” sahutku masih menahan kesal dengan sikap Sooyoung. “Aku sudah sangat lama tidak menjalin kontak dengan Sam”

“Memangnya dia sama sekali tidak mendapat kabar? Dari temanmu yang lain misalnya? Atau kau memang tidak memberitahu nama istrimu bahkan sebelum kalian bertemu tadi?” Suara Sooyoung mulai meninggi.

Aku mendesah pelan, berusaha untuk meredakan emosiku sendiri karena tahu ini tidak akan berhasil jika aku juga ikut terpancing dengan kemarahan Sooyoung. “Aku sudah mengundangnya ke pernikahan kita melalui email. Aku pikir dia sudah mengetahuinya meskipun dia tidak datang,” kataku membela diri.

“Begitu?” sahut Sooyoung dengan satu alisnya yang terangkat. “Dan, yang dia ingat ternyata hanya nama Lee Eui Jin? Seolah nama itulah yang melekat di hatimu,”

“Seperti nama Kang Dongwoon yang terus ada di otakmu?” desisku spontan.

Sooyoung menatapku tajam, “Kenapa membawa-bawa nama Kang Dongwoon?”

Aku mendengus kecil, “Aku curiga kau masih mengharapkan dia kembali. Kau bahkan masih mencintainya, teramat sangat mencintainya” kataku mengabaikan pertanyaan Sooyoung itu.

“Kau pikir aku juga tak tahu bahwa kau sebenarnya masih mencintai Lee Eui Jin?!” sahut Sooyoung tak mau kalah karena aku menyerangnya dengan masa lalunya. “Kau tahu, justru aku yang curiga dalam hal ini. Dia yang sudah bersuami mendatangi rumah mantan namjachingu-nya sendirian yang juga sudah beristri. Sendirian!” sindirnya tajam.

“Suaminya di luar negeri, dan aku tidak pernah berkencan dengannya”

Ah, suaminya di luar negeri? Bagus sekali,” Sooyoung mencibir. “Lalu karena suaminya di luar negeri, dia mendatangi namja lain. Begitu, ‘kan?”

“Kenapa kau berburuk sangka pada orang lain?”

Sooyoung menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan cepat. “Geurae,” cetusnya sangat terlihat bahwa dia pun sedang menahan marahnya agar tidak semakin meledak. “Kau hanya perlu tahu, oppa. Bahwa aku masih menghargaimu sebagai suamiku,” Suaranya terdengar bergetar saat mengucapkannya.

Aku memilih untuk menunggu dalam diam karena aku yakin dia belum selesai berbicara. Tapi aku masih menatap tajam ke arah Sooyoung, dan berusaha keras untuk tidak benar-benar mengeluarkan emosiku yang entah muncul karena apa. Tidak mungkin karena aku cemburu pada Kang Dongwoon, ‘kan?

Sooyoung melanjutkan bicara dengan suara yang masih bergetar. “Perlu aku pertegas lagi. Aku juga akan menghargai jika kau jatuh cinta pada yeoja manapun meski kita sudah menikah. Karena aku tahu pernikahan kita ini—“

Tanpa memberikan kesempatan pada Sooyoung untuk menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menariknya ke dalam pelukanku lalu mencium bibirnya. Aku bisa merasakan semua emosi yang meluap yang tersalurkan disana, dan Sooyoung sama sekali tidak menolak atau menjauhkan badan saat aku seperti ini padanya. Dia bahkan hanya diam saat aku mempererat pegangan tanganku di pinggangnya dan saat aku lebih mendorong tengkuknya ke arah wajahku.

Setelah beberapa saat, akupun meregangkan pelukanku dan menjauhkan tubuhku dari Sooyoung. Lalu aku menatapnya lekat-lekat sebelum berbicara, “Aku tidak mau kau meremehkan pernikahan kita ini, Sooyoung-ah. Biar bagaimanapun, kau adalah istriku dan aku adalah suamimu”

Mata Sooyoung mengerjap canggung sebelum akhirnya balas menatapku. Meskipun aku bisa melihat air matanya yang mengalir membasahi pipinya, tapi aku memilih untuk tetap diam di tempatku. Sooyoung pun membuka mulutnya, “Aku tahu, dan karena itulah aku adalah milikmu” bisiknya pelan.

Hanya butuh sepersekian detik bagiku untuk menyadari arti perkataan Sooyoung itu. Tanpa melepaskan pandanganku darinya, akupun dengan sigap membopong ringan tubuhnya tanpa ada complain. Aku melangkah ke arah tempat tidur, dan menurunkannya disana denan perlahan. Setelah itu, akupun kembali menciumnya dan dia meresponnya dengan cepat. Kami sama-sama mengeluarkan semua emosi yang tadi sempat muncul dan membiarkannya mengalir keluar melalui apa yang kami lakukan malam ini yang benar-benar akan menjadi sejarah dalam pernikahan kami. Karena untuk pertama kalinya kami melakukannya tanpa ada paksaan. Hanya sebuah keinginan untuk saling memiliki.

-TBC-

Eotte?

Semoga suka ya^^

Oh ya! Mungkin aku lebih lama update FF ini karena ada masalah keyboar T.T, jadi mohon ditunggu yah^^

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

 

56 thoughts on “What Make A Love -4-

  1. Akhirnya mereka melakukannyaa … hahhhh .. rasanya lega .. hehe
    Walaupun belum berdasarkan cinta tapi heyy mereka melakukannya ….
    Lanjut thor …. sangat sangat ditunggu kelnjutannya

  2. Kenapa harus tbc di saat-saat yg menegangkan 😥
    Nextt nya jangan lama yaa. Aku suka banget sama ff nya, tapi aku gak suka sama Lee eui jin itu

  3. Laras says:

    Akhirnya hubungan mereka udah baik jadi ikut seneng..
    Eon aku request ya..
    cerita ff ini untuk selanjutnya ceritain keluarga kyuyoung…
    Jangan ada konflik yang terlalu berbelit-belit ya eon…
    Semangat ya eon…

  4. mongochi*hae says:

    yeayyyy akhirny post

    nahh dr dlu2 dong kya gini..
    enak lan saling trbuka ??
    trus klo sdh kaya gini kdpanny ak yakin akn lbh mudah. meski masalah it sllu dtng mghampiri. .
    ayoo jgn bimbang dg perasaan masing2..
    next part biar lama sllu dtunggu

  5. echa says:

    yaahh lee eun ji bikin kesel ajah ..
    kyuyoung moment harus banyak biar makin rapat ..
    semoga setelah kejadian itu mereka kagak canggung makin so sweet ..

  6. hyunsoo says:

    Haduch mkin keren aja ni ff bikin gregetan.
    Masa lalu mereka mengganggu.
    Tp sng cz gara2 itu mrka akhirx menyatu.
    Cinta akan dtg krna terbiasa.
    Next Thor jgn lma2ya………

  7. Ester says:

    Akhir nya kyuyoung malam pertama jga hehehe…
    Aduh lee eui jin jgan ganggu dong hubungan kyuyoung kan udh mulai membaik..
    Next chapter unni…

  8. Kang dongwoon jgn muncul ya. Prasaan soo eonnie udah brubah kayaknya. Suka banget bagian terakhr, moga mereka gk canggung lagi stlah mereka melakukannya

    NEXT PART

  9. lissya says:

    wah mulai greget nih… aku suka, tapi siluet siapa ya yang dilihat soo eonni waktu pesta tifani eonni, yah semoga alurny semangkin menyenangkan untuk sookyu. ditunggu next partny.😉

  10. Sisca says:

    Aaaaaaa gila gila gila suka banget sama part ini penuh dengan emosional dan akhirnya kyuyoung melakukan apa yang harus suami istri lakuin ih seneng banget thor suka banget sama ff nya kereenn ditunggu banget part selanjutnya jangan lama lama ya thor kkkkk penasaran soalnya^^

  11. gilaaaa…. part ini bener2 gila. disaat udh seneng mereka deket, malah mantannya nongol dgn nanya2 ttg hal yg antara penting gak penting(?). trus endingnya tambah gila krn akhirnyaaaa finally… mereka ngelakuin atas dasar saling memiliki. harus dipertegas bgt tuh spya gak tengok sana sini lg

  12. park rira says:

    kereenn… Jadi akunya yg degdegan campur kesel liat tuu cewek pengganggu… ditunggu thor part 5 jangan lama2 ne ^_^

  13. Itu cewek boleh dikirimi santet ga sih? Greget banget pengen nampol. Udah punya suami masih ngedeketin si kyu ae.
    Cieee akhirnya malem pertama juga. Berharap setelah ini hubungan mereka bener bener membaik. Ga ada lagi bawa bawa orang lain dari masa lalu. Btw moment kyuyoung pas mesra mesraan dibanyakin dong

  14. KyuLatte says:

    Akhirnyaaaa mereka yg malam pertama tp readers yg seneng luar biasa. Wkwkwkw gemes banget sama itu perempuan nggak tau diri banget sampek dateng kerumah segalaaa

  15. kyuyounglove says:

    Suka bangettt thor sama nih ff..
    ditunggu next chapter nya.. jangan lamalama thor
    Greget baanget sama masalahnya buat ikutan emosi 😂

  16. smgurlx says:

    hiyaaaaa sangat menggantung di endingnya;-;
    plis jangan ada yg ngerusak rumah tangga kyuhyun-sooyoung;””
    ditunggu yaa kelanjutannya, jangan kelamaan tapi Dx

  17. Inka Rindy says:

    WHYYYYYYYYY??????? ga elit tbc nya thor T.T
    jujur aja part awal agak ngebosenin sih, tp dpt lg feel nya pas bagian mrk ketemu sam anjir nyesek banget ihhhhhhh. Tp mrk uda ngelakuin itu yeaaaa tinggal tunggu saling to the point aja, fightinggggg!!!!!
    Aku bakal nungguko ff ini update asal jgn ditinggalin ajaya, udah klop bgt soalnya ini wkwkwk

  18. NayaLee says:

    jangan blang klau Dongwoon balik lg, jangan donk!!
    comment q kok gk ad yg masuk yah..😥
    nrxt FIGHTING!!!

  19. Yeeahhhhhhhhhhh 🙌🙌🙌🙌🙌🙌 akhirnyaa mrk naena(?) 😂
    Suka soo nya skrg udh mulai suka sm kyu tp kyu msh bimbang hatinya soo apa cwe itu. Pliss mantannya soo jgn muncull ihh wkwk
    Next part ditunggu secepatnya authorkuhh ugh 😘😘

  20. Dae to the bak….lanjut terus chingu…next part ditunggu…smoga cepet fix msalah keyboar ato apalah itu…tp jangan lama” bnget ya hihihi…fighting.

  21. NGOS NGOSAN KARENA EMOSIIIII…
    KALIAN ITU SUDAH MENIMBULKAN RASA CINTA KALIAN, SADAR DOOOONK!!
    Akhir.A usaha Taeyeon trlaksana jga.
    Smoga tokcer dehhh jrus kyu buat baby.A ㅎㅎㅎ
    Oiya thor.. Aq rasa Interaksi ky kurang dehhh jdi bner” msih brasa canggung.

  22. akhirnya tanpa ide gila taeyeon 😁 peningkatan yang sangat pesat hahaha 😁
    asli euijin ngga tau malu banget…
    masih penasaran sama sosok yang diliat sooyoung pas dirumahnya sama di pesta tiffany, dongwoon kah?

  23. akhirnya tanpa ide gila taeyeon 😁 peningkatan yang sangat pesat hahaha 😁
    asli euijin ngga tau malu banget…
    masih penasaran sama sosok yang diliat sooyoung pas dirumahnya sama di pesta tiffany, dongwoon kah?

  24. Megumi says:

    Part ini bener-bener nyebelin dengan kehadiran Lee Eu Jin, dan tambah ngeselin pas Kyu bingung dengan perasaannya sendiri. Aku seneng Sooyoung nunjukin kalo dia marah dan semoga Kyu sadar kalo Soo itu cemburu hehehe. Ending part ini bikin greget karena awalnya mereka bertengkar. Jadi gak sabar nunggu next partnya🙂

  25. Youngra park says:

    Njir gue jga ikut emosi apa lagi kyuppa bela2 lee eun jin anjir cba kyuppa tetapkan sukany ma spa cintany ma spa masa dia blum peka jga sma perasaanny ke sooeoni next di tnggu ku harap kyuyoung akan tetap besama n terhidar dri ganguan2 pho itu njir next part di tnggu bgts pengen cpt2 bca lagi next part aku nungguin bgts ff ini ais jinja aku masa emosi kurang next part cpt di post ya

  26. Sie says:

    Annyeong..
    Ya..! Aku suka scene terakhir, Soo akhirnya tanpa sengaja bersikap kalau dia tersinggung dan marah jika dirinya dianggap eui jin, mungkin itu artinya dia cemburu…hihi…
    Gomawo

  27. choputri says:

    OMG sumpah in part bikin deg-degan,, persaan campur aduk bacanya.. bikin penasaran ajha😢😢 d’tggu part berikutnya😣

  28. park ri ra says:

    kereeenn thor ffnya
    tapi jdi akunya yg degdegan…
    tpi kesel liat tu sii lee eui jin kenapa kembali,,, kyknya dia ada rencana yg disembunyikan… lanjuntin yaa thor ffnya,,, gak sabar part 5 nya ^_^

  29. Dian says:

    Demi apa ya part ini part menyebalkan sumpah aku bener terkuras emosi nya dari dikira nya kyuyoung gagal ngelakuin itu, Sooyoung yg cemburu, Lee Eui Jin yg nyebelin bgt, Kyuhyun yg ga konsisten, Kyuyoung nya berantem eh diakhirin adegan naena wkwk walaupun langsung tbc.
    Tadi sempet nangis pas Kyuyoung nya berantem itu, tp berantem nya manis mnurut gue. Mereka saling cemburu gitu makanya mereka berantem wkwk. Puas deh sama part ini. Good job eon!! 👍👍

  30. Bener bener nguras emosi wkt mereka ngomongin masa lalu itu. Pffttt mantannya kyuhyun sih pake dteng ke rumah segala. Bagus kok thor post nya cepet banget lagi sukaaakkk

  31. Elis sintiya says:

    anjirrr ff ini bagaikan bom waktu.. jantungku terus berdetak kencang baca ff ini asli… apalagi pas mereka bertengkat dan kyaaa… mereka melakukannya..melakukan hubungan suami istri… sungguh hatiku bergembira serasa kaya ada kembang api didalamnya.. part selanjutnya ditunggu bgt thor.. semangat

  32. saputrid12 says:

    aigoo. ya. ya. ya
    semoga mereka lebih membuka diri satu sama lain🙂
    next chap, ditungu bgt. hwaiting ya🙂

  33. ry-seirin says:

    Wah akhirnya dpost jaga,,,
    gk sabar kok ngguin up date-an bru ff ini, ya kok dah baca jdi geger sendiri.
    Masa lalu bikin keki mi mah, Eun ji mah ngeri Kyuhyun lagi aduh ya ampun dah….
    Dan jgn² siluet cowok yg d liat Sooyoung d pesta itu Dong Woon.
    Asik akhirnya ada kemajuan ma Hubungan Kyuyoung.
    D tunggu cpet next partnya ya chingu!!!

  34. puji says:

    jngn” laki” yg diliat soo di pesta itu dongwoon
    aduh kyu tetapin dong hatimu mau sma siapa soo atau wanita itu

  35. ellalibra says:

    Kyny ada byk kemajuan dlm hbngn keduanya y… Asyiiiiiik sbnr’a hrs brterima ksh / kesel y sm lee eun ji itu tp dy ky g tau malu bgt knp nanya sm suami org apa kyu msh cnt sm dy / g ??? Dy niat godain suami org/ gimana sih sebel…. Moga soo cpt cnt ma kyu+ py ank deh mrk g sabar eon hehe fighting dtunggu neeeeeeext

  36. Dian Fitri Magfiroh says:

    Astagaaaaa itu knp harus tbc? Hrs bgt yaa? Huuuuft. Semakin-suka-sama-epep-ini❤ semangat terus yaaa author💪 kyuyoung momentnya hrs lebih banyak. Kisseu2nya jugaaa wkwk #ApaInii *ciumkyuhyun*

  37. veves says:

    Jangan lama lama updatenya tapi thor ㅠ.ㅠ aku sudah dagdigdug mereka ribuk eeh akhirnya making love tapi penasaran buat cerita selanjutnya

  38. ajeng shiksin says:

    Akhir nya mereka ngelakuin juga .. Hhhhuuuuaaaaaaa . kenapa jadi aku yg heboh . nanti gimana ia mereka abis ngelakuin kaya gitu . apa masih kaya dulu apa ada benih benih cinta di rumah tanggak mereka . rada kesel sama sikap sooyoung yg terlalu datar padahal dy resah .. Ditunggu kelanjutan nya . enggak sabar nunggu kelanjutan nya .

  39. dhewynha says:

    Akhirnya di post juga.. tu mantan si kyu ngapain muncul sihhh ..sebel dehhh.. padahal kan hubungan kyuyoung audah semakin deket .. tapi gak papalahhh toh kyuyoung juga saling percaya, lanjutin ya thorr ,jangan lama lama .. fighting

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s