What Make A Love -6-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

Aku membuka pintu beranda kamarku lebar-lebar dan hawa sejuk pun mulai menyelesup memasuki rongga dadaku. Aku menutup mata dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Semilir angin menerpa kulitku yang lembut. Rasanya begitu menyenangkan. Ditambah lagi kicauan burung-burung diluar sana terdengar begitu merdu, mereka bernyanyi menyambut pagi. Tak lama, matahari perlahan mulai muncul dari bukit di sebelah timur, tersenyum manis menghangatkan bumi. Embun yang menempel di daun-daun pun berkilauan terkena sinarnya.

Aku tersenyum tipis saat menolehkan kepala ke arah Kyuhyun yang masih tertidur pulas. Semalam aku cukup terkejut dengan apa yang kami lakukan karena Kyuhyun sedang dalam keadaan mabuk berat. Meskipun aku sempat menolak beberapa kali, tapi pada akhirnya aku tak bisa melawan saat dia mulai—hmm, membuka bajuku. Dia cukup sadar saat ‘melakukannya’ denganku. Aku mendengus kecil, mengingat apa yang terjadi semalam.

Siapa yang menyangka jika kami kembali berhubungan dalam keadaan yang seperti sekarang? Jujur saja, hubunganku dengan Kyuhyun belakangan ini sedang sedikit renggang karena orang di masa lalu kami muncul kembali, tapi itulah yang kami lakukan. Aku tak tahu apa ini bagian dari usaha Kyuhyun untuk merekatkan kembali hubungan kami atau dia melakukannya hanya karena dia mabuk. Tapi aku berharap itu adalah pilihan pertama.

Aku menatap suamiku sekali lagi sebelum akhirnya memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Ini memang bukan pertama kalinya kami melakukannya, tapi tetap saja menurutku rasanya sedikit aneh karena suamiku sedang dalam keadaan mabuk. Bau alkohol pun ikut memenuhi tubuhku karena itu.

Joheun achimieyo, oppa” sapaku saat keluar dari kamar mandi dan melihat Kyuhyun yang sedang duduk disamping tempat tidur. Dia sudah memakai pakaian lengkap sekarang meskipun wajahnya masih berantakan.

Kyuhyun menoleh ke arahku sekilas, lalu memalingkan wajahnya. “Joheun achim, Sooyoung-ah” katanya.

“Mandilah dulu. Biar aku siapkan sarapan,”

E—eo,” jawabnya tanpa menatap ke arahku.

Kyuhyun bangkit dari tempatnya, dan hanya memberikan senyuman singkat sebelum dia masuk ke kamar mandi. Meskipun menurutku sedikit aneh dengan sikapnya pagi ini, tapi aku memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Mungkin saja dia masih terlalu pusing setelah mabuk berat semalam, jadi sikapnya begitu. Tapi apa setiap orang yang mabuk selalu bereaksi datar seperti itu? Kurasa appa tetap tersenyum lebar pada eomma setiap kali dia habis mabuk.

Aku mengendikkan bahu, lalu keluar dari kamarku untuk melihat apa sarapan sudah disiapkan. Tak lama kemudian, Kyuhyun bergabung denganku. Penampilannya  jauh lebih segar tapi dia masih menghindari tatapanku entah untuk alasan apa. Membuatku sedikit bertanya-tanya apa memang terjadi sesuatu atau aku membuat kesalahan yang membuatnya marah. Tapi mungkin aku akan membicarakannya saat sarapan atau setelahnya karena aku benar-benar ingin hubunganku dengan Kyuhyun seperti beberapa hari yang lalu meskipun—mungkin, dia lebih memikirkan Lee Eui Jin sekarang.

“Bagaimana rapatnya kemarin, oppa?” tanyaku sambil menuangkan segelas air putih ke gelasnya yang kosong.

“Berjalan dengan lancar”

“Hanya itu?”

Eo, hanya itu”

Kedua alisku saling bertaut menerima sikap Kyuhyun yang sedikit datar ini. Aku menghela napas singkat, lalu kembali berbicara. “Apa terjadi sesuatu? Kau marah padaku?”

Kyuhyun menoleh ke arahku dengan cepat dan memandangiku lekat-lekat. “Aniya, aku tidak marah padamu. Geunyang—” Dia tiba-tiba menghentikan kata-katanya. “Mianhae, Sooyoung-ah

Mianhae wae?”

“Semalam aku—hmm, aku benar-benar mabuk dan aku tak tahu kenapa aku—”

Dwesseoyo,” Aku menyela perkataannya dengan cepat. Mataku balas menatap Kyuhyun lekat, “Jadi kau melakukannya karena kau mabuk?”

Amado

Geureom dwaesseoyo,” sahutku berusaha keras untuk tersenyum. “Aku tidak akan marah atau bagaimana, oppa. Jadi tak perlu meminta maaf,” kataku.

“Kau benar-benar tidak marah?”

“Tidak,” sahutku sambil melanjutkan sarapanku. “Oneul mwo haesseoyo?” tanyaku ingin tahu untuk mengalihkan pembicaraan.

Emm, geurissae” jawab Kyuhyun terlihat berpikir. “Tadinya aku ingin mengunjungi Kibum, tapi itu tidak terlalu ingin aku lakukan. Mungkin aku akan di rumah saja hari ini. Sudah cukup lama aku tidak menghabiskan waktu di rumah. Kau bagaimana?”

Aku tersenyum, “Aku juga di rumah”

“Apa kau ingin melakukan sesuatu?”

Aku diam sesaat, bingung harus menjawab apa. Bukankah ini pertama kalinya aku dan Kyuhyun hanya di rumah saat weekend? Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa karena biasanya aku hanya melakukan sesuatu yang serampangan saat Kyuhyun bekerja dan aku di rumah. Tapi kebanyakan aku pergi menemui Taeyeon, ke restoran Kyuhyun atau sekedar berjalan-jalan untuk menghilangkan kebosananku. AKu baru menyadari bahwa menjadi seorang istri yang tidak memiliki pekerjaan yang tetap ternyata benar-benar membosankan.

Oppa, bagaimana kalau kita pergi mengunjungi abeonim dan eommeonim?” Aku mengemukakan ideku untuk pergi ke rumah orang tua Kyuhyun. “Sudah lama aku tidak menyapa mereka. Eotte?”

“Baiklah, kalau begitu” sahut Kyuhyun. “Aku akan menelepon eomma kalau kita akan datang dan—”

Andwaeyo,” Aku menyela kalimat Kyuhyun. “Kita akan membuat kejutan, jadi tidak perlu memberitahu mereka terlebih dahulu”

Kyuhyun tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala

**

“Jus jeruk, mayonese, telur—aigoo, semuanya sudah lewat berminggu-minggu dari tanggal kadaluarsa” seruku tidak percaya saat memeriksa isi lemari es Taeyeon di apartemennya. “Apa kau bahkan pernah memeriksanya, huh? Bukankah kau pemilik restoran? Bagaimana bisa kau tidak memperhatikan isi lemari es mu sendiri?”

“Aku terlalu sibuk di restoran, kau tahu”

“Tetap saja,” Aku mendengus kesal, lalu menutup pintu lemari es Taeyeon. “Kita pesan pizza atau chicken saja kalau begitu” kataku menyarankan karena benar-benar tidak ada sesuatu yang bisa di makan di apartemen Taeyeon ini.

Geurae. Aku yang akan memesannya,” sahut Taeyeon sambil menyambar ponselnya dan mulai melakukan panggilan telepon. “Ne, yeoboseyo. Aku ingin memesan chicken dan—”

Aku memilih untuk bangkit dari tempatku, meninggalkan Taeyeon sendirian dan pergi ke ruang bersantai di apartemen ini. Sambil duduk di atas sofa kulit cokelat besar khusus untuk satu orang, aku menyalakan TV. Lalu pandanganku beralih pada beberapa lembar kertas yang tergeletak di atas meja pendek di sampingku dan meraih kertas-kertas itu. Isinya surat-surat yang belum dia baca dan beberapa tagihan Taeyeon yang membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Sampai sekarang aku masih heran pada sahabatku ini karena selalu membiarkan dia menerima surat tagihan seperti ini padahal dia adalah pemilik restoran yang cukup ramai di Seoul ini.

Aku mendesah panjang dan kembali melemparkan kertas-kertas itu ke atas meja. Aku mengalihkan perhatianku pada televisi yang menayangkan acara-acara yang tidak menarik sekalipun aku sudah mengganta-ganti beberapa channel-nya. Sampai akhirnya aku pun menyerah dan membiarkan sebuah acara komedi mengisi ruangan ini agar tidak terlalu sepi.

Sambil menyenderkan tubuhku di sofa, aku memeriksa ponselku yang bergetar. Sebuah pesan dari Kyuhyun yang memberitahuku bahwa dia sedang rapat, dan ada perwakilan dari perusahaan harabeoji-ku yang datang. Aku hanya membalas pesan itu dengan singkat sebelum menutupnya. Tapi kemudian aku tertarik untuk memeriksa satu kontak di ponselku yang sebenarnya dari beberapa hari yang lalu ingin aku hubungi. Benar, kontak Kang Dongwoon. Haruskah aku meneleponnya dan mengajaknya bertemu? Tapi aku masih tak tahu harus mengatakan apa di depannya. Itulah alasan aku terus menunda untuk menemuinya sampai sekarang meskipun aku sangat ingin melakukannya.

“Aku sudah memesannya,” kata Taeyeon, yang datang memasuki ruangan bersantai ini dengan ponsel di tangannya. “Satu pizza sayuran ukuran besar, dua Coke, dan aku juga memesan chicken untuk kita berdua” tambahnya sambil duduk dan meletakkan ponselnya.

Geurae?”

Mwoanya?”

Amugeotdo,”

Ya! Kau tidak sedang berpikir untuk menelepon Kang Dongwoon, ‘kan?” tebak Taeyeon yang membuatku terkejut untuk sekian kalinya karena dia selalu berhasil tahu apa yang aku pikirkan. “Aigoo, sudah kukatakan kau itu mudah sekali dibaca olehku” katanya kemudian setelah aku memberinya tatapan datar.

Aku diam saja.

Geurae, hubungi saja. Lebih cepat kau meneleponnya dan menghubunginya, lebih cepat kau tidak memikirkannya” kata Taeyeon yang pendiriannya kembali berubah. “Aku benar-benar tak tahu bagaimana harus memberimu saran untuk yang satu ini, Sooyoung-ah. Jujur saja, kau membuatku frustasi dari dulu jika berhubungan dengannya”

“Itulah kenapa kau selalu menyarankan sesuatu yang berbeda untukku,” sahutku dengan cepat.

“Bukan begitu maksudku,” Taeyeon menyahut tak kalah cepatnya denganku. “Aku pikir, kau sebaiknya tidak menemuinya lagi karena kau bahkan tidak pantas untuk bertemu dengannya. Tapi saat aku memikirkannya lagi, kau sebaiknya menemuinya dan menyelesaikan apapun yang mengganggumu selama ini”

“Kenapa begitu?”

“Dengar, kau sudah berumah tangga sekarang. Kau memiliki suami yang baik, kaya, tampan, dan keluarganya pun sangat menyayangimu. Aku tak tahu alasan kenapa kau masih memikirkan Kang Dongwoon saat kau memiliki semua itu. Tapi mungkin itu akan selesai jika kau berbicara dengannya, ‘kan?”

“Apa yang harus aku bicarakan?” tanyaku spontan. “Haruskah aku bertanya kenapa dia meninggalkanku saat dia berjanji untuk menikahiku? Atau kenapa dia menghilang dariku?”

“Yah, sesuatu seperti itu”

“Aku benar-benar tak tahu, Taeyeon-ah” kataku kemudian sambil mengalihkan pandanganku dari Taeyeon ke layar televisi. “Ada banyak hal yang ingin aku katakan pada namja itu dari dulu, kau tahu sendiri. Tapi entah kenapa, saat aku melihatnya mulutku seakan-akan terkunci”

“Itu karena kau merindukannya dan masih mencintainya, ‘kan?”

Aku kembali diam.

Kepalaku menunduk memandangi kakiku sendiri. Benarkah itu karena aku masih mencintai Kang Dongwoon? Tapi aku juga mulai merasakan sesuatu saat bersama suamiku, Cho Kyuhyun. Lalu bagaimana bisa aku menyukai dua namja dalam satu waktu? Itu tidak mungkin terjadi, ‘kan? Kurasa aku harus mencari tahu sendiri siapa yang lebih aku cintai, Cho Kyuhyun atau Kang Dongwoon. Setelah itu aku baru memutuskan apa yang harus aku lakukan karena aku tak mungkin terus seperti ini.

__

Kyuhyun POV

Suasana kantorku hari ini sangat sepi. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasanya dan aku cukup bosan karenanya. Hampir dua jam ini aku menghabiskan waktu di depan laptop, menjelajahi internet mencari informasi apapun yang berhubungan dengan pekerjaan. Tapi kemudian ponselku berbunyi dan mengalihkan perhatianku dari layar laptop. Aku menatap nama yang tertera di layarnya sebelum mengangkatnya.

Eo, Eui Jin-ah, waegeurae?” tanyaku begitu mendekatkan ponselku ke telinga.

“Apa harus ada sesuatu terlebih dahulu jika aku ingin meneleponmu?”

Aku tertawa singkat. “Tidak, tentu saja” kataku. “Emm, aku hanya ingin tahu apa ada masalah atau bagaimana. Jadi aku bertanya”

“Tidak, tidak ada masalah” jawab Eui Jin dengan cepat. “Aku hanya ingin mendengar suaramu saja,”

Oh?”

“Kau dulu sering seperti ini padaku, ‘kan? Meneleponku hanya untuk mendengar suaraku,”

Aku diam saja.

“Apa kau masih di kantor?” tanya Eui Jin kemudian.

Eo. Tapi sebentar lagi jam kerja berakhir. Bagaimana denganmu?”

“Aku masih di kantorku juga,” jawab Eui Jin. “Hanya saja, jam kerjaku fleksibel jadi tidak ada jam kerja atau sesuatu seperti itu”

Aku tertawa kecil, “Itu pasti menyenangkan” kataku. “Emm… Eui Jin-ah, kalau begitu apa kau ada waktu sekarang?”

Eo. Wae?”

“Bagaimana kalau kita bertemu? Aku sedikit bosan di kantor menjelang berakhirnya jam kerja seperti ini” kataku jujur. “Jika kau tidak keberatan, bagaimana kalau kita—”

“Aku tidak keberatan,” sahut Eui Jin sebelum aku sempa menyelesaikan kalimatku. “Dimana sebaiknya kita bertemu?”

Cheonggyecheon?”

Geurae. Aku akan kesana,”

Geureom, sampai jumpa nanti” kataku sebelum menutup sambungan teleponnya.

Setelah menyimpan ponselku ke dalam saku jasku, bergegas aku keluar dari ruanganku dan memberitahu Sekretaris Kim tentang kepergianku. Aku sengaja memintanya untuk tidak mengikutiku kali ini, dan segera pulang ke rumah saat jam kerja berakhir. Aku juga mengatakan hal yang sama pada Seo Ahjussi karena aku tak mau sampai mereka berpikir sesuatu yang lain saat aku hanya menemui teman lamaku. Meskipun tidak ada yang mengetahui bagaimana hubunganku yang sebenarnya dengan Lee Eui Jin, tapi tetap saja aku harus berhati-hati agar orang tidak berpikir salah tentangku.

Tidak sampai satu jam—aku mengendarai mobilku sendiri, aku sudah sampai di Cheonggyecheon. Lee Eui Jin berkata jika dia menungguku di salah satu sudut Cheonggyecheon yang dekat dengan dinding besar disana. Benar saja, aku langsung melihatnya sedang melambaikan tangan ke arahku saat aku sampai disana. Cepat-cepat aku melangkahkan kaki menghampirinya sambil memberikan kopi yang sempat aku beli saat dalam perjalanan tadi.

“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku pada Eui Jin yang berdiri memunggungi dinding. “Mianhae, jika aku membuatmu menunggu” kataku lagi.

Aniya, gwenchana” sahut Eui Jin seraya tersenyum ke arahku. “Aku senang kau mengajakku keluar saat kau bosan,”

Aku balas tersenyum, “Kau senang hanya karena itu?”

“Tentu saja,”

Aku kembali tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku sendiri tak tahu kenapa aku menelepon Eui Jin saat aku bosan, dan bukan Sooyoung. Mungkin itu karena aku sedang tidak mau melihat istriku yang belakangan ini lebih memikirkan namja lain daripada suaminya sendiri. Setidaknya saat bersama Eui Jin aku tidak perlu melihat itu di wajahnya.

“Kyuhyun-ah, apa kau tahu ini adalah salah satu tempat favoritku saat bersamamu?” Eui Jin memulai lagi pembicaraan.

“Kenapa begitu?”

Geunyang,”

Aku mengalihkan pandang ke arah orang-orang yang berlalu-lalu di depanku. “Aku juga menyukai tempat ini dan suasananya—” kataku tanpa menatap Eui Jin. Pikiranku mengingat beberapa hal yang aku lakukan bersama dia disini meskipun itu tidak sama dengan orang-orang yang—kebanyakan, berkencan di sini tapi itu sudah cukup untukku.

Wae? Kenapa tiba-tiba diam? Aku kira kau akan terus berbicara,”

“Aku sedang mengingat saat kita kuliah,” kataku jujur di depan Eui Jin. “Kau tahu, aku pernah merencanakan sesuatu untukmu disini, tapi itu tidak berhasil”

“Apa yang kau rencanakan saat itu?” tanya Eui Jin memancingku.

Aku menolehkan kepala, lalu menatap Eui Jin dengan lekat. “Aku berencana untuk menyatakan perasaanku padamu saat itu” kataku memberitahu semuanya tanpa perlu disembunyikan lagi. “Bahwa aku menyukaimu, Eui Jin-ah

Ekspresi Lee Eui Jin terlihat terkejut mendengar apa yang aku katakan. “Kau—kau  menyukaiku?”

Aku mengangguk pelan. “Eo. Aku menyukaimu. Dulu,” kataku pada akhirnya menyatakannya setelah sekian lama. Aku sendiri tak tahu kenapa aku memutuskan untuk memberitahu semua ini pada Eui Jin saat ini. “Aku sangat menyukaimu, sampai aku bahkan rela melakukan apapun untuk bisa melihat senyummu”

Eui Jin mengerjapkan matanya, lalu dia memalingkan wajahnya sesaat dariku dan menatap ke arah yang lain. “Aku tidak tahu kau dulu sangat menyukaiku,” katanya sambil kembali menatapku. “Aku—aku hanya tak pernah berpikir bahwa kau benar-benar menyukaiku,”

“Apa kau tak pernah melihat bagaimana caraku memandangmu?”

Tidak ada jawaban dari Eui Jin.

Aku melanjutkan. “Aku tak tahu apa kau mengetahui bagaimana perasaanku padamu atau tidak. Tapi kau selalu membuatku ingin tahu banyak hal tentangmu karena kau selalu memenuhi hari-hariku saat itu”

“Yah, aku tidak menyangka jika seseorang seperti Cho Kyuhyun seperti itu padaku”

Aku tersenyum tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa kali ini.

Untuk beberapa saat kami sama-sama diam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku ingat semua hal yang aku sukai dari Lee Eui Jin dulu. Bagaimana aku selalu berusaha untuk terlihat olehnya, dan bagaimana aku selalu ada untuknya. Jujur saja, semua itu tidak mudah aku lupakan bahkan sampai sekarang. Karena jika aku melupakannya, rasanya itu benar-benar tidak adil untuk apa yang sudah aku lakukan dulu.

“Kyuhyun-ah, katamu kau dulu menyukaiku ‘kan?” tanya Lee Eui Jin tiba-tiba.

Aku mengangguk.

“Bagaimana kalau sekarang?”

Aku diam membeku selama beberapa saat. “Sekarang?”

Eo,”

Geurissae…” kataku sambil menggaruk tengkukku. “Aku tak tahu apa aku perlu mengatakan ini setelah aku memiliki seorang istri. Lagipula kau juga sudah bersuami—”

“Aku tidak dalam posisi itu sekarang,”

Satu alisku terangka. “Apa maksudmu?”

“Suamiku. Mungkin aku akan berpisah darinya,” kata Eui Jin sambil menundukkan kepala. “Itu tidak akan lama bagi kami berpisah karena kami benar-benar tidak bisa hidup bersama sekarang,”

“Kau—kau akan berpisah dengannya?”

Eui Jin tidak langsung menjawab, tapi terus diam. Sampai pada akhirnya diapun kembali berbicara, dan tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya. “Apa kau masih menyukaiku sekarang, Kyuhyun-ah?”

Molla, Eui Jin-ah” jawabku setelah memikirkannya. “Aku senang bisa bertemu denganmu lagi dan bisa pergi denganmu seperti ini”

Geureom—kau tidak benar-benar menyukai istrimu ‘kan?”

“Yah, itu—” Aku diam sesaat dan kembali berpikir. Aku mendesah pelan sebelum melanjutkan bicara. “Jujur saja, aku dan Sooyoung menikah itu karena perjodohan. Keluargaku dan keluarganya saling mengenal sejak lama, dank arena kami masih sendiri di usia yang mungkin menurut orang tua kami seharusnya sudahmenikah, jadi keluarga kami menjodohkan kami”

Ah, jadi itu karena perjodohan?”

Aku mengangguk.

“Aku tidak menyangka jika pada akhirnya kau berakhir sama denganku, Kyuhyun-ah” kata Eui Jin kemudian sambil melirikku sesekali. “Itu benar-benar sulit menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Aku sudah mengalaminya,”

Aku kembali diam.

Eui Jin mendesah pelan, “Dari dulu, aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Kau selalu berhasil menarik perhatianku sejak itu” katanya memberitahuku, dan aku cukup terkejut mendengarnya. “Aku senang saat aku bisa dekat denganmu dan kau selalu ada untukku saat aku membutuhkan seseorang untuk ada disampingku”

Aku terus diam.

“Kau tahu, aku bukan seseorang yang sangat pandai saat aku masih kuliah. Jadi, aku menemui banyak kesulitan saat itu” Eui Jin melanjutkan bicara dan mengabaikan sikap diamku. “Kau selalu membantuku meskipun kita berada di bidang yang berbeda. Kau bahkan jauh terlihat lebih pintar di bidang hukum daripada aku. Padahal kau sedang belajar bisnis”

Geurae? Aku begitu?”

Eui Jin mengangguk-anggukkan kepalanya. “Banyak hal yang aku kagumi dari dirimu, bahkan sampai sekarang. Aku selalu berharap kau selalu ada disisiku, Kyuhyun-ah

“Tapi aku tidak bisa—”

“Itu karena aku pergi meninggalkanmu,” sela Eui Jin padahal aku belum selesai berbicara. “Aku dengan bodohnya meninggalkanmu padahal aku sangat menyukaimu”

“Aku menunggumu, Eui Jin-ah

“Aku tahu,”

Aku tercengang mendengar sahutan Lee Eui Jin itu. “Kau tahu?”

Eo, aku tahu. Tapi aku terlalu takut untuk datang padamu setelah aku meninggalkanmu untuk namja lainnya yang tidak aku cintai”

“Aku—” Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa sekarang.

“Sampai sekarang aku bahkan takut bertemu denganmu. Aku takut jika kau akan marah padaku dan mengumpatku dengan kata-kata kasarmu” kata Eui Jin lagi. “Tapi aku tahu bahwa kau bukan seseorang yang akan melakukan hal seperti itu. Meskipun begitu, tetap saja aku takut”

“Eui Jin-ah,”

Geuraesseo, bisakah kau memaafkanku dan menyukaiku seperti dulu,Kyuhyun-ah?”

Aku diam membeku di tempatku. Tak tahu harus bagaimana menanggapi ini. “Aku tidak perlu menjawab ini sekarang ‘kan?” tanyaku begitu saja.

“Kau tidak memaafkanku?”

“Aku memaafkanmu,” sahutku dengan cepat. “Tapi untuk kembali menyukaimu… aku tidak tahu,”

Wae? Sooyoung-ssi ttaemune?”

“Itu bukan hanya tentang dia. Tapi ada hal-hal yang perlu diperbaiki, dan itu membutuhkan waktu, Eui Jin-ah

Lee Eui Jin kembali mengarahkan tatapannya padaku dan itu cukup membuat jantungku sedikit berdegup lebih kencang. Efek tatapan dan senyumannya benar-benar masih sangat mempengaruhiku sampai sekarang.

“Kau masih akan tetap menemuiku, ‘kan?” tanya yeoja itu kemudian.

“Tentu saja. Kau tak perlu bertanya untuk satu hal itu,”

Geureom, dwaesseoyo. Jigeumkkaji,”

__

Sooyoung POV

Suasana sarapan pagi ini terasa sedikit canggung. Kyuhyun menjadi lebih diam dari biasanya, bahkan saat aku menyibukkan diri untuk menyiapkan sarapan dia sama sekali tidak mengajakku berbicara atau bagaimana. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya, dan aku tak bisa mencari tahu apa itu. Mungkinkah itu masalah yang sama yang membuatnya mabuk berat beberapa hari yang lalu? Tapi kenapa masalah itu berlarut-larut? Haruskah aku bertanya?

Oppa—”

“Sooyoung-ah,”

Aku diam di tempat dudukku dan menatap Kyuhyun. Membiarkan namja itu melanjutkan bicaranya karena mungkin saja dia akan memberitahuku sesuatu yang penting atau mungkin juga mengenai masalah yang mengganggunya.

“Aku bertemu Lee Eui Jin kemarin,” katanya kemudian.

Aku mencelos. Pikiranku melayang pada percakapanku dengan Taeyeon beberapa hari yang lalu. “Oh? Apa kau bertemu dengannya di perusahaan? Bagaimana kabarnya?” tanyaku berusaha agar nada suaraku terdengar biasa saja.

“Tidak. Aku bertemu dengannya di Cheonggyecheon” Kyuhyun tersenyum saat mengatakannya.

Aku berpura-pura sibuk dengan makananku, mengambil sumpit dan mulai memakan nasi. Meskipun begitu, beberapa kali aku sempat melirik wajah Kyuhyun yang cerah saat membicarakan yeoja itu. “Geuraesseo?” tanyaku lagi masih dengan sikap yang sama.

“Kami membicarakan saat kami masih kuliah dulu. Kau tahu, rasanya benar-benar seperti kami masih di masa-masa itu”

Ah, jadi kau mengingat masa-masa saat masih menyukainya?” komentarku sambil tertawa.

Mwoya… tentu saja tidak,” sahut Kyuhyun dengan cepat. “Lagipula dia hanya teman lama, dan kami tidak membicarakan apapun yang berhubungan—”

“Kalian membicarakannya pun tidak masalah, oppa” Aku menyela perkataan Kyuhyun meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mengatakannya. “Aku tahu bahwa kau memiliki kisah cinta yang belum selesai dengannya. Katakan saja padanya, dan semuanya akan baik-baik saja”

“Begitu?”

Aku mengangguk.

Geureom, apa kau juga sudah bertemu Kang Dongwoon dan berbicara padanya?”

Aku diam sesaat di tempatku, lalu berbicara. “Aku sudah bertemu dengannya tapi belum berbicara padanya” kataku berbohong. “Mungkin aku akan membicarakannya—maksudku tentang bagaimana hubungan kami. Saat dia pergi, kami tidak berpisah jadi aku tak tahu bagaimana memulai pembicaraan itu dengannya”

Ah, begitu” komentar Kyuhyun yang terdengar biasa saja. Membuatku berpikir apa dia sama sekali tidak pernah cemburu saat aku membicarakan tentang namja lain di depannya? “Geureom, apa ada kegiatan hari ini? Kau akan mengunjungi restoran ‘kan?”

Eo. Aku akan mengunjungi restoran dan memeriksa beberapa hal disana”

“Aku senang kau mengurus restorannya dengan baik, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun sambil menyunggingkan segaris senyuman padaku. “Kau akan belajar banyak dari restoran itu. Aku sangat yakin,”

Aku tertawa. “Kenapa kau begitu yakin?”

Geunyang—aku begitu,”

Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Kyuhyun menatapku, “Tentang apa?”

“Restoran,” kataku menjawab. Aku sempat ragu untuk beberapa saat tapi kemudian memutuskan untuk bicara. “Apa itu tidak apa-apa jika aku melakukan sedikit perubahan di restoran?”

“Tentu saja,”

“Tentu saja?”

Kyuhyun mengangguk.

“Kau tidak akan bertanya perubahan seperti apa?”

“Aku percaya padamu,” jawab Kyuhyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dengar, aku sudah menyerahkan restoran itu padamu. Aku bahkan tidak akan mempermasalahkannya jika kau ingin mengganti namanya, menunya atau bahkan apapun. Itu terserah padamu,”

Aku diam saja.

“Kau bisa menambah menu-menunya jika kau merasa ada yang kurang, Sooyoung-ah” Kyuhyun menambahkan. “Apa kau ingin mencoba sesuatu yang baru di restoran?”

“Yah, begitu” sahutku yakin tidak yakin.

Geureom dwaesseo. Lakukan saja apa yang kau mau,”

Aku mengangguk pelan. “Ne, arraseo” kataku membalas tersenyum pada suamiku. “Gomawoyo, oppa

Kyuhyun mengakhiri sarapannya dan bergegas keluar dari ruang makan sambil memakai jasnya. Aku melakukan aktifitas pagiku seperti biasanya—merapikan dasi dan jas suamiku, lalu mengantarnya berangkat bekerja sampai di depan rumah. Setelah itu, aku bersiap-siap sendiri karena aku harus datang ke restoran lebih awal. Aku ingin memeriksa sesuatu disana dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik karena ini sudah awal bulan. Taeyeon memberitahuku untuk melakukan hal seperti ini di awal dan akhir bulan. Itulah kenapa aku memutuskan untuk datang ke restoran hari ini.

“Anda terlihat berbeda, Samonim” kata Go Ahjussi sambil melirikku dari kaca spion mobil. “Anda semakin terlihat cantik hari demi hari”

“Astaga, Ahjussi. Apa kau harus membuatku tersipu malu di pagi hari seperti ini?”

Go Ahjussi tertawa. “Tapi itu benar, Samonim

Geurae, geurae” kataku mengangguk-anggukkan kepala. “Ahjussi, kau pasti belum sarapan ‘kan?”

Ne? Bagaimana Anda tahu—”

Aku mendesah panjang. “Aku sudah memberitahumu untuk menyempatkan dirimu sarapan, Ahjussi” kataku memperingatkan. “Geureom, pergilah makan saat aku berada di restoran”

“Tapi bagaimana kalau Anda membutuhkanku setelah Anda selesai?”

“Aku akan lama,” kataku dengan cepat. “Jadi pastikan dirimu untuk sarapan terlebih dahulu sebelum kembali padaku. Aku akan menanyakannya lagi nanti”

Algeseumnida, Samonim

Aku tersenyum, dan mobilpun mulai menepi. Aku bergegas keluar dari mobil, lalu memperingatkan Go Ahjussi untuk membeli sarapan terlebih dahulu. Setelah itu bergegas aku memasuki restoran yang sudah aku tangani selama dua bulan ini. Beberapa orang menyapaku dan aku hanya memberikan anggukkan serta senyuman ramah pada orang-orang yang bekerja di restoran ini. Jujur saja, aku masih sedikit canggung saat mengambil alih restoran ini dari Kyuhyun meskipun—sepertinya, orang-orang disini tidak mempermasalahkannya. Tapi apa benar, jika aku akan banyak belajar di restoran ini? Apapun itu, tujuanku adalah membantuku Kyuhyun dan untuk menghilangkan kebosananku di rumah.

**

Ne, oppa. Aku sudah sampai di Suwon” kataku memberitahu Kyuhyun begitu sampai di Suwon untuk mengunjungi panti jompo yang selalu keluargaku kunjungi setiap bulan.

Mianhae, aku tidak bisa ikut bersamamu”

Aniyo, gwenchanayo” sahutku dengan cepat. “Aku hanya akan mengirimkan pesanan harabeoji dan kembali setelahnya”

Geureom, telepon aku lagi saat kau sudah selesai”

Eo,

Kyuhyun menutup sambungan teleponnya, begitupula aku. Setelah memasukkan ponselku kembali ke dalam tas, aku cepat-cepat keluar dari mobil dan meminta Go Ahjussi untuk mengeluarkan satu paket hadiah dari harabeoji untuk para orang tua disini. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa harabeoji-ku melakukan ini, tapi mungkin itu karena salah satu temannya pernah meninggal disini atau sesuatu seperti itu. Aku tidak pernah bertanya langsung padanya karena menurutku itu bukan sesuatu yang penting untuk aku ketahui.

Oh, aghassi. Kau datang” seru salah satu halmeoni yang melihatku saat memasuki gerbang panti jomponya. “Sudah lama sekali sejak terakhir kau datang, aghassi

Aku tersenyum. “Ne, halmeoni. Jal jinaesseoyo?”

Jal jinasseo, geureom” jawab halmeoni itu sambil meraih tanganku. “Aku dengar kau sudah menikah. Benar?”

Aigoo… siapa yang memberitahumu?”

Eomma-mu,”

Oh? Eomma kesini?”

Halmeoni itu menganggukkan kepala. “Kau tidak datang bersama suamimu?”

“Tidak. Dia sedang sibuk bekerja,” jawabku masih tersenyum. “Tapi lain kali aku akan mengenalkannya padamu, halmeoni

“Kurasa kau tidak menikah dengan namja yang waktu itu datang kesini ‘kan?” celetuk halmeoni yang lain yang bergabung denganku dengan halmeoni pertama. “Dia bahkan disini sekarang dan berkata jika dia masih sendirian”

Aku diam membeku di tempatku selama beberapa saat mendengar perkataan halmeoni itu. Apa maksudnya Kang Dongwoon? Karena satu-satunya namja yang pernah aku ajak ke tempat ini adalah dia. Tapi kemudian pertanyaanku terjawab karena namja itu keluar dari dalam bangunan dan dia melihatku. Senyum di wajahnya langsung mengembang, sementara aku masih diam saja.

Halmeoni, aku membawa sesuatu. Pasti seseorang sudah mengantarnya ke dalam,” kataku berusaha mengabaikan tatapan Kang Dongwoon. “Aku harap halmeoni menyukainya kali ini. Harabeoji-ku yang mengirimkannya langsung,”

Geurae? Itu pasti sesuatu yang menyenangkan” sahut halmeoni yang masih menggenggam tanganku. “Kajja, Bo Yeon-ssi. Kita tidak boleh ketinggalan,”

“Tentu saja, Soon Mi-ssi

Aku tersenyum melihat bagaimana kedua halmeoni itu bergegas masuk ke dalam rumah. Tanpa menatap ke arah Kang Dongwoon, aku memutuskan untuk meninggalkan panti jompo. Itu karena aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana di depannya, jadi lebih baik jika aku menghindarinya ‘kan?

“Sooyoung-ah,” seru Kang Dongwoon yang ternyata mengejarku. “Sooyoung-ah, jamkkaman” Dia berhasil memegang lenganku tapi dengan cepat melepasnya saat aku memandangi tangannya.

Orenmanida, Kang Dongwoon. Jal jinaesseo?” tanyaku berusaha bersikap biasa.

Dongwoon tersenyum lalu menganggukkan kepala. “Aku menunggu telepon darimu dan—“

“Apa kau masih sering datang ke sini?” tanyaku memotong perkataan namja ini.

Aniya, hanya beberapa kali”

Ah,”

“Mau berjalan-jalan denganku?” Kang Dongwoon menawariku dan cukup membuatku terkejut. “Sudah lama bukan? Kita tidak berjalan-jalan disini. Kau tahu tempat ini sangat dekat dengan Hwaseong Haenggung

“Aku tahu. Kau tak perlu mengingatkanku” kataku sambil melanjutkan langkahku.

Aku sengaja melangkah dengan cepat, dan Kang Dongwoon berusaha keras untuk menyamai langkahku. Meskipun begitu, selama menit pertama berjalan bersama seperti ini, kami sama-sama diam. Jujur saja, aku tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan karena bertemu dengannya lagi seperti ini pun sudah sangat mengejutkanku. Bukankah selama ini aku menghindarinya? Tapi kenapa aku justru bertemu dengannyadi tempat seperti ini?

“Wah… jinjja! Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat ini?” seru Dongwoon yang membuatku menaikkan satu alisku melihatnya. “Ah, rasanya benar-benar menyenangkan bisa datang kesini lagi. Bersamamu,”

Aku tersenyum tipis, tapi menyembunyikannya dari Kang Dongwoon. Mengingat beberapa hal yang kami lakukan saat datang ke tempat ini benar-benar membuatku terbawa nostalgia. Tapi aku tahu bahwa aku harus bisa mengendalikan diriku karena biar bagaimanapun Kang Dongwoon adalah masa laluku meskipun aku masih menyimpan perasaan padanya. Ya, benar! Jantungku masih berdegup kencang saat bersamanya seperti ini dan aku tidak akan mengingkari itu.

“Sooyoung-ah, ayo kita naik trolley” seru Dongwoon sambil menarik tanganku dengan tiba-tiba.

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Dongwoon lakukan dan tidak bisa melakukan apapun saat dia menyeretku menaiki tangga untuk sampai ke atas gunung Paldal—gunung yang membentengi Hwaseong. Dari atas gunung inilah, kondisi keseluruhan kota Suwon bisa terlihat. Tidak begitu lama, kereta kecil berkepala naga yang biasa digunakan untuk berkeliling daerah wisata Suwon itu datang, dan Dongwoon langsung mengajakku untuk memasukinya. Kami duduk di kursi paling belakang, menghadap ke jalanan.

Selama 30 menit perjalanan dengan trolley ini, aku sama sekali tidak berbicara dengan Dongwoon. Tangan namja itu masih menggenggam erat tanganku sebelum akhirnya aku melepaskannya saat trolley sampai di sebuah patung Raja Jeongjo yang merupakan simbol kota Suwon ini. Meskipun itu hanya setengah jam—dan dalam keadaan yang tidak menyenangkan bersama Kang Dongwoon, tapi aku masih bisa menikmati keseluruhan lokasi tempat ini yang memang sudah lama tidak aku lakukan.

“Ayo kita turun disini,” kata Dongwoon yang kali ini hanya mengajakku untuk mengikutinya. “Josimhae,” katanya kemudian.

Aku melangkah dalam diam dengan Dongwoon di sebelahku. Jujur saja, aku masih tidak percaya aku bersama namja yang selalu aku pikirkan selama ini setelah lama dia menghilang, bahkan menikmati kota Suwon seperti ini. Aku bahkan sedikit menikmatinya tadi meskipun dengan cepat aku menyadarkan diriku bahwa aku tidak dalam posisi untuk bersikap seakan-akan menikmatinya.

Waeyo?” tanyaku pada akhirnya.

Oh? Mwoga?

“Kenapa kau mengajakku ke Hwaseong Haenggung dan bahkan menaiki trolley? Apa kau pikir aku datang kesini untuk berjalan-jalan?”

Kang Dongwoon tersenyum. “Tidak,” katanya. “Aku hanya ingin mengenang masa lalu kita di kota ini saat secara kebetulan bertemu denganmu disini”

“Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, Woon-ah

Senyuman Kang Dongwoon semakin lebar. “Sudah lama sekali aku tidak mendengar seseorang memanggilku dengan cara yang seperti itu”

Aku diam saja.

Jal jinaesseo? Ni nampyeon,”

Aku tertegun, tak menyangka jika Dongwoon akan bertanya mengenai suamiku. Aku bahkan tak bisa mengatakan apa-apa untuk beberapa saat, dan itu justru membuat Kang Dongwoon kembali tersenyum ke arahku.

“Dia orang yang hebat. Suamimu itu,” kata Dongwoon kemudian. “Meskipun aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi dia benar-benar pantas mendapatkanmu”

Eo, geujjyeo

“Kau mencintainya?”

Aku kembali diam.

“Apa dia juga mencintaimu sama seperti aku mencintaimu?”

Aku berhenti melangkah, lalu menatap Kang Dongwoon lekat-lekat. Kami sekarang berada di sebuah taman di Hwaseong Haenggung yang sedang tidak banyak di kunjungi orang. Jadi aku tidak perlu khawatir jika banyak berbicara dengan namja ini karena kebanyakan orang yang datang kesini pun adalah orang-orang asing yang sedang berwisata. Maklum saja, Suwon menjadi kota yang cukup terkenal sekarang karena keberadaan Hwaseong Haenggung ini.

“Apa yang sedang kau coba lakukan, Dongwoon-ah?” tanyaku berusaha keras untuk mengendalikan diriku sendiri.

“Aku hanya bertanya padamu. Apa kau mencintainya dan apa dia mencintaimu. Itu saja,”

Aku menghela napas panjang. “Karena itu—“ kataku dengan cukup tegas. “Karena itu aku bertanya padamu, apa yang sedang kau coba lakukan?”

Kali ini ganti Kang Dongwoon yang menatapku lekat-lekat. “Apa kau sama sekali tidak mencintaiku, Sooyoung-ah?” tanyanya masih menatapku dengan cara yang sama.

“Kenapa kau tiba-tiba—“

“Jawab saja, aku” sahutnya tak kalah tegasnya denganku. “Kau mungkin akan terus menghindariku, jadi jawab aku sekarang disaat kita bertemu seperti ini”

Aku diam saja.

“Apa kau sama sekali tidak mencintaiku lagi?” Kang Dongwoon mengulang pertanyaannya.

Aku balas menatap Kang Dongwoon, sambil berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. “Aku masih mencintaimu,” jawabku. “Tapi sekarang sudah terlambat untuk tetap menjaga perasaan itu. Kau puas?”

“Tidak ada kata terlambat, Sooyoung-ah

“Ada,” Aku langsung menyahut. “Kau dan aku. Itu sudah terlambat,”

“Kenapa kau berpikir itu sudah terlambat?”

Aku mendesah panjang, lalu mengalihkan pandanganku dari Kang Dongwoon. “Apa kau pernah berpikir jika salju yang sudah melelah menjadi air, dia akan ingat saat menjadi salju?” tanyaku.

Kang Dongwoon diam saja.

“Berikan aku jawabannya, Woon-ah. Jika salju meleleh menjadi air, apa dia akan ingat saat menjadi salju?” Aku mengulang pertanyaanku.

“Sooyoung-ah, aku benar-benar tidak mengerti—“

“Aku mencintaimu. Ayo kembali berhubungan seperti dulu,” selaku dengan cepat, dan itu langsung membuat mata Dongwoon membelalak. Tapi sebelum dia mengatakan apapun padaku, aku melanjutkan apa yang ingin aku katakan padanya. “Apa kau ingin mendengar semua itu dariku setelah sekian lama? Geurae, kau sudah mendengarnya sekarang,”

“Sooyoung-ah, aku sangat senang—“

Aku kembali menyela. “Apa kau akan tetap senang setelah tahu bahwa itu hanyalah sekedar kata-kata dariku?”

Museun marieyo?”

“Kau mencintaiku, begitu pula aku. Tapi kau meninggalkanku begitu saja tanpa pernah tahu bagaimana aku setelah kau pergi” kataku berusaha keras untuk menahan air mataku agar tidak keluar karena sudah lama sekali aku ingin mengatakan hal ini pada namja yang telah menjadi masa laluku ini. “Apa yang membuatmu berpikir aku masih mencintaimu setelah apa yang kau lakukan padaku?”

Tidak ada tanggapan dari Dongwoon, tapi aku tahu bawa dia terus menatapku dengan lekat.

Aku mendesah panjang. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah memiliki perasaan yang lain sekarang, dan aku juga sudah memiliki keluarga” kataku sambil menoleh ke arah Dongwoon. “Memang benar, aku mencintaimu dan aku terus memikirkanmu bahkan setelah aku menikah. Aku berpikir setelah aku melihatmu lagi—entah bagaimana caranya, aku akan bisa kembali mencintaimu. Tapi ternyata aku salah”

“Apa?”

“Perasaanku cintaku padamu itu sudah berubah, dan kau tidak bisa mengubahnya lagi”

“Sooyoung-ah, aku—“

“Aku berharap kau tidak lagi muncul di hadapanku, Woon-ah. Itu sudah cukup bahwa aku, saljuku sudah meleleh menjadi air” jawabku dengan suara seyakin mungkin. “Aku tak tahu apa aku akan menyakitimu atau tidak seperti caramu menyakitiku jika kau muncul lagi di depanku,” Aku menambahkan.

Tanpa menunggu tanggapan Kang Dongwoon, aku bergegas pergi dari hadapannya. Selain karena aku tak tahu harus mengatakan apa lagi, itu juga karena aku tak mau berlama-lama dengan namja itu—aku bisa menangis jika terlalu lama bersamanya. Bagaimana jika dia tahu bahwa aku tidak benar-benar mengatakan itu padanya? Bagaimana jika dia tahu bahwa aku mengatakannya agar dia tidak lagi datang padaku dan membuatku terus memikirkannya? Aku hanya berharap dia bisa mengerti perkataanku dan tidak datang lagi padaku.

__

Kyuhyun POV

Oppa, mianhae. Aku tidak di rumah saat kau pulang. Aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar.

Aku membaca pesan singkat di layar ponselku dari Sooyoung itu. Keningku mengernyit, merasa heran Sooyoung pergi malam-malam seperti ini untuk mencari udara segar. Tidak biasanya istriku itu pergi di jam-jam seperti ini, apalagi untuk sesuatu yang menurutku hanya sebuah alasan saja. Apa dia sebenarnya ingin menemui seseorang tapi berbohong padaku? Kang Dongwoon. Apa dia akan menemui namja itu atau bagaimana?

Waegeurae?” seruan Lee Eui Jin itu membuatku sadar dari lamunan singkatku.

Oh, aniya. Istriku—“ kataku sambil menyimpan kembali ponselku ke dalam saku. “Dia memberitahuku jika dia tidak di rumah,”

Tidak ada tanggapan dari Eui Jin, tapi aku sempat melihat ekspresi tidak sukanya—meskipun aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku lihat. Tapi kemudian yeoja itu melangkah terlebih dahulu dariku, membuatku mau tak mau mengikutinya.

Hari ini aku memang menghadiri rapat di salah satu anak cabang GeumHo Group, dan Lee Eui Jin ikut menghadirinya. Tidak biasanya rapat berjalan cukup rumit, karena membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk pada akhirnya mendapatkan kesepakatan untuk sebuah proyek skala sedang di Yangju. Setelah rapat itu, Eui Jin mengajakku untuk makan malam bersama di salah satu restoran yang tidak begitu jauh dari anak cabang itu, tapi tetap saja kami berjalan beberapa meter untuk sampai disana.

“Kurasa hubunganmu dengan istrimu semakin baik, Kyuhyun-ah” komentar Lee Eui Jin sambil terus berjalan disampingku. “Itu bagus,” katanya menambahkan.

Wae? Hwanaseo?”

An-hwanaseo,” sahut Eui Jin dengan cepat. “Kenapa aku harus marah?”

Aku mengendikan bahu. “Geunyang—“

“Bukan hakku untuk marah padamu mengenai pernikahanmu, Kyuhyun-ah” Lee Eui Jin menyela perkataanku. Dia menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya dariku. “Aku tidak mau menjadi wanita yang jahat tapi juga baik. Aku senang kau bahagia dengan istrimu, tapi aku juga tidak menyukainya karena kau tahu bagaimana perasaanku padamu”

“Eui Jin-ah” sahutku berusaha membuat Eui Jin tidak membahas masalah itu lagi sekarang. “Sebaiknya kita tidak membicarakan bagaimana kehidupan kita sekarang. Itu akan membuat suasananya menjadi tidak menyenangkan,”

Lee Eui Jin hanya mengangguk singkat ke arahku sebelum kami masuk ke dalam restoran berukuran sedang dengan bangunannya yang sederhana tapi sangat menarik. Yeoja ini mengajakku untuk duduk di pinggir jendela, cukup jauh dari para pengunjung di restoran ini. Lalu seorang pelayan datang dan kamipun segera memesan makanan. Pandanganku menyapu seluruh restoran selepas pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan kami dan kemudian mataku tertuju pada Eui Jin yang ternyata sedang memandangiku. Membuatku cukup terkejut tapi aku berhasil mengendalikan diriku.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Tidak apa-apa,” jawab Lee Eui Jin dengan senyuman tipis tersungging di wajahnya. “Aku hanya sudah lama tidak menatapmu secara dekat dan lama seperti ini”

“Kau senang?”

Eo, aku senang” sahut Eui Jin. “Ah, Kyuhyun-ah! Aku punya sesuatu untukmu,” katanya sambil merogoh saku mantelnya.

Aku mengamati Eui Jin dalam diam.

“Ulurkan tanganmu,”

Wae?”

“Cepat ulurkan saja tanganmu,”

Aku menurut, dan mengulurkan tanganku di depan Eui Jin. Dia tersenyum lalu memasangkan sebuah gelang untukku. “Aku sudah lama menyimpan ini untukmu, dan baru bisa memberikannya padamu setelah aku mengungkapkan perasaanku padamu”

“Astaga, kau tidak perlu melakukan ini” kataku berusaha menolak gelang pemberian Eui Jin ini. “Bukankah aneh jika seorang yeoja memberikan hadiah untuk namja yang—“

Gwenchana. Terima saja,” sahut Lee Eui Jin memotong perkataanku. “Oh, makanannya datang!”

Eui Jin benar. Pelayan yang sama datang kembali ke meja kami membawakan mangkuk kuali hitam berisi Gamjatang yang masih mengepul. Itu sejenis kudapan tulang babi dengan kentang dan beberapa jenis sayuran yang dipenuhi dengan kuah pedas. Begitu dihidangkan—dan pelayan itu pergi, Eui Jin mengambil mangkuk dan sumpitnya, lalu mengambil porsinya dengan sendok kuah yang disediakan.

“Ini yang paling terkenal di restoran ini,” kata Lee Eui Jin sambil memberikan mangkuk yang sudah berisi beberapa Gamjatang padaku. “Aku berharap kau menyukainya, Kyuhyun-ah

Eo,” jawabku sambil mulai mengambil sendokku dan menyendokkannya ke dalam mulutku. “Kau juga makan, Eui Jin-ah

Geureomnyo,”

Aku tersenyum melihat Lee Eui Jin mulai membuka mulutnya untuk menikmati Gamjatang ini. Selama makan, kami tidak banyak bicara—tidak seperti biasanya. Setelah beberapa saat, Gamjatang yang dipesan Eui Jin masih sisa seperempat. Aku tidak banyak makan, khawatir jika Sooyoung sudah menyiapkan sesuatu di rumah dan aku tidak bisa memakannya. Tapi aku mengamati Eui Jin yang sedang merogoh pensel dari saku mantelnya untuk membaca sesuatu disana. Alisnya bertaut, tapi kemudian dia mematikan lagi ponselnya dan memasukkannya kembali ke tempatnya semula.

“Kali ini aku yang mentraktir,” kata Eui Jin sebelum dia memanggil salah satu pelayan untuk datang ke meja kami dan meminta bill.

Getaran keras dari saku jasku sempat membuatku tersentak, bahkan Eui Jin sampai menoleh padaku. Cepat-cepat aku mengambil benda itu dan mengerutkan kening melihat nama Sooyoung yang tertera disana. Tanpa ragu aku langsung menekan tombol jawabnya, lalu menempelkannya ke telinga.

Eo, Sooyoung-ah. Waegeu—

Yeobeoseyo?”

Aku semakin mengerutkan kening. Suara namja, dan aku tidak tahu siapa. Aku memeriksa nama yang tertera di layar sekali lagi untuk memastikan aku tidak salah. Benar itu nama Sooyoung, tapi kenapa suara namja yang terdengar? Apa ini Kang Dongwoon atau bagaimana? Kenapa tiba-tiba aku merasa tidak nyaman seperti ini?

Yeobeoseyo?”

Ne, ne, yeobeoseyo” sahutku cepat-cepat saat namja itu mengulang sapaannya. “Nuguseyo?”

Ah, aku seorang pejalan kaki yang kebetulan melihat istrimu tidak sadarkan diri di taman yang—“

“Tidak sadarkan diri?” selaku cepat. “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu. Dia tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri, dan masih bisa menanggapiku. Hanya saja dia terlihat sangat tidak bertenaga” kata namja itu memberitahukan padaku bagaimana keadaan Sooyoung. “Kau lebih baik segera datang kesini,”

Jamkkaman. Apa kau sudah menelepon 119?”

“Istrimu melarangku,”

“Beritahukan aku dimana tepatnya. Aku akan segera kesana,”

Ne, algesseoyo

Aku langsung menutup sambungan telepon itu dan berdiri. Tak lama kemudian, sebuah pesan datang memberitahukan dimana posisi Sooyoung berada. Itu tidak jauh dari rumah dan aku cukup merasa lega karenanya—meskipun sedikit. Lee Eui Jin yang sedang membayar tagihan mengalihkan perhatiannya padaku dan mengabaikan pelayan itu untuk beberapa saat.

Wae?”

“Aku harus pergi,”

Eodi—“

“Aku akan meneleponmu nanti,” kataku dengan cepat, lalu pergi meninggalkan Lee Eui Jin tanpa mengatakan apa-apa lagi padanya.

Bergegas aku kembali ke anak cabang GeumHo Group, dan masuk ke mobilku dimana Seo Ahjussi sudah menungguku disana. Tanpa banyak menunggu, aku segera memberitahunya kemana untuk pergi dan memberitahu Sooyoung jika dia sedang tidak sadarkan diri. Aku tidak perlu meminta Seo Ahjussi untuk mempercepat laju mobilnya karena dia sendiri melakukannya. Sepertinya bukan hanya aku yang khawatir tapi dia juga karena dia bahkan beberapa kali melirik ke arahku dari spion di tengah mobil.

Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di taman yang dimaksud namja itu. Dengan langkah cepat aku datang ke lokasi—tepatnya, dan melihat kerumunan orang disana. Aku segera meminta mereka untuk menyingkir dan benar saja, Sooyoung sedang berbaring disana, di sebuah bangku kayu panjang. Dia memang terlihat sangat lemah dengan wajahnya yang pucat.

“Aku suaminya,” kataku memberitahu orang-orang disekitarku. “Aku akan membawanya. Kamsahamnida sudah menjaganya sampai aku datang,” Aku membungkukkan badan ke arah mereka sebelum mengangkat tubuh Sooyoung.

Seo Ahjussi membantuku, dan segera membawaku kembali ke rumah bersama Sooyoung. Begitu sampai di rumah, aku langsung membaringkan istriku ini di tempat tidur dan melihat wajahnya yang semakin pucat serta tubuhnya yang berkeringat. Aku sempat tercengang melihat keadaan Sooyoung, lalu bergegas meminta Park Ahjumma membawakan air hangat agar aku bisa mengkompres dahi istriku ini. Setelah itu, aku segera membuka lemari pakaian Sooyoung, mengambil handuk dan piyama untuknya.

Sempat ragu melakukannya, tapi pada akhirnya aku mulai membuka kancing baju Sooyoung satu per satu lalu mengelap keringat di tubuh istriku ini sampai kering. Ada yang terasa menggelitik hatiku saat melihat Sooyoung seperti ini. Entah kenapa aku merindukan saat-saat dimana dia berada di pelukanku, rasa hangat yang dapatkan dari pelukan itu, bagaimana nyamannya saat dia tidur disampingku. Aku memang mulai merasa ada kebutuhan Sooyoung dalam keseharianku karena pikiranku selalu melayang padanya setiap kali aku melakukan aktivitas.

Aku tersenyum sendiri sambil menatap wajah istriku yang pulas. Bahkan, aku mulai merasakan desiran aneh yang semakin kuat mengalir di tubuhku setiap kali menerima pesan dari Sooyoung meskipun itu adalah hal-hal yang kecil—tapi menyenangkan.

Setelah tubuh Sooyoung kering, aku segera mengganti bajunya. Lalu suara ketukan pintu terdengar, dan itu adalah Park Ahjumma saat aku memintanya untuk masuk. Dia menawariku untuk merawat Sooyoung dan memintaku untuk beristirahat, tapi dengan cepat aku menolaknya. Entah kenapa aku ingin merawat Sooyoung kali ini, dan menunjukkan bagaimana pedulinya aku padanya—meskipun dia tidak melihatnya. Aku mulai mencelupkan handuk kecil putih ke dalam baskom yang berisikan air hangat, lalu memerasnya dan meletakkannya pada dahi Sooyoung.

Secara berkala aku mengganti kompresi di kening istriku, sembari mengecek suhu tubuhnya dengan termometer—yang dibawakan Park Ahjumma. Tapi saat aku baru akan berdiri untuk mengambil sesuatu, tangan pucat dan lemah Sooyoung menyentuh tanganku. Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku dengan wajahnya bergantian. Ada gemuruh di jantungku, membuat degupannya lebih cepat berkali-kali sekarang.

“Sooyoung-ah,” panggilku pelan karena siapa tahu dia sudah sadar tapi terlalu lemah untuk membuka mata.

Oppa, gajima” ucap Sooyoung dengan lirih. Tangan lemah Sooyoung semakin kuat memegang tanganku.

Aku mengangguk mengiyakan permintaannya. “Tanpa diminta, aku akan tetap disini” jawabku.

Aku memberanikan diri membelai rambutnya dengan satu tanganku lagi. Sooyoung tersenyum—wajahnya benar-benar terlihat semakin pucat sekarang. Sesaat kemudian, sebuah dorongan kuat yang muncul dari hati membuatku dengan perlahan membungkuk dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sangat pelan dan hati-hati aku menautkan bibirku di sela lipatan bibirnya. Sebuah ciuman singkat yang aku berikan pada bibir pucat Sooyoung.

Pelan-pelan aku mengangkat wajahku, dan memberanikan diri menatap Sooyoung. Aku khawatir dia marah karena apa yang aku lakukan. Tapi diluar dugaanku, dia justru tersenyum dan menatapku dengan lembut. Aku mempererat genggaman tanganku dan kembali membelai rambutnya. Tak berapa lama kemudian dia kembali terlelap.

Setelah Sooyoung tertidur, perlahan aku melepas tangannya dan beranjak dari tempat tidur. Mataku menangkap laptop miliknya yang setengah terbuka berada diantara buku-buku bisnis yang sedang dia baca. Aku tersenyum tipis melihat buku-buku itu, lalu merapikannya. Setelah itu, akupun mengambil laptop Sooyoung dan terkejut karena itu masih menyala. Ada sebuah video yang sedang Sooyoung tonton, membuatku penasaran video apa itu. Jadi akupun menontonnya.

Sebuah video berjalan. Awalnya hanya sebuah tulisan, lalu foto-foto mulai bermunculan. Keningku berkerut heran selama beberapa detik. Itu hanyalah sebuah film berdurasi sepuluh menit yang berisi potongan-potongan video serta foto yang diambil dari kamera. Ada Sooyoung yang sedang dalam salah satu event di kampusnya, lalu seorang namja yang sedang bermain gitar dan tampak tersenyum setiap kali melihat kamera. Terdengar suara Sooyoung tertawa sesekali. Muncul juga dalam video itu, Sooyoung dan namja itu—yang aku yakini adalah Kang Dongwoon, sedang tersenyum mesra dan melambaikan tangan, mungkin teman mereka yang sedang merekam.

Rasa heranku perlahan berubah menjadi rasa tersisih. Cemburu dengan cepat merasuki menyerang hatiku. Di akhir film itu, sebaris kalimat singkat membuat napasku tertahan dan tercekat.

Maaf aku menyakitimu dengan kata-kataku. Tapi kisah cintaku akan semakin sempurna jika kau yang ada disini.

Aku merasa ada yang menampar pipiku saat itu juga. Melemparkanku pada sebuah kenyataan pahit, bahwa Sooyoung tak akan pernah bisa mencintaiku. Hal yang paling menyedihkan menurutku saat ini adalah saat melihat seseorang yang sudah berikrar akan setia sehidup semati denganku, masih berharap pada namjachingu lamanya. Masih menunggu dan berharap kembali.

Aku mendesah panjang, lalu meletakkan kembali laptop Sooyoung itu dan menatap istriku yang sedang tertidur. Aku mulai bisa merasakan dalam setiap tarikan napasku terasa ada yang melesak-lesak. Perang batin antara empati dan cemburu, dan aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.

__

Sooyoung POV

Hari ini aku cukup sibuk di restoran—lebih tepatnya menyibukkan diri. Aku melakukannya karena aku tidak mau memikirkan saat aku sakit dan bagaimana Kyuhyun mengganti pakaianku. Membayangkannya cukup membuat malu, meskipun suamiku itu sama sekali tidak pernah menyinggungnya bahkan setelah beberapa hari kejadian itu berlalu. Aku tak tahu kenapa aku masih malu di depan Kyuhyun. Mungkinkah ini karena kejadian lingerine saat itu? Tapi aneh rasanya karena kami sudah tidak membahasnya lagi sekarang.

Oh, yeobo! Kau baru pulang?” seruan Kyuhyun itu terdengar dari arah ruang makan saat aku melewatinya untuk menuju kamarku. “Kemarilah, ayo kita makan malam bersama”

Jamkkaman,” kataku bergegas pergi ke kamar untuk meletakkan barang-barangku, membersihkan diri seadanya dulu lalu kembali menemui Kyuhyun. “Oppa baru makan malam?” tanyaku begitu duduk di samping Kyuhyun.

Eo, aku juga baru pulang. Ada rapat sampai cukup larut tadi,” jawab Kyuhyun. “Kau bagaimana? Tidak ada kesulitan di restoran?”

Aku menggelengkan kepala. “Masih membutuhkan waktu banyak untuk melakukan perubahan karena aku tak mau melakukannya begitu saja. Mungkin ada beberapa pelanggan yang tidak setuju jadi kami harus melakukannya perlahan”

“Tidak apa-apa,” kata Kyuhyun menenangkanku. “Semuanya pasti akan berjalan dengan lancar pada akhirnya,”

“Aku tahu. Tapi mungkin aku akan sibuk beberapa hari ini,”

Aigoo, kau jangan terlalu kelelahan” sahut Kyuhyun dengan cepat. “Kau ingat? Kau melarangku untuk memanggil dokter saat itu, jadi kau harus mendengarkanku. Arraseo?”

Ne, ne, ne” sahutku sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Lagipula aku tidak apa-apa. Kenapa dokter harus datang segala?”

Aigoo… apa kau lupa ceritaku? Kau sangat pucat saat itu,”

“Aku hanya lelah dan sedikit pusing,”

“Kau seharusnya masih harus istirahat di rumah. Tapi kau memaksa untuk pergi keluar, dan aku tidak bisa melarangmu untuk pergi. Wae? Apa kau mulai menikmati menjalankan restoran atau bagaimana?”

Aku tersenyum tipis tapi tidak mengatakan apa-apa meskipun aku sangat ingin membahas apa yang terjadi saat dia mengganti bajuku. Mungkin sebaiknya aku tidak perlu memikirkannya dan mempermasalahkannya lagi. Bukankah dia suamiku? Apa salahnya jika dia membuka bajuku dan—dan melihat tubuhku? Kami juga pernah ‘melakukan’nya, tidak hanya sekali jadi seharusnya aku tidak memikirkannya dengan berlebihan.

Masikke deuseyo” seru Kyuhyun tiba-tiba, memecahkan keheningan sesaat diantara kami.

Aku kembali tersenyum melihat tingkah suamiku ini. “Mari makan, oppa

Belum lama kami menikmati makan malam, terdengar dering ponsel Kyuhyun di sampingnya. Aku dan suamiku saling bertatapan, dan aku sempat melihat siapa peneleponnya yang membuatku langsung terdiam membeku di tempatku.

Jamkkaman,” kata Kyuhyun sambil beranjak dari kursi, lalu mengambil ponselnya dan sedikit menjauh dariku.

Mataku lekat menatap suamiku dengan perasaan gelisah yang tidak bisa aku jelaskan.

Eo, Eui Jin-ah. Waegeurae?” Kyuhyun menoleh ke arahku yang memilih untuk membalas menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Tapi kemudian pandanganku beralih ke jam dinding. Ini sudah hampir tengah malam, dan Lee Eui Jin menelepon? Ada apa? Aku mulai sedikit resah tapi aku berusaha untuk tidak peduli dan tidak ingin ikut campur. Aku memilih untuk melanjutkan makan malamku dalam diam. Mengabaikan Kyuhyun yang sedang mengobrol dengan yeoja dari masa lalunya itu.

Weekend ini kau mau kemana, Sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun begitu dia kembali ke kursinya.

Aku menoleh ke arah Kyuhyun yang kembali menikmati makanannya. “Aku akan pergi berbelanja dengan Taeyeon. Wae?”

Kyuhyun bergumam pelan, terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. “Hmm… Eui Jin,” Dia berhenti sesaat dan mengamatiku lekat-lekat. “Dia akan datang ke rumah kita,” katanya melanjutkan dengan pelan.

Aku mendesah panjang. Eui Jin lagi? Rasanya aku ingin bertanya untuk apa yeoja itu datang ke rumah atau sering berhubungan dengan Kyuhyun. Tapi aku tahu bahwa aku tak bisa melakukan apapun, mengingat percakapanku dengan suamiku saat itu tentang masa lalu kami masing-masing. Lagipula aku sendiri enggan bertanya lebih jauh mengenai yeoja itu. Meskipun firasatku mengatakan bahwa alasan itu sudah jelas, tapi sisi hatiku yang lain mengatakan untuk tidak berburuk sangka. Siapa tahu mereka hanya ingin bertemu layaknya teman lama?

“Sooyoung-ah,”

Oh? Eo,” sahutku tersadar dari lamunan singkatku.

“Eui Jin akan datang ke rumah weekend ini,” Kyuhyun mengulang perkataannya.

Alisku terangkat, tapi kemudian dengan cepat aku memasang ekspresi sebiasa mungkin. “Kalau begitu, apa aku harus mengganti rencanaku?”

Kyuhyun menatapku sekilas, lalu tersenyum. “Itu terserah padamu,”

Aku tahu bahwa meskipun kami sudah menikah, kami masih menghargai aktivitas pribadi masing-masing. Kyuhyun masih membiarkanku berkeliaran bersama Taeyeon, dan akupun membiarkannya jika dia ingin menemui teman-temannya. Bukan untuk apa-apa, tapi lebih karena agar kami bisa menikmati hidup kami meskipun sudah menikah.

Tapi jujur saja, hatiku bimbang. Bukan karena aku harus memilih antara pergi bersama Taeyeon atau menemani Kyuhyun yang kedatangan tamu. Aku bimbang karena kembali muncul perasaan tidak nyaman. Di satu sisi, aku ingin menemani Kyuhyun menemui Lee Eui Jin. Karena ada sesikit kesal saat yeoja itu menjadi cukup sering menghubungi suamiku. Tapi disisi lain, aku khawatir itu justru akan menjadi pengganggu. Mungkin, ada hal-hal yang ingin mereka bicarakan tanpa kehadiran diriku, ‘kan?

Yeobo, kenapa melamun?” celetuk Kyuhyun kembali karena aku diam cukup lama dan tidak menanggapinya.

Aniyo, gwenchana” sahutku setelah sadar dari lamunan. Aku berdehem pelan, “Apa yang kau inginkan, oppa?”

Kyuhyun menatapku dengan lekat. Seakan-akan sedang berpikir untuk mengatakan apa di depanku. Tapi kemudian, dia mengendikkan bahu dan berkata, “Terserah kau, Sooyoung-ah. Jika kau mau pergi bersama Taeyeon-ssi, itu tidak masalah. Mungkin saja kalian sudah merencanakannya jauh hari sebelumnya, ‘kan?”

Aku diam saja.

Kyuhyun melanjutkan, “Lagipula Eui Jin hanya datang untuk sekedar menyapa dan meminta dijelaskan tentang beberapa prosedur pengajuan proyek yang akan diajukan perusahaannya”

Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Hmm… kalau begitu, aku pergi saja bersama Taeyeon. Tidak apa-apa?” tanyaku sambil menatap Kyuhyun. Berharap suamiku ini melarang dan memintaku untuk menemaninya.

Kyuhyun mendesah pelan, “Baiklah. Tidak apa-apa,” jawabnya singkat dan datar.

Aku terdiam di tempatku mendapatkan jawaban Kyuhyun itu. Ada rasa kecewa yang menjalar di hatiku, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku membatalkan rencanaku dengan Taeyeon saja dan memilih untuk tinggal di rumah saat Eui Jin datang? Tapi alasan apa yang harus aku berikan pada Kyuhyun untuk itu? Bukankah dia mengijinkanku pergi tanpa ada keraguan sedikit pun? Mungkinkah dia justru senang karena aku memilih pergi saat Lee Eui Jin datang, jadi dia bisa bernostalgia dengan masa lalunya. Apa itu yang sebenarnya dia harapkan?

-TBC-

Eotte?

Semoga suka ya^^

Oh ya! Mungkin aku lebih lama update FF ini, jadi mohon ditunggu yah^^

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

45 thoughts on “What Make A Love -6-

  1. kyusoowon says:

    entah knp gw benci ama eun jin yg terus mengganggu kyuhyun…tp kenapa aku senang kalo dongwon hadir lg dalam kehidupan kyuyoung….

  2. pimlyanc says:

    yash sudah update lagi~

    nguras emosi sumpah, kesannya disini udh bergenre lebih ke ‘hurt’
    saran sih thor, next chapt jgn buat konflik lg. ini udh termasuk berat padahal bisa lebih /?
    hanya kasian sama reader, banyak batin soalnya haha
    mungkin di next chapt diawal aja konflik utamanya tapi kesananya mulai diselesaikan karena ff ini termasuk panjang bgt
    semangat ya thor!

  3. adinda says:

    gregetan sama mereka ber2 knp ga jujur aja si kalo udah punya perasaan 1 sama lain.

    semoga aja sooyoung unni cepet” hamil, jadi ga ada kebimbangan lagi diantara kyuyoung

  4. Greget aku ama sikap kyuyoung yg gk jujur … klu cemburu ya bilang cemburu .. klu cibta ya bilang cinta … susah amat yaaa …
    Semoga aja Soo hamil .. biar mereka makin dekat dan saling jujur … dan gk ada kesempatan buat masa lalu masing” untuk ngeganggu .. terutama si eui jin atau siapalahhh … ku peringatkan kau yaa eui jin jangan ganggu kyuppa … ok ….

  5. msh bete sebete betenya dgn sikap mereka yg gak jujur. cuma bisa berharap soo cepet2 hamil spya udh gak ada kebimbangan lg diantara mereka berdua

  6. ellalibra says:

    Dua”nya sm” lom terbuka satu sm lain y ttg masa lalu ny skrg gregetan hehehe … Soo kpn hamil eon????

  7. mongochi*hae says:

    gemesssss kpan sih slah satu dr mereka jujur…
    hummpptt kyu jga gk peka2 dehh

    next part ak hrap ad kmjuan dlm hub mereka

  8. Ester says:

    Sumpah greget banget sma pasangan kyuyoung kalau sma2 cemburu mending langsung ngomong aja,agak emosi sih sma masa lalu nya kyuyoung…
    Next unni…

  9. sie says:

    Annyeong…
    Kyuyoung mulai kayak org indonesia ya yg seneng dengan budaya “pakewuh” bikin salah paham jadinya, greget aku, pengen ku gigit rasanya. Ayo dong jujur sama perasaan masing2, jangan kyk gini.
    Gomawo

  10. Anyong aku reader baru dsini,,,
    Enggak dink reader lama baru comment maksudnya.
    Daebak ya chingu ma Part ini makin belibet aja ni Rt kyuyoung sm² salah paham.
    D tunggu deh next partnya.

  11. hazara says:

    Aduh kak greget deh , gimana ya biar mereka itu bisa saling jujur gitu loo, jangan berkepanjangan yaa aku berharap chapter lanjut ngga terlalu rumit gini konflik batinnya. Next ! Next ! Next !

  12. Sepertinya kyuhyun sedikit demi sedikit udah mulai ada rasa ama sooyoung, tapi jang biarin mereka saling ketemu sama orang dari masa lalu mereka dong please, apalagi ama eui jin, keki gue ama dia gara2 ngedeketin kyu mulu😣✌
    Semangat chingu!~^^

  13. Inka Rindy says:

    ah giliran kyu dah ngerasa fix sm syoo ada aja yg bikin nge-raguin grgr video, yaampun T.T
    tp dari kmrn mereka belom nemuin titik terang dr perasaannya masing2 thor, kapan ni? Bikin nagih ff nya wkwk oiya maunya si next chapt ceritanya pas syoo sakit2 karna ternyata dia hamil tp kalo engga jg gpp ko thor heheee
    Pokonya cepeeeeeeeeeeetttttttttt dilanjut ya jgn lama2!!!! Paitinggg💛

  14. ry-seirin says:

    Sooyoung dh mulai berkorban buat Rmah tngganya, tpi knpa mlah Kyu skrg yg bimbang.
    Hadeuh… To Eun jin ngrepnya gk ktulungan, move on npa Bu!!!
    To Sooyoung knp tiba² sakit gto jgan²…
    Ah belibet bgt nich urusan RT Kyuyoung, sling suka tpi msh sering salah paham jg gengsinya gede bgt.
    Cieee gue kya yg paham aja ngomong apa!!!
    Next chingu d tunggu.

  15. Aku udah nungguin lama bngt loh next part nya. Tapi ternyata di next part pun konflik nya masih kental. Author-nim jujur, aku jengkel sama sikap mereka berdua yg gak mau jujur sama perasaan mereka.
    Tolong sudahi konflik batin ini author-nim

  16. Thor knapa makin belibet si…tarik ulur mulu..jangan kelamaan thor tarik ukurnya ntar malah bikin salah paham kyuhyun ma soo..fighting next partnya..

  17. Laras says:

    Jangan lama-lama konflik diantara mereka ya eon..
    Soalnya makin lama konfliknya ntar akhirnya juga lama.
    Tapi aku tetep bakal nunggu nextnya..
    Semangat eon..

  18. Gemes banget sama tingkah mereka. Kenapa ga saling jujur. Ini si kyu yg paling bahaya. Apalagi dia tau tu cewek juga suka sama dia. Buruan bikin hubungan merwka kaya pasangan normal lah kak.

  19. dekyusoo says:

    eujin ngga tau diri ya, kan secara nggak langsung dia itu kaya perusak rumah tangga orang, dan kaya menggoda kyu biar kyu jadi suka lagi sama dia.. akkk, pokok nya kesel deh sama eujin…
    kyu juga, bimbang kan, padahal soo udh mulai suka sama kamu..
    udh sih, bilang ke eujin, kalo kamu udh Cinta nya sama soo bukan sama dia lagi..
    soo juga, kenapa nggak jujur sama kyu..
    oiya author, kalo bisa soo dibikin cepet hamil aja, biar kyu nggak kemana-mana, dan eujin juga sadar kalo kyu udh mulain Cinta sama soo..
    ditunggu ya nextnya.
    semangat ya buat nulis kelanjutanya..
    semangat selalu author..

  20. saputrid12 says:

    please jangan buat kyuhyun mendadak dungu buat nangkep sinyal cinta sooyoung 😂
    enyahkan pihak pengganggu :v

  21. park ri ra says:

    akhirnya dipost juga,, ni ff selalu aja bikin ketagihan untuk dibaca sampe2 gak bisa nunggu terlalu lamaan,, tpi kereeennn bgt thor feelnya dapet, aduh kapan sih mrk bisa bersatu yg bener2,, next thor😀

  22. Elis sintiya says:

    akhirnya sooyoung masalahnya udh clear sama si dongwoon.. dan disini kenapa sihh mereka berdua gak jujur aja klo mereka saling cemburu.. lagipun si eui jin ngapain sihh dateng lagi ke kehidupannya Kyuhyun… di sini kyuhyun terlihat sangat egois karena ketemu mulu sama si cewe itu.. gereget dan dongkol sendiri baca part ini…

  23. ajeng shiksin says:

    Kenapa mereka enggak jujur aja sih .. Kan jadi geregetan liat nya . kyuhyun nya juga ngapain pake deket deket sama si nenek lampir ..kenapa enggak kaya sooyoung ke cinta pertama nya itu

  24. 히야아아아아아아아 이게 뭐야? ㅠ.ㅠ
    Pusing mikirin mereka berdua -,- maju mundur ngga kelar2, KZL, ZBL -,- giliran sooyoung udah mau move on, si kyuhyun maen sama cewek itu mulu… kyuhyun udah merasakan sengatan2 cinta *eaaaa bahasa lu* eh sooyoung ketauan nyimpen video dari dongwoon, elaaaaahh bodo amat, gitu aja terus sampe upin ipin wisuda -.-
    Elahh kak aduk2 aja terus perasaan kita T.T
    잘한다 잘한다 ^^

  25. Lanjutttt thorrrrr gak sabar.
    Mereka ih sama2 gak jujur tp soo udah mulai no sm mantannya sedangkan kyu masih nempel sm mantannya😑😑😑😑
    Hamil kek soo hamil wkwkw
    Tp entah knp semakin rumit maka semakin seru wkwk
    Fighting thor

  26. KyuLatte says:

    Gemess ih lama2 sama kyuhyun, sooyoung aja udh tegas say no sama dongwoon, eh kyuhyun malah makin nempel ama eui jin -.-

  27. Duhh greget deh… Apa susahnya ngungkapin isi hati making” kyuyoong aku yang greget… Suka sama Japan ceritanya tapi aku greget kak baca nya kapan mereka ngungkapin perasaan masing” sih…. Ditunggu next chapter yah eonni

  28. youngra park says:

    Aaaaaaaaahhhrgghh jinja kenapa jadi seperti ini kyuyoung knp gk ad yg mau jujur sih kalau mereka gk suka masing2 ketemu masa laluny aish jinja ku harap kyuyoung cpt2 jujur sma perasaan masing2 aku sdh menunggu trus ff ini eoni jdi ku harap hubungan kyuyoung cpt membaik cpt lebih baik kalau begini trus kpn.mereka sdar sma perasaan masing2 next part di tnggu bgts ku harap bsa di post cpt kyuppa jga pabo sooeoni aj nolal jelas2 dongwoon ehh kyuppa malah santai2 aj sma euinjin itu itu jga pho gk tai diri bgts sih aku jdi sebel ndiri bacany

  29. Soo udah cinta sama kyu nah sekarang malah kyu udah mulai bimbang karna eujin itu dan tambah lagi karna kyu kira soo masi cinta sma dongwon
    Berharap aja soo sakit karna kelelahan itu ternyata dia hamil
    Ish bener2 nggak suka liat eui jin itu
    Next part semoga kyu ngejauh dari eui jin deh ya thor🙂

  30. Rchoi says:

    Kesel dah sama hello Kitty gak tau diri. Kyuhyun juga gatel amat. Inget bini di rumah. Dia lagi hamil tu kayaknya *aamiin
    Aku suka sama ceritanya… suka banget malah. Ditunggu ya part selanjutnya

  31. aku tuh selalu dapet feelnya pas dapet Ff ono. bagus bgt suka !!! semangat terus thor aku suka jalan cerotanya bisa dibayangin huhu semangat !? ❤❤❤❤❤💖💞💞💓💓💓💗

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s