What Makes A Love -7-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

 Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

“Sooyoung-ah, weekend ini kau mau kemana?” tanyaku begitu kembali duduk di kursiku saat sedang makan malam bersama Sooyoung.

Sooyoung yang sedang menikmati makanannya menoleh padaku. “Aku akan pergi berbelanja dengan Taeyeon. Wae?”

Aku mendesah pelan, ragu untuk memberitahukannya atau tidak pada Sooyoung. Tapi aku tak mungkin diam saja ‘kan? Dia harus tahu, dan akupun ingin tahu bagaimana reaksinya. “Hmm… Eui Jin,” Aku berhenti sesaat sambil mengamati wajah istriku. “Dia akan datang ke rumah kita,” kataku melanjutkan.

Sooyoung balas menatapku. Untuk sesaat, aku sempat melihat wajah terkejutnya, tapi kemudian dengan cepat berganti. Dia bahkan terlihat sedang memikirkan sesuatu—melihat dari kerutan tipis di keningnya. Sayangnya, tak ada yang dia katakan untuk menanggapi ini dan itu cukup membuatku gelisah. Apa dia benar-benar tak pernah merasa cemburu atau kesal jika aku menyebut nama yeoja lain, khususnya Lee Eui Jin?

“Sooyoung-ah,” Aku memanggilnya pelan.

Sooyoung tersentak kaget, “Oh? Eo,”

“Eui Jin akan datang ke rumah weekend ini,” kataku mengulang apa yang aku katakan sebelumnya.

“Kalau begitu apa aku harus mengganti rencanaku?”

Aku cukup terkejut dengan tanggapan Sooyoung itu—bahkan aku sampai menghentikan aktivitas makanku untuk beberapa saat. Setelah menatapnya sekilas, akupun tersenyu, “Itu terserah padamu,”

Sooyoung diam saja.

Yeobo, kenapa melamun?” celetukku kemudian.

Aniyo, gwenchana” sahut Sooyoung, seakan-akan sadar dari lamunannya. Dia berdehem pelan. “Apa yang kau inginkan, oppa?” Dia balik bertanya.

Aku kembali menatapnya dengan lekat. Sempat terpikir untuk melarangnya pergi dengan Taeyeon karena aku benar-benar tak mau jika harus menemui Eui Jin sendirian di rumah ini. Selama ini aku selalu merasakan sesuatu dari masa lalu hadir di antara aku dan Eui Jin jika kami hanya berdua. Meskipun itu sedikit menyenangkan, tapi tetap saja aku ingat apa yang sudah dia lakukan dan bagaimana kehidupanku sekarang. Lagipula perasaanku yang sebenarnya memang sudah beralih pada istriku ini, tapi kemunculan Lee Eui Jin cukup membuatku sedikit bimbang dengan perasaanku sendiri.

Aku menghela napas pelan, lalu mengendikkan bahu dan berkata, “Terserah kau, Sooyoung-ah. Jika kau mau pergi bersama Taeyeon-ssi, itu tidak masalah. Mungkin saja kalian sudah merencanakannya jauh hari sebelumnya, ‘kan?”

Sooyoung sama sekali tidak memberikan tanggapan.

Aku melanjutkan, “Lagipula Eui Jin hanya datang untuk sekedar menyapa dan meminta dijelaskan tentang beberapa prosedur pengajuan proyek yang akan diajukan perusahaannya”

Hmm… kalau begitu, aku pergi saja bersama Taeyeon. Tidak apa-apa?” tanya Sooyoung seperti memastikan lagi.

“Baiklah. Tidak apa-apa,” jawabku singkat dan datar. Aku mendorong kuat rasa kecewaku karena Sooyoung lebih memilih untuk pergi dengan sahabatnya daripada menemaniku. Sepertinya dia memang tak pernah memiliki perasaan apapun padaku karena dia tak pernah sekalipun menunjukkannya di depanku. Entah itu rasa kesal, kecewa, cemburu dan sebagainya. Mungkin hanya aku yang menyukainya, tapi dia tidak.

Oh, oppa. Mungkin besok aku akan pulang larut lagi,” seru Sooyoung tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan.

Wae?”

“Aku akan menemani eomma mengurus beberapa hal di rumah,” jawab Sooyoung. “Karena aku baru bisa melakukannya setelah dari restoran, jadi yah—aku akan terlambat pulang”

Aku mengangguk mengerti. “Sampaikan salamku untuk eommeoni, harabeoji dan halmeoni

Geurae,”

Sisa makan malam kami dihabiskan tanpa banyak percakapan. Sooyoung pun bergegas masuk ke kamar setelah berbicara pada Park Ahjumma. Aku sempat mengamatinya, berharap dia akan mengatakan sesuatu seperti misalnya dia akan membatalkan rencananya dengan Taeyeon dan menemaniku di rumah sebagai gantinya. Tapi harapanku sia-sia saat dia memilih untuk langsung pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun padaku. Bahkan saat aku menyusulnya, dia sudah berbaring di tempat tidur. Seakan-akan enggan lebih banyak mengobrol denganku setelah kami melakukannya saat makan malam tadi.

Aku sendiripun memilih untuk diam, dan naik ke tempat tidur setelah membersihkan diri. Saat aku menoleh ke arah Sooyoung, dia sedang memunggungiku jadi aku tak tahu apa dia sudah tidur atau belum. Tapi dia sama sekali tidak bergerak untuk waktu yang cukup lama. Membuatku berpikir dia memang sudah tidur. Mungkin saja dia kelelahan dengan aktifitas hari ini, ‘kan? Aku tidak menyalahkannya, tentu saja. Jadi akupun mencoba untuk memejamkan mataku.

Sayangnya, aku tidak bisa.

Bahkan setelah lebih dari tiga puluh menit aku diam di posisiku—mencoba untuk tidur, aku tetap tidak bisa tidur. Pikiranku terjaga. Aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba memikirkan Sooyoung dan Kang Dongwoon. Setelah percakapanku dengan Sooyoung saat itu, dia memang tidak pernah lagi membahas Kang Dongwoon. Akupun tak mau bertanya padanya, karena itu akan terlihat jika aku sangat ingin tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua. Lagipula Sooyoung tidak melakukannya padaku, jadi aku hanya melakukan apa yang dia lakukan. Bukankah selama ini pernikahan kami seperti itu? Menjaga privasi masing-masing meskipun kami sudah nyaman satu sama lain.

Selang beberapa menit, aku merasakan Sooyoung bergerak di belakangku. Aku berpura-pura tidur, tapi menajamkan telingaku karena ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Aku tahu bahwa dia melangkah dari tempat tidur—aku bisa merasakannya, dan kemudian suara pintu dibuka terdengar. Saat aku pada akhirnya membalik badan, aku melihat istriku itu sedang berdiri di balkon, di pinggir teralis sambil menatap jauh dari tempatnya berada.

“Apa yang dia lakukan disana?” gumamku sambil bangkit dari tempatku dengan perlahan. Aku tak mau Sooyoung menyadariku, jadi akupun bergerak dengan hati-hati mendekatinya.

Appa, aku tak tahu jika akan seberat ini” Sooyoung berkata, dan aku mendengarnya dengan jelas dari tempatku berada—di samping jendela. “Appa, apa yang akan kau katakan padaku jika aku memberitahumu apa yang aku rasakan sekarang?” katanya lagi sambil mendongakkan kepala.

Kedua alisku saling bertaut mendengar apa yang Sooyoung katakan itu.

Appa tahu, aku mencintai namja itu”

Aku mencelos. “Namja itu? Kang Dongwoon?” gumamku sangat pelan. “Apa dia sedang memberitahu abeonim tentang Kang Dongwoon?” tanyaku menebak sendiri.

Mataku menatap Sooyoung, dan aku kembali terkejut melihatnya sedang mengusap pipinya. Keningku berkerut tajam mengamati pemandangan itu. Apa dia menangis sekarang? Sepertinya benar, karena selang beberapa detik akupun mendengar isakan pelannya. Aku benar-benar tidak bisa hanya diam seperti ini, jadi akupun melangkahkan kaki ke arahnya sambil berpura-pura mencarinya.

Oppa,” celetuk Sooyoung terkejut yang menyadari kedatanganku. Dia dengan cepat menghapus air matanya—aku benar bahwa dia menangis. “Wae—wae yeogi isseo?”

Neo… wae yeogi isseo?” Aku balas bertanya sambil berpura-pura menguap dan mengacak-acak rambutku. “Aku mencarimu,” kataku menambahkan.

Geunyang—“

Waegeurae?” tanyaku. “Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Sooyoung menggeleng pelan, tapi aku tahu dia tidak jujur.

Aku menatap lekat wajah Sooyoung, lalu menyipitkan mata. “Kau menangis, ‘kan?”

Aniyo,”

Aku menyentuh pipi Sooyoung yang memang terasa basah. “Gojimal,” komentarku kemudian.

Sooyoung memalingkan wajah, cepat-cepat kembali masuk kamar. Tapi dengan sigap aku menahannya karena aku yakin ada sesuatu yang memang sedang dia pikirkan. Lagipula aku sempat mendengar apa yang dia katakan tadi, jadi aku tahu bahwa kondisinya sedang tidak baik. Tanpa ragu, lenganku menarik Sooyoung ke dalam pelukanku. Aku melakukannya agar dia tahu bahwa sekalipun dia tak akan pernah memberitahuku apa yang dia pikirkan, aku akan tetap di sampingnya seperti ini. Tapi kemudian, dengan perlahan aku merasakan tangan istriku ini melingkari punggungku, menyandarkan pipinya di dadaku dan menangis terisak.

“Aku… aku… merindukannya, oppa” bisik Sooyoung pelan.

Aku menelan ludah. Mataku terpejam menahan kecewa di hatiku.

Pelukan Sooyoung semakin erat, “Mianhae—“ Dia tidak meneruskan kata-katanya, tapi justru semakin terisak.

Tanganku membelai rambut Sooyoung dengan lembut. Perang batin bergolak dalam hatiku saat ini. Aku benar-benar merasakan cemburu, tapi juga khawatir dengan keadaan Sooyoung. Aku tak pernah merasa sakit seperti ini saat mengetahui dia memiliki masa lalu yang tidak bisa dia lupakan, tapi saat namja itu benar-benar muncul lagi di depan Sooyoung, aku merasakannya.

Gwenchana, Sooyoung-ah” kataku menenangkan. “Semuanya akan baik-baik saja,”

Aku bisa mendengar isakan tertahan Sooyoung dan merasakan hangat air matanya yang membasahi bajuku. Tidak ada yang bisa aku lakukan dan aku katakan selain hanya memeluknya seperti ini sambil berusaha menenangkannya. Aku khawatir jika aku banyak bicara itu justru akan membuat rasa kesalku semakin meningkat. Jadi, aku hanya akan seperti ini dan menahan diriku untuk tetap bersikap seperti biasanya di depan Sooyoung.

__

Sooyoung POV

Aku berdiri gelisah di pintu kedatangan di Bandara Internasional Incheon. Hari ini, yeodongsaeng Kyuhyun, Choi Jihyun, pulang ke Korea dan aku menawarkan diri untuk menjemputnya. Kepulangannya ini memang cukup mengejutkan. Kyuhyun bahkan tidak menyangka jika dongsaeng-nya ini akan pulang meskipun dia sedang tidak berlibur. Karena suamiku itu sedang sibuk mengurusi beberapa pekerjaan dan dia tak mungkin meminta orang tuanya untuk menjemput Jihyun, jadi aku menggantikannya dengan sukarela.

“Sooyoung eonni!” Panggilan keras itu terdengar saat perhatianku teralih sesaat dari pintu keluar ke ponsel di tanganku. “Eonni, eonni

Aigoo, Jihyun-ah!” seruku seraya meraih pelukan adik iparku ini. “Jal jinaesseo?”

Geureomyo. Eonni, jal jinaesseoyo?”

Aku menganggukkan kepala. “Em,”

Uri oppaneun?”

“Dia juga baik-baik saja,” jawabku. “Dia menyesal tidak bisa menjemputmu karena banyak pekerjaan di kantor”

Gwenchanayo. Kyuhyun oppa memang seperti itu,”

Aku tersenyum singkat menanggapinya. “Kajja,”

Eo,”

Aku dan Jihyun berjalan bersama menuju mobilku yang sudah menunggu dengan Go Ahjussi  disana. Dia langsung menyapa Jihyun dengan ramah begitu kami datang sebelum kemudian membukakan pintu mobilnya untuk kami. Meskipun ini pertama kalinya aku menemui Jihyun tanpa Kyuhyun, tapi dia sudah terasa sangat dekat denganku. Apa mungkin ini yang namanya keluarga? Kata orang, meskipun tidak bertemu lama, tapi tetap terasa dekat ‘kan?

“Jihyun-ah, kau mau langsung ke rumah atau bagaimana?” tanyaku saat mobil sudah melaju meninggalkan bandara. “Kau perlu istirahat, ‘kan?”

“Aku sudah cukup istirahat di pesawat, eonni” kata Jihyun sambil menyunggingkan segaris senyuman yang sangat mirip dengan Kyuhyun. “Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku yang sebentar di Korea ini hanya untuk terus di rumah“

“Memangnya sampai kapan kau disini?”

“Tiga hari?” katanya terdengar tidak yakin. “Aku tidak tahu tepatnya, tapi aku harus kembali minggu ini juga”

Wae?”

“Aku pulang karena mengurus sesuatu, eonni” jawab Jihyun sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam mantelnya. Lalu dia menatapku dan melanjutkan bicara. “Selain itu juga karena aku ingin lebih mengenalmu”

Oh?”

“Itu tidak adil jika aku sama sekali tak pernah menghabiskan waktu denganmu. Mengingat aku tidak akan pulang lagi sampai tahun depan karena aku harus menyelesaikan kuliahku, aku ingin melakukannya meskipun hanya sebentar” kata Jihyun menjelaskan. “Jujur saja, aku bahkan sudah sangat ingin melakukannya sejak Kyuhyun oppa memberitahuku bahwa kita memiliki selera yang sama dalam banyak hal—“

Ah, jinjja?” sahutku tidak menyangka.

Jihyun menganggukkan kepala. “Itulah kenapa aku semakin ingin melakukannya. Lagipula sekarang kau eonni-ku, eonni. Jadi, tolong perlakukan aku seperti dongsaeng-mu. Benar-benar dongsaeng-mu”

Mataku mengerjap beberapa kali, tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi ini.

Samonim pasti terkejut dengan sikap sembronomu, aghassi” celetuk Go ahjussi tiba-tiba menyambung. “Samonim, Jihyun aghassi memang seperti itu dari dulu. Jadi, jangan terkejut”

Ahjussi,” seru Jihyun dengan cepat. Tapi kemudian yeoja itu kembali tersenyum, “Meskipun aku sembrono, aku tahu kau merindukanku ‘kan, ahjussi?” godanya.

Aigoo, aigoo” komentar Go ahjussi sambil menatap kami dari kaca spionnya. “Geurae, aku merindukanmu aghassi. Sangat merindukanmu,”

Aku tertawa pelan melihat kedekatan Jihyun dengan Go Ahjussi ini. Aku memang tahu bahwa sebelum dia selalu menemaniku, dia dulu selalu menemani Jihyun. Mungkin karena itulah mereka dekat, terlepas dari kepribadian yeoja ini yang memang mudah dekat dengan orang lain. Aku tahu sedikit banyak tentang Jihyun dari Kyuhyun, termasuk hal-hal yang disukai atau tidak disukai olehnya. Yah, mungkin itu juga yang membuatku merasa sudah dekat dengannya meskipun ini pertama kalinya aku bertemu dengannya sendirian.

Aku meminta Go Ahjussi untuk mengantarkan kami ke restoran Taeyeon. Mengingat ini sudah waktunya untuk makan siang, jadi mau tak mau aku harus membawa Jihyun ke sana dulu untuk menikmati makanan yang ada di restoran sahabatku itu. Selain itu juga karena aku ingin mengenalkan Jihyun pada Taeyeon, begitu pula sebaliknya. Bukankah katanya Jihyun tidak mau menyiakan waktunya yang sebentar di Korea dan ingin lebih mengenalku? Mungkin inilah awalnya, yaitu dengan mengenalkannya pada sahabatku.

Oh, Sooyoung-ah! Kau datang” seru Taeyeon saat melihatku memasuki restorannya. Lalu pandangannya beralih pada Jihyun yang berjalan disampingku yang sedang mengamati restoran. “Nuguya?” bisiknya padaku kemudian.

“Jihyun-ah, kenalkan ini Taeyeon. Kim Taeyeon” kataku mengalihkan perhatian Jihyun. “Dia sahabatku, dan pemilik restoran ini”

Ah, annyeonghaseyo” sapa Jihyun membungkukkan badannya pada Taeyeon yang ternyata cukup mengejutkan sahabatku ini.

“Ini adik iparku, Cho Jihyun” kataku mengenalkan Jihyun pada Taeyeon. “Yeodongsaeng Kyuhyun oppa yang selama ini diluar negeri” Aku menambahkan.

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, lalu diapun mempersilahkan kami untuk duduk di kursi favoritku. Tanpa menunggu lama, kamipun langsung memesan makanan—Taeyeon sendiri yang melayani kami. Aku membiarkan Jihyun terus mengamati restoran ini, sementara aku menghubungi Kyuhyun bahwa aku sedang membawa dongsaeng-nya makan siang di restoran Taeyeon. Aku juga meminta suamiku itu untuk menyusul jika ada waktu tapi dia berkata dia ada janji makan siang bersama Kibum dan presdir ES—appa Kibum.

“Restoran ini benar-benar style-ku, eonni” celetuk Jihyun tiba-tiba, mengalihkan perhatianku dari ponsel dan pesan Kyuhyun. “Interirornya sangat menarik, aku suka”

Geurae?”

Jihyun mengangguk. Tapi sebelum dia mengatakan sesuatu lagi, Taeyeon kembali datang sambil membawakan makanan pesanan kami dibantu satu orang pegawainya. Dengan sigap dia menyiapkan makanan di meja kami, lalu dia memberikan sesuatu padaku.

“Apa ini?” tanyaku pada Taeyeon dengan kerutan di keningku.

Taeyeon menatap Jihyun sesaat, lalu beralih padaku. “Kang Dongwoon memberikannya padaku,” katanya memberitahuku. “Dia tak bisa memberikannya padamu secara langsung, jadi dia datang kesini dan memintaku untuk memberikannya padamu”

“Kang Dongwoon?”

Eo,”

Aku melirik Jihyun sebelum mengalihkannya pada kertas dari Kang Dongwoon ini. “Jihyun-ah, jamkkaman” kataku sambil bangkit dari tempat dudukku. Meninggalkan Jihyun dan Taeyeon yang sedang mempersilahkan adik iparku itu untuk menikmati makanannya.

Aku pergi ke tempat yang tidak banyak orangnya, lalu berdiri termenung memegangi kertas pemberian Kang Dongwoon. Aku tak tahu apa aku harus membuka isinya atau tidak sekarang, tapi aku tahu bahwa aku tak mungkin membuangnya begitu saja setelah apa yang sudah aku lakukan padanya. Aku menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya membuka lipatan kertas itu. Tampak goresan tangan Kang Dongwoon menghiasi halaman putih keras, seakan mewakili kehadiran dirinya di hadapanku saat ini.

Sooyoung-ah,

Mianhaeyo. Aku tidak bisa mengatakan banyak hal kecuali aku ingin meminta maaf padamu. Aku menyakitimu, aku meninggalkanmu dan aku membuatmu terluka yang mungkin tidak akan bisa sembuh meskipun aku meminta maaf padamu. Maaf, Sooyoung-ah, karena aku tidak bisa menjagamu lagi. Aku tidak bisa membuatmu bahagia lagi, aku tidak bisa melihatmu tersenyum lagi dan aku tidak bisa menepati janjiku padamu.

Nan jinjja mianhaeyo…

Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu sedih, membuatmu menangis, membuatmu marah dengan semua yang sudah aku lakukan padamu. Untuk saat ini, aku hanya bisa berjaji akan selalu mencintaimu dan menyayangimu sampai kapanpun.

Aku hanya bisa berterima kasih untuk segala kebaikanmu, segala waktu, kasih sayang dan rasa cinta yang kau berikan untukku. Aku berharap kau bisa melupakanku dan bahagia dengan kehidupanmu sekarang. Karena itulah satu-satunya hal yang aku inginkan darimu.

Maaf, karena aku kembali hadir di kehidupanmu disaat kau memulai kehidupanmu yang baru. Bukan maksudku untuk menghancurkan apa yang sudah kau miliki sekarang atau bahkan membuatmu sedih. Aku datang karena aku ingin menyelesaikan segalanya denganmu, tapi ternyata aku salah. Kata orang, cinta itu saat semua yang kau inginkan adalah melihat orang yang kau cintai bahagia meskipun kau tidak menjadi bagian dari kebahagiaannya itu. Dan kau benar bahwa salju yang sudah meleleh menjadi air tidak akan ingat bagaimana saat dia menjadi salju.

Karena itu, cukup ingat bahwa aku akan selalu mencintaimu, Choi Sooyoung.

Selamat tinggal…

Air mataku menetes. Aku tak bisa menahan emosiku sendiri untuk saat ini. Karena ada banyak orang yang mungkin memperhatikanku, aku memilih untuk menutup wajahku dengan kedua tanganku. Pilu. Tapi aku membiarkan diriku larut ke dalam kenangan indah saat aku bersama Kang Dongwoon, dan semua kata yang tertulis itu seakan tak mau berhenti bergema di hatiku ini. Terutama pada bagian terakhirnya.

Gwenchana?” suara Taeyeon terdengar setelah beberapa saat sambil memegangi bahuku. “Apa kau ingin sesuatu?”

Aku mengusap pipiku, lalu menggelengkan kepala.

“Kau yakin?”

Eo,” jawabku dengan suara bergetar. “Aku—aku hanya perlu waktu sendirian, Taeyeon-ah

Geurae,” sahut Taeyeon dengan cepat. “Aku akan menemani Jihyun-ssi selama kau menenangkan dirimu sendiri”

Aku mengangguk singkat dan membiarkan Taeyeon pergi meninggalkanku sendirian untuk merenungkan apa yang sudah terjadi padaku. Meskipun aku tahu bahwa aku tak mungkin mengejar Kang Dongwoon lagi—terlepas dari fakta aku masih mencintainya, tapi tetap saja ini menyakitkan untukku. Aku berharap setelah aku dan namja itu pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bersama dengan cara yang kami inginkan ini, aku akan benar-benar bisa melupakannya dan memulai kehidupanku sekarang bersama orang yang mulai dengan perlahan mengisi hatiku.

__

Kyuhyun POV

Annyeonghaseyo, Eui Jin-ssi. Jal jinaesseoyo?” sapa Sooyoung dengan ramah saat dia mendatangiku dan Lee Eui Jin yang baru saja datang ke rumah.

Eui Jin tersenyum. “Jal jinaesseoyo, Sooyoung-ssi” katanya balas menyapa. “Mianhaeyo, aku sampai harus datang ke rumah kalian hanya untuk bertanya mengenai masalah pekerjaan”

Ah, gwenchanayo” sahut Sooyoung dengan cepat. Dia menatapku, “Kyuhyun oppa sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi mungkin dia baru bisa menemuimu saat dia sedang berlibur. Majayo oppa?”

E—Eo, majayo

Eonni!” Dari ruangan tengah, seruan samar Cho Jihyun—dongsaeng-ku terdengar. Lalu sosoknya muncul dan dia menatap terkejut ke arah Lee Eui Jin yang juga terlihat terkejut. “Eui Jin eonni?” serunya kemudian.

“Jihyun-ah? Aigoo… kau sudah sebesar ini,” celetuk Eui Jin sambil beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jihyun lalu memeluknya dengan singkat. “Yah, jinjja… kau semakin cantik saja sekarang. Aku benar-benar tidak percaya,”

Eonni juga semakin cantik,” balas Jihyun dengan senyuman lebar di wajahnya. Tapi kemudian pandangan dongsaeng-ku itu tertuju padaku dan Sooyoung, dan aku pun sempat melihat kedua alisnya yang saling bertaut. “Oppa, bisakah aku bicara sebentar denganmu?” pintanya tiba-tiba.

“Aku?”

Eo,”

Aku menoleh sekilas ke arah Sooyoung dan Eui Jin sebelum akhirnya menjawab. “Geurae,”

Jihyun tersenyum. “Tidak keberatan jika aku meminjam oppa sebentar, ‘kan?” tanyanya baik pada Sooyoung maupun Eui Jin.

Sooyoung menganggukkan kepala.

“Kenapa kau harus meminta ijin jika dia adalah oppa-mu?”

Jihyun hanya menganggapi perkataan Eui Jin itu dengan tawa singkatnya, lalu dia pergi dan mau tak mau akupun mengikutinya. Dia mengajakku ke taman belakang rumah, tempat yang cukup jauh dari ruangan dimana Sooyoung dan Eui Jin berada sebelumnya. Aku tahu bahwa dia pasti ingin membicarakan mengenai Lee Eui Jin, mengingat dia mengetahui semua kisahku dengan yeoja itu. Karena itulah dia memilih tempat yang jauh dari kedua yeoja itu untuk menjaga perasaan mereka.

Oppa,” kata Jihyun setelah beberapa saat hanya diam membelakangi bunga-bunga. “Waegeurae?” tanyanya kemudian.

“Apanya yang kenapa?”

“Eui Jin eonni. Kenapa dia disini?”

“Dia hanya ingin berkunjung, sebagai teman. Memangnya apa yang salah dengan itu?”

“Tentu saja salah,” sahut Jihyun dengan cepat, tapi dia masih menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun. “Kau sekarang sudah beristri dan menemui yeoja yang pernah memiliki masa lalu denganmu saat kau sudah—“

“Dia juga melakukan hal yang sama,” Aku menyela perkataan Jihyun. “Sooyoung maksudku. Aku tahu bahwa dia menemui Kang Dongwoon, namja di masa lalunya”

Jihyun diam saja.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu,” Aku melanjutkan. “Jadi memangnya kenapa jika Lee Eui Jin datang untuk menemuiku?”

Oppa, kau benar-benar tidak tahu apapun tentang istrimu” kata Jihyun sambil pergi meninggalkanku begitu saja.

Kedua alisku saling bertaut melihat kepergian dongsaeng-ku ini. Tanpa mengerti apa maksud perkataannya, aku memilih untuk kembali menemui Sooyoung dan Eui Jin. Sayangnya, hanya ada Lee Eui Jin disana karena Sooyoung sudah tidak lagi terlihat. Aku menolehkan kepala, mencari istriku itu tapi kemudian aku menyadari bahwa Eui Jin sedang memperhatikanku jadi cepat-cepat aku mengalihkan perhatianku padanya.

“Istrimu pergi,” kata Eui Jin memberitahu. “Dan Jihyun menyusulnya,”

Ah,”

“Apa aku mengganggumu? Kau sebenarnya punya acara dengan—“

“Tidak,” sahutku menyela perkataan Eui Jin. “Sooyoung sudah ada rencana pergi dengan temannya sebelumnya, dan Jihyun mungkin mengikutinya” Aku menambahkan.

“Jadi kau bebas?”

Aku mengangguk. “Bagaimana kalau kita pergi saja?” Aku mengemukakan ideku.

Geurae,” jawab Eui Jin langsung mengiyakan. “Lagipula rasanya sedikit canggung jika aku disini tapi istrimu tidak ada,” katanya seraya bangkit berdiri.

Aku hanya memberinya senyuman singkat, lalu memandunya keluar rumah. Lee Eui Jin datang membawa mobilnya jadi kami pergi menggunakan mobil yeoja itu. Jujur saja, aku tidak tahu akan mengajaknya kemana pada awalnya tapi kemudian aku memutuskan untuk membawanya ke sebuah taman di pinggiran sungai Han. Lagipula Eui Jin juga tidak mengatakan padaku bahwa dia ingin pergi ke suatu tempat jadi dia pasti akan menyetujuinya kemanapun aku membawanya pergi ‘kan?

“Jihyun masih sama saja,” kata Eui Jin memulai percakapan saat kami menyusuri jembatan kecil yang menghubungkan taman ini. “Dia juga sepertinya sudah dekat dengan Sooyoung-ssi

Aku hanya tersenyum, membayangkan bagaimana dekatnya dongsaeng-ku itu dengan istriku meskipun mereka tidak sering bertemu.

“Jujur saja, aku iri melihat bagaimana harmonisnya kalian” Eui Jin kembali berbicara. Dia tersenyum melirikku, “Kau dan Sooyoung-ssi maksudnya” tambahnya.

“Apa terlihat begitu?”

Eui Jin mengangguk. Lalu kamipun duduk di atas rumput, menghadap sungai Han yang berkilau karena terkena cahaya matahari. Untung saja Eui Jin memilih tempat yang cukup teduh jadi kami tidak kepanasan. Tapi beberapa orang justru merelakan diri untuk berpanasan sekedar untuk berfoto bersama atau melakukan sesuatu yang lainnya. Aku tidak menyangka jika cuaca panas seperti ini sama sekali tidak mengurungkan niat mereka untuk menikmati pemandangan di taman ini.

“Eui Jin-ah, kau lihat gereja disana” ucapku seraya menujuk sebuah gereja yang masih terlihat di mataku meskipun jauh. “Kau melihatnya, ‘kan?”

Eo. Wae?”

“Dulu, aku pernah berharap, bahkan menjadikannya sebuah mimpi bahwa suatu hari aku akan membawamu ke sebuah gereja—“ Aku diam sebentar, ada keraguan yang memenuhi diriku untuk mengatakannya. “—lalu, melakukan pernikahan disana” lanjutku jujur. Tapi detik berikutnya aku menyesali apa ang sudah aku katakan itu.

Lee Eui Jin tersenyum mendengar apa yang aku katakan. Dia bahkan menatapku, seakan-akan mencari kesungguhan disana. Mulutnya setengah terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk mengulang masa lalu—“

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya dulu, Kyuhyun-ah?” tanya Eui Jin menuntut. Ada getar dalam suaranya, dan entah kenapa bola matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Perlahan, aku mengusap air mata yang mulai menetes di wajah Eui Jin. “Kita seharusnya tidak membahasnya lagi,” kataku lebih mengatakannya pada diriku sendiri. “Tapi aku harus memberitahumu bahwa aku belum siap apapun saat itu, Eui Jin-ah. Banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu,”

“Aku bisa menunggumu,” sergah Eui Jin. “Tapi kenapa kau juga tidak melarangku saat aku akan dijodohkan? Aku bisa menolak permintaan mereka jika kau bicara saat itu,” lirihnya kecewa.

“Aku tidak mau menjanjikan apapun padamu dan memberikan harapan kosong, Eui Jin-ah. Kau tahu keluargaku, dan kau tahu apa yang harus aku lakukan setelah lulus kuliah,”

“Aku mencintaimu, Kyuhyun-ah. Tidakkah kau tahu itu? Dari dulu aku selalu menunggumu,”

Arra,” sahutku dengan cepat karena Eui Jin pernah mengatakannya padaku saat itu. Kepalaku tertunduk, menghindari menatap air mata yeoja yang aku cintai cukup lama ini berurai air mata. Rasa menyesal mulai menambati hatiku. “Mianhae,” kataku melanjutkan.

Pandangan Eui Jin menerawang, menatap kosong ke langit biru. Lalu dia mengusap sendiri air matanya yang masih mengalir. “Aku tidak pernah bahagia dengan pernikahanku, Kyuhyun-ah. Karena aku mencintai orang lain, dan itulah alasan aku ingin berpisah darinya,”

Aku tercekat mendengar perkataan Eui Jin ini, tapi tidak bisa mengatakan apapun untuk menanggapinya. Lalu dering ponsel tiba-tiba terdengar. Memecahkan keheningan diantara kami yang sempat datang untuk beberapa saat. Itu dering ponselku, jadi dengan cepat aku mengambilnya dan menjawab panggilan telepon dari dongsaeng-ku, Cho Jihyun.

Eo, waegeurae?”

Oppa, eodiseo?”

Wae? Kenapa ingin tahu?”

Oppa, Sooyoung eonni sakit. Tapi dia menolak pergi ke dokter, eotteoke?”

“Sooyoung sakit?” seruku yang langsung membuat Lee Eui Jin menolehkan kepala ke arahku. “Eo, aku akan pergi menyusulmu. Kau dimana?”

“Restoran Taeyeon eonni,”

Geurae, arraseo” kataku sambil menutup sambungan teleponnya. “Eui Jin-ah, aku—“

“Aku akan mengantarmu kesana,” sela Lee Eui Jin bahkan sebelum aku mengatakan apapun. “Dia tidak sengaja melakukannya ‘kan?”

Museun marieyo?”

Eui Jin mengendikkan bahunya, lalu dia beranjak dari tempatnya dan akupun mengikutinya. Tanpa banyak percakapan, aku dan Eui Jin segera pergi ke restoran Taeyeon. Awalnya Eui Jin memaksa untuk ikut bersamaku menemui Sooyoung, tapi aku memintanya untuk pulang saja sambil meminta maaf padanya. Meskipun aku melihat ada rasa kecewa di wajah Eui Jin saat aku menolak permintaannya, tapi yeoja itu mengikuti perkataanku dan dia berkata akan meneleponku nanti. Mau tak mau aku mengiyakannya dan menunggunya di luar restoran sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku.

Oppa, waesseo” seru Jihyun begitu aku masuk ke dalam restoran.

“Sooyoung eodiseo?” tanyaku khawatir.

“Dia pergi,”

Mwo?”

Mianhae, oppa. Aku—“

“Membohongiku?” selaku dengan cepat.

Jihyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, tidak sepenuhnya bohong. Sooyoung eonni memang sakit, tapi dia menolak untuk pulang dan pergi ke dokter”

Geuraesseo?”

“Dia pergi bersama Taeyeon eonni ke apartemennya, dan aku—aku memintamu untuk datang ke sini karena aku—aku tidak suka,”

Kedua alisku saling bertaut, “Tidak suka apanya?”

“Melihatmu dan Eui Jin eonni bersama lagi,” jawab Jihyun dengan tegas. Lalu dia menarik tanganku dan mengajakku untuk duduk di salah satu kursi disana—yang sepertinya sudah dia pesan. “Oppa, apa kau masih mencintai Eui Jin eonni?” tanyanya setelah beberapa saat.

Aku diam saja.

“Kau tidak mencintai Sooyoung eonni?”

Aku masih tetap diam.

Jihyun menatapku lekat-lekat, lalu dia menghela napas panjang. “Oppa, aku tahu bahwa aku memang tidak seharusnya ikut campur dengan kehidupan pernikahanmu. Tapi apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan Sooyoung eonni saat dia melihatmu bersama Eui Jin eonni?”

“Bagaimana dengan aku, Jihyun-ah?”

“Kau pernah melihat Sooyoung eonni bersama namja yang dia sukai di masa lalunya seperti kau dan Eui Jin eonni?” sahut Jihyun dengan cepat, dan itu cukup membuatku tercekat karena aku memang tidak pernah sekalipun melihat kebersamaan mereka. “Tidak, ‘kan?” Jihyun kembali berbicara.

“Aku memang tidak pernah melihat mereka, tapi aku tahu bahwa mereka sering bertemu”

“Darimana kau tahu?”

Eonni-mu itu selalu memberitahuku jika dia akan bertemu Kang Dongwoon,”

“Dan kau percaya begitu saja tanpa pernah sekalipun melihatnya langsung?”

Satu alisku terangkat, “Sebenarnya apa yang ingin kau coba katakan, Jihyun-ah?”

Jihyun diam sesaat, matanya kembali menatapku dengan lekat. Seakan-akan dia sedang mencari-cari sesuatu di wajahku tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mwo? Apa yang sedang kau coba katakan?”

Oppa, apa yang kau lakukan ini tidak bagus untuk pernikahanmu” kata Jihyun terdengar serius, bahkan ekspresinya pun begitu. “Kau memang lebih dewasa dariku, dan kau sudah memiliki tanggung jawab sendiri. Tapi jika aku berada di posisi Sooyoung eonni, aku tak akan sanggup melakukannya”

“Melakukan apa?”

“Menahan semua yang dia rasakan,”

Aku tertegun di tempatku. Apa Jihyun tahu sesuatu tentang Sooyoung yang tidak aku ketahui? Haruskah aku bertanya padanya?

Oppa, sebaiknya kau menjemput Sooyoung eonni di apartemen Taeyeon eonni” kata Jihyun sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang ternyata kunci mobil yang biasa digunakan Go Ahjussi. “Aku akan pulang naik taksi bersama Go Ahjussi, dan ini alamat Taeyeon eonni” katanya seraya bangkit dari tempat duduknya dan memberikan sebuah alamat kepadaku.

“Apa yang—“

“Sooyoung eonni benar-benar sakit sekarang. Wajahnya sangat pucat,” kata Jihyun memberitahuku. “Meskipun dia tidak mengatakan apapun padaku, tapi aku tahu bahwa dia sangat kesakitan” katanya lagi sebelum pergi meninggalkanku.

Aku terdiam untuk beberapa saat di tempatku. Pandanganku terus menatap Jihyun yang keluar dari restoran, lalu pergi ke suatu arah dan menghilang dari pandanganku. Kata-kata dongsaeng-ku itu kembali teringang di kepalaku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti perkataannya, menjemput Sooyoung di apartemen sahabatnya, Kim Taeyeon.

__

Sooyoung POV

Eonni, aku boleh berbicara padamu?” tanya Jihyun yang tiba-tiba datang saat aku sedang duduk sendirian di pinggir kolam ikan di salah satu taman di samping rumah. “Tidak apa-apa jika kau tidak mau”

“Tentu saja aku mau,” sahutku dengan cepat. “Apa yang membuatmu berpikir jika aku tidak mau berbicara padamu?”

Jihyun tersenyum tipis sambil duduk disampingku. “Karena aku ingin membicarakan tentang Kyuhyun oppa dan Kang Dongwoon,”

Aku mencelos, mataku menatap Jihyun tidak percaya.

“Kau pasti terkejut, ‘kan?” tanya Jihyun yang menyadari tatapanku. “Aku tahu, meskipun tidak banyak”

“Darimana kau tahu?”

“Taeyeon eonni,”

“Kau—“

“Aku tidak akan memberitahukan apapun pada Kyuhyun oppa, jangan khawatir” Jihyun menyela perkataanku. “Dan jangan memarahi Taeyeon eonni karena aku yang memaksanya untuk menceritakannya padaku mengenai Kang Dongwoon”

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi ini.

Eonni, sebaiknya kau tidak menyembunyikannya dari Kyuhyun oppa

“Menyembunyikan apa?”

“Perasaanmu,” jawab Jihyun dengan cepat. “Bahwa kau sebenarnya tidak lagi berhubungan dengan Kang Dongwoon, dan kau melakukannya karena kau mencintai Kyuhyun oppa

“Apa Taeyeon yang memberitahumu juga?”

Jihyun menggelengkan kepala, “Tidak semuanya. Taeyeon eonni memang memberitahuku bahwa kau selalu memberitahu oppa setiap kali kau ingin menemui Kang Dongwoon. Tapi kau tidak benar-benar pergi menemuinya, bahkan tidak pernah sekalipun menghubungi atau menemuinya” katanya. “Mengenai kau yang mencintai Kyuhyun oppa, aku menebaknya sendiri. Apa aku benar?”

“Benar apanya?”

“Kau mencintai oppa-ku,”

Aku diam saja.

Ah, aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk kalian sebelum kembali malam ini” seru Jihyun sambil meluruskan tangannya ke belakang dan duduk bersandar dengan kedua tangannya itu. “Tapi aku tahu, kau pasti tidak akan mengijinku melakukannya. Bahkan untuk memberitahu Kyuhyun oppa mengenai perasaanmu itu,”

Aku tersenyum tipis, tak menyangka jika Jihyun sangat mengerti diriku. “Aku ingin kau lebih lama disini, Jihyun-ah

Waeyo?”

“Karena aku ada teman yang bisa diajak mengobrol seperti ini,” jawabku jujur. “Aku juga bisa mengajakmu pergi jika aku sedang bosan di rumah atau sekedar untuk mencari udara segar”

Eonni,” kata Jihyun sambil menatapku lekat-lekat. “Kau harus ke dokter,” katanya kemudian.

“Aku tidak sakit,”

“Tetap saja” sahut Jihyun dengan cepat. “Kau terlihat pucat, apa kau tak pernah menyadarinya, eonni?”

Aku tersenyum, “Gwenchana

“Kau tidak baik-baik saja, aku tahu itu” kata Jihyun mengganti posisi duduknya dan meraih tanganku. “Kau tahu, eonni. Aku sangat senang karena kau yang menjadi kakak iparku, dan bukan yang lainnya. Aku tak tahu kenapa, tapi aku merasa kau adalah orang yang paling tepat untuk oppa-ku”

“Jihyun-ah, kau tahu bagaimana pernikahan kami. Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Kyuhyun bahkan masih menyukai Eui Jini-ssi,

“Dia tidak menyukainya seperti dulu, aku tahu itu. Jika tidak, kenapa saat itu dia langsung datang saat aku memberitahunya bahwa kau sakit?”

“Kau memberitahunya?”

Jihyun mengangguk.

Oppa meninggalkan Eui Jin eonni dan datang ke restoran. Dia bahkan terlihat sangat khawatir,”

Aku tidak bisa tidak tersenyum mendengar ini. Bayangan saat aku sakit waktu itupun muncul di kepalaku, dan bagaimana Kyuhyun menemaniku sepanjang malam, merawatku dengan penuh perhatian.

“Aku benar-benar berharap pernikahan kalian akan berlangsung sampai lama, eonni” kata Jihyun karena aku terus diam. “Aku juga berharap aku akan segera mendapatkan keponakan yang lucu dan menggemaskan”

Aku tertawa pelan, “Keponakan?”

Eo, keponakan”

Aku kembali tertawa. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar orang bertanya tentang kapan aku dan Kyuhyun akan memiliki anak. Masa-masa sensitif itu sepertinya sudah berlalu, dan Kyuhyun pun tak pernah menyinggungnya sampai sekarang. Apa aku harus membahasnya sesekali dengannya? Sekedar untuk mengetahui bagaimana reaksinya setelah cukup lama pembahasan mengenai ini menghilang dari pernikahan kami? Pikiran konyol mulai bermunculan di kepalaku, dan aku tidak bisa berhenti tertawa memikirkannya.

**

Aku duduk di salah satu sofa di dalam kamar sambil menyalakan televisi meskipun aku sama sekali tidak menontonnya. Pikiranku melayang pada apa yang dikatakan Jihyun padaku sebelum dia pergi. Meskipun itu cukup mengejutkan bahwa yeoja itu bisa mengetahui apa yang aku rasakan pada Kyuhyun, tapi tetap saja aku tidak menyangka jika dia bisa menebaknya semudah itu. Tapi apa benar jika Kyuhyun langsung datang ke restoran Taeyeon saat Jihyun memberitahunya bahwa aku sakit? Rasanya itu tidak mungkin mengingat suamiku itu sedang pergi bersama Lee Eui Jin.

Ah, mengenai sakitku… Aku sendiri tak tahu kenapa akhir-akhir ini aku merasa cepat lelah dan sedikit pusing. Mungkin itu hanya kelelahan karena aku tidak pernah seaktif ini sebelumnya dalam satu hari. Banyak hal yang aku pikirkan juga, jadi bisa saja itu berdampak pada ketahanan tubuhku. Itulah alasan kenapa aku enggan menemui dokter karena kau bisa tahu bahwa aku tidak separah itu sampai harus diperiksa dokter. Lagipula aku tak mau membuat orang-orang khawatir hanya karena aku kelelahan.

“Aku pikir kau sudah tidur,” suara Kyuhyun terdengar, membuat lamunanku langsung buyar seketika. Aku menoleh ke arahnya yang baru saja menutup pintu kamar dengan pelan. “Kenapa masih belum tidur?”

Geunyang—banyak hal yang aku pikirkan,”

“Tentang apa?” tanya Kyuhyun seraya mendekat ke arahku, lalu duduk disampingku.

“Restoran, keluarga, Jihyun-ie—“

“Jihyun? Kenapa dengan Jihyun?” sela Kyuhyun dengan cepat. “Dia bukan troublemaker, jadi kenapa kau memikirkannya?”

“Dia sudah seperti dongsaeng-ku sendiri, jadi aku memikirkannya, oppa” jawabku jujur. “Dia keluargaku sekarang, dan aku merasa aku harus lebih memperhatikannya karena kau dan abeonim sudah sangat sibuk dengan pekerjaan”

Geurae?” Kyuhyun langsung menanggapi. “Jihyun pasti akan senang jika kau lebih memperhatikannya. Dia menyukaimu,”

Aku tersenyum tipis tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

Untuk beberapa saat kami sama-sama diam sambil mengamati layar televisi yang sedang menayangkan sebuah acara komedi. Aku tidak menyimak acara itu, dan kurasa Kyuhyun juga begitu. Kami hanya duduk bersama seperti ini, berpura-pura menontonnya padahal ada sesuatu yang lain yang sedang mengganggu pikiran kami masing-masing. Aku bisa mengetahui bahwa Kyuhyun juga sedang memikirkan sesuatu dari caranya menatap ke satu arah dan kerutan di dahinya. Hidup bersamanya beberapa bulan ternyata cukup membuatku hapal dengan tingkah lakunya.

“Bagaimana kabar Lee Eui Jin-ssi, oppa?” tanyaku pada akhirnya karena aku tak tahan untuk terus diam.

Kyuhyun mengambil remote televisinya dan mengecilkan volumenya. “Tidak begitu baik,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

Wae?”

Terdengar desahan napas berat Kyuhyun sebelum dia bicara. “Dia tidak begitu akur dengan suaminya. Salah satu alasan kenapa dia kembali ke Korea juga untuk mengurus perceraiannya,”

Aku terkesiap. “Mwo?” Mataku membelalak karena terkejut. Terasa ada yang menusuk hatiku mendengar berita ini.

“Tidak semua pernikahan akan berhasil, ‘kan, Sooyoung-ah?” celetuk Kyuhyun sambil menoleh ke arahku dengan sebuah senyuman canggung di wajahnya.

“Kalau boleh tahu, mereka kenapa?” tanyaku seraya menahan napas.

Kyuhyun menarik napas panjang dan diam untuk beberapa saat. Seakan-akan sedang mempertimbangkan untuk menceritakannya atau tidak menceritakannya padaku. Tapi kemudian dia membenarkan posisi duduknya, lalu menyandarkan bahu ke kiri sofa menghadapku. Membuat kami duduk berhadapan dan dengan bebas dia menggenggam tanganku dengan erat. Lalu diapun mulai bercerita tentang Lee Eui Jin padaku meskipun jantungku mulai berdegup kencang karenanya.

Lalu mengalirlah semua kisah kehidupan Lee Eui Jin dari mulut Kyuhyun.

Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa dia juga dijodohkan oleh kedua orang tuanya—sama dengan keadaan kami. Perjodohan yang terpaksa, pernikahan dengan kebahagiaan yang semu. Suami Lee Eui Jin pun ternyata tidak setuju dengan perjodohan mereka. Bahkan, saat pertama kali bertemu mereka hanya berbasa-basi demi menghormati orang tua mereka—sangat berbeda dengan Kyuhyun yang berbicara banyak padaku di pertemuan pertama kami saat itu.

Pernikahan Lee Eui Jin dengan suaminya berjalan dengan dingin dan kaku. Tanpa ada rasa cinta yang tumbuh atau diusahakan. Lee Eui Jin hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri, begitu pula suaminya. Mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu dan menenggelamkan diri dengan pekerjaan kantor, dan jarang pulang ke rumah. Awalnya mereka sering bertengkar karena hal-hal kecil, tapi kemudian masalah semakin menumpuk sampai akhirnya mereka tidak bisa lagi untuk terus melanjutkan pernikahan mereka dan memutuskan untuk berpisah. Lee Eui Jin kembali ke Korea, sementara suaminya tetap berada di tempatnya berada sekarang.

Kyuhyun mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyuman miris, dan aku hanya bisa menahan napas mendengar cerita Lee Eui Jin itu. Entah kenapa aku bisa merasakan kesedihan yang dialami Eui Jin. Membuatku berpikir bagaimana dengan pernikahanku sendiri? Apa kami bisa bertahan selamanya tanpa masalah mengingat tidak ada dasar cinta dalam pernikahan kami ini? Aku tahu bahwa tidak ada pernikahan yang tidak memiliki masalah, tapi apa aku dan Kyuhun akan mampu melewati masalah itu? Aku merasa hatiku tersentak karena memikirkannya.

Oppa,” panggilku pelan.

Eo,” Kyuhyun menatapku lembut.

“Kau—kau masih mencintai Eui Jin-ssi?” tanyaku hati-hati. Aku menggigit bibirku sendiri yang terasa getir. Degup jantungku berdebar lebih kencang dari sebelumnya, khawatir dengan jawaban yang akan aku dengar. Tapi, aku harus tahu.

Senyum pahit tersungging di bibir Kyuhyun. Dia menarik napas yang terasa berat, lalu menatapku dalam-dalam. “Kau sendiri? Apa kau masih mencintai Kang Dongwoon-ssi, Sooyoung-ah?” Dia balas bertanya.

Aku menelan ludah, tercekat. Aku benar-benar tidak bisa menjawab.

Kami sama-sama terdiam lama. Pertanyaan bodoh yang justru membuatku terdiam saat Kyuhyun menanyakan hal yang sama padaku. Seharusnya aku bisa melihat bahwa sebenarnya dia masih mencintai yeoja itu tanpa bertanya. Tapi kenapa aku masih tetap bertanya hanya sekedar ingin mendengarnya langsung darinya? Aku benar-benar bodoh malam ini.

Oppa,” panggilku kembali dengan suara yang sama pelannya. Kyuhyun menolehkan kepala tanpa mengatakan apa-apa, jadi aku melanjutkan apa yang ingin aku katakan padanya. “Bolehkah malam ini aku tidur di kamarku yang sebelumnya?”

Wae—?”

Geunyang,”

Lama Kyuhyun tidak memberiku tanggapan, tapi pada akhirnya dia mengangguk pelan tanpa suara dan akupun beranjak dari tempatku lalu keluar dari kamar.

__

Kyuhyun POV

“Kau bimbang?” tanya Kibum, saat kami duduk di teras samping rumahku sambil menikmati kopi hangat.

“Bimbang apanya?”

“Sooyoung-ssi atau Lee Eui Jin?” bisik Kibum langsung tepat pada sasaran.

Aku menghembuskan napas berat, lalu melepaskannya dengan pelan. “Apa maksudmu?”

Kibum menatapku lekat dan serius. “Aku tahu kau masih sering menemui Eui Jin. Apa kau sedang menikmati romantisme masa lalu atau bagaimana?”

Aku diam saja.

“Sooyoung-ssi tahu dan mengijinkannya?” selidik Kibum lagi.

Eo, dia tahu”

Kibum menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hubungan kalian benar-benar tidak sehat. Sungguh. Kau seharusnya tidak pergi sama yeoja yang pernah kau cintai”

“Kami hanya berteman sekarang,”

“Aku tidak yakin jika perasaan kalian sudah sepenuhnya hilang. Apa kau tahu? Kau sering menemuinya itu justru membuatnya berharap sesuatu padamu” kata Kim Kibum saat aku memberitahunya tentang bagaimana intensitas pertemuanku dengan Lee Eui Jin. “Bukankah katamu kau terluka karena dia meninggalkanmu? Apa sekarang luka itu sudah sembuh karena dia muncul lagi di hadapanmu?”

“Tidak seperti itu,”

“Lalu apa?”

Aku menghela napas panjang, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Itulah kenapa kau harus menghindarinya,” sahut Kibum melanjutkan. “Apa kau tak pernah memikirkan pernikahanmu atau bagaimana?”

“Sooyoung tidak mencintaiku. Kau tahu bagaimana rasanya menikah dan tinggal dengan seseorang yang tidak mencintaimu? Bahkan lebih parahnya lagi, dia mencintai namja lain”

“Darimana kau tahu?”

“Dia tidak pernah cemburu padaku, Kibum-ah, dan bahkan begitu santai membiarkan aku pergi dengan Eui Jin,”

“Kalian hanya belum saling mengungkapkan cinta, Kyuhyun-ah” kata Kibum. “Hanya karena Sooyoung-ssi masih belum melupakan masa lalunya, bukan berarti kau bisa seenaknya saja pergi dengan Eui Jin. Lagipula, apa kau pernah melihatnya pergi seenaknya dengan namja itu?”

Aku tertunduk diam. Kibum bukan orang pertama yang memperingatkan ini padaku, aku tahu itu. Dongsaeng-ku, Jihyun, pun mengatakan hal yang sama bahkan lebih detail meskipun aku tidak bisa bertanya apa maksudnya. Tapi pada intinya mereka mengatakan hal yang, dan tidak setuju jika aku semakin sering bertemu dengan Lee Eui Jin seperti yang aku lakukan belakangan ini.

Ah, phigeonhae” desah Kibum setelah kami sama-sama diam untuk beberapa saat. “Aku ingin pulang,” katanya seraya bangkit dari tempatnya.

“Kenapa cepat sekali?”

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Kau harus memikirkannya sendiri karena itu adalah masalah—“

Oppa,” seruan Sooyoung terdengar di belakang kami dan langsung menghentikan perkataan Kibum. Kami berdua menolehkan kepala, dan tersenyum ke arah Sooyoung yang berjalan menghampiri kami dengan senyuman lelahnya. “Oh, annyeonghaseyo, Kibum-ssi

Annyeonghaseyo,” Kibum balas menyapa. “Kau baru pulang, Sooyoung-ssi?”

Sooyoung menganggukkan kepala.

“Apa yang kau bawa itu, yeobo?” tanyaku saat melihat sesuatu di tangan Sooyoung.

Ah, igeo? Belut,” jawab Sooyoung. “Eommeoni yang membawakannya untukmu”

Aigoo, belut” celetuk Kibum pelan disertai tawanya. “Yah, aku harus pergi sekarang”

Eodigaseyo?”

“Dia sibuk,” Aku yang menjawab. “Dia bahkan lebih sibuk dari Sajangnim sepertiku,” tambahku.

Kibum tertawa, juga Sooyoung. Tapi kemudian Kibum menepuk pelan bahuku dan berpamitan dengan Sooyoung tanpa mengatakan apa-apa lagi. Saat aku mengantar sahabatku ini, aku sempat mendengar Sooyoung memanggil Park Ahjumma dan melihatnya memberikan belut pemberian eomma-ku. Ya, benar. Hari ini Sooyoung pergi ke rumah orang tuaku sekedar untuk menyapa mereka. Aku tidak bisa ikut karena harus berdiskusi dengan Kibum dan Sekretaris Kim—yang sudah pulang lebih dahulu, meskipun kami sedang berlibur sekarang.

“Sooyoung-ah,” panggilku saat melihat istriku itu lewat dari arah dapur. Dia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. “Kau mau berjalan-jalan denganku?”

“Jalan-jalan?”

Aku mengangguk. “Menikmati suasana malam dan mencari udara segar. Eotte?”

Sooyoung terlihat berpikir untuk sesaat, tapi kemudian dia menganggukkan kepala. Tanpa banyak menunggu, kamipun segera keluar dari rumah dan berjalan menyusuri jalanan di sekitar perumahan kami ini. Hal yang sudah cukup lama tidak kami lakukan karena sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku tahu bahwa seharusnya aku lebih sering mengajak Sooyoung pergi seperti di awal-awal pernikahan kami, tapi waktu dan kesempatan memang sulit untuk melakukannya. Apalagi beberapa kali Sooyoung menolak aku ajak pergi saat aku sedang memiliki waktu luang.

“Kau sudah baik-baik saja?” tanyaku teringat Sooyoung yang beberapa kali sakit dan terlihat pucat.

Eo, gwenchanayo ijen

“Ini entah sudah keberapa kau sakit, ‘kan? Kau yakin tidak perlu pergi ke dokter?” Aku memastikan lagi.

“Tentu saja,” jawab Sooyoung. “Aku akan pergi ke dokter jika aku merasa aku perlu menemuinya. Jangan khawatir, oppa

“Bagaimana aku tidak khawatir?” sahutku dengan cepat sambil menatap Sooyoung dengan lekat. “Kau bahkan terlihat pucat sekarang”

“Tidak, itu pasti karena lipstick yang aku pakai” sergah Sooyoung. “Aku benar-benar tidak apa-apa. Sungguh”

Aku menghela napas singkat, “Baiklah” kataku kemudian. “Aku tidak sering memperhatikanmu akhir-akhir ini, ‘kan? Mianhae, padahal aku sudah berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu”

Sooyoung tersenyum padaku, lalu dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. “Kau sudah menjadi suami yang baik untukku, oppa” katanya. “Aku bukan istri yang gila dengan perhatian suaminya. Aku bisa mengerti, dan aku selalu mengerti semua yang kau lakukan”

“Termasuk menemui temanku?” Aku mencoba menyinggung tentang Lee Eui Jin meskipun tidak menyebut namanya.

Eo,” kata Sooyoung seakan mengerti apa maksudku. “Aku akan berusaha mengerti,” katanya sangat pelan.

Aku mengusap lembut tangan istriku ini sambil terus melangkah bersamanya meskipun tanpa tujuan yang pasti. Aku hanya ingin berjalan-jalan dengannya, dan sepertinya dia tidak mempermasahkan kemana aku akan membawanya pergi. Tapi kemudian, aku memutuskan untuk membawanya ke sebuah taman dimana kota Seoul terlihat cukup indah saat malam hari seperti ini. Karena ada banyak lampu yang berkelap-kelip disana juga pemandangan Namsan Tower yang jauh menjulang dan cukup menarik perhatian.

“Sooyoung-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku memberanikan diri setelah kami duduk bersama di atas sebuah pohon tumbang yang sengaja dijadikan sebagai bangku. “Ini tentang Lee Eui Jin,”

Sooyoung yang tadinya menatapku langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa memberikan tanggapan apapun.

“Aku tidak bermaksud untuk membawa-bawa namanya saat kita bersama,” kataku mengerti dengan sikap Sooyoung yang terlihat defensif ini. “Aku juga ingin tahu tentang Kang Dongwoon. Mengingat mereka adalah orang-orang dari masa lalu kita,”

Sooyoung kembali menoleh ke arahku saat aku menyebut nama Kang Dongwoon. Ekspresinya terlihat serius, membuatku sempat ragu untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan sebelumnya. Tapi jika aku tidak mengatakannya, aku tidak akan pernah tahu ‘kan?

“Aku—aku ingin tahu bagaimana menurutmu tentang Lee Eui Jin,” kataku pada akhirnya setelah mempertimbangkannya sesaat. “Katakan apapun tentangnya, yang baik dan yang buruk. Itu tak apa,”

“Itu tak apa?”

Aku mengangguk. “Kau tidak menyukainya, ‘kan?”

Sooyoung diam sesaat, lalu dia mendesah pelan sebelum berbicara. “Bukan tidak menyukainya, aku lebih ke arah iri padanya”

“Iri?”

“Dia yeoja yang sempurna,”

Satu alisku terangkat, “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Dia cantik, pintar, pandai berbicara dan—dan dia cukup menarik,” kata Sooyoung hanya sekilas menatapku. “Tidak ada yeoja yang tidak iri padanya, oppa

Aku tersenyum tipis. “Kau iri padanya tapi kau tidak pernah cemburu saat melihatku bersamanya?”

“Jangan konyol, oppa” sahut Sooyoung dengan cepat. “Aku cemburu, tentu saja. Seperti halnya kau cemburu saat aku menemui Kang Dongwoon”

Aku terdiam.

“Meskipun pernikahan kita tidak memiliki dasar cinta, tapi kita tetap suami-istri. Dan melihat suamiku pergi dengan yeoja lain, itu menimbulkan rasa cemburu” kata Sooyoung menjelaskan. “Aku cemburu tapi aku tahu situasi dan kondisinya,” dia menambahkan.

Aku masih diam saja mendengar perkataan Sooyoung itu. Tidak menyangka jika selama ini dia ternyata cemburu pada Lee Eui Jin. Lalu, angin tiba-tiba berhembus cukup kencang. Membuatku secara refleks merangkul Sooyoung dan lebih mendekatkannya ke arahku. Apa yang aku lakukan ini cukup membangkitkan debaran jantungku, bahkan itu semakin kencang saat Sooyoung menatapku dengan lekat. Tanpa ragu, aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya dan menciumnya.

Aku merasakan sentuhan bibir Sooyoung, dan bisa merasakan dia membalasnya dengan lembut. Lenganku merengkuhnya dan kedua tanganku menjalin rambutnya. Ciuman kami ini tidak lagi lembut tapi berubah menggelora. Aku bahkan tidak ingat aku pernah berciuman dengan seseorang seperti ini sebelumnya. Tapi aku benar-benar bisa merasakan semua perasaan Sooyoung saat ini, dan entah kenapa aku membiarkan diriku untuk melakukannya secara alami.

Setelah beberapa saat, aku melepaskan diri dari Sooyoung dan bergerak menjauh darinya. Sooyoung menatapku, dan aku balas menatapnya. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan. Karena apa yang aku lakukan itu adalah refleks dari diriku sendiri dan aku bahkan tidak menyangka jika aku akan menciumnya di tempat seperti ini.

Mianhae, Sooyoung-ah” kataku merasa bersalah pada Sooyoung yang masih terlihat terkejut dan memegangi bibirnya. “Aku—aku tidak bermaksud untuk—“

“Menciumku?” sambung Sooyoung dengan cepat.

Aku mengangguk.

Sooyoung tersenyum. “Apa aku harus marah karena kau menciumku, oppa? Kau suamiku,” katanya. “Kau lupa? Kau bahkan memintaku untuk tidak meminta maaf karena kata itu tidak ada dalam pernikahan kita,”

Aku terdiam karena tak tahu harus menanggapi bagaimana.

“Aku tidak akan bertanya kenapa kau menciumku atau untuk apa kau menciumku karena bukan itulah tugas seorang istri yang aku ketahui” Sooyoung kembali berbicara karena aku diam. “Aku hanya ingin kau tidak meminta maaf padaku atas apa yang kau lakukan padaku, oppa. Kau suamiku, dan kau seharusnya tidak meminta maaf untuk sesuatu yang seperti itu”

Buranhae,” kataku jujur. “Kau mungkin akan marah padaku atau sesuatu seperti itu”

“Marah?” sahut Sooyoung sambil tertawa pelan. “Apa seorang istri akan marah jika suaminya menciumnya? Tidak, ‘kan?”

Aku mengangguk pelan. “Bagaimana Kang Dongwoon-ssi?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.

Sooyoung menatapku dalam, terlihat ragu untuk menjawab meskipun pada akhirnya dia pun berkata. “Dia baik,” katanya seraya mengalihkan pandangannya.

“Aku tidak pernah mengenalnya dengan baik, tapi sepertinya dia namja yang baik” kataku berusaha membuat Sooyoung kembali menatapku tapi pandangannya terus mengarah ke arah yang sama. “Kenapa kau tidak mengundangnya ke rumah sesekali?”

“Dia tidak akan datang sekalipun aku mengundangnya,”

“Kenapa tidak?”

Geunyang,”

Meskipun aku tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan dari Sooyoung tapi aku menerima itu. Aku tidak akan memaksanya untuk menceritakan apapun padaku karena aku yakin suatu saat dia akan menceritakannya padaku. Aku kembali mendekat ke arah istriku dan menggenggam tangannya lagi tanpa mengatakan apa-apa. Entah kenapa, malam ini aku benar-benar ingin menikmati suasana romantis yang tidak sengaja tercipta meskipun sesuatu yang sensitif mengenai masa lalu kami sedikit disinggung. Aku hanya bisa berharap jika aku dan Sooyoung bisa terus seperti ini, selamanya.

__

Sooyoung POV

Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku, lalu menghela napas. Sudah hampir pukul sembilan malam, tapi Kyuhyun belum juga datang untuk menjemputku. Berkali-kali aku sudah mengirim pesan, tapi dia tidak memberi tanggapan. Bahkan saat aku mencoba meneleponnya, dia pun sama sekali tidak diangkat. Aku menunggu beberapa saat lagi, dan baru aku akan kembali menelepon, ponselku sudah berdering. Sayangnya itu bukan dari Kyuhyun, melainkan Taeyeon.

Eodiseo jigeum?” tanya Taeyeon langsung.

“Masih di kafe yang tadi,” jawabku memberitahu, mengingat aku dan Taeyeon memang baru saja bertemu beberapa saat yang lalu. “Wae?”

“Kyuhyun-ssi belum menjemputmu?”

“Mungkin dia masih di jalan,”

“Apa kau mau akan kembali kesana dan mengantarmu pulang?” Taeyeon menawarkan. “Ini sudah larut,”

Aniya, dwaesseo” sergahku dengan cepat meskipun sesekali aku melirik jam di tanganku. “Aku khawatir dia akan datang saat aku pergi. Aku akan menunggunya setengah jam lagi, dan akan pulang naik taksi saja”

“Telepon saja Go Ahjussi, dan minta dia untuk menjemputmu”

“Aku tidak mau merepotkannya,” sahutku. “Dia harus datang ke rumah mengambil mobil dan datang kesini. Itu akan membutuhkan banyak waktu—“

Geureom, aku akan kesana saja”

Ya! Dwaesseo,” Aku tetap menolak tawaran Taeyeon itu. “Kkeut, aku mau menelepon suamiku lagi”

Eo, geurae

Tanpa mengatakan apapun lagi pada Taeyeon, aku langsung menutup sambungan teleponnya dan menelepon Kyuhyun. Masih tetap tidak ada jawaban dari Kyuhyun tapi aku terus mencoba menghubunginya. Beberapa saat kemudian, pada dering ketiga teleponku pada akhirnya diangkat dan aku tidak bisa tidak menarik napas lega karena jujur, akupun cukup khawatir jika Kyuhyun sedang ada masalah di kantornya atau bagaimana.

Yeoboseyo,” Suara seorang yeoja terdengar.

Seketika, aku terdiam di tempatku. Aku sangat mengenal suara ini, tapi tetap saja aku berusaha bertanya. “N—Nuguseyo?”

Oh, aku Lee Eui Jin”

Aku mencelos. “Kyuhyun oppa eo—eodiseoyo?”

Ah, Kyuhyun sedang di toilet di rest area” jawab Eui Jin terdengar begitu ceria.

Aku membisu, tak menyangka jika ternyata Kyuhyun sedang bersama Lee Eui Jin sekarang. Jantungku berdebar lebih kencang, dan aku bisa merasakan napasku yang terasa sesak. Kyuhyun sama sekali tidak memberitahuku jika dia pergi menemui Lee Eui Jin hari ini. Rasanya sakit mengetahuinya dan semakin sakit saat setelah aku menunggunya berjam-jam dan ternyata dia masih bersama wanita lain. Mungkin jika itu bukan cinta pertama Kyuhyun, aku tidak akan merasa sesakit ini. Tapi justru itulah yang membuatnya jauh lebih sakit sekarang.

“Ada pesan, Sooyoung-ssi?”

Pertanyaan Lee Eui Jin itu menyadarkanku dari lamunan.

Aku berdehem pelan, “Tolong katakan pada Kyuhyun oppa, aku pulang naik taksi jadi dia tidak perlu menjemputku. Dan, aku—aku akan menginap di apartemen Taeyeon malam ini karena dia sakit dan dia—dia tidak memiliki siapapun yang menjaganya” jawabku sebisa mungkin tidak terdengar kaku karena aku berbohong.

Ne, aku akan menyampaikannya”

Gomawoyo, Eui Jin-ssi

Aku langsung menutup teleponnya tanpa menunggu balasan dari Lee Eui Jin. Selang beberapa detik setelah ponsel di tutup, aku merasa ada yang menggenang di pelupuk mataku. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang hendak tumpah. Aku tidak ingin menangis, apalagi di tempat seperti ini. Tapi, napasku semakin berat dan setetes bening tetap mengalir membahasi pipiku meskipun sebisa mungkin aku menahannya.

Orang-orang yang melintas di depanku menyempatkan diri menatapku yang sedang berusaha keras untuk mengendalikan diriku sendiri. Karena merasa jengah dengan pandangan mereka, akupun memutuskan untuk meninggalkan kafe dan menghentikan taksi yang sedang melintas—yang lampunya menyala. Bergegas aku masuk ke dalam taksi dan meminta supir taksinya untuk membawaku ke apartemen Taeyeon.

Gwenchanayo?” tanya supir taksi itu yang sepertinya menyadari aku sedang menangis. Mungkin karena beberapa kali aku terus mengusap kedua pipiku atau dia juga mendengar isakan tertahanku. “Igeo,” Dia mengulurkan sebuah tissue untukku.

Kamsahamnida” kataku mengambil satu tissue itu. “Ahjussi, bisa tolong cepat sedikit?”

Ah, ne

Aku tersenyum singkat pada supir taksi itu yang mengamatiku dari kaca spion di depannya, lalu memilih untuk menatap keluar. Aku berusaha keras untuk tidak memikirkan Kyuhyun, tapi sepertinya otakku tidak mau berkompromi denganku saat ini. Entah bagaimana, aku mengingat awal pernikahan kami dan bagaimana canggungnya kami saat itu. Lalu bagaimana kami berusaha untuk hidup sebagai layaknya suami-istri seperti pasangan-pasangan lainnya. Meskipun itu masih tidak sama, tapi itu lebih baik untuk beberapa waktu. Akupun memikirkan percakapan-percakapanku dengan Kyuhyun, bahkan percakapan terakhirku dengannya beberapa hari yang lalu dan saat kami berciuman.

“Apa semudah itu kau melupakan apa yang terjadi diantara kita, oppa?” gumamku pelan sambil mengusap pipiku kembali. “Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu jika kau seperti itu,”

Taksi terus melaju, dan aku berusaha agar tidak terlalu terlihat menangis di depan supir taksi yang—aku tahu, beberapa kali menatap ke arahku. Setelah beberapa saat, akupun sampai di apartemen Taeyeon dan memasukkan password-nya. Dia memang memberitahuku password apartemennya, jadi jika aku sedang tidak ingin pulang bahkan saat aku belum menikah, aku bisa datang kapan saja ke apartemennya dan menginap disini.

“Sooyoung-ah?”

Aku diam saja.

Ya! Kenapa kau datang kesini? Bukankah katamu kau—“ Taeyeon menghentikan kata-katanya dan menatapku dengan lekat. “Waegeurae? Wae ureo?” tanyanya kemudian dengan nada khawatir.

Tanpa menanggapi perkataan Taeyeon terlebih dahulu, aku langsung menyerbu ke arahnya dan langsung memeluknya. Aku terisak di atas bahunya yang memang lebih pendek dariku. Aku semakin terisak saat Taeyeon mengusap-usap punggungku meskipun dia juga sama sekali tidak mengatakan apapun padaku.

“Sooyoung-ah?” bisik Taeyeon pada akhirnya setelah beberapa saat sambil berusaha menjauhkan tubuhnya dariku. “Gwenchana? Waegeurae?”

Aku berdiri tegak, lalu menunduk memandangi Taeyeon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakan apa di depan Taeyeon saat ini. Air mataku masih terus mengalir dengan deras, dan aku tidak bisa menghentikannya begitu saja. Bahkan saat sahabatku ini menarik tanganku dan memintaku untuk duduk, aku masih belum bisa mengatakan apapun di depannya dan terus saja menangis.

“Apa ini ada hubungannya dengan Kyuhyun-ssi?” tanya Taeyeon lagi karena aku terus saja diam.

Aku mengangguk pelan. “Kurasa aku—aku… aku benar-benar sudah mencintainya, Taeyeon-ah

Taeyeon menatapku lekat, lalu aku melihatnya mendesah panjang. “Geureom, waegeurae?”

Aku sempat ragu untuk memberitahu Taeyeon, tapi aku tidak bisa menahannya sendirian lebih lama. Jadi mau tak mau akupun menceritakan semua yang terjadi pada sahabatku ini. Taeyeon terkesiap dan terlihat terkejut, meskipun begitu dia masih mendengarkan ceritaku sampai kejadian malam ini. Beberapa kali dia mengusap-usap lenganku berusaha untuk menenangkanku yang bercerita sambil menangis, tapi itu sama sekali tidak berhasil untuk menghentikan air mataku.

“Sejak kapan kau mengetahuinya, Sooyoung-ah?” tanya Taeyeon dengan ekspresi khawatir dan ingin tahunya.

“Seminggu yang lalu,” Aku menjawab pelan sambil terus mengusap pipiku. “Aku belum pergi ke dokter, tapi aku tahu gejalanya”

“Kau sudah memberitahu Kyuhyun-ssi?”

Aku menggelengkan kepala.

“Jadi, kau sama sekali tidak memberitahunya?” seru Taeyeon tidak percaya. “Wae?”

“Aku hanya tidak mau merusak suasana,” jawabku terisak.

“Suasana apa? Kau dan dia? Atau dia dengan yeoja itu?”

Aku diam saja.

“Kau harus memberitahunya. Dia suamimu,”

“Aku tidak bisa“

“Kau tidak bisa selamanya menyembunyikan semuanya dari suamimu, Sooyoung-ah. Dia harus tahu, karena biar bagaimanapun dia adalah ayahnya. Ayah anak itu. Karena itulah kau harus memberitahunya,” seru Taeyeon sambil menunjuk ke arah perutku.

Aku tidak bisa mengatakan apapun selain hanya memegangi perutku yang memang sudah berisi anakku dan Kyuhyun, hasil dari pernikahan kami.

-TBC-

Eotte?

Semoga suka ya^^

Oh ya! Mungkin aku lebih lama update FF ini, jadi mohon ditunggu yah^^

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo^^

53 thoughts on “What Makes A Love -7-

  1. hazara says:

    Aww thor , tau ngga aku baca ini waktu jamkos gilaaa.. ko jadi gini sih, bisa gila akuu huaaa
    lanjutannya buruan thorr

  2. kok disinini bawaannya sebel ke kyu muluu, pengen banget mukul si gembulll aduuh.. kenapa sih tarik ulur mulu merekanyaa..?!
    selamat yah soo, sudah kudugaaa XDD

  3. Sisca says:

    Akhirnya soo sadar sama perasaaanya.
    Apaan sih itu mantan kyu tbtb ada angkat tlp kan jd bikin soo sakit hati
    Omo soo udah hamil aaa senengnya pengen tau reaksi kyu pasti seneng banget deh trus jauh dah sama si penggangu.
    Ditunggu next partnya secepatnya ya thor penasaran banget soalnya kusuka ^^

  4. lely says:

    Sumpahhh sumpahhh gregetan bacanya thorrr plisss satuin mereka kasian anaknya hueeee bikin mereka saling jujur thorrr T.T sumpah baca ini ada senengnya emosi sedih yaampunnn~
    keren keren thor semangat nulisnya thorrrr~

  5. Mrs. Lee says:

    Ih gemes sama kyu…
    😣😣😣
    Ga peka…
    Ditambah perempuan PHO ga tau diri…
    Ayoo dong kasih tau kyu aja soo kalau kamu hamil…
    Biar itu PHO mundur…
    Ckckck

  6. Laras says:

    Maaf ya eon..
    Tiba-tiba mood ku buruk baca ff ini..
    Semangat eon..
    Maaf kalau komentarnya menyinggung karena aku kebawa suasana nya..

  7. hyunsoo says:

    adch q bner2 gregetan ma kyuhyun.
    thor kpn ni kyuhyun sadar….
    ngapain kyuhyun ma eu jin?
    soo hamil……..
    cpt publish thor.
    part ni campur aduk rasanya……

  8. Youngra Park says:

    anjirrrrr gila gue emosi bgts eoni aku kira part ini akan terungkap semua perasaan mereka tapi apa malah smkin runyam and hancur apalagi bagian terakhirny sumpah gue jadi pengen labrak itu sih eun ji dia ko ga tau malu bangets sih emosi gue di ksih hati malah mnta jantung mentang soo eoni gak prnah protes jdi lu leluasa gtu gangguin suami org kyuppa jga kaya taii knp suka bangets bikin sooeoni skit hati katany cemburu tapi dia gak menyelidiki berspekulasi aj terus menurut pendapat dia apalagi skrng sooeoni hamil kasihan bgts jadi aku argghhh jinja gue rasany pengen lempar barang kemuka sih pho itu biar sadar diri aku curiga hpny kyuppa di sembunyiin ma pho itu dasar gak tau malu perusak rumah tangga orang jauh2 sna sumpah kyuppa bakal nyesal nnti dia gk tau yg asliny seperti ap next part di tunggu aku sudah gk sbar pengen lhat kelanjutanny akan kaya apa sih pho itu EMOSI EONI BACANY EONI SUKSES BGT BIKIN MOOD GUE ANCUR DI FF INI RASANY PENGEN MARAH KALAU INI NYATA MAH SUDAH AKU LABRAK TUH SI EUNJII tapi berati itu buktiny eoni sukses bikin emosi pembaca bikin cmpur aduk perasaan pembaca daebak eoni next part ku harap cpt di post yaaaa

  9. LuciaPutri says:

    Kesel sama kyu yang ga peka sama perasaan nya soo , udah di bilangin kan kalau soo itu cemburu masih aja pergi ama ntuh yeoja ! Si yeoja juga ngajak ribut beut ih , please thor buat dia pergi ninggalin kehidupan nya kyuyoung , soo juga udah hamil kan . tinggal di bilang aja tuh sama kyu , biar dia merasa bersalah sama soo . next part lebih seru yaa thor ,fighting ! Betewe kali ini berharap banget next part nya di percepat thor , gomawo 😃😃

  10. oh sh*t!!! kmrn emg pengen bgt soo cepet2 hamil spya kyu bisa lupa sama eui jin, tp dilain sisi kyu msh dgn bodohnya deket2 sama eui jin. bener kata kibum kalo kyu seakan ngasih harapan kalo terus2an ketemu kayak gitu & bikin soo makin sedih. kalo sampe eui jin coba ngomporin kyuyoung… duh makin sebel😦

  11. younger says:

    sumpah itu eunji masih weh kegatrlan ngajak kyu jalan udah tau si kyu udah punya istri…. ga mau ada orang KETIGA…. masalah mereka aja yang belum akrab akrab bikin gereget ….&semoga kyu tau kalau soo hamil anaknya

  12. Waaah soo hamil, aduh si kyu kok ga nyadar” klo soo tuh cinta eoh..
    dn Eui jin msi ajj ktmu sm kyu trus..
    Semngat yaa next chap’y d tnggu
    Ff ny kren bkin baper

  13. choi alya says:

    Menurut saya cerita ini bagus, tapi kurang panjang. Bukan tidak menghargai usaha athor tp kalau saya yg baca kurang panjang jdi gregetnya agak kurang dpet apalagi tbc nya selalu nanggung kalau menurut saya…

    Tapi apapun itu I Like this FF, ini termasuk ff yg ditunggu2 selalu, So dipercepat ya eonni ff ini

  14. kyuyounghappy says:

    Tuuh soo’ny hamil kn ..
    Kyuhyun kpn sdarnya si, klo sooyoung tuh cinta sm kyu…
    Haduuh greget sm si kyu ktmuan trus sm Eui jin.
    d tnggu next’y .. ff ny bkin baper

  15. mongochi*hae says:

    bner kan soo hamil. ayoo kyu harus tahu nh..
    tp ngapain sih kyu mlem2 sma euin jin ?
    si cwe ngerusak suasana aj…

    hummttpp jujur ak bingung mw coment ap saking baperny am n couple..
    so next part dtunggu bgt

  16. Dian says:

    EMANG DARI AWAL KYUHYUN NYA YANG SALAH DIA GA KONSISTEN DAN DIA BUKA HATINYA SAMA SI LEE EUI JIN MAKANYA EUI JIN NEKAD GITU!! Ah kentut, males nih gue beneran deh tarik ulur mulu kayak sinetron indonesia😦 KYUHYUN PLEASE TEGAS DONG, ISTRI LO HAMIL NOH UDAH GAUSAH MIKIRIN MASA LALU AE!

  17. saputrid12 says:

    please jangan buat ff ini sedih-sedih gimana gitu. huhuhu
    ishh sebel sama si eujin. enyahkan pihak ke 3. arrrgh mudah-mudahan setelah sooyoung ngasih tau ke kyuhyun kalo dia hamil, si kyuhyun menjauhi si eujin. aku mau ff ini happy kyuyoung

  18. Tadinya udh romantis, eeh ditungguin berjam2 malah lagi sma lee eui jin, apa eui jinnya bohong cuma buat manas2in, jadi soo hamil tooh, semoga soo segera ngasih tauin ke kyu..
    Next cepetan ya thor, fighting

  19. keselll sumpahh ihhh sma kyuhyunnn..
    peka dong dikit kasiann soo , cwe tuhh perasaa tauu , mudahh jatuh cinta, buktinyaa lngsung cinta sma kyu krna hamill anak kyu hhee…

    aku mau yaa soo jdii jutek ke kyu,
    biar tau rasaa tuhh sii kyu …

  20. Inka Rindy says:

    ada apa lg si sama eujin? Pengganggu bgt ih kesel deh, kyu nya jg plinplan bikin greget, skrg syoo jg udah hamil .. Klimaks part nya ditunggu ya thor post nya, palli juseyoooooooooo

  21. Ester says:

    Soo hamil,udh ku duga,tpi knpa soo ngk ksh tau ke kyu??
    Eun ji ketahuan bgt kalau ngk ska sma soo..
    Next unni

  22. Kyuhyun… kyuhyun… kasian tau sooyoung udh nungguin lama eh lu malah lagi ama euijin, jadi makin keki gue ama si eui jin! Haha btw chukkae sooyoung hamil, cepet2 kasih tau kyu yaa, kyuhyun semoga lu nyesel nyakitin sooyoung begini 😈 haha
    Semangat chingu!!!

  23. AKU SUKAAAAA !!!!! Aku nunggu update mulu loh thor. cepetan dong huhuhu aku gasabar mau loat ya ampun sumpah ff ini kerennn bahasanya enak bgt dibacaaa aaaaaa semangat ya !❤❤❤❤

  24. kyuyounglove says:

    Sooyoung ga mau kasih tau kyuoppa mending taeyeon aja yg kasih tau. Kok kyuoppa sama eunjin lagi sihh?? kan sooeonni udah blng dia CEMBURU

  25. Setelah dipikir pikir, kyuhyun orang paling egois disini. Dipart ini bener bener kasian sama sooyoung. Kapan si kyu peka. Si eui jin gatau diri banget dah. Soo sekali kali juga harus tegas ke kyu. Nextnya jngan lama lama kak

  26. Kyaaaaaaaaa~~ Jihyun-ah aku padamu *kiss* *kiss* tuh benerkan feeling gue sooyoung keliatan pucet itu karna hamil…
    kyuhyun gelap mata dah, ngga tau sooyoung beneran ketemu dongwoon apa engga maen lari aja ke euijin -,- trus katanya sooyoung ngga cemburu, giliran udah dikasih tau dia cemburu, masih aja nempel sama itu makhluk -,- heuh gregetan! Pengen jambak alis mata kyuhyun! Ngga peka amat jadi laki…
    Udah sih jangan diem2 gitu, apa2 yang disembunyikan itu ngga baik *cielah
    Ah kak I feel so happy, bolak balik KSI nungguin ini ㅠ.ㅠ
    Ditunggu banget kak part selanjutnya ^^ jangan lupa bikin si euijin skakmat! ^^
    화이팅하세요 ^^/*

  27. ellalibra says:

    Kyny krn mrk kurang komunikasi jd sulit saling memahami y … Lom jujur sm perasaan masing” sll menerka” jdny slh paham … Kyuhyun bodoh bgt dy knp g nyari tau ttg bnr g soo ktmu dongwoon … Smg akhirnya dy g nyesel kl soo prg neeeeeeext fighting eon

  28. Elis sintiya says:

    kyaa!! sooyoung eonnie hamil? aigoo senangjya saya.. tapu si eui jij itu ganggu bgt sumpah… trus itu kyuhyun sama eui jij lagi di rest area lagi ngapain dan mau kemana? ahh nyebelin deh baca momenya kyuhyun sama eui jin.. thor please buat taeyeon menceritakan kebenarannya kapada Kyuhyun! asli udh geregetan bgt rasanya pengen ngejambak dan nampolin mukanya si eui jin.. bahkan ngetik namanya aja udh bikin saya dongkol.. oke part 8 nya di tunggu bgt.. di tunggu detik2 dimana Kyu tahu kalo sooyoung hamil dan detik2 kyuhyun tahu segala kebenarannya…

  29. pimlyanc says:

    yey chap 7~
    seneng pas buka ksi udh ada lanjutan ff ini haha

    bagus thor, akhirnya terungkap juga kehamilan soo eonnie
    hanya klo jujur sih gapuas sebenernya …
    aku pikir ini tuh bakal klimaks bgt eh ternyata drama lagi -_-
    bukan maksud aku ga ngerhargain kerja keras author, cuman lama2 malah jadi kurang aja gitu
    mungkin karena aku yg gademen drama, dan untuk kategori ‘hurt’ ini masih belum sampai

    diharapkan cerita kedepannya lebih jelas dan to the point tapi kena thor ‘-‘
    daripada berbelit tapi gasampai gitu /?
    klo author emg pengen cerita ini panjang tinggal making sequel saja haha~
    aku tetap mendukung kok! fighting ^-^

  30. ry-seirin says:

    Ye.. Eun jin dsini jd org yg egois gk peduli ma prsaan org lain yg pnting obsesi cinta d masalunya tercapai, beda sm Kang Dongwoon yg milih buat mundur n mrelakan Soo ma Kyu buat hidup bahagia (So Gentle).
    Jihyun aja peka sma Soo msa Kyu gk peka jg ma prsaan istrinya sendiri.
    Wahhh…to kn bner Soo to hamil trus gmn sma kadaan Rtnya Kyuyoung stelah Kyu tau kondisi Soo yg lgi hamil sdg kan msih ada Eun jin yg setia nguntil terus.
    Hadeuh makin drakor bner nI mah…. Pke judul everywhere and anywhere “mewek mulu”.

  31. dekyusoo says:

    akhirnya, dipost juga ini ff…
    gedek ya lama-kelamaan sama kyuhyun …
    akkkk .. eui jin, sadar dong lo, kyuhyun itu udh punya istri, kalo mau cerai ya cerai aja, nggak usah ganggu kyuhyun sama sooyoung.. lu kan cewe, tau kali gimana rasanya jadi soo, yang tau kalo suaminya pergi sama cewe lain, walaupun soo ngijinin, tapikan nama nya orang, lain dimulut lain dihati …(maaf kebawa emosi hehehe)…
    parah ya, kyuhyun, udh di kasih kode sama adiknya juga kibum, tetep aja nggak peka , mana pergi mulu sama tuh cewe.. sadar dong kyu, kagak kasian apa sama soo…
    soo, cepet kasih tau kyu dong, kalo kamu lagi hamil, dari pada kyu keburu diembat sama yang onoh…
    taeyeon, kalo soo blm ngasih tau juga, kamu aja dong yang ngasih tau kyu semuanya…
    dongwoon nggak bakal gangguin soo lagi kan?
    nggak mau tau pokoknya, part depan kyu harus tau semua nya, mau sampai kapan kaya begini, nanti ujung-ujung nya kyu sama yang onoh lagi..
    ditunggu banget next nya…
    selalu semangat author buat bikin kelanjutannya…
    semangat-semangat….

  32. Heollll… Jihyuuuuunn.. dia bhkan lbih peka dri kyu yg notaben.A Suami sndri… bhkan knapa kyu g’ pernah punya Ide kya jihyun dg mngorek info dari Taeyeon ttg syoo sma dongwoon, bkan.A mlah mmblas kta” syoo yg akn brtmu dongwoon dg dia berusaha blikan sma euijin kan Egois bgt jdi Org…
    Smoga trjdii ssuatu sma syoo biar Kyu mrasakan rsa brsalah tiada ujung sma syoo dan skrang ank.A jga itu lbih baik HAHAHAAA (ktawa Miris)

  33. ajeng shiksin says:

    Akhir nya sooyoung hamil tp aku kesel sama kyuhyun kenapa sama nenek lampir mulu si . jadi enggak tw kan ql sooyoung menderita gitu . momend kyuyoung nya masih gereget .. Jadi kesel sendiri tiap baca tentang perasaan mereka yg sebener nya .

  34. Seneng bisa baca kelanjutan ff ini… Tapi dibuat greget trus sama eonni pas baca cerita ini… Kyuhyun nya dibuat sadar donk sama perasaan istrinya greget aku baca nya padahal Sudah ada adiknya yg mau ngingetin kyu tapi gak ndang dibuat sadar kak. Lah kan hamil ternyatq istrinya Dan gak ngungkapin ke kyu gara” kyu sikap nya kayak gitu jadi berlarut-larut ntr ceritanya kak…

  35. Rchoi says:

    Sumpah ya. Eteb banget sama kyuhyun disini. Ngeselin. Pengen tak tabok rasanya. Dan syoo hamil? Sudah kuduga 😍😍😍😍

  36. park rira says:

    akhirnya dipost juga,, dan akhirnya soo hamil anak kyu.. makin seru ni ceritanya gak sabar nunggu part selanjutnya jangan lama2 ya thor ^_^

  37. Haii, aku seneng bgt begitu cek notif gmail ternyata ch 7 nya up. Tapi aku rasa alurnya benar-benar lambat banget. Mungkin untuk masukan buat author nya, jangan terlalu memperlambat alur nya yaa

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s