What Makes A Love -8-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Aku mengetuk-ngetuk kemudi mobilku dengan gelisah. Selama perjalanan ke apartemen Lee Eui Jin, aku terus memikirkannya. Dia memberitahuku jika dia sedang sakit dan membayangkan dia melakukan semuanya sendiran membuatku mengkhawatirkannya. Itulah kenapa aku bergegas pergi ke apartemennya saat dia memberitahuku bahwa dia sakit.

“Eui Jin-ah, gwencha—“ Kata-kataku terhenti saat melihat Lee Eui Jin justru sedang tersenyum lebar ke arahku. “Mwoya? Kau tidak sakit?”

Lee Eui Jin mengangguk.

Wae?” tanyaku bingung.

“Kalau Sooyoung-ssi yang sakit, kau langsung datang ‘kan?” kata Eui Jin sambil melingkarkan tangannya di lenganku. “Itulah kenapa aku—“

“Kau pura-pura sakit hanya karena kau ingin aku langsung datang?” sambungku dengan cepat dan tidak percaya.

Senyum Lee Eui Jin tersungging. “Temani aku malam ini, Kyuhyun-ah. Jebal

Aku menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala dengan pelan. “Kau tidak perlu berbohong hanya supaya aku datang”

“Aku hanya ingin tahu apa kau akan langsung datang kapanpun aku membutuhkan. Seperti dulu,” kata Eui Jin yang mengajakku duduk di salah satu sofa di apartemennya. “Gomawo, karena kau memang masih Cho Kyuhyun yang aku kenal”

Aku tersenyum tipis. Belum sempat aku mengatakan sesuatu, ponselku berdering. Tapi dengan cepat Lee Eui Jin menyambar ponselnya dari dalam genggaman tanganku.

“Eui Jin-ah,” Aku terkesiap kaget saat ponselku sudah berpindah tangan.

Lee Eui Jin menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dariku, lalu dengan sigap menyembunyikan ponsel milikku di saku celananya. “Aku ingin hari ini kita tidak diganggu siapapun”

Aku menatap Eui Jin tidak percaya. “Apa selama ini ada yang pernah mengganggu saat kita bersama?”

“Kau masih menghubungi Sooyoung-ssi dan—“

“Dia istriku,” selaku sambil tertawa pelan.

“Temani aku disini malam ini saja. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, dan aku ingin kau mencobanya karena ini spesial”

“Spesial?”

Eui Jin mengangguk. “Apa kau tidak ingat hari ini?”

“Tidak,”

Aigoogeureom dwaesseo,” sahut Lee Eui Jin cepat. “Emm… hari ini hari apa itu tidak penting jika kau mau mencoba makananku. Eotte?”

Aku mempertimbangkan sesaat, lalu mengangguk pelan.

Senyum Lee Eui Jin langsung mengembang dan diapun bergegas pergi ke arah lain apartemennya—yang sepertinya dapur. Ponselku masih ada padanya dan aku benar-benar merasa bersalah karena tidak memberitahu Sooyoung kemana aku pergi setelah selesai menemui teman-teman kuliahku. Hari ini aku memang hanya mengatakan pada istriku itu jika aku pergi bersama Kibum untuk memenuhi undangannya—aku memang pergi dengannya, dan mengingat dia ada janji dengan Taeyeon maka aku berjanji padanya untuk menjemputnya begitu aku selesai. Siapa disangka jika Lee Eui Jin mengabariku bahwa dia sakit? Membuatku harus bergegas datang ke apartemennya tanpa sempat memberitahu Sooyoung terlebih dahulu.

Eui Jin membuat banyak sekali makanan, dan mau tak mau aku harus mencoba semuanya karena diapun memaksaku. Karena aku pikir jika aku mengikuti keinginannya, dia akan segera mengembalikan ponselku dan aku bisa memberitahu Sooyoung. Tapi ternyata aku salah. Setelah makan, Eui Jin justru mengajakku keluar dari apartemennya dan pergi ke taman di pinggiran Sungai Han yang ada di belakang apartemennya.

“Menyenangkan sekali rasanya,” komentar Lee Eui Jin saat pada akhirnya kami duduk bersama menghadap sungai Han yang memantulkan cahaya lampu-lampu jalanan. “Dari awal kita bertemu lagi, aku selalu ingin melakukan ini bersamamu, Kyuhyun-ah. Tapi aku sibuk, dan kaupun juga. Tidak pernah ada kesempatan yang bebas seperti hari ini”

Aku tidak menganggapi perkataan itu dan terus menatap jam di tanganku dengan gelisah. Ini sudah lebih dari 30 menit sejak aku berjanji untuk menjemput Sooyoung.

“Kau tahu, ada banyak hal yang masih ingin aku bicarakan denganmu”

Eo,” sahutku singkat. “Kita bisa membicarakannya nanti. Sekarang, berikan ponselku dulu” kataku sambil mengulurkan tanganku.

Eui Jin tersenyum, lalu kepalanya menggeleng.

Aku semakin gelisah. Ada rasa bersalah dalam hatiku sekarang. “Aku harus menjemput Sooyoung. Aku sudah berjanji padanya,”

Ekspresi wajah Eui Jin berubah menjadi datar. Dia tidak menjawab apapun, tapi justri mengalihkan pandangannya dariku.

Geurae, begini saja. Aku akan menjemput Sooyoung sebentar, dan kembali lagi menemuimu. Eotte?” Aku mencoba mencari solusi.

Yeoja itu tetap bungkam. Pandangannya masih menikmati taman yang temaram dan hanya diterangi lampu-lampu jalanan di sepanjang jalan kecilnya.

Aku mendesah panjang. “Aku pinjam ponselku sebentar untuk mengabari Sooyoung jika aku tidak bisa menjemputnya. Dia bisa meminta temannya untuk mengantarnya pulang atau naik taksi. Dia pasti bisa mengerti”

Masih tidak ada reaksi karena Eui Jin tetap bergeming. Aku menyerah, dan akupun ikut diam. Untuk beberapa saat kami saling diam sampai akhirnya Eui Jin membuka suara. “Aku iri pada Sooyoungi-ssi. Dia bisa memiliki waktumu begitu banyak, sementara aku tidak. Kau tinggal satu rumah dengannya, berbagai banyak hal dengannya. Aku benar-benar iri” desisnya.

Aku menatap Eui Jin dengan tajam. “Dia istriku,”

“Apa kau mencintainya, Kyuhyun-ah?” Eui Jin lagi-lagi menanyakan pertanyaan itu padaku.

Aku tidak langsung menjawab. Secara otomatis aku memikirkan Sooyoung. Selama menikah dengannya, kami memang tidak pernah saling mengungkapkan kata itu. Kami hanya nyaman satu sama lain, bahagia saat melalui waktu bersama, dan aku memang mulai merasakan kesal, cemburu saat dia sedang memikirkan namja lain. Juga detak jantungku yang berdebar lebih kencang saat kami saling menatap dan tersenyum. Itu cinta, ‘kan? Bukan hanya sekedar rasa menyukai.

“Kyuhyun-ah?” Eui Jin menuntut jawaban yang memang tidak pernah aku berikan padanya.

“Aku nyaman bersamanya, Eui Jin-ah

Eui Jin mencibir. “Aku hanya minta malam ini saja kau tidak membicarakan siapapun selain kita. Bisa?”

Aku gelisah. Kata-kata Kibum terngiang di kepalaku dan aku pun mulai mengutuk diriku sendiri yang sudah memberikan harapan kosong pada Eui Jin di waktu yang tidak tepat ini. Keadaan saat ini sudah sangat berbeda dengan enam tahun yang lalu saat kami masih sering bersama.

“Kenapa kau diam? Apa kau tidak suka?”

“Eui Jin-ah, kau tahu aku—aku punya tanggung jawab untuk menjaga istriku”

“Aku tahu,” Eui Jin langsung menjawab. “Tapi aku lebih mencintaimu, Kyuhyun-ah. Kau pun tahu itu,”

Aku diam saja. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk kali ini. Pikiranku terus melayang pada Sooyoung yang sekarang mungkin sudah pulang ke rumah dengan taksi atau Taeyeon yang mengantarnya. Ah, seharusnya sebelumnya aku menelepon Go Ahjussi saja jadi aku tidak terlalu khawatir seperti ini. Tapi apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan Eui Jin dan menemui Sooyoung sekarang? Alasan apa yang harus aku berikan karena yeoja inipun sepertinya enggan membiarkanku pergi hanya untuk menjemput istriku itu.

**

Tiga hari. Sooyoung sama sekali tidak bicara padaku selama tiga hari ini. Sikapnya yang seperti menghindariku muncul sejak aku tidak bisa menjemputnya dan dia menginap di rumah Taeyeon tanpa memberitahuku. Jujur saja, aku tidak tahu kenapa dia sampai semarah itu padaku sampai tidak pulang ke rumah hanya karena aku terlambat menjemputnya. Aku tahu memang itu salahku karena tidak memberitahunya jika aku terlambat, tapi bukankah seharusnya dia tidak semarah itu padaku?

Aku melirik Sooyoung disela-sela makan malam kami. Tapi yeoja itu hanya terus memandangi makanannya dan menikmatinya dengan enggan. Dia memang tidak banyak bicara padaku, dan bahkan menyiapkan makanan untukku dalam diam. Meskipun sesekali dia bicara untuk menawariku sesuatu, tapi hanya sekedar itu. Membuatku yang ingin memulai percakapan menjadi mengurungkannya. Aku mendesah panjang dan memilih untuk terus menatap wajahnya sampai aku menyadari bagaimana pucatnya dia sekarang.

“Sooyoung-ah,” panggilku pelan pada akhirnya. Sooyoung menatapku sekilas, lalu kembali menatap makanannya. “Gwenchana? Kau terlihat pucat”

Gwenchanayo,”

“Kenapa kau tidak banyak makan? Apa tidak sesuai seleramu?”

“Aku sedang tidak terlalu bernapsu makan,” jawabnya datar. Lalu diapun beranjak dari tempatnya. “Pigonhae,” katanya sebelum pergi.

Cepat-cepat aku menyusul Sooyoung dan berhasil menahannya sebelum dia masuk ke kamar yang dulu dia gunakan sebelum menggunakan kamarku. Dia cukup terkejut saat aku menarik tangannya dan menatapku dengan tajam. Meskipun dia tidak mengatakan apapun tapi aku tahu bahwa dia sedang marah padaku. Aku harus melakukan sesuatu atau setidaknya aku harus tahu alasan kenapa dia marah.

“Ayo kita bicara,” kataku mengabaikan tatapan tajam Sooyoung. “Aku tahu kau marah padaku,”

Sooyoung melepas tanganku, “Aku tidak marah padamu” katanya.

Gojimal,” sahutku dengan cepat. Lalu akupun menariknya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan perlahan. “Katakan padaku, kenapa kau marah padaku?”

Sooyoung diam saja, tapi satu alisnya terangkat saat dia mengarahkan pandangannya tepat ke bola mataku.

“Karena aku terlambat menjemputmu saat itu?” Aku menebak.

“Apa kau pikir aku marah padamu karena itu?”

Ah, jadi memang benar kau sebenarnya marah padaku” kataku tersenyum tipis, tapi ekspresi Sooyoung sama sekali tidak berubah. Dia justru melipat kedua tangannya di depan dada sekarang. “Geurae geureom… jika bukan karena itu, lalu kenapa kau marah padaku sampai kau seakan-akan menghindariku?”

“Apa aku harus mendikte apa yang aku rasakan untukmu, oppa? Kau tak bisa mengetahuinya sendiri?” Sooyoung masih membalas pertanyaanku dengan pertanyaan. Membuatku cukup kesal tapi aku masih berusaha untuk menahan emosiku. “Geurae, bagimu aku hanya seorang istri ‘kan? Seorang istri yang menjalankan semua kewajibannya dengan baik”

Aku mengerutkan kening, tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini. Tapi aku memilih untuk diam saja dan mendengarkan apa yang ingin Sooyoung katakan selanjutnya.

“Aku lelah,” kata yeoja itu tanpa menatapku. “Aku berusaha mengerti semuanya, sangat mengerti. Tapi memahami perasaanmu itu benar-benar membuatku lelah”

“Aku tidak mengerti—“

“Aku ingin istirahat,” sela Sooyoung dengan cepat. “Aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu sekarang” katanya seraya naik ke atas tempat tidur dan berbaring disana.

Aku terpaku kebingungan. “Sooyoung-ah…”

Tidak ada tanggapan apapun, dan aku juga tidak bisa melihat apa dia benar-benar tidur atau berpura-pura tidur karena dia memungunggiku. Meskipun begitu, aku tetap diam di tempatku selama beberapa saat. Sampai akhirnya aku menyerah dan keluar dari kamar Sooyoung dengan perasaan gelisah yang tidak bisa aku jelaskan.

__

Sooyoung POV

“Usia kandungan Anda sudah lima minggu. Memang dalam awal masa kehamilan ini selalu terasa mual dan sulit untuk makan. Tapi Anda harus berusaha untuk melawannya,” ucap seorang dokter yang saat itu baru saja memeriksaku. “Karena tubuh dan janin Anda membutuhkan nutrisi dan tenaga, aku akan memberikan beberapa resep vitamin dan obat penghilang mual”

Aku mengangguk pelan dalam diam.

“Dan jangan lupa untuk terus meminum susu khusus ibu hamil untuk tambahan nutrisi,” kata dokter yeoja itu lagi. “Anda harus rutin datang kesini, Nyonya”

Ne, algeseumnida” jawabku seraya bangkit dari kursiku dan membungkukkan badan ke arah dokter itu sebelum keluar dari ruangannya.

Aku berjalan lunglai di sepanjang lorong rumah sakit, langkahku sudah tidak berirama lagi. Sejauh ini aku selalu menghindar untuk pergi ke dokter karena takut mendengar mengenai berita ini. Aku memang sudah memeriksanya dengan testpack beberapa hari yang lalu—diam-diam, dan pergi ke klinik bersalin ini hanya untuk memastikan kebenaran testpack itu juga karena saran dari Taeyeon. Tapi jujur saja, setelah mendengar semua ini aku merasa lebih pusing karena tak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bisa memberitahu Kyuhyun sekarang, tidak dalam waktu dekat ini.

Aku duduk di salah satu bangku di rumah sakit, masih berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin juga langsung memberitahu eomma bahwa saat ini aku sedang mengandung karena eomma pasti akan dengan cepat memberitahu keluarga Kyuhyun. Lalu bagaimana aku akan menyembunyikannya? Perutku juga semakin lama akan semakin membesar, ‘kan?

Ya! Choi Sooyoung!” seruan itu cukup membuatku terkejut, dan seketika aku menolehkan kepala. Kim Taeyeon disana, sedang bergegas menghampiriku. “Ya! Eodiga? Apa kau tahu aku mencarimu?”

Ah, mian—“

Dwaesseo. Sekarang katakan padaku, apa kata dokter?”

“Usianya lima minggu, dan aku harus rutin datang kesini” jawabku singkat. “Dokter memberiku vitamin dan juga obat penghilang mual”

Eodi?”

Aku memberikan secarik kertas pada Taeyeon yang langsung dibaca yeoja itu.

“Aku akan mengambilnya. Kau tunggu disini,”

Aku hanya menganggukkan kepala menanggapinya.

Taeyeon bergegas pergi ke arah apotek, meninggalkanku di tempatku berada sekarang. Pikiranku kembali memikirkan Kyuhyun yang sudah hampir satu minggu ini tidak berbicara denganku. Itu karena aku menghindarinya, bukan hanya karena aku marah padanya saat itu tapi juga karena aku tak mau dia mengetahui bahwa sebenarnya aku sedang mengandung anaknya. Aku tak tahu kenapa aku melakukannya, hanya saja aku merasa bahwa ini yang terbaik yang aku lakukan. Lagipula dia sedang menikmati waktunya bersama Lee Eui Jin ‘kan? Buktinya dia sudah tidak lagi memberitahuku jika dia menemui yeoja itu.

Mataku mengerjap, bulu mataku terasa basah karena air mata yang tanpa sadar mengalir membasahi pipiku. Awalnya hanya sebatas itu tapi lama-lama aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku menangis hebat, dan itu cukup menarik perhatian orang-orang disekitarku. Saat orang-orang mulai mendekatiku dan bertanya apa aku baik-baik saja, aku hanya bisa mengangguk kecil. Bagaimanapun aku bisa menceritakan kepada mereka bagaimana perasaanku sekarang?

“Sooyoung-ah,” suara Taeyeon kembali terdengar diantara kerumunan orang.

Aku mendongakkan kepala dan menatap ke arah Taeyeon yang sedang memandangiku dengan cemas. “Taeyeon-ah, bawa aku pergi dari sini”

Geurae, kajja” Taeyeon membantuku berdiri, lalu orang-orang mulai menyingkir saat kami lewat. Dia memegangi bahuku dengan erat selama kami keluar dari rumah sakit sampai akhirnya tiba di mobilnya. “Gwenchana?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk.

“Aku harus mengantarmu kemana? Rumahmu?”

“Rumah orang tuaku,” jawabku menjaga suaraku agar tidak bergetar.

“Kau masih yakin tidak akan memberitahu suamimu?”

Aku diam saja.

“Sooyoung-ah, bayimu—“

“Aku akan memberitahunya jika aku ingin, Taeyeon-ah” selaku dengan cepat. “Tapi untuk sekarang, kurasa aku akan menyimpannya. Situasi diantara kami sedang tidak berjalan baik belakangan ini”

Taeyeon mulai menjalankan mobilnya, dan dia diam untuk beberapa saat. Keheningan diantara kami itu membuatku kembali memikirkan Kyuhyun. Aku cukup menyesal karena aku harus semarah ini padanya hanya karena malam itu, tapi aku tak tahu kenapa rasanya aku sangat kesal saat mengetahui bahwa dia terlambat menjemputku hanya karena dia sedang bersama Lee Eui Jin. Apa yang membuatku semakin kesal adalah dia sama sekali tidak memberitahuku saat menemui yeoja itu, padahal dia sendiri yang berkata akan selalu memberitahuku. Apa dia mulai tidak jujur padaku sekarang? Seperti kata Taeyeon dulu.

“Sudah berapa lama kau tidak tidur dengan suamimu?” tanya Taeyeon disela-sela mengemudinya.

Aku menoleh ke arah Taeyeon sesaat, lalu mengalihkan pandanganku ke luar jendela. “Kurang dari satu minggu,”

Aigoo… selama itu?”

Aku diam saja.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau akan terus seperti ini dengannya?”

Amado,”

Ya!”

Aku mendesah panjang. “Aku tidak tahu, Taeyeon-ah

Geureom, apa dia masih sering menemui yeoja itu belakangan ini?”

Geurissae… Aku jarang mengobrol dengannya sejak malam itu”

Wae? Kenapa kau melakukannya?”

Aku kembali diam untuk beberapa saat, memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama aku pikirkan. Setelah itu, akupun mulai berbicara. “Aku hanya sedang memberinya waktu, Taeyeon-ah. Kau tahu, hal yang paling aku takutkan sebelum menikah itu terbukti sekarang. Sebelumnya aku masih belum bisa melupakan Kang Dongwoon, dan dia tidak pernah sekalipun menggangguku jika aku sedang memikirkan namja itu. Lalu, atas dasar apa aku melarang suamiku untuk melupakan Eui Jin-ssi dan meninggalkannya?”

“Kau mencintainya—“

“Apa cinta satu pihak dalam satu pernikahan itu cukup?” Aku kembali menyela perkataan Taeyeon. “Kita membutuhkan dua arah cinta dalam pernikahan, Taeyeon-ah, kau sendiripun tahu itu. Jika hanya ada satu arah, maka itu tidak akan menjadi cinta tapi beban dan itu membuat luka”

Kali ini Taeyeon yang diam. Meskipun begitu aku tahu bahwa dia sedang memikirkan apa yang aku katakan dan dia mendengarkanku.

Aku melanjutkan bicara. “Kau pernah memberitahuku bahwa aku harus mengusahakan cinta itu ada dalam pernikahanku. Kau tahu selama ini aku berusaha melakukannya, dan bahkan saat Kang Dongwoon kembali muncul di hadapanku… Aku—aku mengusirnya pergi dari kehidupanku karena aku—aku—aku membulatkan tekadku untuk menjaga pernikahanku”

Taeyeon menoleh ke arahku dengan cepat, ekspresinya terlihat terkejut. “Jinjja? Kau mengusirnya? Kang Dongwoon?”

Eo. Aku mengusirnya dan melukai perasaannya,” jawabku sambil menundukkan kepala. “Tapi aku melakukannya karena aku tak mau melukai perasaan orang yang selama ini sudah menyembuhkan lukaku tanpa aku sadari”

Aku mendengar helaan napas Taeyeon. “Kurasa kau benar-benar sudah mencintainya” komentarnya kemudian. “Jujur saja, aku tak tahu harus mengatakan apa padamu jika sudah seperti ini, Sooyoung-ah. Kau sahabatku, dan aku selalu kehilangan kata-kata setiap kali kita membicarakan sesuatu yang yang seperti ini”

Aku tersenyum tipis. “Aku lelah,” kataku pelan. “Bangunkan aku jika sudah sampai”

Geurae,”

Aku memiringkan posisiku dan memunggungi Taeyeon. Yeoja itu sengaja menyalakan musik agar suasana di mobil tidak berubah menjadi hening. Tapi itu justru membuat air mataku kembali mengalir karena aku memikirkan apa yang baru saja aku katakan tadi. Memang benar bahwa Kyuhyun adalah orang yang telah menyembuhkan lukaku dan selama ini aku tidak menyadarinya. Aku benar-benar bodoh karena terlambat sadar saat keadaan sudah menjadi seperti sekarang ini.

**

Aku terus memandang lurus ke depan dari dalam mobil. Aku masih mempertimbangkan apa aku harus turun atau tidak. Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku katakan saat sudah bertemu dengan Kyuhyun nanti. Mengingat sudah cukup lama kami tidak banyak mengobrol. Bagaimana aku harus bersikap di depannya? Apa aku harus mengubah sikap datarku atau atau tetap harus bersikap begitu agar dia tahu bahwa aku menunggunya melakukan sesuatu yang bisa—setidaknya, membuat rasa kesalku padanya hilang?

“Kau harus berbicara padanya lagi. Tidak baik mendiamkan suamimu untuk waktu yang lama, apalagi saat dia kembali bertemu dengan masa lalunya” Kata-kata Taeyeon itu terus teringang di kepalaku.

Tapi setelah memikirkannya, apa yang Taeyeon katakan itu memang benar. Seharusnya aku tidak semarah ini pada Kyuhyun, dan bersikap sedikit lunak padanya. Bagaimana jika dia justru lebih sering menemui Lee Eui Jin karena aku mengabaikannya? Selama seminggu ini aku memang tidak tahu apa saja yang dia lakukan karena diapun tidak memberitahuku. Karena itulah aku sendiri sedikit khawatir sekarang.

Aku mendesah panjang, lalu memejamkan mataku sambil mengusap-usap perutku. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk jendela mobilku dan membuka pintunya. Itu adalah Seo Ahjussi, salah satu supir yang selalu mengantarkan Kyuhyun dan sering datang ke rumah. Aku cukup terkejut dengan kedatangannya, tapi aku berusaha untuk tetap bersikap tenang.

Samonim,” seru Seo Ahjussi sambil tersenyum lebar ke arahku. “Anda datang,” katanya lagi.

Aku membalas tersenyum, dan—karena tak ada pilihan, akupun keluar dari dalam mobil. “Ini pasti mengejutkanmu ‘kan, ahjussi?” kataku basa-basi.

“Tidak,” jawabnya. “Aku justru bertanya-tanya kapan Anda akan datang mengunjungi Cho Sajangnim saat beliau sedang bekerja”

Geurae?” celetukku sambil melangkahkan kaki bersama Seo Ahjussi di belakangku.

Begitu di dalam gedung, beberapa orang langsung membungkukkan badan ke arahku saat aku melewati mereka. Aku benar-benar tidak menyangka mendapatkan perlakukan seperti ini sampai aku berhenti melangkah untuk beberapa saat. Ini memang pertama kalinya aku datang, jadi aku cukup terkejut. Sambil menghilangkan perasaan canggung yang terus menguasaiku, akupun menyunggingkan segaris senyuman ke arah orang-orang yang menyapaku itu.

Aigoo, samonim” seru seseorang yang tiba-tiba datang dari arah sebelah kiriku. Dia adalah sekretaris Kim, orang yang aku kenal di perusahaan ini selain Seo Ahjussi dan suamiku sendiri. “Aku benar-benar tak menyangka Anda datang berkunjung kesini,”

Aku kembali tersenyum, “Geuraeyo?” sahutku. “Seo Ahjussi juga mengatakan hal yang sama, Kim Kyongri. Tapi Anda tidak bertanya-tanya kapan aku akan datang kesini, ‘kan?” Aku berusaha mencairkan suasana.

“Tentu saja aku bertanya-tanya,” cetus Sekretaris Kim terlihat senang dengan kedatanganku.  “Bahkan sepertinya Sajangnim juga sudah menunggu waktu kunjungan Anda, Samonim

Ne?”

Sekretaris Kim hanya tersenyum padaku sambil terus mengikuti langkahku. Beberapa orang kembali menyapaku, dan akupun langsung membalasnya dengan anggukkan kepala serta senyuman ramah. Disisi lain, Sekretaris Kim terus memberitahuku tentang segala hal yang ada di perusahaan ini termasuk orang-orang pentingnya yang sepertinya pernah aku lihat saat pesta pernikahanku meskipun itu sudah lama. Hanya saja saat itu aku memang tidak terlalu memperhatikan.

Sajangnim sedang menerima tamu, tapi sepertinya itu tidak masalah jika Anda datang dan menemuinya” kata Sekretaris Kim setelah dia memberitahuku tentang sedang dibangunkan sebuah lounge di lantai satu gedung ini.

“Tamu?”

Sekretaris Kim mengangguk, “Itu teman kuliahnya” katanya menjawab.

“Kibum-ssi?”

Aniyo. Emm kalau tidak salah—namanya Lee Eui Jin-ssi,”

Aku langsung berhenti melangkah dan menatap Sekretaris Kim dengan kedua alis saling bertaut. “Nuguyo?” tanyaku.

“Lee Eui Jin-ssi, seorang pengacara dari anak cabang Geum Ho Group, Namjoo Company” jawab Sekretaris Kim lebih detail.

“Lee Eui Jin?” ulangku berusaha untuk tetap tenang meskipun aku justru merasa sebaliknya. Lalu akupun melanjutkan melangkah, dan kembali berbicara pada Sekretaris Kim. “Apa mereka sudah lama mengobrol?” tanyaku kemudian.

Sekretaris Kim menatap ke arah jam tangannya setelah menekan tombol lift. “Sekitar 30 menit yang lalu,”

Aku memilih untuk tidak berkomentar kali ini dan masuk saja ke dalam lift yang terbuka bersama Sekretaris Kim. Aku melemparkan sneyum ramah ke arah orang-orang yang—sepertinya, mengenaliku entah bagaimana. Sementara pikiranku terus mengarah pada Kyuhyun dan Eui Jin, lift-pun mulai terasa naik. Aku benar-benar tak menyangka jika mereka bertemu lagi setelah pesta itu. Lalu apa mereka sebenarnya memang sering bertemu? Mengingat Lee Eui Jin adalah salah satu pengacara di anak cabang Geum Ho Group? Tapi kenapa Kyuhyun sama sekali tak memberitahuku?

Aku mendesah pelan—sangat pelan, lalu kembali berbicara pada Sekretaris Kim. “Kim Kyongri, apa mereka—hmm, apa Anda tahu alasan kenapa Lee Eui Jin-ssi datang kesini?” tanyaku masih berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa kesalku di depan Sekretaris Kim ini.

“Aku tidak tahu, Samonim” jawab Sekretaris Kim. “Ini bukan pertama kalinya Lee Eui Jin-ssi datang, dan mengingat mereka berteman saat masih kuliah… sepertinya dia datang karena itu”

Kedua alisku saling bertaut, “Mengingat masa lalu maksud Anda?” Aku mencoba menebak.

Sekretaris Kim tidak memberiku jawaban.

Lift terbuka dengan denting halus, dan Sekretaris Kim mempersilahkanku untuk mengikutinya. Aku menurut, dan sambil melangkah di sepanjang lorong yang aku lalui, aku memperhatikan sekitarku serta terus tersenyum saat mataku tidak sengaja bertemu dengan orang-orang yang berpapasan denganku. Setelah beberapa saat, Sekretaris Kim berhenti di depan sebuah pintu berlapis cat cokelat tua dengan tulisan yang menyebutkan bahwa ruangan di dalamnya adalah ruang CEO. Dia mengetuk pintunya dan melangkah masuk. Meninggalkanku sendirian untuk memberitahu Kyuhyun.

Aku berusaha keras untuk tidak memikirkan apa yang Kyuhyun dan Eui Jin lakukan di dalam ruangan sambil menunggu Sekretaris Kim. Tapi aku tidak berhasil, dan aku justru semakin merasa kesal karena terus memikirkannya. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan bergegas masuk ke dalam lift yang saat itu pintunya membuka. Sepertinya niat baikku untuk membicarakan semuanya dengan Kyuhyun hari ini salah, karena ternyata diapun masih sering bertemu Lee Eui Jin—tanpa aku mengetahuinya.

“Dia pasti bebas menemuinya setelah aku mendiamkannya” gumamku pada diri sendiri, yang untung saja tidak ada orang di dalam lift kecuali aku. Aku menggigit bibirku untuk menahan kesalku, lalu bergegas keluar dari lift saat pintunya kembali membuka di lobby.

Kakiku melangkah lebar-lebar, dan tidak memedulikan orang-orang yang menyapaku saat aku melewati mereka. Aku terlalu kesal untuk membalas sapaan itu jadi aku mengabaikannya. Tapi kemudian, sebelum aku masuk kembali ke dalam mobil—yang aku kemudikan sendiri, seseorang menahan tanganku. Membuatku cukup terkejut. Saat aku menolehkan kepala, ternyata dia adalah Cho Kyuhyun. Dia menatapku dengan lekat dan ekspresinya yang sangat serius.

“Kenapa kau pergi saat kau baru saja datang?” tanya Kyuhyun padaku

Dwaesseo,” kataku setelah aku berhasil mengendalikan keterkejutanku. “Aku hanya mampir karena aku melewatinya,” Aku memilih untuk kembali memasang ekspresi datar.

“Hanya itu?”

“Apalagi?” sahutku dengan cepat. “Kudengar kau sedang menerima tamu, jadi aku memilih untuk pergi. Lagipula aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu”

“Itu bukan tamu. Itu Lee Eui Jin,”

Geuraesseo?”

Kyuhyun menghela napas singkat, “Mianhae—“

“Untuk apa?” Aku menyela. Tanganku melepas tangan Kyuhyun, lalu melipatnya di depan dada. “Aku tidak perlu maafmu, oppa, jika kau sendiri bahkan tidak menyadari kesalahanmu”

“Sooyoung-ah, mau sampai kapan kau terus bersikap seperti ini padaku? Ini sudah lebih dari satu minggu”

“Aku tak peduli apa ini sudah lebih dari satu minggu atau bahkan satu bulan. Selama satu minggu ini, apa yang kau lakukan oppa? Kau tidak berusaha mendekatiku, padahal aku sedang—“ Kata-kataku terhenti karena aku hampir saja memberitahunya tentang kehamilanku. Tapi Kyuhyun terus menatapku jadi akupun melanjutkan perkataanku dengan sesuatu yang lain. “—aku sedang marah padamu. Kau tidak berusaha mendekatiku dan menenangkanku, tapi justru menjauhiku. Apa seperti itu caramu bersepakat dengan seseorang yang sudah dibuat marah olehmu?”

“Kau selalu menghindariku” kata Kyuhyun membela diri. “Kau menghindariku dengan tidur di kamar yang terpisah, atau bahkan tidur di apartemen Taeyeon. Kau tidak memberiku kesempatan, Sooyoung-ah

“Jika aku tidak memberimu kesempatan, kenapa kau tidak membuat kesempatan itu oppa?”

Kyuhyun diam saja, tapi pandangannya tidak pernah terlepas dariku. Lalu aku melihatnya menghela napas panjang, dan diapun berbicara. “Kau bersikap seperti ini padaku, dan berbicara seperti ini padaku seakan-akan aku adalah orang yang paling bersalah pada apa yang terjadi dalam hubungan ini. Kita baik-baik saja sebelumnya, tapi hanya karena aku terlambat datang menjemputmu, kau sampai membuatku seperti ini?”

“Hanya karena?”

Geurae, hanya karena”

Oppa, biarkan aku bertanya padamu sekali saja” kataku pada akhirnya. “Jika kau melihatku dan Lee Eui Jin-ssi—“

“Kenapa kau tiba-tiba membawa-bawa dia?” potong Kyuhyun dengan cepat.

Aku tersenyum tipis, “Aku bahkan belum mengatakan apa-apa, dan kau sudah memprotesnya” kataku. “Aku tidak tahu apa kau akan memilihku daripada Lee Eui Jin jika kami berdua dalam situasi yang berbahaya. Aku istrimu, dan dia adalah yeoja masa lalu yang masih kau cintai”

Kyuhyun diam saja, dan terlihat terkejut dengan apa yang aku katakan ini tapi aku mengabaikannya.

“Aku tidak mau berada diantara masa lalu dan sekarang, oppa. Kau yang memutuskan,” kataku sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan cepat-cepat meninggalkan tempat ini.

Pandanganku tetap mengarah ke arah spion di sampingku saat mobilku mulai melaju. Aku tak tahu kenapa aku harus mengatakan hal-hal itu di depan Kyuhyun di tempat umum seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, bahkan aku harus berusaha keras untuk menahan air mataku—yang pada akhirnya mengalir saat aku masuk ke mobil. Setelah ini, apa yang akan terjadi dalam pernikahanku?

__

Kyuhyun POV

Aku tidak tahu apa kau akan memilihku daripada Lee Eui Jin jika kami berdua dalam situasi yang berbahaya. Aku istrimu, dan dia adalah yeoja masa lalu yang masih kau cintai

“Aku tidak mau berada diantara masa lalu dan sekarang, oppa. Kau yang memutuskan,”

Aku tidak bisa menghilangkan kata-kata Sooyoung itu dari kepalaku sejak hari itu—hari dimana dia menemuiku di kantor. Kata-katanya benar-benar terus menguasaiku sampai saat ini. Seakan-akan dia sedang memberiku pilihan dan dia ingin tahu siapa yang akan aku pilih. Tapi kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Apa maksudnya? Bukankah selama lebih dari seminggu ini dia bersikap dingin padaku dan menghindariku? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang ada di pikiran istriku itu.

Wae? Mueoseul dowa deurilkka?” tanya Kibum yang sudah cukup lama aku abaikan padahal malam ini kami berjanji bertemu untuk makan malam dan membahas pekerjaan.

“Aku tak tahu apa yang harus dilakukan, Kibum-ah” kataku sambil melamun.

“Melakukan apa?”

Aku menunduk. Memperhatikan Bulgogi di hadapanku yang sama sekali belum aku sentuh.

Ya! Mwohae?”

Aku mendesah pelan, “Sepertinya aku sedang menghadapi masalah besar”

“Masalah seperti apa? Pekerjaan? Pernikahan? Atau Lee Eui Jin?”

“Apa kau hanya bisa berpikir hanya itu masalah besarku?” tanyaku sedikit mengalihkan pembicaraan sebentar.

Kibum mengangguk. “Setahuku hanya itu masalah-masalah besarmu belakangan ini. Jadi yang mana?”

Aku tersenyum singkat tanpa menoleh. Pandanganku lurus mengarah pada Bulgogi-ku. “Kau tahu, aku sedang sedikit berkonflik dengan istriku” suaraku terdengar lirih tapi aku yakin Kibum mendengarnya karena dia sekarang memperhatikanku. “Dan saat aku pikir mungkin semuanya akan kembali baik-baik saja setelah beberapa hari, ternyata aku salah. Karena itu justru semakin buruk”

Satu alis Kibum terangkat, “Apa maksudmu dengan semakin buruk?”

Aku menimbang-nimbang sesaat, tapi kemudian memutuskan untuk terus menceritakannya pada Kibum. “Aku tidak tidur bersamanya lagi selama beberapa hari ini, dan dia menghindariku seperti awal-awal pernikahan kami”

“Memangnya apa yang terjadi? Kenapa Sooyoung-ssi seperti itu lagi?”

Aku mengendikan bahu, “Kurasa bukan hanya karena aku terlambat menjemputnya saat itu. Pasti ada sesuatu yang lain, hanya saja aku tak tahu”

“Kau pasti melakukan kesalahan, itulah kenapa istrimu marah” sahut Kibum sambil menikmati makanannya. “Tidak ada orang yang marah tanpa ada alasan yang membuatnya marah, Kyuhyun-ah. Jika dia menghindarimu, itu pasti karena kau membuatnya marah”

“Sudah kukatakan padamu, itu karena aku terlambat—“

“Bukan karena kau pergi dengan Lee Eui Jin?”

“Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kau—“ Aku menghentikan kata-kataku karena teringat apa yang sudah aku lakukan yang mungkin menjadi alasan kenapa Sooyoung marah padaku. Aku menghela napas, “Kurasa aku tahu sekarang”

Mwo? Aku benar?” celetuk Kibum menatapku tidak percaya.

Aku mengangguk pelan.

Aigoo… Sudah kuduga,” desah Kibum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah kukatakan padamu untuk tidak menemui dia lagi. Dia sudah menjadi bagian yang terpisah dari kehidupanmu. Masa lalu dan sekarang, itu tidak bisa berada dalam satu garis lurus, Kyuhyun-ah

Aku diam saja.

“Jika aku jadi kau, aku akan lebih memilih Sooyoung-ssi. Kau masih harus bertanya kenapa alasannya?”

Eo,”

“Karena seorang istri adalah hidup suaminya. Katamu, kau menemui Eui Jin sebagai teman ‘kan?”

Aku kembali mengangguk.

“Dengarkan aku baik-baik, Kyuhyun-ah” Kibum meletakkan sumpitnya dan menatapku dengan lekat. “Teman adalah teman, dan wanita adalah wanita. Kau tidak bisa memiliki mereka dalam satu orang. Seluruh dunia tahu itu,”

Ya! Kenapa kau tiba-tiba berkata—“

“Itu karena kau selalu membiarkan dirimu diantara keduanya. Teman dan wanita. Masa lalu dan sekarang,” sahut Kibum tanpa membiarkanku menyelesaikan kalimatku dulu. “Sekarang, jika aku bertanya padamu siapa yang lebih kau cintai antara Sooyoung-ssi dan Eui Jin, kau akan menjawab apa?”

“Aku tidak tahu,”

“Kau tidak tahu karena kau tidak pernah benar-benar bertanya pada dirimu sendiri. Aku tidak yakin kau sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada istrimu setelah kalian hidup bersama. Kemana perasaanmu padanya yang dulu? Apa itu menghilang karena kemunculan Lee Eui Jin?”

Aku diam sesaat. “Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak”

Kibum diam. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang berpikir keras. Tapi dia tidak mengatakan apapun lagi padaku. Membiarkanku memikirkan semua percakapan ini sampai akhirnya kami selesai dengan makanan kami dan memilih untuk pulang ke rumah masing-masing.

Selama perjalanan pulang itupun, aku terus memikirkan apa yang Kibum katakan. Rasanya seperti aku baru saja di hakimi olehnya, dan aku berada di posisi yang salah. Meskipun begitu, apa yang dia katakan ada benarnya juga. Selama ini aku berusaha untuk menghindari setiap kali ada yang bertanya padaku mengenai perasaanku pada Sooyoung. Jujur saja, perasaanku itu sama sekali tidak hilang—meskipun Lee Eui Jin muncul kembali, hanya saja aku sedikit menahannya. Jika itu benar-benar menghilang, tidak mungkin aku masih kesal jika aku tahu Sooyoung sedang memikirkan Kang Dongwoon ‘kan?

“Apa Anda ingin pergi ke suatu tempat dulu, Sajangnim?” tanya Seo Ahjussi.

Aniyo, langsung ke rumah saja” jawabku singkat.

Ne, algeseumnida

Seo Ahjussi menginjak pedal gasnya untuk mempercepat laju mobil. Tidak berselang lama, kamipun sampai di rumah dan aku bergegas keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Park Ahjumma memberitahuku jika Sooyoung tidak pergi kemana-kemana hari ini, tapi dia terus di kamarnya. Itu cukup mengejutkanku karena tidak biasanya dia memilih di rumah padahal beberapa hari ini dia selalu sibuk di luar—entah melakukan apa.

Saat melewati kamar Sooyoung, awalnya aku berniat untuk mengetuk pintunya tapi kemudian aku mengurungkannya. Mungkin saja dia sudah tidur ‘kan? Jika dia masih terjaga, aku pasti mendengar sesuatu dari kamarnya tapi tidak ada suara apapun yang terdengar. Aku memutuskan untuk masuk ke kamarku sendiri, membersihkan badanku dan menyelesaikan pekerjaaan yang memang aku bawa dari kantor karena tadi tidak sempat membicarakannya dengan Kibum.

Sayangnya, aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun selain Sooyoung, Lee Eui Jin dan semua perkataan-perkataan mereka. Sambil mengusap-usap pelipisku, aku terus mengingat setiap detail tentang apa yang mereka katakan padaku. Mulai dari Eui Jin yang berkata masih mencintaiku dan menginginkan hubungan kami seperti dulu, sampai perkataan Sooyoung terakhir.

Aku menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari kamarku, berniat untuk mengajak Sooyoung berbicara. Untuk beberapa saat, aku hanya mondar-mandir di depan kamar Sooyoung tanpa tahu harus melakukan apa. Tapi kemudian aku mendengar suara—seperti tangisan dari dalam kamarnya. Ini bukan pertama kalinya aku mengetahui bahwa Sooyoung menangis dalam keheningan. Tangisan tertahan yang terdengar pilu dan menyayat hati. Sungguh, aku sangat ingin masuk ke kamar itu dan memeluk erat tubuhnya. Melakukan sesuatu yang memancing tawanya itu bukan ide yang buruk, asalkan air mata itu lenyap.

Sayangnya, tidak ada yang bisa aku lakukan selain hanya bisa terpaku bersandar di dinding dekat pintu kamar Sooyoung. Aku berhasil membuka sedikit pintunya dan memperhatikan diam-diam sosok istriku itu yang sedang menangis sambil memeluk bantal dari celah-celah pintu. Aku mendesah pelan melihat pemandangan itu, dan entah kenapa rasanya aku juga ingin menangis. Membuatku berpikir apa sebenarnya yang sedang Sooyoung rasakan saat ini?

**

Aku sedang memperhatikan layar besar di depanku sambil mendengarkan presentasi dari salah satu pegawai di kantorku. Suasana rapat kali ini terasa begitu serius dan kaku karena pembahasan mengenai audit beberapa perusahaan anak cabang GeumHo Group. Apalagi Appa-ku juga ikut hadir, menambah serius jalannya rapat kali ini.

Saat namja bernama Kim Young Jae itu baru saja mengganti slide yang muncul di layar, ponsel di saku jasku bergetar. Aku mengabaikan itu dan mencoba fokus para rapat dengan mendengarkan beberapa pendapat dari manajer-manajer yang juga menghadiri rapat ini. Tidak lama, getar ponsel itu berhenti. Tapi kemudian kembali bergetar, dan mau tak mau aku merogoh saku jasku untuk mematikan ponselku. Siapapun yang meneleponku saat ini, kurasa aku tidak bisa menjawabnya dan akan meneleponnya kembali nanti. Itu yang ada dalam pikiranku.

Selang beberapa menit setelah aku mematikan ponselku, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruang rapat. Dia adalah Sekretaris Kim. Semua orang di ruangan ini menoleh ke arahnya, lalu berpaling padaku.

Josanghamnida, Cho Sajangnim. Ada telepon penting dari Kim Taeyeon-ssi” kata Sekretaris Kim memberitahu. “Katanya, Samonim pingsan”

Aku mencelos, lalu berdiri dari tempat dudukku.

“Kyuhyun-ah, cepat pergi temui istrimu” seru appa yang duduk di sebelahku. “Biar appa yang mengurus disini. Istrimu lebih penting sekarang,”

Aku mengangguk, lalu bergegas melangkah keluar dari ruang rapat bersama Sekretaris Kim. Aku sempat mendengar bisik-bisik di belakangku dan suara appa yang memberitahu untuk melanjutkan rapat. Ini bukan kali pertama Sooyoung pingsan dan diapun sudah sering sakit belakangan ini? Apa sebenarnya dia memang sakit tapi menyembunyikannya dariku? Kali ini aku benar-benar harus membawanya ke dokter untuk memastikan kesehatannya.

“Apa yang Taeyeon-ssi katakan, Kim Kyongri?”

“Katanya, Samonim pingsan di restoran dan sekarang berada di rumah—“

“Rumah? Tidak di rumah sakit?”

Ne, rumah”

“Telepon Seo Ahjussi untuk menyiapkan mobilnya, dan katakan aku akan menyetir sendiri ke rumah”

Ne, algeseumnida

Aku bergegas masuk ke dalam lift, lalu menekan tombolnya dengan tidak sabaran. Begitu pintunya kembali membuka, aku bergegas keluar dan melangkah dengan cepat menuju mobilku yang sudah terpakir di depan gedung. Aku tidak bisa menghilangkan kegelisahanku dan terus memacu mobilku dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah. Suara decitan bannya bisa aku dengar setiap kali mobil ini membelik tajam. Aku bahkan tidak peduli jika tiba-tiba para polisi mengejarku karena kecepatan yang bisa di bilang sangat membabi buta ini.

Pandanganku menatap lurus jalanan yang dipenuhi oleh jalanan lain, dan kakiku terus menginjak pedal gas setiap kali aku memikirkan Sooyoung. Jantungku berpacu kencang selama perjalanan ini. Sampai akhirnya, aku menginjak rem mobil di depan gerbang rumahku dan setengah berlari memasukinya. Perasaanku diliputi rasa khawatir yang teramat sangat. Saat sampai di depan kamar Sooyoung, aku melihat Taeyeon yang menoleh ke arahku dan bergegas mendekat ke arahku. Ekspresinya terlihat kesal, dan itu sangat jelas dilihat olehku.

“Suami macam apa kau ini, Kyuhyun-ssi? Bagaimana bisa kau tidak peduli saat istri sendiri sakit sampai pingsan?” seru Taeyeon dengan keras. Wajahnya memerah karena marah dan dia menatapku tajam.

Aku menunduk, mengakui kesalahanku dalam hati.

“Dia tidak bernapsu makan, dan pingsan saat berkata akan pulang dari restoranku” kata Taeyeon memberitahu meskipun nada bicaranya masih sama. Datar dan tajam. “Dokter sudah memeriksanya. Dia kelelahan dan terlalu banyak hal yang dipikirkan”

Mianhaeyo karena merepotkanmu, Taeyeon-ssi

Taeyeon menghela napas panjang, lalu menyuruhku untuk masuk ke kamar Sooyoung dengan gerakan kepalanya. Jadi akupun bergegas masuk, melihat istriku itu sedang berbaring di tempat tidurnya. Aku duduk dipinggiran ranjangnya dan memandanginya cukup lama. Lalu akupun mengusap pipinya dengan lembut, ada rasa bersalah menghujam hatiku tiba-tiba. Ada rasa nyaman yang hadir saat melihat Sooyoung tidur karrena jatuh sakit.

Aku menggenggam tangan Sooyoung dengan erat. “Mianhae, Sooyoung-ah

Jari-jari Sooyoung bergerak, dan dengan perlahan dia membuka matanya. “Ah, appo—“ gumamnya sambil memegangi kepalanya dengan tangannya yang bebas.

Gwenchana? Biar aku membantumu,” kataku seraya memegangi bahu Sooyoung dan membantunya duduk bersandar pada bantal.

Sepertinya membutuhkan waktu beberapa detik untuk Sooyoung bisa meresponku. “Wae yeogi isseo, oppa?” Suaranya terdengar nyaris seperti gumaman.

“Kau sakit, jadi aku disini” jawabku sambil memebali rambut istriku ini dengan lembut. “Aku akan disini sekarang, jadi kau tak perlu melakukan banyak hal”

Sooyoung tidak menganggapi dan hanya menatapku dengan lekat.

Aku berdehem pelan, merasa sedikit canggung dengan tatapan intens Sooyoung itu. “Aku akan meminta ahjumma untuk membawakan makanannya, dan setelah itu kau harus minum obat lalu istirahat lagi”

“Aku tidak mau minum obat,” sahut Sooyoung dengan cepat dan itu cukup membuatku terkejut.

Wae?”

Geunyang,”

Aku tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala. Aku tidak mau memaksanya memberiku jawaban, jadi aku memilih untuk keluar dari kamar dan kembali tidak lama kemudian sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air hangat yang disiapkan oleh Park Ahjumma.

“Makan dulu, Sooyoung-ah” kataku sambil menyendokkan bubur itu, lalu meniup-niupnya karena masih panas. “Aku tahu kau kurang makan akhir-akhir ini,” Aku menambahkan sambil menyuapkannya ke mulut Sooyoung.

Senyum Sooyoung tersungging sesaat, sebelum dia menerima suapanku dan memakan makanannya. Dia benar-benar patuh mamakan setiap suapan yang aku berikan, dan aku tak tahu kenapa aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Rasanya seperti apa yang terjadi diantara kami beberapa hari yang lalu itu menghilang begitu saja karena ini. Sooyoung bahkan hanya diam saat aku menyentuh bibirnya untuk membersihkan sisa bubur.

“Aku ingin mandi, oppa” kata Sooyoung setelah selesai menghabiskan makanannya. “Rasanya lengket. Aku pasti berkeringat banyak,”

“Kau sebaiknya tidak terkena air dulu,” sergahku. “Aku akan mengelap badanmu dengan air hangat saja. Itu tidak apa?” kataku melanjutkan sambil merapikan mangkuk dan gelas yang sudah kosong.

Ah, geurae? Kalau begitu, biar aku melakukannya sendiri—“

Aku menoleh ke arah Sooyoung, lalu tertawa kecil. “Ayolah, Sooyoung-ah. Jangan bersikap seperti seakan-akan aku tidak pernah melihatmu—kau tahu mandi” kataku memilih mengganti kata-kata terakhirnya. “Aku akan menyiapkan bajumu dulu, lalu aku akan membantumu ke kamar mandi”

E—Eo,”

Aku tersenyum tipis, mengacak pelan rambut istriku ini lalu beranjak dari tempatku untuk menyiapkan segalanya.

__

Sooyoung POV

Awalnya cinta itu tidak terasa, awalnya cinta itu tidak terdengar. Awalnya cinta itu tidak terlihat, dan ketika cinta itu mulai menyentuh hati, kau menjadi segalanya bagiku…

Aku menulis kata-kata itu di belakang foto Kyuhyun yang aku miliki, lalu menyimpannya di dompetku. Senyumku mengembang, membayangkan bagaimana sikapnya padaku beberapa hari yang lalu saat aku sakit. Ah, aku tidak sakit sebenarnya. Hanya karena aku sedang mengandung, itulah kenapa aku mudah sekali lelah dan tidak bisa menahannya saat itu. Tapi aku bersyukur karena Taeyeon sama sekali tidak memanggil dokter atau bahkan memberitahu Kyuhyun apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Saat aku sedang memikirkan apa yang terjadi beberapa hari ini, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku sedikit terperanjat dan menolehkan kepala untuk melihat Kyuhyun yang ternyata sudah berada di belakangku. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya kemudian.

“Tidak sedang apa-apa,”

Geurae? Kurasa tadi aku melihatmu sedang menulis sesuatu”

Aku tersenyum tipis, “Bukan apa-apa, oppa” kataku berbohong.

Kyuhyun melepaskan pelukannya, lalu menarikku berdiri dan menghadapkanku padanya. “Geureom, kau mau pergi denganku?”

Eodi—“

“Ikut saja,” sahutnya dengan cepat sambil meraih tanganku, lalu mengajakku keluar dari rumah. “Masuklah” katanya kemudian setelah membukakan pintu mobil untukku.

Tanpa diminta dua kali, akupun melangkah masuk ke dalam mobil. Lalu Kyuhyun bergegas masuk juga dan kamipun segera meninggalkan kawasan rumah. Aku benar-benar tidak tahu kemana Kyuhyun akan mengajakku kali ini, dan aku enggan bertanya padanya. Aku lebih memilih untuk menikmati perjalanan ini meskipun tidak tahu tujuannya. Bukankah sudah cukup lama aku tidak pergi seperti ini bersama Kyuhyun?

“Kau tidak akan bertanya padaku, kemana aku akan membawamu pergi?” tanya Kyuhyun disela-sela mengemudinya.

“Tidak,” jawabku langsung. “Aku yakin kau akan mengajakku ke tempat yang bagus”

“Kenapa kau seyakin itu?”

“Melihat dari wajahmu,” kataku jujur. “Apa ini caramu meminta maaf padaku, oppa?”

Kyuhyun mengendikan bahunya. “Katamu aku harus membuat kesempatan itu ada, ‘kan? Aku sedang berusaha membuatnya sekarang, meskipun aku tak tahu apa kau akan memaafkanku atau tidak setelah ini”

“Bagaimana jika aku tidak memaafkanmu?”

“Aku akan mencoba sesuatu yang lain,” jawab Kyuhyun dengan cepat. “Aku banyak memikirkan kata-katamu saat itu, Sooyoung-ah. Kau benar, bahwa aku tidak terlalu berusaha untuk meminta maaf padamu. Kau istriku, dan seharusnya aku lebih mementingkanmu dari apapun”

“Hanya karena aku istrimu?” tanyaku memancing.

Kyuhyun menoleh ke arahku, lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya. “Menurutmu apa itu seorang istri, Sooyoung-ah?”

“Yah—yeoja yang selalu mendampingi suaminya? Tapi kenapa kau justru membalas pertanyaanku dengan pertanyaan, oppa?” kataku berusaha untuk mengelak. “Kau seharusnya menjawabku dulu, dan setelah itu bertanya padaku” kataku lagi.

“Ada pepatah mengatakan bahwa akan ada waktunya dalam hidupmu saat kau harus memilih untuk membalik halaman, menulis buku yang lain atau cukup menutupnya” kata Kyuhyun sambil mengarahkan pandangan kembali ke jalanan. “Aku sedang melakukannya sekarang,”

Kedua asliku saling bertaut, tidak mengerti maksud perkataannya.

“Kau mengerti apa maksudnya?”

Amado,” jawabku berbohong. “Mungkin jika aku seorang penulis buku atau cerita, aku akan mengerti maksudnya dengan tepat” Aku menambahkan.

Kyuhyun tertawa, begitupula aku. Tapi percakapan kami tidak berlanjut karena mobil tiba-tiba menepi dan kemudian berhenti. Aku cukup terkejut karena sekarang kami sudah berada diluar Seoul, tepatnya di Yangju. Perjalanannya benar-benar tidak terasa karena kami mengobrol meskipun hanya sebentar. Padahal Kyuhyun pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, tapi siapa yang menyangka jika dia sudah berhenti sekarang.

Eodi?” gumamku sambil menatap tidak percaya ke sebuah bangunan tinggi yang cukup dari tempat kami berada sekarang. “Oppa, kita dimana?” tanyaku pada akhirnya.

“Taman Jangheung,” jawab Kyuhyun memberitahu. “Tapi aku tidak akan mengajakmua ke taman itu. Aku ingin mengajakmu ke sana, ke Observatorium Songam”

“Observatorium?”

Kyuhyun mengangguk.

“Kenapa kau ingin mengajakku kesana?” tanyaku tidak tahu apapun.

Geunyang—“ Kyuhyun terlihat berpikir sesaat, lalu dia melanjutkan bicara. “Dulu, saat aku masih kecil… Aku bercita-cita menjadi seorang astronom, dan aku menyukai hal-hal yang berhubungan seperti itu”

Satu alisku terangkat, “Kau ingin menjadi astronom?”

Eo. Dulu tempat-tempat seperti inilah yang selalu aku sukai untuk dikunjungi,” kata Kyuhyun.  “Tapi cita-citaku tidak bisa aku wujudkan karena aku harus mengurus perusahaan, jadi aku menguburnya jauh meskipun terkadang aku masih ingin melakukannya”

“Melakukan apa?”

“Menemukan bintang, lalu menamainya dengan sesuatu yang aku sukai”

Aku tertawa kecil. “Kau seperti anak-anak, oppa

Geurae? Itu juga cita-citaku saat masih anak-anak, Sooyoung-ah” Kyuhyun menjawab godaanku. Dia mengalihkan pandangannya dariku, “Kau orang pertama yang aku beritahu tentang ini”

Jinjja?” celetukku terkejut.

Jinjjaro,” sahutnya seraya menoleh ke arahku kembali. “Tidak ada yang tahu sebelumnya”

Aku menatap lekat Kyuhyun, mencari kesungguhan disana. Lalu akupun tersenyum. Meskipun itu sesuatu yang kecil dan—mungkin, tidak terlalu penting bagi sebagain orang, tapi aku justru merasa sangat senang. Mungkin itu karena selama ini aku selalu mencari tahu sendiri segala sesuatu tentang suamiku, jadi saat dia memberitahuku sendiri tentang dirinya itu membuatku berharga sebagai istrinya. Tapi jujur, aku tidak menyangka hal-hal seperti ini bisa membuatku senang.

“Ayo kita keluar, dan masuk kesana” ajak Kyuhyun setelah kami sama-sama diam untuk beberapa saat. “Jangan khawatir, kita tidak perlu berjalan menaikinya. Ada cable car yang akan membawa kita”

Aku tertawa pelan. “Kau selalu menggodaku sejak kita pergi ke Jejudo jika kita berjalan di jalan menanjak seperti ini, oppa

Wae? An-joa?”

Aniyo. Geunyang,”

Kyuhyun menyunggingkan segaris senyum tipis, lalu dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Jantungku berdebar dan refleks aku memegangi perutku dengan sebelah tanganku yang bebas. Aku bertekad akan memberitahu Kyuhyun mengenai kehamilanku ini, dan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mungkin di atas sana, dengan bintang-bintang?

“Apa kau lapar?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Membuatku tersadar dari lamunan singkatku. “Kau terus memegangi perutmu,”

E—Eo, jokkeum” jawabku—terpaksa, berbohong.

“Ada restoran di atas. Kau mau kita makan dulu atau bagaimana?”

“Apa kita bisa menikmatinya tidak di restoran?”

Kyuhyun mengangguk. “Kita bisa pergi ke sky garden, dan menikmati makanannya disana. Aku akan berbicara pada pengelola gedungnya,”

Aku hanya memberinya tanggapan dengan anggukkan pelan dan sebuah senyuman terima kasih.

Kamipun naik ke cable car. Kyuhyun membantuku, dan terus menggenggam tanganku selama perjalanan menuju ke gunung Gyeongmyeongsan dimana Observatorium Songam berada. Pemandangan disekitar gunung ini sangat bagus meskipun hari sudah mulai gelap. Aku memang tidak pernah melihat pemandangan seperti ini—pemandangan gunung, saat gelap jadi bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dan aku cukup terkesan. Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba suamiku itu melepaskan jasnya dan memakaikannya padaku.

“Udaranya dingin,” kata Kyuhyun singkat.

Gomawoyo,”

Kyuhyun merapatkan tubuhnya padaku, lalu memindah tangannya dari yang semula menggenggamku sekarang menjadi merangkulku. Apa yang dia lakukan ini membuat jantungku kembali berdebar kencang meskipun aku berusaha untuk tetap bersikap biasa. Beberapa kali aku melirik ke arah Kyuhyun yang sedang menikmati pemandangan dan suasana saat ini, dan aku tidak bisa menahan senyumku. Rasanya benar-benar aneh karena kami bertengkar hebat belum lama ini, tapi sekarang kami justri seperti ini. Apa semua pernikahan berjalan seperti pernikahanku dan Kyuhyun? Bertengkar, lalu berbaikan dengan sendirinya.

“Kita sampai,” celetuk Kyuhyun tepat saat cable car-nya berhenti di suatu tempat. “Kajja,” ajaknya kemudian.

Eo,” kataku sambil mengikuti langkahnya keluar dari cable car dan berjalan menuju bangunan yang sebelumnya aku lihat dari kejauhan. “Apa ini tempatnya?”

Kyuhyun mengangguk. “Disana sky garden-nya” katanya memberitahuku. “Dari taman itu, kita bisa melihat bintang-bintang dengan mata telanjang”

“Tanpa teropong?”

“Tanpa teropong,” jawab Kyuhyun. “Kau pasti akan menikmatinya. Ayo,” Dia meraih tanganku, lalu mengajakku ke arah sky garden dengan semangat.

Setelah beberapa saat berjalan, kami sampai di sky garden. Kyuhyun benar, dari tempat ini bintang-bintangnya sangat jelas terlihat meskipun tidak ada teropong. Aku benar-benar takjub melihatnya, bahkan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari bintang-bintang di atasku. Rasanya seperti aku sedang dikeliling oleh banyak bintang yang seluruhnya saling memancarkan cahaya ke arahku.

Eotte?” celetuk Kyuhyun. Membuatku menolehkan kepala ke arahnya. “Kau suka?”

Em. Neomu joahaeyo,” Aku menjawab jujur.

Oh! Lihat itu,” Kyuhyun mendongakkan kepala sambil menunjuk ke satu arah. “Itu rasi bintang Andromeda,” katanya.

Mataku menatap ke arah yang ditunjuk oleh suamiku itu dan melihat beberapa bintang yang berkumpul disana. Karena aku benar-benar tidak tahu mengenai astronomi, jadi aku akan memilih untuk mendengarkan Kyuhyun saja. Mengingat cita-citanya ingin menjadi astronom dan diapun menyukai bintang, sudah pasti dia banyak tahu mengenai benda langit itu, ‘kan? Juga segala hal yang berkaitan tentangnya.

“Sooyoung-ah, itu bintang Cappella. Itu Sirius, bintang yang paling terang” serunya masih menunjuk ke arah langit. “Ah, itu Cassiopeia

“Aku tahu itu” Aku ikut berseru sambil menunjuk ke arah utara. “Polaris,”

Kyuhyun tersenyum, lalu dia mengangguk.

“Bintang apa yang paling kau sukai, oppa?” tanyaku ingin tahu.

Vega,”

Waeyo?”

Kyuhyun terlihat menerawang, tapi pandangannya menatap ke arah satu bintang yang cukup terang di langit utara. “Vega itu bintang yang cantik, dengan warna biru-putihnya”

“Itu memang cantik,” komentarku saat melihat bintang yang dimaksud Kyuhyun meskipun aku tidak yakin apa benar bintang itu atau bukan. Tapi satu-satunya bintang yang terang dan berwarna biru-putih di sebelah utara adalah bintang itu. “Hanya itu alasannya?”

“Kau tahu Tanabata?”

“Tanabata?” ulangku terkejut karena tiba-tiba Kyuhyun menyebutkan tentang festival bintang yang diadakan di Jepang. “Em. Wae?”

“Itu ada hubungannya dengan bintang Vega dan bintang Altair,” sahut Kyuhyun tanpa menatapku. “Di Jepang, Vega adalah Orihime, putri Raja Langit yang pandai menenun. Sementara Altair adalah Hikoboshi, seorang penggembala sapi. Kau tahu cerita tentang Putri Jinkyeo dan Kyeonwu, ‘kan?”

“Cerita tentang kenapa ada perayaan Chilseok maksudmu?”

Kyuhyun kembali menganggukkan kepala. “Chilseok, Tanabata. Itu dirayakan di hari dan bulan yang sama untuk merayakan bertemunya kembali Putri Jinkyeo dan Kyeonwoo, Orihime dan Hikoboshi, Vega dan Altair setelah dipisahkan”

Aku diam saja. Entah kenapa pikiranku sekarang justru melayang pada Kyuhyun dan Eui Jin. Apa dia secara tidak langsung sedang membicarakan dirinya dengan yeoja itu atau bagaimana? Tapi mereka sama sekali tidak seperti cerita yang Kyuhyun sebutkan itu, lalu kenapa aku merasa seperti itu? Ada sesuatu yang salah denganku, sepertinya. Karena aku mulai terus memikirkan suamiku dengan yeoja lain, yang justru menjadi bumerang untuk diriku sendiri yang berhubungan dengan emosiku.

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sebisa mungkin aku menghilangkan perasaan tidak nyaman yang mulai muncul tanpa alasan, tapi aku sulit melakukannya. Semakin aku mendengarkan cerita Kyuhyun tentang bintang Vega dan bintang Altair itu, justru membuatku semakin membayangkan itu adalah mereka. Aku merasa jika aku benar-benar salah telah berada diantara mereka dan memisahkan mereka. Kurasa aku harus melakukan sesuatu sekarang karena aku tak bisa terus seperti ini.

__

Normal POV

Terlihat, sebuah mobil berwarna putih memasuki salah satu gedung perkantoran di Yongsan-gu. Setelah memarkirkan mobil itu dengan mulus, pengemudinya pun bergegas keluar dan memasuki gedung itu dengan langkah biasa. Dia seorang yeoja dengan penampilannya yang rapi, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna coral yang dipandu dengan rompi berwarna putih tulang. Yeoja itu, Lee Eui Jin. Satu tangannya memegang tas kerjanya, sementara tangan yang lainnya sibuk memegangi ponsel karena saat ini dia sedang menerima telepon dari salah satu temannya yang kebetulan mengetahui semua ceritanya.

“Jadi aku benar, ‘kan? Tujuanmu kembali ke Seoul itu memang karena Cho Kyuhyun,” sindir Jung Soyeon, teman kuliahnya yang sekarang bekerja sebagai jaksa di kota Seowon. “Kau sama sekali tidak memberitahuku awalnya,”

“Kalau kau tahu dari awal, kau pasti melarangku”

“Tentu saja. Michesseo? Cho Kyuhyun sudah menikah sekarang,” tegas Soyeon.

“Aku juga,” Eui Jin merespon dengan datar.

Soyeon menghela napas panjang. “Kalau aku tidak mengetahuinya sendiri, kau tetap akan merahasiakannya dariku?”

“Kau tidak akan mendukungku untuk hal ini,”

“Tentu saja aku tidak mendukung”

Eui Jin menundukkan kepalanya sesaat. Permasalahan rumah tangga memang selalu membuatnya frustasi. “Aku tidak pernah mencintai Do Yeon oppa” kata Eui Jin lirih sambil menekan password ruangannya, lalu memasukinya begitu pintunya terbuka.

“Hanya karena itu?”

“Kau tidak mengerti, Soyeon-ah” Dia menghela napas dalam-dalam. “Pernahkau kau jatuh cinta teramat sangat pada seorang namja, tapi dipaksa hidup dengan seseorang yang sama sekali tidak kau cintai?”

“Eui Jin-ah,”

“Rasanya benar-benar…” Napas Eui Jin tersedak. Matanya mengerjap, menahan genangan air yang nyaris tumpah disana. Untuk saja dia sudah di ruangannya sekarang, jadi tidak ada yang melihatnya seperti ini. “Selama ini aku sudah mencoba, Soyeon-ah. Enam tahun. Aku sudah hidup selama enam tahun dengan orang yang tidak aku cintai, jauh dari keluarga, sahabat, ditambah pekerjaan yang melelahkan. Aku bahkan belum punya anak” pekiknya pilu.

Soyeon mendesah pelan, tapi tidak ada yang bisa dia katakan untuk sahabatnya itu. Mungkin jika dia ada di depan Eui Jin, dia akan langsung merangkulnya, mencoba untuk berempati.

Eui Jin melanjutkan bicaranya, “Sejak dulu, aku selalu bermimpi untuk memiliki anak. Karena aku pikir, mungkin dengan adanya anak, aku bisa belajar untuk mencintai suamiku. Tapi kenyataannya?”

“Kau harus bersabar untuk sesuatu yang seperti itu, Eui Jin-ah

“Aku lelah, Soyeon-ah. Aku ingin pulang ke Korea dan juga berharap semoga ada celah untuk menggapai cinta yang aku tinggalkan enam tahun yang lalu” tutur Lee Eui Jin menahan isakannya sendiri. “Tapi ternyata aku terlambat. Dia sudah menikah, dan aku kembali terpuruk. Aku patah hati untuk kedua kalinya,” Dia tertawa getir.

Soyeon diam saja.

“Orang yang aku cintai menikahi yeoja lain”

“Katamu mereka dijodohkan,”

Eo. Mereka menikah karena dijodohkan, dan tidak ada cinta sama sekali. Saat aku tahu tahu cerita dibalik pernikahan Kyuhyun, sepertinya harapan itu masih ada” ucapnya dengan senyuman penuh arti.

Ya! Meskipun mereka menikah tanpa cinta pada awalnya, bukan berarti mereka tidak akan saling mencintai. Jangan terbawa suasana, Eui Jin-ah

“Salahkah jika aku ingin hidup bahagia dengan orang yang aku cintai? Aku punya banyak cerita dan kenangan dengannya”

“Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana posisi istrinya? Bagaimana jika itu terjadi padamu?”

Eui Jin tersenyum tipis, “Dia adalah orang yang ingin mempertahankan, bukan? Sedangkan aku adalah orang yang ingin merebut. Bagaimana aku bisa memikirkan posisi itu?”

“Eui Jin-ah, kau benar-benar sudah gila”

Geurae, aku memang sudah gila. Aku gila karena aku jatuh cinta,”

Geureom, apa kau sudah menceritakan masalahmu pada Kyuhyun?”

“Sudah. Dia tahu semuanya,” jawab Eui Jin sambil melangkah ke samping jendela dan menatap keluar gedung. “Aku tahu hubungan kami salah, akulah yang paling bersalah. Tapi, setiap kali aku bersamanya, hatiku merasa bahagia”

Soyeon diam sesaat. Dia bimbang harus memberi pesan sahabatnya ini atau tidak. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya diapun memutuskan untuk berbicara. “Eui Jin-ah, kau tahu—“ Dia berhenti sesaat untuk menghela napas. Lalu dia melanjutkan, “Sering kali, yeoja itu pergi ke masa lalunya hanya untuk mengulang kembali romantisme dengan mantan kekasih. Awalnya mereka memang bahagia, tapi yeoja itu tidak menyadari bahwa terkadang dia tidak pernah kembali”

Eui Jin mengerutkan keningnya, “Aku tidak mengerti apa maksudmu”

“Pikiran itu,” kata Soyeon tanpa menjawab perkataan Eui Jin. “Aku tidak mau menjadi sahabat yang hanya diam saja saat sahabatnya melakukan sesuatu yang salah. Aku ingin kau bahagia, tentu saja. Tapi bukan dengan cara yang seperti itu,”

“Soyeon-ah,”

“Lee Eui Jin. Aku tahu bahwa sebenarnya kau bukan yeoja yang seperti itu,” kata Soyeon terdengar lebih sabar. “Kau hanya perlu belajar untuk merelakan. Itu yang terpenting”

“Aku tidak—“ Perkataan Lee Eui Jin terpotong karena ketukan pelan di pintu ruangannya. “Aku akan meneleponmu lagi nanti,” katanya sebelum menutup sambungan teleponnya dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya.

Byeonhosa-nim, seseorang mencari Anda” ucap Jae Young, salah satu orang yang bekerja dengannya.

Nuga?”

“Seorang yeoja. Namanya Choi Sooyoung-ssi,”

Satu alis Eui Jin terangkat, “Choi Sooyoung?”

Jae Young mengangguk. “Katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Anda, dan itu penting”

Ah,” Eui Jin sempat bingung harus memberi tanggapan bagaimana. Tapi kemudian diapun menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kalau begitu, biarkan dia masuk kesini”

Ne, algeseumnida

Eui Jin kembali menyunggingkan senyumnya saat Jae Young membungkuk ke arahnya dan bergegas pergi untuk menemui Sooyoung. Setelah beberapa saat, namja itu kembali datang dengan Sooyoung di belakangnya dan segera mempersilahkannya masuk. Awalnya Sooyoung terlihat ragu, tapi kemudian—setelah dia menenangkan dirinya, diapun mengetuk sekali pintu ruangan Eui Jin lalu melangkah masuk begitu pemilik ruangannya mempersilahkannya.

“Sooyoung-ssi” seru Lee Eui Jin sambil menghampiri Sooyoung dan memberinya pelukan singkat. “Jal jinaesseoyo?”

Sooyoung tersenyum tipis, “Jal jinaesseoyo, Eui Jin-ssi. Neoneun?”

Nado, geureom” Eui Jin langsung menjawab. “Anjaseyo,” katanya mempersilahkan meskipun dengan sedikit gugup.

Ah, ne” sahut Sooyoung yang langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh Eui Jin. Diapun gugup, tapi dia berhasil menyembunyikannya dengan baik.

Berbeda dengan Eui Jin. Kedatangan Sooyoung ke kantornya kali ini benar-benar tidak terduga dan mengejutkannya. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya meskipun Sooyoung bisa memakluminya. Sooyoung justru merasa sedikit bersalah karena mengejutkan Eui Jin, dan bisa merasakan sikapnya yang sedikit kaku. Kali ini rasanya sangat berbeda dibanding pertemuan mereka terakhir kali beberapa minggu lalu.

“Sebelumnya, aku minta maaf, Eui Jin-ssi” kata Sooyoung memulai pembicaraan. “Aku datang kesini tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku benar-benar tidak sopan,”

Gwenchanayo,” jawab Eui Jin memaksakan senyumnya. Jujur, dia sangat tidak ingin bertemu dengan Sooyoung sekarang. Bukan hanya karena dia adalah yeoja yang selalu membuatnya cemburu belakangan ini, tapi juga dia adalah yeoja yang dengan sah telah memiliki namja yang dia cintai. “Kau ingin minum apa, Sooyoung-ssi?” tanya Eui Jin demi kesopanan.

“Air putih saja,”

Jamkkamanyo,” Eui Jin menekan tombol intercom dan memesan segelas air putih untuk Sooyoung.

Selama beberapa menit, kedua yeoja cantik itu saling diam dan menampilan pemandangan yang sangat kontras. Sooyoung yang berambut panjang sebahu, hanya memakai make up tipis, bersikap sangat tenang. Sedangkan Eui Jin, mengikat rambut panjangnya dengan rapi dengan make up lengkap menghiasi wajah anggungnya. Rasa cemas yang tidak terlalu terlihat terlukis di wajahnya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja pelan untuk meredam rasa gugupnya. Dia benar-benar tidak tahu apa tujuan Sooyoung datang kesini, dan dia tidak dalam posisi ingin bertanya meskipun dia juga penasaran.

“Ruanganmu cantik, dan mengesankan” komentar Sooyoung setelah diam cukup lama. “Seperti style-mu,”

Eui Jin kembali memaksakan senyumnya. “Style-ku?”

Sooyoung mengangguk. “Kyuhyun oppa memberitahuku sedikit banyak,” katanya singkat. Dia menunduk sesaat, lalu kembali mendongakkan kepalanya. “Aku turut berempati dengan kondisimu, Eui Jin-ssi. Kalau ada di posisimu, akupun akan merasakan hal yang sama. Bagaimana sakitnya bertahan dalam pernikahan tanpa—“ Dia menelan ludah. “—cinta,” lanjutnya.

Sooyoung mulai merasa gentar, khawatir air matanya akan meruap. Beruntung saat itu terdengar suara pintu diketuk. Seorang yeoja masuk membawa nampan dengan segelas air putih. Dia meletakkannya di meja Eui Jin, tepat di hadapan Sooyoung. Sampai yeoja itu keluar, baik Sooyoung maupun Eui Jin kembali saling diam.

“Silahkan diminum dulu, Sooyoung-ssi

Gomawoyo,” Sooyoung mengambil gelas, meminumnya dua teguk lalu mengembalikan gelas itu ke tempatnya. Dia kembali menguasai diri. Detak jantungnya yang semula berdegup kencang mulai kembali normal. “Jadi… apa kau mencintainya Eui Jin-ssi?” tanyanya kemudian dengan santai.

Ne?”

“Apa kau mencintainya? Kyuhyun oppa, maksudku”

Seketika wajah putih Eui Jin memucat. Dia menatap yeoja di hadapannya yang telihat santai dan tersenyum. Eui Jin tidak menyangka jika Sooyoung menanyakan hal seperti itu di depannya, dan itu justru membuatnya tergagap. Dia belum siap untuk menjawab. Dia lebih memilih untuk dicaci maki karena telah menganggu suami orang daripada ditanya dengan nada santai. Pertanyaan itu kembali terulang dikepalanya. Apakah dia mencintai suami yeoja itu?

-TBC-

Eotte?

Semoga suka ya^^

Oh ya! Mungkin aku lebih lama update FF ini, jadi mohon ditunggu yah^^

Well, jangan lupa komentarnya knightdeul^^

Gomawo

65 thoughts on “What Makes A Love -8-

  1. njiiiiiir udah seru” baca, malah TBC yang muncul 😣😣
    plis thor next jangan lama-lama, udah lumutan nungguin…
    kasian juga ya jadi soo eon,kyu ga pernah peka 😵😵 nangis mulu tau baca ff ini

  2. hazara says:

    Omegadd thor ff nya greget
    dilanjut gih, udah ngga sabar, huh kapan coba si pengganggu itu ilang, njir nyebelin eujin wkwk, lanjut thor, updatenya buruan ya wkwk ngga sabar ☺

  3. Nyesek ni… jgn smpe soo yg mundur ya thor… klo smpe soo mundur kita demo lo thor.. hehe
    Kesel soo gk jdi blg klo die hamil..
    Mkin seru thor mkiiiiinn pnasaran
    next ny d tnggu bgt..
    fighting thor

  4. Inka Rindy says:

    ah anjir udah tbc aja thor, karna hamil jd lebih berani yaa syoo buat ngadepin euijin~
    Agak kesel sama tulisam tbc nya padahal udah nunggu seminggu lebih T.T hehe tp gapapa semangat lanjut ya thoor. Tp jangan lama2 💟

  5. hyunsoo says:

    Adch makin rumit aja ni………..
    Eu jin jhat bgt sich….,..
    Kk soo blum kasi tau kyu klo hamil.
    Smga di part slnjutnyaakin seru.
    Kurang greget ma penyelesaian masalah kyuyoung thor kirain bklan lbh dramatis tp gpp da bgus kknext part jgn lma2 ya…..

  6. Ester says:

    Ya soo kenapa ngak langsung kasih tau aja ke kyu,aduh soo mau ngelakuin apa ya pas tau lee eun jin masih cinta sma kyu,jangan bilang soo mau ngalah andweee soo kan lagi hami….
    Next unni aku senang banget baca ff nya

  7. aku kepingin yaa kyu
    tegas memlih,,
    jangan dua2 nyaa dijalanin hadeuhhh sebell,,

    tinggalin aja sekaliann soo kyuhyun yaa biar tau rasaa kesell sumpahh sma kyu disini engga peka bnget jdii cwoo ,..

    pingin cpet2 ngungkapin perasaan masing2 sebenernya mereka sling cintaa

  8. apriliarist says:

    Huwaaaaa apa yang terjadi selanjutnya sama soo n kyu ?? Gregetan sendiri sama lee eui jin. Soo cepet2 bilang ke kyu dong kalo km sudab hamil. Heeehhh.. greget banget deh

  9. hiyaaa! *lebay* akhirnya T.T bolak balik KSI cuma buat liat ff ini udah dateng apa belom :,( huhuhu
    makin klimaks ya, dagdigdug loh pas baca awal sampe ketengah, dan beruntungnya sooyoung sama kyuhyunnya udah baikan.. yeheeey \^^/
    huh kesel sih pas euijin ngambil hapenya kyuhyun, apaan coba sih itu makhluk ya…
    sooyoung nunggu apa sih? tinggal bilang hamil aja rariweuh pisan T.T kirain pas taeyeon ngamuk bakal keceplosan ngasih tau sooyoung hamil, degdegan takutnya sesuatu terjadi sama debaynya hahaha
    coba sih kyuhyun bawa sooyoung ke dokter…
    tapi asli kesel banget pas lagi serius baca part terakhir itu tetiba ada’tbc’-_- sa ae kak bikin orang penasaran😄 part depan pasti seru pas bagian sooyoung-euijin😄 bilang kek kalo sooyoung tuh cinta sama kyuhyun dan bilang lagi hamil anak kyuhyun, euuuuhhh pasti sakit hati si euijin hahahahah😄
    kak jan lama2 kek updatenya hahaha *ditimpuk* *nggataudiri*
    semangat kaks ditunggu terus FF ini T.T

  10. Sisca says:

    Seneng banget ff nya udah di post aku langsung baca
    Ceritanya makin seru dan buat aku nangis pas bagian sooyoung mau dateng ke kantor kyu tapi ada mantan kyu itu:(
    semoga kyuyoung bersatu dan happy ending yaa:’)
    Ditunggu banget part selanjutnya thor semangaaattt^^

  11. Haaaiii aku rina, maaf baru bisa komen karena aku sempet lupa pw wp aku. Trus sekarang bisa kebuka lagi🙂
    Sumffeh baca ff ini rasanya pengen ngegetok kepala kyuhyun, kenapa ga pernah peka siihh.. dan kyuhyun itu serakah ya suka sma dua cewe sekaligus.. hadeeuuhh trus sooyoung kapan ngasih tau kyuhyun.. ditunggu kelanjutannya

  12. hiyaaaaaaaaa! *lebay* akhirnya T.T bolak balik KSI cuma buat liat ff ini udah dateng apa belom :,( huhu
    makin klimaks ya, dagdigdug loh pas baca awal sampe ketengah, dan beruntungnya sooyoung sama kyuhyunnya udah baikan.. yehey \^^/ kesel sih pas euijin ngambil hapenya kyuhyun, apaan coba sih itu makhluk yak
    sooyoung nunggu apa sih? tinggal bilang hamil aja rariweuh pisan T.T kirain pas taeyeon ngamuk bakal keceplosan ngasih tau sooyoung hamil, degdegan takutnya sesuatu terjadi sama debaynya hahaha😄
    coba sih kyuhyun bawa sooyoung ke dokter. tapi asli kesel banget pas lagi serius baca part terakhir itu tetiba ada’tbc’-_- sa ae kak bikin orang penasaran😄 part depan pasti seru pas bagian sooyoung-euijin😄 bilang kek kalo sooyoung tuh cinta sama kyuhyun dan bilang lagi hamil anak kyuhyun, euuhhh pasti sakit hati si euijin haha😄
    kak jan lama2 kek updatenya hahaha *ditimpuk* *nggataudiri*
    semangat kaks ditunggu terus FF ini T.T

  13. ok msh dgn kyu yg kurang peka dan telat peka, itu udh bikin menguras kesabaran. jgn sampe soo dtg ke kantor eui jin buat ngelepas kyu, semoga buat negasin ke dia kalo kyu udh pnya istri yg lg hamil. pfftt.. malu2in emg kyu msh belom tau soo hamil. suami apa itu :” sedih

  14. sie says:

    Annyeong…
    Hiaaatttt… hatchaaa….. 💥aku akan mengulitimu Kyu-piiillll….😠 (kyu yg banyak upil nya..)
    Busyeet dah, baca “WMAL -8- ” serasa naek kora2, bawaannya pengen ngumpat terus nih mulut, gemes2 kesel gmanaa gtu..😡
    Bener2…. 😤😥 gak rela Kyupil Cheating on Soo, mana Soo lgi hamil. Semoga Soo bisa membasmi eui jin dengan cara yg bermartabat dan keren mampus, 😈sehingga eui jin benar2 kalah telak😎.
    Semangat terus nih buat soocyoung-ssi, beri kami, para readers happy end…. 😼
    Gomawo… 😄

  15. Asli campur aduk perasaan baca ff ini. Kapan kyu bisa tegas dg perasaannya. Kesel banget sama eui jin. Dan juga secepatnya sooyoung ngasih tau kyu klo dia hamil. Next partnya ditunggu. Jangan lama2 ngepost x.
    Tetap semangatttt nulis buat authornim…

  16. Aihhh greget sama part ini… But nyesek, senyum” sendiri Dan Semarang buat greget lagi 😡
    Jgan blog sooyoung yang akhirnya mundur Dari kehidupan kyuhyun…
    Ntr pas sooyoung Sudah ngalah malah kyuhyun tau kalo sooyoung hamil anak nya… Heeem gak sabar nunggu next chapter nya eonni… Semangat eonni nulis nya 😊😆💪

  17. Mrs. Lee says:

    Tidak tidak!!😱😱
    Tidak Soyoung~ah jangan lepaskan Kyu…
    Jebal…
    Bertahanlah demi anak di perutnu!!

    Ps: author jangan lama2…

  18. dekyusoo says:

    eui jin mah emang ngajak ribut ya…
    kyu juga tinggal bilang kalo suka sama soo..
    akk.. soo juga, sampe kapan, sampe kapan mau disembunyikan?
    akk.. pada salah semua lah ini mah..
    taeyeon, Kasih tau kyu dong, cepetan..
    ditunggu ya nextnya..
    selalu semangat author..

  19. Kapan sih kyu bisa sadar dan lebih milih soo dari pd masa lalu nx??? Trz soo hrs sampai kpn menyembunyikan kehamilan nx? Apakah soo akan merelakan kyu dg nenek lampir itu,,,,, smga kyu dapat mempertahankan soo, taeyeon bantu buka kek mata hati kyuhyun. Next,,,,

  20. ajeng shiksin says:

    Kenapa si kyuhyun sikap nya bikin kesel si. Tinggal bilang aja ql dy Cinta sama sooyoung. sampe kapan sooyoung sembuyiin kehamilan nya . Trus juga penasaran . Apa yg diomongin sooyoung sama nenek sihir.. ditunggu kelanjutan nya ia

  21. army says:

    Bacanya bener” tegang…. apa yg sooyoung ingin sampaikan? Udah banyak yg sooyong mengalah .. jgn biarin euijin bersatu lagi sama kyu

    ditunggu part selanjutnya

  22. mongochi*hae says:

    aishhhh ak jd gk sabar nunggu next part..
    aplg dg keputusan soo yg mnemui eun jin..
    ap dia bniat mundur dr hidup kyu ?
    andwae !!!!

    aigooo ak kezzzzzzzeeeel bgt am n cwe. suka bgt ganggu rumah tangga orang

    next part dtunggu dan kpn kyu thu klo soo hamil anakny ?

  23. hiyaaaaaaaaa! *lebay* akhirnya T.T bolak balik KSI cuma buat liat ff ini udah dateng apa belom :,( huhuhu
    makin klimaks ya, dagdigdug loh pas baca awal sampe ketengah, dan beruntungnya sooyoung sama kyuhyunnya udah baikan.. yeheeey \^^/
    huh kesel sih pas euijin ngambil hapenya kyuhyun, apaan coba sih itu makhluk ya…
    sooyoung nunggu apa sih? tinggal bilang hamil aja rariweuh pisan T.T kirain pas taeyeon ngamuk bakal keceplosan ngasih tau sooyoung hamil, degdegan takutnya sesuatu terjadi sama debaynya hahahahaha
    coba sih kyuhyun bawa sooyoung ke dokter…
    tapi asli kesel banget pas lagi serius baca part terakhir itu tetiba ada’tbc’-_- sa ae kak bikin orang penasaran😄 part depan pasti seru pas bagian sooyoung-euijin😄 bilang kek kalo sooyoung tuh cinta sama kyuhyun dan bilang lagi hamil anak kyuhyun, euuuuhhh pasti sakit hati si euijin hahahahah😄
    kak jan lama2 kek updatenya hahaha *ditimpuk* *nggataudiri*
    semangat kaks ditunggu terus FF ini ^^ hwaiting hwaiting😄

  24. hiyaaaaaaaaa! *lebay* akhirnya T.T bolak balik KSI cuma buat liat ff ini udah dateng apa belom :,( huhuhu
    makin klimaks ya, dagdigdug loh pas baca awal sampe ketengah, dan beruntungnya sooyoung sama kyuhyunnya udah baikan.. yeheeey \^^/
    huh kesel sih pas euijin ngambil hapenya kyuhyun, apaan coba sih itu makhluk ya…
    sooyoung nunggu apa sih? tinggal bilang hamil aja rariweuh pisan T.T kirain pas taeyeon ngamuk bakal keceplosan ngasih tau sooyoung hamil, degdegan takutnya sesuatu terjadi sama debaynya hahahahaha
    coba sih kyuhyun bawa sooyoung ke dokter…
    tapi asli kesel banget pas lagi serius baca part terakhir itu tetiba ada’tbc’-_- sa ae kak bikin orang penasaran😄 part depan pasti seru pas bagian sooyoung-euijin😄 bilang kek kalo sooyoung tuh cinta sama kyuhyun dan bilang lagi hamil anak kyuhyun, euuuuhhh pasti sakit hati si euijin hahahahah😄
    kak jan lama2 kek updatenya hahaha *ditimpuk* *nggataudiri*
    semangat kaks ditunggu terus FF ini T.T

  25. ry-seirin says:

    Biar ada moment Kyuyoungnya dsni tpi ttep aja sebel sma abisan Eun jin egois bgt gk bsa ngrti sikon org mlah mntingin diri sendiri.
    Kyu mah mkin plin plan aja gk Gentle bgt jd cowok gk mau nyakitin org tpi sring bikin PHP.
    Mkin sini asli ceritanya nglir kya Drakor gto coba aja bnran ada Drakor yg Castnya Kyuyoung tak pantengin trus to.
    Pnsaran apa yg mau d lkuin Soo d kantor Eun jin n apa jwban dia.
    Next…next jg klmaan srasa d php ni.

  26. syiyoung says:

    aku suka bgt feelnya part ini.. berasa campur aduk gitu.. semoga eun ji mengalah

    btw itu kapan kabar soo eon hamil ketahuan.. gereget bgt soalnyaa..

    next part juseyooo

  27. Parkrira says:

    aaa bikin baperrr ni part,,, kapan sih kyu tau soo hamil anaknya???? lee eui jin juga makin menjadi2 nempelnya ama kyu… next part thor jangan lma2 yaa baper nunggu nya😉😀

  28. Alurnya di percepat juseyoo.
    Aku jadi kesel sendiri baca nya. Coba jangan terlalu banyak masukin konfliknya, diperbanyak part Kyuyoung yang lovey dovey nya

  29. ellalibra says:

    Trll berlarut” mslh kyuhyun sm ms lalu ny eon nyebeliin yakin … Soo blm juga ngasih tau kehamilan ny ma kyu y gimana reaksi kyu??? G sabar eon… Kira” apa yg mau diomongin soo sm eui jin y???? Neeeeeeext fighting eon

  30. Youngra Park says:

    aish jinjayo gue emosi eoni bener kan dugaan gua kalau si pho itu gk tau diri dia bener2 mau ngerusak rumah tangga kyuyoung rasany gue mau hancuri muka tembokny itu dan gak tau malu itu sumpah emosi bgts kapan baikny nih hubungan kyuyoung klau msih ad dia
    baru sooeoni jga gak mau ksih tau kyuppa perasaan sooeoni ke kyuppa kya apa dan gk ksih tau kalau di hamil aish jinja coba spa gtu yg ksih tau biar kyuppa sadar sama apa yg di rasaain sooeoni biar dia menjauhh dri eunji itu sooeoni aj sdh gk brhubungan dgn masa laluny masa kyuppa bsa bebas berhubungan dgn masa laluny emosi sumpah kalau begini terus mereka bisa cerai seblum kyuppa tau kalau sooeoni hamil plis eoni sdh 3 part ceritany seperti ini jgn terlalu lama berlarut2 dengan masalah yang sama kapan selesainy tuh masalah hubbungan kyuyoung jga gk maju2 sumpah next part di tnggu ku harap bisa cepat di post ne aku menunggu part selanjutnya

  31. Jung Minyoung says:

    Annyeong. Sebelumnya buat author aku mau minta maaf sebesar-besarnya karna selama ini udah jadi siders. Jujur dari part 1 aku selalu nungguin ff km dipost karna serius aku tertarik bgt sama alur cerita yg km buat. Dan terus terang aku terus mikirin kenapa aku gak dari kmren mengapresiasikan antusiasme aku ke ff km lewat komentar. Dan setelah mengumpulkan keberanian akhirnya aku komen di part 8 ini.
    Aku mikir dgn aku jadi siders entah kapan tapi pasti suatu saat author bakal bete sama siders terus ff ini bakal km protect. Dan waktu mikir itu sumpah aku takut bakal gak bisa lagi baca ff ini. Serius bingung mau kasih komentar apa karena ff nya bagus bgt. Rasanya emosi aku tuh ikut jungkir balik juga waktu baca ff ini. Perlu author tahu kalau aku nungguin bnget ff ini di post sampai aku buka blog kyuyoung terus buat mastiin ff nya publish. Sekali lagi aku minta maaf buat author. Dan ditunggu buat next part nya. Fighting!!

  32. younger says:

    kesel da…. udah atuh si eun ji jangan ganggu hubungannya kyuyoung… cukup masalh mereka aja yang belum selesai bikin orang kesel apalagi sooyoung mau sampai kapan dia nyembunyiin kehamilannya ikhhh meni apalgi kyuyoung tuh udah saling mencintai tinggal ngukapinnya aja …..jauh jauh lah lu eun ji …………please kak kelajuntanya di tu ggu geregetan parah

  33. Elis sintiya says:

    kenapa setiap aku baca ff ini pasti jantungku dag dig dug bgt.. rasanya kaya masuk kedalam ceritanya.. dan oh my got sumpah alu bener2 gereget sama Sooyoung rasanya tuhh kepengan dia ngomong sejujurnya kalo dia itu lagi mengandung.. dan aku kesel banget sama si eui jin itu rasanya pengen ngejambak rambutnya biar rontok dan biar gundul… dia itu perusak hubungan rumah tangga orang dan juga si Kyuhyun orangnya plin-plan nihh.. harusnya dia mementingkan Sooyoung ketimbang cewe lain!!!! next partnya di tunggu bgt.. semangat thor

  34. Dian says:

    KYUHYUN BEGO, LEE EUI JIN KEGATELAN, SOOYOUNG GA BISA TEGAS. GUE KESEL ANJIR BACA INI PENGEN SEGERA ADA BAGIAN HAPPY NYAAA

  35. ih aku fikir author gabakal update lagiiii aku suka banget ff ini ih bagus banget aku gasuka ama eujin tuh dasar wanita ular hahahhaha cepet update ya thor aku penasaran semangat terussss ❤❤❤❤❤❤❤

  36. Rchoi says:

    Tbc? Iihh kesel banget gua. Si euijin itu enyahin aja. Bunuh aja. Buat dia ketabrak mobil atau apa kek. Kesel banget gua. Kyuhyun juga jadi laki kok begitu amat. Kalo gua jadi sooyoung, udah gua hantam laki kayak begitu

    Anyway, next part ditunggu. Jangan terlalu lama ya. Berasa nunggu drakor soalnya uhuhuu

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s