What Makes A Love -9-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast                :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author           :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Sooyoung POV

“Sooyoung-ah, kau yakin akan melakukan ini?” tanya Taeyeon saat kami baru saja sampai di depan gedung perkantoran di Yongsan-gu. Itu adalah gedung dimana Lee Eui Jin bekerja setiap harinya. “Kau tidak perlu sejauh ini. Lihat keadaanmu sekarang,”

“Dia tidak bahagia bersamaku, Taeyeon-ah” kataku memaksakan senyum. “Dia tidak mencintaiku” Aku menambahkan.

“Bukankah katamu dia sudah berubah?”

“Memang,” jawabku langsung. “Tapi itu karena aku adalah istrinya, bukan yeoja yang dia cintai”

“Itu sama saja—“

“Tidak, itu tidak sama” Aku menyahut dengan cepat.

Taeyeon diam sesaat, seakan-akan sedang berpikir untuk mengatakan apa lagi padaku, untuk mencegahku melakukan apa yang ingin aku lakukan ini. “Sooyoung-ah, bagaimana kau bisa sangat yakin jika Kyuhyun-ssi masih mencintai yeoja itu?”

Aku berpikir sejenak. Sejak dulu, aku memang selalu gagal dalam masalah cinta. Tapi terlepas dari itu, masalah cintaku dengan Cho Kyuhyun-lah yang terasa paling berat—bahkan lebih dari masalahku sebelumnya. Mungkin itu karena aku dan Kyuhyun sudah menikah jadi rasanya benar-benar lebih berat, mengingat kami tidak bisa membuat keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Apa yang terjadi selama ini membuatku harus banyak berpikir. Tapi apa yang harus aku lakukan saat rumah tanggaku tidak lagi kondusif?

Jujur saja, aku sudah memikirkan ini cukup lama. Mencari solusi terbaik agar kondisi rumah tanggaku yang naik-turun ini tidak terus seperti itu karena aku benar-benar merasa lelah. Aku menyadari bahwa Lee Eui Jin adalah sosok yeoja yang selalu ada di hati dan di dalam mimpi-mimpi Kyuhyun. Karena itulah aku menyadari posisiku dan aku tidak mau ada yang tersakiti diantara kami. Salah satu harus mengalah, dan aku akan melakukannya.

“Sooyoung-ah,” Suara keras Taeyeon yang memanggilku langsung membuyarkan pikiranku. Aku menoleh ke arahnya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandanganku ke arah lainnya. “Apa kau benar-benar akan melupakan begitu saja semua hal yang telah terjadi di pernikahan kalian dengan melakukan ini?” tanyanya kemudian.

Aku diam saja.

“Kyuhyun-ssi sudah bersikap baik padamu selama ini, dan—“

“Sudah aku katakan padamu, Taeyeon-ah” sahutku sebelum Taeyeon selesai berbicara. “Suamiku melakukan semua itu hanya karena aku istrinya. Kau pikir aku tidak tahu bagaimana membedakan antara cinta dan kewajiban?”

“Bukan begitu maksudku,” kata Taeyeon terdengar frustasi. “Ah, kau benar-benar membuatku sakit kepala”

Aku mendesah pelan. “Ini hidupku, Taeyeon-ah. Ada banyak pilihan yang aku punya, dan akupun memilih”

“Kau memang memilih, tapi kau tetap harus bertanggung jawab bukannya melarikan diri seperti ini”

Aku tidak langsung memberi tanggapan. Mataku lurus menatap gedung di depanku sekali lagi, lalu akupun menarik napas panjang. “Aku akan meneleponmu setelah aku selesai” kataku sebelum membuka pintu mobil Taeyeon.

Sahabatku itu sama sekali tidak mencegahku, dan aku cukup senang karena tidak perlu lagi bedebat dengannya. Maka, dengan langkah mantap, aku melangkah memasuki gedung. Menaiki tangga, tersenyum ramah pada namja yang berdiri di dekat pintu dan mengangguk ke arahku. Lalu akupun menaiki eskalator, menuju sebuah kantor pengacara yang memang menjadi bagian dari gedung perkantoran ini. Tidak sampai lima menit, aku tiba disana dan tersenyum ramah pada namja resepsionis.

“Selamat sore. Aku ingin bertemu dengan Lee Byeonhosa” kataku memberitahukan tujuan kedatanganku.

Josanghamnida, apa sebelumnya Anda sudah membuat janji?”

“Belum,”

“Siapa nama Anda, maaf?”

“Choi Sooyoung”

Namja itu menganggukkan singkat. “Jammisamanyo,” katanya meninggalkanku sendirian untuk masuk ke ruangan lainnya. Tidak lama kemudian, dia kembali dan tersenyum ke arahku dengan ramah. “Silahkan ikut, Choi Sooyoung-ssi” katanya.

Tanpa berkata-kata, aku mengikuti namja itu memasuki pintu kaca dan menyusuri lorong panjang. Pandanganku menyapu berkeliling selama perjalanan singkat itu. Beberapa kali jantungku berdegup kencang setiap kali namja di depanku ini melambatkan langkahnya meskipun dia tidak benar-benar berhenti. Tapi setelah kami melewati tiga ruangan, namja itupun akhirnya berhenti melangkah dan berbalik menghadapku.

“Ini ruanganya” kata namja itu padaku sebelum dia mengetuk pintunya dua kali.

“Silahkan masuk,” Suara yeoja berseru dari dalam ruangan.

Namja itu membukakan pintunya untukku, lalu mempersilahkanku untuk masuk ke dalam ruangan. Aku diam beberapa saat di tempatku, menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sebelum akhirnya aku melangkah masuk ke dalam ruangan Lee Eui Jin. Aku terus mengingatkan diriku sendiri bahwa apa yang aku lakukan ini adalah demi kebaikan Kyuhyun, karena itulah aku sampai di tempat ini.

“Sooyoung-ssi” seru Lee Eui Jin sambil menghampiriku dan memberiku pelukan singkat. “Jal jinaesseoyo?”

Aku tersenyum tipis, “Jal jinaesseoyo, Eui Jin-ssi. Neoneun?”

Nado, geureom” Eui Jin langsung menjawab. “Anjaseyo,” katanya mempersilahkanku duduk meskipun aku bisa melihatnya sedikit gugup.

Ah, ne” sahutku yang langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh Eui Jin.

Jujur saja, akupun gugup tapi aku terus menyembunyikannya. Tapi aku bisa memaklumi kegugupan Eui Jin itu. Aku bahkan merasa sedikit bersalah karena mengejutkannya, melihat dari sikapnya yang sedikit kaku. Entah kenapa kali ini rasanya sangat berbeda dibanding pertemuan kami yang terakhir kali beberapa minggu lalu.

“Sebelumnya, aku minta maaf, Eui Jin-ssi” kataku memulai pembicaraan. “Aku datang kesini tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku benar-benar tidak sopan,”

Gwenchanayo,” jawab Eui Jin tersenyum tipis. Dia menatapku lekat untuk beberapa saat, tapi kemudian mengalihkannya dengan cepat. “Kau ingin minum apa, Sooyoung-ssi?” tanyanya kemudian.

“Air putih saja,”

Jamkkamanyo,” Eui Jin menekan tombol intercom dan memesan segelas air putih untukku.

Selama beberapa menit, kami saling diam tanpa ada yang berniat untuk memulai percakapan. Akupun terlalu asyik memperhatikan ruangan Lee Eui Jin yang cerah, yang didominasi warna putih. Ada sebuah pigura besar di dinding yang menampilkan lukisan pemandangan. Menurutku, pencahayaan di ruangannya ini sangat baik, terang dan menyenangkan. Aku merasa nyaman berada disini, dan sepertinya pemiliknya pun begitu.

 “Ruanganmu cantik, dan mengesankan” komentarku pada akhirnya karena terlalu lama diam. “Seperti style-mu,”

Senyum Eui Jin kembali tersungging. “Style-ku?”

Aku mengangguk. “Kyuhyun oppa memberitahuku sedikit banyak,” kataku singkat. Kepalaku tertunduk sesaat, lalu kembali mendongakkannya. “Aku turut berempati dengan kondisimu, Eui Jin-ssi. Kalau ada di posisimu, akupun akan merasakan hal yang sama. Bagaimana sakitnya bertahan dalam pernikahan tanpa—“ Aku berhenti sesaat untuk menelan ludah. “—cinta,” lanjutku.

Aku mulai merasa gentar, khawatir jika air mataku akan mulai jatuh. Tapi aku beruntung karena suara ketukan pintu kembali terdengar. Seorang yeoja masuk membawa nampan dengan segelas air putih. Dia meletakkannya di meja Eui Jin, tepat di hadapanku. Sampai yeoja itu keluar, baik aku maupun Eui Jin kembali saling diam.

“Silahkan diminum dulu, Sooyoung-ssi

Gomawoyo,” Aku mengambil gelas, meminumnya dua teguk lalu mengembalikan gelas itu ke tempatnya. Aku kembali bisa menguasai diri dan detak jantungku pun yang semua berdegup kencang mulai kembali normal. “Jadi… apa kau mencintainya Eui Jin-ssi?” tanyaku mencoba dengan sikap santai.

Ne?”

“Apa kau mencintainya? Kyuhyun oppa, maksudku”

Aku bisa melihat wajah putih Lee Eui Jin yang memucat karena pertanyaanku itu. Meskipun begitu, aku terus tersenyum dan berusaha untuk tetap bersikap santai. Aku memilih untuk menunggu sambil mempersiapkan diri dengan jawaban yang akan aku terima dari yeoja di depanku ini.

Ah, Sooyoung-ssi. Mianhaeyo,” kata Lee Eui Jin terdengar kaku. “Aku bisa menjelaskan—“

“Kau masih mencintainya?” Aku mengulang untuk ketiga kalinya dengan suara lembut tapi terkesan tegas.

Lee Eui Jin menutup mulutnya rapat. Dia mengalihkan pandangan, menghindari tatapanku.

Aku tertawa kecil, “Kau masih mencintainya. Aku tahu itu,”

Kata-kataku itu cukup membuat Eui Jin menolehkan kepala ke arahku lagi. Aku menatapnya dengan ramah agar dia tahu bahwa aku sama sekali tidak membencinya atau bahkan mencacinya karena dia muncul kembali di depan Kyuhyun. Aku tidak ada hak maupun keinginan untuk itu, dan akupun enggan membuat masalah yang mungkin akan mempengaruhi perkembangan janin di perutku. Aku sudah memikirkan segalanya.

“Dia juga masih mencintaimu, Eui Jin-ssi” Aku melanjutkan bicaraku. “Aku bisa merasakannya saat dia bercerita tentangmu. Bagaimana dia masih menyayangimu, ingin melindungimu, ingin selalu ada kapanpun kau membutuhkannya. Tanpa bertanya padanya pun aku tahu jika kau masih spesial di hatinya”

Lee Eui Jin terus diam saja.

Aku tertawa pelan dan kembali berbicara. “Aku tahu bahwa kalian masih saling mencintai dan masih saling membutuhkan. Dan ternyata, aku ada diantara kalian”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, Sooyoung-ssi?” tanya Eui Jin pada akhirnya.

Aku berpikir sesaat, mencari pilihan kata yang baik yang langsung mengemukakan keinginanku. Aku mendesah pelan, lalu meraih tangan Lee Eui Jin dan menggenggamnya dengan erat. “Bahagialah dengan Kyuhyun oppa, Eui Jin-ssi. Bahagiakan dia. Aku merelakan dia untukmu jika itu memang yang terbaik untuk kita semua”

Ekspresi Eui Jin terlihat terkejut, lalu—entah bagamana tiba-tiba dia menangis. Dia membalas genggaman tanganku tanpa mengatakan apapun. Aku bisa menebak jika saat ini perasaannya pasti sedang diliputi rasa bahagia karena aku lebih  memilih pergi dan tidak menghalangi hubungan mereka lagi. Tapi apa benar begitu? Sekarang aku sendiri tidak yakin setelah melihat air mata Eui Jin, yang menurutku bukan air mata bahagia lagi. Lalu apa?

“Sooyoung-ssi—“

Nan gwenchanayo, Eui Jin-ssi

Eui Jin mengusap air matanya. “Micheosseoyo?” serunya, membuatku cukup terkejut. “Dia suamimu. Kenapa kau merelakan suamimu untuk—“

“Aku sudah memikirkan semuanya,” sahutku memotong perkataan Eui Jin. “Kalian berhak diberikan kesempatan kedua untuk bahagia. Aku akan bicara dengan Kyuhyun oppa

“Sooyoung-ssi, kau tidak seharusnya melakukan ini”

“Aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk suamiku, Eui Jin-ssi. Itulah tugas seorang istri” tegasku.

Tatapan Eui Jin terlihat tidak percaya, tapi tidak ada yang dia katakan untuk menanggapiku.

Aku berdehem pelan. “Hanya itu yang ingin aku katakan” ujarku sambil berdiri dari dudukku, lalu menatap Eui Jin yang masih terkejut dengan pembicaraan kami. “Terima kash atas waktunya,” kataku seraya berbalik membelakangi Eui Jin dan berjalan menuju pintu dengan langkah pasti.

“Apa kau mencintainya?” seru Eui Jin tiba-tiba.

Langkahku terhenti. Aku mengurungkan tanganku yang baru akan memutar gagang pintu. Untuk beberapa saat aku terdiam di tempatku karena pertanyaan Eui Jin itu. Aku menarik napas panjang, lalu menoleh menatap yeoja itu lagi. “Eo, aku mencintainya”

“Lalu kenapa kau melakukannya?”

“Apa arti cinta menurutmu, Eui Jin-ssi? Itu berarti kau bahagia saat melihat orang yang kau cintai bahagia,” jawabku dengan sebuah senyuman di wajahku.

Aku memutar gagang pintu, lalu keluar meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun lagi. Satu keputusan besar telah aku lakukan. Aku hanya berharap tidak ada penyesalan dalam diriku, dan mereka berdua bisa mendapatkan kebahagiaan. Itu adalah apa yang aku inginkan untuk saat ini.

__

Kyuhyun POV

Suasana sepi sangat terasa saat aku memasuki rumah malam ini. Situasi yang sudah biasa terjadi akhir-akhir ini. Hanya ada aktivitas orang-orang yang bekerja disini saja, yang menyapaku seperti biasanya, lalu kembali bekerja dalam diam. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Sooyoung belakangan ini karena dia lebih suka mengurung diri di kamar. Kami sudah jarang berbicara santai, ada rasa canggung meskipun—menurutku, hubungan kami sudah kembali seperti biasanya setelah aku meminta maaf dan mengajaknya ke obsevatorium saat itu.

Tapi ternyata aku salah.

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku tidak betah dengan kondisi yang seperti ini. Sooyoung seakan menutup dirinya. Dia memang masih melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang istri, tapi tidak lebih dari itu. Terkadang dia mengajak mengobrol, tapi itupun hanya perbincangan basa-basi, seolah-olah dia hanya ingin menunjukkan hubungan kami baik-baik saja. Padahal, aku tahu kondisi hatinya tidak begitu. Aku yakin Sooyoung merasakan hal yang sama denganku. Hanya saja, ada rasa segan saat ingin memulai topik perasaan kami itu. Aku sendiripun takut terluka karena rasa kecewa.

Awalnya cinta itu tidak terasa, awalnya cinta itu tidak terdengar. Awalnya cinta itu tidak terlihat, dan ketika cinta itu mulai menyentuh hati, kau menjadi segalanya bagiku…

Aku masih ingat kata-kata yang Sooyoung tulis malam itu. Aku memang sempat membacanya dan melihatnya menyimpannya di dalam dompetnya. Kata-kata itu pasti untuk Kang Dongwoon, aku bisa tahu tanpa perlu bertanya padanya. Aku menghela napas singkat, tidak percaya bahwa sampai saat ini dia masih terus memikirkan namja itu dan tak pernah sekalipun memikirkanku.

Saat beranjak dari kamar setelah membersihkan tubuhku, aku melihat pintu kaca balkon terbuka. Hembusan angin malam yang sejuk terasa semilir masuk ke dalam ruangan. Aku melangkah ke balkon dan mendapati istriku sedang duduk menatap pemandangan kota di malam hari ini. Tidak berselang lama, dia menolehkan kepala, seakan menyadari kehadiranku. Dia menatapku lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Sooyoung-ah?” tanyaku mencoba berbasa-basi.

Geunyang—“ Sooyoung diam sesaat untuk berpikir, lalu dia kembali bersuara. “Memikirkan banyak hal,”

“Kau tidak memakai jaket? Nanti kau sakit. Jamkkaman, aku ambilkan” Aku kembali beranjak ke dalam, mengambil jaket dari gantungan baju Sooyoung. Sekilas, aku melihat fotonya dan Kang Dongwoon di laci mejanya yang setengah terbuka. Aku mendesah panjang, rasa kecewa kembali merasuki hatiku. Tapi aku segera kembali menuju balkon.

Sooyoung menerima jaket yang aku berikan dan memakainya sendiri—padahal sebelumnya aku berniat untuk memakaikannya. Aku mengambil duduk di sebelah istriku ini, tapi tidak terlalu dekat.

Bogoshipda—“ bisik Sooyoung lirih. Pandangannya masih lurus menatap langit hitam yang sama sekali tidak berbintang. Semilir angin malam berhembus lembut menyentuh kulit kami.

Aku menoleh, menatap Sooyoung dengan lekat. “Kau merindukan siapa, Sooyoung-ah?”

Senyum Sooyoung tersungging di bibirnya. “Coba kau tebak, oppa” ujarnya tanpa menoleh. Raut wajahnya terlihat damai dan tenang.

Eommeoni?” tebakku.

Sooyoung menggelengkan kepala.

Lidahku kelu. “Dongwoon-ssi?” kataku pelan.

Sooyoung menoleh, menatapku dengan lembut. “Aku merindukan kita, oppa” desisnya.

Aku tercekat. Kami bertatapan, lama. Tidak ada yang bisa aku katakan untuk menanggapi itu. Aku hanya terus mencoba membaca makna sorot mata Sooyoung itu, berharap dapat menguak isi hatinya, mencari kejujuran dan sedikit harapan.

“Aku merindukan kita. Saat-saat kita pertama kali bertemu, menikah, dan hidup bersama dengan canggung” kata Sooyoung dengan suaranya yang lemah. “Oppa, mendekatlah,” serunya tiba-tiba.

Aku mendekat ke arah Sooyoung, dan kami duduk sangat dekat sampai bahu kami saling bersentuhan. Sooyoung mengambil sesuatu di sampingnya, dan aku cukup terkejut karena itu adalah album pernikahan kami. Dia menoleh sekilas ke arahku, tersenyum. Perlahan, dia membuka lembar demi lembar album yang mengabadikan saat-saat kami bertunangan sampai menikah. Jujur saja, aku tak pernah menyangka jika Sooyoung sedang melihat foto-foto di balkon karena aku pikir dia sedang memikirkan sesuatu yang lain.

Kami masih membuka lembar-lembar foto itu, kembali menyusuri kenangan yang menyatukan kami sampai saat ini. Hingga akhirnya, kamipun tiba pada halaman terakhir album. Kami terdiam cukup lama, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba Sooyoung mengingatkan mengenai semua itu dengan membuka kembali kenangan pernikahan kami. Apa sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu padaku? Tapi dia terlalu bingung untuk mengungkapkannya jadi dia hanya menunjukkannya padaku agar aku bisa menebaknya sendiri?

Oppa,” Sooyoung akhirnya membuka suara.

Aku menoleh ke arahnya. “Em,”

Gomawo, karena sudah menjadi suamiku selama ini” tutur Sooyoung terdengar tulus. “Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika aku tidak menikah denganmu,”

Aku masih bergeming, tidak tahu harus mengatakan apa.

“Kau selama ini selalu ada untukku. Mengajariku banyak hal, mendukungku, membuatku tertawa dan melupakan kesedihanku” lanjut Sooyoung. “Kau menyembuhkan lukaku, oppa. Sedikit demi sedikit, setiap hari”

“Aku tidak sehebat kedengarannya, Sooyoung-ah

Sooyoung tersenyum lemah. “Sebelum terlambat, aku ingin kau meraih apa yang paling membuatmu bahagia. Cintamu,”

Aku menatap Sooyoung tidak mengerti, tapi dia hanya terus tersenyum.

“Eui Jin-ssi sangat mencintaimu,” ujar Sooyoung tenang. “Aku sudah menemuinya dan berbicara padanya”

Kali ini aku benar-benar terkejut. Ada kekhawatiran jika dia akan melakukan hal-hal yang tidak terduga. “Untuk apa kau menemuinya? Kapan?”

“Seminggu yang lalu,” jawab Sooyoung. “Kami hanya mengobrol”

“Mengobrol?” Aku semakin tidak mengerti.

Sooyoung mengangguk pelan. “Dia sangat mencintaimu, oppa. Aku bisa melihat hanya dari sorot matanya. Mungkin kau pernah terlambat untuk bisa mendapatkannya. Tapi, kalau dia sampai kembali ke Korea dan mencarimu itu berarti dia masih membuka hatinya untukmu”

Aku mendesah panjang. Perasaanku mengatakan, sepertinya aku tahu apa yang ingin dikatakan istriku ini. “Sooyoung-ah, dia itu—“

“Kau juga mencintainya, oppa” sela Sooyoung cepat. Dia tersenyum, meraih tanganku dan menggenggamnya. “Aku tahu, kau juga masih mencintainya”

Aku menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan dari Sooyoung. Entah kenapa aku merasa dihakimi. Pertemuan-pertemuanku dengan Lee Eui Jin selama ini adalah kesalahanku karena pelarian dan terlena oleh romantisme masa lalu. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti siapapun, apalagi Sooyoung yang merupakan istriku. Orang yang menjadi hidupku untuk saat ini. Tapi ternyata apa yang aku lakukan itu justru menyebabkan kesalahpahaman istriku.

Genggaman tangan Sooyoung semakin erat. “Aku tahu kau pasti bisa berpikir logis tentang pernikahan kita, orang tua kita, pendapat orang-orang atau yang lainnya. Tapi aku tidak akan menghalangimu untuk mendapatkan cintamu lagi, oppa. Kau masih punya kesempatan”

“Apa kau juga masih punya kesempatan?” tanyaku. “Untuk mendapatkan cintamu—“

“Kang Dongwoon?” sahut Sooyoung dengan senyumnya yang lemah. “Tidak. Aku tidak akan mendapatkan cintanya,”

Wae?”

Sooyoung tidak langsung menjawab, tapi dia memilih untuk tidak menatapku lagi. Aku melihat air matanya yang berkaca-kaca meskipun dia berusaha menyembunyikannya dariku. Aku semakin tidak mengerti dengan keadaan Sooyoung yang sebenarnya sekarang dan aku masih terlalu takut untuk bertanya padanya. Bagaimana jika jawaban yang aku terima tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan? Apa aku akan terus bisa mengendalikan diriku?

“Aku ingin pergi menemui Kang Dongwoon. Boleh?” pinta Sooyoung tiba-tiba, tanpa menjawab pertanyaanku. “Aku tidak akan memaksa jika kau melarangku,”

“Memangnya dia dimana?”

“Daejeon. Di kota dia berasal,” jawab Sooyoung. Dia menatapku lekat, “Aku ingin menemuinya. Mianhaeyo,”

Aku semakin tercekat, dan membalas menatap Sooyoung. Mencari-cari kesungguhan istriku itu. Aku bisa mengerti jika hatinya selalu dipenuhi oleh sosok namja itu. Utuh, hati Sooyoung hanya untuk Kang Dongwoon, tidak tersisa bagi siapaun. Entah untuk keberapa kalinya aku kecewa mengetahui fakta ini.

Mau tak mau akupun mengangguk. “Boleh. Kau mau aku mengantar?”

Senyum Sooyoung tersungging. Dia menggeleng pelan. “Tidak perlu, oppa. Taeyeon akan menemaniku”

Ah, Taeyeon-ssi?”

Emm,” jawab Sooyoung. “Gomawo, oppa

Aku kembali mengangguk. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Melarang Sooyoung pergi hanya akan menambah kesedihannya, ‘kan? Aku bahkan sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan sekalipun melarangnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu selama dia menikah denganku. Mungkin itulah alasan kenapa Sooyoung mau menerima pernikahan ini. Begitupula aku.

__

Sooyoung POV

“Kau benar-benar gila—“ seru Taeyeon setelah aku memberitahunya tentang keputusanku. “—dan kau bodoh” tambahnya.

Saat ini, kami sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Taeyeon di Jeonju. Aku terpaksa berbohong pada Kyuhyun, karena aku sama sekali tidak pergi menemui Kang Dongwoon. Aku bahkan tak tahu namja itu dimana sekarang dan apa yang sedang dia lakukan. Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya, jadi aku benar-benar tidak ingin mengetahui apapun yang berhubungan dengannya. Menyebut nama itu di depan Kyuhyun hanyalah alasanku agar dia tidak merasa bersalah karena sering menemui Lee Eui Jin. Bukankah selama ini dia berpikir jika aku juga sering pergi menemui Kang Dongwoon?

“Kenapa kau harus berbohong pada suamimu jika kau akan menemui Kang Dongwoon? Aku benar-benar tidak mengerti,” kata Taeyeon lagi. “Seharusnya kau bilang saja padanya bahwa kau pergi bersamaku ke Jeonju dan—“

“Aku tidak mau memberitahunya kemana aku akan pergi” sahutku dengan cepat.

Mwo? Memangnya kau merencanakan pergi kemana sebenarnya?”

“Yeoseo-do,”

Micheosseo?!” protes Taeyeon terkejut. “Untuk apa kau pergi ke pulau terpencil seperti itu? Kau benar-benar sudah gila,”

“Aku ingin menenangkan diri, Taeyeon-ah” kataku berusaha lebih tenang. “Aku ingin ketenangan, itu saja”

“Tapi kau tidak perlu pergi sejauh itu, Sooyoung-ah. Bagaimana dengan kehamilanmu? Apa kau tidak pernah memikirkannya?”

Aku tersenyum tipis, “Di Yeonseo-do tetap ada penduduk, dan pasti ada klinik disana meskipun kecil. Kau tak perlu khawatir,”

“Tetap saja—“

“Aku melakukannya karena aku mengerti perasaan suamiku” kataku menyela perkataan Taeyeon lagi. “Dia mencintai Eui Jin-ssi, dan jika aku terus berada disampingnya—dia akan sulit untuk membuat keputusan”

“Kau hanya berdalih,” sahut Taeyeon sambil menatapku dengan lekat. “Kau itu sebenarnya pengecut, tidak mau mengakui kenyataan. Kenyataan bahwa Kang Dongwoon sudah pergi dari hatimu, dan perasaanmu sekarang hanya untuk Kyuhyun-ssi

Aku terdiam, tertegun dengan perkataan sahabatku itu.

“Kau bahkan terlalu pengecut untuk memberitahu suamimu bahwa sebenarnya kau sedang mengandung anaknya. Kenapa kau bahkan tidak memberitahunya? Kau mencintainya, kau seharusnya memberitahunya bahwa kau mencintainya”

“Mudah saja mengatakan aku mencintainya, tapi itu sulit untuk mendengar jawabannya” kataku lelah.

“Sooyoung-ah, pikirkan orang lain” ujar Taeyeon terdengar jelas menahan kesal. Dia meraih tanganku, menggenggamku dengan erat. “Keluargamu, keluarga Kyuhyun-ssi. Apa kau tidak memikirkan mereka?” tanyanya kemudian.

“Menikah itu tidak mudah, Taeyeon-ah” sergahku, menahan tangisku yang bisa pecah kapan saja. “Kau kira bagaimana sakitnya aku melihat suami sendiri pergi dengan yeoja yang dicintainya?”

“Apa kau juga pernah memikirkan bagaimana perasaan Kyuhyun-ssi yang masih sering melihatmu diam-diam memandangi foto Kang Dongwoon sebelumnya? Kau lupa, bagaimana awal-awal pernikahan kalian dan kau selalu memikirkan namja lain daripada suamimu sendiri”

“Karena itulah aku ingin menyudahi semua sikap saling menyakiti ini” kataku tak bisa lagi menahan air mataku. “Aku benar-benar sudah lelah, aku ingin lebih tenang sekarang. Setelah semua yang terjadi,”

“Pergi ke pulau terpencil tidak akan menyelesaikan masalahmu, kau tahu” komentar Taeyeon tepat saat mobil yang membawa kami berhenti di sebuah rumah hanok di Deokjin-gu.

Tanpa mengatakan apapun lagi padaku, Taeyeon segera turun dari mobil dan aku mengikutinya. Aku melihat sahabatku itu berbicara pada orang suruhan appa-nya untuk membawa masuk barang-barang kami. Setelah itu diapun menghampiriku dan memanduku memasuki rumahnya yang sangat tradisional ini. Kedatanganku ke rumah Taeyeon memang bukan untuk pertama kalinya, tapi aku selalu terpana dengan semua hal yang ada disini. Bagaimana tidak? Semua yang ada disini masih sangat alami, bahkan bangunan rumahnya. Aku tidak tahu bagaimana cara orang tua Taeyeon merawat semua ini karena itu pasti tidak mudah.

Annyeonghaseyo, eommonim” sapaku saat melihat eomma Taeyeon yang datang menghampiri kami. “Jal jinaesseoyo? Geu dongan—

Geureom,” sahut eomma Taeyeon ramah. “Yah… kau sudah mengandung sekarang,” komentarnya saat memandangiku.

Aku mencelos, begitu pula Taeyeon.

“Darimana eomma tahu?”

“Itu terlihat, tentu saja” Eomma Taeyeon menjawab pertanyaan putrinya. “Karena seperti inilah penampilan yeoja yang sedang mengandung. Maja, Sooyoung-ah?” Dia berpaling padaku.

Ah, ne” sahutku cepat karena tidak tahu harus menanggapinya bagaimana lagi. “Itu pasti terlihat,” gumamku kemudian.

Eomma Taeyeon meraihku, lalu mengajakku untuk duduk dan Taeyeon mengikuti kami. Keluarga Taeyeon memang sudah seperti keluargaku sendiri, begitupula keluargaku di mata Taeyeon. Jadi tidak mengherankan jika eomma-nya memperlakukanku seperti putrinya.

Eomma senang kau datang kesini, Sooyoung-ah. Sudah berapa lama sejak terakhir kau datang?”

“Dia terakhir datang sebelum menikah,” celetuk Taeyeon sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. “Pernikahan membuatnya sibuk, eomma

“Tentu saja. Itu karena ada tanggung jawab,” sahut eomma Taeyeon seraya mengusap-usap tanganku. “Eomma sendiri bertanya-tanya, kapan kau akan segera memiliki pasangan dan eomma akan cepat menimang cucu”

Heol~”

Aku tertawa kecil, tapi memilih untuk diam saja.

“Berapa lama kau akan tinggal disini, Sooyoung-ah? Eomma paling tahu bagaimana merawat orang yang sedang mengandung,” katanya eomma Taeyeon padaku. “Kau pasti jarang memakan sesuatu yang bergizi dan baik untuk janinmu saat di rumah, ‘kan?”

Ah, emm—“ Aku melirik Taeyeon sesaat sebelum melanjutkan bicara. “Aku besok harus pergi, eommeonim

Mwo?

Eodi ga?

“Yeoseo-do,” jawabku pelan. “Josanghaeyo, aku tidak bisa lama disini”

Ya!

Eomma Taeyeon menoleh menatap putrinya yang langsung terdiam di tempatnya. Aku benar-benar menghindari tatapan kedua orang ini sekarang, apalagi eomma Taeyeon. Bukan karena aku tidak menghormatinya atau bersikap sopan, tapi itu lebih karena aku tidak mau dia tahu bahwa sebenarnya aku sedang melarikan diri. Yah, bisa dikatakan apa yang ingin aku lakukan ini adalah pelarian ‘kan? Aku tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya selain Taeyeon, karena itulah aku harus segera mencari alasan jika seandainya eomma Taeyeon ini menanyakan lebih detail alasan kenapa aku pergi ke pulau itu.

“Ada sesuatu yang ingin Sooyoung lakukan disana, eomma” Taeyeon yang berbicara, dan itu cukup mengejutkanku. Karena sebelumnya dia bahkan menolak kepergianku ke pulau itu, ‘kan? Tapi kenapa sekarang dia justru membantuku mencari alasan? “Eomma tahu, dia sedang mencari sesuatu untuk mengembangkan restorannya. Dia baru saja mengambil alih restoran suaminya, dan ingin sesuatu yang berbeda di menunya”

Majayo. Aku dengar di Yeoseo-do memiilki pertanian yang bagus, jadi aku ingin melihat-lihat sambil berlibur” sambungku untuk lebih meyakinan.

“Kau tidak pergi dengan suamimu?”

“Suamiku akan menyusul saat akhir pekan. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya,” jawabku.

Eomma ini… Bagaimana mungkin CEO pergi meninggalkan perusahaan hanya untuk berlibur dengan istrinya?”

“Kenapa tidak?” sahut eomma Taeyeon dengan cepat. “Itu perusahaannya, jadi tidak apa-apa menurut eomma

Aku tersenyum tipis. “Suamiku bukan orang yang seperti itu, eommeonim

Eomma Taeyeon menatapku dengan lekat, lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya. “Karena kau hanya sebentar disini, eomma akan menyiapkan sesuatu untukmu. Istirahatlah dulu. Kau juga, Taeyeon-ah

Eo,”

Arraseoyo. Gomawoyo,”

Eomma Taeyeon mengusap lembut pipiku sebelum dia beranjak pergi dari tempatnya dan masuk lebih ke dalam rumah hanok ini. Selama kepergian eomma Taeyeon itu, kami sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tahu bahwa sebenarnya Taeyeon masih tidak setuju dengan kepergianku ke Yeoseo-do maupun apa yang sudah aku putuskan mengenai pernikahanku. Dia tidak menyetujuinya karena dia khawatir padaku, dan aku juga tahu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara yang bisa aku pilih ada ini. Lagipula aku sudah lama memikirkannya jadi aku tidak gegabah memutuskan apa yang harus aku lakukan.

“Kau masih bersikeras untuk pergi?” tanya Taeyeon membuka kembali pembicaraan setelah kami diam cukup lama. “Tekadmu sudah bulat?”

Aku mengangguk. “Aku butuh ketenangan, dan pulau itu pilihanku”

Ya!”

“Aku bisa saja pergi ke pulau yang tidak berpenghuni dan tinggal disana, dan tidak memberitahumu, Taeyeon-ah” kataku sebelum sahabatku itu sempat mengatakan apapun padaku. “Tapi aku memilih Yeoseo-do, karena itu dekat dengan Jeonju. Kau pun tahu, jika disana ada penduduk yang ramah dan—“

“Dimana kau akan tinggal selama disana, kalau begitu?”

Aku mengendikan bahu tidak yakin. “Mungkin di salah satu rumah penduduk disana,”

Taeyeon menghela napas panjang. “Aku akan ikut mengantarmu kesana. Memastikan kau mendapatkan tempat tinggal,”

“Kau tidak perlu melakukannya,”

“Kau membuatku harus memberitahukan kepergianmu pada suamimu, kalau begitu” kata Taeyeon membalas perkataanku. “Jika aku tahu dimana kau akan tinggal, setidaknya aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu. Dan itu juga akan mengurangi rasa bersalahku pada suamimu karena membantumu melarikan diri”

“Kau tidak akan memberitahunya kemana aku akan pergi, ‘kan?”

“Pastikan saja aku ikut,” jawab Taeyeon. “Aku akan meninggalkanmu disana dan tidak akan memberitahu siapapun kemana kau pergi”

Aku tersenyum, lalu mengangguk pelan.

“Astaga, aku bahkan tidak tahu kenapa aku selalu melakukan ini untukmu” komentar Taeyeon kemudian. “Kau melakukan sesuatu yang salah dimataku, tapi aku selalu menutupimu. Aku pasti sudah ikut gila karena kegilaanmu, Sooyoung-ah

Geurissae… Kurasa dari dulu kau memang sudah gila,”

Mwoya,” gumam Taeyeon seraya tersenyum padaku. “Kau harus langsung menghubungiku jika sesuatu terjadi. Arraseo? Dan jangan lakukan apapun yang membahayakan kandunganmu. Biar bagaimanapun, kau harus menjaganya karena itu adalah buah hati pernikahanmu”

Aku menatap Taeyeon lekat-lekat, lalu beranjak dari tempatku dan memeluknya dengan erat. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku tidak memiliki sahabat sebaik Taeyeon. Dia yang terbaik dan selalu mengerti apa yang ingin aku lakukan meskipun menurutnya itu tidak masuk akal. Tapi dia tetap membiarkanku melakukannya, dan itulah yang aku sukai dari Kim Taeyeon. Setidaknya masih ada orang yang mengetahui tempat pelarianku, ‘kan? Dan aku sangat yakin dia tidak akan memberitahu Kyuhyun meskipun aku mengijinkannya memberitahukannya.

__

Kyuhyun POV

Jika rasa itu berwujud seperti manusia, ada dua sosok yang paling tidak ingin aku temui. Rindu dan cemburu. Karena kedatangannya sering kali tidak terduga dan menyerang lubuk hati tanpa pernah disadari. Mengusirnya tidak cukup dengan mengatakan sebuah kata atau bahkan tindakan tertentu. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu bagaimana mengusir kedua hal itu tanpa ada keinginan untuk kembali.

Aku menangkupkan kedua tangan di wajahku. Kata orang cinta itu bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa kita sadari. Jika begitu, apa yang aku rasakan adalah cinta? Lalu kenapa aku terus mengingkarinya? Saat sosok itu tiba-tiba menghilang, aku terus mencarinya seperti orang lingkung yang mencari jarum di tengah tumpukan jerami. Aku merasa lelah, resah, kecewa dan khawatir. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Aku juga merasa takut, cemas, saat mendapati sosok itu tidak ada lagi di sisiku. Saat sosok itu tidak berada dalam jarak pandangku, hatiku tiba-tiba bergemuruh, seolah-olah aku ingin menariknya untuk terus tetap di depanku.

Tapi tetap saja aku mengingkarinya selama ini.

Sooyoung benar, tanpa terasa akupun merindukan masa-masa di awal pernikahan kami—entah bagaimana. Aku merindukan bagaimana canggung kami satu sama lain, lalu dengan perlahan mulai saling membuka diri. Aku menoleh ke sampingku yang saat ini tidak ada siapapun. Biasanya, Sooyoung ada di sebelahku, ikut duduk di sofa atau di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa. Kami akan bercerita mengenai banyak hal atau mengomentari sesuatu yang tidak penting atau membicarakan sesuatu sekedar untuk lebih membuka diri kami masing-masing.

Biasanya juga, aku menikmati pemandangan Sooyoung yang sedang tidur, wajahnya yang polos, lalu saat dia melayaniku saat makan, serta dia yang sedang duduk sendirian di balkon. Aku tidak tahu kenapa aku merindukan semua itu, juga kerlingan nakal Sooyoung saat menggodaku atau saat dia membalas genggaman tanganku. Momen-momen sederhana itu cukup membuatku semakin merindukannya.

Akan tetapi, malam ini, Sooyoung tidak disini. Meskipun sekedar untuk duduk di balkon dan bersikap tidak peduli padaku. Istriku itu meminja ijin untuk pergi ke Daejeon, dan ini sudah hari ketiga aku menghabiskan hariku tanpanya. Aku tak tahu entah berapa lama dia akan di kota itu dan melakukan apa karena dia sama sekali tidak memberitahuku. Saat dia meminta ijin, aku hanya bisa memberikannya. Aku hanya berpikir jika mungkin kami perlu berpisah sejenak, saling merenung untuk mengambil keputusan terbaik. Bukankah kita tidak selamanya bisa hidup berdampingan dengan masa lalu? Itu yang mungkin sedang Sooyoung lakukan, begitupula aku. Tapi tidak ada Sooyoung beberapa hari ini, aku merasa benar-benar kesepian.

Aku mendesah pelan, berusaha untuk menyingkirkan perasaan sepi itu. Lalu tiba-tiba ponselku bergetar. Aku berharap itu Sooyoung, tapi ternyata nama yang tertera di layar ponselku adalah Lee Eui Jin. Sedikit enggan, akupun menjawab telepon itu dan mengiyakannya saat dia meminta untuk bertemu di Cheonggyeocheon malam ini. Maka, akupun bergegas keluar kamar dan pergi ke tempat itu karena jujur saja, aku ingin mengatakan sesuatu pada yeoja itu. Aku harus mengatakannya setelah cukup lama memikirkannya.

Saat aku tiba di Cheonggyeocheon, Lee Eui Jin sudah menunggu disana. Di sebuah tempat dengan tempat duduk di pinggiran sungainya. Aku melangkah menghampirinya, lalu duduk disampingnya. Yeoja itu hanya menolehkan kepala ke arahku sesaat, dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Apa dia sama sekali tidak senang melihatku? Kenapa sikapnya sedikit berbeda dari dia yang biasanya saat aku datang? Bukannya aku tidak suka, tapi rasanya benar-benar aneh menerima sikap dingin dari yeoja yang mengaku dengan terang-terangan tentang perasaannya padaku.

“Sooyoung-ssi mendatangiku,” ucap Eui Jin pada akhirnya untuk memulai percakapan.

Arra,” jawabku tanpa menatap ke arahnya. “Sooyoung sudah memberitahuku,”

“Sudah?” ulang Eui Jin terdengar terkejut. Aku menatapnya tepat saat dia menolehkan kepalanya ke arahku. “Dia yeoja yang cepat bertindak—“

“Apa yang dia bicarakan denganmu?” sahutku menyela perkataannya. “Dia berkata dia datang menemuimu untuk mengobrol denganmu, tapi dia tidak memberitahuku topik apa yang kalian bicarakan”

“Apa lagi? Tentu saja itu tentang kau, Kyuhyun-ah” jawab Eui Jin dengan santai. “Dia datang menemuiku dan membicarakan tentangmu,”

Aku tertegun. “Kalian membicarakanku? Wae?”

Lee Eui Jin tersenyum ke arahku, “Dia merelakanmu untukku”

Mwo?” sahutku terkejut.

“Dia berkata aku dan kau harus diberikan kesempatan kedua. Dia memintaku untuk membahagiakanmu. Dia—“

“Kenapa dia melakukannya?” Aku menyahut dan menyela apa yang Eui Jin katakan untuk kedua kalinya. “Kenapa dia memintamu melakukan itu? Aku benar-benar tidak mengerti, Eui Jin-ah

“Dia ingin kita bersama. Apa kau tidak mengerti itu juga?” kata Eui Jin masih dengan senyum yang sama. “Dia ingin kita bersama dan bahagia”

Aku tercekat mendengar perkataan Lee Eui Jin itu.

“Tapi dia salah. Dia sepenuhnya salah, Kyuhyun-ah

Aku diam saja.

“Dia salah jika dia berpikir aku dan kau akan bahagia jika kita kembali bersama dalam keadaan yang seperti ini” Eui Jin melanjutkan, mengabaikan diamku. “Aku mencintaimu, aku sudah mengatakan itu padamu. Tapi aku tidak pernah menyangka jika dia menemuiku, yeoja yang mengganggu rumah tangga dengan senyum tenang dan berkata dia merelakan suaminya bahagia meskipun bukan dengan dia”

“Kau tidak mengganggu rumah tanggaku,”

Ani, aku mengganggu rumah tanggamu, kau tidak perlu mengelak itu, Kyuhyun-ah” kata Eui Jin tertawa kecil. “Tapi aku terlalu egois sebelumnya, dan aku tidak mempedulikan apapun karena aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi. Tapi, aku menyadarinya sekarang”

Aku memiringkan kepala, menatap Eui Jin dengan lekat. Tapi tidak ada yang aku katakan.

“Sooyoung-ssi membuatku sadar bahwa aku telah melupakan apa yang terjadi pada pernikahanku sendiri, Kyuhyun-ah. Aku lupa bahwa aku dulu juga selalu memikirkan berbagai cara untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku sendiri” kata Lee Eui Jin dengan ekspresi serius di wajahnya. “Aku seorang yeoja, dan aku juga seorang istri. Seharusnya aku tidak melakukannya, Kyuhyun-ah. Seharusnya aku tidak pergi dan mengganggu rumah tanggamu, maksudku”

Aku kembali hanya diam.

Lalu akupun mendengar isakan Eui Jin, dan melihatnya sedang mengusap air matanya sendiri. Aku tidak bisa melakukan apapun selain hanya memandanginya. Aku benar-benar tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih menimbulkan kesalahpahaman sekarang. Tidak disaat keadaan rumah tanggaku sendiri sedang sangat berantakan, dan aku masih tidak tahu bagaimana membersihkan kekacauannya.

“Aku telah dibutakan rasa tidak puas dengan pernikahanku sendiri dan mencari pelarian dengan kembali pada romantisme masa lalu,” kata Lee Eui Jin dengan isakan tertahannya. “Aku benar-benar jahat dan picik. Geujji?”

Aniya, kau tidak seperti itu”

Mianhae, Kyuhyun-ah” Eui Jin mengabaikan perkataanku. “Aku tidak seharusnya datang lagi padamu. Itu sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan,”

“Eui Jin-ah,”

“Aku akan pergi dan kembali ke Hongkong” kata Eui Jin memberitahuku. “Aku harus menyelesaikan masalah rumah tanggaku, memperbaiki segalanya, dan aku—“ Dia berhenti sesaat untuk menarik napas panjang dan menatapku dengan lekat. “—aku tidak akan datang lagi padamu dan mengganggumu, Kyuhyun-ah

“Kau akan kembali ke Hongkong?”

Eui Jin menganggukkan kepala.

Eonje?”

“Besok,” jawab Eui Jin.

“Secepat itu?”

Eo. Itulah kenapa aku memintamu untuk datang. Aku ingin berpamitan denganmu,” kata Eui Jin menjawab. “Aku ingin kau dan Sooyoung-ssi bahagia. Kalian sebenarnya saling mencintai, aku tahu itu”

Aku mendesah pelan. “Darimana kau tahu?”

“Aku bisa melihatnya, dari cara kalian saling menatap. Meskipun mungkin kalian tidak pernah mengungkapkannya, tapi seharusnya kalian juga mengerti perasaan satu sama lain. Kalian saling membutuhkan dan saling melengkapi,”

Geurae, aku mencintainya” kataku pada akhirnya mengakui perasaanku pada Sooyoung. “Awalnya aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri padanya. Bagaimana mendeskripsikan kesal, cemburu, khawatir atau bahkan rindu. Tapi aku tahu bahwa sebenarnya aku memang mencintai istriku, Eui Jin-ah. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintainya, tapi aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya sekarang”

Eui Jin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Arra. Itu sudah terlihat jelas di wajahmu, Kyuhyun-ah, bahwa kau memang mencintai Sooyoung-ssi

Mianhae,” ujarku sambil menundukkan kepala.

Wae mianhae?” sahut Lee Eui Jin dengan cepat. “Kenapa kau meminta maaf karena kau mencintai istrimu? Itu yang seharusnya kau lakukan,”

Aku memilih untuk tidak menanggapi itu dan bertanya sesuatu yang lain. “Kau akan sering meneleponku saat sudah disana?”

Geurissae,

Wae?”

“Aku mengakhiri masa laluku hari ini, dan aku tidak mau lagi melibatkan diri dengan itu. Jadi aku tidak bisa melakukannya,” Eui Jin langsung menjawab. “Aku tidak akan mengganggumu. Bukankah aku sudah mengatakannya?”

Geurae. Kau mengakhiri masa lalumu, dan aku juga”

“Kau tetap menjadi namja yang spesial bagiku, Kyuhyun-ah. Aku akan selalu mengingatmu, sebagai masa lalu yang paling berharga” katanya seraya menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.

“Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku yang terkesan memberi harapan atas hubungan kita” Aku kembali meminta maaf. “Terlepas dari kewajibanku untuk mempertahankan pernikahan, aku lebih takut kalau harus kehilangan Sooyoung”

Gomawo, Kyuhyun-ah. Untuk semuanya,” kata Eui Jin. “Aku sekarang mengerti kenapa menjaga pernikahan itu penting kita lakukan. Perasaanku padamu itu akan menjadi kenangan indah bagiku. Tapi aku akan tetap memperjuangkan hidupku sekarang,”

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa kali ini. Aku hanya menatap Eui Jin tidak percaya, tapi ekspresinya benar-benar menunjukkan keseriusan. Membuatku tidak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat. Aku memang tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi pada yeoja ini, tapi apa yang dia katakan sudah mewakili apa yang ingin aku katakan padanya hari ini. Pada awalnya aku memang ingin memberitahunya bahwa aku tidak bisa lagi menemuinya seperti dulu karena aku memilih untuk tetap bersama Sooyoung. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, tapi dia sudah lebih memilih mundur. Setidaknya aku tidak perlu menyakiti perasaannya karena aku memilih istriku, ‘kan?

__

Sooyoung POV

Oneul heeojyeosseoyo uri heeojyeosseoyo (Broke up today, we’ve broken up)

Naemam al geot gatdamyeon yeopeseo gachi ureojwoyo (If you think you can undersand my heart, then please cry with me)

Naneun andoenabwayo yeoksi aningabwayo (I suppose I can’t be the one, I suppose it’s a no)

Eolmana deoureoya jedaero saranghalkkayo (How longer do I have to cry until you’ll love me properly?)

Lagu milik Younha itu terus terdengar dari sebuah radio yang diputar oleh Kim Min Jung, salah satu putri pemilik rumah yang aku tinggali di Yeoseo-do. Sejak lagu ini diputar, aku tak bisa menghentikan air mataku karena terbawa suasana lagu. Ingin sekali rasanya aku mematikannya, tapi kakiku terasa sangat berat untuk melangkah. Aku sendiripun tak tahu kenapa pada akhirnya aku membiarkan saja lagu itu terus menguasaiku. Pikiranku tak pernah lepas dari apa yang terjadi padaku belakangan ini dan apa yang sudah aku putuskan sampai aku menghabiskan waktu di pulau ini hingga aku benar-benar merasa tenang.

“Kenapa? Kenapa kau terus menyembunyikan kehamilanmu? Kenapa kau tidak mengatakannya padanya?”

“Biar bagaimanapun, dia ayah anakmu. Kau harus memberitahunya. Kau salah jika tidak membiarkannya tahu”

Kepalaku hampir mau pecah saat terus memikirkan perkataan Taeyeon setiap kali dia mengingatkanku pada kehadiran anak di dalam perutku ini. Aku tidak tahu kenapa aku memilih untuk tidak memberitahukan apapun mengenai kehamilanku, mengenai anakku dan Kyuhyun. Rasanya tidak tepat jika memberitahunya saat dia tidak bisa memutuskan dengan siapa dia akan bahagia. Mungkin semuanya berbeda jika dia tidak hanya memandangku sebagai seorang istri, melainkan juga yeoja yang dia cintai dan yeoja yang ingin dia habiskan sisa hidupnya. Tapi peran itu sudah dimiliki oleh yeoja lain, dan itu bukan aku.

Eonni, ureoyo?” celetuk Kim Min Jung yang tiba-tiba datang dan sudah duduk disampingku. “Eonni, igeo—“ katanya mengulurkan es krim padaku yang terlihat sangat menyegarkan.

Ige mwoya?”

“Aku tidak bisa melakukan apapun padamu atau menghiburmu, eonni. Aku hanya bisa memberikan ini,” kata Min Jung. “Eomma memberitahuku untuk makan sesuatu yang manis saat aku sedih”

Aku menatap Min Jung sesaat, lalu mengarahkan pandanganku ke es krim di tangannya sebelum akhirnya aku menerimanya. “Gomawo, Min Jung-ah

Wae ureoyo, eonni?” tanya Min Jung tanpa memberi jeda. “Apa kau teringat suamimu? Kyuhyun oppa?”

Aku mengusap kedua pipiku yang masih basah dengan cepat, lalu menjawab. “Eo, aku merindukannya, Min Jung-ah

“Kenapa eonni tidak kembali saja dan menemuinya? Ini sudah lebih dari satu minggu. Aku rasa dia juga merindukanmu,”

“Aku tidak bisa,” jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lautan dari belakang rumah milik Kim Min Jung ini. “Aku akan mengacaukan segalanya jika aku kembali”

“Masalah orang dewasa benar-benar sulit untuk aku mengerti,” komentar Min Jung, membuatku tersenyum tipis. “Kalian suami istri, tapi tidak tinggal bersama selama beberapa hari. Jika aku jadi eonni, aku pasti tidak akan sanggup berpisah lama dengan suamiku sendiri”

“Kau masih kecil, kenapa berkata seperti itu?”

“Aku enam belas tahun, eonni” sahut Min Jung sambil mengerucutkan bibirnya. “Disini biasanya kami menikah sebelum berumur dua puluh tahun. Tapi aku tidak ingin menikah semuda itu,”

Wae?”

Geunyang—“ Min Jung menoleh ke arahku sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke laut. “Aku ingin tinggal di kota yang lebih besar. Tidak perlu Seoul, cukup kota besar yang bisa mendapatkan apapun dengan mudah”

“Kau ingin pindah dari pulau ini? Wae? Pulau ini sangat indah, dan kau bisa melihat laut dan bermain di pantai setiap hari”

Eonni tidak akan berkata begitu, jika eonni sudah tinggal disini sejak lahir” Min Jung menyahut.

Aku tertawa dan mengacak pelan rambut Kim Min Jung yang sudah seperti adikku selama lebih dari seminggu ini.

Ah, eonni. Menurut eonni, anak itu—“ Min Jung menunjuk ke arah perutku. “—dia yeoja? Atau namja?”

Morugesseo,” jawabku tanpa perlu berpikir. “Aku tidak pernah mempermasalahkannya, jujur saja. Lagipula itu masih sangat lama sampai kita bisa mengetahui apa dia yeoja atau namja

“Aku berharap itu yeoja,”

Wae?”

“Dari dulu aku selalu ingin punya yeodongsaeng,” jawab Min Jung, tersenyum tipis. “Eomma-appa, tak pernah memberiku satu karena menurut mereka aku saja sudah cukup”

Geurae? Itu pasti menyenangkan jika punya dongsaeng,” gumamku menanggapi. “Dulu aku juga tidak memilikinya, Min Jung-ah. Tapi sekarang aku punya, bahkan dua”

Nuga?”

“Jihyun-ie, geurigo neoya

Na?”

Aku menganggukkan kepala. “Kau sudah seperti dongsaeng-ku. Ah, ani—kau memang dongsaeng-ku sekarang. Eotte? Kau mau menjadi dongsaeng-ku?”

Joayo,” sahut Min Jung sambil tersenyum lebar. Lalu tiba-tiba dia memelukku, membuatku cukup terkejut tapi juga senang. “Eonni, galkayo?” ujarnya setelah melepaskan pelukannya.

“Sudah waktunya?”

Min Jung menolehkan kepalanya ke dalam rumah, “Em. Kurasa begitu”

Geureom kajja. Aku tidak mau kita melewatkannya lagi kali ini,”

Kajja eonni,” seru Min Jung seraya bangkit berdiri, lalu membantuku berdiri. Kamipun keluar dari rumah bersama, berpamitan pada eomma Min Jung dan pergi ke pantai.

Tanganku terus menggenggam Min Jung selama menyusuri jalanan kecil menuju pantai terdekat dengan rumah yeoja itu. Kegiatanku sehari-hari disini memang tidak jauh-jauh dari pantai atau pergi ke kebun di bukit di sebelah bukit yang merupakan kawasan tempat tinggal. Hari ini, kami harus sudah sampai di pantai sebelum pukul empat sore untuk menunggu kapal milik appa Min Jung yang pulang membawa hasil tangkapan ikannya. Maklum saja, appa Min Jung memang seorang nelayan sementara ibunya lebih memilih untuk bertani. Yeoseo-do ini memang terkenal dengan beberapa tanaman pertanian juga ikan lautnya.

Eonni, aku ingin pergi sebentar” ujar Min Jung saat kami sudah duduk di tepi pantai dan menunggu kedatangan kapan.

Eodi ga?”

“Sebentar saja,” kata Min Jung sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. “Aku tidak akan melewatkan appa

Geurae. Oseo dorawa

Min Jung menganggukkan kepala, lalu dia bergegas pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun padaku.

Setelah kepergian Min Jung, aku memilih untuk menikmati pemandangan di pinggir pantai seperti ini. Aku menyukainya, selalu menyukainya. Berada di pinggir pantai, memandangi lautan yang luas, benar-benar sesuatu yang cukup menenangkan perasaanku. Meskipun tetap saja, aku memikirkan Kyuhyun. Terkadang aku ingin tahu apa dia baik-baik saja selama ini, tapi aku enggan menghubunginya. Aku terlalu takut untuk melakukannya. Dia bahkan tidak akan mencariku, aku yakin itu.

Aku menudukkan kepala, mencoba mengenyahkan pikiranku tentang Kyuhyun dari kepalaku. Tapi semakin aku berusaha melupakannya, air mataku justru menetes dengan sendirinya. Aku mengusapnya dengan perlahan sambil terus mengingatkan pada dirinya tujuanku pergi sejauh ini. Aku ingin menenangkan diri dan aku harus bisa melakukannya sebelum aku kembali ke Seoul. Itu janjiku pada diriku sendiri.

Eonni!” Panggilan khas Min Jung terdengar dari kejauhan. Akupun menolehkan kepala dan melihatnya datang bersama seorang yeoja yang tidak lain adalah Kim Taeyeon. “Eonni, Taeyeon eonni datang” serunya lagi.

Aku berdiri dari tempatku, menunggu dua yeoja. Taeyeon langsung memberiku pelukan singkat begitu dia sampai di hadapanku. Lalu diapun mengulurkan sesuatu padaku yang isinya—aku tahu, adalah obat serta vitamin untuk menunjang kehamilanku. Selama di Yeoseo-do, Taeyeon memang selalu membelikan beberapa vitamin untukku karena itu cukup sulit menemukannya di pulau ini. Ada beberapa yang dijual di sini, tapi tidak selengkap di kota-kota besar. Itulah kenapa aku meminta Taeyeon melakukannya untukku.

“Dimana kau bertemu dengannya, Min Jung-ah?” tanyaku ingin tahu.

“Taeyeon eonni sedang dalam perjalanan ke rumah. Kami berpapasan saat aku akan kembali kesini”

Ah, geurae?”

“Min Jung-ah, bisakah eonni berbicara sebentar dengan Sooyoung?” celetuk Taeyeon tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. “Ada sesuatu yang ingin eonni bicarakan,”

Geurae, geureom” kata Min Jung yang memilih pergi dan bergabung dengan teman-temannya yang juga sedang menunggu kapal—sepertinya.

Aku tersenyum melihat Min Jung, lalu beralih pada Taeyeon yang ternyata sedang memandangiku dengan lekat. “Ya! Kau seharusnya tidak mengusirnya seperti itu,”

Ya! Sampai kau kapan kau akan disini?” balas Taeyeon mengabaikan protesku. “Apa kau bahkan tidak pernah memikirkan keluargamu, huh?”

“Aku tidak akan mendengarkanmu, Taeyeon-ah

“Kau memang tidak pernah mendengarkanku” sahut Taeyeon dengan cepat. “Kyuhyun-ssi meneleponku dan bertanya kau ada dimana sekarang”

Aku mencelos. “Kau memberitahunya?”

“Tidak,” jawab Taeyeon dengan cepat. “Tapi aku tidak bisa terus mengelak jika diapun terus bertanya padaku. Kesabaran itu ada batasnya, kau tahu”

“Aku tahu,”

“Karena itulah, sebaiknya kau kembali ke Seoul dan memulai semuanya lagi dengannya”

“Apa aku segila itu?” Kali ini aku yang menyahut cepat. “Aku tidak mau melalui masalah yang sama, setelah aku memutuskan untuk menyingkir”

“Setidaknya aktifkan ponselmu,” kata Taeyeon sambil menatap lurus ke arah lautan. “Eommeoni juga bertanya padaku,”

Aku menoleh ke arah Taeyeon. “Eomma?”

Taeyeon mengangguk. “Aku terpaksa memberitahu eommeoni jika kau sedang menenangkan diri. Jadi eommeoni bertanya padaku apa kau sedang ada masalah dengan Kyuhyun-ssi, dan aku mengiyakannya”

Aku menghela napas panjang mendengarkan perkataan Taeyeon.

“Tapi aku tidak memberitahu eommeoni apa masalahmu. Aku tidak berhak memberitahunya meskipun aku sangat ingin melakukannya”

Jalhaeseo,” komentarku menanggapi. “Aku akan memberitahu eomma nanti, tapi tidak sekarang”

“Apa kau akan terus menyimpan segalanya sendiri?” sahut Taeyeon, membuatku cukup terkejut. “Aku mengerti bahwa itu adalah masalahmu, dan kaulah yang memutuskan bagaimana menyelesaikannya. Tapi Sooyoung-ah, kau harus ingat jika terus menyimpannya dengan rapat tanpa pernah berniat untuk mengeluarkannya itu benar-benar tidak baik”

Aku diam saja.

“Setidaknya lakukan itu untuk anakmu,” Taeyeon menambahkan. “Kau tidak pernah memikirkannya, ‘kan?”

“Tentu saja aku memikirkannya. Kau pikir kenapa aku terus memintamu membawakanku vitamin?”

“Apa vitamin saja sudah cukup?” kata Taeyeon tajam. “Anakmu, dia juga membutuhkan kasih sayang appa-nya. Kau harus memikirkan itu,”

“Sampai kapan kau akan terus menceramahiku dengan sesuatu seperti itu, Taeyeon-ah?” sahutku berusaha untuk tetap menahan emosiku tapi tidak bisa. “Aku lebih tahu apa yang terbaik untuk diriku juga anak ini. Kau sebaiknya berhenti memberitahuku untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu”

“Aku melakukannya untuk kebaikanmu,”

Aku diam saja.

“Aku peduli padamu karena kau temanku. Aku melakukannya karena aku ingin melihatmu bahagia, apa itu salah? Aku tidak akan peduli padamu jika kau orang asing untukku, Sooyoung-ah” Taeyeon mengatakannya dengan tegas. “Aku pikir kau akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisimu. Aku benar ‘kan?”

“Tetap saja—“

“Kau tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri” sela Taeyeon pada perkataanku. Lalu dia membalikkan badan memunggungiku. “Aku tidak bisa lama-lama disini. Mianhae” katanya sebelum melangkah pergi meninggalkanku.

Aku hanya bisa menatapnya yang menjauh dari pandanganku. Aku tidak mengajarnya bukan karena aku marah padanya. Tapi itu karena aku tahu bahwa Taeyeon mengejar ferry yang membawanya kembali ke Jeonju. Dia bahkan tidak akan tinggal sekalipun aku mencegahnya pergi. Dia tidak pernah menghabiskan malam disini, dan memilih langsung pulang saat kedatangan ferry berikutnya—seperti hari ini.

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Mianhae, Taeyeon-ah. Kau pasti marah padaku sampai tidak mengucapkan selamat tinggal padaku” kataku terus memandangi Taeyeon yang semakin jauh. “Kau tahu aku tidak akan kembali jika aku masih belum bisa menenangkan diriku, dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat”

__

Kyuhyun POV

Aku duduk di kursi kerjaku, menghadap ke jendela. Satu minggu lebih aku sama sekali tak mendapatkan kabar tentang Sooyoung, dan itu membuatku gelisah. Aku tidak tahu kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku tentang kemana dia pergi atau apa yang sedang dia lakukan. Aku tidak bisa menghubunginya, dan tidak ada yang memberitahuku apa yang terjadi pada istriku itu. Kenapa dia bersikap seakan-akan menghindariku, dengan cara menghilang seperti ini. Tapi untuk apa dia melakukannya? Aku benar-benar tidak mengerti.

Eodiseo, yeobo?” gumamku.

Aku menarik napas dalam, udara dingin bisa aku rasakan di dekat jendela. Otakku terus berpikir, mencari keberadaan Sooyoung. Aku bahkan sudah mengarahkan beberapa orang untuk mencarinya diam-diam, tapi sampai sekarang tidak ada yang menghasilkan. Aku semakin frustasi. Ingin rasanya aku melakukan sesuatu, tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa melakukan apapun untuk sekarang. Aku hanya bisa berharap, Sooyoung segera kembali agar aku bisa tenang dan tidak menjalani hidup dengan perasaan khawatir, takut dan gelisah seperti ini.

Getaran ponsel di atas meja mengalihkan pikiranku. Nama Kim Taeyeon berkelap-kelip di layar. Aku bergegas mengambilnya lalu menjawab panggilan itu. “Ne, Taeyeon-ssi

Yeoboseyo? Kyuhyun-ssi?” balas suara Taeyeon, terdengar panik.

Ne. Ini aku,”

“Kyuhyun-ssi, bisakah kau segera kesini? Jeonju. Sooyoung-ie… Sooyoung—“

“Sooyoung ada di Jeonju?”

“Sooyoung di rumah sakit di Jeonju. Dia pingsan,”

Aku langsung berdiri. “Pingsan?” ulangku dengan suara tinggi. “Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pingsan?”

“Aku akan menceritakannya begitu kau sampai disini. Kau harus segera datang,”

Arraseoyo. Aku akan segera kesana,” sahutku sambil keluar dari ruang kerjaku dan setengah berlari menuju kamar. “Kirimkan pesan padaku dimana rumah sakitnya,”

Ne, arraseoyo

Aku menutup sambungan telepon itu, berganti pakaian seadanya lalu memanggil Go Ahjussi maupun Seo Ahjussi dengan keras. Go Ahjussi dan Park Ahjumma mendatangiku dengan tergesa-gesa. Aku dengan cepat meminta supir Sooyoung itu untuk menyiapkan mobil, dan meminta Park Ahjumma untuk memesankan tiket kereta tercepat ke Jeonju. Aku bisa saja mengemudikan mobil, tapi kurasa akan lebih cepat menggunakan kereta daripada mobil. Tanpa bertanya padaku untuk apa, kedua orang itu langsung melakukan apa yang aku katakan.

Dalam hitungan menit, aku sudah berada di dalam mobil dengan perasaan gelisah yang tidak bisa aku redakan. Sepanjang perjalanan—bahkan sampai pada akhirnya aku di dalam kereta dan keretanya mulai melaju, aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Jantungku berdegup kencang, pikiranku hanya terfokus pada Sooyoung. Apa yang terjadi padanya? Kenapa suara Taeyeon terdengar sangat panik saat memberitahuku?

Begitu sampai di rumah sakit yang diberitahukan Taeyeon, aku berlari tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Melewati dokter, pasien, perawat, dan pengunjung yang menatapku dengan keheranan. Aku segera menuju ke UGD, dan melihat Taeyeon yang sedang berjalan bolak-balik dengan wajah cemas.

“Taeyeon-ssi!” seruku saat aku sudah dekat dengannya.

Kim Taeyeon menoleh. Dia terlihat berantakan, pipinya basah karena air mata dan rambutnya pun terlihat basah. “Kau datang, Kyuhyun-ssi” katanya terdengar lega tapi juga khawatir.

Waegeuraeyo? Sooyoung-ie eodiyo?”

“Dokter masih memeriksanya,” jawab Taeyeon dengan raut tegang. Dia menatapku dengan lengan terlipat di depan dadanya. “Ada kabar baik dan kabar buruk yang harus aku beritahukan padamu, Kyuhyun-ssi

Aku mencelos, tapi tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Kabar baiknya—“ Taeyeon berhenti sesaat, ragu untuk mengatakannya tapi dia kembali membuka mulut. “—Sooyoung sudah mengandung anakmu. Delapan minggu,”

Berita yang baru disampikan Taeyeon itu membuatku terkesiap. Aku bisa merasakan wajahku yang langsung menegang. Sooyoung mengandung? Bahkan, aku tidak pernah tahu itu.

“Kabar buruknya,” Taeyeon melanjutkan. Dia menatapku dengan tajam, tapi ada rasa iba juga disana. “Sooyoung keguguran,” lanjutnya datar, dan aku bisa melihatnya menelan ludah. Seakan-akan dia menahan isakannya.

Aku semakin tersentak. Sooyoung benar-benar hamil dan aku tidak pernah menyadarinya. Otot kakiku seketika terasa lemas, akupun segera bersandar di dinding. Dalam bayanganku, aku mengingat-ingat perubahan kondisi Sooyoung akhir-akhir ini. Dia cepat lelah, mudah sekali sakit, pingsan, bahkan perasaannya semakin sensitif. Seharusnya, aku bisa menebak itu. Suami macam apa yang tidak sadar bahwa istrinya hamil, bahkan sampai keguguran?

Gwenchanayo?”

Aku mengangguk singkat.

Mianhaeyo, Kyuhyun-ssi. Seharusnya aku lebih keras padanya untuk melarangnya pergi saat kondisinya seperti itu”

Aniyo, kau tidak perlu meminta maaf padaku, Taeyeon-ssi. Itu semua salahku—“

“Aku sudah memperingatkannya untuk menjaga kehamilannya itu. Tapi dia tidak mendengarkan,” sela Taeyeon memberitahuku, entah dengan tujuan untuk menenangkanku atau agar suasana diantara kami tidak canggung. “Dia terjatuh saat sedang melewati jalan yang licin di pinggiran pantai, dan—dan—“

“Dimana Sooyoung sekarang, Taeyeon-ssi?” tanyaku seraya mendongakkan kepala ke arah sahabat istriku ini.

Raut wajah Taeyeon masih tampak tegang dan lelah. “Dia di dalam. Kau sebaiknya ke bagian administrasi terlebih dahulu. Mereka membutuhkan tanda tangan suaminya untuk operasi pengangkatan janin”

Ah, eodi—

Jogiyo,” Taeyeon menunjuk ke sebuah arah.

Aku menolehkan kepala sesaat ke arah yang ditunjuk Taeyeon itu, lalu berpamitan sebentar padanya untuk mengurus administrasi. Aku melangkahkan kakiku dengan gontai. Membayangkan Sooyoung yang mengandung anakku dan keguguran itu benar-benar membuat kakiku mati rasa. Aku sama sekali tidak memedulikan beberapa orang yang sempat aku tabrak dan pergi meninggalkan mereka tanpa meminta maaf. Karena apa yang ada di otakku sekarang adalah tentang bagaimana keadaan Sooyoung.

Mataku mulai terasa amat perih, panas dan berkabut. Aku benar-benar merasa telah gagal sebagai seorang suami. Aku bahkan tak tahu bagaimana aku harus menghadapi Sooyoung nantinya dan bagaimana aku harus menenangkannya. Kehilangan seorang anak itu pasti benar-benar sangat menyakitkan baginya. Aku juga sakit, tapi Sooyoung pasti lebih sakit lagi. Dan bagaimana jika keluargaku dan keluarganya tahu bahwa Sooyoung telah mengandung tapi keguguran. Apa yang harus aku katakan pada mereka?

-TBC-

Eotte?

Jangan lupa komentarnya ya^^

Last part segera aku post, mungkin sekitar minggu depan

Gomawoyo^^

62 thoughts on “What Makes A Love -9-

  1. Heol daebak
    keguguran … kasian banget hiksss sedihhh
    akhirnya nenek lampir iklasin kyu juga haahhaha bye bye nenek lampir
    smoga kyuyoung baik2 aja deh
    ditunggu next partnya
    smangat authorrr

  2. apriliarist says:

    Jadi soo bilang merelakan kyu untuk eui jin tapi dia malah tersiksa sendiri. Kasian sampek keguguran gitu soo nya. Sumpah feel nya ngena banget sampek mata berkaca2 gara2 soo keguguran dan soo yg ngerelain kyu gtu aja buat eui jin itu.

  3. hanarthelf407 says:

    Setelah berhasil bikin gw mewek karna Soo merelakan Kyu, akhirnya gw bisa lega setelah Eui Jin melepas Kyu.
    Tp knapa Soo harus keguguran thor ? Pls jangan bikin mewek² lagi. Biarkan Kyuyoung bahagia (‘:

  4. Sisca says:

    Fix ini ff bikin gua baper wkwk, nangis ih bacanya pas bagian soo ikhlasin kyu sama mantanya gitu dan dia mengasigkan diri sedih banget aku harap kyu ngga telat buat ngungkapin kalo dia tuh sayang juga sama soo:’) ditunggu part selanjutnya ^^

  5. konflik yg menguras emosi, dr awal sampai sekarang… duuuh, mereka nyebeliiin!
    sumpah!
    huks, soo keguguran, semoga aja ntar lebih baik lagii, nggak nyesek-nyesek lagi, huhuuu kapan nih bisa senyum senyum baca nih ff, good job thor! bikin saya patah hatii berkali kali😄

  6. Ester says:

    Part ini emang ngudang emosi becampur sedih,soo kenapa sih mensti bohong sma kyu trus itu soo jga terus nutupin kehamilan nya dri kyu,sedih banget pas tau soo nya keguguran,aduh buat kyuyoung happy end dong…

  7. Greget banger baca part ini eonni… Biking mewek terus, Sudah itu kyuhyun gak peka” Sisan. Untung mass lalu keduanya sudah clear tinggal nunggu kelanjutan nya yah…. Part penuh dengan problem nih part seru….
    Sudah gak sabar nunggu kelanjutan cerita nya eonni ditunggu next chapter nya eonni 😊

  8. sedihhhh bnget smapai2 aku ikut nangis mlu bcaa yaa…

    soo knp kmu gegabahh siihh apa susahh yaa ngungkapin kalau eon tuh cnta sma kyuhyun oppa…
    jdii kan kegugurann…

    kyu juga knpa engga peka2…
    emosii jiwaa jdii yaa huuuhhhhh

  9. ini gila, beneran gila. keputusan soo secara sepihak, makin bnyk kebohongan jg yg diucapin ke kyu. walaupun apa yg soo bilang ke euijin jd bikin euijin pergi, tp rasanya gak adil kalo soo musti keguguran :” msh pengen ini cuma bercandaan taeng doang. kesannya gak boleh ada kebahagiaan yg gak didampingin kesedihan

  10. ellalibra says:

    Ni krn soo keras kepala dy mentingin ego dy drpd kandungan ny dy hrs kehilangan baby ny kn kyuhyun jg mza dy biarin gt ja soo prg tnp nyegah dy ini jd pelajaran bt mrk brdua kedpn biar g akan kejadian hal yg sm greget n sedih jdny huhuhuuu …. Neeeeeeext fighting

  11. sie says:

    Annyeong…
    Sooyoungie berhasil mendepak eu jin dengan sangat elegan, tanpa bermaksud mendepak, Youngie mampu mengeluarkan kata2 mahal itu yg sepertinya lebih efektif untuk menyadarkan eu jin pada posisinya… 👏👏 ini scene mahal😎, aku menyukainya 😉.
    Beneran ya, ni ff dah kayak badai katrina, baca ini hatiku porak-poranda, Soocyoung-ssi salut buat dirimu.. 🙇🙆
    Sangat menanti konklusi dari kisah ini, gomawo..🙇😄

  12. Dian says:

    YA TUHAN COBAAN APALAGI INI???
    thor serius deh jangan bikin ceritanya kayak gini dong ,tega bener😦 gue jadi males bacanya klo banyak konflik yang trus menerus, masalahnya konfliknya terus menimpa Sooyoung terus. Kasian thor serius😦 tadi katanya janin nya sooyoung mau diangkat maksudnya Sooyoung bkal ga punya anak lagi? Tuh kan please di cancel aja deh Sooyoung kegugurannya. Ga kuat gue 😢

  13. Sebeelll part ini bikin bete baper kemana2.. sooyoung jadi pengecut bgt di part ini dan berakhir keguguran.. dipart selanjutnya tembok kecanggungan diantra mereka bakalan tambah kokoh apa mengikis?? Next next

  14. rasanya nyesekk banget mulai dari soo ngerelain kyu ke eunjin sampai soo keguguran, duhhh nih air mata gak berhenti ngalir udah kayak banjir bandang #plakk
    next thor semoga nanti di part berikutnya kyuyoung bisa harmonis lagi

  15. seungky says:

    Seru banget, serius, seru banget. Tapi mereka berdua nyebelin banget, dan di part ini Soo yang paling nyebelin. Fast update ya eon, pingin tau gimana canggungnya mereka nanti. Hiiiiih gereget bgt

  16. ajeng shiksin says:

    Awal baca udah kesel banget sama tindakan yg sooyoung ambil . untung nya si nenek sihir sadar buat ninggalin kyuhyun . kyuhyun juga rada lama peka nya .. Pas terakhir dibuat kaget karna sooyoung keguguran . hhhhuuuuuu sedih .

  17. younger says:

    aku seneng akirnya kyu tau sooyoung ada dimna …tapi ga perlu ..sampe kandungaannya keguguran juga lagi… kasian mereka masalanya banyak banget akhhhhbhh…pasrah da aku sama ni ff …kalau di baca bikin nyesrk yapi kalau ga di baca KEPO MAKSIMAL……

  18. Benerbener nguras emosi ff ini AAAAAAAA aku sukaaaaa bgt. Tp thor tolong kyuhyun suruh jangan nethink tentang si dongwoon. Selanjutnya semangat yaaa❤❤❤❤❤❤

  19. ry-seirin says:

    Akhirnya d post jg ska gk sbar nunggu semingu buat d post ni ff.
    Aduh ni mini Drakor bikin termehek² jg ngras emosi gto.
    Akhirnya CLBK kelar juga d tunggu² bgt.
    Ya ampun keguguran kok bisa sich (cieee Gue Lebay).
    Sikap keras kepala Soo psti bkin nyelsel yg berakibat sma kandungannya.
    D tunggu cerita rujuknya minggu depan.

  20. Seharusnya mereka saling terbuka. Masalah eui jin udah kelar, tinggal mereka saling jujur aja. Kenapa si soo bisa nyampe keguguran, padahal si kyu belom tau tentang anak itu. Semoga aja setelah kejadian ini hububgan mereka baik lagi. Pengen liat mereka hidup bahagia

  21. Laras says:

    Part ini bikin mood jadi buruk banget…
    Keren lah eoni ini bisa ngebuat pembacanya sampek kebawa emosi..
    Di tunggu next part nya..

  22. phiaa says:

    Sedih bgd nih critax… knp kyu hrus tau klu sooyoung hamil tpi dlm kondisi keguguran…. psti kyu sedih bgd ya tau klu mau pnya anak akan tetapi anakx udh pegi dluan sblum dia tau… sooyoung trlalu kras kepala cih… smoga soo bsa ambil hikmah dri kjadian ini ya supaya gk egois lagi dn mau terbuka ma kyu…

  23. youngra park says:

    Aish jinjayo aku sdh.senang krn.sih.pho mundur tapi knp hrus ad brita seperti itu sih aish jinja kyuppa tau setelah sooeoni sdh keguguran ahh hiks hiks hiks sedih terlalu banyak.cobaan yg harus di hadapi kyuyoung kasian aduh mna tbc lgi penasaran sma reaksi sooeoni nnti next part di.tnggu eoni ku harap bsa update cpt

  24. fufu says:

    Aaa kyuhyun oppa pabo.. selalu sibuk sama perasaannya sendiri . Eonni juga kenapa sih sama sama egois aaaaa kan keguguran jdinya . Ndak jdi deh ada kyuhyun junior

  25. part ini klimaksnya, seneng, sedih, kesel, marah… dan yang paling patut dibenci disini itu kyuhyun! dia kayak ngga berusaha gitu… kesel banget, cowok macem apa sih lo upiiiiilllll, pengen getok aja pala batoknya itu…
    yaelah… sooyoung ngapa pake keguguran segala sih😥
    rasanya tuh pengen banget taeyeon jadi ‘pengkhianat’, dengan ngasih tau ke Kyuhyun semuanya, tapi dia jadi ‘pengkhianat’ pas udah kejadian gitu, elaaaahhh
    kak keren banget asli, demi apapun, tiap beberapa jam kesini bolak balik berharap part 9 udah nongol T.T *niatbanget*
    yah bentar lagi abis huhuhu
    ada project lagi ngga kak? hahahaha
    semangat kak ^^/ ditunggu banget part terakhirnya ㅋㅋㅋㅋ

  26. Mongochi*hae says:

    Hah ???
    Knp soo mesti keguguran dsaat kaya gini ??
    Aigooo ak baper.
    Aplg dg kesalahpahaman dlm hub mereka. Smga aj dg kjadian ini hub mereka akn mjd lbh baik..

    Next part dtunggu bgy ya

  27. Elis sintiya says:

    ahhh elahh kenapa mesti keguguran sihh.. ff nya lama-lama bikin dongkol.. konfliknya ketemunya lama trus abis itu giliran udh saling menyadari perasaan masing-masing Sooyoung malah keguguran… sekarang saya mah pasrah sama ff ini

  28. Sedih banget bacanya 😭😭😭
    Mengapa disaat aemua menyadari perasaannya, malah harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
    Semoga kejadian ini membuat mereka mampu jujur mengungkapkan isi hati masing masing.

  29. putri wahyuni says:

    kasian ama ama mereka,ketika mereka udah mulai menemukan jawaban atas perasaan mereka,malah ada kejadian seperti ini. jadi sedih juga bacanya,

  30. syiyoung says:

    benar2 nih kehidupan kyuyoung gak ada habis2nya menderitaa.. kenapa sooyoung harus keguguran? ahhh waeee

    seharusnya mereka ketemu bahagiaaa duhhh yahh baperr

    ishhh

    lanjutannya juseyoooo

  31. iromoon says:

    FF mu keren banget, bahasa penyampaian & alur ceritamu bener2 unpredictable… 👍👍👍. Banyak pesan tersirat yg gak berkesan menggurui tapi ngajak mikir, keren soocyoung…

  32. Asdfghjkl konfliknya semakin banyak…. Ku kira fanfiction ini akan berakhir biasa aja, tapi makin kesini makin greget dgn konfliknya. Jjang authornim, aku sayang padamu! Aku suka semua fanficmu authornim! Semangat authornim! 16 chapter ya thor (kayak drama aja wkwkw) 😆😘

  33. shin ah jung says:

    akhirnya selesai jga mslh kyu sma cwe itu..
    thor please thor last part banyakin moment kyuyoungnya,jgn sedih2an lgi.. yaa biarkan mereka bahagia

  34. Rchoi says:

    Aaahhh bete banget sama part ini. Bener bener nguras emosi. Tapi setidaknya wanita pengganggu sudah pergi. Tapi kenapa keguguran? Etdaaahhh kzl zbl

    Ditunggu part selanjutnya ya

  35. ParkRira says:

    akhirnya di post jga,,, tpi masa soo kehilangan anaknya,,, sedih bacanya sampe nangiss… nextnya di tunggu thor lebih cepet lgi😀

  36. ParkRira says:

    akhirnya di post jga,,, tpi masa soo kehilangan anaknya,,, sedih bacanya sampe nangiss… nextnya di tunggu thor lebih cepet lgi😀

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s