What Makes A Love -end-

What Makes A Love

Title                      : What Makes A Love

Author                   : soocyoung (@helloccy)

Genre                    : Romance, Marriage, Complicated

Rating                    : PG 16

Main cast               :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Other cast              : Find it🙂

From Author          :

Annyeonghaseyo!! Aku lagi! Hehe…

Halo halo, aku bawa FF baru nih knightdeul! Kali ini temanya marriage life. Ini pertama kalinya aku tulis FF genre ini, jadi aku minta maaf kalau sedikit aneh hasilnya. Jujur, aku gg tahu apa feel-nya dapat apa gg kali ini hehehe. Tapi semoga kalian suka deh ya^^

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Sooyoung baru saja melakukan operasi, dan sekarang aku duduk disampingnya sambil memegangi tangannya. Tanganku yang bebas membelai lembut rambutnya, menatap wajah polosnya yang sedang tertidur. Kibum sudah kembali ke Seoul, sementara Taeyeon memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Mereka pasti juga kelelahan karena ikut menemaniku selama Sooyoung operasi, menenangkanku dengan berbagai macam cara meskipun sesekali mereka berdua juga memarahiku karena tidak lebih memperhatikan Sooyoung yang sebelumnya sedang mengandung.

Aku masih ingat bagaimana penjelasan dokter mengenai kondisi Sooyoung. Dokter berkata bahwa istriku terlalu stress dan lelah, sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi pada seseorang yang sedang dalam tahap kehamilan pertama, karena akan mengakibatkan keguguran. Aku benar-benar menyesal sekarang, sampai aku bahkan tak bisa berkata apa-apa.

Sudah lebih dari dua jam aku menunggu dalam keheningan kamar rumah sakit ini. Meskipun dokter berkata Sooyoung akan baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kandungannya, aku tetap merasa tidak tenang. Tapi, tidak lama kemudian, aku bisa melihat mata Sooyoung yang mulai mengerjap. Lalu diapun sadar, dan dia menatapku dengan mata yang masih mengantuk. Sebuah senyuman lemah tersungging di wajahnya, dan mau tak mau akupun balas tersenyum sekedar untuk memberitahunya bahwa aku ada disampingnya sekarang.

Gwenchana?” tanyaku dengan suara bergetar. Aku kembali memaksakan senyuman. “Bagaimana perasaanmu?”

Sooyoung diam sesaat, menatapku dengan lekat. Seakan-akan sedang memastikan bahwa dia memang benar melihatku disini. Lalu diapun mulai berbicara. “Oppa—“

Eo, na jigeum yeogi isseo” kataku seraya mempererat genggaman tanganku. “Gokchongma, aku tidak akan pergi kemana-mana”

Air mata tiba-tiba bergulir perlahan di pipi Sooyoung. Aku bisa melihat kesedihan di raut wajahnya yang lelah. “Mianhaeyo,” katanya dengan suara lemah.

Aku menggeleng pelan, berusaha untuk tidak ikut menangis. Meskipun aku tidak bertanya alasan kenapa istriku itu meminta maaf, tapi aku tahu. Aku juga terpukul dengan kondisi yang dialami Sooyoung, tapi itu tidak berarti apa-apa karena dia baik-baik saja sekarang. Kurasa itu lebih penting bagiku.

“Anak kita—“ isak Sooyoung karena aku terus diam. “Mianhaeyo—”

Gwenchana” Aku menyela sambil menghapus air mata Sooyoung dengan lembut. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang, kau hanya perlu cepat sembuh dan kita cepat pulang. Aku merindukanmu,”

Nado,”

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu,” kataku.

Sooyoung tidak memberikan tanggapan apa-apa, tapi dia terus menatapku dengan lekat.

Aku melanjutkan, “Seharusnya aku menyadari bahwa kau sedang hamil, dan seharusnya aku juga lebih memperhatikanmu. Maafkan aku, Sooyoung-ah, karena sudah menjadi suami yang tidak kompeten dan—“

“Aku tidak akan menyalahkanmu,” Sooyoung ganti memotong perkataanku. “Ini semua salahku. Seharusnya aku lebih berhati-hati,”

“Tidak. Ini karena aku dan Eui Jin—“ Aku langsung menghentikan kata-kataku saat melihat reaksi Sooyoung. Aku tersenyum, lalu kembali mengusap rambut Sooyoung. “Kita akan membicarakannya lagi setelah kau sembuh,”

Oppa,”

Hm?”

“Aku—aku ingin mengatakan sesuatu padamu,”

“Tentang apa?”

Sooyoung mengalihkan pandangannya dariku, “Kang Dongwoon”

Aku berusaha untuk tetap bersikap biasa. “Apa yang ingin kau katakan tentang Kang Dongwoon?”

“Aku—sebenarnya aku sama sekali tidak pernah menemuinya” kata Sooyoung masih tidak menatap ke arahku. “Aku menemuinya sekali, tapi itu tidak sengaja. Saat aku pergi ke Suwon,”

“Suwon?”

Sooyoung menoleh ke arahku, lalu mengangguk. “Aku tidak sengaja bertemu dengannya” katanya. “Aku berbicara padanya hanya saat itu”

“Aku mengerti,”

“Kau tidak akan bertanya apa yang aku bicarakan dengannya?”

Aku tersenyum tipis, “Aku tidak mau menjadi suami yang ingin tahu segala sesuatu yang dilakukan istrinya. Semua orang punya rahasia,”

“Meskipun itu suami istri?”

Aku mengangguk meskipun ragu.

“Apa kau senang jika ada rahasia diantara kita, oppa?”

Aku diam saja.

Sooyoung tersenyum ke arahku, matanya menatapku dengan hangat, dan aku baru menyadari bahwa aku benar-benar merindukan tatapannya yang seperti ini saat dia menatapku. “Aku tidak akan menyimpan rahasia apapun darimu, oppa. Sekalipun kau mengatakan bahwa semua orang punya rahasia masing-masing”

Geurae?” celetukku. “Geureom… haruskah aku seperti itu?”

“Aku tidak akan menyuruhmu melakukannya,”

“Aku mengerti,” sahutku kemudian. “Jadi apa yang kau bicarakan dengan Kang Dongwoon?”

Ah, aku memutuskan hubunganku dengannya” kata Sooyoung memberitahuku, membuatku cukup terkejut mendengarnya. “Aku dan Kang Dongwoon… kami sudah selesai” Dia menambahkan.

Aku masih terlalu terkejut untuk mengatakan sesuatu, jadi aku hanya terus diam. Siapa yang menyangka jika Sooyoung sudah mengambil keputusan seperti itu? Bukankah selama ini Kang Dongwoon adalah namja yang selalu dia pikirkan?

“Aku tahu seharusnya aku memberitahumu lebih awal. Mianhaeyo

“Kenapa kau terus meminta maaf?”

Geunyang—“

Aku kembali memaksakan senyuman. “Kita bicarakan masalah ini nanti saja. Eung? Aku ingin kau banyak istrihat sekarang, jadi kita bisa cepat pulang”

Hwanaseoyo?” tanya Sooyoung tiba-tiba.

Ani. Buranhaejyeo,” jawabku langsung dan jujur. “Aku khawatir terjadi sesuatu padamu jika kau memikirkan hal-hal yang serius atau membicarakan sesuatu yang seperti ini” lanjutku.

Sooyoung diam saja.

“Kau tahu, sebenarnya aku juga ingin mengatakan banyak hal padamu. Tapi kurasa aku perlu menahan diri sampai kau benar-benar pulih” kataku agar suasana diantara aku dan Sooyoung tidak hening dalam waktu yang lama. “Kita punya banyak waktu untuk itu,”

Eo, arraseo” sahut Sooyoung kemudian. “Aku akan cepat pulih, jadi kita bisa pulang ke Seoul dan kita bisa membicarakan banyak hal”

“Apa hanya itu?”

Oh?” celetuk Sooyoung terkejut.

“Apa hanya itu alasan kenapa kau harus cepat pulih?” tanyaku memancing dan untuk lebih mencairkan suasana.

Amado?”

Aku tertawa kecil. “Kau tidak ingin melakukan sesuatu yang lainnya denganku?” godaku.

“Melakukan apa?”

Kedua bahuku terangkat, “Sesuatu”

Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gidaryeo, oppa

Aku kembali tertawa karena istriku ini mengerti maksudku. Tanpa mengatakan apa-apa padanya, aku mengusap pelan kepalanya, lalu pipinya. Dia terlihat sangat menikmatinya, seakan-akan ini adalah sesuatu yang sangat dia rindukan. Bahkan, saat aku berniat untuk menghentikan apa yang aku lakukan itu, dia dengan cepat menahan tanganku, membuatku mengurungkan niat itu. Meskipun tidak ada yang dia katakan, tapi aku bisa mengerti dan melanjutkan mengusap lembut pipinya.

Joahae?” tanyaku kemudian.

Em. Neomu joahae,”

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kalau boleh tahu, kau pergi kemana selama ini? Kau bahkan sama sekali tidak menghubungiku atau mengangkat teleponku”

“Yeoseo-do,”

“Yeoseo-do?” ulangku terkejut, yang langsung Sooyoung jawab dengan anggukkan kepalanya. “Geureom, apa yang kau lakukan disana?”

“Tidak ada yang spesial,” jawab Sooyoung sambil mengalihkan pandangannya dariku. “Hanya menikmati waktuku disana. Itu tempat yang sangat bagus, kau tahu”

Aku diam sesaat. Meskipun ada sesuatu yang ingin aku pastikan pada Sooyoung, tapi kurasa aku harus menyimpannya dulu. Sebagai gantinya, aku memegang kepalanya dan membuatnya menoleh kembali ke arahku. “Lain kali, beritahu aku kemana kau akan pergi. Meskipun kau sama sekali tidak meneleponku, setidaknya aku tahu kau dimana. Arraseo?”

Sooyoung menatapku lekat, lalu dengan perlahan dia mengangguk.

Senyumku tersungging. Akupun bangkit berdiri dan mengecup lembut kening istriku ini. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, aku senang karena pada akhirnya dia bisa kembali ada di sisiku. Meskipun kehilangan seorang anak yang belum lahir itu menyakitkan, tapi kurasa kehilangan Sooyoung—untuk saat ini, jauh lebih menyakitkan untukku. Aku bahkan tak tahu apa yang harus dilakukan jika dia tidak ada lagi dalam hidupku. Karena entah kenapa, sekarang hidupku jauh terasa lebih lengkap dengan keberadaan dirinya.

__

Sooyoung POV

“Bagaimana bisa istrimu hamil dan kau tidak tahu?” seruan eommeoni—eomma Kyuhyun langsung terdengar saat aku dan Kyuhyun datang ke rumah orang tua Kyuhyun dan memberitahukan mengenai kabar kehamilanku sebelumnya. “Dan dia keguguran?” tambahnya.

Mianhae,”

“Kenapa meminta maaf pada eomma? Seharusnya kau merasa bersalah pada istrimu”

Eommeoni, gwenchanayo” sahutku dengan cepat karena ikut merasa bersalah Kyuhyun disalahkan atas apa yang terjadi padaku. “Itu bukan salah Kyuhyun oppa. Itu salahku. Aku tak bisa menjaga—“

“Tidak, itu bukan salahmu, myeoneuri (menantu)” Eommeoni menyela perkataanku, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. “Itu salah putra eomma. Dia seharusnya menjagamu”

Aku diam saja sambil menatap ke arah Kyuhyun yang terus menundukkan kepalanya. Rasanya aku ingin mendekat ke arahnya atau membelanya, tapi aku tahu aku tidak bisa melakukannya sekarang. Eommeoni juga kelihatannya sangat marah, bukan padaku melainkan pada Kyuhyun. Padahal aku—dan mungkin Kyuhyun tahu, bahwa keguguranku bukan salah Kyuhyun sepenuhnya. Itu salahku, karena aku sama sekali tidak bisa menjaga diri dan janinku sendiri.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Pertanyaan eommeoni itu terdengar, membuyarkan lamunanku singkatku. “Adeul-ah, kau sudah lupa apa yang kau katakan pada eomma sebelum kau menikah?”

“Aniya, aku tidak melupakannya”

Kedua alisku saling bertaut karena aku benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan sekarang. Aku hanya bisa menatap Kyuhyun yang sudah mengangkat kembali kepalanya dan menatap eommeoni—sesekali dia melirik ke arahku.

Geurae, geureom” kata eommeoni lagi sambil menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. “Pergilah ke ruang kerja ayahmu. Katanya dia ingin berbicara denganmu tentang perusahaan”

Eo,” sahut Kyuhyun. Lalu diapun beranjak dari tempatnya dan pergi ke ruangan lain di rumah orang tuanya ini, meninggalkanku hanya dengan eommeoni sendirian.

Untuk beberapa saat, aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi kemudian, eommeoni bangkit dari kursinya dan melangkah ke arahku dan duduk di sampingku. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. Seakan-akan dia sedang menguatkanku atau sesuatu seperti itu. Aku cukup terkejut dengan apa yang eommeoni lakukan, tapi aku benar-benar berterima kasih padanya. Setidaknya ada seseorang yang bisa mengerti bagaimana keadaanku yang sebenarnya saat kehilangan seorang anak yang belum lahir meskipun tidak ada kata-kata yang terucap.

Uri myeoneuri, eomma mianhae” ucap eommeoni pelan dan lembut. “Kau pasti banyak menangis dan sangat terluka. Seorang bayi bahkan akan menangis saat dia marah dan terluka. Itulah kenapa ada pelukan seorang eomma

Aku diam saja, tidak menyangka jika eommeoni akan seperti ini padaku.

Eomma tidak ada disana, begitu pula ibumu. Kau sendirian saat semua itu terjadi. Eomma benar-benar minta maaf padamu”

Aniyo, eommeoni. Kyuhyun oppa ada disampingku dan selalu disana—“

“Kyuhyun tidak tahu,” Eommeoni kembali menyela perkataanku, membuatku langsung terdiam. “Dia tidak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Bagaimana seorang ibu kehilangan anaknya yang bahkan belum lahir. Dia tidak tahu, tapi eomma tahu”

Aku kembali diam. Berusaha keras untuk tidak mengingat-ingat apa yang terjadi padaku dan terbawa suasana. Meskipun begitu, eommeoni benar. Bahwa Kyuhyun tidak tahu bagaimana sakitnya aku saat kehilangan janinku. Semua senyumanku, kata-kataku di depan Kyuhyun, bahwa aku baik-baik saja itu tidak sepenuhnya benar. Aku masih bisa merasakan sakit karena kehilangan itu, bahkan sampai sekarang.

“Kau seharusnya memberitahu eomma saat kau mengandung, myeoneuri” kata eommeoni lagi, mengabaikan diamku. “Dengan begitu, eomma bisa merawatmu dan memastikan kau serta janinmu baik-baik saja. Apa kau juga tidak memberitahu eomma-mu?”

Ne, aku tidak memberitahu eomma juga”

Eommeoni langsung melepas pelukannya padaku. “Wae? Kenapa kau sama sekali tidak memberitahu baik eomma maupun eomma-mu?”

“Aku—aku—“ Aku tidak tahu harus mengatakan apa kali ini. Tidak mungkin aku mengatakan alasanku yang sebenarnya ‘kan? Aku bahkan tidak akan memberitahu eomma bahwa aku juga menyembunyikan kehamilanku di depan Kyuhyun.

“Kami ingin memberi kejutan,” Kyuhyun tiba-tiba menyambung sambil melangkah kembali ke arahku. Dia duduk di tempatnya sebelumnya, menatapku sesaat lalu berpaling pada eommeoni. “Rencananya kami akan memberitahukannya setelah usia kandungan Sooyoung tiga bulan,”

“Kalian seharusnya tidak begitu”

“Aku tahu. Mianhae eomma

Eommeoni tidak memberikan tanggapan apapun selain hanya helaan napas. Dia meraih tanganku, lalu mengusapnya dengan lembut. Semua perlakuan ibu mertuaku selama ini benar-benar membuatku merasa nyaman menjadi bagian dari keluarga ini. Tidak hanya ibu mertuaku, bahkan ayah mertua, adik ipar, kakek-nenek Kyuhyun dan semua keluarganya begitu baik padaku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika Lee Eui Jin benar-benar mengikuti apa yang aku katakan padanya untuk bersama Kyuhyun. Dan sekarang, aku menyesal sudah mengatakan itu pada Lee Eui Jin. Bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?

Suara dering ponsel memecahkan keheningan sesaat diantara kami bertiga. Itu suara ponsel Kyuhyun. Aku mengamatinya yang sedang mengambil ponsel dari dalam sakunya, melihat sekilas nama yang tertera di layar dan ekspresinya. Entah kenapa aku bisa tahu siapa peneleponnya melihat dari ekspresi Kyuhyun. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia langsung menelepon, seakan-akan dia tahu bahwa aku sedang memikirkannya beberapa saat yang lalu.

“Aku menjawab telepon sebentar,” kata Kyuhyun seraya bangkit berdiri dan pergi ke beranda belakang.

Aku menatap kepergian Kyuhyun tanpa mengatakan apa-apa. Dari kejauhan, aku sempat melihatnya yang sedang berbicara. Sayangnya, aku sama sekali tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya.

“Kenapa dia harus menjauh hanya untuk mengangkat telepon?” tanya eommeoni padaku yang ternyata juga sedang mengamati Kyuhyun. “Apa itu masalah perusahaan atau bagaimana?” Eommeoni menoleh ke arahku saat bertanya untuk kedua kalinya.

Aku tersenyum, “Aku akan menyusul Kyuhyun oppa dulu, eommeoni

Ah? Geurae?

Aku mengangguk singkat, lalu bergegas menyusul Kyuhyun yang sedang berbicara menghadap ke arah taman kecil berisi banyak pot bunga. Saat aku mendekat, aku bisa mendengar nada bicaranya yang serius lalu berubah menjadi lembut dan kemudian berubah serius lagi. Lalu tiba-tiba dia berbalik, dan terkejut melihatku sudah berada di belakangnya. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya dan diapun berbicara di telepon kembali lalu mengulurkan ponselnya padaku.

“Eui Jin ingin berbicara padamu,” kata Kyuhyun memberitahuku. “Katanya ada sesuatu yang ingin dia katakan”

“Lee Eui Jin-ssi?” Aku pura-pura terkejut—dan Kyuhyun mengangguk, meskipun tanganku mengambil ponsel di tangan Kyuhyun. “Ne, yeoboseyo?”

“Sooyoung-ssi?”

Ne, Eui Jin-ssi

Ah, jal jinaesseoyo?”

Em. Jal jinaesseo

Mianhaeyo, seharusnya aku bertemu denganmu dan mengatakan ini langsung padamu. Tidak melalui telepon” kata Lee Eui Jin. “Hanya saja, sekarang aku sudah berada di Hongkong, jadi aku tidak bisa menemuimu”

Ne? Kau sudah di Hongkong? E—eotteoke?” sahutku terkejut.

“Aku ingin memperbaiki rumah tanggaku sendiri, terima kasih padamu, Sooyoung-ssi” jawab Lee Eui Jin. “Ah, aku hanya ingin meminta maaf padamu karena telah mengganggu rumah tanggamu, Sooyoung-ssi. Seharusnya aku tidak datang lagi di kehidupan Kyuhyun,”

Aku diam saja.

“Kau benar bahwa cinta itu berarti kau bahagia saat melihat orang yang cintai bahagia,” Eui Jin melanjutkan kata-katanya. “Aku mencintai Kyuhyun, dan aku bahagia saat melihat dia bahagia bersamamu. Aku hanya terlalu naïf untuk mengakui itu, mianhaeyo

Aku masih terus diam karena tak tahu harus mengatakan apa.

“Jujur saja, Sooyoung-ssi. Aku banyak belajar darimu sebagai seorang istri, bahwa salah satu tugas kita adalah menjaga keutuhan rumah tangga kita. Kau melakukannya dengan cara apapun, bahkan sampai menemuiku dan memintaku untuk membahagiakan Kyuhyun” Lee Eui Jin sepertinya tidak mempermasalahkan sikap diamku dan terus saja berbicara. ”Apa kau tahu? Apa yang kau lakukan itu justru membuatku merasa malu karena aku tak melakukan apapun untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku. Tapi justru melarikan diri ke romansa masa lalu, yang itu justru membuatku menyakitimu dan Kyuhyun”

“Eui Jin-ssi,” kataku pada akhirnya. Aku sempat bingung harus mengatakan apa, dan menatap Kyuhyun yang sedang memperhatikanku. “Gomawoyo, kau membuatku menyadari sesuatu”

Oh?”

Aku tersenyum dan terus menatap ke arah suamiku. “Kau menyadari sesuatu bahwa aku memang mencintai Kyuhyun oppa” kataku tanpa menyembunyikannya dari Kyuhyun, yang tentu saja membuat namja itu terkejut.

Geurae? Aku senang mendengarnya,” jawab Lee Eui Jin. “Geureom, aku akan menutup teleponnya. Sekali lagi aku minta maaf karena telah melakukan banyak hal yang menyakitimu, Sooyoung-ssi

Aniyo, gwenchanayo” sahutku dengan cepat. “Geureom—“

Aku menurunkan ponsel dari telingaku begitu Lee Eui Jin menutup sambungan teleponnya. Setelah itu, Kyuhyun langsung mendekat ke arahku dan akupun segera mengulurkan ponselnya. Tanpa mengambilnya terlebih dahulu, suamiku itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arahku dan mencium lembut bibirku. Aku cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi kemudian aku bisa menikmati ciuman itu, begitu pula Kyuhyun. Dia bahkan dengan cepat menekan bagian belakang kepalaku agar wajahku lebih mendekat ke arahnya dan secara refleks, aku melingkarkan tanganku di sekitar lehernya.

“Aku juga mencintaimu, Sooyoung-ah” kata Kyuhyun di sela-sela ciumannya. Membuat jantungku berdegup kencang karenanya. Tapi kemudian dia kembali menciumku setelah mengatakannya, tanpa menungguku memberinya tanggapan.

__

Kyuhyun POV

Mataku terus menatap ke arah Sooyoung yang terlihat sangat serius saat sedang memotong-motong tofu menjadi bentuk dadu yang kecil-kecil. Dari tempatku duduk, aku bisa melihatnya sangat hati-hati menggunakan pisau di tangannya, seakan-akan dia baru pernah memegangnya. Persis disebelahnya, berdiri Park Ahjumma yang terus memberi instruksi pada Sooyoung yang mendengarkannya sambil terus memotong tofu-nya. Beberapa kali aku tersenyum mendengar komentar Park Ahjumma saat hasil potongan Sooyoung—yang menurutnya, tidak bagus atau kasar. Meskipun begitu, dia terus melakukannya sampai akhirnya komentar Park Ahjumma sedikit berkurang.

Jujur saja, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Sooyoung lakukan hari ini. Karena saat aku bangun, aku sudah melihatnya sangat sibuk di dapur. Istriku itu bahkan melarang orang-orang yang biasanya bekerja di dapur untuk masuk ke dapur, dan hanya mengijinkan Park Ahjumma yang menemaninya. Tapi, melihatnya sekarang—dan aku menebaknya sendiri, sepertinya dia sedang belajar memasak sesuatu. Hanya saja, aku tak tahu apa yang dia masak dan untuk apa dia melakukannya.

Josimhae,” celetukku mengingatkan Sooyoung untuk berhati-hati. “Jangan sampai tanganmu terluka hanya karena kau ingin hasil yang bagus dan halus, seperti yang dikatakan Ahjumma

Gokchongmayo, yeobo” sahut Sooyoung menatapku sekilas.

Ada rasa berdesir di debaran jantungku mendengar bagaimana Sooyoung memanggilku. Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya memanggilku seperti itu, ‘kan? Rasanya benar-benar luar biasa kembali mendengarnya, karena kali ini sama sekali tidak terdengar seperti sebuah keharusan ataupun keterpaksaan seperti dulu. Senyumku tersungging tipis, lalu aku bangkit berdiri dan menghampirinya. Saat aku mendekat, Park Ahjumma memilih untuk pergi—tanpa diminta, dan aku sangat berterima kasih karena itu.

“Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?” tanyaku sambil melingkarkan tanganku di sekitar pinggang istriku.

“Memasak Haemul-sundubu-jjigae

Haemul-sundubu-jjigae?”

“Kau suka masakan itu, ‘kan?”

“Darimana kau tahu?”

Eommeoni yang memberitahuku,” jawab Sooyoung, menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahku. Wajah kami sangat dekat, tapi dia sama sekali tidak menjauhkannya dariku. Dia justru tersenyum, lalu kembali berkata. “Kau jarang memakannya karena tak ada yang bisa membuatnya seperti eommeoni. Jadi aku mencobanya,”

Wae kappjaki?”

Sooyoung mengedikkan bahu, lalu dia kembali memotong-motong tofu. “Aku tiba-tiba ingin melakukannya”

Geurae? Arraseo,” sahutku sambil menyandar di bahu Sooyoung dan mencium wangi rambutnya. “Ayo kita berlibur, yeobo” Aku mengemukakan ide yang tiba-tiba muncul di kepalaku.

“Berlibur? Ah!” celetuk Sooyoung keras, membuatku langsung menjauhkan diri darinya. “Ah, oppa… ini berdarah” serunya kemudian.

Ya! Ya! Sudah kukatakan untuk berhati-hati” Aku cepat-cepat menarik jari Sooyoung yang terluka, lalu mengambil kain apapun di dekatku dan menutupnya. “Ahjumma! Ahjumma! Tolong bawakan perlengkapan obat,”

Ne?” tanya Park Ahjumma yang datang dengan tergesa-gesa. Dia melihatku dan Sooyoung, “Waegeuraeyo Sajangnim?”

“Jari Sooyoung terluka,”

Ah, geurae” sahut Park Ahjumma yang bergegas pergi tanpa diminta untuk kedua kalinya.

Setelah kepergian Park Ahjumma, aku segera mengajak Sooyoung untuk menjauh dari dapur lalu mendudukkannya di salah satu sofa terdekat. Tak lama kemudian, Park Ahjumma kembali datang dengan kotak obat di tangannya. Dia langsung menawarkan diri untuk merawat luka Sooyoung, tapi aku menolaknya dengan cepat. Sebagai gantinya, aku memintanya untuk menyiapkan makanan sementara aku mengobati luka istriku ini.

Oppa, gwenchana. Ini hanya luka kecil,” kata Sooyoung saat aku mulai membersihkan lukanya. “Kau seharusnya tidak berlebihan—“

“Aku tidak berlebihan” sahutku tanpa menatap Sooyoung. “Aku hanya tidak suka melihatmu terluka” Aku menambahkan.

Tidak ada tanggapan apapun dari Sooyoung, dan akupun terus sibuk mengobati tangannya yang terus berdarah.

“Lihat, kata siapa ini hanya luka kecil?” kataku sambil menunjukkan garis panjang dan dalam di salah satu jari Sooyoung. “Jika tidak segera diobati, ini bisa infeksi” kataku lagi.

Geurae?”

“Tentu saja. Apa kau tak—“ Aku langsung menghentikan kata-kataku karena melihat Sooyoung yang justru tersenyum saat memandangiku. Keningku berkerut, membalas tatapan istriku ini. “Wae? Wae useo? Apa kau senang jika tanganmu terluka atau kau senang membuatku khawatir?”

Senyum Sooyoung masih tersungging. “Geunyang kamsahaeyo” katanya kemudian.

Mueos-eul wihae?”

Oppaneun ajikdo museum il-i isseossneunji hu nae yeope-iss-eo” jawab Sooyoung.

Aku diam sesaat, lalu ikut tersenyum. “Nado,” kataku seraya mengusap pelan kepala Sooyoung. “Aku juga bersyukur karena kau masih disisiku, Sooyoung-ah

Mianhae—

Tto?”

Saranghae, oppa” Sooyoung mengabaikan selaanku. “Aku ingin memperbaiki semuanya, terutama rumah tangga kita. Aku memulainya dengan mengatakan padamu apa yang aku rasakan. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi dan membohongi diriku sendiri, seperti dulu”

Aku menatap Sooyoung dengan lekat, lalu bergerak untuk memeluknya. Aku membiarkannya terus berada di pelukanku selama beberapa saat sebelum akhirnya dia menjauhkan tubuhnya dariku.

Wae?” tanyaku.

“Boleh aku bertanya?”

Aku menjawabnya dengan anggukkan kepala.

Sooyoung terlihat ragu untuk sesaat, tapi kemudian diapun berbicara. “Kenapa Eui Jin-ssi kembali ke Hongkong tiba-tiba? Apa yang terjadi pada kalian?”

“Tidak ada yang terjadi diantara kami,” kataku sambil kembali meraih tangan Sooyoung yang terluka dan melanjutkan mengolesinya dengan salep. “Kisah masa lalu kami sudah selesai sekarang, dan aku merasa lega karena bisa melepasnya sekarang”

“Kau pasti mencintainya—“

Eo, dulu” sahutku cepat. “Tapi aku lebih mencintaimu sekarang”

“Apa—“

“Bukan hanya sebagai istriku, tapi sebagai seorang yeoja yang spesial di hatiku” Aku cepat-cepat menambahkan. “Nah, sudah selesai” seruku setelah berhasil menutup luka di jari Sooyoung.

Senyum di wajah Sooyoung kembali mengembang. “Aku benar-benar yeoja yang beruntung karena aku memilihmu sebagai suamiku, oppa. Sekarang aku mengerti kenapa banyak orang yang mengatakan hal itu padaku”

Wae?”

“Kau menyembuhkan lukaku dengan cara yang tidak aku sadari,”

“Tapi aku juga melukaimu,”

“Kau melukaiku untuk menyembuhkanku, oppa” sahut Sooyoung dengan suaranya yang lembut. “Itu juga membuatku sadar tentang bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku mungkin akan sangat menyesal jika seandainya kau dan Eui Jin-ssi ber—“

Geumanhae,” Aku menyela sambil mengarahkan telunjukkau di depan mulut Sooyoung. “Cepat atau lambat, kita semua akan melepaskan masa lalu kita. Dan sekarang, aku lebih suka untuk tidak membicarakannya lagi”

Sooyoung menatapku lekat, lalu diapun menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.

“Ayo kita sarapan. Ahjumma pasti sudah selesai menyiapkannya”

“Bagaimana dengan Haemul-sundubu-jjigae-ku?”

“Lain kali saja. Waktu kita masih banyak”

Sooyoung mendengus kecil, “Geurae, arraseo” katanya sambil mengikuti langkahku menuju meja makan.

**

Yeobo, minggu depan kau tidak ada acara?” tanyaku.

Jawaban Sooyoung hanya gelengan kepala. Dia sedang menikmati Soegogi-gui yang menjadi menu makan siang kami di restoran Taeyeon. Di tengah-tengah kesibukan kami hari ini, kami memang menyempatkan diri untuk makan siang bersama—yang akan terus kami lakukan mulai sekarang, karena inilah langkah pertama yang kami ambil untuk memperbaiki hubungan. Memang tidak ada yang spesial atau bagaimana, tapi kami cukup menikmatinya. Aku bahkan mulai menyesal karena dulu tidak lebih sering melakukannya bersama Sooyoung.

Aku tersenyum memperhatikan wajah istriku. Pipinya kembang kempis meniup asap yang mengepul dari gogi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Sooyoung menyadari baha aku sedang mengamatinya, tapi dia hanya tersenyum kecil dan terlihat sangat menikmati makan siangnya itu.

“Ayo kita pergi ke Jepang,” ajakku kemudian.

Mata Sooyoung membulat. “Mwo?”

“Kita ke Jepang. Aku ada perjalanan bisnis ke Tokyo dan aku ingin mengajakmu jalan-jalan kesana. Kita bisa juga pergi ke Akita atau Osaka atau Sapporo. Atau bahkan kemanapun yang kau inginkan”

Wajah Sooyoung berubah senang. “Aku sudah lama ingin pergi ke Jepang, oppa. Sungguh,”

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika sebenarnya kau ingin pergi ke Jepang?”

“Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu,”

Aku mendesah pelan, “Lain kali, katakan saja apa yang kau inginkan. Aku tidak pernah merasa kau menggangguku” kataku sambil menyentuh tangan Sooyoung dengan lembut. “Kita sudah berjanji akan selalu terbuka, ‘kan?”

Sooyoung mengangguk.

Geureoum, apa kau ingin—“

“Sooyoung-ah,” Panggilan tiba-tiba dari Taeyeon itu langsung menghentikan kata-kataku. Yeoja itu menatapku sekilas—dengan pandangan bersalah, lalu memberikan ponselnya pada Sooyoung. “Ada yang ingin bicara denganmu” katanya memberitahu istriku.

Nugu?”

Emm—“ Taeyeon kembali melirikku, seakan-akan dia tidak mau memberitahukannya di depanku. Karena itu, aku memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya dan menyibukkan diri pada gogi di depanku. “Kang Seulgi,” Aku mendengar Taeyeon berbicara, menyebut sebuah nama yang baru pernah aku dengar.

Aku mendongakkan kepala, menatap Sooyoung yang terlihat terkejut meskipun tangannya tetap mengambil ponsel sahabatnya itu. Keningku masih berkerut, berpikir siapa itu Kang Seulgi dan kenapa ekspresi Sooyoung seperti itu. Aku benar-benar penasaran sekarang, tapi aku harus menahan diri. Memberikan kesempatan pada Sooyoung untuk berbicara di telepon dulu.

Jamkkamanyo, oppa

Aku mengangguk, “Em,”

Sooyoung bergegas pergi—Taeyeon langsung mengikutinya, meninggalkanku sendirian di meja kami ini. Pandanganku tidak pernah lepas dari istriku yang terlihat serius saat berbicara melalui ponsel. Disampingnya, Taeyeon terlihat sama seriusnya. Membuatku semakin mengerutkan kening karena berpikir apa yang membuat mereka seperti itu.

Aku menunggu cukup lama samai akhirnya Sooyoung kembali menghampiriku. Setelah beberapa saat, aku masih bisa melihat wajahnya yang serius dan seperti sedang menahan sesuatu. Bahkan dia sama sekali tidak menatapku sejak kembali duduk di kursinya lagi. Dia hanya terus diam sambil menatap ke bawah, seperti seseorang yang sedang melamun memikirkan sesuatu. Beberapa kali aku mendengar helaan napasnya, tapi tetap saja dia tidak bicara.

Aku menghela napas panjang, lalu memberanikan diri untuk membuka mulutku dan bertanya. “Mwoga munje ya?”

Sooyoung diam saja dan masih terlihat terus melamun.

Aku kembali bertanya, “Kang Seulgi. Nuguya?”

Mendengar nama itu disebut, Sooyoung menaikkan wajahnya dan menghela napas yang semakin terdengar berat. Tapi kemudian, diapun berbicara. “Kang Seulgi itu—“ Dia berhenti sesaat, memberi jeda untuknya kembali menghela napas. “Dia yeodongsaeng Kang Dongwoon” katanya melanjutkan.

Tenggorokanku tercekat, tak bisa mengatakan apa-apa mengetahui hal ini. Aku hanya bisa diam sambil terus memandangi Sooyoung yang terlihat gelisah. Bukankah katanya dia sudah menyelesaikan segalanya dengan namja itu? Lalu kenapa adiknya tiba-tiba menghubunginya? Untuk alasan apa?

Aku berdehem pelan, berusaha untuk berbicara sebiasa mungkin. “Ada apa dia meneleponmu?”

Ah, itu—“ Sooyoung terlihat ragu untuk mengatakannya. Tapi aku meyakinkannya dengan anggukkan kepala bahwa aku tidak akan apa-apa, jadi diapun membuka suara. “Seulgi menelepon untuk memberiku kabar tentang Dongwoon”

“Kabar tentang Dongwoon?” ulangku.

Kepala Sooyoung mengangguk. “Dia—dia sedang sakit sekarang. Sakit yang sangat parah,”

Aku tercengang, tapi aku tak mungkin diam saja. Meskipun itu tidak menyenangkan, tapi lebih baik aku bertanya daripada harus menebak-nebaknya sendiri, ‘kan? Aku berdehem pelan, “Sakit apa?” tanyaku.

“Ensefalitis”

Mwo?”

“Aku—“

“Kau ingin menemuinya?” sahutku mencoba menerka apa yang ingin Sooyoung katakan. “Kau diminta datang, ‘kan? Itulah kenapa adiknya meneleponmu”

Perlahan, Sooyoung kembali menganggukkan kepala. “Tapi aku tidak akan datang hanya karena dia memintaku untuk datang. Aku sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubunganku dengannya, jadi aku tidak perlu datang. Dia sudah tidak berarti—“

“Kau harus datang, Sooyoung-ah” Aku kembali menyela perkataannya. Dia terlihat terkejut, tapi aku tersenyum ke arahnya. “Aku akan ikut bersamamu. Biar bagaimanapun dia adalah bagian dari masa lalumu, dan kau tidak seharusnya melarikan diri”

“Kau akan ikut?”

Wae? Shirreo?

Aniyo, bukan begitu” Sooyoung menyahut dengan cepat. “Aku bukannya tidak suka jika kau ikut, tapi aku merasa aku tidak perlu datang. Dia masa laluku sekarang,”

“Sooyoung-ah” panggilku sambil meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya dengan erat. “Aku tidak mau menjadi alasan. Meskipun aku mungkin akan cemburu tapi aku bisa mengerti. Aku percaya padamu,”

Oppa,”

“Sooyoung-ah” panggilku sambil meraih tangan Sooyoung lalu menggenggamnya dengan erat. “Nan gwenchana, gokchongma

Oppa—“

“Menurutku justru kau harus menemuinya sekali lagi, Sooyoung-ah. Kelihatanya masih ada yang tidak sempat kau katakan padanya. Aku benar, ‘kan?”

Sooyoung tidak memberikan apapun, tapi kepalanya tertunduk. Dia diam untuk waktu yang cukup lama, membuatku kebingungan harus mengatakan apa lagi di depannya. Aku mendesah pelan, lalu bangkit dari tempat dudukku dan mengajak Sooyoung untuk meninggalkan meja kami. Aku menuntunnya ke halaman belakang restoran dan berbicara pada salah satu pegawai restoran untuk tidak membiarkan siapapun masuk, dan juga memberitahu Taeyeon kemana aku dan Sooyoung pergi.

“Ayo kita bicara, Sooyoung-ah” kataku setelah beberapa saat hanya memandangi Sooyoung yang terus diam dan menundukkan kepala. Aku kembali menghela napas, lalu mengangkat dagunya dengan perlahan, membuatnya menatapku langsung ke dalam mataku. “Kau tidak mengatakan apa yang seharusnya kau katakan padanya, ‘kan? Na ttaemune?”

Eo, tapi bukan karena kau, oppa

Geureom? Mwoga?”

“Itu karena aku,” kata Sooyoung. “Aku mencintaimu karena itulah aku melakukannya,”

“Tapi aku bisa merasakan kegelisahanmu, Sooyoung-ah, dan itu membuatku menderita karena aku tidak bisa membuatmu bahagia”

Oppa,”

“Ayo kita pergi saja dan temui dia,” ujarku seraya menyisihkan dengan lembut anak-anak rambut di kening Sooyoung. “Aku akan membatalkan perjalanan bisnis ke Jepang, dan kita pergi untuk menemui Kang Dongwoon. Kau tahu dia dimana, ‘kan?”

Meskipun masih ragu, Sooyoung mengangguk dengan perlahan.

“Kalau begitu, aku akan mengurusnya. Kita bisa pergi kapanpun kau mau” kataku lagi. “Kau tidak perlu merasa cemas atau merasa bersalah. Aku membiarkanmu pergi karena aku juga ingin menghilangkan rasa cemburuku setiap kali kau menyebut namanya. Itu tidak apa-apa?”

Eo,”

Aku tersenyum, lalu mendekat ke arah Sooyoung untuk mencium puncak kepalanya dan turun ke keningnya. “Kita akan menyelesaikan segalanya”

Em. Aku janji, aku akan menyelesaikan segalanya kali ini”

__

Sooyoung POV

Perjalanan dari Seoul menuju Daejeon membutuhkan waktu sekitar 3 jam menggunakan mobil. Sebenarnya bisa saja kami pergi menggunakan KTX, tapi Kyuhyun menolaknya. Katanya lebih baik dia menyetir sendiri karena itu akan mudah jika kami harus pergi saat membutuhkan sesuatu di Daejeon. Aku tidak masalah dengan itu, hanya saja aku semakin merasa bersalah karena membiarkan suamiku ini mengemudikan mobilnya sendirian. Beberapa kali aku membujuknya untuk bergantian denganku, tapi dia terus menolaknya. Dia bahkan memintaku untuk tidur saja selama perjalanan—yang tentu saja tidak aku lakukan, agar nanti saat sudah sampai di rumah sakit dimana Kang Dongwoon dirawat, aku terlihat jauh lebih segar.

Meskipun begitu, aku tetap tidak tidur. Jangtungku terus berdebar dan rasa cemas terus ada dibenakku sejak aku meninggalkan Seoul. Aku tidak bisa mengendalikan itu, bahkan sampai pada akhirnya kami tiba di rumah sakit. Langkahku lebar-lebar saat menyusuri lorong rumah sakit dengan Kyuhyun disampingku, mengikuti langkahku. Kami berbelok di ujung koridor, dan aku dengan cepat melihat Kang Seulgi yang terlihat tegang sambil berdiri menyandar dinding di samping pintu.

“Seulgi-ya” panggilku pelan, membuat yeoja itu langsung menolehkan kepala ke arahku.

Eonni,” seru Seulgi sambil melangkah ke arahku dan langsung menghambur memelukku. “Eonni, kau datang. Dahaengida” katanya di telingaku.

Aku melepas pelukanku, lalu mengangguk ke arah Seulgi. “Ni oppa eodiseo?”

“Di dalam,” jawab Seulgi seraya menatap ke ruangan disampingnya dari balik kaca. “Oppa memintaku untuk membiarkannya sendirian, jadi aku diluar”

Bumonim-eun?”

“Mereka akan datang nanti,”

Aku menarik napas singkat sebelum memberanikan diri menatap ke arah ruangan dimana Kang Dongwoon di rawat. Pandanganku beralih pada Kyuhyun—yang ternyata sedang memandangiku, lalu melihatnya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa padaku. Aku kembali menghela napas, mengumpulkan keberanianku untuk membuka pintunya dan melangkah masuk. Aku menyapukan pandangan sekilas ke arah ruangan ini, mengamati beberapa siluet kapal-kapal laut yang sedang berlayar di lautan—yang memang kesukaan Kang Dongwoon. Ada sebuah tempat tidur putih yang diletakkan di dekat jendela kayu besar di sisi ruangan yang terbuka lebar.

Di seberang ruangan aku memandangi sosok yang terbaring disana. Dari tempatku berdiri aku bisa mendengar napasnya yang berat meskipun masker oksigen terpasang di mulutnya. Aku menghela napas panjang sekali lagi, lalu dengan perlahan melangkah mendekatinya. Berbagai perasaan bergulat di dalam hatiku sekarang karena begitu sulit untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang aku rasakan saat aku melangkahkan kakiku mendekatinya seperti ini.

Seperti menyadari kedatangan seseorang, tiba-tiba namja itu mengalihkan pandangannya dari jendela ke arahku. Langkahku langsung terhenti, seakan jarum jam ikut berhenti berdetak bersamanya.

“Sooyoung-ah?” seru Dongwoon meskipun suaranya tidak jelas dari balik masker oksigen.

Mataku terus menatap ke arahnya, lalu kembali melanjutkan langkahku. Kali ini aku memaksakan senyum di bibirku dan meraih tangannya yang terkulai lemas. Beberapa kenanganku dengan namja ini langsung masuk memenuhi kepalaku, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk mengendalikan diri.

Jal jinaesseo, Woon-ah?” tanyaku dengan suara bergetar. Sejauh ini aku berhasil melawan air mataku dan menyapanya dengan lembut.

“Apa—apa yang kau lakukan disini?” Dongwoon balik bertanya tanpa memberiku jawabannya terlebih dahulu. “Kau seharusnya tidak disini dan—“

“Aku ingin bertemu denganmu,” kataku memotong perkataan Dongwoon. Aku menatap lekat matanya, “Mianhaeyo, Woon-ah. Jal mothaesseo,” Tanpa terasa sebutir air mata menetes pelan dari pelupuk mataku.

Kang Dongwoon menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia mengusap pelan pipiku. “Kau tidak bersalah, akulah orang yang bersalah. Kau seharusnya tidak meminta maaf padaku”

“Aku—aku seharusnya tidak menyakiti perasaanmu. Aku seharusnya tidak memintamu untuk pergi dariku”

Dongwoon tersenyum. “Kau tidak ada pilihan, begitupula aku”

Mianhae. Seharusnya aku tidak menikah—“

Hajima,” ucap Dongwoon memotong kalimatku. “Jika kau tidak menikah, apa yang akan kau lakukan? Menungguku kembali padamu bukanlah satu-satunya tujuan hidupmu, jadi aku tidak menyalahkanmu sama sekali, Sooyoung-ah

Aku diam saja.

“Kau harus menikah, harus, dan kau melakukannya dan aku senang mendengarnya” Dongwoon melanjutkan perkataannya. “Aku tahu itu tidak akan terjadi denganku karena aku—aku sakit. Aku akan melukaimu jika kau menikah denganku”

Aku menggelengkan kepalaku tapi masih diam.

“Aku hanya tak mau kau melihatku seperti ini, Sooyoung-ah. Aku hanya ingin kau bahagia—“

“Aku tahu,”

“Karena itu, seharusnya kau tidak datang kesini”

“Aku ingin bertemu denganmu,”

“Bagaimana dengan suamimu?”

“Suamiku ada di luar. Dialah orang yang menyuruhku untuk datang kesini dan menemuimu,”

Mata Dongwoon mengerjap, “Wae?”

“Untuk meminta maaf padamu dan—“ Aku berhenti sesaat untuk menghela napas, lalu menatapnya dalam dan mengeluarkan surat yang pernah Dongwoon berikan padaku. “Aku tak pernah punya kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan benar. Aku tidak pernah mengatakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu seperti yang sudah kau katakan dalam surat ini”

“Sooyoung-ah, jebal. Kau sudah menikah,”

“Aku tahu, tapi suamiku mengijinkannya” sahutku dengan cepat.

Dongwoon tersenyum tipis, “Apa kau akan tetap melakukannya jika suamimu melarangnya?”

Aku menggeleng, dan itu membuat senyum Dongwoon semakin lebar. “Kau tak mau bukan jika istrimu pergi menemui namja lain tanpa sepengetahuanmu?”

Dongwoon menggeleng lemah. Kini matanya bergerak menutup. Kelelahan sangat terlihat di wajahnya, dan aku tahu kesempatan hidupnya memang sangat kecil dengan penyakit yang di deritanya itu. Aku juga tahu bahwa aku telah menyita banyak tenaganya, jadi aku tidak boleh lebih lama lagi berada di sini. Dia harus kembali beristirahat.

“Dongwoon-ah” bisikku pelan.

Mata Dongwoon yang mulai terpejam tampak bergerak sedikit.

“Aku juga selalu mencintaimu” desahku.

Sekarang matanya benar-benar terpejam. Dia kembali tertidur. Dadanya bergerak lembut mengikuti setiap tarikan napasnya yang berat dari balik masker oksigennya. Aku mengecup tangannya, mengucapkan selamat tinggal, dan berjanji akan sering mengunjunginya.

Saat aku keluar dari ruangan, Kyuhyun yang sedang menungguku bergegas menghampiriku. Tanpa ragu, aku langsung memeluknya dan menangis di pelukannya. Meskipun tidak ada yang dia katakan, tapi dia menenangkanku dengan sentuhan lembutnya di punggungku. Setelah bertemu Kang Dongwoon lagi dan mengatakan bagaimana sebenarnya perasaanku padanya itu, aku memang merasakan kelegaan yang luar biasa. Aku harus berterima kasih pada suamiku karena sekarang aku tidak memiliki beban perasaan apapun, dan aku sangat berterima kasih padanya karena dia mempercayaiku.

**

Pandangan mataku lekat menonton acara televisi meskipun pikiranku tidak tertuju pada artis-artis cantik yang sedang bernyanyi itu. Aku sedang memikirkan Kang Dongwoon meskipun itu bukan karena bagaimana perasaanku padanya. Hal yang lebih aku pikirkan tentangnya adalah mengenai apa yang harus dia lalui dengan penyakitnya itu. Aku sama sekali tak menyangka jika seorang namja seperti Kang Dongwoon menderita penyakit seperti itu. Dia tak pernah memberitahuku sejak aku mengenalnya dan mungkin tak akan memberitahuku sampai dongsaeng-nya yang berbicara. Aku juga tak bisa marah karena itu meskipun sebenarnya ada perasaan marah yang muncul.

“Kau tidak mengunjunginya hari ini?”

Pertanyaan Kyuhyun itu menyadarkan lamunanku. Saat aku menolehkan kepala ke arahnya, dia sudah duduk di sofa di salah satu kamar hotel yang kami pesan sambil mengaduk secangkir kopi.

“Besok kita sudah kembali ke Seoul,” Kyuhyun berkata lagi sambil terus mengaduk-aduk cangkir kopinya.

“Aku tahu, dan aku tak bisa mengunjunginya” jawabku pelan.

Wae?”

Mataku menatap Kyuhyun dengan lekat. “Aku tahu batasanku, oppa. Aku sudah menjadi istrimu, dan aku merasa sudah cukup mengunjunginya. Lagipula aku sudah mengatakan apa yang dari dulu aku tahan”

Kyuhyun balas menatapku, lalu diapun bangkit dari sofa-nya dan menghampiriku untuk duduk disampingku. “Kau tahu aku tak pernah melarangmu untuk pergi mengunjunginya, ‘kan?” katanya yang langsung aku jawab dengan anggukkan kepala. Kyuhyun melingkarkan tangannya di sekitar bahuku, membuatku harus duduk menyender padanya. “Tapi aku berterima kasih padamu karena kau telah mengambil sikap seperti itu”

“Tidak perlu berterima kasih, oppa. Itu sudah menjadi tugasku,”

“Kau yakin sudah mengatakan semuanya padanya?”

Em. Aku merasa lebih baik sekarang,”

Jinjja?”

Em,”

Kyuhyun mengusap lembut kepalaku, lalu dia mengecupnya. “Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyanya pelan.

“Jalan-jalan? Sangat jarang kita di Daejeon, ‘kan? Apalagi ini hari terakhir kita di kota ini” Aku mengemukakan ideku. “Eotte?”

“Jalan-jalan?”

Shirreo?”

Emm—“ Kyuhyun terlihat berpikir sesaat, lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya. “Kajja, geureom” serunya seraya bangkit berdiri dan menarik tanganku untuk keluar dari kamar hotel bersamanya.

Kami menyusuri lorong hotel bersama, dan Kyuhyun terus melingkarkan tangannya di sekitar pingganku. Begitu sampai di depan mobil, suamiku itu bergegas membukakan pintu mobilnya untukku sebelum akhirnya dia masuk ke mobil juga. Diapun langsung menyalakan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan halaman parkir hotel tanpa menunggu lama.

“Eunhaeng-dong?” seruku saat melihat GPS di mobil Kyuhyun menyebutkan nama itu. “Wae?”

“Semua yeoja suka belanja, ‘kan?” celetuk Kyuhyun yang sesekali menatap ke arahku. “Aku jarang mengajakmu berbelanja untuk dirimu sendiri. Kita selalu membelikannya untuk orang lain seperti—hmm, uri bumonim, harabeoji, halmeoni, Taeyeon-ssi. Ini saatnya kita berbelanja untuk diri kita sendiri. Eotte?”

Aigoo—“

Kyuhyun tertawa singkat. Tapi kemudian suara ponselku berdering dan pembicaraan kamipun berhenti untuk beberapa saat. Cepat-cepat aku mengambil ponselku dari dalam tas untuk melihat nama yang menelepon, dan cukup terkejut karena nama Kang Seulgi-lah yang muncul. Aku melirik Kyuhyun sesaat, ragu untuk mengangkat telepon yang masuk ini.

Nugu—?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Kang Seulgi,”

“Kenapa tidak diangkat?” Kyuhyun bertanya pelan.

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis, lalu dengan ragu akupun mengangkat telepon itu dan mendekatkannya ke telingaku. “Yeoboseoyo?”

Yeoboseyo, eonni” kata Seulgi terdengar parau, seakan-akan dia sedang menangis hebat.

“Seulgi-yawaegeurae?” tanyaku bingung.

Terdengar suara menarik napas lalu isakan. Lalu terdengar pula suara banyak orang di belakang Seulgi, dan mendengarkan itu semua membuat keningku berkerut tajam.

Yeoboseyo?” kataku sambil melirik Kyuhyun yang pada akhirnya menepikan mobilnya. Dia menatapku dengan rasa ingin tahu, seakan-akan bertanya padaku tentang apa yang terjadi. Tapi aku hanya mengangkat bahuku karena aku benar-benar tidak mengerti apa-apa. “Seulgi-ya, waegeurae?”

Terdengar hembusan napas. “Dongwoon oppa,” ucap Seulgi serak.

Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyelinap dalam hatiku. “Ya?”

Seulgi diam saja.

“Seulgi-ya?”

“Dia—dia koma” kata Seulgi pelan. Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar apa yang dia katakan itu. “Sekarang oppa ada di UGD, dan dokter sedang berusaha menolongnya. Eonni eodiseoyo? Sebaiknya kau cepat kesini—“

Seketika itu tanganku langsung lemas dan akupun menjatuhkan ponselku. Aku membiarkan Kyuhyun mengambilnya dan melanjutkan pembicaraan dengan Seulgi. Sementara itu, air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi detik berikutnya mobil Kyuhyun sudah melaju kencang ke arah rumah sakit dimana Dongwoon berada. Selama perjalanan, Kyuhyun sama sekali tidak mengatakan apapun padaku atau bahkan menghentikan tangisanku. Dia hanya terus memacu mobilnya sampai akhirnya kami tiba di depan rumah sakit.

Aku bergegas keluar dari mobil, dan memasuki rumah sakit dengan Kyuhyun yang terus menggenggam tanganku. Beberapa kali aku mengusap pipiku untuk menghapus air mataku yang terus mengalir. Aku takut, aku sangat takut jika ada hal buruk yang terjadi pada Dongwoon meskipun aku benar-benar sudah melepaskannya sekarang. Biar bagaimanapun dia sudah menjadi bagian penting dalam hidupku di masa lalu, dan rasanya tidak adil jika dia harus mengalami hal seperti ini.

Langkahku terhenti saat melihat orang-orang yang aku kenal tengah menunggu di depan UGD. Mereka semua menoleh padaku, menatapku dengan pandangan sedih. Kyuhyun melepaskan tangannya sebelum akhirnya aku mendekati mereka. Saat melihatku datang, eomma Dongwoon langsung memelukku dan menangis di pelukanku. Aku tak bisa menahan diriku, jadi aku ikut menangis. Aku benar-benar bisa merasakan apa yang sedang terjadi disini meskipun tidak ada yang memberitahuku detailnya.

Tak lama kemudian, pintu berwarna putih dari ruang UGD perlahan terbuka. Dari dalam ruangan itu keluar beberapa dokter dan perawat yang mendorong sebuah ranjang. Disana—diatas ranjang itu, berbaring seorang namja yang membuat tubuhku terhuyung dan lemas. Untung saja, Kyuhyun menangkapku jadi aku tidak jatuh. Aku langsung membalikkan tubuhku ke arah suamiku ini, lalu memeluknya dengan erat. Aku benar-benar tidak bisa melihat semua ini.

Josanghamnida… kami sudah berusaha,” ucap seseorang yang masih bisa aku dengar. Suaranya terdengar penuh penyesalan yang amat dalam.

Suara tangis bisa aku dengar dari beberapa orang, Seulgi dan eomma-nya. Aku hanya bisa menarik napas berat dan diam di dalam pelukan Kyuhyun. Tidak ada yang dikatakan oleh suamiku, tapi dia terus mempererat pelukannya padaku. Aku bisa mengerti itu adalah usahanya untuk menenangkanku dan aku sangat berterima kasih padanya. Kehadirannya bersamaku disini sudah benar-benar membantuku dan aku tidak menginginkan hal yang lebih dari itu.

Aku memberanikan diri untuk menatap Kang Dongwoon, memandangi wajahnya untuk yang terakhir kalinya. “Saranghaeyo, Kang Dongwoon. Nan jeongmal saranghaeyo…”

__

—2 tahun kemudian—

Kyuhyun POV

Aku berjalan mondar-mandir di depan sebuah pintu kamar rumah sakit dengan gelisah. Di dalam ruangan di depanku, Sooyoung sedang di periksa dokter karena terjadi kontraksi. Setelah istriku sempat mengalami keguguran, dia kembali mengandung dan kami tahu bahwa kelahiran anak pertama kami hanya tinggal menghitung hari. Tapi tak ada yang menyangka jika Sooyoung akan mengalami kontraksi secepat ini, jadi aku pun segera membawanya ke rumah sakit saat istriku itu mengerang kesakitan di sela-sela makan malam kami seperti biasanya.

Aku menghela napas panjang. Lalu aku menoleh ke arah kursi tunggu dimana Taeyeon duduk bersama suaminya, Kim Seung Hoon—dia menikah awal tahun ini. Mereka sama khawatirnya denganku, hanya saja lebih tenang.

Josanghamnida, Cho Sajangnim” kata seorang perawat tiba-tiba, membuat gerakanku terhenti dan menatapnya dengan ekspresi cemas. “Istri Anda akan segera melahirkan. Anda diijinkan untuk menemani istri Anda, atau Anda tetap menunggu disini—”

“Aku akan masuk,” sahutku dengan cepat memotong perkataan perawat itu. “Biar bagaimanapun aku ingin tetap berada di samping istriku”

“Baiklah kalau begitu. Silahkan Anda ganti baju Anda terlebih dahulu, dan masuk ke ruang operasi”

Aku menganggukkan kepala, dan perawat itupun langsung pergi meninggalkanku.

Eotteyo?” tanya Taeyeon yang ingin tahu pembicaraan antara aku dengan perawat itu. “Apa ada masalah?”

Ani, aku hanya perlu masuk ke dalam” jawabku tidak sabar. “Sebentar lagi dia akan melahirkan dan aku—”

“Kyuhyun-ah!” panggilan itu membuat perkataanku terhenti. Aku menolehkan kepala, dan melihat orang tuaku dan mertuaku yang sedang bergegas menghampiriku. Di belakangnya ada Jihyun, dongsaeng-ku. “Uri myeoneuri eotteyo?”

“Dia di dalam, eomma” jawabku. Aku beralih pada eomma Sooyoung. “Eommeoni, aku masuk dulu,” kataku sebelum bergegas masuk ke ruangan yang sama dengan perawat tadi.

Aku tak bisa mengabaikan begitu saja jantungku yang berdebar kencang seiring aku semakin dekat dengan Sooyoung. Bukan karena aku takut atau bagaimana, tapi karena sebentar lagi anakku bersama Sooyoung—pada akhirnya, akan lahir di dunia dan aku akan menjadi saksi kelahiran anak pertamaku itu. Sooyoung pasti sama tegangnya denganku, hanya saja aku tahu bahwa aku harus tetap bersikap tenang untuk bisa lebih memberi kekuatan pada istriku.

Yeobo,” panggil Sooyoung dengan pelan.

Geurae, nan yeogi isseo. Gwenchana, yeobo

Sooyoung menganggukkan kepala.

“Gokchongma, semuanya akan baik-baik saja” kataku lagi sambil meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya dengan erat. “Kau hanya perlu tenang, Sooyoung-ah

Beberapa dokter dan perawat segera mengerubungi Sooyoung, dan mulai membelah perutnya. Aku semakin menggenggam erat tangan istriku itu saat dokter dan para perawat mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebisa mungkin aku tidak melihat apa yang mereka lakukan pada istriku—karena aku juga tidak tega melihatnya, dan aku memilih untuk hanya terfokus pada bagaimana keadaan istriku sekarang.

“Anda akan merasakan tekanannya, nyonya” salah satu dokter berkata pada Sooyoung. “Anda telah melakukan yang terbaik, dan disitulah kami akan mulai mengeluarkannya”

“Kau dengar itu, yeobo? Kau melakukannya dengan baik” Aku mengusap kepala Sooyoung dengan lembut saat mengatakannya sambil terus menggenggam tangannya. “Bertahanlah,”

Semua orang sibuk bekerja, dan aku hanya terus berusaha membuat Sooyoung untuk tetap tenang. Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini, tapi aku benar-benar bisa melihat bagaimana anakku akan lahir di dunia.

“Dia datang. Kami mendapatkanmu, pria kecil. Hampir selesai,”

Aku melongok, dan melihat seorang bayi disana. “Hampir selesai, Sooyoung-ah” seruku. “Aku bisa melihatnya, uri adeul

“Baiklah, baiklah. Kita mendapatkannya, kita mendapatkannya”

“Pukul 23:45”

“Sooyoung-ah, gwenchana. Kau akan baik-baik saja,” kataku pelan menenangkan Sooyoung.

Dokter segera mengeluarkan seorang bayi dari dalam perut Sooyoung, lalu memberikannya pada perawat yang mengelilinginya. Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku dan mengecup kening Sooyoung dengan segera sebagai ungkapan terima kasihku padanya.

“Dokter, aku melihat ada kepala lagi”

Mworago?”

Mwo?”

Yeobo,” seruku terkejut.

Para dokter bergegas mengerumuni Sooyoung lagi dan melakukan hal yang sama seperti saat pertama kali. Aku juga bisa melihat mereka mengeluarkan satu kepala lagi dari dalam perut Sooyoung. Meskipun ini mengejutkan, aku tetap tak bisa terus tersenyum karena aku tak hanya mendapatkan satu anak melainkan dua anak sekaligus. Aku benar-benar tak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaanku sekarang.

“Ini yeoja, Cho Sajangim” kata dokter yang bertanggung jawab. “Istri Anda melahirkan sepasang bayi kembar. Chukkahamnida,”

Kamsahamnida,”

Dokter yang lain memberiku selamat, lalu mulai menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat. Aku bisa melihat air mata Sooyoung yang tak bisa berhenti mengalir saat dia melihat anak kami yang baru saja keluar dari dalam perutnya. Tangisan dua orang anak terus terdengar memenuhi ruangan saat para perawat  membungkus anak-anakku dengan selimut hangat. Sooyoung bahkan terus menangis mendengarkan tangisan anak-anak kami itu.

Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka pada Sooyoung maupun anak-anakku, seorang perawat segera membawa istriku itu ke sebuah ruangan. Aku memilih untuk mengikuti kemana dia dibawa, dan membiarkan anak-anakku diurus oleh para perawat terlebih dahulu. Aku bahkan belum sempat memberi kabar keluargaku yang menunggu diluar, tapi sepertinya mereka sudah mengetahuinya dari dokter yang keluar dari ruang operasi Sooyoung. Bagiku tidak masalah siapa yang memberitahu keluargaku karena menurutku istriku-lah yang terpenting sekarang.

Gwenchana?” tanyaku pada Sooyoung saat perawat sudah selesai memasang infus di tangannya. “Katakan padaku jika kau merasa sakit atau bagaimana—“

“Aku tidak mungkin merasakan sakit, yeobo. Aku bahagia sekarang,”

Geurae, nado

Sooyoung tersenyum tipis.

“Kembar,” celetukku dengan cepat. “Siapa yang menyangka kita akan mendapatkan dua anak sekaligus setelah pernah kehilangannya sekali?”

Arrayo, oppa” sahut Sooyoung. “Aku hanya tidak pernah memberitahumu jika kita akan punya anak kembar. Aku bahkan tidak memberitahu siapapun dan meminta dokter untuk tidak memberitahuku mengenai jenis kelaminnya”

Wae?”

“Aku ingin kejutan,”

Aku meraih tangan Sooyoung, lalu mengecupnya dengan lembut. “Gomawo, Sooyoung-ah

Hm?”

“Untuk semuanya,” kataku. “Kau tahu, aku banyak bersalah padamu dua tahun yang lalu tapi kau tetap di sisiku dan mempercayaiku. Kau bahkan memberiku dua orang anak yang sangat lucu dan menggemaskan”

Yeobo—

Eonni,” seruan Jihyun itu menghentikan kata-kata Sooyoung. Dia masuk ke ruangan Sooyoung, memberinya pelukan hangat. “Eonni, chukkahaeyo. Aku mendengar suaranya. Keras sekali. Sepertinya itu adalah tangisan terkencang yang pernah aku dengar,”

Maja, eomma juga mendengarnya” sambung eomma-ku yang tiba-tiba muncul dengan appa dan eomma Sooyoung. “Chukkae, uri myeoneuri. Eomma akhirnya mendapatkan seorang cucu,”

“Seorang?” sahutku dengan cepat. “Eomma, aku punya dua. Sooyoung melahirkan dua orang anak,”

Mwo? Jinjja?”

Sooyoung tersenyum dan mengangguk, masih terlihat lemah.

Yeoja atau namja?”

“Keduanya,”

“Aigoo… pasti lucu sekali,”

Uri ttal,” Eomma Sooyoung mendekat ke arah putrinya dan mengecup keningnya. “Eomma benar-benar bahagia bisa memiliki dua orang cucu sekarang. Lihat, eomma bahkan ingin menangis”

Eomma, hajima. Wae ureo?”

Majayo, eommeoni. Jangan menangis karena ini hari yang membahagiakan,”

“Tentu saja eommeoni menangis, aku bahkan ingin menangis juga” sahut Jihyun dengan cepat sambil melingkarkan tangannya di pinggang eomma Sooyoung. “Keluarga kita sekarang bertambah, eommeoni

Eomma Sooyoung mengangguk sambil mengusap lembut pipi dongsaeng-ku itu. Aku tak tahu bagaimana menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Apalagi saat Taeyeon dan suaminya serta Kibum dan istrinya ikut bergabung dan memberikan selamat pada kami. Rasanya seperti keluargaku benar-benar lengkap sekarang. Sebentar lagi, perusahaan juga akan tahu mengenai berita ini dan aku sudah tidak sabar saat itu terjadi.

Oppa, bagaimana rasanya menjadi seorang appa sekarang?” Jihyun tiba-tiba bertanya setelah beberapa saat hanya ucapan selamat pada Sooyoung. Aku membiarkan istriku itu bersama orang tua kami, sementara aku, Jihyun, dan yang lainnya duduk di sofa tunggu di bagian lain ruangan. “Bagaimana?” Jihyun kembali bertanya.

 “Sangat luar biasa. Aku tak pernah membayangkan saat-saat seperti ini datang lagi padaku, dan aku benar-benar sangat bahagia sekarang” jawabku.

“Kita punya keponakan sekarang,” celetuk Taeyeon. “Aku juga senang melihat kau dan Sooyoung bahagia, Kyuhyun-ssi

Aku mengangguk.

“Kau memiliki tanggung jawab lebih sekarang, Kyuhyun-ah. Ingat itu,” Kibum menasehatiku. “Aku yakin kau tak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya sekarang. Aku benar, ‘kan?”

“Tentu saja. Aku sudah punya segalanya sekarang,” sahutku dengan cepat. “Aku pernah kehilangan satu, tapi Tuhan memberiku dua sebagai gantinya. Aku tidak akan menyia-nyiakan mereka juga istriku—”

Oh, itu bayinya datang” seru Jihyun tiba-tiba.

Kami bergegas mendekat saat dua orang perawat membawa dua buah bayi yang benar-benar terlihat menggemaskan. Mereka memberikannya pada Sooyoung satu, lalu padaku satu. Eomma-ku memperingatanku untuk berhati-hati saat aku mengambil alih salah satu bayi—yang ternyata perempuan, karena ini pertama kalinya aku menggendongnya. Aku tak bisa berhenti tersenyum sekarang dan jantungku pun terus berdegup kencang saat melihat anakku yang sangat cantik di gendonganku.

“Apa semuanya baik-baik saja, dokter?” Appa-ku yang bertanya terlebih dahulu. “Bagaimana bayi-bayinya?”

“Semuanya berjalan dengan baik. Putra-putri Cho Sajangnim sangat sehat, dan sekarang mereka membutuhkan sentuhan eommeoni-nya”

“Sentuhan eommeoni?” tanyaku tidak mengerti.

“Itu maksudnya menyusui dan sebagainya,” sahut eomma-ku dengan cepat.

Ah, begitu”

“Setelah Sooyoung selesai dengan kakaknya, kau harus segera memberikan adiknya padanya” Eomma kembali berbicara padaku. “Aigoo… aigoo… aigoo, eomma benar-benar sudah tidak sabar menggendong mereka. Sadon-nim, lihat mereka sangat lucu ‘kan?”

Eomma Sooyoung mengangguk antusias meskipun tidak ada yang dia katakan.

Demi privasi, aku meminta semua orang untuk keluar dari kamar Sooyoung agar dia bisa lebih leluasa ‘menyentuh’ anak-anak kami. Mereka tidak keberatan, bahkan eomma Sooyoung memintaku untuk menemani Sooyoung karena dia pasti membutuhkanku untuk menggendong salah satu anak kami. Aku menyetujuinya tanpa banyak alasan, karena itulah hanya ada aku dan istriku di ruangan ini beserta anak-anak kami.

Yeobo, berikan putri kita” seru Sooyoung setelah beberapa saat sibuk dengan putra kami. “Aku sudah selesai, sekarang giliran putri kita”

Ah, geurae” kataku sambil bergegas menghampiri Sooyoung dan memberikan putriku yang sedang aku gendong padanya yang langsung dia sambut dengan senyum mengembang yang sama di wajahnya. “Uri adeul,” kataku menggendong putraku yang sudah dibaringkan di tempat tidur kecilnya.

“Apa kau sudah memikirkan nama untuk mereka, yeobo?” tanya Sooyoung disela-sela kegiatan keibuannya. “Aku ingin kau yang memberi mereka nama,”

“Tentu saja sudah,”

“Secepat itu?”

Aku mengangguk. “Aku memang tidak menyangka jika kita akan mendapatkan dua anak seperti ini, apalagi namja dan yeoja” kataku jujur. “Tapi kemudian, muncul begitu saja di kepalaku bagaimana aku akan memberi nama mereka”

Sooyoung tersenyum, “Apa itu?”

“Woo Ri geurigo Sa Rang,”

Uri sarang?” sambung Sooyoung dengan cepat.

Aku kembali mengangguk. “Bagus, ‘kan?”

“Itu nama yang benar-benar bagus, yeobo. Bagaimana kau bisa memikirkannya begitu saja?”

Geurissae—“ gumamku. “Aku hanya memikirkan bagaimana kehidupan kita, bagaimana kita harus mendapatkan cinta kita dan nama itu tiba-tiba muncul”

“Cho Woo Ri,” ucap Sooyoung kemudian sambil menatap ke arah bayi di gendonganku. Lalu dia berpaling pada bayi di gendongannya, “Cho Sa Rang,” ucapnya lagi.

Aku tersenyum, “Geurae. Cho Woo Ri, Cho Sarang. “Du aineun uriui sarang-imnida”

Majo, uri sarang

-THE END-

Huhuhuhuhu… finally ini berakhir juga? Hehe, eotte?

Ini proyek pertamaku di genre ini jadi aku minta maaf banget kalau banyak kekurangannya yah. Jangan lupa komentar, knightdeul dan tunggu proyek FF aku selanjutnya hehehe…

Kamsahamnida karena udah mau baca dari awal trus kasih komentar juga… Terima kasih banyak! #bow #kisskisskiss

36 thoughts on “What Makes A Love -end-

  1. Inka Rindy says:

    huaaaaa full kyuyoung moment!!!! Sweet bangey sweet sumpah thor gaboong, huh~
    Btw emangnya kyu ngomong apa sama eomma nya pas sebelum nikah thor? ko gaada penjelasannya? Jebaaaaaaaaal berarti ini ‘harus’ ada sequel nya ya ya ya hehe
    Dittung next married life ff nya, ff yg ini sukseeeeesssssssssssss thor💛💛

  2. Sisca says:

    Ih sedih udah end lagi aja ffnya:(
    akhirnya kyuyoung bersatu suka bangeetttt jalan ceritanya kyuyoung juga udah punya anak sweet ih suka bangetttt. Ditunggu ff lainya ya thor semangat^^

  3. Aaahhh… ff ini sprti kta kerja beraturan “ㄷ” dan sbuah resep untuk mnjalin sebuah hubungan yaitu → 받 (mnerima), 닫 (mnutup) dan 믿 (percaya).

    Aq mhon thor teruslah berkarya sbg pnulis yg handal dan sbg knight, meski knytaan yg kta hrus trima bhwa mreka bersama hanya sebutir gabah(padi) tpi stidak.A dri sbutir kita bsa tumbuhkan ia mnjdi stidak.A sebidang tnah. Maka dari itu Aq ingin kau mnjdi sbidang tnah dan ingatlah kami knight akan mnjdi padi.A (suporter). Terimakasih.

  4. Ester says:

    Akhir nya happy end,yeeyyy kyuyoung punya anak kembar,ya walaupun yang pertama soo keguguran tpi pas hamil yg ke dua ehh anak nya kembar chukaee…

  5. YA AMPUN AKHIRNYA TAMAT !!! Aku seneng thor. Happy ending yaaa akhirnya. Ada sequel dong adainn liat mereka gendong dua anak gitu. Semangat terus ya thor !!!! 💕💕💕💕💕💕❤❤❤💗💓💞💞💞💞

  6. aaahh… kurang setuju.. ini kurang panjang.. dan tiba2 dua tahun.. cepat sekali.. huhuhu berharap ada AS atau gak projek lain yang genrenya seperti ini.. jebaal… semangat ya!!! ^^ ><

  7. Rchoi says:

    Akhirnyaaaa di part ini gak ada kesel keselnya sama euijin… Happy ending tapi dongwoon meninggal 😭😭😭😭 berasa nonton “W”

    Thanks for writing yaaakk

  8. ajeng shiksin says:

    Heppy ending .. Akhirnya keluarga kyuyoung bahagia . itu penyakit apa ya author ?? Aku ko enggak tw ia . dan untuk si kembar . bahagia banget ql kalian nyata . dilahir kan oleh sooyoung dan bapak kyuhyun .. Di tunggu ff yg lain ia ka . jangan berhenti nulis ff kyuyoung . ia biar pun kyuyoung enggak nyata di dunia nyata tp bagi knight mereka ttp nyata . soal nya ff nya author enggak ngebosenin . terima kasih

  9. mongochi*hae says:

    Yeayyy stlh bolakbalik ngecek blog akhiny post jga. Aplg akibat pengakuan perasaan it otomatis hub mereka mjd lbh baik. Knp jga gk dr dlu2 aj kya gini.. jd gk slh paham kan..

    btw ap sih arti penyakit diatas ?

    Trus kayany perlu satu part lg deh sbg penutup krn mantan si lee unjin blom tahu gmna nasibny hhee

    Trus ak mw thu gmna khidupan kyuyoung dg sikembar hhee
    pokokny harus ad sequel..
    dtunggu ok

  10. sie says:

    Annyeong…
    Daaannn… inilah akhirnya… 😂
    Terimakasih buat Soocyoung-ssi, membaca karyamu dari awal sampai akhir, penuh dengan rasa, seperti layaknya kehidupan; susah, senang, bahagia, sedih, galau, baper, marah, kecewa, bangga, terharu, pokoknya judulnya menguras berbagai emosi. Membaca WMAL, benar2 memberitahu bagaimana menciptakan sebuah cinta, karena kadang2 cinta tak tiba2 datang, tapi kadang juga cinta perlu utuk diciptakan dengan catatan tanpa rekayasa. WMAL, kembali mengingatkan ku arti perjuangan dan pengorbanan seseorang bagi dirinya sendiri, bagaimana menjadi seseorang yg tangguh berdiri dan selalu berusaha melakukan yg terbaik untuk kehidupannya, meskipun kadangkala jalan yg ditempuh belum tentu adalah jalan terbaik bagi orang lain. Dan satu hal yg aku respect dari kisah ini adalah, komitmen dalam menjaga kesetiaan, kepercayaan, dan pengertian. Yang artinya, Soocyoung-ssi suksess mengukir kisah Kyuyoung di genre ini. Karena “karya yg hebat, tidak lahir sembarangan” dan WMAL tidak lahir sembarangan. Dan rangkaian kata mahal di kisah ini “Seorang bayi bahkan akan menangis saat dia marah dan terluka. Itulah kenapa ada pelukan seorang eomma”.
    Dinanti project berikutnya, (harapannya sih masih di genre yg sama) terimakasih buanyak sekali, 🙇🙇🙇
    Annyeong 😄

  11. dibalik semua kejadian pasti ada hikmahnya… walaupun sedih bgt soo harus beneran keguguran, tp cinta kyuyoung jd lbh kuat & bisa bersatu lg. walaupun sedih jg dongwoon meninggal & nutupin sakitnya selama ini spya soo bahagia, tp kyuyoung jd bisa makin saling percaya & kyuyoung jd pnya keluarga secara utuh dgn anak kembarnya

    seneng2 sedih gitu baca part ini :”)

  12. Dian says:

    Udah end aja ya padahal pengen ngeliat mereka ncan wkwk atau ga proses ngidamnya Sooyoung uh pasti lucu. Ya tapi, aku cukup puas sama end nya hilang satu dikasih dua Tuhan maha Adil.

  13. Elis sintiya says:

    akhirnya happy ending juga.. tapi masih kurang nihh.. akukan pengen baca moment keromantisan mereka setelah semua masalah selesai… tapi gpp dehh.. semangat ya thor buat bikin ff yang lain

  14. 아이고~ 너무 슬퍼 그리고 행복해요 😢
    sedih sekaligus seneng, sedih banget pas bagian kang dongwoon😢 padahal kang dongwoon ngga ngapa2in *read : ganggu rumah tangga sooyoung-kyuhyun*, elaaahh sedih bat sedih 😢 huhuhu
    senengnya ngga perlu ditanya lagi dong~ hahahaha 😂
    aahh puas banget sama ff ini kak, ada sedih bangetnya ada seneng bangetnya, jadi seimbang ㅋㅋㅋㅋ *apasih* biar pertama kali bikin genre ini tapi tetep keren as always, gut jab kak 👍👍hahaha
    ditunggu kak project selanjutnya 🙌🙆

  15. Akhirnya happy ending juga. Semua masalah bisa diselesaiin dengan baik. Seneng liat keluarga kecil mereka. Ditunggu projek ff lainnya kak, kalo bisa bikin sequel buat ff ini dong wkkwkwk

  16. Wow kembar, o ya cara soo eonnie melahrkan kyak gmana sh, kurang ngerti, kalo ceasar pasti dibius, tpi soo eonnie sadar. Kalo normal pasti soo eonnie triak kesakitan. Jdi bingung.

    Lama bnget nunggu ni part trakhr, akhrnya dipost jg. Ditunggu ffnya yg lain chingu

  17. youngra park says:

    Yeay happy ending senang bgts akhir endingny memuaskan walaupun di beberapa part sebelumny semPat muyak dan emosi tapi terbayarkan dgn part ini happy ending yg bahagia dan complit next project klau ad di tunggu eoni dan gomawo untuk ff ini keren bgts jeongmal daebak 👍👍👍

  18. parkrira says:

    keren sih thor tpi kenapa mesti ending sih,,, cepet banget rasanya… gak nyangka udsg gak bisa lagi nunggu ff ini tiap minggu… pokoknya harus ada after storynya

  19. park rira says:

    keren sih thor tpi kenapa mesti ending sih,,, cepet banget rasanya… gak nyangka udsg gak bisa lagi nunggu ff ini tiap minggu… pokoknya harus ada after storynya

  20. ry-seirin says:

    Wah gk krs Dah part end aja,,,,
    Msalalu hilang trganti yg bru!!!
    Ah akhirnya sweet Ending dpet bayi skaligus 2.
    Well walau sk greget sndiri d tiap part krna hubungan Kyuyoung yg suka naek turun, but so far easy reading walaupun genrenya married life.
    D tunggu deh next project.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s