[Series] The Precious Thing -3-

the-precious-thing-2

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeo Jin

From Author :

Annyeonghaseyo… udah lama yah… hehe

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

Sooyoung POV

Aku duduk di atas tempat tidurku sambil memandang hampa ke luar jendela. Di sebelahku sudah tersedia bubur hangat yang Yoona buatkan untukku, tapi aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku masih terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang ada di kepalaku. Kata-kata Cho Kyuhyun saat kami berada diantara ribuan kunang-kunang it uterus menggema di telingaku. Semuanya begitu cepat dan tiba-tiba sampai aku tidak bisa mengatakan apapun, bahkan setelah dua hari kejadian itu.

Sejak aku keluar dari taman nasional itu—bersama Kyuhyun, aku memang manghabiskan waktuku di kamar asramaku. Seharusnya aku tidak diijinkan keluar dari rumah sakit, tapi aku bersikeras dan dengan bantuan Kyuhyun, aku berhasil membujuk dokter yang merawatku untuk membiarkanku istirahat di kamar sendiri. Sudah dua hari aku tidak pergi kemana-mana karena kakiku yang dibalut perban. Karena itulah aku terus berada di dalam kamarku dan memikirkan semua yang terjadi diantara aku dan Kyuhyun beberapa hari yang lalu.

“Dia pasti benar-benar sudah gila, ‘kan?” Aku berbicara sendiri sambil berusaha mengenyahkan bayangan Kyuhyun dari dalam kepalaku. “Kenapa ada namja seperti itu di dunia ini? Dia sama sekali tidak ada bedanya dengan Seo In Guk,”

“Tentu saja ada bedanya,” sahut Yoona yang masuk begitu saja ke dalam kamarku lalu duduk disampingku. “Kali ini kau juga menyukainya,” tambahnya.

“Aku tidak—“

“Akui saja,” Yoona menyela. “Jika tidak, kenapa kau memintanya untuk tidak menurunkanmu saat dia menggendongmu? Kau juga menyukainya dan kau menikmati saat-saat bersamanya”

Aku diam saja kali ini karena apa yang Yoona katakan itu benar bahwa aku menikmatinya saat itu. Aku memang menceritakan padanya apa yang terjadi saat itu kecuali fakta bahwa Kyuhyun bertanya padaku tentang bagaimana jika dia menyukaiku. Aku merasa itu tidak perlu diceritakan pada siapapun dan biarkan aku saja yang mengetahuinya.

“Menurutku tidak masalah jika kau berkencan dengannya meskipun dia hoobae kita” Yoona berbicara lagi sambil melirik ponsel di tangannya. Lalu diapun menatapku, “Mungkin jika kau berkencan dengannya, Seo In Guk benar-benar akan melepaskanmu”

“Bagaimana kalau tidak?” sahutku dengan cepat.

“Kau bahkan belum mencobanya,” kata Yoona seraya mengangkat kedua bahunya. “Tidak ada yang tahu bagaimana hasilnya jika kita tidak mencoba melakukannya”

Aku kembali diam.

“Aku pergi dulu,” celetuk Yoona karena aku sama sekali tidak bersuara untuk waktu yang cukup lama. “Aku akan kembali lagi nanti. Pastikan kau istirahat dan minum obatnya”

Arraseo,”

Yoona beranjak dari tempatnya lalu melangkah keluar dari kamarku. Tapi tidak lama kemudian, aku mendengar suara-suara di luar kamarku. Seperti suara seseorang yang sedang mengobrol. Karena penasaran, aku memutuskan untuk keluar kamar dengan satu kruk yang disiapkan oleh dokter untuk aku gunakan. Aku tidak bisa berjalan cepat karena kruk ini, meskipun begitu suara itu terdengar semakin jelas begitu aku keluar dari kamar. Aku bisa mendengar suara Yoona dan seorang namja yang benar-benar terdengar asing. Apa salah satu teman Yoona datang?

“Yoona-ya,” panggilku pelan.

Yoona menoleh ke arahku, “Ya! Kenapa kau keluar kamar?” serunya kemudian. “Sudah kukatakan untuk istirahat saja,”

“Siapa yang—“

“Ini barangnya,” Kata-kataku terhenti karena namja itu berbicara dan menarik perhatian Yoona. Dia memberikan sesuatu pada Yoona, lalu membungkuk ke arahku sebelum keluar dari apartemenku.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Seseorang datang untuk mengirimkan barang,” jawab Yoona sambil berbalik ke arahku dan membawa sebuah bungkusan besar di tangannya. “Ini untukmu” lanjutnya.

“Untukku? Dari siapa?”

Kedua bahu Yoona terangkat. “Tidak ada nama pengirimnya”

“Lalu kenapa kau menerimanya?” sahutku dengan cepat. “Seharusnya kau mengembalikannya saja”

Aigoo… bagaimana mungkin aku mengembalikannya? Lagipula ini isinya kue, tidak ada salahnya jika kau menerimanya bukan?”

“Kau tahu, aku tidak bisa menerimanya apapun isinya” kataku berusaha sabar. “Aku sudah memberitahumu berkali-kali dan kau pasti sudah sangat mengetahuinya”

“Aku tahu, Sooyoung-ah. Tapi—“ Yoona berhenti sesaat untuk menghela napas singkat. Lalu dia kembali berbicara, “Aku merasa tidak enak jika harus mengembalikannya. Bagaimana jika kau menganggap ini dari penggemar rahasiamu saja? Atau—ah, anggap saja Seo In Guk yang mengirimnya untukmu tapi dia terlalu gengsi untuk menuliskan namanya”

“Apa aku sudah gila?” sahutku dengan cepat. Aku menghembuskan napas panjang, lalu menatap Yoona dengan tajam. “Aku tetap tidak mau menerimanya”

Geuraesseo, apa yang harus aku lakukan?”

“Untukmu saja,”

“Bagaimana mungkin ini untukku?”

“Kenapa tidak? Aku memberikannya padamu,”

“Tetap saja,” Yoona tidak mau kalah.

“Kalau kau juga tidak mau, buang saja” kataku memutuskan. “Bukankah kau yang merasa tidak enak mengembalikannya?”

Ya!”

Yoona tidak melanjutkan kata-katanya karena seseorang mengetuk pintu apartemen asramaku. Tanpa mengatakan apapun lagi padaku, dia bergegas melangkah menuju pintu lalu membukanya. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Cho Kyuhyun yang berdiri di depan pintu. Dia memakai pakaian santai dan membawa buah di salah satu tangannya. Wajahnya tersenyum ke arah Yoona, lalu berpindah padaku begitu dia menatapku.

Annyeonghaseyo,” sapanya ramah.

Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak tersenyum tapi sepertinya gagal.

“Silahkan masuk, Kyuhyun-ssi” ucap Yoona mempersilahkan. “Ini benar-benar canggung karena aku baru pertam kali ini melihatmu langsung,”

Ah, geurae?” sahut Kyuhyun sambil melangkah masuk.

“Aku banyak mendengar tentangmu dari Sooyoung, jadi yah—“

Kyuhyun dengan cepat mengarahkan pandangannya padaku, lalu dia menatapku seolah-olah dia meminta penjelasan dariku. Aku hanya bisa diam membeku di tempatku dan memilih untuk tidak mengalihkan pandanganku darinya. Aku memang banyak bercerita pada Yoona tentang dia, dan kurasa aku tidak salah sama sekali. Lagipula apa yang harus aku jelaskan?

“Kebetulan sekali kau datang, Kyuhyun-ssi” Yoona kembali berbicara. “Tadinya aku sempat khawatir bagaimana aku akan meninggalkan Sooyoung sendirian”

Ah, jangan khawatir. Aku bisa menemaninya disini” kata Kyuhyun dengan tenang. “Aku juga temannya Sooyoung sunbae jadi sudah menjadi tugasku untuk membantunya”

Dahaengida, geureom” celetuk Yoona. Dia membalik badannya ke arahku, mengedipkan matanya lalu bersiap untuk pergi. “Aku pergi dulu. Telepon saja jika kau membutuhkan bantuanku”

“Tentu,”

Tanpa mengatakan apapun lagi padaku, Yoona melangkah keluar dari apartemenku. Mataku terus menatap ke arah pintu yang baru saja menutup, tidak percaya jika dia meninggalkanku sendirian hanya bersama dengan Kyuhyun. Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan keadaan di depannya? Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan belum memberinya jawaban apapun dari apa yang dia katakan di taman kunang-kunang itu. Bagaimana jika dia menginginkan jawabannya sekarang? Ah, sungguh! Situasi ini benar-benar tidak menguntungkanku sama sekali.

“Kau sudah makan?” tanya Kyuhyun tiba-tiba setelah kami terdiam cukup lama.

Ajik—“

“Kalau begitu dimana dapurnya?” sahut namja itu cepat padahal aku belum selesai berbicara.

Aku hanya menjawabnya dengan menunjukkan jariku ke arah dapur yang terletak di sebelah kiri dari pintu.

“Bolehkah aku masuk kesana?”

“Untuk apa?”

Senyum Kyuhyun tersungging, “Tentu saja untuk membuatkanmu makanan. Katanya kau belum makan, ‘kan?”

“Memang. Tapi bukan berarti aku ingin makan,”

“Tetap saja kau harus makan sesuatu” Kyuhyun terus menyahuti perkataanku. Lalu diapun melangkah ke dapur dan mau tak mau, aku mengikutinya meskipun pelan. “Aku akan membuatkanmu sesuatu yang hangat. Hmm—bagaimana dengan Kongnamulguk?”

Kongnamulguk?”

Eo? Kau pasti punya bahan-bahannya, ‘kan? Itu bukan sesuatu yang sulit dibuat dan biasanya selalu ada di setiap lemari es” kata Kyuhyun sambil membuka-buka lemari esku. “Nah, aku benar” serunya kemudian.

Kyuhyun mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan. Aku bisa melihatnya dari tempatku berdiri saat dia meletakkan kecambah, bawang putih, bawang merah, daun bawang dan lainnya ke atas meja dapur. Ini benar-benar pertama kalinya ada orang asing selain Yoona yang masuk ke dapurku dan mengacak-acak isi lemari esku. Biasanya aku selalu marah—bahkan pada Seo In Guk saat dia masuk ke dapurku, tapi entah kenapa kali ini aku memilih untuk diam sambil terus memperhatikan Kyuhyun.

Kongnamulguk ini adalah sesuatu yang paling ahli aku buat,” kata Kyuhyun setelah dia selesai mengambil semua bahan yang dia perlukan. “Kau tahu, aku sangat ahli membuatnya saat di asrama militer”

Satu alisku terangkat, “Asrama militer?” celetukku memastikan aku tidak salah dengar.

Eo, asrama mili—“ Kyuhyun tiba-tiba menghentikan perkataannya, seakan-akan dia baru saja kelepasan bicara. “Ah, emm—geurae, asrama militer” lanjutnya kemudian tanpa menatapku.

“Dan kenapa kau pergi ke asrama militer?”

“Aku—emm, wajib militer” serunya cepat. “Majayo, wajib militer. Jadi aku pergi ke asrama militer,”

Mwo? Kau sudah wajib militer?” Aku cukup terkejut mengetahui ini.

Kyuhyun mengangguk pelan. “Eo, sudah. Itulah kenapa aku sedikit terlambat masuk universitas”

Geureom… Berapa sebenarnya umurmu?” tanyaku penasaran.

“Umur?”

Eo,”

Geurissae—“ jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya. “Kata orang umur itu tidak penting, ‘kan? Bagaimana kalau aku mulai membuat Kongnamulguk-nya sekarang? Kau pasti sudah lapar, ‘kan?”

Ya! Kau masih belum menjawab pertanyaanku” kataku bersikeras meminta jawaban.

“Setiap orang berhak bertanya dan berhak untuk tidak menjawab setiap pertanyaan yang datang untuknya” ujar Kyuhyun hanya menatapku dengan sekilas. “Duduklah dulu, sunbae. Haruskah aku menggendongmu atau bagaimana?”

Aniyo, dwaesseoyo” sahutku dengan cepat, lalu memilih untuk berbalik meskipun aku masih cukup kesal karena pertanyaanku sama sekali tidak dijawab olehnya entah untuk keberapa kalinya. “Jika kau melakukannya, kau hanya akan membuatku salah tingkah: gumamku.

Ne?”

Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan apapun lagi dan melangkah dengan hati-hati menuju ke arah meja makan sederhana yang hanya terdiri dari dua buah kursi. Maklum saja, orang yang biasanya datang untuk makan bersamaku adalah Yoona. Bahkan terkadang aku sama sekali tdiak menggunakannnya karena lebih memilih untuk makan diluar—kafe atau restoran. Itu jauh lebih praktis daripada harus memasak sendiri meskipun jauh diluar kata hemat.

Mataku terus mengarah pada Kyuhyun yang terlihat sangat sibuk di dapur. Saat sesekali dia menatap ke arahku, dengan cepat aku langsung memalingkan wajah. Aku benar-benar berusaha keras untuk meredakan debaran jantungku seakrang. Aku harus bisa menunjukkan sikap yang biasa di depannya meskipun kata-katanya saat itu kembali berdengung di telingaku. Memikirkannya justru membuatku semakin gelisah. Aku sampai bingung harus bagaimana menyembunyikan kegugupanku.

Kongnamulguk-nya sudah siap!” seruan Kyuhyun itu terdengar setelah beberapa menit dia memasak. Tak lama kemudian dia datang sambil membawa semangkuk Kongnamulguk yang masih mengepul. “Ini, cobalah sunbae” katanya padaku.

Neoneun?” tanyaku karena aku sama sekali tidak melihat ada mangkok lainnya. “Kau tidak ikut makan?”

Kyuhyun tersenyum. “Aku nanti saja,”

“Bagaimana bisa aku makan sementara kau tidak?”

“Jangan khawatirka aku,” sahut Kyuhyun sambil memberikan sebuah sendok padaku. “Makan saja” tambahnya.

Mau tak mau aku menerima sendok itu, lalu mulai menyendokkan makanan itu, meniupnya dan memakannya. Mataku mengerjap beberapa kali karena masakannya ini benar-benar enak. Bahkan terasa seperti masakan eomma-ku yang masih bisa aku ingat. Tanpa terasa air mataku mengalir meskipun dengan cepat aku menghapusnya. Sayangnya, Kyuhyun melihat semua itu dan aku tak tahu apa yang harus aku katakan jika dia bertanya kenapa aku menangis. Aku berusaha sebisa mungkin agar terlihat tenang di hadapannya meskipun kondisiku yang sebenarnya adalah sebaliknya.

“Tidak enak?” Kyuhyun mulai membuka pembicaraan. “Wae ureoyo?”

Aniyo, gwenchanayo” jawabku singkat. “Massiseoyo,”

Jinjja?”

Em, jinjjayo” kataku sambil menahan senyum. Ini benar-benar terasa canggung, aku bisa merasakannya. “Ternyata kau tidak bohong tentang ahli membuat Kongnamulguk” Aku melanjutkan untuk membuat suasanya tidak semakin canggung.

“Aku membuat banyak,” Kyuhyun menyunggingkan segaris senyuman. “Jika kau suka, kau bisa menghabiskannya” katanya sambil beranjak dari tempatnya dan pergi ke arah jendela.

Aku memilih untuk menikmati makananku untuk beberapa saat jadi aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang Kyuhyun lakukan. Tapi saat aku mengalihkan perhatianku padanya, dia masih berdiri disana dengan posisi yang sama untuk waktu yang lama. Ekspresinya terlihat sangat serius sambil menatap ke arah luar dari jendela apartemenku. Aku memperhatikan semua tingkah lakunya itu yang menurutku tidak biasa.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku pada akhirnya karena tidak tahan untuk terus diam. “Apa yang kau lihat diluar sana?”

Kyuhyun menoleh ke arahku dengan ekspresi yang terkesan aneh, meskipun wajahnya tetap tersenyum. “Bukan apa-apa. Hanya sekumpulan mahasiswa yang sepertinya baru selesai dengan kelas mereka,”

“Itu bukan sesuatu yang perlu kau pandangi dengan serius” kataku berkomentar. “Kau tahu, kau semakin membuatku mencurigaimu sekarang”

“Mencurigaiku?”

Aku mengangguk sambil meletakkan sendok di atas meja. “Ada banyak hal yang mencurigakan dari seorang Cho Kyuhyun dimataku”

“Seperti apa misalnya?” Kyuhyun kembali duduk di tempatnya semula.

“Haruskah aku memberitahukannya padamu?”

“Kenapa tidak?”

“Karena kupikir itu tidak perlu aku katakan,” jawabku jujur. “Terdengar aneh, bukan? Meskipun aku banyak mencurigaimu tapi entah bagaimana aku juga percaya padamu. Aku tak tahu kenapa aku seperti itu”

Kyuhyun kembali tersenyum tapi kali ini tipis saja, lalu dia menghembuskan napas panjang. “Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu sebenarnya, tapi aku tidak mau dan tidak bisa mengatakannya untuk sekarang. Meskipun begitu, satu hal yang pasti adalah bahwa aku akan melindungimu mulai sekarang”

Ne?” sahutku terkejut.

“Aku bersunggung-sungguh, sunbae. Aku akan melindungimu, jadi aku pernah bertanya padamu tentang bagaimana jika aku menyukaimu”

Aku langsung terdiam di tempatku mendengar perkataan Kyuhyun itu. Bukan hanya karena dia berkata bahwa dia akan melindungiku, tapi karena dia kembali menyinggung pertanyaannya saat itu. Untuk kedua kalinya, aku benar-benar kehilangan kata-kata di hadapan namja ini. Lidahku kelu. Hanya debaran jantungku saja yang bisa aku rasakan sekarang. Apa aku benar-benar sudah menyukainya? Secepat itu?

__

Kyuhyun POV

“Apa kau yakin tidak akan memberitahunya dimana kau sekarang?” tanya Choi Sung Jae memastikan saat kami baru saja tiba di sebuah tempat di Yokohama. “Setidaknya kau memberinya kabar setelah kau berkata seperti itu padanya”

“Apa yang harus aku katakan?” sahutku acuh tak acuh. “Bahwa aku harus pergi ke Jepang untuk mengejar seseorang dan mencari informasi tentang sebuah kelompok yang membuatnya terancam bahaya?”

“Bukan begitu maksudku,”

“Aku bahkan belum bisa memberitahunya tentang identitasku, kau ini” kataku sambil mengarahkan pandanganku ke sekeliling dari dalam mobil. “Kurasa dia akan lebih aman disana tanpa mengetahui kemana aku pergi. Jujur saja, itu jauh lebih baik jika tidak tahu apa-apa”

Aigoo… kau ini”

“Dia sudah mencurigaiku, Sung Jae-ya” kataku tegas. “Semuanya akan kacau jika dia semakin mencurigaiku atau bahkan sampai dia mengetahui identitasku sementara aku belum tahu apa-apa tentang bahaya yang mengancamnya”

“Sikapmu yang seperti inilah yang membuatnya mencurigaimu” sahut Sung Jae sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tahu bahwa kau bisa mengalahkan banyak penjahat, tapi kau sama sekali tidak pernah bisa mengalahkan hati seorang yeoja

Satu alisku terangkat. “Cara bicaramu seperti kau pernah melakukannya saja,”

Sung Jae tertawa pelan. “Kita bahas ini nanti. Sekarang, ayo kita pergi” katanya sambil menyalakan mesin mobilnya.

“Apa sudah dikonfirmasi tempatnya?”

Eo. Han Yeo Jin sudah mengkonfirmasinya meskipun dia tidak yakin apa mereka tahu atau tidak kita akan datang”

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku heran.

“Mereka bukan kelompok Black Dragon ataupun GAIA, tapi mereka sangat mengetahui kedua kelompok itu. Mereka tahu kita sedang mencari informasi tentang GAIA” jelas Sung Jae seraya melajukan mobilnya dan bergabung dengan mobil-mobil lainnya di jalanan Yokohama ini. “Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu tentang kita yang mencari tahu informasi” katanya lagi.

“Tahu tentang kita yang kau maksud ini—“ Aku diam sesaat untuk berpikir. Lalu aku kembali bicara, “Apa mereka tahu nama kita?”

Geurissae,” sahut Sung Jae. “Kelompok-kelompok seperti mereka sekarang tidak lebih hebat dari badan intelegen suatu negara, ‘kan?”

“Aku harap mereka tidak benar-benar tahu jika itu kita,”

Eo, aku harap juga begitu”

Mobil yang dibawa Sung Jae semakin melaju kencang, dan selama sisa perjalanan itu aku memilih untuk diam. Otakku—entah bagaimana, terus memikirkan Sooyoung dan juga perkataan Sung Jae. Selama aku pergi ini, Han Yeo Jin-lah yang mengawasi Sooyoung untukku tapi tetap saja aku tidak bisa tidak mengkhawatirkannya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tetap harus pergi karena aku harus mengetahui tentang kelompok-kelompok yang mengincar cincin milik yeoja itu agar aku tahu bagaimana harus melindunginya.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di sebuah tempat. Tanpa komando dari siapapun—mengingat kami pergi sendiri, kami bergegas keluar dari mobil. Di depan kami ada sebuah rumah tradisional Jepang yang terlihat sudah lama sekali tidak ditinggali. Sebelum memasukinya, aku dan Sung Jae sempat saling pandang untuk meyakinkan apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Setelah mengawasi keadaa, kamipun mulai mengendap-endap memasuki halaman rumah itu dengan senjata api siap di tangan kami.

“Aku akan memeriksa sayap kiri,” kataku pada Sung Jae dengan alat penghubung di telinga kami.

Geurae. Aku akan pergi ke sayap kanan”

Josimhae,”

“Kau juga”

Aku menghela napas panjang sekali, lalu mulai melangkah—dengan pelan, menyusuri bagian kiri rumah. Sejauh ini aku tidak menemukan apapun yang mencurigakan, bahkan setelah beberapa menit aku menyusuri salah satu lorongnya. Meskipun begitu aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini karena suasananya yang benar-benar terkesan sepi tapi dibuat-buat. Aku sudah sering berada di situasi seperti ini—jujur saja, jadi aku meningkatkan level kewaspadaanku saat aku semakin dalam memasuki rumah yang bisa dikatakan cukup besar ini.

“Apa kau menemukan sesuatu?” Suara Sung Jae tiba-tiba terdengar di telingaku saat aku baru saja keluar dari lorong pertama dan sampai di lorong kedua di sisi yang lainnya. “Tempat ini terasa sangat mencurigakan. Bagaimana menurutmu?”

“Kau benar,” jawabku sambil terus menyapukan pandanganku. “Seperti seseorang sengaja membuatnya berantakan, lalu meninggalkannya begitu saja”

Maja, aku juga merasakan hal yang sama”

“Tetap waspada, Sung Jae-ya. Kita tak tahu apa ini mungkin jebakan—“

Arraseo” sahut Sung Jae.

Aku memilih untuk tidak memberi tanggapan lagi dan terus bergerak menyusuri lorong baru di bagian kiri rumah ini. Jujur saja, aku tidak pernah tahu ada rumah tradisional Jepang yang sebesar ini dan itu cukup membuatku takjub. Meskipun begitu, beberapa kali aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku, tapi aku tidak melihat siapapun. Segera, aku membuka salah satu pintu di lorong ini dan memasuki sebuah ruangan kosong. Aku menghembuskan napas pelan, merasa lega karena lolos dari sesuatu—apapun itu.

Ya! Aku mulai mendengar gerakan dari arah sini” Sung Jae memberitahuku kemudian. “Sepertinya mereka menuju ke arahmu, ke sisi timur”

“Apa itu banyak?”

Geurissae. Lebih baik kau waspada,”

“Aku mengerti” sahutku memilih untuk menyelipkan kembali senjata apiku ke dalam bagian belakang celanaku. “Choi Sung Jae. Kembalilah ke mobil dan bersiap disana,”

Wae?”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ‘kan?” kataku seraya mengambil penutup wajahku dari dalam sakuku. “Kau harus pergi jika lebih dari 30 menit aku tidak keluar dari sini. Arra?”

Ya! Apa yang—”

Aku tidak menunggu Sung Jae selesai bicara dan langsung mematikan alat penghubung kami itu. Aku mempersiapkan segalanya, termasuk diriku sendiri karena aku tahu sesuatu seperti ini pasti akan datang setiap kali aku sedang melakukan sesuatu. Mataku menyapu keadaan sekitarku, lalu tertangkap olehku sebuah vas yang terjatuh di dekat lemari setinggi pinggangku. Bergegas aku mengambilnya lalu bersiap di balik pintu geser agar siapapun yang memasukinya bisa segera aku kalahkan.

Benar saja, tidak lama kemudian seseorang memakai pakaian serba hitam masuk ke ruangan dimana aku berada. Dengan sigap aku melemparkan vas itu ke kepalanya, membuat dia langsung terjatuh karenanya. Aku bergegas keluar, tapi ternyata sudah ada dua orang yang menungguku disana. Salah satunya berlari ke arahku, jadi aku meninju dadanya sekali, perutnya sekali dan menjatuhkannya setelah mengangkat tubuhnya.

Begitu aku selesai dengan orang ini, orang yang lainnya kembali datang. Aku berniat melakukan hal yang sama, tapi di gerakanku yang pertama dia berhasil menghindariku. Sebagai gantinya, dia menendang perutku dan membuatku mundur beberapa langkah karenanya. Dia maju ke arahku, bersiap untuk kembali memukulku tapi aku menghindarinya lalu dengan sekali gerakan, aku memukul lehernya dan diapun jatuh tersungkur.

Sekali lagi, aku mengamati keadaan sekitarku sebelum memutuskan meninggalkan lorong ini. Aku kembali ke lorong sebelumnya, lalu segera bersembunyi saat aku mendengar suara langkah-langkah kaki yang lainnya. Kurasa orang di tempat ini semakin banyak dan tidak mungkin jika aku mengalahkan mereka semua. Aku memutar otakku dan berpikir tentang apa yang harus aku lakukan untuk benar-benar keluar dari sini sambil membawa informasi yang aku inginkan. Karena aku tidak mau jika sampai aku tidak mendapatkan apa-apa padahal aku sudah sejauh ini.

“Aku tidak bisa selamanya bersembunyi jika aku ingin mendapatkan sesuatu,” kataku pada diri sendiri. “Aku harus melakukan sesuatu”

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Begitu keluar, orang pertama yang melihatku langsung berlari ke arahku dan aku langsung memberinya satu pukulan telak di dagunya. Tapi kemudian seseorang menyerangku dari belakang dan itu cukup membuatku terkejut meskipun dengan cepat aku memiting tangannya dan memutar tubuhnya sampai terjatuh.

Satu orang kembali datang, tapi aku segera menangkisnya lalu meninju dengan sikuku dan menendangnya menggunakan lututku. Setelah aku menjatuhkan orang ini juga, semakin banyak orang yang datang dan beberapa bahkan membawa senjata—semacam tongkat kayu atau besi. Jadi aku memutuskan untuk berlari ke arah lain karena aku tidak mungkin langsung melawan mereka semua sekaligus. Aku harus menghindari pertarungan dengan banyak orang karena jika sampai aku kalah, maka konsekuensinya akan sangat besar.

“Tangkap dia!” Aku mendengar salah satu dari mereka berseru saat mengejarku di lorong. “Jangan sampai dia keluar!”

Stop!” Seruan keras seorang namja paruh baya dari arah depanku langsung membuat langkahku terhenti. Aku segera memasang kuda-kuda, sambil mengawasi segala arah meskipun namja di depanku ini terlihat biasa saja. “You! Follow me,” katanya menunjuk ke arahku.

Awalnya aku sempat ragu untuk mengikutinya, tapi karena aku tidak memiliki pilihan lain maka mau tak mau aku melangkahkan kakiku mengikuti kemana namja itu pergi. Masih tanpa menurunkan tingkat kewaspadaanku, aku berjalan di belakang namja itu ke suatu tempat di sisi lain rumah. Dia memintaku masuk ke dalam sebuah ruangan dengan gerakan tangannya, dan dengan sedikit ragu bercampur curiga dan waspada, aku melangkah masuk melalui pintu geser yang langsung menutup begitu aku sudah berada di dalam.

Welcome,” sambut seorang namja lainnya yang sedang duduk di sebuah sofa pendek di seberang ruangan. Dia memakai kacamata hitam, rambutnya sedikit panjang, dan kurasa tidak jauh lebih tua dari namja sebelumnya, tapi terlihat lebih berkharisma. “Come here. Don’t worry, I won’t hurt you

Who are you?” tanyaku waspada.

“Kau yakin tidak mengenaliku?” Namja itu balik bertanya, dan keningku langsung berkerut tajam karena dia berbicara bahasa yang sama denganku. “Sayang sekali, kurasa aku mengenalimu” katanya lagi.

“Kau mengenaliku?”

“Meskipun tidak yakin,” sahut namja itu. “Kau cukup tangguh, dan kurasa aku tidak salah mengenalimu dari caramu berkelahi tadi. Kau salah satu murid terbaikku,”

Kerutan di keningku semakin dalam mendengar perkataan namja itu. “Nuguseyo?” tanyaku.

Namja itu membuka kacamata hitamnya, lalu tersenyum ke arahku. Mataku langsung membelalak melihat siapa namja di depanku ini. Dia adalah Kang Dae Shik, salah satu instruktur-ku saat aku masih berada di pasukan khusus. Sudah bertahun-tahu aku tidak melihatnya. Aku bahkan berpikir dia tewas di suatu tempat karena tidak ada kabarnya sama sekali. Siapa yang menyangka jika sekarang dia berdiri di hadapanku.

“Masih tidak mengenaliku?”

“Dae Shik sunbae” seruku dengan cepat. Aku berniat untuk memeluknya, tapi dia mengangkat tangannya menahanku untuk tidak melakukannya. “Wae—

“Kita tidak dalam suasana reuni, Kyuhyun-ah” potong Dae Shik tegas. “Aku tidak akan menerima pelukanmu karena kita berada di jalan yang berbeda sekarang”

“Apa maksudmu?”

“Apa yang kau lakukan disini?” Dae Shik bertanya padaku tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. “Kenapa kau mengendap-endap di rumahku?”

“Rumahmu?” celetukku terkejut. “Bagaimana bisa ini rumahmu?”

“Banyak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, dan kau tidak tahu” kata Dae Shik sambil menatapku tajam. “Sekarang jawab aku, apa yang kau lakukan disini?”

Aku diam sesaat, berpikir apa seharusnya aku menjawab ini atau tidak. Tapi kemudian aku memutuskan untuk berbicara. “Aku sedang mencari informasi tentang suatu organisasi ilegal”

“Dan apa itu misi yang diberikan padamu?”

“Tidak. Ini misi pribadiku,” sahutku dengan cepat. “Aku dinon-aktifkan dari pasukan khusus sejak tiga tahun yang lalu, dan aku tidak membawa misi apapun sekarang. Aku hanya mencari informasi yang bisa aku dapatkan di tempat ini”

“Bagaimana kau bisa yakin kau akan mendapatkannya di tempat ini?”

Aku diam saja.

“Baiklah lupakan itu,” kata Dae Shik kembali. “Aku lebih tertarik pada misi pribadimu, jujur saja”

“Sayangnya, aku tidak bisa memberitahumu” sambungku. “Aku mencurigaimu, jujur saja”

“Kenapa kau mencurigaiku?”

Aku menatap Dae Shik lekat-lekat. “Apa mereka orang-orangmu?” tanyaku yang langsung dijawab olehnya dengan anggukkan kepala. “Itu berarti kau benar-benar tidak berada di jalan yang sama denganku”

“Aku sudah memberitahumu itu sebelumnya” Dae Shik menyahut dengan senyum kecil di wajahnya. “Kita berada di jalan yang berbeda, tapi kurasa kita memiliki tujuan yang sama”

“Apa maksudmu?”

“GAIA” celetuk Dae Shik yang membuat satu alisku langsung terangkat. “Dan juga, cincin itu” tambahnya.

“Bagaimana kau tahu—?”

“Pernah berada di pasukan khusus itu membuatku tahu banyak hal, Cho Kyuhyun” kata Dae Shik sambil beranjak dari tempatnya dan pergi ke arah rak pendek untuk mengambil sebuah buku. “Awalnya aku sempat menyesali keputusanku meninggalkan pasukan khusus itu tapi sekarang aku sama sekali tidak menyesal. Ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku lakukan di sisa hidupku ini”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu”

Dae Shik kembali menyunggingkan senyumnya ke arahku. “Sekarang aku adalah free agent, Kyuhyun-ah. Kau seharusnya mengerti apa maksudnya”

Free agent tapi kau memiliki anak buah seperti sebuah kelompok mafia?” celetukku tanpa banyak berpikir. “Kurasa kau tidak masuk dalam definisi free agent, sunbae

“Mereka membantuku,” sahut Dae Shik dengan tenang. “Aku perlu banyak orang untuk menjaga tempat ini, menjaga rahasiaku dan untuk mencari cincin itu”

“Untuk apa kau mencari cincin itu?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

Aku memicingkan mataku, menatap curiga ke arah Kang Dae Shik yang sekarang sedang membaca sesuatu di buku yang tadi dia ambil. Saat di pasukan khusus, aku memang tidak tahu banyak tentangnya kecuali fakta bahwa dia yang mengajariku bertarung dengan tangan kosong. Dia cukup dekat dengan Mayor Jenderal Choi Jin Ho—appa Sooyoung, saat masih di pasukan khusus dan bahkan beberapa kali menjadi asistennya dalam suatu misi. Sayangnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri tanpa aku ketahui alasannya.

“Apa kau tahu Choi Sojang meninggal 3 tahun yang lalu?” tanyaku ingin tahu.

“Aku tahu,” jawab Dae Shik yang menatapku sekilas lalu kembali ke bukunya. “Sangat disayangkan, orang sehebat dia” tambahnya.

“Apa hubunganmu dengan GAIA?”

Mata Dae Shik langsung beralih dari buku ke arahku. Dia terus memperhatikanku dalam diam untuk sesaat, lalu tersenyum padaku. “Aku tidak ada hubungan apapun dengan GAIA”

Geuraesseo?”

“Ayo kita bersepakat, Kyuhyun-ah

Kedua alisku saling bertaut, “Bersepakat?”

Maja. Bukankah kita memiliki tujuan yang sama?” tanya Dae Shik dengan suara berat. “Itulah kenapa aku meminta salah satu anak buahku untuk membawamu kepadaku karena kau sepertinya tahu apa yang aku inginkan”

“Apa itu?”

“Dimana cincin itu?”

Aku menelan ludah. “Bagaimana aku bisa tahu dimana cincin itu?”

“Aku akan memberitahumu informasi tentang GAIA jika kau memberitahuku dimana cincin itu berada” katanya sambil mengambil sesuatu dari bawah sofanya. Sebuah amplop cokelat. “Kesepakatan yang adil, ‘kan?” ujarnya.

“Tidak,” sahutku cepat. “Aku bahkan tidak tahu kenapa kau dan yang lainnya menginginkan cincin itu”

“Kau benar-benar tidak tahu?”

Aku mengangguk singkat.

“Aku akan memberitahumu sedikit,” ujarnya masih terkesan santai tapi tatapannya tidak pernah lepas dariku. “Cincin itu memiliki sebuah program yang menyimpan data-data penting dari para orang yang paling dicari oleh CIA selama 10 tahun terakhir ini. Program ini bernama BAST, salah satu program spesial CIA yang dibuat oleh seorang agen bernama Yoo Ji Yeon.”

“Yoo Ji Yeon?”

Maja, dia orang Korea”

“Program seperti apa BAST itu?”

“Kau akan memberitahuku dulu dimana cincin itu sekarang, karena aku yakin kau sudah mengetahuinya”

Aku mendesah panjang, berpura-pura bersikap jika aku tidak tahu mengenai keberadaan cincin itu. “Aku juga sedang mencarinya”

“Kau mencarinya tanpa tahu ada apa di cincin itu?”

“Benar,” sahutku tanpa ragu. “Aku tidak peduli apa yang ada di dalam cincin itu, tapi aku harus mencarinya karena itu adalah misi pribadiku” kataku berbohong.

Dae Shik mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan memberimu waktu, Kyuhyun-ah” katanya. “Kita akan bertemu lagi segera, dan kau akan memberitahuku dimana cincin itu berada”

“Dan bagaimana jika aku tidak mau?”

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan selamat,” sahut Dae Shik kembali dengan senyum di wajahnya. “Untuk kali ini, aku akan membiarkanmu. Anggap saja ini sebagai hasil dari pertemuan kita kembali”

“Aku tidak bisa percaya padamu—“

“Kau bisa tidak percaya padaku, tapi aku bukan orang jahat. Tujuanku menginginkan cincin itu tidak sama dengan tujuan orang-orang lain yang mencarinya. Aku akan mempertegas lagi padamu, bahwa aku bukanlah orang jahat” kata Dae Shik terdengar sangat tegas saat berbicara. “Kau bisa pergi, dan anak-anak buahku tidak akan menyentuhmu”

Aku memberikan tatapan tajam pada Kang Dae Shik sebelum akhirnya membalikkan badanku dan menggeser pintunya untuk keluar dari ruangan. Setengah diriku tidak mempercayainya tapi setengahnya lagi aku percaya padanya. Ada saat-saat dimana aku sangat percaya padanya saat aku masih berada dalam pasukan khusus bersamanya. Bukankah Mayor Jenderal Choi juga dulu percaya padanya? Tapi untuk apa dia menginginkan cincin itu? Haruskah aku mencari lebih jauh? Itu berarti tugasku akan semakin bertambah sekarang, karena tidak hanya Black Dragon maupun GAIA yang mencari cincin itu tapi juga Kang Dae Shik dan kelompoknya yang baru aku ketahui ini.

__

Sooyoung POV

Aku duduk diatas sebuah bangku taman di kampus sambil menatap para mahasiswa yang berlalu-lalang di depanku. Aku menyeruput cappuccino dingin yang baru saja aku beli, lalu menghela napas panjang. Pikiranku melayang pada beberapa kejadian yang terjadi di hidupku akhir-akhir ini. Sejak mengenal Cho Kyuhyun, rasanya ada banyak yang berubah dari diriku, baik mengenai sikapku maupun prinsip-prinsipku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku menikmati perubahan itu yang baru kali ini aku lakukan. Aku tidak pernah menyangka jika perubahan itu terkadang menyenangkan.

Aku mendesah pelan, lalu kembali menyeruput cappuccino-ku.

“Hei, sedang apa?” sapa In Guk yang tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku.

Aku terbatuk kecil karena hampir saja aku menyemburkan minuman yang baru aku teguk karena terkejut. “Mwohaneungeoya? Kenapa tiba-tiba mengagetkanku seperti itu?” omelku kesal.

Ah, mian” kata In Guk dengan nada yang terdengar seperti tidak serius. “Sedang apa disini sendirian?” ulangnya.

“Tidak ada urusannya denganmu kenapa aku disini sendirian,” jawabku ketus.

Aigoo… aku hanya betanya,” komentar In Guk dengan wajahnya yang terlihat polos. “Omong-omong, bagaimana keadaanmu? Kakimu sudah sembuh sepenuhnya?”

“Kau bisa melihatnya sendiri, ‘kan?”

Seo In Guk tersenyum tipis, lalu pandangannya menatap lurus ke depan, memperhatikan beberapa mahasiswa yang sedang lalu-lalang sambil saling mengobrol. “Aku mengkhawatirkanmu,” katanya setengah melamun.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Seo In Guk hanya bersikap seperti ini kepadaku. Apa sedang terjadi sesuatu padanya? Haruskah aku mencari tahu atau membiarkannya saja? Karena—jujur saja, aku tidak mau terlibat dalam setiap urusan namja ini meskipun sebenarnya aku peduli padanya sebagai seorang teman.

“Kau sedang ada masalah?” Aku memutuskan untuk bertanya pada akhirnya.

Eo,” jawab In Guk. “Tapi aku tidak bisa memberitahumu” lanjutnya sebelum aku kembali berbicara.

Aku mendesah pelan. “Geurae, arraseo” kataku tidak memaksa.

In Guk mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu dia tersenyum tipis. “Aku hanya berharap kau terus baik-baik saja, tidak terluka apapun”

Aku diam saja, mencerna kata-kata namja ini.

“Aku harus pergi,” celetuk In Guk kemudian. “Omong-omong, dimana anak anjngmu? Aku tidak melihatnya dimana-mana”

Geurissae,” jawabku acuh tak acuh.

Seo In Guk mengangkat kedua bahunya, lalu dia bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia sempat mengacak pelan rambutku dan mengambil sisa minumanku. Meskipun aku berteriak memprotes-nya, dia hanya melambaikan tangannya ke arahku sambil terus berjalan meninggalkan taman.

Aku mendengus kesal dan memilih untuk ikut pergi dari taman. Karena tidak ada yang aku lakukan lagi, aku memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen. Tapi kemudian langkahku terhenti saat aku melihat gedung apartemen yang ditinggali Kyuhyun. Aku diam mematung di tempatku sambil menatap ke arah jendela apartemen Kyuhyun di lantai enam. Sejak terakhir dia datang ke apartemenku, aku memang tidak melihatnya lagi. Mungkin dia terlalu sibuk dengan kuliahnya, mengingat dia pernah melewatkannya untuk waktu yang cukup lama.

“Haruskah aku membantu mengejar ketertinggalannya?” tanyaku pada diri sendiri. “Ani—jamkkaman—“ seruku sambil mengernyitkan dahi saat terus menatap ke arah jendela Kyuhyun.

Aku berpikir keras. Bukankah sudah beberapa hari ini tirainya terus tertutup dan lampunya padam? Apa itu berarti dia tidak sibuk karena kuliahnya, tapi pergi ke suatu tempat dan tidak memberitahuku? Lagi?

“Kurasa aku harus memeriksanya sendiri apa dia benar-benar di apartemen atau tidak” gumamku sebelum akhirnya melangkah ke arah gedung apartemen itu. “Mungkin saja terjadi sesuatu padanya, ‘kan?”

Langkahku sudah sampai di lantai enam gedung apartemen ini. Tapi saat aku baru saja keluar dari lift, sebuah sosok yang terasa tidak asing terlihat oleh kedua mataku. Sosok itu melangkah dengan sangat mencurigakan ke satu arah dengan seorang yeoja yang berjalan di belakangnya. Mataku mengerjap beberapa kali, memastikan apa yang aku lihat benar atau salah. Tapi kemudian aku memutuskan untuk ikut melangkah ke arah yang sama untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Aku bersembunyi di balik dinding agar mereka tidak melihatku. Sebagai gantinya, aku hanya bisa melihat bayangan mereka dari kaca yang memantul tepat di depanku tanpa bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Aku terus mengamati mereka, lalu mengerutkan kening saat melihat mereka yang begitu akrab. Entah kenapa ada perasaan tidak suka yang muncul di dalam diriku saat melihat pemandangan itu. Bukankah selama ini Kyuhyun tidak seakrab itu dengan yeoja manapun selain aku?

Nappeun namja,” umpatku kesal. Air mataku mulai mengalir dengan sendirinya—tanpa aku sadari, “Jinjja nappeun namja” kataku lagi.

Aku memilih untuk pergi dan kembali berjalan ke arah lift, meninggalkan tempat persembunyianku. Saat pintunya membuka, cepat-cepat aku memasukinya. Tapi aku sempat melihat Kyuhyun yang ternyata juga melihatku. Wajahnya terlihat terkejut, lalu dia bergegas menghampiriku yang langsung menekan tombol penutup pintu lift-nya. Aku benar-benar tidak mau lagi bertemu dengannya karena aku tak tahu apa yang akan aku lakukan jika berhadapan dengannya sekarang.

Suara denting pelan terdengar, jadi aku segera keluar dari lift dan bergegas kembali ke apartemenku sendiri. Tapi kemudian, seseorang menarik tanganku dengan cepat dan membawaku ke salah satu lorong di lantai dasar gedung ini. Dia adalah Cho Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” seruku pada Kyuhyun yang terus memegangi tanganku dengan erat. “Neo… jinjja nappeun namja. Arrra? Aku tak tahu kenapa aku bisa percaya padamu sebelumnya,”

“Apa yang terjadi? Kenapa kau melarikan diri saat melihatku?” tanya Kyuhyun terlihat bingung. “Jika memang aku berbuat salah padamu, setidaknya kau harus memberitahuku. Bukan bersikap seperti ini”

Aku diam saja sambil berusaha keras menahan emosiku.

Sunbae—

“Kau tahu,” Aku mulai bicara, menyelanya. “Aku paling tidak suka seorang pembohong”

Museun marieyo?”

Aku menatap tajam ke arah Kyuhyun dan menjaga agar suaraku tidak bergetar saat berbicara. Meskipun begitu—tetap saja, rasa sakit, kesal, ditipu dan sebagainya itu bercampur menjadi satu di dalam hatiku sekarang. “Sebenarnya kau menganggapku sebagai apa, Cho Kyuhyun?” tanyaku datar dan dingin.

Eh?

“Kau bertanya padaku tentang bagaimana jika kau menyukaiku. Kau memperlakukanku dengan sangat baik, berkata bahwa kau akan melindungiku” kataku jujur pada akhirnya. “Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau bahkan tidak memberiku kabar apapun selama beberapa hari dan aku tidak pernah bertanya apa yang kau lakukan. Kau membuatku kesal sendiri, khawatir sendiri, gelisah sendiri. Kau sama sekali tidak menghargai—“

Kyuhyun langsung menciumku bahkan sebelum aku selesai berbicara. Membuatku langsung terdiam seketika karena terkejut. Aku membeku di posisiku, dan kesadaranku seakan hilang sampai membuatku tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang. Kenapa dia menciumku? Kenapa dia tiba-tiba melakukan hal ini? Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya?

Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan atau aku lakukan setelah ini. Semuanya terasa begitu cepat terjadi. Bahkan aku tak pernah membayangkan jika aku akan berciuman dengan Kyuhyun seperti ini. Dia terus mendorong tengkuk dengan tangannya yang bebas, sementara tangan lainnya menggenggam erat tanganku. Meskipun ini bukanlah first kiss-ku, tapi kurasa ciuman ini adalah yang paling hangat dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat, Kyuhyun mulai menjauhkan tubuhnya dariku dan melepaskan tanganku.

“Itu bagaimana aku menganggapmu,” kata Kyuhyun sambil menatapku dengan lekat. “Aku menyukaimu, Choi Sooyoung” katanya lagi.

Aku diam, sama sekali tidak bisa memberikan respon apapun. Aku hanya bisa memandangi wajah Kyuhyun yang sekarang tersenyum ke arahku. Mataku mengerjap beberapa kali, memastikan apa ini mimpi atau bukan. Tapi kemudian, Kyuhyun kembali meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Seketika perasaan hangat itu muncul sampai membuatku tanpa sadar tersenyum.

“Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, ‘kan?” Kyuhyun bersuara lagi setelah kami cukup lama diam. “Apa ada lagi pertanyaan di kepalamu?”

Aku berdehem pelan, lalu berkata. “Sejak kapan?”

Molla,” sahut Kyuhyun langsung. “Geunyang—joaseo

Geunyang joaseo?”

Eo. Aku menyukaimu begitu saja,” kata Kyuhyun kembali menatapku dalam. “Aku selalu senang saat melihatmu dan saat berada di dekatmu. Aku ingin melindungimu, lalu perasaan itu datang tiba-tiba”

“Apa kau sempat bertanya-tanya, kenapa kau bisa menyukaiku secepat itu?” tanyaku penasaran. “Jujur saja, aku bertanya-tanya”

“Apa itu berarti kau juga menyukaiku?” balas Kyuhyun dengan pertanyaan juga.

Oh?” celetukku terkejut. “Ah… emm, kurasa begitu” kataku kemudian sambil menghindari tatapan namja ini.

Aku tidak tahu bagaimana tanggapan Kyuhyun karena aku memilih untuk terus memalingkan wajahku darinya. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan senyumnya bahkan meskipun aku tidak melihatnya secara langsung.

Geureom… apa kau mengijinkanku untuk melindungimu mulai sekarang?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. “Aku benar-benar ingin kau merasa aman saat kau disampingku, sunbae

“Jangan memanggilku seperti itu lagi”

Ne?”

Aku mendesah pelan, lalu memberanikan diri menatap Kyuhyun. “Jangan memanggilku ‘sunbae’ lagi, itu terdengar canggung di telingaku sekarang”

“Lalu… bagaimana aku harus memanggilmu?”

“Cukup namaku saja. Itu tidak apa-apa” jawabku langsung. “Kurasa itu akan lebih enak di dengar, ‘kan?”

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum tipis. “Ayo kita makan malam bersama. Aku yang bayar,”

Geurae?”

Kajja,” seru Kyuhyun yang langsung menarik tanganku keluar dari gedung apartemennya.

Selama kami berjalan bersama ini, pandanganku tidak pernah lepas dari Kyuhyun. Entah kenapa aku sangat menikmatinya dan diapun tidak pernah memintaku untuk berhenti memandanginya. Sesekali, dia bahkan menoleh ke arahku, tersenyum, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Meskipun dia belum mengajakku berkencan secara langsung, tapi itu tidak masalah bagiku. Karena sekarang aku merasa bahwa aku dan dia sudah berkencan setelah sebelumnya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Bukankah perbuatan itu lebih penting dari sekedar kata-kata?

__

Kyuhyun POV

Hujan di musim panas. Itu sesuatu yang jarang terjadi tapi benar-benar terjadi hari ini. Meskipun begitu, itu sama sekali tidak mengurungkan niatku dan Sooyoung untuk melihat pertunjukkan musikal di salah satu teater di Seoul. Setelah apa yang terjadi diantara kami beberapa hari yang lalu, Sooyoung memang sedikit mengubah sikapnya padaku. Aku bahkan cukup terkejut karena sikapnya benar-benar berbeda dari apa yang aku ketahui dari appa-nya saat bersama seseorang yang bisa dia percaya. Itu benar bahwa dia mempercayaiku sekarang dan dia mengijinkanku untuk melindunginya tanpa banyak bertanya mengenai alasannya. Yah, setidaknya mulai sekarang aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi saat aku ingin melindunginya, ‘kan?

“Dingin?” tanyaku pada Sooyoung saat kami berada di luar gedung teater setelah pertunjukkan selesai sambil menunggu hujan reda.

Em. Jokkeum,” jawab Sooyoung seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Mendekatlah, kalau begitu” ujarku. “Aku akan sedikit menghangatkanmu,”

Eotteoke?”

“Kemari dulu,”

Sooyoung menurut, lalu dia mendekat ke arahku. Saat sudah benar-benar dekat, aku bergegas merangkulnya lalu melingkarkan satu tangannya di sekitar pinggangku. Sooyoung tidak banyak bicara karena apa yang aku lakukan ini, tapi aku tahu bahwa dia terkejut. Dia bahkan hanya terus menatapku selama beberapa saat. Membuatku merasa sedikit gugup karena jantungku pun sekarang berdegup kencang.

“Ini tidak berhasil,” gumamku pelan. “Sooyoung-ah, bagaimana kalau kita pergi ke kafe itu saja? Kita bisa memesan sesuatu yang hangat disana” kataku kemudian sambil menunjuk ke arah kafe yang paling dekat dengan gedung teater.

Geurae?”

Aku mengangguk meskipun Sooyoung tertawa pelan. “Wae useo?” tanyaku bingung.

Aniya, geunyang—“ Dia menjauhkan tangannya dariku, masih tertawa. “Jujur saja, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau coba lakukan tadi” katanya pada akhirnya berbicara.

“Aku—emm—hanya mengikuti apa yang dilakukan di beberapa film yang aku tonton,” kataku jujur tanpa berani menatapnya lama. “Tapi kurasa itu hanya berhasil di film-film saja, ‘kan?”

Amado?”

“Ayo kita ke kafe saja,” sahutku yang dengan cepat menarik tangan Sooyoung lalu pergi ke kafe itu.

Sooyoung membiarkanku membimbingnya memasuki kafe. Kami duduk di salah satu sudut kafe, lalu seorang pelayan pun datang untuk mencatat pesanan kami. Aku segera memesan minuman dan diam-diam memperhatikan saat Sooyoung sedang berbicara dengan pelayan itu. Tapi dengan cepat aku mengalihkan perhatianku saat tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam saling pandang. Jujur saja, setelah aku mengungkapkan bagaimana perasaanku, kupikir semuanya akan berjalan lancar. Tapi ternyata aku masih tetap saja gugup dan terkadang kehilangan kata-kata di depan Sooyoung. Apa dia juga seperti itu terhadapku? Atau hanya aku saja?

Waeyo?” tanya Sooyoung tiba-tiba. “Gwenchanayo?”

Aku mengangguk kecil tanpa mengatakan apa-apa. Aku masih terlalu gugup untuk berbicara dan menurutku itu akan sangat memalukan jika Sooyoung menyadarinya.

Untuk beberapa saat aku hanya diam, bahkan sampai seorang pelayan membawakan pesanan kami lalu menghindangkannya di depan kami. Aku melirik Sooyoung, yang ternyata sedang terlalu sibuk memandang jauh ke luar dari sebuah jendela. Keningku berkerut saat menyadari bagaimana ekspresi dan tatapan yeoja itu. Tanpa aku sadar, aku memperhatikannya—cukup lama, karena dia benar-benar menarik seluruh perhatianku sekarang.

“Aku selalu tidak suka hujan,” Sooyoung tiba-tiba berbicara, seakan mengetahui bahwa aku sedari tadi sedang mengamatinya. Aku tersadar dari lamunanku sambil cepat-cepat mengalihkan pandanganku darinya. “Aku bahkan selalu berharap hujan tidak pernah turun lagi.”

Waeyo?” tanyaku menanggapi pada akhirnya.

Sooyoung mendesah pelan. “Hujan selalu mengingatkanku pada eomma dan bagaimana aku kehilangannya di depanku”

Aku memilih diam kali ini. Bukan karena apa-apa, tapi lebih karena aku harus bisa menahan sikapku jika Sooyoung mulai bercerita mengenai keluarganya. Tidak banyak yang aku ketahui, memang, tapi appa-nya pernah memberitahuku bagaimana saat eomma Sooyoung harus mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan keluarganya. Sooyoung yang saat itu tidak tahu apa-apa berpikir bahwa eomma-nya meninggal karena appa-nya adalah seorang tentara dan dia harus kehilangan ibunya karena musuh appa-nya. Itu yang diceritakan appa Sooyoung padaku, dan sepertinya sampai sekarang yeoja ini masih berpikir begitu.

“Kau pasti baru pernah mendengar seseorang yang membenci hujan, ‘kan?” tanya Sooyoung padaku yang cukup membuatku terkejut. “Hampir semua orang menyukai hujan dengan berbagai alasan mereka, tapi aku tidak.”

“Hujan tidak pernah bersalah. Kau seharusnya tidak perlu membencinya” sahutku tanpa mengalihkan pandanganku dari Sooyoung. “Hujan memang selalu membawa perasaan yang berbeda pada masing-masing orang. Tapi, apapun itu seharusnya kita menikmatinya. Bahkan jika itu perasaan sedih ataupun benci sekalipun”

Waeyo?”

Aku tersenyum tipis, “Karena terkadang tanpa kita sadari, hujanlah yang juga menghapus perasaan-perasaan tidak menyenangkan itu dari dalam hati kita”

Hening. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Sooyoung.

Aku mengamatinya cukup lama. Sampai akhirnya dering ponselku terdengar dan memecah keheningan diantara kami berdua. Cepat-cepat aku mengambil ponselku itu lalu meminta Sooyoung untuk menungguku sementara aku menjawab panggilan telepon yang masuk. Sebenarnya jika bukan dari Choi Sungjae aku tidak perlu menjauh, tapi karena dia yang menelepon dan pasti itu berhubungan dengan sesuatu yang aku minta untuk dia cari, makanya aku memilih menjauh dari Sooyoung sebentar. Lagipula tidak ada percakapan diantara kami sebelumnya karena kami sama-sama diam, jadi aku tidak terlalu merasa bersalah karena harus memotong perkataannya dan pergi untuk menjawab telepon.

Eo. Kau menemukannya?” tanyaku langsung begitu aku menekan tombol jawab di ponsel dan mendekatkannya ke telinga. “Bagaimana?”

“Aku menemukannya,” jawab Sungjae terdengar serius. “Binding Assassination Systems Tracing atau disingkat BAST adalah sebuah program yang dibuat oleh salah satu agen CIA berkewarganegaraan Korea pada tahun 2004,”

Geuraesseo?”

“Program itu berisi daftar pembunuhan-pembunuhan berskala internasional beserta orang yang melakukannya dan alasannya, yang kemudian menjadi rahasia CIA pada tahun itu. Total ada 5 buah cincin yang dibuat dengan program yang sama, yang mana daftar itu dibagi ke dalam 5 bagian. Empat cincin sudah berada di tangan CIA sekarang, dan berada dalam pengamanan mereka” jelas Sungjae.

“Itu berarti masih ada satu cincin diluar pengamanan CIA, dan kemungkinan cincin itu adalah cincin yang dipakai Sooyoung” Aku menyimbulkan meskipun masih tidak begitu yakin. “Omong-omong, apa agen mereka tak pernah mengetahui dimana cincin itu selama ini?”

“Sepertinya tidak,”

Wae? Bukankah itu mudah untuk mereka melacak program buatan mereka atau bahkan melacak identitas seseorang”

“Aku punya jawaban dari pertanyaanmu itu, Kyuhyun-ah” kata Sungjae yang sepertinya melangkah pergi dari tempatnya semula. “Pertama, karena pencipta programnya telah memasukkan program-program lain yang hanya diketahui olehnya di cincin terakhir yang dia miliki. Itu semacam program perlindungan yang mana agen setingkat CIA atau FBI tidak bisa melacaknya dengan cara apapun”

“Kau tahu programnya?”

“Sayangnya tidak. Satu-satunya orang yang mengetahuinya adalah penciptanya sendiri yang sekarang sudah meninggal. Itu berarti tidak ada cara untuk melacak cincin itu selama bertahun-tahun ini” jawab Sungjae. “Kedua, kenapa CIA tidak bisa melacak identitas pencipta program itu—hmm, itu karena dia mengubah semua identitasnya”

“Apa maksudmu?” tanyaku sedikit tidak mengerti.

“Di CIA, dia dikenal sebagai Yoo Ji Yeon. Tapi dia mengubah identitasnya selama ini setelah kabur dari CIA sambil membawa cincin itu dan—“

Jamkkaman… kabur?”

Eo, majayo. Kabur, lebih tepatnya melarikan diri dari pengejaran mereka yang mencari cincin itu diluar CIA,” kata Sungjae seperti membacakan sesuatu. “Agen CIA juga mencarinya dengan tujuan untuk melindunginya, tapi dia terlalu tidak percaya pada CIA karena dia mengetahui bahwa salah satu agen CIA yang berpengaruh pada saat itu merupakan salah satu nama yang terdaftar dalam cincin BAST. Itulah kenapa dia memutuskan untuk melarikan diri”

Geureom, siapa nama dia saat dia diluar CIA?”

“Go Yeon Hee, eomma Sooyoung-ssi” Sungjae menjawab dengan helaan napas panjang. “Mungkin Sooyoung-ssi sendiri tidak pernah tahu bahwa eomma-nya adalah seorang agen CIA dan bahkan mengetahui namanya yang sebenarnya”

Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Mengetahui semua ini benar-benar mengejutkanku. Siapa yang menyangka jika istri Mayor Jenderal Choi itu adalah salah satu agen CIA yang telah membuat program rumit bernama BAST. Ini benar-benar diluar dugaanku bahwa sebenarnya hidup Sooyoung jauh lebih berbahaya sekarang.

“Sungjae-ya” panggilku setelah aku kembali mengumpulkan kesadaranku. “Bagaimana dengan Dae Shik sunbaenim?”

Ah, aku belum menemukan apapun tentang dia. Kau tahu, diperlukan kode akses level 3 untuk bisa membuka jejak rekamnya disini dan itu sulit didapatkan disini”

“Benar. Kita tidak bisa mengambil resiko itu,” sahutku mengerti keadaaan Sungjae. “Bagaimanapun, aku berterima kasih padamu atas—Ya! Aku akan meneleponmu lagi nanti!” seruku kemudian saat melihat seorang namja sedang berbicara dengan Sooyoung, dan dua namja lainnya mengawasi tidak jauh dari mereka.

Aku bergegas memasukkan ponselku ke dalam saku, lalu menghampiri Sooyoung. Tanpa menunggu apapun, aku langsung menarik tangan yeoja itu, membuatnya berdiri dari tempat duduknya. Seperti biasanya, dia memberiku tatapan protes yang dengan segera aku abaikan karena ini bukan waktunya untuk memberikan penjelasan apapun yang aku lakukan. Mengingat namja di belakangku sudah mulai bergerak diam-diam mendekati Sooyoung.

Jamkkan,” seru namja berambut cepat yang tadi berbicara pada Sooyoung sambil menahanku pergi dengan memegangi bahuku.

Aku mendesah kecil, lalu dengan cepat memegagi tangan namja itu dan membantingnya ke lantai. Sooyoung menjerit, begitu pula para pengujung lainnya. Suasana semakin tidak kondusif saat dua orang lainnya langsung maju menyerangku. Mau tak mau aku mendorong Sooyoung agar menepi sebelum kemudian menahan serangan salah satu namja yang diarahkan ke dadaku. Sayangnya, namja yang lainnya datang dan langsung memberikan tendangan ke arah perutku. Membuatku jatuh tersungkur menabrak meja yang langsung hancur berantakan.

Aku segera bangkit berdiri, memasang kuda-kuda sambil menatap ke arah dua namja yang sudah bersiap untuk menyerangku kembali. Saat salah satunya datang ke arahku, aku kembali menangkis pukulan dan tendangannya, dan melakukan hal yang sama pada namja lainnya. Setelah beberapa kali hanya menangkis serangan yang datang padaku, aku berhasil mengambil kesempatan untuk menjatuhkan salah satu namja itu dengan menendang kaki bagian bawahnya. Setelah itu aku meninju perut namja yang kedua, lalu menyikut bagian punggungnya sampai dia juga terjatuh.

Selesai dengan dua namja ini, aku dengan cepat meyapukan pandanganku ke sekeliling kafe untuk mencari Sooyoung. Tapi yeoja itu sama sekali tidak bisa aku temukan. Jadi, cepat-cepat aku keluar dari kafe dan berlari ke sembarang arah untuk menemukan Sooyoung. Aku sama sekali tidak mempedulikan hujan deras yang membasahi seluruh tubuhku karena aku harus bisa menemukan Sooyoung. Itu salahku jika aku sampai kehilangannya atau membuatnya terluka.

Aku terus berlari, menyusuri jalan-jalan sempit yang kemungkinan dilewati Sooyoung. Karena aku yakin dia tidak akan pergi sendiri di tengah hujan deras saat dia baru saja memberitahuku bahwa dia membenci hujan. Itulah kenapa aku berpikir jika ada seseorang yang membawanya saat aku sedang sibuk berurusan dengan namja-namja itu. Dan jika memang seseorang membawanya, maka dia tidak mungkin melalui jalan besar yang penuh dengan orang. Mereka pasti akan memilih jalan-jalan kecil dan sempit seperti ini, dimana jarang sekali orang yang melewatinya.

Salyojuseyo!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar saat aku baru saja melewati sebuah persimpangan. “Salyoju—hmmp—

Cepat-cepat aku berlari ke salah satu jalan di persimpangan itu, dimana suara itu terdengar. Aku tidak peduli apa itu Sooyoung atau bukan karena aku tak mungkin mengabikan begitu saja suara yang aku dengar itu. Bagaimana jika itu memang Sooyoung? Setidaknya aku harus memeriksanya sendiri untuk memastikan.

“Hentukan!” seruku berteriak saat aku melihat dua orang namja dan satu yeoja yang ternyata adalah Sooyoung di salah satu sudut jalan. “Ya! Lepaskan dia” kataku sambil menatap Sooyoung yang mulutnya dibungkam dengan kain. Dia memang tidak diikat, tapi salah satu namja itu memegangi kedua tangannya yang diletakkan di belakang punggungnya.

Sooyoung tidak bisa berbicara, tentu saja. Dia hanya menatapku dengan pandangan ketakutan dan meskipun hujan juga membasahi tubuhnya, aku masih bisa melihat air mata di pipinya. Tanganku terkepal dan tanpa ragu aku melangkah mendekat. Namja yang tidak memegangi Sooyoung itu langsung menyambutku dengan tinjunya yang dengan cepat aku tangkis. Aku langsung memberikan pukulan lurus ke arah tubuh bagian depannya. Dia mundur beberapa langkah, tapi kembali datang dengan pukulan yang mengenai tubuh bagian sampingku karena aku terlalu terlambat menangkisnya. Aku terdorong ke arah dinding, tapi tidak membuang-buang waktuku untuk menyerang namja itu kembali. Tangan kiriku meninju secara menyamping untuk memancingnya, kemudian dengan cepat tanganku yang satunya meluncur lurus ke arah wajahnya. Setelah itu aku memberinya tendangan di bagian pinggangnya, membuatnya langsung jatuh tersungkur.

“Lepaskan dia,” kataku memperingatkan pada namja yang masih memegangi Sooyoung. “Aku tidak akan melepaskanmu, jika kau melepasnya”

Sayangnya, namja itu tidak mendengarkan. Dia memang melepaskan Sooyoung tapi dia menyerangku. Dia menagrahkan tunjunya ke wajahku yang dengan sigap aku tangkis, lalu dia menendang perutku. Mengabaikan rasa sakitnya, aku segera mengunci kgerakannya dengan memegangi tubuhnya dengan erat. Tidak lama, diapun mulai kehilangan keseimbangan dan dengan cepat aku menyikut bagian samping kepalanya lalu menyerangnya dengan lututku ke arah perutnya.

Setelah memastikan dua namja itu tidak bergerak karena tidak sadarkan diri, aku bergegas menghampiri Sooyoung yang sedang menundukkan wajah. Dia berteriak kencang saat aku menyentuh bahunya—meskipun mulutnya masih terbungkap. “Ini aku, Sooyoung-ah. Cho Kyuhyun,” kataku memberitahu dengan pelan.

Sooyoung mendongakkan kepala dan menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku segera melepaskan kain di mulutnya dan kemudian dia memelukku dengan sangat erat. Meskipun tidak ada yang dia katakan, tapi aku bisa mendengar tangisannya diiringi oleh suara rintik hujan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain hanya menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Setelah ini mungkin aku akan menggendongnya pulang karena dia pasti masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi dia terlihat sangat lemas, dan aku tak mungkin membiarkannya berjalan dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku harus membuatnya tenang dan merasa lebih aman terlebih dahulu.

Gokchongma, na yeogi-iseo” kataku menenangkan Sooyoung.

“Jangan pernah membiarkanku sendirian lagi,” Sooyoung berkata sangat pelan diantara isakannya.

Eo, jeoltae. Neo gwencahana?

Tidak ada tanggapan apapun dari Sooyoung. Saat aku melepaskan pelukannya untuk memeriksanya, mata Sooyoung sudah terpejam, dia tidak sadarkan diri.

-TBC-

Eotte?

Udah ketebak ceritanya? Pasti udah kan ya, hehe. Konfliknya… hmm, mungkin di awal-awal ini belum terlalu ada konfliknya. Maaf yah kalau mungkin ada yang bingung atau gimana gitu sama FF ini, soalnya baru pernah buat FF action gini -____- karena itu, jangan lupa komentar dan masukannya, knightdeul^^

Gomawo^^

16 thoughts on “[Series] The Precious Thing -3-

  1. mongochi*hae says:

    wow..kyu pinter ngeles ya hhaaa tp gk ap utk kebaikan kok

    wuihhh actionny berasa. aplg saat kyu berkelahi. hnn mantabb
    tp kok ak curiga dg identitas ing guk ya ?
    pasti dia jga mmiliki tujuan mdkati soo

    aigoo pantes aj ayah soo punya wasiat berat utk kyu. trnyta ibu soo adlh biang dr cincin it ckck..
    mantabbb

    next part dtunggu

  2. ry-seirin says:

    Wah skrg dah sling mmbuka persaan masing², tp kya blm jelas gto statunya kya HTS aja.
    Slma ni Sooyoung dah bnci sm Appanya yg tentara n pnya musuh krna jd slhsatu pnybab Ibunya meninggal, gmn klo dia tau yg sbnarnya klo Ibunya agent CIA???

  3. sie says:

    Annyeong….
    Whuff…😥 untung aja Kyuppa jago beladiri. Harapan ku utk kisah ini, Kyuppa ga lama2 merahasiakan jati dirinya yg sesungguhnya. Dan Soo walaupun kesel karena sempat di… apa ya istilah yg tepat… mmm.. mungkin, diakali ya bukan dibohongi, (kan tadi Kyuppa dah bilang belum bisa menjelaskan apa2 utk saat ini), Soo tetep bisa menerima Kyuppa ya.
    Gomawo.. 😄

  4. farah says:

    Bagus banget cerita nya, makin seru…. Jadi ngebayangin sendiri si kyu berantem gitu,, lanjut thor jangan lama2 hehe

  5. Choi Ahra says:

    Jadi ikut tegang bacanya..
    Kasian sooyoung, dia gatau apa2 tentang masa lalu appa-eommanya.
    Kyuhyun jjang!!
    Keren banget ngelindungin sooyoung gitu..

  6. dekyusoo says:

    akhirnya…
    sama-sama bilang suka juga…cieee udh kiss segala..
    ngga nyangka, kalo ternyata eommanya soo agen CIA..
    itu kira2 orang-orang suruhannya siapa ya…
    ditunggu next nya selalu semangat author..

  7. shin ah jung says:

    wow daebak thor.. makin seru dan makin menenggangkan.. ffnya jga banyak kejutan sekali..

    aku suka sekali ff ini..

    next thor,aku selalu menunggu kelanjutan ff ini..
    semangat author..

  8. Youngra Park says:

    Woy baca ini ff jatung berpacuh jga semakin tegang tegang dan keren semua mulai terbongkar dan aku menyukainy kyuyoung jga sdh jujur tetang perasaan mereka berdua suka bgts pokokny next part eoni di tunggu pary ini aj aku tunggu apa lagi next part ku harap jgn lama2 ne

  9. Mey2 says:

    Ternyata ibunya sooyoung adalah agen CIA, itulah alasan darimana ia mendapat cincin itu..
    Nyawanya bener2 terancam… ayo kyu lindungi soo.. jangan sampek dia terluka…
    Seru banget adegan perlawanannya seakan penulisnya udah pernah ngalami…
    Keep writing ya??!! *berharapjanganlamapostpartselanjutnya
    FIGHTING!!!

  10. Elis sintiya says:

    aigoo ff nya penuh misteri.. astaga ternyata ibunya sooyoung agen CIA?? tapi aku masih belum faham apa itu CIA dan apa tigas mereka.. woowww disini ada kiss scene kyuyoung… senangnya liat mereka ciuman klo bisa di tambah lagi deh adegan mesra buat mereka.. di tunggu next part nya…

  11. ajeng shiksin says:

    Seorang tentara berhubunga dengan anak buah agensi ..
    Jangan jangan sooyoung juga salah satu anggota agensi lagi

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s