Posted in Romance

[SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 5)

the girl who make me crazy

Title                       : [SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 5)

Author                  : Chuyleez

Main Cast            : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Shim Changmin

Genre                   : Romance, Humor, Thriller.

Rating                   : 15

Annyeong chingudeul…. Lama tidak jumpa akhirnya author bisa melanjutkan FF ini. Mungkin udah banyak yang lupa ceritanya karena lama update T.T #PoorAuthor. Atau mungkin sudah banyak yang lupa sama author karena jarang muncul. Maaf sekali lagi maaf untuk para readers. Karena kesibukan kerja dan kuliah jadi mood  nulisnya suka naik turun o.o.

Khusus part kali ini author buat sedikit lebih panjang, untuk menebus rasa bersalah author yang kelamaan update.

Keseluruhan cerita disini murni dari imajinasi author. Jika ada kesamaan cerita mungkin kesamaan fikiran belaka. Untuk mengontak author bisa via facebook di Andria Sulis atau Line ID : @chuyleez. Jangan lupa kunjungi blog pribadi author di http://kfeverz.wordpress.com untuk membaca FF lainnya. Happy reading All ^^

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

***

 

“Aku seperti seorang putri yang telah lama terkurung dan kini bisa keluar dengan bebas. Aku merasa…. Duniaku semakin luas semenjak mengenal kamu di dalam hidupku yang cukup membosankan.”

***

…..

“Sooyoung….”

Sekali lagi Changmin menyebutkan namanya, membuat Sooyoung sedikit tidak sabar. Dia nyaris berbalik dan mengacuhkannya, namun Changmin melanjutkan perkataannya.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

“Hanya itu saja? Kau sudah bertemu denganku kan. Kalau begitu pergilah! Aku sedang bekerja, jangan ganggu aku.”

Sooyoung menarik lengan suaminya dan mengajaknya untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.

“Kenapa…. Kenapa ketika aku melihatmu, aku tidak bisa mengatakannya. Mulutku seakan terkunci, padahal…. Kau adalah orang yang seharusnya tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibumu.”

Changmin terus berdiri di tempatnya seakan belum berniat untuk pergi. Dengan tatapan yang sulit di artikan, dia memperhatikan Sooyoung dan pria itu sedang saling bahu membahu mengangkat satu persatu kotak berisi telur ke atas mobil box.

“Apa kau bahagia dengan pilihanmu ini? Jika memang kau lebih bahagia disini… Aku, tidak berhak merenggut kebahagiaanmu itu.”

Changmin membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan menuju mobilnya.

“Tapi, setiap melihatmu juga…. Entah mengapa aku juga merasa marah. Karena aku tahu, ayahmu lah yang membunuh ayahku, dan kau mengetahuinya.”

Sooyoung menghentikan kegiatannya sejenak. Dia memperhatikan punggung Changmin yang terus menjauh darinya sampai memasuki mobil berwarna coklat miliknya.

“Setiap melihat Changmin Oppa, aku selalu merasa bersalah. Ayahku, telah membunuh ayahnya. Aku mengetahuinya, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Oleh karena itu aku lebih memilih melarikan diri. Berpura – pura tidak mengenalmu itu…. Sama sekali tidak membuatku senang.”

***

“Tuan Choi, ini data wilayah yang berada di sekitar perkebunan milik kita. Kini wilayah tersebut tengah menjadi sengketa. Jika kita bisa mendapatkan lahan tersebut, kita bisa memperluas perkebunan milik kita.”

Siwon hanya melirik sejenak lembaran dokumen yang diberikan asistennya. Seakan belum niat untuk membaca dokumen – dokumen tersebut.

“Akan kupertimbangkan dahulu.” Jawabnya.

“Prospek wilayah tersebut sangat bagus. Saat ini banyak yang mengincar tanah sengketa itu.”

“Maaf. Saat ini fikiranku belum 100% fokus pada pekerjaan. Tapi aku akan mempertimbangkannya.”

“Maafkan saya. Kalau begitu saya permisi.”

Siwon hanya mengangguk. Kemudian kembali pada lamunannya. Dalam fikirannya seakan bercampur aduk. Kematian ibunya yang seakan mendadak, juga Sooyoung adiknya yang sampai saat ini belum ditemukan.

***

“Terima kasih atas makanannya. Masakan ibu memang paling juara.” Puji Sooyoung yang selalu menghabiskan makanannya sampai tak tersisa sebutir nasi pun.

“Kau ini memang suka makan yah.”

“Tidak juga sih. Hanya masakan ibu terlalu sayang untuk dibuang. Ini benar – benar enak.”

“Kalau begitu apa kau suka sayur – sayuran.”

Sooyoung mengangguk cepat. “Tentu. Aku suka segala macam makanan enak.”

“Kalau begitu apa kau senang jika pergi ke tempat dimana sayuran tersebut berasal?”

“Maksud ibu, perkebunan?”

Nyonya Cho mengangguk sembari tersenyum. “Eum. Disana kau bisa mendapatkan banyak sayuran segar.”

Sooyoung kembali mengangguk cepat. “Tentu aku mau! Apa aku bisa pergi kesana?”

Nyonya Cho tampak melirik ke arah Kyuhyun. “Ibu… Kau ingin aku membawanya juga kesana?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja. Dia itu kan istrimu. Kau juga harus membawanya kesana. Lagipula orang – orang di desa belum mengenal istrimu, karena pernikahannya begitu mendadak aku tidak sempat mengundang mereka.”

Kyuhyun melirik sejenak ke arah Sooyoung.

“Terima kasih atas makanannya.” Kyuri dengan cepat menyelesaikan makanannya dan langsung pergi meninggalkan meja makan dengan membawa piring kotor miliknya.

Nyonya Cho tampak mengerutkan kening melihat tingkah aneh putrinya.

“Kyuhyun… Biasanya dia membawa Kyuri ke desa. Tapi Kyuri hendak Ujian… Jadi dia harus belajar.”

Sooyoung tampak mengangguk mengerti. Dia merasa, mungkin Kyuri kesal padanya karena telah menggantikan posisinya di sisi kakaknya.

Beberapa saat kemudian, Kyuhyun tampak membenahi pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam tas ransel miliknya.

“Desamu itu seperti apa?”

“Sebuah kota kecil di kaki gunung. Di pinggiran kota Busan. Disana ada keluarga dari Ibu. Setiap panen sayuran, ibu selalu menyuruhku membantu disana.”

“Berarti kau sering kesana yah?”

“Setidaknya satu tahun dua kali aku kesana.”

“Lalu siapa yang akan membantu ibu disini.”

“Ryeowook. Dia sedang PDKT dengan anak gadis Nyonya Park Eun Hye yang baru lulus SMA.”

“Eh, PDKT?”

“Gadis itu selama sekolah tinggal di apartemen sewa supaya dekat dengan sekolahnya. Jadi setelah lulus dia kembali ke rumah.”

Sooyoung tampak mengangguk – angguk mengerti.

“Keluarga ibumu yang di desa seperti apa mereka?”

Kyuhyun menghentikan sejenak kegiatannya dan duduk di atas ranjang di samping Sooyoung.

“Hmm, seperti apa yah? Mereka semua baik, seperti orang desa kebanyakan. Kau pasti akan senang berada disana.” Kyuhyun menyentuh kepala Sooyoung dan mengacak kasar rambutnya. “Istirahatlah, besok pagi kita harus berangkat.”

“Tapi aku belum membereskan pakaianku.”

“Aku yang akan membereskan pakaianmu.”

“Kalau begitu aku akan menemanimu membereskan pakaian.”

“Menemani? Maksudmu menonton?”

Sooyoung tertawa. “Aku akan melihatmu dari sini sembari berbaring.”

Kyuhyun kembali bangkit dan melanjutkan kegiatannya membereskan pakaian. “Kau ingin membawa baju apa saja?”

“Terserah kau saja. Bajuku kan tidak banyak. Justru baju yang kupakai itu bajumu saat SMA kan?”

“Ah, aku belum pernah membelikanmu baju yah. Nanti di desa aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Disana kau bisa memilih baju yang kau inginkan.”

“Tempat seperti apa itu?”

“Seperti apa yah? Kalau aku mengatakannya sekarang, tidak akan menjadi kejutan.”

Kyuhyun menarik resleting tasnya tanda berbenahnya telah selesai. Dia langsung membanting tubuhnya ke atas ranjang. Rasanya tulang punggungnya kembali lurus ketika bertemu dengan kasur.

“Aku rasa ranjang ini semakin sempit.”

“Sepertinya kau terlalu banyak makan, Kyu!”

“Bukannya kau yang banyak makan?”

“Tubuhku tidak terlalu makan tempat.”

“Mungkin kita butuh tempat tidur yang lebih besar. Sehabis pulang dari desa, ayo kita beli kasur baru.”

Sooyoung mengangguk cepat sembari tersenyum sumringah. Kyuhyun mengacak poninya kasar.

“Sudahlah, sebaiknya kau tidur. Kita harus berangkat pagi.”

“Eum.” Sooyoung langsung memeluk lengan Kyuhyun. Memeluk lengan suaminya membuatnya merasa nyaman. Bahkan menurutnya, waktu tidurnya lebih lama ketika dia tidur bersama Kyuhyun di ranjang sempit dibandingkan pada saat di rumah besarnya dulu.

***

“Kyu… Aku masih mengantuk!” Keluh Sooyoung ketika Kyuhyun menarik tangannya dan menyuruhnya bangun.

“Ayo.. Kita harus bersiap – siap. Bus yang kita naiki jam 7 pagi. Kalau tidak segera kita bisa ketinggalan bus.”

“Kita kan bisa naik kereta.”

“Lokasinya jauh dari stasiun. Lagipula tidak banyak kendaraan umum yang kesana. Cepat bangun dan mandi, atau aku yang akan memandikanmu.” Kyuhyun hendak membuka kancing baju tidur yang Sooyoung kenakan. Namun Sooyoung menahan tangannya.

“A… Aku… Bisa mandi sendiri.” Ucapnya canggung.

Kyuhyun merasa wajahnya memanas melihat wajah Sooyoung memerah malu. “Oh, begitu. Baiklah… Cepat mandi.”

“Eum.”

Sooyoung langsung bergegas menuju kamar mandi. Dari balik pintu kamar mandi dia tampak menghela nafas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang entah sejak kapan berdebar kencang.

“Ya Tuhan…..” Desahnya.

“Sooyoung, kenapa kau belum juga mandi? Aku belum mendengar suara air.” Protes Kyuhyun.

“Iya ini aku mau mandi! Kau ini cerewet sekali….”

“Sudah lama aku tidak mendengar kata itu.”

Satu jam kemudian, setelah sarapan pagi Sooyoung dan Kyuhyun siap pergi dengan ransel berwarna hitam di masing – masing punggung mereka.

“Sampaikan salamku pada Nenekmu. Maaf aku belum bisa mengunjunginya saat ini. Kyuri hendak ujian jadi aku tidak bisa meninggalkannya.”

“Iya. Akan aku sampaikan. Setelah urusan disana selesai, aku pasti akan langsung pulang membawa banyak sayuran segar.”

“Asal tidak merepotkanmu nanti di perjalanan. Jangan lupa sering – sering ajak Sooyoung jalan – jalan.”
“Tentu. Aku sudah membuat daftar tempat yang akan ku kunjungi bersamanya nanti.”

“Tempat apa? Kapan kau buat daftarnya.” Tanya Sooyoung.

“Kau akan tahu nanti.”

“Hoy! Cepatlah…. Aku ada urusan penting.” Ryeowook yang sudah berada di mobil untuk mengantar keduanya ke terminal, tampak sedikit tidak sabar.

“Urusan pentingmu itu apa?”

“Bus kalian jam 7 kan? Ini sudah jam setengah 7. Kalau tidak segera kalian bisa terlambat.”

“Setengah 7?!” Kyuhyun langsung mengecek jam tangannya yang kini sudah lewat 10 menit dari jam setengah 7 yang dikatakan Ryeowook. “Dua puluh menit lagi! Ayo cepat kita pergi.”

Kyuhyun langsung menarik tangan Sooyoung untuk masuk ke dalam mobil.

“Kecepatan penuh, Wook!”

“Hey, kau tahu kan aku baru dapat SIM? Jangan sampai polisi menahan SIM-ku.”

“Kemampuan menyetirmu lebih baik dari aku.”

“Terima kasih atas pujiannya. Kalau kau takut silahkan tutup mata dan tahan nafas. Dalam waktu lima belas menit aku jamin kalian sudah sampai disana.”

“Li… Lima Bel….”

Ryeowook langsung tancap gas dengan kecepatan penuh. Benar saja Sooyoung dan Kyuhyun tampak menutup mata mereka. Sesekali Kyuhyun melafalkan kalimat aneh yang tampak seperti mantra supaya bisa selamat diperjalanan. Dia tidak berani membuka mata dan melihat gaya menyetir Ryeowook yang seperti orang kesetanan.

“Ya Tuhan… Jika dia menabrak sesuatu, jangan biarkan hantunya menghampiriku dan Sooyoung.” Ada satu kalimat mantra yang diucapkan Kyuhyun yang membuat perut Sooyoung seakan tergelitik. Tak menyangka kalimat aneh itu bisa keluar dari mulut Kyuhyun.

Benar yang diucapkan Ryeowook, dalam waktu lima belas menit mereka sudah tiba di terminal bus. Kyuhyun dan Sooyoung tampak mengambil nafas panjang sebelum akhirnya membentak pria bertubuh mungil itu.

“YAAAKK!! Kau ingin membunuh kami, hah?!” Bentak keduanya.

“Kami ini pengantin baru. Kami bahkan belum sempat melakukan ‘ini’ dan ‘itu’. Aku saja belum sempat melepas keperjakaanku! Bagaimana kalau aku mati sebelum menggunakan ‘barang’ milikku untuk yang pertama kalinya?!”

“Aisshhh…. Sifat cerewetmu keluar lagi, Kyu. Kufikir kau sudah sembuh. Cepat pergilah…. Bus kalian menunggu. Jangan sampai usahaku mengantar kalian itu sia – sia.”

Kyuhyun hampir mengeluarkan kalimat cerewetnya lagi sebelum akhirnya Sooyoung menghentikannya.

“Sudah, kita harus segera pergi. Bus-nya akan segera berangkat.”

Kyuhyun menahan rasa kesalnya. Dia menuruti permintaan istrinya untuk segera turun dari mobil.

“Kuharap ketika pulang nanti, kalian jadi bertiga yah….” Ucap Ryeowook sebelum tancap gas dan meninggalkan keduanya.

“Bertiga?” Kyuhyun memang agak lamban. Beberapa detik kemudian dia menyadari arti ucapan Ryeowook dan membuat wajahnya kembali memanas. “Ayo kita pergi.” Dia langsung menggandeng erat tangan Sooyoung.

****

“Presdir Choi, ini data penerima uang penggantian tanah yang akan kita ambil alih untuk proyek apartemen kita selanjutnya beserta nominal uangnya.” Ujar seorang pemuda tinggi bertubuh atletis pada seorang Pria yang tengah nyaman duduk di kursi kerjanya.

“Buatkan cek dan berikan pada mereka satu persatu.”

“Tapi masih ada kendala. Ada satu rumah yang menolak pergi. Dia tetap bersikukuh tidak akan meninggalkan tempat itu meskipun rumah yang lain dihancurkan.”

“Beri dia tambahan uang. Bujuk sampai dia mau merelakan tanah miliknya untuk kita.”

“Saya sudah berulang kali membujuknya dengan menambahkan 50% dari yang dijanjikan, tapi dia tetap menolak. Dia beralasan, tanah itu satu – satunya peninggalan suaminya. Dan sumber penghasilan mereka hanya dari toko yang mereka miliki.”

“Keras kepala! Suaminya juga sudah meninggal! Dia tidak akan bangkit dari kubur dan menanyakan tanah miliknya kan?”

“Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Bujuk mereka lagi. Beri tambahan dua kali lipat dari yang dijanjikan. Jika dia tetap menolak, kita terpaksa menggunakan ‘cara itu’.”

Pemuda itu tampak terdiam sejenak. Kemudian membungkukkan sedikit badannya.

“Saya mengerti, Presdir Choi.”

Pemuda itu bergegas pergi meninggalkan ruangan besar berhawa dingin. Dingin bukan karena ac yang dinyalakan terlalu rendah, tapi karena hati Presdir Choi memang sedingin es. Kejam, dan tidak peduli orang lain selain dirinya sendiri.

“Jangan pernah mempermainkan Choi Jae Hyuk!”

***

“Kyu, lihat! Ada bangunan berbentuk seperti siput disana!” Tunjuk Sooyoung pada sebuah bangunan unik yang mereka lewati selama perjalanan.

“Oh, itu gedung kesenian yang baru dibuka.” Jawab Kyuhyun dengan malas. Sudah berulang kali Sooyoung menunjuk – nunjuk hal menarik yang dia lihat sepanjang perjalanan seperti anak TK yang selalu terkurung di rumah dan kini diajak jalan – jalan. Kyuhyun sampai malu karena beberapa orang yang satu bus dengannya berulang kali menoleh ke arah mereka dengan tatapan aneh.

“Benarkah? Ayo kita kesana lain kali.”

“Eum.”

“Kyu, Lihat… Disana ada….”

PLUK!!

Kyuhyun menyandarkan kepalanya ke bahu Sooyoung dan tertidur.

“Kyu?”

“Aku ingin tidur sebentar. Aku bangun terlalu pagi karena senang. Jadi aku mengantuk sekarang.”

Sooyoung tersenyum. “Kau terlihat seperti anak kecil jika sedang tertidur.” Sooyoung mengusap pelan pipi Kyuhyun dan membiarkan kepalanya bersandar di bahunya. “Padahal masih banyak yang ingin kutanyakan… Perjalanan dengan bus sangat menyenangkan.” Sooyoung kembali memandangi pemandangan di luar dengan tatapan takjub. “Aku seperti seorang putri yang telah lama terkurung dan kini bisa keluar dengan bebas. Aku merasa…. Duniaku semakin luas semenjak mengenal kamu di dalam hidupku yang cukup membosankan.

Sejak aku kecil, sampai saat sebelum aku meninggalkan rumah, aku merasa seperti hidup di penjara. Kemanapun aku pergi selalu dikawal bodyguard. Berangkat sekolah dan selalu pulang tepat waktu. Tidak ada waktu bermain dengan teman – teman. Keluargaku juga tidak pernah mengajakku berpergian karena mereka selalu saja sibuk. Di rumah, aku hanya bermain dengan para pelayan atau dengan banyak boneka di kamarku seperti anak kecil.

Hidupku yang selalu terkurung, membuatku tidak pernah tahu apa itu cinta. Bagaimana rasanya ketika jantungmu berdegup kencang walau hanya melihatnya. Perasaan aneh yang tiba – tiba muncul ketika kamu bersentuhan dengannya. Dan lekuk bibir yang mendadak melengkung indah ketika bertemu pandang dengannya. Merasa bahagia yang sangat tak terkira ketika dia benar – benar telah menjadi milikmu.” Sooyoung menoleh sejenak pada Kyuhyun yang tengah tertidur. Mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Kyuhyun. Memandangi cincin indah yang melingkar di jari manis kirinya. Cincin serupa yang juga dikenakan Kyuhyun.

Beberapa jam telah berlalu. Tidak seperti Kyuhyun yang sangat nyenyak dalam tidurnya seperti sedang berada di rumah sendiri, Sooyoung masih asyik dengan dunianya memandangi dunia luas yang baru pertama kali dia lihat. Satu persatu penumpang mulai turun di bus. Membuat Sooyoung tampak sedikit panik.

“Kyu! Bangun…. Nanti kita turun dimana? Aku tidak tahu tempatnya. Penumpang sudah mulai turun satu persatu.”

Kyuhyun membuka matanya sejenak dan melihat ke jendela. “Masih jauh.” Kemudian melanjutkan tidurnya.

“Hey, jangan tidur lagi!”

“Bangunkan aku tiga puluh menit lagi, ok?”

“Tiga puluh menit lagi….” Gumam Sooyoung sembari memandangi jam tangannya. Dia menurut dan membiarkan Kyuhyun melanjutkan tidurnya.

Tiga puluh menit kemudian….

“Kyu…. Sudah tiga puluh menit! Cepat bangun!!” Sooyoung membangunkan Kyuhyun dengan sedikit mengguncang – guncangkan bahunya.

Kyuhyun yang merasa terusik segera membuka matanya. Dia merentangkan kedua tangannya untung merenggangkan otot – otot bahunya yang terasa kaku. Namun beberapa saat setelah melihat jendela, dia tampak kebingungan. Tak lama kemudian…

“Youngie! Desanya sudah lewat!”

“Eh?!”

Keduanya bergegas turun dari bus, setelah berdebat sejenak dengan supir bus karena bus tidak bisa berhenti selain di halte.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa tempatnya jauh dari sini?” tanya Sooyoung ketika turun dari bus.

“Hanya sekitar 10 KM dari sini dengan berjalan kaki.”

Mwo?! Jalan kaki 10 KM?”

“Disini masih jarang kendaraan umum. Kalau ada juga hanya kendaraan pengangkut sayur – sayuran yang lewat. Orang – orang disini itu lebih suka jalan kaki atau naik sepeda, dibandingkan dengan orang – orang di kota.”

“Kalau jalan kaki, kira – kira berapa lama?”

“Tergantung bagaimana kau jalan. Kalau jalanmu seperti siput, mungkin tengah malam baru sampai rumah nenek.”

Mwo?! Kyu… Aku capek.” Keluh Sooyoung.

“Aku juga.”

“Tapi kau sudah tidur di bus, sedangkan aku belum.”

“Tapi kau sudah lebih lama tidur di ranjang, sedangkan aku harus bangun lebih pagi lagi. Aku juga tidak bisa tidur nyenyak di bus karena punggungku sakit.”

“Kau mengeluh punggungmu sakit? Bahuku juga sakit karena menahan berat kepalamu tahu.”

“Ini karena kamu kita jadi desanya jadi kelewat jauh.”

“Kenapa kau menyalahkan aku? Aku kan tidak tahu lokasinya.”

Kyuhyun melangkah mendahului Sooyoung dengan kaki panjangnya. “Kalau kau tidak cepat, aku akan meninggalkanmu disini.”

“Kyu… Tunggu!” Sooyoung berlari kecil mengejar Kyuhyun.

Kyuhyun tampak sudah terbiasa berjalan jauh, berbeda dengan Sooyoung yang sudah mengeluarkan banyak keringat selama perjalanan.

“Kyu, apa masih jauh? Aku rasa sudah menempuh 100 KM, tapi kenapa belum sampai.”

“Jangan terlalu sering mengeluh, itu akan membuatmu merasa lama sampai.”

“Tapi aku benar – benar tidak kuat lagi. Apa ini benar – benar desa, huh? Bukannya pulau kecil tak berpenghuni? Kenapa dari tadi tidak ada satupun mobil yang lewat. Matahari sudah terik.”

“Aku juga heran mengapa tidak banyak mobil yang lewat. Biasanya banyak mobil lewat membawa sayuran ke kota.”

“Apa kita bisa beristirahat sebentar? Aku benar – benar lelah.”

“Tapi disini tidak ada tempat du…” Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, Sooyoung sudah duduk di jalanan tanpa mempedulikan kotoran yang akan menempel di pakaiannya.

“Kalau duduk disini bisa bahaya. Bagaimana kalau tiba – tiba ada mobil lewat?”

“Tapi sampai sekarang belum ada mobil lewat. Hanya 5 menit. Aku ingin beristirahat 5 menit.”

Kyuhyun tampak menghela nafas kasar. Kepalanya terus berputar ke sekelilingnya, hingga senyum cerah terukir di bibirnya seakan menemukan harta karun yang mendekat ke arahnya.

“Youngie…. Ada mobil yang datang kesini.”

“Eh? Benarkah?”

“Dan sepertinya…. Aku kenal mobil itu.”

 Kyuhyun tampak melambaikan tangannya menginstruksikan agar mobil pembawa sayuran itu berhenti.

“Paman Jo?”

“Kyuhyun? Kau datang kesini?”

“Iya, aku kesini untuk membantu panen.”

“Eh, bukannya Ryeowook?”

“Karena ada hal penting Ryeowook tidak bisa datang membantu.” Jelas Kyuhyun. “Penting bagi Ryeowook dan tidak penting menurutku.” Lanjutnya dalam hati.

“Hey, siapa gadis di belakangmu?”

“Eum, perkenalkan dia istriku.”

“Eh? Jadi berita mengenai kau menikah itu bukan gosip belaka?”

“Iya, aku menikahinya bulan lalu.”

“Tapi maaf Kyu, kau lihat sendiri tempat duduk disampingku sudah penuh. Apa kau ingin aku memanggil seseorang untuk menjemputmu?”

Kyuhyun tampak menimang tawaran dari Paman Jo. “Tapi sepertinya istriku sudah cukup lelah untuk menunggu. Apa boleh aku menumpang di bak belakang mobilmu?”

“Apa kau tidak merasa terganggu dengan sayuran – sayuran itu?”

“Aku sudah terbiasa dengan itu.”

“Baiklah… Tapi aku hanya bisa mengantar sampai gapura depan yah. Karena aku harus segera mengantar sayuran – sayuran pesanan ini ke kota.”

“Terima kasih banyak, Paman Jo!”

Sooyoung menampakkan senyum ramah pada Paman Jo yang baik hati. Kyuhyun membantunya untuk naik ke atas bak mobil.

“Lebih baik naik mobil sayur daripada duduk di jalan kan? Lagipula kau pasti belum pernah naik mobil ini.”

“Eum, ini lebih baik. Bisa menghirup udara dengan bebas. Angin juga bisa menerpa tubuhku dengan langsung.”

Disepanjang perjalanan yang sunyi, hanya terdengar sayup – sayup angin bertiup yang menghampiri. Kyuhyun tampak memalingkan pandangannya, rasa tidak enak hati menghampiri benaknya. Dia merasa telah membuat Sooyoung susah dengan membawanya ikut ke desa.

“Maaf yah, kamu pasti belum terbiasa dengan ini. Aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu dulu. Apa kau ini memang lahir dari kalangan biasa ataukah dari kalangan Tuan Putri yang tidak pernah kelelahan. Aku berjanji akan cepat menyelesaikan urusanku disini dan membawamu kembali pulang.” Ujar Kyuhyun masih pada posisinya dan tidak berani menatap Sooyoung.

“Kau ini bicara apa? Ini justru membuatku senang.”

“Eh?” Kyuhyun memberanikan diri untuk menoleh pada istrinya. Wajah Sooyoung yang berbiaskan cahaya tampak semakin bersinar dengan senyum manisnya. Beberapa helai rambutnya yang tertiup angin membuat pesonanya semakin bertambah.

“Meskipun sedikit melelahkan tapi ini pertama kalinya untukku. Aku berharap, di waktu mendatang kau membawaku kembali kesini. Disini benar – benar tenang, damai, sunyi… Udaranya sejuk. Aku merasa seperti terlahir kembali.”

Kyuhyun tersenyum berbinar kemudian mengangguk cepat. “Eum. Aku pasti akan sering – sering membawamu kesini.”

Tanpa terasa keduanya sudah sampai di persimpangan jalan. Mobil berhenti dan keduanya bergegas turun.

“Maaf Kyu, aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah. Karena aku harus segera pergi ke kota.”

“Aku justru berterima kasih padamu Paman Jo.”

“Baiklah aku pergi dulu, nanti sore aku akan mampir ke rumah nenekmu.”

“Eum.”

Mobil pun melaju meninggalkan mereka. Untuk sampai ke desa tempat nenek Kyuhyun tinggal, mereka harus melewati banyak pepohonan jati dengan berjalan kaki.

“Aku rasa jika malam hari, pepohonan – pepohonan disini terasa menyeramkan.”

“Tidak juga itu karena kau terbiasa hidup dengan banyak lampu.” Jawab Kyuhyun.  “Ah, disana rumah Nenekku.”

Kyuhyun tampak mempercepat langkahnya. Di depan rumah tampak seorang nenek tua, dua orang pria dan wanita paruh baya, dan seorang gadis yang tampak seumuran dengan Kyuhyun. Entah hanya perasaan saja, Sooyoung merasa mereka menatap dingin kearahnya. Mungkin karena dia memang orang asing diantara mereka.

“Kyuhyun kau sudah datang. Aku benar – benar merindukanmu.” Ujar seorang Nenek tua itu memeluk tubuh cucunya dengan erat.

“Aku juga sangat merindukan Nenek. Apa kau sehat hari ini?”

“Aku merasa sangat sehat ketika tahu kau akan datang.”

“Syukurlah.” Kyuhyun melepaskan pelukan eratnya. Kini berganti pada paman dan bibinya yang merasa tidak sabar ingin memeluk pemuda tampan itu. “Paman, bibi… Kurasa penampilan kalian sedikit berbeda.”

“Apa maksudmu dengan berbeda?” tanya bibi Kyuhyun.

“Tampak sedikit awet muda.”

“Aku hanya menambahkan sedikit riasan ke wajahku.”

“Sepertinya bukan karena hal itu. Pasti karena kalian sering ‘melakukannya’ setiap malam kan?” Celetuk Kyuhyun.

Wajah keduanya tampak memerah. “Kau ini bicara apa? Tidak setiap malam juga.”

“Sepertinya ‘itu’ resep awet muda kalian. Tapi yang terpenting kalian semua disini sehat.”

“Kau juga Kyu.”

Kini Kyuhyun beralih pada seorang gadis yang tampak seumuran dengan Kyuhyun.

“Annyeong…. Noona.”

Noona? Ya, gadis yang tampak seumuran dengan Kyuhyun ini nyatanya memiliki usia 4 tahun lebih tua darinya. Hanya wajahnya masih sangat imut dan cantik.

Gadis itu tak menjawab sapaan Kyuhyun. Dia langsung memeluk dan mencium kedua pipi Kyuhyun dengan mesra. Tentu saja membuat Sooyoung mendadak membulatkan kedua matanya terkejut. Ada seorang gadis yang berani mencium suaminya di depan istrinya sendiri.

“Noona… Jangan pernah lakukan itu lagi. Aku sudah besar dan sudah menjadi seorang suami.”

“Ah…. Tapi kan….” Gadis itu tak melanjutkan ucapannya dan melirik pada Sooyoung. Sooyoung hanya tersenyum.

“Oh iya, aku belum memperkenalkan pada kalian. Dia ini Youngie, dia istriku.” Ujar Kyuhyun memperkenalkan Sooyoung pada keluarganya. “Dan Youngie, mereka adalah nenek, paman, bibi, dan Eun Hye Noona. Eun Hye Noona tinggal bersama keluarganya di samping rumah ini.”

“Salam kenal.” Sooyoung membungkukkan badannya pada keluarga Kyuhyun.

“Istrimu? Aku tidak pernah memberikan restu padamu untuk menikah!” Nenek Kyuhyun membuka mulutnya dengan ketus.

Paman, bibi dan Eun Hye tampak terkejut mendengar ucapan Nenek. Terlebih lagi untuk Kyuhyun dan Sooyoung. Sooyoung merasa sakit hati karena seakan mendapat penolakan dari Nenek Kyuhyun.

“Nek, apa maksudmu? Aku sudah…”

“Kau menikah dengannya secara tiba – tiba. Tanpa meminta restu padaku terlebih dahulu.”

“Tapi aku sudah….”

“Pokoknya aku tidak mau mengakuinya.” Nenek Kyuhyun memalingkan wajahnya seakan enggan memandangi wajah sedih Sooyoung. Sooyoung tampak ketakutan dan hampir menangis. Dia hanya bersembunyi di balik punggung suaminya.

“Kyu… Bagaimana ini?” Keluh Sooyoung dengan suara lirih.

“Tenang saja, semua akan baik – baik saja.” Kyuhyun berusaha menenangkan istrinya. “Nek, aku minta maaf karena tidak memberitahumu lebih awal mengenai pernikahanku. Karena semua ini terjadi begitu mendadak dan…”

“Mendadak? Apa kau menghamilinya?? Apa dia yang menggodamu?!” Potong Nenek Kyuhyun dengan amarahnya.

“Tidak. Bukan begitu. Dia tidak sedang hamil. Bahkan kami belum melakukan apapun. Kami hanya ingin menikmati kebersamaan ini setelah terikat tali pernikahan. Mungkin memang terkesan mendadak dan sembarangan. Tapi, entah mengapa aku yakin untuk bersamanya…. Aku nyaman berada di sisinya. Sementara hanya itu yang aku rasakan. Pernikahan kami baru berusia 1 bulan, tapi aku merasa seperti sudah lama bersama dengannya. Karena aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan seseorang… Jadi aku memilih untuk langsung menikah. Karena aku tidak ingin terlalu lama bermain. Oleh karena itu Nek, mohon restui pernikahan kami.” Kyuhyun membungkukkan badannya memohon pada Neneknya.

Nenek Kyuhyun hanya terdiam.

“Bu, sudah restui saja mereka. Yang menjalani semua ini kan mereka. Lagipula Min Hee (Ibu Kyuhyun) pasti sudah memikirkan semua ini matang – matang. Dia tidak akan bertindak ceroboh.” Bujuk Bibi Kyuhyun.

Nenek Kyuhyun tampak menghela nafas. “Akan aku fikirkan terlebih dahulu.” Ujarnya kemudian.

Kyuhyun tampak sedikit lega. “Terima kasih, Nek.”

“Tapi ada satu hal. Selama kalian belum mendapatkan restu dariku, kalian tidak boleh tidur bersama.”

Sooyoung dan Kyuhyun sedikit terkejut.

“Tapi Nek….”

“Tidak ada kata tapi! Dan kau….” Nenek Kyuhyun memandangi Sooyoung. “Kau tidur di rumah Eun Hye.”

“Nek, kau tahu Sooyoung masih terasa asing disini… Kalau dia berpisah dariku…”

“Sebagai menantu keluarga ini, dia harus mau berbaur dengan keluarga ini. Sebenarnya aku tidak begitu suka kau menikah dengan gadis kota.”

Nenek Kyuhyun mencelos pergi meninggalkan semuanya yang tampak terpaku.

“Youngie~Sshi…. Jangan terlalu difikirkan ucapan Nenek. Dia sudah tua, jadi terkadang berfikir seperti anak kecil.” Hibur Bibi Kyuhyun.

Sooyoung hanya mengangguk kecil.

“Baiklah aku akan menyiapkan makan siang untuk kalian dulu. Kalian pasti lapar kan?”

“Terima kasih, Bibi.” Ujar Kyuhyun.

“Ah, aku harus kembali ke ladang.” Seru Paman Kyhyun sembari menenteng peralatan berkebun.

“Eh, apa kau sudah makan siang?”

“Aku sudah makan siang tadi. Datanglah ke ladang jika kau ingin melihat – lihat. Kau bisa mulai membantuku besok.”

“Eum. Baiklah.”

“Ah, aku perlu menyiapkan kamar untuk Youngie~Sshi.” Ujar Eun Hye sebelum meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung.

“Eum. Terima kasih, Noona.”

Eun Hye menampakkan senyum manisnya.

“Youngie, ayo kita mas….” Belum sempat Kyuhyun mengakhiri kalimatnya, Sooyoung tampak menunduk sembari menarik ujung kemeja yang dikenakan Kyuhyun.

“Kyu… Aku takut.”

Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan langsung meraih tubuh Sooyoung dalam pelukannya.

“Aku akan membantumu melalui semua ini. Nenekku itu orang yang baik, hanya dia tidak mudah berbaur dengan orang baru.”

“Kyu, apa kau menyukai Eun Hye Onnie?”

“Eh? Mengapa kau berfikiran seperti itu?”

“Kau tidak menolaknya ketika dia menciummu tadi. Kau tahu hatiku benar – benar sakit.”

“Oh ya? Sakitnya seperti apa?” Ledek Kyuhyun.

“Aku serius! Eun Hye Onnie, dia sangat cantik, tubuhnya bagus, sepertinya dia baik. Lelaki mana yang tidak menyukainya. Kau pasti pernah menyukainya juga kan?”

“Pernah.”

“Eh?” Sooyoung terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.

“Aku jujur. Aku memang pernah menyukainya. Tapi sudah lama sekali…. Sekarang aku hanya menganggapnya seperti kakak perempuanku.”

Sooyoung tampak menundukkan kepalanya.

“Dan juga… Dia itu sudah menikah dan punya dua anak. Aku tidak boleh menyukainya lagi.”

“Eh?”

Kyuhyun tertawa geli melihat ekspresi bingung dari wajah Sooyoung.

“Eun Hye itu sudah punya suami dan dua orang anak. Kau tidak perlu cemas. Lagipula aku sudah punya kamu. Aku tidak perlu orang lain lagi.”

Perlahan senyum mulai tersungging di wajah Sooyoung setelah mengetahui stasus Eun Hye yang sudah memiliki pasangan.

“Ya sudah pergilah ke rumah Eun Hye Noona. Kau pasti lelah kan.”

Sooyoung masih tampak ragu untuk meninggalkan tempatnya. Kyuhyun kembali mengusap kepalanya dengan lembut sembari tersenyum.

“Nanti malam…. Kau harus menemuiku nanti malam.” Ujar Sooyoung.

“Eum, pasti. Aku akan mengajakmu pergi.”

Sebuah tarikan senyum kembali terukir di bibir indahnya. “Aku pergi.”

“Eum.”

Sooyoung melangkah menuju rumah Eun Hye yang berada tepat di samping rumah nenek Kyuhyun. Karena rumah Nenek Kyuhyun memiliki jumlah kamar yang sedikit yaitu 2 kamar, sehingga Sooyoung terpaksa tidur di rumah Eun Hye. Di rumah Neneknya, Kyuhyun biasa tidur dengan pamannya sedangkan bibinya tidur bersama neneknya.

Sooyoung masih tampak canggung, dia hanya berdiri di depan pintu. Benar yang dikatakan Kyuhyun, Eun Hye sudah memiliki dua orang anak perempuan kembar yang berusia 5 tahun. Tampak dari penglihatanya kedua bocah itu tengah asyik menonton kartun kesukaan mereka.

“Masuklah, Youngie~Sshi.” Ujar Eun Hye ramah.

Kedua bocah itu tampak menoleh ke arah Sooyoung dengan tatapan datar.

“Ibu, dia siapa?”

“Ini Bibi Youngie … Dia istrinya Ayah Kyuhyun.” Jelas Eun Hye.

Sooyoung tampak terkejut ketika mendengar Eun Hye memanggil Kyuhyun dengan sebutan “Ayah” pada kedua anaknya.

“Ayah Kyuhyun disini? Dimana?”

“Di rumah Nenek.”

Kedua bocah itu langsung berlarian menuju rumah Nenek Kyuhyun.

“Ayah?” tanya Sooyoung.

“Ah, maaf. Suamiku sering berpergian, jadi waktu Kyuhyun datang, mereka menganggap Kyuhyun seperti ayah mereka sendiri. Jadi mereka memanggil Kyuhyun dengan sebutan Ayah. Jangan cemburu yah.”

“Tidak apa – apa. Aku hanya ingin bertanya.” Ujar Sooyoung meskipun dalam hati dia merasa sedikit cemburu.

Eun Hye membawa Sooyoung ke salah satu kamar yang ada dirumah itu. Sebuah kamar yang berhadapan dengan kamar yang tampaknya merupakan kamar Eun Hye dan keluarga kecilnya.

“Kau bisa tidur disini. Beristirahatlah.” Ujarnya.

“Terima kasih. Maaf merepotkanmu.”

“Tidak apa – apa. Aku senang karena kamar ini akhirnya ada yang menempati.”

“Berarti kamar ini selalu kosong?”

“Sebenarnya ini untuk kamar kedua anakku. Tapi mereka masih terlalu kecil untuk tidur sendiri. Karena suamiku selalu berpergian, mereka lebih sering tidur denganku dan kamar ini pun sering kosong.”

Sooyoung tampak menganggukkan kepalanya. Dia melongok sedikit ke dalam kamar dan mendapati ranjang kamar yang luas cukup untuk dua orang dewasa.

“Ranjangnya lebih besar dari ranjang di kamar Kyuhyun. Tapi kenapa Kyuhyun tidak boleh tidur disini?” batin Sooyoung kebingungan.

“Youngie~Sshi, aku tinggal dulu boleh? Aku harus membantu bibi Park memasak untuk makan malam.”

“Eum.”

Eun Hye meninggalkan Sooyoung. Ketika Eun Hye melangkah menuju rumah Nenek Kyuhyun, kedua putrinya mengekor di belakangnya. Mungkin merasa asing dengan kehadirannya di rumah mereka.

Sooyoung memasuki kamarnya dan meletakkan tas ransel di atas ranjang. Dia memandangi dirinya sendiri dari cermin besar.

“Mengapa aku mulai merasa tidak nyaman berada disini?”

***

Kyuri hampir sepuluh menit hanya berdiri mematung dari balik tembok memandangi ibunya yang tampak depresi. Banyak dokumen – dokumen yang tidak dia mengerti berada di hadapan ibunya. Dia ingin mendekati ibunya, namun dia takut mengganggunya.

“Kyuri~ah, kemarilah.” Ujar sang ibu. Tanpa ditanya pun, nalurinya mengatakan Kyuri ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dan siapa orang – orang berjas hitam yang datang ke rumahnya sore ini.

“Ibu, kau tahu tetangga – tetangga kita semuanya sudah berkemas dan bersiap pergi meninggalkan tempat ini. Kenapa kau masih bersikeras bertahan disini? Aku tahu ini memang peninggalan ayah.”

“Banyak kenangan tentang keluarga kita disini. Ditempat ini lah ayahmu tinggal sampai dengan kematiannya. Di tempat inilah kau dan Kyuhyun tumbuh besar. Aku sedikit tidak rela jika tempat penuh kenangan ini harus hancur dengan ketamakan orang – orang yang memiliki uang banyak. Aku hanya ingin mereka tahu, tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Kenangan keluarga kita, tidak bisa dibeli dengan uang.”

“Seandainya saja Oppa ada disini. Apa sebaiknya aku menyuruhnya pulang?”

“Jangan! Ibu bisa mengatasi semua ini. Oppa-mu selama ini sudah bekerja dengan keras, dia perlu bersenang – senang. Aku hanya takut ini hanya akan membebaninya. Dan kau Kyuri, jangan terlalu memikirkan semua ini. Konsentrasilah pada ujianmu.”

Kyuri tak menjawab apapun. Meskipun dalam hati dia sangat ingin meringankan beban ibunya, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

***

Di malam hari usai makan malam, Kyuhyun mengajak Sooyoung untuk berkeliling desanya. Dengan menggunakan sepeda yang memiliki lampu senter karena kurangnya penerangan di tengah pepohonan besar dan perkebunan.

“Kyu lihat! Banyak kunang – kunang.” Decak Sooyoung terkagum – kagum.

“Berpuas – puaslah memandanginya. Kau tidak akan melihat yang seperti ini di Seoul.”

“Sebenarnya, kau ingin mengajakku kemana?”

“Sebuah Kuil.”

“Hah? Kenapa kesana malam begini?”

“Memangnya kenapa? Besok pagi sampai sore banyak yang harus kita lakukan. Meskipun sepi, tapi kuilnya tetap dibuka untuk umum.”

Sesampainya di Kuil, Kyuhyun tampak memparkirkan sepedanya di dekat pepohonan. Kyuhyun hendak membuka pintu kuil namun terkunci.

“Sepertinya pengurus kuilnya sedang pergi. Jarang – jarang sekali dia menguncinya seperti ini.”

Kyuhyun memilih untuk mengajak Sooyoung berkeliling bangunan kuil. Sejak berkeliling kuil, Sooyoung tampak diam. Entah dia memang bingung berada di daerah asing atau memang merasa bosan.

“Membosankan yah?”

“Aku hanya tidak menemukan sesuatu yang menarik.”

“Kau mau ke tempat yang menarik?”

“Ada tempat yang menarik disini?”

“Tentu.”

Kyuhyun membawa Sooyoung dengan menelusuri jalan setapak di tengah pepohonan tinggi menjauhi kuil.

“Kyu, apa tidak bisa kesana bawa sepeda?”

“Tempatnya tidak jauh.”

Kini keduanya tiba di depan sebuah rumah pohon. Sooyoung hanya terdiam memandangi rumah pohon dengan bentuk yang cukup aneh. Setidaknya menurut Sooyoung yang memang tidak pernah melihat rumah pohon.

“Apa ada yang tinggal disini?” tanyanya polos.

“Mana ada orang yang tinggal di rumah sekecil ini. Rumah pohon ini tempat bermain anak – anak disini. Kau tahu, dulu waktu kecil kami pernah punya janji untuk menulis nama orang yang kami sukai di dinding rumah pohon ini. Aku ingin tahu nama siapa saja yang tertulis disana.” Kyuhyun bersiap menaiki tangga rumah pohon. “Tangganya sepertinya sudah diperbaiki.”

Kyuhyun menaiki tangga rumah pohon terlebih dahulu. Sooyoung masih mematung seperti belum ada niat untuk mengikuti suaminya.

“Ayolah. Kenapa melamun disana?”

Sooyoung mulai bergerak mengikuti Kyuhyun. Kyuhyun menyalakan lampu  yang memang tersedia disana. Sooyoung melihat ada beberapa buku cerita yang berjejer di rak dan tempat mainan anak – anak.

“Siang hari, banyak anak – anak yang kesini untuk bermain.”

“Apa tempat ini ada yang mengurusnya?”

“Dulu sih ada. Seorang Kakek tua yang tinggal sendiri. Karena hidup sebatang kara, dia menghabiskan sisa hidupnya untuk membuat anak – anak disini merasa senang. Tapi Kakek itu sudah meninggal tahun lalu. Yang mengurus tempat ini mungkin salah satu dari teman – temanku dulu.”

“Lalu, dimana tembok tempat menulis nama orang yang disukai itu?” tanya Sooyoung penasaran.

“Disini.”

Kyuhyun menunjukkan sebuah sisi tembok kayu dimana terdapat beberapa nama yang tertulis disana. Ada beberapa yang menulis pesan juga.

Untuk calon istriku yang masih di masa depan – Ahn Kyung Joo

Sooyoung terkikik geli. Membuat Kyuhyun penasaran dengan apa yang dilihat Sooyoung.

“Ah, Kyung Joo itu memang sering mendapat peringkat jomblo sejati.”

“Memang kenapa?”

“Badannya besar dan kulitnya hitam. Wajahnya sedikit terlihat seram juga sih. Sebenarnya dia baik, tapi suaranya yang keras membuat orang menyangka dia sedang marah. Sejak aku mengenalnya sampai berusia 23 tahun, dia belum pernah punya pacar. Oleh karena itu dia dapat predikat jomblo sejati.”

“Lalu sekarang dia bagaimana?”

“Aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku dengar dia tinggal di Seoul juga, tapi tidak pernah bertemu dengannya.”

“Kyu, apa kau pernah menulis namamu disini juga?” tanya Sooyoung penasaran.

Kyuhyun tampak terdiam sejenak kemudian memandangi dinding kayu bertuliskan nama itu. “Pernah.”

Sooyoung memilih tak bertanya lagi. Dia kembali membaca tulisan – tulisan yang tertera di dinding tersebut. Dia sempat menangkap sebuah tulisan yang membuat hatinya seperti tersayat kecil.

EUN HYE ♥ KYU HYUN

Di menutupi tulisan itu dengan telapak tangannya. Kyuhyun tampaknya belum mengetahui tulisan tersebut. Atau mungkin, dia sudah tahu tapi lebih memilih tidak membicarakannya.

“Ah ini.”

Kyuhyun menunjukkan sebuah tulisan yang pernah dia tulis beberapa tahun lalu. Sooyoung mengalihkan pandangannya pada tulisan yang ditunjuk Kyuhyun. Tentu membuat sayatan luka di hatinya semakin melebar.

KYU HYUN ♥ EUN HYE

“Ini aku tulis saat aku masih SMA. Dulu waktu aku masih menyukai Eun Hye Noona. Sudah lama sekali.”

Sooyoung menampakkan senyum tipis yang terlihat seperti dipaksakan.

Kyuhyun tampak mencari sebuah kapur yang berserakan di lantai. Dia menuliskan sebuah tulisan dengan kapur itu.

KYUHYUN ♥ YOUNGIE, NOW AND FOREVER

“Ini nama terakhir yang akan tulis disini. Maaf, jika dulu aku pernah menyukai seseorang. Tapi mulai sekarang dan selamanya, aku akan terus bersama denganmu.”

Sooyoung merasa terharu. Dia meraih telapak tangan Kyuhyun hingga kapur yang dipegangnya terlepas. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Sooyoung. Sooyoung tampak perlahan mendekatkan wajahnya, membuat kejahilan terlintas di pikiran Kyuhyun.

“Oh, jadi kau yang selama ini ingin sekali menciumku?”

“Eh?”

Sooyoung tampak sedikit terkejut kemudian mengalihkan pandangannya.  Kyuhyun tersenyum jahil melihat wajah malu Sooyoung.

“Aku mau pulang.” Sooyoung tampak merajuk dan hendak turun, namun Kyuhyun menahan lengannya dan langsung membalik tubuhnya.

“Aku mencintaimu.” Ujar Kyuhyun.

“Nado.” Jawab Sooyoung dengan senyum di bibirnya.

Entah siapa yang memulai kini kedua bibir itu berpagut mesra. Sebuah rumah pohon yang penuh kenangan seakan menjadi saksi kekuatan cinta keduanya. Tidak hanya keduanya, mungkin beberapa nama yang tertulis di dinding rumah pohon itu, juga pernah mengikat cinta mereka di atas sana.

“Kau yang selalu ingin menciumku, Kyu.” Ujar Sooyoung setelah melepas ciumannya.

“Yeah. Kau benar!”

Beberapa saat kemudian keduanya tampak meninggalkan rumah pohon. Sejak meninggalkan rumah pohon tadi, Sooyoung tampak terus menundukkan kepalanya. Memandangi jejak – jejak kakinya yang tampak membekas pada tanah yang dia tapaki. Entah apa yang menjadi penyebab kegelisahan memenuhi relung hatinya.

Kyuhyun menghentikan langkahnya ketika tiba di depan rumah Eun Hye.

“Masuklah. Kau harus istirahat.”

Sooyoung tampak menarik ujung pakaian Kyuhyun. Seakan enggan berpisah dengan suaminya.

“Kau kenapa?”

“Apa kita tidak bisa tidur bersama?”

“Sudah terbiasa ada aku di dekatmu yah?” tanya Kyuhyun sedikit menggodanya dan dijawab anggukan oleh Sooyoung.

“Aku takut.”

“Apa yang perlu ditakuti?”

“Entahlah…. Aku hanya merasa takut.”

“Apa kau masih merasa gelisah karena aku dulu pernah menyukai Eun Hye?”

Sooyoung mendongakkan kepalanya. “Itu salah satunya, tapi bukan hanya itu saja?”

Kyuhyun menyentuh puncak kepala Sooyoung. “Kau ini terlalu banyak berfikir.” Dia menarik kepala Sooyoung dan mengecup puncak kepalanya. “Masuklah, sayang.”

Sooyoung melepaskan jemarinya yang meremas ujung pakaian Kyuhyun. Dia menuruti perkataan Kyuhyun dan mulai melangkahkan kakinya pergi. Sesekali dia menoleh dan mendapati senyum Kyuhyun mengiringi kepergiannya.

***

Pagi telah menyapa. Cuaca dingin dengan kabut tebal masih menyelimuti area perkebunan. Tanaman sayuran segar yang siap panen masih tampak basah oleh embun. Sooyoung yang baru pertama kali merasakan hidup di desa tampak bersemangat ketika diajak untuk memetik sayuran di ladang.

“Kenapa kau tidak dirumah saja membantu Bibi memasak? Nanti siang kau bisa mengantarkan makanannya ke ladang.” Ujar Kyuhyun.

“Tidak mau. Aku ingin ikut memetik sayuran.”

Kyuhyun mengajari Sooyoung bagaimana caranya memanen kentang yang sudah masak. Bagaimana cara menggali tanahnya agar baik tanah dan kentangnya tidak rusak. Awalnya Sooyoung merasa kesulitan, namun akhirnya sedikit demi sedikit dia mulai terbiasa.

“Kentangnya besar – besar.”

“Kentang – kentang ini nanti dikirim ke pabrik untuk dibuat snack  keripik kentang. Jadi, keripik kentang yang kamu makan selama ini mungkin berasal dari sini juga.”

“Apakah disini hanya ada kebun kentang saja?”

“Di daerah sana ada kebun cabe, di sebelah sana wortel, di sebelah sana selada.” Tunjuk Kyuhyun pada tempat – tempat yang ia sebutkan tadi. “Kalau dari sini tidak begitu terlihat area perkebunannya. Sekarang kita membantu panen kentang dulu. Besok kita ke tempat kebun cabe atau wortel.”

Sooyoung mengangguk cepat.

Siang hari, saat matahari mulai meninggi, seluruh petani makan bersama di pinggir ladang. Sembari bercengkerama mengenai banyak hal. Para petani yang juga merupakan warga desa tampak sangat ramah.

“Ayo makan yang banyak, Nak. Kalian pasti sangat lapar karena bekerja keras sejak pagi.” Ujar salah satu petani yang tampak berusia paling tua namun tubuhnya masih sehat dan kuat bekerja.

“Terima kasih banyak.”

“Kyu… Ini seperti piknik.” Bisik Sooyoung pada suaminya.

“Menurutmu begitu?”

“Eum. Menggelar tikar, makan bersama, saling bercerita banyak hal sembari melepas lelah. Ini benar – benar hal yang tak terlupakan dalam hidupku. Aku senang berada disini.”

Kyuhyun hanya tersenyum sembari mengelus pelan puncak kepala Sooyoung. “Makanlah yang banyak.”

“Eum.”

“Setelah ini kita mengerjakan di wilayah mana?” tanya Kyuhyun pada salah seorang petani yang tampak seumuran dengannya.

“Ah, itu… Untuk pengerjaannya kita hentikan sampai siang ini.”

“Eh? Memangnya kenapa?”

Pemuda itu tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Suasana makan siang bersama yang semula riang seketika berubah sunyi. Pandangan para petani kebun itu berubah muram. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.

***

Nyonya Cho, tampak melamun sambil menghitung – hitung sesuatu di buku catatannya. Sedangkan keponakannya Ryeowook yang datang membantu untuk menggantikan Kyuhyun tampak tengah membersihkan lantai dengan wajah malas.

“Bibi, kenapa sejak pagi tidak ada pelanggan yang datang yah?”

“Yah, mungkin hari ini sedang sepi pengunjung. Yang namanya membuka usaha tidak selalu ramai kan?”

“Tetangga – tetangga disini semuanya sudah mulai pergi. Kenapa Bibi masih bersikukuh tetap disini? Jika semua tetangga disini pergi, pelanggan yang datang pasti berkurang. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam fikiran bibi. Tapi…. Cepat atau lambat…. Tempat ini pasti hancur kan? Orang – orang yang ingin membangun apartemen mewah itu, pasti tidak akan tinggal diam.”

“Tempat ini akan baik – baik saja. Aku akan menjadi satu – satunya orang yang akan tetap bertahan disini sampai aku mati.”

“Bibi…”

Tiba – tiba segerombolan orang – orang bertopeng hitam datang dan mengacak – acak isi toko dengan brutal.

“Hey, apa yang kau lakukan?!” Omel Ryeowook dan berusaha menahan salah satu dari mereka yang mengacak – acak isi toko.

Nyonya Cho tampak sedikit shock. “Hentikan! Jangan hancurkan toko-ku!” teriaknya histeris.

Segerombolan orang – orang tak dikenal itu tetap mengacak – acak isi toko. Ryeowook berusaha mencegahnya namun perutnya justru dipukul oleh salah satu dari mereka hingga membuatnya jatuh tersungkur.

“Ryeowook!” Nyonya Cho langsung berlari menghampiri keponakannya.

“Akh! Kalian ini…. siapa? Apa…. Mau kalian?” tanya Ryeowook tertatih.

“Mau kami, kalian menandatangani surat perjanjian ini.” Jawab seorang pria tinggi yang menampakkan wajah angkuhnya. Choi Jae Hyuk, ayah Sooyoung.

Nyonya Cho tampak geram. “Aku tidak akan mau menandatanganinya.”

“Berarti kau sudah tidak peduli pada keselamatan putrimu sendiri.”

“Putriku? Apa yang kau lakukan padanya?”

Choi Jae Hyuk tampak memberikan isyarat pada salah satu ajudannya. Seorang pemuda tinggi mendekati Nyonya Cho dan menunjukkan sebuah foto Kyuri tengah terikat di kursi dengan mulut tertutup lakban.

“Kyuri~ah….” Nyonya Cho mulai menangis.

“Jika kau menandatangani perjanjian ini, aku akan mengembalikan putrimu tanpa kurang suatu apapun.”

“Kenapa kalian melakukan semua ini? Kami ini hanya orang kecil. Aku hanya memiliki toko ini sebagai sumber penghasilan kami. Tempat ini satu – satunya peninggalan suamiku.”

“Hey Nyonya keras kepala! Apa kau fikir aku tidak mengeluarkan uang lebih untuk meladeni keras kepalamu itu? Hanya untuk menyuruhmu pergi dari sini aku harus mengeluarkan uang lebih banyak dari lainnya. Menurutku uang itu sangat cukup untuk membeli rumah dan membuat toko baru.”

“Apa menurutmu semua hal bisa diukur dengan uang? Kenangan keluarga kami, semua itu tidak ternilai!”

“Kau ini terlalu banyak mengoceh. Kalau kau mau putrimu selamat, cepat tanda tangani surat ini. Aku harus segera pergi dari sini.”

“Bibi…” Ryeowook terlihat putus asa.

Nyonya Cho masih terus menangis. Fikirannya seakan berkecamuk. Beban dalam pundaknya yang rapuh semakin bertumpuk – tumpuk, hingga membuatnya hilang kesadaran.

***

“Perkebunan dan petani disini sedang dalam keadaan genting. Kau tahu taman perkebunan yang ada disana?” tunjuk seorang pemuda pada sebuah daerah perkebunan yang tampak dari tempat Kyuhyun dan petani lainnya tengah makan siang bersama.

“Meskipun belum pernah kesana, tapi setiap kali kesini aku pasti melewati tempat itu.”

“Seorang pengusaha Amerika pemilik perkebunan itu ingin membeli semua lahan perkebunan disini untuk dijadikan taman wisata bermain. Mereka menawarkan harga yang sangat tinggi untuk seluruh lahan di perkebunan ini, bahkan akan memberikan lapangan pekerjaan pada para petani yang nantinya akan kehilangan pekerjaan setelah kehilangan lahan. Tapi bukan itu masalahnya, semua petani disini menggantungkan hidupnya pada lahan, mereka tidak bisa semudah itu menyuruh kami untuk melakukan pekerjaan lain selain bertani. Darah bertani sudah turun temurun dari kakek buyut kami, tidak semudah dihilangkan begitu saja. Sore ini, Pengusaha Amerika itu akan datang untuk negosiasi dengan Kepala Desa kami. Semua petani disini berencana untuk memblokir jalan agar mereka tidak bisa memasuki area perkebunan.”

“Boleh aku membantu? Aku juga tidak rela perkebunan ini jatuh ke tangan pengusaha asing itu.” Kyuhyun menawarkan bantuan.

“Tentu! Terima kasih banyak.”

Sooyoung sedari tadi hanya terdiam. Telapak tangan kanannya terulur untuk meremas ujung pakaian yang dikenakan Kyuhyun. Perasaan gelisah yang tiba – tiba hadir, dan ketakutannya akan berpisah dengan suami tercintanya.

Sore hari, para petani tampak menutupi jalan utama untuk memasuki area perkebunan. Diantara mereka banyak yang membawa banner berisi penolakan kedatangan pengusaha Amerika tersebut ke lingkungan desa mereka.

“Kyu, aku memiliki firasat buruk.” Ujar Sooyoung mengungkapkan kegelisahannya.

“Tenang saja, semuanya akan baik – baik saja.”

Beberapa mobil sedan mewah yang datang terpaksa terhenti di depan jalan karena terhalang para petani yang memblokir jalan. Dua orang bertubuh tinggi tegap dengan gagahnya keluar dari mobil dan menghampiri petani.

“Maaf, kami hanya ingin bertemu dengan kepala desa. Kami sudah membuat janji dengannya.”

“Tapi Kepala Desa tidak ada di tempat.”

“Jangan bercanda! Kami sudah membuat janji dengannya.”

“Tapi Kepala Desa telah menolak negosiasi itu. Kami tidak terima jika lahan perkebunan yang kami jaga turun temurun ini jatuh ke tangan pengusaha asing.”

“Kami hanya ingin bernegosiasi dengan baik. Kami tidak bermaksud bertindak kasar.”

“Tapi kami menolak kedatangan kalian.”

Seorang Pemuda tampan yang tengah duduk santai di dalam mobilnya sembari membaca koran tampak terusik. Karena dua ajudan yang diperintahkan untuk mengurus para petani agar membuka jalan, belum juga membuahkan hasil.

“Ada apa sih? Mereka itu maunya apa?” ujar pemuda itu, Siwon.

“Sepertinya mereka menolak kedatangan kita.” Ujar asisten Siwon.

“Merepotkan saja. Sudah kuduga ini terlalu cepat jika kita ingin mengambil alih perkebunan ini sekarang.”

“Lalu, bagaimana menurutmu Tuan Choi?”

“Kita sudah sampai disini. Kita tidak boleh membuang – buang waktu.”

Siwon beranjak keluar dari dalam mobilnya. Suhu hangat di luar langsung menyapa tubuhnya.

“Maafkan kami, Tuan Choi. Tapi orang – orang ini…” salah satu dari dua ajudan yang diperintahkan tampak merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

“Kudengar pemilik perkebunan ini pengusaha Amerika, tapi dia terlihat seperti orang korea.” Terdengar bisik – bisik dari salah seorang petani.

Siwon tampak mengernyitkan dahi. Dipandanginya satu persatu petani yang memandanginya dengan tatapan sinis. Hingga perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang sejak tadi menundukkan kepala dan tampak bersembunyi dibalik tubuh pemuda di depannya. Siwon tampak hendak menerobos masuk namun pertahanan kuat yang dibuat para petani itu seakan sulit tertembus.

“Entah kau itu orang Amerika atau orang Korea aku tidak peduli. Kami tidak akan memberikan lahan ini pada orang – orang serakah seperti kalian. Apa kau fikir semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang?”

Ucapan salah seorang petani yang tampak berusia lanjut tampak menohok hati Siwon.

“Jika dengan uang yang kupunya, bisa ditukar dengan hidup ibuku dan mengembalikan adikku yang hilang, aku rela melepaskan semuanya.”

Siwon kembali mencoba menerobos, namun dia nyaris terjatuh dan berhasil menggapai tangan seseorang. Siwon memandangi tangan seseorang yang berhasil diraihnya. Dilihatnya siapa si pemilik tangan yang membuatnya nyaris menangis.

“Sooyoung…”

Sooyoung tampak sedikit terkejut ketika melihat sosok kakaknya yang terjatuh dan meraih tangannya. Dirinya yang berada di barisan belakang memang tidak bisa melihat dengan jelas siapa pengusaha Amerika yang dikatakan para petani itu karena terhalang tubuh mereka yang tinggi besar. Hingga dia menyadari ketika Pria si Pengusaha Amerika itu terjatuh dan meraih tangannya. Si Pengusaha Amerika itu adalah kakaknya sendiri.

“Sooyoung, kau kah itu? Sooyoung, ini aku Oppa-mu….” Ucapan Siwon terputus karena para salah seorang petani itu menarik tubuhnya menjauh.

Sooyoung memilih diam dan bersembunyi di balik tubuh suaminya. Dia sudah yakin untuk meninggalkan masa lalunya termasuk keluarga kandungnya.

“Youngie, kau kenal Pria itu?” tanya Kyuhyun.

Sooyoung terdiam sejenak sebelum menjawab, “Tidak.”

Siwon masih mencoba menerobos masuk. Sooyoung seakan enggan untuk memandanginya dan menemuinya, semua itu membuat perasaanya terluka.

“Sooyoung, ini aku Oppa-mu…. Aku mencarimu kemana – mana, Soo.”

Kali ini Siwon tampak kesulitan untuk menerobos masuk. Para ajudan Siwon kali ini ikut membantunya untuk membuat jalan. Namun tetap saja, para petani itu bersikukuh tidak ingin memberi jalan. Siwon nyaris putus asa.

“Sooyoung, kau tahu…. Ibu sudah tiada… Ibu sudah meninggal beberapa hari sejak kau menghilang.”

Sooyoung terkejut mendengar ucapan Siwon.

“Ibu sakit karena memikirkanmu yang tidak kunjung pulang. Hingga kematian menjemputnya.”

Tanpa sadar Sooyoung mulai menangis. Kyuhyun menyadari itu. Dia menyadari bahwa Sooyoung dan si Pria Pengusaha Amerika itu memang memiliki suatu hubungan.

“Youngie….”

Sooyoung tiba – tiba menangis dengan keras.

“Sooyoung… Jadi benar itu kau?”

Para Petani yang semula bersikukuh tidak memberi jalan mulai melonggarkan pertahanan mereka. Mereka tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Terlebih Sooyoung memiliki hubungan dengan si Pengusaha Amerika itu.

Siwon berhasil masuk dan langsung memeluk adiknya dengan erat.

“Akhirnya…. Akhirnya aku menemukanmu.”

“Oppa…” Suara Sooyoung terdengar lirih hingga nyaris tak terdengar.

“Syukurlah…. Kau masih hidup.”

Para petani mulai saling berbisik – bisik. Kyuhyun hanya diam mematung.

“Apa istri Kyuhyun adalah adik dari si Pengusaha Amerika itu?”

“Kenapa dia tidak memberitahu kami?”

“Apa mereka memang bermaksud untuk menjebak kami?”

“Apa Kyuhyun sudah bersekongkol dengannya?”

Kyuhyun sendiri tak percaya bahwa Sooyoung yang berada di sampingnya adalah adik dari seseorang yang hendak menghancurkan desanya. Yang membuat Kyuhyun sakit adalah kenyataan bahwa Sooyoung berbohong mengenai hilang ingatan dan tidak mengingat keluarga kandungnya. Ucapan Siwon yang memancing emosi Sooyoung, hingga dia mendengar dari mulut Sooyoung sendiri ketika Sooyoung memanggil Pria itu dengan sebutan “Oppa”.

Sooyoung melepas pelukannya.

“Sooyoung, ayo kita pulang sekarang. Pulang ke rumah bersama Oppa.”

Sooyoung hanya terdiam. Dia memandangi satu persatu wajah para petani yang semula memandanginya ramah, kini memandanginya dengan sinis. Terlebih Kyuhyun yang memilih menghindarinya.

“Kyu…”

Kyuhyun menjauh. Pemuda itu tampak kecewa.

“Sooyoung, ayo kita pulang.”

“Tidak Oppa…. Aku sudah punya kehidupanku sendiri. Aku sudah menikah dan memiliki seseorang yang berarti di hidupku.”

“Menikah? Kau bercanda kan?” Siwon memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Sooyoung. Dia tampak sulit mempercayainya. “Soo, apa kau benar – benar telah membuang keluargamu? Lalu, apa kau ingin menjadikan kematian ibu adalah sesuatu yang sia – sia?”

Hati Sooyoung semakin teriris. Ibu yang sangat disayanginya, telah pergi dan semua ini karenanya. Wanita yang mengandungnya itu sampai sakit keras karena memikirkannya yang tidak kunjung pulang. Penyesalan menyelimuti benaknya karena tidak berada disampingnya disaat terakhirnya.

“Aku akan melepaskan desa ini. Aku tidak akan mengambil alih perkebunan disini, asalkan kau bisa kembali pulang ke rumah.”

Sooyoung menghampiri Kyuhyun yang berdiri membelakanginya.

“Kyu…”

“Pergilah.” Ujar Pemuda itu dengan dingin.

“Tapi aku tidak ingin pergi. Aku tetap ingin bersama denganmu.” Ujar Sooyoung menahan tangisnya.

“Desa ini akan terbebas jika kau mau ikut dengan mereka. Lagipula…. Tempatmu bukan disini, Youngie. Anni…. Nona Choi Sooyoung yang terhormat.” Antara tatapan dingin dan kecewa seakan bercampur menjadi satu.

“Tapi kita sudah meni….”

“Kau fikir pernikahan ini ada artinya jika kau mengawalinya dengan suatu kebohongan? Aku tidak mengerti apa tujuanmu masuk ke keluargaku, berpura – pura hilang ingatan…”

“Aku minta maaf.”

“Kau tidak hanya membohongiku, kau membohongi ibuku, adikku, keluarga besarku…. Dan semua orang disini. Oleh karena itu, pergilah…. Kembali ke keluargamu. Tempatmu bukanlah disini. Dengan begitu desa ini akan terbebas, seperti kata orang itu.” Kyuhyun menoleh dan memandangi Siwon dengan tatapan dingin.

Hanya dengan melihatnya saja, Siwon bisa tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang dikatakan berarti dalam hidup adiknya. Orang yang menjadi suami adiknya. Siwon sangat menyayangi Sooyoung, sehingga dia tampak tidak setuju jika Sooyoung menikah dengan orang lain tanpa restunya.

“Pergilah dari sini…”

“Pergilah dari sini….”

Para Petani mulai saling bersuara seakan mengusir Sooyoung dari Desa. Hanya itu satu – satunya cara membebaskan desa itu dari pengalihan lahan ke tangan perusahaan yang dianggap tamak oleh penduduk desa.

Sooyoung tampak sedih. Dia ingin Kyuhyun melihatnya, namun Pemuda itu seakan tidak mau lagi melihatnya. Kebohongan yang dilakukan Sooyoung, seakan menorehkan luka tajam yang akan berbekas sampai kapanpun.

Siwon tampak sedikit tak sabar. Dia langsung menarik tangan adiknya dan tampak sedikit menyeretnya karena Sooyoung seolah menolak untuk ikut dengannya. Dalam hati, dia masih ingin Kyuhyun menahan kepergiannya. Namun, Pemuda itu malah menjauh pergi.

“Kyuhyun….”

Tubuh Sooyoung melemah, hingga dia tampak pasrah ketika dipaksa masuk ke dalam mobil. Kyuhyun, sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Inikah perasaan gelisah yang dirasakan Sooyoung sejak tadi. Perasaan gelisah itu firasat bahwa dia akan berpisah dengan orang yang dicintainya.

Beberapa mobil sedan itu beranjak meninggalkan desa. Meskipun tidak berhasil bernegosiasi dengan kepala desa mengenai pengalihan perkebunan, namun Siwon mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu. Adiknya yang dia cari selama ini, telah kembali ke pelukannya.

Eun Hye tampak berlari tergopoh – gopoh menghampiri Kyuhyun yang seakan telah hilang semangatnya. Raut wajah Eun Hye tampak cemas sembari memegang sebuah ponsel di tangannya.

“Kyuhyun, ibumu….”

Kyuhyun merasakan ada sesuatu yang buruk kembali menimpa keluarganya. Dia meraih ponsel yang dipegang Eun Hye dan…. Menangis.

***

Siwon membawa Sooyoung ke rumah abu ibunya.. Di depan abu ibunya yang terpampang foto cantik ibunya yang tengah tersenyum, Sooyoung tampak tidak bisa membendung tangisannya. Jemarinya terulur hendak menyentuh foto ibunya, namun dia merasa takut. Dia merasa telah berbuat jahat padanya. Ibunya sakit parah karena memikirkannya yang tidak kunjung pulang, sedangkan dia pada saat itu merasa bahagia dengan kehidupan barunya. Saat itu dia tidak peduli dengan keluarga kandungnya sendiri, memikirkan ibunya pun tidak.

“Ibu…..” Sooyoung tampak tertatih memanggil ibunya. Isakannya yang semakin keras membuatnya seakan sulit berkata – kata.

Kini ibu yang sangat dia sayangi telah tiada. Sooyoung tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Apakah dia akan kembali pada Kyuhyun, ataukah kembali ke keluarganya untuk menebus rasa bersalahnya.

Sebuah mobil taxi berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang telah rata dengan tanah. Seorang pemuda keluar dari mobil dan memandang nanar rumah yang telah menemaninya sejak kecil kini telah tak berbentuk lagi. Banyak alat berat disana yang tengah menghancurkan bangunan – bangunan lainnya.

“Kenapa?”

Tanpa sadar air matanya mulai berjatuhan.

Pemuda itu, Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada dua orang wanita dan seorang pemuda yang tengah duduk termenung di seberang bangunan hancur itu. Di samping keduanya ada banyak koper dan barang – barang lainnya yang sempat diselamatkan.

“Ibu… Kyuri!”

Kyuhyun menghampiri ibu dan adiknya. Keduanya tampak menatap kosong.

“Kenapa kau baru datang? Kalau kau datang lebih cepat kau pasti bisa mencegah mereka menghancurkan rumahmu.” Omel Ryeowook.

“Maaf…. Aku sudah berusaha semampuku agar bisa lebih cepat sampai disini. Tapi tiket pesawat terlalu mahal, sehingga aku menunggu bus.”

“Sudah seharian ini Bibi dan Kyuri hanya duduk termangu disini. Aku sudah menyuruh mereka untuk tidur di kamar kos-ku, tapi mereka tidak mau. Sebaiknya kau cari tempat tinggal untuk sementara ini.”

Kyuhyun mendekati ibunya dan berlutut. Memandangi raut wajah ibunya yang tampak muram. Tampak sisa – sisa air mata membekas di wajahnya.

“Ibu… Ayo kita pulang ke desa. Disana lebih aman daripada disini.” Pandangan Kyuhyun beralih pada amplop besar yang dipegang ibunya. Kyuhyun yakin ada banyak uang di dalam amplop itu. Pengusaha kaya itu pasti memberikan uang yang banyak agar ibu mau memberikan rumahnya. “Aku yakin pesawat masih ada sekarang. Kita bisa membeli tiket pesawat dengan uang ini.”

“Jangan pakai uang kotor itu! Aku tidak sudi memakai uang kotor dari orang yang telah menghancurkan peninggalan ayahmu. Menghancurkan semua kenangan kita disana.” Nyonya Cho bersuara dengan penuh amarah.

Kyuhyun terdiam sejenak. “Baiklah. Sebaiknya kita pergi sekarang.”

***

Setibanya Kyuhyun dan keluarganya di terminal bus yang tampak sepi. Bus terakhir telah berangkat setengah jam yang lalu. Bus akan ada lagi esok hari pukul 4 pagi. Kyuhyun memandangi jam tangannya. Dia tampak menghela nafas. Dia harus menunggu setidaknya 6 jam untuk bus yang pertama berangkat ke kampung halamannya.

Kyuhyun membawa keluarganya ke sebuah lorong. Banyak gelandangan – gelandangan yang menumpang singgah disana hanya sekedar untuk melepas lelah. Kyuri tampak enggan untuk berada di tempat itu, namun Kyuhyun mengelus puncak kepalanya seolah berkata “akan baik – baik saja”. Kyuri menurut.

“Untuk malam ini kita tidur disini. Kita tidak mungkin kembali lagi untuk menginap di kamar kos-nya Ryeowook.”

“Oppa, Kenapa ‘dia’ tidak ikut denganmu? Apakah ‘dia’ tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kita.”

Kyuhyun terdiam mengetahui arti ‘dia’ yang dikatakan Kyuri. ‘Dia’ yang dimaksud adalah Sooyoung.

“Dia sudah pergi. Ketika kami di desa, dia bertemu dengan keluarga kandungnya dan mereka membawanya pergi.”

“Bertemu keluarganya di desa? Apakah dia asli sana?”

Kyuhyun tampak menggeleng.

“Lalu?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kau pasti lapar kan? Aku akan pergi membelikan makanan untuk kita. Kau tunggu saja disini menjaga ibu.” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

Kyuri merasakan ada yang disembunyikan oleh Kyuhyun mengenai Sooyoung. Namun dia memilih diam, karena benar yang dikatakan Kyuhyun. Perutnya sudah berteriak minta makan karena sejak pagi belum terisi apapun.

“Aku akan segera kembali.”

Kyuhyun meninggalkan dua orang yang disayanginya. Keduanya pasti sangat shock. Kyuhyun bisa menebak perasaan hancur keduanya ketika melihat langsung rumah penuh kenangan mereka dihancurkan hingga rata dengan tanah.

Nyonya Cho tampak sangat lelah. Tanpa sadar wanita tua itu tertidur dengan bersandar pada putrinya. Kyuri memperbaiki selimut yang menutupi tubuh ibunya agar tidak kedinginan.

Tap… Tap… Tap….

Kyuri menoleh sejenak ketika melihat suara langkah tampak mendekatinya. Seorang lelaki berjalan sempoyongan dengan botol bir yang berada di tangannya tampak melangkah mendekatinya. Kyuri tampak ketakutan. Dia hendak membangunkan ibunya, namun dia tidak tega melihat wajah tenang ibunya ketika tidur.

“Apa kau penghuni baru disini hah?” tanya lelaki itu padanya dengan mulut bau bir yang sangat kuat.

“A…. Aniyo… Aku hanya menumpang tidur semalam disini?”

Pria itu tampak memperhatikan barang – barang yang dia bawa.

“Kau punya uang kan? Kau harus membayar sewa disini.”

“Sewa? Ini kan tempat umum…. Kenapa aku harus membayar?”

“Daerah ini wilayahku. Kau harus membayarnya!”

“Tapi kami tidak punya uang. Rumah kami baru dihancurkan, kami tidak punya apapun lagi.”

“Jadi kau ini gelandangan yah?”

“Bukan!!”

Teriakan Kyuri mengusik ketenangan Nyonya Cho yang tengah tidur. Wanita itu mulai mengerjapkan matanya dan mendapati putrinya ditarik oleh Pria tak dikenal menjauh darinya.

“Lepas! Lepaskan aku!!”

Teriakan Kyuri juga mengusik tidur gelandangan lain. Mereka memandangi pria itu dengan tatapan takut. Mereka tidak berani menolong Kyuri. Mereka tidak berani mencari masalah dengan seorang preman yang mengklaim tempat ini adalah miliknya. Jika berani membantahnya, nyawa adalah ancamannya. Para gelandangan itu memilih pergi tanpa berkata apapun.

Kyuri tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Lepaskan putriku!”

Nyonya Cho menyeret langkahnya untuk bisa menarik tangan putrinya, namun pria itu justru memukul kepala ibunya dengan botol bir yang dipegangnya hingga pecah tak beraturan. Darah segar mengalir dari kepala wanita paruh baya itu.

“Kyu… Ri….” Pandangannya mulai mengabur. Dalam remang pandangannya, dia melihat putrinya tengah diperkosa pria tak dikenal itu. Yang membuat hatinya semakin teriris.

Kyuri tampak terus memberontak, namun kekuatannya tak sebanding dengan pria pemabuk itu. Kyuri nyaris muntah ketika pria itu memaksa untuk menciumnya dan merobek – robek pakaian yang dia kenakan.

“Oppa….” Kyuri menangis dalam pasrah ketika keperawanan yang dia miliki direnggut paksa oleh pria yang tidak dia cintai.

Kyuhyun tampak keluar dari mesin atm. Karena dia tidak membawa uang tunai, dia harus mencari mesin atm yang lokasinya cukup jauh dari terminal karena mesin atm yang ada di terminal sedang tidak berfungsi. Setelah memperoleh uang tunai, Kyuhyun membeli beberapa makanan cepat saji di mini market terdekat. Saat itu, dia benar – benar tidak menyadari dengan apa yang tengah terjadi pada dua orang yang dicintainya.

Hingga dia kembali ke lorong tempat ibu dan adiknya berada, Kyuhyun menjatuhkan makanan yang dia bawa. Perasaannya bercampur aduk melihat ibunya terbaring bersimbah darah dan adik perempuannya tergeletak dengan tatapan kosong dan pakaian yang sudah terkoyak.

“Apa yang terjadi…. disini?”

Kyuhyun berlari menghampiri ibunya yang tak sadarkan diri. “Ibu! Bangunlah!” Kyuhyun mengguncang – guncang tubuh ibunya. “Kyuri….” Kyuhyun tak bisa melanjutkan ucapannya ketika dia mencium bau air mani dari tubuh adiknya. Perasaannya semakin teriris. Adik perempuannya diperkosa oleh orang yang tidak dikenal.

“Maaf…. Maaf….” Hanya itu yang diucapkan Kyuhyun karena meninggalkan dua orang yang disayanginya. “AAARRRGGGHHH!!” Kyuhyun berteriak frustasi.

Teriakan Kyuhyun terdengar oleh dua orang petugas terminal yang tengah berpatroli. Dua petugas itu tampak terkejut dengan apa yang terjadi pada keluarga Kyuhyun.

“Apa yang terjadi disini?” tanya salah seorang petugas.

“Tolong aku….” rintih Kyuhyun menyakitkan.

Seorang petugas yang lainnya langsung menghubungi ambulance untuk membawa keduanya ke rumah sakit.

***

Sebuah mobil sedan hitam tampak terhenti di  depan bangunan yang  sudah rata dengan tanah. Seorang gadis bergegas keluar dari mobil untuk meyakinkan apa yang dilihat dengan kedua matanya bukanlah sebuah ilusi.

Benar. Rumah penuh kenangan itu kini telah tiada. Begitu juga Kyuhyun dan keluarganya seakan pergi tanpa jejak. Sooyoung menangis keras. Kini orang – orang yang dicintainya kembali pergi meninggalkannya.

Sooyoung melihat papan nama perusahaan milik ayahnya tertanam di dekat bangunan hancur itu. Perasaannya terluka, ternyata… Dialah salah satu orang yang ikut serta menghancurkan hidup Kyuhyun dan keluarganya.

***

Kyuhyun merasakan kehidupannya nyaris berakhir. Tuhan seakan belum puas menguji kesabarannya. Ibunya kini terbaring lemah diatas ranjang dengan alat bantu hidup menempel di tubuhnya. Dokter mengatakan ibunya mengalami koma dengan harapan hidup hanya 50%. Sedangkan adiknya tampak seperti mayat hidup setelah kejadian mengerikan yang ia alami.

“Kyuri~ah… Kau ingin makan apa? Oppa akan membelikan makanan apapun yang kau mau asal kau mau makan. Sekarang ini kau tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri, tapi ada orang lain yang hidup dalam dirimu.”

Kyuri dinyatakan hamil 2 minggu setelah kejadian yang merenggut harga dirinya. Kyuri tampak frustasi hingga nyaris gila. Tubuh cantiknya semakin lama semakin kurus dan tak terurus. Dalam satu hari bisa dihitung jumlah suap nasi yang masuk ke dalam tubuhnya. Kyuri seakan tak punya lagi semangat hidup.

“Kyuri suka tteokboki kan? Oppa akan belikan yang banyak untukmu. Nanti di makan yah.” Kyuhyun berusaha ceria untuk membangkitkan semangat Kyuri. Namun sepertinya sia – sia. Gadis itu tetap diam dengan tatapan datarnya. “Oppa…. Belikan makanan dulu yah. Oppa tidak akan pergi jauh. Di kantin rumah sakit ada yang menjual tteoboki.”

Kyuhyun meninggalkan Kyuri yang terdiam.

Kyuri tampak melirik pada pisau buah yang berada dekat keranjang buah di atas nakas. Dia memandangi benda tajam itu dengan wajah datar dan meraihnya. Disayatnya urat nadi pergelangan tangannya yang tak berdosa hingga mengeluarkan darah segar. Seakan belum puas, Kyuri menyayat lagi urat nadinya. Pisau di tangannya terlepas. Tubuhnya semakin melemah, darah merah segar itu mengalir hingga mengotori selimut putih diatas ranjangnya.

“Oppa…. Selamat tinggal.”

Kyuhyun merasa perasaan gelisah menggelayutinya. Antrian tteokboki yang cukup panjang membuatnya tampak tidak sabar. Entah mengapa sejak tadi pikirannya selalu beralih pada Kyuri. Kyuhyun memilih untuk keluar dari antrian dan kembali ke kamar adiknya. Kyuhyun kembali menunjukkan kegelisahannya. Dia tampak tidak sabar ketika mendapati lift yang menuju lantai atas selalu penuh. Hingga dia memutuskan menaiki tangga darurat dari lantai 1 menuju lantai 10 tempat Kyuri dirawat.

Sesampainya di kamar Kyuri, Kyuhyun langsung membukanya dengan tergesa – gesa. “Kyuri kau….” Ucapannya terpotong ketika melihat beberapa perawat menutupi tubuh Kyuri dengan selimut putih yang penuh darah.

“Kenapa…. Apa yang terjadi pada adikku?” tanya Kyuhyun dengan perasaan terluka.

“Dia…. Mencoba bunuh diri. Maaf, kami tidak bisa menolongnya. Sayatan di urat nadinya sangat dalam sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan.” Jelas seorang dokter yang menangani Kyuri.

“Tidak mungkin….” Kyuhyun menggeleng tak percaya. “Kyuri… Kau bercanda kan? Kau hanya ingin mengerjaiku kan? Kau pasti tertawa di balik selimut putih itu kan?”

Namun tubuh di balik selimut itu hanya terdiam.

“Kenapa…. Kenapa kau meninggalkan aku?!” Kyuhyun menangis histeris hingga tubuhnya nyaris ambruk di atas lantai.

***

Tatapan datar itu memandangi laut lepas di hadapannya dari atas tebing yang terpukul ombak. Beberapa rintik air ombak lepas membasahi sepatunya. Sebuah kendi dalam pelukannya dibuka perlahan dan menaburkan abu adikknya agar menyatu dengan air laut.

“Selamat tinggal….. Kyuri.”

Kyuhyun membuang kendi di tangannya. Air matanya tampak sudah mengering hingga tak sanggup mengalir lagi.

“Oppa, apa kau tahu? Aku benar – benar menyayangimu…. Ani, aku mencintai Oppa. Seandainya kita bukan saudara…. Apa aku bisa terus bersama Oppa? Tapi kita bukan saudara sedarah kan? Aku tidak pernah menyesal menjadi saudara tirimu, karena itulah yang membuat aku bisa bertemu denganmu.

Aku mencintai Oppa, lebih dari apapun….

 Oppa yang selalu menggandeng tanganku agar aku tidak selalu merasa kesepian. Oppa yang ceria dan membuatku selalu tersenyum. Aku tidak yakin bisa bahagia jika tidak ada Oppa disisiku.

Aku mencintai Oppa, lebih dari apapun….

Ketika Oppa menggandeng tangan orang lain di gereja itu, hatiku merasa sakit. Aku ingin menangis, tapi semua itu tidak akan ada gunanya. Semua orang memandang kita saudara yang sampai kapanpun tidak akan bisa bersama. Apakah sudah terlambat bagiku untuk mengakuinya? Aku tidak ingin Oppa dimiliki oleh orang lain.

Aku mencintai Oppa, lebih dari apapun….

Aku merasa diriku yang kotor ini tidak akan pantas berada disampingmu. Usapan lembut tanganmu diatas kepalaku entah mengapa terasa seperti duri yang menusuk. Aku merasa sakit ketika Oppa tetap baik padaku yang telah kehilangan masa depan ini. Seorang gadis kelas 2 SMA yang sudah terenggut harga dirinya. Aku, hanya akan terus membebani langkahmu.

Aku mencintai Oppa, lebih dari apapun… Dan sampai akhir hayatku.”

Sepucuk surat yang ditinggalkan Kyuri di dalam laci kamar rawatnya begitu membekas dalam fikiran Kyuhyun. Semua perasaan Kyuri terungkap disana. Namun, tidak akan ada yang bisa dia lakukan. Karena gadis itu kini telah kembali ke pelukan Tuhan.

****

Lima tahun kemudian….

Suara tembakan beradu tiga kali berturut – turut dan melubangi tengah pusaran. Tembakan pertama hanya melubangi sedikit. Tembakan kedua dan ketiga mendarat di lubang yang sama hingga membesar.

“Kau hebat! Bisa membidik dengan tepat tiga kali berturut – turut.” Tepuk Seorang Pria tampan yang berada di belakang Pemuda berpakaian serba hitam itu. “Kau ini benar – benar seorang penembak yang jenius.”

“Kau ini terlalu banyak memuji.” Pemuda itu memakai mantel hitam dan topi yang menutupi kepalanya. “Aku ada panggilan dari Boss.”

“Ya selamat bekerja, Kyu.” Ujar Pria tampan itu dengan acuh.

“Kau juga ikut denganku, Lee Donghae!”

“Eh? Apa aku juga dipanggil?” Pria tampan itu ikut mengambil mantelnya dan langsung dikenakan sembari berjalan.

Lima tahun telah berlalu. Adiknya, Kyuri telah tiada. Ibu tirinya yang selama ini mengasuhnya, sampai saat ini belum sadarkan diri dari koma. Kyuhyun merasakan dunia begitu kejam padanya. Hingga dia tidak peduli lagi jalan yang diambilnya ini benar atau jahat. Beberapa bulan setelah kepergian Kyuri, Kyuhyun mengenal sebuah organisasi gelap. Mereka dikenal sebagai para pembunuh bayaran. Sekumpulan orang yang disewa untuk membunuh orang lain sesuai permintaan kliennya tanpa meninggalkan jejak. Jika ada yang tertangkap polisi, mereka harus mati.

“Kira – kira tugas apa yang akan kita dapat kali ini?”

“Entahlah.”

“Kira – kira siapa sasaran peluru panas kita selanjutnya?”

“Entahlah.” Kyuhyun hanya menjawab acuh seolah tak peduli.

“Kyu…. Apa kau pernah berfikir? Sudah banyak orang yang mati di tangan kita. Dosa yang kita miliki sudah sangat banyak.”

“Aku tidak peduli. Sebanyak apapun dosaku, Tuhan tidak pernah berpihak padaku. Kau juga berfikir seperti itu kan?”

Lee Donghae hanya terdiam. Dalam fikirannya memori pahit kembali terlintas. Donghae yang saat itu masih berusia remaja tampak kedua tangannya ditahan kuat oleh orang bertubuh besar. Donghae remaja tampak berteriak histeris melihat kakaknya, satu – satunya keluarga yang dia miliki saat ini dipukuli sampai babak belur. Donghae tidak bisa menolong kakaknya. Orang – orang bertubuh besar itu meninggalkan kakaknya dengan penuh luka lebam di seluruh tubuhnya. Donghae mencoba membawa kakaknya ke berbagai rumah sakit namun ditolak karena ketiadaan biaya. Hingga akhirnya kakaknya harus meregang nyawa dan tidak bisa diselamatkan.

Kyuhyun dan Donghae tiba di depan pintu ruangan Boss Besar mereka. Kyuhyun tampak mengetuk pintu tiga kali dan terdengar suara perintah dari dalam.

“Masuklah kalian berdua.”

Kyuhyun dan Donghae melangkahkan kakinya dengan tenang. Dalam hati mereka terbesit ucapan, ‘Siapa yang akan mati hari ini?’

“Ini target kita sekarang. Seorang Putri pengusaha terkenal. Klien kita Sunhwa Group, merasakan adanya kecurangan dalam tender proyek apartemen di daerah Gangnam, namun mereka tidak bisa berbuat apapun. Dia ingin menghancurkan orang itu dari dalam. Ah, aku tidak begitu mengerti urusan bisnis. Tapi kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kan?”

“Menghancurkan orang itu, dimulai dari menghancurkan keluarganya yah?”

“Ini foto target kita.” Boss besar mereka, yang sering dipanggil dengan nama Kangin, karena tidak ada yang tahu nama aslinya.

Kyuhyun mengambil foto yang diberikan oleh Bossnya. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

“Kalian bisa melakukannya kan?”

“Tentu!”

***

Di tengah keramaian pusat kota, tampak dua orang pemuda menyandarkan tubuhnya pada dinding bangunan di lantai dua. Pemuda tampan yang bertubuh lebih pendek dari yang satunya tampak meneguk sekaleng minuman berenergi.

“Ah, sayang sekali kalau aku harus membunuhnya. Gadis itu cantik sekali. Anak dari pengusaha kaya pasti punya banyak uang untuk merawat diri.” Keluh Donghae.

“Selama ini kita selalu banyak membunuh anak – anak pengusaha kaya tapi kenapa baru kali ini kau mengeluh?”

“Aku seperti tidak tega membunuhnya.”

“Kau ingin menembak kepala atau jantung?”

“Aku lebih memilih jantung. Aku tidak tega merusak kepalanya dengan senapanku.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Jam 2 siang dia biasa keluar dari bangunan itu kan?”

“Eum.”

“Lima menit lagi.”

Beberapa menit kemudian sebuah siluet yang persis seperti di foto keluar dari sebuah bangunan.

“Dia muncul lebih cepat dari perkiraanku.” Ujar Donghae.

Kyuhyun mengarahkan senjatanya tepat menuju ke kepala gadis itu, sedangkan Donghae mengarah ke jantungnya. Dari lantai dua apartemen sepi yang mereka sewa, tidak akan nampak jika mereka membunuh orang dari sana.

“Selamat tinggal…. Choi Sooyoung….”

DORRR!!!

TO BE CONTINUED….

Part 5 selesai. Part kali ini biasa aku buat lebih panjang untuk menebus rasa bersalahku yang sudah terlalu lama tidak update. Jangan lupa tinggalkan jejak yah like dan komentarnya. Gamsahamnida ^^

Advertisements

Author:

I'm ELF | I'm 93 Line | I'm from Indonesia | My life is mine...

16 thoughts on “[SERIES] The Girl Who Make Me Crazy (Part 5)

  1. Masa nanti kyuhyun beneran bunuh sooyoung?? Apa kyu udah gak cinta sama soo dan udah ngelupain soo?? Mereka masih jadi pasangan suami istri kan??
    Next thor, jangan lama2 ya update nya. Ditunggu kelanjutan ceritanya
    fighting 🙂

  2. Kyanya Kyu dendam bgt sm Sooyoung smpe nyggupin permintaan bosnya.
    Aduh miris bgt khdupan Kyuyoung skrg, tp pngnya Happy end gk mau sad ending.

  3. Aigoo Aigoo Aigoo!! knapa kehidupan kyuyoung sma kluarga’a jdi hancur gtu yaa? pertama soo ninggalin kyu dngan terpaksa, k’2 Appa’a soo merebut paksa rmah’a CHO Family, k’3 kyuri sma eomma’a kyu menderita alias (kyuri mati bunuh diri, sedangkan eomma’a msih koma), dan trakhir!!!! kyu jdi pembunuhan bayaran, & ditugaskan buat ngbunuh istrinya sndiri?!! ya tuhan!!!! bner” kaga bisa dipercaya Ckckckck kajja min…. keep waiting next part’a min, fighting 😉

  4. Ini yg ditunggu tunggu. Kenapa sekarang jadi gini,ya ampun. Semua berasa percuma. Belum lagi kalo ntar kyu tau penyebab keluarganya hancur. Kyu beneran mau nembak soo? Dia udah ga cinta sama soo? Plis kak, nextnya jangan lama lama. Penasaran gimana kelanjutannya, kyu beneran mau nembak soo

  5. Akhirnya update jg…:D
    tp,moment kyuyoung sedikit s’x,d’part in mrk(kyuyoung)hanya sebentar merasakan kebahagiaan tp kebahagian kecil mereka direnggut dg paksa…!seolah takdir belum cukup puas mempermainkan kisah cinta kyu Dia harus dihadapkan oleh kenyataan yg hrs mengubur kewarasannya n m’buat hidupnya menjadi kelam…:(
    di part ini benar2 menguras emosi …keluarga Cho benar2 sudah hancur;(
    omoo….ap soo benar2 meninggal???!:o
    mudah2an changmin tw siwon oppa menyelamatkan soo…siapa pun!

  6. Yakk knp jdi seperti ini eonni smuany rusak dan kacau gmna dgn kyuyoung ah jinjayo jeongmal emosi next part di tngggu eoni

  7. Wahhh kyu skrg jdi pembunuh bayaran setelah kehidupan keluargax hancur…. mana calon korbanx sooyoung lagi… itu bnrn kyu sanggup untuk membunuh soo??? Ditunggu lanjutanx ya min…

  8. Omg.. Masa soo d. Bunuhhh
    Sedih amat ya hidupya kyuppa..
    Smoga kyu msih suka ama soo jadi batal dehh pmbunuhannya…

  9. Update tan author membuatku terharuuu * akhirnya bisa baca ky lagi :’)
    part ini complicated banget, mngantarkan ke alur yg kayaknya lebih menegangkan dan rumiit
    Hwaaa, padahal ky baru manis2 nya di awal… tapi ada apa dgn bagian akhirnya?!! ditunggu banget cahpter selanjutnya, yg terpenting jgn berhenti d tngah jalan aja ya… keep fighting!!

  10. Astaga ini sudah sangat sangat sangat lama tidak baca ini sampe lupa .
    Terus tiba2 ceritanya begini. Woahhh. Authornya sukses bikin orang penasaran yah. Hem knapa kyu jd mau nge bunuh sooyoung. Segitu bencinyakah dia sm sooyoung . Ditunggu thor next partnya. Semangat 😚

  11. Aaa soo nya pergi jauh dr soo. Pasti kyu dendam deh sama soo:(
    Itu serius bunuh soo kyu oppa nya ?omaga jangan donggg:( ditunggu ff selanjutnya ya thor jangan lama-lama

  12. yeyyy akhirnya ff yg di tunggu2 dateng juga… ahhh eunhye perusak suasana nihh kayaknya dia masih suka dehh sama kyuhyun.. dan seneng bgt moment kyuyoung nya manis… asliii,,, sumpahh gak boong saya nangis baca ff ini.. kisah keluarganya kyuhyun tragis bgt ihh sumpahhh.. kasian ama kyuri gk bisa bayangin gimana hancurnya hidup dia.. pokoknya gak bisa berkata-kata sama ff ini… dan omo omo.. itu yg jadi targetnya kyuhyun, Sooyoung?! aigooo, jebal eonnie jangan bikin kita penasaran tingkat dewa.. pasalnya part 5 aja udh bikin aku nangis ngejer, ahhh gak bisa bayangin dehhh… ini bener2 kaya lagi ngeliat drama korea… dan yg pasti seharian ini aku bakal galau gegara mikirin tragisnya hidup kyuhyun, dan bakal kaya org stress saking penasaran bgt… pokoknya bener2 harus di lanjut.. hatiku sampe dag dig dug jrengg nihhh… jebal kak jgn lama2 di updatenya

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s