Posted in Action, Drama, Romance, Series

[Series] The Precious Thing -9-

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

 

Kyuhyun POV

Aku duduk dengan Han Yeojin disebelahku bersama beberapa anggota militer lain di salah satu pangkalan militer mereka. Aku sengaja memilih kursi yang paling dekat dengan pintu dengan tujuan agar aku bisa keluar jika ada sesuatu terjadi pada Sooyoung karena aku meninggalkannya bersama orang yang aku sewa, pengurus rumah Sooyoung serta Yoona. Meskipun mereka mengawasinya, tapi bukan berarti keselamatan Sooyoung aman mengingat tidak ada dari mereka yang cukup mampu untuk melawan orang-orang yang berniat mencelakainya.

Alasan kenapa aku duduk disini adalah untuk membahas tentang cincin BAST dan mafia-mafia yang menyusup ke negara ini. Han Sojang pada akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kim Wonsu—Jenderal Pasukan, juga petinggi-petinggi militer lainnya tentang kedua hal itu setelah mendapat laporan para mafia secara terbuka mendatangi kampus—yang adalah kampus Sooyoung, sambil membawa senjata api dan membuat keselamatan warga, khususnya mahasiswa terancam.

“Mereka mengirim agen internasional CIA yang juga berasal dari negara kita,” bisik Yeojin padaku meskipun pembicaraan sudah dimulai beberapa saat yang lalu. “Kau lihat namja dan yeoja yang duduk di sebelah Lee Sojang? Itulah mereka”

Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang di maksud Yeojin, dan melihat dua orang yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka sebenarnya adalah seorang agen. Meskipun begitu, ekspresi mereka terlihat serius dan aku juga bisa melihat sedikit kegelisahan yang sangat disembunyikan dengan baik.

“Ini lebih cepat dari yang kita duga” kata Yeojin lagi masih dalam bisikan. “Meskipun begitu, ini juga lebih bagus karena akan lebih banyak orang yang mengawasi keadaan dan pergerakan mafia-mafia itu. Mereka melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan dengan keluar secara terbuka seperti itu. Kurasa mereka terlalu putus asa mendapatkan cincin itu”

“Tetap saja aku khawatir, Yeojin-ah” sahutku. “Mereka disini tidak memedulikan Sooyoung, tapi cincin itu. Banyak orang yang mengawasi keadaan dan pergerakan mafia, bukan berarti keselamatan Sooyoung terjamin. Mereka bahkan bisa masuk ke negara kita tanpa satu pun dari orang-orang disini yang mengetahuinya, bahkan NIS pun tidak tahu”

Yeojin diam saja.

Aku melanjutkan, “Selain itu.. aku tidak yakin apa Sooyoung akan menerima jika seandainya mereka memutuskan untuk mengawasinya juga. Kau tahu sendiri bagaimana sikapnya pada sesuatu yang seperti ini. Dia juga belum bisa menerima fakta yang aku beritahukan padanya”

“Aku tahu,” Kali ini Yeojin menyahut. “Dia memang tidak seramah saat dia tidak tahu apapun tentang identitas kita”

“Itulah kenapa aku khawatir,”

“Tapi bukankah kau sudah berbicara pada Yoona-ssi dan memintanya untuk mengawasi Sooyoung-ssi? Kau memberitahu yeoja itu semuanya, ‘kan?”

Aku mengangguk. “Dia akan merahasiakannya dari Sooyoung bahwa aku meminta temannya untuk mengawasinya. Aku harap dia tidak melakukan kesalahan karena terkadang dia—“ Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena Han Sojang mengambil giliran untuk berbicara setelah sebelumnya adalah orang-orang dari NIS yang berbicara.

“Seperti yang sudah diketahui tentang para mafia yang sudah menyusup ke negara kita selama berhari-hari, aku disini menyarankan untuk kita melakukan tindakan tegas dan mencegah hal-hal yang mengancam keselamatan warga” kata Han Sojang dengan suaranya yang tegas. “Meskipun begitu, aku tetap pada keinginanku untuk merahasiakan masalah ini karena aku khawatir ini akan membuat keresahan”

“Apa ada informasi tentang Seo In Guk?” tanyaku pada Yeojin, kembali dalam bisikan.

“Tidak,” jawabnya langsung. “Kita hanya tahu dia berhubungan dengan Kang Dae Shik. Itulah kenapa aku dan Sungjae masih mencari informasi tentangnya”

“Aku tahu jika dia memang mencurigakan. Itu—“ Kata-kataku terhenti karena ponselku bergetar di dalam saku jasku. Aku segera mengambilnya dan menunjukkannya pada Yeojin. “Sungjae mengirim pesan padaku. Itu tidak biasa, ‘kan?”

“Buka saja,”

Aku mengangguk pelan, lalu segera membuka pesan dari Sungjae itu. Seketika, mataku membelalak melihat isinya begitupula Yeojin. Aku dan temanku ini saling berpandangan untuk waktu yang lama, tidak percaya dengan apa yang baru saja Sungjae kirimkan. Bagaimana bisa Yoona terluka seperti itu? Jika Yoona terluka, apa itu berarti Sooyoung juga—

“Pergilah,” kata Yeojin kemudian. “Kau harus memeriksanya sendiri”

“Tapi—“

“Aku akan tetap disini dan mendengarkan keputusan mereka” Yeojin menyela perkataanku. “Aku tahu kau tidak akan tenang jika tidak memeriksanya sendiri. Lagipula itu tugasmu untuk melindunginya”

Geurae,” sahutku. “Aku mengandalkanmu”

Yeojin mengangguk.

Setelah itu, diam-diam aku keluar dari ruangan. Aku benar memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu karena aku sama sekali tidak menemukan kesulitan untuk menyelinap keluar dan tidak ada yang memperhatikanku karena mereka sedang mendengarkan rencana-rencana yang dibeberkan oleh Han Sojang.

Yeoboseyo,” kataku menelepon Sungjae dalam perjalananku menuju mobil. “Bagaimana? Apa yang terjadi dengan Yoona-ssi?”

“Mereka menemukannya tidak sadarkan diri di dekat rumah sakit. Ada luka di kepalanya dan sepertinya itu karena seseorang memukulnya”

“Apa ada Sooyoung—“

“Tidak, hanya Yoona-ssi

“Kau dimana sekarang?” tanyaku sambil masuk ke dalam mobil dan cepat-cepat menyalakan mobilnya. “Ani.. dwaesseo. Kau beritahu aku di rumah sakit mana Yoona berada, aku akan menyusulnya”

Geurae, arraseo

Aku menutup sambungan telepon itu, dan dengan gerakan kasar aku langsung menginjak gas dan memutar kemudinya dengan satu gerakan yang tajam. Untungnya tentara yang menjaga gerbang pangkalan tahu bahwa aku sedang terburu-buru, dan mereka dengan cepat membukakan gerbangnya untukku jadi aku tidak perlu menabraknya jika itu memang harus aku lakukan.

Aku tahu bahwa hari ini, Yoona menemani Sooyoung pergi ke makam orang tuanya. Teman Sooyoung yang satu itu memang memberitahuku segala sesuatu yang Sooyoung lakukan dengan lebih detail setelah aku memintanya untuk membantuku mengawasi Sooyoung. Jika Yoona sampai terluka seperti itu, aku khawatir Sooyoung juga terluka atau bahkan lebih buruk dari itu. Bagaimana jika ada seseorang yang menangkapnya dan membawanya pergi? Itu adalah satu-satunya hal yang aku takutkan, sebenarnya.

Aku memasang earphone ke telingaku dan segera mencari nomor orang sewaanku dan meneleponnya. Perasaanku yang tegang dan khawatir terasa lebih bisa aku rasakan saat panggilan tunggu itu terasa lebih lama dari biasanya.

Yeoboseyo,”

“Oh, Jong Nam-ssi” sahutku dengan cepat. “Bagaimana keadaannya?”

“Aku kehilangannya, Soryeong-nim

Mwo? Kehilangan—“

“Sooyoung-ssi,” sambung Jong Nam dengan cepat. “Seseorang menyerangku dan anak buahku, dan kami kehilangan Sooyoung-ssi karena itu. Josanghamnida,

Sesuatu yang aku takutkan benar-benar terjadi sekarang. Aku tak tahu harus mengatakan apa pada Jong Nam, dan hanya diam sambil terus mengemudi dengan kecepatan penuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Soryeong-nim? Anda masih disana?”

Aku diam sesaat untuk menarik napas panjang dan menenangkan diriku sendiri. “Eo. Terus cari dia dan selalu memberi kabar jika ada sesuatu yang kau temukan”

Ne, algeseumnida. Aku benar-benar minta maaf—“

Ani, itu tidak perlu kau lakukan untuk sekarang. Temukan dia,”

Ne,”

Aku langsung memutuskan sambungan teleponnya dan semakin menginjak pedal gas mobilnya. Aku harus cepat sampai ke rumah sakit dimana Yoona berada, karena itu satu-satunya yang ada pikiranku yang bisa aku lakukan sekarang. Sekalipun aku memaksakan diriku untuk mencari Sooyoung saat ini, aku tidak yakin aku bisa menemukannya dengan mudah. Bisa saja dia dibawa ke suatu tempat dan ditahan disana, ‘kan? Tidak mungkin juga mereka membawanya ke tempat yang terbuka dimana ada banyak orang disekitarnya. Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak mencarinya terlebih dahulu dan menahan diriku untuk tidak bertindak gegabah. Karena jika mereka memiliki Sooyoung—siapapun itu, berarti nyawanya semakin dalam bahaya.

**

Aku duduk di salah satu kursi di garasi rumah Sungjae sambil mengetuk-ngetukkan jariku ke atas meja kayu di sampingku. Pikiranku terus tertuju pada Sooyoung yang sampai saat ini belum aku ketahui keberadaannya meskipun Han Sojang dan Yeojin sudah mengirimkan pasukan mereka sendiri untuk mencarinya. Sama sekali tidak terlintas di pikiranku kemana Sooyoung dibawa dan oleh siapa meskipun aku yakin itu salah satu dari kelompok mafia yang sedang mengincar cincin BAST yang dimilikinya. Tapi bagaimana keadaan Sooyoung sekarang, aku sama sekali tidak mengetahuinya.

“Tidak ada laporan apapun di wilayah selatan Seoul sejauh ini. Mungkinkah mereka membawanya ke luar Seoul?” ucap Sungjae baik padaku maupun Yeojin yang sedang bersama-sama di tempat ini.

“Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk ke luar Seoul dan ke beberapa tempat. Polisi-polisi juga sudah melakukan pencarian secara rahasia” Yeojin yang menjawab. “Kita akan menemukannya. Kita harus menemukannya”

“Cincin itu?”

Ani. Sooyoung-ssi” jawab Yeojin dengan tegas padaku sambil menatapku dengan tajam. “Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang, Kyuhyun-ah. Tapi kau benar-benar harus percaya padaku dan Sungjae, bahwa kami lebih mementingkan keselamatan Sooyoung-ssi daripada cincin itu”

“Lalu kenapa kau terus menahanku setiap kali aku ingin mencarinya sendiri?”

“Karena apa yang akan kau lakukan itu sama sekali tidak berguna,” sahut Yeojin beranjak dari tempatnya semula dan pindah ke kursi di dekatku. “Mencarinya tanpa tahu detail apapun hanya akan membuang-buang energimu. Lebih baik kita mencarinya seperti ini, dengan bantuan Sungjae dan NIS. Itu akan lebih cepat”

Aku diam saja.

“Aku mengirim pasukanku, itu karena sudah tugasku untuk melakukannya. Tapi pasukan itu hanya akan mencari keberadaan cincin BAST, bukan Sooyoung-ssi. Sementara yang kita lakukan disini adalah mencari Sooyoung-ssi” Yeojin kembali berbicara, mengabaikan sikap diamku. “Kau tahu ‘kan apa maksudku dan Sungjae? Kami peduli pada Sooyoung-ssi, dan kami akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya karena dia adalah seseorang yang penting bagimu”

“Yeojin benar, Kyuhyun-ah” sahut Sungjae di depan komputernya. “Saat kita menemukan keberadaan Sooyoung-ssi, dan kau ingin kita langsung mendatanginya maka kami akan siap. Kami bahkan tidak membutuhkan pasukan apapun untuk menyelamatkan Sooyoung-ssi

Aku mendesah panjang, “Mianhae

“Tidak perlu,” kata Yeojin sambil menggenggam tanganku. “Kau tahu, kami tidak akan pernah bahagia dan tenang jika kami tahu kaupun tidak bahagia dan tidak tenang”

Dalam nada suaranya, aku bisa merasakan dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

“Jadi disinilah kita sekarang. Melakukan pencarian sendiri meskipun seluruh militer kita melakukan hal yang sama—“

“Karena tujuan kita berbeda meskipun itu sama” sambung Sungjae dengan cepat.

Gomawo, yedeura

“Kata-kata itu akan aku terima setelah kita menemukan Sooyoung-ssi dan memastikan dia baik-baik saja” kata Yeojin.

“Hei! Lihat ini!” seru Sungjae tiba-tiba, membuatku dan Yeojin bergegas menghampirinya dan komputernya. “FFO, Free Faction Organization—Organisasi Golongan Bebas,” katanya menambahkan.

“Apa yang kau temukan?”

“Daftar nama anggota mereka dan—“ Dia meng-klik satu nama, lalu muncul satu foto yang membuatku terkejut seketika. “Kau mengenalinya?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk meksipun masih tidak percaya apa yang aku lihat di depanku. “Tapi kenapa namanya Park Doojoon?”

“Itu namanya yang sebenarnya,” jawan Yeojin.

“Sekarang kita lihat—“ Sungjae kembali melakukan sesuatu di komputernya dan kemudian muncul beberapa informasi tentang seorang namja bernama Park Doojoon yang selama ini aku kenal sebagai Seo In Guk. “Informasi tentang catatan kriminal” jelasnya padaku dan Yeojin.

“Darimana kau—“

“Ini komputer FBI, kau tahu” sela Sungjae seperti tahu apa yang ingin ditanyakan Yeojin. “Aku punya akses khusus dan itu tidak mudah karena harus ada ijin dari FBI serta NIS meskipun mereka tidak tahu aku menggunakannya diluar tugasku untuk mereka”

Aku mendengarkan itu sepintas, karena aku lebih memilih untuk membaca informasi yang ada di depan mataku tentang Seo In Guk. Namanya adalah Park Doojoon lahir pada tahun 1990 di Busan. Dia ditangkap dua kali dalam tujuh tahun terakhir. Dua-duanya karena penyelundupan obat-obatan terlarang. Dia bergabung dengan FFO setelah keluar dari penjara untuk kasus keduanya dan mendapatkan beberapa misi termasuk misi terbarunya, yaitu melakukan penyamaran di universitas yang sama dengan Sooyoung dengan nama Seo In Guk.

“Jadi kau benar, Yeojin-ah” celetuk Sungjae tiba-tiba setelah hanya ada keheningan diantara kami bertiga. “Namja itu memang mencurigakan, dan lihat siapa dia sebenarnya?”

“Anggota FFO,” sahut Yeojin. “Seharusnya kita tahu itu lebih awal,”

Ani… seharusnya aku yang tahu lebih awal karena aku sudah sering bertemu dengannya” kataku menyambung sambil menatap foto In Guk di layar komputer Sungjae yang sama sekali tidak mirip dengan In Guk yang aku lihat karena potongan rambutnya yang terkesan berantakan. “Jika aku tahu dia anggota FFO yang menyamar, aku tidak akan pernah membiarkan Sooyoung berada di dekatnya bahkan dalam kondisiku yang sekarang”

“Tidak ada gunanya menyesal. Kita sekarang tahu bahwa dia termasuk orang yang mengincar cincin itu, dan dengan kita mengetahui ini mungkin kita akan dengan mudah—“

Belum selesai Yeojin berbicara, ponselku berdering. Aku cepat-cepat mengambilnya dan memeriksa nama yang tertera di layar sebelum menjawab panggilan yang masuk itu. Aku sengaja mengeraskan volumenya agar kedua temanku bisa mendengarnya karena itu dari Yoona.

Yeoboseyo, Kyuhyun-ssi. Eodiseoyo?

Ne, yeoboseyo” jawabku. “Aku sedang mencari Sooyoung. Waegeurae?

“Aku—kurasa aku mengingat sesuatu”

Oh?”

Lama tidak ada jawaban, tapi kemudian aku mendengar helaan napasnya. “Aku ingat siapa yang melakukannya padaku” katanya. “Itu—Seo In Guk,”

Mwo?” seruku sambil menatap ke arah Yeojin dan Sungjae yang terus diam. “Seo In Guk?”

“Benar, Seo In Guk. Aku sangat yakin” kata Yoona meskipun suaranya mulai serak. “Aku—aku saat itu sedang bersama Sooyoung di taman memorial appa-nya. Lalu aku pergi untuk memberinya waktu sendirian dan aku—aku bertemu In Guk. Dia bertanya padaku dimana Sooyoung, dan setelah aku memberitahunya.. dia—dia memukulku. Itu yang terjadi, aku yakin”

Aku diam saja.

“Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana bisa In Guk—“

“Dia bukan Seo In Guk,” kataku kembali menatap foto di layar komputer. “Namanya yang sebenarnya adalah Park Doojoon. Dia anggota FFO yang juga sedang mengincar cincin Sooyoung,” jelasku pada Yoona.

Mworaguyo? FFO?” seru Yoona terdengar terkejut.In Guk mengincar cincin Sooyoung? Kalau begitu Sooyoung—“

“Kurasa dialah yang membawa Sooyoung,”

“Apa maksudmu, Kyuhyun-ssi?”

Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mataku sebentar. “Sooyoung tidak diketahui keberadaannya sejak kau diserang, Yoona-ssi” kataku seraya membuka kembali mataku. “Awalnya aku tak tahu siapa yang membawanya, tapi mendengar ceritamu.. kurasa sekarang aku tahu siapa yang melakukannya”

“In Guk?”

Aku tidak langsung memberikan jawabannya. “Aku akan memastikan segalanya terlebih dahulu,”

“Tolong temukan Sooyoung, Kyuhyun-ssi. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya karena aku—aku tidak bisa menjaganya seperti yang kau—“

Ani, gwenchanayo” potongku dengan cepat. “Kau tidak perlu merasa bersalah, Yoona-ssi. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk membantuku dan itu bukan salahmu karena kau diserang. Akulah yang tidak bisa melihat situasi, dan aku tak tahu ada seseorang yang menyamar di dekat Sooyoung”

Yoona kembali diam.

“Aku akan segera menghubungimu jika aku menemukan keberadaan Sooyoung,” kataku mengabaikan diamnya Yoona. “Saat ini yang terpenting yang harus kau lakukan adalah memulihkan kondisimu dan istirahatlah yang banyak. Mungkin nanti aku akan membutuhkanmu”

Em. Aku pasti akan membantumu, Kyuhyun-ssi

Geureom—“ Aku langsung memutuskan sambungannya.

Aku menghela napas panjang.

Apapun yang terjadi, aku pasti akan menemukan Sooyoung dan menghabisi Seo In Guk—ani, Park Doojoon, karena selama ini dia telah membohongiku dan Sooyoung. Aku pasti akan melakukan sesuatu padanya, lihat saja nanti.

__

Sooyoung POV

Aku menyentak ke kesadaran dan menemukan diriku dalam kegelapan. Bayangan orang-orang yang sebagian besar berpakaian hitam dan mengelilingiku membuatku tegang, tapi setelah sesaat aku bisa merasa lebih tenang. Ini bukan pertama kalinya aku seperti itu karena setiap kali aku bangun, aku akan terkejut dengan keadaanku saat ini. Meskipun begitu, aku bisa merasakan bahwa ini adalah awal pagi, tapi tidak ada tanda-tanda fajar.

Aku berpikir keras, tapi tidak datang dengan apa-apa. Seo In Guk telah melakukan sesuatu padaku, membuatku tidak sadar tapi setelah itu aku tidak tahu. Aku berjuang dengan ingatan, yang mana membuat kepalaku sakit. Seo In Guk… bagaimana bisa dia melakukan sesuatu seperti ini padaku dan membawaku ke tempat seperti ini? Aku tiba-tiba ingat semua yang namja itu lakukan padaku sebelum semua ini terjadi. Apa semuanya itu hanya pura-pura? Apa sebenarnya dia juga sama dengan Kyuhyun? Membohongiku?

Aku harus tahu aku dimana, bisikku dalam hati karena aku tak bisa mengatakan apapun mengingat ada orang yang berjaga di depan ruangan ini dan aku tidak mau mereka tahu aku sudah bangun.

Tidak ada cara untuk mengukur waktu, sebenarnya. Aku juga tidak bisa bergerak dengan leluasa karena tanganku terikat ke belakang juga kakiku. Bahkan untuk sekedar bangun atau mengubah posisi berbaring miringku, aku kesulitan. Tubuh bagian kiriku sudah sangat sakit karena beberapa hari aku terus berada di posisi yang sama tanpa ada kesempatan untuk menggerakkan apapun.

“Apa dia sudah bangun?” Aku mendengar suara di luar ruanganku ini, dan dengan cepat aku memejamkan mata saat pintu di depanku terbuka.

Aku bisa mendengar langkah-langkah kaki di ruangan gelap ini sebelum kemudian beberapa cahaya masuk melalui celah-celah jendela. Sepertinya dia membuat ruangan ini sedikit lebih terang sekarang, dan mau tak mau aku mengernyit saat cahaya matahari mengenai wajahku. Perlahan, aku membuka mata, berusaha terbiasa dengan terangnya ruangan sebelum akhirnya melihat Seo In Guk sedang berdiri di dekat jendela dan menghadapku. Setelah dia melihatku benar-benar bangun, dia melangkah mendekatiku dan berjongkok di depanku.

“Aku akan membantumu,” katanya padaku sambil mengulurkan tangannya dan menyentuh kedua bahuku.

“Jangan menyentuhku!” seruku dengan cepat. “Kau—“

Seo In Guk tidak mendengarkanku, dan dia membantuku bangun dari posisi berbaringku dan membuatku duduk sambil menyandar di dinding. Dia memeriksa ikatan di tangan dan kakiku setelah itu, lalu menatapku dengan lekat.

Mianhae,” katanya padaku.

Aku diam saja sambil memalingkan wajahku darinya.

“Sooyoung-ah

“Jangan berani menyebut namaku seperti itu” kataku tanpa menatapnya. “Aku bahkan tidak mengenalmu lagi, dan aku menyesal saat aku menyebutmu sebagai temanku”

Kali ini In Guk yang diam.

“Siapa sebenarnya kau? Dan apa yang kau inginkan dariku?”

In Guk menyentuh daguku, membuatku menoleh ke arahnya lagi dengan paksa meskipun aku terus menolaknya. Tapi aku kalah, dan mau tak mau aku kembali menatapnya dan itu membuatnya tersenyum. “Aku Park Doojoon. Aku tidak menginginkan apapun darimu tapi bos-ku menginginkannya”

Aku tidak memberi tanggapan apa-apa karena mencerna kata-katanya. Jadi namanya bahkan bukan Seo In Guk tapi Park Doojoon? Bagaimana bisa dia selama ini berbohong padaku? Aku masih tidak percaya jika orang yang dari dulu mengejarku, menggodaku dan belakangan ini selalu membantuku ternyata berbuat seperti ini padaku.

“Kau jangan khawatir, Sooyoung-ah. Tidak ada siapapun yang akan melukaimu disini selama aku—“ Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan mengalihkan pandangannya dariku untuk beberapa saat. Tapi kemudian dia kembali menatapku, “Tidak akan terjadi apapun padamu sebelum bos-ku datang dan mengambilnya darimu. Setelah dia mendapatkannya, aku akan memintanya untuk membiarkanmu pergi”

Aku masih tidak mengatakan apapun dan diam-diam memeriksa cincin di jariku yang ternyata masih ada disana. Aku bisa merasakan kelegaan juga kekhawatiran yang dengan cepat menguasai diriku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Kau—“

“Cincin,” selaku dengan cepat sebelum In Guk mengatakan sesuatu. “Apa maksudmu cincin yang aku miliki?”

“Itu benar,”  jawab In Guk menatapku dengan cara In Guk yang biasanya. “Aku tak tahu bahwa kau sudah mengetahuinya. Tapi itu sedikit menguntungkanku karena aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu tentang cincin yang kau miliki itu”

Aku kembali diam. Bukan karena aku tidak bisa memberikan tanggapan apapun, tapi karena aku tidak mau terlalu banyak berbicara pada In Guk.

Saat suasana di ruangan ini menjadi hening, pintu ruangan kembali terbuka dan seorang yeoja masuk sambil membawa makanan. Dia menatapku dengan sinis sambil melangkah mendekat. Dia adalah seorang yeoja yang usianya sepertinya tidak terlalu jauh dariku dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Setiap waktunya makan, dia masuk ke ruangan ini dan memberiku makan dengan tangannya karena tidak ada siapapun yang boleh melepaskan ikatan di tangan dan kakiku.

“Biar aku saja kali ini,” kata In Guk sebelum yeoja itu menyentuh makanan untukku. “Kau bisa pergi, dan laporkan aku disini”

“Baiklah,”

Aku mengawasi yeoja itu yang melangkah keluar dari ruangan dan menutup pintunya kembali dengan sedikit kasar. Detik berikutnya, suara-suara sendok mulai terdengar dan aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bibirku. Aku menelan ludah, tahu bahwa aku sangat haus dan lapar tapi aku tidak mau memakan apapun dari tangan Seo In Guk. Aku juga melakukannya saat pertama kali yeoja itu memberiku makan, dan sebagai hasilnya dia melemparkan makanannya ke arahku—padahal posisiku terbaring saat itu, dan aku kelaparan serta kehausan sepanjang hari.

“Ayo, minumlah dulu sebelum kau makan” kata In Guk yang sedikit lebih lembut. “Aku tidak mau melihatmu kelaparan seperti beberapa hari yang lalu, Sooyoung-ah. Kau dulu selalu makan banyak, ‘kan?”

Rasa sakit di bagian kiri tubuhku semakin aku rasakan saat aku kelaparan. Ini lebih baik saat aku makan dengan posisi duduk daripada berbaring miring seperti yang biasanya aku lakukan saat yeoja itu yang memberiku makan. Karena hampir setengah makanan yang dia sodorkan akan jatuh dan air minumnya membasahi bajuku.

“Itu akan lebih baik jika kau memakannya sendiri, ‘kan?” In Guk kembali berbicara meskipun aku tidak melakukan apa yang dia katakan. Tangannya bahkan masih memegang gelang di depan wajahku, menungguku untuk meneguknya dengan sabar. “Sayang sekali aku tidak bisa melepas ikatan di tanganmu karena aku khawatir kau akan melakukan sesuatu pada cincin yang terpasang di jarimu itu, jadi kau terpaksa harus selalu makan seperti ini”

Aku masih memilih untuk membungkam mulutku.

“Ayolah, Sooyoung-ah. Kau tidak mau aku memaksamu untuk makan, ‘kan?” kata In Guk terus membujukku. “Atau kau lebih suka jika Sohye yang memberimu makan? Kurasa dia bisa lebih tegas padamu”

Aku menatap In Guk dengan tajam, dan mau tak mau aku membuka mulutku. Membiarkan air yang segar itu masuk ke dalam tenggorokanku dan aku benar-benar merasa sangat lega karena rasa hausku terobati. Setelah meletakkan gelasnya di lantai, In Guk mulai menyuapiku yang terpaksa aku terima karena aku tidak mau sampai yeoja yang sekarang aku tahu bernama Sohye itu yang melakukannya.

“Kau tahu, dari dulu aku selalu ingin melakukan hal seperti ini denganmu” In Guk berbicara sambil terus menyuapiku. “Aku menyuapimu, dan kau menyuapiku. Tapi kita tak pernah melakukannya, dan itu sangat disayangkan”

“Aku tidak menyesal tidak melakukannya denganmu”

“Aku tahu,” sahut In Guk kembali memasukkan makanan ke dalam mulutku. “Kau selalu menolakku sejak pertama kali kita bertemu. Tapi itulah yang membuatku untuk terus berada di dekatmu, mengejarmu dan mengawasimu”

“Kau—“ Aku diam sesaat untuk menarik napas panjang, dan In Guk pun mengambil jeda untuk menyuapiku. “Apa kau mendekatiku dari awal karena cincin itu?” tanyaku kemudian.

“Tidak,” kata In Guk. “Aku tak tahu kau memang benar-benar memilikinya. Aku mendekati semua yeoja yang memiliki cincin yang terlihat seperti cincin yang kami cari, dan aku memastikan kau-lah yang memilikinya dengan caraku sendiri”

Satu alisku terangkat, “Dengan caramu sendiri?”

“Kau pernah mengundangku ke apartemenmu, ‘kan? Dan kau meninggalkanku disana untuk pergi bersama Yoona. Apa kau ingat?”

Aku memutar otakku untuk mengingat saat-saat itu. Aku memang beberapa kali meninggalkan In Guk maupun Yoona di apartemenku sementara aku melakukan sesuatu yang lain. Tapi kupikir aku tidak pernah meninggalkan cincinku tergeletak begitu saja di apartemen, lalu darimana dia tahu?

“Aku melihat foto eomma-mu,” kata In Guk seakan-akan bisa membaca pikiranku. “Itu foto yang sama yang bos-ku tunjukkan padaku. Tentang orang yang membuat cincin itu”

Mwo?” sahutku tidak percaya. “Kau—kau membuka-buka lemari dan laciku?”

In Guk mengangkat kedua bahu. “Jika aku tidak melakukannya, darimana aku tahu bahwa itu kau?” katanya. “Sayang sekali aku tidak bisa langsung membawamu karena Kyuhyun datang dan dia selalu mengikutimu kemanapun kau pergi” lanjutnya kembali menyuapiku yang sekarang sama sekali kau tolak.

Aku memikirkan Kyuhyun, dan aku memikirkan Yoona. “Apa yang kau lakukan pada Yoona?”

“Yoona?” ulangnya. Dia kembali menyodorkan makanannya, tapi aku menolak lagi. “Kau yakin kau tidak mau memakannya lagi? Porsi makanmu tidak pernah sesedikit ini, ‘kan?”

“Katakan padaku apa yang kau lakukan pada Yoona!”

“Yoona.. hmm—aku melukainya sedikit,” jawab In Guk menyerah memberiku makan. “Dia tidak mati, tentu saja. Tapi mungkin terluka disini” Dia menunjuk kepalanya sendiri.

Mwo? Kau memukulnya?”

In Guk mengangguk tanpa ragu dan tanpa penyesalan apapun yang bisa aku lihat di wajahnya.

“Kau benar-benar keterlaluan—“

“Aku terpaksa melakukannya,” sahutnya dengan cepat. Dia menatapku dengan lekat untuk kesekian kalinya, lalu bangkit berdiri. “Jika kau tidak mau makan lagi, baiklah. Itu tidak apa-apa,”

Aku tidak memberikan tanggapan apapun.

“Aku akan datang lagi nanti,” katanya sebelum dia melangkah pergi meninggalkanku sendirian di ruangan ini.

Begitu pintunya menutup kembali, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Jendela yang baru saja dibuka oleh In Guk tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi aku ragu tubuhku akan muat jika seandainya aku berhasil sampai di jendela itu. Meskipun begitu, tidak ada salahnya untuk mencobanya, ‘kan?

Aku mulai menggerakkan tubuhku, menyeretnya dengan perlahan dan dengan kesulitan. Biar bagaimanapun aku harus sampai di jendela itu dan mencoba melewatinya daripada aku harus tetap disini tanpa melakukan apapun dan diperlakukan seperti ini. Ya, aku lebih baik berusaha melakukan sesuatu.

**

Aku tidak bisa tidur, aku kedinginan dan akupun tidak pernah berhasil bahkan untuk sampai ke jendela di seberangku itu. Tentu saja aku hampir berhasil karena aku baru saja berdiri—dengan penuh perjuangan, dan baru akan melihat apa yang ada di luar jendela, yeoja itu—Sohye, masuk dan dengan cepat mendorongku sampai aku terjatuh dan tidak bisa bangun dari posisiku. Dia langsung menyeretku menjauh dari jendela dan aku dibiarkan dalam posisi yang sama—berbaring miring, dengan tanpa minuman dan makanan untuk seharian itu. Aku benar-benar tidak menyangka jika usahaku akan gagal, padahal aku sudah berhati-hati sekali melakukannya dengan tidak menimbulkan suara apapun meskipun seluruh tubuhku harus merasa sakit.

Aku dibiarkan sendiri sejak itu meskipun sudah ada makanan dan minuman yang diberikan padaku sehari setelahnya. Tapi sejak itu, tidak ada yang membantuku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari itu, bahkan Doojoon pun sama sekali tidak datang. Aku terpaksa harus makan dan minum dalam keadaan terikat, dan itu benar-benar membuat frustasi karena semua makanan dan minuman yang aku coba masukkan ke dalam mulutku selalu berakhir dengan aku tidak memakan atau meminumnya sama sekali. Keadaaanku saat ini memang benar-benar menyedihkan meskipun aku tidak menunjukkan pada siapapun yang datang untuk memeriksaku atau sekedar mengambil piring dan gelas, bahkan tidak pada Park Doojoon.

“Bos datang,” Aku mendengar suara berbicara diluar ruangan ini karena memang tidak kedap suara. “Kau harus membawanya keluar,”

“Baiklah,” sahut suara lainnya. “Tunggu disini,”

Pintu terbuka dan dengan cepat aku memejamkan mata meskipun aku sama sekali tidak tidur. Tanpa berusaha membangunkanku terlebih dahulu—padahal aku berharap setidaknya dia membangunkanku, dia langsung mengangkatku dari posisi berbaring menjadi berdiri. Aku cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan tapi tetap bungkap bahkan saat dia melepas ikatan kakiku dan mendorongku maju sambil menodongkan sebuah senjata api kepadaku.

“Ayo keluar,” serunya padaku.

Mau tak mau aku melangkahkan kaki untuk sesaat aku terkejut dengan perubahan dari gelap menjadi terang yang aku alami. Aku bahkan sempat berhenti melangkah karena tajamnya cahaya yang masuk ke mataku. Tapi apa yang aku lakukan ini membuat namja yang menodongkan senjata api padaku kembali mendorongku dengan kasar. Terpaksa, akupun kembali melangkah dengan setengah diseret oleh namja lainnya uang sudah menunggu di luar ruangan.

Aku menyeberangi lorong yang cukup panjang, dan selama perjalanan itu aku terus berpikir di tempat mana di Seoul dimana ada lorong panjang seperti ini tapi tidak menemukan tempat manapun di kepalaku. Ada beberapa ruangan yang aku lewati dengan penjaganya masing-masing. Kebanyakan yang aku lihat adalah namja-namja berpakaian serba hitam dan beberapa menutupi wajah mereka. Aku melihat Sohye beberapa kali dan dia sempat menatapku dengan tajam saat aku berpapasan dengannya.

Tidak banyak gagasanku untuk melarikan diri, aku berpikir dengan muram.

Kami akhirnya tiba di lorong lainnya lalu melangkah sampai ke pintu pertama lorong dan berhenti disana. Namja yang menjaga pintu itu sudah menunggu dan langsung membukakan pintunya untuk kami bertiga. Meskipun aku sama sekali tidak ingin masuk, tapi namja yang memegangi lenganku menyeretku untuk masuk ke ruangan yang sangat berbeda dengan ruangan dimana aku dikurung.

“Dudukkan dia dan ikat disana,” ucap seorang namja yang berdiri di depan jendela memunggungiku.

Tanpa menanggapi namja itu, kedua namja lainnya memaksaku untuk duduk di sebuah kursi yang sudah ada di sana. Sementara satu namja mengikat kakiku pada kaki kursi, namja yang lainnya tetap menodongkan senjata api bahkan ke kepalaku. Aku tidak bisa melakukan perlawanan apapun dan hanya membiarkan saja mereka melakukan apa yang disuruh oleh namja yang sepertinya bos mereka ini. Setelah selesai mengikat kakiku, namja yang sama melepas ikatan di tanganku lalu melekatkannya di kursi dan kemudian mengikatnya lagi.

“Sudah siap, Bos” kata namja itu setelah memastikan ikatan baik di kaki maupun tanganku kencang.

“Tinggalkan kami,”

Ne,”

Kedua namja itu membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkanku hanya bersama seseorang yang dipanggil Bos oleh mereka. Untuk beberapa saat, suasana di ruangan ini benar-benar hening dan itu memberiku kesempatan untuk berpikir kenapa orang ini menyuruh anak buahnya untuk membawaku kesini. Apa dia benar-benar hanya menginginkan cincinku saja? Atau ada sesuatu yang lain yang sebenarnya dia inginkan dariku?

Jal jinaesseo, uri Sooyoung-ie?” katanya berbicara pada akhirnya.

Aku mencelos, tapi masih diam sambil mencerna siapa kemungkinan yang memiliki suara seperti itu yang berada di sekitarku.

Aigoo… aku bertanya padamu tentang kabarmu. Kenapa kau sama sekali tdiak menjawabnya?” tanyanya lagi. “Apa mereka memperlakukanmu dengan baik selama kau disini?” Dia kembali bertanya meskipun aku belum menjawab pertanyaannya yang pertama.

Nugu.. nuguseyo?

Ah, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Baiklah, itu tidak apa-apa karena mendiang orang tuamu juga selalu seperti itu” sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. “Tentu saja… kau anak mereka. Aku benar, ‘kan?” lanjutnya sambil membalikkan tubuhnya.

Aku mengawasi namja itu seraya mengatasi debaran jantungku yang semakin kencang. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku takut dia adalah seseorang yang aku kenal atau dekat denganku. Karena aku benar-benar tidak mau hal seperti itu kembali terjadi. Mataku membelalak saat ternyata aku memang mengenalinya karena dia adalah—

“Kang Dae Shik ahjussi?” celetukku begitu saja.

Geurae, ini aku” jawab Kang Dae Shik sambil tersenyum ke arahku. Dia melangkah mendekatiku masih dengan senyum yang sama. “Jal jinaesseo?” Dia kembali bertanya.

“Bagaimana bisa—“

Kang Dae Shik menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau terlihat semakin kurus, Sooyoung-ah. Kurasa mereka tidak memperlakukanmu dengan baik, ‘kan?”

Aku diam saja.

“Apa kau terkejut? Apa kau sangat terkejut melihatku sampai kau tidak bisa mengatakan apa-apa?” Dae Shik sama sekali tidak memedulikan sikap diamku. Dia memutariku dua kali, lalu berhenti di belakangku. “Kau memakainya, tentu saja” katanya kemudian.

Andwaeyo!” seruku saat merasakan Kang Dae Shik meraba lenganku, lalu dia berhenti di jari manisku. “Kau tidak boleh mengambilnya,”

“Kenapa aku tidak boleh?”

“Itu peninggalan eomma! Kau tidak boleh mengambilnya”

Aigoo, jinjja? Peninggalkan Yeonhee?” seru Dae Shik langsung menanggapiku. Aku dengan cepat menggenggamkan tanganku saat dia mulai berusaha melepaskan cincin itu dari jariku. Tapi kemudian, rambutku di tarik dan akupun menjerit karena rasa sakit yang aku rasakan di kulit kepalaku. “Kau seharusnya tidak melawanku, Sooyoung-ah, atau kau akan berakhir seperti kedua orang tuamu”

Aku semakin mengepalkan tanganku, dan Kang Dae Shik semakin menarik rambutku. Setelah hanya menahannya selama beberapa menit, pada akhirnya aku menyerah dan merelakan cincin itu terlepas dari jariku. Begitu mendapatkan cincin itu, dia melepaskan rambutku dan kembali berdiri di hadapanku dengan senyum puas di wajahnya. Dia memamerkannya padaku dan aku sama sekali tidak bisa tidak menunjukkan kebencianku padanya karena memegang cincin peninggalan eomma-ku itu.

“Seharusnya aku sudah mendapatkan ini sejak beberapa tahun yang lalu saat aku menghabisi Yeonhee dan—“

“Kau yang membunuh eomma-ku?” selaku terkejut.

Kang Dae Shik menyadari keterkejutanku, lalu dia menatapku dengan lekat. “Geurae, aku yang melakukannya,” katanya tanpa penyesalan apapun.

“Bagaimana—bagaimana bisa kau melakukannya pada eomma-ku?!” seruku teringat akan kejadian itu. Bagaimana eomma-ku meregang nyawa dan aku bersembunyi sambil memegangi cincin eomma dan ketakutan. “Kenapa kau membunuhnya, ahjussi?! Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya hanya karena sebuah cincin? Kenapa kau tidak membiarkannya hidup?!”

“Kau pikir aku melakukannya hanya karena sebuah cincin?” sahut Kang Dae Shik tanpa melepaskan pandangannya dariku. “Aku mencintai Yeonhee! Aku mencintainya tapi dia memilih orang lain! Apa kau bahkan tidak menyadari itu?!”

Aku diam saja, mencerna kata-kata Kang Dae Shik itu. Bagaimana bisa dia mencintai eomma dan membunuhnya? Bagaimana bisa?

“Aku tidak akan melukaimu, tentu saja. Karena kau—kau adalah putrinya meksipun kau juga putrinya bersama orang lain yang juga temanku,” katanya melanjutkan berbicara. “Aku akan melepaskan setelah semua ini berakhir dan setelah—“

“Apa kau juga membunuh appa-ku?” seruku memotong kalimatnya yang belum selesai.

Ada jeda sesaat, tapi kemudian dia menjawab. “Tidak, aku tidak melakukannya” katanya sambil membalikkan badan. “Itu perbuatan orang lain, tapi bukan aku”

“Aku—“

Tanpa menungguku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, Kang Dae Shik melangkah pergi meninggalkanku. Membiarkanku sendiri dengan keterkejutan yang sama sekali tidak bisa aku terima. Bagaimana bisa Kang Dae Shik membunuh eomma? Dia yang membuatku kehilangan eomma, dan membuat hubunganku dengan appa menjadi regang. Dia sekarang ada di depanku tapi aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku meronta, berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakiku tapi usahaku sia-sia. Aku hanya bisa menangis sambil mengingat kenanganku bersama eomma dan appa yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan lagi. Aku menangis karena tidak ada yang bisa aku lakukan dan terjebak di tempat seperti ini. Aku menangis karena aku kehilangan satu-satunya peninggalan eomma. Aku menangis karena semua yang terjadi dalam hidupku.s

__

Kyuhyun POV

Eo, aku tahu, Sungjae-ya” kataku sedikit sebal karena sudah berkali-kali dia memperingatkanku untuk tidak melakukan sesuatu yang ceroboh. “Sudah kukatakan aku hanya mencarinya di tempat-tempat yang kau temukan dan memastikannya sendiri”

Ya! Kau kenapa tidak sabar saja menunggu—“

“Aku tidak bisa!” seruku memotong perkataan Sungjae. “Ini sudah lebih dari seminggu sejak aku kehilangan Sooyoung dan tidak tahu dimana dia. Tidak ada tanda-tanda apapun sampai sekarang, bagaimana bisa aku menunggu?”

“Tetap saja, kau seharusnya pada rencana awal kita” sahut Sungjae. “Aku bahkan sedang mencarinya lebih dalam sampai ke basic data NSS, mencuri jaringan mereka dan aku hampir berhasil melakukannya. Kau lebih baik cepat kesini,”

“Aku lebih baik mencarinya seperti ini daripada harus duduk gelisah disana sambil menunggumu mengotak-atik komputermu” jawabku. “Kkeut—“ Aku langsung mematikan sambungannya dan meletakkan ponselku ke kursi mobil di sebelahku.

Aku menarik napas panjang, lalu menambah kecepatan mobilku yang saat ini melintas di wilayah Yeoju dan melewati lingkungan rumah Sooyoung yang benar-benar sepi. Hanya ada beberapa orang yang beberapa orang yang berjaga di sekitar rumah itu dan semuanya berseragam tentara. Aku sama sekali tidak berhenti, dan terus melaju sampai ke kota lainnya. Meskipun tanpa tujuan, aku tetap tidak berhenti melakukannya sampai aku mendapatkan petunjuk dimana Sooyoung berada.

Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan ini memang sia-sia, tapi aku lebih merasa tenang berada di jalanan seperti ini daripada harus duduk diam dan menunggu. Yeojin memang sudah bergerak bersama pasukannya, sementara Sungjae terus berkutat dengan komputernya mencari keberadaan Sooyoung dengan caranya sendiri.

Ponselku kembali berdering saat aku baru saja meninggalkan kota Yeoju. Aku melirik ke arahnya untuk memeriksa siapa yang menelepon karena jika itu Sungjae, aku sama sekali tidak akan mengangkatnya. Tapi ternyata itu Yoona, maka dengan cepat aku memasang earphone kembali ke telingaku lalu menekan tombol jawabnya tanpa mengubah kecepatan laju mobilku.

Yeoboseyo,” sapaku kemudian.

Ne, yeoboseyo. Eodiseoyo?

“Perbatasan Yeoju. Waegeuraeyo?

“Aku melihat Seo In Guk,”

Ne? Eodi—

“Di apartemennya,” Yoona langsung menyela perkataanku. “Aku sekarang sedang mengikutinya dan kupikir aku akan bisa tahu dimana Sooyoung jika mengikutinya”

“Kau sedang mengikuti Seo In Guk?”

Majayo,” jawab Yoona. “Dia baru keluar dari Yongin dan sepertinya menuju ke Busan dari jalan yang dia ambil”

Mwoyo? Busan?”

Em. Itu sudah pasti Busan,”

“Tapi bagaimana—“ Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena memikirkan kemungkinan Sooyounng juga ada di Busan. “Yoona-ssi, kau harus berhati-hati. Aku akan segera menyusulmu ke Busan jika itu memang harus”

Arraseoyo, aku akan berhati-hati. Aku tidak akan membiarkannya melukaiku untuk kedua kalinya karena sekarang aku tahu siapa dia sebenarnya”

“Aku tutup dulu teleponnya karena ada telepon lainnya yang masuk,” kataku lalu segera mengakhiri percakapanku dengan Yoona dan menerima telepon yang lain. “Yeoboseyo,”

Eodiya?”

“Di jalan, wae?”

“Sungjae menemukan markas Black Dragon,” ucap Yeojin memberitahuku. “Aku sedang dalam perjalanan ke garasinya jadi kau sebaiknya kesana. Setelah itu kita bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi mereka”

“Kau pergilah kesana dan beritahu aku dimana markas mereka jadi aku bisa langsung mendatanginya dan menyerang markas mereka”

“Tidak, kau tidak akan datang kesana sendirian” sahut Yeojin. “Aku akan menunggumu di garasinya Sungjae” katanya sambil menutup sambungan teleponnya.

Aku memperlambat laju mobilku, lalu menepikannya di pinggiran jalan. Aku memikirkan Sooyoung, lalu Black Dragon lalu kembali memikirkan Sooyoung. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mendesah panjang sambil mempertimbangkan tindakanku selanjutnya. Setelah beberapa saat, akupun segera memutar kemudiku untuk berbalik ke arah rumah Sungjae dimana kedua temanku akan menungguku.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk—pada akhirnya aku sampai di garasi rumah Sungjae. Saat aku memasukinya, Yeojin sudah ada disana sedang berdiri di depan komputer Sungjae sambil membicarakan sesuatu yang serius. Tanpa menunggu apapun, aku segera menghampiri mereka dan bergabung dengan apapun yang sedang mereka bicarakan. Aku mendengarkan, tapi mataku terus menatap ke satu titik di layar kompute yang terus menyala merah.

“Dimana itu?” tanyaku pada akhirnya saat kedua temanku ini sama-sama diam. “Dimana markas Black Dragon?

“Dermaga Dangjin” jawab Yeojin. “Ada banyak bangunan terlantar disana meskipun itu dermaga yang cukup ramai. Tapi mereka pasti menemukan satu tempat disana yang bisa dijadikan markas mereka”

“Jadi? Dimana tepatnya?”

Sungjae mengangkat kedua bahunya, “Kita tidak tahu” katanya. “Aku hanya bisa menemukan sejauh ini karena aku tidak memiliki aksen lebih jauh dari ini. Kau tahu sendiri bagaimana sistem di NSS itu”

Aku mengangguk mengerti, “Kalau begitu, haruskah kita kesana dan memeriksanya?”

“Tidak,” Yeojin menjawabnya dengan tegas. “Kita tidak akan kemanapun karena bukan itu prioritas sekarang”

“Lalu untuk apa kau menemukannya jika kita tidak akan melakukan apapun? Kau tahu Black Dragon itu adalah kelompok yang membunuh orang tuaku. Aku juga berjanji untuk membalas dendam pada mereka dan—“

“Kau lebih mementingkan dendammu daripada keselamatan Sooyoung sekarang kalau begitu?” potong Yeojin sebelum aku selesai berbicara. “Aku memang tahu kau memiliki dendam pada mereka, tapi kau juga harus mempertimbangkan bahwa mereka pasti memiliki banyak orang yang menjaga disana. Kita tidak bisa kesana hanya bertiga karena itu sama saja bunuh diri. Lalu siapa yang akan menyelamatkan Sooyoung jika kita bertiga mati disana?”

Aku diam mempertimbangkan semua yang Yeojin katakan. Ada kebenaran dalam perkataannya yang tidak bisa aku abaikan begitu saja. Meskipun begitu aku sangat ingin balas dendam atas kematian orang tuaku, tapi aku juga ingin menyelamatkan Sooyoung.

“Kau bisa membalaskan dendammu setelah kita menyelamatkan Sooyoung, teman” Kali ini Sungjae yang berbicara. “Lagipula pembalasan dendam seperti apa yang kau inginkan? Membunuh mereka seperti mereka membunuh orang tuamu?”

“Membunuh tidak selamanya dibalas dengan membunuh, Kyuhyun-ah” sambung Yeojin. “Apalagi kau seorang perwira, apa itu yang kau dapatkan selama kau melakukan pendidikan sebagai seorang perwira? Tidak, bukan?”

Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Aku tahu,” kataku. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Yeojin menoleh ke arah Sungjae, lalu menganggukkan kepala sebelum dia menatapku. “Aku akan mengirim pasukan ketigaku untuk mematai-matai tempat itu dan menghubungi Han Sojang untuk melakukan pengepungan dan menyergap mereka”

“Itu—“

“Itu cara terbaik yang bisa kita lakukan, Kyuhyun-ah” Untuk kesekian kalinya perkataanku disela oleh kedua temanku ini. “Aku tidak mau appa-ku tahu bahwa kita melakukan pencarian sendiri. Apalagi masalah ini sudah ditangani oleh militer kita, jadi sudah seharusnya kita memberitahukannya untuk mereka bisa menangkap mereka yang sudah menyusup ke negara kita”

“Jadi katakan padaku apa yang seharusnya aku lakukan sekarang!” seruku sedikit menaikkan nada bicaraku. “Aku tidak bisa hanya menunggu seperti ini dan tidak melakukan apapun! Kalian seharusnya tahu itu!”

Tidak ada tanggapan baik dari Sungjae maupun Yeojin.

“Lebih baik aku pergi ke Busan,” kataku sambil melangkah menjauh dari kedua temanku.

Jamkkaman,” Yeojin menahan lenganku dan mencegahku untuk pergi. “Busan? Kenapa kau pergi ke Busan?”

“Seo In Guk,”

“Park Doojoon maksudmu?” sambung Sungjae sambil bangkit dari kursinya. “Dia di Busan?”

Aku mengangguk, “Siapa tahu Sooyoung juga ada disana, ‘kan? Mungkin dia ditahan di markas FFO atau tempat manapun dimana Park Doojoon berada. Aku harus mencari tahu itu, dan kalian tidak akan menahanku untuk pergi kesana”

“Kalau begitu, biarkan kami pergi bersamamu” kata Yeojin tanpa meminta persetujuan dari Sungjae terlebih dahulu. “Kita akan menemukan Sooyoung-ssi terlebih dahulu, setelah itu kita akan membereskan mafia-mafia yang menyusup ke negara kita”

Aku kembali menganggukkan kepala, “Kalau begitu, ayo kita pergi”

Tanpa aku minta dua kali, Yeojin dan Sungjae mengikutiku keluar dari garasi dan masuk ke dalam mobilku yang terparkir tepat di depan rumah Sungjae. Aku bergegas menyalakan mesin mobilnya dan dengan gerakan cepat meninggalkan kawasan rumah Sungjae untuk pergi ke arah Busan meskipun aku tidak tahu di Busan mana tepatnya. Setidaknya Yoona sedang mengikuti In Guk dan aku bisa bertanya padanya setelah itu.

__

Sooyoung POV

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidur, tapi saat aku membuka mata, aku melihat In Guk sudah duduk di depanku di kursi yang di duduki oleh Kang Dae Shik beberapa hari yang lalu. Ekspresinya terlihat cemas, sangat berbeda dengan dia yang sebelumnya mendatangiku di ruangan yang gelap itu. Meskipun sebenarnya aku ingin bertanya padanya, aku memilih untuk diam, mengabaikan ekspresinya yang terus memandangiku.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanyanya pada akhirnya. “Kenapa kau tidak memberitahuku, Sooyoung-ah?”

Aku memalingkan wajah, “Memberitahumu untuk apa?” kataku sinis.

“Untuk aku bisa menyelamatkanmu dan mengeluarkanmu lebih cepat dari tempat ini,” jawabnya dengan nada seperti In Guk yang selama ini aku kenal. “Jika seperti ini, aku akan semakin sulit melakukannya”

“Apa?”

In Guk diam sesaat, membuatku mau tak mau menolehkan kepala ke arahnya yang terlihat sedang berpikir. “Kau memberikan cincin palsu, ‘kan?”

Aku mencelos, bagaimana dia tahu?

“Katakan padaku, Sooyoung-ah. Kenapa kau memberikan cincin palsu pada Dae Shik hyungnim? Kenapa kau melakukannya?”

“Lalu aku harus memberikannya begitu saja? Kau tahu apa yang ada di dalam cincin itu, ‘kan?”

“Dan kau lebih memilih untuk menyimpan cincin itu daripada menyimpan nyawamu sendiri? Apa itu yang ingin kau katakan padaku?”

“Jika itu memang yang harus aku lakukan, kenapa aku tidak melakukannya? Orang tuaku bahkan harus kehilangan nyawa untuk menjauhkan cincin itu dari orang-orang sepertimu lalu kenapa kau pikir aku tidak akan melakukan hal yang sama?”

Seo In Guk menatapku dengan tajam. “Dimana kau menyembunyikannya?”

“Kau pikir aku akan memberitahumu?”

“Kau harus memberitahuku, Sooyoung-ah. Jika tidak, maka kau—“

“Aku apa?” sahutku dengan cepat, menantangnya. “Apa yang akan terjadi padaku? Apa kau pikir aku akan takut? Huh?”

“Choi Sooyoung!” seru In Guk keras sampai dia bangkit dari duduknya. Dia memejamkan matanya sesaat, menghela napas singkat lalu kembali duduk. “Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, Sooyoung-ah. Kau harus tahu itu. Aku sudah berusaha keras agar tidak ada yang melakukan apapun padamu disini, dan aku tidak mau mereka akhirnya akan membuatmu menderita. Aku tidak mau itu sampai terjadi”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak mengeluarkanku saja dari sini?”

“Jika aku melakukannya, bukan hanya aku yang akan mati tapi juga dirimu”

“Itu pilihan yang lebih baik daripada harus terjebak disini”

“Tidak, itu sama sekali tidak bagus” In Guk membantah perkataanku. Dia kembali menarik napas sebelum berbicara, “Sekarang lebih baik kau katakan padaku dimana kau menyembunyikan cincin itu, jadi aku bisa membawamu keluar dari sini. Aku akan bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk mengeluarkanmu dari sini”

“Aku tidak akan memberitahukan apapun untuk keuntunganku sendiri,”

“Lalu kau memilih untuk disiksa disini? Kau memilih mati disini?”

Aku belum sempat menjawab apapun karena tiba-tiba sekelompok orang, lebih dari sepuluh masuk ke ruangan. Seo In Guk langsung berdiri dari tempatnya dan tidak melepaskan pandangannya dariku saat dia melangkah mundur lalu bergabung dengan orang-orang yang baru datang itu. Kang Dae Shik berdiri di hadapanku, ekspresinya terlihat marah dan kemudian sebuah pukulan keras aku dapatkan di pipiku darinya.

“Beraninya kau!” serunya.

Aku memalingkan wajah tapi Sohye memegangi wajahku, memaksaku untuk kembali menatap Kang Dae Shik. Di belakangnya, aku melihat ekspresi cemas In Guk yang sudah sangat aku hapal sejak dulu.

“Beraninya kau memberiku cincin palsu, Choi Sooyoung! Beraninya—“ Kang Dae Shik kembali memukulku dan Sohye langsung menolehkan kepalaku dengan cepat setelahnya. “Katakan padaku dimana kau menyembunyikannya?! Katakan padaku, kau ***!” Sekali lagi aku mendapatkan pukulan yang sama.

Aku ingin menangis, tapi aku menahannya. Meskipun pipiku terasa panas dan sakit, aku tidak akan pernah menunjukkannya di depan orang-orang ini. Aku juga tidak akan mengatakan apapun dimana aku menyembunyikan cincin eomma yang sebenarnya.

Hyungnim!” In Guk menyela saat Kang Dae Shik mengangkat tangannya, bersiap untuk memberikan pukulannya lagi padaku. Dia melangkah maju, “Biar aku—aku yang berbicara padanya. Dia pasti akan memberitahuku, hyungnim. Cukup berikan aku waktu untuk berbicara padanya”

“Kau pikir hanya dengan berbicara padanya dia akan memberitahumu? Kau lihat bagaimana kerasnya dia?” sahutnya. “Apa yang akan kau bicarakan padanya? Kita tidak punya banyak waktu! Lusa mereka akan datang dan kesepakatan kita harus berjalan dengan baik jika kau ingin kita hidup”

“Aku akan memastikan dia memberitahuku, hyungnim

Kang Dae Shik dan In Guk saling menatap tajam, dan aku tak tahu kenapa aku lebih percaya pada In Guk sekarang. Percaya bahwa dia tidak akan pernah memukulku sekalipun aku tidak akan pernah memberitahunya dimana cincin itu aku sembunyikan. Jantungku berdebar kencang, karena jika In Guk tidak berhasil maka aku harus bersiap menerima pukulan apapun yang akan datang padaku selanjutnya.

“Baiklah, kalau begitu” kata Dae Shik pada akhirnya. “Lagipula kau yang membawanya padaku, jadi aku akan memberimu waktu 15 menit untuk dia memberitahukannya padamu. Kau mengerti?”

“Aku mengerti, hyungnim” jawab In Guk dan aku tidak bisa tidak menahan kelegaanku karenanya.

“Ayo kita biarkan mereka. 15 menit, ingat”

In Guk menganggukkan kepala, lalu Dae Shik pergi bersama orang-orang yang datang padanya. Begitu kami hanya berdua, namja itu bergegas menghampiriku dan memeriksa wajahku. Aku membiarkannya melakukannya tapi tidak mengatakan apapun atau menunjukkan ekspresi apapun.

“Aku sudah memberitahumu, ‘kan? Sekarang kau harus memberitahuku, Sooyoung-ah” katanya kemudian. “Kau benar-benar harus memberitahuku, jika tidak mereka akan melakukan yang lebih dari ini”

“Aku tidak peduli apa yang akan mereka lakukan padaku,”

“Kang Dae Shik hyungnim tidak akan ragu untuk membunuhmu jika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan—“

Geurae, maja, seperti dia melakukannya pada eomma-ku” sahutku sinis.

In Guk kembali menatapku dan aku tidak bisa untuk tidak membalas tatapannya itu. Tapi untuk waktu yang lama dia tidak mengatakan apapun padaku dan aku khawatir jika 15 menit sudah berlalu karena lamanya dia diam sambil terus memandangiku.

“Doojoon-ssi… ani, Seo In Guk” kataku berbicara pada akhirnya karena tidak mau terus diam dan menunggu. “Jika kau memang temanku dan jika semua hal yang katakan padaku dulu itu memang tulus dari hatimu, bukan karena kepura-puraan.. kau seharusnya tahu aku orang seperti apa dan apa yang harus kau lakukan”

In Guk masih tetap diam.

“Kau tahu, aku seseorang yang keras kepala jadi sampai kapanpun aku tetap tidak akan memberitahukan dimana aku menyimpan cincin eomma-ku itu. Aku tidak akan mengatakan apa-apa sekalipun mereka melakukan sesuatu padaku,” Aku melanjutkan. “Aku tidak akan memberikan apa yang sudah dibuat eomma-ku dan aku akan melindunginya seperti apa yang dia katakan padaku. Aku akan melindunginya dengan nyawaku seperti yang dia lakukan” kataku lagi sambil mengingat apa yang aku temukan di kamar Kyuhyun di rumahku yang membuatku mau tidak mau menerima fakta bahwa eomma memang seorang agen dan dia menciptakan sesuatu di dalam cincinnya.

“Choi Sooyoung”

Aku diam saja, karena sekarang pikiranku tertuju pada eomma dan cincin yang dia ciptakan. Aku menyembunyikannya dan aku harap tidak ada siapapun yang menemukannya, bahkan sekalipun itu agen CIA. Aku tidak akan mempercayakan pada siapapun tentang cincin itu dan akan tetap membiarkannya disana meskipun pada akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini.

Times up, dude!” Sebuah suara tegas dan besar terdengar disertai pintu yang membuka. Sekumpulan orang yang sama kembali masuk dengan Kang Dae Shik berada di barisan paling depan.

“Apa kau berhasil? Dia memberitahumu?” tanya salah satu namja yang membawaku dari ruangan gelap ke tempat ini.

Aku menatap In Guk yang sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun. Aku bergerak gelisah diantara tangan dan kakiku yang terikat saat semua mata terfokus pada In Guk yang hanya berdiri diam. Saat mereka mengalihkan perhatiannya padaku, aku segera menghentikan apa yang aku lakukan dan membalas tatapan mereka dengan debaran jantungku yang tidak mau berhenti menggedor dadaku. Aku tidak takut—tentu saja, aku hanya gelisah tentang apa yang akan aku terima jika memang apa In Guk katakan benar.

“Kau! Dasar %*^&!” umpat Kang Dae Shik yang kembali melayangkan tinjunya padaku. Dia bahkan tidak berhenti untuk mengumpat atau mengatakan sesuatu dan terus memukuliku, dan tidak ada yang berniat untuk menghentikannya.

Ini pertama kalinya aku menerima pukulan seperti ini dan bertubi-tubi. Aku juga bisa merasakan darah yang keluar dari mulutku tapi tidak ada apapun yang bisa aku lakukan. Meskipun begitu, aku sempat melihat In Guk yang gelisah di tempatnya berdiri dan seperti ingin menghentikan Kang Dae Shik yang tidak berhenti memukulku tapi seakan ada sesuatu yang menahannya. Setelah beberapa kali mendapat pukulan dan menerima rasa sakit di wajahku juga kepalaku yang pusing, pada akhirnya aku terjatuh dengan keras dengan kursi yang masih melekat dengan tubuhku.

Aku mengerang kecil tapi kemudian beberapa tendangan aku rasakan di perutku dan punggungku, dan tidak berhenti sampai di situ. Aku tak tahu apa ini benar-benar akan menjadi akhir dari hidupku atau bukan. Jika iya, maka aku akan senang karena pada akhirnya aku akan bertemu kedua orang tuaku. Jika tidak—mampukah aku bertahan lebih lama dari ini?

“Buat dia membuka kembali matanya,” Aku bisa mendengar suara Kang Dae Shik berbicara, dan beberapa detik selanjutnya aku membuka mataku dengan terpaksa dan dalam keadaan basah karena mereka menyiramku dengan air. “Berikan dia suntikan”

Hyungnim! Kau tidak—“

“Berikan dia suntikan, kataku!”

Ne, algeseumnida

Aku setengah tidak mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Meskipun begitu, aku masih bisa mendengar dengan jelas bahwa mereka akan memberiku sebuah suntikan. Tapi suntikan apa? Dan apa yang akan terjadi padaku selanjutnya?

__

Kyuhyun POV

Aku memandangi wajah Yoona lekat-lekat saat kami mulai duduk di dalam sebuah restoran di pinggir salah satu pantai di Busan. Di sebelahku duduk Sungjae, sementara di sebelah Yoona duduk Yeojin. Aku sempat beberapa kali mendapati Yoona yang terlihat tidak nyaman berada di sebelah Yeojin. Beberapa kali juga aku ingin bertanya padanya, tapi aku mengurungkankan niatku karena itu bukan sesuatu yang penting untuk dilakukan sekarang. Karena ini adalah pertemuan pertamaku dengan Yoona setelah dia tiba di Busan terlebih dahulu dan melakukan apapun yang dia lakukan di kota ini.

“Jadi—?” Yeojin memulai pembicaraan sambil mengaduk minuman di depannya. “Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Aku mengangkat bahu, dengan maksud menunggu Yoona yang berbicara. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak akan mengatakan apapun jika tidak ada yang memulainya terlebih dahulu. Meskipun begitu, aku masih bisa melihat kegelisahan di wajah Yoona yang sama sekali tidak bisa aku artikan.

“Yoona-ssi, gwenchanayo?” tanyaku setelah menunggu beberapa saat. “Apa ada sesuatu yang membuatmu khawatir atau bagaimana?”

Yoona menundukkan wajahnya sesaat, lalu aku melihatnya menarik napas pelan. Dia melakukannya beberapa kali sebelum akhirnya mendongakkan kembali wajahnya. “Aku—aku bertemu In Guk,”

Mwoyo?”

Yoona kembali menarik napasnya, “Dia—dia tahu bahwa aku mengikutinya dari Seoul dan—“

“Apa dia melukaimu? Atau apa dia mengancammu?” sela Yeojin sambil memegangi bahu Yoona yang membuat yeoja itu tersentak kaget. “Ah, mianhaeyo, Yoona-ssi

Ani… gwenchanayo” celetuk Yoona langsung memberikan tanggapan. Dia menatapku sesaat, lalu berpindah pada Sungjae dan kembali pada Yeojin. “Dia sama sekali tidak mengancamku atau melukaiku. Bahkan dia menyuruhku untuk kembali ke Seoul karena jika aku terus mengikutinya… katanya mungkin aku akan dalam bahaya”

Kedua alisku saling bertaut, “Dia berkata seperti itu padamu?”

Yoona mengangguk.

“Kenapa dia berkata seperti itu?” Kali ini aku bertanya pada Yeojin dan Sungjae tapi namja disebelahku ini sudah kembali sibuk dengan laptop-nya. Aku hanya melihat sekilas apa yang sedang dia lakukan tapi aku benar-benar tidak mengerti. Jadi, aku kembali mengalihkan perhatianku pada dua yeoja di depanku. “Kenapa menurutmu, Yeojin-ah?” tanyaku meminta pendapat.

Geurissae…” jawabnya. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagunya, bergulat dengan pikirannya sendiri. “Apa tidak ada yang dia katakan padamu selain itu? Atau ada sesuatu yang menurutmu mencurigakan tentangnya? Siapa tahu dia menyinggung Sooyoung-ssi

Yooan diam sesaat dan berpikir. “Tidak. Karena saat itu dia—dia sedang di hotel”

“Hotel?”

Yoona kembali menganggukkan kepala. “Dia di hotel saat itu dan menemui seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang dia temui karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Lalu dia—dia melihatku, jadi aku bergegas pergi dan aku terkejut karena dia sudah berdiri di depanku, menghalangiku masuk ke dalam mobil” jelasnya.

“Lalu?”

“Dia memintaku untuk tidak mengikutinya lagi, dan memaksaku masuk ke dalam mobil. Mau tak mau aku pergi meninggalkannya karena dia berdiri disana dengan tatapan yang sama sekali berbeda dengan tatapan In Guk yang aku kenal” Yoona melanjutkan. “Aku tak tahu dia pergi kemana atau apa yang dia lakukan setelah itu. Meskipun aku berusaha mencarinya, aku sama sekali tidak menemukannya. Aku benar-benar minta maaf, Kyuhyun-ssi

Gwenchanayo, tidak perlu meminta maaf padaku, Yoona-ssi. Kau tidak bersalah dan kau sudah melakukan apapun yang kau bisa. Aku justru kagum dengan keberanianmu setelah kau dilukai seperti itu,” kataku dengan cepat memberikan tanggapan. “Kau mungkin akan kembali terluka jika kau terus mengikutinya. Itu benar-benar sudah cukup bahwa dia sedang melakukan sesuatu di Busan. Maja, Yeojin-ah?”

Maja,” sahut Yeojin. “Semua yang kau lakukan itu sudah sangat membantu kita menemukan jejak Sooyoung-ssi. Paling tidak kita memperkecil lingkup pencarian kita di bagian selatan ini”

Yoona mengangguk singkat. “Meskipun aku kehilangan jejaknya, aku mengingat nomor plat mobilnya. Kupikir itu bisa membantu, jadi—“

Sungjae mendongakkan kepalanya dari laptopnya, “Kau mencatat nomor plat mobilnya? Bisa kau berikan padaku?”

Yoona mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Sungjae. Aku hanya memperhatikannya sekilas apa yang dia lakukan, dan tidak perlu bertanya karena dia pasti sedang berusaha melacak dimana mobil itu. Perhatianku teralih pada Yoona dan Yeojin yang juga sedang mengamati Sungjae, dan entah kenapa suasana diantara kami tiba-tiba menjadi canggung karena tidak ada dari kami yang mengatakan sesuatu untuk waktu yang lama.

Aku mendesah panjang, berusaha untuk tidak memikirkan Sooyoung sebisa mungkin. Kekhawatiranku semakin besar tentang keadaannya, dan tidak ada yang bisa aku lakukan sampai saat ini. Meskipun aku sangat ingin melakukan sesuatu, tapi aku tidak tahu bagaimana. Tidak ada petunjuk satupun dimana Sooyoung berada atau apa yang sedang dia lakukan atau bahkan keadaannya. Aku hanya bisa berharap dia bisa bertahan sampai aku menemukannya dan membalas apa yang terjadi padanya. Tapi apa dia bisa bertahan? Aku sama sekali tidak tahu.

Yedeura!” seru Sungjae tiba-tiba, cukup mengejutkanku yang sedang berpikir tentang Sooyoung. “Aku—kurasa aku menemukannya! Aku menemukan mobil yang digunakan Park Doojoon-ssi

Jinjja?” sahut Yeojin sambil bergegas menghampiri Sungjae, lalu Yoona-pun mengikuti. “Dimana kau menemukannya? Apa dia meninggalkan Busan? Kau tahu, kita tidak boleh kehilangannya”

“Tidak! Itu tidak meninggalkan Busan sama sekali,” kata Sungjae memberitahu. “Dia sedang dalam perjalanan, lihat ini” lanjutnya seraya menunjuk titik merah yang terus berkelap-kelip di layar komputernya yang menurutku adalah mobil In Guk.

Kami berempat terus mengawasi titik merah itu yang terus bergerak mengikuti garis panjang—yang sepertinya jalan. Tidak ada apapun yang kami katakan saat melakukannya karena seluruh perhatian kami tertuju pada layar laptop Sungjae. Setelah beberapa saat, titik itu kemudian berhenti bergerak dan cukup lama berada di tempat yang sama. Lalu Sungjae melakukan sesuatu di laptopnya dan tiba-tiba muncul sebuah gambar mobil dengan nomor plat yang sama yang diberikan Yoona—yang sekarang tergeletak di samping laptop, serta lingkungan yang ada disekitarnya.

Jamkkaman—“ celetuk Yeojin memecah keheningan. “Bukankah itu disini? Lihat, itu toko yang persis ada di seberang restoran ini ‘kan?”

Geurae?” sahutku terkejut.

Oh, maja, maja. Itu memang toko yang persis di seberang restoran ini,” kata Sungjae. “Aku melihatnya sebelum masuk ke sini dan berniat mengajak kalian masuk untuk melihat-lihat jika kita memiliki waktu luang”

“Tapi.. bukankah tidak mungkin dia berada disini?”

“Kenapa tidak mugkin?” celetuk suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang kami. “Kenapa tidak mungkin aku berada disini?”

Kami berempat menolehkan kepala dan tidak percaya melihat In Guk sedang berdiri di belakang kami. Untuk sesaat aku hanya diam melihatnya, tapi kemudian aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menerjangnya. Dia terjatuh menabrak meja karena apa yang aku lakukan, dan aku segera mengangkatnya lalu memberikan pukulan tepat di wajahnya. Tidak berhenti disana, aku terus menghujaninya dengan pukulan-pukulan yang langsung membuat suasana di restoran menjadi kacau. Aku bahkan sempat melihat pengelola restoran yang bergegas mendatangi keramaian, tapi tidak terlalu memedulikan mereka karena tanganku tidak mau berhenti untuk terus memukuli In Guk yang sama sekali tidak memberikan perlawanan.

“Kyuhyun-ah, geumanhae!” Itu suara Yeojin. “Kau hanya akan menarik perhatian disini,”

Aku mengabaikan itu dan kembali melayangkan tinjuku, mengeluarkan semua emosiku yang sudah aku tahan selama lebih dari seminggu ini karena tidak tahu keadaan Sooyoung dan keberadaannya. Satu-satunya orang yang tahu ada di depanku sekarang dan dia yang membawanya pergi, jadi aku tidak akan pernah berhenti sampai seluruh emosiku menghilang.

“Kau tidak akan mendapatkan apapun meskipun kau memukuliku sampai mati” ucap In Guk dengan darah dimana-mana di wajahnya. Aku menghentikan tanganku yang sudah siap untuk memukulnya lagi, tertahan dengan apa yang dia katakan. “Kau tidak akan pernah tahu dimana Sooyoung jika kau terus memukuliku,” In Guk kembali berbicara.

Mwo?”

“Kyuhyun-ah” Sungjae menarikku menjauh dari In Guk dan memegangi lenganku dengan erat. “Jangan sia-siakan tenagamu disini, dan jangan membuat keributan” katanya dengan pelan di telingaku.

Aku mendengarkan Sungjae tapi tidak pernah melepaskan pandanganku dari Seo In Guk yang berjuang untuk berdiri sendiri. Keadaannya sangat parah setelah aku memukulinya bertubi-tubi. Ada banyak darah di wajahnya dan juga kemejanya, tapi sepertinya dia mengabaikan itu. Dia bahkan tidak bersusah payah untuk mengusap darah di mulutnya dan berdiri dengan sedikit sempoyongan. Itulah kenapa dia memegangi sebuah meja untuk membantunya tetap berdiri tegak.

“Yoona-ya,” ucapnya pada Yoona yang berdiri di belakang Yeojin dan dalam perlindungan Yeojin karena tangan mereka berpegangan. “Gomawo—

Micheosseo?! Beraninya kau berkata seperti itu setelah kau melukainya? Kau temannya, ‘kan?”

In Guk memberiku tatapan sekilas, lalu kembali menatap Yoona. “Karena aku tahu kau mengikutiku, sekarang aku bisa bertemu dengan mereka. Gomawo, Yoona-ya” Dia tersenyum tipis, tapi itu justru membuat wajahnya semakin mengerikan.

“Kau—“

Geumanhae, Kyuhyun-ah” Yeojin menyela apa yang ingin aku katakan. Dia menatapku dengan tegas, lalu mengalihkan pandangannya pada In Guk. “Apa yang membawamu kesini dan berani menampakkan batang hidungmu di depan kami padahal kau tahu bahwa kami sedang mencarimu?!”

“Aku—“ Dia berhenti untuk menarik napas. “Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian, khususnya padamu” katanya sambil menatapku.

Satu alisku terangkat, “Ingin mengatakan sesuatu?”

In Guk mengangguk pelan lalu dia terbatuk dan memegangi dadanya. “Ini tentang Sooyoung,”

Aku menggenggam tanganku dengan erat mendengar nama Sooyoung disebut olehnya. Aku ingin sekali memukulnya, tapi Sungjae terus memegangiku bahkan semakin memperatnya. Membuatku tidak bisa bergerak dan tetap diam di tempatku sambil menatap In Guk dengan tajam. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Membiarkan emosiku keluar dan tidak menguasai diriku seperti tadi karena—sebenarnya, aku benar-benar tidak mau kehilangan kendali apalagi di tempat umum seperti ini.

“Dimana Sooyoung?” tanyaku setelah aku berhasil mengendalikan diriku sendiri. “Dimana dia?” ulangku sedikit menaikkan volume suaraku.

In Guk tidak langsung memberikan jawaban, tapi aku bisa mengerti karena dia pasti menahan sakit akibat pukulanku yang menghujaninya. Dia mendesah pelan sebelum berbicara, “Mereka akan membawanya pergi malam ini”

Mwo?”

Mworago?”

“Membawanya pergi?”

Eodi?”

Yeojin, Sungjae dan Yoona ikut menyahuti perkataan In Guk, dan itu hampir secara bersamaan. Jika dalam situasi dan kondisi berbeda itu pasti menggelikan, tapi saat ini tidak sama sekali. Sebaliknya, suasana justru terasa semakin tegang karena kami berempat menunggu apa yang akan In Guk katakan selanjutnya.

Ya! Marhae! Siapa yang akan membawa Sooyoung pergi dan kemana?!” seruku dengan tegas karena sudah tidak sabar menunggu.

“Dae Shik hyungnim akan membawanya pergi malam ini—“ Dia mengambil jeda sesaat, lalu melanjutkan. “Mereka akan membawanya ke Sado-do

Mwo? Sado-do?”

In Guk mengangguk untuk kesekian kalinya, “Sado-do. Kau tahu itu dimana, ‘kan?”

“Kami tahu,” sahut Yeojin dengan cepat. “Tapi kenapa sunbae membawa Sooyoung-ssi ke Sado-do?”

“Itu karena Sooyoung memberikan cincin palsu padanya,” jawab In Guk. “Itulah kenapa hyungnim akan membawanya ke pulau dimana kesepakatan kami dengan para pihak dari GAIA dan Black Dragon akan diadakan. Hyungnim akan menawarkan Sooyoung sebagai ganti cincin itu jika Sooyoung tidak memberitahu dimana dia menyembunyikannya”

Aku terpekur dengan apa yang baru saja dikatakan In Guk. Sooyoung akan dibawa pergi? Aku harus mencegah itu terjadi karena jika sampai dia dibawa pergi maka aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi dan aku tidak yakin apa nyawanya akan tertolong atau tidak.

Maldo andwae” gumamku pelan sambil meremas tanganku dan berusaha tidak memikirkan hal buruk apa yang akan menimpa Sooyoung jika sampai dia dibawa pergi. “Itu tidak boleh terjadi,” kataku.

“Aku tahu jika itu tidak boleh terjadi,” In Guk menanggapiku. “Itulah kenapa aku datang kesini, dan meminta kalian untuk membantuku mengeluarkan Sooyoung dari tempat persembunyian kami”

Aku tertawa melecehkan, “Kau meminta bantuan kami? Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”

“Jika kau menganggap begitu, silahkan saja. Tapi aku tidak sedang dalam keadaan untuk bercanda atau apapun yang kau pikir tentangku,” jawab In Guk dengan tegas. “Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan itu tidak akan dimaafkan, bahkan oleh Sooyoung sendiri. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membahayakan Sooyoung atau menyakitinya—“

“Tapi kau sudah membahayakannya, saekki-ya!” selaku dengan umpatan yang keluar begitu saja dari mulutku. Aku berniat untuk memukulnya, tapi Sungjae kembali memegangiku. “Apa kau akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padanya? Huh?! Kau akan bertanggung jawab jika Sooyoung—“ Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“Tidak akan terjadi sesuatu pada Sooyoung,” kata In Guk meskipun ada sedikit keraguan dalam nada bicaranya. “Itulah kenapa aku berencana untuk mengeluarkannya dari sana malam ini setelah dia—maksudku setelah keadaannya lebih tenang, dan aku membutuhkan kalian untuk melakukannya” lanjutnya dengan ekspresi rasa bersalah yang bisa aku lihat meskipun dia menyembunyikannya dengan sangat baik.

Aku diam saja sambil terus memperhatikan In Guk. Entah kenapa aku merasa telah terjadi sesuatu pada Sooyoung tapi dia sama sekali tidak mau memberitahukannya. Apapun itu, aku harap bukan sesuatu yang serius karena jika sampai ada sesuatu yang serius yang terjadi pada Sooyoung maka kaku tidak akan pernah memaafkan In Guk dan orang-orang yang menyakitinya.

“Dengar,” celetuk In Guk setelah kami sama-sama diam untuk waktu yang cukup lama karena sibuk dengan pikiran masing-masing. “Aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan padaku setelah ini, tapi aku benar-benar membutuhkan kalian untuk mengeluarkan Sooyoung dari sana. Keadaannya sudah tidak baik, dan akan semakin tidak baik jika sampai dia dibawa pergi”

“Keadaannya sudah tidak baik?!” seruku menuntut.

Mianhae. Aku sudah berusaha keras untuk mencegah siapapun melukainya selama dia disana, dan aku berhasil sejauh ini. Tapi semuanya kacau karena hyungnim mengetahui bahwa dia memakai cincin palsu dan menyembunyikan yang asli” jelas In Guk. “Aku berusaha membujuknya untuk memberitahuku dimana dia menyembunyikannya karena itu satu-satunya cara untuk aku bisa membawanya keluar. Sayangnya, dia bersikeras untuk diam dan keadaannya benar-benar tidak baik sekarang”

“Apa yang terjadi?! Apa yang mereka lakukan pada Sooyoung?!”

“Kyuhyun-ah, tahan dirimu” ucap Yeojin tegas disampingku. “Waktu kita sempit jika kau ingin menemukan Sooyoung, jadi tahanlah dirimu sebentar saja”

Ada kebenaran dalam apa yang dikatakan Yeojin itu. Jika malam ini mereka benar-benar akan membawa Sooyoung pergi itu berarti waktuku untuk menemukannya dan menyelamatkannya hanya sedikit.

Aku menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya berbicara. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku berdamai dengan keadaan.

Seo In Guk menatapku dengan lekat, lalu pandangannya beralih ke masing-masing dari kami. Setelah beberapa saat, diapun melepaskan pegangan tangannya pada meja dan mendekat ke arah kami. Dia memberitahukan rencananya pada kami dan apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan Sooyoung. Meskipun aku marah pada namja yang sudah menipuku dan semua orang, termasuk Sooyoung tapi aku benar-benar harus bisa bekerja sama dengannya karena ini menyangkut hidup Sooyoung. Aku sudah berjanji bahwa aku akan melakukan apapun untuk yeoja itu sekalipun aku harus mengorbankan diriku sendiri.

Sooyoung-ah, tunggulah sebentar lagi. Aku akan datang dan menyelamatkanmu. Kau harus percaya padaku bahwa aku akan datang. Aku mencintaimu. Aku berkata dalam hati.

-TBC-

Mianhaeyo, mianhaeyo…

Aku lama update FF ini karena cari kesempatan buat nulisnya yang susah, huhu. Ini aku terpaksa tancap gas buat lanjutin FF ini dan semoga feel-nya ga’ ilang dan ga’ bikin bingung ya T___T

Aku benar-benar minta maaf #bow

Aku tunggu komentarnya, knightdeul.. apapun komentarnya, aku pasti terima dengan baik

Gomawoyo!

Advertisements

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

11 thoughts on “[Series] The Precious Thing -9-

  1. anjirrrrr gilaa!!! part in bner” bikin naik darah ashhhhh >_< KANG DAE SHIK!!!! NEO SAEKKIYA!!!!! JINJJHA!!!!! tega bner mukul face'a soo eonni 😦

  2. Sumpah keren banget ceritanya selalu aja bikin penasaran disetiap partnya. Huwaaaa kira2 bisa nyelametin sooyoung ga ya mereka

  3. Jam segini baca ff ini rasanya kesel pengen teriak liat tulisan TBC tapi yg ada cuma teriakan tertahan.. patah hati bgt pas baca bagian yg paling greget tapi kepotong…
    Hadeeuuuhh makin penasaran sma part selanjutnya. Untung in guk msh naruh hati sma soo jadi ga tega liat soo babak belur..
    Semangat nulis part selanjutnya.. GANBATE!!!

  4. Annyeong….😄
    Real life memang harus diprioritaskan, aku memaklumi itu. Baca TPT rasanya gado2, greget, gemes, kesel, …
    Itu yg bikin gak sabar pengen tau’ gmn ya nasib Sooyoung selanjutnya, gmna ya hubungan KyuYoung…. itu yang buat aku setia menunggu…
    Gomawo😄

  5. Lama ga muncul, sekali muncul bikin emosiii..
    Huhuu..
    Kenapa sooyoung sampe disiksa?? Kenapaa?
    Tapi salut sih sama kepedulian In Guk a.k.a Doojon, pertemanan mereka ga sia-sia.
    Thanks for updating, author-nim..
    Semangaat

  6. Njir gue emosi dan sedih bgts sooeoni di hajar gtu dan blum ad yg bsa slamatin dia njir argghhh inguk sialan pabo namja jeongmal gue emosi bgt njir khawatir jga gmn keadaan sooeoni arggghh 😢😢😢😠😠😠😠😠😠😠😠😠

  7. Akhirnya update jugaaa
    Tp sayangnya di part ini gk ada kyuyoung moment .
    Semoga part selanjutnya banyak kyuyoung moment..
    Ditunggu part selanjutnya

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s