Posted in Action, Friendship, Romance

[Series] The Precious Thing -11-

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

Sooyoung POV

Aku membereskan semua alat tulis yang aku gunakan selama di kelas lalu menyimpannya ke dalam tas. Kuliah baru saja selesai dan hari ini aku ingin langsung pulang ke rumah meksipun ada ajakan dari Jinyoung untuk menemaninya berjalan-jalan. Aku menolaknya—tentu saja, karena aku memang sedang tidak ingin pergi kemanapun kali ini. Suasana hatiku sedang tidak baik bahkan sejak pagi dan aku tidak tahu kenapa aku terus gelisah tanpa sebab seperti ini.

“Ayo kita pergi,” kata Yoona yang sudah selesai membereskan barang-barangnya sendiri dan sedang menungguku selesai.

“Kemana?”

“Menemui Jinyoung, siapa lagi?”

“Aku tidak mau pergi kemanapun hari ini,” sahutku acuh tidak acuh dengan cepat seraya beranjak dari kursiku. “Kau pergi saja bersamanya karena aku ingin istirahat di rumah saja. Kuliahku ini membuatku sakit kepala,”

Yoona ikut bangkit, lalu cepat-cepat dia menghampiriku. “Oh, ayolah, Choi Sooyoung. Kapan lagi kita berjalan-jalan bersama seperti ini setelah kuliah kita selesai? Apalagi sebentar lagi kita tidak pergi ke kampus lagi,” desaknya.

“Kita bisa melakukannya lain kali. Aku benar-benar tidak—“

“Kalian sudah selesai?” Jinyoung tiba-tiba muncul dan menyela perkataanku. Dia tersenyum lebar sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. “Aku sudah menunggu disini sekitar satu jam bukan untuk apa-apa, ‘kan?”

Aku dan Yoona saling menatap, bingung dengan kemunculan namja ini. Aku bertanya pada Yoona tanpa mengatakan apa-apa, dan dia hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda bahwa dia tidak tahu apapun dan kenapa tiba-tiba Jinyoung ada disini.

“Ayo kita jalan-jalan. Saat itu kau menolak ajakanku karena kau ingin pergi ke Buam-dong, tapi sekarang biarkan aku yang memutuskan kita akan pergi kemana” kata Jinyoung lagi sambil menatapku lekat.

“Apa ada tempat yang bagus?” seru Yoona ceria dan terlihat bersemangat. Dia melupakan keterkejutannya sendiri, lalu kembali berbicara. “Kau pasti menemukan tempat yang bagus, ‘kan?”

Maja. Aku menemukan tempat yang sangat bagus,”

“Jadi dimana itu?”

“Museum,”

Mwo?” Yoona kembali berseru terkejut. “Museum?”

Jinyoung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias dan aku tidak bisa tidak menyembunyikan senyumanku melihatnya. Apalagi melihat ekspresi Yoona yang terlihat terkejut dan tidak percaya, itu benar-benar membuatku tersenyum geli. Aku tahu bahwa Yoona pasti sudah memikirkan tempat seperti Everland, Seoul Park atau Lotte World, tapi ternyata Jinyoung ingin mengajak kami pergi ke museum. Bukankah itu sesuatu yang mengejutkan? Bahkan akupun terkejut.

Ya! Kenapa ke museum? Apa menariknya di sana?!” protes Yoona segera.

“Tentu saja menarik. Ada banyak hal yang didapatkan saat mengunjungi museum, kau tahu”

Aigoo.. itu hanya melihat barang-barang kuno saja, ‘kan? Kau bahkan tidak bisa membelinya,” Yoona masih tidak mau mengalah. “Kalau ingin pergi melihat barang-barang kuno, kenapa tidak ke Insa-dong saja?”

Aku tersenyum tipis mendengarkan itu. Suasana seperti dulu kembali bisa aku rasakan, meskipun namja yang bersama kami bukan lagi Seo In Guk. Dan—entah kenapa, aku merindukannya terlepas dari apa yang sudah dia lakukan padaku.

“Kalau tidak mau pergi, tidak apa-apa” sahut Jinyoung pada akhirnya setelah perdebatan yang aku pikir tidak akan ada akhirnya. “Kajja, Sooyoung-ssi” ajaknya tiba-tiba sambil menarik tanganku.

Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan tanganku karena eratnya pegangannya dan langkahnya yang cepat. Meskipun begitu, aku masih bisa melihat Yoona yang mengikuti kami dari belakang dengan langkahnya yang cepat juga. Sampai pada akhirnya kami tiba di samping mobil, namja itu baru melepaskan tanganku dan langsung membukakan pintu mobilnya untukku. Aku sempat enggan untuk memasukinya, tapi karena dia sudah menunggu jadi mau tidak mau akupun melangkah masuk ke dalam mobil diikuti Yoona yang duduk di kursi bagian belakang. Mobil Jinyoung itu dengan cepat meninggalkan kawasan kampus dan bergabung dengan mobil-mobil lainnya di jalan.

Jinyoung dan Yoona melanjutkan kembali perdebatan mereka, sementara aku memilih menatap ke arah luar dari jendela mobil. Lagi-lagi aku tidak bisa menolak keberadaan Jinyoung yang memang beberapa hari ini selalu muncul di depanku dan mengganggu hari-hariku. Seakan-akan dia tidak pernah membiarkanku untuk benar-benar sendirian meskipun tidak ada yang dia lakukan saat dia berada di sekitarku.

Setelah beberapa menit dalam perjalanan, Jinyoung menghentikan mobilnya di kawasan Istana Gyeoungbukgung. Sepertinya perdebatan diantara keduanya berakhir dengan kemenangan Jiyoung karena disinilah kami sekarang berada. Aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka debatkan karena aku tidak benar-benar mendengarkan. Aku lebih memilih untuk sibuk dengan pikiranku sendiri, mencuri-curi kesempatan untuk membiarkan pikiranku berkeliaran saat tidak ada yang menggangguku.

“Ayo kita keluar,” ajak Jinyoung mendahului kami keluar dari mobil.

Aku bergegas keluar, begitu pula Yoona. Untuk sesaat, mataku menatap ke sebuah bangunan yang merupakan simbol dan keagungan rakyat Korea itu. Membuatku teringat saat terakhir kali aku kesini saat aku masih kecil dalam tur sekolahku. Dulu aku sangat mengaguminya dan pernah beberapa kali mengajak kedua orang tuaku untuk ke tempat ini lagi tapi mereka tidak pernah memiliki kesempatannya.

“Sedang mengenang masa kecil, ‘kan?” celetuk Jinyoung di sebelahku. Ini bukan pertama kalinya dia seperti bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan, dan aku selalu terkejut dengan apa yang dia lakukan. “Waeyo? Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya kemudian.

Aniyo, amugeotdo” sahutku cepat-cepat.

“Tapi aku benar, ‘kan jika kau pasti sedang mengenang masa kecil di tempat seperti ini?” ulangnya sambil tersenyum tipis. Dia mengarahkan pandangannya sekilas ke sekeliling istana Gyeoungbukgung ini lalu kembali menatapku. “Karena aku juga begitu. Aku selalu ingat masa kecilku saat mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Sepertinya tidak hanya aku yang mengenang masa kecil karena beberapa orangpun sengaja datang kesini saat ingin mengenang masa kecil mereka. Dan itu membuatku berpikir bahwa semua masa kecil orang itu sama. Aku benar, ‘kan?”

Aku diam sesaat, lalu menjawab. “Tidak. Masa kecil semua orang itu tidak sama,” jawabku menegaskan. “Dan aku berharap… tidak ada yang memiliki masa kecil seperti masa kecilku” kataku lagi sebelum melangkah masuk ke gerbang besar istana Gyeoungbukgung bersama orang-orang lainnya.

“Sooyoung-ah, jamkkaman!” panggil Yoona yang dengan cepat menyusulku dan kemudian berjalan disampingku.

Begitu melewati gerbang yang berbentuk seperti benteng itu, kami langsung dihadapkan dengan halaman luas yang dipenuhi pohon dan bunga yang akan berwarna-warni mempesona saat musim semi. Ada beberapa patung yang terbuat dari batu di sepanjang halaman luas ini. Beberapa orang memutuskan untuk tetap berdiri di halaman untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, ada juga yang melanjutkan untuk ke bangunan-bangunan istana yang ada di sekitar. Sementara itu, aku memilih untuk terus berjalan sampai akhirnya aku menemukan gerbang kedua yang merupakan bangunan dengan lima undakan.

Inilah pintu masuk utama ke Folk Museum Nasional yang biasanya rutin dikunjungi oleh anak-anak sekolah dari tingkat yang paling dasar sampai tingkat yang paling tinggi. Terkadang mahasiswa-mahasiswa jurusan tertentu juga masih datang ke museum-museum yang ada di Korea dengan tugas yang dibebankan pada mereka setiap kalinya. Para wisatawan baik lokal maupun asing juga tidak pernah ada habisnya. Itulah yang membuat tempat ini tetap ramai meskipun saat ini adalah akhir musim dingin.

“Lihat, bagaimana tempat ini masih bisa membuatku kagum bahkan setelah bertahun-tahun baru mendatanginya lagi” celetuk Jinyoung saat kami baru saja melewati gerbangnya. Dia berdehem pelan, “Anak-anak, sekarang kita berada di bagian depan museum. Kalian bisa melihat Room Demo di sebelah kanan kalian yang menampilkan obat-obatan, rempah-rempah, pakaian-pakaian tani dan perlengkapan tani lainnya yang digunakan jaman dahulu” ucapnya menirukan gaya guru-guru yang biasanya menjelaskan saat tur kami.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkat namja yang satu ini. Aku tidak menyangka dia benar-benar bisa menirukannya dengan baik, bahkan mungkin orang akan berpikir dia memang sebenarnya guru yang sedang melakukan tur bersama murid-muridnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihatnya sambil terus tertawa kecil. Tapi kemudian saat aku menyadari mereka—Yoona dan Jinyoung, sedang menatapku dengan lekat, cepat-cepat aku menghentikan tawaku dan mengalihkan pandanganku.

Tanpa mengatakan apapun pada mereka berdua, aku melangkah masuk ke ruangan pertama dari tiga ruang pameran utama di museum ini. Aku sengaja terus menjauh dari mereka saat melihat-lihat apa saja yang ada di tampilkan di dalam ruangan ini. Aku bahkan terus melakukannya saat pada akhirnya kami sampai di ruangan ketiga dimana mereka menunjukkan siklus hidup Korea yang menggambarkan pengaruh ajaran konfusianisme dalam budaya Korea. Dan disinilah tur museum biasanya akan berakhir.

“Ayo kita duduk disana dulu,” seru Yoona sambil menarik lenganku dan mengajakku untuk duduk di salah satu bangku yang disediakan di halaman luar museum dengan kafetaria kecilnya. “Siapa yang menyangka jika kita akan melakukan tur seperti ini lagi? Dulu menyenangkan tapi sekarang melelahkan,” komentarnya.

Aku tersenyum tipis, “Kau merasa lelah karena kau tidak menikmatinya” kataku. “Mungkin karena kau lebih memilih pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan seperti Everland atau Lotte world jadi kau tidak menikmati tempat seperti ini”

Aigoo… sekarang katakan padaku, apa yang menarik di tempat seperti ini?”

“Bukan apa yang menarik, tapi bagaimana caramu menganggapnya menarik” sahut Jinyoung yang membawakan minuman untuk kami berdua. “Kau tidak akan bisa menikmati tempat-tempat bersejarah seperti ini jika dipikiranmu itu tempat-tempat yang menarik seperti Everland atau Lotte World”

“Bukan berarti aku tidak bisa menikmati tempat bersejarah atau museum,” Yoona tidak mau kalah. “Tempat yang menarik itu juga tidak hanya seperti Everland atau Lotte World. Ada tempat-tempat lainnya yang jauh lebih menarik, seperti misalnya Jeju-do, Namiseom, Wolmi-do, Ahmyung-do—“

Jamkkaman, kenapa kau hanya menyebut nama-nama pulau saja?” sela Jinyoung dengan cepat. Seharusnya dia tidak perlu bertanya, karena aku sudah tahu apa maksud Yoona itu. Tapi kemudian, Jinyoung kembali berbicara. “Jangan katakan kau ingin pergi ke pulau-pulau itu”

Yoona mengangguk dengan bersemangat.

“Di musim yang seperti ini?”

“Kenapa memangnya di musim yang seperti ini? Lagipula sebentar lagi musim semi, ‘kan? Jadi pasti ada pohon-pohon yang bunganya sudah bermekaran” kata Yoona. “Apa kau tidak tahu, ada pulau-pulau yang sama bagusnya untuk didatangi di setiap musimnya”

Jinyoung kali ini memilih untuk tidak memberikan tanggapan. Akupun tidak akan mengatakan apapun atau menyela perdebatan mereka karena entah kenapa aku cukup menikmati ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar merasa hari-hariku yang lama bersama dua sahabatku itu kembali lagi. Mungkin jika tidak ada apapun yang terjadi, kami akan bersama dan bercanda seperti ini. Dan bahkan, Kyuhyun pasti akan ada disini bersamaku diluar fakta bahwa dia pernah berbohong padaku tentang identitasnya yang sebenarnya.

“Sooyoung-ah!” Panggilan Yoona memudarkan lamunan singkatku. Aku menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut, dan tahu bahwa dia pasti mengatakan sesuatu padaku tapi aku tidak mendengarnya melihat dari ekspresinya. “Kau pasti tidak mendengarku lagi, ‘kan?” katanya kemudian.

Mian,” sahutku merasa bersalah. Aku melirik Jinyoung yang sedang mengamatiku sesaat, lalu kembali pada Yoona. “Apa yang kau katakan?”

“Aku bertanya padamu, jika seandainya kita pergi ke satu pulau—“ Dia mengambil jeda sesaat untuk menunggu reaksiku. Lalu dia melanjutkan, “Kau ingin pergi ke pulau mana?”

“Pulau?”

Yoona menganggukkan kepalanya. “Aku ingin ke Namiseom, dan Jinyoung ingin ke Anmyung-do. Dan kau?”

Aku diam sesaat untuk berpikir. Aku tidak tahu ke pulau mana aku ingin pergi karena aku tidak pernah berpikir untuk pergi ke pulau-pulau tertentu untuk saat ini. Tapi kemudian—tiba-tiba saja, terlintas di kepalaku nama satu pulau. “Tsushima-do

Mworaguyo?”

Eodi?

“Tsushima-do” Aku mengulang perkataanku. “Itu 50km dari Busan—“

“Aku tahu. Tapi kenapa kau ingin ke Tsushima-do dari sekian banyak pulau yang bisa kau pikirkan?” tanya Yoona.

Geurissae… Pulau itu terlintas begitu saja di kepalaku,” kataku menjawab. “Mungkin karena aku belum pernah kesana jadi—“

“Ayo kita ke sana!” celetuk Jinyoung menyela perkataanku. Aku dan Yoona membelalakkan mata terkejut, tapi namja itu justru tersenyum lebar. “Katamu kau tidak pernah ke sana, ‘kan? Lagipula itu tidak jauh dari Busan, jadi kenapa kita tidak pergi saja?”

Aku benar-benar tidak bisa memberikan tanggapan apapun pada perkataan Jinyoung ini. Aku sama sekali tidak berharap untuk pergi ke pulau itu hanya karena aku hanya memikirkannya saja. Bagaimana bisa tiba-tiba Jinyoung mengajakku untuk pergi ke sana? Mengingat dia akan terus memaksaku dan membuatku tidak ada pilihan untuk mengikutinya, apa yang harus lakukan?

__

Kyuhyun POV

Aku sedang membereskan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan saat Ayami datang. Sejak aku memberitahunya bahwa aku akan melakukan balas dendam seperti yang sangat ingin dia dengar dariku, dia terlihat semangat dan tidak selalu berada disekitarku lagi. Aku tidak tahu kenapa tapi mungkin itu karena dia benar-benar percaya padaku bahwa aku akan membantunya membalas dendam meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang akan lakukan nantinya.

Yah, aku memang akan membalas dendam, tapi bukan berarti aku melakukan apa yang ingin Ayami lakukan dari awal. Pembunuhan. Dia selalu berpikir bahwa pembunuhan harus dibalas dengan pembunuhan. Sebenarnya itu adalah pikiranku juga diawal saat aku tahu tentang kematian orang tuaku. Tapi setelah aku menjadi seorang tentara, aku tidak bisa begitu saja membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas meskipun sebenarnya ada alasan kenapa aku melakukannya. Aku ingin membalas dendam, tapi bukan membunuh. Dan keinginan itu sempat hilang saat aku bertemu Sooyoung karena aku hanya ingin melindunginya. Tapi sekarang balas dendamku bukan hanya untuk orang tuaku, tapi juga untuk Sooyoung. Itulah kenapa aku memutuskan untuk membalas dendam.

Kore wa saigo no 1 ka?” tanyaku pada nelayan yang bekerja sama denganku.

Hai, kono-jikan wa amari naidesu kyatchi—ya, kali ini tangkapannya tidak banyak

Aku mengangguk mengerti, “Watashi wa subete o motte ikimasui—aku akan membawa semuanya” kataku pada nelayan itu dan menyerahkan keranjangnya pada Ayami yang sudah menunggu. “Ini yang terakhir,”

Arraseoyo,” sahut Ayami. “Aku akan membawanya sekarang. Kau ikut?”

“Min Woo onii-san,” Panggilan kecil itu terdengar, dan tanpa aku menoleh untuk memeriksanya aku tahu bahwa itu adalah Naomi, seorang anak perempuan yang sering memintaku untuk mengajaknya bermain. “Koko ni kite, watashi to asobu—kemarilah dan bermain denganku

Aku tersenyum tipis, lalu membalikkan badan ke arahnya. “Ima okonatteru” seruku. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada Ayami, “Aku akan menyusul nanti. Ada sesuatu yang harus aku lakukan, kau tahu daiteu—

Daiteu?”

Aku mengangguk, “Watashi wa kanojo to tsukiatte iru—aku berkencan dengannya

E ̄ ,” sahut Ayami tertawa tidak percaya. Dia memintaku untuk pergi dengan gerakan kepalanya, lalu dia melangkah menyusuri jalan menuju tempat dimana kami memberikan ikan uang menukarnya dengan uang.

Aku mengamati Ayami sebentar sebelum akhirnya menghampiri Naomi yang sedang bermain dengan batu-batu pantai. Aku berjongkok dengannya dan hanya diam tanpa melakukan apa-apa terlebih dahulu. Aku ingin tahu apa yang melihat apa yang sedang dia lakukan dan untuk apa dia memanggilku untuk bermain dengannya. Tapi jujur saja, aku tidak pernah melihat Naomi bermain dengan anak-anak sebayanya karena biasanya dia selalu bermain sendirian. Itulah kenapa dia terkadang memanggilku untuk mengajakku bermain dengannya hanya karena aku pernah mendekatinya saat sedang sendiri.

Nanishiteruno?” tanyaku pada akhirnya.

Tsumikasane rareta ishi

“Untuk apa?”

Inoru tame niuntuk berdoa” jawaban Naomi itu cukup terkejut karena dia mengerti apa yang aku tanyakan meskipun aku tidak berbicara bahasa Jepang. Tapi sebenarnya aku tidak terlalu terkejut karena memang bahasa yang dipakai penduduk disini adalah Jepang dan Korea. “Aku ingin berdoa untukmu, onii-san

Watashi no tame ni?” sahutku kembali terkejut. “Dōshite?

“Aku berdoa agar ingatan onii-san bisa cepat kembali jadi onii-san bisa kembali ke Seoul”

“Kalau aku kembali ke Seoul, kau tidak akan melihatku dan bermain denganku. Apa itu tidak apa-apa?”

Naomi mengangguk pelan, “Aku akan sedih, tapi aku juga akan senang” katanya dengan cara bicaranya yang cukup menggemaskan. “Mā, owatta!” serunya kemudian setelah dia menumpuk batu terakhir.

Aku kembali mengamatinya yang sedang berlutut sambil menangkupkan tangannya dan memejamkan matanya. Mulutnya mulai bergerak dengan lucunya dan aku tidak bisa tidak tersenyum melihat apa yang dia lakukan. Cukup lama dia berdoa dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengganggunya dan tetap menunggunya sampai selesai.

Watashi wa kare o motomete kimashita” kata Naomi padaku.

Aku kembali tersenyum, lalu mengusap pelan kepalanya. “Arigatōgozaimashita

Naomi terlihat senang dengan tanggapanku. Dia bangkit berdiri lalu menarik tanganku untuk mengikutinya pergi. Aku memilih untuk tidak bertanya apapun kemana dia akan mengajakku pergi karena biasanya dia akan pergi ke pinggir pantai atau ke dermaga untuk menunggu kapal-kapal laut yang datang. Naomi sangat menyukai kapal. Bukan hanya karena dia ingin menaikinya, tapi juga karena dia sedang menunggu kakaknya yang—katanya pergi ke Seoul, tapi belum kembali. Aku menanyakan ini pada Ayami dan yeoja itu berkata bahwa kakak Naomi, Hiroshi, pergi meninggalkan rumah untuk mencari uang yang lebih banyak. Dia meninggalkan Naomi hanya bersama neneknya dan belum kembali setelah itu.

“Apa kau berharap kakakmu akan pulang hari ini?” tanyaku setelah hanya diam sambil berjalan bergandengan tangan dengan Naomi. “Aku tidak pernah melihatmu kecewa jika kau tidak melihat kakakmu di kapal. Kau bahkan selalu tersenyum dan mengajakku untuk menunggu lagi di dermaga yang lainnya”

“Kenapa aku harus kecewa, onii-san? Hiroshi onii-chan pergi untuk mencari uang yang banyak, jadi kenapa aku harus kecewa?” jawab Naomi dengan langkahnya yang lebar-lebar. “Aku yakin onii-chan akan pulang, itulah kenapa aku tidak mau melewatkan saat dia turun dari kapal”

Aku tersenyum tipis, “Aku mengerti” kataku. “Ayo kita lebih cepat. Kurasa sebentar lagi kapalnya akan menepi. Kau akan lebih kecewa tidak melihat kapal menepi daripada tidak melihat kakakmu turun dari kapal”

“Apa begitu?”

“Tentu saja kau tidak pernah tahu. Kau ‘kan tidak bisa melihatnya”

Naomi tertawa ringan, lalu dia mengajakku untuk duduk di tempat yang sama setiap kalinya. Aku selalu terkesan dengan kegigihannya untuk selalu datang ke dua dermaga untuk menunggu kakaknya. Bahkan dalam suasana yang dingin seperti inipun, dia sama sekali tidak mengurungkan niatnya.

Onii-san, itu kapalnya datang” seru Naomi sambil menunjuk ke sebuah kapal yang sedang menepi. “Motto chikaku ni ikou” ajaknya padaku.

Aku mengangguk lalu beranjak dari tempat dudukku bersama Naomi untuk lebih dekat ke dermaga. Para penjaga di dermaga yang ada di pulau ini, baik di Hitakatsu atau Izuhara, sudah sangat mengenal Naomi dan alasan kenapa dia selalu datang hampir setiap harinya. Jadi, saat kami berdua datang mereka membiarkan saja tanpa pernah bertanya untuk alasan apa.

Begitu kami tiba di pintu dermaga, Naomi langsung mencari-cari di setiap orang yang keluar dari kapal. Sempat beberapa kali aku harus menghalangi orang dan berpindah tempat agar Naomi tidak tertabrak oleh mereka. Karena pandangan dan perhatian seluruh gadis kecil ini terus mengarah berkeliling, menelusuri kerumunan demi kerumunan yang ada. Jadi, akulah yang berinsiatif untuk bergerak membawanya agar tidak terbawa arus orang yang datang.

Cukup lama dia mencari, dan aku juga mulai bisa melihat wajahnya yang gelisah. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku melihatnya, tapi tetap saja aku merasa sedih setiap kali Naomi sudah menunjukkan wajah seperti itu. Apa dia tidak akan bertemu dengan kakaknya kali ini? Apa dia akan sedih? Apa dia akan datang lagi dan menunggunya seperti ini? Itulah yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri meski aku sudah mendapatkan jawabannya dari wajah Naomi.

Aku membiarkan Naomi tetap disana untuk beberapa saat. Lalu saat aku akan berjongkok untuk berbicara padanya dan mengajaknya pergi, tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang sangat aku kenal. Mataku seketika melebar melihat Sooyoung benar-benar ada di depanku dalam keadaan yang baik-baik saja. Dia sebelahnya berdiri Yoona yang sedang berbicara seru padanya, jadi mereka sama sekali tidak memperhatikan sekitar atau bahkan melihatku. Untuk sesaat, aku hanya bisa diam di tempatku meskipun ada keinginan untuk menghampirinya, memeluknya dengan erat dan menunjukkan semua kerinduanku padanya. Tapi aku menahan keinginanku itu karena aku ingat bagaimana hubunganku dengannya sebelumnya.

Sesuatu menarik-narik tanganku, dan aku ingat bahwa Naomi masih bersamaku. Aku sempat menatap Sooyoung sesaat yang sedang diperiksa dokumen perlengkapan yang harus dilakukan setiap kali datang ke pulau ini, dan tidak bisa menahan senyumku melihatnya.  Mengejutkan, memang, tapi aku tetap senang meskipun tidak ada yang bisa aku lakukan untuk sekarang selain hanya memandanginya.

“Apa kau kebetulan ingat sesuatu, onii-san?” tanyanya padaku. “Atau kau melihat seseorang yang kau kenal?”

Aku diam sesaat, lalu menggelengkan kepala. “Sepertinya kakakmu belum bisa pulang hari ini, Naomi-chan” kataku sambil berjongkok di depannya. “Apa kau sedih?”

“Tidak. Aku tahu tahu onii-san tidak datang hari ini. Tapi aku akan datang lagi besok karena besok dia pasti akan datang” jawabnya dengan senyuman di wajahnya.

Aku mengacak pelan rambutnya, “Kita pulang sekarang?”

Hai,”

Aku bangkit berdiri lalu mengajak Naomi keluar dari dermaga. Tepat saat aku akan keluar, Sooyoung juga akan keluar bersama Yoona. Karena pintunya sempit, lengan kami sempat bersenggolan dan itu membuatku langsung berhenti melangkah. Tapi Sooyoung terus melangkah dan melanjutkan obrolannya dengan Yoona yang sepertinya terus mengajaknya berbicara. Meskipun dia mengarahkan pandangannya ke sekitar, tapi dia tidak menatap ke belakang dimana aku sedang berdiri memandanginya.

Aku memegangi lenganku yang baru saja bersentuhan dengan lengannya, lalu memegangi dadaku. Jantungku berdegup kencang dan aku bisa merasakan aliran darahku seiring dengan langkah kaki Sooyoung yang menjauh dari dermaga. Aku tidak menyangka, hanya bersentuhan dengannya seperti itu saja sudah membuat semua perasaanku bangkit kembali. Tanpa aku sadari, senyumku kembali mengembang.

“Sooyoung-ah, bogoshipda

**

“Sedang melihat apa sambil tersenyum seperti itu? Ada yeoja wisatawan yang membuatmu tertarik?”

Aku menoleh ke arah Ayami, lalu menunjuk Sooyoung yang sedang berdiri d tepi laut tanpa melakukan apa-apa. Sementara itu, Yoona dan seorang namja yang baru aku lihat bersama mereka, memilih untuk mendirikan sesuatu dengan pasir sambil sesekali bermain air.

Aigoo… bukankah airnya dingin?” komentar Ayami kemudian. “Meskipun musim dingin sudah berlalu, tapi udara peralihan ini tetap saja dingin, begitu pula airnya”

“Kaupun tidak peduli jika airnya dingin atau tidak untuk mengurus ikan nelayan, Ayami-ssi” katamu menyahut.

Ayami tertawa kecil, lalu dia kembali berbicara. “Omong-omong, kenapa tiba-tiba tertarik dengan wisatawan yang datang kesini? Kau biasanya memilih untuk menghabiskan waktumu di tebing dan menatap jauh ke pulau seberang”

“Itu karena apa yang sangat aku lihat di pulau seberang itu sekarang ada di depan mataku,”

Nani?

Aku kembali menunjuk ke arah Sooyoung, “Yeojachingu-ku disana” kataku memberitahunya.

Mata Ayami membelalak dan aku hanya bisa tersenyum melihat reaksinya itu. Untuk waktu yang lama dia bahkan menatap ke arah Sooyoung yang berdiri memunggungi kami. Akupun ikut menatapnya sambil mengingat kembali semua hal yang sudah aku lakukan bersamanya dan apa yang terjadi diantara kami. Lalu bagaimana kami pada akhirnya berpisah seperti ini dan keraguanku untuk segera menghampirinya bahkan sejak pertama kali aku melihatnya di dermaga.

“Kalau begitu, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak mendatanginya tapi justru bersembunyi seperti ini?” celetuk Ayami setelah beberapa saat. “Bukankah kau sangat merindukannya? Jadi tunggu apa—“

“Aku tidak bisa,” selaku dengan cepat. “Ini sudah lebih dari lima bulan dan sebelum itu, aku tahu dia tidak memaafkanku karena apa yang aku lakukan padanya”

“Tapi kau melakukannya untuk melindunginya”

“Tetap saja aku tidak seharusnya berbohong padanya, apalagi itu bukanlah satu atau dua kebohongan”

“Jadi, pada intinya kau akan tetap seperti ini?” tanya Ayam dengan ekspresi tidak percayanya. “Kau tidak akan menghampirinya?”

Amado,”

“Sama sekali?”

Aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai jawabannya.

Anata wa kanojo o aisuruga, kanojo ni iku koto wa dekinai—kau mencintainya tapi kau tidak bisa pergi padanya” komentar Ayami kemudian.

Aku memilih untuk tidak menanggapi itu dan kembali mengarahkan pandanganku pada Sooyoung, memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Aku melihatnya sedan menendang-nendang ombak yang menyentuh kakinya, sesekali dia membiarkan begitu saja kakinya basah terkena ombak. Meskipun begitu dia tetap berdiri disana, seolah tidak terganggu dengan dua orang yang bercengkrama di dekatnya dan juga angin dingin yang berhembus menerpa tubuhnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan dan kenapa dia tidak bergabung dengan Yoona dan temannya. Kenapa dia terlihat seakan dia menjauhi mereka untuk sibuk dengan dunianya sendiri? Bahkan beberapa kali aku sempat melihat Yoona atau temannya menariknya untuk bergabung, tapi dia tetap bergeming di tempatnya.

“Aku akan pulang sekarang dan menyiapkan makan malam,” Suara Ayami memecahkan perhatianku. “Aku tidak akan memperingatkanmu untuk tidak berkeliaran atau berhati-hati untuk tidak bertemu namja yang waktu itu. Karena untuk sementara ini, aku akan tahu apa yang sedang kau lakukan dan kau akan pergi kemana. Kau juga harus cepat pulang agar kita bisa mendiskusikan rencana kita”

Wakarimasu,” kataku menjawab.

Ayami menepuk pelan bahuku sebelum dia beranjak pergi meninggalkanku. Tentu saja aku tidak akan kemana-mana karena aku akan tetap berada di sekitar Sooyoung dan mengawasinya dari kejauhan. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuknya sekarang.

Cukup lama mereka menghabiskan waktu di pantai, dan aku tetap menunggu dan mengawasi dengan sabar. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat, baik oleh mereka sendiri atau penduduk lokal yang mengenalku. Meksipun nama Min Woo-lah yang mereka tahu, tetap saja aku tidak mau menarik banyak perhatian. Itulah kenapa tidak boleh ada yang melihatku disini bahkan oleh Naomi dan neneknya yang tiba-tiba melintas di depanku. Mau tak mau aku harus membalikkan badan ke arah mereka agar mereka tidak melihatku.

Sooyoung dan teman-temannya mulai meninggalkan pantai justru saat matahari mulai terbenam. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena mereka sudah terlalu lama bermain air dan kedingnan. Lagipula jika ingin melihat matahari terbenam, bukan disinilah tempatnya. Karena ada pantai yang lebih baik dijadikan tempat untuk menikmati pemandangan itu di sisi lain pulau ini. Tapi sepertinya sudah sangat terlambat untuk pergi sekarang.

“Ayo kita makan sesuatu terlebih dahulu atau pergi berjalan-jalan di pemukiman yang ada di sini” Itu Yoona yang mengatakannya. Aku mendengarnya saat mereka melewatiku begitu saja. “Kau tahu, mayoritas penduduk disini adalah orang Jepang, kebudayaan disini pun banyak di pengaruhi oleh budaya Jepang. Kita bisa melihat apa-apa saja yang mereka lakukan di malam hari”

“Apa lagi?” celetuk namja yang bersama mereka. “Tentu saja mereka tidur,” tambahnya.

Mendengar itu, aku bisa melihat Sooyoung tersenyum. Senyum yang sama yang aku ingat tentangnya. Senyum yang aku rindukan sejak berbulan-bulan yang lalu. Apa ini artinya dia sudah melupakan semuanya sekarang? Apa dia sudah kembali ke kehidupan lamanya?

“Sooyoung-ssi, pakailah ini untuk lebih menghangatkanmu” kata namja itu sambil memakaikan sebuah syal di leher Sooyoung. “Nah, ireohke—“

Aku sama sekali tidak senang melihatnya, tapi aku bisa apa? Aku bahkan tidak bisa menghampirinya dan menghalangi namja itu untuk menjauh dari Sooyoung. Bagaimana jika sebenarnya ada hubungan diantara mereka? Bagaimana jika dia benar-benar sudah melupakanku?

“Yoona-ya, Jinyoung-ssi” Aku mendengar suara Sooyoung setelah hanya terus mengikutinya berjalan. “Kalian kembalilah ke penginapan sementara aku berjalan-jalan sebentar sekitar sini. Aku masih ingin disini tapi kalian perlu mengganti pakaian kalian yang basah”

“Kami tidak bisa meninggalkanmu sendiri, Sooyoung-ah” Yoona yang berbicara. “Bagaimana jika—“

“Tidak akan terjadi apa-apa,” sahut Sooyoung dengan cepat. “Aku hanya sebentar dan segera menyusul kalian nanti”

“Tapi—“

“Baiklah, kalau begitu” Lagi-lagi perkataan Yoona di sela. “Kami akan menunggumu. Kita akan makan malam bersama, jadi kembalilah sebelum itu. Arraseoyo?

Sooyoung mengangguk.

Aku sempat melihat ekspresi cemas di wajah Yoona, tapi kemudian namja itu menariknya menjauh dari Sooyoung dan membiarkannya sendirian. Untuk sesaat, dia hanya berdiri diam di tempatnya sambil terus memandangi dua temannya yang semakin menjauh darinya. Tapi kemudian, dia membalikkan badannya dan melangkah kembali ke laut. Aku mengikutinya, berusaha menjaga jarak darinya meskipun aku ingin lebih dekat dengannya. Aku hanya bisa mengikuti jejak kakinya tanpa pernah melepaskan pandanganku darinya.

Sesampainya di pantai, Sooyoung kembali hanya berdiri diam. Dia membiarkan kakinya terkena ombak yang menjilat bibir pantai. Sesekali sebelah tangannya merapikan rambut panjang kecokelatannya yang tertiup angin. Aku masih tidak tahu apa yang dia lakukan dan kenapa dia bersikap seperti ini. Apa dia sedang memikirkan sesuatu? Atau apa ada hal-hal yang sedang mengganggu pikirannya? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sementara aku memandangi Sooyoung.

Naze koko ni hitori de tatte iru nodesu ka, onee-san?” Aku bisa mendengar dan melihat Naomi yang datang menghampiri Sooyoung. “Dareka ga koishī?—Apa kau sedang merindukan seseorang?

Sooyoung menolehkan kepala, lalu dia berjongkok di depan Naomi. “Dō yatte shitta no?—Bagaimana kau mengetahuinya?

“Karena aku juga sedang merindukan seseorang,” jawaban Naomi ini membuat Sooyoung terkejut.

Anata wa Kankoku-go o hanasu hōhō o shitte imashita ka?—Kau tahu cara berbicara dalam bahasa Korea

Hai, shitte imasu” jawab Naomi.

Sooyoung tersenyum, “Jadi apa yang kau lakukan sendirian disini? Katamu kau sedang merindukan seseorang, kalau boleh tahu… siapa?”

Uri oppa

Oppa?”

“Dia pergi meninggalkanku dan nenek untuk mencari uang yang banyak. Aku merindukannya, jadi aku kesini. Aku bahkan membuat tumpukan batu untuk berdoa,” Naomi menunjuk ke sebuah tumpukan batu baru yang dibuat kepada Sooyoung. “Kau mau berdoa untuk orang yang kau rindukan juga, onee-san?”

“Berdoa?”

Naomi menganggukkan kepala.

“Baiklah, kalau begitu. Ayo—“ celetuk Sooyoung yang langsung bangkit berdiri dan mengikuti Naomi melangkah ke tumpukan batunya.

Aku tak bisa tidak tersenyum melihat Sooyoung ikut berlutut di depan batu, lalu mengikuti apa yang Naomi lakukan. Saat matanya terpejam, dengan perlahan dan hati-hati aku mendekat ke arahnya. Aku berlutut disampingnya, memandangi wajahnya dari dekat dengan lekat. Aku tertegun melihat air mata yang menetes ke pipinya saat dia memanjatkan doa seperti yang Naomi lakukan. Lalu meskipun awalnya ragu, aku mengangkat satu tanganku dan mengusap pelan pipinya, menghapus air mata yang ada di sana.

O—

Aku dengan cepat meminta Naomi untuk diam dengan satu tanganku di depan mulutku. Naomi menganggukkan kepala pelan, lalu akupun segera bangkit dari tempatku dan kembali bersembunyi.

Subete ga daiōbudesuka, onee-san?—Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Naomi setelah beberapa saat.

Sooyoung mengangguk, lalu aku melihatnya menyentuh pipinya yang baru saja aku sentuh.

Dōshite?

“Tidak apa-apa,” jawab Sooyoung. “Arigatōgozaimashita

“Tidak perlu berterima kasih padaku, onee-san” kata Naomi sambil menatap ke arahku diam-diam. “Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya mengajakmu untuk berdoa bersamaku,”

Sooyoung tidak mengatakan apa-apa, tapi dia mengusap pelan kepala Naomi dan memberikan kecupan di keningnya.

Naomi-chan, doko ni imasu ka? Le ni kaerimashou—kau dimana? Ayo kita pulang

Hai, Obaa-chan” seru Naomi dengan keras. “Onee-san, aku harus pergi. Senang bertemu denganmu,”

Sooyoung kembali mengangguk dan membiarkan Naomi berlari pergi menghampiri neneknya. Aku tersenyum saat melihat Sooyoung membalas lambaian tangan Naomi, lalu melihatnya kembali memegangi pipinya. Setelah beberapa saat, dia melangkah pergi ke arah yang sama dengan Naomi menuju pemukiman penduduk. Aku kembali mengikutinya, tapi kemudian terkejut melihat Kang Dae Shik yang berjalan dari arah berlawanan.

Tanpa pikir panjang, aku mempercepat langkahku dan sengaja menabrak Sooyoung sampai membuatnya terjatuh tepat saat Kang Dae Shik melewatinya. Aku sempat berdiri diam di posisiku dan melirik ke arah Sooyoung yang membersihkan tubuhnya dan merasa lega bahwa Kang Dae Shik sama sekali tidak melihatnya. Aku cepat-cepat melangkah sebelum Sooyoung sempat memanggilku atau menahanku untuk tidak pergi. Aku kembali bersembunyi, dan mengawasi keadaan di sekitar Sooyoung. Aku bahkan lupa jika ada Kang Dae Shik disini, dan sekarang aku harus waspada karena jangan sampai namja itu mengetahui keberadaan Sooyoung disini. Itu akan sangat berbahaya untuk Sooyoung, aku yakin itu.

__

Sooyoung POV

Hari ini, aku memilih untuk menghabiskan waktuku sendirian di pantai di dekat penginapan kami di kota Kamitsushima. Sementara itu, Yoona dan Jinyoung memilih untuk berkeliling sesuka hati mereka ke tempat-tempat menarik yang ada di pulau ini. Sebenarnya, mereka mengajakku tapi aku menolaknya karena aku benar-benar tidak ingin kemana-mana hari ini. Bahkan Jinyoung sempat membatalkan rencana itu karena aku, tapi kemudian aku membujuknya untuk pergi saja bersama Yoona karena aku sama sekali tidak mau menghancurkan liburan menyenangkan yang diinginkan teman dekatku itu.

Ponselku tiba-tiba bergetar pelan, membuat perhatianku teralihkan untuk beberapa saat. Aku memperhatikan nama yang tertera di layar ponsel, lalu dengan enggan akupun menekan tombol terimanya.

Yeoboseyo?”

Gwenchana?” tanya Yoona langsung. “Apa kau ingin kami datang untuk menjemputmu disana?”

Aniya, dwaesseo” sahutku dengan cepat. “Kalian bersenang-senang saja dan pergilah ke tempat yang ingin kalian kunjungi. Aku akan tetap disini dan berkeliling,”

“Tapi… bukankah kau yang ingin pergi ke pulau ini? Tapi kenapa kau tidak pergi kemanapun?”

“Hanya karena aku ingin pergi kesini, bukan berarti aku tidak bisa menikmati satu tempat yang ada disini, Yoona-ya” kataku sambil menolehkan kepala ke sekitarku lalu kembali menatap ke arah laut. “Aku benar-benar tidak apa-apa disini dan aku lebih menikmati pantai daripada gunung” kataku berbohong.

“Tapi ada pantai-pantai lain di kota lain. Aku benar ‘kan Jinyoung-ah?”

Eo, maja.. maja. Kenapa kau tidak tertarik pergi mengunjungi pantai yang lainnya, Sooyoung-ssi?” Suara Jinyoung terdengar dari ponsel. “Jika kau mau, kami bisa menjemputmu dan membawamu ke pantai lain”

Aniyo, aniyo. Aku akan berjalan-jalan disini saja” kataku kembali menolak ajakan mereka meskipun ada sedikit rasa bersalah tapi aku benar-benar ingin sendirian sekarang karena aku tidak banyak memilikinya setelah aku mengenal Jinyoung. “Kalau begitu, kita bertemu lagi di penginapan nanti?”

Ada jeda sesaat sebelum kemudian Yoona menjawab, “Baiklah—“

“Katakan padaku jika kau ingin pergi ke suatu tempat, Sooyoung-ssi” seru Jinyoung segera. “Aku pasti akan langsung menjemputmu dan membawamu berkeliling ke tempat yang ingin kau datangi disini”

Em. Arraseoyo,” jawabku langsung mematikan sambungan teleponnya.

Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam saku, lalu menoleh ke sekitarku lagi. Untuk kesekian kalinya aku merasa ada seseorang yang mengawasiku, dan untuk kesekian kalinya aku tidak melihat siapapun yang ada disekitarku kecuali para turis—yang sama-sama sedang menikmati liburan, dan beberapa penduduk lokal dengan pekerjaan masing-masing. Tapi tidak ada satupun dari mereka terlihat sedang mengawasiku atau bahkan memandangku.

“Kau disini lagi, Onee-san” celetuk sebuah suara yang sudah pernah aku dengar. Saat aku menolehkan kepala, aku melihat gadis kecil yang sama yang saat itu pernah bertemu denganku di pantai ini. “Apa kau sedang merindukan seseorang lagi?” tanyanya padaku.

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Siapa namamu?”

“Naomi Kato,”

“Naomi—“ ulangku menyebut namanya. “Itu nama yang bagus,”

Arigatō,” sahut Naomi tersenyum senang. “Onee-san?

Ah, aku Sooyoung—“ celetukku memperkenalkan diri. “Senang berkenalan denganmu, Naomi-chan” kataku kemudian.

Naomi menganggukkan kepala sebagai tanggapan dari ucapanku.

“Apa kau sendirian lagi disini?” tanyaku ingin tahu karena tidak melihat siapapun datang bersama Naomi.

Īe, watashi wa sobo to isshodesu—tidak, aku bersama nenekku

“Dimana itu? Aku tidak melihat siapapun—“

“Disana,” sahut Naomi dengan cepat sambil menunjuk ke satu arah dan aku mengikuti telunjuknya. Disana memang ada seorang wanita tua yang sedang mencari sesuatu di pinggiran pantai. “Itu nenekku sedang mencari kerang untuk kami jual” katanya memberitahuku.

Aku mengalihkan perhatianku kembali pada Naomi yang sedang menendang-nendang pasir. “Kau tidak membantu nenekmu?” tanyaku.

“Aku mau, tapi nenek melarangku untuk membantunya dan justru menyuruhku untuk bermain saja—“ jawab Naomi terus menendang-nendang pasir di depannya. “—dan aku bosan karena tidak ada yang mau bermain denganku sekarang”

“Teman-temanmu?”

Watashi wa sore o motteinai

Kedua alisku saling bertaut, sedikit terkejut karena gadis seusia Naomi tidak memiliki teman. Biasanya anak-anak sepertinya justru memiliki teman banyak, tapi kenapa dia berkata dia tidak memilikinya?

Ah, aku punya!” seru Naomi tiba-tiba sebelum aku sempat mengatakan apapun lagi. “Min Woo onii-san. Dia temanku,”

“Min Woo?”

Naomi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arahku. Membuatku bertanya-tanya kenapa dia menatapku dengan senyum seperti itu. Tapi kemudian, aku merasakan ada seseorang yang sedang mengamatiku dan saat aku menoleh untuk memeriksanya, lagi-lagi aku tidak menemukan siapapun. Aku mendesah panjang sambil berusaha menghilangkan perasaan tidak nyamanku ini karena terus merasakan seperti ini.

“Ada apa, Onee-san?” tanya Naomi memecahkan keheningan.

Aku tersenyum tipis, “Tidak. Bukan apa-apa—“ kataku sambil menyentuh pipinya. “Naomi-chan, hmm… katanya kau bosan dan tidak ada teman, ‘kan? Kalau begitu, apa kau mau membantuku?”

“Tentu saja. Apa itu?”

“Temani onee-san jalan-jalan disekitar sini. Kau pasti tahu tempat-tempat yang menarik disini, ‘kan? Bagaimana?”

“Jalan-jalan?”

Aku mengangguk. “Kau mau?”

Hai!

Senyumku kembali mengembang, “Kalau begitu, ayo kita temui nenekmu. Biar aku minta ijin padanya untuk mengajakmu berjalan-jalan” kataku yang langsung disetujui oleh Naomi.

Gadis kecil ini terlihat sangat senang melihat dari langkah kakinya saat menghampiri neneknya yang sedang sibuk mencari sesuatu di sisi lain pantai. Dia tidak sendirian, karena ada wanita-wanita lain yang juga melakukan hal yang sama. Begitu kami mendekat, nenek Naomi seperti tahu kedatangan kami karena dia langsung menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan kepala. Dia menatap Naomi sesaat, lalu berpindah padaku.

Aku membungkukkan badan, “Ohayōgozaimasu” sapaku dengan ramah.

Ohayōgozaimasu

Watashi wa ichi-nichi mae ni anata no mago ni aimashita. Watashinonamaeha Sooyoungdesu—Aku bertemu cucumu sehari yang lalu. Namaku Sooyoung” kataku menjelaskan kedatanganku. “Aku turis disini. Aku ingin pergi ke beberapa tempat dan aku ingin mengajak Naomi. Apa boleh aku mengajaknya pergi?” tanyaku yang langsung diterjemahkan oleh Naomi untuk neneknya yang sepertinya kurang mengerti bahasaku.

Nenek Naomi mengatakan sesuatu dan aku hanya mendengarkan meskipun aku tahu beberapa kata yang dia ucapkan. Tapi Naomi dengan cepat memberitahuku bahwa neneknya mengijinkannya dan memintaku untuk langsung membawanya pulang ke rumah karena dia tidak akan di pantai ini lagi setelah pekerjaannya selesai. Dia memintaku untuk tidak membawa Naomi melebihi jam 11 siang karena Naomi harus pergi ke sekolahnya.

Wakarimasu. Watashi wa 11-ji mae ni kanojo o ie ni tsurete ikimasu—Aku mengerti. Aku akan membawanya pulang sebelum pukul 11” kataku menanggapi perkataan nenek Naomi itu. “Arigatōgozaimashita” kataku tidak lupa membungkukkan badanku.

Nenek Naomi mengangguk, dan setelah itu Naomi dengan cepat menarik tanganku menjauh dari neneknya. Kami pun meninggalkan pantai dengan tangan gadis kecil ini yang menggandeng tanganku. Dia melangkah dengan ceria dan terlihat sangat senang karena bisa melakukan sesuatu sebagai ganti bermain sendiri. Aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba aku mengajak Naomi pergi padahal tadinya aku ingin sendirian. Ide untuk mengajaknya pergi muncul begitu saja di kepalaku, dan kenapa aku tidak melakukannya? Lagipula masih banyak waktu untuk aku sendirian, sementara aku tak tahu kapan aku akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.

Setelah berjalan keluar dari pantai dan melewati pelabuhan Hitakatsu lalu berjalan sekitar 10 menit, akhirnya kami sampai di sebuah kuil. Kuil ini berada di tengah kota, berbeda dengan kuil-kuil lainnya yang biasanya berada di atas bukit. Meskipun begitu, suasana tenang disini masih sangatlah terasa.

Naomi mengajakku masuk dan kembali mengajakku berdoa di kuil itu, dan aku langsung menyetujuinya. Karena terakhir kali aku berdoa bersamanya, aku benar-benar merasakan kehadiran Kyuhyun—entah bagaimana. Aku merasakan sentuhannya di pipiku dan itu sangat jelas terasa. Seakan-akan dia memang berada disampingku dan menyentuhku. Meskipun waktu sudah lama berlalu, aku masih tidak bisa melupakan kehangatan dalam setiap sentuhan Kyuhyun di tubuhku. Dan setelah sekian lama, malam itu aku kembali merasakannya.

Akupun berdoa bersama Naomi di sebelahku. Saat dia memejamkan matanya, aku mengikutinya. Aku mengucapkan doa yang sama, doa untuk keselamatan Kyuhyun. Karena—entah bagaimana, aku yakin dia pasti masih hidup dan ada di suatu tempat, dan sejak aku mengetahui kabar tentangnya—dari Yeojin, hanya itulah satu-satunya yang aku inginkan setiap kali aku berdoa.

Saat aku selesai berdoa dan kembali membuka kedua mataku, aku melihat Naomi justru sedang memandangiku. Aku sempat terkejut tapi berhasil mengendalikan diriku sendiri dan tersenyum ke arahnya. Tanpa mengatakan apa-apa, kamipun keluar dari kuil dan aku kembali merasakan kehadiran seseorang saat aku baru saja menuruni undakan batu yang ada disini. Aku berhenti melangkah lalu menolehkan kepala ke sekitar, berusaha mencari seseorang tapi tidak berhasil menemukannya.

Dō shimashita ka?” tanya Naomi yang menyadari apa yang aku lakukan.

Aku mencelos, lalu segera memberikan tanggapan. “Īe, watashi wa chōdo darekaga koko ni ite, watashitachi o mite iru to omou—Tidak, aku hanya merasa seseorang disini dan mengawasi kita

Jinjjayo?” serunya sambil menoleh ke kanan-kirinya, lalu mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak melihat siapapun”

“Mungkin itu hanya perasaanku saja,” celetukku kemudian. “Sā, ikimashou?

Naomi mengangguk, “Ayo—“

Aku mengulurkan tanganku kembali dan dia segera menggandengnya. Kami berjalan-jalan di sekitar kota, masuk ke beberapa toko dan melihat-lihat apa yang mereka jual. Sesekali aku mencobakan sesuatu untuk di pakai Naomi dan berniat untuk membelikannya, tapi dengan cepat dia menolaknya. Meskipun kecewa tapi aku tidak bisa memaksanya untuk menerima sesuatu dariku. Satu-satunya hal yang tidak dia tolak saat aku berniat membelikannya adalah es krim. Aku cukup terkejut saat menawarinya—karena asal menyebutkannya setelah dia terus menolak tawaranku, mengingat udara disini masih dingin.

Aigoo… ini sudah hampir pukul sebelas, Naomi-chan!” seruku saat menatap jam yang melingkar di tanganku. “Benar-benar tidak terasa padahal kita hanya disekitar pelabuhan saja” kataku lagi.

“Aku harus pulang?”

Aku mengangguk. “Aku sudah berjanji pada nenekmu untuk membawamu pulang sebelum pukul sebelas. Lagipula, bukankah kau akan pergi sekolah?”

Em. Sekolah siang,”

“Kalau begitu, ayo kita pulang. Kita bisa berjalan-jalan lagi besok atau hmm, lain kali”

Meskipun terlihat kecewa, Naomi menganggukkan kepala. “Hai, onee-san

Naomi menunjukkan padaku arah menuju rumahnya, dan kamipun melangkah kesana. Jalan menuju ke pemukiman penduduk dimana Naomi tinggal itu melewati bukit-bukit, dan itu cukup melelahkan. Tapi Naomi sama sekali tidak terlihat lelah padahal banyak jalan menanjak yang dilalui, begitupula orang-orang lainnya yang berpapasan dengan kami atau kami lewati. Tentu saja, mereka sudah terbiasa sementara aku tidak. Jadi tidak heran jika aku lebih merasa lelah daripada Naomi yang terlihat biasa saja.

Setelah sekitar lima belas menit berjalan, kami akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana. Hampir semua rumah disini memiliki bentuk yang sama dan atap yang sama, satu hal yang membedakannya adalah pintu masuknya. Ada beberapa yang memiliki gerbang yang terbuat dari kayu sementara yang lainnya hanya berupa halaman luas tanpa gerbang. Rumah Naomi ini tidak memiliki pagar, tapi terlihat sangat nyaman. Neneknya—yang sekarang sudah berganti pakaian, terlihat sedang duduk di teras rumah dan menunggu Naomi.

Aku membungkukkan badan ke arah wanita itu, lalu segera meminta maaf. “Mōshiwakearimasen, watashitachiha okurete imasu” kataku.

Kinishinaide. Watashi wa kanojo ga betsu no yūjin o motte irunode, Naomi wa shiawaseda to omoimasu

Aku mengangguk, karena aku juga merasa senang bisa berteman dengan Naomi. Setelah menyerahkannya kembali ke neneknya, aku segera berpamitan dan berjanji pada gadis kecil itu untuk menemuinya lagi. Sebelum aku benar-benar pergi, Naomi sempat memberiku pelukan hangat dan aku hanya bisa tersenyum menerima itu. Aku mengusap pelan kepalanya, lalu mengecupnya dan pergi meninggalkan halaman rumah Naomi itu.

Baru beberapa langkah berjalan, aku kembali merasakan seseorang. Aku membiarkannya saja untuk beberapa saat karena siapa tahu itu memang hanya perasaanku saja. Tapi setelah memastikan bahwa memang ada seseorang yang mengikutiku, akupun berhenti melangkah dan dengan cepat menolehkan kepalaku ke belakang. Tepat saat itu aku melihat seorang namja yang membalikkan badannya dan bergegas melangkah menjauhiku.

Aku sempat ragu untuk sesat, khawatir jika dia orang yang memiliki niat jahat yang sama seperti yang dulu pernah terjadi. Tapi setelah mempertimbangkannya lagi, akupun segera melangkahkan kakiku mengikuti kemana namja itu pergi. Aku cukup beruntung karena disini adalah pemukiman penduduk, dan jalan-jalan disini tidak terlalu sempit seperti halnya di pemukiman yang ada di Seoul jadi aku bisa dengan mudah mengikutinya.

Chottomatte!” seruku saat melihat namja itu berbelok ke sebuah persimpangan jalan. “Chottomatte!” seruku lagi karena dia sama sekali tidak mendengarkanku.

Aku terus mengikutinya, masuk ke jalanan lain di pemukiman ini. Sedikit kebingungan saat aku tidak bisa menemukannya dan terpaksa bertanya-tanya pada orang-orang yang berpapasan denganku. Setelah mengikuti arahan orang-orang yang kebetulan melihat namja yang aku maksud, aku justru terkejut karena aku tiba di sebuah rumah tanpa pagar yang hampir sama dengan rumah milik Naomi. Aku kembali ragu karena menurutku tidak sopan untuk masuk ke halaman rumah seseorang tanpa ijin, tapi kemudian akupun memasukinya karena aku benar-benar ingin tahu siapa penduduk di pulau ini yang mengikutiku dan untuk alasan apa.

Anatahadare?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah samping rumah. Aku menolehkan kepala dan melihat seorang yeoja yang usianya sepertinya diatasku sedang menatapku dengan ingin tahu. “Soshite, anata wa watashinoie de nani o shite imasu ka?

Ā, mōshiwake arimasen. Watashi wa chōdo—“ Aku bingung mencari alasan yang bagus. Aku mengalihkan pandangan sesaat, “Aku pikir dia masuk kesini, tapi sepertinya tidak” gumamku pada sendiri.

“Kau mengatakan sesuatu?”

Aku mencelos, “Kau bisa berbicara—“

Ne, aku bisa”

Aku seharusnya tidak terkejut, tapi tetap saja aku terkejut dan terkesan. Belum juga aku mengatakan apapun lagi, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Ini adalah hujan pertama di musim semi, dan meskipun aku ingin menikmatinya tapi yeoja itu langsung mengajakku untuk berteduh di rumahnya. Dia bahkan tanpa ragu mengajakku untuk masuk ke dalam rumah, lalu memberikan handuk kering dan menghidangkan teh hangat.

Kamshamnida, tapi kau seharusnya tidak perlu melakukan seperti ini” kataku pada yeoja itu sambil menerima handuk darinya. “Aku benar-benar merasa bersalah karena merepotkanmu,”

Oh, ini tidak merepotkan sama sekali. Aku selalu senang membantu wistawan yang tersesat—“

Aku mencelos dan diam sesaat, tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Jujur saja, aku benar-benar bagaimana harus mengatakan padanya bahwa aku datang ke rumahnya ini karena aku hanya mengikuti perkataan beberapa orang saat aku bertanya pada mereka. Aku tidak menyangka aku justru sampai di rumah ini dan bertemu pemilik rumahnya yang bukan namja sama sekali. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan itu padanya?

“Omong-omong, siapa namamu?” tanya yeoja itu setelah diam dan membiarkanku mengeringkan rambut dan tubuhku.

“Choi Sooyoung. Aku dari Seoul—“

“Senang bertemu denganmu, Sooyoung-ssi. Aku Ayami Takeda,”

Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lalu saat pembicaraan yang lainnya dimulai, seorang namja tiba-tiba keluar dari sebuah ruangan. Aku dan Ayami bersamaan menoleh ke arahnya dan aku sempat terkejut karena sepertinya memang benar bahwa namja yang aku ikuti adalah dia. Meskipun aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu dari tinggi badannya dan pakaiannya. Karena diapun sama sekali tidak mengganti pakaiannya seperti yang tadi aku lihat di jalanan.

Doko ni iku no, Min Woo-san?” celetuk Ayami sebelum namja itu melangkah pergi tanpa menoleh ke arah kami.

Satu alisku terangkat mendengar nama yang disebut Ayami karena sepertinya aku pernah mendengarnya sebelumnya.

Untuk sesaat namja itu hanya terpaku diam di tempatnya, tapi kemudian dia berbicara. “Tsuri—“

Aku mencelos, terkejut dengan suara yang aku dengar. Entah kenapa jantungku pun berdegup kencang, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saat menyadari Ayami sedang menatapku. Dia menawari tehnya dan mau tak mau aku meneguknya sambil mencuri pandang ke arah namja yang terus memunggungiku dan Ayami. Bukankah tidak sopan untuk menjawab pertanyaan tanpa menghadap wajahnya?

Shibaraku shite wa ikenai” kata Ayami lagi.

Hai,

Namja itu pun melangkah pergi dan aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya sampai dia sama sekali tidak terlihat dari pandanganku lagi. Meskipun aneh, entah kenapa aku benar-benar merasa tidak asing dengannya. Tapi kenapa perasaan seperti itu tiba-tiba muncul? Kenapa juga jantungku berdegup lebih kencang saat aku mendengar suaranya? Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya dan tidak melihat wajahnya. Tidak mungkin perasaanku—

Mianhamida. Itu adikku,” celetuk Ayami yang langsung membuyarkan pikiranku. “Dia memang selalu berkeliaran tidak peduli entah itu hujan atau tidak,”

“Adikmu?”

Ayami mengangguk. “Lebih tepatnya adik iparku. Namanya Min Woo—“ katanya memberitahuku. “Waeyo? Apa ada sesuatu yang salah?” tanyanya kemudian, seakan bisa mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

Oh, aniyo amugeotdo. Geunyang—“ Aku mengambil jeda sesaat untuk berpikir apa yang harus aku katakan selanjutnya. Setelah beberapa saat, akupun melanjutkan bicara, “Kurasa aku pernah mendengar nama adikmu itu, Ayami-ssi

“Mendengar namanya?”

Aku menganggukkan kepala sambil berpikir dimana aku pernah mendengar nama itu. Tapi kemudian, aku teringat gadis kecil itu, Naomi. Aku mendengus kecil, benar-benar tidak percaya bahwa aku telah melakukan tindakan bodoh seperti ini. Bagaimana bisa aku berpikir dia mengikutiku?

Waeyo, Sooyoung-ssi?” tanya Ayami lagi karena aku tetap diam. “Dimana kau pernah mendengar nama adikku?”

Aku tersenyum tipis, “Naomi—“

Ne? Naomi-chan?”

Aku kembali menganggukkan kepala. “Majayo, Naomi-chan pernah memberitahuku Min Woo onii-san adalah satu-satunya temannya. Apa aku benar?”

“Benar,”

Ayami tersenyum lebar, lalu diapun menceritakan padaku bagaimana Min Woo—adiknya, selalu menemani Naomi ke pelabuhan untuk menunggu kakaknya turun dari kapal. Dia juga memberitahuku bagaimana Min Woo tidak pernah melewatkan satu haripun untuk bermain dengan Naomi sebelum gadis itu pergi ke sekolah. Mendengar itu membuatku semakin merasa bersalah dan bodoh karena menganggap Min Woo adalah orang yang mengikutiku. Bagaimana jika sebenarnya dia hanya ingin mengajak Naomi tapi saat itu dia sedang bersamaku? Untuk menghilangkan rasa bersalahku, aku akan menunggunya dan meminta maaf padanya. Tapi bagaimana aku mengatakan ini pada Ayami? Tidak mungkin juga aku berlama-lama di rumahnya ‘kan?

__

Kyuhyun POV

Aku duduk mematung di teras rumah sambil memandang jauh ke arah laut di depanku. Tanganku masih memegang kapak, sementara di kakiku tergeletak bongkahan kayu yang baru saja selesai aku belah. Cukup lama aku berhenti mengerjakan apa yang aku lakukan karena pikiranku kembali tertuju pada Sooyoung dan bagaimana dia hampir memergokiku kemarin. Aku tak tahu bagaimana dia sampai bisa menemukan rumah ini padahal aku sudah berusaha keras untuk bersembunyi darinya setelah dia melihatku. Aku juga tak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya Ayami tidak keluar saat itu karena aku benar-benar belum siap untuk bertemu dengannya.

Oh, Min Woo-san! Kau masih disini,” Seruan tu datang dari arah halaman rumah. Ayami disana, menatapku dengan pandangan heran. “Kupikir kau sudah pergi ke pelabuhan” katanya lagi.

“Pelabuhan?” ulangku bingung. “Kenapa aku pergi ke pelabuhan di jam seperti ini?”

“Yah… kenapa lagi? Sooyoung-ssi akan kembali ke Seoul hari ini jadi kupikir kau—“

Mworaguyo?” sahutku memotong perkataannya sambil bangkit berdiri.

“Aku—aku melihatnya keluar dari penginapannya dan pergi bersama teman-temannya membawa tas menuju pelabuhan” kata Ayami terlihat terkejut dengan reaksiku. “Kupikir kau sudah tahu dan sudah ada disana, tapi kau masih ternyata masih disini,”

“Tidak, aku tidak—“

Onii-san! Min Woo onii-san!” Panggilan keras Naomi itu terdengar dan menghentikan apa yang ingin aku katakan. Tak lama kemudian sosoknya muncul sambil berlari-lari kecil dan berhenti di depanku. “Onii-san, apa kau tahu Sooyoung onee-san akan pulang hari ini? Dia tadi menemuiku sebentar dan pergi ke pelabuhan,”

Aku menatap Ayami yang menganggukkan kepala ke arahku. Lalu tanpa mengatakan apa-apa padanya, aku bergegas pergi ke pelabuhan. Aku tahu bahwa aku memang belum memutuskan apapun selama aku melihat Sooyoung di pulau ini. Aku selalu hanya mengikutinya dan mengawasinya dan bahkan menghindarinya saat kesempatan untuk bertemu itu datang. Tapi saat dia harus pergi, aku benar-benar tidak bisa untuk tetap diam saja. Setidaknya aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya di pulau ini sebelum aku menyelesaikan urusanku disini—mengetahui tentang Kang Dae Shik, lalu memutuskan untuk kembali ke Seoul.

Setelah lima belas menit berlari, aku sampai di pintu masuk pelabuhan dengan terengah. Aku langsung masuk ke dalam dan mencari-cari sosoknya. Sempat beberapa kali aku menyenggol beberapa orang yang aku lewati tanpa meminta maaf. Pandanganku terus mengarah berkeliling. Apa dia sudah pergi? Kapal menuju Busan memang sebentar lagi berangkat, tapi aku belum menemukannya. Aku terus mencari-cari dengan gelisah. Apa aku tidak bisa melihatnya?

Lalu saat aku mulai menyerah, aku melihat Sooyoung yang sedang naik ke atas kapal. Aku benar-benar merasakan kelegaan menguasaiku dan tetap berada di posisiku, memandanginya tanpa mendekat meskipun hanya satu langkah. Untuk saat ini, melihatnya saja sudah cukup untukku. Tapi aku berjanji bahwa aku benar-benar akan menemuinya dan berbicara padanya setelah aku kembali ke Seoul. Aku tidak peduli apa dia akan marah padaku atau bahkan tidak memaafkanku lagi saat itu datang. Aku akan menerima sikap apapun yang dia berikan padaku.

Aku tersenyum melihat Sooyoung yang sudah sampai di pintu kapal, tapi dengan cepat membalikkan badan saat dia juga membalikkan badannya. Untuk sesaat aku hanya diam di tempatku, khawatir jika saat aku kembali memutar tubuhku sekedar untuk memeriksanya, dia masih berdiri disana. Tapi aku tidak mungkin terus berdiri seperti ini, ‘kan? Apa lebih baik pergi atau bagaimana?

Belum sempat aku memutuskan apapun, pandangan mataku tanpa sengaja menangkap sosok Kang Dae Shik yang berdiri memperhatikan kapal dari satu tempat. Dia tidak melihatku karena pandangannya tertuju pada satu arah dan aku tidak tahu apa yang sedang dia lihat. Mungkinkah apa yang dia lihat itu Sooyoung? Apa itu artinya dia tahu bahwa yeoja itu masih hidup dan bahkan sempat berada di pulau yang sama dengannya?

“Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi,” gumamku pada diri sendiri.

Aku baru saja akan melangkahkan kaki, tapi sesuatu menahanku. Seseorang terlihat menemui Kang Dae Shik dan mereka berbicara dengan cara yang sangat mencurigakan. Aku terus memperhatikan itu dan sesekali bersembunyi dari pandangan mereka agar mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya ada seseorang yang sedang melihat apa yang sedang mereka lakukan. Lalu, saat mereka berdua pergi meninggalkan pelabuhan, tanpa ragu akupun mengikuti mereka. Aku menyempatkan diri—pada akhirnya, untuk menoleh ke belakang, untuk melihat Sooyoung yang terakhir kalinya tapi terkejut saat ternyata pandangan mata kami bertemu.

Dengan cepat aku menolehkan kepalaku lagi dan bergegas meninggalkan pelabuhan. Aku mengejar Kang Dae Shik, dan sempat melihat mobil yang dikendarainya melintas melewatiku. Aku segera menolehkan kepala ke sekitarku, mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengejarnya dan melihat seseorang yang aku kenal baru saja menurunkan keranjang-keranjang ikannya di pinggir dermaga. Tanpa ragu aku menghampirinya dan meminta ijinnya untuk meminjam mobil yang biasa dia pakai untuk membawa ikan dari dermaga ke pasar ikan di kota.

Dōmo arigatōgozaimasu. Watashi wa sugu ni sore o kaesu yo” kataku sebelum menginjak pedal gas mobil dan meninggalkan pelabuhan.

Meskipun mobil ini sudah tua dan tidak bisa melaju kencang seperti mobil-mobil kota lainnya, tapi aku berhasil mengejar mobil yang dikendari oleh Kang Dae Shik. Karena sangat kurangnya mobil yang terlihat di pulau ini dan satu-satunya jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar yang menghubungkan antar kota. Itulah kenapa aku bisa dengan mudah menemukan apa yang aku cari di jalanan ini.

Aku berusaha keras untuk berhati-hati agar aku tidak terlihat seperti sedang mengikutinya. Beberapa kali aku harus tetap berada di belakang bus dan menghindar untuk terlihat oleh Kang Dae Shik dari dalam mobil. Tapi jelas dia membawa orang yang dia temui di pelabuhan itu masuk ke mobilnya, dan sepertinya mereka pergi ke suatu tempat. Aku benar-benar tidak akan melepaskannya kali ini karena ini adalah kesempatanku untuk membalas apa yang sudah dia lakukan pada Sooyoung hanya untuk sebuah cincin.

Mobilnya melewati beberapa kota, termasuk Mine, Toyotama, Mitushima dan akhirnya berhenti di Izuhara, di sebuah pintu masuk ke Shimizuyama Castle Ruins—Reruntuhan Kastil Shimizuyama. Aku mengawasi dari mobil saat dua orang itu keluar dari mobil mereka dan mulai memasuki tempat itu bersama orang-orang lainnya yang datang dengan tujuan wisata. Aku baru keluar dari mobil setelah menunggu beberapa saat, kemudian bergabung dengan beberapa turis yang mulai menaiki undakan batu untuk sampai ke reruntuhan kastil itu.

Ada tiga dinding di reruntuhan kastil ini, dan aku terus mengikuti Kang Dae Shik sampai ke dinding ke tiga sebelum akhirnya dua orang itu memisahkan diri menuju hutan gunung Ariake yang memang menjadi lokasi reruntuhan kastil ini. Aku semakin berhati-hati saat mengikuti mereka masuk ke dalam hutan dan juga terus menjaga jarak. Apapun yang terjadi, mereka tidak boleh tahu bahwa mereka sedang diikuti dan Kang Dae Shik juga tidak boleh tahu bahwa aku ada disini selama ini. Karena aku sendiripun tidak benar-benar tahu apa sebenarnya dia sudah menganggapku mati atau tidak karena apa yang terjadi malam itu di kapal, aku tidak begitu bisa mengingatnya.

Aku terus berjalan, melompati sungai kecil di hutan dan bersembunyi saat aku merasa kedua orang itu atau salah satunya sedang memeriksa keadaan di sekitar. Setiap kali mereka berhenti melangkah, aku segera mencari tempat yang cukup untuk menyembunyikan tubuhku. Aku benar-benar berusaha untuk tidak memberikan tanda apapun pada mereka atau membuat mereka curiga bahwa ada aku di belakang mereka. Suasanya yang sangat sepi di hutan ini juga membuatku harus berhati-hati untuk tidak menginjak dahan pohon yang jatuh yang akan menimbulkan suara. Meskipun gesekan daun-daun di hutan akibat angin yang terus bertiup sedikit menyamarkannya tapi tetap saja aku tidak mau mengambil resiko apapun.

“Sudah kukatakan padamu, mereka sudah disini. Lihat, bahkan pondoknya sudah jadi” Akhirnya aku mendengar suara setelah beberapa saat hanya mengikuti mereka berjalan lebih masuk ke dalam hutan. Suara itu terdengar jelas meskipun dari jarak yang cukup jauh dimana aku berdiri mengintai. Tapi aku tahu itu bukanlah suara Kang Dae Shik, karena suaranya jauh terdengar lebih berat dari suara ini.

Aku menjulurkan kepalaku sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dua orang itu sedang berdiri di depan sebuah pondok sederhana. Sementara namja yang satu menunjuk-nunjuk ke berbagai arah, namja lainnya—Kang Dae Shik, mengangguk-angguk mengerti sambil menatap ke arah yang ditunjuk kepadanya. Lalu beberapa orang, sekitar lima orang, keluar dari pondok dan menyambut dua orang yang baru datang itu. Aku bisa melihat lima orang itu memiliki kewarganegaraan yang berbeda hanya dari penampilannya saja.

“Dari tempat inilah aku dan teman-temanku akan melakukan operasinya. Kami akan segera menerima barang-barangnya dari pelabuhan Izuhara” Namja yang tadi bicara kembali memberitahu. “Smith yang akan bertanggung jawab untuk membawanya dari pelabuhan ke tempat ini. Smith, come here!

Seorang namja tinggi, berkulit hitam keluar dari barisan dan melangkah untuk menemui Kang Dae Shik. Mereka berbicara pelan, jadi aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka katakan selain hanya melihat apa yang terjadi. Tapi setelah namja bernama Smith itu berbicara, dia bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar lagi sambil membawa sebuah benda di tangannya. Aku menyipitkan mata, berusaha untuk melihat lebih jelas benda apa yang dibawa olehnya. Tidak sampai satu menit, mataku membelalak begitu aku melihat sebuah batu besar—semacam patung, saat dia memberikannya pada Kang Dae Shik.

“Itu salah satu dari barang yang belum kami berikan,” jelas namja yang sama. “Akan ada banyak barang yang datang setelah ini,”

Kang Dae Shik terlihat sedang mengamati benda di tangannya itu, dan aku melihatnya mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi katamu, kau hanya memerlukan bantuanku untuk menyelundupkan ini ke Busan dan kau akan membantuku membentuk kembali kelompokku?”

“Itu benar,” sahut namja itu.

“Dan menurutmu, aku mau melakukannya setelah apa yang kelompokmu lakukan padaku?”

“Ya, tentu saja”

“Kenapa kau pikir begitu?”

“Kenapa lagi?” Namja itu balas bertanya. “Semua orang membutuhkan uang, dan aku melakukan ini bukan atas perintah kelompok manapun. Black Dragon tidak pernah membiarkan keuntungan dari benda-benda selundupan untuk kepentingan pribadi. Kami melakukannya, karena kami lebih membutuhkan uang itu daripada mereka”

Mataku kembali membelalak mendengar nama Black Dragon disebut dari mulutnya. Aku tak pernah menyangka jika orang-orang ini adalah salah satu dari kelompok Black Dragon yang berencana untuk menyelundupkan barang-barang yang dilarang ke negaraku melalui Busan.

“Itu berarti kau berencana mengkhianati kelompokmu?”

“Ini sudah bukan rencana lagi, tuan. Kami sudah melakukannya sejak beberapa minggu yang lalu—“

“Dan kau melakukan ini hanya bersama dengan kelima temanmu itu?”

“Tidak,” sahutnya dengan cepat. “Ketua kami sudah menunggu di Korea sejak kau gagal mendapatkan cincin itu”

Mworago? Kau—“

“Kami tahu,” selanya dengan cepat sebelum Kang Dae Shik bahkan mengatakan apapun. “Alasanmu dibuang di pulau ini adalah untuk melakukan hal ini bersama kami. Ketua kami memberimu kesempatan kedua untuk mengumpulkan orang-orangmu dan menemukan cincin itu”

“Gadis itu mungkin sudah memberikannya pada CIA, apa kau tidak pernah memikirkan itu?”

“Tidak ada cincin apapun yang diberikan pada CIA,” jawabnya. “Gadis itu juga menolak untuk menjadi saksi. Itu informasi yang kami dapatkan dari Ketua kami”

Ada jeda yang cukup lama, dan itu memberiku kesempatan untuk berpikir. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada Kang Dae Shik, dan kenapa dia bisa ada di pulau ini. Aku juga tidak tahu apa yang sudah Black Dragon lakukan padanya tapi mungkin itu berhubungan dengan kegagalannya mendapatkan cincin BAST itu. Bukankah Seo In Guk berkata bahwa seharusnya ada kesepakatan mengenai cincin itu tapi cincin yang dia dapatkan adalah cincin palsu? Jika apa yang mereka katakan itu benar, itu berarti nyawa Sooyoung masih dalam bahaya. Aku harus melakukan sesuatu sekarang, tapi apa?

-TBC-

Mianhae, aku bakalan lama update FF ini. Tapi jangan khawatir, aku pasti selesaiin FF-nya, walaupun lama. Dan mungkin beberapa episode ini, belum ada Kyuyoung moment-nya yah (demi kepentingan cerita).. mianhae, tapi tunggu aja J Sekali lagi aku minta maaf ya.

Jangan lupa komentarnya^^

Gomawo

 

Advertisements

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

8 thoughts on “[Series] The Precious Thing -11-

  1. Klo genre action suka bingung mu comment apaan, yg psti sich Daebak ni cerita kya real aja krsanya.
    Kirain dah selesai nyariToh cincin ternyata msh lanjut, nyawa Sooyoung msh terancam kyanya. Kyuhyun main sembunyi² coba aja SooyoUKng tahu bkal gmna yah?

  2. Annyeong…..
    Kami akan selalu setia menunggu….. seperti Sooyoung yg selalu menunggu Kyuhyun…uhuhk😝
    Wuaaah…. Sooyoung masih dalam bahaya…. yak ampun gemes kenapa nih kyuyoung gak ktmu2….
    Berharap part berikutnya ada keajaiban…
    Gomawo..😄

  3. aish kenapa seperti ini sdh lama nunggu part ini eoni kenapa moment kyuyoungny di batasi saat mereka berada dalam satu daerah kenapa susah banget padhal mereka saling merinduhkan satu sama lain aku juga nunggu moment mereka aish jinjayo jeongmal eonii next part di tunggu ya jangan lama2 eo di postny aku slalu cek ini wp tiap hari krn nungguin kelanjutanya yahh walaupun part ini moment kyuyoung cuma seperti itu argghh jinjayo

  4. Ayo kyu jgn sembunyi trus nyawa sooyoung masih dlm bahaya tuh klau u gak segera bertindak kang daesik akan memburu sooyoung lagi tuh… ditunggu lanjutanx ya min…

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s