Posted in Action, Romance

[Series] The Precious Thing -12-

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

Sooyoung POV

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskan napas pelan, mencoba untuk menghirup sebanyak mungkin udara segar pulau Tsushima sebelum aku meninggalkannya sebentar lagi. Aku tidak menyangka jika waktu liburanku disini sudah berakhir dan ini saatnya aku harus kembali ke Seoul bersama Yoona dan Jinyoung. Meskipun aku tidak benar-benar berlibur—karena lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, tapi aku cukup menikmati semua hal yang ada disini.s Aku bahkan berteman dengan penduduk pulai ini meski dia hanya seorang anak kecil.

“Yoona-ya!” celetukku karena aku teringat dengan Naomi setelah terlintas sosoknya di pikiranku. “Sebelum aku benar-benar ke pelabuhan, aku akan pergi menemui seseorang terlebih dahulu”

Nuga?

“Ada seorang anak kecil di pulau ini yang berteman denganku,” Aku memberitahu Yoona. “Kau tahu ‘kan, anak kecil yang pernah aku ceritakan di hari kita tiba di pulau ini. Aku kembali bertemu dengannya, berkenalan dan berteman dengannya beberapa hari yang lalu. Tapi setelah beberapa hari, aku tidak menemuinya lagi”

“Kau bertemu dengannya dan berteman dengannya?” seru Yoona terdengar tidak percaya. “Ini benar-benar tidak biasa kau mau berteman dengan seseorang dalam waktu seminggu”

Ya! Aku bahkan berteman dengan Jinyoung setelah beberapa hari aku mengenalnya”

Jinjja? Kau sudah berteman dengannya?”

Aku diam sesaat karena bingung harus menjawab bagaimana. “Meskipun aku tidak pernah berkata langsung bahwa aku dan Jinyoung berteman, tapi bukankah dengan membiarkannya terus disampingku sudah menunjukkan bahwa kami berteman?” kataku kemudian.

“Arti menerima dan tidak menerima teman itu memang berbeda bagi masing-masing orang. Tapi aku senang kau menerima Jinyoung dengan baik sebagai temanmu” kata Yoona sambil memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam koper lalu menutupnya. “Itu berarti aku berhasil membuka hatiku untuk menerima kehadiran orang lain lagi. Entah itu sebagi teman atau ‘teman’,” tambahnya dengan dua tangannya terangkat dan memberi penekanan di kata terakhirnya.

Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan apapun kali ini. Kami menyelesaikan memasukkan barang-barang kami dan keluar menemui Jinyoung yang sudah menunggu di depan kamar kami. Begitu melihatku, dia tersenyum—seperti biasanya, tapi aku hanya memberikan pandangan sesaat padanya. Lalu kamipun bersama-sama meninggalkan penginapan dan melangakh ke arah pelabuhan.

“Aku akan pergi sebentar,” kataku saat melewati jalan yang pernah aku lewati untuk mengantar Naomi. “Aku akan menemuinya sebentar dan kembali lagi kesini”

Eodigayo?

“Dia akan menemui temannya,”

Geuraeyo, Jinyoung-ssi. Aku akan pergi menemui temanku sebentar,” kataku. “Jangan khawatir, itu hanya sebentar” Aku melanjutkan.

“Aku akan menemanimu, Sooyoung-ssi

Gwenchanayo. Kau tetap disini saja bersama Yoona, lagipula itu hanya sebentar” Aku segera menolak tawaran Jinyoung itu. “Aku pergi dulu,”

Aku menatap kedua temanku ini sesaat lalu melangkah menyusuri jalanan yang pernah aku lewati. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan bertemu dengannya d rumahnya atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk tetap datang ke rumahnya, ‘kan? Siapa tahu dia memang sedang di rumah karena aku tidak melihatnya di pantai yang biasanya pagi ini.

Aku menyapa orang-orang yang berpapasan denganku saat berjalan di pemukiman penduduk ini. Aku tidak melupakan jalan ke rumah Naomi karena itu memang sangat mudah diikuti. Aku hanya perlu berbelok sekali di persimpangan jalan pertama dan melewati beberapa rumah sebelum akhirnya sampai di rumah Naomi. Aku memasuki halamannya yang terlihat sepi, lalu melihat neneknya yang sedang melakukan sesuatu di sisi lain bangunan rumahnya.

Kon’nichiwa,” sapaku sambil membungkukkan badan. “Aku mencari Naomi. Apa kabetulan dia di rumah?”

“Naomi?”

Hai, Naomi”

Naomi wa mada gakkō kara kaette kite imasendeshita. Shikashi, kare wa sugu ni ie ni narudeshou

Aku mencerna kata-kata itu, berusaha mengerti sendiri apa yang dia katakan. Meskipun begitu, aku sempat mendengar kata ‘gakkōyang berarti sekolah. Apa itu berarti Naomi masih di sekolah atau bagaimana? Aku menelan ludah, tidak yakin apa yang harus aku katakan selanjutnya.

Nazedeshou ka? Naomi no tame no gaikan wa nanidesu ka?

A, chottomatte” kataku meskipun masih tidak yakin apa yang dia katakan sama dengan apa yang aku mengerti. Tapi aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku dan memberikannya pada nenek itu. “Aku ingin Naomi memiliki ini. Aku harus kembali ke Seoul, jadi aku akan meninggalkan ini untuk Naomi”

Naomi no tame ni koreha?

Hai, Naomi no tame ni” sahutku sedikit lega karena kali ini dia mengerti apa yang aku maksud meskipun bahasa kami berbeda. “Aku harus pergi sekarang. Dōmo arigatōgozaimasu” kataku tidak lupa membungkukkan badan.

Dōitashimashite,

Aku tersenyum lalu kembali membungkuk sebelum benar-benar meninggalkan halaman rumah Naomi. Mengecewakan memang karena aku tidak bisa bertemu dengan anak itu karena dia masih ada di sekolah—sepertinya. Tapi mau bagaimana lagi? Suatu saat mungkin aku akan bisa datang ke pulau ini lagi dan bertemu dengannya. Aku yakin kesempatan itu pasti akan datang lagi padaku nanti.

Aku melangkahkan kakiku kembali menyusuri jalan yang sama dan bertemu Yoona serta Jinyoung yang sedang menungguku dengan gelisah. Aku tahu karena saat mereka melihatku, ekspresi wajah mereka dengan cepat berubah menjadi lebih tenang. Bahkan Jinyoung langsung menghampiriku dan tanpa meminta persetujuanku, dia langsung mengambil koperku dan membawanya bersamanya. Saat aku berniat untuk mengambilnya kembali, Yoona mencegahku.

“Biarkan saja. Itu karena dia kalah taruhan denganku,” katanya memberitahu. “Lihat, dia juga membawakan koperku”

Aku menyadari bahwa Yoona memang tidak membawa apa-apa kecuali tas kecilnya dan melihat Jinyoung yang kesulitan membawa tiga koper menuju pelabuhan. Aku tidak bisa tidak tertawa melihatnya sambil mengikuti langkah kaki Yoona untuk pergi ke pelabuhan. Yoona mengalungkan tangannya di lenganku dalam perjalanan ini, membuatku sedikit keheranan karena dia sudah lama tidak berjalan seperti ini denganku. Dia dulu melakukannya saat dia sedang senang atau saat dia berhasil melakukan sesuatu. Apa itu berarti saat ini dia juga merasa seperti itu?

Wae? Apa kau senang kita kembali lagi ke Seoul?” tanyaku ingin tahu. “Di Seoul kau tidak akan mendapatkan pemandangan dan udara yang segar seperti ini, ‘kan? Apa kau senang?”

Aigoo… tentu saja aku senang,” sahut Yoona. “Meskipun begitu, aku senang bukan hanya karena aku bisa pulang ke rumah, tapi juga karena kau sudah menjadi Sooyoung yang aku kenal”

Mwo? Memangnya selama ini aku Sooyoung yang tidak kau kenal?”

“Bukan begitu maksudku…” kata Yoona sambil mengajakku masuk ke pintu pelabuhan dan kemudian mengantri untuk pemeriksaan. “Kau tahu, hmm—setelah apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, aku khawatir kau akan trauma apalagi saat kau sendirian atau bertemu orang asing. Tapi kau tidak menunjukkan tanda-tanda itu, jadi aku senang”

Aku diam sesaat, lalu menjawab. “Meskipun tidak menunjukkannya, bukan berarti aku tidak khawatir saat aku sendirian, kau tahu”

Oh?”

“Aku bahkan selalu merasa ada seseorang yang mengikutiku dan mengawasiku di pulau ini”

Mwo? Kenapa kau tidak—“

“Aku tidak memberitahumu karena aku tidak mau membuatmu khawatir,” selaku dengan cepat. “Ini liburan, ‘kan? Kenapa aku harus membuat khawatir orang disaat seharusnya mereka menikmati waktu libur mereka?”

“Meskipun itu aku? Sahabatmu sendiri?”

Mianhae,”

Yoona tidak mengatakan apa-apa padaku, tapi terus menatapku dengan lekat. Lalu setelah beberapa detik, diapun mengangguk pelan.

Pembicaraan kami terhenti karena antrian sudah berada pada kami. Aku segera mengeluarkan beberapa dokumen yang dibutuhkan lalu menunjukkan tiket kapal yang akan membawaku kembali ke Busan. Setelah semua pemeriksaannya selesai dilakukan, akupun melangkah masuk dan menghampiri Jinyoung yang sudah berada di dalam terlebih dahulu.

“Letakkan tasmu di koper, aku akan membawanya sekalian ke kapal” kata Jinyoung sambil menunggu persiapan kapal yang sedang menepi di dermaga. “Jangan menolak, Sooyoung-ssi. Aku tahu kau akan menolak, tapi aku kalah taruhan jadi aku harus membawa semuanya sampai ke atas kapal” Jinyoung melanjutkan sebelum aku sempat mengatakan apa-apa.

“Benar, biarkan saja” celetuk Yoona bergabung dengan kami. “Lagipula dia namja, jadi sudah seharusnya membawakan tas-tas kita ‘kan?”

“Tapi—“

Gwenchanayo. Aku sudah biasa seperti ini,”

Aku diam saja meskipun merasa tidak nyaman karena merepotkan Jinyoung tidak peduli dia kalah taruhan atau tidak. Aku bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka pertaruhkan dan tidak berniat untuk menanyakannya sama sekali, tidak pada Jinyoung maupun Yoona. Mungkin mereka memang sudah terbiasa seperti itu, sebagai sepupu masing-masing.

Tangga kapal mulai diturunkan ke dermaga, dan orang-orang yang berencana pulang atau datang ke Busan mulai bergegas masuk ke kapal. Sementara mereka berebut untuk segera naik ke tangganya, aku justru memilih untuk berlama-lama di pelabuhan. Bukan apa-apa, tapi aku masih merasa enggan meninggalkan pulau ini entah untuk alasan apa. Itulah kenapa aku membiarkan saja saat orang-orang menyerobotku, dan bahkan tidak memedulikan teman-temanku yang sudah mulai menaiki tangga sambil membawa tas-tas kami.

Setelah dengan sabar menunggu dan mengalah, akhirnya aku sampai di tangga kapal. Akupun segera menaikinya tapi kemudian berhenti di puncak tangga karena aku merasa seseorang sedang menatapku lagi. Aku memilih untuk minggir untuk membiarkan orang-orang di belakangku bisa lewat lalu dengan cepat membalikkan badan dan mengarahkan pandanganku ke sekitar pelabuhan. Ada beberapa orang yang masih ada di pelabuhan dengan urusan mereka masing-masing. Aku mengamati itu semua, ada yang bekerja, mengobrol, mengangkut ikan dan membawanya keluar tapi hanya ada satu orang yang sedang berdiri diam memunggungi kapal ini.

Kedua alisku saling bertaut melihatnya. Apa yang sedang dia lakukan disana? Apa tadi dia yang sedang mengawasiku? Tapi untuk apa? Dia bahkan hanya berdiri saja disana untuk waktu yang lama tanpa melakukan apa-apa. Jika dia memang berdiri disana untuk menikmati pemandangan, bukankah seharusnya dia menghadap ke kapal ini?

“Sooyoung-ah! Mwohae?” seru Yoona dari atas kapal. “Ayo kesini. Aku sudah menemukan tempat untuk kita”

Jamkkaman, Yoona-ya!” Aku balas berseru tanpa mengalihkan pandanganku dari namja yang—menurutku, benar-benar aneh itu.

Aku juga tak tahu kenapa terus menatap namja itu. Aku merasa ada sesuatu yang tidak asing meskipun itu hanya bagian belakang tubuhnya. Apalagi saat orang-orang mulai jarang terlihat di pelabuhan—baik masuk ke kapal atau meninggalkan pelabuhan, namja itu tetap berdiri mematung disana dan terlihat tidak terganggu dengan perubahan suasana di pelabuhan. Aku mengamati dari kepala sampai kakinya, bahkan dari caranya berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku. Lalu saat dia memutar tubuhnya, mataku membelalak karena dia adalah—

“Cho Kyuhyun,” gumamku tidak percaya.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan lagi apa yang aku lihat itu benar-benar dia atau bukan. Tapi jantungku yang tiba-tiba saja berdegup kencang, membuatku yakin bahwa apa yang ada di depanku itu memang Kyuhyun. Mata kami bahkan saling bertemu untuk beberapa saat, sebelum kemudian dia kembali membalikkan badan dan mulai bergerak meninggalkan tempat ini. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menuruni kembali tangga kapalnya, mengabaikan panggilan Yoona dan panggilan nahkoda yang meminta semua penumpang untuk masuk ke kapal.

“Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah!” Aku terus memanggil nama itu sambil terus berlari keluar dari pelabuhan. Mataku tidak berhenti mencari di sekitarku, bahkan saat aku terjatuh karena bertabrakan dengan sepeda seseorang yang melintas. Aku sama sekali tidak berhenti mengarahkan pandanganku ke sekitar.

Aku bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit di kaki dan lenganku dan kembali mencari. Aku yakin apa yang aku lihat itu Kyuhyun, dan aku harus menemukannya. Aku harus—

Langkah kakiku berhenti saat tanpa sengaja mataku menangkap sosoknya yang berada di dalam mobil yang melintas di depanku. Aku sempat tertegun di tempatku untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlari mengejar mobil itu. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan cara lain untuk mengejarnya selain hanya berlari dan berlari di sepanjang jalan yang beraspal ini. Aku harus bisa mengejarnya bagaimanapun caranya. Aku tidak boleh kehilangannya.

__

Kyuhyun POV

Aku duduk sendiri sambil menatap jauh untuk waktu yang lama. Di kepalaku, aku tidak bisa berhenti memikirkan Sooyoung. Saat ini dia memang sudah kembali ke Seoul, tapi tidak ada yang tahu bahwa hidupnya masih dalam bahaya. Karena Kang Dae Shik masih akan berusaha menemukan cincin itu dengan bantuan anggota-anggota Black Dragon yang melakukan perbuatan ilegal meskipun itu dengan mengkhianati kelompok mereka sendiri. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah mendengar sedikit informasi itu. Karena aku memilih untuk langsung meninggalkan tempat itu saat aku melihat mereka bergerak keluar ke arahku. Satu hal yang pasti, aku harus melakukan sesuatu dan tidak akan menunggu apapun lagi untuk menyusun rencana.

Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Rasanya semuanya semakin terlihat rumit. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ada banyak hal yang perlu aku ungkapkan dengan segera. Rahasia-rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi dari sebuah kelompok bernama Black Dragon itu? Kenapa rasanya hidupku selalu berada di sekitarnya meskipun aku sudah melupakan dendamku atas kematian orang tuaku?

“Kang Dae Shik—“ gumamku pada diri sendiri. Aku mendesah pelan lalu membuka kembali mataku. “—apa yang sebenarnya yang kau inginkan?”

Pandanganku kembali mengarah jauh ke pulau seberang. Sebenarnya dalam jangka waktu lima bulan ini, aku memiliki banyak kesempatan untuk meninggalkan pulau ini. Tapi aku terus menahannya karena aku merasa masih belum siap untuk kembali, baik secara fisik maupun batin. Aku tetap di pulau ini karena aku ingin menenangkan diriku, berusaha untuk melupakan apa yang terjadi dan kemudian kembali memulai hidupku dari awal, termasuk hubunganku dengan Sooyoung. Aku tidak tahu bahwa proses yang aku lewati itu sudah berjalan lebih dari lima bulan.

Pertemuanku tanpa sengaja dengan Kang Dae Shik dan kedatangan Sooyoung di pulau ini sempat membangkitkan keinginanku untuk kembali ke Seoul. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku pada yeoja itu, bagaimana aku sangat merindukannya. Aku tidak bisa hanya diam saat dia berada di sekitarku meskipun aku terus menyembunyikan keberadaanku. Aku juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanku dan ketidakrelaanku saat aku melihatnya berada di atas kapal.

Saat pandangan mata kami bertemu, aku tahu bahwa seharusnya aku tetap disana atau bahkan langsung menghampirinya tapi aku justru menghindarinya. Aku pergi meninggalkannya meskipun alasanku adalah untuk mengejar seseorang yang berencana untuk mencelakainya—lagi, tapi sekarang aku menemukan diriku menyesal karena tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya di pulau ini. Aku menyesal karena tidak bisa melakukan apapun untuknya selama lima bulan terakhir ini atau bahkan saat dia ada di pulau ini.

“Sooyoung-ah, gidaryeo” kataku terus menatap jauh ke arah yang sama. “Aku akan menepati janjiku pada Choi Sojang, appa-mu, untuk melindungimu. Jadi, tunggulah sebentar lagi”

Aku bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumah karena Ayami pasti sudah mengkhawatirkanku dan menungguku untuk bersiap ke ladang bersamanya.

Dulu, saat pertama kali Ayami merawatku yang terluka dan kemudian aku pulih, aku sempat beberapa kali berusaha melarikan diri. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi karena mengingat apa yang sudah dia lakukan padaku. Apalagi sekarang aku tahu bahwa dia pernah menjadi anggota Black Dragon, karena itu berarti dia bisa memberitahuku hal-hal yang ingin aku ketahui tentang kelompok yang selalu menghantui pikiranku itu.

“Ayami-ssi, aku pulang—“ seruku setelah sampai di halaman rumah.

Untuk sesaat, tidak ada tanggapan apapun. Membuatku berpikir bahwa Ayami pasti sedang pergi mencari sesuatu atau mungkin belum menyelesaikan pekerjaannya di pasar ikan. Tapi, saat aku baru akan melangkah ke kamarmu yang memang terpisah dari bangunan utamanya, suara-suara langkah kaki terdengar dan Ayami muncul dengan ekspresi yang baru pernah aku lihat di wajahnya.

“Kyuhyun-san, kau harus melihat ini,” katanya padaku dengan sedikit nada panik dalam caranya berbicara. “Cepat, kau pasti terkejut!”

Kedua alisku saling bertaut, tidak mengerti dengan sikapnya itu tapi aku tetap mengikutinya masuk ke dalam rumah. Sedikit bertanya-tanya apa yang terjadi, aku masuk ke kamar Ayami dan melihat seseorang yang terbaring di kasurnya. Aku sempat menatap Ayami sesaat sebelum mengarahkan pandanganku kembali pada orang yang berbaring di kasurnya untuk melihat siapa itu. Tapi—belum ada satu detik mataku seketika melebar saat mengetahui bahwa itu adalah Sooyoung. Aku cepat-cepat menghampirinya dan duduk disampingnya meskipun aku masih sangat terkejut dengan apa yang aku lihat.

“W—Waegeuraeyo? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku pada Ayami yang juga duduk di sisi lain Sooyoung. “Kenapa dia ada disini? Bukankah seharusnya dia sudah meninggalkan pulau ini? Apa yang terjadi?” Aku kembali bertanya sambil memeriksa keadaan Sooyoung yang membuat rasa khawatir langsung memenuhi diriku.

Ayami diam saja, membuatku langsung mendongak ke arahnya dan diapun baru berbicara. “Naomi menemukannya di pantai selatan pagi ini saat dia dan neneknya kesana mencari kerang,”

Mworaguyo? Pantai selatan?” seruku terkejut. “Bagaimana bisa dia—?”

“Aku tidak tahu,” kata Ayami menyela dengan cepat. “Naomi langsung datang kesini dan memberitahuku. Lalu aku bergegas ke pantai selatan untuk memeriksanya dan langsung membawanya ke sini karena kupikir kau harus tahu ini”

“Sooyoung-ah,” gumamku sambil meletakkan tanganku di keningnya dan kembali terkejut merasakan suhu tubuhnya yang sangat dingin. Aku kembali menatap Ayami, memintanya untuk memberitahuku.

“Suhu tubuhnya sudah seperti itu saat aku menemukannya, Kyuhyun-san. Seluruh pakaiannya basah, sepertinya dia menghabiskan semalaman di pantai” katanya seolah tahu arti pandanganku. “Aku sudah mengganti pakaiannya dan melakukan beberapa cara untuk menghangatkannya. Tapi seperti yang kau lihat… Dia sangat lemah, dan kondisi tubuhnya tidak membantunya untuk meningkatkan suhu tubuhnya sendiri”

“Apa maksudmu?”

“Kau pernah memberitahu apa yang terjadi pada yeojachingu-mu ini, dan kupikir itulah yang menyebabkan kondisi tubuhnya lemah. Dia masih dalam pemulihan dan hiportemia seperti ini akan membuatnya semakin buruk”

Aku mendengarkan perkataan Ayami ini tanpa pernah mengalihkan perhatianku dari Sooyoung. Aku memeriksa seluruh tubuhnya dan menemukan beberapa luka di lengan dan kakinya. Tanpa aku minta, Ayami memberitahuku tentang luka-luka itu dan bagaimana dia mengobatinya. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa melihat Sooyoung di depanku karena kupikir dia sudah pergi, tapi ternyata dia masih di pulau ini dan kondisinya pun—mendengar dari Ayami, tidak begitu baik.

Aku meraih tangan Soyoung yang dingin, menggenggamnya dengan erat. Kemudian aku menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk membuatnya lebih hangat. Ayami juga melakukan hal yang sama jadi aku segera berpindah ke kakinya yang benar-benar terasa dingin. Sambil melakukannya, aku terus mengamati kondisi Sooyoung yang justru semakin membuatku khawatir

“Rumah sakit!” celetukku kemudian setelah hanya diam dan mengosok-gosok kaki dan tangannya. “Ayami-ssi, ayo kita bawa dia ke rumah sakit”

“Kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit,”

Waeyo?

“Saat aku menemukanmu terluka, kau pikir kenapa aku tidak membawamu ke rumah sakit?” Ayami balas bertanya padaku. Tapi sebelum aku bisa mengatakan apa-apa, dia kembali berbicara. “Itu karena kau tidak memiliki visa atau dokumen ijin apapun untuk bisa berada di pulau ini. Dan yeojachingu-mu juga tidak memilikinya”

“Apa yang kau bicarakan? Dia punya passpor! Kita bisa membawanya—“

“Aku tidak menemukan apapun, Kyuhyun-san. Tidak ada tas, atau apapun disekitarnya” Ayami kembali menyela perkataanku. “Kita tidak bisa membawanya kemana-mana dimana kita membutuhkan dokumen untuk melakukan sesuatu. Kau tahu itu, jika sampai dia tertangkap maka kau bisa juga tertangkap,”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?!” seruku frustasi. “Aku tidak bisa melihatnya seperti ini, Ayami-ssi

Ayami diam saja, tapi aku tahu bahwa dia sedang berpikir.

“Sooyoung-ah, bertahanlah” kataku pada Sooyoung yang tetap bergeming.

Aku bisa melihat Ayami yang sedang memeriksa denyut nadi Sooyoung di lengan dan lehernya. Matanya terpejam untuk lebih bisa merasakan denyut nadi itu, lalu aku melihatnya menggeleng-gelengkan kepala.

Waeyo?” tanyaku dengan cepat karena aku ingin tahu kondisinya. “Apa ada sesuatu yang salah?”

“Ini terlalu lemah, Kyuhyun-san

“Aku tahu, tapi apa yang harus kita lakukan?” seruku sedikit menaikkan nada bicaraku. “Kita tidak bisa hanya membiarkannya saja seperti ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”

“Tidak, itu tidak akan terjadi” ucap Ayami meskipun aku bisa mendengar ada sedikit keraguan dalam nada bicaranya. Dia bangkit berdiri, “Aku akan pergi mencari obat-obatan di hutan. Aku yakin aku bisa menemukan sesuatu untuk meningkatkan energinya”

Aku mengangguk mengerti.

“Kau cobalah untuk melakukan apapun untuk membuatnya tetap hangat sementara aku pergi” katanya seraya mengambil perlengkapannya di lemari kecil di sudut kamarnya. “Panaskan airnya dan kompres dia. Siapa tahu itu bisa membantu menghangatkan tubuhnya”

Arrasseoyo,”

Ayami mengangguk ke arahku, lalu menepuk bahuku sebelum dia melangkah keluar dari kamar. Membiarkanku hanya sendirian dengan Sooyoung di kamarnya.

**

Seharian ini aku benar-benar hanya di rumah dan melupakan semua pekerjaan yang seharusnya aku lakukan setiap harinya sejak aku tinggal di pulau ini. Aku tidak bisa meninggalkan Sooyoung meskipun itu hanya pergi ke kamarku dengan kondisinya yang tidak mengalami perubahan. Aku tahu bahwa dia terkena hiportemia, dan biasanya akan membaik setelah suhu tubuhnya kembali normal. Tapi kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya kesulitan untuk menaikkan suhunya sendiri, dan itulah kenapa aku dan Ayami tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Ayami memang baru pulang menjelang malam, dan dia segera membuatkan ramuan untuk Sooyoung. Aku tidak tahu dari mana dia mengetahui tentang pengobatan-pengobatan seperti ini dan aku tidak pernah berusaha untuk mencari tahu. Aku akan menganggap ini sebagai rahasianya seperti latar belakang mafianya. Jadi saat dia memberikan semangkuk ramuan padaku, aku segera memberikannya pada Sooyoung dengan menyuapinya sedikit demi sedikit meskipun beberapa kali ramuan itu kembali mengalir keluar dari mulutnya yang dengan sigap di usap oleh Ayami sebelum masuk ke telinganya.

“Ramuan ini akan membantunya meningkatkan energinya,” kata Ayami memberitahuku saat untuk kelima kalinya dia mengusap ramuan yang keluar dari mulutnya. “Selain itu, kita harus menghangatkannya untuk membuat ramuan itu bekerja dengan baik di tubuhnya”

“Aku akan menyelimuti—“

“Bukan itu maksudku, Kyuhyun-san” potong Ayami dengan cepat sebelum aku selesai berbicara. “Sementara ramuannya bereaksi di dalam tubuhnya, kau harus menghangatkannya. Kau harus melakukannya,”

“Melakukan apa?”

“Menghangatkan tubuhnya dengan suhu tubuhmu,”

Aku berhenti menyuapi Sooyoung, lalu menoleh ke arah Ayami. “Aku melakukan apa?” tanyaku memintanya untuk mengulangi lagi perkataannya.

“Itu cara terakhir yang bisa kita lakukan,” Ayami sama sekali tidak menuruti apa yang aku inginkan. “Kau tahu, jika kita tidak segera mengembalikan suhu tubuhnya, aku takut—“

“Tidak ada yang perlu kau takuti, Ayami-ssi” selaku dengan tegas. “Aku akan melakukan apapun untuknya, sekalipun itu membutuhkan nyawaku sebagai gantinya”

“Aku mengerti,” sahut Ayami sambil menatap Sooyoung yang masih memejamkan matanya. “Kalau begitu, kau perlu menyiapkan kamarmu—maksudku, kau pergi saja dulu dan menyiapkannya sementara aku akan mengurusnya disini”

Aku menatap Ayami sesaat, lalu mengangguk pelan. Mau tak mau aku menyerahkan mangkuk ramuan itu padanya sebelum melangkah pergi ke kamarku. Aku sempat bingung harus melakukan apa sampai kemudian memutuskan untuk membersihkan kamarku dan menata kasurku. Aku benar-benar harus membuat Sooyoung nyaman dan hangat karena aku harus melakukan sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan tanpa seijinnya.

Aku kembali ke kamar Ayami setelah aku selesai dengan kamarku. Yeoja itu menganggukkan kepala ke arahku saat aku datang, bermaksud untuk menggotong Sooyoung dan memindahkannya ke kamarku. Dia bahkan membantuku memegangi kepalanya saat aku mengangkatnya, lalu membantuku membukakan pintu sampai ke kamarku. Aku sempat memandangnya sesaat dan dia kembali menganggukkan kepalanya padaku. Setelah itu dia meninggalkanku sendirian bersama Sooyoung yang segera aku baringkan di atas kasurku.

Aku memandangi wajah Sooyoung untuk sesaat. Rasa bersalah menghantuiku karena dia tidak akan tahu apapun yang akan aku lakukan padanya. Tapi semua yang terjadi hari ini benar-benar tidak terduga, termasuk keberadaannya di pulau ini. Dan apa yang akan lakukan ini juga sama tidak terduganya meskipun aku melakukannya untuk menyelamatkannya. Tapi selain itu, aku melakukan ini karena aku mencintainya.

Aku menarik napas panjang sekali sebelum kemudian mulai melepaskan bajuku. Aku membiarkan tubuhku bertelanjang dada lalu dengan perlahan mendekati tubuhnya untuk berbaring disampingnya. Untuk sesaat, aku diam di posisiku karena—jujur saja, aku merasa sedikit gugup. Ini memang bukan pertama kalinya, tapi tetap saja suasana dan kondisinya saat itu berbeda dengan sekarang. Aku sempat ragu harus melakukan apa terlebih dahulu karena aku sudah lama tidak menyentuhnya dan berada sedekat ini dengannya. Jadi, aku berakhir dengan duduk kembali dan menatap wajahnya.

“Sooyoung-ah,” desahku pelan. Aku mulai merasakan debaran jantungku yang semakin cepat dan berusaha mengendalikannya. “Eotteokaji—

Aku kembali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Aku melakukannya beberapa kali sampai kegugupanku sedikit hilang dan aku berhasil mengendalikan debaran jantungku. Setelah itu aku kembali berbaring disampingnya, lalu tanpa berpikir panjang lagi aku melingkarkan tanganku ke tubuhnya, menariknya ke dalam pelukanku. Aku membelai wajahnya dengan lembut, mencoba merasakan semua hal yang aku rasakan terhadapnya. Perlahan, aku mengecup keningnya, lalu turun ke matanya dan kedua pipinya.

Jantungku terus berdegup kencang, dan aku bisa merasakan Sooyoung seperti bisa merasakan apa yang aku lakukan. Dia bergerak—meskipun sedikit, seakan mencari kehangatan yang aku berikan ini. Aku kembali memeluknya, kali ini lebih erat sambil mengecup lehernya. Aku tidak berhenti sampai disana, karena aku mulai melepaskan pakaian atasnya dan—

__

Sooyoung POV

Itu adalah mimpi yang sempurna, sebelum aku membuka mata dan menemukan diriku berada di ruangan yang benar-benar terlihat asing. Aku sempat mengerjapkan mataku sesaat, lalu dengan cepat mengarahkan pandangan ke tangan dan kakiku yang sama sekali tidak terikat. Aku menarik napas lega lalu bangun untuk duduk di atas kasur lantai. Sekali lagi, aku mengamati sekitarku sambil berusaha mencari tahu aku berada dimana dan mengingat apa yang sudah terjadi padaku.

Tapi apa yang berhasil aku ingat adalah mimpiku. Aku tak tahu kenapa aku memimpikan Kyuhyun dan kenapa aku dan dia—tanpa sadar senyumku mengembang hanya dengan mengingatnya. Apa mungkin aku memimpikannya karena aku terus memikirkannya setelah aku melihatnya lagi?

Ah, benar! Kyuhyun!

Aku cepat-cepat keluar dari kasur dan baru akan melangkah keluar, tiba-tiba pintunya menggeser terbuka. Aku sempat terkejut karena di hadapanku adalah Ayami, seorang yeoja yang pernah memberiku tempat berteduh karena kesalahpahamanku mengira adik iparnya mengikutiku. Dia juga terlihat terkejut melihatku, tapi kemudian ekspresinya berubah lebih ramah dengan sebuah senyuman tipis di wajahnya. Tangannya membawa sesuatu yang bisa aku lihat seperti minuman yang ditempatkan dalam sebuah mangkuk kecil.

“Kau sudah sadarkan diri,” katanya sambil melangkah masuk, membuatku mau tidak mau mundur untuk memberinya jalan. “Dahaengida, geureom. Kami sudah mengkhawatirkanmu,”

Aku diam untuk sesaat, berusaha mengerti sendiri apa yang sebenarnya terjadi. “Kau—kau yang membawaku kesini?”

Ayami mengangguk, “Duduklah dulu dan minum ini untuk memulihkan kondisimu” katanya seraya meletakkan mangkuk kecil itu dan memintaku untuk duduk.

Tanpa mengatakan apapun lagi, dia memberikan minuman itu padaku dan meskipun aku ragu, pada akhirnya aku meminumnya. Ayami tersenyum saat aku mengernyit saat pertama kali menenggaknya karena rasa pahit yang aku rasakan. Tapi dia mendorong mangkuk itu, seakan memintaku untuk kembali meminumnya dan benar-benar memastikan aku menghabiskan itu. Terpaksa aku tidak menjauhkan mangkuk itu dari mulutku sambil memikirkan banyak hal yang terlintas di pikiranku, termasuk Kyuhyun dan kenapa aku berada di pulau ini.

Setelah isi mangkuk itu benar-benar kosong, aku memberikannya pada Ayami yang kembali tersenyum menerimanya. Aku menatapnya dengan lekat, bingung kenapa aku bisa berada disini padahal seingatku, aku berkeliaran di jalanan untuk mencari Kyuhyun. Aku terus memperhatikan Ayami yang sedang membereskan mangkuk itu dan segera mencegahnya saat dia akan meninggalkan ruangan ini.

Waeyo? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanyanya kemudian.

Aku sempat tidak tahu harus memberikan tanggapan apa, tapi pada akhirnya aku mengangguk pelan.

Nandesuka?

Aku mencari kata-kata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan. Setelah memikirkannya sesaat, akupun berbicara, “Aku—kenapa aku disini, Ayami-ssi?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, ‘kan?” ucapnya membalas. Dia menatapku lekat-lekat, lalu kembali membuka mulutnya. “Apa yang kau lakukan disini, Sooyoung-ssi? Bukankah kau seharusnya sudah meninggalkan pulau ini?”

“Aku—“ Aku kembali berpikir karena tidak mungkin aku begitu saja mengatakan bahwa sebenarnya aku mengejar Kyuhyun. Tapi seandainya aku memberitahunya pun, aku tidak yakin dia mengenalnya. “Aku—hmm, sebenarnya aku ketinggalan kapal” kataku pada akhirnya.

“Ketinggalan kapal?”

Cepat-cepat aku menganggukkan kepala. “Karena kapal tidak juga berangkat, aku turun lagi untuk menikmati pemandangan terakhir pulau ini sebelum benar-benar meninggalkannya. Aku merasa itu tidak lama, tsapi saat aku kembali, kapal itu sudah tidak ada di pelabuhan”

Ayami mengangkat satu alisnya, “Tapi aku tidak membawamu dari pantai di dekat pelabuhan. Aku—“

“Aku tersesat,” sahutku dengan cepat sambil menghindari pandangan yeoja itu. Karena—jujur saja, aku paling tidak bisa berbohong dalam keadaan yang mendesak seperti ini. “Omong-omong, apa temanku datang ke pulau ini lagi?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Teman?”

Majayo. Itu seorang yeoja dan namja atau mungkin salah satunya” kataku. “Mereka pasti datang kesini dan mencariku karena aku tidak kembali bersama mereka. Jadi, apa kau kebetulan mengetahuinya?”

Ayami terlihat berpikir, lalu dia mengangguk. “Ada,” katanya kemudian. “Aku melihat dua orang yang bertanya-tanya ke penduduk sekitar kota ini, bahkan mereka sempat bertanya padaku”

Aku mencelos, “Apa? Dan kau tidak memberitahu mereka bahwa aku di rumahmu?”

“Benar, aku tidak memberitahu mereka”

Waeyo?

“Karena aku perlu menahanmu beberapa hari disini,”

Aku mengerutkan kening, “M—Menahanku?” tanyaku takut-takut. “K—Kenapa kau menahanku?”

Ayami diam saja, tapi dia tidak pernah melepaskan pandangannya dariku.

Aku sedikit bergerak mundur dari posisi dudukku sambil mengerjapkan mata. Perasaan takut bahwa apa yang pernah terjadi padaku beberapa bulan yang lalu kembali menguasaiku. Aku bahkan masih belum melupakan semua yang terjadi padaku, dan apa aku akan mengalami hal yang sama sekarang? Tapi untuk alasan apa Ayami melakukannya? Cincin peninggalan eomma itu? Apa dia sebenarnya bagian dari orang-orang yang sempat menahanku?

“A—Apa—apa yang kau inginkan?” tanyaku berusaha menjaga suaraku untuk tidak bergetar dan menyembunyikan ketakutanku.

Ayami masih menatapku, lalu tiba-tiba dia mengulurkan tangannya padaku. Karena tidak tahu apa yang sedang dia coba lakukan, aku hanya diam tanpa menyambut uluran tangannya itu. Saat dia mendekat padaku, aku kembali mundur, berusaha untuk menjaga jarak darinya. Aku mungkin bisa melakukan sesuatu padanya jika dia sampai berani menyentuhku karena tangan dan kakiku tidak diikat, tidak seperti saat itu.

“Aku tidak akan menyakitimu, Sooyoung-ssi. Kau tidak perlu takut padaku,” katanya pada akhirnya. “Aku ingin kau mendekat padaku karena aku ingin memeriksa denyut nadimu dan luka-luka di tubuhnya” lanjutnya sambil bergerak cepat ke arahku lalu segera menarik tanganku dan menekannya di sekitar pergelangan tanganku.

Aku mengamatinya yang memejamkan mata, seakan-akan sedang mencoba merasakan sesuatu di tanganku. Dia menggerak-gerakkan jarinya di sekitar pergelangan tanganku lalu berpindah ke leherku yang—tentu saja membuatku sedikit terkejut. Tapi aku tidak bergerak di tempatku meskipun rasanya benar-benar canggung di sentuh oleh seorang yeoja seperti ini. Setelah beberapa saat dia kembali membuka mata, dan mengalihkan pandangan ke lengan dan kakiku. Memeriksanya dengan serius, lalu sebuah senyuman tersungging jelas di wajahnya.

“Ini sudah lebih baik sekarang,” katanya memberitahuku.

Mwohaneungeoya?

“Apalagi jika bukan memeriksamu dan memastikan ramuanku bereaksi dengan baik di tubuhmu,” Ayami menjawab dengan santai. “Kau pasienku sekarang, jadi aku menahanmu disini selama beberapa hari. Kau pikir kenapa lagi aku melakukannya?”

Mwo?” sahutku sedikit terkejut dengan perkataannya. Tapi aku bisa merasakan sedikit kelegaan di dalam diriku yang tidak bisa aku sembunyikan. “Aku pasienmu?”

Ayami mengangguk. “Keadaanmu saat aku membawamu kesini itu sama sekali tidak baik. Jadi aku merawatmu sampai kau akhirnya sadar seperti saat ini”

“Aku tidak sadar?” Aku terus mengulang perkataannya. “Geureom, sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?”

Emm—itu tiga hari sejak Naomi menemukanmu,” jawab Ayami. “Meskipun kondisimu sekarang sudah jauh lebih baik dari pertama kali aku membawamu, tapi kau harus tetap banyak beristirahat dan meminum ramuan yang aku buatkan untukmu. Jangan khawatir, aku cukup ahli membuat ramuan obat seperti itu”

Aku tidak memberikan tanggapan apapun, tapi mendengarkan apa yang dia katakan itu. Tanpa aku bertanya, dia bahkan memberitahuku bagaimana Naomi menemukanku dan bagaimana anak kecil itu bergegas menemuinya untuk membawaku bersamanya. Dia juga memberitahuku bahwa aku terkena hipotermia karena berada semalaman di pinggir pantai dan dalam keadaan basah kuyup. Aku memijat-mijat pelipisku, berusaha untuk mencerna semua perkataannya sambil mencocokkannya dengan apa yang bisa aku ingat sejauh ini.

Waeyo? Apa kepalamu sakit?” tanya Ayami yang melihatku terus memijat-mijat pelipisku.

Ah, aniyo, aniyo” sahutku segera. “Geunyang—mianhaeyo, Ayami-ssi

“Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf?”

Aku menundukkan kepala, merasa bersalah. “Karena aku sempat berpikiran buruk tentangmu. Aku pikir kau menahanku karena aku pernah—“

Gwenchanayo, Sooyoung-ssi” Ayami menyahut perkataanku sebelum aku menyelesaikannya. Dia memegang bahuku dan mengusapnya dengan pelan. “Untuk sekarang, kau hanya perlu memulihkan kondisimu. Setelah itu, aku akan mencari cara agar kau bisa meninggalkan pulau ini dan kembali ke rumahmu,”

“Kenapa kau mencari cara?”

“Karena kau tidak memiliki dokumen ijin apapun untuk berada di pulau ini, jadi aku akan memikirkan cara agar kau bisa meninggalkan tempat ini tanpa ada orang yang tahu bahwa kau—“

“Penyelundup,” sambungku dengan cepat, tidak percaya dengan keadaanku sekarang.

“Aku tidak akan menyebutmu seperti itu, Sooyoung-ssi” katanya langsung memberikan tanggapan. “Aku hanya akan melakukan tugasku untuk merawatmu dan membantumu keluar dari pulau ini tanpa tertangkap oleh petugas imigrasi. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku memastikan bahwa kau sudah benar-benar baik. Jadi, pastikan kau mengikuti perkataanku karena jika tidak maka seseorang akan terus mendesakku—“ Dia tiba-tiba berhenti berbicara dan menatapku seakan-akan dia baru saja melakukan kesalahan.

“Seseorang?” tanyaku tanpa menunggu untuk bertanya. “Nugayo?” Aku kembali bertanya karena aku merasa tidak memiliki siapapun yang akan mendesaknya di pulau ini.

Ah, emm—kau tahu—“ Dia memalingkan wajahnya sesaat, tapi kemudian kembali menoleh ke arahku. “Naomi. Anak itu akan mendesakku untuk terus memberimu ramuan, jadi yah—kau benar-benar harus mendengarku. Wakarimasu ka?

Meskipun aku sedikit ragu, tapi akupun menganggukkan kepala.

Geureom, istirahatlah dulu” celetuknya. “Aku akan memastikan kau tetap di kasur untuk hari ini, jadi jangan berharap untuk keluar meskipun itu sekedar untuk menemui Naomi. Dia akan datang kesini setelah sekolahnya berakhir, jadi kau tunggu saja disini”

Aku tidak bisa membantah apapun, dan hanya bisa menganggukkan lagi kepalaku. Padahal aku baru saja akan meminta ijinnya untuk keluar dengan menjadikan Naomi sebagai alasannya karena siapa tahu aku akan melihat Kyuhyun lagi di kota ini. Bukankah dia alasan kenapa aku tidak naik ke kapal yang akan membawaku kembali ke Busan dan membuatku menjadi seorang penyelundup? Tapi sepertinya aku harus menahan dulu keinginanku untuk mencarinya dan akan melakukannya saat aku memiliki kesempatan. Biar bagaimanapun, aku harus menemukan Kyuhyun setelah aku yakin bahwa aku melihatnya di pulau ini.

__

Kyuhyun POV

Setelah berjalan dalam diam dan cuaca yang dingin sejauh beberapa mil di kota Izuhara, aku tiba di jembatan kayu tinggi, yang membawaku ke jalanan yang sepi yang sekelilingnya dipenuhi tumbuhan setinggi lututku. Aku tetap menjaga jarak dari orang yang aku ikut dari pondok yang sama yang pernah aku temukan di hutan bagian timur kota ini, meskipun jalanan yang aku lalui ini berkelok di sebuah halaman. Hanya beberapa langkah saja menyusuri jalanan itu, aku berhenti saat melihat orang yang aku ikuti itu masuk ke sebuah rumah yang pendek, gelap dan hitam pekat dengan latar belakang langit yang juga sudah gelap. Dia masuk melewati pintu yang ada di sebelah kiri jendela yang mana terbersit sinar samar-samar dari dalam rumah.

Aku menunggu beberapa saat sampai namja itu menutup kembali pintunya dan tidak ada tanda-tanda siapapun yang keluar dari rumah itu. Aku mengamati sekitarku, memastikan tidak ada orang yang berjaga lalu melompati rerumputan dan mengendap-endap menunduk di bawah jendela. Melalui kaca yang tertutup kabut itu, aku samar-samar melihat tiga orang—dua diantaranya duduk saling berhadapan, sementara yang satu berdiri. Mereka sedang melakukan sebuah pembicaraan, aku mengetahuinya dari ekspresi namja yang berdiri yang terlihat serius. Meskipun begitu, aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Jadi, dengan hati-hati aku sedikit membuka jendelanya dan mulai mendengar suara-suara dari dalam.

“Apa maksudmu dengan menundanya? Apa kau tak tahu aku sudah tidak sabar untuk mendapatkannya?”

Aku menajamkan telingaku sambil berusaha menerka suara siapa yang pertama aku dengar ini.

“Bukan begitu maksudku,” sahut suara yang lainnya, dan aku bisa langsung mengetahuinya untuk yang satu ini. Suara berat seperti itu adalah milik Kang Dae Shik, aku tidak salah lagi. “Dia selalu diawasi selama lima bulan terakhir ini, dan aku tidak bebas bergerak karena itu—“

“Hanya karena dia diawasi, kau tidak bisa mendapatkannya?”

Untuk sesaat, tidak ada suara apapun yang aku dengar dari dalam dan itu membuatku ingin tahu apa yang sedang terjadi tapi aku mengurungkannya karena tidak lama, suara yang sama kembali terdengar.

“Apa kau takut?!”

Animida. Aku tidak takut, aku hanya berhati-hati”

“Aku sudah muak dengan kehati-hatianmu, Kang Dae Shik” serunya lebih tegas. “Kau selalu ceroboh, lalu kenapa sekarang kau berhati-hati. Itu karena kau takut, ‘kan?”

“Tidak, hyungnim. Aku tidak takut dan aku juga tidak ceroboh—“

“Kau pikir aku tidak tahu?! Kau sama sekali tidak berhati-hati saat melakukan pekerjaanmu yang terakhir itu. Kau pikir aku tidak tahu saat kau membuangnya ke pulau ini, kau tidak memastikan dulu apa dia benar-benar sudah lenyap atau masih ada nyawanya yang tersisa”

Aku mencelos mendengar ini, dan entah kenapa ‘dia’ yang dimaksud olehnya itu adalah aku. Meskipun jika itu bukan, apa bearti ada seseorang lainnya yang memiliki keadaan yang sama denganku? Di buang di pulau ini?

“Aku memeriksanya, hyungnim. Aku yakin nyawanya sudah tidak ada, dan aku bahkan tidak menemukan lagi tubuhnya. Sepertinya macan tutul memangsanya karena aku juga tidak menemukan jejaknya dimana-mana”

“Aku tidak mau ada penghalang apapun lagi untuk mendapatkan cincin dan yeoja itu. Apa kau mengerti?”

Ne, hyungnim. Algeseumnida—“

Aku menelan ludah mendengar pembicaraan ini. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka jika akan ada orang lainnya yang terlibat dalam hal ini. Tapi siapa dia? Dan kenapa Kang Dae Shik memanggilnya ‘hyungnim’? Apa itu berarti selama ini dia bekerja untuk orang lain? Dia sama sekali tidak menginginkan cincin BAST itu tapi orang lain-lah yang menginginkannya? Lalu kenapa orang itu tidak hanya menginginkan cincin melainkan juga Sooyoung?

Karena penasaran, aku sedikit mengintip ke dalam rumah untuk mencari tahu dengan siapa Kang Dae Shik berbicara. Untuk sesaat, aku tidak bisa melihat apapun karena namja yang aku ikuti tadi menghalangi pandanganku. Tapi kemudian, saat dia berpindah tempat untuk mengambil sesuatu, mataku seketika melebar karena aku mengenalinya meskipun—sebelumnya aku hanya tahu wajahnya dari foto, penampilannya sedikit berbeda. Tetap saja aku mengenalinya dari luka melintang di pipinya yang masih terlihat jelas dari jarakku berdiri. Dia adalah orang yang sudah lama aku cari karena membuatku kehilangan kedua orang tuaku.

Tanganku terkepal, menahan emosiku yang tiba-tiba memenuhi diriku. Aku tidak pernah melepaskan pandanganku dari namja itu, Kim Ki Woo. Aku bahkan tidak mendengarkan lagi apa yang mereka bicarakan karena seluruh perhatianku terfokus padanya. Rasanya aku benar-benar ingin langsung menerobos ke dalam rumah ini dan menyerangnya. Tapi aku tahu bahwa itu adalah perbuatan bodoh dan aku tidak akan melakukannya. Aku tidak mungkin menghadapi orang yang telah membunuh kedua orang tuaku tanpa berniat untuk membunuhnya. Karena aku sudah bertekad untuk tidak melakukan perbuatan tercela itu hanya untuk membalas dendam. Bukanlah seperti itu cara yang tepat yang dilakukan oleh seseorang yang pernah belajar militer sepertiku, dan bukan seperti itu juga cara yang sudah diajarkan Choi Sojang padaku sebagai seorang pejuang.

Hyungnim, kami sudah menyiapkan semuanya jadi jika kau akan kembali, kau bisa membawanya bersamamu” Namja yang aku ikuti itu pada akhirnya berbicara, dan aku mendengarnya kali ini.

Aku cukup terkejut saat dia juga memanggil Kim Ki Woo dengan ‘hyungnim’ juga. Aku mengingat beberapa percakapannya dengan Kang Dae Shik di pondok itu. Apa berarti bos yang dia maksud saat itu adalah orang yang sama? Kim Ki Woo?

“Apa yang kau dapatkan kali ini?”

“Arca dan beberapa guci,” jawab namja itu. “Ada beberapa obat-obatan juga yang sudah disiapkan”

“Bagaimana dengan senjata api?”

Ne?

“Aku sudah memberitahumu bahwa kita perlu memasukkan senjata api juga, ‘kan? Jadi, apa kau mendapatkannya?” tanya Kim Ki Woo dengan nada yang terdengar tidak sabar meskipun dia terlihat menahannya. “Do Dong Chul!” bentaknya.

Ne, hyungnim. Josanghamnida—“

“Aku akan menerima itu untuk kali ini,” katanya menanggapi. “Tapi jika kau tidak mendapatkannya saat aku datang kesini lagi, kau akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu”

Ne, algeseumnida

Aku mengawasi ketiga namja itu, tanpa pernah melepaskan pandanganku dari Kim Ki Woo. Ada banyak sekali hal di kepalaku yang ingin aku lakukan saat ini juga, tapi aku berusaha keras untuk menahannya dan untuk tetap berada di tempatku.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Kang Dae Shik” kata Ki Woo berbicara kembali pada Kang Dae Shik. “Jika kau tidak mau mengalami nasib yang sama dengan adikku, maka jangan lakukan sesuatu di belakang punggungku. Aku tidak akan segan untuk—“

Algeseumnida, hyungnim” sahut Dae Shik dengan cepat meskipun perkataan Kim Ki Woo belum selesai. “Adikmu, Jung Woo, aku tidak akan melakukan apa yang sudah dia lakukan. Kau bisa mempercayaiku, hyungnim

“Jung Woo juga mengatakan yang sama, tapi pada akhirnya dia menusukku dari belakang. Jadi simpan saja kata-kata itu disakumu, dan tunjukkan dengan perbuatanmu. Aku tidak mau ada Jung Woo yang lainnya”

Aku mencelos mendengar nama yang disebut oleh dua orang ini. Bukankah Ayami pernah memberitahuku nama suaminya adalah Jung Woo dan dia adalah adiknya Kim Ki Woo? Apa itu artinya suami Ayami itu dibunuh oleh Kim Ki Woo, bukan Black Dragon? Tapi apa bedanya itu karena Kim Ki Woo pun pemimpin Black Dragon. Meskipun begitu, apa Ayami mengetahui bahwa pembunuh suaminya yang sebenarnya adalah kakak iparnya sendiri?

Untuk sesaat, aku memikirkan Ayami yang sekarang ini terus menjaga Sooyoung atas permintaanku karena aku memang tidak bisa berada di dekat yeojachingu-ku itu. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana reaksinya jika aku memberitahukan apa yang aku ketahui ini karena aku tidak mungkin tidak mengatakan apa-apa padanya disaat kami sedang menyusun sebuah rencana. Aku juga tidak akan menyembunyikan apapun darinya setelah apa yang dia lakukan padaku dan juga pada Sooyoung. Tapi masalahnya sekarang adalah bagaimana aku harus memberitahunya?

“Aku akan menyerahkan semua keperluan disini padamu, Kang Dae Shik” suara Kim Ki Woo kembali terdengar. Lalu dia melanjutkan, “Itulah kenapa aku membiarkanmu hidup dan menempatkanmu di pulau ini. Kau sudah melihat markas yang pernah aku gunakan dulu, ‘kan?”

Ne, aku sudah melihatnya dan memeriksanya sendiri”

“Kau bisa menggunakan itu sebagai tempat persembunyianmu dan sebagai tempat untuk melakukan urusanmu disini selain pondok yang dibangun oleh Dong Chul,” kata Kang Dae Shik. “Hati-hati untuk tidak membuat kecurigaan dengan penduduk yang ada di pulau ini. Dan markas itu, jangan sampai ada yang menemukannya”

Ne?

Wae? Apa sudah ada orang yang datang?”

Ah, animida. Hanya beberapa orang yang melewatinya saat mereka sedang mencari kayu bakar,” kata Kang Dae Shik yang sepertinya mengarah pada saat dia bertemu denganku dan Ayami. “Tapi sepertinya mereka tidak tahu itu, mengingat ada cukup banyak bangunan-bangunan yang dibiarkan terlantar di pulau ini”

Aku sedikit menarik napas lega mendengarnya meskipun aku tidak yakin kenapa Kang Dae Shik tidak memberitahukan apapun, termasuk nama samaranku di pulau ini yang sempat dia dengar dari Ayami. Tapi untuk saat ini, aku cukup tahu bahwa markas yang pernah Ayami ceritakan padaku akan digunakan oleh Kang Dae Shik juga pondok yang pernah aku lihat di dalam hutan.

“Aku tidak mau ada kesalahan lagi. Karena aku tidak mengampuni nyawamu hanya untuk melihatmu melakukan kesalahan lagi,” Kim Ki Woo masih belum selesai berbicara. “Anggap saja ini adalah kesempatan kedua yang aku berikan padamu untuk kau bisa mendapatkan kembali kepercayaanku dan usahaku untuk melindungimu dari tentara Korea dan GAIA yang mengejarmu setelah apa yang kau lakukan untukku”

Ne, hyungnim. Kamsahamnida

“Dong Chul,” panggilnya pada namja satunya yang langsung mendekat. “Dimana kau menyiapkan semuanya?”

“Di dermaga dimana kapalmu berada, hyungnim

“Kalau begitu, ayo kita pergi”

Ne, hyungnim

Aku bergegas meninggalkan tempatku saat aku menyadari mereka akan keluar dair rumah. Aku kembali melompati rerumputan lalu dengan cepat membaringkan tubuhku disana. Aku sama sekali tidak menurunkan tingkat kewaspadaanku dan bahkan sudah bersiap jika seandainya mereka mengetahui keberadaanku. Tapi sepertinya mereka tidak tahu karena aku mendengar langkah-langkah kaki menjauh meninggalkan tempat ini.

Aku bangkit dari posisiku dan segera mengikuti ketiga namja itu melewati jalan yang sama yang tadi aku lalui. Tidak ada percakapan apapun lagi yang aku dengar dari mereka, dan terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sebuah dermaga terlantar dimana ada sebuah kapal yang menepi disana. Aku melihat—dari balik pohon, Kim Ki Woo memasuki kapal itu dan selang beberapa menit kapal itu mulai bergerak, meninggalkan Kang Dae Shik dan namja yang bernama Dong Chul itu sendirian.

Ya! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal bahwa bos-mu itu Ki Woo hyungnim?!” seru Dae Shik setelah kapal itu menjauh. “Apa kau berencana untuk mempermainkanku? Jugeulle?!

“Jika aku memberitahumu, aku tidak akan melihat wajah terkejutmu, ‘kan?”

Saekki!

Dong Chul terkekeh, “Kau harus melakukannya dengan baik kali ini, hyungnim. Dia tidak akan memberimu kesempatan yang lainnya jika kau gagal mendapatkan cincin itu. Aku bahkan tidak pernah melihatnya memberi kesempatan pada siapapun, jadi kau seharusnya berterima kasih”

“Berterima kasih apanya,” sahut Dae Shik. “Apa kau tak tahu bagaimana yeoja itu diawasi sekarang? Informanku memberitahuku semua hal tentang pengamanan yeoja itu dan kawasan rumahnya”

“Siapa informan itu?”

“Sohye,” jawab Dae Shik. “Dia salah satu yang berhasil melarikan diri dari pulau itu lima bulan lalu”

“Sohye?”

Aku melihat Kang Dae Shik menganggukkan kepala. Lalu dia kembali berbicara, “Tapi apa kau yakin dengan cincin itu kita bisa kembali bergabung? Aku bahkan mengkhianati kelompokku—“

“FFO itu omong kosong,” potong Dong Chul. “Mereka tidak menyebut diri mereka mafia, tapi melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mafia. Aku terkejut saat mengetahui kau bergabung dengan kelompok seperti itu”

“Meskipun begitu, tidak ada yang menghalangi keinginanku untuk kembali bergabung dengan Black Dragon. Militer dan FFO tidak memberiku banyak uang, tapi Black Dragon sebaliknya”

Aku mendengus kecil mendengarkan itu sambil mengutuknya yang serakah. Aku tidak percaya dulu aku pernah memanggilnya sebagai guru karena sekarang dia benar-benar tidak pantas mendapatkan panggilan itu dariku.

“Dasar pengkhianat negara,” umpatku pelan karena aku tidak mau mereka mendengarnya. “Ka akan dihukum berat, Kang Dae Shik. Tunggu saja!”

Aku memilih untuk tidak mengikuti mereka dan tetap di tempatku saat mereka mulai meninggalkan dermaga ini. Keruwetan yang sempat membingungkan diriku mulai tampak lurus di hadapanku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri—seperti biasanya, bagaimana mungkin aku tidak cepat mengetahui semua ini? Aku berada di pasukan khusus sebelumnya, tapi sepertinya aku melupakan cara-cara mereka dalam menyelesaikan sebuah misi, yaitu hubungan. Aku tidak pernah menghubungkan fakta-fakta yang aku ketahui dan mengabaikan setiap kemungkinan yang ada. Itulah kesalahanku sebelumnya, dan aku akan memperbaiknya sekarang.

__

Sooyoung POV

Onee-san, apa kau sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Naomi saat aku bisa keluar dengannya setelah beberapa hari hanya tinggal di kamar Ayami. “Ayami onee-san sudah membolehkanmu untuk keluar?”

Aku mengangguk, “Em, aku sudah baik-baik saja. Itulah kenapa aku diijinkan keluar untuk mencari udara segar disini”

“Setelah itu, apa kau akan pulang ke rumahmu?”

Aku diam sesaat sambil mengamati wajah Naomi. Lalu akupun berkata, “Tidak jika kau tidak menginginkannya, Naomi-chan. Untuk sementara aku akan tetap disini dan bermain bersamamu. Apa kau mau?”

“Tentu saja aku mau,” sahut anak itu dengan cepat. “Selain Min Woo onii-san aku akan memiliki teman lainnya. Kenapa aku tidak mau?”

Aku terseyum sambil mengacak pelan rambutnya. Pandanganku beralih ke lautan luas yang berada di sisi lain pelabuhan sambil memikirkan Kyuhyun. Sebenarnya alasanku untuk tetap berada di pulau ini karena aku ingin menemukannya. Aku tahu—dan aku masih yakin, bahwa dia masih disini. Tapi untuk alasan apa dan kenapa, aku sama sekali tidak bisa menebaknya. Aku juga harus tahu dimana dia tinggal dan apa yang dia lakukan di pulau ini tanpa pernah memberitahuku atau bahkan teman-temannya tentang keberadaannya.

Aku mendesah panjang, memikirkan apa yang harus aku lakukan selama aku di pulau ini. Aku tidak bisa keluar dengan mudah dari rumah Ayami karena dia tidak tahu apapun alasan kenapa aku meninggalkan kapal saat itu. Aku juga tidak punya uang untuk sekedar menaiki bus atau menyewa sepeda, jadi aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kota ini dan pergi ke tempat-tempat yang lainnya. Satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki, tapi aku khawatir jika aku tersesat dan kemudian tertangkap karena aku tidak memiliki dokumen ijin tinggal apapun di pulau ini. Jika sampai itu terjadi, bukan hanya aku yang akan dalam kesulitan tapi juga Ayami yang sudah sangat baik membantuku sampai sejauh ini.

Onee-san,” panggilan Naomi itu menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh ke arahnya yang ternyata sedang memandangiku. “Apa kau sudah bertemu Min Woo onii-san?”

“Min Woo?”

“Temanku yang pernah aku ceritakan padamu,” sahut Naomi. “Dia tinggal di rumah yang sama denganmu, jadi kau pasti sudah pernah bertemu dengannya ‘kan?”

Ah, emm—ajik” jawabku jujur karena aku memang tidak pernah sekalipun bertemu dengan adik ipar Ayami itu sekalipun kami tinggal di rumah yang sama. Dia selalu pergi sebelum aku bangun dan pulang saat aku sudah tidur, itulah kenapa aku tidak pernah bertemu. “Kenapa?” tanyaku kemudian.

“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sedang berpikir pasti itu menyenangkan jika onee-san dan Min Woo onii-san bisa bermain denganku bersama-sama” katanya menanggapiku.

“Kalau begitu, ajak saja dia saat kau sedang bersamaku? Atau kau ajak aku saat kau sedang bersamanya”

“Aku tidak bisa,” celetuk Naomi sambil menundukkan kepala. “Min Woo onii-san tidak akan menyukainya jika aku mengajakmu”

“Kenapa begitu?” sahutku terkejut. “Kenapa Min Woo tidak akan suka?”

“Itu karena onee-san akan mengingatkannya pada seseorang,” jawab Naomi yang kembali membuatku terkejut. “Onee-san berasal dari kota yang sama dengan Min Woo onii-san, dan sebelumnya dia memiliki seseorang. Tapi onii-san terpaksa meninggalkannya untuk datang ke pulau ini karena Ayami onee-san kehilangan suaminya”

Aku mencelos mendengarkan apa yang dikatakan oleh Naomi ini. Jadi suami Ayami sudah meninggal? tanyaku dalam hati.

Aku berdehem pelan, “Kapan Ayami—ani, maksudku… kapan Min Woo mulai tinggal bersama Ayami?”

Geurissaeyo,” Naomi menjawab. “Nenek tidak memberitahuku lagi, dan menyuruhku untuk tidak banyak bertanya karena itu bukan urusanku”

Ah, emm—itu benar” celetukku. “Jadi, hmm—seperti apa Min Woo itu?”

Naomi tersenyum tipis, “Jika aku memberitahumu, aku khawatir kau akan menyukainya, onee-san

“Apa?”

“Karena itu berarti kau akan bersaing denganku untuk menikahi Min Woo onii-san

Aku tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya jika anak sekecil ini membicarakan tentang pernikahan. Tapi bukankah anak sekarang jauh lebih cepat dewasa? Mungkin Naomi memang tahu kata-kata seperti itu, tapi tidak benar-benar tahu artinya.

“Min Woo onii-san itu sangat baik padaku, bahkan saat pertama kali dia berkenalanku,” Naomi kembali berbicara meskipun aku diam saja. “Dia yang mengajariku untuk tidak menyerah pada apapun yang aku lakukan. Dia mengajariku untuk tidak pernah membohongi seseorang yang sudah memberikan kepercayaan padaku. Dia juga mengajariku bagaimana untuk menangkap ikan dan mencari kerang yang bagus”

“Dia banyak mengajarimu sesuatu,” komentarku. “Apa lagi yang dia ajarkan?” tanyaku ingin tahu.

“Dia memberitahuku untuk tidak pernah meninggalkan nenek dan mengajariku beberapa permainan yang biasanya dimainkan anak-anak di tempat tinggalnya”

Aku tersenyum, “Seperti misalnya Yut-nori? Atau Gongginori?” celetukku mencoba menebak-nebak karena dua permainan itu yang sering aku mainkan saat aku masih kecil.

Majayo, onee-san. Itu permainan yang diajarkan oleh Min Woo onii-san. Apa kau tahu bagaimana memainkannya?”

“Tentu saja aku tahu. Dulu, saat aku masih kecil aku biasa memainkannya bersama teman-temanku. Itu sangat menyenangkan, ‘kan?”

Em. Meskipun aku hanya memainkannya bersama Min Woo onii-san, itu tetap menyenangkan” sahutnya terdengar antusias. Tapi kemudian ekspresinya berubah, dan dia kembali berbicara. “Meskipun onii-san sering membantuku, tapi aku sedih karena aku pernah bisa membantunya”

“Kenapa?”

“Aku sering melihat Min Woo onii-san pergi ke tebing kerinduan setiap kali dia merindukan orang itu dan kota tempat tinggalnya,” kata Naomi menjawab pertanyaanku. “Tapi Min Woo onii-san tidak bisa kembali karena Ayami onee-san membutuhkannya disini dan dia tidak bisa meninggalkannya sendirian di pulau ini”

Aku diam, berpikir dan mencerna kata-kata Naomi. Meskipun itu sedikit aneh karena Min Woo tetap tinggal di pulau ini—meskipun demi kakak iparnya, tapi apa salahnya itu? Mungkin saja ada suatu hubunga yang tidak pernah diketahui oleh orang-orang diantara mereka, ‘kan? Dan seperti apa yang nenek Naomi katakan, seharusnya aku tidak perlu mencampurinya atau mengetahuinya. Tapi kenapa rasanya aku ingin lebih tahu mengenai Min Woo ini? Bukan hanya karena aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi ada sesuatu yang lain yang membuatku tergerak untuk mencari tahu tentangnya.

“Kapan biasanya kau bermain dengan Min Woo, Naomi-chan?” tanyaku setelah diam cukup lama. “Sebelum kau sekolah atau setelah kau sekolah?”

“Keduanya,” jawab Naomi. “Dia biasanya mengajakku bermain setelah pekerjaannya selesai”

“Memangnya apa pekerjaannya?”

“Kadang-kadang mengangkut ikan, terkadang berada di ladang. Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan disini, onee-san dan hanya beberapa saja yang tetap jika memang memiliki kapal sendiri atau ladang sendiri”

Aku mengangguk-angguk mengerti tanpa mengatakan apa-apa.

Naomi-chan!

Naomi dan aku menolehkan kepala, dan melihat seorang nenek yang bukan nenek Naomi sedang berdiri di belakang kami. Bergegas aku bangkit berdiri lalu membungkukkan badan ke arahnya, sementara Naomi menghampirinya.

Hai, Tago obaa-san. Sorehanandesuka?

Nanishiteruno? Sore wa hotondo no yorudeshita. Anata wa mishiranu hito to issho ni koko ni irubekide wa arimasen”

Aku memilih untuk tidak mendengarkan percakapan mereka karena akupun tidak akan sepenuhnya mengerti. Sambil tetap berdiri ditempatku dan memperhatikan dua orang yang ada di depanku, pikiranku kembali melayang pada satu-satunya orang yang ada di kepalaku, Cho Kyuhyun. Aku harus segera menemukan cara untuk menemukannya dan bertemu lagi dengannya. Aku sangat merindukannya dan itu sama sekali tidak cukup saat aku hanya bisa melihatnya serta merasakan sentuhannya di mimpiku.

Aku menyadarkan diri dari lamunan saat melihat Naomi membungkukkan badan dan melambaikan tangan ke arah nenek itu. Jadi cepat-cepat akupun membungkukkan badanku, lalu menunggu Naomi yang kembali menghampiriku dan mengajakku untuk duduk di tempat kami semula sambil menghadap lautan.

“Ada apa?” tanyaku ingin tahu. “Apa kau sudah seharusnya pulang sekarang? Atau apa nenekmu mencarimu?”

“Tidak. Tago halmeoni hanya bertanya pada apa yang sedang aku lakukan disini bersama orang asing,”

Aku tidak terkejut mendengarnya karena memang tidak banyak yang tahu keberadaanku disini karena—setahuku Ayami memang menyembunyikannya.

“Tapi aku memberitahunya kalau kau bukan orang asing, onee-san” kata Naomi lagi sebelum aku bertanya padanya. “Aku memberitahunya kalau kau adalah pacarnya Min Woo onii-san yang datang mengunjunginya”

Mwo? Pacar?”

Naomi mengangguk.

“Siapa yang mengajarimu itu? Ayami?”

“Bukan,” sahut Naomi seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Itu Min Woo onii-san yang memberitahuku untuk berkata seperti itu setiap kali ada yang bertanya tentangmu” lanjutnya.

Aku diam sesaat, bingung harus mengatakan apa. “Mi Woo yang mengajarimu untuk berkata seperti itu?” ulangku.

Em. Waeyo? Kau tidak suka?”

“Tidak, bukan begitu” jawabku dengan cepat. “Aku hanya, hmm—terkejut! Geurae, aku terkejut karena dia mengajarimu begitu padahal seperti yang sudah aku katakan, aku tidak pernah bertemu dengannya”

Geureom, apa kau mau aku berbicara dengan Min Woo onii-san dan memintanya untuk mencari alasan lain tentangmu disini?”

Ani, ani, gwenchana” kataku. “Aku akan berbicara sendiri dengannya saat aku bertemu dengannya di rumah”

Naomi mengangguk mengerti, dan aku hanya bisa tersenyum ke arahnya sambil menariknya ke dalam rangkulanku.

Oh! Lihat mataharinya, Naomi-chan!” seruku sambil menujuk. “Sudah mulai terbenam,”

Hai, itu sudah mulai terbenam”

Aku dan Naomi menikmati perubahan warna di langit yang benar-benar terlihat indah dan bagaimana proses saat matahari itu tenggelam. Siang pun berubah menjadi malam, dan aku melewatkan satu hari lagi tidak melakukan apa-apa untuk menemukan Kyuhyun saat aku tahu bahwa seharusnya aku segera menemukannya.

Kyuhyun-ah, eodiseo? Kyuhyun-ah, aku berharap kita akan segera bertemu dan kita bisa mulai semuanya lagi dari awal. Kyuhyun-ah, aku minta maaf karena tidak percaya padamu dan menjauhkanmu. Kyuhyun-ah, nan jeongmal bogoshipda.

__

Kyuhyun POV

Aku duduk diam di tebing yang hampir selalu aku datangi setiap harinya. Pikiranku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu di rumah pendek dan gelap itu, dimana aku melihat pembunuh orang tuaku untuk pertama kalinya. Kim Ki Woo, dialah orang yang akan menjadi sasaran utamaku, bukan lagi Kang Dae Shik meskipun aku juga tidak akan melepaskannya sama sekali. Aku harus memastikan dua orang itu mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan setelah mereka melakukan perbuatan yang tidak termaafkan. Terlebih lagi Kim Ki Woo. Dia tidak hanya sudah membunuh kedua orang tuaku, tapi juga membunuh adiknya sendiri yang merupakan suami Ayami. Dia juga mengincar keselamatan Sooyoung sekarang. Itulah kenapa aku tidak hanya akan diam saja kali ini.

“Pulaunya tidak akan mendekat meskipun kau terus memandanginya seperti itu,” celetuk sebuah suara disertai sosoknya yang duduk di sebelahku. “Kupikir kau sedang mengawasi yeojachingu-mu, tapi ternyata kau tidak terlihat dimanapun. Jadi aku memeriksamu disini karena aku pikir kau akan disini”

“Sepertinya aku tidak perlu memberitahumu lagi kemana aku pergi,” komentarku. “Kau akan tahu aku berada dimana, ‘kan?”

Ayami tersenyum tipis, “Kenapa kau tidak bersama Sooyoung-ssi kali ini? Bukankah katamu dia dalam bahaya karena namja yang pernah menyakitinya masih ada di pulau ini?”

“Aku hanya memberinya waktu untuk sendiri, dan mengurangi kebiasaanku untuk mengikutinya kemanapun dia pergi” kataku tanpa menatap Ayami. “Lagipula, aku khawatir dia akan curiga dan tidak nyaman berada disini. Aku juga tidak bisa membiarkannya kembali ke Seoul untuk saat ini,”

“Menurutku, dia akan lebih aman di Seoul—“

“Tidak, Ayami-ssi” sahutku dengan cepat. “Bahkan saat dalam pengawasanpun, hidupnya masih dalam bahaya. Aku tidak mau mengambil resiko yang sama untuk kedua kalinya”

“Kalau begitu, kau seharusnya membiarkannya tahu tentangmu, Kyuhyun-san,” katanya langsung memberiku tanggapan. “Kau seharusnya memberitahu dia bahwa kau ada di pulau ini dan bahkan tinggal bersamanya”

“Aku tahu,” kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari Sooyoung. “Aku harus segera memberitahunya, karena hidupnya pun masih terancam bahaya bahkan saat dia disini”

Ayami diam untuk sesaat, “Maksudmu hidupnya terancam dari namja itu? Kang Dae Shik?”

Aku mengangguk.

Ah, benar… katamu, kau mengikutinya saat itu ‘kan? Apa yang terjadi?”

“Dia sedang menyusun rencana baru—“ kataku, mengambil jeda sesaat. Lalu aku kembali berbicara. “—dengan orang baru dari Black Dragon

“Beritahu aku ciri-ciri orang dari Black Dragon itu, karena siapa tahu aku mengetahuinya”

Aku mengangguk singkat sambil mengingat-ingat bagaimana penampilan Dong Chul, lalu memberitahu Ayami apa yang bisa aku ingat. Yeoja itu mendengarkanku dan terlihat menerawang seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Aku bahkan memberitahu namanya—Do Dong Chul, tapi beberapa kali Ayami menggelengkan kepalanya, seperti tidak yakin dengan ingatannya sendiri.

“Apa kau yakin dia adalah anggota Black Dragon?” tanya Ayami saat aku diam setelah menyelesaikan ceritaku padanya. “Apa kau melihat tandanya atau bagaimana?”

“Tanda?”

“Itu semacam tato yang harus di miliki oleh setiap anggota Black Dragon” jelas Ayami.

“Apa kau juga memilikinya?”

“Tentu saja. Tapi sekarang hanya tinggal bekasnya saja,” katanya sambil menunjukkan lengan kiri bagian atasnya padaku. “Aku susah payah menghapusnya dan menyamarkannya seperti luka,”

Aku mengamati itu, lalu menaikkan satu alisku. “Ini bukan seperti luka, tapi memang luka”

“Aku tidak bisa menghilangkannya, jadi yah—“

Aku mencelos, “Kau melukai dirimu sendiri?”

Ayami menganggukkan kepala, “Rasa sakitnya memang tidak sepadan dengan rasa kehilangan suamiku, dan aku jauh merasa lebih baik setelah mendapatkan luka ini”

Emm—mengenai suamimu—“ kataku kembali mengambil jeda untuk memilih kata-kata yang tepat memberitahunya. “Apa kau tahu siapa yang melakukannya?” tanyaku kemudian

Bla—

“Maksudku… orang. Apa kau tahu siapa orang yang melakukannya?” Aku menyela perkataannya.

“Tidak ada orang, Kyuhyun-san. Black Dragon-lah yang membunuhnya, bukan seseorang” kata Ayami sambil menatapku dengan lekat. “Aku melihat mereka melakukannya bersama-sama sementara aku bersembunyi dari mereka”

Aku diam sesaat, bingung harus mengatakan apa padanya. Semua yang aku ketahui tidak bisa dengan mudah aku katakan. Aku terlalu khawatir itu akan menyinggung perasaan Ayami yang sudah sangat baik padaku. Aku terlalu khawatir dengan reaksinya jika aku memberitahunya, tapi aku benar-benar harus memberitahunya kebenaran tentang pembunuh suaminya yang sebenarnya.

“Aku masih mengingatnya dengan jelas, Kyuhyun-san. Bagaimana mereka membawanya dan—“ Ayami diam dan tidak melanjutkan kata-katanya. “Kejadian itu masih menghantuiku seperti mimpi buruk, bahkan setelah dua tahun. Itulah kenapa aku tidak bisa melupakannya, tidak akan pernah”

“Aku melihatnya, Ayami-ssi” celetukku kemudian. “Kim Ki Woo. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri”

Mworaguyo?” sahut Ayami terkejut. “Kau melihat kakak iparku?”

Aku mengangguk. “Aku melihatnya di pulau ini, bersama Kang Dae Shik dan Dong Chul” kataku memberitahu. “Seperti yang sudah aku katakan, mereka sedang merencanakan sesuatu. Termasuk penyelundupan barang dan obat-obatan. Aku tidak tahu darimana mereka mendapatkannya tapi jelas mereka menggunakan pulau ini sebagai tempat untuk menyembunyikan barang-barang itu”

“Apa artinya markas lama di pulau ini akan kembali digunakan?”

“Kurasa tidak,” jawabku. “Ada sebuah pondok di dalam hutan melewati Shimizuyama Castle Ruins. Lalu ada rumah lainnya di hutan barat pelabuhan. Mereka menggunakan kedua bangunan itu untuk melakukan kegiatan mereka. Sementara markas lama Black Dragon hanya akan digunakan untuk tempat persembunyian, termasuk persembunyian Kang Dae Shik”

“Aku mengerti,” sahut Ayami sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Meskipun begitu, aku masih tidak yakin jika Kang Dae Shik melakukan kerja sama dengan Black Dragon maupun Ki Woo oppa

“Karena kau pikir Black Dragon tidak pernah membiarkan keuntungan dari benda-benda selundupan untuk kepentingan pribadi, ‘kan?” kataku langsung menyahuti perkataannya. “Tapi faktanya mereka melakukannya untuk kepentingan pribadi mereka, Ayami-ssi. Benda-benda selundupan itu akan digunakan oleh Kang Dae Shik untuk membentuk kembali kelompoknya dan mendapatkan cincin  itu”

Tidak ada tanggapan apapun dari Ayami.

“Awalnya aku pikir Kang Dae Shik bekerja sendiri, seperti lima bulan lalu dimana ada tiga kelompok mafia yang menginginkan cincin itu berada di tangan mereka. Tapi aku salah, Ayami-ssi” kataku melanjutkan, mengabaikan sikap diam Ayami itu. “Aku memikirkan ini terus-menerus, dan semakin aku memikirkannya aku merasa Black Dragon tidak pernah menginginkan secara langsung cincin itu. Bukan Black Dragon, melainkan Kim Ki Woo”

“Tapi Ki Woo oppa itu adalah bagian dari Black Dragon. Kau tahu itu,”

“Mungkin tidak lagi,”

“Apa maksudmu?”

“Kang Dae Shik pernah hampir mendapatkan cincin itu, tapi Sooyoung menyembunyikannya tepat sebelum dia ditangkap oleh kelompoknya, FFO. Saat kami menyerang markasnya untuk menyelamatkan Sooyoung, dia melarikan diri dan aku mengejarnya sampai ke kapal dan seperti yang kau tahu… aku tiba di pulau ini” kataku sambil mengingat-ingat semua hal yang terjadi dan menghubungkan segala hal. Aku tidak akan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan apapun kali ini meskipun itu sekedar pemikiranku sendiri. “Kang Dae Shik juga dibuang kesini, tapi dia memiliki tujuan. Alasan kenapa mereka membuangnya kesini adalah karena mereka memberikan kesempatan kedua padanya untuk memperbaiki kesalahannya”

Black Dragon tidak pernah memberikan kesempatan kedua—“

“Aku tahu,” sahutku dengan cepat. “Selama ini aku pikir Kang Dae Shik bekerja sendiri bersama FFO, mengambil keuntungan dalam pencarian cincin BAST yang dilakukan oleh Black Dragon dan GAIA. Tapi Kang Dae Shik sebenarnya tidak pernah bekerja untuk FFO, karena dia bekerja untuk Kim Ki Woo. Dia melakukan segalanya dibawah nama Kim Ki Woo”

Jamkkaman, jamkkaman—“ Ayami memintaku untuk berhenti sebentar. “Aku masih tidak mengerti semua itu, Kyuhyun-san. Aku tahu bahwa semua ini diawali dengan cincin BAST itu, yang dimiliki oleh Sooyoung. Dan kau bilang ada tiga kelompok mafia yang mengejarnya, termasuk Black Dragon

Aku mengangguk-anggukkan kepala.

“Baru saja kau berkata bahwa Kang Dae Shik, ketua kelompok FFO ini mengejar cincin itu dan dia berada di bawah perintah Ki Woo oppa. Padahal kau dan aku tahu bahwa Ki Woo oppa adalah salah satu pemimpin Black Dragon. Lalu?”

“Ada dua kemungkinan yang bisa aku pikirkan melihat dari situasi itu, Ayami-ssi” sahutku langsung menyambung. “Pertama, itu menjelaskan bahwa Black Dragon sama sekali tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cincin itu dan menyerahkannya baik pada GAIA maupaun CIA sendiri. Jadi mereka memerintahkan dua kelompok itu mendapatkan cincin itu, memastikan cincin itu berada di tangan mereka”

“Aku bisa menangkap itu. Geuraesseo?”

“Atau kedua—“ kataku mengambil jeda sebentar. “Kim Ki Woo dan Kang Dae Shik sebenarnya bekerja sama diluar kelompok mereka tapi menggunakan nama kelompok mereka untuk setiap tindakan yang mereka lakukan”

“Jika mereka melakukannya, tidak mungkin Black Dragon tidak mengetahuinya, Kyuhyun-san

“Disinilah Kim Ki Woo memerankan peranan yang sangat penting, Ayami-ssi” kataku. “Kita sebut saja dia agen ganda, satu untuk Black Dragon sementara satu lainnya untuk dirinya sendiri atau mungkin kelompok lainnya yang tidak aku ketahui. Bisa FFO atau apapun”

Ayami kembali diam.

“Dan ada satu hal lagi peranan Kim Ki Woo yang tidak kau ketahui, Ayami-ssi” Aku pada akhirnya memutuskan untuk memberitahu apa yang ingin aku katakan padanya tentang kakak iparnya itu. “Ini berkaitan dengan kematian suamimu, Kim Jung Woo”

Seperti yang sudah aku duga, ekspresi Ayami menegang. Tapi aku tidak bisa berhenti sampai disana karena aku baru saja memulainya. Aku harus memberitahunya bagaimanapun caranya.

Aku menghela napas singkat, lalu kembali berbicara. “Aku tahu siapa yang membunuh suamimu, Ayami-ssi

Mata Ayami membelalak dan aku tahu bahwa dia pasti akan terkejut. “Apa—apa maksudmu kau tahu siapa yang membunuh suamiku?”

“Kim Ki Woo,”

Mwo?”

Geurae, Ayami-ssi. Orang yang membunuh suamimu adalah Kim Ki Woo, kakak iparmu. Dia mengatakannya dengan mulutnya sendiri”

Maldo andwae,” celetuk Ayami masih terlihat terkejut. “Maldo andwae, Kyuhyun-san. Ki Woo oppa tidak mungkin melakukannya”

“Ayami-ssi, dengar…” kataku berusaha untuk menenangkan Ayami yang tidak seperti Ayami yang aku kenal dalam lima bulan terakhir ini. “Aku tahu ini mengejutkan. Tapi aku benar-benar mendengarnya mengatakannya sendiri, dan aku tidak—“

Tanpa menungguku selesai berbicara, Ayami bangkit dari posisi duduknya lalu melangkah pergi meninggalkanku. Meskipun sebenarnya aku bisa mengejarnya, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku tetap disini untuk memberinya waktu sendiri karena aku juga perlu memikirkan banyak hal yang ada di dalam kepalaku. Setelah aku memberitahu Ayami tentang kebenaran, sekarang aku juga perlu memberitahu Sooyoung tentang keberadaanku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi karena ini demi keselamatan Sooyoung.

“Min Woo-ssi?” panggil sebuah suara di belakangku yang membuatku langsung duduk tegak. Aku diam di posisiku karena sangat mengenali suara ini. “Min Woo-ssi, itu benar kau, ‘kan?”

Aku tetap diam, tidak tahu harus bagaimana. Aku memang berniat untuk memberitahu Sooyoung, tapi tidak secepat ini saat aku baru saja memikirkan caranya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

-TBC-

Mianhae, aku bakalan lama update FF ini. Tapi jangan khawatir, aku pasti selesaiin FF-nya, walaupun lama. Dan mungkin beberapa episode ini, belum ada Kyuyoung moment-nya yah (demi kepentingan cerita).. mianhae, tapi tunggu aja J Sekali lagi aku minta maaf ya.

Jangan lupa komentarnya^^

Gomawo

 

Advertisements

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

7 thoughts on “[Series] The Precious Thing -12-

  1. Rumit mu komen aja,,,
    Abisan msalah pengincar Cincin Beast blm slsai jg.
    Noh Sooyoung mulai nemuin Kyuhyun, gmn reaksinya.

  2. Semakin seru nih ceritax… itu kyu ko gak jujur ama sooyoung cih nanti klau kedulian ama daesik baru nyesel tuh… buruan kasih tau soo smuax kyu biar gak da penyesalan… ditunggu lanjutanx ya min…

  3. Annyeong….😄
    Semangat utk apapun itu yg sedang Soocyoung-ssi kerjakan, semoga dimudahkan dan mendapat hasil yg memuaskan.
    Gemes, setiap aku komen pasti ada kata gemes, karena memang itu yg aku rasakan, gemes kenapa Kyuyoung ini gak cepet bersatu…. yaak ampuuun, Soo dah tersipu-sipu ngerasa mimpi dipeluk Kyuhyun….wwkwkw… padahal itu beneran…😂
    Semakin gak sabar to baca kelanjutannya…
    Terimakasih utk mau menyelesaikan ff ini…😄

  4. Gemessss sumpah sama kyuyoung knp gk bsa banget bertatap muka sih aiii jinjayo next part di tnggu eoni

  5. Sooyoung kah?
    Jangan sampai mereka ribut/salah paham.. takutnya kepercayaan Sooyoung sama kyu hilang gara2 Soo yg nemuin kyu duluan..
    Next next😅
    Blog kyuyoung sekarang sepi bgt, cuma precious thing satu2nya harapan ff yg bakal end utk saat ini😂

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s